Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 19

Jilid 19

"Nanti setelah Tecu mencocokkan daftar anggota, bila benar tentu akan kulakukan penghormatan sebagaimana mestinya," jawab si pengemis muka kuning.

Mendadak lelaki berewok tadi melompat maju dari belakang sipengemis muda dan membentak "sungguh budak yang tidak tahu aturan, masakah tidak kau kenal Ci-locianjin?"

"Ci-locianjin?. " pengemis muka kuning menegas dan bingung, pelahan ia membuka buku 

yang dipegangnya, lalu menyambung, "Coba akan kucocokkan dulu. "

Tiba-tiba si pengemis muda memberi isyarat kedipan mata dan sileiaki berewok lantas berkata, "Disini, pada nomor urut ini. " Sembari bicara ia terus mendekati pengemis muka 

kuning.

"Nomor berapa?. " tanya pengemis muka kuning.

"Nomor se. " belum lanjut ucapannya, mendadak si berewok menyerang, sebelah tangan 

mendekap mulut si Pengemis muka kuning, tangan yang lain terus menelikung tangan orang dan lehernya terus dipiting lagi, "krek", kontan tulang leher pengemis muka kuning itu terjerat patah-

Pengemis berkarung merah terkejut, cepat ia menubruk maju sambil membentak, "Kurang Tujuh Pedang Tiga Ruyung A Diceritakan Oleh; Gan K.L A A A A Bagian 19

"Nanti setelah Tecu mencocokkan daftar anggota, bila benar tentu akan kulakukan penghormatan sebagaimana mestinya," jawab si pengemis muka kuning.

Mendadak lelaki berewok tadi melompat maju dari belakang sipengemis muda dan membentak "sungguh budak yang tidak tahu aturan, masakah tidak kau kenal Ci-locianjin?"

"Ci-locianjin?. " pengemis muka kuning menegas dan bingung, pelahan ia membuka buku 

yang dipegangnya, lalu menyambung, "Coba akan kucocokkan dulu. " Tiba-tiba si pengemis muda memberi isyarat kedipan mata dan sileiaki berewok lantas berkata, "Disini, pada nomor urut ini. " Sembari bicara ia terus mendekati pengemis muka 

kuning.

"Nomor berapa?. " tanya pengemis muka kuning.

"Nomor se. " belum lanjut ucapannya, mendadak si berewok menyerang, sebelah tangan 

mendekap mulut si Pengemis muka kuning, tangan yang lain terus menelikung tangan orang dan lehernya terus dipiting lagi, "krek", kontan tulang leher pengemis muka kuning itu terjerat patah-

Pengemis berkarung merah terkejut, cepat ia menubruk maju sambil membentak, "Kurang ajar! Berani kau.

Belum lenyap suaranya si pengemis muda lantas melompat maju, secepat kilat ia tutuk hoat- to didada orang, tangan lain terus merampas karung merah yang disandangnya.

Tapi pengemis karung merah segera menggeser kesamping, berbareng sebelah kakinya lantas mendepak dan berteriak, "Ada orang. "

Namun sebelum lanjut suaranya, si berewok sudah sempat menghantam kepalanya sehingga batok kepalanya hancur dan darah berhamburan.

"Telapak baja Si |_i ternyata tidak bernama kosong," seru si pengemis muda dengan tersenyum.

Si lelaki berewok yang bernama Li Thi-ciang atau telapak baja si Li itu lantas melepaskan karung merah dari pinggang orang, mayat itu didepaknya kepinggir, lalu berkata dengan tertawa, "Haha, sekalipun kepala banteng juga dapat kuhancurkan dengan sekali pukul! '

Dengan tersenyum mengemis muda menerima karung merah itu, bambu runcing yang terdapat dalam karung itu dibagikan kepada kawan-kawannya, waktu ia periksa, tertampak pada setiap bambu runcing itu terdapat nomor dan ukiran huruf yang berbunyi; "Untuk ulang

tahun Pangcu, satu bambu satu tahil."

Pengemis muda tertawa, katanya, "lak tersangka si tua bangka Leng Liong merayakan ulang tahun juga sekaligus mengeduk keuntungan." Ditengah gelak tawa orang banyak, rombongan mereka lantas masuk menyusuri selat itu.

Waktu mereka menengadah, tertampak diatas cuma selarik sinar saja, tempat ini sungguh sangat berbahaya-

Pengemis muda itu menghela napas, "Tempat ini sungguh sangat strategis, bilamana si tua Leng Liong menambah beberapa penjaga disini, betapapun sukar bagi kita untuk menembusnya."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba tertampak bayangan orang berkelebat diujung selat sana. Tertampak enam orang pengemis berikat pinggang kain biru berbaris dikedua sisi selat, si pengemis muda anggap tidak melihat mereka, dengan langkah lebar ia terus lalu dengan pongahnya.

Seorang pengemis berikat pinggang biru itu berseru, "Saudara datang dari jauh, Pangcu tidak sempat mengadakan penyambutan, kami disuruh- - . . -" Mendadak terhenti ucapannya ketika dilihatnya jumlah karung yang tersandang dipunggung pengemis muda itu-

"Dimulut selat tadi sudah dicocokkan dengan buku daftar, apakah kalian perlu tanya lagi asal-usulku?" jengek sipengemis muda-

Keenam pengemis berikat pinggang biru sama memberi hormat dan menjawab, "0, tidak berani, silakan Locianjin meneruskan perjalanan dengan ikut kami."

Hendaknya diketahui bahwa anggota Kai-pang tersebar sangat luas, meski keenam anggota Kai-pang itu merasa sangsi, namun tidak berani bertanya lagi, dengan sikap hormat mereka lantas membawa rombongan pendatang ini keSana.

Sekeluar dari selat itu, tertampak disebelah kiri sana dibangun sebuah gapura yang tinggi, diatas gapura berkibar berpuluh lanjur kain berwarna-warni.

Pada puncak gapura terPampangg sehelai kain merah dengan tulisan; "Pesta perayaan ulang tahun pangcu yang ke_60".

Setelah melewati gapura itu, terdengarlah suara hiruk pikuk orang banyak. Ternyata ditanah lapang sana telah bergerombol beberapa ratus kaum jembel, semuanya duduk bersila ditanah dengan ganjal karung, didepan masing.2 terdapat dua buah piring rusak.

Piring yang satu berisi macam-macam makanan ikan, piring yang lain berisi arak- Bau arak

yang harum teruar menusuk hidung, bau sedap ikan dan daging juga merangsang selera.

Kawanan jembel itu duduk menghadapi sebuah panggung bambu yang dibangun setinggi lebih setombak dari permukaan tanah, luas panggung ada empat-lima tombak, di kanan-kiri Panggung terdapat kursi bambu dan berduduk belasan pengemis.

Ditanah luang didepan panggung ada dua orang pengemis sedang melawak sehingga menimbulkan gelak tertawa disana-sini.

Keenam murid Kai-pang berikat pinggang biru tadi tidak berani sembrono, mereka membawa rombongan si pengemis muda kedepan panggung, begitu berhenti ia lantas memberi hormat dan berkata, "Silakan Locianjin menunggu sebentar disini, biar Tecu lapor dulu kepada Pangcu agar diadakan penyambutan seperlunya."

"Ah, tidak perlu," sahut si pengemis muda dengan tersenyum.

Mendadak ia melompat keatas panggung dengan gaya yang indah tanpa menimbulkan suara. Kedua pengemis yang sedang melawak itu kaget, serentak mereka berhenti main. Kiong-sin Leng Liong duduk diatas panggung, mendadak ia berpaling, "Main terus!" Berbareng ia lantas berbangkit dan mendekati si pengemis muda, dipandangnya orang dari

atas kebauiah dan sebaliknya dengan kening bekernyit, tiba-tiba ia tertawa nyaring dan berkata, "Wah, agaknya mata orang she Leng sudah mulai kabur sehingga tidak dapat mengenali asal-usul saudara ini. Numpang tanya sedikit, tingkatan sembilan karung ini saudara peroleh dari mana?"

Pandangan Leng Liong memang tajam, sekali lihat saja ia tahu pengemis muda ini bukanlah anak murid Kai-pang, sebab jelas diketahuinya diantara anggota Kai-pang tidak terdapat tokoh sembilan karung semuda ini-

Pengemis muda itu balas mendengus, "Hm, karung tanda tingkatan Pangcu biasanya datang darimana, dari situ pula kudapat karung tanda tingkatan ini?"

Dia lantas mengebaskan lengan bajunya dan mencari sebuah kursi bambu yang kosong dan duduk disitu tanpa permisi.

Para lelaki berdandan sebagai pengemis yang ikut datang itu serentak juga melompat keatas panggung dengan sikap garang dan siap berkelahi.

Dengan sendirinya pengemis yang sedang melacak tadi tidak dapat meneruskan lagi permainannya. Para pengemis baik yang diatas panggung maupun yang dibawah juga sama melengak, semuanya diam, suasana gembira seketika berubah menjadi tegang.

Dengan tenang Leng Liong lantas menjawab, "Kesembilan karung tanda tingkatan yang kupepoleh menuput peraturan leluhur Pang kita, dan ditambah satu demi satu atas usul para saudara dalam Pang kita."

Mendadak nada ucapannya berubah bengis dan bertanya, "Sahabat ini bkan anggota Kai- pang, darimana kau dapat karung tanda tingkat ini?"

Pengemis muda itu tetap tenang juga, jengeknya, "Siapa bilang aku bukan anggota Kai- pang? Aku ini orang rudin, hidup dari minta-minta, setiap orang menyebut diriku pengemis, sebaliknya engkau bilang aku bukan anggota perkumpulan pengemis. Jika demikian, apakah kau sangka aku ini orang kaya?"

Para pengemis kekar yang ikut datang bersama dia serentak tertawa geli. Bahkan si berewok yang bernama Li Thi-ciang itu tertawa paling keras, serunya, "Setiap peminta adalah pengemis, setiap pengemis adalah anggota Kaipang, dalih ini cukup sederhana, masakah Leng-pangcu sendiri malah tidak mengerti?"

Dengan dingin si pengemis muda lantas menyambung, "Aku justru lagi heran dari mana dia mendapatkan kedudukan Pangcu ini? Bila Pangcu dipilih oleh para anggota pengemis, kenapa kita sama sekali tidak tahu menahu?"

"Betul, tampaknya dia terpilih dengan cara yang curang, untuk adilnya harus diulangi kembali pemilihan Pangcu." sambung Li Thi-ciang. Begitulah keduanya lantas tanya jawab sendiri se-oiah2 tidak ada orang lain, seketika timbul suara teriakan penasaran orang banyak, para pengemis yang berada diatas panggung juga lantas berbangkit dengan marah.

Mendadak Leng Liong bergelak tertawa, serunya, "Haha, bagus sekali! Kiranya kedatangan kalian memang sengaja hendak mencari perkara- Memangnya aku lagi merasakan pertemuan hari ini kurang semarak, sekarang kalian datang untuk membikin keramaian, sungguh sangat kebetulan."

Sampai disini mendadak ia menarik muka dan menyambung dengan bengis, "Hah, cara bagaimana kalian ingin menyelesaikan perkara ini, silakan bicara dan pasti akan kulayani."

Serentak para pengemis diatas dan dibauiah panggung bersorak gemuruh menyatakan dukungannya.

Pengemis muda itu tetap duduk tenang dikursinya, jengeknya kenudian, "Kita ini adalah kaum jembel yang patuh pada peraturan, orang miskin yang sopan, kita sama sekali tidak paham urusan tetek-bengek dunia Kangouw, prihal main bunuh dan main pukul yang merupakan tindak kasar kaum bandit itu sama sekali tidak dikenal oleh kaum jembel kita.

Tapi sekarang sengaja kau laksanakan Peraturan yang menyerupai tingkah laku kaum penjahat, betapapun kami harus mewakili leluhur kita untuk menumpas dirimu."

Kawan pengemis yang ikut datang bersama dia serentak berteriak, "Betul kita minta pemilihan pangcu baru. "

Mendadak seorang pengemis bermata besar dan beralis tebal yang duduk diatas panggung melompat maju sambil membentak. "Siapa yang minta pemilihan pangcu boleh coba tanya dulu kepada aku Thi Tai-lik!"

"Baik, aku saja yang tanya padamu," bentak Li Thi-ciang mendadak, kontan ia menghantam dada Thi Tai-lik alias Thi si tenaga raksasa.

Thi Tai-lik tidak mengelak juga tidak menghindar, sebaliknya ia sambut pukulan orang dengan pukulan yang sama, "biang", kedua kepalan beradu dengan telak-

Li Thi-ciang tergetar mundur setindak, tapi segera dia berdiri tegak lagi, ia meludahi kepalan sendiri satu kali, lalu bergelak tertawa dan berseru, "Nah. siapa yang ingin coba-coba lagi?"

Kiranya Li sitenaga raksasa telah terpukul mencelat kebawah panggung, tulang pergelangan tangannya patah, bahkan tumpah darah dan jatuh kelengar-

Keruan kawanan jembel menjadi gempar, Leng Liong juga terkesiap, segera ia membentak, "Keparat, sambut pukuianku ini!"

Siapa tahu belum lagi dia melancarkan pukulan, mendadak sipengemis muda telah melompat maju, sekali jambret ia cengkeram leher baju Li Thi-ciang dan membentak, "Berlutut!"

Li Thi-ciang melenggong, ia tidak berani membangkang, cepat ia bertekuk lutut- Dengan muka kelam si pengemis muda mendamperat, "Kedatangan kita ini adalah ingin bicara secara beraturan, siapa yang suruh kau main kekerasan?

"Ya, TeCu salah," jawab Li Thi-ciang dengan menunduk-

Si pengemis muda mendengus, "Hm, sembarangan menyerang orang dan akan kau tebus dengan mengaku salah begitu saja?"

Mendadak dia angkat sebelah kakinya, kontan Li Thi-ciang ditendang kebawah panggung, tanpa ampun Li Thi-ciang juga tumpah darah dan menggeletak tak bisa berkutik, tampaknya lukanya terlebih parah daripada Thi Tai-lik.

Kawanan jembel mestinya sudah kalap dan berbondong-bondong berkerumun disekitar panggung, tapi demi menyaksikan tindakan pengemis muda ini, rasa murka mereka lantas 

hilang, sebaliknya malah memuji tindakan Pengemis muda yang bijaksana dan adil ini.

Leng Liong menyapu pandang kaum penyatron ini dengan kening bekernyit, pikirnya, "pemuda

ini sedemikian tabah, tindakannya juga semantap ini, rasanya sangat sukar dihadapi.

Jika dia mau berkelahi begitu saja rasanya tidak perlu ditakuti, tapi dia justru

bertindak seaneh ini, jelas kedatangannya ini berencana dan mempunyai tujuan tertentu-ii Pejabat ketua Kai-pang yang sudah berpuluh tahun berkecimpung didunia Kangouw ini 

menjadi sangsi dan diam-diam memikirkan cara bagaimana harus menghadapi lawan yang masih muda itu-

Tertampak pengemis muda itu mengangkat tangannya dan menuju kedepan Panggung, teriaknya, "Kita sesama anggota Kai-pang dan merupakan kekuatan kaum jembel yang terpuji didunia Kangouw, adapun kedatanganku hari ini tidak lain hanya ingin memohon sesuatu. "  

dia merandek sejenak, lalu mengacungkan tinju keudara dan berteriak pula, "yaitu semoga kalian dapat menegakkan keadilan dan kebenaran. Kalian semua adalah lelaki yang berdarah panas, kuyakin permohonanku pasti akan diterima dengan baik."

Dia bicara dengan singkat dan langsung menuju kepersoalannya secara terus terang, anak murid Kai-pang yang pada umumnya adalah lelaki yang polos dan berdarah panas itu sama

tertarik dan terpengaruh. Banyak diantaranya serentak mengangkat tangan dan berteriak, "Asalkan urusan yang menyangkut keadilan dan kebenaran, kami pasti setuju."

Tambah rapat Leng Liong mengernyitkan keningnya. Semakin cemerlang cara bicara pengemis muda ini, semakin membuat hatinya tidak enak. ia merasakan dibalik kata-kata yang gilang gemilang itu pasti tersembunyi sesuatu intrik yang besar. Tapi dalam keadaan dan tempat ini dia justru tidak mampu membongkar kepalsuan orang. Dilihatnya pengemis itu memperlihatkan rasa senang, serunya pula, "Sudah sekian ratus tahun Kai-pang kita berdiri, yang kita lakukan ini meski bukan pekerjaan yang mendatangkan harta benda, namun biasanya setiap tindak-tanduk kita selalu dilakukan secara blak-blakan tanpa mengingkari hati nurani, jauh berbeda dengan perbuatan mereka yang main bunuh dan ramp0k segala, juga tidak sama dengan golongan yang suka berebut wilayah, semua ini pantas menjadi kebanggaan Kai-pang kita, kupercaya saudara-saudara sekalian juga sama merasa bangga untuk ini."

Karena ucapan orang memang beralasan, serentak kawanan pengemis sama membenarkannya.

Tapi pengemis muda itu lantas menarik muka dan berkata dengan khidmat, "Namun akhir- akhir ini mendadak kutemukan Pang kita telah jauh berkurang kadarnya, telah luntur, suka berebut nama dan keuntungan serupa juga golongan dan aliran lain, sering bergebrak dan bermusuhan dengan orang."

Tambah lantang suaranya, sambungnya lagi dengan mengangkat tangannya keatas, "Perbuatan demikian itu sungguh melanggar ajaran leluhur pimpinan pang kita, lantaran itulah kutampil kemuka dan hadir disini, tujuanku adalah meminta agar saudara-saudara suka taat kepada ajaran leluhur, jangan ikut campur urusan permusuhan dan bunuh membunuh didunia Kangouw, ingin kubawa saudara sekalian kembali kejalan yang benar, kembali kepada tujuan suci yang diajarkan leluhur pimpinan Pang kita.

Karena apa yang diuraikan itu adalah demi kebaikan Kai-pang, kawanan jembel menjadi percaya ia pasti tokoh Kai-pang yang tidak suka menonjol dan selama ini mengasingkan diri.

Sebaliknya Kiong-sin Leng Liong lagi berpikir, "Apa tujuannya dia bicara bertele-tele begini?" pada saat itulah mendadak seorang memanggilnya dari belakang. "Pangcu. "

Waktu Leng Liong berpaling, dilihatnya seorang pengemis bermuka buruk berdiri dibeiakangnya dan menyodorkan secark kertas padanya, lalu tinggal pergi-

Tergerak hati Leng Liong, cepat ia membuka lipatan kertas dan dibaca, disitu tertulis, "Orang ini adalah murid Mao Kau, namanya Thi-tah-sUcia Ci Tok, orang-orang yang ikut

datang semuanya juga antek Mao Kau.

Tulisan surat ini kelihatan kurang rajin, ditulis dengan arang, jelas ditulis secara terburu-buru. Tapi dari tulisan ini telah disampaikan sebuah rahasia besar yang membuat intrik Mao Kau gagal berantakan.

Dalam keadaan demikian Leng Liong tidak sempat lagi memikirkan siaPa yang menulis surat ini, waktu ia pandang kesana, dilihatnya si pengemis muda alias ci Tok asyik berpidato.

= Dengan tipu muslihat apa Mao Kau dan anak buahnya akan mengacau dan memecah- belah kekuatanA A A Kai-pang? = Siapa pemberi info kepada Leng Liong tentang intrik Mao Kau itu? ===A Bacalah jilid lanjutannya^ ===

"Maka dari itu, saudara-saudara," demikian Ci Tok lagi berseru dengan bersemangat, "Demi hari depan Kai-pang kita yang cemerlang, aku mengusulkan agar Pang kita mengadakan pemilihan umum baru untuk mengangkat seorang Pangcu yang bijaksana dan tidak memimpin dengan kekerasan. "

"Sudah selesai bicaramu, Ci Tok?" bentak Leng Liong mendadak.

Pengemis muda alias Thi-tah-sucia ci Tok melengak, tapi ia masih berlagak Pilon dan menjawab, "Kau bilang apa?"

"Hm, tidak perlu berlagak bodoh," jengek Leng Liong, "SUdah kuketahui intrik Mao Kau yang bermaksud merajai dunia Kangouw, diam-diam dia berusaha memupuk kekuatan sendiri dan mengadu domba diantara sesama kawan Kangouw, kedatanganmu ini juga untuk urusan ini, bukan?"

Serentak kawanan pengemis menjadi gempar karena ucapan Leng Liong ini.

Pengemis muda itu menjadi gugup karena kedoknya terbongkar, sambil membentak ia lantas menubruk maju dan menghantam, teriaknya, "Ngaco belo! Demi membersihkan anasir jahat didalam Kai-pang, terpaksa kubereskan kau!"

"Hm, kau ingin bergebrak denganku, masih selisih jauh," jengek Leng Liong sambil mengelak.

Dalam sekejap saja kedua orang sudah bergebrak dua_tiga jurus. Kebanyakan anggota Kai- pang masih belum jelas duduknya perkara sehingga mereka ragu, maka semuanya cuma menonton saja pertarungan itu.

Ditengah keributan, sekonyong-konyong terdengar suara kuda lari datang secepat terbang. Dua ekor kuda gagah menarik sebuah kereta besar menerjang ketengah kerumunan orang banyak dengan mulut berbusa. Diatas kereta terpancang dua helai panji yang berkibar tertiup angin- Tertampak salah sebuah panji itu ada tulisan "Buyung Siok-sing" dan pada panji yang lain tertulis "Siu Su".

Dibeiakang kereta terseret beberapa ikat ranting kayu, golok dan pedang, juga kaki kursi dan meja patah, semuanya terseret ditanah sehingga menimbulkan suara gemuruh dan mengepulkan debu.

Memangnya suasana agak kacau, kini muncul lagi kereta kuda yang unik ini dengan panjinya yang tercantum dua nama orang yang mengejutkan itu.

Kereta kuda itu masih terus membedal langsung menuju kedepan panggung dan lari kuda tampak seperti kesetanan dan sukar ditahan.

Sekilas melirik |_eng Liong juga terkejut, pikirnya, "Tindak-tanduk Siu Su biasanya memakai perhitungan, yang berada didalam kereta pasti bukan dia, jelas semua ini permainan Mao Kau." Maka cepat ia berseru, "Tahan kereta itu dan seret kepinggin"

Serentak dua orang melayang turun dari atas panggung, Seorang adalah anggota Kai-pang, seorang lagi adalah lelaki dengan jari putus yang datang bersama Ci Tok. Begitu melayang turun, masing-masing hinggap diatas salah seekor kuda itu-

Kuda dengan mulut berbuih itu seperti kesurupan setan dan hampir saja panggung bambu diterjang. Untunglah anggota Kai-pang itu keburu menarik tali kendali sehingga kuda meringkik dan menegak, namun dapatlah ditahan mentah-mentahi

Lelaki putus jari itupun bermaksud menahan kuda yang lari cepat itu, namun dia terlambat sekejap sehingga kuda yang satu berhenti mendadak dan kuda yang lain masih membedal kedepan, akibatnya laju kereta menjadi kehilangan keseimbangan, seketika kereta miring dan akan terguling.

"Serahkan padaku saja!" jengek si anggota Kai-pang.

"Hm. memangnya aku tidak bisa? 1 jawab lelaki putus jari dengan gusar, mendadak ia hantam punggung kuda. kerena kaget dan kesakitan, kuda lantas meringkik dan berjingkrak, kontan lelaki itu terperosot kebawah dan terlindas roda kereta. Terdengar jeritan ngeri, lengan kanannya telah terlindas putus.

Namun orang ini sungguh nekat, mendadak ia melompat bangun lagi. tangan lain terus mengambil segenggam senjata rahasia dan dihamburkan seluruhnya ketubuh kuda.

Senjata rahasia itu semua bersarang ditubuh kuda, kembali kuda meringkik kesakitan dan kepala menumbuk panggung bambu, lalu roboh binasa.

Dengan sendirinya kereta yang ditariknya itu berguncang keras dan akhirnya juga terguling. Anggota Kai-pang tadi cepat melompat turun, ia tuding orang dan memaki, "Keparat, kenapa. 

. . •"

Meski lengan putus dan kesakitan setengah mati, tapi lelaki itu memang bandel dan juga tangkas, segera ia melompat maju dan membentak, "Tong-san-hou Le-toaya memang berwatak begini, memangnya kau mau apa? Jika penasaran, boleh kau coba. . . .

"Tutup mulut!" bentak si pengemis muda mendadak.

Tong-san-hou atau si harimau dari gunung timur melengak, baru sekarang teringat olehnya kedatangannya ini mengemban tugas rahasia, tanpa sadar dia telah membocorkan asal- usulnya sendiri. Melihat wajah pengemis muda yang gusar itu, tanpa terasa kakinya menjadi lemas terus berlutut.

Lelaki gagah perkasa ini ternyata sangat takut terhadap pengemis muda ini.

Tentu saja hal ini membuat kawanan pengemis sama melenggong. Segera Leng Liong bergelak tertawa dan berteriak, "Haha, Tong-san-hou, bagus Tong-san-hou, hanya seorang  bandit kecil juga berani menyaru sebagai anggota berkantung tujuh Pang kita, Hm, tangkap dia!"

Anggota Kai-pang dapat melihat jelas pada punggung Tong-san-hou memang tersandang tujuh buah karung, tentu saja mereka menjadi gusar, serentak mereka membanjir maju.

Maklumlah, sembarangan menyandang karung yang menandakan tingkatan setiap anggota Kai-pang adalah pantangan besar bagi kawanan pengemis itu.

Tong-san-hou menjadi jeri melihat membanjirnya anggota Kai-pang, cepat ia berseru, "Ci- siauhiap. " karena gugupnya tanpa terasa dia menyebut nama asli pengemis muda itu.

Pengemis ini memang betul murid utama Mao Kau, Thi-tah-sucia Ci Tok, cocok seperti info yang diterima Leng Liong tadi.

Tentu saja Ci Tok menjadi gugup juga, dengan murka ia mendamperat, "Goblok!"

Berbareng tangannya bergerak, selarik sinar hitam lantas menyambar kedada Tong-san-hou.

Namun Leng Liong sempat melompat maju dan menyampuk jatuh senjata rahasia orang, dalam

pada itu anggota Kai-pang juga telah menerjang maju dan membekuk Tong-san-hou yang ketakutan itu.

"Tangkap hidup-hidup!" seru Leng Liong. Lalu ia membalik menghadapi Ci Tok sambil mendengus, "Hm, orang she Ci, apa yang dapat kau katakan lagi?"

Muka Ci Tok tampak kelam, sampai sekian lama ia tak mampu bicara- Mendadak ia tertawa latah dan berseru. "Betul, aku ini memang Ci Tok, salahku sendiri membawa pengiring goblok itu, memangnya kau mau apa jika siapa diriku sudah kau ketahui?"

"Bagus, memang lelaki gagah, kalah pun cemerlang," seru Leng Liong-

"Siapa bilang aku kalah?" jengek Thi-tah-sucia Ci Tok, ia memberi tanda, para lelaki yang berdandan sebagai pengemis dan ikut datang bersama dia serentak mengeluarkan senjata masing-masing yang tersembunyi didalam baju dan didalam karung.

Seketika terdengar dering nyaring dan gemilap sinar senjata tajam, suasana menjadi panas diliputi ketegangan-

"Hm, dalam keadaan begini masih berani juga kalian melawan?" jengek Leng Liong. "Memangnya kau kira kami mandah dijagai begitu saja." Ci Tok balas menjengek, "Jangan kau kira jumlah kalian lebih banyak dan pasti akan menang, jangan lupa setiap kawan yang  

datang bersamaku ini adalah jago pilihan. . • "

"Tidak Perlu banyak omong, habisi saja- " mendadak terdengar teriakan anggota Kai-pang 

yang tidak sabar. Thi-tah-sucia Ci Tok memang tidak malu disebut Thi_ta atau si-nyali baja, menghadapi suasana genting begini dia tetap tabah, serunya Pula, "Sabar dulu, kawan~kauian> dengarkan keteranganku. "

"Keterangan apa!" teriak orang banyak. "Tidak perlu lagi engkau mengoceh, tidak nanti kami mau percaya lagi. Pendek kata hari ini jangan kau harap akan pergi lagi dari sini."

"Betul, kepung dia dan bekuk dia|" teriak yang lain disebelah sana. Seketika suara teriakan gusar sahut menyahut disana~sini.

Namun Ci Tok tetap tenang saja, dengusnya, "Hm, jika kalian tidak mau mendengarkan keteranganku, sebentar lagi pasti akan terjadi banjir darah. Sekalipun kami tak bisa lolos dari sini» Pihak Kai-pang kalian pasti juga akan jatuh korban tidak sedikit, untuk itu berarti kekuatan Kai-pang kalian sukar dipulihkan dalam waktu singkat. Kalau kalian tidak percaya, boleh silakan coba-coa."

Serentak kawanan lelaki putus jari yang berdiri dibelakangnya memutar senjata masing- masing sehingga menerbitkan cahaya kemilau.

Seketika kawanan pengemis sama terkesiap dan tidak berani sembarangan bertindak.

Ci Tok menyapu pandang dengan pongahnya, lalu berseru pula, "Sebenarnya kedatanganku ini tidak berniat jahat. "

"Tidak berniat jahat, memangnya handak mengcapkan selamat ulang tahun padaku?" jengek Leng Liong.

Thi-tah-sucia berlagak tidak mendengar ejekan orang, katanya Pula, "Waktu kudengar Kai- pang mengadakan rapat disini dan sekaligus merayakan ulang tahun Leng-pangcu, bergegas aku lantas menuju kemari, tapi kuatir ditolak untuk menghadir, terpaksa kami menyamar. . . .

"Hm, jika kau tambah menyandang beberapa buah karung lagi, kan pengemis tua harus menyembah padamu?" sela Leng Liong pula dengan bergelak tertawa. "Dan apakah itu yang kau katakan tidak berniat jahat kedatanganmu ini?"

"Kubilang tidak bermaksud jahat, sebab kedatangan kami sesungguhnya ingin mengajak kerja sama pihak Kai-pang." jawab Thi-tah-sucia, Bilamana selanjutnya Kai-pang tidak ikut

campur urusan Leng-coa-bun kami, maka Leng-coa-bun kami bersedia mengikat Persaudaraan dengan kalian."

"Hm, kala kami menoiak?" tanya Leng Liong dengan ketus.

"Leng-pangcu," ucap Ci Tok dengan pelahan, "Meski orang Leng-coa-bun yang datang sekarang cuma beberapa puluh orang saja. tapi semuanya jago pilihan dengan pengalaman tempur yang luas, seorang sanggup menandingi lima atau sepuluh orang Kai-pang. "

"Kentut busuk!. . . . Omong kosong!. " teriak anak murid Kai-pang mendadak. Cepat Leng Liong memberi tanda dan berkata. "Biarlah dia bicara dulu!"

Dengan bengis Thi-ta-sucia lantas berteriak, "Kecuali itu, bila guruku mau tampil kemuka dan berseru, dalam sehari saja pasti dapat menghimpun beberapa ratus tokoh terkemuka untuk menghadapi Kai-pang kalian. Sebab itulah ingin kuperingatkan agar sebelum bertindak sesuatu hendaknya Leng-pangcu menimbangnya dengan masak-masak."

"Menimbang apa?" jengek Leng Liong.

"Akan menjadi kawan atau lawan, hal ini bergantung pada keputusan Leng-pangcu dalam sekejap saja, bagaimana akibatnya juga bergantung kepada keputusanmu ini."

"Bicara kian kemari, jadi tujuanmu ingin minta Kai-pang kami jangan ikut campur urusanmu, begitu?" tanya Leng Liong.

"Ya, begitulah-" jawab Ci Tok.

"memangnya dalam urusan apa kau minta Kai-pang tidak ikut campur persoalan perguruanmu?"

"Pertama adalah mengenai permusuhan orang pribadi dengan Leng-coa-bun kami." tutur Ci Tok. "Untuk itu setiap orang Kangouw dilarang ikut campur, termasuk juga pihak Kai-pang kalian.

"Rupanya maksud kedatanganmu adalah ingin minta Kai-pang kami berpeluk tangan saja dan menyaksikan Leng-coa-bun kalian berkomplot dan memupuk kekuatan, membunuh lawan dan menyingkirkan kawan untuk kemudian merajai dunia persilatan, akhirnya Kai-pang kami juga akan kalian depak kepinggir."

"Yang kumaksudkan pada urusan pertama adalah mengenai permusuhan pribadi, masakah Leng-pangcu tidak mendengar jelas?

"Huh, permusuhan pribadi apa, paling-paling urusan yang menyangkut Siu-siansing itu-" seru Leng Liong dengan tertawa.

"Asal Leng-pangcu tahu saja." ujar Ci jok.

"Hm, untuk apa Kai-pang kami ikut campur urusan itu, melulu Siu Su seorang saja sudah cukup membuat kalian kepala pusing, buat apa orang lain melibatkan diri?"

"Hm, Siu Su?!" jengek Ci Tok, "Memangnya dia itu apa?"

"Usia orang ini masih muda belia, namun menguasai kungfu maha sakti dengan kecerdasan yang tidak ada taranya, bila kesepuluh Giok-kut-sucia perguruan Leng-coa bertemu dengan dia, kukira akan serupa setan ketemu raja akhirat. Memangnya kau sendiri belum pernah bertemu dengan dia?"

"Hm, untung baginya." jengek Thi-tah-sucia Ci jok.

"Apa betul belum pernah kau lihat dia?" Leng Liong menegas. "Jika dia bertemu denganku, saat ini mungkin sudah pergi menghadap raja akhirat*"

"Huh, paling-paling engkau cuma membual saja dibelakangnya." ujar Leng Liong. "Tapi ingin kuperingatkan padamu, kau perlu hati-hati sedikit, anak muda itu maha sakti, bukan mustahil sekarang juga dia berada dibelakangmu dan telah mendengar ocehanmu."

Seketika ci Tok terkesiap, tanpa terasa ia menoleh.

Leng Liong tertawa geli, serunya, Hahaha, nyali baja Thi-tah-sucia ternyata tidak lebih daripada ini saja."

Dari malu Ci Tok menjadi gusar, teriaknya, "Hm, jika benar sekarang dia berada disini, tentu segera ku. "

Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar orang meraung gusar disertai suara letusan. Kereta yang ambruk dibawah panggung tadi mendadak pecah meledak, Papan kabin kereta bertebaran dan hancur berkeping-keping.

Ditengah berhamburnya papan kayu dua sosok bayangan orang terus melompat keluar, seorang lantas membentak menyambut ucapan Ci Tok tadi, "Lantas akan kau apakan?. "

Tadinya Leng Liong mengira kereta ini cuma tipuan pihak Leng-coa_bun untuk main gertak saja dan didalamnya tidak berisi seorang penumpang pun, maka sama sekali tidak diperhatikannya lebih lanjut. Siapa tahu mendadak bisa terjadi Perubahan begini, karuan semua orang sama terkejut.

Bayangan kedua orang itu pun meloncat dengan cepat sehingga seketika tidak dikenali siapa mereka?

.AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Kiranya tempo hari setelah Mao Bun-ki memergoki Siu Su dan Buyung Siok-sing menggeletak tak bisa berkutik diruang bawah tanah itu, dia menjadi beringas.

Dari sorot mata si nona dapatlah Siu Su dan Buyung Siok-sing merasakan gelagat tidak enak, mereka sama menduga Bun-ki pasti akan mencari jalan untuk menyiksa mereka.

Diam-diam Buyung Siok-sing membatin, "Tak tersangka Sumoai dapat membenci diriku sedemikian hebat, ai, kuharap dia. dia merusak saja wajahku dan seterusnya aku pun tidak 

perlu banyak urusan lagi."

Dalam pada itu Siu Su melihat Bun-ki telah mengeluarkan sebilah pisau kecil, mau-tak-mau tergetar juga perasaannya, pikirnya, "Jangan-jangan dia akan menyayat muka kami. Tidak menjadi soal jika wajahku dirusak olehnya, tapi kalau dia menggores muka Siok-sing sedikit saja pasti takkan kuampuni dia."

Terlihat Bun-ki berdiri termangu, lalu bergumam, "Aku tak dapat membandingi. tak dapat 

membandingi dia " Selain timbul rasa irinya yang menggila, dengan sendirinya timbul juga rasa menyesal dan benci pada diri sendiri. Dari bungkusan jarum dan benang tadi dikeluarkannya sebuah cermin, dipandangnya wajah Buyung Siok-sing, lalu memandang wajah sendiri dalam cermin, sekonyong-konyong ia mengangkat pisau. ....

Tentu saja Siu Su dan Buyung Siok-sing terkesiap, tapi sungguh diluar dugaan. Bun-ki tidak menyayat muka siaPa-siapa melainkan muka sendiri yang diirisnya.

Seketika darah segar merembes keluar dari wajahnya yang cantik itu. Karuan Siu Su dan Buyung Siok-sing sama terperanjat. Bilamana mereka dapat bersuara pasti mereka akan menjerit.

Bilamana mereka sekarang dapat bergerak, mereka pasti akan merampas pisau yang dipegang Bun-ki itu.

Akan tetapi sekarang mereka sama sekali tidak berdaya, mereka cuma dapat menyaksikan anak perempuan yang khilaP ini lagi mengamuk kepada dirinya sendiri, dengan pisau berulang- ulang sedang menyayat mukanya sendiri.

Dengan suara memilukan anak dara itu meratap, "Mao Bun-ki, Oo, Mao BUn-ki, mengapa   

mengapa mukamu tidak dilahirkan lebih cantik sedikit. . . .Kubenci padamu, kubenci. . .

•kubenci pada mukaku ini, kubenci, mengapa. mengapa mukaku seburuk ini

Ditengah ratap tangisnya yang memilukan itu, wajahnya yang cantik molek dan putih mulus itu dalam sekejap telah menjadi hancur.

Tak terperikan perasaan Siu Su, juga Buyung Siok-sing tidak tahan menyaksikan adegan mengerikan itu, kontan dia jatuh pingsan.

Mendadak Bun-ki melemparkan pisau dan cermin itu, lalu berdiri tertegun sampai sekian lamanya. Siu Su tidak sampai hati untuk memandangnya dan memejamkan mata.

Tiba-tiba Bun-ki tertawa seperti orang tidak waras, teriaknya, "Suci yang baik, selanjutnya aku takkan kalah lagi dibandingkan dirimu, engkau adalah gadis paling cantik didunia ini, aku juga perempuan paling jelek didunia, kita sama-sama nomor satu didunia."

Dia tertawa terkekeh dan berkata pula, "Kalian jangan takut, tidak nanti kubunuh kalian, aku cuma ingin membuat kalian selalu bersama agar setiap orang tahu bagaimana bentuk kalian!"

Mendadak ia mengangkat tubuh Siu Su berdua terus dibawa lari keluar dari lorong ba^ah tanah.

Dimulut lorong sana menanti sebuah kereta. Kusir kereta juga anak buah kepercayaan Mao Kau, tentu saja ia terkejut melihat keadaan Bun-ki yang mengerikan itu, saking kagetnya dia jatuh terperosot kebauiah kereta, serunya dengan suara gemetar, "o, nona, engkau engkau. 

. . .' Bun-ki terkekeh, katanya, "Hehe, sekarang aku tambah cantik bukan? Haha, dapatkah kau terka bagaimana bakal suamiku bila melihat keadaanku ini? Sengaja hendak kubikin dia kaget» maka aku berbuat demikian."

Kusir itu menggigil sehingga tidak sanggup bicara lagi.

Segera Bun-ki memasukkan Siu Su dan Buyung Siok-sing kedaiam kereta, ia berdiri termenung sejenak, mendadak ia membentak, "Jaga mereka, berani kau ganggu mereka segera kubinasakan kau."

Kusir itu gemetar ketakutan. Bun-ki lantas berlari masuk lagi kedaiam ruangan tadi, dikumpulkannya senjata, kaki meja kursi yang patah dan benda lain, lalu dibungkus dengan kain seprei.

Kemudian dia mendapatkan alat tulis, kain seperti yang lain dirobeknya menjadi dua, ditulisnya diatas kain nama Buyung Siok-sing dan siu Su, lalu dibawa kembali ketempat

kereta tadi. Kain seprei bertulisan itu digunakan sebagai bendera dan dipancangkan diatas kereta. Akhirnya kain seprei pembungkus senjata dirobek menjadi belasan lonjor dan digunakan sebagai tali pengikat macam-macam barang itu serta diikat dibelakang kereta.

Dipandangnya hasil karyanya sendiri dengan tertawa bangga, gumamnya, "Dengan cara demikian tentu kalian akan tambah terkenal, Barang siapa melihat kereta ini tentu akan menaruh perhatian dan bila orang sama melihat keadaan kalian, hahaha. "

Dia tertawa geli hingga menungging, setelah puas tertawa, mendadak ia berkata pula, "Sepanjang jalan ini bila tidak ada orang membunuh kalian, pada hari pernikahanku kelak hendaknya kalian hadir untuk minum arak, jangan lupa!"

Habis berucap tiba-tiba ia gunakan pisaunya menusuk pantat kedua ekor kuda itu, karena kesakitan, kuda lantas lari seperti kesetanan.

Karena tak bisa berkutik, Siu Su dan Buyung Siok-sing didalam kereta hanya mendengarkan saja suara tertawa latah Bun-ki yang semakin jauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Keduanya lantas memejamkan mata dan pasrah nasib.

Mereka tahu banyak orang Kangouw yang ingin membekuk mereka, perbuatan Mao Bun-ki ini tiada ubahnya serupa mengantarkan mereka kejalan kematian. Umpama ditengah jalan tidak

kepergok musuh, tapi Pasti ada orang yang tertarik oleh kereta yang lari tanpa pengemudi ini, dan bila ada yang menghentikan kereta ini dan melihat keadaan mereka, betapapun pasti akan menimbulkan akibat yang sukar dibayangkan-

Siapa tahu kereta ini terus membedal sepanjang jalan tanpa rintangan, kebanyakan orang yang melihatnya segera menyingkir, sementara orang Kangouw ketika melihat kedua Panji itu juga cepat menghindar. Dengan sendirinya mereka tidak tahu keadaan Siu Su dan Buyung Siok-sing sekarang sama sekali tidak bisa berkutik, tapi kedua nama itu cukup membuat rontok nyali orang yang melihatnya, mana ada yang berani mencari perkara kepada mereka.

Kuda yang kesetanan itu terus berlari kelereng gunung dan secara kebetulan masuk keselat sempit tempat berkumpul orang Kai-pang itu.

Jika kedua orang yang menjaga mulut selat belum mati tentu kereta takkan dapat lewat begitu saja. Juga keenam jago Kai-pang yang berjaga diujung selat itu kalau belum pergi tentu takkan membiarkan kereta itu masuk kedaiam selat.

Tapi semua ini sungguh sangat kebetulan dan seakan-akan telah diatur oleh yang Maha Kuasa, tanpa halangan kereta itu dapat mencapai tanah mangkuk dibalik selat. Tatkala mana Leng Liong justru tidak percaya didalam kereta ada penumpang sehingga tidak

menaruh perhatian sama sekali. Akhirnya kereta menumbuk panggung dan terbalik.

Karena guncangan keras itu, mendadak Siu Su merasakan kaki dan tangannya sudah dapat bergerak, disangkanya setelah berselang sekian lama pengaruh obat bius Jian-jit-cui-hun-hiang telah punah.

Namun Buyung Siok-sing yang lebih berat terbius itu masih tetap lemas tak bertenaga.

Dengan rasa syukur Siu Su menghela napas juga, mendadak dirasakan pada ujung mulut sendiri ada setitik rasa asin dan anyir, rupanya karena guncangan kereta yang terguling tadi, tanpa sengaja membikin luka Pergelangan tangannya berdarah lagi, darah menetes kemulut dan masuk tenggorokan, cuma lantaran dalam keadaan panik tadi, maka tidak dirasakannya.

Seketika timbul pikrannya, "Jangan-jangan tetesan darah segar ini yang memunahkan pengaruh obat bius?"

Waktu ia berpaling, dilihatnya Buyung Siok-sing juga sedang memandangnya dengan kejut dan heran, tapi begitu beradu pandang, Buyung Siok-sing lantas memejamkan mata lagi.

Siu Su sendiri bingung dan tidak tahu apa yang dirasakannya. Ia termenung sejenak, lalu pelahan menyodorkan pergelangan tangan yang terjahit menjadi satu itu ketepi mulut

Buyung Siok-sing.

Mendadak Buyung Siok-sing membuka mata, namun darah segar sudah merembes masuk tenggorokannya, ia tergetar, sejenak kemudian anggota badannya yang kaku mulai hilang dan dapatlah bergerak-

Kiranya darah segar memang benar merupakan obat penawar dari obat bius itu.

Ketika kedua orang beradu pandang pula, sekuatnya Buyung Siok-sing mendorong Siu Su, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, tapi dorongannya cukup kuat sehingga membikin Siu Su terbalik. "He, ken. . . kenapa " seru Siu Su bingung.

Karena waktu itu diluar sedang kacau, maka suara mereka tidak didengar orang.

"Aku benci padamu, jangan kau sentuh lagi diriku," teriak Buyung Siok-sing dengan gemas. "Jika bukan lantaran. . . .lantaran kau, mana aku. tentu Bun-ki takkan gila begitu. Engkau 

manusia tidak berbudi, juga tidak tidak tahu malui" Belum habis ucapannya air matanya 

lantas bercucuran.

Dari mana Siu Su tahu pertentangan batin orang, maka ia menjawab dengan gusar, "Dalam hal apa aku tidak tahu malu?!1'

"Kau. . . kau memang tidak tahu malu. " Makin deras air mata Buyung Siok-sing, padahal ia 

sendiri tidak tahu mengapa ia menangis.

Siu Su termenung bingung, pikirnya dengan mendongkol, "Jelas kau suka padaku, mengapa sikapmu sedingin ini pula? Justru lantaran dirimu maka kita terikat menjadi satu seperti ini, kenapa aku yang disalahkan? Mengapa sikapmu padaku sebentar panas sebentar dingin? Dari cemburu Bun~ki menjadi kalap, apakah hal ini juga salahku?"

Makin dipikir makin gemas, akhirnya ia pun memejamkan mata dan menghimpun tenaga. Karena tenaga belum pulih seluruhnya, ia merasa belum waktunya untuk keluar dari kereta itu.

Dengan menangis Buyung Siok-sing juga sedang membatin, "Sudah jelas kau tahu perasaanku kepadamu, aku juga sudah menderita bagimu, sampai Sumoaiku tercinta juga berubah benci padaku, semua ini gara-gara dirimu. Tapi bagaimana dengan kau? Kau tidak mau mengerti akan diriku, kau tak berbudi, hanya memikirkan diri sendiri, sungguh kejam kau. 

..."

Dengan gemas akhirnya ia pun memejamkan mata untuk menghimpun tenaga.

Dasar latihan mereka sudah sangat kuat, sebab itulah dengan cepat dapatlah tenaga dalam dipulihkan. Dalam pada itu diluar sedang terjadi pertengkaran antara Leng Liong dan Ci

Tok.

Memangnya hati Siu Su lagi mendongkol dan tak terlampiaskan, demi mendengar caci maki ci Tok yang dialamatkan kepadanya, ia tidak tahan lagi, serentak ia memukul dan menendang.

Betapa hebat tenaga pukulan dan tendangannya, dengan sendirinya kabin kereta itu tidak tahan dan pecah meledak, berbareng Siu Su terus melompat keluar. Dengan sendirinya Buyung Siok-sing juga terseret keluar.

"Memangnya akan kau apakan diriku?" demikian Siu Su menanggapi ucapan Ci Tok tadi sambil hinggap didepan lawan.

Leng Liong mengucek-ucek matanya dan berseru girang, "Hah, ternyata benar Siu-kongcu, mengapa engkau bisa muncul disini??" Disamping girang ia pun kejut dan heran, sungguh ia tidak percaya kepada pandangannya sendiri.

Kawanan pengemis juga tercengang dan gembira demi mendengar pemuda yang mendadak muncul dari dalam kereta yang hancur itu ialah Siu Su.

Sebaliknya Thi-ta-sucia Ci Tok menjadi kaget, serunya tanpa terasa, "Jadi engkau inilah Siu Su?"

"Betul!" jawab Siu Su dengan menahan raSa gusarnya- Suaranya keras menggelegar laksana bunyi guntur dan memekak anak telinga.

"Hahaha! Makanya jangan suka memaki orang dibelakang yang bersangkutan, sekarang tahu-tahu orangnya muncul, coba apa yang akan kau katakan lagi?" kata Leng Liong dengan tertawa.

Sedapatnya ci Tok berlagak tenang, katanya dengan dingin, "Sudah lama kudengar namamu, sungguh beruntng bisa bertemu sekarang!"

"Kukira tidak beruntung bagimu," jengek Siu Su. Sembari bicara ia pun mendesak maju satu langkah. Dengan sendirinya terpaksa Buyung Siok-sing juga ikut melangkah maju.

Sekilas pandang, mendadak sorot mata Ci Tok berhenti pada wajah Buyung Siok-sing. Saat itu hampir semua orang juga sama tertarik oleh Buyung Siok-sing yang maha cantik itu.

"Eh, siapakah nona ini, rasanya belum pernah kenal?" tanya Ci Tok. "Untuk apa kau tanya-tanya." jengek Buyung Siok-sing.

'Soalnya kulihat nona dan Siu-kongcu ini maju dan mundur selalu bersama serupa dua menjadi satu, sebab itulah kutanya, bila nona tidak suka bicara. • "

"Siapa yang dua menjadi satu dengan dia? Kalau bicara hendaknya tahu aturan." damperat Siok-sing.

Saking gusarnya ia pun mendesak maju selangkah. Mau-tak-mau Siu Su terpaksa ikut melangkah maju juga.

Pergelangan mereka sama tertutup oleh lengan jubah sendiri sehingga orang lain cuma melihat mereka maju mundur selalu bersama, tapi tidak tahu apa sebabnya.

Biji mata Ci Tok berputar, mendadak ia tertawa, "Haha, bagus, bagus. "

"Bagus apa?!" bentak Siu Su dengan gusar. Dia bergerak dan bermaksud menubruk maju, siapa tahu Buyung Siok-sing justru berdiri melengket diatas tanah tanpa bergerak. Maka baru saja kaki Siu Su terangkat, kontan dia hinggap kembali ketempat semula.

Dilihatnya Buyung Siok-sing lantas memutar kesamping dan melangkah kebawah Panggung- Terpaksa Siu Su ikut menggeser langkah dan bertanya, "Kau mau apa

"Aku mau pergi! ' jawab Siok-sing ketus. "Tidak, aku tidak mau pergi." teriak siu Su. "Kebanyakan orang disini tidak kukenai, urusan disini juga bukan urusanmu, yang jelas aku 

harus angkat kaki dari sini."

Siu Su sangat mendongkol. "Mau pergi silakan pergi!"

Mendadak ia bertahan ditempatnya tanpa bergerak, dengan sendirinya Buyung Siok-sing tidak dapat menyeretnya secara Paksa. Melihat kejadian aneh dan lucu itu, semua orang tambah tercengang-

"Siu-k0ngcu, sesungguhnya ada ada apa?" tanya Kiong-sin Leng Liong dengan heran. 

Siu Su jadi melenggong dan tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. "Haha, bagus, bagus sekali. " mendadak Ci Tok terbahak.

"Masa benar engkau tidak pergi?" tiba-tiba Buyung Siok-sing berpaling dan menegur. Muka Siu Su tampak Pucat, dengan menahan rasa dongkol ia menjawab. "Mati pun aku tidak

pergi!

"Baik!" ucap Siok-sing dengan gemas, mendadak ia berpaling dan tersenyum kepada salah seorang lelaki sambii menggapai, "Eh, kemarilah!"

Melihat senyum manisnya, sukma lelaki itu hampir terbang keauiang-auiang, seperti orang linglung ia mendekati Siok-sing sambil cengar-cengir, tanyanya, "Ada urusan aPa, nona?"

"Kemarilah lebih dekat!" seru Siok-sing pula dengan senyum yang lebih mengiurkan.

Jangankan lelaki ini, biarpun orang lain juga selama hidup tidak pernah melihat Perempuan secantik Buyung Si0k-sing, maka dengan mata terbelalak orang itu melangkah maju seperti kehilangan ingatan, berulang-ulang biji lehernya naik turun menelan air liur, katanya, "Nona.   

."

Tak terduga mendadak Buyung Siok-sing menarik muka, senyum manisnya lenyap seketika, berbareng tangan kiri secepat kilat terus meraih, tahu-tahu golok yang dipegang lelaki itu sudah terampas.

Kelinglungan lelaki itu belum lagi hilang, serunya dengan terkejut, "He, ada apa, nona. ii Belum lanjut perkataannya, kaki Buyung Siok-sing sudah melayang tiba, kontan ia 

tertendang mencelat. Hampir pada saat yang sama Buyung Siok-sing juga menggunakan golok rampasan itu untuk menahas tangan kanan sendiri.

Karuan semua orang terperanjat, Siu Su juga kaget setengah mati, cepat ia menahan tangan Siok-sing yang memegang golok itu, sekali dicengkeram dengan keras, gol0k lantas jatuh ketanah.

"Lepaskan tidak?" bentak Siok-sing sambil mengentak kaki. "Boleh kau tabas tanganku saja, kenapa mesti kau bikin cacat diri sendiri?" jawab Siu Su dengan suara agak gemetar.

Bersambung ke-20.