Badik Buntung Bab 04

 
Bab 04

Terpaksa Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya waktU dijehak oleh Su Tat-jin sehingga terjeblos ke dalam jurang. Tak lupa iapun ceritakan juga perihal Bu Bing Loni dan Soat-san-su- gou. Kongsun Hong menjadi ketarik akan pengalaman muridnya yang aneh2 itu, sesaat ia terbungkam tak bisa bicara.

Sekonyong-konyong terdengar gelak tawa nyaring di atas tembok tinggi sana, disusul dua bayangan orang melayang turun dihadapan mereka. Kongsun Hong memutar tubuh, katanya tertawa, “Kiranya Pak-kiam suami istri yang telah datang!”

Waktu Thian-hi menegasi memang yang datang ini adalah sepasang suami istri berusia pertengahan.

Terdengar Pak-kiam Siau Ling berkata, “Sepak terjang muridku sangat memalukan dan membikin buruk nama perguruan saja, tak berani lapor kepadaku hanya disampaikan kepada istriku saja, sampai sekarang baru aku jelas duduk perkaranya, sengaja kita datang untuk memanggil pulang kedua muridku yang tak genah itu!”

Lam-siau Kongsun Hong tertawa, katanya, “Urusan yang sudah lalu buat apa disinggung lagi, yang terang mereka kena ditipu oleh pamannya apalagi demi nama baik perguruan maka mereka tak berani memberi laporan, maka tak perlu lah terlalu salahkan mereka.”

Pak-kiam Siau Ling menghela napas, ujarnya, “Betapa pun mereka tak bisa diberi ampun.” “Thian-hi!” kata Kongsun Hong, “Ajo, beri hormat kepada Pak-kiam suami istri, inilah Pak-kiam

Siau Ling dan Siau-siang-cu To Bwe yang sangat kau kagumi itu!”

Tersipu-sipu Thian-hi maju memberi sembah hormat, “Cianpwe berdua harap terimalah sembah sujut Wanpwe Hun Thian-hi!”

“Tak usah banyak peradatan,” ujar Pak-kiam Siau Ling, “perbuatan muridku kurang dapat dihargai, biarlah aku mewakili mereka minta maaf kepadamu!”

“Mana Wanpwe berani terima. Belum lama berselang aku berjumpa dengan saudara Su dan adiknya.”

“Dimana mereka?” tanya Siau Ling, mukanya rada berubah.

Hun Thian-hi rada sangsi, ia berpaling memandang ke arah Kongsun Hong. Kata Kongsun Hong kepada Pak-kiam, “Ah, urusan bocah tak perlu dipikirkan!” “Saudara Su telah meninggal.” demikian Hun Thian-hi menerangkan singkat.

Bagai disambar petir seketika Pak-kiam berdiri menjublek, Siau-siang-cu To Bwe melangkah maju menjambret baju Thian-hi teriaknya, “Apa! Kaukah yang membunuhnya?”

“Bukan!” sahut Thian-hi cepat. “Dia menemui ajal di bawah tangan Kim-i-kongcu Leng Bu!” Siau-siang-cu To Bwe melepas tangan, gumamnya, “Kim-i-kongcu Leng Bu! Lalu kemana Giok-

lan?”

Thian-hi menunduk, setelah rada sangsi ia menyahut lirih, “Sudah pergi!”

“Leng Bu! Leng Bu!” mulut Pak-kiam menggumam. Matanya terpejam dan mengalirkan air mata.

Hun Thian-hi berkata lirih, “Leng Bu juga telah kubunuh!”

To Bwe berdiri terlongong. “Kenapa tadi tidak kau ceritakan kepadaku?” tanya Lam-siau. Thian-hi bungkam, terpekur sekian lamanya baru pelan-pelan ia mengisahkan pengalamannya yang baru terjadi belum lama berselang.

“Takdir! Takdir!” desis Siau Ling sembari menghela papas.

Dari atas tembok terdengar lagi gelak tawa yang kumandang, sesosok bayangan hijau melayang turun, teriaknya tertawa, “Kalian mengobrol begitu gembira, kita menjadi tidak sabar menunggu, maka menyusul kemari!”

Beruntun dari atas tembok melayang turun lagi dua sosok bayangan manusia.

Tawar2 saja Lam-siau tertawa, katanya, “Kiranya adalah Thi-kiam Lojin dari Bu-tong dan Hwi- lam-it-lo, dan sahabat ini kalau aku tidak salah lihat tentu Im-hong-ciang Lim Hong adanya.”

Dua orang yang datang belakangan adalah dua orang seorang membawa sebatang pedang yang terselip dipunggungnya, seorang lain menggembol sebatang tongkat warna hijau, orang ketiga adalah laki-laki berusia tiga puluhan air mukanya membeku dingin tentu dia inilah yang berjuluk Im-hong-ciang Lim Hong.

Seru Thi-kiam Lojin bergelak tawa, “Kongsun Tayhiap sendiri juga sudah hadir, sungguh baik sekali. Entah tindakan apa yang segera kau jatuhkan kepada muridmu ini Kongsun Tayhiap?”

Kongsun Hong mandah tersenyum ewa, ujarnya, “Urusan ini sulit dibicarakan, sebetulnya segala perbuatan muridku ini itu bukanlah menjadi kehendaknya, dalam hal ini masih ada latar belakang yang sulit diterangkan. Biarlah aku tuntun muridku ini bertandang ke setiap para sahabat yang kena menjadi korban untuk minta maaf dan mohon keringanan hukuman. Entah bagaimana pendapat kalian?”

“Bertandang minta pengampunan?” tiba-tiba Hwi-lam-it-lo menjengek, lalu terbahak-bahak, katanya lagi, “Apakah puluhan korban jiwa manusia itu cukup ditebus dengan bertandang minta pengampunan?”

“Biarlah para keluarganya mencacah hancur tubuh Thian-hi.” sela Im-hong-ciang Lim Bing. “Aku tak tanya kau,” dengus Lam-siau, “di tempat ini tiada tempat bagi kau turut campur

bicara.”

Im-hong-ciang Lim Bing belum lama mengangkat nama di dunia persilatan, sikapnya congkak sudah tentu dia tak mau mengalah, makinya gusar, “Kongsun Hong, apakah kau mau menjajal berkenalan dengan aku?”

Pak-kiam Siau Ling terloroh-loroh, serunya, “Aku Siau Ling tak tahu diri, ingin aku minta pengajaran kepada saudara ini!”

Rada berubah rona wajah Thi-kiam Lojin, katanya kepada Siau Ling, “Siau Tayhiap kenapa berbalik kau bantu mereka?”

Bertaut alis Siau Ling, katanya, “Bukan melulu Hun Thian-hi saja yang salah dalam peristiwa ini, dia terdesak oleh situasi dan harus melakukan apa saja yang bisa dia demi keselamatan jiwa sendiri. Kenapa kalian mejadi semena2 tanpa mencari tahu duduk perkara sebenar-benarnya.

Terpaksa aku bantu mereka!” Im-hong-ciang Lim Bing mendengus gusar, tantangnya, “Biar aku Ling Bing belajar kenal betapa tinggi kepandaian Pak-kiam yang kenamaan!” habis berkata langsung ia lancarkan serangannya ke arah Siau Ling.

Lam-siau dan Pak-kiam diberi julukan sebagai I-Lwe-siang-ki, sudah tentu mereka masing- masing punya kepandaian simpanan yang melebihi orang lain, sudah tentu angkatan macam Lim Bing yang belum lama angkat nama tidak dipandang sebelah matanya.

Sedikit bergerak mudah sekali Pak-kiam meluputkan diri dari rangsekan lawan, namun Im- kong-ciang Lim Bing tak tahu diri, ia terus menyerbu dengan ketat.

Pak-kiam Siau Ling merasa hutang budi kepada Hun Thian-hi, diam-diam ia sudah berketetapan hati untuk membela mati-matian. Gesit sekali ia berloncatan menghindari setiap pukulan Lim Bing yang cukup hebat juga. gerak jeriknya laksana kelinci seperti burung kutilang yang berloncatan di atas dahan pohon, tak kalah hebatnya iapun saban2 balas menyerang kepada Lim Bing.

Begitu saling gabrak kedua belah pihak sudah saling serang menyerang puluhan jurus, Siau Ling lancarkan jurus serangan yang gencar dan deras sehingga Im-hong-ciang Lim Bing kena terdesak mundur.

Sembari mengayun tongkat bambunya segera Hwi-lam-it-to Siang Bing menghardik, “Siau Ling, jangan kau takabur dan menghina orang!”

Lekas-lekas Siau-siang-cu pun melolos pedang serta jengeknya, “Biar aku belajar kenal dengan pentung bambu da Hwi-lam-it-lo yang kesohor itu!” segera ia menghadang maju, maka merekapun bertempur tidak kalah serunya,

Tinggal Thi-kiam Lojin saja yang masih nganggur, mukanya membesi kaku, tapi hatinya gundah, ia tahu dan menurut gelagat, besar kemungkinan mereka bertiga bakal terjungkal dan mendapat malu, menurut dugaan semula disangkanya Pak-kiam suami isteri berdiri dipihaknya, kemenangan terang dan tentu bisa dicapai oleh pihaknya.

Sungguh diluar perhitungan semula kenyataan Pak-kiam suami-isteri membantu Hun Thian-hi malah, ia sendiri tahu bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan Lam-siau, terpaksa ia tinggal diam berpeluk tangan saja.

Dalam babak Siau-siang-cu lawan Hwi-lam-it-lo kelihatan sinar pedang dan bambu hijau berkemilauan, saling serang dengan hebat dan serunya, kedua belah pihak kerahkan setaker kepandaian masing-masing, dalam waktu singkat susah dipastikan pihak mana bakal menang.

Sebaliknya Im-hong-ciang Lim Bing jelas bukan tandingan Pak-kiam, untung Pak-kiam turun tangan tidak setakar tenaganya serta memberi sedikit kelonggaran, kalau tidak sejak tadi ia sudah terjungkal mampus. Meskipun gelisah namun Thi-kiam Lojin tak mampu bertindak.

Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar derap langkah kuda yang dilarikan kencang tengah mendatangi, kira-kira masih berjarak puluhan tombak jauhnya, terdengarlah suitan panjang, Tampak dua sosok tubuh manusia terbang meninggalkan tunggangannya terus meluncur datang ke tengah gelanggang pertempuran.

Begitu kedua orang ini hinggap di tanah, seketika beruba air muka Lam-siau, diam-diam ia mengeluh dalam hati mengapa bisa kedua orang ini tiba disini.

Hun Thian-hi sendiri juga telah melihat tegas orang pendatang ini, bukan lain adalah dua orang penunggang kedua ekor kuda putih tadi. Sementara itu, Pak-kiam juga telah melirik, melihat kedatangan kedua orang ini diam-diam iapun bercekat, gerakannya gesit sekali dengan telak ia tusuk jalan darah Im-hong-ciang, terus mundur berdampingan dengan Lam-siau. Demikian juga siau siang-cu dan Hwi-lam-it-lo juga meloncat mundur kembaii ke tempatnya masing-masing.

Begitu melihat kedatangan bala bantuan, legalah hati Thi-kiam Lojin, segera ia bergelak tawa girang, serunya, “Kiranya Yan-bun-siang-eng Ciok Tayhiap berdua telah datang, entah kemana hingga’sekarang kalian baru sampai!”

Berdebar keras jantung Hun Thian-hi mendengar kedua pendatang ini adalah Yan-bun-siang- eng. Dari penuturan gurunya ia pernah mendengar perihal Yan-bun-siang-eng Ciok sing dan Ciok Gi berdua, mereka masih muda dalam pengalaman kelana di Kangouw, namun selama lima tahun terakhir ini sudah tiga kali mereka pernah meluruk ke Timur tionggoan, mengandal sepasang golok Yan-hap-to dengan pengalamannya yang aneh dan lucu entah sudah berapa puluh nikoh2 Bulim yang terjungkal di bawah tangan mereka. Sudah tentu semakin hari ketenaran nama mereka semakin menjulang tinggi. Mereka berdua telah menciptakan ilmu permainan golok gabungan yang sangat lihay, selama ini belum pernah menemukan tandingan yang setimpal.

Dalam pada itu, dengan sikap gagah Siang-eng tengah menerawang keadaan kedua belah pihak, katanya dengan sombong, “Kedatangan kita bersaudara tak lain adalah untuk belajar kenal dengan tokoh-tokoh kenamaan yang menyebut dirinya I-lwe-siang-ki, betapa tinggi kepandaiannya sejati.”

Lam-siau Kongsun Hong bergelak tawa, ujarnya, “Bagus, bagus! Kita berdua pun telah lama dengar Yan-bun-siang-eng, untung hari ini kita bertemu ingin benar-benar kita minta pengajaran!”

pak-kiam Siau Ling ikut menjengek, “Walaupun aku juga pernah dengar Yan-bun-siang-eng, tapi tidak lebih mereka hanya angkatan muka belaka!”

Berubah rona wajah Siang-eng, tanpa bicara lagi serentak mereka membalingkan golok masing- masing, dimana sinar putih gemerlapan, tahu-tahu Yan-hap-to sudah digenggam ditangannya.

Lam-siau saling pandang sebentar dengan Pak-kiam diam-diam hati mereka sudah maklum betapa tinggi kepandain Yan-bun siang-eng ini dilihat cara mereka mengeluarka goloknya, paling tidak lebih rendah dari Thi-kiam Lojin kalau tidak mau dikatakan lebih tinggi, apapula mereka bisa

bermain begitu rapi dan ketat mengombinasikain permainan golok yang saling berlawanan, entah pelajaran dari tokoh manakah kepandaian mereka ini.

Pelan-pelan Pak-kiam melolos pedangnya, sedang Lam-siau menanggalkan seruling pualam dari pinggangnya. Sementara itu gesit sekali Yan-bun-siang-eng sudah bergerak kekanan kiri mengepung kedua musuhnya ditengah gelanggang.

Lam-siau dan Pak-kiam berbareng bergelak tawa panjang, mereka dijuluki I-lwe-Siang-ki, betapa. tinggi nama dan gengsi mereka serta melihat tingkah laku Yan-bun siang-eng yang sombong dan takabur ini hati mereka menjadi tak senang.

Kongsun Hong angkat serulingnya terus dilekatkan di depan bibirnya. Lam-siau sudah dua puluh tahun malang melintang di Bulim mengandal Thian-liong-chit-sek dan Siau-im-pit-hiat sudah tentu Siang-eng pun tak berani memandang rendah. Melihat Lam-siau beniat menggunakan irama serulingnya untuk menundukkm musuhnya, cepat-cepat Siang-eng menggerakkan goloknya terus menyerbu dengan garangnya. Pak-kiam terbahak-bahak keras, dimana pedang panjangnya berputar-putar segera ia kembangkan Hian-thian-hui-kiam merintangi serbuan Yan-bun-siang-eng. Tapi permainan sepasang Yan-hap-to Siang-eng memang luar biasa, apalagi Pak-kiam sangat percaya akan tenaga dan kepandaian sendiri

secara kekerasan ia sambut serbuan musuh dari kanan kiri, kontan Siau Ling merasa tangannya tergetar keras, tahu-tahu pedangnya sudah mencelat terbang.

Melihat hasil itu Yan-bun-siang-eng semakin berbesar hati, keruan mereka semakin temberang serangan semakin dipergencar…. Kongsun Hong kaget dan merasakan langsung tekanan musuh yang semakin berat, menurut dugaan semula asal Pak-kiam Siau Ling kuat bertahan dua jurus saja cukup baginya berkesempatan untuk meniup serulingnya, maka situasi pertempuran selanjutnya boleh dikata pihak pemenang adalah mereka berdua, siapa duga kejadian justru diluar dugaannya.

Untuk menolong kawannya ia bersuit nyaring seruling ditangannya terbang menyapu dengan dahsyatnya dengan salah satu jurus Thian-liong-chit-sek yaitu yang dmamakan tipu Hwi-liong-wi- khong (naga sakti terbang ditengah angkasa) menghadapi serbuan Yan-bun-siang-eng. Kombinasi mempermainkan Yan-hap-to kedua kakak beradik dari Yan-bun memang hebat luar biasa, satu maju yang lain menjaga dan melindungi, maju mundur sangat teratur sekali, kadang-kadang serentak menyerbu bersama membacok ke arah Lam-siau dan Pak-kiam.

Sementara itu, belum lagi jurus pertama dilancarkan rampung Lam-siau sudah menarik kembali serangannya ditengah jalan terus dirubah Sin-liong-jip-cui (naga sakti masuk air) tubuhnya mencelat terbang tinggi, seruling pualam terbang menukik dari atas ke bawah, berbareng mengancam jalan darah Hoa-kay-hiat dibatok kepala kedua musuhnya.

Mendapat kesempatan ini Pak-kiam segera melejit ke tengah udara menyamber pedang panjangnya yang meluncur turun, di tengah udara jumpalitan sekali sembari lancarkan Hian-thian- hui-kiam yang hebat merangsak ke arah Siang-eng berdua.

Namun Yan-bun-siang-eng keburu sudah kembangkan Yan-hap-to-hoat yang hebat, golok mereka berputar memetakan sinar gemerdep yang bundar dan melingkar2 mengaburkan pandangan mata. Meski Pak-kiam dan Lam-siau lancarkan serangan gencar yang hebat tapi kekuatan daya Putar dari pusaran golok lawan adalah begitu hebat dan lebat sekali sehingga setiap jurus serangan mereka selalu kena tertuntun atau dipunahkan begitu gampang oleh tenaga hisap yang kuat itu, begitulah meski mereka berdi atas angin untuk waktu dekat tak mungkin mereka dapat mengalahkan Yan-bun-siang-eng dengan mudah.

Melihat keadaan yang saling bertahan dan sama kuat ini, Thi-kiam Lojin tahu paling tidak mereka harus bertempur sebanyak tiga ratusan jurus baru Yan-bun-siang-eng dapat dikalahkan. Maka menggunakan kesempatan ini segera ia mulai bergerak setelah memberi isyarat kedipan mata kepada Im-hong-ciang dan Hwi-lam-it-lo serentak mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi.

“Sreng!” lekas-lekas Siau-siang-cu To Bwe melolos pedang terus menghadang di depan Hun Thian-hi. Terpaksa Thi-kiam Lojin juga melolos pedang, bersama Im-hong-ciang Lim Bing dan Hwi-lam-it-lo Siang Bing mengepung Hun Thian-hi berdua dari tiga jurusan.

Sudah tentu Lam-siau menjadi gelisah, cepat-cepat berteriak, “Thian-hi, lekas kau jalan dulu!”

Im-hong-ciang Lim Bing menyeringai dingin, ejeknya, “Mau lari? Tidak begitu gampang!” gesit sekali ia merintangi jalan mundur Hun Thian-hi.

Mau tak mau Hun Thian-hi harus berpikir cermat, seandainya ia betul-betul bisa merat itulah baik sekali, namun paling tidak masih ada dua musuh yang bakal mengejar dirinya, maka kepungan kepada gurunya berdua dengan sendirinya bakal kocar-kacir. Tapi tiga orang yang dihadapinya sekarang rata2 adalah tokoh-tokoh silat kosen kelas satu dari Bu-lim, seumpama Im- hong-ciang Lim Bing yang paling lemah pun jauh lebih unggul dari kemampuan sendiri. Karena pikiran ini akhirnya ia harus mengambil keputusan tegas, tangkas sekali kakinya bergerak menyelinap maju seraya kirim genjotan berantai yang deras merangsak ke arah Thi-kiam Lojin.

Melihat Hun Thian-hi menyerang dirinya dengan bertangan kosong terang tidak memandang sebelah mata kepada dirinya Thi-kiam Lojin menjadi murka, seking gusar ia tertawa gelak-gelak malah, pedang panjang bergetar melintas tahu-tahu sudah menukik balik menusuk ke belakang memapak serangan Thian-hi, pikirnya dengan serangan balasan ini ia hendak menabas buntung sebelah tangan Thian-hi.

Begitulah disaat Hun Thian-hi menggenjot dengan kerasnya, pedang Thi-kiam Lojin pun sudah menabas datang.

Keruan Siau-siang-cu To Bwe menjerit kaget. Sangkanya serangan balasan pedang Thi-kiam Lojin ini hanya bertujuan mendesak mundur Thian-hi adalah diluar dugaannya bahwa Thian-hi menyerang dengan bertangan kosong, terang sebelah tangannya itu bakal cacat tanpa ampun lagi.

Tingkat kepandaian dan kedudukan Siau-siang-cu To Bwe sangat tinggi dan hebat, mana mungkin ia mandah saja melihat seorang angkatan muda begitu saja dikutungi sebelah tangannya di depan matanya, sungguh dia tidak berani membayangkan sebelumnya kalau hal ini bisa terjadi. Akan tetapi kejadian selanjutnya justru membuat ia melongo dan heran bukan buatan.

Disaat pedang Thi-kiam Lojin hampir saja menyentuh tangan Hun Thian-hi, bukan saja Hun Thian-hi tidak berusaha melindungi atau menghindari tabasan pedang musuh kelihatan malah disorongkan ke depan, berbareng tampak selarik sinar hijau berkelebat membawa hawa dingin kontan pedang panjang Thi-kiam Lojin kutung menjadi dua potong. Seketika Thi-kiam Lojin berdiri kesima. Siau-siang-cu sendiri pun terlongo heran dan kegirangan. Begitulah sembari menggembol Badik buntung Hun Thian-hi berkelebat lewat disamping tubuh Thi-kiam Lojin terus meloncat naik ke punggung kudanya.

Terdengar Im-hong-ciang Lim Bing menggertak keras terus mengejar dengan kencang. Tapi keburu Hun Thian-hi sudah menjepit perut kudanya dan membedalnya cepat-cepat ke samping sana.

Siau-siang-cu menggertak keras sembari melintangkan pedang merintangi mereka bertiga. Thi- kiam Lojin menggeruhg keras menerjang lewat, sedang Hwi-lam-it-lo mengayun tongkat bambunya menempur Siau-siang-cu. Maka Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing berkesempatan mengejar terus ke arah Hun Thian-ki.

Hun Thian-hi larikan kudanya kencang-kencang, Thi-kiam Lojin berdua mengejar dengan cepat. Sekejap saja lima li telah dilampaui jarak Thi-kiam Lojin berdua semakin jauh, mereka ketinggalan satu li di belakang, tahu mereka kalau mengejar terus pun takkan dapat menyusulnya, terpaksa mereka putar balik dengan uring-uringan.

Sementara itu Hun Thian-hi masih larikan kudanya sekian lamanya, waktu ia berpaling Thi-kiam Lojin berdua sudah tidak kelihatan lagi, baru sekarang ia sempat menghela napas lega. Diam-diam ia bersyukur dalam hati ditengah jalan ini ia bersua dengan gurunya yaitu Lam-siau sehingga kesulitan dirinya dapat diatasi, terutama bantuan Pak-kiam suami istri sungguh besar artinya, kalau tidak sukar dikatakan bagaimana akibatnya tadi. Thian-hi mendongak melihat cuaca, dilihatnya hari sudah hampir gelap, namun dirinya masih ditengah perjalanan jauh dari kota atau dusun, sekelilingnya tanah tandus dan hutan lekat yang memagari gurun berpasir menguning melulu. Tak tahu Thian-hi kemana ia harus menuju. terpaksa ia biarkan saja kuda hitamnya berjalan kemana dia suka….

Hari sudah gelap gulita, samar-samar dikejauhan di depan sana kelihatan titik-titik sinai pelita yang kelap kelip, mungkin di depan sana ada perumahan atau pedusunan. Thian-hi menjadi girang, cepat-cepat ia keprak kudanya dilarikan ke arah sana.

Waktu sudah dekat, Thian-ki menjadi melongo karena tempat itu melulu sebuah hutan lebat di atas sebuah pohon besar yang tinggi tergantung beberapa buah lampion, di tengah lampu2 lampion ini duduk bersila di atas sebuah dahan besar seorang tua yang memejamkan matanya.

Hun Thian-hi hentikan kudanya, ia mendongak mengawasi orang tua di atas pohon itu sekian lamanya, diam-diam ia membatin siapakah orang tua ini, dengan lampu2 lampionnya ini ia memancing aku datang kemari apakah maksudnya?

Tiba-tiba orang tua itu membuka mata serta gumamnya, “Eh, betul-betul kepancing datang!”

Bertambah kaget hati Thian-hi mendengar perkataan si orang tua, lekas-lekas ia melorot turun dari tunggangannya terus membungkuk tubuh serta serunya, “Wanpwe Hun Thian-hi, harap tanya siapakah Cianpwe yang mulia ini?”

Tanpa menunjukkan berubahan mimik wajahnya si orang tua mengawasi Thian-hi dengan cermat, rada lama kemudian baiu membuka mulut, “Tepat, kiranya kaukah Hun Thian-hi. Akulah Jan-ting Lojin, apakah kau pernah dengar nama ini?”

Hun Thian-hi melengak, ia geleng-geleng kepala, sahutnya, “Pengetahuan Wanpwe sangat cetek, belum pernah dengar nama ini, Cianpwe menggunakan sinar pelita untuk memancing Wanpwe kemari entah ada urusan apakah?”

Dengan seksama Jan-ting Lojin (situa pelita) mengamat-amati Thian-hi, tanyanya, “Apa betul kau belum pernah dengar namaku ini?”

Hun Thian-hi geleng kepala.

Tanya situa Pelita, “Apakah gurumu tidak beri tahu kepada kau?”

Hun Thian-hi menjadi was-was dan heran kenapa Situa Pelita ini tanya akan hal ini, ia menggeleng kepala lagi.

Mendadak Situa Pelita mendongak serta terloroh-loroh, gelak tawanya begitu keras memekakkan telinga sehingga menggetarkan seluruh alam sekelilingnya, daun berjatuhan. Hun Thian-hi bercekat dan berubah air mukanya.

Setelah tertawa sekian lamanya, situa pelita ini mendesis sambil mengertak gigi, “Sangkamu kau masih bisa seperti dulu tidak memandang sebelah mata kepadaku lagi?”

Hun Thian-hi menjublek di tempatnya, ia tidak tahu kemana juntrungnya perkataan si orang tua, mendadak ia teringat sesuatu serta-merta mulutnya lantas mengiakan, katanya, “Orang yang Cianpwe maksudkan barusan bukankah Ang-hwat-lo-koay?”

Situa Pelita membelalakkan matanya mengawasi Hun Thian-hi, tanyanya, “Apa katamu?” “Bukankah orang yang Cianpwe maksudkan tadi adalah Ang-hwat-lo-koay?”

Situa Pelita mendengus sekali, tanyanya, “Apakah orang berbaju mas itu kau yang bunuh?” Thian-hi manggut-manggut, katanya, “Tapi Cianpwe jangan salah paham, aku bukan murid

Ang-hwat-lo-koay.”

Situa Pelita berkakakan, pelan-pelan kedua telapak tangannya menepuk kebawah tubuhnya tiba-tiba mencelat ke tengah udara dan terbang melingkar satu bundaran terus hinggap pula di tempat asalnya, katanya kepada Thian-hi, “Kau sudah takut?”

Bercekat hati Thian-hi, gerak tubuh situa Pelita ini sungguh luar biasa dan mengagumkan, belum pernah dilihatnya sebelum ini, apalagi timbul tenggelam tubuhnya begitu enteng tanpa mengeluarkan sedikit suara atau desiran angin.

Tapi lahirnya Thian-hi tetap tenang, malah ia mendongak dan bergelak tawa juga serunya, “Apa yang perlu ditakuti?”

“Tidak lebih menakutkan dari ilmu pencacat langit dan pelenyap bumi yang diajarkan oleh gurumu itu bukan?”

“Perlu kutandaskan lagi bahwa aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay” ujar Thian-hi dengan nada berat,

“Memang kenyataan ia mengajarkan sejurus ilmu ganas itu, kukira kau sendiri sudah tahu berapa banyak jiwa melayang karena ilmu ganas itu?”

Situa Pelita terbungkam seribu basa.

Sambung Thian-hi dengan nada lebih tertekan, “Betapa picik dan licik tujuannya itu, sungguh aku lebih menderita daripada dibunuh olehnya!”

Situa Pelita rada sangsi, ia mendengus tidak percaya. Hun Thian-hi menundukkan kepala tanpa bicara lagi.

Tiba-tiba Situa Pelita bergerak meluncur tiba kedua tangannya dengan telak mencengkeram kedua pundak Thian-hi, secara gerak reflek Thian-hi meronta sekuat2nya. Sesaat tampak situa Pelita tertegun sebentar terus menggumam dengan lesu, “Ah, bukan dia!” lalu ia lepas tangan mencelat kembali ke tempatnya semula.

Thian-hi mendelong awasi si orang tua tanpa buka suara. Akhirnya situa Pelita menunduk kepala serta katanya lirih, “Pergilah, selanjutnya jangan kau gunakan lagi jurus ganas itu.”

Dilihatnya oleh Thian-hi kelopak mata situa Pelita mengembeng air mata, agaknya ia sangat kecewa dan sekejap mata saja sudah tambah tua puluhan tahun, maka katanya pelan, “Kalau Cianpwe punya dendam kesumat dengan Ang-hwat-lo-koay Wanpwe bersedia membantu sekuat tenaga, aku tahu dimana sekarang ia berada!”

Situa pelita angkat kepala, ujarnya, “Tiada gunanya, siang-siang ia sudah pindah tempat. Tak mungkin ia menetap di tempat lama menunggu para musuhnya meluruk datang mencari penyakit padanya.”

Thian-hi berdiam diri sekian lama lalu pelan-pelan putar tubuh. “Kau kembali!” tiba-tiba situa Pelita memanggilnya kembali. “Apakah Cianpwe masih ada urusan?” tanya Thian-hi merandek.

Situa Pelita termenung sebentar lalu katanya, “Tadi kau kata bahwa ada banyak orang telah menjadi korban karena jurus Jan-thian-ciat-te itu bukan?”

Thian-hi manggut-manggut.

Kata Situa Pelita, “Kuduga tentu kau mengalami banyak kesulitan karena jurus yang ganas itu.

Demikian juga aku memancingmu kemari, walaupun kau takkan dapat membantu aku, namun maksud baikmu itu sungguh mengetuk sanubariku, biarlah kubantu sedikit kepadamu!”

Sebentar Hun Thian-hi berpikir, lalu menggeleng serunya, “Terima kasih akan kebaikan Cianpwe. Aku terlalu banyak menanam budi orang lain, sampai pun Soat-san-su-gou berempat Cianpwe rela mati demi jiwaku seorang.”

Bertaut alis situa Pelita, katanya, “Apa katamu?”

Terpaksa Thian-hi ceritakan bagaimana Bu Bing Loni mencari dirinya untuk menuntut balas serta pertemuannya dengan Soat-san-su-gou.

Berjengkit alis situa Pelita, ujarnya tertawa, “Kiranya begitu. Kedua tokoh yang dimaksudkan oleh Pek-bi tentu kedua bangkotan tua itu. Ah pengalaman dan pengetahuannya ternyata rada cetek juga. Tapi aku dapat menunjukkan sebuah jalan penerangan, kalau dibanding kedua bangkotan tua di Tiang-pek-san itu jauh lebih kuat berapa kali lipat!”

Wajah Hun Thian-hi mengunjuk rasa sangsi dan heran. Kata situa Pelita menerangkan, “Dari sini kau langsung menuju ke utara, nanti disana kau bakal menemukan sesuatu rejeki besar. Tiga hari kemudian kau kembali ke sini menemui aku!” selesai berkata tubuhnya mencelat berputar satu lingkaran menanggalkan semua pelita yang tergantung di atas pohon terus meluncur cepat ke dalam hutan dan menghilang.

Hun Thian-hi terlongong-longong di tempatnya sekian lama menerawang pesan situa Pelita sebelum pergi tadi, pikirnya, “betapapun jadinya aku harus pergi mencobanya.”

Cuaca masih rada gelap, dengan menunggang kudanya Hun Thian-hi melanjutkan perjalanan ke arah utara, entah berapa lama berselang, hari sudah menjelang pagi, namun sepanjang perjalanan ini tiada sesuatu yang diketemukan. Jauh dikeremangan kabut. pagi kelihatan bayangan sebuah bangunan kelenteng bobrok. Setelah melakukan perjalanan sehari semalam badan terasa penat, segera ia turun berjalan kaki sambil menuntun kudanya, setelah menambat kudanya didahan pohon besar langsung ia beranjak memasuki keleteng bobrok itu.

Begitu sampai diambang pintu dilihatnya seorang Hwesio tua tengah duduk samadi di tengah ruangan besar sana. Hwesio ini begitu tua sehingga jenggotnya panjang memutih menjulai di depan dadanya, wajahnya kelihatan berwarna merah, jubah abu-abu yang dipakainya kelihatan begitu itu bersih tanpa kena debu sedikitpun, sepintas pandang seakan-akan dewata dalam dongeng.

Begitu Thian-hi melangkah masuk wajah si Hwesio tua lantas berseri tawa, serunya, “Tuan kecil ini datang dari jauh, harap maaf Lo-ceng tidak menyambut secara semestinya.” Diam-diam kaget hati Thian-hi, tanpa membuka mata lantas Hwesio tua ini mengetahui kedatangannya, lekas-lekas ia memberi soja serta sapanya hormat, “Wanpwe Hun Thian-hi, menghadapi pada Sin-ceng!”

Hwesio tua itu menggoyangkan tangan ujarnya, “Tuan ini janganlah menggoda Lo-ceng, Lo- ceng sudah biasa mendengarkan derap langkah orang sehingga sekali dengar lantas tahu berapa usia tuan ini, apalagi sekitar sini tiada pedusunan, terang tuan pasti datang dari tempat yang cukup jauh bukan!”

Memang ucapan si Hwesio tua masuk akal, hanya dari derap langkah saja lantas dapat membedakan berapa usia seseorang, apalagi dia tak pernah membuka mata mungkin memang buta. Tapi bagaimana mungkin seorang diri cacat lagi bisa hidup di tempat yang terpencil ini.

Hwesio tua itu agaknya dapat menebak isi hati Hun Thian-hi, katanya tersenyum, “Aku punya seorang murid kecil, tapi sekarang sedang keluar.”

Hun Thian-hi manggut-manggut, batinnya, “Tak heran, kukira kau sebatang kara disini.

Seorang tua buta lagi mana mungkin bisa hidup di tempat semacam ini!”

Hwesio tua itu tertawa lagi, katanya, “Silakan duduk tuan, ada beberapa persoalan yang ingin Lo-ceng bicarakan dengan tuan!”

Hun Thian-hi tertegun, pikirnya, “Aku main terobosan masuk kemari, ada urusan apakah yang hendak dibicarakan oleh Hwesio tua ini?” Dalam hati ia bertanya-tanya namun ia menurut duduk dihadapan Hwesio tua.

Rada lama si Hwesio tua terpekur, katanya. “Selama enam puluh tahun Lo-ceng menunggu disini, hanya besoklah saatnya yang kunantikan!”

Bercekat hati Thian-hi, menunggu selama enam puluh tahun, jadi paling tidak usia Hwesio tua ini sedikitnya ada delapan atau sembilan puluh tahun, atau mungkin sudah melampaui seabad.

Terdengar Hwesio tua itu sedang bicara, “Di dalam lembah di belakang kelenteng ini ada sepucuk pohon yang bernama Kiu-thian-cu-ko, enam puluh tahun yang lalu waktu aku datang kebetulan buah dan kembangnya telah gugur, besok justru adalah saatnya ia berkembang dan berbuah masak!”

Berdebur jantung Thian-hi, Kiu-thian-cu-ko adalah buah Dewata yang sukar didapat dengan khasiatnya yang sangat mujarab. Konon kabarnya setiap enam puluh tahun sekali baru berbuah, jumlah seluruhnya hanya sembilan buah, sungguh tak terduga di tempat ini dirinya bisa menemukan buah dewata yang sangat berharga itu.

Kata si Hwesio, “Lo-ceng sudah menjaganya selama enam puluh tahun, namun bagi aku kesembilan buah itu tiada gunanya, hari ini kebetulan tuan datang kemari, biarlah aku pinjam bunga persembahan kepada sang Budha (memberi sedekah), kuberikan seluruhnya kepada tuan!”

Keruan Thian-hi terkejut, serunya, “Mana boleh jadi? Benda macam KUi-thian-cu-ko yang begitu tinggi nilainya dijaga selama enam puluh tahun oleh Sinceng lagi, mana bisa diberikan begitu saja kepala orang lain?”

Hwesio tua tertawa, ujarnya, “Tapi tidak begitu gampang kau untuk mendapatkan pucuk buah ajaib ini. Ketahuilah ada seekor ular sanca besar yang juga telah menunggu selama enam puluh tahun, masih ada lagi seorang aneh yang menunggunya selama tiga puluhan tahun pula!” “Begitupun tak mungkin jadi,” sahut Thian-hi mengiakan keterangan orang, “Besok biarlah aku pergi mencobanya, jikalau dapat kurebut, aku rela persembahkan kepada Sin-ceng!”

Hwesio tua menggeleng kepala sambil tersenyum.

Kata-Thian-hi lagi, “Meskipun tiada perlunya bagi Sin-ceng, namun kau sudah susah payah menunggunya selama enam puluh tahun. Kukira tentu sangat memerlukannya bukan?”

“Walaupun Lo-ceng tidak bisa main silat.” demikian ujar Hwesio tua sembari tertawa-tawa, “namun hidup sampai setua ini perihal seluk beluk Bulim kuketahui juga. menurut jalan pernapasan tuan ini, bakat dan tulang tuan sungguh merupakan rahmat yang terbaik, apalagi dalam usia menanjak dewasa. Murid Lo-ceng sendiri tidak becus, maka dengan sukarela dan senang hati kuberikan pucuk pohon buah ajaib itu kepada tuan, harap tuan tidak menolak lagi.”

Melihat orang bicara begitu tulus dan sungguh hati Thian-hi menjadi tidak enak dan risi. Toh disana masih ada orang lain yang ingin merebutnya juga, belum tentu dirinya bisa berhasil memetiknya, terpaksa sekarang disetujui dulu saja. maka segera ia menjawab, “Terpaksa kunyatakan banyak terima kasih akan karunia Sin-ceng.”

Hwesio tua tersenyum ujarnya, “Suatu hal perlu kutegaskan, kalau tuan sudah setuju maka betapa juga, jangan sampai buah2 ajaib itu terjatuh ketangan orang lain.”

Thian-hi menjadi terhenyak melongo, sungguh ia tak habis heran kenapa jalan pikirannya dapat diketahui oleh Hwesio tua ini, terpaksa ia menyahut, “Wanpwe akan berbuat sekuat tenaga.”

“Tuan tentu sangat lelah,” begitu ujar Hwesio tua, “silakan istirahat sebentar!” habis berkata. dengan telapak tangannya ia meng-usap2 di depan muka Thian-hi, kontan Thian-hi lantas tercatuh mendengkur dan tertidur nyenyak.

Waktu Thian-hi siuman dari tidurnya hari sudah terang benderang pada hari kedua. Tersipu- sipu Thian-hi meloncat angun, ia heran mengapa sekali tertidur dirinya sampai pulas sehari semalam, waktu ia mengerling Hwesio tua itu sudah tak berada ditempatnya, sesaat ia terlongong, baru sekarang ia sadar bahwa, Hwesio tua ini pasti seorang sakti waktu ia lari keluat tampak kuda hitamnya masih tertambat di bawah pohon sana.

Thian-hi masih teringat pesan Hwesio tua kemaren, maka segera ia menyesuri jalanan kecil menuju ke belakang kelenteng. Dengan ilmu ringan tubuhnya ia memanjat naik kebukit yang tidak begitu tinggi, tiba dipuncak bukit hidungnya lantas dirangsang bau harum semerbak. Sebenfar berdiri menerawang keadaan sekitarnya, tampak olehnya diseberang bukit sebelah depan sana terdapat sebuah gua esar, di depan gua ini melingkar seekor ular sanca besar warna putih tengah berhadapan dengan seorang tua yang mengenakan jubah kuning. Ular dan orang itu diam tak bergerak seperti ajam adonan, masing-masing tiada yang berani bergerak dulu, namun besar hasrat masing-masing untuk mendahului mendapatkan buah ajaib yang berbau wangi.

Agaknya orang tua jubah kuning itu tidak sabaran lagi, gesit sekali ia berkelebat hendak menerjang masuk ke dalam gua, namun secepat anak panah ular sanca putih itu mematuk mengarah tenggorokannya. Orang tua jubah kuning menjadi gusar, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang terus membabat kemonciong ular yang ternganga lebar itu. Ternyata siular besar inipun pandai berkelahi, dengan menekuk badannya ia sampok pedang musuh kesamping tubuhnya terus meluncur hendak menerjang ke dalam gua.

Sijubah kuning menggertak keras, pedangnya berputar mempetakan setabir kabut sinar putih mendesak mundur ular putih itu keluar gua pula, begitulah mereka saling berhadapan lagi diluar gua dengan siap siaga. Meski hanya melibat beberapa gebrak pertarungan antara ular dan manusia ini namun diam- diam bercekat hati Thian-hi, batinnya, ‘kalau kepandaianku dibanding dengan ular dan sijubah kuning terang terpaut teramat jauh sekali. Kiu-thian-cu-ko itu jangan harap dapat kuperoleh, tapi aku sudah berjanji kepada Hwesio sakti itu, masa lantas mundur begini saja.

Bau harum yang teruar keluar dari dalam gua semakin tebal, jelas sijubah kuning dan ular besar Itu semakin bersitegang leher, pelan-pelan Hun Thian-hi menggeser maju ke arah gua besar itu. Waktu ia menggeremet tiba di atas samping gua, untung saking tegang dan tumplek perhatian musuh dihadapannya ular dan sijubah kuning tidak mengetahui kehadirannya.

Kelihatan kedua musuh bertengger ini sudah tak sabar lagi, mendadak sijubah kuning mengayun pedangnya menyerang ke arah ular sanca sebat sekali ular putih berkelit tanpa hiraukan sijubah kuning lagi ia mendahului melesat masuk ke dalam gua Tapi gerak-gerik sijubah kuning cukup hebat. lincah sekali tangan kirinya bergerak dengan telak telapak tangannya memukul ketubuh siular, terdengar ular putih mendesis keras, tubuhnya melenting balik mematuk kedua biji mata sijubah kuning. Terpaksa sijubah kuning mundur selangkah, pedang ditangan kanan lagi-lagi membabat ke kepala musuh.

Siular putih terdesak dan mundur berkelit, kontan jubah kuning timpukan pedangnya mengarah kedua biji mata sang ular, tanpa melihat apakah serangannya bakal berhasil segera ia menerobos masuk ke dalam gua. Keruan ular putih menjadi gugup, tubuhnya masih cukup gesit bergerak namun tak urung badannya sudah kena luka tergores, namun ia berhasil melenting maju merintangi si jubah kuning masuk ke dalam gua, maka dengan geram sijubah kuning ayun jotosannya menghantam sekuatnya menggetar mundur sang ular, sementara waktu mereka berhadapan lagi tanpa bergerak.

Diam-diam Thian-hi menghela napas lega, katanya dalam hati “Untung! Masih belum ada ketentuan pihak mana yang menang dan asor, kalau tidak sedikitpun ak takkan punya harapan.”

Tengah ia termenung sekonyong-konyong ia merasa telinganya seperti dikili2 dengan hembusan angin silir, keruan kejutnya bukan kepalang, lekas-lekas ia berpaling dilihatnya seorang Hwesio kecil yang bertubuh tambun buntak tengah berseri tawa kepadanya.

Mengkirik kuduk Thian-hi, untung orang tiada niat mencelakai jiwanya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang.

Sekian lama Hwesio cilik itu tertawa-tawa lucu lalu berseru lirih, “Kau ingin mendapatkan Kiu- thian-cu-ko itu bukan?”

Thian-hi manggut, baru saja ia hendak bicara, Hwesio cilik sudah mencegahnya dengan mendesis mulut dan menegakkan jari tangannya di depan mulutnya, begitu menarik tangan Thian- hi terus diajak lari kebawah bukit.

Thiar-hi mandah saja diseret kebawah bukit tanpa mampu mengeluarkan tenaga untuk meronta. Setiba di bawah Hwesio cilik itu memandang Thian-hi dan berkata, “Kalau kau ingin benar-benar, aku bisa membantu kau!”

Thian-hi rada sangsi, namun akhirnya ia berkata, “Harap tanya Siausuhu ini bergelar nama siapa?”

“Siausuhu apa?” dengus Hwesio cebol itu rada tak senang, “usiaku jauh lebih tua dari kau, orang lain sering panggil aku Siau-hosiang (Hwesio jenaka), kau panggil aku Siau-hosiang saja!” Hati Thian-hi menjadi geli dan ingin tertawa, namun tak enak dikatakan, terpaksa ia manggut- manggut saja, katanya, “Siau-hosiang! Kau ada cara baik apa?”

Hwesio cilik bernama Siau-hosiang terkekeh-kekeh melebarkan mulutnya tanpa membuka kata.

Thian-hi tahu bahwa ilmu silat Hwesio jenaka ini jauh lebih tinggi dari kemampuannya, kalau sudi membantu betul-betul merupakan pembantu yang boleh diandalkan, maka ia menambahi, “Kalau sudah dapat nanti kita bagi rata hasilnya bagaimana?”

Hwesio jenaka menarik muka, jengeknya, “Bagi rata? Kataku tadi aku hanya membantu kepadamu, kalau aku mau gampang saja aku turun kesana mengambilnya, buat apa harus bagi rata dengan kau apa segala!”

Terpaksa Thian-hi minta maaf, sambungnya, “Tapi kau hanya tertawa-tawa saja tidak beritahu cara bagaimana harus bekerja, kalau….,”

“Ah, ada aku disini masa perlu kuatir apa lagi?” kata Hwesio jenaka sambil menepuk dada.

Melihat sikap Hwesio cilik yang takabur ini, Thian-hi menjadi uring-uringan, katanya, “Jangan kau bicara begitu takabur!”

Hwesio jenaka tertegun sebentar lantas melebarkan mulutnya lagi terkekeh-kekeh, serunya, “Memang benar-benar, tapi aku ada pegangan dan pasti berhasil. Hari ini kau ada kerja maka kubantu kau kelak kalau aku punya urusan dan minta bantuanmu apakah kau sudi membantu?”

Thian-hi tercengang, tanyanya, “Kau ada urusan apa?”

“Sekarang tiada,” sahut Hwesio jenaka dengan riang, “maksudku kelak kemudian hari kalau aku kena perkara apakah kau sudi membantu aku?”

“Tidak kau jelaskan urusan apakah itu, mana aku tahu dapatkah aku membantu?”

Hwesio jenaka menunduk berpikir sebentar lalu angkat kepala serunya, “Mari kita naik ke atas!”

Begitulah dilain saat mereka sudah tiba dipuncak bukit, waktu memandang ke depan sana kelihatan sijubah kuning dan ular putih masih bersitegang leher berhadapan.

Kata Hwesio jenaka, “Biar aku turun kesana, kau bekerja menurut isyaratku!”

Thian-hi manggut-manggut, Hwesio jenaka tertawa lebar kepadanya terus berjalan bergoyang - gontai seperti gentong! menggelinding ke bawah lembah sana. Sekilas sijubah kuning dan ular putih berpaling ke arah Hwesio jenaka lain berpaling lagi bersiaga.

Hwesio jenaka terloroh-loroh menghampiri ke arah sijubah kuning serunya, “Sicu tua ini, apakah yang kau tengkarkan dengan ular putih ini?”

Sijubah kuning mendengus hidung tanpa hiraukan dirinya.

Sembari tertawa-tawa Hwesio jenaka melangkah lebar masuk gua. Tersipu-sipu si jubah kuning dan ular putih itu menghadang di depannya, dengan pura-pura kaget Hwesio jenaka melompat mundur teriaknya, “Waduh! Hebat benar-benar!”

Teriak sijubah kuning, “Hwesio cilik, tiada urusanmu disini, lekas minggir!” “Sicu tua,” ujar Hwesio jenaka, “salah ucapanmu, aku Hwesio cilik ini ingin masuk kesana untuk istirahat, kenapa kau menghadang merintangi aku?”

Sijubah kuning tahu bahwa kepandaian Hwiesio jenaka tidak lemah, maka katanya lagi, “Hwesio cilik, kau usir ular-ular ini, Kiu-thian-cu-ko yang berada di dalam gua nanti boleh kita bagi dua, bagaimana?”

“Kiu-thian-cu-iko apa?” Hwesio jenaka pura-pura membodoh, “aku belum pernah dengar!” S

ijubah kuning menggeram jengkel, katanya gegetun, “Mari kau bantu aku mengusir ular ini saja.”

“Itu boleh,” -sahut Hwesio jenaka manggut-manggut, “selamanya, aku Hwesio cilik paling suka membantu kesulitan orang, tapi kalau aku bantu kau mengusir ular ini, kau jangan mengganggu tidur nyenyakku lho!”

“Baik!’ sahut sijubah kuning aseran.

Hwesio jenaka putar tubuh menghadapi siular putih, dengan gentar ular putih surut ke belakang terus melingkar bundar, kepalanya menegak tinggi dengan lidah melelet2 mengawasi Hwesio jenaka.

Hwesio jenaka sendiri kelihatan rada takut-takut, selangkah demi selangkah maju mendekat, tangan diulur ke depan lalu ditarik kembali cepat, mulutnya berkaok, “Sicu tua, marilah kau maju membantu.”

Biji mata sijubah kuning berputar-putar, ia jemput pedang panjang di tanah terus berlari kencang menerobos masuk ke dalam gua. Ular putih ternyata sudah siaga, tidak kalah cepatnya iapun melesat mengejar ke arah sijubah kuning, tangkas sekali sijubah kuning memutar badan seraya melontarkan pedangnya. mengarah siular putih, gesit sekali ular putih nenekuk badan menukik kebawah seraya pentang mulutnya mematuk pundak sijubah kuning.

Terdengar sijubah kuning menggerung keras, tangan kanannya membalik mencengkeram leher ular dengan kencang tidak dilepas!agi. Kesempatan ini digunakan oleh Hwesio jenaka lari ke dalam gua, tak lama kemudian kelihatan ia berlari keluar lagi sambil menggembol seonggok dedaunan terus berlari kencang ke atas bukit.

Sijubah kuning berteriak panjang, dengan gusar ia mengumpat caci terus bergerak mengejar dengan kencang. Sekejap saja suara teriakannya semakin jauh dan tak terdengar lagi. Thian-hi menghela napas lega, dari atas bukit ia melihat tegas, dedaonan yang dibawa lari oleh si Hwesio cilik bukan lain hanya dahan pohon yang lebat dengan daun-daunnya yang menghijau. Tapi bagi penglihatan sijubah kuning Kesekelebatan warna hijau pupus, sungguh tak terpikirkan olehnya bahwa ini merupakan jebakan memancing harimau meninggalkan sarangnya, tanpa pikir panjang segera ia lari mengejar sembari membawa ular putih itu.

Cepat-cepat Thian-hi turun ke dalam lembah terus masuk ke dalam gua, setelah membelok sebuah tikungan tampak sebelah depan sana terdapat sebuah jembangan dengan airnya yang jernih kelihatan dasarnya. Ditengah jembangan ini kelihatan tumbuh sepucuk pohon kecil berdaon sembilan berbuah sembilan biji warna merah darah, warna daonnya hijau pupus berkilau menjadi sangat kontras sekali dengan warna buahnya…. Dalam-dalam Thian-hi menyedot hawa, terasa bau harum merangsang hidung menyegarkan badan dan membangkitkan semangat. Sungguh mimpi juga tak terduga sebelumnya bahwa buah ajaib yang tak ternilai itu betul-betul berada di depan matanya.

Sesaat ia menjadi kememek dan tidak tahu cara bagaimana ia harus bekerja, tanpa mengeluarkan sedikit tenagapun ia bakal memperoleh buah dewata yang sukar didapat, kalau dikata memang sukar dipercaya, tapi kalau rejeki ini ditolak tak lama kemudian buah dan daon ajaib ini segera bakal menjadi kuju dan laju.

Tengah Thian-hi terpekur tiba-tiba sebuah bayangan orang meluncur hinggap di depannya, Thian-hi terperanjat dan menyurut mundur, waktu ia menegasi kiranya si Hwesio jenaka.

Tetap dengan sikapnya yang tertawa-tawa Hwesio jenaka berkata, “Bagaimana? Eh tidak lekas kau ambil dan menemuinya, sebentai lagi bakal laju kering lho!”

“Siausuhu kenapa kau sendiri tidak mau menelannya?” tanya Thian-hi.

“Segala sesuatu di dunia ini pasti ada sebab dan akibatnya. Jika sudah ditakdirkan bahwa buah ajaib ini bakal menjadi milikmu, lekaslah Sicu menelannya!”

Thian-hi masih rada sangsi, tiba-tiba Hwesio jenaka melompat maju menutuk jalan darahnya, cepat-cepat kesembilan buah merah itu dipetik terus dijejalkan semua kemulut Hun Thian-hi.

Terasa oleh Thian-hi rasa manis dan harum tertelan melalui tenggorokannya terus melebar keseluruh tubbhnya, tak terasa lagi kepalanya menjadi berat dan ia jatuh pingan.

Entah berapa lama berselang waktu ia pelan-pelan siuman dilihatrrja. Hwesio jenaka tengah berdiri disamping sambil tertawa riang, ditangannya masih menyekal pucuK daun warna hijau berjumlah sembilan tangkai. Sedikit bergerak lantas Thian-hi rasakan badannya sangat enteng.

“Kusampaikan selamat. tuan kecil!’“ ujar Hwesio jenaka menggoda.

“Akupun banyak terima kasih akan bantuan Siausuhu!” jawab Thian-hi sungguh-sungguh. Hwesio jenaka memalingkan kepalanya, mulut bergerak hendak bicara namun diurungkan.

Teringat oleh Thian-hi akan permintaan Hwesio jenaka di atas bukit tadi, maka katanya, “Siausuhu. kalau kau betul-betul memerlukan bantuanku, dimana dan kapan saja pasti aku membantumu sekuat tenagaku!”

Hwesio jenaka berseri tawa, “Sembilan tangkai daun ini merupakan benda yang sangat berharga, silakan kau simpan Saja!”

Melihat orang tidak menyinggung persoalan tadi, Thian-hi rada kikuk dan jadi menyesal, dengan menunduk ia sambuti kesembilan tangkai daun hijau lalu hati-hati disimpan ke dalam baju.

“Kau sudah tidur sehari lamanya,” kata Hwesio jenaka, “hari ini tepat hari ketiga boleh kau pergi menemui Situa Pelita itu!”

Thian-hi melengak, tak habis herannya dari mana Hwesio jenaka ini mengetahui perihal pertemuannya dengan situa Pelita itu. Hwesio jenaka mandah tertawa lucu, semoga Selamat berjumpa kelak!” — hilang suaranya badannya pun melenting keluar gua.

Thian-hi menjublek ditempatnya sekian lamanya baru pelan-pelan beranjak keluar dari gua, sedikit menyedot hawa dan mengempos semangat badannya lantas bergerak ringan seenteng asap seperti menunggang awan, keruan ia melengak dan keheranan, sungguh diluar tahunya bahwa khasiat buah ajaib itu ternyata begitu aneh dan mustajab.

Begitu ia ganti napas badannya lantas meluncur turun, segera ia empos semangatnya terus berlari kencang kepuncak bukit betapa cepat luncuran tubuhnya sungguh sangat mengejutkan dan diluar perhitungannya, sekejap mata ia sudah tiba di depan gunung lagi.

Waktu ia melangkah memasuki keleteng brobrok itu keadaan sunyi senyap tiada seorang pun yang tinggal hanya kasur bundar buat semadi itu. Thian-hi berlutut serta menyembah empat kali ke arah kasur bundar itu lalu keluar dari pintu samping, setelah mengambil kudanya ia berjalan balik ke arah datang semula.

Pengalaman tiga hari ini seolah-olah dalam mimpi saja, suatu kejadian yang agaknya tak mungkin terjadi, namun kenyataan telah dialami olehnya. Hwesio tua itu sudah menunggu selama enam puluh tahun akhirnya buah itu diberikan kepada dirinya secara mentah-mentah, demikian juga Hwesio jenaka suka rela membantu dirinya tanpa pamrih.

Waktu ia membedal kudanya sampai di tempat semula, tampak Situa Pelita sudah menunggunya duduk di bawah pohon besar yang rindang.

Tersipu-sipu Thian-hi turun dari tunggangannya terus menjura dalam. Dengan cermat situa Pelita mengawasi Thianhi sambil tersenyum simpul, katanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan Go-cu Taysu?”

“Go-cu Taysu?” ulang Thian-hi dengan tak mengerti.

Situa Pelita melengak, tanyanya, “Apa kau tidak jumpa dengan beliau?”

“Apakah beliau seorang Hwesio tua yang buta sepasang matanya serta beralis dan berjenggot putih?”

“Bukan!” sahut situa Pelita, “Kedua biji mata Go-cu Taysu tidak buta. Apa kau benar-benar tidak berjumpa dengan Go-cu Taysu?”

Hun Thian-hi termenung beberapa saat tanpa buka suara lagi.

“Apakah kau sudah sampai di kelenteng bobrok itu?” desak situa Pelita.

Thian-hi manggut, sahutnya, “Tapi yang kutemukan hanya seorang padri tua yang buta!” “Begitulah ‘jodoh’, beliau tentu Go-cu Taysu adanya. Seluruh kaum persilatan di kolong-langit

ini yang paling ditakuti oleh Bu Bing Loni hanya beliau seorang. Dan hanya Bu Bing Loni dan aku saja dari seluruh jagat ini yang mengetahui adanya tokoh yang lihay ini!”

Thian-hi kesima sekian lama, katanya, “Kiu-thian-cu-ko yang beliau tunggu 5elama enam puluh tahun telah diberikan kepadaku!”

“Apa?” situa Pelita tersentak kaget.

Thian-hi lantas tuturkan pengalamannya selama tiga hari ini. Situa Pelita manggut-manggut serta katanya tersenyum, “Begitupun baik, sayang kalau Go-cu Taysu sendiri mau memberi petunjuk langsung kepadamu tentu lebih besar manfaatnya!” Diam-diam Thian-hi bertanya-tanya dalam hati, tokoh macam apakah sebenar-benarnya Go-cu Taysu itu, betapa tinggi ilmu kepandaiannya.

Situa Pelita tertawa-tawa, ujarnya, “Namun rejeki yang kau peroleh pun merupakan karunia yang sukar didapat oleh orang lain. Tapi kau harus tahu ini baru permulaan dari ‘Sebab’ itu, kelak tentu banyak pekerjaan dari ‘akibat’ itu untuk kau selesaikan.”

“Kemanakah kiranya Go-cu Taysu sekarang, apakah Cianpwe tahu jejaknya?”’

“Orang muda jangan terlalu serakah. Jejak Go-cu Taysu selamanya. sukar diketahui orang, buat apa kau tanya kepadaku?”

“Bukan begitu maksudku, tujuanku hanya ingin tanya berbagai persoalan kepada beliau!”

Situa Pelita geleng-geleng kepala, ujarnya, “Mungkin kalau ada jodoh atau secara kebetulan saja baru kau ada kesempatan bertemu dengan beliau!”

Sesaat mereka berdiam membungkam, Situa Pelita membuka suara, “Sijubah kuning itu kuduga adalah Mo-lam-it-koay, sedang Hwesio jenaka itu aku kurang terang. Karena kejadian ini ia menanam permusuhan dengan Mo-lam-it-koay, kelak tentu banyak perhitungan yang harus kau pikul!”

Diam-diam Thian-hi mencatat nama Mo-lam-it-koay dalam sanubarinya.

“Aku masih punya urusan yang harus segera kuselesaikan. Rejekimu begitu nomplok maka kau harus hati-hati dan bisa menjaga diri baik-baik karena ilmu silatmu sekarang belum mencukupi

Gin-ho-sam-sek pemberian Soat-san-su-gou boleh kau pelajari dulu, belakang hari kalau ada jodoh kita bisa berjumpa kembali!” — habis berkata terus tinggal pergi.

Setelah situa Pelita hilang dari pandangan matanya Thian-hi merasa hatinya hampa dan cemas, lama dan lama kemudian baru ia cemplak kudanya melanjutkan perjalanan ke depan.

Sejak menelan Kiau-thian-cu-ko Lwekangnya maju pesat, sepanjang perjalanan ini tak mengenal kesal ia pelajari ilmu Gin-ho-sam-sek. Tak terasa tahu-tahu tiga hari sudah lewat, selama ini ia tidak menemui rintangan apa di tengah jalan. Tapi ia tahu bahwa seratusan li di sekitarnya banyak orang tengah memata2i dirinya.

Hari itu pagi2 benar-benar Thian-hi sudah congklang tunggangannya melanjutkan perjalanan.

Kira-kira puluhan li kemudian, tiba-tiba puluhan kuda tunggangan membedal datang dari belakang. Thian-hi hentikan kudanya menunggu, puluhan ekor kuda itu melesat lewat di kedua sampingnya, terus secepat kilat dihentikan dan putar balik berdiri jajar mencagat di depan Thian- hi.

Terlihat oleh Thian-hi puluhan orang itu mengenakan seragam pendek warna hijau, punggung mereka mengenakan mantel besar, hanya seorang yang ditengah adalah seorang gadis remaja yang mengenakan pakaian serba merah, mantel yang dikenakan pun warna merah menyolok.

Orang yang paling pinggir memajukan kudanya serta bertanya kepada Thian-hi, “Apakah kau ini murid Lam-siau Hun Thian-hi?”

Hun Thian-hi manggut-manggut tanpa buka suara.

Terdengar orang itu berseru lantang, “Atas perintah dari Hwi-cwan Pocu, persilahkan Hun- siauhiap mampir sebentar di Hwi-cwan-po!” Thian-hi menyapu pandang dulu ke puluhan orang itu baru balas tanya, “Untuk urusan apa?” “Siauhiap akan tahu setelah sampai disana!”

Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Terima kasih akan maksud baik Pocu kalian. Harap beri lapor kembali pada Pocu kalian katakan bahwa aku Hun Thian-hi punya urasan penting, belakang hari kalau ada waktu tentu aku mampir kesana!”

Orang itu tertegun sebentar lalu berpaling ke arah gadis baju merah. “Sekarang juga. harus kesana!” akhirnya gadis baju merah ikut bicara.

“Karena urusan Leng Bu bukan?” seru Thian-hi sembari gelak tertawa, “Siapapun boleh dan harus membunuh Leng Bu, betapa tercela sepak terjangnya masa Hwi-cwan-po ada maksud menuntut balas baginya?”

Gadis baju merah menarik muka, bentaknya, “Kau tidak mau pergi terpaksa kita gunakan kekerasan!”

Thian-hi menjengek dingin, “Ya, biar aku belajar betapa hebat tiga belas jurus Hwi-cwan-kin- soat dari Hwi-cwan-po kalian!”

Gadis baju merah tertawa dingin, para kerabatnya segera maju merubung kesekeliling Thian-hi.

Thian-hi pentang lebar matanya manyapu pandang para pengepungnya, tahu dia bahwa hari ini terpaksa ia harus gunakan kekerasan lagi. Maka segera kudanya dikeprak maju terus menerjang lebih dulu.

Serentak puluhan mantel bertebaran menari2 menggulung berbareng ke arah Thian-hi.

Thian-hi menggertak keras tubuhnya mencelat tinggi ke tengah udara sedang kudanya masih membedal ke depan terus, ditengah udara Thian-hi mainkan gaja tubuhnya yang indah berkelit kian kemari dari samberan mantel2 musuh dan membelesot lewat dari tengah celah kepungan musuh terus meluncur duduk kembali dipunggung kudanya.

Baru saja belum sempat ia membetulkan tempat duduknya, terdengar teriakan nyaring merdu sekuntum awan merah disertai angin menderu keras menerpa ke arah dirinya. Tahu Thian-hi bahwa gadis baju merah telah menunjukkan aksinya. Tanpa ayal ia dorong ke depan kedua telapak tangannya memapak menyambut serangan mantel merah lawan

Begitu serangan pertama gagal, jurus kedua yang lebih hebat dari sigadis baju merah telah melandai tiba pula. Thian-hi tidak perlu gentar mengingat Lwekangnya baru saja maju berlipat ganda, enteng sekali tangan kanan dijulurkan keluar mencengkerana mantel gadis baju merah terus dibetotnya mentah-mentah, dan usahanya ternyata berhasil. Tapi seiring dengan lari kudanya yang membedal lewat cepat-cepat ia timpukkan pula mantel rampasannya kemuka gadis baju merah, maka dilain kejap ia sudah menyongklang kudanya ke depan.

Gadis baju merah kelabakan sebentar, namun dilain saat ia sudah larikan kudanya pula mengejar dengan kencang. Dari kejauhan terdengar gadis baju merah berteriak, “Berani kau lari! Ketahuilah gurumu tertawan di Hwi-cwanj-po, malah Pak-kiam suami isteri juga disana.”

Terkejut Thian-hi, segera ia tarik kendali kudanya sehingga lari pelan-pelan. Waktu ia berpaling tampak gadis baju merah memutar balik kudanya seraya berseru, “Kau mampir tidak terserah kepadamu!”’ Thian-hi menghentikan kudanya terus memutarnya balik. Melihat Thian-hi putar balik gadis baju merah tertawa senang, kakinya menendang perut tunggangannya terus dibedal ke depan.

Sungguh berat perasaan Thian-hi. Sungguh daluar tahunya, bahwa gurunya bisa tertawan oleh Hwi-cwan-po di Kanglam, tak bisa tidak ia harus percaya akan berita ini karena hari itu ia tinggal lari begitu saja Lam-siau dan Pak-kiam berdua masih bertempur seru, setelah ia lolos kemungkinan besar Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing kembali dan mengeroyok mereka, dapatlah dibayangkan pihak mana bakal menang.

Melihat Thian-hi kena terpancing akan kata-katanya dan tunduk berpikir, gadis baju merah berpaling dan berteriak lagi, “Lekas! Apa lagi yang kau pikirkan?”

Thian-hi angkat kepala, pikirnya urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh terpaksa aku harus ikut mereka ke Hwi-cwan-po, Karena pikirannya ini segera ia tendang perut kudanya terus dibedal ke depan.

Gadis baju merah tertawa lebar, tangannya diulapkan memberi aba-aba, puluhan anak buahnya segera bergerak mengelilingi sekitar Thia-hi berlari kencang. Sekilas Thian-hi menyapu pandang mereka, namun tak bicara apa-apa kudanya dilarikan terus mengintil di belakang gadis baju merah.

Entah berapa lama dan betapa jauh perjalanan yang sudah ditempuh ini, tiba-tiba jauh di depan sana kelihatan puluhan kuda mendatangi dengan cepat. Begitu dekat puluhan kuda itu lantas berjajar rapi menghadang di tengah jalan.

Dengan muka dingin membeku Gadis baju merah mengajukan kudanya lebih dekat, matanya yang jeli berputar menyorotkan sinar tajam menatap satu persatu para pendatang ini.

Melihat cara dandanan para pendatang ini diam-diam Thian-hi terkejut, pikirnya, kenapa anak buah Tong-ting-kun juga meluruk kemari?

Pada jauh di belakang sana berlari kencang seekor kuda putih tengah mendatangi…. seorang pemuda yang membekal pedarg panjang menerobos lewat dari puluhan pencegat itu terus menghampiri ke depan gadis baju merah.

“Nyo Seng!” teriak gadis baju merah gusar, “Kenapa kau menghadang perjalanan kita?”

Pemuda itu bergelak tawa serunya, “Nona Ciok, pihak Hwi-cwan-po kalian tiada punya permusuhan dengan Hun Thian-hi. Urusan Kim-i-kongcu Leng Bu biarlah diselesaikan oleh ayahnya Sing-hu Lojin tak perlu kalian ikut campur.

“Tapi engkohku menjadi korban ditangan Hun Thian-hi, ayah menitahkan kepadaku kemari untuk meringkusnya, bagaimana menurut pendapatanmu?”

“Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek yang dimainkan Leng Bu itu milik siapa masa kau tidak tahu?” jengek gadis baju merah dengan uring-uringan.

“Benar-benar!” Seru Nyo Seng tertawa-tawa, “Tapi kau harus tahu Hun Thian-hi membunuh engkohku, sedang Leng Bu bagi Hwi-cwan-po kalian tidak lebih hanya murid murtad melulu!”

Gadis baju merah mendengus hidung, belum sempat ia bicara Nyo Seng sudah berkata lagi, “Apakah Hwi-cwaw-po di Kanglam tidak mengenal tata tertib dunia persilatan?” Seru gadis baju merah, “Nyo Seng! Jangan kau pura-pura, kau sangka aku tidak tahu apa yang kau pikirkan? Kalau kau benar-benar ingin minta orang, mari silakan datang ke Hwi-cwan-po saja!” sembari berkata ia jepit perut kudanya seraya mengayun tangan terus menerjang ke depan.

Nyo Seng menjengek dingin, sebelah tangannya membalik melolos pedang, para pengikutnya serempak juga melolos keiuar senjata masing-masing untuk merintangi jalan si gadis baju merah.

Terdengar gadis baju merah menghardik nyaring tangan yang lain menanggalkan mantel merah di punggungnya terus diobat-abitkan sembari menerobos maju dengan kencang.

Nyo Seng melintangkan pedangnya, dengan kekerasan ia berusaha merintangi orang, teriaknya, “Nona Ciok, kalau kau tidak mematuhi peraturan dunia persilatan jangan salahkan aku Nyo Seng tidak mengenal kasihan lagi.”

Dalam pada itu gadis baju merah sudah menerjang tiba, mantel merahnya segera dikebutkan ke arah Nyo Seng tanpa pedulikan peringatannya. Terpaksa Nyo Seng angkat pedangnya menyontek dan membabat ke arah mantel merah yang menggulung tiba. Tapi permainan mantel si gadis merah ternyata cukup lihay, terdengar ia menghardik keras, kelihatan mantel merahnya berkembang lebar seperti sekuntum awan merah berterbangan menari2 laksana kupu2 merah besar. Dengan deras si gadis baju merah lancarkan ilmu Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek mendesak kepada Nyo Seng. Tapi Nyo Seng tidak gentar, sambil tertawa dingin ia berkelit ke samping sembari memberi aba-aba kepada para pengikutnya untuk menyerbu bersama.

Para kerabat dari Hwi-cwan-po juga tidak mau unjuk kelemahan serentak mereka pun menanggalkan mantel masing terus menyerbu ke depan. Seketika terjadilah pertempuran kalang- kabut di atas kuda, suasana menjadi riuh meriah. senjata berdenting diselingi teriakan menggeledek serta pekik kesakitan yang jatuh menjadi korban terutama bebenger kuda-kuda yang luka dan sekarat. Suasana pertempuran menjadi semakin kalut karena pemandangan menjadi gelap oleh mengepulnya debu yang menabirkan kabut ke-kuning2an.

Diam-diam Hun Thian-hi menerawang” pertempuran di hadapannya dengan berbagai pertimbangan yang menggejolak dalam sanubarinya. Pertempuran kedua golongan ini pasti bukan melulu karena sakit hati atau balas dendam saja, tentu ada latar belakang yang tersembunyi mungkinkah…., terpikir sampai disini tanpa merasa ia mendengus hidung dengan gemes.

Begitulah pertempuran ini berjalan secara keras lawan keras, sorak-sorai terus terdengar untuk menambah semangat tempur mereka. Namun tak disadari oleh mereka saking nafsu untuk merobohkan lawan masing-masing bahwa kedua belah pihak sudah jatuh korban sedemikian banyak, boleh dikata separo dari jumlah mereka sudah berjatuhan menggeletak di tanah dengan berlumuran darah, namun semangat tempur kedua belah pihak tetap tinggi dan terus berkutet.

Sementara itu, kepandaian Nyo Seng memang setingkat lebih rendah dari lawannya, setelah bergebrak puluhan jurus akhirnya ia terdesak di bawah angin oleh gadis baju merah. Apalagi dilihatnya korban anak buahnya juga semakin banyak, akhirnya sembari menghardik keras:

“Berhenti!” ia meloncat mundur. Pertempuran segera berhenti dan anak buah masing-masing mundur ke tempat masing-masing.

Mengawasi para korban yang malang melintang di atas tanah, Nyo Seng menggeram dengan mengertak gigi, “Ciok Yan! Nyo Seng hari ini mengakui keunggulanmu. Tapi dalam sepuluh hari ini pasti kita berkunjung ke Hwi-cwan-po.”

Dengan sombong gadis baju merah yang bernama Ciok Yan menyahut, “Terserah kapan kau mau datang. Hwi-cwan-po selalu menanti kedatangan kalian!” Dengan mengerling Nyo Seng memandang ke arah Hun Thian-hi, lalu mendelik ke arah Ciok Yan terus memutar kudanya dibedal lari sekencang-kencangnya….