Badik Buntung Bab 06

 
Bab 06

Badan Hun Thian-hi melunjjur turun dihadapan Ciok Hou-bun, katanya, “Ciok-pocu, harap tanya dimanakah jejak guruku sekarang?”

Belum sempat Tiiok Hou-bu menjjawab, tahu-tahu orang tua jubah merah sudah putar pedang pusakanya merabu ke arah Hun Thian-hi. Sejak menelan buah ajaib, Hun Thian-hi mulai melatih Gin-ho-sam-sek dengan seksama, kecuali jurus ketiga yang masih rada sulit dipahami, jurus pertama dan kedua dapat dilatihnya dengan gampang. Selama dua hari di Soat-san ia melihat Soat-san-su-gou mereka menggunakan kedua jurus itu untuk menghalau musuh tangguh, ini berarti intisari kedua jurus ilmu ini telah diturunkan langsung kepada Hun Thian-hi, sayang Lwekang Hun Thian-hi sendiri belum mencapai taraf yang diperlukan.

Sekarang waktu Hun Thian-hi lancarkan Gelombang perak mengalun berderai dari bertahan berbalik balas menyerang malah, orang tua jubah merah terdesak keripuhan. Terasa oleh orang tua jubah merah sinar perak berkemilau diempat penjurunya menyilaukan mata dan mengganggu pemusatan pikiran, hawa dingin dan tajam seperti mengiris kulit yang tak kelihatan seiring dengan kilalatan sinar pedang merangsang dan menyampok ketubuhnya, keruan ia semakin terdesak di bawah angin, terpaksa ia menjaga diri saja dengan rapat.

Melihat babak pertempuran adu pedang ini diam-diam bercekat hati Ciok Hou-bu, ia membatin kalau sampai Hun Thian-hi mengambil kemenangan tentu. situasi selanjutnya

tidak menguntungkan bagi dirinya, beruntung kalau ia mau percaya dengan keterangannya, kalau tidak….

Karena pikirannya ini segera ia berteriak, “Tahan, dengarkan kata-kataku!”

Hun Thian-hi menghentikan serangannya terus mundur dan berdiri sambil masih menenteng pedangnya, kepalanya berpaling memandang ke arah Ciok Hou-bu.

Tanpa merasa Ciok Hou-bu merasa tekanan bertamba hbesar terhadap dirinya, maka katanya menyelidik kepda pemuda jubah putih, “Bun-pangcu, apakah tujuanmu yang utama kemari?”

Bun Cu-giok bergelak tawa dijawabnya, “Memang, semula aku mengincar juga Badik buntung itu, tapi sekarang kunyatakan aku tidak memerlukannya lagi.”

Tergetar perasaan Ciak Hou-bu, ia berpaling dan memandang kekanan diri, diam-diam ia tengah menerawang situasi sekelilingnya, memperhitungkan untung ruginya, kalau seumpama dirinya bergabung, ditambah orang tua jubah merah dan seluruh kerabat dari Hwi-cwan-po kemenangan

terang bakal dapat dicapai dengan mudah. namun….

Agaknya orang tua jubah merah dapat meraba jalan pikirannya, sembari tertawa lantang ia berseru, “Kenapa Bun-pangcu tersinggung oleh peristiwa tadi, urusan sudah lewat anggap saja sudah himpas. yang paling utama sekarang adalah demi Hun Thian-hi, seumpama bisa merebut Badik buntung dari tangannya, kita masing-masing apa kuat mengangkanginya sendiri, maka jalan satu2nya adalah berserikat.” ~secara gamblang ia ajak Bun Cu-giok untuk bergabung, hakikatnya tujuan kata-katanya adalah kepada Ciok Hou-bu, secara diam-diam ia memberi kisikan supaya orang tak perlu kuatir kalau kelak ia bakal memonopoli sendiri hasil jerih payah bersama.

Bun Cu-giok menjengek gusar, “Bun Cu-giok tadi sudah menjelaskan, sekarang aku tidak sudi lagi dengan Badik buntung apa segala.”

Sudah tentu Ciok Hou-bu juga maklum akan arti kata orang tua jubah merah yang dalam, sambil tertawa ewa ia berkata kepada Hun Thian-hi, “Sebenar-benarnya gurumu tak berada disini.”

Hun Thian-hi tersentak kaget, tanyanya, “Apa?”

Ciok Hou-bu menyeringai, katanya lagi, “Hun-siauhiap, gurumu tak berada disini. Memang aku sudah menahannya, namun akhirnla gurumu pergi juga. Supaya dapat memancingmu kemari terpaksa aku menyebar kabar bohong itu.”

Gemes dan dongkol pula perasaan Hun Thian-hi, katanya dingin, “Jadi tujuan Ciok-pocu yang sebenar-benarnya adalah Badik buntung? Ketahuilah bahwa Badik buntung sekarang tak berada di tanganku.”

Ciok Hou-bu tertegun. Dasar licik adalah orang tua jubah merah yang buka bicara lagi, “Tak menjadi soal, asal kau disini, tak perlu kuatir Badik buntung takkan datang sendiri?”

Terlihat oleh Thian-hi, Ciok Hou-bu tengah memberi tanda lirikan kepada anak buahnya, tak lama kemudian sebarisan anak buahnya yang mengenakan seragam hijau berdujun2 memenuhi seluruh ruangan.

Tiba-tiba Hun Thian hi tertawa lebar, tanyanya, “Apakah Ciok-pocu betul-betul hendak menahan aku?”

“Sudah tentu!” seru Ciok Hou-bu.

Orang tua Jubah merah tahu saatnya sudah tiba, maka sembari bergelak tawa ia bolang balingkan pedang pusakanya terus menyerbu lebih dulu. Kim-kiam-gin-pian Bun Cu-giok melihat situasi sudah berkembang begitu gawat, terpaksa iapun mulai bergerak, dengan menenteng pedang ia menubruk ke arah Ciok Hou-bu.

Mata Ciok Hou-bu jelilatan melirik ke kanan kiri, segera Nyo Kwong dan To Hwi juga melolos pedang masing-masing, sedang ia sendiri menggentakkan mantel besarnya terus kembangkan tiga belas jurus Hwi-cwan-kian-soat menyerbu kepada Bun Cu-giok.

Bun Cu-giok membuang pedangnya yang sudah kutung, dengan ilmu Eng-hong-ciang ia hadapi ketiga pengerojoknya.

Sudah sekian lama Ciok Hou-bu angkat nama dikalangan Kangouw dengan ilmunya Hwi-cwan- kian-soat-cap-sa-sek, sudah tentu kepandaiannya bukan olah-olah lihaynya, tiga tokoh silat kelas wahid sekaligus mengeroyok Bun Cu-giok, pedang dan cambuknya sudah kutung dan dibuang dengan bertangan kosong sudah tentu ia terdesak di bawah angin. Terdengar Ciok Hou-bu membujuk, “Bun-pangcu seorang gagah harus dapat melihat gelagat dan mengambil keuntungan, Bun-pangcu masih muda dan punya masa depan yang gemilang, kenapa berpandangan cupat dan mengukuhi adat sendiri?”

Bun Cu-giok menjengek sinis tanpa buka suara.

Sementara itu Ciok Yan berdiri menjublek di tempatnya, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Di lain pihak dengan permainan Gin-ho-sam-sek seorang diri Thian-hi melawan orang tua jubah merah. Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu tunggal yang tiada keduanya dari ilmu pedang tingkat tinggi. Bu-bing Loni yang dipandang sebagai jago nomor satu di seluruh kolong langit pun kena dikepung selama sehari semalam, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan digdaya ilmu ini.

Tapi kepandaian orang tua jubah merah dengan ilmu pedang Thay-i-kiam yang tajam luar biasa itu berusaha bertahan sekuat tenaga, sayang Hun Thian-hi menguatirkan keselamatan Bun Cu- giok yang terkepung dalam bahaya. diam-diam hatinya menjadi gugup dan kuatir.

Pertempuran tokoh silat tinggi melulu mengutamakan pengkonsentrasian pikiran dan badan sedikit perhatian terpencar orang tua jubah merah lantas balas menyerang, keadaan menjadi sama kuat. Hun Thian-hi menjadi tak sabar lagi, Gin-ho-sam-sek jurus kedua segera dilancarkan setabir cahaya putih berterbangan mengurung orang tua jubah merah. Kontan orang tua jubah merah terkurung ketat, sekuat tenaga ia bertahan dan berusaha menerobos dan bergulat dengan segala daya upaya.

Hun Thian-hi semakin mengerutkan kurungannya, sayang ia kuatir dan gentar menghadapi ketajaman Thay-i-kiam-lawan sehingga mengurangi kebebasan gerak geriknya.

Di belakang sana terdengar gelak tawa Ciok Hou-bu, kiranya kedok Bun Cu-giok ditanggalkan.

Kata Ciok Hou-bu lagi, “Bun-pangcu, sekarang kesempatan terakhir aku mengundangmu ikut dalam perserikatan kita.”

Biji mata Bun Cu-giok berkilat beringas, dengan murka ia mencemooh, “Seumpama aku Bun Cu-giok hari ini harus terkubur disini jangan harap keinginan kalian bisa terkabul.”

Melihat Bun Cu-giok sudah terdesak ke dalam bahaya. Hun Thian-hi membentak keras, tiba-tiba ia melesat berkelebat, pedang panjangnya serentak merabu kepada Ciok Hou-bu bertiga.

Gentar akan kekuatan dan kehebatan kepandaian orang Ciok Hou-bu bertiga menyurut mundur.

Sementara orang tua jubah merah menghardik terus mengejar tiba, pedang panjangnya menusuk ke punggung Hun Thian-hi dari belakang.

Terpaksa Hun Thian-hi membalikkan pedang, tusukannya balas menyerang ke tengah mata orang tua jubah merah. Orang tua jubah merah tertawa riang, sedikit angkat pedang dan menyontek “tring”, kontan pedang Hun Thian-hi kutung menjadi dua dan berkerontangan jatuh di lantai.

Girang Ciok Hou-bu bukan main, berempat mereka mengepung Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi.

Sementara Ciok Yan berdiri dengan pucat dan ketakutan diluar gelanggang. Bun Cu-giok berdiri menjublek kehilangan semangat.

Berkilat pandangan Hun Thian-hi satu per satu ia tatap keempat musuhnya, hatinya menyesal sekali bahwa seseorang menyertai kematiannya, ini adalah tidak diinginkan olehnya, otaknya tengah menerawang dan beragu apakah ia harus melancarkan jurus ganas pencacat langit pelenyap

bumi untuk mengakhiri pertempuran ini. Tempo hari ia sudah pernah berjanji kepada Situa pelita untuk tidak melancarkan jurus ganas ini, tapi Sementara itu, Ciok Hou-bu sudah unjuk muka berseri, otaknya sudah melayang membayangkan Badik buntung bakal tergenggam dalam tangannya, maka Ni-hay-ki-tin jelas sudah diambang mata.

Mendadak pintu besar diterjang dari luar, serombongan orang berkuda menerjang masuk, terus meluruk ke arah Ciok Hou-bu beramai. Keruan kaget Ciok Hou-bu bukan main, cepat ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, pihak Partai merah juga lantas bergerak memapak maju merintangi. Pemimpin penyerbuan tak terduga ini adalah seorang tua berambut uban, tampak ia mencelat tinggi dari tunggangannya ditengah udara melolos pedang terus meluncur ke tengah diantara empat musuh Hun Thian-hi.

Begitu melihat orang tua beruban ini Ciok Hau-bu lantas berteriak, “Kim Poan-long!”

Ki-thian Lojin Kim Poan-long begitu mendaratkan kakinya lantas bertanya lantang, “Siapa Hun Thian-hi?”

Ciok Hou-bu mengulap tangan menghentikan anak buahnya, serta serunya menunjuk Hun Thian-hi, “Dia inilah, saudara Kim ada urusan apa?”

Kim Poan-long celingukan menerawang situasi sekelilingnya. Sedang orang tua jubah merah menjadi marah melihat tambah seorang lagi yang turut campur dalam pertikaian ini, dengan menggerung ia menusuk dengan pedangnya kepada Kim Poan-long.

Hakikatnya tiada ketulusan hati untuk bekerja sama dengan Ciok Hou-bu beramai kini dilihatnya tambah kedatangan seorang lagi, tadi mereka sudah berada di atas angin, seumpama Kim Poan- long bergabung dalam pihak Hun Thian— hi iapun tak perlu takut.

Melihat tusukan orang tua jubah merah, Kim Poan-long mengegos ke samping, berbareng tangannya terayun serta berteriak kepada Hun Thian-hi, “Hun-siauhiap, sambut ini, mari kita menerobos keluar!”

Terlihat secarik cahaya hijau berkelebat, tangkas sekali Hun Thian-hi sudah meraih Badik buntung di tangannya, sungguh kejut dan girang bukan main, sungguh tak terkira olehnya Ki-thian

Lojin Kim Poan-long bakal meluruk datang tepat pada waktunya.

Begitu membekal Badik buntung Hun Thian-hi seperti harimau tumbuh sayap, dimana sinar hijau menyamber sekaligus ia serang keempat pengepungnya, bersama itu ia berteriak kepada Bun Cu-giok, “Saudara Bun, lekas ikut kami menerjang keluar!”

Kedatangan Kim Poan-long betul-betul merubah situasi menjadi tegang, sekaligus Badik buntung juga muncul diarena pertempuran, sudah tentu Ciok Hou-bu berempat menjadi kalang kabut, kepungan mereka menjadi bobol dan dengan mudah ketiga orang musuhnya dapat menerobos keluar.

Ciok Hou-bu berkaok2 memberi aba-aba para kerabatnya untuk merintangi, demikian juga orang tua jubah merah memerintahkan anak buahnya menghadang, namun mana mereka kuat menghadapi ketajaman Badik buntung, sebentar saja Hun Thian-hi bertiga sudah mencemplak di atas kuda terus dilarikan pesat menerjang keluar pintu gerbang perkampungan…. Sesaat Ciok Hou-bu berempat menjadi melongo dan kesima di tempat masing-masing, hanya Ciok Yan merasa hampa nan kecut.

Setelah lolos dari Hwi-cwan-po Hun Thian-hi terus membedal kudanya sekencang-kencangnya, kira-kira lima li kemudian baru berhenti.

Segera Bun Cu-giok angkat tangan menjura kepada Hun Thian-hi, ujarnya, “Bantuan saudara Hun hari ini sampai ajalpun takkan kulupakan. Dalam partai masih banyak urusan, terpaksa Bun Cu-giok mohon diri dulu!”

“Hun-pangcu terlalu sungkan,” demikian jawab Thian-hi dengan sikap jantan dan setia kawan, “Bun-pangcu, sungguh Hun Thian-hi merasa sangat kagum dan banyak terima kasih pula.”

Bun Cu-giok juga menjura kepada Ki-thian Lojin Kim Poan-long, ujarnya, “Kalau Kim-ke-cheng memerlukan bantuan kami dari Partai putih pasti akan suka membantu dengan seluruh kemampuan. Sekarang Bun Cu-giok mohon diri!” — kudanya diputar terus dibedal kencang.

Kim Poan-long tertegun sebentar, katanya, “Diakah Pangcu Partai putih!”

Hun Thian-hi tersenyum, sahutnya manggut-manggut, “Kim-chengcu datang tergesa-gesa, apakah ada urusan?”

Pelan-pelan Kim Poan-long menundukkan kepala, ujarnya sambil menghela napas rawan, “Adikku dibokong orang, saat ini sudah wafat karena luka-lukanya yang berat.”

Berubah air muka Thian-hi, serunya kejut, “Ji-chengcu sudah mati?”

Kim Poan-long manggut-manggut tanpa bersuara, katanya, “Dengan sekuat tenaga ia bertahan kembali kerumah, setelah menceritakan pengalamannya lantas menghembuskan napasnya.”

Sungguh mimpi juga Hun Thian-hi tidak nyana bahwa Kim Ci-ling sudah meninggal dibokong orang, sekian lama ia terlongong-longong, terbayang olehnya wajah orang di depan matanya, suaranya pun seperti masih terkiang di pinggirl telinganya, pelan-pelan ia bertanya, “Apakah Ji- chengcu tahu siapakah pembokongnya?”

Kim Poan-long menghela napas, katanya, “Musuh di tempat gelap, diapun tak jelas siapakah yang membokong.”

Hun Thian-hi terpekur, mendadak ia berteriak, “Akulah yang mencelakai dia, biar sekarang juga aku pergi ke Bu-tong-san.”

“Hun-siauhiap, siapakah yang kau sangka?” tanya Ki-thian Lojin Kim Poan-long.

“Aku belum tahu,” sahut Thian-hi sambil menunduk. “tapi pasti ada sangkut paut dengan pihak Bu-tong-pay.”

“Dugaankupun begitu,” kata Kim Poan-long, “peristwa ini terjadi begitu mendadak, setiap kejadian hampir membuat orang susah percaya!”

“Kim-chengcu. sekarang juga aku mohon diri.”

“Perjalanan ini cukup berbahaya, tidakkah lebih baik kita pergi bersama “ Thian-hi manggut-manggut. sahutnya, “Begitupun baik.” Kim Poan-long memberi pesan dan perintah pada anak buahnya lalu bersama Thian-hi beriring membedal kudanya langsung menuju ke Bu-tong-san.

Sepanjang jalan ini Hun Thian-hi mengerutkan alisnya hatinya tengah gundah dan menerawang, kejadian yang dihadapi betul-betul cukup mengherankan, betapapun aku meluruk ke Bu-tong-san menanyakan secara langsung pada Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin.

Entah berapa lama dan berapa jauh sudah perjalanan ini yang mereka tempuh, yang terang cuaca sudah berganti mulai magrib.

Secara kebetulan Hun Thian-hi sedang berpaling ke belakang, dilihatnya rada jauh di belakang sana terlihat dua sosok bayangan hitam tengah mengejar datang dengan kecepatan seperti kilat. Saking kaget Thian-hi berteriak kepada Kim Poan-long, “Lihat!”

Kim Poan-long berpaling, ia pun tersentak kaget.

Sekejap saja kedua sosok bayangan hitam itu sudah menyusul tiba terus menerobos lewat tunggangan mereka terus berhenti menghadang di depan.

Lekas-lekas Thian-hi berdua menarik kekang kuda masing-masing.

Dengan seksama seksama Thian-hi mengamati kedua orang penghadang ini, mereka adalah dua orang berseragam hitam dan berkedok hitam pula, hanya kedua biji mata masing-masing yang kelihatan berkilat tajam, mereka mencegat ditengah jalan tanpa bersuara.

Bercekat hati Thian-hi, terpikir olehnya bahwa kedua orang ini tentu meluruk dirinya karena mengincar Badik Buntungnya.

Terdengar Ki-thian Lojin buka suara, “Saudara berdua menyusul kita, entah ada urusan apakah?”

Dua orang itu tetap bungkam tanpa bersuara atau bergerak.

Dengan cermat Thian-hi pandang mereka, ujarnya, “Apakah kalian mengincar Badik buntung milikku itu?”

Kedua orang itu masih bungkam.

Hun Thian-hi menjengek dingin, kudanya dibedal menerjang ke depan. Cepat-cepat orang sebelah kiri angkat sebelah tangannya menepuk kepala tunggangan Thian-hi.

Thian-hi mengayun Badik buntung memapas kepergelangan tangan orang berkedok, terdengar ia mendengus hidung, tubuhnya mencelat naik ke udara, sebelah kakinya geledek menendang ke tangan Thian-hi yang me-Badik buntung.

Cepat Thian-hi menarik tangannya, namun kesempatan tidak disia-siakan oleh lawannya gesit sekali sebelah tangan yang lain sudah meluncur tiba menepuk ke dadanya.

Hun Thian-hi menggertak dengan gusar, sejak menelan buah ajaib Lwekangnya sudah maju berlipat ganda selama ini belum pernah beradu pukulan dengan lawan secara kekerasan, sekarang tibalah saatnya ia menjajal kemampuannya, maka sebelah tangan kiri diayunkan memampak serangan telapak tangan lawan. Begitu kedua pukulan saling bentrok, seketika berubah rona wajah Hun Thian-hi, terasa telapak tangannya panas sekali seperti dibakar dalam bara, begitu saling sentuh lantas seluruh lengannya pati rasa.

Orang berkedok itu menjengek dingin, tangan kanannya terulur cepat sekali menyengkeram ketangan kanan Thian-hi yang memegang Badik buntung.

Thian-hi mengertak gigi, dengan nekad ia ayun tangannya melancarkan jurus Gelombang perak mengalun berderai mendesak mundur lawannya.

Melihat muka Thian-hi yang tidak wajar, Kim Poan-long menjadi gelisah, tanyanya gugup, “Hun-siauhiap, kenapa kau?”

“Tidak apa-apa,” sahut Thian-hi sambil menarik lengan kirinya yang sudah kejang.

Kedua orang berkedok saling berkedip memberi isyarat lalu mulai bergerak lagi menyerang dengan tekanan lebih besar kepada Hun Thian-hi dan Kim Poan-long.

Luka-luka Thian-hi cukup berat, namun ia bertahan sekuat tenaga, melihat musuh menyerbu lagi, dia tahu Kim Poan-long tentu tak kuat bertahan, dengan menghardik keras ia menjepit perut kudanya, tubuhnya mencelat tinggi ia atas terbang lempang ke depan sembari lancarkan Tam-lian- hun-in-hap, inilah jurus kedua dari Gin-ho-sam-sek yang hebat itu, seketika terlihat cahaya hijau pupus berkembang melebar terus menungkrup ke arah kedua musuh berkedok.

Agaknya kedua orang berkedok cukup tahu betapa hebat serangan ini, cepat-cepat mereka melompat mundur jumpalitan.

Lengan kiri Thian-hi terasa panas dan tak tertahan lagi ia insaf semakin lama bertempur tentu dirinya takkan kuat bertahan, maka setelah dengan aksinya ini, ia obat-abitkan Badik buntungnya lalu jumpalitan turun di atas pelana kudanya kembali, begitu menggertak kudanya lantas dicongklang kencang menerjang maju.

Melihat musuh hendak lari, kedua orang berkedok menjadi gugup, cepat-cepat mereka berdiri kembali sambil pasang kuda-kuda sembari berteriak panjang empat telapak tangan mereka bekerja bersama memukul ke depan, kontan kedua kuda tunggangan Thian-hi tersentak naik ke atas dan berbenger panjang terus roboh terkapar tak bergerak lagi.

Begitu melihat gaja serangan kedua musuh Ki-hian Lojin lantas berteriak kaget, “Siau….” salah seorang berkedok tampak menerjang secepat kilat, sebelah tangannya telak sekali menepuk kedada Kim Poan-long, terdengar Ki-thian Lojin menjerit ngeri terus robah terjengkang.

Saat mana Thian-hi sudah berhasil menerjang lewat dari samping serta mendengar jerit Kim Poan-long yang menggiriskan itu, kejutnya bukan kepalang, cepat-cepat ia putar balik hendak menolong tapi sudah terlambat.

Keruan Hun Thian-hi menjadi berang, seperti banteng ketaton segera ia obat-abitkan Badik buntung sekencang-kencangnya, maksudnya hendak mendesak dan merobohkan kedua musuhnya berkedok, tapi kepandaian kedua orang berkedok ternyata juga tidak lemah, enteng sekali mereka melesat mundur terus putar tubuh melarikan diri.

Hun Thian-hi melompat mengejar, kira-kira puluhan tombak kemudian seluruh mukanya sudah basah kujup oleh keringat sendiri. Bukan lari terus sebaliknya kedua musuh berkedok itu malah putar balik, Thian-hi harus kertak gigi sambil menerjang musuhnya, dimana Badik buntung berkelebat ia kembangkan Gelombang perak mengalun berderai menyerang dengan kalap. Kedua musuh berkedok melomprt berpencar meluputkan diri, dari dua jurusan ini mereka angkat tangan balas menyerang kepada Hun Thian-hi.

Begitu melancarkan serangan pertama lantas Thian-hi merasa tenaga dalamnya rada macet tak kuat bersambung lagi, sudah tentu kejutnya sepeti disengat kala, keringat dingin mengalir keluar, pikiran otaknya menjadi rada terang. Cepat ia dapat menyadari situasi yang tidak menguntungkan dirinya ini, diam-diam ia berpikir, “Cara mengadu jiwa begini, mungkin aku sendiri bakal konyol sebelum dapat menuntut balas.”

Sementara itu kedua musuh berkedok itu telah merangsek maju lagi, sambil menggeram Thian- hi ayun Badik buntung menyerampang musuh. Begitu kedua musuhnya menyurut mundur menghindar, cepat-cepat ia melompat mundur ke belakang, diam-diam ia mencari jalan untuk meloloskan diri

Sedikit melompat menghindar kedua musuh berkedok gesit sekali sudah melejit maju pula tiba di belakang Hun Thian-hi. Saking gugup dan tiada jalan lain, terpaksa tanpa banyak pikir lagi Thian-hi sambitkan Badik buntung diantara kedua musuhnya. Sudah tentu kedua musuhnya tidak menyangka bahwa Thian-hi rela melemparkan Badik buntungnya, tanpa berjanji keduanya melejit terbang mengejar ke arah Badik buntung yang meluncur jauh kesana.

Sebat sekali Hun Thian-hi berkelebat terus melompat naik ke atas sepucuk pohon rindang.

Sesaat kemudian tampak kedua orang berkedok lari balik, sekian lama mereka ubek2an di dalam hutan mencari jejaknya, akhirnya mereka kewalahan. setelah bercakap-cakap sebentar mereka lantas berlari pergi.

Melihat kedua musuhnya pergi, Thian-hi sendiri sudah payah dan tak kuat bertahan lagi, begitu ketegangan hatinya mengendor tubuhnya lantas terjungkal roboh dari atas pohon. Begitu terbanting di tanah pikiran Thian-hi menjadi rada terang, pelan-pelan dengan segala sisa tenaganya ia merogoh keluar daon buah ajaib terus dijejalkan ke dalam mulut, seketika hawa harum mengalir dalam tenggorokannya.

Bergegas Thian-hi duduk bersila. pelan-pelan mengatur pernapasan dan mengerahkan tenaga dalam kira-kira setengah jam kemudian baru ia merasa kesehatannya pulih seperti sedia kala.

Waktu ia kembali ke tempat semula, tampak kedua ekor kuda mereka dan Kim Poan-long menggeletak di tanah. Hun Thian-hi menghela napas rawan. Segera ia gali liang lahat, jenazah Kim Poan-long lantas dikabur sekadarnya.

Setelah mengubur jasad Kim Poan-long, Thian-hi duduk di bawah pohon, pikirannya bekerja, “Siapakah kedua orang berkedok itu?”

Dipikir punya pikir mendadak ia tersentak kaget, gumamnya, “Siau! Siau-yang-sin-kang” — kedua biji matanya mendelik lebar, hidungnya mendengus, selain mereka berdua siapa lagi, demikian dalam hati ia membatin.

Tiba-tiba melonjak berdiri. seperti bakal ketiban rejeki tersipu-sipu ia berlari kencang menuju ke Bu-tong-san.

Waktu sinar surja menongol keluar di ufuk timur, memancarkan cahayanya yang cerlang cemerlang Hun Thian-hi sudah beranjak dijalanan yang menuju kepusat Bu-tong-pay, dua pucuk pohon Siong yang besar dan tinggi berdiri diam laksana raksasa menembus awan. Dalam hati Han Thian-hi berani memastikan bahwa kedua orang berkedok itu tentu adalan Gwat Long dan Sing Poh adanya, Kira-kira baru setengah perjalanan, dari ataas gunung berjalan turun seseorang, begitu melihat Hun Thian-hj orang itu lantas mengumpat caci dengan murka.

Waktu Thian-hi angkat kepala, orang itu bukan lain adalah murid preman pihak Bu-tong-pay, tak lain tak bukan adalah Thi-kiam Lojin yang pernah mencari perkara pada dirinya.

Begitu melihat tegas pada Hun Thian-hi, kontan Thi-kiam Lojin lantas melolos pedang yang disandang dipunggungnya, bentaknya kepada Thian-hi, “Orang she Hun! Ke-mana-mana kucari kau, tak kukira hari ini kau batang sendiri.”

Hun Thian-hi tak sabar main debat dengan Thi-kiam Lojin, tanpa membuka suara cepat ia menerjang ke atas, melihat sikap acuh tak acuh Thian-hi, Thi-kiam Lojin semakin murka sembari bergelak tawa ujung pedangnya. menjojoh ke depan menusuk perut Thian-hi.

Enteng sekali badan Thian-hi mencelat tinggi, mulutnya berteriak, “Hari ini aku mencari Giok- yap Cinjin, bukan mencari kau!”

Kepandaian silat Thi-kiam Lojin cukup tinggi, sebab sekali ia pun mencelat terbang menyusul, beruntun pedangnya berkelebat menyamber, sekaligus ia sudah lancarkan tiga jurus serangan pedang kepada Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi menghardik keras. dengan sebelah tangannya ia menyampok kebatang pedang Thi-kiam yang menyamber tiba. Thi-kiam Lojin rada keder, kuatir Hun Thian-hi mengeluarkan Badik buntung memotong kutung pedang panjangnya seperti tempo hari, maka cepat-cepat ia tarik balik pedangnya, merubah gaja dan jurus tipu pedangnya ia merabu semakin kencang.

Tak terkira olehnya bahwa kepandaian Hun Thian-hi sekarang sudah jauh beda dengan Thian- hi tempo hari, beegitu ia menarik dan merubah jurus ilmu pedangnya, berbalik Thian-hi mendapat kesempatan melancarkan tiga pukulan berantai, sehingga Thi-kiam Lojin terpaksa hanya mampu bertahan dan mundur selamatkan diri dari pada balas menyerang.

Hun Thian-hi melompat tinggi ke depan berlari laksana terbang ke atas gunung. Sepanjang jalan penuh rintangan, untung mereka bukan terdiri tokoh-tokoh lihay dari Bu-tong-pay, maka dalam sekejap saja ia sudah sampai diambang Tin-yang-kiong.

Sampai disini baru Hun Thian-hi berhati lega, dia tahu Tio-yang-kiong merupakan tempat berkumpul para tokoh-tokoh kosen Bu-tong-pay, Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinji sendiri pun bersemajam di Tio-yang-kiong ini. Thian-hi sendiri insaf bahwa menghadapi Gwat Long dan Sing Poh saja dirinya bukan tandingan mereka, apalagi Giok-yap Cinji sendiri. Tapi urusan ini sudah terjadi gara-gara dirinya betapa pun harus jumpa dan menanyakan langsung kepada Giok-yap Cinjin.

Kenyataan sudah terjadi Gwat Long dan Sing Poh membunuh Kim Poan-long untuk menutup mulutnya, sudah tentu dengan gampang mereka pun dapat membunuh keempat orang lainnya. Seumpama tidak meluruk datang juga sama saja. Harapan utama sekarang adalah bahwa Gwat Long dan Sing Poh membangkang atau bekerja membelakangi Giok-yap Cinjin, kalau tidak begitu dirinya beranjak ke dalam Tio-yang-kiong bakal takkan mudah keluar kembali.

Dengan teliti dan waspada Thian-hi putar kayun mengelilingi Tio-yang-kiong seputaran, hatinya tak habis mengerti kenapa selama ini tak terdengar sedikitpun suara. Dengan enteng Thian-hi meloncat naik ke atas rumah, memandang ke dalam terlihat suasana Tio-yang-kiong sunyi senyap, seorang pendeta pun tak terlihat bayangannya. Hati Thian-hi menjadi curiga, pikirnya, “Mungkinkah Tio-yang-kiong tidak kenyataan seperti yang dikabarkan di luaran?” ~dilain kejap ia melompat turun di sebelah dalam, dengan langkah tetap ia berjalan masuk.

Tampak di ruang sembahjang batang2 hio masih tersemat menyala, asap mengepul tinggi, tapi tak kelihatan bayangan seorangpun. Thian-hi melangkah terus ke dalam, memang rumah berhala yang sedemikian besar ini tidak dihuni seorang manusiapun. Dalam hati Thian-hi membatin, jikalau Giok-yap Cinjin, bersemajam di Tio-yang-kiong, seumpama orang lain sedang keluar karena banyak urusan, tentu beliau seorang masih ada didalam.

Jalan punya jalan dari kejauhan dilihatnya di sebelah dalam sana sebuah ruang samadi pelan- pelan ia maju ke arah sana, waktu ia melongok ke dalam terlihat seorang Tosu tengah duduk samadi tanpa bergerak.

Thian-hi terperanjat, terlihat olehnya sinar mata orang itupun memancarkan cahaya aneh dan heran, namun ia tidak bergerak dan tidak bersuara.

Setelah menenangkan gejolak hatinya Thian-hi mengamati Tosu itu, jelas Tosu ini berambut hitam dan berjenggot hitam pula, namun wajahnya pucat pasi seperti kertas, sinar matanya guram tak bersemangat, duduk mematung tanpa bergerak, jikalau biji matanya tidak terpentang dan bergerak Thian-hi pasti anggap orang telah mati.

Thian-hi maju mendekat serta menjura katanya, “Aku yang rendah Hun Thian-hi, harap tanya kepada Totiang, dimana kediaman Giok-yap Cinjin?”

Tosu itu tetap tak bergerak dan tak bersuara, namun matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti.

Melihat orang tidak bicara, Thian-hi merenung sebentar, lalu katanya lagi, “Kalau Totiang tidak bisa bicara, apakah bisa mengantarku kepada beliau?”

Biji mata si Tosu berjelilatan, seolah-olah punya banyak pertanyaan yang hendak disampaikan, namun sedikitpun ia tidak mampu bergerak.

Thian-hi menjadi putus asa, pelan-pelan ia putar tubuh hendak tinggal pergi, tiba-tiba tergerak sanubarinya, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya, pikirnya siapa lagi orang yang boleh duduk samadi di dalam ruang Tio-yang-kiong? Tiba-tiba ia putar balik serta maju bertanya, “Apakah Totiang adalah Giok-yap Cinjin Cianpwe?”

Lagi-lagi mata Tosu tua ini memancarkan cahaya yang sukar diraba juntrungannya. Terkilas dalam pikiran Thian-hi akan cerita Kim Ci-ling tempo hari, mungkin Giok-yap Cinjin mempunyai kesukaran yang sulit disampaikan?”

Thian-hi terlongong sebentar, akhirnya ia berketetapan untuk coba-coba, dari kantong bajunya ia mengeluarkan sepucuk daun buah ajaib terus diangsurkan kepada Tosu itu serta katanya, “Mungkin Totiang terkena racun jahat, inilah daun Kiu-thian-cu-ko, setelah Totiang menelan daun ini tentu penyakitmu dapat sembuh.”

Tampak Tosu itu rada beragu sebentar, namun akhirnya ia menerima juga, dengan kedua tangannya Thian-hi menyongkel gigi si Tosu yang terkatup kencang terus menjejalkan daun buah ajaib ke dalam mulutnya.

Rada lama kemudian, baru tampak si Tosu dapat menghela napas lega dengan lemah, katanya serak, “Pinto memang Giok-yap adanya. Entnh Siauhiap mencari aku ada urusan apa?” Mendengar ucapan orang sungguh girang Thian-hi bukan main, tersipu-sipu ia berlutut dan menyembah sapanya, “Wan-pwe Hun Thian-hi menghadap pada Lo-cianpwe.”

Kata Giok-yap Cinjin perlahan, “Sekarang aku tahu untuk apa kau kemari. Aku dibokong orang sehingga tak dapat bicara, badanpun menjadi kaku tak bisa bergerak sejak sebulan yang lalu. Tadi meski kau sudah memberi daun buah ajaib, paling tidak harus memakan waktu dua belas jam baru bisa pulih seluruhnya! Eh, kau bangunlah!”

Kata Thian-hi sambil bangkit, “Wanpwe semula mengira mungkin Cianpwe dikelabui dalam peristiwa ini maka dengan lancang menghadap kemari.”

Ujar Giok-yap Cinjin memejamkan mata, “Aku dapat menduga kejadian apakah itu, tapi belum jelas akan duduk perkara sebenar-benarnya, coba Hun-siauhiap menjelaskan.”

Maka Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya sejak ia bertemu dengan Kim Ci-ling.

Setelah mendengar cerita Thian-hi Giok-yap Cinjin membuka mata, katanya serius, “Hun siauhiap! Dosa. Gwat Long dan Sing Poh dalam peristiwa ini tak terampun lagi. Tapi apakah Hun siauhiap tahu siapakah orangnya yang berdiri di belakang lajar?”

Thian-hi berpikir sebentar, jawabnya, “Tentang hal ini Wanpwe pernah memikirkannya, memang pasti ada orang yang memegang rol di belakang peristiwa ini, dan orang itu pasti Mo-bin Suseng adanya.”

Giok-yap Cinjin manggut-manggut, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah Siauhiap ada bermusuhan dengan Mo~bin Suseng?” Hun Thian-hi manggut-manggut mengiakan.

Kata Giok-yap Cinjin, “Beberapa tahun belakangan ini aku gemar main catur, beberapa waktu yang lalu pernah datang seorang yang mengaku bernama Hou Gwan, diapun pandai bermain catur, sungguh aku tidak menduga bahwa dia inilah Mo-bin Suseng yang kenamaan di seluruh jagad itu, diam-diam ia telah meracun kepadaku, racun yang digunakan adalah Soat-san-cu, bisa paling jahat di seluruh dunia. Karena kurang hati-hati aku terjebak oleh tipu muslihatnya. Dia ngapusi murid2ku katanya aku tersesat latihan Lwekang, tanpa Badik buntung tak mungkin dapat disembuhkan.” -setelah bercerita ia menghela napas dengan rawan.

Thian-hi sendiri juga bungkam dan menunduk. Sambung Giok-yap, “Mo-bin Suseng berhati culas dan banyak muslihatnya, jika dia tahu sekarang aku sudah sembuh tentu menggunakan akal liciknya untuk mencelakai jiwaku. Baru saja aku menelan daun buah ajaib, betapa pun jangan sampai dia mengetahui.”

Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia mengakui kenyataan ini, kalau Mo-bin Suseng betul- betul tahu di bawah gosokan mulut manisnya tentu Gwat Long dan Sing Poh takkan membiarkan dirinya berada di tempat ini dengan tetap bernapas. Sedang Giok-yap harus menunggu dua belas jam lagi baru bisa pulih kesehatannya. Kalau Mo-bin Suseng hendak berbuat jahat rasanya semudah ia membalikkan telapak tangan.

Karena pikirannya ini segera ia bertanya kepada Giok-yap Cinjin, “Kenapa Tio-yang-kiong kosong melompong selain Cianpwe seorang.”

“Setelah seluruh penghuni Tio-yang-kiong tahu aku keracunan mereka lantas pindah ke Siang- goan-kiong, tinggal Gwat Long dan Sing Poh saja bersama aku, tapi sewaktu2 mereka pergi, legakan saja hatimu, saat ini selain mereka berdua tiada seorangpun yang bisa kemari. Meski sepak terjang mereka sangat tercela, tapi mereka masih dengar kata-kataku!” — habis berkata ia menghela napas panjang.

Thian-hi memaklumi kesukaran dan pikiran Giok-yap Cinjin, sepak terjang Gwat Long dan Sing Poh memang patut dihukum mati, tapi betapapun perbuatan mereka itu melulu demi keselamatan Giok-yap Cinjin, maka tidaklah heran kalau Giok-yap Cinjin merasa sedih dan serba sulit.

Hun Thian-hi tunduk dan terpekur.

Begitulah selanjutnya mereka bicara panjang lebar, dalam kesempatan itu Giok-yap Cinjin menanyakan riwayat hidup Thian-hi, dengan setulus hati Thian-hi menutur apa adanya. Akhirnya Giok-yap Cinjin tenggelam dalam pikirannya, agak lama kemudian baru buka bicara lagi, “Urusan ini setelah aku sembuh tentu akan kubereskan. Tentang urusanmu tentu aku akan berusaha sekuat tenaga, meski aku ada janji dengan Bu-bing Loni untuk tidak mencampuri urusan dunia tapi kau telah menolong jiwaku, tidak bisa tidak aku harus membalas budi ini, sampai pada waktunya tentu dapat dibereskan dengan sempurna.”

Girang hati Thian-hi, lekas-lekas ia nyatakan banyak terima kasih kepada Giok-yap Cinjin, pikirnya dengan keagungan Giok-yap Cinjin bila ia mau sedikit membela dan bicara demi kebersihannya maka segala urusan tentu dapat dibikin terang.

Tengah ia kegirangan, mendadak terdengar langkah kaki yang sangat lirih di luar pintu, bercekat hati Thian-hi, waktu ia pandang wajah Giok-yap agaknya ia tidak mendengar, maklum karena kesehatan Giok-yap belum sembuh seluruhnya, mana mungkin dengar suara yang begitu lirih.

Cepat ia berkata kepada Giok-yap Cinjin, “Apakah Cianpwe mendengar suara langkah di luar?

Ada orang tengah mencuri dengar pembicaraan kita!”

Berubah air muka Giok-yap, katanya, “Tentu Mo-bin Suseng adanya!”

Mendengar akan Mo-bin Suseng Thian-hi juga terkejut, sebat sekali ia bergerak melesat keluar, maksudnya hendak meringkus Mo-bin Suseng. Terdengar olehnya lapat-lapat suara derap langkah yang ringan dan lirih berlari ke depan sana. Begitu mendengar jelas suara langkah itu bergolak darah dalam rongga dadanya, sambil menghardik keras, “Lari kemana!” tubuhnya melesat seperti anak panah mengejar ke depan.

Setelah membelok tiga tikungan pandangan di depan menjadi jelas kiranya itulah seekor kucing hitam mulus. Thian-hi tertegun sebentar, hatinya lantas mengeluh, “Celaka! Giok-yap masih belum mampu bergerak, terang aku terpancing meninggalkan sarang,” karena pikirannya ini cepat-cepat ia berlari balik.

Begitu ia melangkah di ambang pintu seketika ia berdiri kesima di depan pintu. Giok-yap Cinjin tetap duduk di tempatnya tak bergerak, namun dadanya bertambah sebilah badik dengan digenangi darah segar, jelas itulah Badik buntung yang menghunjam di dadanya.

Kepala Thian-hi laksana dipukul godam, pikirannya menjadi kosong, segala harapan semula sekarang menjadi lenyap seperti gelembung air, tak perlu disangsikan lagi tentu inilah buah karya Mo-bin Suseng yang culas dan banyak muslihatnya itu.

Entah berapa lama ia menjublek di tempatnya, mendadak didengarnya derap langkah orang banyak. Walaupun Giok-yap Cinjin bukan mati oleh tangan Hun Thian-hi, namun sanubarinya dirundung suatu perasaan yang susah diraba takutnya, siapapun bila melihat ia hadir disini tentu akan curiga bahwa dialah yang telah membunuh Giok-yap Cinjin. Dengan gelisah Thian-hi celingukan ke kanan kirinya, baru saja ia hendak lari ke kamar lain mendadak teringat akan Badik buntung, kalau Badik buntung tertublas di dada Giok-yap sedang umum tahu bahwa Badik buntung adalah miliknya, orang lain takkan mau percaya bahwa Badik buntung pernah direbut oleh Gwat Long dan Sing Poh karena tiada bukti, sekarang….

Lekas-lekas ia berlari masuk ke dalam ruang samadi, baru saja ia menarik Badik buntung dari dada Giok-yap Cinjin dan berputar, pintu kamar sudah penuh dihadang oleh anak murid Bu-tong- pay, terang Thian-hi tak punya jalan untuk meloloskan diri….