-->

Badai Dunia Persilatan Jilid 10

Jilid 10

TERINGAT akan persoalan ini, mendadak dengan langkah lebar ia langsung berjalan menuju kepenjara dibawah tanah.

Penjara dibawah tanah dari lembah Mie Cong Kok merupakan sebuah gua batu yang terbuat dari alam dibawah dinding gunung, bukan saja kuat sukar ditembusi bahkan asalkan pintu batu ditempat luar tertutup rapat maka keadaannya mirip dengan sebuah dinding gunung, Barang siapa yang tidak tahu akan keadaan yang sebenarnya dari penjara tersebut jangan harap bisa menemukannya.

Hu Pak Leng setelah berjalan beberapa saat lamanya disebuah dinding gunung yang licin tangannya mendadak menyentil tiga kali keatas sebuah dinding berbatu.

Beberapa saat kemudian diatas tebing itu perlahan-lahan muncul sebuah pintu.

Seorang lelaki kekar yang menggembol golok dengan terburu-buru berjalan keluar dan menjura ke arah Hu Pak Leng sepasang tangan lurus kebawah dan berdiri disamping dengan sikap sangat hormat.

Hu Pak Leng sedikit mengangguk kemudian dengan langkah lambat berjalan masuk kedalam.

Ruangan batu ini merupakan satu-satunya ruangan batu yang terkuat didalam lembah Mie Cong Kok dan tempat tersebut khusus digunakan untuk mengurung para tawanan yang penting.

Setelah berbelok beberapa tikungan sampailah Hu Pak Leng disebuah ruangan kecil dimana menggeletak Thio Cing An diatas selapis rumput kering yang tebal.

Sute sapa Hu Pak Leng sambil menggoyang-goyangkan terali besi disekeliling sana.

Perlahan-lahan Thio Cing An membuka matanya dan melirik sekejap kearah Hu Pak Leng tapi sebentar kemudian ia sudah memejamkan matanya kembali.

Cahaya matanya sudah buyar sikapnya sama sekali tak bertenaga jelas luka dalam yang ia derita sangat parah.

Buka pintu terali! perintah Hu Pak Leng sambil melirik sekejap kearah si lelaki kekar menyoren golok yang berada dibelakang tubuhnya. Kiranya antara ruangan batu satu dengan ruangan yang lain sudah dibatasi oleh terali besi sebesar cawan air teh.

Lelaki kekar tersebut menyahut ambil kunci dan membuka gembokan dari terali besi tersebut.

Setelah mendorong pintu Hu Pak Leng langsung berjalan kesisi tubuh Thio Cing An tangannya dengan sebat menabok jalan darah. Sian Khie Hiat pada dadanya.

Sute! apakah lukamu sangat parah tegurnya.

Kembali Thio Cing An membuka matanya kali ini ia meloncat duduk dan memandang Hu Pak Leng dengan wajah penuh kegusaran.

Suheng! apakah kau ingin mencabut nyawa Siauw-te? teriaknya keras. Hu Pak Leng menggeleng dan menghela napas panjang.

Jika aku ingin cabut nyawamu aku tidak akan datang kemari untuk menengok dirimu! serunya.

Mendengar perkataan tersebut semangat Thio Cing An dengan segera berkobar tapi sebentar kemudian buyar kembali sinar matapun jadi redup tak bercahaya tubuhnya perlahan-lahan berbaring kembali keatas tanah:

Suheng, apakah kau ingin menggunakan hubungan kita yang lama untuk menipu rahasia hatiku setelah itu membinasakan aku orang? serunya dingin.

Jikalau Heng-te berpikiran demikian hal ini memaksa Siauw-heng ada perkataan susah diucapkan.

Jikalau suheng tiada maksud untuk mencabut nyawaku dan tiada bermaksud pula untuk menyelidiki rahasia hatiku lalu apa maksudmu datang kepenjara untuk menengok diriku?.

Aku ingin menyembuhkan lukamu.

Hmm! aku percaya suhuku masih mempunyai obat luka yang mujarab untuk menyembuhkan serangan Thian Seng Cie tersebut, kata Thio Cing An dengan nada dingin jikalau suheng benar-benar ada maksud untuk melepaskan diriku asalkan suka menghantar keluar dari lembah Mie Cong Kok ini cukuplah sudah.

Mendengar perkataan tersebut Hu Pak Leng merasakan hatinya rada bergerak:

Sekalipun aku bisa menghantar kau meninggalkan lembah Mie Cong Kok ini tetapi kau harus melakukan perjalanan sejauh ribuan li lagi, dengan menanggung luka dalam yang parah mana mungkin kau orang bisa melanjutkan perjalanan??.

Sepasang mata Thio Cing An mendelik bulat kemudian tertawa dingin.

Jadi suheng menaruh curiga diluar lembah Mie Cong Kok sudah ada orang yang sengaja datang menyambut kedatanganku??.

Bagaimanapun kita asalnya dari satu perguruan yang sama ujar Hu Pak Leng dengan wajah serius. Setelah aku berhasil melukai dirimu dalam hatiku merasa tidak tenang setelah beberapa kali berpikir keras akhirnya aku ambil keputusan untuk datang kemari menengok dirimu aku ingin menyembukan dulu luka dalammu yang kau derita setelah itu menghantar sendiri kau orang ke tempat tinggal Hong susiok dihadapan dia orang aku ingin minta maaf dan menanti hukuman.

Kembali Thio Cing An tertawa dingin sesudah termenung sejenak.

Suheng benar-benar luar biasa pikiranmu sangat tajam dan melebihi orang lain. Hu Pak Leng tertawa tawar ia tidak menggubris ejekan tersebut sambungnya : Luka yang sute derita sangat parah dan lebih baik jangan banyak bicara cepat kau salurkan hawa murnimu setelah beberapa buah urat nadimu yang terluka berhasil aku tembusi maka hawa murnimu harus menyambut hawa murniku untuk sama-sama berputar mengelilingi badan.

Asalkan peredaran darah sudah lancar maka lukamupun tak akan berubah menghebat.

Walaupun diluaran silelaki lemah ini tidak mengucapkan sesuatu tetapi diam-diam ia mengikuti nasehat dari Hu Pak Leng dengan paksa menahan rasa sakit dalam tubuhnya ia salurkan hawa murni mengelilingi tubuh.

Sewaktu telapak tangan Hu Pak Leng menempel diatas punggungnya ia lantas merasakan bila Thio Cing An secara diam-diam sudah salurkan hawa murninya cuma ia tidak memecahkan rahasia tersebut.

Sute kau harus berhati-hati katanya tersenyum, sekarang Siauw-heng akan menotok delapan buah jalan darahmu dibelakang punggung.

Dengan tangan kiri mencekal pundak Thio Cing An tangan kanannya diayunkan berturut-turut melancarkan delapan totokan diatas delapan buah jalan darah panting atas tubuhnya.

Thio Cing An yang menderita luka sangat parah dalam hati mengerti bilamana Hu Pak Leng ada maksud untuk membinasakan dirinya sekalipun di jaga juga percuma saja hatinya lantas pasrah dan sama sekali tidak ambil persiapan.

Selesai menotok kedelapan buah jalan darah penting pada tubuhnya Hu Pak Leng beristirahat sejenak ujarnya kembali.

Sute sekarang aku hendak menggunakan hawa murniku untuk menerjang masuk jalan darah Ming Bun Hiat pada tubuhmu. Sute bila kau bisa paksakan diri untuk menahan rasa sakit lebih baik jangan kerahkan tenaga lweekang untuk melawan tapi saluran hawa murnimu untuk mengiringi dengan demikian tindakanku pun boleh dikata sudah sukses separuh bagian.

Waktu itu agaknya Thio Cing An pun sudah merasa bila Hu Pak Leng bersungguh-sungguh hendak tolong dirinya sembuh dari luka dalam ia menghembuskan napas panjang.

Perintah dari suheng akan Siauw-te ikuti semua sahutnya.

Telapak tangan Hu Pak Leng perlahan-lahan di tekan keatas punggung Thio Cing An segulung hawa panas dengan cepat mengalir keluar diri sang telapak langsung menerjang masuk kedalam tubuh Thio Cing An.

Lelaki lemah berusia pertengahan ini hanya merasakan hawa panas tersebut mengalir masuk bagaikan aliran sungai Tiang Kang yang tiada putusnya menggulung dengan deras menerjang masuk kedalam badan dengan cepat ia paksa untuk menyalurkan keluar tenaga murni yang sudah dikumpulkan tadi.

Dua hawa murni bersatu padu rasa sakit dibadan Thio Cing An pun berkurang badan mulai terasa ringan dan enteng.

Terasalah olehnya aliran darah dalam tubuhnya bergerak cepat oleh dorongan suatu tenaga yang amat keras mengelilingi seluruh bagian tubuh membuat badan jadi segar rasa sakit menghilang.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Hu Pak Leng baru menarik kembali telapak tangan kanannya yang menempel diatas jalan darah Ming Bun Hiat pada punggung Thio Cing An.

Sute! ujarnya sambil tertawa cepat kau orang salurkan hawa murnimu mengelilingi tubuh satu kali Siauw-heng akan menemani dari sini.

Menanti hawa murnimu sudah mengeliling tubuh satu kali dan menelan sedikit obat maka lukamu akan sembuh separuh bagian dan didalam dua tiga hari kemudian seluruhnya bisa sembuh seperti sedia kala.

Perlahan-lahan Thio Cing An menoleh kebelakang! tampaklah Hu Pak Leng sedang menyeka keringat yang membasahi wajahnya ia tersenyum. Pada mulanya Siauw-te mengira kali ini diriku pasti mati katanya perlahan tidak disangka suheng suka berubah pikiran bahkan turun tangan sendiri menyembuhkan luka dalamku.

Sute peredaran darahmu baru saja lancar jangan banyak bicara dan cepat salurkan tenaga pusatkan pikiran dan bersemedi sebentar.

Thio Cing An tidak membantah lagi ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan satu kali menanti ia membuka mata kembali Hu Pak Leng pun jauh sebelumnya sudah selesai bersemedi.

Suheng ilmu sakti Thian Seng Cie-mu benar-benar luar biasa pujinya kembali tertawa. Siauw-te pernah mendengar suhu menceritakan kepandaian tersebut beliau berkata bahwa ilmu sakti ini bukan sembarangan orang bisa mempelajarinya seseorang harus memiliki dahulu tenaga dalam yang maha sempurna baru kemudian berlatih ilmu tersebut.

Mendengar pujian itu Hu Pak Leng tertawa tergelak.

Sebenarnya didalam soal kepandaian silat, masing-masing ilmu mempunyai keistimewaan yang tersendiri dan masing-masing bisa dilatih cepat atau lambat menurut bakat si pelatih aku rasa untuk mempelajari setiap kepandaian silat rata-rata tidak mudah semua misalnya saja dengan ilmu pukulan telapak berdarah dari sute, itupun merupakan ilmu sakti yang sulit dipelajari, menanti tenaga lweekangmu berhasil mencapai puncak kesempurnaan maka dahsyatnya mungkin jauh lebih hebat beberapa kali lipat dari ilmu jari Thian Seng Cie dari Siauw-heng.

Aaaakh... suheng terlalu merendah ilmu sakti Thian Seng Cie dari suheng merupakan ilmu sakti yang khusus digunakan untuk menghancurkan setiap ilmu beracun, sekalipun tenaga pukulan telapak berdarah dari Siauw-te berhasil dilatih mencapai sepuluh bagianpun rasanya sulit untuk menangkan ilmu jari Thian Seng Cie Sin Kang dari suheng.

Hu Pak Leng tidak ingin banyak bicara lagi ia tersenyum dan bangun berdiri.

Sute! untuk sementara kau tetaplah tinggal didalam penjara. Siauw-heng segera akan perintahkan orang untuk mengirim arak serta sayur setelah bersantap sute boleh lanjutkan bersemedi, nanti malam pada kentongan ketiga Siauw-heng akan mendatangi penjara lagi dan hantar kau keluar dari lembah untuk kembali kesisi Hong susiok seharusnya kali ini pun pergi kesana untuk menyambangi dia orang tua.

Ia sengaja mengatakan hendak memapak dirinya pada kentongan ketiga kemudian baru hantar dirinya keluar dari lembah, jelas mengartikan bila dihatinya ada kesulitan-kesulitan pribadi.

Suheng kau silahkan berlalu sahut Thio Cing An sambil tertawa.

Hu Pak Leng segera putar badan menutup kembali terali besi dan dengan langkah lebar berlalu dari

sana.

Dengan pandangan termangu-mangu Thio Cing An memandang bayangan punggung dari Hu Pak Leng pikirannya bolak balik diperas untuk memikirkan maksud tujuan dari Hu Pak Leng yang secara suka rela suka turun tangan menolong dirinya tetapi walaupun sudah dipikir sangat lama sekali tidak muncul titik- titik kelemahan.....

Tidak selang beberapa saat kemudian terali besi kembali dibuka dan muncullah seorang lelaki kekar berusia kurang lebih dua puluh tahunan dengan membawa sebuah baki kayu.

Di atas baki tersebut terdapat empat sayuran lezat sebotol arak wangi serta delapan lembar kueh.

Sejak tadi Thio Cing An sudah kelaparan setengah mati, tanpa banyak cakap lagi ia menyikat makanan tersebut dengan lahap.

Lelaki kekar tersebut selama ini berdiri disamping dengan sikap yang sangat hormat menanti Thio Cing An selesai bersantap ia baru membereskan mangkok sumpit kemudian berlalu. Orang itu sejak masuk kedalam ruangan sampai meninggalkan ruangan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun bahkan melirik kearah Thio Cing An pun tidak.

Setelah bersantap Thio Cing An merasakan semangat pulih kembali, mengikuti petunjuk Hu Pak Leng ia melanjutkan kembali mengatur pernapasan:

Malam itu ketika kentongan ketiga sudah tiba ternyata Hu Pak Leng benar-benar menepati janji ia memakai baju ringkas menggembol pedang dan membawa tongkat besinya.

Sute apakah lukamu sudah rada baikan? tegurnya sambil tertawa setibanya didepan terali besi. Lukaku sudah banyak baikan hanya saja merepotkan suheng menghantar sendiri.

Jikalau sute sudah merasa lukamu jauh lebih baikan mari sekarang juga kita berangkat potong Hu Pak Leng tidak menanti ia selesai berbicara. Aku sudah kirim orang untuk mempersiapkan kuda didepan lembah.

Thio Cing An bangun berdiri dan mengikuti dari belakang Hu Pak Leng meninggalkan penjara itu Selama didalam perjalanan mereka menemui banyak sekali para jago yang melakukan perondaan

sewaktu melihat munculnya Hu Pak Leng rata-rata pada memberi hormat dengan sikap yang bersungguh- sungguh.

Beberapa saat kemudian mereka sudah keluar dari lembah tersebut sedikitpun tidak salah tampaklah dua orang lelaki berusia pertengahan dengan menuntun dua ekor kuda sedang menanti dibawah pohon siong.

Selama didalam perjalanan Hu Pak Leng tidak pernah mengucapkan sepatah katapun sedang Thio Cing An pun tidak pernah bertanya barang sekejap jua.

Menanti setelah keluar dari lembah dan Hu Pak Leng menerima tali les dari kedua orang lelaki tersebut ia baru menoleh sambil tertawa.

Sute mari kita berangkat.

Suheng silahkan seru Thio Cing An sambil meloncat naik keatas punggung kudanya. Siauw-heng akan berjalan satu langkah kedepan membuka jalan buat sute.

Tali les kuda disentak lalu melarikan binatang tersebut menerjang kemuka.

Thio Cing An pun segera menyentak pula kuda tunggangnya untuk mengejar dari belakang. Kedua orang itu berturut-turut melakukan perjalanan sejauh bebarapa li.

Mendadak Thio Cing An menarik tali les kudanya sembari berteriak :

Suheng harus tunggu sebentar Siauw-te ada beberapa patah kata...

Sute ada perkataan apa? cepat kau utarakan jawab Hu Pak Leng sambil menahan tali les kudanya itu.

Terus terang aku katakan sebenarnya diluar lembab Mie Cong Kok ada orang yang sengaja datang untuk mencabut Siauw-te.

Jikalau suheng tidak menaruh curiga Siauw-te segera akan mengundang ia datang kemari.

Mendengar perkataan tersebut Hu Pak Leng merasakan hatinya rada bergetar tetapi diluaran dia masih tetap mempertahankan sikap yang tenang.

Sute apa rnaksud perkataanmu itu? Siauw-heng mana mungkin menaruh rasa curiga terhadap dirimu?? bila aku ragu-ragu tak kuhantar sendiri dirimu untuk keluar dari lembah.

Dari dalam sakunya Thio Cing An lantas mengambil keluar sebuah benda yang berbentuk bulat sambil di raba-raba ujarnya tertawa : Benda ini merupakan alat pengirim suara yang paling lihay dari suhuku pernahkah suheng manemuinya?

Tiba-tiba pergelangan tangannya digetarkan keras ia mengayunkan benda tersebut ketengah udara.

Terdengar suara dengungan sangat keras bergema menusuk telinga dan melesat ketengah udara dengan kecepatan penuh.

Kekuatan daya lempar dari Thio Cing An betul-betul amat lihay sewaktu benda itu melayang setinggi sepuluh kaki suara dengungan tersebut bergema kurang lebih seperminum teh lamanya.

Ehmmm... sungguh hebat, sungguh hebat puji Hu Pak Leng sambil melirik sekejap kearah Thio Cing An. Benda ini memang paling bagus untuk mengirim suara.

Kalau begitu kita tunggu sebentar disini.

Kedua orang itu meloncat turun dari kudanya dan menanti beberapa waktu dipinggir jalan!

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian sedikit pun tidak salah dari lembah gunung sebelah barat muncullah sesosok bayangan manusia dengaa gerakan yang amat cepat.

Hanya didalam sekejap mata ia sudah tiba dihadapan kedua orang itu.

Ketika Hu Pak Leng alihkan sinar matanya kearah orang tersebut maka tampaklah seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan dengan memakai pakaian ringkas dan menggembol sebilah pedang panjang sudah berdiri dihadapan mereka.

Sambil menuding kearah orang itu Thio Cing An lantas memperkenalkan dirinya.

Saudara ini adalah Cioe-heng anak murid seorang kawan karib suhuku, kali ini bersama-sama dengan Siauw-te pada mulanya ada maksud untuk masuk kedalam lembah mengunjungi suheng tetapi dikarenakan Cioe-heng merasa nama besar suheng sudah amat terkenal diseluruh dunia kangouw dan takut kau tidak suka keluar untuk menemui dirinya maka sengaja ia menunggu diluar lembah.

Dengan sepasang mata Hu Pak Leng yang amat tajam sekali pandang ia sudah mengerti bila waktu orang ini terlalu menganggulkaa dirinya sendiri dengan cepat ia merangkap tangannya menjura.

Cioe-heng sapanya.

Pikirnya betul-betul cermat, sewaktu didengarnya dari nada Thio Cing An sewaktu memperkenalkan dirinya sama sekali tidak menyebut asal perguruaanya maka is lantas tahu bila pihak lawan sudah menaruh rasa was-was hanya saja ia tidak mendesak lebih jauh.

Orang tersebut benar-benar sombong sewaktu melihat Hu Pak Leng ia pura-pura tidak melihatnya sikap maupun gerak geriknya sangat dingin.

Tetapi ketika dilihatnya Hu Pak Leng menjura terlebih dahulu kepadanya ia merasa sungkan kalau tidak membalas karena itu buru-buru iapun balas menjura.

Lama sekali mendengar nama besar dari Huheng ini hari bisa berjumpa benar-benar membuat hatiku merasa bangga.

Aaaakh... berita kangouw mana boleh dianggap benar Cioe-heng terlalu memuji!

Enghiong saling menyayang kalian berdua benar berjodoh untuk mengikat tali persahabatan sambung Thio Cing An mendadak sambil tertawa.

Hu Pak Leng melirik sekejap kearah Thio Cing An lalu sambil tertawa ujarnya.

Sute! bagaimana kalau kita cepatan berangkat aku pikir susiok dia orang tua sudah mengharap- harapkan balasanmu. Belum sempat Thio Cing An menjawab mendadak lelaki berpakaian singsat itu sudah menyela:

Hu-heng kenapa diluar lembah Mie Cong Kok-mu sudah kedatangan begitu banyak toosu serta hweesio?

Mendengar pertanyaan itu kontan Hu Pak Leng kerutkan keningnya dalam hati diam-diam pikirnya.

Partai Siauw lim serta partai Bu-tong pay sedikit banyak rada keterlaluan sekalipun mereka menaruh rasa was-was terhadap driku tidak seharusnya memperlihatkan sikap mereka secara terang-terangan... sungguh keterlaluan.

Ketika lelaki berpakaian ringkas itu melihat Hu Pak Leng hanya termenung saja tidak menjawab tak tertahan lagi sambungnya kembali :

Menurut apa yang cayhe ketahui para hweesio serta toosu-toosu tersebut rata-rata memiliki kepandaian ilmu silat yang amat lihay bahkan masing-masing menggembol senjata tajam agaknya mereka sudah menyusun suatu rencana tertentu.

Walaupun dalam hati Hu Pak Leng merasa amat gusar tapi dia adalah seorang jagoan yang barimam tebal perasaan gusar senang bisa ditekan dalam hatinya sehingga tak sampai kelihatan diluaran.

Segera dia orang tertawa tawar.

Orang-orang yang Cioe-heng temui rasanya tentu anak murid dari Siauw lim pay serta Bu-tong pay katanya.

Eeeei... bagaimana?? apakah suhengpun sudah mengikat tali permusuhan dengan orang-orang dari kedua partai tersebut???

Selama ratusan tahun kita orang-orang dari kalangan Liok-lim selalu berdiri dalam sikap bermusuhan dengan partai Siauw lim serta partai Bu-tong dan kini lembah Mie Cong Kok sudah aku jadikan markas besar dari para jago Liok-lim dari seantero dunia, sudah tentu kejadian ini menimbulkan rasa perhatian dari kedau partai tersebut.

Mendadak terdengar si lelaki berpakaian singsat itu tertawa dingin tiada hentinya ia menyambung :

Heeee... heee... heee... Hu-heng benar lapang dada dan berpikiran luas. Jikalau nanti Siauw-te yang k dibeginikan sejak tadi sudah aku kasih hadiah buat mereka.

Mendengar perkataan sekasar itu kembali Hu Pak Leng berpikir :

Siapakah orang ini?? entah dia orang anak murid dari perguruan mana?? Bacotnya betul-betul amat

besar.

Karena tertarik ia melirik orang itu semakin cermat terlihatlah kedua belah keningnya tinggi menonjol keluar sinar matanya berkilat tajam jelas dia orang memiliki kepandaian silat yang sangat luar biasa segera ia tersenyum.

Walaupun Siauw-te berhasil merebut kedudukan Liok-lim Bengcu dari seantero dunia tetapi para jago rata-rata merupakan pentolan-pentolan Bu-lim dari berbagai penjuru negeri untuk beberapa waktu kami sendiri masih merasa kesulitan untuk memperoleh suatu pandangan yang sama dengan sendirinya tiada tertarik sama sekali terhadap urusan luar sedangkan mengenai tindakan kasar dari Siauw lim pay serta Bu- tong pay...

Belum habis ia berkata mendadak dari balik sebuah batu gunung beberapa kaki dari mereka berdiri berkumandang datang suara tertawa dingin yang sangat menusuk telinga.

Walaupun suara tertawa dingin tersebut bergema sangat perlahan tetapi didalam pendengaran ketiga orang jagoan lihay dapat tertangkap amat jelas sekali.

Pertama-tama si lelaki berpakaian singkat itu yang umbar hawa amarahnya terlebih dahulu. Siapa! bentaknya keras.

Pergelangan tangannya diayun kedepan titik cahaya tajam dengan menembus udara meluncur keluar.

Terdengar suara bentrokan besi yang keras di bawah cahaya rembulan tampak percikan bunga api memancar keempat penjuru.

Hu Pak Leng yang melihat cara orang itu melancarkan serangan senjata rahasia dalam hati lantas mengerti bila dia orang tiada maksud untuk melukai orang tersebut melainkan dengan pinjam kesempatan ini hendak pamer kekuatan saja.

Ketika si lelaki berpakaian ringkas itu selesai menyambit senjata rahasia tubuhpun ikut meloncat kedepan.

Di mana sepasang lengan direntangkan tubuhnya tneluncur naik setinggi lima enam kaki kemudian berjumpalitan beberapa kali ditengah udara dan menubruk kearah balik batu dimana berasalnya suara tertawa dingin tadi.

Gerakan tubuhnya cepat lincah dan sebat sewaktu tubuhnya hampir mendekati batu gunung tersebut pergelangan tangan kanannya lantas membalik dan mencabut keluar sebelah pedang pusaka.

Di mana sang pedang bergoyang cahaya tajam memancar keempat penjuru.

Tetapi belum sempat pedang tersebut berhasil mengenai sasarannya mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia menerjang keluar dari balik batu tersebut.

Masing-masing meluncur dan bergerak dengan kecepatan penuh membuat pandangan mata orang lain jadi kabur.

Terdengar suara bentrokan keras bergema memecahkan kesunyian ditengah malam yang hening cahaya pedang mendadak mereda diikuti dua sosok bayangan manusia berpisah dan melayang turun keatas tanah.

Dengan cepat Hu Pak Leng memperhatikan orang itu dengan lebih cermat lagi, tampaklah seorang hweesio tua yang memakai jubah warna abu-abu dengan mencekal sebuah tongkat berdiri dibawah sorotan sinar rembulan.

Hu-heng! kenalkah kau orang dengan Toa hweesio ini? tanya lelaki berpakaian ringkas itu sambil melirik sekejap kearah Hu Pak Leng.

Walaupun Hu Pak Leng tidak kenal tetapi si hweesio tua ini pasti orang dari kuil Siauw lim si karena itu jawabnya.

Aku memang merasa asing terhadap Toa suhu ini tapi aku pikir dia orang tentu seorang hweesio lihay dari kuil Siauw lim si!.

Haaa... haaa... jikalau Hu-heng tidak kenal dengan keledai gundul ini baiknya diserahkan kepada Siauw-te saja biar aku yang hadapi dirinya seru si lelaki berpakaian ringkas itu sambil tertawa-tawa.

Pedangnya dikebaskan ketengah udara lalu maju dua tindak kemuka.

Sudah lama aku mendengar orang berkata bahwa kepandaian silat yang hweesio-hweesio Siauw lim pay sangat lihay cuma sayang selama ini tiada kesempatan untuk berjumpa. Ini hari bisa bertemu kesempatan yang sebaik ini tidak boleh di sia-siakan begitu saja......

Hweesio berjubah abu-abu itu merangkap tangannya memuji keagungan sang Buddha lalu memotong perkataan dari si lelaki berpakaian ringkas yang belum selesai diucapkan itu.

Pinceng adalah Thian Wang dari ruangan Tat Mo Yen gunung Siongan. Hmm! perduli kau Thian Wang atau Teh Wang terima dulu tiga buah tusukan pedangku sambung lelaki berpakaian ringkas itu hambar.

Bersamaan dengan selesainya perkataan tersebut serangan pedang sudah menggulung keluar dengan menggunakan jurus Thian Way Lay Im atau luar langit mega mendekat ia menusuk dada pihak lawan.

Melihat datangnya serangan tersebut Thian Wang Thaysu kerutkan alisnya selintas bawa amarah berkelebat diatas wajahnya dengan menggunakan jurus Ya Tan Heng Toh atau sampan liar menepi miring tongkatnya digerakkan kedepan memunahkan datangnya serangan pedang tersebut.

Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Thian Wang Siansu untuk melancarkan serangan balasan pedang ditangan lelaki berpakaian ringkas itu kembali menyapu kekiri menotok kekanan berturut-turut mengirim dua buah serangan berantai.

Terlihatkan cahaya pedang mengalir keluar tiada hentinya membentuk berkuntum-kuntum bunga pedang yang secara serentak menerjang seluruh tubuh Thian Wang Siansu.

Hweesio lihay dari Siauw lim pay ini tertawa dingin, tongkat besinya dengan menggunakan jurus Yu Hoa Lie Tah, atau hujan badai bunga berguguran menarikan selapis bayangan tongkat yang melindungi seluruh tubuhnya rapat-rapat diiringi suara ting tang ting tang yang amat ramai seluruh pedang yang dilancarkan pemuda berpakaian ringkas itu berhasil dipunahkan semua.

Omintohud... Bersamaan dengan suara pujian Buddha lengannya membalik tongkat besinya dengan membawa sambaran angin dahsyat dibabat keatas kepala pihak lawan menggunakan jurus Cia San Cau Hay atau menjepit bukit meloncati samudra.

Datangnya jurus serangan ini luar biasa dahsyatnya kendati lelaki berpakaian ringkas tersebut berwatak ganas dan tidak pernah mengampuni mangsanya tak urung dibuat jeri juga untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Sedikit pundaknya bergoyang ia sudah mengundurkan diri lima depa kebelakang berhasil meloloskan diri dari hantaman tongkat besi tersebut.

Hu Pak Leng yang selama ini berdiri menonton disamping kalangan setelah mendengar sang hweesio tua itu menyebutkan gelarnya dalam hati diam-diam merasa terperanjat pikirnya.

Didalam kuil Siauw lim si saat ini angkatan yang menggunakan kata Thian didepan namanya merupakan angkatan yang tertinggi hweesio tua ini memperkenalkan diri sebagai Thian Wang, aku rasa kedudukannya setingkat dengan Thian Lian Thaysu itu Ciangbujien dari Siauw lim pay saat ini serta Thian Beng Thaysu suhu dari istriku aku duga kedudukan hweesio ini dalam kuil tentu sangat tinggi ternyata kali ini pihak kuil Siauw lim si sudah mengirim hweesio dari angkatan sedemikian tingginya untuk mendatangi lembah Mie Cong Kok, bisa dibayangkan bahwa urusan pasti bukan suatu kejadian yang gampang apakah pihak Siauw lim si benar-benar sudah bekerja sama dengan pihak Bu-tong pay untuk mengerahkan seluruh tenaga yang ada guna menghadapi kekuatanku dalam waktu dekat ini?.....

Ketika ia mendongakkan kepalanya kembali pertarungan antara lelaki berpakaian ringkas melawan Thian Wang Siansu sudah berjalan dengan serunya angin sambaran tongkat menderu-deru cahaya pedang berkilat menyilaukan mata.

Pada waktu itu Thio Cing An pun sudah menoleh dan berbisik kepada diri Hu Pak Leng.

Kelihayan dari hweesio-hweesio Siauw lim pay ternyata bukan nama kosong belaka bila pertarungan dilanjutkan dengan situasi seperti ini aku takut Cioe-heng bukan tandingan dari hweesio tersebut.

Kiranya sewaktu untuk pertama kali bergebrak tadi serangan-serangan pedang yang dilancarkan lelaki berpakaian ringkas itu amat gencar dan mengalir terus tiada hentinya semakin menerjang semakin menghebat. Tapi setelah lewat berpuluh-puluh jurus daya tekanannya semakin mengendor.

Sebaliknya Thian Wang Siansu semakin bertempur semakin gagah tekanan-tekanan dari tongkatnya semakin ganas hanya didalam waktu yang amat singkat lingkungan gerak dari cahaya pedang lelaki berpakaian ringkas tersebut sudah berhasil didesak oleh tekanan tongkat lawan sehingga makin lama semaakin kecil.

Sute apakah kau orang ada maksud minta aku suka mewakili diri Cioe-heng untuk bergebrak melawan hweesio tersebut?? Balik tanya Hu Pak Leng dengan suara yang lirih pula.

Diluaran ia berbicara begitu dalam hati diam-diam mulai ambil perhitungan.

Jikalau aku sampai turun tangan perduli menang atau kalah maka kedudukanku segera akan berubah jadi saling bermusuhan dengan hweesio-hweesio pihak Siauw lim si bila dikemudian hari berjumpa lagi maka kedudukanku akan bertambah sulit.....

Menghadapi keadaan seperti saat ini suheng tidak perlu turun tangan sendiri. Bantah Thio Cing An menggeleng. Walaupan Cioe-heng rada repot dalam menghadapi kegagahan hweesio Siauw lim si tersebut tapi dalam waktu singkat tak bakal bisa menderita kalah sekalipun angsor ditangan musuh rasanya untuk menyelamatkan diri masih bukan suatu persoalan yang sulit.

Kembali Hu Pak Leng dongakkan kepala dan alihkan sinar matanya ketengah kalangan ketika itu permainan pedang dari si lelaki berpakaian ringkas tersebut dari kedudukan menyerang sudah berganti jadi posisi bertahan jurus-jurus serangan yang di lancarkan keluar semakin gencar dan tiada hentinya menutupi seluruh bagian tubuh dengan rapat.

Sebaliknya Thiang Wang Thaysu mulai melancarkan serangan-serangan balasan yang maha dahsyat tongkat besinya malang melintang diikuti sambaran angin tajam menderu-deru kedahsyatannya semakin lama semakin meningkat.

Tapi menghadapi perubahan yang dilancarkan oleh pedang pihak lawan kendati Thian Wang Siansu berhasil mengurung musuhnya kedalam lingkaran bayangan tongkat tapi untuk beberapa saat belum berhasil juga merobohkan dirinya dibawah serangan yang gencar.

Kelihatannya kepandaian mereka berdua rada seimbang satu sama lainnya.

Sembari memperhatikan jalannya pertarungan di tengah kalangan, kembali Hu Pak Leng berpikir

keras.

Orang ini entah anak murid dari perguruan mana? walaupun ilmu pedangnya tidak termasuk ilmu pedang tingkat tinggi tapi permainannya benar-benar mantap.

Sedangkan Thio Cing An sendiri, walaupun ia memperhatikan jalannya pertarungan yang amat sengit itu dengan penuh perhatian, tapi air mukanya sama sekali tidak menunjukan perasaan kuatir agaknya pertarungan mati hidup antara kedua orang itu sama sekali tiada hubungannya dengan dia orang.

Pada mulanya Hu Pak Leng yang melihat dari Thio Cing An ini dalam hati rada kurang paham tapi sesudah dipikir sejenak ia tersadar kembali.

Aaaaah..... benar, pikirnya dihati. Watak Hong Cioe sangat licik dan berpikiran panjang hawa membunuh selamanya disembunyikan dibalik senyuman wajahnya sedang Thio Cing An sudah lama mengikuti Hong Cioe sudah tentu terhadap kekejaman, kelicikan serta kebuasannya sedikit banyak menurun. Bilamana orang yang menggunakan pedang itu sampai berhasil dilukai Thian Wang Thaysu, hal ini pasti akan memancing niat balas dendam dari suhunya, dengan demikian ia sudah bantu mencarikan seorang musuh tangguh buat pihak Siauw lim pay...

Selagi ia berpikir keras ditengah kalangan sudah diramekan kembali suara bentakan-bentakan keras mendadak si lelaki berpakaian ringkas itu berbalik melancarkan serangan balasan didalam sekejap mata cahaya pedang memancar keempat penjuru dan dengan hati mantap berhasil menerjang bobol pertahanan bayangan tongkat dari Thian Wang Thaysu yang amat rapat itu tubuhpun dengan meminjam kesempatan tersebut meloncat keluar kurang lebih satu kaki dari kalangan.

Sambil lintangkan tongkatnya didepan dada Thian Wang Thaysu tidak melakukan pengejaran. Omintohud! pujinya dengan suara lantang, kemudian disambung dengan gelak tertawa yang amat keras. Haaaa....... haaaa....... haaaa....... kepandaian silat dari sicu sungguh tidak lemah. Loolap tidak tega untuk turun tangan jahat terhadap dirimu.....

Mendengar perkataan tersebut air muka si lelaki berpakaian ringkas itu berubah hebat, ia tertawa tiada hentinya.

Heee... heee... heee... aku orang bisa kalah tidak lain karena terlalu memandang enteng dirimu potongnya hambar, kali ini aku berhasil kau totok jalan darahnya didalam tiga bulan mendatang pasti akan kutuntut balas perghinaan ini.

Kau sudah melukai dengan menggunakan ilmu jari sakti. Kiem Kong Cie tapi sewaktu loolap turun tangan hanya menggunakan tiga bagian tenaga saja dan sudah kuatur suatu jalan mundur buat dirinya sekarang kesehatanmu tak akan terganggu tapi kau membutuhkan waktu tiga bulan untuk memelihara luka tersebut baru bisa balik seperti sedia kala, buddha maha kasih seluruh benda dijagad hasil ciptaannya laut kesengsaraan tak bertepi menoleh adalah pantai omintohud.

Mendengar kata-kata dari hweesio itu diam-diam Hu Pak Leng menghela napas panjang pikirnya.

Kemuliaan serta kewales kasihan hweesio ini benar-benar luar biasa sekalipun ia sedang bergebrak mati-matian melawan orang lain tapi hatinya tetap wales.....

Terdengar lelaki berpakaian ringkas itu tertawa terbahak-bahak.

Eeeei... Hweesio tua lebih baik kau orang jangan kasih pelajaran hukum Karma kepadaku coba nih rasakan dulu bagaimanakah kehebatan dari peluru pencabut nyawa Toh Hun Cu Bo Suo ini!

Tangan kanannya mendadak diayun kedepan serentetan cahaya keemas-emasan langsung menghajar tubuh Thian Wang Siansu.

Hu Pak Leng yang mendengar disebutkannya nama senjata rahasia peluru pencabut nyawa Toh Hun Cu Bo Suo didalam hatinya secara mendadak teringat akan seseorang tak terasa hatinya sangat terperanjat diam-diam pikirnya:

Toh Hun Cu Bo Suo merupakan senjata rahasia yang paling dahsyat didalam Bu-lim saat ini bila hweesio tua ini tak tahu keadaan yang sebenarnya ia pasti akan menderita kerugian besar.

Tampaklah Thian Wang Thaysu angkat toyanya ke atas lalu dihajarkan kearah peluru emas tersebut dengan tenaga yang sangat besar.

Gerakannya amat aneh dan cepat dimana toya besinya menyambar lewat dengan tepat sudah menghajar diatas ujung peluru emas tersebut.

Terdengarlah suara bentrokan besi yang amat nyaring mendadak peluru emas tersebut meledak keras dan beterbanganlah serentetan api warna biru yang amat ganas.

Bagaimana mungkin Thian Wang Thaysu pernah menduga bahwa dibalik peluru emas tersebut masih tersembunyi api beracun yang amat ganas? menghadapi perubahan secara mandadak ini untuk berkelebatpun tidak sempat.

Ia hanya merasakan cahaya api berkelebat lewat tahu-tahu ujung jubah serta beberapa bagian dari jubah didepan dadanya sudah terbakar api warna biru tersebut.

Beruntung sekali silatnya amat sempurna ketenangan hati luar biasa walaupun pakaiannya sudah ada beberapa cun yang terbakar pikirannya tidak sampai jadi kacau tubuhnya buru-buru mundur tiga langkah kebelakang tangannya kontan mengirim satu pukulan menepuk keatas pakaian dadanya yang sedang terbakar itu.

Siapa tahu ketika tangan kanannya hampir menempel dengan api didepan dadanya ujung jubah lengan itupun ikut terbakar dengan hebatnya. Hanya dalam sekejap mata badannya telah dikurung oleh kobaran api yang besar cahaya kebiru-biruan menyoroti wajahnya dan kelihatan tidak panik. Thian Wang Thaysu yang tidak berhasil memadamkan api yang berkobar dibadannya dalam hati mulai merasa gugup tapi kepanikan tersebut tidak sampai diperlihatkan diwajah.

Mendadak ia membentak gusar dengan mata melotot badannya langsung menubruk kearah lelaki berpakaian ringkas itu dengan serangan-serangan yang gencar.

Ujung baju berkibar tertiup angin malam ditambah pula dengan kobaran api diseluruh badan keadaannya mirip dengan seekor burung raksasa yang mencari mangsa.

Si lelaki berpakaian ringkas yang sedang merasa bangga dengan hasil perbuatannya merdadak melihat Thian Wang Thaysu dengan seluruh tubuh penuh kobaran api tahu-tahu menubruk mendatang dalam hati merasa amat terperanjat.

Ia tak berani menerima datangnya tubrukan Thian Wang Siansu dengan keras lawan keras buru-buru badannya mencelat kesampiag meloloskan diri dari mara bahaya.

Kurangajar! tidak kunyana kau berani menggunakan senjata rahasia sedemikian ganasnya untuk menyerang orang, kau tak dapat diampuni bentak Thian Wang Thaysu teramat gusar.

Nada suaranya lantang penuh kesedihan laksana suara dengungan dari genta kuil dipagi hari.

Ditengah suara bentakan yang amat keras dengan membawa kobaran api di badan tubuhnya berjumpalitan beberapa kali di tengah udara kemudian langsung menubruk kearah lelaki berpakaian ringkas itu.

Tergesa-gesa lelaki berusia pertengahan itu meloncat kembali ketengah udara mendadak kaki kanannya jadi kaku ketika itulah ia baru mengerti bila dirinya betul-betul sudah menderita luka parah sehingga tak tertahan lagi lelaki tersebut menjerit kaget.

Ketika menoleh kebelakang tongkat besi di tangan Thian Wang Thaysu tahu-tahu sudah menghampiri batok kepalanya.

Kontan nyalinya pecah dia tak ada keberanian untuk menerima datangnya serangan toya tersebut dengan keras lawan keras sambil mengerahkan seluruh tenaga kembali tubuhnya mencelat delapan depa kesamping.

Thian Wang Thaysu mendengus dingin tongkatnya dihajar keatas tanah lalu meminjam tenaga tutulan dari tongkat tersebut tubuhnya kembali mumbul keatas melakukan pengejaran.

Gerakan badannya yang mumbul dan meluncur tiada hentinya tanpa menempel tanah cukup membuktikan ilmu gin kang yang ia miliki.

Untuk kedua kalinya walaupun lelaki berpakaian ringkas itu berhasil meloloskan diri dari mara bahaya tapi luka diseluruh badan kambuh kembali ia mengerti dia orang sudah tak ada tenaga untuk meloloskan diri dari tubrukan pihak lawan.

Tak terasa lagi si jagoan she Cioe menghela napas panjang pikirnya dalam hati: Aaaaakh. habislah

sudah aku.

Pedang mustika ditangan kanannya segera diangkat keatas dan meaggunakan tenaga yang terakhir menerima datangnya serangan toya Thian Wang Thaysu.

Mendadak terdengar suara bentakan keras bagaikan menggeletarnya halilintar disiang hari bolong memecahkan kesunyian sesosok bayangan manusia menerjang keluar dari samping kalangan.

Tubuhnya yang bersalto ditengah udara langsung menyambut datangnya serangan toya besi dari hweesio tersebut dengan gerakan keras lawan keras. Traaang! diiringi suara bentrokan keras yang memekikkan telinga dihiasi percikan bunga-bunga api, masing-masing pihak terpental untuk melayang kembali keatas tanah...

Karena kobaran api beracun diseluruh tubuhnya sudah ada beberapa tempat pada badan Thian Wang Thaysu kena terbakar luka, tetapi ia tetap paksakan diri menahan rasa sakit dibadan dan berusaha keras untuk membinasakan dahulu sang lelaki berpakaian ringkas yang melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasia peluru beracun Toh Hun Cu Bo Suo tersebut setelah itu baru hantam ubun-ubun sendiri untuk bunuh diri dan cuci tangan dari penderitaan tersiksanya oleh api beracun tersebut.

Siapa sangka Hu Pak Leng ternyata sudah turun tangan pada saat yang kritis bahkan menggunakan tongkat besinya menangkis datangnya serangan toya tersebut.

Di dalam bentrokan keras lawan keras tadi masing-masing pihak sudah mengeluarkan tenaganya yang asli dan siapapun tidak menggunakan kelincahan untuk menyingkirkan pihak lawan.

Agaknya Thian Wang Thaysu sudah merasa amat tersiksa oleh luka-luka terbakar pada badannya keringat mengucur keluar membasahi kepalanya yang gundul sambil memandang tajam wajahoya Hu Pak Leng katanya :

Loolap pernah mendengar dari mulut Thian Beng suheng katanya tenaga sakti dari Hu Bengcu melebihi orang lain kedahsyatan dari ilmu silatnya tiada tandingan dikolong langit setelah pertemuan ini hari loolap baru mengerti bila berita tersebut tidak bohong cuma sayang loolap.....

Kobaran api beracun yang membakar badannya semakin membara sebagian besar jubah abu-abunya sudah hancur termakan api.

Semoga Lop-siansu suka tinggalkan nyawa agar dikemudian hari cahye pun masih punya kesempatan untuk minta petunjuk atas kelihayan ilmu silat Thaysu mendadak Hu Pak Leng menubruk dengan suara lantang.

Mendengar teriakan tersebut Thian Wang Thaysu rada tertegun mendadak lengannya dikebaskan jubahnya yang sedang terbakar hancur berkeping-keping dan jatuh berrterbangan diatas tanah.

Walaupun ia berhasil menghancurkan jubahnya yang sedang terbakar tapi dibeberapa bagian tubuhnya masih ada gumpalan bara api warna biru yang belum berhasil dipadamkan.

Kiranya api racun tersebut luar biasa dahsyatnya perduli dimanapun asalkan kena kembali maka benda tersebut tidak ampun lagi akan terbakar terus hingga hancur jadi abu.

Hu Pak Leng melirik sekejap kearah lelaki berpakaian ringkas itu kemudian sambil menoleh dan memandang kearah Thian Wang Thaysu dengan pandangan dingin ujarnya :

Thaysu sudah kena dilukai api beracun yang maha hebat kemungkinan sekali racun ganas itu sudah meresap masuk kedalam tubuhmu.

Kecuali menggunakan pasir untuk memadamkan api beracun tersebut aku takut nyawamu sukar di pertahankan lagi.

Maksud dari perkataan tersebut amat jelas sekali secara diam-diam dia memberi kisikan agar hweesio tersebut suka cepat-cepat menggunakan pasir untuk memadamkan kobaran api diatas badannya.

Thian Wang Thaysu tidak banyak bicara lagi dia segera loncat ketengah udara dan didalam beberapa kali kelebatan sudah lenyap dibalik sebuah pojokan bukit disebelah depan.

Melihat tindakan dari hweesio tersebut Hu Pak Leng lantas mengerti kalau ia tidak ingin menggelinding-gelinding diatas tanah dihadapan matanya sehingga merosotkan kedudukannya karena itu dengan membiarkan api masih berkobar dibadan buru-buru menyingkir dari sana.

Menanti hweesio dari Siauw lim pay itu sudah lenyap dari pandangan perlahan-lahan Thio Cing An berjalan mendekati lelaki bercambang tersebut ujarnya sambil tertawa : Sekalipun hweesio itu berhasil memadamkan api dibadannya aku takut ia tak bakal bisa melanjutkan hidupnya.

Hu Pak Leng cuma tertawa tawar ia tidak mendesak lebih lanjut sedang dalam hati diam-diam pikirnya.

Apakah racun api dari peluru Toh Hun Cu Bo Suo-nya benar-benar tak bisa ditolong lagi dan dikolong langit tak ada obat mujarap untuk menyembuhkan bekas-bekas luka tersebut?.

Terdengar Thio Cing An melanjutkan kembali kata-katanya.

Bilamana bajunya baru saja terbakar buru-buru ia memadamkan dengan pasir mungkin racun api tersebut tak akan sampai merayap kedalam tubuhnya.

Hu Pak Leng adalah seorang yang sangat cerdik ia mengerti bila Thio Cing An telah mengetahui jika secara diam-diam ia memberi kisikan kepada Thian Wang Thaysu cara memadamkan api beracun tersebut dalam hati lantas pikirnya lagi :

Jika aku tidak berhasil mendapatkan cara yang tepat untuk menutupi persoalan ini kemungkinan sekali perbuatan itu bakal menimbulkan kecurigaan dihatinya.

Setelah berpikir sejenak akhirnya ia tersenyum.

Bilamana hweesio dari Siauw lim si ini sampai mati terbakar dihadapan kita maka peristiwa ini bakal memancing datangnya pembalasan dendam dari hweesio-hweesio Siauw lim si lainnya secara besar-besaran luka yang diderita Sute serta Cioe-heng belum sembuh Siauw-heng seorang dirimu rasanya tidak akan kuat untuk menahan serangan gabungan pihak mereka.....

Perkataan dari Hu-heng sedikitpuu tidak salah potong Thio Cing An tertawa telah lama Siauw-te dengar orang berkata bahwa partai Siauw lim merupakan tulang punggung dari kekuatan seluruh Bu-lim semua anak muridnya memiliki kepandaian silat yang amat lihay setelah melihat sendiri kejadian ini hari aku baru mengerti bila kabar berita tersebut ternyata bukan kabar kosong belaka.

Hu Pak Leng tidak menggubris orang itu lagi, dengan langkah lambat ia menghampiri lelaki berpakaian ringkas tersebut.

Cioe-heng bagaimana dengan lukamu? tegurnya halus bilamana tidak mengganggu kita akan segera melanjutkan perjalanan bila lukamu rada parah lebih baik kita kembali dulu ke lembah Mie Cong Kok setelah beristirahat beberapa hari kita baru lanjutkan kembali perjalanan.....

Ia rada merandek sejenak kemudian setelah berpikir beberapa waktu tambahnya :

Menurut perkiraanku setelah si hweesio Siauw lim pay ini terluka parah kejadian ini pasti akan menimbulkan niat hweesio-hweesio lain untuk melakukan pembalasan dendam kita tak boleh buang waktu lagi ditempat ini sedikit terlambat sukar bagi kita untuk meloloskan diri dari kepungan mereka.

Walaupun luka yang diderita si lelaki berpakaian ringkas itu tidak ringan tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahan didepan orang mendengar perkataan tersebut ia tertawa tergelak.

Cuma sedikit luka yang tak berarti Siauw-te percaya masih bisa mempertahankan diri, mari kita segera melanjutkan perjalanan.

Habis berkata ia putar badan dan berlalu terlebih dahulu.

Hu Pak Leng pun segera meloncat naik keatas punggung kudanya sekali tali les tersebut disentakkan kuda tersebut bagaikan terbang lari kedepan mengejar si lelaki berpakaian ringkas yang telah lari duluan.

Ketika sang kuda lari disamping pemuda tersebut lalu Hu Pak Leng kebaskan lengan kanannya menyambar badan lelaki tersebut lalu didudukkannya diatas pelana setelah itu sambil tertawa ujarnya : Cioe-heng lukamu belum sembuh tidak baik untuk melakukan perjalanan jauh lebih baik gunakan kudaku saja.

Sedang Liok-lim Bengcu malah meloncat turun dari kuda tersebut dan melakukan perjalanan dengan berlari.

Lelaki berpakaian ringkas itu menoleh sejenak ke arah Hu Pak Leng tapi tak sepatah kata terima kasihpun tak ia utarakan sambil menyentak tali les kabur terlebih dahulu.

Beberapa saat menanti sang surya munculkan dirinya ketiga orang itu telah berada beberapa puluh li jauhnya dari lembah Mie Cong Kok mendadak Thio Cing An menghentikan lari kudanya dan meloncat turun dari pelananya.

Suheng kau sudah berlari semalaman aku pikir badanmu pasti sudah letih harap suheng suka naik kuda Siauw-te.

Sute tidak perlu sungkan-sungkan lagi... Siauw-heng sama sekali tidak letih tolak Hu Pak Leng sambil tersenyum.

Thio Cing An rada ragu-ragu sejenak.

Siauw-te ada beberapa patah kata terasa kurang enak kalau tidak diberi tahukan kepada suheng tapi...

tapi...

Lama sekali ia mengulangi kata-kata tersebut tetapi tak sepatah katapun lanjutan kata-kata tersebut yang dilanjutkan keluar.

Sute apakah ada kata-kata yang serba salah untuk diutarakan keluar.

Terus terang aku katakan suheng sebetulnya sejak semula suhuku sudah berada di Pak Ih hanya saja karena peringatan dari suhu sewaktu Siauw-te mengadakan kunjungan tempo hari persoalan ini tak sampai ku beri tahukan kepada suheng.

Mendengar berita itu Hu Pak Leng merasa hatinya bergetar keras diam-diam pikirnya.

Aku hanya bisa menduga kalau beberapa waktu ini ia pasti akan mendatangi Pak Ih tidak nyana sejak semula ia sudah berada d sini jikalau demikian adanya aku duga ia sudah mulai menjalankan rencana busuknya...

Hu Pak Leng termenung beberapa saat lamanya kemudian ia baru menyahut :

Dalam mengerjakan sesuatu selamanya Hong susiok bertindak cepat dan tak terduga oleh siapapun entah dimanakah dia orang tua pada saat ini berada?? cepat bawa Siauw-heng untuk menemui dia orang tua sudah ada berpuluh tahun lamanya aku tidak pernah berjumpa dengan Hong susiok.

Thio Cing An tersenyum.

Suhu berada disebelah kiri dekat dengan tempat ini hanya bagaimana penyelesaian tentang kedua ekor kuda tersebut???

Hu Pak Leng adalah seorang yang cerdik mendengar perkataan tersebut setelah berpikir sejenak akhirnya ia ayunkan telapak tangannya menghantam kepala kuda yang dituggangi Thio Cing An.

Tampaklah kuda tersebut meringkik panjang, lehernya mendongak dan akhirnya mati binasa.

Setelah membinasakan kuda tersebut kembali Hu Pak Leng alihkan pandangan matanya ketika itu si lelaki berpakaian ringkas tersebut tetap duduk di atas pelana tak bergerak sepasang tangannya mencekal tali les erat-erat sedang sepasang matanya terpejam rapat-rapat.

Di bawah sorotan sinar sang surya dipagi hari kelihatan jelas air mukanya pucat pasi bagaikan mayat tak terasa alisnya dikerutkan. Orang ini sudah menderita luka dalam yang amat parah pikirnya dalam hati. Untuk melakukan perjalanan sejauh sepuluh li lagipun belum tentu bisa kuat.

Dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri tangan kirinya membimbing badan lelaki berpakaian ringkas itu sedang tangan kanannya dihajarkan keatas kepala sang kuda.

Kuda itupun meringkik rendah lalu rubuh binasa keatas tanah.

Cioe-heng apakah lukamu kembali kambuh? Tegur Hu Pak Leng sambil tersenyum tangan kirinya menahan tubuh lelaki tersebut kencang-kencang.

Perlahan-lahan lelaki berpakaian ringkas itu buka matanya setelah memandang sekejap kearah Hu Pak Leng kembali matanya dipejamkan rapat-rapat.

Menanti badan lelaki tersebut sudah berdiri tegak Hu Pak Leng baru melepaskan tangan kirinya kemudian dilanjutkan mercengkram bangkai kedua ekor kuda yang menggeletak diatas tanah itu dan dilemparkan kedalam lembah gunung.

Setelah itu sambil memandang sekejap kearah lembah tersebut katanya seraya tertawa :

Lembah gunung ini paling sedikit seratus kaki dalamnya ditengah dasar lembah pun penuh dengan semak belukar yang lebat aku pikir setelah bangkai kedua ekor kuda itu dibuang maka orang lain tak bakal temukan kembali bangkai tersebut karena bangkai-bangkai itu bakal tertutup oleh rerumputan.

Habis berkata ia menghela napas sedih.

Suheng bukannya Siauw-te terlalu waspada ujar Thio Cing An memberi penjelasan. Berhubung suhu berulang kali memesan wanti-wanti kepadaku agar supaya selalu waspada maka aku tak bisa meninggalkan jejak-jejak yang jelas buat orang lain oleh karena itu.....

Jejak susiok mempengaruhi situasi dalam Bu-lim sebelum masa yang telah dipersiapkan tiba seharusnya jangan munculkan dirinya terlebih dahulu sambung Hu Pak Leng tersenyum sekarang empat penjuru tak ada manusia mari kita cepat-cepat melanjutkan perjalanan.....

Cioe-heng, apakah lukamu sangat parah? tegur Thio Cing An sambil menoleh dan memandang sekejap kearah lelaki berpakaian ringkas itu.

Hu Pak Leng mengerti bahwa keadaan dari lelaki tersebut amat payah dan saat tak mungkin bisa bergerak lagi apabila melanjutkan perjalanan karena itu buru-buru ia berjalan menghampiri dan menggendongnya keatas punggung.

Biarlah Siauw-heng yang menggendong dirinya.

Maaf terpaksa harus merepotkan suheng, seru Thio Cing An sambil menjura. Setelah putar badan ia melanjutkan kesebuah pojokan bukit terjal.

Dengan kencang Hu Pak Leng mengikuti terus dari belakangnya setelah mengitari sebuah pojokan gunung pemandangan dihadapanmu berubah.

Tampaklah dua belah tebing yang curam menjepit sebuah lembah kecil yang sempit didalam lembah tersebut penuh ditumbuhi rerumputan liar setinggi dada kecuali sebuah lembah sempit tersebut kelihatan jalan lain yang bisa menghubungi tempat bagian luar dengan dalam lembah.

Tak terasa lagi Hu Pak Leng jadi tertegun dibuatnya.

Sute apakah Hong susiok berada dibalik rerumputan liar tersebut? tegurnya.

Sedikitpun tidak salah! Thio Ciang An mengangguk. Tubuhnya miring kesamping kemudian langsung menerobos masuk kebalik rerumputan. Rerumputan yang tumbuh ditengah lembah semakin lama semakin tinggi akhirnya seluruh tubuh manusia sudah tenggelam dibalik rumput tersebut.

Thio Cing An yang harus melanjutkan perjalanan sambil memisahkan rumput tebal langkahnya jadi semakin lambat agaknya secara diam-diam ia sedang mengingat jalan yang betul.

Sesudah memasuki lembah antara dua tiga li jauhnya Thio Cing An baru berhenti dan angkat tangannya keatas kepala bertepuk tiga kali.

Beberapa saat kemudian dari tempat kejauhan terdengar pula suara tepukan balasan dari orang-orang didalam lembah.

Rerumputan didepan bergelombang dan secara mendadak muncul dua orang lelaki berpakaian ringkas. Orang-orang itu sewaktu melihat munculnya Thio Cing An buru-buru merangkap tangannya menjura. Suhu ada didalam lembah? tegur lelaki kurus itu cepat.

Lelaki kekar yang ada disebelah kiri tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut sebaliknya dengan tajam memperhatikan diri Hu Pak Leng.

Siapakah orang itu? balik tanyanya.

Saudara ini bukan lain adalah Liok-lim Bengcu yang namanya terkenal pada saat ini, Hu Pak Leng adanya, Hu suheng.

Selamat berjumpa..... selamat berjumpa..... kedua orang lelaki berbaju ringkas itu bersama-sama menjura.

Setelah itu putar badan dan berlalu kearah depan.

Jika ditinjau dari sikap kedua orang itu agaknya kedudukan mereka tidak setinggi kedudukan Thio Cing An tetapi sikap maupun gerak geriknya ternyata tidak begitu menghormati diri Thio Cing An.

Meaggunakan kesempatan itu sengaja Hu Pak Leng mendehem perlahan sehingga memancing perhatian dari kedua orang yang berada dimuka lalu kepada Thio Cing An bisiknya:

Bilamana Siauw-heng langsung pergi menemui Hong Susiok entah terasa leluasa atau tidak?? aka lihat lebih baik sute pergi memberi kabar terlebih dahulu.

Belum sempat Thio Cing An memberikan jawabannya mendadak dari tempat kejauhan berkumandang serentetan suara yang amat nyaring.

Tidak usah!

Bukan saja suara tersebut tidak terlalu keras bahkan sewaktu kedengaran dalam telinga terasa amat nyaring dan jelas sekali.

Diam-diam Hu Pak Leng merasa sangat terperanjat diam-diam pikirnya:

Terang-terangan suara barusan ini berasal dari mulut Hong susiok yang dikirim dengan menggunakan ilmu mengirim suara Cian Li Coan Im hal ini sih tak perlu diherankan tapi ia tak pernah membicarakan dengan sute yang amat lirih kejadian ini benar-benar luar biasa. Apakah selama puluhan tahun tidak berjumpa ia sudah berhasil melatih tenaga dalamnya hingga mencapai kesempurnaan.

Rasa was-was dan waspada semakin meningkat dalam hatinya dengan suara lantang segera sahutaya.

Sudah lama tecu tidak berjumpa dengan susiok sebenarnya aku merindukan kau orang tua karena tidak berani mengganggu maka mengejutkan ketenangan susiok.

Belum habis ia berkata dari tempat kejauhan sudah kedengaran suara tertawa yang amat menyeramkan memotong perkataan selanjutaya. Hian tit berhasil merebut kedudukan Liok-lim Bengcu sehingga menambah kecemerlangan nama suhu dan diriku loohu pun merasa amat girang hanya saat ini ada tamu sedang berkunjung maaf aku orang tak dapat menyambut kedatanganmu.

Siauw tit mana berani mengganggu dan merepotkan susiok jawab Hu Pak Leng keras.

Kedua orang lelaki berbaju ringkas yang menyambut kedatangan mereka tadi setelah mendengar pembicaraan antara Hong Cioe dengan Hu Pak Leng sikap mereka terhadap Hu Pak Leng pun mendadak berubah jadi lebih marah satu didepan yang lain dibelakang bantu lelaki bercambang tersebut memisahkan rerumputan yang tumbuh ditempat penjuru.

Hu Pak Leng serta Thio Cing An sekalian kembali melanjutkan perjalanan sejauh empat lima kati akhirnya sampailah mereka didepan sebuah batu besar yang menonjol keluar.

Kedua orang lelaki berpakaian ringkas berbareng menghentikan langkahnya kemudian dengan sangat hormat sekali menjura kearah batu besar dihadapannya.

Liok-lim Bengcu saat ini Hu Pak Leng mohon berjumpa dengan suhu.

ooooOoooo

10

BAWA dia masuk kemari! Perintah seorang dengan suara nyaring dari balik batu besar.

Kedua orang lelaki berpakaian ringkas itu bersama-sama menjura lalu membawa Hu Pak Leng mengitari batu besar itu.

Di belakang batu besar terbentanglah tebing licin seorang bocah cilik berwajah bersih menyoren pedang dan berusia tiga empat belasan tahun dengan sikap tegap berdiri di batu dinding.

Begitu melihat munculnya kedua orang lelaki berpakaian ringkas sambil tersenyum segera tegurnya : Siapakah Hu Bengcu

Hu Pak Leng yang sepasang tangannya harus menggendong badaa lelaki she Cioe itu diatas punggung terpaksa hanya bongkokkan badan memberi hormat.

Cayhe adalah Hu Pak Leng jawabnya singkat.

Bocah tersebut tersenyum badannya menyingkir dua langkah kesamping dan memberi satu jalan lewat buat mereka.

Agaknya orang ini paling suka tersenyum wajahpun amat putih dengan bibir yang merah serta sebaris gigi yang putih sifat kekanak-kanakannya belum hilang sewaktu tertawa sangat menarik hati

Melihat keadaan sang bocah yang memikat hati, dalam hati Hu Pak Leng lantas berpikir:

Tindak tanduk bocah ini tidak seperti manusia biasa di kemudian hari kalau ia bukan jadi seorang pendekar besar yang kenamaan tentu akan menjadi seorang pentolan bajingan yang berhati ganas dan kejam.....

Tak terasa lagi ia mempehatikan beberapa kejap kearahnya setelah itu tegurnya dengan suara ramah. Saudara cilik apakah kaupun anak murid dari Hong susiok???.

Kembali bocah tersebut tersenyum. Pelajaran belum berhasil ditamatkan belum dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan besar dikemudian hari masih banyak petunjuk dari suheng.

Pembicaraannya lancar membuat orang merasa terpikat sambil tersenyum Hu Pak Leng mengangguk ia tidak banyak berbicara lagi dan melanjutkan kembali perjalanannya.

Kiranya diatas dinding batu dibelakang bocah cilik tersebut terdapat sebuah gua batu selebar kurang lebih tiga depa yang menjorok kearah bawah.

Sambil menggendong lelaki she Cioe itu di punggung Hu Pak Leng berjalan terlebih dahulu dimuka dengan bongkokkan badannya berhubung agak sempitnya keliling gua.

Thio Cing An serta bocah cilik itu mengiringi dari belakang sedang kedua orang lelaki berpakaian ringkas tersebut tetap tinggal dimulut gua.

Walaupun gua batu ini berliku liku tetapi tidak begitu panjang setelah berjalan empat lima kaki jauhnya mendadak sinar terang sudah menerobos masuk kedalam gua.

Sekeluarnya dari gua terlihat empat penjuru merupakan puncak-puncak gunung yang tinggi menjulang keangkasa dan mengelilingi sebuah lembah curam yang hanya seluas sepuluh kaki dibawah tenda dari kain kuning duduklah empat orang kakek tua.

Orang yang berada di paling kiri pakaiannya model toosu jenggot putih dan wajah memancarkan cahaya terang bukan lain adalah Hong Cioe.

Sisanya bertiga karena duduk mungkuri dirinya maka ia tak dapat melihat jelas bagaimana wajah mereka.

Setelah meletakkan lelaki she Cioe yang digendongnya itu keatas tanah buru-buru Hu Pak Leng menjura.

Tecu sudah ada puluhan tahun tidak menyambangi susiok tidak nyana tenaga dalam dari susiok sudah berhasil dilatih hingga mencapai batas-batas tinggalkan tua kembali kemuda.

Kiranya walaupun jenggot Hong Cioe sudah memutih semua tetapi wajahnya yang putih memancarkan cahaya merah segar bagaikan bocah cilik.

Bagus... kau sudah menambah kecemerlangan nama suhumu serta Poohu... bagus... kata Hong Cioe sambil mengelus jenggotnya dan tertawa.

Sepatah kata yang sangat pendek berturut-turut sudah menggunakan beberapa kali kata bagus jelas ia memperlihatkan kedudukannya yang jauh lebih tinggi dari keponakan muridnya ini.

Budi pemeliharaan dari suhu yang suka menurunkan pelajaran ilmu silat kepada tecu tak akan tecu lupakan kesempurnaan dari tenaga lweekang susiok pun tak mungkin tecu lampaui beruntung sekali selama ini tecu tidak sampai memalukan segala dari suhu serta susiok.

Seorang kakek tua yang duduk disebelah kiri mendadak bangun berdiri lalu dengan langkah lebar berjalan menghampiri si lelaki yang menderita luka parah tersebut tangannya laksana kilat berkelebat dan menabok perlahan diatas jalan darah Ming Bun Hiat pada tubuh lelaki tersebut.

Di iringi hembusan napas panjang perlahan-lahan lelaki yang memakai pakaian ringkas itu tersadar kembali dari pingsannya.

Manusia yang tak berguna kau terluka ditangan siapa? bentak si kakek itu dengan nada yang dingin. Hu Pak Leng berpaling tapi sebentar kemudian ia merasa kebelet ingin tertawa saking gelinya.

Ternyata wajah si kakek tua itu jelek dan anehnya luar biasa selembar wajahnya separuh berwarna merah dan separuh lagi berwarna putih. Yang berwarna merah terang benderang bahkan berkilat sedang yang berwarna putih pucat pasi tak kelihatan sedikit darahpun.

Terhadap si kakek tua berwajah Im Yang ini agaknya lelaki she Cioe tersebut merasa amat jeri dengan nada suara rada gemetar sahutnya :

Tecu terluka ditangan hweesio Siauw lim pay.

Heee... heee... pertama kali turun tangan sudah menderita kalah di tangan orang tinggalkan kau hidup dikolong langitpun hanya memalukan nama suhumu hmm! lebih baik aku bereskan nyawamu.

Telapak tangan perlahan-lahan diatas agaknya ia ada maksud untuk membinasakan lelaki she Cioe tersebut seketika itu juga.

Hmm... kekejaman serta keganasan orang ini betul-betul bukan nama kosong belaka... diam-diam pikir Hu Pak Leng didalam hatinya ternyata terhadap anak murid yang dilatih sendiripun bisa bersikap demikian ganas.....

Dengan suara lantang buru-buru teriaknya.

Locianpwe! untuk sementara janganlah memburu hawa amarah dulu, musuh tangguh dari Cioe-heng bukan lain adalah Thian Wang Thaysu ketua dari ruangan Tat Mo Yen dikuil Siauw lim si, locianpwe harus tahu hweesio dari angkatan Thian rata-rata merupakan jago kelas wahid dari pihak Siauw lim ia bisa bergebrak sebanyak seratus jurus lebih dengan hweesio tersebut boleh dihitung walaupun kalah tapi kalah dengan cemerlang apalagi Thian Wang Thaysu pun kena oleh senjata rahasia peluru Toh Hun Bo Suo dari locianpwe luka yang diderita lebih parah daripada luka Cioe-heng sendiri.

Mendengar suara itu mendadak si orang tua berwajah aneh itu tertawa hambar.

Oooouw kiranya kau sudah berjumpa dengan Thian Wang si keledai gundul itu walaupun tak dapat di hitung sebagai kalah dengan cemerlang tapi dosa ini bisa dihindarkan dari hukuman mati, ayo sana cepat atur pernapasan, teriaknya.

Dengan sinar mata penuh berterima kasih lelaki she Cioe itu berpaling sekejap kearah Hu Pak Leng setelah itu perlahan-lahan ia baru pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Hong Cioe yang sedang duduk meloncat bangun sambil memandang tajam wajah Thio Cing An bentaknya keras.

Kaupun terluka ditangan hweesio tua itu? Bukan tecu terluka ditangan.....

Anak murid Bu-tong pay? sambung Hong Cioe sambil membentak keras.

Juga bukan sahut Thian Cing An terengah-engah. Tecu terluka di tangan Thian Seng Cie dari Hu-

heng.

Hong Cioe kerutkan alisnya ia memandang sekejap kearah Hu Pak Leng tapi mulutnya tetap bungkam seribu bahasa.

Sebaliknya Hu Pak Leng tidak menunjukkan rasa gugup ataupun kaget dengan tenang ia berkata. Susiok kau jangan marah dula sute memang betul-betul terluka dibawah serangan ibu jari Thian Seng

Cie-ku cuma tecu sebagai seorang Bengcu tidak seharusnya mementingkan diri sendiri dan menghilangkan kepercayaan orang lain oleh karena itu tecu terpaksa bergebrak melawan sute.

Ehmmmm... perkataanmu ini memang rada cengli Hong Cioe manggut-manggut. Hu Pak Leng tertawa tawar kembali ujarnya. Kepandaian silat dari sute sudah peroleh kemajuan yang amat pesat sehingga memaksa tecu mau tak mau harus mengeluarkan ilmu jari Thian Seng Cie untuk mencari kemenangan susiok tentunya kau orang tua tahu bukan setelah jari Thian Seng Cie dilancarkan maka amatlah sulit untuk dikuasahi seketika itu juga apa lagi tecu pun hanya menggunakan empat bagian tenaga pukulan rasanya semakin sulit iagi untuk menarik kembali serangan tersebut oleb sebab itulah sute jadi terluka.

Ilmu jari sakti Thian Seng Cie Kang merupakan ilmu sakti andalan suhu sudah tentu sutemu tak akan kuat untuk menahan serangan tersebut, kata Hong Cioe tersenyum.