Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 14

Jilid 14

Air muka Mao Kau kelihatan dingin dan mengangguk pelahan. Sedangkan Thia Ki dan Poa Kiam saling pandang sekejap. Cu Cu-bing yang berjuluk Sian-tian-sin-to (si golok kilat) juga menampilkan senyuman misterius.

. == oo OOO oo ==

Saat itu Mao Bun-ki sedang melarikan kudanya dengan cepat, tapi jaraknya dengan Ko Bun justru semakin jauh. Nyata lari kuda ternyata tidak dapat menyusul kecepatan lari orang. 

Ko Bun mendengar derap kaki kuda semakin jauh tertinggal dibelakang, mendadak ia berputar, membelok kedalam hutan lebat disebelah kiri sana.

Setelah menyusuri hutan itu ditengah remang malam kelihatan sebuah perkampungan yang dibangun dengan sangat megah, dengan cepat ia melayang masuk ke perkampungan itu.

Ia heran suasana sunyi senyap, padahal biasanya kedatangannya segera disambut meriah. Langsung ia menuju keruangan tengah, disitupun tidak ada orang. Hanya diatas meja secarik kertas yang tertindih dibawah lampu.

Waktu Ko Bun mengambil dan membacanya, isinya cuma beberapa huruf saja dan berbunyi: 'Kongcu, atas perintah Toako kami, tak dapat lagi kami meladeni Kongcu.' Yang bertanda tangan dibawahnya adalah Thio Jit, Ong Peng dan Thio It-tang.

Kening Ko Bun bekernyit, tiba-tiba terdengar suara langkah orang pelahan bergema dari ruangan belakang, jelas sedang menuju kesini. Di tengah malam sunyi, suara langkah orang ini kedengaran sangat seram. "Siapa?" bentak Ko Bun dengan suara tertahan.

Tabir tersingkap, sesosok tubuh kaku dengan wajah bercodet melangkah masuk dengan membawa sebatang lilin putih.

Dia ternyata juga Hoan-hun atau si mayat hidup.

Cahaya lilin menyinari wajahnya yang pucat, ia tersenyum terhadap Ko Bun, sukar diraba apa arti senyumannya ini.

Ko Bun terkesiap, serunya, "Engkau sudah kembali? Dan orang tadi?" Hoan-hun atau mayat hidup kelihatan bingung, pelahan ia menggeleng.

"Hah, apakah sejak tadi engkau tidak pernah pergi dari sini?" seru Ko Bun pula.

Pelahan Hoan-hun mengangguk, sorot matanya memandang jauh kegelapan malam, ucapnya pelahan, "Mereka sudah pergi semua, tertinggal aku saja disini."

Suaranya serak, nadanya kaku, tidak membawa emosi apa pun, kedengaran seperti suara dari kuburan.

Ko Bun menyurut mundur dan menjatuhkan diri diatas kursi, gumamnya, "Jika engkau tidak keluar, lantas siapakah orang tadi?"

Ia coba mengamat-amati wajah "mayat hidup" ini, setiap orang yang melihat tampangnya ini pasti akan menyesal.

Inilah sebuah wajah yang tidak menyerupai manusia, kulit daging pada mukanya sudah kaku, ditambah lagi codet yang jelek dan sorot mata yang kaku, juga gerakan yang kaku pula. . . .

Diam-diam Ko Bun membatin, "Adalah mudah bagi orang yang mau menyamar seperti bentuknya ini, asalkan perawakannya mirip dia. Tapi siapa pula orang yang menyamar 

seperti dia tadi?"

Selagi dia memikirkan hal yang sukar dimengerti ini, tiba-tiba diluar ada orang berseru, "He, dia. 

. . dia juga berada disini!"

Ko Bun terkejut dan menoleh, terlihat Mao Bun-ki melangkah masuk dengan pandangan keheranan terhadap Hoan-hun, mendadak ia berpaling dan berkata kepada Ko Bun, "Se.   

.sesungguhnya siapa kau?"

"Masa engkau tidak kenal lagi padaku?" sahut Ko Bun dengan tersenyum. "Kukenal dirimu, tapi engkau menyamar, aku. . . aku. " mendadak matanya basah, tubuh 

rada gemetar, ucapnya pula dengan tersendat, "Dengan sepenuh hati kupasrahkan seg.   

segalanya kepadamu, tapi. tapi belum lagi kuketahui sesungguhnya siapa dirimu."

Ia menunduk dan akhirnya air mata tak tertahan lagi.

Hati Ko Bun merasa terharu, tapi tetap tersenyum dan menjawab, "Aku ialah aku, jangan engkau berpikir terlalu banyak."

Dengan tersendat Bun-ki berkata, "Tak perlu engkau berdusta lagi padaku, setiap orang memang dapat menutupi perasaan sendiri, tapi kecuali orang mati, siapa pula didunia ini yang mampu mengatasi sorot mata sendiri dan membuat kulit daging muka sendiri berubah menjadi kaku seperti batu untuk menyembunyikan segala perasaannya?"

Hati Ko Bun tergetar, hanya muka orang mati saja yang dapat berubah kaku seperti batu, ucapan ini menyadarkan dia, mendadak ia berbangkit dan membentak, "Betul, bila orang itu memakai kedok, kulit daging mukanya juga akan berubah kaku serupa orang mati."

Sambiul bicara, sorot matanya lantas beralih kearah Hoan-hun. "Apa katamu?" tangan Bun-ki.

Belum lenyap suaranya, "tring", tatakan lilin jatuh kelantai, keadaan menjadi gelap. "Lari kemana?" bentak Ko Bun.

Dalam kegelapan seorang lantas menjengek, "Hm, orang she Siu, jadinya engkau tetap terjebak olehku."

Tergetar hati Ko Bun, cepat ia menggeser kepojok dinding.

Mao Bun-ki lantas berseru, "Hah, jadi. jadi engkau memang benar keturunan Siu Tok?"

Dalam kegelapan kembali orang mendengus lagi, "Betul, dia memang putra Siu Tok, masakah sekarang engkau masih belum mau mengerti?"

Suaranya nyaring tajam dan tidak serupa suara lelaki lagi.

"Su. Suci, engkau datang?!" seru Bun-ki dengan suara gemetar.

Ko Bun juga berseru kaget, "Buyung Siok-sing!"

Dalam kegelapan malam, samar-samar kelihatan bayangan seorang muncul didepan jendela dan menjengek, "Betul, aku ini Buyung Siok-sing. Nah, jaga pintunya, Sumoai, jangan sampai  dia kabur!"

Ia berhenti sejenak, lalu berucap pula, "Bocah she Siu, kau kira dirimu maha pintar dan dapat mengelabui setiap orang, sesungguhnya engkau adalah seorang tolol. Jika kau mau menuntut balas, seharusnya kau lakukan secara terang-terangan, mengapa sengaja kau tipu Sumoaiku? Manusia yang paling kejam didunia ini adalah orang yang suka menipu hati anak perempuan, Sumoaiku masih suci bersih dan engkau sampai hati mempermainkan dia!"

"Suci, jangan. . . jangan kau katakan lagi. " jerit Bun-ki dengan pedih, air mata pun 

bercucuran.

"Jangan bergerak, diam saja disitu," kata Buyung Siok-sing. Lalu sambungnya, "Orang she Siu, sudah lama kutahu engkau tidak bermaksud baik, cuma sayang belum kudapatkan akal untuk membongkar kedokmu. Kulihat Sumoai semakin merana dan tidak boleh kutinggal diam, Kupikir untuk menuntut balas terhadap keluarga Mao, tentu dengan segala daya upaya engkau akan mencari kelemahannya, terutama segala sesuatu yang tidak menguntungkan Jit-kiam-sam-pian pasti akan kau cari, betul tidak?"

Ia tertawa dingin, lalu melanjutkan, "Belasan tahun yang lalu, pada waktu aku masih kecil, pada suatu malam tiba-tiba datang kerumahku seorang lelaki berlumuran darah, dia itulah si golok kilat Cu Bing, sebelum ajalnya dia menceritakan apa yang terjadi, aku dan ibu telah menguburnya. Kemudian aku pun menjadi murid guruku yang berbudi itu. Selama belasan tahun ini telah kulupakan kejadian masa lampau, baru setelah bertemu denganmu, kupikir bila benar kau musuh keluarga Mao, tentu engkau akan senang mendapat tahu kejadian dahulu itu, maka aku lantas menyamar dan sengaja ditemukan olehmu. Semula engkau tidak percaya, tapi setelah kau selidiki dan diketahui belasan tahun yang lalu memang pernah terjadi peristiwa berdarah itu, maka akhirnya orang pintar semacam dirimu pun tertipu olehku."

Ia tertawa ejek, lalu menyambung lagi, "Sungguh lucu, engkau malah memberi nama padaku sebagai Hoan-hun, masa tidak kau pikirkan didunia ini masakah ada mayat hidup segala? Saat ini Cu Cu-bing berada dalam kuburnya, mungkin tulang belulangnya juga sudah ancur, tapi tampaknya kau sangat gembira. Sudah beberapa kali ingin kubinasakan dirimu, jika bukan lantaran Sumoai, tentu sudah lama jiwamu amblas."

Bun-ki masih menangis, dahi Ko Bun alias Siu Su juga berkeringat dingin.

Terdengar Buyung Siok-sing berkata pula, "Jika Sumoai tidak mengingatkan kulit muka orang mati segala, tentu sampai saat ini engkau masih terkelabui. Nah, orang pintar, maksud uraianku ini adalah untuk menyadarkan dirimu bahwa segala di dnia ini tidak ada kepintaran yan mutlak dapat membodohi orang lain."

Siu Su termenung sejenak, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, "Haha, memang betul, didunia ini mana ada mayat hidup segala? Semula aku cuma berpikir wajah Hoan-hun yang kaku itu kan dapat ditiru oleh setiap orang, tidak kupikirkan hal lain dibalik samarannya ini. Sekarang aku cuma ingin tanya sesuatu padamu, mengapa di Leng-un-si tadi engkau mau  bersusah payah membawa pergi mayat Thia Hong."

Buyung Siok-sing tampak melengak, "Siapa yang pernah ke Leng-un-si tadi?"

Kembali Siu Su terkesiap, pikirnya, "Jika bukan dia, lantas siapa pula yang menyamar sebagai Hoan-hun tadi?"

Terdengar Buyung Siok-sing berkata pula, "Nah, Sumoai, pembicaraannya kukira sudah selesai, kenapa engkau tidak lekas turun tangan."

Bun-ki masih menunduk dan menangis, seperti tidak mendengar ucapannya.

Dengan suara keras Buyung Siok-sing membentak, "Apakah tidak kau dengar ucapanku, Sumoai? Inilah orang yang mencuri hatimu, dia yang menipumu, dia musuhmu yang hendak membunuh ayahmu!" 

Mendadak Bun-ki mengangkat kepala dan bertanya dengan suara gemetar, "Apakah. apakah 

engkau memang sengaja mendustaiku? Jadi sama. sama sekali engkau tidak sungguh2 

baik padaku? "

Kerongkongannya serasa tersumbat, dia tidak dapat meneruskan lagi. Gadis yang sedang mabuk kepayang ini benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Mendadak Siu Su menghela napas panjang, ucapnya pelahan, "Ya, aku memang bohong padamu."

Dia bicara sangat pelahan, setiap katanya serupa pukulan godam yang meremuk rendamkan hati Bun-ki.

Si nona menjerit dan memburu kedepan Siu Su.

Kedua kepalan Siu Su tergenggam erat dan berdiri kaku, sorot matanya yang terang bergemerdep dalam kegelapan serupa kerlip bintang kejora dilangit yang pekat.

Begitu kebentrok dengan sinar mata anak muda ini, mendadak Bun-ki menjerit lagi, ia mendekap mukanya dan membalik tubuh terus berlari pergi.

"Sumoai, Sumoai!" teriak Buyung Siok-sing.

Namun Mao Bun-i sudah menghilang dalam kegelapan malam.

Mendadak Buyung Siok-sing berpaling menghadapi Siu Su, ucapnya dengan gemas, "Coba kau lihat, itulah nona yang telah kau tipu, telah kau lukai hatinya, sebaliknya sampai saat ini dia tidak sampai hati mencelakaimu." Siu Su berdiri kaku, sorot matanya tampak guram juga.

"Sedemikian tulus ikhlasnya terhadapmu, jika engkau mempunyai perasaan, tidak layak kau bikin susah dia lagi, jika ada hati nuranimu selanjutnya jangan kau temui dia, meski ayahnya   

. ."

"Sakit hati ayah setinggi langit!" tukas Siu Su mendadak, singkat tapi tegas.

"Jadi engkau tetap ingin menuntut balas, tetap akan kau tipu dia lagi?" bentak Buyung Siok- sing.

"Ya, tanpa kompromi!" jawab Siu Su dengan membusungkan dada.

Belum lenyap suaranya, serentak Buyung Siok-sing menubruk maju terus menghantam dadanya.

Namun Siu Su sempat mengengos. Tapi serangan Buyung Siok-sing segera berubah, sekarang kedua telapak tangannya menyerang sekaligus, tangan kiri memotong pinggang dan kepalan kanan menghantam lambung, hendak didesaknya supaya Siu Su terpepet ke ujung dinding.

Siapa tahu tubuh Siu Su mendadak meluncur keatas, dalam keadaan demikian bila kedua kakinya bergerak tentu dapat menendang muka lawan dan terpaksa Buyung Siok-sing harus melompat mundur.

Tapi Siu Su sama sekali tidak bermaksud melancarkan serangan balasan, begitu meluncur keatas dia terus melayang kesamping.

Buyung Siok-sing membentak, tangannya membalik untuk menghantam punggung lawan. Tanpa menoleh Siu Su melompat lebih jauh kesana, jengeknya, "Buyung Siok-sing, aku sudah mengalah tiga jurus!"

"Siapa minta kau mengalah?!" demikian jengek Buyung Siok-sing, kedua tangannya bergerak lagi, sekaligus ia menyerang pula tujuh kali.

Serangannya ganas tanpa kenal ampun, semuanya mengincar tempat maut ditubuh Siu Su, bila kena cukup membuatnya binasa.

Dengan kepandaian "mendengarkan suara membedakan arah", Siu Su tidak berpaling, namun setiap serangan Buyung Siok-sing dapat dihindarnya dengan tepat.

"Hm, biarpun engkau tidak balas menyerang tetap akan kubinasakan dirimu," jengek Buyung Siok-sing.

Belum habis ucapannya, se-konyong2 sebelah tangan Siu Su menyampuk kebelakang, karena tidak ter-sangka2, pergelangan tangan kanan Buyung Siok-sing terserempet sehingga  kesemutan dan sukar terangkat lagi tangannya.

Hendaknya maklum, kungfu Buyung Siok-sing sangat tinggi, jika serangan Siu Su tidak dilancarkan pada saat yang tepat, betapapun sukar mengenai lawan. Inilah intisari ilmu silat "menyerang pada saat tak terduga oleh lawan".

Selagi Buyung Siok-sing melengak, terdengar Siu Su menjengek, "Buyung Siok-sing hari ini kuampuni jiwamu, camkanlah dengan baik!"

Ketika kata terakhir diucapkan, suaranya sudah berada berpuluh tombak jauhnya.

Sampai sekian lama Buyung Siok-sing berdiri terkesima, akhirnya ia menyurut mundur dan jatuhkan diri diatas kursi sambil bergumam, "Sumoai. O, Sumoai, ayahmu mempunyai 

musuh selihai ini, ai. "

Dia merasa hati tertekan dan tubuh lemas, bicara saja enggan.

Dalam pada itu secepat terbang Siu Su telah melayang pergi, setelah melintasi pagar tembok, tiba-tiba terdengar kesiur angin dibelakang.

Dengan gusar ia membentak, "Buyung Siok-sing, masih berani kau susul kemari?!"

Selagi ia hendak menghantam kebelakang, mendadak seorang menegurnya, "Aku adanya, Kongcu!"

Siu Su tahan pukulannya yang sudah hampir dilontarkan, berbareng ia terus turun kebawah dan berpaling, terlihat seorang melompat turun dari pagar tembok, kiranya Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin, si laba-laba kaki sembilan.

Meski kungfu Liang Siang-jin tidak terlalu tinggi, tapi ginkangnya tergolong kelas top, dengan enteng ia hinggap didepan Siu Su.

Dengan girang Siu Su memegang pundak orang dan bertanya, "He, Liang-toako, cara bagaimana engkau kemari?"

"Aku tidak pernah pergi dari sini dan selalu menunggu kedatangan Kongcu." jawab Liang Siang- jin. "Soalnya. "

Mengapa Thio Jit dan lain-lain sama pergi tanpa pamit?" potong Siu Su.

"Memang hendak kukatakan kepada Kongcu bahwa selanjutnya terpaksa tak dapat kubekerja lagi bagimu," tutur Siang-jin dengan menyesal, "Maka Thio Jit dan saudara yang lain juga. . .Ai.   

."

Ia menghela napas dan tidak melanjutkan. Siu Su tertegun, ia lepaskan pundak orang, tanyanya pula dengan pelahan, "Memangnya ada. . 

. ada persoalan apa?"

"Soalnya seorang musuh Kongcu telah menunjukkan sesuatu benda tanda pengenal dari seorang penolongku masa lampau, dengan tanda pengenal penolongku itu dia minta kubantu menyelidiki jejak Kongcu. "

Tergetar hati Siu Su oleh penuturan Liang Siang-jin ini.

"Tapi Kongcu pun tidak perlu kuatir, sambung Liang Siang-jin. "Setelah berkumpul sekian hari dengan Kongcu, sudah kukenal pribadimu, mana bisa kubocorkan rahasiamu kepenolongku itu, setelah kupertimbangkan, terpaksa. "

"Terpaksa tidak membantu pihak manapun, begitu?" tukas Siu Su dengan tersenyum.

Liang Siang-jin menunduk, katanya, "Ya, kuyakin Kongcu pasti dapat memaklumi kedudukanku yang serba sulit ini."

Siu Su berpikir sejenak, katanya kemudian, "Liang-heng sungguh seorang kawan sejati, betapapun engkau tidak mau mengkhianati diriku, dengan keterus-teranganmu ini, sungguh aku sangat berterima kasih padamu, mana dapat kusalahkan dirimu?"

Semakin lugas cara bicara Siu Su, semakin membuat hati Liang Siang-jin tidak enak.

Siu Su tertawa dan berkata pula, "Padahal mulai sekarang jejakku juga tidak perlu dirahasiakan lagi, maka Liang-heng juga tidak perlu serba salah lagi terhadap sahabatmu itu, silakan kau katakan kepadanya mengenai jejakku sekarang."

Liang Siang-jin tampak kikuk, katanya kemudian, "Musuh Kongcu itu datang dari Kun-lun-san, bahkan terhitung Sute pejabat ketua Kun-lun-pai sekarang. Kungfunya yang tinggi tergolong kelas top didunia persilatan."

"Anak murid Kun-lun-pai?" Siu Su menegas dengan kening bekernyit.

"Sebelum menjadi murid Kun-lun-pai, orang ini sudah terhitung jagoan didunia persilatan, dia bernama Tio Kok-beng dan berjuluk Bu-ih-cian (panah tanpa sayap), belasan tahun yang lalu bermusuhan dengan ayah Kongcu. "

"Musuh mendiang ayah sama juga musuhku." tukas Siu Su tegas.

Setelah termenung lagi sejenak, kemudian Liang Siang-jin berkata, "Setelah jejak Kongcu terbuka, tentu musuh akan muncul disetiap tempat, untuk ini hendaknya Kongcu selalu waspada. Ai, sungguh menyesal tidak. tidak kubantu lagi, semoga Kongcu selalu diberkati 

dengan selamat. " Ia termenung seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi akhirnya dia memberi hormat dan mohon diri.

Tanpa bicara Siu Su menyaksikan kepergian orang, mendadak dirasakan semuanya serba sunyi. Jagat raya ini seolah-lah tersisa dia sendiri saja, dedaunan berbunyi gemersik tertiup angin serupa musuh yang sedang mengintai disekelilingnya.

.                                          == oo OOO oo == Sang surya telah terbit. Angin meniup semilir.

Air danau Barat (Se-oh) yang tenang itu mulai bergelombang pelahan dan memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Meski masih pagi namun permukaan danau sudah mulai ramai, semua perahu pesiar telah berkumpul ditepi danau menanti penumpang.

Perahu pesiar itu tertambat berderet-deret memenuhi tepi danau. Angin pagi sayup-sayup membawa bau sedap arak dan santapan yang merangsang selera.

Terdengar suara senda gurau orang mulai ramai, dibawah pepohonan Liu ditepi danau yang rindang penuh berjubel orang, hanya dalam waktu singkat, di-mana2 orang berkerumun. . . . .

Hari ini adalah sidang pleno kaum kesatria yang diselenggarakan oleh jago utama dan orang kaya nomor satu di Hangciu, yaitu Leng-coa Mao Kau. Semua kesatria yang diundang telah berkumpul di Se-oh.

Deretan perahu pesiar itu digandeng dengan ikatan tali atau rantai sehingga ratusan perahu terpajang serupa sebuah istana terapung.

Para nona penghibur diatas perahu sama memandangi para tamu yang naik keatas perahu dengan pandangan gembira dan juga heran.

Banyak penumpang itu melangkah kedalam perahu dengan pelahan, ada yang main lompat begitu saja. Mereka bersenda gurau dan makan minum, cara mereka minum arak serupa orang biasa minum teh saja.

Meski pakaian mereka rata-rata sangat perlente dan terhormat, tapi sukar menutupi gerak-gerik mereka yang tangkas dan kasar, sorot matanya yang tajam, dadanya yang bidang. . . .

Diam-diam para nona penghibur mengagumi lelaki yang kekar dan kuat ini. Biasanya yang mereka layani adalah kaum Susing atau orang terpelajar yang lemah lembut atau saudagar yang gemuk dengan perutnya yang buncit, atau para mengiring yang kotor tutur katanya. Sering juga kaum pelancong yang awam, kakek dan nenek yang jalannya ter-tatih2 atau kaum wanita  dengan anak kecil dan sebagainya.

Tapi hari ini apa yang mereka lihat serba baru semuanya, diam-diam mereka bergembira, mereka tidak tahu bahwa kaum lelaki kekar dan tegap ini setiap saat dapat mendatangkan banjir darah bagi mereka, setiap saat bisa membikin danau yang tenang ini bergolak.

Sekonyong-konyong dari tepi danau sebelah sana bergema suara aba-aba.

Serentak para tokoh yang berada dibawah pepohonan, diantaranya termasuk Leng-coa Mao Kau, Cu-bo-sin-kiam Ting Ih, Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing, Ha-siok-siang-kiam berdua saudara Ong dan jago ternama lain, mereka terus naik keatas perahu.

Diantara orang-orang itu, yang paling menyolok adalah dua kakek yang berbaju perlente dengan sikap gagah, tapi sangat asing didunia Kangouw.

Ada lagi seorang yang diam-diam mengherankan orang, kelihatannya orang ini seperti sesosok mayat hidup, mukanya ada bekas luka yang kemerahan dibawah cahaya matahari.

Diam-diam para jago membicarakan siapa mereka? Mengapa sikap Mao Kau tampak sangat sungkan terhadap mereka?

Dengan wajah berseri Mao Kau beramah tamah dengan para tamu undangannya, namun dibalik kegembiraannya itu, sorot matanya menampilkan juga rasa kuatir yang sukar dijelaskan.

Dia berdiri dihaluan kapal dan menyapu pandang sekeliling, tiba-tiba bergema orang bersorak diseling orang menyapa memberi salam.

Rasa murungnya segera lenyap dan berubah menjadi rasa bangga, serunya sambil mengangkat tangannya keatas, "Terima kasih banyak-banyak atas kedatangan saudara2 sekalian, mumpung sekarang kita berkumpul disini, silakan hadirin makan minum dulu sepuasnya, habis itu barulah kita memasuki acara pokok nanti. "

Ditengah puji sorak orang banyak pelahan ia mengundurkan diri kedalam kapal.

"Mao-toako", kata Lim Ki-cing yang mengiringinya dengan tertawa, "Umpama anak orang she Siu itu saat ini berada disini tentu juga akan mundur teratur bilamana melihat betapa besar kekuatan yang mendukung Mao-toako disini!"

Mao Kau tertawa senang.

Tiba-tiba Thia Ki mendengus, "Hm, jika anak muda itu berwatak serupa bapaknya, biarpun sorak gemuruh orang banyak lebih lantang lagi juga sukar menggertaknya mundur."

Seketika wajah berseri Mao Kau berubah kelam. Cepat Poa Kiam menukas dengan tertawa, "Tapi biarpun dia tidak mau mundur, jika kita berdua sudah disini, bisa berbuat apa dia?"

Hati Mao Kau kembali dibuat besar lagi. Dan begitulah dia sebentar senang dan sebentar sedih, sungguh makan tidak merasakan enak, tidur juga kurang nyenyak.

Entah selang berapa lama, terdengar ada orang berseru diluar, "Kini perjamuan sudah selesai, diharapkan Mao-toako tampil untuk bicara."

Lalu ada seorang lagi berteriak, "Mao-toako telah memperlakukan kita sehormat ini, apa pun permintaan Mao-toako pasti akan kami laksanakan baginya."

Semangat Mao Kau terbangkit, segera ia melangkah keluar dan berseru, "Selama ini berkat dukungan saudara2 sekalian sehingga dapatlah Mao Kau berkumpul dengan kalian seperti sekarang. Walaupun aku menyadari ada juga perbuatanku yang salah, tapi dalam hati nuraniku kurasa dapat bertanggung jawab terhadap para sahabat. Misalnya kejadian belasan tahun yang lalu, ketika itu orang she Mao tanpa menghiraukan resiko sendiri telah berusaha menumpas si iblis Siu Tok, semua itu juga demi kesejahteraan saudara-saudara khususnya dan dunia Kangouw umumnya."

Serentak semua orang berkeplok memuji, sebab terbunuhnya Siu Tok oleh Mao Kau dahulu memang sangat menggemparkan.

Mao Kau tertawa, katanya pula, "Tapi sekarang keturunan Siu Tok konon telah muncul didunia Kangouw, jika dulu Mao Kau membinasakan Siu Tok demi membela para kawan, sekarang kumohon bantuan para sahabat agar beramai menghadapi keturunan Siu Tok itu."

Serentak hadirin bersorak setuju.

Dengan lantang Mao Kau berseru pula, "Atas dukungan para kawan, tentu saja aku. "

Pada saat itulah mendadak ditengah orang banyak seorang berteriak, "Orang she Mao jangan membual!"

Semua orang terkejut dan berpaling kesana. Tertampaklah dihaluan sebuah perahu berpajang indah berdiri seorang perempuan hamil, dengan tangan bertolak pinggang ia menuding Mao Kau dan memaki, "Jika benar engkau menghargai kawan, tentu Thia Hong takkan kau bunuh! Hanya mulutmu saja yang manis, padahal engkau manusia berhati binatang!"

Kebanyakan hadirin kenal perempuan hamil ini adalah salah seorang tokoh Jit-kiam-sam-pian, yaitu Wan-yang-siang-kiam Lim Lin. Dengan sendirinya mereka heran melihat Lim Lin memaki Mao Kau dengan beringas sambil menangis.

Dengan air muka berubah Mao Kau berkata, "Thia Hong serupa saudara kandung orang she Mao, mana bisa kubunuh dia, kenapa " Lim Lin berteriak pula dengan parau, "Tanpa malu berani kau bilang Thia Hong serupa saudara kandung. Sekarang coba jawab, jika benar dia tidak kau bunuh, dimana dia berada, lekas katakan."

Serentak pandangan semua orang berpusat kearah Mao Kau.

Biarpun Mao Kau seorang gembong persilatan, menghadapi beratus pasang mata yang penuh pertanyaan itu, gugup juga dia. Dengan suara tergagap ia berkata, "Ya, me. . . memang. . 

.memang Thia-toako telah meninggal."

Dengan kalap Lim Lin berteriak pula, "Siapa yang membunuhnya?"

Mao Kau melenggong, sejenak ia tidak dapat bicara. Seketika orang ramai berkasak-kusuk membicarakan hal ini.

Mendadak terdengar orang mendengus, seorang muncul dari belakang Mao Kau, seorang yang berwajah kaku dan juga bertubuh tegak kaku serupa mayat hidup, dengan bengis ia berteriak, "Akulah yang membunuh Thia Hong!"

Sambil menggreget Lim Lin berteriak, "Selamanya kita tidak kenal, apalagi bermusuhan, mengapa kau bunuh dia?"

Hoan-hun atau si mayat hidup mendengus, "Dia berdosa terhadap Mao-toako, maka kubunuh dia."

Seketika terjadi lagi kegemparan, semua orang sama membatin, "Kiranya benar Mao Kau yang mendalangi pembunuhan Thia Hong."

Hampir semua hadirin itu tahu hubungan erat antara Thia Hong dan Mao Kau, sekarang diketahui Mao Kau sampai hati membunuh kawan karib sendiri, karuan semuanya merasa ngeri juga.

Sesudah menyapu pandang hadirin sekejap, lalu Hoan-hun berseru paula, "Tujuh belas tahun yang lalu Mao-toako membuka Piaukok gelap. "

Bahwa rahasia pribadinya secara terang-terangan dibongkar Cu Cu-bing didepan umum, keruan Mao Kau menjadi murka, mendadak sebelah tangannya menolak kedada Hoan-hun sambil membentak, "Mengoceh apa kau? Mundur!"

Karena tolakan itu, Hoan-hun sempoyongan dan "blang", ia jatuh terjengkang diatas kapal, tapi ia masih berteriak pula, "Mao-toako, apa yang kulakukan ini adalah demi membela dirimu, mengapa aku malah. "

Hadirin yang memang sudah ngeri terhadap kekejian Mao Kau, kini mendengar pula dia pernah  membuka Piaukok gelap yang dipandang kotor oleh sesama orang persilatan, sekarang teman sendiri dipukul lagi hingga terjungkal, keruan semua orang tambah patah semangat dan tidak dapat membenarkan tindakan Mao Kau itu, diam-diam ada sebagian hadirin lantas mengundurkan diri.

Melihat usaha yang dipupuknya selama belasan tahun akan hancur dalam sekejap ini, Mao Kau tambah gelisah, berulang ia memberi salam kepada hadirin dan berseru, "Sabar saudara- saudara, dengarkan penjelasanku, janganlah kalian percaya kepada ocehan mereka. "

Mendadak Lim Lin melompat ke haluan kapal Mao Kau. Segera Mao Kau membentak, "Kau mau apa?"

"Jika kau tega membunuh Thia Hong, boleh kau bunuh saja diriku sekalian!" teriak Lim Lin dengan penuh duka. Ditengah suaranya yang parau itu serentak ia melancarkan serangan, semuanya serangan maut.

Biarpun lihai serangan Lim Lin, tapi dia sedang mengandung, perutnya besar sehingga gerak- geriknya tidak leluasa.

Dari malu Mao Kau menjadi murka, bentaknya, "Perempuan bejat, berani kau main gila disini."

Sambil mengengos, telapak tangan lantas menabas dan tepat mengenai pundak Lim Lin. Tanpa ampun Lim Lin menjerit dan jatuh terkapar, meledaklah tangisnya.

Pada umumnya manusia bersimpati terhadap kaum perempuan yang lemah, apalagi sekarang Lim Lin lagi hamil, menyaksikan Mao Kau sampai hati menganiaya wanita hamil, semua orang menjadi gusar. Meski mereka tetap jeri terhadap wibawa Mao Kau, tapi sudah banyak yang mengeluarkan suara dengusan, bahkan sebagian lagi lantas tinggal pergi.

Kedua saudara Ong dari Ho-siok-siang-kiam saling pandang sekejap, melihat tindakan Mao Kau yang kejam ini, tanpa terasa mereka jadi teringat kepada ucapan Ko Bun, pikir mereka, "Akhir-akhir ini Mao Kau ternyata begini sombong dan membiarkan putri sendiri bertindak kasar terhadap kaum angkatan tua, sekarang keadaannya sudah mendekati tercerai-berai dan dikucilkan para pendukunnya, kenapa kesempatan ini tidak kami gunakan untuk menumpasnya?"

Berpikir demikian Ong It-beng lantas berteriak, "Wahai para kawan, orang she Mao ini cuma lahirnya saja kelihatan alim, padahal batinnya kotor dan keji, biarpun kita pernah sehidup-semati dengan dia, tapi melihat kelakuannya yang se-wenang2 ini, betapapun kita tidak dapat tinggal diam."

Ong It-peng juga lantas melolos pedang dan berseru, "Thia-toaso, biarlah kami akan membalaskan sakit hatimu." "Sret", kontan ia menusuk iga kiri Mao Kau.

Hoan-hun, si mayat hidup telah berdiri disudut kapal sana, sorot matanya menampilkan rasa senang, Thia Ki dan Poa Kiam juga saling pandang sekejap dan tersenyum puas.

Selagi Co-jiu-sin-kiam Ting Ih hendak melompat maju, mendadak ia dicegah Lim Ki-cing serta dibisikinya, "Alangkah senangnya duduk tenang menyaksikan pertarungan antara dua harimau, jika main gagah-gagahan tentu akan rugi sendiri."

Ting Ih melengak, tapi akhirnya dia duduk kembali.

Dalam pada itu Mao Kau sempat menghindari serangan Ong It-peng, bentaknya, "It-peng, apakah engkau sudah gila?"

Ong It-peng mendengus, sekaligus ia menyerang lagi tiga kali. Dia memainkan pedangnya dengan tangan yan g tersisa, bagian yang diserang selalu tempat yang mematikan, sungguh lihai sekali.

Muka Mao Kau tampak kelam, jelas tidak kepalang rasa gusarnya. Tapi rupanya dia juga menguatirkan sesuatu, maka dia tidak ingin bertempur dengan Ong It-peng, cepat ia mengelak lagi kesamping sambil berseru, "Ayo maju!"

Waktu serangan Ong It-peng dilancarkan lagi, se-konyong2 empat jalur cahaya terang menyambar tiba dengan membawa suara mendesing, menyusul terdengarlah senjata beradu dan menimbulkan suara nyaring, lalu Ong It-peng melompat mundur sambil melepaskan pedangnya.

Tertampak empat orang berjubah biru dan bersepatu hitam dengan pedang terhunus berbaris menghadang didepan Ong It-peng, baik maju maupun mundur, semuanya sudah terjaga oleh pedang keempat orang berjubah biru itu.

Hati Ong It-peng terkesiap, pikirnya, "Orang she Mao sungguh licin sekali, rupanya lebih dulu dia sudah menyembunyikan anak buahnya disini "

Belum habis pikirnya, terdengar Mao Kau berseru dengan lantang, "Ong-lotoa, dalam hal apa aku kurang baik padamu, hendaknya kau jelaskan didepan orang banyak supaya segalanya menjadi terang!"

Dengan sendirinya kedua Ong bersaudara tidak berani menceritakan kejadian mereka dibikin malu oleh Mao Bun-ki di Se-oh tempo hari. Maka Ong It-peng menjawab menjawab dengan suara bengis, "Kau ingkar janji dan tidak tahu malu, diam-diam membuka Piaukok gelap untuk merampok kawan sendiri, diam-diam membunuh Thia Toako, perbuatanmu yang kejam dan kotor ini tidak dapat dibenarkan oleh siapa pun, kami bersaudara hanya ingin menegakkan keadilan bagi sesama saudara dunia persilatan, tidak perlu bicara tentang persengketaan pribadi segala." Ucapannya cukup menarik simpati hadirin yang belum tinggal pergi, banyak yang terpengaruh dan serentak berbangkit dengan senjata siap ditangan, Keruan para perempuan penghibur yang semula bergembira itu menjadi panik.

Mao Kau menjadi murka, ia memberi tanda dan membentak, "Serang!"

Begitu aba-aba diberikan, serentak keempat jago pedang berseragam biru bergerak, empat pedang menusuk sekaligus.

"Hm, kaum keroco juga berani pamer didepanku?!" jengek Ong It-peng, berbareng pedangnya berputar, cahaya pedang kemilauan, serentak keempat pedang lawan tertahan, Menyusul pedangnya melingkar, cepat ia balas menyerang.

Keempat jago pedang berseragam biru juga bukan jago rendahan, mereka sudah terlatih dan dapat bekerja sama dengan rapat. Setelah menghindarkan serangan lawan, secepat kilat mereka melancarkan dua belas kali serangan lagi, semuanya mengincar tempat maut ditubuh Ong It-peng.

Namun Ong It-peng dapat mematahkan setiap serangan lawan, pengalaman tempurnya sangat luas, betapa keempat jago pedang seragam biru mencecarnya tetap tidak mampu membobol garis pertahanannya, sebaliknya terkadang Ong It-peng melancarkan serangan balasan pula.

Dengan begitu kedua pihak menjadi saling bertahan dan sukar merobohkan lawan.

Melihat itu, diam-diam Mao Kau gelisah, ia pikir jika pertempuran berlangsung lebih lama lagi, bisa jadi keempat jago pedang yang digemblengnya sekian tahun akan musnah pula secara sia- sia. Apalagi bila mengingat keempat jago pedang lain yang ikut pergi bersama Thia Hong kemarin, saat ini ternyata belum kelihatan pulang.

Pelahan Mao Kau bergeser kesamping Hoan-hun, dengan suara mendesis ia tanya, "Kemarin waktu membunuh Thia Hong, apakah kau lihat keempat jago pedang baju biru?"

Hoan-hun mengangguk dengan kaku, "Lihat." "Dan kemana mereka?" tanya pula Mao Kau.

"Sudah mati." jawab Hoan-hun dengan tetap dingin.

Mao Kau melengak, desisnya, "Cara bagaimana matinya?"

"Tentu saja terbunuh, masakah mereka mati sakit?" jawab Hoan-hun ketus. Dengan menggreget Mao Kau menegas, "Siapa yang membunuh mereka?"

Belum lagi Hoan-hun menjawab, terdengar suara dering nyaring dihaluan kapal, waktu menoleh, terlihat dua pedang mencelat ke udara dan jatuh kedalam danau. Dua orang berseragam biru cepat melompat mundur dengan bertangan kosong tanpa senjata.

Ong It-peng terus membayangi mereka sambil membentak, "Kena!"

Sinar pedang terpencar menjadi dua jalur dan menyambar tenggorokan kedua lawan secepat kilat.

Meski kepandaian jago pedang berseragam biru itu tidak lemah, tapi serangan Ong It-peng sungguh cepat dan ganas sehingga membuat mereka rada kerepotan. "Cring-cring", sedapatnya mereka berusaha menangkis.

Walaupun tenggorokan mereka terhindar dari tembusan pedang lawan, tidak urung pundak mereka tersayat hingga mengucurkan darah.

Kedua jago berbaju biru yang lain bermaksud menolong kawannya, tapi mereka pun tergetar mundur oleh pedang Ong It-peng yang berputar balik, tangan mereka kesemutan sehingga hampir saja tidak mampu mengangkat pedangnya lagi.

Sendirian Ong It-peng mengalahkan empat jago pedang andalan Mao Kau, dia sangat bangga, dengan pedang melintang didada ia menatap Mao Kau dengan tajam, dengusnya, "Siapa lagi jago yang akan kau tampilkan?"

Gemerdep sinar mata Mao Kau, sekilas pandang dilihatnya sebagian besar hadirin sama melotot padanya. Sedangkan kedua kakek Thia Ki Dan Poa Kiam tetap duduk santai ditempatnya, sikapnya dingin dan tak acuh seperti tidak berminat terhadap apa yang terjadi disekitarnya.

Juga Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing dan Co-jiu-sin-kiam Ting Ih, keduanya juga bersikap tak acuh.

Pikiran Mao Kau bekerja cepat, segera ia berkata pula, "Ong-lotoa, hendaknya kau ingat pertemuan ini kuadakan demi menghadapi keturunan orang she Siu. Apa yang terjadi dahulu kalian bersaudara juga punya andil, buat apa sekarang kita malah bertengkar sendiri dan melupakan urusan yang lebih penting?"

"Perbuatanmu yang kejam dan rencanamu yang keji terhadap kawan sendiri, apakah semua itu juga demi menghadapi keturunan orang she Siu?" jengek Ong It-peng.

Mendadak Mao Kau berputar tubuh dan berseru terhadap hadirin, "Apakah saudara-saudara tahu bahwa keturunan orang she Siu itu bukan lain daripada orang yang menamakan dirinya Kim-kiam-hiap yang akhir-akhir ini telah menggemparkan dunia Kangouw itu?" Keterangan ini membikin kaget semua orang, bahkan ada yang bersuara terkejut.

Maklumlah, meski munculnya Kim-kiam-hiap belum lama, tapi tindak-tanduknya sudah menjadi bahan cerita dunia Kangouw. Berbareng itu didunia Kangouw juga muncul berbagai cerita misterius yang lain yang menyangkut kelihaian Kim-kiam-hiap, dengan sendirinya juga ada berita yang menjelekkan namanya dan mengatakan perbuatannya terlalu kejam.

Bilamana berita yang tersiar itu benar, maka hal itu tidak ada ubahnya seperti Siu Tok kedua telah lahir kembali di Kangouw. Peristiwa "Siu-siansing" masa lampau masih teringat baik oleh sebagian besar hadirin, maka keterangan Mao Kau telah membuat mereka tertegun.

Betapa tajam pandangan Mao Kau, melihat hadirin sudah terpengaruh oleh keterangannya, diam-diam ia bergirang, cepat ia menyambung, "Hari ini aku telah menanggung salah paham kawan sendiri, kematian bagiku tidaklah menjadi soal, namun bila persatuan kita selama ini akan pecah begitu saja, sungguh aku sangat menyesal. "

Ia lantas ter-batuk2, ia tahu para pengikutnya telah mulai tidak percaya lagi padanya, maka sedapatnya dia mengulur waktu untuk menunggu terjadinya sesuatu keajaiban disamping berusaha membujuk lagi hadirin agar mau berpikir lebih panjang lagi.

Bicara sampai disini, mendadak ia menghela napas panjang dan tidak meneruskan.

Mendadak Lim Lin berbangkit, teriaknya pula sambil menuding Mao Kau, "Dahulu kau jebak Siu Tok dengan muslihatmu yang keji, lebih dulu kau bikin cacat kedua kakinya. Ditimbang dari semua itu, hanya engkau biang keladinya, jika mau menuntut balas, yang akan dicari putra Siu Tok jelas cuma kau saja."

Lalu ia berpaling kearah hadirin, serunya pula dengan menangis, "Jangan lagi kalian mau percaya kepada ocehannya, kasisan Thia Hong, setelah bekerja mati2an baginya, akhirnya malah menjadi korban keganasan Mao Kau sendiri."

Belum habis ucapannya mendadak sebelah tangan Mao Kau menghantam, pukulan dahsyat membuat Lim Lin yang hamil itu tidak tahan lagi, ia jatuh terjungkal dan pingsan.

Serentak Ong It-peng berteriak, "Lihatlah kawan-kawan, nasin Thia-toako suami istri adalah contoh bagi kita. Jika sekarang tidak kita binasakan bangsat she Mao yang tak berbudi ini, kelak kita pun akan mengalami nasib yang sama seperti Thia-toako berdua." 

"Sret," segera ia mendahului menusuk Mao Kau dengan pedangnya.

Ong It-beng tahu betapa tinggi kepandaian Mao Kau, ia tahu kalau satu lawan satu sang kakak pasti bukan tandingannya, maka cepat ia pun melolos pedang dan menubruk maju, "sret", kontan ia pun menabas pinggang Mao Kau. Sebagai sahabat lama, Mao Kau juga tahu paduan pedang kedua Ong bersaudara tidak boleh dipandang enteng. Cepat ia meraba pinggang, sekali berputar segera angin menderu, seutas cambuk panjang melayang keudara, kontan pedang Ong It-peng tertangkis kesamping, menyusul cambuk menyambar kebawah menggulung pedang Ong It-beng.

Dengan sendirinya Ong It-peng tidak menunggu sampai pedang terlibat oleh cambuk musuh, cepat ia menarik kembali pedangnya dan melompat mundur berdiri sejajar dengan Ong It-peng.

Begitu kedua orang bergabung, tanpa ayal lagi mereka menubruk maju pula, kedua pedang lantas menyerang lagi, yang seorang menusuk dari kanan, yang lain menabas dari kiri. Serangan gabungan ini tentu saja jauh lebih kuat daripada tadi, tanpa terasa semua orang sama bersorak memuji.

Terkesiap juga Mao Kau melihat kedua Ong bersaudara dapat melancarkan ilmu pedang "Liang-gi-kiam-hoat", Segera ia putar cambuknya dengan lebih gencar, ditengah bayangan cambuk timbul juga semacam daya isap yang kencang sehingga membuat kedua pedang lawan saling bentur.

Kedua Ong bersaudara kaget, cepat mereka menarik kembali pedangnya, sekali berputar pedang mereka menusuk lagi kedepan.

Setelah daya isap cambuknya tidak mampu melepaskan pedang dari pegangan lawan, tahulah Mao Kau sukar untuk mengalahkannya.

Dia cukup licik, ia tahu semua orang hanya menonton saja disamping, sebab mereka masih jeri terhadap wibawanya, tapi bila dia memperlihatkan sedikit kelemahan, serentak orang-orang itu pasti akan maju mengerubutnya.

Maka sedapatnya ia berlagak tenang dan sengaja mengejek, "Huh, Liang-gi-kiam-hoat ternyata cuma begini saja! Ayolah coba lagi!"

Segera Ong It-peng balas membentak, "Orang she Mao jangan berlagak pilon, jika kau tahu diri, lekas serahkan nyawamu saja!"

Serangan mereka tambah gencar, sama sekali Mao Kau tidak bisa lebih unggul.

Menyaksikan keadaan demikian, hadirin kasak-kusuk lagi, ada yang menyatakan kagumnya terhadap kelihaian Ho-siok-siang-kiam, ada yang meragukan ketahanan Mao Kau. Malahan ada yang mengusulkan membantu kedua Ong bersaudara untuk membereskan Mao Kau dan mengangkat pemimpin persekutuan yang baru.

Tidak jauh dari deretan perahu sana, dibawah pohon yang rindang berdiri seorang nona jelita, dengan alis berkerut dia mengikuti pertarungan Mao Kau dan kedua Ong bersaudara. Pembicaraan tadi dan kasak-kusuk para penonton juga dapat didengarnya dengan jelas, setiap kata orang serasa sembilu menusuk hulu hatinya. Dengan muka pucat dan bibir gemetar ia bergumam pelahan, "O, ayah! Benarkah engkau orang kejam begitu? Jadi akibat pengkhianatan pengikutmu ini adalah hasil kerjamu sendiri? O, Tuhan, apa yang harus kulakukan?"

Dia, Mao Bun-ki, hampir tidak diperhatikan oleh hadirin yang asyik mengikuti pertarungan sengit itu. Nona itu berdiri bingung di balik pohon dan tidak tahu bagaimana baiknya.

Dengan sendirinya tak dilihatnya dibawah pohon diseberang danau sana juga berdiri seorang pemuda cakap berbaju hijau. Dia juga sedang mengikuti pertarungan Mao Kau melawan kedua Ong bersaudara, begitu tajam sorot matanya dan merasa pasti nasib Mao Kau ditakdirkan akan berakhir.

Se-konyong2 terjadi kegaduhan, air muka anak muda itu bercahaya, sebab dilihatnya Co-jiu- sin-kiam Ting Ih telah bertindak dan ikut terjun didalam arena pertempuran, dia berdiri dipihak kedua Ong bersaudara dan mengerubuti Mao Kau.

Dengan demikian kekuatan Mao Kau lantas tertampak terdesak dibawah angin, meski anak buahnya bermaksud ikut maju membantu, tapi melihat Lim Ki-cing dan lain-lain juga siap tempur, maka tidak ada yang berani bergerak.

Tiga jalur sinar tajam dihaluan kapal berputar lincah bagaikan naga hidup melingkari bayangan cambuk, setiap jurus serangan ketiga orang selalu mengincar tempat maut, serangan kedua Ong bersaudara dan Ting Ih sudah tidak kenal ampun lagi terhadap orang yang tadi masih dipandangnya sebagai saudara tua.

Mao Kau juga pantang menyerah, semula dia berusaha mengulur waktu untuk menunggu munculnya bala bantuan, tapi keajaiban yang ditunggu tidak kunjung tiba, sebaliknya malah menimbulkan antipati hadirin yang lain sehingga Ting Ih ikut mengeroyoknya, keruan ia gugup dan juga murka sehingga bertempur dengan mati-matian.

Semula Ting Ih bertiga melengak melihat Mao Kau menyerang dengan nekat, tapi segera mereka tahu serangan kalap ini pun merupakan keputus-asaan lawan. Hal ini dapat dirasakan dari serangan cambuk Mao Kau, tampaknya gencar, namun lemah.

Sebagai jago pedang kawakan, dengan segera mereka mengetahui apa yang terjadi. Mereka saling pandang sekejap dengan tertawa.

Teriak Ting Ih, "Orang she Mao, menyerah saja sebelum kepalamu berpisah dengan tubuhmu!"

Akan tetapi Mao Kau meraung murka, cambuk menyambar lagi terlebih cepat. Namun seperti sudah diduga Ting Ih bertiga, kekuatan Mao Kau memang sudah surut ibaratnya pelita kehabisan minyak. Begitu cambuk kebentur ketiga pedang, kontan tertekan dan sukat berputar lagi. Pada detik yang gawat bagi Mao Kau itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, selarik sinar merah berkilau menyambar datang secepat kilat.

Co-jiu-sin-kiam mendengus, mendadak pedang yang menusuk Mao Kau itu berputar keatas memapak datangnya cahaya merah.

Begitu kedua pedang beradu, seketika pedang Ting Ih merasa terhisap oleh semacam tenaga yang maha kuat sehingga tidak sanggup bertahan. Keruan kejutnya tak terkatakan.

"Lepas!" terdengar lagi bentakan orang.

Di tengah gemerdepnya bayangan yang memenuhi angkasa, benarlah pedang Ting Ih lantas terlepas dari cekalan, cepat ia melompat mundur dan berdiri melongo.

Segera sesosok bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Mao Bun-ki sudah berdiri disisi Mao Kau dengan pedang merah terhunus. Air mukanya tampak dingin, entah pedih, entah gusar.

Sekali tangan Bun-ki terayun keatas, seketika pedang Ting Ih yang melengket pada pedang merahnya mencelat ke udara dan jatuh jauh ditepi danau sana.

Kekuatan yang jarang terlihat dan tak pernah terdengar ini sungguh sangat menggemparkan para penonton, muka Ho-siok-siang-kiam juga pucat, maklum, sebelum ini mereka memang sudah pernah merasakan betapa lihainya daya isap pedang merah Mao Bun-ki itu.

Baru saja gerak tubuh Mao Kau berdiri tegak kembali, cambuk lantas berputar pula, "Tarrr", tahu2 leher Ong It-beng yang lagi terkesima itu terlilit.

"Pergi!" bentak Mao Kau sambil menyendalkan cambuknya.

Sama sekali Ong It-beng tidak sempat menjerit dan tahu-tahu napasnya putus, tubuhnya yang jangkung juga ikut terangkat oleh ayunan cambuk dan terlempar kedalam danau.

Bergemuruhlah sorak puji orang banyak, beberapa tukang perahu dan nona penghibur yang menyaksikan kejadian itu menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit tanpa menghiraukan perahu dan harta milik mereka lagi.

Alis Bun-ki bekernyit, belum lagi dia sempat bersuara, cambuk Mao Kau kembali beraksi lagi, langsung mengarah leher Ong It-peng. 

Rupanya begitu melihat pedang merah Mao Bun-ki, seketika rontoklah nyali kedua Ong bersaudara, makanya Ong It-beng semudah itu diserang oleh Mao Kau.

Sekarang Ong It-peng juga ketakutan, namun dia berusaha melawan sekuatnya, mendadak pedang dilemparkan kedada Mao Kau, ia sendiri melompat kesamping dan terjun kedalam danau untuk menyelamatkan diri. Dalam keadaan murka Mao Kau tidak perduli lagi bagaimana penilaian hadirin yang lain kepadanya, mendadak ia membalik tubuh dan melototi Ting Ih. Sorot matanya yang dingin tajam membuat Ting Ih ngeri.

Pelahan Ting Ih menyurut mundur kesamping Pek-poh-hui-hoa. "Hm, apa yang akan kalian katakan lagi sekarang?" jengek Mao Kau.

"Ai, Mao-toako," cepat Lim Ki-cing berseru, "apa yang terjadi ini kan tidak ada sangkut-pautnya denganku, mengapa aku pun kau tegur? Kalau adik Bun-ki tidak segera turun tangan, tentu aku pun akan membantu Mao-toako."

Mao Kau mendengus dan pelahan menggeser maju lagi dengan penuh nafsu membunuh.

Air muka Lim Ki-cing tampak pucat. Mendadak tangannya membalik, pergelangan tangan Ting Ih dicengkeramnya sambil berteriak, "Mao-toako, kuserahkan dia kepadamu dan aku pun mohon diri saja!"

Bersambung ke 15.