Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 11

Jilid 11

Di tengah gelak tertawa senang Thia Hong berdua lantas meninggalkan ruangan tamu. Ko Bun memerintahkan kuda disiapkan. Sesudah memberi salam, berangkatlah Thia Hong dan Lim Lin.

Menyaksikan kepergian orang dikejauahan, kembali tersembul senyuman Ko Bun yang khas itu.

Diam-diam ia membatin, "Ong It-peng dan Ong It-beng telah kuhasut hingga marah, mereka sudah terperangkap olehku, Pek-poh-huihoa Lim Ki-cing berwatak garang, asalkan kuperlakukan agak panas, tentu dia juga takkan lolos dari cengkeramanku. Sekarang Wan- yang-siang-kiam juga telah terpikat olehku dengan dengan nama dan keuntungan.   

Mengenai Co-jiu-sin-kiam Ting Ih, tentu dia akan dibereskan oleh Wan-yang-siang-kiam. Sekarang tersisa Toh Tiong-ki saja seorang, yang lain-lain seperti Pat-bing-ting-long Oh Ci-hui dan Ho Lim terlebih tidak ada artinya bagiku."

Debu yang mengepul dikejauhan sudah lenyap, dengan tersenyum puas ia membalik tubuh hendak masuk rumah.

Siapa tahu, baru saja bergerak, se-konyong2 seorang menegur dengan tertawa, "Haha, lihai amat tipu berantai anda ini, Jit-kiam-sam-pian sudah ada lima orang yang pasti dapat kau bereskan, sisanya tinggal Jit-sing-pian Toh Tiong-ki saja saja, sekali ini Leng-coa Mao Kau benar-benar dipereteli kaki-tangannya dan akan bangkrut habis-habisan."

Suaranya nyaring, setiap katanya menggetar sukma.

Keruan Ko Bun terkejut, cepat ia berpaling dan membentak, "Siapa?"

Waktu ia memandang kesana, ternyata dipojok undak-undakan batu sana berduduk seorang kurus kering dengan baju penuh tambalan, namun berkulit badan putih, sinar matanya juga tajam, seorang pengemis setengah umur. "Haha, jelek-jelek orang rudin sudah pernah bertemu satu kali dengan Kongcu, memangnya Kongcu sudah lupa?" seru si pengemis pula sambil berbangkit.

Ko Bun tertegun, tapi segera ia pun tertawa, "Aha, kukira siapa, rupanya Kiong-sin Leng- tayhiap! Baik-baikkah selama ini?"

Walaupun dalam hati terkesiap, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, Diam-diam ia menaruh curiga terhadap Leng Liong yang muncul mendadak ditempatnya ini. Maka sambil menyongsong si pengemis, sebelah tangannya terjulur seperti hendak menepuk bahu orang, tapi sebenarnya bermaksud menutuk Hiat-to maut dibelakang telinga.

Kiong-sin Leng Liong tetap bergelak tertawa, seperti tidak mengetahui tindakan Ko Bun itu. Ko Bun menjadi ragu, pada saat terakhir mendadak ia urungkan serangannya.

Seketika Leng Liong berhenti tertawa dan menatap Ko Bun dengan tajam, katanya, "Tutukan Kongcu ini seharusnya diteruskan, kalau tidak, bilamana rahasia pekerjaanmu bocor, kan bisa bikin susah Kongcu sendiri?"

Muka Ko Bun menjadi merah, ucapnya dengan tertawa, "Ah, apabila Leng-tayhiap tidak sedikit pun kuatir terhadap seranganku, hal ini menandakan engkau tidak bermaksud jahat terhadapku, kenapa perlu kuturun tangan lagi?"

"Haha, sudah puluhan tahun orang she Leng berkecimpung didunia Kangouw, tapi tokoh muda cerdik pandai sebagai Kongcu sungguh baru pertama kali ini kulihat," kata Leng Liong dengan gegetun.

"Terima kasih," sahut Ko Bun "Sudah sekian lama tidak kulihat Liang Siang-jin, Liang-toako, entah dimana sekarang dia? Leng-tayhiap adalah sahabat karibnya tentu tahu jejaknya?"

"Dari mana kau tahu hubunganku dengan dia?" tanyan Leng Liong dengan heran.

"Meski cara kerjaku kurang rapi, tapi kalau Liang-toako tidak membicarakan urusan ini dengan Leng-tayhiap, dari mana kiranya Leng-tayhiap dapat mengetahui sejelas ini? Apalagi juga bukan rahasia lagi hubungan erat antara Kiu-ciok-sin-hu dengan pihak Kai-pang."

Kiong-sin Leng Liong menatap Ko Bun beberapa kejap, katanya kemudian dengan menyesal, "Bertindak cepat dan tegas, memperkirakan sesuatu dengan tepat, mengatur taktik secara jitu, siapa pun pasti akan celaka bilamana mengikat permusuhan dengan orang seperti Kongcu. Sepuluh hari lagi akan tiba hari pertemuan para kesatria, tatkala mana mungkin Leng-coa Mao Kau harus merasakan betapa pahitnya berhadapan dengan Kongcu."

"Jika Leng-tayhiap berminat, bagaimana kalau ikut menyaksikan keramaian nanti?" kata Ko Bun. Kiong-sin Leng Liong termenung sejenak, ucapnya kemudian, "Meski Kongcu telah mengatur taktik serapi ini, tapi Wan-yang-siang-kiam dan lain-lain sampai saat ini masih terpengaruh oleh wibawa Mao Kau, umpama dalam hati mereka sudah timbul rasa tidak senang, belum tentu mereka berani bersikap menantang terhadap Mao Kau.

"Sumbunya sudah kupasang, bila tiba saatnya, asalkan kusulut sumbu itu, segera api akan berkobar, kalau Mao Kau tidak terbakar hingga hangus mana bisa terlampias rasa dendamku?" setelah berhenti sejenak, dengan tersenyum Ko Bun lantas bertanya, "Kedatangan Leng- tayhiap ini pasti ada sesuatu petunjuk padaku?"

Sembari bicara ia terus bersikap menyilakan orang masuk kerumah, tapi Kiong-sin Leng Liong tidak segera melangkah, sorot matanya yang tajam menyapu pandang sekejap sekeliling, setelah yakin tidak ada orang lain, dengan suara tertahan ia berkata, "Berhubung dengan urusan Kongcu, Liang-Siang-jin pernah datang mencariku, katanya dalam keadaan perlu mohon kukerahkan pasukan kaum jembel untuk membantu. Meski sudah lama kuhormati mendiang 

Siu-locianpwe, Kongcu juga baru muncul didunia Kangouw, mengingat urusan ini sangat luas sangkut-pautnya dengan kepentingan orang banyak, maka diam-diam sudah kukuntit dan mengawasi gerak-gerik Kongcu sekian lamanya. "

"Ingin kau ketahui dapatkah kulaksanakan tugasku?" tukas Ko Bun.

"Betul." jawab Leng Liong terus terang. "Ternyata Kongcu memang naga diantara manusia, bangau ditengah ayam. Sebab itulah sekarang kudatang kemari untuk bertanya kepada Kongcu dalam hal apa dimana tenaga kaum jembel diperlukan bantuannya?"

"Terima kasih atas maksud baik Leng-tayhiap," jawab Ko Bun. "Setelah urusan ini berkembang sejauh ini, rasanya sudah tidak ada lagi yang berharga untuk mengerahkan anggota-anggota Kai-pang. Jadi sekali lagi terima kasih atas budi kebaikan Leng-tayhiap."

Meski dia bicara dengan tersenyum, tapi kata2nya cukup tajam, rupanya ia rada tersinggung oleh kata "mohon bantuan" yang diucapkan Leng Liong tadi, hal ini membangkitkan rasa angkuhnya.

Leng Liong tertawa, "Jika demikian, baiklah kutunggu kabar baik Kongcu, dalam pesta perayaan Kongcu nanti hendaknya jangan lupa mengundang diriku."

Ditengah gelak tertawanya ia menyurut mundur dan memberi hormat, lalu membalik tubuh dan melangkah pergi.

Memandangi bayangan punggung orang yang semakin jauh, diam-diam Ko Bun membatin, "Hm, biarpun pengaruh sindikat kaum jembel setinggi langit juga aku Siu Su belum tentu perlu memohon bantuanmu."

Pemuda yang sukses biasanya memang sukar terhindar dari sifat angkuh. .                                               == ooo OO ooo ==

Senja sudah hampir lalu. Sebuah kereta berwarna putih perak ditarik empat ekor kuda putih mulus berlari dijalan raya ditengah keramaian kota.

Menjelang magrib, pasar malam dijalan raya Kahin bertambah ramai dan berjubel dengan orang yang berlalu lalang, ditengah jalan raya yang ramai itu kereta kuda ini dilarikan dengan cepat serupa seekor ikan yang lincah menyusur kian kemari didalam air.

Sais didepan kereta berseragam putih, tubuhnya tegak, cambuknya terangkat tinggi, "tarrr", pelahan cambuknya menggeletar diatas punggung kuda.

Kereta putih perak ditarik empat kuda putih mulus, saisnya juga berseragam putih, sungguh sangat menarik perhatian orang dan membuat kagum.

Siapakah penumpang kereta itu? Inilah yang menimbulkan dugaan-dugaan dalam hati orang ramai.

Kereta dilarikan cepat kedepan dan menimbulkan kepulan debu tipis, namun tiada menyenggol ujung baju seorang pun.

Selagi keempat ekor kuda putih berlari kencang, se-konyong2 kawanan kuda itu meringkik keras sambil berjingkrak, semuanya berdiri dengan kaki belakang dan tidak mampu berlari maju selangkah pun kedepan.

Sais kereta Thi Jit terkejut, ia angkat cambuk sambil berpaling kebelakang.

Terdengar suara seorang lagi membentak, "Kereta siapa berani ngebut ditengah jalan raya ramai ini, apakah tidak kuatir menubruk orang?"

Thia Jit melompat turun dari tempatnya, terdengar orang banyak menjerit kaget menyaksikan seorang Thauto (hwesio berambut) berbaju hitam dengan rambut panjang terurai diatas pundak, pangkal rambut diikat dengan sebuah ikat kepala perak mengkilat.

Yang luar biasa adalah Thauto ini dengan tangan kiri menarik bemper belakang kereta sehingga perawakannya yang tinggi besar itu se-akan2 berakar didalam tanah, serentak kereta itu tertahan berhenti.

Bahwa kereta yang ditarik empat kuda dan sedang dilarikan dengan kencang itu dapat ditahan oleh tenaga sebelah tangan si Thauto berbaju hitam ini, keruan tidak kepalang kaget Thia Jit sehingga dia berdiri melongo tak bisa bicara.

Dari cahaya lampu pertokoan kedua tepi jalan kelihatan Thauto berbaju hitam ini memang cuma bertangan satu, sebab lengan baju kanan kelihatan kosong terselip pada tali pinggang. Muka Thauto ini juga aneh, sejalur bekas luka memanjang dari ujung mata kiri melintang miring kebawah pipi kanan, dibawah cahaya lampu terlihat codet yang kemerahan itu berpadu dengan mata kanan yang masih tersisa dan berjelitan memancarkan sinar tajam itu sehingga kelihatan agak seram.

Sungguh lelaki perkasa, bukan saja Thia Jit terkejut, penonton yang menyaksikan juga melenggong. Habis suara jeritan kaget orang banyak tadi, segera suasana jalan raya berubah menjadi sunyi.

Sinar mata tunggal si Thauto menyapu pandang Thia Jit sekejap, dengan alis menegak segera ia membentak pula, "Apakah kau bisu atau tuli, masakah tidak mendengar pertanyaanku?"

Thia Jit berdehem dan menjawab, "Harap Taysu jangan. "

Belum lanjut ucapannya, terdengar suara lantang bertanya dari dalam kereta, "Ada apa, Thia Jit?"

Pelahan pintu kereta terbuka, lalu melangkah turun seorang pemuda tampan berjubah sulam mentereng, Setelah melihat apa yang terjadi, mau-tak-mau terunjuk juga rasa kejutnya, tapi segera ia tersenyum dan memberi hormat, serunya, "Tenaga sakti Taysu sungguh mengejutkan, kukira tenaga raksasa pahlawan jaman dahulu kala juga tidak lebih dari pada ini."

Meski bicara sambil tertawa, tapi sikapnya membawa semacam wibawa yang agung. Thauto baju hitam meng-amat-inya beberapa kejap, mendadak ia lepaskan pegangannya pada kereta dan mendekati Ko Bun, bentaknya pula, "Jadi kaulah majukan kereta ini?"

Suara bentakannya menggelegar membikin kaget penonton, tapi pemuda perlente ini tetap tenang dan tersenyum, jawabnya, "Cayhe Ko Bun, memang betul kereta ini milikku."

Dengan alis menegak si Thauto berteriak pula, "Melarikan kereta secepat ini ditengah jalan raya yang ramai, jelas sengaja mencari perkara dan menumbuk orang, berdasarkan apa kau berani berbuat tidak se-mena2 begini?"

"Sengaja mencari perkara dan bermaksud menumbuk orang? Ingin kutanya kepada Taysu, bilakah keretaku menumbuk orang?" jawab pemuda Ko Bun dengan tertawa.

Tercengang juga si Thauto, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, katanya, "Baik, anggap kau mujur, Bukan saja kudamu bagus, saisnya juga hebat, kau pun punya mulut yang pandai bicara. Salahku sendiri tidak membekukmu setelah keretamu menerjang orang."

Belum lenyap suara tertawanya, Thauto berbaju hitam yang aneh ini lantas membalik tubuh dan melangkah pergi.

""Nanti dulu, Taysu!" seru Ko Bun tiba-tiba. Serentak Thauto itu berpaling, damperatnya dengan kurang senang, "Kau mau apa lagi?"

"Petang hari indah ini tepat untuk makan minum, bilamana Taysu tidak ada urusan, bagaimana jika kita minum bersama barang dua-tiga cawan?" kata Ko Bun.

Si Thauto meraba janggutnya yang pendek kaku sambil tertawa, "Haha, sungguh menarik, sudah dua puluh tahun tidak berkunjung ke Kanglam, tak tersangka hari ini dapat berjumpa dengan pemuda menarik seperti kau ini. Baik, mari kita minum sampai mabuk."

Sembari tersenyum Ko Bun menyilakan si Thauto menuju kesebuah rumah makan besar yang tepat berada didepan situ, sekilas ia mengedipi Thia Jit, meski tanpa bicara, namun jelas maksudnya menyuruh Thia Jit menyelidiki asal-usul Thau-to aneh ini.

Meski hari belum lagi gelap, namun rumah makan itu sudah penuh tetamu, Ko Bun dan si Thauto baju hitam memilih sebuah meja kelas utama, setelah menenggak tiga cawan arak mulailah Thauto itu berbicara dengan riang gembira.

Kedua orang ini sangat kontras, yang satu kasar, yang lain lembut, yang satu bermuka buruk, yang lain berwajah tampan, dengan sendirinya mereka sangat menarik perhatian tetamu lain dan ber-tanya2 siapakah kedua orang ini?

Yang mengherankan Ko Bun adalah kecuali tenaga raksasanya, Thauto berbaju hitam ini juga sangat luas pengetahuannya dan pengalamannya, seluruh negeri sudah pernah dijelajahinya. Tapi bila ditanya mengenai asal-usulnya, segera ia berusaha membelokkan pembicaraan orang, seperti dibalik sejarah hidupnya mengandung sesuatu rahasia besar.

Tidak lama kemudian. Bayangan Thia Jit tampak berkelebat diujung tangga. Dengan sesuatu alasan Ko Bun meninggalkan sebentar tamunya dan turun kebawah. Segera Thia Jit menyongsongnya dan memberi laporan, "Hamba sudah tanyai segenap kawan di Kahin sini, diketahui Thauto ini baru datang semalam, tidak mondok dibiara, juga tidak masuk rumah penginapan, sebaliknya semalaman terus minum arak tanpa mabuk. Bila orang bertanya namanya, ia mengaku sebagai Loan-hoat Thauto (si Thauto berambut kusut). Pagi-pagi ia telah mengitari kota sekeliling, tampaknya seperti sedang mencari jejak seseorang.

Bekernyit kening Ko Bun, katanya kemudian setelah berpikir, "Sudah lama engkau berkecimpung didunia Kangouw, pernah kau dengar seorang tokoh semacam ini?"

"Tidak pernah." jawab Thia Jit sambil menggeleng. "Padahal asalkan namanya sedikit menonjol saja pasti tidak terlepas dari mata telinga kami."

Tambah rapat kerut kening Ko Bun, "Aneh juga jika begitu. Selain punya tenaga raksasa pengetahuan Thauto ini juga sangat luas, jelas dia bukan tokoh Kangouw yang tidak bernama, apalagi lahiriahnya begini aneh, cacat lagi, kemana dia pergi pasti menarik perhatian orang. Jika namanya sedikit menonjol saja pasti takkan dilupakan siapa pun yang pernah melihatnya." Belum habis dia bicara, tiba-tiba terlihat seorang Tosu muda berjubah kelabu dan bersepatu kain hitam, pedang bergantung dipinggangnya, rambut digelung tinggi dengan tusuk kundai diatas kepala, dengan langkah enteng lalu disebelahnya. Waktu lewat disamping Ko Bun, Tosu muda itu menoleh dan memandangnya sekejap, sorot matanya mengandung senyuman.

Selagi hati Ko Bun tergerak, tahu-tahu Tojin muda berjubah kelabu itu sudah pergi jauh dan lenyap ditengah keramaian pasar malam. 

Langkah tojin itu kelihatan santai, padahal sangat gesit dan cepat, kalau ginkangnya tidak hebat pasti tidak dapat berjalan secepat itu.

"Kau tahu tojin itu?" tanya Ko Bun dengan suara tertahan.

Thia Jit menggeleng, "Kecuali anak murid Bu-tong-pai, jarang ada tojin yang membawa pedang didunia persilatan, tapi kawanan tosu Bu-tong-pai berjubah biru, tojin yang berpedang dan berjubah kelabu seperti ini seketika hamba tidak ingat akan asal-usulnya," 

"Baiklah, jika begitu kembali dan tunggu saja dikereta," kata Ko Bun dan ia naik kembali keatas loteng rumah makan.

Dalam hati Ko Bun membatin, "Hwesio beranbut dan Tosu ini tampaknya bukan orang biasa, tapi asal-usulnya tidak diketahui pula, mengapa mereka bisa muncul sekaligus dikota Kahin ini?. "

Setiba diatas loteng, dilihatnya si Thauto lagi memandang keluar jendela, agaknya ingin menemukan seseorang.

Waktu Ko Bun berdehem cepat Thauto itu berpaling, alisnya yang tebal tampak bekernyit, tanyanya tiba-tiba, "Baru saja ada seorang tojin berjubah kelabu, apakah kau lihat?"

Tergerak hati Ko Bun, jawabnya, "Adakah sesuatu yang aneh pada tojin yang Taysu maksudkan itu?"

"Tojin yang berjubah kelabu begitu dahulu hanya terdapat pada golongan Hoa-san-pai saja, itu pun cuma dipakai oleh tokoh-tokoh perguruan tersebut yang terkemuka. Selama berpuluh tahun terakhir ini Hoa-san-pai sudah banyak mundur, sungguh aku tidak mengerti mengapa di Kahin sekarang bisa mendadak muncul seorang ahli pedang tokoh Hoa-san-pai."

Dengan sendirinya Ko Bun juga merasa heran. Dilihatnya si Thauto berambut kusut telah menenggak arak lagi, lalu menyambung, "Sepanjang perjalananku kesini, sudah ada sekian kelompok tokoh Bu-lim yang telah kulihat, tampaknya mereka sama ter-gesa2 dan seperti menanggung sesuatu pikiran, entah dari mana asal-usul mereka dan apa maksud tujuannya?"

"Tapi dalam pandangan orang lain, bukankah Taysu sendiri juga dipandang begitu?" ujar Ko Bun. Thauto itu melengak, mendadak ia terbahak-bahak, "Hahaha, paling-paling hanya kedua lenganku ini sedikit bertenaga, memangnya terhitung apa?"

Sesudah orang puas tertawa, kemudian Ko Bun berkata, "Akhir-akhir ini daerah Kanglam sering bermunculan jejak kaum pendekar, mungkin kedatangan mereka ada sangkut-pautnya dengan Enghiong-taihwe (pertemuan para kesatria) yang akan diadakan Mao Kau, entah kedatangan Taysu apakah juga lantaran urusan ini?"

"Haha, apa artinya pertemuan yang diadakan Mao Kau itu, mana bisa. " mendadak suara si 

Thauto terhenti, dengan prihatin ia menyambung lagi, "Jika kau sendiri bukan orang dunia persilatan, mengapa urusan dunia persilatan begitu menarik perhatianmu dan begitu jelas kau ketahui?"

"Meski cayhe bukan orang dunia persilatan, tapi beruntung banyak mempunyai sahabat dari kalangan tersebut, karena bergaul setiap hari dan sering bicara hal-hal yang menyangkut orang persilatan, maka seluk-beluknya dapatlah kuikuti dengan jelas."

Mendadak si Thauto bertanya dengan sorot mata mencorong, "Jika begitu, apakah pernah kau dengar akhir-akhir ini didaerah Kanglam ada muncul seorang kakek bertangan buntung sebelah yang datang dari daerah perbatasan utara?"

Melihat sikap prihatin si Thauto ketika bertanya, Ko Bun merasa tertarik, tanyanya, "Apakah kedatangan Taysu ke Kanglam ini disebabkan urusan ini?"

Tiba-tiba sinar mata si Thauto menampilkan rasa duka, ucapnya pelahan, "Sudah ada dua puluh tahun aku tidak pernah berjumpa dengan kakek ini, mestinya tidak kuketahui mati- hidupnya, akhir-akhir ini terdengar usahanya sukses didaerah perbatasan sana, waktu kudatangi, kudapat kabar dia telah berangkat ke Kanglam sini untuk mencari jejak seseorang."

"Siapa yang dicarinya?" tanya Ko Bun.

"Keturunan seorang she Siu. " bicara sampai disini si Thauto merasa terlanjur omong, 

alisnya berkerut, segera ia berkata pula dengan ketus, "Jika kau lihat jejak orang tua itu hendaknya segera kau katakan padaku, kalau tidak tahu, untuk apa bertanya?"

Diam-diam Ko Bun mentertawakan watak si Thauto yang keras itu, ia pikir tenaga raksasanya memang sangat mengejutkan, apabila orang ini dapat diperalat tentu akan banyak gunanya, maka dengan tersenym ia berkata pula, "Saat ini cayhe memang tidak tahu, tapi asalkan orang yang dimaksudkan Taysu itu benar berada didaerah Kanglam, kuyakin dalam waktu sebulan pasti dapat kuselidiki dimana dia berada."

Semangat si Thauto terbangkit, "Apakah betul?"

"Mana berani kuomong kosong kepada Taysu, cuma entah bagaimana bentuk wajah kakek itu,  berapa usianya?"

"Usia orang ini sudah lebih enam puluh tahun, perawakannya tinggi besar, suaranya lantang seperti bunyi genta, buntung tangan kanan, sekilas pandang hampir mirip diriku."

"Jika begitu menyolok keadaan si kakek, untuk mencarinya tentu tidak sukar." ujar Ko Bun.

"Hahaha, bila betul demikian, selama sebulan ini jelas aku akan nebeng padamu," seru si Thauto dengan tergelak.

.                                                 == oo OOO oo ==

Pagi hari pada musim semi yang indah, sebuah kereta berwarna perak dilarikan keluar Kahin menuju Hangciu.

Ko Bun berduduk menyanding jendela kereta yang setengah terbuka, memandang keindahan alam yang dilaluinya, suasana sunyi, hanya detak kaki kuda dan gemertak roda kereta yang terdengar.

Si Thauto berambut kusut berduduk didepannya sambil mengangkat sebuah buli-buli dan asyik menikmati araknya.

Tiba-tiba terdengar suara detak kaki binatang berlari yang berat dari jauh mendekat, si Thauto coba melongok keluar, tertampak dari jauh berlari datang dua ekor unta berpunuk ganda.

Diatas kedua unta itu berduduk melintang dua wanita cantik berdandan suku bangsa asing perbatasan utara, bergaun longgar dan berlengan baju sempit, muka pakai kain kerudung.

Kedua unta dengan cepat bersimpang jalan dengan kereta ini, sekilas kelihatan kerling mata kedua wanita cantik dibalik kain kerudungnya.

Ko Bun merasa heran, sungguh aneh didaerah Kanglam yang menghijau permai ini mengapa terdapat binatang yang biasanya dijuluki sebagai "kapal gurun" ini, bahkan penunggang unta adalah dua perempuan cantik.

Selagi Ko Bun merasa bingung, mendadak si Thauto menolak pintu kereta dan mendesis, "Sampai bertemu di Hangciu."

Belum habis ucapannya serentak ia melompat keluar kereta. Ko Bun tidak sempat bertanya, ia tambah heran. Dilihatnya si Thauto telah berlari kesana mengikuti lari kedua ekor unta tadi.

Kereta tetap dilarikan kedepan, suasana tetap sunyi, namun hati Ko Bun sekarang telah bertambah lagi dengan macam-macam tanda tanya.

Sejak tiba didaerah Kanglam, segala sesuatu telah diaturnya dengan sangat rapi, setiap  kejadian yang timbul takkan membuatnya terkejut, sebab semuanya sudah dalam perhitungannya.

Tapi sekarang munculnya si Thauto berambut kusut, si tojin muda dan kedua perempuan cantik penunggang unta ini adalah hal-hal yang sukar dipecahkannya.

Meski hal-hal ini tampaknya tidak ada sangkut-pautnya dengan dia, tapi aneh, dalam lubuk hatinya timbul semacam perasaan waswas yang sukar dijelaskan.

Entah berapa lama kemudian, mendadak terdengar Thia Jit yang menjadi sais itu berteriak diluar, "Kongcu, coba kau lihatlah!"

Laju kereta diperlambat, waktu Ko Bun melongok keluar jendela, tertampak ditepi jalan sana adalah lapangan rumput hijau mengelilingi sebuah kolam berbentuk melengkung, lebar kolam empat-lima tombak dan panjangnya belasan tombak, air yang mengalir tampak sangat lambat.

Suasana sunyi senyap, tiada terdengar suara manusia, diseberang kolam sana tampak berdiri dua buah kemah besar berbentuk bulat, Ditepi kolam ada beberapa ekor unta dan sepuluhan ekor kuda belang sedang makan rumput dengan tenang.

Terdengar Thia Jit lagi bergumam, "Sungguh aneh, didaerah Kanglam mengapa terdapat perkemahan seperti kemah orang mongol?"

Tengah ia bicara kereta lantas dihentikan. Ko Bun juga heran dan terkesima memandang adegan yang ganjil itu.

Mendadak seekor burung bangau terbang mengitari permukaan kolam dan menyelam, lalu terbang lagi keudara dengan seekor ikan pada paruhnya.

Belum lagi percikan air kolam tenang kembali, dari dalam kemah diseberang berlari keluar seorang anak berbaju kuning sambil bersorak gembira.

Menyusul lantas muncul pula seorang gadis berkurudung dengan gaun longgar dan baju lengan sempit, dari jauh dia menggapai tangan kepada Ko Bun.

Tentu saja Ko Bun melengak, didengarnya gadis berkerudung lagi berseru, "Tuan tamu diseberang itu silakan turun dari keretamu, majikan kami mengundang engkau mampir keperkemahan kami."

Meski logatnya agak aneh, namun suaranya nyaring dan enak didengar.

Dalam pada itu anak berbaju kuning itu telah mengitari kolam dan berlari kedepan kereta, tanpa kenal takut ia pegang lengan baju Ko Bun dan bertanya, "Wah, alangkah gagahnya kuda-kuda ini! Alangkah indahnya kereta perak ini adan alangkah cakapnya penumpangnya!" Dengan tertawa cerah Ko Bun bertanya, "Eh, adik cilik, siapakah majikan kalian? Untuk apa mengundang diriku?"

Anak itu berkedip-kedip, jawabnya sambil menggeleng, "Entah, aku tidak tahu, bisa jadi dia kenal padamu."

Dengan kening bekernyit dan karena ingin tahu, Ko Bun turun dari keretanya dan membiarkan dirinya ditarik sianak keseberang sana.

Dibalik kain kerudung tipis itu lamat-lamat kelihatan dekik pipi sigadis dengan giginya yang putih rajin, dia tersenyum manis kepada Ko Bun, lalu berlari kedalam kemah sambil berseru, "Loyacu, tamu sudah datang!"

Ko Bun berdehem, dari dalam kemah lantas terdengar suara seorang tua berbicara, "Tuan tamu diluar silakan masuk saja, maafkan gerak-gerikku kurang leluasa sehingga tidak dapat melakukan penyambutan."

Gadis tadi lantas menyingkap tenda dan melongok keluar sambil berkata dengan tertawa, "Loyacu menyilakan tuan masuk kemari!"

Ko Bun memandang sekejap sekitarnya, meski diluar kemah bergerombol kuda dan unta, namun keadaan sunyi dan tenang, pada kemah lain yang lebih kecil tersiar bau sedap daging. Ia tersenyum kepada anak berbaju kuning tadi, lalu melangkah masuk kedalam kemah. 

Waktu ia angkat kepala, diluar perkemahan kelihatan sederhana, tapi didalam ternyata terpajang sangat mewah, dan beberapa meja berkaki pendek teratur diatas permadani terbuat dari kulit harimau. Tidak usah yang lain melulu permadani ini saja sudah membuat setiap orang yang masuk kedalam kemah akan merasakan kehangatan.

Dari balik tabir kulit harimau tutul terdengar suara orang berdehem, lalu muncul seorang tua bermantel warna ungu, tubuhnya bungkuk, langkahnya tertatih-tatih. Pada mukanya juga memakai sehelai kain kerudung tipis warna ungu, jenggot putih panjang melambai dibawah janggut, tidak terlihat jelas wajah aslinya.

Nemun kedua matanya yang tidak tertutup itu memancarkan cahaya tajam sehingga sangat tak seimbang dengan tubuhnya yang bungkuk itu.

Diam-diam Ko Bun merasa heran, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan.

Si kakek berkerudung memandang Ko Bun sekejap sambil duduk bersandar pada dipan berlapis kulit harimau, katanya dengan tertawa, "Silakan anda duduk saja secara santai, maafkan jika pelayananku kurang baik."

Kakek ini jelas datang dari daerah luar perbatasan utara, namun logat bicaranya adalah logat Hopak. Pikiran Ko Bun bergolak, tapi ia lantas memberi hormat dan menyapa, "Cayhe Ko Bun, entah ada petunjuk apakah Lotiang (bapak) mengundang diriku?"

"O, duduk-duduk dulu. Tho-koh, ambilkan teh!" ucap si kakek.

Tho-koh, si gadis berkerudung tadi mengiakan dan masuk kebalik tabir, sedangkan sianak berbaju kuning asyik memandang Ko Bun tanpa berkedip.

Betapapun Ko Bun tidak dapat menerka asal-usul kakek ini, juga tidak dapat meraba apa kehendaknya, terpaksa ia duduk termenung menunggu orang bicara lagi.

Sejenak kemudian Thi-koh membawakan alat minum terdiri dari poci dan cangkir kemala hijau. Isi poci itu adalah teh susu kuda yang biasa menjadi minuman se-hari2 kaum penggembala digurun pasir.

Dengan sorot mata tajam si kakek berkerudung mendadak bertanya, "Anda sungguh pemuda teladan, entah siapa orang tua anda?"

Pertanyaan yang tak terduga ini membuat Ko Bun melenggong, jawabnya kemudian dengan tersenyum, "Ah, orang tua Cayhe adalah saudagar biasa di selatan, Lotiang sendiri adalah naga diantara manusia, entah ada keperluan apa."

Mendadak si kakek menengadah dan bergelak tertawa, pada saat yang sama sebelah tangannya yang tersembunyi dibalik mantel menjentik pelahan, kontan dua jalur angin tajam menyambar kearah Ko Bun.

Tentu saja anak muda itu terkejut, kedua larik sinar hitam itu menyambar tiba dengan cepat dan terbagi dari dua arah, muka dan belakang.

Sungguh serangan senjata rahasia yang aneh, tapi juga cepat dan lihai. Hanya sekejap saja sambaran senjata rahasia sudah dekat dengan muka Ko Bun, dengan cepat otak Ko Bun bekerja, ia tidak menghindar.

Maka terdengarlah suara "cring" sekali, kedua larik sinar hitam saling bentur dan terpental jatuh disamping Ko Bun.

Begitu senjata rahasia terpental jatuh, si kakek lantas tertawa pula dan berkata, "Sungguh hebat, sungguh tabah! Kalau anda tidak lagi mengaku sebagai anak murid tokoh kosen, tentu mataku yang lamur."

Berubah juga air muka Ko Bun, tapi dengan tetap tenang ia menjawab, "Ah, tabah apa? Soalnya cayhe tidak ada permusuhan apa pun dengan Lotiang, kuyakin takkan sembarangan Lotiang membikin celaka diriku, makanya kudiam saja, apalagi. Haha, umpama aku ingin  

menghindar juga tidak tahu bagaimana caranya." "Hm, jadi kau tahu tak ada maksudku membikin celaka jiwamu, maka engkau tidak perlu menghindar, begitu?" jengek si kakek, "Tho-koh dan Liu-ji, coba kalian masing-masing mencungkil sebelah mata orang ini."

Alis Ko Bun menegak. Dilihatnya Tho-koh tersenyum dan berkata padanya, "Maaf tuan tamu!"

Ditengah senyum manisnya, sedikit bergerak, tahu-tahu tangannya yang putih terus mencolok mata kiri Ko Bun.

Si anak berbaju kuning, Liu-ji dengan tertawa lantas menyerang juga mata kanan Ko Bun, serangan kedua orang sama cepatnya tanpa kenal ampun sedikit pun.

Sama sekali Ko Bun tidak menyangka dirinya akan diperlakukan begitu oleh kakek berkerudung itu. Kedua tangan lawan sudah menyambar tiba, jika dirinya tidak menghindar kedua mata bisa jadi akan dibutakan didalam kemah ini. 

Diam-diam ia juga menghimpun tenaga pada tangannya, sekali tangan bergerak, kontan Tho- koh dan Liu-ji tergetar dan mencelat.

Maklumlah, sejak kecil Ko Bun meyakinkan Hoa-kut-sin-kun, sebagian tubuhnya dapat bekerja secara tak terduga dan menyerang dari bagian yang tidak tersangka. Tapi jika sekarang dia mengeluarkan Hoa-kut-sin-kun andalannya, hal ini sama dengan membocorkan identitasnya sendiri.

Sebab itulah diam-diam sudah timbul maksudnya untuk membinasakan lawan.

Untunglah pada detik yang menentukan itu, se-konyong2 ada suara orang membentak diluar kemah, "Berhenti!"

Serangan Tho-koh dan Liu-ji rada merandek, pada saat itulah selarik sinar perak lantas menyambar datang dari luar, sekaligus menabas bahu kanan Tho-koh dan tangan Liu-ji. "Bret", Tho-koh sempat berkelit sehingga cuma lengan baju saja yang terpapas sepotong.

Meski kecil, namun kungfu Liu-ji juga tidak lemah, cepat ia mendak kebawah, kontan ia balas menghantam iga pendatang itu.

Tho-koh rada gugup karena lengan bajunya robek, tapi segera ia pun menggeser kesamping dan melancarkan dua kali pukulan.

Kerja sama kedua orang sangat rapat, seketika serangan pendatang dapat dibendungnya. Ko Bun tetap berdiri ditempat semula, waktu ia perhatikan, kiranya oran yang melayang tiba dari luar kemah itu ialah si tojin muda berjubah kelabu yang dilihatnya kemarin.

Ditengah berkibar lengan jubahnya yang lebar, dalam sekejap pedang perak yang  dimainkannya sudah melancarkan tujuh jurus serangan, semuanya mengancam bagian maut ditubuh Tho-koh dan Liu-ji, begitu keji serangannya seakan-akan mempunyai dendam kesumat kepada kedua lawannya itu.

Biarpun cepat dan gesit, tapi ditengah kemah yang sempit, Tho-koh dan Liu-ji rada kelabakan juga didesak oleh serangan si tojin muda yang lihai dan tampaknya sebentar lagi bisa terbinasa.

Sampai saat ini Ko Bun belum lagi tahu misteri apa yang terkandung dibalik kejadian ini, maka sejauh ini dia tetap berdiam ditempatnya dengan tenang.

Dengan tajam si kakek berkerudung juga terus mengawasi gaya serangan si tojin, mendadak ia membentak, "Berhenti!"

Serentak Tho-koh dan Liu-ji melompat mundur. Si tojin juga menarik kembali pedangnya, dipandangnya Ko Bun sekejap, sorot matanya menampilkan senyuman, tapi ketika ia berpaling kearah si kakek, sikapnya berubah kereng lagi.

Si kakek tetap berbaring kaku di dipan sana dengan mantel longgar menutup tubuhnya, tegurnya dengan suara berat, "Apakah anda orang Hoa-san? Berani kau main gila disini?"

Si tojin jubah kelabu mendengus, "Hm, kudengar diluar Giok-bun-koan (salah satu pintu gerbang tembok besar diujung barat) ada seorang bandit suka melakukan segala macam kejahatan, kafilah yang biasa lewat digurun pasir sana menyebutnya sebagai 'perangkap hangat digurun'."

"Sungguh julukan yang aneh?!" pikir Ko Bun dengan kening bekernyit.

Terdengar si tojin melanjutkan lagi, "Setiap kafilah yang kepergok oleh 'perangkap gurun' itu pasti akan terbunuh dan tak terkubur. Tak tersangka hari ini 'perangkap dari gurun' itu bisa berada didaerah Kanglam, Hm, apakah karena kafilah digurun pasir sana sudah habis kau bunuh semuanya, maka sekarang kau cari sasaran kesini?"

"Apa yang kau katakan? Sungguh sangat lucu." ujar si kakek dengan tertawa dingin.

Dengan suara bengis si tojin berjubah kelabu berkata pula, "Perangkap gurun itu suka menjebak kafilah dengan kecantikan wanita dan bau daging sedap agar mau masuk kedalam perkemahannya, habis itu baru dibunuhnya. Perbuatan ini serupa benar dengan apa yang kalian lakukan sekarang, memangnya perlu kau berlagak pilon lagi?"

"Ah, kiranya demikian artinya perangkap hangat digurun yang dikatakannya," demikian Ko Bun membatin.

Dilihatnya sinar mata si kakek berkerudung tetap sedingin es dan diam saja.

Maka si tojin berucap pula dengan tertawa, "Cuma hari ini kau si perangkap gurun ini kebentur  ditangan diriku Hoa-san-gin-ho (bangau perak dari Hoa-san), mungkin selanjutnya tidak dapat lagi kau bikin celaka sesamamu."

"Apa betul?" jengek si kakek tiba-tiba.

Belum lenyap suaranya, se-konyong2 seorang membentak pula diluar kemah, "Apakah saudara Ko berada disini?"

"Bret", tabir kemah terobek menjadi dua, dari luar melangkah masuk seorang Thauto hitam berambut kusut, bermata besar dan bertangan satu. Begitu melihat keadaan didalam kemah, serentak ia bergelak tertawa. "Aha, bagus, bagus sekali, semuanya berada disini!"

Air muka si kakek berkerudung yang sejak tadi diam saja mendadak berubah pada saat itulah si Thauto menyapu pandang kearahnya sehingga sorot mata kedua orang berbentrok.

Tergetar tubuh si tojin, teriaknya, "Hah, jadi. . . .jadi kau. "

Selagi semua orang melengak, se-konyong2 si kakek berkerudung melompat dari tempat tidur dan menyusup kebalik tabir kulit harimau secepat burung terbang.

Hati Ko Bun tergerak, tanyanya, "Apakah dia ini orang yang Taysu cari?"

Selagi si tojin tertegun bingung, mendadak si Thauto membentak sekali terus mengejar kebalik tabir sana.

Ko Bun dan si tojin alias HOa-san-gin-ho saling pandang sekejap, segera keduanya menyusul masuk kesitu.

Tertampaklah si kakek berkerudung berdiri tegak dengan muka menghadap kemah dan tangan lurus kebawah.

Si Thauto mengentak kaki dan berteriak dengan suara agak gemetar, "Coba ber. berpaling 

kemari biar kupandang sekejap."

Thauto yang tinggi besar dan kasar ini sekarang bersuara gemetar dengan wajah menampilkan rasa pedih dan duka, sama sekali berbeda daripada waktu datangnya tadi.

Namun si kakek bermantel yang berdiri mungkur itu tetap diam saja tanpa bersuara.

Alis Hoa-san-gin-ho bekernyit, ia memburu maju dan bermaksud menarik tubuh si kakek untuk diputar kesebelah sini. Siapa tahu mendadak si Thauto mengangkat sebelah tangannya untuk merintanginya sambil membentak, "Kau mau apa?"

Hoa-san-gin-ho terkejut dan juga gusar, "Sialan, katanya kau ingin melihat tampangnya, kenapa kau rintangi aku?" Sambil mengomel ia terus menyurut mundur lagi.

Ko Bun juga heran, tujuan si tojin hendak membantunya, tapi si Thauto malah menghalanginya, sebenarnya bagaimana urusan ini sungguh sukar untuk dimengerti.

Terdengar si kakek berbatuk sekali, lalu berkata dengan suara serak, "Apakah benar kalian minta kuputar badan?"

Kembali tergetqar hati si Thauto, serunya gemetar, "Ya, le. . . lekas. "

Mendadak si kakek tertawa latah dan serentak membalik tubuh, sekaligus mantelnya dibuang, kerudung mukanya juga lantas ditarik.

Waktu Ko Bun mengawasi, tak tertahan ia berteriak kaget. Sungguh tak tersangka olehnya kakek yang berpaling kesini ini ternyata Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui adanya.

Seketika semua orang melenggong, hanya Oh Ci-hui saja yang tertawa latah.

Air muka Hoa-san-gin-ho pelahan berubah kelam, sorot mata Ko Bun juga memancarkan cahaya aneh pula, Se-konyong2 si Thauto berambut kusut membentak, secepat kilat ia mencengkeram leher baju Oh Ci-hui, seketika tubuhnya terangkat serupa paha babi yang menyangkol diatas meja tukang jagal.

Biarpun Oh Ci-hui terkenal "Pat-bin-ling-long" atau lincah menghadapi delapan penjuru, tidak urung sekarang menjadi ketakutan, terutama sorot mata si Thauto yang beringas itu membuatnya tidak berani meronta.

Tubuh Oh Ci-hui juga besar, tapi si Thauto dapat mengangkatnya dengan enteng, tenaga sakti ini membuat Hoa-san-gin-ho terkesiap juga.

Dalam pada itu Oh Ci-hui lantas berteriak, "Taysu, dalam uru. . .urusan apakah aku berbuat.   

.berbuat salah padamu?"

Sinar mata si Thauto kelihatan buas, ia diam saja dan melotot, agaknya dia sangat gemas terhadap orang she Oh ini.

Tambah takut Oh Ci-hui, ia pandang Ko Bun dengan sorot mata mohon belas kasihan, katanya dengan suara gemetar, "Adik. . .adik Ko, mohon mohon bantuanmu sudilah membujuk 

kawanmu ini melepaskan diriku. kita adalah kawan, urusan apa pun dapat dirundingkan."

Ko Bun tersenyum, "Ai, kan Oh-heng sendiri yang bercanda dengan orang, apa salahnya jika orang lain juga bergurau denganmu?"

Oh Ci-hui menyengir dengan muka pucat, katanya pula, "Se. sebenarnya bukan maksudku  untuk bercanda. . . .Apa. apa kehendak Taysu, harap suka bicara saja."

Mendadak si Thauto meraung terus melemparkan Oh Ci-hui, tubuh orang she Oh yang gede itu terbanting dengan keras. Setelah melototinya lagi sekejap, segera si Thauto melangkah pergi.

Maklumlah, sesungguhnya dia memang tidak bermusuhan apa pun dengan Oh Ci-hui, soalnya dia kecewa dan malu sehingga menimbulkan rasa gusar, sebab semula ia mengira orang berkerudung ini adalah orang yang akan dicarinya itu.

Oh Ci-hui menghembus napas lega, tapi juga merasa bingung. "Eh, jangan pergi dulu. Taysu." seru Ko Bun.

Si Thauto ragu sejenak, akhirnya berhenti lalu menengadah dan berucap dengan menyesal, "Dunia seluas ini. . . .kemana akan kucari?. "

Dengan tersenyum Ko Bun bertanya, "Apakah engkau mengira Oh-heng ini adalah si kakek berkerudung tadi?"

Mendadak si Thauto berpaling dan mendelik. Sementara itu Oh Ci-hui telah merangkak bangun, cepat ia berucap dengan menyengir, "Apa yang kulakukan ini adalah karena Mao-toako kami ingin tahu seluk-beluk adik Ko ini, makanya aku disuruh menyamar untuk menyelidikinya."

Ia merandek sejenak, lalu bertutur pula kepada Ko Bun, "Tapi tindakan Mao-toako ini sesungguhnya juga tidak bermaksud jahat terhadap adik Ko, maksudnya cuma demi. demi 

putri kesayangan Mao-toako sendiri."

Pelahan Hoa-san-gin-ho memasukkan pedang kesarungnya, lalu mendekati Ko Bun dan berkata, "Sungguh tidak diketahui dibalik persoalan ini terdapat lagi liku-liku seperti ini. Kiranya anda ini bakal menantu Mao-sicu. jika tahu sebelumnya, tentu aku tidak perlu terburu-buru kemari."

Ko Bun memang berterima kasih kepadanya, sekarang timbul lagi rasa akrabnya terhadap tojin muda ini, ia memberi hormat dan berkata, "Cayhe tidak kenal Totiang, tapi Totiang telah menaruh perhatian terhadap diriku, sungguh hatiku sangat berterima kasih, semoga kelak ada kesempatan untuk berkumpul dengan Totiang untuk ber-bincang2."

Tampaknya Hoa-san-gin-ho juga terharu oleh ucapan Ko Bun, sahutnya' Seterusnya mungkin aku akan lebih sering bergerak didunia Kangouw, bila bisa bersahabat dengan tokoh sebagai anda, sungguh beruntung dan bahagia bagiku."

Disini kedua orang asyik bercengkerama, disebelah sana si Thauto masih terus memandangi Oh Ci-hui sehingga membuatnya tidak berani mengangkat kepala.

Rupanya dalam benak si Thauto seolah-olah terbayang dua pasang mata secara bergantian.  Salah sepasang mata itu terasa begitu dikenalnya, tapi rasanya juga berjarak sedemikian jauhnya. Mata ini mengandung cahaya yang welas-asih dan akrab, tapi mendadak bisa berubah menjadi bengis dan garang. Sejak kecil ia sudah kenal sepasang mata ini, kehidupannya juga banyak berubah terpengaruh oleh sinar mata itu. . . . .

Sepasang mata yang lain adalah mata diluar kain kerudung tadi, mestinya sinar mata itu sedemikian lembut dan mempesona, tapi sekarang kelihatan berjarak sangat jauh, kelihatan lemah dan licin, sama sekali berbeda daripada mata diluar kain kerudung tadi.

Begitulah pikiran si Thauto terus berputar dan membayangkan berbagai kejadian buruk dan menyedihkan pada masa lampau.

Tiba-tiba Oh Ci-hui berdehem dan berucap, "Sungguh hebat tenaga sakti Taysu, entah Taysu ini. "

Tak terduga mendadak si Thauto berteriak, "Ah! Tidak benar!"

Dengan cepat ia menubruk maju, Keruan Oh Ci-hui terkejut, ia coba mengelak, namun si Thauto masih membayanginya dan tetap menubruk maju.

Meski kungfu Oh Ci-hui tidak lemah, tapi menghadapi si Thauto yang aneh ini, hatinya sudah gentar lebih dulu, ia tidak berani melawan, selagi hendak menghindar lagi, tahu-tahu leher bajunya sudah tercengkeram lagi oleh si Thauto terus diangkat pula.

Gemerdep sinar mata Ko Bun, ucapnya dengan tersenyum, "Apakah Taysu sekarang dapat membedakan Oh-heng ini sebenarnya bukan kakek berkerudung tadi?"

"Betul," si Thauto mengangguk dengan beringas, "Memang telah tertukar!"

Sambil mengguncang-gunvangkan tubuh Oh Ci-hui ia membentak dengan bengis, "Lekas jawab, siapakah orang tadi? Kemana perginya sekarang? Mengapa dia tidak mau menemui diriku?"

Oh Ci-hui ketakutan sehingga muka pucat, jawabnya tergegap, "Taysu mungkin. mungkin 

salah paham."

"Salah paham apa?" teriak Thauto, "Jika tidak mengaku terus terang, bisa kurobek tubuhmu menjadi dua."

Menghadapi orang semacam Oh Ci-hui sebenarnya sikap keras si Thauto cukup efektif, akan tetapi masih ada sesuatu kekuatan lain yang lebih ditakuti Oh Ci-hui sehingga apa pun dia tidak berani mengaku terus terang, ia cuma menjawab dengan gemetar, "Jika Taysu tidak percaya, aku. "

Mendadak si Thauto mencengkeram terlebih keras sehingga dada Oh Ci-hui hampir pecah  tergencet, keringat dingin pun memenuhi dahinya.

Dengan tersenyum Ko Bun menyela, "Sebenarnya Taysu tidak perlu bertanya lagi padanya, saat ini meski orang berkerudung itu sudah pergi, tapi bila dia ada hubungan dengan Mao Kau, tentu dia akan pergi juga ke Hangciu."

Selagi Hoa-san-gin-ho hendak ikut bicara, sekonyong-konyong terdengar derap kaki kuda berlari dari kejauhan, hanya sekejap saja kuda itu sudah sampai didepan kemah, lalu suara seorang berteriak, "KO-heng, apakah engkau berada didalam?"

Belum lenyap suaranya, belasan orang bergolok ber-bondong2 menyingkap tabir kemah dan menerobos masuk, yang paling depan adalah seorang berbaju pendek dan pakai ikat kepala hijau, bersepatu tipis, sekilas pandang serupa lelaki kekar kaum petani, namun wajahnya kelihatan cerdik tangkas, gerak-geriknya juga lincah dan gesit, seluruh tubuh se-akan2 penuh gairah.

"Aha, ini dia, Liang-toako datang." seru Oh Ci-hui tiba-tiba dengan gembira.

Tapi lelaki berbaju cekak ini tidak memandangnya sama sekali, langsung ia mendekati Ko Bun dan menyapa, "Adakah Ko-heng mengalami sesuatu?"

"O, tidak apa-apa, terima kasih atas perhatian Liang-toako," jawab Ko Bun.

Hati Hoa-san-gi-ho tergerak, pikirnya dengan heran, "Pemuda she Ko ini masih muda belia, tampaknya bukan orang Kangouw, tapi ternyata mempunyai kekuatan tersembunyi yang tidak kecil, setiap kali bila dia menghadapi kesulitan, selalu tampil orang untuk membelanya."

Sesudah Ko Bun dan lelaki kekar itu bicara sebentar dan diperkenalkan pula bahwa orang ini adalah Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin yang termashur, seketika hati semua orang tergetar pula. Sungguh sukar untuk dipercaya, Lelaki udik begini ternyata mempunyai kekuatan gaib yang mampu memimpin beribu orang dari kalangan hitam.

Terdengar Liang Siang-jin berkata pula dengan tertawa, "Kebetulan aku lewat disini dan melihat Thia Jit lagi sibuk mencari bala-bantuan, cepat kususul kesini, ternyata Ko-heng hanya mengalami terkejut saja."

Sekilas ia pandang Hoa-san-gin-ho, lalu menyambung, "Anda ini tentunya satu diantara ketiga pendekar pedang Hoa-san-pai yang masih ada, Gin-ho Totiang adanya, Totiang selalu membantu kesulitan orang serupa urusannya sendiri, sungguh orang she Liang merasa sangat kagum."

Habis itu ia lantas berpaling kearah si Thauto dan berucap pula, "Tenaga raksasa Taysu sungguh sangat mengecutkan, orang she Liang juga kagum luar biasa."

Lalu sorot matanya yang tajam menatap Oh Ci-hui, katanya, "Oh-heng bekerja bagi Mao-toaya  kita, sungguh tekun dan giat, tapi juga telah banyak berbuat salah, hal ini sangat kusesalkan, untuk ini Oh-heng perlu mendapat ganjaran sekedarnya."

Kemudian ia berkata pula kepada Ko Bun dengan tertawa, "Kota Hangciu sekarang sudah ramai sekali, sebelumnya aku pun tidak menyangka tokoh Bu-lim sebanyak ini akan berkumpul dikota ini. Jika sekarang Ko-heng mau berangkat boleh silakan saja."

Dia terus mencerocos kian kemari, sama sekali tidak memberi kesempatan bicara bagi orang lain, hanya dalam sekejap hampir asal-usul orang telah diuraikannya semua, ucapannya cukup sopan, tapi juga tegas dan terhormat. Diam-diam Hoan-san-gin-ho membatin, "Kiu-ciok-sin-tu memang tidak bernama kosong."

Segera si Thauto rambut kusut juga mengendurkan tangannya dan melemparkan Oh Ci-hui ketanah, katanya terhadap Liang Siang-jin, "Apakah hendak kau bawa dia?"

Liang Siang-jin tersenyum, "Cayhe memang ingin mengundang Oh-heng kesuatu tempat untuk istirahat barang beberapa hari lamanya, habis itu mungkin perlu kuminta bantuan Oh-heng pula."