Tokoh Besar Bagian 07

Bagian 07

Dian Sim tiba-tiba berkata pula: "Mulut Thio Hou-ji memang pandai membual, tapi ada sebuah hal dia tidak menipu kau."

"Hal apa?"

"Cin Ko memang sudah tiba di sini, beberapa hari yang lalu aku dengar mereka memperbincangkannya."

Bercahaya mata Dian Susi, katanya: "Kau dengar di mana dia sekarang?"

Dian Sim menggeleng-geleng, Nyo Hoan tiba-tiba berpaling, katanya: "Jikalau benar dia sudah tiba di sini, aku tahu suatu tempat di sana pasti bisa menemukan dia."

"Tempat apa?"

"Laki-laki bujangan suka pergi ke tempat mana, tentunya kau bisa mengira-ngira." Tempat yang suka didatangi laki-laki bujangan? Dian Susi bertanyatanya.

*****

Cepat sekali Nyo Hoan sudah membawa mereka ke suatu tempat, suatu tempat yang terletak di pojok dinding kota yang buntu. Sebuah rumah yang bobrok, hembusan angin badai pun bisa merobohkannya. Dua daun pintunya yang besar bercat luntur tertutup rapat. Di depan pintu bertumpuk sampah.

Belum sampai di depan rumah, hidung Dian Susi sudah dirangsang bau busuk, tak tahan dia mendekap hidung, katanya uring-uringan: "Untuk apa kau bawa aku kemari?"

"Bukankah kau ingin mencari Cin Ko?"

"Memangnya dia bakal berada di tempat sekotor ini?"

"Bukan saja dia akan kemari, setelah di sini dia akan merasa berat tinggal pergi." "Kenapa?"

"Nanti kau akan tahu apa sebabnya."

Dian Susi berhenti, tanyanya ragu: "Apa di sini banyak orang yang suka mengagulkan diri seperti Thio Hou-ji sebagai tokoh kebajikan?"

"Memang orang-orang yang kemari suka menjadikan diri sendiri sebagai orang bajik." "Aku tidak mengerti apa maksudmu."

"Maksudku orang-orang ini suka menggunakan uangnya untuk menolong orang lain, malah memberi secara spontan dan cepat."

"Berapa cepatnya?"

"Kalau kau memberikan uangmu, tanggung takkan ada tempat lain yang bisa lebih cepat dari tempat ini."

Dian Sim tiba-tiba menyeletuk: "Aku mengerti, tempat ini tentu sebuah sarang judi." "Tepat, agaknya kau lebih cerdik."

Dian Susi merengut, katanya dingin: "Rumah sebobrok ini, orang yang sudi berjudi di sini tentu orang-orang kroco."

"Agaknya kau tidak mengerti, bahwa seseorang yang keranjingan judi, perduli di manapun, umpama di selokan mereka pun tidak menjadi soal."

"Kalau di tempat manapun boleh judi, kenapa mereka justru ke tempat ini?" "Karena tempat ini amat rahasia."

"Kenapa harus serba rahasia." "Banyak sebabnya."

"Coba kau uraikan alasannya."

"Umpamanya ada orang yang takut bini, tidak berani judi, ada orang yang punya profesi luar biasa, tidak boleh judi, ada kalanya uang seorang tidak halal, jikalau taruhannya terlalu besar, kuatir dicurigai orang lain."

Lalu dengan tertawa dia melanjutkan: "Di sini, terserah cara bagaimana kau hendak pertaruhkan uangmu tiada yang ganggu dan melarang. Bukan saja tiada orang berani menangkapmu, orang tidak akan menanyakan asal-usul uangmu juga."

"Kenapa?"

"Karena pemilik tempat ini adalah Kim toa-hu-cu (Kim si Brewok)." "Siapa pula Kim toa-hu-cu itu?"

"Orang yang tidak berani diganggu siapapun."

"Cin Ko tidak takut bini, tidak punya latar belakang yang memalukan, kenapa dia suka datang kemari?"

"Karena pertaruhan di sini amat besar dan menyenangkan, bukan orang yang berduit tebal, pintu besar ini pun orang tidak berani masuk."

Dian Susi meliriknya: "Dan kau? Kau bisa masuk tidak?"

"Kalau aku tidak bisa masuk, cara bagaimana aku bisa bawa kau masuk?"

"Tak nyana bukan saja kau setan kepala besar, setan arak, kau pun setan judi." "Sebetulnya kau sudah tahu sejak mula," ujar Nyo Hoan tersenyum lebar.

*****

Di bawah pintu besar terdapat pintu kecil. Setelah Nyo Hoan mengetuk gelang tembaga di atas pintu, pintu kecil lantas terbuka. Dari dalam pintu menongol keluar seraut muka orang. Muka orang bengis dengan sorot mata beringas. Dengan melotot suaranya pun galak: "Untuk apa kau kemari?"

"Kau tidak mengenalku?" "Siapa kenal kau?" "Kim toa-hu-cu kenal aku," tiba-tiba entah apa yang dia rogoh terus dijejalkan ke dalam pintu, katanya: "Bawa ini perlihatkan kepadanya, dia tahu siapa aku."

Habis melotot baru orang itu menutup pintu kecil sekeras-kerasnya. Dian Susi bertanya: "Benarkah si Brewok kenal kau?"

"Aku bukan ahli kebajikan, aku tidak bisa menipu orang." "Bagaimana kau bisa kenal orang seperti itu?"

"Karena aku setan judi, setan arak lagi." "Kek siansing mungkin kemari tidak?" "Darimana aku tahu?"

"Kau pasti tahu, aku kira kau sudah lama mengenalnya, dia pun sudah tahu siapa kau sebenarnya."

Sampai di sini pintu mendadak terbuka, bukan pintu kecil, namun pintu besar, laki-laki yang garang tadi kini bersikap ramah tamah, katanya sambil menunduk: "Silahkan, silahkan masuk."

Di sebelahnya seorang laki-laki bertubuh gede kekar, beralis tebal, kulit mukanya benjal-benjol, jenggotnya tercukur bersih, begitu melihat Nyo Hoan lantas memapak maju, katanya tergelak- gelak: "Angin apa yang meniupmu kemari?"

"Segulung angin yang salah arah."

"Apa angin salah arah?" laki-laki itu melengak.

"Kalau bukan salah arah, masa bisa meniupku kemari?"

Laki-laki gede berpakaian kembang-kembang mewah tertawa besar, katanya: "Sudah berapa bulan kau tidak kemari menghabiskan uang, memangnya tidak kuatir uangmu busuk?"

*****

Rumah ini cukup besar, namun di mana-mana diliputi asap rokok yang menyesakkan nafas, manusia berjejal di mana-mana. Berbagai orang dengan corak yang berlainan, semuanya bersitegang leher, orang yang tidak tegang hanya pura-pura menenangkan diri belaka, yang benar pakaian dalamnya sudah basah kuyup. Di antara sekian banyak orang hanya satu orang yang tidak merasa tegang, yaitu laki-laki gede berpakaian kembang yang membawa Nyo Hoan.

Karena hanya dia yang tahu siapa pemenang paling besar dalam ruang judi ini, kecuali dirinya sendiri. Katanya sambil menepuk pundak Nyo Hoan: "Silahkan kau bermain sesukamu, setelah segala kesibukanmu berakhir, nanti kutemani kau minum arak."

Setelah orang pergi, Dian Susi tertawa dingin, jengeknya: "Agaknya hubunganmu intim dengan si Brewok, kalau tidak kenapa dia tidak keluar menyambutmu."

"Lalu siapa kau kira orang yang membawa kita masuk tadi?" "Jelasnya dia bukan si Brewok bukan?"

"Lalu siapa kalau dia bukan si Brewok?"

"Apa? Jadi dia itu si Brewok? Kenapa tidak punya jenggot?" "Jenggot kan bisa dicukur."

"Kalau dia dinamakan si Brewok, kenapa jenggotnya dicukur?" "Karena belakangan ini dia mempersunting bini."

"Apa sangkut paut kawin dengan brewoknya?"

"Bukan saja ada hubungannya, malah sangkut pautnya amat erat dan besar." "Apakah bininya yang suruh dia mencukur jenggot?"

"Kali ini kau sudah cukup pintar."

"Siapa kira manusia segede itu juga takut bini."

"Berbagai orang mungkin saja takut bini, karena takut bini tidak membedakan ras dan kelas." "Jadi, takut bini adalah suatu hal yang adil?" Dian Susi tertawa.

"Persoalan yang begini adil memang jarang terjadi —tapi untung juga belum banyak!"

*****

Dalam ruangan itu ada beberapa macam perjudian, baykiu, dadu, besar kecil, rolet genap ganjil dan banyak lagi. Di atas dinding ada sebuah pengumuman yang ditulis huruf besar berbunyi:

"Taruhan terbesar seribu tail, terkecil sepuluh tail."

Setengah harian Dian Susi celingukan kian kemari, katanya: "Mana CinKo?" "Kutanggung nanti pasti datang," sahut Nyo Hoan. "Kau tidak menipuku?" "Kenapa aku menipumu?" "Kapan dia akan datang?"

"Sukar dikatakan, yang terang kita harus menunggu sampai dia datang." "Eh, coba lihat, di sana ada perempuan," tiba-tiba Dian Sim menyeletuk.

Di dalam perjudian ada perempuan bukan suatu hal yang aneh, tapi perempuan yang satu ini sungguh terlalu muda, terlalu cantik. Dia sedang bermain baykiu, malah sedang pegang kartu.

Pakaiannya dari bahan kain yang mahal, perhiasannya pun gemerlapan, tapi cepat sekali barang- barangnya ludes, baju di depan dadanya sampai tersingkap, lengan bajunya pun terjinjing ke atas, maka tampak dada dan lengannya yang putih halus menggiurkan. Agaknya kartunya jeblok,

maka sebagai bandar dia harus membayar taruhan dua kali lipat. Tumpukan uang perak di hadapaannya sekejap saja sudah habis untuk membayar.

Seorang laki-laki muka burikan di sebelahnya tengah melirik ke arah dadanya yang terbuka, dengan cengar-cengir dia berkata dengan maksud kurang baik: "Nyonya muda, lebih baik biarkan orang lain yang pegang kartu."

Merah padam nyonya muda ini karena kehabisan uang, sahutnya: "Tidak, aku harus keduk kembali modal dan kemenangan berlipat ganda."

"Hendak merebut kemenangan mungkin sampai besok pun tiada harapan, seluruh perhiasan dan uangmu sudah habis, peraturan di sini tidak boleh pakai cek atau teken bon."

Sekian lama nyonya muda menggigit bibir, melongo sekian lamanya, tiba-tiba berkata: "Aku masih ada barang untuk taruhan."

"Barang apa?" tanya laki-laki burikan.

"Aku sendiri," sahut nyonya muda membusungkan dada.

Seketika bersinar mata laki-laki burik, seperti tertawa tidak tertawa, dia amat-amati orang katanya: "Berapa kau pertaruhkan harga dirimu?"

Nyonya muda tiba-tiba mengerling genit, katanya: "Menurut pendapatmu, berapa aku harus pertaruhkan diriku?"

Mengawasi dada orang yang tersingkap dan kelihatan dua bukitnya yang montok, si burik menelan air liur, katanya: "Tiga ribu tail mau tidak?" Nyonya muda menggebrak meja, serunya: "Baik, keluarkan uangmu, kutaruh diriku untukmu."

Pandangan Dian Susi sampai mendelong, katanya menghela nafas: "Entah dia nyonya muda dari keluarga mana, begitu mengenaskan kekalahannya."

Dari samping tiba-tiba seorang tertawa dingin: "Nyonya muda kentut, nyonya muda yang genah masakah sudi berada di tempat ini?" Orang ini bermuka kuda, seluruh pakaiannya serba hitam, dandanan dan seragamnya mirip dengan penjaga pintu tadi, tentunya anak buah si Brewok.

Tak tahan Dian Susi bertanya: "Orang-orang macam apa saja yang berada di sini?"

"Perempuan yang datang ke tempat ini seorang diri, kalau bukan dijual, tentu gundik entah keluarga besar mana,” kata orang itu, lalu menuding nyonya muda, katanya pula: "Dia adalah gundik ketiga belas Ong Pek-ban yang berkuasa di Tay-tong-hu, biasanya kelihatan alim dan genah, tapi sekali berjudi, watak aslinya lantas kelihatan, demikian juga belangnya."

Dian Susi tertawa dingin, katanya: "Kalau laki-laki tukang judi memangnya tidak menunjukkan kedok aslinya juga?"

Orang itu menyengir, katanya: "Sayang sekali umpama laki-laki mau jual diri, toh tiada orang sudi membelinya." Dengan cengar-cengir dia berlalu, tak lupa melirik dua kali kepada Dian Susi.

Pucat muka Dian Susi saking dongkol, katanya gemas: "Kenapa perempuan selalu ditakdirkan bernasib lebih jelek dari laki-laki. Kenapa laki-laki bisa bertaruh, perempuan tidak boleh?"

"Karena perempuan ditakdirkan bukan laki-laki." "Apa-apaan ucapanmu?"

"Kependekan omongnya, banyak perempuan justru tidak mengerti."

*****

Nyo Hoan mulai ikut bertaruh. Dia ikut main baykiu, taruhan paling rendah sepuluh tail, maka dia tetap mematuhi aturan, perduli menang atau kalah dia tetap menaruh sepuluh tail. Orang- orang di sebelahnya memang tidak memberi komentar, namun pandangan mereka kelihatan mulai menghina. Tapi Nyo Hoan sedikit pun tidak perduli sikap mereka.

Tapi Dian toasiocia justru tidak sabar lagi, bahwa dia datang dan duduk bersama Nyo Hoan, kalau Nyo Hoan malu dia pun ikut malu, tak tahan dia berbisik: "Bolehkah kau bertaruh sedikit banyak?"

"Tidak bisa!" tegas dan pendek jawaban Nyo Hoan. "Kenapa tidak bisa?"

"Karena aku tidak ingin kalah terlalu cepat, namun aku pun tidak ingin menang." "Judi macam apa caramu ini? Masakah mengagulkan diri sebagai setan judi." "Aku tidak pernah mengatakan diriku setan judi, kau yang mengatakan."

Dian Susi tertawa geli, katanya melotot: "Umpama kau benar setan judi, kau pun hanya terhitung setan judi tingkat terendah."

Nyo Hoan tidak menanggapi, dia tetap menaruh uangnya, tetap sepuluh tail.

Sekonyong-konyong dalam ruang judi yang besar itu serempak terdengar sorak-sorai: "Cin Tayhiap datang... Cin siauhiap datang, suasana tentu lebih ramai."

Cin Ko ternyata benar-benar datang. Terasa mulut Dian Susi kering, kaki tangan dingin, saking tegang sampai nafasnya terasa sesak. Dia sudah pentang mata lebar-lebar dan ulur leher setinggi mungkin, namun belum juga melihat Cin Ko, mungkin karena tegang pandangan matanya pun menjadi kabur. Untunglah akhirnya dia melihat sapu tangan merah yang terikat di leher, sapu tangan merah menyala laksana sinar matahari senja.

Cin Ko memang seorang terkenal, di manapun dia berada dirinya tentu dielu-elukan. Seluruh hadirin merubung maju. Nyo Hoan justru tetap tenang dan duduk sekokoh gunung di tempatnya, seluruh perhatiannya tertuju kepada taruhannya. Sepuluh tail.

Dongkol, gemas dan penasaran hati Dian Susi, Cin Ko tokoh setenar itu datang, dia malah acuh tak acuh, keruan hatinya getol sekali, terpaksa dia bertanya kepada Dian Sim: "Kau sudah melihat dia tidak?"

"Dia? Siapa yang kau maksud dengan dia?"

"Sudah tentu Cin Ko yang kumaksud, kecuali Cin Ko siapa lagi?" "Melihat sih sudah, cuma..."

"Bagaimana tampangnya?"

"Bagaimana tampangnya? Ya tetap sama seperti manusia umumnya? Matanya dua, hidungnya satu, punya mulut punya dua kuping, biasa saja."

Keruan Dian Susi uring-uringan, ingin rasanya dia sumbat mulut usil ini dengan sekeping uang sepuluh tail. Untunglah cepat sekali dia sudah mendengar suara Cin Ko. Suaranya lantang berisi: "Mau judi ya judilah sampai puas, kalau tidak, lebih baik pulang saja membopong bini di rumah."

Hadirin tertawa geli. "Benar, Cin Tayhiap memang seorang jenaka dan periang."

"Main pasangan genap ganjil lebih menyenangkan, Cin Thayhiap bagaimana kalau kau jadi bandar?"

Cin Ko menjawab dengan tegas dan riang: "Baik, bandar ya bandar, cuma aku ada satu syarat." "Silahkan Cin Tayhiap bicara."

"Aku tidak perduli tentang aturan yang ditegakkan si Brewok, yang bermain sama aku, paling sedikit harus bertaruh seratus tail, lebih banyak lebih baik, bagi aku semakin besar taruhan semakin bergajul."

Orang-orang yang merubung tadi akhirnya bubar. Baru sekarang Dian Susi sempat melihat Cin Ko, akhirnya dia merasa lega dan terhibur bahwa dia sudah melihat tokoh besar yang dipuja-puja dalam hati. Sudah tentu sapu tangan merah itu yang dia lihat pertama kalinya, merah semerah rona mukanya sekarang.

Sapu tangan itu terikat di leher yang besar dan kekar, kelihatannya amat serasi dengan badan dan

kewibawaan Cin Ko. Wibawa Cin Ko memang amat besar, sekali rogoh dia keluarkan segebung uang kertas di atas meja. "Hayo taruh uangmu, terserah berapa menurut kemampuan dan keberanian kalian!"

Maka beramai-ramai orang mempertaruhkan uangnya, ada yang ratusan, tidak sedikit yang bertaruh ribuan juga. Seolah-olah orang yang berjudi di sini, kalau uangnya tidak hasil curian, tentu hasil merebut milik orang lain.

Dian Susi menyentuh Nyo Hoan dengan sikutnya, tanyanya perlahan: "Kau kenal Cin Ko tidak?" "Tidak kenal."

"Sungguh memalukan, katanya kau sering kelayapan di Kangouw, tokoh sebesar ini kau pun tidak mengenalnya."

"Karena aku bukan tokoh besar, apalagi setiap berhadapan dengan tokoh besar, hatiku lantas tegang."

"Kenapa tidak kau berusaha untuk kenal dia?" "Kenapa harus berusaha kenal?" "Karena... karena aku ingin mengenalnya."

"Urusanmu sendiri, sudah kukatakan, hanya membawamu kemari, urusan lain kau selesaikan sendiri," jawabannya selalu sepele, namun pendengarnya bisa jengkel.

Tapi Dian Susi tidak kehilangan akal, sekilas dia putar otak dengan biji mata berputar, tiba-tiba dia bertanya: "Si muka burik itu kau kenal tidak?"

"Burik itu sih aku kenal, karena dia bukan tokoh besar." "Apa kerja orang itu?"

"Kabarnya dia penghisap darah di sarang judi ini." "Penghisap darah?"

"Kerjanya khusus menunggu orang-orang yang kalah judi dan membeli barang-barangnya dengan harga rendah, barang yang seharusnya berharga tiga ratus tail, dia bisa membelinya seratus lima puluh tail."

"Sebagai orang baik, bagaimana kalau kau tolong kesulitanku?" "Bantu kesulitan apamu?"

"Juallah diriku kepada si burik."

Nyo Hoan melengak dan mengamatinya dari kepala ke kaki, tanyanya: "Kau sakit atau suiting?" "Tidak, aku tidak sakit."

"Lalu untuk apa kau harus kugadaikan kepada dia?"

"Tak perlu kau urus apa maksudku, asal kau sudi membantu, selanjutnya aku tidak akan mempersulit kau."

"Jadi kali ini untuk yang terakhir?" "Pasti terakhir kali."

"Baiklah, lebih baik sakit sebentar daripada lama menderita, kali ini aku turuti kemauanmu," lalu dia melambaikan tangan kepada si burik dan berteriak: "Tio Kong, bisa kemari sebentar?"

Tio toa-ma mengawasinya sebentar lalu berpaling kepada Dian Susi di sebelahnya, akhirnya datang menghampiri dengan mimik tawa tidak tawa, katanya: "Bertaruh sepuluhan tail juga ludes kau? Lalu apa yang ingin kau gadaikan?" "Coba kau taksir, berapa kau berani membelinya?"

Lama Tio Kong mengamat-amati Dian Susi, tanyanya dengan muka terang: "Berapa yang kau minta?"

"Nona secantik dan semuda ini, paling sedikit berharga tiga ribu."

Mengawasi Dian Susi, Tio Kong sampai melamun, mulutnya menggumam: "Agaknya barang asli dan masih baru... baiklah, kubayar tiga ribu, tapi kau harus tanggung dia takkan melarikan diri."

"Memangnya kau takut orang menipumu?"

"Siapa yang berani menipu aku, aku harus mengaguminya," ujar Tio Kong tergelak-gelak. Lalu dia keluarkan tiga ribu tail uang kertas diberikan kepada Nyo Hoan. Belum lagi sempat diterima mendadak Dian Susi berjingkrak dan berteriak: "Tolong, tolong!" Suaranya lebih keras dan menakutkan dari orang mencekik leher ayam hidup-hidup.

Nyo Hoan melirik pun tidak, seakan-akan dia sudah menduga sebelumnya. Cuma Tio Kong yang tersentak kaget, kecuali dia orang lain seperti tidak mendengar sama sekali.

Akhirnya Dian Susi nekad, sambil berteriak dia lari ke arah Cin Ko: "Tolong, tolong!" Boleh dikata dia sudah berteriak di pinggir kuping Cin Ko. Baru Cin Ko seperti mendengar dan berpaling dengan bingung, tanyanya mengerutkan alis: "Ada apa?"

Dian Susi menuding Nyo Hoan, katanya: "Dia... dia... hendak menjual aku kepada orang lain." Cin Ko mengamat-amatinya sebentar, tanyanya: "Dia pernah apamu?"

Dian Susi membanting-banting kaki dengan gugup seperti hampir menangis, sahutnya: "Dia bukan apa-apaku, aku cuma diajaknya dolan ke sini, siapa tahu, dia... dia..."

Mendadak Cin Ko menggebrak meja, serunya gusar: "Kurang ajar, masakah tiada aturan dalam dunia ini!" Dengan langkah lebar menghampiri Nyo Hoan, tanyanya melotot: "Dengan hak apa kau hendak menjual nona cilik itu?"

Nyo Hoan menghela nafas, sahutnya: "Aku ini setan judi, uangku sudah habis-habisan."

Alasannya patut dihajar tiga ratus kali pentungan di pantatnya. Tak nyana Cin Ko seperti simpatik kepadanya malah, katanya: "Ya, tak bisa salahkan kau. Berapa banyak uang yang ingin kau keduk kembali?"

"Agaknya Cin Tayhiap sudi turun tangan, seperak pun aku tidak mau lagi." Nyo Hoan berdiri sambil menepuk-nepuk pakaian terus berlalu tanpa berpaling lagi.

Melihat punggung orang, timbul rasa iba dan duka dalam benak Dian Susi. "Bagaimana juga, setan kepala besar ini bukan orang jahat, kelak aku harus cari kesempatan untuk membalas kebaikannya." Tiba-tiba teringat olehnya akan Dian Sim, pikirnya pula: "Dia belum menikah,

Dian Sim menyukainya juga, kenapa tidak kujodohkan Dian Sim kepadanya saja?" Sayang sekali waktu dia berpaling dan mencari-cari Dian Sim entah pergi ke mana, bayangannya tidak kelihatan, dengan kebingungan akhirnya dia berpaling pula, dilihatnya Cin Ko sudah berdiri di sampingnya, seperti tertawa tidak tertawa mengawasi dirinya.

Setelah mengalami banyak derita, banyak membuang waktu dan tenaga, dengan susah payah akhirnya berhasil berhadapan dengan tokoh besar ini. Cin Ko masih menatap dirinya, agaknya menunggu dia buka suara, sepasang matanya berkilat dan berwibawa.

Akhirnya Dian Susi unjuk senyuman manis, katanya: "Terima kasih akan pertolongan Cin Tayhiap, kalau tidak, aku... entah bagaimana keadaan diriku."

"Kau kenal siapa aku?" tanya Cin Ko.

Dian Susi mengerling ke arah sapu tangan merah di lehernya, sahutnya tertawa lebar: "Orang Kangouw siapa yang tidak kenal Cin Tayhiap?"

"Kau tahu dan yakin bahwa aku pasti menolongmu?"

"Cin Tayhiap menegakkan keadilan, menolong yang lemah menindas yang lalim, semua kaum persilatan tahu akan kebesaran jiwa Cin Tayhiap."

"Lantaran kau tahu aku pasti menolongmu, maka kau minta orang itu menjual dirimu kepada si Burik?"

Seketika Dian Susi tertegun. Sungguh mimpi pun dia tidak menduga Cin Ko dapat memecahkan muslihatnya, lebih tidak nyana orang bakal membebernya secara terbuka.

"Kau... darimana kau tahu?"

Cin Ko tertawa, katanya: "Bagaimana aku tidak tahu? Kau kira caramu ini bagus, bagi diriku cara ini sudah usang. Karena sedikitnya sudah tujuh kali aku pernah mengalami kejadian serupa ini."

Merah jengah selebar muka Dian Susi, ingin rasanya menggali lubang menyembunyikan diri untuk menutupi rasa malunya.

Tiba-tiba Cin Ko berkata pula: "Tapi ada satu hal kau berbeda dengan gadis-gadis yang pernah mau menipu aku." Dengan gigit bibir, Dian Susi memberanikan diri, tanyanya: "Hal... hal apa?"

Cin Ko tersenyum, ujarnya: "Kau lebih cantik, tawamu pun lebih manis. Perempuan yang tawanya manis, rejekinya kelak semakin baik, maka..." tiba-tiba dia menarik Dian Susi, katanya: "Mari, temani aku berjudi, coba kau bisa membawa nasib baik bagi aku?"

Akhirnya terlaksana juga cita-cita Dian Susi untuk berkenalan dengan Cin Ko setelah mengalami banyak aral rintangan dan lika-liku. Didapatinya Cin Ko adalah laki-laki yang berani berkata berani melakukan. Inilah kesimpulan Dian Susi.

*****

Umumnya seorang penjudi pasti setan arak. Demikian pula Cin Ko adanya. Sembari main, entah barapa banyak arak yang sudah masuk ke perutnya. Selama itu Dian Susi tidak banyak omong dan ulah, dia hanya memperhatikan keadaan Cin Ko, suatu ketika baru dia sadar bahwa Cin Ko sudah kalah dan habis-habisan. Kalau orang lain kalah main, biasanya mukanya amat jelek, tapi lain bagi Cin Ko, dia tetap tenang dan wajar, roman mukanya sedikit pun tidak berubah. Entah kapan si Brewok yang sudah mencukur kelimis jenggotnya tahu-tahu muncul, berdiri di sampingnya, mukanya mengunjuk rasa simpatik dan belas kasihan, katanya: "Cin Tayhiap, hari ini rada sial, banyak kekalahanmu?"

Cin Ko tergelak-gelak, katanya: "Aku berjudi memang siap untuk kalah, asal hati senang, kalah selaksa dua laksa tidak menjadi soal?" Si Brewok acungkan jempolnya, katanya lantang: "Bagus!

Inilah sikap gagah seorang laki-laki sejati, berani judi juga berani kalah," lalu dia ulapkan tangan, katanya pula: "Pergi ambil lima laksa tail kemari, supaya Cin Tayhiap bisa mengeruk kemenangan."

Cin Ko pun tertawa besar, serunya: "Sejak mula aku sudah tahu kau memang seorang royal, tentu tidak perlu menunggu aku buka mulut."

Tiba-tiba muka si Brewok unjuk sikap serba salah, katanya setelah termenung sebentan "Cuma aturan kita di sini, tentunya Cin Tayhiap sudah tahu."

"Kau tetap pegang aturan?"

"Kawan tetap kawan, aturan tetap aturan dan harus dipatuhi. Cin Tayhiap seorang gagah dan lapang dada, tentunya tidak suka mempersulit teman sendiri."

Cin Ko tergelak-gelak, katanya: "Jangan kau melibatku dengan omonganmu, umpama kau dorong tumpukan uang ke hadapanku, aku orang she Cin takkan mengambil uang dengan cuma- cuma," lalu dia tepuk dada, katanya pula: "Kau periksa badanku, di mana kau kira cukup setimpal berharga lima laksa tail, silahkan kau buka mulut saja." "Apa benar?" seketika si Brewok tertawa girang. Cin Ko menarik muka, katanya: "Benar atau salah segala? Asal kau bisa buka mulut, aku akan melaksanakan keinginanmu!"

Jelalatan biji mata si Brewok, katanya merendahkan suara: "Cin Tayhiap, sudahkah kau melihat tiga orang di pojok sana itu?" Tanpa dia tuding dan menjelaskan, orang lain sudah tahu siapa orang yang dia maksud.

Karena ketiga orang ini memang serba istimewa. Mereka adalah seorang Tosu, seorang Hweshio, dan seorang Siucay rudin.

Sarang judi sudah biasa dikunjungi berbagai tingkat manusia, bahwa Hweshio dan Tosu berada di tempat ini pun tidak perlu dibuat heran. Anehnya tiga orang ini tidak main judi, mereka pun tidak ikut bertaruh. Si Hweshio jari-jarinya menghitung tasbih mulutnya komat-kamit membaca mantra. Si Tosu pejamkan mata, kedua tangannya terangkat, duduk bersimpuh semadi.

Sementara si Siucay rudin tangan kiri memegang cangkir arak, tangan kanan memegang buku, duduk sambil goyang kepala membaca dengan asyiknya.

Bahwa Hweshio membaca mantra, Tosu semadi dan Siucay baca buku adalah jamak dan lumrah di dunia ini, tapi mereka melakukan kebiasaan ini justru di sarang judi, tempat yang luar biasa, maka hal yang biasa ini menjadi ganjil. Ketiga orang ini masing-masing menduduki sebuah

meja, umpama orang lain hendak berjudi di meja mereka pun tak bisa berlangsung lagi.

Dian Susi merasa ketiga orang ini seperti sengaja hendak mencari perkara, terasa pula bahwa cara yang digunakan ketiga orang ini bukan saja istimewa, juga menarik.

Cin Ko mengerut kening, tanyanya: "Maksudmu minta aku mengusir mereka?" "Begitulah maksudku."

"Kenapa tidak kau sendiri yang mengusir mereka?"

"Karena mereka tidak melanggar tata tertib di sini," sahut si Brewok tertawa getir. "Tiada peraturan yang mengharuskan setiap orang di sini harus ikut bertaruh, berani kau mengatakan Siucay dilarang membaca buku, Tosu dilarang semadi dan Hweshio dilarang bermantra?"

Hampir saja Dian Susi tertawa geli. Semua orang tahu bahwa ketiga orang ini sengaja bikin gara- gara, namun mereka tiada yang berani bilang ketiga orang ini salah.

"Kapan mereka datang?" tanya Cin Ko.

"Beberapa hari yang lalu sudah berada di sini, tapi kadang-kadang datang, tiba-tiba pergi, tiada orang tahu kapan mereka mendadak berada di situ." Bercahaya biji mata Cin Ko, katanya: "Kalau demikian, ketiga orang ini masing-masing punya kepandaian."

"Kelihatannya memang rada sulit dihadapi, maka jikalau Cin Tayhiap tiada suka menghadapi kesulitan, cayhe pun tidak akan memaksa."

"Aku justru dilahirkan untuk mencari kesukaran," Cin Ko tertawa dingin.

Si Brewok tertawa riang, ujarnya: "Oleh karena itu, lima laksa tail ini sudah menunggu Cin Tayhiap untuk menarik kemenangan sebanyak mungkin."

Cin Ko tertawa besar, seluruh arak di hadapannya dia tenggak habis seluruhnya, dengan langkah lebar dia menghampiri ke sana.

*****

Setiap melakukan sesuatu kerja yang dikehendaki, Cin Ko selalu bertindak tegas, dan cekatan, tidak pernah berlarut-larut. Tapi hanya demi lima laksa perak dia sudi diperalat oleh cukong perjudian di sini untuk menjadi tukang pukulnya, bukankah terlalu merendahkan derajatnya?

Dian Susi selalu memperhatikan diam-diam, sedikit banyak hatinya menjadi sedikit kecewa.

"Tapi seorang Tayhiap pantas melakukan apa? Membela dan menegakkan keadilan, membantu si lemah menindas si lalim, berlaku adil dan tegas dalam kata dan tindakan, melerai pertikaian... semua kerja ini bukan saja tidak dibayar sepeser pun, bukan mustahil malah harus merogoh kantong sendiri. Tayhiap sama saja seorang manusia, sama-sama harus makan, menghamburkan uang, malah lebih banyak pengeluarannya dari orang biasa, jikalau harus selalu merogoh kantong sendiri menambal kekurangan orang lain, bukankah lama kelamaan dia bakal mati kelaparan?"

"Seorang Tayhiap bukan angsa yang dapat menelurkan telur mas, dari langit takkan terjadi hujan uang berhamburan jatuh untuk dipungut manusia secara cuma-cuma, memangnya kau ingin mereka terima menjadi penarik kereta sebagai keledai? Bukankah kerja ini pun cukup memalukan?" Pikir punya pikir Dian Susi berkesimpulan apa yang dilakukan Cin Ko tidak salah dan ganjil.

Tosu duduk semadi, Hwesio bermantram, Siucay membaca dengan asyik. Cin Ko pelan-pelan mendekati mereka. Sengaja langkahnya perlahan-lahan, sikapnya wajar dan seperti acuh tak acuh, bukan karena baru menghabiskan lima enam kati arak, kuatir langkahnya sempoyongan, yang terang di saat melaksanakan kerja apapun, pertama-tama dia mengharap tingkahnya sudah menimbulkan perhatian orang lebih dulu. Dia amat suka menikmati mimik dan sikap orang yang rada hormat dan segan kepada dirinya. Dan untuk hal ini selamanya dia selalu berhasil dengan sukses. Seluruh hadirin dalam sarang judi memperhatikan dirinya, suasana mendadak sunyi senyap, suara dadu dan rolet pun berhenti. Senyum Cin Ko semakin mekar, pelan-pelan dia menghampiri Siucay, katanya dengan suara lembut: "Siucay buku apa yang kau baca?"

Si Siucay tidak mendengar. Dalam pandangan orang-orang Kangouw, Siucay adalah kutu buku yang kecut, demikian pula Siucay yang satu ini. Pakaiannya seperangkat jubah biru yang sudah dicucinya sampai luntur warnanya, raut mukanya kuning dan kurus seperti kekurangan vitamin. Saat mana dia sedang asyik membaca sambil goyang-goyang kepala dan geraki tangan, mendadak dia gebrak meja, katanya dengan tertawa lebar: "Bagus Thio Cu-hong, hebat memang Cu Gay, meski serangan palu tidak kena, namun cukup mengejutkan bumi dan langit, setan dan malaikat pun ketakutan... sungguh menyenangkan, sungguh menyenangkan!" Habis mengoceh, arak dalam cangkirnya ditenggak habis.

Tak tahan Cin Ko lantas bertanya: "Siapa Thio Cu-hong, siapa pula Cu Gay? Apakah mereka tokoh Bulim yang bersenjata palu?"

Baru sekarang si Siucay angkat kepala, sikap dan mimiknya seperti melihat seekor unta tiba-tiba muncul di hadapannya, rasa hormat sedikit pun tak terunjuk di mukanya. Setelah mengawasi sebentar, baru dia mengerut alis, katanya: "Thio Cu-hong alias Thio Liang, masakah kau belum pernah dengar nama orang ini?"

Cin Ko tertawa, sahutnya: "Belum pernah dengar, aku hanya tahu di Bulim masa kini, tokoh nomor satu yang bersenjata palu adalah Lan toa-siansing, dia pun teman baikku. Thio Liang yang kau katakan barusan, jikalau dia seorang Hohan, kelak bila ada kesempatan bertemu sama dia, tiada halangannya aku mohon petunjuk beberapa jurus."

Si Siucay seperti ditampar mukanya mendengar ucapannya ini, hidungnya pun sampai peot ke samping, lekas dia tuang secangkir arak lagi terus ditenggak habis, baru menarik nafas panjang, gumamnya: "Anak bodoh tidak bisa dididik, kayu keropos tak bisa diukir, lebih baik kau pergi yang jauh, jangan membuatku sebal melulu."

Cin Ko menarik muka, katanya: "Kau ingin aku menyingkir?” "Begitulah maksudku."

"Tahukah kau apa maksudku kemari?"

"Hati manusia di dalam perut, tahu orangnya tahu mukanya, tidak tahu hatinya, apa yang terpikir di dalam benakmu, mana aku bisa tahu?"

"Baik, biar kuberitahu, aku kemari ingin supaya kau pergi."

Si Siucay amat terperanjat, serunya: "Ingin aku pergi? Kenapa aku harus pergi?" "Kau tahu tempat apa di sini?" "Sarang judi."

"Sebetulnya tidak pantas kau berada di sini?"

"Kalau pelacur boleh kemari, kenapa Siucay tidak boleh kemari?" "Apa kerjamu kemari?"

"Sudah tentu untuk membaca buku, sehari Siucay tidak membaca, rasanya tulang seluruh badan seperti karatan," lalu dia melotot kepada Cin Ko tanyanya: "Apa Siucay tidak boleh membaca?"

"Boleh saja."

"Bahwa Siucay boleh datang, Siucay pun boleh membaca, kenapa kau hendak mengusir Siucay? Kau yang benar atau aku yang salah?"

"Kau yang benar."

"Kalau aku yang benar, silahkan kau menyingkir saja." "Aku tidak akan menyingkir, silahkan kau pergi!" "Kenapa?"

"Karena aku tidak pakai aturan kepada Siucay."

Siucay berjingkrak berdiri, serunya: "Kau memang tidak aturan?" "Ya, tidak aturan."

"Kau ingin berkelahi?" tantang si Siucay sambil menyingsing lengan baju. "Baru sekali ini kau benar."

Melotot mata Siucay, serunya: "Kau tidak kenal aturan kepada Siucay, kenapa Siucay harus berkelahi dengan kau?" pelan-pelan dia turunkan pula lengan bajunya. "Lebih baik kau lekas menyingkir saja, jikalau kau tidak mau, biar aku..."

"Kau kenapa?"

"Aku pergi. Kau tidak menyingkir biar aku yang pergi.. apa benar kau tidak mau menyingkir?" "Sudah tentu benar." "Baik, kau benar-benar tidak menyingkir, aku yang pergi saja," tanpa banyak kata dia benar- benar melangkah pergi.

Cin Ko tertawa gelak-gelak, sisa arak dalam poci si Siucay dia tenggak habis, lalu dia menghampiri Tosu, katanya: "Siucay itu adalah temanmu hai Tosu!"

Tosu merangkap tangan, sahutnya: "Orang beribadah mengutamakan kebajikan dan cinta kasih, semua makhluk hidup dalam dunia ini semua adalah teman baikku."

"Bahwa Siucay bisa kemari, sudah tentu Tosu pun boleh kemari." "Memang begitulah kenyataannya."

"Siucay boleh membaca, Tosu pun boleh semadi di sini."

"Sicu agaknya memang seorang welas asih. Segalanya sudah dimengerti." "Tapi aku belum mengerti akan satu hal."

"Silahkan memberi petunjuk."

"Bahwa Siucay sudah pergi, Tosu pun harus pergi."

Tosu berpikir sebentar, lalu katanya: "Kalau Tosu pergi, Hwesio pun harus pergi?" Cin Ko tergelak-gelak, serunya: "Tosu memang orang yang gampang mengerti." "Apakah Hwesio orang yang gampang diberi mengerti?"

"Bukan," sahut si Hwesio pendek. "Memangnya kau ini Hwesio sontoloyo?"

"Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang ke sana? Hwesio kalau tidak ceroboh, siapa yang ceroboh dan dimaki sontoloyo segala?"

"Kalau Hwesio benar-benar ingin masuk neraka, gampang sekali, di sini tidak jauh letaknya dari neraka."

Hwesio tersenyum, ujarnya: "Kalau demikian, silahkan To-heng menunjukkan jalannya." "Di hadapan Taysu, mana Pin-to berani merebut dahulu?"

"Silahkan To-heng." "Taysu silahkan." Sekilas Hwesio melirik kepada Cin Ko, katanya: "Dan Sicu ini? Apa ada maksud mengikuti langkah Pinceng?"

Tosu merangkap tangan pula, katanya tertawa: "Taysu berangkat dulu bersama Pinceng, Sicu ini akan segera mengikuti jejak kita."

"Kalau demikian," ujar si Hwesio. "Biar Pinceng menunggu di neraka saja... Omitohud!" "Bu-liang-siu-hud!"

"Siancay, siancay!"

Dengan terangkap kedua tangan, keduanya bersabda akan ajaran agama masing-masing, lalu melangkah pergi setelah menjura kepada Cin Ko dengan tersenyum. Setiba di ambang pintu si Hwesio tiba-tiba berpaling dan berkata kepada Cin Ko dengan tertawa: "Semoga Sicu tidak lupa akan janji ini hari."

"Dia tidak akan lupa," ujar si Tosu. "Darimana Totiang tahu dia tidak akan lupa?" "Jalan menuju ke neraka selalu lebih baik."

"Benar, turun lebih baik daripada naik dan lebih mudah." "Juga lebih cepat."

Keduanya menengadah lalu tertawa tergelak-gelak tiga kali, tanpa berpaling mereka melangkah pergi.

Cin Ko ingin tertawa, tapi entah mengapa, ternyata tawanya seperti tertekan di dalam sanubari.

Setiap orang berpendapat, Hwesio, Tosu dan Siucay pasti bukan manusia yang tiba ajalnya seperti dian yang kehabisan minyak, semua sedang menunggu permainan sandiwara apa yang mereka mainkan dengan Cin Ko, siapa tahu mereka justru terima diusir pergi begitu saja, tidak melawan, tidak membuat onar dan tidak mengganggu.

Hadirin mulai bisik-bisik dan menggerundel: "Sebetulnya apa kerja ketiga orang itu?" Yang terang mereka bukan sengaja kemari untuk membaca mantram dan semadi melulu. "Jikalau mencari keributan, kenapa tinggal pergi begitu saja?" Tentunya karena mereka melihat sapu tangan merah di leher Cin Ko. "Mungkin kebesaran nama Cin Tayhiap menekan nyali mereka, kalau tidak masakah mereka bertindak begitu jujur?" Cin Ko memang hebat dan luar biasa. "Orang yang bicara tentang aturan dengan Siucay adalah manusia pikun, dan orang yang mengajak Cin Tayhiap berkelahi bukan lagi pikun, tapi orang sinting!" Semula dalam hati Dian Susi merasa risi dan mendelu, serta mendengar sanjung puji ini, seketika hatinya riang gembira. Di waktu orang lain memuji sanjung Cin Ko, hatinya jauh lebih gembira dari Cin Ko sendiri. Di saat dia keheranan kenapa Cin Ko sendiri kelihatannya tidak begitu

girang, mendadak Cin Ko terloroh-loroh, seolah baru sekarang dia melihat sesuatu kejadian lucu yang konyol, seakan-akan arak dalam perutnya mulai merangsang dan membakar badannya.

Dia terus tertawa, begitu panjang dan aneh tawanya sehingga sikap dan tindak tanduknya tidak mirip lagi sebagai seorang 'Tayhiap'. Tak tahan Dian Susi maju menghampiri menarik lengan bajunya, katanya berbisik: "Hai, semua orang sedang mengawasi kau."

Dengan tertawa lebar Cin Ko masih manggut-manggut, sahutnya: "Aku tahu orang lain sedang awasi aku."

"Bisakah kau tertawa yang lirih saja?" "Tidak bisa!"

"Kenapa?"

"Karena aku amat geli, maka aku harus tertawa sepuasnya." "Hal apa yang membuatmu geli?"

"Hwesio..." "Hwesio kenapa?"

"Katanya dia hendak menungguku di neraka." "Apanya yang lucu dalam ucapan ini?" "Hanya satu hal."

"Hal apa?"

"Dia tidak tahu bahwa aku justru keluar dari neraka," sahut Cin Ko, lalu dia menekan suaranya, pura-pura bersikap misterius, bisiknya: "Tahukah kau kenapa aku lari dari sana?"

Terpaksa Dian Susi menggeleng.

"Karena di sana ada Hweshio," belum habis ucapannya, kembali dia tergelak-gelak.

Mengawasi kelakuan orang, dalam hati timbul rasa curiga Dian Susi: "Apakah orang ini benar- benar Cin Ko tulen?" Dia pernah salah sekali, kali ini jangan sampai salah pula. Sayangnya dia tidak tahu macam apa sebenarnya Cin Ko yang tulen. Untung si Brewok sudah melangkah datang, tangannya menjinjing senampan penuh tumpukan uang perak. Katanya tertawa lebar: "Inilah sedikit arti, silahkan Cin Tayhiap menerimanya."

"Baik," Cin Ko memang laki-laki yang tegas dan gamblang, tidak sungkan-sungkan. "Kecuali itu," kata si Brewok, "kita masih ada sedikit penghormatan kepada Cin Tayhiap." "Kau hendak memberi apa lagi kepadaku."

"Satu kesempatan." "Kesempatan apa?"

"Kesempatan untuk mengeruk kembali kekalahannya tadi." "Bagus, begitu baru menyenangkan."

Si Brewok ikut tertawa, katanya: "Entah Cin Tayhiap hendak main apa?” "Sembarang, main apapun boleh."

Si Brewok menggosok-gosok telapak tangan, katanya: "Benar, main apapun jadi," dengan tersenyum dia menambahkan: "Yang harus kalah main tentu takkan menang." Maka Cin Ko kalah. Dia memang pantas kalah. Orang-orang yang menonton di sekelilingnya sama menghela nafas —perduli kenyataan atau tidak, menghela nafas, tetap menghela nafas. Terdengar orang bisik-bisik lagi: "Kejadian seperti ini, mungkin hanya Cin Tayhiap sendiri yang pernah mengalami."

"Memang, untuk ini pun perlu nasib." Kalah sampai habis masih dikatakan nasib? Walau Cin Tayhiap kalah, tapi di dalam persoalan lain nasibnya selalu baik. Bagi seorang yang bernasib jelek di dalam main judi, nasibnya tentu baik dalam usaha lain."

Cin Ko sendiri bisa menerima dan anggap ucapan ini ada benarnya. Karena dia habiskan lima kati arak sekaligus. Kalau perutnya semakin penuh arak, kantongnya justru semakin kosong.

Hadirin masih merubung di pinggir meja, semua mata tertuju ke dalam cawan, di mana tiga biji dadu sedang berputar-putar. Tiga biji angka enam. Dengan melempar sembarangan saja si Brewok mendapat angka tiga biji dadu enam, siapa takkan kagum kepadanya. Tiba-tiba terasa oleh Cin Ko yang sudah kerasukan air kata-kata, si Brewok di hadapannya ini menjadi seorang pendekar besar. Memang orang yang menang dalam sarang judi baru dianggap pendekar.

Waktu Cin Ko melangkah sempoyongan dari kerumunan orang banyak, langkahnya hampir terjerembab, tiba-tiba dia menumbuk badan seseorang. Seorang Hwesio. Cin Ko mengerut kening, gumamnya: "Kenapa hari ini aku selalu ketemu Hwesio? ...tak heran aku selalu kalah main?"

Hwesio itu tersenyum, katanya: "Sicu hari ini ketemu berapa Hwesio?" "Dengan kau sudah dua."

"Dengan aku hanya satu saja," ujar si Hwesio.

Cin Ko angkat kepala dan mengawasi beberapa kali, tiba-tiba baru disadarinya bahwa Hwesio yang ini adalah Hwesio tadi, mukanya bundar, kalau tertawa matanya memicing mirip benar dengan Bi-lek-hud.

Bukan saja Hwesio ini berada di sini, Tosu dan Siucay itu pun sudah kembali. Cin Ko kucek-kucek mata, tanyanya: "Kenapa aku bisa di sini?"

"Memang kau berada di sini."

Cin Ko ingin melirik tapi matanya hanya bisa melihat sekelilingnya mengikuti gerakan kepalanya, kalau mata ingin melihat ke kiri kepalanya harus berpaling ke kiri.

Hwesio tertawa, katanya: "Di sini bukan neraka, namun jaraknya tidak jauh lagi." Sarang judi dengan neraka memang tiada bedanya.

Cin Ko kucek-kucek mata, katanya: "Bukankah tadi kalian sudah pergi?" Hwesio manggut-manggut: "Bisa datang, tentu bisa pergi."

"Kenapa sekarang kalian datang pula?" "Bisa datang, bisa pula pergi."

Sebentar Cin Ko berpikir, katanya: "Benar. Apa yang diucapkan Hwesio, kenapa selalu benar adanya."

"Karena Hwesio adalah Hwesio."

"Benar, kali ini kalian pula yang tetap benar," seru Cin Ko tertawa.

"Kau tahu kenapa tadi kita mau pergi?" tanya si Hwesio. Cin Ko menggeleng-geleng. "Supaya kau untung lima laksa tail."

Cin Ko terloroh-loroh: "Semula sudah kukatakan, kau memang orang yang gampang mengerti." "Tahukah kau," tanya si Hwesio, "kenapa sekarang kita datang pula?" "Supaya aku dapat untung lima laksa tail lagi?"

"Salah."

"Begitu kalian pergi, aku lantas untung lima laksa tail, begitu aku kalah main, tahu-tahu kalian muncul pula, bukankah rejekiku selalu nomplok?"

"Hanya ada satu hal tidak baik." "Apa yang tidak baik?" "Uangmu habis terlalu cepat."

Cin Ko terloroh-loroh, sahutnya: "Oleh karena itu, kali ini kalian tidak mau pergi?" "Tidak mau."

Melotot mata Cin Ko, serunya: "Kalian tidak mau pergi?" "Hwesio tidak pernah bohong," sahut si Hwesio.

"Baik, kalau kalian tidak mau pergi, biar aku yang pergi," dengan tawa lebar dia melangkah keluar. Tiba di luar pintu dia berpaling, serunya: "Aku berangkat lebih dulu kutunggu kau di sana."

"Ke mana?" tanya si Hwesio.

Cin Ko menuding ke atas, sahutnya tertawa: "Coba kau lihat apa aku sekarang masih mampu naik ke atas?"

Hwesio menjawab dengan tawa. Orang di bawah memang sulit untuk naik ke atas. Umpama benar bisa naik, begitu kurang hati-hati kau akan terjungkal jatuh.

*****

Cin ko belum mabuk betul, paling tidak saat itu sedikit sadar. Akhirnya dia menyadari bahwa ada seseorang tengah memapah dirinya, tapi agak lama kemudian, baru dia bisa melihat siapa orang yang memapah dirinya. Dengan memicing mata lama dia mengawasi, mendadak tertawa, ujarnya: "Ternyata kau pun sudah mabuk."

"Seteguk pun aku tidak minum arak, mana bisa mabuk?" kata Dian Susi. "Kalau kau tidak mabuk, kenapa aku harus bantu memapah kau?" "Bukan kau yang memapahku, akulah yang memapahmu."

Cin Ko terloroh-loroh, katanya sambil menuding hidung Dian Susi: "Masih kau berkata tidak mabuk? Hidungmu toh sudah penyok berada di sampingmu, sekarang hidungmu berubah jadi dua."

Dian Susi jadi gemas, ingin rasanya dia lempar orang ke selokan, katanya mengertak gigi: "Kau bisa berdiri tegak tidak?"

"Tidak bisa." "Kenapa?"

Cin Ko menuding ke bawah, sahutnya: "Karena aku hendak turun ke bawah," lalu menekan suara, pura-pura bicara misterius: "Tahukah kau kenapa aku hendak ke bawah?"

"Apa karena di sana ada Hwesio?"

"Sedikit pun tidak salah," ujar Cin Ko terbahak-bahak. "Hwesio sudah pergi ke sarang judi membaca mantram." Saking geli badannya terbungkuk-bungkuk, sampai nafasnya tersengal- sengal.

Melihat keadaan orang Dian Susi dongkol dan geli pula, dia kehabisan akal dan tak tahu ke mana dia harus membawanya. Tiba-tiba Cin Ko terhuyung lari ke depan ke bawah tembok, lalu

muntah sejadi-jadinya. Banyak sekali isi perutnya yang ditumpahkan. Dian Susi mengharap lebih banyak dia tumpah lebih baik.

"Orang mabuk setelah tumpah-tumpah, mungkin dia bisa sedikit sadar," demikian pikirnya, karena dia sendiri belum pernah mabuk. Bahwasanya seseorang yang betul-betul mabuk, apapun yang terjadi tidak akan lekas sadar, apalagi setelah muntah-muntah, bila kadar arak naik ke atas, malah mabuknya semakin hebat. Demikian pula keadaan Cin Ko, setelah muntah-muntah, badannya segera tersungkur ke samping dan cepat sekali sudah mendengkur di tanah, tidur dengan lelap.

Sudah tentu Dian Susi menjadi gelisah, serunya: "Hai, lekas bangun, mana boleh tidur di sini?"

Cin Ko tidak mendengar teriakannya. Dian Susi menggoyangkan badannya, cukup lama dia bekerja keras, lambat laun Cin Ko baru membuka sedikit matanya. Matanya sipit kecil sepertiga dari keadaan biasa, sebaliknya lidahnya melepuh tiga kali lipat lebih besar dari biasanya.

Dian Susi gugup: "Macam apa keadaanmu bila dilihat orang kau tidur di sini? Jangan lupa kau laki-laki gede, seorang Enghiong yang disegani." "Enghiong... berapa harganya Enghiong?" Cin Ko mengigau. ”Bisakah dijual ke sarang judi?" Kembali dia menekan suaranya berbisik: "Mari kuberi suatu rahasia kepadamu, mau tidak?"

Dian Susi hanya tertawa getir, tanyanya: "Rahasia apa? Katakan."

"Apapun amat kuinginkan, tapi aku tidak ingin jadi Enghiong, rasanya sungguh bukan rasa lagi," habis kata-katanya, kembali dia mendengkur dengan keras. Dian Susi kehabisan akal dan tak bisa berbuat apa-apa.