Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 09

Jilid 09

- Hai Gemak Idelan dan setan pelempuan ! Ini isteliku tahu ?

Namanya, Endang. -

- Hiss ! - damprat wanita itu yang diperkenalkan dengan nama Endang. - Kenapa kau melanggar aturanku ? -

- O maaf.....maaf dah! Tapi bial meleka tahu lasa ..- buru-buru

Jakun mohon maaf. - Bunuh saja ! Bunuh saja habis pelkalaa,. ..-

- Kenapa kau cuma menyebutkan nama Endang saja ? - tegor isterinya. Dan ia kelihatan ngambek.

- Ah yaaa aku salah. Namanya Endang Maliwis. - - Nah begitu baru betul. - ujar isterinya dengan suara puas. -

Sekarang, mari kita habisi nyawanya. -

Berbareng dengan perkataannya, belasan peluru memberon- dong ke luar dari kedua tangannya. Hebat bunyi sarnbarannya, Niken Anggana dan Gemak Ideran melompat mundur dengan jumpalitan. Namun masih saja belasan peluru itu memburunya, Tetapi pada saat itu, sekonyong konyong terdengar kesiur angin yang datang dari pintu rumah. Belasan daun melayang bergugur- an dan menghantam belasan peluru runtuh ke tanah. Peluru Endang Maliwis terbuat dari baja. Dengan dorongan tenaga saktinya dapat menembus dinding batu. Meskipun demikian runtuh merontok ke tanah hanya oleh sambitan belasan daun yang ringan.

Endang Maliwis terkejut berbareng heran. Dia adalah seorang pendekar wanita yang berpenga laman dan sudah seringkali me- lihat suatu pertempuran seru. Tetapi menyaksikan suatu keanehan itu, ia tergugu dengan tak dikehendakinya sendiri.

Dengan ter-longong-longong ia memutar arah dan melihat seorang wanita cantik luar biasa mengenakan pakaian mentereng. Siapakah dia ? Biasanya ia menganggap dm seorang wanita cantik. Tetapi di-bandingkan dengan kecantikan gadis itu, dirinya ibarat nyala pelita di tengah matahari bercahaya cerah.

Melihat puteri cantik yang berdiri tegak bagaikan bidadari di ambang pintu, Bogel berkeringat berbareng rasa syukur. Sebab puteri itu tiada lain adalah Diah Windu Rini. Dahulu ia pernah merasakan kepandaiannya menyentil batu kerikil yang meng- hantam dirinya. Dibandingkan dengan kebisaannya sekarang, terpaut jauh. Bila dulu Diah Windu Rini bersungguh-sungguh, dadanya tentunya sudah tertembus. Kalau begitu, Diah Windu Rini dulu tidak marah benar. Syukur ia dapat membawa diri, sehingga keagungan dan kegalakan Diah Windu Rini tidak ber kelanjutan.

- Gemak Ideran dan kau Niken Anggana ! Mengapa kalian baru datang ? Nih, akibatnya. - tegur Diah Windu Rini. Dan seperti di losmen dahulu, suaranya sengit namun enak didengar.

- Aku harus melindungi Niken. - Gemak Ideran membela diri.

- Niken ! Kau sudah puas ? -

Niken Anggana mengangguk. Sahutny dengan suara yang lembut:

- Mereka berempat tentunya tidak beraru memnggalkan rumah penginapan karena diriku Maka aku merasa bertanggung jawab

.........................................................................................................

- Siapa mereka ? -

- Riwayat mereka sungguh luar biasa. - jawab Gemak Ideran. - Yang siluman bernama Jakun. Yang perempuan bernama Endang Maliwis. Mereka seperti mengenal kita. Terutama yang siluman itu. Aku yakin, dia sudah mengamat-amati ki\a jauh-jauh hari sebelumnya. Karena itu, agaknya ia perlu mengenakan topeng siluman. -

- Kau maksudkan dia mengenal dirimu ? - Diah Windu Rini menegas.

-Ya.-

Diah Windu Rini tertawa geli. Sambil berjalan memasuki halaman depan ia berkata :

- Oh begitu ? Biarlah dia mengenakan topengnya. Malam ini, kita bakal melihat siapa dia sesungguhnya. -

Setelah berkata demikian, Diah Windu Rini melompat ting^ menyambar ranting pohon yang digenggamnya dalam tangannya. Berkata lagi :

- Hai ! Kau tadi sudah mempersembahkan peluru bajamu. Sekarang biarlah aku mencoba-coba peluru rantingku. -

- Hei, hei ! Kau menyebut siapa ? - Endang Maliwis bersakit hati.

- Bukankah engkau tidak mempunyai nama ? Kau ladi bilang, aku adalah aku. -

-Tetapi.......tetapi bukankah namaku sudah disebutkan ?-

teriak Endang Maliwis dengan suara menggelegar. Diah Windu Rini tertawa perlahan. Tiba-tiba membentak :

- Kau terimalah ! -

Suatu kesiur angin menyambar dengan hebatnya. Endang Maliwis dan Jakun tidak berani menyambut dengan tangannya. Buru-biiru Jakun menangkis dengan tongkat istimewanya. Se- dangkan Endang Maliwis menghantam taburan ranting pohon dengan pedangnya. Tetapi taburan ranting itu meletik. Kena sabetan tongkat Jakun, belasan ranting meluruk ke arah Endang Maliwis. Sedang yang tertampar pedang Endang Maliwis, justru menyerang Jakun. Benar-benar belasan ranting itu seperti mempunyai mata.

- Hayaaaa .- Jakun menjerit dengan kaget. - Endang, hati-hati !

-

Endang Maliwis menjatuhkan din kemudian bergulingan di atas tanah. Anehnya, beberapa ranting pohon itu memburunya dan menyocok punggung. Tak dikehendaki sendiri, Endang Maliwis menjerit kesakitan. Dan menyaksikan tontonan yang luar biasa hebatnya itu, Bogel terlongong-longong.

- Haya kau pelempuan ayu begini cantik. Ini ilmu apa ha ? -

teriak jakun dengan suara yang menggelegar.

- Kau jaga saja dirimu baik-baik. - ujar Diah Windu Rini. - Aku masih mengampuni. Katakan siapa dirimu dan engkau datang atas suruhan siapa ?! - - Selama malang-melintang di dunia persilatan, belum pernah Jakun bertemu dengan seorang lawan yang berani meremehkan dirinya. Darahnya bergolak hebat dan dadanya serasa hendak meledak. Kemudian dengan mengerahkan segala kebisaannya, ia menembakkan butiran pelurunya yang beracun lima kali berturut-turut. Serangan yang dilakukan dengan mendadak itu, sungguh berbahaya. Apalagi ditembakkan dalam jarak yang dekat.

Namun Diah Windu Rini seolah-olah lidak menghiraukan. Dengan setengah mengulum senyum, ia berkata kepada Niken Anggana:

- Niken ! Orang ini sama sekali tidak berguna. Kau bisa memenangkan dengan gampang. Mengapa dia sampai perlu dikerubut dua ? -

Sebenarnya Niken Anggana hendak menjawab. Akan tetapi melihat menyambarnya peluru-peluru Jakun, ia berseru cemas :

- Yunda, awas ! -

Sekarang andaikata Diah Windu Rini bermaksud menangkis atau mengelak, sudah tidak sempat lagi. AK,an teiapi gauis agung dan galak itu, sama sekali tidak beralih tempat atau meng-gerakkan badan. Sebaliknya entah dengan ilmu apa, tiba-tiba saja kelima peluru Jakun beralih arah. Dengan suara bergemeletak, kelima peluru itu menancap pada batang pohon yang berada di sampingnya. Menyaksikan kejadian itu, tidak hanya Bogel saja yang heran. Tetapi Niken Anggana, Gemak Ideran darj Jakun suami-isteri. Apakah Diah Windu Rini mempunyai ilmu .siluman ? Sementara itu, Diah Windu Rini melanjutkan kata-katanya kepada Niken Anggana :

- Mengapa engkau tidak menjawab dan menerangkan alasanmu?-

- A....a aku hanya membantu kakang Gemak Ideran. - jawab

Niken Anggana agak gugup. - Aku tidak bermusuhan dengan dia. Juga tidak bermaksud berkelahi melawan isterinya. -

- Salah ! Salah sama sekali ! - tegur Diah Windu Rini dengan suara lantang. - Medan pertempuran bukan seperti di tengah surau. Engkau harus bersikap tegas, tepat, cepat dan berani. Engkau dibunuh atau membunuh. Hayo, sekarang bunuhlah mereka! -

- Tetapi mereka bukan musuhku. Aku tidak kenal mereka berdua. Kakang Gemak Ideran yang dimusuhinya. Bukan aku ..-

- Niken ! Kenapa kau ketolol-tololan ? - bentak Diah Windu Rini. - Apakah engkau kelak hendak hidup sebagai pendeta yang mengutamakan cinta kasih melulu ? -

Perlahan-lahan Niken Anggana memutar arah pandangnya kepada Jakun dan Endang Maliwis. Wajahnya yang cantik dan bersih sama sekali tidak berubah, meskipun sebentar tadi sempat diancam maut Sebaliknya wajah Jakiin dan Endang Maliwis matang biru. Ucapan Diah Windu Rini jauh lebih tajam dari-pada sebilah pisau. Dengan mata melotot, Endang Maliwis membentak suaminya :

- Jakun ! Kau dengar atau tidak ucapan perempuan Itu ? -

- Dengal, dengal! Aku tidak budeg. -jawab Jakun terbata-bata.

- Mengapa tidak berkutik ? Kenapa jadi mati kutu ? Apakah lantaran pincuk kecantikannya ? -

- O, bukan ! Tidak bisa, tidak bisa! Isteliku cuma engkau. Aku cuma cinta engkau. -

- Kalau cinta betul, jangan membuat isterimu malu! - damprat Endang Maliwis.

- Haya aku cinta engkau. Kau juga halus cinta aku. Hayo

sama-sama bunuh dia ! - jawab Jakun sambil menunjuk kepada Diah Windu Rini.

Dalam segebrakan tadi, di dalam hati kecilnya ia mengakui kepandaian Diah Windu Rini jauh berada di atasnya. Tetapi ia kini berada di depan Maliwis yang sangat dicintainya. Mundur tidak dapat, majupun tidak bisa. Keruan ia jadi sibuk sendiri ibarat seseorang berada di atas bara api. - Bunuh dia ! Atau kau kubunuh ! - ancam Endang Maliwis. Kena gertak isterinya, Jakun seperti kehilangan akal.

Rupanya dia kalah perbawa dibandingkan dengan isterinya. Terus saja ia melompat menubruk dengan menghamburkan pelurunya. Diah Windu Rini adalah seorang gadis yang terlalu tegas sehingga berkesan galak. Hatinya keras dan tidak boleh ditawar-tawar. Apa yang dikehendakinya harus dilaksanakan. Sekarang, Niken Anggana ragu-ragu dalam hal menghadapi musuhnya.

Sementara itu, Jakun sudah menyerang dirinya. Keruan saja, ia mendongkol. Tanpa ampun lagi, ia menghunus pedangnya dan menyapu semua peluru yang menyerang dirinya. Tahu-tahu terdengar Jakun ber-kaok-kaok kesakitan. Ternyata lengannya terkena peiurunya yang berbalik menghantam dirinya.

- Hebat! Sungguh hebat! - Endang Maliwis bertepuk tangan. Lalu membentak : - Jangan engkau buru-buru berbesar hati, nona.

Orang itu memang tiada harganya di mataku. Karena itu,engkau dapat melukai dailam satu gebrakam. Apakah kau bisa berbuat begitu terhadapku ? -

- Majulah ! - tantang Diah Windu Rini.

- Hm, kau tidak takut tertembak peluru beracunku ? -

- Apakah kau tidak salah ucap ? - ejek Diah Windu Rini.

- Salah ucap bagaimana ? -

- Mestinya bukan peluru, tetapi butiran beras. - Endang Maliwis yang berpengalaman tahu, Diah Windu Rini mempunyai kepandaian tinggi. Suaminya bukan pula seorang laki-laki yang tidak berkepandaian. Belum pernah dia dikalahkan.

Apalagi hanya dalam satu gebrakan. karena itu, dia sombong dan selalu memandang lawannya tak ubah kurcaci yang bisa dipermainkan. Tetapi malam itu, dia tahu rasa. Peluru-pelurunya yang disegani lawan dan kawan ternyata tidak dapat menyentuh puteri cantik itu. Bahkan terpukul balik dan menghantam dirinya.

Meskipun demikian, Endang Maliwis tidak mempunyai alasan untuk takut atau segan menghadapi Diah Windu Rini.

Kepandaiannya sendiri memang berada di atas Jakun. Itulah sebabnya, Jakun menjunjung tinggi setiap patah katanya. Selagi hendak bergerak menuntut dendam, Jakun berseru nyaring :

- Endang ! Hati-hati ! -

Endang Maliwis terhibur mendengar bunyi peringatan suaminya. Artinya Jakun menaruh perhatian terhadap dirinya. Di dunia ini, siapakah yang tidak senang bila dapat perhatian dari orang lain ? Terlebih-lebih bila yang memberi perhatian termasuk seseorang yang dekat dengan hatinya .

Tetapi justru demikian, hati Endang Maliwis jadi cemburu. Cemburu terhadap kecantikan dan kepandaian Diah Windu Rini. Seketika itu juga, darahnya mendidih. Dengan sekali bergerak, pedangnya menabas. Gerakan pedangnya cepat dan tepat. Namun Diah Windu Rini sama sekali tidak gentar. la hanya cukup mengelak. Kadang melompat ke samping. Kadang maju dan mundur. Dan diperlakukan demikian,Endang Maliwis panas hatinya. Sekarang ia tidak hanya mempercepat gerakan pedang nya saja, tetapi dengan tiba-tiba ia meneba-kan pelurunya yang beracun.

Laju dan bidikan pelurunya tidak sama atau berbeda jauh bila dibandingkan dengan bidikan pelunj-peluru Jakun. la tidak membidik satu arah, akan tetapi dari berbagai sudut. Ada pula yang berputar balik seperti bumerang.

- Celaka ! - Bogel mengeluh di dalam hati. Meskipun gadis itu amat galak baginya, tetapi pada saat itu hatinya berpihak padanya. Itulah di sebabkan, lantaran Diah Windu Rini membantu ke-sulitan Niken Anggana.

Serangan peluru beracun yang datang dari segenap penjum, tentunya tiak dapat dielakkan dengan hanya menggeserkan kaki, melompat atau mengendap:kan kepala. Apalagi jaraknya terlalu dekat sehingga tidak membenri peluang yang agak leluasa.

Jakun dan Endang Maliwis sebehamya pelarian dari Jakarta. Sewaktu di Jakarta terjadi hu;ru-hara pada tahun 1740, mereka ikut terlibat secara langsung. Tetipi kena didesak Kompeni sehingga bersama rekan-rekannya msreka melarikan diri ke timur dan bergabung dengan suatu ktikuatan baru yang bercokol di Pekalongan. Mereka berdua terkenal bengis dan kejam semenjak jaman mudanya. Kepandaiannya tinggi, sehingga dapat malang- melintang tanpa tandingan. Sekarang mereka diperintahkan atasannya untuk menghadang rnundurnya Sri Baginda P.B. II dari Kartasura. Secara kebetulan mereka bertemu dengan Gemak Ideran dan Niken Anggana. Dan kini berhadapan dengan Diah Windu Rini. Ibarat ketemu batunya, mereka berdua sama sekali tidak mengira bahwa orang-orang Jawa Tengah memiliki kepan- daian yang tinggi. Terpaksalah mereka menggunakan senjata andalannya. Itulah peluru-poluru beracun.

Tenaga pukulan Jakun sebenarnya sudah dapat dtkatakan sempurna. Akan tetapi seberitar tadi dapat dirobohkan dalam satu gebrakan oleh pelurunya sendiri. Demikian kali ini, Diah Windu Rini hendak merobohkan Endang Maliwis dengan cara senjata makan tuan. Dengan bersiul panjang, tiba-tiba tubuhnya terbang tinggi.

Tahu-tahu tangan kanannya sudah menggenggam sebatang pedang yang gemerlapan. Dengan suatu gerakan yang cepat dan manis sekali, ia menyapu belasan peluru beracun Endang Maliwis.

- Jakun, lariiii ! - teriak Endang Maliwis.

Sayang, Jakun sudah setengah lumpuh kena pelurunya sendiri. Dengan gugup Endang Maliwis menyambarnya dan di- hantamnya telak. Seperti layang-layang putus, tubuh Jakun terbang melewati kepada Diah Windu Rini. Lalu roboh berjungkir balik di luar gelanggang. Endang Maliwis sendiri, tidak bersemangat lagi untuk bertempur. la merasa kalah. Terus saja ia menubruk suaminya dan dibawanya lari tunggang langgang.

- Niken ! Kau ingin mengenal mereka atau tidak ? - ujar Diah Windu Rini sambil menyarungkan pedangnya.

- Tidak perlu. Dia bukan musuhku. Dia musuh kakang Gemak Ideran. - sahut Niken Anggana. •

Diah Windu Rini tertawa perlahan. Jelas sekali, hatinya mendongkol. Tetapi ia dapat menyabarkan diri dan beralih pandang kepada Gemak Ideran. Menegas :

- Sebenarnya siapa mereka ? -

- Aku sendiri kurang jelas. - jawab Gemak Ideran. - Yang terang, mereka bukan orang Kartasura, Tuban atau Surabaya. Apakah mereka kaki-tangan Danureja ? -

Danureja adalah patih Kartasura pada jaman Paku Buwana II. Setelah berhasil mengasingkan Arya Mangkunegara atas fitnah- nya, dia makin berkuasa sehingga raja sendiri merasa cemas.

Semua saudaranya diangkat menduduki jabatan-jabatan penting. Mataun diangkat menjadi bupati Jipang. Yudanegara bupati Banyumas, Tumenggung Surabrata bupati Panaraga, Arya Tuban menguasai Tuban, Ngabehi Suradirana bupati Surabaya dan Demang Ranulita bupati Kediri. Tidak lama kemudian Secadirana menggantikan bupati Suradirana. Setelah Danureja diasingkan ke Ceylon bersama-sama dengan Arya Mangkunegara, Adipati Natakusuma menggantikan kedudukannya. la memecat Arya Tuban, Suradirana dan Sarengat bupati Blitar. Diluar dugaan Sawunggaling dan Wirasaraya berontak. Surengrana dan Secadirana melarikan din. Suradiningrat kemudian diangkat menjadi bupati Tuban berkat sogokannya sebesar tujuh ribu ringgit kepada Tirtawiguna (kelak menjadi wakil patih Pringga-laya). Suradiningrat pada jaman mudanya bernama Tirtanata. Pernah menjabat bupati Tegal, tetapi digusur penduduknya. Juga kali ini, setelah dia menjabat bupati Tuban. Tiba-tiba saja, Tuban di serbu tentara Madura bawahan Adipati Cakraningrat. Dia terbunuh dan kepalanya dipancangkan di tengah alun-alun Surabaya.

Maka pada dewasa itu keadaan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak aman dan semrawut. Masing-masing penguasa mempunyai pengikutnya sendiri. Mereka saling curiga- mencurigai, sehingga tidak jarang mereka mencari atau menyewa pembunuh-pembunuh berdarah dingin dari luar wilayah. Lebih dikehendaki bila pembunuh-pembunuh bayaran itu berasal dari Jawa Barat termasuk Jakarta.

- Kaki-tangan siapa mereka, itu tidak penting ! - bentak Diah Windu Rini. - Dalam dunia mi masih terdapat berbagai raja iblis yang melebihi mereka. Mengapa kalian berdua tidak ingin mem- bunuhnya ? Salah-salah, mereka bisa membuat kita susah di kemudian hari. Ingat-ingatlah hal itu ! - Bogel melongokkan kepalanya dari balik belukar. Meskipun tidak jelas, ia seperti melihat wajah Diah Windu Rini yang angker, agung dan berwibawa. Kegalakannya bahkan melebihi ucapan- ucapannya di rumah penginapan dulu. Ternyata sepadan dengan kepandaiannya yang tinggi.

Dia tadi muncul dari ambang pintu. Berarti dia berada atau menginap dalam rumah pesanggrahan yang dulu menjadi medan tempur yang seru. Mereka mati terbunuh karena saling membunuh. Hanya saja kurang jelas siapa yang berperan dalam peristiwa itu. Sekarang, Diah Windu Rini berada dalam rumah pesanggrahan. Apakah ada hubungannya dengan peristiwa dulu

? Atau sama sekali terlepas ? Kalau sama sekali terlepas, mengapa muncul tokoh Diah Windu Rini yang bertopeng mirip dirinya ? Paling tidak, orang yang menyaru i:u pasti kenal benar kepadanya. Siapa ? Dan apa pula maksudnya ?

- Niken ! - kata Diah Windu Rini lagi setelah Niken Anggana dan Gemak Ideran menyimpan senjatanya masing-masing. -Semenjak dari Surabaya, kita seperti diikuti hantu. Apakah engkau masih bersikeras hendak memasuki Kartasura untuk mencari orang tuamu ? -

- Memangnya kenapa ? - Niken Anggana membalas bertanya. Diah Windu Rini tidak segera menjawab. la berpaling kepada Gemak Ideran. Lalu minta keterangan : - Apakah benar laskar Cina menyerbu Kartasura ? -

- Kabarnya begitu. - jawab Gemak Ideran singkat.

- Coba ceritakan padaku, kabar apa saja yang kau dengar ! -

- Kabarnya Pangeran Mangkubumi merampas tombak Kyahl Pleret dan Raden Mas Said memperoleh tombak Baruklinting. Sri Baginda sendiri dilarikan orang ke luar kota. -

Mendengar kata-kata Gemak Ideran, tubuh Diah Windu Rini bergemetar. Dengan suara agak gugup ia berkata setengan memerintah :

- Coba jelaskan lagi apa yang sudah terjadi ! -

Berkata demikian ia berjalan perlahan-lahan memasuki pendopo rumah pesanggrahan. Niken Anggana mengikuti dari belakang. Gadis ini merasa tak enak hati sendiri. Memang, ia minta agar diantarkan mereka berdua pulang ke rumah. Ternyata Kartasura dalam keadaan genting. Kalau memaksa mereka memasuki Kartasura samalah halnya dengan kelekatu menyeberang lautan api.

Sampai disini Bogel tidak dapat mengikuti pembicaraan mereka. Kini ia berada seorang diri di luar pesanggrahan. Tiga hari yang lalu, iapun berada di depan rumah pesanggrahan. Tidak beda seperti malam itu, di halaman pesanggrahan terjadi suatu per- tempuran. Tetapi kesannya jauh berbeda bila dibandingkan dengan peristiwa yang lalu. Kali ini tidak ada pembunuhan. Hanya saja sama-sama membawa teka-teki yang pelik. Siapakah Diah Windu Rini sesungguhnya ? Siapa pula Gemak Ideran ? Tentang Niken Anggana ia merasa sudah dapat menebak delapan bagian, berkat suratnya yang tercicir di jalan. Tetapi apa hubungannya dengan Diah Windu Rini dan Gemak Ideran belum ada keterangan yang jelas. Tentunya bukan saudara sendiri. Sebab lagu suara Diah Windu Rini, jelas berasal dari Madura. Sedang gaya pembicaraan Gemak Ideran tentunya orang Surabaya. Sebaliknya, tata bahasa Niken anggana masih berkesan orang Kartasura. la lembut, bahasanya teratur. Setiap kali hendak berbicara, ber-henti sejenak untuk ditimbang-timbang dulu.

Meskipun Diah Windu Rini berkesan angkuh dan tinggi hati, namun terhadap Niken Anggana ia bersikap hormat. Pada saat- saat tertentu, ia seperti membawahi. Kalau begitu, tentunya lantaran hubungan sesama perguruan. Dalam rumah perguruan, tingkatan Diah Windu Rini berada di atas Niken Anggana dan Gemak Ideran. itulah sebabnya dalam hal-hal tertentu, ia seperti tidak memerlukan kehadiran Niken anggana.

Seperti tadi, sewaktu ia ingin mendengar berita penyerbuan Laskar Garundi ke Kartasura. Gadis yang cantik jelita tetapi galak itu, lebih condong me-mikirkan kepentingannya sendiri.

Demikianlah kesan yang diperoleh Bogel.

- Yang paling baik, Niken Anggana harus berjalan seorang diri. Sewaktu-waktu dia pasti ditinggalkan kedua saudara- seperguruan-nya. Setidak-tidaknya setelah bertemu dengan orang tuanya. - pikir Bogel di dalam hati.

Teringatlah Bogel akan cerita Gunacarita dan bunyi surat yang dibaca Kartamita. Berbagai kesan berkelebatan dalam benaknya. Niken Anggana seorang gadis yang lemah lembut, cantik dan pandai. Kelembutan dan kecantikannya mewarisi kecantikan dan kelembutan ibunya. Tetapi kelak bila bertemu dengan pendekar besar Sondong Landeyan dan Pitrang, pasti akan menghadapi masalah yang pelik dan rumit Sebab di antara mereka berdiri seorang tokoh yang jahat, licik, licin dan kejam. Dialah Haria Giri.

Dalam keadaan negeri yang sedang kacau-balau, orang itu entah berfihak kepada siapa.

- Ah, masa bodoh ! Itulah urusan orang-orang gede. - Bogel memutuskan sikap. - Mereka saling membunuh atau tidak, apa sin kepentinganku. Cuma saja kita orang-orang kecil ini, jadi ikut menderita .. -

Dengan keputusan itu, ia melanjutkan perjalanannya. Tentu saja, ia tidak berani melintasi Karta sura. la harus mencari jalan simpang. Barangkali yang lebih aman, manakala melalui Semarang. Dari kota itu , dapatlah ia melanjutkan pulang ke Indramayu dengan menumpang perahu yang mengarungi lautan Jawa .

Di sepanjang jalan, banyak ia mendengar cerita-cerita burung yang mengisahkan keadaan kota Kartasura dan pengalamannya sendiri. Di antaranya bunyi sas-sus yang mengabarkan tentang perjalanan Sri Baginda Paku Buwana II meninggalkan istana.

Sebenarnya, tujuan Sri Baginda hendak ke Surabaya dengan melalui sungai Brantas. Tetapi laskar pemberontak sudah menguasai lalu-lintas itu. Maka dengan dikawal Residen Kartasura dan Komandan Pengawal Istana bekas bawahan Letnan Nicolaas Wiltvang dan Kapten Hendrik Duirvelt,' terpaksa Sri Baginda iclalui darat menuju Panaraga. Tentu saja, perjalanan itu sangat dirahasiakan.

Bogel sendiri sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak menghiraukan semua yang terjadi diluar kepentingannya. la berjalan terus. siang dan malam. Tentu saja tidak selancar bila negeri dalam keadaan aman sentausa. Seringkali ia terpaksa menempuh jalan simpang yang berputar-putar.

Empatbelas hari lamanya, barulah ia tiba di Semarang. Untung, ia segera memperoleh perahu yang akan berlayar menuju Cirebon. Ini berkat uang sogokan yang memuaskan pemilik perahu. Kalau saja ia tidak memperoleh uang hadiah dari Gunacarita, pastilah ia terjebak di kota Semarang.

Sebab pada saat itu, kota Pekalongan sampai Tegal dinyatakan tertutup untuk lalu lintas umum.

Demikianlah, meskipun dengan susah payah, akhirnya Bogel tiba di kampung halamannya dengan selamat. Di tengah keluar- ganya, ia menuturkan pengalamannya. Tutur-katanya menarik perhatian tetangganya. Kepala desa lalu ingin mendengarkan kisah pengalaman Bogel secara langsung.

Sebagai imbalan, Kepala desa bersedia membayar jerih payahnya. Hampir seluruh penduduk desa ikut mendengarkan. Karena Bogel pandai bercerita dengan caranya sendiri dan gayanya sendiri, ia disebut sebagai dalang. Padahal dia hanya meniru cara ki dalang Gunacarita menyampai-kan kisahnya.

Dan semenjak itu, Bogel mulai dibicarakan orang. Desa dan dusun-dusun yang terletak di sekitar kampung halamannya, berturut-turut mengundang Bogel. Dan diluar kehendaknya sendiri, ia benar-benar disebut sebagai dalang. Sebenarnya asal bercerita saja. Cerita yang tidak jelas ujung pangkalnya. Kasar, asal jadi dan sekehendaknya sendiri .

Tetapi namanya dicatat sebagai istilah ilmu pedalangan sampai hari ini. Seorang dalang yang kehabisan cerita di tengah jalan, disebut dalang Bogel. Bogel atau kebogelan berarti kurang dari semestinya. Bogel sendiri tentunya tidak mengira, bahwa nama- nya akan dicatat sejarah. Wataknya yang kasar dan asal ngomong, merugikan nama baiknya. Namun apapun kata orang, ia hidup senang pada saat-saat akhir hayatnya.

Hidup sebagai seorang dalang di tengah-tengah masyarakat yang mengharapkan kehadirannya.

12. ORANG-ORANG BERTOPENG TEPAT SEKALI dugaan Bogel. Diah Windu Rini memang puteri Madura. Dia salah seorang puteri Adipati Cakraningrat. Seorang puteri berkepandaian tinggi, angkuh dan galak Sedang Gemak Ideran putera Sawunggaling patih Kadipaten Surabaya yang mengusir Adipati Surengrana dan Secadirana dari kediamannya.

Tatkala ayahnya berontak, ia berada dalam asuhan seorang pendekar dari gunung Wilis sehingga tidak terlibat langsung. Oleh saran gurunya, ia berangkat ke Madura menghadap Adipati Cakraningrat untuk memperoleh perlindungan, (LihatWillem GJ, Remmelink : Babak Pertama Pemerintahan Paku Buana II 1726- 1733 halaman 37).

Satu tahun lamanya, Gemak Ideran berada di Kadipaten Madura. la berkenalan dengan Diah Windu Rini yang berkepandaian tinggi dan Niken Anggana yang lembut hati, Pada suatu hari, Adipati Cakraningrat memanggil Diah Windu Rini dan Gemak Ideran menghadap padanya. Mereka diperintahkan untuk mengawal Niken Anggana pulang ke Kartasura.

- Tetapi ayah, kepandaiannya belum sempurna. - Diah Windu Rini heran. - Dia baru mewarisi sepertiga bagian kepandaian gurunya

-

- Kau maksudkan Wangsareja ? - Adipati Cakraningrat menegas.

- Siapa lagi kalau bukan behau ? -

Adipati Cakraningrat tertawa terbahak-bahak. Sahutnya : - Anakku, Wangsareja memang seorang pendekar jempolan untuk wilayah Madura. Tetapi dibandingkan dengan ayah Niken, ia kalah jauh. -

- Ayah maksudkan paman Haria Giri ? -

Adipati Cakraningrat tidaksegeramenjawab. Tiba-tiba saja ia melemparkan pandang di jauh sana. Beberapa detik lamanya ia berenung-renung. Lalu tersenyum atau lebih tepat dikatakan mengulum senyum. Dan baru ia berkata lagi seperti kepada diri- nya sendiri : 

- Kau tahu, anakku ? Pada jaman ini tiada seorangpun yang dapat melebihi kepandaian Haria Giri. Tidak hanya ilmu pedang- nya saja, tetapi pengetahuannya pula. Sungguh ! Sebenarnya aku berguru padanya. -

- Berguru padanya ? - Diah Windu Rini tercengang. Benar-benar ia tidak mengerti maksud ayahnya. Betapa mungkin ayahnya berguru kepada Haria Giri yang berada jauh di Kartasura ?

- Baiklah kuterangkan, anakku. - ujar Adipati Cakraningrat

- Semenjak P.B. II naik tahta, banyak orang-orang besar yang tergoncang dari kedudukannya, Pangeran Purbaya di Blitar, Pangeran Arya Mangkunegara, Surengrana, Secadiningrat,Suradirana, Ranuhita, Sarengat dan akhirnya Patih Danureja sendiri Tetapi Haria Giri luput dari ancaman macam apapun. Bukankah hebat, - - Ayah ? Sebenarnya apa hubungannya dengan mereka semua?

- Diah Windu Rini lebih-lebih tak mengerti .

- Haria Giri adalah pengawal pribadi Sri Baginda. Pada suatu hari dia mengulurkan tangan untuk menolong Patih Danureja dari ancaman Kompeni Belanda di Jakarta. Karena itu, dia diangkat menjadi orang kepercayaan Patih Danureja. Dengan demikian, ia mengabdi kepada dua majikan yang sebenarnya bermusuhan.

Tetapi ia dapat memerintah Laskar Kepatihan dan Laskar Keraja- an sekaligus. Bukankah aneh dan mengherankan ? Ajaibnya lagi, masing-masing majikan bersedia mendengarkan kata-katanya.

Pendek kata, Haria Giri menjadi orang kepercayaan dua majikan yang saling mendengki dan bermusuhan. Ah, tentunya kau tidak mengerti, karena peristiwa itu terjadi sewaktu engkau masih kanak-kanak. Tetapi satu hal yang harus kau pegang, bahwasa- nya aku kagum kepada akal-muslihatnya yang rapih, rapat danjitu. Dan apa yang kulakukan sekarang ini, anakku, benar- benar meniru caranya bekerja ..-

Tentu saja Diah Windu Rini tidak mengerti maksud ayahnya. Tetapi Haria giri pasti seorang ahli pedang yang jempolan. Kalau tidak, mustahil ayahnya menghormati begitu tinggi. Sebab ayahnya tidak pernah memandang mata terhadap siapapun.

Ayahnya adalah ipar Sri Sunan Paku Buwana II. Kawin dengan

R.A Bengkring pada tahun 1726, adik satu-satunya Sri Sunan yang amat dicintainya. Meskipun demikian, menolak nadir pada hari Maulud ke Kartasura sebagai tanda berbakti para adipati terhadap Sri Baginda. Malahan dengan berani meminta wilayah Prabaling-ga, Bangil dan Pasuruan, sebagai mas kawin.

- Karena itu, anakku. - Adipati Cakraningrat melanjutkan kata- katanya. - Adalah suatu kehormatan besar bagiku, bahwa dia berkenan mengirimkan puterinya di bawah pengawasanku. Ini suatu jaminan yang meyakinkan. -

- Jaminan apa ? - Diah Windu Rini tercengang.

- Bahwasanya saran-saran, nasehat-nasehatnya dan sikapnya terhadapku keluar dari hati yang halus dan jujur. -

Diah Windu Rini menatap wajah ayahnya dengan pandang teka- teki. Mencoba:

- Bila demikian halnya, apa sebab ayah membiarkan Niken Anggana pulang kampung ? -

- Itupun terjadi akibat aku meniru cara bekerjanya. - sahut Adipati CakraningraL Lalu tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk- batuk.

- Ayah ! Janganlah ayah bermain teka-teki kepadaku ! - ujar Diah windu Rini setengah berseru. - Dua kali ayah menyebut istilah meniru cara bekerjanya. sebenarnya bagaimana ? -

Karena terbatuk-batuk, Adipati Cakraningrat tidak dapat menjawab pertanyaan puterinya dengan segera. la perlu meneguk air tehnya yang disedu dengan gula lembut Baru ia berkata dengan sabar:

- Kita ini anak keturunan Trunajaya. Menurut Kompeni dan pihak Kartasura, kita ini keturunan pemberontak. Juga kau Gemak Ideran. Kaupun disebut anak pemberontak, karena ayah-mu pernah membuat geger kota Surabaya, itulah sebabnya kalian harus bersikap waspada terhadap Kompeni Belanda beserta antek-anteknya. Kalianpun jangan terlalu bersahabat dengan orang-orang Kartasura, kecuali terhadap Haria Giri dan Niken Anggana. Kalian berdua boleh bersikap garang terhadap siapapun. Aku yang merestui. Tetapi terhadap Niken Anggana kalian harus meng-hormati dan bersikaplah yang manis. Kalian tahu, apa sebabnya ? -

Diah Windu Rini dan Gemak Ideran menggelengkan kepala-nya hampir berbareng. Dan Adipati Cakraningrat melanjutkan keterangannya:

- Kalau begitu, dengarkan dan perhatikan semua kata-kataku ini! Kalau tidak, kalian bakal tidak mengerti ujung-pangkal cerita yang akan kuterangkan kepada kalian, nah, Gemak Ideran ! Tutuplah pintu itu rapat-rapat! Perintahkan beberapa pengawal agar menjaga jangan sampai serambi ini dimasuki orang lain ! -

Dengan tergesa-gesa, Gemak Ideran melaksanakan perintah Adipati Cakraningrat. Sebelas pengawal Kadipaten diperintahkan untuk menjaga dan mengamankan Gedung kediaman Adipati Cakraningrat Setelah semuanya beres, segera ia balik menghadap untuk memberikan laporan.

- Sekarang, dengarkan! Kalian berdua sudah waktunya untuk memahami urusan negeri. - Adipati Cakraningrat mulai. - P.B. II kini adalah penguasa Kerajaan Kartasura dengan sebutan Sri Susuhunan Paku Buwana II. Pada waktu mudanya bernama Prabayasa. Dia putera Ratu Amangkurat Meskipun ayahandanya, Raja Amangkurat Jawi menunjuk dia sebagai penggantinya, namun begitu Prabayasa naik tahta, Arya Mangkunegara dibuang sampai ke Ceylon. Tetapi semenjak itu, negeri dalam keadaan kacau-balau. Para pembesar saling mencurigai dan akhirnya saling fitnah memfitnah. Karena khawatir diriku akan menggunakan kesempatan itu untuk berdiri sendiri, maka aku memperoleh karunia untuk menjadi salah satu anggauta keluarga raja. Tegas-nya, aku kawin dengan bib'imu R. A Bengkring atau Raden Ajeng Sitisundari. -

Ia berhenti sebentar untuk mengesankan. Melanjut-kan :

- Tersebutlah seorang ahli pedang kenamaan yang bernama Haria Giri. Sesungguhnya, dia adalah salah seorang pengawal andalan almarhum Raja Amangkurat Jawi. Sebelum wafat, raja berfirman agar puteranya kelak memperhatikan kedudukan Haria Giri. Tegasnya, agar diperkokoh kedudu kannya. Tetapi Haria Giri mempunyai pikirannya sendiri. la pandai membaca keadaan negara. Melihat, Patih Danureja ikut memegang peranan dalam tata-pemerintahan, ia mendekati. Tentu saja, tidak mudah ia mengambil hati patih yang cerdik-pandai itu. Tetapi pada suatu hari, ia datang kemari. Ini terjadi waktu aku belum menjadi adik ipar Sri Baginda. Waktu itu, aku masih ragu-ragu untuk menerima bibima Tetapi dengan tegas, ia menganjurkan diriku agar ber- kenan menjadi ipar raja. Mintalah Probolinggo, Bangil dan Pasuruan sebagai emas kawin, katanya. Mengapa begitu, aku minta keterangan. Jawabnya untuk menggugah perhatian Kompeni. Kompeni pasti tidak setuju. Jika demikian, aku harus berkirim surat kepada Kompeni agar Madura berada langsung di bawah peniliknya. Ah, sungguh hebat akal Haria Giri. Dia tahu dengan pasti, bahwa Danureja bersekongkol dengan Kompeni untuk menjatuhkan raja dari kedudukannya. Patih yang cerdik itu ingin mengangkat dirinya menjadi raja. Semboyannya sederhana saja. Kalau raja bisa menggeser Arya Mangku negara, mengapa dirinya tidak bisa ? Hm.....hm kalian berdua tentu tidak dapat

membaca maksud Haria Giri yang sesungguhnya, bukan ? Akupun begitu juga. Bahkan sampai kini. Sesungguhnya dia ber- fihak kepada raja atau kepada Danureja ? -

- Lalu ? - Diah Windu Rini memotong karena tidak sabar.

- Sekarang agak jelas. Patih Danureja dibuang Sri Baginda pada tahun 1733, dan kedudukan Haria Giri makin kuat Maka tahulah aku, bahwasanya pembuangan Pangeran Arya Mangkunegara adalah akal Patih Danureja. Sebab waktu itu, raja masih kanak- kanak sehingga akan mudah dikendalikan. Sebaliknya Pangeran Arya Mangkunegara, seorang satria besar, gagah-berani, pandai dan jujur. Terus terang saja, Danureja segan terhadapnya. Dalam segala halnya, ia tidak dapat berlawan-lawanan. Dia boleh menga-ku bersahabat dengan Kompeni. Tetapi Kompeni justru mencintai dan menghormati Arya Mangkunegara, Maka orang itu perlu disingkirkan melalui fitnah. -

- Melalui fitnah ? Fitnah apa ? - Diah Windu Rini minta keterangan.

Adipati Cakraningrat tertawa perlahan melalui dadanya. Setelah menghirup nafas lalu berkata dengan tersenyum :

- Sebenarnya ini urusan orang-orang tua. Tetapi karena aku sudah terlanjur membawa engkau berdua membicarakan urusan negeri, maka perlu kau ketahui pula. -

Ia berhenti tersenyum. Meneruskan :

- Ada seorang gadis bernama Wirasmara. Baik wajah, potongan tubuh dan lagak-lagunya, mirip dengan almar-humah isterinya yang sangat dicintainya. Kebetulan sekali Wirasmara berteman baik dengan almarhumah isterinya. Tak disa-darinya sendiri, ia menaruh hati kepada Wirasmara dan ingin memperisterikan.

Alangkah terkejut dia, sewaktu mendengar kabar bahwa Wirasmara dahulu bekas kekasih Sri Baginda, Tetapi dia tidak kekurangan akal. la membicarakan keinginannya itu kepada Nitipraya, pembantu Sri Sunan, untuk minta pertimbangan.

Nitipraya berkata, tidak ada kesulitannya bila Arya Mangkunegara minta seorang isteri kepada Sri Baginda. Tetapi hal itu, baiklah melewati mBok Wiraga Kepala Dayang Istana. Dan pada suatu hari Nitipraya membawa mBok Wiraga menghadap padanya. Menurut mBok Wiraga, sama sekali tidak ada kesulitan. Tetapi selain Baginda, di dalam istana terdapat penguasa lain. Itulah Ratu Amangkurat, kata mBok Wiraga. Maka Arya Mangkunegara perlu memohon pertimbangannya. Baiklah hamba akan menghubungi mBok Patrasari dayang kepercayaan Ratu Amang- kurat. Hm kelihatannya, semuanya akan berjalan lancar. Siapa

mengira, bahwa sudah semenjak lama Danureja menunggu- nunggu saatnya yang baik untuk menyingkirkan Arya Mangku- negara. Maka diam-diam ia menjalin hubungan yang erat dengan Ratu Amangkurat -

- Apakah bisa ? - Diah Windu Rini menegas.

- Bisa. Sebab Ratu Amangkurat mempunyai kelemahan. - sahut Adipati Cakraningrat

- Dia mempunyai simpanan seorang pria bernama Surawijaya. Sebenarnya Surawijaya setiap malam dipanggil Ratu Amangkurat untuk membacakan surat-surat sejarah. Menurut kabar, karena Ratu Amangkurat mempunyai semacam penyakit Penyakit tidak dapat tidur di malamhari. Maka perlu ia ditemani seseorang yang dapat menyanyi (melagukan sajak-sajak) sampai menjelang pagihari. Itulah Surawijaya yang pandai menyanyi, lagi pula berparas cakap. Tidak mengherankan, bahwa Ratu Amangkurat didesas-desuskan berbuat tak senonoh dengan Surawijaya. Ratu Amangkurat akan sukar mengelak, karena kenyataannya ia memasukkan seorang pria mulai tengah malam sampai menjelang pagihari. Maka dengan berbekal itu, Patih Danureja dapat memaksa Ratu Amangkurat menjadi salah seorang sahabatnya. -

- Benar-benar cerdik ! - seru Diah Wmdu Rini dengan pe-nasaran.

- Apakah Ratu Amangkurat benar-benar berbuat tidak senonoh dengan Surawijaya ? -

- Haha . - Adipati Cakraningrat tertawa serintasan. - Kau

sabarlah dulu agar menjadi jelas! -

Kena tegor ayahnya, wajah Diah Wmdu Rini terasa panas. Ia merasa malu sendiri, karena terlalu menaruh perhatian terhadap masalah kemesuman yang menyangkut keluarga raja. Apalagi mengenai Ibunda Sri Baginda sendiri.

- Dengan cerdik Danureja berkata kepada Ratu Amangkurat, bahwa pada suatu hari Arya Mangku negara akan memohon se- orang isteri. Tetapi yang dipilihnya kurang tepat. Sebab Wi- rasmara adalah kekasih baginda. Padahal tidak demikian.

Wirasmara adalah bekas kekasih Sri Baginda yang sudah dibuang. -

Adipati Cakraningrat meneruskan.

- Danureja berkata lagi bahwa semenjak lama Arya Mangkunegara dan Wirasmara mengadakan hubungan gelap. ini tidak betul. Arya Mangkunegara belum pernah berbicaradengan Wirasmara. Apalagi sampai mengadakan hubungan gelap. Sebab Wirasmara adalah sahabat almarhumah isterinya yang sangat dicintainya. Jadi jelas sekali, Danureja sudah mengatur jebakan. Yang hebat lagi, semuanya itu diketahui belaka oleh Haria Giri. -

Adipati Cakraningrat berhenti lagi untuk mengesankan. Meneruskan :

- Haria Giri menerangkan peristiwa itu dengan jelas sekali padaku. Dikabarkan bahwa Danureja menyarankan kepada Ratu Amangkurat agar mengawinkan Arya Mangkunegara dengan Sutari, puteri Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Tanjung Harapan. Pangeran Diponegoro dahulu pernah dinobatkan orang Jawa Timur menjadi Sultan Heru Cakra pada tahun 1716-1718 di Madiun. Ada dua maksudnya yang tersembunyi. Ah, benar-benar si ular berbisa ! -

- Apakah itu pendapat paman Haria Giri ? -

- Benar. - sahut Adipati Cakraningrat dengan cepat.

- Yang pertama, Sutari dianggap anak seorang pemberontak. Bila Arya Mangkunegara sampai memperisterikan, dia dapat dianggap sebagai golongan pemberontak musuh Kompeni Belanda. Yang kedua, inilah yang lebih berbahaya. Danureja tahu, bahwa Arya Mangkunegara bukan manusia hidung belang. Kalau saja dia hendak memperisterikan Wirasmara semata-mata demi menge- nang almarhumah isterinya yang sangat dicintainya. Buktinya, ia tetap bersikeras meskipun kini tahu Wirasmara bukan seorang remaja puteri. Tetapi bekas isteri (selir) Sri Baginda. Dengan begitu ia yakin, Arya Mangkunegara pasti menolak tawaran nenekmu Ratu Amangkurat. Nenakmu tentu akan bersakit hati. Dan ia akan membongkar hubungan antara Arya Mangkunegara dan Wirasmara di depan Sri Baginda. Nenekmu sangat ber- pengaruh terhadap Sri Baginda. Dan sekarang tinggal membakar hati Sri Baginda saja. Itulah tujuan Danureja yang tersembunyi.

Dan fitnahnya ternyata berhasil. Pangeran Arya Mangkunegara benar-benar menolak tawaran nenekmu Ratu Amangkurat Danu- reja kemudian membakar hati Sri Baginda. Akibatnya, Arya Mangkunegara dibuang dari Kartasura melalui tangan Kompeni. -

- Tentu nenek tidak mungkin memfitnah Pangeran Arya Mangkunegara. - ujar Diah Windu Rini. (Diah Windu Rini bukan puteri RA. Bengkring, puteri Ratu Amangkurat Tetapi karena R.A Bengkring termasuk salah seorang isteri ayahnya, maka dia berhak menyebut ibunya yang baru itu dengan sebutan bibi.

Dengan sendirinya berhak pula menyebut Ratu Amarigkurat ibu

R.A. Bengkring, sebagai neneknya).

- Nenekmu boleh berkuasa dan besar pengaruhnya. Akan tetapi Danureja seorang patih yang licin, cerdik dan pandai, yang berangan-angan ingin menggulingkan raja dari tahtanya. Setelah berhasil membuang Arya Mangkunegara, mulailah ia mengarah- kan tipu-muslihatnya terhadap Ratu Amangkurat Dengan terang- terangan, ia menuduh perbuatan mesum nenekmu di hadapan raja. Tentu saja raja murka bukan main. Dengan serta-merta Sri Baginda menghadap ibunya untuk memperoleh keyakinan.

Merasa dalam bahaya, Danureja tidak tinggal diam. la memanggil Wirasmara datang menghadap padanya. Puteri yang tidak berdosa itu, kemudian ditemukan mati tercekik di Kepatihan. (16 Januari 1928). -

- Ah ! - Diah Windu Rini terkejut. -

- Tentu saja untuk menghilangkan bukti. -

- Menghilangkan bukti bagaimana ? - Diah Windu Rini menegas.

- Seperti kau ketahui tadi, desas-desus mengenai hubungan gelap antara Arya Mangkunegara dan Wirasmara adalah akal- muslihat atau rekaan Danureja. Tentunya Ratu Amangkurat akan balik membela diri di hadapan Sri Baginda, bahwa semua laporan Danureja adalah palsu. Misalnya laporan tentang hubungan gelap antara Wirasmara dan Arya Mangkunegara. Dan Sri Baginda temunya akan memanggil Wirasmara untuk menghadap. Dan sebelum sempat menghadap, bukankah lebih aman bila dibunuh terlebih dahulu ? Sebab Wirasmara akan memberi keterangan yang sebenarnya, Dia akan menerangkan, bahwa ia memang bersahabat dengan almarhumah isteri Arya Mangkunegara yang bernama Raden Ayu Wulan yang wafat tanggal 24 September 1727 akibat penyakit cacar. Tetapi sama sekali tidak pernah bertemu apalagi berbicara secara langsung dengan Arya Mangkunegara bila hal itu terjadi, Sri Baginda akan memanggil Arya Mangkunegara pulang ke Kartasura. Balas dendam pasti bakal terjadi terhadap dirinya. - Diah Windu Rini seorang gadis yang mudah tersentuh suatu masalah yang dianggapnya tidak lurus. Seketika itu juga, darah- nya mendidih sampai seluruh tubuhnya menggigil lembut.

Wajahnya berubah-ubah. Sebentar pucat sebentar pula merah padam.

- Ayah ! Apakah paman Haria Giri hanya tinggal diam saja ? -ia berseru tertahan.

- Pamanmu Haria Giri bukan seorang ahli pedang yang ber-tindak dengan terburu nafsu. Jangkauan pikirannya amat jauh, luas dan gemilang. Menyadari bahwa Danureja seorang lawan yang licin, licik dan kejam, ia bertindak dengan bijaksana. Inilah yang kukagumi. - Adipati Cakraningrat menerangkan.

Diah Windu Rini tercenung-cenung. Semenjak tadi, kata-kata ayahnya meloncat-loncat seperti ada sesuatu yang harus disem- bunyikan. Setiap pertanyaannya, tidak memperoleh jawaban langsung. Di dalam hati ia kurang puas. Namun untuk minta kete- rangan lebih tegas lagi, ia tidak berani. Syukur, ia seorang gadis yang cerdas. la tidak kehilangan akal. Maka seperti orang meng- hafal, ia berkata kepada ayahnya :

- Ayah, bolehkah aku menyimpulkan kata-kata ayah ? Bila salah, mohon dibenarkan ! -

- Hm aku ingin mendengarkan. - Diah Windu Rini memperbaiki letak duduknya. Lalu berkata dengan perlahan-lahan :

- Musuh kita yang utama adalah Kompeni Belanda,Meskipun demikian,aku wajib berhati-hati terhadap orang-orang Karta- sura.Sebab orang-orang Kartasura banyak macamnya.Benarkah itu ?-

- Benar ! Lanjutkan ! -

- Patih Danureja berangan-angan hendak menggulingkan Raja : Paku Buwana II dari tahta. Untuk mencapai maksudnya, ia bersekongkol dengan Kompeni Belanda. Lalu mengangkat sanak kerabatnya dan pengikutnya menduduki kedudukan yang tinggi. -

- Itu pendapatmu sendiri. Tetapi memang benar demikian. - Adipati Cakraningrat mengulum senyum.

- Selain itu, Patih Danureja melakukan fitnah terhadap lawan-nya. Terutama Pangeran Arya Mangkunegara. Apakah Raden Mas Said putera Pangeran Arya Mangkunegara ? -

- Benar. Waktu Arya Mangkunegara dibuang dari Kartasura, Said masih berumur kurang dari dua tahun. Bagus ! Teruskan ! -

- Isteri Pangeran Mangkunegara bersama Raden Ayu Wulan. Tentunya dia amat cantik, setia dan berbakti kepada suami. Raden Ayu Wulan mempunyai seorang sahabat yang mirip dengan diri-nya. Dialah Wirasmara. Pangeran Arya Mangkunegara tentunya sering melihat mereka berdua berbincang-bincang, tetapi tidak sempat bertemu, menyapa apalagi berbicara dengan Wirasmara. Benarkah itu ? -

- Benar. -

- Pada tanggal 24 September 1727, Raden Ayu Wulan wafat akibat penyakit cacar. Karena terkenang kepada isterinya, Pangeran AryaMangkunegaraakan memperisterikan Wirasmara. Tetapi Pangeran Arya Mangkunegara tidak mengetahui, bahwa Wirasmara adalah bekas isteri Sri Baginda Paku Buwana II. Benarkah itu ? -

- Biarlah kutambah. - ujar Adipati Cakraningrat. - Wirasmara berasal dari Semarang. Dia dipersembahkan Adipati Astrawijaya dari Semarang kepada raja. Karena Wirasmara seorang gadis yang cantik jelita, Sri Baginda berkenan. la dihamili dan dikawin secara resmi pada awal bulan Agustus 1726. -

- Oh, jadi dia isteri sah ? -

- Benar. -

- Kalau begitu Pangeran Mangkunegara salah ! - seru Diah Windu Rini. - Dia tidak boleh memperisterikan isteri sahnya seseorang.

Apalagi isteri baginda. -

- Benar. Tetapi Wirasmara kemudian dikebonkan. Istilah di- kebonkan adalah semacam hukuman. Katakan saja, diceraikan. Namun tidak boleh diperisterikan atau dilamar orang lain. Sebab betapapun juga, dia adalah bekas isteri raja. Meskipun demikian, hal itu bisa terjadi manakala sudah mendapat ijin Sri Baginda dan restu Ibunda Sri Baginda. Itulah nenekmu, Ratu Amangkurat. -

- Oh, begitu. - Diah Windu Rini mencoba mengerti. - Tetapi Nitipraya, mBok Wiraga dan mBok Patrasari, maksud Pangeran Mangkunegara tidak akan mendapat kesulitan asal saja nenekda Ratu Amangkurat mengijinkan. -

- Benar. - Adipati Cakraningrat membenarkan.

- Danureja kemudian memperoleh dalih untuk memfitnah Pangeran Arya Mangkunegara. Dia ingin menyalakan rasa dengki dan cemas dalam hati Sri Sunan. Tentunya diingatkan bahwa Arya Mangkunegara sebenarnya yang berhak menduduki tahta kerajaan. Bila dia kini hendak memperisteri Wirasmara berarti tidak membenarkan Sri Baginda menghukum Wirasmara. -

- Itu tafsiranmu sendiri, tetapi benar belaka. - Adipati Cakraningrat tertawa. - Kau kelinci yang cerdik. Teruskan ! -

- Tetapi Danureja yang pandai berfikir, teptunya tidak berani berbicara demikian terhadap Sri Baginda. Kecuali bila dirinya diminta pertimbangannya. Maka ia perlu mencari seorang tokoh yang dapat berbicara demikian terhadap raja. Tokoh itu jatuh kepada nenekda Ratu Amangkurat, Ibunda Sri Baginda, -

- Benar. - - Danureja yang licin masih perlu mencari jalan yang meling-kar. la menceritakan kepada nenekda Ratu Amangkurat, bahwa Wirasmara adalah bekas isleri Sri Baginda. Demi menyelamatkan kedudukan Arya Mangkunegara di mata Sri Baginda, maka ia menyarankan agar mengawinkan Arya Mangkunegara dengan bibi Sutari, puteri Pangeran Diponegoro yang pernah dua tahun dijunjung orang sebagai raja pemberontak di Madiun pada tahun 1716 sampai 1718. Tetapi apa yang didalihkan itu adalah palsu belaka. Maksud sebenarnya ialah menyingkirkan Arya Mangku- negara. -

- Jangan lupa sebut beliau Pangeran Arya Mangkunegara ! - potong Cakraningrat dengan sungguh-sungguh.

- Ya, Pangeran Arya Mangkunegara. - Diah Windu Rini mem- perbaiki kesalahannya. - Patih Danureja tahu, bahwa Pangeran Mangkunegara akan menolak tawaran nenekda Ratu Amang- kurat. Maka ia menganjurkan agar nenekda Ratu Amangkurat melaporkan hubungan gelap antara Pangeran Arya Mangku- negara dan Wirasrnara terhadap raja. Padahal itu, hanya rekaan Danureja sendiri. Benarkah itu ? -

- Eh, kau seperti berada di tengah-tengah mereka ! - seru Adipati Cakraningrat kagum. - Lanjutkan, lanjutkan ! -

- Nenekda Ratu Amangkurat terpaksa mendengarkan saran Danureja, karena.....karena.....- Diah Windu Rini berbimbang- bimbang. - Katakan saja ! Sebab hal itu tidak benar ! - Adipati Cakraningrat membantu.

- Karena nenekda Ratu Amangkurat mempunyai.....eh ..-

- Katakan saja ! Katakan saja mempunyai simpanan seorang pria bernama Surawijaya. Katakan saja, karena hal itu sama sekali tidak benar ! - ujar Adipati Cakraningrat menganjurkan.

Tetapi Diah Windu Rini tetap tidak berani. Kecuali berarti membicarakan aib neneknya sendiri, menyinggung kehormatan kaum wanita termasuk dirinya. Lantas saja ia melompat :

- Akibatnya, Pangeran Mangkunegara dibuang ke luar Karta-sura. Dan untuk menghilangkan jejak pelacakan, Wirasmara kemudian dibunuh Patih Danureja. Tetapi ayah, Sri Baginda adalah seorang raja yang bijaksana. Mustahil bila Sri Baginda hanya mendengarkan laporan satu pihak. -

- Tepat sekali ucapanmu ! - Adipati Cakraningrat memuji kecerdasan puterinya. - Dari pamanmu Haria Giri aku mendengar kabar, bahwa nenekmu Ratu Amangkurat tidak setiiju bila sampai mem buang Pangeran Arya Mangkunegara. Dan sewaktu isteri Pangeran Arya Mangkunegara yang lain menangis sedih ..-

- Siapa dia ? -

- Itulah bibimu Raga Asmara ..- Adipati Cakraningrat

menerangkan. Meneruskan : - Sewaktu bibimu Raga Asmara menangis sedih, pamanmu Sri Baginda bergegas menengoknya. Mengapa ayunda menangis ? Bukankah aku justru menghilangkan saingan ayunda ? - kata Sri Baginda. Waktu itu Wirasmara belum mati terbunuh. Dan diluar dugaan isteri kakaknya itu menjawab, bahwa ia sedih meratapi nasib suaminya yang malang. Sri Baginda akhirnya berkata, bahwa hal itu terjadi karena mengi-ngat sepak-terjang Danureja memperoleh dukungan Kompeni

Belanda. -

- Apakah benar demikian ? -

- Danureja bersahabat dengan Ter Smitten, Frederik Julius Coyett Komandan pantai timur pulau Jawa dan suaranya di-dengarkan Gubernur Jenderal Diederik Durven. -

- Siapakah Ter Smitten itu ? -

- Dialah wakil Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Semarang. -

- Oh, begitu ? -

- Tetapi pamanmu Haria Giri tidak kekurangan akal untuk menggoyahkan kedudukan Patih Danureja. - ujar Adipati Cakraningrat dengan wajah kagum.

- Pada suatu hari, Patih Danureja memandang perlu untuk mengurangi kekuasaan nenekmu Ratu Amangkurat. Di hadapan raja ia melaporkan sepak terjang Surawijaya yang masuk ke dalam istana setiap malam dan pulang menjelang pagihari. Tentu saja Sri Baginda murka. Seperti kataku tadi, Sri Baginda mencoba mencari keyakinan. Tetapi setelah berhadapan dengan nenekmu Ratu Amangkurat, Sri Baginda tidak berani menuduh ibu kandungnya sendiri berbuat serong dengan Surawijaya. Sri Baginda hanya bertanya kepada para dayang, apakah benar Surawijaya hadir di istana nenekmu Ratu Amangkurat. Sri Baginda hanya menanyakan kehadirannya, tetapi tidak kepentingannya. -

- Padahal Surawijaya hanya disuruh me-nyanyikan sajak-sajak pujangga sebagai teman bergadang nenekmu Ratu Amangkurat. Akibatnya Sri Baginda benar-benar Murka. Sri Baginda merasa seperti sudah memperoleh petunjuk yang me-yakinkan. Tetapi jelas, ini suatu pendapat yang ceroboh. Maklum, waktu itu Sri Baginda belum lagi berumur 20 tahun. Selama hidupnya berada dalam kalangan istana. Terpisah jauh dari pagar pergaulan umum. Pengalaman nya untuk mengenal watak, tabiat dan perangai seseorang masih kurang. Akhirnya ia memanggil Tumenggung Tirtawiguna, Ngabehi Wirajaya dan Mangun Negara agar membunuh Surawijaya. -

- Ketiga pembesar itu terpaksa meng-angguk, meskipun mereka takut terhadap nenekmu Ratu Amangkurat. Merasa tidak mampu melaksanakan perintah, mereka minta pertimbangan pamanmu Haria Giri. Pamanmu Haria Giri menyarankan, agar mereka bertiga minta pertolongan Patih Danureja. Bukankah pamanmu amat cerdik ? Dengan jitu ia membalikkan masalah itu kepada sipembuatnya. Berarti senjata bakal makan majikannya. Tetapi Danurejapun bukan orang goblok. la tidak mau bertindak sendiri. Takut memberatkan tuduhan pada perbuatannya yang lalu mencekik Wirasmara. la memerintahkan dua orang pelayannya untuk melaksanakan perintah membunuh Surawijaya. Kedua orang itu kemudian membunuh Surawijaya pada jam setengah enam pagi sewaktu Surawijaya baru saja meninggalkan istana. Barangkali mereka berdua mengintip Surawijaya semenjak malamhari. Diluar dugaan, mereka mati terbunuh pula pada saat itu. -

- Mereka mati ? Siapa yang membunuh mereka ? -

- Tentu saja pamanmu Haria Giri. Mayat mereka diceburkan ke dalam sungai Brantas (Bengawan Solo) dan keris Danureja ditancapkan dalam tubuh Surawijaya. Dengan bukti itu, Danureja tidak bisa mengelak atas tuduhan nenekmu Ratu Amangkurat yang menuntut keadilan. -

- Sebentar, ayah ! - Diah Windu Rini memotong. - Kisah ini sangat menarik. Hanya saja, aku belum jelas apa sebab Patih Danureja perlu menyingkirkan nenekda Ratu Amangkurat. -

- Hm sewaktu Sri Baginda naik tahta baru berumur belasan

tahun. Katakan saja, belum dewasa. Karena itu pemerintahan- nya perlu ditilik oleh nenekmu Ratu Amangkurat sebagai Ibunda raja dan Patih Danureja. Dalam hal ini banyak tindakan-tindakan Patih Danureja yang tidak disetujui nenekmu Ratu Amangkurat Misalnya tentang tindakan memecat, mengganti dan mengangkat seseorang dalam jabatan pemerintahan. -

- Setelah Sri Baginda berani mengambil tindakan terhadap nenekda Ratu Amangkurat, kekuasaan Patih Danureja tentunya semakin besar. Mungkin sekali Sri Baginda berada dalam penga- ruhnya. -

- Benar. - Adipati Cakraningrat membenarkan. - Akan tetapi dia lupa, bahwa di Kartasura masih terdapat seorang pengawal yang pandai berpikir dan kepandaiannya tidak usah kalah. Dialah pamanmu Haria Giri. Untuk memencilkan peranan Danureja, akulah yang dijadikan peranan. -

- Mengapa ayah berkenan dijadikan peranannya ? -

- Jangan lupa! Aku adalah adik ipar Sri Baginda, meskipun aku mempunyai maksud sendiri. -

Diah Windu Rini tercenung-cenung, la merasakan ucapan ayahnya kurang tepat. Haria Giri boleh disebut sebagai seorang ahli pedang kenamaan, akan telapi bila ayahnya sampai meng- anggapnya sebagai guru, benar-benar kurang tepat. Akan tetapi dimana letak kurang tepatnya, ia sendiri tidak tahu. Sementara itu Adipati Cakraningrat melanjutkan kata-katanya :

- Aku minta Probolinggo, Bangil dan Pasuruan masuk dalarn wilayahku. Perbuatanku ini pasti membuat Sri Sunan resah. Padahal aku adalah ipar Sri Sunan. Pada saat yang bersamaan, aku minta agar Madura langsung berada di bawah penilikan Kompeni. Ha, bagaimana pendapatmu ? Kau bisa membaca tipu yang terselubung atau tidak ? -

Memperoleh pertanyaan demikian, hati Diah Windu Rini terkejut. la merasa belum siap, karena sedang mencari kurang tepatnya ucapan ayahnya. Itulah sebabnya dengan sedikit bengong ia menggelengkan kepala berbareng menatap wajah ayahnya. Dan melihat kesan wajah Diah Windu Rini, Adipati Cakraningrat tertawa menang. Ujarnya :

- Itulah tipu daya pamanmu Haria Giri. Nah, kau tidak dapat membaca tipu-daya pamanmu, bukan ? Tetapi engkau tidak perlu berkecil hati, anakku. Yang tidak dapat membaca atau menebak tidak hanya engkau seorang. Sri Sunan dan Kompeni Belanda pula. Sekarang kau percaya betapa pandai pamanmu Haria Giri. -

- Tipu daya apa ? - Diah Windu Rini penasaran.

- Begini. -

Adipati Cakraningrat tersenyum lebar. Dua tiga kali ia meneguk air minumnya, lalu berkata lagi:

- Kompeni Belanda, pasti tidak akan mengijinkan Probolinggo, Bangil dan Pasuruan masuk ke dalam wilayahku. Sebaliknya Kompeni tidakkan berani menekan Sri Sunan untuk menolak permohonanku, mengingat aku adalah ipar raja. Selagi begitu, surat permohonanku agar Madura berada langsung di bawah penilikan Kompeni, akan membuat pimpinan Kompeni memeras pikiran. Mereka pasti mulai menebak-nebak. Akhirnya mereka akan mencurigai Patih Danureja -

- Mangapa día ? -

- Sebab Danureja pernah bersekongkol dengan ayahmu, dengan Adpati Surabaya dan Raden Mas Ibrahim anak keturunan Untung Surapati yang menjadi Adpati Malang; Tegasnya, Kømpeni mengira aku barada dibawah takanan Danureja agar meminta Probolinggò, Bangil dan Pasuruan sebagai emas kawin kepada Sri Sunan, Bagi Kumpeni Belända, permintaanku itu dianggap membahayakan mengingat sepak-terjang Kakekmu dahulu, Pendek kata Kumpeni tidak bakal mengijínkan Madura memiliki sejengkal tanáh di pulau Jawa -

- Rasa curiga Kumpeni kepada Danureja masuk akal karena tidak ada alasan bersikap waspada terhadap Madura. Sebab, ayah mengirimkan surat permintaan agar Madura berada dibawah penilikannya. Akal bagus !- Diah Windu Rini memuji .

- Sri Sunan sendiri bakal tidak percaya pula tantang bunyi permlntaanku itu. Kecurigaan Sri Sunan akan jatuh kepada Danureja juga, karema didukung oleeh sikap dan tindakan Danureja sendiri terhadap keluarga raja. -

Adipati Cakraningrat meneruskan uraiannya . - Dengan akalnya, Danurèja berhasil manyingkirkan Pangeran Aryaa Mangkunegaran , Dengan akalnya pula, la memfí'tnah nenekmu Ratu Amangkurat. Masih pula ditambah persekongkolannya dengan Raden Mas Brahini dan Adipati Surabayas. Juga terlibatnya pèrkara Adipati Tegal. Itulah perkara sogokan 3000 ringgit. Semuanya ini membengunkan rasa curiga Sri Sultan, Jelas ? -

- Jelas, Siapapun akan bersikap demikian, andaikata dia berkedudukan sebagai Sri Sultan - sahut Diah Windu Rini tak ragu-ragu lagi .

- Bagus ! - Adipati Cakraningrat beereru gambita. Aku tadi berkata, aku mempunyai maksud sendiri. Begitu pula, pamanmu Haria Giri, Hm, benar-benar cemerlang otaknya. Sudah jelas, Danureja bakal terpojok. Kompeni bakal mendahului bertindak terhadap Danureja. Sebab Sri Sunan tentunya memerlukan tangan Kompeni. Meskipun demikian pamanmu Haria Giri belum puas. la menghendaki agar Sri Sunan yang mengambil tindakan layaknya seorang satria. Maka dengan rapihnya ia mengatur siasat. -

- Siasat apa lagi ? - Diah Windu Rini tertarik. Gemak Ideran yang semenjak tadi berdiam diri menegakkan kepalanya pula.

Adipati Cakraningrat mendehem dua kali. Lalu berkata :

- Tepat dugaan pamanmu Haria Giri. Kompeni Belanda benar- benar bertindak mendahului Sri Sunan. Patih Danureja dipanggil ke Jakarta. Panggilan itu menggelisahkan hatinya. Berbagai dalih dikemukakan agar ia tidak usah berangkat ke Jakarta. la dapat bertahan beberapa bulan lamanya, akan tetapi tidak untuk selama-nya. Sebab Kompeni Belanda bersedia minta ijin Sri Sunan. Dan dalam saat-saat demikian, muncullah pamanmu Haria Giri sebagai tokoh penengah. la membisiki Patih Danureja agar bersedia berangkat ke Jakarta. Padahal di dalam hati ia menghendaki agar manusia itu jangan terlepas dari genggaman Sri Sunan. Katanya, dia akan menimbulkan huru-hara di Kartasura agar Danureja kelak mempunyai alasan untuk segera balik ke Kartasura. Kata-katanya meyakinkan, dan Danureja benar-benar berangkat ke Jakarta. Kesempatan itu tidak disia- siakan Kompeni. Danureja ditahannya. Pada saat itu Danureja mati kutu. -

- Lalu apakah paman Haria Giri benar-benar membuat huru-

hara di Kartasura ? -

- Benar. Dan menghadapi kenyataan itu, Kompeni tidak mempunyai alasan lagi untuk menahan Danureja. Sebagai se- orang Nayaka, Danureja wajib pulang ke Kartasura untuk mengurus keadaan dalam negeri. Demikianlah, Kompeni membiarkan Danureja pulang ke Kartasura. Dan mulai saat itu, Danureja menaruh kepercayaan besar kepada pamanmu Haria Giri. Tetapi apakah pamanmu Haria Giri berhenti sampai disini saja ? O, tidak. la menunggu tindakan Sri Sunan. Dan apa yang ditunggunya itu benar-benar terjadi. Melihat sikap dan tindakan Kompeni terhadap Danureja, Sri Sunan tidak mau kehilangan pamor. Pamanmu Haria Giri dipanggil menghadap untuk diminta pertimbangannya. Karena Sri Sunan menghendaki agar peristiwa pembuangan itu jangan sampai mengalutkan keadaan dalam negeri, pamanmu Haria Giri menyarankan agar Sri Sunan mengguna kan tenaga Commander Frederik Julius Coyett, Wakil Kompeni Belanda di Semarang. Julius Coyett diperintahkan untuk memanggil Danureja dengan dalih hendak membicarakan urusan peme rintahan. Tentunya Danureja yang berpengalaman harus berpikir sekian kali lipat sebelum memenu hi undangan itu. -

- Akan tetapi pamanmu Haria Giri menyanggupkan diri untuk mengawalnya. Memandang dirinya, Danureja tiada akan sangsi lagi. Demikianlah rencana dan akal itu dilaksanakan dengan baik. Danureja berhasil dibawa ke Semarang. Selanjutnya dibuang ke Ceylon bersama-sama dengan Pangeran Arya Mangkunegara dalam satu kapal.... -

Sampai disini, Adipati Cakraningrat berhenti bercerita. Tak terasa Diah Windu Rini menghela nafas. la sekarang mengerti, apa sebabnya ayahnya mengagumi akal, tipu-muslihat dan ke- pandaian Haria Giri. Akan tetapi di dalam hatinya gadis itu ber- pikir :

- Paman Haria Giri lebih tepat bila disebut sebagai orang berbahaya. Dalam saat-saat tertentu, dia dapat mengorbankan sahabat dan majikannya sendiri. -

Tentu saja kesan itu tidak di-perlihatkan kepada ayahnya. Lain pulalah halnya dengan Gemak Ideran. Ia tidak pandai berpikir seperti Diah Windu Rini. la seorang pendekar sampai ke bulu-bulunya. Tujuan hidupnya hanya satu. la akan menuntut dendam terhadap Kompeni yang membunuh ayahnya. Tiba-tiba suatu pikiran mengusik benaknya. Katanya dengan hati-hati kepada Adipatl Cakraningrat

******

/ Halaman mumet

- Mohuti tnaaf, pariMit \pakab aku tlipeckcMmikati ut Ink tnOhun kelermigdtl ? -

» Twitting apa 7

- tfeklfttnya Ionian llarla Hii beiur btfriai UMilaill lokub iindHlan partial!, aptt idiab ptttttap Htt-ttiUmikitfi ftdinda Niliwi

uiarte k<? KartaiuM ? • IteHli* sekall perurnvnaumii I AUipali ' aktaniPiMtU ii

- Teta|ti Jawabnnku luuua ^ ml k «l|fl Hlla HiirlH UlH meflutfippll Niktu Miojuttib pulHtlt. IvittiU rtila Hahan hrbflt tlalam tuhuh kn-

«j«i*it hap Hal Inlldll kalian sclidikl tt.ut amati. «

Htrartl add pcruh«h«ii l^'lwl ilrtkni.lulH.ili kHa|a:i artinya '? telapl Adlpaii t*dkra»lltivia( tidal-, htwdla kan. Malahail Ubd tiba snia ia in^.uli Hinkpi tl^n bt'tkttia

kalian bpidurt boiauMKtU ! tid;i>

liawa piMlang k lail IMw^ b -kal Winji i Aku sudiih mitiia llluian (jinpan tUp^klpilA tl-itiph vium; akau kalian laluh Mwsdaratlah dl Pasiniinn. lap! Itumiu nidalui SutaNya I kalian prtstl uhu nwkquMku Pan

wtu : s^lidikJ Hananuul peiuNhan htM vati^ akah lUbuh krtn^Hii kikata dptnlklan, .\dipAti LakianiitRial

UtuJUiknii dhi K'^dua nuul-i bHuni niPiaod pirn- Miisili hativtik hal Ind v

'1'dapi inrllhul peruhahan wi\jah pulau Madura itu, mptcka lcip.»k*a tnei»utu|) iiiulut

dlht met^ka k« luai plflHi ^waklii ii^i di ran»l»i r^rtrku hrrtemu derail Nlkfn Ah^tatut -Nikon I - niah Wlndu Ritll Itu-ndahulni Hp«»uk kll:i Ititl-

60

Niktn Angina mfiiyt-nal \v^tdk ni^b Winriu Hmi yang dun ftngkuh topun »eoning gftdj^ v«pb pttrt^A d4n hwluy Dkh Windu Rinj, in Imny mbMnyiUns^ifiiiih rnungkipdi dulam luhuk tinmva. Mi^Mpiui dbniiki^n, tak ur\i"a nampukjclas pada pan-

mattipyii ymig biifSflfi-beri. - Adik ! k.iu ki hhrtlan h^hugia ! *• ui*r Oeimik Ideran

? 0, spm'i fr kali tiddk fJ**nv*k m H tin.j via, katUmijkiilrt (irnbul fw\ iriku Adik Imkal dupnt her

haliknytt akii,.,,,.,,,, -

AnjjguitM Mi^niindnkkMn ki'p«MU|iyn. In tahn, (Jemak 'jtMdn lidnk nu:mpiinvf>i ayah-humlH Mgi. A>Mli-bnndanyu gugur pfrtminui'nn fUifabttytt (lutuir bprwnirt-.'sttma mwm-nipnni lit-UndM dnn Wadyrt Mll^»U(H Ckm«k Ideren tmmg n^nvflvran^ K^ Mn'llltM IlifluP ymi»n pitiui. Mcukipun *iui«h hiHs« hidup woriinti diri ri kdiuik, niinuiii sr!^knlj it*numyti nmnndukan itv<th huaditnvfi si-pi-rii anuk- nnHk «« huyunvtt Mi-

, Nik^n An^um iudi |vn»s* l« iwndiri ih i Minvtt ni'Ta-iUkm hidup iiiUk b«*i hah iglw d) fiynh bmuliinvH AV'tha\it I' ili|u M y kd uniMli ibnnyrt hldup Ko^pimv Sf nngkuH duduk mauling d> ngnii iliumpuli t null Hpd .fbnI'MVH F' iupi hilH • mink Idi-Mii brtitptipun kpaiimtn dunwii j«iih lehlh iuuBlv»n. Di ti'MKiili kHmti'BM t 'akmnlnisrHi i« dihnnnni I uin Inlnut dt iiHitn 0 nnu. tdomn y»i^ wH«ln htmia

i Imw^t'Pmh Windu Hint inclihut .

|l(;»pi ktikdng, *«iwnlttr ih idi in Ilidub ki>h '.urwbdyH 61

eof/ halaman mumet

******