Badai Dunia Persilatan Jilid 15

Jilid 15

TERHADAP teriakan itu Ci Yang Tootiang sama sekali tidak berkutik bahkan kelopak matapun tidak nampak bergerak.

Cing It Tootiang kembali kerutkan dahinya mendadak ia menggerakkan tangan kanannya mengangkat kepala Ci Yang Tootiang keatas jari tengah jari telunjuk dengan kerahkan tenaga membentang mulut Ciangbujiennya dengan paksa sementara itu pil yang ada ditelapak kirinya segera dijejalkan ke dalam mulut. Terdengar suara helaan napas panjang berkumandang dari empat penjuru para toosu sama-sama menundukkan kepalanya.

Sewaktu Cing It Tootiang memasukkan pil tadi kedalam mulut Cianbujiennya walaupun air muka menunjukkan keteguhan serta kebulatan tekad namun setelah Ci Yang Tootiang menelan pil tadi kedalam perut sikapnya seketika berubah jadi sangat tegang.

Sepasang mata terbelalak lebar-lebar memandang wajah Ci Yang Tootiang tak berkedip badannya agak gemetar dan mulut membungkam dalam seribu bahasa.

Haruslah diketahui dosa membinasakan seorang guru merupakan kesalahan terberat dalam dunia persilatan walaupun Cing It Tootiang berbuat demikian demi menolong selembar jiwa gurunya tetapi seandainya pil tersebut sebaliknya malah merenggut selembar jiwa Ci Yang Tootiang maka Cing It pun tak akan terlepas dari dosa tersebut.

Sebenarnya perbuatan ini merupakan suatu jalan menempuh bahaya yang sangat menakutkan karena keadaan Ci Yang Tootiang telah mencapai saat kritis semisalnya tidak diberi obat ini maka ia tak akan bertahan lebih lama lagi.

Seperminum teh berlalu bagaikan rangkaian siput Ci Yang Tootiang sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun ia tetap bersandar pada dinding bukit dengan sepasang mata terpejam rapat.

Waktu yang singkat ini bila dibicarakan dalam pandangan Cing It Tootiang rasanya jauh lebih lama dari empat puluh tahun usianya keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya bagaikan sumber mata air.

Sang surya telah lenyap dibalik gunung sorotan cahaya kemerah-merahan yang melintas celah bukitpun ikut lenyap tak berbekas. Angin gunung bertiup kencang mengibarkan ujung baju. Tetapi air muka perasaan para toosu Bu-tong pay penuh diliputi ketenangan keheningan makin memuncak puluhan pasang sinar mata bersama-sama dialihkan kearah wajah Ci Yang Tootiang.

Tampak napas Ciangbujien dari Bu-tong pay ini makin lama semakin lemah bagaikan gelapnya malam semakin kelam saat paling kritis telah tiba dan jiwanya telah berada diambang maut.

Air muka Cing It Tootiang dari pucat berubah hijau membesi tiba-tiba ia pungut kembali pedang yang diatas tanah dan berkata dengan nada sedih :

Cuwi suheng-te jangan lupa balaskan dendam suhu. Dia orang tua terluka oleh jarum sakti Sam Ciat Sin Ciam dari Hong Cioe dan kehilangan nyawa ditangan bocah cilik itu.....

Tiba-tiba ia angkat pedangnya menggorok lehernya sendiri.

Dari antara para toosu terdengar dua bentakan keras berkumandang memenuhi angkasa dua pasang telapak laksana kilat menyambar kearah depan satu menyambar kearah pergelangan Cing It yang mencekal pedang sedang yang lain menyapu pedang ditangan toosu tersebut.

Agaknya Cing It Tootiang sudah ambil keputusan untuk mati gerakannya cepat melebihi sambaran kilat tampak cahaya tajam berkelebat lewat disusul menyemburnya darah segar kedepan.

Menanti kedua belah tangan itu menempel di ujung baju Cing It Tootiang batok kepala toosu tersebut telah terlempar tiga depa ketengah udara mengikuti semburan darah segar laksana pancuran.

Para toosu sama-sama menjerit kaget air mata mengucur keluar dengan derasnya.

Sementara suasana jadi kacau balau tiba-tiba Ci Yang Tootiang mcmbuka sepasang matanya.

Entah siapakah diantara mereka yang menemukan kejadian itu melihat Ci Yang Tootiang sadar kembali ia segera berseru lirih.

Suhu... Para jago bersama-sama alihkan sinar matanya kearah Ci Yang Tootiang jeritan terkejut helaan napas panjang serta sapaan nyaring bersahut-sahutan memecahkan kesunyian.

Waktu hanya terpaut sedetik namun yang mati tak bisa hidup lagi manusia dan roh haluspun harus berpisah dengan dunia yang berbeda.

Sinar mata Ci Yang Tootiang dialihkan sekejap kearah Cing It Tootiang sikapnya menunjukan tercengang dan keheranan agaknya ia merasa bingung dan tidak mengerti atas kemauannya.

Dengan mata mendelong mulut membungkam ia pandang toosu tak berkepala itu lama sekali.

Barusan saja Ci Yang Tootiang tersadar dari pingsannya kesadaranpun belum pulih sepenuhnya tak seorangpun ingin memberitahukan berita sedih ini kepadanya setiap anak murid Bu-tong pay pada membungkam dalam seribu bahasa.

Dari tempat kejauhan bergema datang suara pujian kepada sang Buddha Thian It Thaysu dengan memimpin para padri Siauw lim si bersama-sama jalan mendekat.

Thian Sian Thaysu sementara itu sudah bisa berjalan sendiri dibawah perlindungan empat orang murid Siauw lim ia berjalan dipaling belakang.

Huan Giok Koen dengan menenteng pedang serta wajah penuh kesedihan berjalan dibelakang Thiam Sian Thaysu pemuda ini tiada hentinya menggunakan ujung baju mengusap air mata yang jatuh menetes.

Dua orang lelaki berpakaian singsat dengan menggotong jenasah Huan Tong San berjalan dibelakangnya.

Mendadak Ci Yang Tootiang bangun berdiri dan berseru lirih. Bereskan jenasah mereka kita segera berangkat.

Senja telah lewat malam hari menjelang datang angin datang menderu para toosu Bu-tong pay dengan jalan beriring berlalu didalam lembah tersebut tak kedengaran seorangpun yang buka suara tak kedengaran sedikit suara isak tangispun suasana amat hening tapi penuh diliputi keseriusan.

ooooOoooo

15

BEBERAPA li diluar lembah gunung tersebut terdapat pula sebuah iring-iringan yang tidak kalah panjangnya dengan iringan toosu-toosu dari Bu-tong pay serta para hweesio dari Siauw lim si tersebut.

Orang yang berjalan dipaling depan membopong sesosok jenasah air rnata jatuh berlinang dengan derasnya meleleh diatas pipi dan membasahi mayat dalam bopongannya kesedihan yang meliputi orang itu telah mencapai puncak membuat ia jadi shock.

Dibelakang orang itu mengikuti Biauw Siok Lan dengan memakai baju putih gaun putih serta Ban Ing Soat yang berkuncir dua sekunturn bunga warna putih menghiasi rambutnya.

Dibelakang kedua orang gadis ini adalah Yu Ih Lok, Tiong It Hauw, Huo Yen Ga serta para jago dari lembah Mie Cong Kok suara langkah kaki menderap memecahkan kesunyian yang mencekam.

Walaupun langkah kaki rombongan ini sangat berat namun apa yang dipikir dalam hati masing-masing berbeda.

Huo Yen Ga sedang memikirkan secara bagaimana ia bisa merebut kursi Liok lirn Bengcu dengan lancar setelah kematian Hu Pak Leng ia merasa dari antara para jago Liok-lim yang ada saat ini hanya Tiong It Hauw seorang memiliki kepandaian seimbang dengan dirinya ia sedaag mencari siasat sedang menyusun rencana bagaimana melenyapkan orang ini atau menyingkirkan dirinya.

Karena itu tahu asal usul Tiong It Hauw tidak disingkirkan maka ia akan menghalangi niatnya atau mungkin mengobarkan pemberontakan terhadap dirinya.

Di antara para jago lembah Mie Cong Kok walaupun ada banyak yang memiliki kepandaian silat terbatas tapi apa pula yang memiliki ilmu silat lumayan. Di antara mereka hanya Tiong It Hauw seorang memiliki anak buah hampir seimbang dengan kekuatannya... ia pikir bolak-balik urusan ini tetapi belum berhasil juga mengambil suatu keputusan.

Ketika ia mendongak dan memandang kedepan tampak Tiong It Hauw sedang berjalan dengan kepala tertunduk agaknya iapun sedang memikirkan suatu persoalan yang memberatkan hatinya.

Tampak terasa timbul kewaspadaan dalam hati orang Huo ini pikirnya dalam hati.

Saat ini aku sedang peras otak mencari jalan bagaimana caranya menghadapi dirinya aku rasa saat ini iapun sedang mencari akal bagaimana cara menghadapi diriku agaknya perebutan kursi Bengcu kali ini harus melalui suatu pertarungan sengit terlebih dahulu...

Padahal dalam kenyataan Tiong It Hauw bukan sedang memikirkan soal kursi Bengcu ia sedang memikirkan persoalan lain.

Cuaca makin lama semakin kelam akhirnya para jago telah tiba diluar lembah Mie Cong Kok.

Tiba-tiba Kok Han Siang berhenti putar badan dan menyapu sekejap para jago Liok-lim yang berada dibelakangnya.

Kalian pulanglah terlebih dahulu! serunya lirih ia sendiri segera berjalan kedepan mengambil sebuah jalan kecil disisi mulut lembah tersebut.

Hujien aku ingin ikuti dirimu! seru Biauw Siok Lan tiba-tiba dengan suara lirih.

Kok Han Siang berhenti berpaling dan memandang sekejap kearah Biauw Siok Lan kemudian mengangguk dan melanjutkan langkahnya kedepan.

Bibi akupun ingin ikuti dirimu seru Ban Ing Soat cepat. Sekali lagi Kok Han Siang berpaling.

Aku hendak pergi mengubur pamanmu buat apa kalian ikut semua? katanya sedih. Aku hendak bersembahyang didepan kuburan paman.

Kok Han Siang tidak dapat berbuat apa-apa terpaksa ia mengangguk. Baiklah!.

Hujien! Tiong It Hauw maju kedepan dengan langkah lebar peti mati untuk mengubur Bengcu belum disiapkan lebih baik kita kembali dulu ke lembah Mie Cong Kok setelah peti mati dipersiapkan.

Tidak usah! belum habis ia bicara Kok Han Siang telah menukas sambil menggeleng kalau ia dimasukkan kedalam peti mati lain kali bukankah aku tak bisa menjumpai dirinya lagi? tidak perlu... tidak perlu dimasukkan kedalam peti mati.

Ia putar badan dan segera berlalu.

Tiong It Hauw jadi tertegun segera bisiknya kepada Yu Ih Lok.

Kesadaran hujien belum pulih seperti sedia kala kalau dibiarkan ia melakukan perjalanan seorang diri seandainya menjumpai keadaan mara bahaya bagaimana baiknya? mari secara diam-diam kita lindungi keselamatannya. Baik! Yu Ih Lok mengangguk.

Demikianlah mereka berduapun segera berlalu membuntuti ketiga orang gadis itu dari kejauhan.

Melibat Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok ikut berlalu mengikuti Kok Han Siang tiba-tiba Huo Yen Ga merasa hatinya sedikit bergerak pikirnya.

Sekarang Bengcu telah meninggal kenapa aku tidak kembali dulu ke lembah Mie Cong Kok sambil mengatur persiapan.

Tanpa banyak bicara lagi ia segera membawa para jago kembali ke lembah Mie Cong Kok.

Kita tinggalkan dulu Huo Yen Ga yang sedang mempersiapkan diri di lembah Mie Cong Kok mari kita ikuti Kok Han Siang yang berlari melalui jalan kecil dengan menggendong jenasah Hu Pak Leng ia lari terus menuju kepuncak bukit yang tinggi.

Melihat jalan usus kamping itu makin lama semakin sempit makin lama semakin curam dan gerakan Kok Han Siang yang bergerak keatas makin lama limbung seolah-olah hendak jatuh beberepa kali Ban Ing Soat ada maksud maju membantu namun setiap kali kena dicegah oleh Biauw Siok Lan.

Malam hari semakin gelap angin gunung bertiup menderu-deru makin lama semakin santar membuat pegunungan yang sunyi itu semakin hening dan mendatangkan rasa sedih dihati.

Jalan pegunungan makin keatas makin curam bukit itupun makin lama semakin bahaya ditambah lagi malam gelap gulita susah membedakan jalan kecil sekali salah langkah niscaya akan menemui ajalnya jatuh kedalam jurang.

Walaupun Biauw Siok Lan belum lama bergaul dengan Kok Han Siang namun ia amat cerdik lagi cermat dalam penebaannya selama ini ia tahu sangat jelas sampai taraf manakah kepandaian silat yang dimiliki Kok Han Siang untuk melalui pegunungan yang begitu tinggi dan curam ditengah malam buta sambil membopong sesosok jenasah yang tinggi besar bukan suatu pekerjaan yang sangat mudah.

Namun entah darimana datangnya tenaga ternyata ia bisa mendaki setinggi ratusan tombak tanpa berhenti atau beristirahat sejenakpun.

Selama ini Ban Ing Soat selalu membentangkan sepasang matanya bulat-bulat memperhatikan bayangan punggungnya Kok Han Siang ia bersiap sedia asalkan perempuan itu terjatuh kedalam jurang segera turun tangan memberi pertolongan.

Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok yang ada dibelakang mereka berduapun sejak semula telah mempersiapkan gerakan pertolongan mereka berdua dengan mengikuti dibelakang bayangan punggung Kok Han Siang dengan memisah jari kedua belah samping membuntuti terus keatas.

Kurang lebih dua tombak dibelakang Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok mengikuti pula sesosok bayangan manusia gerakan orang itu amat ringan berhati-hati dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun.

Orang itu bukan lain adalah Moay Siauw Beng sang bocah yang memiliki kepandaian ilmu silat sangat

lihay.

Sementara mereka melanjutkan terus perjalanan kedepan mendadak tubuh Kok Han Siang tergelincir dan menggelinding jatuh kesamping.

Biauw Siok Lan terperanjat dengan cepat ia meloncat kedepan sambil menempuh bahaya tubuhnya melayang kedinding tebing.

Siapa nyana badan Kok Han Siang setelah tergelincir sejauh dua tiga depa mendadak berhenti agaknya ia telah berhasil mencengkeram seutas rotan badannya setelah bergantung beberapa saat ia merangkak naik kembali keatas.

Menanti Biauw Siok Lan tiba disisi tubuhnya ia lolos dari mara bahaya. Ketika perempuan ini rnenengok kearah Bengcu hujien tersebut tampak olehnya air mukanya tenang sedikitpun tidak menunjukkan perasaan jeri seolah-olah terhadap peristiwa yang barusan terjadi sama sekali tidak menganggap sebagai suatu persoalan.

Diam-diam Biauw Siok Lan menghembuskan napas panjang tanyanya lirih. Hujien apakah kau terluka?.

Tidak! Kok Han Siang menggeleng.

Melihat sikap perempuan itu sangat hambar diam-diam Biauw Siok Lan berpikir dalam hatinya.

Agaknya ia sudah tidak pikirkan mati hidupnya dalam hati walaupun menjumpai kejadian mengerikan yang hampir-hampir meremukkan badannya ia sama sekali tidak jeri atau berubah wajah.

Sementara itu nampak Kok Han Siang dengan penuh kasih sayang dan seksama sedang membalik- balikkan jenasah Hu Pak Leng yang ada dalam pelukannya kemudian menghela napas panjang.

Aaaai... untung sekali tidak sampai melukai toako! gumamnya lirih.

Beberapa patah kata ini diutarakan sangat leluasa dan biasa seolah-olah orang yang berada dalam pelukannya adalah seorang manusia hidup saja.

Hujien! kau sudah melakukan parjalanan sangat jauh aku rasa badanmu tentu sangat letih bisik Biauw Siok Lan lirih. Bagaimana kalau aku wakili hujien membopong beberapa saat???.

Aaaakh! tidak perlu dikemudian hari aku tak bakal mendapat kesempatan untuk memeluknya lagi malam ini aku hendak memeluknya semalaman tanpa melepaskan dirinya barang sejenakpun.

Biauw Siok Lan mengerti apa yang diutarakan saat ini sama seperti apa yang ia pikirkan dalam hati.

Menasehati dirinya jauhpun percuma karena itu ia lantas membungkam.

Ketika ia mendongak kembali kedepan jarak dengan puncak bukit tersebut tinggal dua puluh tombak dengan semangat berkobar mendadak Kok Han Siang percepat langkah kakinya tidak selang beberapa saat ia telah berlari ke puncak bukit tersebut.

Diam-diam Biauw Siok Lan menghela napas panjang pikirnya.

Bukit karang securam dan selurus ini sekalipun aku tak akan bisa mendakinya keatas dengan demikian cepat apalagi harus membopong sesosok mayat entah darimana ia dapatkan tenaga sebesar itu.

Ia segera mengepos napas dan mengejar kearah depan.

Tempat itu merupakan bukit tertinggi diantara rentetan pegunungan lainnya luas puncak bukit itu tidak lebih hanya tiga empat tombak bahkan batu cadas menjulang tinggi keangkasa tak ada tanah seluas tiga depapun merupakan tanah datar entah apa sebabnya Kok Han Siang ternyata mendaki keatas bukit tersebut.

Ketika Kok Han Siang tiba diatas puncak tersebut ia sudah kelelahan setengah mati sehingga tak dapat menahan diri lagi sambil memeluk jenasah Hu Pak Leng erat-erat ia tertidur dengan bersandar pada batu cadas.

Angin gunung bertiup menderu-deru membuat orang susah berdiri tegak Biauw Siok Lan menoleh kekiri berpaling kanan tidak berhasil menemukan suatu tempat yang bisa mendatangkan perhatian seseorang ia merasa diatas puncak ini tak sesuatupun bisa di ambil dan ia tak mengerti apakah alasannya Kok Han Siang mendaki bukit tersebut.

Akhirnya ia menghela napas panjang dan berpikir.

Kalau dilihat kejadian ini kesadarannya benar-benar belum pulih kembali. Mendadak terdengar suara langkah kaki berkumandang dari belakang ketika ia berpaling tampak Ban Ing Soat, Tiong It Hauw, Yu Ih Lok serta Moay Siauw Beng secara beruntun telah tiba diatas puncak tersebut.

Sinar mata Ban Ing Soat dengan cepat menyapu sekeliling tempat itu sewaktu tidak menemukan Kok Han Siang ada disitu ia jadi gugup setengah mati.

Bibiku telah pergi kemana? tanyanya cemas.

Ia kecapaian saat ini sedang beristirahat dibawah batu cadas sebelah sana.

Buru-buru Ban Ing Soat lari kedepan tampak olehnya Kok Han Siang duduk bersadar pada sebuah batu cadas sambil memeluk jenasah Hu Pak Leng erat-erat napasnya teratur ia sudah tertidur pulas.

Angin gunung menghembus datang mengibarkan ujung baju melihat derasnya angin Ban Ing Soat kerutkan dahi pikirnya.

Angin gunung yang berhembus ditempat ini amat keras dan kuat kalau ia tertidur disini tanpa pakaian tebal bukankah nanti bakal jatuh sakit??.

Karena berpikir demikian tangannya lantas diulur kearah pundak kiri Kok Han Siang bermaksud membangunkan dirinya.

Jangan ganggu dirinya! mendadak terdengar suara teguran rendah dan berat berkumandang datang dari arah belakang.

Sambil menarik kembali tangannya Ban Ing Soat berpaling kebelakang tampak Tiong It Hauw dengan berkerudung hitam pada wajahnya telah berdiri dibelakang tubuhnya.

Ia jadi tidak puas merasa dirinya ditegur serunya kurang senang.

Eeeei... apa maksudmu menegur diriku? angin gunung yang berhembus ditempat ini sangat deras mana boleh biarkan ia tertidur pulas disini.

Tiong It Hauw yang selamanya berwatak sombong serta tinggi hati mendadak pada saat ini berubah jadi sangat halus dan kalem.

Terdengar ia menghela napas panjang dan berkata.

Kalau ia tidak merasa mengantuk dan kelelahan setengah mati mana mungkin bisa tertidur nyenyak diatas puncak dengan hembusan angin gunuag sedemikian derasnya?

Sembari berkata ia lepaskan jubah panjangnya dan diselimutkan badan Kok Han Siang.

Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat yang melihat kejadian ini jadi tertegun agaknya gadis she Ban merasa tidak leluasa melihat kejadian itu ia ada maksud menegur dengan beberapa patah kata tajam.

Namun maksudnya ini kena dicegah oleh jawilan Biauw Siok Lan yang ada disisinya karena itu ia lantas batalkan niatnya.

Haruslah diketahui hubungan antara lelaki dan perempuan pada masa itu sangat ketat dan dipisahkan oleh adat yang keras dan terkenal disiplin tindakanmu dari Tiong It Hauw ini boleh dikata sangat berani dan melebihi batas-batas kesopanan.

Bahkan Yu Ih Lok pun agaknya merasa tindakkan ini tidak seharusnya dilakukan lelaki berkerudung hitam itu namun iapun merasa tidak enak untuk buka suara menegur buru-buru ia melengos dan pura-pura tidak melihat.

Dengan sikap tenang seolah-olah tidak pernah terjadi suatu kejadian apapun ujar Tiong It hauw.

Tertidur dalam keadaan ngantuk serta lelah yang melebihi batas aku rasa ia tak akan bangun dalam beberapa saat singkat tiada halangan mengambil kesempatan ini kitapun beristirahat diatas puncak ini sambil mengumpulkan kembali tenaga disamping menanti hujien sampai sadar, puncak bukit ini kecuali terdiri dari batu-batu karang yang tajam dan gersang sebatang rumput liarpun tidak nampak tumbuh disini kata Yu Ih Lok kemudian. Kalau bukan kesadaran hujien belum pulih seperti sekian kalau siauw-te benar-benar tak bisa mengerti apa alasannya ia mendatangi puncak bukit gersang ini??

Lalu bagaimana menurut pendapat Yu-heng? tukas Tiong It Hauw.

Hujien berada dalam keadaan pikiran tidak sadar kita tidak seharusnya mengikuti apa kemauannya menurut pendapat siauw-te lebih baik kita totok dulu jalan darahnya kemudian kirim ia kembali ke lembah Mie Cong Kok untuk beristirahat beberapa hari terlebih dahulu.

Sebelum Tiong lt Hauw sempat berbicara Biauw Siok Lan telah keburu menjawab katanya.

Walaupun pendapat Yu sianseng amat sempurna dan benar namun aku tidak berani menyetujui begitu

saja.

Mendengar jawaban itu Yu Ih Lok segera tersenyum.

Kau memuji pendapatku sempurna dan benar tetapi tidak berani menyetujui begitu saja lalu apa maksudmu???.

Pendapat Yu sianseng sesuai dengan keadaan sesuai dengan kebiasaan tentu saja aku harus memuji sebagai pendapat yang sempurna dan benar.

Nona Biauw lebih baik kau bicarakan secara blak-blakan seru Yu Ih Lok sembari menggeleng. Kau bicara dengan berputar-putar kayun membuat cayhe makin mendengar makin kebingungan.

Kecantikan hujien tiada tandingan dikolong langit dan jarang ditemui didunia persilatan sifatnya halus mulia dan peramah terhadap siapapun...

Soal ini sejak semula kami sudah tahu! tukas Tiong It Hauw. Tak perlu nona Biauw puji lagi. Biauw Siok Lan tertawa hambar terusnya.

Berkat pertolongan Hu Bengcu aku berhasil mengikuti disisi hujien selama ini. Menurut analisaku dalam waktu singkat Hu Bengcu bisa memiliki semangat jantan watak mulia serta bersifat bijak kesemuanya dikarenakan mendapat bimbingan serta nasehat dari hujien. Ia berwatak halus dan penuh perasaan membuat berlaku malu dengan perbuatan sendiri ia jadi sadar dan timbul perasaan menyesal atas perbuatan keji yang pernah ia lakukan masa silam. Sejak Bengcu berkenalan dengan hujien. Bengcu tidak pernah melakukan sebuah pekerjaan yang merugikan orang lagi atau membunuh orang manusia baikpun oleh karena itu Bengcu dalam pandangan hujien adalah seorang manusia baik yang betuI-betul baik. Hu Bengcu ada maksud membuat pahala menebus dosa ia ingin mengandalkan kepandaian silatnya untuk berbuat amal bagi khalayak ramai kalau dikatakan kesemuanya ini berkat bimbingan yang baik dari hujien siapa sangka Aaaai!

sungguh sayang Thian tidak memberi usia panjang buat Bengcu sebelum ia menyelesaikan cita-citanya harus menemui ajal ditangan orang lain pukulan yang demikian berat ini telah menimpa diri Hu hujien yang polos dan perasa.

Beberapa patah kata yang diutarakan barusan membuat Tiong It Hauw serta Yu Ih Lok mengangguk tiada hentinya Ban Ing Soat makin serius lagi dengan mata terbelalak ia pusatkan seluruh perhatian untuk mendengarkan.

Terdengar Biauw Siok Lan menghembuskan napas panjang setelah berhenti sejenak terusnya.

Dia cantik lemah lembut sama sekali tidak punya rencana bahkan kelihatan lemah dan mendatangkan rasa kasih buat yang melihat, padahal dalam kenyataan dia adalah seorang perempuan cerdik hanya saja semalam ini semua urusan ia manut pada usul Bengcu maka kita susah menemukan keistimewaan ini seandainya rasa sedih membuat wataknya berubah kemungkinan besar dunia persilatan akan dikacau tidak keruan tangannya yang halus bakal menciptakan banjir darah suasana tenang Bu-lim akan berantakan..... Yu Ih Lok rnengerutkan dahi mendengar sampai disitu ia tak dapat menahan sabar lagi segera tukasnya.

Dia adalah seorang perempuan berwatak halus mulia dan perasa terhadap ulat dan semutpun menaruh rasa sayang mana mungkin.....

Justru kerena pada hari-hari biasa ia berwatak halus mulia dan perasa satu kali wataknya berubah maka seluruh jago Bu-lim yang ada dikolong langit bakal menjadi sasaran dalam melampiasnya rasa dendamnya.....

Pendapat dari nona Biauw apakah tidak sedikit keterlaluan? menurut pendapat cayhe bersikap begini karena mengalami pukulan terlalu berat setelah beristirahat sepuluh hari atau setengah bulan tentu akan pulih kembali seperti sedia kala, sekarang yang jadi persoalan kemana ia selanjutnya kemana ia hendak tinggal melanjutkan sisa hidupnya? aku merasa tidak mengerti dan tidak berhasil mendapatkan cara yang tepat Hu Bengcu bersemangat jantan bernyali besar dan berpengetahuan luas kalau dibicarakan dari jago yang ada dalam lembah Mie Cong Kok aku rasa susah untuk menemukan orang yang cocok sebagai pengganti kedudukan Bengcu ini.

Entah Huo Yen Ga dapatkah memikul tugas berat ini tiba-tiba Tiong It Hauw menimbrung.

Huo Yen Ga serta Tiong-heng merupakan jago lihay dari suatu daerah namun kalian kekurangan watak kegagahan keberanian macam Hu Bengcu maap siauw-te bicara blak-blakan dengan bakat kalian berdua untuk menjagoi suatu daerah tertentu masih bisa untuk merajai seluruh kalangan Liok-lim aku takut masih belum mampu.

Mendengar perkataan tersebut Tiong It Hauw segera mendongak tertawa terbahak-bahak.

Siauw-te pun menyadari kepandaian silat kecerdasan kegagahan keberanian maupun pengetahuanku masih terpaut sangat jauh apabila dibandingkan deagan Hu Bengcu, namun kalau dibandingkan dengan Huo Yen Ga siauw-te merasa tidak kalah barang sedikitpun kalau kursi Bengcu ini harus diberikan kepadanya siauw-te sedikit banyak merasa kurang rela.

Bila dibicarakan dari situasi saat ini kekuatan dari Tiong-heng serta Huo-heng boleh dikata seimbang pejabat Bengcu selanjutnya tentu harus di pilih dari antara kalian berdua namun kalau kalian sama-sama tidak mau mengalah sehingga menimbulkan pertarungan seru maka keadaannya sama arti sama-sama hancur sekalipun Tiong-heng tidak mengungkap siauw-te pun akan memihak dirimu dengan setia untuk mencari suatu cara yang lebih baik terpaksa untuk sementara kita usulkan saja agar hujien yang menggantikan kedudukan Bengcu mungkin dengan demikian kita bisa mengurangi suatu kancah pergolakan yang tak perlu.

Haaa... haaa... aku rasa tak perlu untuk sementara saja kata Tiong It Hauw sambil tertawa. Biarlah selanjutnya hujien yang duduk sebagai pucuk pimpinan!

Walaupun Tiong-heng ada maksud melindungi hujien dan mengusulkan ia sebagai pengganti Bengcu belum tentu Huo Yen Ga suka menyetujui usulmu.

Moay Siauw Beng yang berdiri dipinggir dan selama ini hanya mendengar saja pada saat ini tiba-tiba menimbrung.

Kalau Huo Yen Ga bermaksud mengacau kita bunuh saja dia biar beres.

Yu Ih Lok pernah menjumpai kepandaian silatnya ia tahu sekalipun orang ini kelihatan masih seorang bocah namun kepandaian silatnya sangat lihay manusianya kecil pikiran besar bahkan tidak jeri mati manusia macam begini tak boleh sembarangan dicari gara-gara karena itu ia lantas tersenyum.

Jago Liok-lim dari daerah sekitar Kang lam serta Ling lam kebanyakan menurut perintah dari Huo Yen Ga walaupun membinasakan seorang Huo Yen Ga tidak susah namun secara bagaimana kita hendak membasmi anak buah serta komplotannya.

Aaaakh! sedikitpun tidak salah seru Moay Siauw Beng sambil membelalakkan matanya anak buah Huo Yen Ga semuanya ada beberapa orang?. Mungkin hampir separuh dari anggota Liok lim yang ada di lembah Mie Cong Kok kita.

Kalau begitu kenapa sih harus susah-susah kita bunuh saja separuh jago Liok-lim akhirnya kau tinggal separuh yang pro kita? kenapa tidak kita bereskan saja Huo Yen Ga beserta komplotannya daripada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari?

Walaupun usia orang masih kecil tetapi apa yang dikatakannya amat keji dan tegas tidak malu disebut kekejian seorang lelaki.

Seketika Yu Ih Lok mengerutkan dahinya.

Siauw heng-te kau anggap Huo Yen Ga adalah seorang manusia yang mudah dihadapi.

Baiklah tukas Moay Siauw Beng kemudian sambil tersenyum. Kita tunggu saja sampai enso bangun lebih dahulu nanti kita tanya padanya perlukah orang she Huo itu dibunuh atau tidak seandainya enso suruh bunuh akan kubunuh dihadapan kalian.

Walaupun Yu Ih Lok merasa tidak puas atas sesumbar kesombongan bocah ini namun ia tahu watak anak ini berangasan sepatah dua patah kata tidak cocok kemungkinan besar akan berkobar suatu pertarungan yang menyangkut jiwa seseorang karena itu ia tidak mengubris dirinya lagi dan segera bepaling kearah Tiong It Hauw.

Tiong-heng! ujarnya lirih walaupun Huo Yen Ga jadi orang sombong dan tinggi hati tetapi ia menaruh rasa kagum dan takluk terhadap Hu Bengcu almarhum seandainya kita bisa menggunakan kebajikan menghadapi dirinya ada kemungkinan ia suka melindungi hujien siapa tahu bukan?.

Tiong It Hauw mendongak dan tertawa tergelak.

Orang pertama yang paling ditakuti Huo Yen Ga dalam rebutan ini adalah aku kalau aku rela mengaku kalah dan takluk dibawah lututnya paling sedikit ia bisa menghilangkan rasa mangkel dalam dadanya kalau ia mau menyetujui masih tidak mengapa kalau tidak mau terima dan benar-benar mengajak aku bergebrak kekuatan kita belum tentu lebih lemah dari kekuatannya namun tak bisa lebih kuat pula dari kekuatan orang lain pertarungan yang bakal terjadi adalah suatu pertarungan adu tenaga yang sangat mengerikan perduli siapa menang siapa kalah masing-masing pihak akan menderita kerugian yang sangat besar.

Aaaai... pada saat ini lembah Mie Cong Kok pusat pergerakan kita tidak lebih baru dibangun pada dasarnya belaka kata Yu Ih Lok sambil menghela napas panjang dengan matinya Bengcu dasar kekuatan semakin lemah kalau kita tak bisa bersatu padu lagi lebih baik cepat-cepat dibubarkan saja.

Kau anggap keadaan seperti ini masih bisa dipertahankan lebih lanjuti? haaa... haaa... sekalipun Huo Yen Ga setuju agar hujien yang pegang pucuk pimpinan sabagai Liok-lim Bengcu keadaan tenang inipun sementara hanya bisa bertahan setengah sampai satu bulan terus terang kukatakan kecuali Hu Bengcu seorang yang memiliki nyali serta pengetahuan sangat luas serta kekuatan yang luar biasa siapapun jangan harap bisa mempertahankan keadaan tersebut.

Lembah Mie Cong Kok pusat pergerakan kita kalau sudah tak sanggup mempertahankan diri dari serbuan Siauw lim si serta Bu-tong pay dan bukan tempat indah laksana nirwana apa perlunya diperebutkan lagi menurut pandanganku lebih baik kita sudahi sampai disitu saja tukas Moay Siauw Beng kembali.

Tiong It Hauw mengangguk.

Urusan ini tak mungkin kita putusi sendiri aku lihat kita bicarakan lagi setelah hujien bangun nanti!.

Ketika ia berpaling tampak olehnya sementara itu dengan air mata jatuh berlinang Kok Han Siang sedang bergumam seorang diri.

Toako tunggulah aku disana. Tunggulah aku setelah selesai membalas dendam segera menyusul dirimu. Oleh sebab pikirannya sedang kacau tanpa ia sadari dalam tidurpun ia mengigau tanpa melupakan dendam sakit hati atas kematian Hu Pak Leng.

Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat secara berpisah duduk dikedua belah sisinya mereka berdua setelah merangkak dan mendaki bukit beberapa saat lamanya kini pada letih tanpa terasa telah tertidur.

Entah berapa saat lewat dengan cepatnya sewaktu Tiong It Hauw selesai mengatur pernapasan dan terjaga mendadak ia menemukan Kok Han Siang telah lenyap dari sana hatinya terperanjat buru-buru ia bangun serta menengok empat penjuru.

Luas puncak bukit ini hanya beberapa tombak saja dengan ketajaman mata Tiong It Hauw sekali pun berada ditengah malam buta ia dapat membedakan benda yang ada disekeliling tempat itu.

Ia telah memeriksa setiap lekukan bukit berbatu tetapi tidak ditemukan juga bayangan tubuh dari Kok Han Siang hatinya mulai gelisah pikirnya.

Keadaan bukit karang ini sangat curam dan bahaya ia seorang diri menggendong seorang mayat entah telah pergi kemana?.

Walaupun hatinya sangat gelisah namun Tiong It Hauw tidak ingin membangun orang lain.

Angin malam bertiup lewat bintang telah waktu menunjukkan hampir mendekati kentongan ketiga.

Malam itu adalah suatu malam tak berbulan di angkasa raya hanya tampak beberapa butir bintang berkedip-kedip memancarkan cahaya yang redup dan lemah.

Tiong It Hauw dengan termangu-mangu berdiri diatas puncak sinar mata berputar memeriksa keadaan empat penjuru tampak olehnya suasaaa amat sunyi tak nampak sesuatu gerak gerik apapun bayangan Kok Han Siang bagaikan lenyap tertelan kesunyian malam.

Makin lama hatinya semakin cemas sehingga ia berpikir dalam hati.

Ditengah gunung demikian luas dan tiada ujung pangkal empat penjuru merupakan jalan bisa ditembusi entah ia telah pergi kemana? bagaimana mungkin aku bisa menemukan dirinya?.....

Ia menghela napas panjang gumamnya dengan suara lirih.

Aku harus membangunkan mereka kita harus berpisah dengan mengambil suata arah yang berbeda kemudian menjanjikan suatu tanda untuk berhubungan satu sama yang lain asal siapa saja diantara kita berhasil menemui hujien ia harus segera menghubungi kami....

Segala ia ada maksud membangunkan Yu Ih Lok terdengar mendadak suara batu saling bertumbukan berkumandang dari tempat kejauhan.

Suara berkumanding lama sekali dengan ketajaman pendengaran Tiong It Hauw dapat ditentukan apabila suara itu berasal dari sebutir batu gunung yang menggelinding jatuh kebawah puncak kemudian menumbuk batu cadas dipunggung bukit.

Di tinjau dari kerasnya suara benturan itu agaknya batu tersebut tidak kecil bahkan ditengah malam buta dapat terdengar suaranya sangat nyaring lagi memandang.....

Batu gunung ini tentu disepak Kok Han Siang tanpa sengaja pikir Tiong It Hauw dalam hatinya. Ia segera enjotkan badan berkelebat menuju kearah mana berasalnya suara tersebut.

Gerakan tubuhnya sangat cepat ditambah pikirannya sedang menguatirkan keselamatannya Kok Han Siang. Larinya semakin cepat lagi dalam sekejap mata telah berada diatas puncak seberang.

Sementara itu suara gelindingan batu telah lenyap didasar bukit suasana pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian. Walaupun Tiong It Hauw memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna namun setelah berlari kencang beberapa saat lamanya ia mulai merasa napasnya terengah-engah ia berhenti sebentar dipunggung bukit tampak sesosok bayangan manusia sedang bergerak keatas dengan sangat lambat hatinya seketika tergetar keras.

Bukankah dia adalah Kok Han Siang? pikirnya dalam hati. Di tengah malam buta begini kalau bukan dia yang sedang mendaki gunung siapa lagi yang kesudian mendaki bukit gersang ini.

Berpikir sampai disitu badannya laksana anak panah terlepas dari busur segera meluncur keatas.

Agaknya ia sangat takut mengejutkan diri Kok Han Siang menanti tubuhnya hampir mendekati perempuan tersebut mendadak ia perlambat langkah kakinya.

Di bawah sorotan sinar bintang yang redup tampak nyata orang sedang mendaki bukit itu bukan lain adatah Kok Han Siang yang sedang ia cari.

Sebelum menjumpai Kok Han Siang hatinya cemas tidak keruan kepingin sekali segera menemukan perempuan tersebut sekarang telah menjumpai Kok Han Siang mendadak ia jadi takut bilamana gerak- geriknya yang mencurigakan diketahui olehnya ia jadi gelisah dan takut munculkan diri untuk menjumpai dirinya.

Ketika Kok Han Siang tiba diatas puncak bukit itu ia berhenti seraya mengusap keringat yang membasahi jidatnya kemudian menunduk memandang jenasah Hu Pak Leng yang ada dalam pondongan.

Toako kita hampir tiba pada tempst tujuan gumamnya lirih.

Setelah mencium jenasah tersebut beberapa kali ia melanjutkan kembali perjalanannya kedepan. Melihat kejedian itu Tiong It Hauw tercengang pikirnya.

Ia melakukan perjalanan melalui sebuah bukit melewati bukit yang lain entah tempat mana yang sedang ia tuju...

Ketika ia mendongak keatas tampaklah sebuah bukit yang amat tinggi menjulang jauh dibelakang bukit tersebut diatas gunung itu penuh dilapisi dengan jauh dibelakang bukit tersebut diatas gunung..

Puncak bukit ini bukan saja amat tinggi menembus awan bahkan berlapisan salju yaag tebal dengan ilmu meringankan tubuhku yang cukup sempurnapun susah untuk mendaki bukit tersebut apalagi ilmu silatnya jauh dibawah kepandaianku terutama sekali ia harus menggendong jenasah dari Hu Bengcu. Apa maksudnya mendaki keatas puncak bersalju?

Walaupun dalam hati merasa keheranan namun ia tak ada keberanian untuk menegur Kok Han Siang terpaksa diam-diam ia menguntit dibelakang sembari diam-diam melindungi dirinya.

Hawa murni disalurkan mengeliling badan seandainya Kok Han Siang tergelincir ia segera akan turun tangan memberi pertolongan.

Dugaan sedikitpun tidak salah setelah melewati puncak tersebut Kok Han Siang melanjutkan dakiannya menuju bukit bersalju tersebut.

Ketinggian bukit ini jauh melebihi ketinggian bukit-bukit lain luas puncak ada tiga puluh li dan tiada bukit lain yang lebih tinggi dari bukit bersalju ini.

Entah darimana datangnya tenaga sebesar itu sambil membopong jenasah Hu Pak Leng Kok Han Siang selangkah demi selangkah mendaki terus keatas, itu penuh dilapisi dengan salju yang tebal tak terasa ia jadi terperanjat kembali pikirnya.

Ketika hampir mendekati puncak langkahnya semakin sukar dan payah salju melapisi seluruh permukaan dan membeku bagaikan batu membuat permukaan jadi licin susah dilalui dalam keadaan seperti itu Kok Han Siang merobek pakaian sendiri untuk mengikat jenasah Hu Pak Leng diatas punggungnya setelah itu dengan bantuan sepasang tangan ia merangkak naik keatas. Tiong It Hauw mulai takut perempuan itu tergelincir jatuh kebawah terutama sekali setelah meninjau keadaan yang begitu bahaya dari bukit tersebut ia mengepos napas melayang tiga empat depa kebelakang Kok Han Siang siap turun tangan setiap saat.

Tampak Kok Han Siang menggerakkan sepasang telapaknya yang putih bersih menghajar hancur salju yang ada diatas batu karang kemudian mencekal batu itu sebagai pegangan merangkak naik ke atas demikian seterusnya diulangi sampai beberapa kali.

Tiong It Hauw yang melihat kejadian itu timbul rasa kasihan didalam hati pikirnya!

Kiranya ia merangkak naik dengan cara begini untung sekali terpikir olehnya cara seperti ini.

Belum habis ia termenung mendadak terdengar suara keluhan lirih berkumandang memecahkan kesunyian kemudian suasana hening kembali.

Menanti Tiong It Hauw alihkan sinar mata mendadak ia temukan diatas lapisan salju diatas batu karang ternoda darah merah yang dengan cepat membeku terteralah sebuah bekas telapak tangan warna merah.

Jelas telapak Kok Han Siang telah robek oleh goseran tajam batu karang sehingga terluka dan mengucur darah segar.

Rasa sakit yang diderita tentu luar biasa disamping harus menahan rasa sakit telapak ia pun harus sekuat tenaga pula menghancurkan lapisan salju diatas batu namun ia gertak gigi dan sedikitpun tidak merintih.

Tiong It Hauw merasa amat berduka perlahan-lahan ia menghela napas panjang.

Tak disangka seorang perempuan yang begitu lemah ternyata memiliki semangat yang berkobar serta keteguhan hati yang patut dipuji.

Sementara ia sedang termenung Kok Han Siang telah tiba diatas puncak dan berpaling kebelakang.

Laksana kilat Tiong It Hauw menyembunyikan dibalik karang menghindarkan diri dari pertemuan dengan perempuan tersebut.

Dari atas puncak terdengar suara seruan Kok Han Siang yang menyaring berkumandang datang. Oooouw...! Puncak ini benar-benar amat tinggi.

Ucapan selanjutnya tak kedengaran lagi agaknya ia telah meninggalkan tempat tersebut.

Tiong It Hauw segera meloncat keatas puncak bukit sunyi senyap tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun bayangan Kok Han Siang pun ikut lenyap tak berbekas.

Ia jadi cemas hawa murni segera disalurkan mengelilingi badan dan meloncat naik keatas puncak.

Segulung angin dingin menghembus lewat membuat Tiong It Hauw bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri rasa dingin diatas puncak tersebut sangat luar biasa jauh berbeda dengan kehangatan dikaki bukit tersebut hawa dingin seketika membuat pikirannya tersadar kembali dan semangat makin berkobar- kobar.

Dengan cepat ia berpaling keempat penjuru namun bayangan Kok Han Siang lenyap tak berbekas yang tertampak hanya dataran salju nan putih ia pun tidak berani berteriak memanggil hatinya sangat gelisah.

Tiba-tiba...

Suara benturan salju yang amat ringan berkumandang datang suara tersebut amat lirih dan halus semisalnya Tiong It Hauw tidak memiliki ilmu silat lihay niscaya tak akan berhasil menangkap suara tersebut. Dengan seksama ia segera mencari disekeliling tempat itu dibalik sebuah bukit karang ia temukan Kok Han Siang sedang berlutut diatas permukaan salju sepasang tangannya tiada henti menggali permukaan tersebut.

Ia tidak membawa senjata tajam sepasang tangannya yang robek terluka tiada hentinya menggali permukaan salju rasa sakit saat itu bisa diduga tentu luar biasa sekali terutama hawa dingin yang sangat menusuk tulang membuat jari-jari tangan kaku galianpun makin lama makin lemah.

Melihat pasangan tangan perempuan itu sudah hancur dan keadaan mengerikan lama kelamaan Tiong It Hauw tak bisa menahan diri lagi.

Dengan lagkah lebar ia berjalan kesisi Kok Han Siang dan menegur. Hujien apa gunanya kau menggali permukaan salju ini?!

Pada mulanya Kok Han Siang agak tertegun diikuti ia lantas tersenyum, aku hendak membangun sebuah rumah baru disini!.

Aaaakh... kiranya ia sama sekali tidak menaruh rasa gusar atas munculnya diriku secara tiba-tiba pikir Tiong It Hauw dalam hati kecilnya tahu begini seharusnya sejak tadi aku munculkan diri.....

Di dalam hati ia pikir begitu diluar ia segera berkata :

Hujien apakah kau hendak menggunakan salju ini untuk membangun sebuah rumah?.

Ehmm! aku hendak meletakkan Toako didalam bangunan rumah tersebut dari salju ini sewaktu-waktu kalau aku rindu kepadanya setiap saat bisa datang kemari untuk menengok.

Walaupun dalam hati Tiong It Hauw merasa geli namun ia tak berani tunjukkan perasaan tersebut diluaran dengan nada serius ujarnya kembali.

Sepasang tangan hujien telah robek dan terluka seharusnya kau beristirahat sejenak urusan menggali saiju biarlah hamba kerjakan mewakili hujien.

Baiklah akupan merasa sedikit lelah.

Tiong It Hauw segera melepaskan golok tipis dari pinggangnya dan mulai menggali permukaan salju dengan kesempurnaan tenaga lweekang yang dimiliki ditambah pula mendapat bantuan senjata tajam dalam sekejap mata telah tergali sebuah liang yang sangat besar. 

Ketika ia berpaling kebelakang tampak olehnya Kok Han Siang duduk bersandar pada sebuah batu kararg sepasang mata terpejam rapat seolah-olah telah tertidur pulas.

Hujien... hujien... seru Tiong It Hauw beberapa kali namun tak kedengaran sahutan dari Kok Han

Siang.

Lama kelamaan timbul rara curiga dalam hatinya dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri perempuan tersebut dan memberanikan diri memegang keningnya.

Seketika ia merasa bagaikan memegang batuan salju saja dinginnya luar biasa hatinya terperanjat. Kiranya setelah semangat perempuan itu buyar terhembus pula oleh angin dingin seluruh tubuh Kok

Han Siang telah jadi kaku.

Tiong It Hauw angkat muka tarik napas panjang setelah menenangkan hati yang bergolak ia meraba dada perempuan itu terasa jantung masih berdetak dengan sangat lemah.

Mamandang pula wajah nan cantik dari perempuan yang dirindukan siang malam suatu perasaan aneh tiba-tiba muncul didasar lubuknya golakan itu makin lama makin berkobar sehingga tak tertahan tapi ia menunduk serta mencium bibir sang perempuan yang telah mendingin itu. Walaupun ia tahu Kok Han Siang saat ini hilang kesadarannya karena kedinginan dan sekalipun ia cium bibirnya berlaksa-laksa kalipun ia tak bakal merasa namun karena rasa hormat pada hari-hari biasa yang melebihi segala setelah mencium ia merasa salah rasa manyesal meliputi seluruh benaknya.

Lama kelamaan dari menyesal ia jadi malu sendiri tangannya kontan bergerak cepat menggaplok pipi sendiri berulang kali.

Walaupun ia sedang menghukum diri sendiri gaplokannya sangat keras membuat pipi jadi sembab amat sakit pikiran yang hampir dikuasahi napsunya seketika tersadar kembali.

Pada saat ini napasnya kempas-kempis hampir mati aku rasa cepat-cepat cari akal untuk menolong jiwanya pikir lelaki berkerudung ini dalam hati.

Tanpa menggubris tata kesopanan lagi ia bopong badan Kok Han Siang dan buru-buru meloncat turun kebawah.

Ilmu silatnya sangat lihay ditambah lagi berada dalam keadaan gelisah gerakan tubuhnya sangat cepat.

Dalam sekejap mata ia telah tiba dibawah puncak mencari suatu tempat terlindung dari angin dan meletakkan Kok Han Siang keatas tanah hawa murni disalurkan mengelilingi seluruh badan kemudian menguruti seluruh badan perempuan itu.

Di atas puncak hawa dinginnya luar biasa sebaliknya dibawah puncak hawa terasa sangat hangat tubuh Kok Han Siang pun belum lama membeku setelah diurut beberapa saat perlahan-lahan ia tersadar kembali.

Terdengar ia menghembus napas panjang dan membuka kembali sepasang matanya.

Ketika sinar mata Tiong It Hauw terbentur dengan sinar mata yang sayu namun jeli itu dengan ketakutan ia segera mundur kebelakang.

Hujien! serunya cemas. Harap memaafkan hamba telah berlaku kurang ajar...

Siapa nyana Kok Han Siang tersenyum sedikitpun tiada maksud mengumbar hawa amarah. Hatimu merasa ketakutan? tukasnya.

Tiong It Hauw tertegun. Hujien badanmu membeku.

Tak usah dibicarakan lagi kau membopong aku karena hendak menolong jiwaku aku tak akan menyalahkan dirimu apa perlunya kau merasa ketakutan?...

Hujien berpandangan luas melebihi samudra hamba merasa sangat berterima kasih. Kok Han Siang segera tertawa cekikikan.

Apakah kau tidak merasa lucu dengan ucapanmu ini? kau telah menolong selembar jiwaku seharusnya aku yang ucapkan terima kasih kepadamu kenapa malah kau yang berterima kasih kepadaku?.

Tentang soal ini.

Kok Han Siang bangun duduk dan menuding sebuah batu cadas disisinya ujarnya kemudian : Kemarilah dan duduk disini aku ada perkataan hendak disampaikan kepadamu.

Dengan sangat hormat Tiong It Hauw maju ke depan dan duduk disisi perernpuan itu. Hujien ada petunjuk apa??.

Tiba-tiba Kok Han Siang mengucurkan air mata setelah menghela napas sedih tanyanya : Toakoku seorang manusia baik atau manusia jahat ??. Watak tingkah laku kegagahan keberanian serta pengetahuan Hu Bengcu tiada tandingan dikolong langit ia memiliki semangat dan tujuan untuk menolong umat manusia di kolong langit tidak takut mengorbankan diri menempuh semua mara bahaya bersikap mulai kepada orang lain dan mengutamakan kebajikan serta keadilan dikolong langit tak ada manusia lain bisa menandingi dirinya.

Mendadak Kok Han Siang menangis tersedu-sedu sembari menangis ujarnya lagi.

Namun ia sudah mati tak pernah kulihat ia bunuh seorang manusiapun berbuat suatu pekerjaan jahatpun tapi kenapa Thian tidak mengijinkan ia hidup lebih lama dikolong langit?

Suara tangisannya makin lama makin menjadi mernbuat orang yang mendengar ikut jadi sedih dan berduka.

Seketika Tiong It Hauw dibikin kelabakan dan kebingungan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencegah tangisan tersebut setelah tertegun beberapa saat barulah hiburnya.

Bengcu telah wafat sekalipun hujien menangis teruspun percuma kita harus berusaha membalaskan dendam sakit hati ini.

Mendadak Kok Han Siang berhenti menangis perlahan-lahan mendongak memandang bintang yang bertaburan diangkasa mulutnya membungkam pikiran melamun entah kemana...

Tiong It Hauw yang ada disisinya diam-diam memperhatikan terus perubahan wajahnya ia melihat perempuan itu sebentar kerutkan dahi sebentar kebingungan bagaikan seseorang terapung-apung ditengah samudra jelas ia sedang memikirkan suatu persoalan yang sangat besar dan membuat ia jadi murung.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian terdengar ia berkata kembali dengan nada tegas.

Perkataanmu sedikitpun tidak salah aku harus berusaha untuk balaskan dendam sakit hati Toako, aku hendak membinasakan seluruh orang yang melukai Toako aku hendak melihat dengan mata kepala sendiri mereka mati ditanganku dan aku tahu siapakah yang telah mencelakai diri Toako.

Beberapa patah kata ini semuanya dipancar keluar dari mulutnya dengan gunakan seluruh tenaga yang ia miliki membuat orang yang mendengar jadi kaget.

Tiong It Hauw sendiripun terkesiap oleh perkataan tersebut ujarnya eepat!

Persoalan membalas dendam sakit hati Bengcu bukan berhasil dalam satu atau setengah tahun. Harap hujien baik-baik menjaga kesehatan badan sehingga bisa menyusun rencana dikemudian hari.

Mendadak Kok Han Siang berpaling sambil memandang kerudung hitam diatas wajah Tiong It Hauw tajam-tajam tawanya.

Di dalam lembah Mie Cong Kok kita siapakah yang bisa membalaskan dendam Bengcu. Pertanyaan ini datangnya sangat mendadak lama sekali Tiong It Hauw termenung.

Tentang soal ini sukar dibicarakan. Asal... kau bisakah?.

Kalau andalkan ilmu silat hamba mengerti kekuatanku tak bisa balaskan dendam Bengcu.

Aaaai! benar secara mendadak Kok Han Siang seperti menyadari akan sesuatu dengan kepandaian selihay toakoku pun tak bisa menangkan hweesio-hweesio serta toosu-toosu itu kepandaian silat yang kau miliki tak dapat menangkan toako tentu saja tak bisa menangkan mereka-mereka itu.

Tiong It Hauw menghela napas panjang.

Walaupun hamba tak bisa menangkan orang-orang dari partai Siauw lim serta Bu-tong pay namun aku pun tahu tak gampang mencari beberapa orang di antara jago-jago Liok-lim yang bisa menangkan orang- orang dari kedua partai tersebut. Huo Yen Ga dapatkah membalaskan dendam ini.

Dasar watak Tiong It Hauw sangat sombong dan tinggi hati beberapa kali ia dipanasi oleh ucapan Kok Han Siang seketika mengobarkan semangat ingin menangnya.

Mendengar pertanyaan itu ia segera tertawa dingin jawabnya.

Ilmu silat yang dimiliki Huo Yen Ga belum tentu bisa menangkan hamba kalau hujien tidak percaya hamba rela mengadakan suatu pertarungan mati-matian melawan dirinya dihadapan seluruh jago dari lembah Mie Coog Kok.

Aaaai! kalau begitu didalam lembah Mie Cong Kok kita terhitung kepandaian silat paling lihay.

Walaupun hamba tidak dapat menangkan jago-jago lihay dari Siauw lim serta Bu-tong pay namun aku percaya dalam lembah Mie Cong Kok kita kecuali Hu Bengcu seorang tak ada orang lain yang bisa membuat hamba merasa takluk.

Mendadak Kok Han Siang bangun berdiri.

Maukah kau bantu aku balaskan dendam sakit hati toako? tanyanya halus. Perintah dari hujien tak akan kutampik sekalipun harus korbankan selembar jiwaku.

Kok Han Siang menarik napas panjang-panjang dan tertawa.

Asalkan kau benar-benar membantu aku untuk balaskan dendam sakit hati Toako aku tak akan membuat kau jadi rugi, katanya lirih. Dalam keadaan seperti ini Tiong It Hauw tidak tahu haruskah ia merasa girang atau sedih setelah lama sekali tertegun ia baru berkata.

Hamba bisa mengiringi hujien sekalipun seluruh tubuhku harus hancur hamba juga rela.

Sudah tak usah dikatakan lagi tukas Kok Han Siang sambil tertawa. Aku tahu selama ini kau bersikap baik terhadapku bukankah begitu.

Kecantikan wajah hujien tiada tandingan dikolong langit jikalau cayhe bukannya tertarik oleh kecantikan hujien yang luar biasa selama hidup aku tak akan tunduk dibawah lutut orang lain.

Sepasang mata Kok Han Siang berputar dalam sekejap mata itulah agaknya ia merasa kecantikan wajahnya bisa mendatangkan suatu pengaruh besar bagi orang lain.

Benarkah wajahku sangat cantik seperti apa yang kau katakan? tanyanya.

Kecantikan hujien tiada tandingan dikolong langit hamba tidak pintar dalam berbicara sehingga sukar untuk mengutarkan apa yang terkandung dalam hatiku kalau tidak ingin sekali kugunakan bermacam-macam cara untuk menunjukkan betapa cantiknya wajah hujien.

Kok Han Siang mengangkat telapak tangannya yang penuh dengan luka untuk membereskan rambutnya yang terurai ujarnya kembali.

Selama ini belum pernah kuperhatikan kecantikan wajahku sendiri apakah kecantikan wajah benar- benar bisa membuat orang lain terpengaruh.

Beberapa patah perkataan ini seolah-olah diucapkan untuk diri sendiri seperti pula sedang bertanya kepada orang lain sinar mata memancarkan cahaya kebingungan dan kosong bagaikan secara tiba-tiba ia baru menemukan apabila kecantikan wajahnya bisa membuat orang laki tergila-gila dan rela tunduk dibawah kakinya...

Terdengar Tiong It Hauw menghela napas panjang. Hujien apa yang sedang kau pikirkan?? tanyanya lirih.

Aku sedang berpikir kecantikan wajah seseorang kecuali bisa digunakan untuk mengagumkan orang lain entah masih adakah kegunaan lain? Tiong It Hauw membungkam dalam seribu bahasa perlahan-lahan ia mundur dua langkah kebelakang.

Hujien luka ditanganmu sangat berat dan seharusnya diobati lebih dahulu sehingga jangan sampai akibat luka kecil berubah jadi makin membesar, ujarnya sambil mengalihkan bahan pembicaraan kesoal yang lain.

Agaknya Kok Han Siang pua secara tiba-tiba telah teringat akan satu persoalan yang maha berat ia berpaling memandang tajam wajah Tiong It Hauw.

Mengapa selama ini kau selalu menutupi wajahmu dengan kerudung hitam? apakah wajahmu tumbuh sangat jelek sehingga tidak sedap dipandang orang??.

Mendapat pertanyaan itu seluruh tubuh Tiong It Hauw tergetar keras. Apakah hujien ingin melihat wajah sebenarnya dari hamba?.

Kalau diatas wajahmu ada suatu cacad yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain lebih baik tak usah saja setelah aku melihatnya kemungkinan akan ikut merasa sedih.

Tiong It Hauw mendongak segera tertawa terbahak-bahak.

Haaa... haaa... haaa... dikolong langit tak ada orang yang kupandang tinggi karena itu hamba tidak ingin menjumpai dirinya dengan wajah asli...

Mendadak ia angkat tangannya dan melepaskan kerudung hitam yang selama ini menutupi terus wajahnya.

Ketika Tiong It Hauw melepaskan kerudung hitam diatas wajahnya mendadak Kok Han Siang melengos kesamping.

Kau tak perlu melepaskan kerudung hitam yang menutupi wajahmu aku tidak ingin melihat serunya. Kenapa?

Di kolong langit kecuali Toakoku yang telah mati kau merupakan orang pertama yang bicara paling banyak dengan diriku aku tidak ingin melihat cacad diatas wajahmu setelah melihat hal itu kemungkinan besar hatiku bisa ikut merasa sedih.

Tiong It Hauw tertawa ringan.

Hujien harap kau suka berpaling dan melihat wajahku kecuali orang tuaku serta guruku boleh dihitung kau merupkan orang pertama yang bisa melihat wajah asliku.

Perlahan-lahan Kok Han Siang berpaling dan alihkan sinar matanya keatas wajah Tiong It Hauw.

Sewaktu sinar matanya terbentur dengan wajah orang itu mendadak jantungnya terasa berdebar keras dibawah hembusan angin malam yang mengibarkan rambut napasnya kelihatan agak terburu jelas ia sedang merasa tegang pada saat itu.

Di dalam pandangannya wajah Tiong It Hauw tentu ada suatu cacad yang amat besar sehingga karena itu setiap hari ia mengenakan kain kerudung hitam untuk menutupi wajahnya kalau ia bukan kehilangan sebuah matanya tentu kehilangan sebuah telinga atau diatas wajahnya timbul bengkak-bengkak besar atau mungkin juga ia berwajah bopeng.

Sejak semula hatinya telah mempersispkan diri untuk melihat selembar wajah yang jelek susah dilihat ia berusaha untuk menenangkan hatinya atau tertawa hambar dan menghiburnya dengan beberapa patah kata...

Siapa nyana urusan terjadi diluar dugaan ternyata Tiong It Hauw adalah seorang pemuda yang memiliki panca indra sempurna wajahya halus tampan dan menarik hati. Hal ini membuat ia merasa sedikit diluar dugaan Kok Han Siang tak dapat menahan diri dan berseru tertahan. Setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak ia tertawa merdu.

Oooouw ! Kiranya kau memiliki wajah yang sangat tampan! kenapa setiap hari kau tutupi wajahmu

dengan kain kerudung hitam?? bukankah kau tidak cacad sama sekali???.

Tiong It Hauw pun tertawa.

Aku mengenakan kain kerudung hitam diatas wajahku dikarenakan aku tidak ingin merjumpai orang lain dengan wajah asliku namun sekarang perbuatanku ini akan mendatangkan kegunaan yang sangat besar. Apa kegunaan itu??.

Tiong It Hauw termenung sebentar kemudian jawabnya : Jago-jago Bu-lim diseluruh jagad tak seorang pun yang pernah menjumpai wajah asliku semisalnya aku buang kain kerudung hitam itu dan berkelana dalam dunia persilatan maka tak akan seorang manusiapun yang mengenal diriku lagi...

Oooow sekarang aku paham apa maksudmu dikemudian hari apabila kita melakukan perjalanan bersam-sama orang lain tak akan mengenali siapakah dirimu.

Hujien seluruh tubuh Tiong It Hauw tergetar keras.

Ucapan selanjutnya tak bisa diutarakan lagi dan serasa menyumbat dalam tenggorokannya seluruh wajah berubah merah padam dan beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah kata.

Kembali Kok Han Siang tersenyum.

Eeeei kenapa kau? kenapa tidak kau lanjutkan ucapanmu.

Hamba tidak berani meneruskan. Kenapa?.

Kalau sampai menyinggung perasaan hujien bukankah akan berabe?.

Tidak mengapa katakanlah terus terang sekalipun memaki diriku akupun tak akan marah,

Kalau hujien memberi ijin kepada cayhe untuk mendampingi dirimu selema hidup cayhe segera akan melepaskan kain berkerudung hitam ini dan selama hidup tak akan mengenakan kembali.

Bukankah kau sering mendampingi diriku seru Kok Han Siang agak tertegun.

Mendadak ia merasa ucapan selanjutnya tak mudah diutarakan karena itu ia membungkam dan tertawa.

Sejak pertama kali Tiong It Hauw berjumpa dengan Kok Han Siang ia telah tertarik oleh kecantikan wajahnya ia rela bertekuk lutut dengan Hu Pak Leng bahkan menunjukkan semangat jantannya guna memperoleh kepercayaan dari Hu Pak Leng tidak lain ingin lebih mendekati perempuan cantik ini. Kini setelah berada berhadap-hadapan dengan perempuan yang diidamkan selama ini bahkan disuatu pegunungan yang sunyi tak tampak sesosok bayangan manusia pun ia tak bisa mengendalikan hawa napsu yang bergolak dalam dadanya.

Mendadak ia maju kedepan dan mencekal pergelangan kiri Kok Han Siang erat-erat.

Namun setelah ia cekal tangan halus tersebut mendadak terasa olehnya bahwa tindakan ini terlalu kasar seketika ia lepaskan kembali cekalannya dan mundur dua langkah kebelakang kepala tertunduk rendah- rendah dan tidak berani memandang Kok Han Siang barang sekejappun.

Di dalam pandangannya tindakan kasar ini pasti akan menimbulkan hawa gusar dalam dada Kok Han Siang serta memaki dirinya dengan beberapa patah kata pedas atau bahkan telapak tangan serta kakinya akan melayang memerseni beberapa tabokan keatas badannya. Namun ternyata urusan kembali terjadi diluar dugaan Kok Han Siang sama sekali tidak memaki atau memerseni tabokan kearahnya.

Tampak perempuan itu perlahan-lahan mendongak memandang bintang yang bertaburan diatas udara lalu bergumam tentang diri.

Aku hendak balaskan dendam sakit hati toako aku hendak membunuh habis seluruh pembunuh suamiku aku hendak menggunakan seratus lembar bahkan selaksa lembar jiwa manusia untuk mengiringi kematian toako.

Tetapi sebentar kemudian suatu ingatan berkelebat dalam benaknya. Ia teringat akan kepandaian silat toakonya yang sangat lihay dan begitu gagah namun terluka dan akhirnya mati ditangan orang lain sebaliknya ia sama sekali tidak memiliki kepandaian lihay mana mungkin bisa balaskan dendam tersebut.

Terasa olehnya untuk balaskan dendam sakit hati ini sangat tipis sekali berpikir akan hal itu ia tak bisa menahan rasa sedih dalam hatinya lagi ia segera menangis tersedu-sedu.

Tong It Hauw yang berdiri disamping dan selama ini masih merasa kikuk melihat ia bergumam seorang diri lantas menangis tersedu-sedu hatinya jadi tercengang.

Terhadap perempuan ini ia menaruh rasa hormat jeri dan sayang setelah melakukan tindakan gegabah barusan ia tidak berani banyak bicara lagi.

Namun lama kelamaan suara tangisan itu makin menjadi makin lama semakin menyedihkan karena takut tangisan ini akan melukai badannya tak tertahan lagi ia maju kedepan dengan langkah lebar.

Hujien hiburnya dengan suara lirih malam semakin kelam hawa terasa sangat dingin apalagi angin gunung berhembus deras hujien hati-hati dengan keselamatanmu.....

Mendadak Kok Han Siang berpaling sambil masih menangis ujarnya.

Toako telah mati aku hidup seorang diri dikolong langitpun tidak ada kegembiraan lebih baik cepat- cepat mati saja menyusul toako hidup sebagai suami istri matipun harus satu liang...

Mendergar perkataan itu timbul suatu perasaan kecut dalam hati Tiong It Hauw ia mendehem ringan dan menyambung kata-katanya lebih jauh.

Apa maksud ucapanmu ini hujien jangan terlalu sedih sehingga merusak kesehatan badan bukankah kau masih harus balaskan dendam sakit hati atas kematian Bengcu?.

Kepandain silat kita tak bisa melindungi kepandaian Toako siapa yang bisa balaskan dendam tersebut? seru Kok Han Siang sambil mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

Untuk balaskan dendam sakit hati Bengcu walaupun membutuhkan suatu kepandaian silat yaag sangat lihay namun ilmu silat bukan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh haruslah diketahui partai Siauw lim serta partai Bu-tong merupakan dua partai ilmu silat terbesar dalam dunia persilatan pada saat ini orang yang bita melawan kekuatan kedua partai ini ada berapa banyak? jikalau hendak balaskan dendam sakit hati Bengcu kita barus berusaha untuk menempuh jalan lain aku rasa kalau kita kukuh hendak mengandalkan kepandaian silat untuk membasmi jago-jago kedua partai tersebut mungkin cita-cita ini tak akan terwujud selama hidup.

ooooOoooo

16

KOK HAN SIANG mendongak memandang cahaya bintang yang bertaburan di angkasa setelah termenung beberapa saat lamanya mendadak ia berkata. Aku hendak balaskan dendam sakit hati toako selama aku masih hidup tak akan kulupakan cita-citaku ini sekalipun niatku ini tak akan terwujud selama ini namun aku berusaha sekuat tenaga sekalipun harus hancur lebur aku tak akan merasa sayang.

Beberapa patah kata ini diutarakan begitu tegas dan bersemangat sepatah demi sepatah diucapkan dengan keras.

Tiong It Hauw menghela napas panjang bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun dengan cepat dibatalkan kembali.

Sepasang biji mata Kok Han Siang berputar diatas wajahpun terlintas suatu kekukuhan hatinya perlahan-lahan ia berpaling memandang wajah Tiong It Hauw tanyanya dingin.

Mengapa kau menghela napas panjang? apakah kau merasa ketakutan?...

Perduli dapatkah kita balaskan dendam sakit hati dari Bengcu hamba rela sepanjang hidup mengiringi dan menanti perintah dari hujien sekalipun harus korbankan jiwa hamba rela.

Kenapa kau rela membantu diriku? apakah dikarenakan wajahku sangat cantik? mendadak wajah Kok Han Siang yang dingin kaku terlintas suatu senyuman manis.

Perempuan yang kecantikan wajah melebihi siapapun ini mulai terjadi perubahan bahkan berubah sangat mengejutkan perduli pembicaraan watak semuanya menimbulkan kekuatan untuk menguasahi orang lain.

Ia mulai membuang jauh sifatnya yang lemah lembut ia tidak ingin diatur oleh nasib rasa cinta kasih yang tebal menimbulkan dendam kesumat sedamam lautan hatinya membuat ia jadi keras hati.

Bukan saja ia ingin menguasahi diri sendiri bahkan ia mulai menguasahi orang lain ia mulai menentang nasibnya perubahan ini mungkin ia sendiripun masih belum merasakan...

Mimpipun Tiong It Hauw tidak pernah menyangka ia bisa mengajukan pertanyaan tersebut seketika ia jadi tertegun.

Tentang soal ini... tentang soal ini...

Jangan tentang soal ini itu terus terang katakan dengan berani setelah aku bertanya kepadamu sekalipun kau menjawab salahpun tidak mengapa.

Agaknya ia merasa belum puas dengan ucapan itu dengan cepat sambungnya lebih jauh.

Tapi kau harus memberi jawaban sejujurnya jawaban yang keluar dari lubuk hatimu kau tak boleh membohongi diriku.

Selesai berkata sepasang matanya yang jeli melototi wajah Tiong It Hauw tak berkedip diatas wajahpun terlintas suatu perasaan cemas.

Ia mulai menguji diri sendiri ia ingin tahu dengan andalkan kecantikan alaminya mungkinkah bisa menguasahi orang lain untuk jual jiwa kepadanya.

Dari sikap yang suci bersih dan polos ia mulai berubah jadi keji dan jahat agaknya ia mulai merasa kecantikan wajah yang dimiliki adalah satu-satunya kekuatan yang ia miliki namun ia belum tahu sampai dimanakah kekuatan tersebut dan ia gunakan Tiong It Hauw sebagai orang pertama dari kelinci percobaannya.

Di bawah desakan serta sorotan mata yang begitu tajam tanpa terasa Tiong It Hauw telah menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Pada mulanya ia merasa dirinya hanya merupakan pelindung dari perempuan tersebut namun setelah sinar matanya terbentur dengan sinar mata perempuan itu mendadak ia jadi ketakutan ia merasa sinar mata Kok Han Siang mendatangkan suatu kekuatan yang sangat besar membuat ia takluk dan menyerah. Setelab terengah-engah beberapa saat jawabnya : Hamba tidak berani menipu.....

Terasa kata-kata selanjutnya serasa tersumbat didalam tenggorokan kata-kata selanjutnya tak sanggup diutarakan keluar.