-->

Badai Dunia Persilatan Jilid 17

Jilid 17

ADA satu persoalan ingin kumohonkan bantuan dari kalian berdua entah maukah kalian berdua menyanggupinya.

Biauw Siok Lan tidak menjawab tiba-tiba ia putar badan dan melancarkan dua kali pukulan keatas tubuh Ban Ing Soat.

Eeeei... apa yang sedaag kau lakukan? tanya Kok Han Siang keheranan ketika melihat perbuatan perempuan itu.

Biauw Siok Lan membungkam dengan wajah tenang ia pelototi diri Ban Ing Soat tak berkedip meranti gadis itu sudah menghembuskan napas panjang- panjang ia baru tarik kembali ketegangan pada wajahnya dan menjawab sambil tertawa.

Sekarang hujien boleh mulai berbicara.

Sementara itu setelah menghembuskan napas panjang dengan sinar mata bimbaag Ban Ing Soat memandang sekejap kearah Biauw Siok Lan.

Kita sudah berada dirumah? tanyanya lirih.

Benar kita sudah berada dirumah... Dengan cepat Kok Han Siang menjawab.

Mendengar suara dari Hu hujien Ban Ing Soat segera berpaling namun dengan cepat ia berseru tertahan dan menyembunyikan diri kebelakang Biauw Siok Lan.

Kiranya ia menemukan bahasanya Kok Han Siang hanya memakai kotang serta celana dalam yang tipis sekali sehingga tangan serta kakinya yang putih halus tertera sangat jelas didepan mata.

Bagaimanapun jusa Ban Ing Soat adalah seorang nona berusia belasan tahun pada masa itu tidak ada peraturan seorang gadis memperlihatkan badannya dihadapan umum sekalipun berada dihadapan kaum wanita sendiri.

Tindakan Kok Han Siang yang melepaskan pakaian sehingga hampir seluruh tubuhnya kelihatan ini tentu saja amat mengejutkan dan membuat orang yang melihat jadi terheran-heran.

Terdengar Kok Han Siang menghela napas panjang dan berkata.

Setelah kau melihat keadaanku seperti ini dalam hati kecil kalian tentu merasa bukan bahwa perbuatanku ini sangat terhina.

Tentang soal ini sih hamba tidak berani berpikiran demikian namun ditinjau dari keadaan hujien pada saat ini kemudian memanggil pula kami masuk kedalam aku pikir kau hendak memiliki suatu maksud tujuan bukan? sahut Biauw Siok Lan tenang. Enci Lan benar-benar sangat cerdik Kok Han Siang mengangguk hanya sekali tebak saja kau sudah tahu sedikitpun tidak salah aku mengundang kalian berdua datang kemari tidak lain hanya minta kalian bertindak sebagai saksiku.....

Perlahan-lahan sinar matanya dialihkan kearah Ban Ing Soat ujarnya lagi dengan suara sedih.

Soat jie setelah kau melihat keadaanku pada saat ini dalam hati kecilmu tentu timbul perasaan muak dan benci kepadaku bukan?.

Raut muka Ban Ing Soat yang berbentuk bulat telur dihiasi dengan warna merah jengah ia menjawab.

Soat jie adalah seorang boanpwe urusan yang ku ketahui tidak banyak aku tidak berani sembarangan menuduh kepada angkatan yang lebih tua...

Ia berpikir beberapa saat lamanya seakan-akan dirasanya ucapan tersebut belum seesai maka dengan nada dingin sambungnya lebih lanjut.

Bagaimanapun paman Hu sudah meninggal dunia dikolong langit sudah tak ada orang yang bisa mengurusi dirimu lagi.

Kok Han Siang tertawa sedih.

Semasa paman Hu-mu hidup dikolong langit aku belum pernah melihat dia orang melakukan pekerjaan yang melanggar ketertiban umum ataupun perikemanusiaan namun sekarang ia sudah mati bahkan mati dalam keadaan begitu mengenaskan.

Ketika mendengar perempuan itu mengungkap soal Hu Pak Leng mendadak dari dasar hati Ban Ing Soat timbul kobaran hawa amarah yang sukar dibendung kontan ia mendengus dingin.

Hmmm! seandainya paman Hu tidak mati kaupun tidak akan berani berbuat demikian hina demikian terkutuk.

Tetapi dengan cepat ia sadar bahwa ucapannya terlalu berat kata-kata selanjutnya ditelan kembali.

Terhadap makian dari Ban Ing Soat barusan Kok Han Siang sama sekali tidak menaruh hawa gusar sebaliknya ia malah tertawa hambar katanya.

Aku sudah melakukan suatu perbuatan yang terhina dan terkutuk tidak aneh kalau kau merasa amat benci terhadap diriku....

Mendadak wajahnya berubah serius lalu sambungnya.

Tetapi kau harus tahu aku hendak membalaskan dendam sakit hati paman Hu-mu sedangkan aku hanya seorang perempuan lemah kecuali menggunakan kecantikan wajahku aku masih punya cara apa lagi untuk menuntut balas buat kematiannya? apalagi musuh-musuh besarnya sebagian besar merupakan jago- jago lihay kelas wahid dalam kolong langit pada saat ini.....

Ban Ing Soat adalah seorang gadis yang baru saja menginjak kedewasaan banyak persoalan yang belum ia pahami mendengar ucapan tersebut timbullah perasaan keheranan dalam hatinya.

Apa gunanya kecantikan? ia menukas kalau kau tidak belajar ilmu silat dan tak bisa mengalahkan orang lain selama hidup jangan harap bisa membalaskan dendam sakit hati ini.

Biauw Siok Lan yang berdiri disamping kalangan segera tertawa ujarnya.

Kelembutan bisa mengalahkan kekerasan kecantikan wajah hujien bisa menundukkan banyak jago lihay tanpa ia belajar ilmu silat sendiri pasti ada orang lain yang rela menjual nyawa buat dirinya.

Oooouw..... dengan setengah paham setengah tidak Ban Ing Soat mengiakan ia tidak bertanya lebih

lanjut.

Tiba-tiba Kok Han Siang mengucurkan air mata sambil menahan isak tangis ujarnya. Jenasah toako belum mendingin aku sudah menyeleweng dari jalannya seorang istri serta dia yang berada di alam baka tentu merasa sangat bersedih hati tetapi teringat akan kematiannya yang mengerikan timbul semangat dalam hati untuk menuntut balas sakit hati ini selama beberapa tahun aku tak bisa melahirkan seorang putra buat dirinya, memelihara dirinya sampai besar dan membalaskan dendam ayahnya. Terpaksa aku harus bekerja sendiri untuk menuntut balas atas dendam tersebut. Tugas seberat ini mana bisa kupikul seorang diri padahal aku hanya seorang perempuan lemah.

Sembari menangis sembari berkata suaranya lunak dan halus menimbulkan rasa sedih di hati Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat tak bisa menahan diri lagi air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Sekonyong-konyong dari luar kamar berkumandang datang suara langkah manusia dengan sebat Biauw Siok Lan meloncat kedepan dan menutup pintu kamar yang terbuka lebar.

Siapa tanyanya.

Aku! suara dari Moay Siauw Beng berkumandang datang dari luar kamar Enso apakah kau didalam.

Ada urusan apa?? tanya Kok Han Siang dengan cepat membesut air mata yang masih membasahi wajahnya.

Ada seorang lelaki berusia pertengahan hendak menjumpai hujien.

Suruh ia tunggu sebentar nanti baru disuruh masuk! Sayang untuk selamanya ia tak akan bisa masuk

lagi.

Untuk beberapa saat lamanya Kok Han Siang tidak dapat menangkap maksud dari ucapan itu dengan keheranan segera tanyanya.

Kenapa??

Haaa... haaa... karena ia sudah kubunuh mati jawab Moay Siauw Beng sambil tertawa terbahak-bahak. Siapakah namanya??

Ia tidak beritahukan namanya kepadaku aku minta ia suka menunggu sebentar diluar pintu agar aku masuk kedalam memberi laporan lebih dahulu tetapi paksa juga untuk menerobos masuk karena itu aku lantas sekali tebas memenggal batok kepalanya apakah enso mau melihatnya??.

Sekarang aku ada urusan tak bisa keluar berjumpa dengan dirimu gantungkan saja batok kepala tersebut didepan pintu ruangan.

Siauw-te turut perintah!.

Suara langkah kaki Moay Siauw Beng makin lama semakin menjauh dan akhirnya tidak kedengaran lagi suaranya.

Untuk membalaskan dendam sakit hati toakoku aku telah ambil keputusan untuk menggunakan tubuhku yang kosong dan mirip mayat hidup ini untuk mencabut seribu lembar jiwa manusia guna menebus kematian toakoku sekalipun begitu hatiku hanya dimiliki oleh toako seorang ujar Kok Han Siang lebih

lanjut.

Biauw Siok Lan mengheta napas panjang-panjang katanya.

Hu Bengcu gagah perkasa dan berjiwa besar kematiannya meninggalkan kesan yang mendalam di hati setiap orang.

Mendadak Kok Han Siang berteriak dan menubruk kedalam pelukan Biauw Siok Lan untuk kemudian menangis tersedu-sedu serunya. Aku mengira hanya aku seorang saja yang memahami keadaan toako siapa sangka cara berpikir encipun seperti diriku sukma toako ada dialam baka tentu akan berterima kasih atas budi enci ini.

Biauw Siok Lan dibikin terharu oleh ucapan ini ia mengheta napas sedih.

Hujien berjiwa besar dan berwelas kasih kalau aku tidak mengutarakan rahasia hatiku selama ini sungguh membuat hatiku tidak tenteram.....

Adikku kau hendak mengatakan soal apa?? tanya Kok Han Siang tertegun Biauw Siok Lan tertawa

sedih.

Terus terang saja hujien aku... aku...

Setelah baberapa waktu lamanya sering bergaul dengan Kok Han Siang serta Ban Ing Soat sifat binalnya sudah banyak berkurang perbuatan Hu Pak Leng yang membuat ia melepaskan kejahatan kembali kejalan yang benar memberikan suatu kesan yang mendalam dalarn hatinya ia merasa peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau bagaikan sebuah impian belaka sifatnya berubah semakin tenang dan halus.

Tidak aneh kalau ia merasa malu dan tersipu-sipu sewaktu hendak mengutarakan rahasia hatinya. Melihat perempuan itu secara tiba membungkam dan tundukkan kepalanya rendah-rendah pikiran Kok

Han Siang rada sedikit bergerak ujarnya sambil tertawa. Apakah enci sangat suka kepada toakoku itu?.

Sebelum Hu Pak Leng meninggal ia tidak suka menggunakan pikirannya untuk berpikir dan semuanya menurut kemauan dari suaminya belaka tetapi sejak lelaki itu mati ia mulai menganalisa dan memikirkan kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi masa silam.

Dasarnya ia memang seorang gadis cerdik hanya ia tidak mau berpikir menggunakan otaknya saja sekali ia mulai menggunakan pikirannya maka setiap persoalan dapat ditanggapinya dengan tepat dan sempurna.

Mendengar ucapan itu Biauw Siok Lan menghela napas panjang kepalanya ditundukkan semakin rendah lagi.

Tidak salah! jawabnya! dunia sangat luas dan dimanapun aku bisa mendapatkan diri untuk menjalani suatu hidup baru namun aku telah mengikuti dia datang kemari kendati sejak semula sudah ku duga bahwa aku akan terjerumus dalam suatu masalah yang menyulitkan namun aku nekad juga ikuti dia datang kemari...

Aaaai... sayang sekali toako sudah mati ujar Kok Han Siang sambil menghela napas seumpama toako masih hidup dikoloog langit aku tentu akan minta dia suka menerima diri cici...

Menerima diriku sebagai gundiknya?.

Kenapa harus dibedakan antara istri dan gundik aku serta toako sudah kawin banyak tahun tetapi tak berhasil juga aku melahirkan seorang putra bagi dirinya. Aaaai... beberapa kali aku menasehati dirinya agar mengawini perempuan lain lagi untuk menyambung keturunannya tetapi setiap kali tawaranku ini ditolaknya mentah-mentah.....

Ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Hu Bengcu detik itu juga aku sudah tertarik oleh kegagahan kejantanan serta kebesaran jiwanya dari tertarik timbul simpatik dan akhirnya rasa cinta tak terbendungkan lagi sambung Biauw Siok Lan lebih lanjut. 

Sementara itu Ban Ing Soiat dengan sepasang mata terbelalak lebar-lebar ia mernperhatikan diri Biauw Siok Lan tak berkedip agaknya ia sudah dibikin terpesona oleh perkataan itu.

Terdengar Biauw Siok Lan menghela napas panjang ujarnya kembali.

Sejak kecil aku sudah dibawa Im So It Mo masuk kedalam gunung dan menurunkan ilmu silat kepadaku pada usia enam belas tahun perawanku direbut oleh iblis tersebut dengan paksa untuk kemudian jual nyawa bagi dirinya setiap kali berkelana dalam dunia kangouw pengetahuanku mendapat banyak kemajuan entah beberapa banyak jago ganteng yang telah kutemui tetapi selama itu tak seorangpun yang tertarik.

Entah apa sebabnya sewaktu aku berjumpa dengan Hu Bengcu hati kecilku telah terpukul oleh kejantanan serta kegagahannya perbuatanku mengikuti dia datang kemari terus terang saja mengandung maksud tertentu tetapi setelah aku berjumpa dengan hujien barulah timbul kesesalan dalam hatiku baik kesucian maupun kecantikan wajahnya aku bukan tandingan dari hujien keadaan kita bagaikan sinar rembulan dengan sinar kunang-kunang karena putus asa aku lantas hapuskan pikiran tersebut dari dalam hati...

Kok Han Siang tertawa.

Toako bisa mendapat cinta kasih seorang gadis macam kau kalau ia tahu tentu merasa amat bangga sekali... katanya.

Mendadak terdengar suara Moay Siauw Beng berkumandang kembali kedalam ruangan.

Kembali aku membunuh dua orang apakah batok kepala mereka diletakkan jadi satu dengan batok kepala tadi?.

Kok Han Siang ada pikiran dalam benaknya tanpa mendengar jelas apa yang sedang dikatakan bocah itu ia menyahut sekenanya.

Letakkan saja disana!.

Suara gelak tertawa Moay Siauw Beng berkumandang memenuhi angkasa lalu terdengar ia berguman seorang diri.

Serambi tersebut panjangnya tidak lebih satu tombak kelihatannya sebelum siang hari nanti batok kepala orang-orang itu akan memenuhi tempat ini.

Kok Han Siang sedang berbicara serius dengan Biauw Siok Lan mereka berdua tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dikatakan bocah tersebut sedangkan Ban Ing Soat yang sedang mendengarkan dengan terpesona tiba-tiba melihat mereka tidak meneruskan kata-katanya tak tertahan segera menimbrung dari samping.

Bibi katanya kau hendak suruh kami jadi saksi sebenarnya ingin kami menjadi saksi tentang soal apa???

Aku hendak menceritakan rahasia hatiku kepada kalian semua ujar Kok Han Siang setelah menghela napas sedih. Aku mohon kalian suka memaklumi diriku kemudian akan kutitipkan satu persoalan kepada kalian berdua!

Hujien ada urusan apa silakan diutarakan saja begitu sungkan-sungkan terhadap kami membuat berdua tidak kuat menerimanya.

Sejak aku berkenalan dengan toako belum pernah terpikir olehku kalau suatu waktu ia bakal meninggalkan dirimu untuk selamanya ia sayang kepadaku cinta kepadaku dalam menghadapi persoalan apapun tak pernah ia melarang diriku sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau ia betul-betul sudah meninggalkan aku untuk selamanya.

Titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya suara ucapanpun makin lama semakin rendah dan semakin pedih sambil menahan isak tangis terusnya.

Namun dengan mata kepala sendiri aku telah melihat jenasahnya melihat sendiri secara bagaimana ia mati dibunuh orang dengan mempertaruhkan jiwanya ia berusaha menolong mereka tetapi tanpa perasaan sedikitpun mereka telah mencabut jiwanya.

Bicara sampai disitu air mata jatuh berlinang semakin deras lagi. Ban Ing Soat yang ikut mendengarkan disamping tiba-tiba merasakan perasaan sedih bercampur gusar bergelora dalam dadanya dengan suara keras ia segera berseru.

Mereka memaksa ayahku sampai menemui ajalnya kemudian membinasakan pula paman Hu kedua buah peristiwa menyedihkan ini aku lihat dengan mata kepala sendiri bibi mau balas dendam akupun akan balas dendam...

Rasa sedih meliputi seluruh wajahnya titik-titik air mata jatuh berlinang...

Perlahan-lahan Kok Han Siang berjalan menghampiri dirinya sambil membelai rambut Ban Ing Soat dengan tangannya yang putih halus katanya.

Soat jie kau pun merasa bukan kalau paman Hu-mu adalah seorang manusia baik-baik. Dengan wajah penuh air mata Ban Ing Soat mengangguk.

Paman Hu bukan saja seorang manusia baik bahkan dia seorang manusia jantan dalam hati aku.

Gadis ini merupakan gadis remaja yang baru saja mekar sifat kekanak-kanakannya belum hilang karena bicara begitu semangat maka tak kuasa lagi rahasia hatinya ikut terbongkar rasa cinta dan kagum yang selama ini selalu tersembunyi dalam hatinya tanpa terasa telah dilontarkan keluar.

Namun setelah berbicara sampai tengah jalan mendadak rasa malu dalam hatinya sehingga tak kuasa lagi ia membungkam.

Kok Han Siang kelihatan tertegun dibuatnya dengan cepat ia tertanya. Bagaimana perasaan hatimu? kenapa tidak kau teruskan?.

Ban Ing Soat mengedipkan sepasang matanya yang besar dan bulat itu dua titik air mata jatuh berlinang setelah mendehem ringan barulah ia menjawab.

Aku merasa amat kagum terhadap diri paman Hu.

Aaaai... sungguh tidak kusangka ada begitu banyak orang yang mengagumi toakoku kata Kok Han Siang sambil tertawa bangga agaknya aku jauh lebih beruntung daripada kalian semua.

Ia mendongak keatas memandang langit-langit rumah bibirnya tersungging suatu senyuman manis agaknya ia sedang terkenang kembali peristiwa yang lampau dimana mereka berdau menjalani penghidupan yang paling senang dan paling babagia.

Melihat keadaan itu Biauw Siok Lan menghela napas rinsan ujarnya.

Walaupun Hu Bengcu sudah mati namun kegagahan kejantanan keadilan serta kebijaksanaannya masih tertinggal didunia kesemuanya masih meninggalkan kesan dan hormat dihati setiap orang.

Ucapan cici sedikitpun tidak salah walaupun dia sudah mati namun tetap masih hidup dalam hatiku setiap kali aku pejamkan mata maka aku segera merasa seakan-akan ia berdiri disisiku.

Mengenang dan mengaguminya saja apa gunanya kita harus membalaskan dendam sakit hati ini teriak Ban Ing Soat dengan penuh semangat.

Tidak salah aku harus balaskan dendam sakit hati toako ini tetapi ilmu silat yang kita miliki masih tertinggal sangat jauh dari kepandaian lawan secara bagaimana kita baru dapat balaskan sakit hati ini?.

Waaah... soal ini memang sangat sulit sekali seru Ban Ing Soat tertegun dibuatnya! Aaai... anggota partai Siauw lim serta partai Bu-tong amat banyak sekali, sekalipun terhitung seluruh anggota lembah Mie Cong Kok suka membalaskan dendam paman Hu pun belum tentu bisa menangkan pihak lawan.

Maka dari itu kita harus mencari akal.....

Akal bagaimana maksudmu?? Sambil membenahi rambutnya yang kusut serta memandang kakinya yang putih mulus tiba-tiba Kok Han Siang bertanya.

Soat jie coba kau lihat badan bibimu indah menarik tidak???

Sangat menarik sekali kecantikan wajahnya tiada tandingan dikolong langit jawab Ban Ing Soat sambil mengangguk tiada hentinya.

Kok Han Siang menghela napas panjang.

Semasa toako masih hidup dikolong langit tidak pernah memperhatikan kecantikanku sendiri kini toako sudah mati aku baru teringat akan kecantikanku.....

Berhasilkah kita membalaskan dendam paman Hu harus mengandalkan ilmu silat apa sangkut pautnya dengan soal kecantikan?? tanya Ban Ing Soat keheranan agaknya ia masih belum mengerti juga akan maksudnya.

Aaaaa! budak bodoh Thian telah menciptakan diriku dengan selembar wajah yang cantik serta lekukan-lekukan badan yang indah aku hendak menggunakan kelebihanku ini untuk balaskan dendam sakit hati toako.

Dengan setengah mengerti setengeh tidak Ban Ing Soat menggangguk. Aaaah. tiba-tiba ia menghela napas dan berkata lebih jauh.

Oooouw benar bukankah kau hendak kawin dengan siapa saja yang dapat balaskan dendam sakit hati paman Hu.

Tidak, bukan demikian Kok Han Siang menggeleng anggota Siauw lim si serta Bu-tong pay amat banyak sekali setiap anggotanya memiliki kepandaian yang amat lihay sekalipun seseorang memiliki ilmu silat lihaypun tidak mungkin bisa membasmi habis semua anggota dari kedua partai tersebut.

Lalu apa yang harus kita lakukan?.

Aku hendak menggunakan kecantikan wajahku serta kepadatan tubuhku untuk memancing banyak orang suka jual nyawa buat diriku.

Aaaai apakah hujien sudah ambil keputusan untuk berbuat demikian? tanya Biauw Siok Lan.

Kecuali berbuat demikian aku tidak berhasil mendapatkan cara lain lagi yang rasanya lebih sempurna untuk balaskan dendam toako.

Hujien harap kau berpikir tiga kali sebelum bertindak keputusan ini sangat luar biasa sekali. Mendadak air muka Kok Han Siang berubah jadi amat serius katanya.

Aku sudah berpikir berulang kali sebelum ambil keputusan menurut perasaanku aku rela berbuat apa saja asalkan dendam toako bisa terbalas ia merandek sejenak kemudian tambahnya.

Aku mohon kalian bedua suka mengabulkan satu permintaanku. Silahkan hujien utarakan.

Persoalan ini tidak terlalu berat yaitu menyangkut soal bocah yang kupelihara tersebut. Aku hendak balaskan dendam toako sejak ini mungkin akan hidup ditengah gelombang besar yang setiap saat membahayakan jiwaku, aku tidak ada waktu lagi untuk mendidik dan memelihara dirinya, karena itu aku hendak titipkan bocah tersebut kepada kalian agar kalian suka memeliharanya hingga menginjak kedewasaan.

Kalau hujien memang sudah ambil keputusan untuk berbuat demikian dan apabila membutuhkan bantuanku..... keadaan dunia persilatan amat berbahaya sedangkan hujien sama sekali tak berpengalaman bagaimana bisa menghadapinya... Ada Tiong It Hauw serta Moay Siauw Beng yang membantu diriku, aku rasa sudah lebih dari cukup tukas Kok Han Siang cepat. Aku hendak berkelana dan menyambangi seluruh jago Bu-lim yang ada di kolong langit dewasa ini...

Tiong It Hauw serta Moay Siauw Beng hanya bisa menjadi pengawal pribadi hujien ujar Biauw Siok Lan sambil tertawa. Untuk menyusun rencana aku pikir kecerdikan mereka tak bisa memadainya. Kecantikan wajah hujien tiada tandingan dikolong langit namun kaupun harus tahu kecuali kecantikan wajah masih harus mempunyai satu cara suatu siasat dan suatu kepandaian untuk pasang jerat dan memancing mereka masuk perangkap...

Ia termenung sebentar kemudian sambungnya lebih jauh.

Haruslah diketahui seseorang untuk memiliki ilmu silat yang maha dahsyat dia harus memiliki bakat alam yang bagus da sempurna : Orang ini kalau bukan manusia, tentulah seorang manusia tinggi hati yang berjiwa dingin. Sekalipun hujien memiliki kecantikan wajah yang mempesonakan serta menggiurkan setiap insan tetapi kalau tak tahu bagaimana cara menggunakannya maka kau akan menemui kegagalan dalam memaksa mereka tunduk seratus persen dibawah telapak kakimu dan rela berbakti sepanjang masa...

Kok Han Siang yang mendengar uraian itu kontan berdiri termangu-mangu lama sekali ia baru berseru.

Aaaah! kiranya untuk melakukan perbuatan inipun masih membutuhkan banyak kepandaian serta kecerdikan...

Semasa aku masih kecil dan berkelana dalam dunia persilatan berpuluh-pulu ribu manusia sudah kutemui pelbagai raut wajah manusia dikolong langit sudah kujumpai kalau kau bisa bertindak mengikuti situasi tindakanmu baru akan berhasil mengumpulkan jago-jago lihay di kolong langit untuk kita gunakan. Seumpama hujien sudah pastikan diri bertindak dengan mengandalkan kecantikan wajahmu maka kau harus membutuhkan pula susunan rencana dariku aku akan populerkan dulu kecantikanmu di kolong langit setelah itu baru bekerja dengan pinjam nama besar tersebut, kata Biauw Siok Lan sambil tertawa.

Kok Han Siang menghela napas panjang katanya.

Ternyata dalam masalah ini masih terdapat hal-hal yang begitu merepotkan waaaah! kalau begitu aku harus mohon bantuan dari cici!.

Aku akan menyusunkan satu rencana bagus untuk mempopulerkan dulu nama harum hujien.

Mendadak wajah Kok Han Siang berubah serius titik-titik air mata jatuh berlinang ujarnya dengan nada sedih.

Kalau begitu aku harus merepotkan moay-moay.

Sebelum Biauw Siok Lan sempat menjawab mendadak terdengar suara Moay Siauw Beng berkumandang kembali dari luar ruangan.

Manusia she Tiong itu hendak berjumpa dengan enso bolehkah dia masuk kedalam??? Cepat suruh dia masuk kedalam seru Kok Han Siang seraya buru-buru mengenakan pakaian. Moay Siauw Beng mengiakan dan segera berlalu.

Ketika Kok Han Siang muncul dari kamarnya Tiong It Hauw yang mengenakan kain kerudung hitam telah berdiri diluar pintu ruangan dengan sikap menghormat.

Sinar matanya segera beralih kedepan tiba-tiba hatinya terkesiap sebab ia menemukan banyaknya batok kepala manusia tersusun sangat rapi diatas serambi darah segar membasahi seluruh lantai.

Dengan cepat ia berpaling kearah Moay Siauw Beng dan menegur. Hey apakah orang-orang ini mati ditanganmu semua? Sedikitpun tidak salah jawab Moay Siauw Beng tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. Seluruhnya berjumlah dua belas orang serambi ini belum lagi diperuhi dengan batok kepala mereka.

Aaaaaai...! apakah orang-orang ini hendak berjumpa dengan diriku semua?

Benar sewaktu mereka tiba disini tanpa bicara ba atau bu segera menerjang masuk kedalam aku suruh mereka berhenti tapi mereka malah turun tangan terhadap diriku... kata Moay Siauw Beng sambil tertawa.

Tiong It Hauw menyapu sekejap batok kepala manusia yang berserakan diatas lantai lalu ujarnya.

Mereka semuanya adalah anak buahnya Huo Yen Ga mungkin orang-orang ini datang kemari dengan membawa maksud jelek pembunuhan ini dilakukan tepat sekali.

Ayo cepat singkirkan batok itu semua begitu banyak batok kepala berserakan disini... hiii... sungguh membuat orang meresa takut.

Moay Siauw Beng tersenyum tanpa banyak bicara lagi kakinya melancarkan sebuah tendangan kearah sebutir batok kepala yang berada disebelah kanan batok kepala kontan mencelat keangkasa dan meluncur keluar lima enam tombak jauhnya.

Tampak sepasang kakinya bekerja cepat satu demi satu saling menyusul dalam sekejap mata dua belas butir batok kepala secara beruntun telah melayang keangkasa dan saling bertumbukan dengan kerasnya percikan darah bagaikan hujan gerimis tersebar keempat penjuru.

Dengan wajah penuh kegirangan dan dihiasi senyuman Moay Siauw Beng mendongak keatas menonton pemandangan yang amat mengerikan itu.

Kedua belas butir batok kepala itu setelah saling bertumbukan diangkasa segera mencelat dan tersebar diluar halaman.

Tiong It Hauw yang menonton jalannya pertunjukkan dari samping kalangan diam-diam merasa terperanjat pikirnya.

Usia bocah ini masih muda namun ilmu silat yang dipelajarinya merupakan ilmu silat tingkat keatas kehebatannya dikemudian hari sungguh luar biasa sekali walaupun dalam sekejap mata menendang dua belas butir batok kepala bukan suatu pekerjaan yang menyulitkan justru kesukarannya terletak pada saling berbenturan ditengah udara lagi pula antara kedua belas butir batok kepala tadi saling bertumbukan satu sama lainnya belum tentu aku bisa menirukan dengan sempurna.

Sebaliknya Kok Han Siang merasakan hatinya mendadak sedikit bergerak segera tegurnya. Ilmu silat yang kau miliki saat ini apakah kau dapatkan dari Suhumu?...

Kepandaian menendang batok kepala ini sangat menyenangkan sekali seandainya enso ada maksud belajar aku segera akan menurunkan kepadamu.

Walaupun menarik hati namun kelihatan terlalu sadis.

Mendengar jawaban itu Moay Siauw Beng kelihatan tertegun lalu ujarnya.

Kalau kau takut bermain dengan batok kepala boleh saja menggantinya dengan batu-batu biasa.

Hay! kau jangan melamun tukas Kok Han Siang sambil tertawa aku sedang bertanya kepadamu apakah kepandaian semacam itu kau dapatkan dari Hong Cioe?.

Sambil tertawa Moay Siauw Beng menggeleng.

Dia serdiri belum tentu pernah belajar kepandaian semacam ini tentu saja tak mungkin bisa menurunkan kepandaian tersebut kepadaku.

Eeeei...! sebenarnya kau punya berapa orang suhu sih?. Dua... jawab Moay Siauw Beng setelah termenung sejenak senyum yang semula menghiasi bibirnya seketika lenyap tak berbekas.

Setelah merandek sejenak buru-buru tambahnya. Enso, kau jangan tanya lagi tentang ini.

Melihat wajahnya menunjukkan keberatan serta perasaan serba susah Kok Han Siang segera membatin dihatinya.

Bocah ini orangnya sih kecil tapi kecerdikan luar biasa mungkin ia merasa serba susah untuk membicarakan persoalan ini baiklah nanti kalau tak ada orang aku akan bertanya lagi kepadanya.

Setelah berpikir demikian lantas berpaling kearah Tiong It Hauw dan tanyanya. Kau mencari aku ada urusan apa?.

Hamba telah mengumpulkan seluruh anggota lembah diruang Ci Ih Tong saat ini mereka sedang menantikan kehadiran hujien.

Apakah Huo Yen Ga pun hadir disana?.

Loo Hu It Shu, Leng Lam Jie Khie semuanya telah berkumpul diruang Ci Ih Tong. Kalau begitu mari kita pergi kesana kata Kok Han Siang ia segera melangkah kedepan.

Hujien kau harus hati-hati buru-buru Tiong It Hauw berseru Huo Yen Ga serta Leng Lam Jie menggembol senjata tajam semua agaknya mereka ada maksud untuk turun tangan.

Apakah Tiong Hu Bengcu sudah mempersiapkan tindakan peagamanan? tiba-tiba Biauw Siok Lan bertanya.

Diam-diam aku sudah perintahkan seluruh anak buahku untuk menggembol senjata tajam dan perketat penjagaan namun aku takut apabila sampai terjadi pertarungan dalam keadaan kalut susah untuk menjaga keselamatan diri sendiri.

Kalau sampai terjadi kekalutan keselamatan Hujien serahkan saja kepadaku nona Ban Ing Soat, Moay Siauw Beng bertiga asalkan kau bisa menghadapi Huo Yen Ga serta Leng Lam Jie Khie urusan sudah beres.

Kalau begitu adanya akupun biga mengurangi satu masalah yang merisaukaa diriku kata Tiong It Hauw ia lantas putar badan dan berjalan kedepan.

Kok Han Siang dengan kencang mengikuti dibelakang Tiong It Hauw sementara Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat mengiringi dikedua belah samping sedangkan Moay Siauw Beng berjalan dipaling

belakang.

Pada waktu itu pagi hari telah lewat udara bersih tak berawan sang surya memancarkan cahaya keemas-emasan keseluruh jagad Kok Han Siang dengan memakai baju biru mantel putih rambut berkibar tertiup angin berjalan kedepan dibawah lindungan Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat.

Dengan Tiong It Hauw sebagai pembuka jalan dalam sekejap mata mereka telah tiba diluar ruangan Ci Ih Tong.

Dalam ruangan penuh dengan jago Liok-lim wajah mereka penuh keseriusan dan sedikit pun tidak kelihatan senyuman yang menghiasi bibir mereka.

Ketika tiba didepan Tiong It Hauw segera berhenti dan berteriak keras : Hujien tiba!.

Begitu seruan tersebut berkumandang para jago yang hadir disebelah kiri bersama-sama menjura dan meneriakkan slogan sementara para jago yang berdiri disebelah kanan tetap berdiri tak berkutik di tempat semula. Dengan sinar mata tenang Kok Han Siang menyapu sekejap keseluruh kalangan setelah ulapkan tangaanya ia melangkah masuk kedalam ruangan.

Sinar mata Moay Siauw Beng menyapu sekejap kearab para jago yang berdiri disebelah kanan lalu sambil tertawa katanya.

Agaknya orang-orang ini sudah bosan hidup dikolong langit.

Para jago tak ada yang memperdulikan omongan bocah itu sinar matanya bersama-sama dialihkan kearah Kok Han Siang.

Kok Han Siang meneruskan langkahnya menuju kedepan meja kebesaran setelah ragu-ragu sejenak akhirnya ia melangkah naik juga dan duduk dikursi singgasana.

Tempat ini merupakan kursi kerja yang biasanya digunakan Hu Pak Leng semasa hidupnya menurut peraturan setelah Hu Pak Leng duduk dikursi maka para jago segera harus menjura memberi hormat.

Lain halnya dengan Kok Han Siang baru saja ia duduk Huo Yen Ga telah berteriak keras. Hujien tahukah kau tempat siapakah yang kau duduki sekarang??

Kenapa aku tidak tahu! kursi ini adalah milik toakoku!

Huo Yen Ga sama sekali tidak menyangka kalau ia bisa memberi jawaban ini setelah tertegun ujarnya. Kursi ini khusus diperuntukan buat Bengcu dari seluruh kolong langit kau tahu?

Apakah aku tak boleh menempatinya... tanya Kok Han Siang sambil alihkan sinar matanya kearah Huo Yen Ga.

Tidak salah perduli siapapun yang ingin menempati kursi Bengcu tersebut maka orang itu harus menjumpai kemampuan untuk menjabut sebagai Liok-lim Bengcu dewasa ini. Sekalipun kau adalah Bengcu hujien kaupun tidak berhak untuk menempatinya. Aku tidak boleh duduk lalu kursi ini hendak diperuntukan buat siap???.

Buat Liok-lim Bengcu dewasa ini jawab Huo Yen Ga dingin. Tiba-tiba Kok Han Siang tersenyum.

Toakoku sudah meninggal darimana datangnya seorang Bengcu lagi???.

Dia sudah mati bukankah banyak orang yang belum mati bisa menggantikan kedudukannya??

Untuk menjabat sebagai seorang Liok-lim Bengcu yang terhormat seseorang harus memiliki kepandaian yang luar biasa sehingga bisa memimpin para jago lainnya barang siapa yang menginginkan kursi tersebut maka orang itu harus memperlihatkan dahulu kepandaian yang sebenarnya sambung Tiong It Hauw dengan suara dingin.

Ucapan Tiong It heng sedikitpun tidak salah kata Huo Yen Ga. Sekarang Hu Bengcu sudah mati kita harus cepat-cepat memilih seorang Liok-lim Bengcu yang baru.....

Apakah Huo-heng ada niat untuk merebut kursi ini? tukas Tiong It Hauw cepat. Sambil mengelus jenggotnya Huo Yen Ga tertawa terbahak-bahak.

Haaaa... haaa... haaa... bicara terus terangnya saja dalam situasi seperti ini hari perebutan tersebut hanya bakal terjadi diantara Tiong It Hauw dengan siauw-te berdua.

Masalah memimpin para jago Liok-lim merupakan suatu masalah yang sangat luar biasa apalagi pihak Siauw lim si serta Bu-tong pay tidak akan berpeluk tangan sampai disini saja. Seandainya dugaan siauw-te tidak salah maka didalam tiga lima hari mendatang jago dari kedua partai tersebut pasti akan meluruk kedalam lembah kita. Untuk menghadapi pertarungan sengit semacam ini seperti apa yang Tiong-heng ucapkan tadi harus ada seorang berkepandaian lihay dan kecerdikan luar biasa untuk menghadapi situasi semacam ini. Hujien seorang perempuan lemah kecuali memiliki kecantikan yang luar biasa siauw-te tidak melihat adanya keistimewaan pada dirinya untuk memimpin para jago.

Huo-heng kalau bicara lebih baik kau sedikit tahu batas-batasnya. Teriak Tiong It Hauw dengan gusar.

Apakah kedudukan hujien dewasa ini berani benar kuu pandang hina dirinya.

Haaa... haaa... haaa... sejak jaman dahulu kala kaum enghiong memang sukar lolos dari godaan perempuan. Goda Huo Yen Ga sambil tertawa terbahak-bahak Tiong-heng telah dibikin tergila-gila oleh kecantikan wajah janda Bengcu.

Tiong It Hauw tak dapat membendung hawa gusarnya lagi ia membentak keras adanya meloncat kedepan seraya melancarkan sebuah babatan dahsyat.

Dalam keadaan gusar gerakannya dilakukan cepat bagaikan kilat angin pukulan mendesir kedepan bagaikan sambaran gunung.

Sejak semula Huo Yen Ga sudah bikin persiapan melihat datangnya serangan inipun segera ayunkan telapaknya menerima serangan tersebut lalu sambil tertawa terbahak-bahak jengeknya.

Sejak jaman dahulu kala kecantikan perempuan mendatangkan bencana harap Tiong-heng berpikir tiga kali sebelum bertindak.

Di tengah ruangan yang luas dan dipenuhi dengan para jago itu mendadak berhembus lewat angin puyuh yang maha dahsyat memaksa Huo Yen Ga mundur selangkah kebelakang.

Tiong It Hauw rugi karena badannya masih berada ditengah udara dan tidak dapat meminjam tenaga badannya terpental setinggi tujuh delapan depa ketengah udara oleh daya pental yang dihasilkan Huo Yen Ga.

Tubuhnya yang berada ditengah udara beruntun berputar dua kali mendadak menubruk kebawah sembari membentak.

Huo Yen Ga ini hari kalau bukan kau yang mati akulah yaag gugur coba terimalah sebuah pukulanku

lagi.

Menanti serangan kedua dari Tiong It Hauw telah dibabat keluar tiba-tiba terdengar olehnya suara jeritan Kok Han Siang ia segera menarik kembali sepasang kakinya berjumpalitan ditengah udara dan melayang kembali ketempat semula.

Hujien kau ada pesan apa? ia bertanya.

Kok Han Siang menghela napas penjang ujarnya.

Tidak satu tahun toakoku menjabat sebagai Liok-lim Bengcu dari seluruh kolong langit ia sudah gugur dalam menunaikan tugas aku lihat kursi Liok-lim Bengcu ini bukan tempat yang menguntungkan bagi kita aku lihat kita tak usah memperebutkan lagi serahkan saja buat Huo Yen Ga!

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar bukan saja berada diluar dugaan Tiong It Hauw kendati Huo Yen Ga sendiripun tertegun dan berdiri mematung.

Sinar mata Kok Han Siang yang bening dengan pandangan halus menyapu sekejap keseluruh ruangan lalu berhenti diatas wajah Huo Yea Ga, katanya.

Huo Yen Ga! sejak semula kau sudah mengandung maksud untuk merebut kursi Liok-lim Bengcu sekarang kau tak usah membuang banyak pikiran dan tenaga lagi.

Ia angkat kepala memandang cuaca diluar ruangan setelah itu sambungnya lebih jauh.

Sebelum sang surya lenyap dibalik gunung kami hendak berlalu. Lembah Mie Cong Kok yang dibangun oleh toakoku dengan susah payah ini aku hadiahkan semua untukmu..... Lalu ia tersenyum manis dan tambahnya.

Semoga kau memiliki kepandaian untuk membangun lembah tersebut menjadi markas besar untuk memerintah para jago Liok-lim yang ada dikolong langit. Hujien... buru-buru Tiong It Hauw berseru.

Ada urusan apa? Kok Han Siang berpaling dan tertawa.

Lembah Mie Cong Kok dibangun oleh mendiang Bengcu kami dengan susah payah mana boleh kita hadiahkan kepada orang lain dengan begitu saja.

Apakah kau percaya dan yakin dengan andalkan kekuatan yang ada dalam lembah Mie Cong Kok bisa menghadapi serangan gabungan dari partai Siauw lim serta partai Bu-tong? tukas Kok Han Siang tertawa.

Kalau andalkan ilmu silat kita memang belum sanggup untuk menandingi kekuatan gabungan dari kedua partai tersebut tetapi liku-liku jalan dalam lembah Mie Cong Kok ini amat banyak keadaan alam sangat membantu kita tanpa menggunakan kekuatan manusia rasanya masih mampu untuk membendung serbuan dari para jago kedua partai tersebut...

Kok Han Siang segera tertawa cekikikan kembali tukasnya.

Tujuan bukan dalam soal secara bagaimana membendung serbuan para jago dari kedua partai tersebut kedalam lembab ini, kita berjaga disini juga percuma saja. Dalam persoalan ini aku sudah ambil keputusan kau tak usah banyak bicara lagi.

Hamba terima perintah!

Perlahan Kok Han Siang bangun berdiri lalu ujarnya kembali dengan suara keras.

Dewasa ini kedudukan Liok-lim Bengcu tidak lebih hanya berupa nama kosong belaka coba kalian bayangkan bagaimana lihaynya ilmu silat yang dimiliki toakoku diantara kalian siapa yang merasa yakin kepandaian silat jauh lebih hebat dari toakoku??.

Para jago saling bertukar pandangan tak seorang pun yang sanggup memberi jawaban. Sinar mata Kok Han Siang menyapu sekejap ke arah para jago kemudian terusnya.

Toakoku menemui ajalnya justru dikarenakan nama kosong Liok-lim Bengcu tersebut, kalau ia tidak ikut dalam pertemuan para jago dipuncak Han Pek Ay dan tidak berhasil merebut kursi Bengcu diapun tak akan mati sampai sekarang kami masih merupakan sepasang suami isteri yang bahagia.....

Seolah-olah dalam waktu yang amat singkat perempuan ia sudah memahami banyak urusan setiap patah kata yang diutarakan membuat para jago bungkam dalam seribu bahasa.

Segulung angin gunung berhembus lewat mengibarkan rambutnya yang hitam panjang sambil membereskan rambutnya yang awut-awutan dengan tangan nan putih halus biji matanya mengerling indah lalu tertawa manis.

Senyuman ini bagaikan angin sejuk yang berhembus lewat dimusim kemarau seketika membuat para jago mabok dan berdiri terpesona setiap orang merasa seakan-akan senyuman itu khusus ditujukan bagi dirinya.

Terdengar suara yang merdu bagaikan genta kembali berkumandang kedalam telinga setiap orang.

Karena toakoku berhasil merebut kursi Liok-lim Bengcu dari seluruh kolong langit kejadian ini membangkitkan kedengkian para jago Siauw lim serta Bu-tong terhadap dirinya karena kejadian itutToakoku baru menemui akhir yang demikian mengenaskan sampai kini jago-jago Siauw lim serta Bu-tong belum juga meluruk datang kemari justru disebabkan mereka sedang menyusun kekuatan baru kalau ini hari Cuwi sekalian tidak pergi besok hari mungkin susah untuk meninggalkan tempat ini.

Kita sadar bahwa kekuatan kita bakal tidak sanggup menandingi kekuatan lawan tetap tinggal disini hanya untuk mempertahakan suatu nama kosong belaka bukankah sama arti mencari kerepotan buat diri sendiri? kalian semua adalah anak buah toakoku selama ia masih hidup didunia karena itu aku sudi memberi nasehat kepada kalian semua mau menurut atau tidak aku tidak berani memaksa hal ini terserah pada kalian sendiri.

Selesai bicara ia melangkah turun dari kursi kebesaran dan lambat-lambat berlalu dari ruangan. Sementara itu Biauw Siok Lan diam-diam merasa heran bercampur terkejut atas ucapan Kok Han

Siang yang masuk akal dan sangat beralasan, segera pikirnya.

Tidak kusangka dia adalah seorang gadis yang demikian cerdik hanya sayang pada masa silam ia tak pernah mau berpikir dengan menggunakan otak sendiri setiap persoalan setiap rnasalah selalu membuntut saja atas keputusan Hu Pak Leng...

Hujien kau hendak pergi kemana? mendadak terdengar suara seseorang yang keras kasar dan gagah menggema datang.

Mendengar pertanyaan itu Kok Han Siang berhenti dan berpaling.

Dunia amat luas, kemana aku pergi belum bisa ditentukan mulai sekarang jawabnya.

ooooOoooo

20

SUARA yang keras, kasar dan gagah itu kembali berseru dengan suara keras.

Sepanjang aku Loo Ong hidup dikolong langit belum pernah menjumpai seorang enghiong gagah yang bijaksana dan berjiwa besar macam Hu Bengcu sekarang walaupun Hu Bengcu sudah meninggal rasa kagum dan hormat dari aku Loo Ong terhadap beliau sama sekali belum padam. Jikalau hujien ada maksud meninggalkan tempat ini, kami tiga bersaudarapun akan ikut meninggalkan lembah Mie Cong Kok entah hujien membutuhkan kami Loo Ong sekalian atau tidak???

Tidak perlu! jawab Kok Han Siang sambil tertawa sedih kembali ia melanjutkan langkahnya ke depan.

Hujien! Ong Toa Kang berteriak kembali keras-keras seandainya suatu ketika hujien lewat dikaki gunung Lauw san jangan lupa mampir dan beristirahat beberapa hari diperkampungan Sam Ih Cung kami.

Terima kasih atas kebaikan hatimu kalau ada kesempatan aku pasti akan pergi menyambangi kalian bertiga.

Hujien harap baik-baik berjaga diri ujar Lauw San Sam Hiong kemudian seraya menjura setelah itu mereka berpaling sambil ulapkan tangannya seketika muncul enam tujuh belas orang lelaki berpakaian singsat menghampiri mereka bertiga.

Yang kita sanjung adalah Hu Bengcu seru Ong Toa Kang sambil ulapkan tangannya sekarang beliau sudah wafat daripada hidup terkekang disini lebih baik kita susun masa depan kita yang cemerlang dalam rumah sendiri, ayo berangkat.

Wataknya memang kasar dan selamanya tidak pakai aturan selesai bicara tanpa berpaling lagi segera membawa saudara serta anak buahnya meninggalkan ruangan itu.

Huo Yen Ga sama sekali tidak turun tangan mencegah kepergian Lauw San Sam Hiong beserta anak buahnya seakan-akan ambisinya telah dibikin padam oleh beberapa patah kata dari Kok Han Siang barusan.

Mendadak Tiong It Hauw tertawa terbahak-bahak lalu ujarnya dengan suara keras. Hujien berjiwa besar dan rela berkorban. Kalau Huo-heng masih ingin meneruskan cita-citamu dengan gampang kursi Bengcu ini boleh kau ambil.

Air muka Huo Yen Ga berubah hebat bibirnya bergerak seperti mau bicara namun ia batalkan kembali maksudnya itu.

Kembali Tiong It Hauw tertawa terbahak-bahak?? serunya.

Semoga Huo-heng diberkahi usia panjang umur dan bisa membangun markas besar kaum Liok-lim ini menjadi pusat kekuatan terbesar dikolong langit bilamana berbasil Siauw-te tentu akan ikut berbangga hati.

Ia merandek lalu ulapkan tangan kanannya.

Siauw-te mohon diri terlebih dahulu! serunya, dengan langkah lebar ia berlalu keluar.

Para jago yang ada disebelah kiri berturut-turut meninggalkan tempatnya mengikuti dibelakang Tiong It Hauw keluar dari ruangan.

Mendadak Moay Siauw Beng maju dua langkah lebih cepat kepada Kok Han Siang bisiknya lirih. Enso benarkah kita hendak berlalu?

Gunung rudin lembah gersang buat apa kita harus tetap berdiam disini? Moay Siauw Beng tersenyum ujarnya.

Kalau benar kita sudah tidak maui tempit ini bagaimana kalau kita bakar saja tempat ini rata dengan tanah kemudian baru berlalu???

Sementara Kok Han Siang hendak menjawab, mendadak dari tempat kejauhan muncul seekor kuda yang dengan cepatnya bergerak mendekat.

Dengan sebat Moay Siauw Beng cabut keluar pedangnya dan berdiri dihadapan Kok Han Siang melindungi keselamatannya.

Tampak kuda itu dengan cepat mendekati Kok Han Siang dan berhenti empat lima depa dihadapannya, orang diatas pelana segera meloncat turun dan jatuhkan diri berlutut.

Benarkah toako sudah menemui ajalnya?? tanya orang itu.

Kok Han Siang merasakan hatinya jadi kecut titik-titik air mata jatuh berlinang. Ciang Hong kalian semua telah pergi kemana?

Ciang Hong tidak menjawab, sambil menahan isak tangis ia meratap.

Tidak disangka perpisahan selama tiga hari merupakan perpisahan sepanjang masa. Sekarang jenasah toako ada dimana?? enso cepat bawa aku pergi bersembahyang didepan nisannya!

Tak perlu disambangi lagi! Kok Han Siang menggeleng aku telah menyembunyikan jenasahnya disuatu tempat tertentu menunggu aku berhasil menangkap para pembunuh yang membinasakan dirinya, aku baru akan mengeluarkan jenasahnya dengan bunga harum dan buah-buahan batok manusia hati manusia untuk bersembahyang didepan batu nisannya.

Ciang Hong kelihatan tertegun sinar matanya di alihkan keatas wajah Kok Han Siang dan memandangnya tak berkedip selama beberapa waktu ia bungkam dalam seribu bahasa.

Wataknya ramah dan mengutamakan keadilan terhadap istri Hu Pak Leng yang cantik jetita ini ia menaruh rasa hormat belum pernah menaruh rasa hina barang sedikitpun tetapi saat ini secara mendadak ia menemukan Kok Han Siang yang ramah dan halus budi telah mengalami perubahan yang sangat besar. Eeeei... kenapa kau hanya memandang terus diriku? kenapa kau tidak bicara? tegur Kok Han Siang dengan suara lirih.

Bagaikan tersadar dari impian dengan cepat Ciang Hong tundukkan kepalanya rendah-rendah jawabnya dengan suara perlahan.

Aaai... kecerdikan toako tiada tandingan dikolong langit agaknya sejak beberapa hari berselang ia sudah tahu kalau dia bakal menjumpai peristiwa yang ada diluar dugaan!

Sungguhkah ucapanmu ini?? tanya Kok Han Siang keheranan.

Siauw-te tidak berani membohongi enso... jawab Ciang Hong dengan kepala tertunduk. Setelah merandek sejenak dan hela napas panjang tambahnya.

Bukankah hujien barusan bertanya selama ini kami telah pergi kemana??? Aaaaah benar!

Tiga hari berselang kami menerima perintah dari Bengcu untuk berangkat ke.....

Mendadak ia membungkam sinar matanya menyapu sekejap kearah Tiong It Hauw serta Moay Siauw Beng kemudian sambungnya.

Toako telah berpesan kepada Siauw-te bilamana tidak beruntung ia menjumpai suatu peristiwa diluar dugaan maka ia minta Siauw-te membawa hujien menuju ketempat yang telah ditetapkan bahkan meninggalkan pula sepucuk surat.....

Apa yang telah dikatakan dalam suratnya itu??? buru-buru Kok Han Siang menukas.

Dalam surat itu jelas tertulis bahwa surat ini harus dibuka sendiri oleh hujien, siauw-te sekalian tidak berani mengintipnya!.

Tiba-tiba Kok Han Siang mengucurkan air mata sambil angsurkan tangannya kedepan ia herkata. Cepat berikan kepadaku, aku hendak melihat apa yang ditulis toako dalam surat wasiatnya.....

Tentang soal ini, tentang soal ini.....

Sekonyong-konyong Moay Siauw Beng cabut keluar pedang mustikanya serentetan cahaya tajam dengan cepat menyapu lewat dari batok kepala Ciang Hong tukasnya dengan suara dingin.

Apa itu soal ini soal itu ayo cepat serahkan!.

Dengan gemas Ciang Hong melototi sekejap diri Moay Siauw Beng kemudian berpaling kearah Kok Han Siang dan berkata.

Toako berpesan surat itu baru boleh dibuka setelah tiba ditempat yang telah ditentukan, Siauw-te tidak berani membohongi enso dan akupun tidak berani membangkang pesan terakhir dari toako!

Menggunakan ujung bajunya Kok Han Siang membesut air mata yang membasahi wajahnya lalu katanya.

Coba kau keluarkan surat itu boleh bukan aku melihat tulisan dari toakoku almarhum??

Ciang Hong termenung sejenak, perlahan-lahan ia ambil keluar sepucuk surat dan diangkatnya tinggi- tinggi ketengah udara.

Silahkan Enso melihatnya!

Lama sekali sinar mata Kok Han Siang memperhatikan sampul surat itu akhirnya sambil menangis ia mendesis. Sedtkitpun tidak salah itu memang tulisan toako almarhum.....

Mendadak Moay Siauw Beng menerjang kedepan sekali loncat ia sambar surat tersebut. Sejak semula Ciang Hong sudah bikin persiapan sebat menyingkir kesamping.

Melihat sambarannya mengenai sasaran kosong Moay Siauw Beng segera ayunkan pedangnya menyapu kedepan serangan ini dilakukan cepat lagi telengas dalam sekejap mata sudah mengirim lima buah serangan berantai memaksa Ciang Hong mundur enam tujuh langkah kebelakang.

Melihat kejadian itu sepasang alis Kok Han Siang melentik bentaknya keras. Kau bocah liar ayo cepat berhenti!.

Dengan sebat Moay Siauw Beng menarik kembali pedangnya dan mundur lima langkah kebelakang ujarnya sambil tertawa.

Orang ini tidak mau mendengarkan perkataanmu apakah aku salah kalau membinasakannya???. Hmmm! kau manusia liar yang tidak tahu aturan lain kali mana bisa berjalan bersama-sama aku???

maki Kok Han Siang amat gusar.

Moay Siauw Beng garuk-garuk kepalanya sambil menyingkir dengan tersipu-sipu ia mengiakan.

Kau gembira memaki bagaimana maki saja kepadaku asalkan kau mengabulkan permintaanku untuk ikuti dirimu terus menerus!

Ciang Hong tidak kenal dengan Moay Siauw Beng namun melihat Kok Han Siang telah menegur bocah itu dengan kata-kata pedas iapun merasa tidak enak untuk bicara lebih banyak sambil tertawa hambar ujarnya.

Saudara cilik ini memiliki gerakan tubuh yang lincah dan gesit entah siapakah dia??.

Dia adalah sute dari toako usianya masih kecil dan tidak tahu banyak urusan lebih baik kau tak usah tarik urat dengan dirinya.

Tidak aneh kalau ia memiliki gerakan tubuh segesit ini kiranya bocah ini berasal dari satu perguruan dengan toako.

Moay Siauw Beng ingin membantah tetapi giginya yang sudah bergetar membungkam kembali.

Kok Han Siang berpaling memandang sekejap kearah para jago yang ada dibelakang Tiong It Hauw lalu katanya.

Apakah orang-orang itu akan mengikuti kita semua?

Kami menanti keputusan dari hujien seandainya tidak perlu menggunakan mereka lagi hamba segera akan membubarkan orang-orang ini.

Perlahan-lahan Kok Han Siang hela napas panjang,

Jejak kita selanjutnya harus dirahasiakan dan diliputi kabut misterius kalau harus membawa demikian banyak orang aku rasa malah kurang leluasa namun dikemudian hari kita harus membutuhkan pula tenaga mereka.

Kalau begitu hamba akan menyuruh mereka kembali dulu kedaerah Kiang Pak menanti dikemudian hari kita butuhkan kembali tenaganya barulah hamba berangkat untuk kumpulkan mereka lagi.

Baiklah kalau begitu kita lakukan demikian saja Kok Han Siang mengangguk. Setelah merandek sejenak ujarnya kambali.

Aku hendak pergi benahi pakaianku! sekalian bawa serta sang bocah kalian tunggu saja diluar lembah. Hujien! kata Tiong It Hauw. Walaupun Huo Yen Ga berhasil merebut kursi Liok-lim Bengcu namun orang ini amat berbahaya dan penuh dengan akal busuk hamba akan menanti disini saja sekalian untuk melindungi keselamatan hujien.

Mendengar ucapan ini cengli Kok Han Siang pun tidak bicara lagi sambil tersenyum ia berlalu. Biauw Siok Lan, Ban Ing Soat serta Moay Siauw Beng dengan kencang mengikuti dari belakang. Sepeninggalnya bcberapa orang itu Tiong It Hauw berpaling sekejap kearah Yu Ih Lok dan berkata.

Yu-heng mari kita sumbat jalan keluar dari ruang tengah jangan biarkan Huo Yen Ga beserta konco- konconya keluar dari sana.

Kekuatan Huo Yen Ga belum tentu lebih lemah dari kekuatan kita tukas Yu Ih Lok dengan cepat. Kalau sampai terjadi pertarungan kedua belah pihak lawan tidak mencari gara-gara dengan kita lebih baik kita jangan bergebrak secara gegabah.

Tiong It Hauw tidak bicara ia lantas ulapkan tangan kepada diri Ciang Hong. Ciang Leng heng harap kau menanti diluar lembah.

Ciang Hong segera menjura meloncat naik keatas kuda dan kaburkan binatang tunggangan itu keluar lembah.

Sepeninggalnya Ciang Hong, Tiong It Hauw bekerja keras membentuk sebuah barisan menghadang jalan pergi dari ruang tengah kemudian kepada Yu Ih Lok bisiknya.

Apakah Yu-heng masih ingin mengikut hujien?.

Tentang soal ini masih berada dalam pertimbangan Siauw-te. Tiong It Hauw menghela napas panjang iapun berkata.

Tempo dulu aku selalu menganggap dia sebagai malaikat yang suci bersih dan polos tapi sekarang...

Bukankah pandanganmu pada saat ini telah berubah? tukas Yu Ih Lok perempuan secantik bidadari macam dia bukan seorang nyonya yang baik untuk mendidik putra dia tidak lebih hanya sebuah benda yang mendatangkan kepuasan bagi pandangan setiap lelaki...

Kalau perkataan ini sih Siauw-te merasa kurang paham seumpama Hu Bengcu masih hidup dikolong langit enghiong hoohan mendapat bidadari cantik bukankah mereka adalah sepasang suami istri yang bahagia?.

Aaaai! benda mustika perempuan cantik paling mudah mendatangkan bencana. Sekalipun Hu Bengcu tidak mati Kok Han Siang pun sukar hidup berdampingan sampai tua dengan dirinya ini hari tiada bencana besok akan muncul kemurungan.

Siauw-te masih belum juga paham?.

Tiong-heng bisik Yu Ih Lok dengan suara lirih Siauw-te akan memperlihatkan satu contoh yang nyata harap setelah kuutarakan Tiong-heng jangan menyalahkan.

Tiong It Hauw adalah seorang manusia cerdik dari ucapan Yu Ih Lok burusan ia sudah dapat meraba maksudnya namun dengan pura-pura berlagak pilon katanya.

Silahkan Yu-heng mengutarakan contohmu itu.

Yu Ih Lok semakin perendah suranya dengan suara setengah berbisik ia berkata.

Seandainya Hu Bengcu masih hidup di kolong langit apakah Tiong-heng rela melihat mereka berdua hidup sampai akhir jaman dengan penuh kebahagian? ditinjau dari hal ini sudah cukup untuk membuktikan betapa banyaknya manusia yang secara diam-diam telah jatuh cinta kepada Kok Han Siang. Bicara sampai disitu mendadak ia membungkam dalam seribu bahasa.

Wajah Tiong It Hauw tertutup oleh kain kerudung hitam susah bagi orang lain untuk melihat bagaimanakah perubahan wajahnya.

Terdengar suara tertawa dingin yang sangat menusuk telinga berkumandang keluar dari balik kain kerudungnya kemudian disusul ia berkata.

Dewasa ini Hu Bengcu sudah meninggal dunia jago-jago gagah dari lembah Mie Cong Kok pun bagaikan asap tersebar luas diangkasa apabila Yu-heng ada maksud mengiringi hujien.....

Dalam masalah ini tak perlu Tiong-heng nasehati diriku, Siauw-te rasa masih mampu untuk mempertimbangkan dan memutuskan sendiri tukas Yu Ih Lok.

Siauw-te sangat berharap Yu-heng suka memandang diatas wajah Bengcu kita almarhum dan membantu hujien untuk menyelesaikan barapannya.

Oooow... kau tedang mewakili hujien untuk mohon bantuanku?? goda orang she Yu itu sambil tertawa.

Tiong It Hauw tidak bicara lagi, lambat-lambat kepalanya berpaling kembali kearah ruangan.

Dalam pada itu Huo Yen Ga sudah membagi anak buahnya jadi tiga rombongan tiap rombongan dipimpin oleh Leng Lam Jie Khie beserta dirinya ditinjau dari keadaan tesebut seolah-olah ia ada maksud untuk terjang keluar ruangan dengan kekerasan.

Mendadak Tiong It Hauw meloloskan golok lemasnya dari pinggang lalu dengan suara keras teriaknya.

Yu-heng orang lain sudah mencari gara-gara dengan kita, kita tak boleh mandah digebuk dan menyerah begitu saja.

Seraya berkata goloknya dikebaskan ketengah udara.

Tampak para jago yang ada diluar ruangan bersama-sama bergerak kedepan senjata tajam segera diloloskan dari sarung.

Dibawah sorotan sinar sang surya cahaya tajam gemerlapan menyilaukan mata suasana makin panas dan makin tegang setiap saat suatu pertarungan sengit bisa berlangsung.

Huo Yen Ga menyadari apabila ia nekad menerjang keluar dengan kekerasan pihaknya yang bakal mendeita rugi besar mendadak tangan kanan diangkat keatas dan digoyang-goyangkan berulang kali untuk menenangkan emosi para jago kemudian kepada Leng Lam Jie Khie ia berbisik lirih.

Tampak Leng Lam Jie Khie mengangguk tiada hentinya dengan langkah lebar mereka berjalan keluar dari ruangan.

Tiong-heng jangan perintah anak buahmu turun tangan buru-buru Yu Ih Lok berseru ketika dilihatnya suasana makin memuncak.

Sepasang pundak bergerak tubuhnya telah berebut kehadapan Tiong It Hauw kepada Leng Lam Jie Khie sapanya setelah menjura.

Harap kalian suka bersabar sebentar beberapa saat kemudian kami semua akan mengundurkan diri dari sini maaf apabila kalian beberapa orang harus menunggu sebentar didalam ruangan...

Si Kouw Poh Suo atau penggaet bayangan setan Song Thian Toh tidak mau tahu segera bentaknya.

Kalau kalian ada maksud untuk mengundurkan diri mengapa masih mengatur pula barisan semacam

itu. Inilah yang dinamakan lempengan besi menggunduli kambing timbrung Tiong It Hauw dengan suara keras kalau kalian berdua tidak percaya silahkan maju kedepan untuk mencobanya.

Dari pinggangnya Song Thian Toh melepaskan cambuk penggaet setan yang dilibatkan disana sementara tangan kirinya mencabut golok besar lalu berdiri tegak didepan pintu sahutnya sambil tertawa dingin.

Tiong-heng lebih baik kurangi sedikit silat lidahmu. Cayhe bukan manusia rongsokan yang mudah termakan siasatmu itu kalau kau punya nyali ayo cepat masuk kedalam ruangan dan bertarung mati-matian melawan aku.

Tiong It Hauw jadi panas hati ia berpaling ke belakang dan pesannya kepada Tan Boen Tan Boe dengan suara lirih.

Kalian persiapkan senjata rahasia jarum beracun mari kita terjang bersama-sama kedalam ruangan.

Walaupun ucapan ini diucapkan dengan suara lirih namun Yu Ih Lok yang berdiri tidak jauh di sisinya dapat mendengar ucapan itu dengan amat jelas ia segera bergeser selangkah kedepan cegahnya.

Tiong-heng demi hujien tidak seharusnya kau menempuh bahaya dengan percuma apalagi menyerbu sarang lawan.

Mengungkap soal Kok Han Siang, Tiong It Hauw seketika berdiri tertegun sedang dalam hati ia berpikir.

Sedikitpun tidak salah ilmu silat yang dimiliki Huo Yen Ga serta Leng Lam Jie Khie luar biasa sekali seandainya sampai terjadi pertarungan mati hidupku sukar ditentukan lagi.

Seandainya satu lawan satu sih tidak mengapa tapi kalau mereka tidak pegang peraturan dan turun tangan berbareng dengan satu lawan tiga dalam beberapa ratus gebrakan aku tentu akan terluka di tangan mereka kalau nyawaku lenyap sih tidak mengapa tapi bagaimana selanjutnya dengan hujien.

Karena berpikir demikian ia lantas menghentikan gerakannya.

Yu Ih Lok yang melihat orang itu betul-betul membatalkan niatnya dalam hati segera menghela napas panjang pikirnya.

Orang ini keras kepala gagah berani dan pantang menyerah sifatnya berangasan setiap pekerjaan yang hendak dilakukan siapapun susah untuk mencegahnya namun begitu aku mengungkap soal Kok Han Siang ia lantas menahan diri dan membatalkan niatnya tak disangka kecantikan hujien bisa mendatangkan pengaruh sedemikian besar.

Tiba-tiba terdengar suara bentrokan yang amat keras berkumandang datang disusul percikan potongan

kayu.

Air muka Yu Ih Lok berubah hebat pikirnya.

Celaka Huo Yen Ga telah memerintahkan anak buahnya untuk membobol jendela dan menerjang keluar. Waah... pertarungan ini mungkin susah dihindari lagi.

Sementara ia masih berpikir Tiong It Hauw telah turun tangan terlebih dahulu kepada Tan Boen serta Tan Boe pesannya.

Kalian pilihlah lima orang jago senjata rahasia dan berputarlah keruang belakang asalkan melihat mereka hendak membobol jendela segera sambut kedatangan mereka dengan sambitan senjata rahasia.

Tan Boen, Tan Boe mengiakkan masing-masing memilih lima orang ahli senjata rahasia dan berlalu. Melihat kejadian itu sekali lagi Yu Ih Lok menghela napas panjang katanya.

Tiong-heng apakah kau sudah bulatkan tekad untuk melakukan pertarungan. Urusan sudah berada diujung tanduk bukan melawan kita bakal konyol jikalau Yu-heng takut terseret dalam masalah ini sekarang menyingkirpun rasanya masih belum terlambat...

Beberapa kali teriakan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang dari tempat kejauhan. Dalam hati Tiong It Hauw sadar Tan Boen, Tan Boe beserta anak buahnya telah mulai turun tangan melukai orang golok lemasnya segera diayun ditengah udara dan membentak keras.

Pertarungan yang berlangung ini hari mempengaruhi mati hidup kita selanjutnya yang menang akan menduduki seluruh daerah Kang Lam siapa yang kalah akan tersisihkan dan tak dapat tancapkan kaki lagi dikolong langit.

Sebelum ia habis bicara mendadak terdengar suara bentakan keras Leng Lam Jie Khie bersama-sama meluruk datang.

Walaupun Yu Ih Lok tidak ingin bergebrak namun kejadian sudah ada diambang pintu terpaksa menerima datangnya serangan tersebut.

Walaupun begitu dia adalah seorang manusia cerdik dan banyak pengalaman melihat situasi tersebut ia tahu dirinya tak bakal bisa cuci tangan dari masalah ini sebab sejak semula Huo Yen Ga sudah menganggapnya sebagai konco Tiong It Hauw.

Karena itu senjata pit besi serta gembrengan tembaganya dikeluarkan sepasang pundak bergerak maju lebih dahulu menyambut datangnya serangan lawan.

Song Thian Toh menggetarkan tangan kanannya cambuk panggaet setan meluncur kedepan menyapu kepala lawan sebuah cambuk yang lemas termakan oleh tenaga murninya seketika mengeras laksana toya baja. Gembrengan Yu Ih Lok saling beradu menimbulkan suara keras dengan sebat ia kunci datangnya serangan cambuk badan miring kesamping dan menorobos maju kedepan.

Dengan gembrengan melindungi badan senjata pit besi menyerang musuh sebuah jurus Lok Pit Sin Hoa atau melepaskan pit memunahkan bunga digunakan cahaya tajam berkilauan menciptakan selapis bayangan pit secara terpisah namun bersamaan mengancam tiga buah jalan darah penting didepan dada Song Thian Toh.

Golok besar ditangan kiri Song Thian Toh menyapu keluar sejajar dada dengan gerakan Im Seng atau kabut muncul awan tumbuh diiringi suara berdentingan seluruh bayangan pit Yu Ih Lok yang menggasak datang dapat dihalau pergi.

Dalam sekejap mata masing-masing pihak telah saling menyerang satu jurus kemudian saling mendesak maju dan berhenti.

Dalam pada itu antara sitangan pencari sukma Pah Thian Ih serta Tiong It Hauw pun sudah berlangsung suatu pertarungan sengit Tiong It Hauw amat ganas sekali begitu turun tangan ia segera menerjang dengan segenap tenaga.

Cahaya golok berkilauan menciptakan selapis cahaya tajam laksana awan dan mirip pula kabut membabat membacok berusaha merebut posisi utama seketika memakan Pah Thian Ih terdesak mundur berulang kali.

Dalam pada itu barisan yang diatur Tiong It Hauw mulai bergerak tampak cahaya senjata yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi angkasa selapis demi selapis mengurung kedepan.

Karena Leng Lam Jie Khie terpandang oleh serangan balasan Yu Ih Lok serta Tiong It Hauw yang ganas mereka tertahan dipintu dengan demikian gerakan mereka terlambat bertindak orang-orang yang berada dibelakangnya dengan cepat menerjang keluar dari ruangan. 

Di tengah pertarungan sengit yang sedang berlangsung mendadak terdengar Huo Yen Ga membentak

keras.

Menyingkir! Serangan Leng Lam Jie Khie semakin terketat dengan sekuat tenaga mereka melancarkan tiga buah serangan berantai memaksa Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok mundur dua langkah dan terbukalah jalan keluar.

Sesosok bayangan manusia laksana kilat menerjang keluar dari dalam ruangan.

Tiba-tiba Tiong It Hauw melintangkan goloknya membabat kesamping memaksa Pah Thian Ih kembali mundur dua langkah kebelakang. Kemudian ia enjotkan badannya menyambut datangnya bayangan hitam yang sedang meluncur keluar dari ruangan.

Tubuh yang masih berada ditengah udara berjumpalitan beberapa kali goloknya berkelebat menusuk kedepan dengan gerakan Cuan Im Kie Gwat atau menembusi awan mengambil rembulan.

Sebelum orang itu melayang turun keatas permukaan tanah golok Tiong It Hauw telah membabat datang.

Terdengar orang itu mendengus dingin tubuh yang sedang meluncur kedepan tiba-tiba melayang kebawah pergelangan kanan diayun segulung cahaya hitam meluncur kedepan menghantam lambung Tiong It Hauw.

Ketika Tiong It Hauw merasakan serangannya mengenai sasaran kosong ia sadar pihak lawan tentu akan balas menyerang dengan suatu jurus serangan yang ganas dan telengas badannya dengan cepat ketengah udara bersalto beberapa kali dan mundur tujuh delapan depa kebelakang.

Dalam detik yang amat singkat para jago yang mengurung diempat penjuru telah menerjang semua kedepan golok tombak saling beradu dengan ganas menerjang Huo Yen Ga berbareng.

Semangat tempur Huo Yen Ga meledak cambuk lemas kepala ularnya diputar seratus delapan puluh derajat keseluruh kalangan diiringi desiran angin tajam, daya kekuatannya luar biasa terdengar suara bentrokan nyaring menggema diangkasa puluhan senjata tajam terpental pergi oleh tangkisan itu.

Detik sedikit terlambat para jago yang ada didalam ruangan bagaikan air bah telah menerobos keluar semua.

Kembali! mendadak terdengar Tiong It Hauw membentak keras.

Tangan kanannya diayun kedepan serentetan cahaya keperak-perakan laksana kilat meluncur ke depan.

Dengusan berat seketika saling bersahutan dalam waktu singkat ada tiga belas orang roboh binasa sedang sisanya karena dibikin pecah nyali oleh kedahsyatan jarum sakti pengejar sukma dari Tiong It Hauw yang amat beracun buru-buru lari balik kedalam ruangan.

Melihat serangannya mengenai sasaran dengan bangga Tiong It Hauw tertawa tergelak bentaknya.