Badik Buntung Bab 05

 
Bab 05

Liong Lui sendiri sudah maklum kalau bertempur secara kekerasan tentu Ciat-jit-chiu takkan mampu mengambil keuntungan, tapi apakah lawan begitu goblok? Begitulah waktu Oh Lun lancarkan pukulannya yang ganas itu cepat-cepat ia berloncatan menghindar, setiap kesempatan tentu tidak disia-siakan untuk menyergap dan balas menyerang.

Tiba-tiba badan Oh Lun melejit ke atas, badannya berputar dan tiba-tiba tangannya membalik terus menekan kebawah dari atas menggencet kepala Liong Lui, Liong Lui mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk bergerak semakin cepat, tubuhnya berloncatan seperti kupu2 menari di atas sekuntum bunga, terdesak oleh keadaan terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis tindihan berat serangan Ciat-jit-chiu Oh Lun.

Ditengah udara Oh Lun bisa bergerak begitu lincah seperti burung camar, mendadak badannya menggeliat sehingga, ia meluncur turun disamping Thian-mo-kiam, kedua jari tangan kirinya terangkat terus menutuk keketiak kiri Liong Lui.

Terkejut Liong Lui dibuatnya, cepat-cepat ia melangkah mundur mengegos. Tapi serangan Oh Lun ini sungguh punya gaja tersendiri, dari menutuk ia rubah menjadi pukulan telapak tangan, dengan jurus tipu Tiang-song-tiam-soat (Pohon Siong menutul salju). telapak tangannya berubah laksana kabut putih yang berlapis2 mendesak kemuka Thian-mo-kiam Liong Lui.

Terpaksa Liong Lui angkat kedua tangannya untuk menangkis dengan kekerasan. terasa kekuatan dahsyat bagai gugur gunung menerpa dan menindih bergelombang tak putus2 sehingga kakinya sempoyongan mundur tiga langkah, akhirnya ia berdiri menjublek dengan muka pucat pasi.

Ciat-jit-chiu Oh Lun lantas membalik tubuh menghadapi ke arah pemuda jubah putih sambil menjura dalam, dengan tangannya sipemuda jubah putih memberi isyarat, cepat-cepat oh Lun duduk kembali ke tempatnya.

Dengan muka pucat Thian-mo-kiam Liong Lui memutar tubuh memandang ke orang tua jubah merah, dengan kedipan mata ia menyuruh Liong Lui, mundur, dengan malu dan tunduk Liong Lui mundur ketermpat duduknya sendiri.

Tampak mata sipemuda jubah putih berkilat dengan puas dan bangga.

Dengan lirikan tajam Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho mengawasi pemuda jubah putih bergegas ia berdiri serta menantangnya, “Aku yang rendah Tio Hong-ho, tidak tahu diri ingin belajar kenal dengan kepandaian Pangcu Partai putih yang luar biasa”

Kiong-sa-khek Ki Kang terloroh-loroh berdiri, serunya, “Tio Hong-ho, jangan kau bersikap pura- pura gede, kenapa tidak secara langsung saja kau tunjuk aku, mengandal kau rasanya tiada berharga untuk bermain-main dengan Pangcu kita.”

Sikap Tio Hong-ho juga tidak kalah dingin, jengeknya, “Pangcu Partai putih, sudah lama aku Tio Hong-ho mendengar ketenaran namamu, hari kita berjumpa disini, kenapa tidak berani unjuk muka aslinya?” Ki Kang melangkah ke tengah gelanggang, serunya, “Tio Hong-ho kau tak usah putar bacot, marilah aku saja yang akan melayani kau.”

Saking gusar Tio Hong-ho bergelak tawa, akhirnya dengan sikap kaku ia mendesis, “Ki Kang, betapa besar jagat ini bukan hanya seorang kau yang berkepandaian tinggi, Marilah hari ini kau saksikan dan rasakan betapa aku Tio Hong-ho tidak mudah dihina.”

Sementara itu Ki Kang sudah menyoreng pedang dan berdiri menanti. Begitu maju Tio Hong-ho lantas ayun tongkat kayunya menyerang kepada Ki Kang. Begitulah merekai mulai saling serang menyerang dengan segala tipu daya untuk merobohkan lawannya, sekejap saja saking cepat gerakan mereka seratus jurus sudah dicapai. Keadaan dua belah pihak masih sama kuat sulit dibedakan siapa lebih unggul atau asor.

Mendadak pintu besar ruangan diterjang dari luar, tampak sebarisan anak buah Partai putih menerobos masuk, pemuda jubah putih berkedok bergegas berdiri, dalam hatii ia sudah menduga pasti terjadi sesuatu diluar dugaan yang sangat gawat.

Ciok Hou-bu mengerutkan kening, siang-siang sudah perintahkan kepada seluruh penghuni perkampungannya supaya tidak merintangi anak buah Partai merah dan putih, biarlah mereka saling bentrok dan bertempur mati-matian. Sekarang dilihat gelagatnya seperti Partai putih kena perkara gawat, entah apa, jika Partai putih sampai mengundurkan diri, situasi yang menguntungkan pihak dirinya bakal berantakan, mengandal tenaga sendiri mungkin Hwi-cwan-po bakal runtuh total dan tak mungkin kuasa berdiri di kalangan Kang-ouw.

Seluruh anak buah Partai Putih meluruk ke hadapan Pangcu mereka, sementara itu terpaksa Ki Kang menghentikan pertarungannya dengan Tio Hong-ho. Salah seorang anak buah Partai Putih melapor dengan gugup, “Lapor Pangcu, Thian-san-siang-long….”

Pemuda jubah putih menggertak sekali memutus laporan anak buahnya, dengan berpaling ia mendelik awasi orang tua jubah merah.

Kontan orang tua jubah merah terbahak-bahak, serunya, “Sungguh aku ikut menyesal bahwa Partai Bun-pangcu tengah terjadi suatu tragedi, kalau Bun-pangcu memerlukan bantuan dan tenaga kita beramai, setelah urusan disini selesai segera kami akan membantu sekuat tenaga.”

Biji mata pemuda jubah putih memancarkan sinar cemerlang yang aneh, sungguh tak habis herannya darimana mungkin orang tua jubah merah ini tahu bahwa dirinya she Bun? Tapi dalam situasi yang genting ini tiada tempo untuk banyak pikir, cepat ia memberi perintah kepada Kiong- sa-khek Ki Kang dan Ciat-jit-chiu Oh Lun, “Jiwi Tongcu harap segera kembali. Urusan disini biar kuselesaikan sendiri!”

Ki Kang menjadi gugup, serunya, “Pangcu seorang diri….” “Aku punya rencanaku sendiri!” desak pemuda jubah putih.

Ki Kang dan Oh Lun tak berani banyak debat lagi, tersipu-sipu mereka mengundurkan diri.

Dengan tajam orang tua jubah merah menatap pemuda jubah putih,. sorot matanya menampilkan rasa dendam yang berkobar, sangkanya tentu musuh utamanya ini akan tinggal pergi, kenyataan adalah diluar perhitungannya semula.

Dengan mendelong pandangan pemuda jubah putih terarah ke pintu besar, setelah bayangan Ki Kang beramai tak tampak lagi baru perlahan-lahan ia membalik tubuh, setajam ujung pedang pandangannya berkilat mendelik ke arah orang tua jubah merah. Selintas pandang ia menyapu ke seluruh hadirin, pandangannya berhenti dimuka orang tua jubah merah lagi, pelan-pelan mulutnya mendesis, “Sekarang sudah tiba saatnya untuk kita menyelesaikan sendiri urusan ini.”

Orang tua jubah merah terkekeh-kekeh bangkit, ujarnya, “Benar-benar memang harus kita berdua yang menyelesaikan sendiri!” sambil berkata matanya melirik ke kanan kiri pada Liong Lui dan Oh Lun.

Liong Lui dan Tio Hong-ho segera bangkit bersama, katanya berbareng, “Untuk menyelesaikan urusan ini masa Pangcu harus turun tangan sendiri, biar kita berdua yang menghadapi saja.”

Orang tua jubah merah terloroh-loroh lagi, dengan congkak ia pandang pemuda jubah putih. Sudah tentu Pemuda jubah putih tahu apa yang tengah dipikir oleh lawan, diapun tak man kalah wibawa, dengan tertawa lebar ia berkata, “Boleh juga kalau kalian ingin belajar kenal dengan aku, Jiwi Tongcu merupakan tokoh kosen dari Partai kalian dan merupakan jago silat kelas wahid dikalangan Kang-ouw, andai kata bertekuk lutut di hadapanku seorang bocah ingusan yang tak ternama apakah tidak menjatuhkan gengsi dan nama baik kalian?”

Tio Hong-ho tertawa kering dua kali, katanya, “Pangcu Partai putih sudah tenar dan kenamaan di kolong langit, seumpama terkalahkan oleh kita berdua kaum keroco….” sampai disini ia merandek serta menyapu pandang kekiri kanan.

Pemuda jubah putih tertawa geli, ujarnya, “Begitupun baik, marilah kalian maju bersama.”

Tio Hong-ho dan Liong Lui melangkah maju bersama ke tengah arena. Mereka insaf hari ini menghadapi musuh tangguh, maka pedang dan tongkat yang menjadi senjata andalan mereka sudah disiapkan, mengkonsentrasikan diri mereka bersiap waspada.

Ujung kaki pemuda jubah putih sedikit menutul dilantai, tiba-tiba tubuhnya melejit enteng ke tengah udara seringan burung seriti, di tengah udara badannya berputar setengah lingkaran baru meluncur turun miring, berbareng kedua telapak tangannya menepuk ke arah dua musuhnya.

Tio Hong-ho dan Liong Lui bukan kaum lemah, kepandaian mereka cukup tinggi, serentak mereka menyilangkan pedang dan tongkat, berbareng balas menyerang memapak luncuran tubuh lawan.

Kelihatannya pemuda jubah putih acuh tak acuh menghadapi serangan balasan ini, tiba-tiba tubuhnya meluncur turun, begitu kaki menyentuh tanah dengan gesit kedua kakinya menggeser kedudukan tahu-tahu kedua telapak tangannya sudah menepuk maju kemuka kedua lawan.

Tio Hong-ho dan Liong Lui melompat mundur menghindar, sekarang mereka berdiri beradu punggung, setiap jurus pedang dan tongkatnya bergerak untuk melindungi badan saja tak mencari kesempatan untuk mengejar kemenangan.

Terlihat oleh Ciok Hou-bu yang menonton pertempuran ini dengan seksama, gerak-gerik pemuda jubah putih semakin tempur semakin tangkas dan cepat. Gaja permainan silatnya hampir tidak dapat diikuti oleh pandangan mata, diam-diam bercekat hatinya, bukan mustahil sebagai pejabat Pangcu suatu partai mempunyai kepandaian tunggal yang diandalkan, tapi siapakah pemuda jubah putih ini, murid siapa lagi? Ternyata begitu tinggi dan mengagumkan ilmu silatnya.

Dilain pihak orang tua jubah merah juga tengah meneliti dengan seksama setiap permainan silat pemuda jubah putih, semakin lama alisnya bertaut semakin dalan. Hatinya pun tak habis heran dan kagetnya, bukankah permainan pukulan yang diunjukan ini adalah Eng-jiong-ciang dari gurun besar diluar perbatasan itu? Apakah pemuda jubah putih she Bun ini adalah murid beliau?

Tengah ia terpekur, tiba-tiba terdengar gertakan cukup keras ditengah gelanggang. Ternyata pemuda jubah putih itu sudah tidak sabar lagi, beruntun ia bergerak melancarkan tiga pukulan berantai, tiba-tiba ia melolos keluar cambuk peraknya, tampak selarik sinar putih kemilau herkelebat kontan pedang dan tongkat lawan kena digubat dan disendak terlepas terbang dari cekalannya.

Thian-mo-kiam Liong Lui dan Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho berdiri terlongong-longong ditempatnya, dengan seringai dingin pemuda jubah putih berputar tubuh menghadap ke arah orang tua jubah merah dengan pandangan yang mengejek.

Sekonyong-konyong cahaya matanya mengunjuk rasa kaget dan kesima, dengan melirik sekilas ia menyaksikan sebuah wajah yang penuh rasa kegirangan dan kekagumam tengah mengawasi kepadanya wajah nan aju molek itu bukan lain adalah Ciok Yan, putri tunggal dari Hwi-cwan-po.

Terdengar orang tua jubah merah menjengek dingin, ejeknya, “Murid tunggal Cek-hun Totiang ternyata benar-benar hebat.”

Kontan seluruh hadirin mengunjuk rasa heran dan kaget. Cek-hun Totiang adalah Sute dari Ciangbunjin Bu-tong-pay Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin, beberapa puluh tahun yang lalu pernah diusir dari perguruan karena melanggar undang2 perguruan, maka sejak itu entah kemana jejaknya, sungguh tidak nyana, bahwa pemuda jubah putih ini kiranya adalah muridnya.

Sedikitpun pemuda jubah putih tidak menunjukkan reaksi akan cemooh orang, dengan sikap dingin ia pandang orang tua jubah merah, sindirnya, “Kedua jagomu sudah keok, sekarang kau bagaimana?”

Orang tua jubah merah menggeram gusar, pelan-pelan ia melangkah maju. Melihat musuhnya tiada niat menggunakan senjata, segera pemuda jubah putih membelitkan lagi cambuknya dipinggang.

Sembari menyeringai orang tua jubah merah menyerang dengan sebelah tangannya kepada musuh yang masih muda belia ini. Sebat sekali pemuda jubah putih mencelat mundur, namun orang tua jubah merah mendesak maju mengejar.

Sedikit menutulkan kakinya badan pemuda jubah putih lantas melejit tinggi ke atas, beruntun kedua kakinya menendang berantai memgarah kedua biji mata orang tua jubah merah.

Orang tua jubah merah menggerung murka, terpaksa dari menyerang ia main bertahan.

Mendapat angin pemuda jubah putih semakin merangsek dengan gagah berani, begitu kakinya hinggap di tanah di belakang lawan segera ia kembangkan ilmu Eng-jiong-ciang yang mempunyai delapan belas jalan pukulan, gerak-gerik badannya selulup timbul naik turun persis laksana seekor elang besar yang beterbangan ditengah udara.

Tapi gerak-gerik orang tua jubah merah pun tidak kalah licinnya, dengan kedua tangan melintang melindungi dada, kedua matanya menatap tajam setiap gerak gerik pemuda jubah putih, sedikit ada lowongan baru menyerang tanpa membuang tenaga dan kesempatan, cara tempurnya adalah main sergap dan tak main kekerasan.

Delapan belas jurus Eng-jiong-ciang sudah hampir dimainkan habis, namun sedikitpun pemuda jubah putih tak mampu mendesak lawannya, diam-diam gugup dan gelisah hati pemuda jubah putih, inilah pengalaman pertama yang dialaminya sejak berkelana di dunia persilatan. Mendadak sebuah pikiran terkilas dalam benaknya, apakah bukan dia? Terpikir akan ini diam- diam ia mengumpat dalam hati. Segera badannya melejit lagi dengan sejurus Giok-jian-hun-kay- loh, kedua jari-jari tangannya laksana cakar burung elang mencengkeram kemuka musuhnya.

Melihat serangan ganas sipemuda, orang tua jubah merah mandah tertawa sinis, diam-diam girang hatinya, batinnya kau mimpi kalau berani mengadu kekerasan dengan aku. Kedua telapak tangannya segera menepuk keluar dengan jurus Ciang-tok-mo-thian melawan serangan pemuda jubah putih dengan kekuatan penuh.

Tak nyana gerak gerik pemuda jubah putih cukup tangkas, beluam lagi tangannya mengenai sasarannya cepat-cepat ia meluncur turun dan menghindar, setelah mendengus ejek ia menyeringai “Kukira siapa, ternyata adalah keturunan dari Thay-i-bun!”

Muka orang tua jubah merah menjadi beringas, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang yang berkilauan memancarkan cahaya menyilaukan mata terus membacok serabutan kepada pemuda jubah putih.

Terpaksa pemuda jubah putih keluarkan kedua senjata, sesuai dengan nama julukannya yaitu pedang mas dan cambuk perak untuk melawan sebisanya, begitulah pertempuran babak kedua dengan menggunakan senjata ini tak kalah sengit dan serunya.

Ciok Hou-bu, Nyo Kwong dan To Hwi saling pandang, sungguh mereka tidak nyana bahwa Thay-i-bun yang dulu sudah ditumpas ternyata muncul lagi disini. kalangan Kangouw mengandal ilmu pedang yang dinamakan Thay-i-kiam-hoat dari jaya akhirnya berubah menjadi runtuh.

Dulu Thay-i-bun malang melintang dan simaharaja dijadi congkak dan takabur akhirnya karena merasa terlalu kuat dan sombong, aliran ini menjadi semakin buruk kelakuannya dari golongan lurus menjadi nyeleweng ke arah yang sesat. Terpaksa berbagai golongan dan aliran bergabung menumpasnya bersama. Sejak itu golongan Thay-i-bun lantas kelelap dari lembaran sejarah dunia persilatan, namun sebilah pedang Thay-i-kiam sejak saat itu pula menghilang tanpa diketahui jejaknya.

Orang tua jubah merah sendiri tahu bahwa golongan Thay-i-bun pihaknya memang sudah tersingkirkan dari percaturan dunia persilatan. Maka dengan sengit ia kembangkan permainan ilmu Thay-i-kiam-hoat.

Tanpa gentar sedikitpun pemuda jubah putih mainkan pedang mas dikombinasikan dengan cambuk perak. Tahu dia bahwa Thay-i-kiam merupakan pedang pusaka yang tajam luar biasa, walau pedang dan cambuknya cukup lihay bagaimana juga takan kuat melawan pedang pusaka,

Begitu Thay-i-kiam-hoat dikembangkan berkuntum cahaya putih kemilau bertaburan ditengah gelanggang menari2, begitu ketat dan rapi sekali mengurung pemuda jubah putih, sehingga terdesak mundur berulang-ulang.

Dilain pihak Ciok Hou-bu beramai juga terperanjat, merekapun insaf bila pemuda jubah putih tak kuasa melawan dan bertahan, pihak sendiripun bakal kerembet dan celaka. Setelah celingukan kekanan kekiri ia tanggalkan mantel dipunggungnya, sebat sekali ia bergerak maju sambil tarikan senjata mantelnya mengembangkan kepandaian andalannya yaitu tiga belas jurus Hwi-cwan-kian- soat.

Sejak tadi Ciok Yan sudah terpesona dan kagum kepada pemuda jubah putih, diam-diam ia kepincut akan ketangkasan anak muda ini, melihat ayahnya turun tangan ia pun tanggalkan mantelnya ikut menyerbu ke tengah gelanggang. Tio Hong-ho dan Liong Lui menggertak bersama, segera mereka menggerakan tongkat dan pedang masing-masing maju merintangi, maka terjadilah pertempuran dalam tiga kelompok. Tiga belas jurus ilmu kepandaian mantel yang dimainkan Ciok Hou-bu memang cukup lihay, cukup dengan putaran senjata lunaknya ini yang bisa berkembang melebar ia desak Tio Hong-ho dan Liong Lui berdua, dalam waktu singkat mereka rada terdesak di bawah angin.

Nyo Kwong dan To Hwi saling pandang sebentar, To Hwi mendeugus hidung, ringan sekali tangan kirinya menjentik, sebentuk Toh-bing-ci-hoan (cincin penyabut sukma) melesat keluar mengeluarkan suara mendengung, terbang berputar melesat ke arah jalan darah mematikan ditubuh orang tua jubah merah.

Orang tua jubah merah menggertak dengan gusar, cepat sekali ia mengayun Thay-i-kiam, tapi cara sambitan cincin penyabut nyawa ini memang luar biasa, ditengah jalan mendadak putar haluan terus terbang berputar satu lingkaran, pedang pusaka membabatnya disebelah samping, tapi tahu-tahu cincin penyabut sukma ini sudah melesat dari tengah mengarah ke tengah kedua mata orang tua jubah merah.

Keruan girang bukan main pemuda jubah putih mendapat bantuan yang menguntungkan ini, pedang cambuknya dimainkan semakin gencar, dengan seluruh kekuatan dan kemampuannya ia serang orang tua jubah merah habis2an.

Orang tua jubah merah menggerung panjang, kepandaian silatnya sungguh luar biasa dalam kepungan ketat dari musuh2nya sigap sekali ia masih dapat bergerak cepat, tubuhnya miring meluputkan diri, berbareng pedangnya menyontek ke atas melancarkan jurus It-goak-hok-su, tring, tring, terdengar suara nyaring cincin penyabut nyawa yang menyamber itu kena ditangkis pecah berhamburan, sedang pedang mas pemuda putih pun telah kutung menjadi dua.

Pemuda jubah putih kaget luar biasa, cepat ia melompat mundur, namun sambil menyeringai seram orang tua jubah merah maju mengejar sambil menusukan pedangnya.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang meluncur turun dari tengah udara memasuki gelanggang. Ternyata Hun Thian-hilah yang muncul, tampak tangan kanannya menyoreng sebilah pedang, sejurus saja cukup ia mendesak mundur orang tua jubah merah.

Seluruh hadirin menjadi kaget dan berseru heran. Terutama Ciok Yan berteriak kejut, “Hun Thian-hi.”

Sesaat seluruh hadirin menjadi sunyi senyap. Sebetulnya sejak tadi Hun Thian-hi sudah menyelundup masuk keruang besar, tapi selama itu ia tidak mendengar pembicaraan mengenai gurunya. Kini setelah melihat pemuda jurus Gelonmbang perak berderai ia pukul mundur si orang baju putih terdesak dan menghadapi bahaya dengan sejurus situa jubah merah.

Sebetulnya tusukan orang tua jubah merah dapat tepat mengenai sasarannya, tentu saat ini pemuda jubah putih sudah menemui ajalnya di bawah tusukan pedang pusakanya. Tapi begitu Hun Thian-hi muncul lantas lancarkan serangan ganas dan aneh sehingga terpaksa ia harus menyelamatkan diri terlebih dulu, keruan gusar bukan kepalang hatinya.

Dasar berhati culas dan banyak akal muslihatnya lahirnya ia tetap tenang-tenang saja, namun dalam hati ia mengakui, jurus serangan Hun Thian-hi tadi meski dilancarkan secara tak terduga, namun cukup dapat mendesak dirinya, maka dapatlah diukur betapa tinggi kepandaian bocah ini. Apalagi Badik buntung masih berada ditangannya, betapa pun aku tak bisa berlaku ceroboh sehingga kehilangan rejeki. Tenang-tenang ia menyapu pandang kewajah para hadirin dalam ruang besar ini.

Hun Thian-hi melangkah kesamping serta berkata kepada Ciok Hou-bu, “Ciok-pocu, guruku Lam-siau dimanakah beliau sekarang, harap suka menerangkan?”

Ciok Hou-bu menghirup hawa, sesaat ya menjadi kememek tak tahu cara bagaimana harus menjawab. Malah Toh-bing-cui-hun To Hwi yang menjengek dingin, “Hun Thian-hi, jiwamu sendiri belum tentu selamat, kau masih urus gurumu.”

Biji mata Hun Thian-hi berkilat tajam bagai aliran listrik menatap muka To Hwi, katanya dengan nada berat, “Hun Thian-hi berani meluruk kemari, sudah tentu tak peduli mati atau hidup. Hun Thian-hi seorang laki-laki apa yang telah kuperbuat biar aku sendiri yang bertanggung jawab, kenapa merembet pada guruku?”

Orang tua jubah merah menggerung gusar, teriaknya, “Urusan gurumu aku tidak peduli, yang terang kau sendiri sekarang disini, dengan sepak terjangmu tadi serta Badik buntung yang kau miliki itu, apakah kau harap bisa tinggal pergi dari sini?”

Pelan-pelan Hun Thian-hi berputar menerawang seklilingnya, dihhatnya pandangan semua orang mengandung rasa kepanikan dan dendam yang membara terhadap dirinya.

Tiba-tiba pemuda jubah putih dibelakangnya buka bicara, “Hari ini dia merupakan tamu teragung dari aku Bun Cu-giok, kalian berani menggangu usik dia harus tanya dulu kepadaku!” — sembari berkata ia melangkah serindak ke depan.

Kalem2 saja Hun Thian-hi berpaling, sekilas ia pandang pemuda jubah putih dengan perasaan penuh haru dan terima kasih.

Terdengar ia mendengus serta menyapu pandang keempat penjuru, jengeknya sinis, “Jikalau tadi dia tidak muncul, seluruh hadirin dalam ruang ini siapa yang masih kuasa hidup sampai sekarang ini?”

“Itukan persoalan pribadi,” tukas orang tua jubah merah, “Yang terang Hun Thian-hi telah mengobarkan kemarahan umum, sudah jamak kita bekerja mengutamakan kepentingan orang banyak, bukankah kau sendiri termasuk aliran dari Bu-tong-pay? Murid Bu-tong pun ada yang mati ditangannya, apa kau tidak tahu?”

To Hwi juga menggeram dan ikut bicara, “Aku To Hwi tidak peduli apa yang kalian persoalkan, betapapun hari ini aku harus meringkus bocah Hun Thian-hi ini.”

“Mengandal kau? Apa kau becus?” ejek pemuda jubah putih.

Toh-bing-cui-hun To Hwi bergelak tawa, dengan gerak lamban tangannya sekaligus ia semtilkan tiga buah cincin penyabut nyawa langsung melesat mengarah Hun Thian-hi.

Kim-kiam-gin-pian menggertak murka, cambuk peraknya yang sudah kulung separo disambitkan membuat sambitan cincin penyabut nyawa porak peronda ditengah jalan.

Berubah air muka To Hwi, beruntun jari tangan kanannya menjenyik bergantian menyambitkan tiga batang Cui-hun-chit-sa-cian (panah tujuh iblis mengejar sukma) yang sudah lama tak pernah dipakai lagi, ketiga batang panah kecil warna hitam kemilau meluncur ke arah Hun Thian-hi. Hun Thiari-hi bersuit ringan, badannya mendadak. mencelat mumbul ke depan menubruk ke arah datangnya tiga panah maut sambitan musuh, dimana pedang panjang ditangan kanannya bergerak dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai sekaligus ia tangkis dan hancur leburlah ketiga Cui-hun-cian musuh.

Berubah hebat rona wajah To Hwi sungguh tidak terduga olehnya bahwa Cui-hun-chit-sa-cian yang lihay dan kenamaan itu begitu gampang telah dipatahkan. Tadi ia melihat dengan mata kepala sendiri sekali gebrak Hun Thian-hi berhasi] memukul mundur orang tua jubah merah, sangkanya merupakan serangan bokongan diwaktu orang tengah melancarkan serangan khusus pada musuhnya, sekarang kalau dilihat gelagatnya, kepandaian silat Hun Thian-hi betul-betul sangat mengejutkan sekali.