-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 10

Jilid 10

mencoba mengalihkan pembicaraan.

- Kita tidak akan melintasi Surabaya. Kita diperintahkan mendarat di Pasuruan. - sahut Gemak Ideran.

- Mengapa ? - Niken Anggana terbelalak.

- Kau lihat sendiri nanti apa sebabnya. - sahut Gemak Ideran cepat. Paman Adipati Cakraningrat tentunya mempunyai alasan yang kuat. paling tidak, Pasuruan, Bangil dan Probolinggo adalah wilayah yang dikehendaki paman Adipati Cakraningrat berada dalam kekuasaannya. Di tempat itu pula, kita akan memperoleh bantuan dari penguasa-penguasa setempat bila kita mendapat kesukaran. -

- Tetapi Kompenipun berkeliaran di kota-kota itu. - - Asal kita berwaspada, kita bakal luput dari semua pengamat-an orang yang tidak mengharapkan kehadiran kita di pulau Jawa.-

Dalam pada itu Diah Windu Rini sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah memberi kabar kepada Niken Anggana, segera ia memerintahkan mempersiapkan tiga ekor kuda pilihan. Ketiga ekor kuda itu dikirimkan ke Pasuruan mendahului per- jalanan. Berbareng dengan itu, tiga ekor merpati pos diterbang- kan dan akan mendarat di Ponorogo, Malang dan Sukawati.

Sukawati terletak di sebelah timur Kartasura (sekitar Sragen). Merpati pos akan diterima para Adipati yang memerintah negeri. Mereka adalah sahabat-sahabat Adipati Cakraningrat, yang dahulu pernah bersama-sama menyerbu Tuban dan Surabaya menghan-curkan persekongkolan Patih Danureja. Mereka diharapkan ayahnya untuk membantu perjalanan puterinya memasuki wilayah Kartasura. Di antaranya, Adipati Ponorogo dimohon menyediakan pesanggrahan di luar kota Ngawi.

Setelah semuanya beres, dengan hati lega Diah Windu Rini hendak kembali melapor kepada ayahnya. .Tiba-tiba ia mendengar suara Gemak Ideran berkata setengah membujuk kepada Niken Anggana:

62

- Niken, aku tahu engkau merasa belum sempurna mewarisi ilmu gurumu. Tetapi-engkau tidak perlu berkecil hati ! Ilmu kepandaian tidak dapat kau pelajari dengan sempurna dalam waktu tiga atau empat tahun saja. Lagipula, engkau masih muda dan ayahmu seorang ahli pedang kenamaan. -

- Justru mengingat hal itu, hatiku sedih. Kepandaianku yang terbatas ini akan merusak nama ayahku. - potong Niken Anggana.

Gemak Ideran hendak menjawab, tetapi tiba-tiba Diah Windu Rini mendahului:

- Niken ! Bukankah engkau pernah menerima ajaran pokok yang harus kau hafalkan ? -

- Hai ayunda Windu ! - seru Niken anggana bergembira. - Kau seperti bidadari saja yang dapat hadir dengan tiba-tiba ! -

Tanpa tersenyum Diah Windu Rini mendekati, kemudian duduk di sampingnya. Katanya :

- Kau jawablah dulu kata-kataku tadi ! Benar atau tidak ? -

- Benar. - sahut Niken Anggana yang mengenal kekerasan hati puteri Madura itu. - Tetapi apakah cukup hanya meng-hafalkan saja ? -

- Ya, cukup menghafalkan saja. Sebab dikemudian had akan banyak gunanya. Ingat, ayahmu seorang ahli pedang jempolan. Kau bakal memperoleh petunjuk-petunjuk yang lebih mendalam. Tentang makna hafalan itu, engkau akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Setelah kau sadari, segala dan selanjutnya akan menjadi mudah. Juga mengenai ilmu sakti pengerahan himpunan tenaga sakti. Engkau dapat menyempur- nakannya seorang diri. Sebab semuanya tergantung belaka kepada kerajinanmu, keyakinanmu dan atas dasar kesadaranmu. Kau mengerti ? -

Diah Windu Rini tidak menunggu jawaban Niken Anggana. Setelah berkata demikian, ia mengulangi ajaran dasar ilmu sakti leluhurnya yang pernah diberikan kepada Niken Anggana. Itulah

********** mumet ****

teori dafi»r ilmu p*dnng vans tfrdiri oari neMipa tatua ka Nikan Anggan0 b^Nk^l hurt gekuit. Meskinun tgapi id ada|nh k«*uruna<i harilWU Padfl *$Baat tftneptu, djft menwerlitoitluffl "inangat teroputnya yang linggi mniirukan ii^ngan ce^it *tn teiwi, nmUiUh l)tfh Rini mej^njuikan ftlarannyri .vans keto, Jug« kali InJ,

tonwr nangkup

hiik»n rwln, Pantus, Pi^h WjixJu Klni Nik<?n Angg«ni» di depan hidungnvw NysUnya, to tlnpat ikut iopnghttiii!lf«n Ap«l»«l «<n-sari muknanya, •Tei'h»iJap Nlken AniuaiM, wlurwh anitsauta k^lwansa AdioaH Cakmningmt menaruh hnrmai Piah Windu Klnl ilmu warlsan keluaruanytt dengan hMti lulu*, kernudUn h"ri m«?mhiiahkan husil Gemuk Id*r^n tli dalam hatinya, '

*****mumet****

KOTA PASURUAN berada di pantai Laut Jawa, dalam pelukan Selat Madura. Tidak seperti biasanya, Diah \Yindu Rini bertiga melalui jalan simpang. Bukan melalui Modung dan Labuhan, tetapi mengambil jalan berputar dari arah Tambakan Pamekasan. Dari sana, mereka bertiga mendarat di pulau Kambing. Baru melanjutkan perjalanan mendarat di pantai Pasuruan yang lenggang.

Pada dewasa itu, lalu-lintas pelayaran tidak aman seperti sekarang. Banyak perompak dan. perahu-perahu pengintai Kompeni Belanda mondar-mandir mencari mangsanya. Kadang- kadang terdapat orang-orang Makasar, Bugis dan Bali yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Semuanya itu tidak luput dari per- hatian Diah Windu Rini.

Tatkala hampir tiba di tempat tujuan, ia melihat serombongan orang-orang Cina yang duduk ber-gerombol di antara orang- orang berkulit hitam. Mungkin orang-orang Ambon atau orang- orang yang datang dari Nusa Tenggara Timur untuk mencari pekerjaan di Jawa. Bukan mustahil pula kaki-tangan kaki-tangan Kompeni Belanda atau orang-orang yang dipaksa menjadi budak- budak Kompeni.

Diah Windu Rini bertiga tiba di Pasuruan waktu menjelang sorehari. Segera ia dijemput hamba sahayanya yang memper- sembahkan kuda-kuda mereka. Lalu melanjutkan peijalanan memasuki kota. Diah Windu Rini memutuskan hendak menginap di kota itu.

Selagi berputar-putar mencari rumah penginapan, pandang matanya melihat dua ekor kuda yang terawat baik. Tentunya termasuk kuda pilihan. Leher kedua binatang itu panjang, keempat kakkiya pendek dan bagian bawah mata kaki berwarna putih. la heran, karena kuda demikian amat sukar diperoleh.

Orang Jawa menamakan kuda Pancal Panggung. Biasanya dipergunakan oleh seorang hulubalang, karena menurut kepercayaan penunggangnya akan luput dari marabahaya.

- Siapa pemiliknya ? - Diah Windu Rini menebak-nebak. -Biarlah kutengoknya sebentar malam ..-

Dengan angker dan angkuh ia memasuki rumah penginapan. Setelah mendapatkan tiga kamar, segera ia minta disediakan santap malam. Kemudian ia mulai bersemedi setelah menjenguk kamar Niken Anggana dan Gemak Ideran yang terpisah. la menunggu saatnya yang tepat. Itulah larut malam yang kebetulan tidak berbulan. Suasana malam di luarjendela, gelap pekat. Angin laut meniup kencang sehingga udara terasa dingin menyengat tubuh. Kira-kira pukul dua pagihari, dengan berjingkit-jingkit ia memadamkan pelita kamar. Lalu mengintip kamar Niken Ang- gana dan Gemak Ideran. Mereka berdua nampak tertidur nyenyak sekali. Memang perjalanan melalui lautan amat melelahkan, karena mengambil jalan memutar. Setelah itu ia mengintai kamar-kamaf lainnya.

Pada jaman itu, bentuk rumah penginapan terpisah-pisah. Letaknya di atas sebidang tanah yang luas. Lalu didirikan beberapa rumah petak yang masing-masing mempunyai tiga buah kamar. Masing-masing rumah petak, memiliki kamar mandi dan dapur. Tentu saja dilengkapi dengan kamar kecil. Dengan demikian lebih menyerupai rumah sewa yang berdiri di atas halamannya masing-masing.

la tidak melihat atau mendengar sesuatu yang perlu mem-peroleh perhatiannya. Tetapi tatkala tiba dirumah petak paling timur, ia mendengar orang berbicara seru. Segera ia mendekati dan menempelkan telinganya pada dinding. Terdengar seseorang memaki :

- Adipati Cakraningrat itu memang bangsat besar ! Kalau siluman itu mati, dunia baru aman sentausa. -

Diah Windu Rini terkejut. Siapakah yang memaki ayahnya ? Ia percaya kepada dirinya sendiri. Dalam hal ilmu menghapus suara dan meringankan tubuh, ia merasa menguasainya dengan sempurna. Karena itu, ia tidak takut akan ketahuan orang. Apa- lagi waktu itu malam gelap gulita.

- Hm, siapakah mereka se-benarnya ? - ia mendongkol. Terus saja ia meloncat tinggi dan hinggap di atas genteng. Lalu mengintip dari sela-selanya.

Dua orang laki-laki sedang duduk berhadapan. Yang sedang berbicara mengenakan pakaian loreng. Wajahnya kemerah- merahan, berjanggut dan bermata tajam. Umurnya kurang lebih empat puluh tahun. Sedang yang duduk dihadapannya seorang pemuda tampan kira-kira berumur 27 tahun. Diah Windu Rini tidak mengenal siapa mereka berdua. Tetapi menilik logat bahasa-nya, tentunya orang dari Jawa Timur. Apakah mereka orang-orang Malang bawahan Adipati Mas Brahim ? Adipati Mas Brahim anak keturunan Untung Surapati.

Dahulu pernah bekerjasama dengan ayahnya, melawan Kompeni Belanda. Lalu, tiba-tiba ayahnya mengundurkan diri. Dan Mas Brahim dipukul mundur Kompeni Belanda. Kalau anak-buahnya kini memaki dan menyumpahi ayahnya, bisa dimengerti.

- Dua hari dua malam, kita disuruh menjemput anaknya. Kabarnya dia bernama Windu Rini. hai Karji ! Bagaimana pendapatmu ? -

- Paman Mataun ! - sahut pemuda di depannya yang dipanggil dengan nama Karji. - Betapapun kata orang, kita kalah bukti. Dan apapun kata orang terhadap sepak terjang Adipati Cakraningrat, aku akan tetap kagum kepadanya. Memang kita selisih faham.

Tetapi siapa tahu, sikap Adipati Cakraningrat adalah hasil pikir dan pertimbangan orang-orang gede. Kita ini, apa sih ? Cuma sebangsa tempe goreng yang mudah dibeli orang. -

- Hai tutup mulutmu ! Kau tahu apa ? - bentak Mataun dengan wajah penasaran. - Waktu itu kau masih belum bisa beringus. Aku membantu laskar Madura memerangi orang-orang Tuban dan Surabaya. Apa hasilnya ? Yang mendapat nama orang Madura ! -

- Baiklah, taruhkata alasanmu benar. - potong Sukarji. - Tetapi memaki orang dibelakang punggung adalah perbuatan seorang pengecut. - Tak terasa Diah Windu Rini memanggut membenarkan. Dan tak dikehendaki sendiri ia menaruh simpati kepada pemuda itu.

Sekarang ia tidak ragu-ragu lagi. Mereka berdua memang orang Malang, bawahan Adipati Mas Brahim. Mereka dikirim ke Pasuruan oleh Adipati Mas Brahim untuk ikut membantu meratakan perjalanannya ke Kartasura. Namun menyaksikan perangai dan mendengarkan bunyi ucapan Mataun, hati Diah Windu Rini mendongkol. Orang itu perlu dibuat jera, pikirnya,

- Aku berharap dapat bertatap muka dengan Windu Rini. Kabarnya dia mempunyai kepandaian pula seperti ayahnya. - kata Mataun dengan suara setengah mengutuk. - Sebelum aku meng-angguk, perlu aku mengujinya dulu. -

- Maksud paman ? -

- Akan kuuji ilmu pedangnya. -

- Paman ! Apakah perbuatan paman dapat dibenarkan ? - Mataun tertawa melalui hidungnya. Menjawab :

- Kau takut aku kalah ? Jangan khawatir ! Dia boleh pandai melebihi diriku. Akan tetapi kepergiannya ini berarti menantang bahaya maut Kau tahu sepak terjang orang-orang yang menaruh dendam kepada keluarga Cakraningrat ? Saat ini mereka berada di sekitar Pasuruan. Maka sebelum dia dapat mengalahkan aku, mereka sudah datang untuk menangkapnya hidup atau mati. -

Diah Windu Rini seorang gadis yang berhati panas. Mendengar ucapan Mataun, tak dapat lagi ia menahan diri. Terus saja ia bergerak hendak menimpuknya dengan senjata bidiknya. Tiba- tiba pada detik itu, ia mendengar suara Sukarji yang lembut :

- Paman ! Sebenarnya siapa mereka ? -

- Siapa mereka, aku sendiri tidak tahu. Sebab mereka mengenakan topeng. Tetapi mereka seia-sekata hendak menghabisi jiwa Windu Rini. -

- Nanti dulu! Orang boleh membenci ayahnya, tetapi mengapa anaknya harus menerima getahnya ? Lagipula, Diah Windu Rini bukan berjalan seorang diri. la disertai Gemak Ideran dan Niken Anggana. -

- Itu bukan soal bagi mereka. Malah kebetulan. -

- Malah kebetulan bagaimana ? -Mataun tertawa perlahan. Sahutnya :

- Merekapun akan dibabat mati. -

- Hm, kau bisa apa ? - ejek Mataun. - Kepandaian mereka sangat tinggi. Barangkali gurumu sendiri tidak dapat menandingL-

- Lalu.....lalu .- Sukarji tergegap-gegap. -Baiklah, taruh kata

mereka mendendam keluarga Cakraningrat, tetapi Gemak Ideran dan Niken Anggana bukan termasuk keluarga mereka, - - Kau harus mengenal bunyi pepatah : sekali tepuk dua lalat mati. Kau mengerti maknanya ? -

- Kau maksudkan jumlah orang yang harus dibunuh ? - Sukarji menegas.

- Bukan begitu. - damprat Mataun. - Sambil membalas dendam terhadap keluarga Cakraningrat, tujuannya yang terpenting ialah merebut kembali pedang Sangga Buwana yang berada di tangan Niken Anggana. -

- Kenapa dia ? - Sukarji terkejut.

- Sebab dialah puteri satu-satunya Haria Giri yang mencuri pedang Sangga Buwana dari tangan pendekar Sondong Landeyan. Aku sendiri sih, tidak perduli. Hatiku sudah puas, bila Cakraningrat bakal menangis satu tahun setelah kehilangan puterinya. Hahahaaaaa ..-

Kali ini Diah Windu Rini benar-benar akan menghajar Mataun. Namun masih dapat ia berpikir panjang. Tadinya ingin ia menimpuknya dengan senjata bidiknya yang berbahaya. Tetapi kalau sampai mati, ia bakal tidak dapat memperoleh keterangan lebih jauh lagi. Dengan pertimbangan itu, ia meloncat turun dan memungut segumpal tanah. Kemudian ia melubangi dinding kamarnya.

Tepat pada saat itu, Mataun sedang mengutuk dan mencaci- maki. Kemudian tertawa terbahak-bahak oleh rasa puas yang hanya diketahui sendiri apa sebabnya. Sret! Dan gumpalan tanah itu menyumbat mulutnya.

Keruan saja Mataun jadi gelagapan begitu mulutnya kena sumbat la terperanjat pula. Dengan serentak ia menyambar pedangnya yang tergantung di dinding. Gerakannya diikuti Sukarji yang segera membuka jendela. Mereka berdua kemudian melompat ke luar.

Mataun menyemburkan gumpalan tanah yang menyumbat mulutnya. ia menyumpah-nyumpah kalang-kabut. Tanpa berpikir panjang lagi ia memburu maju. Tetapi belum sempat menutup mu lutnya, kembali lagi segumpal tanah menyambar kerongkong- annya. kali ini ia benar-benar terkejut. Untung, masih dapat ia mengelak. Meskipun demikian, tak urung wajahnya terserempet juga. la murka bukan main.

Diah Windu Rini sengaja hendak mempermainkan mereka berdua. la berpura-pura bergerak lam bat agar bayangannya ter- tangkap penglihatan mereka. Kemudian melarikan din ke arah utara.

Mataun yang jadi kalap terus saja mengejarnya sambil memaki- maki dan menyumpah serapah. Sukarji terpaksa mengikuti, meskipun tahu musuhnya berkepandaian tinggi.

Sementara itu dengan langkah cepat dan perlahan, Diah Windu Rini memancing mereka ke luar kota. Dengan timpukan-nya ia membuat Mataun mengejar terus-menerus. Memang ilmu kepandaian Diah Windu Rini sudah mencapai tataran sempurna. Dapat ia mengatur langkah kakinya sekehendak hatinya. Kadang- kala ia berkelebat bagaikan bayangan. Setelah menghilang di balik kegelapan malam, ia memungut batu kerikil atau tanah keras dan disambitkannya bagaikan hujan gerimis. Kemudian ia lari lagi dengan langkah santai seolah-olah menunggu. Keruan saja Mataun dan Sukarji jadi penasaran. Dengan mati-matian mereka mengejar.

- Bangsat! Anjing ! Tikus ! - maki Mataun. Tetapi sia-sia saja ia memaki terus-menerus. Lambat-laun, makiannya berhenti sendiri karena mulutnya kecapaian. Merasa kalah perbawa ia berkata kepada Sukarji: - Mungkinkah dia sendiri ? -

- Dia sendiri siapa ? - Sukarji menegas dengan nafas mulai memburu.

- Windu Rini. -

- Windu Rini ? Ah ! -

- Lantas siapa lagi kalau bukan dia ? - Mataun uring-uringan.

- Mengapa paman tidak teringat orang-orang yang mengena-kan topeng ? -

- Kenapa mereka ? - - Kukira mereka memusuhi kita juga. - ujar Sukarji. - Sebab, kitapun golongan Adipati Madura. -

Mataun hendak mendampratnya, namun suatu ingatan me-nusuk benaknya. Sebab alasan Sukaiji masuk akal. bukankah mereka berada di Pasuruan karena ditugaskan atasannya ? Memikir demikian ia memusatkan penglihatannya. Justru pada waktu itu, bayangan Diah Windu Rini hilang dan pengamatannya.

Diah Windu Rini sudah merasa cukup menggoda mereka berdua. Setelah melesat secepat bayangan siluman, ia mengambil jalan kecil. Lalu pulang kerumah penginapan dengan perasaan puas. Di dalam hati ia tertawa. Tetapi begitu tiba di halaman rumah penginapan, hatinya tercekat. Pelita yang menerangi kamarnya menyala terang.

Padahal tadi, ia memadamkannya sebelum meninggalkan kamarnya.

Dengan hati kebat-kebit ia memasuki kamarnya. Semuanya nampak beres. Hanya letak bungkusan pakaiannya yang berubah. Setelah diperiksa, seperangkat pakaiannya yang berwarna merah, hilang. Irulah warna pakaian yang paling digemari. Siapakah yang menggerayangi bungkusan pakaiannya. Segera ia menjenguk kamar Niken Anggana. Gadis itu ternyata masih saja tertidur nyenyak. Setelah itu ia mengintip kamar Gemak Ideran. Kosong! Hai, ke mana ? Suatu perasaan naluriah menggetarkan hatinya. - Tidak mungkin Niken tertidur nyenyak. Gemak Ideran pasti menggentaknya dari tidur, karena melihat sesuatu. Sebelum ber- tindak, tentunya menjenguk kamar Niken. Setidak-tidaknya mem- bangunkannya. Mengapa dibiarkan tertidur pulas ? - ia berpikir kacau di dalam hatinya.

Secepat kilat ia berputar dan menerobos kamar Niken. Pada detik itu pula ia mendengar suatu gerakan halus. Niken Anggana tiada lagi di atas tempat tidur. Jendela sudah terbuka lebar. Melihat hal itu, tanpa ragu-ragu lagi Diah Windu Rini melompat pula ke luar jendela. Masih sempat ia melihat berkelebatnya sesosok hayangan.

- Berhenti ! - bentaknya.

Dibentak demikian, bayangan itu malahan mempercepat lang-kah kakinya. Inilah aneh ! Ia kenal lagak-lagu dan tabiat Niken Anggana. Meskipun ia menghormati, namun puteri Haria Giri itu selalu patuh medengarkan tiap patah katanya. Kenapa kali ini membandel ? la heran dan curiga. Jangan-jangan Niken Anggana terbius ilmu sihir. Sebab pada jaman itu, ilmu hitam merupakan ilmu sesat yang ditakuti orang tetapi termashur dalam kalangan penduduk. Banyak sekali laporan-laporan tentang merajalelanya ilmu hitam yang melanda ketenteraman hidup penduduk. Tenung, guna-guna, kemayan, gendam dan sihir merupakan istilah-istilah yang tidak asing bagi pendengaran orang.

Memperoleh pikiran demikian, segera ia mengejar dengan ilmu Sepi Angin. Makna kata s e p i bukannya sunyi dalam arti sesungguhnya. Tetapi sepinya angin yang menggulung awan di angkasa. Suaranya tidak terdengar dari persada bumi, akan tetapi sesungguhnya membawa himpunan tenaga dahsyat dan cepat luar biasa. Dengan sekali menjejak tanah, tubuhnya melesat tinggidan hinggap di atas wuwungan. la ingin memperoleh kepastian dulu, apakah orang itu menyembunyikan teman-temannya. Ternyata tiada nampak sesuatu yang mencurigakan.

- In ! - pikirnya di dalam hati. - Siapa dia ? Ilmu larinya pesat bagaikan kilat. Pasti dia berkepandaian tinggi pula. -

Terus saja ia melejit Tetapi baru saja ia melompat ke atas genteng kamar sebelah, sesosok bayangan melintas di depannya. Menilik bentuk tubuhnya pasti seorang wanita. Bayangan itu me-larikan diri ke arah kamar Mataun dan Sukarji. Dengan penasaran ia mengejar bayangan itu, karena mengganggu dirinya. Sekali melesat ia memotong arah larinya dan memukulnya dengan pukulan : Aji Paleburan. Aji Paleburan adalah semacam jenis pukulan yang dapat menembus sasaran jarak jauh. Dan kena pukulan Paleburan, bayangan itu roboh terjungkal dengan me-mekik tertahan. Topeng wajahnya terlepas.

Diah Windu Rini menyambarnya dengan gesit membentak :

- Berkatalah yang benar ! Kalau tidak, akau bisa menyiksamu setengah mati ..-

- Kau siapa ? - - Aku puteri Madura. Kenapa ? - bentak Diah Windu Rini. la tidak perlu merasa takut menyatakan asal negerinya. Sebab orang itu sudah dikuasainya.

- Apakaru...apakah kau Niken Anggana ? -

- Tidak. Mengapa kau menyebut namanya ? -

- Karena dia. ..- ia menuding ke arah bayangan satunya yang

sudah menghilang.

- Ya, aku tahu. Dia menyaru diriku, bukan ? Siapa dia ? -

- Dengarkan dulu, nona. - ujar bayangan itu. - Aku bukan musuh kalian. Aku puteri Adipati Mas Brahim. Di tengah jalan aku mendengar kasak-kusuk segerombolan orang asing yang hendak mencelakakan kalian. Maka kukuntit..........orang itu ..-

- Apakah dia orang asing ? -

- Benar. -

- Dia mengenal orang-orang yang datang dari Madura , -

- Benar. Kau Diah Windu Rini, bukan ? -

- Bagaimana_kau tahu ? - - Engkau menolak kusebut Niken Anggana dan kudengar jelas mengenal nama Niken Anggana. Siapa lagi kalau bukan Diah Windu Rini ? -

- Kau cerdik. Bagus. Lalu siapa dia ? -

- Rawa.....Rawa..... - jawabnya. Tiba-tiba terhenti setelah memekik menyayatkan hati.

- Hai ! - Diah Windu Rini terkejut sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia ternyata seorang gadis. - Hai ! - tetapi gadis itu sudah kehilangan nafasnya.

Diah Windu Rini adalah seorang gadis yang ahli melepaskan senjata bidik. Sedetik tadi ia mendengar bunyi serangan senjata bidik sebelum tawanannya memekik tinggi. Akan tetapi ia hanya dapat membela diri, sebaliknya tidak mampu melindungi atau menolong tawanannya.

Dengan terkejut ia menggoyang-goyang-kan tubuhnya. Namun sudah kasep. Pada detik itu pula sadarlah ia bahwa bayangan satunya yang dikiranya sudah menghilang ternyata berada disekitar nya. Dia sengaja membunuh tawanannya untuk menutup mulut. Memperoleh kesimpulan demi kian, Diah Windu Rini meletik tinggi dan memburu penyerang gelapnya.

Dalam waktu beberapa detik saja, penyerang gelap itu sudah menghilang di kegelapan malam. Akan tetapi Diah Windu Rini benar-benar seorang gadis yang berkepandaian tinggi. Masih sanggup ia membuntuti arah lari penyerang gelap itu. la berlari- larian dengan menggunakan limit Sakti Aji Sepi Angin. Baru saja lariserintasan,telinganya yang tajam luar biasa mendengar bunyi bentrokan senjata.

Diah Windu Rini mempercepat langkahnya. Sebentar saja ia melihat dua orang laki-laki mengeru buti seorang gadis yang mengenakan pakaian hitam. Siapa lagi kalau bukan bayangan yang mem bunuh tawanannya. Dua orang laki-laki yang mengerubuti-nya bersenjatakan pedang panjang. Merekalah Mataun dan Sukarji yang sebentar tadi berusaha mengejarnya. Dengan kerja-sama yang rapih mereka mendesak bayangan itu.

- Hai, hai tahan ! - seru gadis bayangan itu yang bersenjata

pedang pendek. Sebab dalam beberapa gebrakan saja, ia kalah tenaga dan terpaksa mundur selangkah demi selangkah.

- Tanggalkan dulu topengmu ! - bentak Mataun dengan suara mendongkol.

- Hahaha .- gadis bayangan itu tertawa panjang. - Kalian salah

alamat. Yang menyumbat mulutmu, bukan aku. Tetapi tuuuuuh dia ! Dialah Windu Rini yang mendongkol mendengar

umpatanmu terhadap ayahnya. -

Ucapan gadis bayangan itu benar-behar diluar dugaan Diah Windu Rini. Tadinya ia girang menyaksikan dia kena dirintangi Mataun dan Sukarji. Tetapi setelah mendengar kata-katanya, Mataun dan Sukaiji benar-benar menghentikan serangannya. lalu berbalik menghadap dirinya.

- Benar, benar ! Dialah orangnya ! - teriak Mataun kalap.

la tadi sempat melihat potongan tubuh Diah Windu Rini yang mempermain-mainkannya. Terus saja ia menerjang dengan ber- nafsu. Sementara itu, sang gadis bayangan melompat berjungkir balik di udara dan melarikan din sepesat angin. Diah Windu Rini mendongkol bukan main .

- Kaiji! Hayo habisi jiwa bangsat itu ! - teriak Mataun makin kalap.

Diah Windu Rini tertawa lantaran mendongkolnya. Lalu menyahut:

- Kalian hendak mengambil jiwaku ? Perkara apa ? Sayang, aku tidak bersemangat untuk menema nimu bermain-main ..-

Selagi berkata demikian, tiba-tiba ia mendengar suara kesiur angin. Itulah suara senjata bidikan yang dilepaskan dengan suatu tenaga kuat sekali.

Diah Windu Rini adalah seorang gadis yang tidak hanya ber- kepandaian tinggi, tetapi berani pula. Mendengar suara senjata bidikan itu, (di Jawa disebut senjata gendam. Selanjutnya akan disebut demikian) sama sekali ia tidak mengelak. Sebaliknya malahan sengaja menyongsongnya dengan mengibaskan tangan-nya. Dan senjata gendam itu meletik balik menyambar majikan-nya.

- Hai ! Kau benar-benar hendak mencabut jiwaku ?-bentak Diah Windu Rini. Mataun dan Sukarji terperanjat.

Senjata gendamnya terbuat dari duri Pandan Semeru yang hanya tumbuh di puncak Gunung Semeru. Kuat, tebal, keras dan tajam melebihi pasak. Selain itu mengandung sifat lembek sehingga dapat melentur ibarat tali gendewa. Bila majikannya memiliki himpunan tenaga sakti lenturan tenaga nya dapat mematahkan dahan pohon sepelukan orang dewasa.

Diah Windu Rini tidak berniat hendak melayani labrakan mereka. Setelah membentak demikian, ia melesat menjauhi. Ia lari secepat angin sepertf diuber hantu. Tujuannya hendak mengejar gadis bayangan yang kejam dan cerdik sebentar tadi.

Sebaliknya, Mataun dan Sukarji tidak mau sudah. Mereka merasa dipermainkan hampir satu malam suntuk. Mereka mendongkol dan penasaran. Dada mereka serasa hendak meledak. Keruan saja begitu bertemu dengan Diah Windu Rini, mereka menerjang bagaikan kerbau gila.

Diluar dugaan, Diah Windu Rini berkepan-daian tinggi. Bahkan kepandaiannya berada di atas kepandaian mereka sendiri. Sudah begitu, kini mereka ditinggalkan seolah-olah tiada harganya sama sekali untuk dilayani. Mataun yang beradat panas, lantas saja berteriak-teriak kembali:

- Bangsat! Anjing ! Kucing ! Tikus ! Jangkrik ! -

Tetapi Diah Windu Rini tidak menggubrisnya. la sudah meninggalkan mereka jauh-jauh. Seluruh perhatiannya dipusat- kan untuk mengejar orang bertopeng tadi. Sudah jelas, dia se- orang gadis. Suaranya yang merdu sempat di dengarnya. Dia menggunakan bahasa Melayu (baca : Indonesia) kasar. Tak usah diterangkan lagi, dia berasal dari luar wilayah Jawa Timur.

Mengapa kini berkeliaran di sini ? Pasti ada Maksudnya yang ter- selubung.

Sayang, gadis bertopeng itu sudah berada di suatu tempat yang jauh. Entah di mana dia kini berada. Ini semua akibat pencegatan Mataun dan Sukarji yang sebenarnya justru harus memban tunya. Sekarang ia kehilangan jejak.

Meskipun demikian ia tidak kehilangan akal. Gesit luar biasa ia melompat tinggi dan hinggap di atas dahan. Dari atas ketinggian ia menebarkan penglihatannya. Tiba-tiba ia melihat Gemak Ideran dan Niken Anggana berjalan santai dari arah yang bertentangan.

- Hai, apa artinya ini semua ? - ia heran.

Khawatir kalau-kalau ada yang membayangi mereka, ia menebarkan penglihatannya lebih luas. Ternyata tiada sesuatu yang mencurigakan. Mempero-leh penglihatan demikjan, terus saja ia melompat turun dan lang-sung menyongsongnya. la mau menegurnya, tiba-tiba mereka berdua sudah mendahului. Seru mereka hampir berbareng :

- Ayunda ! Engkau benar-benar pandai membuat kita bingung ! -

- Bingung bagaimana ? -

- Kau mengajak kami ke luar kamar. Lalu berlari-lari kecil. Setelah kami ikuti, tiba-tiba menghi lang. Tentu saja kami tidak mampu mengejar kecepatan ayunda. - ujar Niken Anggana.

Diah Windu Rini tercengang. Suatu bayangan berkelebat di dalam otaknya. Tetapi tindak kebijak sanaannya tidak memperkenankan ia berbicara lagi di tengah alam yang terbuka. Lantas saja ia berkata berbisik :

- Mari kita balik dulu ke penginapan. Di sana kita berbicara. -la mendahului pulang ke rumah penginapan.

Pengalamannya pada malamhari itu sungguh hebat! la merasa dihadapkan kepada suatu teka-teki yang pelik. Siapakah gadis bertopeng tadi ? Mengapa dia membunuh bayangan yang lain ? Siapakah gadis ini ? Ia belum sempat minta keterangan. Lalu siapa pula yang mengajak Niken Anggana dan Gemak Ideran meninggalkan kamarnya ? Setelah terpancing ke luar kamar, mereka tidak diapa-apakan. Apakah maksudnya ? Niken Anggana dan Gemak Ideran bukan orang tolol. Semenjak berangkat dari Madura sudah dibekali sikap hati-hati dan waspada. Tetapi masih dapat mereka terpancing ke luar kamar. Dasar alasannya sudah jelas. Tentunya orang yang memancing nya ke luar kamar, mirip dirinya. Apakah orang itu mengenakan topeng pula ? Siapa dia ? .

Dengan teka-teki pelik yang merumun dirinya, Diah Windu Rini tiba di rumah penginapan. Apa yang dilakukannya untuk yang pertama kalinya adalah menggeledah kamar Niken Anggana dan Gemak Ideran.

- Coba periksa semua barang bawaan kalian ! Kalau ada yang hilang, apa yang hilang ..-

Jawabannya tidak usah menunggu terlalu lama. Tiba-tiba Niken Anggana berseru tertahan :

- Pedangku ! -

Diah Windu Rini mengerutkan dahi. la menunggu laporan Gemak Ideran. Tetapi pemuda itu tidak merasa kehilangan sesuatu.

Semua barang bawaannya masih utuh dan rapih.

- Gemak Ideran ! Apakah engkau tidak membawa pedang ? -

- Buat apa ? - Gemak Ideran tercengang.

- Buat apa bagaimana ? -

- Habis. bukankah ayunda sendiri yang memberi isyarat agar

kami berdua tidak usah membawa-bawa senjata agar tidak me- narik perhatian ? - - Aku ? - Diah Windu Rini menegas.

- Siapa lagi kalau bukan ayunda.....- sahut Gemak Ideran dan Niken Anggana hampir berbareng.

- Hm coba lihat yang jelas ! Apakah aku mengenakan pakaian

warna ini ? -

Niken Anggana dan Gemak Ideran ternganga sejenak. Lalu saling memandang. Setelah itu, berkata lah Niken Anggana se-tengah tertawa:

- Benar-benar ayunda pandai bergurau, malam ini. Bagi ayunda apa sih susahnya mengenakan warna pakaian yang lain dalam beberapa saat saja ? Apalagi ayunda sempat meninggalkan kami cukup lama ..-

Mendengar ujar Niken Anggana, wajah Diah Windu Rini berubah menjadi suram. Sahutnya dengan wajah berkerut-kerut :

- Dia mengenakan pakaian warna merah, bukan ? -

- Dia siapa ? - Niken Anggana menegas.

- Jawab saja. Benar atau tidak ? -

Niken Anggana bukan seorang gadis yang tidak pandai ber-pikir. Begitu mendengar lagu suara Diah Windu Rini, ia sudah dapat menebak delapan bagian. Katanya dengan suara menggeletar :

- Kalau bukan ayunda, siapa dia? Eh bagaimana ayunda bisa menebak tepat warna pakaiannya ? - - Karena aku kehilangan seperangkat pakaianku yang berwarna merah. - sahut Diah Windu Rini setengah geram.

Niken Anggana sudah dapat menduga delapan bagian. lapun sudah terbangun rasa curiganya. Namun mendengar pernyataan Diah Windu Rini, tak urung hatinya tercekat juga. Wajahnyayang tenang nampak gelisah.

- Nanti dulu ! - Gemak Ideran menimbrung. - Mataku belum lamur, Masakan aku tidak mengenal ayunda ? -

Diah Windu Rini menghela nafas. Katanya setengah berbisik seraya membanting dirinya duduk di tepi pembaringan :

- Aku memergoki dua orang yang mengenakan topeng. -

- Maksudmu dua orang laki-Iaki yang mengenakan topeng ? -

- Bukan. -

- Perempuan ? -

- Perempuan. -

- Topeng hantu, barangkali ? - Gemak Ideran menegas.

- Hari terlalu gelap bagiku. Tetapi kurasa mereka tidak mengenakan topeng hantu. Sebab yang seorang dapat kurobohkan. Sayang dia mati terbunuh sebelum aku sempat mengenal namanya. Tetapi yang pasti dia puteri Adipati Mas Brahim. Begitulah pengakuannya. Dan yang satunya, mengenakan topeng wajah diriku ..- - Ah   mustahil ! - seru Gemak Ideran.

- Hm   apakah dalam suasana gelap pekat engkau dapat

mengenal wajahku dengan jelas ? Tentunya dia bersembunyi di balik kegelapan. Setidak-tidaknya engkau hanya melihatnya se- lintasan saja. -

Gemak Ideran tercenung-cenung. la jadi berbimbang-bim-bang sendiri. la mencoba mengingat-ingat. Masih mencoba :

- Tetapi bentuk tubuhnya      .. -

- Apakah bentuk tubuh orang lain tidak boleh mirip diriku ? - dengus Diah Windu Rini.

Gemak Ideran ternganga. la merasa pikirannya tiba-tiba menjadi butek. Pada saat itu, ia mendengar Niken Anggana berkata perlahan-lahan :

- Ayunda ! Bagaimana ayunda tahu, bahwa dia menyaru dirimu ?

-

Pertama-tama, aku kehilangan seperangkat pakaian merahku. Kemudian aku sempat memperoleh keterangan gadis itu. - sahut Diah Windu Rini. Lalu ia menuturkan pengala mannya. Dimulai dari timbulnya rasa curiganya setelah melihat dua ekor kuda yang terawat baik, sampai kepada Mataun dan Sukarji. -Terhadap dua orang ini, kalian tidak usah takut. Kepandaian mereka masih berada di bawah kepandaian kalian berdua. Tetapi kita perlu menjauhi. Karena mereka menginap di rumah pengi- napan ini, mari kita berangkat sekarang juga ..-

- Sebentar ! Mereka datang ke Pasuruan atas perintah atasan- nya. Hal itu diperkuat oleh hadirnya puteri Sang Adipati. Tetapi mengapa mereka berdua memusuhi kita ? - Gemak Ideran minta keterangan.

- Kau maksudkan Mataun dan Sukarji ? - Diah Windu Rini menegas.

- Betul. -

- Biarlah kuterangkan perlahan-lahan di tengah jalan. Sekarang tiada waktu lagi untuk berbincang-bincang. Memang mereka ber- hasil kubawa berlari-larian di luar kota. Barangkali pada saat ini, mereka masih ubek-ubekan mencari diriku. Tetapi sebentar atau lama, mereka pasti balik kembali ke rumah penginapan. Sebelum mereka berdua sempat melihat kehadiran kita ..-

- Baiklah. - potong Gemak Ideran mengerti.

Sewaktu mereka tadi memasuki rumah penginapan, seperti biasanya Diah Windu Rini bersikap angker dan royal. Tiga kamar yang dikehendaki, dibayarnya sekaligus. Karena itu, mereka dapat meninggalkan rumah penginapan sewaktu-waktu. Tentang memasang pelana di atas kudanya masing-masing, bukan merupakan masalah lagi. Mereka sudah terlatih semenjak memasuki rumah perguruannya masing-masing. Itulah sebabnya, dengan sekejap saja mereka sudah meninggalkan rumah penginapan tanpa halangan.

Diah Windu Rini sengaja tidak mengambil jalan berputar untuk benar-benar menghindari pengama tan Mataun dan Sukarji.

Sebaliknya, ia langsung menuju ke Bangil. Dengan demikian, ia mengam bah jalan besar. Rencana perjalanan ke Kartasura akan melalui Pandaan, Mojo Agung, Nganjuk, Ngawi, Mantingan dan terus memasuki wilayah Sukawati. Karena itu, Niken Anggana dan Gemak Ideran tahu belaka, bahwa sewaktu-waktu Mataun dan Sukarji akan dapat menyusulnya.

- Sebenarnya apa maksud mereka datang ke Pasuruan ? Baiklah, kita percaya saja mereka datang atas perintah majikannya. Tetapi apa sebab mereka memusuhi ayunda ? - Gemak Ideran mengulangi pertanyaannya yang belum memperoleh kejelasan.

- Andaikata hantu bertopeng itu tidak muncul, - jawabannya amat sederhana saja.

- Mereka berdua adalah termasuk orang-orang yang merasa dikecewakan ayah. Apa masa lahnya, adalah soal orang-orang tua. Kita orang-orang muda kerapkali tidak memperoleh tembus pandang. Barangkali karena kita kalah pengalam-an. Tetapi dengan munculnya dua hantu itu, aku jadi berbimbang-bimbang. Gadis itu mengaku puteri Adipati Mas Brahim. Tetapi dia justru berada di atas atap Mataun dan Sukarji. Gadis itu bersikap bersahabat denganku Sebaliknya Mataun, tidak. Bila gadis itu benar-benar puteri paman Brahim, kukira sudah lama terjadi suatu perpecahan antara pihak paman Brahim dan pihak yang belum jelas bagiku. Dengan begitu, sekaligus kita menghadapi suatu masalah yang masih gelap. Katakan saja terus terang, surat pos Merpatiku ditangkap oleh dua pihak yang berselisih. -

- Maksud ayunda, blok Adipati Brahim dan blok'penentang-nya ? - Gemak Ideran menegas.

- Ya. - sahut Diah Windu Rini pendek. Berkata lagi:

- Sekarang muncul seorang hantu bertopeng yang lain lagi. Dia rne-masuki kamarku dan mencuri seperangkat pakaianku. Sudah begitu, ia berhasil memancing kau berdua ke luar kamar. Lalu kalian dibawa menjauhi diriku atau dibawa menjauhi rumah penginapan. Tadi aku disibukkan tentang niaksudnya yang ter- selubung. Sekarang sudah jadi jelas, -

- Apa ? - Gemak Ideran dan Niken Anggana bernafsu.

- Itulah perkara pedang Niken Anggana. - jawab Diah Windu Rini. Dan mendengar jawaban itu, Niken Anggana tercengang. la berpaling kepada Gemak Ideran mencari kesan, Lalu balik kembali menatap wajah Diah Windu Rini. Menegas :

- Memangnya kenapa ? - Diah Windu Rini tidak segera menjawab. la menirnbang-nimbang sejenak. Lalu balik bertanya :

- Niken ! Apakah pedangmu pedang pusaka ? -

- Pedang pusaka ? - Niken Anggana heran. - Itulah pedang pemberian paman Cakraningrat. Apakah pedang pemberian ayah-mu, pedang pusaka ? -

- Pedang pemberian ayah, memang termasuh sebilah pedang pilihan. Akan tetapi belum boleh digolongkan sebilah pedang pusaka yang pantas ditebus dengan jiwa. -

-Lalu ?-

- Kalau begitu yang diincar justru pedang keluargamu. Apakah

ayahmu mempunyai sebilah pedang pusaka ? -

Niken Anggana tercengang. la terlongong sejenak. Lalu men- jawab dengan hati-hati :

- Memang aku pernah mendengar, tetapi belum pernah melihatnya. -

- Sebilah pedang ? -

- benar. Menurut ibu bernama Pedang Sangga Buwana. Dulu pernah berada di tangan ayah. Tetapi hilang dirampas seorang pandai bernama Telaga Warih. - - Ah ! - seru Diah Wmdu Rini bergembira. - Itulah jawabannya. Gadis:bertopeng itu datang untuk mencuri atau merampas pedang pusaka Sangga Buwana. Bagus, bagus ! Kalau

begitu dia akan balik kembali. -

- Balik Kembali ? - Gemak Ideran menimbrung.

- Hm pedang Sangga Buwana. - Diah Windu Rini seperti

sedang membaca sebuah syair indah.

- Ayah pernah bercerita pula tentang pedang pusaka itu. Hm.....pedang Sangga Buwana ! Itu lah sebilah pedang yang

tercatat sejarah semenjak jaman Sri Wijaya. Konon, kabarnya pedang pusaka dari Negeri Siam (Thailand) yang dihadiahkan raja kepada seorang puteri dari Sri Wijaya bernama Damayani Tunggadewi. (baca : Jalan Simpang di atas Bukit) Pedang pusaka itu kemudian berpindah dari tangan ke tangan para satria besar. Siapa yang memiliki, tentu memiliki ilmu pedang yang tiada taranya. Diperkirakan orang, pedang Sangga Buwana menyimpan suatu ajaran ilmu pedang yang istimewa. Itulah sebabnya menjadi bahan perebutan orang. Untuk mem peroleh pedang itu, siapapun bersedia mati. Sekarang orang bertopeng itu berangan-angan pula hendak memiliki, la berhasil mencuri pedangmu. Tentunya mengira, bahwa engkau membawa - bawa pedang istimewa itu. Tetapi setelah mengetahui bukan pedang Sangga Buwana, bukankah akan dikembalikan dengan rasa penasaran ? Maka semenjak itu, dia akan muncul terang- terangan di hadapan kita. Dia atau berikut rombongannya akan memaksa dirimu untuk menyerahkan pedang Sangga Buwana -

- Rombongannya ? -

- Ya, rombongannya. aku yakin, dia tidak bekerja seorang diri.-

- Oh. Tetapi andaikata benar begitu, bukankah aku tidak memiliki pedang Sangga Buwana ? -

- Hrn menurut cerita luaran yang didengarnya, pedang itu

berada di tangan keluargamu. Maka engkau akan dipaksakan untuk mewujudkan angan-angannya. Karena itu, berjanjilah Niken

! Semenjak soat ini, engkau jangan berpisah jauh daripada-ku. Dan kau Gemak Ideran, kau kutugaskan untuk selalu men- dampingi Niken. -

Mereka melanjutkan perjalanan dengan berdiam diri. Hawa pagihari sudah tiba. Di ufuk timur, cahaya matahari lembut hadir di atas bumi. Burung-burung mulai terdengar berkicau sambung- menyambung. Sesekali angin meniup kencang membungkukkan puncak mahkota dedaunan.

Kemudian lari kencang melanda daratan dan meraba puncak- puncak jlalang dan belukar. Suara gemeresahnya memiliki nada tanda kehidupan sendiri. Alam lambat-laun jadi cerah seolah-olah menjanjikan cerita syahdu yang mengasyikkan hati nurani manusia. Tiada masalah sulit, rumit dan pelik. Semua berjalan lancar, rata, aman dan damai. Benarkah itu ? Justru pada detik itu, terdengar derap kuda yang sedang berpacu. Derap langkah kuda yang dahulu-mendahului, seolaholah sedang mengejar hantu.

Dengan sigap, Gemak Ideran menoleh. Kemudian memberi isyarat mala kepada Niken Anggana. Berkata kepada Diah Windu Rini :

- Dua orang. Apakah mereka Mataun dan Sukarji ? -

Diah Windu Rini tidak menjawab. Dia hanya mendengus pendek. Sejenak kemudian ia menjawab :

- Aku ingin tahu apakah yang akan mereka lakukan terhadap kita.

-

Mataun dan Sukarji memang masih penasaran kepada Diah Windu Rini. Mereka benar-benar merasa dipermainkan. Beberapa jam lamanya mereka ubek-ubekan mencarinya. Dari tempat ke tempat mereka mengadakan pemeriksaan.

Namun jejak yang dicarinya lenyap dengan begitu saja. Akhirnya dengan hati men-dongkol, mere ka kembali ke rumah penginapan. Kebetulan sekali, mereka berpapasan dengan pengurus rumah penginapan yang bersungut-sungut. Katanya, ketiga tetamunya meninggal kan kamarnya masing-masing tanpa pamit. Memang mereka sudah membayar, tetapi perbuatannya meninggalkan rumah penginapan tanpa pamit dapat merosotkan pamor perusahaannya. - Siapa mereka ? - Mataun menegas.

- Namanya yang benar tidak tahu. Yang jelas, dua perempuan dan seorang laki-laki. Semuanya masih muda remaja. - pengurus rumah penginapan memberi penjelasan.

Malaun tidak perlu minta kejelasan lagi. Terus saja ia melakukan pengejaran. Sukarji yang selalu mengikutinya tidak mau ketinggalan pula. Pemuda ini sebenarnya tidak menaruh dendam kepada Diah Windu Rini. la hanya merasa cemburu. Kepandai.- annya ternyata kalah jauh. Hal inilah yang membuatnya pena- saran. Bagi orang Jawa Timur, adalah suatu kehinaan besar bila seorang laki-laki sampai dikalahkan seorang wanita.

Dalam pada itu, Diah Windu Rini masih sempat menyelinap di

*******

halaman tidak jelas ......

bauk beluKai up a- anti pakaian. Kim tidak p. ear--

hi Aida b"ikain >• her puuh. la j«di ii?np<iK rnggun, ber- m- mi dr angker. P^rkata pendek ' a ad? Ni^-

namamu rit,ngaii terus teian /*ku <^ \ • * . •:. i da - dtrr a yang tepaL -

*******

Niken Anggana mengangguk dan menjajarkan kudanya me ...

ang jalan dengan kuda Gernak Ideran Mereka berdua belum sempat mengenakan pakaian baru, meskipun demikian tidak mengurangi perbawanya. - Hooop ! - Mataun mangangkat tangannya sambil menarik

kendali kudanya. la menunggu sampai Sukarji datang menjari. Lalu berkata menghardik : - Kalian siapa ? -

- Siapa yang mana ? - Gemak Ideran balik bertanya.

- Kau dan kau ! - bentak Mataun seraya menuding Gemak

Ideran dan Niken Anggana.

- Aku Gemak Ideran.-

- Dan kau ? -

- Aku Niken Anggana. Mengapa - sahut Niken Anggana dengan suara lembut .

Mendengar Niken Anggana menyebutkan namanya, Mataun tercengang. Setengah tak percaya ia berkata :

- Jangan bergurau ! Kau siapa ? -

- Aku Niken Anggana. Mengapa ? -

- Berani benar engkau memalsu namanya ! -

- Mamalsu ? Mengapa memalsu , Aku Niken Anggana puteri Haria Giri ! - Sekarang Mataun benar-benar percaya bahwa dia .:.. Niken Angganá sesungguhnya: Justru demikian ia jadi berbimbang- bimbang. Sama sekali ia tidak mengira, bahwa Niken Anggana adalah seorang gadis yang lembut budi bahasanya. Alangkah jauh berbeda bila dibandingkan dengan Diah Windu Rini yang mempermain-mainkan hampir satu malam suntuk.

Dan teringat akan Diah Windu Rini, pandang matanya mengarah kepada belukar yang tumbuh lebat di balik tanah tinggi.

Bentaknya :

- Tadi kalian bertiga. Mana yang satunya ? -

- Dia lagi berganti pakaian. - jawab Niken Anggana polos. - Apakah engkau ingin bertemu ? -

- He-e. Suruh dia keluar ! -

- Jangan ! Kakakku yang satu ini tidak pernah diperintah orang. - ujar Niken Anggana dengan sungguh-sungguh. - Sebenarnya kau menghendaki apa ? Aku tidak berpedang lagi ..-

- Ha ? - Mataun terbelalak. - Pedang Sangga Buwanamu di

mana ? -

Niken Anggana tersenyum manis. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Tetap tenang dan ramah seperti sediakala. Selagi demikian, Gemak Ideran menimbrung : - Paman Mataun, Sebenarnya apa maksudmu sampai mengejar kita di permulaan pagi ini ? -

- Kau siapa ? Anak Cakraningrat, ya <;> - bentak Mataun.

- Aku putera Adipati Sawunggaling. -

- Ha ? - Mataun terbelalak. - Mengapa kau berada bersama-sama dengan anak Cakraningrat ? Ayahmu dikhianati Cakraningrat !

Kau malahan ..-

- Aku berada di Madura, justru oleh kehendak ayahku. -

- Ah massaaaaaa ..-

- Kau sendin mengaku anak-buah Adipati Mas Brahim. Mengapa justru mengkhianati ? Nah, itupun perlu dipertanyakan, bukan ? - Gemak Ideran mencoba memancing mewakili pendapat Diah Windu Rini.

- Jangan menuduh sembarangan! - dan dengan wajah beringas Mataun menghunus pedangnya.

- Kau datang kemari bersama-sama dengan puteri Adipati Mas Brahim atau tidak ? - gertak Gemak Ideran.

- Kalau tidak bagaimana, kalau betul bagaimana ? -

- Hm ..- Gemak Ideran mendengus. Lalu berkata dengan mengulum senyum :

- Engkau pernah diberi ampun kakakku Windu Rini. Tetapi engkau tidak mau mengerti. Malahan akan mengambil jiwanya. Jangan-jangan engkau mempunyai maksud lain. Apakah perkara pedang Sangga Buwana ? -

Selagi Mataun hendak membuka mulutnya, Sukarji yang semenjak tadi berdiam diri mendahului :

- Sebentar, anak muda ! Engkau menyebut-nyebut puteri Adipati Mas Brahim. Apakah engkau pernah melihatnya ? -

Gemak Ideran seorang pemuda cerdas. Dengan berbekal tutur- kata Diah Windu Rini, ia menyahut:

- Terus terang saja, belum pernah aku melihat wajahnya. Kecuali muncul di tengah malam gelap gulita, dia mengenakan topeng pula. -

- Mengenakan topeng ? - wajah Sukarji berubah pucat.

- Dia berada di atas kamar kalian, aku yakin, dia sedang menyelidiki atau mengamati sepak-terjang kalian. -

-Ah!-

- Sekarang dia berada di atas atap kamar kalian. - - Dia berada di sana ? -

- Pendek kata, dia sudah mengetahui sepak-terjang kalian.- Sukarji nampak menggigil ketakutan.

Tiba-tiba saja ia memutar kudanya hendak balik ke rumah penginapan. Tetapi begitu kudanya melompat kena gentakannya, pedang Mataun menyam-bar lehemya. Untung, ia sudah dibawa melompat kudanya se-hingga ujung pedang Mataun hanya menyerempet pundaknya. namun tak urung, punggungnya bermandikan darah.

- Hai, apa artinya ini ? - ia berpaling seraya membentak hebat.

- Hm, kau kena dilagui bangsat ini. Mau ke mana ? -

- Mataun ! Aku percaya mulutnya daripada mulutmu. Aku yakin, dia tidak berdusta. Kalau sang puteri sampai mengetahui sepak- terjangku, aku bakal mati tak terkubur. -

Mendengar ucapan Sukarji, Mataun menggerung. Lalu me- nerjang dengan tidak segan-segan iagi. Tetapi Sukarji tidak mau mengalah. Dengan sebat ia menangkis. Sayang, ia sudah terluka. Pedangnya kena ditampar balik.

Menyaksikan hal itu, Gemak Ideran tidak tinggal diam. Gesit ia melompat tinggi dan menikam dari samping. Mataun terperan-jat. Buru-buru ia menangkis. la kalah kedudukan, sebab masih bercokol di .atas" kudanya. Sedangkan Gemak ideran berada di tengah udara. Merasa dirugikan, buru-buru ia menggulingkan dirinya ke tanah. Dengan bergulingap ia berhasil menyelamatkan diri.

- Niken, kau terimalah pedangku ! Tolong lemparkan golok-ku ! - seru Gemak Ideran.

Berseru demikian ia melemparkan pedangnya dan disambut Niken Anggana dengan sempurna. Beberapa saat kemudian, Niken Anggana menghunus golok Gemak Ideran yang tergan- tung di samping pelana kudanya. Kemudian dengan sekali lempar, golok itu sudah berada di tangan majikannya.

- Eh, rupanya kau ahli senjata golok ! - teriak Mataun setelah tegak berdiri di atas tanah. - Apa nama golokmu ? Mestinya golok pusaka ..-

- Benar. Namanya Golok Mataun ! - sahut Gemak Ideran.

- Sialan ! - Mataun mengutuk.

Rupanya Mataun seorang yang berdarah panas dan pendek akal. Terus saja ia menyerbu dengan mati-matian. Sama sekali ia tidak memperhitungkan hadirnya Sukarji yang kena dilukainya. Untung, Sukarji lebih memperhatikan keadaan puteri Adipati Mas Brahim. Setelah menangkis serangan Mataun, segera ia melarikan kudanya sepesat angin balik kearah kota.

Gemak Ideran menunggu sampai serangan Mataun tiba. Di dalam hati ia memang ingin menguji diri. Diah Windu Rini berkata, kepandaiannya masih berada di atas kepandaian Mataun. Karena itu, hatinya mantap. Dengan gesit ia menggerakkan gplok-nya dan menyongsong tikaman pedang Mataun tepat pada waktu-nya. Trang ! .

Mataun boleh membanggakan diri sebagai seorang yang banyak pengalamannya. Diapun percaya kepada ilmu pedangnya sendiri, sehingga tidak yakin bila dirinya sampai kena dikalahkan musuh. Apalagi lawannya kali ini seorang pemuda yang belum hilang bau tetek ibunya. Tetapi kenyataannya, pedangnya kene tertampar ke samping. Tangannya tergetar. Lengannya nyeii. Tahulah ia, Gemak Ideran bertenaga kuat.

- Eh, masakan aku kalah tenaga ? - ia menyiasati dirinya sendiri. - Barang kali aku terlalu semberono. -

Memikir demikian, segera ia memperbaiki kedudukannya. Lalu dengan tenang ia mengulangi serangannya. Pedangnya ber- kelebat dengan suara mengaung. Ia menggunakan tipu ganda. Bila lawannya sampai menangkis, ia dapat membelokkan arah tikaman nya. Tetapi lagi-lagi, ia kalah sebat. Gemak Ideran temyata dapat menebak maksudnya. Sama sekali ia tidak menangkis, melainkan memotong gerakan pedangnya dan. langsung menikam lambung-nya.

Keruan saja, ia mengelak dengan terburu-buru. Selagi demikian, Gemak Ideran maju selangkah dan menghantam kepalanya dengan gagang goloknya. Tak ! Dan dunia berputar di depan penglihatannya. la terkejut bukan main. Sebab sewaktu hendak berdiri, seluruh sendi tulangnya nyeri luar biasa. Dan ia terduduk kembali dengan tubuh lemas. Hai ! Kenapa ? Kenapa tiba-tiba ia kehilangan tenaga ? Selagi ia berkutat hendak menghimpun tenaga, Gemak Ideran datang menghampiri dengan langkah pasti dan tenang luar biasa.

Bagaimana ? Kau serahkan kepalamu atau kupotong kedua kaki dan lenganmu ? - gertak pemuda itu.

la tidak sanggup menjawab. Habislah sudah kegarangannya. Mulutnya yang jahil terbungkam Meskipun demikian, betapapun juga ia termasuk seorang laki-laki gagah Selama hidupnya ia berkelahi dan bertempur di pihak yang mengadakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda. Karena itu, ia tidak gentar mendengar ancaman Gemak Ideran. sahutnya :

- Aku seorang laki-laki.Kau boleh mencincang tubuhku menjadi bergedel. Tetapi jangan berharap aku bakal memohon-mohon belas kasihanmu .-

( rusak maning )

************

*Jada saat itu. tioa-tif- ,n' ncMiali Diab Windu F" ' >a- <vaii gerumbul b i Jknr. •'uraiannva yanp benvairq hiia^. .1 berkair icher putib ^ampik samarak di teng i ca^ u aU r-,ri ,ang seda.i • mp frwp1 ouini Dan mel'hi* muu u'nya u i. Windr. Rini sen; .xigai Mataun i.erb^i^ IJasar wataK^/a tidak r^1 k- i, . ip sa:^ "^ beaisaha membusungkan dadar ^ Perteriak Kal •> mau membunuhku, bunuhlab '

- Hm - d cn^; ,s Diah Windu Rinl H -^11 meng j] i ^.envum. -.pa untungnya membunuh* Ju '.

Mataun tercengan^ ^^jc-.n .k Tecapi padh aeti* i mengir" Diah Windu Rini ",k<jn menyiksa dirinva Tcnaknya ^ :

- Seorang laVd-laki b^.eri gugur oagaikan cliui iok ^Kan tetapi jangan kau hira sepjrti babi potong ! -

Diah Windu Xini menghampiri. Kudan\a I ' ?:\ d; depan matam*. Kemudian ^erkata seperti senra .1

- Mataun ! Kau ini memang seorang pern*- j.p tidak mempunyai otak. •

- Tidak mempunyai otak bagaimar.'' *' \\\ bcrotak •' -

- Kau cuma pandai menghafjJU*. se iro: .- n • kau mengerti sendin. -

- Mana yang tidak kurn^rH^r;, . > ^ .. _.-

- Sebentar tadi cplk^u berte^.K : Ki^ j\ ' r«iei ir r:

*********

tubuhku menjadi bergedel. Sedelik kemudian berteriak lagi, kalau mau membunuhku bunuhlah ! Sekarang katakan yang jelas, kau ingin kucincang menjadi bergedel atau kubunuh ? -

Dipojokkan demikian, Mataun jadi bingung sendiri. Kalau dipikir, ucapannya memang berten tangan. Sebentar tadi boleh mencincang dirinya menjadi bergedel. Sebentar lagi, minta dibunuh saja. Kedua-duanya tidak enak. Tetapi kalau ditimbang, lebih baik di bunuh dengan sekali tikam daripada disiksa menjadi bergedel dulu sebelum mampus.

la jadi malu sendiri, memang ucapan-ucapan demikian sebenarnya hanya dipetiknya dari kata-kata seorang pendekar yang tidak takut mati. Dan terasalah di dalam lubuk hatinya, manusia hidup ini harus memilih. Minta dibunuh atau dicincang menjadi bergedel berarti dipaksa memilih. Andaikata tidak memilih kedua-duanya, juga sudah berarti memilih.

Selagi pikirannya disibukkan oleh masalah itu, terdengar Diah Windu Rini berkata lagi :

- Dengan begitu, engkau ini sebenarnya termasuk manusia yang tidak tahu kedudukannya sendiri. Sebenarnya engkau berada di fihak Adipati Mas Brahim atau fihak yang menentangnya ?

Sebenarnya engkau berada di fihak Kompeni atau di fihak yang bermusuhan dengan Kompeni. -

- Hai,-hai! Tentu saja aku berfihak kepada para pendekar yang bermusuhan dengan Kompeni ! - potong Mataun dengan se- mangat berkobar-kobar.

- Kalau bermusuhan dengan Kompeni, mengapa justru engkau bukan anak-buah Adipati Mas Brahim yang sudah jelas adalah anak keturunan pahlawan Untung Surapati ? Coba, jawab-lah!-

- Mengapa kau bisa berkata begitu ? - - Mataun ! Apa yang kau ucapkan di dalam kamarmu, sudah kudengar semua. Kemudian aku memayang seorang gadis yang mengaku sebagai puteri Adipati Mas Brahim. Jangan lagi kau terkejut atau ikut berduka-cita. bahkan engkau mencoba meng- halang-halangi temanmu. Sebenarnya kau bekerja untuk siapa ? - bentak Diah Windu Rini.

- Aku.....? Aku ? - Mataun tergagap-gagap.

Dan wajahnya beeubah-ubah. Kadang merah padam, kadang kepucat-pucatan.

Diah Windu Rini menghela nafas. Lalu memutuskan :

- Baiklah karena engkau menutup mulut, tiada gunanya aku

berbicara berkepanjangan. Gemak Ideran, Niken Anggana

......Mari berangkat! -

Diah Windu Rini benar-benar meninggalkan Mataun yang duduk menumprah tidak berdaya di atas tanah. Gemak Ideran dan Niken Anggana yang sebenarnya tidak mengerti maksud Diah Windu Rini segera mengikutinya. Sebaliknya Mataun sendiri sebenarnya amat bersyukur di dalam hati. la merasa sudah tak berdaya. Siapapun dapat membunuh dirinya dengan gampang. Tetapi mengapa justru ditinggalkan semacam diampuni ? Selama hidupnya baru kali itu ia mengalami peristiwa demikian.

- Kakang Gemak Ideran ! Engkau hanya memukulnya dengan gagang golokmu. Tetapi ia sudah kehilangan tenaga. Apakah golokmu sebatang golok mustika ? - Niken Anggana minta keterangan kepada Gemak Ideran.

Sambil mengelus-elus gagang goloknya yang sudah tergantung kembali di samping pelananya, Gemak Ideran menjawab dengan tertawa :

- Janganlah terlalu percaya kepada segala macam pusaka atau mustika secara berlebih-lebihan, adikku. Semuanya tergantung kepada manusianya. Orang boleh memiliki macam pusaka ibarat pusaka Dewa peruntuh langit. Tetapi bila orangnya tidak dapat menggunakan, pusaka itu tidak berarti apa-apa. Sebaliknya se- seorang dapat memporak-porandakan dua atau tigapuluh lawan di medan perang hanya dengan senjata besi rongsokan, karena orang itu berkepandaian tinggi. -

- Kalau begitu, ilmu apakah yang kau gunakan untuk me- munahkan tenaga Mataun ? -

- Tentu saja termasuk salah satu jurus ilmu golok yang ku-warisi. Tapi bukan dari guruku. - sahut Gemak Ideran dengan mata berseri-seri.

Mendengar kata-kata Gemak Ideran, Diah Windu Rini ikut tertarik hatinya. la menoleh. Menegas :

- Gurumu bernama Ki Ageng Mentaok. Ilmu kepandaiannya boleh dikatakan sudah sempurna. Masakan engkau perlu me-nyangkok ilmu kepandaian orang lain ? - - Bukan begitu. - sahut Gemak Ideran cepat. - Diapun bukan guruku. Juga bukan sengaja mewariskan ilmu kepandaiannya kepadaku. Umurnya sebaya denganku. Tetapi ia mengaku diri sebagai pendeta. Paling tidak bercita-cita ingin hidup sebagai pendeta. Namanya Hajar. Karena berasal dari Karangpandan, ia menyebut diri Hajar Karangpandan. (salah satu tokoh Bende Mataram) Orangnya awut-awutan, binal seperti kuda liar, akan tetapi hatinya jujur dan kepandaian nya tinggi. Dalam suatu pertemuan ia berkenan mewariskan aku lima jurus pukulan maut. Itulah tadi salah satu jurus ajarannya ..-

- Apakah di dunia ada manusia semacam itu ? Aku tidak percaya, kalau diapun tidak memperoleh bagiannya. - Diah Windu Rini sangsi.

- Benar sama sekali ia tidak minta tukar setengah jurus-pun

dariku. -

- Diah Windu Rini termangu-mangu. Niken Anggana kemu-dian menimbrung :

- Kakang Gemak Ideran ! Kau ceritakan padaku tentang dia ! - Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Orang Kartasura rupanya berbakat seni. Kau tidak bosan-bosan mendengarkan cerita orang. -

- Aku paling gemar mendengar kisah petualangan. Apalagi kisah petualangan seorang pendekar semacam Hajar Karang-pandan -

Kembali lagi Gemak Ideran tertawa. Katanya : - Baiklah hari masih cukup panjang. Nanti malam saja aku

akan mengabarkan riwayat pertemuanku dengan Ki Hajar Karang-pandan Orang itu memang istimewa. Binal, liar, awut- awutan, tetapi jujur. Ayunda Windu Rini pasti tidak gampang- gampang percaya, karena orang itu memang tidak dimengerti. Tetapi tindakan ayundapun tidak mudah kumengerti. -

- Tindakan yang mana ? -

- Mataun kau tinggalkan begitu saja. Mengapa ? -

- Yang jelas, aku sudah memperoleh apa yang kuperlukan. -sahut Diah Windu Rini.

-Apa?-

- Itulah perkara puteri paman Adipati Mas Brahim. Puteri itu benar-benar puteri paman Brahim. Selanjutnya, tidak perlu lagi

aku mencampuri urusan rumah tangganya. Biarlah paman Brahim menyelesaikannya sendiri. Bila aku sampai menangani Mataun, ekornya bisa berakibat panjang. -

Gemak Ideran tertawa terbahak-bahak. Serunya :

-Ayunda sungguh cerdik! Katakan saja, ayunda pinjam tangan orang-orang bawahan paman Adipati Mas Brahim .. -

Diah Windu Rini tidak menjawab. Dengan melepaskan pandang di jauh sana, ia membedalkan kudanya. Niken Anggana dan Gemak Ideran terpaksa pula melarikan kudanya. Waktu itu, matahari sudah menjenguk di atas cakrawala. Hawa pagihari masih segar memasuki pernafasan.

13. SI PEMUDA LUSUH

DENGAN BERDIAM DIRI, Diah Wmdu Rini melanjutkan perjalanannya mengarah ke barat. Gemak Ideran dan Niken Anggana menjajarinya. Sebenarnya merka ingin minta beberapa keterangan. Tetapi meliat Diah Windu Rini bersikap angker, mereka mengurungkan niatnya. Mereka sudah mengenal watak dan sifat Diah Wmdu Rini. Dalam keadaan demikian, siapapun tidak diperkenankan mengganggunya.

Sebenarnya di dalam hati, Diah Windu Rini sibuk sendiri. Suatu teka-teki memenuhi benaknya. Siapakah yang bermain di belakang mereka? Agaknya orang itu sebagai majikan mereka yang menakutkan dan mengerikan. Sudah dapat dipastikan, bahwa majikannya berkepandaian luar biasa tingginya dan berkuasa. Dan majikan itu ingin memiliki pedang Sangga Buwana. Kompeni Belanda ? Ah, orang-orang Belanda mustahil mempunyai kepercayaan terhadap sebuah pusaka sakti. Seorang Cina yang berkepandaian tinggi ? Kehadirannya 'rnasih disangsikan. Atau seorang Adipati ? Ha, mungkin sekali. Soalnya sekarang, siapakah dia.

Gunung Welirang, Arjuna dan Anjasmara merupakan tiga gunung lambang Iri tunggal semenjak jaman dahulu. Lambang kekuatan Brahma, Wisnu dan Syiwa. Lambang asal-usal manusia, kehadirannya di dunia dan kepergiannya ke alam moskwa. Alam sekitamya bukan main indahnya.

Semua persada buminya berselimut hijau alam yang lembut, cerah dan meriah. Hawanya sejuh, teduh dan nyaman. Angin tidak begitu keras sehingga membawa perasaan aman kepada siapapun yang disentuh nya. Kepada mahkota pohon-pohon yang dibuainya, kepada binatang yang hidup di lembah ngarai dan di dalam hutannya, dan kepada manusia dengan makhluk lainnya yang tiada kasatmata.

Maka tidak mengherankan, meskipun hati Diah Wmdu rini masguJ dihadapkan kepada teka-teki yang merumunkan benaknya, masih sempat ia mengagumi suasana alam cerah menjelang sianghari. Demikian pula Niken Anggana dan Gemak Ideran yang sebenar-nya ingin menanyakan sesuatu hal.

Tatkala perjalanan tiba di tengah petak hutan yang memagari wilayah Ugeran dan Papar, sekonyong-konyong Diah Windu Rini melarikan kudanya menerobos petak hutan mendaki tanjakan yang letaknya berada di atas tebing jurang. Di atas tebing jurang itu, ia mengembarakan pandang matanya. Beberapa saat kemudian, ia balik kembali. Lalu berseru singkat:

- Gemak Ideran, Niken ! Kita beristirahat di sini. -

la mendahului turun dari kudanya dan ditambatkan pada sebatang belukar di tengah rerumputan. Gemak Ideran dan Niken segera turun pula dan membiarkan kuda mereka menggerumiti rerumputan yang hijau segar. Kemudian mereka menghampiri Diah Wmdu Rini. Sambil menghempaskan diri di atas rerumput- an, Gemak Ideran berkata :

- Ayunda, apakah aku diperkenankan mengajukan bebearapa pertanyaan ? -

Diah Windu Rini menunggu sampai Niken Anggana duduk di sampingnya pada sebuah batu yang terlindung oleh rindang pohon. Lalu menyahut:

- Sebenarnya kita perlu memejamkan mata dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Bukankah semenjak semalam kita belum sempat tidur ? -

- Benar. - Gemak Ideran mengangguk. - Tetapi apabila pertanyaanku ini belum memperoleh penjelasan, rasanya susah juga aku memejamkan mataku. -

Diah Windu Rini tersenyum. lamenimbang-nimbangsejenak. Memutuskan :

- Baiklah ! Apa yang akan kau tanyakan padaku ? -Gemak Ideran memperbaiki letak duduknya. Kemudian menegas seperti berkata kepada dirinya sendiri :

- Ayunda dapat menebak tepat permainan sandiwara mereka. Apakah ayunda mengenal mereka ? -

- Tidak. - - Apakah karena memperoleh kisikan seseorang ? -

- Kisikan ? - Diah Windu Rini tercengang.

- ya, aku melihat seorang pemuda lusuh yang duduk di luar rumah makan sedang menggerumiti paha ayam. Sikapnya acuh tak acuh seolah-olah tenggelam dalam rasa nikmat yang di- perolehnya. Beradanya di luar rumah makan atau katakan dengan tegas di sekitar rumah makan, perlu dipertanyakaa Bukankah begitu ? -

- Alasanmu ? -

- Pemilik rumah makan dan para tetamu kabur begitu rnen-cium bahaya. Sebaliknya, pemuda itu sama sekali tidak bergeser dan tempatnya. Paling tidak menimbulkan beberapa dugaan Setidak- tidaknya, dia mempunyai kepandaian untuk menjaga diri. Itulah yang pertama kali. Yang kedua, bukan mustahil dia termasuk salah seorang anggauta mereka. Bila kedua-duanya bukan begitu, tentunya dia seorang pemuda yang miring otaknya. Tetapi kenapa ia tiba-tiba menghilang entah ke mana berbareng

dengan-kepergian kita meninggalkan rumah makan ? -

Diah Windu Rini mendeham perlahan. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Sewaktu hendak membuka mulutnya, Niken Anggana mendahului:

- Apa sih alasan mereka menuduh diriku sebagai pembunuh puteri Adipati Brahim ? - - Sebentar! Biarlah kujawab sekaligus. - ujar Diah Windu Rini. Kemudian berkata seperti seorang guru di depan kelas :