Badai Dunia Persilatan Jilid 18 (Tamat)

Jilid 18 (Tamat)

KALIAN mundur semua aku akan berduel mati-matian melawan Huo Yen Ga!.

Para jago yang sedang mengerubuti Huo Yen Ga sehabis mendengar ucapan dari Tiong It Hauw ini buru-buru pada mengundurkan diri.

Setelah lolos dari kurungan sinar mata Huo Yen Ga laksana kilat menyapu sekejap keseluruhan kalangan melihat anak buahnya banyak yang binasa ia jadi amat gusar dari sepasang matanya memancarkan cahaya berapi-api serunya.

Tiong It Hauw sebelum salah satu diantara kita mati pertarungan ini hari tak akan disudahi!. Bagus sekali! ini hari kalau bukan kau yang binasa akulah yang mati! jawab Tiong It Hauw sambil tertawa goloknya segera dilintangkan didepan dada lalu dengan jurus Thian Li Hwie Hoa atau bidadari Leng It menye bar bunga membabat kedepan.

Huo Yen Ga segera mengayunkan cambuk lemasnya menciptakan selapis cahaya tajam manghalau datangnya serangan tersebut jengeknya.

Hmm! orang lain takuti senjata rahasia jarum sakti mengejar sukmamu aku orang she Huo sama sekali tidak takut ada beberapa banyak yang kau bawa ayo keluarkan semua.

Haaa... haa... haaa... kau tak usah takut asalkan Leng Lam Jie Khie tidak ikut campur dalam pertarungan ini aku tidak akan menggunakan senjata rahasia jarum beracunku kau tidak usah banyak cerewet lagi ayo cepat turun tangan teriak Tiong It Hauw sambil tertawa terbahak-bahak.

Di tengah pembicaraan badannya menerjang kedepan goloknya berkelebat melancarkan tiga buah babatan berantai.

Oleh seraagan yang demikian cepat dan ganasnya ini Huo Yen Ga kena didesak mundur dua langkah kebelakang sementara ia siap balas melancarkan serangan mendadak terdengar suara yaag merdu lengking berkumandang datang, Tiong It Hauw cepat mundur jangan bergebrak lagi dengan dirinya.

Walaupun suara itu lembut dan halus namun mendatangkan pcngaruh yang amat besar bagi Tiong It Hauw dengan cepat ia berjumpalitan dan mundur delapan depa kebelakang.

Menanti Huo Yen Ga angkat muka tampaklah Kok Han Siang dengan memakai baju putih dengan mantel berkibar tertiup angin berdiri angker disana.

Kecantikan wajahnya tetap bagaikan mekarnya bunga dipagi hari hanya saja air mukanya pada saat ini memancarkan keangkeran serta kewibawaan yang belum pernah dijumpai pada saat ini.

Dalam pada itu terdengar perempuan cantik tadi dengan suara yang nyaring tapi dingin kaku menggema lagi diangkasa.

Huo Yen Ga kau sudah berhasil mendapatkan kursi Bengcu? apakah kau masih belum puas dan ada maksud menyusahkan kami?.

Cayhe sama sekali tiada maksud berbuat demikian buru-buru Huo Yen Ga membantah justru Tiong- henglah yang memerintahkan anak buahnya mengurung ruangan ini memaksa hamba mau tak mau harus turun tangan mempertahankan diri...

Kok Han Siang tertawa sinis kepada Tiong It Hauw segera perintahnya. Mari kita berangkat!

Ia putar badan dan langsung berjalan keluar dari lembah tersebut.

Tiong It Hauw dengan membawa para jago lainnya dengan berbaris panjang mengikuti dari belakang.

Pemandangan seperti ini membuat para jago mengenang kembali keadaan sewaktu untuk pertama kalinya mereka mengikuti Hu Pak Leng memasuki lembah Mie Cong Kok ketika itu setiap hati sanubari para jago penuh diliputi semangat yang berkobar-kobar siapapun tidak menyangka bahwa situasi akan berubah seratus delapan puluh derajat.

Angin gunung berhembus lewat mengibarkan mantel yang dikenakan Kok Han Siang ia berpaling memandang bukit-bukit yang berjajar dikedua belah samping sewaktu pertama kali memasuki lembah ini berjalan dipaling belakang tapi sekarang ketika hendak keluar dari lembah ini ia berjalan dipaling depan.

Bayangan tubuh Hu Pak Leng yang kekar dan tegap tanpa terasa terbayang kembali dalam benak tanpa sadar titik-titik air mata jatuh berlinang. Dengan ujung baju ia menyeka air mata yang jatuh berlinang dengan pikiran kosong melanjutkan kembali perjalanannya kedepan.

Puncak gunung yang tinggi menjulang keangkasa seakan-akan telah berubah jadi bayangan tubuh Hu Pak Leng yang kekar dan tegap rasa rindu dan sedih yang timbul dalam hatinya berubah jadi kobaran api dendam yang menyala-nyala ia berpaling memandang sekejap bocah yang mengikuti dibelakang lalu menghela napas panjang pikirnya.

Toako telah menemui ajalnya semua kenangan buyar bagaikan asap. Aaai... seorang keturunanpun belum sempat ia tinggalkan bagaimana toako bisa teruskan generasinya? walaupun bocah ini bukan anak kandung toako namun jiwanya telah dihidupkan berkat jerih payah toako aku harus baik-baik memeliharanya sampai menginjak dewasa...

Cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya timbul ditengah kobaran api dendam yang sedang menyala-

nyala.

Sang surya makin lama lenyap dibalik gunung diujung langit terciptalah suatu pandangan yang amat indah mempesonakan.

Di mulut lembah berdiri berjajar empat orang lelaki kekar tegap pada wajah mereka semua tertera duka yang sangat mendalam.

Orang yang ada dipaling kiri mendadak maju kedepan menyambut kedatangan rombongan tersebut.

Perjalanan masih amat jauh jalan gunung curam dan berliku-liku silahkan enso naik kuda untuk meneruskan perjalanan.

Kok Han Siang menghela napas panjang mendadak ia bertanya :

Cing-hong, kalian Kiang Pek Ngo Liong tinggal empat orang. Benar Chee Loo-te sudah meningagal jawab Ciang Hong sedih.

Aaaai... aku terkenang kembali pemandangan sewaktu kalian berjumpa kembali dengan toako untuk pertama kalinya. Siapa yang akan menyangka toako serta saudara Chee secara beruntun telah menemui ajalnya. Dendam sakit hati ini kalian tak boleh melupakan sepanjang masa.

Harap enso hujien berlega hati kata Ciang Hong serius. Asalkan tenaga kami dibutuhkan, terjun kelautan api terjang kegunung golok kami tidak akan menampik.

Kok Han Siang tertawa sedih ia berpaling kearah Tiong It Hauw dan berkata. Kita akan segera berangkat orang-orang itu tak bisa dibawa serta lagi.

Kalau begitu hamba segera akan membubarkan mereka kata Tiong It Hauw seraya menjura. Ia segera meloncat keatas batu besar dan berteriak keras.

Bengcu telah meninggal lembah Mie Cong Kok tanpa pimpinan. Walaupun hujien ada maksud meneruskan cita-cita suci Bengcu namun dewasa ini belum tiba saatnya untuk sementara waktu kami harus menyembunyikan jejak kami oleh karena itu sukar untuk membawa kalian semua...

Setelah merandek sejenak terusnya.

Pada saat ini harap cuwi sekalian kami dulu kedaerah Kiang Pak suatu waktu membutuhkan tenaga kalian Siauw-te pasti akan berangkat ke daerah Kiang Pak untuk mohon bantuan kalian.

Setelah terjadi kegaduhan diantara para jago mendadak ada seseorang berteriak lantang.

Kami sekalian rela mengikuti hujien untuk balaskan dendam buat Bengcu walaupun harus mati kami tidak menyesal. Ucapan ini seketika mengobarkan semangat para jago lainnya suara teriakan lantang saling bersahut- sahutan dan semuanya rela berkorban untuk membalaskan dendam Bengcu.

Kalian tutup mulut semua ada perkataan utarakan perlahan-lahan bentak Tiong It Hauw. Termakan suara bentakan ini para jago benar-benar jadi tenang kembali.

Kau jangan bersikap begitu kasar terhadap mereka tiba-tiba Kok Han Siang menegur dari samping lambat-lambat ia berjalan menghampiri para jago.

Biauw Siok Lan takut terjadi sesuatu atas diri perempuan itu kepada Ban Ing Soat segera pesannya. Jaga bocah itu baik-baik.

Ia pun memburu kedepan dan berjalan sejajar dengan dirinya.

Nampak para jago pada menjura dan mundur kesamping membuka satu jalan lewat buat Bengcu hujien mereka yang cantik jelita ini.

Di atas wajah Kok Han Siang yang ayu mempesonakan tersungging suatu senyuman terharu lambat- lambat ia mendekati para jago.

Api dendam yang berkobar-kobar dalam dadanya menimbulkan suatu pikiran dalam benaknya tiba- tiba ia merasa para jago yang berada dihadapannya pada suatu saat amat dibutuhkan tenaganya.

Dengan sangat berani sekali tiba-tiba ia cekal tangan seorang lelaki berbaju ringkas biru yang ada disisinya dengan suara halus ia berkata.

Demi membalaskan dendam Bengcu kita yang telah mati baik-baiklah jaga keselamatanmu.

Orang itu seperti terkejut menjumpai keadaan yang tak terduga ini telah tertegun beberapa saat ia menjawab dengan gugup.

Mana kala hujien membutuhkan tenaga hamba sekalipun badan harus hancur nyawa harus hilang hamba tak akan menyesal!.

Saking terharunya orang itu berbicara tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang jelas ucapan tadi muncul dari hati kecilnya.

Kok Han Siang tertawa sedih ia bergeser kesamping mencekal tangan orang kedua dan berpesan pula.

Demikianlah satu demi satu ia jabat tangannya para jago sambil berpesan semua orang yang hadir disana tak ada yang tidak kebagian rejeki dijabat tangannya oleh Bengcu hujien mereka ini.

Haruslah diketahui peraturan antara laki dan perempuan pada waktu itu amat ketat sekali tindakan Kok Han Siang yang sangat berani hampir-hampir membuat semua orang tidak percaya.

Kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati mendatangkan suatu perasaan tidak berani pandang hina setiap orang jabatan tangannya barusan seketika meninggalkan kesan yang mendalam dihati semua orang dan tanpa sadar para jago yang hadir disanapun telah dibikin tunduk seratus persen terhadap dirinya.

Sang surya lenyap dibalik gunung magrib menyingsing datang dalam waktu amat singkat cuaca telah

gelap.

Cuwi sekalian baik-baiklah jaga siri seru Kok Han Siang sambil ulapkan tangannya tanda perpisahan. Setelah itu ia meloncat naik keatas pelana kuda.

Entah siapa yang berseru mendadak terdengar seseorang berteriak lantang dengan suara serak. Hujien baik-baiklah berjaga diri. Suara ini menimbulkan reaksi bagi para jago lain seketika ucapan selamat berpisah menggema di seluruh lembah.

Demikianlah dibawah sorotan berratus-ratus pasang mata Kok Han Siang menyalakan kudanya bergerak meninggalkan tempat itu.

Di tengah perjalanan tiba-tiba Biauw Siok Lan teringat kembali akan Boen Thian Seng yang selama ini tidak kelihatan tak kuasa lagi tanyanya kepada Ban Ing Soat dengan nada lirih.

Nona Ban kemanakah suhengmu selama ini?. Aku sendiripun tidak tahu!.

Walaupun jawaban ini kedengaran sama sekali tidak ambil pusing namun tak dapat menutupi wajahnya yang kelihatan murung.

Nona Ban tak usah murung suhengmu sejak semula telah menanti kedatangan kita disana timbrung Ciang Hong dari samping.

Mendengar perkataan itu Ban Ing Soat lantas tersenyum sekalipun begitu ia tetap berkata. Aku sih tidak akan mengurusi dia mau kemanapun.

Tiba-tiba Kok Han Siang berpaling! Jauhkah tempat itu? tanyanya.

Walaupun tidak terlalu jauh tetapi jalan gunung amat curam dan berliku-liku mungkin membutuhkan satu hari perjalanan.

Aaai... semasa toako masih hidup belum pernah ia membohongi diriku barang sekalipun namun dalam persoalan ini aku sama sekali tidak tahu.

Tempat itu berpemandangan indah dan jauh dari keramaian dunia suasana tenang bagaikan dikahyangan ujar Ciang Hong. Aaai! agaknya Bengcu sudah menduga apa yang bakal menimpa dirinya dikemudian hari.

Mendadak seperti sadar kalau ia terlanjur bicara segera bungkam dan tidak meneruskan lagi kata- katanya.

Hmm! pemandangan paling indah dikolong langit tidak ada yang bisa menandingi pemandangan dari istana Ban Hoa Kong di Thian Thay... tukas Moay Siauw Beng tiba-tiba.

Mendadak iapun merasa dirinya sudah terlanjur bicara buru-buru segera membungkam.

Sekalipun ia sudah membungkam namun kata-kata Istana selaksa bunga di Thian Thay telah menimbulkan perhatian dari Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok mereka bersama-sama alihkan sinar matanya kearah bocah itu.

Eeeei... apa yang sedang kalian lihat? Hmm dengus Moay Siauw Beng dingin. Tiong It Hauw tertawa dingin ia segera melengos.

Sebaliknya sambil terseanyum seru Yu Ih Lok. Saudara cilik sungguh hebat napsu ingin menang.

Kalau benar apa? teriak Moay Siauw Beng lagi sambil tertawa dingin. Nah... nah... kembali kau ingin berkelahi dengan diriku.

Tiba-tiba Moay Siauw Beng tertawa terbahak-bahak. Perdulipun siapapun asal berani mengganggu diriku maka aku tak akan melepaskan orang itu selama hidup aku paling pantang menderita rugi.

Yu Ih Lok mengebutkan ujung bajunya dan tersenyum.

Di kolong langit dewasa ini paling banyak orang jahat seandainya tabiat saudara cilik tidak berubah mungkin dikemudian hari kau bakal menderita kerugian besar.

Soal ini tak usah kau orang kuatirkan aku matipun bukan urusanmu. Yu Ih Lok tersenyum ia tidak menggubris bocah itu lagi.

Semua tanya jawab yang berlangsung antara kedua orang itu dapat didengar Kok Han Siang dengan amat jelas diam-diam ia merasa keheranan pikirnya.

Entah macam apakah istana selaksa bunga di Thian Thay itu? mengapa Moay Siauw Beng tidak mau beritahu kepada orang lain?.

Karena berpikir demikian ia lantas berpaling dan tanyanya.

Eeeeei... Moay Siauw Beng macam apakah istana selaksa bunga di Thian Thay yang barusan kau katakan?.

Istana selaksa bunga di Thian Thay? seru Moay Siauw Beng tertegun tempat itu adalah suatu tempat yang berpemandangan sangat indah.

Kau pernah kesana? Kok Han Siang tersenyum. Pernah sih pernah! hanya-hanya.....

Hanya kenapa? tukas Kok Han Siang rasa curiganya semakin tebal.

Kena didesak oleh Kok Han Siang dengan pertanyaan yang bertubi-tubi merah padam selembar wajah Moay Siauw Beng keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya akhirnya ia menghela napas panjang.

Hanya saja soal iai tak boleh diberitahukan kepada orang lain. Kenapa?.

Sebab tempat itu tidak memperkenankan orang lain menginjaknya siapa yang berani kesana jangan harap bisa keluar lagi dalam keadaan hidup.

Oooouw benarkah ada kejadian seperti ini?.

Kalau aku bicara bohong barang sepatah katapun Thian akan membasmi diriku. Kok Han Siang tertawa.

Jadi kalau begitu kita harus pergi kesana untuk melihatnya sendiri nanti saja kalau kita sudah mendapat tempat panggonan bawalah aku pergi kesana.

Moay Siauw Beng yang tidak pernah takut langit tak pernah takut bumi setelah mendengar perkataan dari Kok Han Siang tiba-tiba air mukanya berubab hebat ia menggeleng berulang kali.

Enso minta aku bunuh orang lepas api naik kelangit menerobos ke bumi aku bisa menyanggupi untuk melakukannya hanya satu persoalan aku tak dapat membawa kau memasuki istana selaksas bunga di Thian Thay!.

Tempat yang tak bisa dikunjung! semakin membuat aku bergairah untuk menengoknya kalau kau tidak mau bawa aku pergi kesara selama hidup kita jangan bertemu lagi.

Melihat kebulatan tekad ensonya Moay Siauw Beng tertawa getir ujarnya. Kalau enso ada maksud hendak kesana kau harus mengatur dahulu urusan belakangmu...

Melihat bocah itu bicara dengan bersungguh-sungguh Kok Han Siang semakin keheranan lagi dibuatnya.

Mungkinkah tempat itu benar-benar tak boleh dikunjungi?? pikirnya dalam hati. Segera ia bertanya kembali.

Aaaakh tempat itu terdapat ular berbisa serta binatang buas dan manusia sukar mencapai tempat itu.

Kalau cuma berisi ular beracun serta binatang buas sih aku tidak akan takut justru yang berdiam disana adalah manusia.

Kok Han Siang sekarang bukan gadis cantik tempo dulu sejak kematian Hu Pak Leng wataknya mengalami perubahan besar.

Agaknya secara tiba-tiba ia sudah mengerti akan banyak persoalan bahkan terhadap manusia masalah seakan-akan ia sudah memiliki firasat lebih dahulu.

Terdengar ia menghela napas panjang dan berkata kembali.

Kalau benar tempat itu hanya didiami manusia apa yang perlu kita takuti lagi? kalau kau tidak mau pergi kesana biarlah aku pergi kesana seorang diri.

Mendengar ucapan ini senyuman menghiasi kembali wajah Moay Siauw Beng desisnya.

Mau pergi yaaa pergilah! bagaimanapun seseorang hanya bisa mati sekali, besok mati atau sekarang mati sama saja akhirnya akan mati juga.

Sinar mata Kok Han Siang beralih memperhatikan wajah Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok ia ada maksud menemukan sedikit titik terang dari perubahan wajah kedua orang itu.

Nampak air muka kedua orang itu amat serius mulutnya bungkam dalam seribu bahasa seakan-akan mereka tidak berani memberikan perbandingan terhadap Istana selaksa bunga di Thian Thay itu.

Tiong It Hauw pernahkah kau mengunjungi Istana selaksa bunga di Thian Thay?? sengaja Kok Han Siang menghela napas panjang.

Hamba tidak pernah mengunjungi kesana.

Hiii... hiii... enso tak usah banyak bertanya lagi seru Moay Siauw Beng sambil tertawa terkekeh-kekeh dikolong langit dewasa ini kecuali aku seorang tak ada segelintir manusiapun yang bisa menjawab pertanyaanmu itu.

Mengapa???.

Karena setiap orang yang pernah mengunjungi Istana selaksa bunga di Thian Thay tidak bakal bisa keluar dari sana dalam keadaan hidup mereka kalau bukan jadi budak dalam istana tersebut tertu mati dalam keadaan tak berbangkai Thian Thay!.

Rasa ingin tahu yang berkobar dalam dada Kok Han Siang semakin meluap tak tertahan tanyanya kembali.

Kalau seseorang mati tentu akan meninggalkan bangkai mengapa bangkai mereka bisa tiada lagi??

Di dalam Istana selaksa bunga di Thian Thay di pelihara segerombol burung yang indah sekali tapi mereka paling gemar bersantap daging manusia, bangkai itu sudah berumur dua jam mereka tidak akan mendaharnya.....

Burung-burung itu tentu memiliki wajah yang jelek sekali mana bisa dikatakan cantik. Moay Siauw Beng tertawa.

Burung-burung ini entah berasal dari mana bulu-bulu mereka sangat indah dan mempesonakan hijau merah kuning amat menarik hati dipandang sepintas lalu seolah-olah sebuah pelangi berwara lima tetapi tabiatnya amat sadis dan ganas aku pernah melihat dengan mata kepala sendiri dua orang jago Bu-lim dikoyak-koyak sampai hancur lebur oleh burung-burung itu.

Aaaai seandainya kita bisa memelihara pula burung-burung semacam itu urusan mudah dibereskan.

Apa gunanya memelihara burung-burung semacam itu? timbrung Biauw Siok Lan dari samping burung itu lebih lihaypun tak akan bisa bertarung melawan manusia.

Heee... heee... heee kau tahu apa? jengek Moay Siauw Beng sambil tertawa dingin.

Hmm! burung-burung itu memiliki paruh keras seperti baja kuku yang tajam melebihi golok mematuk batu bisa hancur jadi bubuk sekalipun seseorang memiliki kepandaian silat yang maha dahsyatpun asalkan kena terpatuk satu kali saja tentu akan hancur dan binasa.

Kalau diam saja mandah dipatuk burung itu namanya manusia bodoh tukas Ban Ing Soat apakah kau tak dapat melawan dengan senjatanmu? apakah kau hanya berdiri mematung belaka?

Kalau cuma seekor dua ekor sih masih bisa di hadapi kalau sampai ratusan ribuan ekor? bagaikan awan yang menutupi sang surya mereka meluruk bersama apakah kau dapat menghadapinya?.

Begitu banyak burung yang dipelihara apakah mereka tidak bisa terbang pergi? tanya Kok Han Siang

lagi.

Tentang soal ini sih aku tidak tahu kenapa mereka tidak mau terbang pergi aku belum mendapat keterangan.

Tiba-tiba Kok Han Siang tersenyum ujarnya.

Majikan istana selaksa bunga di Thian Thay bisa memelihara burung selihay ini kepandaiannya tentu sangat hebat sekali?.

Moay Siauw Beng siap bicara bibirnya telah bergerak namun entah apa sebabnya tiba-tiba ia batalkan niatnya.

Yu Ih Lok, Tiong It Hauw serta Biauw Siok Lan mengikuti dengan kencang dibelakang kuda Kok Han Siang agaknya mereka telah dibikin tertegun oleh ucapan istana seleksa bunga di Thian Thay itu mereka ingin tahu lebih banyak tentang istana tadi namun semua orangpun tahu bagaimana tabiat Moay Siauw Beng kecuali Kok Han Siang terhadap siapapun dia tidak sudi berbicara terpaksa semua bungkam dan menanti Kok Han Siang lah yang bertanya lebih jauh.

Tampak Kok Han Siang berpaling kearah Moay Siauw Beng dan bertanya.

Sudah berapa lama kau berdiam di istana selaksa bunga di Thian Thay bagaimana kepandaian silat yang dimiliki majikan istana tersebut.

Terpaksa Moay Siauw Beng menjawab!. Kehebatan ilmu silat yang dimilikinya mungkin sukar di tandingi oleh jago manapun yang ada dikolong langit dewasa ini hanya dia tak dapat meninggalkan istana selaksa bunga barang selangkahpun seandainya ia bisa meninggalkan istananya mungkin situasi Bu-lim sudah di obrak-abrik olehnya.

Apakah dia tidak punya kaki? kenapa tak dapat meninggalkan istana selaksa bunga?.

Perkataan enso sedikitpun tidak salah dia memang tidak memiliki kaki lagi sewaktu berlatih ilmu silat ia telah megalami jalan api menuju neraka bukan saja sepasang kakinya harus dikorbankan demi menyelamatkan selembar jiwanya bahkan diapun menjadi separuh lumpuh badannya akibat dari kejadian itu kecuali diluar istana selaksa bunga ia sukar untuk pergi lebih jauh lagi. Kalau begitu kita tak usah takut kepadanya lagi ujar Kok Han Siang sambil tertawa dia tak dapat keluar dari pintu istana asalkan kita berada diluar istana bukankah dia tak bisa berbuat apa-apa terhadap kita- kita.....

Namun dengan cepat Moay Siauw Beng menggeleng.

Tempat itu merupakan suatu daerah terlarang, ia menerangkan dimanapun terdapat penjaga yang bertugas asalkan kau masuk sejengkal saja kedalam daerah terlarang itu maka kau jangan harap bisa keluar lagi dalam keadaan selamat.

Kok Han Siang tertawa manis ia tidak banyak bertanya lagi sambil menyentak tali les kudanya segera meneruskan perjalanan kedepan.

Cuaca semakin menggelap jalan gunung berliku sukar sekali melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.

Mendadak Ciang Hong maju selangkah kedepan mencekal tali les kuda Kok Han Siang lalu ujarnya.

Harap hujien beristirahat sebentar menanti rembulan telah muncul diangkasa kita baru meneruskan perjalanan kembali.

Kok Han Siang tersenyum ia loncat turun diri kudanya dan duduk beristirahat dibawah sebatang pohon siong yang pendek.

Ciang Hong setelah menerima kuda itu segera membawanya ke suatu tempat dimana terdapat sumber air untuk memberi minum binatang tadi.

Di antara rombongan ini kecuali Kok Han Siang semuanya melakukan perjalanan dengan berjalan kaki ketika perempuan itu turun dari kudanya untuk beristirahat para jagopuh ikut jatuhkan diri beristirahat.

Sinar mata Yu Ih Lok menyapu sekejap kearah para jago mendadak ia bangun berdiri dan menjura ujarnya.

Semoga perjalanan selanjutnya hujien bisa baik-baik memelihara kesehatan badan hamba ingin mohon diri lebih dahulu.

Kau hendak pergi? seru Kok Han Siang tertegun.

Hamba malu karena diriku tidak mampu untuk balaskan dendam Bengcu sekalipun hamba mengiringi hujien pun tidak sanggup untuk membantu banyak dalam menunaikan kewajiban ini.

Perlahan-lahan Kok Han Siang bangun berdiri dan menghela napas panjang ujarnya dengan nada

sedih.

Semasa toako masih hidup di kolong langit sering kali ia berkata kepadaku bahwasanya sianseng pendiam tapi cerdik berpikiran panjang tidak disangka pada saat aku membutuhkan tenagamu ternyata sianseng malah hendak mohon diri...

Ucapan ini diutarakan dengan nada terharu air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya sementera sepasang mata dengan tajam memandangi wajah Yu Ih Lok.

Ketika sinar mata Yu Ih Lok berbentrokan dengan sinar matanya dalam hati seketika terasa bergetar keras ia merasa sinar mata gadis itu penuh mengandung kesedihan serta kegairahan membuat hati berdebar keras buru-buru ia tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Hujien sudah ada Tiong It Beng serta nona Biauw sekalian yang mengiringi sekalipun hamba berada pula disisimu.....

Kepandaian Tiong It Hauw serta sianseng masing-masing berada tukas Kok Han Siang.

Setelah merandek sejenak mendadak selintas senyuman manis menghiasi bibirnya ia berkata kembali. Di kolong langit dewasa ini aku rasa susah untuk mencari seorang manusia yang pandai dalam soal Boen maupun Boe macam toakoku...

Ia menghela napas panjang, tambahnya...

Aaaai... kalian tak usah marah! dalam kenyataan baik dalam kepandaian maupun dalam kecerdikan kalian semua masih kalah setingkat daripada toakoku.....

Haaa... haaa... haaa... siapa yang bilang hanya kalah setingkat belaka? seru Yu Ih Lok tertawa terbahak-bahak dalam kenyataan kami tak bisa menandingi dirinya dalam soal apapun.

Kok Han Siang tertawa genit ujarnya kembali...

Tiong It Hauw hanya mengerti bagaimana caranya menerjang kedalam lingkaran musuh membunuh lawan dan mencari kemenangan keberaniannya boleh dipuji tetapi dalam soal kecerdikan ia tidak memadahi! sedangkan mengenai persoalan secara bagaimana mengatur siasat harus membutuhkan tenaga sianseng! Aaaai...

Sekalipun kalian berdua digabungkan jadi satu tidak lebih baru memadahi separuh dari kepandaian toakoku jikalau kau pergi meninggalkan kami bukankah tenagaku dalam membalas dendam akan semakin lemah lagi.

Seandainya ucapan ini diutarakan dari mulut orang lain kendati Yu Ih Lok tidak sampai mengumbar hawa amarah ia tentu akan berlalu tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Tiong It Hauw senakin tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi berhubung kata-kata ini muncul dari mulut Kok Han Siang mereka berdua terpaksa mendengarkan dengan mulut membungkam diatas wajah mereka sama sekali tidak tertera hawa gusar barang sedikitpun juga.

Tiba-tiba Moay Siauw Beng terkekeh-kekeh sinar matanya menyapu sekejap kearah Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat lalu serunya.

Waaah! kalau begitu kita bertiga adalah gentong-gentong nasi yang tak berguna.

Hey kurangi sedikit ngacau balomu itu maki Kok Han Siang dengan amat gusar sembari berpaling. Enso kau jangan marah-marah anggap saja aku tidak pernah mengucapkan kata-kata itu seru Moay Siauw Beng lagi dengan mata terbelalak lebar-lebar.

Lama sekali Yu Ih Lok termenung akhirnya ia berkata.

Cinta kasih serta kepercayaan hujien terhadap diriku membuat cayhe merasa terharu dan berterima kasih sekali seandainya hujien memang sangat membutuhkan tenaga hamba sebelum hamba mengabulkan harap kau suka manyetujui dahulu satu hal.

Perduli kau mengajukan permintaan apapun pasti akan kusetujui nah katakanlah.

Hamba mengikuti diri hujien hanya mau bekerja turut perintah saja hamba tidak mau pegang pucuk pimpinan dalam menghadapi masalah besar ini.

Sianseng memiliki kecerdikan yang luar biasa untuk menyelesaikan suatu masalah harus tergantung dari seorang pemimpin yang cakap kenapa kau tidak mau menerima penyerahan tugas ini?.

Yu Ih Lok tersenyum.

Maksud hamba aku berharap setelah hujien menunjuk hamba menyelesaikan satu masalah maka hujien harus menaruh kepercayaan penuh kepadaku lebih baik jangan banyak bertanya lagi.

Aaaaai aku sudah paham akan maksud hatimu tak usah dikatakan lagi!.

Mendadak Yu Ih Lok angkat kepala memandang bintang yang bertaburan di angkasa lalu ujarnya. Kecerdikan hujien luar biasa kecantikan tiada tandingan semasa Hu Bengcu masih hidup di kolong langit hujien ada niat pasrah dan tidak mau mencampuri banyak urusan segala persoalan menunggu saja keputusan dari Bengcu bagi sebagian orang yang tidak tahu keadaan sebenarnya tentu akan menganggap hujien benar seorang perempuan lemah yang tak tahu apa-apa.

Sewaktu aku masih bersama-sama toako terhadap urusan apapun aku tidak ingin berpikir tidak ingin memahaminya tukas Kok Han Siang tertawa sedih.

Sejak Bengcu meninggal hujien baru mulai menggunakan kecerdikan sendiri untuk berpikir dan bertindak. Walaupun kecerdikan baru berkembang untuk pertama kalinya namun sudah menunjukkan tanda- tanda luar biasa. Aku pikir pucuk pimpinan dalam menghadapi rencana besar selanjutnya harus dipegang sendiri oleh hujien sedangkan hamba sekalian hanya membantu saja dari samping dan melaksanakan tugas menurut perintah.

Sianseng kau terlalu memuji diriku seru Kok Han Siang sambil tersenyum manis. Kecerdikan toako tiada tandingan, semasa hidupnya ia sudah mempersiapkan tempat tinggal selanjutnya buat diriku entah segala sesuatu yang diatur buat diriku itu cocok tidak dengan hatiku?.

Yu Ih Lok angkat kepala memandang keangkasa sambungnya.

Hu Bengcu gagah dan berjiwa besar ia rela berkorban demi orang lain. Aku rasa tempat yang sudah diaturnya buat hujien tentu suatu tempat yang bersuasana tenang aman dan penuh kedamaian.

Aku tak dapat memberi keturunan baginya tak dapat mendidik putranya untuk meneruskan cita-cita ayahnya yang mulia dalam pembalasan dendam ini terpaksa harus kupikul sendiri kata Kok Han Siang dengan sedih.

Perlahan-lahan ia putar badan meloncat naik keatas kuda dan melarikan kuda tunggangannya kedepan.

Perjalanan selanjutnya amat sulit sekali jalan gunung berliku-liku dan naik turun tiada hentinya walaupun kuda yang ditunggangi Kok Han Siang ada lah kuda jempolan setelah melakukan perjalanan semalaman suntuk binatang itu kecapaian juga ketika fajar menyingsing tiba-tiba kuda itu roboh keatas tanah.

Ciang Hong segera memburu kedepan seraya berkata.

Hujien! kuda ini sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan apa lagi jalan selanjutnya amat licin dan berbahaya perjalanan tak mungkin dilanjutkan dengan menunggang kuda.....

Sewaktu aku masih mengikuti toako tempo dulu sepanjang tahun melakukan perjalanan ditengah gunung yang curam serta hutan yang lebat perduli kemanapun aku selalu berjalan sendiri hanya menempuh perjalanan seperti ini aku pikir masih bisa melakukannya sendiri.

Enso hujien tak usah terlalu kukuh dalam pendirian sendiri timbrung Lie Kiat sejak semula kami sudah persiapkan tandu...

Sementara ia berbicara Liuw Ceng serta Hoo Cong Hwie telah mengambil keluar sebuah tandu dari balik pohon siong dipinggir jalan.

Jelas sejak semula mereka sudah mempersiapkan tandu itu kemudian disembunyikan dibalik pohon untuk digunakan seperlunya.

Hujien! timbrung Tiong It Hauw pula sudah bcberapa hari kau tidak beristirahat daripada jatuh sakit lebih baik tak usah ditampik lagi maksud baik

mereka Kok Han Siang termenung sebentar akhirnya ia naik keatas tandu dan minta kembali si bocah cilik dari tangan Lie Kiat kemudian dibawah gotongan Liuw Ceng serta Hoo Cong Hwie dan dipimpin oleh Ciang Hong mereka meneruskan perjalanannya menuju kesebuah puncak yang sangat tinggi. Puncak ini tegak lurus bagaikan sebatang pit walaupun ada akar rotan yang bisa digunakan untuk mendaki keatas namun perjalanan dilakukan dengan susah payah dan banyak membuang tenaga Liuw Ceng serta Hoo Cong Hwie yang harus menggotong tandu sejak tadi sudah kepayahan keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Kurang lebih satu jam kemudian mereka baru tiba diatas puncak tadi.

Ciang Hong tiba-tiba menuding kearah sebuab air terjun yang tertera didepan mata ujarnya.

Setelah melewati air terjun itu kita akan sampai ditempat tujuan. Dengan kekuatan matanya Yu Ih Lok lantas memandang kedepan ia merasa gunung nan hijau air terjun laksana salju sukar sekali menemukan suatu tempat yang dimaksudnya akhirnya tak tahan lagi segera bertanya.

Apakah dibelakang air terjun itu terdapat suatu perkumpulan???.

Di sisi air terjun terdapat sebuah jalan lorong yang kecil dan hanya bisa dilewati oleh dua orang secara berbareng setelah melewati lorong sempit tadi maka kita akan tiba ditempat tujuan tempat itu merupakan suatu tempat yang indah dan permai laksana berada di nirwana belaka.

Kita tidak membawa makanan dan minuman lagi pula tempat ini jauh dari masyarakat apakah setiap hari kita harus menangsal perut dengan buah-buahan liar? tanya Kok Han Siang.

Tentang soal ini harap hujien berlega hati sejak semula Hu Bengcu telah memerintahkan kita untuk mempersiapkan segala keperluan disana sudah kami sedikan bahan makanan yang cukup untuk menghidupkan kita semua selama dua tahun lamanya.

Yu Ih Lok kelihatan sedikit melengak bibirnya bergerak sepertimau mengucapkan sesuatu namun ia batalkan kembali niatnya itu dan turun dari puncak tersebut lebih dahulu.

Para jagopun secara beruntun menuruni sebuah tebing curam! disisi bukit terdapat sebuah jalan usus kambing yang menghubungkan tempat itu dengan air terjun tadi.

Ciang Hong berebut pemimpin setelah mengitari sebuah lorong kecil mereka berjalan menuju kearah air terjun itu.

Tempat ini merupakan sebuah jalan kecil yang sempit lagi menanjak kebawah disisi sebelah samping merupakan sebuah jurang sedalam ratusan tombak kecuali itu disamping yang lain merupakan batuan cadas yang penuh dengan lumut sekali salah injak niscaya akan jatuh kedalam jurang dan mati dengan mayat hancur berkeping-keping.

Di tempat yang beralam begitu bahaya kendati para jago memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna tak seorangpun berani menempuh bahaya melakukan perjalanan cepat selangkah demi selangkah mereka merambat kedepan.

Air terjun tadi walaupun tampaknya sangat dekat namun mereka membutuhkan waktu satu jam lamanya baru tiba ditempat tujuan.

Ciang Hong sangat hapal dengan jalanan disana tiba-tiba ia berbelok dan turun kebawab air terjun itu. Turunkan aku tiba-tiba Kok Han Siang berseru.

Setelah melakukan perjalanan yang berbahaya sejak tadi Liuw Ceng serta Hoo Cong Hwie sudah dibikin kepayahan mereka menurut daa menurunkan tandu tersebut.

Mendadak Moay Siauw Beng menerobos lewat dari antara Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat kemudian dengan cepat menyambar sang bocah cilik ujarnya.

Biarlah aku yang menggendong dia untuk meneruskan perjalanan. Orang ini usianya masih kccil namun mempunyai semangat memandang mata seperti pulang rumah walaupun jalanan sangat licin dan bahaya sekali namun dengan tenangnya ia masih bisa melakukan perjalanan cepat dengan melewati orang-orang lainnya.

Hay! Hati-hati sedikit kalau jalan teriak Kok Han Siang amat gusar kalau bocah itu sampai terbanting hati-hati kau akan kupaksa kau bunuh diri dihadapanku.

Kau boleh berlega hati aku kecuali aku sendiri yang terpeleset jatuh kedalam jurang tidak nanti bocah ini terluka apalagi terbanting.

Dengan mengikuti dibelakang Ciang Hong ia menerobosi air terjun tersebut.

Para jago lainnya secara beruntun menerobosi pula dibawah air terjun tersebut terasa percikan air membasahi wajah mereka sementara tubuh orang-orang itu sudah berada dibalik air terjun.

Kiranya dibalik air terjun itu terdapat sebuah tonjolan batu cadas setinggi beberapa tombak deburan air melewati tonjolan batu tadi menerjang kebawah tebing menimbulkan percikan butir-butir air.

Ketika rombongan itu telah melewati empat lima puluh tombak jauhnya mendadak Ciang Hong tertawa lirih.

Sudah sampai!.

Ia segera putar badan dan berjalan masuk kebalik dinding bukit.

Jalanan yang ditempuh mendadak berbelok bagi mereka yang ada dibelakang seakan-akan melihat rombongan yang ada didepan telah menerobos kedalam dinding.

Pada saat ini sinar mata semua orang telah terhisap oleh air terjun yang ada didepan mata para jago merasa seolah-olah mereka melakukan perjalanan ditengah kabut tipis jalanan berliku-liku dan banyak tersambar tekukan-tekukan tajam.

Menanti mereka melakukan perjalanan dua li lagi pemandangan barulah berubah tampak suatu pemandangan yang sangat indah dengan aneka bunga tumbuh semerbak tertera didepan mata.

Ciang Hong meloncat kedepan seraya berpaling seruaya. Tempat inilah yang kita tuju!.

Kiranya tempat itu merupakan suatu tempat yang buntu selanjutnya tak ada jalanan lagi jarak antara tempat itu dengan tanah kurang lebih ada tujuh delapan depa tingginya.

Para jago secara beruntun meloncat turun keatas tanah setelah memandang keadaan disekelilingnya Kok Han Siang menghela napas panjang.

Aaaai... tempat ini benar-benar sangat indah.

Empat penjuru dikelilingi gunung yang tinggi ditengah hanya tertera sebuah jalan sempit yang tertutup oleh air terjun lembah sempit inipun tidak lebih hanya dua tiga depa lebarnya asal ada orang menyumbat mati selat ini atau ada satu dua orang jago lihay yang berjaga dijalan itu kita yang ada didalam akan mati kelabakan kata Yu lh Lok.

Ciang Hong membawa para jago menerobosi kebun bunga yang luas setelah melewati dua tiga li sampailah mereka didepan sebuah hutan yang lebat.

Hutan itu luasnya dua tiga hektar dan penuh ditumbuhi rumput setinggi dua coen sehingga sepintas pandang kelihatan seluruh permukaan hijau warnanya.

Entah siapa telah mendirikan beberapa rumah kayu dalam hutan ini ujar Ciang Hong seraya berpaling kearah Kok Han Siang, disekeliling rumah kayu penuh dengan pohon bambu sebagai pagar suatu pagar hidup yang berada diluar dugaan... Aaaah! benarkah ada kejadian seperti ini Ban Ing Soat berseru tertahan kalau benar... waaah! suatu pemandangan aneh yang belum pernah terdengar maupun melihat paman Ciang cepat bawa kita kesana.

Hmm! apanya yang bagus dilihat? jengek Moay Siauw Beng sambil tertawa dingin karena tanah di sini mengandung air yang bercukupan lembah inipun sempit memanjang serta mendapat sinar matahari yang cukup membuat tanah jadi subur asalkan batang bambu itu menempel diatas tanah dan mendapat kesempatan untuk hidup tidak membuat batang kayu yang sudah kering jadi segar kembali. Hmm! kau gadis tolol...

Agaknya para jago sama sekali tidak menyangka Moay Siauw Beng yang berusia kecil ternyata bisa mengetahui banyak urusan mereka semua merasa diluar dugaan tak tanpa sadar sinar matanya bersama-sama dialihkan kearahnya.

Hay! apa yang sedang kau lihat? apakah ucapanku salah? teriak Moay Siauw Beng dengan alis berkerut.

ooooOoooo

21

JUSTRU karena keteranganmu yang luar biasa, kami baru memandaing dirimu dengan sinar mata penuh kekaguman, jawab Yu Ih Lok tertawa.

Hmmm! kau tak usah memberi topi tinggi buat diriku.

Kok Han Siang yang mendengar nada ucapan bocah ini seolah-olah tidak mau mengalah pada siapapun, ia jadi mendongkol tiba-tiba bentaknya keras.

Turunkan bocah itu!

Moay Siauw Beng tertegun, namun ia menurut dan turunkan bocah tersebut dari gendongannya. Eeeei...! kenapa kau??? serunya, aku kan tidak mengganggu dirimu.

Kau bocah liar sungguh tak tahu adat dan kesopanan perduli bicara dengan siapapun tidak tahu diri.

Aku sejak kecil memangnya tak berayah tak beribu dan tiada saudara, tentu saja tak ada orang yang mengurusi diriku kata Moay Siauw Beng sambil angkat bahu.

Kalau lain kali kau masih juga kasar liar dan tak tahu adat lebih baik cepat-cepat angkat kaki dari sini aku tidak sudi bergaul dengan dirimu lagi.

Moay Siauw Beng yang sudah biasa binal nakal keji dan tidak pakai aturan ternyata sangat menuruti perkataan Kok Han Siang mendengar teguran itu ia segera geleng kepala dan tertawa.

Sudah, sudahlah. lain kali aku tentu akan bersikap lebih baikan terhadap orang lain.

Karena takut Kok Han Siang masih gusar dan memaki Moay Siauw Beng lagi Ciang Hong segera menggendong bocah dan berkata.

Tempat pondokan kita ada disebelah depan mari kita lihat kesana!. Tidak menanti jawaban lagi ia berjalan lebih dulu.

Para jago segera mengikuti dibelakang tubuhnya setelah melewati puluhan tombak jauhnya sampailah mereka didepan sebuah bangunan rumah yang dibangun dari kayu-kayu hidup.

Dengan cepat Kok Han Siang berlari masuk membuka pagar dan menuju keruang dalam. Bangunan itu amat tinggi besar ruangan dalam rumahpun besar kecuali sebuah kamar tamu yang luas terdapat dua buah kamar yang berdampingan.

Kok Han Siang mendorong pintu kamar sebelah kiri tampak kain seperti selimut serta kelambu diatur sangat rapi tak kuasa ia berseru tertahan.

Ketika diperhatikan lebih seksama tampaklah olehnya bukan saja segala perabot yang ada disana tiada berbeda dengan ruangan yang ada dilembah Mie Cong Kok bahkan warnanyapun merupakan warna yang paling disukai sepanjang hidupnya.

Ia jadi tertegun dan tanpa sadar telah berpikir.

Warna kesukaanku kecuali toako seorang siapapun tidak tahu apakah ruangan ini benar-benar di persiapkan dia sendiri?.

Sementara ia masih melamun mendadak terdengar suara Ciang Hong berkumandang datang. Silahkan enso hujien membaca surat wasiat dari toako!.

Cepat bawa kemari! Kok Han Siang cemas.

Horden tersingkap Ciang Hong melangkah masuk dengan sikap menghormat dengan sepasang tangannya ia angsurkan surat itu ketangan Kok Han Siang kemudian buru-buru mengundurkan diri.

Diatas sampul surat tertuliskan kata-kata. Surat ini dipersembahkan buat istri tercinta.

Gaya tulisannya kuat dan manis bagaikan naga terbang burung hong menari tulisan Hu Pak Leng pribadi.

Melihat tulisannya Kok Han Siang terkenang kembali akan Hu Pak Leng yang telah tiada titik air mata jatuh berlinang.

Perlahan-lahan ia berjalan kesisi pembaringan duduk dan dengan sangat hormat mengeluarkan secarik kertas dari dalam sampul kemudian dibacanya.

Siang moay ketika kau membaca surat ini siauw-heng sudah tiada didunia lagi.

Melihat sepatah kata ini Kok Han Siang tak kuasa menahan rasa sedih yang bergelora dalam dada ia menangis tersedu-sedu.

Para jago yang menanti diruang tengah ketika mendengar suara isak tangis itu segera pada memburu masuk.

Dengan wajah penuh air mata Kok Han Siang memandang sekejap kearah para jago, lalu sambil menyeka air mata ujarnya.

Kalian mundurlah semua!.

Karena melihat Kok Han Siang tidak kekurangan sesuatu para jago menurut dan pada mengundurkan diri kecual Biauw Siok Lan seorang tetap berdiri tak berkutik.

Mengapa kau tidak keluar? tanya Kok Han Siang sambil melirik kearahnya. Aku hendak tinggal disini untuk menjaga dirimu.

Seperti baru saja menyadari akan sesuatu Kok Han Siang berseru tertahan.

Aaaah! benar! kaupun perempuan yang dicintai toako mari kita bersama-sama membaca surat wasiatnya. Biauw Siok Lan berpaling dan membaca lebih lanjut     Manusia hidup seratus tahun akhirnya akan

mati juga setelah aku meninggal harap Siang Moay tak memikirkan diriku lagi kita menjadi suami istri selama sepuluh tahun bukan saja tiada sesuatu yang bisa kuberikan kepadamu malahan menyeret kau kedalam penyiksaan serta penderitaan kau harus menemani aku berkelana kemana-mana..... Aaaai! kalau dipikir aku sungguh menyesal.

Keadaan dunia persilatan amat berbahaya manusia licik tersebar dimana-mana sepasang tangan Siauw- heng telah berlepotan darah kaum lurus tidak bisa menerima aku kaum Liok-lim pun menganggap aku berkhianat untuk menebus dosa-dosa ini aku berusaha untuk menyadarkan kaum sesat apa lacur ada kemauan tiada tenaga apabila aku mati ditengah pertarungan tindakan ini adalah timbul dari keinginanku sendiri untuk menebus dosa harap Siang Moay jangan menaruh dendam.

Tempat ini jauh dari pergaulan manusia lembah indah tiada bernama Siang Moay suka tinggal disini sepanjang masa.

Tiba-tiba Kok Han Siang angkat kepala memandang sekejap kearah Biauw Siok Lan ujarnya dengan

sedih.

Moay-moay, agaknya sejak semula ia sudah tahu kalau dirinya bakal mati namun ia tidak sudi menyingkir dari maut...

Saking tak dapat menahan rasa sedihnya ia jatuhkan diri kedalam pelukan Biauw Siok Lan dan menangis tersedu-sedu.

Biauw Siok Lan menghela napas panjang sambil membelai rambut Kok Han Siang yang hitam panjang hiburnya.

Hujien untak sementara tekanlah rasa sedih yang mencekam hatimu dengarlah dulu sepatah dua patah kata dariku.

Karena melihat wajahnya serius dan ucapannya tegas Kok Han Siang benar-benar menghentikan tangisnya sambil menyeka air mata ia bertanya.

Enci, apa yang hendak kau katakan?.

Bagaimanakah tabiat Bengcu pada masa berselang akupun pernah dengar orang bilang dia sama sekali tidak membohongi dirimu pada masa lampau dia benar-benar seorang iblis berhati keji, yang melakukan banyak perbuatan jahat sepasang tangannya penuh berlepotan darah manusia seandainya hujien tahu apa yang pernah ia lakukan pada masa silam mungkin kau tidak akan menaruh simpatik lagi kepadanya...

Apa yang pernah terjadi pada masa berselang, aku tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri walaupun ia sering mangungkap persoalan ini dihadapanku namun aku tak bisa mempercayainya sebab sejak kita berkenalan ia amat ramah amat halus dan sabar sekali banyak orang mengejar mendesak dia untuk turun tangan namun ia mandah dihina tak mau membalas ataupun memaki ada kalanya sampai aku sendiripun tidak tahan tetapi ia tetap tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu ia biarkan orang lain memperolok-olok dirinya membiarkan orang memaki dia sebagai pengecut, bahkan saking tak inginnya bergebrak melawan orang ia membawa aku melakukan perjalanan dipegunungan yang sunyi melarikan diri ketempat yang sukar dikejar oleh musuhnya sering kali kita harus berteduh dibawah pohon menangsal perut dengan buah-buahan minum air sungai.....

Apakah kalian tidak pernah membunuh burung atau binatang untuk menangsal perut? sela Biauw Siok

Lan.

Berhubung aku tidak ingin menyakiti binatang maka ia ikuti diriku menangsal perut dengan buah- buahan liar. Dengan mata kepala sendiri aku melihat orang lain menggunakan senjata tajamnya menusuki badannya darah segar muncrat keluar bagaikan sumber mata air membasahi seluruh bajunya tetapi ia menahan sabar ia tidak membalas dan tetap berdiri tak berkutik. Bukan begitu saja bahkan orang-orang yang melukai dirinya itu terdapat pula jago-jago yang ilmu silatnya sama sekali tak memadahi dirinya mungkin asal ia turun tangan sekali saja orang-orang itu bakal terluka ditangannya... Biauw Siok Lan tertawa sedih.

Begitu cinta dan menurutnya dia kepadamu sungguh sukar ditemui dikolong langit dewasa ini katanya.

Agar membuat kau gembira, ia rela menahan sakit hati menahan segala penghinaan.

Selama beberapa tahun terakhir aku tidak pernah salah melihat dia melakukan kejahatan namun akhirnya ia mati juga, bahkan pembunuhnya adalah mereka yang menamakan diri sebagai jago-jago kalangan lurus aku melihat dengan mata kepala sendiri ia mati dengan darah berceceran dendam ini harus kubalas perduli apapun yang bakal terjadi aku tak dapat menahan diri Biauw Siok Lan menghela napas panjang sambungnya.

Mari kita selesaikan membaca surat wasiatnya kita lihat apa maksud yang dikandung dalam hatinya bagaimana???.

Tak usah dilihat lagi Kok Han Siang menggeleng aku tahu ia pasti tidak memperbolehkan aku balaskan dendam sakit hatinya ia tentu minta aku berdiam disini mengakhiri hidupku dengan gembira disini!.

Biauw Siok Lan membungkam ia melanjutkan membaca surat wasiat itu.

Di ruang timur terdapat kitab di ruang barat terdapat harta harap Siang Moay suka berdiam dengan damai dilembah Thian Siang ini didiklah bocah kita hingga menginjak dewasa setelah lewat beberapa tahun barulah tinggalkan lembah ini.

Jangan sekali-kali kau pikirkan cara bagaimana menuntut balas atas kematianku sebab dengan tenaga aku telah membubarkan puluhan keluarga membunuh ratusan jiwa manusia kesalahan terletak ditanganku harap Siauw Moay suka menuruti pesan dalam surat wasiatku ini.

Dengan demikian walaupun Siauw-heng telah mati namun aku bisa tersenyum dialam baka. Selama rindu selalu buat kau seorang...

Tertanda : Hu Pak Leng

Dalam sekejap mata Biauw Siok Lan menyelesaikan bacaannya atas surat wasiat itu lalu dengan sedih ia menghela napas panjang.

Aaaai... dugaan hujien sedikitpun tidak salah ia minta untuk sementara waktu kau tinggal disini beberapa tahun kemudian baru tinggalkan tempat ini.

Jangan kau teruskan lagi buru-buru Kok Han Siang mencegah. Simpanlah dahulu surat wasiat itu.

Melihat keputusan dari perempuan itu Biauw Siok Lan tertegun dengan cepat ia terima kembali surat wasiat itu.

Hujien apakah kau benar tidak akan membaca isi surat selanjutnya?

Tak usah dilihat lagi jawab Kok Han Siang dengan wajah serius mendadak ia bangun berdiri. Kalau aku membaca surat itu mungkin hatiku akan berubah mungkin aku benar-benar akan turuti pesannya untuk tetap tinggal disini. Kalau sampai terjadi begini bukankah dendam ini sepanjang masa terbalas lagi.

Biauw Siok Lan menerima surat wasiat itu dilipat dengan rapi kemudian dimasukkan kedalam sakunya ia berkata.

Niat hujien untuk balaskan dendam sakit hati Bengcu sudah begitu kukuh apakah kau sudah memperoleh suatu siasat baru?.

Tidak ada! jawab Kok Han Siang sambil tertawa sedih namun aku rela berkorban demi tercapainya cita-citaku untuk menuntut balas.

Setelah merandek sejenak ujarnya kembali. Cici kaupun merupakan gadis yang disukai toako walaupun belum jadi suami istri secara resmi dan tiada sebutan suami istri pula dengan dirinya namun dalam hatimu sangat mengagumi tabiatnya lain kali kau jangan memanggil diriku dengan sebutan hujien lagi sejak ini kita adalah kakak beradik kau lebih tua beberapa tahun dari diriku? lain kali panggillah aku dengan sebutan Siang Moay.

Sembari bicara ia jatuhkan diri bertutut.

Melihat kejadian itu Biauw Siok Lan terperanjat buru-buru serunya.

Tentang soal ini aku tidak berani rnenerimanya. Karena tiada akal untuk membimbing bangun Kok Han Siang terpaksa iapun ikut jatuhkan diri berlutut dengan terburu-buru.

Dalam masalah pembalasan dendam buat toako harap enci suka membantu diriku mohon Kok Han Siang kalau kau tidak mau menerima perintahku ini akupun akan berlutut sepanjang masa.

Hujien begitu tinggi memandang budak! budak tidak berani.....

Eeeei kenapa kau panggil hujien lagi kepadaku.

Saking terharunya dari kelopak mata Biauw Siok Lan melelehkan air mata menarik tangan Kok Han Siang ujarnya.

Moay-moay cepat bangun enci akan mengerahkan segenap tenagaku untuk membantu moay-moay balaskan dendam ini.

Terima kasih cici.

Sambil saling memayang kedua orang itu bangun berdiri.

Biauw Siok Lan angkat kepala termenung sebentar kemudian ujarnya kembali.

Jikalau Moay-moay ada maksud membalaskan dendam atas kematian Bengcu kita tak bisa sering tinggal dalam lembah ini.

Apakah Moay-moay mempunyai cara bagus untuk diriku?.

Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok termasuk jago kelas wahid dikolong langit dewasa ini sejak ini Moay- moay boleh berkelana dalam Bu-lim dengan menyaru dengan kepandaian kedua orang itu sebagai titik barang siapa yang memiliki kepandaian lebih lihay dari mereka berdua kita sikat semua......

Urusan ini kelihatannya sangat gampang padahal kalau dikerjakan mungkin dengan kecerdikan Siang moay masih belum bisa memadahinya...

Sewaktu berada ditempat Im So It Mo sana aku telah belajar berbagai macam permainan setan kita gunakan saja permainan setan tersebut ditambah dengan kecantikan moay-moay yang tiada tandingan aku yakin tidak sampai setengah tahun namamu pasti sudah menggemparkan seluruh dunia persilatan pada waktu itu tentu banyak jago-jago Bu-lim yang berkepandaian lihay mengejar kalian.....

Aaaai... segala sesuatunya aku menurut padauacapan cici saja asalkan dendam sakit hati toako bisa terbalas perduli melakukan pekerjaan apapun aku rela melakukannya. Aaaai! terus terang saja kukatakan pada cici sejak toako meninggal hatiku sejak itu pula telah ikut mati bersama-sama toako yang hidup dikolong langit pada saat tidak lebih hanya sesosok bangkai berjalan aku tidak terlalu memandang berharga terhadapnya bagaimanapun juga setelah dendam toako terbalas akupun tidak ingin hidup lagi dikolong langit aku akan mohon ampun kepada toako setelah berada di Akhirat nanti.

Aaaai... cinta kalian sedalam lautan sungguh sukar dijumpai dikolong langit dcwasa ini walaapun dalam kenyataan aku hanya orarg luar namun hatiku ikut dibikin terharu oleh sikap moay-moay yang begitu tulus ikhlas.

Haruslah diketahui setelah banyak tahun ia mengikuti Im So It Mo wataknya telah kejangkitan jahat namun sejak berjumpa dengan Hu Pak Leng mendadak timbul perasaan kasih sayangnya kebajikan keberanian serta kebesaran jiwanya membuat tabiatnya yang sudah kehilangan perikemanusiaan pulih kembali seperti sedia kala.

Kematian Hu Pak Leng membangkitkan hawa amarah yang meluap-luap dalam hatinya ditambah lagi sikap Kok Han Siang yang mendesak dia untuk bantu balaskan dendam sakit hati Hu Pak Leng hal ini membuat tabiat halusnya lenyap kembali.

Tampak ia mendongak memandang atap ruangan sepasang matanya yang terbelalak besar tiada hentinya berputar lama sekali ia baru berkata.

Kecantikan Moay-moay tiada tandingan dikolong langit sampai akupun dibuat tergila-gila seandainya Moay-moay tidak sayang untuk menjual badanmu bukan cici sengaja memuji dirimu sebagian besar jago- jago dalam Bu-lim bakal terjatuh ketangan Moay-moay semua.....

Semuanya kuserahkan kepada cici untuk mengaturnya Siang moay akan bakerja menurut perintah. Kalau moay-moay berkata demikian cici tidak berani menampiknya lagi.....

Biji matanya berputar lalu ia berbisik lirih disisi telinga Kok Han Siang sementara perempuan itu mengangguk tiada hentinya.

Siang moay akan bekerja menurut perintah katanya.

Moay-moay jangan gelisah dulu ujar Biauw Siok Lan sambil tertawa untuk sementara hilangkanlah rasa mangkel serta sedih yang mencekam dalam hatimu baik-baiklah beristirahat selama dua hari dalam lembah ini kemudian kita baru bekerja menurut rencana.

Habis berkata ia lantas melangkah keluar.

Baiklah! ujar Kok Han Siang sambil tertawa sedih selama dua hari ini aku akan bersama-sama bocah itu sejengkalpun tak akan berpisah.

Demikianlah untuk sementara waktu para jago beristirahat dalam lembah Thian Siang Kok Yu Ih Lok, Tiong It Hauw beserta Ciang Hong, Hoo Cong Hwie, Lie Kiat, Liuw Ceng Boen, Thian Seng, Moay Siauw Beng sekalian berdelapan bekerja keras membersihkan hutan mengatur bunga-bungaan dikebun sementara Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat mengatur barang-barang perabot dalam ruangan.

Selama itu Kok Han Siang tidak ambil perduli dalam soal apapun sepanjang hari ia bermain dengan bocah tersebut.

Agaknya dalam beberapa waktu yang amat singkat ia ingin melampiaskan cinta kasih seorang ibu kepada bocah ini sering kali ia membawa bocah tadi bermain dikebun makan bersama-sama tidur berbareng dan menjaganya dengan penuh kasih sayang.

Dalam sekejap mata tujuh hari telah berlalu.

Selama tujuh hari seakan-akan Kok Han Siang telah berubah dengan manusia lain ia seperti lebih matang beberapa bagian gerak gerik maupun tingkah lakunya seperti perempuan yang pernah melahirkan anak.

Pada malam ketujuh Yu Ih Lok, Tiong It Hauw, Ciang Hong, Boen Thian Seng sekalian telah mendapat pemberitahuan dari Biauw Siok Lan untuk bertemu dilapangan dalam hutan pada kentongan pertama untuk menikmati sinar rembulan.

Walaupun dalam beberapa hari yang singkat namun bagi para jago yang sudah terbiasa melakukan perjalanan dalam dunia persilatan ini agaknya sudah menaruh kesan mendalam terhadap keindahan alam dilembah Thian Siang Kok tersebut.

Terdengar Yu Ih Lok menghela napas panjang kepada Tiong It Hauw bisiknya. Tiong-heng kalau dugaan siauw-te tidak meleset maka dalam perjamuan malam nanti Hu Hujien tentu akan mengumumkan keputusannya yang mengejutkan hati.....

Tidak salah ia telah menggabungkan kelembutan kehalusan serta kegenitan jadi satu dia adalah malaikat tetapi diapun perempuan nakal ia memiliki ketenangan yang mempesonakan tetapi memiliki pula daya rangsang yang mendebarkan.

Yu Ih Lok mendehem ringan untuk memotong ucapan Tiong It Hauw yang belum selesai diutarakan tukasnya.

Maksud siauw-te seandainya Hu Hujien secara tiba-tiba mengejutkan permintaan yang tidak sesuai kepada kita entah haruskah kita setujui??.

Tentang hal ini siauw-te sulit untuk menjawabnya kata Tiong It Hauw setelah termenung sejenak. Mendadak ia bangun berdiri maju kedepan sambil mendorong jendela setelah itu tambahnya.

Terhadap setiap permintaannya aku selalu merasa sulit untuk memutuskan.

Hal int tak bisa disalahkan dirimu kata Yu Ih Lok seraya mengangguk siauw-te sudah menjelajahi sungai sebelah Utara maupun sebelah Selatan berjumpa dengan banyak orang gadis di daerah Utara maupun perempuan cantik dinegri Selatan tetapi belum pernah kutemui seseorang yang dapat menandigi kecantikannya. Aaaai... sejak dahulu perempuan cantik hanya mendatangkan bencana.....

Berhubung wajah Tiong It Hauw tertutup oleh kain kerudung hitam maka susah dilihat bagaimanakah perubahan wajahnya pada saat ini namun di dengar dari helaan napas panjangnya seolah-olah menunjukkan bahwa ia sudah mengakui kebenaran dari ucapan Yu Ih Lok.

Malam itu tanggal dua tiga belasan tidak sampai kentongan pertama rembulan yang berat dan besar itu sudah tergantung diatas angkasa.

Udara bersih tak berawan cahaya terang menyinari seluruh jagat angin bertiup sepoi-sepoi menyertai bau harum bunga yang semerbak.

Para jago yang menerima undangan sudah menempatkan diri dalam meja perjamuan sembari menunggu kehadiran Kok Han Siang mereka menikmati pemandangan alam disekitarnya.

Tiba-tiba terdengar suara berdentingan yang nyaring dibalik pepohonan muncul seorang perempuan cantik yang sangat menggiurkan.

Moay Siauw Beng angkat kepala memandang rembulan diangkasa lalu dengan suara lirih memuji.

Aaaaah.....! ensoku yang cantik jelita! cahaya rembulan yang demikian terang cemerlangpun telah tertutup oleh kecantikan wajahmu.

Mendengar ucapan itu diam-diam Yu Ih Lok merasa geli ia melirik sekejap kearah Tiong It Hauw sementara dalam hati berpikir.

Tidak aneh kalau Tiong It Hauw dibikin tergila-gila oleh kecantikan wajahnya bahkan seorang bocah yang belum tahu urusanpun seakan-akan tergiur oleh kecantikannya...

Sedang ia berpikir perempuan cantik itu sudah mendekati tempat duduknya dia bukan lain adalah janda Hu Pak Leng Ko Han Siang adanya.

Di kedua belah sisinya mengikuti Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat setelah mereka berdua didandani beberapa waktu wajah mereka berduapun kelihatan cantik jelita.

Kok Han Siang memakai baju biru dengan gaun putih, kulit badannya yang halus seakan-akan sinar rembulan yang memancarkan keempat penjuru.

Biauw Siok Lan tetap memakai baju serba putih sedangkan Ban Ing Soat memakai baju warna hijau. Tiong It Hauw yang sedang dibikin terpesona oleh kecantikan Kok Han Siang mendadak terasa bau harum tersiar lewat tahu-tahu perempuan itu sudah berada disisinya.

Terdengar ia berkata dengan suara yang merdu menarik.

Maaf kalian harus lama menanti sambil tertawa manis ia menjura. Para jago segera bangun berdiri balas memberi hormat.

Tiba-tiba dari dalam sakunya Kok Han Siang ambil keluar sebilah pisau belati yang amat tajam diletakan diatas meja kemudian dengan wajah serius ia berkata kembali.

Cuwi sekalian adalah sahabat karib toakoku, semasa ia masih hidup kalau bukan saudara angkatnya kalian tentulah orang kepercayaan toakoku sekarang dia telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya.....

Bicara sampai disitu mendadak ia membungkam sinar matanya menyapu sekejap kearah para jago lalu tambahnya.

Soal pembalasan dendam ini tanpa terasa lagi telah terjatuh kepundak Cuwi sekalian. Meadengar ucapan itu Yu Ih Lok mengerutkan dahinya ia menyela.

Hujien! maafkan kalau hamba telah lancang berbicara hamba ingin bertanya apakah dalam surat wasiat Hu Bengcu tercantum pula tentang soal membalaskan dendam atas kematiannya.

Toakoku berjiwa besar! tentu saja tidak akan membicarakan soal pembalasan dendam diatas surat wasiatnya.

Jadi kalau begitu soal pembalasan dendam atas kematian Hu Bengcu muncul atas keinginan sendiri?.

Tidak salah, soal pembalasan dendam timbul atas keingananku sendiri namun aku hanya seorang perempuan lemah mana aku bertenaga untuk membalaskan sakit hatinya? karena itu aku masih harus memohon bantuan tenaga dari cuwi sekalian.

Agaknya diantara orang-orang itu pikiran Yu Ih Lok paling tajam ia selalu bersikap tenang dingin pikiran dan tidak berpengaruh oleh kecantikan Kok Hab Siang tampak ia tertawa hambar.

Hujien hanya berpikir hendak membalas dendam belaka entah dirimu sudah memperoleh siasat untuk membalas dendam atau tidak? haruslah diketahui Hu Bengcu menemui ajalnya ditangan jago-jago dua partai terkuat dalam Bu-lim dewasa ini yaitu Siauw lim si serta Bu-tong pay apakah hujien ada maksud hendak membasmi seluruh jago lihay yang ada dalam partai Siauw lim serta partai Bu-tong?.

Walaupun aku tiada maksud untuk membasmi habis seluruh anggota kedua partai tersebut namun Ciangbujien mereka Tiang loo mereka serta partai pentolan yang memelopori peristiwa tersebut tak dapat kulepaskan.

Hanya andalkan kekuatan kita beberapa orang saja? kata Yu Ih Lok sambil tertawa. Bukannya hamba sengaja memadamkan semangat sendiri dengan andalkan kekuatan kita beberapa orang jangan dikata membalaskan sakit hati Hu Bengcu mungkin untuk menerobos masuk kedalam kuil Siauw lim si pun belum mampu.

Agaknya ia takut perkataan tadi terlalu menusuk perasaan Kok Han Siang setelah merandek dan menghela napas ujarnya kembali.

Jikalau hujien hendak membalas dendam maka kita harus menyusun dulu suatu rencana yang matang hamba pernah mendapat dari Bengcu samasa hidupnya dan setelah Bengcu meninggal mendapat penghargaan pula dari hujien aku pasti akan kerahkan segenap tenaga untuk membantu hujien.

Mendadak Kok Han Siang mengalihkan sinar matanya keatas wajah Yu Ih Lok lalu dengan wajah serius katanya. Seandainya aku telah mendapatkan siasat untuk menuntut balas entah Yu Sianseng suka membantu diriku atau tidak?.

Yu Ih Lok sama sekali tidak menyangka ia bisa mengajukan pertanyaan tersebut setelah tertegun beberapa saat jawabnya rada gugup.

Tentang soal ini tentu saja hamba tidak akan menampik.

Untuk membalaskan sakit hati toako kita harus menempuh banyak kesulitan walaupun aku berhasil mendapatkan satu akal tetapi aku masih sangat membutuhkan bantuan dari cuwi sekalian.

Setelah cayhe menyanggupi tidak akan kujilat kembali ludah yang teIah kukeluarkan hujien ada urusan apa silahkan diutarakan!.

Aku mohon cuwi sekalian suka menyaru kemudian menemani aku berkelana dalam dunia persilatan mengumpulkan jago lihay dan membalaskan dendam atas kematian toako.

Yu Ih Lok termenung sebentar! tiba-tiba ia mendongak tertawa terbahak-bahak.

Jikalau hujien sudah memutuskan demikian kami sekalian akan bekerja menurut perintah. Mengapa kita harus menyaru? Tiong It Hauw menimbrung.

Kita harus muncul kembali dalam dunia persilatan dengan wajah baru dengan demikian gerak-gerik kita baru mendapat perhatian dari jago-jago Liok-lim.

Entah kita harus menyaru jadi manusia macam apa?? tanya Moay Siauw Beng sambil tertawa. Kok Han Siang tersenyum.

Kita memakai pakaian yang paling menarik perhatian agar mereka-mereka yang pernah berjumpa dengan kita sepanjang masa tak terlupakan lagi.

Bagus! bagus sekali teriak Moay Siauw Beng sambil bertepuk tangan kegirangan jadi kalau begitu aku bisa melihat wajahmu setiap hari.

Perlahan-lahan Yu Ih Lok angkat muka memandang angkasa lalu sambil tertawa ujarnya.

Mengambil kesempatan rembulan masih diangkasa harap hujien terangkan bagaimanakah rencanamu

itu.

Kok Han Siang menghela napas panjang sambil memandang pisau belati yang ada diatas meja ujarnya.

Jikalau kalian tidak mau membantu usahaku maka malam ini aku akan pergi menyusul toako.

Perlahan-lahan ia duduk diatas kursi turun tangan sendiri memenuhi cawan para jago dengan arak lalu berkata lirih.

Silahkan kalian menghabiskan dahulu secawan arak ini kemudian kita berbicara lagi. Para jago menurut masing-masing meneguk habis isi cawan masing-masing.

Kok Han Siangpun meneguk habis isi cawannya setelah itu dengan suara merdu mulai membeberkan rencana yang diajarkan Biauw Siok Lan kepadanya.

Para jago yang mendengar rencana itu jadi berdiri tertegun dengan mata terbelalak mulut melongo ada yang tersenyum sambil mengangguk ada pula yang geleng kepala sambil menghela napas panjang.

Setelah masalah besar diputuskan tiba-tiba Kok Han Siang memperlihatkan kegenitannya bagaikan seekor kupu-kupu ia bergerak kesana kemari memenuhi cawan arak para jago. Demikianlah malam itu para jago dibikin mabok ditengah buaian Kok Han Siang yang cantik serta pengaruh air kata-kata.....

TAMAT