-->

Adji Tameng Wadja

Pengarang : Harjanto PS
I. P A S U K A N S I N G A S A R I.

■■■■■

Hari masiH pagi. Matahari baru saya terbit. Disebuah lapangan yang biasa dipergunakan untuk berlatih para prajurit Kraton, terlihat dua orang yang mengrmakan pakaian kepra djuritan tengah berbicara dengan asyik.

„Kakang Lembu Cemani, apakah kau jadi diberangkatkan ke Blambangan?" bertanya Windu Segara, salah seorang dari prajurit tadi.

Laki-laki yang dipanggil dangan nama Lembu Cemani, yang memang berkulit hitam, tidak segera menjawab, melainkan hanya menatap kearah kawannya yang berusia lebih muda itu.

Windu Segara, disamping masih muda juga memiliki wajah yang cakap. Bentuk tubuhnya tidak seberapa besar, tetapi nampak kokoh kuat.

„Ya, adi windu Segara. Saya termasuk diantara pasukan Wiraraja yang diberangkatkan." jawab Lembu Cemani setelah terdiam beberapa saat.

„Jadi kalau begitu Sri Sultan Agung sendiri yang akan memimpin penyerangan ini." kata Windu Segara.

„Ya. Adi Windu Segara. Apabila Sri Sultan Agung tidak memimpin, maka pasukan Wirarajasa pasti tidak diberangkatkan." demikian Lembu Cemani meneruskan keterangannya." Hanya saya tidak semua pasukan Wiraraja diberangkatkan. Sebagian masih tetap berada di Karta untuk menjaga keselamatan Keraton dan keselamatan pribadi Putra Mahkota yang memegang tampuk pemerintahan selama Sri Sultan memimpin penyerangan ini."

Selama lembu Cemani berbicara, Windu Segara memperhatikan raut wajah kawannya itu. Dilihatnya wajah laki-laki tinggi besar itu nampak murung.

Hal itu dapat difahami oleh Windu Segara. Karena dengan diikut sertakannya pasukan Wiraraja dalam penyerangan ke Belambangan ini, sekali lagi Lembu Cemani harus rela meninggalkan anak bini, demi menjalankan tugas negara.

Diam-diam Windu Segara menaruh kasikan pada Lembu Cemani.

Dengan keberangkatannya ke Belambangan nanti, entah untuk keberapa kali Lembu Cemani harus meninggalkan anak bininya. Dan apakah ia akan kembali dalam keadaan segar bugar, hal inipun sekali lagi merupakan pertanyaan, seperti halnya keberangkatannya pada waktu- waktu yang lampau.

„Ah, adi Windu Segara. Bila aku tahu begini jadinya, dulu aku akan memilih menjadi anggota pasukan Singasari." terdengar kata Lembu Cemani dengan tiba-tiba dengan nada yang aneh.

Kata-kata itu menyebabkan Winda Segara tersentak Dipandanginya Lembu Cemani dengan sikap heran. Tiba-tiba, entah ini apakah hanya menurut pandang matanya, ia melihat sekilas senyum disudut bibir Lembu Cemani.

Dan seketika rasa belas kasihan yang tadi tertuju pada Lembu Cemani seketika lenyap, lenyap bagaikan mega tersapu angin.

„Apakah kakang menyesal?" demikian kata Windu Segara dengan nada suara dalam.

Kali ini Lembu Cemani yang tersentak.

„Menyesal? Maksudmu adi Windu Segara?"

„Apakah kakang menyesal telah menjadi anggota pasukan Wiraraja?"

Jawaban itu membuat Lembu Cemani menatap Windu Segara dengan pandang mata yang tajam.

„Saya tidak pernah berkata begitu adi Windu Segara?" berkata Lembu Cemani dengnn nada kurang senang.

„Tetapi kenapa tadi kakang bicara tentang salah pilih?"

„Itu tidak berarti bahwa saya menyesal menjadi anggota pasukan Wiraraja.

„Lantas, kalau begitu apa maksud kakang?" Lembu Cemani bungkam.

„Katakan kakang Lembu Cemani. Apa maksud kakang dengan kata- kata tadi. Windu Segara penegasan.

Lembu Cemani tetap diam. Hanya pandang matanya yang tajam menatap Windu Segara.

„Apakah dengan kata-kata tadi kakang bermaksud merendahkan kedudukan prajurit Singasari?"

„Adi Windu Segara, kau berwasangka yang bukan-bukan."

„Tidak kakang Lembu Cemani. Aku tidak berprasangka. Aku tahu itulah maksud kakang. berkata Windu Segara dengan tegas.

Sejenak kedua orang itu terdiam.

„Baiklah, adi Windu Segara. Kalau begitu tafsiranmu, sudahlah" berkata Lembu Cemani sambil berpaling ke-arah jalanan.

Saat itu suasana dijalanan masih sepi. Belum nampak seorangpun yang berlalu ditempat itu. Sehingga tidak ada alasan sedikitpun bagi Lembu Cemani untuk memalingkan muka.

Windu Segara sangat tertusuk oleh sikap Lembu Cemani itu. Ia merasa diremehkan.

Sikap Lembu Cemani yang semacam itu memang sudah lama dirasakannya.

Lembu Cemani adalah anggota pasukan Wiraraja. Tugas utama pasukan Wiraraja adalah menjaga keselamatan keraton dan keselamatan pribadi raja. Oleh karena itu walaupun tidak pada setiap pertempuran pasukan ini diberangkatkan kemedan perang, tetapi setiap kali raja memimpin langsung pertempuran maka pasukan Wiraraja ikut diberang katkan. Ketika untuk pertama kali Lembu Cemani diangkat menjadi anggota pasukan Wiraraja. ia langsung terpilih untuk menjalankan tugas mengikuti Sri Sultan Agung dalam memimpin penyerangan kekota Surabaya. Begitulah berturut-turut Lembu Cemani selalu terpilih untuk mengikuti Sri Sultan Agung dalam melakukan penyerangan keberbagai kota didaerah Brang Wetan.

Semula ia menjalani tugas yang diberikan itu dengan semangat yang bernyala-nyala. Didalam setiap pertempuran Lembu Cemani selalu menunjukkan jasa yang tidak kecil Sehingga karenanya ia cepat naik pangkat.

Tetapi lama kelamaan timbul perasean aneh dalam dirinya. Apakah perasaan ini perasaan bosan? Ia tidak tahu dengan pasti.

Perasaan itu mulai timbul ketika ia melangsungkan perkawinan.

Baru beberapa hari ia menikmati hidup sebagai penginten baru, tiba-tiba ada tugas untuk mengikuti sri Sultan ke Batavia.

„Ah. Perang. Perang. Kenapa sri Sultan begitu gemar berperang." begitu gumamnya pada waktu itu. Apakah Sri Sultan dilahirkan kedunia hanya untuk berperang saja?"

Walau begitu akhirnya ia berangkat juga. Namun semangatnya sudah tidak seperti masa-masa yang lampau. Demikian pula untuk tugas- tugas yang selanjutnya.

Seringkali, pada waktu tengah mendapat tugas berjaga malam diperkemahan. Lembu Cemani duduk termenung memandangi bintang yang bertaburan dilangit.

„Ah, mengapa dulu kupilih jalan hidup sebagai seorang prajurit ?" demikian katanya dalam hati. „Apabila aku bukan seorang prajurit tentu pada malam-malam seperti ini aku berkumpul dengan anak isteri."

Sekali waktu, ketika ia tengah duduk bermenung seperti itu, teringatlah ia sesuatu.

„Ah, tidak. Walaupun aku seorang prajurit aku tidak perlu bersusah payah seperti ini, andaikata aku anggota prajurit Singasari. Bukankah mereka tidak pernah diberangkatkan kemedan perang. Tugas mereka hanya mengawasi keputren, menjaga keselamatan puteri-puteri keraton besarta harta bendanya." demikian bisik suara hatinya. „Ah, alangkah enaknya menjadi anggota prajurit Singasari.

Apa yang direnungkan Lembu Cemani malam itu menimbulkan perubahan dalam sikap Lembu Cemani kepada arggota anggota prajurit Singasari.

Sejak saat itu Lembu Cemani selalu menunjukkan sikap mengejek terhadap setiap orang anggota pasukan Singasari. Hal itu sangat nampak dari kata-kata yang diucapkau pada setiap anggota Singasari, baik kata- kata itu halus ataupun kasar.

Windu Segara sebagai anggota pasukan Singasari walaupun belum pernah diejek oleh Lembu Cemani, namun sikap Lembu Cemani pada rekan-rekannya sudah ia ketahui.

Dan agaknya pagi ini datang gilirannya untuk mendapat ejekan dari Lembu Cemani.

„Kakang Lembu Cemani." terdengar Windu Segara membuka bicara setelah kedua orang itu terdiam sesaat.

„Hmm." Lembu Cemani berdeham, Tetapi mukanya tetap dipalingkan kejalanan.

„Seharusnya kakang tidak bersikap demikian." berkata Windu Segara terlebih lanjut. Walaupun ia sangat tertusuk oleh sikap Lembu Cemani, namun ia tetap berusaha mengekang perasaannya. „Bukankah kita sama-sama prajurit Mataram yang menjaga keselamatan dan kesejahteraan."

Windu Segara diam sejenak kemudian katanya:

„Kukira kakang Lembu Cemani sependapat dengan saya bahwa jika sesama kita terjadi kejadian yang tidak diinginkan, kekompakan prajurit Mataram akan terganggu. lni tidak menguntungkan kita, kakang. Ini hanya akan menguntungkan lawan."

Mendadak Lembu Cemani berpaling. Sinar matanya nampak merah bernyala. Ditatapnya Windu Segara tajam-tajam. Seakan-akan apabila ia mampu, tubuh Windu Segara itu akap ditelannya bulat-bulat.

„Windu Segara, teruskanlah prasangkamu itu." katanya deangan nada dalam.

Windu Segara menggelengkan kepala.

„Tidak kakang. Sekali lagi kutegaskan. Saya tidak ber prasangka,” demikian kata Windu Segara dengan tegas. „Sudah banyak kawan kawan dari prajurit Singasari yang kau jadikan bulan-bulanan ejekan. Sindu, Prama, Julung dan masih banyak lagi nama nama yang panjang untuk kusebut satu persatu. Mereka semua pernah tertusuk perasaannya oleh ketajaman kata kakang Lembu Cemani."

Windu Segara kembali diam sesaat. Setelah menatap Lembu Cemani tajam-tajam barulah ia meneruskan kata-katanya. „Apakah kakang Lembu Cemani tetap menuduh saya berprasangka? Ataukah kakang menutupi kenyataan itu?"

Lembu Cemani tidak menjawab. Tetapi kali ini sikapnya terhadap Windu Segara berlainan. Ia tetap menatap Windu Segara dengan sinar mata berapi-api, hanya saya kali ini disudut bibirnya terkilas senyum yang aneh, senyum sinis.

Windu Segara juga melihat senyuman itu. Tetapi ia tetap mengekang perasaannya.

„Kakang Lembu Cemani, Kita sesama prajurit Mataram, Kuhargai kedudukan kakang sebagai anggota pasukan Wiraraja. Tetapi hargailah pula kami dari prajurit Singasari. Tugas kamipun berat, seberat tugas prajurit2 Mataram yang lain. Seberat beban tugas prajurit Wiraraja, prajurit Wira Singa dan prajurit Wiratani. Tiba-tiba teidengar Lembu Cemani."

„Huh. Apa susahnya menjadi anggota prajurit Singasari?"

Darah Windu Segara tersirap. Kata-kata itu biasa saja, tetapi nada suaranya sangat menyakitkan hati.

Tadi Windu Segara masih berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Tetapi ucapan Lemba Cemani itu sudah berlebih-lebihan, melampaui batas kesabarannya.

„Apa kata kakang?" kata Windu Segara dengan suara bergetar menahan perasaan marah.

„Apa susahnya bertugas sebagai pengawas keputren? Bukankah setiap hari berkesempatan melihat puteri - puteri yang cantik?"

Darah Windu Segara serasa menggelegak ketika mendengar kata- kata Lembu Cemani yang terachir itu.

„Kakang, mestinya sebagai orang yangg lebih muda aku harus menghormati kakang Lembu Cemani. Tetapi ternyata ucapan kakang Lembu Cemani tidak lebih dari ucapan seorang anak kecil."

„Habis kau mau apa?" potong Lembu Cemani.

„Kakang Lembu Cemani, jika Sindu, Prana, Julung dan yang lain- lain dapat bersabar. Saya, Windu Segara, tidak mengikuti jejak mereka. Saya akan menunjukkan bahwa anggota prajurit Singasari tidak boleh sembarangan dihita.” berkata Windu Segara dengan suara yang menggeledek.

Kali ini suasana betul-betul panas. Kedua orang muda itu sudah sama-sama bersiaga. Bila salah seorang dari padanya mulai bergerak maka jadilah peristiwa yang tidak diinginkan.

Tetapi tiba-tiba kesunyian tepian lapangan itu dipecahkan oleh suaraderap langkah kaki kuda.

Mau tidak mau kedua orang itu menoleh kearah suara derap kaki kuda itu.

Dalam jarak sepemanah terlihat seorang yang memacu kudanya dengan kencang. Kuda beserta penunggangnya itu semakin dekat. Dan Windu Segara segera mengenal sipenunggang, yang tidak lain dari pada Sindu, sahabat karibnya.

„Windu Segara, tadi kucari kau dirumahmu. tidak ada. Aku lantas menduga bahwa kau sedang berlatih raga dilapangan ini. Dugaanku ternyata benar.” teriak penunggang kuda itu ketika semakin dekat.

„Oh, kakang Lembu Cemani. Kaupun berada disini?" sapa Sindu ketika melihat Lembu Cemani yang berdiri tidak jauh dihadapan Windu Segara.

Sindu merasa bahwa agaknya antara kedua orang itu terjadi suatu hal yang tidak wajar. Namun begitu ia toh berkata:

„Windu Segara. Pagi ini ada panggilan Kilat buat seluruh anggota prajurit Singasari untuk segera berkumpul diistana. Sri Sultan akan memberikan pesan pesan berhubung dengan keberangkatan beliau beberapa hari ke Belambangan."

Semula darah Windu Segara serasa masih mendidih. tetapi ketika mendengar kata-kata Sindu, mau tidak mau gejolak kemarahannya menjadi mereda.

Windu Segara adalah seorang prajurit yang berpandangan luas, Ia dapat segera melakukan pilihan dari dua situasi yang ia hadapi.

Dan pagi ini pilihannya jatuh pada perintah kilat itu. Ia harus segera meninggalkan tempat itu walaupun dengan demikian ia harus menekan kemarahannya pada Lembu Cemani.

„Apakah harus sekarang kita berkumpul?" kata Windu Segara minta penegasan.

„Ya, sekarang Windu Segara. Tunggu apa lagi?“ jawab yang ditanya.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak:

„Ah, kebetulan Sindu! Kebetulan! Kedatanganmu tepat pada waktunya. Ha, ha, ha."

Suara tertawa terbahak-bahak yang diiringi dengan kata-kata yang bernada sinis itu datang dari Lembu Cemani.

Kemarahan Windu Segara yang mulai mereda dengan kedatangan Sindu itu kembali timbul. Untung ia segera ingat bahwa jika ia melayani Lembu Cemani maka hal ini berarti penundaan keberangkatannya keistana untuk menghadap Sri Sultan Agung.

Karena itu dengan sekuat kuasa ditahannya kemarahannya.

„Kakang Lembu Cemani. Kukira masih cukup banyak kesempatan untuk menyelesaikan persoalan ini." berkata Windu Segara dengan penuh kepastian.

Setelah itu tanpa menghiraukan Lembu Cemani lagi, Windu Segara lantas meloncat kepunggung kuda tunggang Sindu.

Sindu marilan kita-cepat cepat ke istana.

Semula Sindu nampak agak ragu-ragu. Percakapan antara Windu Segara dan Lembu Cemani itu terasa aneh. Oleh karena itu ketika Windu Segara berbicara dengan Lembu Cemani ia hanya menatap kedua orang itu silih berganti.

Tetapi ketika dilihatnya Windu Segara telah duduk dipunggung kuda tunggangnya maka mau tidak mau ia segera memacu kudanya untuk berlari meninggalkan tempat itu.

„Windu Segara. Apakah yang telah terjadi?” bertanya Sindu pada Windu Segara ketika sudah agak jauh dari lapangan tadi.

„Sudahlah Sindu. Lain kali saya kita bicara Yang penting. Pagi ini kita harus cepat-cepat menuju istana. jawab Windu Segara. „Oh ya dimana kita berkumpul."

„Dialun-alun."

Demikianlah kuda tunggang yang memuat dua orang prajurit Mataram itu berlari dengan kencang. Dalam waktu yang tidak lama sampailah dialun-alun.

Saat itu dialun itu sudah terlihat anggota-anggota prajurit Singasari berkumpul. Tumenggung Nirbita, pemimpin prajurit Singasari sudah nampak hadir pula ditempat itu.

Ternyata Windu Segara adalah prajurit yang terakhir datang Karena begitu Windu Segara datang, Tumenggung Nirbita lantas memerintahkan para prajurit Singasari untuk mengatur barisan. Diam-diam Windu Segara mengucapkan syukur, bahwa ia telah datang tepat pada waktunya. Kalau tadi ia tidak dapat mengendalikan diri pasti ia datang terlambat. Dan ia bukan saja mendapat marah, tapi kemungkinan besar akan menerima hukuman dari Tumenggung Nirbita.

Dalam waktu yang singkat Prajurit-prajurit Singasari itu sudah membentuk barisan yang rapi. Setelah itu mereka berbaris menuju ke Istana.

Kedatangan para prajurit itu disambut oleh Sri Sultan Agung disebuah bangsal.

Ketika melihat Sri Sultan Agung berdiri dihadapan mereka, sekalian anggota Prajurit Singasari memberi penghormatan dengan khitmatnya.

Sri Sultan Agung setelah membalas penghormatan itu dengan anggukan kepala lantas mulai bersabda:

„Para Perwira prajurit Singasari, kukira kalian sudah tahu apa sebabnya kalian kukumpulkan disini, setidak-tidaknya kalian sudah dapat menduga-duga. Apabila kalian menduga bahwa hal ini berhubungan dengan keberangkatanku ke Belambangan beberapa hari lagi, maka dugaan itu sama tidak salah. Seperti kebiasaan kita bahwa setiap kali aku sendiri yang memimpin pasukan maka pasukan Wiraraja, yang bertugas menjaga keselamatan keraton dan keamanan pribadiku, akan ikut diberangkatkan, walau tidak seluruhnya. Oleh karena itu seperti yang telah biasa kita kerjakan berhubungan dengan keberangkatan sebagian besar dari prajurit Wiraraja, maka tugas kalian sebagai anggota prajurit Singasari bertambah. Kalian tidak hanya bertugas menjaga keamanan keputren terapi diuga harus ikut serta menjaga keamanan keraton dan keamanan pribadi Putra Mahkota, yang menjalankan pemerintahan di Karta selama kepergianku."

Sehabis berkata begitu Sri Sultan Agung menyapukan pandang kesetiap wajah dari prajurit Singasari itu. Satupun tak ada yang ia lewati. Kemudian barulah beliau berkata lagi:

„Jadi kalian sebagai anggota prajurit Singasari harus membantu sisa prajurit Wiraraja yang tidak diberangkatkan ke Balambangan dalam menjaga keamanan keraton dan keamanan pribadi putra mahkota, Sanggupkah kalian!"

Tanpa berfikir lagi, sekalian anggota prajurit Singasari itu dengan suara serempak menyanggupkan diri.

Sekilas wajah Sri Sultan Agung nampak berseri-seri. Agaknya beliau merasa bangga terhadap semangat yang menggelora dari sekalian prajuritnya. Perang yang terus menerus melanda bumi Mataram itu ternyata tidak mampu mematahkan semangat juang prajurit-prajurit Mataram. Tidak peduli apakah mereka dari Prajurit Wararaja, Prajurit Wira Singa, ataupun prajurit Wiratani.

Dan kini suara kesanggupan yang diucapkan oleh anggota Prajurit Singasari cara serempak itu, cukup membuktikan bahwa juga mereka tidak patah semangat. Kemudian Sri Sultan Agung memberikan petuah-petuah yang pada pokoknya bertujuan untuk memelihara semangat sekalian prajurit Mataram dalam menghadapi bahaya dari luar kerajaan.

Sekalian anggota prajurit Singasari itu mendengarkan semua petuah itu dengan tekun.

Jauh sebelum tengah hari pasukan dibubarkan dan untuk hari itu kepada mereka diberi istirahat penuh sehari semalam, kecuali beberapa orang yang mendapat tugas jaga.

Windu Segara pun lantas pulang kerumah tinggalnya.

Sepanjang perjalanan pulang yang dipikirkannya hanyalah peristiwa pertentangannya dengan Lembu Cemani tadi pagi.

Peristiwa pagi itu menyebabkan terulangnya kembali segala pertanyaan yang muncul dari dalam batinnya. Mengapa Sri Sultan Agung menempatkan dia sebagai anggota prajurit Singasari?

Pertanyaan ini tidak akan timbul apabila ia tidak mengetahui, bahwa Sri Sultan Agung mengena sejarah hidupnya.

Windu Segara adalah putera Windu Prakosa, seorang perwira Mataram, anggota prajurit Wirasangan, yang banyak berjasa. Dalam setiap pertempuran, dimana Windu Prakosa terlibat didalamnya, laki - laki itu selalu menunjukkan kegagahberaniannya. Bahkan seringkali ia melakukan hal-hal yang langka dan sulit diterima dengan manusia.

Pernah Windu Prakosa terkepung seorang diri ditengah-tengah puluhan orang lawan. Semua kawan - kawannya sudah tidak mengharapkan untuk berjumpa dengan Windu Prakosa dalam keadaan hidup. Bahkan kematiannyapun mungkin dengan tubuh yang terluka parah arang kranjang. Tetapi sungguh heran kawan-kawannya ketika beberapa lama kemudian mereka melihat Windu Prakosa berdiri dihadapan mereka dengan tubuh segar bugar.

Peristiwa itu tidak terlupakan oleh setiap orang yang menyaksikannya. Mereka lantas mulai menduga-duga bahwa Windu Prakota memiliki aji Welut Putih.

Oleh karena itu ketika orang-orang itu mendengar berita gugurnya Windu Prakosa dalam menjalankan tugas menyerang Batavia, mereka sangat terkejut. Peristiwa gugurnya Windu Prakosa itu membangkitkan kesedihan yang mendalam disanubari rekan- rekannya.

Ketika peristiwa gugurnya Windu Prakosa sampai ditelinga ibu Windu Segara, maka wanita itu lantas jatuh sakit. Selang beberapa hari ia meninggal dunia mengikuti jejak suaminya.

Maka tinggallah Windu Segara sebagai anak yatim piatu. Untunglah ada seorang yang merasa belas kasihan pada Windu Segara dan kemudian mengangkatnya sebagai anak angkat. Orang itu adalah ki Wisrawa, kawan karib almarhum Windu Prakosa.

Ki Wisrawapun adalah bekas perwira wirasinga. Hanya tangannya terpolong dalam suatu perempuran di Batavia, ia lantas dibebas tugaskan.

Berkat usaha ki Wisrawa, Windu Segara mendapat kesempatan berlatih dalam olah keprajuritan. Ternyata ia menunjukkan bakat yang luar biasa. Dalam waktu singkat. Dasar dasar keprajuritan sudah ia kuasai.

Ketika Windu Segara menginjak dewasa ia lantas didaftarkan ki Wisrawa untuk menjadi prajurit Mataram.

Permohonan itu diterima dan Windu Segara ditempatkan dalam lingkungan prajurit Singasari.

Penempatan ini sudah barang tentu tidak menyenangkan hati Windu Segara, yang ingin mengikuti jejak ayahnya sebagai perwira Wira Singa.

Tetapi hal itu sudah menjadi keputusan Sri Sultan Agung, Windu Segara tidak berani membantahnya.

X X X

II. BERTEMU DENGAN KI BARGAWA.

■■■■■

Hari keberangkatas pasukan Mataram menyerang Belambangan telah ditentukan.

Sekalian rakyat Mataram mengetahui rencana rajanya. Oleh karena itulah pada hari keberangkatan pasukan Mataram ke Belambangan mereka beramai-ramai menghantar. Ada yang berdiri disepanjang jalanan yang diltewati pasukan dengan meneriakkan pekik-pekik perjuangan yang mengobarkan semangat Mataram yang berbaris dengan rapinya disepanjang jalan, tetapi adapula yang bersembahyang dimesjid-mesjid, langgar-langgar untuk memanjatkan doa agar pasukan Wirasinga, tetapi juga pasukan Wiratanl dan pasukan Wiraraja.

Sri Sultan Agung yang berada dibarisan paling depan di kawal oleh sepasukan lengkap pasukan Wiraraja.

Dibelakangnya nampak berbaris pasukan Wirasinga dengan tegapnya.

Dibarisan paling belakang terlihat pasukan Wiratani dengan wajah- wajah muda yang menunjukkan keteguhan dan keyakinan.

Ketika pasukan Mataram itu sudah sampai diperbatasan sekalian penduduk yang menghantar berhenti berjalan.

Namun begitu mereka tidak segera kembali kerumah mereka masing-masing sebelum pasukan Mataram menghilang dikejauhan.

Baru setelah kepulan debu yang ditinggalkan oleh derap pasukan Mataram itu lenyap, pulanglah mereka beramai-ramai kerumah mereka masing-masing.

Sedang yang hari itu harus bekerja segeralah menuju ketempat mereka bekerja. Kesibukan meceka sehari-hari tidak akan terpengaruh oleh suasana perang.

Mereka sudah terbiasa menghadapi hal itu,

X X X

Hari itu adalah hari kelima belas dari keberangkatan pasukan Mataram untuk menaklukkan Belambangan. Berita tentang hasil penyerangan belum terdengar.

Bagi Windu Segara malam itu adalah malam untuk beristirahat. Ia mendapat istirahat selama dua hari penuh. Biasanya Windu Segara selalu dapat memanfaatkan hari-hari seperti itu dengan sebaik-baiknya. Pada malam-malam seperti itu ia bisa tidur nyenyak sepuas-puasnya.

Tetapi malam itu sungguh berlainan. Tadi sehabis sholat Isja ia lantas membaringkan tubuh untuk melenakan diri. Namun usahanya sia - sia belaka. Pikirannya terganggu oleh aneka bayangan kehidupannya.

Terutama sekali peristiwa dengan Lembu Cemani dilapangan tempat mengadakan latihan ke prajuritan itu menimbulkan kesan yang aneh dalam dirinya. Kata-kata Lembu Cemani yang bernada ejekan itu sangat membekas dalam disanubarinya.

Oleh karena tidak dapat segera terlena, maka untuk mengurangi kegelisahan hatinya. Windu Segara lantas bangkit berdiri dan lantas berjalan keluar rumah.

Pekarangan rumah ayah angkatnya itu malam ini diterangi sinar bulan muda. Suasana terasa sunyi Yang kedengaran hanya suara cengkerik yang diselang seling dengan desir daun-daunan yang tertiup angina.

Dengan perasaan lesu Windu Segara lantas duduk di sebuah lincak yang tersedia dipekarangan rumah itu.

Pikirannya lantas melayang jauh kemedan pertempuran di daerah Belambangan. Terbayang dibenaknya betapa saat itu rekan-rekannya tengah berrgulat dengan maut.

„Ah, dalam saat-saat seperti sekarang ini mereka tengah berjajar- jajar berbaring dipesangarahan dengan senjata siap disamping mereka. Kalau mereka tidur tentu tidur mereka tidak nyenyak karena setiap kali muncul bahaya maut." demikian kata-kata Windu Segara didalam hati.

„Dan bahkan mungkin saat ini mereka tengah menghadapi suatu pertempuran dahsyat. Ya siapa tahu. Peperangan memeng tidak mengenal waktu."

Didalam benak Windu Segara segera membayangkan suasana perang dikala malam. Diantara dering suara senjata yang beradu pasti terdengar suara jeritan kesakitan. Dalam suasana seperti itu seringkali sukar membedakan lawan dan kawan Sehingga seringkali terjadi hal-hal yang tidak diiinginkan. Yaitu secara tidak sengaja seseorang binasa diujung senjata kawannya sendiri. Tetapi bagi Windu Segara hal semacam itu hanyalah bayangan belaka. Ia belum pernah mengalami saat saat semacam itu. Selama menjadi prajurit Mataram belum pernah ia dikirimkan kemedan perang.

„Ya, mereka tengah bergulat melawan maut. Tetapi aku, aku, aku

….. ” bisik Windu Segata didalam hati.

Tanpa terasa ia menghela nafas panjang.

Ditengah kesunyian malam suara helaan nafas itu terdengar nyata.

„Windu Segara. Kau belum tidur nak?" terdengar suara menyapa Windu Segara yang tengah duduk termenung itu. Dan suara inipun terdengar nyata.

Windu Segara kenal baik suara itu. Itulah suara Ki wisrawa ayah angkatnya, sahabat karib mendiang ayahnya. Oleh karena itu ia segera bangkit berdiri.

„Oh, bapa. Bapapun belum tidur." demikian katanya.

„Ya, nak. Aku biasa tidur hingga larut malam." jawab Ki Wisrawa." Tetapi kau seharusnya menggunakan malam ini sebaik-baiknya untuk beristirahat. Bukankah jika sedang bertugas juga malam dikeraton sering kali jaga semalam suntuk.

Windu Segara tidak segera menjawab, Karena ia tidak tahu bagaimana harus memberi jawaban. Apakah ia akan menceritakan segala hal yang baru saya menemui benaknya?

Ah, tidak. Tidak. Dia tidak ingin memberatkan pikiran ayah angkatnya, yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri.

Ketika Windu Segara tengah termangu-mangu itu mendadak terdengat Ki Wisrawa berkata :

„Windu Segara. Jangan kau kira bahwa aku tidak mengetahui apa yang kini tengah bergolak dalam hatimu."

Windu Segara tersentak. Tetapi Ki Wirsawa tidak menghiraukannya.

Ia meneruskan kata-katanya:

„Sejak beberapa hari yang terachir ini kulihat kau sering duduk termenung."

Sejenak ki wisrawa diam sehingga suasana disekeliling kedua orang itu terasa hening. Tetapi tidak lama kemudian terdengar Windu Segara berkata:

„Tidak bapa. Tak ada sesuatu yang kupikirkan."

„Windu Segara jangan berkata begitu. Berkatalah yang sebenarnya."

Windu Segara tersudut. Ia cukup tahu betapa besar kasih sayang Ki wisrawa kepadanya. Perlakuan orang tua itu kepadanya sudah seperti ayah sendiri. Karenanya ia tidak boleh membohonginya. Tetapi dilain fihak kalau ia menyatakan segala sesuatu yang tengah dipikirkannya maka ayah angkat itu tentu akan bersedih hati. Dan Windu Segara tidak menginginkan ki wisrawa bersedih hati.

„Baiklah, Windu Sagara. Jika kau tidak mengatakan apa yang tengah kau pikirkan, akulah yang akan menebak." berkata ki wisrawa setelah dilihatnya windu Segara diam saya.

„Windu Segara, aku tahu, bahwa yang kau renungkan adalah kedudukanmu sebagai anggota prajurit Singasari. Bukankah demikian.”

Darah Windu Segara tersirap. Ternyata ayah angkatnya dapat menebak dengan tepat apa yang tengah ia renungkan. Karena itu yang dapat ia perbuat hanyalah mengangguk dengan perlahan.

Melihat anggukan Windu Segara, ki Wisrawa yang semula menatap dengan pandang yang tajam, kini pandang mata itu mulai memudar. Dan kemudian terdengar ia menghela nafas panjang.

„Windu Segara demi kesejahteraan Mataram, jangan kau teruskan sikapmu itu. Jika setiap prajurit Mataram bersikap raga-ragu dalam menjalankan tugas. Maka Mataram akan lapuk dari dalam." berkata ki Wisrawa dengan nada perlahan.

Tetapi walaupun begitu kata-kata tadi ibarat sembilu yang menggeres gores Windu Segara.

„Bapa sama sekali aku tidak ragu-ragu dalam menjalankan tugas."

„Tetapi bukankah kau tidak puas dengan kedudukanmu?" Windu Segara mengangguk.

„Ketidak puasan itu akhirnya akan berkembang menjadi keragu- raguan dalam menjalankan tugas."

Tetapi bagaimana aku dapat puas dangan kedudukanku. Aku adalah putera Windu Prakosa, perwira Wirasinga yang kenyang dengan pertempuran dimedan perang. Tetapi kiri aku, aku, aku .. . . dikala kawan

-kawanku dari Prajurit Wiraraja, Wirasinga dan Wiratani bergulat dengan maut ditanah Belambangan aku hanya berpangku tangan sambil sesekali memandangi puteri-puteri keraton."

„Windu Segara. Kalau begitu kau meragukan kebijaksanaan Sri Sultan. Setiap kali beliau menempatkan seseorang, tentu beliau mempunyai alasan-alasannya."

„Tidak bapa. Aku kurang yakin apakah ini benar-benar tunjukan Sri Sultan."

„Maksudmu?"

„Ada seseorang yang membujuk Sri Sultan untuk mendudukkan diriku dalam lingkungan prajurit Singasari."

Saat itu walaupun sinar bulan yang menerangi pelataran tidak seberapa terang, namun Windu Segara sempat melihat perobahan diraut wajah ki Wisrawa.

„Windu Segara jangan kau mengira yang tidak tidak." Windu Segera menggeleng. Setelah itu ia berkata:

„Bapa sudah lami aku menunggu kesempatan semacam ini, sekarang barulah kesempatan ini datang." „Kesempatan yang bagaimana ?” kata ki Wisrawa dengan nada keheranan.

„Kesempatan untuk menanyakan sesuatu."

„Mengapa untuk mengajukan sesuatu pertanyaan saja mesti menunggu terlalu lama. Segeralah katakan apa yang akan kau tanyakan.”

„Bapa, adakah almarhum ayah mempunyai musuh?"

„Pertanyaanmu menggelikan Windu Scgara. Almarhum ayahmu adalah perwira wirasinga. Dalam setiap pertempuran ia selalu berada dibarisan paling depan. Sudah barang tentu banyak musuhnya."

„Maksudku musuh dikalangan pasukan Mataram sendiri. Atau setidak-tidaknya orang yang memiliki sikap permusuhan terhadap almarhum ayah."

Dahi ki Wisrawa berkerut.

„Windu Segara. Pertanyaanmu itu membingungkan. Aku tidak mengerti maksudmu mengajukan pertanyaan itu." demikian kata ki Wisrawa dengan nada suara yang menujukkan ketidaksenangan.

„Menurut hematku pasukan Mataram adalah pasukan yang kompak. Rasa benci membenci dikalangan sendirilah tidaklah ada."

„Tetapi bapa, benci membenci karena urusan pribadi saya kira ada.” Ki Wisrawa menatap Segara tajam-tajam.

„Windu Segara, kalau yang kau maksud kebencian karena soal pribadi, maka menurut sepengetahuanku orang yang mempunyai sikap permusuhan pada ayahmu itu juga tidak ada.”

Jawaban yang diberikan Ki Wrisawa itu menurut Windu Prakasa tidak bersesuain dengan raut wajah yang ia lihat. Agaknya ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh Ki Wisrawa. Karena itulah Windu Segara meragukan kebenaran jawaban itu.

Windu Segara tetap berpegangan teguh pada pendiriannya. la tetap berpendapat, bahwa didalam pengakatannya sebagai anggota Prajurit Singasari ada seorang yang bermain dibelakang layar. Seseorang yang tidak menyukai atau setidak tidak nya menaruh iri pada ayahnya, Windu Prakosa. Kemudian orang itu menumpahkan kebenciannya pada dirinya.

Dengan menempatkan dia sebagai anggota prajurit Singasari, maka tidak ada kesempatan baginya untuk membaktikan diri dimedan perang. Sehingga ia tidak sempat mengikuti jejak ayahnya.

„Sudahlah Windu Segara, tak perlu kau melibatkan dirimu dalam dugaan-dugaan yang tidak beralasan." terdengar ki Wisrawa berkata.

„Kini malam telah larut. Istirahatlah."

„Bila bapa sudah mengantuk, silakan bapa beristirahat,” Aku masih belum mengantuk." jawab Windu Segara.

Ki Wisrawa tidak mendesak. Ia lantas berjalan masuk kerumah.

Kini tinggallah Windu Segara seorang diri duduk termenung diatas lincak itu.

Kali ini yang mengganggu benaknya adalah kata-kata Lembu Cemani tempo bari.

„Apa susahnya bertugas sebagai pengawas keputren? Bukankah setiap hari berkesempatan melihat puteri - puteri yang cantik?”

Kata-kata Lembu Cemani itulah yang dulu menyebabkan darah Windu Segara menggelegak. Dan sekarang kata - kata itu kembali mengiang dirongga telinganya.

„Ah, dia. Dia tak tahu bahwa pekerjaan seorang anggota Prajurit Singasari tidak seringan yang dia sangka." Dia mengira, bahwa pekerjaan Prajurit Singasari hanya duduk termenung sambil memandangi puteri- puteri cantik. Dia tak tahu bahwa menjadi anggota Prajurit Singasari sering kali juga menghadapi ancaman bahaya, bahkan jika tidak kuat imannya ia akan terjerumus kejurang bencana." demikian gumam Windu Segara.

Dan membayanglah pengalaman yang baru saja ia alami beberapa hari yang lalu.

Hari itu adalah hari kesepuluh keberangkatan pasukan Mataram menyerang Belambangan. Windu Segara mendapat tugas untuk berjaga malam. Dan malam itu puri yang dijaga adalah puri tempat kediaman Puteri Sekar Pandan, selir sri Sultan Agung yang masih muda belia.

Sindu teman Windu Segara berjaga malam belum datang. Sedang hujan lebat yang tadi malam turun berhasil menciptakan udara malam yang dingin.

Malam sudah mulai larut tetapi Sindu belum juga kelihatan batang hidungnya.

„Ah, kemana gerangan orang itu?“ gerutu Windu Segara sambil menahan hawa yang dingin menusuk tulang.

Tetapl dibalik perasaan mengkalnya itu, timbul juga rasa khawatirnya.

„Ah, siapa tahu kalau Sindu atau keluarganya sakit secara mendadak " demikian pikirnya.

Sejenak Windu Segara memandang keangkara. Ternyata tak sebuah bintangpun yang kelihatan. Awan hitam masih menggantung dilangit. Mungkin malam ini hujan akan turun kembali.

Tiba-tiba dari dalam puri keluarlah seorang emban yang langsung menjumpai Windu Segara.

„Kakang Windu, sang Putri memanggilmu." demikian kata emban

tadi.

Windu Segara heran. Walau begitu ia toh bangkit juga dan berjalan

kearah pintu puri. Sesampai diruangan dalam dilihatnya sang putri Sekar Pandan tengah berdiri didekat jendela. Emban yang tadi memanggilnya sudah masuk keruang belakang.

„Tuan putri memanggil hamba?"

„Ya, Windu Segara. Jendela ini sukar sekali ditutup." jawab putri Sekar pandan. Suaranya merdu merayu. „ Mungkin karena pengaruh hujan kayu jendela ini menjadi seret."

„Baik tuan puteri akan kucoba untuk menutupnya." jawab Windu Segara sambil berjalan mendekati jendela.

Ketika Windu Segara berjalan mendekati jendela itu puteri Sekar Pandau tetap berdiri pada tempatnya semula tadi. Ia tidak bergeser sedikitpun.

„Maaf tuan puteri." demikian kata Windu Segara agak ragu-ragu untuk meneruskan langkah.

„Lekaslah kemari jangan malu-malu." berkata Puteri Sekar Pandan sambil tersenyum.

Walau masih ragu-ragu, Windu Segara terus berjalan mendekati jendela.

Ketika windu Segara melirik kearah puteri Sekar Pandan dilihatnya puteri itu tersenyum kepadanya, senyum yang aneh. Dan bersamaan itu bau yang wangi menyambar hidungnya.

Saat itu Windu Segara sudah menarik daun jendela untuk dikatupkan dan . . . . ia merasa heran. Dan jendela itu dengan mudah dikatupkan, tidak seret sedikitpun. Ia mula mencium adanya sesuatu yang tidak beres.

Mendadak bau wangi yang tadi tercium olehnya semakin merangsang. Pada ketika lain ia merasakan tangan halus meraba lengannya.

„Windu Segara. Kau sangat kuat." terdengar suara lembut. Suara itu terdengar dekat, sangat dekat dengan lobang telinganya.

Peristiwa itu betul - betul mengejutkan Windu Segara. Sehingga karenanya untuk sesaat ia terpukau.

„Windu Segara. Tubuhmu amat kokoh." terdengar sekali lagi sang puteri berbisik.

„Tu ….tuan puteri. Hamba harus segera kembali kpos penjagaan." demikian kata Windu Segara setelah berhasil menguasai diri.

„Windu Segara, udara sangat dingin. Temanilah aku!" kata puteri Sekar pandan sekali lagi.

Windu Segara terdiam. Dan bau wangi yang merangsang itu menimbulkan perasaan aneh.

Tetapi mendadak seperti ada suara yang memperingatkan dirinya:

„Windu Segara. Cepat-cepatlah keluar dari ruangan ini. Cepat, sebelum terlambat."

Karena itulah ia segera berkata:

„Sang puteri. Maafkan. Diluar kawan saya tengah menanti."

Sehabis berkata begitu ia cepat cepat mengundurkan diri, tanpa berani menatap lagi wajah puteri Sekar pandan.

Ia tidak menghiraukan lagi apakah puteri Sekar Pandan akan marah ataupun tidak. Satu-satunya yang ia inginkan ialah cepat- cepat meningggalkan tempat itu. Sampai diluar Sindu belum datang. Windu Segara gelisah. Jangan- jangan puteri Sekar Pandan akan mengejarnya keluar puri.

Tetapi ternyata yang ditakutkan tidak terjadi. Puteri Sekar pandan tidak mengejar keluar.

Tak lama kemudian Sindu datang.

„Hai kemana saja kau Sindu. Mengapa malam begini baru datang." kata Windu Segara dengan nada mengkal.

„Windu. Aku terpaksa harus menunggu anakku yang sakit mendadak. Kini ia telah dapat tidur dengan nyenyak maka barulah aku enak hati untuk meninggalkannya." demikian jawab Sindu.

Windu Segara percaya. Karena selama bergaul dengannya Sindu belum pernah membohong.

Demikian peristiwa yang dialami Windu Segara lima hari berselang.

Suatu pengalaman yang tidak dapat ia lupakan.

Setiap kali ia mengingat peristiwa itu keringat dingianya mengalir. Dan malam itupun peristiwa itupun kembali membayang dibenak

Windu Segara.

Hingga larut malam barulah windu Segara masuk kedalam kamarnya dan kemudian membaringkan diri.

X X X

Pagi hatinya seperti biasanya pada hari hari libur, Windu Segara pergi berburu kehutan, yang terletak tidak berapa jauh dari Karta.

Matahari belum seberapa tinggi merambat diangkasa, tetapi dengan menyandang anak panah Windu Segara telah berangkat kehutan.

Tetapi rupanya hari itu hari yang sial baginya. Biasanya sebelum tengah hari ia sudah memperoleh kijang ataupun kelinci. Namun kali ini hingga tengah hari belum seekorpun hasil buruan yang ia peroleh.

Jangankan kijang ataupan kelinci, Seekor burungpun tidak ia lihat. Windu Segara heran. Kemanakah gerangan hewan - hewan ini.

Padahal pada saat-saat seperti itu biasanya ia sudah menguliti hasil buruannya untuk dimasak dan dijadikan sarapan siang.

Dengan langkah yang mulai lesu Windu Segara terus menerobos kedalam hutan. Dan akhirnya ia menginjak bagian hutan yang belum pernah ia injak.

Tetapi oleh karena hasratnya untuk memperoleh hasil buruan sangat besar, maka tanpa ragu-ragu Windu Segara lantas masuk kebagian hutan itu.

Belum lama ia melampaui daerah itu mendadak ia mendengar suara erangan.

Semula ia kurang percaya, tetapi setelah diperhatikannya ternyata ia tidak salah dengar. Memang suara yang ia dengar itu ialah suara erangan.

Maka cepat-cepat Windu Segera berjalan kearah suara erangan tadi.

Tak berapa lama kemudian sampailah ia kesebuah tempat yang

agak lapang dibagian hutan itu. Suara erangan itu agaknya datang dari tempat itu.

Dan dugaannya benar. Ketika pandang matanya disapukan kebagian hutan yang lapang itu, matanya tertumbuk pada sessosok tubuh yang terbaring tidak berdaya.

Tanpa menunda-nunda lagi Windu Segara lantas bergegas mendekati tubuh yang terbaring tidak berdaya itu.

Tubuh yang terbaring tidak berdaya itu ternyata tubuh seorang laki- laki yang sudah agak lanjut. Ketika Windu Segara meraba tubuh laki - laki tua itu, ia mejumpai tubuh yang luar biasa panas.

„Orang menderita demam, Aku harus segera menolongnya. Tetapi bagaimana caraku menolong?" kata Windu Segara dalam hati.

Pada saat Wiudu Segara tengah kebingungan untuk memberikan pertolongan mendadak orang tua itu nampak bergerak-gerak.

Dengan harap-harap cemas Windu Segera memperhatikan wajah orang tua itu. Mendadak dilihatnya orang tua itu membukakan matanya. Matanya nampak sayu.

Ketika Windu Segara tengah memandangi orang tua itu dengan perasaan haru, orang tua tadi nampak menunjuk-nunjukan jarinya kesesuatu arah.

Windu Segara segera mengikuti arah yang ditunjuk oleh orang tua itu. Tetapi Windu Segara tidak menjumpai sesuatu pun yang istimewa.

Windu Segara cepat berkata:

„Apa yang bapa cari."

Orang tua itu tidak memberikan sesuatu jawaban. Ia hanya mengerang-erang dan kemudian menggelengkan kepala.

„Agaknya tidak ada sesuatu yang dicari-cari oleh orang tua itu.

Tetapi mengapa ia menunjuk-nunjuk kesesuatu arah? Apa maksudnya?" Selang beberapa lama barulah la menemukan jawaban.

„Ah. Aku sungguh tolol. Orang tua itu pasti menunjukkan arah tempat kediamannya.

Dengan cekatan Windu Segara lantas mendukung tubuh orang tua itu dan kemudian membawanya kearah yang ditunjuk.

Bagian dari hutan yang dilalui kali ini penuh dengan semak belukar.

Sehingga karenanya Windu Segara harus berhati-hati. Karena bila tidak berhati-hati kulitnya akan tergores eleh duri-darian yang banyak terdapat disitu.

Tak lama kemudian sampailah ia kesuatu tempat yang jarang ditumbuhi pepohonan.

Windu Segara mulai ragu-ragu. Apakah dugaannya tadi benar? Ketika ia tengah ragu-ragu mendadak terdcngar suara lirih.

„Bukit ….” Hanya itulah kata yang ia dengar. Setelah itu hanyalah erangan panjang yang ia dengar.

Walaupun demikian Windu Segara agak merasa lega. Ia dapat menafsirlan maksud orang tua itu. Yang dimaksudkan orang tua itu pastilah bukit yang terdapat hutan itu. Karenanya Windu Segara terus berjalan.

Tak lama kemudian sampailah ia diluar hutan. Tak jauh dari hutan nampaklah tempat yang agak ketinggian. Mungkin tempat itulah yang dimaksud oleh orang tua itu.

Dengan tidak mengenal payah Windu Segara lantas mulai berjalan mendaki bukit itu sambil terus mendukung orang tua tadi.

Dan alangkah gembira Windu Segara ketika ia melihat kearah beberapa langkah diHadapannya.

Apa yang ia lihat.

Tidak lebih sepulUh langkah didepannya, WiNdu Segara melihat sebuah rumah, atau tepatnya sebuah gubuk.

„Mungkin gubuk inIlah tEmpat kediaman orang tua ini." demikian pikir Windu Segara.

Walau ia telah berfiklr begitu toh ia berkata juga:

„Bapa, apakah gubuk itu rumah tinggal bapa?"

Orang tua yang terkulai didalam pondongan Windu Segara itu nampak mengangguk. Walaupun anggukan itu perlahan tetapi sudah cukup bagi Windu Segara. Bahwa orang tua itu membenarkan terkaannya.

Dengan penuh semangat Windu Segara berjalan kearah gubuk tadi. Pintu depan gubuk itu ternyata tidak terkancing. Dengan mudah

Windu Segara berhasil mendorongnya hingga membuka.

Sejenak Windu Segara memperhatikan keadaan dalam gubuk itu yang memiliki peralatan yang tidak banyak. Hanya balai-balai, meja dan sebuah rak. Kecuali meja, yang lain-nya terbuat dari bambu.

Segera Windu Segara membaringkan tubuh orang tua itu kebalai- balai bambu tadi. Dan terdengarlah suara berderak. Hal ini membuktikan bahwa balai-balai berusia cukup tua.

Begitu tubuhnya terbaring orarg tua itu segera menunjuk kesuatu

arah.

Windu Segara menoleh kearah yang ditunjuk, yang tidak lain dari

pada rak bambu tadi. Diatas rak bambu itu terdapat sebuah guci.

„Mungkin guci itulah yang dimaksud olehnya?" demikian pikir Windu Segara.

Cepat Wiadu Segara mengambilnya dan kemudian segera diserahkan pada orang tua itu.

Tetapi mendadak orang tua itu memberi isyarat. Dari gerak isyarat itu Windu Segara dapat menduga bahwa orang tua itu bermaksud menyuruhnya untuk membuka tutup guci itu. Windu Segara segera membukanya.

Setelah berhasil membuka, barulah Windu Segara mengetahui bahwa guci itu berisi butiran-butiran.

„Ah, mungkin ini adalah jamu yang sudah dipulung-puluNg dan kemudian dikeringkan." pikirnya.

Kembali terlihat orang tua itu menunjuk-nunjuk kesuatu arah. Kali ini kearah meja.

Ketika Windu Segara menolek kearah meja, ia melihat sebuah kendi terdapat diatas meja.

„Oh. bapa haus?" tanya Windu Segara sambil berjalan kearah meja untuk mengambil kendi itu, yang ternyata masih penuh air. Windu Segara menoleh kekiri kekanan. Ia mencari sesuatu yang mungkin dapat dipergunakan sebagai alat untuk memberi minum.

Akhirnya ia mendapatkan sebuah tempurung kecil.

Oleh karena tempurung itu kotor, maka terpaksa ia membasuhnya dulu. Kemudian barulah ia menuang sedikit air kedalam tempurung itu, dan meminumnya pada orang tua tadi.

Agaknya orang tua itu benar-benar haus. Karena dalam sekejap habislah ia separoh tempurung.

Setelah itu Windu Segara mengambil sebuttr jamu pulung dari dalam guci tadi. Dilumatkannya jamu pulang itu di tempurung tadi dan kemudian setelah dituangi sedikit air lantas diminumkan pada orang tua tadi. tadi. Ternyata jamu yang dilumatkan itu terminum habis oleh orang tua

Setelah meminum habis orang tua tadi memejamkan mata. Sebentar kemudian terdengarlah helaan nafasnya yang beraturan.

Windu Segara merasa lega. Alunan nafas demikian membuktikan bahwa orang tua itu tertidur dengan nyenyaknya.

Dengan perasan kasihan Windu Segara memandangi tubuh tua yang kini terlena itu.

„Agaknya orang tua ini mendiami rumah ini seorang diri. „Apakah ia tidak bersanak saudara?" demiklan pikir Windu Segara.

Mendadak teringatlah Windu Segara akan keadaan dirinya Ia datang kehutan untuk berburu. Dan sebelum mcmperoleh hasil buruan ia sudah menjumpai tubuh orang tua itu.

„Apakah aku akan meninggalkan orang tua ini?" pikir Windu Segara.

Tetapi setelah ia mempertimbangkan lagi maka ia lantas mengambil keputusan untuk menunggui orang tua itu hingga ia terjaga. Ia ingin mengetahui bagaimana perkembangan kesehatan orang tua itu. Jangan- jangan jika ia menimbulkannya begitu saja penyakit orang tua tadi akan menjadi-djadl.

Kemudian ia meraba tubuh orang tua itu ternyata panas badannya sudah mulai menurun.

Windu Segara merasa lega, disamping merasa kagum terhadap kemustajaban dari pulung tadi. Kemudian Windu Segara bangkit berdiri dan berjalan kea rah pintu depan.

„Ah, orang tua ini betul-betul pandai memilih tempat tinggal.Pemandangan disini betul-betul indah." berkata Windu Segara dalam hati. Tapi kenapa dia memilih jalan hidup seperti ini. Menyendiri dan bersunyi-sunyi? Apakah ia tidak punya sanak keluarga?”

Ketika Windu Segara menyapukan pandang kesekeliling gubug itu, ia melihat sebidang tanah yang ditanami dengan aneka tanaman palawija .

„Agaknya pekerjaan berkebun inilah yang menjadi samben orang tua ini."

Kemudian Windu Segara berjalan mengelilingi tempat itu. Belum seberapa jauh ia mendengar suara gemericiknya air yang mengalir. Dan tak lama kemudian Windu Segara menjumpai sebuah sungai kecil . Air sungai itu amat jernihnya."

„Ah, pantas, Orang tua kerasan tinggal ditempat ini. Kiranya ditempat ini terdapat sungai yang jernih airnya.” pikir Windu Segara.

Saat itu Matahari bersinar dengan terik. Sehingga keadaan hawa terasa menggerahkan. Dan Windu Segara merasakan juga hal itu.

Karenanya ketika dihat air yang sangat jernih itu timbul niatnya untuk mandi. Dengan segera dilepaskannya semua pakaian yang melekat ditubuhnya dan kemudian terjun kedalam sungai kecil itu.

Selesai mandi Windu Segara merasakan kesegaran yang luar biasa.

Kemudian ia segera kembali kegubug tempat tinggal orang tua tadi.

Sesampai digubug itu dilihatnya orang tua itu masih tidur dengan nyenyaknya.

Terpaksa Windu Segara menyabarkan diri, untuk menanti hingga orang tua itu terjaga dari tidurnya. Untung Windu Segara tidak menanti terlalu lama, karena tiba-tiba orang tua tadi membukakan mata.

Begitu membukakan mata orang tua itu menatap Windu Segara tajam-tajam. „Kau, menungguiku, angger." bertanya orang itu dengan suara yang lemah.

„Ya, bapa. Bagaimana keadaan bapa kini? Apakah sudah terasa ringan?"

„Ya, angger. Panas badanku sudah turun banyak." jawab orang tua tadi. „Kukira kau tidak perlu menungguiku lagi."

„Jika demikian saya akan meninggalkan bapa, te.pi jika tidak ada aral melintang, besok saya akan hembali kesini lagi.”

„Tetapi, angger. Kuminta angger merahasiakan pertemuanku denganmu. Jangan katakan pada siapapun juga, sekalipun pada keluarga terdekat, angger.” kata orarg tua itu ketika melihat Windu Segara berpamit.

Walaupun hatinya diliputi perasaan heran, namun Winda Segara menyanggupi perintah orang tua itu.

Windu Segara sampai ditempat kediamannya ketika matahari sudah hampir tenggelam tanpa membawa hasil buruan. Sudah barang tentu Ki Wisrawa heran. Ketika keheranannya itu diutarakan pada Windu Segara, pemuda itu menjawab sekenanya.

Malam harinya sekali Windu Segara tidak dapat memicingkan mata, tetapi kali ini yang mengganggu pikirannya adalah orang yang ia jumpai dihutan tadi. Siapakah gerangan orang tua itu? Kenapa ia memilih jalan hidup bersunyi-sunyi seperti itu?

Pagi harinya pagi-pagi benar ia sudah berangkat kembali kegubug orang tua itu. Untuk orang tua itu ia sengaja membawakan bubur yang masih hangat dan sedikit buah-buahan.

Sudah barang tentu orang tua itu sangat berterima kasih.

Bagi Windu Segara yang menyenangkan hatinya bukan ucapan terima kasih orang tua itu. melainkan ketika ia melihat keadaan orang tua itu yang sudah berkembang baik. Kali ini orang tua itu sudah dapat bangkit.

Begitulah, pada hari-hari berikutnya, setiap pagi Windu Segara selalu meluangkan waktu untuk menyambangi orang tua itu, yang belakangan mengaku bernama Bargawa. Ki Bargawa.

Kian hari keadaan ki Bargawa semakin berkembang baik Hal ini semakin menggembirakan Windu Segara.

Pada hari kelima kesehatan ki Bargawa telah betui-betul pulih.

Walau begitu hubungan Windu Segara dengan orang tua itu tidak berhenti sampai disitu. Setiap kali ada ke sempatan, Windu Segara selalu meluangkan waktu untuk berkunjung pada ki Bargawa.

Hanya saja kunjungan Windu Segara pada orang tua itu, suatu ketika harus terhenti karena adanya suatu peristiwa diluar dugaan, yang menimpa diri Windu Segara.

X X X

III. PUTRI SEKAR ASIH.

■■■■■

Malam itu Windu Segara mendapat tugas berjaga malam. Puri yang menjadi bebannya malam itu adalah puri tempat kediaman dari putri Sekar Asih, salah seorang putri kesayangan Sri Sultan Agung, walaupun ia hanya berasal dari selir.

Oleh karena itu tidaklah aneh untuk penjagaan puri itu disediakan pos yang istimewa. Setiap malam prajurit Singasari yang berjaga dipos penjagaan itu sebanyak enam orang.

Malam itupun demikian pula halnya. Windu Segara di kawani oleh lima orang kawannya.

Suasana malam yang amat dingin itu dilewati mereka dengan ber- omong2.

Mendadak ketika mereka tengah beromong-omong muncullah seorang yang mereka kenal sebagai prajurit Wiraraja. Kehadiran anggota prajurit Wiraraja itu betul-betul mengherankan keenam orang ilu.

„Prana, kau beserta keempat orang kawanmu diminta datang kepos penjagaan Wirarejan, ada suatu hal penting yang akan dibicarakan oleh Tumenggung Suradirja. Sedang Windu Segara biarlah ditempat itu.”

Prana saling pandang dengan keempat orang kawannya. la merasa heran menerima panggilan dari Tumenggung Suradirja, pimpinan dari prajurit Wiraraja yang tidak diberangkatkan kemedan perang. Beum pernah ia mendapat panggilan saperti itu. Namun walau begitu mereka berangkat juga.

Kini tinggallah Windu Segara seorang diri. Didalam hati ia mengumpat pada prajurit Wiraraja yang menyebabkan ia ditinggalkan seorang diri ditengah malam yang dingin itu. Terapi dibalik perasaan mengkal itu, Windu Segara merasa heran. Apakah gerangan sebabnya Tumenggung Suradirja memanggil kelima orang temannya? Mengapa bukan salah seorang saja ? Dan persoalan penting apakah yang akan dibicarakan?

Semula disabar-sabarkannya hatinya menunggu kedatangan kembali kelima orang temannya itu. Tetapi akhirnya ia merasa jengkel karena setelah sekian lama menunggu kelima orang kawan itu belum kembali juga.

Mendadak terdengar suara jerit tertahan, jerit yang bernada ketakutan yang amat sangat.

Tanpa berfikir lagi dengan suatu loncatan panjang Windu Segara meloncat kearah suara jeritan tadi.

Pagar bata puri yang cukup tinggi itu diloncatinya, Sekejap saja ia sudah bertengger diatas tembok. Sejenak diperhatikannya keadaan tempat itu, disapukannya pandang matanya kesetiap sudut keputren tempat kediaman puteri Sekar Asih, dibukanya telinganya lebar-lebar untuk menangkap setiap bunyi yang mencurigakan.

Tetapi untuk beberapa saat ia tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan. Ia mulai ragu-ragu apakah suara tadi hanya hasil khayalanya saja.

Ah tidak. Ia tahu pasti bahwa tadi ia mendragar suara jeritan tertahan yang bernada ketakutan. Dan ia yakin bahwa suara jeritan itu berasal dari tempat itu. Tetapi kenapa tempat itu kini sunyi-sunyi saja?

Tengah Windu Segara dalam keadaan ragu-ragu mendadak suara jeritan tadi terdengar kembali. Kali ini jelas, sangat jelas dan asal suaranya adalah ruangan dalam keputren itu.

Tetapi walaupun kini ia jelas mendengar suara jeritan Windu Segara merasa ragu-ragu untuk segera bertindak. Ia marasa tidak enak hati untuk masuk keputren itu seorang diri.

„Tidak. Aku tidak boleh ragu-ragu. Aku harus segera ber-tindak." demikian keputusan suara hatinya. Untuk menanti temannya sudah tidak mungkin lagi. Keadaan sangat mendesak.

Secepat kilat Windu Segara meloncat kependapa keputren tadi dan begitu kakinya hinggap dipendapa ia lantas berlari kearah ruangan dalam, yaitu dari mana jeritan tertahan itu berasal.

Suasana diruangan dalam agak terang dibanding dengan suasana dipendapa yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung. Diruangan dalam terdapat dua lampu gantung.

Begitu Windu Segara masuk keruangan dalam ia disuguhi oleh suatu adegan yang menyebabkan darahnya meluap

Diruangan itu ia melihat puteri puteri Sekar Asih tengah meronta dalam pelukan seorang laki-laki. Pakaian puteri Sekar Aslh sudah nampak tidak keruan.

Windu Segara tidak dapat melihat dengan jelas wajah laki laki itu, karena wajahnya tertutup dengan selembar kain hitam.

Ketika melihat kedatangan Windu Segara tadi lantas mendorong tubuh pateri Sekar Asih, sehingga tubuh yang tengah meronta2 tadi roboh terguling. Sedangkan berkerudung itu cepat berdiri menghadapi Windu Segara.

Melihat laki - laki tadi berdiri menghadapinya secepat kilat Windu Segara meloncat meenerjang sambil melancarkan sebuah serangan.

Namun dengan gerak yang luar biasa gesit laki itu dengan mudah menghindari serangan Winda Segara.

Setelah berhasil menghindar dari serangan Windu Segara, secepat kilat dia meloncat kearah pintu yang menghubungkan ruangan dalam itu dengan pendapa. Windu Segara mencoba mencegah. Tetapi sia - sia belaka.

Ketika tubuh Windu Segara hampir menyentuh tubuh laki-laki tadi, ia merasakan tolakan suatu tenaga yang luar biasa kuat, yang menyebabkan tubuhnya terhuyung.

Untung Windu Segara segera dapat menguasai keseimbangan tubuhnya.

Hanya saja pada saat itu laki-laki tadi sudah tidak nampak lagi.

Windu Segara tidak putus asa. Dengan suatu loncatan panjang ia meloncat kearah pendapa. Diperhatian keadaan dipendapa maupun disekelilingnya.

Tetapi yang didjumpai ditempat itu hanyalah kesunyian yang mencekam.

Windu Segara cepat berlari meloncat ketembok. Tetapi tetap ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan gerak daun-daunan yang tertiup angin saja tidak ia lihat.

„Setan Alas. Orang itu luar biasa tangkas." gerutu Windu Segara.

Oleh karena sudah mungkin lagi untuk melakukan pengejaran terhadap laki-laki berkerudung kain hitam, tadi maka Windu Segara segera kembali masuk keruangan dalam untuk meninjau keadaan puteri Sekar Asih.

Keputusan Windu Segara ini adalah keputusan yang tolol. Andaikata ia tidak kembali keruangan dalam tentu ia tidak perlu mengalami rangkaian peristiwa yang pahit.

Ketika Windu Segara sampai diruangan dalam terlihatlah puteri Sekar Asih roboh terkulai dalam keadaan tidak berdaya. Pakaiannya nampak tidak beraturan.

Windu Segara bingung. Akan segera memberi pertolongan malu hati. Tetapi bila tidak ia khawatir akan keadaan puteri itu.

„Ah, yang penting aku harus mengetahui apakah beliau masih dapat diselamatkan." Pikirnya.

Karena itu Windu Segara lantas berjalan mendekati tubuh puteri Sekar Asih yang tidak sadarkan diri itu. Setelah dekat ia lantas berjongkok.

Dirabanya pergelangan tangan puteri Sokar Asih. Ketika ia masih merasakan adanya denyut nadi dipergelangan tangan itu, Windu Segara merasa lega.

„Puteri ini masih dapat diselamatkan." pikirnya „Aku harus cepat - cepat memberi tahu pada kawan - kawanku, untuk minta pertimbangan bagaimana tindakan kita terlebih landjut."

Tetapi baru saja ia akan berdiri, mendadak ia mendengar suara langkah diambang pintu.

Cepat Segara menoleh. Dan dilihatnya Prana dan keempat orang temannya yang tadi meningglkan ia seorang diri dipos penjagaan.

„Windu Segara, apa yang tengah kau perbuat." berkata prana dengan suara suara dalam disertai dengan pandang mata yang tajam.

Bukan hanya Prana, tetapi juga keempat temannya yang lain, menatapnya dengan pandang mata yang tajam. Seakan-akan dengan pandang matanya itu ia ingin menelan Windu Segara hidup-hidup.

Windu Segera heran melihat sikap kawan-kawannya itu. Karena itu cepat-cepat ia berkata:

„Prana, aku tadi menjumpai seorang akan berniat kurang ajar terhadap puteri Sekar Asih. Untung aku cepat-cepat mendatangi."

Selama Windu Segara bercerita Prana dan keempat temannya tetap menatap dengan pandang mata yang seperti tadi.

„Windu Segara, jangan mengarang cerita." Berkata Prana mendadak." Aku tadi berada disekitar tempat ini. Tak kulihat seorangpun yang keluar dari puri ini."

Kata-kata itu ibarat halilintar ditelinga Windu Segara. Tubuhnya menjadi tergetar karenanya. Bukan karena takut,tetapi karena menahan marah. Tuduban keji itu sungguh diluar dugaannya.

„Jangan sembarang menuduh, Prana." kata dengan suara keras.

„Dan kau, Windu Segara. Jangan sembarang membantah. Bukti sudah didepan mata." jawab Prana. „Kau tahu Windu Segara apa akibat perbuatanmu bagi nama Prajurit Singasari?"

Setelah itu prana lantas menolah pada keempat orang kawannya.

Kemudian katanya:

„Ayo, kawan. Tunggu apa lagi. Tangkap dia."

Windu Segara tahu, bahwa dalam situasi semacam itu sudah tidak mungkin lagi menghindar dari tuduhan. Kalau ia akan berusaha melarikan diri justru akan memberatkan dakwaan.

Sementara itu keempat prajurit Singasri kawan prana tadi agak ragu-ragu untuk bertindak. Ia kenal baik siapa Windu Segara, sehingga mereka merasa sungkan untuk menangkapnya.

„Jangan ragu ragu, kawan. Tangkaplah. Aku tidak akan melawan.” kata Windu Segara." Tetapi ingat, Ini tidak berarti berarti bahwa aku yang telah berbuat tidak senonoh ini."

Keempat orang prajurit kawan prana lantas mendekati Windu Segara untuk mengikatnya. Dan benar juga, Windu Segara tidak melawan.

Kemudian setelah Windu Segara berhasil diikat, mereka lantas membawanya menghalap kepada Tumenggung Nirbita malam itu juga.

Sementara itu keributan tadi sudah terdengar oleh para emban yang berdam di puri puteri Sekar Asih.

Mereka lantas sibuk tidak keruan. Segala mereka kerjakan untuk menyadarkan puteri Sekar Asih. Ibunda puteri Sekar Asih,Sekar Mirah segera dating.

Atas anjuran puteri Sekar Mirah, dukun istana Kyai waskita segera dipanggil.

Kyai Waskita lantas segera datang. Begitu datang ia segera bertindak.

„Bagaimana keadaannya bapa." berkara puteri Sekar Mirah, ibunda Sekar Asih dengan perasaan khawatir.

„Gusti putri tidak perlu khawatir. Pemuda itu belum sempat melaksaakan niat buruknya " demikian jawab Kyai Waskita." Beliau hanya terkejut saja."

Jawaban ini sangat melegakan hati puteri Sekar Mirah. Yang ia takutkan adalah jika tangan kotor pemuda itu telah berhasil memetik mahkota kehormatan Sekar Mirah.

Tetapi kini dari jawaban Kyai Waskita jelaslah bahwa apa yang ditakutkan itu belum terjadi.

Sementara itu Kyai waskita terus berusaha menyembuhkan puteri Sekar Asih.

Berkat usaha kyai waskita tidak lama kemudian putcri Sekar Mirah telah berhasil disedarkan.

Semula puteri Sekar Mirah akan menanyai puterinya, tetapi kyai Waskita memberi isyarat untuk tidak melakukannya.

„Biarkan beliau beristirahat dulu gusti puteri. Besok, apabila beliau telah sadar minumi air ini." berkata begitu kyai Waskita sambil menyerahkan sebuah botol yang berisi air jernih.

„Terima kasih. Bapa atas usahamu.” jawab puteri Sekar Mirah sambil menerima botol berisi air jernih itu.

Setelah itu kyai waskita lantas kembali pulang.

Sepeninggal dukun istana itu, puteri Sekar Mirah nampak tidur dengan nyenyak.

Puteri Sekar Mirah merasa lega. X X X

Sementara itu, alangkah terkejut Tumenggung Nirbita ketika menerima laporan tentang peristiwa dipuri puteri Sekar Asih tadi.

„Windu Segara? Windu Segara berani melakukan perbuatan hina itu?" katanya setengah terpekik ketika mendengar laporan yang disampaikan olek prana.

„Kamipun tidak akan percaya kalau tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, „ berkata prana.

„Kalau begitu kurung dulu ia. Besok aku baru dapat memberi keputusan Aku harus melaporkan dahulu peristiwa ini pada Sri Amangkurat." demikian kata pemimpin prajurit Singasari itu akhirnya.

„Tetapi ingat peristiwa ini harus kau rahasiakan. Jangan katakan pada siapapun, bahkan kepada isterimu sekalipun. Peristiwa ini menyangkut kehormatan keraton."

Demikian Tumenggung Nirbita memberi pesan kepada Prana dan keempat orang kawannya.

„Jika peristiwa ini sampai tersiar diluar, kalian yang bertanggung jawab. Hukuman berat pasti akan menanti kalian.

Prana dengan keempat orang kawannya lantas menyanggupi.

Setelah melaksanakan perintah Tumenggung Nirbita untuk mengurung Windu Segera. . . . Mereka lantas kembali kepos penjagaannya malam itu dengan perasaan harap-harap cemas.

Sepeninggal anak buahnya, Tumenggung Nirbita lantas berkemas- kemas untuk berangkat kekeraton.

Tujuan utamanya adalah puri kediaman puteri Sekar Asih, Ia ikut merasa gembira ketika diberi tahu bahwa puteri Sekar Asih dalam keadaan sehat walafiat dan kini tengah tertidur nyenyak.

Tetapi sementara itu dalam dalam rongga dadanya bergolak suatu perasaan aneh. Dalam dirinya timbul ketidak percayaan, bahwa Windu Segara berani melakukan perbuatan sedemikian hina.

Tumenggang Nirbita kenal betul siapa Windu Segara. Pemuda bersifat seperti Windu Segara itu tidak mungkin melakukan perbuatan sedemikian hina.

Kalau begitu apakah Prana memfitnah?

Itupun juga tak mungkin. Iapun juga kenal baik sifat prana. Tak mungkin ia memfitnah orarg tanpa alasan.

Lantas kalau begitu apa latar belakang peristiwa ini?

Tumenggung Nirbita termenung. Dipandanginya suasana disekitar puri itu. Seakan-akan ia ingin mencari petunjuk untuk memecahkan persoalan yang ia hadapi.

Tetapi tak sesuatupun yang ia lihat dihadapannya selain suara daun yang bergerak gerak tertiup angin. Suasana malam tetap sunyi membeku.

„Ah, sukar dilukiskan bagaimana sikap Sri Amangkurat nanti, bila sampai mengetahui terjadinya peristiwa ini. Beliau adalah seorang yang berangasan, yang tidak kenal ampun." kata Tumenggung Nirbita didalam hati.

Dan apa yang dikhawatirkan Tumenggung Nirbita itu memang benar-benar terjadi

Begitu Sri Amangkurat, putera mahkota, mendengar laporan Tumenggung Nirbita, ia lantas memerintahkan untuk membawa Windu Segara kehadapannya.

Ketika melihat pemuda itu yang dalam keadaan terikat dihadapkannya kepadanya, Sri Amangkurat menatapnya dengan pandang yang tajam.

Pada waktu itu yang ada ditempat itu adalah Prana, keempat prajurit teman berjaga semalam dan sekalian prajurit Singasari.

Tumenggung Nirbita juga berada ditempat itu.

Suasana terasa sunyi mencekam.

Walaupun yang diadili adalah Windu Segara, tetapi sekali anggota prajurit Singasari merasakan pengadian itu ditujukan pada mereka sekalian.

„Windu Segara." kau tahu mengapa kupanggil kehadapanku Windu Segara terdiam sesaat, setelah itu baru berkata:

„Hamba akan paduka tanyai tentang peristiwa yang terjadi semalam dipuri puteri Sekar Asih."

„Dan kau tahu jelas jalannya peristiwa, bukan!

„Ya, gusti. pertama kali kudengar jeritan ngeri…

Kata-kata itu belum selesai sudah dipotong oleh Sri Amangkurat.

„Windu Segara jangan berpanjang panjang bicara. Mengakulah bahwa kau yang telah melakukannya!"

„Maaf, Sekali- kali hamba tidak berani melakukan perbuatan semacam itu."

„Windu Segara! Mengakulah!”

„Hamba tidak melakukan. Bagaimana hamba akan mengaku."

„Windu Segara kau keras kepala." Windu Segara membisu.

„Apakah aku harus memaksamu supaya mengaku?" bentak Sri Amangkurat dengan suara yang menggeledek. Nada suara itu seakan- akan mampu merobohkan ruangan itu.

„Windu Segara mengakulah." sela Tumenggung Nirbita.

Namun kali ini Wiudu Segara membisu. Ia tidak merasa melakukan perbuatan itu. Tak mungkin ia mengeluarkan pernyataan pengakuan.

„Baiklah! Windu Segara. Kalau kau tetap tidak mau mengaku. Aku terpaksa mengambil jalan untuk memaksa kau mengaku." terdengar kata Sri Amangkurat. „Sindu, cambuk dia! Jangan berhenti sebelum dia mau mengakui kesalahannya" perintah Sri Amangkurat pada Sindu.

Sindu tersentak. la adalah sababat karib Windu Segara, Kali ini ia mendadak mendapat perintah putera Mahkota untuk mencambuk kawan karibnya. Maka bingunglah ia. Mau membantah tidak betani, mau melaksanakan tidak sampai hati. Pada saat itu Tumenggung Nirbita yang berada didekatnya berkata perlahan:

„Sindu. Jangan membuat putera mahkota naik darah. Kerjakan perintah beliau."

Kali ini Sindu tidak membantah.

Cambuk yang biasa dipergunakan untuk merangket orang segera ia terima dari seorang yang biasa menyimpan cambuk itu. Kemudian ia berdiri dipinggir kalangan menghadap ke-arah Windu Prakosa yang ditempatkan ditengah kalangan.

Windu Segara tetap tidak menunjukkan perlawanan sedikitpun.

Dengan patuh ia membiarkan dirinya ditempatkan sesuka hati oleh orang-orang yang menawannya.

Putera Mshkota terus menatap Windu Segara dengan pandang mata yang murka.

Sementara itu Sindu telah mulai mengayunkan cambuk.

Begitu tangan Sindu bergerak terdengar suara geletar cambuk memecah kesunyian.

Taar. Dan pada ketika lain ujung cambuk yang di lecutkan oleh Sindu menyentuh tubuh Windu Segara.

Anggota-anggota Prajurit Singasari yang mempunyai hubungan baik dengan Windu Segara tidak sampai hati menyaksikan peristiwa itu. Oleh karena itu pada saat ujung cambukylang dilecutkan Sindu menyentuh Windu Segara, ada diantara mereka yang memalingkan muka dan bahkan ada memejamkan mata.

Kemudian terdengar jerit tertahan.

Kawan-kawan Windu Segara yang tadi tidak sampai hati menyaksikan ujung cambuk menimpa tubuh Sindu Segara, dan lantas memejamkan mata,mengira bahwa jerit tertahan itu jerit kesakitan Windu Segara.

Tetapi alangkah terkejut mereka, ketika membukakan mata. Apa yang mereka lihat sungguh diluar dugaan.

Saat itu terlihat Sindu ruboh terguling ditanah tidak berkutik. Cambuk yang tadi ia lecukan sudah jatuh terlepas dari pegangan.

Ternyata pada saat ujung cambuk yang dilecutkan Sindu itu menyentuh tubuh Windu Segara, terlihat tubuh Sindu terpental kebelakang dan serta merta cambuk ditangan kanannya tadi terlepas dari pegangan. Sikap Sindu itu di sertai jerit tertahan.

„Sindu, kenapa kau?" sapa Tumenggung Nirbita.

Nada suara itu terdengar aneh, karena Tumenggung Nirbita mengira kalau Sindu hanya berpura-pura. Ia cukup tahu betapa akrab persahabatan Sindu dengan Windu Segara, sehingga perintah untuk mencambuk Windu Segara dirasakan sebagai siksaan.

Kalau dugaan itu betul sudah barang tentu akan menimbulkan kemurkaan Sri Amangkurat. Diam-diam Tumenggung Nirbita melirik kearah Sri Amangkurat. Samar-samar terilhat dahi Sri Amangkurat berkerut. Dan tiba-tiba terdengar beliau berkata:

„Prana, coba kau yang melakukannya!"

Kata-kata Sri Amangkurat itu mengejutkan Tumenggung Nirbita. Ia merasa heran, mengapa Sri Amangkurat seperti acuh tak acuh terhadap Sindu dan kemudian tanpa menghiraukan Sindu lantas memerintah Prana?

Sementara itu kranapun tidak kurang terkejutnya tadi ketika ia melihat Sindu bersikap aneh, ia juga mengira kalau Sindu bersandiwara. Karena itu ia yakin kalau Sri Amangkurat akan menegor Sindu. Tetapi dugaannya meleset. Sri Amangkurat nampak acuh tak acuh terhadap sikap Sindu tadi dan bahkan lantas memerintahkannya untuk meneruskan pekerjaan Sindu mencambuk Windu Segara.

Oleh karena dipengaruhi olah perasaan terkejut. maka Prana nampak tertegun.

„Prana, kenapa ragu-ragu? Ayo teruskan pekerjaan Sindu! Cambuk Windu Segara, hingga mengakui kesalahannya!" terdengar Sri Amangkurat mengulangi perintahnya dengan suara yang menggemuruh.

Prana seperti dibangunkan dari impian yang menakutkan.

„Ba ..... baik gusti pangeran." terdengar jawabnya terbata-bata sambil berjalan kearah cambuk yang tadi dipergunakan oleh Sindu dan kini terletak ditanah.

Cambuk itu segera dipungutnya. Setelah itu Prana lantas bersiap menjalankan tugas.

Sekali lagi terdengar suara geletar cambuk memecah kesunyian. Ujung cambuk yang dipegang Prana melejit menyambar tubuh

Windu Segara. Dan . . . sekali lagi terjadi peristiwa yang mengejutkan. Bersamaan dengan tersentuhnya tubuh Windu Segara oleh ujung cambuk yang dilucutkan Prana, terdengar jerit tertahan. Tetapi jerit itu

bukan berasal dari Windu Segara yang kesakitan melainkan berasal dari Prana. Dan suara jerit itu bersamaan dengan terpentalnya tubuh Prana kebelakang yang kemudian dikuti dengan terlepasnya cambuk dari tangan Prana.

Tumenggung Nirbita betul-betul terkejut. Kali ini tidak disertai prasangka bahwa sikap Prana itu adalah sandiwara

Prana adalah salah seorang prajurit Singasari yang berhasil menangkap basah Windu Segara melakukan perbuatan hina itu. Maka dapat dipastikan kalau Prana memiliki rasa tidak senang pada Windu Segara. Bukankah dengan perbuatan Windu Segara itu nama prajurit  Singasari jadi tercemar? Berdasar sikap Prana terhadap Windu Segara itu maka Tumenggung Nirbita yakin kalau perintah Sri Amangkurat untuk mencambuk Windu Segara akan ia jalankan sebaik-baiknya.

Disamping itu kalau toh Prana masih memiliki setia kawan pada Windu Segara. dan ia tidak sampai hati melaksanakan perintah putera mahkota itu, maka suatu sikap yang tolol, kalau ia mengulangi sandiwara yang dipertunjukkan Sindu.

Lantar apa sebetulnya yang telah terjadi?

Apa yang kini tengah memenuhi benak Tumenggung Nirbita itu juga dirasakan oleh sekalian yang hadir ditempat itu.

Mereka lantas memandang Windu Segara dan tubuh2 Sindu serta Prana yang terkapar ditanah silih berganti.

Suasana ditempat itu menjadi hening. Mereka sekalian tidak dapat memahami apa sebenarnya yang telah terjadi.

Mendadak suasana hening itu dipecahkan oleh suara yang mengguntur.

„Bawa Sindu dan Prana kemari?"

Suara itu menyedarkan sekalian prajurit Singasari yang berada ditempat itu dari keterpukauannya. Beberapa orang lantas berjalan mendekati tubuh yang tidak berdaya itu lantas dibawa kehadapan putera Mahkota.

Sejenak Sri Amangkurat memandangi kedua tubuh yang tidak berkutik itu, kemudian memberi isyarat pada Tumenggung Nirbita untuk mendekat.

Tumenggung Nirbita cepat-cepat berjalan mendekat.

Setelah Tumenggung mendekat, Sri Amangkurat lantas memerintahkan untuk memeriksa keadaan Sindu dan Prana.

„Mereka hanya pingsan, gusti." berkata Tumenggung Nirbita setelah memeriksa keadaan kedua orang itu.

Tumenggung Nirbira melihat Sri Amangkurat mengangguk anggukkan kepala. Hanya saja pandang matanya menatap tajam-tajam kearah Windu Segara yang saat itu berdiri dalam keadaan terikat.

Pemuda itu nampak terheran-heran, dan memandangi semua kesibukan yang terjadi disekelilingnya dengan pandang tidak mengerti.

„Hmm. Windu Segara sungguh pandai bersandiwsra." terdengar gumam Sri Amangkurat perlahan. Setelah itu ia menoleh kearah Tumenggung Nirbita sambil berkata :

„Nirbita, cobalah kau yang mengerjakannya!"

Tumenggung tertegun. Kenapa ia yang kini harus menjalankan hukuman cambuk itu?

Tetapi mendadak terkilas suatu dalam benak pemimpin Prajurit Singasari itu, Perintah tadi suatu hal yang kebetulan baginya. Bukankah dengan menjalankan perintah itu ia akan segera mendapat jawaban dari peristiwa aneh yang baru saja terjadi? Karena itu cepat-cepat Tumenggung Nirbita memungut cambuk yang tadi terlepas dari pegangan Sindu maupun Prana.

Sejenak dipandanginya Windu Segara, dlihatnya pemuda itu tunduk, tidak berani beradu pandang dengannya, Setelah itu Tumenggung Nirbtta lantas bersiap-siap untuk melecutkan cambuk yang kini telah dipegang erat-erat ditangan kanannya.

Untuk ketiga kali terdengar suara menggeletar. Ujung cambuk yang berada ditangan Tumenggung Nirbita melejit dengan gerak yang luar cepat, ke tubuh Windu Segara.

Pada saat ujung cambuk Tumenggung Nirbita menyentuh tubuh Windu Segara, mendadak ia merasakan telapak tangannya seperti didorong oleh suatu tenaga yang luar biasa kuat. Dan kemudian tenaga itu seperti menyusup kedalam tubuh lewat telapak tangannya.

Seketika Tumenggung Nirbita merasakan rongga dadanya terguncang. Hampir saja ia terpekik, bila ia tidak segera mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak tekanan itu.

Walau demikian keseimbangan tubuhnya nampak sedikit terganggu.

Peristiwa itu tidak nampak oleh sekalian yang hadir disitu. Tak seorangpun yang mengetahui bahwa Tumenggung Nirbita agak terhuyung, kecuali Sri Amangkurat.

„Coba! Sekali lagi Nirbita !" terdengar perintahnya.

Sebetulnya tanpa diperintah Tumenggung Nirbita ingin mengulangi cambukan itu.

Peristiwa yang baru saja ia alami itu, yang hampir saja membuat malu dimuka anak buahnya, sudah merupakan jawaban dari peristiwa yang menimpa Sindu dan Prana.

Rupanya dorongan tenaga tadilah yang menyebabkan tubuh Sindu maupun Prara terpental kebelakang.

Sungguh suatu hal yang mengherankan. Karena dorongan tenaga itu pasti berasal dari Windu Segara. Tidak bisa lain. Karena kalau bukan dari pemuda itu lantas dari mana. Walau begitu Tumenggung Nirbita ingin membuktikan sekali lagi.

Ketika mendengar perintah Sri Amangkurat tadi, Tumenggung Nirbita lantas bersiap untuk mencambuk tubuh Windu Segara sekali lagi. Hanya saja kali ini, ia sudah bersedia payung sebelum hujan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Setelah itu dengan suatu gerak yang tangkas cambuk tangan kanannya kembali ia lecutkan. Suara geletar cambuk itu terdengar memekakkan telinga

Pada ketika lain ujung cambuk tadi kembali menyentuh tubuh Windu Segara. Dan …. sekali lagi Tumenggung Nirbita merasakan dorongan tenaga lewat cambuk yang dipegangnya. Bahkan kali ini dorongan tenaga itu terasa lebih kuat. Sehingga walau Tumenggung Nirbita telah bersiaga, namun ia tak dapat menahan keterhuyungan tubuhnya.

Hanya saja seperti halnya tadi, tubuh Tumenggung Nirbita yang agak terhuyung itu tidak sempat ditangkap pandang mata sekalian prajurit Singasari yang hadir ditempat itu. Hanya Sri Amangkurat yang dapat menyaksikan peristiwa itu.

Mendadak terdengar beliau berkata:

„Nirbira! Coba serahkan cambuk itu padaku! Aku yang akan mencambuknya!”

Kata-kata itu betul betul mengejutkan. Sekalian orang yang hadir disitu memandang kearah Sri Amangkurat dengan pandang tidak mengerti.

Tumenggung Nirbitapun tidak terkecuali, ia merasa terkejut mendengar kata-kata Sri Amangkurat tadi.

Karena dlpengaruhi oleh perasaan heran itulah maka Tumenggung Nirbita segera menyerahkan cambuk yang dipegangannya pada Sri Amangkurat.

„Nirbita! kenapa termenung ?" terdengar Sri Amangkurat berkata sambil berjalan mendekati Tumenggung Nirbita.

„Serahkan segera cambuk itu padaku! Biar aku yang mencambuk Windu Segara."

Tumenggung Nirbia tersentak. Dan cepat2 ia menyerahkan cambuk yang dipegangnya itu pada Sri Amangkurat.

„Pangeran .. . “kata Tumenggung Nirbita. Tetapi perkataan itu hanya terhenti disitu. Tumenggung Nirbita tak tahu apa yang akan ia katakan.

Ia merasa binggung, betul-betul bingung. Baru kali inilah menghadapi peristiwa sedemikian aneh selama ia memangku jabatan sebagai pimpinan Prajurit Singasari.

Namun Sementara itu Sri Amangkurat tidak menghiraukan apa yang saat itu tengah bercamuk dalam sanubari Tumenggung Nirbita . Begitu tangan Tumenggung Nirbita yang memegang cambuk terulur kepadanya, cepat beliau menyambar. Sebentar saja cambuk itu telah berpindah tangan.

Setelah itu Sri Amangkurat menatap Windu Segara dengan sinar matanya yang tajam.

Windu Segara tidak berani beradu pandang. Sinar mata itu luar biasa tajam, lbarat kilatan pisau belati yang tertimpa cahaya. Karena itu cepat -cepat menundukkan muka.

„Windu Segara, kenapa kau menudukkan kepala?" terdengar Sri Amangkurat berkata dengan nada suara dalam.

„Ayo tataplah akul" berkata Sri Amangkurat terlebih lanjut Namun Windu Segara tidak mematuhi „perintah" Putcra mahkota

itu. Ia Ia tahu bagaimana sifat Sri Amangkurat

„Windu Segara! Apakah kau tuli? Ataukah bisu?" terdengar Sri Amangkurat berkata dengan suara menggeledek. „Ayo tegakkan kepalamu dan tetapkan kepalamu dan tataplah aku!"

„Hamba tidak berani, gusti."

„Tidak berani?" desis Sri Amangkurat dengan nada suara yang aneh. „Windu Segara kau terlalu merendahkan diri. Sedikit pun tak ada alasan bagimu untuk mengatakan kata-kata itu.”

Windu Segara, bingung. Sangat bingung. Sebingung ketika ia menghadapi peristiwa2 aneh yang tadi tersaji dihadapannya.

Tadi ketika Sindu melecutkan cambuk ketubuhnya, ia hanya merasakan tubuhnya seperti dililit oleh seutas tali, dan kemudlan ia lihat Sindu terpekik sambil melepaskan cambuk yang dipegangnya.

„Ah, Sindu. Kenapa kau sungkan menjalankan tugas?" demikian katanya didalam hati pada saat.

Tetapi ketika cambuk itu dipegang Prana dan kejadian yang menimpa Sindu kembali terulang, Windu Segara mulai bingung. Dan kebingungan itu mencapai puncaknya ketika Tumenggung Nirbita yang berganti memegang cambuk

Sepertl halnya ketika cambuk itu diayunkan oleh Sindu maupun Prana. maka ketika cambuk ditangan Tumenggung Nirbita terayun, yang dirasakan adalah suatu lilitan tali dibagian dadanya.

Dan kini ketika rasa bingungnya belum lenyap, mendadak Sri Amangkurat yang akan mencambuknya. Bukan hanya itu, bahkan tindak tanduk Sri Amangkurat terasa aneh.

Apa sebetulnya yang telah terjadi?

Bingung. Seribu kali bingung. Itulah perasaan yang kini tengah berkecamuk dalam diri Windu Segara.

„Huh. Windu Segara. Apakah kau masih hendak bersandiwara?" terdengar Sri Amangkurat berkata dengan nada suara berat. Diam sejenak. Kemudian:

„Kau dapat berbuat semaumu terhadap Sindu, Prana dan Tumenggung Nirbira, tetapi tidak terhadap Amangkurat." bersamaan dengan kata-kata terakhir itu terlihat Sri Amangkurat bersiap-siap melecutkan cambuk. Wajahnya nampak merah padam, suatu tanda bahwa beliau tengah marah.

Tumenggung Nirbita dan sekalian prajurit Singasari yang sudah mengenal perangai putera mahkota itu, merasa ngeri terhadap nasib yang akan menimpa diri Windu Segara.

Suasana ditempat itu terasa tegang. Tak seorangpun yang berani membuka mulut.

Mendadak terdengar suara seruan:

„Tahan!"

Seruan itu walau tidak begitu keras tetapi terdengar nyata.

Terlebih-lebih nada suara dari seruan itu menimbulkan suatu perasaan aneh. Suasana tegang yang meliputi tempat itu seakan-akan tersapu bersih oleh nada suara tadi.

Sri Amangkuratpun nampak terpengaruh, karena terlihat beliau menoleh kearah suara seruan tadi.

Seorang tua yang berpakaian bersih dan rapi berjalan mendatangi dengan langkah bergegas.

„Bapa wiku Jaladri?" sapa Sri Amangkurat.

Memang. Orang yang baru datang itu adalah Wiku Jaladri seorang wiku yang cukup berpengaruh dikeraton. Sekalian penghuni keraton menaruh hormat terhadapnya tidak terkecuali Sri Amangkurat

„Angger Amangkurat. Apakah yang telah terjadi?" berkata wiku Jaladri sambil menyapukan pandang kesekitar tempat itu. 46==

Secara singkat Sri Amangkurat menceritarakan apa yang telah

terdjadi pada Wiku Jaladri dan Wiku Jaladripun mendengarkan dengan penuh perhatian.

Setelah Sri Amangkurat selesai berkisah, Wiku Jaladri lantas menatap Windu Segara.

„Angger Amangkiurat, apabila syaa mempunyai suatu usul apakah angger mau menerimanya." terdengar Wiku Jalatdri berkata mendadak.

Sri Amangkurat agak tercengang

„Katakanlah bapa Wiku!"

„Bukannya saya mau melindungi anak muda itu, angger Amangkurat. Tetapi saya mohon sudilah angger menunda pemeriksaan ini barang sehari dua hari."

„Mengapa, bapa." sahut Sri Amangkurat dengan nada yang kurang senang.

„Sukar, Angger. Sukar untuk mengatakan apa sebabnya, Tetapi aku seperti mencium adanya sesuatu yang tidak wajar dalam peristiwa ini."

Sri Amingkurat terdiam. Beliau tidak segera menjawab, melainkan hanyaa memandang dengan pandang bertanya pada Wiku Jaladri, dengan cambuk tetap ditangan.

„Aku kenal betul pribadi anak muda ini. Karenanya saya teramat heran mengapa ia mau melakukan perbuatan itu." sambung Wiku Jaladri.

Sri Amangkurat Nampak mengerut dahi. Sejenak kemudian barulah ia berkata:

„Baiklah kalau hanya itu yang bapa kehendaki, saya akan. meluluskannya."

Sehabis berkata begitu Sri Amangkurat lantas menyerahkan kembali cambuk itu pada prajurit yang biasa menyimpannya.

Sikap Sri Amangkurat itu bukannya tanpa alasan. Sri Amangkurat tahu bahwa ayahandanya. Sri Sultan Agung, amat menghormati orang tua itu. Karena itulah maka Sri Amingkurat juga menghormati orang itu, walaupun hal itu sering kali bertentangan dengan pribadinya yang berwatak berangasan.

Tumenggung Nirbita lantas memerintahkan untuk mengurung kembali Windu Segara. Dan tidak lupa diperintahkan pula untuk merawat Sindu dan Prana dengan semestinya.

Ketika Sindu dan Prana mau dibawa menyingkir mendadak berkatalah Wiku Jaladri.

„Tunggu sebentar," sambil berkata begitu Wiku Jaladri berjalan mendekati kearah Prana dan Sindu dan Sindu yang masih terbaring dalam keadaan pingsan.

Setelah sampai kedekat Sindu dan Prana, Wiku Jaladri lantas mulai mengurut-urut tubuh kedua orang prajurid tadi. Sebentar kemudian terlihat Sindu maupun Prana mulai membukakan mata.

„Nirbita, suruh rawat kedua prajurit ini. Ia membutuhkan istirahat yang cukup lama,” berkata Wiku Jaladri kepada Tumenggung Nirbita.

Prajurid2 Singasari yang masih berada ditempat itu lantas menjalankan perintah tadi dengan sebaik-baiknya.

Kini ditempat itu tinggallah Sri Amangkurat, Tumenggung Nirbita dan Wiku Jaladri.

„Angger, saya bermaksud untuk mengadakan pembicaraan empat mata dengan anak muda tadi." berkata Wiku Jaladri.

Tumenggung Nirbita heran. Demikian pula Amangkurat. Walau begitu ia toh memberi jawaba juga:

„Bila bapa wiku menghendakinya silahkan.

Dengan pandang mata yang tajam wiku Jaladri menatap Sri Amangkurat.

„Percayalah, angger. Percayalah pada bapa. Apa yang akan bapa lakukan demi nama baik pemerintahan ayah andamu."

Sri Amangkurat hanya menjawab dengan anggukkan. Setelah itu wiku Jaladri berpamit meninggalkan tempat itu.

Kepergian Wiru Jaladri diikuti oleh Sri Amangkurat dan Tumenggung Nirbita dengan pandang keheranan.

„Nirbita, aku belum pernah melihat bapa Wiru bersikap sedemikian aneh. Apakah sebetulnya latar dibelakang dari tingkah laku ini?" berkata Sri Amangkurat.

„Hambapun tidak dapat memahami gusti.” sahut Tumenggung Nirbita.

walau kedua orang tadi berkata begitu, namun keduanya merasa sikap wiku Jaladri itu berhubungsn dengan peristiwa aneh yang menimpa Sindu dan Prana.

Tiba2 kedua orang itu dikejutkan oleh munculnya seorang emban yang datang tergopoh-gopoh.

„Ampun, gusti. Hamba berani mengganggu gusti." berkata emban tadi dengan ketakutan.

„Lekas katakan apa maksudmu datang kemari." berkata Sri Amangkurat.

„Hamba diutus oleh gusti putri Sekar Asih."

„Sekar Asih?“

„Betul gusti putri. Gusti Sekar Asih mengharap kedatangan paduka."

Mendengar kata-kata emban itu, dahi Sri Amangkurat nampak berkerut. Sebetulnya Sri Amangkurat memang bermaksud menjumpai adindanya untuk ditanyai tentang peristiwa semalam, tetapi ia merasa khawatir kalau hal itu akan mengganggu kesehatan puteri Sekar Asih. Maka ia terpaksa menunda kehadirannya dipuri kediaman adindanya itu, Diluar dugaan kini ternyata puteri Sekar Asih mengharapkan kedatangannya.

Hal ini terasa aneh bagi Sri Amangkurat, karena walaupun mereka bersaudara, tetapi jarang mereka berhubungan.

Namun akhirnya Sri Amangkurat toh berkata juga:

„Baiklah biung Emban. Segeralah kembali. Katakan pada yayi dewi Sekar Asih, bahwa aku akan segera datang."

„Baik gusti." jawab emban itu sambil bergegas kembali kepuri tempat kediaman puteri Sekar Asih.

Sepeninggal emban tadi, Sri Amangkurat nampak bicara sejenak dengan Tumenggung Nirbita. Setelah Tumenggung Nirbita bermohon diri maka Sri Amangkurat lantas bergegas menuju kepuri kediaman puteri Sekar Asih.

Begitu sampai dipuri kedlaman puteri Sekar Asih, Sri Amangkurat langsung menuju ketempat peraduan adindanya.

Saat itu dilihatnya puteri Sekar Asih berbaring diperaduannya.

Wajahnya nampak pucat. Agaknya peristiwa semalam telah menimbulkan kegoncangan dalam jiwa puteri itu.

„Yayi dewi, bagaimana? Apakah yayi dewi masih merasa tidak enak badan?" berkata Sri Amangkurat.

Puteri Sekar Asih hanya menggelengkan kepala. Sejenak kemudian barulah ia berkata:

„Kamas, aku merasa takut!"

„Takut? Apa yang kau takutkan?" berkata Sri Amangkurat.

„Entahlah kakang. Perasaan semacam itu seakan-akan membayangiku."

„Yayi dewi. perasaan takutmu itu hendaknya segera kau hilangkan." kata Sri Amangkurat menenangkan puteri Sekar Asih. „Orang yang berbuat tak senonoh pada yayi semalam sudah tertangkap?"

„Sudah tertangkap?"

„Ya. Sudah tertangkap."

Sejenak puteri Sekar Asih nampak tersenyum. Kemudian berkatalah ia dengan nada suara yang aneh.

„Bila demikian, kamas. Ada sesuatu yang kan saya titipkan pada kamas."

Kata-kata ini menimbulkan rasa heran dihati Sri Amangkurat.

Dipandanginya puteri Sekar Asih dengan penuh tanda tanya.

Puteri Sekar Asih tidak menghiraukan sikap Sri Amangkurat. Dia nampak sibuk mencari sesuatu dibawah kasur yang ditidurinya.

”Kamas. Dengan tidak sengaja aku berhasil merampas gelang pualam ini dari pergelangan tangan orang itu." demikian kata puteri Sekar Asih sambil menyerahkan sebuah gelang pada Sri Amangkurat." Serahkanlah kembali gelang ini pada pemiliknya."

Dengan penuh perasaan heran Sri Amangkurat memperhatikan gelang yang batu diserahkan oleh adindanya. Gelang itu ternyata adalah sebuah gelang yang terbuat dari batu pualam.

Mendadak raut wajah Sri Amangkurat berubah.

„Yayi dewi, betulkah apa yang tadi kau katakan itu?"

„Maksud kamas? “ puteri Sekar Asih terheran-heran menyaksikan perobahan sikap kakandanya.

„Betulkah gelang ini berhasil kamu renggut dari tangan orang itu?"

„Kenapa aku mesti membohong, kamas." tukas puteri Sekar Asih.

„Dalam keadaan setengah sadar aku berhasil merenggut gelang ini dari tangan orang yang menyergapku."

Sri Amangkurat nampak menimang-nimang gelang batu pualam itu dengan raut wajah yang aneh.

„Yayi dewi. Aku harus cepat-cepat menjumpai Nirbita."

„Siapa? Nirbita””

„Ya. Tumenggung Nirbita. Orang yang diserahi tugas memimpin kelompok prajurit Singasari."

Setelah berkata begitu Sri Amangkurat cepat-cepat meninggalkan puteri Sekar Asih dengan membawa gelang batu pualam yang baru diserahkan tadi. Puteri Seka rAsih yang nampak keheranan menyaksikan sikapnya, sama sekali tidak dihiraukan.

X X X

IV. PANGRAN KALINGGOPATI MATI TERBUNUH.

■■■■■

Begitu sampai ditempat kediamannya, Sri Amangkurat lantas menyuruh salah seorang pengawalnya untuk memanggil Tumenggung Nirbita.

Dalam waktu yang tak lama, Tumenggung Nirbita sudah datang menghadap.

„Gusti memanggil hamba?"

„Ya, Nirbita. Ada sesuatu yang harus kau kerjakan." Tumenggung Nirbita merasa heran mendengar kata-kata Sri

Amangkurat tadi.

„Nirbita, pergilah segera kerumah Kalinggapati. Katakanlah padanya, bahwa aku ingin bicara dengannya. Sekarang juga.” berkata Sri Amangkurat terlebih lanjut.

Walaupun hatinya diliputi pertanyaan, Tumenggung Nirbita toh berangkat juga. Kalinggapati yang disebut oleh Sri Amangkurat adalah pangeran Kalinggapati, seorang pangeran yang cukup berpengaruh di Mataram.

Seperginya Tumenggung Nirbita, Sri Amangkurat mengambil kembali gelang batu pualam yang tadi disimpan disabuk. Diperhatikannya gelang pualam itu sekali lagi dengan seksama.

Tak berapa lama kemudian, terlihat Tumenggung Nirbita telah kembali. Tetapi alangkah heran Sri Amangkurat. Tumeuggung Nirbita nampak seorang diri dan berjalan dengan bergegas.

„Nirbita. Mana Kalinggapati.” berkata Sri Amangkurat ketika dilihatnya Tumenggung Nirbita telah sampai didekatnya.

„Gusti Pangeran Kalinggapati telah tiada lagi" berkata Tumenggung Nirbita dengan agak gugup.

„He. Kemana?"

„Be . . . Beliau telah meninggal di . . . dibunuh orang!" terdengar Tumenggung Nirbita memberi penjelasan dengan kata terputus-putus.

Apa yang dikatakan Tumenggung Nirbita itu betul - betul mengejutkan Sri Amangkurat.

„Nirbita. Perintahkan segera untuk menyiapkan kuda tunggangku.

Aku segera datang kerumah Kalinggapati. berkata Sri Amangkurat dengan suara mengguntur.

Sehabis berkata begitu Sri Amangkurat lantas berjalan keruangan dalam.

Beberapa pengawal yang berada ditempat itu lantas di beri isyarat oleh Tumenggung Nirbita untuk menyiapkan kuda tunggang sri Amangkurat. Dengan sigap mereka cepat-cepat menjalankan perintah itu. Mereka sudah cukup „berpengalaman" apa yang akan terjadi kalau mereka lambat menjalankan tugas.

Dalam wakktu singkat kuda tunggang kesayangan Sri Amangkurat sudah tersedia dipelataran.

Tidak lama kemudian Sri Amangkurat sudah muncul kembali dari ruangan dalam.

„Nirbita. Ayo ikutlah!" berkata Sri Amangkurat sambil dengan sigapnya meloncat kepunggung kuda.

Perintah itu dijalankan Tumenggung Nirbita sebaik-baiknya.

Pemimpin prajurit Singasari itu segera mengambil kuda tunggangnya. Dalam waktu yang tidak lama Sri Amangkurat bersama dengan

Tumenggung Nirbita sudah berada dirumah kediaman Pangeran Kalinggapati.

Dirumah kepangeranan itu kini nampak banyak orang yang tengah berkumpul. Ketika melihat dua orang penunggang kuda masuk kepelataran, semula merasa heran, tetapi rasa heran cepat berubah menjadi rasa terkejut ketika mengetahui siapa pendatang baru itu.

Segera mereka bergagas memapak kedatangan si penunggang kuda itu.

„Gusti. Selamat datang . . . "

Sri Amangkurat hanya mengangguk.

„Mana nyi Kalinggapati?” demikian pertanyaan yang terdengar. „Didalam gusti?"

Sri Amangkurat dengan diikuti oleh Tumenggung Nirbita dan beberapa orang yang lainnya lantas berjalan keruangan dalam.

Ketika Sri Amangkurat sampai diruangan dalam, suasana keharuan lantas menyambutnya. Seorang puteri yang berwajah cantic tengah menangis disamping seorang yang terbaring di hadapannya. Didada orang itu terlihat bekas luka yang mengalirkan darah segar. Sehingga kulit yang kuning dari orang tadi nampak berlumuran darah.

„Kapan peristiwa ini terjadi?"

„Tadi pagi gusti?" jawab salah seorang pengawal pangeran Kalinggapati yang kebetulan berada dibelakang Sri Amangkurat.

„Tadi pagi, sekira menjelang subuh ketika hamba berpatroli didekat jamban, hamba menjumpai gusti pangeran Kalinggapati terkapar berlumuran darah dipelataran jamban. Hamba lantas memanggil kawan- kawan hamba untuk merawat gusti pangeran sebagai mana mestinya.” demikian pengawal itu menjelaskan.

„Tetapi ternyata, bahwa luka gusti pangeran terlalu parah, sehingga tidak lama setelah kami menemukan tubuh beliau ternyata beliau menghembuskan nafas yang penghabisan.”

Sri Amangkurat hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar kisah yang dituturkan oleh pengawal itu.

Tiba2 Sri Amangkurat menoleh kearah Tumenggung Nirbita.

„Nirbita, coba suruh salah seorang pengawal Kalingga paten untuk memanggil Kyai Ontoboga!" berkata Sri Amangkurat dengan nada suara dalam.

Tumenggung Nirbita tersentak, bagaikan tersengat kala.

„Kyai Ontoboga?" cetusnya.

„Ya, Nirbita. Kyai Ontoboga.” Sri Amangkurat memberi keyakinan.

„Aku mengetahui dengan segera siapa sipembunuh Kalinggapa."

Sebetulnya Tumenggung Nirbita masih merasa heran. Walau begitu ia toh lantas memerintahkan seorang pengawal Kalinggapaten untuk cepat-cepat melaksanakan tugas itu.

Tidak lama kemudian pengawal yang diutus, datang kembali bersama dengan seorang yang sudah berusia lanjut.

„Gusti Pangeran memanggil hamba?" berkata orang tua itu.

„ Ya, bapa Ontoboga. Saya terpaksa mengganggu ketenangan bapa." sahut Sri Amangkurat kepada orang tua yang baru datang itu yang tidak lain dari pada Kyai Ontoboga. Kemudian dengan singkat Sri Amangkurat menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan secara singkat tetapi jelas. Setelah selesai berkisah berkatalah Sri Amangkurat:

„Bapa Ontobuga. Aku ingin mengetahui dengan segera siapa pembunuh dari Kalinggapati." kali ini kata-kata itu diucapkan dengan nada suara yang menggelora. „Sebelum matahari terbenam aku harus sudah dapat meringkus sipembanuh." Sekalian orang yang hadir ditempat itu tunduk. Tak seorangpun yang berani membuka bitiara. Mereka tahu perasaan apa yang kini tengah bergejolak didalam diri Sri Amangkurat.

Kyai Ontoboga pun terdiam. Baru beberapa saat kemudian berkatalah dia:

„Baiklah gusti. Hamba berusaha sekuat kuasa hamba. Doakan saja semoga usaha hamba berhasil."

„Marilah, Nirbita. Hantar aku ketempat kejadian itu." kata kyai Ontoboga selanjutnya sambil menggapai Tuanenggung Nirbita.

Tanpa diperintah para pengawal Kalinggapaten lantas menghantar Kyai Ontoboga ketempar kejadian.

Sri Amangkurat dan Tumenggung Nirbita lantas mengiring dari belakang.

Begitu sampai ditempat kejadian kyai Ontoboga lantas mengatasi keadaan disekeliling tempat itu dengan penuh kewaspadaan.

Setiap jengkal dan lekuk-lekak tanah diamat-amatinya dengan seksama. Perbuatan itu diulangi berkali-kali. Kalau semula ia hanya berdiri, maka pada Pemeriksaan selanjutnya ia melakukan perbuatan itu sambil berjongkok.

Sekalian orang yang hadir ditempat itu menahan nafas. Terlebih- lebih pengawal-pengawal Kalinggapaten yang tadi pagi menolong Pangeran Kalinggapati. Mereka tahu siapa kyai Ontoboga dan perbuatan apa yang akan ia lakukan.

Sementara itu kyai Ontoboga masih terus mengamat-amati suasana ditempat itu.

Mendadak Kyai Onoboga berjalan kearah tembok yang mengelilingi dalem Kalinggapaten. Tembok itu terletak tidak seberapa jauh dari jamban. Sesampai ditempat itu Kyai Ontoboga nampak berkemak-kemik sambil menatap kesuatu bagian tanah dikaki tembok itu.

Dan kemudian dengan perlahan-lahan ia berjongkok. Lidahnya dijulurkan dan setelah itu dijilatkan ketanah.

Apa yang dilakukan oleh Kyai Ontoboga itu merupakan salah satu praktek dari orang-orang berilmu pada jaman itu. Dengan jalan menjilat telapak kaki seseorang, maka orang yang telapak kakinya terjilat akan menderita sakit berat pada kakinya. Tindakan itu terutama ditujukan pada seorang pencuri yang baru saja mencuri dirumah seseorang. Dan dengan perbuatan itu memang sipencuri lekas tertangkap. Hanya saja resikonya amat berat, yaitu kemungkinan salah jilat selalu ada, sehingga orang yang tidak bersalah sering menjadi korban.

Tetapi dalam hal ini Kyai Ontoboga merupakan perkecualian. Sudah lama ia rmenjalankan praktek itu dan selamanya tidak salah jilat. Sasaran yang dpilihnya selalu tepat. Dan sudah menjadi kebiasaannya ia tidak akan melakukan hal itu apabila tidak memperoleh suatu keyakinan bahwa ia tidak akan jilat. Oleh karena itulah ia mendapat julukan Ontoboga. Dalam cerita Wayang Purwa, Ontoboga nenek Ontosena memiliki kesaktian itu kemudian diturunkan pada Ontosena, schingga untuk mencegah adanya korban-korban yang tak dikehendaki maka Ontosena terpaksa dibinasakan sebelum perang Barata Yuda dimulai.

Walau begitu praktek semacam itu kurang disukai rakyat, sehingga jaranglah orang menggunakannya. 0leh karenanya itu ketika Sri Amaugkurat memutuskan untuk memanggil kyai Ontoboga, Tumenggung Nirbita sangat terkejut.

„Gusti." terdengar kyai Ontoboga memecah kelengangan yang merajai tempat itu. „Orang itu bukan orang yang sembarangan. Si pembunuh ternyata memiliki benteng pertahanan batin yang tangguh. Hanya saja oleh karena dia melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan suara hatinya, maka benteng pertahan itu berhasil hamba gugurkan."

Sri Amangkurat mengangguk perlahan.

„Nanti menjelang matahari terbenam, gusti akan mengetahui siapa dia sebenarnya." berkata Kyai Ontoboga terlebih lanjut.

Sri Amangkurat percaya penuh pada kemampuan kyai Ontoboga.

Setelah memberikan beberapa petunjuk pada keluarga almarhum pangeran Kalinggapati maka dengan diiringi oleh Tumenggung Nirbita dan kyai Ontoboga, Sri Amangkurat kembali kekeraton.

X X X

Peristiwa terbunuhtnya pangeran Kalinggapati segera tersiar dengan cepat keseluruh pelosok Karta. Mereka semua yang mendengar peristiwa itu sangat terkejut.

Memang. Sebetulnya dikalangan rakyat Mataram Pangeran Kalinggapati kurang populer. Ia seringkali mengganggu ketenangan kehidupan kawula Mataram yang kebetulan memiliki anak gadis yang cantik.

Pangeran Kalinggepati sudah beristerl, isteri yang sah, namun begitu jiwa pemburunya masih tetap berkobar kobar. Setiap kali terbentur pada wajah yang cantik jelita ia lantas tergoda. Dan kalau sudah begitu maka segala jalan ia tempuh untuk mencapai maksudnya. Halal ataupun tidak, asal ia dapat memiliki kuntum bunga yang baru mekar itu.

Walau begitu peristiwa yang menimpa diri pangeran Kalinggapati sungguh mengejutkan.

Tetapi jika sekalian penduduk Mataram terkejut ketika mendengar terjadinya peristiwa itu, lain halnya dengan Tumenggung Nirbita. Walau ia juga terkejut ketika mengetahui peristiwa itu, namun rasa terkejutnya itu terdesak oleh perasaan heran oleh tanduk Sri Amangkurat dalam menghadapi peristiwa pembunuhan itu.

Ketika kyai Ontoboga telah bermohon diri setelah menerima sekedar tanda terima kasih dari Sri Amangkurat, dan Tumenggung Nirbita tinggal berdua dengan Sri Amangkurat maka terdengarlah putera mahkota itu berkata:

„Nirbita, kau tahu apa sebabnya tadi aku memanggil Kaiinggapati?"

„Tidak gusti, hamba tidak tahu." Pangeran Amangkurat tersenyum aneh.

„Memang kau tidak akan tahu Nirbita. Dan kalau kau tahu apa sebabnya kau akan terkejut." kata Sri Amangkurat dengan nada suara perlahan.

„Tumenggung Nirbita semakin heran. Pada saat itulah ia melihat Sri Amangkurat seperti mengambil sesuatu dari sabuknya.

„Coba lihat gelang batu pualam ini, Nirbita." kata Sri Amangkurat tiba-tiba sambil menyodorkan sesuatu pada Tumenggung Nirbita.

Apa yang dilihatnya mengejutkan Tumenggung Nirbita. Benda yang disodotkan kepadanya tidak lain dari pada sebuah gelang yang terbuat dari batu pualam.

„Bukankah gelang nii gelang yang biasa dipakai oleh pangeran Kalinggapati?” kata Tumenggung Nirbita perlahan. „Da . . ri mana gusti memperolehnya?"

„Bukan aku yang memperoleh Nirbita, melainkan yayi dewi Sekar

Asih."

Tumenggung Nirbita bagai mendengar ributan guntur yang

menyambar bersamaan ketika mendengar kata-kata Sri Amangkurat tang paling akhir itu.

„Ya. Nirbita. Yayi dewi Sekar Asihlah yang memperolehnya. Ia berhasil merenggut dari pergelangan tangan laki-laki yang menyergapnya tadi malam.

Tumenggung Nirbita nampak tertegun. Entah perasaan apa saat itu berkecamuk dalam rongga dadanya. la tak tahu. Terkedjut, heran dan marah bercampur aduk jadi sastu. Dan karenanya ia tak tahu apa yang mesti akan ia perbuat. Akhirnya seteiah agak dapat menguasai diri barulah dia berkata.

„Ja jadi"

Namun belum selesai kata-kata itu ia ucapkan terdengar Sri Amangkurat memotong:

„Jadi Windu Segara tidak bersalah."

Kata-kata yang terakhir ini ibarat angin sepoi-sepoi basa ditengah- tengah suasana kegerahan. Tumenggung Nirbita segera teringat kembali peristiwa yang baru saja terjadi pagi tadi Ketika Windu Segara akan dipaksa untuk mengakui kesalahan.

Kata-kata Sri Amangkurat itu betul - betul menimbulkan rasa lega dihati Tumenggung Nirbita. Karena dengan terbebasnya Windu Segara dari dakwaan itu, sekaligus nama baik Prajurid Singasari yang hampir tercemar, telah dipulihkan.

Tetapi tiba-tiba Tumenggurg Nirbita kembali teringat kembali masalah yang tengah ia hadapi. Karena itu dengan cepat ia memberanikan diri berkata:

„Tetapi, gusti. Kenapa pangeran Kalinggapati dibunuh."

Mendadak Sri Amangkurat memperlihatkan raut wajah yang aneh.

Kemudian katanya:

„Itulah sebabnya Nirbita, kenapa aku ingin lekas-lekas mengetahui siapa si pembunub Kalinggapati."

X X X

Sementara itu upacara pemakaman jenasah Pangeran Kalinggapati dilangsungkan sore itu juga. Upacara dilangsungkan dalam suasana yang khitmat, seperti yang biasa terjadi pada upacara-upacara pemakaman pangeran pangeran Mataram lainnya.

Sri Amangkuratpun dengan didampingi oleh Tumenggung Nirbita juga ikut menghantar jenasah ketempat peristirahatan yang terakhir.

Didalam setiap kesempatan yang ada setiap orang selalu mencuri lihat pada Sri Amargkurat yang kali ini didampingi oleh Tumenggung Nirbita. Mereka merasakan sesuatu kejanggalan. Tetapi apakah itu, mereka tidak lahu pasti.

Perasaan rakyat Mataram itu bukan hal yang aneh.

Begitu Sri Amangkurat kembali kekeraton ia segera memerintahkan seorang prajurit Wiraraja untuk memanggil pemimpin pasukannya, Tumenggung Suradirja.

Tetapi ternyata prajurit itu kembali seorang diri. Wajahnya nampak pucat pasi.

„He . . . . mana Suradirja?"

Prajurit itu tidak segera menjawab. Tubuhnya nampak gemetar menahan ketakutan. Baru setelah dibentak berkatalah dia.

„Am . . Ampun, gusti. Bapa Tumengung ti . . . . tidak dapat memenuhi panggilan gusti?"

„Mengapa?"

„Beliau sakit?"

„Sakit? Sakit apa?"

Prajurit itu tidak menjawab.

„Sakit apa!" bentak Sri Amangkurat tak sabar. Namun prajurit itu tetap tidak membuka mulut.

Tumenggung Nirbita heran menyaksikan sikap prajurit itu. Mengapa ia tidak segera memberikan jawaban pertanyaan Sri Amangkurat?

„Apakah kau bisu. Ayo jawab!" sekali lagi Sri Amangkurat membentak.

Namun prajurit tadi masih tetap membungkam. Dan suasana ditempat itu terasa tenggelam dalam kelengangan yang ganjil.

„Katakanlah! Mengapa Suradirja tidak dapat memenuhi panggilanku." kembali terdengar Sri Amangkurat berkata kali ini dengan nada suara yang rendah.

„Am .. Ampun, gusti. Ba . bapa tumenggung tidak dapat berjalan. Te . . . lapak kakinya . kak !" terdengar jawab prajurit itu terbata bata.

Walau begitu jawaban ltu sudah cukup menggetarkan Tumenggung Nirbita.

„Ya. Allah apakah sebetulnya yang tengah terjadi?" pekik Tumenggung Nirbita didalam hati. Namun saat itu ia tidak sempat berfikir terlebih panjang, karena mendadak terdengar Sri Amangkurat berkata :

„Nirbita, ayolah ikuti aku. Kita harus segera menjumpai Suradirja." Tumenggung Nirbita tidak membantah, Ia segera mengikuti Sri

Amangkurat berkunjung ke rumah Tumenggung Suradirja.

Disepandjang perjalanan menuju kerumah Tumenggung Suradirja, Tumenggung Nirbita diliputi perasaan tidak menentu. Peristiwa berantai yang baru saja terjadi serasa bergulung gulung dibenaknya. Pertama kall Windu Segara didakwa berusaha melakukan perkosaan terhadap Puteri Sekar Arih. Kemudian peristiwa itu belum berhasil dibereskan terjadi peristiwa pembunuhan atas diri pangeran Kalinggapati. Kini mendadak terjadi perkembangan baru. Tumenggung Suradirja diluar dugaan mendeeita sakit pada telapak kakinya. Dan dugaan yang buruk segera timbul.

„Ah, tidak mungkin. Tidak bisa jadi." bantah Tumenggung Nirbita didalam hati.

Sementara itu mereka telah sampal dirumah kediaman Tumenggung Suradirja.

X X X

Dibagian lain dari kota Karta, pusat pemerintahan Mataram, Windu Segara nampak duduk termenung ditepian sungai yang terdapat tak berapa jauh darl rumah kediaman Ki Wisrawa.

Siang tadi Windu Sagara madh berada didalam kurungan.

Kemudian datang Tumenggung Nirbita. Windu Segara heran, Terlebih- lebih ketika Tumenggung itu berkata:

„Windu Segara, kau dibebaskan."

„Dibebaskan?" ulang Windu Segara setengah tidak percaya pada apa yang baru didengar.

„ Ya,Sri Amangkurat memerintahkan begitu."

Kemudian tanpa berkata kata lagi Tumenggung Nirbita membuka pintu kurungan itu.

Windu Segara masih belum percaya. Ketika ia berjalan keluar dari kurungan ia nampak ragu-ragu.

„Windu Segara, siang ini kau boleh beristirahat dirumahmu." terdengar Tumenggung Nirbita berkata lagi. Dan sesudah itu ia pergi meninggalkan Windu Segara.

Dengan langkah bimbang ia terus berjalan. Kebimbangannya lantas menghilang ketika sekalian pengawal keraton, baik dari kalangan Prajurit Singasari maupun dari Prajurit Wiraraja tidak menghalanginya. Namun begitu raut wajah mereka nampak sinis.

Windu Segara tidak bernafsu lagi untuk berada terlebih lama dikeraton. Karena itu ia cepat-cepat meninggaikan keraton.

Tetapi ketika ia sampai dirumah ki Wisrawa, suatu perkembangan baru ia hadapi.

Dari ki Wisrawa ia mendengar berita tentang pembunuhan atas diri Pangeran Kalinggapati.

Pangeran Kalinggapati . . . Ya. Pangeran Kalinggapati. Entah berapa kali nama itu diulang ulang didalam hati. Nama yang mengingatkannya pada suatu peristiwa beberapa waktu berselang, Peristiwa yang menimbulkan kegoncangan dalam jiwanya.

Peristiwa pembunuhan Pangeran Kalinggapati itu seperti mengingatkan kembali Windu Segara pada peristiwa yang menggoncangkan jiwanya itu. Karenanya batinnya merasa tertekan.

Untuk mengurangi tekanan batin yang tengah dirasakannya, Windu Segara lantas pergi kesurgai yang tak seberapa jauh dari tempat tinggalnya.

„Ah, apakah sebetulnya arti dari peristiwa yang kini terjadi?" katanya didalam hati sambil memandangi aliran air sungai yang jernih itu.

Mendadak ia teringat sesuatu. Ya, peristiwa yang terjadi pagi tadi, ketika ia dipaksa untuk mengakui suatu kesalahan yang tidak ia lakukan.

Peristiwa tertergulingnya Sindu dan Prana ketika tengah mencambuk tubuhnya, diikuti dengan sikap aneh dari Tumenggung Nirbita ketika mencambuk tubuhnya. Hal itu menimbulkan perasaan heran dihatinya. Apakah yang sebetulnya tengah terjadi?

Sementara itu sang Surya muulai condong kebarat. Windu Segara masih terus berada ditepi sungai itu. Pemandangan indah disedja hari itu mengurangi banyak ketegangan dihatinya.

„Windu Segara, apa yang tengah kau kerjakan?" terdengar suara menyapa.

Windu Segara tersentak. Cepat la menoleh kearah suara yang menyapanya itu. Dan ia terlebih terkejut lagi, ketika melihat orang yang menyapanya itu.

„Bapa Wiku Jaladri?"

Orang yang menyapa Windu Segara, yang tidak lain dari pada Wiku Jaladri, mengangguk. „Bermenung-menung tidaklah menguntungkan, Windu Segara.

Marilah ikuti aku, untuk menyaksikan keramaian." berkata Wiku Jaladri.

Windu Segara heran.

„Ayolah lekas. Kenapa ragu-ragu?" ulang Wiku Jaladri.

Akhirnya walau hatinya diliputi perasaan heran, Windu Segara segera mengikuti Wiku Jaladri yang sudah mulal melangkahkan kaki.

Wiku Jaladri terus berjalan ketengah kota. Saat itu matahari telah hampir terbenam. Suasana sudah mulai gelap.

Namun begitu Wiku Jaladri terus berjalan.

Ketika suasana sudah gelap sampailah Wiku Jaladri disebuah rumah yang tidak seberapa jauh dari keraton. Sesampai dirumah itu Wiku Jaladri lantas masuk kedalam. Windu Segara ragu-ragu untuk mengikutinya.

„Windu Segara! Ayolah segera masuk!"

Walau Windu Segara semakin heran ia toh mengikuti Wiku Jaladri.

Sesampai didalam rumah Windu Segara diajak masuk kedalam senyong. Sentong itu hanya disinari sebuah lampu teplok. Tak ada sebuah alat rumah tangga selain sebuah almari.

„Windu Segara! Tolong ingsutkan almari ini!"

Windu Segara heran. Walau begitu ia toh tidak berani membantah.

Dengan cekatan ia melakukan perintah itu.

Dalam waktu yang tidak lama almari itu sudah teringsut kesamping.

Dan . . . Windu Segara tertegun. Dibagian tembok dibelakang almari itu terlihat sebuah lobang.

„Windu Segara! Mari ikuti aku!” kata Wiku Jaladri, sambil berjalan memasuki lobang tadi.

Windu Segara semakin heran. Namun begitu ia tidak membangkang. Dengan tidak ragu-ragu ia lantas berjalan masuk kedalam lobang mengikuti Wiku Jaladri.

Ternyata lobang itu merupakan awal dari sebuah terowongan yang panjang dan gelap.

Setelah sekian lama berjalan menyusuri terowongan itu terdengar Wiku Jaladri berkata:

„Windu Segara, kita telah sampai pada tempat tujuan." bersamaan dengan akhir dari kata-kata Wiku Jaladri terasalah hembusan angin yang dingin. Hanya saja ketika Windu Segera melangkah kedepan tubuhnya bersinggungan dengan ranting2 pohon.

Wiku Jaladri yang berada disamping Windu Segara lantas memberi isyarat untuk tidak sembarangan bergerak.

„Windu Segara! Perhatikan! Apa yang berada didepanmu. terdengar Wiku Jaladri berbisik didekat telinganya.

Windu Segara lantas mengikuti arah ditunjuk oleh Wiku Jaladri, Dan

……terkesiaplah ia.

Dihadapannya tidak lebih sepuluh langkah darinya terlihat sebuah puri. Puri yang ia kenal dengan baik. Sangat baik. „Putri Sekar Pandan?" bisik Windu Segara. Wiku Jaladri mengangguk perlahan.

Memang. Puri yang terlihat dihadapan Windu Segara tidak lain dari puri tempat kediaman putri Sekar Pandan. Windu Segaza tidak sangsi lagi.

Jadi kalau begitu terowongan itu menghubungkan rumah tadi dengan keraton.

Namun belum sempat Windu Segara berfikir terlebih panjang, terlihat Wiku Jaladri menggapai.

Dengan gerak yang lincah Wiku Jaladri menyelipan kebagian belakang puti. Winda Segara mengikutinya.

Dalam waktu sekejab saja sampailah ke dua orang itu kebagian belakang dari purit itu. Kemudian mereka menyusuri dinding puri untuk mencapai ruang samping.

Mendadak Wiku Jaladri berhenti berjalan. Windu segara digapai untuk mendekatinya.

Pada saat itu terdengarlah suara seorang wanita berkata:

„Anakku. Katakanlah apa maksudmu menjumpai ibu.”

Itulah suara putri Sekar Pandan. Windu Segara tidak akan salah mengenal.

„Ibu mestinya harus sudah tahu maksud kedatangan anda kemari.” terdengar nada suara berwibawa. Windu Segara tidak asing lagi. Itulah suara Sri Amangkurat.

Sampai disini Windu Segara merasa heran, mengapa Wiku Jaladri membawanya ketempat kediaman putri Sekar Pandan.

„Amangkurat. jangan berteka-teki. Katakanlah maksud kedatanganmu kemari.” terdengar kembali suara putri Sekar Pandan.

„Baiklah ibu, ananda akan bicara terus terang." berkata Sri Amangkurat." Bukankah ibu mendengar peristiwa pembunuhan Kalinggapati?"

„Ya. Aku mendengarnya."

„Untuk mencari si pembunuh, ananda lantas bertindak cepat. Ananda panggil kyai Ontoboga untuk mencari jejak si pembunuh."

,Ya. Lantas?"

„Kyai Ontoboga bertindak cepat. Jejak kaki yang dicurigainya lantas ia jilat."

„Hmm."

„Dan sore harinya Tumenggung Suradirja ananda jumpai bengkak pada telapak kakinya."

Kata-kata Sri Amangkurat yang terakhir ini betul - betul mengejutkan Windu Segara. Jadi kalau begitu yang membunuh Pangeran Kalinggapati adalah Tumenggung Suradirja. Ah, tidak mungkin!

Kalau Windu Segara sangat terkejut mendengar kata-kata Sri Amangkurat, putri Sekar Pandan tidaklah demikian. Ia nampak tenang - tenang saja.

„Ah, kasihan Suradirja. Ia menjadi korban kecerobohan."

„Ibu! Jangan meremehkan kyai Ontoboga." potong Sri Amangkurat.

Kali ini nada suaranya meninggi. „Dia tidak akan bertindak kalau tidak merasa yakin."

Mendadak nada suara Sri Amangkurat merendah.

„Ibu. sudahlah. Bukalah kartu. Ananda telah mengetahui segala - galanya."

Nada suara Sri Amangkurat itu menimbulkan perasaan aneh dalam diri Windu Segara.

„Tadi Sore ananda telah berkunjung kerumah Suradirja. Ia telah mengatakan segala - galanya."

Ruangan itu sunyi sejenak, Kemudian:

„Ya. Ibu dia telah mengatakan segala galanya."

Kata - kata terachir diucapkan dengan nada yang dikenal baik oleh Windu Segara. Nada suara semacam itulah nada suara Sri Amangkurat ketika akan mencambuknya.

Oleh karena sangat tertarik pada peristiwa yang tengah terjadi dihadapannya maka Windu Segara mencoba mengintai dari jendela kaca.

Segera Windu Segara melihat adegan yang terjadi didalam ruangan itu. Sri Amangkurat yang berdii hanya beberapa langkah dihadapan puteri Sekar Pandan menunjukkan wajah yang merah padam. Sedang puteri Sekar Pandan duduk disebuah kursi berukir. Raut wajahnya mencerminkan perasaan yang sukar diduga.

Saat itulah terdengar seruan tertahan:

„Oh . . . " dan kemudian terlihat puteri Sekar Pandan menutup muka.

„Suradirja berkata, bahwa ia membunuh Kalinggapati atas permintaan seseorang." terdengar Sri Amangkurat berkata, tanpa menghiraukan sikap puteri Sekar Pandan." Orang itu tidak lain dari pada ibu."

„Oh . . . . " sekali lagi terdengar puteri Sekar Pandan berseru tertahan.

„Ya, ibulah yang bertanggung jawab!"

Windu Segara terpukau menyaksikan adegan diruangan itu. Sedikit demi sedikit ia tahu, mengapa Wiku Jaladri mengajaknya datang kepuri puteri Sekar Pandan.

„Ananda tidak mengerti, ibu. Kenapa justru pada saat Mataram sedang berprihatin, ibu berbuat semacam ini," kali ini nada suara Sri Amangkurat sedikit bergetar. Agaknya beliau berusaha menekan perasaan marahnya.

„Dan ananda lebih-lebih tidak mengerti lagi, karena ibu melakukan perbuatan ini berdasar alasan yang tidak wajar."

Sri Amangkurat berhenti bicara sejenak, kemudian: „Jangan ibu mengira, bahwa ananda tidak tahu, Kesemuanya ini ibu lakukan semata - mata ibu merasa sakit hati pada Windu Segara yang telah menolak permintaan ibu untuk melakukan perbuatan terkutuk.

Bukankah demikian, ibu."

Bulu kuduk Windu Segara bangkit berdiri, ketika mendengar rentetan kata Sri Amangkutat tadi. Ah, sungguh tidak ia duga, bahwa persoalan ini menyangkut dirinya. Dan yang lebih menakutkan adalah kata - kata Sri Amangkurat yang terakhir tadi. Dari kata-kata itu jelaslah, bahwa Sri Amangkurat mnengetahui peristiwa malam itu, ketika puteri Sekar Pandan berniat yang bukan - bukan.

„Ah, dari mana Sri Amangkurat mengetahui hal itu? Bukankah pada waktu itu tidak seorangpun yang berada disekitar puri? Kecuali . . . .

„Dan juga ibu bermaksud menghilangkan kepercayaan kawan- kawan Windu Segara terhadap diri pemada itu. Jika rencana ibu terlaksana maka orang tidak percaya lagi pada Windu Segara. Tidak percaya pada setiap kata yang diucapkannya. Juga cerita tentang hubungan gelap ibu dengan Kalinggapati…..

Hampir saja Windu Segara mengeluarkan seruan terkejut, andaikata sebuah telapak tangan yang kuat tidak menutup mulutnya.

Namun begitu tetap terdengar seruan tertahan menggema diruangan itu, seruan tertahan dari mulut puteri Sekar Pandan.

„Oh ”

Windu Segara merasakan matanya berkunang - kunang. Ah, tidak la sangka bahwa Sri Amangkurat mengetahui hubungan gelap itu.

Hubungan gelap antara puteri Sekar Pandan dengan Pangeran Kalinggapati. Dari mana Sri Amangkurat mengetahui hal itu?

Saat itu terkilas kembali bayangan peristiwa yang menimbulkan perasaan muak itu, dibenak Windu Segara. Peristiwa yang terjadi disuatu malam yang dingin, ketika secara tidak terduga-duga ia memergokl puteri Sekar Pandan tengah bercanda dengan pangeran Kaliaggapati. Oleh kedua orang itu kemudian dia diancam untuk tidak membocorkan rahasia itu. Dan hingga hari ini memaag rahasia itu tetap disimpan olehnya.

Sungguh tidak diduga bahwa Sri Amangkurat telah mengetahui.

Sementara itu Pandan maupun Sri Amangkurat tidak berkata -

kata.

Sesaat kemudian barulah terdengar Sri Amangkurat membuka

bicara:

„Ibu lupa, bahwa sepandai - pandai orang menyimpan bangkai, suatu ketika akan tersiar bau busuknya.”

Berhenti sejenak, kemudian:

„ Oh, hampir saja ananda tidak mengetahui persoalan ini andaikata tidak ada seseorang yang sangat setia pada ananda."

Mendadak puteri Sekar Pandan berseru:

„Siapakah orang itu, Amangkurat?” „Perlu apa ibu mengetahui."

„Perlu apa ibu mengetahui."

„Katakan Amangkurat ! Aku akan mencacah bibirnya!” nada suara itu adalah nada histeris. Gema suaranya membangkitkan bulu kuduk yang mendengarnya.

„Tidak, ibu. Aku tidak akan mengatakannya!”

„Hi, hi, hi. Amangkurat! Aku tahu siapa dia! Aku tahu!" Terdengar kata puteri Sekar Pandan diiringi dengan suara tertawa yang berkepanjangan.

Windu Segara yang menyaksikan peristiwa itu dari balik jendela kaca merasa heran. Dipandangnya Wiku Jaladri yang berdiri disampingnya dengan pandang bertanya. Tetapi Wiku Jaladri nampak tenang tenang saja.

Mendadak puteri Sekar pandan berlari kebelakang.

„Hi, hi, hi. Amangkurat, lihatlah. Aku akan mencacah bibirnya. Akan kucacah sepuas hatiku. Sepuas hatiku! Hi, hi, hi ….”

Windu Segara tidak menduga, bahwa ia akan menyaksikan perkembangan peristiwa semacam itu.

„Ibu! Berhentilah! Tak seorangpun akan ibu jumpai di ruang belakang! Didalam puri ini tidak ada orang selain ibu dan ananda." terdengar Amangkurat berkata dengan suara menggeledek.

Puteri Sekar Pandan berhenti berlari. Dengan cepat ia memutar tubuh.

„Hmm. Amangkurat. Kau sembunyikan emban keparat itu?" Sri Amangkurat mengangguk perlahan.

„Katakan dimana dia!"

Sri Amangkurat tidak menjawab. Melainkan hanya menggeleng.

„Amangkurat, anakku. Katakan dimana dia sekarang. Katakanlah!

Sesudah itu berbuatlah sesukanya terhadapku. Aku tidak akan membangkang."

„Ibu aku tidak akan berbuat sesuatu, sebelum ajyahanda datang." berkata Sri Amangkurat perlahan.

Sejenak ruangan itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Tetapi hanya sejenak, karena mendadak terdengar suara tertawa panjang.

„Hi, hi, hi. Amangkurat. Kenapa harus menunggu kakang Mas Sultan Agung? Kau bebas untuk berbuat Amangkurat Hi, hi, hi

„Mau bunuh aku. Bunuhlah. Hi, hi, hi."

Windu Segara yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri. Raut wajah putri Sekar Pandan yang cantik jelita hilang tak berbekas dibawah seringai wajahnya. Suara tertawanya yang tidak berkeputusan itu membuat suasana diruangan itu menyeramkan.

„Amangkurat. Bunuhlah aku segera! Jangan ragu-ragu! Hi, hi, hi . .

. "

Mendadak Windu Scgara merasa pundaknya disentuh orang Ketika ia menoleh kebelakang dilihatnya Wiku Jaladri berjalan kebagian belakang puri.

Semula Windu Segara heran. Namun begitu ia segera mengikuti.

Dalam waktu yang tidak lama kedua orang itu sudah sampai dimulut terowongan.

„Windu Segara, kita harus segera kembali. Sri Amangkurat akan murka kalau memergoki kita mengintip kejadian ini." berkata Wiku Jaladri. Dan kemudian tanpa menanti reaksi Windu Segara, Wiku Jaladri lantas menerobos kedalam terowongan.

Bagi Windu Segara tidak ada jalan lain selain mengikuti Wiku Jaladri. Ketika ia akan memasuki pintu terowongan, sayup2 terdengar suara tertawa yang membangkitkan bulu roma. Itulah suara tertawa puteri Sekar Pandan.

Ketika kedua orang itu telah sampai dirumah yang terletak tidak seberapa jauh dari keraton barulah Wiku Jaladri membuka bicara :

„Windu Segara. Kau tahu bukan maksudku mengajakmu kepuri Sekar Pandan?"

Windu Segara yang masih tercekam oleh peristiwa yang disaksikannya, hanya mengangguk.

„Bapa Wrku, apakah disini tersedia air minum?" katanya. „Dalam keadaan seperti ini rasa - rasanya aku ingin minum."

Wiku Jaladri tertawa. Segera ia mengambil sebuah kendi yang terletak didalam almari tadi.

„Nih, Windu Segara. Minumlah sepuas hatimu. Setelah itu ada yang akan kutanyakan padamu."

Windu Segara lantas meminum air kendi itu sepuas-puasnya.

Setelah minum dirasakannya badannya agak segar.

Mendadak teringatkh ia sesuatu. Cepat berkatalah dia:

„Bapa mengapa Sri Amangkurat menghubungkan peristiwa pembunuhan pangeran Kalinggapati dengan diriku?"

Wiku Jaladri tersenyum.

„Windu Segara, apakah kau tak tahu, siapa yang sebetulnya telah mencoba memperkosa puteri Sekar Asih?"

„Sampai sekarang aku belum dapat memecahkan teka-teki ini, bapa."

„Apakah kau tahu keistimewaan pangeran Kalinggapati."

Windu Segara heran. Ia tidak tahu arah pembicaraan Wiku Jaladri.

„Maksud bapa?"

„Apakah sesuatu yang nampak selalu menyolok dalam diri pangeran Kalinggapati?”

Windu Segara memutar otak untuk menebak maksud pertanyaan Wiku Jaladri. Mendadak ia ingat sesuatu.

„Ah, apakah yang bapa maksudkan gelang dari batu pualam yang sering dikenakan oleh beliau?" demikian Windu Segara memberi penegasan.

„Betul, Windu Segara. Kau menebak jitu. Memang itu yang kumaksud."

„Lantas apa hubungannya dengan peristiwa itu?"

„Gelang itu berhasil dirampas oleh putri Sekar Asih dari pergelangan tangan orang yang menyergapnya."

„Oh, . . " Windu Segara tersentak." „Ja . jadi.. “

„Jadi pangeran Kalinggapatilah yang bertanggung jawab dalam peristiwa itu." potong Wiku Jaladri.

Windu Segera tertegun, la sama sekali tidak menyangka bahwa pangeran Kalinggapati sampai hati mciakukan perbuatan itu.

„Tetapi, pangeran Kalinggapati melakukan itu atas permintaan seseorang."

„Seseorang?"

„Ya. Seseorang Seseorang yang mempunyai hubungan rapat dengan pangeran Kalinggapati."

„Siapakah dia? bapa?”

„Apakah kau belum dapat menebak, Windu Segara?" Windu Sagara menggeleng.

„Orang itu tidak lain dari pada puteri Sekar Pandan."

Windu Segara merasakan dirinya bagai disambar petir mendengar keterangan Wiku Jaladri.

„Bapa saya bingung, Bingung, Sangat bingung. Wiku Jaladri tersenyum, Tersenyum aneh.

„Tak usah kau heran Windu Segara. Memang demikianlah kehidupan didalam keraton. Penuh tipu, penuh muslihat dan kadang- kadang diselingi dengan tingkah laku yang menjijikkan.”

Wiku Jaladri diam sejenak kemudian:

„Puteri Sekar pandan sangat takut ketika hubungannya dengan pangeran Kalinggapati kau ketahui. Ia khawatir jangan kau akan membuka rahasia ini. Maka timbullah niatnya untuk menyingkirkan kamu. Pangeran Kalinggapati dibujuknya untuk mencari siasat. Dan apa yang terjadi itu adalah siasat yang telah diaturnya."

„Tetapi kenapa setelah rencana itu berhasil pangeran Kalinggapati lantas dibinasakan?"

„Puteri Sekar Pandan takut pada bayangannya sendiri. Dia ingin menghilangkan semua jejak dari perbuatan hinanya. Dan ia percaya pada pangeran kalinggapati. Maka satu satunya jalan ialah dengan melenyapkan pangeran Kaliaggapati. Tugas untuk melenyapkan jejak ini dibebankan pada Tumenggung Suradirja."

Windu Segara terlongong - lolong mendengar kisah yang diuraikan oleh Wiku Jaladri itu. Ia setengah percaya setengah tidak.

„Sekarang tiba giliranku untuk menanyakan sesuatu padamu Windu Segara?" Untuk sejenak Windu Segara terdiam. Demikian pula Wiku Jaladri.

Sehingga karenanya ruangan itu menjadi sunyi.

Tetapi tidak berapa lama terdengar Wiku Jaladri memecah kesunyian:

„Sekarang tiba giliranku untuk menanyakan sesuatu padamu Windu Segara?”

Windu Segara tersentak.

„Eh . . . Apakah yang akan bapa tanyakan?"

Wiku Jaladri tidak segera berkata. Ia namapak menatap Windu Segara.

„Kau tentunya ingat peristiwa yang terjadi pagi tadi Windu Segara?"

„Yang mana?" jawab Windu Segara. Memang hari itu terlalu banyak peristiwa yang terjadi.

„Petistiwa pagi tadi ketika tubuhmu dililit ujung cambuk."

„Oh, petistiwa itu? Tentu. Saya masih ingat bapa."

„Juga tergulingnya Sindu dan Prana?"

„Ya….. Ya"

„Apakah sebetulnya yang kamu perbuat Windu Segara?"

Pertanyaan itu betul-betul mengejutkan Windu Segara. Ia tidak menyangka bahwa pertanyaan itulah yang akan diajukan kepadanya Wiadu Segara tidak tahu bagaimana ia mesti menjawab. Peristiwa itu betul2 membingungkannya.

„Jawablah dengan sejujur- jujurnya, Windu Segara.”

Windu Segara terdiam. Ia semakin kebingungan. Ketika ia menengadahkan muka, menandang kearah Wiku Jaladri,dilihatnya orang tua itu tengah menatapnya dengan pandang matanya yang tajam. Windu Segara tidak berani beradu pandang terlebih lama. Maka cepat-cepat ia menundukkan mata.

„Bapa, saya tidak tahu Bagaimana saya mesti memberikan jawaban. pertanyaan bapa ini. Saya tidak tahu. Apa yang sebetulnya telah terjadi "

„Baiklahh Windu Segara Jika kau tidak mau mengaku. Aku akan memaksamu menjawab dengan cara lain.”

Begitu habis berkata mendadak wiku Jaladri meloncat kehadapan Windu Segara. Telapak tangannya dihantamkannya kepundak W.indu Swgara.

x x x

V. AJI TAMENG WAJA.

■■■■■ Windu Segara sangat terkejut melihat sikap Wiku Jaladri. Ia sama sekali tidak mengira kalau Wiku itu akan melancarkan serangan kepada nya.

Secepat kilat ia berusaha untuk menghindar. Namun usahanya sia- sia belaka. Saat itu Wiku Jaladri sudah sampai dihadapannya sedang ayunan telapak tangannya sudah menderas.

Apa yang dapat diperbuat Windu Segara hanyalah membiarkan dirinya terhantam telapak tangan Wiku Jaladri.

Windu Segara lantas merasakan sentuhan tenaga yang sangat kuat, Seketika tubuhnya terhuyung kebelakang beberapa langkah. Tetapi sebaliknya sementara itu Windu Segara melihat wajah Wiku Jaladri berobah - obah. Tubuhnya juga nampak sedikit tergetar.

Sejenak keduanya tidak bicara. Windu Segara mencoba menatap Wiku Jaladri, tetapi ia tidak berani beradu pandang terlcbih lama. Sinar mata Wiku Jaladri yang saat itu menatapnya ibarat kilatan pisau belati.

„Windu Segara, apakah kau tetap bersikeras untuk tidak mengatakan dengan sebenarnya apa yang telah terjadi?" terdengar Wiku Jaladri berkata dengan nada suara dalam.

Windu Segara bingung, Namun begitu ia toh berkata:

„Bapa, apa yang mesti kukatakan. Aku bingung, sangat bingung.

Ya. Inilah yang dapat kukatakan.“

Sekali lagi Windu Segara melihat Wiku Jaladri menatapnya tajam - tajam.

„Hmm. Bila demikian silakan pulang Windu Segara. Lewatkanlah malam ini untuk beristirahat."

Windu Segara lantas meminta diri

Sesampai dirumah Ki Wisrawa, tanpa mcnghiraukan ayah angkatnya yang keheranan menyaksikan tingkah lakunya Windu Segara langsung menuju kepembaringan. Setelah membaringkan tubuh, Windu Segara merasa agak lega. Beban pikiran yang tadi serasa memberati kepalanya agak berkurang.

Hanya saja anjuran Wiku Jaladri untuk menikmati istirahat pada malam itu tak dapat ia laksanakan.

Semalaman itu ia tidak dapat memicingkaan mata. Segala macam peristiwa yang ia alami sejak semalam hingga disepanjang hari itu sangat membekas dalam kenangan Windu Segara. Juga pengalamannya bersama Wiku Jaladri ketika mengintai puri putri Sekar Pandan masih mencekam perasaannya.

Kesemuanya itu masih ditambah dengan sikap aneh dari Wiku Jaladri.

„Ah, mengapa kesemuanya aku alami dalam satu hari saja?" keluhnya. Kepalanya serasa tidak muat memikirkan segala peristiwa itu.

Keesokan harinya ketika ia mendapat panggilan Tumenggung Nirbita, ia berangkat ke istana dengan badan tidak enak. Tetapi ketika ia berjumpa dengan Sindu dan Prana yang nampak segar bugar ia merasa gembira.

Lebih2 sikap Prana yang telah pulih terhadap dirinya sangat menyegarkan Windu Segara. Sama sekali tidak terlihat sinar mata kecurigaan terpancar dari sinar mata Prana.

Orang yang memergoki dirinya akan berbuat tidak senonoh terhadap diri putri Sekar Asih, ternyata tidak mengingat-ingat peristiwa semalam itu.

Disela-sela kegembiraan Windu Segara agak merasa sedih juga ketika mendengar Sri Amangkurat mengumumkan hukuman yang dijatuhkan atas diri Tumenggung Suradirja dengan dakwaan atas diri pangeran Kalinggapati.

Tumenggung Suradirja pemimpin dari prajurit Wiraraja yang tidak diberangkatkan, dijatuhi hukuman mati. Anjuran Wiku Jaladri kepada Sri Sultan Agung sebelum hukuman didjatuhkan, tidak dihiraukan oleh Sri Amangkurat.

Mengenai nasib puteri Sekar Pandan, Windu Segara tidak mengetahuinya dengan pasti. Hanya saja semenjak itu ia tidak mengetahuinya dengan pasti. Hanya saja semenjak itu ia tidak pernah mendapat tugas untuk mengawasi puri. Dan bukan hanya dia melainkan juga kawan - kawan nya yang lain.

Puri tempat kediaman puteri Sekar Pandan itu seperti tenggelam dalam kabut keanehan. Sudah barang tentu hal ini menimbulkan rasa heran dihati sekalian prajurit Singasari. Tetapi perasaan heran mereka itu tinggal perasaan heran. Mereka tidak berhasil menyingkapkan kabut itu sedikit jugapun.

Windu Segara yang mengetahui sebab musababnya tetap membungkam. Ia tidak berani membuka mulut.  

Tanpa terasa sepuluh hari telah lewat. Selama hari-hari itu Windu Segara berhasil menenangkan diri. Kegoncangan jiwa yang disebabkan peristiwa sepuluh hari berselang lambat laun sembuh. Pada malam- malam dihari kesembilan dan kesepuluh ia sudah dapat tidur nyenyak tanpa adanya gangguan impian buruk.

Tiba-tiba Segara teringat sesuatu. „Ah, mengapa aku sampai melupakan bapa Bargawa?" demikian katanya dalam hati.

Ya. Saat itu mendadak Wlndu Segara teringat pada orang tua yang hidup menyendiri ditepi hutan itu.

„Aku harus menjenguknya. Orang tua itu pasti mengharapkan kedatanganku." demikian pikirnya. Keesokan harinya Windu Segara lantas berkemas untuk mangunjungi Ki Bargawa. Ia berangkat dengan bersemangat. Ia merasa akan mendapat hiburan segar pada saat2 ber-cakap2 dengan orang tua itu.

Dalam waktu yang tidak lama Windu Segara sampailah ketempat yang dituju, rumah Ki Bargawa. Begitu sampai didepan pintu rumah ia lantas uluk salam.

Tetapi tak terdengar jawaban.

Windu Segara tidak sabar. Pintu rumah itu didorongnya. Dan . . . alangkah kecewa Windu Segara ketika tidak menjumpai orang tua itu diatas balai-balainya.

„Apakah ia tengah pergi mencari kayu bakar kehutan?" demikian pikirnya. Dengan hati kesal Windu Segara duduk di-balai2 tempat ki Bargawa biasa berbaring.

Mendadak Windu Segara mendengar suara langkah kaki mendekat.

Seketika kekecewaan hatinya lenyap. Cepat ia melangkah keambang pintu untuk menyambut.

Tetapi begitu kakinya menginjak ambang pintu, ia terkejut bagai disambar petir.

„Windu Segara, apa yang kau kerjakan disini?" berkata orang yang baru datang itu yang disagkanya Ki Bargawa.

„Ba . . Bapa Wiku Jaladri?" sapanya tergugu.

Memang. Langkah2 kaki tadi tidak lain dari pada langkah kaki Wiku Jaladri, orang yang berpengaruh diistana Karta.

„Siapakah penghuni rumah ini Windu Segara. Agaknya kau telah kenal baik dengannya." berkata Wiku Jaladri terlebih lanjut.

Windu Segara masih belum hilang lanjutnya ketlka menjumpai kehadiran Wiku Jaladri yang begitu mendadak. Karena itu tidak segera memberi jawaban, Baru setelah Wiku Jaladri mengulangi pertanyaanya, barulah ia memberikan jawaban.

Windu Segara lantas berceritera tentang pertemuannya dengan ki Bargawa, mulai dari diketemukannya orang tua itu dalam keadaan sakit ditengah hutan hingga usaha-usaha yang ia lakukan untuk merawat orang tua itu.

„Dan sekarang apa yang kau kerjakan disini?" berkata Wiku Jaladri setelah Windu Segara selesai bercerita.

„Sudah sepuluh hari ini saya tidak menjumpainya. Saya ingin bertemu dengannya."

„Windu Segara, kau akan sia - sia menunggunya. Orang yang kau katakan bernama kl Bargawa itu tidak akan datang."

„Kenapa bapa?"

„Entahlah. Tetapi perasaanku mengatakan demikian." jawab Wiku Jaladri. Yang jelas kau berhasil menarik keuntungan yang sebesar - besarnya dari pertemuanmu yang amat singkat dengan orang tua itu." Windu Segara heran.

Namun tanpa menghiraukan Windu Segara yang keheranan Wiku Jaladri terus berkata:

„Ia telah menanamkan dasar peryakinan aji Tameng Waja dalam tubuhmu !"

„Aji Tameng Waja?” Windu Segara tersentak. Ia pernah mendengar disebutnya nama ajian iiu. Tetapi hanya dalam cerita. Kini mendadak Wiku Jaladri menyebutkannya.

„Kejadian yang menimpa Sindu dan Prana ketika mencambukmu adalah berkat aji Tameng Waja yang sudah tertanam dalam tubuhmu."

„Tetapi , . . " Windu Segara akan membantu, tetapi kata-katanya terhenti. Ia teringat pada pengalamannya ketika sering kali berkunjung kerumah ki Bargawa, disaat-saat orang tua itu telah sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Ki Bargawa sering memijit-mijit tubuhnya disertai memberikan petunjuk cara mengatur nafas yang aneh. Dan apa bila hal itu ia lakukan sebaik-baiknya, ia marasakan kesegaran yang luar biasa.

Windu Sugara lantas menceriterakan hal itu pada Wiku Jaladri.

„Windu Segara itulah salah satu cara yang ia tempuh untuk menggemblengkan aji Tameng Waja tanpa sepengetahuanmu." berkata Wiku Jaladri setelah Windu Segara selesai bercerita. Ia memang yakin bahwa hal itu tidak disadari Windu Segara.

„Nah sekarang marilah kita kembali ke Karta."

Windu Segara tidak berani membantah. Ia lantas mengikuti Wiku Jaladri kembali ke Karta.

T A M A T.