-->

Bangau Sakti Jilid 37

 
Jilid 37

Bagaimana mungkin Lie Ceng Loan akan membiarkan mereka kabur? ia segera mengerahkan ginkangnya mengejar mereka, Begitu memasuki rimba itu, ia terheran-heran, karena di dalam rimba itu amat sunyi, sepertinya tidak ada orang sama sekali, Padahal mereka bertiga baru melesat ke dalam. Lagipula salah seorang dari mereka telah terluka, Bagaimana mungkin mereka bisa kabur begitu cepat? Mungkinkah mereka bersembunyi di suatu tempat? Pikir Lie Ceng Loan.

Setelah berpikir demikian, ia tidak menggunakan ginkang lagi, melainkan melangkah biasa sambil menengok ke sana- sini.

Tiba-tiba terdengar suara di depan, Giranglah Lie Ceng Loan. Ketika ia baru mau melesat ke arah suara itu, mendadak tempat itu berubah gelap, Ternyata ada gumpalan awan hitam menutupi bulan di langit

Karena itu, Ue Ceng Loan terlambat sehingga sudah tidak tahu di mana arah suara itu.

Tak lama kemudian, tempat itu berubah agak terang lagi, karena awan hitam telah melewati bulan di langit sedangkan Lie Ceng Loan sudah ke luar dari rimba itu. Tampak sebuah jalan besar di situ, tapi tidak kelihatan bayangan ke tiga orang berbaju putih.

Lie Ceng Loan penasaran sekali. ia yakin, ke tiga orang itu tidak mungkin pergi melalui jalan besar, sebab mereka bertiga harus menghindarinya Tapi Lie Ceng Loan juga tidak tahu arah mana yang mereka tempuh, Akhirnya ia terpaksa menuju jalan besar itu, lalu mengerahkan ginkangnya

Kka-kira beberapa mil kemudian, tampak sebuah jalan kecil membelok ke kiri Ue Ceng Loan berhenti di situ, lalu memperhatikan jalan kecil itu. Terlihat enam buah tapak kaki di situ.

Giranglah Lie Ceng Loan, itu pertanda ke tiga orang berbaju putih melalui jalan kecil tersebut Segeralah ia mengerahkan ginkang mengejar

Akan tetapi, hingga hari mulai terang, Lie Ceng Loan masih belum berhasil mengejar ke tiga orang itu, Maka ia berhenti sambil berpikir Tiba-tiba ia tersentak, jangan-jangan ke enam tapak kaki itu merupakan suatu tipuan belaka, agar dirinya mengejar di situ. wajahnya langsung berubah murung, ia tidak menyangka kalau dirinya akan terjebak oleh tapak-tapak kaki itu. sedangkan gunung Kwat Cong San sudah dekat ia menjadi putus asa, Bagaimana mungkin dapat menemukan Kun Lun Sam Cu lagi? Lebih baik langsung

menuju gunung Kwat Cong San menemui Pek Yun Hui, sekaligus berunding dengannya pikir Ue Ceng Loan sambil mengerahkan ginkangnya menuju gunung Kwat Cong San.

******

Hari berikutnya, Lie Ceng Loan telah tiba di gunung Kwat Cong San, ia terus mengerahkan ginkangnya menuju ke gua Thian Kie Cinjin, Setelah mendekat, terdengar suara alunan suling yang amat memiluka

Lie Ceng Loan segera melesat ke tempat itu, Tampak Giok Siauw Sian Cu duduk di atas batu sambil meniup suIing.

"Kakak Giok Siauw! Kakak Pek ada?" seru Lie Ceng Loan.

Giok Siauw Sian Cu berhenti meniup suling, lalu menoIehkan kepalanya, ia tertegun ketika melihat Lie Ceng Loan.

"Eh? Nona Loan!" Giok Siauw Sian Cu menatapnya dengan penuh keheranan "Kenapa engkau meninggalkan gunung Taysan?"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk "Kakak Pek ada di dalam gua?"

Tiba-tiba air muka Giok Siauw Sian Cu berubah, lalu membalikkan badannya, ia mulai meniup suling lagi, sama sekali tidak meladeni Lie Ceng Loan.

Begitu melihat sikap Giok Siauw Sian Cu, heranlah Lie Ceng Loan, karena selama ini Giok Siauw Sian Cu tidak pernah bersikap demikian terhadapnya.

"Kakak Giok Siauw!" Gadis itu mendekatinya, "Kenapa sih engkau? Kok tidak mau meladeniku?" "Nona Loan!" sahut Giok Siauw Sian Cu dingin, "Ternyata cintamu terhadap Bee Kun Bu cuma merupakan cinta palsu!"

"Eh?" Lie Ceng Loan terkejut. "Kakak Giok Siauw, apa maksudmu itu?"

"Engkau dan Na Siao Tiap berdua telah berjanji akan menemani Bee Kun Bu selama-lamanya di tempat itu, namun kini justru engkau seorang diri ke mari! itu membuktikan bahwa cintamu itu palsu!"

"Kakak Giok Siauw!" Lie Ceng Loan tersenyum

"Engkau masih bisa senyum?" bentak Giok Siauw Sian Cu gusar "Kalau aku tidak memandang Nona Pek, engkau sudah kuhajar sekarang!"

"Kakak Giok Siauw!" Lie Ceng Loan tersenyum lagi seraya berkata, "Engkau jangan salah paham, aku bukan gadis macam itu."

"Kalau begitu, kenapa engkau ke mari?" tanya Giok Siauw Sian Cu dengan kening berkerut

"Kakak Giok Siauw!" Lie Ceng Loan memberitahukan. "Kakak Bu tidak mati."

Ketika mendengar itu, Giok Siauw Sian Cu nyaris meloncat ia memandang Lie Ceng Loan dengan mata tak berkedip.

"Engkau... engkau bilang apa?" tanyanya.

"Aku bilang Kakak Bu tidak mati, dia masih hidup segar bugar."

"Ba... bagaimana dia bisa tidak mati?" tanya Giok Siauw Sian Cu heran, "Bukankah engkau yang menyaksikan kematiannya?"

"Kakak Giok Siauw, sungguh panjang kalau dituturkan," ujar Lie Ceng Loan, "Mari kita masuk menemui Kakak Pek dulu, barulah aku menuturkannya!"

"Ayo!" Giok Siauw Sian Cu menarik Lie Ceng Loan. Ketika menikung di sebuah tebing, muncullah Pang Siu Wie. Begitu melihat Lie Ceng Loan, ia pun terbelalak

"Cepat beritahukan pada Nona Pek, bahwa Bee Kun Bu tidak mati!" ujar Giok Siauw Sian Cu.

"Apa?!" Mendadak muncul Pek Yun Hui dengan wajah berseri

"Kakak Pek!" Lie Ceng Loan langsung menubruknya, dan sekaligus mendekap di dadanya, "Kakak Bu tidak mati, dia sudah mau ke mari, Kalau dia sudah datang dia pasti menyalahkan aku karena tidak bisa menjaga guru dan Supek."

ucapannya yang tiada ujung pangkal itu membuat Pek Yun Hui, Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie melongo.

"Adik Loan, engkau bilang apa? Di mana Siao Tiap?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku tidak tahu. Kakak Pek, aku... aku menghadapi suatu masalah yang amat aneh, yang membuatku resah sekali."

"Adik Loan!" Pek Yun Hui tersenyum, "Engkau menghadapi masalah aneh yang bagaimana? Beritahu-kanlah perlahan-lahan!"

"Aku. " Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan, barulah

ia sadar telah mengucapkan yang tiada cenderungannya. "Kita masuk dulu!" ajak Pek Yun Hui.

Mereka bertiga memasuki gua Thian Kie. Setelah mereka duduk, Lie Ceng Loan bertanya.

"Kalian bertiga, siapa tahu apa artinya Mo Kui Ceh Yi?"

Pek Yun Hui, Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie tertegun, Mereka bertiga saling memandang dan menyahut serentak.

"Tidak tahu,"

"Adik Loan!" ujar Pek Yun Hui kemudian Tutur-kanlah cara bagaimana engkau bertemu Bee Kun BuI" Lie Ceng Loan mengangguk lalu menutur tentang pertemuannya dengan Co Hiong, bagaimana kematian Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu, berikut Mo Kui Ceh Yi (Perbatasan Setan Iblis) dan lain sebagai nya.

Ketika mendengar Na Hai Peng berubah tidak waras, Pek Yun Hui, Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie tampak terkejut sekali

Setelah Lie Ceng Loan usai menutur, mereka bertiga sama sekali tidak bersuara, Berselang sesaat, barulah Pek Yun Hui membuka mulut berkata pada Giok Siauw Sian Cu.

"Engkau paling berpengalaman dalam rimba per-silatan, tahukah engkau apa artinya Mo Kui Ceh Yi?"

"Aku tidak tahu." Giok Siauw Sian Cu menggeleng kepala. "Kedengarannya seperti nama suatu tempat, tapi tidak pernah mendengar tentang tempat itu."

"Berdasarkan apa yang dituturkan Nona Loan tadi, kaum pedagang itu pasti tahu jelas tentang rahasia tersebut sayangnya pada waktu itu Nona Lie tidak bertanya pada orang tua itu." ujar Pang Siu Wie.

Tidak apa." ujar Pek Yun Hui setelah berpikir sejenak "Ke lima orang berbaju putih itu pasti ada hubungannya dengan Mo Kui Ceh Yi. Kita tunggu kedatangan Kun Bu, barulah kita mengambil suatu ke-putusan."

Giok Siauw Sian Cu, Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan mengangguk Lie Ceng Loan sudah lelah sekali, maka ia segera tidur

******

Bab ke 57 - Pertama Kali Pek Yun Hui jatuh di Bawah Angin

Keesokan harinya, begitu bangun dari tidurnya, Lie Ceng Loan langsung ke luar untuk menunggu Bee Kun Bu, Namun sampai tiga hari lamanya, Bee Kun Bu belum juga datang, itu membuat hati Lie Ceng Loan jadi resah sekali, Pek Yun Hui pun begitu, tapi ia masih bisa berlaku tenang.

Lie Ceng Loan menunggu sehari lagi, tapi Bee Kun Bu tetap tidak muncul Gadis itu menjadi cemas dan mulai tiada nafsu makan. wajahnya pun tampak muram sekali

Pek Yun Hui berpikir, kalau terus begini juga tiada gunanya. Maka pada hari ke Hma, ia berpesan pada Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie, harus menjaga di depan gua Thian Kie. Kalau Bee Kun Bu datang, suruh dia menunggu di dalam gua, jangan pergi ia dan Lie Ceng Loan berdua akan pergi mencari Bee Kun Bu, paling lama setengah bulan pasti kembali ke gua Thian Kie.

Padahal sesungguhnya, Giok Siauw Sian Cu ingin ikut mereka, namun Pek Yun Hui telah berpesan begitu, maka ia terpaksa menurut

Keesokan harinya sebelum hari terang, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan sudah berangkat

Hati Lie Ceng Loan sama sekali tidak bisa tenang, Dalam perjalanan ia terus-menerus bertanya pada Pek Yun Hui

"Kakak Pek! Kakak Bu tidak akan terjadi sesuatu di luar dugaan kan?"

sesungguhnya Pek Yun Hui juga tidak habis berpikir, karena urusan tersebut sangat aneh, Ketika melihat Lie Ceng Loan begitu gelisah, ia terpaksa menghiburnya.

"Adik Loan! Bee Kun Bu pernah mengalami kesulitan di dalam istana Pit Sia Kiong, tapi dia toh bisa selamat Nah, kini apa yang kau khawatirkan?"

"Mudah-mudahan begitu!" ucap Lie Ceng Loan sambil menarik nafas panjang, "Yaah! selanjutnya aku tidak mau berpisah dengan Kakak Bu lagi!"

"Adik Loan!" Pek Yun Hui tersenyunv "Engkau yang bersalah dalam hal ini." "Kok aku yang bersalah?" tanya Lie Ceng Loan keheranan

"Siapa suruh engkau berpisah dengan dia?" Pek Yun Hui tersenyum Iagi."

"Aku sendiri pun tidak tahu, kenapa aku tidak bisa tidak menurut perkataannya," sahut Lie Ceng Loan dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Adik Loan!" ujar Pek Yun Hui setelah berpikir sejenak "Ada satu urusan yang aku sungguh tidak mengerti

"Urusan apa?" tanya Lie Ceng Loan heran. "Engkau bilang pernah melihat di atas pintu gua di dasar telaga kering itu terdapat tulisan Sam 2m Sian Hu?" "Benar."

"Kalau begitu, ketika engkau melihat Co Hiong, apakah dia tampak bersikap aneh?"

"Tidak juga," jawab Lie Ceng Loan seraya berpikir, kemudian melanjutkan "Dia cuma bilang mulai sekarang akan mendampingi Nyonya Souw dan putrinya di kuil Yang Sim Am, tidak mau berkecimpung di dalam rimba persilatan lagi."

"Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Kakak Pek!" Lie Ceng Loan menatapnya heran. "Kenapa engkau mendengus?"

"Aku pikir Co Hiong yang begitu licik dan jahat, bagaimana mungkin akan tinggal di kuil itu? Pasti ada sebab musababnya!"

"Kakak Pek, untuk sekarang ini kita tidak perlu mempedulikannya." ujar Lie Ceng Loan. "Setelah kita ke luar dari gunung Kwat Cong San ini, ke mana kita mencari orang- orang berbaju putih itu?"

"Adik Loan!" Pek Yun Hui tersenyum getir, Terus terang, aku pun tidak tahu harus ke mana mencari mereka, Kita ikuti keadaan saja!"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk Ketika hari mulai petang, mereka berdua hampir tiba di kaki gunung Kwat Cong San. sepanjang jalan, tak henti- hentinya Lie Ceng Loan menarik nafas dan berkeluh kesah.

Pek Yun Hui ingin menghiburnya, tapi pada waktu bersamaan, dari tempat yang tidak begitu jauh di depan, terdengar suara jeritan yang memilukan

Begitu mendengar suara jeritan itu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan tertegun, lalu bersama melesat ke tempat itu.

Ketika mereka melesat, masih terdengar suara jeritan itu malahan semakin dekat

Tak seberapa lama kemudian, mereka melihat seseorang berlari-lari sambil menjerit, lengan kanannya telah kutung dan masih mengucurkan darah.

"Hah!" teriak Lie Ceng Loan dan seketika berdiri mematung di tempat

ini bukan karena ketakutan, melainkan merasa tidak tega menyaksikan keadaan orang itu.

Orang itu berlari ke hadapan Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan, Dalam jarak dua depaan mendadak orang itu terkulai

"Nona Pek! Cepat., cepat..." ucapnya terputus, Kepalanya terkulai dan tidak bergerak lagi.

Melihat wajah orang itu, Pek Yun Hui langsung mengenalnya.

Oleh karena itu, mereka berdua segera mendekati orang itu, Siapa orang itu? Tidak lain Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw.

Setelah mengetahui orang itu Gin Tie Suseng, Pek Yun Hui pun tahu ada urusan yang tidak beres. Sebab Gin Tie Suseng tadi kelihatan ingin menyampaikan se-suatu, namun cuma mengucapkan "Cepat" saja. Kepandaian Gin Tie Suseng tidak rendah, namun kini sekujur badannya telah terluka parah, Da-pat dibayangkan betapa sadisnya orang yang melukainya.

"Kakak Pek, apakah dia... dia akan mati?" tanya Lie Ceng Loan cemas.

Pek Yun Hui segera meraba hidung Gin Tie Suseng, Ternyata masih ada sedikit nafas, dan Pek Yun Hui pun berkata.

"Dia belum mati, adik Loan! Menolong orang jauh lebih penting, Kita harus segera memapahnya ke gua Thian Kie!"

Padahal Lie Ceng Loan ingin cepat-cepat pergi mencari Bee Kun Bu. Namun ketika melihat keadaan Gin Tie Suseng begitu parah, ia merasa tidak tega dan harus segera menyelamatkan nyawanya.

"Baik." Lie Ceng Loan mengangguk

Mereka segera membuat sebuah usungan dari dahan pohon, kemudian membawa Gin Tie Suseng dengan usungan itu.

sepanjang jaian, Gin Tie Suseng sama sekali tidak bergerak Darahnya masih mengucur di sekujur tubuh-nya. Walau sedang menggotong, Pek Yun Hui masih terus memeriksa nafasnya, Kian lama nafas Gin Tie Suseng kian lemah, itu membuat mereka berdua harus mengerahkan ginkang agar lekas-lekas sampai di gua Thian Kie.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di depan gua Thian Kie. Kebetulan Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie berada di situ, Ketika melihat Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan menggotong seseorang yang berlumuran darah, mereka terkejut

"Apakah. Kun Bu terluka?" tanya Giok Siauw Sian Cu

dengan wajah memucat "Bukan," sahut Pek Yun Hui.

Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie menarik nafas lega.

Kemudian Giok Siauw Sian Cu bertanya. "Siapa orang itu?"

Pek Yun Hui tidak menyahut, sebab Giok Siauw Sian Cu sudah melihat orang yang ada di dalam usungan itu, dan seketika juga wajahnya berubah pucat.

Giok Siauw Sian Cu dan Gin Tie Suseng pernah bersama meniup suling di dalam penjara istana Pit Sia Kiong. Bahkan ketika mau berpisah, Gin Tie Suseng masih mengundang Giok Siauw Sian Cu pesiar ke gunung Tay Pah San. itu pertanda Gin Tie Suseng telah jatuh hati padanya.

Akan tetapi kini Gin Tie Suseng terbujur di dalam usungan dengan sekujur badan berlumuran darah, Be-tapa dukanya hati Giok Siauw Sian Cu. ia segera mendekati Gin Tie Suseng lalu meraba hidungnya, ternyata masih ada sedikit nafas, itu cukup melegakan hati Giok Siauw Sian Cu.

"Nona Pek, bagaimana kalian bertemu dia?" tanya Giok Siauw Sian Cu.

Pek Yun Hui memberitahukan, kemudian memandang Giok Siauw Sian Cu seraya bertanya.

"Engkau bersedia mengobatinya dan mau menjaga-nya?" pertanyaan itu membuat wajah Giok Siauw Sian Cu

langsung memerah, sebab kalau mengobati Gin Tie Su-seng, otomatis harus membuka semua pakaiannya.

"Giok Siauw Sian Cu!" Pek Yun Hui tersenyum "Di gunung Taysan dia telah menaruh perhatian padamu, LagipuIa engkau wanita rimba persitatan, jadi tidak usah banyak peradaban!"

"Baik-" Giok Siauw Sian Cu mengangguk "Aku bersedia mengobatinya dan menjaganya." Usai berkata begitu, Giok Siauw Sian Cu segera menggendong Gin Tie Suseng ke dalam salah sebuah ruang di gua Thian Kie, tidak pedu!i sekujur badan Gin Tie Suseng berlumuran

"Adik Loan!" Pek Yun Hui mengarah padanya, "Dia tadi kelihatan ingin menyampaikan sesuatu, Bagaimana kalau kita tanya setelah dia siuman?"

"Baik," Lie Ceng Loan mengangguk

Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan masuk ke dalam gua Thian Kie. Mereka menunggu di luar ruang itu. Berselang beberapa saat kemudian, tampak Giok Siauw Sian Cu berjalan ke luar dari ruang itu.

"Bagaimana keadaan Gin Tie Suseng?" tanya Pek Yun Hui.

"Di badannya terdapat delapan luka bekas tusukan pedang dan golok," jawab Giok Siauw Sian Cu sambil mengerutkan kening, "Aaaakh! Bagaimana cara dia dapat meloloskan diri?"

"Pernahkah dia siuman?" tanya Lie Ceng Loan.

Tidak." Giok Siauw Sian Cu menggelengkan kepala, "Aku telah mengobati luka-lukanya, bahkan telah memasukkan obat ke dalam mulutnya Nafasnya sudah normal, tapi dia masih belum siuman.

"Apakah dia sama sekali tidak bersuara?" tanya Pek Yun Hui.

"Pernah bersuara." Giok Siauw Sian Cu memberitahukan "Dia mengucapkan "Cepat" saja."

"Mari kita ke dalam menengoknya!" ajak Pek Yun Hui. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang itu, sedangkan

Pang Siu Wie menjaga di luar gua.

Tampak Gin Tie Suseng berbaring di atas batu. wajahnya kelihatan tenang tapi masih pucat pias. Mereka bertiga mendekatinya, Pek Yun Hui memeriksa nadinya lalu lama ia berkata.

"Lukanya sudah tidak masalah, tapi sementara ini masih belum bisa siuman,"

"Kalau begitu kita harus bagaimana?" Lie Ceng Loan tampak gugup. "Kalau dia ada suatu urusan penting. "

Ucapan Lie Ceng Loan terputus, karena tiba-tiba terdengar suara bentakan di luar gua.

"Siapa itu? Cepat berhenti!" Yang membentak Pang Siu Wie, yang menjaga di situ.

Pek Yun Hui, Giok Siauw Sian Cu dan Lie Ceng Loan tertegun ketika mendengar suara bentakan itu.

"Giok Siauw Sian Cu!" pesan Pek Yun Hui. "Engkau tidak boleh meninggalkan Gin Tie Suseng, Adik Loan, mari kita ke luar melihat-lihat!"

Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan melesat ke luar. Mereka melihat Pang Siu Wie tetap menjaga di luar gua, kelihatan bersiap-siap menghadapi musuh.

Beberapa depa di depan, tampak berdiri seorang berpakaian putih. wajahnya memakai kedok kulit manusia yang menyerupai muka setan iblis bertaring pan-jang.

Begitu melihat orang berbaju putih itu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan sudah tahu bahwa orang itu berkepandaian tinggi, Pek Yun Hui maju beberapa langkah, dan Pang Siu Wie segera mendekatinya dan berbisik

"Gerakan orang itu amat cepat, tapi setelah kubentak dia pun berdiri diam. Entah dia berasal dari golongan mana?"

"Engkau mundur du!u!" bisik Pek Yun Hui juga. "Engkau dan Lie Ceng Loan menjaga di depan gua berjaga-jaga kalau ada orang menerobos ke dalam Biar aku yang menghadapi orang itu." Pang Siu Wie mengangguk, lalu mundur ke sisi Lie Ceng Loan. Setelah mereka berdua berdiri di depan gua, Pek Yun Hui maju ke hadapan orang berbaju putih seraya bertanya lantang.

"Anda siapa? Ada urusan apa Anda ke mari?" Orang berbaju putih tampak sungkan sekali, ia segera menjura seraya menjawab dengan sopan

"Maaf! Siapa aku, Nona tidak perlu tanyai Aku ke mari cuma menginginkan seseorang!"

Pek Yun Hui melihat sepasang mata orang berbaju putih itu menyorot tajam sekali, pertanda memiliki Lwee-kang yang amat dalam Maka ia pun segera mengerahkan Toa Pan Yok Cin Khi (Hawa Murni Tenaga Sakti) untuk melindungi diri.

"Penghuni gua Thian Kie tidak begitu banyak, entah Anda menginginkan siapa?" tanya Pek Yun Hui. sesungguhnya ia sudah tahu bahwa yang dimaksudkan orang itu, tentu Gin Tie Suseng.

"Dia murid dari kuil Ceh Yun Si di gunung Tay Pah San, namanya Kim Eng Hauw! Dia telah terluka di luar gunung Kwat Cong San, namun kami tidak menemukan nya. Nona yang telah meno!ongnya! Harap Nona menyerahkannya pada kami!" sahut orang berbaju putih memberitahukan

"Oh?" Pek Yun Hui tertawa panjang, Tidak salah, memang kami yang menotongnya. Bagaimana mungkin begitu gampang engkau menginginkannya? jangan bermimpi di siang hari bolong!"

"He he he!" Orang berbaju putih itu tertawa terkekeh "Nona mencetuskan omongan besar, bolehkah aku tahu siapa Nona?"

Orang berbaju putih itu ke mari menginginkan Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw. Tentunya tidak terhindar dari suatu pertarungan Maka Pek Yun Hui maju selangkah seraya menyahut

"Aku Pek Yun Hui!"

"Oh! Ternyata engkau Pek Yun Hui, yang telah menggemparkan rimba persilatan Tionggoan! Namun aku harus menasihatimu, jangan memaksakan diri untuk mencampuri urusan ini!"

"Jangan omong kosong di sini!" bentak Pek Yun Hui. "Engkau tuh apa? Berani banyak omong di sini!"

"Ha ha!" Orang berbaju putih tertawa aneh, "Nona Pek, kalau engkau tidak mau menyerahkan Kim Eng Hauw, aku akan menerjang ke dalam gua!"

"Oh?" Pek Yun Hui tertawa dingin "Kalau begitu, engkau boleh coba!"

"Baik!" Orang berbaju putih mengangguk, "Hati-hatilah Nona Pek!"

Usai berkata begitu, orang berbaju putih melesat ke arah Pek Yun Hui sambil menyerang.

Pek Yun Hui memang sudah siap, maka begitu melihat bayangan putih berkelebat ia langsung melancarkan sebuah pukulan

Plak! Terdengar suara benturan Ternyata Pek Yun Hui dan orang berbaju putih telah mengadu sebuah pukulan.

Pek Yun Hui tetap berdiri di tempat tak bergeming sama sekali, sedangkan orang berbaju putih terdorong mundur beberapa langkah, barulah bisa berdiri tegak.

Setelah mengadu pukulan, Pek Yun Hui juga merasa terkejut akan kehebatan Lweekang orang berbaju putih.

"Cuma berkepandaian segitu sudah berani mengacau di sini?" ujar Pang Siu Wie dingin. Orang berbaju putih memandang ke arah Pang Siu Wie, kemudian mengarah pada Pek Yun Hui seraya berkata.

"Nona berkepandaian tinggi, aku kagum padamu!"

Ketika mendengar orang berbaju putih berkata be-gitu, Pek Yun Hui mengira orang berbaju putih itu ingin pergi, maka segera membentak

"Jangan kabur!"

"Ha ha!" Orang berbaju putih tertawa gelak, "Nona Pek sedang omong bergurau, Aku belum mengatakan apa pun, kok Nona Pek sudah mengira aku mau kabur? Aku memang bukan tandingan Nona, namun tentu ada yang berkepandaian tinggi akan menerjang ke dalam gua Thian Kie!"

Orang berbaju putih menyurut mundur beberapa depa, kemudian bersiul panjang, seketika juga tampak berkelebat tiga sosok bayangan ke tempat itu. Salah satu bayangan itu bergerak cepat sekali laksana kilat, dan dalam waktu sekejap sudah sampai di situ.

Ke tiga orang itu juga berpakaian putih dan memakai kedok setan iblis, Orang yang sampai duluan itu berbadan tinggi besar.

Pek Yun Hui sudah tahu, bahwa Gingkang orang itu telah mencapai tingkat yang amat tinggi, Tentunya sangat mengejutkannya.

Orang berbaju putih yang beradu pukulan dengan Pek Yun Hui, segera menghampiri orang baju putih yang tinggi besar, lalu menepuk-nepuk bahunya seraya berkata dengan nada aneh.

"Di dalam gua itu ada seseorang yang terluka parah, cepatlah engkau menerjang ke dalam dan bawa orang itu ke luar!"

"Ack!" Orang baju putih yang tinggi besar mengeluarkan suara di tenggorokan seakan menyahut, kemudian melangkah ke arah Pek Yun Hui. Ketika melihat langkah orang itu, terkejutlah Pek Yun Hui, sebab sangat mirip Nai Hai Peng.

"Berhenti!" bentak Pek Yun Hui.

Orang berbaju putih itu tidak mendengar sama sekali, dan terus melangkah Pek Yun Hui mengerutkan kening, bagaimana mungkin ia membiarkan orang berbaju putih itu memasuki gua Thian Kie? Karena itu, ia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah orang baju putih itu, sedangkan orang berbaju putih itu pun melancarkan sebuah pukulan pula.

Ketika menyaksikan pukulan orang itu, terkejutlah Pek Yun Hui dan air mukanya pun berubah, Secepat kilat ia meloncat ke samping beberapa depa, kemudian bertanya dengan nada kaget

"Si... siapa engkau?"

Orang berbaju putih itu kelihatan tidak mendengarkan pertanyaan Pek Yun Hui. sedangkan pukulannya mengarah pada sebuah batu besar.

Bum! Terdengar suara ledakan dahsyat, dan batu besar itu telah hancur

Kalau Pek Yun Hui tidak berkelit ke samping, tentu ia sudah celaka, Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie menyaksikan keadaan itu. Mereka tahu Pek Yun Hui bukan lawan orang berbaju putih itu.

Pang Siu Wie yang lebih berpengalaman segera menarik Lie Ceng Loan ke dalam gua. Pada saat itu Pek Yun Hui dan orang berbaju putih kembali mengadu pukulan.

Bum! Pek Yun Hui terdorong, wajahnya menjadi pucat pias.

"Nona Pek!" seru Pang Siu Wie. "Cepat masuk gua!"

Saat ini, Pek Yun Hui sudah tahu bahwa Lweekang orang berbaju putih itu lebih tinggi dari padanya, LagipuIa ada satu hal yang membuatnya tidak habis berpikir dan merasa sangat terkejut Maka ketika mendengar seruan Pang Siu Wie, ia langsung melesat ke dalam gua.

Blam! Pang Siu Wie yang telah siap itu segera menutup pintu gua.

Baru saja pintu gua itu tertutup, mendadak terdengar suara "Bum! Bum" yang amat dahsyat di pintu gua itu. Untung pintu gua itu sangat tebal, maka tidak bisa dihancurkan dengan tenaga dalam.

Pek Yun Hui mengintip ke luar dari sebuah lubang rahasia, Tampak orang berbaju putih itu sedang menghantam pintu gua dengan pukulan.

"Kita semua harus mundur ke dalam lagi!" ujar Pek Yun Hui. "Pintu ke dua dan ke tiga juga harus ditutupi

Sejak mengenal Pek Yun Hui, Lie Ceng Loan tahu bahwa Pek Yun Hui berkepandaian amat tinggi tiada tanding, Namun kini hanya beradu satu pukulan dengan orang berbaju putih itu, Pek Yun Hui sudah jatuh di bawah angin, Maka Lie Ceng Loan sangat terkejut

"Kakak Pek, siapa orang itu? Dia kok begitu lihay?" tanyanya.

Pek Yun Hui tidak menyahut, melainkan menariknya ke dalam, Di dalam gua itu memang masih terdapat dua buah pintu, yang selama ini tidak pernah ditutup, Namun kini menghadapi musuh yang begitu tangguh, ke dua pintu itu pun segera ditutup.

"Musuh tangguh mana yang ke mari?" tanya Giok Siauw Sian Cu.

"Beberapa orang berbaju putih yang tidak jelas identitasnya," sahut Pang Siu Wie. "Hah?" Giok Siauw Sian Cu terkejut "Nona Pek... jatuh di bawah angin?"

"Ya." Pang Siu Wie mengangguk

Tidak tahu siapa musuh tangguh itu?" Giok Siauw Sian Cu terperanjat

Pek Yun Hui mengibaskan tangannya, agar mereka jangan berbicara lagi, lalu duduk di atas sebuah batu dan berpikir dengan kening berkerut-kerut Lama sekali barulah ia menarik nafas panjang, Setelah Pek Yun Hui menarik nafas panjang, Lie Ceng Loan bertanya. 

"Kakak Pek sedang memikirkan apa?"

"Adik Loan! Menurutmu orang berbaju putih yang tinggi besar itu mirip siapa?" Pek Yun Hui balik bertanya.

"Kalau orang itu memakai jubah biru, aku pasti menganggapnya Paman Na." jawab Lie Ceng Loan.

"ltu bagaimana mungkin!" sela Giok Siauw Sian Cu. "Ketika aku melihat orang berbaju putih tinggi besar itu,

aku pun berpikir begitu, Namun aku masih ragu dan mentertawakan diri sendiri lantaran berpikir begitu, Ke-tika orang berbaju putih tinggi besar melancarkan pu-kulan, ternyata memakai ilmu silat dari kitab Kui Goan Pit Cek."

"Hah?" Pang Siu Wie terkejut "Maka Nona langsung menarik pukulan yang telah dilancarkan itu?"

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Karena itu, aku cepat- cepat berkelit ke samping. Namun dia terus mendesakku dengan pukulan, maka aku terpaksa membalas dengan pukulan pula, sehingga pukulan kami beradu. ilmu Toa Pan Yok Sin Kangnya masih diatasku, Selain Na Siao Tiap, aku berani bilang hanya guru yang memiliki ilmu itu."

"Maksud Kakak Pek orang berbaju putih itu Paman Na?" tanya Lie Ceng Loan cemas. "Aku masih tidak berani memastikannya." sahut Pek Yun Hui.

Mereka semua tampak tertegun dan tenggelam dalam keheranan, karena urusan itu memang aneh sekali

Setelah mereka mundur ke ruang dalam, terdengar lagi suara "Bum" di luar gua. Tentunya orang berbaju putih itu masih terus menghantam pintu gua dengan pukulan yang amat dahsyat

Berselang beberapa saat kemudian, tak terdengar suara apa-apa lagi, dan suasana di luar gua menjadi sunyi

"Aku akan ke luar melihat-lihat sebentar," ujar Pek Yun Hui.

"Kakak Pek bukan lawan orang itu, aku ikut" sela Lie Ceng Loan.

"Aku tidak ke luar dari gua, hanya ingin mengintip dari lubang rahasia," sahut Pek Yun Hui memberitahukan

"Kakak Pek!" ujar Lie Ceng Loan setelah berpikir sejenak "Aku ikut bersamamu, agar kalau Kakak Bu datang kita dapat menyambutnya bersama-sama."

"Baiklah." sahut Pek Yun Hui.

Mereka berdua berjalan ke luar Namun begitu sampai di pintu ke dua dan baru mau membuka pintu itu, tiba-tiba mereka mendengar suara seruan di luar gua.

"Kalian tidak mungkin selamanya di dalam! Lebih baik kalian serahkan orang itu, jadi kalian masih bisa selamat untuk sementara waktu!"

Pek Yun Hui mengintip ke luar melalui sebuah lubang rahasia, Tampak beberapa orang berbaju putih berdiri di depan gua, sedangkan orang berbaju putih tinggi besar berdiri mematung di tempat

Pek Yun Hui merasa cemas sekali, sebab persediaan makanan di dalam gua tidak begitu banyak Apabila mereka terus menunggu di luar gua, otomatis yang di dalam gua akan kehabisan makanan

LagipuIa Bee Kun Bu bukan orang yang suka ingkar janji, Dia pasti datang menemui Lie Ceng Loan, Kalau dia datang dalam beberapa hari ini, bukankah akan bertemu orang-orang berbaju putih?

Pek Yun Hui terus berpikir Setelah itu ia mundur dari tempat tersebut Giliran Lie Ceng Loan mengintip ke luar ia melihat orang-orang berbaju putih sedang asyik menyantap ayam panggang dan makanan lainnya, Mungkin mereka telah mengambil keputusan untuk terus menunggu di situ.

Lie Ceng Loan juga mempunyai pikiran sama seperti Pek Yun Hui, Dalam beberapa hari ini, Bee Kun Bu pasti datang.

"Memang bagus sekali kalian menunggu di luar!" seru Pek Yun Hui mendadak sekeras-kerasnya, "Jadi kami punya kesempatan untuk mengobati Kim Eng Hauw sampai sembuh! Kalian begitu mendesak menginginkan-nya, sebetulnya karena apa?"

"Kalau kalian tidak menyerahkan Kim Eng Hauw sekarang, tetapi malah menunggu setelah lukanya sembuh, mungkin kalian pun tidak akan bisa meloloskan diri!" sahut salah seorang berbaju putih.

Mendengar itu, Pek Yun Hui menduga, tentu Kim Eng Hauw mengetahui suatu rahasia mereka, maka mereka ingin membunuhnya untuk menutup mulut seandainya Kim Eng Hauw sembuh, otomatis akan membeberkan rahasia tersebut sehingga orang-orang berbaju putih itu tidak akan melepaskan mereka semua, Di saat Pek Yun Hui sedang berpikir, tiba-tiba terdengar suara seruan Pang Siu Wie dari dalam gua.

"Nona Pek cepat ke mari!"

"Ada apa?" tanya Pek Yun Hui sambil menoleh. "Kim Eng Hauw sudah siuman, dia ingin bicara dengan Nona." sahut Pang Siu Wie memberitahukan

"Kami segera ke dalam." ujar Pek Yun Hui lalu berkata pada Lie Ceng Loan, "Adik Loan, mari kita ke dalam!"

Pek Yun Hui langsung menarik Lie Ceng Loan ke dalam, namun Lie Ceng Loan tidak mau.

"Aku mau di sini menunggu Kakak Bu." katanya.

"Adik Loan,.,." Pek Yun Hui tertegun "Kalau Bee Kun Bu datang, bagaimana engkau ?"

"Aku,., aku akan ke luar menyambutnya," jawab Pek Yun Hui.

justru ini yang dikhawatirkan Pek Yun Hui, Ke-mudian ia berpikir tidak mungkin begitu kebetulan Bee Kun Bu akan ke mari di saat ini.

"Baik," Pek Yun Hui mengangguk Tapi kalau Bee Kun Bu ke mari, engkau tidak boleh membuka pintu gua,"

"Aku tahu, musuh berkepandaian begitu tinggi, kita semua bukan lawannya." sahut Lie Ceng Loan.

Setelah Lie Ceng Loan menyahut begitu, barulah Pek Yun Hui melesat ke dalam, sedangkan Lie Ceng Loan masih tetap mengintip ke luar melalui lubang rahasia itu.

Ia melihat beberapa orang berbaju putih sedang berkasak- kusuk, kelihatannya mereka merundingkan sesuatu Namun orang berbaju putih yang mirip Na Hai Peng masih tetap berdiri tak bergerak ia sama sekali tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya.

Lie Ceng Loan tidak tahu apa yang mereka rundingkan Mendadak orang-orang berbaju putih itu bangkit berdiri sambil memandang ke depan Lie Ceng Loan juga memandang ke sana, Tampak seseorang sedang menuju tempat itu. Orang itu ternyata Bee Kun Bu, yang sedang ditunggu Lie Ceng Loan Dalam beberapa hari ini, sungguh rindu gadis itu pada Bee Kun Bu, sehingga tiada nafsu makan dan tidak bisa tidun Kini ia melihat kemunculan Bee Kun Bu. Maka tidak heran kalau perasaannya menjadi girang, gugup, panik dan cemas.

sementara orang-orang berbaju putih itu segera bersembunyi Orang baju putih yang mirip Na Hai Peng juga ditarik untuk bersembunyi

Saat ini, di depan gua Thian Kie sama sekali tidak tampak siapa pun, Lie Ceng Loan tahu, mereka sedang menunggu kedatangan Bee Kun Bu. sementara Bee Kun Bu terus menuju ke situ. Kelihatan ia tidak menyadari akan bahaya sedang mengancam dirinya.

Tak lama kemudian, Bee Kun Bu sudah makin mendekat Lie Ceng Loan bisa melihat wajahnya yang tampak gelisah, Gadis itu berpikir, kalau saat ini ia tidak bersuara, Bee Kun Bu pasti celaka, Tapi kalaupun ia berteriak, bagaimana mungkin Bee Kun Bu dapat mendengarnya?

Oleh karena itu, demi menyelamatkan Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan sudah tidak bisa berpikir panjang lagi. ia segera mengangkat palang pintu gua, sekaligus membuka sedikit pintu gua itu, lalu secepatnya melesat ke luar ke arah Bee Kun Bu seraya berteriak

"Kakak Bu, jangan maju!"

Suara seruan Lie Ceng Loan membuat Bee Kun Bu tertegun, lalu bertanya dengan heran

"Kenapa?"

"Ada mu. " Sebelum Lie Ceng Loan mengucapkan "Suh",

sudah tampak dua orang berbaju putih melesat ke arah Bee Kun Bu dari balik sebuah batu bosan

Bee Kun Bu langsung menghunus pedangnya, dan terjadilah pertarungan Pada waktu bersamaan, berkelebat pula dua sosok bayangan ke arah Lie Ceng Loan, dan sekaligus menyerangnya. Lie Ceng Loan terpaksa menyambut serangan-se-rangan itu dengan tangan kosong, sehingga tidak sempat memandang ke arah Bee Kun Bu.

"Adik Loan, Kakak Pek tidak ada ya?" tanya Bee Kun Bu dan menambahkan, "Kalau dia ada, mereka semua bukan tandingannya!"

"Musuh amat tangguh, kami semua bukan lawannya!" sahut Lie Ceng Loan.

"Apa?" Bee Kun Bu terkejut "Engkau bilang apa?"

"Kakak Pek ada, tapi dia juga bukan lawan musuh tangguh itu!" Lie Ceng Loan memberitahukan

Di saat mereka berdua sedang bereakap-cakap, tampak dua orang melesat ke arah mereka. Salah seorang adalah yang mirip Na Hai Peng.

"Cepat pergi!" ujar orang berbaju putih yang menarik orang berbaju putih yang mirip Na Hai Peng itu sambil menepuk bahunya.

Saat ini, pintu gua itu terbuka sedikit Ketika mendengar orang berbaju putih itu mengatakan begitu, wajah Lie Ceng Loan langsung berubah pucat sedangkan orang berbaju putih tinggi besar telah melesat ke arah pintu gua. Karena demi menyelamatkan Bee Kun Bu, maka Lie Ceng Loan membuka sedikit pintu gua itu, sama sekali tidak berpikir kalau orang baju putih itu akan menerjang ke sana.

Dapat dibayangkan, betapa gugup dan cemasnya hati Lie Ceng Loan, ia langsung menyerang ke dua lawannya dengan jurus-jurus yang lihay, kemudian mendadak melesat ke arah pintu gua.

Walau Lie Ceng Loan melesat begitu cepat, tapi gerakan orang berbaju putih tinggi besar itu jauh lebih cepat, bahkan telah masuk ke dalam gua.

"Kakak Pek!" teriak Lie Ceng Loan sekeras-keras-nya. "Cepat tutup pintu batu! Musuh sudah menerjang ke dalam!" Suara teriakan Lie Ceng Loan nyaring sekali, sehingga membuat orang berbaju putih tinggi besar melancarkan sebuah pukulan ke belakang, seketika juga Lie Ceng Loan terpental ke luar bagaikan layang-layang putus.

Ketika badannya terpental, ia segera menghimpun hawa murninya sambil memandang ke arah Bee Kun Bu. Tampak Bee Kun Bu berada diatas angin bertarung dengan ke dua orang berbaju putih.

Namun di saat bersamaan, salah seorang berbaju putih mengayunkan senjata yang berbentuk aneh ke arah Lie Ceng Loan.

Begitu melihat serangan itu, Lie Ceng Loan segera menghunus pedangnya.

Ketika badannya melayang turun, Lie Ceng Loan mendengar suara "Bum! Bum" di dalam gua, sepertinya suara pintu batu ke dua di dalam gua, Maka ia menarik nafas lega.

Tepat di saat itu pula senjata berbentuk aneh mengarah pada dirinya dan mengeluarkan suara aneh, Lie Ceng Loan tahu kalau orang berbaju putih itu berkepandaian tinggi, sebab ia sama sekali tidak terluka ketika beradu pukulan dengan Pek Yun Hui.

Segeralah Lie Ceng Loan mengeluarkan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi Mulai Mengembang) untuk menangkis senjata aneh itu.

Trang! Terdengar suara benturan senjata, bunga api pun berpijak

Setelah menangkis senjata aneh itu, sepasang kaki Lie Ceng Loan menginjak tanah, namun nyaris terjatuh

Sedangkan orang berbaju putih itu menyerang lagi, Guguplah Lie Ceng Loan dan mendengar suara seruan Bee Kun Bu. "Ngo Heng Mie Cong Pu (llmu Langkah Ajaib)!"

Lie Ceng Loan segera mengerahkan ilmu tersebut, maka dirinya ter!uput dari serangan orang berbaju putih itu, Walau demikian tak urung keringat dinginnya mengucur

"He he!" Orang berbaju putih itu tertawa aneh, "Bagus sekali! Engkau masih bisa menghindar di bawah senjata anehku! Coba lihat bisa menghindar berapa lama!"

"Pasti kusambut seranganmu!" sahut Lie Ceng Loan, lalu bersiul panjangsambil mengerahkan ilmu pedangnya, seketika tampak pedangnya berkelebatan, sehingga yang tampak hanya sinar putih, tidak tampak orangnya.

Pada waktu bersamaan, Bee Kun Bu telah berhasil mengalahkan ke dua lawan nya. Kemudian secepat kilat ia melesat ke arah Lie Ceng Loan dan langsung menyerang orang baju putih itu dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat, yakni Tui Hun Cap Ji Kiam (Dua Belas jurus Mengejar Setan).

Kacaulah orang baju putih itu, sehingga dirinya nyaris tertusuk pedang Lie Ceng Loan.

Kini Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menyatukan diri menyerang orang baju putih, sehingga membuat orang baju putih itu terdesak

"Adik Loan!" Bee Kun Bu memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya pada Lie Ceng Loan, "Apakah musuh berada di sini semua ? Kenapa kalian tidak bisa melawan mereka ?M

"Masih ada satu orang yang telah menerjang ke dalam gua!" Lie Ceng Loan memberitahukan

"Oh?" Bee Kun Bu terkejut "Siapa mereka itu dan di mana guru-guru kita?"

"Guru dan Supek telah mereka tangkap!" sahut Lie Ceng Loan dan nyaris menangis.

Bee Kun Bu terkejut bukan main, sehingga gerakan pedangnya jadi lamban, Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang berbaju putih itu. ia langsung melesat pergi dan bersiul panjang.

Bee Kun Bu tidak mengejarnya, melainkan bertanya pada Lie Ceng Loan yang sedang terisak-isak.

"Bagaimana guru bisa ditangkap mereka?"

"Kakak Bu. " Lie Ceng Loan menarik nafas, ia tahu Bee

Kun Bu pasti mempersalahkannya. "Panjang sekali kalau dituturkan, maka lebih baik kita melawan musuh dulu!"

Bee Kun Bu masih ingin mengucapkan sesuatu, namun terdengar lagi siulan panjang orang berbaju putih, Mendadak tampak sosok bayangan melesat ke luar dari dalam gua ke arah orang baju putih itu, Begitu melihat orang berbaju putih tinggi besar itu, terkejutlah Lie Ceng Loan.

"Hati-hati Kakak Bu!" Lie Ceng Loan segera memberitahukan "Kakak Pek masih tidak mampu melawannya!"

Tepat di saat itu, orang berbaju putih yang bertarung tadi berseru pada orang baju putih tinggi besar

"Bereskan ke dua orang itu!"

Orang berbaju putih tinggi besar tidak menyahut, tapi langsung melesat ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Ketika menyaksikan gerakan orang berbaju putih tinggi besar itu, Bee Kun Bu mengeluarkan suara kaget

"Eeeeh?"

Pada waktu bersamaan, orang berbaju putih tinggi besar itu telah menerjang ke arahnya, Lie Ceng Loan membentak nyaring dan sekaligus menggerakkan pe-dangnya, dengan jurus Khie Hong Sen Ciauw (Burung Hong Mengembangkan Sayap Dan Mematuk).

Wa!au Bee Kun Bu amat terkejut tapi ia masih sempat menyerang orang berbaju putih tinggi besar itu dengan jurus Ku Hoa Chun le (Bunga Di Hujan Musim Semi)- Dua pedang berkelebatan ke arah orang berbaju putih tinggi besar itu, bahkan juga mengeluarkan suara mendesir- desir.

Orang berbaju putih tinggi besar itu tidak berkelit Namun begitu ia menggerakkan tangannya, ke dua pedang itu langsung tereengkeram, serangan itu sangat aneh, sehingga membuat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak berani menyerang lagi. Ketika ingin menarik pedang masing-masing, mereka merasa tertekan oleh tenaga yang amat dahsyat Tekanan itu membuat badan mereka ter-goncang, Tangan mereka yang menggenggam pedang pun terasa ngilu, Kalau Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak melepaskan pedang masing-masing itu, diri mereka pasti celaka.

Oleh karena itu, mereka serentak melepaskan pedang masing-masing, lalu secepat kilat meloncat ke belakang

Ke dua pedang itu telah berpindah ke tangan orang berbaju putih tinggi besar Tampak tangan orang itu bergerak

Plak! Plak! Ke dua pedang itupun patah. Kemudian tiba- tiba orang berbaju putih tinggi besar itu mengibaskan tangannya seketika ke dua kutungan pedang meluncur laksana kilat ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Ketika menyaksikan kepandaian orang berbaju putih tinggi besar itu, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terkejut bukan main sehingga meloncat mundur Belum juga rasa terkejut mereka hilang, ke dua kutungan pedang itu telah meluncur secepat kilat ke arah mereka.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sudah tidak bisa berkelit pada waktu bersamaan terdengarlah suara bentakan nyaring di dalam gua Thian Kie, menyusul tampak pula meluncur dua titik cahaya putih laksana kilat ke arah kutungan pedang itu.

Trang! Trang! Terdengar suara benturan Luncuran kutungan pedang itu pun jadi berubah arah. Di saat itu tampak pula berkelebat sosok bayangan dari gua. sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terluput dari serangan kutungan pedang itu.

"Kun Bu, adik Loan!" Suara Pek Yun Hui. "Biar aku yang menghadapi guru! Kalian berdua menghadapi orang itu!"

Ternyata tadi Pek Yun Hui menyambitkan dua butir mutiara ke arah kutungan pedang yang meluncur ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, sehingga mereka berdua terluput dari bahaya itu.

"Engkau bilang apa?" Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terkejut, karena tadi Pek Yun Hui menyebut orang berbaju putih tinggi besar itu guru.

"Nanti saja dituturkan! cepatlah kalian hadapi orang berbaju putih itu! jangan berbelas kasihan padanya!" sahut Pek Yun Hui yang sudah mulai menghadapi orang berbaju putih tinggi besar dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

"Kakak Pek, orang itu ayah angkatku?" tanya Bee Kun Bu. "Cepat serang orang berbaju putih itu!" bentak Pek Yun

Hui.

Belum pernah Pek Yun Hui bersikap demikian terhadap Bee Kun Bu, Maka Bee Kun Bu tahu, bahwa urusan pasti gawat sekali, Kalau tidak, bagaimana mungkin Pek Yun Hui bersikap demikian?

Oleh karena itu, Bee Kun Bu langsung bersiul panjang sambil melesat ke arah orang berbaju putih itu. Lie Ceng Loan juga tidak mau ketinggalan, ia pun langsung melesat ke sana.

Mereka berdua mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Maka tampak dua sosok bayangan berkelebatan tak menentu mengarah pada orang berbaju putih itu.

Plak! Plak! Bahu orang berbaju putih telah terpukul dua kali. Betapa gusarnya orang berbaju putih itu, sebab ke dua pukulan itu membuat badannya bergoyang-goyang, sehingga nyaris terjatuh. Secepat kilat Bee Kun Bu mencengkeram lengannya, Begitu melihat Bee Kun Bu mencengkeram lengan orang berbaju putih itu, Lie Ceng Loan segera menyerangnya dengan tangan kosong.

Guguplah orang berbaju putih itu. ia tidak tahu harus bagaimana mengelak justru di saat itu, Bee Kun Bu telah berhasil mencengkeram lengan orang berbaju putih itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Lie Ceng Loan.

Secepat kilat ia menghantam lengan orang berbaju putih itu.

Plak! Senjata aneh orang berbaju putih terpental sesungguhnya orang berbaju putih itu berkepandaian

tinggi, namun bagaimana mungkin melawan serangan- serangan yang dilancarkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan?

Karena Lie Ceng Loan memukul lengan orang berbaju putih itu, maka Bee Kun Bu melepaskan cengkeramannya. Kalau tidak pukulan Lie Ceng Loan akan terhalang-

Orang berbaju putih itu langsung melesat pergi sambil bersiul aneh, kemudian berseru.

"Cepat pergi! Besok ke mari lagi!"

Beberapa orang berbaju putih yang terluka itu segera kabur, Begitu pula orang berbaju putih yang bertarung dengan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Orang berbaju putih tinggi besar yang bertarung dengan Pek Yun Hui juga ikut melesat pergi.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan ingin mengejar, tapi Pek Yun Hui segera mencegah mereka.

"Jangan mengejar!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menurut Mereka yakin, Pek Yun Hui pasti mempunyai alasan tertentu mencegah mereka mengejar orang-orang berbaju putih itu. Di saat itu, tampak Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu berjalan ke luar dari dalam gua.

"Kalian berdua harus menyediakan rangsum sebelum hari gelap." ujar Pek Yun Hui pada mereka. "Dan ingat, jangan sampai bertemu orang-orang berbaju putih!"

Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu mengangguk, lalu segera melesat pergi.

"Apakah orang-orang baju putih itu masih akan ke mari?" tanya Bee Kun Bu.

"Saat ini aku tidak berani memastikannya," jawab Pek Yun Hui. "Namun ada baiknya kita berjaga-jaga."

"Kakak Pek!" tanya Lie Ceng Loan, "Benarkah orang berbaju putih tinggi besar itu Paman Na?"

Pek Yun Hui menarik nafas, dan sepasang matanya tampak bersimbah air. Lama sekali barulah ia menyahut

"Sebetulnya aku sudah bereuriga, Di kolong langit ini bagaimana mungkin masih ada orang lain yang memiliki ilmu silat Kui Goan Pit Cek? Lagipula orang berbaju putih itu bentuknya mirip guru." Pek Yun Hui memberitahukan "Ketika aku memasuki ruang dalam, Kim Eng Hauw menceritakan bahwa dia melihat dengan mata kepala sendi ri, orang-orang berbaju putih itu menggantikan jubah guru dengan pakaian putih, kemudian juga memakaikan kedok kulit manusia di muka guru, Setelah mendengar itu, barulah aku pereaya kalau orang berbaju tinggi besar itu Na Hai Peng, guruku."

"Ayah angkat cuma tidak waras, kenapa menuruti perintah orang berbaju putih itu?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Sudah pasti ada sebab musababnya," jawab Pek Yun Hui. "Aku sama sekali tidak tahu, tapi aku yakin Gin Tte Suseng mengetahuinya."

"Kalau begitu, mari kita ke dalam bertanya pada Gin Tie Suseng!" ujar Bee Kun Bu dan langsung melesat ke dalam gua Thian Kie. ******

Bab ke 58 - Urusan Yang Merupakan Teka-Teki

Bee Kun Bu sudah sampai di ruang dalam, akan tetapi Gin Tie Suseng justru tidur pulas.

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan memang ingin segera mengetahui urusan itu, namun Gin Tie Suseng sedang tidur pulas, Keadaan itu ada baiknya bagi Gin Tie Suseng, maka mereka bertiga tidak mau mengusiknya.

"Kakak Bu!H ujar Lie Ceng Loan, "Tentunya selama itu engkau tidak bertemu dengan paman Na, tapi kenapa begitu lama baru ke mari?"

"Dalam perjalanan, aku bertemu urusan aneh," sahut Bee Kun Bu dan menambahkan "Sebelum aku menuturkan urusan itu, engkau tuturkan dulu cara bagaimana guru-guru kita diculik orang!"

Lie Ceng Loan segera menutur tentang dirinya bertemu Co Hiong, kemudian bertemu dua orang berbaju putih dan Kun Lun Sam Cu mengikuti mereka.

Setelah mendengar penuturan Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu berpikir keras dengan kening berkerut-kerut, Berselang sesaat, barulah ia membuka mulut

"Kalau begitu, guru bertiga pasti di bawah perintah orang, kan?"

"Paman Na yang berkepandaian begitu tinggi masih tidak terluput dari itu, apalagi guru-guru kita," jawab Lie Ceng Loan dan bertanya, "Kakak Bu, apakah engkau juga berteman orang-orang berbaju putih dalam perjalanan?"

Tidak." Bee Kun Bu menggelengkan kepala, "Urus-an itu membuatku tidak habis berpikir hingga sekarang."

"Urusan apa itu?" tanya Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui serentak Bee Kun Bu tampak mengerutkan kening, lama sekali barulah menutur tentang apa yang dialaminya dalam perjalanan.

Ternyata ketika berpisah dengan Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu terus menuju ke arah timur Setelah hari mulai gelap, ia pun tiba di sebuah kota kecil Di kota itu ia membeli makanan lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Setelah malam, tempat-tempat yang dilalui Bee Kun Bu semakin sunyi. ia tidak tahu ada tempat apa di arah timur itu, sebab ia tidak pernah ke tempat tersebut Belum tentu Na Hai Peng terus menuju arah timur, kenapa tidak mencoba ke arah lain? Pikir Bee Kun Bu.

Di saat ia sedang berpikir, mendadak terdengar derap kaki kuda di belakangnya, Bee Kun Bu segera menoleh ke belakang, tampak segerombolan orang sedang melakukan perjalanan malam.

Bee Kun Bu tereengang, Kalau mereka itu kaum pedagang, tidak seharusnya melakukan perjalanan malam, Seandainya mereka bukan kaum pedagang, mungkinkah kaum rimba persilatan?

Berpikir sampai di sini, Bee Kun Bu segera melesat ke belakang pohon untuk menyembunyikan diri Tak seberapa lama kemudian, muncullah serombongan kuda dan tampak pula beberapa kereta kuda yang terus berpacu ke depan.

Setelah memperhatikan kuda-kuda dan kereta itu, Bee Kun Bu terkejut karena ia tidak melihat seorang pun, ia masih ingat, bahwa itu rombongan pedagang, yang dikepalai oleh orang tua berjenggot yang pernah ditemuinya ketika bersama Lie Ceng Loan.

Akan tetapi, saat ini tidak tampak seorang pun, sehingga kuda-kuda itu berlari serabutan, Setelah memperhatikan dengan seksama, Bee Kun Bu melihat ada seseorang mendekap di punggung kuda. Karena gelap dan kuda itu berlari kencang, maka Bee Kun Bu tidak melihat jelas wajah orang itu, Karena merasa heran dan teringat pula orang tua berjenggot agak tahu tentang Mo Kui Ceh Yi, maka Bee Kun Bu segera melesat ke luar mengejar kuda itu, dengan harapan yang mendekap di punggung kuda itu orang tua berjenggot.

Tak lama kemudian, ia telah berhasil menyusul kuda yang dikejarnya, Ternyata kuda itu menarik kereta, Segeralah Bee Kun Bu meloncat ke dalam kereta, Bam saja ia duduk tangannya telah menyentuh sesuatu, Bee Kun Bu menolehkan kepalanya, ia terkejut karena yang di-sentuhnya itu ternyata mayat Bahkan di dalam kereta itu terdapat enam sosok mayat, yang semuanya mayat kaum pedagang.

Bee Kun Bu mengerutkan kening, ia tidak habis berpikir, kenapa kaum pedagang itu dibunuh? ia menarik nafas panjang, lalu meninggalkan kereta itu.

Bee Kun Bu lalu meloncat ke kereta lain, Ternyata di dalam kereta itu pun terdapat beberapa sosok mayat, Karena merasa penasaran, ia melesat ke kereta yang lainnya lagi, Di sana juga ada beberapa sosok mayat.

Darah Bee Kun Bu langsung mendidih lantaran kekejaman si pembunuh, sebab ia menemukan belasan mayat yang semuanya kaum pedagang.

Bee Kun Bu melesat ke luar dari dalam kereta sambil bersiul panjang, lalu mengejar kuda yang di depan, Ternyata tadi ketika ia meloncat ke dalam kereta, kuda yang menarik kereta itu terkejut sehingga berlari sekencang-kencangnya membuat tali yang mengikat di kereta itu putus.

Setelah menemukan begitu banyak mayat, Bee Kun Bu mengira orang yang mendekap di punggung kuda itu si pembunuh, Maka begitu berhasil menyusul kuda itu, ia pun melayang ke atas sambil menyambar orang tersebut

Akan tetapi, sungguh mengherankan, sebab orang itu sama sekali tidak melawan, sehingga dengan mudah sekali Bee Kun Bu menyambarnya. sepasang mata orang itu mendelik, mulutnya berlumuran darah dan sudah mati. Siapa orang itu? Ternyata orang tua berjenggot

Bee Kun Bu tertegun, ia melihat tangan orang tua berjenggot menggenggam sebilah belati tajam menancap di badan kuda.

Bee Kun Bu menaruh mayat itu, sedangkan kuda terus berlari seakan tahu jalan, Tak lama kuda itu membelok ke kiri dan terus berlari lagi, Kuda-kuda lain terus mengikuti kuda itu.

Berselang beberapa saat kemudian, kuda itu berhenti di depan sebuah rumah besar, justru mengherankan, di tempat yang amat sunyi sepi ini terdapat sebuah rumah yang begitu besar.

Bee Kun Bu meloncat turun dari punggung kuda itu, lalu mengamati rumah tersebut Suasana di dalam rumah itu sunyi sepi, kelihatannya tidak ada orang, Bee Kun Bu berpikir, kini ia telah tiba di tempat ini, bagaimana cara memasuki rumah itu untuk melihat-lihat? Setelah berpikir demikian, Bee Kun Bu langsung melesat ke arah pintu rumah itu, Kebetulan pintu rumah itu terbuka sedikit

"Siapa penghuni rumah ini? Apakah ada di dalam rumah?" teriak Bee Kun Bu.

Tapi tiada sahutan dari dalam, Kemudian Bee Kun Bu berteriak lagi, namun tetap tiada sahutan dari dalam, Karena itu, ia langsung mendorong pintu itu.

Krek! Krek! pintu itu terbuka.

Seketika Bee Kun Bu merasa ada angin yang amat dingin menghembus ke luar, membuat sekujur badannya jadi merinding.

ia melongok ke dalam, tampak ruangan yang sangat besar dan indah, namun sunyi sekali, Bee Kun Bu segera menghunus pedangnya, melangkah ke dalam. Setelah berada di ruangan besar itu, Bee Kun Bu berdiri diam, lalu menyalakan semacam batu yang bisa mengeluarkan api. Begitu batu itu menyala, keadaan di ruangan itu tampak jelas.

Bee Kun Bu termasuk pemberani, namun ketika menyaksikan keadaan ruang tersebut, ia tampak terkejut sekali dengan mata terbeliak lebar

ia menyurut mundur beberapa langkah, lalu menyalakan lilin yang ada di situ, barulah memandang dengan penuh perhatian Di tengah-tengah ruang itu terdapat sebuah meja bundar yang penuh makan an. Di atas meja itu tampak belasan orang dalam posisi tongku rap. Orang-orang itu telah mati dan dibagian belakang kepala mereka terlihat ada sebuah lubang kecil, Darah masih mengalir ke luar dari lubang kecil itu.

Bee Kun Bu melihat semangkok kuah di atas meja. Dari kuah itu masih tampak sedikit uap panas mengepul ke atas, itu membuktikan peristiwa mengenaskan itu belum lama terjadi

Bee Kun Bu memeriksa semua orang yang telah mati itu, Ternyata kaum wanita juga tidak terluput, bahkan juga termasuk anak kecil Akhirnya Bee Kun Bu sampai di kandang kuda, Tampak seseorang tergeletak di atas tumpukan rumput, dan masih bergerak sedikit

"Siapa pembunuh itu?" tanya Bee Kun Bu. "Cepat katakan, aku akan membalas dendam kalian!"

sepasang mata orang itu mendelik-delik, kemudian mengucapkan beberapa patah kata yang tak dimengerti Bee Kun Bu, yakni bahasa suku di luar perbatasan

"Engkau tidak bisa berbahasa Han?" tanya Bee Kun Bu. Orang itu menatap Bee Kun Bu dengan mata redup, lalu bersusah payah mengucapkan beberapa patah dalam bahasa Han.

"Se... setan iblis..." usai mengucapkan itu, nafasnya putus. Setan Iblis! Tentunya berhubungan dengan Mo Kui Ceh Yi,

pikir Bee Kun Bu. Setelah itu, ia meloncat ke punggung kuda dan langsung meninggalkan tempat itu, Tak seberapa lama kemudian, kuda itu telah berlari belasan miI.

jalan yang dilalui Bee Kun Bu, tetap sunyi sepi, Kuda itu masih terus berlari kencang ke depan, Tak lama hari mulai terang.

Bee Kun Bu memandang ke depan, tampak sebuah pura kecil di pinggir jalan, Walau jarak masih begitu jauh, tapi Bee Kun Bu telah melihat jelas ada seseorang duduk di dalam pura kecil itu, Setelah dekat, ternyata itu cuma orang-orangan dari rumput.

Orang-orangan dari rumput itu duduk menghadap ke arah selatan, Sebelah tangannya terangkat ke atas menunjuk ke arah selatan pula.

Bee Kun Bu berpikir, itu pasti merupakan suatu kode dari kaum golongan hitam. Bagaimana kalau mengikuti arah yang ditunjuk orang-orangan itu?

Setelah berpikir demikian, Bee Kun Bu mengambil keputusan ke arah selatan, Tak lama, kuda itu berlari yang dituju.

Tidak sampai sepuluh mil, tampak lagi orang-orangan rumput berdiri di atas dahan pohon, Sebelah tangannya juga menunjuk ke arah selatan Kini Bee Kun Bu semakin yakin, bahwa orang-orangan itu merupakan suatu kode

Hari ini Bee Kun Bu telah menempuh jalan begitu jauh, Setiap belasan mil pasti terdapat sebuah orang-orangan rumput yang tangannya menunjuk ke arah selatan. Walau sudah sehari penuh Bee Kun Bu terus mengejar yang dilihatnya cuma orang-orangan rumput, tidak melihat orang yang dikejarnya, Kalau orang lain, mungkin sudah putus asa. Namun Bee Kun Bu bukan orang yang gampang putus asa. ia masih terus mengejar

Hari berikutnya, sudah tidak tampak orang-orangan rumput lagi, Tempat yang dilaluinya juga terlihat banyak orang berlalu lalang.

Bee Kun Bu terus berpikir Tiba-tiba ia teringat sesuatu, yakni setiap jarak belasan mil, pasti tampak sebuah papan dipantek di atas pohon di pinggir jalan, Papan tersebut bergambar orang yang tangannya menunjuk ke suatu arah.

Setelah teringat itu, Bee Kun Bu tidak begitu ter-buru-buru mengejar lagi seperti kemarin Dengan adanya tanda tersebut, ia yakin akan dapat menemukan sarang mereka. Maka ketika malam tiba ia bermalam di penginapan .

Beberapa hari berturut turut ia terus menuju selatan, Hari ini ia telah tiba di Kang Lam dan tanda itu tetap ada.

Akan tetapi, gambar orang yang dipapan menunjuk ke arah timur, kadang-kadang menunjuk ke arah barat, membuat Bee Kun Bu harus menempuh perjalanan beberapa hari

Terakhir, gambar orang disebuah papan menunjuk ke arah gunung Kwat Cong San. Tentunya mencengangkan Bee Kun Bu. Oleh karena itu, ia langsung menuju gunung Kwat Cong San.

Ketika memasuki kawasan gunung Kwat Cong San, ia melihat dua buah papan bergambar orang menunjuk ke arah gua Thian Kie. Maka Bee Kun Bu langsung menuju gua tersebut

Seusai Bee Kun Bu menutur, Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu muncuL Mereka berdua membawa berbagai macam buah-buahan dan makanan "Kalian berdua bertemu orang-orang berbaju putih?" tanya Pek Yun Hui.

"Tidak," sahut Giok Siauw Sian Cu.

"Oh?" Pek Yun Hui tampak berpikir, kemudian melanjutkan "Kun Bu, apa yang engkau lihat itu tentu perbuatan orang- orang berbaju putih, Namun entah apa sebabnya tadi mereka mau mengundurkan diri, Mungkin mereka akan ke mari lagi esok. Maka kita waspada dan berjaga-jaga, tidak boleh lengah sedikit pun."

Kemudian Pek Yun Hui menyuruh Pang Siu Wie menutup pintu batu di dalam gua. Pada waktu bersamaan, Gin Tie Suseng mendusin.

Lie Ceng Loan, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu langsung memandangnya.

"Saudara Kim, apakah engkau sudah merasa mem-baik?" tanya Pek Yun Hui.

"Terimakasih Saudara Bee engkau telah menyelamatkan nyawaku!" ucap Gin Tie Suseng. Karena Bee Kun Bu adalah lelaki, maka ucapannya di arahkan pada Bee Kun Bu.

LagipuIa ia pun mengira bahwa Bee Kun Bu yang mengobati lukanya.

"Saudara Kim, aku baru tiba di sini," sahut Bee Kun Bu. "Bukan aku yang menolongmu."

"Kalau begitu. " Wajah Gin Tie Suseng kemerah-

merahan, "Siapa yang menolong diriku?"

Pek Yun Hui menoleh, ia melihat Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu sudah usai menutup pintu batu di dalam gua, dan mereka berdua sedang menuju ke situ.

"Saudara Kim!" ujar Pek Yun Hui memberitahukan "Yang mengobatimu Giok Siauw Sian Cu."

Betapa terharunya hati Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw, ia berusaha bangun tapi tidak bisa. "Saudara Kim!" Giok Siauw Sian Cu segera men- dekatinya, "Engkau berbaring saja! jangan sembarangan bergerak!"

"Terimakasih Kakak!" ucap Gin Tie Suseng dan mendadak menggenggam tangan Giok Siauw Sian Cu.

"Eh?" Wajah Giok Siauw Sian Cu langsung memerah sambil mengibaskan tangannya "Kenapa engkau jadi cerewet?"

Walau bernada gusar, namun mengandung perhatian.

Siapa pun dapat melihat bahwa Giok Siauw Sian Cu sangat menaruh perhatian pada Gin Tie Suseng.

"Saudara Kim!" ujar Lie Ceng Loan yang polos itu. "Walau Kakak Giok Siauw menegur, namun hatinya sangat girang karena Saudara Kim sudah membaiki

Wajah Giok Siauw Sian Cu bertambah merah, bahkan tampak tersipu.

"Adik Loan, jangan banyak omong!" tegur Pek Yun Hui. "Eh?" Lie Ceng Loan terbelalak "Aku tidak banyak omong

kok. Lagipula aku pun tidak salah omong."

"Memang benar." Pek Yun Hui tersenyum Tapi lihatlah wajah Giok Siauw Sian Cu itu!"

"Nona Pek!" Giok Siauw Sian Cu membanting kaki "Engkau juga mentertawakanku?"

Tentunya tidak," sahut Pek Yun Hui sambil tertawa kecil. "Sudahlah! Kesampingkan dulu urusan yang menyangkut

perasaan ini!" sela Pang Siu Wie mendadak "Lebih baik kita mendengarkan penuturan Gin Tie Su-seng, kenapa dia sampai ke sini.

Ucapan Pang Siu Wie mengheningkan suasana, sedangkan Gin Tie Suseng sudah tahu bagaimana perasaan Giok Siauw Sian Cu terhadapnya Sebab dia yang mengobati Gin Tie Siiseng, otomatis harus membuka semua pakaiannya "Waktu apa sekarang?" tanya Gin Tie Suseng sambil memandang Giok Siauw Sian Cu.

"Sudah sore," sahut Pek Yun Hui.

"Kalau begitu. " Air muka Gin Tie Suseng tampak berubah

"Na Locianpwee sudah ke mari kan?"

"Saudara Kim, apa sebabnya engkau bertanya de-mikian? Lebih baik Saudara Kim menutur dari awal saja," ujar Pek Yun Hui.

"Aaakh. !" Gin Tie Suseng menarik nafas panjang,

"Urusan ini memang panjang sekali kalau dituturkan Aku hanya tahu kini Na Locianpwee telah dikendalikan oleh seorang Maha iblis dari Mo Kui Ceh Yi, sehingga jadi tidak waras dan pasti ke mari mencariku."

"Dia memang sudah ke mari, namun kami berhasil mengusirnya Giok Siauw Sian Cu memberitahukan Tapi akan ke mari lagi esok."

"Untung masih ada waktu, maka kita bisa bersiap-siap," sahut Gin Tie Suseng sambil menarik nafas lagi.

"Apa artinya Mo Kui Ceh Yi?" tanya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan serentak, kemudian Bee Kun Bu melanjutkan "Kini bukan cuma ayah angkat, bahkan guru-guru dan Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng pun sudah tidak waras pula."

Mendengar itu, wajah Gin Tie Suseng langsung berubah kelam, bahkan sekujur badannya pun tampak gemetar, dan mulutnya pun membungkam.

"Saudara Kim, apa gerangan yang telah terjadi?" tanya Pek Yun Hui.

"Kalau begitu, dia memang sudah siap bergerak." sahut Gin Tie Suseng tiada ujung pangkalnya.

"Saudara Kim!" Pek Yun Hui heran. "Siapa yang engkau maksudkan itu?" "Kalau disuruh bilang siapa orang itu, aku sendiri pun tidak tahu." ujar Gin Tie Suseng.

"Kalau begitu, lebih baik engkau menuturkan tentang kejadian itu." Pek Yun Hui menatapnya, -

"Baik!" Gin Tie Suseng mengangguk "Aku akan memu!ainya ketika bertemu Na Locianpwee."

Seketika juga semua orang mendengar dengan penuh perhatian Wajah mereka pun tampak tegang.

Ternyata ketika menuju gunung Tay Pah San bernama Kuang Ti Taysu, pada hari berikutnya mereka guru dan murid melihat empat orang berbaju putih, melesat laksana kilat melewati sisi mereka. Dalam waktu sekejap, ke empat orang itu telah lenyap dari pandangan mereka.

Gin Tie Suseng tidak begitu memperhatikan ke empat orang itu, ia menganggap ke empat orang itu kaum Bu Lim yang sedang melakukan perjalanan tergesa-gesa.

Akan tetapi, ketika ia menoleh ke belakang, tampak Kuang Ti Taysu berdiri tertegun di tempat

Tentunya mengherankan Gin Tie Suseng, sebab ia pun menyaksikan wajah gurunya yang tampak begitu terkejut Karena itu ia segera berseru.

"Guru! Guru!"

Walau Gin Tie Suseng memanggil berkali-kali, tapi Kuang Ti Taysu tetap tidak menyahut Tereenganglah Gin Tie Suseng, dan segera mendekati gurunya.

"Guru! Guru!" panggilnya lagi.

"Oh!" Kuang Ti Taysu tersentak dan segera menyahut "Mari kita cepat pergi!"

"Guru!" Gin Tie Suseng terheran-heran menyaksikan sikap Kuang Ti Taysu, "Guru barusan kenapa?" "Aku. " Kuang Ti Taysu tampak tertegun, "Aku tidak apa-

apa. Mari kita melanjutkan perjalanan!"

Karena Kuang Ti Taysu menyahut demikian, Gin Tie Suseng bertambah curiga.

"Guru. "

"Anak Hauw, engkau tidak perlu bertanya lagi," potong Kuang Ti Taysu.

"Guru, sebetulnya apa yang terjadi?" Gin Tie Suseng tetap bertanya, karena merasa penasaran sekali

"Lebih baik engkau tidak tahu apa-apa," sahut Kuang Ti Taysu serius. "Oleh karena itu, aku tidak akan mem- beritahukan."

"Guru!" Gin Tie Suseng langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kuang Ti Taysu.

"Eh? Kenapa engkau?"

"Murid tahu kebaikan guru, Demi keselamatan mu-rid, maka guru berkeras tidak mau memberitahukan apa-apa. Tapi biar bagaimana pun, murid harus tahu. Guru, jangan menganggap murid sebagai orang luar!"

"Cepatlah engkau bangun!"

"Ka!au guru tidak memberitahukan, murid tidak akan bangun."

Kuang Ti Taysu tertegun mendengar ucapan muridnya, Maka mendadak wajahnya berubah gusar dan membentak sengit

"Engkau ingin terus berlutut di sini, terserah!" Kuang Ti Taysu berjalan pergi sambil membawa toya bajanya.

"Guru!" seru Gin Tie Suseng tertegun.

Kuang Ti Taysu berhenti, maka giranglah hati Gin Tie Suseng. Akan tetapi, tiba-tiba Kuang Ti Taysu melintangkan toya bajanya, sikapnya seperti sedang menghadapi musuh tangguh, Gin Tie Suseng tereengang dan mendongakkan kepala, ia melihat ke empat orang berbaju putih telah kembali ke situ.

Karena itu, Gin Tie Suseng yakin ada hubungannya dengan ke empat orang berbaju putih itu, maka Kuang Ti Taysu tidak mau memberitahukan apa-apa padanya.

Setelah melihat ke empat orang berbaju putih, Gin Tie Suseng segera bangkit berdiri, dan sekaligus mencabut suling peraknya.

"Anak Hauw! Cepat Pergil Semakin jauh semakin baik" seru Kuang Ti Taysu mendadak

"Guru bilang apa?" Gin Tie Suseng seakan tidak pereaya apa yang didengarnya kemudian mendekati Kuang Ti Taysu.

Akan tetapi, Kuang Ti Taysu mengayunkan toya bajanya ke arah Gin Tie Suseng, Betapa terkejutnya Gin Tie Suseng dan cepat-cepat berkelit

"Kalau engkau masih tidak mau pergi, mulai sekarang putus hubungan guru dan murid!" bentak Kuang Ti Taysu.

"Guru. " Gin Tie Suseng memandang ke depan. Ke empat

orang berbaju putih itu sudah makin mendekat ia tahu akan ketegasan gurunya, Kalau saat ini ia tidak pergi, jelas dirinya akan diusir dari pintu perguruan "Guru, murid menurut perintang

Gin Tie Suseng melesat, namun tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi di belakang sebuah pohon yang tak jauh dari tempat itu.

sementara ke empat orang berbaju putih pun makin dekat, dan air muka Kuang Ti Taysu bertambah tegang.

Tak seberapa lama kemudian, ke empat orang berbaju putih itu sudah berada di hadapan Kuang Ti Taysu, dan sekaligus mengurungnya. Badan Kuang Ti Taysu berputar, toya bajanya juga berputar-putar ke arah ke empat orang berbaju putih, itulah jurus Coh Im Pik Ya (Menghalau Suara Me-mecahkan Tebing).

Ke empat orang berbaju putih menggeram, lalu menyurut mundur jurus yang di keluarkan Kuang Ti Taysu sama sekali tidak dapat melukai seorang pun dari mereka.

"Hweeshio tua!" bentak salah seorang berbaju putih, Tadi kalian dua orang, ke mana yang seorang itu?"

"Sudah pergi!" sahut Kuang Ti Taysu.

"Hm!" dengus orang berbaju putih, kemudian mengibaskan tangannya seraya memberi perintah kepada dua orang berbaju putih lainnya, "Cepat kalian kejar orang itu?"

Ke dua orang berbaju putih mengangguk lalu segera melesat pergi, Kuang Ti Taysu ingin menghadang, tapi terburu dirintangi orang berbaju putih itu.

"Kuang Ti Taysu!" bentak orang berbaju putih itu sambil tersenyum dingin, "Engkau memang bernasib sial, karena bertemu kami berempat? sedangkan gerak-gerik kami tidak boleh sampai orang lain tahu! Oleh karena itu, kami harus membunuhmu!"

Gin Tie Suseng yang bersembunyi di belakang pohon baru paham, ternyata gurunya mengenal ke empat orang berbaju putih itu, Mereka ingin membunuh Kuang Ti Taysu, apakah mereka mampu? Ketika Gin Tie Suseng sedang berpikir, terdengarlah suara bentakan Kuang Ti Taysu.

"Jangan banyak omong!" Kuang Ti Taysu pun mengayunkan toya bajanya, Begitu cepatnya gerakan toya bajanya itu, sehingga menimbulkan suara menderu-deru.

Orang berbaju putih itu segera berkelit Seorang berbaju putih yang berdiri di belakang Kuang Ti Taysu, langsung menggerakkan tangannya, dan seketika tampak empat titik cahaya meluncur ke arah punggung Kuang Ti Taysu. Tanpa menoleh Kuang Ti Taysu memutarkan toya bajanya ke belakang, dan terdengarlah suara benturan

Ting! Ting! Ting! Ting! Ke empat senjata rahasia itu terpukul jatuh.

"Cepat turun tangan! Kita masih ada urusan penting!" ujar salah seorang berbaju putih pada temannya.

Temannya itu mengangguk Mereka berdua lalq menghunus pedang masing-masing, sekaligus menyerang ke arah Kuang Ti Taysu, Ke dua pedang itu berkelebatan

Betapa terkejutnya Gin Tie Suseng, sebab ia tahu ke dua orang berbaju putih itu berkepandaian amat tinggi Di saat itu terdengar suara teriakan Kuang Ti Taysu, dan tampak toya bajanya,melayang ke atas.

Ketika melihat toya baja Kuang Ti Taysu melayang ke atas, Gin Tie Suseng terkejut sebab ia tahu itu adalah jurus Hui Liong Tou Jit (Naga Terbang Menembus Matahari), Kalau tidak dalam keadaan bahaya sekali, jurus tersebut tidak akan di keluarkan

Setelah menyaksikan itu, Gin Tie Suseng tampak tertegun, karena tidak tahu apa yang harus diperbuat

Sementara toya baja Kuang Ti Taysu telah berhasil menghantam salah seorang berbaju putih hingga mulutnya menyemburkan darah segar, kemudian terkulai Akan tetapi, sebilah pedang pun berhasil menembus dada Kuang Ti Taysu.

Menyaksikan sampai di sini, Gin Tie Suseng sudah tiada keberanian untuk melihat lagi. Maka ia memejamkan matanya, Namun mendadak ia tersentak sendiri Gurunya dalam bahaya, sedangkan dirinya malah bersembunyi

Karena berpikir demikian, ia langsung melesat ke tuan Sebelum kakinya menginjak tanah, ia melihat orang berbaju putih itu telah melukai kaki gurunya dengan pedang.

Kuang Ti Taysu memekik keras, kemudian menyerang orang berbaju putih itu dengan tangan kosong. "He he!" Orang berbaju putih itu tertawa dingin sambil menggerakkan pedangnya ke arah lengan Kuang Ti Taysu.

Gin Tie Suseng telah sampai di tempat itu, dan sekaligus mengayunkan suling peraknya mengeluarkan jurus Sam Sing Cuh Goat (Tiga Bintang Mengelilingi BuIan), Suling peraknya mengarah pada punggung orang berbaju putih itu.

Orang berbaju putih itu terkejut, lalu secepat kilat ia berkelit Namun Gin Tie Suseng telah menyusulkan serangan Pit Hai Seng Poh (Laut Tenang Menimbulkan Badai), Tampak suling peraknya berkelebatan bagaikan cahaya putih mengarah pada orang berbaju putih itu.

pada waktu bersamaan, Kuang Ti Taysu mencabut pedang yang menembus dadanya, lalu mendadak menyerang pinggang orang berbaju putih itu.

Orang berbaju putih itu berhasil mengelak serangan Gin Tie Suseng, tapi tidak dapat menghindar serangan pedang Kuang Ti Taysu.

"Aaakh.-.!" jeritnya, ia lalu terkulai dengan pinggang berlumuran darah.

"Cepat,.!" seru Kuang Ti Taysu, tapi ia pun terkulai.

Gin Tie Suseng masih ingat akan dua orang berbaju putih yang pergi mengejarnya, ia yakin bahwa tidak lama lagi mereka berdua akan kembali ke tempat ini. Kalau ke dua orang itu kembali, celakalah Kuang Ti Taysu dan Gin Tie Suseng.

Karena itu, ia segera menyobek bajunya, kemudian secepatnya membalut dada gurunya yang terluka dengan sobekan bajunya, Setelah itu sebelah tangannya membawa toya baja, tangan yang sebelah lagi memapah gurunya meninggalkan tempat itu.

Beberapa mil kemudian, terdengarlah suara siulan panjang di belakangnya, itu pertanda ke dua orang berbaju putih telah kembali ke tempat tadi. Gin Tie Suseng yakin, bahwa ke dua orang berbaju putih itu pasti akan mengejarnya dengan ginkang, sedangkan ia tidak bisa mengerahkan ginkang, sebab harus memapah gurunya dan membawa toya baja. LagipuIa, saat ini gurunya telah pingsan. Oleh karena itu, ia cepat-cepat memasuki rimba lalu bersembunyi disuatu tempat

Tak lama setelah ia bersembunyi bersama gurunya, tampak dua sosok bayangan putih melesat menuju ke depan. Ketika ia baru mau menarik nafas lega, ke dua orang berbaju putih sudah kembali lagi. Namun berselang sesaat, ke dua orang berbaju putih itu melesat pergi IagL

Barulah Gin Tie Suseng menarik nafas lega, sementara hari sudah mulai gelap, Gin Tie Suseng memandang gurunya, ia melihat wajah gurunya semakin pucat pias, Sobekan baju yang membalut dada gurunya tampak memerah, ternyata luka bekas tusukan pedang itu masih mengucurkan darah.

"Guru.,." panggil Gin Tie Suseng.

"Suruh,., suruh pergi, engkau,., engkau kenapa tidak mau pergi?" Suara Kuang Ti Taysu lemah.

"Guru, kini sudah tiada bahaya lagi."

"Engkau tahu apa?" bentak Kuang Ti Taysu, "Kini... engkau sudah dalam bahaya besar."

"Guru, sebetulnya siapa musuh tangguh itu?" tanya Gin Tie Suseng, "Benarkah begitu lihay?"

"Anak Hauw.,.," Kuang Ti Taysu menarik nafas, "Aku... aku sudah tidak bisa bertahan lama. Setelah aku mati, engkau harus.,, harus pergi jauh! Jangan.,, jangan berniat membalas dendam!"

"Guru.,,." Gin Tie Suseng berduka sekali Tak terasa air matanya telah meleleh, "Maaf guru, tentang ini murid tidak bisa menuruti "Engkau,.,." Kuang Ti Taysu tampak gusar sekali, sehingga nafasnya memburu, "Binatang.,.!"

"Guru! Murid dan dua wanita Kwat Cong San sudah menjadi teman, Kepandaiannya mereka amat tinggi, Apa-kah mereka berdua masih tidak bisa membantu murid untuk membalas dendam? Guru, beritahukanlah siapa musuh tangguh itu?"

"Mo Kui Ceh Yi,.,." Kuang Ti Taysu menggeleng-gelengkan kepala, "Sulit dilawan dengan tenaga manusia, engkau jangan,.,."

"Guru, apa artinya Mo Kui Ceh Yi? Jelaskanlah!" desak Gin Tie Suseng.

"lblis itu,.,." Suara Kuang Ti Taysu sudah semakin lemah, "Kalau sudah mulai bergerak, pertanda bencana telah tiba bagi rimba persilatan."

"Guru!"

Kuang Ti Taysu diam. Gin Tie Suseng segera memeriksa nadinya, ternyata sudah tidak berdenyut lagi, Betapa sedihnya Gin Tie Suseng, tapi ia justru tidak mengucurkan air mata.

Kini Kuang Ti Taysu telah mati, Orang berbaju putih yang membunuh gurunya juga telah mati Namun mereka semua cuma merupakan anak buah, Lalu siapa pemimpin mereka ?

Kuang Ti Taysu menyebut Moh Kui Ceh Yi, itu membuatnya tereengang, karena selama ini ia sama sekali tidak pernah mendengar nama itu. Tentunya Kuang Ti Taysu tahu jelas, tapi justru telah mati.

Gin Tie Suseng termangu-mangu, lama sekali barulah ia mengubur mayat gurunya di tempat itu juga, Kemudian ia berlutut di hadapan makam itu sambil menangis sedih, Setelah larut malam, barulah ia berhenti menangis.

ia mengambil keputusan, tidak akan kembali ke Tay Pah San, melainkan berangkat ke gunung Kwat Cong San untuk menemui Pek Yun Hui. Keputusan ini membuat dirinya langsung berangkat ke gunung Kwat Cong San, Dalam perjalanan ini, ia sama sekali tidak mengalami apa pun.

Hari ini, Gin Tie Suseng sudah hampir tiba di gunung Kwat Cong San. Kalau sudah bertemu Pek Yun Hui, ia akan minta bantuannya untuk membalas dendam guru-nya, Bahkan akan menanyakan tentang Mo Kui Ceh Yi. Mungkin Pek Yun tahu tentang itu, sebab Pek Yun Hui adalah gadis yang amat cerdas. Demikian pikir Gin Tie Suseng sambil melanjutkan perjalanannya.

Ketika hampir tiba di gunung Kwat Cong San, walau sudah merasa lelah sekali, tapi ia sama sekali tidak beristirahat sejenak pun, masih terus melakukan perjalanan

Pada saat hari sudah mulai terang, ia sudah mulai memasuki kawasan gunung Kwat Cong San, mendadak ia melihat ada cahaya di depan, sebelumnya ia tidak pernah datang di gunung Kwat Cong San, Maka ketika melihat cahaya itu, ia mengira Pek Yun Hui dan lainnya berada di tempat itu. Segeralah ia ke sana.

Setelah mendekati tempat itu, ia melihat ada bayangan- bayangan bergerak Ketika baru mau membuka mulut berseru, malah mendadak ia terperangah karena melihat tujuh delapan orang berbaju putih dan memakai kedok setan iblis sedang duduk di tempat itu mengelilingi api unggun, Dandanan mereka persis seperti orang berbaju putih yang membunuh gurunya, Karena itu, ia maju lagi agar lebih mendekap sekaligus bersembunyi

Setelah bersembunyi ia lalu mengintip ke arah itu, seketika hatinya berdebar-debar tegang, Ternyata di antara mereka terdapat orang berjubah biru, yang tidak lain Na Hai Peng.

itu membuat Gin Tie Suseng tereengang, Bagaimana mungkin Na Hai Peng bereampur dengan orang-orang berbaju putih itu? ia tahu jelas Na Hai Peng adalah orang gagah yang telah menolong mereka semua dari istana Pit Sia Kiong. Lama sekali ia memperhatikan Na Hai Peng. ia merasa ada keanehan pada diri Na Hai Peng, sebab Na Hai Peng terus berdiri mematung di tempat.

Gin Tie Suseng tahu betapa tingginya kepandaian Na Hai Peng. Selain Na Siao Tiap yakni putrinya, tiada orang lain yang dapat menyamai kepandaiannya, Namun saat ini, kenapa dia jadi begitu aneh?

"Ambil pakaian putih, dan cepat ganti jubah birunya itu!" perintah salah seorang berbaju putih, "Orang ini berkepandaian tinggi, kita bisa memperalatnya."

Tidak salah," sahut orang berbaju putih lain. "Kalau maha iblis tahu kita punya orang yang berkepandaian sedemikian tinggi, tentunya kedudukan kita akan naik."

Setelah mendengar pembicaraan mereka, Gin Tie Suseng terkejut bukan main, karena ia tahu kini Na Hai Peng telah dikendalikan orang berbaju putih.

Saking terkejutnya, Gin Tie Suseng tanpa sadar menyurut mundur selangkah dari tempat persembunyian Secara tidak langsung ia telah memperlihatkan jejaknya.

Akan tetapi, orang-orang berbaju putih itu sedang sibuk mengganti jubah biru Na Hai Peng dan memakaikan kedok setan iblis di mukanya, maka tidak mengetahui akan jejak Gin Tie Suseng.

Setelah menyaksikan semua itu, Gin Tie Suseng tahu urusan tersebut sangat gawat, harus segera memberitahukan pada Pek Yun Hui. Namun ketika ia baru mau meninggalkan tempat itu, mendadak ia mendengar pembicaraan orang-orang berbaju putih itu lagi.

"Keledai gundul Kuang Ti entah hilang ke mana? Muridnya bernama Kim Eng Hauw juga tiada jejaknya, Tapi orang-orang kita sedang mencarinya, dia pasti tidak bisa kabur" "Hm!" dengus salah seorang berbaju putih. "Bagai-mana mungkin mereka bisa meloloskan diri? Lebih baik kita bawa orang ini menerjang ke dalam gua Thian Kie."

Mendengar ucapan itu, terkejut lah Gin Tie Suseng, Bahkan lebih terkejut lagi ketika melihat orang berbaju putih itu menarik Na Hai Peng menuju tempat persembunyian nya.

Maka segeralah ia mengambil langkah seribu. "Siapa di situ?" bentak orang berbaju putih itu.

Gin Tie Suseng terus kabur, namun sudah ada orang berbaju putih mengejarnya, Mati-matian Gin Tie Suseng mengerahkan ginkangnya, Tujuh delapan mi! kemudian, ia telah tersusul oleh dua orang berbaju putih.

Gin Tie Suseng tidak banyak bicara, langsung menyerang mereka dengan suling peraknya, Ke dua orang berbaju putih tertawa terkekeh, lalu membentak

"Ternyata engkau Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw!" "Sudah tahu kok masih mengantar nyawa ke mari?" sahut

Gin Tie Suseng, sekaigus menyerang mereka lagi.

Akan tetapi, muncul lagi dua orang berbaju putih dan membaurkan diri dengan ke dua temannya menyerang Gin Tie Suseng.

Gin Tie Suseng tahu bahwa dirinya tidak bisa melawan mereka, Apalagi yang lain sudah muncul, ia pasti sulit meloloskan diri. Segeralah ia bersiul panjang, lalu kabur menggunakan ginkangnya.

Akan tetapi, ke empat orang berbaju putih tidak membiarkannya meloloskan diri Mereka langsung menyerang Gin Tie Suseng dengan senjata rahasia, Gin Tie Suseng terpaksa berkelit, sehingga menghambat lari nya.

Ke empat orang berbaju putih telah berhasil menyusulnya, dan sekaligus menyerangnya, Gin Tie Suseng terpaksa harus melawan, Puluhan jurus kemudian suling peraknya telah terlepas dari tangannya, Karena itu, ia harus melawan dengan tangan kosong.

Akan tetapi, bagaimana mungkin ia melawan mereka dengan tangan kosong? Sekujur badannya menjadi sasaran bacokan golok dan tusukan pedang, Di saat nyawanya sudah berada di ujung tanduk, mendadak dari kejauhan terdengar dua kali siulan panjang.

Begitu mendengar siulan panjang itu, ke empat orang berbaju putih itu langsung melesat pergi.

Gin Tie Suseng sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan lolos dari kematian Tiba-tiba ia teringat Na Hai Peng akan dibawa untuk menyerang gua Thian Kie, tempat tinggal Pek Yun Hui, Maka ia memaksa diri untuk ke sana.

Tak seberapa lama kemudian, muncullah Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan, Ketika melihat mereka berdua, Gin Tie Suseng cuma mampu mengucapkan sepatah kata, sebab keburu pingsan.

Ketika sadar, Gin Tie Suseng sudah berada di dalam gua Thian Kie. Ketika melihat Pek Yun Hui, ia langsung berkata terputus-putus.

"Nona Pek,.,, Di antara orang-orang berbaju putih, ada... ada Na Locianpwee,"

Setelah mendengar apa yang dikatakan Gin Tie Suseng, Pek Yun Hui manggut-manggut, karena dugaannya tidak salah, orang baju putih tinggi besar itu ternyata Na Hai Peng, gurunya.

Seusai Gin Tie Suseng menutur, semua orang saling memandang, Semula mereka mengira Gin Tie Suseng tahu jelas tentang Mo Kui Ceh Yi, namun ternyata juga tidak, Yang tahu Kuang Ti Taysu, namun justru telah mati.

Bagian ke lima puluh sembilan Gua Thian Kie Diserang Hening di dalam ruang batu itu, Semua orang cuma saling

memandang dengan kening berkerut-kerut. "Aaakh.,.!" Bee Kun Bu menghela nafas panjang, "Yang kucemaskan guru-guruku, entah bagaimana mereka sekarang?"

"Sebelum mati, Kuang Ti Taysu mengatakan bahwa bencana telah tiba di rimba persilatan mungkin ada alasannya," ujar Pek Yun Hui.

"Menurut pendapatku, itu belum tentu." sela Pang Siu Wie. "Kalau di Mo Kui Ceh Yi terdapat seorang Maha Iblis, bagaimana mungkin kaum Bu Lim sama sekali tidak mengetahuinya?"

"Banyak tokoh aneh berkepandaian tinggi dalam rimba persilatan, begitu pula di luar perbatasan dan di seberang laut Misalnya Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu, Miauw Muk Jin Mo-Ciu Lin, Ku Ciok Lo Koay dan lain sebagainya, Bukankah sebelumnya kita juga tidak pernah mendengar tentang mereka? sedangkan kini guruku sudah jadi begitu macam, Mau tidak mau kita harus pereaya." ujar Pek Yun Hui dan kemudian menarik nafas panjang.

"Apayang dikatakan Nona Pek memang benar." Gin Tie Suseng manggut-manggut "Hanya saja... aku merasa heran akan apa yang dikatakan guru di saat nafasnya hampir putus. "

"Apa yang engkau herankan?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku merasa heran karena orang-orang berbaju putih itu tidak memiliki kepandaian istimewa, sama sekali bukan tandingan Na Locianpwe Tapi kenapa Na Lo-cianpwee dapat ditundukkan oleh mereka?" jawab Gin Tie Suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Guru-ku bilang, Maha iblis itu tidak bisa dilawan dengan tenaga manusia, itulah yang kuherankan, Entah apa maksud guruku itu?"

"Huh!" dengus Giok Siauw Sian Cu. "Omong kosong!

Mana ada setan iblis?" "Itu... itu karena sungguh aneh urusan tersebut" Wajah Gin Tie Suseng kemerah-merahan. "Aku.,, aku cuma menduga, harap Kakak Giok Siauw jangan menertawakanku!"

"Eh?" Giok Siauw Sian Cu tampak cemberut "Berdasarkan apa aku harus menyalahkan mu?"

Walau dalam keadaan tegang, namun tingkah laku Gin Tie Suseng dan Giok Siauw Sian Cu justru membuat semua orang tertawa, Setelah itu, mereka pun mulai berunding.

"Untuk sementara ini, tugas yang paling penting bagi kita adalah menyembuhkan ayah angkat dan lain nya. Menurutku, selain Siao Tiap, siapa yang punya kemampuan itu?" ujar Bee Kun Bu.

"Tidak salah, memang hanya Na Siao Tiap yang memiliki kemampuan itu," sahut Pek Yun Hui. Tapi kita tidak tahu dia pergi ke mana? Maka kita harus ke mana mencarinya?"

Mendengar itu, semua orang membungkam dengan kening berkerut-kerut, Mereka semua memang tidak tahu jejak Na Siao Tiap, lalu harus ke mana mencari gadis itu?

Malam harinya, mereka bergilir mengintip ke luar melalui lubang rahasia. Namun mereka tidak melihat apa-apa dan tidak terjadi apa pun.

Keesokan paginya, kebetulan giliran Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu mengintip ke !uar, sedangkan Lie Ceng Loan bersandar di badannya.

"Kakak Bu, engkau melihat ada orang ke mari?" tanya gadis itu.

Tidak." Bee Kun Bu menggelengkan kepala.

"Kakak Bu!" ujar Lie Ceng Loan lembut "Engkau pasti sudah lelah, lebih baik beristirahatlah sejenak!M

Tidak," Bee Kun Bu menggelengkan kepala lagi, "Adik Loan, aku sudah berpikir semalaman Kalau cuma berdiam diri di dalam gua, itu bukan jalan keluarnya. Lebih baik kita pergi untuk mencari tahu tentang Mo Kui Ceh Yi, sebetulnya itu merupakan tempat apa."

"Memang ada baiknya begitu, tapi,.,." Lie Ceng Loan menarik nafas. "Kakak Pek tidak setuju."

Bee Kun Bu menghela nafas, lalu mengintip ke luar lagi.

Begitu mengintip ke luar, seketika juga ia terkejut bukan main.

"Adik Loan! Cepat beritahukan pada mereka, musuh sudah datangi Ternyata Bee Kun Bu melihat beberapa orang berbaju putih menuntun empat orang menuju gua Thian Kie.

sedangkan Lie Ceng Loan sudah berjalan ke dalam Tak lama ia sudah kembali bersama Pek Yun Hui, Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie.

Pada waktu bersamaan, wajah Bee Kun Bu tampak berubah. Kini ia telah melihat jelas ke empat orang yang dituntun itu, tidak lain Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu. Bahkan mereka berempat menggotong sebuah batu besar yang menyerupai balok.

Wajah mereka tampak meringis, menyengir, menyeringai dan kadang-kadang tampak tersenyum aneh.

Menyaksikan keadaan itu, Bee Kun Bu berduka sekali sehingga nyaris tak kuat berdiri

"Ada apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Lihatlah sendiri!" sahut Bee Kun Bu sambil menarik nafas.

Pek Yun Hui dan lainnya langsung bergantian mengintip ke luar melalui lubang rahasia itu.

"Mereka sudah datang lagi dan mau mendobrak pintu gua menggunakan batu besar itu, Kita semua jangan gugup, Kalau pintu gua didobrak dan terbuka, kita harus bertindak sesuai dengan cara yang telah kita rundingkan semalam." ujar Pek Yun Hui tenang. "Engkau menghadapi ayah angkatku, aku menghadapi orang-orang berbaju putih itu?" tanya Bee Kun Bu.

Tidak salah." Pek Yun Hui mengangguk "Kalau orang- orang berbaju putih itu kalah, guruku dan Kun Lun Sam Cu pasti mundur juga,"

"Aaakh!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang. Bummm! Terdengarlah suara yang amat dahsyat,

sehingga mengejutkan semua orang. Pintu gua itu ter- goncang keras.

Pek Yun Hui segera mengintip ke luar, Ternyata Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu sedang mendobrak pintu gua dengan batu besar yang mereka gotong.

"Hati-hati!" seru Pek Yun Hui, "Dobrakan ke dua menyusul!"

Bummm! Suara itu lebih dahsyat dari suara tadi, sehingga memekakkan telinga semua orang yang di dalam gua.

"Kakak Pek!" teriak Bee Kun Bu, "Apakah kita harus terus berdiam diri di dalam gua ini?"

"Kun Bu!" Pek Yun Hui mengerutkan kening, "Akan lebih berbahaya kalau kita menerjang ke luar!"

Bummmm! Terdengar lagi suara yang amat dahsyat itu, bahkan menggoncangkan gua, sedangkan pintu batu gua itu tampak retak.

Wajah Pek Yun Hui berubah menyaksikan keadaan pintu itu, ia segera berseru sekeras kerasnya.

"Mari kita mundur ke dalam!"

Mereka semua langsung mundur ke dalam, sekaligus menutup pintu batu ke dua, Tak seberapa lama kemudi an, mereka mendengar suara hiruk pikuk di luar.

Bummm! Blang! Byurrr! Tidak perlu dilihat tagi, mereka semua sudah tahu kalau pintu gua itu telah hancur Tentunya mereka menjadi tegang dan berduka, karena orang-orang yang mendobrak pintu gua itu guru-guru mereka sendiri

Lagipula Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan lainnya, bagaimana mungkin melukai mereka? Kini mereka mulai panik, tidak tahu apa yang harus diperbuat Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah suara yang amat dahsyat lagi, Ternyata pintu batu ke dua sudah mulai didobrak.

"Kita harus mundur lagi!" seru Pek Yun Hui.

Biasanya Bee Kun Bu sangat menghormati Pek Yun Hui, tapi kali ini ia mulai memprotes.

"Mundur dan mundur lagi, lalu harus bagaimana?" "Kun Bu!" sahut Pek Yun Hui sungguh-sungguh,

"Pertarungan tidak dapat dihindarkan lagi, maka ada baiknya kita punya waktu sedikit."

Saat ini, sepasang mata Bee Kun Bu telah berapi-api, Kemudian mendadak ia menghantam dinding gua.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan cepat-cepat memegang tangannya,"jangan terlampau berduka!"

"Aaaakh.-.!" keluh Bee Kun Bu.

Kemudian mereka semua mundur lagi ke ruang da!am.

Pintu batu ke tiga pun langsung ditutup, pada waktu bersamaan, pintu batu ke dua telah hancur

"Giok Siauw Sian Cu, engkau harus menggendong Saudara Kim!" pesan Pek Yun Hui, "Begitu pintu hancur, engkau harus segera kabur menggendong Saudara Kim! Kita berkumpul lagi nanti!"

"Ya!" Giok Siauw Sian Cu segera berjalan ke dalam. "Kakak Pang!" pesan Pek Yun Hui lagi, "Engkau harus bersiap-siap dengan pasir beracun! Begitu melihat orang berbaju putih, jangan memberi hati pada mereka!"

"Ya." Pang Siu Wie segera memakai sarung tangan. sementara pintu batu ke tiga sudah mulai didobrak,

sehingga membuat ruang dalam terus bergoncang.

Pek Yun Hui menghunus pedangnya, Begitu pula Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Kini mereka sudah bersiap-siap dengan pedang di tangan.

"Adik Loan!" ujar Pek Yun Hui. "Di saat menghadapi Kun Lun Sam Cu, engkau tidak boleh menghadapi dengan perasaan!"

"Kakak Pek, aku... aku. " Wajah Lie Ceng Loan berubah

pucat

"Adik Loan!" Pek Yun Hui menarik nafas, "Kini Kun Lun Sam Cu bertindak atas perintah orang, sudah pasti tubuh mereka kena semacam racun, sehingga tidak me-ngenalimu lagi, Kalau engkau menghadapi mereka bertiga dengan perasaan, bukankah akhirnya dirimu yang akan celaka? Nah, pikirkanlah

"Baik." Lie Ceng Loan mengangguk "Aku akan menghadapi guru dan Supek sebagaimana mestinya, Ka-kak Bu menghadapi orang-orang berbaju putih saja!"

"Kakak Pek!" sela Bee Kun Bu mendadak "Biar aku yang menghadapi ayah angkat, engkau menghadapi orang-orang berbaju putih saja."

"Baiklah." Pek Yun Hui mengangguk "Tapi engkau harus berhati-hati!"

"Ya." Bee Kun Bu manggut-manggut

Pek Yun Hui mengibaskan tangannya, Mereka segera mundur ke tempat yang kosong, Giok Siauw Sian Cu sudah muncul, ternyata ia mengikat Gin Tie Suseng di punggungnya. Saat ini, terdengarlah suara hirup pikule Ternyata pintu batu ke tiga telah hancur, Pek Yun Hui langsung bersiul panjang, dan secepat kilat melesat ke samping Kun Lun Sam Cu. sedangkan Giok Siauw Sian Cu juga menerjang ke luar bersama Pang Siu Wie.

Ketika itu juga, tampak empat orang berbaju putih sedang menerjang ke dalam, Begitu melihat Pek Yun Hui, ke empat orang berbaju putih itu terkejut dan segera bersiul aneh.

Sementara Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu berdiri mematung di tempat dan masih menggotong batu besar

Ketika mendengar suara siulan aneh itu, mereka berempat serentak menaruh batu besar itu, lalu menerjang ke arah Pek Yun Hui.

Akan tetapi, Na Hai Peng telah dihadang oleh Bee Kun Bu dengan pedang, sedangkan Lie Ceng Loan bergerak cepat ke hadapan Kun Lun Sam Cu.

sementara Pek Yun Hui sudah menerjang ke luar dengan pedang di tangan, Dia menggunakan ilmu pedang tingkat tertinggi yakni badan menyatu dengan pedang.

seketika terdengarlah suara jeritan, Ternyata ke empat orang berbaju putih telah tewas di pedang Pek Yun Hui, sedangkan Pek Yun Hui telah melesat sampai di luar gua.

Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie terus mengikuti Pek Yun Hui dari belakang Di luar gua masih ada delapan orang berbaju putih, maka begitu sampai di luar gua, Pang Siu Wie langsung mengayunkan tangannya, Ternyata ia telah menyebarkan pasir beracun ke arah orang-orang baju putih itu. Mereka secepat kilat meloncat mundur, namun dua orang berbaju putih terlambat dan seketika mereka berdua menjerit- jertt kena pasir beracun itu.

"Engkau tunggu kami di lembah Cu Ngu!" pesan Pek Yun Hui pada Giok Siauw Sian Cu. "Kalau sudah malam kami tidak ke sana, berarti kami sudah celaka." Giok Siauw Sian Cu mengangguk, lalu melesat pergi menuju lembah tersebut.

sedangkan Pek Yun Hui sudah mulai menyerang orang- orang berbaju putih dengan pedangnya, Pang Siu Wie pun tak henti-hentinya menyebarkan pasir beracunnya ke arah orang- orang baju putih.

Tidak sampai tiga jurus, seorang berbaju putih sudah terluka parah, Sisanya, yang lima orang segera bersiul aneh.

Pek Yun Hui sudah tahu, bahwa siulan aneh itu merupakan suatu perintah pada Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu. Maka kalau sisa ke lima orang itu dibunuh semua, Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu pasti cuma berdiri mematung.

Karena itu, Pek Yun Hui langsung menyerang mereka. Namun mendadak terdengar suara teriakan Bee Kun Bu.

"Hati-hati Kakak Pek!"

Pek Yun Hui terkejut dan cepat-cepat menoleh. ia melihat badan Bee Kun Bu melayang ke luar bagaikan layang-layang putus, Tampak Na Hai Peng melesat ke arahnya, bahkan telah melancarkan pukulan ke arahnya.

Betapa dahsyatnya pukulan itu, sehingga membuat Pek Yun Hui terkejut bukan main, Bahkan ia tertegun karena saking kaget nya.

Di saat yang begitu gawat, Pek Yun Hui malah tertegun, tentunya ada sebab musababnya, Ternyata pukulan itu membuatnya harus menangkis, sedangkan apabila ia menangkis, Na Hai Peng pasti terluka dan dirinya sendiri pun akan celaka, Sejak ia meninggalkan istana di ibu kota, ia hidup bersama Na Hai Peng, dan boleh dikatakan Na Hai Penglah pengganti orang tuanya, Maka bagaimana mungkin ia tega membuat Na Hai Peng terluka?

Di saat Pek Yun Hui tertegun, pukulan itu justru telah mulai menekan dirinya. Pang Siu Wie yang berdiri tak jauh, keringat dingin pun sudah mengucur, tanpa banyak pikir lagi ia langsung menyerang Na Hai Peng dengan sebatang panah api.

Siuuung! Bummm! Terdengar suara ledakan.

Ketika menyerang Na Hai Peng dengan panah api, Pang Siu Wie justru menjadi lengah terhadap ke lima orang berbaju putih, Salah seorang dari mereka menyerang punggungnya.

Buuuk! Punggung Pang Siu Wie terpukul

sedangkan Na Hai Peng berhasil memukul jatuh panah api itu, sehingga menimbulkan ledakan sahsyat, pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui segera mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

Na Hai Peng sudah mengenali ilmu itu, maka ia segera mengejar Pek Yun Hui dengan ilmu yang sama.

Guguplah Pek Yun Hui sehingga terpaksa menggunakan pedangnya menyabet lengan baju Na Hai Peng. Akan tetapi, terjadilah hal yang di luar dugaan, Ternyata lengan baju Na Hai Peng malah melilit pedang Pek Yun Hui sehingga tak bergerak sama sekali

Pek Yun Hui mengerahkan Lweekangnya untuk menarik pedangnya. ia berhasil tapi di saat bersamaan, sebelah tangan Na Hai Peng telah bergerak melancarkan sebuah pukulan ke arahnya.

Sudah tiada kesempatan bagi Pek Yun Hui untuk berkelit, sehingga pukulan Na Hai Peng mengenai bahu-nya, Meskipun Pek Yun Hui memiliki ilmu sakti Toa Pan Yok Sin Kang, namun ilmunya itu masih di bawah Na Hai Peng.

Karena itu, setelah kena pukulan tersebut, hawa murni Pek Yun Hui buyar Badannya terhuyung-huyung ke belakang dengan wajah pucat pias. sedangkan Na Hai Peng sudah melesat ke arahnya. Pek Yun Hui yang terhuyung-huyung, akhirnya jatuh duduk di tanah, Di saat itu pula terdengar suara seruan Bee Kun Bu.

"Ayah angkat! jangan turun tangan!" Bee Kun Bu juga melesat ke situ dengan pedangnya.

Ketika menghadapi Na Hai Peng di dalam gua, Bee Kun Bu sudah berada di bawah angin, maka ia bertarung sambil mundur Begitu sampai di luar gua, terdengar suara siulan aneh dari ke lima orang berbaju putih, karena itu Na Hai Peng langsung melesat ke arah Pek Yun Hui.

Tidak sampai dua jurus, Pek Yun Hui sudah terluka, Kebetulan Bee Kun Bu mengarah ke sana, Begitu melihat Pek Yun Hui dalam bahaya, Bee Kun Bu segera berseru dan sekaligus melesat ke sana dengan pedangnya.

Na Hai Peng berkelit, kemudian mendadak menjulurkan tangannya mencengkeram lengan Bee Kun Bu.

Setelah serangan Na Hai Peng luput, Bee Kun Bu langsung meloncat pergi untuk memancing Na Hai Peng.

Saat ini, di luar gua Thian Kie tampak sinar pedang berkelebatan, namun keadaan sudah tidak menguntungkan bagi pihak Pek Yun Hui lagi

sedangkan Bee Kun Bu yang menghadapi Na Hai Peng dengan cara main kucing-kucingan, sewaktu-waktu akan terluka di tangan Na Hai Peng.

Lie Ceng Loan juga sibuk menghadapi Kun Lun Sam Cu. Namun gadis itu merasa tidak tega melukai mereka, maka ia cuma bertahan

Pek Yun Hui yang jatuh duduk itu berusaha bangun, maksudnya ingin membantu Bee Kun Bu, namun tenaganya sama sekali tak kuat untuk bangun.

Pang Siu Wie pun sudah terluka parah kena pukulan, ia jatuh duduk di tanah, dan ke lima orang berbaju putih langsung mengurungnya, Pang Siu Wie masih sempat menyerang mereka dengan panah api Dua orang berbaju putih kena panah api, sehingga sekujur badannya terbakar.

Pek Yun Hui terus memandang mereka yang sedang bertempur kemudian ia berseru.

"Kun Bu, adik Loan! Katian berdua lebih baik meloloskan diri saja!"

"Kakak Pek! jangan berkata begitu!" sahut Bee Kun Bu. Karena menyahut, maka gerakannya jadi lamban,

Mendadak ia merasa pedangnya berat sekali, ternyata pedangnya telah dicengkeram Na Hai Peng.

Bee Kun Bu terpaksa melepaskan pedangnya, dan secepat kilat meloncat mundur Akan tetapi, di saat bersamaan Na Hai Peng menyerangnya dengan pedang itu. Bee Kun Bu berusaha berkelit, namun jurus pedang itu telah berubah, sehingga membuat Bee Kun Bu tak bisa berkelit.

Cep! pahanya telah tertusuk pedang itu, dan darahnya pun mengucur seketika.

Bee Kun Bu tetap bertahan walau merasa sakit sekali, sedangkan Na Hai Peng sudah menyerangnya lagi Bee Kun Bu tampak putus asa. ia tahu sudah tidak mampu berkelit lagi, Apakah ia akan mati di tangan ayah angkatnya sendiri?

Pada waktu bersamaan, mendadak tampak sosok bayangan melesat ke arah nya, disusul pula dengan bentakan keras.

"Na tua! Ada apa bicarakanlah baik-baik! Kenapa harus turun tangan terhadap tingkatan muda?"

Bee Kun Bu mengenali suara itu, tapi tidak ingat siapa orangnya sementara bayangan itu telah melesat sampai di hadapan Na Hai Peng yang sedang menyerang dengan pedang, Begitu mendengar ada suara desiran angin, Na Hai Peng menarik pedangnya dan sekaligus menyerang orang yang baru muncul itu. Kelihatannya orang itu tidak menyangka kalau Na Hai Peng akan menyerangnya, Maka ia jadi tertegun sehingga lupa berkelit Ujung pedang Na Hai Peng berhasil melukainya hingga darah mengucur, barulah orang itu meloncat ke belakang.

Na Hai Peng juga tampak melongo, kemudian membalikkan badannya, Bee Kun Bu sudah melihat orang itu, Ternyata orang itu berambut panjang sekali, yang tidak lain Kiu Tok Sian Ong-Bun Thian Pah.

Walau Kiu Tok Sian Ong telah tertusuk pedang Na Hai Peng, namun hanya terluka ringan.

"Sian Ong!" Giranglah Bee Kun Bu, "Cepat habiskan ke tiga orang berbaju putih itu!"

Kiu Tok Sian Ong memandang ke arah tiga orang berbaju putih, Kebetulan ke tiga orang berbaju putih itu pun sedang memandangnya, Begitu mereka saling me-mandang, Kiu Tok Sian Ong tampak terkejut sekali.

Ketika menyaksikan wajah Kiu Tok Sian Ong yang tampak terkejut itu, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui merasa dingin dalam hati, Di saat itu, bahu Bee Kun Bu pun tertusuk oleh pedang Na Hai Peng lagi.

"Sian Ong! Cepat habiskan ke tiga orang itu dulu!" seru Pek Yun Hui.

Kiu Tok Sian Ong langsung bersiul panjang sambil melesat ke arah ke tiga orang berbaju putih itu, Ke tiga orang berbaju putih pun sudah siap menyerang, Namun sepasang tangan Kiu Tok Sian Ong telah bergerak dan berhasil mencengkeram lengan dua orang berbaju putih, sekaligus dihempaskannya.

Krek! Krek! Ke dua orang itu terhempas remuk, nyawa mereka pun melayang seketika.

Kini hanya tersisa satu orang berbaju putih, Orang berbaju putih itu langsung bersiul aneh sambil melesat pergi, Akan tetapi, Kiu Tok Sian Ong bergerak cepat mencengkeramnya, Ternyata Kiu Tok Sian Ong tidak mencengkeram lengannya, melainkan mencengkeram bahunya, Kuku-kukunya yang panjang menembus ke dalam bahu orang berbaju putih itu.

"Kalau ingin hidup, cepat suruh mereka berhenti!" bentak Kiu Tok Sian Ong.

Orang berbaju putih itu ketakutan. Maka ia segera mengeluarkan sebuah peluit kecil yang dibikin dari semacam tulang, lalu ditiup tiga kali.

Begitu mendengar suara peluit itu, Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu langsung berhenti, kemudian berdiri mematung di tempat

Lie Ceng Loan menarik nafas lega, Namun begitu melihat Bee Kun Bu terluka, gadis itu segera mendekatinya dengan air mata berlinang-linang.

"Sudah aman sekarang," ujar Pek Yun Hui.

Lie Ceng Loan membalut luka Bee Kun Bu dengan hati- hati sekali, namun air matanya masih terus mengucur

"Jangan menangisi ujar Bee Kun Bu sambil tersenyum "Kakak Bu. " Lie Ceng Loan terisak-isak.

"Adik Loan!" Bee Kun Bu tersenyum lagi, "Aku tidak apa- apa."

"Sian Ong!" tanya Pek Yun Hui. "Apakah Sian Ong tahu asal-usul orang-orang berbaju putih itu?"

"Aaakh. !" Kiu Tok Sian Ong menarik nafas dengan air

muka berubah, "lni sungguh menakutkan Kita tidak boleh lama-lama di sini, harus cepat meninggalkan tempat ini."

"Sian Ong, bagaimana kalau kita ke lembah Cu Ngu?" tanya Pek Yun Hui.

"Biar tempat apa pun itu, yang penting kita harus segera meninggalkan tempat ini dulu," sahut Kiu Tok Sian Ong. Pek Yun Hui dan Pang Siu Wie berusaha bangun, sedangkan Kiu Tok Sian Ong berkata pada Bee Kun Bu.

Totoklah jalan darah ke empat orang itu, dan bawalah pergi!"

Bee Kun Bu mengangguk, lalu berjalan terpincang-pincang mendekati dan kemudian menotok jalan darah mereka, Akan tetapi, ketika ia menotok Na Hai Peng, justru dirinya yang terpental Bamlah ia ingat, Na Hai Peng mempunyai ilmu Toa Pan Yok Sin Kang, pelindung diri.

"Bagaimana nih?" Bee Kun Bu kebingungan

"Oh! Aku telah melupakan itu," sahut Kiu Tok Sian Ong, lalu berkata pada orang berbaju putih yang masih dalam cengkeramannya, "Engkau harus perintahkan dia mengikuti kami! Kalau engkau berani macam-macam, engkau yang mampus duluan!"

Orang baju putih itu mengangguk, sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah memapah Kun Lun Sam Cu, Pek Yun Hui dan Pang Siu Wie menguatkan diri untuk berjalan Kiu Tok Sian Ong tetap mencengkeram orang berbaju putih itu yang terus bersiul aneh, Maka Na Hai Peng mengikuti mereka dari belakang.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah tiba di lembah Cu Ngu. Begitu melihat mereka, legalah hati Giok Siauw Sian Cu.

"Sudah tidak ada urusan apa-apa iagi?" tanyanya. "Kalau Kiu Tok Sian Ong tidak muncul pada waktu itu,

kami semua pasti sudah mati," jawab Pek Yun Hui.

"Setelah meninggalkan pegunungan Altai Taysan, tiba-tiba aku teringat pada Nona Lie yang telah dewasa. Karena itu aku memasuki Tionggoan lagi Kebetulan melewati daerah ini, maka aku mampir ke gunung Kwat Cong San. Tidak disangka malah bertemu kalian dalam keadaan tidak karuan," ujar Kiu Tok Sian Ong. "Sian Ong!" Pek Yun Hui duduk di atas rumput "Apakah Sian Ong tahu asal-usul orang-orang berbaju putih itu?"

"Kalau dibicarakan aku pun tidak begitu jelas," jawab Kiu Tok Sian Ong dan me!anjutkan. "Ketika aku baru berguru belajar ilmu silat, aku pernah mendengar guru bereakap-cakap dengan beberapa tokoh tua rimba persilatan kalau bertemu dengan orang berbaju putih berdandan seperti ini di gurun pasir Sie Ih, lebih baik cepat-cepat menghindar Kalau tidak, diri kita akan menuruti perintah merekah

"Mereka berempat memang sudah begitu." Pek Yun Hui memberitahukan

"Dalam hidupku, aku memang sering mengarungi gurun pasir Sie Ih, namun tidak pernah bertemu orang berbaju putih yang demikian, Baru hari ini aku melihat mereka, Aku masih ingat akan pereakapan guruku dengan para tokoh tua rimba persilatan bahwa orang-orang berbaju putih bertempat tinggal di Mo Kui Ceh Yi."

"Betul." sahut Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui serentak "Di dalam Mo Kui Ceh Yi, terdapat tiga pemimpin yakni

Toa Mo (Maha Iblis), Ji Mo (lblis Ke dua) dan Sam Mo (lblis Ke

tiga), Siapa ke tiga orang itu, tiada yang tahu,"

"Sian Ong!" Pang Siu Wie menunjuk orang berbaju putih yang dicengkeram Kiu Tok Sian 0ng. Tanya dia bukankah kita akan mengetahuinya?"

"Benar." Kiu Tok Sian Ong manggut-manggut, kemudian membuka kedok orang berbaju putih.

Pek Yun Hui dan lainnya segera memandang wajah orang itu. seketika juga mereka semua merinding, bahkan Lie Ceng Loan langsung menjerit sambil mendekap di dada Bee Kun Bu.

Ternyata di balik kedok yang menyeramkan itu, terdapat seraut wajah yang lebih menyeramkan, dagingnya tiada sedap dipandang, tiada hidung, mata cuma sebelah dan bibir atas pun hilang entah ke mana. Bahkan wajah yang menyeramkan itu masih tampak ada darah segar mengalir

Setelah menyaksikan wajah itu, Kiu Tok Sian Ong pun tertegun, ia segera memakaikan kembali kedok itu pada wajah orang tersebut

"Engkau datang dari Mo Kui Ceh Yi?"

"Kalian sudah tahu, maka harus cepat-cepat melepaskan diriku!" sahut orang berbaju putih.

"Hm!" dengus Kiu Tok Sian Ong dingin, "Engkau tidak perlu banyak bicara! Aku tanya engkau jawab!"

"Hm!" Orang berbaju putih itu pun mendengus. "Bagaimana cara menyembuhkan ke empat orang ini?"

tanya Kiu Tok Sian Ong membentak "Jawab!" "Aku tidak tahu!" sahut orang berbaju putih.

"Benarkah engkau tidak tahu?" Kiu Tok Sian Ong mengerutkan kening.

"Benar!" Orang berbaju putih mengangguk

"Kalau begitu, siapa yang tahu caranya menyembuhkan mereka berempat?" tanya Kiu Tok Sian Ong lagi.

"Toa Mo (Maha Iblis) Ji Mo (lblis ke Dua) dan Sam Mo (lblis ke Tiga)!" jawan orang berbaju putih. "Mereka bertiga yang mampu membuat orang tidak waras, dan bergerak berdasarkan suara siulan!"

jawaban itu membuat semua orang saling memandang. "Siapa ke tiga orang itu?" tanya Kiu Tok Sian Ong.

"Aku tidak pernah bertemu mereka, Di dalam Mo Kui Ceh Yi, orang yang bisa bertemu mereka dapat dihitung dengan jari!" "Sebetulnya mereka berempat kena racun apa, sehingga berubah jadi begitu?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Akusungguh tidak tahu!" jawab orang berbaju putih.

"Di mana Mo Kui Ceh Yi itu?" tanya Bee Kun Bu berang. "Aku tidak boleh bilang!" sahut orang berbaju putih tegas.

Tiba-tiba Giok Siauw Sian Cu mencengkeram urat nadi orang berbaju putih itu, lalu mengerahkan Lwee-kangnya, sehingga orang berbaju putih itu merintih-rintih.

"Engkau mau bilang apa tidak?" bentaknya sengit. "Kalian bermusuhan dengan kami!" pekik orang berbaju

putih itu. "Kalian semua pasti mampus!"

Setelah memekik, mendadak jari tengahnya menyentil dan sebutir obat kecil langsung meluncur ke dalam muIutnya.

Giok Siauw Sian Cu bergerak cepat menekan teng- gorokannya, agar obat itu jangan masuk ke tenggorokan, namun sudah terlambat

Glek! Kepala orang berbaju putih itu terkulai, dan nafasnya pun putus seketika.

Semua orang menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Kiu Tok Sian Ong segera berendus-endus di pakaian orang itu, kemudian tertawa.

"Ha ha!"

"Kenapa Sian Ong tertawa?" tanya Pek Yun Hui heran. "Akal ini memang mungkin dapat mengelabui aku?" sahut

Kiu Tok Sian Ong.

"Sian Ong!" tanya Giok Siauw Sian Cu. "Apakahyang ditelannya itu bukan racun?"

"Memang racun." Kiu Tok Sian Ong mengangguk "Tapi racun itu tidak akan mematikannya." Giok Siauw Sian Cu segera meraba hidung orang berbaju putih itu.

"Dia sudah tidak bernafas, pertanda dia telah mati!" ujarnya dengan kening berkerut

"Engkau telah dikelabuinya." Kiu Tok Sian Ong tersenyum, "Bagaimana mungkin mereka akan membunuh diri? Memang, siapa yang menelan racun itu dalam waktu dua jam akan tampak seperti orang mati, Maka kalau tidak dikuburkan, dua jam kemudian dia akan kabur."

Kini mereka semua baru mengerti, dan seketika mereka pun bertambah gusar

"Apa yang dikatakannya tadi, kedengarannya tidak bohong," ujar Kiu Tok Sian Ong setelah berpikir beberapa saat, "Namun mereka telah terikat oleh suatu peraturan, jadi pereuma kita mendesaknya, Lebih baik kita bunuh saja dia!"

Usai berkata begitu, Kiu Tok Sian Ong mengangkat tangannya dan terdengarlah suara "Plak".

Pek Yun Hui ingin membuka mulut mencegahnya, tapi sudah terlambat Tadi orang berbaju putih berpura-pura mati dengan maksud ingin kabur, tetapi kini malah benar-benar mati.

"Sian Ong!" ujar Bee Kun Bu. "Nyawanya telah Sian Ong habiskan, mungkin kita semua tidak akan tahu di mana Mo Kui Ceh Yi itu."

"Eh? Bocahl" Air muka Kiu Tok Sian Ong berubah. "Maksudmu ingin mencari tempat itu?"

"Tentu." sahut Bee Kun Bu mengangguk

"Dasar bocah tak tahu tingginya langit! Sudahlah! jangan omong kosong !agi!" tegur Kiu Tok Sian Ong.

"Sian Ong!" sambung Pek Yun Hui. "Kalau kami tidak pergi mencari tiga iblis itu, bagaimana guruku dan Kun Lun Sam Cu? Apakah harus membiarkan mereka tetap tidak waras begitu?"

"Nona Pek!" Wajah Kiu Tok Sian Ong tampak serius, "Soal kepandaian, aku memang di bawahmu! Tapi usiaku lebih tua puluhan tahun darimu! Engkau mau dengar atau tidak adalah urusanmu, namun aku harus bicara!"

"Silakan bicara, Sian Ong!" ujar Pek Yun Hui.

Kiu Tok Sian Ong memandang Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu, kemudian menunjuk mereka berempat seraya berkata.

"Ke empat orang itu menjadi tidak waras karena perbuatan tiga iblis dari Mo Kui Ceh Yi. Kalian boleh menjaga mereka agar tidak ditemukan orang berbaju putih, berarti tidak akan terjadi apa-apa. Kalau kalian ingin pergi mencari Mo Kui Ceh Yi, itu sama juga kalian mencari mati."

Walau Kiu Tok Sian Ong telah mengatakan begitu, tapi wajah Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan lainnya tampak biasa- biasa saja.

Kiu Tok Sian Ong menatap mereka satu persatu dengan kening berkerut seraya bertanya.

"Kalian tidak mau dengar?"

"Apa yang dikatakan Sian Ong memang benar dan masuk akal," jawab Bee Kun Bu. "Akan tetapi kami sebagai murid, bagaimana mungkin terus menyaksikan guru begitu selamanya?"

"Hm!" dengus Kiu Tok Sian Ong, "Kalian tidak tega menyaksikan keadaan mereka begitu, maka bertekad pergi mencari Mo Kui Ceh Yi, apakah itu akan mem-bantu? Setelah kalian seperti ke empat orang itu, barulah kalian tahu rasa!"

Bee Kun Bu dan lainnya diam. sedangkan Kiu Tok Sian Ong mendekati Lie Ceng Loan. "Nona Li, aku boleh tidak peduli orang lain. Namun aku telah berhutang budi pada almarhum, maka engkau sama sekali tidak boleh mencari kerepotan itu!" ujar Kiu Tok Sian Ong sungguh-sungguh.

"Sian Ong!" Lie Ceng Loan memandangnya. "Aku tahu Sian Ong bermaksud baik pada kami semua, tapi Kakak Bu memutuskan bagaimana, aku pasti menurutinya

Kiu Tok Sian Ong membalikkan badannya memandang pada Bee Kun Bu.

"Mungkin engkau mau mendengar nasihatku?"

"Harap Sian Ong sudi memaafkan, aku sungguh tidak bisa menuruti nasihat Sian Ong," sahut Bee Kun Bu.

"Baik, baik!" Akhirnya Kiu Tok Sian Ong menghela nafas. "Semuanya menganggap dirinya gagah berani, namun justru amat bodoh sekali!"

Setelah berkata demikian, Kiu Tok Sian Ong melesat pergi, latapi Pek Yun Hui cepat-cepat memanggilnya.

"Sian Ong tunggu!"

Kiu Tok Sian Ong terus melesat pergi, seakan tidak mendengar seruan Pek Yun Hui. Tak lama kemudian, ia sudah hilang dari pandangan

"Kenapa Nona memanggilnya ?" tanya Pang Siu Wie heran.

"Dia menasihati kita, tentunya bermaksud baik," jawab Pek Yun Hui sambil menarik nafas. "Mungkin Mo Kui Ceh Yi memang merupakan suatu tempat yang amat bahaya, tapi bagaimana mungkin kita tidak ke sana?"

"Benar, Kakak Pek" Bee Kun Bu mengangguk "Kalau pun Mo Kui Ceh Yi merupakan suatu tempat yang amat bahaya, kita pun harus ke sana, Seperti halnya dengan istana Pit Sia Kiong, bukankah sangat lihay sekali? Toh kita semua tidak merasa takut kan?"

"Tapi itu tidak bisa disamakan dengan istana Pit Sia Kiong," ujar Pek Yun Hui.

"Oh?" Lie Ceng Loan terbelalak "Kakak Pek, apakah Mo Kui Ceh Yi jauh lebih lihay dari istana Pit Sia Kiong?"

"Saat ini aku masih tidak berani memastikannya," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum getir, "Guru yang menolong kita semua di istana Pit Sia Kiong, kini malah jadi begitu. "

Apa yang dikatakan Pek Yun Hui memang benar, perasaan semua orang jadi tereekam, terutama Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"OIeh karena itu. M lanjut Pek Yun Hui tampak telah

mengambil keputusan "Biar bagaimanapun, kita harus pergi menyelidiki Mo Kui Ceh Yi! Adik Loan, engkau mau ikut?"

"Bagaimana Kakak Bu?" Lie Ceng Loan balik ber-tanya. "Dia pasti pergi," sahut Pek Yun Hui.

"Kalau dia pergi aku pasti ikut," ujar Lie Ceng Loan dan menambahkan "Pokoknya aku tidak mau berpisah dengan Kakak Bu lagi."

"Adik Loan!" Pek Yun Hui menggenggam tangan-nya. "Kiia tidak bisa membawa guru, jadi guru harus ditinggalkan di sini. Kalau tiada seorang pun yang menjaga mereka, bukankah akan menimbulkan masalah lagi?"

"Kakak Pek!" Mata Lie Ceng Loan mulai basah, "Pokoknya aku harus ikut Kakak Bu."

Ketika Pek Yun Hui ingin mengatakan sesuatu, Pang Siu Wie sudah mendahului membuka mulut

"Nona Pek! Biar dia tkut, aku akan menjaga di sini." "Benar," sambung Giok Siauw Sian Cu. "Aku pun berada di

sini menjaga mereka, Jadi aku dan Pang Siu Wie tidak ikut," "ltu merupakan tanggung jawab yang amat besar Kalian berdua jangan main-main!" tegas Pek Yun Hui.

"Asal kami berdua masih bernafas, tidak akan membiarkan Na Locianpwee dan Kun Lun Sam Cu terjadi sesuatu," sahut Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu serentak

"Kalau begitu. " Pek Yun Hui berpikir sejenak lalu

melanjutkan "Kita pun tidak boleh lama-lama di sini, juga tidak boleh kembali ke gua Thian Kie. Tak jauh dari sini, terdapat sebuah gua yang amat rahasia, Kalian boleh tinggal di dalam gua itu, tapi tidak boleh ke mana-mana."

"Ya." Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu mengangguk "Setelah lukanya sembuh, Saudara Kim pasti membantu

kalian," ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "Kalau sudah lama sekali kami tidak putang, kalian harus berusaha mencari Na Siao Tiap!"

Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie mengangguk "Kalian berdua harus hati-hati!" pesan Pek Yun Hui.

"Sebab itu merupakan tanggung jawab kalian."

"Kami tahu," sahut Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie serentak

"Kakak Pek!" ujar Bee Kun Bu. "Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!"

"Baik." Pek Yun Hui manggut-manggut.

Mereka bertiga lalu meninggalkan lembah itu, sedangkan Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie membawa Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu ke gua rahasia yang ditunjuk Pek Yun Hui.

sementara Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Li Ceng Loan sudah meninggalkan lembah Cu Ngu itu, Beberapa mil kemudian, Pek Yun Hui berkata.

"Kita masih harus ke gua Thian Kie dulu." "Kenapa?" tanya Li Ceng Loan heran.

"Orang-orang berbaju putih yang datang dari Mo Kui Ceh Yi semuanya mengenakan pakaian putih, juga memakai kedok kulit manusia, kan?" Pek Yun Hui tersenyum serius.

"Benar, Jadi kenapa?" Li Ceng Loan bertambah heran, Gadis itu sama sekali tidak mengerti akan maksud Pek Yun Hui.

"Kini kita akan menempuh bahaya pergi menyelidiki Mo Kui Ceh Yi, kalau dengan pakaian kita yang begini, sulit membaurkan diri." Pek Yun Hui menjelaskan "Me-ngerti, Adik Loan?"

"Oooh!" Li Ceng Loan manggut-manggut mengerti "Tidak salah," ujar Bee Kun Bu. "Kita harus menyalin

pakaian mereka agar gampang membaurkan diri di sana."

Mereka bertiga menuju gua Thian Kie, Tampak mayat- mayat orang berbaju putih terbujur di depan gua tersebut Mereka bertiga memilih orang berbaju putih yang berukuran sama dengan badan masing-masing, kemudian menyalin pakaian mereka dan sekaligus memakai kedok kulit manusia pula.

Setelah memakai kedok tersebut, mereka bertiga saling memandang dan sama-sama mengeluarkan suara "lh", karena wajah mereka telah berubah menyeramkan sekali

Mereka bertiga meninggalkan tempat itu, namun mendadak Lie Ceng Loan berhenti sambil berseru.

"Eh? Benda apa yang bergantung di pinggang me-reka?" U Ceng Loan menunjuk ke arah benda yang bergantung di pinggang mayat orang berbaju putih.

Ternyata setelah pakaian putihnya ditanggalkan, pada pinggang mayat-mayat itu tampak bergantung sebuah benda berbentuk segitiga menyerupai semacam medaH emas. Hati Pek Yun Hui tergerak ia segera mendekati dan mengambil benda itu, Di permukaan medali tersebut terdapat tulisan berbunyi "Mo Kui Ceh Yi" Di baliknya juga terdapat tu!isan, "Delapan puluh Tujuh".

"Ka!ian berdua juga harus memakai medali itu," ujar Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu dan Li Ceng Loan menurut Mereka mengambil medali dari mayat lain, lalu dipakainya di pinggang Pada medali itu juga terdapat tulisan yang sama, hanya saja nomornya berbeda.

Pek Yun Hui memakai medali nomor delapan puluh tujuh, medali U Ceng Loan bernomor sembilan puluh satu, dan Bee Kun Bu memakai medali bernomor dua puluh empat

"Medali ini merupakan tanda mereka, maka tidak boleh hilang." pesan Pek Yun Hui.

"Ya," sahut Bee Kun dan Li Ceng Loan serentak Kemudian Bee Kun Bu menambahkan, "Pihak Mo Kui Ceh Yi pasti tidak akan menyudahi urusan ini, sebab sudah banyak orangnya mati di sini Kalau mereka menemukan mayat di sini, bukankah akan tahu ada tiga orang menyamar sebagai orang-orang baju putih Mo Kui Ceh Yi?"

"Kita harus membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang," ujar Pek Yun Hui.

Setelah membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang, mereka bertiga lalu meninggalkan gunung Kwat Cong San..

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terus melakukan perjalanan, sepanjang siang dan malam mereka terus berjalan, dan hanya beristirahat sejenak di malam harinya, Mereka memburu waktu karena mencemaskan keadaan Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu yang masih dikendalikan orang.

Setengah bulan kemudian mereka sudah mendekat Giok Bun Kwan. Hati mereka menjadi tegang karena masih belum mengetahui di mana Mo Kui Ceh Yi, dan belum mengetahui juga siapa sebenarnya ke tiga iblis itu.

Na Hai Peng yang berkepandaian begitu tinggi, masih dibuat tidak waras dan mereka kendalikan Kiu Tok Sian Ong juga menasihati mereka, agar tidak pergi menyelidiki Mo Kui Ceh Yi. itu pertanda tempat tersebut amat berbahaya sekali. Oleh karena itu, mereka bertiga boleh dikatakan sedang pergi mengadu nyawa, Namun apa boleh buat, mengingat keadaan guru mereka yang begitu memprihatinkan, meskipun berbahaya sekali, mereka tetap harus menempuhnya!

Malam ini ketika bulan bersinar remang-remang, mereka bertiga meninggalkan Giok Bun Kwan untuk melanjutkan perjalanan

Setelah larut malam, sampailah mereka di gurun pasir yang tampak kekuning-kuningan karena tertimpa sinar bulan. Gurun pasir itu tampak begitu tenang, sama sekali tiada suara apa pun.

Mereka mengerahkan ginkang melesat di atas gurun pasir tersebut Mereka tahu bahwa dibalik ketenangan itu, justru ada bahaya besar mengancam diri mereka bertiga.

Di mana Mo Kui Ceh Yi itu, mereka sama sekali tidak mengetahuinya, hanya tahu kira-kira berada di sekitar gurun pasir ini.

Oleh karena itu, mereka bertiga mengarungi gurun pasir itu untuk mencari Mo Kui Ceh Yi tersebut Ketika hari mulai terang, mereka mendengar suara dering-dering di tempat yang jauh, Tak seberapa lama kemudian, muncullah iring- iringan unta.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera memandang iring-iringan unta, dan seketika itu juga Bee Kun Bu berseru tak tertahan

Ternyata di dalam iring-iringan unta tidak tampak seorang pun, tapi banyak barang berada di atas punggung unta-unta itu. Bee Kun Bu teringat akan iring-iringan kereta kuda kaum pedagang, yang dikepalai seorang tua berjenggot Para pedagang itu semua mati terbunuh Kini muncul iring-iringan unta, namun tiada orangnya, Apakah orang-orangnya juga telah celaka?

Mereka bertiga segera mengerahkan ginkang mendekati unta-unta itu, Begitu melihat mereka, unta-unta itu pun berhenti Unta-unta itu berjumlah delapan puluh ekor, tapi diantara mereka tidak tampak seorang pun.

Mereka bertiga saling memandang dengan kening berkerut-kerut, kemudian Pek Yun Hui berkata.

"Hati-hati! Jangan-jangan para penjahat berada di sekitar tempat ini!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengangguk Mereka bertiga memandang ke arah kafilah itu muncul dan kemudian melesat ke sana, Di sana mereka menyaksikan pemandangan yang amat mengenaskan, yaitu puluhan mayat bergelimpangan di atas gurun pasir yang tampak tenang itu.

orang-orang yang sudah mati itu berpakaian ala Bangsa Han dan Bangsa Arab.

Darah mereka mendidih menyaksikan keadaan itu, Wajah Bee Kun Bu merah padam menyiratkan kegusaran

"Kalaupun bukan demi ayah angkat dan guru, aku pun tidak akan melepaskan para iblis itu!"

"Kakak Bu, apakah kaum pedagang ini dibunuh oleh orang-orang berbaju putih?" tanya Lie Ceng Loan.

"Memang mungkin," sahut Pek Yun Hui dan menambahkan "Kalau bukan perbuatan mereka, siapa lagi yang begitu kejam membunuh para pedagang ini?"

Pada saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba sosok bayangan berkelebat menuju tempat itu, Meskipun masih begitu jauh, tapi Pek Yun Hui melihat dengan jelas, bayangan yang berkelebat itu adalah orang-orang berbaju putih. "Kita harus cepat bersembunyi di dalam gurun pasir untuk melihat gerak-gerik mereka!" ujar Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengangguk Mereka bertiga lalu mengerahkan Ci'an Kin Tui (llmu Memberatkan Badan Jadi Seribu Kati). Dengan ilmu tersebut badan mereka merosot ke dalam pasir, tinggal kepala mereka yang tampak dipermukaan.