Bendera Maut (Sam Goan Leng Hun Hoan)

Mengundjungi Buli-buli kaju dirumah SIU TJIN WAN.

Tetapi sepandjang pendengaran mereka jang disebut Bok Ho-louw itu badannja besar dan tinggi, rupanja gagah, wadjahnja seram dan usianja belumlah tinggi. Padahal pendeta ini sndah tua, berdjanggut pandjang dan wadjahnja merah. Hal ini menimbulkan kebimbangan djuga bagi mereka. Tetapi mereka hanja berdasarkan pada kenjataan, bahwa pendeta itu dapat menggunakan pukulan Tjuat-Kin Kuat-Meh Tjhiu-Hoat.

Maka dengan penuh keragu-raguan bertjampur bimbang mereka ngatjir meninggalkan Siu Tjin Wan dengan penuh kekesalan, Pendeta tua itu melompat turun masuk kedalam Siu Tjin Wan dengan wadjah jang menjeramkan.

Tadi dalam menghadapi serangan In Yang Siang Sat, satu tapakpun ia tidak bergeser dari tempatnja.

Inilah suatu bukti bahwa pendeta itu memang benar2 tinggi ilmu silatnja!

Keng In Wan pelan2 siuman kembali. Ketika ia membuka matanja, bukan ia rebah dilantai begitu sadja, melainkan ia terbaring didalam sebuah kamar jang tenang. Tampak olehnja bahwa hiasan dalam kamar itu teratur rapih. Tempat itu agak luas dan terang. Tjahaja masuk kedalam kamar itu melalui djendela. Dibawah djendela terdapat medja ketjil. Kamar itu sedap dipandang mata, bahkan se-olah2 tempat itu seperti tempat batjaan.

Diatas medja terletaklah pendupaan jang mungil dan mengepulkan asap jang berbau harum dan menjegarknn kepada jang mentjiumnja. Dalam terkenang itu Keng In Wan ingat akan permulaan deritanja. Ia ingat bahwa ia telah menjerahkan sebuah kotak kepada pendeta tua itu. Ia ingat pula bahwa ia siap untuk ditawan. Jang mengerikan ialah bahwa terlukanja oleh sendjata musuh sehingga hampir2 djiwanja melajang.

Ia termennng-menung dikamar itu sambil merasakan lukanja jang sungguh parah itu. Tidurpun sukar baginja, bahkan ketika ia baru membuka matanja, ia ragu2 apakah ia betul2 masih hidup. Tetapi dengan rasa sakit jang ada, dan ternjata ia masih dapat menjaksikan segala jang ada disekitarnja, maka sadarlah ia bahwa ia masih hidup.

Siapakah sebenarnja jang telah menolonguja, sehingga ia sampai terbaring didalam kamar jang tenang itu. Kemudian ia ingat akan benda peninggalan Kiang Lo Tjian-pwee jang harus disampaikan kepada Bok Lo Tjian-pwee... Ia mempunjai sifat jang baik, jaitu selalu ingin mendapat kepertjajaan orang.

Waktu itu, pintu berbunji dan kemudian terbuka. Seorang anak gadis jang sangat djelek wadjahnja, dengan rambut terurai masuk kedalam kamar itu. Ia membawa sebuah nampan tembaga sematjam baki, jang diatasnja terisi bermatjam-matjam makanan.

Nampak olehnja bahwa anak perempuan itu kurang lebih empat belas atau lima belas tahun sadja usianja, wadjahnja sangat buruk, namun ketika ditelitinja. kedua matanja memantjarkan sinar jang tadjam. Keng In Wan achir-achir ini senantiasa menerima perlakuan kedjam dari orang lain, maka terhadap orang atau sesuatu hal, senantiasa ia mempunjai suatu prasangka buruk. Terlebih pula semendjak ia memandjat puntjak Mauw Li Hong digunung Hwa San dan masuk Siu Tjin Wan, serta-merta ia ditjatji dan dihadjar orang dengan tidak ada sebab jang pantas. Sekalipun tempat itu tidak dikenalnja, namun menurut taksirannja mestinja masih berada disekitar puntjak Mauw Li liong.........

Anak perempuan ini buruk rupanja, dengan sendiri terhadap orang tak akan berlaku baik, demikianlah pikir Keng In Wan. Tetapi ketika anak perempuan itu menjaksikan sipemuda sudah bangun dari pingsannja, tiba2 ia bersenjum lalu bertanja dengan sikap jang penuh perhatian.

"Masih sakitkah?"

Hampir2 sadja Keng In Wan tidak pertjaja akan pendengar telinganja sendiri.

"Oh, sudah tidak mengapa! Nona, numpang tanja, bagaimana aku dapat berada disini? Siapakah jang menolong daku? Dan, tempat apakah ini?"

Demikianlah setjara bertubi-tubi Keng In Wan mengadjukan pertanjaan. Anak perempuan itu mesem: "Ajahku pernah mengatakan bahwa bisa ulat sutera berapi itu hanja dapat disingkirkan dengan ulat sutera berapi djuga. Mula-mula aku tidak pertjaja, tetapi kenjataan sekarang ini membuktikan bahwa ajah memang banjak pengetahuan serta pengalamannja. Disini ada berapa matjam makanan, menurut kata ajah, djika dimakan amatlah berguna bagi kesehatanmu. Hanja sadja tidak enak, maka kau paksakanlah makan sedikit. Setelah sembuh nanti aku menjadjikan jang lain

.....................”

Apa jang dikatakan perempuan ini tiada sangkut pautnja dengan pertanjaannja, namun sikap dan bahasanja sungguh meresap bagi Keng In Wan. Sekalipun tidak mengatakan siapakah jang menolongnja, namun dari kata-katanja itu orang dapat mengetahui pasti bahwa penolongnja itu tidak lain dari pada ajah si gadis. Tetapi siapakah ajahnja itu?

Keng In Wan segera bangun dan duduk, ketjuali tangan dan kakinja masih lemas dan linu, bagian dadanja masih agak sakit rasanja.

Ia segera merangkap tanganja memberi hormat lalu hendak berdiri menjambut nampan itu, namun anak perempuan itu tjepat2 berkata: "Djangan berlaku sungkan2, kau belum sembuh betul! Bersandarlah. Makanan ini kau makan sadja diatas tempat tidur, tidak usah kau susah-susah!"

Keng In Wan melengak demi mendengar kata-kata itu, hatinja tergerak, hampir sadja air matanja mengutjur karena rasa terharu dan terima kasihnja.

Nampan tembaga itu sudah lantas dihantar kehadapannja. Keng In Wan menjaksikan bahwa di atas nampan itu terdapat empat piring ketjil dan semangkok bubur putih jang masih mengepul. Setelah mengeluarkan kata-kata merendah sebagai mana lazimnja, iapun segera menjerbu makanannja.

Namun demi masuk dalam mulut, bubur itu bukan main rasa getir dan pedasnja! Baru sesuap ia sudah memperlihatkan wadjah monjet makan terasi. Namun terdengarlah pula suara empuk njaring dan jang mengandung rasa bersungguh-sungguh dan seolah-olah mengandung sifat mengharap.

"Turutilah kataku! Makanlah, sedikitpun djangan ada jang ketinggalan! Bubur ini sangat baik untukmu."

Demi mendengar kata-kata itu, tergerak hati Keng In Wan. Ditatapnja muka anak perempuan itu, jang mengandung sikap mengharap. Maka Keng In Wan tidak menghiraukan lagi rasanja bubur dan sajur-sajur itu, dimakannja habis semuanja ketjuali satu piring jang isinja ulat2 hitam!

Berapa kali ia menggerakan sumpitnja untuk mengambil, namun batal ditengah djalan tidak sampai musuk kemulut. Sementara itu sigadis terus mengawasinja dengan gelisah dan mengharap.

Terpaksa Keng In Wan berkata: "Nona. aku

.............”

"Dengarkanlah perkataanku! Lekas kau makan ulat2 Kwee-Hiang ini jang baik chasiatnja! Pertjajalah padaku,” Sigadis berkata dengan sungguh-sungguh. Keng In Wan mengeraskan hatinja, disapitnja ulat2 itu dan dimasukkannja kedalam mulutnja..................

Sementara itu sigadis memperlihatkan senjuman jang menandakan rasa leganja.

Senjuman anak perempuan jang rupanja buruk itu sangat memikat hati Keng In Wan, sehingga lupalah ia apa jang dikunjahnja didalam mulutnja itu. Tiba-tiba sadja suatu bebauan harum jang bertjampurkan haruman bunga kwee Hwa tertjium dalam lubang hidungnja, sementara dalam mulutnja terasa rasa makanan jang gurih lezat. Makan seekor sadja semangatnja terbangun dan mengertilah ia bahwa barang jang aneh ini sebenarnja makanan jang chasiatnja luar biasa. Dan memang ia belum kenjang, maka kinipun ulat2 itu diganjangnja habis sama sekali. Setelah itu barulah sigadis mengambil pulang mangkok piring dan nampan tembaga itu, dengan berseri-seri meninggalkan kamar itu. Sebelum menghilang dibalik pintu masih ia bersenjum dan berpesan: "Turutilah perkataanku! Tidur baik-baiklah, esok kau akan sembuh sama sekali."

Bagaikan bajangan si gadis lenjap dari pandangan matanja. Keng In Wan melamun seorang diri.

"Semendjak datangnja kemalangan terhadap keluargaku, senantiasa aku dirongrong oleh pihak musuh. Hanja Kiang Liang Souw lotjianpwee seorang jang bersikap manis kepadaku dan gadis ini." Lambat laun tanpa terasa olehnja Keng In Wan tertidur, ia tidur njenjak sampai pagi hari esoknja. Matahari sudah mulai naik dan melantjarkan sinarnja kedalam kamar. Keng In Wan bangun dan mentjoba mengerahkan tenaganja. Sedikitpun ia tidak menemui suatu hambatan. Ha! Ia telah sembuh seluruhnja! Disekitar tempat itu sunji-sunji sadja, tidak terdengar suara manusia. Keng In Wan ingin memanggil orang, siapakah namanja gadis itu? Diam2 ia menjesali diri sendiri mengapa setelah menerima pertolongan orang, ia tidak menanjakan siapa sigadis itu? Ia berpikir-pikir, achirnja ia mengambil ketetapan untuk mengetahui dimanakah ia berada. Ia berdjalan keluar kamar. Terkedjutlah hatinja. Karena tempat itu sebenarnja ruang pendopo dari Siu Tjin Wan! Nampaklah patung Sam Tjin Tjindjin berdiri dengan augkernja. Djuga ia melihat djendela berbentuk pandjang, dengan tirai kain kuning ..........

Kesemuanja ini, ah! Teringatlah ia sekarang, ia telah ditolong oleh pendeta bermuka merah itu! Tergeraklah hatinja. Kini nampak pula olehnja, sapu jang dipakainja untuk menjapu pekarangan masih tinggal terletak disudut sebelah kiri. Dengan tidak ragu- ragn lagi diambilnja sapu itu. disapunja ruang pendopo sampai bersih lalu turun dan menjapu pekarangan. Baru sadja ia bekerdja dengan giatnja atau tiba-tiba terdengar orang batuk-batuk.

Terkesiap ia berpaling. Nampak olehnja seorang tua jang djanggutnja sudah putih semua, punggungnja bungkuk.

"Anak ketjil, untnk apakah kau datang disini? Datang untuk mentjuri atau hendak djadi katjung?" orang tua itu tahu2 mendamprat.

Kini Keng In Wan mempunjai perasaan lain terhadap Siu Tjin Wan. Ia segera teringat akan pengalamannja jang dahulu, teringat bahwa djiwanja ditolong oleh pendeta tua dari Siu Tjin Wan bersama anak perempuan itu. Oleh karena itu siapapun penghuni didalam kuil, senantiasa ia harus berlaku hormat. Ia mendjawab dengan tjermat dan hati-hati seperti berikut: "Lo tjianpwee, aku jang rendah bernama Keng In Wan, berkat izin totiang aku numpang tinggal disini untuk berapa hari, untuk mendjumpai Bok Ho-lauw lotjianpwee. Totiang menjuruh aku menjapu pekarangan sini agar diperkenankan numpang tidur............dan saja numpang tanja bagaimanakah sebutan kau orang tua ini?"

Tiba-tiba orang tua itu tertawa njaring sekali lalu berseru: "Omong kosong! Disini mana ada totiang segala anak

ketjil, berterus teranglah! maksudmu sebenarnja datang disini?!" Keng In Wan mendjadi bengong. Terang-terang ia pernah bertemu berapa kali dengan pendeta bermuka merah itu, bahkan benda pentingnja pernah dititipkan padanja.

"Lotjianpwee, aku pernah bertemu totiang itu berapa kali, diambang pintu, dipekarangan dan diruang pendopo oh,

ja! Masih ada seorang anak perempuan jang menolong aku dari kematian.” Terdengar pula suara tawa aneh dari orang tua itu. "Ha-ha-ha! Kau telah bertemu dengan setan! Atau barangkali kau salah lihat orang, salah djalan salah tempat!"

Keng In Wan tidak bisa bilang apa-apa, ia tjeritakan tentang rupa pendeta bermuka merah itu.

Achirnja orang tua itu dengan sungguh-sungguh berkata: "Kau telah tertipu. Pendeta tua itu hanja numpang tinggal disini. Sudahlah, baiknja kau tidak hendak berbuat apa-apa, hal ini kau anggap sadja soalnja sudah lewat. Tapi jang kau sebut Bok Lotjian-pwee (Bapak kaju) atau Hwee Lotjianpwee (bapak-api) itu bagaimana asal usulnja?”

"Apa? Ia hanja numpang tinggal disini! Kapankah ia pergi?" ”Baru sadja ia pergi!"

Tanpa ajal pemuda kita membuang sapu ditangannja dan berlari keluar. Tidak sempat pula ia menanjakan kemana arah pergi sipendeta, karena perhatiannja hanja tertudju kepada kotak itu jang menurut pendapatnja tidak boleh dititipkan pada orang jang salah.

Setelah lari sepintas tiba-tiba ia sadar bahwa ia tertipu! Siapakah orang tua itu? Semendjak ia tiba di Siu Tjin Wan, telah bertemu berapa orang jang tidak dikenalnja. Jang pertama-tama ditemuinja orang tua she Sin, jang kedua pendeta tua bermuka merah, jang ketiga seorang anak perempuan terachir orang tua bungkuk berdjanggut putih ini. Tiap orang jang ditemuinja, satu sama lain berlainan. Kesemuanja mengaku sebagai tuan rumah Siu Tjin Wan, lebih-lebih si anak perempuan itu.

Orang tua itu ! Dia sangat mentjurigakan! Dengan gusar ia putarkan tubuhnja dan lari kembali kearah Siu Tjin Wan. Sebentar sadja ia sudah tiba diambang pintu. Didorongnja pintu itu dan masuk kedalam. Pada saat itu djuga ia medjerit bahna kagetnja.

Darah segar mengambang diatas tanah!

Ia berteriak berulang-ulang. Tetapi tidak ada orang jang menjahut. Ia berdjalan masuk keruang pendopo. Nampak pula orang jang menggeletak diatas lantai dan disana sini darah bertjetjeran. Ketika diawasinja orang itu dengan teliti, ia meudjadi putjat. Orang itu bukan lain dari pada si orang tua jang bungkuk punggungnja!

Tiba-tiba suatu benda menarik perhatiannja. Itulah sebuah buli- buli ketjil berwarna merah. Hampir sadja Keng In Wan mendjerit! Dan tepat pada waktu itu terdengar suara tertawa jang aneh., suara tertawa jang seram dan bersifat sedih.

Bagaikan kilat Keng In Wan menengok dari mana suara itu datang! Tapi mendadak angin dingin menjambar kearahnja!

2. Tiga Ular Oh Leng Tjoa Sebagai Tanda Tjinta

Keng Iu Wan sadar bahwa didalam Siu Tjin Wan telah terdjadi suatu peristiwa hebat. Maka ia berlaku waspada, siap menghadapi segala kemungkinan. Ketika terdengar suara orang dan disusul sambaran angin, tjepat2 ia menghantam untuk memunahkan serangan gelap. Pandangan matanja mendjadi kabur.

Sambaran angin itu lewat didepan mukanja! Belum dapat ia melihat muka orang itu, suara tertawa mengalun diangkasa dan menghilang dari pandangan.

Keng In Wan insjaf bahwa orang itulah pembunuhnja. Ketika ia menoleh dan memandang kebawah, tersiraplah darahnja. Majat orang tua bungkuk itu sudah lenjap! Apakah majat dapat hidup kembali? Aneh sekali, apa lagi dalam waktu sekedjap mata sadja dapat menghilang.

Keng In Wan menenangkan hatinja, lalu berdjalan masuk kekamar sebelah jang pernah ditidurinja. Ia melihat segala sesuatu tidak berubah. Diatas medja tetap terdapat pedupaan ketjil jang menjebarkau bau harum. Keadaan sunji2 sadja.

Keng In Wan termenung seorang diri. Dihadjar, ditjatji, ditolong, dikibuli, lalu disuruh menjaksikan peristiwa berdarah ini. Ia bingung dan tidak mengerti.

Tiba2 ia melihat sehelai kertas diatas medja, ditindih dengan batu dan bergojang-gojang dihembus angin.

Dengan hati berdebar-debar Keng In Wan menghampirinja.

Kertas itu masih baru. Tulisannja terang dan kuat tetapi tidak indah.

"Anak ketjil, besar sekali njalimu!

Kau berani menggunakan tipu daja untuk mentjelakai aku!" Dibawahnja tidak dibubuhi tanda tangan, hanja terdapat lukisan buli-buli merah jang dilukis Tjusee.

Hati pemuda kita bergontjang-keras. Setidak-tidaknja ia mengerti bahwa tulisan ini ditinggalkan oleh Bok Holouw!

Bok Holouw pernah datang atau kalau tidak, beliau tidak pernah pergi dari Siu Tjin Wan! Tetapi mengapa ia dituduh mentjelakai Bok Holouw?

Keng In Wan mengeluh dengan sedihnja: "Ah. Aku difitnah!” Sekonjong-konjong diambang pintu berdiri seorang tua djangkung dan gagah, mukanja putih bagaikan batu kemala. Matanja bersinar terang bagaikan bintang, bibirnja merah dan giginja putih bersih. Badjunja hidjau dan pada ikat pinggangnja dari benang emas tergantung buli-buli ketjil berwarna merah. Tangannja menjangga sebuah kotak.

"Bok Lotjianpwee!" berseru Keng In Wan kegirangan demi melihat orang itu.

Wadjah, sikap dan perawakan jang dilukiskan oleh Kang Liang Souw tjotjok sekali.

"Lotjianpwee ............ Aku Keng In Wan datang kehadapanmu memanggul tugas dari Kiang Lotjianpwee. Dengan pantang mundur menghadapi segala bentjana dan derita, aku datang menghadap untuk menjampaikan kotak itu." "Djadi memang benar kau jang mengantarkan kotak ini! Tahukah kau, apa jang ada didalamnja?” bertanja orang tua itu dengan gusar.

Maka Keng In Wan memandang kepada kotak itu dengan pantjaran wadjah kebodohan. Ia tidak tahu apa jang ada didalamnja. Orang tua itu bersinar-sinar matanja.

Sekalipun bagaimana, Keng In Wan tak dapat menahan diri. Maka dengan sungguh2 ia mendjawab: ”Bok Lotjianpwee! Apakah arti kata2 Lotjianpwee itu? Sekalipun Kang Lotjianpwee bukan saudara dan belum lama aku mengenalnja, tetapi ......... aku tahu benar akan pribadinja. Mana mungkin ia berhati djahat "

"Djustru karena kebaikan hatinja itulah...... Ah, aku djuga tidak hendak tjerita tentang segala ini. Aku hendak perhatikan apa jang tersimpan dalam kotak ini padamu! Nanti kau akan tahu sendiri. "

Orang tua berbadju hidjau itu mementjet tutup kotak. "Tjepret!” Kotak itu terbuka lebar. Nampaklah seekor ular hitam jang berbintik emas keluar dari dalam kotak itu, jang lantas

djatuh diatas lantai. Keng In Wan berseru kaget: "Oh Leng Tjoa!" Orang tua itu agak berubah wadjah mukanja, lalu bertanja: "Kau kenal ular berbisa ini?"

"Ular ini asalnja dari dalam kebun rumahku. Kiang Lotjianpwee berkenalan denganku djuga oleh karena ular berbisa ini............. Ah, kiranja dalam kotak itu tersembunji ular berbisa ini "

Namun orang tua itu tidak berkata-kata lagi, ia menghampiri ular itu. Ketika itu sang ular sudah berkeledjetan hampir mati.

Dipegangnja kepala ular itu lalu masukan kedalam kotak kembali. Tiba2 air mata orang tua itu berketjutjuran...........

Keng In Wan tertjengang.

Orang tua itu menanja lirih: "Apakah Kiang Liang Souw sudah mati?”

Keng In Wan menganggukan kepalanja. Orang tua itu bersedih mukanja dan termenung beberapa saat lamanja. Kemudian ia bertanja pula: "Apa kau mengerti maksudnja dengan menjuruh kau mengantarkan ular ini ?”

"Tidak. Adapun hanja setelah Kiang Lo-tjianpwee datang kerumahku untuk menangkap ular itu....... setengah tahun kemudian keluargaku mengalami bentjana. Pendjahat she Cak dan kawanan bangsatnja membunuh seluruh anggota keluargaku. Buku ilmu silat ajahku dirampas dibawa pergi bersama duapuluh empat buah Tju-bo Lian Mouw So dan sembilan stel Gin-Wan. Saja bersembunji didalam gua gunung-gunung, hingga tidak sampai binasa. Belakangan ketika aku masuk kedaerah pegunungan Tjin Nia, kawanan pendjahat itu mengedjar beramai-ramai. Dalam pelarian itu aku djatuh kebawah lamping gunung dan tertolong oleh Kiang Lotjianpwee. Tidaklah aku ketahui bahwa Kiang Lotjianpwee mengandung bisa didalam tubuhnja. Ia bertempur dengan pendjahat2 jang mengadjar diriku itu, hingga menjebabkan ratjun ular didalam tubuhnja bekerdja." Muka orang tua itu berubah, berbagai-bagai perasaan membajang dengan djelas.

"Kiang Lotjianpwee memberikan pesan wasiat mendjelang wafatnja, wanti-wanti menjuruh aku menjampaikan kotak ini kepada lotjianpwee. Beliau merasa malu telah berkeras hati menuruti napsunja sehingga membuat Lotjianpwee hidup menderita. Beliau senantiasa menjintai lotjianpwee. "

Bok Holouw termanggu-manggu, achirnja ia bertanja dengan suara parau.

"Apakah ia binasa didalam tangan kedjam pendjahat-pendjahat itu?. ”

”Tidak, berapa pendjahat2 itu terluka olehnja, namun tenaganja termakan ratjun ular itu dan tidak dapat bertahan terus. Semula beliau ingin datang sendiri kemari, tetapi karena urusanku maka djadi gagal. Beliau minta aku tunaikan pekerdjaan jang tertinggal oleh beliau itu. Lotjianpwee. beliau

tidak mungkin mentjelakai dikau. ”

Bok Holouw suram matanja....

Liang Souw.... Aku Sin Thian Ju membikin kau menderita. Dahulu aku membentjimu tidak tahu urusan, melindungi keluarga sendiri jang durdjana. Namun kau tinggal tetap hidup, hidup membiarkan orang membentjimu. Mengapa mendjelang kematianmu kau masih menanam budi kepadaku? Kau menghendaki aku mengingat kau selama hidupku! Selama hidup mengingat akan kesalahanku terhadapmu. ”

Tiba-tiba orang tua itu menatap Keng In Wan pula dan bertanja: ”Apakah ia menderita ketika menemui adjalnja?"

"Kiang Lo-tiianpwee duduk tenang dan mangkat sambil tersenjum. Kata-kata terachir jang beliau utjapkan ialah sebagai berikut: "Keng In Wan kau wakilkanlah aku uutuk menjelesaikan urusan ini, biarlah Bok Holow menerima kotak ini. Ini sangat penting.

Bagikupun lebih penting. "

Pemuda kita dengan penuh keharuan bitjara terus.

"Aku menundukan kepala dan bersumpah akan pasti melaksanakannja. Beliau tersenjum, ia berkata: ”Aku merasa lega! Thian Ju! Aku merasa lega!. ”

Demi mendengar tjerita itu, mendadak sadja Bok Holouw menutupi air mukanja. Ia lari keluar setjepat terbang, hanja sekelebatan sudah hilang bajangannja!

Pada saat bersamaan terdengarlah suara tangisan anak perempuan. Keng In Wan tergerak hatinja, ia djalan menghampiri. Nampaklah dua buah bajangan hidjau berkelebat melesat bagaikan anak panah tjepatnja keluar pintu dan menghilang.

Keng In Wan berlari mengedjarnja, dipandjatnja pagar tembok. Ditjarinja kesana sini, tapi tidak djuga diketemukannja. Tiada ada djuga hal-hal jang mentjurigakan. Ingin ia mengedjar namun kemana harus ia pergi? Mengedjar tanpa tudjuan adalah sia-sia belaka. Ia merasa serba salah, tidak tahu apa jang harus diperbuat. Maka achirnja ia lompat turun dari pagar tembok.

Diam2 pemuda kita memikirkan semua hal jang mengherankan ini. Bok Holouw mengatakan tentang hal mentjelakai, dan mengaku dirinja sebagai Sin Thian Ju. Kiang Liang Souw pun mengatakan 'Thian Ju, aku merasa lega!'

Tiba-tiba ia teringat kepada orang pertama jang ia temukan jang mengaku she Sin dan buli-buli merah itu terdapat dipinggangnja. Apakah mereka itu sebenarnja seorang belaka! Didalam dunia Kang- ouw banjak sekali orang jang pandai dengan ilmu mengubah rupa. 

Tapi suara dan perawakan berubah-ubah tidak sama; Apa kesemuanja inipun mungkin terdjadi? Keng In Wan tidak dapat mendjawab pertanjaan2 tersebut. Tapi Bok Holouw atau Sin Thian Ju itu agaknja adalah suaminja Kiang Liang Souw, atau sahabat karibnja, tetapi ular bisa jang disimpan didalam kotak itu, apakah hubungannja?

Djika dikatakan hendak mentjelakai nampaknja tidak ada mirip- miripnja. Lagi pula djika Bok Holuw mestinja sangat bentji, mengapa ia djustru menangisi dan memperlihatkan rasa tjinta? ”Sahabat! apa Bok Holouw ada dirumah?” Mendadak suara orang membujarkan lamunan Keng In Wan! Suara jang serak serta menjeramkan. Keng In Wan menoleh kearah dari mana suara itu datang. Kelihatan seorang tosu jang mengenakan badju djubah Ie- su bertopi bintang, tangannja memegang Hudtim berdiri dengan sikap jang sombong. Umurnja kurang lebih tiga-puluh tahun.

Keng In Wan tidak tahu tentang asal usulnja tosu ini, dikiranja sahabat dengan Bok Holouw , maka ia merangkapkan kedua tangannja.

”Bok Lo-tjianpwee baru sadja keluar. "

Si tosu mengeluarkan suara tertawa dingin.

”Ha-ha-ha! Seorang lotjianpwee jang sudah tersohor namanja, merasa takut orang mentjarinja dirumah! Apa ia menggunakan kau sebagai malaikat penunggu pintu?”

Keng In Wan terkedjut Bok Holouw benar-benar tidak ada, mengapa tosu ini demikian ngototnja sehingga mengeluarkan perkataan jang demikian?

Maka dengan sikap bersungguh-sungguh ia mendjawab : ”Mengapa totiang berkata demikian? Sesungguhnja Bok Lo-tjianpwee tiada dirumah. ”

Sekonjong-konjong segumpalan sinar menjapu kearah muka pemuda kita. Terperandjat dan penuh kegusaran ia miringkan tubuhnja. Bersamaan si tosu berteriak dengan njaring" "Bok Holouw kemarin dulu masih melukai seorang saudara dari agamaku. Siapakah kau ini? Aku bunuh kau, agar ia keluar dari tempat sembunjinja!” Kini barulah Keng In Wan mengerti bahwa si Tosu tidak mengerti akan keterangannja. Maka dengan gusar ia lompat madju dan melantjarkan ilmu silat turunan dari keluarga Keng jang disebut ”Kiu Yang Tjiu-hoat” atau Tangan sembilan-daja matahari! Tangannja melintang keatas dengan tipu Thian-goan Kiu-souw atau Sembilan-angka-kesatuan alam!

Tetapi sitosu menjerang dengan makin ganas dan kedjam! Kebutannja jang dari pada besi itu menjambar mendjadi segumpalan sinar hitam, dalam waktu tiga djurus Keng In Wan sudah kewalahan.

”Ha-ha-ha! Setelah kuhadjar kau, aku mau lihat apakah Bok Holouw tidak muntjul.” Tosu itu tertawa mengedjek. Kebutan besi jang digerakan dalam Soan Hong Tjiu-hoat atau Permainan angin pujuh berkelebat diudara bagaikan angin badai dan hudjan keras. Keng In Wan terkurung rapat! Ia hanja dapat mempertahankan diri sadja, tidak dapat balas menjerang! Apa lagi untuk mentjapai kemenangan.

”Masukan tanganmu kekiri, madjukan langkah berantai! Tiga kali memukul dengan telapak tangan ”

Sekonjong-konjong terdengar oleh Keng In Wan suara halus ditelinganja. Itulah pukulan rahasia! Keng In Wan memang sedang mengalami tekanan bebat. Pada saat itu Hudtim sedang menjapu dari sebelah kanan, tangan kirinja sedang kosong, semestinja membalikan tubuh lalu dengan telapak tangan memukul. Djika masukan tangan kiri, bukankah djustru memberikan lowongan untuk lawan? Keng In Wan kesima, ia membalikan telapak tangannja, tapi sekalipun ia dapat menangkis kebutan lawan, namun ia tetap terdesak.

Maka terdengarlah suara itu lagi, kali ini nadanja menganduug kegusaran. ”Hei, botjah! Apakah kau sengadja mentjari nasi?” Keng In Wan berkeringat dingin. Menjusul terdengar suara jaug halus dan merdu. Itulah suara sigadis.

"Turutlah nasihat ajahku! Apa gunanja untukmu membangkang!” Keng In Wan bingung sekali. Pada detik menjusul suara itu terdengar lagi. "Putarkan tubuhmu! Pukul dengan telapak tangan kananmu tiga kali! Kini pemuda kita menurut. Bagaikan kilat ia memutarkan tubuhnja dan menghantam bertubi-tubi tiga kali!

Heran! Pada saat menjusul si Tosu mendjerit dan terpental kebelakang. Namun lekas Tosu itu bangun, sekali bergerak, tubuhnja melompat. Sekarang Keng In Wan mengetahui bahwa jang bitjara tadi adalah Bok Holouw bersama anak perempuannja.

Hatinja merasa mantap. Oleh karena itu, dengan penuh semangat ia mainkan ilmu silat Kiu Jang Tjhiu-hoatnja.

Sesungguhnja kepandaian Keng In Wan sekarang ini masih djauh tingkatannja dibandingkan dengan Tosu itu, namun oleh karena Bok Holouw setjara sembunji memberikan petundjuk, maka si Tosu itu terdesak. Menurut aturan Tosu itu mestinja tahu gelagat dan menjudahi pertempuran, karena sebetulnja ia hanja disuruh menghantar surat.

Namun karena selama hidupnja Tosu ini belum pernah mengalami kekalahan, dan ia tahu benar bahwa ilmu silatnja menang djauh dari pada Keng In Wan, maka mana mau ia mengerti dan mundur? Si Tosu tidak tahu bahwa ada orang lain jang setjara sembunji memberikan petundjuk2 rahasia. Tiga kali si Tosu menerdjaug Keng In Wan, tapi berturut-turut ia djatuh terpental. Bahkan tiap kali djatuh, tiap kali lebih hebat sakitnja.

Tiba2 si Tosu merentjanakan suatu tipu jang djahat, malahan kedji! Sambil menggertak giginja ia menjerang dengan tipu ”Ngo- Kui Huan-Ju-Beng” atau Lima iblis memberontak dineraka! Hudtim bersama telapak tangan menjerang berbarengan.

Keng In Wan menangkis dengan tipu "Hwee-Djit Eng Kong" atau Sinar-bajangan-melingkari-matahari dari ilmu silat ”Kiu Jang Tjiu-hoat tapi ia terdesak. Tetapi tepat pada waktu itu, terdengar pula suara ditelinganja. ”Madju tiga tindak mundur tudjuh tindak menjanggah pilar mengganti tihang Tjin San, Thee Tjit, Tou Liong Hwan Tju.”

Keng In Wan kini sudah tunduk benar, tanpa pikir pandjang lagi ia madju tiga tindak, lalu mundur tudjuh tindak.

Benar sadja, serangan2 jang ganas kedjam itu dapat dipunahkan! si Tosu malahan berteriak bahna kagetnja ketika pinggangnja ditangkap Keng In Wan. Tubuhnja diangkat dan dilempar bagaikan orang melempar lembing. Namun baru sadja Keng In Wan merasa puas hatinja, atau tiba2 tudjuh titik sinar menjambar kearah mukanja! Sipemuda sedang lengah, maka tak sempat ia untuk berkelit!

Benar2 djiwanja terantjam. Tepat pada waktu itu, berkelebatlah sesosok bajangan hidjau.

Terdengarlah suara gemerintjing dan semua titik bintang itu lenjap diudara. Sementara itu, Keng In Wan sudah djatuh ketanah. Bajangan hidjau itu tidak lain dari pada si anak perempuan jang djelek rupanja.

Menjusul mana bajangan hidjau itu menubruk si Tosu. "Hun Kong Tjui” atau Pasak-pembagi-sinar jang termasjur dikalangan hitam maupun putih, dan si Tosu ketemu batunja.

Si Tosu bukan kepalang kagetnja. Maka ketika si gadis lompat menjerang, tjepat2 ia bergulingan ditanah.

Namun sambaran angin tetap membajanginja. Ia mendjadi gelisah. Disedotnja hawa Tjin-kie lalu bergulingan terus dengan tjepatnja. Ilmu silatnja memang bagus dan tjara bergulingnja itu merupakan sebuah tipu meloloskan diri diwaktu keadaan sangat berbahaja. Ilmu itu disebut ”Tjie Djan Kut” atau Tikus- menjerobot-setjara-litjin.

Tak heran djika dalam waktu singkat ia sudah mentjapai puluhan tombak djauhnja. Sekalipun demikian, sigadis terus membajanginja! Terpaksa si Tosu mengerahkan tenaga dalamnja dan memukul dengan Hudtimnja! Inipun merupakan tipu istimewa untuk mentjari hidup dalam bahaja kematian.

Tjelaka! pada saat itu djuga tenaga seberat ribuan kati menekan tangannja!

”Krek!” Tangan kanannja terasa sakit luar biasa, si Tosu mendjerit kesakitan.

Terdengarlah suara membentak: "Hoo-Dji, djangan terlampau kedjam kau turun tangan. "

Bermandi air peluh karena menahan sakitnja, si Tosu berdiri dangan gemetar, tangan kanannja terkulai patah. Tapi si Tosu bersemangat besi, ia menggertak giginja dan tangan kiri merogoh sakunja. Dikelurkannja pisau belati jang lantas diangkatnja dan dikibaskannja!

Si Tosu memutus tangan kanannja jang patah. Darah mengutjur amat derasnja. Wadjahnja putjat mengerikan, ia masukan tangan sebelahnja kedalam saku, dan mengambil bungkusan obat. Dibukanja bungkusan obat itu lalu diborehkannja obat itu pada lukanja.

Kemudian ia sobek lengan badjunja untuk membalut tangan kanannja jang putus itu.

Barulah ia menengadah kedepan. Terlihat olehnja dihadapannja berdiri seorang setengah tua, usianja kurang lebih empat puluh tahun.

"Bedebah! Melihat tjara gerakan tanganmu, mestinja kau adalah murid iblis tua dari Hoa-San-Pay! Apakah tua bangka itu tidak tahu akan tabiatku dan menjuruh kau kemari untuk memantjing kemarahanku? Hm, seandaikata aku tidak berhati belas kasihan, tak akan kuizinkan kau turun dari puntjak Mao-Li-liong ini!" Kini si Tosu betul2 tunduk.

"Sudahlah”, pikirnja, "Kuserahkan surat padanja, lain kali dipikir lagi! Maka dibereskannja pakaiannja lalu memberi hormat kepada orang dihadapannja itu.

"Pinto murid Thian Ie Siansu dari Hwa-San jang bernama Hie Siu Tjeng berdjuluk Tiat Hut To-djin. Pinto membawa perintah suhu datang kemari untuk menjampaikan surat, tidaklah kunjana mengalami peristiwa seperti sekarang ini Sesungguhnja

umpama kata dua negara bertengkar masing2 pihak, tidak boleh melukai utusan, tetapi Pinto sebaliknja mengalami perlakuan jang demikian. ”

"Kunjuk!! Kau sendiri jang petantang-petenteng mentjari ribut! Kau tidak minta bertemu sebagai utusan djuga tidak mengeluarkan surat. Kau mengandal pengaruh dan nama Thian Ie Siansu, berani menjerang orang dihadapan kami. Djika kau tidak mengatakan hal ini, aku tidak persalahkan dirimu. Tapi sekarang bukan sadja aku tidak sudi menerima suratmu, bahkan kuusir kau turun dari gunung ini! Djika hendak menjampaikau surat, Thian Ie Siansu harus ganti orang lain! Pergilah kau dari sini!. ”

Hie Siu Tjeng tak dapat menjelamatkun mukanja. Namun ia bertabiat tidak suka mengalah, ia merogoh sakunja hendak mengeluarkan surat untuk disampaikannja. Namun pada saat itu djuga matanja mendjadi kabur. Tahu-tahu tubuhnja diangkat naik dan terdengarlah orang tertawa dingin: "Kau berani main gila!!" Tubuhnja melajang diudara bagaikan lajang-lajang putus talinja, turun kebawah lamping gunung dan achirnja terguling-guling.

Berapa kali Hie Siu Tjeng hendak menahan tubuhnja namun tidak berhasil. Baru setelah berada ditanah, tubuhnja berhenti berguling. Dengan pakaian kojak2 dan badan kesakitan ia belari terbirit-birit. Keng In Wan segera menghaturkan terima-kasihnja kepada orang tua dan si gadis.

Ia bertanja: ”Lo tjian-pwee apakah kau bernama Bok Lotjian- pwee?”

"Jang kau tjari siang-siang sudah kau temui. Kau telah melihat empat buah buli-buli kaju. Hai, ajah mengatakan kau terlalu bodoh. Tetapi inipun tidak djelek. Hanja ibuku itu, ah. "

Air mata sigadis ber-linang2.

Keng In Wan tertegun dihadapan "Siu Tjin Wan” empat buah buli2 kaju! Kata-kata ini, apakah maknanja? Hatinja bergerak! Kiranja orang tua she Sin, pendeta bermuka merah, orang tua bungkuk dan orang tua berbadju hidjau itu............. hanja seorang belaka! Ah, apa Bok Lotjian-pwee memiliki kepandaian menjamar sedemikian hebatnja?

"Tabiat ajah memang aneh. Ajah dan ibuku sudah berpisahan selama dua belas tahun. Kau mengatakan bahwa kau disuruh ibu untuk menemuinja. Demi mendengar nama ibu, ia djadi marah, namun sebenarnja selama dua belas tahun ini, senantiasa ia memikirkannja. Kau membawa barang titipan ibu, dan perintah tinggulannja. Ajah mengira bahwa ibu mendustainja. Ajahpun mengetahui bahwa kau baru sadja mengalami bentjana, dikirakan bahwa kau pasti akan minta bantuannja. Ajah mengira diantara kau dengan ibu terdapat hubungan jang akrab. Namun selama berapa hari ini, kami dapat mengetahui bahwa kepribadianmu tidak djelek......................... Achirnja, ketika diruang pendopo kau serahkan kotak itu kepada ajahku, maka perasaan ajah makin lunak. Ia keluar untuk menolongmu. Sekalipun anggota bagian bawahnja tidak bisa bergerak namun rahasia pengerahan tenaga dalamnja dari Sam Goan Kiong memang luar biasa. Karena musuh terlampau kedjam, ajah mendjadi gusar. Dirampasnja benang ulat sutra berapi itu, hingga ratjun jang mengeram didalam tubuhmu itu dapat dipunahkanna. "

Demi mendengar pendjelasan itu, Keng In Wan tambah terang duduknja perkara. Ia merasa berterima kasih. Walaupun demikian, ia masih belum mengerti tentang darah jang berlulahan didalam ruang pendopo itu.

”Bodoh kau! Ajah sedang mengudji ketabahan hatimu. Boleh djadi ajah hendak mengambil kau sebagai muridnja. ”

Keng In Wan tergerak hatinja.

Bok Holouw tersenjum mendengar itu. ”Djalan! Hajo masuk, nanti bitjara dengan djelas,” ia berkata. Ia berdjalan dan diikuti oleh kedua muda mudi ini masuk kekamar. Keng In Wan berdiri dihadapannja dengan sikap hormat. Orang tua itu kelihatan sedih. Ia memandang Keng In Wan, lalu bertanja: "Dimana ia meninggal dunia?"

"Digua Thian Tju Tong digunung Tjinnia” djawab pemuda kita. ”Apakah kau jang merawatnja?”

”Ja!!"

"Nanti kau harua menemani kami untuk mengundjnngi tempat kuburannja itu............... Ah, ia membuat aku hidup sangat menderita ”

Orang itu lalu berpaling kebelakang dan berkata, "Hodjie, semendjak kau berusia tiga tahun dan meninggalkan ibumu, selama dua belas tahun ini, tiada seharipun kau tidak teringat padanja. Tetapi, tidaklah kusangka bahwa sifatku jang keras kepala achirnja membuat kau mengalami keadaan demikian menjedihkan.

Walaupun keenam pamanmu itu bukan orang baik baik, namun wanita membela keluarganja memang hal jang wadjar. Apalagi aku pernah bersumpah untuk tidak melukai seorangpun dari keluarganja. Namun paman2-mu itu, djahat dan telengas. Mereka merusak anggota bagian bawah tubuhku dengan Im Lim Teng (Paku Fosfor iblis) dari Kui Ong Bun. Tetapi mereka lupa akan ilmuku Sam Goan Kiu Koan, jang tiada taranja. Tak berhasil membinasakan aku, paman2-mu jang sudah seperti orang gila itu, ingin membunuh kau. Inilah jang memaksa aku menurunkan tangan kedjam sehingga lima pamanmu binasa. Jang seorang lagi karena memandang muka ibumu baru kuampuni. Siapa njana demi melihat majat2 saudaranja, ibumu mendjadi kalap. Ibumu mendjerit-djerit, mentjatji aku kedjam seperti binatang. Aku tak tahan lagi, aku membawa kau meninggalkan rumah tangga. Kemudian aku datang kemari membangun "Siu Tjin Wan" untuk mengasingkan diri, hidup menjepi! Maka kedatangan Keng In Wan menimbulkan bentjiku kepada ibumu, jang mula2 kukira tidak mau datang sendiri. Kukira ia masih dendam dan bentji padaku.”

Keadaan sunji sedjenak.

"Tapi siapa tahu bahwa karena menangkap Oh Long Tjoa untukku, ibumu kena rutjun. Sebetuluja ia hendak menggembleng ular itu untuk dibawanja sendiri kemari, untuk kemudian dengan bantuanku menghilangkan ratjun didalam tubuhnja dan memulihkan penghidupan kekeluargaan kita jang bertjerai berai. Ah, sudah djalannja karma! Keng In Wan jang di-kedjar2 musuh djatuh didepan gua tempat tapanja. Ibumu bertempur dengan kawanan pendjahat itu, hingga tenaga jang digunakan untuk mentjegah djalannja ratjun itu mendjadi pudar. Segera ratjun mendjalar kedalam tubuhnja dan menjerang djantungnja ”

Suara Bok Holouw makin lama makin sedih, achirnja ia terdiam. Sin Thian Ju jang bergelar Bok Holouw adalah seorang tokoh utama didalam dunia Kang Ouw, ilmu kepandaiannja sangat tinggi, dan pengetahuan serta pengalamannja pun sangat luas. Karena melakukan tugas penegak keadilan didunia Kang Ouw, maka ia terlambat kawin. Achirnja ia berdjumpah dengan Kiang Liang Souw jang bergelar Say Kuan Im, seorang pendekar wanita. Setelah saling berkenalan dan bantu membantu, maka dua pendekar itu djadi kawan seperdjuangan dan achirnja membentuk rumah tangga bersama. Jang satu sudah berusia empat puluh tahun lebih, jang lain pun sudah berusia tiga puluh satu tahun.

Kiang Liang Souw tersohor sebagai seorang wanita jang mendjaga diri bagaikan menjajang batu mustika, pribadinja maupun ilmu silatnja semua melebihi orang biasa. Namun lain halnja dengan keenam adik laki2nja jang suka berbuat sewenang-wenang dan malang melintang melakukan kedjahatan.

Kiang Liang Sonw diam2 kuatir suaminja bentrok dengan adik2nja. Tombak dan golok tidak mempunjai mata, bilamana sampai ada seorang dari adik-adikhja jang mati karena perkelahian dengan suaminja, apa kata orang? Inilah hebat!. Oleh karena ini Kiang Liang Souw membudjuk adik-adiknja agar mengubah kelakuannja jang buruk, agar mendjadi orang baik2. Namun sia2 belaka.

Pada suatu hari adik Kiang Liang Souw jang ketiga, jaitu Kiang Liang Kie dipergoki oleh Sin Thian Ju dalam perbuatannja merampas wanita keluarga baik2. Sin Thian Ju mendjadi murka, ia menjerang iparnja sampai babak belur. Sedjak itu Kiang Liang Kie dan saudara2nja mendendam hati permusuhan terhadap Sin Thian Ju. Tetapi nampaknja sudah ditentukan oleh Jang Maha Kuasa bahwa diantara mereka jang djahat dan jang baik itu, mesti timbul bentrokan! Kiang Liang Souw memperoleh Seorang putri dari perkawinannja dengan Sin Thian Ju jang bernama Lok Ho. Ketika Sin Lok Ho berusia tiga tahun, enam saudara Kiang itu berlagak tobat dan mengubah kelakuan buruknja.

Mereka be-ramai2 membawa pelbagai mainan berkundjung kerumah Sin Thian Ju. Melihat muka istrinja, Sin Thian Ju melajani mereka dengan baik-baik. Kiang Liang Kouw, adik laki2nja jang kedua pura2 mendukung Lok Ho sebentar setelah mana lalu diserahkannja kembali kepada Sin Thian Ju.

Pada saat lengah itulah, Kiang Liang Kouw menjerang dengan dua buah paku Im Lim Pek Kut Teng, sendjata-gelap dari Ju Leng Bun jang terkenal keganasannja! Tapi Sin Thian Ju bukan sembarang orang. Ia masih sempat menggeserkan tubuhnja sehingga paku itu tidak mengenai djalan darah jang berbahaja namun tak urung menghantam kedua lututnja! Hawa dingin lantas menjerang kakinja. Bukan kepalang terperandjatnja Sin Thian Ju. Ia tertipu! Ia menggerakan tenaga dalamnja untuk menutup djalan darah agar ratjun tidak mendjalar. Kemudian sambil mendukung putrinja, ia bertempur melawan keenam saudara2 itu. Sin Thian Ju mulai beringas sorot matanja, ia gusar-bukan main. Apalagi keenam orang itu senantiasa menjerang kearah putrinja! Inilah kedji sekali!. Sin Thian Ju mendjadi kalap! Ia berteriak mengguntur dan menjerang dengan Sam Tjay Siang Tjan. (Penghantjuran-tiga-dunia- langit bumi dan manusia), lalu Sam Goan Un Hwee (Tiga tjara pengerahan tenaga alam bumi dan manusia)! Tay Sam Seng Tjoat Biat (Pemusnahan tiga bintang besar)! Keluarlah ilmu2 rahasia jan djarang kelihatan didunia persilatan, dikerahkan dengan tenaga Sam Goan Sin-kang!

Sekalipun keenam saudara Kiang itu memiliki kepandaian jang tinggi, tapi mana dapat bertahan? Bahwa keenam saudara tidak dapat meloloskan diri. Mereka bertempur sehingga satu hari satu malam. Achirnja Kiang Liang Gie jang tertua, Kiang Liang Kouw jang kedua, Kiang Liang Kie jang ketiga, Kiang Liang Sin jang kelima, Kiang Liang Lin jang keenam, satu demi satu binasa dalam telapak tangannja! Masih seorang lagi Kiang Liang Hoa, ketika hendak dibunuhnja djuga, tiba2 teringatlah ia akan permohonan istrinja: „Djangan sampai keluarga Kiang putus turunan.............” perkataan itu mendengung ditelinganja.

Tangan Sin Thian Ju d jadi lemah. Kiang Liang Hoa hanja terluka parah. Seraja menggertakkan giginja, Sin Thian Ju mengerahkan tenaga dalamnja untuk membujarkan ratjun Im Lim Pek Kut Teng.

Tapi sajang sekali! Ratjun itu sudah masuk kedalam otot2-nja. Berdjalan ia masih dapat, tetapi untuk berputar atau melompat, banjak sekali makan tenaga. Djustru pada ketika itu, istrinja pulang! Melihat majat2 saudaranja bergelimpangan, putjatlah wadjahnja bahna kagetnja. Ia melihat pula roman suaminja jang beringas menakutkan, ia lebih merasa sedih. Ia mengeluarkan beberapa patah kata, lalu bertengkar mulut.

Sin Thian Ju beranggapan bahwa istrinja terlalu membela keluarga. Tanpa banjak bitjara lagi, ia mendukung Sin Lok Ho, lalu pergi dari rumah itu. Sedjak peristiwa ngeri jang timbul itu, kedua suami istri tersebut tidak pernah bertemu lagi.

Malahan kini mereka tidak akan berdjumpa untuk selama2nja. Sebenarnja tidak lama kemudian, Kiang Liang Souw mengerti duduknja perkara. Ia sangat menjesal. Ia pergi menjerapi kabar maka achirnja diketahuinja bahwa Sin Thian Ju membangun kuil Siu Tjin Wan dan hidup menjepi dipuntjak Mao Li Hong. Ia telah mengetahui djuga bahwa kaki Sin Thian Ju tjatjat.

Diam2 ia pergi kesegala pelosok untuk mentjari keterangan tentang pengobatan kaki jang tjatjat demikian itu. Achirnja ia mendapat petundjuk bahwa ratjun Im Leng Pek Kut Teng itu, hanja dapat diobati dengan ratjun ular Oh Leng Tjoa jang diberi makan tjusee bersama Hiat Djo (rumput darah). Oh Leng Tjoa itu harus dipiara sampai kulitnja tumbuh titik2 berwarna kuning emas.

Kaki jang tjatjat harus digigitkan ular itu, agar ratjun ular itu melawan bisa Im Leng Teng. Kiang Liang Souw mulai mentjari ular Oh Leng Tjoa. Kemana-mana ia tjari namun tidak berhasil. Ia tidak berputus asa. Gagal disini, ia tjari di lain tempat.

Kesungguhan dan kesabarannja memang dapat dipudji. Achirnja dibelakang kebun rumah Keng Kong Tiat diketemukannja seekor ular Oh Leng Tjoa jang ditjarinja. Susah pajah dan dengan bantuan Keng In Wan jang masih pemuda remadja, maka berhasil djuga ditangkap ular Oh Leng Tjoa itu. Dibawanja pulang ketempat tinggalnja digunung Tjiong Lam San. Ular itu diberinja makan Tjusee dan rumput Hiat Djo.........

Pada suatu hari karena lengah, Kiang liang Souw terpagut ular berbisa! Tjepat ia mengerahkan tenaga dalamnja, menjalurkan ratjun itu pada suatu tempat bagian tubuhnja.

Sebenarnja ia sudah dapat mengantarkan ular itu sendiri kegunung Hwa San, namun kini ia mendjadi terlambat. Kebetulan pada saat itu Keng In Wan sedang dikedjar2 musuhnja dan terdjatuh di depan gua tempat tinggalnja. Terpaksa Kiang Liang Souw turun tangan dan bertempur dengan pendjahat2 tersebut, hingga semuanja terluka parah.

Namun karena mengerahkan tenaga terlampau banjak, ratjun ular mendjadi bujar! Ratjun Oh Leng Tjoa mendjalar kedalam anggota2 tubuhnja...............

Selama belasan tahun, Kiang Liang Souw mengalami banjak pahit getir, maka soal mati dan hidup sudah dianggapnja tidak begitu penting. Tapi ia masih tidak dapat bebas dari gangguan asmara, oleh karena ini maka ia minta Keng In Wan untuk mewakilinja membawa ular Oh Leng Tjoa kegunung Hwa San untuk dipersembahkan kepada suaminja.

Diwaktu hidupnja ia tidak berhasil melenjapkan kesalahfahaman, maka diwaktu matinja ia harus melenjapkan kesalahfahaman ini. Demikinlah achirnja Keng In Wan mentjapai djuga puntjak Mao Li Hong digunung Hwa San. Sin Thian Ju menganggap istrinja sudah hilang tjintanja, maka ia hidup menjepi digunung Hwa San.

Tidaklah disangkanja bahwa setelah lewat dua belas tahun, istrinja mengutus Keng In Wan pemuda ini untuk menemuinja. Bahkan mengatakan membawa perintah wasiat segala.

Sin Thian Ju mengira istrinja hendak menipu agar ia turun gunung atau menghendaki supaja Keng In Wan diadjar ilmu kepandaian sadja. Maka hendak diudjinja lebih dahulu sipemuda ini.

Berapa kali ia menjamar dan mempermainkan Keng In Wan. Tidaklah di-sangka2 olehnja, bahwa sekalipun muda usianja, namun hatinja tabah. Ketika mendengar perkataan Keng In Wan bahwa kotak jang diserahkannja itu adalah kiriman istrinja, hatinja tergontjang djuga. Ia buka tutupan kotak itu. Ular Oh Leng Tjoa jang sudah lama dikurung didalam kotak itu, segera hendak keluar meloloskan diri sambil memagut! Tambah pula oleh karena binatang itu makan Tjusee dan rumput Hiat Djo, maka tenaganja hebat sekali.

Sin Thian Ju terperandjat luar biasa. Tjepat2 ia kakinja tidak dapat bergerak leluasa, maka pahanja terpagut ular itu djuga. Mula2 ia beranggapan istrinja hendak membalas dendam. Namun tiba2 kakinja jang sudah hilang rasa itu mendjadi panas seperti terbakar api. Kemudian terasa kesemutan. Hal ini belum pernah dialaminja!

Tanpa ajal ia mengerahkan tenaga dalamnja! Kali ini tenaga dalam dapat menembus kebagian kakinja tanpa sedikit mengalami rintangan. Ia heran sekali.

Sementara Sin Lok Ho sudah menangkap ular Oh Leng Tjoa. Sin Thian Ju memungut kotak itu dan melihat sehelai kertas tulisan. Ketika dibatjanja, maka air matanja ber-linang2. Itulah pesanan dari istrinja jang mengutarakan kemenjesalannja dan minta maaf. Diuraikannja tentang kasiat ular Oh Leng Tjoa jang dapat menghilangkan ratjun Im Leng Teng.

Achirnja diminta agar mendjaga Sin Lok Ho putri tunggalnja itu baik2 dan mengenai Keng In Wan jang mempunjai dendam sakit hati. Menggigillah sekudjur tubuh Sin Thian Ju, ia baru tahu bahwa istrinja benar2 meninggal dunia.

Teringatlah ia kembali segala kedjadian pada masa jang lampau, dan air matanja mengalir amat derasnja.

Ia menangis berhadap-hadapan dengan putrinja. Mereka menjesal, namun sudah terlambat. Serta-merta Sin Thian Ju bertanja pada Keng In Wan mengenai asal usul permulaannja. Keng Kong Tiat, ajah Keng In Wan merupakan ahli Waris tunggal partai Heng-San Pay. Ibarat pohon rindang mudah mendatangkan angin, banjak pula orang2 jaug dengki kepadanja. Pada suatu hari ia mengawal barang kiriman, ia kebentrok dengan kepala kepala kawanan perampok didanau Tong Teng Ouw!

Adapun kepala perampok itu bernama Gak Tju Siang berdjuluk Hui Thian Giok Liong (Naga kemala terbang) Dia kaja raja dan besar pengaruhnja, anak buahnjapun tidak sedikit. Pergaulannja didunia djalan hitam sangat luas.

Dengan be-ramai2 ia menjateroni rumah Keng Kong Tiat. Tidak sadja seluruh isi rumah dibunuhnja bahkan kedelapan orang muridnja djuga tiada seorang jang lolos dari djaring mautnja. Bahkan Keng In Wan djika tidak kebetulan dapat kesempatan untuk bersembunji didalam lubang gunung gunungan, iapun tak akan dapat lolos. Achirnja ia berhasil bertemu dengan Kiang Liang Souw, hingga ketulungan. So-konjong2 Keng In Wan mendjatuhkan diri berlutut dihadapan orang tua itu sambil berkata. "Lotjianpwee.................. Pendjahat Gak Tju Siang adalah duri bagi rakjat djelata jang harus dibikin mampus.

Lotjianpwee,............ gemblenglah aku agar mendjadi pandai. Aku hendak menghabiskan njawa djahanam itu, dengan antek2nja sekaligus. Kiang Lotjianpwee mengatakan, bahwa hanja kau, orang tua jang mempunjai kepandaian untuk membunuhnja. "

Sin Thian Ju borpikir sebentar, kemudian berkata per-lahan2: „ Kepandainku tidak mudah ditjapai selain daripada harus sabar, djuga harus mempunjai bakat. Tapi, ah! Tjoba sadja peruntunganmu " Demikian semendjak hari itu, Keng In Wan mendjadi murid Sin Thian Ju alias Bok Holouw.

Keesokan harinja ketika Sin Lok Ho tengah mengadjarkan Keng In Wan ilmu mengatur djalan pernapasan, tiba2 terdengar suara orang dari luar: „Mohon izin untuk menjampaikan surat!"

Sin Lok Ho berlari keluar bersama Keng In Wan. Ketika sudah keluar, nampak oleh mereka seorang hwesio tua jang gagah keren sikapnja, sedang membungkukkan tubuhnja.

Dari sekudjur tubuhnja sudah mengeluarkan asap berwarna putih. Dihadapannja berdiri Sin Thian Ju, sedang merangkap tangannja membalas hormat dengan sikap wadjar.

Mata Sin Lok Ho sangat tadjam, sekali lihat sadja ia tahu bahwa ajahnja sedang menjerang dengan tenaga Bu Heng Tjin-kie (Tenaga asli nan tak ber-bentuk2).

Hweesio itu bergulat mati2an mengerahkan tenaganja untuk melepaskaskan diri. Namun Sam Goan Tjin-kie dari Sin Thian Ju lebih hebat dibandingkan dengan Bu Heng Kang-kie jang dimilikinja.

Malahan lebih hebat lagi! Karena djika hweesio itu kalah, maka seluruh kepandaiannja akan hantjur sama sekali! Sin Lok Ho tak tega hatinja, timbul belas rasa kasihannja. Karena ia melihat bahwa hweesio itu sudah mengerahkan tenaga dalamnja sampai puntjak penghabisan!

Djika diteruskan, tjelakalah dia! Maka gadis jang baik itu, berseru dengan njaring.

„Hwesio tua, apakah kau masih tidak mau mengaku kalah?" Sebetulnja hweesio itu bukan tidak tahu keadaannja, tapi ia tidak punja muka untuk menjerah. Sebaliknja karena seruan Lok Ho itu, Sin Thian Ju bersiul njaring. Pada detik itu djuga ia mengibaskan tangannja dan hweesio itn terpental keatas udara bagaikan diangkat angin.

„Djika bukan putriku berbelas kasihan aku pasti bikin kau turun gunung dengan hantjur seluruh kepandaianmu, lekas serahkan suratmu!”

Dengan sekudjur tubuh babak belur, hweesio itu merajap bangun. Merah mukanja karena malu. Ia madju kedepan dengan likat sambil mengangsurkan surat bersampul merah. Sin Thian Ju menjambutinja dan tampaklah sebaris tulisan.

„Disampaikan kepada Sin Thian Ju, pendekar tersohor dari Ouw- Hai". Dibawahnja tertera sipengirim „Hwa San Ngo Lo” atau Lima orang tua dari gunung Hwa San.

Ketika dibukanja, didalam sampul itu terdapat surat menantang mengadjak bertempur, jang kata2nja tidak teratur rapih. Hampir sadja Sin Thian Ju tertawa karena gelinja. Setelah berpikir pula, sambil bergeleng-geleng kepala ia berkata: „Baiklah aku akan menepati djandji." Hweesio itu manggut ber-ulang2 dan mundur. Setelah keluar dari pintu Siu Tjin Wan, tanpa ajal ia melantjarkan kaki seribu lari turun gunung.

„Oleh karena kita menghadjar si imam she Hi itu kini Hwa San Ngo Lo mendjadi marah. Selama dua belas tahun aku sudah tidak berurusan dengan dunia Kang Ouw. Dan buli2 merah dari suhuku sudah banjak tahun tidak terlihat orang, nanti bulan tiga tahun depan rupanja harus menemui mereka................" Sin Thian Jn berkata kepada putrinja dan Keng In Wan.

Tanpa ajal pemuda kita mendjatuhkan dirinja berlutut: "Tidaklah kunjana bahwa karena urusanku Insu djadi bermusuhan seperti ini. ”

Sin Thian Ju tertawa tergelak-gelak: „Bulan tiga tahun jang akan datang, setelah menemui Hwa San Ngo Lo, akupun harus menemani kau menuntut balas. Harus diketahui bahwa djika istriku tidak bertempur dengan kawanan pendjahat itu, tak nanti ia sampai mati karena ratjunnja bekerdja. Inipun berarti diantara Gak Tju Siang dengan aku, ada djuga sedikit hutang piutang jang harus dibereskan. Muridku, melihat bakatmu dan pengadjaranku serta kedua bendera Leng Hun Huan ini............kau pasti dapat membunuh musuh2mu.”

Keng In Wan menjatakan terima kasihnja atas kemurahan hati orang tua itu, namun didalam hatinja ia agak sangsi. Ia sangsi apakah dapat berhasil mempeladjari Sam Goan Sin-Kang.

Hari pertama Lok Ho mengadjarkan teori, sekalipun dapat menangkap sedikit artinja, namun untuk memahami seluruh arti berapa patah kata-kata itu, tidaklah mudah. Namun ketika itu Siu Thian Ju bersenjum.

"Asalkan kau beladjar dengan sungguh2, maka tidak ada hal jang sukar   didalam    dunia    ini.    Lihat    sadja peruntunganmu "

Kata2 ini menjadarkan Keng In Wan dari alam mimpinja, maka berpikirlah ia: „Untuk kepentingan membalas dendam, sekalipun hantjur lebur tulang ragaku, aku tidak takut. Peri bahasa pun ada jang mengatakan demikian, "Ketjuali mati tidak ada hal jang terlampau sukar," maka asalkan aku beladjar dengan sungguh2 dan tekun,     apakah      jang      dapat      menggagalkan usahaku. ”

Semendjak hari itu. dibawah petundjuk Sin ThianJu, Keng In Wan beladjar melatih Sin Kang dengan radjin serta tekunnja. Keng In Wan seorang pemuda jang bersemangat me-njala2, ditambah pula sangat menginginkan tjepat2 dapat membalas sakit hati keluarganja, maka dalam latihannja ia tidak menghirauikan segala kesukaran. Ia beladjar mati2an! Atjap kali sedari pagi sampai malam terus menerus, atau dari malam terus hingga pagi, tidak henti-hentinja ketjuali diwaktu tidur.

Siu Thian Ju menjaksikan muridnja jang luar biasa radjinnja, dalam hatinja merasa lega dan puas. Sementara itu perhubungan Sin Lok Ho dengan Keng In Wan mendjadi akrab. Sigadis semendjak ketjilnja hanja hidup berduaan sadja dengan ajahnja, belum pernah ada orang mengundjunginja.

Ketika pertama kali Keng In Wan datang kerumahnja, mula2 timbul rasa simpati dalam hatinja akan nasib sipemuda jang buruk, tapi lama kelamaan oleh karena bertjampur gaul terus menerus maka timbullah perasaan tjinta pada sipemuda jang gagah-tampan.

Mulai hari ini, ia merawat tubuh dan mukanja, hingga lama kelamaan mukanja jang dahulu hitam seperti pantat kuali, mendjadi hitam manis. Bibirnja selalu menjadjikan senjuman jang hangat dan menawan dan matanja berbinar tjahaja asmara.

Tjintanja pada Keng In Wan adalah murni dan indah.

Sin Lok Ho kini mulai mengetahui kebahagiaannja pertjintaan, kurnia dari Thian kepada Machluknja.

Siu Tjin Wan jang tadinja sunji sepi berubah mendjadi taman Surga dimana hawa asmara memenuhi udara. Sin Thian Ju diam2 mengetahui perhubungan sutji antara putrinja dengan Keng In Wan, namun bukannja melarang, malahan ia bergirang hati. Keng In Wan selain gagah tjakap, djuga berperibadi luhur dan bersikap ksatrya.

Pada suatu malam, rembulan indah tjemerlang.

Tjahajanja jang bagaikan perak djatuh ber-limpah2 ditanah sekitar kuil Siu Tjin Wan. Pemandangan indah sekali dan suasana njaman dan segar. Dedaunun bergojang-gojang ditiup angin jang meniup sepoi-sepoi, menghembus dari djauh nun disana, dimana mata tak dapat memandang.

Tapi tersembunji dibelakang pohon2 bambu jang tipis, mengintip dari sela2 daun jang kurang lebat, bertjanda dan berkasih- kasihan sepasang muda-mudi jaitu Keng In Wan dan Sin Lok Ho.

„Moay-moay jang tertjinta, dan tjantik seperti dewi Kahyiangan. Aku datang dari rantau untuk memandang sinar matamu jang tadjam. Dan aku bilang terus terang, bahwa sebelum dapat merebut dan menguasai hatimu, aku tidak mundur, biar badan dan njawaku hantjur."

Sang gadis tersenjum, ia pandai pula bermain dengan kata-kata.

„Tidak, pemuda asing. Tidak!" sahutnja menggoda.

„Aku tidak mempunjai hati! Dan seumpama kata ada, aku tidak nanti berikan itu kepada hati jang buta. Kau salah mata.” Ia mengangkat kepalanja dengan angkuh, sambil membereskan rambutnja jang pandjang.

Keng In Wan memegang tangannja jang halus, dan dengan hati ber- debar2 ia berkata: „Pantun jang bagus!" udjarnja. „Tetapi, moay- moay, kau sendiri mendjustai hatimu. Kau melawan, kau menipu, kau bunuh perasaanmu sendiri.”

„Salah pemuda. Dengarlah! Hati itu bagaikan kembang. Sebelum datang musimnja, ia tidak akan bersemi. Hati manusia, kalau dasarnja tidak ada, ia tidak bisa dipaksa datangnja menurut kemauan orang. Djodoh kita tidak bertemu barangkali ” Sin Lok Ho menutup omongannja dengan satu lirikan......

mengusir.

Rembulan diatas angkasa se-olah2 bermesem-simpul melihat tjumbu raju sepasang muda-mudi itu jang sedang mengetjap kenikmatan tjinta.

„Baunja kembang harum, durinja kembang tadjam. Sungguh manis madu, sungguh pahit njali burung Hong..............." Sembari berkata, Keng in Wan menarik tangan Sin Lok Ho kedekatnja dan ketika muka mereka berhadap-hadapan, tak tahan lagi ia mongetjup bibir sigadis dengan hangatnja.................

Berkat petundjuk dan pimpinan Sin Thian Ju jang maha sakti, serta bakatnja sendiri jang memang sangat baik itu, ilmu kepandaian Keng In Wan pesat madjunja.

Ditambah pula dengan ilmunja sendiri dari Heng San Pay jang bernama Kiu Yang Tjhiu-hoat, maka sekalipun waktunja tidak pandjang, hanja berapa bulan sadja, tapi ilmunja sudah djauh berbeda dari pada ketika ia baru sadja naik kepnntjak Mao Li Hong. Boleh diibaratkan seperti langit dan bumi.

Pada achir tahun ini, ketika Keng In Wan menggunakan tenaga Thian Goan Kin, Sin Thian Ju mengadjarkan tjara penggunaan sendjata bendera Leng Hun Huan jang dirampasnja dari Im Yang Siang Sat.

Sin Thian Ju memang sangat gemar mempeladjari segala tjara penggunaan sendjata, maka tak heran segala pedang golok dan lain-lain sendjata banjak sekali terdapat didalam rumahnja. Maka ketika melihat Im Yang Siang Sat menggunakan bendera Leng Hun Huan, ia lantas mengetahui bahwa itulah merupakan sendjata mustika. Djangan kata tentang bentuknja, hanja dipandang dari benang ulat sutra berapi itu sadja sudah merupakan suatu benda jang langka didunia. Oleh karena ini, maka tanpa ragu2 dirampasnja.

Kemudian ia mentjiptakan suatu ilmu baru, ditjampur dengan ilmu silat Sam Goan Hun Hoa Tjhiu hoat.

Tidaklah dinjananja bahwa kelak kemudiau Keng In Wan dan Sin Lok Ho berdua berkat ilmu penggunaan bendera tjiptaannja itu, mendjadi termasjur diduuia Kang Ouw. Dengan Tjit Tjoat Leng Hun Hoannja mereka berhasil mengalahkan tiga belas achli pedang Tong Goan dan menggetarkan dunia Kang Ouw, baik dalam kaum djalan putih maupun kaum djalan hitam.

Bulan berganti bulan dan waktu lewat dengan pesatnja. Dalam waktu sekedjap mata sadja, tahu-tahu dua bulan telah terlampaui. Sin Lok Ho bersama Keng In Wan berdua dibawah petundjuk Sin Thian Ju telah paham menggunakan sendjata Leng Hun Huan.

Bahkan Sin Lok Ho dan Keng In Wan berhasil mentjiptakan suatu tjara kerdja sama dalam bentuk terpetjah dalam persatuan. Debgan tjara itu apabila dua orang sama2 madju, mereka dapat menggertak disebelah timur sebaliknja menjerang disebelah barat, satu mendjaga disebelah kiri, jang lain menjerang disebelah kanan. Tjaranja sangat rapi dan rapat tiada lowongan atau kelemahan jang dapat ditjari oleh lawannja. Tidak sadja dapat menjerang tapi djuga dapat membela diri.

Demi menjaksikan ketjerdasan Keng In Wan sedemikian rupa ini, Sin Thian Ju diam2 merasa girang.

Apalagi ketika Keng In Wan melakukan penjerangan, sentakan tangan dan tikamannja adalah kuat dan tjepat.

Tubuhnja sangat lintjah dan gesit, segala sesuatu menundjukan keluarbiasaannja. Dengan kepandaiannja jang sekarang ini sadja, sudah dapat Keng In Wan bertempur dengan orang luar. Djika ada waktu, maka Sam Goan Sin Kang akan mempunjai ahli warisnja.

Tak lama kemudian tahun telah berganti, tahu2 sudah tanggal duabelas bulan tiga. Sin Thian Ju memanggil kedua anak muda mudi itu kehadapannja. Diperintahkannja ber-kemas2 untuk berangkat ke Hwa San memenuhi djandji Hwa San Ngo Lo.

Kedua bendera Leng Hun Huan disuruhnja dilipat menjerupai pedang pandjang dan didukung dibelakang punggung.

Mendjelang berangkat diberi pula petundjuk-petundjuk sebagaimena mestinja, lalu diberikannja doa restu untuk berdjalan.

Ketika Sin Thian Ju melangkah keluar pintu, maka kain kuning dihadapan patung Sam Tjeng Tjin-djin tiba-tiba ditariknja.

Menjusul terdengarlah suara gemuruh. Sin Thian Ju tjepat2 melompat keluar pintu.

Tak lama kemudian, pintu rumah sutji itu rubuh kebelakang! Pagarnja terbenam kebawah, ruang pendopo merapat djadi satu kebawah. Nampak pula dari belakang terdapat sebuah panorama jang bentuknja seakan-akan seperti tirai menutupi segala sesuatu.

Demikianlah rumah Sin Thian Ju ini tertutup oleh tanah gunung jang penuh tnmbuh2an dan rumput, tidak kelihatan bekas jang dapat ditjari orang.

Keng In Wan meleletkan lidahnja serta membuka matanja lebar2 bahna kagumnja, Sin Thian Ju tersenjum puas, kemudian bersama Siu Lok Ho dan Keng In Wan ia berlalu pergi...

Bulan tiga tanggal tiga belas, Sang putri malam telah memantjarkan tjahajanja ditjakrawala.

Dipuntjak Lok Goan Hong jang mendjadi sebuah Puntjak gunuug diantara tiga puntjak Hwa San jang ternama, orang menjaksikan bajangan orang jang berkelebatan. Seorang diantaranja adalah orang tua jaug mengenakan pakaian serba hidjau, seorang lagi pemuda gagah tampan dan seorang lagi wanita muda jang tjuga berpakaian hidjau,

Setibanja dipuntjak gunung, si orang tua jang bukan lain dari Sin Thian Ju memandang ke sekitarnja dengan penuh perhatian. Setelah itu dengan tersenjum ia berkata: „Tanggal pertemuan bulan tiga tanggal limabelas, kita datang kesini lebih dulu untuk menjelidiki tentang keadaan musuh.

Apakah si tua bangka itu tidak mengatur djebakan atau barisan maut dan sebagainja untuk mentjelakakan kita? Disini kulihat tiga buah djalanan, kita harus mendjaganja setjara berpentjaran. Seorang mendjaga sebuah djalanan, setelah itu kita berkumpul menurut rentjana.

Djika ada sesuatu kedjadian, masing2 mengeluarkan suara pertanda. Aku mempunjai peluit jang dapat mentjapai djarak djauh, tidak terganggu oleh angin.

Tapi kalau tidak terlalu terpaksa, djanganlah digunakan agar tidak sampai menjebabkan seperti kita memukul rumput untuk mengedjutkan ular ”

Demikianlah setelah selesai berunding, ketiga orang itu lalu berpentjaran.

Malam pertama tidak terdapat tanda apa-apa.

Hari kedua tanggal empat belas, ketika itu waktu kurung lebih djam sebelas malam. Sin Thian Ju duduk bersila sambil meramkan matanja mengheningkan tjipta. Tiba2 tertangkap olehnja suara siulan njaring melengking diangkasa. Ia terkedjut. Dengan tjepat ia bergerak, bagaikan burung raksasa berkelebat lari kearah utara. Nampak olehnja sesosok bajangan hidjau berkelebat.

Sin Thian Ju jang sangat djeli matanja lantas tahu bahwa orang itu tidak lain daripada putrinja sendiri

Ia lari mendahuluinja dan menoleh, lalu berbisik. "Ho-djie, kau lupa menutupi mukamu!"

Mendengar teguran itu, Lok Ho berhenti: „Ajah, kau djalan duluan."

Sin Thian Ju berlari terus, tjepat bagaikan melesatnja anak panah. Sesaat kemudian ia tiba dilereng gunung sebelah utara. Nampak olehnja bendera Leng Hun Huan ber-kibar2 mengeluarkan suara angin jang men-deru2

Tiga bajangan orang bergerak mengitarinja. Sin Thian Ju lantas tahu bahwa ketiga orang itu semua memiliki kepandaian tinggi, lebih-lebih seorang tua jang mengenakan pakaian putih. Gerakan tangan serta kakinja istimewa sekali! Sedang dua orang lain2nja ialah Im Yang Siang Sat Ie Hong dan Yu Hun Liat. Rupanja ketika melihat muntjulnja dua orang ini, Keng In Wan keluar menghadang dan menjerang.

Sementara ketika melihat tjara Keng In Wan bertempur, Sin Thian Ju diam 2 mengangguk-angguk kepalanja dengan puas. Tidak mengetjewakan pimpinan, selama berapa bulan itu. Dibawah pukulan2 bendera Leng Hun Huan jang ber-kelebat2 bagaikan halilintar menurut djalannja ilmu silat Sam Goun Tjhiu Hoat ketiga orang jang berilmu tinggi itu tidak dapat mendekati Keng In Wan.

Sin Thian Ju sengadja berdiri berpeluk tangan membiarkan keadaan tetap berlangsung. Ia menunggu kedatangan putrinja supaja bersama muridnja menjerang bersama. Djika masih tidak dapat mengalahkan barulah ia hendak turun tangan. Sesaat kemudian dibelakangnja sudah terdengar suara orang bergerak. Ia berpaling kebelakang. Putrinjalah jang tiba. Ia memanggil putrinja dan memberikan kata2 petundjuk.

Sin Lok Ho sudah menjaksikan djalannja pertempuran, setelah menerima pesan dari ajahnja, ia lompat madju kegelanggang pertempuran. Sekali bergerak, ia mentjatji: „Tiga orang tua menghina seorang pemuda! Apa tidak merasa malu! Aku datang!" Demikianlah Sin Lok Ho tiba berbareng dengan suaranja, dan bendera Leng Hun Huan berubah mendjadi tudjuh helai bajangan tjahaja maut, berkibar-kibaran menjerang kepala si orang tua jang berpakaian putih.

Orang tua ini tinggi kepandaiannja, ia dapat menghadapi perubahan setjara teratur. Semula ia hanja menonton dipinggir sadja, namun ketika menjaksikan Keng In Wan dalam waktu dua tahun setelah keluarganja mengalami kebinasaan itu, kini sudah memiliki Ilmu jang demikian hebatnja, bahkan Im Yang Siang Sat jang merupakan pembantu utamanja masih tidak berdaja, bukan kepalang terperandjatnja.

Djika tidak siang2 membinasakannja, maka kelak pasti akan mendjadi bahaja besar.

Oleh karena demikian, iapun tidak lagi mengindahkan kehormatan serta kedudukannnja didalam dunia Kang Ouw. Ia ikut mengerojok, tiga orang melawan satu.

Keng In Wan sambil melawan Im Yang Sat, diam2 memperhatikan orang tua badju putih itu. Ketika mengetahui orang tua ini ikut turun tangan, bertekadlah hatinja. Ia tahu benar akan kelihayan orang tua itu. Walaupun ia telah beladjar Sam Goat Sin-Kang, belum tentu dapat mengalahkannja. Ditambah pula Im Yang Siang Sat jang tinggi ilmunja ini, dengan satu melawan tiga bagaimana ia dapat menang? Oleh karena itu ia meniup peluitnja. Sambil menangkis serangan-serangan lawan2nja, dikeluarkannja seluruh kepandaiannja. Bendera Leng Hun Huan ia putarkan menurut petundjuk gurunja, diperkuatnja pertahanan dan segala lowongan ditutupnja rapat-rapat untuk menanti datangnja bala bantuan.

Benar sadja Sin Lok Ho sudah tiba. Keng In Wan mendjadi besar hatinja. Bendera Leng Hun Huan dimainkannja lebih bagus dan lebih hebat. Sementara itu bendera Leng Hun Huan dari Sin Lok Ho sudah lantas berkibar diudara menurut ilmu Sam Goan Siang Seng Tjhiu Hoat, jaitu tjara permainan bekerdja sama jang mereka berdua tjiptakan.

Sekali bendera Sin Lok Ho menjerang, bendera Keng In Wan lantas mengimbanginja. Satu menggetar kebawah. satu lagi meninggal.

Tenaga raksasa lantas mengamuk.

Si orang tua berpakaian putih menghindarkan gelombang serangan pertama, lalu menurunkan tangan berat. Ia keluarkan Liong Heng Tjiang atau Telapak Tangan Naga Melingkar-lingkar. Ini hebat sekali! Tubuhnja bergerak gesit-lintjah dan pukulannja tangkas. Bajangan hidjau, memotong dan menghadang. Merampas! Mentjengkeram didalam sambaran angin jang bergelombang bagaikan taufan. Atjap kali muntjul Tjakar Naga! Orang tua itu hendak merampas bendera maut!

Namun sekali orang tua itu menjerang, Keng In Wan sudah lantas berteriak dengan gusar.

"Moay moay, pendjahat tua ini tidak lain dari pada Gak Tju Siang. Rupanja ia disuruh malaikat atau ditarik iblis, sehingga kini datang disini. Ganjang dia biar mampus!"

Sin Lok Ho berubah wadjah mukanja. "Apa? Pen-djahat tua ini adalah Hui Thian Giok Liong? Mari bikin dia mampus!“

Bendera Leng Hun Huan sigadis menghantam dengan hebatnja, lalu menaik dan mengibas bagaikan gunung-gunung ambruk!

Sementara itu Im Yang Siang Sat sudah bermandikan keringat dingin. Mereka penasaran karena terang-terang bendera Leng Hun Huan itu adalah sendjata miliknja serta tjiptaannja sendiri, kini sebaliknja digunakan o'eh musuh untuk membunuhnja. Sendjata makan tuan. Di-lain pihak Hui Thian Giok Liong Gak Tju Siang, djuga gelisah luar biasa.

Mula2 ia besar hatinja karena dapat bersahabat dengan partai Hwa San Pay. Terang-terang Hwa San Ngo Lo ilmu pedangnja lebih tinggi setingkat daripada tokoh2 utama dunia Kang Ouw sekarang ini. Apalagi menurut laporan putera dari Keng Kong Tiat telah meloloskan diri kegunung Hwa San. Demikian kundjungannja ke Hwa San kali ini dapat dikatakan sekali kerdja memperoleh hasil banjak, pertama-tama ia dapat bersahabat dengan partai besar jang sangat menguntungkan untuk pengaruhnja. Kedua dengan perginja ke Hwa San ini sekaligus ia dapat membasmi keturunan Keng Kong Tiat. Kini apa mau keadaan sangat kebetulan, bertepatan dengan perkara Hwa San Ngo Lo jang hendak mengadu kepandaian dengan Sin Thian Ju, untuk mengundjukan kemauan baiknja, ia mengadjak Im Yang Siang Sat berkundjung ke Hwa San. Ingin bertempur lebih dahulu dengan Sin Thian Ju!

Hal itu tepat seperti apa jang dipikir oleh Sin Thian Ju dengan tibanja ke gunung Hwa San lebih dulu dari apa jang sudah didjandjikan. Tidak tahunja belum sampai bertemu dengan tuan rumah puntjak Lok Gan Hong, ditengah djalan ia sudah bertemu dengan Keng In Wan.

Ia mendjadi girang sekali. Keng In Wan belum ditjari sudah masuk perangkap sendiri, atau Sang mangsa mendatangi dihadapan mulut harimau. Tetapi dengan keadaannja sekarang ini, malahan ia sendiri jang masuk ke dalam perangkap!

Demikianlah ketiga orang djahat itu terkurung rapat2 dalam serangan-serangan dua bendera Leng Hun Huan jang berkesiur-siur laksana badai. Keng In Wan dan Sin Lok Ho terus mengepos semangatnja, bertekad untuk menghabiskan njawa musuh2nja.

Ketjuali Hwa San Ngo Lo keburu datang, hingga pendjahat tersebut pasti akan binasa. Gak Tju Siang dan Im Yang Sat jang sudah banjak makan asam garam dunia persilatan, setelah pertempuran berdjalan tiga puluh djurus lebih, mereka insjaf akan bahaja. Mereka tahu bahwa sekarang ini mereka ketemu dengan batunja. Mereka gelisah sekali. Masing-masing bertempur mati-matian dan giat mentjari djalan keluar. Pikirnja tak dapat menandingi musuhnja, sedikitnja dapat mebloskan diri. Tetapi tepat pada ketika itu djuga suatu bajang orang tua jang berpakaian hidjau sudah tiba dan berkata lirih : "Ho-djie, mundur tiga bagi tudjuh In Djie Goan Sun Huan...”

Mendengar petundjuk itu, maka kedua muda mudi lantas berputar- putar bagaikan tengloleng, sebentar-bentar bertukar tempat.

Bendera Leng In Huan dari Sin Lok Ho tiba-tiba memandjang, lalu mengkerut pula. Dan bendera Keng In Wan bergerak membuat suatu lingkaran.

Ketiga orang jang terkurung itu mendadak merasa tenaganja bertambah, tanpa ajal mereka mengerahkan seluruh tenaganja. Gak Tju Siang bergerak dengan tipu Sin Liong Hian atau Naga-sakti- muntjulkan-diri. Kedua telapak tangannja jang satu mengepal jang lain melingkar, ia berontak melepaskan diri dari lingkaran kurungan. Tjelaka! Tiba-tiba pandangan matanja mendjadi kabur!

Terdengar mendadak djeritan jang mengerikan.

Ie Hong kena pukulan Sam Hun Tiam atau Tutulan Tiga bagian jang dilantjarkan oleh Sin Lok Ho dan tubuhnja lantas masuk kedalam lingkungan penjerangan Keng In Wan! Seketika itu djuga tubuhnja dilibat oleh bendera Leng Hun Huan dari Keng In Wan. Tubuhnja terlempar diudara dan dengan mengeluarkan djeritan ngeri Ie Kong mati seketika. Malaikat maut jang malang melintang selama banjak tahun itu kini habis riwajatnja, mati dibawah sendjata tjiptaannja sendiri.....

Bermatjam-matjnm perasaan mengaduk dalam pikiran Gak Tju Siang dan Ju Hun Liat. Sedih, gusar, takut mati. Mereka bertempur untuk menjelamatkan djiwanja. Semangat mereka sudah lemah.

Sebaliknja Sin Lok Ho bersama Keng In Wan besar hatinja atas kemenangan jang pertama ini. Mereka bersiul njaring dan mendesak lebih hebat pula. Angin menderu-deru bagaikan gelombang menggempur partai menghantam kearah musuhnja. Gak Tju Siang mimpipun tidak akan mengalami kesukaran jang sedemikian hebatnja ini. Ingin kabur, namun djalan tidak ada, sudah tertutup.

Tiba-tiba terdengar pula Sin Thian Ju berseru: ”Ho-djie, lekas lantjarkan pukulan Huan-Djit-Hong atau Bianglala memutari- matahari!”

Gak Tju Siang berteriak bahna kagetnja. Sinar bagaikan bianglala melingkar turun kearah kedalamnja! Tjepat2 ia menolak keatas bagaikan hendak mengangkat barang berat untuk menangkis pukulan itu. Tjelaka! Pada saat itu djuga bahunja mendjadi kesemutan!

Ketiaknja terasa sakit. Bendera Sin Lok Ho menerobos, dan dengan sekali menggulung, bahu sebelah kirinja terlibat. Bendera tiba2 ditarik, Gak Tju Siang tjepat2 hendak melompat mundur, namun Keng In Wan sudah siap untuk melakukan balas dendam.

Sebuah tendanhan geledek lantas menjambar, menghantam perut musuh-besarnja! Gak Tju Siang roboh terkulai.

Yo Hun Liat terkedjut bukan kepalang. Bersamaan sepasang mata jang memantjarkan sinar beringas, penuh perasaan dendam menatap padanja, menembus kedalam hatinja! Dilihatnja bahwa dalam sinar mata itu membajang pula butir2 air mata.

Yu Hun Liat tergontjang. Disaksikannja pula air mata itu menetes turun. Sekujdur tubuhnja mendjadi dingin. Namun ia tidak dapat berpikir lama2, karena pada detik menjusul pinggangnja terlibat bendera Sin Lok Ho. Ia berteriak kesakitan!

Dihadapan matanja bajangan bendera bergojang malang melintang, dan tahu-tahu tubuhnja Sin Lok Ho dan Keng In Wan berdiri tegak dengan semangat bergelora, mereka telah menang!

Namun sekonjong-konjong bentakan jang keras mendengung diudara! Lalu sebuah bajangan berkelebat kearah sepasang muda-mudi itu. Gerakan orang luar biasa tjepatnja! Terperandjat Sin Lok Ho dan Keng In Wan lompat mundur untuk melihat pendatang itu setjara tegas. Nampaklah seorang Tosu jang rambutnja putih bagaikan saldju tapi wadjahnja merah bersemangat seperti anak muda.

Tangannja memegang sebilah pedang pandjang jang memantjarkan sinar dingin. Matanja berapi-api melihat dengan melotot kearah muda-mudi itu. Fadjar sudah menjingsing. Hari ini sudah tanggal lima belas bulan tiga.

Dibelakang Tosu itu muntjul empat tosu lain jang perawakannja satu sama lain berbeda-beda. Mereka semua memandang pada kedua muda-mudi itu dengan tertjengang dan kagum. Sementara si Tosu tua itu berteriak dengan suara gusar: ”Hai, botjah2 tjilik!

Sungguh tinggi ilmu kepandaianmu........ pinto datang terlambat, hingga tiga orang sahabat baik telah binasa ditanganmu. Kini kamu harus ganti djiwa!"

Kemudian tosu itu menjerang, udjung pedangnja bergerak turun dengan hebatnja serangan jang ganas sekali. Pedang menjambar- njambar laksana halilintar dengan menimbulkan suara alunan angin. Sinar pedang bertitik-titik bagaikan bintang gemerlapan, dan menusuk kearah Keng In Wan dan Sin Lok Ho.

Djarak antara mereka dengan si Tosu tua lebih dari tiga tombak, namun pedang pandjang itu dapat menjerang dengan serempak.

Dapatlah pembatja bajangkan betapa hebatnja kepandaian si Tosu itu.

Keng In Wan dan Sin Lok Ho tjepat2 lompat kesamping, namun mereka njaris kena tusukan pedang! Kini terkedjutlah mereka berdua.

Tanpa ajal mereka menjerang pula. Dua buah bendera jang masing- masing mempunjai tudjuh helai pita bagaikan air hudjan bergojang-gojang dan menggetar diudara. Namun tosu itu tidak

mengetjewakan namanja sebagai ahli pedang nomor satu dari gunung Hwa San. Menghadapi Leng Hun Huan jang seganas itu, masih tegak berdiri dengan agungnja. Pedangnja bergerak diantara barisan lawan, bagaikan beribu-ribu ular jang turun menerdjun kedalam sebuah lubuk.

Kedua muda mudi terpengaruh oleh kegembiraan akan kemenangannja, tak berani gegabah lagi. Mereka saling memberi isjarat dengan pandangan matanja dan mendadak mereka berteriak mengguntur lalu menjerang dengan dahsjatnja. Pantang mundur, madju terus!

Demikianlah Sin Lo Ho menjerang dari kanan, pemuda kita jang menghantam dari bawah. Keras lawan keras! Bendera menjambar dengan suara angin jang bergelombang dan menderu.

Tosu tua jang bukan lain dari Thian Ie Siu Su itu tak berhasil menundukkan lawan2nja jang bekerdja sama dengan mahirnja.

Thian Ie Siu Su dengan sengit melantjarkan pedangnja dalam djurus-djurus Louw In Kiam-hoat atau ilmu pedang Menembus Awan. Tiga belas pukulan2 dan sambaran2 rahasia ilmu pedang sedjati keluar semua, namun kedua pemuda itu tetap melajaninja dengan senjum, dua buah bendera jang bersifat lemas itu berkibar-kibar dalam ilmu Sim-Goan-Kin setjara berpetjah dalam arti persatuan. Keng In Wan betul2 telah berubah djauh kepandaiannja. Ia bertempur tangkas laksana harimau, gesit bagaikan rusa.

Bila sigadis mundur maka Keng In Wan madju, satu menangkis jang lain menjerang. Sedikitpun tak ada lowongan jang dapat ditjuri. Thian Ie Siu Su tergerak hatinja, kagum bertjampur marah, ia tidak hendak lekas-lekas mentjari kemenangan, karena dengan bertempur lama, sekalipun pemuda pemudi ini berilmu tinggi namun ketahanannja tidak terlalu baik, ia pertjaja pemuda-pemudi itu akan habis tenaganja. Pada saat itu barulah ia akan membunuh mereka satu-persatu.

Pertempuran makin berketjamuk amat hebatnja. Keng In Wan mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnja jang paling tinggi, hingga dilain saat hanja bajangannja sadja jang kelihatan. Sekonjong-konjong suara tertawa jang njaring menggetarkan rimba nan sunji dan sebuah bajangan orang jang mengenakan pakaian hidjau dengan sekelebatan berdiri diantara bajangan bendera dan pedang pandjang. Itulah Sin Thian Ju!

"Tosu tua tahan pedangmu!" Kemudian Sin Thian Ju berpaling kebelakang dan berkata: ”Keng In Wan, Ho-djie, lekas mundur. ”

Sekali lompat sadja, pemuda dan pemudi kita mundur. Keempat tosu lain dari Hwa San Ngo Lo madju kedepan.

Thian Ie Siansu menarik pedang pandjangnja dan memandang dengan tadjam, ia tahu ia harus hati2.

Dengan senjum simpul Sin Thian Ju berkata: ”Tosu tua, djanganlah terburu napsu. Puteriku dan muridku tidak mempunjai sangkut paut dengan urusan kita berdua. Kalau mau bertempur, lawanlah aku.” Tersindir oleh Sin Thian Ju setjara senda gurau, Thian Ie Siansu bukan kepalang gusarnja. "Bok Holouw, kau berulang-ulang menghina murid-murid Hwa San Pay! Djika pinto tidak menghadjar kau ini. ”

Sin Thian Ju tertawa bergelak-gelak. ”Ha-ha-ha! Pelahan- lahanlah.......... kini kita belum tahu siapa jang menghadjar siapa. Tak usah marah-marah dulu. Aku hendak tanja, bagaimana tjaranja mengadu kepandaian? Satu lawan satu, atau lima lawan satu? Hanja segebrak sadja atau dua kali bertempur?” Thian Ie Siansu membentak dengan marahnja: "Asalkan kau dapat mengalahkan pedang pandjangku ini, maka partai Hwa San Pay terhitung kalah didalam tanganmu!”

"Apa kata-kata ini sungguh-sungguh?”

"Baiklah, djika aku si orang tua kalah, aku aku bunuh diri disini."

"Hm, djangan kata tentang kalah, tidak dapat mengambil kemenangan dari kau boleh djuga dihitung kalah, djangan dihitung seri. Bagaimana dengan sjarat ini?”

Mendengar kata-kata jang sangat sombong ini, Thian Ie siansu makin gusar.

”Pendjahat tua jang sangat sombong. Lihatlah pedangku! Adjalmu sudah tiba!"

Bianglala putih lantas melengkung-lengkung lalu menggetar diudara mendjadi ratusan bintang. Getaran dan gerakan pedang berubah mendjadi segumpal bajangan maut jang mengurung Sin Thian Ju! Inilah djurus istimewa dan ilmu pedang Louw Hun Kiam (Pedang Menusuk Roh) jang disebut Kui-Bok Ju-Kong atau Sinar Mata Iblis Achirat! Serangan ini luar biasa dahsjatnja!

Tetapi Sin Thian Ju dengan tangan hampa, kelihatan tenang2 sadja.

Tidaklah disangka-sangka orang sama sekali bahwa tepat pada waktu itu, terdengar suara tertawa njaring dan menjeramkan. Menjusul itu Sin Thian Ju berteriak seperti geledek. Dalam bajangan sinar jang bergulung-gulung itu sebuah bujangan putih terpental keluar! Bajangan hidjau merampas pedang pandjang dari tangan bajangan putih.

Untung walaupun masuk kedalam lingkaran tenaga Sam Goan Kin Lang. sehingga tubuhnja terpental. Thian Ie Siansu tidak tinggal diam begitu sadja. Begitu pedangnja dirampas, tjepat2 ia menjerang dengan Liap-Tiat Siu Djiauw atau Tjakar Sakti Menangkap Besi, ia lompat menubruk pedang pandjangnja dapat dirampasnja kembali.

Dua orang berkepandaian tinggi bergebrak, walaupun waktunja hanja sebentar sadja, namun sebenarnja mereka sudah bertempur beberapa djurus. Sungguh hebat sekali! Kini pedang pandjang sekalipun sudah pulang kembali dalam tangannja Thian Ie Siansu, namun dalam pertempuran ini sesungguhnja ia sudah kalah.

Tanpa banjak bitjara pula Thian Ie Siansu menggerakkan tubuhnja, bagaikan terbang berlari turun gunung, diikuti oleh keempat kawan-kawannja. Pertemuan digunung Hwa San puntjak Lok Gan Hong selesai.

Keng In Wan mendjatuhkan diri dan menangis kerena terharu dan gembiranja, karena musuh2 besarnja jaitu Gak Tju Siang dan Im Yang Siang Sat telah dibunuh olehnja.

Sin Lok Ho tarsenjum madu.

“Koko, marilah kita pulang,” bisiknja halus. TAMAT