Badai Dunia Persilatan Jilid 16

Jilid 16

KOK HAN SIANG segera tersenyum setelah melihat kejadian itu.

Jadi sejak dulu kau telah terpesona dan tergila-gila oleh kecantikan wajahku bukankah begitu? tanyanya lirih.

Tiong It Hauw termenung beberapa saat lamanya kemudian mengangguk.

Kecantikan wajah hujien tiada tandingan dikolong langit orang yang dibikin tergiur oleh kecanntikan wajah hujien bukan hamba seorang saja!.

Benarkah ucapanau itu?

Kenyataan benar-benar demikian setiap patah kata kuutarakan sejujur hati.

Aaaai.... kalau benar-benar demikian hal ini lebih bagus lagi seru Kok Han Siang sambil menghembuskan napas panjang.

Mendengar jawaban yang aneh ini Tiong It Hauw jadi tertegun. Apanya yang baik? tanyanya melengak.

Kok Han Siang hanya tersenyum.

Sekarang kau masih merasa lelah? tanyanya halus. Tidak lelah hujien ada urusan apa?.

Mari kita naik keatas puncak untuk mengubur jenasah toako. Sembari berkata selangkah demi selangkah ia merangkak naik keatas.

Setelah rasa mengantuk serta lelahnya lenyap semangat maupun kekuatan badan pulih kembail sekalipun begitu setelah merangkak naik sejauh puluhan tombak ia merasa badannya tidak sanggup melanjutkan usaha tersebut napas terengah-engah dan kaki jadi lemas semua.

Buru-buru Tiong It Hauw mengejar kesisinya.

Hujien perlukah hamba membimbing dirimu? tanyanya.

Kok Han Siang tersenyum dan berpaling perlahan-lahan ia letakkan tangannya keatas pundak Tiong It Hauw.

Aku benar-benar merasa lelah sahutnya halus untuk berjalanpun sudah tak sanggup lagi lebih baik kau bopong saja aku naik keatas.

Tiong It Hauw kaget bagaikan mendapat lotre nomor satu ia berdiri termangu-mangu tapi dengan cepat ia berseru kegirangan.

Hujien maafkan aku. aku berlaku kurang ajar!.

Dengan cepat ia peluk pinggang Kok Han Siang yang ramping dan menggendongnya penuh mesra setelah itu salurkan ilmu meringankan tubuhnya berlari naik keatas puncak. Agaknya ia ada maksud mempamerkan ilmu meringankan tubuhnya yang dimilikinya, tangan dan kaki dengan lincah bagaikan kera berkelebat naik keatas dalam sekejap mata ia telah mendaki sejauh ratusan tombak tingginya.

Melihat kehebatan itu Kok Han Siang tertawa dan memuji.

Oooooouw... kehebatan ilmu meringankan tubuhmu kecuali toakoku boleh dihitung kau merupakan manusia pertama yang paling lihay.

Aaaakh! hujien terlalu memuji.

Setibanya diatas puncak Tiong It Hauw meletakkan badan Kok Han Siang keatas tanah dan perempuan itupun dengan langkah lambat berjalan kesisi Hu Pak Leng bertutut dan berdoa dengan nada lirih. Sukma toako ada diatas semoga membantu aku balaskan dendam sakit hati ini.

Tiba-tiba suatu perasaan malu menjalar dalam wajahnya ia tertunduk rendah-rendah sedang dalam hati berpikir.

Jenasah Toakoku baru saja mendingin tapi aku telah biarkan orang lain memeluk tutuhku bagaimana mungkin aku punya muka menjumpai Toako lagi...

Namun pikiran ini hanya berkelebat sebentar saja dalam benaknya dan segera tersapu lenyap oleh kobaran dendam yang berkobar dalam dadanya.

Dengan langkah lebar Tiong It Hauw pun berjalan mendekat berlutut dan menjalankan tiga kali penghormatan besar terhadap jenasah Hu Pak Leng walaupun ia tidak mengucapkan sepatah katapun namun dalam hati kecilnya benar-benar merasa kagum dan menghormat enghiong hoohan berjiwa besar ini.

Ia merasa suatu perasaan tidak tenang meliputi seluruh benak karena itu dengan meminjam penghormatan besar ini ia ingin mengurangi sedikit perasaan tidak enak tersebut.

Sementara itu terdengar Kok Han Siang dengan suara halus namun lirih sedang berkata.

Kau boponglah jenasah Toakoku kedalam liang dan kuburlah dengan lapisan salju tersebut kubur makin tebal makin baik.

Walaupun suara tersebut lemah lembut menawan hati tetapi diantara nada suara tersebut terkandung suatu kekuatan yang mengandupg nada memerintah.

Perlahan-lahan Tiong It Hauw bangun berdiri melepaskan golok tipisnya dan mulai menggali lapisan salju sebanyak-banyaknya!

Dengan kesempurnaan tenaga lweekang yang dimiliki ditambah pula mendapat bantuan golok yang tajam dalam sekejap mata sudah terkumpul lapisan salju yang sangat banyak.

Tiong It Hauw tiba-tiba Kok Han Siang berseru sambil menghela napas panjang.

Suara panggilan itu amat halus merdu dan menawan hati Tiong It Hauw segera putar badan dan berjalan menghampiri dengan langkah lebar.

Hujien ada perintah apa?

Kalau kita kubur jenasah Toako disini entah badannya bisa rusak tidak?.

Tentang soal ini sukar dikatakan selama hidup hamba masih belum mempunyai pengalaman tentang soal ini...

Ia berhenti sebentar kemudian ujarnya lebih lanjut.

Namun tempat ini dinginnya luar biasa sepanjang tahun dilapisi oleh salju yang tebal menurut keadaan umum mungkin jenasah Hu Pak Leng tak akan jadi rusak. Kalau begitu kuburlah disana, kata Kok Han Siang setelah termenung sejenak. Semoga saja Thian melindungi badannya jangan sampai rusak.

Tiba-tiba suaranya berubah jadi sangat lirih dan halus sehingga tak terdengar apa yang diucapkan selanjutnya.

Tiong It Hauw segera meletakkan golok tipisnya keatas permukaan salju membopong jenasah Hu Pak Leng dan dimasukan kedalam liang tersebut sewaktu ia hendak menutupi liang itu dengan timbunan salju mendadak terdengar Kok Han Siang berseru.

Tunggu sebentar aku ingin turun dan melihat toako untuk penghabisan kalinya!. Perlahan-lahan ia berjalan mendekat meloncat masuk kedalam liang dan berseru sedih. Oooouw! toako...

Ia segera menubruk badannya memeluk beberapa saat lalu membereskan pakaiannya yang dikenakan suaminya almarhum.

Ketika jari tangannya membentur diatas dadanya mendadak ia temukan sesuatu segera diambilnya benda bulat itu yang ternyata merupakan sebutir permata sebesar kelereng.

Di atas permata itu terukir beberapa lukisan hanya sayang malam sangat gelap sehingsa susah memandang jelas ukiran apakah itu.

Diam-diam hatinya lantas berpikir.

Toako tidak meninggalkan benda kenangan apapun kepadaku permata ini sangat indah baik aku simpan saja dalam saku sehingga dikemudian hari kalau aku merindukan dirinya bisa mengambil benda ini sebagai kenangan.

Karena berpikir demikin ia lantas masukkan permata itu kedalam saku membereskan pakaian yang dikenakan Hu Pak Leng dan meloncat keluar dari liang kubur tersebut.

Sekarang boleh aku timbun liang tersebut dengan salju tanya Tiong It Hauw kemudian. Ehmmm! timbunlah!.

Tiong It Hauw segera bekerja keras memasukkan lapisan salju itu kedalam liang tidak selang beberapa saat kemudian liang tersebut telah tertutup oleh lapisan saiju.

Coba kau ambil pohon siong pendek itu dan alihkan kemari kata Kok Han Siang selanjutnya sambil menuding sebatang pohon siong pendek tumbuh beberapa tombak dari situ.

Tiong It Hauw pungut kembali goloknya dari atas tanah dan tertawa.

Waaah! kalau tak ada golok tajam yang bisa membacok putus besi ini ditengah daerah salju yang demikian kerasnya sekalipun hamba memiliki kepandaian silat lebih lihaypun akan sulit untuk memindahkan pohon siong tersebut kemari.

Dengan langkah lebih ia segera berjalan kesana dengan andalkan kekuatan goloknya ia cabut keluar pohon siong tersebut seakar-akarnya dan dibopong kemari.

Melihat hal tersebut Kok Han Siang tersenyum.

Sekarang tanamlah disisi liang kubur dimana jenasah Toakoku disimpan dikemudian hari kalau aku hendak memindahkan jenasahnya dengan mudah akan menemukan tempat tersebut.

Tiong It Hauw tidak buka suara ia menggerakkan goloknya dengan cepat membuat liang lalu menanam pohon siong tadi disisi liang kubur Hu Pak Leng. Walaupun kepandaian silatnya sangat lihay namun harus bekerja banyak urusan dalam keadaan dingin dan lapar tak urung ia dibikin kecapaian juga napasnya mulai terdengar terengah-engah.

Menanti ia telah selesai nanam pohon siong itu dengan langkah lambat Kok Han Siang baru berjalan mendekat sepasang matanya berputar jeli lalu ujarnya sambil tertawa.

Kau sudah bekerja keras apakah merasa sedikit lelah?

Walaupun merasa sedikit capai tapi tidak mengapa sahut Tiong It Hauw sambil menghembuskan napas panjang dan tertawa setelah beristirahat sebentar kekuatan akan pulih kembali seperti sedia kala tempat ini sangat dingin membekukan badan. Hujien tak boleh berdiam disini terlalu lama.....

Ia tahu perempuan ini tidak memiliki dasar tenaga dalam yang sempurna dalam keadaan hawa yang demikian dingin ia tak akan bertahan terlalu lama.

Mendengar ucapan itu sekali lagi Kok Han Siang tersenyum.

Sewaktu aku naik kemari sambil membopong Toako sedikitpun tidak terasa dingin dibadan sekarang aku memang ada sedikit merasa kedinginan mari kita turun kebawah.

Selesai berkata ia berjalan lebih dahulu menuju kebawah. Dengan cepat Tiong It Hauw mengejar kesisinya.

Hujien perlukah hamba menggendong dirimu lagi? tanyanya lirih Kok Han Siang berpaling dan tertawa lalu mengangguk.

Pada hari-hari biasa perempuan ini berhati suci walaupun kecantikan wajahnya tiada tandingan dan senyumannya menawan hati sekalipun semua orang terpesona oleh senyuman tersebut kebanyakan orang tidak berani menunjukkaa napsu jahat kepadanya semua orang kecantikan wajahnya amat menawan dan begitu suci...

Tetapi kesucian tersebut dalam sekejap mata telah lenyap tertutup oleh kobaran hawa dendam yang mecengkeram benaknya senyuman yang barusan dilontarkan kearah Tiong It Hauw mendatangkan suatu pengaruh yang luar biasa membuat napsu birahi pemuda itu berkobar.

Tiong It Hauw seketika dibikin terpesona seluruh perhatianya terhisap oleh senyuman manis itu tiba- tiba dengan sekuat tenaga menubruk kedepan dan memeluk pinggang Kok Han Siang erat-erat.

Gerakannya yang timbul karena kobaran napsu birahi ini bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa bahkan sangat buas dan bernapsu sedikitpun tiada meninggalkan rasa kasihan atau sayang.

Kok Han Siang yang pinggangnya kena dipeluk kencang-kencang segera menjerit kesakitan. Aduuuh... eeee perlahan sedikit hati-hati jangan memeluk pinggangku sampai putus.

Agaknya Tiong It Hauw segera tersadar kembali dan mengetahui gerakannya barusan sangat kasar buru-buru ia lepaskan pelukannya sambil tertawa penuh perasaan minta maaf!

Hamba bersalah dan patut dihukum mati apakah hujien marah?

Kalau aku marah takkan kubiarkan kau memeluk diriku ujar Kok Han Siang sambil tertawa kau telah menguburkan jenasah toako memindahkan pula pohon siong itu kesisi kuburan kau tentu merasa sangat lelah memeluk diriku sejenak tentu akan mendatangkan rasa hangat dihatimu, bukan begitu?

Aaaaai hujien apakah kau menaruh kasihan kepadaku? tiba-tiba Tiong It Hauw menghela napas panjang.

Kenapa?. Kok Han Siang tersenyum. Apakah kau tidak ingin menerima rasa kasihanku?

Mendadak Tiong It Hauw menundukkan kepalanya dan sekuat tenaga mencium bibir perempuan cantik tersebut kemudian ujarnya. Selama hidup cayhe dikolong langit selamanya tidak suka menerima belas kasihan dari orang lain kalau ucapan malam ini diutarakan dari mulut orang lain aku pasti akan hancur leburkan badannya saat ini juga.

Walaupun watak Kok Han Siang lambat mulai berubah menuju jalan sesat namun selama hidup belum pernah ia menjumpai peristiwa seperti ini seketika ia dibikin tertegun setelah merasa bibirnya dicium orang lain.

Reaksi pertama yang berkobar dalam dadanya adalah kobaran hawa amarah telapak tangannya tanpa terasa telah melayang memerseni sebuah tamparan keras keatas pipi Tiong It Hauw.

Plaaaak! Tamparan yang keras ini seketika membuat pipi Tiong It Hauw sembab membengkak serta meninggalkan lima buah bekas telapak tangan.

Sekalipun begitu mulut luka pada telapak Kok Han Siang pun seketika pecah kembali darah segar mengucur keluar membasahi permukaan.

Agaknya Tiong It Hauw pun merasa dirinya telah salah berbuat ia segera merdongak tertawa terbahak- bahak.

Apabila hujien merasa sebuah tamparan cukup untuk menghilangkan rasa jengkel dalam hatimu hamba rela menerima beberapa kali tamparammu lagi...

Lepaskan diriku! teriak Kok Han Siang keras-keras.

Dengan sekuat tenaga ia meronta coba melepaskan diri dari pelukan lelaki she Tiong ini.

Namun kekuatan Tiong It Hauw sangat besar walaupun dengan sekuat tenaga ia meronta namun tak berhasil juga melepaskan diri. Rasa sedih segera menyerang dalam benak tak kuasa lagi ia jatuhkan diri keatas pundak Tiong It Hauw dan menangis tersedu-sedu.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini sungguh berada diluar dugaan Tiong It Hauw seketika ia dibikin tidak tenteram dan bingung apa yang harus diperbuat pada saat ini.

Setelah termenung beberapa saat mendadak teringat olehnya tempat itu sangat dingin tak boleh di diami terlalu lama segera dipeluknya badan perempuan itu dan lari turun dari puncak.

Agaknya Kok Han Siang sedang diliputi oleh kesedihan yang memuncak ia hanya menangis tersedu- sedu terhadap badannya yang dibawa lari Tiong It Hauw ia tidak menggubris juga tidak bertanya.

Berturut-turut Tiong It Hauw membawa Kok Han Siang turun dari puncak tersebut setelah menemukan suatu tempat terlindung dari hembusan angin ia baru letakkan perempuan itu keatas tanah.

Hujien kau tak usah menangis lagi hiburnya lirih tingkah laku hamba terlalu kasar hamba rela menerima hukuman.

Perlahan-lahan Kok Han Siang mengusap air mata dengan ujung bajunya lalu menghela napas panjang.

Perbuatan ini bukan kesalahan kau seorang kalau aku tidak biarkan diriku kau peluk peristiwa inipun tak akan sampai terjadi katanya.

Tiba-tiba Tiong It Hauw mendongak tertawa terbahak-bahak.

Sejak semula hamba telah tergiur oleh kecantikan wajah hujien cayhe sadar dalam kehidupanku selanjutnya tak mungkin bisa menarik diri lagi...

Kau jangan panggil demikian padaku tukas Kok Han Siang. Tiong It Hauw melengak dan berhenti tertawa.

Lalu sebutan-sebutan apa yang harus kugunakan untuk membahasahi hujien..... Tiba-tiba ia berhenti dan berganti nada. Cayhe harus membasahi apa kepadamu??. Kok Han Siang menghela napas sedih.

Toakoku adalah seorang enghiong hoohan, seorang manusia berjiwa besar. Sebelum jenasahnya mendingin aku telah menghianati dirinya, aku sudah tidak punya muka untuk mengaku sebagai isterinya lagi, kau tetap memanggil diriku sebagai hujien bagaimana mungkin aku bisa menerimanya.....

Ia merandek sejenak lalu terusnya.

Kau panggil namaku saja Hu hujien telah mati hatinya telah ikut binasa dan terkubur disisi jenasah toakonya yang tertinggal saat ini hanya sesosok mayat hidup yang tiada berperasaan dan tiada berpikiran.

Tiong It Hauw mendongak memandang angkasa lalu menghembuskan napas panjang ia membungkam dalam seribu bahasa.

Tiong It Hauw tiba-tiba Kok Han Siang tertawa tergelak..... Tahukah kau apa sebabnya aku masih ingin hidup dikolong langit? apa sebabnya aku mau jadi sesosok mayat hidup tak berpikiran dan tak berperasaan? menangung siksaan berlaksa-laksa lebih hebat dari suatu kematian?.

Tentang soal ini cayhe tak dapat menebaknya.

Aku tetap mempertahankan rongga badanku ini tidak lain demi membalaskan dendam kematian suamiku aku hendak menggunakan cara yang paling rendah sekalipun untuk membinasakan orang yang telah mencelakai toakoku.

Kekuatan Siauw lim si serta Bu-tong pay sangat besar susah untuk menemukan kekuatan yang bisa menandingi kekuatan kedua partai tersebut apalagi kau adalah seorang perempuan lemah aku rasa bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Sekalipun harapanku ini tipis namun akan kuusahakan sekuat mungkin dan semampu mungkin.

Seandainya kau memiliki maksud ini, menurut pandanganku kau jangan bubarkan dulu kekuatan yang ada dalam lembah Mie Cong Kok sebagian besar merupakan manusia-manusia tak berguna, tiba-tiba Kok Han Siang berkata dengan suara lirih. Aku hendak memilih beberapa diantaranya yang memiliki ilmu silat lihay sisanya hendak kububarkan saja.

Aku rasa manusia-manusia ini binal susah ditaklukkan untuk menggunakan mereka bukan suatu pekerjaan gampang.

Soal itu, aku takkan mengurus! kini kau telah mengetahui maksud tujuanku, entah maukah kau membantu usahaku ini?

Tiong It Hauw termenung sebentar kemudian mengangguk. Aku rela berbakti dan mendampingi dirimu sampai mati.

Benarkah perkataanmu itu?? seru Kok Han Siang dengan alis berkerut.

Cayhe berwatak sombong dan ringgi hati kecuali guruku dikolong langit tak seorang manusiapun patut mendapat pujianku.....

Lain apa sebabnya kau tela membantu Toaka untuk merebut kursi Liok-lim Bengcu? Demi hujien!

Waktu itu toakoku masih hidup dan kitapun belum pernah saling berkenalan mana mungkin hal ini bisa terjadi? seru perempuan ini tercengang.

Dalam pertemuan pertama kali aku telah tergiur oleh kecantikan wajahmu. Aaaai... seandainya toakoku tidak mati apakah kau berani berbuat demikian kepadaku?.

Hu Bengcu adalah seorang lelaki sejati seorang manusia berjiwa besar dan mengutamakan kesetiaan kebajikan dan keadilan setelah cayhe bergaul beberapa saat deagan dirinya timbul rasa hormat dan kagum terhadap dirinya.

Ia merandek sejenak lalu terusnya.

Walaupun dia adalah seorang manusia patut di hormati patut dikagumi namun suruh cayhe rela berbakti dan jual nyawa buat dirinya hal ini merupakan suatu kejadian yang tidak mungkin.

Aaaai... sekarang aku paham sudah kau bicara pulang pergi tidak lebih dikarenakan diriku bukankah kau suka mendengarkan perintah Toako dan berbakti kepadanya disebabkan driku?.

Sedikitpun tidak salah selama hidup cayhe belum pernah tergiur atau terpesona oleh kecantikan perempuan. Siapa sangka setelah berjumpa dengan dirimu ternyata imamku goyah dan susah mengendalikan diri lagi.

Apakah kau sungguh-sungguh bersikap baik kepadaku? tiba-tiba air muka Kok Han Siang berubah serius.

Rasa cinta kasihku sedalam samudra dan takkan padam sekalipun telah menjadi mayat. Tahukah kau apakah akupun suka kepadamu?

Tentang soal ini hamba tak berani ambil kesimpulan secara sembarangan.

Kau menaruh cinta kasih yang murni kepadaku, aku tidak ingin membohongi dirimu lagi. Terus terang kukatakan rasa cinta kasihku yang murni telah ikut terkubur bersam-sama jenasah Toako selama hidupku kali ini tak akan kucintai lagi orang lain.

Mendadak Tiong It Hauw menghela napas panjang dengan sedih ujarnya. Apakah kau tidak menaruh rasa curiga dan sayang kepadaku barang sedikitpun??

Seumpama aku tidak menaruh rasa sayang cinta kepadamu, sekarang akupun tidak akan sudi mengucapkan beberapa patah kata jawab Kok Han Siang serius.

Ia mendongak memandang bintang yang bertaburan dilangit, kemudian dengan sedih terusnya.

Gouw Lan Ci Li walaupun dalam setahun hanya bisa bejumpa sekali saja namun sepanjang masa seratus tahun seribu tahun selalu kekal dan abadi pertemuan mereka tiada putusnya sedang Toako sia telah berpisah dengan aku untuk selamanya dunia roh dan dunia manusia terpisah sangat jauh sekali sampai kapan aku baru bisa saling berjumpa muka lagi dengan dirinya...

Agaknya Tiong It Hauw telah dipengaruhi oleh rasa cinta Kok Han Siang terhadap suaminya ia ikut merasa terharu dan iba, setelah menghela napas panjang ujarnya.

Hu Bengcu bisa memperoleh seorang istri yaug cantik dan begitu setia walaupun sudah berada di alam baka iapun seharusnya mati dengan mata meram seandainya akupun bisa mendapat cinta kasih seperti apa yang kau utarakan terhadap suamimu sekalipun badan harus hancur lebur aku tidak akan merasa menyesal.

Kok Han Siang tertawa pedih.

Mengingat kau telah menguburkan jenasah Toakoku aku tidak ingin membohongi dirimu ayo cepatlah bangun tentang budi kebaikanmu suka mengubur jenasah toakoku dikemudian hari pasti akan kubalas!

Perlahan-lahan ia putar badan dan berlalu lambat-lambat.

Tiong It Hauw menghela napas panjang melihat perempuan itu berlalu dengan cepat ia mengejar kedepan. Kau hendak pergi kemana?? tegurnya. Pergi mencari seseorang.

Siapa yang kau cari??

Mencari mereka-mereka yang bisa membantu aku untuk balaskan sakit hati toako!

Mencari jago yang bisa balaskan sakit hati toakomu?? seru Tiong It Hauw keras-keras. Haaa... haaa... menurut apa yang kuketahui dikolong langit dewasa ini tidak bakal ada manusia yang bisa menangkan para jago-jago lihay dari partai Siauw lim serta Bu-tong.

Ia merandek sejenak kemudian terusnya lagi.

Sekalipun ada orang-orang ini suka mengasingkan diri dari pergaulan manusia mereka tidak suka menampakkan diri kolong langit demikian luasnya kau seorang gadis yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dunia persilatan barang sedikitpun juga kau hendak pergi kemana menemukan mereka-mereka itu?.

Aku sudah paham dan mengerti harus pergi kemana mencari manusia-manusia seperti itu tentang hal ini kau tidak perlu merasa kuatir.

Mendadak Tiong It Hauw maju beberapa langkah kedepan menghadang jalan pergi perempaan itu, serunya.

Kau hendak berangkat sekarang juga? Apa yang harus kutunggu lagi?

Perjalananmu selanjutnya penuh dengan rintangan serta mara bahaya seumpama aku tadik menemani dirimu pergi mungkin untuk melewati gunung inipun kau tidak sanggup.

Mendengar ucapan itu Kok Han Siang tertawa.

Seorang pemuda dan seorang perempuan berkelana bersama-sama dalam dunia persilatan aku takut orang lain akan menganggap kita sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabok cinta... katanya.

Justru karena hal itu aku bisa membanggakan karena bisa memperoleh kekasih seorang gadis yang cantik jelita melebihi bidadari.

Namun keadaanku bertambah runyam orang lain akan menganggap aku sebagai kekasihmu dengan sendirinya mereka akan sungkan-sungkan mendekati diriku lalu kalau sampai terjadi begini kau suruh aku pergi kemana mencari jago-jago lihay yang bisa digunakan kepandaiannya untuk menuntut balas atas kematian Toakoku?

Seketika itu juga Tiong It Hauw dibikin tertegun sehabis mendengar perkataan yang diluar dugaan ini lama sekali ia berdiri termangu-mangu.

Dengan cara apa kau herdak pergi menemukan manusia-manusia tersebut?... akhirnya ia bertanya.

Perduli siapapun asalkan ia dapat membalaskan dendam sakit hati toakoku maka aku hendak menyerahkan tubuhku kepada orang itu.

Apa? teriak Tiong It Hauw tertegun disangkanya telinga sendiri telah dihinggapi penyakit parah. Kok Han Siang tertawa merdu.

Hatiku! perasaanku telah mengikuti Toako terkubur diatas puncak gunung, rasanya cintaku sudah membeku aku sudah hidup tanpa disertai rasa cinta lagi. Sekarang yang kau lihat dengan mata kepalamu bukan lain hanyalah sesosok tubuh kosong sesosok tubuh tanpa roh tanpa jiwa dan tanpa perasaan, aku sudah tidak mengenal apa yang dinamakan cinta asmara lagi aku tidak lebih hanya sesosok mayat hidup.

Air muka Tiong It Hauw seketika ini juga berubah hebat mendadak tangannya bergerak kedepan mencengkeram pergelangan tangan Kok Han Siang lalu dengan sekuat tenaga ditariknya kebelakang.

Kontan tubuh Kok Han Siang berputar keras sehingga ujung bajunya menderu-deru keras tertiup

angin.

Keadaan Kok Han Siang sama sekali berubah agaknya ia jauh lebih berani menghadapi kaum lelaki rasa malunya sudah lenyap sama sekali walaupun tarikan dari Tiong It Hauw barusan sangat keras sehingga hampir saja tubuhnya jatuh terjengkang namun wajahnya sama sekali tidak kelihatan memancarkan rasa takut.

Setelah menarik dua tiga putaran agaknya rasa gusar yang berkobar dalam hati Tiong It Hauw sudah jauh berkurang ia lepaskan cekalannya pada pergelangan Kok Han Siang dan tertawa dingin tiada hentinya.

Kau hendak jadi lonte? jadi sundal! baik! itu terserah pada kemauanmu sendiri mungkin memang jiwamu jiwa seorang lonte busuk teriaknya saking tak dapat menahan rasa dongkol didalam hati.

Tiba-tiba Kok Han Siang tersenyum manis lambat-lambat ia berjalan kedepan dan menarik Tiong It Hauw kedalam pelukannya lalu dengan halus dan lembut ia berkata.

Barusan asal kau lepaskan cekalamu maka niscaya badanku akan terbanting keatas tanah dan hancur berantakan.

Tiong It Hauw segera merasakan badan seorang gadis yang empuk hangat dan halus bersandar dalam dadanya senyuman manis laksana mekarnya bunga mawar menghiasi seluruh wajah perempuan cantik itu gesekan kulit menimbulkan rangsangan napsu yang berkobar-kobar seketika itu pula pikirannya jadi goncang rasa cinta yang sudah lama terpendam dalam dadanya kontan tak terkendalikan lagi bagaikan rombongan binatang liar dengan ganas mempengaruhi seluruh benak lelaki itu.

Terdengar ia menghela napas panjang sepasang lengannya dipentang lebar-lebar kemudian balas memeluk tubuh Kok Han Siang erat-erat dari sepasang matanya tak kuasa titik-titik air mata jatuh berlinang ujarnya dengan nada lirih.

Hamba rela tunduk dibawah gaunmu dan sepanjang masa jadi budak asalkan saja aku bisa selalu berada disampingmu dan mendengarkan perintahmu.

Kau sungguh-sungguh ingin mengikuti diriku? tanya Kok Han Siang sambil meronta dan melepaskan diri dari pelukan.

Seluruh tubuh Tiong It Hauw tergetar keras dadanya bagaikan digodam dengan martil berat suarapun kedengaran rada gemetar.

Semoga saja perintahku dapat dikabulkan.....

Kok Han Siang tersenyum, ujarnya.

Pada saat ini aku sedang mencari pembantu yang bisa balaskan dendam sakit hati toakoku perduli orang itu tua atau muda, ganteng atau jelek, asalkan dia bisa balaskan dendam kematian toakoku maka aku hendak menyerahkan diriku sebagai istri ataupun gundiknya. Seumpama kau hendak mengikuti diriku sepanjang masa dan sewaktu aku harus kawin dengan orang lain apakah hatimu tidak merasa sedih? Aaaaii...! selama ini kau selalu bersikap baik kepadaku karena itu aku baru menasehati dirimu dengan banyak perkataan, seandainya dalam hatiku tidak menaruh rasa cinta kepadamu, kau mengerti bukan?

Walaupun maksud baikmu bisa kuterima dihati tapi cinta kasihku padamu tiada putusnya sekali berpisah dengan kau satu ada di timur yang lain ada di barat siksaan pada waktu itu tentu susah ditahan olehku rasa rinduku kepadamu tentu berlipat-lipat ganda..... Hatiku sudah mati, cinta kasihku sudah padam saat ini diriku tidak lebih hanya sesosok mayat berjalan belaka, apakah kau hanya suka, hanya cinta akan kecantikan wajahku? Kata Kok Han Siang sambil tertawa.

Dengan sedih Tiong It Hauw menghela napas panjang.

Arak tidak memabokkan manusialah yang mencari mabok perempuan tidak mempesonakan manusialah yang terpesona terima kasih atas segala nasehatmu yang bermaksud baik tetapi aku sadar bahwa aku sudah tak dapat melepaskan diri lagi dari masalah ini.

Melihat kekerasan hati pemuda itu Kok Han Siang menghela napas panjang.

Aaaaai kalau memang kau sendiri yang ingin cari penderitaan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Demikian saja! ujar Tiong It Hauw setelah tundukkan kepala berpikir beberapa saat lamanya sebelum kau berhasil menemukan orang yang dapat membalaskan dendam kematian Hu Bengcu untuk sementara waktu cayhe akan mengiringi dirimu, pertama dengan ambil kesempatan ini aku bisa menikmati kecantikan wajahmu, kedua akupun akan bertindak sebagai pengawal pribadimu untuk sementara waktu.

Mendengar tawaran itu Kok Han Siang pun berpikir sebentar untuk kemudian ia mengangguk. Baiklah!

Pipinya yang halus dan menawan hati itu segera digeserkan kedepan.

Ketika pipi tadi menempel diatas pipi Tiong It Hauw lelaki itu seketika juga merasakan golakan darah dalam rongga dadanya berdetak semakin keras napsu birahi berkobar memuncak di seluruh badan tak kuasa lagi ia pentang tangannya lebar-lebar kemudian memeluk tubuh Kok Han Siang dengan penuh bernapsu.

Ketika Kok Han Siang melihat sepasang matanya merah membara wajahnya panas seperti disengat api ia terkesiap segera tegurnya keras-keras.

Tiong It Hauw! apa yang hendak kau lakukan?.

Kau sudah tiada bermaksud untuk menjaga kesucianmu terhadap Bengcu maka hamba ingin.....

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya mendadak terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang memotong ucapan yang belum selesai itu.

Haaa... haaa... haaa apa yang ingin kau lakukan? ayo cepat lepaskan Ensoku!.

Dengan sebat Tiong It Hauw berpaling tampak Moay Siauw Beng sambil mencekal pedang mustikanya selangkah demi selangkah berjalan mendekat dibelakang bocah itu mengikuti Yu Ih Lok, Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat.

Ban Ing Soat yang melihat Tiong It Hauw berbuat kurangajar terhadap diri Kok Han Siang hatinya amat gusar diam-diam ia merogoh kedalam sakunya mengambil keluar sebatang senjata rahasia perak. Ketika Tiong It Hauw melihat munculnya beberapa orang itu ia terkesiap buru-buru pelukannya dilepaskan dan segera meloncat mundur dari sisi perempuan tersebut.

Walaupun kain kerudung hatinya telah dilepaskan namun dandanan pakaiannya sama sekali tidak berubah di tengah malam butapun susah melihat jelas bagaimanakah raut mukanya sekilas pandang dalam keadaan tergesa-gesa semua orang dapat mengetahui kalau orang itu adalah Tiong It Hauw namun siapapun tak berhasil jelas bagaimanakah raut muka yang sebenarnya.

Menanti ia telah. melepaskan Kok Han Siang dari dalam pelukan Ban Ing Soat membentak keras tangannya segera diayun kedepan melancarkan sebatang senjata rahasia kemuka.

Serentetan cahaya keperak-perakan dengan disertai desiran angin tajam segera menebusi angkasa berkelebat kedepan. Untuk melepaskan golok lemasnya yang tergantung dipinggang sudah tidak sempat lagi Tiong It Hauw segera ayunkan telapaknya menghantam kearah senjata rahasia tersebut.

Segulung angin pukulan yang maha kuat dengan cepat menggulung keluar. Senjata rahasia Bin Ing Soat begitu termakan oleh tumpukan hawa pukulan tersebut seketika menceng kesamping dan berkelebat lewat dari sisi tubuhnya.

Sementara itu Moay Siauw Beng dengan pedang terhunus telah berjalan kesisi Tiong It Hauw sambil menuding lelaki tua dengan ujung pedangnya ia berseru.

Ayo cepat loloskan senjata tajammu!

Tiong It Hauw pernah punya pengalaman sewaktu bergebrak melawan bocah ini, ia tahu ilmu pedang yang dimiliki bocah she Moay ini sudah mencapai titik kesempurnaan, seumpama ia harus melawan dengan tangan kosong maka kesempatan untuk merebut kemenangan tipis sekali.

Karena itu tanpa pikir panjang lagi golok lemasnya segera dicabut keluar jawabnya dengan nada dingin.

Lebih baik malam ini kita bisa bergebrak sampai salah satu diantara kita berhasil menentukan menang

kalah.

Bagus sekali! Teriak Moay Siauw Beng sambil tertawa.

Pedangnya segera berkelebat kedepan melancarkan sebuah tusukan dengan gerakan Thian Wuay Lay Im atau luar langit mega mendekat.

Tiong It Hauw membentak keras goloknya dengan melintang menyapu keatas. Traaang! golok dan pedang saling berbentrokan keras menimbulkan percikan bunga-bunga api pedang mustika ditangan Moay Siauw Beng seketika terpapas putus sebesar setengah depa, Ban Ing Soat yang ada disi kalangan merasa amat berci dan mendendam terhadap Tiong It Hauw karena sikapnya yang kurang ajar atas diri Kok Han Siang iapun tahu ilmu silat lelaki itu sangat lihay karena takut Moay Siauw Beng menderita rugi dalam soal senjata tajam dengan cepat pedang mustika yang tersoren dipunggungnya dilepaskan.

Cepat terima senjataku ini! teriaknya keras-keras.

Dalam pada itu Moay Siauw Beng telah tertawa terbahak-bahak.

Haaa... haaa... golokmu itu lumayan juga! serunya memuji. Potong pedang yang ada tangannya segera dihantamkan kedepan menghajar pedang mustika yang dilempar oleh Ban Ing Soat barusan sehingga senjata itu menceng kearah Tiong It Hauw.

Dengan tenaga sambitan Ban Ing Soat ditambah pula dengan tenaga babatan Moay Siauw Beng barusan gerakan daya luncur pedang itupun bertambah berlipat ganda.

Golok tipis Tiong It Hauw segera diayun kedepan memukul rontok pedang yang menerjang kearahnya, sementara siap berebut menyerang kedepan mendadak Moay Siauw Beng ayun pergelangan tangannya sisa pedang yang ada dalam genggaman dengan digunakan sebagai senjata rahasia di sambit kedepan.

Tindakannya menggunakan potongan pedang mustika sebagai senjata rahasia jauh diluar Tiong It Hauw, ia kelihatan jadi tertegun dibuatnya setelah berhasil memukul rontok kutungan pedang itu bentaknya dingin.

Bocah cilik yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, dan hendak melawan pedang mustikaku dengan tangan kosong?

Waaah... kalau harus begitu akulah yang bakal menderita kerugian besar, jawab Moay Siauw Beng sambil tersenyum. Tangan kanannya diayun kedepan tiba-tiba serentetan cahaya hitam menyapu keluar dari arah pinggangnya entah sejak kapan ia telah melepaskan semacam senjata lagi dari tubuhnya.

Ketika Bang Ing Soat melihat bocah itu menyampok pergi pedangnya yang ia lemparkan kedepan dalam hati merasa sangat dongkol, diam-diam makinya.

Hmmm! manusia yang tidak tahu diri.....

Tetapi sekilas kemudian ia melihat ditangan bocah itu telah bertambah dengan sebuah senjata aneh sepanjang delapan sembilan depa berwarna hitam pekat dengan sebesar jari tangan dan bentuknya mirip cambuk lemas dalam hati baru merasa geli pikirnya.

Oooouw... ternyata dalam saku bocah ini masih menggembol senjata aneh lainnya memang dasar akulah yang suka mencari banyak urusan!

Sementara itu sambil menggerakkan goloknya berebut menyerang Tiong It Hauw memperhatikan pula apa yang ia gunakan.

Tampak olehnya senjata tersebut lunak dan halus seperti serat namun tidak mirip pula cambuk lemas terbuat dari bahan emas bahkan senjata itu agaknya tidak takut dengan ketajaman golok mustikanya setiap serangan disambut dengan keras lawan keras gerakannya lincah dan sebentar bergerak ke sisi sebentar pindah kesana dengan perubahan yang luar biasa baiknya sungguh hebat sekali.

Kok Han Siang yang ada disisi kalangan dengan sepasang mata terbelalak besar-besar memperhatikan pertarungan antara kedua orang itu mulutnya tetap membungkam sementara seluruh perhatiannya telah dicurahkan kedalam kalangan untuk melihat siapakah yang bakal unggul dalam pertarungan ini.

Dengan langkah ringan Biauw Siok Lan berjalan mendekati Kok Han Siang lalu bisiknya lirih.

Hujien kenapa kau tidak cegah perkelahian antara mereka berdua? kalau diantara mereka berdua saling bergebrak terus menerus maka salah satu diantaranya tentu akan terluka atau bahkan menemui ajalnya?.

Siapa sangka Kok Han Siang hanya mandah tersenyum belaka jawabnya.

Aku ingin melihat mereka bertarung sampai salah satu diantaranya menang akan kulihat kepandaian siapakah diantara mereka berdua yang jauh lebih lihay.

Oleh ucapan tersebut Biauw Siok Lan kontan dibikin tertegun.

Ilmu silat mereka berdua seimbang segera ujarnya! perduli siapapun diantara mereka menang pihak yang lainpun tidak bakal bisa menarik keuntungan dari kemenangan tersebut.

Kalau begitu kita bicara lagi setelah diantara mereka berhasil ditentukan siapa menang siapa kalah tukas Kok Han Siang sambil tertawa dalam jawabannya kali ini ia berpalingpun tidak.

Dalam pada itu pertarungan antara Tiong It Hauw melawan Moay Siauw Beng telah mencapai puncak ketegangan.

Masing-masing pihak telah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk saling beradu cahaya golok Tiong It Hauw dengan menciptakan serentetan cahaya putih mengurung seluruh tubuh Moay Siauw Beng dalam lingkaran kepungan.

Namun cambuk lemas Moay Siauw Beng yang sangat aneh itu beterbangan kian kemari sebentar berputar kekanan sebentar meluncur kekiri penjagaan serta pertahanannya amat ketat sekali.

Kendati permainan ilmu golok Tiong It Hauw amat ketat telengas dan ganas serangannya dahsyat dan bertubi-tubi Moay Siauw Beng sama sekali tidak kelihatan menunjukkan tanda-tanda menderita kalah.

Pertarungan ini berjalan dengan serunya bahkan boleh dikata suatu pertarungan memperebutkan antara mati dan hidup namun apa sebenarnya yang mereka perebutkan? setiap orang merasa bimbang dan tak mengerti. Setiap hadirin yang menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan mempunyai perasaan hati yang berbeda Kok Han Siang berharap dan melihat siapakah diantara mereka berdua yang berhasil menentukan menang kalah dan kepandaian siapakah yang jauh lebih hebat.

Sebaliknya Ban Ing Soat sangat berharap Tiong It Hauw cepat-cepat menderita kekalahan total atau bahkan terluka dan binasa ditangan Moay Siauw Beng si bocah berandal tersebut.

Sedangkan Yu Ih Lok telah terjerumus dalam ketegangan seluruh perhatiannya dipusatkan kedalam kalangan untuk melihat jurus-jurus serangan yang digunakan kedua orang itu dalam usahanya saling merobohkan pihak lawannya saking kesemsemnya ia sampai lupa untuk melerai perkelahian itu.

Biauw Siok Lan cerdik dan paling matang pikirannya diantara beberapa orang itu secara lapat-lapat ia dapat menangkap bahwasanya pertarungan mati-matian ini penuh diliputi oleh kedengkian keirian serta rasa cemburu yang berkobar-kobar.

Terutama sekali tindakan Tiong It Hauw yang sudi melepaskan kain kerudung hitamnya kejadian ini menunjukkan keluarbiasaan atau dengan perkataan lain dalam waktu beberapa saat berselang antara dia dengan Kok Han Siang telah melakukan suatu perbuatan.....

Kok Han Siang yang selama ini ramah tamah serta penuh welas kasih secara tiba-tiba berubah ganas keji dan tidak berperikemanusiaan menghadapi suatu pertarungan mati-matian, antara kawan sendiri bukan saja ia harya duduk menonton harimau bertarung, bahkan ia ingin melihat salah satu bahkan kedua-duanya mengucurkan darah demi memperebutkan dirinya apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan sukar diduga...

Di tengah pertarungan yang berjalan amat sengit itu mendadak Tiong It Hauw membentak keras. Lepas tangan!

Permainan ilmu goloknya diperkencang. Sreeeet! Sreeet! Sreeet! berturut-turut ia mengirim tiga buah babatan berantai.

Sedikitpun tidak salah Moay Siauw Beng benar-benar kena didesak mundur dua langkah kebelakang oleh babatan berantai yang amat ganas tersebut, pundak kanan serta kaki kirinya masing-masing sudah terkena sebuah bacokan golok darah segar mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Bocah yang berusia muda dan berwajah bersih ini agaknya pada dasar memiliki watak ganas keji dan telengas ketika darah segar mengucur keluar dari kedua mulut lukanya melirik sekejap atau membesut darah itupun tidak, dengan pusatkan seluruh perhatiannya ia berdiri tegak sepasang mata melotot bulat-bulat dan dipusatkan ketubuh Tiong It Hauw agaknya hawa murni sedang disalurkan mengelilingi seluruh tubuh dan coba menahan kobaran api amarah yang sedang bergolak didalam dada...

Heeee... heeee suatu ilmu golok yang amat bagus terdengar ia menjengek sambil tertawa dingin.

Mendadak sepasang pergelangannya digetar keras cambuk lemas yang ada ditangan disapu kedepan seketika itu juga Tiong It Hauw jatuh terjengkang keatas tanah.

Walaupun Tiong It Hauw jatuh terjengkang keatas tanah tetapi ia belum dapat melihat jelas juga gerakan apa yang digunakan Moay Siauw Beng berusaha hatinya jadi kaget dan terkesiap pikirnya.

Entah dari mana datangnya bocah ini?? bukan saja ilmu pedangnya memiliki kesempurnaan yang memuncak bahkan tenaga dalam yang dimilikinya melebihi keberhasilan menurut usianya senjata aneh macam cambuk bukan, cambuk ini bukan saja jurus serangannya aneh perubahannya sukar diduga kelihatannya siapa yang bakal menderita kalah pada ini hari sukar diduga mulai sekarang aku harus berhati- hati!.

Hawa murni segera disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh badan golok mustikanya digetarkan kebawah untuk melindungi tubuh bagian bawah karena ia takut Moay Siauw Beng kembali melancarkan sebuah jurus serangan yang aneh sehingga membuat ia jatuh terjungkal keatas tanah.

Pada saat itulah mendadak Kok Han Siang maju kedepan dan berdiri diantara mereka berdua ujarnya. Sudah! sudahlah, kalian tak usah melanjutkan pertarungan ini ayo cepat simpan kembali semua senjata tajam kalian.

Mendengar teguran itu baik Tiong It Hauw maupun Moay Siauw Beng sama-sama berpaling dan memandang sekejap kearah Kok Han Siang, kemudian senjata tajam yang ada ditanganpun disimpan kembali.

Menanti senjata tajam mereka berdua sudah disimpan kembali Kok Han Siang baru berpaling kearah Moay Siauw Beng dan berkata sambil tertawa.

Dia berhasil menusuk badanmu dua kali sementara kaupun berhasil menjungkir balikkan dirinya kalau di hitung-hitung dalam pertarungan kali ini siapapun tidak berhasil merebut kemenangan dan siapapun tidak berhasil dikalahkan.

Moay Siauw Beng tersenyum ia bungkam tidak berbicara sebaliknya malah duduk bersila keatas tanah, dari dalam sakunya ambil keluar sebungkus bubuk obat luka luar dan membalut sendiri mulut-mulut luka itu kemudian baru pejamkan mata mengatur pernapasan.

Walaupun wataknya kaku dan keras kepala berhubung darah segar yang mengalir keluar terlalu banyak lama kelamaan kekuatan badannya tak sanggup juga untuk menahan diri.

Mendadak dari pinggangnya Tiong It Hauw ambil keluar kain kerudung hitamnya dan segera dikenakan di wajah, kemudian putar badan berlalu.

Melihat lelaki itu hendak berlalu Yu Ih Lok segera berteriak keras.

Tiong-heng harap tunggu sebentar Siauw-te ada urusan penting yang hendak disampaikan kepadamu. Namun Tiong It Hauw tidak berpaling sambil meneruskan langkahnya ia berkata.

Yu-heng harap kau suka mengingat-ingat akan keganasan serta kebesaran jiwa Bengcu kami dan baik menjaga keselamatan hujien.

Perpisahan kita pada hari ini mungkin bisa bertemu kembali dikemudian hari...

Menanti ia menyelesaikan kata-kata itu tubuhnya sudah berada empat lima tombak jauhnya dari kalangan.

Di tengah malam buta secara lapat-lapat hanya kelihatan sesosok bayangan hitam kian menjauh dari

situ.

Sekilas waktu yang amat singkat itu mendadak Kok Han Siang merasa tidak seharusnya membiarkan orang itu berlalu tiba-tiba ia membentak keras.

Tiong It Hauw cepat berhenti.

Bayangan hitam yang tinggal setitik noda itu benar-benar berhenti kemudian disusul suara sahutan dari tempat kejauhan.

Hujien kau ada urusan apa lagi?.

Aku ada perkataan yang hendak kuutarakan kepadamu! teriak Kok Han Siang. Sambil berseru lambat-lambat ia berjalan kedepan.

Ban Ing Soat yang selama ini selalu menguatirkan keselamatan bibinya melihat Kok Han Siang berlalu buru-buru ia pungut kembali pedang mustikanya dari atas tanah dan memburu kedepan.

Tetapi sewaktu Kok Han Siang mendengar ada suara langkah manusia mengikuti dari belakang tubuhnya tiba-tiba ia berpaling dan menukas.

Berhenti! jangan kau ikuti diriku. Mendengar teguran tersebut Ban Ing Soat tertegun terpaksa ia menghentikan langkahnya.

Tiba-tiba Kok Han Siang mempercepat langkah kakinya menuju kesisi Tiong It Hauw tangannya dengan halus melepaskan kain kerudung hitam yang menutupi wajahnya perlahan-lahan pejam mata dan menghantarkan bibirnya yang kecil mungil serta berwarna merah merekah itu kedepan.

Benarkah kau hendak berlalu dari sisiku? tanyanya halus.

Ada si bocah cilik serta Yu Ih Lok yang melindungimu aku rasa tempat ini sudah tidak membutuhkan tenagaku lagi.

Mendengar ucapan itu Kok Han Siang segera tersenyum manis ujarnya :

Bocah itu tidak lebih baru berusia tiga empat belas tahunan ia belum tahu kesopanan dan situasi dunia persilatan buat apa karena urusan anak kecil kau harus memisahkan diri?.

Dengan penuh kemesraan ia menghantarkan bibirnya yang kecil itu kedepan dan mencium bibir Tiong It Hauw dengan kehangatan setelah itu sambungnya.

Sekarang kau masih ingin pergi?.

Mencium bau gadis itu yang merangsang napsu Tiong It Hauw serasa dibuat mabok dan terbuai oleh api asmara seketika ia menghela napas panjang dan menggeleng.

Aku tidak akan pergi lagi.

Dalam pada itu Yu Ih Lok, Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat telah menyusul datang semua.

Perawakan Kok Han Siang yang kecil mungil di tambah harus berdiri sejajar dengan Tiong It Hauw hal ini boleh dikata seluruh badannya telah tertutup oleh kekekaran badan lelaki tersebut dengan sendirinya perbuatan sang gadis mencium Tiong It Hauw pun tertutup sama sekali.

Dengan langkah lebar Yu Ih Lok berjalan maju kedepan setelah menjura ujarnya.

Tiong-heng harap kau suka memandang wajah Bengcu kita yang telah tiada untuk suka melepaskan kejadian ini hari dan tidak menyusahkan hujien lagi.

Ia merandek sejenak uatuk menghela napas panjang kemudian sambungnya lebih jauh.

Huo Yen Ga mengandung maksud-maksud tidak beres ia sudah lama mengincar kedudukan kursi Bengcu apabila Tiong-heng tetap bergabung dengan kita hal ini sedikit banyak akan memaksa dia berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu tindakan, atau paling sedikit tidak berani turun tangan secara gegabah terhadap kita orang dengan demikian kitapun tidak usah mandah menerima perintah mereka.

Jikalau demikian adanya baiklah Siauw-te ambil keputusan untuk tetap berada disini, kata Tiong It Hauw sambil tersenyum.

ooooOoooo

19

MENDENGAR keputusan yang diambil begitu cepat Yu Ih Lok malahan dibikin tertegun dan setengah harian lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun juga pikirnya dalam hati.

Selamanya orang ini berwatak tinggi hati dan sombong setiap perkataannya tak pernah diubah kembali kenapa ini hari ia begitu penurut padahal aku baru saja buka suara untuk menasehati dirinya semula aku mengira harus banyak menggunakan waktu dan perkataan untuk paksa menahan dirinya tidak disangka urusan berhasil dengan begitu gampang dan tanpa membuang banyak waktu.

Sepasang biji mata Kok Han Siang yang indah mengerling sekejap kearah beberapa orang lalu sambil tertawa ujaraya.

Mari kita cepat-cepat kembali kedalam lembah.

Biauw Siok Lan yang selama ini memperhatikan gerak gerik gadis tersebut pada saat ini dapat melihat air muka Kok Han Siang penuh dihiasi dengan senyuman manis bahkan seakan-akan sama sekali tidak tercermin rasa sedih dan berduka akan kehilangan suami yang tercinta ia jadi keheranan setengah mati hanya saja sebagai seorang bawahan ia merasa tidak enak untuk bertanya lebih jauh karena itu ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan dipimpin Kok Han Siang mereka berjalan kembali kedalam lembah sepanjang perjalanan antara Biauw Siok Lan, Ban Ing Soat, Yu Ih Lok serta Tiong It Hauw tak seorangpun yang buka suara.

Berjalan beberapa saat mendadak Kok Han Siang berhenti dan balik kehadapan Moay Siauw Beng yang pada waktu itu masih duduk bersila diatas tanah.

Eeeei... kau sudah selesai mengatur pernapasan tegurnya.

Mendengar teguran itu Moay Siauw Beng segera meloncat bangun jawabnya sambil tertawa. Sejak tadi aku sudah sehat kembali.

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan kearah Tiong It Hauw lalu jengeknya dingin.

Hey bukankah kau bilang mau pergi dari sini, kenapa masih belum pergi juga?? kalau kita selalu berada jadi satu pada suatu hari mungkin akan melangsungkan suatu pertarungan antara mati dan hidup.

Setiap saat akan kulayani permintaanmu! seru Tiong It Hauw sengaja berjalan kesisi Moay Siauw Beng dan bertanya dengan penuh perhatian.

Darah mengalir dari mulut luka perlukah aku membalutkan luka-lukamu itu.

Sepasang biji mata Moay Siauw Beng mengerling sejenak kearah Ban Ing Soat kemudian jawabnya singkat.

Tidak perlu!

Selesai bicara ia melengos dan berdiri disisi Kok Han Siang.

Ketanggor batunya merah padam selembar wajah Ban Ing Soat dengan tersipu-sipu ia tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Walaupun usia Moay Siauw Beng masih kecil namun Ban Ing Soat sendiripun merupakan seorang gadis remaja yang berusia delapan sembilan tahunan dihadapan umum ia ketanggor batunya dalam hati merasa malu dan gusar diam-diam makinya dalam hati.

Anak jadah! Hmmm! kau tak tahu diri hati-hati kau dikemudian hari pasti akan kubalas sakit hati ini.

Biauw Siok Lan mengerti betapa malunya Ban Ing Soat yang ketanggor batunya dihadapan umum ia segera maju kedepan menarik pergelangan gadis itu dan ditarik kesisinya.

Tahukah kau dimana jenasah Bengcu dikubur? tanyanya lirih. Tidak tahu! mari kita tanyakan pada bibi.

Biauw Siok Lan pada mulanya ada maksud memencarkan perhatian Ban Ing Soat kereaa ia takut dalam keadaan gusar gadis itu bisa turun tangan menghantam diri Moay Siauw Beng. Karena itu sambil tertawa ia segera menggeleng katanya.

Mungkin berada didepan sana nanti saja seandainya tidak melihat baru kita bertanya lagi pada hujien. Ban Ing Soat tidak banyak bicara lagi ketika ia meadongak tampak Kok Han Siang serta Tiong It

Hauw sekalian telah berada dua tiga tombak jauhnya dari mereka ia segera menghela napas ringan ujarnya pada diri Biauw Siok Lan dengan suara berbisik.

Enci Lan bibiku rada berubah!

Tidak salah hujien memang rada berubah! Ban Ing Soat tertawa sedih katanya.

Kini paman Hu sudah meninggal dunia akupun tidak bearti lagi untuk tetap berdiam dalam lembah Mie Cong Kok nanti setelah kita kembali kedalam lembab aku akan segera membereskan pakaianku.

Mendengar perkataan tersebut Biauw Siok Lan kelihatan rada tertegun dari nada ucapan sang gadis yang baru saja menginjak kedewasaan ini ia dapat menangkap suatu kerisauan yang hebat dalam hati gadis tersebut dalam hati lantas pikirnya.

Mungkinkah si nona kecil yang baru saja menanjak kedewasaan inipun menaruh rasa cinta terhadap diri Hu Pak Leng??.

Walaupun dalam hati merasa amat terkejut bercampur tercengang namun diluaran ia menunjukan perasaan tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu hal pun sambil tersenyum tanyanya.

Kau hendak pergi kemana?? Aaaai... dunia persilatan penuh dengan mara bahaya kau seorang gadis muda yang sama sekali tak berpengalaman mana bisa melakukan perjalanan seorang diri dalam dunia kangouw???

Ban Ing Soat memperlambat langkahnya sehingga jarak antara mereka dengan Kok Han Siang terpaut semakin jauh suara ucapanpun makin lama semakin rendah dan datar kembali ujarnya dengan nada sedih.

Ayahku mati ditangan Ci Yang Toojien dari partai Bu-tong karena sebatang kara aku lantas mengikuti paman Hu pada mulanya aku ada maksud hendak balaskan dendam kematian ayahku. Namun sekarang harapanku telah punah sama sekali sebelum jenasah paman Hu mendingin dalam lembah Mie Cong Kok telah terjadi kekalutan yang demikian hebatnya. Apa gunanya aku tetap berdiam di sini? bukan saja tak dapat kubalaskan dendam kematian ayahku murgkin diriku bakal terseret pula oleh kekacauan tersebut...

Sewaktu pertama kali aku tiba dilembah Mie Cong Kok. Ketika itu aku sudah dapat melihat bahwasanya markas besar dari para jago Liok-lim dari kolong langit ini dalam kenyataan tidak lebih hanya sebuah poci yang sudah retak, keretakan tersebut dengan paksa masih bisa dipertahankan karena hal ini mengandalkan kecerdikan pengetahuan kewibawaan serta kepandaian silat Hu Pak Leng yang tinggi dan sempurna dengan wataknya yang keras tapi bijaksana serta kebesaran jiwanya bilamana keadaan berlangsung, beberapa saat kemudian dibawah bimbingan yang cermat tidak sukar lembah Mie Cong Kok menjadi markas besar dari kaum Liok-lim dari seluruh kolong langit yang terbesar dan terkuat sayang sekali Thian tidak memberikan usia panjang kepadanya sebelum fondasi dari lembah Mie Cong Kok jadi kukuh ia sudah menemui ajalnya. Tidak aneh kalau nona masih berusia kecil tetapi dapat menebak keadaan yang sebenarnya telah terjadi. Akupun menduga didalam tiga lima hara kemudian dalam lembah Mie Cong Kok tentu terjadi suatu perubahan besar bahkan kemungkinan akan terjadi pertempuran diantara kawan sendiri...

Tiba-tiba Ban Ing Soat mengucurkan air mata setelah menghela napas panjang ujarnya. Kenapa Thian tidak membiarkan paman Hu hidup beberapa tahun lagi dikolong langit. Apakah kau suka kepadanya?? tanya Biauw Siok Lan dengan nada lirih.

Ban Ing Soat terperanjat merah padam selembar wajahnya yang kecil mungil itu dengan cepat ia berpaling sinar matanya dialihkan kearah Biauw Siok Lan dan memandangnya dengan air muka sangat aneh. Kau tak usah malu! ujar Biauw Siok Lan kembali sambil tersenyum. Tidak aneh kalau setiap gadis suka kepadanya karena sikapnya yang begitu gagah jiwa yang begitu besar serta tindakan yang demikian bijaksana.

Seakan-akan seluruh rahasia hatinya diketahui orang lain rasa malu segera menyerang seluruh benak Ban Ing Soat setelah berseru tertahan ia jatuhkan diri kedalam pelukan Biauw Siok Lan menangis tersedu- sedu.

Sekalipun dengan sekuat tenaga ia berusaha suara tangisannya yang sampai kedengaran orang namun ia gagal menguasai diri isak tangisnya segera berkumandang hingga ketempat kejauhan.

Ketika suara isak tangis itu menggema masuk kedalam telinga Kok Han Siang mendadak ia berhenti. Ketika ia berpaling bayangan tubuh Ban Ing Soat serta Biauw Siok Lan tidak kelihatan sama sekali. Pada waktu itulah mendadak Moay Siauw Beng tersenyum dan berseru :

Aaaakh... si budak gede baru menangis.

Sekalipun usianya masih kecil namun tindak-tanduk maupun gerak-geriknya meniru gaya orang telah berusia lanjut menurut nada ucapan tadi seakan-akan usianya lebih tua dari pada gadis itu.

Hmmm! siapa yang suruh kau banyak bicara. Tegur Kok Han Siang seraya berpaling sekejap kearahnya.

Moay Siauw Beng yang binal dan susah dikuasai agaknya menaruh rasa hormat yang tak terhingga kepada diri Kok Han Siang kena ditegur ia tetap bungkam dalam seribu bahasa bahkan ia malahan tersenyum hambar!

Lambat-lambat Kok Han Siang alihkan sinar matanya kearahnya kemudian perintahnya.

Yu-heng coba kau kesana dan sambutlah kedatangan mereka suruh mereka cepat-cepat kembali. Kalau ada persoalan kita bicarakan lagi setelah tiba di lembah Mie Cong Kok.

Yu Ih Lok segera mendadak mendengar dirinya dibahasai Yu-heng oleh Kok Han Siang hatinya terperanjat ia tahu apakah dirinya merasa kaget atau kegirangan setelah termangu-mangu beberapa saat ia baru menjawab : Hamba terima perintah!.

Wajahnya yang cantik serta suaranya yang menawan hati seolah-olah mempunyai suatu daya kekuatan yang dapat memaksa setiap orang yang tak sanggup memberi perlawanan barang siapa pun setelah berbentrokan dengan biji mata yang bening dan menarik hati itu seketika terpesona dan terpengaruh.

Dengan gerakan cepat Yu Ih Lok bergerak kedepan dalam waktu singkat ia sudah tiba dihadapan kedua orang itu.

Hujien mengundang kalian berdua cepat-cepat melakukan perjalanan menyampaikan perintah sekalipun ada urusan penting yang hendak dibicarakan kata hujien untuk sementara waktu harap kalian bersabar sebentar setelah tiba di lembah Mie Cong Kok barulah persoalan tersebut dibicarakan lagi.

Biauw Siok Lan segera tersenyum, katanya.

Soat Moay-moay teringat kembali akan peristiwa sedih yang telah menimpa dirinya kemudian teringat pula akan kematian dari Bengcu kita oleh karena itu ia tak dapat menahan rasa sedih yang bergolak dalam dadanya sehingga tak kuasa lagi ia menangis tersedu-sedu kau jangan salah paham kami tidak menjumpai sesuatu persoalan.

Mendengar perkataan itu Yu Ih Lok pun teringat kembali pada peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada masa silam apabila bukan Hu Pak Leng membawa para jago Liok-lim mengunjungi selat Ban Gwat Shia sehingga memancing datangnya rombongan toosu dari Bu-tong pay. Ban Ing Soat tidak akan mengalami nasib sejelek ini kalau dipikir-pikir tanggung jawab tersebut sebenarnya berada dipundak Hu Pak Leng... Namun sekarang Hu Pak Leng sudah mati tidak aneh kalau ia tak dapat menahan rasa sedih yang bergelora dalam dadanya dan menangis tersedu-sedu.

Segera ia menghela napas panjang! ujarnya :

Ayahmu telah melepaskan budi yang amat besar terhadap kami orang-orang lembah Mie Cong Kok sekalipun dewasa ini Hu Bengcu sudah meninggal dunia namun aku percaya hujien tidak akan merugikan diri nona.

Benar! Soat Moay-moay kau tak usah menangis lagi jangan membiarkan hujien terlalu lama menantikan kedatangan kita sambung Biauw Siok Lan!

Sebenarnya Ban Ing Soat berbuat demikian karena rahasia hatinya telah kena dibongkar oleb Biauw Siok Lan berhubung beberapa saat lamanya ia tersipu-sipu maka ia lantas menubruk ke dalam pelukannya dengan maksud meminjam kesempatan tersebut menghilangkan rasa malu yang menyerang hatinya.

Siapa sangka Biauw Siok Lan mengungkap pula akan persoalan Hu Pak Leng membuat ia teringat pula akan kematian Hu Pak Leng yang mengerikan teringat pula betapa cintanya dia kepada lelaki tersebut semasa ia masih hidup ia tak berani mengutarakan cinta kasihnya dan kini ia sudah mati rasa cintanya sepanjang masa tak dapat disampaikan lagi teringat sampai disitu ia malah benar-benar sedih dan menangis tersedu-sedu.

Kini ia mendengar pula Yu Ih Lok mengungkap kembali soal kematian ayahnya yang mengerikan hatinya semakin sedih bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam seketika rasa sedih bergelora dalam benaknya.

Walaupun diluaran mengatakan aku tidak akan menangis namun air mata mengucur bagaikan hujan deras membasahi seluruh wajahnya.

Melihat Ban Ing Soat menangis dengan begitu sedihnya Yu Ih Lok pun tanpa terasa ikut bersedih pula ia menghela napas panjang.

Melihat semua orang diliputi kesedihan sepasang alis Biauw Siok Lan melentik tiba-tiba ia menepuk pundak gadis itu dan berseru.

Sudahlah kau jangan menangis lagi mari kita berangkat!

Tidak tunggu jawaban lagi ia tarik tangannya dan berlalu dari situ.

Tubuh Ban Ing Soat rada gemetar tapi ia benar-benar menghentikan isak tangisnya dan mengikuti disisi Biauw Siok Lan meneruskan perjalanan kedepan.

Melihat munculnya kedua orang itu Kok Han Siang menyambut dengan ujung baju ia menghapus air mata dipipi Ban Ing Soat tanyanya.

Soat cie apakah hatimu sangat berduka?

Ban Ing Soat pura-pura tidak mendengar ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Karena tidak mendengar jawaban Kok Han Siang rada merandek sejenak lalu ujarnya lagi. Urusan sudah jadi begini apa gunanya kita menangis sekarang akupun tidak menangis lagi.

Dengan perasaan cinta dan sayang yang luar biasa ia berusaha menghibur hati gadis cilik itu namun Ban Ing Soat tidak sudi memandang sekejap pun kearahnya.

Soat cie mengapa kau tak mau mengubris diriku apakah rasa sedih yang luar biasa menyerang dirimu kau tak mau berbicara tanya Kok Han Siang keheranan.

Ban Ing Soat tetap membungkam dalam seribu bahasa melirik sekejap pun tidak. Sekali Kok Han Siang tertegun gumannya. Aaaah... benar! tentu kau pusing karena menangis terus sehingga sampai akupun tak kau kenal. Setelah berguman beberapa patah kata ia meneruskan pejalanannya menuju lembah Mie Cong Kok.

Di mulut lembah telah berbaris banyak jago menyambut kedatangannya jago-jago itu sebagian besar merupakan anak buah Tiong It Hauw serta jago-jago Liok-lim dari daerah Kiang pak.

Kok Han Siang sama sekali tidak memperhatikan siapa saja yang menyambut kedatangannya dibawah perlindungan Yu Ih Lok, Moay Siauw Beng serta Tiong It Hauw sekalian segera kembali ketempat pemondokan.

Sementara itu fajar telah menyingsing Tiong It Hauw kenakan kembali kain kerudung hitamnya untuk menutupi wajahnya seperti sedia kala.

Dalam waktu beberapa saat ini si Loo Hu It Shu Huo Yen Ga entah sedang mempersiapkan apa sejak mereka masuk kedalam lembah sampai saat ini dia serta Leng Lam Jie Khie tidak kelihatan munculkan diri.

Sewaktu Kok Han Sang tiba didepan pintu pagar tiba-tiba timbul keraguan dalam hatinya ia merasa tidak seharusnya membiarkan Tiong It Hauw sekalian ikut masuk kedalam sebab tempat itu adalah pondokan pribadinya.

Setelah termenung beberapa saat lamanya mendadak ia berpaling dengan wajah dingin perintahnya.

Tiong It Hauw cepat kumpulkan semua jago yang ada dalam lembah untuk menantikan kedatangan diruang Ci Ih Tong.

Hujien! seru Tiong It Hauw setelah tertegun sejenak dewasa ini situasinya kurang jelas bagaimana kalau hamba pergi melakukan penyelidikan terlebih dahulu?.

Tidak usah menggubris dia lagi kumpulkan jago-jago yang ada sebanyak mungkin berapa yang bisa di kumpulkan suruh mereka datang keruang Ci Ih Tong!

Hujien tidak perlu menempuh bahaya biarlah hamba melakukan persiapan lebih dahulu baru mengundang hujien.

Ucapan Tiong, Hu bengcu sedikitpun tidak salah bisik Biauw Siok Lan pula dari samping hujien jangan terlalu keras kepala dan ingin mengikuti kemauan sendiri.

Justru aku takut sebelum persiapan kita sempurna orang lain sudah mendahului kita bergerak lebih dahulu kata Kok Han Siang sambil tertawa.

Mendengar ucapan itu Tiong It Hauw tertegun segera pikirnya.

Eeeei... aneh sekali dalam waktu sesingkat pikirannya bisa begitu kritis sekali...

Ia lantas menyahut! Hamba akan segera mengumpulkan para jago yang ada dalam lembab ini harap hujien beristirahat sebentar.

Ia putar badan dan buru-buru berlalu.

Menanti Tiong It Hauw sudah berlalu Kok Han Siang baru alihkan sinar matanya kearah Moay Siauw Beng katanya sambil tersenyum.

Kau juga didepan pintu barang siapapun yang hendak menjumpai diriku harus melaporkan diri lebih dahulu.

Bagus sekali teriak Moay Siauw Beng sambil tertawa seumpama ada orang yang tidak mau mendengarkan perkataanku akan kujagal orang-orang itu.

Jagal mereka dan bawa batok kepala mereka datang menjumpai diriku. Akan kuingat selalu enso boleh beristirahat dengan hati lega. Dengan langkah lebar Kok Han Siang segera berjalan masuk kedalam.

Biauw Siok Lan, Ban Ing Soat pun dengan kencang mengikuti dari belakang mendadak Moay Siauw Beng membentak keras pedang mustika yang tersoren pada punggungnya segera dicabut keluar.

Berhenti! Apa yang hendak kau kerjakan? seru Biauw Siok Lan tertegun.

Apakah kalian tidak mendengar apa yang diperintahkan ensoku barusan? perduli siapapun yang hendak menjumpai dirinya harus melaporkan diri lebih dahulu kepadaku.

Mendengar ucapan itu air muka Biauw Siok Lan berubah hebat tegurnya. Usiamu belum besar permainan setannya sungguh banyak sekali.

Ada apa? kaiau kau merasa tidak puas boleh saja coba-coba menerjang masuk kedalam buktikan sendiri dapatkah aku menghalangi perjalananmu?

Hmm! kau hendak paksa aku benar-benar mencoba, ilmu silatmu?.

Di kolong langit dewasa ini aku hanya suka mendengarkan perkataan dari tiga orang saja, kecuali tiga orang ini aku tidak akan tunduk dan takluk kepada siapapun.

Siapa saja diantara ketiga orang yang kau maksudkan itu?.

Pertama adalah suhu yang memberi pelajaran ilmu silat kepadaku memelihara diriku kedua adalah Hu Bengcu yang telah mati dan yang ketiga adalah...

Tiba-tiba ia tutup mulut dan berherti berbicara. Siapakah orang ketiga?.

Moay Siauw Beng mendongak tertawa terbahak-bahak.

Haaa... haaa... haaa... sebenarnya aku tidak ingin beritahu kepadamu namun kalau kau ingin sekali mengetahuinya baiklah tiada halangan kuberitahukan kepadamu juga orang ketiga ini bukan lain adalah ensoku yang memberi perintah kepadaku barusan.

Hmm! perkataan orang tuamupun kau tidak menuruti?? dengus Biauw Siok Lan dingin.

Orang tuaku sudah lama mati bagaimanakah raut mukanya aku tidak pernah menjumpai tentu saja aku tak usah mendengarkan perkataannya.

Selama kedua orang ini cekcok dengan ramainya Ban Ing Soat berdiri disana dengan mulut membungkam seakan-akan ia tidak pernah tahu kalau di hadapannya sedang terjadi cekcok.

Mendadak terdengar suara merdu dari Kok Han Siang berkumandang datang dari tempat kejauhan.

Mereka berdua adalah orang yang paling akrab dengan diriku masuk keluar mereka tak usah kau halangi.

Pedang mustika Moay Siauw Beng yang dilintangkan didepan pintu segera ditarik kembali. Hujien ada perintah kalian berdua silahkan masuk katanya.

Biauw Siok Lan dengan cepat menarik tangan Ban Ing Soat dengan langkah lebar masuk kedalam ruangan sementara hatinya keheranan pikirnya.

Tindakan Moay Siauw Beng yang menghadang perjalanan kami seharusnya sudah diketahui oleh Kok Han Siang mengapa tak dicegah...

Sementara ia masih berpikir tubuhnya sudah berada didalam ruangan. Ketika ia berpaling tampak olehnya Kok Han Siang telah melepaskan pakaiannya sehingga tinggal pakaian dalam yang amat tipis sekali duduk diatas pembaringan ketika itu ia lagi menggapai kearah mereka berdua sambil berkata :

Kalian cepat masuk kedalam aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan kalian berdua.

Oleh perbuatan Kok Han Siang yang begitu berani dan tak tahu main Biauw Siok Lan dibikin termangu-mangu beberapa saat lamanya setelah menghembuskan napas panjang lambat-lambat ia berjalan mendekat.

Hujien! kau ada urusan apa? tanyanya.

Air muka Kok Han Siang berubah hebat setelah menghela napas panjang ujarnya.