Bangau Sakti Jilid 23

 
Jilid 23

Hingga saat ini, masih belum ada kabar berita tentang Lie Ceng Loan."

Hian Ceng Totiang tidak habis berpikir, kenapa Lie Ceng Loan juga ikut menghilang begitu saja? itu sungguh mengherankan!

"Guru dan guru ke tiga sedang berbincang-bincang di dalam, harap paman guru masuk saja!" ujar Oey Ci Eng karena melihat Hian Ceng Totiang diam saja.

"Urusan itu memang aneh, maka engkau dan para saudara seperguruanmu harus berhati-hati!" Pesan Hian Ceng Totiang, "Aku akan ke dalam menemui gurumu."

Hian Ceng Totiang melangkah memasuki Sam Goan Kiong langsung menuju ruang tengah, ia melihat Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu sedang berbicara serius, Begitu melihat Hian Ceng Totiang, Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu segera bangkit berdiri

"Toa Suheng sudah pu!ang, tentunya tidak tahu Lie Ceng Loan telah meninggalkan Gunung Kun Lun kan?" ujar Giok Cin Cu.

"Tadi aku bertemu Ci Eng, dia telah memberitahukan padaku," sahut Hian Ceng Totiang.

"Suheng, silakan duduk!" ujar Tong Leng Tojin.

"Mari kita semua duduk!" sahut Hian Ceng Totiang sambil duduk, kemudian Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu juga duduk.

"Toa Suheng, sungguh keterlaluan Pek Yun Huiitu!" Tong Leng Tojin memberitahukan. "Terlebih dahulu dia menghinaku, kemudian dia pun menjemput Lie Ceng Loan pergi, Tindakannya itu sama sekali tidak memandang sebelah mata pada partai Kun Lun kila, Hal itu merupakan suatu penghinaan yang amat besar bagi kita semua, Kini Toa Suheng sudah pulang, maka aku akan berangkat ke Kwat Cong San esok pagi untuk menemui Pek Yun Hui."

Hian Ceng Totiang melihat wajah Tong Leng Tojin merah padam yang membuktikan betapa marahnya adik seperguruannya itu. Diam-diam Hian Ceng Totiang menarik nafas panjang.

"Kita pun tidak boleh sembarangan marah terhadap Pek Yun Hui," ujar Hian Ceng Totiang, "Namun memang berkaitan dengan Kun Lun, maka kalau Sutee mau berangkat ke Kwat Cong San untuk menemui Pek Yun Hui, haruslah diatur dulu agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan!"

Ucapan Hian Ceng Totiang membuat Tong Leng Tojin diam, justru Giok Cin Cu yang tereengang. "Aku tidak mengerti, Toa Suheng!" ujarnya sambil menatap Hian Ceng Totiang daIam~da!am. "Apakah Toa Suheng sudah melupakan budi kebaikan Nona Pek pada kita?"

"Sumoy jangan salah paham!" sahut Hian Ceng Totiang sabar "Kali ini Bee Kun Bu ditolong orang, kemudian Lie Ceng Loan menghilang, Semua itu menyangkut partai Kun Lun kita, Kalau itu adalah perbuatan Pek Yun Hui, tentunya aku harus bertanya jelas padanya, Akan telapL, apakah Sutee dan Sumoy yakin bahwa itu adalah perbuatan Pek Yun Hui?"

Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu saling memandang tetapi sama-sama membungkam, Berselang beberapa tat, barulah Tong Leng Tojin membuka mulut.

"Masalah itu memang tiada bukti, namun pasti perbuatan Pek Yun Hui, Kalau Toa Suheng merasa harus mencmuinya, maka tidak perlu ragu lagi."

Hian Ceng Totiang menarik nafas panjang, sedangkan Giok Cin Cu cuma memandangnya seakan menunggu keputusannya.

"Aku turun gunung, justru karena Bee Kun Bu ditolong orang," ujar Hian Ceng Totiang, "Aku sudah mencari Bee Kun Bu ke berbagai tempat, tapi tiada jejaknya, maka aku segera pulang, Dan aku tidak menduga sama sekali di Sam Goan Kiong ini telah mengalami kejadian itu."

"Ji Suheng harus turun gunung atau tidak, itu akan dirundingkan nanti," kata Giok Cin Cu. "Kini Toa Suheng sudah pulang, tentunya membawa suatu berita, lebih baik dibeberkan!"

Hian Ceng Totiang tidak segera menjawab, cuma tersenyum sambil memandang Tong Leng Tojin.

"Memang ada baiknya Suheng memberitahukan pada kami tentang berita yang diperoleh Suheng," ujar Tong Leng Tojin.

"Terus terang!" Wajah Hian Ceng Totiang mulai serius, "Aku dari Toan Hun Ya, dan bertemu Souw Hui Hong. Kalau Souw Hui Hong tidak menuturkan kejadian yang sebenarnya, mungkin seumur hidup Kun Bu akan memikul nama busuk, Kini urusan itu sudah dapat dijernihkan. "

"Oh?"Tong Leng Tojin menatap Hian Ceng Totiang tajam. "Maksud Suheng?"

"Kejadian itu. " tutur Hian Ceng Totiang berdasarkan apa

yang dituturkan Souw Hui Hong.

Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu mendengar dengan penuh perhatian, rasa gembira dan terkejut tersirat pada wajah mereka.

"Kun Bu berhati bajik dan amat mentaati tata krama, kita sudah melihatnya dengan Lie Ceng Loan, Walau mereka selalu berduaan, namun tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar kesusilaan Kejadian itu karena dia terjebak oleh akal busuk orang jahat, maka harap Ji Suheng sudi memaafkannya!" ujar Giok Cin Cu yang tampak gembira sekali.

Tong Leng Tojin diam saja, namun merasa tidak enak dalam hati. Ketika itu ia memang marah besar, sehingga tanpa berpikir panjang lagi, langsung mengurung Bee Kun di ruang batu, Kini urusan itu telah jernih, tentunya dirinya akan menjadi bahan tertawaan kaum rimba persilatan bahkan ia pun merasa bersalah terhadap Hian Ceng Totiang karena tindakannya itu.

"Kalau Sutee tidak pereaya.,." ujar Hian Ceng Totiang karena melihat Tong Leng Tojin diam saja, "Aku akan menemani Sutee pergi menemui Souw Hui Hong."

"Bagaimana mungkin aku tidak mempereayai Suheng?" Tong Leng Tojin menarik nafas panjang, "Hanya saja aku merasa bersalah dalam hal ini, maka aku mohon Suheng sudi memaafkanku! Oh ya, kenapa Souw Hui Hong tidak mau ikut Suheng ke mari? Apakah terhalang sesuatu?" "Benar." Hian Ceng Totiang mengangguk "Saat ini partai Thian Liong memang telah bubar, namun tidak lama lagi, dalam rimba persilatan pasti timbul suatu bencana."

"Oh?" Tong Leng Tojin mengerutkan kening, "Sudikah Suheng menjelaskannya?"

"Sutee, Sumoy!" Hian Ceng Totiang menatap me-reka, kemudian memberitahukan tentang Souw Hui liong yang mati- matian berlatih ilmu silatnya, dan menambahkan dengan wajah serius, "Souw Hui Hong juga mengawasi ayahnya secara diamiam, maka dia minta tolong padaku untuk berangkat ke Kwat Cong San memberitahu Pek Yun Hui mengenai ambisi ayahnya itu."

Ketika mendengar Kwat Cong San dan nama Pek Yun Hui, wajah Tong Leng Tojin langsung berubah kemerah-merahan, padahal partai Kun Lun merupakan partai besar dalam rimba persilatan, tapi Souw Hui Hong justru minta tolong pada Hian Ceng Totiang untuk menyampaikan pada Pek Yun Hui, itu berarti Souw Hui Hong memandang rendah pada partainya itu.

Begitu menyaksikan air muka Tong LengTojin, Hian Ceng Totiang pun dapat menduga apa yang dipikirkannya.

"Souw Peng Hai mati-matian berlatih ilmu Kan Goan Cih, yaitu ilmu yang menjagoi rimba persilatan, Souw Hui Hong minta tolong padaku untuk menyampaikan pada Pek Yun Hui, itu demi kaum rimba persilatan, sama sekali tidak memandang rendah partai yang mana pun," ujar Hian Ceng Totiang menjelaskan agar Tong Leng Tojin tidak merasa terhina.

"Ngmm!" Tong Leng Tojin manggut-manggut "Pek Yun Hui memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka tidak salah kalau Souw Hui Hong menghendaki Suheng memberitahukan pada Pek Yun Hui, Namun... Pek Yun Hui telah ke mari mempermalukan partai kita, lagi pula Bee Kun Bu tiada kabar beritanya. Bagaimana mungkin Suheng pergi menemui Pek Yun Hui?" Wajah Hian Ceng Totiang berseri, karena dalam nada suara Tong Leng Tojin tidak mempersalahkan Pek Yun Hui. Bahkan kedengaran telah mengampuni Bee Kun Bu itu sungguh menggirangkan Hian Ceng Totiang.

"Souw Peng Hai masih berambisi menguasai rimba persilatan, itu menyangkut keselamatan rimba persilatan Oleh karena itu biar bagaimanapun aku harus berangkat ke Kwat Cong San. Apakah Sutee selaku ketua mengijinkannya?" Hian Ceng Totiang menatap Tong Leng Tojin.

Ketika Tong Leng Tojin baru membuka mulut, Giok Cin Cu telah mendahuluinya.

"Toa Suheng dapat menahan rasa malu demi kaum rimba persilatan, itu memang patut dibanggakan Menurut aku, Ji Suheng pasti tidak akan menghalangi keberangkatan Toa Suheng."

"Apa yang dikatakan Sumoy memang benar, tidak mungkin aku akan menghalangi keberangkatan Suheng, sebab kita semua harus memikirkan semua kaum rimba persilatan," sambung Tong Leng Tojin.

"Aku pergi menemui Pek Yun Hui karena urusan Souw Hui Hong, Aku pun pasti berhati-hati agar tidak mempermalukan partai kita," ujar Hian Ceng Totiang sambil tersenyum

"Suheng melakukan sesuatu pasti berhatj-hati dan cermat, tidak seperti aku yang selalu bertindak ceroboh." Tong Leng Tojin menarik nafas panjang, "Maka sekali lagi aku mohon maaf atas tindakanku terhadap Bee Kun Bu!"

"Sutee!" Hian Ceng Totiang tertawa, "Aku sama sekali tidak mempersalahkanmu. Baiklah! Aku harus memburu waktu, sampai jumpa!"

Hian Ceng Totiang melesat pergi, sedangkan Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu saling memandang. Ke-mudian Giok Cin Cu menarik nafas panjang. "Sifat Toa Suheng memang begitu, bilang mau berangkat langsung berangkat," ujarnya sambil menggeIeng-gelengkan kepala.

*****

Bab ke 4 - Ke Kwat Cong San Memberi Kabar

Hian Ceng Totiang sudah memasuki pegunungan Kwat Cong San. Tanpa beristirahat ia langsung menuju Pek Yun Giam, Setelah melewati dua buah puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara bentakan merdu.

"Berhenti! Siapa yang datang, cepat sebutkan namanya!"

Hian Ceng Totiang segera berhenti, menunggu kemunculan orang yang menbentak tadi, sebab ia harus menjelaskan mengenai tujuannya.

Lama ia menunggu, tapi tidak muncul seorang pun, membuat ia terheran-heran dan membatin Yang mengakui Pek Yun Hui adalah Sam Ciu Lo Sat Pang Siu Wie dan Giok Siauw Sian Cu, mereka berdua tidak memunculkan diri, apakah masih ada orang lain? Akhirnya ia menyahut

"Harap diberitahukan pada Nona Pek Yun Hui, bahwa aku Hian Ceng Totiang dari partai Kun Lun datang berkunjung karena ada urusan penting. "

Belum juga usai ucapan Hian Ceng Totiang, sekonyong- konyong menyambar tiga buah senjata rahasia mengarah pada dadanya.

Hian Ceng Totiang sudah tidak bisa mengelak, tei-paksa mengibaskan lengan jubahnya untuk memukul rontok ketiga buah senjata rahasia itu.

Tidak muncul orang, malah muncul senjata rahasia menyambar ke arah dada Hian Ceng Totiang, tentunya membuatnya gusar dan seketika juga tertawa dingin.

"Aku datang secara terang-terangan dan juga lelah memberitahukan identitasku, namun malah diserang dengan senjata rahasia! Apakah itu adalah peraturan di Kwat Cong San ini?" bentak Hian Ceng Totiang.

Akan tetapi, sama sekali tiada sahutan, bahkan juga tiada seorang pun yang memunculkan diri, Hian Ceng Totiang bertambah gusar dan membentak lagi sekeras-kerasnya.

"Aku tahu Pek Yun Hui berkepandaian tinggi, begitu juga para pengikutnya, tetapi bertindak seperti orang rendah!

Bukankah itu akan merusak nama Pek Yun Hui? Sobat! jangan menyembunyikan diri lagi!"

Walau Hian Ceng Totiang membentak begitu keras, tetap tiada sahutan dan tiada seorang pun yang muncul Hian Ceng Totiang mengerutkan kening, lalu mendadak mengenjotkan badannya ke atas pohon. ia menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak bayangan apa pun, Hal itu membuatnya terheran-heran dan tidak habis berpikir

"Apakah orang itu telah kabur? Baiklah! Aku ingin tahu kau bersembunyi di mana!" ujarnya dalam hati.

Hian Ceng Totiang langsung mengerahkan ginkang-nya, berusaha menyusul orang itu. ia berputar kian ke mari, tapi tidak melihat bayangan orang tersebut

"Heran?" gumamnya, "Siapa orang itu? Mungkinkah dia Pek Yun Hui atau Na Siao Tiap?"

Hian Ceng Totiang berdiri termangu-mangu di tempat Mendadak terdengar suara tawa, kemudian dari balik batu yang besar muncul seseorang, ia mendekati Hian Ceng Totiang, lalu memberi hormat seraya bertanya.

"Apa kabar Hian Ceng Totiang? Jauh-jauh Totiang ke mari ingin menemui Pek Yun Hui, apakah ada suatu urusan penting?"

Terbelalak Hian Ceng Totiang ketika melihat orang itu, sebab orang itu adalah Sin Goan Tong. Sungguh di luar dugaannya, orang tersebut berada di Kwat Cong San ini. "Oh, ternyata ketua Sin! Aku ke mari memang punya urusan penting, Kenapa ketua Sin juga berada di sini?" sahut Hian Ceng Totiang.

Sin Goan Tong datang di Kwat Cong San karena Giok Siauw Sian Cu. Sudah dua puluh tahun ia mencintai Giok Siauw Sian Cu secara diam-diam, tapi hingga saat ini, Giok Siauw Sian Cu sama sekali tidak menerima cintanya, Tanpa sengaja Sin Goan Tong melihat Giok Siauw Sian Cu bersama Pek Yun Hui, maka ia pun nekad ke mari untuk menemui Giok Siauw Sian Cu.

Ketika mendengar suara langkah orang, Sin Goan Tong segera bersembunyi sekaligus membentak, lalu menyerang dengan tiga buah senjata rahasia, itu karena ia tidak tahu siapa yang datang.

Setelah Hian Ceng Totiang membentak, barulah ia tahu bahwa yang datang itu adalah salah seorang Kun Lun Sam Cu. Agar tidak menimbulkan salah paham, Sin Goan Tong segera kabur, tapi Hian Ceng Totiang justru mengejarnya, akhirnya ia terpaksa memunculkan diri.

"lni adalah Kwat Cong San, bukan Kun Lun San! Totiang boleh ke mari, kenapa aku tidak? Toliang tadi mampu memukul rontok ketiga buah senjata rahasia, itu pertanda Totiang memiliki kepandaian tinggi! sebelumnya kita tidak punya kesempatan untuk bertanding, dan ini merupakan kesempatan! Ayolah! Mari kita bertan-ding!" tantang Sin Goan Tong, Ternyata ia tersinggung oleh pertanyaan Hian Ceng Totiang.

"Ketua Sin!" Hian CengTotiang tertawa dingin. "Aku masih ada urusan penting! Kalau ketua Sin merasa penasaran lantaran aku telah memukul rontok ketiga senjata rahasia itu, ketua Sin boleh ke Gunung Kun Lun, kita bertanding di sana!"

"Hmm!" dengus Sin Goan Tong. "Lihat seranganku!"

Sin Goan Tong langsung menyerang Hian Ceng Totiang dengan jurus Can Eng Goh Tou (Etang Liar Menerkam Kelinci), Ternyata ia sedang kesal karena tidak bertemu Giok Siauw Sian Cu, maka kekesalannya dilampiaskan pada Hian Ceng Totiang.

Betapa gusarnya Hian Ceng Totiang diserang mendadak Cepat-cepat ia mengelak dengan jurus Sian Cu Ling Poh (Bidadari terbang di Langit) dan sekaligus menotok jalan darah di dada Sin Goan Tong.

Sin Goan Tong tersentak, karena Hian Ceng Totiang begitu gampang mematahkan serangannya, bahkan balas menyerangnya, ia tahu jelas bahwa Hian Ceng Totiang ahli ilmu pedang, maka Sin Goan Tong menyerangnya dengan tangan kosong.

Namun ia sama sekali tidak menyangka kalau serangan tangan kosongnya akan gagaL Oleh karena itu, ia pun segera mengelak dan menyerang lagi dengan jurus-jurus andalannya.

Tak terasa sudah lewat belasan jurus, Sin Goan Tong mulai gugup karena tidak mampu merobohkan Hian Ceng Totiang, sesungguhnya Hian Ceng Totiang pun amat terkejut akan kelihayan ilmu tangan kosong Sin Goan Tong, Karena Sin Goan Tong menyerang dengan tangan kosong, ia pun terpaksa melayaninya dengan tangan kosong pula, tidak berani menghunus pedangnya.

pertarungan berlangsung semakin seru, Mendadak Hian Ceng Totiang menyerang Sin Goan Tong dengan jurus Can Liong Ling Yun (Naga Bermain di Awan), Sin Goan Tong mengelak, Hian Ceng Totiang menyerangnya lagi dengan jurus Sin Liong Pah Bi (Naga Sakti Mengi-baskan Ekor).

"Celaka!" Keluh Sin Goan Tong dalam hati, ia berkelit dan balas menyerang dengan jurus Tok Coa Cut Tong (Ular Beracun Keluar Goa).

"Berhenti!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, menyusul melayang turun sosok bayangan di tengah-tengah mereka yang sedang bertarung. Betapa terkejutnya Hian Ceng Totiang dan Sin Goan Tong, mereka berdua segera meloncat mundur sambil memandang orang itu, ternyata adalah Sam Ciu Lo Sat-Pang Siu Wie.

"Di sini adalah tempat untuk memasuki Pek Yun Giam, ada urusan apa kalian berdua ke mari?" tanya Pang Siu Wie gusar

Hian Ceng lotiang sudah tahu bahwa Pang Siu Wie adalah pelayan Pek Yun Hui. Ketika ia baru mau memberitahukan tentang maksud tujuannya, justru Sin Goan Tong sudah tertawa gelak, ia tidak tahu siapa Pang Siu Wie.

"Aku ke mari ingin bertemu Giok Siauw Sian Cu! Kalau kau bisa lapor, cepatlah pergi lapor! Kalau tidak, lebih baik kau jangan turut campur urusan ini!" ujar Sin Goan Tong Iantang.

Pang Siu Wie tidak menghiraukan Sin Goan Tong, sebaliknya malah menatap Hian Ceng Totiang seraya berkata.

"Partai Kun Lun tiada hubungan dengan Kwat Cong San, kenapa Totiang masih ke mari? Hari itu Totiang membawa pergi Bee Kun Bu, sekarang malah ke mari lagi! Bee Kun Bu masih belum ada kabar beritanya, hingga saat ini Nona Pek masih diliputi kegusaran! Apa-kah Totiang sengaja cari gara- gara dengan kami?"

Hian Ceng Totiang diam saja, tidak tahu harus bagaimana menjelaskan nya pada Pang Siu Wie tentang kesalahpahaman itu, sedangkan Pang Siu Wie memandang Sin Goan Tong.

"Giok Siauw Sian Cu pergi meronda, engkau ada urusan apa ingin bertemu Giok Siauw Sian Cu? Harap memberitahukan! Kalau tidak, aku pun tidak bisa pergi melapor!" ujar Pang Siu Wie.

Tentunya Sin Goan Tong tidak bisa memberitahukan apa tujuannya ingin bertemu Giok Siauw Sian Cu. seketika juga wajahnya tampak memerah, namun kemudian ia tertawa dingin seraya berkata. "Aku ingin bertemu Giok Siauw Sian Cu, itu jelas ada urusan! Kau siapa, berani menghalangiku?"

"Aku dan Giok Siauw Sian Cu boleh dikatakan pelayan yang mendampingi Nona Pek!" sahut Pang Siu Wie. "Aku ditugaskan untuk menjaga di sini! Karena engkau tidak mau memberitahukan tujuanmu, maka aku pun tidak akan pergi melapor! Engkau mau apa?"

"Oh?" Sin Goan Tong tertawa dingin, "Engkau berani menghalangiku, berarti engkau cari penyakit!"

Sin Goan Tong yang masih kesal itu langsung menyerang Pang Siu Wie, namun pada waktu bersamaan, mendadak di depan matanya muncul selapis kabut, Sin Goan Tong terkejut bukan main, lalu secepat kilat meloncat mundur

Ternyata ketika sedang berbicara, diam-diam Pang Siu Wie memakai sarung tangan yang dibuat dari kulit menjangan, lalu menyiapkan segenggam pasir beracun, Ketika Sin Goan Tong menyerangnya, ia pun menyebarkan pasir beracun itu ke arah Sin Goan Tong.

Setelah meloncat mundur menghindari pasir beracun itu, kegusaran Sin Goan Tong pun memuncak dan langsung menyerang Pang Siu Wie dengan jurus Ciau Tah Kim Ceng (MemukuI Lonceng Emas), Sasaran pukulan itu adalah pada bagian dada Pang Siu Wie.

"Hm!" dengus Pang Siu Wie dingin, sekonyong-konyong ia mengayunkan tangannya, ternyata ia menyebarkan pasir beracun lagi.

Sin Goan Tong terpaksa meloncat ke belakang dengan jurus Yu Liong Sih Hong (Naga dan Burung Hong Menari).

Pang Siu Wie terkejut, tidak menyangka kalau Sin Goan Tong masih mampu mengelak serangan pasir beracunnya, Sin Goan Tong juga terkejut tidak menduga kalau wanita berwajah buruk itu memiliki kepandaian tinggi, terutama pasir beracunnya. "Kalau kita harus bertarung, engkau pasti bukan tandinganku!" ujar Sin Goan Tong dingin, "Aku ke mari bukan untuk bertarung, melainkan ingin bertemu Giok Siauw Sian Cu, harap engkau pergi melapor. "

"Pek Yun Giam tidak menerima tamu, engkau harus tahu diri dan segera meninggalkan tempat ini!" tandas Pang Siu Wie.

"Kalau begitu. " Sin Goan Tong tertawa dingin lagi, "Aku

ingin mencoba kepandaianmu!"

"Baik!" Pang Siu Wie menatapnya dingin, "Kalau begitu, engkau boleh mencoba kepandaianku"

Pang Siu Wie menyerang Sin Goan Tong, dengan jurus yang mematikan dengan tiga perubahan

"Bagus!" Sin Goan Tong tertawa dan seketika juga menyerang dengan sepasang telapak tangannya. Mulailah mereka berdua bertarung dengan seru dan sengit

Tak terasa sudah lewat dua puluh jurus lebih, namun Sin Goan Tong masih belum mampu merobohkan Pang Siu Wie. Betapa penasarannya Sin Goan Tong, maka ia mulai mengeluarkan jurus-jurus mautnya.

sedangkan Pang Siu Wie juga sangat bernafsu untuk merobohkan Sin Goat Tong, sebab ia bertugas menjaga tempat itu. Kalau ia tidak bisa merobohkan Sin Goan Tong, bagaimana tanggung jawabnya terhadap Pek Yun Hui?

Berpikir sampai di sini ia pun menyerang Sin Goan Tong dengan jurus Kim Cin Tou Hai (Jarum Emas Menyeberang Laut), yaitu jurus simpanannya.

Sin Goan Tong segera mengeluarkan jurus Yun Liong Sam Sek (Naga di Awan memperlihatkan diri). Pada waktu bersamaan, mendadak terdengar suara tawa yang amat panjang dan lama, yang membuktikan betapa dalamnya lweekang orang yang sedang tertawa itu. Tak lama kemudian, melayang turun seseorang, ternyata adalah Pat Pie Sin OngTu Wee Seng, Kemunculan orang itu membuat Pang Siu Wie dan Sin Goan Tong terheran-heran, apa tujuannya mendatangi tempat ini?

sementara Tu Wee Seng cuma tersenyum-senyum, tangannya memegang sebatang toya bambu.

"Tanpa sengaja aku melihat kalian berdua bertarung, maka aku memunculkan diri untuk menonton," ujarnya sambil tertawa, "Kalian boleh melanjutkan jangan terganggu oleh kehadiranku!"

"Hm!" dengus Pang Siu Wie sambil menunjuk Sin Goan Tong dan Tu Wee Seng. "Kalian berdua memang sengaja mengacau di tempat inL,."

"Eh?" Tu Wee Seng melotot "Jangan cepat marah, aku ke mari karena ada urusan penting, lagi pula aku kemari tidak bersama Sin Goan Tong itu, jangan omong sembarangan!"

Wajah Pang Siu Wie berubah hebat, sebab ia merasa ada segulung angin menyerang ke arahnya, serangan itu penuh mengandung tenaga dalam yang dilancarkan Tu Wee Seng.

Pang Siu Wie secepat kilat menyingkir, kemudian menuding Tu Wee Seng seraya membentak

"Tu Wee Seng! Sungguh licik engkau! Berani melancarkan serangan gelap terhadapku! Engkau harus tahu, bahwa gua Thian Ki melarang orang luar masuki Lebih baik engkau segera meninggalkan tempat ini, kalau tidak, aku Sam Ciu Lo Sat pasti bertindak!"

Tu Wee Seng terkejut tidak menyangka bahwa wanita buruk rupa itu adalah Pang Siu Wie, pantas kepandaiannya begitu tinggi, Begitu pula Sin Goan Tong, ia amat terkejut ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Sam Ciu Lo Sat- Pang Siu Wie.

" Engkau jangan salah paham!" ujar Sin Goan Tong cepat "Aku ke mari tiada janji dengan Saudara Tu, lagi pula tidak bermaksud mengacau di sini! Mengenai kemunculan Saudara Tu dan apa tujuannya, aku sama sekali tidak tahu!"

"Kalau begitu, kenapa engkau ke mari?" Pang Siu Wie menatapnya.

"Aku,.,." Wajah Sin Goan Tong kemerah-merahan.

Tujuannya ke tempat itu adalah untuk menemui Giok Siauw Sian Cu, maka bagaimana mungkin ia memberitahukan pada Pang Siu Wie dengan berterus terang?

"Kalian berdua ke mari tanpa janji, lalu apa tujuan kalian berdua ke mari?" tanya Pang Siu Wie dingin.

Sin Goan Tong dan Tu Wee Seng tidak menyahut mereka berdua cuma saling memandang

"Saudara Sin, kenapa engkau ke mari?" Tu Wee Seng menatapnya dalam-dalam, "Beritahukan!ah pada Pang Siu Wie agar dia tidak bereuriga!"

"Dia tidak mau beritahukan!" sahut Pang Siu Wie, "Lebih baik engkau yang menjelaskan apa tujuanmu ke mari!"

"Aku ke mari ada urusan penting, ingin berbincang-bincang dengan Nona Pek! Engkau cuma seorang pe-layan, tentunya tidak mungkin engkau mencampuri urusan penting itu! Nah, lebih baik engkau cepat melapor pada Nona Pek, agar dia tidak mempersalahkanmu!" ujar Tu Wee Seng.

Wajah Pang Siu Wie merah padam karena perasaannya amat tersinggung oleh ucapan tersebut

"Nona Pek ada perintah!" Terdengar suara yang amat merdu, tak lama muncullah Giok Siauw Sian Cu. "Orang luar dilarang masuk Pek Yun Giam! Kalau Tu Locian-pwee ada urusan penting, harap menjelaskan! Kalau tidak, pasti tidak bisa memasuki Pek Yun Giam!"

"Ha ha!" Mendadak Sin Goan Tong tertawa girang, "Adik Giok, setengah mati aku mencarimu." "Sin Goan Tong!" bentak Giok Siauw Sian Cu. "Eng-kau adalah ketua partai Khong Tong, kenapa begitu tidak tahu malu? Bukankah aku telah menjeIaskan. " Giok Siauw Sian

Cu tidak melanjutkan ucapannya, melainkan menatapnya tajam, setelah itu barulah melanjutkan "Sin Goan Tong, aku sudah tahu maksud tujuanmu, tapi Nona Pek telah menurunkan perintah untukku menjaga di sini."

"Aku ke mari cuma ingin menemuimu, tidak bermaksud memasuki Pek Yun Giam," sahut Sin Goan Tong.

"Eh?" Giok Siauw Sian Cu tertawa, "Aku tahu engkau ke mari untuk menemuiku, tapi aku memikul tugas menjaga di sini. LagipuIa kini telah muncul Tu Wee Seng yang angkuh itu, maka aku tidak punya waktu untuk bereakap-cakap denganmu."

"Saudara Sin, aku tidak ada urusan denganmu, engkau jangan terpancing oleh dia sehingga merasa gusar padaku!" sahut Tu Wee Seng cepat

Ucapan Tu Wee Seng membuat Sin Goan Tong termangu- mangu di tempat ia memandang Giok Siauw Sian Cu dan Tu Wee Seng silih berganti, tidak tahu harus berbuat apa.

"Saudara Sin adalah ketua Khong Tong, partai yang cukup terkemuka di rimba persilatan Oleh karena itu Saudara Sin jangan mempermalukan partai sendiri!" ujar Tu Wee Seng dan menambahkan, "Aku sudah mengambil keputusan untuk memasuki Pek Yun Giam, harap saudara Sin jangan menghalangiku! sebelumnya kuucapkan terimakasih!"

"Sian Goan Tong!" bentak Giok Siauw Sian Cu. "Kalau engkau tidak mau bantu, lebih baik engkau pergi!" Sin Goan Tong serba salah, tidak tahu harus berbuat apa. Oleh karena itu, ia cuma berdiri diam di tempat

Tu Wee Seng yang tertawa gelak, membuat Giok Siauw Sian Cu amat gusar dan langsung menyerangnya dengan jurus Ie San Toh Hai (Memindahkan Gunung Mengaduk Laut), yang amat aneh dan lihay. Namun perlu diketahui, Tu Wee Seng juga berkepandaian tinggi, kalau tidak bagaimana mungkin ia memperoleh julukan Pat Pie Sin Ong (Dewa Delapan Lengan).

Serangan Giok Siauw Sian Cu tidak membuatnya gugup, malah tertawa gelak sambil mengelak, dan sekaligus balas menyerang dengan toya bambunya, itu adalah jurus Hoat Coh Sui Coa (Membabat Rumput Mencari Ular).

Giok Siauw Sian Cu menyerang dengan tangan ko-song, sedangkan Tu Wee Seng balas menyerang dengan toya bambu, tentunya berada di atas angin Oleh karena itu, Giok Siauw Sian Cu terpaksa meloncat mundur

Kesempatan itu tidak disia-siakan Tu Wee Seng. Secepat kilat ia menyerang dengan jurus Suan Coan Kan Kun (Mernular Jagat), Toya bambunya berputar-putar mengarah pada badan Giok Siauw Sian Cu.

Akan tetapi, ketika toya bambu itu hampir mengenai badan Giofy Siauw Sian Cu, tiba-tiba Tu Wee Seng menjatuhkan diri bergulingan menyingkir Ternyata tepat pada saat itu, Pang Siu Wie telah menyerangnya dengan pasir beracun.

pada waktu Tu Wee Seng bergulingan, Giok Siauw Sian Cu pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya dengan ilmu Sam Im Ciu, yaitu ilmu andalannya. Di saat itu puIa, Sin Goan Tong juga menyerang Tu Wee Seng dengan lweekangnya.

Untung Tu Wee Seng tidak gugup, ia segera berkelit dan sekaligus melompat ke samping, Setelah terhindar dari serangan-serangan itu, ia menatap Sin Goan Tong dengan dingin sekali.

"Saudara Sin adalah ketua Khong Tong, namun melancarkan serangan gelap terhadapku! Baik, aku pun tidak akan memikirkan hubungan kita lagi!" bentak Tu Wee Seng dan langsung menyerang Sin Goan Tong dengan toya bambunya. Ketika melihat Sin Goan Tong turun tangan membantu wajah Giok Siauw Sian Cu pun menyiralkan berbagai perasaan Begitu melihat Tu Wee Seng menyerang Sin Goan Tong, tanpa banyak pikir lagi Giok Siauw Sian Cu segera menyerang Tu Wee Seng dengan seruling gioknya, yaitu jurus Heng Toan Muh San (Me-mecahkan Gunung).

Sungguh dahsyat serangan itu, membuat Tu Wee Seng terpaksa melompat mundur beberapa langkah, Akan telapi, ketika Tu Wee Seng melompat mundur, sekonyong-konyong berkelebat sosok bayangan yang langsung menyerangnya. Ternyata si penyerang itu adalah Pang Siu Wie, Pada waktu bersamaan Sin Goan Tong juga menyerangnya.

Kalang kabut Tu Wee Seng menghadapi serangan- serangan itu dan mendadak ia tertawa dingin.

"Partai Khong Tong memiliki ilmu tinggi, kalau engkau berani, mari kita bertanding di tempat lain!" tantang Tu Wee Seng pada Sin Goan Tong, ia pun menangkis serangan Pang Siu Wie, sehingga wanita buruk rupa itu terpental ke belakang

Setelah Pang Siu Wie terpental Tu Wee Seng pun mengerahkan ginkangnya melesat ke arah puncak gu-nung.

Karena Sin Goan Tong telah turun tangan mem-bantu, maka semangat Giok Siauw Sian Cu pun terbangkit, sehingga membuatnya tidak mau melepaskan Tu Wee Seng begitu saja.

"Tu Wee Seng, jangan kabur!" bentaknya sambil mengerahkan ginkangnya untuk mengejar Tu Wee Seng.

Begitu melihat Giok Siauw Sian Cu melesat pergi, Sin Goan Tong juga mengerahkan ginkangnya mengikuti-nya, sebab ia menguatirkan jantung hatinya ilu.

Yang masih berdiri di tempat adalah Pang Siu Wie dan Hian Ceng Totiang yang diam dari ladi, Akan tetapi, Pang Siu Wie juga mencemaskan Giok Siauw Sian Cu, maka ia berpesan pada Hian Ceng Totiang. "Totiarig jangan memasuki Pek Yun Giam, tunggu aku kembali!" Usai berpesan, Pang Siu Wie segera mengerahkan ginkangnya menuju puncak gunung itu.

sementara Hian Ceng Totiang berdiri mematung di tempat tidak tahu kapan Pang Siu Wie akan kembali Kedatangannya di Kwat Cong San dengan membawa kabar penting, maka kalau tidak sekarang memasuki Pek Yun Giam, harus tunggu kapan? pikirnya dan berpikir lagi. Akhirnya ia mengambil keputusan memasuki Pek Yun Giam.

Keputusan itu membuat Hian Ceng Totiang mengerahkan ginkangnya memasuki Pek Yun Giam, Tak seberapa lama kemudian, ia mendengar suara arus sungai, Tiba-tiba ia mengerutkan kening, ternyata ia juga mendengar suara benturan senjata tajam.

Hian Ceng Totiang tereengang, ia segera mengarah pada suara itu, dan seketika juga terbelalak Tak disangka sama sekali, tanpa sengaja dirinya telah sampai di depan Gua Thian KJ Cinjin, dan melihat dua orang gadis sedang berlatih ilmu pedang.

Kedua gadis itu adalah Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan, Hian Ceng Totiang tidak duga akan bertemu Lie Ceng Loan di tempat tersebut Tanpa banyak pikir lagi, Hian Ceng Totiang memunculkan diri mendekati mereka.

"Siapa?" bentak Na Siao Tiap sambil melesat ke hadapan Hian Ceng Totiang.

"Aku!" sahut Hian Ceng Totiang, "Aku ke mari karena ada urusan penting, harus menemui Nona Pek, Tanpa sengaja aku melihat anak Loan sedang berlatih ilmu pedang dengan Nona, Sungguh hebat ilmu pedang Nona!"

Ketika melihat orang itu adalah Hian Ceng Totiang, wajah Na Siao Tiap pun berubah muram dengan mulut fnembungkam, sebaliknya Lie Ceng Loan malah tampak gembira, dan lalu berlutut "Mohon maaf, Ceng Loan tidak tahu kedatangan Paman guru!" ucapnya.

"Anak Loan,~." Hian Ceng Totiang membelai rambut gadis itu, "Kalau Ngo KongTaysu tahu ilmu silatmu sudah sedemikian maju, dia pasti girang sekali, Anak Loan, bangunlah! Beritahukan pada Nona Pek, bahwa aku ingin berlemu!"

Lie Ceng Loan bangkit berdiri, namun tidak segera masuk ke Gua Thian Ki, melainkan memandang Na Siao Tiap.

"Aku ke mari karena ada urusan penting, maka biar bagaimana pun aku harus bertemu Nona Pek," ujar Hian Ceng Totiang memberitahukan pada Na Siao Tiap, "Ha-rap Nona Na sudi mengabarkan pada Nona Pek!"

"Kun Lun Sam Cu tergosok oleh orang jahat, maka langsung mengurung Bee Kun Bu di ruang batu, Kakak Tay terlambat ke sana, sehingga tidak bertemu Bee Kun Bu.

Hingga saat ini Kakak Tay masih kesal, maka tidak mau menemui siapa pun," sahut Na Siao Tiap.

"Bee Kun Bu telah ditolong orang, Nona Pek juga mengetahui masalah itu," kata Hian Ceng Totiang sabar. "Aku ke mari karena menyangkut keselamatan semua kaum rimba persilatan Walau Nona Pek punya sedikit ganjelan terhadap partai Kun Lun, namun dia pasti tidak akan diam melihat rimba persilatan dilanda bencana, Oleh karena itu harap Nona Na melapor pada Nona Pek, bahwa aku datang berkunjung!"

"Padahal sesungguhnya aku memang harus melapor pada Kakak Tay, Tapi sejak pulang dari Kun Lun, dia telah menyatakan tidak akan menemui siapa pun. Kalau aku melapor padanya, mungkin akan membuatnya gusar."

"Nona Na. " Ketika Hian Ceng Totiang ingin mengatakan

sesualu, mendadak terdengar suara bentakan dan muncul beberapa orang di depan Gua Thian Ki itu. Mereka adalah Tu Wee Seng, Sin Goan Tong, Giok Siauw Sian Cu dan Pang Siu Wie. Na Siao Tiap tidak tahu apa yang telah terjadi, maka ia langsung membentak

"Siapa berani memasuki Pek Yun Giam?"

"Ha ha!" Tu Wee Seng tertawa, "Sin Goan Tong, engkau adalah ketua Khong Tong, tapi justru telah diperalat oleh kaum wanita! selanjutnya bagaimana kalau engkau berkecimpung di dalam rimba persilatan lagi?"

"Saudara Tu juga berkepandaian tinggi, kenapa terus kabur ke sana ke mari?" sahut Sin Goan Tong, "Lebih baik kita bertarung!"

sementara Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan jadi melongo, karena melihat mereka berkejaran-kejaran di situ.

"Hamba gagal menjaga di mulut lembah, sehingga Tu Wee Seng menerobos ke dalam!" lapor Pang Siu Wie pada Na Siao Tiap.

sementara Tu Wee Seng, Sin Goan Tong dan Giok Siauw Cu masih berkejar-kejaran, tiba-tiba mengalun suara bentakan nyaring dan halus.

"Kalian berhenti semua!" itu adalah suara bentakan dengan ilmu menyampaikan suara.

Begitu mendengar suara bentakan itu, Giok Siauw Sian Cu langsung berhenti, begitu juga Sin Goan Tong.

Padahal Tu Wee Seng ingin pergi, tapi ia melihat sosok bayangan berkelebat keluar dari Gua Thian Ki. Sosok bayangan itu ternyata Pek Yun Hui. itu membuat Tu Wee Seng diam di tempat.

Pek Yun Hui berdiri di depan Gua Thian Ki, sepasang matanya yang tajam menyapu mereka semua.

"Hmm!" dengusnya dingin. "Gua Thian Ki ini adalah tempat tinggal kami, kenapa Tu Locianpwce menerobos ke mari?" "Ha ha!" Tu Wee Seng tertawa, "SebetuInya aku ke mari mengandung maksud baik, yaitu ingin menyampaikan sesuatu! Tapi penjaga di mulut lembah melarangku masuk, bahkan bersekongkol dengan Sin Goan Tong mengeroyok diriku, Oleh karena itu aku terpaksa menerobos ke mari!"

"Kini aku telah berdiri di hadapan Tu Locianpwee, jelaskanlah tentang urusan penting itu!" ujar Pek Yun Hui tenang.

"Nona Pek harus tahu, walau partai Thian Liong telah dibubarkan, namun ketua Souw Peng Hai masih berambisi ingin menguasai rimba persilatan," sahut Tu Wee Seng memberitahukan. "Babkan dia pun telah mengutus Co Hiong ke mari. Tapi sengaja aku mengetahui rencana itu, maka akusegera ke mari untuk memberitahukan pada Nona Pek."

Pek Yun Hui diam saja, tapi Hian Ceng Totiang justru tersentak, karena kedatangannya menyangkut urusan tersebut juga, ia tidak menyangka, bahwa Tu Wee Seng sudah tahu, bahkan lebih cepat selangkah ke mari pula.

"Dari mana Tu Locianpwee memperoleh kabar itu?" tanya Pek Yun Hui kurang pereaya, "Dan kini Co Hiong berada di mana?"

"Co Hiong sudah tahu jelas seluk-beluk Kwat Cong San ini, maka aku yakin kini dia pasti berada di sekitar sini." sahut Tu Wee Seng cepat

"Souw Peng Hai mengutus Co Hiong ke mari. apakah mengandung suatu tujuan tertentu?" tanya Pek Yun Hui lagi. Rupanya gadis itu mulai pereaya akan apa yang dikatakan Tu Wee Seng.

"Pek Yun Hui berkepandaian tinggi, itu membuat nyali Souw Peng Hai jadi ciut." Tu Wee Seng tertawa, "Mengingat akan budi kebaikan Nona yang telah menolong semua partai besar yang ada di rimba persilatan maka aku ke mari untuk memberitahukan. "Kalau begilu, mari kita masuk ke lembah untuk mencari Co Hiong!" ujar Pek Yun Hui.

"Kami akan menycrtai Nona ke dalam lembah." sahut Giok Siauw Sian Cu dan Lie Ceng Loan serentak.

"Baiklah." Pek Yun Hui manggut-manggut.

"Kalau Nona Pek berniat mencari Co Hiong, aku bersedia menjadi petunjuk jalan," ujar Tu Wee Seng, "Aku masuk duluan ke lembah."

Tu Wee Seng langsung melesat pergi menuju ke dalam lembah dan Pek Yun Hui segera mengikutinya.

Giok Siauw Sian Cu, Lie Ceng Loan dan lainnya juga segera mengerahkan ginkang mengikuti Pek Yun Hui. Yang tidak ikut hanya Hian Ceng Totiang, ia telah mengambil keputusan untuk menunggu di tempat itu, maka ia pun duduk bersila di situ.

Tiba-tiba muncul tiga sosok bayangan yang langsung menuju gua Thian Ki. Hian Ceng Totiang mendongakkan kepala metihat, ternyata ketiga orang itu adalah orang-orang berkepandaian tinggi dari partai Hwa San, juga termasuk anak buah Tu Wee Seng.

Hian Ceng Totiang tidak habis berpikir, kenapa ketiga orang itu begitu lancang memasuki gua Thian Ki? Apakah mereka berniat tidak baik? Pikirnya.

Pada waktu bersamaan, ketika orang itu telah keluar dari gua tersebut, Masing-masing membawa sebuah kotak giok yang berisi kitab ajaib Kui Goan Pit Cek.

Sesungguhnya, Hian Ceng Totiang tadi sudah melihat akan adanya gejala yang tidak baik dari Tu Wee Seng, namun tiada suatu bukti. Oleh karena itu ia tidak berani memberitahukan pada Pek Yun Hui. Tu Wee Seng mengajak Pek Yun Hui dan lainnya pergi mencari Co Hiong, itu merupakan taktik memancing harimau meninggalkan gua, agar ketiga orang itu bisa memasuki gua Thian Ki untuk mencuri kitab ajaib itu.

Hian Ceng Totiang tidak bisa tinggal diam lagi. Namun ketika ia baru mau bertindak, tiba-tiba terdengar suara tawa getak. Menyusul muncul pula tiga orang, yaitu Sia Yun Hong dan kedua muridnya.

"Sungguh licik Tu Wee Seng itu!" ujar Sia Yun Hong dingin sambil memandang ketiga orang yang membawa kotak giok itu. "Kalau kalian bertiga menyerahkan Kui Goan Pit Cek itu padaku, aku pun akan melepaskan kalian! Kalau tidak, jangan mempersalahkanku bertindak kejam terhadap kalian!"

"Hm!" dengus salah seorang dari tiga orang itu, "Kini Kui Goan Pit Cek sudah berada di tangan kami, tentunya harus dilindungi partai Hwa San! Kalau Sia Tojin me-maksa, kami pun terpaksa melawan!"

"Sungguh besar muIutmu!" bentak Sia Yun Hong. "Tu Wee Seng masih tidak berani bersikap kurang ajar di hadapanku, sebaliknya kalian bertiga berani kurang ajar? Lihat seranganku!"

Sia Yun Hong langsung menyerang, Betapa dahsyatnya serangan ketua partai Tiam Cong itu, Kepandaiannya setingkat dengan Tu Wee Seng, tentunya ketiga murid Hwa San itu mampu menandinginya.

sementara itu, Hian Ceng Totiang cuma menonton, tidak tahu harus berbuat apa.

"Berhenti, Sia Tojin!" Terdengar suara bentakan, Yang membentak itu adalah saudara seperguruan orang yang diserang Sia Yun Hong. Orang itu memegang tiga buah kitab ajaib yang dicuri dari dalam gua Thian Ki. "Sia Tojin adalah ketua partai Tiam Cong, kami bertiga bukan lawan Sia Tojin! Kini ketiga kitab ajaib berada di tangan-ku, maka kalau Sia Tojin berani bertindak, aku pun akan menghancurkan tiga buah kitab ajaib ini!"

Sia Yun Hong langsung berhenti menyerang orang itu dan berdiri diam di tempat dengan kening berkerut-kerut.

"Harap Sia Tojin minggir, kami bertiga akan meninggalkan tempat ini!" ujar orang yang memegang kitab ajaib itu.

Sia Yun Hong khawatir orang itu akan menghancurkan ketiga kitab ajaib itu, maka ia pun segera minggir, Ketiga murid Hwa San itu saling memandang, kemudian melangkah pergi, Sia Yun Hong tidak bisa berbuat apa-apa, cuma memandang mereka pergi begitu saja.

sementara Hian Ceng Totiang yang bersembunyi di bahkan pohon, segera mengerahkan ginkangnya mengejar ketiga murid Hwa San itu, Hian Ceng Totiang memiliki ginkang tinggi, maka tak lama ia sudah melampaui ketiga murid Hwa San itu, sekaligus bersembunyi di balik pohon.

"Suheng memang telah terluka, namun kita harus segera meninggalkan tempat ini. jangan mengecewakan harapan guru yang telah merencanakan semua ini!" ujar salah seorang dari mereka.

"Sutee! Kalian berdua cepat pergi, jangan menghiraukan aku!" sahut orang yang terluka.

Mendadak berkelebat sosok bayangan ke arah mereka, kemudian menyambar kitab ajaib itu, seketika juga ketiga kitab ajaib itu telah berpindah tangan, Sosok bayangan itu ternyata Hian Ceng Totiang.

ia berdiri di hadapan mereka sambil menyimpan kitab-kitab itu ke dalam jubahnya, Betapa gusarnya ketiga orang tersebut, salah seorang langsung membentak

"Tosu sialan, cepat kembalikan kitab itu!"

Orang itu pun menyerang Hian Ceng Totiang dengan jurus Sin Liong Pah Bi (Naga Sakti Menggoyangkan Ekor). Hiang Ceng Totiang mengibaskan lengan jubahnya, seketika juga terpental orang itu, betapa terkejutnya kedua temannya menyaksikan hal tersebut, mereka bertiga memandang Hian Ceng Totiang dengan mata terbelalak sedangkan Hian Ceng Totiang cuma tersenyum hambar

"Pat Pie Sin Ong juga terhitung orang kesohor dalam rimba persilatan, namun justru bertindak sedemikian licik, itu sungguh memalukan!" ujar Hian Ceng Totiang. "Aku adalah Hian Ceng Totiang dari partai Kun Lun! Kalau Tu Wee Seng merasa penasaran, dia boleh ke Kun Lun menemuiku!"

Ketiga orang itu amat terkejut, tak disangka pendeta yang berdiri di hadapan mereka itu adalah salah seorang Kun Lun Sam Cu yang amat tersohor Mereka saling memandang, kemudian memapah orang yang terluka itu meninggalkan tempat tersebut.

Secara tidak sengaja Hian Ceng Totiang merusak rencana busuk Pat Pie Sin Ong Tu Wee Seng, bahkan dapat merebut kembali ketiga kitab ajaib itu pula, betapa girang hatinya.

Setelah ketiga orang itu pergi, Hian Ceng Totiang pun merogoh ke dalam jubahnya mengeluarkan ketiga kitab ajaib itu. ia menatap kitab ajaib itu dengan penuh perhatian, Tidak salah ketiga kitab ajaib itu adalah Kui Goan Pit Cek yang digilai kaum rimba persilatan, otomatis membuat tangannya agak bergemetat

ia pun berpikir bahwa dirinya punya hubungan dengan ketiga kitab ajaib tersebut Gara-gara ketiga kitab ajaib itu, Giok Cin Cu terkena racun ular, sehingga nyaris merenggut nyawanya, Kini ketiga kitab ajaib itu kembali ke tangannya, tetapi tidak tahu harus bergembira atau berduka.

Hian Ceng Totiang menyimpan ketiga kitab ajaib itu ke dalam jubahnya, lalu mengerahkan ginkangnya menuju gua Thian Ki. Ternyata ia telah mengambil keputusan untuk mengembalikan ketiga kitab ajaib itu kepada Pek Yun Hui. Berselang beberapa saat kemudian, Hian Ceng Totiang sudah sampai di depan gua tersebut, Sungguh di luar dugaannya, Pek Yun Hui, Na SiaoTiap dan Lie Ceng Loan sudah berada di situ, bahkan Lie Ceng Loan sedang bertarung dengan Sia-Yun Hong, Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap berdiri menonton dengan wajah berseri.

Hian Ceng Totiang juga menyaksikan pertarungan itu. wajahnya juga tampak berseri, karena ia yakin tidak lewat sepuluh jurus lagi, Sia Yun Hong pasti roboh.

Akan tetapi, mendadak Sia Yun Hong menyerang Lie Ceng Loan bertubi-tubi, sehingga membuat Lie Ceng Loan harus berkelit ke sana kemari. Pada waktu bersamaan Sia Yun Hong pun melesat pergi seraya berseru.

"Partai Hwa San telah mencuri Kui Goat Pit Cek, lebih baik aku pergi merebut kitab ajaib itu!"

Wajah Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap berubah hebat, mereka berdua langsung melesat ke dalam gua Thian Ki.

Hian Ceng Totiang ingin memanggil mereka, namun sudah terlambat karena mereka berdua telah memasuki gua tersebut Lie Ceng Loan ingin menyusul, tapi ia melihat Hian Ceng Totiang berdiri di situ, Cepat-cepat gadis itu menghampirinya, lalu memberi hormat.

"Paman guru. "

"Anak Loan!" Hian Ceng Totiang tersenyum lembut Pada waktu bersamaan tampak Pek Yun Hui berdebat

keluar dari gua Thian Ki seraya berseru pada Lie Ceng Loan.

"Adik Loan, kitab ajaib Kui Goan Pit Cek telah hilang, ini mungkin perbuatan Tu Wee Seng, kita harus mencari mereka!" Pek Yun Hui seakan tidak melihat Hian Ceng Totiang yang berada di situ.

"Nona Pek, tunggu!" seru Hian Ceng Totiang sambil mendekatinya, "Aku ingin bicara!" Pek Yun Hui mengarah pada Hian Ceng Totiang dengan tatapan dingin, kemudian sahutnya hambar

"Ada urusan apa Totiang ke mari? Sejak aku pulang dari Gunung Kun Lun, sejak itu pula aku tak mencampuri urusan luar, maka aku harap Totiang segera meninggalkan tempat ini!"

Hian Ceng Totiang memaklumi sikap Pek Yun Hui yang dingin yang tidak lain dikarenakan urusan Bee Kun Bu. Untung ia telah merebut kitab-kitab ajaib itu dari tangan murid Hwa San, kalau tidak, entah harus bagaimana ia menjelaskan tentang ambisi Souw Peng Hai? Walau Pek Yun Hui bersikap dingin dan acuh tak acuh, Hian Ceng Totiang tetap senyum ramah, lalu mengeluarkan tiga kitab ajaib itu dari dalam jubahnya, sekaligus disodorkan ke hadapan Pek Yun Hui.

"Pat Pie Sin Ong Tu Wee Seng memang licik sekali, dengan taktik memancing harimau meninggalkan gua, dia menyuruh tiga muridnya mencuri Kui Goan Pit Cek. Aku menyaksikannya dengan kepala sendiri, oleh karena itu, aku pun merebut kembali, sekarang kukembalikan pada Nona!"

Pek Yun Hui tertegun, ia memandang Hian Ceng Totiang sambil menerima kitab-kitab ajaib itu. Tidak salah, itu adalah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang hilang dari dalam gua Thian Ki, maka seketika juga wajahnya tampak berubah lembut dan berkata.

"Totiang telah mendapatkan kitab-kitab ajaib ini, kenapa tidak segera pulang ke Gunung Kun Lun? Bo-lehkah Totiang menjelaskannya?"

"Aku menjaga nama baik partai Kun Lun, lagi pula Pek Yun Hui tertegun, ia memandang Hian Ceng Totlang sambil menerima kftab-kltab ajaib itu.

ketiga kitab ajaib itu milik Nona. Kalau aku menye- rakahinya, bukankah aku berhati tamak? Maka aku mengambil keputusan mengembalikan pada Nona."

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut. "Kakak Tay!" sela Li Ceng memberitahukan. "Paman guruku ke mari karena ada urusan penting, tadi kami sudah bereakap-cakap sejenak."

"Oh?" Pek Yun Hui menatap Lie Ceng Loan, "Karena tadi sudah bertemu?"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

"Tidak salah." Suara Na Siao Tiap yang baru keluar dari gua." Hian Ceng Totiang pun telah memberitahukan padaku, bahwa dia kemari karena ada urusan yang amal penting."

"Kalau kedatangan Totiang karena Bee Kun Bu, itu lebih baik tidak perlu dibicarakan," ujar Pek Yun Hui dingin dan menambahkan "Ketiga kitab Kui Goan Pii Cek ini adalah kepunyaan guruku, maka akan kukem balikan pada adik Tiap. Totiang telah merebut krmbal" ketiga kitab itu, adik Tiap pasti amat berteiimakasih padanya, Kalau kedatangan Totiang dikarenakan Bee Kun Bu, aku sama sekali tidak tahu apa- apa!"

"Kedatanganku tidak menyangkut Bee Kun Bu, melainkan menyangkut keselamatan kaum Bu Lim, Lapi pula aku pqn telah menerima pesan dari Nona Sou-v igar menemui Nona Pek. Walau aku tahu Nona Pek masih menaruh salah paham pada partai Kun Lun, aki. u'up harus ke mari."

"Kapan Totiang bertemu Nona Souw dan ap.i p: sannya?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku bertemu dengannya di kuil Yaiv Sirn Am..." jawab Hian Ceng Totiang dan menutur temam" semua itu. "... maka aku segera kemari menemui Nona Pek."

Setelah Hian Ceng Totiang usai menutur, Pek Yun Hui pun tertawa dingin seraya berkata.

"Kalau demi urusan itu, Totiang telah salah mencari orang."

Ucapan Pek Yun Hui membuat air muka Hian Ceng Totiang berubah, bahkan tampak tertegun. "Sejak aku pulang dari Gunung Kun Lun, aku telah mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan luar lagi. Sejak itu pula aku pun tidak pernah meninggalkan tempat ini, lagi pula ilmu Kan Goan Cih Souw Peng Hai itu amat lihay, kalau Totiang sudah ketemu Bee Kun Bu, mungkin tidak akan ada masalah, sebab kepandaiannya sudah sangat tinggi sekarang."

"Nona Pek!" Hian Ceng Totiang menarik nafas pan-jang, "Seteiah bertemu Nona Souw Hui Hong, barulah aku mengetahui jelas akan kejadian itu. Ternyata pada waktu itu dia menelan racun ular.,., Kini masih belum ada kabar beritanya, sedangkan rimba persilatan kelihatan akan dilanda bencana, oleh karena itu aku harap Nona Pek mau menaruh perhatian pada hal tersebut!"

"Jadi...." Pek Yun Hui tersenyum hambar". Totiang

bersungguh-sungguh ingin cari Bee Kun Bu?" "Betul." Hian Ceng Totiang mengangguk

"Baiklah! Aku memang telah mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan rimba persilatan lagi, maka urusan itu akan menjadi beban Bee Kun Bu," ujar Pek Yun Hui. "Walau aku tidak bertemu Bee Kun Bu, aku akan membantu Totiang mencarinya."

Hian Ceng Totiang diam saja dan tampak kecewa karena Pek Yun Hui tidak mau turut campur urusan Souw Peng Hai itu.

"Totiang tidak perlu merasa kecewa!" Pek Yun Hui tertawa. "Walau aku tidak tahu Bee Kun Bu berada di mana, tapi pasti dapat mencarinya. Maka aku harap Totiang sudi tinggal di sini Kalau dalam waktu sepuluh hari aku bisa menemukannya, urusan pun akan beres, Kalau tidak, kita akan berunding nanti."

"Baiklah." Hian Ceng Totiang mengangguk Bagian ke lima pembicaraan Serius

Malam ini di bawah sinar rembu!an, Bee Kun Bu terus- menerus berlatih semua ilmu Kui Goan Pit Cek. Men-dadak melayang turun sosok bayangan yang tidak lain adalah Na Hai Peng.

Bee Kun Bu segera berhenti berlatih, lalu menghampiri Na Hai Peng dan memberi hormat

"Ayah angkat!" panggilnya.

"Ngmm!" Na Hai Peng manggut-manggut sambil tersenyum "Kepandaianmu telah maju pesat, namun aku belum tahu bagaimana kemajuan Iweekangmu, maka alangkah baiknya engkau melayaniku beberapa jurus!"

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk

"Kun Bu, lihat serangan!" seru Na Hai Peng dan sekaligus menyerang Bee Kun Bu, namun hanya menggunakan empat bagian tenaga dalamnya sebab ia khawatir Bee Kun Bu tidak mampu menyambut serangannya.

Ketika melihat Na Hai Peng menyerang, Bee Kun Bu sama sekali tidak berkelit maupun mundur, sebaliknya malah menyambut serangan itu dengan kedua telapak tangannya, lalu mendorong ke arah sebuah pohon yang tak jauh dari tempat itu. itu adalah ilmu menyambut dan mendorong tenaga dalam pihak lawan.

Blam! Pohon itu roboh.

Betapa girangnya Na Hai Peng, ia tidak menyangka Iweekang Bee Kun Bu sudah mencapai tingkat yang begitu tinggi

"Kun Bu!" serunya, "Coba sambut lagi seranganku!"

Na Hai Peng menyerang Bee Kun Bu dengan lima buah pukulan dan setiap pukulan itu penuh mengandung tenaga dalam, sehingga membuat semua dedauan yang di permukaan tanah berterbangan Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan-pukulan yang dilancarkan Na Hai peng.

Akan tetapi Bee Kun Bu tetap berdiri tegak di tempat dan segera mengerahkan ilmu Kui Goan Pit Cek untuk menangkis pukulan-pukulan itu.

Blaaamm! Terdengar suara benturan keras, Semua dahan pohon yang ada di sekitar tempat itu bergoyang-goyang dan dedaunan pada rontok berterbangan ke mana-mana.

sedangkan Bee Kun Bu tetap berdiri tegak di tempat, sama sekali tidak bergeming.

Sungguh girang Na Hai Peng menyaksikannya, Ke-mudian ia berseru lagi sambil menyerang dengan jari tangannya, itu adalah ilmu Pik Khong Tiam Hoat (llmu totokan jarak jauh).

Serangan-serangan itu diarahkan pada beberapa jalan darah di tubuh Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu tahu betapa lihaynya ilmu itu, maka ia tidak berani berlaku ayal lagi, langsung menghimpun lweekangnya untuk melindungi semua jalan darahnya, otomatis membuat ilmu totokan Na Hai Peng tak berfungsi sama sekali

Dapat dibayangkan, betapa girangnya Na Hai Peng, karena kini Bee Kun Bu telah mencapai tingkat tinggi dalam hal ilmu silat dan tenaga dalam.

"Ha ha ha!" Na Hai Peng tertawa gembira. "Kepandaianmu sudah tinggi sekali, Namun aku masih harus membantumu dengan lweekang, agar lweekangmu bertambah sempurna."

"Terimakasih, Ayah angkat!" ucap Bee Kun Bu. "Kun Bu!" Na Hai Peng menatapnya lembut "Engkau

duduklah!"

Bee Kun Bu menurut, lalu segera duduk bersila.

Na Hai Peng juga duduk bersila di belakangnya, kemudian menaruh sepasang telapak tangannya di punggung Bee Kun Bu. seketika juga Bee Kun Bu merasa ada semacam hawa panas mengalir ke dalam tubuhnya, Maka ia pun menghimpun lweekang untuk menerima hawa panas tersebut

Tak lama kemudian, tampak asap putih mengepul di ubun- ubun mereka, Berselang beberapa saat, barulah Na Hai Peng menarik sepasang telapak tangannya, lalu memejamkan sepasang matanya.

"Kun Bu, kini jalan darah Jintokmu telah terbuka, maka Iweekangmu telah mencapai tingkat tinggi, Kini entah apa niatmu?" ujar Na Hai Peng.

"Kun Bu berniat menegakkan keadilan dalam rimba persilatan," jawab Bee Kun Bu sungguh-sungguh.

"Bagus." Na Hai Peng manggut-manggut "Tapi... apakah engkau lupa apa yang pernah kukatakan padamu ketika aku membawamu ke mari?"

"Kun Bu masih ingat." Bee Kun Bu mengangguk "Ayah angkat pernah berpesan pada Kun Bu, harus berusaha menasihati Kakak Tay agar dia mau kembali ke istana."

"Betul." Na Hai Peng tersenyum. "Engkau sudah tahu asal- usuI Pek Yun Hui. Kini kerajaan sedang kacau, maka sudah waktunya dia kembali ke istana, Namun tidak gampang membujuknya, maka engkau harus berhati-hati, jangan sampai gagal membujuknya."

"Ya."

"Walau dia seorang putri kaisar, tapi sejak kecil mengalami banyak kejadian, maka ia jadi keras hati dan amat membenci kejahatan Sejak dia ikut aku belajar silat, sejak itu pula dia berpisah dengan dunia luar, maka sifatnya pun berubah agak aneh, Oleh karena itu, tidak gampang membujuknya untuk kembali ke istana."

"Kalau begitu, Ayah angkat menghendaki Kun Bu bagaimana membujuknya?"

"Lan Tay KongCu tidak senang akan kekerasan, itu bergantung padamu harus bagaimana menunaikan tugas itu." "ltu menyangkut rakyat, Kun Bu mohon petunjuk pada Ayah angkat, agar Kun Bu bisa melaksanakan tugas itu secepatnya."

"Sebelum ayah angkat memberi petunjuk padamu, engkau harus ingat akan satu hal, yakni jangan ceroboh dan buru-buru menyelesaikan sesuatu yang belum tentu akan berhasil!"

"Kun Bu pasti berhati-hati, mohon Ayah angkat memberi petunjuk, Kun Bu pasti melaksanakannya dengan baik-"

"Ayah angkat menghendakimu menggunakan cinta untuk membujuknya agar mau kembali ke istana."

"Oh?"

"Tentunya engkau tahu, dia telah mengundurkan diri dari pereintaan, itu dikarenakan Lie Ceng Loan, maka engkau harus membekukan cintanya, agar dia mau kembali ke istana,"

Bee Kun Bu tertegun, ia memandang Na Hai Peng dengan mata terbelalak sama sekali tidak mampu mengucapkan apa pun.

justru mereka berdua tidak tahu, bahwa ada seseorang bersembunyi di balik pohon mencuri pembicaraan mereka. Siapa orang itu, tidak lain adalah Pek Yun Hui. Gadis itu pun melongo ketika mendengar ucapan Na Hai Peng.

"Kenapa engkau diam saja?" tanya Na Hai Peng, "Apakah ucapanku itu salah?"

"Ayah angkat, Pek Yun Hui adalah gadis yang cerdas dan tahu diri Kalau Kun Bu menggunakan cara itu, bukankah akan membuat hatinya berduka?" jawab Bee Kun Bu dengan wajah muram, "Bagalmana mungkin Kun Bu berbuat begitu?"

ucapannya sangat mengharukan Pek Yun Hui yang bersembunyi di balik pohon, Sepasang mata gadis itu mulai basah, namun tetap pasang kuping untuk mendengar terus apa yang akan diucapkan Bee Kun Bu se!anjutnya. "Engkau memang berhati lembut!" ujar Na Hai Peng sambil menarik nafas panjang. Tapi entah bagaimana harus membujuknya agar mau kembali ke istana?"

Bee Kun Bu diam saja, tidak tahu harus mengucapkan apa. Na Hai Peng menatapnya, lalu berkata.

"Kun Bu, tentang itu ayah angkat serahkan padamu, Besok ayah angkat akan pergi, mungkin kita tiada kesempatan untuk bertemu lagi, Maka ayah angkat harap, engkau harus dapat menegakkan keadilan dalam rimba persilatan, sedangkan ayah angkat harus ke istana untuk membalas budi kaisar Kini engkau telah memiliki kepandaian tinggi, ayah angkat pun bisa berlega hati."

"Kun Bu bukan tidak mau menuruti petunjuk Ayah angkat, hanya saja.,., Kakak Tay amat baik terhadap Kun Bu, bagaimana mungkin Kun Bu membuat hatinya ber-duka?

Namun Kun Bu akan berusaha membujuknya, agar dia mau kembali ke istana."

"Kalau Lan Tay Kong Cu tidak mau kembali ke istana, apakah engkau bersedia membantu Kaisar Beng?"

"Seandainya Kun Bu membantu Kaisar Beng, itu sama juga membantu Kakak Tay," ujar Bee Kun Bu.

"Kun Bu!" Na Hai Peng menatapnya dalam-dalam, "Ayah angkat tahu apa yang terganjel dalam hatimu, Kini sudah larut malam, engkau boleh beristirahat Mulai besok, kita akan berpisah."

Setelah berkata demikian, Na Hai Peng pun melesat pergi. Sedangkan Bee Kun Bu termangu-mangu di tempat,

kemudian bergumam.

"Ayah angkat amat berbudi padaku dan Kakak Tay amat baik padaku, Lalu aku harus bagaimana?"

Padahal sesungguhnya, Pek Yun Hui sudah mau pergi setelah Na Hai Peng meninggalkan tempat itu, tapi ketika mendengar Bee Kun Bu bergumam, ia pun tidak jadi pergi. Bee Kun Bu menengadahkan kepala memandang rembulan dan tak henti-hentinya menarik nafas panjang. Berselang beberapa saat kemudian, ia mengayuhkan kakinya menuju ke gua.

Setelah Bee Kun Bu memasuki gua itu, Pek Yun Hui pun menarik nafas, ia mengerahkan ginkangnya menuju ke gua Thian Ki dengan hatinya kacau balau....

Ketika Pek Yun Hui sampai di depan gua Thian Ki, mendadak muncul seseorang dengan pedang di tangan

"Oh, Kakak Tay!" Orang itu tertawa kecil

Pek Yun Hui memandang, ternyata orang itu adalah Lie Ceng Loan. Karena Lie Ceng Loan menggenggam pedang, ia pun segera bertanya.

"Adik Loan, engkau menggenggam pedang, apakah telah terjadi sesuatu di sini?"

Lie Ceng Loan memasukkan pedangnya ke dalam sarung, kemudian berkata sambil tertawa.

"Tidak terjadi apa pun! Hanya saja harus berhati hatt, maka aku bersama Kakak Tiap dan Giok Siauw Sian Cu bergilir menjaga di sinL"

"Adik Loan. " Pek Yun Hui menatapnya lembut

"Kakak Tay sudah pulang, aku pun berlega hati," ujar Lie Ceng Loan sambil tersenyum. "Tapi. Kakak Tay dari mana,

bolehkah memberitahukan padaku?"

"Aku cuma pergi meronda, apakah masih ada orang luar memasuki tempat kita ini?"

"Oooh!" Lie Ceng Loan tersenyum lagi.

"Adik Loan, mari kita ke dalam gua!" ajak Pek Yun Hui.

Lie Ceng Loan mengangguk Mereka berdua lalu masuk ke gua itu, ternyata Na Siao Tiap masih belum tidur, sedang membaca buku. "Kakak Tay tadi pergi meronda, kini sudah kembali dan menyuruh kita tidak perlu menjaga di luar." Lie Ceng Loan memberitahukan

Na Siao Tiap segera memandang Pek Yun Hui, tampak rambut Pek Yun Hui agak awut-awutan dan sepasang matanya masih tampak basah.

"Bukankah Kakak Tay pergi cari Bee Kun Bu? Kok malah bilang pergi meronda?" tanya Na Siao Tiap heran.

"Hian Ceng Totiang akan tinggal di sini setengah buIan, maka aku tidak usah buru-buru pergi cari Bee Kun Bu," sahut Pek Yun Hui. "Karena tempat kita pernah didatangi Tu Wee Seng, maka aku merasa tidak tenang dan pergi meronda sebentar."

"Oh?" Na Siao Tiap tersenyum tahu Pek Yun Hui bohong, "Apakah kakak Tay pernah berpikir berada di mana Bee Kun Bu sekarang?"

"Aku telah memikirkan itu, tapi masih belum berani memastikannya," sahut Pek Yun Hui.

"Ketika Kakak Tay meronda, apakah melihat sesuatu yang mencurigakan?" tanya Na Siao Tiap lagi.

"Tidak." Pek Yun Hui menatapnya, "Kenapa engkau bertanya demikian?"

"Aku melihat rambut Kakak Tay awut-awutan, maka mengira Kakak Tay telah berhadapan dengan musuh tangguh."

"Rambutku tertiup angin gunung, maka jadi awut-awutan," ujar Pek Yun Hui. "Hari ini kita cukup capek, maka lebih baik kita beristirahat

"Baiklah." Na Siao Tiap mengangguk lalu duduk bersila untuk beristirahat, begitu pula Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui. Padahal sesungguhnya, Pek Yun Hui gembira sekali melihat Bee Kun Bu di Cung Yun Giam. ia ingin me-nyapanya tapi justru muncul Na Hai Peng, kemudian mendengar pembicaraan serius Na Hai Peng dengan Bee Kun Bu.

Setelah berpikir bo!ak-balik, akhirnya Pek Yun Hui mengambil keputusan untuk memutuskan beriang-benang cintanya....

Hari sudah terang, tampak Pek Yun Hui berdiri di depan gua Thian Ki sambil memandang ke arah langit Hembusan angin menerpa wajahnya yang cantik tapi kelihatan agak pucat

"Dengan tiada kawan. belakang tiada yang datang, Langit dan bumi merana, hati pun berduka." gumam gadis itu.

Usai bergumam, Pek Yun Hui pun mengambil suatu keputusan lagi, yakni ingin kembali ke istana.

Pada waktu bersamaan, tampak Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan berjalan ke luar dari gua. Ketika melihat Pek Yun Hui berdiri mematung di situ, mereka berdua menghampirinya.

"Semalam Kakak Tay sudah bilang tidak usah menjaga di sini, kok Kakak Tay malah menjaga di sini seorang diri?" tegur Na Siao Tiap.

"Kalau tahu Kakak Tay mau menjaga di sini, aku pun tidak mau beristirahat semalam," sambung Lie Ceng Loan.

"Semalam aku tidak menjaga di sini, cuma bangun agak pagi maka berdiri di sini menikmati keindahan alam, kebetulan kalian berdua ke mari." Pek Yun Hui ter-senyum, "Kita pun boleh bereakap-cakap."

"Kakak Tay ingin memberitahukan sesuatu?" tanya Na Siao Tiap.

"Mungkin tidak lama lagi, rimba persilatan akan dilanda suatu bencana," jawab Pek Yun Hui. "Oleh karena itu, kalian berdua harus terus berlatih untuk memperdalam kepandaian kalian!"

"Ya," sahut Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan serentak Setelah itu mereka bertiga pun mulai berlatih, lalu bersenda gurau, Tak terasa hari pun sudah mulai senja, sang surya mulai menghilang di ufuk barat

"Kita berlatih hampir seharian, tentunya Kakak Tay sudah capek, mari kita kembali ke dalam gua untuk beristirahat ujar Lie Ceng Loan.

"ltu memang baik, lagi pula Hian Ceng Totiang pun berada di dalam gua. Kalau kita terus berada di sini, rasanya kurang enak terhadap Hian Ceng Totiang," sahut Pek Yun Hui.

"BetuI." Lie Ceng Loan tersenyum.

Mereka bertiga lalu kembali ke dalam gua, Hian Ceng Totiang sedang duduk bersemedi Ketika melihat ketiga gadis itu, ia pun tersenyum.

"Nona Pek, tadi Nona Na dan anak Loan meninggalkan gua, apakah mereka pergi mencari Bee Kun Bu?" tanya Hian Ceng Totiang.

"Kami bertiga cuma berlatih di luar, masih belum pergi cari Bee Kun Bu," jawab Pek Yun Hui.

"Oh?" Hian Ceng Totiang tertegun "Sang waktu akan berlalu dengan cepat, Nona Pek mengatakan dalam waktu setengah bulan "

"Totiang jangan khawatir aku pasti akan pergi mencari Bee Kun Bu," ujar Pek Yun Hui. "Totiang tenang saja!"

"Apa yang dikatakan Kakak Tay memang tidak sa-lah," sela Na Siao Tiap. "Kalau benar ayahku yang membawa pergi Bee Kun Bu, mereka pasti berada di suatu lembah, Aku yakin Kakak Tay pasti dapat mencari me-reka, maka Totiang tidak usah khawatir. " "Paman guru harus tenang," sambung Lie Ceng Loan, "Kakak Tay tidak akan mengecewakan Paman guru."

"Kalau Nona Pek yakin dapat mencari Bee Kun Bu, aku pun dapat berlega hati," ujar Hian Ceng Totiang, "Tapi mengenai Souw Peng Hai, kita pun harus bersiap-siap."

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Mulai besok aku akan pergi mencari Bee Kun Bu, dalam waktu tiga hari, aku pasti dapat menemukan tempa tnya..."

Mendadak terdengar suara siulan yang amat panjang di luar Dari suaranya yang melengking itu menandakan bahwa yang mengeluarkan siulan itu memiliki Iweekang yang amat tinggi, Air muka Pek Yun Hui dan Hian Ceng Totiang sudah berubah, mereka pun langsung berhambur ke luar.

"Pendatang itu memiliki kepandaian tinggi, itu bukan guruku," ujar Pek Yun Hui pada Na Siao Tiap, "Sekarang sudah malam, siapa yang begitu berani memasuki Pek Yun Giam?"

Na Siao Tiap mengerutkan kening, lalu tangannya menyambar senjata yang mirip gitar.

"Kakak Tay, kelihatannya orang itu berniat tidak baik, Bagaimana kalau kita ke luar untuk menyambut-nya?" tanya Na Siao Tiap.

"Baiklah! Mari kita ke luar!" sahut Pek Yun Hui. Tapi adik Loan tidak boleh pergi jauh. sedangkan Totiang boleh pergi memeriksa di sekitar Pek Yun Giam ini."

"Baik," Hian Ceng Totiang mengangguk "Nona Pek, menurut aku, pendatang itu mungkin Souw Peng Hai."

"Kalau benar dia " Pek Yun Hui tertawa dingin, "ltu berarti

riwayatnya akan tamat di sini. Ayoh, mari kita ke luar!"

Pada waktu bersamaan, terdengar lagi suara siulan itu semakin dekat dan suara siulannya berkumandang ke dalam gua. "Adik Na jangan ke mana-mana, biar aku saja yang pergi menyelidikinya!" pesan Pek Yun Hui sambil melesat ke luar

Na Siao Tiap, Hian Ceng Totiang dan Lie Ceng Loan juga melesat ke luar Ketika mereka sampai di luar, tampak dua sosok bayangan hitam dan putih berkelebat pergi.

"Nona Pek sudah mengejar orang itu, kita harus menjaga di sini," ujar Hian Ceng Totiang.

"Ya," sahut Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan. sementara Pek Yun Hui terus mengejar bayangan hitam

itu, Namun meskipun gadis itu telah mengerahkan

ginkangnya, masih tidak dapat menyusul orang itu. itu membuatnya sangat penasaran

"Biar bagaimana pun aku harus dapat menyusuInya," ujarnya dalam hati, "Aku ingin tahu siapa orang itu."

Akan tetapi, Pek Yun Hui tetap tidak dapat menyusul orang itu, itu sungguh membuatnya terkejut

"Siapa orang itu? Ginkangnya begitu tinggi, Apakah dia bukan kaum Bu Lim Tionggoan (Daratan Tengah)?" gumamnya.

Ada satu hal yang membuatnya tereengang, yaitu ginkang yang digunakan orang itu mirip Ling Khong Sih Tou (Terbang Diangkasa), ilmu ginkang andalan gurunya .

"Tak terduga sama sekali, selain guru masih terdapat orang lain yang memiliki ginkang begitu tinggi." Tiba-tiba Pek Yun Hui teringat sesuatu, "Bayangan orang itu mirip Bee Kun Bu, apakah dia? Kalau benar berarti kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi."

Teringat akan itu, Pek Yun Hui segera berteriak menggunakan lweekangnya.

"Yang di depan itu apakah Bee Kun Bu?"

Orang yang di depan itu segera berhenti, kemudian membalikkan badannya sambil memberi hormat "Aku Bee Kun Bu memberi hormat pada Kakak Tay!"

"Dugaanku tidak salah." Pek Yun Hui tertawa dan melayang turun di hadapan Bee Kun Bu. "Kalau engkau tidak menggunakan ilmu Ling Khong Sih Tou, aku pasti menghujanimu dengan senjata rahasia jarum Maut pencabut Nyawa!"

"Aku harap Kakak Tay sudi memaafkanku!" ucap Bee Kun

Bu.

"Aku tidak mempersalahkanmu, sebaliknya ikut gembira

atas keberhasilanmu itu," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum.

"Maaf Kakak Tay!" ujar Bee Kun Bu. "Aku memang sengaja memancing Kakak Tay meninggalkan tempat itu, karena banyak orang di sana akan menimbulkan banyak urusan pula."

"Jadi engkau ada urusan penting yang harus disampaikan padaku?" tanya Pek Yun Hui sambil menatapnya.

"Sejak aku kenal Kakak Tay, sejak itu pula Kakak Tay sering menolongku Aku tidak akan melupakan budi kebaikan Kakak Tay," sahut Bee Kun Bu agak menyimpang dari pertanyaan Pek Yun Hui.

"Sebagai teman, memang harus tolong-menolong, maka jangan menyinggung soal budi kebaikan," ujar Pek Yun Hui. "Kalau engkau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja jangan ragu!"

"Aku harap Kakak Tay bersedia mengabulkan satu permintaanku!"

"Apa permintaanmu?"

"Harap Kakak Tay sudi mengunjungi Sui Goat San Cung (Perkampungan Air Bulan), di sana aku akan menyampaikan sesuatu." Pek Yun Hui diam, Bee Kun Bu menatapnya dan berkata lagi.

"Apakah Kakak Tay mengkhawatirkan adik Na dan Ceng Loan?"

"Apakah sesuatu itu harus kau sampaikan padaku di Sui Goat San Cung?" tanya Pek Yun Hui.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk

"Memang tidak jadi masalah aku ikut engkau ke Sui Goat San Cung," ujar Pek Yun Hui. Tapi apakah engkau tahu bahwa Hian Ceng Totiang sedang berada di gua Thian Ki? Kedatangan Hian Ceng Totiang di gua itu untuk menyampaikan pesan dari Souw Hui Hong menyangkut keselamatan kaum/imba persilatan."

"Oh?" Bee Kun Bu tertegun "Apakah guruku mem- persalahkan adik Loan?" tanyanya.

"Engkau cuma menanyakan itu?"

"Kakak Tay. " Wajah Bee Kun Bu tampak kemerah~

merahan, "Adik Loan adalah gadis yang masih po!os, lagi pula riwayat hidupnya amat menyedihkan. "

"Oooh!" Pek Yun Hui tersenyum, "Engkau harus tahu bahwa gurumu tampak panik sekali, Bagaimana mungkin punya waktu untuk mempersalahkan adik Loan-mu? Engkau boleh berlega hati, gurumu sama sekali tidak mempersalahkan Ceng Loan."

"Kakak Tay. " Bee Kun Bu menarik nafas lega. "Kenapa

guruku datang di gua Thian Ki? Lagi pula Nona Souw Hui Hong sudah menjadi rahib, kenapa masih menitip pesan pada guruku?"

"ltu karena. " Pek Yun Hui memberitahukan tentang Souw

Peng Hai yang masih berambisi untuk menguasai rimba persilatan, lalu menambahkan, "Souw Peng Hai berniat kembali ke rimba persilatan, itu akan menimbulkan suatu bencana bagi rimba persilatan, Maka Souw Hui Hong bermohon pada gurumu untuk me-nemuiku, agar aku mau membasmi Souw Peng Hai, Tapi... aku sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan lagi. Bagaimana kalau engkau yang memikul tugas itu?"

"Kepandaianku masih terbatas, bagaimana mungkin dapat membasmi Souw Peng Hai?"

"Kepandaianmu telah mencapai tingkat tinggi, kenapa masih ragu akan kepandaian sendiri ?"

Tapi kepandaian Kakak Tay jauh di atas kepandaianku kenapa menolak tugas itu?"

"Aku sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi, maka engkaulah yang harus melaksanakan tugas itu, janganlah engkau mengecewakan guruku!"

"Baiklah." Bee Kun Bu mengangguk Tapi kapan Kakak Tay akan ikut aku ke Sui Goat San Cung?"

"Kini Hian Ceng Totiang masih berada di gua Thian Ki. Aku harus menyelesaikan urusan itu dulu, barulah berangkat ke Sui Goat San Cung."

"Kalau begitu, aku mohon petunjuk harus bagai-mana?" "Engkau harus ikut aku ke gua Thian Ki untuk menemui

Hian Ceng Totiang, setelah itu barulah kita berangkat ke Sui Goat San Cung."

"Tapi..."

"Engkau tidak usah khawatir, gurumu tidak akan mempersa!ahkanmu." Pek Yun Hui tersenyum. "Sesung- guhnya Hian Ceng Totiang sangat menyayangi mu, hanya saja pada waktu itu ada perintah dari ketua Kun Lun, maka engkau harus memaklumi hal itu!"

"Baiklah, Aku ikut Kakak Tay ke gua Thian Ki untuk menemui guruku. Tapi,., aku justru khawatir adik Loan ingin ikut kita ke Sui Goat San Cung, sebab itu akan merepotkan." "Engkau harus tahu, bahwa adik Loan sangat menghormatimu Apa yang engkau katakan, dia pasti menurut.

Kenapa engkau mengkhawatirkan itu?"

Bee Kun Bu membungkam. Pek Yun Hui menatapnya sambil tersenyum dan berkata dengan suara rendah.

"Kita harus segera ke gua Thian Ki. Setelah menjelaskan semua itu, kita pun bisa berangkat secepatnya ke Sui Goat San Cung."

"Baiklah." Bee Kun Bu mengangguk

Na Siao Tiap, Lie Ceng Loan dan Hian Ceng Totiang masih menjaga di depan gua Thian Ki. Mendadak Lie Ceng Loan melihat dua sosok bayangan berkelebat ke arah mereka.

"Mereka datang!" serunya.

Mendengar seruan itu, Hian Ceng Totiang segera menghunus pedangnya, sedangkan Na Siao Tiap memegang senjatanya erat-erat.

"Nona Na jangan melancarkan serangan, sebab yang seorang itu Nona Pek." Hian Ceng Totiang memberitahukan

"Ya." Na Siao Tiap mengangguk

Tak seberapa lama kemudian, kedua sosok bayangan itu telah melayang turun di depan gua, terdengar pula suara tawa Pek Yun Hui.

"Sungguh kebetulan, kita tidak usah mencari Bee Kun Bu lagi, dia sudah datang ke mari," ujar Pek Yun Hui memberitahukan.

"Oh?" Hian Ceng Totiang terbelalak

"Kun Bu memberi hormat pada Guru!" ucap Bee Kun Bu sambil berlutut di hadapan Hian Ceng Totiang.

"Mohon Guru memaafkan Kun Bu!" Begitu melihat Bee Kun Bu, Hian Ceng Totiang tidak tahu harus girang atau murung, tapi Hian Ceng Totiang telah menyaksikan ginkangnya begitu tinggi, tentu membuatnya bergirang dalam hati.

"Bangunlah!" ujar Hian Ceng Totiang sambil tertawa, "Engkau tidak bersalah, Guru telah bertemu Nona Souw Hui Hong, dia telah menjelaskan tentang kejadian itu. Guru pun telah memberitahukan pada ketua partai Kun Lun Tong Leng Tojin, maka engkau pun telah dinyatakan tidak bersalah dalam hal itu. Kini menyangkut tentang Souw Peng Hai yang akan muncul di rimba persilatan yang tentunya akan menimbulkan suatu bencana, Engkau dan Nona Pek harus menundukkannya agar rimba persilatan bisa tenang."

"Terimakasih, Guru!" ucap Bee Kun Bu sambil bangkit berdiri.

"Kakak Kun Bu!" Lie Ceng Loan tertawa gembira, "Selama ini Kakak Kun Bu berada di mana? Kakak Tay dan Kakak Na sangat merindukanmu."

Lie Ceng Loan memang berhati polos, apa yang dipikirkan pasti diucapkannya, maka wajah Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap langsung memerah.

"Nona Na, apa kabar?" tanya Bee Kun Bu sambil memberi hormat.

"Aku baik-baik saja," sahut Na Siao Tiap sambil tersenyum "Kenapa engkau berlaku sungkan?"

"Adik Loan masih kecil, kalau dia kurang ajar, harap Nona Na sudi memaafkannya!" ucap Bee Kun Bu.

"Eh?" Pek Yun Hui tertawa kecil "Kenapa kalian berdua terus-menerus berbasa-basi, kapan habis nih?"

"Aku. " Na Siao Tiap tergagap-gagap. "Guruku telah mengangkat Bee Kun Bu sebagai anak angkat, bahkan telah mengajarkan ilmu tingkat tinggi." Pek Yun Hui memberitahukan "Selanjutnya dia pasti mencemerlangkan nama partai Kun Lun."

Hian Ceng Totiang tertegun, pantas Bee Kun Bu sudah begitu tinggi ilmunya! Hian Ceng Totiang membatin Mungkin dia telah mempelajari semua ilmu Kui Goan Pit Cek.

"Kalau begitu. " Na Siao Tiap girang sekali, "Mulai

sekarang aku dan Bee Kun Bu sebagai kakak adik, itu sungguh di luar dugaan."

"Kakak Na!" Lie Ceng Loan heran. "Kenapa Kakak Na mengatakan sungguh di luar dugaan?"

"Ayahku bersifat aneh, beliau mau mengangkat Bee Kun Bu sebagai anak, bukankah itu sungguh di luar dugaan?" sahut Na Siao Tiap sambil tersenyum

"Oooh!" Lie Ceng Loan manggut-manggut.

"Oh ya!" Pek Yun Hui mulai mengalih pada pokok pembicaraan "Bee Kun Bu kemari justru melaksanakan perintah guruku untuk menjemputku ke Sui Goat San Cung. Aku tidak tahu apa tujuan guruku, namun besok aku harus berangkat ke sana."

"Tapi bagaimana dengan urusan Souw Peng Hai ?" tanya Hian Ceng Totiang.

Totiang tidak usah khawatir!" Pek Yun Hui tersenyum "Kini Na Siao Tiap sudah memiliki kepandaian tinggi, dia pasti dapat melawannya, lagi pula aku ke Sui Goat San Cung tidak menyita banyak waktu, cuma beberapa hari saja, Kami berdua pasti segera kembali ke mari."

"Nona Pek harus tahu, bahwa ilmu Kan Goan Cih itu amat lihay, Mungkin Bee Kun Bu tidak mampu menghadapinya seorang diri, maka aku harap Nona Pek segera pulang setelah urusan di Sui Goat San Cung diselesaikan."

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Kakak Kun Bu, aku sudah lama tidak bertemu paman dan bibi, bolehkah aku ikut?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Adik Loan, bukan aku tidak mau mengajakmu, tapi itu adalah perintah dari ayah angkatku," ujar Bee Kun Bu sambil tersenyum. "Maka aku tidak boleh mengajak orang lain.

Engkau tetap di sini bersama adik Na, setelah urusan di Sui Goat San Cung selesai, aku pasti kembali ke mari menjemputmu ke sana!"

"Yaah!" Lie Ceng Loan menarik nafas panjang, "Baru bertemu sudah mau berpisah! Karena itu adalah perintah dari ayah angkatmu, tentunya aku harus menurut dan tetap di sini."

"Adik Loan jangan berduka!" hibur Bee Kun Bu. "Aku pasti kembali ke mari secepatnya."

"Ya, Kakak Kun Bu." Lie Ceng Loan mengangguk

"Bee Kun Bu, sudah waktunya kita berangkat," ujar Pek Yun Hui, "Kalau hari sudah terang, tidak baik kita menggunakan ginkang."

"Baiklah," Bee Kun Bu segera berpamit pada Hian Ceng Totiang, Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan, lalu melesat pergi.

"Kakak Kun Bu.,,." Mata Lie Ceng Loan sudah basah. "Paman guru, benarkan Kakak Kun Bu akan kembali ke mari secepatnya?"

"ltu tentu." Hian Ceng Totiang mengangguk "Anak Loan, paman guru pun harus kembali ke gunung Kun Lun, baik- baiklah engkau di sini!"

"Paman guru. "

"Nona Na!" pesan Hian Ceng Totiang, "Baik-baiklah menjaga Ceng Loan!"

"Ya." Na Siao Tiap mengangguk

"Anak Loan, jaga dirimu baik-baik!" ujar Hian Ceng Totiang lalu meninggalkan tempat itu dengan menggunakan ginkang. "Paman guru.,,." Kini mata Lie Ceng Loan bersimbah air.

"Adik Loan!" Na Siao Tiap menatapnya, "Kakak Pek dan Kakak Kun Bu telah berangkat ke Sui Goat San Cung, paman gurumu pun kembali ke Gunung Kun Lun, maka kita berdua tidak boleh ke mana-mana, harus tetap berada di dalam gua!"

"Ya!" Lie Ceng Loan mengangguk

Mendadak mereka mendengar suara desiran, tak lama di hadapan mereka telah muncul seseorang. Siapa orang itu, ternyata Na Hai Peng.

"Paman!" seru Lie Ceng Loan, "Kakak Kun Bu dan Kakak Tay sudah berangkat ke Sui Goat San Cung, Paman terlambat ke mari."

"Ayah!" Na Siao Tiap segera berlutut dengan air mata bereucuran

"Nak, bangunlah!" Na Hai Peng tersenyum lembut, "Ayah sudah tahu Bee Kun Bu berangkat ke Sui Goat San Cung bersama Lan Tay Kong Cu. Kini ayah ingin menyampaikan beberapa patah kata padamu, Nak!"

"Ayah mau menyampaikan apa?" tanya Na Siao Tiap sambil bangkit berdiri.

Na Hai Peng tidak segera menjawab, memandang Lie Ceng Loan seakan merasa kurang leluasa mengatakan sesuatu.

"Paman, Ceng Loan ke dalam gua saja." Lie Ceng Loan mengetahui hal itu.

"Anak Loan!" Na Hai Peng tersenyum dan merasa tidak enak "Engkau boleh tetap berada di sini, tidak akan mengganggu pembicaraan kami."

Lie Ceng Loan cuma tersenyum, sedangkan Na Hai Peng sudah memandang Na Siao Tiap seraya berkata.

"Ketika pertama kali ayah bertemu denganmu di Pek Yun Giam, ayah pun merasa telah bersalah terhadap kalian ibu dan anak. Pada waktu itu ayah ingin membunuh diri, namun mengingat masih banyak urusan yang belum diselesaikan, maka ayah pun tidak jadi bunuh diri. "

Sementara Lie Ceng Loan juga mendengar pembicaraan mereka. Gadis itu merasa heran, karena ketika bertemu Na Hai Peng di Gunung Kun Lun, wajah Na Hai Peng cerah ceria, namun kini tampak murung sekali, Oleh karena itu, ia pun mendengar pembicaraan mereka dengan penuh perhatian

"Siao Tiap sama sekali tidak tahu, yang almarhumah katakan musuh itu, ternyata Ayah, Kalau tahu, Siao Tiap pun tidak berani melukai Ayah dengan irama Piepeh" (Gitar kuno Cina), mohon Ayah mengampuni Siao Tiap!" ujar Na Siao Tiap dengan mata bersimbah air. 

"Aaaakh-!" Na Hai Peng menarik nafas panjang. "Anak Tiap tidak usah cemas tentang itu, ayah tidak mempersalahkanmu. Hari ini ayah ke mari karena ilmu Toa Pan Yok Sin Kang (llmu Sakti Membuat Diri Keba!), Almarhumah telah mewariskan ilmu tersebut padamu, namun jalan darah Jintokmu belum terbuka, maka ilmu sakti itu pun berkurang kehebatannya, Karena itu, ayah ke mari untuk membantumu dalam hal ini."

"Tapi"

"Anak Tiap jangan menolak, ayah berniat baik dan jangan mengecewakan ayah!" desak Na Hai Peng.

"Ayah, Siao Tiap sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan." ujar Na Siao Tiap sungguh-sungguh, "Maka pereuma Siao Tiap memperdalam ilmu silat Lebih baik Siao Tiap hidup tenang di tempat ini."

"Kalau begitu, ayah pun tidak akan memaksamu." Na Hai Peng menatapnya dalam-dalam. Tapi ada satu hal yang harus ayah beritahukan." "Mengenai hal apa?" .

"Itu. " Ternyata Na Hai Peng telah merencanakan

sesuatu, "Apakah Anak Tiap masih ingat, almarhumah pernah bilang apa padamu ketika belum meninggal?"

"lngat." Na Siao Tiap mengangguk "lbu bilang yang paling jahat dan beracun bukanlah ular, Kalau dalam hati menyukai seorang lelaki, haruslah cepat-cepat membunuhnya."

"Anak Tiap tahu apa artinya?"

"Siao Tiap kadang-kadang mengerti, tapi kadang-kadang malah tidak habis berpikir, seakan tidak mengerti sama sekali."

"Apakah Anak Tiap akan menuruti apa yang almarhumah katakan itu?"

"ltu merupakan amanat almarhumah, tentunya Siao Tiap harus menurut Tapi kepandaian Siao Tiap belum mencapai tingkat tinggi, kalau bertemu lelaki yang Siao Tiap sukai, tapi kepandaiannya amat tinggi, sudah pasti Siao Tiap tidak mampu membunuhnya."

"Ngmm!" Na Hai Pengmanggut-mangguL "Kini Anak Tiap tinggal di sini, kalau Lan Tay Kong Cu pergi dan tidak bisa cepat pulang, Anak Tiap harus bagaimana?

Na Siao Tiap diam, sebab gadis itu tidak pernah memikirkan tentang ini. Mendadak Lie Ceng Loan me-nyela, sebab gadis itu tidak tahu bahwa Na Hai Peng mempunyai suatu rencana.

"Paman! Kakak Kun Bu adalah anak angkat Paman, berarti dia kakak angkat Kakak Tiap. Kakak Kun Bu amat baik orangnya, kalau Kakak Tay tidak tinggal di sini, aku akan menyuruh Kakak Kun Bu tidak tinggal bersama kami di sini,"

"Engkau memang bermaksud baik," sahut Na Hai Peng sambil tersenyum. "Tapi Na Siao Tiap masih punya ayah," "Kalau Siao Tiap tinggal di sini, tentunya harus tinggal bersama ayah kan?" ujar Na Siao Tiap yang mengetahui maksud Na Hai Peng.

"Tidak salah." Na Hai Peng tersenyum. "Namun tahukah Anak Tiap di mana tempat tinggal ayah?"

"KakakTay pernah memberitahukan pada Siao Tiap, bahwa Ayah sering tinggal di sini, Nah, bukankah tempat ini merupakan tempat tinggal Ayah?"

Na Hai Peng menggelengkan kepala sambil tertawa, kemudian ujarnya dan menatap putrinya.

"Gua Thian Ki ini memang tempat tinggal ayah, tapi setelah ayah menjemput ibumu dan Lan Tay Kong Cu ke luar, maka gua Thian Ki pun telah menjadi tempat tinggal Lan Tay Kong Cu. Setelah ibumu meninggal, ayah pun sering tinggal di Pek Hoa Hok (Lembah seribu bunga), Lembah itu adalah tempat tinggal kita berdua, Maka ayah harap Anak Tiap harus kembali ke sana."

"Ayah, Siao Tiap bukan tidak mau kembali ke sana, tapi Hian Ceng Totiang telah ke mari dan menyampaikan pesan Nona Souw Hui Hong pada Kakak Tay, bahwa Souw Peng Hai masih berambisi untuk menguasai rimba persilatan dan tak lama lagi akan memunculkan diri di rimba persilatan itu merupakan bencana bagi rimba persilatan Oleh karena itu, Kakak Tay, kakak Kun Bu dan Siao Tiap akan berunding tentang itu, maka untuk sementara ini, Siao Tiap belum boleh meninggalkan tempat ini," ujar Na Siao Tiap memberitahukan dan menambahkan "Setelah berunding nanti, Siao Tiap pasti ke Pek Hoa Hok berkumpul dengan Ayah."

"Baiklah." Na Hai Peng tertawa, "Ayah masih harus menyelesaikan urusan lain, sampai jumpa di Pek Hoa Hok nanti!"

Na Hai Peng melesat pergi, Na Siao Tiap tertegun, kemudian berseru memanggil Na Hai Peng.

"Ayah, tunggu.,.!" Akan tetapi, Na Hai Peng sudah tidak tampak lagi, Na Siao Tiap berdiri termangu-mangu di tempat, air matanya pun berderai-derai.

"Paman sudah pergi, Kakak tidak usah berduka!" Lie Ceng Loan menghiburnya dan menambahkan "Setelah urusan Souw Peng Hai beres, Kakak boleh pergi ke Pek Hoa Hok menjumpai paman. "

*****

Bab ke 6 - Kejadian Diluar Dugaan

Pada hari kelima, di saat hari mulai senja, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui telah tiba di Sui Goat San Cung, kampung halaman Bee Kun Bu.

"Sudah lama aku meninggalkan rumah, entah bagaimana perubahan di rumah? Mudah-mudahan kedua orang tuaku tetap sehat wa!a'fiat!" ucap Bee Kun Bu dalam hati sambil memandang Sui Goat San Cung.

"Kenapa engkau berdiri tereenung di sini?" tanya Pek Yun Hui heran

Bee Kun Bu tidak menyahut, kemudian mengayunkan kakinya mendekati rumahnya, Rumahnya itu memang masih ada, namun suasananya sudah tidak seperti dulu lagi, sunyi senyap seakan tiada penghuninya, Bee Kun Bu termangu- mangu memandang rumahnya itu.

"Kelihatannya telah terjadi sesuatu di rumahku." ujar Bee Kun Bu dengan suara serak, "Mari kita ke dalam untuk melihat apa yang telah terjadi!"

Pada waktu bersamaan, tampak seorang tua berjalan ke luar dari rumah itu menghampiri Bee Kun Bu. Orang tua itu menatapnya lama sekali, setelah itu barulah mengenali Bee Kun Bu. Kemudian ia berseru sambil menggenggam tangan Bee Kun Bu erat-erat "Tuan muda! Tuan muda sudah pulang!" Air mata orang tua itu berlinang-linang dan menangis terisak-isak.

"Ah Liok!" panggil Bee Kun Bu. Ternyata orang tua tersebut adalah jongos tua di rumah itu. "Jangan menangis, bagaimana keadaan orang tuaku?"

"Tuan muda, nyoya tua sudah meninggal sedangkan tuan besar sudah lama jadi rahib." Jongos tua itu memberitahukan "Di Sui Goat San Cung ini hanya terdapat dua buah kuburan dan hamba."

"Setahuku, ibuku sehat wal'afiat, kenapa mendadak meninggal?" tanya Bee Kun Bu tidak mengerti "Apakah telah terjadi sesuatu di luar dugaan?"

"Nyonya tua memang sehat wal'afiat, tapi tahun kemarin tuan besar berniat jadi rahib, maka meninggalkan rumah dan tidak kembali Oleh karena itu, nyoya tua pun jatuh sakit dan tak sampai satu bulan nyonya tua pun meninggal Hamba berfirasat Tuan muda akan pu-lang, maka tetap tinggal di sini, Hari ini. Tuan muda sudah pulang."

"Aaaakh. !" keluh Bee Kun Bu dengan air mata berderai,

namun masih menahan isak tangisnya.

Pek Yun Hui yang berdiri di sisinya, tahu bahwa Bee Kun Bu saat ini sangat berduka sekali, itu pasti akan merusak hawa murninya, Maka ia segera menaruh telapak tangannya di punggung Bee Kun Bu, dan sekaligus menyalurkan hawa murninya.

seketika juga Bee Kun Bu menarik nafas panjang, talu menangis tersedu-sedu, itu memang baik sekali bagi Bee Kun Bu untuk melampiaskan kedukaannya melalui tangisnya, Kalau tidak justru akan merusak hawa murni di dalam tubuhnya, sementara itu, jongos tua pun ikut menangis dengan sedih dan haripun mulai gelap.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Bee Kun Bu berhenti menangis. "Harap Kakak Tay sudi menunggu, aku harus ziarah ke makam ibuku!" ujarnya.

"Kini aku sudah berada di sini, tentunya aku pun harus ikut engkau pergi ziarah," sahut Pek Yun Hui sungguh-sungguh.

"Baiklah." Bee Kun Bu mengangguk, lalu berpesan pada jongos tua itu mempersiapkan keperluan sembah-yang, setelah itu, barulah mereka berangkat ke makam

Pek Yun Hui ikut sembahyang di depan makam ibu Bee Kun Bu. Usai sembahyang, hari pun sudah larut malam, maka mereka pun segera kembali ke rumah Bee Kun Bu itu.

Bee Kun Bu menyuruh jongos tua itu menyediakan beberapa macam hidangan dan arak untuk menjamu Pek Yun Hui.

Kini mereka berdua duduk berhadapan Bee Kun Bu mengangkat cangkirnya seraya berkata.

"Aku memberi hormat pada Kakak Tay dengan se-cangkir arak, setelah itu aku pun akan mencurahkan apa yang ada di benakku, mohon Kakak Tay memberi petunjuk padaku!"

"Baiklah," sahut Pek Yun Hui sambil mengangkat cangkirnya, "Mari kita minum!"

Mereka mulai meneguk minuman masing-masing, lalu menaruh kembali cangkir itu.

"Apa yang akan kukatakan seandainya terdapat kesalahan, aku mohon Kakak Tay sudi memaafkanku!" ujar Bee Kun Bu sambil menatap Pek Yun Hui.

"Katakan saja!" sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum "Lagi pula aku tidak akan mempersalahkanmu."

Bee Kun Bu menarik nafas dalam, berselang sesaat barulah berkata dengan suara rendah.

"Kakak Tay, aku ingin bertanya, kalau ada budi tidak dibalas, apakah itu adalah perbuatan orang sejati?" "ltu tentu bukan perbuatan orang sejati," sahut Pek Yun Hui dan tertegun "Kenapa engkau bertanya demi-kian?"

"Kalau begitu harus bagaimana?" Bee Kun Bu balik bertanya.

"Kun Bu!" Pek Yun Hui menatapnya, "Curahkanlah apa yang tersimpan dalam benakmu!"

"Baiklah." Bee Kun Bu mengangguk "Akan kucurah-kan.,.,"

Tiba-tiba Pek Yun Hui memberi isyarat agar Bee Kun Bu diam, setelah itu ia pun memandang ke atas sambil pasang kuping.

Menyaksikan itu, Bee Kun Bu tahu bahwa Pek Yun Hui bereuriga di atap rumah ada orang, maka ia pun tertawa.

"Sui Goat San Cung merupakan perkampungan miskin, jarang pesilat yang mendatangi perkampungan ini.

Pereayalah! Di atap rumah tidak mungkin ada orang, mungkin itu suara ranting pohon yang tertembus angin."

Pek Yun Hui berkepandaian tinggi, bagaimana mungkin ia akan salah dengar? Hanya saja langkah ginkang orang yang di atap rumah amat dikenatnya, namun Bee Kun Bu mengatakan begitu, maka Pek Yun Hui pun tersenyum

"Kalau begitu, silakan melanjutkan!" ujarnya. sesungguhnya Pek Yun Hui tidak salah dengar, di atap

rumah memang ada seseorang. Bukan orang lain, dia adalah Hian Ceng Totiang, Ternyata Hian Ceng Totiang tidak kembali ke gunung Kun Lun, melainkan menyusul Bee Kun Bu ke Sui Goat San Cung, Ketika sampai di tempat tersebut, ia melihat rumah Bee Kun Bu agak terang, itu membuatnya merasa heran sehingga mengerahkan ginkangnya meloncat ke atap rumah, sungguh di luar dugaan, justru terdengar oleh Pek Yun Hui. Tapi Bee Kun Bu mengatakan begitu, itu membuat Hian Ceng Totiang yang di atap rumah tidak berani bergerak sama sekali. "Kini kerajaan sedang kacau, rakyat akan tertimpa malapetaka. itu entah harus bagaimana baiknya?" ujar Bee Kun Bu memulai dengan pokok pembicaraan

"Oh?" Pek Yun Hui tertawa dalam hati, karena sudah tahu maksud tujuan Bee Kun Bu. "Kenapa engkau berkata begitu? Mungkinkah mengandung suatu tujuan ter-lentu?"

"Tahukah Kakak Tay, siapa yang membebaskan diriku dari ruang batu itu?" tanya Bee Kun Bu mengalihkan pembicaraan

"Tentunya orang yang berkepandaian tinggi."

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Orang itu adalah guru Kakak Tay."

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut, "Pantas kepandaianmu bertambah maju, guruku pasti telah menurunkan kepandaiannya padamu."

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Guru Kakak Tay pun telah mengangkat diriku sebagai anak, dan sekaligus mewariskan kepadaku ilmu Kui Goan Pit Cek, namun. "

"Kenapa?"

"Beliau juga memberikan ku suatu masalah."

"Masalah apa?" tanya Pek Yun Hui sambil menatapnya "Bolehkah memberitahukan pada ku ?"

"Oleh karena itu, aku ajak kakak Tay ke mari," jawab Bee Kun Bu. Ternyata ayah angkat mewariskanku ilmu Kui Goan Pit Cek itu dengan suatu syarat.,.,"

"Syarat apa?" Pek Yun Hui pura-pura heran.

"Syarat itu yakni mengharuskan aku membujukmu kembali ke istana, itu demi kerajaan dan rakyat Kalau Kakak Tay bersedia kembali ke istana, berarti aku telah membalas budi kebaikan ayah angkatku." "Seandainya aku tidak mau kembali ke istana, engkau harus bagaimana?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Aku akan bunuh diri," sahut Bee Kun Bu tegas. "Oh?" Pek Yun Hui tertawa. "Aku bertambah tidak

mengerti, kenapa karena urusan itu engkau mau bunuh diri?"

"Sebab aku merasa malu terhadap ayah angkat karena tidak bisa membujukmu kembali ke istana, Oleh karena itu, aku pun harus mati," jawab Bee Kun Bu. "Sebab Kakak adalah putri kaisar, dan kini kerajaan sedang kacau, maka Kakak harus kembali ke istana untuk membantu kaisar."

Hian Ceng Totiang yang di atap rumah itu terkejut bukan main. ia sama sekali tidak menyangka kalau Pek Yun Hui adalah putri kaisar Hian Ceng Totiang pun tampak cemas, sebab kalau Pek Yun Hui kembali ke istana, siapa yang akan menghadapi Souw Peng Hai nanti?

"ltu adalah perintah dari guru, tentunya aku tidak berani menolak," ujar Pek Yun Hui serius, "Namun guruku mengutusmu untuk membujukku, pasti ada sesuatu di balik itu. Bolehkah engkau menjelaskan ?"

"Ayah angkatku ragu akan dirinya sendiri Apabila beliau tidak bisa membujuk Kakak Tay, bukankah urusan akan jadi kacau balau? Oleh karena itu, beliau mengutus-ku untuk membujukmu."

"Oooh!" Pek Yun Hui tersenyum. "Aku tahu guru tidak berani mendesakku, lagi pula guru sangat menuruti-ku!"

"Kalau begitu, Kakak Tay akan kembali ke istana?" tanya Bee Kun Bu penuh harapan.

Pek Yun Hui menggelengkan kepala, itu sungguh di luar dugaan Bee Kun Bu, cepat-cepat Bee Kun Bu mengangkat sebelah tangannya dan diarahkan pada ubun-ubun kepalanya.

"Aku malu terhadap ayah angkatku, lebih baik aku mati sekarang saja!" ujarnya dan sekaligus memukul ubun-ubunnya sendiri Akan tetapi, secepat kilat Pek Yun Hui menyentilkan telunjuknya, dan seketika juga tangan Bee Kun Bu tidak bisa bergerak

"Engkau adalah lelaki, kenapa begitu tak berguna?" bentak Pek Yun Hui. "Tidak bisa membujukku kembali ke istana, malah mau bunuh diri! itu adalah perbuatan pengecut!"

"Aku tahu, namun aku merasa malu pada ayah angkatku, Karena beliau yakin aku pasti berhasil membujukmu tapi. "

"Hmm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Kalau engkau bunuh diri, berarti engkau tidak berani bertanggung-jawab! sifatmu yang meremehkan nyawa sendiri, bagaimana engkau kelak?"

Bee Kun Bu membungkam. Pek Yun Hui menatapnya dan melanjutkan dengan wajab serius.

"Lagi pula guruku tahu aku tidak akan kembali ke istana, Kalau aku menurutimu kembali ke istana, bagaimana engkau menjawab kalau guruku bertanya padamu?" Pek Yun Hui menarik nafas, "Engkau harus tahu, ini bukan urusan kecil, tapi urusan besar yang harus kupikirkan matang-matang."

Bee Kun Bu tetap diam, ia tahu dirinya telah bersalah tadi, sebab ia mengambil keputusan membunuh diri, itu sama juga mengancam Pek Yun HuL

"Dan juga. " tambah Pek Yun Hui. "Kedua orang tuamu

cuma punya satu anak. walau ibumu telah meninggal, tapi masih ada ayahmu, yang menjadi rahib sekarang, seandainya engkau mati tadi, siapa yang akan menyambung keturunan lagi? Engkau sungguh tidak berpikir sama sekali, hanya tahu mendesakku kembali ke istana, sama sekali tidak memikirkan yang lain."

Perlahan-lahan Bee Kun Bu mendongakkan kepala sambil memandang Pek Yun Hui yang kebetulan juga sedang memandangnya. Begitu dingin tatapan Pek Yun Hui dan tampak amat emosi, sehingga membuat Bee Kun Bu terkejut dan membatin Aku sungguh bodoh, Kakak Tay begitu teliti menghadapi suatu masalah, sedangkan aku begitu ceroboh, sekarang aku harus hati-hati mem-bujuknya, Setelah membatin, Bee Kun Bu berkata.

"Aku kurang berpengalaman harap Kakak Tay sudi memberi petunjuk padaku!"

"Biar bagaimana pun, aku tetap seorang putri kaisar Kini kerajaan dalam bahaya, tentunya aku harus memikirkan itu," sahut Pek Yun HuL

Ucapan itu membuat Bee Kun Bu girang sekali, karena Pek Yun Hui sudah berniat kembali ke istana.

Terimakasih, Kakak Tay!" ucapnya.

Kini Pek Yun Hui yang diam. Bee Kun Bu menatapnya seraya berkata.

"Tadi aku telah berbuat salah, mohon Kakak Tay sudi memaafkan diriku!"

"Engkau harus ingat!" ujar Pek Yun Hui. "Walau aku mengabulkan untuk kembali ke istana, engkau jangan bergembira du!u!"

"Kenapa?" Bee Kun Bu heran.

"Kita harus bersikap agar guruku tidak bereuriga apa pun," sahut Pek Yun Hui sambil menarik nafas, "Maka masih harus menunggu waktu, sebab urusan ini menyangkut Adik Siao Tiap dan Adik Loan. Oleh karena itu, aku harus pikir baik-baik agar tidak menimbulkan masalah lain."

Bee Kun Bu cuma mengangguk, padahal ia tidak begitu mengerti maksud ucapan Pek Yun Hui karena Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan terkait ke dalam pula. Yang mengerti adalah Hian Ceng Totiang yang di atap rumah itu. ia kagum sekali pada Pek Yun Hui yang berpikiran panjang.

"Urusan kerajaan memang penting, tapi urusan Souw Peng Hai pun tak kalah penting, Menurut aku, dia pasti akan ke seberang laut untuk mengundang beberapa tokoh tua dari golongan hitam guna membantunya, Maka kita menggunakan kesempatan ini untuk ke seberang laut dulu, kita menyelidiki beberapa iblis itu, Apabila perlu, kita basmi dulu iblis-iblis itu, agar engkau lebih leluasa menghadapi Souw Peng Hai.

Setelah itu, barulah aku kembali ke istana, Tentunya guruku tidak akan bereuriga lagi, sebab akan mengira dalam perjalanan ke seberang laut, engkau terus-menerus membujukku."

"Benar." Bee Kun Bu tertawa gembira, Tapi... dengan ilmu apa Kakak Tay menyerangku tadi, kenapa aku tidak dapat menghindari

"Aku menggunakan senjata rahasia yang disebut Toh Meng Sin Cin (Jarum Sakti pencabut nyawa), maka engkau tidak dapat menghindarinya, Aku sudah mengambil keputusan untuk mengajarmu menggunakan senjata rahasia itu sebelum aku kembali ke istana, Senjata itu dapat kau gunakan ketika berhadapan dengan Souw Peng Hai."

"Terimakasih, Kakak Tay!"

"Kun Bu!" Pek Yun Hui menatapnya, "Kita berdua belum lama berkecimpung di dalam rimba persilatan, maka kita tidak tahu jelas tentang iblis-iblis yang ber-mukim di seberang laut itu, Lalu kita harus bagaimana menyelidikinya?"

"Guruku Hian Ceng Totiang pernah menyinggung tentang para iblis itu, tapi pada waktu itu aku masih kecil, sudah tidak ingat lagi," ujar Bee Kun Bu.

"Kalau begitu, aku harus mengundang gurumu itu ke mari." Pek Yun Hui tersenyum sambil memandang ke atas, "Totiang sudah lama berada di atap rumah, kenapa masih belum mau turun untuk bereakap-cakap?"

Bee Kun Bu terbelalak dan segera memandang ke atas, Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa panjang dan tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, Hian Ceng Totiang sudah berdiri di hadapan mereka, . "Nona Pek berpendengaran tajam, aku kagum se-kali," ujar Hian Ceng Totiang sambil tersenyum.

"Guru!" Bee Kun Bu langsung memberi hormat dengan wajah berseri

"Kun Bu!" Hian Ceng Totiang tersenyum lembut "KJni engkau sudah memiliki kepandaian tingkat tinggi, baik-baiklah mempergunakan kepandaianmu itu!"

"Ya, Guru." Bee Kun Bu mengangguk

Pek Yun Hui juga memberi hormat pada Hian Ceng Totiang, lalu mempersUakannya duduk.

"Aku yakin Totiang sudah mendengar pembicaraan kami.

Kami berdua berniat berangkat ke seberang laut, tapi tidak tahu jelas tentang para iblis itu, harap Totiang sudi menjelaskannya," ujar Pek Yun Hui.

"Aku akan menjelaskan tapi mari kita duduk!" Hian Ceng Totiang tersenyum "Sebab cukup waktu untuk menjelaskan tentang para iblis itu."

Pek Yun Hui mengangguk lalu duduk, begitu juga Hian Ceng Totiang, namun Bee Kun Bu masih tetap berdiri.

"Kun Bu, duduklah! jangan terus berdiri!" kata Hian Ceng Totiang.

"Terimakasih, Guru!" Bee Kun Bu duduk.

"Mengenai para iblis seberang laut itu, kalau diceritakan memang cukup panjang," ujar Hian Ceng Totiang sambil memandang Pek Yun Hui. Tidak lama lagi Nona Pek akan kembali ke istana, Agar gurumu tidak bereuriga, bukankah lebih baik untuk sementara ini tinggal di suatu tempat, setelah itu baru kembali ke istana, jadi tidak perlu berangkat ke seberang laut."

Mendengar itu, Bee Kun Bu sudah tahu, bahwa para iblis itu amat lihay, maka Hian Ceng Totiang berkata begitu. "Terimakasih atas perhatian Totiang, namun Totiang harus tahu bahwa Souw Peng Hai pernah terluka olehku dan kini dia masih berniat memunculkan diri di rimba persilatan Tentunya dia akan minta bantuan pada beberapa iblis itu, Bagaimana menurut Totiang?"

"Aku pun berpendapat seperti Nona Pek," Hian Ceng Totiang manggut-manggut, "Namun beberapa iblis itu berkepandaian amat tinggi, lagi pula jarang berhubungan dengan partai-partai yang ada di daratan tengah. Kalau Souw Peng Hai minta bantuan pada mereka, belum tentu mereka akan mengabulkan Oleh karena itu, Nona Pek dan Kun Bu tidak perlu berangkat ke seberang laut."

Totiang mengatakan para iblis itu berkepandaian amat tinggi, justru membuat diriku ingin bertarung dengan mereka," ujar Pek Yun Hui sambil tersenyum dingin "Pada waktu Giok Cin Cu terkena racun ular, Sao Kong Gie juga menyinggung Kui Tay Ciok Si dengan air muka berubah, Totiang pun pernah berkunjung ke kuil itu, para Hweeshio di sana rata-rata memiliki kepandaian tinggi, tapi akhirnya semuanya menghilang, Kini aku punya waktu senggang, ini adalah kesempatanku untuk menyelidiki beberapa iblis itu, maka aku harap Totiang sudi menceritakan tentang beberapa iblis itu!"

"Baiklah." Hian Ceng Totiang mengangguk "Namun aku tidak tahu jelas semua iblis itu, hanya satu dua iblis saja, Harap Nona Pek jangan merasa kurang puas men- dengarnya."

"Terimakasih, Totiang!" ucap Pek Yun Hui sambil tersenyum

"Kalau membicarakan tentang para iblis di seberang laut itu, harus dimulai dari tiga ratusan tahun yang lampau," ujar Hian Ceng Totiang dan menarik nafas panjang, "Pada waktu itu, sembilan partai besar bertanding silat di Sao Sit Hong.

Satu sama lain tidak mau saling mengalah. Akan tetapi, tiba- tiba terjadi suatu perubahan. "

"Perubahan apa?" tanya Pek Yun Hui. "Ketika mereka sedang bertanding, mendadak muncul seorang yang berkepandaian amat tinggi dan mencegah pertumpahan darah itu," jawab Hian Ceng Totiang.

"Siapa orang yang berkepandaian amat tinggi itu?" tanya Pek Yun Hui lagi.

"Orang itu,.,." Hian Ceng Totiang tersenyum "... boleh dikatakan punya hubungan dengan Nona Pek,"

"Oh?" Pek Yun Hui terbelalak "Apakah orang itu adalah penulis kitab Kui Goan Pit Cek itu?"

"Benar." Hian Ceng Totiang mengangguk "Orang aneh itu bersama Sam Im Sin Ni, menulis kitab Kui Goan Pit Cek."

"Orang aneh itu adalah Thian Ki Cinjin?" Pek Yun Hui menatap Hian Ceng Totiang.

"Tidak salah, orang aneh itu adalah Thian Ki Cinjin KemuncuIannya pada masa itu cukup menggusarkan beberapa partai besar, sebab Thian Ki cinjin mencegah pertandingan itu. otomatis menggusarkan lima ketua partai, karena itu, Thian Ki Cinjin pun menantang mereka bertanding ia seorang diri dengan tangan kosong bertarung dengan kelima ketua itu, Tak sampai lima ratus jurus, kelima ketua partai itu telah dikalahkan Oleh karena itu, Thian Ki Cinjin dicap sebagai jago nomor satu di kolong langit Setelah itu, rimba persilatan pun aman dan damai sepuluh tahun lamanya, Namun tidak disangka, itu justru membuat beberapa orang mati-matian berlatih ilmu silat."

"Siapa orang-orang itu dan bagaimana hasil latihan mereka?" tanya Pek Yun Hui ingin mengetahuinya

"Mereka adalah murid Tiam Cong, Hwa San dan Khong Tong Pay. Pada masa itu, partai Khong Tong baru menerima seorang murid yang dipanggil Thai Ik, yang berbakat alam, Ketika melihat partai Khong Tong mengalami kekalahan, dia amat gusar namun tidak bisa berbuat apa-apa, Dia menyaksikan Thian Ki Cinjin mengalahkan para ketua partai dengan tangan kosong, maka diapun bertekad memperdalam ilmu silatnya, Oleh karena itu, dia meninggalkan partai Khong Tong."

"Apakah Thai Ik telah melupakan budi gurunya?" tanya Bee Kun Bu.

"Dia meninggalkan partai Khong Tong memang salah, tapi sebetulnya dia berniat baik," jawab Hian Ceng Totiang, "Setelah dia meninggalkan partai Khong Tong, ketua partai itu pun mengumumkan bahwa Thai Ik adalah murid murtad, Sungguh di luar dugaan, Thai Ik justru berhasil memperdalam ilmu silatnya, Karena ketua partai Khong Tong telah mengumumkan bahwa dia adalah murid murtad, maka dia pun mendirikan partai Pit Sia Kiong di luar perbatasan Dia sendiri tergolong orang yang tidak lurus dan tidak sesat Para muridnya turun-temurun jarang memasuki daratan tengah."

"Hingga kini sudah tiga ratus tahunan, mungkinkah Thai Ik masih hidup?" tanya Pek Yun Hui tidak pereaya.

"Dua ratus tahun lampau, Thai Ik sudah meninggal, namun partai Pit Sia Kiong masih tetap berdiri di luar perbatasan Ketika berhasil memperdalam ilmu silatnya, dia pun pernah memasuki daratan tengah mendatangi partai Khong Tong, Dia pun menantang beberapa paman gurunya dan berhasil mengalahkan mereka, Sejak itu, kaum rimba persilatan tahu bahwa partai Khong Tong punya pesilat yang begitu tangguh."

"Maksud Totiang luar perbatasan itu adalah di seberang laut sana?" tanya Pek Yun Hui.

"Ya." Hian Ceng Totiang mengangguk.

"Setelah Thai Ik berhasil memperdalam ilmu silatnya, seharusnya dia pergi menantang Thian Ki Cinjing, atau menantang delapan partai besar, Kenapa dia malah menantang mantan paman gurunya?" tanya Pek Yun Hui tidak mengerti "Mengenai itu, paman gurunya pun bertanya begitu. Thai Ik menjawab bahwa ia tidak tahu Thian Ki Cinjin berada di mana. Dia menantang ketua partai Khong Tong dan paman gurunya karena dirinya dicap sebagai murid murtad, justru sungguh di luar dugaan, dia mampu mengalahkan ketua partai Khong Tong dan paman gurunya, sekaligus mempermalukan partai Khong Tong."

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut. "Sesungguhnya. " Lanjut Hian Ceng Totiang, Thai Ik

meninggalkan partai Khong Tong dengan niat baik, yaitu ingin

memperdalam ilmu silatnya demi partai Khong Tong, Namun ketua partai itu malah mengumumkan bahwa dia adalah murid murtad, sehingga membuatnya amat sakit hati Oleh karena itu, dia menantang ketua partai itu dan paman gurunya, Setelah mengalahkan mereka, Thai Ik pun menghilang. sedangkan Thian Ki Cinjin dan Sam Im Sin Ni bertarung mati- matian, akhirnya jadi teman dan menulis kitab Kui Goan Pit Cek. Tak lama mereka berdua pun meninggal dan Thai Ik pun tidak pernah kembali kedaratan tengah, Akan tetapi, secara diam-diam Thai Ik menyuruh para muridnya menculik kaum wanita untuk di bawa ke Pit Sia Kiong. Walau secara diam- diam, akhirnya tersiar juga tentang hal itu, maka kaum Bu Lim mengetahui adanya Pit Sia Kiong itu."

"Di daratan tengah ini banyak terdapat kaum pendekar apakah tiada seorang pendekar yang berani melawan Pit Sia Kiong?" tanya Pek Yun Hui yang amat membenci penjahat

"Ketika Thai Ik masih hidup, partai Khong Tong menghubungi delapan partai besar lainnya untuk membasmi Pit Sia Kiong, Delapan partai itu setuju dan segera bergabung, maka berangkatlah empat ribu orang lebih menuju ke Pit Sia Kiong untuk memusnahkan Pit Sia Kiong itu, Akan tetapi. M

Hian Ceng Totiang menarik nafas panjang. "Setelah berangkat, empat ribu orang lebih itu pun tidak pernah kembali lagi, mereka semua tewas di Pit Sia Kiong, Sejak itu, tiada seorang pun yang berani coba-coba ke Pit Sia Kiong lagi, dan lama kelamaan Pit Sia Kiong itu pun dilupakan orang." Tadi Totiang bilang, partai lain juga terdapat murid yang bertekad memperdalam ilmu silat mereka, bagaimana dengan mereka itu?"

"Memang masih terdapat dua orang, hanya saja kedua orang itu pergi ke tempat yang amat jauh."

"Sudikah Totiang menceritakan tentang mereka berdua itu?"

"Partai yang terkuat dalam pertandingan di Sao Sit Hong adalah partai Siauw Lim dan Bu Tong." Hian Ceng Totiang memberitahukan "Pada masa itu, di dalam kuil Siauw Lim terdapat seorang padri bergelar Pek Lui Siangjin, beliau adalah ketua ruang Tatmo, juga termasuk tenaga inti partai Siauw Lim. Akan tetapi, ketika menyaksikan Thian Ki Cinjin memiliki kepandaian yang begitu tinggi, padri itu pun langsung meninggalkan Sao Sit Hong dan tiada seorang pun tahu padri itu ke mana, Namun kemudian barulah diketahui bahwa padri itu berangkat ke Lam Hai (Laut Selatan) PuIau Thoa Khong To. Di sana padri itu berhasil memperdalam ilmu silatnya, Oleh karena itu, partai Siauw Lim dibagi Siauw Lim utara dan Siauw Lim Selatan.

"Setelah Pek Lui Siangjin pergi, bagaimana isyu dalam rimba persilatan mengenai padri itu?" tanya Bee Kun Bu.

"Karena kalian berdua amat tertarik, maka aku pun akan menceritakannya agar kalian mengetahuinya." Hian Ceng Totiang tersenyum.

Terimakasih, Guru!" ucap Bee Kun Bu.

"Bagaimana Pek Lui Siangjin meninggalkan Sao Sit Hong dan bagaimana berangkat ke Lam Hai, memang banyak isyu tentang itu." Hian Ceng Totiang memberitahukan "Ketika menyaksikan Thian Ki cinjin mampu mengalahkan kelima ketua partai, seketika juga Pek Lui Siangjin meninggalkan Sao Sit Hong. Padri itu justru telah melupakan satu hal, yakni tiada perintah dari ketua, berarti bertindak atas kemauan sendiri Namun kemudian mendadak Pek Lui Siangjin itu kembali ke kuil Siauw Lim. Terayata dia teringat akan peraturan dan disiplin partai Siauw Lim yang sangat ketat itu."

Tentunya padri itu mendapat hukuman, maka langsung kabur, kan?" tanya Pek Yun Hui.

"Dugaan Nona Pek salah!" Hian Ceng Totiang menggelengkan kepala, "Yang jelas padri itu memang kembali ke kuil Siauw Lim, namun sama sekali tidak menemui ketua Siauw Lim, Ku In Siansu, bahkan juga tidak pernah membaca doa. Padri itu seperti kesurupan, setiap hari cuma berjalan mondar-mandir sambil mengoceh Tanpa sengaja sepasang kakinya membawa dirinya ke ruang sembahyangan, padri itu terus mengoceh "Di luar langit masih ada langit, di luar orang masih ada orang", ocehannya membuat seorang pria yang sedang sembahyang langsung menyahut "Apa yang disebut langit? Apa yang disebut orang?" Sahutan itu membuat padri tersebut tersentak sadar, dan segera pergi."

"Kenapa sahutan itu membuat padri tersebut pergi?" tanya Bee Kun Bu tidak mengerti

"Pek Lui Siangjin berkepandaian tinggi, pelajaran Buddha pun sudah dalam," jawab Hian Ceng Totiang, "Sebelum pergi, padri itu masih sempat mendengar pria itu berkata, "Langit adalah langit, orang adalah orang, Langit itu kosong, orang berisi berbagai pikiran Langit kosong tapi tinggi tak terukur Orang dapat mengosongkan pikiran, berarti dapat mencapai kesempurnaan setelah mendengar itu, Pek Lui Siangjin tertawa panjang, lalu meninggalkan kuil Siauw Lim."

"Totiang!" Pek Yun Hui tampak bingung, "Bukankah tadi Totiang bilang padri itu berangkat ke Lam Hai dan berhasil memperdalam ilmu silatnya? Tapi kenapa...?"

"Setelah Pek Lui Siangjin pergi, ketua Siauw Lim pun mengutus beberapa muridnya untuk mencarinya." ujar Hian Ceng Totiang. "Apakah para murid Siauw Lim itu berhasil menemukan jejak padri itu?" tanya Bee Kun Bu.

"Kun Bu!" Hian Ceng Totiang tersenyum "Tahukah engkau berapa lama para murid Siauw Lim mencari padri itu?"

Bee Kun Bu menggelengkan kepala.

"Hampir dua puluh tahun, namun selama itu tiada kabar beritanya." Hian Ceng Totiang memberitahukan

"Kalau begitu, kenapa kemudian bisa tahu padri itu berada di Thao Khong To di Lam Hai?" tanya Pek Yun Hui heran

"Dua tahun kemudian, ketua Siauw Lim meninggal SebuIan setelah ketua Siauw Lim meninggal mendadak muncul seorang gadis cantik jelita menyatakan ingin bertemu ketua Siauw Lim, Namun gadis itu ditahan tidak boleh masuk, sebab kuil Siauw Lim memang melarang para padri melayani tamu wanita, Gadis itu segera menyerahkan sepucuk surat, tapi para padri itu tidak mau menerimanya, maka gadis tersebut sangat gusar dan terjadilah pertarungan Sungguh di luar dugaan, para padri itu tidak mampu melawan gadis tersebut.

Ketua Siauw Lim yang baru segera keluar Gadis itu pun langsung menyerahkan surat yang dibawanya kepada ketua Siauw Lim yang baru, Setelah membaca surat itu, barulah mengetahui bahwa gadis itu adalah murid Pek Lui Siang-j'in, Di dalam surat itu pun mengatakan bahwa padri tersebut berada di Thao Khong To di Lam Hai, maka ketua Siauw Lim mengutus beberapa muridnya berangkat ke sana, Di saat itu pula, ketua Siauw Lim mengumumkan bahwa partai Siauw Lim dibagi menjadi Siauw Lim Utara dan Siauw Lim Selatan, Siauw Lim Selatan boleh menerima murid yang tidak mau jadi Hweeshio."

"Kalau begitu, kenapa pihak Thao Kong To disebut iblis di seberang laut?" tanya Bee Kun Bu.

"ltu disebabkan generasi keempat telah menerima seorang murid wanita yang amat cantik, namun murid wanita itu berhati jahat, sehingga pulau Thao Khong To dijadikan pulau iblis, Sejak itu, pulau Thao Khong To pun putus hubungan dengan partai Siauw Lim. partai Siauw Lim pernah mengutus beberapa murid handal untuk membekuk wanita iblis ilu, namun mereka semua gagal karena tidak mampu melawan wanita iblis tersebul." Hian Ceng Totiang menambahkan, "Walau para murid wanita iblis itu tidak begitu jahat, namun pulau Thao Khong To tetap di cap sebagai pulau iblis."

"Kalau begitu. " Pek Yun Hui mengernyitkan ke-ning,

"Pihak Thao Khong To pasti masih mendendam partai Siauw Lim, karena para murid Siauw Lim pernah menyerbu ke sana, Maka kalau Souw Peng Hai minta bantuan pada pihak Thao Khong To, aku yakin pihak itu pasti bersedia membantunya, Kini Totiang telah menceritakan tentang Pit Sia Kiong dan Thao Khong To, apakah masih ada iblis lain yang bermukim di seberang laut?"

"Memang ada." Hian Ceng Totiang mengangguk Tapi itu cuma merupakan kabar burung. Benar atau tidak, aku tidak berani memastikannya. Kalau tidak salah, guru iblis itu juga berasal dari daratan tengah."

"Siapa iblis itu?" tanya Pek Yun Hui. "Bolehkah Totiang memberitahukan ?"

Tentu, Sebab semua itu menyangkut keselamatan rimba persilatan masa kini, maka aku harus menjelaskannya." Hian Ceng Totiang meneguk minumannya, lalu melanjutkan iblis itu berasal dari partai Bu Tong, dia adalah Cing Ko Hong, Ketua Bu Tong masa itu mewariskan kepandaiannya kepada Ling It Ho, bukan pada Cing Ko Hong. Betapa gusarnya Cing Ko Hong, akhirnya dia meninggalkan gunung Bu Tong, Dia menetap di gunung Swat Ling San memperdalam ilmu silatnya, dan dia pun bersumpah tidak akan kembali ke daratan tengah."

"Benarkah Cing Ko Hong tidak kembali ke daratan tengah?" tanya Bee Kun Bu yang tertarik akan cerita itu, "Sebetulnya Cing Ko Hong memperdalam ilmu silatnya, tujuannya adalah bertarung dengan Ling It Ho. Akan tetapi, sepuluh tahun kemudian, kepandaiannya telah mencapai tingkat yang amat tinggi, justru membuatnya tiada ambisi lagi. Cing Ko Hong khawatir ilmu silatnya tiada yang mewarisinya, maka dia pun menerima dua orang murid, Siapa sangka, kedua muridnya akhirnya berubah sepasang iblis yang amat ganas."

"Kedua murid Cing Ko Hong pernah memasuki daratan tengah?" tanya Pek Yun Hui.

"Pernah, Mereka berdua ke gunung Bu Tong dengan maksud ingin bertanding dengan Ling It Ho, namun mereka terlambat karena Ling It Ho telah meninggal Ling It Ho punya seorang putri angkat bernama Ling Bu Ki. Ketika kedua murid Cing Ko Hong sedang bertanding dengan ketua Bu Tong, gadis itu pun memunculkan diri melawan kedua murid Cing Ko Hong, Sungguh di luar dugaan, kedua murid Cing Ko Hong justru jatuh hati pada gadis tersebut, belum bertanding mereka berdua segera memngalkan gunung Bu Tong kembali ke gunung Swat Ling San.

Bagaimana Ling Bu Ki itu, tiada seorang pun tahu, Seratus tahun kemudian, di daratan tengah muncul seorang tabib sakti, Beliau pergi mencari rumput obat, tanpa sengaja memasuki gunung Swat Ling San. Namun tabib sakti itu dipukul orang di gunung Swat Ling San, sehingga nyawanya nyaris meIayang. Tabib sakti itulah yang menceritakan tentang Swat Ling San yang merupakan sarang iblis."

"Siapa tabib sakti itu?" tanya Hian Ceng Totiang. "Dan siapa pula iblis yang bermukim di Swat Ling San?"

Tabib sakti itu adalah guru Sao Kong Gie," jawab Hian Ceng Totiang. "Sejak pulang dari gunung Swat Ling San dalam keadaan luka parah, sejak itu pula tabib sakti tersebut sama sekali tidak mau membicarakan ilmu silat, bahkan juga tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan Beberapa tahun kemudian, tabib sakti itu pun meninggal Setelah tabib itu meninggal, tersiar pula berita tentang iblis yang bermukim di gunung Swat Ling San."

"Kalau begitu, Souw Peng Hai pasti berusaha minta bantuan pada para iblis itu, Maka dia berani berniat muncul di rimba persilatan lagi," ujar Pek Yun Hui dan bertanya, Totiang, apakah masih ada iblis lain?"

"Mungkin ada, namun aku tidak mengetahuinya," sahut Hian Ceng Totiang.

"Apa yang kubicarakan pada Kun Bu, mungkin Totiang telah mendengar semua," ujar Pek Yun Hui. "Agar tidak menimbulkan kecurigaan guruku, maka aku pun mengajak Kun Bu ke seberang laut untuk menyelidiki para iblis itu.

Apakah Totiang mengizinkan Kun Bu berangkat bersamaku?"

"Aku tidak berkeberatan, namun kalian berdua harus berhati-hati dan cepat pulang," sahut Hian Ceng Totiang, "Aku pun akan bermohon pada ketua partai Kun Lun, agar Kun Bu diterima sebagai murid Kun Lun lagi,"

"Terimakasih, Guru!" ucap Bee Kun Bu, "Setelah urusan Souw Peng Hai beres, Kun Bu pasti kembali ke gunung Kun Lun."

"Engkau selalu terjerat asmara, guru sudah tahu itu, ujar Hian Ceng Totiang sambil menatapnya, "Maka engkau harus berhati-hati dalam hal itu, dan harus pula menurut pada Nona Pek!"

"Ya, Guru!" Bee Kun Bu mengangguk

"Guru dapat berlega hati, karena engkau berangkat bersama Nona Pek," ujar Hian Ceng Totiang, "Namun Lie Ceng Loan, adik seperguruanmu itu selalu ingat pada mu. Guru harap engkau dapat membawa diri, jangan gampang tergoda!"

"Totiang tidak usah khawatir!" Pek Yun Hui tersenyum, "Bee Kun Bu adalah pemuda yang selalu menjaga diri. Ka!au Totiang tidak menolak, aku undang Totiang tinggal di gua Thian Ki menemani Adik Loan."

"Menurut aku, lebih baik kalian kembali ke Kwat Cong San untuk memberitahukan pada Nona Siao Tiap dan Anak Loan, agar mereka tidak mengkhawatirkan kalian," usul Hian Ceng Totiang.

"Aku memang bermaksud begitu, namun itu akan menyita waktu," ujar Pek Yun Hui, "Bukankah lebih baik Totiang yang memberitahukan pada mereka, bahwa kami masih ada urusan lain, tidak begitu cepat pulang."

"ltu tidak jadi masalah, tapi bukankah akan mengecewakan Nona Siao Tiap dan Anak Loan?"

"Memang, namun demi mempersingkat waktu, kami harus segera berangkai kata Pek Yun Hui, "Sebelum berangkat ke seberang laut, kami akan mampir di Toan Hun Ya untuk menengok Souw Hui Hong, setelah itu baru menuju ke seberang laut."

"Baiklah." Hian Ceng Totiang mengangguk "Para iblis di seberang laut amat tinggi kepandaian mereka, lagi pula licik, Kalau kalian berdua terjadi sesuatu di seberang laut, cara bagaimana memberi kabar padaku?"

Pek Yun Hui diam, tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. justru Bee Kun Bu yang mengemukakan pendapat

"Kakak! Sin Hok Hian Giok dapat terbang ribuan mil sehari, kalau kita terjadi sesuatu, bukankah dapat minta bantuan Sin Hok untuk memberi kabar?"

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk "Kalau begitu, kita harus mengajak Sin Hok menemani kita."

"Bagus." Hian Ceng Totiang tersenyum. "Kini hari sudah hampir terang, agar tidak membuang waktu, lebih baik aku berangkat sekarang menuju Kwat Cong San."

"Selamat jalan, Totiang!" ucap Pek Yun Hui. "Selamat jalan, Guru!" ucap Bee Kun Bu.

Setelah Hian Ceng Totiang pergi, Ah Liok, jongos tua itu pun muncul lalu menghampiri Bee Kun Bu.

"Tuan muda mau sarapan pagi?" tanyanya.

"Ah Liok!" Bee Kun Bu menatapnya. "Tidak usah repot- repot. Sebab aku dan Nona Pek mau berangkat sekarang."

"Tuan muda. " Mata jongos tua itu mulai basah, "Kok

cepat mau pergi?"

"Kami ada urusan penting, harus segera berangkat," jawab Bee Kun Bu dan berpesan "Ah Liok baik-baik menjaga rumah ini, kalau aku sempat pasti pulang!"

"Tuan Muda.,.," Air mata Ah Liok mulai bereucuran "Kun Bu, mari kita berangkat!" ajak Pek Yun Hui.

"Ah Liok!" ucap Bee Kun Bu. "Selamat tinggal!" "Selamat jalan, Tuan muda! Selamat jalan, Nona

Pek!" ucap Ah Liok terisak-isak, "Hamba pasti baik-baik menjaga rumah ini. "

Bagian ke tujuh Bertemu Orang Aneh

Setelah meninggalkan Sui Goat San Cung, hari pun sudah siang, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui tidak berani menggunakan ginkang, karena tidak mau menarik perhatian orang.

"Kakak Tay!" ujar Bee Kun Bu sambil menarik nafas panjang, "Guru sangat baik terhadapku, entah harus bagaimana aku membalas kebaikannya?"

"Asal engkau dapat menegakkan keadilan dalam rimba persilatan, itu berarti engkau telah membalas budi kebaikannya," jawab Pek Yun Hui sambil tersenyum

"Benar." Bee Kun Bu manggut-manggut. "Kun Bu!" Pek Yun Hui menatapnya, "Tidak lama lagi kita akan sampai di sebuah sungai, bagaimana kalau kita naik perahu saja?"

"Naik perahu?" Bee Kun Bu tereengang.

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Kalau naik perahu, kita dapat menyaksikan keindahan alam."

"Baiklah." Bee Kun Bu tersenyum

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah sungai, kebetulan ada sebuah perahu berlabuh di tepi sungai itu.

Tuan mau menyewa perahu?" tanya tukang perahu yang berusia empat puluhan.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk "Bisakah antar kami ke selatan?"

"Bisa." Tukang perahu itu mengangguk Melihat Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui tidak membawa buntalan pakaian, ia yakin mereka berdua bukan orang biasa.

Bee Kun Bu segera memberikan kepada tukang perahu sepuluh tael perak, tentunya sangat menggirangkan tukang perahu itu.

"Silakan naik!" ucap tukang perahu.

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui melangkah ke dalam perahu, Tukang perahu pun segera mengayuh perahunya.

Berselang beberapa saat kemudian, hari pun mulai gelap.

Pek Yun Hui memandang ke langit, tampak bulan bersinar amat terang, ternyata malam bulan purnama.

"Kun Bu, betapa indahnya pemandangan di bawah sinar bulan purnama," ujar Pek Yun Hui.

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Memang indah sekali." "Bagaimana kalau kita suruh tukang perahu menyediakan arak, lalu kita minum di bawah sinar bulan purnama sambil mengobroI?" tanya Pek Yun Hui dengan wajah berseri.

Ketika melihat Pek Yun Hui begitu gembira, Bee Kun Bu pun setuju, dan segera menyuruh tukang perahu menyediakan arak.

Tukang perahu juga tampak gembira, maka ia buru-buru menyediakan arak untuk mereka berdua, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui segera meneguk arak itu.

"Apakah di dalam perahu ini ada Yang Khim (Se-macam alat musik)?" tanya Bee Kun Bu kepada tukang perahu.

"kebetulan sekali!" sahut tukang perahu sambil ter-tawa. "Di dalam perahuku ini memang ada Yang Khim."

"Bagus." Wajah Bee Kun Bu berseri, Tolong bawa ke mari!"

Tukang perahu langsung mengambil Yang Khim, lalu diberikan pada Bee Kun Bu, Setelah menerima alat musik itu, Bee Kun Bu pun menaruhnya ke hadapan Pek Yun Hui.

"Aku masih ingat, Kakak pernah main alat musik ini, bagaimana kalau Kakak mainkan lagi sekarang?"

"Baiklah, Tapi mungkin tidak enak didengar."

"Kakak jangan merendahkan diri, setahuku Kakak mahir main Yang Khim."

Pek Yun Hui tersenyum, kemudian mulai memainkan alat musik itu, dan terdengarlah suara Yang Khim yang amat merdu.

Bee Kun Bu mendengarkan dengan penuh perhatian Walau ia tidak mengerti musik, tapi justru mendengar dengan mulut ternganga lebar Berselang beberapa saat kemudian, barulah Pek Yun Hui berhenti, Ketika Bee Kun Bu baru mau memujinya, mendadak terdengar suara tawa panjang, menyusul terdengar pula suara lelaki yang agak parau.

"Sungguh menggetarkan kalbu suara Yang Khim itu! perahu mengapung di sungai, suara Yang Khim menggetarkan kalbu, tentunya orang luar biasa, Aku baru memasuki daratan tengah, ingin sekali cari teman, apakah tidak mengganggu kalian berdua?"

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui segera menoIeh, tampak seseorang berdiri di tepi sungai, mengenakan jubah hijau dan rambutnya sudah memutih.

"Kalau tidak mengganggu kalian berdua, aku ingin mengobrol dengan kalian." ujar orang tua itu, ia berdiri begitu jauh, tapi suaranya terdengar begitu jelas, pertanda orang tua itu berkepandaian tinggi.

Bee Kun Bu memandang Pek Yun Hui, sedangkan Pek Yun Hui diam saja, Kelihatan ia agak terkejut akan Iweekang orang tua itu. Bee Kun Bu mengira Pek Yun Hui tidak setuju, Ketika ia baru mau membuka mulut mencegah orang tua itu naik ke perahu, terdengarlah suara tawa panjang.

Ternyata orang tua itu yang tertawa, Kemudian tampak orang tua itu melesat ke arah perahu dengan jurus Sin Liong Jip Yun (Naga Sakti masuk ke awan), ia sudah berdiri di atas perahu tersebut Sungguh tinggi ginkangnya, diam-diam Bee Kun Bu memuji dalam hati.

"Maaf!" ucap orang tua itu sambil tersenyum "Secara lancang aku naik ke perahu kalian ini, harap kalian berdua sudi memaafkan kelancanganku!"

Pek Yun Hui menatap orang tua itu, kemudian memandang Bee Kun Bu seakan menyuruhnya menyahut

"Tidak apa-apa," ujar Bee Kun Bu sambil tersenyum. "Cianpwee siapa dan silakan ke mari mengobrol dengan kami!" "Aku Tan Cun Goan, tinggal di Swat Ling San." Orang tua itu memberitahukan. "Selama tiga empat puluhan tahun tiada kesempatan mengunjungi daratan tengah, kini sedang menuju ke utara, kebetulan bertemu kalian berdua, ini sungguh berjodoh."

Begitu mendengar orang tua itu dari Swat Ling San, hati Pek Yun Hui pun tergerak, maka ia cepat-cepat menyahut

"Aku she Pek, adik ini she Bee. Kebetulan Cianpwee datang dari Swat Ling San, maka aku ingin menanyakan seseorang pada Cianpwee."

Orang tua itu memandang Pek Yun Hui, ketika menyaksikan Pek Yun Hui begitu anggun, hatinya pun tergerak.

"Kalau aku tahu, aku pasti memberitahukan!"

"Aku dengar cerita orang, dulu ada seseorang berasal dari partai Bu Tong tinggal di Swat Ling San, hingga kini sudah lebih dari seratus tahun, apakah Cianpwee tahu tentang orang itu?" tanya Pek Yun Hui.

Setelah mendengar pertanyaan Pek Yun Hui, Tan Cun Goan langsung tampak serius dan sepasang matanya menyorot tajam.

"Kenapa Nona menanyakan tentang itu? Apakah Nona punya hubungan dengan partai Bu Tong?" tanya orang tua itu.

"Kami berdua tidak punya hubungan apa-apa dengan partai Bu Tong. Namun karena kami pernah dengar cerita tentang itu, dan juga Cianpwee datang dari Swat Ling San, maka Kakak Pek menanyakan itu dengan tidak sengaja," sahut Bee Kun Bu.

"Oooh!" Tan Cun Goan tersenyum, "Ternyata begitu, lebih baik kalian berdua jangan bertanya tentang itu. Dalam rimba persilatan, banyak terdapat budi dan dendam Malam ini amat indah, kenapa harus membicarakan itu yang mengotori keindahan malam bulan purnama? Alangkah baiknya kalau kita minum dan Nona Pek memainkan Yang Khim saja."

Bee Kun Bu tahu bahwa orang tua itu pasti punya kesulitan, maka tidak mau menceritakan tentang Swat Ling San.

"Apakah Cianpwee mahir memainkan Yang Khim?" tanya Bee Kun Bu.

"Mengerti sedikit," Tan Cu Goan tertawa.

"Kalau begitu, apakah Cianpwee sudi memperdengarkan suara Yang Khim itu?" Bee Kun Bu tersenyum.

"Baiklah." Orang tua itu tertawa gelak, kemudian mendadak menjulurkan kelima jarinya ke arah Yang Khim itu. seketika juga Yang Khim yang ada di hadapan Pek Yun Hui melayang ke arah orang tua itu. Dapat dibayangkan, betapa tingginya lweekang orang tua itu. 

Menyaksikan itu, wajah Bee Kun Bu tampak biasa, namun wajah Pek Yun Hui tampak agak berubah

Setelah Yang Khim itu berada di tangannya, Tan Cun Goan pun mulai memainkannya seraya membacakan sebuah syair

"Memetik tali Yang Khim mencurahkan isi hati, tersimpan tekad tapi tak terlaksanakan, berkelana ribuan mil, kapan kembali ke kampung halaman?"

Bee Kun Bu tidak begitu memperhatikan syair itu, sebaliknya Pek Yun Hui malah mendengarkan dengan penuh perhatian dan hatinya pun semakin tergerak, karena syair yang dibacakan orang tua itu mengandung suatu peringatan justru membuat Pek Yun Hui tidak mengerti, sehingga termangu-mangu.

"Orang tua itu memang aneh, kenapa memperingatkan kami? Apakah dia bermaksud mencegah kami menuju Swat Ling San?" tanya Pek Yun Hui dalam hati. Sesudah memainkan Yang Khim, Tan Cun Goan pun mengembalikan Yang Khim itu ke atas meja dengan cara mendorong disertai lweekang, maka Yang Khim itu melayang ke tempat semula di hadapan Pek Yun Hui.

"Maaf!" ucapnya sambil tersenyum "Aku kurang mahir memainkan Yang Khim."

"Cianpwee terlampau merendah," sahut Bee Kun Bu yang merasa kagum padanya.

"Kalau dibandingkan dengan Nona Pek, maka aku harus tahu diri," ujar Tan Cun Goan, "Karena Nona Pek ahli musik."

"Cianpwee berkepandaian tinggi, tapi justru tinggal di tempat sepi, apakah Cianpwee punya kesuIitan?" tanya Pek Yun Hui.

Orang tua itu menarik nafas panjang, kemudian memandang ke arah bulan purnama seraya bergumam

"Aku dapat mengelabui Saudara Bee, tapi tidak dapat mengelabui Nona Pek, Apabila dapat menyudahi sesuatu, lebih baik disudahi, Kalau tidak, itu akan menimbulkan suatu akibat."

"Cianpwee menasihati kami agar kembali ke kampung halaman, tahukah Cianpwee kenapa kami menuju selatan?" tanya Pek Yun Hui.

"Di Toan Hun Ya terdapat Souw Peng Hai yang amat lihay, ilmu Kan Goan Cihnya telah menciutkan nyali sembilan partai besar Namun dia kalah di tangan seorang gadis, tentunya gadis itu adalah Nona Pek Yun Hui, yakni adalah Nona sendiri, Tidak salah dugaanku kan?" Tan Cun Goan menatapnya.

Pek Yun Hui diam saja, sedangkan orang tua itu menatap Bee Kun Bu seraya berkata. "Kalau tidak sa!ah, engkau adalah Bee Kun Bu, murid Kun Lun Sam Cu. Tidak salah kan?"

"BetuI." Bee Kun Bu mengangguk "Tapi kok Cianpwee tahu perjalanan kami?"

Ttu harus dimulai dari Souw Peng Hai," jawab Tan Cun Goan sambil menarik nafas, "Setengah bulan yang lalu, Souw Peng Hai bersama Co Hiong, muridnya mengunjungi Swat Ling San menemui kami lima saudara, Dia menceritakan tentang keadaan rimba persilatan daratan lengah, bahkan juga memberitahukan pada kami bahwa ilmu Nona Pek bersumber dari kitab Kui Goan Pit Cek peninggalan Thian Ki Cinjin, maka dia membujuk kami ke daratan tengah untuk membalas dendam, Oleh karena itu, aku diutus ke daratan tengah untuk menyelidiki jejak Nona Pek. Tadi aku mendengar suara Yang Khim, timbullah dugaanku Nona adalah Pek Yun Hui."

"Kini Cianpwee sudah tahu bahwa aku adalah Pek Yun Hui, lalu Cianpwee akan bagaimana?" tanya Pek Yun Hui dingin.

"Sungguh beruntung aku bertemu di sini," jawab Tan Cun Goan sambil tertawa, "Lalu harus bagaimana? Malam ini sungguh indah, kenapa harus mengotori ke-indahannya?"

"Tadi Cianpwee sudah bilang, Souw Peng Hai mengunjungi Swat Ling San untuk minta bantuan, maka Cianpwee diutus kedaratan tengah untuk menyelidiki jejakku, sekarang aku sudah berada di hadapan Cianpwee, apakah Cianpwee akan melanggar perintah dari Swat Ling San?"

"Aku tahu Nona Pek berkepandaian tinggi, maka aku baru mau memperingatkan Nona. Untuk apa Nona Pek mencampuri urusan rimba persilatan? itu amat berbahaya dan tiada harganya bagi Nona Pek," ujar Tan Cun Goan.

"Cianpwee!" sela Bee Kun Bu. "Aku tidak mengerti, Cianpwee bilang Kakak Pek berkepandaian tinggi, tapi juga mengatakan akan berbahaya dan tiada harganya bagi Nona Pek, itu bagaimana menjelaskannya? Kalau pihak Swat Ling San bersedia membantu Souw Peng Hai untuk menyerbu kedaratan tengah, apakah kami harus berpeluk tangan?"