Tujuh Pembunuh Bab 8 Hukum langit (Tamat)

Bab 8 Hukum langit (Tamat)

Air hujan terasa dingin, serat air sangat lembut. Serat hujan yang lembut lagi panjang melayang turun diatas pohon waru tepat ditengah halaman, menyumbat daun waru dipohon tersebut, menyumbat pula perasaan murung dan masgul dalam hati manusia.

Liong Ngo sudah menyeberangi serambi panjang tapi tidak berjalan keluar dari situ, dia paling benci basah kuyup oleh air hujan.

Liu Tiang-kay telah menyusul tepat di belakang tubuhnya. Dia tahu, tapi tak berbicara, Liu Tiang-kay ikut membungkam.

Dalam suasana keheningan mereka berdua berdiri di ujung lorong panjang itu, mengawasi air hujan yang membasahi pohon waru di tengah halaman, entah berapa lama sudah lewat..................

"Oh Lip memang seorang lelaki yang tega" tiba tiba Liong Ngo menghela napas, "bukan saja dia tega terhadap orang lain, tega juga terhadap diri sendiri"

"Mungkin hal ini disebabkan dia tahu sudah tak ada jalan keluar lain" Liu Tiang-kay menanggapi dengan hambar.

"Justru karena sudah tak ada jalan keluar, maka kau bersedia lepaskan dia?"

"Aku pun termasuk seorang lelaki yang tega" "Tidak, kau bukan" Liu Tiang-kay sedang tertawa,

tertawanya bukan terhitung tertawa yang gembira.

"Paling tidak kau masih mengijinkan dia untuk pertahankan nama baik nya" kata Liong Ngo sambil berpaling mengawasinya.

"Yaa, karena nama baiknya bukan diperoleh dari mencuri, dahulu dia pernah berjuang dan bersusah payah selama banyak tahun"

"Dapat kulihat" "Apalagi diantara aku dan dia secara pribadi tak punya ikatan dendam atau permusuhan, aku tak ingin menghancurkan masa depan orang itu"

"Tapi kau tak pernah paksa dia untuk serahkan diri, bahkan kau tidak memintanya untuk menyerahkan semua hasil jarahannya"

"Aku tidak melakukan karena tidak perlu" 'Tidak perlu?"

"Dia bukan orang bodoh, sekalipun tidak kupaksa, semestinya dia harus memberi sebuah pertanggungan jawab kepadaku"

"Maka kau masih menunggu disini, menunggu dia selesaikan sendiri persoalan ini?"

Liu Tiang-kay tidak menyangkal.

"Maka hingga kini kasus tersebut belum tuntas?" kembali Liong Ngo berkata.

"Yaa, belum tuntas"

Liong Ngo termenung sesaat, tiba tiba tanyanya lagi:"Seandainya dia serahkan hasil jarahannya, bila dia bersedia selesaikan sendiri semua persoalan yang ada, apakah kau akan menganggap kasus ini telah tuntas?"

"Belum bisa" "Kenapa?"

"Seharusnya kau pun tahu kenapa"

Liong Ngo berpaling, menerawang awan mendung dikejauhan, lama kemudian dia baru bertanya: "Kau bersedia membebaskan Ciu Heng-po?"

"Tidak bisa" Tiba tiba paras mukanya berubah amat serius, dengan nada sungguh sungguh lanjutnya: "Hukum dan keadilan tak boleh dirusak oleh siapa pun, bila seseorang telah melanggar aturan, telah melakukan kejahatan, dia wajib meneritua ganjaran, dia patut dihukum"

Sekali lagi Liong Ngo berpaling, menatapnya lekat lekat, sesaat kemudian tegurnya: "Sebenarnya siapa kau? Mengapa harus mengungkap kasus ini hingga tuntas?"

Liu Tiang-kay tidak langsung menjawab, dia pun termenung beberapa saat, setelah itu baru katanya:

"Paling tidak aku berbuat demikian bukan demi kepentingan pribadi"

"Lalu demi siapa?" sekali lagi Liong Ngo mengulang pertanyaannya, "siapakah kau sebenarnya?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia tutup mulut.

Kembali Liong Ngo mendesak:"Tentu saja kau bukan jenis manusia seperti yang kau katakan, kau tak ingin menghianati diri sendiri dan tak akan menghianati diri sendiri"

Liu Tiang-kay tidak menyangkal.

"Baik aku maupun Oh Lip pernah selidiki asal usulmu secara cermat, tapi kami tidak temukan kebohongan apa apa dari pengakuanmu"

"Karena itu kau tidak mengerti?"

"Yaa, aku benar benar tak habis mengerti"

Tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa tergelak. Katanya: "Hanya ada satu cara bila kau jumpai masalah yang tidak mengerti"

"Cara apa?"

"Kalau tidak mengerti yaa tak usah dipikirkan, paling tidak jangan kau pikirkan untuk sementara waktu" "Selanjutnya?"

"Tak ada rahasia yang dapat disitupan selamanya, suatu ketika rahasia itu pasti akan terungkap, asal kau sabar menanti, cepat atau lambat kau pasti akan tahu"

Liong Ngo pun tutup mulutnya dan tidak bertanya lagi. Mungkin saja dia tak bisa menghilangkan pikiran tersebut,

tapi paling tidak dia bisa tak usah bertanya.

Hujan rintik masih membasahi jagat, senja sudah semakin kelam.

Tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang berat bergema dari ujung lorong panjang itu.

Seseorang dengan membawa sebuah lentera kertas pelan pelan berjalan keluar dari sudut lorong yang gelap.

Cahaya lentera menyinari rambutnya yang telah beruban, menerangi pula wajahnya, dia adalah pelayan setia Oh Lip yang penuh bercodet itu.

Paras mukanya masih hambar, tidak menunjukkan perubahan apapun.

Sudah lama dia belajar menyembunyikan semua rasa sedih dan dukanya di dalam hati.

"Kalian berdua belum pergi?" "Belum"

Kakek beruban itu mengangguk perlahan, gumamnya:"Tentu saja kalian berdua belum pergi, tapi loya- cu sudah pergi!"

"Dia sudah pergi?"

Sambil memandang rintikan hujan yang masih membasahi halaman luar, kakek itu mengangguk:"Perubahan cuaca sukar diramalkan, rejeki bencana seseorang sukar diduga, aku tak mengira dia orang tua bisa jatuh sakit dan tak pernah bangun kembali"

"Ia mati lantaran sakit?" Kembali kakek itu mengangguk.

"Penyakit rhematiknya sudah merasuk ke dalam tulang, sejak dulu dia sudah seorang cacad, bukan pekerjaan yang gampang baginya untuk bisa hidup sampai hari ini"

Walaupun tiada perubahan mituik mukanya, namun sorot mata yang terpancar keluar kelihatan sangat aneh, entah dia sedang bersedih hati lantaran kematian Oh Lip atau sedang memohon kepada Liu Tiang-kay agar tidak membocorkan rahasia orang tua itu.

Liu Tiang-kay memandangnya sekejap, akhirnya dia mengangguk juga, sahutnya: "Yaa, dia pasti mati lantaran sakit, aku pun sudah tahu kalau dia menderita sakit parah"

Perasaan terharu dan teritua kasih yang tak terhingga memancar keluar dari mata kakek itu, ujarnya setelah menghela napas:"Teritua kasih banyak, ternyata kau memang orang baik, loya-cu tidak salah menilai dirimu"

Sembari menghela napas panjang pelan pelan dia berjalan lewat dihadapan Liu Tiang-kay dan keluar dari serambi itu.

"Mau ke mana kau?" tak tahan Liu Tiang-kay menegur. "Mengabarkan berita kematian loya-cu"

"Mengabarkan ke mana?"

"Ke tempat tinggal nyonya Ciu" tiba tiba nada suara kakek itu penuh mengandung rasa benci dan dendam yang mendalam, "seandainya bukan lantaran dia, loya-cu tak akan sakit separah ini, sekarang loya-cu telah berangkat ke langit barat, tentu saja aku harus menyampaikan berita duka ini kepadanya" Berkilat sepasang mata Liu Tiang-kay, segera tanyanya:"Apakah dia akan datang kemari untuk melayat?"

"Dia pasti datang" sepatah demi sepatah kakek itu menandaskan, "dia tak boleh tidak datang"

Hujan diluar serambi panjang makin lebat dan deras. Dengan langkah sangat lamban kakek itu berjalan keluar,

tangannya menenteng sebuah lentera kertas, dalam waktu

singkat lentera itu basah kuyup oleh air hujan, api pun ikut padam.

Tapi dia seolah olah tidak merasa, dia masih berjalan menuju ke balik kegelapan sambil menenteng lentera yang sudah padam itu.

Kegelapan malam semakin mencekam dan menyelituuti seluruh jagad, malam sudah makin kelam.......

Hingga bayangan kurus kering itu lenyap dari pandangan mata, Liong Ngo baru menghela napas seraya berkata:"Bila dugaanmu kali inipun tidak meleset, Oh Lip pasti tak akan membuat kau kecewa"

Liu Tiang-kay ikut menghela napas.

"Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa Ciu Heng-po pasti akan muncul disini?" kata Liong Ngo kembali.

"Aku sendiripun tidak mengerti"

"Karena itu kau tak mau berpikir ke situ?"

Tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa, ujamya:"Sebab aku percaya, persoalan apapun yang ada di dunia, cepat atau lambat akhirnya pasti akan terungkap juga"

Dia membalikkan badan mengamati wajah Liong Ngo, mendadak ujarnya lagi:"Ada sepatah kata, kuanjurkan kau jangan pernah melupakannya selama hidup"

"Perkataan apa?" "Hukum langit itu sangat luas, tak ada yang bisa lolos dari hukum itu" Sorot matanya nampak berkilat dibalik kegelapan, lanjumya:"Barang siapa berani berbuat dosa, jangan harap bisa lolos dari hukum langit!"

-ooo0d-0-w0ooo-

Senja.

Tiap hari tentu ada senja, tapi tak akan muncul senja yang sama di hari yang berbeda.

Seperti juga tiap orang baka! mati, mati pun banyak jenisnya, ada yang mati sebagai pahlawan dan terhormat, ada pula yang mati sebagai orang biasa atau bahkan mati dengan tercela.

Bagi Oh Lip, paling tidak dia tak perlu mati dengan tercela.

Banyak sekali orang yang datang melayat, banyak diantara mereka adalah sahabat almarhum, ada pula yang datang karena kagum dengan nama besarnya, diantara mereka hanya satu yang tak nampak.

Nyonya rindu belum muncul.

Liu Tiang-kay merasa tak perlu panik, dia sama sekali tak gelisah, bahkan bertanya pun tidak.

Ketika Liong Ngo pergi dari situ, diapun tidak berusaha menghalangi, dia tahu Liong Ngo pasti akan pergi dari situ, seperti dia tahu Ciu Heng-po pasti akan muncul di situ.

.....................Daripada menambah kegundahan hati setelah berjumpa, lebih baik sama sekali tak bertemu.

Setelah tahu Ciu Heng-po bakal muncul, bagaimana mungkin Liong Ngo tidak segera berlalu?

Dia menghantar Liong Ngo hingga ke ujung jalan, sebelum berpisah pesannya dengan suara tawar:"Aku pasti akan datang mencarituu!" "Kapan?" tak tahan Liong Ngo bertanya, "kapan kau akan datang mencariku?"

'Tentu saja sewaktu kau sedang minum arak" sahut Liu Tiang-kay sambil tertawa.

Liong Ngo ikut tertawa.

"Aku sering minum arak di rumah makan Thian-hiang-lo" katanya.

Ruang layon berada persis di tengah gedung utama yang kuno tapi sangat luas itu.

Saat itu, Liu Tiang-kay pun tidak kelihatan sudah ngeloyor ke mana, dalam ruang layon hanya ada kakek berambut uban serta dua bocah laki dan bocah perempuan yang terbuat dari kertas, menjaga disisi layon Oh Lip.

Kini malam sudah semakin larut.

Cahaya lentera yang redup menyinari wajah si kakek yang letih dan layu itu, membuat ia nampak seperti orang orangan kertas.

Kain putih menghiasi empat pintu utama yang menembus ke gedung utama, dibelakang kain putih itu berserakan kapal kapalan, kereta kertas serta tumpukan uang emas dan perak yang membukit.

Itulah benda benda yang dipersipkan untuk dibakar pada Malam ke tiga dan malam ke tujuh.

Di tengah hembusan angin malam yang menggoyangkan cahaya lentera, tiba tiba terlihat sesosok bayangan manusia melayang masuk ke dalam ruangan.

Orang itu adalah seorang Ya-heng-jin (orang berjalan malam) yang mengenakan pakaian blaco tanda berkabung, tapi dibalik kain berkabung yang dikenakan, jelas terlihat pakaian ya-heng-ie berwarna hitam melekat di tubuhnya. Kakek beruban itu angkat kepalanya dan memandang orang itu sekejap, ketika dia berlutut, si kakek ikut berlutut, ketika dia menyembah, si kakek pun ikut menyembah.

Bagaimana pun juga, Oh Lip termasuk seorang tokoh termashur di dalam dunia persilatan, sebagai orang persilatan memang tak jarang muncul tokoh tokoh persilatan yang datang melayat di tengah malam buta.

Kejadian semacam ini bukan satu kejadian aneh, tidak berharga untuk diherankan, dan tak berharga untuk ditanyakan.

Tapi orang berjalan malam itu justru sedang bertanya:"Oh Loya-cu benar benar sudah meninggal?"

Kakek beruban itu mengangguk.

"Berapa hari berselang, dia masih nampak sehat dan segar, mengapa tiba tiba bisa meninggal?" kembali orang itu bertanya

"Perubahan cuaca saja sukar diramalkan, apalagi nasib manusia" sahut kakek itu sedih, "peristiwa semacam ini memang tak ada yang bisa menduga sebelumnya"

"Apa yang menyebabkan kematiannya?" kembali orang itu bertanya, tampaknya dia sangat perhatikan sebab kematian Oh Lip.

"Mati karena sakit" sahut si kakek, "dia memang sudah lama mengidap sakit parah"

Akhirnya orang berjalan malam itu menghela napas panjang, katanya:"Yaa, aku pun sudah lama sekali tak pernah bertemu dengan dia orang tua, apakah aku boleh melihatnya untuk terakhir kali?"

"Sayang kau datang terlambat"

"Bolehkah aku melihat wajahnya untuk terakhir kali?" kembali orang itu mendesak. "Tidak boleh" tolak kakek itu tegas, "mungkin orang lain boleh, tapi bagi kau tidak boleh"

"Kenapa aku tak boleh?" kelihatannya orang berjalan malam itu tercengang dan tidak habis mengerti.

"Karena dia tak kenal dirimu!"

"Darimana kau tahu kalau dia tak kenal aku?" orang itu makin tercengang.

"Karena aku pun tidak kenali kau" jawaban si kakek amat ketus.

"Semua yang dia kenal, kaupun pasti kenal?" Kembali kakek beruban itu mengangguk.

Sambil menarik wajah, orang itu mengancam: "Kalau aku memaksa untuk melihatnya?"

"Aku tahu, bagituu, melihat atau tidak bukan persoalan karena kau tidak harus melihatnya, yang pingin melihat dia bukan kau!"

"Kau tahu siapa orang itu?" orang berbaju hitam itu mengernyitkan dahinya.

Kembali kakek berambut putih itu mengangguk, tiba tiba jengeknya sambil tertawa dingin:"Aku hanya mengherankan sesuatu"

"Soal apa?"

"Jika Ciu hujin tidak percaya dia orang tua benar benar sudah mati, kalau toh ingin melihat wajah terakhirnya, kenapa tidak datang sendiri? Kenapa dia mesti mengutus seorang pencuri dan manusia dungu macam kau untuk datang mengusik ketenangan arwahnya?"

Berubah hebat paras muka si pejalan malam itu, tangannya segera merogoh ke dalam saku dan mengenakan sebuah sarung tangan kulit menjangan yang khusus digunakan untuk melepaskan senjata rahasia beracun.

Kakek berambut uban itu tidak menggubris, melirik sekejap pun tidak.

Sambil tertawa seram orang pejalan malam itu menjengek:"Sekalipun hanya bandit kecil, aku masih sanggup untuk mencabut nyawa anjingmu!"

Agaknya dia sudah bersiap sedia melancarkan serangan.

Pada saat itulah, tiba tiba terdengar seseorang menghardik:"Tutup mulut anjingmu dan segera menggelinding keluar, cepat enyah dari sini!"

Suara itu amat merdu, demikian merdunya seolah olah suara bidadari yang turun dari kahyangan.

Tidak nampak orang ke tiga muncul di ruang layon, siapa pun tak ada yang tahu berada dimanakah si pembicara itu.

Kakek berambut putih itu sama sekali tak nampak terkejut, paras mukanya tetap hambar tanpa perubahan, katanya dingin:"Akhirnya kau muncul juga, aku tahu, kau pasti akan datang"

0-0-0

Selangkah demi selangkah si pejalan malam mundur dari tempat itu, keluar dari ruang layon.

Kini, dalam ruang gedung yang begitu luas tinggal kakek berambut putih seorang, yang menemaninya saat ini hanya lampu lentera yang memancarkan sinar redup.

"Oh Gi!" terdengar suara merdu itu berkata lagi, "setelah tahu kehadirannya atas suruhanku, mengapa kau tidak ijinkan dia untuk melihat wajah terakhir loya-cu?" "Karena dia belum pantas!" jawaban Oh Gi masih tetap seperti jawaban semula.

"Bagaimana dengan aku? Pantas tidak?"

"Sejak awal loya-cu sudah menduga, kau tak akan percaya atas kematian nya"

"Oya?"

"Maka diapun berpesan, peti mati ini baru boleh dipaku setelah kau datang kemari"

"Jadi diapun ingin bersua untuk terakhir kalinya denganku?" perempuan itu tertawa.

Suara tertawanya merdu, indah tapi menyeramkan.

Ditengah suara tertawa yang merdu, kereta kertas yang berdiri disisi ruangan itu mendadak hancur berkeping keping, seakan akan terbakar oleh jilatan api yang tak terlihat.

Hancuran kertas beterbangan di seluruh ruang layon, bagaikan berpuluh puluh ekor kupu kupu yang beterbangan di angkasa.

Ditengah tarian kupu kupu itu, tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dengan sangat indahnya, bagaikan sekuntum bunga putih yang tiba tiba mekar.

Perempuan itu mengenakan jubah panjang berwarna putih salju, wajahnya ditutup dengan selembar cadar tipis berwarna putih pula, dia muncul bagaikan sebuah bianglala putih, dalam sekejap mata sudah melayang turun persis di hadapan Oh Gi.

Paras muka Oh Gi masih belum berubah, dia tidak menunjukkan perubahan apapun dia tahu, Siang-si

hujin, si nyonya rindu pasti akan datang.

Dia sudah tahu sejak awal, dia sudah menunggunya sejak tadi. "Sekarang, aku boleh melihat wajah terakhir loya-cu?" "Tentu saja boleh" jawaban Oh Gi tetap hambar, "siapa tahu dia orang tua pun benar benar ingin bertemu denganmu"

Betul juga, peti mati itu belum dipaku.

Oh Lip berbaring tenang dalam peti mati, dia kelihatan jauh lebih tenang dan tenteram ketitubang semasa masih hidupnya dulu.

Dia tenteram, karena dia tahu tak akan ada manusia mana pun di dunia ini yang bisa memaksanya melakukan perbuatan yang tidak dikehendaki olehnya.

Akhirnya Siang-si hujin menghela napas panjang, gumam nya:"Ternyata dia betul betul sudah mendahului kita semua!"

"Aku rasa kau tak pernah memintanya untuk menunggumu"

"Yaa, karena aku tahu, orang mati tak akan bisa pergi dengan membawa sesuatu"

"Dia memang pergi tanpa membawa apa apa" "Kalau memang tak membawa apa apa, semestinya

ditinggalkan untuk diserahkan kepadaku"

"Tentu saja harus kuserahkan, tentu harus kuberikan kepadamu"

"Di mana?"

"Di sini!"

"Kenapa tidak kulihat?"

"Karena apa yang kau janjikan kepadanya juga belum kau bawa kemari"

"Sekalipun kubawa, dia juga tak akan melihatnya" "Aku bisa melihat!"

"Sayang aku tak pernah janji apa apa denganmu, Oh Gwat- ji juga bukan putrimu!" Oh Gi segera tutup mulut dan tidak bicara lagi. "Mana barang itu?" kembali Siang-si hujin menegur. "Ada disini"

"Aku masih belum melihatnya"

"Karena akupun belum melihat Oh Gwat-ji!" "Mungkin selama hidup kau tak akan melihatnya lagi"

jengek Siang-si hujin sambil tertawa dingin.

Oh Gi balas tertawa dingin, sahutnya:"Kalau begitu selama hidup kaupun jangan harap bisa melihat barang barang itu"

"Tapi paling tidak aku dapat melihat sesuatu" "Oya?"

"Paling tidak aku bisa melihat bagaimana batok kepalamu menggelinding ke tanah, lepas dari tubuhmu"

"Sayang sekali batok kepalaku sama sekali tak ada harganya"

"Kadangkala aku pun menginginkan sesuatu barang yang sama sekali tak ada nilainya" .

"Kalau begitu ambillah setiap saat"

Tiba tiba Siang-si hujin tertawa, katanya:"Padahal kaupun tahu, aku tak akan biarkan kau mampus"

"Oya?"

"Asal kau masih bisa bernapas, akupun masih punya cara untuk memaksamu bicara jujur"

Tiba tiba jari tangannya disentil ke depan berulang kali. Oh Gi tidak menghindar, bergerak pun tidak.

Tapi ada sebuah tangan yang lain telah bergerak tiba, secepat kilat menyambut datangnya serangan itu. Padahal dalam ruang layon itu tidak hadir orang ke tiga, dari mana munculnya tangan tersebut? Apakah tangan itu muncul dari dalam peti mati?

Tak ada tangan yang muncul dari dalam peti mati. Tangan itu bukan tangan orang mati, tapi tangan orang orangan dari kertas.

Orang-orangan itu segera hancur berkeping, hancuran kertas beterbangan di udara bagaikan kupu kupu yang sedang menari.

"Sudah lama aku menunggu kedatanganmu!" ditengah hamburan kupu kupu yang beterbangan, tiba tiba muncul selembar wajah yang sedang tertawa.

Liu Tiang-kay sedang tertawa.

Namun dibalik tertawanya, sekilas tampak perasaan sedih dan duka yang tak terlukiskan dengan kata.

Rupanya hembusan angin pukulan yang dia lancarkan telah mengibarkan kain cadar yang menutupi wajah Siang-si hujin, akhirnya dia dapat melihat wajah Siang-si hujin yang sebenarnya.

Mimpi pun dia tak mengira, perempuan misterius yang amat menyeramkan ini ternyata tak lain adalah Oh Gwat-ji.

-ooo0d-0-w0ooo-

Sambil berselimutkan mantel binatang Liong Ngo berbaring diatas pembaringannya, sambil memandang ranting kering diluar jendela, dia bergumam seorang diri:"Aneh, mengapa hingga sekarang belum juga turun salju?"

Tak ada yang menjawab pertanyaan itu, dia pun tidak berharap orang lain memberikan jawabannya.

Selama ini Chin Liat-hoa memang amat jarang berbicara. ..................Bila seseorang mulai punya kebiasaan bicara sendiri, hal ini menandakan kalau dia bertambah tua.

Tiba tiba Liong Ngo teringat akan perkataan itu, tapi dia lupa siapa yang pernah berkata begitu kepadanya.

"Mungkinkah aku benar benar bertambah tua?"

Dengan lembut dia coba membelai kerutan diujung matanya, perasaan sepi yang tak terlukiskan dengan kata mendadak menyelituuti perasaan hatinya.

Chin Liat-hoa sedang menyiapkan arak hangat untuknya.

Dia jarang minum, tapi belakangan hampir setiap hari dia harus meneguk dua cawan arak.

..................kapan kau akan datang menjumpaiku?

..................saat kau sedang minum arak.

Suara langkah kaki yang sangat ringan bergema dari luar bilik, seorang pelayan berbaju hijau bertopi kecil berjalan masuk sambil membawa sebuah mangkuk kuah.

Liong Ngo tidak berpaling, tiba tiba tegurnya sambil tertawa:"Kali ini, apakah isi mangkuk itu juga tiga buah telapak tangan?"

Ternyata Liu Tiang-kay benar benar teiah muncul.

Dia pun sedang tersenyum, tersenyum sambil membuka penutup mangkuk itu: "Kali ini isinya hanya sebuah tangan, tangan kiri"

Isi mangkuk itu adalah sebuah telapak tangan beruang, telapak beruang yang sudah dipersiapkan koki atas pesanan Liong Ngo dan di situ hampir semalaman.

Kehangatan arak pun sudah pas dengan suhu yang diharapkan.

"Sudah kuduga, kau pasti akan datang" Liong Ngo tertawa tergelak, "kedatanganmu tepat pada waktunya" Chin Liat-hoa telah memenuhi cawan kosong dengan arak wangi, hanya dua cawan arak.

"Kau tidak minum?" tak tahan Liu Tiang-kay menegur. Chin Liat-hoa tidak menjawab, dia hanya menggeleng.

Dia hanya memandang Liu Tiang-kay sekejap kemudian berpaling lagi ke arah lain, paras mukanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan

Sementara itu Liu Tiang-kay masih mengawasinya, tiba tiba dia terbayang kembali dengan wajah Oh Gi yang kusut dan layu rambutnya yang telah beruban.

Seperti juga tiap kali melihat Oh Gi, tanpa sadar dia pun kemudian membayangkan wajah Chin Liat-hoa. . .

Mungkinkah hal ini dikarenakan mereka berasal dan jenis manusia yang sama ? Siapapun jangan harap bisa menebak jalan pikiran mereka dan perubahan pada mimik wajahnya ?

Kini apa pula yang sedang dibayangkan oleh Liu Tiang-kay?

Dia masih tertawa, namun tertawa itu amat sendu, persis suasana sendu yang menyelimuti udara di luar jendela sana.

”Inilah cuaca yang paling cocok untuk minum arak?

Sambil tersenyum Liong Ngo berpaling, sahutnya:"Itulah sebabnya aku khusus siapkan dua guci arak wangi untuk kita nikmati"

Liu Tiang-kay sekali teguk menghabiskan isinya:"Ehmm betul-betul arak wangi"

Sewaktu duduk, senyuman diwajahnya telah berubah lebih riang, arak yang wangi memang selalu membuat perasaan hati lebih lega dan segar

"Kau baru tiba?" dengan nada selidik Liong Ngo bertanya "Ehrnm!" ”Ku kira kau sudah datang sejak berapa hari berselang" "Aku aku datang agak lambat"

”Biar lebih lambat pun jauh lebih baik ketimbang tidak datang” Ngo sambil tertawa,

Liu Tiang-kay termenung, lama sekali ia membungkam "Kau keliru" tiba tiba ujarnya, "kadangkala tidak datang

jauh lebih baik ketimbang datang"

Yang dimaksud jelas bukan diri sendiri. "Siapa yang kau maksud?" tegur Liong Ngo.

"Seharusnya kau tahu siapa yang kumaksud” kata Liu Tiang-kay setelah menghabiskan secawan arak lagi.

"Dia benar benar telah datang?" "Ehmm"

"Kau telah melihatnya?" "Ehm!"

"Kau kenal dia?" "Ehmm!"

”Jangan-jangan dia adalah Oh Gwat-ji yang pernah kau ceritakan?"

”Tentu saja dia bukan Oh Gwat-ji yang sesungguhnya" sahut Liu Tiang-kay sambil menghabiskan cawan arak yang ke lima.

”Kau malah belum pernah bertemu dengan Oh Gwat-ji yang sesungguhnya ?” tanya Liong-ngo

Liu Tiang-kay manggut-manggut, dia teguk habis cawan arak ke enam.

”Berarti sejak awal dia sudah menawa Oh Gwat-ji yang asli, kemudian menggunakan Oh Gwat-ji untuk memaksa Oh Lip melakukan kehendaknya, setelah itu dengan menyamar sebagai Oh Gwat-ji dia menipumu ?”kata Liong Ngo.

Lou Tiang-kay meneguk habis cawan arak yang ke tujuh, mendadak tanyanya : ”Kau ingin tahu bagaimana akhir kisah perempuan ini ?”

”Tidak, aku tidak ingin tahu ”

Diapun ikut tertawa, tawanya jauh lebih redup, jauh lebih gelap ketimbang cuaca diluar ruangan.

"Sedari dulu aku sudah tahu manusia macam apakah perempuan itu"

"Tapi kau tak tahu bagaimana akhir kisah perempuan ini" "Aku tak perlu tahu, perempuan macam apakah dia pasti

akan memperoleh akhir kisah yang sama"

Setelah tertawa paksa, lanjutnya:"Hukum langit itu maha luas, siapa pun jangan harap bisa meloloskan diri. Aku belum melupakan perkataan itu”

Liu Tiang-kay ingin tertawa, tapi dia tak tertawa, sepoci arak diteguknya hingga ludas.

Liong Ngo meneguk juga satu cawan arak, tiba tiba katanya lagi:"Hingga kini aku belum bisa menduga manusia macam apakah si kakek tua itu"

"Maksudmu Oh Gi?" Liong Ngo mengangguk.

"Semula, aku bahkan curiga dialah Oh Lip yang sesungguhnya"

"Oya?"

"Aku malah curiga, jangan jangan mereka berdua semuanya adalah Oh Lip"

"Aku tidak mengerti" "Kau pernah dengar dalam dunia persilatan pernah ada jagoan yang disebut orang Ouyang bersaudara?"

"Aku pernah dengar"

"Ouyang bersaudara bukan terdiri dari dua orang bersaudara, tapi orang itu memang bernama Ouyang hengte (Ouyang bersaudara)"

"Aku tahu"

"Jika Ouyang bersaudara hanya satu orang yang sama, tentu saja Oh Lip pun kemungkinan besar adalah dua orang"

Akhirnya Liu Tiang-kay memahami maksud perkataannya. "Pernah kau berpikir kemungkinan semacam ini?" kembali

Liong Ngo bertanya.

"Tidak, aku tak pernah berpikir begitu, karena hubungan antar manusia memang sulit dipahami oleh pihak ke tiga"

Tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Chin Liat- hoa bukankah hubungan Chin Liat-hoa dengan

Liong Ngo termasuk sebuah hubungan yang sangat unik?

Setelah menghela napas katanya lagi:"Bagaimana pun, rahasia semacam ini memang sulit bagi kita orang awam untuk memahaminya!"

"Kenapa?"

"Karena Oh Gi sendiri juga tak pernah keluar dari ruang layon dalam keadaan hidup"

..............Oh Gi sendiri "juga" tidak.

Apakah kata tersebut masih mengandung maksud lain? Apakah masih ada orang lain "juga" mati dalam ruang layon itu?

Apakah hanya Liu Tiang-kay seorang yang keluar dari ruang layon itu dalam keadaan hidup? Liong Ngo tidak bertanya, dia tak ingin bertanya, juga tak tega untuk bertanya.

"Bagaimana pun, akhirnya kasus ini benar benar telah tuntas" dia penuhi cawan arak dihadapannya, lalu memenuhi juga cawan arak Liu Tiang-kay.

Liu Tiang-kay segera meneguk habis isi cawannya, lalu ujarnya:"Sesungguhnya, aku sendiri pun tak pernah menyangka kalau kasus ini bisa selesai seperti ini"

"Apa bayanganmu semula? Apakah kau masih menaruh curiga kepadaku?”

Liu Tiang-kay tidak menyangkal: "Kau memang seorang manusia yang patut dicurigai" katanya

"Kenapa?"

"Karena sampai sekarang, aku masih belum dapat menembusi asal usulmu"

"Kau sendiri? Siapa yang bisa menembusi asal usulmu?" Liong Ngo tertawa lebar, "aku sendiripun selalu merasa keheranan, kenapa sampai Oh Lip sendiripun tak berhasil mengetahui asal usulmu yang sesungguhnya"

"Hal ini dikarenakan aku memang tak memiliki asal usul yang luar biasa" seru Liu Tiang-kay sambil tertawa.

Liong Ngo menatapnya tajam tajam, sepatah demi sepatah kata ujarnya: "Sekarang, dapatkah kau beritahu kepadaku,.

Siapa kau sebenarnya?"

"Kau maupun Oh Lip pernah datang ke kota kecil itu untuk menyelidiki asal usulku"

"Tapi kami gagal menemukan apa apa"

"Tentu saja kalian tak akan menemukan apa apa" Liu Tiang-kay tersenyum, "karena aku memang dilahirkan di kota kecil itu, kehidupanku sehari hari pun sangat sederhana dan bersahaja"

"Dan sekarang?"

"Sekarang pun aku tak lebih hanya seorang opas kecil di kota kecil itu"

Liong Ngo tertegun.

"Manusia macam kau hanya menjadi seorang opas di kota kecil?" tegasnya.

Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Tentu saja kalian gagal mengetahui asal usulku, karena kalian tak pernah mengira kalau aku hanya seorang opas"

Tak tertahan Liong Ngo menghela napas panjang, bisiknya sambil tertawa getir:"Yaa, aku memang tak pernah menduga ke situ"

"Kalian bisa bertemu denganku karena secara kebetulan atasan mengutusku untuk menyelidiki kasus ini, kalau tidak, mungkin selama hidup kalian tak bakal tahu kalau di dunia ini terdapat manusia macam aku"

"Perkataan mu jujur?" "Kau tidak percaya?"

"Aku percaya, tapi ada satu hal aku masih belum mengerti" "Apa yang tak kau pahami?"

"Manusia macam kau, kenapa hanya bekerja sebagai seorang opas?"

"Karena aku selalu hanya melakukan pekerjaan yang kuinginkan!"

"Jadi sejak kecil kau memang berangan-angan ingin jadi seorang opas?"

Liu Tiang-kay mengangguk. Sambil tertawa getir kembali Liong Ngo berkata:"Ada sementara orang ingin jadi seorang pahlawan, ada orang lain ingin menjadi pembesar tinggi, ada yang ingin punya nama besar, ada pula yang ingin punya duit banyak, orang macam begitu sudah banyak kujumpai"

"Tapi kau belum pernah menjumpai orang yang hanya berangan-angan menjadi seorang opas" sambung Liu Tiang- kay.

"Yaa, memang tak banyak manusia macam kau"

"Di dunia ini sudah terlalu banyak orang jadi pahlawan, jadi pembesar, jadi orang gagah, jadi sudah sepantasnya kalau ada orang macam aku yang bersedia dan rela melakukan pekerjaan yang tak ingin dilakukan orang lain"

Dia tersenyum, tiba tiba senyumannya berubah amat riang, tambahnya:

"Bagaimana pun juga, opas juga butuh orang. Jadi apa salahnya kalau aku pun melakukan pekerjaan yang ingin kulakukan, sebab hanya orang semacam ini yang akan hidup bahagia, hidup gembira dan selalu merasa puas"

====TAMAT====