-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 03

Jilid 03

Sementara itu, Surapringga clan Suratenung sudah melemparkan senjata andalannya yang tidak berfungsi lagi. Berbareng dengan. aba-aba Surasekti mereka melancarkan serangan beruntun.

Tetapi, lagi-lagi pukulai Sondong Landeyan sangat aneh. Himpunan tenaga saktinya merupak*n benteng berlapis yang nada nampak. Setiap kali Surapringga dan Suratenung merangsak maju, tiba-tiba raja terpental balik. Masih syukur, mereka memiliki ilmu kebal sehingga tenaga gempuran Sondong Landeyan tidak melukai. Meskipun demikian, mereka kini tidak berani mendekat. Apalagi sampai mengadu pukulan keras melawan keras. Mereka terpaksa lari berputaran dan sekali-sekali melontarkan pukulan dari jarak jauh.

Pukulan mereka sebenarnya dapat membunuh kerbau dari jarak jauh. Narnun menghadapi Sondong Landeyan, daya saktinya macet. Sama sekali Sondong Landeyan tidak bergeming.

Selagi Sondong Landeyan diberondong serangan berantai terus- menerus, Surasekti tidak mau menyia-nyiakan waktu. Dengan bergullungain ia menghampiri Sondong Landeyan dart belakang, Sondong Landeyan terkejut.

Dengan mengerahkan tenaga ia memutar kursinya yang tinggal berkaki tiga. Pada saat itu, Surasekti menghantamkan kakinya. Tak ! - Bedebah, kau mau apa? - Sondong Landeyan menggerung.

Tetapi Surasekti sudah berhasil mematahkan kaki kursi yang kedua. Sondong Landeyan tidak hanya miring, kini bahkan ter- jengkang ke belakang. Meskipun demikian masih sempat tangan- nya menceng keram pundak Surasekti dan dilontarkan di dinding.

- Surapringga ! Suratenung ! Tolong ! - ia menjerit.

Surapringga dan Suratenung merangsak untuk menghalangi. Usahanya berhasil. Sondong Landeyan hanya dapat melukai Surasekti. Namun sebagai gantinya, rasa marahnya dilampiaskan kepada Surapringga dan Suratenung. Mereka berdua terpelanting kena gempuran pukulan Sondong Landeyan.

- Tahan dia ! - seru Surasekti yang terlempar ke luar pintu.

Dengan menahan sakit ia mengumpulkan rumput kering dan ranting-ranting yang mudah terbakar, Kemudian ditumpuk di de- pan rumah dan dibakarnya.

Penduduk desa yang menyaksikan perkelahian dari jalanan menjadi gempar. Mereka berteriak-teriak memanggil polisi desa. Teriakan mereka sambung menyarnbung :

- Kebakaran ! Kebakaran ! -

Surapringga dan Suratenung terus saja melompat menghadang di depan pintu. Dengan wajah beringas mereka mengancam siapa saja yang berani mencoba-coba memadamkan api. Kesem- patan itu diperguna kan Sekar Mulatsih untuk menolong diri .

Sambil lari sekencang-kencangnya ia menjerit-jerit :

- Tolong dia ! Tolong ! dia -

Sondong Landeyan menggeram. Namun ia tidak dapat bergerak dan kursinya Kedudukannya sangat sulit, karena ia terdengklak ke belakang. Meskipun demikian, baik Surasekti maupun Surapringga berdua, tidak berani mencoba-coba membalas. Son- dong Landeyan benar-benar gagah perkasa.

- Tebarkan api ini - perintah Surasekti. - Dia tidak bisa lari....-

Surapringga dan Suratenung adalah begal-begal berpengalaman. segera ia mengerti maksud Surasekti.

Dengan cekatan, mereka menebarkan rumput dan ranting yang terbakar. Karena dinding rumah terbuat dari bambu yang sudah tua, api menjalar dengan mudahnya. Sebentar saja, rumah itu benar-benar menja di lautan api.

Sondong Landeyan menghela nafas. Diam-diam ia mengeluh di dalam hats :

- Akhirnya aku mati di sini. -

Tiba-tiba ia mendengar suara jeritan Sekar Mulatsih. Ia menoleh. Ternyata Sekar Mulatsih sudah tidak berada di tempatnya. Ia bersyukur bukan main. Apa1agi mendengar jerit gadis itu yang memikirkan keselamatannya. Melihat api makin menjadi-jadi, ia memeriksa seluruh ruangan. Di atas tempat tidur, keris Tunggulmanik masih terpasang rapih pada dinding. Khawatir akan ikut terbakar, ia menggulingkan diri. Lalu melompat di atas tempat tidur. Ia mencoba menegakkan badannya. Ternyata tiada terhalang.

- Ah Tuhan Maha Pengasih ! - ia memanjatkan doa syukurnya.

Kemudian ia menurunkan keris Tunggulmanik dan disisipkan pada ikat pinggangnya. Setelah itu ia menunggu sampai asap menutupi dirinya Kemudian berdiri di atas sebelah kakinya. De- ngan mata tak berkedip la mengawaskan tiang rumah. Begitu roboh, ia akan menggunakannya sebagai galah peloncat.

Diluar rumah; Surasekti, Surapringga dan Suratenung saling memandang dengan rasa puas. Mereka merasa pasti, bahwa Sondong Landeyan akan mati terbakar menjadi abu Sementara itu, Sekar Mulatsih sudah berada di tengah kerumun penduduk desa dengan menangis terisak-isak.

Sekonyong-konyong terdengar suatu bentakan dahsyat dari dalam rumah. Kemudian muncullah sesosok bayangan yang me- lesat menyeberang lautan api yang membakar atap rumah. Itulah tubuh Sondong Landeyan yang terbang di udara dan kini turun mengarah kepada Surasekti dan dua saudara-seperguruannya bagaikan burung rajawali hendak menerkam mangsanya. Semua yang menyaksikan tertegun terlongong-longong. Belum pernah selama hidupnya mereka menyak sikan seseorang bisa terbang melintasi api yang membakar atap rumah. Tidak terkecuali Surasekti berti ga. Mereka kaget setengah mati. Itulah suatu peristiwa yang berada diluar perhitungannya.

Pada detik itu Pula mereka memutar tubuhnya hendak kabur. Akan tetapi sambaran Langan Sondong Landeyan lebih cepat. Tahu-tahu, tubuh mereka bertiga dilantarkan ke dalam lautan api berbareng pekik terkejut yang m enyaksikan.

Untung, mereka berkepandalan tinggi. Tubuhnya kebal dari senjata dan jilatan api. Meskipun demikian, tak wrung rambut, ku- m is dan jenggotnya terbakar juga. Dengan menjerit mereka ber- lomba keluar dari kurungan api yang sedang meruntuhkan tiang- tiang dan atap. Sewaktu keluar dari reruntuhan api, sebagian besar pakaiannya tersulut api. Terus saja mereka kabur terbirit- birit dengan berteriak-teriak seperti tiga ekor babi diuber golok.

Itulah kenangan yang sangat manis di benak Sondong Landeyan, setelah di hidup berumah tangga dengan Sekar Mulatsih. Ia membawa Sekar Mulatsih hidup sebagai petani di lereng Gunung Lawu.

Hidup sederhana, jauh dari keramaian tetapi bersuasana damai. Dua tahun kemudian, Sekar Mulatsih melahirkan seorang putera. Seorang putera yang berperawakan seperti ayahnya akan tetapi berwajah cakap seperti ibunya. Sampai disitu, Gunacarita tidak melanjutkan ceritanya. la menghirup minumannya sampai kering. Orang-orang yang berada dalam ruang tengah, tidak berani mengganggunya. Hati mereka sudah terebut oleh jalinan cerita ki dalang yang menawan. Kalau dia kini perlu membasahi kerongkongannya, tak apalah. Biarlah dia minum dan makan sepuas-puasnya.

Sementara itu, larut malam sudah tiba dengan diam-diam. Hujan yang sebentar tadi turun rintik-rintik, kini seperti tercurah membasahi bumi. Berkali-kali guntur meledak atau bergulungan sambung-menyam bung .

Namun mereka semua tidak merasa dirugikan. Kecuali berada di bawah atap rumah, suasananya hangat oleh cerita ke dalang, ditambah makanan dan minuman yang berlebih.

Karena ki dalang berhenti bercerita, keadaan ruang itu jadi sunyi. Masing-masing tenggelam dalam tanggapannya yang berbeda.

Bogel yang rupanya tidak betah memendam perasaan, membuka suara lantang :

- Kartamita, bagaimana menurut pendapatmu? Sondong Lan- deyan seorang pendekar jempolan atau tidak? -

Kartamita hendak menjawab, tetapi kedahuluan Diah Windu Rini yang mendengus tidak senang. Katanya :

- Apanya yang jempolan? Dalam suatu pertempuran, menang dan kalah adalah lumrah. - Bogel tergugu sejenak. Lalu tertawa membahak. Serunya :

- Benar Benar ! Hai, Guna ! Sekar Mulatsih cantik atau tidak? -

- Bukankah kuceritakan kecantikannya bagaikan bidadari tersesat di bumf? - sahut Gunacarita-sambil mengunyah penganan.

- Cantik mana, dia atau puteri itu? -

- Puteri yang mana? -

- Puteri yang galak itu. - ujar Bagel dengan mengisyaratkan ma- tanya.

Wajah Gunacarita berubah. Menjawab -

- Aku belum pernah melihat Sekar Mulatsih. Yang jelas, raden ajeng (maksudnya : peteri ningrat itu) itu sangat cantik. -

- Cocok. - Bogel menyetujui.

Diah Windu Rini menegakkan kepalanya. Sebenamya dia hendak mengumbar adatnya. Tetapi mengingat dia memuji kecanti- kannya, untuk kedua kalinya ia membatalkan niatnya.

- Uang, senjata mustika dan perempuan cantik memang pantas diperebutkan. Kalau perlu, darah dan jiwa taruhannya. - Bogel berkata lagi - Hei nek, bagaimana pendapatmu? -

- Aku? - si nenek menegakkan badannya. - Jangan kau kira, aku kempong reyot semenjak dulu. Jaman mudaku, akupun cantik se- perti bunga anggrek. Kau tahu aku pernah diperebutkan duapuluh satu laki-laki. -

- Duapuluh satu? - Bogel tertawa.

- Betul ! Duapuluh satu orang. Laki-laki beneran. Cuma saja, laki- laki bandotan. -

- Hohooooo ..- Bagel terkekeh-kekeh. Dan orang-orang yang

berada dalam ruang itu tertawa bergegaran. - Nek, kau dulu disebut apa? -

Nenek itu bersakit hati, karena merasa dicemoohkan. Menyahut dengan memberengut :

- Namaku sih namaku sendiri Saminten. Tapi orang-orang yang

lagi gendeng padaku, menyebut aku buah Saminten si bunga anggrek. Mengapa ? -

Bogel masih saja tertawa haha-hihi. Lalu menyanyi lagu sunda

- Saminten buah Saminten....ohooo Untung aku belum lahir.-

- Kalau lahir, kau termasuk laki-laki bandotan juga. - bentak nenek Saminten.

- Kok tahu?-

- Kenapa tidak? Suaramu, tampangmu, tingkahmu...ih..ada bakat bandot . -

- Hahaa mungkin betul. - Bogel mengalah. - Tetapi apakah

mereka bertempur juga seperti yang dialami pendekar Sondong Landeyan?- - Sampai bertempur sih...tidak. Cuma mereka kugebah pergi semua, semua, semua ! Lalu aku memilih laki-laki yang terbaik di luar yang duapuluh satu itu. Eh, masih salah juga Setelah menghisap madu sepahnya mau dibuang. Tentu saja aku tidak mau disamakan dengan batang tebu yang...yang... yang bernasib habis manis sepah dibuang. Begitulah, lalu aku kawin lagi sampai tujuh kali. Uuuh... dasar laki-laki -

Kembali lagi orang-orang tertawa geli. setelah sirap, berkatalah Kartamita :

- Ucapan nona tadi ada benarnya juga. Di tanah air ini banyak sekali terdapat pendekar-pendekar berkepandaian tinggi semacam Sondong Landeyan. Hai Guna, lalu apa alasanmu bahwa dia pantas kita sebut pendekar yang paling besar di jaman ini? -

Gunacarita meletakkan sisa penganan di atas piringnya. Lalu menjawab :

- Bogel tadi berkata, bahwa uang, senjata mustika dan wanita cantik pantas diperebutkan. Kalau perlu darah dan jiwa taruhan- nya. Apakah memang begitu? -

- Benar. - sahut Kartamita dengan tidak ragu-ragu. - Apalagi, bila wanita yang cantik jelita itu sudah menjadi miliknya.-

- Apakah raden ajeng setuju? - Gunacarita minta pendapat Diah Windu Rini. - Huh. - Diah Windu Rini mendengus. - Wanita itu bukan boneka mati. Bukan boneka yang tidak mempunyai nafas, pikir, hati dan rasa. Dia bukan semacam benda yang dapat dinilai sesuka hati lalu-laki. Kalau laki-laki mau mempertaruhkan darah danjiwanya, terserahlah. Itu coal dia. Mungkin dia mempunyai dasar alasan- nya. Wanitapun begitu juga. Maka kata-kata milik itu, perlu dijelaskan dulu.-

- Cocok ! Benar ! - teriak nenek Saminten seperti orang kalap.- Kami bukan segelintir tembakau untuk siap dipilin-pilin.-

- Siapa yang mau memilinmu - Bogel mendongkol.

-Tentu saja laki-laki. - bentak nenek Saminten dengan wajah merah padam. Lalu memaki - Dasar lelaki bangsat semua .-

- Hihooo .... - Bogel tidak bersakit hati. Dan orang-orang yang bisa memaklumi watak nenek Saminten tertawa geli pula.

- Kamipun bukan lembu perahan pula yang kau harapkan dapat memenuhi semua keinginanmu. Kami rela mengarungi hujan badai, guntur dan geledek. Akan tetapi kaum wanitapun harus tahu makna pengorbanan itu. Berilah kami sedikit -kelegaan.

Itulah cinta kasihmu yang tulus. -

- Baik. Kaupun jangan pula main gila dengan perempuan lair. - damprat nenek Saminten. - Tetapi bagaimana kalau engkau sudah melahirkan anak? Apakah engkau tidak merasa menjadi milik keluarga? - Kartamita menimbrung. Ia perlu menghentakkan suaranya, karena semenjak tadi ia tidak memperoleh kesempatan untuk menerangkan maksud nya.

- Bagus ! - nenek Saminten tertawa. - Tetapi sang bapak itupun harus merasa pula menjadi milik keluarga. Nah, itu baru adil. -

Ucapan nenek Saminten ada benarnya juga, sehingga membuat semua orang terdiam sejenak. Gagak Ideran menggunakan kesempatan itu untuk mengalihkan pembicaraan. Katanya kepada Gunacarita

- Paman, apakah engkau masih perlu tambah minuman dan makanan? -

- Oh, tidak. Rasanya sudah cukup. Entahlah lainnya. - sahut Gunacarita dengan hormat.

- Kudengar paman belum dapat meyakinkan kita, bahwa pen- dekar Sondong Landeyan adalah yang paling sakti pada jaman ini. Apakah alasan paman? -

- Karena selain berkepandaian tinggi, jiwa dan hatinya besar pula. Itulah yang kumaksudkan dengan istilah paling sakti.-

- Dalam hal apa dia pantas disebut berjiwa dan berhati besar. - - Tuan muda, ceritaku belum habis. Biarlah kulanjutkan. Mudah- mudahan hadirin sekalian dapat menyetujui pendapatku. - ujar Gunacarita. Kemudian ia memperbaiki duduknya setelah menghirup minumannya.

SEMENJAK dapat mengalahkan tiga begal sakti dari Belam- bangan, nama Sondong Landeyan menjadi pembicaraan orang. Dari berbagai jurusan, orang-orang pandai datang mengunjungi rumah untuk menguji diri. Sondong Landeyan hanya melukai me- reka semua. Tiada pernah seorangpun tewas dalam tangannya. Sebab kedatangan mereka bukan bermaksud jahat. Hanya sekedar ingin mengangkat diri menjadi seorang pendekar kenamaan.

Pada suatu hari, Sondong Landeyan mendengar kabar tentang sepak-terjang Sri Baginda Amangkurat IV yang menurut pendapatnya amat aneh. Setelah naik tahta, rupanya mewarisi beberapa watak sepupunya, Amangkurat Mas. Selain gemar membawa wanita-wanita cantik ke dalam istana, Sri Baginda mencurigai setiap orang.

Tiada seorangpun yang dipercayai. Bahkan terhadap ibunya sendiri, Ratu Pakubuwana dan saudaranya Pangeran Purbaya. Akibatnya Pangeran Purbaya lari ke Blitar bernaung di kediaman Pangeran Blitar.

Perrnaisuri raja, Mas Ayu Sumarsa, ikut serta dengan membawa dua orang puteranya : Pangeran Arya Mangkunagara dan Raden Lindhu. Sondong Landeyan jadi teringat kepada pengalamannya dulu, sewaktu Sri Baginda menghendaki Ayu Sumarsa menjadi isteri- nya. Menurut Sri Baginda, Ayu Sumarsa memiliki cahaya nares- wari. Mengapa kini disia-siakan? Dia sendiri keluar dari pekerjaannya karena tidak setuju terhadap sikap raja. Namun tidak pernah terlintas dalam benaknya, bahwa pada suatu kali Ayu Sumarsa sampai harus keluar dari istana.

Tentunya dia menderita. Padahal dia seorang wanita yang setia, berbakti dan penurut. Ah, pasti ada suatu masalah yang menya- kitkan hati permaisuri sehingga memilih hidup di Blitar bersama kedua puteranya. - pikir Sondong Landeyan. Karena ia tidak pan- dai membaca apa yang terjadi di belakang layar, maka diputuskan hendak mengunjungi perrnaisuri Ayu Sumarsa di Blitar.

- Bagaimana kalau orang-orang datang mencarimu? - Sekar Mulatsih cemas.

- Mereka hanya mencariku. Katakan saja, aku tidak ada di rumah.

- jawab Sondong Landeyan yang selamanya tidak pandai ber- bicara berkepanjangan.

Di dalam hati, sebenarnya Sekar Mulatsih tidak senang menjadi isteri seorang pendekar. Selama hidup lima tahun dengan Son- dong Landeyan, hatinya tidak pernah tenteram. Orang-orang da- tang silih berganti mengadu berbagai kepandaian. Ada yang membawa tombak, pedang, golok, penggada, tongkat, cempuling, keris, rantai dan senjata andalanya masing-masing yang aneh- aneh.

Tetapi ada pula yang datang hanya untuk mempersoalkan beberapa masalah ilmu kepandaian. Mengapa tiada seorangpun yang membicarakan perkara kesenian, kesusasteraan, penghayatan ke Tuhanan atau hasil budaya lainnya yang sejenis? Apakah isi dunia ini hanya dipenuhi ilmu bunuh membunuh semata? Celakanya, Sondong Landeyan tidak dapat dibawa berbicara mengenai bidang lainnya.

Terus terang saja, ia merasa sebal dan muak. Kalau saja tidak teringat si kecil Pitrang, ingin saja ia memperpendek umur. Sebab kalau mau Iari, lari ke mana? Dunia yang luas ini terasa sempit baginya. Alangkah buruk nasib anak seorang pemberontak. Kalau raja tidak dilindungi Sondong Landeyan, pada saat itu ia sudah tidak berjiwa lagi. Hal itu pulalah yang menjadi pertimbangan hatinya untuk bersikap diam dan menurut.

Sondong Landeyan sebaliknya juga tidak dapat terlalu disalah- kan. Menurut pengertiannya yang sederhana, ia sudah menjadi seorang suami yang baik. la menerima semua tantangan jago- jago demi martabat. Martabatnya berarti pula menaikkan derajat keluarganya. la ikut pula mengasuh si kecil Pitrang. Memandikan, menyuapi, kadangkala menggendongnya. Bedanya, ibunya dapat menggendong si kecil dengan menyanyi dan membujuknya.

Kalau dia hanya pandai mendesis : ssst...ssst.. kaya ular menyembur katak buduk. Habis, seumur itu tidak pernah ia mengenal nyanyian merdu satu baitpun. Dan bila si kecil sedang rewel, ia membawanya lari berlompatan di atas batu-batu jurang Entah karena apa, si kecil lantas berhenti menangis kemudian tidur nyenyak. Mungkin karena terbuai angin pegunungan yang mengipasinya oleh gaya lari ayahnya.

Bukankah dia sudah menjadi seorang bapak dan suami yang baik?

Tidak pernah ia tertarik kepada wanita lain, kecuali isterinya sendiri. Melirikpun tidak pernah , Karena itu sepanjang jalan, pan- dang matanya tetap terpancang ke depan. Dengan hanya menyelipkan keris Kyahi Tunggulmanik di balik bajunya, ia membedalkan kudanya mengarah ke timur . Pada suatu malam, ia terpaksa menginap di sebuah bangunan Kelenteng kuno yang rusak oleh peperangan. Kudanya ditambatkan pada sebuah tiang ruang belakang. Pikirnya, seumpama hujan turun, kudanya tidak akan basah kuyup.

Memang ruang belakang berhalaman luas. Tempat ia mene- duhkan kudanya terlindung oleh beberapa dinding sekatan, hingga tidak segera diketahui orang. Bahkan suara gerakan bina- tang itupun, tidak mudah terdengar oleh pendengaran lumrah.

Halaman kelenteng (rumah pujaan) yang agaknya sudah cukup lama tidak terawat, dilebati oleh rerumputan. Hal ini menolong Sondong Landeyan memberi makan kudanya. Segera ia mengumpulkan rerumputan yang masih segar bugar. Dan setelah dibawa de depan kudanya, dengan langkah damai ia memasuki ruang tengah rumah pujaan itu. Tiba-tiba pendenga rannya yang tajam mendengar sesuatu. Ia melongokkan kepalanya dan melihat sepasang muda-mudi memasuki halaman kelenteng.

- Mereka kakak-beradik atau sepasang kekasih yang minggat dari rumah? - ia berpikir di dalam hati. Segera ia mundur ke sudut dan memperhatikan mereka.

Muda-mudi yang datang itu berumur kira-kira duapuluh satu tahun , Mungkin sekali sang pemuda lebih tua sedikit daripada sang gadis. Masing-masing membekal senjata. Yang laki-laki sebatang golok dan yang perempuan sebatang pedang panjang.

- Adik, marl kita berteduh sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. - kata sang pemuda. - Aku tadi sempat menjebol sebatang ketela. Bukankah lebih nyaman kita bakar di bawah atap daripada di tepi jalan? -

Sang gadis tertawa merdu. Menyahut :

- Kakang Wigagu Apakah kakang pernah memasuki rumah kelenteng? . -

- Mengapa? Apakah kau takut hantu? - Wigagu tertawa melalui hidungnya.

Lalu dengan tekun ia membuat api perdiangan Setelah itu ia mengeluarkan empat batang ketela (singkong) dan ditaruh diatas dua batang kayu bakar yang dilintangkan. Gadis itu, yang bernama Sukesi, duduk di sampingnya. Ia menjelajahkan pandang matanya seakan-akan sedang memeriksa seluruh ruangan serambi depan. Kemudian beralih menembus kegelapan halaman depan. Ia tertawa perlahan.

Tertawa geli yang disembunyikan di batik giginya. Berkata menggelitik :

- Tanganmu memang tidak hanya cekatan menggerakan golok, tapipun pandai mencabut ketela orang dan berjalan sambil me- nyambar ranting-ranting patah.

- Ketela orang? -

- Ya. -

- Mana orangnya? Ketela ini tumbuh di atas ladang liar. Kukira sudah lama ditinggalkan pemiliknya.-

- Nah, bukankah benar ketela orang? Kakang menyebut pemiliknya. Artinya, pemah ditanam orang. -

Wigagu tergugu sejenak. Tiba-tiba ia berdiri tegak dan mem- bungkuk tiga kali ke arah utara sambil berkomat-kamit :

- Paman atau kakek yang menanam ketela ini, aku Wigagu mo- hon maaf. Karena terdorong perut lapar, aku memerlukan seba- tang ketelamu. Boleh, kan? -

Sukesi tertawa geli. Sondong Landeyan yang pendiam ikut Pula tertawa geli dalam hatinya. Pikirnya, pemuda itu kocak juga. Te- tapi selanjutnya ia terkejut sewaktu mendengar pembicaraan me- reka berdua. Kata Sukesi : - Kakang Wigagu, biasanya dalam ruang kelenteng terpasang gambar tiga orang pahlawan jaman Sam Kok. Kalau tidak salah namanya - Kwan Kong, Lauw Pi dan Thio Hui. Kabarnya, Kwan Kong sering menampakkan diri. Kau benar-benar tidak takut? -

- Sukesi - sahut Wigagu dengan suara mantap. - Cita-cita hidupku ingin menjadi seorang Sondong Landeyan. Karena itu, aku bekerja untuk baginda. Sekarang, aku diperintahkan untuk men- jemput permaisuri baginda dan Pangeran Arya Mangkunagara.

Aku ditugaskan mendahului berjalan di depan. Kalau aku manu- sia yang takut hantu, masakan aku cukup berharga mempunyai cita-cita menjadi seorang Sondong Ländeyan? -

Sukesi tertawa melalui dadanya. Lalu menggelitik :

- Rupanya engkau tergila-gila kepada tokoh Sondong Landeyan.-

- Memang. - jawab Wigagu dengan tegas. - Kau tahu apa arti Sondong? Sondong artinya jago.Landeyan artinya batang peno- pang sebilah tombak.-

- Apa sih hebatnya tokoh Sondong Landeyan? . -

Arti namanya saja sudah jelas. Selain berkepandaian tinggi, hatinya jujur, tulus lempeng seperti landeyan (Landeyan batang sebilah tombak). Karena itu, sudah selayaknya dia menjadi pengawal raja. Raja ibarat tombaknya. Dan Sondong Landeyan ibarat batang tombaknya. Tombak boleh tajam. Boleh ampuh. Tetapi tanpa batang penyangganya, daya gunanya akan terbatas. Itulah sebabnya, begitu Sri Baginda kehilangan Sondong Landeyan terjadilah pemberontakan-pemberontakan yang menyedihkan. Seumpama Sondong Landeyan masih menjadi andalah Sri Baginda, mustahil Pangeran Purbaya, Pangeran Blitar mengangkat senjata. Untung saja masih terdapat seorang Haria Giri yang pandai berbicara. Kalau tidak, mustahil Pangeran Arya Mangkunegara, bunda ratu dan Raden Lindhu berkenan kembali ke kotaraja. -

- Dan kau ingin menjadi seorang Sondong Landeyan. - tungkas Sukesi.

- ya.-

- Tentunya engkau harus membenci perempuan, bukan? -

- Eh - Wigagu tergugu sedetik dua detik. - Memang aku bukan Haria Giri yang pandai menggunakan setiap kesempatan. Kau sendiri mau berangkat ke Kartasura bukankah ingin bertemu orang-orang semacam Haria Giri.-

- Hai ! Kau berkata apa? - Sukesi melompat berdiri.

- Hm... - Wigagu mendengus. Lalu tertawa melalui hidungnya.- Mungkin berangan-angan menjadi salah seorang selir (Selir isteri seorang raja, bukan permaisuri) raja. -

Sreng ! Sukesi menghunus pedangnya dan terus menikam. Tikaman itu tenth saja berada diluar dugaan Wigagu. Untung, masih dapat ia mengelak dengan menggulingkan diri. Lalu dengan sebat ia menghunus goloknya. Bentaknya galak : - Kau kira aku bukan Seorang Sondong Landeyan sejati? Seo- rang Sondong bilang satu adalah satu. Tidak akan pernah ia menarik ucapannya. -

Sukesi rupanya merasa sangat tersinggung. Terus saja ia me- nyerang dengan sungguh-sungguh. Wigagu juga tidak sudi mengalah. Ia melayani dengan goloknya. Sebentar saja mereka bergebrak belasan jurus. Ketela yang berada di atas perapian mulai menebarkan bau hangus. Namun mereka berdua sudah tidak tertarik lagi.

Menyaksikan mereka bertempur dengan sungguh-sungguh, Sondong Landeyan jadi terheran-heran.

Mengapa mereka bertempur tak keruan-keruan? Ah, kedua- duanya sama-sama seperti bayi belum hilang pupuk ubun- ubunnya. Masing-masing mudah tersinggung. Mungkin pula masing-masing mempunyai angan-angan dan mimpi indah. Tetapi mengapa nama Haria Giri dibawa-bawa sebagai perbandingan dengan dirinya?

Sukesi benar-benar berkelahi dengan penuh semangat dan dendam. Namun Wigagu calon Sondong Landeyan kedua, tidak mau mengalah pula. Diapun menangkis dan membalas menye- rang dengan tidak segan-segan. Goloknya menabas dan menyabet dengan curahan tenaga. Menilik gerakan-gerakan senjatanya, mereka bukan seperguruan. Masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahannya. Suatu kali, Sukesi maju menetjang. Kakinya menendang onggokan perapian. Seketika itu juga, perapian bertebaran. Dan dalam ruang serambi kelenteng itu menjadi gelap-gulita.

Kemudian terdengar langkah kaki meninggalkan halaman kelen- teng. Wigagu mengeluh. Dan suasana kelenten,g jadi sunyi kembali.

Sondong Landeyan tersenyum. Ilmu pedang Sukesi lebih tinggi sedikit daripada Wigagu. Tetapi Wigagu menang tenaga, sehingga dalam suatu pertempuran yang panjang Sukesi akan dapat dikalahkan. Syukur, Sukesi bisa berpikir panjang. Meskipun hatinya mendongkol, ia pandai membaca kenyataan. Pada saat itu ia maju menerjang untuk memadamkan api. Lalu kabur secepat-cepatnya meninggalkan kelenteng.

- Hm. - terdengar Wigagu menggerendeng seorang diri. - Men- gapa dia tidak menggunakan kesempatan menikamkan pedangnya sewaktu api padam? Celaka Aku berangan-angan menjadi seorang Sondong Landeyan. Tetapi aku kehilangan pengamatan sedetik dua detik oleh padamnya api. Apakah -

Sambil memasukkan goloknya ke dalam sarungnya, ia mengumpulkan tebaran api yang sudah jadi bara dengan sebelah Kakinya. Lalu mencoba menyalakannya kembali. Setelah bebe- rapa kali meniupkan nafasnya yang masih memburu, ia berhasil menyalakannya kembali. Kemudian duduk menghempaskan diri dengan kepala kosong. Mulutnya berkomat-kamit kembali ter- dengar di berkata tak jelas : - Tak salah Ia sengaja tidak bermaksud mencelakai diriku. Ah, aku yang berangan-angan menjadi seorang Sondong Landeyan, masakan sampai diampuni jiwaku oleh seorang perempuan? -

Memperoleh kesimpulan demikian, ia mundur dan bersandar pada dinding dengan wajah putus asa. Ia mengeluh dua kali, lalu berkata lagi :

- Ya, kalau dipikir aku cuma menggodanya. Alasan untuk marah dan hendak membunuh diriku dengan sungguh-sungguh, me- mang kurang kuat. Kalau begitu .... kalau begitu , ia

bermaksud baik. Ia hanya ingin menguji kepandaianku dan menyadarkan diriku. Tetap ..... tetapi aku memang ingin

menjadi seorang laki-laki setangguh Sondong Landeyan. Apa salahku? Apa salahku? Seorang Sondong Landeyan, memang harus belajar membenci perempuan ! Mestinya dia harus tahu !

.... -

Seorang Sondong Landeyan harus belajar membenci perempuan? Sondong Landeyan menirukan ucapan Wigagu dalam hatinya. Celaka Sikapnya yang dingin dan tidak pandai berbicara ditafsirkan salah oleh pars angkatan muda. Tetapi kalau ditimbarigtimbang dengan saksama, ucapan pemuda itu tidak terlalu salah. Memang selama ini ia tidak pernah tertarik kepada perempuan macam apapun, kecuali Sekar Mulatsih seorang.

Apakah salah?

Sementara itu, Wigagu sudah berdiri lagi mencari ketela bakar- nya. Rupanya ia merasa lapar. Setelah menemukan ketela bakar- nya yang tertebar oleh tendangan Sukesi, ia duduk kembali sambil menggera gotinya dengan nikmat. Selagi demikian, sekonyong-konyong terdengar langkah kaki di halaman depan. Wigagu melompat berdiri dan melongokkan kepalanya.

- Apakah Sukesi balik kembali? - ia menduga-duga.

Ternyata bukan dia. Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang berperawakan tinggi kurus masuk ke halaman kelenteng de- ngan membimbing seorang perempuan muda berusia tigapuluh tahun. Wigagu kenal siapakah laki-laki itu. Dialah Sarayuda salah seorang anggauta utusan raja untuk menjemput pulangnya Ratu Sumarsa, Pangeran Arya Mangkunagara dan Raden Lindhu.

Cepat-cepat Wigagu meletakkan goloknya di atas lantai memipit dinding. Lalu keluar pintu hendak menyambut. Ia terkejut setelah melihat tangan Sarayuda. Sehelai kain mengikat tangan kanan- nya pada lehernya. Sedang yang perempuan berjalan terpincang pincang. Tak usah dijelaskan lagi, mereka berdua menderita luka dan pakaiannya basah kuyup.

- Paman Apakah paman kehujanan? - tegur Wigagu dengan ramah.

Sarayuda menatapkan pandangnya kepada Wigagu. Lalu berkata kepada wanita itu :

- Coba periksa ruangan dalam - Wanita itu mengiakan. Dan pada saat itu, Wigagu berkata lagi :

- Paman Aku Wigagu. Aku sudah berada disini beberapa waktu yang lalu. Sepi, tiada orang. Kecuali aku dan .... -

- Hm. - Sarayuda memotong dengan dengusnya. - Apakah engkau tidak mencium bau kuda? -

Mendengar kata-kata Sarayuda, Wigagu kini bercelingukan. Katanya lagi :

- Bau kuda? Semenjak tadi tak ada orang. Mungkin sekali, seseorang yang menunggang kuda singgah kemari sore hari tadi. Sewaktu aku datang, tiada siapapun. -

Sarayuda mau percaya. Ia membatalkan perintahnya kepada wanita disampingnya. Berkata memperkenalkan :

- Inilah bibimu. -

- Bibi....eh maksud paman isteri paman? - Wigagu menegas.

- Ya, tentu saja. Kalau bukan isteriku masakan kubawa-bawa? - Sarayuda setengah membentak.

Tetapi pandang mata Wigagu mengabarkan kesan tak senang. Sebab sebagai seorang Sondong Landeyan, menurut pendapatnya tidak boleh terlalu terbuka menerima kehadiran seorang perempuan. Apalagi, perempuan itu pantas menjadi anak Sarayuda. Rupanya pandang mata Wigagu membuat Sarayuda jadi perasa. Ia perlu memberi keterangan. Katanya :

- Dialah isteri sambungan. Memang berbeda umur. Katakan terpaut jauh. Tetapi kalau memang sudah jodoh, apa yang bakal tidak mungkin? Jodoh di tangan Tuhan. -

Wigagu tidak melayani. Ia membalikkan badannya. Kemudian kembali menggeragoti ketela bakarnya dengan duduk menjauh. Sarayuda merenunginya sejenak. Setelah itu bersikap tidak mengambil pusing.

Dengan setengah membanting dirinya, ia duduk bersandar pada meja sembahyang. Dengan melepaskan nafas lega, ia memejamkan kedua matanya. Nampak benar, ia perlu beristirahat.

Perlahan-lahan lantai jadi basah oleh air bersemu merah yang menetes dari pakaiannya. Memang di luar kelenteng turun hujan gerimis. Tetapi menilik betapa basah pakaian yang dikenakannya, tentunya hujan cukup deras di seberang jauh. Namun isterinya ti- dak menghiraukan diri. Dengan manis dan tenteram ia menyan- darkan kepalanya di atas dada suaminya. Sungguh mesra kesan- nya, meskipun usia suarni-isteri itu tidak sebanding.

Sondong Landeyan yang menyaksikan semua yang terjadi di depan matanya, dapat menerima kehadiran suami isteri Sarayuda. Ia justru gelisah terhadap sepak-terjang Wigagu yang memperagakan sebagai dirinya. Benarkah sikap hidupnya seperti yang diperagakan pemuda itu? Ia terlongong-longong beberapa saat lamanya. Kemudian beralih memperhatikan Sarayuda.

Sebagai seorang pendekar tanpa tanding, dengan sekilas pandang tahulah ia, bahwa kepandaian Sarayuda tidak rendah. Mungkin terrnasuk seorang pendekar yang jarang tandingannya. Tetapi mengapa dia menderita begitu rupa? Siapakah lawannya?

- Hm. - ia memikirkan Wigagu. - Kalau bocah itu tidak tahu diri, celakalah hidupnya.-

Tiba-tiba ia mendengar suara derap kuda dari kejauhan. Hampir berbareng dengan itu, Sarayuda meloncat bangun dan mencabut senjata dari pinggangnya Senjatanya ternyata sebatang tombak pendek yang diberi rantai.

- Lastri ! - ia berkata setengah berbisik kepada isterinya. - Kau lari dulu secepat-cepatnya Aku akan menahan mereka di sini. -

Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang panjangnya kira-kira duapuluh lima senti dan mengangsur- kannya kepada isterinya. - Bawalah kepadanya ! - ia berbisik.

Isterinya yang sesungguhnya bernama Sulastri menolak angsuran suaminya. Katanya :

- Tidak Kalau kita harus mati, biarlah kita mati bersama-sama. Mendengar ujar isterinya, wajah Sarayuda berubah menjadi bengis. Bentaknya : - Mulai dari Tulungagung kita bertempur dan terluka. Untuk apa semuanya ini? Bila maksud kits gagal, aku akan mati menjadi setan. Maka pergilah demi ketenteraman hatiku Aku akan mela- wan mereka di sini.

-

Namun Sulastri tetap enggan meninggalkan suaminya. nangis terisak. Lalu berkata patah-patah :

- Kakang Semenjak menjadi isterimu, aku tidak pernah mem- peroleh kesempatan untuk melayanimu dengan semestinya. Ma- sakan...justru...pada saat begini kita harus berpisah dengan

cara Tidak !

Biarlah aku ikut mati pula. -

Sarayuda membanting kakinya seraya membentak :

- Lastri, dengarkan permohonanku ini. Aku memohon. Benar-- benar memohon. Bila engkau dapat membawa barang ini kepadanya, jasamu jauh lebih besar daripada kematianmu untukku. -

Setelah membentak demikian, ia mendorong isterinya dan memerintah dengan suara bingung :

- pergi ! Pergi, sayang ! -

Menyaksikan betapa besar rasa cinta Sulastri kepada Sarayuda, tergugahlah keperwiraan Sondong Landeyan. Ia jadi teringat kepada pengalamannya sendiri. Dulu.. diapun terluka sewaktu bertemu dengan Sekar Mulatsih. Dan Sekar Mulatsih yang kini sudah menjadi isterinya, tidak mau beranjak dari tempatnya, tatkala ia bertempur melawan Surasekti bertiga. Sebenarnya siapakah lawan Sarayuda, pikirnya menebak-nebak.

Beberapa saat kemudian, terdengar derap kaki tiga ekor kuda berhenti di depan kelenteng. Dua berhenti di depan pintu masuk, sedang yang satu memutar ke serambi belakang.

- Aduh, Lastri - Sarayuda mengeluh dengan sacra putus asa. - Kita. sudah terkepung. Dua di depan dan satu di belakang. Tak ada jalan keluar lagi. -

Dengan wajah bingung, Sulastri memutar pandang ke seluruh ruang dalam. Setelah itu ia membirnbing suaminya dan naik ke atas tempat patung. Dengan pandang mata memohon ia menga- waskan Wigagu dan memberi isyarat gerakan tangan agar pemuda itu tidak membuka rahasia. Kemudian bersama suaminya ia bersembunyi di belakang patung.

Dua orang memasuki serambi kelenteng. Melihat seorang pe- muda berada di perapian, mereka berhenti.

Wigagu sendiri bersikap dingin dan tidak pedulian. Dengan sikap wajar, ia terus menggeragoti ketela bakarnya. Pemuda yang membayangkan dirinya sebagai Sondong Landeyan, merasa perlu bersikap seperti Sondong Landeyan sejati. Harus tenang. Harus dingin, tetapi berwaspada. Akan tetapi begitu melihat wajah mereka berdua, tengkuknya meremang.

Betapa tidak. Kedua orang itu mengenakan baju hujan yang terbuat dari kain minyak buatan kompeni Belanda. Wajahnya buruk luar biasa. Ails mereka turun, matanya berbentuk segi tiga. Sebelah kiri besar dan lainnya kecil sempit. Hidungriya besar melebar seperti hidung kerbau. Mulutnya lebar dihiasi kumis panjang yang runtuh melengkung nyaris menutupi kedua bibirnya.

Mereka mengerlingkan matanya kepada Wigagu, lalu memasuki ruang dalam. Setelah memeriksa sampai ke ruang belakang, mereka keluar lagi memasuki ruang dalam. Sondong Landeyan yang perkasa sudah dapat menduga sebelumnya. Dengan gesit ia melompat ke langit-langit atap dan bersembunyi di baliknya. Suasana dalam ruang itu gelap pekat Lagipula ia teraling langit- langit Dengan begitu, ia lolos dari penglihatan mereka.

Sekonyong-konyong sesosok tubuh melayang masuk dari ruang dalam. Dengan ringan ia mendarat di depan kedua. rekannya.

Tadi, sewaktu kedua temannya memeriksa ruang bagian dalam, ia menjelajah halaman kelenteng dan menemukan kuda Sondong Landeyan. Karena itu, ia segera balik dan menegor Wigagu.

Bentaknya dengan suara melengking :

- Kudamu? -

Wigagu tercengang sejenak tetapi ternyata ia bisa berpikir cerdik, Dengan membawa sikapnya yang acuh tak acuh, ia menyahut : - Kuda yang mana? -

- Di belakang. -

Sebenamya di dalam hati, Wigagu heran setengah mati. Kalau begitu rasa curiga Sarayuda sebentar tadi beralasan. Dia sendirilah yang kurang cermat sehingga berani menjamin bahwa selama berada dalam ruang kelenteng hanya dia seorang.

Sekarang orang itu, bahkan menemukan seekor kuda yang mungkin ditambat di halaman belakang. Kuda siapa? Tetapi mengingat dia harus melindungi Sarayuda dan isterinya, ia tidak mau memperpanjang percakapan. Lantas saja ia mengangguk.

Syukur, orang itu mau percaya. Dengan berdiam diri ia me- nanggalkan baju hujannya yang segera diikuti kedua rekannya. Wigagu terperanjat. Temyata mereka bertiga membekal senjata yang aneh bentuknya. Sebuah roda bergigi, perisai dan senjata pendek mirip tongkat tetapi tipis. Mungkin sekali sebatang pedang berlipat.

- Kakang ! - ujar orang yang menemukan kuda Sondong Lan- deyan. - Mereka berdua sudah kulukai. Mereka tidak mempunyai kuda tunggangan. Mestinya, tidak mungkin dapat melarikan diri secepat angin. Sekitar kuil ini tidak terdapat rumah, Mustahil, me- reka bersembunyi di balik belukar di tengah hujan. Lalu ke mana

? -

- Mungkin di goa atau benar-benar nekat bersembunyi di balik belukar. - jawab yang paling tua. Kalau mereka_berani bersembunyi di tengah hujan, kitapun jangan segan-segan untuk mengadukaduk belukar sekitar kuil ini. Tetapi kita harus berhati-hati, karena kulihat lukanya tidak berat. -

()rang kedua memutar badannya menghadap pintu. Tiba-tiba berpaling kepada Wigagu. Tanyanya setengah membentak :

- Hai ! Kau melihat seorang laki-laki tua dan seorang perempuan muda? -

Wigagu sedang berlagak menelan ketela bakarnya yang telah dikunyahnya lembut Mendengar pertanyaannya, ia

menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu kembali kepada sikapnya yang acuh.

Sementara itu, yang paling tua kembali memeriksa seluruh ruang dalam dengan pandang matanya yang tajam. Tiba-tiba matanya yang berpengalaman melihat sesuatu yang membangunkan rasa curiganya. Di sana-sini bertebaran bara api yang telah menjadi arang. Nampak pula beberapa telapak kaki sampai ke serambi depan. Segera ia mengamati dengan lebih cermat. Sekarang ia membungkuki lantai dan melihat tapak-tapak kaki yang masih basah.

Sondong Landeyan yang bersembunyi di balik langit-langit atap tahu, bahwa rasa curiga orang itu beralasan. Rupanya Wigagu demikian pula. Dengan cepat ia mendahului sebelum orang itu membuka mulutnya. Katanya memberi keterangan : - Sebentar tadi ada beberapa orang yang bertempur di sini Me- reka terdiri dari laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Setelah bertempur beberapa waktu lamanya, sebagian melarikan diri dan yang lain segera mengubarnya. Mereka semua menunggang kuda. Tetapi yang sempat naik kuda hanya seorang.-

- Siapa yang kau maksudkan seorang itu? -

- Siapa tahu? - sahut Wigagu dengan suara tinggi. - Rom- bongannya yang berkuda berada jauh di sana. Hanya dia seorang yang memasuki halaman kelenteng ini. -

Dengan membawa beberapa potong kayu yang menyala, yang paling muda segera memeriksa halaman kelenteng. Benar saja, dia hanya menemukan tapak kaki seekor kuda. Itulah kuda Sondong Landeyan. Lalu tapak-tapak kaki kuda mereka bertiga. Karena itu, hilanglah kesangsiannya terhadap Wigagu.

- Ke jurusan mana mereka saling mengubar? - ia merasa perlu untuk meyakinkan diri.

- Yang kulihat mereka keluar halaman ini. Aku sendiri bersem- bunyi di belakang dengan kudaku. Karena itu arah mana mereka berkejar-kejaran hanya setan yang tahu. -

Di dalam hati , Sondong Landeyan memuji kecerdikan Wigagu. Tiba-tiba terdengar orang kedua membentak :

- Hai Mengapa kau membawa-bawa golok? - - Golok? Eh...tentu saja. Jaman sekarang banyak begat banyak perampok. Masakan aku tidak boleh membawa-bawa golok untuk menjaga diri? - sahut Wigagu.

- Kau bisa menggunakan golok?

- Mengapa tidak? - Wigagu tersinggung.

Pada saat itu tiba-tiba muncul Sukesi di pintu serarnbi. Gadis itu lantas saja menimbrung

- Dia. Sondong Landeyan. Masakan tidak tahu? -

Mendengar Suara Sukesi, semua yang berada dalam kelenteng terkejut dengan alasannya masing-masing. Sarayuda dan isterinya yang bersembunyi di balik patung merasa seperti terpukul martil.

Kalau begitu, selama mereka berdua berbicara dengan Wigagu, gadis itu pasti sudah berada di dalam kuil. Tetapi entah bersembunyi di mama. Mustahil dia berada di luar kuil kemudian masuk ke dalam dengan tanpa terdengar langkahnya. Celaka Kalau dia sampai membuka rahasia berada nya di dalam kuil, mereka bakal menjadi mayat.

Sebaliknya ketiga orang yang rnengubarnya, mempunyai alasan lain yang tidak kurang mengejut kan hatinya. Mereka merasa berkepandaian tinggi dan cukup cermat. Meskipun demikian, ha- dirnya gadis itu di luar pengamatan mereka. Diapun menyebut-- nyebut nama Sondong Landeyan.

Apakah maksudnya ?

Sondong Landeyan bagi mereka bertiga merupakan momok yang menakutkan. Jangan-jangan Tetapi beberapa saat kemudian

mereka terhibur tatkala menyaksikan tindakan Wigagu terhadap gadis itu.

Bentak Wigagu sambil menghunus goloknya :

- Kalau aku memang Sondong Landeyan kau mau apa? -

- Hm, melawan diriku saja kau tak mampu.- Mengapa berlagak menjadi seorang Sondong Landeyan.

- Kurang ajar ! - wigagu benar-benar merasa tersinggung, karena dirinya merasa di ejek di depan orang banyak.

Terus saja ia melompat menerjang dengan membabatkan goloknya. Sukesi sudah bersiaga. Dengan tangkas ia menangkis. Kemudian melayani amukan Wigagu dengan mundur selangkah demi selangkah. Akhirnya mereka berdua bertempur di luar kelenteng. Lalu saling mengejar dan lambatlaun suara mereka berdua hilang dari pendengaran.

Ketiga orang itu saling memandang dengan berdiam dirt Tibatiba yang termuda berkata seperti kepada dirinya sendiri : - Sondong Landeyan... apakah dia berada di sekitar tempat ini ? -

Yang tertua tidak menyahut. la mengenakan baju hujannya kembali yang segera diturut oleh kedua. temannya. Lalu berjalan ke luar sambil berkata tidak jelas :

- Sebelum bertemu, kita perlu menguji diri dulu kepadanya. -

- Kau maksudkan Haria Giri - yang kedua menegas.

- Menurut kabar, dia sahabatnya dan sama-sama bekerja sebagai pengawal raja. Kalau kita bisa mengalahkan, barulah kita berani berangan-angan untuk mencoba sekali lagi kepandaian Sondong Landeyan. Pada saat itu, matipun aku puas.-

- Tetapi racun itu hebat luar biasa.- ujar yang termuda. - Me- nangpun, rasanya kurang tepat untuk menjadi ukuran.-

- Betul. Karena itu kita harus mendahului setan itu. - yang tertua membenarkan sambil melompat ke atas punggung kudanya.

- Bagaimana kalau tidak keburu? - yang kedua menegas.

- Paling tidak, kita bisa mengisikinya dulu.-

- Hm, belum tentu dia percaya. - ujar yang termuda.

Mereka saling mengemukakan pendapatnya, akan tetapi kata-- kata mereka tidak terdengar jelas lagi, karena sudah berada di luar kelenteng. Mereka mengarah ke tenggara. Sondong Landeyan yang berada di balik langit-langit kelenteng menyenak nafas. Semenjak mula, ia tahu siapa mereka bertiga. Merekalah Surasekti, Surapringga dan Suratenung. Setelah ter- lempar ke lautan api, mereka dapat meloloskan diri. Seluruh tubuhnya selamat, kecuali bagian wajahnya.

Ternyata ilmu kebalnya tidak dapat melindungi kedua kelopak matanya, alis dan kurnisnya. Mereka kini tidak berjenggot lagi. Sebagai gantinya ia membiarkan kumisnya melengkung runtuh nyaris menutupi mulutnya.

Sedang bentuk matanya jadi berubah, karena ada sebagian pelu- puknya yang terbakar. Ada yang nampak menjadi lebih besar pu- la yang jadi menyempit Kesan wajahnya menakutkan seperti setan jelek. Semuanya itu hanya dilihatnya dengan sepintas.

Yang menarik dan mengejutkan hatinya, yalah tatkala mereka membicarakan dan menyebut-nyebut nama Hada Giri.

Haria Giri memang sahabatnya. Menurut kesan pembicaraan Wigagu dan Sukesi, ia berada di tengah perjalanan. Kalau sampai terhadang mereka bertiga untuk dibuatnya sebagai kelinci percobaan, sungguh berbahaya. Sebab mereka bertiga tidak hanya berkepandaian tinggi dan kebal, tetapi memiliki racun istimewa pula. Dia sendiri pernah mengalami getahnya.

Selagi is sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ia mendengar suara Sarayuda berbicara dengan isterinya. Katanya : - Hai, hebat juga anak itu. Dia pandai bermain sandiwara. Dia tidak hanya bisa mengelabui ketiga setan itu saja, tetapi mengingusi kita juga.-

- Maksudmu dengan munculnya gadis itu ? - isterinya minta ke- terangan.

- Benar. - Sarayuda menyahut dengan menghela nafas. - Syukur, anak itu masih bisa dipercaya. Dia tidak membiarkan gadis itu berbicara Bukankah dia seorang anak yang sudah pandai berpikir

? Dikemudian hari, mungkin sekali ia menjadi seorang pendekar yang harus diperhitungkan lawan. -

Isterinya tidak segera menyahut seakan-akan ada yang meng- ganggu pikirannya. Beberapa saat kemudian berkata minta pembenaran :

- Setan tadi menyebut-nyebut tentang racun yang berbahaya.Apakah yang dimaksudkan bungkusan ini ? -

- Sst Jangan keras-keras Kau masih ingat tentang kuda yang diketemukan setan itu di belakang kuil? -

- Apakah pemiliknya berada di antara kita ? - isterinya menegas dengan suara berbisik.

Sarayuda tidak menjawab. Tetapi ia berbicara kepada dirinya sendiri. Katanya penuh semangat : - Bungkusan ini memang milik mereka. Akulah yang mencurinya. Sebaliknya kalau sampai tidak dapat kupersembahkan kepada tuanku Haria Giri, lebih baik aku bunuh diri. -

Sondong Landeyan kini dapat menangkap enam bagian masalah yang sedang berlaku di depan matanya. Rupanya Surasekti ber- tiga hendak membalas dendam kepadanya. Tetapi di tengah jalan, racunnya dicuri Sarayuda. Segera mereka mengejarnya.

Tentunya dengan tujuan ingin merampas nya kembali untuk kelak dapat dipergunakan meracun dirinya. Mernikir demikian, segera ia mengambil keputusan. Ia harus menguntit perjalanan Surasekti bertiga. Syukur ia dapat mencegah maksudnya hendak memu- suhi Haria Giri.

Dengan menggunakan ilmu saktinya yang tinggi, ia turun kelantai tanpa suara. Lalu menyusup ke belakang untuk mengambil kudanya. Setelah memasang pelananya, ia menuntunnya ke luar halaman kelenteng melalui dinding yang roboh sebagian. Selan- jutnya ia mengejar Surasekti bertiga mengarah ke tenggara.

Sedang berjalan selintasan, Pendengarannya yang tajam luar biasa menangkap bunyi langkah yang mengikutinya dari balakang. Ia tersenyum. Katanya di dalam hati :

- Pendengarannya tajam juga. Aku sudah berusaha hati-hati menuntun kudaku. Namun rnasih saja tertangkap olehnya. Rupa- nya mereka berpura-pura menderita luka. Hm.... - Yang dimaksudkan adalah Sarayuda dan Sulastri. Mereka ber- dualah yang mengikuti Sondong Landeyan setelah mendengar suara derap kaki kuda. Mereka tadi memasuki kelenteng dengan terpincang-pincang seolah-olah tidak mampu berjalan lagi. Me- mang mereka bertempur melawan Surasekti bertiga, akan tetapi tidak menderita luka terlalu parah.

Tiba-tiba suatu pikiran menusuk dalam benak Sondong Lan- deyan. Meskipun permainan sandiwa ra Sarayuda dan isterinya tidak ditujukan kepadanya, akan tetapi ia merasa dikelabui juga.

Timbullah niatnya hendak mengetahui tujuan mereka yang se- sunggulinya. - Biarlah aku mengha dang Surasekti bertiga. Tentu- nya Sarayuda akan mengintip. Ingin kuketahui apa yang akan dilakukannya. -

Memperoleh, pikiran demikian, ia membedalkan kudanya hendak menyusul Surasekti bertiga. kebetulan sekali, Surasekti berbalik arah. Mereka bermaksud kembali ke kelenteng. Sebagai kawanan begal yang berpengalaman luas, tentu saja tidak mudah mereka menerima keterangan Wigagu. Munculnya Sukesi dengan tiba-tiba memperkuat dugaan mereka, bahwa pemuda itu sedang main gila. Maka setelah meninggalkan kelenteng beberapa waktu Iamanya, mereka balik kembali.

Sondong Landeyan segera menutupi mukanya dengan selendang Iehernya. Sekarang mukanya tidak akan segera dikenal orang.

Kecuali di dalam gelap pekat, mukanya seperti mengenakan topeng. Dengan sengaja is melintangkan kudanya. Kemudian menggertak dengan suara dibesarkan :

- Hooop... ! Minta jalan, bagi rejeki. -

Waktu itu hujan sudah berhenti. Meskipun demikian suasana malam gelap luar biasa. Surasekti bertiga hanya melihat scseorang bertubuh besar menghadang mereka dengan melintangkan kudanya. Sebentar mereka tertegun, lalu tertawa geli. Sebab bahasa yang dipergunakan orang itu adalah bahasa begal bila menghadang mangsa. Itulah bahasanya sendiri.

- Aha - Suratenung tertawa terbahak-bahak. - Kau bangsat dari mana? Minggir -

Sambil membentak, Suratenung menyendal kendali kudanya dan menerjang kuda Sondong Landeyan. Untung, Sondong Landeyan sudah dapat menebak sebelumnya. la tidak gentar. Yang perlu disembunyikan adalah ilmu saktinya. Maka ia hanya meng- gunakan tenaga sakti empat bagian untuk menahan terjangan kuda Suratenung. Tangan kirinya menyambar kendali dan digentakkan. Meskipun hanya menggunakan tenaga sakti empat bagian, namun masih saja hebat akibatnya.

Kuda Suratenung terhuyung mundur beberapa langkah, lalu roboh di atas tanah. Inilah diluar dugaan Suratenung. Secepat kilat ia melompat dari pelananya dan turun di atas tanah dengan tak kurang suatu apa. Surasekti dan Surapringga terkejut bukan main. Dengan berbareng mereka turun dan kudanya dan berdiri menjajari Suratenung dengan senjatanya masing-masing. - Baik baik... - ujar Suratenung dengan suara mengalah.

- Kami memang merasa bersalah karena melalui wilayah tuan tanpa memberi kabar dulu. Maafkan. Kami bertiga datang dari Belambangan. Namaku Suratenung. Dan ini Surasekti dan Surapringga. Siapakah tuan? -

Suratenung merasakan tenaga Sondong Landeyan yang hebat luar biasa. Maka ia sengaja mau mengalah sambil memberi kisikan kepada kedua saudara-seperguruannya agar berwaspada dan hati-hati. Sebaliknya Sondong Landeyan yang memang tidak pandai berbicara berkepanjangan, hanya mendengus. Sahutnya :

- Aku orang hidup. Tidak punya nama. Belambangan termasuk wilayahku. -

Mendengar jawaban Sondong Landeyan mereka mendongkol. Setelah saling pandang, Suratenung membentak :

- Semenjak kapan engkau menguasai wilayah Belambangan? -

- Sejak kecil. -

Muka Suratenung terasa panas oleh rasa mendongkolnya. Masakan dia tidak tahu, bahwa Surasek ti bertiga adalah maharaja tan pa mahkota yang menguasai wilayah Belambangan, pikirnya. Tetapi di balik itu, diam-diam ia bergembira. Kalau begitu, bangsat yang menghadangnya itu tentunya bangsat teri. Sebab setiap begal, penyamun, perampok bahkan maling kecilpun tahu, siapa Surasekti Surapringga dan Suratenung.

Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Jangan-jangan orang ini ada hubungannya dengan Sarayuda dan isterinya. Siapa tahu, dia sesungguhnya salah seorang pengawal putera-putera Amangkurat IV yang menyamar sebagai penyamun. Maka berkatalah ia mencoba :

- Kau begundalnya Sarayuda, ya? -

- Sarayuda yang mana? -

- Dia bangsat Dia maling ! -

Sondong Landeyan menggelengkan kepalanya. Memang, selama hidupnya belum pernah ia berkenalan dengan Sarayuda. Maka ia bergeleng dengan segenap hatinya.

- Bagus - seru Suratenung,. - Kalau begitu kau berdiri di atas kaki sendiri. Begitu? -

Sondong Landeyan mengangguk.

- Kalau begitu, minggir - bentak Surapringga dan Surasekti hampir berbareng,.

Sondong Landeyan memang sudah mengambil keputusan untuk mencoba kekuatan mereka berbareng untuk memperoleh kejelasan sikap Sarayuda. Ia tertawa pelahan Lalu berkata dengan suara nyaring : - Kau mau lewat, silahkan Tetapi tinggalkan dulu uang tigapuluh ringgit ! -

Mendengar ucapan Sondong Landeyan, Surasekti tidak kuasa lagi menahan kesabarannya. Itulah suatu penghinaan yang luar biasa baginya. Selama hidupnya ratusan kali ia membegal. Masa- kan kali ini ia bahkan mau dibegal orang? Ini tidak lucu Maka dengan serentak ia mengibaskan senjata andalannya yang berbentuk sebuah roda bergigi tajam dan maju ke depan. Buru- buru Suratenung menahannya.

-Tahan dulu - katanya. Kemudian ia mengeluarkan limabelas ringgit dari dalam sakunya dan diangsurkan kepada Sondong Landeyan. - Nih, ambil Lainnya tiga ringgit emas. Kurasa melebihi permintaanmu.-

- Suratenung, apa yang kau lakukan ini? - bentak Surasekti.

Sebagai seorang begal yang pernah malang melintang tanpa tan- dingan semenjak jaman mudanya, ia tidak senang menyaksikan adiknya seperguruan bersikap lemah terhadap seorang begal yang dinilainya picisan. Mungkin sekali, adiknya tadi sempat mengukur kepandaian begal picisan itu. Akan tetapi sikap lemahnya benar-benar memalukan dan keterlaluan. Masakan tiga lawan satu, tidak bisa mengunggulinya? Mustahil .

Tetapi Suratenung meskipun berwatak berangasan, mempunyai alasannya sendiri. Yang penting adalah menangkap Sarayuda. Kalau sampai harus bertempur berarti kehilangan waktu. Karena itu, ia mau bersikap mengalah.

Sondong Landeyan sendiri tercengang melihat sikap Suratenung. Ini diluar dugaannya. Uang tigapuluh ringgit bukan jumlah sedikit Belum tentu seseorang bisa memperoleh uang sebanyak itu, meskipun bekerja satu tahun penuh. Ia tertegun sejenak. Lalu berkata dengan menggelengkan kepalanya :

- Terima kasih. Akan tetapi engkau berteman dua orang. Pendek kata, setiap orang tigapuluh ringgit. Jadi semuanya harus ber- jumlah sembilanpuluh ringgit. Kurang sedikit, tidak boleh lewat. -

Sarnpai disitu, habislah sudah kesabaran Suratenung. Ia me- masukkan tiga ringgit emasnya ke dalam sakunya kembali. Lalu berkata kepada kedua rekannya :

- Kakang Surasekti dan kakang Surapringga, kalian berjalan dulu. Biarlah aku seorang yang membereskan dia. -

Setelah berkata demikian, ia membentak Sondong Landeyan :

- Hunuslah senjatamu !-

Sondong Landeyan tahu, bahwa mereka bertiga adalah lawannya yang paling berat selama ini. Padahal ia sama sekali tidak membekal senjata, kecuali sebilah keris pusaka Tunggulmank Lagipula, ia harus memikirkan Sarayuda dan isterinya yang sedang mengintip tidak jauh di belakang punggungnya. Kalau membiarkan Surasekti dan Surapringga meninggalkan tempatnya, berarti gagal mencapai tujuannya.

- Paling tepat aku hares menggertak mereka.- pikirnya.

Pada detik itu pula, ia berpaling kepada kuda Suratenung yang tadi kena dirobohkan, Binatang itu kini sudah berdiri lagi dan berada di samping majikannya. Dengan mengerahkan tenaga saktinya, ia menghantam kepala binatang itu. Bluk ! Dan kuda itu roboh dan tidak berkutik lagi tanpa sempat memekikkan suaranya.

Menyaksikan kehebatan pukulan Sondong Landeyan, Surasekti bertiga tergugu. Mereka tegak terpaku bagaikan patung yang tidak pandai berbicara. Kesempatan itu dipergunakan Sondong Landeyan untuk membetot Sanggurdi kuda Suratenung yang su- dah menjadi bangkai. Dengan sekali betot, putuslah pengikatnya.

- Maaf, karena tidak membawa senjata terpaksa aku pinjam sanggurdi kudamu. - katanya kepada Suratenung sambil melom- pat turun ke tanah.

Dalam suatu pertempuran antara lawan yang seimbang, waktu sangat memegang peranan. Maka Sondong Landeyan menggunakan kesempatan selagi ketiga lawannya tertegun- tegun. Dengan sanggurdi rampasannya ia menghantam Suratenung, Surasekti dan Surapringga. Mereka bertiga sempat menyaksikan betapa hebat tenaga lawannya. Satu-satunya cara untuk menghindarkan, hanya melompat mundur sejauh tiga langkah. Dengan begitu, Surasekti dan Surapringga gagal hendak menerobos ke luar.

Seperti ktta ketahui, senjata andalan Surasekti, Surapringga dan Suratenung dulu berwujud : k o 1 o r (ikat celana dalam), rantai dengan bola bergigi diujungnya dan sebilah golok. Tetapi kini mereka bersenjata roda bergigi, perisai dan senjata pendek mirip tongkat. Sebagai seorang ahli, Sondong Landeyan tahu akan dayagunanya. Tentunya ketiga macam senjata yang aneh itu dipersiapkan bagi suatu kerjasama yang rapih. Roda bergigi tajam dapat dihantamkan dari jauh.

Senjata perisai dipergunakan untuk mendesak lawan sedekat- dekatnya, lalu mulailah senjata pendek berbentuk tongkat itu mulai melakukan peranannya. Tegasnya, Sondong Landeyan akan mereka lawan dari jarak jauh dan dekat.

Semenjak dikalahkan Sondong Landeyan, mereka berlatih selama dua atau tiga tahun. Kerapkali mereka bertiga mencoba kehebatannya kepada orang-orang yang berkepandaian tinggi. Selama itu, mereka selalu menang. Maka mereka yakin akan dapat mengalahkan Sondong Landeyan.

Meskipun demikian, berkat pengalamannya yang luas, mereka masih perlu mengujinya lagi terhadap seorang pendekar yang kepandaiannya setingkat di bawah kepandaian Sondong Landeyan. Kebetulan mereka mendengar kabar tentang keberangkatan Haria Giri mengawal permaisuri raja dan dua puteranya pulang ke Kartasura. Haria Giri dikenal orang sebagai penawal andalan raja di sarnping Sondong Landeyan. Inilah tokoh yang tepat untuk dibuat menguji diri melawan Haria Giri ? sudah dibuat malu oleh seorang begal picisan dalam satu gebrakan saja.

Keruan saja mereka naik pitam. Dengan serentak mereka me- nerjang. Senjatanya masing-masing menerbitkan kesiur angin yang menderu-deru. Sondong Landeyan tidak mau didikte lawan. Segera ia memutar sanggurdinya bagaikan bandringan. Hanya saja, sedapat mungkin ia menyembunyikan kepandaiannya yang sejati.

Surasekti bertiga menjadi panas hati. Dengan serentak mereka balik menyerang. Tetapi aneh, gera kan mereka mesti terpaksa terhenti di tengah jalan oleh cegatan bandringan Sondong Landeyan yang istimewa. Mau tak mau mereka terpaksa mengamati cara bertempur lawan. Pikirnya, kalau sudah mengenal corak dan gayanya akan dapat menundukkan dengan mudah. Akan tetapi maksud dan kenyataannya terpaut jauh.

Mereka merasa tidak mudah mengamati gerakan lawan.

Surapringga yang bersenjatakan perisai mempunyai peluang untuk mengamati daripada kedua. rekannya. Dari balik perisainya ia memperhatikan sambaran sanggurdi. Karena berpengalaman luas, tiba-tiba teringatlah ia kepada seorang tokoh sakti yang hidup pada jarnan Majapahit. Dialah Menak Koncar. Menurut cerita, tatkala Menak Koncar bertempur melawan Menak Jingga raja Belambangan, mula-mula ia bersenjata cemeti. Namun cemetinya terampas. Ia tidak kehilangan akal. Ia menggunakan Sanggurdi kudanya yang tersungkur mati.Dan dengan senjata yang istimewa itu, ia sempat membuat Raja Belambangan kerepotan.

Memperoleh ingatan itu, Surapringga sengaja membuat lowongan. Lawannya pasti akan menyabet dari samping. Pada saat itu, ia akan menangkis sambil mendorong agar Suratenung sempat menghantamkan tongkatnya.

Dengan pikiran itu, ia membuka pensainya ke arah kanan dengan harapan lawan akan menggempur dari samping kiri. Memang benar. Melihat lowongan itu, Sondong Landeyan tidak mau me- nyia-nyiakan kesempatan. Hanya saja, ia tidak menyabetkan sanggurdinya. Melainkan melompat dan menggempur dari atas.

- Hooeeiiit !- Surapringga menjerit kaget. Buru-buru ia menja- tuhkan diri dan bergulingan di atas tanah. Begitu berhasil lolos dari lubang jarum, segera ia meletik bangun sambil berseru heran di dalam hati : -Aneh Sungguh aneh Mengapa dia tidak menyabet dari samping? Hai, orang ini dari aliran mana? -

Surapringga sebenarnya harus berterima kasih kepada nasibnya yang masih baik. Andaikata Suratenung tidak menolong me- nangkis gempuran sanggurdi Sondong Landeyan yang menabas deras dari atas, kepalanya sudah pecah berantakan.

Tetapi dengan demikian, rahasia senjata Suratenung yang disembunyikan jadi terbuka. Ternyata senjatanya yang berukuran pendek tipis seperti tongkat dapat memanjang tak ubah sebilah pedang. Ia terpaksa melakukan gerakan itu atau terpaksa melepaskan alat pegasnya karena hanya itulah satu-satunya cara untuk menolong jiwa Surapringga.

Padahal senjata itu khusus dibuat sedemikian rupa untuk mengelabui lawan. Pada saatnya yang tepat, selagi lawan tetap mengira sebagai tongkat tiba-tiba dapat meletik panjang sebagai alat penikam. Dan musuh yang diharapkan adalah Sondong Lan- deyan. Tetapi kini sudah terbuka rahasianya di depan hidung begal murahan yang sebenarnya Sondong Landeyan sendiri. la masgul bukan main.

Surasekti yang sempat melihat macam gempuran lawan dengan jelas, terperanjat. Tak salah lagi. Itulah pukulan geledek warisan pendekar Ranggalawe dari Tuban di jaman Majapahit. Selan- jutnya pasti disusul dengan pukulan kedua yang akan menghan- tam dada. Karena itu, dengan siulan sandi ia mengisiki kedua adik seperguruannya agar menjaga dadanya.

Surapringga harus melintangkan perisainya untuk melindungi dada. Sementara itu, Suratenung agak setengah berjongkok untuk menusukkan senjatanya. la sendiri akan melontarkan roda bergiginya untuk memaksa lawan mempertahankan diri. Tetapi diluar dugaan Sondong Landeyan

menyerang dada. Sebaliknya menghantam kaki mereka. Keruan saja mereka kaget setengah mati. Dengan berbareng mereka meloncat setinggi-tingginya. - Eh ! Eh ! ...Mengapa bisa begini ? - seru Surasekti heran.

- Hai - bentak Surapringga sambil melompat. Kau pasti sanaknya Tunggul Warih dari Kediri. -

Tunggul Warih sangat termashur pada jamannya. Ia memiliki serangkaian pukulan-pukulan yang bertentangan dengan teori umum. Menurut kewajaran, seseorang lebih mudah menghantam dada setelah melepaskan gempuran dari atas dengan sedikit mengedut sanggurdinya. Sebaliknya kalau tiba-tiba menyapu kaki, harus dapat menahan derasnya pukulan yang sebentar tadi menggempur dari atas. Sebab laju pukulan dari atas dan dari samping adalah bertentangan.

- Hm...Tunggul Warih memang kakak-seperguruanku. - sahut Sondong Landeyan pendek ringkas.

- Ngacau ! - maki Suratenung dengan gemas.

Sebab Tunggul Warih hidup pada jaman Daha-Janggala ratusan tahun yang lalu. Masakan Sondong Landeyan mengaku sebagai adik-seperguruannya?

Demikianlah Surasekti bertiga tenggelam dalam keheranannya menghadapi lawannya. Di dalam hati mereka mengakui kehe- batannya. Karena itu, tidak berani lagi meremehkannya.

Sekarang mereka berkelahi dengan hati-hati. Sebaliknya Sondong Landeyan mulai gelisah. Dalam suatu perkelahian yang panjang ia akan kalah, karena tidak dapat menggunakan kepandaiannya yang aseli. Apalagi terpaksa bersenjata sanggurdi yang sebenarnya masih asing baginya.