Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 04

Jilid 04

Tatkala malam sudah memasuki fajarhari, rahasianya mulai terbongkar. Sebab cara bertahan dan menyerang hanya itu-itu saja yang diulanginya berkali-kali.

Hati Surasekti bertiga kini menjadi mantap. Sedikit demi sedikit, mereka mulai menyusun serangan balik yang sudah cukup di- latihnya. Roda bergigi mulai menyambar-nyambar bagaikan elang hendak menerkam mangsanya. Perisai dan senjata mulai bisa mendesak. Dalam sekejap saja, Sondong Landeyan berada di bawah angin. Akhirnya ia melompat ke luar gelanggang sambil berkata :

- Baiklah, kalian yang menang. Tetapi sayang -

- Sayang bagaimana? - bentak Surasekti bertiga.

- Hanya kemenangan murahan. Kalian membekal senjata, Sebaliknya aku tidak. -

- Hm, mengapa kau berlagak meminjam sanggurdiku? - ujar Suratenung.

- Sebenarnya aku sudah mempunyai cara penyelesaian yang adil. Hanya saja aku khawatir kalian tidak akan berani menerima.-

- Menerima apa? Katakan ! - bentak Surasekti danSurapringga berbareng. Selagi Sondong Landeyan hendak menjawab, tiba-tiba Surate- nung seperti teringat sesuatu. Terus saja ia berkata :

- Hai ! Berundinglah dengan kedua saudaraku Aku akan me- lanjutkan perjalanan. Kuharap engkau jangan merintangi. Minggir

-

Setelah berkata demikian, dengan gesit Suratenung melompat ke atas. Maksudnya hendak melompat ke atas pelana kuda Sura- pringga untuk mencari Sarayuda yang tentunya masih mendekam dalam kelenteng. Sekiranya tidak, akan dapat diketemukan de- ngan mudah. Sebab sebentar lagi, matahari akan terbit dengan cahayanya yang cerah.

Tetapi Sondong Landeyan tidak membiarkan dia lolos dari penjagaannya. Dengan gesit Pula ia ikut melompat. Tentu saja Suratenung tidak membiarkan dirinya dihalanginya. Senjatanya menikam. Itulah tikaman yang luar biasa cepat karena dilakukannya dengan mendadak. Sondong Landeyan sudah ber- siaga. Sama sekali ia tidak berusaha mengelak atau menangkis. Dengan tangan kirinya ia menggunakan kepandaiannya yang aseli. Tiba-tiba saja ia sudah mencengkeram pergelangan tangan Suratenung dan bergerak hendak merampas senjata.

Semangat Suratenung nyaris terbang. Dengan berjumpalitan ia membebaskan diri dan mendarat dengan nafas tersengal-sengal di samping kedua saudara-seperguruannya. - Ih ! - ia mengeluh. Surasekti dan Surapringga menubruk Sondong Landeyan dari kiri kanan . Tetapi pada saat itu, Sondong Landeyan sudah kembali ke tempatnya sambil berkata nyaring :

- Jika kalian berani, cobalah ilmu pedangku -

Meskipun dapat menyelamatkan senjata andalannya, namun pergelangan tangan Suratenung sempat teraba cengkeraman si begal picisan. Ia terkejut, karena pergelangan tangannya panas luar biasa seolah-olah tersengat bara yang menyala. Rasa panas itu mengingatkannya kepada pengalamannya yang pahit dua tiga tahun yang lalu. Itulah pengalamannya sewaktu bertempur mela- wan Sondong Landeyan. Dan teringat akan hal itu, diam-diam ia mengawaskan lawannya.

Tetapi lawannya masih saja mengenakan penutup kain yang sama sekali tidak bergeser dari tempat nya, walaupun sudah bertempur sekian lamanya. Artinya, dia tidak perlu memeras tenaga. Padahal ia dan kedua saudara-seperguruannya sudah berkelahi dengan sungguh-sungguh. Tak dikehendaki sendiri, hatinya meringkas.

- Orang ini bukan sembarangan. - pikirnya di dalam hati. - Kalau aku nekat meninggalkan tempat, kakang Surasekti dan Sura- pringga pasti dalam bahaya. Ah, biarlah aku membereskan orang ini dulu dan baru mencari Sarayuda. - Memperoleh pertimbangan demikian, ia berkata dengan hati mendongkol : - Baiklah, aku akan melayani ilmu pedangmu.- - Haha hanya kau seorang? Bagaimana mampu? Kahan harus

maju bersama-sama. Nah, itu baru suatu olah raga yang seim- bang.- sahut Sondong Landeyan dengan tertawa nyaring.

Surasekti bertiga mendongkol bukan main. Mereka merasa di- remehkan. Selagi hendak mendam prat, Sondong Landeyan mendahului :

- Sebenarnya antara aku dan kalian bertiga tidak perlu terjadi permusuhan yang mendendam. Karena itu, tidak perlu kita ber- tempur mati-matian. Begini saja. Aku akan menggunakan batang pohon itu sebagai pedang. Kita harus berjanji, siapa yang kena sentuh, harus dianggap kalah. Bagaimana? Setuju atau tidak? -

- Setuju ! - mereka menyahut berbareng seperti tanpa memikir.

Sondong Landeyan kemudian mematahkan sebatang dahan yang sebenamya lebih tepat disebut ranting sebesar ibu jari. Daunnya dibuang sehingga tinggal sebatang dahan yang lurus dan bersih. Lalu berkata :

- Aku akan menggunakan dahan ini sebaga pedang. Kahan boleh menyerang diriku bersama-sama seperti tadi. Aku akan mem- pertahankan diri atau balik menyerang. Bila aku sampai terkena sambaran senjata kalian, aku mengaku kalah. Sebaliknya bila pe- dangku mengenai diri kalian, maka kalian harus mengaku kalah pula. - Surasekti bertiga tidak kuasa menjawab lagi, lantaran men- dongkolnya. Tubuh mereka bergeme taran oleh sengatan rasa marahnya yang meluap-luap. Setelah agak lama berdiam diri, Surasekti membentak :

- Sebelum kau lahir di alam ramai ini, nama Surasekti bertiga sudah menggetarkan jagat. Baiklah, kami akan memegang janji. -

Waktu itu tirai malam makin menipis. Masing-masing sudah nampak tegas, termasuk senjatanya.

Sondong Landeyan melirik ke arah senjata Surasekti yang berbentuk sebuah roda bergigi. Semenjak semalam, ia merasa heran. Roda bergigi itu sudah ratusan kali menyambar padanya dengan suara angin menderu-deru. Tetapi mengapa selalu balik ke tangan majikannya? Apakah Surasekti mempunyai semacam ilmu penyedot atau penggendam yang dapat menarik senjatanya kembali? Apakah senjatanya termasuk senjata dewata seperti Harda Dadali atau Roda Dadali milik pahlawan Arjuna yang selalu balik kembali ke majikannya bila dilepaskan? Tetapi setelah diamat-amati ternyata lain. Di tengah alam yang kini mulai agak cerah, pandang mata Sondong Landeyan melihat seutas tali lembut yang menghubungkan tangan Surasekti dengan sen- jatanya. Tentunya terbuat dari semacam baja lembek tetapi ulet Atau urat binatang yang kuat, yang dapat mengedut lajunya roda bila luput menyambar lawan. Memperoleh kesimpulan demikian, berpikirlah ia di dalam hati - Kalau begitu aku harus dapat mena- bas lengannya. - Memikir demikian, segera ia berteriak nyaring : - Hayo kita mulai ! -

Di tangan Sondong Landeyan, batang pohon itu mempunyai perbawa bukan main. Selain cepat luar biasa, membawa tekanan-tekanan tenaga dahsyat. Perisai Surapringga Dan Suratenung tidak mampu mendekati. Setiap kali bermaksud merangsak maju, selalu tergempur mundur oleh kesiur angin tenaga sakti. Dan selama itu,belum pernah pedang kayunya tersentuh senjata Surasekti bertiga.

Tak lama kemudian, Surasekti bertiga sudah terdesak. Tak usah diceritakan lagi betapa mendong kol mereka. Begitu melihat kesempatan, Suratenung menghantamkan tongkatnya yang bisa memanjang. Sondong Landeyan tentu saja tidak berani mengadu senjata. Ia terpaksa mengelak dan pada saat itu roda bergigi Surasekti- menyambar kepalanya.

Cepat-cepat Sondong Landeyan mengendapkan kepalanya. Itulah saatnya yang tepat bagi Surapringga untuk menghantamkan perisainya. Namun kali ini Sondong Landeyan tidak mengelak lagi.

Ia bahkan maju seperti hendak menubruk Tetapi dengan suatu gerakan yang manis sekali, pedang kayo berbelok arah dan menabas pundak.

Serangan balik Sondong Landeyan dilakukan tidak hanya dengan gerakan yang cepat luar biasa saja, tetapi jurus ilmu pedangnya hebat pula. Andaikata Sondong Landeyan bersenjata pedang be- nar-benar, pundak Surapringga sudah tertabas kutung. Pada detik itu pula, wajah Surapringga pucat lesi bagaikan mayat. Dengan mengeluh putus asa ia berseru :

- Sudahlah...sudahlah ! - dan ia membuang perisainya ke tanah, lalu melompat ke luar gelanggang.

Surasekti dan Suratenung terkejut. Demi menolong kehormatan diri, mereka menyerang dengan berbareng. Bila dapat mero- bohkan lawan, berarti seri. Tetapi baru saja belasan jurus, bahkan mereka sendiri yang roboh. Suratenung terbabat lututnya dan Su- rasekti terpenggal kepalanya.

Wajah Surasekti dan Suratenung berwarna ungu kehitam-hita- man,oleh rasa malu dan putus asa.

Dengan berbareng mereka melontarkan senjatanya. Lalu mendeprok seperti kanak-kanak menahan sakit perut.

Menyaksikan mereka bertiga memegang janji, di dalam Kati Sondong Landeyan memuji watak satrianya. Syukur, ia tadi tidak sampai melepaskan pukulan yang dapat mematikan. Dengan memberi hormat ia berkata :

- Memang di antara kita tidak perlu sampai dendam mendendam. Kukira inilah penyelesaian yang paling baik. -

Waktu itu, cahaya matahari sudah mulai merekah di ufuk timur. Semuanya yang berada di atas bumi dapat terlihat dengan jelas. Perlahan-lahan Sondong Landeyan membuka kain penutup wajahnya. Tepat pada saat itu, Surasekti bertiga berpaling kepadanya. Begitu melihat wajahnya mereka berteriak tertahan.

Surasekti dan Surapringga yang mendeprok sampai terlompat bangun.

- Bukankah .... - mereka menegas.

- Ya. Aku Sondong Landeyan. -

Mereka tertegun-tegun. Tiba-tiba Surasekti menghela nafas syukur. Ujamya :

- Aku kini benar-benar mengaku kalah. Dan kalah di tanganmu, aku tidak perlu merasa malu. -

Setelah berkata demikian, ia membungkuk hormat dan menja- tuhkan diri hendak membuat sembah. Buru-buru Sondong Lan- deyan mencegahnya. Dengan rasa haru, is membawa Surasekti berdiri tegak. Katanya :

- Kakang Surasekti, maafkan diriku. Aku mengecewakan hatimu dan membuyarkan angan-anganmu. -

- Tidak. - sahut Surasekti cepat. - Benar katamu, inilah cara pe- nyelesaian yang paling baik. Andaikata engkau menggenggam pedang pusakamu, kita bertiga sudah menjadi mayat.- - Dalam hal ini tiada hutang-piutang masalah budi.- potong Sondong Landeyan. - Hanya secara kebetulan saja aku lewat di sini dan kebetulan mendengar kakang bertiga membicarakan Haria Giri. Di mana dia kini berada? Aku ingin bertemu dan bertatap muka dengannya.-

- Ah Tetapi pada saat ini, mungkin sekali sudah kasep.-

- Sudah kasep bagaimana? -

Surasekti tidak segera menjawab. Surapringga dan Suratenung kemudian maju bersama-sama. Dengan sikap hormat mereka menyahut mewakili kakaknya seperguruan. Katanya :

- Sarayuda mencuri bungkusan kami yang berisi racun berba- haya. Bila terbuka ramuan pembius akan menguap menjadi semacam asap. Barang siapa yang menghirup akan lumpuh sendi tenaganya. Sebenarnya, terus terang saja racun itu kami persiapkan untuk menghadapi tuan. Akan tetapi Tuhan Maha Adil. Karena tuan seorang pendekar sejati, Tuhan berkenan .... -

- Kakang Surapringga dan Suratenung, janganlah memanggil aku dengan sebutan tuan. Kalau berkenan, panggillah aku dengan adik, rekan atau sahabat. -

- Aduh ! - hati mereka terpukul. Dengan wajah penuh haru, mereka berkata : - Masakan kami yang kini pantas menjadi budak tuan, begitu berani memanggil tuan dengan adik, rekan atau sahabat?.- - Sudahlah. Apakah kakang Surasekti, Surapringga dan kakang Suratenung tidak sudi bersahabat denganku? - potong Sondong Landeyan yang tidak pandai berbasa-basi.

Kemudian ia berdiri tegak dengan berdiam diri, tetapi sesungguhnya ia sedang memasang pende ngarannya. Ternyata getaran nafas Sarayuda dan isterinya yang tadi berada di balik belukar, tiada lagi di tempatnya. Tak usah dikatakan lagi, bahwa mereka berdua tentunya sudah melanjutkan perjalanannya.

Hanya semenjak kapan, ia tidak tahu karena terlibat dalam suatu pertempuran.

Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Katanya minta keterangan kepada Surasekti bertiga :

- Kakang Surasekti bertiga, apakah kalian tadi mendengar tata- nafas Sarayuda? Semenjak kapan ia meninggalkan tempatnya? -

- Sarayuda? Mereka berseru dengan berbareng. -Di mana dia? Sondong Landeyan mengeluh di dalam hati. Sahutnya :

- Dia berada di sekitar kita. Sayang, perhatianku terbagi-bagi sehingga kehilangan pengamatan. -

Mendengar keterangan Sondong Landeyan, mereka merasa makin takluk. Jelas sekali, ilmu kepandaian Sondong Landeyan berada jauh di atasnya. Kalau begitu mereka terlalu gegabah sampai berani berangan-angan hendak mengadu kepandaian dengan Sondong Landeyan. Baru saja mengadu ketajaman pendengaran, kepandaiannya tidak nempil sedikitpun. Maka sudah sepantasnya, bila mereka bertiga dikalahkan hanya dengan sebatang pedang kayu.

- Eh...tuan... eh sahabat Sondong Landeyan. - Surasekti mem- buka mulutnya. - Sebenarnya rekan Sondong Landeyan pantas menjadi majikan kami. Sekarang kami diperkenankan bersahabat denganmu. Dengan ini kami bersumpah akan menjunjung persa- habatan ini seumpama jiwa kami sendiri. Sebaliknya kami harap adik eh rekan eh sahabat Sondong Landeyan jangan segan- segan memakai tenaga kami. Kalau kau perintahkan kami mengejar atau meringkus Sarayuda, akan segera kami lakukan. Hanya saja, bagaimana adik mengenal dia? Apakah memang sudah lama mengenalnya? -

Sondong Landeyan menggelengkan kepalanya. Lalu menyahut :

- Anak muda dalam kelenteng itulah yang menyebutkan namanya. -

- Kalau begitu, adik berada dalam kelenteng itu ? -

- Ya. Bukankah kakang Suratenung menemukan kudaku di belakang ... -

- Ah - Suratenung tercengang. - Kalau begitu aku tidak mem- punyai mata. Hm, benar-benar lamur Benar-benar goblok Anak kemarin sore saja sudah bisa mengelabui aku.- - Hm, taruhkata kau tahu itu kuda adik Sondong Landeyan, kau bisa apa? - tegor Surapringga.

Suratenung tergugu. Althirnya hanya meringis seperti orang sedang menahan rasa ingin membuang hajat besar.

- Baiklah. - ujar Sondong Landeyan yang tidak pandai bergurau pula. - Kakang Surasekti berkata bahwa sekarang ini sudah kasep. Kalau begitu, apakah Haria Girl berada di dekat tempat kita berada? -

- Benar. Tidak jauh dari sini. - sahut Surasekti sambil menunjuk ke arah timur.

- Kalau begitu, sampai di sini saja kita berpisah. Aku mohon maaf, karena terpaksa membunuh kuda kakang Suratenung. -

- Tak apa. Kita masih mempunyai dua ekor. Cukup untuk kita bertiga.- buru-buru Surasekti bertiga menungkas.

Hari sudah pagi, karena itu dengan mudah Sondong Landeyan dapat mengikuti jejak Sarayuda suami-isteri yang meninggalkan bekasnya di atas tanah basah. Menjelang matahari sepenggalah tingginya, ia tiba di sebuah desa persinggahan. Karena semalam ia tidak sempat makan atau minum, maka ia merasa perlu untuk singgah di sebuah rumah makan pedusunan yang sederhana na- mun cukup luas. - Apakah ada yang dapat mengurus kudaku? - ia bertanya kepa- da seorang pelayan.

- Ada. - sahut orang itu.

- Siapa?

- Aku sendiri. -

Sondong Landeyan merogoh sakunya. Tiba-tiba tersentuh uang ringgit Suratenung.

- lh - ia terkejut. - Mengapa aku lupa mengembalikannya? -

Memikirkan hal itu ia terlongong sejenak. Lalu mengangsurkan uangnya sendiri kepada orang itu. Kebetulan dalam rumah makan tidak begitu banyak jumlah tetamunya. Maka ia dapat memilih tempat duduk yang mempunyai penglihatan leluasa.

- Mudah-mudahan aku masih mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi. - ia setengah berdoa di dalam hati - Tetapi mengapa aku bisa lupa? Jangan-jangan ada pengamatanku yang kurang puIa.

Semenjak berumah tangga, Sondong Landeyan sebenarnya tergolong seorang pendekar besar yang sudah mengundurkan diri dari percaturan masyarakat, Kalau raja ia masih bertempur mengadu kepandaian, lantaran terpaksa melayani kehendak tetamunya. Beda dengan yang harus dilakukan sekarang ini. Dulu mengadu tenaga semata, sekarang ketajaman pikiran harus ikut serta. (yang dimaksudkan ki dalang, selama dua atau tiga tahun terbiasa hidup pasif - sekarang harus aktif karena dia yang mengambil inisiatif ). Sambil menunggu makanan yang disediakan, ia menyelusuri perjalanannya mulai dari saat meninggalkan rumah sampai memasuki kelenteng. Tiba-tiba suatu ingatan membuat darahnya tersirap.

- Hai ! Mengapa Wigagu bersikap tidak senang terhadap Haria Giri? Dia bersedia menolong Sara yuda. Padahal Sarayuda bekeua untuk Haria Girl. Sikapnya yang aneh perlu dipertanyakan.Kalau dipikir-pikir aneh juga tindakan Haria Giri - pikimyri lagi. - Mestinya dia harus selalu berada di tengah Ratu Sumarsa dan kedua puteranya. Mengapa ia seperti memisah? -

Memikir sampai disini, Sondong Landeyan merasa seperti menghadapi teka-teki yang tidak mudah dijawabnya. Nampaknya sederhana, tetapi terasa ruweL Demikianlah setelah mengisi perut, segera ia hendak melanjutkan perjalanannya. Sekonyong- konyong ia melihat berkelebatnya suami-isteri Sarayuda.

Rupanya merekapun memerlukan mengisi perut setelah melalui malam yang tegang. Ha nya saja mereka singgah di sebuah kedai lain.

Buru-buru Sondong Landeyan membayar harga makanan dan minuman. Lalu menitipkan kuda nya. Setelah itu ia mengejar Sa- rayuda dan isterinya. Agaknya Sarayuda dan isterinya lain sekali keadaannya bila dibandingkan dengan semalam. Mereka dapat bergerak cepat dan leluasa. Dan setelah berada di luar dusun, mereka melanjutkan perjalanannya dengan berlari-larian kencang. Dengan gesit dan tangkas mereka menyeberangi pengempangan sawah yang berlika-liku dan menerobos semak belukar. Tak usah diterangkan lagi, bahwa mereka semalam hanya berpura-pura menderita luka berat .

Beberapa orang muncul dari balik ilalang yang tumbuh lebat di sekitar rumah terpencil itu. Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna kemerah-merahan. Sondong Landeyan yang berada di belakang Sarayuda tercengang. Inilah seragam pakaian kepatihan. Mengapa anak buah Patih Danureja berada di wilayah Jawa Timur?

- Sarayuda Kau berhasil? - tegor seorang tinggi besar.

- Ya, ini di sini.- sahut Sarayuda sambil mengacungkan bung- kusan yang di bawanya.

- Bagus Nah, kau boleh membawa majikanmu. Tetapi kalau palsu, kalian bertiga jangan harap bisa melihat matahari lagi. - Perlahan-lahan Sarayuda berdiri. Dengan membimbing tangan isterinya ia melangkah ke depan. Lalu berteriak nyaring : - Tuan Haria Giri Aku Sarayuda. -

Tak lama kemudian terdengar jawaban seorang dengan suara lemah :

- Aku lebih senang bila mereka pergi. -

- Baik. - Dengan serta merta Sarayuda mencabut kelewangnya (semacam pedang berbentuk agak lengkung) lalu menerjang orang besar itu. isterinya tidak mau ketinggalan pula.

- Kurangajar ! -orang itu mengelak. Lalu berseru :

- Tangkap pengkhianat ini Bacok mulut Haria Girl ! -

Rupanya orang tinggi besar itu pemimpin mereka. Mendengar aba-abanya, mereka memencar menjadi tiga bagian. Dua orang masuk ke dalam rumah dengan menghunus senjata. Lainnya ber- gerak mengepung Sarayuda dan isterinya.

Sondong Landeyan sempat mendengar orang yang berkata dari dalam rumah. Itulah suara sprang yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Haria Giri. Seketika itu juga, ia sudah dapat menarik kesimpulan. Agaknya Haria Giri tertawan oleh pasukan kepatihan. Apa penyebabnya, tentu saja belum diketahui. Yang jelas, Haria Giri adalah salah seorang pengawal andalan raja.

Kalau sampai bermusuhan dengan orang-orang kepatihan, bukan suatu hal yang mengherankan.

Barangkali masalah berebut pengaruh. orangorang kepatihan tentunya mendongkol apa sebab bukan mereka yang bertugas menyongsong Ratu Sumarsa pulang ke ibukota kerajaan. Mereka lupa, bahwa selain menjadi pengawal andalah Sri Baginda, Haria Giri adalah salah seorang yang ikut serta merebut hati Ayu Sumarsa. Sudah sepantasnya, dia pulalah yang tepat sekali dipilih menjadi utusan raja yang bertugas menjemput Ratu Ayu Sumarsa dari Blitar. Haria Giri sendiri adalah sahabat Sondong Landeyan semenjak jaman mudanya. Mereka berdua sama-sama menjadi pengawal andalan raja. Selalu bekerja sama dan saling membantu. Kalau saja kini berpisah adalah masalah lain. Itulah sebabnya begitu melihat bahaya mengancam Haria Girl, tanpa berpikir panjang lagi Sondong Landeyan melompat ke arah pintu masuk sambil melepaskan pukulan geledeknya.

- Tahan -

Melihat berkelebatnya bayangan Sondong Landeyan, lima orang yang berjaga-jaga di depan pintu membalikkan tubuhnya untuk menyambut Tangan mereka beradu dengan tenaga gempuran Sondong Landeyan.

Seketika itu juga, mereka terbang menghantam dinding. Bres ! Dinding rumah ambrol menindih dua orang temannya yang masuk. Dan di ruang tengah terlihat Haria Girl duduk terikat erat di atas kursi.

Serbuan Sondong Landeyan sempat membuat semua yang siaga bertempur berhenti gerakannya. Namun hanya beberapa saat saja. Sebab Sondong Landeyan lantas saja menerjang siapa saja bagaikan kerbau gila. Yang menjadi korban kedua adalah dua orang yang diperintahkan pemimpinnya membacok mulut Haria Giri . Dengan sekali sambar, mereka berdua sudah kehilangan senjata- nya. Sewaktu hendak melarikan diri, masing-masing sudah keba- gian tendangan telak.

Sementara itu suami-isteri Sarayuda sedang bertempur sera melawan lima orang. Dalam sekejap saja, Sarayuda dan isterinya sudah terdesak mundur. Merasa tidak mempunyai harapan lagi, Sarayuda mengambil keputusan cepat. Bungkusan yang dibawa- nya diacung-acungkan. Lalu dilemparkan masuk ke dalam rumah sambil berseru :

- Tuanku Haria Giri Aku Sarayuda benar-benar tidak berguna lagi. Hanya dengan ini kupersembah kan apa yang dapat kulakukan. -

Pemimpin laskar kepatihan naik pitam. Dengan suara meledak ia memberi perintah :

-Bakar!

Dari beberapa penjuru panah api melayang membidik rumah. Karena rumah itu beratap ijuk dan berdinding bambu tua, seben- tar saja sudah termakan api. Kesempatan itu dipergunakan Sarayuda suami-isteri untuk melarikan diri. Mereka mengarah ke utara. Tetapi sial. Surasekti bertiga muncul dari arah utara.

- Tinggalkan - bentak Suratenung. Yang dimaksudkan adalah bungkusan yang berisi racun berbahaya.

Sarayuda tidak menggubris. Ia bahkan menyerang dengan kalap. Tentu saja, Surasekti bertiga tidak tinggal diam. Hanya dengan melepaskan senjata roda bergiginya sekali saja, Sarayuda yang sudah parah terhantam telak. Dengan menjerit tinggi ia roboh di atas tanah. Isterinya menuntut balas, namun termakan oleh senjata Suratenung yang istimewa. Dan berakhirlah sejarah hidup Sarayuda suami-isteri.

Dalam pada itu, bungkusan racun yang dilemparkan Sarayuda sebentar tadi menghantam tiang rumah dan jatuh berceceran. Debu mengepul dari celah bungkusan yang terobek. Sekarang ditambah dengan sengat api yang mulai membakar rumah.

Sebentar saja asapnya merata memenuhi ruangan.

Sondong Landeyan tadinya masih berusaha menggebah batang- batang panah berapi. Sewaktu melihat bungkusan racun ber- ceceran teringatlah dia kepada tutur kata Surasekti bertiga. Terus saja ia berbalik menolong Haria Giri .

- Bukankah kakang Sondong Landeyan? - tegur sapa Haria Giri dengan nada gembira.

- Jangan berbicara ! - Sondong Landeyan memperingatkan sambil melepaskan ikatan. Tetapi Haria Giri sudah sempat berba- tuk-batuk. Itu suatu tanda, bahwa asap racun mulai merasuk melalui hidung dan tenggorokannya.

- Celaka - Sondong Landeyan mengeluh di dalam Kati. Dengan cepat ia membobol dinding rumah dan melesat ke luar melintasi api. Gesit luar biasa ia membuang diri diatas rimbun ilalang.

Setelah meletakkan Haria Giri di atas rerumputan ilalang, segera ia balik kembali. Memang watak Sondong Landeyan tidak mau sudah, kalau belum dapat mentaklukkan musuh... Setidak- tidaknya harus ada kejelasan.

Pemimpin laskar kepatihan terperanjat melihat datangnya Sondong Landeyan. Semua anak buah nya seperti tersapu kalangkabut. Sekarang ia melihat datangnya Surasekti bertiga. Terus saja ta berseru :

- Munduuuur -

Dengan serentak anak buahnya lari berserabutan. Tetapi dua orang yang sebentar tadi tertendang Sondohg Landeyan nyaris ti- dak sanggup berkisar dan tempatnya. Maka dengan mudah Son- dong Landeyan mencekuknya dan dibawa mundur ke tempat Ha- ria Girl berada.

Di depan Haria Giri, mereka bertiarap mencium tanah memohon betas kasihan. Katanya :

- Kami hanya taat pada perintah.-

- Perintah apa? - bentak Sondong Landeyan.

- Untuk merampas barang bawaan Sarayuda.

- Siapa yang memberimu perintah? -

Diwaktu mereka akan memberi keterangan, Haria Giri mendahului

: - Kakang Sondong Landeyan. Mereka hanya patuh pada perin- tah. Bebaskan ! -

Mereka berdua semenjak dahulu mengutamakan sifat satria. Karena Haria Girl merninta agar membebaskan mereka yang ju- stru hendak mencelakakannya, Sondong Landeyan tidak banyak berbicara lagi. Segera ia membebaskannya. Akan tetapi racun yang sudah terlanjur terhisap Haria Giri mempunyai akibatnya sendiri.

Tiba-tiba saja ia tidak pandai berbicara selancar biasanya. Tatkala hendak berdiri, pada saat itu pula jatuh terduduk.

- Hai, mengapa? - ia heran bercampur cemas.

- Itulah kehebatan racun buatan kami. - sahut seseorang. Dialah Surasekti yang datang dengan diikuti kedua saudara-sepergu- ruannya. - Sarayuda terlalu jahat Dia mencelakakan majikannya sendiri. Untung, kita sudah sempat membereskan.-

- Membereskan bagaimana? - Haria Giri minty keterangan dengan suara patah-patah.

- Mereka berdua sudah kami bunuh mati.- Suratenung menjawab.

Haria Giri tertegun sejenak, lalu berpaling kepada Sondong Landeyan. Minta keterangan : - Siapa mereka? -

- Sahabatku Surasekti, Surapringga dan Suratenung.-

- Oh. - Haria Giri terkejut. Kemudian tidak berbicara lagi.

Surasekti bertiga maju memeriksa urat nadi Haria Giri. Setelah saling pandang, mereka mengeluarkan obat pemunahnya. Kata Surasekti :

- Kami sengaja memisahkan obat pemunahnya. Masing-masing satu jenis. Harus diramu jadi satu. Bila kurang, tidakkan berhasil jadi, andaikata seseorang dapat memaksa dua orang di antara kita menyerahkan obat pemunah, tetap tiada gunanya.-

- Terima kasih. - Sondong Landeyan mengangguk lalu meng- angsurkan limabelas ringgit milk Suratenung.

- Hai, apa artinya ini? - Suratenung tercengang.

- Aku lupa mengembalikan. Terimalah -

- Suratenung berpaling kepada kedua saudara-perguruannya. Surasekti memberi isyarat mata. Dan oleh isyarat mata itu, Suratenung menerima uangnya kembali. Mereka bertiga kemu- dian mengundurkan diri, dan balik kembali dengan menuntun seekor kuda.

- Adik tentunya membutuhkan seekor kuda untuk tuan Haria Giri.

- ujar Surasekti. - Adik tidak akan menolak, kan? -

Sondong Landeyan memang membutuhkan seekor kuda untuk sampai ke kedai makan. Syukur, selamanya ia dapat menerima suatu kenyataan. Maka pemberian itu, diterimanya dengan anggukkan.

- Terima kasih. - katanya. - Entah kapan kita bisa bertemu lagi.-

Sondong Landeyan kemudian mengangkat Haria Giri ke atas pelana kuda dan ia sendiri duduk di belakangnya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Surasekti bertiga, lalu menja- lankan kudanya perlahan-lahan menyeberang hutan ilalang.

Tatkala tiba di kedai tempat ia menitipkari kudanya, pelayan yang mengurusi dihadiahi satu ringgit. Dan dengan menuntun kudanya berjalan di belakang kuda tunggangannya, ia melanjutkan perjalanannya pulang ke kampung. Karena perjalanan itu tidak dapat dilakukan dengan cepat, ia baru tiba di rumahnya pada keesokan harinya. Haria Giri nampak makin payah. la perlu ditolong secepat-cepatnya.

Sekar Mulatsih heran melihat suaminya membawa pulang seorang asing tetapi berparas cakap. Dengan tergopoh-gopoh ia menyongsongnya. Lalu menyapa ;

- Siapa dia ? -

- Dialah sahabatku. Tolong siapkan tempat tidurnya. Dia harus kita rawat sampai sembuh kembali. -

Hati-hati ia turun ke tanah lalu menggendong Haria Giri masuk ke dalam rumah. Haria Giri belum kehilangan kesadarannya, akan tetapi ia sudah tidak dapat bergerak sama sekali. Setelah diti- durkan, segera Sondong Landeyan mengeluarkan tiga botol ra- muan pemunah racun. Selagi hendak meminumkannya, Pitrang datang menghampiri dengan tertatih-tatih .

- Ayah...! -

Kedua mata si bocah bersinar terang Sondong Landeyan me- mutar badan dan memondong anaknya erat-erat.

- Pitrang ! Kau tentunya mencari ayah. - katanya penuh haru.

- Ayah ayamnya mati satu. - Pitrang mengadu.

Sondong Landeyan tertawa gelak. Lalu berkata kepada Sekar Mulatsih :

- Tolong campurkan ramuan tiga botol ini menjadi satu. Setelah kau aduk menjadi satu kesatuan, minumkan sedikit demi sedikit. Bagilah tiga kali sehari dalam waktu empatbelas hari. Aku akan membawa Pitrang bermain sebentar -

Dengan mendekap Pitrang, Sondong Landeyan menghampiri kuda pemberian Surasekti bertiga. Melihat kuda asing, Pitrang memekik-mekik senang. Serunya :

- Ayah...! Da..da..da... - - Ya, kuda. Kuda baru. - ayahnya menciumi pipinya. - Turun dulu, ya Ayah akan melepaskan pelananya. -

Pitrang mengangguk. Dan setelah diturunkan di atas tanah, Sondong Landeyan kemudian melepaskan pelananya. Begitu diangkat, ia terkejut. Di balik pelana tergantung tiga kantong uang. Buru-buru ia meletakkan pelana di atas palang kandang, kemudian memeriksa kantong. Ternyata masing-masing berisikan lemabelas ringgit. Sondong Landeyan tercenung sebentar.

Akhirnya tersenyum lebar. Siapa lagi yang menaruhkan tiga kantong uang itu, kalau bukan Surasekti bertiga. Tentunya dimaksudkan untuk membantu beaya perawatan Haria Giri, karena betapapun juga mereka merasa ikut bertanggung jawab.

Kedua kuda itu kemudian dimasukkan dalam satu kandang. Bukankah kedua binatang itu sudah saling mengenal? Setelah itu, kembali lagi ia menggendong Pitrang sambil menyimpan tiga kantong uang pemberian Surasekti bertiga ke dalam almari yang terbuat dari bambu (grobog).

Sekar Mulatsih sendiri saat itu sedang disibukkan oleh tugasnya. Hati-hati ia menyenduk adukan ramuan obat pemunah, kemudian menolong Haria Giri meneguknya. Pada saat itu, ia mempunyai kesempatan menatap wajah orang yang dirawatnya. Entah apa sebabnya, hatinya bergetar lembut. Dengan kata hatinya, ia menyelimutinya mengingat hawa pegunungan mungkin terlalu se- juk dan dingin bagi orang kota. la menunggu sampai Haria Giri tertidur, lalu mengundurkan diri dengan bedingkit-jingkit . Tiba di ruang tengah, ia menjadi gelisah. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Akhirnya menyusul suaminya yang sedang ber- main dengan Pitrang di halamari depan.

- Kakang ! Sebenarnya siapa dia? -

Seperti biasanya, Sondong Landeyan tidak pandai berbicara. Tanggapannya dingin dan selalu menjawab seperlunya saja. sa- hutnya :

- Namanya Haria Giri. Dulu temanku sepekeijaan. Sama-sama pengawal Sri Baginda Amangkurat IV. -

- Kenapa dia? -

- Menghisap racun. Rawatlah baik-baik. Dua minggu lagi akan sembuh. Mudah-mudahan dia sudah bisa berbicara satu minggu lagi. -

Sekar Mulatsih tercenung. Lalu balik kembali ke dalam rumah. Hati-hati ia menjenguk Haria Giri yang tertidur dengan tenteram. Setelah itu ia ke dapur menyiapkan makan siang.

Tetapi sianghari itu, Haria giri tidak boleh terganggu. Dia harus beristirahat benar-benar. Karena itu, ia hanya melayani suami dan anaknya makan. Ia sendiri tidak bernafsu makan. Rasanya seperti harus menunggu sampai Haria Giri menyenakkan mata. Ia percaya, menjelang malam hari dia akan bangun. Kalau tidak, harus dibangunkan. Bukankah dia harus minum obat penawar lagi?

Malam hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Namun Haria Giri masih belum bergerak. Ia menghampiri lalu mencoba mem- bangunkan. Ternyata tidak mudah. Sebab selain oleh pengaruh racun, ia terlalu capai. Syukur, Sekar Mulatsih selalu telaten bila merawat orang sakit Dulu, diapun telaten sewaktu merawat Sondong Landeyan.

Penyebabnya juga racun buatan Surasekti bertiga. Mengapa harus sama?

Akhirnya, ia berhasil membangunkan Haria Giri. Kemudian dengan penuh pengamatan, ia menegukkan sebagian obat pemu- nah racun. Setelah itu ia menyuapinya dengan bubur yang diaduk dengan telur. Hanya beberapa kali saja,namun lumayan daripada sama sekali tidak. Setelah di tidurkan kembali, ia menunggu di tepi pembaringan.

Larut malam telah lewat, tatkala Haria Giri tiba-tiba menggigil dan menggigau. Sekar Mulatsih yang duduk menunggu di tepi pembaringan terkejut sampai terlompat. Ia lari ke kamar suami- nya. Tetapi suaminya sudah tertidur lelap di samping Pitrang karena sudah dua hari dua malam tidak sempat memejamkan matanya. Maka terpaksa ia menolong Haria Giri seorang diri dengan menyeka wajahnya dengan air hangat. Tak lupa pula ia mengucuri ubun-ubun dan tengkuk Haria Giri dengan air dingin. Lalu mengusap keringat nya yang meruap dengan derasnya dari pori-pori. Hampir dua jam ia berkutat dan ber juang. Akhirnya, Haria Giri tenang kembali dan terlena tidur 0, alangkah bahagianya.

Semenjak saat itu, ia merasa dirinya menjadi bagian hidupnya Haria Giri.Hatinya ikhlas dan penuh pengabdian dalam merawat dan menyuapi makan minumnya. Di sianghari ia selalu menilik dan di malam hari ia kurang tidur. Sekalipun demikian, sepercik rasa yang syandu menyelimuti sekujur badannya. Sondong Landeyan sendiri sudah mempercaya kan perawatan Haria Giri kepada isterinya. Diapun kembali disibukkan oleh tugasnya sehari-hari. Yalah menggarap sawah dan ladang sambil membawa Pitrang bermain.

Ladangnya penuh dengan tanaman-tanaman yang berguna bagi keperluan dapur. Bawang merah dan putih, kubis, bayem, lombok dan sejenisnya. Tanah pegunungan selain subur, cocok dengan macam sayuran yang ditanam. Biasanya hasilnya sudah dapat di- petik dalam jangka waktu sebulan sampai tiga bulan.

Bila pulang dari sawah dan ladangnya, Sondong Landeyan selalu menjenguk keadaan sahabatnya. Melihat isterinya begitu telaten merawatnya, hatinya terhibur dan bersyukur.

Beberapa hari lagi, tentunya sahabatnya itu akan dapat diajaknya berbincang-bincang. Benar saja. Setelah satu minggu, Haria Giri mulai pulih kembali. Ia mulai dapat berbicara dengan lancar.

Seperti biasanya kata-kata dan lagu suaranya mempunyai daya tarik. Kalau tidak, mustahil dulu ia berhasil menggaet ayah Ratu Sumarsa sampai rela menyerahkan puterinya. Yang dibicarakan selain warta berita di ibukota, sebagian besar berkisar soal berbagai ragam ilmu kepandaian.

Aneh adalah sikap Sekar Mulatsih. Biasanya ia paling sebal bila mendengar suaminya berbincang-bincang dengan tetamunya mengenai ilmu tempur macam apapun. Tetapi kali ini, tidak. Bah- kan sama sekali tidak. Apalagi bila Haria Giri membicarakan ma- salah kesenian, agama, tata-negara, filsafat dan peri kehidupan penduduk ibu kota: Sekar Mulatsih seperti wajib mempersolek di- ri, suatu hal yang tidak pernah dilakukan semenjak menjadi isteri Sondong Landeyan. Dasar ia sudah dilahirkan sebagai wanita cantik, kini mau bersolek ditambah hatinya tegar gembira.

Maka kecantikannya ibarat bunga merekah di pagi hari, sedap dilihat segar dipandang.

Pada suatu hari ia menemukan kantong uang Surasekti bertiga. Tatkala suaminya datang dari sawah segera ia minta keterangan dari mana is memperoleh uang sebanyak itu. Seperti biasanya Sondong Landeyan menjawab singkat dan sederhana saja. Dari orang untuk membantu kesehatan Haria Giri, katanya.

Ah, pikir Sekar Mulatsih. Bukankah bisa dibuat membeli ayam atau kambing atau sapi? itu terjadi pada hari ke tujuhbelas, setelah Haria Giri pulih seperti sediakala. Berkatalah ia kepada suaminya :

- Belilah sepuluh ekor ayam dan anak sapi untuk disembelih. Aku akan merayakan hari kesehatan sahabatmu Haria Giri. Biarlah aku yang menjaga Pitrang. - katanya dengan suara manis dan bersemangat.

Sondong Landeyan mengangguk. Dengan menunggang kuda ia berangkat meninggalkan rumah untuk memenuhi permintaan isterinya. Ia membawa uang lima ringgit. Uang Surasekti yang tak pernah disentuhnya, Tetapi kini diterimanya melalui pemberian isterinya. Dengan membawa uang sebanyak itu, ia tidak hanya mampu membeli 10 ekor ayam saja, tetapi seekor kambing dan anak sapi. Dan ia balik pulang sewaktu matahari sudah condong ke barat.

Tetapi suasana rumahnya nampak sepi. Hatinya tersirap, se- waktu mendengar tangis Pitrang yang bersedu-sedan. Kenapa? Mengapa? Bergegas ia melompat turun dari kudanya. Begitu ma- suk ke dalam rumah,Pitrang lari menyambutnya dengan berisak- isak :

- Ayah Ibu nakaaalll.... -

Ia menggendong Pitrang dan memeriksa seluruh rumah dengan tanya tanya. kamar sunyi sepi. Isterinya tiada. Haria Giri tiada. Ia lari ke luar. Kuda pemberian Surasekti bertiga tiada di tempatnya. Sejenak ia tertegun. lalu kembali ke dalam rumah. Dengan tegas ia melihat almari Sekar Mulatsih terjeblak lebar. Tiada lagi terdapat sehelai pakaiannya. Dan yang membuat jantungnya ber- degupan adalah almari tempat ia menyimpan uang Surasekti. isinya lenyap. Juga pedang Sangga Buwana.

****** ENTAH SUDAH berapa kali Sondong Landeyan bertempur melawan musuh-musuh tangguh. Dalam sekian banyaknya per- tempuran itu, beberapa kali ia pernah berada dalam bahaya.

Akan tetapi berkat kepercayaan diri sendiri selalu ia dapat mengatasi dan akhirnya menang. Tetapi kali ini, ia benar-benar merasa terpukul. Dia merasa gugup, bingung, cemas dan takut.Hebatnya, ia tidak tabu apa yang harus dilakukan.

Pitrang yang berada dalam gendongannya, tiba-tiba membe- rontak-berontak. Menangis sambil menggeliat-geliatkan tubuhnya seakan-akan ingin meloncat untuk mencari, mengejar atau menu- bruk ibunya.

- Ibuuuu ibuuu ibu nakal.... - si anak menangis mengadu.

Sondong Landeyan tertegun beberapa saat lamanya. Ia mera- sakan sesuatu yang hilang dari dirinya. sesuatu yang merupakan kekuatan utama untuk melintasi badai kehidupan apapun. Itulah isterinya alias ibu dari Pitrang yang berontak dalam pelukannya. Bahkan melebihi hal itu. Andai kata Sekar Mulatsih mati tertem- bus pedang oleh sekawanan musuh yang tangguh, ia masih mudah untuk memutuskan tindakannya. Hanya dengan berbekal dendam kesumat ia akan mencari musuh-musuh itu.

Tetapi sekarang keadaannya lain. Orang yang berperan sebagai musuhnya justru adalah sahabatnya yang dirindukan. Selain itu, ia tidak dapat terlalu menyalahkan, karena mungkin sekali....mungkin sekali nah, inilah yang membuatnya tidak tahu

apa yang harus dilakukan. Mungkin sekali, isterinya yang mengajak Haria Giri meninggalkan rumah. Kalau benar demikian, apakah ia hendak membunuh isterinya? bagaimana. dengan Pitrang? Di kemudian hari, Pitrang pasti akan membencinya setinggi langit. Bukan mustahil sampai turun-temurun.

- Ibuuuuu .....ibuuu.......nakaaaaall .. - tangis Pitrang

menyayatkan hati.

- Ya, diam sayang Ibu tidak nakal. Nanti kuusulkan.- bujuk Sondong Landeyan.

Mengucapkan kata-kata ibu, hatinya terasa teriris-iris. Akhirnya dengan menggendong Pitrang ia melompat ke atas pelana ku- danya. Lalu pelahan-lahan turun gunung dengan pikiran kacau- balau. Sore hari telah tiba dengan diam-diam. Sorehari yang cerah, namun tidak merasuk dalam perhatian Sondong Landeyan.

Sepanjang jalan, Sondong Landeyan mencoba membujuk Pi- trang. Dengan suatu kesabaran dan ketelatenan, lambat-laun Pi- trang dapat dikuasainya. Si kecil tertidur dalam pelukannya.

Mungkin oleh rasa kesal dan lelah. Sondong Landeyan jadi perasa.

- Sayang, ayah pasti dapat menyusul ibu. tidurlah yang nyenyak. Begitu bangun, kau akan berada dalam gendongan ibu. - Sondong Landeyan membujuk Pitrang dengan berkomat-kamit. Akan tetapi bujukan itu sendiri, sesungguhnya pantas disebut menghibur hatinya sendiri. Terus-terang sap sampai saat itu, hati- nya masih sangsi luar biasa. Sebagai seorang pendekar, ia akan dapat dengan mudah menjejak bekas tapak kuda. Tetapi entah apa sebabnya, ia justru merasa takut bila dapat menyusulnya.

Apa yang harus dilakukan manakala isterinya yang mengambil prakarsa? Tentunya Sekar Mulatsih tidak sudi dibawa pulang. Kalau sampai begitu, maka bukan hanya dirinya seorang yang kalah, tetapi si kecil Pitrang pula. Benar-benar menakutkan .

Selagi hatinya terombang-ambing oleh gelombang kesangsian yang tiada menentu, tiba-tiba ia melihat seorang gadis sedang memeluk seorang pemuda yang luka bermandikan darah. Melihat gadis itu, hati Sondong Landeyan tercekat Bukankah dia Sukesi ? siapakah pemuda yang dipeluknya itu? Bergegas ia menghampiri. Ternyata pemuda itu si Wigagu. Kenapa?

- Paman Sondong Landeyan, bukan? - tegur Sukesi dengan suara pelahan.

Sondong Landeyan mengangguk dari atas kudanya. Pikimya, bagaimana gadis itu mengenal dirinya?

- Setelah kami bertempur mengadu pedang, kami bersembunyi di depan kuil. Semua yang terjadi kemudian, kami ketahui dengan jelas. Sebenamya, Wigagu bukan sepekerjaan dengan paman Sarayuda. Wigagu ingin mengabdikan diri kepada raja. Sedang paman Sarayuda dan Haria Giri kaki-tangan Patih Danureja.- - Bukan begitu.- bantah Wigagu dengan suara parau. - Paman Sarayuda dan aku sarna-sama mengabdi raja. Sayang, paman Sarayuda tidak tahu kalau akhir-akhir ini Haria Giri mata-mata Patih Danureja. -

Mendengar keterangan Wigagu, hati Sondong Landeyan tertarik. Pelahan-lahan ia turun ke tanah sambil menggendong Pitrang dengan memelukkan tangan kirinya. Melihat luka Wigagu tahulah dia, bahwa pemuda itu kena tikaman pedang. Untung, tidak berbahaya. Segera ia menolong menghentikan darahnya yang mengalir. Lalu berpaling kepada Sukesi. Menegas :

- Haria Giri mata-mata Patih Danureja? - Sukesi menyenak nafas. Menjawab :

- Wigagu, biar aku yang berbicara. Kalau salah, kau betulkan !-

Wigagu mengangguk.

- Sebenamya Wigagu baru mengetahui permainan sandiwara mereka dirumah terpencil itu. - Sukesi berhenti sebentar mencari pembenaran Wigagu. Karena Wigagu tidak membantah keterang- gannya, ia melanjutkan :

- Paman Sarayuda suami-isteri sudah mempertaruhkan jiwa raganya demi mengabdi Sri Baginda , Ia masih mengira, bahwa Haria Giri masih pengawal Sri Baginda seperti pada jaman mudanya. Sama sekali tidak diketahui, ia terperangkap permainan Haria Giri . Sewaktu hendak menyerahkan bungkusan yang dicurinya, ia dikepung oleh laskar Kepatihan. Diluar perhitunggan, begitu merasa dirinya terjepit„ paman Sarayuda melemparkan bungkusan racun ke dalam rumah. Akibatnya, paman sendiri tahu. Itulah yang dinamakan senjata makan majikan sendiri. Hm....- sayang sampai pada saat-saat terakhir, paman Sarayuda belum juga menyadari dirinya diperalat atasannya. Padahal, Wigagu sudah berusaha memperingatkan dengan berlagak menyamakan dirinya sebagai paman.

Maksudnya, ingin mengingatkan semuanya bahwa - ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Dengan membawa-bawa nama paman, ia bermaksud mencanangkan kesetiaan paman yang tulus sewaktu menjadi pengawal Sri Baginda. -

- Aku sendiri kurang jelas. Sebab aku orang asal Blitar. sahut Sukesi_ - Tetapi aku sempat mendengarkan tutur-kata Wigagu. Menurut dia, Patih Danureja berfihak kepada Kompeni (V.O.C.) Pemberontakan Pangeran Blitar adalah gara-gara akal adudomba Kompeni. Sekarang raja ingin menjemput permaisuri pulang.

Tentu saja, pihak Kepatihan berusaha manghalang-halangi.- Sondong Landeyan tercenung-cenung beberapa saat lamanya. Setelah menarik nafas, ia berkata :

- Kalian sungguh pandai bermain sandiwara. Akupun kena kalian kelabui. Bagus ! Lalu siapakah yang melukai Wigagu? -

- Wigagu pengaguni paman. - sahut Sukesi. - Apalagi dia sudah menaruh curiga kepada Haria Giri. Celakanya, justru paman me- lindungi dan mau menolong akibat dari ulahnya sendiri. Maka dengan diam-diam ia mengajak aku mengintai gerak-gerik Haria Giri dan apa yang terjadi di padepokan paman. Ternyata ternya-

ta....-

Sukesi tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Wajahnya berubah menjadi merah muda.

Dengan tajam, Sondong Landeyan menatap wajah Sukesi me- nunggu lanjutan ucapannya. Tetapi Sukesi justru menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian, Sukesi merasa memperoleh jalan keluar. Katanya :

- Tetapi andaikata tidak ada bibi, Wigagu pasti sudah mati tertembus pedang. Untung sewaktu Haria Giri hendak menikamkan pedangnya karena marah, buru-buru bibi berkata. Kakang, mengapa kau ributkan omongan kanak-kanak? Kalau sampai terluka parah, Sondong Landeyan mempunyai alasan untuk membunuh kita. Lebih baik kita kabur sejauh mungkin, sebelum dia sempat menyusul. -

Sondong Landeyan mengenal tabiat dan watak isterinya. Sekar Mulatsih memang halus perasaannya. Dia benci terhadap tindak kekerasan macam apapun. Tetapi mendengar kesan percakapan tiruan Sukesi, hati Sondong Landeyan seperti tersayat.

Kedengarannya sudah mesra dan seperti sudah scaling berkenalan. Apakah....apakah mereka sudah bergaul terlalu

jauh, manakala dia sedang berada di tengah sawah atau ladang bersama Pitrang? - Hm, inilah yang dinamakan mata melek dibutakan orang. - ia setengah mengutuk di dalam hati.

Sondong Landeyan tidak pandai berbicara. Akan tetapi bukan berarti dungu, bodoh, tolol atau tidak pandai berpikir. Sekiranya demikian, mustahil dia memiliki ilmu sakti yang sangat tinggi. Ke- terangan Sukesi kurang lengkap. Meskipun demikian, ia sudah memperoleh pegangan delapan atau sembilan bagian.

Setelah berpikir sejenak, berkatalah ia :

- Temanmu boleh kau rawat di rumahku. Bawalah kudaku ! -

Sukesi tercengang. Sebaliknya wajah Wigagu yang tadinya nampak keruh jadi girang. Sebelum mereka sempat membuka mulut, Sondong Landeyan sudah melanjutkan perjalanannya dengan menggendong anaknya. Bukan main cepat ia melangkahkan kakinya. Sebentar saja sudah hilang di batik tikungan jalan Tetapi setelah memasuki tikungan ketiga, ia memperlambat langkahnya. Lalu ia mulai berpikir lagi.

- Ah, Sondong Landeyan ! Ternyata kepandaian yang kau milli, belum cukup untuk mengetahi segala permasalah hidup. - suara hatinya mengiang-iang pedih.

Samar-samar terbayanglah ia kembali pada saat pertemuannya dengan Sekar Mulatsih. Gadis itu telaten merawat dirinya yang terluka. Tatkala bertempur melawan Surasekti bertiga, ia tetap berada dalam ruang dalam. Namun sewaktu rumah terbakar, ia melarikan diri. Alangkah beda dengan cerita pewayangan, dimana sang isteri bersedia mati terbakar demi menjunjung tinggi kesetiaan hati. Tetapi itu bukankah cerita pewayangan? Di dalam kenyataan hidup , berbeda jauh.

Sekar Mulatsih seorang gadis yang tidak memiliki kepandaian ragawi. Sudah tentu, harus menyelamatkan diri demi menjaga keselamatan jiwanya. Lagipula, dia belum terikat suatu apapun dengan dirinya. Meskipun demikian, dia berkenan merawat dirinya begitu tekun, sabar dan telaten.

- Ah, Sondong Landeyan Engkau terlalu banyak menuntut ! - lagi- lagi ia menyesali diri. - Manusia bukan benda mati. Manusia mempunyai akal pikiran dan hidup. Dengan akal dan pikirannya dia pandai memilih, membandingkan dan menyerap semua peng- alaman hidup. Dan kodrat hidup sendiri bergetar dan bergerak maju. Kau sendiri pemah memberikan apa terhadapnya?

Agakknya, cinta saja bagi manusia ini, belum cukup.-

Dengan pikiran serta pertimbangan hati yang saling mengen- dapkan, ia berjlan terus, Sementara itu, waktu berjalan terus tanpa memperdulikan permasalahan hidup. Melihat tirai malam yang hampir jatuh, hatinya tercekat. Kalau tidak ingin kehilangan jejak, ia harus dapat mencapai ujung pedalanan sejauh mungkin. Maka segera ia berlari-larian kencang sambil melindungi anaknya dari tiupan angin Magrib. Sebentar kemudian tibalah ia di sebuah desa persinggahan. Tentunya mereka tidak akan menginap di sini. - pikir Sondong Landeyan. - Mereka pasti mencari tempat yang menyendiri. -

la berputar-putar untuk mencari kepastian arah pelacakan. Untung, desa persinggahan itu hanya memiliki sebuah jalan yang layak dilalui kuda. Setelah menyusuri jalan beberapa waktu lama- nya, teringatlah dia kepada si Pitrang. Dia harus makan dan mi- num dulu. Maka pelahan-lahan ia membangunkan si kecil.- Pitrang tersentak bangun. Melihat tirai malam yang gelap, dia menggeliat ketakutan. Tetapi merasa dalam dekapan ayahnya, hatinya terhibur. Syukur, ia lebih sering bergaul dengan ayahnya daripada ibunya. Sebab ayahnya selalu membawanya serta bekerja di tengah sawah dan ladang. Baru pada malam hari, ia tidur bersama ibunya. Bahkan, kadang-kadang ia minta tidur di samping ayahnya .

- Mana ibu? - la merengek.

- Ibu lagi pergi. Kita makan dulu, ya? -

- Sama ayah.-

- Tentu saja. Yo, kita cari ayam goreng. Tempe dan tahu. Pitrang mau makan apa? - bujuk Sondong Landeyan .

Pitrang tertarik perhatiannya. Ia mencoba menegakkan badan- nya. Sementara itu, ayahnya berjalan dengan langkah panjang mencari kedai nasi. Tidak terlalu lama, kedai nasi itu telah dipero- lehnya. Sondong Landeyan memesan nasi dengan lauk-pauknya. Si Pitrang sendiri di berdirikan di atas kursi. Lalu minta pipis. (kencing). - Ibunya mana, nak? - sapa pemilik kedai. Dia seorang ibu berumur kira-kira limapuluh tahunan.

Sondong Landeyan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Dan setelah menolong anaknya kencing di halaman segera ia hendak balik ke kursinya. Tiba-tiba penciumannya yang tajam mencium bau kuda.

- Rupanya banyak orang berkuda singgah kemari , bu. - ujarnya sambil berjalan masuk.

- Kadangkala. - sahut pemilik waning ramah. - Seperti sore tadi,tiba-tiba ibu kejatuhan rejeki. Sepasang Kamajaya Ratih singgah ke .. -

- Kamajaya Ratih? - Sondong Landeyan terperanjat.

- Yang laki-laki cakap. Yang perempuan cantik. Apa namanya, kalau bukan Kamajaya dan Ratih? -

Kamajaya dan Ratih adalah nama dewa-dewi lambang kecantik- an wanita dan kecakapan pria. Kamajaya adalah putera Hyang Ismaya. Kecakapannya sempat membuat para dewa iri. Namun. mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena takut terhadap Hyang Ismaya. Di kemudian hari, Dewa Kamajaya mengasuh Arjuna sebagai anak-angkatnya. Kedua-duanya merupakan lambang kecakapan pria yang membuat puteri di seluruh dunia tergila-gila kepadanya. - Apakah mereka menginap di desa ini? - Sondong Landeyan menegas dengan nafas memburu.

- Ah, mana mungkin. Desa ini tentunya terlalu amat sederhana bagi mereka berdua. Mereka melanjutkan perjalanannya ke barat

- ujar pemilik kedai. Tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu. - Ah ya....- mungkin sekali mereka menginap di pesanggrahan Sang Adipati. -

Sondong Landeyan tidak bertanya lagi. la menyibukkan diri dengan menyuapi anaknya. Setelah selesai makan dan minum, berkatalah ia :

- Bu, apakah aku boleh beristirahat barang satu jam disini?-

- Tentu Tentu saja Mengapa tidak? - sahut pemilik warung dengan cepat - Kebetulan, malah. Ibu lantas mempunyai teman. Apakah dia anakmu sendiri? -

- Ya.-

- Kalau perlu bolehkau tidurkan di situ ! -

Pada waktu itu, pemilik kedai tidur di dalam kedainya yang terdiri dari satu ruangan. Ruang itu dibagi menjadi dua. Yang satu untuk tempat usahanya. Yang lain diisi sebuah balai-balai panjang cukup untuk tidur lima orang. Karena cukup luas, biasanya dise- diakan bagi sanak-keluarganya bila datang menjenguknya. Atau kepada siapapun yang perlu beristirahat barang sebentar, sebelum meneruskan perjalanannya. Sondong Landeyan tidak bermaksud menidurkan Pitrang, tetapi mengharapkan si kecil mengantuk. Karena Pitrang baru saja terbangun dari tidurnya, lalu kesempatan buang air, makan dan minum, maka Sondong Landeyan harus menunggu sampai dua jam lamanya.

Begitu anaknya mengantuk dan merengek minta pulang, segera ia meninggalkan kedai dan meneruskan pelacakannya.

Kira-kira menjelang larut malam, Pitrang sudah terlena tidur dalam gendongannya. Pada saat itu, ia melihat api menyala di dalam ruang pesanggrahan. Beberapa bayangan orang bergerak- gerak pada dinding oleh pantulan nyala api. Sondong Landeyan mendekati dengan hati-hati. Dari jauh ia mengamat-amati ruang dalam. Enam buah lentera menyala buram namun cukup membe- ri penerangan.

Tiba-tiba bulu kuduknya meremang tatkala mendengar kikik tertawa seorang wanita. Itulah,suara tertawa Sekar Mulatsih bila sedang gembira melihat tingkah-laku Pitrang yang lucu menggemaskan. la melongokkan kepalanya.

Benar-benar Sekar Mulatsih. Dengan manja dan mesra ia me- nyesapkan kepalanya dalam pelukan Haria Giri yang sedang bercerita di atas tempat tidur. Pandang matanya begitu hebat. Itulah pandang mata seorang wanita yang jatuh hati, penuh cinta, penuh kasih, dan bersedia melakukan apa saja dan diperlakukan apapun. Selama menjadi isterinya, Son dong Landeyan belum pemah melihat pandang mata yang begitu mendebarkan hatinya. Inilah bayangan yang ditakutkannya semenjak berangkat dari rumah. Sekarang, bayangan itu menjadi kenyataan. Tak bisa di- pungkiri lagi. Sekar Mulatsih yang membuka pintu.

Sekar Mulatsih yang mengambil prakarsa. Dan laki-laki mana yang tidak rontok imannya bila diberi kesempatan begitu leluasa oleh seorang wanita secantik isterinya. Sebaliknya, laki-laki betapa beranipun akan kuncup hatinya, bila seorang wanita bersikap tegas dan menutup pintu. Maka ia tidak dapat terlalu menyalahkan Haria Giri.

Oleh rasa kaget, kecewa, pahit dan getir, is membalikkan ba- dannya dengan sedikit menggentakkan diri. Akibatnya, gerakan itu membangunkan himpunan tenaga saktinya dan menyakiti si kecil yang berada dalam gendongannya.

- Ibuuuuu... - Pitrang menjerit oleh rasa sakit dan terkejut.

Sondong Landeyan cepat-cepat membungkam mulut anaknya sambil melarikan diri secepat-cepatnya menembus tirai malam. Namun jerit Pitrang sempat membangunkan perhatian penghuni pesanggrahan yang terdiri dari beberapa orang pelayan, penjaga dan pengurusnya. Sekar Mulatsih tersentak dari pelukan Haria Giri. Betapapun juga, hubungan naluriah antara ibu dan anak adalah kodrat Illahi sendiri.

- Pitrang? - wajahnya pucat lesi. Bergegas ia melompat dari tempat tidurnya dan memburu keluar kamar. Haria Giri ikut pula turun dari tempat tidur dengan gerakan hati-hati dan cemas. Ia melirik kepada pedang Sangga Buwana yang disandarkan pada kursi yang berada di samping tempat ti- dur. Wajahnya gelisah.

Di depan pintu Sekar Mulatsih terlongong-longong. Ia memasang pendengarannya. Jantungnya berdegupan. Hatinya tergetar.

Tetapi hanya sejenak. Berbareng dengan lenyapnya suara jeritan, ia menarik nafas panjang. Dan semua kesannya sirna dari lubuk hatinya. Kemudian dengan tersenyum, ia membalikkan badannya. Katanya lembut kepada Haria Giri :

- Kakang, lanjutkan ceritamu -

Dengan langkah anggun ia menghampiri kekasihnya. Lalu me- lompat ke atas tempat tidur. Syukur, semuanya itu tidak sempat disaksikan Sondong Landeyan. Sebab setelah itu semua lentera padam. Tinggal letikan api yang menyala redup buram.

SAMPAI disini, ki dalang Gunacarita menutup mulutnya. Pelahan- lahan ia menghirup minumarmya yang sudah menjadi dingin Ceritanya sudah selesai. Tetapi mgreka yang ikut mendengarkan masih terbenam dalam pikirannya masing-masing.

Itulah sebabnya suasana dalam ruang tengah sunyi mengharukan. Di luar penginapan, fajar hari telah tiba Suara kokok ayam sudah terdengar sambung-menyambung semenjak tadi. - Hebat - ujar Bogel memecahkan kesunyian. - Hai nek, bagaimana kesanmu? Perempuan itu terlalu hebat, bukan? -

Nenek Saminten tidak segera menjawab. Wajahnya kelihatan prihatin. Setelah selesai memilin-milin tembakau mulutnya, baru ia berkata :

- Apa yang harus kukatakan? Semua itu takdir. - Bogel tertawa terbahak-bahak. Serunya :

- Semua itu takdir Takdir yang mana? -

- Mencari laki-laki seperti Sondong Landeyan sudah susah. Pendek kata seribu orang cuma satu. Atau satu di antara seribu orang. Berkepandaian tinggi, cinta pada anak, setia pada isteri, berhati sederhana dan lapang dada. Sebaliknya, Sekar Mulatsih keturunan priyayi. (priyayi : orang menak). Lambat laun merasa tidak pantas hidup berdampingan dengan orang dusun. Yaah....

ibarat bunga anggrek hidup di pinggir dusun.-

- Bagus Tak kukira, penilaianmu adil. Tetapi bukankah dia sudah melahirkan anaknya?-

- Eh, kau mau menyalahkan Sekar Mulatsih, ya? - bentak si ne- nek.

- Huuuu laki-laki memang mau menang sendiri.- - Sebaliknya, apa salahnya Sondong Landeyan? - debat Bogel dengan bersemangat.

- Aku kan tidak menyalahkan Sondong Landeyan? Aku hanya berkata, semua itu takdir.-

Yang mendengarkan memanggut-manggutkan kepalanya. Mereka seperti mau mengerti alasan nenek Saminten, namun merasa kurang puas. Sebaliknya untuk mengutarakan apa penyebabnya, mereka tak tahu. Tiba-tiba terdengar suara Diah Windu Rini:

- Hm, apa sih enaknya menjadi isten seorang pendekar dusun? Dia boleh memiliki kepandaian setinggi langit Dia boleh cinta se- tengah mati. Tetapi itu belum cukup. -

Bogel mau membuka mulutnya, tetapi batal sendiri karena te- ringat kegalakan Windu Rini. Namun ia tak kehilangan akal. Ia mengalihkan pandangnya kepada Kartamita dan Lembu Tenar. Serunya minta pertimbangan :

- Bagaimana menurut pendapat kalian? -

- Aku bisa menerima pertimbangan nona Windu Rini.- sahut Kartamita dengan hati-hati.

- Kau orang kasar, karena itu belum pandai menyelami hati seorang wanita. Orang hidup bersuami isteri ibarat jantung yang berbentuk dua belah. Masing-masing harus bisa seia-sekata, sefaham, sependirian, secita-cita, senafas, sehati. pendek kata masing-masing merasa menjadi bagian hidupnya. Untuk mencapai hal itu, harus dibangun sedikit demi sedikit. Sayang, Sondong Landeyan terlalu kaku. Bisanya cuma berkelahi. Diajak berbi cara perkara kesenian, tata-pemerintahan, kesusasteraan, tidak menyambung. Tentunya mempunyai akibatnya sendiri,-

- Betul potong nenek Saminten dengan semangat tempur. - Seperti suamiku yang ke lima. Kebisaannya cuma main perem- puan. Yang dibicarakan cuma soal perempuan. Perempuan, pe- rempuan melulu. Diajak berbicara cara mencari rejeki, tidak sam- bung. Diajak berbicara mengenai bibit padi, bibit ketela, bibit ja- gung, tidak sambung. Ah, kutendang saja ke luar rumah. Sana, sana, sana cariluh perempuan sampai mampus ! -

Mendengar ujar nenek Saminten mereka semua tertawa bergegaran. Kini suasananya menjadi enak kembali. Tetapi Bogel jadi penasaran. Ia menganggap ucapan nenek Saminten memotong pembicaraan orang yang belum selesai. Maka buru- buru ia berkata kepada Kartamita :

- Kakang Kartamita teruskan kata-katamu ! -

Kartamita mendeham. Setelah mengerling kepada Diah Windu Rini, ia berkata melanjutkan :

- Riwayat pertemuannya memang tidak semestinya. Sekar Mu- latsih seperti dipaksa harus menerima nasibnya dengan rasa terima kasih. Jangan lagi seorang gadis, laki-lakipun akan terpaksa menerima paksaan itu. Coba pikir ! Dia anak seorang pemberontak. Kemudian jiwanya ditolong orang yang sama sekali tidak mempermasalahkan asal-usulnya. Apakah pertimbangan demikian harus diabaikan? Sebaliknya, apakah anak seorang pemberontak memang harus kehilangan hak asasinya? Nah, disinilah kodrat Tuhan mulai berbicara. Orang boleh mencapnya sebagai anak seorang pemberontak yang harus dibenci, dimusuhi dan disingkirkan. Tetapi sebagai mahluk Tuhan, dia tidak bisa kehilangan hak hidupnya jiwanya berontak, karena tidak memperoleh keserasian, keselarasan dan keseimbangan. Cara berpikir dan selera hatinya tidak serasi dengan Sondong Landeyan, ibarat minyak dan air. Bekal pengetahuannya tidak selaras dengan Sondong Landeyan, ibarat kecapi yang kendor dawainya. Asal-usul dan kecantikan peribadinya tidak seimbang dengan Sondong Landeyan yang kasar dan kaku. Akibatnya, tatkala bertemu dengan Haria Giri tiba-tiba saja dirinya ibarat arus air yang menemukan saluran pembuangannya. Tanggul air jebol ! Mengapa tidak? Cara berpikir dan selera hatinya serasi dengan cara berpikir dan selera hati Haria Giri. Dia mengenal ke- susasteraan, kesenian, tata-pemerintahan dan sejenisnya. Dan Haria Giri kebetulan memiliki kepandaian demikian berkat pengalamannya hidup dalam pemerintahan dan bergaul dengan orang cerdik pandai di Ibukota. Dia cantik jelita dan Haria Giri cakap. Kecuali itu, Haria Giri orang pemerintahan. Sekaligus akan dapat mengangkat nasibnya yang buruk dari lumpur kehinaan.

Demi ini, siapapun berani mempertaruhkan segalanya. Termasuk jiwa dan anaknya sendiri. Sebab anak itu sebenarnva lahir di luar kemauannya sendiri.- - Bagus Kedengarannya masuk akal. - ujar Bogel. - Bagaimana pendapatmu, Lembu Tenar?

- Aku? - sahut Lembu Tenar. - Aku sih orang dusun. Otakku butek. Tetapi aku setuju dengan pendapat ki dalang, bahwa betapapun juga Sondong Landeyan memiliki jiwa besar. Dia berani menerima kenyataan dengan lapang dada. Maka pantaslah dia disebut seorang pendekar yang berjiwa besar dan sakti. Disebut sakti, karena dia justru bisa menguasai diri pada saat ia dihadapkan pada suatu tindak yang serba salah.-

- Hee Kau bisa berpikir bagus - Bogel berseru kagum.

- Ya,memang membunuh Haria Giri atau Sekar Mulatsih atau kedua-duanya, bukan merupakan penyelesaian yang

tepat. Juga bukan perilaku yang pantas dipuji, bila melakukan bunuh diri.Ah, he bat ! Penilaianmu hebat -

- Loo bukan aku Ki dalang yang mendahului. Aku hanya me- nirukan, mempertimbangkan, lalu menyetujui. - ujar Lembu Tenar.

- Benar. Manusia lumrah memang tidak akan tahan menghadapi kenyataan demikian.- Kartamita mendukung.

Semua yang berada dalam ruang itu memanggutkan kepalanya. Bogel diam-diam mencuri pandang kepada Diah Windu Rini. Ia ingin melihat bagaimana reaksi gadis galak itu. Tetapi gadis itu ternyata bersikap acuh. Pandang matanya mengarah ke luar penginapan. Lalu berkata kepada Gemak Ideran :

- Kau sudah puas? Berangkat -

Gemak Ideran rupanya kalah perbawa. Dengan hati berat ia berdiri. Setelah mengepriki dan rnembetulkan letak pakaiannya ia meruntuhkan pandang kepada Niken Anggana yang belum bergeser tempat. Gadis muda remaja itu masih terbenam dalam kesan hatinya. Pandang matanya tidak beralih pula dari ki dalang Gunacarita yang pandai bercerita.

- Hai - bentak Diah Windu Rini. - Kau mau menginap di sini? - Niken Anggana mengangguk.

- Apa? -

Diah Windu Rini tercengang yang sama sekali tidak mengharapkan memperoleh anggukan demikian.

- Ceritanya belum selesai.- ujar Niken Anggana. Lalu minta benaran Gunacarita :

- Belum selesai, bukan? - Ki dalang Gunacarita mendongakkan kepalanya memandang Diah Windu Rini, Gemak Ideran dan kemudian kepada Niken Anggana. Sahutnya bijaksana :

- Babak ini sudah selesai. Lihat sebentar lagi pagihari tiba. Di luar sudah terang benderang.-

- Tetapi cerita itu sendiri belum selesai, bukan? - Niken Anggana menegas.

- Ah, kalau diceritakan seluruhnya belum tentu satu bulan selesai. Sebab setelah Wigagu sembuh, Sondong Landeyan berangkat dengan membawa Pitrang mencari Sekar Mulatsih . Kali ini , Wigagu dan Sukesi ikut serta. Pengalamannya bukan main banyaknya. Mereka tersesat di goa hantu, di sarang penyamun, di kerajaan jin. Pendek kata ah hebat Itulah sebabnya aku

berkata, bahwa Sondong Landeyan adalah seorang pendekar tersakti pada jarnan ini.-

******

- Waoo hebat ! - Niken Anggana kagum.

- Anggana, berangkat ! - bentak Diah Windu Rini. Di mana saja. seorang dalang pandai hercerita Tiada bedanya dengan tukang jual jamu Kau mau jadi anteknya?

- Tetapi .... - - Berangkat ! - potong Diah Windu Rini. - Kau mau berangkat atau tidak?-

Gemak Ideran menengahi. Dengan lembut ia menarik lengan gadis . Berkata membujuk :

- Kalau engkau ingin mendengar centa lanjutannya, biarlah kita undang saja ki dalang Gunacarita ke rumah. -

- Ah ya ..... - pandang mata Niken Anggana berseri-seri. Lalu minta pembenaran kepada ki dalang: Paman mau kami panggil kerumah ? -

- Ah tentu saja dengan senang hati. - Sahut ki dalang Gunacarita dengan cepat. - Hanya saja upah tanggapannya agak mahal sedi- kit. -

- Tak apa. Berapa? -

- Untuk satu cerita dua-ringgit.-

- Satu bulan tammat ? -

- Mungkin kurang satu bulan. ,Mungkin lebih. - sahut Gunacarita dengan suara kering.

- Baik. Hitung saja tiga puluh kali. Artinya dua ringgit kali tiga puluh. Hanya enampuluh ringgit, bukan? -

- Ya. - Gunacarita ternganga. Ia hampir tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Apakah benar dara itu akan menanggapnya satu bulan penuh? - Bagus, aku mempunyai uang sendiri. Uangku sendiri. Tidak perlu minta siapapun..-

- Sekarang benar-benar Gunacarita ternganga-nganga. Ia tidak saiah tangkap lagi. Dengan terbata-bata ia berkata :

- Nona eh ndoro jeng....tetapi dimana kediaman .. -

- Anggana ! - potong Diah Windu Rini sambil menyambar lengan Niken Anggana. Dan dengan satu hentakan, ia menyeret Niken Anggana setengah berlari. Tetapi Niken Anggana tidak mau mengalah.

- Akulah nanti yang menjemput paman. - serunya.

Sebentar saja mereka bertiga sudah menghilang di balik dinding penyekat. Kemudian terdengar suara gerakan kaki kuda.

Pengurus rumah penginapan memburu meminta uang sewa. Diah Windu Rini terdengar ribut sejenak.

- Apakah kau masih merasa kurang? Kami sudah memborong tujuhpuluh minuman n makanan. Kau biarkan kami bergadang satu malam suntuk rumah penginapari inilah yang justru harus membayar kami. - bentaknya garang .

- Nona ini lain lain .- ujar pengunis. Rumah Penginapan.

- ini lain lain bagairaana ? -

- Urusan makan minum jangan disamakan urusan penginapan. Lain-lain urusannya.- Agaknya Diah Windu Rini akan menbentak lantang tetapi terdengar suara Gagak Ideran menengahi Kata pernuda itu :

- Cukup? -

- Oh, Cukup,...,.cukup. Lebih dari cukup -

Sebentar kemudian terdengar derap kuda meninggalkan halaman Rumah Penginapan. Suasana ruang tengah yang ikut menjadi tegang dapat bernafas kembali. Penghuni ruang itu seolah-olah terlepas dari suatu malapetaka. Ujar Bogel :

- Guna ! Kau tahu siapa. mereka bertiga ? -

-Bagaimana aku tahu? Rumahnya saja belurn jelas. - sahut Gunacarita.

- Hai ! Jangan-jangan mereka anak-keturunan Haria Giri. - Bogel. tertawa menggoda .

Godaan Bogel , sempat membuat wajah Gunacarita pias. Lembu Tenar dan lain-lainnya tak kecuali Ujar Bogel lagi :

- Gadis yang satu itu bersikap garang dan acuh.. Bukankah begi- tu ? -

- Tetapi yang laki-laki dan yang muda tidak. - Lembu Tenar menyumbangkan pendapatnya.

- Bagatmana menurut pendapatmu, nek? - Nenek Saminten mendeham, Lalu menjawab :

- Menurut pendapatku, mereka bukan satu ayah satu ibu. Kecuali watak, tingkah-laku dan perangainya berbeda, wajah dan pe- rawakan tubuh mereka tidak sama pula. Mungkin sekali mereka teman seperjalanan, -

Pendapat nenek Saminten memperoleh dukungan yang berada dalam ruang tengah itu. Kesan mereka terhadap Diah Windu Rini memang tidak berbeda jauh. Semenjak tiba di Rumah Penginapan, Diah Windu Rini bersikap angkuh, garang dan sengit. sewaktu Gunacarita menyinggung-nyinggurig kisah Haria Giri dan Sekar Mulatsih .

Sebaliknya, Gemak Ideran seorang pernuda berpembawaan tenang berwibawa dan pandai menyesuai kan diri. Sikapnya terlepas dari jalur cerita ki dalang yang mengajak pendengarnya terlibat di dalam nya. Dan Niken Anggana? Ah, gadis remaja itu bukan main cantiknya. la anggun, agung dan merakyat. Dialah satu-satunya di antara mereka bertiga yang ingin mendengarkan kisah Sondong Landeyan dan Haria Giri lebih banyak Lagi.

- Hm. - Kartamita menggumam seorang din. - Kalau Diah Windu Rini benar-benar anak-keturunan Haria Giro, bakal hebat Menilik watak dan perangainya, dia tidak akan mau sudah Kita semua bakal tersangkut urusan polisi. -