Badai Dunia Persilatan Jilid 13

 
Jilid 13

KENDATI ilmu silatnya orang itu lihay sulit juga bagi mereka untuk menghindari bokongan senjata rahasia dalam jarak sedekat itu tahu-tahu terasa bahu dan wajahnya jadi kaku masing-masing telah termakan oleh beberapa batang jarum.

Asap biru yang dilepaskan beberapa orang dayang cantik itulah seketika terbakar dan mengobarkan jilatan api berwarna hijau sewaktu bentrokan dengan angin pukulan lawan.

Ledakan keras berkumandang saling susul menyusul diikuti jilatan api berkobar semakin luas setiap benda yang tersambar seketika terbakar dengan hebatnya dalam sekejap mata seluruh meja perjamuan telah berubah jadi lautan api.

Di tengah kobaran api warna hijau itulah terdengar gelak tertawa Hong Cioe yang sangat mengerikan berkumandang memenuhi angkasa :

Haaaa... haaaa... haaaa... kau sudah terkena jarum sakti Sam Ciat Sin Ciam dan bubuk Chiet Tok atau Hun San yang telah ku buat selama tiga puluh tahun disamping panah Pek Leng Ciam dari Seng-heng apabila kalian tahu keadaan segera perintahkan semua anak murid serta pengikut kalian yang ikut datang kemari untuk meletakkan senjata dan menantikan perintah selanjutnya apabila kalian keras kepala hendak melakukan perlawanan juga jangan salahkan loohu harus membinasakan kalian semua diatas lembah yang gersang ini.

Dalam pada itu anak murid Siauw lim serta Bu-tong pay yang menanti dibawah tebing gersang sama- sama sudah naik keatas puncak, sedangkan si setan tua Swie Han serta si manusia iblis Wu Tuo yang menyaksikan Thian Sian Thaysu Ci Yang Tootiang dan Huan Tong San telah terluka mereka segera meloncat kearah jalan kecil strategis tersebut dan berjaga-jaga di situ.

Moay Siauw Beng pun telah loloskan pedangnya dari sarung dibawah sinar berwarna hijau senjata itu memancarkan cahaya yang kemilauan.

Di atas jubah padri Thian Sian Thaysu yang berwarna abu-abu sudah mulai terbakar oleh jilatan api berwarna hijau disamping itu bagian tubuh yang terhajar jarum beracun mulai terasa kaku dan gatal.

Meskipun terluka parah hweesio tua yang beriman tebal serta bertenaga dalam sempurna ini masih tetap bersikp tenang sementara kerahkan hawa murninya untuk melawan racun ie keluarkan ilmu sakti partainya Toa Lek Kiem Kong Ciang untuk menghantam meja perjamuan dihadapannya.

Hantaman ini telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya sangat dahsyat akibat yang terjadi dimana angin pukulan menyambar lewat angin puyuh menggulung menderu-deru seluruh meja perjamuan terpental ke angkasa dan berhamburan keempat penjuru.

Api-api hijau yang mulai berkobar diatas cawan arak seketika berhamburan keempat perjuru membakar apa saja yang ditemuinya.

Menjumpai Thian Sian Thaysu yang telah terluka parah ternyata masih memiliki tenaga dalam sesempurna itu diam-diam Hong Cioe terkesiap juga pikirnya.

Apabila seranganku tidak berhasil mengenai sasaran mungkin tidak gampang bagiku untuk rebut kemenangan...

Berpikir akan hal itu ia membentak keras dan melancarkan sebuah pukulan udara kosong kearah depan.

Serentetan tenaga pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar lewat tangannya cawan serta mangkuk yang sedang berterbangan menuju kearahnya segera balik kedepan.

Tiba-tiba Ci Yang Tootiang nyaring ia meloncat bangun dan menubruk datang pedang ditangannya menciptakan berpuluh-puluh kuntum bunga pedang yang mana sama-sama mengurung seluruh tubuh Hong Cioe. Meskipun badannya termakan oleh jarum beracun dan jiwanya diambang pintu kematian namun ia tidak ingin kehilangan pamornya bersuit nyaring serangan pedangnya baru dilancarkan.

Moay Siauw Beng yang berdiri disisi Hong Cioe mendadak tersenyum ujung baju berkibar tertiup angin dengan jurus Shai San Cau Hay atau menjepit bukit meloncati samudra ia songsong datangnya serangan itu.

Dalam melancarkan serangan dengan menahan rasa sakit napsu pembunuh dalam benak Ci Yang Tootiang telah serangan yang dilancarkan adalah menggunakan jurus ampuh yang paling dahsyat dari ilmu pedang partai Bu-tong ia bersiap-siap sebelum ajalnya tiba untuk membinasakan Hong Cioe dahulu dalam babatan pedangnya.

Moay Siauw Beng yang tidak kenal tingginya langit tebalnya bumi segera menyambut datangnya serangan itu menyaksikan kehadiran sang bocah ingusan ini Ci Yang Tootiang semakin gusar ia mendengus dingin pedangnya dengan disertai serentetan cahaya keperak-perakan langsung dihantamkan ke atas senjata bocah itu.

Traaang ditengah bentrokan yang memekikan telinga serta percikan bunga api tubuh Moay Siauw Beng terpertal kebelakang setelah termakan serangan tenaga dalam yang disalurkan Ci Yang Tootiang dalam pedangnya.

Berada ditengah udara bocah itu berjumpalitan beberapa kali kemudian dengan tenang melayang balik kesisi tubuh Hong Cioe.

Setelah berhasil menggetarkan tubuh Moay Siauw Beng kembali Ci Yang Tootiang menggetarkan pergelangannya diiringi percikan tiga kuntum bunga pedang langsung menyerang tiga buah jalan darah kematian ditubuh Hong Cioe.

Hong Cioe membentak keras ujung bajunya dikebaskan mengirim satu pukulan kencang untuk menghadang terjangan toosu dari Bu-tong pay itu kemudian ia meloncat mundur tiga langkah dan ambil keluar sepasang gelang emas yang memancarkan cahaya tajam dari sakunya.

Sedikit ia merandek serangan pedang dari Ci Yang Tootiang telah menyambar tiba. Kedua belah pihakpun segera melangsungkan pertempuran yang benar-benar amat seru.

Ci Yang Tootiang melancarkan serangan dengan hati gusar ia ada maksud membinasakan Hong Cioe diujung pedangnya sebelum ia sendiri mati karena keracunan secara beruntun pedangnya melepaskan jurus- jurus serangan mematikan yang benar-benar luar biasa bagaikan gulungan ombak ditengah sungai Tiang kang sejurus lebih dahsyat dari jurus berikutnya.

Hong Cioe pun merentangkan sepasang gelang emasnya menciptakan selapis bayangan emas yang menyilaukan mata pertahanannya amat kokoh dan kuat.

Terdengar suara bentrokan nyaring antara gelang emas dan cahaya pedang berkumandang tiada hentinya dalam sekejap mata masing-masing pihak sudah bertarung sebanyak enam tujuh jurus.

Sembari bertarung diam-diam Hong Cioe mulai merasa kaget dan terperanjat oleh kedahsyatan ilmu pedang yang dilancarkan Ci Yang Tootiang pikirnya didalam hati.

Seandainya ia tidak menderita luka lebih dahulu serangan-serangan yang dilancarkan toosu hidung kerbau ini pasti amat dahsyat apabila ia dapat melancarkan serangan seratus jurus lagi dalam keadaan seperti ini niscaya aku bakal menderita kekalahan total.

Ternyata serangan sebanyak enam tujuh jurus ini Hong Cioe selal kena terkurung dan dikuasahi oleh serangan-serangan pedang Ci Yang Tootiang yang aneh dan ampuh itu ia belum berhasil melancarkan serangan balasan barang sejuruspun. Tetapi ia punya keyakinan dalam hatinya it yakin Ci Yang Tootiang tidak bakal kuat bertahan sampai seratus jurus lagi maka meskipun keadaannya sangat berbahaya namun ia tidak menunjukan sikap tegang ataupun gugup.

Sementara itu setelah Thian Sian Thaysu berhasil menghancurkan meja perjamuan sinar mata yang tajam segera menatap Hu Pak Leng tajam-tajam dengan wajah sedih dan nada serius ujarnya :

Hu Bengcu kalian orang-orang dari kaum Liok-lim benar-benar berhati keji dan telangas membuat orang sukar berjaga-jaga diri seandainya loolap tidak mempercayai kau ada maksud bertobat kami tidak akan sampai termakan oleh siasat licik kalian ini.

Loo siansu maksud ucapanmu... Thian Sian Thaysu tertawa dingin.

Kau adalah manusia laknat yang tak boleh dibiarkan hidup dalam kolong langit sehari kau masih hidup dikolong langit entah berapa banyak orang yang bakal celaka ditanganmu...

Telapak tangannya diangkat kemudian langsung melancarkan sebuah babatan dari tempat kejauhan.

Hu Pak Leng tahu serangan ini pasti luar biasa sekali sebab padri itu ada maksud mencabut jiwanya diam-diam ia mengepos tenaga lalu menyingkir kesamping berada di tengah udara pedang serta tongkatnya segera dipersiapkan sebelum kakinya menginjak permukaan kembali ia langsung menubruk kearah padri tersebut pedang dan tongkat besinya kontan menciptakan berlapis-lapis cahaya tajam mengurung seluruh tubuh Thian Sian Thaysu.

Walaupun terkurung dibawah cahaya tongkat dan pedang namun Thian Sian Thaysu sama sekali tidak merasakan adanya tenaga yang menekan tubuhnya.

Kiranya Hu Pak Leng hendak pinjam bayangan tongkat serta cahaya pedang yang berlapis-lapis itu untuk menutupi tubuhnya terdengar ia berkata dengan nada berat.

Thaysu harap kau jangan gugup dan gelisah harap hentikan dahulu seranganmu dan atur pernapasan jangan biarkan racun yang mengeram dalam tubuhmu bekerja lebih cepat.

Thian Sian Thaysu merdengus dingin jari tangannya langsung menotok iga Hu Pak Leng.

Hu Pak Leng yang harus cabangkan pikiran untuk berbicara dengan Thian Sian Thaysu disamping itu harus memperhatikan pula bayangan tongkat serta cahaya pedang yang berlapis-lapis untuk menghalangi pengawasan Hong Cioe serta si api beracun Seng Jiang tenaganya telah banyak berhamburan lagi pula ia merasa yakin dengan kepandaian silat yang dimiliki padri itu ia pasti akan merasakan bahwa ia tidak menyerang dengan bersungguh-sungguh dengan kedudukan padri itu sebagai cianbujien partai Siauw lim ia tidak akan menggunakan kesempatan itu untuk melukai dirinya.

Apa yang ia pikirkan memang cengli namun sayang dugaannya kali ini meleset besar malahan pertahanan sendiri jadi teledor.

Haruslah diketahui setelah Thian Sian Thaysu menderita luka hawa gusarnya telah berkobar kesadarannya pun tidak seberapa jelas lagi menyaksikan ada peluang baik jari tangannya langsung di sodok kedalam.

Hu Pak Leng merasakan tubuhnya bergetar keras dimana angin serangan menyambar lewat tubuhnya, seketika terkena telak seketika itu juga tulang iganya patah.

Ia mendengus berat dan seketika tubuhnya jatuh terpentang dari tengah udara.

Napsu membunuh dalam benak Thian Sian Thasyu berkobar kembali ia ayun telapak kanannya untuk menambahi dengan sebuah serangan lagi. Di saat telapak tangannya belum sempat diayun kearah bawah itulah tiba-tiba serentetan cahaya putih yang amat menyilaukan mata laksana gulungan angin puyuh telah menyambar datang mengancam bagian bawahnya.

Dengan paksakan dirinya Hu Pak Leng mengepos tenaga ia meloncat bangun dan memuntahkan darah segar dengan tongkat besi sebagai penyangga akhirnya ia pejam mata dan diam-diam atur pernapasan.

Luka yang dideritanya saat ini sangat parah isi perutnya tergoncang hebat tetapi hatinya tetap tenang seperti sedia kala ia sama sekali tidak mendendam atau membenci terhadap diri Thian Sian Thaysu.

Sebab ia merasa serangan yang diterima pada saat ini adalah sama artinya suatu balasan yang setimpal bagi perbuatan-perbuatan kejinya yang dilakukan pada tahun-tahun berselang, karena tidak marah hatinya semakin tenang dan justru tindakan ini malah banyak membantu pengaturan napasnya untuk menyembuhkan luka yang sedang ia derita.

Thian Sian Thaysu yang secara tiba-tiba diserang oleh kelebatan cahaya pedang berwarna putih itu seketika terdesak dan tak mungkin lagi baginya untuk cabangkan pikiran untuk mengurusi diri Hu Pak Leng.

Terpaksa ia gunakan telapak kanan yang telah siap digunakan untuk membinasakan Hu Pak Leng itu untuk membabat kearah mana datangnya cahaya pedang warna putih yang membokong datang dengan hebatnya itu.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat disertai deruan angin tajam segera meluncur kearah depan.

Orang yang melancarkan serangan bokongan itu agaknya mengerti kelihayan lawan merasakan datangnya ancaman angin pukulan yang begitu hebat buru-buru badannya menjatuhkan diri keatas tanah dan bergelinding sejauh beberapa depa kesamping ternyata ia tidak berani menyambut datangnya serangan udara kosong itu dengan keras lawan keras.

Tetapi setelah terdesak mundur oleh ancaman angin pukulan itu kembali ia menerjang kedepan pedangnya disertai desiran angin tajam dan kelebatan cahaya putih langsung menubruk kearah tubuh lawan.

Thian Sian Thaysu segera menengok kedepan dilihatnya orang yang barusan melancarkan serangan gencar kearahnya bukan lain adalah seorang bocah berdandan toosu ia jadi melengak.

Pada saat ia merasa ragu-ragu Moay Siauw Beng telah berhasil merebut posisi lebih baik pedangnya menyapu kekiri dan kekanan melancarkan lima buad serangan berantai.

Ketika itu antara Huan Tong San serta si api beracun Seng Jiang pun mulai saling bergebrak dengan serunya masing-masing pihak mengeluarkan jurus-jurus serangan yang paling aneh dan paling cepat untuk berusaha merebut posisi lebih baik.

Para jago Siauw lim serta Bu-tong yang berjaga-jaga disekitar batu karang saat ini mulai menerjang keatas tapi mereka kena dihadang oleh si manusia iblis Wu Tuo serta si setan tua Swie Han.

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang iblis tua ini amat sempurna serangan gabungan mereka boleh dikata sangat luar biasa kendati jumlah jago-jago lihay dari pihak Siauw lim serta Bu-tong yang menerjang naik tidak sedikit orang-orang itu berhasil kena dihadang oleh mereka berdua.

Huan Tong San setelah bergebrak beberapa jurus melawan api beracun Seng Jiang mendadak ia merasakan luka bekas terhajar jarum beracun itu mulai jadi kaku rasa linu itu makin lama makin menyebar kemana-mana.

Ternyata Thian Sian Thaysu serta Ci Yang Tootiang masih berbadan jejaka tenaga dalam mereka berhasil dilatih mencapai puncak kesempurnaan dengan begitu daya kerja racun yang mengeram di tubuh mereka bereaksi rada terlambat.

Lain halnya dengan Huan Tong San kendati ilmu lweekangnya amat sempurna namun ia bukan berbadan jejaka dasar kekuatan tenaga dalamnya tidak berhasil dilatih hingga mencapai taraf seperti Thian Sian Thaysu serta Ci Yang Tootiang maka dari itu daya kerja racun yang mengeram dalam tubuhnya bekerja jauh lebih cepat.

Pada saat kobaran api warna hijau yang membakar disekeliling beberapa oranz itu mulai berpencar keempat penjuru oleh deruan angin pukulan beberapa orang yang sedang bergebrak itu, untung sekali diatas puncak dibawah tebing tiada timbunan apapun sehingga kobaran api tersebut sekalipun amat dahsyat lama kelamaan padam dengan sendirinya.

Kembali Huan Tong San mempertahankan dari beberapa gebrakan makin lama ia merasa gerakannya semakin tidak lincah diam-diam orang tua ini menghela napas panjang.

Tiba-tiba ia pergencar serangannya sebanyak tiga jurus memaksa si api beracun Seng Jiang terdesak mundur kebelakang kemudian bentaknya keras :

Tahan.

Mendengar bentakan itu Thian Sian Thaysu serta Ci Yang Tootiang sama-sama tarik diri dan berhenti bergebrak.

Hong Cioe pun mendongak bersuit nyaring suaranya keras laksana pekikan naga yang bergema dan memantul diempat penjuru bukit.

Setelah mendengar suitan nyaring itu si manusia iblis Wu Tuo si setan tua Swie Han serta si api beracun Seng Jiang sama meloncat mundur dan berkumpul jadi satu.

Sedangkan para jago lihay dari pihak Bu-tong serta anak buah Huan Tong San sama menerjang naik keatas bukit karang.

Terlihatlah Thian Sian Thaysu menyapu sekejap kearah para padri yang ada disisinya lalu berkata lirih

:

Aku telah terluka parah mungkin tak bisa bertahan beberapa saat lagi semisalnya tidak beruntung aku harus menemui ajalnya dalam pertempuran ini kedudukan Hong Tiang selanjutnya dijabat oleh Thian Beng Suheng.....

Berhubung ketiga orang pemimpin mereka menderita luka para jago pihak Siauw lim, Bu-tong serta anak buah Huan Tong San sama-sama dibikin terkesiap untuk sesaat mereka tidak memperduli pihak musuhnya lagi.

Terdengar Thian Ih Thaysu menghela napas sedih selanya :

Ciangbun Hong Tiang tenaga lweekangmu amat sempurna sekalipun kena terbokong rasanya tak bakal menjumpai keadaan yang membahayakan jiwamu.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian membuat para jago sama-sama berpaling. Terlihat oleh mereka Huan Giok Koen sedang membimbing ayahnya Huan Tong San sembari berteru tiada hentinya :

Tia... tia... kenapa kau tia...

Ternyata daya kerja racun dalam tubuh Huan Tong San telah bekerja kini ia jatuh tidak sadarkan diri. Agaknya Thian Sian Thaysu sendiripun tak dapat menahan diri lagi setelah berseru memuji keagungan

Buddha Omintohud perlahan-lahan ia duduk diatas tanah dan berkata lirih :

Bila mana luka Too-heng tiada halangan mulai sekarang seluruh anggota kuil kami pinceng serahkan kepada Too-heng semua persoalan biarlah mereka mengikuti petunjuk.

Aaaakh pinto sendiripun tak sanggup lagi racun dalam tubuh sudah mulai bekerja.

Ia merandek sebentar lalu berpaling kearah seorang toosu yang berdiri disisinya terusnya : Apabila aku harus mati disini jabatan Ciangbujien dari Bu-tong pay selanjutnya dipegang oleh Cing Yang susiok kalian.

Dua orang Ciangbujien dan dua partai terbesar dalam dunia persilatan agaknya mulai merasa bahwa luka mereka tak bakal sembuh lagi mereka mulai menunjuk penggantinya sebagai persiapan untuk menghadapi sesuatu.

Mendengar Ciangbujien mereka telah meninggalkan pesan terakhir air muka para jago Siauw lim serta Bu-tong sama-sama berubah hebat hawa napsu membunuh mulai terlintas diatas wajah mereka. Berpuluh- puluh pasang mata sama-sama dialihkan kearah Hong Cioe yang berada dua tombak dihadapan mereka.

Hu Pak Leng yang selama ini membungkam sambil menahan rasa sakit dibadan ia pura-pura berlagak pilon dan acuh tak acuh sedang sepasang matanya diam-diam memperhatikan gerak gerik ditempat itu.

Tenaga lweekangnya amat sempurna walaupun dua batang tulang iganya patah setelah mengatur pernapasan beberapa saat gerak geriknya kembali jadi leluasa seperti sedia kala.

Hong Cioe yang melihat para jago didepan mata mulai bergolak dan seolah-olah akan turun tangan berbareng tiba-tiba tertawa dingin kepada Seng Jiang bisiknya lirih.

Seng-heng cepat turun tangan...

Si api beracun Seng Jiang tertawa dingin ia tidak menggubris ucapan Hong Cioe juga tidak kelihatan ia melakukan sesuatu perbuatan.

Lain halnya dengan Hu Pak Leng ia terkesiap pikirnya dalam hati.

Rencana busuk apa lagi yang sedang dipersiapkan mereka! iblis tua ini paling ahli dalam permainan api mungkinkah mereka hendak memperlihatkan permainan api?...

Terdengar Hong Cioe mendongak tertawa terbahak-bahak sinar matanya menyapu sekejap kearah para jago Siauw lim serta Bu-tong lalu ujarnya.

Pada saat ini mereka bertiga telah terhajar oleh senjata rahasia Sam Ciat Sin Ciam serta Ciet Tok Siauw Bun dari aku orang empat jam kemudian mereka akan mati dalam keadaan mengerikan.

Haruslah kalian ketahui dikolong langit kini masa kini hanya aku seorang yang memiliki obat pemunah racun-racun tersebut apabila kalian tidak menggubris keselamatan mereka bertiga lagi ayolah cepat turun tangan.

Ancaman ini seketika mendatangkan reaksi yang berada diluar dugaan anak murid Siauw lim serta Bu- tong yang sedang bersiap-siap menerjang kedepan sama-sama dibikin tertegun kemudian menurunkan kembali senjatanya.

Memandang situasi tersebut dengan langkah lebar Thian Ih Thaysu berjalan kemuka serunya.

Dalam situasi seperti ini kau tak usah bicara berputar-putar kayun lagi apa syaratmu untuk dapat ditukar dengan obat-obat pemunah tersebut?.

Hong Cioe tidak menjawab sinar matanya menyapu sekejap mayat keempat orang dayang cantik yang menggeletak diatas tanah dan bergumam.

Pihakku sudah kehilangan empat orang.....

Hmm! jikalau bukan Ciangbun suheng serta Ci Yang Tootiang masih menaruh belas kasihan terhadap mereka sekalipun beberapa orang Li sicu ini mempunyai senjata rahasiapun jangan harap bisa melukai mereka dengan begitu gampang.

Heee... heee... hee mungkin jiwa keempat orang perempuan lemah ini tak bisa dibandingkan dengan

keselamatan Ciangbujien partai kalian jengek Hong Cioe sambil tertawa dingin. Belum selesai ia berbicara mendadak terdengar suara suitan nyaring berkumandang datang disusul muncullah berpuluh-puluh bayangan manusia dari tempat kejauhan.

Gerakan tubuh bayangan tersebut luar biasa dalam sekejap mata dapat dilihat jelas orang yang berada dipaling depan adalah Loogu It Shu serta Tiong It Hauw sedang jago yang ada dibelakang tak usah diterangkan lagi jelas merupakan pahlawan-pahlawan dari lembah Mie Cong Kok yang sengaja datang memberi bantuan.

Melihat munculnya orang-orang itu Hu Pak Leng kerutkan dahi bisiknya kepada diri Hong Cioe. Anak buah tecu sudah datang semua.

Suruh mereka berjaga-jaga didepan mulut bukit tak usah maju membantu Hong Cioe hambar. Tecu terima perintah!

Ia segera mengepos napas dan berteriak keras :

Kalian berjaga-jagalah di jalan penting bawah bukit karang tak usah naik lagi.

Karena harus mengepos tenaga Hu Pak Leng seketika merasakan dimana tulang iganya patah sakit bagaikan diiris-iris perkataan belum selesai diutarakan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Tiba-tiba Thian Sian Thaysu membuka sepasang matanya yang semula terpejam rapat kemudian meloncat bangun wajahnya serius dan penuh kesedihan serunya lantang :

Persoalan yang terjadi pada waktu ini bukanlah persoalan mati hidup loolap beberapa orang tapi menyangkut jatuh bangunnya kalangan lurus atau sesat didalam rimba persilatan. Apabila kalian semua harus takluk pada pihak lawan karena mengkhawatirkan keselamatan kami bertiga dan melepaskan kesempatan untuk membasmi iblis macam ini kemungkinan besar sejak saat ini dunia kangouw tidak seharipun bisa aman tenteram.

Perkataan ini merupakan ucapan biasa tapi diutarakan dengan begitu semangat dan tegas seketika mendatangkan rasa hormat dan kagum dihati para jago.

Ia merandek sejenak lalu terusnya.

Melewatkan kesempatan yang demikian baik seperti ini hari untuk membasmi kaum iblis sama halnya meninggalkan rasa penyesalan dihati para jago angkatan selanjutnya dalam dunia persilatan!

Dari seorang padri yang ada disisinya ia rebut sebatang toya kemudian dengan langkah lebar berjalan mendekati Hong Cioe sekalian.

Tindakan Thian Sian Thaysu ini seketika mendatangkan rasa terkejut dihati Hong Cioe pikirnya.

Tenaga lweekang yang dimiliki hweesio tua ini amat sempurna dan belum pernah diketahui manusia semacam ini racun keji Sam Ciat Sin Ciam telah mulai bekerja ternyata ia dapat menahan daya kerja racun tersebut dengan tenaga dalamnya yang sempurna sungguh luar biasa... sungguh luar biasa....

Selagi ia termenung Thian Sian Thaysu telah berada dihadapannya.

Terdengar padri Siauw lim si ini merangkap tangannya memuji keagungan Buddha ujarnya.

Hong Cioe antara loolap dengan kau tiada ikatan dendam maupun budi apalagi dalam pelajaran Buddha maha pengasih pun tiada menyangkut soal iri dengki walaupun selama ratusan tahun ini antara pihak Siauw lim serta orang-orang kalangan Liok-lim kalian sering bentrokan persoalan ini terjadi karena terpaksa. Kendati anak murid kalangan Buddha punya pantangan membunuh namun kamipun tak dapat melihat suatu keluarga tercerai berai suami terbunuh isteri diperkosa darah mengalir dan mayat bergelimpangan... Bicara sampai disitu ia berhenti mendongak memeriksa keadaan cuaca dan bergumam dengan suara rendah kemudian terusnya :

Kau melepaskan senjata rahasia beracun melukai loolap. Loolap sama sekali tidak mendendam dirimu. Tapi tidak seharusnya kau mengorbankan nyawa keempat orang dara berbaju hijau itu demi tercapainya ambisimu tidak seharusnya kau gunakan titik kelemahan loolap serta Ci Yang Tootiang yang mengutamakan welas kasih untuk membokong loolap sekalian, apakah kau tidak merasa perbuatan ini sangat rendah dan memalukan?

Setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya pergolakan darah segar dalam dadanya bisa di tenangkan kembali saat ini ia tak terburu napsu seperti halnya menghadapi Hu Pak Leng tadi.

Hong Cioe tertawa dingin jengeknya sinis.

Mengatur tentara tiada bosannya menggunakan siasat semakin licik siasat semakin mendatangkan keuntungan besar apabila kau merasa kedua belah pihak berdiri berbareng dalam dunia kangouw mari kita bereskan saja persoalan ini dengan suatu pertarungan...

Thian Sian Thaysu tersenyum tukasnya :

Bagus sekali ucapannya. Buddha maha pengasih maafkan muridmu terpaksa harus membuka pantangan membunuh.

Toyanya diayunkan kedepan menghajar batok kepala Hong Cioe.

Buru-buru Hong Cioe keluarkan sepasang gelang emasnya dan menerima serangan dengan keras lawan keras.

Traaang... diiringi bentrokan senjata amat nyaring Hong Cioe kena dipukul mundur tiga langkah kebelakang sepasang pundaknya bergetar keras sedang badan sempoyongan seperti mau roboh.

Tenaga singkang-singkangnya yang demikian dahsyat ini bukan saja membuat si manusia iblis Wu Tuo sekalian merasa terkesiap sekalipun Thian Ih Thaysu sekalian tidak tahu bagaimana kemajuan tenaga lweekang suhengnya selama banyak tahun diam-diam merasa terkejut bercampur kagum.

Tampak Thian Sian Thaysu perlahan-lahan mengayunkan toyanya ketengah udara lagi ujarnya sambil tertawa ramah.

Hong Cioe loolap telah kau lukai dengan racun jarum Sam Ciat Sin Ciam bahkan racun ganas tersebut perlahan-lahan mulai menyerang kedalam isi perutku kini terpaksa aku harus andalkan hawa murni yang kulatih selama puluhan tahun untuk menahan racun itu jangan sampai bekerja cepat asalkan kau bisa menerima tiga buah serangan loolap maka aku akan kehabisan tenaga untuk menyerang lagi!

Sembari berkata ia melancarkan babatan lagi kearah batok kepala lawan.

Hong Cioe yang harus menerima serangan pertama tadi darah segar masih bergolak dalam rongga dadanya kuda-kuda tergempur dan badan hampir-hampir saja roboh. Kini ia mana berani menerima datangnya serangan sehebat itu dengan keras lawan keras?

Tetapi berada dihadapan umum iapun merasa tidak leluasa untuk menghindar karena hal ini akan menurunkan martabatnya dihadapan umum. Terpaksa dengan keraskan kepala ia siap menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Hong-heng cepat mundur. Tiba-tiba terdengar si api beracun Seng Jiang berteriak dingin.

Serentetan cahaya hijau meluncur kedepan bersamaan suara bentakan keras tersebut diiringi suara ledakan keras batu karang berhamburan keempat penjuru bercampur kobaran api warna hijau yang membumbung tinggi keangkasa.

Mengambil kesempatan itu Hong Cioe meloncat mundur tujuh delapan depa kebelakang meloloskan diri dari datangnya sambaran toya Thian Sian Thaysu. Si manusia iblis Wu Tuo serta si setan tua Swie Han sama-sama membentak keras lalu mengirim sebuah babatan kedepan segulung angin pukulan laksana taupan berhawa dingin menggulung kedepan dengan dahsyatnya.

Thian Sian Thaysu segera kebutkan ujung bajunya kedepan menyambut kedatangan serangan angin putih tersebut.

Gerakan ujung bajunya amat ringan dan perlahan sama sekali tidak kedengaran adanya deruan angin pukulan.

Tetapi serangan dahsyat yang membawa hawa dingin tadi seketika tertahan oleh tenaga tak berwujud dan mengubah diri jadi segulung angin pusaran yang membuat debu serta pasir beterbangan memenuhi angkasa.

Si manusia iblis Wu Tuo serta si setan tua Swie Han sama-sama terkesiap mereka tidak menyangka serangan sedahsyat itu terhadang balik oleh tenaga tak berwujud lawan.

Diluaran kedua orang iblis tua ini seolah-olah bersahabat erat dan saling bantu membantu padahal dalam kenyataan mereka saling iri saling dengki, setelah merasakan bagaimana dahsyatnya tenaga pantulan tersebut mereka sama-sama mengerti padri Siauw lim ini merupakan musuh paling tangguh selama hidup mereka.

Barang siapa yang berani melancarkan serangan berikutnya terlebih dahulu maka dia akan terpental pertama kali oleh karena itu diantara mereka berdua tidak ingin jadi pembuka jalan serangan berikutnya.

Setelah saling bertukar pandang sekejap mereka berdua meloncat mundur berbareng.

Thian Sian thaysu sendiri setelah dengan sekuat tenaga melancarkan sebuah serangan Bu Siang Sin Kang keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya darah segarpun muncrat keluar dari bibir ia sendiri roboh keatas tanah.

Dengan menahan luka dalamnya yang parah padri ini berusaha melakukan pertarungan melawan Hong Cioe hal ini sama artinya meneguk air laut untuk menahan dahaga racun yang mengeram dalam tubuhnya bekerja semakin cepat lagi.

Sekalipun ia paham hal ini akan menimpa dirinya tapi ia sendiripun tahu apabila ia tidak mati maka para padri Siauw lim masih ragu-ragu untuk turun tangan mereka bakal kena dipaksa Hong Cioe untuk tak berkutik.

Lain halnya bilamana ia terluka parah dan menemui ajalnya kejadian ini akan membangkitkan semangat para padri untuk melakukan penyerangan.

Dugaannya ternyata tidak meleset ketika para padri kuil Siauw lim si melihat Ciangbun hongtiang roboh keatas tanah sama-sama berseru memuji keagungan sang Buddha dan mulai menggarahkan senjata maju kedepan.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba Hu Pak Leng meloncat melewati para padri Siauw lim si melayang turun keatas tanah dan menggerakkan tongkatnya menghalangi pergi dua orang hweesio yang sedang menghalangi jalan pergi Ciangbun hongtiangnya.

Setelah kedua orang hweesio itu dipaksa mundur ia sambar tubuh Thian Sian Thaysu kedalam pelukannya lalu palangkan pedang pusakanya keatas tenggorokan padri tua itu bentaknya keras.

Tahan!

Mendengar bentakan tersebut padri dari Siauw lim si sama-sama berhenti dan menurunkan senjatanya kebawah berpuluh-puluh pasang mata sama-sama dialihkan kearah Hu Pak Leng dengan pandangan sedih.

Barangsiapa berani turun tangan lagi aku segera akan penggal batok kepalanya.

Karena melihat Ciangbun hongtiang mereka terjatuh ketangan musuh terpaksa para hweesio dari Siauw lim si turut perintah siapapun tidak berani turun tangan menghadang perjalanannya. Setelah tiba disisi Hong Cioe kembali Hu Pak Leng berteriak keras. Susiok hweesio ini masih bisa hidup beberapa lama?

Hian Su tit nyalimu benar-benar luar biasa tidak malu disebut jago gagah dari kolong langit. Puji Hong Cioe sambil tersenyum mungkin masih dapat hidup...

Mendadak ia membungkam.

Kontan Hu Pak Leng kerutkan alisnya rapat-rapat kembali berseru. Susiok apakah kau membawa obat pemunah dari racun tersebut?

Apakah kau tidak ingin ia mati? tanya orang she Hong setelah termenung sesaat.

Asal ia bisa hidup beberapa saat berarti kita dapat gunakan pula dirinya untuk menahan seringan para hweesio Siauw lim si beberapa waktu.

Baik! seru Hong Cioe sambil tertawa dari dalam sakunya ia ambil keluar sebuah botol porselen dan mengeluarkan sebutir pil warna merah.

Hu Pak Leng segera menerima pil berwarna merah tadi bau harum semerbak segera tersiar menusuk hidung tanpa banyak bicara ia jejalkan pil tadi kedalam mulut Thian Sian Thaysu.

Ketika itu Thian Sian Thaysu sang padri sakti dari kuil Siauw lim si berada dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika pil tadi dijejalkan kedalam mulutnya tanpa sadar ia telah menelan kedalam perut.

Apabila semisalnya ia berada dalam keadaan sadar tentu padri sakti ini tak akan sudi menelan pil pemunah hadiah pihak lawan.

Setelah Hong Cioe menyerahkan pil pemunah tadi ketangan Hu Pak Leng agaknya ia merasa sedikit menyesal belum sempat ia memerintahkan orang she Hu untuk kembalikan pil tadi kepadanya sang Liok-lim Bengcu ini telah menjejalkan pil tersebut kedalam mulut Thian Sian Thaysu.

ooooOoooo

13

PARA PADRI Siauw lim yang datang ketempat itu dibawah pimpinan Thian Ih Thaysu saat ini telah membentuk barisan mengepung Hu Pak Leng rapat-rapat senjata dipersiapkan ditangan dan mereka memandang lelaki bercambang itu penuh kegusaran. Asalkan Thian Ih Thaysu turunkan perintah mereka akan segera melakukan penyerbuan.

Waktu itu cahaya hijau yang disambit keluar si api beracun Seng Jiang telah membakar tanah datar berbatu daerah sekitar tiga depa penuh dengan jilatan api yang mendatangkan rasa sakit di kulit badan.

Tiba-tiba... suitan nyaring berkumandang datang dari antara celah-celah bukit ditempat kejauhan. Berturut-turut si api beracun Seng Jiang ayunkan sepasang telapaknya kedepan empat batang panah

Pek Ling Cian meluncur kedepan bergabung dengan kobarn api warna hijau semula menciptakan suatu kobaran api yang maha hebat.

Hu Pak Leng tahu perubahan besar sebentar lagi akan terjadi tapi ia belum berhasil mengetahui apakah rencana keji pihak lawan ia jadi gelisah sinar matanya dialihkan kearah Hong Cioe dan memandang tak berkedip. Tiba-tiba tampak Hong Cioe ulapkan tangannya si setan tua Swie Han serta si manusia iblis Wu Tuo sama-sama ayunkan telapaknya mengirim sebuah serangan.

Segulung angin pukulan laksana taupan menggulung kobaran api tadi menyerang para padri Siauw lim

si.

Hu Hian tit cepat mundur kebelakang bentak Hong Cioe lirih.

Secara diam-diam Hu Pak Leng memperhatikan terus gerak gerik paman gurunya tapi belum berhasil juga ia temukan siasat licik Hong Cioe sekalian untuk membasmi para jago Siauw lim serta Bu-tong pay dalam hati ia lantas berpikir. Sejak semula Hong Cioe sudah punya rencana ia atur siasatnya sangat rapat dan teliti kalau aku tidak menurut perintahnya sama hal mengkhianati dirinya lebih baik kuikuti mungkin berhasil temukan rencana busuk. Karena berpikir demikian mendadak ia membentak keras badannya segera menerjang kedepan.

Thian Ih Thaysu maju dua langkah kedepan menghadang jalan perginya toya ditangan bergerak mengayun kedepan membabat batok kepala sang Liok lim Bengcu.

Dalam keadaan gelisah suatu ingatan cerdik berkelebat dalam benak Hu Pak Leng ia segera angkat badan Thian Sian Thaysu menyambut datangnya serangan lawan, bentaknya.

Silahkan Ciangbun hongtiang dari partai kalian mewakili diriku menerima sebuah hajaran Thaysu. Thian Ih Thaysu terkesiap buru-buru ia tarik kembali serangannya dan mundur kebelakang.

Dalam sekejap mata itulah para padri telah mengejar datang mereka menyerang dari empat bagian delapan penjuru.

Melihat situasi tidak menguntungkan dirinya kembali Hu Pak Leng membentak keras. Siapa yang tidak takut melukai Ciangbun hongtiang kalian silahkan turun tangan.

Ia gunakan tubuh Thian Sian Thaysu sebagai senjata menyambut serangan-serangan para hweesio tersebut.

Siasat ini ternyata mendatangkan hasil seketika para padri Siauw lim kena didesak mundur kebelakang siapapun tak berani mendesak diri Hu Pak Leng terlalu dekat lagi.

Melihat kejadian itu Hong Cioe tertawa terbahak-bahak.

Hu Hian tit kau tidak malu disebut orang gagah dari kolong langit saat ini loolap merasa gembira karena gurumu mempunyai ahli waris semacam kau.

Sambil gertak gigi menahan rasa sakit Hu Pak Leng meloncat mundur kesisi Hong Cioe katanya.

Untuk menjaga selembar jiwa Ciangbun hongtiang mereka para padri Siauw lim tak akan berani terlalu mendesak kita saat ini kita harus mencari suatu cara untuk menghadapi partai Bu-tong serta jago-jago yang dibawa si pedang sakti Huan Tong San.

Harap Hian tit cepat mengundurkan diri kebelakang sahut Hong Cioe sambil tertawa dan ulapkan tangannya tempat ini sudah cukup dilayani oleh loohu serta Swie Wu dua orang saudara.

Sebelum Hu Pak Leng menjawab mendadak terdengar suara ledakan keras yang gegap gempita hancuran batu beterbangan memenuhi angkasa asap tebal menutupi angkasa dari bukit karang sekeliling tempat muncul jilatan api warna hijau yang membakar semua benda.

Lembah Lok Ing Kok ini pada dasarnya merupakan sebuah lembah gundul yang gersang tapi setelah suara ledakan tadi jilatan api segera berkobar memenuhi seluruh kalangan dan perlahan-lahan merambat keatas bukit. Ci Yang Tootiang sang Ciangbujien dari Bu-tong pay setelah mengatur pernapasan beberapa saat kesehatannya jauh lebih baikan melihat para jago terkurung dalam lautan api yang berkobar sangat hebat ia terkesiap dengan paksakan diri mengepos napas perlahan-lahan bangun berdiri.

Walaupun berada dalam keadaan gelisah ia tetap mempertahankan ketenangannya setelah meninjau keadaan disekeliling tempat itu ujarnya.

Dalam pertarungan ini hari kita sudah menderita kekalahan total sekarang satu-satunya jalan hanya berusaha mencari jalan untuk menuntut balas atas kekalahan ini hari!...

Ia merandek sejenak untuk tukar napas lalu tambahnya :

Huan Siauw hiap harap segera menggabungkan diri dengan kelompok pinto pilihlah empat orang jago yang memiliki kepandaian paling lihay untuk melindungi keselamatan ayahmu sisanya lebih baik berkumpul jadi satu sehingga kekuatan jangan sampai terpecah belah...

Berbicara sampai disitu mendadak ia pertinggi suaranya dan berseru :

Delapan orang murid Bu-tong pay pelindung hukum bertugas membuka jalan terjang keluar dari kepungan api hajar habis-habisan setiap musuh yang dijumpai perduli menjumpai mara bahaya apapun tidak diperkenankan mengundurkan diri bilamana ada yang berani melanggar tak usah pulang kegunung Bu-tong lagi.

Delapan orang loosu berusia setengah baya sama-sama mengiakan cahaya tajam segera berkelebat memenuhi angkasa delapan bilah pedang sama-sama diloloskan dari sarung kemudian menerjang kearah Hong Cioe sekalian berdiri.

Ketika antara pihak Siauw lim, Bu-tong serta Hong Cioe sekalian hanya terpaut beberapa tombak saja diantara mereka dipisahkan oleh tembok api yang berkobar sangat hebat.

Delapan orang toojien sambil menarikan pedang panjang mereka melindungi badan dengan menempuh kobaran api yang maha dahsyat menerjang kedepan.

Sebaliknya Huan Giok Koen dengan gunakan ilmu mengurut jalan darah tiada hentinya menguruti urat nadi serta jalan darah ditubuh ayahnya menanti Huan Tong San telah menghembuskan napas panjang dan barulah ia sadar.

Kemudian ia cabut keluar pedangnya bersuit panjang dan meluncur dua tombak kedepan dengan gerakan Cian Long Sin Thian atau naga sakti menembusi angkasa ilmu meringankan tubuh paling lihay dari keluarganya.

Di tengah udara pedangnya berputar kencang menciptakan segumpal cahaya putih yang menyilaukan mata meminjam gerakan perputaran pedang itu ia mempertahankan badannya berganti napas dan mengeluarkan gerakan Pat Poh Teng Gong atau delapan langkah menempuh langit berkelebat lewat dari atas jilatan api yang berkobar dengan hebatnya itu.

Badannya bagaikan seekor burung elang meluncur empat tombak kedepan dengan gerakan mendatar sedang pedangnya dengan gerakan Cuan Im Ci Gwat atau menembusi awan menjemput rembulan membabat kearah bawah.

Hu Hian tit cepat mundur bentak Hong Cioe keras-keras.

Ujung jubahnya dikebas kedepan segulung tenaga pukulan yang sangat hebat segera menyambut kedatangan Huan Giok Koen.

Dalam sekejap mata kedelapan orang toojien Bu-tong pay telah menembusi kobaran api dan menerjang datang dengan gerakan ganas. Hawa pukulan yang dilancarkan Hong Cioe benar-benar luar biasa tubuh Huan Giok Koen yang sedang meluncur kebawah dengan kecepatan bagaikan kilat itu setelah termakan dorongan tenaga pukulan tersebut segera terpental kembali ketengah udara.

Buru-buru pemuda itu mengepos napas menyingkir kesamping setelah berusaha keras akhirnya ia berhasil melayang turun keatas permukaan tiga empat depa dari tujuan semula.

Sementara itu seluruh bukit karang telah terjilat oleh kobaran api warna hijau dimana bagian-bagian bukit yang tak terjilat api manusia berdiri saling berdesakan.

Deruan angin pukulan kadang kala menghantam diatas kobaran api warna hijau itu membuat jilatan api semakin membesar dan semakin dahsyat walaupun sebagian tempat api dapat dipukul padam tapi dalam sekejap mata telah berkobar kembali semakin garang.

Suatu pertarungan sengit antara hidup dan mati segera berlangsung dengan ramainya cahaya senjata berkelebat bercampur baur dengan kobaran api yang menyengat badan.

Delapan orang toosu Bu-tong pay dengan memecahkan diri jadi dua bagian turun tangan berbareng empat orang menyerang Hong Cioe dan empat orang menyerang Hu Pak Leng.

Huan Giok Koen sendiri setelah mencapai diatas permukaan ia segera menggerakkan senjata menerjang kearah si api beracun Seng Jiang dimana pedang berkelebat lewat bayangan pedang membumbung berlapis-lapis melindungi badan.

Dengan sekuat tenaga Hong Cioe melakukan perlawanan terhadap datangnya serangan empat orang toosu Bu-tong walaupun ia dapat bergerak bebas namun untuk mengalankan mereka dalam waktu singkat bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Sebaliknya Hu Pak Leng sendiripun diteter terus oleh serangan berantai keempat orang toosu Bu-tong pay sehingga berada dalam keadaan bahaya pada dasarnya ia sudah menderita luka parah ditambah pula harus menggendong Thian Sian Thaysu dalam pelukannya gerakan tubuh jadi kurang lincah.

Untung sekali permainan tongkatnya mendatangkan pengaruh yang luar biasa keempat toosu itu tak berani menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras sehingga untuk sementara ia masih bisa mempertahankan diri.

Pada mulanya para hweesio dari Siauw lim tidak berani turun tangan disebabkan Hu Pak Leng menawan Thian Sian Thaysu hongtiang mereka sebagai barang jaminan.

Tapi setelah melihat anak murid Bu-tong pay mulai bergerak dibawab pimpinan Ci Yang Tootiang dan tiga orang anak buah Huan Tong San yang ikut hadirpun telah meloloskan senjata mereka mulai bimbang.

Terutama sekali kobaran api yang makin lama semakin meluas sehingga hampir sebagian besar tanah bukit itu terjilat api makin merisaukan pikiran mereka apabila bukan dikarenakan si setan tua Swie Han serta Hong Cioe tetap berada disana mungkin para jago sudah dibikin kalut pikirannya.

Memandang situasi yang semakin tidak menguntungkan Thian Ih Thaysu segera berpikir dalam hatinya.

Kobaran api diatas bukit ini makin lama semakin besar sebentar lagi mungkin tak ada tempat tancapkan kaki buat kita semua hal ini jelas menunjukkan kalau Hong Cioe sekalian punya rencana keji terhadap kita orang asalkan mereka dibiarkan lolos dari sini keselamatan kami segera akan terancam satu- satunya jalan sekarang adalah berusaha mengurung iblis tua itu tetap berada dalam kurungan, dengan demikian kendati bukit ini mau meledak atau hancur tak jadi soal ada beberapa orang iblis yang menemani kematian kami rasanya kematian tersebut sangat berharga...

Karena berpikir demikian ia berteriak keras kearah para padri :

Situasi saat ini sangat bahaya dan mengancam keselamatan kita semua walaupun Ciangbun hongtiang terjatuh ditangan musuh kita tidak boleh duduk terpekur menanti kematian. Sejak semula para padri ada maksud turun tangan berhubung Thian Ih Thaysu belum turunkan perintah maka ia tak berani turun tangan secara sembarangan.

Sekarang setelah mendengar ucapan tersebut tanpa terasa para hweesio itu berseru berbareng :

Sejak semula kami telah tidak pikirkan keselamatan sendiri sekalipun harus hancur kami tak akan membiarkan nama besar partai Siauw lim hancur ditangan orang lain.

Bagus : seru Thian Ih Thaysu dengan tertawa sedih. Kalau ada maksud bergebrak kita tak usah pikirkan persoalan lagi...

Sembari ayunkan toya ia menerjang lebih dahulu kearah Hong Cioe.

Hong Cioe yang sedang melawan serangan empat orang toosu Bu-tong pay untuk sementara waktu masih dapat mempertahankan posisinya dalam keadaan seimbang tapi setelah Thian Ih Thaysu ikut terjunkan diri kedalam kalangan memang kalah dengan cepat tertera.

Dengan kesempurnaan tenaga lweekang yang dimiliki hweesio tua itu serta jurus serangan toya besinya yang hebat bagaikan kampak pembelah gunung tidak sampai sepuluh jurus iblis tua she Hong ini tudah keteter sehingga tak sanggup melancarkan serangan balasan.

Sementara itu Hu Pak Leng sembari putar tongkat besinya menahan serangan lawan diam-diam ia memperhatikan situasi disekitar kalangan pertempuran.

Tampak olehnya para padri Siauw lim si telah membentuk suatu barisan yang saling sambung menyambut bersama-sama membabat kobaran api tersebut dengan pukulan telapak serta ayunan senjata toya air muka hweesio-hweesio itu keren tapi tenang walaupun berada dalam kurungan lautan api mereka sama sekali tidak menunjukan perasaan terkejut atau ketakutan.

Keadaan mereka seolah-olah menunjukan bahwa hweesio-hweesio ini sudah tidak pikirkan keselamatan sendiri didalam hati.

Sewaktu ia sedang termenung mendadak terdengar si manusia iblis Wu Tuo telah membentak keras.

Hong-heng cepat mundur hweesio-hweesio dari Siauw lim telah membentuk barisan. Loo Han Tin kalau sampai terkurung oleh barisan mereka untuk meloloskan diri amat sukar bagaikan ingin terbang ke langit.

Barisan Loo Han Tin dari kuil Siauw lim sangat tersohor dikolong langit dan menggetarkan hati para jago kalangan Hek-to maupun Pek-to setelah Wu Tuo berteriak Hong Cioe, Seng Jiang sekalian sama-sama terkesiap.

Hong Cioe pertama kali menunjukkan reaksi ia membentak keras gelang emas ditangan kanannya menyambut datangnya serangan toya Thian Ih Thaysu gelang emas ditangan kanannya dengan jurus Im Wu Kiem Kuang atau kabut awan sinar keemasan menahan serangan dari keempat orang toosu Bu-tong pay dan kemudian menerjang keluar dari kepungan.

Ujung bajunya segera dikebut keluar mengirim sebuah hantaman dahsyat menghajar keempat orang toosu dari Bu-tong pay yang sedang mengurung Hu Pak Leng.

Kebutan ini telah menggunakan seluruh tenaga lweekang yang dimiliki kehebatannya sangat luar biasa seketika empat orang toosu dipukul kekiri.

Hong Cioe segera meloncat kehadapan Hu Pak Leng pergelangan kanannya bergetar keras sebatang gelang emas dengan cepat meluncur kedepan menghajar tubuh Thian Ih Thaysu sedang tangan yang lain disambar kearah Hu Pak Leng seraya berseru.

Hian tit cepat serahkan Thian Sian Thaysu yang berada dalam pelukanmu kepadaku. Sembari berkata ia mencengkeram tubuh hweesio tua itu. Dengan sebat Hu Pak Leng mundur dua langkah kebelakang meloloskan diri dari ancaman tangan kanan Hong Cioe ujarnya :

Susiok harap kau pegang pucuk pimpinan jangan di karenakan seseorang harus menggagalkan semua rencana biarlah hweesio tua ini tecu yang bawa.

Badannya segera bergerak meloncat kesisi si setan tua Swie Han serta si manusia iblis Wu Tuo. Hong Cioe tertawa dingin telapak tangan segera dibalik menggaplok punggung Huan Giok Koen.

Dalam pada itu Huan Giok Koen sedang bergebrak melawan si api beracun Seng Jiang telah mengeluarkan seluruh kepandaian keluarganya untuk mengimbangi permainan silat lawan, posisi sementara berada dalam keaadaan seimbang walaupun tenaga lweekang Seng Jiang sangat lihay untuk sementara ia tertahan oleh kesempurnaan permainan pedang Huan Giok Koen.

Di tengah pertarungan sengit mendadak Huan GioK Koen merasa datangnya segulung angin pukulan menerjang dirinya ia terkesiap dengan cepat badannya meloncat kedepan.

Karena harus merandek sejenak inilah Thian Ih Thaysu serta delapan orang pelindung hukum partai Bu-tong bersama-sama telah menerjang kembali dengan girang.

Si setan tua Swie Han serta si manusia iblis Wu Tuo segera membentak keras dengan garang mereka melancarkan sebuah pukulan berbareng kedepan. Serenteran angin taupan berhawa dingin menerjang kobaran api yang sedang bergolak menghantam Thian Ih Thaysu sekalian.

Tenaga sinkang Han Im Khie Kang dari kedua orang ini telah mencapai puncak kesempurnaan serangan gabungan ini tentu saja mendatangkan kedahsyatan yang tak terduga.

Thian Ih Thaysu serta, delapan orang pelindung hukum partai Bu-tong sama-sama merasakan segulung hawa dingin menyerang kedalam tubuh.

Di bawah kobaran api yang sangat menyengat badan mereka segera merasa badannya jadi dingin sehingga tanpa terasa jadi merinding dan bersin tiada hentinya.

Mengambil kesempatan yang sangat baik itulah si api beracun Seng Jiang serta Hong Cioe bersama- sama meloncat kesisi si setan tua Swie Han serta si manusia iblis Wu Tuo.

Waktu itu barisan Loo han Tin dari para hweesio Siauw lim si belum sempat bergerak melihat para iblis telah mengundurkan diri dari kepungan mereka bersama-sama bergerak meluruk kedepan.

Sebenarnya hweesio-hweesio itu sudah lama terlatih dalam barisan Loo Han Tin gerak gerik mereka amat cepat dan gesit tapi berhubung diatas bukit karang itu sebagian besar telah terjilat api hal ini menghalangi gerakan para hweesio dalam membentuk barisannya.

Cepat kita mundur kebelakang, seru Hong Cioe dengan suara berat. Sembari berkata ia mengirim sebuah pukulan udara kosong.

Si setan tua Swie Han serta si manusia iblis Wu Tuo saling bertukar pandangan sekejap tiba-tiba merekapun mengirim serangan gabungan.

Si api beracun Seng Jiang tertawa dingin dari dalam sakunya ia ambil keluar sebuah buntalan kain putih lalu dengan sekuat tenaga dibanting keatas tanah.

Setelah buntalan putih itu menyentuh tanah mendadak meledaklah segumpal bubuk warna kuning.

Ketika bubuk warna kuning tadi terkena jilatan api warna hijau tadi segera meledaklah segumpal kobaran api yang amat besar.

Kobaran api ini dengan cepat memancing jilatan api warna hijau tadi berkobar makin dahsyat hingga mencapai ketinggian dua tombak para hweesio seketika terkurung oleh hadangan tembok api. Melihat kejadian itu dengan bangga si api beracun Seng Jiang tertawa terkekeh-kekeh.

Api beracun Siauw-te dapat membakar selama seperminum teh lamanya kita punya cukup waktu untuk berlalu dari sini.

Hong Cioe mendongak tertawa tergelak timbrungnya sambil mengelus jenggot.

Dalam pertarungan ini kita berhasil menggugurkan banyak jago lihay dari pihak Siauw lim serta Bu- tong dan mencuci bersih pula rasa malu yang dialami kawan-kawan Liok-lim selama ratusan tahun. Sejak ini cuwi sekalian boleh dihitung sebagai jago tiada tandingan dalam kalangan Liok-lim.

Selesai berkata ia tertawa terbahak-bahak dan bergerak kedepan.

Si setan tua Swie Han, si manusia iblis Wu Tuo serta si api beracun Seng Jiang sama-sama membuntuti dari belakangnya bergerak turun dari bukit karang tersebut.

Hu Pak Leng yang barjalan dipaling belakang hatinya sangat gelisah melihat para jago dari Siauw lim serta Bu-tong terkurung dalam lautan api namun ia sendiri tak berhasil memberi pertolongan hatinya merasa tidak tenteram.

Agaknya Hong Cioe sejak semula telah mempersiapkan jalan mundur selama perjalanan ia bergerak dengan kecepatan penuh.

Tidak selang beberapa saat kemudian mereka telah tiba dibawah batu karang tersebut.

Sembari berlari terus kedepan Hu Pak Leng tiada hentinya berpaling kebelakang diam-diam hatinya berpikir dan ambil perhitungan.

Ia merasa walaupun tembok api itu susah dilalui tapi panjangnya tidak lebih cuma dua tombak semisalnya para hweesio itu jalan berputar sekarang seharusnya mereka telah tiba disitu.

Selagi ia berpikir dari tempat kejauhan tampak beberapa manusia bergerak datang dengan cepatnya.

Gerakan tubuh orang-orang itu sungguh cepat sekali dalam sekejap mata mereka telah tiba dua tiga tombak dibelakang mereka.

Orang-orang itu bukan lain adalah Thian Ih Thaysu serta Huan Giok Koen dibelakang kedua orang itu menguntil empat orang hweesio serta dua orang lelaki kasar berusia setengah baya.

Sementara itu Hong Cioe sekalian telah turun dari tebing karang tinggal Hu Pak Leng seorang masih berada disisi bukit itu.

Kiranya sembari berlari tadi diam-diam ia mengerahkan ilmu mengurut jalan darah untuk membebaskan dan melancarkan peredaran darah ditubuh padri tua itu.

Huan Giok Koen pertama kali yang tak dapat menahan diri sambil menuding Hu Pak Leng serunya. Thay suhu harap aku hadapi orang ini.

Ia meloncat turun kebawah dengan gerakan cepat pedangnya dengan membentuk selapis cahaya tajam menusuk tubuh Hong Cioe.

Sebelum Hong Cioe melakukan suatu tindakan mendadak terdengar suara nyaring berkumandang dari sisi iblis tua itu.

Suhu biarlah tecu yang hadapi orang ini! serunya.

Moay Siauw Beng sambil menenteng pedang segera meloncat kedepan menyambut kedatangan Huan Giok Koen.

Sepasang pedang saling bentrokan ditengah udara menimbulkan suara yang amat nyaring. Huan Giok Koen yang sedang melayang turun dari tengah angkasa posisinya jauh lebih menguntungkan Moay Siauw Beng yang termakan benturan keras dari bentrokan tersebut badannya seketika tergetar jatuh keatas tanah.

Orang ini walaupun masih berusia kecil tapi buasnya luar biasa ketika badannya terlempar jatuh sejauh tujuh delapan depa mendadak ia mengepos napas dan berjumpalitan di tengah udara lalu menerjang kembali kearah Huan Giok Koen.

Gerakan ini benar-benar berada diluar dugaan Huan Giok Koen buru-buru ia mengepos napas melayang turun keatas permukaan sembari mengirim sebuah sapuan gencar.

Traaang... sekali lagi sepasang pedang saling bentrokan kedua orang itu sama-sama merasa badannya tergentar siapapun tak berhasil mengepos napas lagi sehingga berbareng jatuh dari tengah udara.

Bantingan ini sangat keras sekali apalagi seluruh permukaan bukit karena itu merupakan batu-batu runcing beberapa bagian badan mereka berdua kontan terluka dan mengucurkan darah segar.

Hu Pak Leng sendiri sehabis mengurut seluruh peredaran darah Thian Sian Thaysu berbisik lirih.

Hong Cioe sekalian telah mempersiapkan siasat busuk untuk menjebak seluruh anggota Siauw lim serta Bu-tong pay harap Thaysu pura-pura jatuh tidak sadarkan diri sembari diam atur pernapasan biar aku yang gendong tubuh Thaysu untuk menjaga setiap kemungkinan.

Thian Sian Thaysu perlahan-lahan membuka matanya sebentar kemdian menutupnya kembali ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Urat-uratnya baru saja dilancarkan saat inilah merupakan saat yang paling membutuhkan pengaturan napas. Walaupun dalam hati ia merasa tidak suka untuk sesaatpun tak dapat meronta.

Dalam pada itu Thian Ih Thaysu telah mengejar datang toyanya segera berputar menghantam punggung Hu Pak Leng.

Dengan sebat Hu Pak Leng menyingkir kesamping bentaknya.

Kalau kalian mengejar dan mendesak diriku terus menerus jangan salahkan aku akan menggunakan tindakan keji untuk menghadapi Ciangbun hongtiang kalian.

Bentakan ini ternyata mendatangkan hasil Thian Ih Thaysu dengan cepat menarik kembali serangannya dan tidak berani turun tangan terlalu mendeaak lagi.

Hu Pak Leng segera meloncat kedepan dalam dua tiga kali tutulan ia sudah melayang turun di sisi Hong Cioe.

Sewaktu ia angkat muka tampaklah empat penjuru bukit karang penuh dengan jilatan api yang berkobar-kobar hanya jalan mundur dari Hong Cioe sekalian saja yang tidak tertutup oleh kobaran api.

Selama ini Hu Pak Leng selalu mengerahkan tenaga murninya untuk mempertahankan rasa sakit dibadan ia mengerti jelas akhir dari pertarungan sengit antara golongan Sesat dan golongan Lurus ini bukan saja mempengaruhi keamanan dalam Bu-lim sebanyak peristiwa itu bahkan mempengaruhi pula keselamatan para penduduk preman yang tak tahu urusan.

Semisalnya para jago pilihan dari pihak Siauw lim serta Bu-tong sama-sama terjebak mati dalam rencana busuk Hong Cioe maka beberapa orang iblis tua ini tentu akan menggunakan kesempatan yang baik ini untuk menyerbu kuil Siauw lim si digunung Song serta kuil Sam Yen San di gunung Butong-san.

Semisalnya peristiwa ini benar-benar terjadi maka kedua partai besar yang selama ini dipandang sebagai tulang punggung ilmu silat akan hancur berantakan situasi rimba persilatan akan kacau balau dan pembunuhan keji akan terjadi dimana-mana.

Suatu semangat untuk menebus dosa yang telah dilakukan selama ini segera mempertahankan badannya dari rasa sakit Hu Pak Leng mulai tenang dan pikiranpun mulai jadi mantap. Setelah diperiksa dan diselidiki beberapa saat secara lapat-lapat ia mulai bisa meraba apakah sebenarnya rencana keji yang dipersiapkan Hong Cioe sekalian ia hanya merasa murung dapatkah ia dengan kekuatan seorang diri ia bebaskan para jago dari bahaya maut.

Ketika ia berpaling kebelakang terlihat Moay Siauw Beng serta Huan Giok Koen masih melangsungkan pertarungan sengit dengan badan penuh berlepotan darah.

Dalam pertarungan sengit yang mempengaruhi mati hidup masing-masing pihak ini kedua belah pihak tidak menggubris luka badan akibat terjatuh tadi dengan badan masih berlepotan darah mereka lanjutkan pertarungan siapapun diantara mereka tak mau mengalah.

Memandang hal tersebut dengan sedih Hu Pak Leng menghela napas panjang ia tak tahan memandang keadaan itu lagi dan segera mengelos.

Tiba-tiba Hong Cioe tertawa dingin tegurnya.

Hu Huan tit mengapa kau menghela napas panjang.

Mendengar teguran itu Hu Pak Leng terperanjat buru-buru ia mendehem dan menyahut.

Aku rasa Moay sute tak perlu melangsungkan pertarungan dengan badan bermandikan darah apa lagi saat ini orang-orang Siauw lim serta Bu-tong pay telah menjadi burung dalam sangkar apa gunanya.

Ucapan yang diutarakan menurut keadaan ini sangat tepat sekali, seketika rasa curiga yang mengeram dalam tubuh Hong Cioe lenyap tak berbekas.

Ucapan Hu Hian tit sedikitpun tidak salah.... ia tersenyum dan mengangguk lalu berpaling kearah muridnya seraya berseru lantang.

Siauw Beng tak usah ngotot bertarung mati-matian, ayo cepat mundur kebelakang.

Mendengar teriakan itu Moay Siauw Beng segera menarik kembali serangannya dan mengundurkan

diri.

Melihat muridnya mundur Huan Giok Koen segera ayunkan pedangnya mengejar namun ketika dilihatnya Thian Ih Thaysu aambil melintangkan toya berdiri tertegun disitu ia jadi cemas teriaknya.

Loo siansu kenapa kau tidak melakukan pengejaran? apakah kau hendak berdiri disana sambil menati kematian?.

Aaaai Thian Ih Thaysu menghela napas panjang bagaimana mungkin loolap tega melihat Ciangbun

hongtiang menemui ajalnya ditangan mereka?.

Saat ini api telah berkobar diempat penjuru satu-satunya jalan keluar hanya terletak disini kalau kita tidak berusaha menerjang keluar dari lingkungan kepungan dengan mengejar pihak musuh mana mungkin kita bisa hidup?.

Sembari berseru ia menggerakan pedangnya dan melakukan pengejaran dengan langkah lebar.

Kedua orang lelaki setengah baya itupun berbareng memandang sekejap kearah Thian Ih Thaysu sambil berkata.

Perkataan Jie Kongcu sedikitpun tidak salah kita tak boleh melepaskan satu-satunya kesempatan ini dengan sia-sia.

Merekapun segera bergerak menguntil dari belakang Huan Giok Koen.

Perlahan-lahan Thian Ih Thaysu berpaling tampak olehnya kobaran api diatas bukit karang makin lama semakin menghebat di tengah cahaya api bayangan manusia bagaikan seekor naga menerjang turun kebawah bukit.

Ia segera berpaling kearah empat orang toosu yang berada dibelakangnya dan berpesan. Kalian dua orang tetap tinggal disini menyambut para jago dari atas bukit dua orang yang lain segera ikut aku mengejar musuh.

Begitu selesai berkata badannya segera berkelebat dua tombak jauhnya kedepan dan menerjang kemuka.

Agaknya Hong Cioe sekalian ada maksud memancing musuhnya mengikuti mereka sembari bergebrak mereka mundur terus kebelakang.

Menanti mereka telah tiba disebuah tikungan bukit mendadak Hong Cioe sekalian berhenti dan melancarkan serangan balasan.

Seketika Huan Giok Koen serta Thian Ih Thaysu kena tertahan oleh serangan dahsyat itu.

Belum habis mereka bergebrak tiga jurus anak murid Siauw lim si serta Bu-tong telah tiba semua disana.

Berhubung lorong gunung itu amat sempit sekalipun jumlah anak murid Siauw lim si serta Bu-tong pay yang hadir disana amat banyak mereka tak dapat turun berbareng.

Sembari bergebrak diam-diam Hong Cioe menghitung jumlah musuh yang hadir disana.

Tampak Ci Yang Tootiang sementara itu sedang duduk bersila mengatur pernapasan untuk melawan daya kerja racun yang mengeram dalam tubuhnya dibawah perlindungan enam orang toosu Bu-tong pay.

Sedangkan Huan Tong San dibawah gotongan dua orang lelaki setengah baya tetap berada dalam keadaan tidak sadar.

Sebagian besar anak murid Siauw lim serta Bu-tong pay yang hadir disana telah terluka bakar oleh api beracun tapi tak seorangpun yang merintih ataupun membalut luka-luka terbakar itu.

Hong Cioe sekalian setelah menghitung jumlah lawan seluruhnya ada lima puluh empat orang segera membentak keras permainan gelang emas di tangannya diperketat seketika permainan pedang Huan Giok Koen serta permainan toya Thian Ih Thaysu dapat diatasi.

Sedangkan si api beracun Seng Jiang dan Moay Siauw Beng sama-sama meloncat mundur kebelakang lalu lenyap dibalik tikungan.

Sewaktu berlari tadi Moay Siauw Beng menarik ujung baju Hu Pak Leng sembari berkata : Suheng ayo cepat mundur.

Hu Pak Leng menurut dan ikut mengundurkan diri kebelakang tapi seketika hatinya terjelos serunya : Oooow... suatu tempat yang amat bahaya.....

Tampak olehnya kedua belah dinding bukit merupakan tebing terjal yang menyempit sebuah selat kecil seluas tiga depa kurang lebih empat tombak setelah lewati selat sempit tadi merupakan sebuah tanah lapang yang luasnya ada beberapa tombak melewati tanah lapang itu kembali merupakan sebuah selat yang sempit bentuknya mirip dengan sebuah cupu-cupu.

Setelah meninjau sejenak disekeliling tempat itu Hu Pak Leng lantas berpikir.

Empat penjuru merupakan lautan api dalam keadaan terdesak selat sempit yang ada disekitar tempat ini merupakan jalan mundur. Asalkan Hong Cioe sebelumnya menyembunyikan jago lihay dikedua belah sisi tebing kemudian menggunakan api menutup mati kedua mulut selat dan melemparkan ranting serta rumput kering yang mudah terbakat kedalam selat bukanlah seluruh anak murid Siauw lim serta Bu-tong pay akan hancur ditengah kobaran api...

Selagi termenung melamun mereka telah melewati tanah datar yang lapang itu. Tiba-tiba si api beracun Seng Jiang berhenti kepada Hu Pak Leng ujarnya dingin. Kalian cepat mundur kebelakang jangan berdiri di situ mengaco urusan.

Kurangajar maki Moay Siauw Beng sambil melirik sekejap kearah si api beracun Seng Jiang kau berani bersikap kurangajar kepadaku, hmmm kami tak bisa membiarkan urusan ini begini saja.

Semula si api beracun Seng Jiang kelihatan tertegun kemudian dengan gusar teriaknya : Kau bisa mengapakah loohu?

Heeee... heee... kau jangan keburu marah dulu ujar Moay Siauw Beng sambil tersenyum. Selesaikan dulu urusan pokok menanti urusan dengan pihak Siauw lim serta Bu-tong pay selesai kita baru bikin perhitungan lagi!

Keparat kau berani memberontak? celaka... celaka gurumupun tak berani begitu kurangajar terhadap loohu teriak si api beracun mencak-mencak.

Seluruh tubuh Moay Siauw Beng penuh dengan luka darah segar tiada hentinya mengucur keluar membasahi tubuhnya. Tapi ia sama sekali tidak membersihkannya.

Dengan sepasang biji matanya yang bulat besar ia menyapu sekejap wajah Seng Jiang kemudian tertawa katanya :

Selamanya suhuku belum pernah ikut campur kalau aku mau berkelahi dengan siapapun kalau kau tidak percaya nanti saja katakan kepadanya...!

Si api beracun Seng Jiang adalah seorang jago yang berwatak angkuh dan terlalu memandang tinggi diri sendiri sekarang digoda dan dihina oleh seorang bocah cilik mana ia bisa tahan.

Tak terasa hawa amarah segera berkobar dalam hatinya dengan mata melotot ia siap melakukan gerakan.

Tapi perbuatannya ini dapat dicegah oleh si setan tua Swie Han katanya dingin :

Jiang-heng janganlah dikarenakan urusan dengan seorang bocah cilik membuat urusan pokok jadi kacau kalau si manusia iblis Wu Tuo pun mendehem berat dan menyambung. Saat ini Hong-heng sedang menahan serangan jago lihay Siauw lim serta Bu-tong pay seorang diri hal ini dikarenakan hendak memberi waktu yang banyak kepada Jiang-heng untuk melakukan persiapan saat ini waktu berharga bagaikan emas gagal atau suksesnya pertempuran ini semuanya tergantung diatas pundak Jiang-heng apabila kau tak bisa menahan sabar karena urusan kecil maka seluruh permainan catur kita akan menemui kehancuran. Si api beracun Seng Jiang mendengus dingin dari sebuah celah batu diatas dinding tebing itu ia menarik keluar sebuah sumbu bahan peledak yang besarnya bagaikan lilin sedang tangan kirinya mempersiapkan api, siap menyulutnya. Melihat kejadian itu diam-diam Hu Pak Leng bergidik pikirnya. Semisalnya mereka mengunakan ranting serta rumput kering untuk menutup serta membakar selat sempit ini sekalipun banyak jago Siauw lim serta Bu-tong pay yang menemui ajalnya tetapi tak akan terbasmi habis. Lain halnya kalau dalam selat sempit ini sudah ditanam obat peledak.

Diam-diam ia menyentil badan Siauw lim hongtiang yang berada dalam pelukannya.

Sejak Thian Sian Thaysu kumpulkan sisa tenaga untuk bergerak melawan Hong Cioe sehingga mempercepat daya kerja racun yang mengeram dalam tubuhnya walaupun ia telah mengatur pernapasan tetapi hawa murninya gagal dikumpulkan menjadi satu.

Ia tahu sekalipun meronta dan turun tangan pada saat itu usahanya akan menemui kegagalan total terpaksa untuk sementara ia berdiam diri sembari diam-diam ia mengumpulkan sisa tenaga yang ada.

Sewaktu Hu Pak Leng menjawil dirinya ia merasa tapi padri itu pura-pura berlagak pilon bergerak sedikitpun tidak.