Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 12

Jilid 12

Segera ia memberi tanda, serentak empat lelaki kekar memburu maju, Oh Ci-hui yang masih belum tenang itu terus diringkusnya dengan tali.

Segera Liang Siang-jin berkata pula, "Karena masih ada sedikit urusan, kumohon diri untuk berangkat lebih dulu."

Meski diluar kemah masih terdapat kawanan kuda dan unta, namun kakek berkerudung dan si gadis Tho-koh serta Liu-ji kini sudah menghilang semua.

Bersama rombongannya Liang Siang-jin mendahului mencemplak keatas kuda terus dilarikan kedepan, Oh Ci-hui justru diikat berjalan dibelakang kuda.

Kedua lengan Oh Ci-hui terikat, tubuh tidak dapat bergerak, namun kedua kakinya bebas dan dapat berlari, tapi celakalah dia, begitu kuda dilarikan, terpaksa ia harus ikut berlari.

Semula dengan ginkangnya yang tidak rendah belum lagi dirasakan, ia cuma merasa terhina dan mendongkol saja, berulang ia berteriak dibelakang kuda, "Liang-heng. . . .Liang-toako. . 

.Tidak pernah kulakukan sesuatu kesalahan padamu, mengapa engkau menyiksa diriku cara begini?" Tapi lama-lama karena lari kuda semakin cepat, ia mulai tidak tahan, suaranya parau, napas ter-engah2, biarpun kedua kakinya cukup kuat juga tidak tahan akan beban tubuhnya yang gendut.

Sambil mengangkat cambuknya Liang Siang-jin berpaling dengan tertawa, katanya,"Akhir-akhir ini Oh-heng hidup senang dan kurang gerak badan, jika sekarang dapat berolah-raga lari, tentu akan bermanfaat bagi kesehatanmu."

Serentak anggota rombongannya bergelak tertawa.

"Tapi. . . Liang-heng. . . .Hk, huk-huk. . . ampunilah diriku. " begitulah sekuatnya ia berteriak 

dengan parau sambil terbatuk-batuk, akhirnya ia tidak tahan dan jatuh terseret ditanah.

Bajunya yang masih baru sama robek tergesek oleh tanah dan kerikil, bahkan sebentar saja tubuhnya juga babak belur. Mendadak hatinya sangat menyesal, bilamana beberapa tahun ini dia mengurangi perbuatannya yang jahat dan lebih banyak berlatih kungfu, tentu takkan berakibat seperti sekarang ini.

Liang Siang-jin berpaling dan melihat Oh Ci-hui sudah berada dalam keadaan payah, mendadak ia memberi tanda dan menahan kudanya, serentak rombongannya ikut berhenti.

Segera Liang Siang-jin melompat turun dari kudanya dan membangunkan Oh Ci-hui, katanya dengan tertawa, "Wah, hari ini tentu telah banyak membikin susah Oh-heng."

Napas Oh Ci-hui ngos-ngosan, mana dia sanggup bicara lagi, Liang Siang-jin lantas mengempitnya keatas kuda dan dibawa kesuatu perkampungan diluar kota Hangciu, sebuah perkampungan yang tidak terlalu besar, tapi cukup longgar dan tidak mewah.

Sementara itu hari sudah gelap, diruang tengah cahaya lampu terang benderang, sebuah meja perjamuan sudah disiapkan. Liang Siang-jin memayang Oh Ci-hui yang masih terengah-engah itu keruangan itu, ia bertepuk tangan, segera empat nona manis mulai menyajikan santapan yang sangat lezat.

Melihat makanan enak, seketika semangat Oh Ci-hui terbangkit.

Maklumlah orang gemuk didunia ini pada umumnya memang rakus, bila melihat makanan lantas lupa daratan.

"Santapan yang tersedia sekiranya cocok dengan selera Oh-heng?" ucap Liang Siang-jin dengan tertawa.

Betapapun cerdik Oh Ci-hui, saat ini tak diketahuinya sebenarnya apa maksud Liang Siang-jin, lebih dulu menyiksanya, kemudian menjamunya. Ia melenggong sejenak, kemudian menjawab dengan gelagapan, "O, sangat baik, sangat cocok!"

Dengan tertawa Liang Siang-jin berkata pula, "Kawanan nona yang meladeni kita ini adalah penghibur terkenal dari Yangciu, kemarin sudah kusaksikan tari dan nyanyi mereka semuanya memang seniwati pilihan "

Tanpa terasa Oh Ci-hui melirik kesana, tertampak beberapa anak perempuan itu berbaris didepannya, kerlingan mata yang membetot sukma sama tertuju kepadanya.

Seketika rasa siksa derita yang dialaminya tadi dirasakan banyak berkurang, berulang ia mengangguk dan berkata, "Wah, hebat, semuanya hebat. "

"Haha, jadi Oh-heng merasa puas dan tertarik oleh mereka?"

Kembali Oh Ci-hui melengak, jawabnya dengan tergagap, "Ah, Liang-heng. Tentu saja aku 

puas. . . .Sebenarnya apa kehendak Liang-heng, sungguh aku tidak. "

"Soalnya tadi aku telah memperlakukan Oh-heng dengan agak kasar, sungguh hatiku terasa tidak enak, sebab itulah ingin kuberi ganti rugi padamu agar Oh-heng melupakan kejadian tadi."

Oh Ci-hui menyengir, "Ah, kutahu Liang-heng memang sahabat yang berbudi luhur, tentu takkan memperlakukan diriku dengan berlebihan. Kita adalah orang sendiri, masakah kupikirkan sedikit kejadian tak berarti tadi?"

"Haha, bagus, bagus!" Liang Siang-jin tergelak, "Cuma santapan ini sangat sederhana, silakan Oh-heng menikmati seadanya, kemudian. haha!"

Tanpa terasa Oh Ci-hui melirik lagi santapan dan keempat anak perempuan cantik itu, ia tertawa dan angkat sumpit terus hendak menyikat santapan, satu porsi Ang-sio-ti-te (kaki babi masak saus manis) didepan terus hendak dicomotnya.

Tak tersangka mendadak Liang Siang-jin berseru, "Nanti dulu!"

"Tring", sumpit Oh Ci-hui sudah menyentuh tepi mangkuk dan tidak berani diteruskan lagi, ia pandang Lian Siang-jin dengan bingung.

Dengan serius Linag Siang-jin berucap, "Sudah lama Oh-heng berkecimpung didunia Kangouw, mengapa engkau tidak tahu peraturan umum, sebelum tuan rumah angkat sumpit, mana boleh tetamu makan dulu?!"

Oh Ci-hui tidak berani membantah, ia menarik kembali sumpitnya, katanya dengan menyengir, "O, jadi. . . .jadi aku kurang adat, maaf!. Silakan Liang-heng mulai dulu!"

Liang Siang-jin tersenyum, sumpit diangkatnya, tapi baru terjulur setengah jalan, mendadak ia  menghela napas dan ditarik kembali lagi.

Oh Ci-hui tambah bingung oleh kelakuan tuan rumah, "Bila santapan jadi dingin tentu rasanya tidak enak lagi. Sesungguhnya Liang-heng ada persoalan apa?"

"Agaknya Oh-heng tidak tahu bahwa saat ini hatiku sedang merisaukan dua urusan yang tidak boleh ditunda," tutur Liang Siang-jin sambil menggeleng, "Karena itulah harap Oh-heng suka menunggu sebentar lagi."

Sumpit lantas ditaruhnya kembali dimeja, lalu duduk termenung dan ber-ulang2 menghela napas.

Karuan Oh Ci-hui hanya menelan air liur saja, bau santapan yang sedap terus menerus menyerang hidungnya mengakibatkan biji lehernya naik-turun.

Selang sejenak pula, akhirnya ia benar-benar tidak tahan lagi, segera ia berkata, "Sesungguhnya ada urusan apa yang merisaukan Liang-heng, dapatkah memberitahu agar sedikit banyak cayhe bisa ikut membagi kesulitanmu?"

Liang Siang-jin tertawa cerah, "Jika benar Oh-heng sudi membantu, tentu hatiku tidak perlu risau lagi. Sebenarnya apa yang kurisaukan ini tidak lain hanya sesuatu pertanyaan yang sukar kupecahkan, lantaran itulah siang dan malam selalu kupikirkan sehingga mengakibatkan tidur tidak nyenyak dan makan tidak enak."

"O, kiranya begitu," kata Oh Ci-hui sambil tiada hentinya mengincar santapan diatas meja.

"Sebab itulah, jika berul Oh-heng mengaku bersahabat denganku dan mau membantu maka sekarang juga ingin kuminta sesuatu keterangan padamu, yakni mengenai orang yang disebut 'perangkap hangat dari gurun', tokoh aneh berkerudung yang juga dijuluki 'Jin-beng-lak-hou' (sipemburu nyawa manusia), sesungguhnya untuk urusan apakah dia datang kedaerah Kanglam? Bagaimana bentuk wajah asli orang ini?"

Air muka Oh Ci-hui berubah mendadak, jawabnya dengan gelagapan, Ah, cayhe sendiri jarang. 

. . . jarang berkelana keluar Kanglam, dari mana kutahu seluk-beluk mengenai Jin-beng-lak-hou itu?"

"Hm, begitu sampai di Kanglam dia lantas mengadakan kontak dengan Mao-toaya, jika dia tidak ada hubungan lama dengan Mao-toaya masakah bisa bertindak demikian?" jengek Liang Siang- jin. "Dan jika dia sudah lama berhubungan dengan Mao-toaya kita, mustahil Oh-heng tidak tahu seluk-beluknya? Apalagi selama dua hari ini Oh-heng selalu tinggal didalam kemah perangkap hangat itu, agaknya khusus menunggu datangnya Ko-kongcu itu. Padahal dia bukan orang dunia persilatan, mengapa Jin-beng-lak-hou menaruh perhatian sebesar itu terhadapnya?"

Oh Ci-hui terkesiap, pikirnya, "Kiu-ciok-sin-tu ini memang lihai, setiap gerak-gerik orang tetap tidak terhindar dari pengawasannya." Meski hati berpikir demikian, tapi dimulut ia tertawa dan berkata, "Sebenarnya Mao-toako cuma ingin menyelidiki asal-usulnya berhubung putrinya jatuh cinta kepada Ko-kongcu, urusan ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Jin-beng-lak-hou. Padahal kalau Ko-kongcu 

bukan orang bU-lim, entah mengapa Liang-toako juga menaruh perhatian sebesar ini kepadanya."

Mendadak alis Liang Siang-jin menegak, "brak", ia banting sumpit keatas meja dan menjengek, "Hm, akhir-akhir ini Oh-heng terlalu banyak bergerak mulut dan sangat sedikit bergerak badan, kukira kau perlu berolah raga lebih banyak seperti tadi. " mendadak ia bertepuk tangan dan 

berseru, "Mana orangnya!"

Keruan wajah Oh Ci-hui berubah pucat, serunya cepat, "Wah, nanti dulu, Liang-heng! Kita kan orang sendiri, ada urusan apa boleh dibicarakan saja dengan baik-baik."

"Daripada kubicara, kukira yang mesti bicara dengan baik-baik ialah Oh-heng." dengus Liang Siang-jin.

Terpaksa Oh Ci-hui menghela napas, ucapnya, "Ai, bicara terus terang, apa yang terjadi didunia Kangouw akhir-akhir ini semuanya disebabkan. "

"Kejadian apa? Hendaknya bicara yang jelas." jengek Liang Siang-jin.

Oh Ci-hui memandang sekitarnya, tertampak belasan lelaki kekar dengan senjata terhunus sama melototinya dengan bengis.

Ngeri juga hati Oh Ci-hui, cepat ia menyambung, pertemuan para kesatria yang akan diadakan Mao-toako beberapa hari lagi ini, Lalu tentang tokoh-tokoh Jit-kiam-sam-pian masa lampau yang juga akan hadir, umpama pula kedatangan Jin-beng-lak-hou yang biasanya jarang masuk daerah Tionggoan. . . . Semua ini hanya bertujuan menyelidiki sesuatu hal saja, yaitu. "

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan pelahan, "Yaitu ingin mencari tahu keturunan Siu-siansing, gembong iblis dunia persilatan belasan tahun lalu, apakah betul dia muncul didunia Kangouw dan apakah Kim-kiam-hiap yang menggemparkan akhir-akhir ini ada sangkut- pautnya dengan Siu-siansing dan keturunannya?"

"Lalu apa lagi?" tanya Liang Siang-jin dengan kening bekernyit.

"Ada lagi, diam-diam ada orang mencurigai Ko-kongcu itu. hehe, jangan-jangan dia inilah 

keturunan Siu-siansing. Sebenarnya aku sendiri tidak percaya, tapi berdasarkan macam- macam petunjuk mau-tak-mau orang harus bercuriga. Ai, apa yang kulakukan ini sebenarnya juga cuma atas perintah saja."

Tiba-tiba Liang Siang-jin membentak, "Macam-macam petunjuk apa maksudmu? memangnya kalian mendapatkan indikasi yang membuktikan Kongcu hartawan ini adalah keturunan Siu- siansing yang termashur masa lampau itu? Haha, sungguh lucu!"

Dia tertawa lantang sehingga mangkuk-piring sama gemerincing tergetar.

Sebenarnya Oh Ci-hui juga bukan orang bodoh, bahkan dia cukup licin, dari cara tertawa Liang Siang-jin dapat dirasakannya ada sesuatu yang tidak wajar. Maka ia sengaja menghela napas, lalu berkata, "Bilamana Ko-kongcu itu diketahui benar adalah keturunan Siu-siansing, maka akibatnya sukarlah dibayangkan, bukan cuma dia saja, mungkin sahabat dan begundalnya juga akan. "

"Apa katamu?" mendadak Liang Siang-jin menggebrak meja.

Keruan Oh Ci-hui berjingkat kaget, cepat ia menyambung, "O, maksudku. maksudku jika Ko-

kongcu itu. "

"Coba katakan," potong Liang Siang-jin dengan muka masam, "Mengapa kalian menghubungkan Ko-kongcu itu dengan Siu-siansing? Bahwa orang she Liang telah bersahabat dengan dia, dengan sendirinya tak boleh kalian sembarangan menduga dan menuduhnya."

Cepat Oh Ci-hui berganti haluan, ucapnya, "Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, waktu itu Liang- heng belum muncul didunia Kangouw, aku sendiripun entah berada dimana, namun nama Jit- kiam-sam-pian sudah gilang gemilang, nama Siu-siansing bahkan termashur dan menduduki kursi utama dunia persilatan."

Liang Siang-jin hanya mendengus saja, meski ia tidak tahu mengapa orang membicara hal ini, tapi karena urusannya menyangkut Siu-siansing, maka ia tidak memotongnya.

Terdengar Oh Ci-hui menyambung lagi, "Tatkala mana Siu-siansing boleh dikatakan malang melintang didunia Kangouw tanpa tandingan, setiap orang Kangouw sama takut bila menyebutnya, namun tidak ada seorang pun yang benar-benar takluk dan menghormati dia, sebab setiap tindak-tanduknya selalu menuruti wataknya sendiri, bila marah lantas main bunuh tanpa kenal ampun, segala aturan dan etika tidak dihiraukannya. "

"Hm, pribadi Siu-locianpwe itu masakah boleh sembarangan kau cemoohkan?" jengek Liang Siang-jin.

"Cayhe mana berani memberi penilaian terhadap perbuatan Siu-siansing dulu, jangankan diriku, biarpun para pejabat ketua beberapa perguruan besar juga tidak berani memberikan penilaian yang negatif." ujar Oh Ci-hui. "Cuma apa yang kukatakan ini adalah demi. "

"Demi apa?" desak Liang Siang-jin ketika orang mendadak berhenti.

Entah sengaja atau tidak, Oh Ci-hui menghela napas panjang, lalu berkata, "Bilamana mengingat kelakuan Siu-siansing yang demikian itu, mustahil jika dia tidak mempunyai musuh didunia Kangouw, cuma kungfunya teramat tinggi, matinya juga terlalu dini sehingga musuh- musuhnya tidak sempat menuntut balas pada masa hidupnya, sesudah mati apalagi yang dapat dibalas? Namun begitu mereka senantiasa ingin tahu adakah Siu-siansing meninggalkan keturunan?"

"Kalau ada keturunan lantas mau apa?" Liang Siang-jin menegas.

"Apakah Siu-siansing mempunyai keturunan atau tidak sudah banyak kabar yang tersiar dan siapapun tidak tahu dengan pasti, sebab tindak-tanduk selama hidup Siu-siansing sangat eksentrik, jejaknya juga tidak menentu, sampai soal apakah dia pernah berkeluarga dan adakah menerima murid juga tidak ada yang tahu terkecuali Mao-toako saja seorang."

Sekali ini Liang Siang-jin diam saja dan mendengarkan dengan cermat.

Maka Oh Ci-hui bertutur pula, "Apa sebabnya, hal ini sudah merupakan rahasia umum didunia persilatan dan Liang-heng sendiri juga sudah tahu, Semula Mao-toako tidak suka menyiarkan hal ini, tapi kemudian karena terpaksa sehingga persoalan tersebut diumumkan secara terbuka. Dengan sendirinya berita tentang keturunan Siu-siansing itu cukup menggemparkan, padahal selama ini musuh-musuhnya selalu mencari dimana beradanya keturunan Siu-siansing, semuanya ingin menuntut balas padanya."

Terkerut alis Liang Siang-jin, pikirnya, "Tak tersangka bukan cuma dia saja yang ingin menuntut balas kepada musuh, sebaliknya orang lain juga ingin mencari dan menuntut balas padanya, Ai, pertentangan ini entah cara bagaimana harus diselesaikan."

Oh Ci-hui memandangnya sekejap, mendadak ia tertawa dan menyambung, "Padahal bilamana Siu-siansing mempunyai keturunan, maka keturunannya itu pun terhitung sanak famili Mao- toako sendiri. Meski dahulu Mao-toako memperlakukan Siu-siansing. ai, sebenarnya itu pun 

terpaksa, betapapun dia tetap sayang kepada adik perempuan sendiri, ia pun senantiasa memikirkan anak dalam kandungannya. Asalkan anak itu tidak memikirkan lagi kejadian masa lampau, tentu juga Mao-toako takkan berbuat apa-apa terhadapnya, bahkan bersedia membantu dia menghadapi musuh2nya, Hal ini dikatakan Mao-toako kepadaku, mestinya tidak boleh kuceritakan kepada orang lain."

"Setahumu, musuh mendiang Siu-siansing itu sampai sekarang kira-kira berapa banyak?" tanya Liang Siang-jin.

"Wah, musuh mendiang Siu-siansing dahulu sukar dihitung jumlahnya, kini ditambah lagi dengan keturunannya, mana dapat kukatakan jumlahnya, bisa jadi. bisa jadi diantara kawan 

Liang-toako sendiri juga ada musuh Siu-siansing."

"Jika begitu, jadi Jin-beng-lak-hou itu mungkin juga musuh Siu-siansing?" tanya Liang Siang-jin. "Mungkin. apakah dia ada sangkut-pautnya dengan Liang-toako?" tanya Oh Ci-hui dengan 

ragu! Dengan sorot mata tajam Liang Siang-jin berkata, "Ingat, jiwa Oh-heng masih tergenggam dalam tanganku, untuk membereskan jiwa seorang rasanya tiada sesuatu kesulitan bagiku!"

Mau-tak mau Oh Ci-hui merasa ngeri, semula ia mengira Liang Siang-jin tak berani membunuhnya, tapi kalau dipikir sekarang, ancaman orang juga beralasan, bilamana dirinya dibunuh disini, siapa yang tahu.

Sesudah berpikir, akhirnya Oh Ci-hui menghela napas dan berucap, "Tentu Liang-heng pernah mendengar beberapa puluh tahun yang lalu didunia Kangouw ada seorang guru silat terkenal dengan permainan 36 jurus tombak dan 72 jurus toya, namanya Ang Loh-peng berjuluk tombak sakti."

"Ya, kutahu." kata Liang Siang-jin.

"Meski tindak-tanduk si tombak sakti Ang Loh-peng itu sangat jujur, namun wataknya keras dan beranggasan. Pada umur setengah baya dia kematian istri. Dia cuma mempunyai seorang anak lelaki, konon putranya ini sukar dididik dan buruk kelakuannya, suatu hari Ang-loenghiong menjadi murka dan membunuh anaknya sendiri, dalam pada itu justru datanglah Siu-siansing. . 

. ."

Pada saat itulah mendadak seorang bergelak tertawa diluar dan berteriak, "Haha, bagus kiranya dia memang Ang Loh-peng."

Meski keras suara tertawanya, namun kedengarannya serupa juga suara orang menangis.

Selagi semua orang terkesiap, terlihat bayangan orang berkelebat, seorang Thauto berbaju hitam dengan rambut semrawut melayang tiba, sekali lengan bajunya mengebas, seketika belasan lelaki kekar yang berjaga dipintu tergetar mundur sempoyongan, senjata pun banyak yang terlepas dari pegangan.

Ditengah jerit kaget orang banyak, si Thauto memburu kedepan Oh Ci-hui secepat kilat. Melihat si Thuato, nyali Oh Ci-hui sudah pecah, seketika ia gemetar.

Segera Thauto rambut kusut mencengkeram kuduk Oh Ci-hui sambil membentak, Ayo bicara, dimana orang itu sekarang?"

Tapi sampai sekian lama Oh Ci-hui tidak menjawab, terdengar suara "krek", tulang leher Oh Ci- hui ternyata patah dicengkeram oleh si Thauto sehingga ingin menjerit saja tidak sempat.

Thauto rambut kusut melongo juga melihat korbannya sudah tidak bernyawa, ia lempar mayat Oh Ci-hui kesamping, lalu berpaling memandang Liang Siang-jin sekejap, mendadak ia menghela napas, diambilnya poci arak diatas meja, corong poci diarahkan kemulut dan arak lantas dituang, isi poci ditenggaknya hingga habis.

Belasan lelaki anak buah Liang Siang-jin sama melongo terkesima, belum pernah mereka lihat  tenaga raksasa seperti ini.

Air muka Liang Siang-jin berubah merah, ucapnya, "Biarpun tenaga sakti Taysu sangat hebat juga tidak pantas sembarangan mencelakai nyawa orang, memangnya Taysu pandang orang she Liang ini boleh dipermainkan sesukamu?"

Si Thauto berdiri termangu dengan memegang poci arak seperti tidak mendengar ucapan Liang Siang-jin itu, hanya berulang-ulang ia bergumam, "Kiranya dia. . . .kiranya memang dia "

Tergerak hati Liang Siang-jin, selagi dia hendak bertanya lagi, mendadak si Thauto menggertak sekali terus menerjang keluar sehingga sebuah meja tertumbuk berantakan.

Belasan lelaki didekat pintu sama menyingkir dan tidak berani merintanginya.

Dengan mata merah dan beringas si Thauto terus menerjang keluar, tiba-tiba bayangan kelabu berkelebat, tahu-tahu seorang menghadang di depannya sambil mendengus, "Hm, sehabis membunuh orang lantas mau pergi begini saja, masakah didunia ada urusan semudah ini?"

Mata si Thauto merah membara, ia tidak peduli siapa penghadang itu, kontan ia membentak, "Minggir!" Berbareng sebelah tangannya lantas menghantam.

Semua orang sudah menyaksikan betapa dahsyat tenaganya, "blang", sungguh sangat dahsyat dan tepat pukulan si Thauto mengenai tubuhnya.

Terkesiap juga si Thauto, sebab ketika dada orang terpukul, ia merasa tempat yang tersentuh tangannya itu lunak dan ringan seperti mengenai tempat kosong dan tangan terhisap dan tak bisa bergerak lagi.

Keruan Thauto rambut kusut terkejut sekali, waktu ia awasi orang, kiranya seorang hwesio berkasa warna kelabu dan tangan memegang tasbih dan terangkat didepan dada sedang berdiri tegak disitu.

Meski dimulut menyebut nama Buddha, tapi tutur katanya tidak mirip orang beragama umumnya, jelas ia menjadi hwesio setengah jalan sehingga belum bersih seluruhnya dari kehidupan dunia ramai.

Waktu itu Liang Siang-jin juga telah memburu keluar, ia pun melongo demi menyaksikan pukulan si Thauto yang maha dahsyat itu tidak dapat merobohkan si hwesio, sebaliknya tangan si Thauto malah melengket di dadanya.

Terdengar hwesio setengah baya itu menyebut nama Buddha, lalu berucap, "Baru saja seorang telah kau celakai, sekarang kau mau mengganas lagi, bilamana pukulanmu ini mengenai tubuh orang lain, bukankah selembar jiwa akan melayang lagi?"

Dalam pada itu si Thauto asyik berusaha membetoto, tapi tangannya tetap melengket didada si  hwesio, ia tahu telah bertemu dengan tokoh yang memiliki lwekang maha tinggi.

Se-konyong2 ia menggertak lagi sekerasnya, sebelah kakinya terus menendang. Si hwesio berkerut kening, mendadak ia membusungkan dada, telapak tangan terus memotong pergelangan kaki si Thauto.

Mendadak si Thauto merasa tangannya terpental oleh semacam tenaga pantulan yang kuat, kaki juga akan tersabat oleh lawan, Sekuatnya ia berputar terus melompat keatas, sebelah tangan meraih emper rumah, tubuh lantas melayang keatas rumah.

Terdengar dia berseru, "Kutahu siapa kau. . . . kukenal siapa kau. "

Ditengah teriakannya itu terdengarlah genteng pecah dan rontok, dalam sekejap saja si Thauto sudah menghilang di kejauhan.

Si hwesio setengah baya menghela napas dan menggeleng kepala, ucapnya, "Karma. karma. 

. . ." segera ia berpaling dan memberi hormat serta menyapa, "Apakah sicu ini Liang Siang-jin, Liang-tayhiap?"

Heran juga Liang Siang-jin orang kenal namanya, cepat ia mengiakan dan membalas hormat si hwesio.

"Paderi miskin Kong-in datang dari Kun-lun untuk menemui Liang-sicu dan minta petunjuk sesuatu urusan," ucap si hwesio pula dengan tersenyum.

Kembali Liang Siang-jin terkesiap, didunia Kangouw akhir-akhir ini sudah jarang terlihat jejak tokoh Kun-lun-pai, sekarang mendadak muncul seorang paderi Kun-lun-pai selihai ini, rasanya biarpun pejabat ketua Kun-lun-pai sendiri juga tidak lebih dari ini. Kedatangannya ternyata untuk mencarinya, memangnya urusan apa?

Dengan ragu Liang Siang-jin menjawab, "Taysu datang dari jauh, maaf jika tidak ada penyambutan yang layak. Silakan masuk dan duduk didalam."

Sementara itu ruang tamu sudah dibersihkan, mayat Oh Ci-hui sudah digotong pergi. Pat-bin- ling-long yang biasanya sangat licin itu akhirnya ternyata mati juga ditangan orang yang tak terduga sama sekali.

Sesudah menyilakan tamunya berduduk, lalu Liang Siang-jin bertanya keperluan si hwesio.

"Nama Liang-sicu sudah lama kukagumi, tapi kalau tidak ada seorang perantaar tentu juga paderi miskin tidak berani berkunjung kemari." tutur hwesio yang bergelar Kong-in itu.

"Kesudian kunjungan Taysu ini sungguh suatu kehormatan besar bagiku," sahut Liang Siang-jin dengan rendah hati, "Cuma mohon diberi keterangan, entah siapakah perantara yang disebut Taysu itu, mungkinkah beliau adalah kenalan lama orang she Liang." "Betul," sahut Kong-in Taysu dengan tersenyum, "Tentu Liang-sicu masih ingat kepada Lo It-to." "Lo It-to?" Liang Siang-jin menegas, "Ahh, dimanakah dia sekarang?"

"Sejak mengalami hajaran Sicu dahulu, orang ini telah menjadi anggota Kun-lun-pai kami, sekarang dia adalah murid ketujuh Suhengku pejabat ketua perguruan kami."

Liang Siang-jin menghela napas, "Buang golok jagalnya dan segera menjadi Buddha, Lo It-to memang seorang gagah sejati, bila dibandingkan dia, sungguh aku harus merasa malu."

Diam-diam ia pun heran hwesio didepannya ini masih belum tua, tapi ternyata saudara seperguruan pejabat ketua Kun-lun-pai sekarang.

Supaya maklum, pejabat ketua Kun-lun-pai sekarang diketahui sudah berusia sangat lanjut, walaupun jarang berkelana didunia Kangouw, tapi tingkatannya sangat tinggi, dia terhitung beberapa tokoh tertua dunia persilatan yang dapat dihitung dengan jari yang masih hidup sekarang. Sedangkan Kun-lun-ngo-lo atau lima tertua Kun-lun-pai yang termashur didunia Kangouw juga tidak lebih cuma murid keluarga swasta ketua Kun-lun-pai itu.

Dengan tersenyum Kong-in lantas berkata pula, "Buddha maha pengasi dan penyelamat sesamanya. Kedatanganku sekali ini kedaerah Kanglam juga ingin mencari tahu seorang, seringkali Kai-sat (nama agama Lo It-to) Sutit bicara padaku mengenai Liang-sicu yang berbudi luhur dan bersahabat yang tersebar diseluruh pelosok negeri. Karena sudah puluhan tahun tidak pernah berkunjung ke daerah Kanglam, maka usaha mencari orang sekali ini terpaksa perlu kumohon bantuan Liang-sicu."

"Ah, kenapa Taysu bicara dengan sungkan, orang she Liang adalah orang kasar, mana berani menerima pujian Taysu ini," kata Liang Siang-jin. "Entah siapakah gerangan orang yang hendak dicari Taysu, jika mampu tentu akan kubantu sepenuh tenaga."

"Kedatanganku ini selain atas perantara Kai-sat Sutit, ada lagi titipan sesuatu dari seorang, entah Liang-sicu masih ingat tidak kepada orang ini?" sambil berkata Kong-in mengeluarkan sebelah sepatu mainan kecil terbuat dari benang perak, kelihatan sangat indah dan mungil pembuatannya.

Tergetar tubuh Liang Siang-jin melihat benda itu, serunya gemetar, "He, Ban. Ban-locianpwe. 

. . ." pelahan ia terima sepatu itu.

"Ah, tampaknya Sicu masih ingat dengan baik kepadanya." kata Kong-in.

Wajah Liang Siang-jin keluhatan penuh diliputi emosi, dengan sangat menghormat ia junjung sepatu nitu dan ditaruh diatas meja, lalu berlutut dan menyembah tiga kali, serunya dengan rasa  duka, "O, mana bisa Tecu lupa kepada engkau orang tua, biarpun Tecu orang bodoh juga bukan manusia yang lupa budi, kalau tidak ditolong oleh Locianpwe, sudah dulu-dulu tubuh Tecu hancur-lebur, mana dapat hidup sampai sekarang."

Diam-diam Kong-in mengangguk dan membatin, "Orang ini ternyata seorang lelaki berdarah panas, tidak sia-sia tampaknya kedatanganku ini."

Liang Siang-jin mengheningkan cipta sekian lama, habis itu baru berbangkit dan berkata dengan menyesal, "Taysu membawa tanda pengenal ini, mengapa tidak kau katakan sejak tadi. Setinggi langit hutang budiku kepada Ban-locianpwe, asalkan ada sekata pesan saja dari beliau, biarpun aku disuruh terjun ke lautan api juga takkan kutolak, apalagi cuma sedikit persoalan ini,"

"Tapi meski urusan ini dikatakan sepele, untuk dikerjakan justru tidak mudah "

"Betapa sulit, sesuatu urusan pasti dapat kuselesaikan," tukas Liang Siang-jin. "Asalkan benar didunia ini terdapat orang begitu, apakah dia masih hidup atau sudah mati, kuyakin pasti dapat menemukan jejaknya."

"Apakah betul?" Kong-in menegas.

"Jika Taysu tidak percaya, kuberani bersumpah didepan tanda pengenal Ban-locianpwe ini, apabila tidak dapat kutemkan jejak orang yang hendak dicari, biarlah aku. "

"Jika tidak dapat kau temukan jejak orang ini, biar kau mau matipun tidak bisa mati." tukas Kong-in.

"Baik, boleh juga demikian," seru Liang Siang-jin.

Kong-in tertawa cerah, "Orang yang ingin kucari itu meski tidak ternama didunia Kangouw, tapi kalau kusebutkan tentu juga akan kau ketahui."

"Siapakah?" tanya Siang-jin.

Tiba-tiba wajah Kong-in menampilkan rasa benci, sinar matanya juga memancarkan nafsu membunuh, ucapnya pelahan, "Dia adalah putra mendiang Siu Tok, si Iblis yang maha jahat masa dahulu itu, aku tidak tahu siapa namanya, tapi kalau dihitung tahun ini sedikitnya sudah mencapai 18 atau 19 tahun."

Hati Liang Siang-jin tergetar, ucapnya, "Untuk apa Taysu mencarinya."

Kong-in menengadah, katanya dengan menggreget, "Dendamku pada Siu Tok sedalam lautan, sungguh kalau bisa ingin kubeset kulit dan memakan dagingnya. Cuma sayang dia sudah mampus lebih dulu, hutang ayah dibayar anak, terpaksa sekarang kutagih hutang kepada anaknya." Nada ucapannya yang penuh dendam dan benci itu membuat ngeri hati Liang Siang-jin, ia termenung sejenak, diam-diam ia membatin, "Wahai Siu Su, yang kau pikir cuma menuntut balas kepada orang lain, tapi tidak kau ketahui orang lain juga akan menuntut balas kepadamu, permusuhan kalian membikin aku ikut serba susah."

Maklumlah, Seng-jiu-siansing ada hubungan guru dan murid dengan dia, mau-tak-mau dia harus melaksanakan perintah sang guru.

Tapi pemilik sepatu perak ini juga tidak boleh diremehkan, dia hutang budi besar kepadanya, padahal tadi dia sudah bersumpah, keruan dia serba salah.

Begitulah seketika ia menjadi bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Kong-in menatapnya dengan tajam, tanyanya pula dengan suara berat, "Pernah kau dengar orang ini? Kau tahu dia berada dimana?"

Lama juga Liang Siang-jin tercengang, jawabnya kemudian dengan tergegap, "Taysu tinggal jauh di Kun-lun-san sana, entah cara bagaimana mengikat permusuhan dengan Siu-siansing itu?"

Kong-in Taysu termenung, pikirannya bergolak, terbayang pula adegan kejadian masa lampau.

Dia berkomat-kamit, sampai sekian lama barulah berkata pula, "Coba ingin kutanya padamu, dendam pembunuhan ayah terlebih berat atau sakit hati direbutnya istri terlebih dalam?"

"Dendam dan sakit hati memang sukar dipisah-pisahkan, dendam pembunuhan ayah dan sakit hati direbutnya istri sukar untuk dibedakan mana yang lebih berat," jawab Liang Siang-jin dengan tergegap.

Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Kong-in, ia menengadah, katanya pelahan, "Apakah kau tahu sebab apa aku mencukur rambut menjadi hwesio? Apakah kau tahu siapa diriku sebelum menjadi hwesio?"

Mendadak hati Liang Siang-jin tergerak, teringat seorang olehnya. . . .

.                                         == oo OOO oo ==

Menjelang senja, sunyi senyap meliputi Leng-un-si, biara termashur yang terletak ditepi barat Se-oh itu.

Dihalaman depan biara itu berdiri seorang pemuda tampan sedang memandang cahaya senja yang indah dilangit barat sana, pemuda itu kelihatan tenang, tapi diantara mata alisnya juga memperlihatkan rasa gelisah seperti sedang menunggu sesuatu. Diluar pintu halaman, dipelataran berduduk tersebar disana sini beberapa puluh pengemis yang dekil, pengemis didepan biara Leng-un-si juga merupakan suatu pemandangan khas ditepi Se- oh. Tapi para pengemis ini kelihatan adem-ayem, semuanya berbaring santai berbantalkan tumpukan karung.

Sampai sekian lamanya pemuda tampan itu berpaling, mukanya kemerahan dibawah cahaya senja, ia memandang kian-kemari, kemudian melangkah keluar dan bertanya pelahan, "Apakah benar Leng-locianpwe pasti akan kemari?"

Seorang pengemis muda yang bertubuh kurus kering dan berduduk disamping kiri sana, meski usianya masih muda, tapi karung goni yan dibawanya justru paling banyak, dengan sorot mata tajam ia menjawab, "Tidak pasti."

Air muka si pemuda tampan rada berubah, "Tadi kau bilang dia akan datang?"

"Mungkin datang, mungkin tidak, kan tidak ada yang memastikannya." sahut pengemis muda itu dengan tak acuh.

Terangkat alis si pemuda tampan, "Jika begitu, mengapa kau minta kutunggu sekian lamanya?" Karena gelisah, suaranya menjadi keras dan agak aseran.

Pengemis muda itu mendengus, "Hm, siapa yang menyuruhmu menunggu?"

Dengan muka merah pemuda itu berteriak, "Kurang ajar! Biarpun Pangcu kalian juga tidak berani bicara sekasar ini kepadaku."

Si pengemis muda hanya mendengus saja tanpa bicara.

Kembali pemuda tampan membentak, "Tampaknya kau minta dihajat tuan muda, ayo berdiri!"

Pelahan pengemis muda membuka mata dan memandangnya sekejap, jawabnya dengan tak acuh, "Selamanya aku tidak bergebrak dengan orang perempuan."

Pemuda tampan melengak, mukanya bertambah merah, untuk sejenak ia berdiri terkesima, akhirnya dia mengentak kaki dan mengomel, "Setelah bertemu dengan Pangcu kalian baru akan kuhajar adat padamu!"

Berpuluh pengemis itu sama tertawa, segera pemuda tampan menyingkir kesana. Dadanya tampak berjumbul, jelas menahan gusar. Tapi tak dapat berbuat apa-apa, dia tidak dapat bergebrak dengan kawanan pengemis ini, sebab dia perlu menemui Pangcu kaum jembel itu untuk mencari keterangan satu orang.

Sambil berjalan pelahan, tanpa terasa pemuda tampan ini menghela napas, hatinya lagi risau, tapi sukar diceritakan kepada orang biarpun orang yang paling dekat dengan dia, sebab itulah  terpaksa ia ingin minta bantuan kepada pemimpin kaum jembel yang luas pengetahuannya itu. Tapi apa mau dikatakan lagi, Leng-pangcu yang dicari sukar ditemukan.

Tanpa terasa ia membelai rambut sendiri yang agak kusut dengan tangannya yang putih bersih, meski dia berdandan sebagai lelaki, namun gerak-gerik sebagai orang perempuan sukar ditutupinya.

Tidak jauh ia berjalan, tiba-tiba dilihatnya dua orang kakek berambut putih datang dari depan, kedua kakek ini sama mengenakan pakaian perlente, rambutnya yang putih panjang terurai dan melambai tertiup angin. Yang satu gemuk dan yang lain kurus sehingga keduanya kelihatan berbeda.

Setiba beberapa meter didepan pemuda tampan ini, kedua kakek itu mendadak berhenti, mereka memandang pemuda ini dengan heran, lalu keduanya saling pandang sekejap, kakek sebelah kiri berucap pelahan, "Mirip benar?!"

Kakek sebelah kanan mengangguk, sahutnya dengan sama lirihnya, "Ya, jika dia perempuan.   

."

"Dia memang perempuan," sela kakek sebelah kiri, "Ai, kalau terjadi duapuluh tahun yang lalu. "

Sampai disini mendadak kedua kakek itu tutup mulut, keduanya menunduk lesu. Alis pemuda tampan menegak, tegurnya, "Kalian mengoceh apa?"

Mata telinganya sangat tajam, biarpun kedua kakek itu bercakap dengan suara lirih, tapi dapat didengarnya dengan jelas.

Kembali kedua kakek saling pandang sekejap dan tidak ada yang menjawab, mereka terus lalu disamping si pemuda.

Mendongkol hati pemuda tampan ini, tapi dapatlah ditahan. Mestinya dia berwatak pemberang, entah mengapa, akhir-akhir ini wataknya telah berubah jauh lebih sabar.

Sebuah kereta kuda menunggu di kejauhan, menunggu dibawah sebaris pohon liu yang rindang. Pelahan pemuda tampan menuju kearah kereta.

Mendadak sesosok bayangan orang muncul dari balik pohon liu, seorang pemuda cakap berbaju kuning emas berdiri tegak didepannya sambil menyapa, "Mengapa baru sekarang nona datang, apakah asyik pesiar atau "

Si pemuda tampan mendelik, dengan ketus ia menjawab, "Tidak perlu kau urus!" Sembari bicara, langsung ia menuju ke kereta kuda. Siapa tahu pemuda berbaju kuning emas ini lantas melompat lagi kedepannya dan berkata pula dengan tertawa, "Masa aku tidak boleh urus, Suhu menyuruhku "

"Thi Peng," bentak si pemuda cakap, "Jangan kau kira ayah sayang padamu lantas kau lupa akan siapa dirimu, betapapun nona tetap berhak memerintahmu."

Bukan saja dia menyebut nona pada diri sendiri, bahkan nadanya juga lagak seorang putri keluarga terhormat yang selalu disanjung puji, Tidak perlu dijelaskan lagi, dia inilah Mao Bun-ki, putri tunggal kesayangan Leng-coa Mao Kau.

Aneh juga, bukankah dia sudah pulang ketempat gurunya? Mengapa sekarang berada kembali di daerah Kanglam?

Pemuda berbaju emas sengaja menghela napas dan berkata, "Wah, jika demikian kata nona, terpaksa aku tidak bisa bilang apa-apa lagi."

Ia berhenti sejenak sambil melirik Bun-ki sekejap, lalu menyambung dengan pelahan, "Sebenarnya dengan maksud baik ingin kusampaikan sesuatu berita kepada nona."

Pemuda berbaju kuning emas ini adalah murid Mao Kau, anggota Giok-kut-sucia, Thi Peng.

Akhir-akhir ini banya diantara kesepuluh anggota Ciok-kut-sucia mengalami cedera, dengan sendirinya Mao Kau jadi lebih sayang terhadap beberapa murid andalannya yang tersisa itu, sebab itulah sikap Thi Peng juga tidak terlalu takut terhadap Mao Bun-ki.

Mestinya Bun-ki sudah melangkah kesana lagi, mendadak ia menoleh dan bartanya dengan dingin, "Berita apa?"

"Jika nona tidak sudi mendengar, anggaplah tidak ada," ujar Thi Peng dengan menyengir.

Alis Bun-ki menegak lagi, dengan mendongkol langsung ia naik kereta dan memerintahkan kusir untuk segera berangkat.

Segera cambuk kusir bergeletar, Thi Peng tetap berdiri di tempatnya dengan tersenyum simpul, senyum yang agak misterius.

Baru saja kereta hendak berangkat, mendadak pintu kereta terbuka lagi dan Bun-ki melompat turun kedepan Thi Peng, bentaknya dengan mata mendelik, "Berita apa? Sesungguhnya berita apa?"

Thi Peng sengaja berlagak adem ayem sambil meraba janggutnya yang masih pendek, ucapnya kalem, "Tentang berita ini, hehe. "

Bun-ki menjadi murka, "plak", kontan ia gampar muka orang sambil membentak, "Sialan! kau  mau bicara tidak?"

Thi Peng tetap tersenyum, ia meraba-raba tempat yang terpukul itu sambil berucap pelahan, "Berita. . . .berita ini menyangkut seorang yang sangat menarik perhatian nona. . . .Aduh. . . ah. . 

. ."

Sedapatnya Bun-ki menahan rasa gusarnya, ucapnya dengan tertawa manis, "Wah, apakah mukamu sakit karena gamparanku?"

Berbareng ia raba muka orang walaupun tidak kepalang rasa dongkolnya.

Thi Peng menyengir dengan mata setengah terpejam, "Ah, sudah. . . .sudah tidak sakit lagi. "

Apakah berita yang kau maksudkan menyangkut diri Ko Bun?" tanya Bun-ki dengan suara yang dibuat halus.

Thi Peng mengangguk sambil mengeluh. "Oo, sakit. "

"Kutahu, tidak nanti kau bekerja percuma." ujar Bun-ki dengan tertawa, "Sebenarnya bukan maksudku memperhatikan dia, cuma kalau tidak kau katakan, hatiku terasa kesal. Tapi setelah kau katakan, tentu aku. " sampai disini ia tertawa manis dan tidak meneruskan.

"Betul." Thi Peng menegas dengan tertawa sambil memandang kian-kemari. Bun-ki mengangguk.

"Tentang bocah she Ko itu, saat ini mungkin dia. sudah mati," kata Thi Peng pelahan.

Hati Bun-ki tergetar, tapi sesaat itu pikirannya serasa hampa. Ia tidak duka, tidak menderita, juga tidak percaya bahwa Ko Bun sudah mati. Ia cuma merasa hampa, bingung dan kusut.

Didengarnya Thi Peng berkata pula dengan tertawa, "Suhu selalu merasakan bocah itu serupa keturunan seorang musuhnya, tapi tidak dapat memastikannya, juga dirasakan oleh Suhu kemungkinan bocah itu akan berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan Suhu, sebab itulah akhir-akhir ini hati Suhu selalu tidak tenteram, akhirnya. "

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa. "Pada suatu hari mendadak Suhu berkata kepadaku, 'Biarlah aku mengingkari orang segajat ini daripada seorang mengingkari diriku', Dan esoknya, yaitu kemarin, Suhu lantas mengumpulkan belasan jago terkemuka untuk menghabisi nyawa bocah she Ko itu. Bahkan mereka diberi pesan boleh bertindak sesuka mereka, dengan cara apa pun boleh, pokoknya bocah she Ko itu harus mati."

Ia menengadah dan bergelak tertawa, lalu berkata pula, "Dan setelah selang sekian lamanya, hehe, mustahil jiwa bocah she Ko itu takkan amblas?" Bun-ki berdiri seperti patung ditempatnya, cahaya senja menyinari wajahnya yang pucat.

Dengan menyengir Thi Peng berkata, "Nona, apa yang kuketahui sudah keberitahukan semua padamu, engkau "

Mendadak Bun-ki membalik tubuh, "plak", sekuatnya ia gampar lagi muka Thi Peng, lalu melompat naik keatas kereta, dirampasnya tali kendali dan cemeti dari tangan si kusir, "tarrr", secepat terbang ia larikan kereta itu.

Pukulan Bun-ki sungguh keras sehingga membikin mata Thi Peng ber-kunang2, "bluk", ia jatuh terduduk dengan muka merah bengap. Ia tertegun sejenak, dirabanya pipi sendiri, gigi pun terasa gompal.

Waktu ia mendongak, kembali ia terkesiap, terlihat dua kakek berbaju perlente dengan badan gemuk dan kurus berdiri didepannya.

Meski dandanan kedua kakek ini tidak luar biasa, tapi wajah dan sorot mata mereka membawa semacam perbawa aneh yang sukar dilukiskan, mereka menatap Thi Peng dengan tajam.

Betapapun tabah hati Thi Peng, tidak urung merasa ngeri juga, ia lupa akan rasa sakit mukanya yang tergampar itu, rasanya serba salah apakah harus berbangkit atau tetap berduduk disitu.

"Siapa anak perempuan tadi?" terdengar kakek sebelah kiri bertanya.

Dia bicara dengan pelahan dan jelas, tapi menimbulkan semacam perasaan tidak enak bagi pendengarnya.

Setelah terkesima sejenak, mendadak Thi Peng melompat bangun, tanpa bicara ia melangkah pergi. Siapa tahu, tidak kelihatan bergerak, tahu-tahu kedua kakek itu sudah menghadang didepannya.

"Siapa anak perempuan tadi?" yang bertanya sekarang adalah kakek sebelah kanan, dengan nada yang sama serupa diucapkan oleh satu orang saja.

Mendadak Thi Peng membusungkan dada dan berteriak, "Tak perlu kau urus!"

Kakek sebelah kiri tertawa, "Hah, engkau tak mau menjawab, akan kupukul mati kau!"

Suara tertawanya juga sangat aneh sehingga membuat Thi Peng mengkirik, ia coba memandang sekelilingnya dengan harapan akan melihat bala bantuan, tapi sekitarnya tidak ada seorang pun, cahaya senja sudah lenyap, hari tambah kelam.

Si kakek sebelah kanan juga tertawa dan berkata, "Beritahukan padaku, tentu untung bagimu." Tapi Thi Peng lantas membentak, "Menyingkir!" Berbareng kedua kepalan lantas menghantam sekaligus. Sudah diduga serangannya pasti takkan merobohkan lawan, maka selain menyerang dengan sepenuh tenaga juga telah disiapkan langkah berikutnya, asalkan kedua kakek itu mengelak, segera dia akan menrejang lewat dan kabur secepatnya. Maklumlah, ia merasa tidak tahan oleh sorot mata kedua kakek yang aneh dan bertenaga gaib itu.

Siapa tahu baru saja kedua kepalan menghantam, entah mengapa tahu-tahu kedua kepalan terpegang oleh kedua kakek itu, "plak", pukulannya seperti mengenai tanah liat dan tidak menimbulkan sesuatu cedera.

Kembali Thi Peng terkesiap, ia membentak lagi sambil menarik tangan sekuatnya. Tak terduga seluruh tenaganya juga dirasakan lenyap sama sekali, waktu ia pandang orang, kedua pasang mata orang tetap menatapnya dengan cahaya yang berkuatan gaib.

Si kakek sebelah kiri berkata pula dengan tertawa, "Tak dapat kau lawan diriku." "Maka lebih baik kau bicara saja terus terang." sambung kakek sebelah kanan.

Kedua orang sama tertawa, seketika Thi Peng merasa hilang keberaniannya, tanpa terasa ia menjawab, "Dia putri kesayangan Leng-coa Mao Kau!"

Kedua kakek saling pandang sekejab, dibalik sorot mata mereka itu se-akan2 hendak bilang, "Aha, ternyata betul."

Segera kakek sebelah kiri berkata, "Jika demikian, jadi kau ini murid Mao Kao?" Dengan kaku Thi Peng mengangguk.

"Bawa kami menemui Mao Kau," kata kakek sebelah kanan.

Belum lagi Thi Peng sempat menjawab, entah bagaimana caranya, tahu-tahu Thi Peng sudah terhimpit ditengah mereka terus digiring kesana.

Pada saat itulah dibawah pohon liu sana seperti ada berkelebatnya bayangan orang, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.

.                                               == oo OOO oo ==

Kota Hangciu yang indah permai itu selama beberapa hari terakhir ini telah bertambah ramai.

Di tepi Se-oh atau Danau Barat yang indah itu tampak Ko Bun berdiri tertegun memandangi seorang tojin disampingnya, yaitu Hoa-san-gin-ho.

Jago pedang kelas satu Hoa-san-pai itu memegang pedangnya dengan telapak tangannya yang  putih pucat, waktu ujung pedangnya berputar, tahu-tahu ia menusuk sekali pada lengannya sendiri. Setetes darah segar lantas menitik kedalam air danau yang hijau kebiruan.

Ko Bun melenggong, tanyanya dengan heran, "He, apa yang kau lakukan, Totiang?"

Gin-ho Tojin menengadah, sampai sekian lama barulah ia menghela napas dan berucap, "Dendam!"

"Dendam?" Ko Bun menegas dengan kening bekernyit.

Pelahan Gin-ho Tojin menunduk, dengan sorot mata tajam ia pandang Ko Bun dan berucap, "Ya, dendam!"

Mendadak ia menggulung lengan jubahnya sehingga kelihatan lengannya penuh bekas luka tusukan pedang, membuat ngeri orang yang melihatnya.

"Kau lihat ini, Ko-heng," sambung Gin-ho Tojin dengan suara berat, "Semua ini adalah dendam, selama dua puluh tahun selain dendam tiada sesuatu yang terpikir olehku, tapi rasa dendam ini justru sukar terlampias, maka. maka terpaksa kusiksa tubuhku sendiri agar rasa dendamku 

terlampias berikut darah yang mengucur. Kalau tidak, entah cara bagaimana aku dapat hidup sampai sekarang."

Ko Bun termenung sekian lama sambil bergumam, "Dendam. . . .dendam. "

Gin-ho Tojin tersenyum pedih, "Dendam pembunuhan ayah, sakit hati yang sukar disembuhkan, kukira tidak setiap orang sanggup menahan rasa dendam demikian. "

Mendadak ia menatap Ko Bun dan berkata pula, "Ko-heng, apakah kau tahu rasanya dendam? Dia selain membawa sengsara bagi orang yang bersangkutan, tapi juga dapat membangkitkan semangat juang orang. Tapi. . . .tentunya aku tidak tahu. Dendam pembunuhan ayah, sakit 

hati termusnahnya keluarga. "

Pelahan dia memejamkan mata lagi, seperti ingin menutupi air matanya yang mulai mengembang pada kelopak matanya.

Ko Bun memandang jauh kedepan dengan bimbang, tanyanya tiba-tiba, "Siapa musuhmu itu? Dapatkah kau beritahu padaku?"

"Untuk apa?" tanya Gin-ho Tojin.

"Supaya, bisa jadi dapat kubantu sekuat tenagaku," sahut Ko Bun.

Gin-ho Tojin memandangnya tanpa berkedip, entah berapa lama barulah ia menghela napas dan berkata, "Musuhku ialah. " Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar seorang berteriak, "Itu dia disini!"

Dengan terkejut mereka berpaling, terlihatlah dari kanan-kiri tepi danau muncul belasan orang berbaju panjang dan menyandang pedang.

Langkah belasan orang itu enteng dan gesit, semuanya tersenyum simpul, enam orang yang berada disebelah kiri sama berseru dengan gembira, "Nah, disini!"

Bersambung ke-13.