Badai Dunia Persilatan Jilid 11

Jilid 11

WALAUPUN setelah tecu lukai sute dalam hati merasa sangat tidak tenteram terutama sekali terhadap diri susiok.

Haaaa..... haaaa..... haaaa urusan sudah berlalu tak usah dipikirkan lagi didalam situasi pada saat itu

tidak mengijinkan sudah tentu tak dapat menyalahkan dirimu. Kau sebagai seorang Liok-lim Bengcu sudah seharusnya tidak berpeluk tangan saja melihat anak buahmu terbunuh.

Susiok bisa berpikiran luas tecu merasa amat berterima kasih sekali buru-buru Hu Pak Leng menjura. Hong Cioe melirik sekejap kearah Thio Cing An perintahnya :

Sementara waktu kau aturkan pernapasan dulu, lalu kepada Hu Pak Leng ujarnya pula. Surat tersebut apakah sudah kau baca?

Ehmmm sudah.

Telah kau umumkan dihadapan seluruh anak buahmu.

Tecu belum berjumpa dengan susiok oleh karena itu belum aku umumkan pengumuman kepada anak buahku.

Sambil mengelus jenggotnya hong Cioe tarsenyum.

Kedatanganmu sangat kebetulan sekali aku sudah siap untuk bergerak.

Untuk beberapa waktu Hu Pak Leng tak mendapatkan jawaban yang cocok karena itu ia cuma tersenyum dan membisu seribu bahasa.

Hong Cioe rada merandek sejenak lalu tambahnya :

Sudah amat lama loohu tidak terjan didalam dunia persilatan entah dari kalangan Liok-lim sudah muncul orang macam apa saja? kendati kau sudah merebut kedudukan Liok-lim Bengcu dari seantero kolong langit, apakah kau merasa kekuasaanmu tersebut bisa kau gunakan seluas-luasnya?

Walaupun tecu beruntung bisa merebut kedudukan Liok-lim Bengcu tapi berhubung pendeknya waktu terhadap anak buahku masih tidak begitu rapat hubungannya dan kekuasaanku rasanya belum bisa digunakan seluas-luasnya.

Tapi seharusnya kau memiliki sebagian anak buah yang bisa dipercaya bukan? sela Hong Cioe tertawa.

Walaupun anak buah kepercayaan ada cuma jumlahnya tidak begitu banyak.

Hong Cioe tampak termenung sebentar, beberapa saat kemudian sambil tertawa ujarnya lagi.

Ehmm kita atur demikian saja kau berpikirlah sebentar dengan pikiran tenang kemudian membagi

anak buahmu jadi tiga golongan orang-orang yang keras kepala membandel dan tidak suka mengikuti perintah kau masukkan golongan pertama mereka-mereka yang bisa mengikuti perintah kau masukkan dalam golongan yang kedua dan orang-orang kepercayaan kau masukkan dalam golongan yang ketiga.

Mendengar anak buahnya diatur secara demikian diam-diam Hu Pak Leng merasa amat terperanjat pikirnya.

Tindakan orang ini benar-benar sangat ganas dan kejam!. Terdengar Hong Cioe menyambung kata-katanya lebih lanjut:

Setelah kau membagi anak buahmu menjadi tiga golongan carilah suatu waktu yang tepat untuk mengadakan suatu perjemuan undanglah mereka untuk bersantap lalu secara diam-diam masukan obat racun kedalam arak sayur mereka racun mati dulu orang-orang yang termasuk golongan pertama. Sampai waktunya aku dengan membawa orang-orangku akan segera tiba untuk membantu dirimu menyelesaikan urusan ini jikalau rahasia tersebut kena dpecahkan orang maka kita harus menggunakan gerakan yang tercepat untuk binasakan mereka satu per satu.

Sejak semula Hu Pak Leng sudah menduga apa yang hendak dikatakan oleh Hong Cioe ini oleh karena itu habis mendengarkan perkataan tersebut ia tidak sampai memperlihatkan perasaan terperanjat sengaja Liok-lim Bengcu termenung sejenak akhirnya menyahut :

Dengan suara datar dan berat Hong Cioe tertawa dingin.

Kau orang masuklah kedalam tenda! serunya hambar. Sekarang kau sebagai seorang Liok-lim Bengcu kedudukanmu amat tinggi dan sangat terhormat.

Sudah sepatutnya untuk berkenalan dengan beberapa orang cianpwe dari kalangan Liok-lim. Susiok memuji diri tecu, aku orang mana berani menerimanya.

Walaupun diluaran berbicara merendah badan pun ikut berjalan masuk kedalam tenda.

Hong Cioe tidak langsung perkenalkan diri Hu Pak Leng dengan beberapa orang yang berada di dalam tenda sebaliknya berpaling dan perintahnya pada si bocah cilik tersebut.

Perintahkan mereka agar cepat hidangkan sayur serta arak :

Bocah tersebut tersenyum juga tidak menjawab lagi ta putar badan berlalu.

Hu Pak Leng setelah masuk kedalam tenda dan ambil tempat duduk, mulutpun tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Beberapa orang kakek tua yang duduk didalam tenda masing-masing bagaikan patung arca saja, sejak Hu Pak Leng berjalan masuk belum pernah mereka membuka matanya untuk pandang sekejap kearah lelaki tersebut, bahkan menolehpun tidak.

Beberapa saat kemudian si bocah cilik itu dengan membawa delapan orang dayang berbaju hijau berjalan masuk kedalam tenda ditangan kedelapan dayang tersebut membawa baki-baki kayu yang berisikan sayuran tapi langkah mereka amat kuat dan cepat sebentar kemudian sudah berada didalam tenda.

Sinar mata Hu Pak Leng berputar terlihatlah sayur yang ada diatas baki ditangan kedelapan orang dayang berbaju hijau itu masih mengumpulkan hawa panas seperti baru saja diangkat dari dandang.

Ketika itu si manusia aneh berwajah Im Yang itupun sudah berjalan masuk kedalam tenda dan duduk disisi Hu Pak Leng.

Saudara-saudara sekalian silahkan gunakan arak dan sayur perlahan-lahan Hong Cioe bangun berdiri. Agaknya orang-orang ini terlalu memandang tinggi dirinya dan tidak mau saling mengenal sejak Hu

Pak Leng masuk kedalam tenda kecuali Hong Cioe serta si manusia aneh berwajah Im Yang tersebut tak kedengaran sepatah katapun dari mulut kakek-kakek tua yang lain. Menanti Hong Cioe buka suara mempersilahkan tetamunya untuk ambil duduk disekitar meja perjamuan mereka baru bangun berdiri dan masing-masing mencari tempat duduknya sendiri.

Mengambil kesempatan itu sinar mata Hu Pak Leng mulai menyapu sekejap kearah orang itu.

Tampaklah orang yang berada disebelah kiri memakai jubah panjang berwarna hitam dengan badan yang kurus kering tinggi tinggal kulit pembungkus tulang tetapi alisnya berwarna putih bagaikan salju.

Orang yang memakai jubah panjang berwarna coklat wajahnya kuning keemas-emasan bagaikan mayat yang baru dikeluarkan dari liang kubur dan baru saja keluar dari peti mati diantara alisnya memancarkan cahaya yang menggidikkan.

Empat orang kakek tua yang berada dalam tenda kecuali Hong Cioe seorang yang wajahnya merah bersinar dengan jenggot warna putih rada berwibawa lainnya seorang jauh lebih jelek dari seorang lainnya.

Waktu itu lelaki she Cioe serta Thio Cing An sudah pada mengundurkan diri keluar tenda, kecuali si bocah berpakaian toosu beserta kedelapan orang dara berbaju hijau yang menghidangkan sayur serta arak tak kelihatan seorang manusiapun.

Hu Pak Leng yang melihat kakek-kakek tua berwajah aneh itu dalam hati mulai menduga-duga siapakah mereka.

Belum habis ia berpikir Hong Cioe sambil menuding kearah dirinya sudah berkata kepada ketiga orang kakek tua tersebut.

Orang ini adalah anak murid suhengku dan sekarang menjabat sebagai Liok-lim Bengcu dari seantero

dunia.

Diantara ketiga orang tua itu cuma si kakek tua berwajah Im Yang saja yang sedikit bungkukkan badan sebagai tanda hormat kedua orang lainnya sedikit bergerakpun tidak mereka hanya mengalihkan sinar matanya memandang sekejap kearah diri Hu Pak Leng.

Menghadapi situasi semacam ini ternyata Hu Pak Leng dapat menahan sabar walaupun kedua orang kakek tua itu menaruh sikap dingin sombong dan hambar terhadap dirinya tapi Hu Pak Leng sama sekali tidak pikirkan dihati.

Perlahan-lahan ia bangun berdiri dan menjura ke empat penjuru.

Hu Pak Leng anak murid yang belum tamat belajar memberi hormat buat Loocianpwee bertiga.

Si orang tua beralis putih berbaju hitam dan berbadan kurus tinggal kulit pembungkus tulang tertawa terbahak-bahak ia berpaling kearah si orang tua berjubah panjang berwajah kuning keemas-emasan itu lalu serunya.

Haaaa..... haaa..... haaa Su tit dari Hong-heng benar-benar seorang yang berbakat.

Orang ini selama tidak berbicara sekali buka suara nadanya amat keren dan sedikit banyak menunjukkan kedudukannya sebagai Loocianpwee.

Si orang tua berjubah panjang berwajah kuning keemas-emasan itu merentangkan mulutnya dan tertawa tanpa menimbulkan suara ia menyambung.

Boleh terhitung seorang yang mengerti akan adat kesopanan. Sungguh besar lagaknya pikir Hu Pak Leng dalam hatinya.

Tapi diluaran ia tersenyum.

Loocianpwee berdua terlalu memuji! serunya merendah.

Hong Cioe sambil mengelus jenggotnya tertawa tergelak ia menuding kearah si manusia aneh berbaju hitam berbadan kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang itu lalu perkenalkan. Dia adalah Kioe Loo, atau si setan tua Swie Han.

Swie Loocianpwee! Buru-buru Hu Pak Leng merangkap tangannya menjura. Sedang dalam hati diam-diam merasa geli, pikirnya.

Haaaaa..... haaaa..... haaaaa..... kiranya ia bergetar setan, kalau begitu kedudukanya masih berada dibawah kekuasaan aku si raja akherat......

Kembali Hong Cioe menuding kearah manusia aneh berjubah panjang berwajah kuning keemas- emasan itu sambungnya.

Dia adalah Jien Mo atau si manusia iblis Wu Tou. Kembali Hu Pak Leng menjura kearah Wu Tou tersebut.

Wu Tou cengenger tertawa, ia tidak balas memberi hormat.

Setelah memperkenalkan kedua orang itu Hong Cioe lantas melirik sekejap kearah si manusia aneh berwajah Im Yang, katanya :

Swie, Wu kedua orang heng-te pada empat puluh tahun yang lalu sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia kangouw dan tidak mencampuri urusan keduniawian lagi, mereka setiap tahun penuh bersembunyi didaerah bersalju didaerah utara untuk mempelajari ilmu Han Im Sin Kang selama tiga puluh tahun lamanya. Pada beberapa bulan ini kepandaiannya sudah mencapai kesempurnaan dan meninggalkan Kutub Utara untuk kembali lagi ke daerah Tionggoan.....

Sambil mengelus jenggot ia tertawa terbahak-bahak sambungnya :

Jago-jago lihay Bu-lim pada saat ini rasanya sukar untuk dicari beberapa orang yang bisa ditandingkan dengan tingkatan mereka berdua!.

Swie Han serta Wu Toa tetap bungkam dalam seribu bahasa agaknya terhadap perkataan dari Hong Cioe tersebut mereka sama sekali tjdak ambil gubris.

Ketika itulah Hong Cioe baru menuding kearah manusia aneh berwajah Im Yang itu sambungnya :

Saudara ini rasanya Hiat tit tentu sudah mendengar bukan nama besarnya dia adalah jago lihay senjata rahasia nomor wahid dari kalangan Liok-lim kita Tok Hwee atau si api beracun Seng Jiang...

Sekali lagi Hu Pak Leng menjura. Seng loocianpwee!.

Agaknya Seng Jiang menaruh rasa simpatik terhadap Hu Pak Leng ternyata ia sudah bonggokkan badan balas memberi hormat.

Habis memperkenalkan ketiga orang kakek tua itu Hong Cioe lantas angkat cawan araknya seraya berkata :

Silahkan saudara-saudara sekalian meneguk secawan arak sebagai tanda hormat Siauw-te kepada saudara-saudara sekalian.

Swie Han, Wu Tou, Seng Jiang serta Hu Pak Leng masing-masing angkat cawan arak sendiri untuk sekali teguk menghabiskan isinya.

Setelah meneguk habis secawan arak si setan Swie Han ternyata sudah melanggar kebiasaannya yang bungkam diri ujarnya.

Kalau memang maksud tujuan Hong-heng hendak mencari balas terhadap orang-orang Siauw lim serta Bu-tong pay aku rasa agaknya tidak perlu menggerakkan banyak orang mengatur siaaat teliti dan lari kesana lari kemari mencari bala bantuan cukup dengan mengandalkan kekuatan kita berempat rasanya sudah cukup untuk mengobrak-abrik seluruh Siauw lim serta Bu-tong pay jika menurut pendapatku setelah kita selesai minum arak segera berangkat menuju kuil Siauw lim si dan sekali hajar lenyapkan pemimpin hweesio mereka......

Tidak menanti Swie Han selesai berbicara si manusia aneh berwajah Im Yang si api beracun Seng Jiang sudah menggeleng, potongnya.

Swie-heng sudah lama berdiam di kutub utara, sudah tentu tidak memahami situasi Bu-lim di daerah Tionggoan khususnya, pihak Siauw lim serta Bu-tong pay selama ratusan tahun lamanya bisa bertahan dan menguasahi seluruh kekuatan Bu-lim rasanya pihak mereka bukan suatu kekuatan yang bisa dipermainkan semuanya apalagi barisan Loo Han Tin dari kuil Siauw lim si serta barisan pedang Ngo Hong Kiam Tin dari Bu-tong pay selama puluhan tahun ini belum pernah dengar ada orang yang berhasil menghancur pertahanan kedua buah barisan aneh ini.

Ia merandek sejenak untuk tukar napas lalu sambungnya.

Di dalam kuil Siauw lim si diatas gunung Siong-san jumlah hweesio yang menghuni disana mencapai ribuan keatas dan masing-masing memiliki rangkaian ilmu silat yang amat lihay.

Sedang pihak Bu-tong pay walaupun tidak sekuat pihak Siauw lim tetapi anak murid perguruan mereka paling sedikitpun ada diatas empat ratus lebih. Bukannya Siauw-te terlalu mengunggulkan kekuatan pihak lawan dan menghancurkan semangat pihak kita sendiri aku rasa bila ingin mengandalkan kekuatan kita berempat saja untuk melenyapkan pentolan Siauw lim pay serta Bu-tong pay bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Mendadak si setan tua Swie Han berpaling sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam melototi tubuh si api beracun Seng Jiang.

Jadi Seng-heng tidak percaya terhadap perkataan Siauw-te serunya dingin. Soal ini Siauw-te merasa rada sulit untuk menjawabnya!.

Kembali si setan tua Swie Han tertawa dingin.

Seng-heng kau percaya kepandaian silatmu bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian silat jago-jago lihay dari pihak Siauw lim si???.

Aku pikir seimbang dan sukar ditentukan siapa yang menang siapa yang kalah. Mendadak si setan tua Swie Han meloncat bangun dari tempat duduknya.

Kalau memang begitu Seng-heng boleh pura-pura jadi hweesio Siauw lim untuk coba-coba bagaimanakah kelihayan Han Im Sin Kang dari Siauw-te tantangnya.

Suatu perkataan yang menantang pihak lawan secara terang-terangan sudah tentu membuat si api beracun Seng Jiang tidak tahan iapun segera meloncat bangun dari tempat duduknya.

Kalau cuma menyuruh Siauw-te coba-coba Han Im Sin Kang dari Swie-heng saja rasanya rada tidak pakai aturan....

Hmmm! menurnt pendapat Seng-heng???

Maksud Siauw-te tiada halangannya Swie-heng menghalangi Siauw-te dengan menggunakan Han Im Sin Kang sedang Siauw-te pun akan menggunakan senjata api beracun untuk balas menyerang, masing- masing mengandalkan kepandaian sendiri-sendiri untuk coba-coba bertanding beberapa jurus.

Di atas wajah Swie Han yang kurus kering terlintas sekilas hawa membunuh kemudian terdengar ia mendengus dingin.

Bagus-bagus pertarungan saling berebut kaki tangan tiada terbatas bila bukannya Siauw-te terluka di tangan Seng-heng adalah Seng-heng yang berhasil Siauw-te lukai..... Ia merandek sejenak, lalu sambil berpaling kearah Hong Cioe tambahnya.

Didalam pertandingan ini aku berharap Hong-heng suka bertindak sebagai saksi kami. Dengan langkah lebar ia lantas meninggalkan tempat duduk menuju keluar tenda.

Tiba-tiba Hong Cioe meloncat bangun, teriaknya berulang kali.

Untuk sementara kalian padamkan dulu hawa amarah didalam hati dengarkan dulu perkataan dari Siauw-te.

Heee... heee... heeee... bila Hong-heng ada perkataan aku pikir nanti saja kau utarakan sesudah kita selesai bergebrak, potong si setan tua Swie Han sambil tertawa dingin.

Dua harimau bertarung pasti ada satu yang terluka kata Hong Cioe tertawa menurut pendapat Siauw-te lebih baik kalian berdua suka memandang diatas wajah Siauw-te untuk menyudahi persoalan ini sampai disini saja kalian bersabarlah sedikit.

Si manusia aneh berjubah panjang berwajah kuning keemas-emasan si manusia iblis Wu Tou pun perlahan-lahan bangun berdiri.

Swie-heng! tegurnya kau jangan terlalu mengumbar napsu, jangan sampai Hong-heng jadi serba salah.

Sinar mata si setan tua Swie Han menyapu sekejap kearah si api beracun Seng Jiang, kemudian baru berkata.

Kalau memang Wu-heng serta Hong-heng menghalangi niatku jika Siauw-te ngotot terus rasanya kurang memberi muka kepada kalian.....

Sinar matanya yang dingin hijau dialihkan ke atas wajah Seng Jiang lalu tambahnya :

Hutang piutang kita kali ini untuk sementara kita catat dulu dihati, setelah selesai kita orang membereskan Siauw lim pay serta Bu-tong pay. beserta ente dan bunganya kita bereskan jadi satu.

Heeeee..... heeeee..... heee... setiap saat tentu Siauw-te layani! Seru si api beracun Seng Jiang tidak mau kalah.

Sudah..... sudahlah kalian jangan beribut lagi mengikuti napsu buru-buru Hong Cioe melerai. Mari kembali kemeja perjamuan. Siauw-te snasih ada urusan penting yang hendak dirundingkan dengan kalian semua.....

Perlahan-lahan si setan tua Swie Han kembali ketempat duduknya, air mukanya kelihatan gusar sambil memandang kearah Hong Cioe katanya :

Bilamana Hong-heng jeri terhadap kekuatan dari Siauw lim pay serta Bu-tong pay, Siauw-te rela bersama-sama Wu-heng berangkat kekuil Siauw lim si dan membereskan pentolan mereka setelah itu Hong- heng baru kerahkan kekuatan dari kawan-kawan Liok-lim.....

Swie-heng silahkan habiskan dahulu secawan arak ini kemudian baru mendengarkan penjelasan dari Siauw-te mengenai situasi dalam Bu-lim saat ini potong Hong Cioe sambil angkat cawan araknya.

Walaupun si setan tua Swie Han berwatak aneh kaku dingin dan sombong tapi terhadap diri Hong Cioe tidak berani terlalu umpak-umpakan dengan cepat ia sambar cawan arak dimeja dan sekali teguk menghabiskan isinya.

Waktu itulah perlahan-lahan Hong Cioe baru ambil tempat duduk dan tersenyum.

Selama ratusan tahun ini partai Siauw lim serta partai Bu-tong selalu merajai dunia kangouw orang Liok-lim sejak dahulu kena dikuasahi lingkungan geraknya oleh pengaruh kedua partai besar tersebut oleh karena itu kecuali mempunyai urusan yang amat lihay sehingga harus melakukan adu jiwa kalau tidak jauh lebih baik bila kita orang jangan sampai bentrokan dengan pihak Siauw lim serta Bu-tong secara terang- terangan dan bila kita ingin menggunakan kekuatan kawan-kawan Liok-lim untuk melawan pihak Siauw lim serta Bu-tong pay sebelum melaksanakan gerakan tersebut kita harus melakukan dulu satu pengacauan secara besar-besaran dalam partai mereka atau dalam sekali terjang binasakan dulu beberapa orang pemimpin dua partai besar itu.

Ia merandek sejenak untuk tukar napas kemudian tambabnya :

Bilamana Siauw-te •tiada pikiran untuk melukai dulu beberapa orang penting dari kedua partai besar

tersebut akupun tak berani mengganggu ketenangan kalian beberapa orang.

Ketika itulah mendadak satu senyuman kegirangan melintas diatas wajah si setan tua Swie Han.

Ternyata Hong-heng suka memandang tinggi diri Siauw-te serta Wu-heng dalam hati aku betul-betul merasa amat berterima kasih katanya sembari tertawa senang. Entah kapan Ho-heng siap-siap hendak bergerak?

Agaknya orang ini mempunyai kegemaran yang sangat istimewa terhadap soal perkelahian, setiap patah kata yang diucapkan tidak akan terlepas dari soal pertarungan.

Hong Cioe sambil mengelus jenggotnya tertawa, sinar mata perlahan-lahan dialihkan keatas tubuh Hu Pak Leng.

Dalam soal ini aku harus minta maaf dulu terhadap diri Hiat sutit karena loohu sudah meminjam namamu untuk membagi kartu undangan memanggil seluruh pentolan partai-partai besar untuk berkumpul disini.

Mendengar perkataan itu Hu Pak Leng rada tertegun diam-diam pikirnya :

Tidak aneh kalau orang-orang pihak Siauw lim serta Bu-tong berturut-turut sudah mendatangi luar lembah Mie Cong Kok, kiranya dibalik kejadian ini masih tersembunyi rahasia.....

Walaupun dalam hati ia merasa tidak puas atas tindakan dari Hong Cioe int tapi diluaran ia menyahut sambil tersenyum :

Susiok ternyata suka meminjam nama tecu untuk membagi kartu mengundang pentolan dari kedua partai besar itu tecu seharusnya merasa amat bangga.

Haaa... haaa   Hong Cioe tertawa terbahak-bahak aku sudah tetapkan nanti bulan tujuh tanggal tujuh

hendak meminjam lembah Mie Cong Kok mu untuk membuka suatu pertemuan para Liok-lim enghiong dari seantero kolong langit didalam pertemuan tersebut aku hendak menggunakan beberapa butir batok kepala pemimpin-pemimpin benteng dari pihak Siauw lim serta Bu-tong sebagai hiasan pertemuan tersebut, siapa sangka dalam perhitungan yang cermat ternyata sudah salah ambil satu tindakan aku sama sekali tidak menduga kalau kau suka menghantar sutemu datang kemari dengan demikian maka keadaan sukar untuk merahasiakan keadaanmu lagi.

Hu Pak Leng yang dalam hati kepingin cepat-cepat tahu siasat apa yang diatur Hong Cioe untuk menghadapi orang-orang pihak Siauw-te serta Bu-tong buru-buru sambungnya :

Bilamana Susiok membutuhkan kekuatan tecu saat ini juga tecu akan kembali ke lembah Mie Cong Kok dan memilih beberapa jagoan lihay anak buahku untuk mendengarkan Susiok.

Haaaaa... haaa... haaa... soal itu tidak usah sejak semula aku sudah atur siasat, asalkan orang-orang Siauw lim serta Bu-tong sudah masuk kedalam jebakan yang aku persiapkan maka pekerjaan kita boleh dihitung separuh bagian telah sukses.

Susiok! jadi kau sudah mempersiapkan jebakan diluar lembah Mie Cong Kok tanya Hu Pak Leng sambil tersenyum.

Sedikitpun tidak salah, aku sudah membuang waktu selama tiga bulan untuk mengatur jebakan tersebut, walaupun belum tentu bisa menghancurkan seluruh kekuatan dari jago lihay kedua partai besar tapi setiap orang yang sudah terjabak dalam kurungan tak bakal bisa lolos dari ilmu sakti, Han Im Sin Kang dari Wu-heng serta Swie-heng.

Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak selembar wajahnya diliputi penuh kegirangan.

Sedangkan Hu Pak Leng diam-diam merasa amat terperanjat walapun ia belum sempat mengetahui jebakan apakah yang hendak digunakan Hong Cioe untuk menjebak jago-jago lihay dari kedua partai besar itu tetapi rasanya siasat tersebut tentu merupakan suatu siasat yang amat kejam ganas dan buas, bilamana orang-orang dari Siauw lim serta Bu-tong tidak sampai tahu siasat licik ini dan terjerumus kedalam jebakan Hong Cioe rasanya keadilan Bu-lim segera akan tersapu lenyap dari muka bumi.

Kendati dalam hati ia merasa tergetar dan sangat terperanjat oleh berita itu, tapi diluaran ia tetap mempertahankan ketenangan wajahnya sembari tersenyum ujarnya.

Bila jago-jago lihay dari pihak Siauw lim serta Bu-tong berhasil dibinasakan maka kita orang-orang Liok-lim pun dapat membalas kemangkelan yang selama ini kita tahan dalam hati tapi orang-orang Siauw lim serta Bu-tong pay bukanlah manusia-manusia yang memiliki kepandaian biasa, bilamana sampai terjadi...

Haaaa..... haaaa..... haaa... soal ini kau boleh berlega hati potong Hong Cioe sambil tertawa terbahak- bahak? Kecuali mereka tidak terpancing masuk kedalam jebakan yang sudah kuatir, asalkan mereka terperosok masuk kedalam jebakan sekalipun tubuh mereka terbuat dan baja atau emas yang lelehpun jangan harap bisa meloloskan diri dari cengkeramanku.

Entah susiok hendak menggunakan cara apa untuk sekali hantaman menjebak seluruh jago lihay pihak musuh? kembali Hu Pak Leng bertanya sambil tertawa hambar.

Mendadak Hong Cioe melototkan sepasang matanya, dua rentetan sinar yang amat tajam dan dingin mendelik keatas wajah Hu Pak Leng, lalu dengan nada sangat dingin katanya.

Hendak menggunakan cara apa untuk sementara tak boleh dibocorkan.....

Ketika itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara teguran yang amat nyaring. Hong Loo cianpweasdakah didalam???

Mendengar suara teguran tersebut Hong Cioe menoleh kearah si bocah berpakaian toosu tersebut. Bawa ia kemari!

Si bocah cilik berpakaian toosu itu tertawa lalu dengan langkah terburu-buru berlalu dari sana. Orang ini paling suka cari muka, setiap kali hendak berbicara tentu tertawa terlebih dahulu.

Beberapa saat kemudian bocah berpakaian toosu itu sudah balik kedalam tenda dengan membawa seorang lelaki berpakaian ringkas.

Orang itu menjura dulu kepada Hong Cioe kemudian sinar matanya menyapu sekejap keseluruh tenda tangannya lurus kebawah tetapi mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Persiapanmu sudah selesai semua??, tanya Hong Cioe memecahkan kesunyian.

Sudah dipersiapkan semua sahut lelaki berpakaian ringkas itu dengan hormat. Kini hanya menanti orang-orang dari pihak Siauw lim serta Bu-tong pay masuk jebakan kemudian kita segera bisa turun tangan.

Bagus! bagus sekali, kau boleh mengundurkan diri terlebih dulu seru Hong Cioe tersenyum.

Lelaki berpakaian ringkas itu kembali menjura lalu dengan langkah lebar mengundurkan diri dari

tenda.

Menanti lelaki berpakaian ringkas itu sudah berlalu Hong Cioe baru menoleh kearah Hu Pak Leng dan sembari tertawa ujarnya : Loohu meminjam markas besar kaum Liok-lim didaerah Pak Ih ini sebagai gelanggang pembantaian jago-jago lihay Siauw lim serta Bu-tong pay bila hal ini telah berhasil maka nama besar Hian tit pasti akan jauh membumbung didalam pendengaran kawan-kawan Liok-lim untuk suksesnya susiokmu menghormati secawan arak kepada diri Hian tit.

Terima kasih susiok!.

Hu Pak Leng angkat cawan araknya dan sekali teguk menghabiskan isinya. Kembali Hong Cioe memenuhi cawan araknya.

Saudara-saudara sekalian silahkan memenuhi cawan arak masing-masing Siauw-te masih ada urusan yang hendak dititipkan kepada kalian :

Hong-heng! kata si setan tua Swie Han sambil angkat cawan araknya dan tertawa pertama-tama Siauw-te memberi selamat dulu kepada diri Hong-heng semoga berhasil menyapu bersih jago-jago lihay dari pihak Siauw lim serta Bu-tong pay dengan demikian kaupun berhasil membalaskan penghinaan yang diterima kawan-kawan Liok-lim selama puluhan tahun ini.

Haaaaa... haaaa... haaa... walaupun Siauw-te sudah mempersiapkan siasat bagus untuk membereskan jago-jago lihay dari pihak Siauw lim serta Bu-tong pay tapi Siauw-te pun masih membutuhkan bantuan dari Swie-heng, Wu-heng serta Seng-heng.

Swie Han, Wu Tou serta Seng Jiang hampir berbareng buru-buru menyahut.

Hong-heng silahkan turunkan perintah menerjang lautan apipun tak akan kutampik.

Haaaa... haaa... haaa... kalau begitu Siauw-te harus mengucapkan terima kasih dulu atas kesediaan saudara-saudara sekalian.

Ia merandek sejenak lalu sambungnya lebih lanjut.

Hu Hiat tit setelah bersantap nanti segera kembali ke lembah Mie Cong Kok dan kumpulkan seluruh jago-jago lihay yang ada dalam lembah untuk menanti perintah selanjutnya diluar lembah.

Dalam hati Hu Pak Leng mengerti bila si orang tua ini sudah akan menggerakkan penyerbuannya bila tidak cepat-cepat kirim kabar kepada pihak Siauw lim serta Bu-tong pay kemungkinan sekali jago-jago dari kedua partai besar tersebut bakal terjebak kedalam perangkap yang diatur Hong Cioe.

Berpikir akan kritisnya suasana ia segera meloncat bangun. Bagaimana kalau tecu segera berangkat???

Haaaa..... haaa... haaa... Soal ini Hiat tit tidak usah gugup pada saat ini jago-jago lihay dari dua partai besar belum masuk kedalam gunung setelah selesai bersantappun rasanya belum terlambat!

Walaupun didalam hati Hu Pak Leng merasa amat cemas tapi ia mengerti Hong Cioe adalah seorang manusia yang paling gampang mencurigai orang lain ia ngotot hendak berlalu juga hal ini pasti akan memancing rasa curiga dalam hatinya karena itu terpaksa sambil menahan sabar ia duduk kembali kursinya.

Sedang dalam hati mulai kepikir :

Gerakan dari susiok kali ini entah sudah membuang berapa banyak tenaga beberapa banyak waktu untuk menyusunkan ternyata gerak gerik dari kedua pentolan partai besar itupun sudah berada dibawah pengawasan.

Terdengar Hong Cioe tertawa terbahak-bahak.

Haaa... haaa... haaa... kita orang-orang Bu-lim walaupun selalu mengutamakan lihay tidaknya ilmu silat pihak musuh tapi kecerdikan selamanya jauh lebih penting dari ilmu silat di dalam partai Siauw lim serta Bu-tong pay jago-jago lihay amat banyak bagaikan mega setiap angkatan tentu ada manusia-manusia berbakat. Bila kita harus mengandalkan kepandaian silat untuk beradu keras lawan keras dengan mereka aku tidak berani menduga siapakah akhirnya yang bakal menang tetapi bilamana menggunakan siasat dari Siauw- te, haaa... haaa... hanya didalam sekejap mata sekalipun dari dua partai besar banyak terdapat jago-jago lihay mereka akan hancur jadi abu.....

Mendadak Hu Pak Leng merasakan hatinya rada bergerak selanya :

Bilamana diatas surat undangan itu hanya tercantum nama Siauw tit saja aku takut dari kedua partai besar tak bakal mengirimkan jago-jago lihaynya bukankah jerih payah dari susiok bakal mencapai sasaran yang kosong belaka???.

Pemikiran dari Hiat tit sedikit pun tidak salah bila cuma mencantumkan namamu saja maka orang- orang dari dua partai besar itu tak bakal mengerahkan seluruh jago-jago lihaynya terus terang saja kuberitahu diatas surat undangan tersebut loohu pun ikut numpang mencantumkan namaku.

Aaaakh! susiok dapat berpikir secermat ini tecu merasa bukan tandingan seru Hu Pak Leng tersenyum. Sedang dalam hati diam-diam ia merasa amat terperanjat pikirnya :

Sungguh licik si tua bangka ini kelihatannya orang-orang dari Siauw lim serta Bu-tong pay sukar untuk meloloskan diri dari pembantaian ini :

Ketika itu Hong Cioe kembali tertawa terbahak-bahak.

Orang-orang dari pihak Siauw lim serta Bu-tong memandang penting peristiwa ini oleh karena itu kedua partai tersebut telah mengerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki untuk menghadapi persoalan ini agaknya mereka sudah bersiap sedia untuk membasmi seluruh jago lihay dari kalangan Liok-lim di dalam pertempuran kali ini oleh sebab itu barisan mereka atur serapi sekeren mungkin jumlah jagoan yang ikutpun semakin banyak bahkan boleh dikata telah mengerahkan semua jago-jago pilihan dari kedua partai tersebut cukup ditinjau dari soal ini aku berani memastikan kalau merekapun sudah bersiap sedia untuk membasmi kita orang habis-habisan dalam pertarungan yang bakal amat sengit ini oleh karena itu menang kalah dari pertarungan yang bakal berlangsung mempengaruhi pula kedudukan kita dalam dunia kangouw dikemudian hari.....

Haaa... haaa... haaa... mana mungkin hanya mempengaruhi kedudukan biasa saja? sambung Hu Pak Leng sambil tertawa terbahak-bahak, bilamana dalam pertarungan ini beruntung pihak Siauw lim serta Bu- tong berhasil kita harcurkan dan jago-jago mereka berhasil kita basmi dengan sendirinya beberapa partai kalangan lurus yang lainpun akan ambrol dengan sendirinya...

Perlahan-lahan Hong Cioe menoleh kearah Hu Pak Leng setelah itu manggut-manggut.

Tapi kaupun harus tahu katanya pula, bilamana dalam pertarungan besar-besaran ini pihak kita yang menderita kalah ditangan orang-orang Siauw lim serta Bu-tong pay maka dalam tiga puluh tahun mendatang kita orang-orang Liok-lim tak bakal sanggup menebus kembali kekalahan kita kali ini.

Pertarungan ini menyangkut mati hidup kita di kemudian hari dan merupakan suatu kejadian yang luar biasa, tecu tak ada niat untuk bersantap lagi aku mohon dan segera kembali untuk mengumpulkan seluruh anak buah...

Kalau memang Hiat tit tiada napsu untuk bersantap silahkan kau orang berlalu terlebih duhulu potong Hong Cioe sambil tertawa.

Hu Pak Leng segera bangun meninggalkan tempat duduknya setelah menjura ia putar badan dan berlalu.

Hiat tit tunggu dulu mendadak Hong Cioe berteriak dengan suara yang keras. Hu Pak Leng berpaling kembali ia menjura.

Entah susiok ada pesan apalagi???. Bilamana membiarkan Hiat tit kembali ke lembah seorang diri dan ditengah perjalanan terjadi peristiwa mungkin dengan kekuatanmu sendiri tak bakal sanggup untuk mempertahankan diri biarlah Siauw sute mu ini mengawani kau orang!.

Hu Pak Leng termenung sejenak akhirnya ia manggut.

Dengan bersuka hati tecu akan melakukan perjalanan bersama-sama Siauw sute.....

Hong Cioe tidak membiarlah ia berkata lebih lanjut sambil tertawa ia lantas berpaling kearah si bocah berpakaian toosu itu.

Kau ikutilah Hu suhengmu berangkat ke lembab Mie Cong Kok!.

Bocah berpakaian toosu itu tersenyum, iapun tidak banyak berbicara lagi.

Melihat tindakan dari susioknya ini dalam hati Hu Pak Leng lantas mengerti kalau Hong Cioe ada maksud mengirim bocah cilik itu untuk mengawasi gerak geriknya, segera ia menjura kearah bocah tersebut.

Siauw sute! mari kita berangkat!.

Kembali sang bocah berpakaian toosu itu tentawa, setelah manggut ia berebut lari dulu didepan Hu Pak Leng untuk membawa jalan.

Mereka berdua dengan cepatnya meninggalkan dua batu keluar dari rumput keluar lembah dan langsung berlari-lari menuju lembab Mie Cong Kok.

Diam-diam Hu Pak Leng mengerahkan hawa murninya lebih berkencang larinya.

Ujung baju bocah tersebut berkibar tertiup angin ternyata dengan tanpa buang tenaga ia berhasil membuntuti terus dibelakang tubuh Hu Pak Leng.

Melihat kejadian ini, diam-diam Liok-lim Bengcu ini mengerutkan alisnya kembali ia kerahkan tenaga dalamnya sampai tujuh bagian larinya semakin cepat laksana terbang.

Di dalam anggapannya bocah berpakaian toosu itu pasti tak bakal berhasil menyandak dirinya setelah berlari beberapa saat ia berpaling kebelakang.

Siapa sangka ternyata urusan berada diluar dugaannya si bocah berpakaian toosu itu deagan tenang masih menguntil terus dibelakangnya bahkan gerakan kakinya enteng, sedikitpun tidak membuang banyak tenaga.

Diam-diam Hu Pak Leng mulai merasa terperanjat, ia perlambat larinya lalu sambil tertawa berpaling kearah bocah itu.

Siauw sute, berapa besar usiamu tahun ini? tanyanya. Lima belas! habis berkata kembali ia tertawa.

Siauw sute, kau baru berusia lima belas tahun ternyata tenaga dalammu sudah sedemikian sempurnanya hal ini benar-benar sangat luar biasa.

Kali ini si bocah berbaju toosu itu tidak menjawab ia hanya menggeleng dan kembali tertawa. Eeeeei kenapa bocah ini begitu tidak suka berbicara? pikir Liok-lim Bengcu ini diam-diam.

Dengan cepat ia mendesak lagi dengan pertanyan lain. Dari Hong susiok sana kau sudah belajar berapa tahun?

Bocah berbaju toosu itu tetap membungkam hanya saja ia menunjukkan dua jari tangannya. Dua tahun?. Sambil tersenyum bocah itu mengangguk mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Melihat hal itu Hu Pak Leng merasakan hatinya tergetar keras diam pikirnya lagi.

Jika ia tidak berbohong dalam dua tahun ternyata berhasil memiliki kepandaian silat sedemikian lihaynya hal ini benar-benar sangat luar biasa.

Ia merasa banyak urusan yang mencurigakan hatinya mulai menyelubungi seluruh benak setelah ia lama termenung kembali ia bertanya.

Jika demikian adanya Siauw sute membawa ilmu silat terdahulu sewaktu angkat susiokku sebagai

guru.

Di atas wajah bocah tersebut terlintas suatu perasaan tidak sabaran ia mengangguk kemudian secara mendadak meleset kearah depan.

Terdengar ujung baju tertiup angin hanya dalam sekejap mata ia sudah melampaui Hu Pak Leng satu

kaki.

Ilmu meringankan tubuh yang demikian lihaynya ini kontan membuat Hu Pak Leng jadi terperanjat setengah mati dengan cepat iapun kerahkan hawa murninya untuk mengejar.

Demikianlah kedua orang itu mulai adu kecepatan lari ditengah pegunungan yang sunyi dan tak berpenghuni itu.

Hu Pak Leng yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan pengejaran kecepatannya laksana sambaran petir hanya dalam sekejap mata sudah melewati dua puluh li jauhnya tapi tak berhasil jaga dia orang menyandaki sang bocah tersebut.

Kembali mereka beberapa jauh mendadak...

Berhenti diiringi suara bentakan keras serentetan cahaya keemas-emasan berkelebat menyilaukan

mata.

Seorang toojien yang mencengkal pedang tahu-tahu sudah meloncat keluar dari samping jalan dan menghadang jalan pergi mereka.

Malihat jalan perginya terhadang bocah tersebut tersenyum tangan kirinya diayun kedepan menghantam dada lawan sedang pergelangan kanannya dibalik mencabut keluar pedang pusaka dari atas punggungnya.

Gerakannya amat cepat baru saja toojien tersebut berhasil meloloskan diri dari serangan itu dan belum sempat melancarkan serangan balasan tahu-tahu pedang pusaka pihak lawan sudah mengancam lambungnya.

Agaknya toojien itu dapat melihat bocah itupun memakai toosu karena takut melukai orang sendiri tak terasa ia berseru :

Kau adalah...

Mendadak permainan pedang dari bocah kecil berubah dengan suatu gerakan yang aneh tapi cepat ia mengirim satu serangan dahsyat.

Belum habis toojien tersebut menyelesaikan kata-katanya pedang bocah itu sudah berada dekat sekali dengan dadanya terburu-buru ia gerakkan pedangnya untuk menangkis.

Siapa nyana gerakan pedang dari bocah itu mendadak miring kearah bawah diantara berkelebatnya cahaya keemas-emasan lengan kanan sang toojien yang mencekal pedang itu sudah terbabat putus jadi dua.

Suatu ilmu pedang yang amat ganas... teriak Hu Pak Leng dalam hati saking kagetnya.

Belum habis ia memuji permainan padang dari bocah berpakaian toosu itu kembali berubah setelah berputar setengah lingkaran ditengah udara ujung pedang kembali menyapu miring kesamping. Terdengar suara dengusan berat bergema memecahkan kesunyian pinggang tojien itu sudah kena terbabat putus jadi dua bagian.

Bergebrakpun belum sampai lewat tiga jurus tapi toojien tersebut sudah roboh bermandikan darah, nyawapun melayang pergi dari sang badan.

Saking terperanjatnya tak terasa Hu Pak Leng menghela napas panjang.

Ilmu pedang Siauw sute benar-benar amat ganas pujinya selama puluhan tahun lh-heng berkelana didalam dunia kangouw baru pertama kali ini aku orang menemuinya.

Sebaliknya si bocah cilik itu sama sekali tidak ambil perhatian terhadap pujian tersebut ia tersenyum lalu membersihkan bekas darah dari pedangnya diatas mayat toojien tersebut, setelah itu kembali ia berlari kedepan melanjutkan perjalanan.

Terhadap pujian serta ucapan dari Hu Pak Leng ternyata bocah itu tidak ambil gubris atau memang berlagak pilon.

Mendadak Hu Pak Leng mulai merasakan bahwa Siauw sutenya yang penuh ketawa ini sebenarnya adalah seorang jagoan aneh yang sangat menakutkan kekejaman hatinya, kelihayan ilmu silatnya benar-benar tiada tandingan bilamana ia menaruh setia pada diri Hong Cioe boleh dihitung dialah seorang musuh yang paling tangguh.

Bila orang semacam ini tidak buru-buru dilenyapkan mungkin dikemudian hari merupakan bibit bencana yang paling berbahaya bagi umat Bu-lim.

Berpikir akan hal tersebut hawa membunuhpun mulai melintas diatas wajahnya.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga ia meleset kearah depan kemudian dalam beberapa kali loncatan sudah berhasil menyandak dibelakang tubuh bocah cilik itu.

Menanti telapak tangannya sudah diangka siap-siap dihajarkan keatas batok kepala bocah tersebut mendadak sang bocah cilik itu berhenti dan berpaling.

Siapakah toojien tadi? tanyanya mendadak sembari tertawa.

Dengan menahan napas Hu Pak Leng berusaha mengerem badannya lalu pura-pura memperlihatkan sikap yang wajar.

Itulah seorang anak murid dari Bu-tong pay.

Mendengar jawaban tersebut si bocah berbaju toosu itu kembali tertawa sehingga kelihatan sebaris giginya yang putih bersih.

Sering aku dengar orang berkata bahwa partai Bu-tong pay mengutamakan ilmu lweekang sertaa ilmu pedang menjagoi Bu-lim mengapa dia orang bisa begitu tidak becus menerima seranganku??

Habis berkata tidak menanti jawaban dari Hu Pak Leng lagi, ia segera putar badan segera melanjutkan kembali perjaanannya kedepan.

Orang ini melihat bibir yang merah dengan sebaris gigi yang putih bersih wajahpun halus bagaikan seorang gadis tetapi kekejaman hatinya benar-benar luar biasa terutama sekali kedahsyatan serta kesempurnaan ilmu silatnya.

Dengan panggilan yang dimiliki Hu Pak Leng pun hampir-hampir tak berhasil mengetahui asal usulnya yang sebetulnya dari sang bocah berpakaian toosu tersebut.

Ia hanya merasakan sebalik wajahnya yang halus dan menarik hati tersembunyilah suatu hati keji yang luar biasa. Kedua orang itu kembali melanjutkan perjalanan sejauh empat lima li setelah berbelok suatu tikungan bukit rnendadak terdengarlah suara pujian Buddha melengking memecahkan kesunyian.

Omintohud!

Dua orang hweesio berjubab abu dan mencekal tongkat besi tahu-tahu sudah menghadang perjalanan mereka.

Melihat jalan perginya dihadang oleh dua orang hweesio si bocah berbaju toosu itu berpaling lantas tertawa.

Kemungkinan besar kedua orang hweesio ini adalah anak murid Siauw lim pay bukan? Tanyanya. Sedikitpun tidak salah.

Kontan bocah tersebut balik tangan mencabut keluar pedangnya yang tersoren diatas pungung kemudian tanpa banyak berbicara lagi pedangnya digerakan langsung menusuk tubuh sang hweesio yang berada disebelah kiri.

Ketika kedua orang hweesio Siauw lim tersebut melihat bocah ini tanpa banyak cakap sudah mengirim serangan kearah mereka agak pada tertengun juga dibuatnya.

Hweesio yang ada disebelah kiri segera melintangkan toyanya kedepan dengan menggunakan jurus Lan Kian Jiat To atau menghadang sungai jatuh terjengkang ia dorong senjatanya kedepan menangkis datangnya serangan pedang tersebut lalu berkata :

Kau bukan tandingan pinceng cepat mundur kebelakang!

Bocah tersebut tersenyum mendadak ia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Ketiga buah serangan tersebut saling susul menyusul dengan kecepatan keganasan yang tiada terhingga seketika itu juga hweesio yang ada disebelah kiri itu dibuat kalang kabut dan terburu-buru mundur kebelakang.

Karena takut kembali dia orang turun tangan ganas terhadap hweesio Siauw lim si ini buru-buru badannya menerjang maju kedepan.

Siauw sute cepat mundur kebelakang, bentaknya berat. Kedua orang hweesio ini biarlah aku orang yang layani.

Tanpa menoleh lagi si bocah berbaju toosu itu berseru lembut :

Biarlah aku bunuh mati seorang dulu yang lain akan kutinggalkan untuk kau bunuh. Serangan pedangnya semakin kencang, ia meneter habis-habisan.

Sang hweesio disebelah kiri yang hampir-hampir saja terluka oleh ketiga serangan pedangnya saat ini tidak berani gegabah lagi, melihat bocah tersebut sekali lagi melancarkan serangan gencar tongkatnya segera diputar sedemikian rupa untuk memunahkan datangnya serangan musuh.

Demikianlah suatu pertarungan yang maha sengit dengan cepatnya berkobar ditengah kalangan. Tampaklah cahaya pedang berkilauan memancar keempat penjuru sambaran angin tongkat menderu-

deru memekikkan telinga dalam waktu yang singkat mereka sudah lewatkan puluhan jurus banyaknya.

Hu Pak Leng yang melihat serangan toya hweesio itu ada gerakan menyerang ada pula gerakan bertahan untuk beberapa waktu tak sampai menderita kalah hatinya rada lega.

Sepasang matanya melotot lebar-lebar memusatkan seluruh perhatian ketengah kalangan ia ingin mencari tahu asal usul sang bocah tersebut permainan ilmu pedangnya. Kembali empat lima jurus berlalu mendadak permainan pedang dari sang bocah berubah jurus-jurus pedangnya melayang ringan bagaikan kapas tapi aneh bagaikan benang ruwet hanya dalam empat lima serangan saja ia sudah berhasil memaksa hweesio tersebut berada dalam posisi yang sangat membahayakan.

Sang hweesio yang berada disebelah kanan dan selama ini berpeluk tangan saja disamping kalangan ketika melihat kawannya terjerumus dalam keadaan sangat berbahaya tidak terasa lagi ia sudah menggerakkan toyanya untuk membantu.

Mendadak si bocah berbaju toosu itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang keras ia berteriak lantang.

Hu suheng! mereka berdua hendak bekerja sama mengerubuti aku seorang hal ini tak bisa salahkan kalau aku orang tak akan meninggalkan bagian untukmu.

Permainan pedangnya mendadak semakin mengencang serangan-serangan yang dilancarkan pun semakin dahsyat tampaklah cahaya putih terbang berputar ditengah udara seketika itu juga hawa pedang memenuhi empat penjuru dan bayangan kedua orang hweesio itupun sudah terbungkus rapat dibalik bayangan pedang bocah tersebut.

Agaknya bocah itu ada maksud untuk memancing sang hweesio yang menonton jalannya pertempuran disamping kalangan untuk turun tangan serta membantu kawannya, oleh karena itu sengaja ia bergebrak seimbang selama beberapa puluh jurus dengan hweesio tersebut setelah itu memperketat serangan pedangnya, dengan demikian sang hweesio yang mononton jalannya pertarungan dari samping kalangan pun tanpa terasa turun tangan membantu.

Setelah kedua orang hweesio tersebut turun tangan bersama-sama kembali gerakan pedangnya berubah jurus-jurus yang ganas dan aneh sekali lagi mengurung tubuh kedua orang hweesio itu kedalam lingkaran bayangan pedangnya.

Melihat keadaan dari kedua orang hwesio tersebut makin lama semakin berbahaya Hu Pak Leng baru merasa terperanjat.

Siauw Sute... teriaknya keras.

Belum habis ia menyelesaikan kata-katanya suara jeritan yang menyayatkan hati sudah berkumandang memecahkan kesunyian.

Di tengah menari dan melayangnya cahaya pedang serentetan darah segar muncrat membasahi empat penjuru.

Sebutir batok kepala sang hweesio yang gundul licin sudah terlepas dari badannya menggelinding sejauh tujuh delapan depa dari tempat semula dan lenyap dibalik rerumputan yang tebal!

Ketika itulah telinganya dapat menangkap suara dari emas bocah yang halus dan merdu bagaikan gadis sedang berseru :

Hu suheng! kau tidak usah kuatir aku sudah berhasil membinasakan seorang musuh dan sisanya seorang tak akan tahan menerima lima buah seranganku.....

Belum habis ia berkata suatu jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa sang hweesio yang terakhirpun kena termakan oleh tusukan pedang bocah berbaju toosu itu hingga tembus dari dada sebelah depan muncul dipunggung belakang setelah serangannya berhasil mencapai pada sasarannya.

Bocah segera mencabut pedangnya dan dengan gerakan yang cepat menyingkir kesamping serentetan darah segera menyebur keluar bagaikan air mancur.

Hanya dalam waktu yang singkat ia sudah berhasil membinasakan dua orang jagoan lihay dari Siauw lim pay seorang mati dengan batok kepala yang terpisah dari badannya dan yang lain mati dengan dada tertembus pedang. Ilmu kepandaian sedemikian dahsyatnya jika dibicarakan dari jago lihay yang sering ditemui dalam Bu-lim rasanya sulit untuk dicarikan beberapa orang tandingannya.

Hu Pak Leng melirik sekejap kearah kedua sosok mayat yang menggeletak sejajar diatas tanah menghela napas sedih perlahan-lahan ia berjalan mendekati samping tubuh bocah berbaju toosu itu katanya :

Ilmu silat Siauw sute amat lihay jurus-jurus pedang pun amat matang dan sempurna kau merupakan seorang jagoan yang belum pernah Siauw-heng temui selama ini.....

Bocah berbaju toosu itu tersenyum dengan wajah yang hambar ia membersihkan ujung pedangnya yang belepotan darah diatas baju kedua sosok mayat tersebut kemudian jawabnya :

Hu suheng sebagai seorang Liok-lim Bengcu dari seantero kolong langit sudah tentu kepandaian silat yang kau miliki yang lebih tinggi dari kepandaianku. Nanti setelah kita berhasil membereskan orang-orang Siauw lim serta Bu-tong pay, Siauw-te pun minta petunjuk beberapa jurus ilmu pedang suheng.

Aaaakh... kita tak usah bertanding lagi Siauw-heng tentu bukan tandinganmu.....

Ia merandek sejenak kemudian tanyanya lagi.

Siauw sute! ilmu pedangmu ini apakah berhasil kau pelajari setelah ikut Hong susiok?. Bukan! jawab si bocah tersebut dengan alis yang berkerut.

Ketika Hu Pak Leng melihat ia tidak suka banyak mengutarakan asal usulnya iapun tidak memaksa lebih lanjut buru-buru bahan pembicaraan di ubah.

Siauw sute! kau memakai jubah model toosu tentunya anak murid dari golongan Sam Cing Tecu bukan? entah siapakah sebutanmu?.

Sejak kecil aku sudah terbiasa memakai jubah toosu kalau dicopot malah terasa kurang enak aku bukan murid Sam Cing Tecu juga tidak punya gelar sahut sang bocah setelah ragu-ragu sejenak.

Kalau begitu Siauw sute masih menggunakan namamu yang sebenarnya entah siapa namamu?.

Heeeei... suheng cerewet! benar hal ini betul-betul membuat hatiku jadi mangkel teriak bocah itu setelah menghela napas panjang. Heeei sejak kecil aku sudah dipungut oleh suhu dan dibesarkan ditengah

hutan belantara yang jarang didatangi manusia sudah tentu aku orang tidak punya nama.....

Ia tundukkaa kepalanya untuk berpikir sejenak setetah itu tambahnya.

Aku seperti teringat aku she Moay dan suhu sering memanggil aku dengan Siauw Beng, mungkin namaku adalah Moay Siauw Beng.

Lalu apakah Siauw sute diajak keluar dari tengah hutan belantara oleh Hong susiok? kembali Hu Pak Leng bertanya...

ooooOoooo

11

MENDADAK sepasang mata Moay Siauw Beng mendelik dengan nada kasar tegurnya : Hu suheng! mengapa kau orang selalu mencari kesempatan untuk mengetahui asal usulku? sebenarnya apa maksudmu?

Agaknya Hu Pak Leng sama sekali tidak menyangka kalau ia bisa mengajukan teguran secara blak- blakan untuk beberapa waktu ia dibuat kelabakan juga untuk memberikan jawaban yang sesuai.

Akhirnya setelah tertegun dan termenung beberapa saat lamanya ia baru menyabut. Siauw Beng tidak lain hanya kepingin tahu saja sama sekali tiada tertera maksud-maksud tertentu. Tanpa banyak cakap lagi ia putar badan dan melanjutkan perjalanannya kembali kemuka.

Dengan kencang Moay Siauw Beng mengejar dari belakang beberapa waktu kemudian mereka sudah berlari sejauh enam tujuh li dari tempat kejadian tadi.

Hu Pak Leng dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya meluncur kemuka bagaikan jatuhnya meteor dilangit tetapi sang bocah berbaju toosu itu dengan tanpa banyak mengeluarkan tenaga bisa menguntil terus bahkan tidak sampai ketinggalan barang setengah tindakpun.

Selama dalam perjalanan kali ini mereka tidak dijumpai lagi penghalang yang mencari satroni kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka diluar lembah Mie Cong Kok.

Tampaklah berpuluh-puluh orang lelaki berpakaian ringkas dengan menggembol senjata tajam berjaga-jaga diluar mulut lembah dengan sangat ketat.

Orang-orang itu sewaktu melihat muncalnya Hu Pak Leng bersama-sama lantas menjura dan mengelu- elukan Bengcunya.

Hu suheng apakah orang-orang itu adalah bawahanmu semua?? Tiba-tiba Moay Siauw Beng bertanya sambil tersenyum.

Sembari berkata ia mengawasi para jago yang ada dihadapannya tampaklah orang itu baik yang tinggi maupun pendek gemuk maupun kurus masing-masing dengan sikap hormat sedang menjura kearah Hu Pak Leng tak terasa lagi ia berseru memuji :

Heeeeei..... setelah menjadi seorang Liok-lim Bengcu kiranya begitu keren keadaannya tidak aneh kalau banyak orang pada kepingin merebut kedudukan Liok-lim Bengcu ini.

Hu Pak Leng yang melihat situasi dihadapannya dalam hati segera mengerti kalau didalam lembah sudah terjadi suatu peristiwa penting tak terasa alisnya dikerutkan rapat-rapat.

Apakah Tiong It Hauw sudah kembali tegurnya :

Seorang jago berperawakan tinggi besar dengan suara yang nyaring lantang segera menyahut : Tiong Hu Bengcu barusan saja kembali ia sudah masuk kedalam lembah.

Masih ada siapa lagi yang sudah datang berkunjung?

Ci Yang Tootiang dari Bu-tong pay dengan memimpin kedelapan murid-muridnya datang berkunjung tapi setelah mengetahui Bengcu tak ada dalam lembah ia lanntas berlalu dengan meninggalkan sepucuk surat.

Ia belum sampai masuk kedalam lembah????. Belum!

Apakah meninggalkan perkataan lainnya???. Jago berperawakan tinggi besar itu menggeleng.

Ia cuma meninggalkan sepucuk surat kemudian putar badan dan berlalu.

Dari dalam sakunya ia mengambil sebuah sampul surat warna merah yang amat besar dan segera diangsurkan kemuka.

Hu Pak Leng terima surat itu kemudian dibaca tulisan yang tertera diatas sampul tersebut. Dipersembahkan kepada Liok-lim Bengcu, Hu Pak Leng :

Ia berpikir sebentar, akhirnya dibukannya sampul surat itu dan dibaca isinya : Setelah menerima surat ini harap Hu Bengcu suka berangkat ke selat Ban Gwat Shia, pinto menanti disana.

Di bawah surat tersebut tidak terdapat tanda tangan.

Moay Siauw Beng yang dasarnya masih bersifat kekanak-kanakan ternyata tidak bersikap riku sewaktu Hu Pak Leng membaca isi surat tersebut iapun nongolkan kepalanya curi melihat.

Menanti Hu Pak Leng selesai membaca dan masih tundukan kepalanya terpikir keras ia sudah tertawa terbahak-bahak.

Hu suheng! dimanakah letak selat Ban Gwat Shia tersebut?? mari kita kesana lihat-lihat keadaan!

Selagi Hu Pak Leng hendak menjawab mendadak terdengarlah suara yang amat merdu bekumandang dari tempat kejauhan :

Toako kau hendak kemana??

Mendengar suara teguran tersebut Hu Pak Leng menoleh Kok Han Siang dengan ujung baju berkibar tertiup angin sedang berlari mendekat disusul belakang seorang perempuan berbaju putih Biauw Siok Lan serta manusia berkerudung hitam Tiong It Hauw.

Dalam waktu yang amat singkat mereka semuanya sudah berada disisi Hu Pak Leng. Wajahnya kusut dan samar-samar kelihatan sangat lelah agaknya semalaman ia tak dapat tidur.

Melihat keadaan istri kesayangannya Hu Pak Leng merasa timbul perasaan kasihan, dihatinya ia tersenyum.

Siang moay kau lelah?.

Kemaren malam aku tak dapat tidur sampai pagi hari toako tidak kelihatan kembali juga hatiku merasa amat gelisah seru Kok Han Siang sambil tersenyum merdu.

Nadanya penuh mengandung rasa menggerutu. Oooouw... aku ada urusan harus keluar lembah.

Kok Han Siang tidak banyak berbicara lagi ia pejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang lalu perlahan-lahan berjalan mendekat dan berdiri menempel diatas badan suaminya.

Sinar sang surya yang ada diufuk sebelah barat memancarkan sinar keemas-emasan menyoroti selembar wajahnya yang halus dan berwarna merah itu ditambah lagi keadaannya yang kusut dan letib menambah rasa iba dihati setiap orang.

Tak terasa lagi sinar mata seluruh jago yang ada disana bersama-sama dialihkan kearahnya.

Hu suheng! perempuan inikah istrimu? tiba-tiba Moay Siauw Beng bertanya setelah memandang sekejap kearah Kok Han Siang.

Pertanyaan yang diutarakan secara blak-blakkan ini kontan membuat Hu Pak Leng rada melengak untuk beberapa saat ia tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat.

Akhirnya sambil tersenyum ia manggut.

Heeeeei ia sangat cantik kembali Moay Siauw Beng bergumam diiringi helaan napas panjang.

Sinar mata Kok Han Siang berkedip ia melirik sekejap kearahnya lalu sambil tertawa seraya bertanya. Kau kenal dengan toakoku?

Dia adalah suhengku sudah tentu aku kenal. Ehmmm... belum sempat Kok Han Siang mengucapkan sesuatu Moay Siauw Beng keburu sudah berebut bicara lagi.

Tapi aku dengan Hu suhengpun baru kemarin hari berkenalan tempo dulu kita tidak saling mengenal.

Agaknya ia merasa tidak seharusnya menipu diri Kok Han Siang maka melukis ular ditambahi kaki ia menambahi pula ucapannya dengan beberapa patah kata.

Hu Pak Leng sambil tersenyum memandang sekejap kearah dua orang itu kemudian ia menoleh kearah Tiong It Hauw.

Tiong-heng bagaimana keadaan ditempat ini.

Kiranya sejak Hu Pak Leng menyesali perbuatannya terdahulu timbullah kesabaran yang luar biasa didalam menghadapi siapa dan urusan apapun.

Ia mencintai istrinya tetapi iapun merasa kecantikan wajah Kok Han Siang yang tiada tandingannya ini jika dipool oleh ia seorang sedikit banyak kurang menghargai dirinya oleh karena itu terhadap siapapun yang memuji-muji dan kesemsem dengan kecantikan wajah istrinya dia orang tidak merasa iri ataupun cemburu.

Dengan amat hormat Tiong It Hauw menjura, lalu sahutnya serius :

Hamba sudah berjumpa dengan Ci Yang Tootiang serta Thian Seng Thaysu dari Siauw lim si.

Apa yang mereka katakan?... Mendadak teringat akan kehadiran Moay Siauw Beng yang sedang mengawasi tindak tanduknya buru-buru sambungnya :

Ci Yang Tootiang sudah mendatangi lembah Mie Cong Kok kita.

Untuk beberapa waktu Tiong It Hauw tidak berhasil mengerti apa maksud dari ucapan Hu Pak Leng tersebut lanjutnya :

Thian Seng Thaysu berulang kali memesan wanti-wanti kepada hamba.....

Aku sudah menerima surat dari Ci Yang Tootiang potong sang Liok-lim Bengcu ini dengan alis berkerut ia mengajak aku berjumpa di selat Ban Gwat Shia!.

Bagaimanapun Tiong It Hauw adalah seorang jago kawakan kangouw yang berpengalaman luar melihat sikap serta ucapan dari Hu Pak Leng tersebut ia lantas mengerti kalau Bengcunya melarang dia orang menceritakan keadaan sesungguhnya.

Setelah termenung sejenak ia baru berkata :

Orang-orang Bu-tong pay terlalu mengikuti napsu Bengcu jangan menempuh bahaya seorang diri.

Tidak mengapa tiba-tiba Moay Siauw Beng menimbrung ada aku yang melakukan perjalanan bersama-sama Hu suheng tanggung tak bakal terjadi urusan.

Walaupun orang ini berusia amat muda tapi nada ucapannya sangat besar Hu Pak Leng yang mengetahui bagaimana hebatnya ilmu silat yang ia miliki masih mendingan sebaliknya bagi Tiong It Hauw perkataan tersebut membuat hatinya merasa kurang enak.

Ia tertawa dingin tiada hentinya.

Heeeee... heee... heee... saudara cilik besar benar bacotmu.....

Mendadak teringat olehnya kalau iapun menyebut Bengcunya sebagai Hu suheng sudah tentu ini berarti kalau ia benar-benar berasal dari satu perguruan dengan Hu Pak Leng karena itu perkataan tidak enak selanjutnya tidak jadi diutarakan.

Tampak Moay Siauw Beng tersenyum manis. Kau adalah bawahan Hu suhengku jika kubunuh dirimu tentu hatinya merasa kurang senang, tapi kau bila tidak percaya jika kepandaian silatku jauh melebihi dirimu bagaimana kalau kita bertaruh? serunya lantang.

Hmmm! bocah cilik yang masih ingusan ternyata sedikitpun tidak tahu kesopanan, kau hendak bertaruh dengan kata apa?

Taruhan ini paling mudah! nanti dengan para jago-jago Bu-tong pay atau Siauw lim si kita sama-sama turun tangan dan kita lihat siapa yang membunuh orang paling banyak dialah yang menang.

Mendengar ucapannya semakin lama semakin sumbar Tiong It Hauw jadi amat gusar selagi ia bersiap- siap ribut mulut dengan bocah tersebut mendadak teringat olehnya bila pihak lawan tidak lebih cuma seorang bocah yang berusia tiga empat belasan jika dirinya benar-benar ribut dengan bocah tersebut maka akibatnya tidak lebih hanya merendahkan kedudukan sendiri.

Oleh karena itu buru-buru ia mengelos dan memperlihatkan sikap yang hambar terhadap persoalan tersebut.

Sinar matanya perlahan-lahan beralih keluar lembah mendadak ia menemukan adalah dua deretan manusia kurang lebih berada beberapa li diluar lembah sedang bergerak mendekati mulut lembah Mie Cong Kok.

Wajahnya berkerudung hitam dibalik kerudung terdapat pula dua lembar batu bening dengan demikian orang lain tak bakal mengetahui bagaimanakah perubahan air mukanya saat itu.

Ketika itu walaupun sepasang matanya sedang memperhatikan kedua deret manusia yang sedang bergerak mendekati mulut lembah tapi... Hu Pak Leng sekalian sama sekali tidak berasa.

Mendadak suara dengungan keras menembus awan memecahkan kesunyian yang mencekam disekeliling lembah.

Hu Pak Leng sudah pernah melihat Thio Cing An melemparkan tanda bersuara ketengah udara karena itu mendengar suara dengungan tersebut ia pun segera mengenalinya kembali?

Toa suheng! suhu kirim orang datang mencarimu! seru Moay Siauw Beng sambil tersenyum :

Hu Pak Leng mengangguk belum sempat ia mengucapkan sesuatu Tiong It Hauw sudah menyambung

:

Barisan besar dari pihak Siauw lim si pun sudah tiba didepan mulut lembah :

Kiranya dua barisan manusia yang kelihatan dari tempat kejauhan itu mendadak mempercepat langkah kakinya berlari mendekat :

Hu Pak Leng segera mendongakkan kepalanya, tampaklah serombongan hweesio-hweesio berjubah abu-abu dengan mencekal toya ditangan serta serombongan Toojien menggembol pedang dipunggung bergerak mendekat dengan gerakan yang sangat cepat.

Mendadak pada saat yang bersamaan dari balik sebuah batu besar sebelah kanan lembah muncul pula serentetan suara yang sudah dikenal.

Hu suheng! Siauw-te mendapat perintah dari suhu dengan membawa luka datang kemari ada persoalan penting hendak dirundingkan dengan dirimu.

Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan tubuh orang itu sudah berada disisi Hu Pak Leng. Hanya sute seoraag diri? tegur Hu Pak Leng cepat.

Walaupun hanya aku seorang tapi ada urusan penting hendak dirundingkan dengan diri suheng. Ehmm...! katakanlah...! Urusan ini menyangkut persoalan yang sangat besar suhu sudah pesan wanti-wanti agar aku bicara langsung dengan suheng lebih baik.....

Hu Pak Leng tampak termenung sebentar akhirnya ia ulapkan tangannya kearah para jago. Untuk sementara waktu kalian mundurlah.

Para jago buru-buru mengundurkan diri dari sana kini dikalangan tinggal Kok Han Siang seorang yang tetap tidak bergerak dari sisi tubuh suaminya.

Dia adalah. Seru Thio Cing An sambil melirik sekejap kearah Kok Han Siang.

Dia adalab istriku perduli ada urusan yang bagaimana pentingpun belum pernah aku suruh ia menyingkir. Sekarang kau boleh utarakan maksudmu dengan cepat.

Thio Cing An berpaling dan memandang sekejap kearah para jago Siauw lim serta Bu-tong pay yang tinggal satu li dari tempat mereka kemudian dengan suara rendah ujarnya :

Suhu memerintahkan suheng agar membawa orang-orang Siauw lim serta Bu-tong menuju ke lembah Lok Ing Kok. kurang lebih tiga li dari lembah Mie Cong Kok ini.

Lembah Lok Ing Kok bukan suatu tempat yang strategis untuk turun tangan dibelakang lembah masih terdapat jalan mundur.

Suhu hanya memesan begitu saja, aku pikir dia orang tua tertu sudah membuat persiapan-persiapan disana suheng kau katakan saja bila suhu sedang menanti jago-jago lihay dari kedua partai dilembah Lok Ing Kok.....

Kembali ia berpaling kearah orang-orang Siauw lim serta Bu-tong pay yang makin lama semakin mendekat itu sambungnya.