Tokoh Besar Bagian 05

Bagian 05

Dalam pada itu Kim-hoa sudah menggigit sumpit itu terus berlari balik sambil menggoyang ekor dengan aleman. Agaknya dia tahu dari mana sumpit ini disambitkan. Setiap hadirin tahu, cuma mereka tiada yang percaya. Tusukan pedang Ki kongcu bukan serangan main-main, cukup cepat dan lihay, siapapun tidak menduga Thio Hou-ji bisa turun tangan lebih cepat dari seorang ahli pedang yang kenamaan.

Thio Hou-ji hanya mengerut kening, nona cilik di belakangnya segera menerima sumpit itu dari mulut Kim-hoa, katanya: "Sumpit ini sudah tak bisa dipakai lagi."

Akhirnya Thio Hou-ji bersuara juga. Dengan pelan-pelan dia tepuk kepala Kim-hoa katanya lembut: "Buyungku sayang, jangan marah, bukan aku anggap mulutmu kotor, tapi tangan orang itu malah yang kotor."

*****

Mungkin di sini letak perbedaan kenapa Thio Hou ji dipandang lebih mahal dan tinggi nilai sewanya dari perempuan lain. Bukan saja paham kapan harus bicara apa, dia pun tahu terhadap siapa dia harus bicara apa. Dan yang terpenting, dia pun tahu dalam waktu apa dia harus bungkam dan tutup mulut.

Dian Susi benar-benar merasa lucu dan tertarik terhadap perempuan yang satu ini.

Saking geli dia terus terpingkal-pingkal, setelah kembali ke kamarnya, dia masih terus tertawa. Kamar ini adalah Nyo Hoan yang sewa, meski kamar murahan, terhitung dia sudah punya tempat berteduh.

Sebetulnya sejak datang tadi Dian Susi sudah kebingungan dan kuatir, entah di mana nanti malam dia harus tidur, baru sekarang dia menyadari bukan saja makan merupakan persoalan, tidur pun harus dia pikirkan juga. Siapa nyana Nyo Hoan mendadak menaruh belas kasihan, secara suka rela menyewakan sebuah kamar untuk dia, malah sebelum masuk kamar berpesan kepadanya supaya tidur pagi-pagi.

"Babi gendut ini betapapun bukan laki-laki bejat," demikian batin Dian Susi dengan gigit bibir dan tersenyum-senyum, seolah-olah dia teringat sesuatu kejadian lain yang lucu dan menggelikan. Akhirnya dia terbungkuk-bungkuk kegelian. "Kalau Dian Sim dikawinkan sama dia, yang satu mulut monyong yang lain kepala besar, tentu pasangan setimpal yang menggelikan." Tentang dirinya sudah tentu dia tidak sudi kawin dengan orang demikian. Orang seperti Dian siocia sudah tentu harus kawin dengan tokoh besar setaraf Cin Ko.

Teringat akan Cin Ko seketika terbayang sapu tangan merah yang melambai terikat di lehernya, seketika merah pula selebar mukanya. Untung kamarnya hening gelap, hembusan angin lalu pun serasa berhenti. Musim rontok yang panas ini memang amat menyebalkan, ingin rasanya dia menelanjangi badan, tidur dengan telanjang saking gerahnya, namun tiada nyali untuk mencopoti pakaian. Ingin tidur tidak bisa nyenyak. Sebentar dia merebahkan diri, lekas sekali sudah merangkak bangun lagi. "Lantainya tentu dingin, biar aku jalan-jalan dengan telanjang kaki." Segera dia mencopot sepatu, lalu menanggalkan kaos kakinya pula, melihat kakinya, seketika lupa bahwa dirinya hendak jalan-jalan.

Di atas meja terdapat sebuah gelas air dingin, sekali tenggak dia habiskan seluruhnya. Di luar didengamya kentongan dua kali. Keruan dia berjingkrak kaget, hampir saja gelas di tangannya terlepas jatuh. Waktu sudah terasa berjalan teramat lambat dan lama, tak nyana baru kentongan kedua, semula dia kira hari sudah hampir terang tanah, siapa nyana malam musim panas yang gerah, banyak nyamuk ini terasa begini panjang dan lama. Dalam saat seperti ini kalau ada orang diajak ngobrol masih mending. Tiba-tiba timbul hasratnya mengajak Nyo Hoan ngobrol, tapi kepala besar itu habis kenyang lantas masuk kamar, pintu ditutup rapat, mungkin sudah tidur seperti babi mendengkur.

"Aku justru tidak akan biarkan dia tidur nyenyak, akan kugoda supaya bangun!" demikian Dian Susi berkeputusan. Diam-diam dia dorong pintu lalu melongok keluar, tiada kelihatan bayangan seorang pun di luar. Cuaca sepanas ini, pekarangan luar pun tiada angin lalu, kalau ada orang tutup pintu dan jendela tidur dalam kamar memang merupakan suatu keajaiban.

Kamar Nyo Hoan terletak di seberang pekarangan sana, pintunya tertutup rapat, namun dari jendela kelihatan sinar menyorot keluar dari dalam kamarnya. "Ternyata tidur tanpa memadamkan lentera, tidak takut kebakaran di tengah malam memanggang badannya yang berminyak itu jadi panggang babi yang lezat?" Dengan geli dan dongkol Dian Susi diam-diam melewati pekarangan. Bumi terasa dingin. Baru sekarang dia sadar bukan saja lupa pakai sepatu, malah kaos kakinya masih dijinjing di tangannya. Mengawasi kaki sendiri sekian lama dia menjublek, akhirnya ujung mulutnya menyungging senyum manis.

Dia gulung kaos kaki terus dijejalkan ke dalam baju, dengan telanjang kaki dia beranjak. Kenapa telanjang kaki malu dilihat orang? Bukankah setiap orang yang dilahirkan juga telanjang bulat?

Pintu kamar itu rapat sekali, tangannya sudah diulur hendak mendorongnya, tapi urung dan ditarik kembali. "Kalau aku ketuk pintu, dia pasti tidak perduli, biasanya bila babi tidur, dunia kiamat pun tidak dihiraukannya." Sekilas biji matanya berputar. "Kenapa tidak kuterjang masuk begini saja untuk membuatnya kaget?" Membayangkan kelakuan Nyo Hoan di saat terjaga dari tidurnya, dia tidak perduli akibatnya lagi.

Setelah pasang kuda-kuda dan kerahkan tenaga segera dia menerjang pintu dan menjebolnya masuk. Penginapan bukan gudang, pintu kamarnya tentu tidak dibikin sekuat pintu gudang yang keras dan tebal. Harapannya justru supaya hati Nyo Hoan keras dan tabah, akan dibikin kaget setengah mati.

***** Nyo Hoan sedikit pun tidak kaget, malah sedikit kaget pun tidak, dia tetap duduk di tempatnya, seperti patung kayu yang duduk di atas kursi. Memang badannya yang gendut itu mirip kursi malas yang empuk dan enak, karena di atas pangkuannya seseorang duduk ongkang-ongkang. Seorang yang cantik dan menarik sekali.

Seorang perempuan.

*****

Thio Hou-ji pun tidak kaget karenanya. Tawanya masih begitu manis, sikap dan tindak tanduknya tidak semanis dan selembut ini. Bukan saja dia duduk di perut Nyo Hoan, kedua tangannya malah memeluk lehernya.

Orang yang kaget dibuatnya adalah Dian Susi sendiri. Mulutnya terpentang lebar, matanya melotot, mimik dan sikapnya seperti lehernya buntu tersendat sebutir telur ayam.

Mata Thio Hou-ji sebening air itu mengerling ke arahnya, katanya berseri tawa: "Kalian sudah saling kenal?"

Nyo Hoan tertawa lebar, dia manggut-manggut. "Siapakah dia?" tanya Thio Hou-ji.

Kata Nyo Hoan: "Biar kukenalkan, inilah nona Thio, inilah tunanganku, bini yang belum sempat kupersunting." Pelacur yang duduk di pangkuannya diperkenalkan kepada calon istrinya dengan sikap wajar dan berolok-olok malah, seolah-olah tidak menyesal dan tidak bersalah terhadap calon istrinya, lagaknya tengik dan tiada maksud menurunkan Thio Hou-ji, keduanya memang tidak tahu malu.

Umpama Dian Susi mempunyai maksud menikah sama dia, aneh bin ajaib bila dia tidak dibikin mampus saking marah melihat adegan porno yang memuakkan ini. Walau dia tidak bermaksud kawin, toh dia sudah naik pitam dibuatnya. Setan kepala besar ini sungguh tidak memberi muka sedikit pun kepadanya. Lebih menjengkelkan Thio Hou-ji pun tiada niat turun dari pangkuannya, malah berkata dengan berkedip-kedip mata: "O, apa benar kau ini Nyo hujin yang belum dinikah?"

Lebih menjengkelkan, tak bisa tidak Dian Susi harus mengakui kenyataan ini, keruan mulutnya gemeratak saking menahan gusar. Tidak menjawab berarti mengakui.

Maka Thio Hou-ji cekikikan, ujarnya: "Semula kukira kau ini maling perempuan pemetik kembang, tengah malam buta rata main terjang pintu. Tak nyana kiranya Nyo hujin yang bakal datang, sungguh kurang hormat, kurang hormat, silahkan duduk." Dia menepuk-nepuk paha Nyo Hoan serta menambahkan: "Perlukah tempat duduk ini kuberikan kepadanya?" Kini Dian Susi tidak merasa lucu dan geli lagi, ingin rasanya dia persen tempilingan keras di mukanya. Tapi melihat sikap Nyo Hoan yang puas kesenangan, seketika dia sadar, dirinya tidak boleh terbawa emosi. "Semakin aku marah, mereka semakin senang." Betapapun nona besar pingitan ini cukup cerdik, seketika dia merubah sikap, wajahnya dihiasi senyuman manis, meski senyum kurang wajar, tapi tetap senyuman yang menarik juga.

Di bawah pandangan orang Dian Susi bersikap sejadi-jadinya, tanpa sungkan dan tidak malu lagi, dia seret sebuah kursi terus duduk dengan tersenyum, katanya: "Tak usah kalian sibuk mengawasiku, tak usah malu-malu, yang terang aku hanya duduk sebentar terus menyingkir."

Thio Hou-ji tertawa, katanya: "Kau memang tabah, kalau perempuan di seluruh dunia setabah kau, laki-laki pasti berumur lebih tua." Kembali dia memeluk leher Nyo Hoan serta mencium pipinya, katanya dengan tertawa genit: "Kalau kau mengawini istri bijaksana ini, sungguh beruntung besar."

Dian Susi meniru tingkah lakunya, katanya dengan tertawa sambil mengerling: "Sebetulnya kau tidak perlu memuji aku, jikalau aku punya maksud menikah sama dia, sekarang aku sudah mencukur gundul rambut kepalamu."

Berkedip-kedip mata Thio Hou-ji: "Kau tidak mau dikawin sama dia?"

"Umpama laki-laki seluruh dunia ini mampus seluruhnya, aku pun tidak sudi kawin dengan dia," tiba-tiba Dian Susi menghela nafas, gumamnya: "Aku hanya heran akan suatu hal, bagaimana mungkin ada perempuan yang kepincut terhadap babi segendut ini?" suaranya lirih dan seperti mengigau, tapi suaranya bisa didengar orang lain.

Thio Hou-ji tertawa, katanya: "Nah itulah yang dinamakan anggur dan sayur asin, masing- masing punyai hobby sendiri-sendiri." Lalu dia menghela nafas, serta menggumam: "Ada beberapa budak kecil yang belum pernah kenal beberapa laki-laki, hakikatnya belum bisa membedakan siapa lebih baik, yang mana lebih jahat, lantas dia sok tahu hendak menilai laki- laki, dan itulah yang dinamakan lucu dan mengherankan." Seperti mengigau dengan suara lirih, tapi suaranya dapat terdengar orang lain pula.

Dian Susi berkedip-kedip lagi, katanya tertawa: "Apa kau pernah melihat banyak laki-laki?" "Banyak sih tidak, tapi seribu delapan ratus orang kukira ada."

Sengaja Dian Susi unjuk rasa kaget, katanya: "Wah, banyak benar, agaknya kau sudah setimpal diangkat jadi seorang ahli menilai laki-laki," lalu dengan tertawa dia menambahkan: "Menurut

apa yang pernah kudengar, dalam dunia ini hanya ada satu macam perempuan yang bisa melihat laki-laki sebanyak itu, entah nona Thio ngobyek dalam bidang apa?" Dengan mengajukan pertanyaan ini Dian Susi merasa senang hati, batinnya: "Kali ini cara bagaimana kau hendak menjawab pertanyaanku, coba kau masih berani pongah tidak?"

Bagaimanapun jalan yang ditempuh Thio Hou-ji bukan obyek yang patut dipuji. Tapi Thio Hou- ji justru tertawa bangga, katanya genit: "Kalau dibicarakan memang mentertawakan, tidak lebih aku ini hanya seorang ahli kebajikan."

Dian Susi melengak, tanyanya: "Apa kerja seorang ahli kebajikan?"

"Ahli kebajikan dapat dibagi beberapa macam, aku memilih jalan pendek untuk menolong kaum laki-laki."

"O, menyenangkan juga, entah laki-laki macam apa yang perlu kau tolong?"

"Jikalau tiada aku, jangan harap banyak laki-laki yang benar-benar bisa menyentuh perempuan sejati, maka sedapat mungkin aku menghibur mereka, sedapat mungkin membuat hati mereka senang dan tentram." Dengan cekikikan genit dia lantas menyambung pula: "Ketahuilah, seorang laki-laki normal bila tidak mendapat hiburan dari perempuan sejati, maka laki-laki itu harus dikasihani, sayang perempuan sejati justru tidak banyak jumlahnya."

Berputar biji mata Dian Susi, katanya: "Jikalau bukan kau, mungkin laki-laki kehilangan sasaran untuk mengudal uang yang padat dalam sakunya."

"Memangnya, aku tidak senang laki-laki diperbudak oleh uang, maka sedapat mungkin kudidik mereka untuk sedikit royal." Mengawasi Dian Susi kembali dia meneruskan: "Apa kau suka laki- laki diperbudak untuk mengeduk harta benda melulu?"

Perang mulut kedua pihak sama-sama mengandung duri tajam, seolah-olah ingin sekali tusuk bikin lawannya mampus seketika. Akan tetapi wajah kedua ini orang sama-sama tersenyum lebar.

Nyo Hoan celingukan kian kemari, mengawasi Thio Hou-ji lalu berpaling kepada Dian Susi, mukanya membayangkan rasa senang dan puas, seolah-olah dia amat menikmati hiburan yang menyenangkan ini.

Dian Susi pikir-pikir dengan cara dan pancingan apa untuk bikin babi gendut ini marah dan mencak-mencak seperti kera.

Thio Hou-ji malah menghela nafas, gumamnya: "Waktu sudah larut, sudah saatnya untuk pulang tidur," mulutnya mengoceh sebaliknya dia sendiri tidak bermaksud turun dari pangkuan dan kembali ke kamarnya sendiri. Dian Susi maklum ke mana juntrungan kata-kata orang. Batinnya: "Kau ingin aku pergi, aku justru tidak mau pergi, coba kulihat kalian bisa berbuat apa atas diriku." Bahwasanya kenapa dia sendiri tidak mau pergi, hal ini dia tidak tahu.

Setelah ucapannya pertama tiada reaksi apa-apa, terpaksa Thio Hou-ji mengulangi pula: "Entah sekarang waktu apa? Tentunya sudah larut malam?"

"Apa nona Thio hendak kembali?" tanya Dian Susi.

"Memangnya aku tidak punya kerja apa-apa, biarlah ngobrol lagi sebentar juga tidak jadi soal, dan kau?"

"Aku pun tidak punya urusan, tidak perlu tergesa-gesa."

Seolah-olah keduanya sudah sama-sama bertekad "Kau tidak pergi, aku pun tidak mau berlalu." Tapi sampai di sini pembicaraan mereka, seakan-akan bahan pembicaraan sudah habis, terpaksa masing-masing bertahan.

Tiba-tiba Nyo Hoan mendorong Thio Hou-ji pelan-pelan, katanya tertawa: "Kalian boleh ngobrol di sini, aku ingin jalan-jalan di luar, kalau ada laki-laki tentu tiada bahan bicara yang

lebih menarik bagi dua perempuan yang suka ngobrol." Segera dia bangkit berdiri terus beranjak keluar. "Kalian tidak mau pergi, biar aku yang pergi." Inilah cara tegas untuk menghadapi kebrengsekan perempuan.

"Sungguh tak nyana babi gendut ini pandai bermain sandiwara, tepat berperan sebagai badut." Sungguh gemas dan dongkol Dian Susi dibuatnya, namun tak enak dia mengikuti jejak orang kembali ke kamarnya sendiri. Kalau tidak berlalu, sebaliknya tiada yang perlu dibicarakan dengan Thio Hou-ji. Maka hawa terasa semakin panas, sampai pun bernafas pun rasanya berat.

Tiba-tiba Thio Hou-ji bersuara: "Nona Dian keluar rumah, ke mana tujuanmu?" "Aku hendak ke Kanglam."

"Kanglam tempat yang indah, entah nona Dian hendak tamasya? Atau hendak cari orang?" "Ke sana untuk mencari orang."

Setelah Nyo Hoan pergi, tiada selera dia berhadapan dengan Thio Hou-ji.

Sebaliknya Thio Hou-ji tersenyum manis, katanya: "Di Kanglam aku punya banyak kenalan, orang-orang yang ternama di sana boleh dikata banyak yang kukenal!" Ocehan ini menggerakan hati Dian Susi.

"Kau kenal banyak orang?" tanya Dian Susi. "Kau kenal Cin Ko?" "Orang yang suka kelayapan, jarang yang tiada kenal Cin Ko."

Seketika bersinar biji mata Dian Susi, katanya: "Kabarnya dia sering kelayapan kemana-mana, sukar untuk menemukan dia."

"Jadi kau ke Kanglam mau mencari dia?" "Em," Dian Susi mengiakan.

"Untung kau bertemu aku di sini, kalau tidak sia-sia perjalananmu ke sana." "Kenapa?"

"Sekarang dia tak berada di Kanglam, kini berada di Tionggoan." "Kau... kau tahu di mana dia berada?"

"Kemarin lusa aku masih berkumpul sama dia."

Sungguh tertarik, iri dan cemburu Dian Susi dibuatnya, katanya menggigit bibir: "Apa dia berada di tempat sekitar sini?"

”Ya, tidak jauh dari sini."

Sesaat lamanya Dian Susi terpekur, katanya kemudian: "Sudikah kau beritahu kepadaku, di mana aku bisa menemukan dia?"

"Tidak bisa," sahut Thio Hou-ji.

Dian Susi menjublek, akhirnya dia berjingkrak bangun terus berlari keluar.

Tiba-tiba Thio Hou-ji tertawa, serunya: "Tapi aku bisa bawa kau ke sana menemui dia." Langkah Dian Susi berhenti, hampir berjingkrak senang, serunya:

"Apa benar? Kau tidak menipu aku?"

"Kenapa harus menipumu?" Tiba-tiba Dian Susi merasa orang ini berhati baik. Apa yang terpikir dalam benaknya sukar untuk dinyatakan dengan ucapan, segera dia putar badan memburu ke depan Thio Hou-ji, katanya sambil menarik tangan Thio Hou- ji: "Kau memang orang baik."

"Sejak bertemu aku amat menyukai kau."

"Kau... kapan kau hendak ajak aku menemui dia?"

"Kapan saja bolehlah, cuma... mungkin ada orang yang tidak mengizinkan kau pergi." "Siapa berani melarang aku?"

Thio Hou-ji menuding keluar, katanya berbisik: "Babi gendut itu."

Dian Susi tertawa riang, katanya: "Berdasar apa dia melarang aku? Yang benar dia tidak punya hak merintangi keinginanku."

"Kau benar-benar tidak takut?"

"Takut apa? Siapa takut setan kepala besar itu?"

"Kalau sekarang kau berani pergi, hayolah kubawa kau ke sana, besok pagi mungkin kau bisa bertemu Cin Ko."

"Kalau begitu mari sekarang berangkat, siapa tidak berani dialah anjing kecil."

"Marilah kita merat lewat jendela saja, biar setan kepala besar itu mencak-mencak tak menemukan kita, bagaimana?"

"Bagus," Dian Susi menyetujui usulnya. Dapat membikin Nyo Hoan keripuhan, sungguh amat menyenangkan hatinya.

*****

Dian siocia mulai perjalanan dalam pengembaraannya. Di jalan bukan saja lebih nyaman daripada di kamar, lebih segar juga berada di pekarangan. Dian Susi menghirup nafas segar, tiba- tiba dia merasa kakinya dingin lembab. Baru sekarang dia sadar kakinya tidak pakai sepatu. "Sejak mula babi gendut itu ternyata tidak pernah memperhatikan kedua kakinya."

Diam-diam Dian Susi kertak gigi, katanya: "Aku... biar aku kembali dulu sebentar?"

"Kembali lagi untuk apa?" tanya Thio Hou-ji tertawa. "Tak usah kau kuatir dia kelabakan, orang- orangku tahu ke mana aku hendak pergi, besok pagi mereka pasti memberi tahu kepadanya."

Merengut mulut Dian Susi, katanya: "Perduli dia akan gugup sampai mati, aku ingin mengambil sepatuku."

"Aku membawa sepatu, sepatu model apapun aku punya." "Tapi... masa aku harus berangkat begini saja?"

"Aku tahu di suatu tempat, meski larut malam di sana kita bisa menyewa kereta." "Kau memang pintar bekerja, agaknya banyak urusan yang kau ketahui." "Soalnya terpaksa, perempuan yang kelayapan di luar, jikalau tidak cari akal untuk mengurus diri sendiri, setiap saat bisa digoda laki-laki."

"Memangnya laki-laki bukan manusia baik-baik." "Laki-laki yang baik memang tidak banyak."

"Tapi darimana kau tahu aku she Dian? Apa setan kepala besar itu yang memberi tahu kepadamu?"

"Ya."

"Apa saja yang dia katakan kepadamu?"

"Apa yang dikatakan laki-laki di belakang orang, lebih baik jangan kau mendengarnya." "Apa salahnya kudengar? Yang terang apapun yang dia katakan, kuanggap kentut."

"Sebetulnya dia tidak mengatai dirimu, cuma mengatakan kau terlalu mengumbar adat sebagai nona pingitan dari keluarga besar yang kaya raya, kalau tidak dididik secara baik-baik, kelak pasti lebih galak dan sukar dikendalikan."

"Setan kepala besar, berani dia kendalikan aku? Memangnya dia punya hak?"

"Dia pun mengatakan, cepat atau lambat kau harus kawin sama dia, mau tidak mau dia harus mendidikmu."

"Jangan kau percaya akan kentutnya, coba kau pikir, sudikah aku kawin dengan laki-laki seperti dia itu?"

"Sudah tentu tidak, dalam hal apa dia setimpal mempersunting kau?" "Tapi kau justru bersikap baik terhadapnya."

"Terhadap banyak laki-laki aku sudah biasa baik!"

"Tapi terhadap laki-laki yang satu ini, perhatianmu luar biasa, benar tidak?" "Soalnya dia kenalan lamaku."

"Kau sudah lama mengenalnya?"

Thio Hou-ji mengiakan, katanya: "Jangan kau kira dia itu orang jujur, kelihatannya memang jujur, tapi obrolannya justru mengandung bisa, setiap ucapannya hakikatnya tidak boleh dipercaya." "Memangnya sudah kukatakan, apapun yang dia katakan, anggap saja kentut busuk." Di mulut berkata demikian, namun perasaan hati berkata lain. "Bagaimana juga, si kepala besar ini toh pernah membantu aku." Dian Susi memangnya bukan manusia yang lupa akan budi dan membalas air susu dengan air tuba, kelak bila ada kesempatan dia berjanji untuk membalas kebaikannya itu.

Dalam pada itu mereka sudah beranjak di jalan raya, derap kaki kuda berdentam di batu-batu jalan raya, Thio Hou-ji berkata:" Agaknya kita rada mujur, tak usah pergi mencarinya, kereta sudah diantar datang!"

*****

Ada sementara orang selalu ketiban rejeki baik. Kereta yang datang ini bukan saja kosong, malah kereta besar yang mewah terukir dan dipajang indah, kereta baru yang nyaman lagi menyegarkan. Kusir kereta juga pemuda yang sopan dan ramah tamah, malah kepalanya menggunakan ugel-ugel kain panjang warna merah, ujung ugelannya yang terurai memanjang tertiup angin melambai-lambai.

Dian Susi menjublek mengawasi lambaian kain merah ini, seolah-olah dia sudah berhadapan dengan Cin Ko. Pemuda yang pegang kendali jadi kikuk dan risih, katanya tertawa malu-malu: "Silahkan nona naik kereta."

Merah muka Dian Susi, tanyanya: "Kulihat kau pun pakai selendang merah segala, memangnya kau mengagumi Cin Ko?"

"Sudah tentu, siapa orang Kangouw yang tidak kagum terhadap Cin Tayhiap?" "Kau pernah melihatnya?"

"Kami dari kalangan rendah, siapa punya rejeki sebesar itu bisa kebetulan berhadapan dengannya?"

"Kau ingin tidak melihatnya?"

"Asal bisa melihat Cin Tayhiap, disuruh puasa tiga hari aku pun mau."

Dian Susi geli. Mendengar orang memuji Cin Ko, seolah-olah hatinya lebih senang daripada orang memuji dirinya. Katanya tertawa lebar: "Besok aku akan bertemu sama dia, dia adalah... adalah temanku." Dia tidak merasa dirinya membual, karena di dalam benaknya, Cin Ko bukan saja sudah dianggapnya sebagai teman karib, boleh dikata sudah dianggap kekasihnya, calon suami. Seketika terpancar kagum pada sorot mata si kusir muda ini, katanya: "Nona memang beruntung besar..."

Serasa terbang badan Dian Susi saking syuur dan sedap. Memang dia merasa peruntungan dirinya teramat besar, pilih punya pilih, ternyata tidak meleset pilihannya. Cin Ko memang tokoh istimewa.

*****

Kereta akhirnya berhenti. Kebetulan cahaya terang mulai muncul di ufuk timur. Fajar telah menyingsing. Dian Susi sedang bermimpi, mimpi yang manis mesra. Dalam mimpinya sudah tentu tidak ketinggalan bayangan Cin Ko.

Sayang sekali mimpinya di tengah jalan karena Thio Hou-ji menggoyang pundaknya.

Dian Susi mengucek-ucek mata, dari jendela dia memandang keluar. Tampak dua daun pintu warna merah darah bersinar ketingkah sinar surya pagi, dua buah singa batu yang besar mendekam di dua sisi pintu. Dengan berkedip-kedip dia bertanya: "Apa sudah sampai? Tempat apakah ini?"

"Inilah pondokku," sahut Thio Hou-ji. Dian Susi tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Thio Hou-ji heran.

"Aku geli karena kau terlalu sungkan, kalau rumah seperti ini adalah pondokmu, lalu gedung bagaimana baru menjadi rumah tinggalmu?"

Thio Hou-ji tertawa riang. Bahwa rumah gedungnya dipuji orang, siapapun akan merasa girang. Memangnya siapapun yang melihat dan berada di tempat seperti ini, pasti akan memuji ala kadarnya.

Gelang baja di daun pintu mengkilap seperti emas, di dalam lingkungan pagar tembok ada sebuah pekarangan yang luas, serambi yang dibangun serba ukiran, daun jendela memakai kertas

sutra yang paling mahal dan putih halus, namun warnanya menjadi kehijauan ditingkah reflek sinar matahari yang menyinari dedaunan kembang di pekarangan. Kembang mekar dan tetumbuhan subur hidup dalam pekarangan, burung berkicau, burung walet terbang pergi datang membangun sarangnya di terap gedung.

"Gedung ini milikmu?" Dian Susi bertanya. "Kau sendiri yang membelinya?" "Baru kubeli dua tahun yang lalu, pemiliknya yang dulu adalah keluarga bangsawan, kabarnya serba pandai, sayang orang sekolahan, maka gedung ini dapat kubeli dengan harga yang amat murah."

"Agaknya menjadi seorang ahli kebajikan memang amat menguntungkan, paling tidak jauh lebih baik bagi seorang yang lulus dari ilmu kesarjanaan."

Thio Hou-ji manggut-manggut dengan muka merah, lekas dia pura-pura batuk-batuk. Agaknya Dian Susi menyadari akan kelepasan omongnya, lekas dia menambahkan: "Apa Cin Ko hari ini akan kemari?"

"Biar kau ke belakang dulu istirahat, umpama dia tidak kemari, aku akan mengundangnya ke sini."

Taman belakang lebih indah dan permai dari pekarangan depan. Gedung-gedung mini bertingkat dibangun tepat di tengah taman, selintas pandang dari luar laksana gambar lukisan, demikian pula dipandang dari dalam tak ubahnya seperti di dalam surga. "Indah benar tempat ini," tak tertahan Dian Susi memuji.

"Bila hawa teramat terik, aku jadi malas kelayapan, maka aku sering menyembunyikan diri di dalam taman kembang ini."

"Kau memang pintar menikmati hidup mewah," demikian puji Dian Susi. Bahwasanya tempat tinggalnya tidak kalah permai dan sejuknya dari tempat ini, justru ada kesenangan tidak mau dinikmati, malah kelayapan di luar mengalami derita dan kesukaran.

Thio Hou-ji tertawa, katanya: "Jikalau kau senang tempat ini, biar kusediakan untukmu, kelak bila kau kawin dengan Cin Ko, boleh kau tempati gedung loteng ini sebagai kamar pengantin."

Merah biji mata Dian Susi, tak tertahan dia tarik tangan orang, katanya: "Kenapa kau begini baik terhadapku?"

"Tadi sudah kukatakan, sekali pandang hatiku merasa cocok dengan kau, itulah yang dinamakan jodoh," ditepuknya tangan Dian Susi lalu menyambung: "Sekarang pergilah kau mandi ganti pakaian dan merias diri, lalu pergilah tidur, bila Cin Ko datang, nanti kubangunkan kau, jangan lupa berdandanlah yang baik."

Dian Susi menunduk melihat pakaiannya yang kotor dan sobek, mengawasi sepasang kakinya yang telanjang dan dekil, tak tertahan dia menghela nafas.

Berkata pula Thio Hou-ji tertawa: "Perawakanmu sebanding dengan aku, biar kucari beberapa stel pakaian yang paling baik untukmu, sebentar kusuruh Siau-lan membawanya kemari." "Siau-lan?" tanya Dian Susi.

"Siau-lan adalah budak kecil yang baru kubeli, cukup cerdik dan pintar, jikalau kau suka, boleh kuberikan dia kepadamu."

Sungguh tak kepalang terima kasih hati Dian Susi atas kebaikan orang kepada dirinya. Orang dari tingkat dan kelas apapun di dalam masyarakat pasti ada yang baik, di dalam liku-liku pengembaraan secara liar ini, terhitung sekarang dia menemukan seorang yang benar-benar baik hati.

Sepeninggal Thio Hou-ji, seorang diri Dian Susi mengamat-amati hiasan lukisan-lukisan kuno dari pelukis-pelukis kenamaan dan syair-syair dari pujangga jaman lalu, begitu asyiknya sampai

dia lupa ganti pakaian lupa mandi, pada saat-saat itulah tiba-tiba didengarnya suara ketukan pintu yang lirih dari luar. Pintu hanya dirapatkan, maka Dian Susi segera bersuara: "Apakah Siau-

lan? ...masuklah!"

Seorang babu cilik yang mengenakan pakaian serba merah beranjak masuk sambil menyunggi setumpukan pakaian, katanya sambil menunduk: "Siau-lan patuh akan petunjuk nona," biji matanya besar bundar, mulutnya kecil mungil, meski dalam keadaan wajar, tidak marah, namun bibirnya suka dimonyongkan.

Hampir saja Dian Susi berjingkrak kaget dan berteriak. Dian Sim! Babu kecil ini terang adalah Dian Sim adanya. Dian Susi memburu maju terus memeluknya, pakaian yang dibawa babu cilik itu sampai kena terjang jatuh.

"Budak mampus, budak setan! Bagaimana kau bisa lari kemari? Kapan kau tiba?"

Babu cilik ini membelalakkan matanya, amat heran dan kaget, sahutnya tergagap: "Aku sudah dua tahun di sini."

Dian Susi cekikikan, makinya: "Setan cilik, mau menipuku ya? Memangnya kau kira aku sudah tidak mengenalmu lagi?"

Budak cilik berkedip-kedip tanyanya: "Nona dulu pernah melihatku?" "Memangnya kau kira kau tidak pernah melihatku?"

"Tidak!"

Dian Susi tertegun, katanya: "Kau sudah tidak mengenalku lagi?" "Tidak kenal."

Dian Susi mulai kaget, dia kucek-kucek mata, katanya: "Kau... apakah kau bukan Dian Sim?" "Aku bernama Siau-lan atau Kembang Cilik," dari nadanya yang bersungguh, terang perkataannya bukan bualan, juga tidak berkelakar.

"Apakah kau kesurupan setan?" teriak Dian Susi.

Mengawasi orang Siau-lan seperti mengawasi orang yang sakit ingatan, segera dia menunduk seperti segan bicara, katanya: "Kalau nona tidak punya urusan, biar kusiapkan air untuk nona mandi," tanpa menunggu jawaban, secepat angin dia lari pergi.

Dian Susi melongo. "Apa dia bukan Dian Sim? Jikalau bukan kenapa tampangnya begitu mirip dengan Dian Sim, sampai pun mulutnya yang monyong, mirip benar seperti pinang dibelah dua." Demikian Dian Susi berpikir dan menduga-duga. Namun dia harus percaya akan kenyataan.

Dua orang babu tua yang berbadan kekar masing-masing menjinjing sebuah baskom besar yang terukir indah buat mandi. Air di dalam baskom jernih dan berbau harum, malah masih hangat mengepulkan asap wangi.

Tangan Siau-lan membawa handuk dan sabun, katanya: "Apa perlu aku melayani nona mandi?"

Lama Dian Susi menatapnya, lalu menggeleng, tiba-tiba berkata keras: "Benarkah kau bukan Dian Sim?"

Siau-lan berjingkrak kaget sampai menyurut mundur, dengan keras kepalanya menggeleng- geleng, seperti melihat setan saja, cepat sekali dia sudah lari menghilang.

Dian Susi menghela nafas, katanya dengan getir: "Benar-benar aku melihat setan... mungkinkah ada kejadian begini kebetulan dalam dunia ini..." Hatinya diliputi kecurigaan, namun air hangat dalam baskom yang harum itu sungguh menarik perhatiannya. Dalam dunia jarang ditemukan gadis cantik pingitan yang tidak mandi selama tiga hari, masakah dia kuasa melawan daya tarik air wangi yang hangat ini setelah badannya kotor, dekil dan gerah. "Apapun yang terjadi, aku harus mandi dulu."

Dengan menghela nafas, pelan-pelan Dian Susi mencopoti kancing bajunya. Di sebelah depan kebetulan ada sebuah cermin besar bundar telur, potongan badannya yang langsing semampai berisi dan montok seketika terbayang di dalam cermin. Perawakannya mungkin tidak sesubur dan matang seperti potongan Thio Hou-ji yang masak, tapi kulit badannya halus mengkilap, dagingnya terang lebih kenyal dan kekar, malah mengandung kekenyalan dari kulit daging seorang gadis perawan. Kedua pahanya lencir panjang, tumitnya seperti lebah bergantung, lekuk likunya mempesona.

Badan sesuci ini belum pernah terjamah, apalagi dipeluk laki-laki. Memang dia sedang menunggu, menunggu seorang laki-laki yang patut dan menjadi pilihannya, berapapun lama dia harus menunggu tidak menjadi soal, yang terang Cin Ko adalah seorang calon yang sedang ditunggu.

Seketika merah jengah selebar mukanya bila membayangkan adegan yang tidak senonoh, seolah-

olah sekujur badannya menjadi panas lebih hangat dari air wangi di dalam baskom besar itu. Pakaian dalamnya yang ketat sudah basah oleh keringatnya, potongan badannya yang sempurna sudah terbayang di dalam cermin. Pelan-pelan dia mulai membuka pakaiannya. Mendadak dia terbelalak kaku.

Di kamar ada sebuah ranjang besar yang empuk dan nyaman. Di atas ranjang bergantung kelambu yang tersingkap. Dari pandangannya melalui cermin tampak oleh Dian Susi di balik kelambu yang bergantung itu terdapat dua lubang bundar, sinar terang menyorot dari kedua lubang bundar ini. Sorot mata yang bersinar.

Jadi ada seseorang bersembunyi di balik kelambu tengah mengintip gerak-geriknya. Keruan kaget dan gusar, sampai sekujur badan Dian Susi kaku dan mati rasa. Dengan kencang dia gigit bibir, sedapat mungkin menekan perasaannya, pelan-pelan dia membuka kancing pertama, lalu lebih pelan lagi membuka kancing kedua...

Mendadak dia menerjang maju serta menarik kelambu sekuat-kuatnya. Begitu kelambu tertarik jatuh, dilihatnya seseorang sembunyi di balik kelambu. Seorang yang kaku dan tidak bergeming.

Biasanya seseorang yang mengintip gadis mandi dan ketahuan, tentunya amat kaget dan gugup. Tapi bukan saja orang ini tidak bergerak, raut mukanya sedikit pun tidak menunjuk rasa kaget.

Apakah dia bukan manusia, memangnya patung manusia yang diukir dari kapur? Tapi Dian Susi tahu dia adalah manusia tulen, manusia yang ia kenal.

Kek-siansing!

Kek siansing yang mirip setan gentayangan, ternyata muncul di tempat ini. Saking kaget tenggorokan Dian Susi serasa tersumbat, ingin berteriak, suara tidak keluar, ingin lari kaki tak kuasa bergerak. Kek-siansing sendiri pun tidak bergerak. Demikian kaki tangan, biji matanya pun tidak bergeming. Kedua biji matanya yang guram seperti mata iblis mendelong kaku menatap Dian Susi, sorot matanya tidak membawa perasaan apa-apa. Tapi tiada mimik jauh lebih menakutkan daripada mimik perasaan.

Betapa susah Dian Susi mengangkat kakinya, segera dia lari sipat kuping. Setiba dia di luar pintu Kek-siansing tetap tidak bergeming. Kenapa dia tidak mengejar? Memangnya dia tahu Dian Susi takkan lolos dari tangannya?

Dian Susi sembunyi di balik pintu, pelan-pelan dia mengintip ke dalam, tiba-tiba didapatinya kedua biji mata Kek siansing tetap tertuju ke tempatnya di mana dia tadi berdiri. "Apakah dia kesurupan setan?" Meski tidak mau percaya seratus persen, namun bila hal ini kenyataan bukankah merupakan kesempatan paling baik bagi dirinya menuntut balas melampiaskan kemendongkolan hatinya? Dendamnya merupakan daya tarik yang tak terlawankan. Dengan kertak gigi, segera dia melangkah setindak demi setindak.

Kek siansing tetap tidak bergerak. Pelan-pelan Dian Susi membungkuk badan, dari atas kursi dijemputnya tempat sabun yang keras seperti terbuat dari perak. Siapapun bila kepalanya terketuk benda sekeras ini, saking kesakitan pasti berjingkrak. Dengan kerahkan seluruh kekuatannya Dian Susi timpukkan tempat sabun perak itu.

"Tuk!" dengan telak dan keras sekali mengenai batok kepala Kek siansing.

Kek siansing tetap tidak bergerak, biji matanya pun tidak bergerak, seolah-olah dia tidak merasa sakit sedikit pun. Tapi kepalanya sudah terketuk luka keluar kecap. Bila seseorang kepalanya terketuk bolong, jikalau sedikit rasa pun tidak, umpama dia bukan orang mati, tentu sudah sekarat.

Tidak kepalang tanggung Dian Susi angkat kursi kecil terus dilempar pula dengan seluruh kekuatannya. Kali ini keadaan Kek siansing lebih mengenaskan, lubang kecil di kepalanya menjadi lubang besar, darah bercucuran. Tapi dia tetap tidak bergeming.

Lega hati Dian Susi, lekas dia memburu maju, "plak" dengan keras dia gampar pipi orang. Tapi orang tetap tidak bergeming.

Dian Susi tertawa senang dan dingin, katanya penuh kebencian: "Orang she Kek, tak nyana kau pun mengalami nasibmu yang mengenaskan ini.” Dian Susi sebetulnya bukan gadis jahat dan bertangan gapah, tapi dia sungguh benci terhadap laki-laki yang satu ini, segera dia renggut rambut Kek siansing, terus menjinjing badan orang, kembali tangannya melayang pergi datang menghajar pipinya. Masih belum juga amarahnya terlampias, air panas buat dia mandi masih panas. Bila kepala orang yang bocor ditekan ke dalam air sepanas itu, betapa rasanya dapatlah kita bayangkan. Dian Susi tekan kepala Kek siansing ke dalam baskom air. Buih tidak terlihat dari pernafasan hidungnya, memangnya orang ini sudah mampus?

Lama kelamaan tangan Dian Susi terasa kemeng, segera dia angkat kepala orang. Mata orang masih mendelong, sedikit pun tidak menampilkan perasaan apa-apa. Keruan Dian Susi menjadi gelisah dan gugup, teriaknya: "Hai, kau dengar aku bicara? ...kau sudah mampus belum?"

Sekonyong-konyong seorang menjawab dengan tertawa: "Dia belum mati, tapi tidak dengar apa yang kau katakan."

***** Suara tawanya seperti kelinting berdering. Jarang ada orang tertawa semerdu ini. Tanpa berpaling Dian Susi sudah tahu yang datang adalah Thio Hou-ji.

"Kau kenal orang ini?" tanya Dian Susi gemas.

"Orang seperti ini belum setimpal untuk berkenalan dengan aku," sahut Thio Hou-ji. "Kalau demikian, cara bagaimana dia bisa menjadi tamu dalam kamar ini?"

"Masa kau tidak tahu kapan dan cara bagaimana dia masuk kemari?" "Sudak tentu aku tidak tahu."

"Aku juga tidak tahu," sahut Thio Hou-ji tertawa. "Tapi aku tahu kenapa dia berubah jadi begini rupa."

"Lekas katakan."

"Memangnya kau tidak bisa lihat bila dia tertutuk Hiat-tonya?"

Baru sekarang Dian Susi sadar, Kek siansing memang tertutuk Hiat-tonya, jelasnya bukan satu dua Hiat-tonya saja yang tertutuk. Ilmu silat Kek siansing tidak lemah, hal ini diketahui dengan jelas, jikalau ada orang di luar tahunya tiba-tiba menutuk tujuh Hiat-tonya, peristiwa ini sungguh sulit dipercaya.

"IKaukah yang menutuk Hiat-tonya?" tak tahan Dian Susi bertanya. "Bagaimana mungkin aku? Aku tidak punya kepandaian setinggi itu?" "Lalu siapa kalau bukan kau?"

"Coba kau terka, kalau tidak tepat, baru kuberitahu kepadamu."

"Aku tidak bisa main terka," mulutnya bicara namun dalam hati dia sudah menduga mendadak dia berjingkrak dan berteriak: "Apakah Cin Ko?"

"Tepat sekali."

Ternganga mulut Dian Susi, mata pun terkesima, seolah hampir jatuh pingsan. Lama sekali baru dia menarik nafas panjang, katanya: "Dia... dia sudah datang?"

"Sudah datang setengah hari," Thio Hou-ji menjelaskan: "Waktu dia datang kebetulan dilihatnya ada seseorang berindap-indap memasuki loteng ini, secara diam-diam dia membuntutinya, waktu orang ini membuat lubang di kelambu, dia lantas menutuk Hiat-tonya." Di belakang kelambu memang terdapat sebuah jendela kecil, tentunya dia menerobos masuk lewat jendela ini.

"Dan anehnya," demikian kata Thio Hou-ji lebih lanjut, "banyak kejadian di belakang kelambu, namun sedikit pun kau tidak tahu memangnya saat itu kau sedang mimpi?"

Memang Dian Susi sedang mimpi. Mimpi yang tidak boleh diketahui orang lain. Dengan muka merah dia menunduk, katanya "Di mana dia sekarang?"

"Setelah dia menutuk Hiat-to orang ini lantas menemui aku..." I

Tiba-tiba Dian Susi menukas, katanya mengertak gigi: "Waktu itu kenapa dia tidak memberitahu

kepadaku, supaya aku tidak... tidak..." tak kuasa dia mengatakan "diintip" oleh orang ini.

"Walaupun dia bukan seorang Kuncu, tapi waktu melihat anak gadis sedang copot pakaian, tentu tidak enak dia keluar menemui kau."

Sepanas gosokan muka Dian Susi, katanya tertunduk malu: "Dia.. dia tadi pun sudah melihatnya?"

"Jikalau di atas kelambu ada dua lubang, umpama seorang Kuncu, siapapun takkan kuasa menahan diri untuk tidak mencuri lihat."

Bukan saja mukanya merah dan panas, jantung Dian Susi pun berdebar-debar, katanya tersendat: "Dia apa yang dia katakan tentang diriku?"

"Dia bilang kau amat cantik, pahamu pun tak kalah indahnya." "Apa benar?"

"Kenapa tidak benar? Jikalau aku laki-laki, aku pun akan berkata demikian. Sekarang aku hanya ingin tanya kepadamu, kau ingin menemuinya tidak?"

"Di mana dia?"

"Sekarang berada di bawah loteng, aku sudah membawanya kemari."

Belum habis orang bicara Dian Susi sudah putar tubuh berlari keluar. Lekas Thio Hou-ji menariknya, katanya dengan memonyongkan mulut ke badannya: "Dengan keadaanmu seperti ini kau hendak menemuinya?"

Merah muka Dian Susi, dengan malu-malu dia cekikikan geli sendiri. "Umpama tergesa-gesa tidak sempat mandi, paling tidak toh cuci kaki dulu." Air masih panas.

Kek siansing segera disusupkan ke kolong ranjang.

Berkata Thio Hou-ji: "Sementara biar dia meringkuk di bawah sini, tunggu kapan kalau ada waktu untuk membereskan dia."

Dengan kecepatan maksimun Dian Susi mencuci kakinya, tapi waktu dia ganti pakaian gerak- geriknya malah lamban. Ada beberapa stel pakaian, setiap stel sama bagus, pilih sana pilih sini, akhirnya Dian Susi minta bantuan Thio Hou-ji untuk memilihkan.

Mode dan warna apa yang biasa disukai laki-laki, sudah tentu Thio Hou-ji jauh lebih tahu. "Coba kau bantu, pakai yang mana lebih baik?"

Dari kepala sampai kaki Thio Hou-ji mengamat-amati sekian lama, katanya: "Menurut pendapatku, waktu dalam keadaan polos paling cantik," dengan kata-katanya ini sekaligus membuktikan bahwa Thio Hou-ji memang paling memahami selera laki-laki, coba pembaca katakan, benar tidak?

*****

Waktu beranjak turun dari tangga loteng, jantung Dian Susi serasa hendak copot.

Bagaimana sebetulnya tampang Cin Ko? Adakah segagah dan setampan apa yang selalu dia bayangkan? Dian Susi hanya tahu bahwa badannya tentu penuh dihiasi bekas-bekas bacokan golok. Tapi badan laki-laki yang penuh dihiasi codet-codet luka bacokan golok bukan saja tidak jelek, malah kelihatannya semakin gagah, seperti pahlawan perang.

Bagaimana juga, akhirnya cita-citanya untuk bertemu dengan tokoh besar yang diagul-agulkan dalam sanubarinya akan tercapai. Dian Susi pejamkan mata, waktu kakinya menginjak anak tangga terakhir baru matanya terbuka lagi. Maka dia pun sudah melihat Cin Ko. 

*****

Ternyata Cin Ko yang ini mirip dengan bentuk bayangan dalam sanubarinya, laki-laki yang selalu menjadi idam-idaman setiap gadis dalam alam mimpinya. Perawakannya sedikit tinggi dibanding laki-laki umumnya, pundaknya lebar, pinggangnya kecil, kelihatan kekar dan bertenaga, terutama di kala mengenakan pakaian ketat serba hitam. Kedua biji matanya besar dan

bersinar, penuh diliputi kegairahan hidup. Selembar sapu tangan merah terikat di lehernya. Tiba- tiba didapati oleh Dian Susi, sapu tangan merah terikat di leher memang jauh lebih bagus daripada terikat di bagian lain. Pandangan Cin Ko mengandung senyum hangat, siapapun yang melihat sepasang matanya, takkan lepas untuk memperhatikan codet-codet bekas bacokan golok di mukanya. Begitu Dian Susi turun dia lantas berdiri, bukan saja sorot matanya mengandung rasa simpatik, mukanya pun dihiasi seyuman hangat dan gagah. Agaknya dia amat senang bertemu dengan Dian Susi, malah sikapnya tidak canggung.

Jantung Dian Susi berdetak keras. Seharusnya dengan wajar dia maju menghampiri, tapi mendadak ia tertegun. Mendadak ia teringat telah melupakan sesuatu. Sejak pertama mendengar nama dan kisahnya Cin Ko, dalam benaknya sudah sering terbayang banyak angan-angan. Maka dia sudah membayangkan bagaimana keadaan dirinya bila berhadapan dengan Cin Ko kelak, terbayang pula bila dirinya rebah di dalam pelukannya, betapa hangat terhibur dan mesranya.

Malah dia pun pernah membayangkan kehidupan berumah tangga mereka berdua, dia akan menemani pujaan hatinya minum arak, main catur, naik kuda, mengiringinya berkelana di Kangouw, dia ingin merawat dan melayani segala keperluannya. Setiap pagi, dia akan ganti selembar sapu tangan merah untuk diikat di lehernya, baru menyiapkan sarapan pagi yang paling menjadi kesenangannya. Segalanya pernah terpikirkan, entah berapa kali dia mengulanginya.

Tapi justru lupa akan satu hal. Dia lupa memikirkan begitu berhadapan, apa yang harus dia katakan.

Di dalam angannya, begitu berhadapan dengan Cin Ko, dirinya sudah rebah di dalam pelukannya. Sekarang tentu dirinya tidak bisa berbuat demikian, tentunya dia harus mengajak ngobrol dulu, namun mulutnya justru terkancing, tidak tahu apa yang harus dikatakan? Demikian pula Cin Ko agaknya kehilangan akal sehatnya, dia pun diam saja sekian lama, akhirnya cuma bersuara ala kadarnya: "Silahkan duduk!"

Dengan menunduk Dian Susi mendekati kursi lantas duduk, sampai detik ini dia masih tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sebetulnya ini kesempatan baik yang ia dapatkan setelah mengorbankan banyak ujian, sedikitnya dia harus bersikap wajar, pintar dan supel, tapi di dalam suasana seperti ini, dia justru menjadi orang pikun yang lidahnya kelu.

Saking gemas ingin rasanya dia korek keluar lidah sendiri. Thio Hou-ji justru berpeluk tangan, dia tetap berdiri di anak tangga dengan tersenyum lebar mengawasi mereka.

Untung Siau-lan si babu cilik berjalan masuk membawa nampan yang berisi dua cangkir teh, masing-masing diletakkan di atas meja dekat mereka. Dia menunduk kepala, waktu tiba di hadapan Dian Susi, seolah-olah mengatakan dua patah kata apa yang amat lirih. Tapi Dian Susi sedang pusing tujuh keliling, hakikatnya tidak mendengar apa yang dia bisikkan. Terpaksa Siau- lan menyingkir.

Waktu pergi mulutnya menyong dan cemberut, kelihatan gugup dan marah. Akhirnya Thio Hou-ji beranjak turun dengan langkah gemulai, katanya: "Di sini bukan toko boneka lho!"

"Toko boneka?" Cin Ko keheranan.

"Jikalau bukan toko boneka, masa ada dua boneka besar yang sama-sama bungkam dan membisu?"

Cin Ko tertawa, kepalanya terangkat memandang keluar jendela, katanya: "Cuaca hari ini teramat baik."

"Hahahaha!" Thio Hou-ji tertawa besar. "Apa artinya hahaha?"

"Tiada arti apa-apa, seperti apa yang kau katakan, obrolan yang tak berguna." Cin Ko menyengir tawa, katanya: "Apa yang harus kukatakan?"

"Paling tidak kau tanya kepadanya, siapa nama dan shenya? Dimana tempat tinggalnya?... memangnya aku harus mengajarkan kepadamu?"

Cin Ko batuk-batuk kering dua kali, tanyanya: "Nona she apa?" "Aku she Dian, bernama Dian Susi."

Thio Hou-ji mengerut kening, katanya: "Lho orang sedang bicara apa nyamuk berbunyi?"

Dian Susi tertawa geli oleh godaan yang lucu ini, suasana dalam rumah sedikit longgar. Baru Cin Ko hendak berkata pula, babu cilik yang molek itu tahu-tahu melangkah masuk pula dengan menunduk, langsung menghampiri Dian Susi serta mengambil cangkir tehnya di atas meja, entah kenapa, tiba-tiba tangannya gemetar, secangkir air teh itu seketika menciprat membasahi pakaian Dian Susi. Tersipu-sipu Siau-lan membersihkan pakaian Dian Susi dengan menggosoknya kian kemari.