Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 07

Jilid 07

- Wigagu ! Rasanya ada yang tidak beres. Mari kita lihat! - Ketiga-tiganya melarikan kudanya secepat kilat. Benar saja. Mereka melihat dan mendengar pen duduk memekik-mekik ketakutan Bahkan ada di antara mereka yang menggeletak berlumuran darah di atas tanah. Belasan orang bersenjata kelewang (semacam sabel atau pedang lengkung) menganiaya penduduk dengan seenaknya sendiri.

Mereka berpakaian seragam kompeni. Tetapi rata-rata berkulit hitam. Hanya seorang saja yang berkulit putih. Pasti dia komandannya. (pada jaman itu V.O.C menggunakan tenaga bumi-putera dari Ambon, Bugis dan sekitarnya. Tetapi keba- nyakan mereka adalah orang-orang hukuman yang dipaksa menja-di serdadu). Dengan tertawa ia melepaskan tembakan. Hanya satu kali saja, lantaran dia harus mengisi bubuk mesiunya yang memer-lukan waktu.

Wigagu paling benci terhadap Kompeni Belanda. Apalagi sam-pai menganiaya penduduk yang tidak berdosa. Kesempatan itu ti-ak ia sia-siakan. Senyampang Belanda itu masih perlu mengisi bubuk mesiunya, terus saja ia menerjang. la melesat terbang dari punggung kudanya dan menghantamkan pukulannya dengan sekuat tenaga .

Serangan itu sama sekali berada diluar dugaan Kompeni Belanda itu. Dalam terkejutnya ia melintangkan senapannya sebagai alat penangkis. Mana mungkin ia sanggup melawan gempuran Wi- gagu. Pukulan Wigagu yang dahsyat tiba-tiba berbelok arah me- nyodok kempungannya, Dan serdadu Belanda itu roboh terkapar di atas tanah dengan melontakkan darah segar .

Puruhita tidak mau ketinggalan. la ikut menyerang dan melompat dari kudanya. Sebelum kedua kakinya meninjak tanah, tangannya menghantam seorang serdadu yang hendak menen-dang seorang anak kecil. Tak sempat mengeluarkan suara, serdadu itu roboh. Kawannya berteriak marah dan menikam punggung Pu- ruhita dengan tombak pendek.

Puruhita memutar badannya dan ujung tombak hanya terpisah satu dim saja dari dadanya. Sambil tersenyum iamenangkap ujung tombak dan didorongnya balik. Gagang tombak tersodok dengan keras menembus dada serdadu itu sendiri. Tak ampun lagi ia mati tertembus oleh senjatanya sendiri.

Melihat kepandaian Wigagu dan Puruhita, serdadu-serdadu yang lain memekik-mekik sambil mengurung rapat Sukesi bi^ru-buru melompat dari kudanya sambil menghunus pedangnya.

Dengan gerakan kilat ia menabas beberapa orang yang sedang mengurung. karena perhatian mereka tertuju kepada Wigagu dan Puruhita, mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam punggungnya. Tahu-tahu, cres, cres, cres ! Masing- masing keba-gian tikaman telak dan mati terjengkang tanpa dapat berbuat se-suatu.

- Hoeee ! - teriak yang lain. Mereka tidak mengira, bahwa seorang perempuan bisa mempunyai kepandaian berkelahi di atas kepandaiannya sendiri. Terus saja mereka melarikan diri dengan bertebaran. Sambil melarikan diri, masih saja mereka sempat melampiaskan kemendongkolan-nya kepada penduduk. Mereka benar-benar kejam yang mengin-gatkan orang kepada kawanan pembunuh bayaran.

- Jangan biarkan mereka lari ! - Teriak Wigagu.

Setelah berteriak demikian, Wigagu melompat mengejar. Puruhita dan Sukesi tidak mau keting galan. Karena serdadu-serdadu itu menggunakan akal lari bertebaran, terpaksalah Wigagu, Puru hita dan Sukesi membagi diri pula. Masing-masing kini berlombasiapa yang dapat menghabiskan lawannya terlebih dahulu. Ternyata ketiga-tiganya hampir sama. ketiga-tiganya dapat menghabis kan sisa-sisa serdadu yang melarikan diri. Setelah itu, mereka balik kembali ke tem-patnya semula.

- Kalau dibiarkan lari, mereka dapat memanggil teman-temannya.

- ujar Wigagu. - Aku percaya, tidak jauh dari sini pasti terdapat induk pasukannya. -

- Tetapi mengapa mereka berkeliaran di sini? - Sukesi minta pendapatnya.

- Sukesi, kau sendiri bukan seorang yang bodoh. Justru kerapkali aku kalah pandai dalam hal mengamati suasana. Bagaimana menurut pendapatmu? - Wigagu balik bertanya. - Sebentar tadi kita berpapasan dengan belasan perajurit Kerajaan yang melarikan diri. Kita sudah mencoba kepandaian Kompeni. Mereka terdiri dari serdadu-serdadu bayaran yang tidak seberapa tinggi kepandaiannya. Mengapa perajurit Kerajaan sampai melarikan diri? Benar-benarkah mereka takut atau merasa tidak kuat melawan serdadu-serdadu bayaran Kompeni? Terus terang saja, di balik peristiwa ini pasti bersembunyi sesuatu yang masih gelap bagi kita. Tetapi yang mengheran kan lagi, mengapa mereka justru berkeliaran di sekitar pertapaan Wukir Bayi. Apakah ada hubung-annya dengan guru? -

Selagi Wigagu hendak mengemukan pendapatnya, tiba-tiba terdengar suara dor ! Dan Wigagu mengaduh dan terhuyung. Su- kesi dan Puruhita terperanjat bukan main. Siapayang menembak? Ternyata orang Belanda yang tadi kena gempur Wigagu. Rupanya ia hanya luka parah. Karena ingin membalas, dengan sekuat tenaga ia berusaha mengisi senapannya dengan bubuk mesiu.

Setelah berkutat sekian lamanya, ia berhasil. Lalu menunggu kesempatan. Kebetulan sekali Wigagu bertiga sedang berjalan balik ke tempat-nya semula. Pada saat itu, ia melepaskan pelatuknya dan tepat mengenai pangkal lengan Wigagu.

Keruan saja, Sukesi dan Puruhita marah bukan kepalang. De- ngan berbareng mereka melompat dan menerjang serdadu Belanda itu tanpa ampun lagi. Sebentar saja Belanda itu mati terajang-ra-jang. Memang ia sudah terluka parah. Kalau masih sampai bisa mengisi bubuk mesiu sudah merupakan suatu karunia, kalau tidak boleh dikatakan secara kebetulan saja. Sebaliknya Sukesi dan Puruhita tersulut rasa marah tak terkendalikan lagi.

Tak mengherankan tabasan pedangnya kejam luar biasa . Melihat paras muka Wigagu tidak berubah, Sukesi dan Puruhita lega luar biasa. Artinya, Wigagu tidak sampai menderita luka yang mencemaskan. Ternyata mesiu senapan itu hanya melukai pangkal lengan saja, kira-kira seperempat dim dalamnya, Dengan cekatan pendekar itu menolong diri. la menyobek lengan bajunya dan dijadikan sebagai pembalut .

- Puruhita ! - ujar Sukesi dengan suara panas. - Mereka sudah menyalahi kita. Man kita cari di mana beradanya induk pasukan- nya. -

- Hai Kesi! - Seru Wigagu. - Balik ! Kita laporkan peristiwa ini kepada guru untuk mohon petunjuknya. -

Sukesi dan Puruhita mengurungkan niatnya. Mereka menghampiri Wigagu Tiba-tiba Pitrang yang masih bercokol di atas ku-danya berteriak :

- Aku mempunyai obat luka dari ayah-angkat -

Sukesi berpaling kepadanya. Ah, ia merasa salah. mengapa ia meninggalkan si bocah seorang diri? Untung tidak terjadi sesuatu. Maka dengan setengah lari, ia menghampiri seraya berkata : - Pitrang ! Kau takut? -

- Takut apa? - jawab Pitrang ketus. - Mereka pantas dibunuh, karena mereka menyiksa dan membunuh orang pula. -

Sukesi tertawa dan memeluknya. Katanya :

- Pitrang, kau benar ! Pendapatmu bagus sekali. Akan tetapi kau kelak tidak boleh membunuh orang yang tidak bersalah, bukan?-

- Belum tentu. -

- Belum tentu bagaimana? -

- Menurut ayah angkat, kita sukar membedakan antara manusia baik dan buruk. Belum tentu orang berwajah manis, baik pula hatinya. -

Sukesi tertegun sejenak. Kalimat ini pasti kalimat hafalan yang dijejalkan ke dalam ingatan Pitrang oleh Ki Ageng Telaga Warih yang terkenal kejam dan tak pernah memberi ampun. Segera ia mengalihkan pembicaraan:

- Kau mempunyai obat luka luar? -

- Nih. - sahut Pitrang sambil merogoh saku celananya.

- Tak usah. - Sukesi tersenyum. - Pamanmu sudah membekal obat luka sendiri. Ayo turun ! - Sukesi menolong menurunkan Pitrang dari atas punggung kuda. Akan tetapi Pitrang menolak.

Anak itu turun sendiri membero-sot kebawah melalui pelana. Sukesi membiarkan saja sampai ke-dua kakinya menginjak tanah, lalu dibimbingnya menghampiri Wigagu.

- Paman! Tadi aku melihat Belanda itu masih dapat bergerak. - ujar si kecil. - Kalau aku mempunyai panah, tentu sudah kupanah mati. -

Wigagu tersenyum. Sahutnya dengan suara ramah :

- Paman sendiri yang kurang berwaspada. Karena itu, kau ke-lak harus selalu berwaspada dan berhati-hati terhadap musuh.

Jangan terlalu percaya kepada diri sendiri. Lihatlah pengalaman pa-man ini. Paman terlalu percaya pada kekuatan sendiri. Paman kira satu kali hantam, dia sudah mati. Ternyata tidak begitu, bukan? Nah, ingat-ingatlah peristiwa ini! -

Kata-kata Wigagu kelak selalu mengilhami Pitrang di kemudian hari. Apalagi diperkuat dengan inti-pati ajaran Ki Ageng Telaga Warih yang besar rasa curiganya terhadap siapa saja. Dalam pada itu, Wigagu membiarkan Pitrang melihat lukanya. Katanya lagi :

- Paman ! Mengapa serdadu-serdadu itu membunuh penduduk ? Kita tidak boleh sembarangan membunuh orang, bukan ? - - Tentu saja, tidak boleh. - jawab Wigagu. - Apakah eyang.....

maksudku ayah-angkatmu menganjurkan agar engkau kelak membunuh orang dengan sembarangan saja ? -

Pitrang tidak segera menjawab. Setelah berdiam sejenak, menjawab:

- Selama dia bukan musuhku. -

- Dan siapakah yang kau anggap musuh? - Wigagu menguji. la khawatir kalau-kalau jiwa anak itu rusak oleh ajaran Ki Ageng Te- laga Warih.

- Yang mendahului menjahati aku. -

Dengan rasa kasih sayang, Wigagu menatap wajah Pitrang. kemudian ia tersenyum manis. Katanya sambil mencubit pipinya :

- Benar. Tetapi harus diselidiki dulu, bukan? Kau tadi berkata, membedakan antara yang baik dan buruk susah sekali. -

- Dari mana paman tahu? - anak itu heran.

- Kudengar kau tadi berkata begitu kepada bibimu Sukesi. - Sahut Wigagu.

Pitrang makin heran. Menurut ukurannya, ia berada cukup jauh jaraknya antara dirinya dan pamannya Wigagu. Meskipun demikian pamannya Wigagu dapat menangkap percakapannya dengan bibi Sukesi dengan jelas dan tidak salah sama sekali. Hm apakah pamannya Wigagu memiliki telinga malaikat ?

Karena Wigagu terluka, perjalanan kini dilakukan agak pelahan- lahan. Hal itu menam bah kegembiraan Pitrang. Ia mempunyai kesempatan untuk mereguk semua penglihatan yang pernah ditinggalkan selama dua tahun.

Tetapi bagi Wigagu sendiri, sebenarnya lukanya tidak berarti. Seumpama harus bertempur, ia masih dapat menggunakan tangan kirinya sama baiknya dengan ta-ngan kanannya. Kalau kini ia menyetujui melanjutkan perjalanan agak pelahan-lahan karena mempunyai maksud dapat memikir-kan peristiwa yang dijumpai lebih mendalam.

Itulah sebabnya, sepanjang jalan sama sekali ia tidak berbicara. Wajahnya berkerut-kerut seolah-olah sedang menanggung beban pikiran yang berat .

- Apakah lukamu tidak mengganggu?: - tiba-tiba Sukesi minta keterangan.

Wigagu tersenyum. la mengenal Sukesi semenjak delapan atau sembilan tahun yang lalu sewaktu berkenalan di Blitar. Kemudian bersama-sama menjadi murid Sondong Landeyan. lapun menge- nal watak dan perangainya. Pertanyaan itu, sebenarnya mempunyai maksud yang mendalam. la tahu, Sukesi sedang memikirkan keadaan gurunya. Gadis itu takut, kalau-kalau gurunya disateroni orang, mengingat banyaknya macam laskar dan gerombolan orang yang mencurigakan. Lebih -lebih seorang Cina yang menge-nakan pakaian pendeta. la merasa pasti, bahwa dia bukan seorang pendeta benar-benar.

- Bawalah Puruhita menyertaimu mendahului perjalanan. - sahutnya.

Tebakan Wigagu ternyata tepat. Karena sudah merasa memperoleh ijin, Sukesi melarikan kudanya agak cepat Puruhita segera mengikuti dari belakang. Untuk sementara nampaknya tiada rintangan apapun.

Tetapi sekonyong-konyong dari tikungan jalan muncul delapan orang penunggang kuda menghalang jalan. Delapan orang penunggang kuda! Apakah bukan penunggang-penung-gang kuda yang beberapa hari yang lalu melarikan kudanya di atas gili- gili?

- Ayunda Sukesi! Bagaimana? - Puruhita minta pertimbangan.

- Hm. Sukesi menarik kendali kudanya. - Biarkan saja. Biar mereka tahu bagaimana mutu anak-murid Sondong Landeyan. -

- Kita terjang? -

- Terjang ! -

- Tetapi bagaimana dengan Pitrang? -

- Pitrang ! Kau takut? - Sukesi berkata kepada Pitrang. - Takut apa? -

- Lihatlah ! Delapan orang menghadang kita di tengah jalan. -

- Bibi berani melawan mereka? -

- Tentu saja. Apalagi ada paman Puruhita. -

- Kalau begitu, aku akan tinggal di atas kuda menyaksikan perkelahian. Kata ayah-angkat, banyak menonton orang berkelahi dapat menambah pengetahuan. - jawab Pitrang menghafal ajaran Ki Ageng Telaga Warih.

Sukesi tertawa pelahan. Selagi demikian, enam orang berkuda muncul dari balik tikungan yang berada di belakangnya. Mereka mengikuti dengan wajah seram. Pitrang menoleh :

- Bibi ! - ia berseru.

- Jangan takut! Mereka cuma ingin menjadi budak-budak kita. - Sukesi membesarkan hati.

Setelah membesarkan hati Pitrang, ia mengendorkan kendali dan kudanya mulai melangkah lagi setapak demi setapak. Karena jalan makin mendaki, maka seringkali kudanya terantuk batu-batu yang mencongak di tengah jalan. hampir berbareng dengan gera- kan maju dari kanan-kiri gundukan ketinggian bermunculan lagi belasan orang berkuda.

Yang sebelah kanan dipimpin oleh seorang laki-laki berperawakan pendek kecil berjenggot panjang. Usianya kira-kira mendekati enampuluh tahunan, menilik seba-gian besar rambut, jenggot dan misainya memutih bagaikan perak. Sedang yang datang dari sebelah kiri dipimpin oleh seorang wanita yang nampak garang berwibawa.

Puruhita jadi naik darah. pikirnya, mereka benar-benar meren- dahkan martabat pertapaan Wukir Bayi sampai berani berkurang ajar di dalam wilayahnya. Terus saja ia melesat mendahului.

Setelah membungkuk hormat ia berseru dengan suara nyaring lantang:

- Kami anak murid Sondong Landeyan numpang lewat Sudi-kah tuan-tuan membuka jalan? -

Delapan orang penunggang kuda yang menghalangkan kuda mereka di tengah jalan, dipimpin oleh seorang laki-laki tua. Orang itu tersenyum. Sahutnya :

- Kau tinggalkan anak itu ! Dan kami akan membuka jalan. -

- Hm. - Puruhita mendengus.

- Kami tahu, kakakmu seperguruan menderita luka kena tem-bak.

- ujar orang tua itu. - Dengan seorang diri, kau bukan lawan kami. Meskipun saudaramu seperguruan ikutmembantu, kami ki-ra tiada gunanya. Lihatlah, kami berjumlah delapan orang. -

Sukesi melompat dari kudanya begitu mendengar ucapan orang tua itu. Dengan cermat ia mengamat-amati senjata orang itu yang tergantung di kedua sisi pinggangnya. Bentuknya panjang se- macam tongkat akan tetapi ber ujung tajam. Selama hidupnya, be-lum pernah ia menyaksikan seseorang membawa-bawa senjata de-mikian.

Tiba-tiba teringatlah dia akan tutur-kata gurunya, bahwa seorang bernama Tunggul Lawe pernah berkelana sampai ke Korea, la sendiri sebenarnya anak keturunan seorang pedagang besar dari Pekalongan. Karena lidahnya tidak dapat menyebut huruf r, maka senjatanya itu disebut dengan nama Kolin. Teringat akan tutur- kata itu sukesi makin heran di dalam hatinya.

Mengapa Tunggul Lawe (tentunya nama aliasnya) sampai berkeliaran di atas pertapaan Wukir Bayi. Teringat pula akan hadirnya seorang pendeta Cina dua hari yang lalu, rasa curiganya kian menjadi-jadi. Tetapi dasar seorang wanita, ia pandai menyimpan keadaan hatinya. Maka dengan tersenyum ia berkata

:

- Ah, rupanya tuanku Tunggul Lawe berkenan mengunjungi kami. Selamat datang, tuan. -

Mendengar ucapan Sukesi, Tunggul Lawe terperanjat bukan main sampai wajahnya pucat. Sudah beberapa tahun lamanya ia menyematkan nama Jawa. Maksudnya hendak merahasiakan

sia-pa dirinya. Juga beradanya di atas Gunung Lawu lebih-lebih lagi. Mengapa dengan sekali pandang, gadis itu sudah mengenal siapa dirinya? - Ah, benar-benar hebat perguruan Sondong Landeyan. jangan lagi dia, sedang muridnya berpengetahuan luas. - sahutnya dengan wajah berubah-rubah. - Kalau begitu, nona tahu pula nama senjataku. -

- Tentu saja. bukankah bernama Kolin? -jawab Sukesi dengan suara datar.

Karena kena ditebak tepat, Tunggul Lawe tidak perlu bermain rahasia lagi, Dengan serentak ia mencabut senjata andalannya dan di genggamnya dengan kedua tangannya.

- Bagus ! Bagus ! - serunya setengah mendongkol.

- Tuanku Tunggul Lawe! Perguruan Wukir Bayi belum pernah bermusuhan dengan kaummu. Bahkan berhubungan mengenai apapun, tidak. Mengapa tuanku tiba-tiba bersikap memusuhi ka- mi?-

- Memusuhi? Oh, tidak. - sahut Tunggul Lawe dengan cepat - Kami hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja. kalian adalah anak-murid Sondong Landeyan. Tentunya jujur dan tulus hati se-perti gurumu. Gurumu sudah merelakan isterinya dibawa lari orang. Tetapi mengapa hanya setengah hati? Bukankah namanya munafik? -

- Setengah hati bagaimana? - - Mengapa anaknya mau dikangkangi sendiri? Karena itu ting- galkan anak itu untuk bisa kubawa kepada ibunya. Kalau tidak, ter-paksa kau berkenalan dengan senjata Kolin. -

Kepala Sukesi seperti disambar geledek begitu mendengar uca- pan Tunggul Lawe. Kali ini, tidak dapat lagi ia menahan diri. Terus saja ia mencabut periangnya dan melompat maju :

- Hm manusia pasaran yang bermulut kotor. Coba, aku ingin

mencoba apa sih hebatnya senjata andalanmu itu. -

Dimaki demikian di depan anak-buahnya, Tunggul Lawe naik pitam. Memang semenjak semula ia bertujuan hendak main pak- sa. Sekarang ia merasa ditantang. Lantas saja ia tertawa terbahak-bahak lantaran mendongkol. Serunya :

- Perempuan budak ! Kau mencari mampusmu sendiri. Otak-mu tumpul. Kau cumatiga orang. Kami delapan orang. Apalagi te- manmu yang satu sudah luka. Maka kesempatan yang baik ini ti- dak akan kami sia-siakan untuk menahan kalian semua. -

- Kau akan menahan kami bertiga? Jangan mimpi. Mari kita mengadu kepandaian. Bagaimana kalau kau kalah? -

- Aku kalah? bukankah sudah kukatakan, kami berjumlah delapan? Maka kau akan menghadapi tenaga gabungan kami berde-lapan. -

- Main kerubut, ya? - bentak Puruhita dengan nada mengejek. - Puruhita, kau simpan dulu tenagamu. Menghadapi tua bangka ini, kurasa tidak perlu aku mendapat bantuan. -

Sukesi memang seorang gadis yang berhati sekeras baja. Baik ucapan, pendirian maupun tindakannya tegas semenjak masih ka-nak-kanak. Barangkali, karena dia kelahiran JawaTimur.

Biasanya puteri Jawa Timur layak disebut Srikandi dalam cerita wayang. Pada saat itu, ia sudah memutuskan hendak menangkap Tunggul Lawe hidup-hidup agar dapat dijadikan sandera untuk mengundurkan teman-temannya dari wilayah Wukir Bayi.

Sementara itu, Tunggul Lawe sudah maju menggempur. Gesit gerakannya dan ujung senjatanya yang tajam bagaikan bayonet mengarah ke tempat-tempat yang membahayakan. Tetapi dengan tenang dan mantap Sukesi menangkis dengan menggunakan tenaga dua bagian saja. Maksudnya, memang hendak memancing kelengahan lawan.

Perhitungannya ternyata tepat Tunggul Lawe biasa disanjung puji oleh bawahannya. Tak menghe rankan ia sombong, angkuh dan memandang enteng siapa saja. Sekarang gem-purannya ternyata berhasil. Pedang Sukesi hampir terpental dari genggamannya.

Keruan saja ia girang bukan main.

Segera ia bertekad hendak merobohkan Sukesi secepat mung- kin di depan hidung anak-buahnya. Maka dengan mengangkat ke-palanya ia berseru : - Kalian jangan bergerak dari tempat! Aku akan merobohkan perempuan ini dalam dua tiga gebrakan saja. Lihatlah ! -

Teman-temannya entah anak buahnya, diam-diam heran di dalam hati. Pendekar Sondong Landeyan terkenal di seluruh pelosok tanah air. Namanya menggetarkan jagad. Tetapi apa sebab murid-muridnya nampaknya tidak becus? Hanya dengan sekali gebra-kan saja, pedangnya nyaris terpental dan genggaman.

Mereka tidak tahu, bahwa Sukesi sedang melakukan siasat mengamat-amati gerakan Tunggul Lawe. la seorang ahli pedang, namun selama hi-dupnya belum pernah bertempur melawan seseorang yang meng-gunakan senjata dua tingkat yang dapat dipergunakan dengan ber-bareng. Maka terus-menerus ia hanya mengadakan pembelaan di-ri sambil memasang mata.

Gerakan Tunggul Lawe memang gesit. Serangannya berba-haya. Namun arah bidikannya susah ditebak. Namun setelah bertempur kurang lebih sepuluh jurus, mulailah ia bisa meraba tipu-tipu muslihatnya. Ternyata tangan kiri dan tangan kanan yang ber- gerak berbareng masing-masing memiliki jurus yang berbeda.

Yang sebelah kiri selalu bergerak mengarah punggung. Sedang yang kanan seringkali menghantam kaki. Mengapa tidak menga- rah langsung ke dada atau menghantam pinggang?

Mungkin itu suatu tipu muslihat untuk menjebak kelengahan musuh. Pada saat itu, sukesi teringat akan keterangan gurunya: -Meskipun banyak tipu-muslihat, akan tetapi tidak usah kau takut- kan. -

Dan teringat akan keterangan gurunya, timbullah semangat tempurnya. Mula-mula ia sengaja menyederhanakan tangkisan- nya, karena hanya melindungi kaki dan punggung saja.

Inilah saat-saat yang diharapkan Tunggul Lawe. Mendadak saja ia membentak sambil menikam. la mengira, lawan sudah kena dikelabui. Sebaliknya ia tidak mengira, bahwa justru Sukesi yang sedang mengelabui. Karena begitu kedua senjatanya menikam dada, tiba-tiba pinggangnya menjadi kaku dan kedua tangannya tak dapat digerakkan lagi.

Ternyata sukesi berhasil menghantam sasaran yang dipilihnya. Masihuntungbagi Tunggul Lawe, karena Sukesi tidak berniat membunuhnya. Kalau tidak, pada saat itu pinggangnya sudah tertabas kutung. Sambil menempelkan pedangnya pada leher Tunggul Lawe ia membentak :

- Bagaimana? Kau menyerah atau tidak? Aku hanya menggem- purmu dengan punggung pedangku. -

Dengan menarik nafas panjang, Tunggul Lawe menjawab se- tengah mengeluh dan setengah mendongkol :

- Baiklah, andaikata aku kau bebaskan kembali rasanya tidak sanggup mengalahkanmu. Bahkan aku merasabelum pantas men-jadi muridmu. - - O begitu? - Sukesi girang.

Sekarang ia merasa sudah dapat menguasai tujuh orang anak- buah Tunggul Lawe. Sekarang ting-gal menggertak barisan yang dipimpin perempuan garang itu dan orang tua bertubuh pendek kecil berjenggot panjang. Serunya Iantang :

- Tuan-tuan, sekarang kami persilahkan turun gunung. Buka jalan

! Kami akan melanjutkan perjalanan. -

Sukesi merasa pasti gertakannya akan berpengaruh, Diluar dugaan, perempuan itu mengangkat pedangnya sambil menbentak lantang : - Serbu ! -

- Tahan ! - Seru Sukesi yang tidak kalah lantang puhi - Maju selangkah orang ini akan kehilangan lehernya. -

Perempuan itu tertawa geli. la mengulangi aba-abanya kembali. - Serbu ! -

Setelah memberi aba-aba demikian, ia mendahului mengeprak kudanya menuruni ketinggian yang segera diikuti sekalian pengiringnya. Sama sekali ia tidak menghiraukan nasib Tunggul Lawe.

Sukesi tercengang, sedang Puruhita terkejut. Kalau begitu, mereka bukan satu komplotan dengan Tunggul Lawe. Maka mernbunuh Tunggul Lawepun tiada gunanya. Segera ia menendang Tunggul Lawe terguling di atas jalan. Kemudian melesat mendampingi Puruhita. Mereka berdua saling menempelkan punggungnya dan dengan tajam menyapu barisan wanita yang mengepungnya dengan pandang matanya. Selagi demikian, terdengar seruan Wigagu

- Adik, jangan takut! Biar aku yang membereskan mereka. -

Seruan Wigagu dikumandangkan dengan disertai tenaga himpunan sakti yang meledak bagaikan petir. Keruan saja, mereka yang mengurung Sukesi dan Puruhita kaget bukan kepalang. Mereka tadi mendengar ucapan Tunggul Lawe sangat jelas.

Wigagu ibarat tak dapat menggerakkan badannya karena kena tembak. Nyatanya, tidak demikian. Pendekar itu hanya terluka pangkal le-ngannya. Namun sama sekali tiada tanda-tanda mengurangi kegagahannya.

Orang tua yang menyerbu dari kanan sampai tertegun di atas kudanya. Ia benar-benar merasa heran. Tetapi sesungguhnya, ti- dak hanya mereka saja yang terheran-heran. Juga Sukesi dan Puruhita. Hanya saja penyebabnya lain. Tadinya mereka berdua mengi-ra, perempuan yang garang itu akan menyerbunya.

Diluar dugaan, sasarannya bukan mereka berdua. Justru terhadap tujuh orang anak-buah Tunggul Lawe dan mereka yang menyerbu dari arah kanan. Dengan cekatan, salah seorang anak- buah Tunggul Lawe menyambar tubuh pemimpinnya yang tergolek di tengah jalan. La-lu dengan serentak mereka semua kabur turun gunung.

Sebenarnya, kalau mau Sukesi dapat mencegah perbuatannya. Akan tetapi ia sedang keheran-heranan. Selain itu, tujuannya su- dah terpenuhi. la menawan Tunggul Lawe hidup-hidup dengan maksud sebagai jaminan memaksa anak-buahnya turun gunung. Syukur bila bisa menekan semuanya.

Kini yang dapat dipaksa ta-kluk dan kemudian lari turun adalah anak-buah Tunggul Lawe. Artinya maksudnya sudah terpenuhi meskipun tadi sempat kecewa. Itulah sebabnya, ia membiarkan mereka membawa Tunggul Lawe kabur. Sekarang dengan pandang penuh teka-teki, ia mem-perhatikan gerak-gerik perempuan garang itu yang sebentar tadi tidak dapat digertaknya mundur. Penyerbuannya terhadap Tunggul Lawe bertujuh sudah jelas. la bukan segolongan dengan Tunggul Lawe. Mengapa? Hal itu masih perlu penjelasan.

Tetapi setelah Tunggul Lawe dan kawan-kawannya kabur, mengapa ia melanjut-kan penyerbuannya terhadap laskar yang berada di bawah orang tua itu? Sesungguhnya siapakah mereka? Kepentingannya masing-masing tentunya berbeda fneskipun sama-sama berada di wilayah Wukir Bayi.

Sementara itu kedua pihak laskar bertempur dengan serunya. Beberapa waktu kemudian mereka saling kejar-mengejar. Akhir- nya sama-sama pula turun gunung. Dan sekitar terjadinya peristi- wa itu jadi sunyi. Sayup-sayup masih terdengar suara derap kaki kuda. Setelah itu lenyap. Alam Gunung Lawu menjadi hening.

- Wigagu ! Apakah pendapatmu? - Sukesi minta pendapat kakaknya seperguruan yang sudah tiba di tempatnya berada.

- Engkau sendiri bagaimana? Mereka bertempur sungguh- sungguh atau hanya berpura-pura? - Wigagu balik bertanya.

Belum sempat Sukesi mengemukakan pendapatnya, Pitrang yang masih bercokol di atas kuda bersorak-sorak gembira :

-Hore.....Hore ! Bagus, mereka pandai main kucing-kucingan.-

Sukesi mengerinyitkan dahinya. la tertarik kepada bunyi ucapan Pitrang. Meskipun masih tergo long kanak-kanak, akan tetapi pendapatnya kadang-kadang sangat cerdik dan tepat. Maka sambil menghampiri ia menegas :

- Main kucing-kucingan bagaimana? -

- Mereka cuma saling memukul, saling kejar-kejaran, Tiada yang terluka. Apakah bukan main kucing-kucingan? Menurut ayah- angkat, tujuannya hanya ingin mengalihkan perhatian. Su- paya ..-

- Supaya apa? - Sukesi tidak sabar.

- Supaya yang terpikat akan kehilangan waktu. - - Ah ! - Sukesi terkejut. Benar, pikirnya. Terus saja ia berpaling kepada Wigagu dan Puruhita :

- Aku akan berangkat dulu ! -

Setelah berkata demikian, dengan agak gugup ia melompat keatas pelana. Kemudian sambil memeluk Pitrang, ia menghentak kendali kudanya. Wigagu dan Puruhita melompat pula ke atas kudanya masing-masing.

- Kakang! Benarkah ada hubungannya dengan guru? - Puruhita minta keyakinan kepada Wigagu.

- Kedudukan guru mungkin dimusuhi dari lima penjuru, Meskipun guru tidak pernah mencampuri urusan negara. - ujar Wigagu.

- Lima jurusan? - Puruhita tercengang.

- Yang pertama, tentunya pihak Sri Baginda yang merasa di- tinggalkan. Tegasnya, merasa dikecewakan. Yang kedua, pihak Kompeni Belanda yang sudah terlanjur mengenal guru sebagai pengawal peribadi Sri Baginda. Yang ketiga, pihak Kepatihan.

Kau tahu sendiri, Patih Danureja senantiasa bersaing kekuasaan dengan Sri Baginda. Ke-empat, peristiwa pedang Sangga Buwana yang dilanjutkan dengan sepak-terjang Ki Ageng Telaga Warih.Dan yang kelima ini pendapatku sendiri. Mengapa

terdapat dua tiga orang Cina? Apakah orang-orang Cina mulai memperhatikan pula keadaan negeri? (Pada jaman Paku Buwana II pecahlah pe-rang Cina.) yang terakhir ini, aku belum yakin benar. - Mendengar kata-kata Wigagu, Sukesi ikut cemas. Apalagi Pu- ruhita. Tetapi Pitrang yang mencintai Ki Ageng Telaga Warih keli- hatan tidak senang. Katanya minta penjelasan :

- Mengapa ayah-angkatku tersangkut perkara ini? -

Sukesi memeluk Pitrang. Dengan suara halus ia menjawab hati- hati :

- Karena ingin membela ayahmu yang disalahkan oiang banyak, ayah-angkatmu Ki Ageng Telaga Warih mencari pedang pusaka itu. Beliau terpaksa banyak melakukan pembunuhan. Karena itu musuhnya luar biasa banyaknya. Masing-masing ingin menun-tut dendam. Celakanya, Ki Ageng Telaga Warih adalah salah seo- rang paman-guru ayahmu. Maka ayahmulah yang dituntut untuk bertanggung-jawab atas sepak terjangnya. -

Pitrang terdiam. Setelah lama berdiam diri, kemudian berkata seperti kepada dirinya sendiri :

- Kalau begitu, orang tidak boleh membunuh sembarangan. -

- Benar. Benar, sayang. - Sukesi girang.

Pertapaan Wukir Bayi berada di balik bukit gunung yang berdiri tegak bagaikan benteng alam. Jalannya menanjak. Itulah sebab- nya, meskipun semua ingin terbang secepat-cepatnya, kuda mereka hanya dapat berjalan pendek-pendek. Sebentar lagi, mereka akan memasuki jalan tikungan. Setelah melewati tikungan, pertapaan Wukir Bayi akan nampak di depan mata. Bisa di mengerti, bahwa mereka ingin melewati tikungan jalan secepat-cepatnya. Tetapi begitu tiba di ujung penghabisan tikungan jalan, mereka tertegun.

Seperti saling berjanji, mereka menarik kendali kudanya. Lalu saling memandang dengan wajah berubah. Mengapa suasananya sunyi senyap? Mana pula suara petani-petani yang sedang ber-cocok-tanam? Biasanya mereka menyanyi dan bergurau. Juga anak-anak perkampungan sama sekali tidak kelihatan.

Seketika itu juga, hati mereka berdebaran. Wigagu mendahu-lui menggentak kudanya yang segera disusul Sukesi dan Puruhita. Mereka saling berlomba seolah-olah sedang berpacu. Begitu tiba di halaman rumah pertapaan, penglihatan mereka berputar sea- kan-akan habis tersambar geledek. Empat mayat membujur ber- lumuran darah. Mereka jelas bukan penduduk dusun, atau warga pertapaan.

Dengan berbareng mereka melompat ke serambi depan dan langsung menyerbu ruang dalam. Tempat dimana gurunya duduk di atasnya, basah oleh darah segar. Seorang laki-laki yang menge-nakan seragam perajurit mati dengan kepala pecah.

- Guru ! - teriak Sukesi setengah menjerit. Dan pekikannya se- gera disusul Wigagu dan Puruhita: - Guruuuuu...! Guruuuuu !-

Seperti orang kalap mereka bertiga menyerbu ke ruang belakang dan bergantian menjenguk dan memeriksa setiap kamar sambil berseru-seru :

- Guruuuuuu ! -

Tetapi suasana pertapaan sunyi-senyap. Tidak usah dikabarkan lagi, bahwa pertapaan mengalami malapetaka. Entah siapa yang memusuhi gurunya. Yang pasti mereka adalah musuh-musuh gu- runya. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang merintih.

Dengan serentak mereka menghampiri. Ternyata Sudimin salah seorang pelayan yang bertugas mencari kayu bakar.

- Dimin ! Dimin ! Apa yang terjadi ? -

Sudimin menderita luka. Buru-buru Wigagu mengerahkan tenaga saktinya untuk merebut kesada ran dan menambah tenaga Sudimin. Begitu Sudimin menyenakkan mata dan mengenal siapa dirinya, segera Wigagu minta keterangan :

- Di mana guru? -

- Oh.....beliau.....beliau dilemparkan ke jurang. -

- Siapa yang melemparkan? - teriak Wigagu bertiga setengah memekik. - Dia.....dia.....- tetapi Sudimin hanya mampu berkata dua patah kata itu saja. Kemudian ia roboh tak sadarkan diri.

- Dimin ! Dimin ! Bangun ! Bangun ! -

******

PENDEKAR SONDONG LANDEYAN sedang berenung-renung di dalam kamar persemadian nya, tatkala salah seorang pern-bantu rumah-tangganya datang mengetuk pintu kamar. Dengan suara sabar dan pendek Sondong Landeyan menyahut:

- Siapa? -

Tempat persemadian Sondong Landeyan yang sebenarnya le-bih tepat dikatakan kediamannya berada di tengah hutan yang ter- pencil. Hawanya sejuk dan dikerumuni rumpun bambu yang tera- tur indah. Suasananya sunyi hening.

Hanya kadangkala saja terde-ngar suara burung berkicau. Itulah sebabnya penduduk menye-butkannya sebagai tempat persemadian. Padahal Sondong Landeyan bukan seorang ulama atau pemeluk agama yang kuat. la hanya seorang pendekar yang memiliki ilmu sakti melebihi manusia lumrah. Ringkasnya seorang ber-Tuhan yang sering memencilkan dirinya dari keramaian, karena ingin mengamalkan semua kepan-daiannya demi kesejahteraan dunia. Maka tidak tepat pula bila disebut seorang pendeta, atau seorang brahmana. Meskipun demikian, pelayan-pelayannya (pembantu rumah tangganya) senang menyebut dirinya sendiri sebagai cantrik, badal atau hajar. Padahal arti cantrik bermakna pelayan seorang pendeta atau yang mengatur rumah tangga seorang pendeta. Sedangkan hajar berwenang mem-beri khotbah tentang kekuasaan Tuhan. Tetapi karena hal itu su-dah menjadi pengertian masyarakat pegunungan, Sondong Lan-deyan tidak menolak atau membantah pengertian yang salah itu. Barangkali karena tidak pandai berbicara atau karena segan berbi-cara banyak.

Cantrik yang mengetuk pintu kediamannya bernama Putut. Begitu mendengar tegur Sondong Landeyan dengan cepat ia men-jawab

:

- Seseorang yang mengaku sahabat tuanku.Dia diiringkan lima orang yang datang dan Kartasura.-

- Apakah dia sudah menyebut namanya? -

- Dia menyebut diri Gabah Santa. -

Sondong Landeyan terperanjat berbareng girang. Gabah Santa adalah sahabatnya pula di samping Haria Giri Bahkan lebih dekat daripada Haria Giri. Orangnya ramah dan dapat dipercaya. Dia ter-masuk salah seorang kepercayaan Pangeran Pugeryang kelak naik iartia dengan gelar Paku Buwana I, ayahanda Sri Baginda Amang-kuiai 1 Vyang kini bertahta. Usia Gabah Santa dahulu terpaut lima-belas tahun. Jadi kini berusia kurang lebih 68 tahun.

- Baiklah ! Persilahkan beliau duduk di ruang tengah. - perintah Sondong Landeyan.

Apa yang disebut ruang tengah sebenarnya sebuah ruang yang kosong melompong. Sama sekali tiada hiasan kecuali sebilah pedang kayu yang tergantung di dinding bambu. Meja dan kursi tidak ada. Yang disebut untuk tempat duduk hanya empat buah batu ter-gosok rata.

Semuanya berjumlah empat buah. Yang satu diperuntukkan bagi Sondong Landeyan. Yang tiga untuk tempat duduk Wigagu, Sukesi dan Puruhita bila sedang datang menghadap atau sedang menerima ajaran teori.

Gabah Santa yang sopan santun tidak berani mendahului tuan rumah. la menunggu dengan berdiri tegak. Demikian pulalah keli- ma pengiringnya berdiri berjajar di belakangnya. Tidak lama ke- mudian pembantu-pembantu rumah tangga datang membawa tiga poci berisikan teh tawar dan enam piring singkong bakar.

Dengan hormat mereka mempersilahkan keenam tetamu majikannya untuk minum dan mencicipi hasil bumi pertapaan Wukir Bayi.

Sondong Landeyan tiba di ruang itu dengan merapikan pakaiannya. Namun tetap saja bersahaja, Wajahnya kemerah- merahan, memancarkan cahaya segar. Sekarang ia membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh lebat. Di sana sini nampak diselingi uban acak-acakan, tanda bahwa hatinya terpukul rasa pedih yang men-dalam, Meskipun demikian perawakan tubuhnya tetap kekar.

Begitu bertemu pandang dengan Gabah Santa, terus saja ia menghampiri dan mendekapnya. Kedua-duanya saling berpelu- kan sebagai seorang sahabat yang sudah lama tidak pernah bertemu.

- Adikku, Sondong Landeyan ! - ujar Gabah Santa.- Sepuluh tahun aku tidak melihatmu. Ternyata kau tidak berubah, Hanya saja, sekarang kau sudah beruban. -

- Akupun sudah tergolong angkatan tua. - sahut Sondong Lan- deyan dengan singkat dan sederhana. - Silahkan duduk. Di atas gunung tiada kursi atau meja. -

- Ah, di dalam istanapun bukankah kita biasa duduk bersila di atas lantai? - sambut Gabah Santa dengan suara ramah. Dan keduanya kemudian duduk di atas kursi batu masing-masing.

Gabah Santa kemudian memperkenalkan pengiringnya sebagai laskar Sri Baginda. Kemudian mulai ia berkata :

- Adikku, dari Kartasura aku mendaki gunung sampai tiba di Wukir Bayi ini. Tentunya karena terdorong oleh suatu maksud dan tujuan yang mendesak. Meskipun tidak mudah, namun hatiku puas. Apalagi setelah melihat keadaanmu dalam segar bugar.

Artinya kita semua mempunyai harapan. - - Harapan apa? -

- Tentunya engkau sudah mendengar kabar, bahwa Ratu Ayu Sumanarsa di jemput kembali dari Blitar beserta dua orang putera-nya. Arya Mangkunagara dan Raden Lindhu. -

Sondong Landeyan mengangguk.

- Semua mengharapkan, setelah Ratu Ayu kembali, negara akan bertambah makmur dan sejahtera. Terutama bagi Sri Bagin-da. Tetapi ternyata tidak demikian. Sri Baginda tiba-tiba terserang penyakit yang aneh. Dengan mengerahkan sekalian hamba sahaya, orang-orang pandai di datangkan dari segala penjuru.

Namun tetap tidak berhasil. Adik, kabarnya di Jagaraga ada orang pandai bernama Kyahi Damarjati. Benarkah itu? -

- Ya, memang benar. Akupun sering datang ke Jagaraga untuk memohon petuah-petuahnya. -

- Baiklah, hal itu akan kita bicarakan sebentar kemudian. Yang penting sekarang adalah soal penyakit yang menimpa Sri Baginda Amangkurat IV. - Gabah Santa melanjutkan. - Tetapi sebelum aku mengabarkan bagaimana terjadinya musibah itu, perlu kau keta-hui bahwa keadaan sendi kerajaan terpecah belah.

-

- Apa yang kakang maksudkan sendi negara? - potong Sondong landeyan menaruh perhatian. - Kecuali persaingan kekuasaan dan berebut pengaruh antara pihak Sri Baginda dan Patih Danureja, diam-diam pula muncul ke- kuatan lain yang dipimpin Ratu Paku Buwana dan Ratu Mangku- rat. Belum lagi kekuatan dari luar kaki-tangan Adipati Jayaningrat dari Pekalongan dan Adipati Cakraningrat dari Madura. Dan semuanya ini.....dan semuanya ini adalah gara-gara ikut

sertanya Kompeni Belanda mengacau persatuan kita. -

- Hm. - Sondong Landeyan menggeram. Sondong Landeyan memang benci hadirnya dan ikut campurnya Kompeni Belanda mencampuri urusan dalam negeri. Itulah sebabnya, terhadap keti- ga muridnya ia menanamkan benih permusuhan terhadap orang- orang asing.

- Apakah mereka sampai bentrok? - Sondong Landeyan minta keterangan.

- Beradu senjata, maksudmu? -

- Ya. -

- Tidak hanya beradu senjata, tetapi saling membunuh. - Gabah Santa memberi keterangan. - Tetapi....hm tetapi kalau mau

diusut lebih dalam lagi, inipun salah satu akibat dari tindakan Sri Baginda sendiri. Mohon maaf. -

- Karena mempunyai permaisuri terlalu banyak, bukan? -

Gabah Santa tidak segera menjawab. la menghela nafas dan wajahnya nampak prihatin. Lalu berkata seperti memaklumi: - Memang tadinya dimaksudkan demi mempertahankan kerajaan. Masing-masing diharapkan ikut serta memiliki. Tetapi ke- nyataannya tidak demikian. Setelah puteranya masing-masing menjadi dewasa, mulailah timbul persaingan untuk merebut ke- kuasaan. Bukankah begitu? - (Di dalam istana sering timbul helat (fitnah). Ada yang mengabarkan Raja Amangkurat IV mempunyai selir puteri Cina yang kelak melahirkan putera bernama RM. Ga- rendi. Tetapi inNbaru merupakan kabar angin.

Sondong Landeyan keluar dari jabatannya, karena tidak senang Sri Baginda seakan-akan mengabaikan Mas Ayu Sumarsono (Maksudnya : Ayu Sumanarsa atau Ayu Sumarsa.) putri Kyahi Nur Besari yang berdiam di desa Laroh. Tidak mengherankan be- gitu Gabah Santa menyinggung-nyinggung akibat perilaku Sri Ba- ginda yang tidak disenangi, hatinya bertambah perihatin.

Gabah Santa menunggu sampai Sondong Landeyan terbenam dalam goncangan batinnya. Begitu nampak Sondong Landeyan makin keruh wajahnya, ia melanjutkan :

- Lalu.....- ia berhenti karena tidak sampai hati melihat wajah Sondong Landeyan. Tak dikehendaki sendiri, ia mengisak suara tangis.

- Bagaimana kabar permaisuri Sumanarsa? - tiba-tiba Sondong Landeyan seperti terbangun dari tidurnya. Justru demikian, tidak bisa lagi Gabah Santa menahan keadaan hatinya. Meledaklah tan-ngis Gabah Santa yang terdengar sedih menyayatkan hati. - Sondong Landeyan, mengapa engkau bisa menebak tepat? -

- Menebak tepat bagaimana? - Sondong Landeyan tidak mengerti.

- Tentang yang kau tanyakan.....- sahut Gabah Santa dan tangisnya kian menjadi-jadi.

- Kenapa? - wajah Sondong Landeyan, berubah.

Sondong Landeyan sudah lebih dari delapan tahun berdiani di atas gunung. Meskipun sudah memencilkan diri, namun iaadalah seorang pen-dekar dan bukan seorang pertapa. Hatinya masih ikut memikirkan keadaan negara. Maka begitu melihat Gabah Santa menangis sedih setelah mendengarkan pertanyaannya tentang Ratu Ayu Sumanarsa, hatinya tergetar.

- Ratu Ayu Sumanarsa mati terbunuh. - Gabah Santa menjawab dengan suara mengadu.

Kalau orang disambar geledek, rasa kagetnya tidaklah sekaget Sondong Landeyan. Begitu hebat rasa kagetnya sampai ia terlo- ngong. Sementara itu dengan menangis sedih, Gabah Santa meng-gapai salah seorang bawahannya sambil memberi perintah dengan suara tersekat-sekat:

- Ba.....bawa....ke...kemari itu ! - Orang yang dipanggilnya datang dengan membawa bungkusan yang nampak kemerah-merahan. Segera bungkusan itu diangsurkan dan diterima Gabah Santa dengan tangan gemetaran.

- Lihat! Lihat sendiri! Inilah kepala kepala....- Gabah Santa

maju mengangsurkan bungkusan kepala yang terpenggal ke depan Sondong Landeyan.

Dengan terus masih menangis Gabah Santa duduk membung- kuk hendak membuka bungkusan. Sondong Landeyan melongok- kan kepalanya hendak menjenguk isi bungkusan yang tergelar di- depannya.

Tiba-tiba terdengar buk ! .

Dan apa yang terjadi sungguh berada diluar dugaan siapapun. Sebab sewaktu Sondong Landeyan sedang menjengukkan kepalanya, sekonyong-konyong Gabah Santa menghantam dada Sondong Landeyan. Tentu saja Sondong Landeyan tidak sempat menangkis, karena serangan itu terjadi diluar dugaannya. la terhantam telak.

Namun berkat latihannya yang bertahun-tahun lama-nya, ia masih dapat menahan pukulan Gabah Santa yang terkenal memilikj pukulan besi semenjak jaman mudanya. Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah membalas menyerang.

Prak ! Dan kepala Gabah Santa pecah seketika itu juga. - Serang ! - terdengar suara aba-aba dari ruang depan.

Empat orang berseragam tentara Kerajaan maju menyerang. Mereka menyerang dengan mengguna kan senjata berat seperti go-lok, bandil besi, penggada dan rantai bergigi. Pada saat itu, kedudu kan Sondong Landeyan dalam keadaan lemah. la sudah terluka berat.

Mulutnya mulai menyemburkan darah segar akibat hanta-man Gabah Santa. Tenaganya seperti terkuras habis, sehingga tidak dapat berdiri lagi. Sekarang ia diserang dari empat jurusan.

Namun betapapun juga, dia adalah seorang pendekar besar. Dalam kedudukan yang sangat berbahaya, masih dapat ia berpikir cepat Sengaja ia tidak bergerak dari tempat duduknya untuk me-nyimpan sisa tenaga saktinya. Kecuali itu untuk mengesankan, bahwa ia terluka parah sehingga tidak mampu bergerak. Akan teta-pi begitu serangan rantai yang bisa menjangkaujauh menghantam dirinya, dengan suatu gerakan kilat ia menangkap dan merenggut-kannya.

Tenaga sakti yang terhimpun dalam diri Sondong Landeyan barangkali sekuat kesatuan tenaga limapuluh orang lebih. Karena itu, meskipun menderita luka parah masih sanggup menarik luar biasa kuatnya. Inilah suatu hal yang sama sekali berada diluar perhitungan penyerangnya. Padahal semua pengiring Gabah Santa tentunya perajurit-perajurit pilihan. Begitu tersendal ia ngusruk kedepan dengan masih menggeng- gara rantainya sekuat-kuatnya. Maksudnya untuk tetap dapat mempertahankan senjatanya demi kehormatan dirinya. Sebab seorang perajurit yang kehilangan senjata ibarat orang kehilangan jiwa atau sebilah keris tanpa pamor. Namun akibat justru sebalik-nya .

Karena tetap memegang gagang rantainya erat-erat, Son-dong Landeyan menghantam dan mendorongnya berputar sehingga orang itu ibarat sebuah perisai yang menerima pukulan senjata ketiga kawannya. Tak ampun lagi, tubuhnya mati terajang go-lok, tergempur bandil besi dan penggada.

- Oaaaaa ..- ia berteriak setinggi langit dan tubuhnya terbanting

mati di atas lantai dengan bermandikan darahnya sendiri.

Sebaliknya, ketiga kawannya yang terhantam hentakan tubuh orang itu, mundur sempoyongan dengan berseru kaget. Pada detik itu pula, Sondong Landeyan melesat dari tcmpat duduknya dan menghantam ketiga penyerangnya dengan sisa tenaganya. Mereka bertiga mati terjengkang, sedang Sondong Landeyan mendarat di lantai dengan nafas memburu.

M^nyaksikan keperkasaan dan kegagahan Sondong Landeyan, orang yang member! aba-aba membalikkan badannya dan kabur dengan secepat-cepatnya. Begitu terpukul hatinya, sehingga empat kali ia jatuh menggabruk tanah karena kakinya saling mem-belit dan saling'menjegal sendiri. Sondong Landeyan membiarkan ia kabur. la sendiri sebenarnya sudah kehabisan tenaga. Sadar bahwa dirinya menderita luka berat, segera ia duduk bersemadi. Selagi demikian, pendengaran-nya yang tajam menangkap suara langkah kaki.

Yang satu, ia kenal benar. Tetapi langkah kaki orang kedua seperti sudah pernah kenal. Pelahan-lahan ia menyenakkan matanya, Dua orang berdiri tegak tak jauh daripadanya.

Dua orang yang senantiasa mengganggu hati dan pikirannya. Merekalah Sekar Mulatsih dan Haria Giri.

- Haa ha ha .- Haria Giri tertawa. - Kita bertemu lagi,

kawan.Bukankah begitu? -

Meskipun usia Haria Giri kira-kira sudah berusia limapuluh ta-hun, namun ia masih nampak gagah perkasa. Wajahnya masih saja cakap, bahkan makin matang.

Sondong Landeyan tidak menyahut. Ia hanya mendengus. Di dalam hatinya tahulah ia apa maksud kedatangannya. Tentunya orang-orang termasuk Gabah Santa yang kini mati dengan kepala pecan, datang atas suruhannya. Kalau sampai bisa memerintah Gabah Santa yang dulu termasuk atasannya, tentunya kedudukan Haria Giri pada saat ini sudah sangat tinggi. Paling tidak berada di bawah yang sedang memerintah kerajaan.

- Kakang Sondong Landeyan! - Haria Giri berkata lagi di antara tertawanya. - Kita dulu pernah bersahabat Pernah bekerja bersama-sama. Kau sendiri yang menjauhkan din. Berarti menolak per-sahabatan. Apasih salahku? Apa sih kekuranganku? Apakah aku pernah memperlakukan kurang baik terhadapmu?

Terhadap pertanyaan Sri Baginda, aku selalu membela dirimu. Sewaktu Sri Ba-ginda ingin mengusut kepergianmu, akulah yang membela. Akulah yang menyembunyikan tempatmu berada. Akan tetapi kau memusuhi seorang Penguasa Negara. Akhirnya tercium juga, meskipun kau sudah berusaha bersembunyi di atas gunung. Dalam hal ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. -

Ia berhenti mengesankaa Melanjutkan:

- Tentang urusan antara aku dan engkau adalah ma-salah peribadi. Sayang aku dulu dalam keadaan sakit, sehingga tidak bisa berbicara dengan terus-terang. Tetapi jelek-jelek aku anak seorang bupati. Jelek-jelek aku seorang pengawal raja. Jelek- jelek aku seorang satria pula. Aku pernah datang dengan dada terbuka. Maka kini aku datang lagi dengan dada terbuka.

Sekarang, dengarkan ! Aku akan berbicara dengan terus-terang. Aku akan menantang engkau sebagai seorang satria. Mulatsih kini sudah jadi isteriku. Kuakui terus-terang, akulah yang mengambil. Tentunya kau dendam padaku. Marilah kita selesaikan soal ini secara orang laki-laki, -

Haria Gin memang pandai berbicara. Dengan sendirinya pandai pula memutar balik peristiwa sebenarnya, Benarkah dia dalam keadaan sakit sewaktu melarikan Sekar Mulatsih? Dia justru sem- buh dan sehat kembali oleh obat pemunah yang diberikan Sondong Landeyan. Dengan manisnya pula dia membawa-bawa nama raja seolah-olah memusuhi atau mendendam Sondong Landeyan sehingga ia digolongkan sebagai musuh-musuh negara.

Sekarang ia datang dengan maksud menyelesaikan urusan peribadi-nya secara lak-laki seolah-olah seorang satria sejati. Tentu saja ia berani berkata begitu hebat dan penuh keperwiraan, karena tahu pasti bahwa Sondong Landeyan sudah terpukul parah oleh Gabah Santa.

Sondong Landeyan tahu kelicikan itu. Sayang ia tidak pandai berbicara. Hanya di dalam hati kecilnya ia berharap, semoga terbukalah akal sehat Sekar Mulatsih sehingga dapat menilai keli- cikan Haria Giri.

- Hayo, berdiri ! - bentak Haria Giri.

Sondong Landeyan mengeluh di dalam hati. Betapa sabarpun, tersulut juga jiwa satrianya.

Seketika itu juga ia mengerahkan tenaga untuk dapat berdiri. Namun justru ia mengerahkan tenaganya, darahnya menyemprot ke luar. Dan pelahan-lahan ia menghapus darah yang membasahi mulutnya dengan tangan kanannya.

Haria Giri tertawa terbahak-bahak. Katanya :

- Kau mau main tipu-muslihat, ya? Jangan harap ! Bukankah aku teman lamamu? Selamanya kau pandai main akal bulus. Kalau tidak pandai main akal bulus, bagaimana mungkin seorang dusun bisa terpilih jadi pengawal raja. Karena akal bulusmu pula, lima orang pengawal raja bisa mati mencium lantaimu. Bagus! Kau benar-benar musuh raja yang harus kusingkirkan. Bagaimana?

Hayo jawab ! -

Dengan pandang menyala Sondong Landeyan menatap wajah Haria Giri yang sedang tertawa lagi kemudian mendadak berubah menjadi bengis. Ingin ia mendamprat manusia tak berbudi itu. Te- tapi kecuali lukanya memang parah benar, memang pula ia tidak pandai berbicara sehingga tidak tahu harus dimulai dan mana.

- Baik ! Akulah yang mulai. Awas ! - bentak Haria Giri.

Kepandaian Haria Giri dahulu hanya kalah setingkat daripada Sondong Landeyan. la termasuk salah seorang ahli pedang. Sebagai seorang ahli, tidak pemah ia berhenti melatih diri.

Apalagi ber-hubungan erat dengan pekerjaannya. Maka latihan baginya berada di atas kepentingan segalanya, kecuali soal wanita-wanita cantik.

Dan dengan berlatih diri terus-menerus selama sekian tahun lama-nya, kepandaiannya sudah pasti maju lebih tinggi lagi. Kini, nam-paknya ia menyerang Sondong Landeyan dengan sungguh - sungguh, Sekali menjejakkan kakinya, ia melesat dan menghantam Sondong Landeyan.

Sondong Landeyan tahu, dirinya yang sedang luka parah tidak dapat melawan dan menandingi kepandaian lawan. namun seba- gai seorang pendekar yang berjiwa satria, tidak sudi ia memperli- hatkan kelemahannya.

Dengan sebisa-bisanya, ia menangkis. Aki-batnya tenaga yang sudah punah delapan bagian, tergempur hebat sampai ia terpental ke luar rumah dan roboh di tengah kebun. Begitu roboh, kembali lagi ia melontakkan darah. Meskipun demikian, wajahnya tetap kelihatan tenang berwibawa. Sungguh ! Itulah sikap seorang pendekar besar. Walaupun sedang menghadapi maut, sama sekali tidak gentar.

Haria Giri tidak sudi menyia-nyiakan kesempatan sebagus itu untuk menaikkan pamornya di depan Sekar Mulatsih. Segera ia mengejar dan kembali menendangkan kakinya. Dan untuk yang kedua kalinya, Sondong Landeyan terpental belasan meter jauhnya. Pada tendangan ketiga, keempat dan kelima, ia sudah tergiring tepat di atas sebuah tebing jurang yang curam.

Pandang mata Sondong Landeyan mulai gelap. Kecuali luka parah, ia kehilangan banyak darah. Masih ditambah pula dengan punahnya hampir semua tenaga saktinya. Sekali ini, bila Haria Giri menendangnya untuk yang keenam kalinya, ia akan mati terbanting di dasar jurang. Meskipun demikian, masih saja ia nampak tenang.

Haria Giri memang bemiat menghabisi jiwa Sondong Landeyan. Selagi hendak bergerak dari tempatnya, tiba-tiba Sekar Mu-latsih berseru nyaring : - Tahan ! -

Sondong Landeyan yang sudah bersiaga menerima nasib men- dengar pula suara orang yang sangat dicintainya. Pelahan-lahan ia menajamkan pandang matanya. la hanya dapat menatap Sekar Mulatsih samar-samar.

- Mulatsih, kau mau apa? - tegur Haria Giri dengan suara memanjakan.

- Berilah aku kesempatan untuk berbicara dengan orang dusun itu, sebelum mati di tanganmu. - sahut Sekar Mulatsih.

Sondong Landeyan ternganga keheran-heranan. Selamanya, belum pernah ia mendengar Sekar Mulatsih berbicara sekeras itu. Kenapa? Apakah peribadinya kini sudah berubah? Tetapi ia ter - nganga hanya sedetik dua detik. Dengan menutup mulutnya rapat kembali ia menelan kenyataan yang amat pahit itu.

- Sondong Landeyan ! - ujar Sekar Mulatsih dengan suara Iantang. - Kau kini sudah menyaksikan sendiri, bahwa suamiku tiada hutang lagi kepadamu. Dia mengambil diriku dengan cara seorang satria. Dia memperisterikan diriku dengan cara seorang laki-laki. Sayang, engkau tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Sebenar-nya hal ini harus kau sadari semenjak dulu. Kau orang dusun! Kau orang gunung! Sebaliknya, aku anak seorang bupati. Suamiku putera seorang bupati pula. Dengan begitu, kita berdua ini seimbang. Terhadap suami yang demikian, apa salahku bila aku melahirkan anaknya? - ia berhenti mengesankan.

Dan mendengar keterangan itu dari mulut isterinya sendiri yang masih syah, hati Sondong Landeyan hancur seperti tersayat- sayat ribuan pedang.

- Anakku seorang puteri. umumya sekarang baru tiga tahun. Jadi dia adik Pitrang. - Sekar Mulatsih melanjutkan kata-katanya. Lalu membentak dengan gaya seorang nyonya bupati membentak- bentak budaknya : - Mana Pitrang? -

Sondong Landeyan tidak menjawab. Ia terpekur dengan kepala kosong. Ia seperti seseorang yang sudah kehilangan semuanya. Dan sikap diamnya itu, menambahTasa mendongkolnya Sekar Mulatsih. Mulailah ia berkata yang amat kasar bila diukur dengan peribadinya delapan atau sepuluh tahun yang lalu. Katanya :

- Aku pernah melayanimu selama dua tahun sebagai seorang isteri yang baik. Kemudaian aku melahirkan anakku Pitrang. Den- garkan yang jelas, aku melahirkan anakku! Bukan anakmu. Kau mengerti? -

- Bukan anakku? - Sondong Landeyan tergoncang hatinya.

- Setiap orang, anak seorang ibu. Apakah engkau yang melahir- kan? - ujar Sekar Mulatsih seperti dapat menebak keadaan hati Sondong Landeyan. - Kalau seorang laki-laki bisa melahirkan anak nya sendiri, tidak perlu ada seorang perempuan. Nah, karena Pitrang adalah anakku, kembalikan padaku! Bukankah engkau sudah kuberi kesempatan bergaul selama tujuh tahun lebih? -

Kali ini Sondong Landeyan tidak dapat lagi membendung kea- daan hatinya. Dengan gemetaran ia menuding :

- Kau.....kau.....- tetapi baru saja meletuskan sepatah kata, darahnya menyembur ke luar mulutnya.

- Kau kau, apa? - bentak Sekar Mulatsih dengan wajah merah padam - kau manusia yang merusak hidupku ! Kau bawa aku hi- dup di atas gunung. Akan kau jadikan apa aku ini? Aku orang keturu nan bupati. Tetapi karena terpaksa, aku harus hidup mendam-pingimu sekian tahun lamanya. Mau kau jadikan apa aku ini? Orang dusun? Orang gunung? Sekarang engkau merampas anak-ku laki-laki. Mau kau jadikan apa? Anak dusun? Anak gunung? Kau benar - benar merusak hidupku. Kau laknat! - dan setelah berkata demikian dengan lemah lembut ia berkata kepada Haria Giri:

- Suamiku, tolong lampiaskan dendamku. Kaulah yang mendu- kung aku keluar dari lumpur keruh ini. Bunuh dia, demi aku! Bu- nuhlah dia! Aku tidak mau melihat atau mendengar namanya lagi masih disebut-sebut orang ..-

Itulah hantaman paling dahsyat yang pernah diterima Son-dong Landeyan. Tadinya di dalam hati kecilnya, ia berharap semo-ga akal sehat isterinya bisa menilai budi-pekerti manusia. Tak tahu-nya, justru sebaliknya. Malahan lebih kejam, lebih dahsyat, lebih licik daripada Haria Giri. Oleh sedih hati yang tidak tertahankan lagi, tiba-tiba saja ia jadi benci pada dirinya sendiri.

Terus saja ia menggulingkan din dan tubuhnya terjun ke dalam jurang yang tak terukur lagi betapa dalamnya ..-

AKH1R HAYAT Sondong Landeyan itu sungguh memilukan hati Kartamita, Lembu Tenar dan Bogel. Sama sekali mereka tidak mengira, bahwa Sondong Landeyan yang berkepandaian tinggi akhirnya mati di dalam jurang. Bogel yang tidak bisa memendarn sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, menegas :

- Mengapa dia harus bunuh diri? -

- Masakan engkau tidak bisa mengerti ? - tungkas Lembu Tenar. - Biarpun otakku tumpul, tetapi aku dapat merasakan keadaan pendekar Sondong Landeyan. Kecuali tidak pandai berbicara,

dia-pun sudah tidak sanggup melepaskan sepatah kata saja dari mulut-nya. Tenaganya punah pula. Daripada mati di tangan Haria Giri, bukankah lebih baik bunuh diri? Ah, benar-benar seorang pendekar besar. Hanya sayang, meninggalnya begitu memilukan.

-

- Haria Giri benar-benar manusia licin dan licik. - ujar Bogel se- tengah memaki. - Menurut pendapatku, semua orang yang merin- tangi peijalanan pulang Wigagu, Sukesi dan Puruhita adalah kaki tangannya. - - Tidak semuanya. - sambung Kartamita. -

- Tidak semuanya? - Bogel heran. - Apa alasanmu? -

- Laskar puteri yang bertopeng tidak bermaksud jahat terhadap mereka bertiga, Mungkin merekalah yangjustru ingin merintangi perbuatan Haria Giri. -

- Kalau betul begitu, apa sebab mereka mengincar Pitrang? -

- Mungkin sekali menggenggam maksud ganda. -

- Maksud ganda bagaimana? Berkatalah yang jelas ! Aku ini orang kasar yang tidak mengerti macam bahasamu. -

- Mungkin sekali ingin melindungi Pitrang dari maksud Haria Giri dan Sekar Mulatsih. Atau, Pitrang akan digunakan untuk me- nekan Haria Giri demi sesuatu maksud. -

- Maksud apa? -

- Inilah yang kurang jelas bagiku, Kita tanyakan saja kepada da- langnya. Tetapi tadi diceritakan, bahwa di kotaraja Kartasura teija-di perpecahan yang saling memfitnah dan bunuh- membunuh. -

- Ah ya. - Lembu Tenar seperti diingatkan. - Gunacarita menye- but kumpulan Ratu Paku Buwana dan Ratu Mangkurat Sebenar- nya siapakah mereka? - - Ratu Paku Buwana adalah ibunda Sri Baginda. Ratu Mangkurat oermaisurinya. -

- Oh begitu? - Lembu Tenar memanggut-manggut - Dan lain- lainnya? -

- Itupun kurang jelas bagiku. Karena Guna menyebut-nyebut adanya orang asing. Yang jelas menjadi kaki-tangan Haria Giri adalah Gabah Santa dan kelima pengiringnya. - sahut Kartamita.

Bogel termenung-menung. Karena merasa tidak puas, segera ia minta keterangan kepada Gunacarita. Katanya :

- Guna ! Sebenarnya, siapakah mereka? -

Tetapi Gunacarita tidak menjawab. la tertidur oleh rasa lelah. Sebentar saja terdengar suara dengkurnya. Mula-mula pelahan- lahan dan sekali-sekali. Tetapi makin lama makin nyaring seperti babi melihat ampas tahu.

- Setan ini doyan tidur. - maki Bogel kesal. - Ah, benar-benar setan babi. -

- Kitapun perlu tidur. Jangan ganggu dia! - Kata Kartamita dan ia bangkit dari tempat duduknya,

- Mau ke mana? - Bogel dan Lembu Tenar menegas. - Tentu saja kembali ke kamarku. Meskipun aku sendiri sering mendengkur, tetapi aku tidak dapat tidur sekamar dengan orang yang mendengkur. Tetapi kalau kalian mau tidur di sini, silahkan - Kartamita memberikan alasannya.

Bogel menguap. Dan melihat Bogel menguap, Lembu Tenar ketularan. Diapun menguap. Malahan lebih panjang. Meskipun demikian, masih saja ia berusaha berbicara. Katanya di antara uap-nya :

- Sungguh mati! Aku penasaran benar terhadap Sekar Mulatsih. Tadinya kukira pantas dikatakan sebagai penjelmaan dewi. Dia cantik, lemah-lembut dan halus pula tutur-bahasanya. Tetapi mengapa dia bisa berkata setajam itu kepada Sondong Landeyan?-

Kartamita sudah memegang kunci kamar, tetapi mendengar kata- kata Lembu Tenar ia mengu rungkan langkahnya. Jawabnya:

- Kau hitung saja secara gampang-gampangan. Dengan pendekar Sondong Landeyan ia hanya bergaul paling lama tiga atau empat tahun. Sebaliknya dengan Haria Giri enam tahun lebih. Kata orang-orang tua, orang bersuami-isteri yang sudah hidup sekian tahun lamanya, dengan tidak disadari sendiri sesungguhnya mewarisi watak dan perangai masing-masing.

Sang suami mewarisi sebagian watak dari perangai sang isteri, demikian pulalah sebaliknya. Bila kita mengenal Haria Giri sebagai seorang yang begitu pandai berbicara, paling tidak kepandaiannya berbicara sebagian manunggal dalam peribadinya Sekar Mulatsih. Ini belum ditambah dengan pengaruh lingkungan dan masyarakat pergaulannya. -

Bogel tertawa gelak. Katanya menyambung :

- Aku jadi ingin mendengar pendapat si nenek Saminten. Sayang, dia tiada lagi di Rumah Penginapan lagi. Baiklah, silahkan kembali ke kamar. Aku akan tidur di sini saja. -

Kartamita membuka pintu dan berjalan ke luar menuju ke kamarnya. Kini tinggal Lembu Tenar dan Bogel. Setelah saling pandang, akhirnya Lembu Tenar permisi pula kembali ke kamarnya. la memang sekamar dengan Kartamita. Dengan demikian, tinggal Bogel sendiriain . Karena tiada lagi yang dapat diajaknya berbicara, ia membaringkan diri. Tak dikehendaki sendiri, tiba-tiba saja ia sudah lupa akan segalanya. Ia tertidur lelap. Suara dengkurnya bergemuruh seakan-akan dapat merontokkan genting. Kalau dia tadi bisa mengatakan dengkur Gunacarita mirip setan babi, ia lebih-lebih lagi. Barangkali seperti babi lima ekor akan dipotong berbareng.

Keesokan harinya, mereka tersentak dari tidurnya oleh suara ketukan keras. Bogel meloncat dari tempat tidurnya dan bergegas membuka pintu kamar dengan limbung. Begitu terbuka, cahaya terang menyilaukan penglihatannya. Tak usah diterangkan, bahwa ia tertidur sangat lelap. la tercenung sebentar, karena yang mengetuk pintunya adalah seorang pelayan. - Selamat pagi. - sapanya dengan sopan.

- Ada apa? -

- Ah teh dan makan pagi untuk tuan berdua. -

- Lho ! Jam berapa sekarang? -

Pelayan itu menoleh ke belakang menyiasati cahaya matahari. Lalu menyahut :

- Paling tidak sudah pukul sepuluh pagi. -

- Sepuluh pagi bagaimana? - Bogel bingung.

- Sepuluh pagi ya sepuluh pagi. Tuan sudah tidur semenjak kemarin siang. - ujar pelayan itu tertawa geli.

- Semenjak kemarin siang ? - Bogel benar-benar jadi tidak mengerti. la membiarkan pelayan itu masuk kedalam kamarnya meletakkan poci minuman dan dua piring nasi dengan lauknya.

Lalu berkata kepada Gunacarita :

- Guna ! Sekarang sudah ganti hari. Sudah jam sepuluh pagi. Katanya kita sudah tidur semenjak kemarin siang. -

Gunacarita terlongong-longong. Minta keterangan :

- Lalu hai adik! Apakah tidak ada tetamu yang mencari aku ? -

Pelayan itu berpaling kepadanya. Menyahut : - Tetamu yang kemarin menunggu pak dalang? -

- He-e.! -

- Tidak kelihatan. Apakah mereka berjanji akan datang lagi? -

-Ya.-

- Ah celaka kalau mereka datang lagi. - pelayan itu menggerendeng seraya membalikkan badan menghadap pintu. - Perempuan yang galak itulah yang membuat rewel saja. -

- Kang Bogel! Kalau begitu, kita sempat mandi dulu. -

- Mandilah! Aku akan membangunkan Lembu Tenar dan Kar- tamita -

Gunacarita kemudian ke luar kamar dan bergegas lari ke ruang belakang. Bogel sendiri kemudian hendak membangunkan Karta- mita dan Lembu Tenar. Tetapi sebenarnya tidak perlu lagi, karena mereka sudah terbangun oleh suara ributnya. memang kamarnya berdekatan dengan kamar Bogel dan Gunacarita sehingga pembicaraan mereka berdua dengan si pelayan, didengarnya jelas.

- Lembu Tenar! Kang Kartamita ! - Bogel mengetuk pintu ka- marnya pelahan-lahan.

- Masuklah ! - Kartamita mempersilahkan setelah membuka kuncinya. - Sudah jam sepuluh pagi. - kata Bogel dengan nafas memburu. - Tetapi mereka belum datang. -

- Mana Gunacarita? -

- Sedang mandi. -