Badik Buntung Bab 29

 
Bab 29

“Ucapanku cukup sampai disini saja. Terserah apa yang hendak kalian lakukan!”

“Begitu pun baiklah,” ujar Hun Thian-hi sambil mengeluarkan seruling jadenya, “sebelum kau lepas kan Coh Jian-jo, kau pun takkan kulepaskan, Ingin kulihat apa yang berani kau perbuat atas dirinya.”

“Begitupun baik, akupun tidak perlu takut apa yang bakal kau lakukan terhadap diriku, memangnya kalau tidak bisa memperoleh Ni-hay-ki-tin aku sudah bertekad untuk mati. Tapi kau perlu berpikir dua belas kali, seumpama kau yang melakukan hal-hal itu dapatkah kau mengambil keuntungan? Jiwa Coh Jian-jo masih tergenggam dalam tanganku.” Habis berkata ia mandah bergelak tawa dengan sikap acuh tak acuh.

Hun Thian-hi jadi mati kutu. kalau orang sudah pasrah pada nasib dan menyerah dengan cara demikian, apa pula yang dapat aku perbuat atas dirinya, tapi bukan mustahil ia hanya pura-pura….

Hanya sebuah kemungkinan saja untuk menghadapi sikap Tok-sim-sin-mo ini, tapi betapapun ia tidak bisa mempertaruhkan jiwa Coh Jian-jo dalam langkah-langkah perhitungannya yang berbahaya ini, dia perlu menyelidiki dan main sandiwara pula seumpama Tok-sim-san-mo memang berpura-pura muka belum terlambat ia bertindak selanjutnya. Sebaliknya bila tindak tanduknya ini memang kenyataan tiada soal kali ini ia membahayakan jiwanya. Biarlah situasi lebih matang dan jalan lebih lapang bagi dia, tapi menurut anggapannya adalah sebaliknya bagi dirinya. Sejenak menerawang Thian-hi lantas bertanya pada Tok-sim-sin-mo, “Apakah kau tahu benar- benar bahwa Ni-hay-ki-tin berada di dalam sana?”

“Memang aku belum tahu pasti, tapi itu soal waktu saja bila kutanyakan pasti segera dapat kuketahui. Ingat Coh Jian-jo pasti tahu, menurut Pek-tok katanya berada di dalam sana, tapi itu menurut. dugaan belaka, aku justru tidak sepaham akan pendapatnya itu, mana mungkin Ni-hay- ki-tin berada dalam Jian-hud-tong ini?”

“Apakah kau sudah pasti bahwa Coh Jian-jo benar-benar mengetahui rahasia Ni-hay-ki-tin itu, mengandal apa dia bisa tahu?”

Tok-sim-sin-mo menyerihgai lebar, katanya, “Rahasia Ni-hay-ki-tin adalah rahasia turun temurun dari kakek mojangnya, masa perlu disangsikan lagi?”

Hun Thian-hi tertawa, ujarnya, “Belum tentu bukan? Warisan keluarganya cuma Badik buntung, yang dia ketahui melulu bahwa tempat rahasia penyimpanan harta benda itu tersembunyi di dalam serangka pedang, sebelum dia berhasil mengeluarkan gambar rahasia itu dari serangka pedang itu takkan seorangpun yang dapat tahu!”

Tok-sim-sin-mo mendengus tanpa bicara, diapun tidak bisa menyangkal akan kebenar-benaran analisa Thian-hi ini, jikalau tiada gambar petanya, ia percaya Coh Jian-jo sendiri juga tidak akan mampu menunjukkan tempatnya.

Kata Hun Thian-hi pula, “Katamu tadi setelah berhasil mendapatkan Ni-hay-ki-tin kau punya caramu sendiri untuk meloloskan diri, jadi jelasnya seorang diri cukup kau dapat bekerja, kenapa pula Coh Jian-jo harus menyertai kau?”

“Pendek kata begitulah syarat yang kuajukan, terserah kau setuju atau tidak.”

“Tapi kau harus berpikir dua belas kali, perbuatanmu ini tidak bakal mendatangkan keuntungan bagi kedua belah fihak, malah mungkin ada manfaat bagi kau, bagaimanapun aku tidak setuju!”

ToK-sim-sin-mo mengawasi sekelilingnya lalu berkata pula” “Kalau begitu tiada kompromi lagi, silakan kalian maju aku tidak akan mundur setapakpun juga!”

Berkilat biji mata Hun Thian-hi, ia tahu bahwa sikap Tok-simsin-mo ini hanya pura-pura belaka, aku harus bertindak secara cermat dan mencobanya secara untung2an. Sudah lama Tok-sim-sin- mo mengatur segala sesuatunya dalam rencana mendapatkan Ni-hay-ki-tin, betapapun ia tidak akan nekad dan rela rencananya sampai gagal, jalan satu-satunya aku mau mencoba dengan main gertak saja.

“Kalau begitu apa boleh buat, demikian ujar Hun Thian-hi sambil menggeser kakinya melangkah kehadapan Tok-sim-sin-mo, sementara itu mulutnya bicara lebih lanjut, “Kalau begitu seumpama kami setuju juga tiada gunanya, sebaliknya bila kami berhasil meringkus kau, buat Coh Jian jo pasti lebih melegakan” .

“Umpama kalian bisa menawan aku. Coh Jian-jo pasti segera mampus!”

Thian-hi tertawa lebar, katanya, “Kalau itu benar-benar maka cara kematianmu bakal lebih mengenakan, tidak percaya marilah kita coba!”

Tok-sim-sin-mo berdiri tegak dan siaga, biji matanya lekati mengawasi gerak gerik Hun Than- hi. Sementara itu Hun Thian-hi sudah melolos seruling jadenya, sesaat lamanya mereka beradu pandang tanpa bergerak. Pek Si-kiat mundur selangkah kesamping, ia tahu menghadapi orang macam Tok-sim-sin-mo harus menabahkan hati dan berani bertindak dengan segala resiko, dengan mundur selangkah ia memberi peluang pada mereka berdua untuk mengadu kekuatan, disamping itu sengaja iapun ingin mepet dinding untuk mengendalikan alat2 rahasia supaya dapat merintangi Tok-sim-sin-mo melarikan diri.

Sekilas Tok-sim-sin-mo melirik kesamping, lambat laun timbul rasa gentar dalam sanubarinya, jelas ia sudah punya langkah-langkah yang sempurna untuk jalan mundurnya, diam-diam ia menerawang apakah perlu ia main gertak dan main ancam terhadap musuhnya, kalau langkah itu bisa mempermudah dirinya mencapai tujuannya paling tidak bisa mengurangi tekanan batin yang terasa gentar dan takut ini.

Pikir punya pikir akhirnya ia berkata, “Jikalau Coh Jian-jo mau bantu aku memperoleh gambar peta rahasia Ni-hay-ki-tin serta sudah dapat kuselami, tiada halangannya kulepas dia.”’

“Begitu sederhana? Apa kau tidak kuatir tempat rahasia itupun dapat kita ketahui? Bukankah kau memperoleh saingan malah?”

“Itu, urasanku sendiri. kenapa kau kuatir malah. Aku punya caraku sendiri untuk mengetahui pul rahasia gambar peta, kukira tidak semudah seperti kalian duga!”

“BaiKlah, aku tidak perlu kuatir lagi. Tapi aku masih sangsi cara bagaimana kau dapat menemukan Ni-hay-ki-tin itu seorang diri? Bila berita ini sampai bocor, bukan saja kami berdua, mungkin para tokoh-tokoh persilatan semua bakal meluruk datang mengikuti jejakmu. Tatkala itu cara bagaimana kau akan menghadapi mereka?”

Memangnya Tok-sim-sin-mo sudah merasa jeri terhadap Hun Thian-hi, serta mendengar ucapan Thian-hi mau tak mau ia merasa kuatir pula. Bukan tidak beralasan ucapan Hun Thian-hi yang mengandung kebenar-benaran ini.

Kata Hun Thian-hi pula, “Hendaklah Pek-tok Lo-jin dijadikan contoh, sepuluh tahun ia meluruk masuk ke dalam Jian-hud-tong dan istana sesat baru bisa keluar, sekarang masih berusaha untuk keluar. Dengan berani menempuh bahaya tentu diapun punya pegangan dan yakin akan tekadnya. Siapa tahu bahwa Ni-hay-ki-tin benar-benar berada di Jian-hud-tong, kalau itu benar-benar bukankah banyak menghemat tenaga dan pikiran malah.”’

Dengan sorot mata yang mengandung pertanyaan dan curiga Tok-sim-sin-mo pandang Thian-hi lekat-lekat, ia jadi sangsi kenapa Hun Thian-hi begitu baik hati mau memberri saran dan jalan sempurna kepada dirinya, mau tidak mau ia harus meningkatkan kewaspadaan, bagaimana juga Thian-hi merupakan musuh besarnya yang utama. pikir punya pikir akhirnya ia mendengus, mulutnya bicara tawar, “Betulkah begitu?”

“Jangan kau terlalu curiga terhadapku,” demikian Thian-hi tersenyum, “Kuharap urusan ini lekas selesai supaya tidak membawa buntut yang berkepanjangan dan membawa manfaat bagi dua belah pihak. Apalagi aku percaya umpama kau tahu jelas dimana letak simpanan Ni-hay-ki-tin itu belum tentu kau mampu mengambilnya.

“Berani kau berkata begitu, lalu bagaimana menurut maksudmu? Adakah cara lain yang lebih sem purna?”

Sebelum menjawab Thian-hi berpaling ke arah Pek Si-kiat seraya mengedipkan matanya, ia memberi isyarat supaya Pek Si-kiat memperhatikan segala gerak gerik Tok-sim-sin-mo, lalu ia berpaling kemuka pula dan berkata kepada Tok-sim-sin-mo, “Aku punya usul. Silakan kau bawa Coh Jian-jo kemari, bila kau yang tanya belum tentu dia sudi memberi tahu, sebaliknya, bila kami yang mengajukan pertanyaan mungkin dia mau menjelaskan, sesudah itu kita berunding lebih lanjut. Seumpama Ni-hay-ki-tin benar-benar berada di dalam Jian-hud-tong ini, urusan menjadi lebih mudah, kau lari masuk pun kami tidak akan berani mengejar. Sebaliknya seandainya tidak berada dalam Jian-hud-tong kita pun boleh mencari jalan lainnya yang lebih sempurna!”

Mendengar uraian ini Tok-sim-sin-mo beranggapan bahwa Hun Thian-hi teramat goblok dan ceroboh, urusan selanjutnya bakal lebih menguntungkan bagi dirinya. Maka sambil menyeringai dingin baru saja badannya bergerak mendadak hati kecilnya merasakan bahwa urusan tidaklah begitu gampang, masakan benar-benar Hun Thian-hi begitu baik hati memberi kelonggaran kepada dirinya, bukankah perbuatannya ini demi keselamatan Coh Jian-jo. Bilamana urusan belum mencapai titik penyelesaiannya lantas mempertemukan mereka sama Coh Jian-jo, situasi pasti akan semakin menyulitkan dirinya. Serta terpikir hal ini ia merandek dan putar balik, wajahnya mengulum senyum dingin, naga-naganya ia bersyukur bahwa dirinya belum sampa, kena tipu.

Tapi tanpa disadarinya perbuatannya ini justru telah memperlihatkan tanda2 yang mencurigakan, cuma tidak diketahui olehnya.

Selama itu Pek Si-kiat selalu mengawasi gerak gerik Tok-sim-sin-mo, begitu orang bergerak hendak memutar tubuh ia lebih memperhatikan, meskipun badan Tok-sim-sin-mo belum seluruhnya berputar tapi sudah membalik sebagian besar, di bawah pengawasan Pek Si-kiat dapatlah diketahui kemana tujuan pandangan kedua biji matanya, serta merta lantas tersimpul dalam benaknya, bukan mustahil disanalah Coh Jian-jo disembunyikan. Bukankah tadi dia mengatakan bahwa Coh Jian-jo ada disekitar sini.

Agak lama Tok-sim-sin-mo mandah menyeringai dingin tanpa bicara, matanya mengawasi Thian-hi Sekian lamanya baru berkata, “Usulmu tadi tidak dapat kulaksanakan, biar aku sendiri yang tanya padanya.” Tita2 Hun Thian-hi memberi tanda kepada Pek Si-kat, serempak mereka bergerak bersama, Pek Si-kiat langsung terbang miring kesamping berbareng kedua telapak tangannya memukul ke arah dinding samping, kontan dinding batu itu pecah berhamburan dan munculah dua pintu dari dua kamar kurungan. Benar-benar juga Coh Jian-dio ada di dalam salah satu kamar itu.

Sementara dalam waktu yang sama Hun Thian-hi menubruk ke arah Tok-sim-sin-mo sambil berusaha mencegat jalan mundurnya.

Begitu melihat Hun Thian-hi memberi tanda kepada Pek Si-kiat lantas ToK-sim-sin-mo mendapat firasat jelek. seketika dilihatnya Pek Si-kiat mencelat terbang menerjang ke arah kamar tahanan Coh Jian-jo, keruan kejutnya bukan kepalang, tahu dia bahwa urusan semakin mendesak dan tidak mungkin tertolong lagi, hari ini dirinya kena dikalahkan dan gagal total, terpaksa harus lari untuk menyelamatkan diri.

Maka tanpa ayal iapun bergerak teramat gesit dan cepat, kedua telapak tangan bergerak kedua jurusan, tangan kanan menghantam ke arah Thian-hi merintangi tubrukan lawan, sedang sebelah tangan yang lain menggempur dinding di sebelah belakangnya membuka sebuah jalan rahasia terus melesat masuk dan menghilang.

Tanpa banyak pikir Hun Thian-hi menerjang masuk mengejar, demikian juga Pek Si-kiat tak mau ketinggalan, mereka. mengejar dengan kencang. Diam-diam bercekat hati Pek Si-kiat, Tok- sim-sin-mo lari ke arah lorong2 sempit dibagian gua paling belakang dimana merupakan jalan- jalan yang paling rumit dan penuh terpasang alat rahasia, bila Tok-sim-sin-mo sampai mencapai daerah itu untuk membekuknya tentu sukar sekali .

Begitulah kejar mengejar berlangsung sekian lamanya, mereka keluar masuk lorong2 panjang mengejar Tok-sim-sin-mo. Meski Pek Si-kiat jauh lebih apal jalan-jalan lorong itu, soalnya gerak- gerik Tok-sim-sin-mo sulit diduga sebelumnya, kemana ia hendak menuju, maka jarak mereka bertahan sekian jauhnya, kelihatan bayangannya. tapi tak kuasa meringkusnya.

Sembari lari kencang seperti dikejar setan diam-diam Tok-sim-sin-mo berpikir, “Pek Si-kiat bersama Hun Thian-hi mengejar terus seperti bayangan tubuh sendiri, betapapun akhirnya dirinya takkan kuasa lolos, kalau hal ini berlangsung lama, luka dalamnya bisa kambuh dan semakin berat, beberapa kejap lagi pasti dirinya akan kehabisan tenaga dan terima dibekuk saja.” Begitulah sembari lari ia mencari akal cara bagaimana ia harus meloloskan diri.

Namun Hun Thian-hi berdua sudah semakin dekat, jarak mereka tinggal sepuluh tombak, keruan kejut dan gugup pula hatinya, tiba-tiba tergerak hatinya biji matanyapun berkilat terang, mendadak ia membelok memasuki sebuah lorong rahasia.

Hun Thian-hi berdua terus mengejar masuk ke sana. Jalanan dalam lorong itu menjurus ke arah tempat yang semakin rendah dan lembab, jadi semakin lama semakin menurun. Tok-sim-sin-mo tidak hiraukan keadaan sekelilingnya, ia lari terus turun kebawah. Sebaliknya Hun Thian-hi berdua menjadi kaget, lorong jalan ini justru yang menjurus ke arah istana sesat itu. Bila Tok-sim-sin-mo sampai menerjang masuk kesana, betapapun mereka berdua tidak akan mampu mencapainya.

Cepat ia menyedot napas tiba-tiba tubuhnya melayang seringan asap secepat anak panah melesat ke depan.

Tok-sim-sin-mo sendiri juga insaf bila ingin hidup satu-satunya jalan hanyalah masuk ke dalam istana sesat, Thian-hi berdua takkan berani mengejar kesana. Kalau Pek-tok Lojin sepuluh tahun tidak mampus di sana, kenapa aku harus takut? Apalagi aku menggembol serangka Badik buntung, Ni-hay-ki-tin pasti dapat kutemukan, demikian pikirnya.

Dalam pada itu suara, pernapasan Hun Thian-hi seakan terdengar begitu dekat jbelakangnya, cepat ia mengempol semangat dan menyedot napas dalam-dalam. tubuhnya segere melejit tinggi terus meluncur turun laksana meteor jatuh langsung melayang masuk ke dalam istana sesat.

Hampir saja Hun Thian-hi sudah dapat menyandak tinggal kurang sejangkauan tangan, namun Tok-sim-sin-mo berhasil pula meloloskan diri dari kejarannya, sungguh hatinya teramat menyesal tak terperikan.

Dalam detik lain Pek Si-kiat juga sudah mengejar datang, sejenak ia terlongong. lalu katanya kepada Hun Tnian-hi, “Sudahlah! Mari kami pulang. Jalan selanjutnya tiada pintu. untuk dapat kembali, tak usah dikejar ke dalam sana!”

Pelan-pelan Hun Thian-hi manggut-manggut, bersama Pek Si-kiat ia putar balik ke tempat semula dimana Coh Jian-jo masih menunggu. Setelah dapat bergerak bebas Coh Jian-jo bertanya, “Kemana Tok-sim-sin-mo? lari masuk ke dalam istana sesat bukan?”

Perlahan-lahan Thian-hi manggut sebagai jawaban, lalu katanya, “Apakah Coh-cianpwe tahu bahwa Ni-hay-ki-tin benar-benar berada di dalam istana sesat sana? Atau mungkin merupakan lagenda belaka?”

“Sebenar-benarnyalah bahwa Ni-hay-ki-tin memang berada, di dalam istana sesat itu,” demikian ujar Coh Jian-jo kalem, “Tapi mungkin tiada seorang pun yang bakal mampu menjangkaunya. Demikian juga Tok-sim-sun-mo akan sia-sia masuk kesana!”

“Kenapa begitu?” tanya Thian-hi tidak mengerti.

Coh Jian-jo menghela napas panjang seraya menggeleng kepala, agaknya ia segan bicara, sesaat setelah merenung baru ia buka suara pula, “Istana sesat memang punya sangkut paut yang sangat erat dengan leluhurku. Dulu kala pernah terjadi gelombang pertikaian dalam dunia Kangouw, seorang-orang gembong iblis yang berkepandaian tinggi entah dari mana dapat memperoleh sejilid buku Ni-hay-pit-kip, kemudian kepandaian silatnya teramat tinggi dan sukar diukur, tiada seorangpun tokoh-tokoh persilatan dalam Bu-lim yang menjadi tandingannya, entah berapa banyak yang sudah menjadi korban keganasannya. Tapi akhirnya, ia insaf dan sadar akan kelalimannya. ingin ia membakar Ni-hay-pit-kip itu, tapi merasa sayang dan eman2. Belakangan ia memperoleh suatu ilham, bersama seluruh benda-benda mestika koleksinya yang tak ternilai itu ia suruh leluhurku membuat istana sesat itu. seluruh miliknya ia pendam dan simpan di dalam istana sesat itu, harapannya supaya segaia milik yang bakal ditinggalkan itu akan selalu terpendam dan tidak bisa muncul pula dialam semesta ini.” sampai disini ia menghela napas, lalu menunduk diam, sesaat kemudian baru melanjutkan pula, “Tapi tak lupa ia meninggalkan sebuah peta bergambar yang teramat rahasia.”

Thian-hi maklum kemana arah tujuan ucapan Coh Jian-jo ini. Kalau tokoh lihay itu tidak suka mewariskan seluruh miliknya kepada generasi mendatang, jadi leluhur Coh Jian-jo itulah yang secara sembunyi dan terahasia mewariskan gambar peta itu, maka tidaklah heran jika Coh Jian-jo sukar membuka mulut.

Sekali lagi Coh Jian-jo menghela napas, ujarnya, “Menurut ajaran dan pesan leluhur kami turun temurun supaya jangan timbul sifat tamak dan mengincar Ni-hay-ki-tin itu, malah dilarang pula untuk membicarakannya.

Pek Si-kiat tertawa tawar, timbrungnya, “Kalau begitu Ni-hay-ki-tin akan lebih memincut perhatian khalayak ramai. Kalau toh dia menyimpannya di dalam istana sesat dan tidak menghancurkan benda-benda itu, ini berarti bahwa dia sengaja memang hendak mewariskan kepada generasi mendatang.”

Coh Dian-jo tertawa getir. ujarnya, “Biarlah aku bicara terus terang saja, Leluhurku itu memang akhirnya timbul sifat tamaknya, dengan nekad ia masuk ke dalam istana sesat itu hendak mengambilnya keluar, tapi sekali masuk selamanya tidak pernah keluar lagi. Putranya menunggunya sampai sepuluh tahun dan diapun menyusul masuk kesana, setelah kembali saketika pun ia tidak bicara dan tidak pernah menyinggung persoalan ini. Gambar peta itu ia simpan ke dalam kerangka Badik buntung itu, dan untuk selanjutnya persoalan Ni-hay-ki-tin ini menjadi terpendam dan dilupakan orang. dan untuk selanjutnya pula beliau menegakkan undang2 keluarga itu.”

Pek Si-kiat tak bicara lagi. Sebaliknya Hun Thian-hi membatin, “urusan ini rada ganjl, istana sesat yang dibangunnya sendiri kenapa setelah dia masuk kesana tidak bisa keluar pula, entah peristiwa apa yang telah terjadi?”

Begitulah dengan langkah tenang dan mantap mereka beranjak keluar beriringan. Dari saku bajunya Pek Si-kiat merogoh keluar buntalan kantong obat diangsurkan kepada Hun Thian-hi, katanya, “Obat pemunahnya semua dapat kurampas!”

Sebenar-benarnya hati Thian-hi juga sedang memikirkan obat pemunah racun ini, ia merasa sangat kebetulan serta ujarnya tertawa, “Untuk selanjutnya hakikatnya Tok-sim-sin-imo tidak akan punya pegangan untuk mengancam dan menekan kami. Lam-bing-it-hiong dan lain-lain selanjutnya juga bisa merubah haluan kejalan lurus. Persengketaan Bu-lim utk selanjutnya mencapai titik penyelesaiannya, semoga selanjutnya semua orang dapat hidup sejahtera dan sentosa!”

Tak lama kemudian mereka sudah tiba diambang mulut gua, Ham Gwat dan lain-lain sedang menunggu dengan hati kebat kebit. Begitu mereka keluar Coh Siau-ceng lantas berpekik kegirangan dan memburu maju ke dalam pelukan Coh Jian-jo, mereka menangis berpelukan. Sekilas Thian-hi pandang Ham Gwat lalu menghampiri ke arah Hwesio jenaka, katanya tergagap, “Siau-suhu….” tak kuasa ia melanjutkan kata-katanya, kepala tertunduk.

Berkilat biji mata Hwesio jenaka, katanya tertawa lebar, “Tak perlu diungkat lagi, soal itu aku sudah tahu seluruhnya. Sebab musahabab persoalan ini kelak kau akan tahu jelas. Bila kau ketemu Ah-lam Cuncia, beliau bisa memberi penjelasan kepadamu hal-hal yang ingin kau ketahui, sekarang jangan kau risaukan persoalan ini.”

Thian-hi tidak paham akan kata-kata Hwesio jenaka.

Dalam pada itu, Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain maju ke depan Hun Thian-hi serta kata mereka, “Sekakarang kami sudah sadar, untuk selanjutnya kami tidak akan turun gunung dan berkecimpung di Kang-ouw. Hun-siauhiap kami mohon diri!”

“Ah kenapa para Ciaupwe begitu sungkan!” cepat Thian-hi menyahut

Lam-bing-it-hiong berkata sambil menghela napas, “Kelak bila Hun-siauhiap memerlukan tenaga kami silakan panggil saja, kami pasti bantu sekuat tenaga, Hun-siauhiap tidak usah rikuh!”

“Memang tidak lama lagi mungkin aku perlu bantuan kalian, biarlah lain waktu kita bicara lagi, bila ada waktu aku pasti bertandang ke tempat Cianpwe masing-masing.”

Be-ramai-ramai Lam-bing-it-hiong dan lain-lain lantas ambil berpisah.

Sekarang ganti Ham Gwat yang maju kehadapan Hun Thian-hi katanya perlahan, “Hun- siauhiap. Gwat-sian sudah berangkat pulang ke Thian-bi-kok!”

Thian-hi jadi melongo, tahu dia bahwa Ham Gwat pasti sudah bertemu dan bicara dengan Gwat-sian, dan yang jelas bahwa hubungan mereka adalah begitu intim.

Melihat sikap Thian-hi itu Ham Gwat melanjutkan berkata, “Dia adalah adik angkatku, kuharap kau tidak me~nyia-nyiakan cintanya. Bagaimana keadaannya kau kan sudah jelas, sekarang juga kau harus cepat menyusul kesana.”

Sekian lama Thian-hi terlongong, bicara menurut sanubarinya memang ia harus segera menyusul ke selatan, apalagi jiwa hidup Ma Gwat-sian tinggal tiga bulan lagi, betapapun ia tidak tega meninggalkan kesan buruk kepada gadis remaja yang lemah lembut. Soalnya adalah kata- kata ini terucapkan oleh Ham Gwat maka kepentingan ini menjadi lain pula artinya, seolah-olah ia dibayangi kekuatiran lain, bahwa dia tidak sepantasnya melakukan hal itu,

Mendadak terasa olehnya bilamana ia melakukan hal ini, berarti dia telah menipu Ma Gwat-sian, dapatkah dibenar-benarkan kelakuanku ini. Begitulah perang bathin berkecamuk dalam benaknya, entahlah sesaat ia sulit mengambil kepastian.

Kata Ham Gwat lagi, “Kuharap kau segera Berangkat, tapi bila kau tidak sudi menyusul kesana akupun tidak memaksa, tapi dapatkah kau mempertanggung jawabkan kepada sanubarimu?”

Thian-hi mengertak gigi, ia menunduk penuh penderitaan batin, bayangan Gwat-sian selalu terbayang dalam benaknya. Tapi sekarang dia menghadapi Ham Gwat. sedang Ham Gwat minta dia segera pergi, bila benar-benar dia melaksanakan kehendaknya, entah bagaimana akibatnya kelak. Tak berani ia memikirkan lebih lanjut, apalagi kedengarannya Ham Gwat menggunakan nada yang ganjil bicara padanya. serta merta timbul rasa sungkan dalam hatinya untuk menampik permintaannya itu, tapi ia tidak kuasa menampilkan rasa hatinya itu dengan kata-kata, seolah-olah dadanya menjadi sesak dan sulit terlampias.

Dengan lekat Ham Gwat pandang Thian-hi agaknya iapun dapat memaklumi perasaan Thian-hi, pelan-pelan ia menambahkan, “Ajahku pergi mencari ibuku, sengaja kukemari memberitahu akan hal ini!” lalu ia menunduk serta sambungnya, suaranya lebih lirih, “Kecuali itu aku tiada cara lain untuk mengatasi persoalan ini! Gwat-sian adalah anak angkat ayah, hubungan kami sangat baik, aku tidak tega melihat ia pulang dengan hati yang hancur dan putus asa, ini akan membawa akibat yang lebih fatal bagi kesehatan badannya yang lemah itu.”

Thian-hi menjadi haru, katanya angkat kepala, “Biarlah kuajak dia kembali, nanti kubawa ke Bu-lu-si untuk mencari kalian bagaimana?”

Ham Gwat manggut-manggut dengan tersenyum.

Thian-hi berdiri kesima, matanya mengawasi Ham Gwat tanpa bicara, sejak ia melihat Ham Gwat dulu selamanya belum pernah melihat orang unjuk tawanya. Baru pertama kali ini ia melihat senyum dan tawa orang. Senyum laksana sekuntum bunga mekar berpeta di wajahnya nan aju elok, hatinya menjadi hangat dan terhibur, segala kerisauan hatinya seketika tersapu lenyap.

Dikejap lain senyum Ham Gwat hilang dan matanya mengawasi tajam memancarkan sorot aneh, seketika Thian-hi seperti dibuat sadar, mukanya menjadi panas, katanya cepat, “Sekarang juga aku berangkat menyusul ke Thian-bi-kok!”

“Hun-toako,” segera Su Giok-lan maju menghampiri, “Aku sudah pergi ke tempat Suhu dan lain-lain, malah ayahku juga berada disana. Bersama Ham Gwat Cici kami menuju ke Bu-la-si lalu membawa ibunya tinggal di Jian-hong-kok, kau langsung kesana saja menunggu kami!”

Thian-hi manggut-manggut, tanyanya, “Apakah Suhu dan lain-lain baik-baik saja?”

“Mereka ada berpesan setelah ketemu kau supaya kau tidak usah kuatir pada mereka malah keadaanmu yang serba sulit ini harus hati-hati.”

Thian-hi manggut-manggut.

“Untuk menyusul ke selatan pasti sulit dapat menemukan jejak mereka, dan belum tentu bisa kecandak, lebih baik kau naik burung dewata saja lebih cepat.” demikian usul Giok-lan.

Thian-hi mengiakan sambil tertawa.

Su Giok-lan segera memanggil burung dewata, cepat Thian-hi naik ike atas punggungnya terus ambil berpisah sama Ham Gwat dan lain-lain, kejap lain burung dewata sudah pentang sayap dan langsung terbang ke arah selatan.

Begitulah selama satu hari satu malam Thian-hi diajak bertamasya di atas udara, hari itu burung dewata menukik turun dan masuk ke dalam hutan mencari buah2an, menurut perhitungan Thian-hi dimana. sekarang dia berada sudah termasuk wilajah Thian-tom, tak lama lagi pasti ia dapat menyusul Ma Gwat-sian. Thian-hi duduk di bawah sebuah pohon rindang untuk istirahat.

Begitulah tengah ia menepekur mengawasi awan yang berbondong-bondong di atas langit, mendadak sebuah suara lirih berkeresek di belakangnya. Sebagai seorang persilatan lantas Thian-hi tahu bahwa seorang tokoh lihay telah muncul berada di belakangnya, ia pura-pura duduk tenang, pikirnya; ‘dalam hutan belukar begini tokoh- tokoh persilatan macam apakah yang muncul disini.’

Suara keresekan itu semakin dekat dan jelas, tak tahan lagi secepat kilat Thian-hi mencelat berputar, tubuhnya melayang ke depan, waktu ia berdiri menginjak tanah dalam jarak setombak lebih badannya sudah berputar ke arah hutan.

Terdengarlah gelak tawa yang menggila, tampak Ang-hwat-lo-mo muncul dari dalam hutan.

Bercekat hati Thian-hi, pikirnya, “Keparat kenapa ketemu dia lagi, apakah dia memang sedang menguntit aku? Tidak mungkin!” — alisnya segera terangkat tinggi, jengeknya, “Kukira siapa, ternyata kau!”

Thian-hi heran waktu di Siong-san Ang-hwat-lo-mo mengadu domba sebelum melarikan diri kenapa sekarang berani muncul pula di hadapannya, pasti dia punya pegangan untuk menghadapi dirinya. Serta merta Thian-hi meningkatkan kewaspadaannya.

Setelah puas dengan gelak tawanya, Ang-hwat-lo-mo membuka kata, “Aku tahu kau pasti datang, maka kutunggu kau disini!”

Thian-hi tatap orang dengan pandangan curiga, ia tidak percaya bahwa Ang-hwat-lo-mo bisa tahu bahwa dirinya bakal datang, sesaat kemudian baru ia membuka kata pula, “Begitukah? Aku sendiri tidak tahu sebelumnya bahwa aku akan kemari.”

“Sebaliknya aku tahu pasti bahwa kau akan datang,” demikian ujar Ang-hwat-lo-mo, “Demi Ma Gwat-sian masakah kau tidak kemari?” lalu ia menyeringai dengan sinis.

Tersentak sanubari Thian-hi, serta merta terasa olehnya bahwa Ma Gwat-sian pasti sudah mengalami kesulitan, kalau tidak mustahil Ang-hwat-lo-mo bisa menyinggung dan mengetahui persoalan ini, sedapat mungkin ia kendalikan gejolak hatinya, sesaat baru berkata, “Ma Gwat-sian yang kau maksudkan? Sekarang aku sedang mencarinya!”

“Selamanya aku teramat kagum dan simpatik terhadap kau, Dalam keadaan yang terpaksa baru aku ambil sikap yang bermusuhan dengan kau. Seperti peristiwa di Siong-san tempo hari, kenyataan mendesak aku untuk berbuat menurut tuntutan nuraniku. Kalau tidak masa aku suka bersikap berlawanan dengan kalian!”

Mendengar orang tidak mau menyinggung persoalan Ma Gwat-sian hati Hun Thian-hi menjadi gundah, namun ia pendam dalam batin, supaya Ang-hwat-lo-mo tidak bersikap terlalu takabur dan main paksa terhadap dirinya.

Dengan tawar ia berkata, “Apa gunanya kau kagum atau simpatik terhadapku. yang terang justru aku sangat benci padamu, terutama sepak terjangmu terlalu memualkan.” Dengan cercahannya ini ia berusaha memancing kemarahan Ang-hwat-lo-mo supaya orang suka memberitahu sampai dimana keadaan bahaya yang dialami Ma Gwat-sian. Dengan demikian ia bisa mempersiapkan diri mencari daya untuk menolongnya.

Tapi Ang-hwat-lo-mo adalah seorang yang licik dan pintar juga, ia mandah tertawa tawar saja, ujarnya, “Meski kau membenci aku, tapi ada kalanya kau harus bekerja sama dengan aku, betul tidak?”

“Bisa saja kau berkesimpulan begitu, tapi mungkin pula selamanya aku tidak akan sudi kerjasama dengan kau!” “Jangan kau bicara begitu pasti. kerja sama yang kumaksudkan bukan dalam arti yang sesungguhnya, adalah kau yang harus melaksanakan sesuatu kepentingan untukku.” — lalu ia angkat pundak dan melebarkan tangannya, sambungnya, “Anak muda jangan mengumbar adat, sesuatu peristiwa kadang kala terjadi diluar dugaan, maka jangan kau terlalu yakin akan dirimu, benar-benar tidak?”

Hun Thian-hi mendengus tanpa bersuara.

“Bukankah kau sedang mencari Ma Gwat-sian? Aku dapat mempertemukan kau dengan dia, baiklah kujanjikan besok pagi2 di Bik-hiat-kok terletak di depan yang tak jauh sana boleh kau ke sana untuk menemuinya.” — habis berkata ia tersenyum penuh arti, tubuhnya mendadak berkelebat dan berlari pergi sekencang angin.

Thian-hi melenggong, akibat ini sudah sejak tadi terpikir olehnya, namun mau tak mau ia berkuatir juga bahwa Ma Gwat-sian terjatuh ke tangan Ang-hwat-lo-mo.

Meski ilmu silat Ang-hwat-lo-mo menurut ukuran Thian-hi sekarang tidak begitu tinggi, namun dia lebih sukar dilayani dan lebih licin dari Tok-sim-sin-mo, bukan saja lebih pintar dia pun jauh lebih sabar dan tahan uji, benar-benar sulit untuk menghadapi persoalan rumit ini….

Pikiran Thian-hi semakin gundah dan kusut, berbagai persoalan sama menumpuk di dalam benaknya, bagaimana karakter Ang-hwat-lo-mo ia paham benar-benar, dialah manusia telengas dan kejam. mampu melaksanakan segala kekejian tanpa pandang bulu dan tidak hiraukan akibatnya, entah rencana apakah jaug hendak diatur oleh Ang-hwat-lo-mo untuk menyambut kedatangannya di Bik-hiat-kok besok pagi.

Apakah aku pantang kesana? Tidak mungkin, Ma-Gwat-sian berada di tangan Ang-hwat-lo-mo entah akibat apa yang bakal menimpa dirinya.

Begitulah Thian-hi merenung dan berpiklr bolak-balik, terasa bahwa selama ia belajar silat kepada gurunya dan terjun di dunia persilatan belum pernah ia hidup sehari pun dalam ketenangan, setiap waktu selalu menghadapi berbagai ancaman dan kesulitan yang melibatkan diri sehingga selalu terancam elmaut, dan yang lebih celaka bahwa setiap persoalan itu semua memeras keringat dan daya pikirnya sehingga akhirnya tentu tele2 kehabisan tenaga.

Mendadak terdengar suara lirih dibelakangnya, bercekat hati Thian-hi, pengalaman mengetuk nalarnya bahwa disebelah belakang ada seorang tokoh persilatan kelas wahid, suara lirih itu adalah pertanda orang memberitahu kepada dirinya akan kehadirannya.

Hati-hati sekali Thian-hi berpaling ke belakang, sesosok bayangan abu-abu mencelat tinggi terus menerobos masuk ke dalam hutan laksana segulung asap, gerakannya begitu gesit dan seenteng burung walet.

Melihat gerak-gerik orang Thian-hi menjadi ragu-ragu entah pendatang ini kawan atau lawan, yang terang ia memberi tanda supaya dirinya mengejar kesana, sedikit berpikir tanpa ayal segera ia melejit terbang-mengejar dengan kencang pula.

Kepandaian silat bayangan abu-abu itu ternyata cukup hebat, kejar mengejar ini tetap berlangsung dalam jarak antara beberapa tombak, meski lari mereka cukup pesat tapi Thian-hi tahu bahwa orang belum menggunakan seluruh tenaganya, yang terang memang ia sengaja memancing supaya Thian-hi mengikuti jejaknya. Dalam kejap lain mereka sudah menempuh jarak lima li lebih, bayangan orang itu mendadak menyelinap hilang ke dalam hutan disebelah depan. Diam-diam Thian-hi merasa heran, kalau toh orang itu memancing dirinya kemari kenapa dia menyembunyikan diri tidak mau memberi petunjuk seperlunya? Adakah persoalan lainnya?

Karena pikirannya serta merta timbul kecurigaannya larinya pun diperlambat, namun ia maju terus sampai tiba di depan hutan, keadaan sekelilingnya hening lelap tak kelihatan lagi jejak orang itu.”

Tanpa sangsi sedikitpun Thian-hi langsung menerobos masuk ke dalam hutan, di atas sebuah dahan terlihat olehnya tergantung secarik kertas, Thian-hi lantas meraihnya, tampak kertas itu tertulis demikian, “Tidak begitu menakutkan seperti yang dihebohkan.” Tulisan ini tiada tanda tangan dan juga tidak dibubuhi nama terang, Thian-hi mandah tertawa tawar saja lalu melempitnya dan disimpan di dalam sakunya sementara matanya menjelajah kesekitarnya.

Disebelah kanan diujung hutan sana tampak sebuah aliran sungai yang mengalir keluar. Tahu- tahu jantungnya berdetak dan menjadi tegang, karena secara mendadak didapatinya bahwa sekarang dirinya sudah tiba diambang mulut Bik-hiat-kok yang dijanjikan Ang-hwat-lo-mo itu dalam mengejar bayangan abu-abu tadi. Entah Ang-hwat-lo-mo sudah tahu belum akan kedatangannya ini. Baru saja pikiran ini berkelebat dalam benaknya, ternyata Ang-hwat-lo-mo tiba-tiba muncul dimulut lembah darah kemala.

Ang-hwat-lo-mo tertawa-tawa, serunya, “Agaknya kau terburu nafsu, kujanjikan kau datang besok pagi, ternyata malam2 begini kau sudah meluruk kemari, apakah kau tidak merasa terlalu berbahaya?”

Thian-hi terpikir, “Menemui Ma Gwat-sian lebih pagi agak baik, apalagi Ang-hwat-lo-mo tentu belum selesai mengatur tipu muslihatnya, siapa tahu aku dapat mengambil sekedar keuntungan”

— maka Thian-hi lantas berkata, “Dapatkah sekarang juga aku menemui dia?”

“Kenapa tidak boleh?” ujar Ang-hwat-lo-mo, “Mari ikut aku!” -Lalu ia bawa Hun Thian-hi masuk ke dalam lembah.

Sambil berjalan Ang-hwat-lo-mo berkata dengan tertawa, “Dulu tiga puluh enam tokoh-tokoh Bulim dari kelas wahid yang masuk kemari tiada seorang pun yang ketinggalan hidup. Maka lembah ini lantas dinamakan Bik-hiat.kok (lembah darah kemala), setiap langkah dalam lembah ini merupakan pertaruhan jiwa bagi setiap manusia, maka kau harus berlaku hati-hati, kalau tidak dapat kau masuk takkan mampu keluar pula”

Sikapnya wajar dan tertawa-tawa, sedikitpun tidak unjuk permusuhan.

Diam-diam Thian-hi meningkatkan kewaspadaannya, kalau Ang-hwat-lo-mo berani membeberkan rahasia ini tentu dia sendiri punya pegangan untuk mengatasi keadaan, bagaimana watak dan karakter Ang-hwat-lo-mo ia tahu. meskipun bicara ilmu silat dia belum memadai ToK- sim-sin-mo tapi daya pikirannya jauh lebih luas dan cermat serta jauh lebih licik dan licin dari Tok- sim-sin-mo, maka tidaklah tanggung2 bila kaum persilatan mengangkatnya sebagai tokoh sesat nomor satu dikolong langit ini pada jamannya dulu.

Begitu berada di dalam semakin jauh, Thian-hi lantas celingukan kian kemari empat penjuru sekelilingnya membentang rumput-rumput kemilau hijau pupus, kelihatan segar dan hidup subur. sedikitpun tiada kelihatan bercahaya, jauh di depan ditengah-tengah lembah sana lapat-lapat kelihatan sebentuk bangunan rumah batu. Setelah dekat Ang-hwat-lo-mo berkata, “Ma Gwat-sian dan gurunya tinggal dalam rumah batu itu, kau boleh masuk menemui mereka.” — Dalam berkata-kata ini biji matanya menyorotkan sinar kilat yang tajam, katanya pula, “Sudah beberapa kali selalu aku gagal dalam tanganmu. selama hidup ini boleh dikata belum pernah aku kena dikalahkan secara total, kuharap kali ini aku bisa sukses.”

Thian-hi tersenyum tawar. ujarnya, “Kau akan gagal atau bakal sukses secara kenyataan akan segera kau ketahui. Kenapa pula kau risaukan antara gagal dan sukses ini?”

Ang-hwat-lo-mo mandah tertawa lebar tak bersuara. segera ia mengundurkan diri. D

engan cermat Thian-hi jelajahkan pandangannya keempat penjuru, tak dilihatnya dimana ada tersembunyi jebakan yang berbahaya atau bisa mengancam jiwanya. tapi Ang-hwat-lo-mo tidak akan menipu dirinya. Pikir punya pikir akhirnya ia melangkah ke depan, matanya dengan seksama menyapu keadaan sekelilingnya.

Baru puluhan langkah Thian-hi ke depan, mendadak ia melihat suatu yang sangat mengejutkan hatinya. didapatinya sekarang bahwa rumput-rumput kemilau hijau pupus yang dinamakan rumput kemala ini sebenar-benarnyalah bukan rumput sembarang rumput, bagaikan ular-ular kecil ternyata kakinya sekarang sudah kena gubat oleh rumput disekitar kakinya.

Hati Thian-hi rada bercekat. namun mengandal kepandaiannya ia tidak perlu jeri terhadap rumput ular ini, sekali menyedot hawa ya kerahkan hawa murni terus disalurkan kekedua kakinya, semakin gubat rumput-rumput ular itu semakin kencang, begitu tenaga Thjan-hi dikerahkan mendadak ia menggentak keras, anggapnya dengan sekali sendal cukup dapat memutus hancurkan rumput-rumput ular itu, tapi kenyataan jauh diluar perhitungannya, rumput-rumput itu cuma mengendor sebentar lalu menggubat lagi lebih kencang.

Baru sekarang Thian-hi benar-benar terkejut. seumpama rumput-rumput ini dibuat dari besi juga pasti putus oleh gentakan tenaganya yang hebat itu, tapi kenyataan sedikitpun tidak goyah, tidaklah berkelebihan bila hatinya terperanjat.

Baru saja Thian-hi merasa kewalahan. suatu kejadian lain yang lebih mengejutkan muncul pula. Dari sela-sela rumput-rumput ular itu mendadak berbondong-bondong keluar banyak sekali laba- laba putih kehijauan yang mengeluarkan sinar kemilau, warna dari laba-laba ini hampir sama dengan warna rumput ular sehingga Thian-hi semula tidak melihat karena kurang memperhatikan, maka munculnya laba-laba yang sekian banyak ini mau tak mau membuat hati Thian-hi mencelos dan panik ketakutan….

Waktu Thian-hi berpaling ke arah sekelilingnya, di atas rumput-rumput kemilau itu tampak bermunculan laba-laba yang tak terhitung banyaknya, yang lebih mengejutkan bahwa setiap laba- laba itu sebesar telapak tangan manusia, sekali pandang saja cukup menyedot nyali orang.

Thian-hi maklum bahwa laba-laba ini tentu mengandung racun yang teramat berbahaya, kedua kakinya sudah dibelit tak mampu berkutik, ia jadi kurang leluasa untuk menghadapi serangan laba- laba ini.

Mendadak laba-laba itu terbang menyerang secara serempak, semua meluruk ke arah badan Thian-hi seperti binatang serigala yang kelaparan untuk gegares mangsanya.

Thian-hi jadi mengkirik, tanpa ayal seruling jadenya segera diputar secepat kitiran, dimana sapuan tenaga murninya melandai, banyak sekali laba-laba kehijauan yang tersapu jatuh, tapi serangan laba-laba ini tidak kenal putus asa, roboh satu bangkit dua sehingga mau tak mau Thian- hi terpaksa melancarkan jurus-jurus Wi-thian-cit-ciat-sek, dimana serulingnya teracung miring terus bergerak sedikit saja hawa udara lantas bergolak dan berputar-putar di sekitar badannya, tiada seekorpun dari laba-laba hijau itu yang niampu mendekat ke arah badannya.

Tangan bekerja otak Thian-hipun bekerja dengan cepat, tak tahu cara bagaimana ia harus menghadapi dan mengatasi kesulitannya ini, Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan jurus ilmu pedang tingkat tinggi, setiap kali dilancarkan pasti hanyak menguras tenaga dalam, dia takkan mampu bertahan terus sekian lamanya, bila gerak-geriknya sedikit lamban, kontan lantas ia merasakan betapa ancaman laba-laba hijau ini terhadap jiwa raganya.

Sekejap saja setengah jam sudah berlalu, mendadak terpikir oleh Thian-hi cara bagaimana Ma Gwat-sian dan gurunya bisa dikurung orang di dalam lembah ini? Lalu siapakah yang membangun gubuk batu itu? Tentu ada jalan rahasia lain yang dapat menembus ke gubuk batu itu dengan aman, atau ada cara lain pula untuk mengatasi rumput-rumput ular dan laba-laba berbisa ini,

Begitulah pikiran Thian-hi menjelajah mencari daya untuk menghadapi kesulitan yang dihadapinya, yang paling penting adalah ia harus menolong dirinya sendiri keluar dari ancaman bahaya ini. Sungguh ia rada menyesal kenapa tadi tidak dipikirkan dulu secara cermat baru menerjang ke dalam lembah ini, maka cara satu-satunya untuk menyelamatkan diri ia harus secepatnya mundur dan keluar dari lembah.

Pikiran Thian-hi semakin gundah, mendadak serulingnya bergerak semakin gencar dari bertahan sekarang ia ganti menyerang. serombongan laba-laba yang terbang menyerang sekaligus kena disapunya hancur luluh, dimana serulingnya bergerak lebih lanjut berturut-turut tiga jurus berantai menggasak seluruh laba-laba yang serabutan menerjang ke arah dirinya, sedikit peluang saja lantas serulingnya menukik kebawah berputar menggores ke arah rumput-rumput ular yang membelit kedua kakinya.

Kontan rumput-rumput ular itu lantas mengendor dan layu, meringkel kebawah, Thian-hi tidak mengira bahwa usaha untung2an ini justru membawa hasil di luar dugaan, keruan betapa girang hatinya, seiring dengan muluthja bersuit panjang, kakinya lantas dijejakkan, badanpun melambung tinggi terbang keluar dari arena rumput-rumput ular yang berbahaya ini.

Suasana lembah menjadi hening dan lelap kembali, begitu kehilangan sasaran laba-laba hijau itu lantas sama menyelinap masuk pula ke dalam rumput-rumput ular. Dengan cermat Thian-hi masih dapat melihat dengan jelas bahwa di bawah sela-sela rumput-rumput itu ada sembunyi entah berapa banyak laba-laba hijau beracun.

Rumput yang tadi kena diketok dan menjadi layu sekarang sudah tumbuh segar dan berdiri tegak pula bergoyang2 terhembus angin seperti tak terjadi apa-apa.

Thian-hi celingukan sekian saat menerawang keadaan lembah ini, bila tidak melalui mulut lembah

mungkin belakang lembah ada jalan, ancaman rumput-rumput ular ini pasti jauh lebih ringan, bukan saja mengurangi kesulitan juga menyingkat waktu.

Pikir punya pikir Thian-hi tidak memperoleh kesimpulan yang lebih baik, maka setelah dipertimbangkan segera ia melesat ke depan langsung menuju ke puncak gunung.

Baru saja kakinya menginjak puncak gunung, ia tersentak kaget pula, sedemikian luas puncak ini tapi selayang pandang dimana-mana terdapat ular besar kecil berkelompok2, sedemikian luas dan rapatnya sehingga setiap tindak kakinya harus menginjak ular-ular itu, dengan serulingnya Thian-hi menjungkit beberapa ekor ular di sekitar kakinya, tak lupa ia berpikir lagi mencari jalan lain.

Kenyataan terpapar di hadapannya, keadaan puncak gunung tidak lebih baik dari dalam lembah sana, apalagi ini baru dimulai, apakah nanti masih ada rintangan lain yang jauh lebih berbahaya belum dapat diperhitungkan.

Heran Thian-hi kenapa dalam lembah ini bisa terdapat begitu banyak binatang2 berbisa. Baru saja Thian-hi berpikir2 tiba-tiba rombongan ular di depannya sama lari serabutan sembunyi masuk ke dalam lobang atau sela-sela batu, dimana pandangan Thian-hi tertuju tampak di depannya sana muncul seekor ular yang berbentuk sangat aneh, ular ini panjang lima enam kaki, badannya panjang dan lencir, kepalanya gepeng dan besar melebar, sekilas pandang seperti sebentuk papan, kulitnya berwarna kuning luju.

Begitu muncul ular aneh ini langsung legat-legot menghampiri ke arah Thian-hi. Thian-hi belum pernah melihat ular aneh macam ini. diam-diam ia meningkatkan kewaspadaann, sedikitpun tak berani lena.

Ular aneh itu melata semakin dekat, Thian-hi menggerakkan seruling jadenya berputar satu lingkaran ditengah udara lalu mengetuk ditengah kepala diantara kedua matanya. Pikir Thian-hi setiap makluk dalam dunia ini pasti punya kelemahan ditengah diantara kedua matanya, kecuali berkelit kalau tidak pasti lawan harus mundur menghindar.

Tapi ular aneh itu mengebaskan ekornya, sedikit bergerak saja badannya lantas melejit ke atas terus melesat ke depan langsung menerjang ke arah Thian-hi, badannya yang panjang itu membelesut lewat di bawah ketukan seruling jade Thian-hi terpaut serambut saja.

Thian-hi tidak menduga bahwa ular aneh ini mampu meluputkan diri sedemikian gampang dari serangannya, malah menggunakan kesempatan itu pula balas menyerang, kelihatannya gerak- gerikhja memang lamban dan tidak pandang sebelah mata pada Thian-hi, tapi sebenar- benarnyalah ular ini begitu lincah dan seperti punya bekal yang cukup sempurna untuk menghadapi Hun Thian-hi.

Thian-hi menjadi sengit, sedikitpun ia tidak mau unjuk kelemahan, beruntun serulingnya menutuk dan menyapu, tahu-tahu ujung serulingnya menegak ke atas menjojoh perut si ular aneh itu, pikirnya kali ini cara bagaimana kau hendak menghindar. Agaknya ular aneh itu cukup waspada, tiba-tiba badannya menggeliat, entah bagaimana mudah sekali ia meluputkan diri lalu tubuhnya melenting ke depan, mulutnya terpentang mematuk ketenggorokan Thian-hi.

Thian-hi tahu bahwa serangan serulingnya Ini pasti tidak akan membawa hasil, tapi sedetik ia mendapat peluang disaat siular menekuk tubuh dan sedikit bergerak lamban Itu tangan kirinya dirangkapkan dan ketiga jarinya menyanggah ke atas hendak mencengkeram leher siular.

Ular aneh melejit ke tengah udara dan menyerang tenggorokannya, kelihatan ia sudah tidak akan mampu berkelit dari cengkeraman tiga jari Thianhi, namun secara mendadak badannya menggetar dengan ekornya menyapu turun ke depan, langsung menepuk dan menangkis tiga jari tangan kirl Thian-hi itu.

Posisi Thian-hi lebih menguntungkan, dengan mendapat angin mana dia mau menyia-nyiakan kesempatan ini, cepat ia tarik tangannya kiri, berbareng seruling ditangan kanan juga ditarik balik serempak kaki pun mundur selangkah, dengan mundur selangkah ini dia menjadi lebih leluasa mengetukan pula serulingnya ke atas kepala siular yang diarah adalah ditengah kedua matanya pula. Agaknya siular juga dapat meraba cara serangan Thian-hi ini tidak meuggunakan jurus tipunya dengan sungguh-sungguh, kuatir menghadapi perobahan serangan yang lebih rumit ia tidak berani sembarangan menyerbu pula, cepat ia menarik diri meluncur mundur dan jatuh di atas tanah.

Thian-hi sama-sama mundur bersama siular aneh, dua belah pihak sama dapat menjelajahi kekuatan dan kemampuan lawannya, untuk selanjutnya mereka menjadi berhati-hati untuk melancarkan serangannya lebih duiu.

Setelah berada di tanah ular aneh itu berputar kayun seperti jalan-jalan, sikapnya wajar dan acuh tak acuh seperti tidak terjadi suatu apa. Thian-hi tahu dia sedang mencari siasat untuk melakukan penyerangan lebih lanjut…. Demikian juga Thian-hi harus berpikir mencari jalan cara2 mengatasinya. Sebagai seorang tokoh kosen dari dunia persilatan, sebagai ahli waris Wi-thian-ci- ciat-sek pula, masa tidak mampu mengatasi seekor ular belaka.

Tapi cara bagaimana baru serangannya bisa telak mengenai sasarannya? Berbagai bayangan berkelebat dalam benaknya, tapi semua cara yang tersimpul itu tiada satupun yang menyocoki seleranya.

Sekonyong-konyong ular aneh itu menerjang pula dengan lejitan tubuhnya yang lebih keras, yang diserang adalah pergelangan tangan Hun Thian-hi. Terpaksa Thian-hi menekan pergelangan berbareng serulingnya mengetuk pula kebatok kepala lawan…. ia tahu bahwa serangan balasan ini tidak akan mengenai sasarannya.

Benar-benar juga siular menggerakan kepalanya mendak kebawah terus menerjang ke depan dengan nekad, agaknya ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri, yang terang mulutnya terpentang hendak menggigit pergelangan tangan kanan Thian-hi.

Mendadak timbul rasa curiga Thian-hi akan gerak-gerik siular aneh ini, sunguh sukar dipercaya seekor ular berbisa yang ganas bisa melakukan serangan yang begitu ceroboh, kecuali dia sendiri punya rencana lain lebih lanjut, betapapun sulit untuk melaksanakan pertempuran adu kekuatan secara keras, bilamana Thian-hi cukup dengan sejurus dapat memukul mundur siular, lalu merangsak lebih lanjut dengan gencar, pasti ia dapat mengambil posisi yang sangat menguntungkan.

Tapi kenyataan menghambat jalan pikiran Thian-hi untuk menerawang keadaan dirinya, gesit sekali serulingnya melintang miring lalu menyapu keras dari samping ke atas.

Kebetulan siular menggerakan ekornya, lincah sekali mendadak ia berhasil membelit batang seruling Thian-hi, seiring dengan itu badannya lantas meneguk, laksana ujung anak panah yang melesat. dari busurnya mulutnya yang bertaring runcing itu melesat ketenggorokan Thian-hi.

Keruan Thian-hi terkejut setengah mati, untuk menyelamatkan diri terpaksa ia harus melempar serulingnya. Tapi ia insaf bila serulingnya lepas dari tangannya pasti dirinya bakal kalah total.

Maka bagaimana juga ia harus berusaha tanpa membuang-buang waktu untuk melepaskan serulingnya, mendadak ia menggentakan serulingnya dengan sepenuh tenaga, pikirnya hendak menggetar lepas belitan ekor siular aneh dari batang serulingnya

Siular aneh hanya gemetar sedikit oleh getaran tenaga dalam Thian-hi, tapi belitan ekornya tetap kencang dan tak sampai tergetar jatuh, tahu-tahu malah kepalanya menegak kembali dengan mulut terpentang lebar, yang diarah tetap adalah tenggorokan.

Saat mana kebetulan tangan kiri Thian-hi sudah terangkat ke atas, langsung kedua jarinya secepat kilat lantas menyelentik ke arah batok kepala siular. Betapa sulit siular mendapat kesempatan ini, sudah tentu ia tidak menyia-nyiakan begitu saja, tapi selentikan jari Thian-hi yang hebat ini mau tak harus dihindari kalau tidak mau konyol.

Terpaksa mulutnya berdesis gusar dan memiringkan kepala meluputkan diri.

Namun dengan berkelit ini ia menjadi kehilangan kesempatan yang paling baik tadi, begitu jari- jari Thian-hi menjelentik keluar langsung ketiga jarinya menyongsong seiring dengan gerakan lanjutan tangannya mencengkeram tempat terlemah yang terletak tujuh senti di bawah kepala siular. Apa boleh buat siular harus membatalkan rencananya mematuk tenggorokan Thian-hi, begitu menundukkan kepala menyusuri batang seruling lawan taringnya yang tajam mengancam jari-jari Thian-hi yang menggenggam seruling.

Thian-hi menjadi serba sulit, ia tahu keadaan memaksa ia harus melepaskan serulingnya, namun bagaimana juga ia tidak rela membuang serulingnya begitu saja, sekonyong-konyong ia mengempos hawa murni dalam pusarnya, mulut lantas bersuit panjang dan nyaring melengking, serulingnya lantas diayun dan dilempar ke tengah udara laksana roket menjulang tinggi ke angkasa.

Waktu ia melontarkan serulingnya ini diam-diam ia kerahkan Lwekangnya dibatang serulingnya untuk menggetar lukai siular aneh, pikirnya meski tidak sampai menggetar lepas dan menjatuhkan sang musuh, paling tidak pasti tergetar luka parah.

Seruling itu menjulang tinggi seperti hampir lenyap ditelan mega, setelah mencapai tick ketinggian akhirnia menukik balik meluncur turun lebih pesat. Belum lagi seruling itu jatuh di tanah, sekonyong-konyong siular aneh itu melenting miring menerjang ke arah Thian-hi, yang diarah lagi-lagi adalah tenggorokannya.

SunggUih takjup dan jeri pula hati Thian-hi, sungguh diluar dugaannya bahwa siular aneh ini begitu lihay jauh lebih hebat dari perhitungannya semula, bukan saja tidak terluka oleh getaran tenaga dalamnya, malah masih mampu balas menyerang lagi dengan gerakan yang begitu lincah.

Tapi tidak diketahui olehnya bahwa sebenar-benarnyalah siular seperti sibisu menelan biji teratai yang pahit getir. menderita tapi tak kuasa bicara, begitu ia dibawa naik turun oleh lontaran seruling yang sangat tinggi itu kalau ia tidak segera melepaskan gubatannya di atas batang seruling dan hanya menggunakan ekornya mennggantol. kalau tidak entah bagaimana kesudahan dirinya saat itu, meski demikian tak urung iapun tak kuasa menahan diri lagi. Begitu meluncur turun dengan kegusaran yang berlimpah2 kontan ia serang Thian-hi lebih ganas.

Thian-hi sudah bersiap, cepat ia kerahkan Pan-yok-hianJ-kang mendorong kedua telapak tangannya menyongsong ke depan. siular aneh kena dipukul terpental kesamping. Begitu jatuh di tanah gesit sekali siular legal-legot berputar mengelilingi Thian-hi.

Posisi Thiar-hi semakin sulit lambat-laun ia terdesak di bawah angin, jelas melihat serulingnya jatuh disebelah sampingnya. tapi ia tidak berani membongkok badan menjemputnya, sementara siular aneh itu dengan garang mengancam dirinya.

Setelah ular aneh mengitari Thian-hi satu putaran, tanpa gentar sedikitpun pelan-pelan ia maju mendekat dari arah depan Thian-hi. Dengan tanpa membekal senjata untuk menang adalah mustahil bagi Thian-hi. Apalagi ular aneh ini cukup cerdik dan cekatan, sukar dihadapi lagi, soalnya keadaan memaksa sehingga ia harus menguras tenaga untuk mempertahankan diri belaka.

Disamping itu otak Thian-hi pun diperas untuk mencari jalan keluar, kesempatan satu-satunya supaya dapat mengambil kemenangan dengan sekali serang secara telak mengenai tempat kelemahan siular, soalnya dengan bersenjata saja ia tidak mampu menang, apalagi sekarang bertangan kosong mana mungkin melaksanakan keinginannya ini, teorinya gampang namun prakteknya sulit.

Tiba-tiba terbayang oleh Thian-hi adegan di dalam Jian-hud-tong waktu ia ketemu Pek-tok Lojin dan Siau-pek-mo dengan Ling-coa-pounya yang lihay itu, bilamana iapun bisa Ling-coa-pou, adalah sangat tepat untuk menghapi ular aneh ini.

Maka terbayanglah akan garak-gerik Pek-tok Lojin waktu menyerbu dirinya dengan gerak langkah yang aneh itu, soalnya waktu itu ia terlalu tegang sehingga tidak terlalu menaruh perhatian sehingga ingatannya sekarang rada samar-samar. Sementara itu si ular aneh dihadapannya ini secepot kilat sudah merangsak datang pula.

Tanpa punya kesempatan berpikir lagi. tersipu-sipu Thian-hi ayun telapak tangannya menampar ke arah siular. Badan siular melengkung lalu melenting laksana pegas yang keras, badannya melengkung ditengah udara berputar ke belakang terus mematuk kepunggung Thain-hi.

Sekonyong-konyong terbayang oleh Thian-hi akan serangan Siau-pek-mmo waktu ia menerjang keluar dari dalam gua dengan jelas sekali, tanpa ayal segera kakinya menggeliat kesamping, berbareng tubuhnya membelesut kepinggir, gerak geriknya seperti Ling-coa (ular sakti) dalam jarak serambut saja ia berhasil menghindari pagutan siular yang lihay dan berbisa ini, bersama itu dua jari tangan kanannya laksana jepitan besi mengarah tujuh senti di bawah lehernya.

Agaknya ular aneh ini tidak menduga bahwa Thianhi bisa melancarkan langkah aneh. seketika ia mundur dengan jeri. Cukup sejurus saja Thian-hi mendapat hasil diluar dugaannya, situasi menjadi banyak berubah, mengandal ingatannya ia gunakan pula Ling-coa-pou mendesak maju lebih lanjut.

Agaknya ular aneh ini mengenal juga Ling-coa-pou dan jeri, begitu Thian-hi semakin dekat tiba- tiba ia berteriak ketakutan terus mundur ke belakang kira-kira satu tombak jauhnya lalu melingkar dan menegakkan kepala siap bertahan, tak berani pula ia sembarangan bergerak. kalau tadi bersikap acuh tak acuh adalah sekarang kelihatan sangat tegang dan ketakutan.

Melihat si ular membentuk pertahanan yang agaknya cukup kuat Thian-hi juga tidak berani sembarang menyerang. Ia tahu lawan menggunakan ketenangan untuk mengatasi pergerakan, apalagi kesan-nya mengenai Ling-coa-pou samar-samar dan yang dilan-carkan tadi tidak lebih cuma kulitnya saja, bila ia bergerak terlalu banyak seandainya menunjukkan lobang kelemahan sendiri pasti celaka akibatnya nanti!