Telapak Setan Jilid 21 : Tawaran menarik Tiong-cu dari Tibet

Jilid 21 : Tawaran menarik Tiong-cu dari Tibet

KETIKA melihat ada jalan lewat di belakang keenam gadis cantik: itu, tanpa berpikir panjang Malaikat suci dari lima bukit segera melancarkan satu pukulan kearah enam orang gadis itu dengan jurus Heng-kam-tiong-long atau mengejar ombak yang menggulung,

Sementara tubuhnya miring kesamping dan berusaha menerobos keluar dari pintu rahasia itu. Baru saja dia menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar perempuan dari Tibet itu berseru.

"Eeeeii tua bangka, sebelum nonamu memberi perintah, engkau hendak kabur kemana?" Gak In Ling hanya menyaksikan Tiongcu dari Tibet menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu Malaikat suci dari lima bukit sudah tergetar kembali ketempat semula, sedangkan pintu batu itu pun secara otomatis telah menutup kembali.

Dengan pandangan bingung Gak In Ling mengawasi beberapa orang gadis itu, mukanya berubah menjadi merah padam, sedang dihati pikirnya. "Usia mereka masih amat muda, kenapa gadis-gadis ini sedikitpun tak punya rasa malu ? Heran ?" Buru-buru ia melengos kearah lain. Dalam pada itu Tiongcu dari Tibet dengan pandangan dingin menyapu sekejap kearah Yap Thian Leng yang lemas dan patah semangat, kemudian ujarnya dengan dingin.

"Yap Thian Leng, bagaimanakah selisih ilmu silat yang kau miliki jika dibandingkan dengan kepandaian silatku, aku rasa dalam hati kecil mu kau pasti tahu bukan ? Bila engkau masih juga tak tahu diri,jangan salahkan kalau aku suruh engkau berbaring diatas tanah sehingga tidak berkutik,jika sampai begitu aku rasa dengan kedudukanmu rasanya kurang sedap dipandang mata bukan!!"

Ucapannya seram dan mengerikan, sehabis berkata ia segera berpaling kearah Gak ln Ling dan berkata sambil tertawa. "Coba lihatlah, apakah mereka semua cantik jelita ?"

"Hmm Sebenarnya apa maksudmu ?" dengus Gak In Ling, tenaga dalamnya ketika itu sudah pulih beberapa bagian lagi.

"Maksudku ? Bukankah sudah tertera didepan mata ?" Jawab Tiongcu dari Tibet sambil tertawa," aku tak takut setelah tiga orang dayang itu mampus, engkau bakal kesepian Terutama sekali Dewi burung hong, bukankah begitu ? Hiiiiiiihh hiiiiiiihh... hiiiiiihh..."

Sesudah tertawa cekikikan, sambungnya lebih jauh. "Oleh karena itu, andaikata engkau merasa bahwa mereka masih mendingan, maka sampai waktunya keenam orang itu akan menjadi milikmu semua, apa yang hendak kau lakukan atas diri mereka, aku tak akan melarang ataupun mengganggu."

Hawa amarah berkobar dalam benak Gak In Ling, ia tertawa dingin dan berseru. "Engkau anggap aku dapat mendengarkan perintahmu?"

Tiongcu dari Tibet sama sekali tidak memperdulikan ucapan si anak muda itu, kepada ke enam orang gadis tersebut katanya.. "Dia sudah lelah, cepatlah bimbing dirinya untuk pergi beristirahat."

Baru pertama kali ini keenam orang gadis cantik itu menjumpai pemuda setampan itu, jantung mereka berdebar keras, ketika mendengar perintah itu mereka semua berseru kegirangan dan bersama-sama-menghampiri pemuda itu. Dengan ketakutan Gak In Ling mundur selangkah kebelakang, sepasang telapaknya disilangkan didepan dada, bentaknya. "Berhenti"

Enam orang gadis muda itu saling mengerlingkan matanya dan tertawa cekikikan, mereka tetap menerjang maju kedepan. "Kalau kamu semua sudah jemu hidup, silahkan saja maju kedepan " teriak Gak ln Ling sambil mundur terus kebelakang.

Mendadak pemuda itu merasakan punggungnya menumbuk sesuatu benda yang keras, ia tahu bahwa tubuhnya telah berada diujung dinding, sementara keenam orang gadis tersebut masih tetap mengejar dari belakang. Terlihatlah orang yang berada dipaling depan telah berada kurang lebih dua depa dihadapan Gak In Ling bau harum semerbak ciri khas seorang gadis tersiar memenuhi angkasa, hal ini ma kin mencemaskan hati si anak muda itu, dengan gusar teriaknya. "Enyah dari sini"

Mendadak dengan gerakan Tui sam-tiam-hay atau mendorong bukit membalik samudra, ia lancarkan satu pukulan dahsyat kedepan. Mimpipun keenam orang gadis itu ta kpernah menyangka kalau Gak In Ling dapat turun tangan sekeji itu terhadap diri mereka, sebab pengalaman-pengalaman sebelumnya telah meyakinkan hati mereka akan keberhasilan usahanya itu.

Oleh sebab itu tatkala serangan dahsyat yang dilancarkan Gak In Ling meluncur datang mereka sama sekali tak sempat untuk mengempos tenaga guna melindungi diri sendiri, saking terperanjatnya air muka mereka berubah hebat dan matanya terbelalak lebar. Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba tampaklah bayangan manusia berkelebat lewat dan tahu-tahu urat nadi Gak In Ling sudah dicengkeram oleh Tiongcu dari Tibet tersebut, terdengar ia tertawa dingin dan menegur. "Gak In Ling, apa yang hendak kau lakukan "

Sambil berpaling kearah enam orang gadis itu tambahnya.

"Kalian boleh segera mengundurkan diri dari sini" Dengan pandangan menurut keenam orang gadis itu menyapu sekejap kearah Gak In Ling, seakan-akan mereka menggerutu karena pemuda itu tidak menurut dan tak pandai mencari kesenangan hidup.

Dengan langkah yang lembut mereka segera mengundurkan diri kembali lewat pintu semula.

Kali ini Malaikat suci dari lima bukit tak berani punya ingatan untuk melarikan diri lagi.

Dengan penuh kegusaran Gak In Ling tertawa seram, serunya. "Haaaahh haaaaahh haaaaahh ilmu silat yang dimiliki Tiongcu benar-benar luar biasa sekali."

Tiongcu dari Tibet tertawa dingin. "Heeeehh heeeeeehh heeeehh... aku berbuat demikian tidak lain karena tubuhmu sudah mengidap racun yang amat keji sehingga ilmu silat yang kau miliki telah mundur sampai delapan sembilan puluh persen."

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ia bertanya kembali. "Gak In Ling, aku ingin bertanya kepada mu, sebenarnya engkau berhasrat untuk balaskan dendam bagi kematian ayahmu atau tidak ?"

"Aku rasa tidak akan segampang itu "Jawab sang pemuda dengan suara yang jauh lebih lembut.

"Tentu saja gampang sekali, asal engkau dapat memancing kedatangan tiga orang kemari maka urusan akan menjadi beres "

"Tiga orang yang mana ?" tanya Gak In Ling sambil tertawa dingin. Cahaya kilat memancar keluar dari balik mata Tiongcu dari Tibet.

"Gadis suci dari Nirwana, Dewi burung hong dan Thian-hong pangcu... "

"Hmm Aku sudah menduga sampai ke-situ."

"Ketahuilah Malaikat suci dari lima bukit, Kakek tujuh cacad. Budha antik, dua bersaudara dari Hui-in-cay serta Manusia muka seribu mereka semua adalah anak buahku, asal engkau bersedia anggukkan kepala maka dalam tiga jam aku bisa mempersembahkan pula batok-batok kepala mereka untukmu "

Gak ln Ling benar-benar tertarik oleh tawaran tersebut, akan tetapi ingatan lain telah menghalangi dirinya untuk berbuat demikian, ia tekan perasaan hatinya sendiri dan berkata dengan ketus.

"Aku takut jawabanku akan membuat engkau menjadi kecewa ”

"Hmm... Jadi engkau lebih suka memilih arak hukuman daripada arak kehormatan?" Gak In Ling adalah seorang manusia yang angkuh dan tak sudi tunduk dibawab perintah orang, mendengar perkataan itu segera jawabnya dengan ketus. "Asal engkau punya cara untuk menghukum diriku dalam menenggak arak hukuman tersebut, apa salahnya kalau cara itu kau pergunakan?"

Sementara itu perlahab-lahan Malaikat suci diri lima bukit telah mengangkat pedangnya, sepasang mata yang tajam menatap jalan darah Pay sim-hiat dipunggung Tiongcu dari Tibet tanpa berkedip. Tiongcu dari Tibei ambil keluar sebuah bungkusan yang berisi bubuk warna merah dari balik pakaiannya yang tipis, kemudian ujarnya kepada pemuda she Gak, "Asal engkau bersedia makan obat ini maka mau tak mau terpaksa engkau harus mendengarkan perkataanku."

"Berapa lama daya kerja obat racun itu?"

"Tiga bulan"

"Haaaahh baaaaaahh haaaahh... terlalu banyak "

"Maksudmu " satu ingatan berkelebat dalam benak Tiongcu dari Tibet ini.

"Batas usiaku hanya tinggal satu bulan, akan tetapi menurut pengamatanku dengan kesehatan badan yang kumiliki sekarang, paling banter hanya bisa hidup tujuh hari lagi, haaaahh haaaaahh , haaaaahh tujuh hari cukupkah itu?"

Pada waktu itulah, tiba-tiba terdengar Malaikat suci dan lima bukit membentak keras. "Lihat serangan"

Cahaya perak berkilauan, pedang kutung tadi laksana kilat meluncur kearah punggung perempuan dari Tibet.

Perempuan tersebut segera putar badan mencekal pedang tadi, sementara tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat enteng menotok jalan darah Ciau-keng hiat dibahu Gak In Ling.

Rupanya ia ada maksud untuk mendemonstrasikan kelihayannya dihadapan Malaikat suci dari lima bukit, sesudah berhasil mencengkram kutungan pedang tersebut tangannya segera meremas dan Kraaaass kraaaass Kutungan pedang tadi tahu-tahu sudah hancur berkeping-keping dan tersebar diatas tanah dalam bentuk bubuk kasar. Paras muka Malaikat suci dari lima bukit berubah hebat, senjata tersebut adalah senjata andalannya dan tentu saja ia mengetahui ..sampai di manakah keampuhan senjata tadi, meskipun bukan termasuk pedang mustika yang antik namun senjata tersebut bisa disegani oleh setiap umat persilatan tentu saja dapat dibayangkan bahwa benda itu bukan benda sembarangan. Tetapi Tiongcu dari Tibet dengan suatu remasan yang enteng ternyata mampu menghancurkan senjata tadi, dari sini bisa dilihat pula sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki perempuan itu.

Dengan pandangan dingin Tiongcu dari Tibet menatap wajah Ngo-gak Siu-kun tajam-tajam kemudian bertanya.

"Masih ada ilmu silat lain yang belum kau unjukkan keluar ?" Yap Thian Leng termasuk seorang jagoan licik yang ulung, mendengar pertanyaan itu ia segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak, "Haaaahh haaaaahh haaaahh aku menyadari bahwa diriku masih bukan tandingan dari Tiongcu" Perempuan itu tertawa.

"Kalau memang engkau sudah tak mampu mengalahkan nonamu, aku rasa hanya ada satu jalan yang bisa kau tempuh,

yakin mengikuti semua perintahku " Yap Thian Leng tidak menjawab, dalam hati ia berpikir. "Nampaknya ia hendak mempergunakan tenagaku untuk menghadapi ketiga orang gadis tersebut, aku harus baik-baik menunggangi situasi ini." berpikir demikian, dengan suara ketus ujarnya.

"Engkau bisa menenangkan diriku hanya terbatas dalam hal tenaga dalam, namun dalam cita-cita dan pikiran aku rasa engkau masih belum dapat menguasai diriku."

"Benarkah itu ?"

Malaikat suci dari lima bukit bergidik, namun diluaran dengan wajah setenang-tenangnya ia menjawab. "Aku percaya memang begitulah keadaannya "

Tiongcu dari lima bukit ayunkan bubuk obat ditangannya, lalu berkata. "Aku rasa batas usiamu tidak sampai tiga bulan belaka bukan ? Tetapi engkau harus tahu, setelah makan obat ini maka badanmu akan kurang segar dan setiap tujuh hari sekali harus menerima obat pemunah, cuma saja.... kalau memang engkau benar-benar mengira bahwa nonamu tak mampu menguasai jalan pikiranmu, maka silahkan saja untuk mencobanya." Tiba-tiba pintu gua terbuka dan muncullah seorang kakek, Malaikat suci dari lima bukit yang menjumpai orang itu dengan hati terperanjat segera berseru.

"Aaahh . Kakek tujuh cacad." Kakek tujuh cacad sama sekali tidak memandang sekejappun kearah Malaikat suci dari lima bukit, buru-buru dia lari kehadapan Tiongcu dari Tibet dan meminta dengan setengah merengek.

"Tiongcu, aku sudah tak tahan... aku menerima tawaranmu itu " Mukanya penuh rasa sakit, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya,jelas orang itu sedang mengalami suatu penderitaan yang sangat hebat. Tiongcu dari Tibet tertawa dingin, katanya.

"Bukankah engkau sudah pergi ?"

"Benar tapi.. tapi...."

"Nona tokh tak pernah membatasi kebebasanmu."

Sepasang lengan Kakek tujuh cacad yang membawa pedang mulai gemetar keras, seakan-akansedang menderita sakit panas yang tak tertahan mukanya berkerut kencang.

"Oohh Tiongcu " Rengeknya, "perduli engkau suruh aku berbuat apapun, aku bersedia untuk melakukannya... aku tak berani membangkang perintahmu."

Terperanjat hati Yap Thian Leng ketika mendengar perkataan itu pikirnya didalam hati. "Obat racun apakah itu ? Ternyata Kakek tujuh cacad yang tersohor akan kesadisan dan kekejamannya pun tunduk seratus persen dibawah perintahnya ?"

Berpikir sampai disini, tanpa sadar lagi bulu kuduknya pada bangun berdiri.

"Hmm " kata Tiongcu dari Tibet kemudian, "kalau begitu keluarlah dari sini dan dengan badan menggelinding diluar sana pasti ada orang yang akan memberi obat pemunah bagimu"

"Aaahh Hal ini mana mungkin bisa terjadi ?" pikir Ngo-gak Siu-kun dalam hati kecilnya.

Belum hilang ingatan tersebut, ternyata Kakek tujuh cacad benar-benar jatuhkan diri keatas tanah dan bergelinding keluar dari ruangan tersebut. Dengan pandangan dingin Tiongcu dari Tibet melirik sekejap kearah Malaikat suci dari lima bukit, lalu tegurnya

"Apakah Ngo-gak siu-kun ada berpendapat Iain ?"

"Obatmu itu benar-benar lihay sekali"

Tiongcu dari Tibet itu tertawa. "Setelah kau makan obat itu, nonapun akan memberi kebebasan bagimu " katanya.

"Apakah Tiongcu tidak takut kalau aku sampai menemukan obat pemunahnya ?"

"Silahkan saja mencari, asal engkau dapat menemukannya "jawab perempuan itu, selangkah demi selangkah ia maju menghampiri jago tua tersebut. Malaikat suci dari lima bukit yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, buru-buru teriaknya. "Tunggu sebentar"

"Ada apa ? Engkau setuju ?"

"Sedikitpun tidak salah "jawab Malaikat suci dari lima bukit sambil mengangguk.

"Kalau begitu telanlah obat tersebut"

"Masa akupun harus telan obat itu? Engkau tidak percaya dengan diriku...?"

"Inilah peraturan yang harus dilaksanakan oleh semua orang "

"Tapi setiap ucapan yang ku utarakan keluar tak pernah kuingkari kembali"

"Betul, dan aku sendiripun demikian." Malaikat suci dari lima bukit mulai sadar bahwa keadaan yang dihadapinya saat ini tak dapat diselesaikan secara baik-baik, segera ujarnya dengan cepat.

"Apakah Tiongcu dapat menyanggupi syarat yang kuajukan lebih dahulu."

"Menurut anggapanmu apakah aku dapat menyanggupi syaratmu tadi ?" Perempuan dari Tibet itu balik bertanya sambil tertawa.

"Jika Tiongcu dari Tibet menginginkan agar aku bisa tunduk sepenuh hati, tidak sepantasnya kalau kau tampik kehendak orang lain " Ucapan tersebut begitu terbuka dan terang terangan, seolah-olah perkataan yang disampaikan kepada sahabat karibnya sendiri.

"Hm-m Perkataanmu masuk juga diakal," sahut Perempuan dari Tibet itu sambil mengangguk," Coba katakanlah:"

"Kalau engkau tidak dapat mengabulkan permintaanku itu, diutarakan juga tak ada gunanya."

"Aku rasa, diriku masih punyahak untuk menampik permintaanmu itu bukan ?"

Paras muka Malaikat suci dari lima bukit berubah hebat, agaknya ia hendak mengumbar hawa amarahnya, akan tetapi setelah berpikir kembali dan menyadari bahwa ia sudah berada dibawah kekuasaan Tiongcu dari Tibet.

Jago tua inipun menyadari bahwa banyak bicara tak ada gunanya, "Haaaahh haaaaaahh haaaaahh Betul betul betul" Perempuan dari Tibet itu tertawa, katanya lagi "Hmm Engkau pandai melihat gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, tidak malu disebut sebagai jagoan dalam kolong langit. Nah utarakanlah syaratmu itu."

"Pertama, Tiongcu harus memberi kedudukan yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah kepadaku, sehingga bilamana perlu aku bisa mempergunakan tenaga mereka untuk mencapai perintah dari Tiongcu." Gak In Ling yang mendengar perkataan itu dalam hati merasa gelisah bercampur mendongkol, sayang ia tak bisa bicara hanya dalam hati, bathinnya dengan gemas. terpaksa sambil tertawa terbahak-bahak jawabnya.

"Bila orang ini berubah, maka para jago di daratan Tionggoan pasti akan mengalami nasib yang malang " Sementara itu Tiongcu dari Tibet telah menjawab sambil tertawa.

"Oooohh Hal ini tentu saja, cuma orang yang memberi obat penawar kepadamu itu mempunyai jabatan yang jauh lebih tinggi dari dirimu sampai waktunya aku bisa memberikan tanda perintah kepadamu, legakan saja hatimu."

"Kedua, engkau harus segera melenyapkan dia dari muka bumi," seraya berkata ia menuding kearah Gak In Ling.

"Mengapa ?"

"Sebab, hubungan diantara kita berdua telah diketahui semua olehnya "

"Tidak bisa jadi, nilai dirinya jauh lebih besar daripada dirimu, aku tak dapat membinasakan dirinya "

"Kalau memang Tiongcu hendak mempergunakan tenagaku, tidak sepantasnya kalau menggunakan pula dirinya!!."

"Hanya dia seorang yang dapat memancing kedatangan tiga orang Perempuan itu, maka aku hendak mempergunakan dirimu untuk memberi khabar kepada mereka, katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Gak In Ling masih hidup dan berada ditanganku."

"Bukankah mereka semua telah berada di-dalam cengkraman Tiongcu ?"

Paras muka perempuan diri Tibet itu berubah hebat, tiba-tiba ujarnya. "Meskipun pada saat ini mereka sudah terkurung didalam lambung bukit ini, bicara terus terangnya saja, kecerdikan mereka sama sekali tidak berada dibawahku, bila aku ingin menggunakan tempat ini untuk membinasakan mereka, rasanya hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar."

"Kalau dikurung terus menerus, bukankah mereka akan mati kelaparan dalam gua ini?"

"Justru persoalannya aku tidak bisa mengurung mereka terlalu lama."

Gak In Ling yang mend egar pembicaraan itu, diam-diam merasa kegirangan, pikirnya. "Asal mereka tidak mati, maka perempuan siluman inipun tak akan berhasil mencapai hasil

yang diinginkan." Pada saat ini, secara tiba-tiba timbullah kesan yang baik terhadap ketiga orang gadis tersebut.

"Bagaimana caranya untuk memberi kabar kepada mereka ?" Terdengar Malaikat suci dari lima bukit bertanya.

"Bila dugaanku tidak keliru, sekarang kemungkinan besar Dewi burung hong telah berhasil meloloskan diri, setelah lolos dia pasti akan berusaha mencari Gak In Ling, sedangkan lainnya dalam beberapa waktu kemudian tentu berhasil juga lolos dari sini, ketika itu aku bisa aturkan suatu tempat bagimu agar mereka datang menyelamatkan jiwamu."

Malaikat suci dari lima bukit putar biji matanya, dengan nada keheranan ia bertanya. "Kenapa sih engkau tidak pasang alat rahasia didalam ruangan batu ini?"

"Itu urusan pribadiku sendiri, perlu kuperingatkan kalau lain kali kalian berani memasuki lambung bukit ini lagi, maka tak akan segampang ini bisa mendapatkan ampun."

Ia melemparkan bungkusan berisi bubuk obat itu kehadapan Yap Thian Leng, tambahnya. "Nah Telanlah obat ini."

Yap Thian Leng sadar bahwa melawan hanya akan mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri maka tanpa banyak bicara lagi ia ambil obat itu dan segera ditelan kedalam perut. Melihat tingkah laku jago tua itu, Tiongcu dari Tibet tertawa dan mengangguk, ujarnya. 

"Hmm... Jika usahaku sukses, engkau terhitung salah seorang yang berjasa."

Ngo-gak Siu-kun tertawa getir. "Bila Tiongcu ingin memberi pahala, maka aku hanya mengharapkan pengampunan bagi jiwa ku."

"Aku rasa bukan itu saja. Nah Sekarang engkau boleh keluar dengan mengikuti jalan rahasia tersebut, kalau ada

jalan lewat tembusi saja terus, maka akhirnya engkau akan sampai ditempat yang kumaksudkan."

"Setelah bertemu dengan mereka, apa yang harus kukatakan ?"

Nafsu membunuh melintas diatas wajahnya, dengan seram ia menjawab.

"Katakan saja bahwa Gak In Ling telah di kurung diatas tebing Wa-cu-gay "

"Tiongcu sudah membuat persiapan disana?"

"Aku percaya baik engkau maupun mereka kurasa jauh lebih paham daripada aku sendiri, buat apa mesti banyak bertanya lagi ?"

"Kalau begitu aku mohon diri lebih dahulu " Dengan langkah lebar ia berlalu dari situ.

Sepeninggalnya Ngo-gak Siu-kun, Perempuan dari Tibet membopong Gak In Ling kedalam pelukannya dan berjalan menuju kepintu, sambil berjalan ujarnya tertawa.

"Sungguh tak kusangka engkau mempunyai kegunaan yang begitu besar." Ia berhenti sebentar, kemudian berseru tertahan dan tertawanya. "Aaaahh Rupanya wajahmu benar-benar sangat tampan, tidak aneh kalau Dewi burung hong begitu kesemsem dengan dirimu," Sambil tertawa cekikikan ia segera cium pipi pemuda itu, dengan penuh bernafsu. Gak ln Ling mendongkol bercampur gemas, namun pada saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menahan rasa dongkolnya didalam hati....

-oo0dw0oo-

Batu hitam menonjol tinggi keatas, bersusun dan bertumpuk-tumpuk sehingga menyelimuti seluruh jagad, disitu

tak ada pohon, juga tak ada rumput, semuanya tandus dan menyeramkan.

Awan putih bergerak diudara. kabuttipis bagaikan asap menyelimuti bawah tebing, di-tengah kesunyian terasalah penuh mengandung nafsu membunuh yang tebal.

Inilah yang dinamakan tebing Wan-ciu-gay, seperti namanya monyet-monyetpun sukar untuk mendaki keatas bukit tersebut, dapat dibayangkan betapa berbahayanya tempat itu.

Diatas puncak tebing terdapat sebuah tonjolah batu yang menjulang ketengah udara, dengan tenang Gak In Ling duduk disana, empat buah rantai besi yang amat besar masing-masing merantai lengan dan kakinya, membuat pemuda itu mampu mengerahkan tenaga. Padahal rantai itu sama sekali tak ada gunanya, kerena sejak untuk kedua kalinya Gak In Ling menggunakan jurus Hujan darah menggenangi jagad, tenaga dalam yang dimilikinya masih belum pulih kembali. Sengatan hawa panas seharian penuh membuat wajah Gak In Ling yang putih terbakar menjadi hitam kemerah-merahan. Memandang sang surya yang mulia tenggelam diufuk barat, diam-diam Gak In Ling berdoa dalam hatinya.

"Semoga Thian mengasihani umatnya dan jangan dibiarkan mereka datang kemari...." Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, serentetan suara yang kasar segera berteriak,

"Hei.. keparat cilik,.engkau lapar tidak ?" Gak In Ling menengadah dan memandang sekejap kearah dua orang pria kekar itu,

kemudian sambil tertawa dingin jawabnya. "Kalau aku iapar, aku bisa memanggil dirimu "

"Hmm Apakah kami khusus melayani kebutuhanmu ?" seru pemuda yaag ada disebelah kanan.

"Kalau begitu kalian tak usah mengurusi diriku lagi."

"Tapi kami hendak mengawasi dirimu." teriak pria yang ada disebelah kiri dengan gusar. Gak In Ling segera tertawa dingin.

"Apakah kalian percaya mempunyai kemampuan untuk berbuat begitu?"

Dua orang pria itu segera maju selangkah kedepan, katanya. "Jadi engkau hendak mencoba?"

"Haaaahh haaaaahh haaaaahh.... meskipun aku sudah dirantai disini, namun aku masih tetap tak pandang sebelah matapun terhadap kalian berdua." Mendengar ucapan ini, dua orang pria tersebut menjadi gusar sekali, mereka membentak keras dan bersama-sama menerjang kedepan, tangan mereka secepat kilat menyambar rantai yang membelengu kaki pemuda itu.

Dalam keadaan seperti itu, walaupun ilmu silat Gak In Ling terganggu dan tak bisa dipergunakan, akan tetapi jurus serangannya masih utuh.

Melihat datangnya ancaman, sepasang kaki segera ditarik kebelakang, lalu dengan jurus burung hong mematuk ular ia tendang dada kedua orang pria itu sehingga menjerit kesakitan, namun mereka masih tetap mencekal rantai kakinya Seorang memegang sebuah rantai, dua orang pria itu tertawa seram dan berseru.

"Tiongcu telah berpesan, agar ketiga orang dayang itu merasa kasihan terhadap dirimu, terpaksa kita harus memberi sedikit pelajaran kepadamu. Nah Lo-Thio. mari kita tarik kakinya"

Dua orang itu segera rentangkan kaki pemuda she Gak itu dan siap menariknya.

"Hm-m Kalian masih belum pantas untuk berbuat begitu," serentetan suara dingin berkumandang datang.

Dua orang pria itu segera berpaling mereka rasakan matanya menjadi silau dan tahu-tahu dihadapan mereka berdua telah berdiri seorang perempuan berusia empat puluh tahunan yang berdandan kraton, agung dan cantik sekali.

"Siapa engkau?" tegur pria tersebut.

"Hmm Tanya saja kepada raja akhirat..." sambil berkata perempuan cantik itu ayunkan telapaknya dan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dua orang pria tersebut mencelat kedalam jurang.

Serangan itu benar-benar luar biasa dan membuktikan bahwa kepandaiannya lihay sekali sebab kedua orang pria tadi tidak sempat menjerit kesakitan sebelum ajalnya tiba. Gak In Ling sendiri dengan termangu-mangu memandang keatas wajah perempuan cantik yang bermuka dingin itu, ia tak tahu apa yang hendak dilakukan perempuan tadi atas dirinya hal ini membuat dia merasa amat tidak tenteram.

Perlahan-lahan Perempuan cantik berdandan kraton itu maju kedepan, setelah memutuskan tantai yang membelenggu kaki tangan Gak ln Ling, ujarnya dengan dingin. "Berdiri"

Perlahan—lahan Gak In Ling bangkit berdiri, ujarnya dengan hambar. "Kalau kulihat dari sikap nyonya, dapat ku ketahui bahwa maksud kedatanganmu bukanlah untuk menyelamatkan jiwaku."

Wajah perempuan cantik itu agak berubah akan tetapi segera lenyap kembali, tegurnya dengan dingin.

"Kenalkah engkau dengan seorang perempuan yang bernama Bwee Giok Siang...?"

Gak In Ling tertegun.

"Kenapa engkau ajukan pertanyaan itu?"

"Oooh....jadi engkau kenal dengan dirinya ?" seru Perempuan cantik itu dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Gak In Ling mengangguk.

"Bukan saja kenal, dia adalah isteriku "

"Bagus,jawabanmu itu sama artinya dengan kau mengumumkan kematian bagi dirimu sendiri"

"Siapakah engkau ?" tanya Gak In Ling dengan hati bergetar keras.

"Suhunya Bwee Giok Siang "jawab perempuan cantik itu sambil melancarkan sebuah pukulan kearah depan. Ketika mendengar bahwa orang ini bukan lain adalah gurunya Dewi burung hong Bwee Giok Siang, Gak In Ling semakin tertegun, pikirnya dengan hati keheranan. 

"Bukankah Bwee Giok Siang mengatakan bahwa gurunya telah meninggal. Sekarang mengapa hidup kembali? Dibalik persoalan ini pasti ada hal-hal yang tidak beres, atau mungkin ia mengetahui urusanku dengan Bwee Giok Siang.." Tatkala Perempuan cantik itu menyaksikan wajah Gak In Ling menunjukan kebingungan, ia mendengus dingin, katanya kembali.

"Urusanmu dengan anak Siang itu telah ku ketahui semua "

"Tapi aku rasa kedatangan Locianpwee bukanlah untuk menyelamatkan jiwa boanpwe "

"Sedikitpun tidak salah, aku datang kemari untuk membinasakan dirimu "

"Membunuh aku ? Antara aku orang she Gak dengan Locianpwee tokh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati ?"

"Gara-gara engkau maka anak Siang telah kehilangan semangat untuk melakukan perintah yang kuserahkan

kepadanya, selama engkau belum mati itu berarti selamanya pula ia tak akan melakukan perintahku, oleh sebab itu aku rasa harus melenyapkan dirimu dari muka bumi."

Satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, ia tertawa dan menjawab. "Adik Siang amat mencintai diriku, bila aku mati diapun akan mengiringi kematianku, pada saat itu bukanlah Locianpwee akan mengalami kerugian yang jauh lebih besar ?"

Perempuan cantik itu segera tertawa dingin.. "Heeehh.... heeeeehh heeeeehh seandainya kukatakan bahwa engkau mati ditangan para jago dari daratan Tionggoan, bisakah kau bayangkan apa yang hendak dia lakukan ?" serunya.

Mendengar perkataan itu Gak In Ling merasa amat terperanjat, ia tahu bahwa Bwee Giok siang atau Dewi burung hong adalah seorang gadis berwatak keras dan berangasan, seandainya ia mendengar bahwa dirinya mati ditangan para jago dari daratan Tionggoan, niscaya dia akan bersumpah untuk membalas dendam bagi kematiannya dan akibatnya pasti sukar dibayangkan,

-oo0dw0oo-

Gak In Ling termenung, waktu berlalu dengan cepatnya dalam keheningan dari bawah bukit berkelebat pula bayangan tandu dari Tionggoan Tibet, akan tetapi dalam sekejap mata telah lenyap kembali. Tampak Perempuan cantik itu menengadah dan bertanya sambil tertawa. "Bagaimanakah dengan siasatku ini ?"

"Locianpwee, rencana itu jauh berada diluar dugaanku akan tetapi sekali pun engkau tidak berbuat demikian,"

"akupun tak dapat hidup lebih dari tujuh hari lagi, adik Siang pun mengetahui juga akan hal ini."

"Maksudmu, engkau sudah tidak memiliki daya kekuatan untuk melawan?" seru Perempuan cantik itu sambil maju kedepan.

"Demikianlah kenyataannya "

Dalam hati Perempuan cantik itu segera berpikir.

"Paras muka orang ini benar-benar memikat hati, tidak aneh kalau anak Siang begitu mencintai dirinya, untung usianya tinggal tujuh hari lagi, sekalipun aku tidak membinasakan dirinya, diapun bakal mampus sendiri, dengan begitu aku pun tak usah malu terhadap anak Siang."

Berpikir sampai disitu ia lalu segera berkata.

"Loncatlah sendiri kebawah tebing dibelakang tubuhmu " Dengan pandangan tawa Gak In Ling menyapu sekejap kearah belakang tubuhnya, kecuali kepedihan tiada perasaan takut yang tercermin diatas wajahnya, ia menengadah dan menjawab.

"Locianpwee, apakah engkau bersedia mengabulkan sebuah permintaanku?"

"Engkau hendak mengulur waktu ?" Perempuan cantik itu melotot besar.

Gak-In Ling gelengkan kepalanya, putar badan dan berjalan menuju ketepi tebing, sambil berjalan katanya.

"Kalau memang begitu-ya sudahlah ".

Tubuhnya dengan cepat mencapai tepi tebing dan siap loncat turun kedalam jurang.

Perempuan cantik itu merasakan hatinya tercekat, tiba-tiba bentaknya keras. "Berhenti, katakanlah"

Tanpa berpaling Gak In Ling menjawab dengan tawa.

"Aku hanya berharap Locianpwee berdiri sebagai seorang angkatan tua agar bersedia menyampaikan kepada dirimu

serta dua orang gadis lainnya bahwa Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng tak bisa dipercaya "

Tiba-tiba ia enjotkan badan dan meloncat turun kedalam jurang.

Tiada ada jeritan kaget, juga tiada kata yang menyesal, semuanya berlalu dalam keheningan dan kesunyian.

Perempuan cantik itu berdiri menjublak, ia bergumam seorang diri. "Dikemudian hari anak Siang pasti tidak dapat memaafkan diriku, selama-lamanya takkan memaafkan diriku seperti pula aku-selalu merindukan dirinya, selama hidup tak dapat melupakan dirinya." 

Dibawah tebing berkelebat lewat seekor burung hong tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, burung hong itu adalah milik Gadis suci dari Nirwana.. Rupanya burung hong itu-dikendalikan seseorang dan rupanya orang yang berada diatas punggung burung hong tadi telah mengetahui bahwa diatas tebing hadir seorang tokoh sakti yang memiliki ilmu silat sangat lihay, burung hong itu tidak langsung terbang keangkasa, melainkan menyelinap dari bawah tebing dan menjauhi tempat itu, dalam sekejap mata lenyap diujung Langit.

Tiba-tiba Perempuan cantik itu yang berwajah agung itu menengadah keatas, mula-mula ia nampak terperanjat lalu girang, setelah itu dengan penuh kegusaran gumannya.

"Keparat dari mana yang begitu bernyali berani mencari gara-gara dengan diriku... Hmmnn"

Ia segera enjotkan badannya siap mengejar kearah mana bayangan burung hong itu melenyapkap diri.

Pada saat itulah dari atas tebing berkumandang datang suara seruan seseorang dengan suara yang merdu.

"Adik Lin, buat apa engkau mesti bersitegang dengan anak-anak ?" suaranya lembut dan sedap didengar.

Paras muka perempuan berdandan agung itu berubah hebat dan segera berpaling, tampaklah seorang sastrawan berusia empat puluh tahunan berdiri kurang lebih lima depa dihadapannya..

"Engkau belum mati?" teriak perempuan itu girang bercampur gusar.

Sastrawan berusia setengah baya itu tertawa. "Hahaha, kalau aku telah mati maka salah paham yang terjadi pada empat puluh tahun berselang selamanya tak bisa dyelaskan oleh siapapun."

Pada saat ini Perempuan cantik itu sudah dapat mengatasi perasaan emosinya, ia tertawa dingin dan berseru. "Salah paham? Engkau hendak membohongi siapa ? Dalam peristiwa yang terjadi empat puluh tahun berselang, bukan hanya engkau seorang yang mengetahuinya, buat apa engkau jual mahal?"

"Sedikitpun tidak salah, pada waktu itu dalam kalangan hadir pula engkau serta tuan rumah tempat itu."

Berbicara sampai disitu matanya menyapu sekejap kebawah tebing, seakan-akan sedang menciri sesuatu.

"Mungkin masih ada satuorang yang tidak kau perhitungkan pula." seru Perempuan cantik itu dengan ketus.

"Orang itu sudah mati, buat apa mesti diperhitungkan lagi?"

"Apa ?" Perempuan cantik itu terperanjat, "engkau katakan bocah berusia belasan tahun yang hadir di kalangan pada waktu itu telah dibunuh mati ?"

"Benar, ia tidak seharusnya melihat peristiwa itu dan tidak seharusnya punya nama besar dalam dunia persilatan, karena orang itu takut kalau sampai ia menyiarkan apa yang dilihatnya kedalam dunia persilatan, maka mau tak mau dia harus melenyapkan pula dirinya dari muka bumi."

Dari balik mata Perempuan cantik yangjeli memancar keluar sorot mata yang sangat tajam gumamnya. "Kwee Cay In.? engkau benar keji"

"Tetapi ia tidak sekeji dirimu "

Tertegun perempuan cantik itu, mendadak ia tertawa seram dan menyambung. "Sedikitpun tidak salah, aku memang keji, engkau mau apa ?"

"Ia membinasakan sang ayah dan engkau membunuh sang anak " Merah padam wajah perempuan cantik itu, mendadak bentaknya.

"Rupanya engkau cari mampus "

Dengan jurus Hong-wu-cing-beng atau burung hong menari ditengah cahaya hyau, ia lancarkan satu pukulan kearah sastrawan berusia pertengahan itu. Serangan itu meluncur datang secepat sambaran kilat namun sedikitpun tidak menimbulkan suara, segulung tenaga tekanan yang tak berwujud langsung menghantam dada sastrawan tadi.

Rupanya sastrawan berusia penengahan itu tahu lihay, wajahnya berubah dan buru-buru melayang empat tombak jauhnya dari tempat semula, tidak menunggu perempuan itu buka suara, ia telah berseru lebih dahulu. "Benarkah, aku tokh tidak salah berbicara?"

"Sejak kapan kau punya anak ?" bentak perempuan cantik itu sambil menghentikan serangannya.

Sastrawan berusia pertengahan itu gelengkan kepalanya.

"Sejahat-jahatnya harimau tak akan menerjang anaknya sendiri, yang kumaksudkan tentu saja bukan puteranya sendiri melainkan putera dari bocah cilik yang pada saat itu hadir dikalangan."

"Sungguhkah perkataanmu iiu ?" teriak Perempuan cantik tadi dengan hati terperanjat. Hawa gusar lenyap tak berbekas, mengikuti terlintasnya rasa kaget diatas wajahnya.

"Haaaaahh haaaaaahh haaaah......cuma saja, engkau membunuh dirinya, sedang aku telah menyelamatkan jiwanya "

Perempuan cantik itu merasa agak lega, ia segera tertawa dingin dan berkata. "Engkau tokh sudah mencari pahala, akan tetapi belum membayar harganya "

"Membayar apa ?"

"Membayar ini" Sambil berkata mendadak Perempuan ini melancarkan sebuah serangan dahsyat dengan sepasang telapaknya. Sastrawan berusia pertengahan tahun itu menyapu sekejap kebawah tebing, mendadak paras mukanya berubah hebat, sambil tertawa seram serunya. "Aku tidak punya kegembiraan untuk menemani engkau bermain kasar.... selamat tinggal"

Sambil berseru, dia enjotkan badan dan meluncur dua puluh tombak dari tempat semula.

Dengan tabiat sang perempuan cantik yang berangasan, ia tentu saja tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja sambil membentak dengan cepat ia mengejar sastrawan berusia pertengahan tahun itu

Belum lama setelah dua orang tokoh silat itu tinggalkan puncak tebing, mendadak...

"Blaaam " Ditengah ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga, puncak itu sudah meletus dan menghamburkan pecahan batu karang yang memenuhi seluruh angkasa, keadaan benar-benar mengerikan sekali.

-ooo0dw0ooo-

Cahaya sang surya yang sangat menyoroti bukit Tiang-pek-san yang putih terlapis salju, air bekas cairan salju mengalir dari atas puncak membasahi lambung dan kaki bukit.

Dalam sebuah ruangan besar di tengah bangunan mega yang berdiri diatas puncak, duduklah belasan orang jago persilatan.

Gadis suci dari Nirwana duduk dikursi utama, kedua belah sisinya berdirilah para anak buahnya termasuk pula Perempuan naga percma sakti serta su-put-san sekalian.

Kurang lebih dua tombak dihadapan Gadis suci dari Nirwana duduk membungkam seorang pemuda baju hitam, dia bukan lain adalah Gak In Ling. Mukanya yang tampan kini diliputi kepucat-pucatan, alis matanya berkenyit seakan-akan sedang memikirkan sesuatu persoalan. Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang membungkam dalam seribu bahasa. Suatu ketika, Gadis suci dari Nirwana menengadah dan melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian ujarnya. "Gak In Ling, kali ini adalah untuk kedua kalinya engkau menginjakkan kaki ditempat ini."

"Tapi kedatanganku kali ini bukan atas kehendak hatiku sendiri." jawab Gak In Ling sambil angkat muka.

Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, dengan perasaan tidak puas pikirnya. "Aku telah selamatkan jiwamu, bukan saja engkau tidak berterima kasih kepadaku malahan mengira akulah yang membawa dirimu kesini secara paksa, Hmm Tak kusangka dikolong langit terhadap manusia yang tak kenal budi seperti dia."

Diikuti gadis itu berpikir lebihjauh. "Seandainya saat ini ia mohon kepadaku, akan kuserahkan segala sesuatu yang kumiliki kepadanya bahkan kedudukan Lengcu pun aku boleh berikan kepada orang lain."

Mengikuti munculnya ingatan yang aneh itu, selapis rasa murung dan sedih berkelebat diatas wajahnya, ia tahu bahwa Gak In Ling tak mungkin akan mohon kepadanya karena ketika untuk pertama kalinya dia hendak berbuat begitu telah ditolak olehnya, kendatipun akhirnya ia menyesal akan tetapi pemuda itu tokh tak tahu kalau ia menyesal ? Sut-put-siang adalah seorang perempuan berwatak berangasan, melihat Lengcu nya lama sekali tidak buka suara, tak tahan lagi ia mendengus dingin dan ujarnya. "Hm.m Gak In Ling, apakah engkau sedikitpun tidak berperasaan ?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud kan?"

Sut-put-siang menjadi amat gusar, mendadak ia bangkit berdiri sambil teriaknya. "Aku tidak tahu, kenapa sampai sekarang engkau masih bisa hidup "

Gak In Ling mengerutkan dahinya dan rupanya dia hendak mengumbar hawa amarah, akan tetapi secara tiba-tiba perasaan itu ditahan kembali, mungkin dia merasa tidak ada gunanya berbuat begitu, bagaimanapun juga orang lain telah menyelamatkan jiwanya. Ia tertawa tawa dan berkata.

"Lengcu kalianlah yang telah menyelamatkan diriku, akan tetapi ia hanya menyelamatkan sesosok mayat belaka." Suaranya mendatar dan hambar sekali, ditengah kehambaran terselip pula kemurungan dan kekesalan.

Gadis suci dari Nirwana yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergetar keras. tiba-tiba dia angkat kepala dan menatap tajam wajah pemuda itu, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah kata pun yang mampu diutarakan keluar. Su-put-siang segera tertawa dingin dan berseru.

"Dalam lembah ini tersedia banyak tempat untuk mengubur mayat, kau..." Buru-buru Perempuan naga peramal sakti menarik ujung baju Su-put-siang, bisiknya dengan dingin.

"Sudah kau pertimbangkan akibatnya atas perbuatanmu itu?" Suaranya lirih namun mempunyai kekuatan yang amat besar untuk menggetarkan hati orang.

Walaupun Su-put-siang menjadi orang terlalu menuruti emosi, akan tetapi ia pun dapat menyadari sampai dimana pentingnya masalah perkumpulan mereka, mendengar perkataan itu dia berpikir sebentar kemudian paras mukanya berubah hebat, dengan sorot mata tidak tenang ia melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana.

Lengcu nya itu tidak memandang kearahnya juga tidak menunjukkan sikap menegur, akan tetapi matanya yangjeli terlampis cahaya air mata.

"Lengcu, hamba tahu salah " bisik Sut-put siang dengan suara tidak tenang.

Dengan sedih Gadis suci dari Nirwana gelengkan kepalanya. "Demi gengsi dan kehormatan kita, sudah sepantasnya kalau engkau berbuat demikian."

"Tapi Engkau tak usah banyak bicara lagi" tukas Gadis suci dari Nirwana sambil goyangkan tangannya. Bicara sampai disitu, sorot matanya yang tajam dialihkan ke atas wajah Gak In Ling, kemudian ujarnya dengan tegas. "Eagkau pasti tahu bukan, beberapa hari lagi engkau sanggup untuk mempertahankan diri?"

"Tidak sampai lima hari "jawab Gak In Ling sambil menghindari pandangan mata nya.

"Apakah engkau tidak ingin untuk mendapatkan obat pemunahnya ?"

"Lengcu tak akan menolong seorang pembuat bencana bagi umat persilatan bukan " ejek Gak In Ling sambil tertawa.

"Tapi saudara Gak," sela Perempuan naga peramal sakti, "aku rasa keselamatan hidup jauh lebih berharga dari segala-galanya bukan?"

Dengan tawa Gak In Ling gelengkan kepalanya. "Bagi aku orang she Gak tidaklah demikian,jiwaku telah kutitipkan diatas-banyak jiwa orang lain, asal aku bisa menebus jiwa-jiwa mereka itu barulah kehidupanku ada artinya."

"Engkau yakin sekali dengan pendapatmu itu ?"

"Tentu saja pada saat ini Lengcu masih mempunyai cukup kekuatan untuk menghalangi niatku ini."

"Aku rasa, aku tidak usah berbuat demikian "

Bagaimanapun juga ia merasa tak kuat menahan keputusan sikap Gak In Ling, sebab diapun seorang gadis yang angkuh dan tinggi hati.

"Benar" jawab Gak ln Ling sambil tertawa, "asal sudah lewat lima hari, engkau memang tak usah berbuat demikian."

"Gak In Ling, engkau benar-benar tak mau mohon kepadaku ?" seru Gadis suci dari Nirwana dengan paras muka berubah hebat.

Gak In Ling tertegun, tiba-tiba ia tertawa dan menjawab. "Lengcu, orang yang hendak mohon kepadamu sudah terlalu banyak, aku tokh tidak lebih hanya seorang manusia yang hampir mati, kenapa aku harus mohon kepadamu ?"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba seakan-akan sesuatu katanya kembali. .

"Baik, kita tak usah membicarakan persoalan ini, bagaimanapun juga Lengcu telah menyelamatkan jiwaku, perduli apakah kehidupanku ini hanya sementara waktu dan amat singkat, sudah sepantasnya kalau kuucapkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu itu."

Gadis suci dari Nirwana merasakan katinya menjadi hangat, dia baru untuk pertama kalinya mendengar Gak In Ling mengucapkan kata-kata yang begitu hangat terhadap dirinya.

Sepasang matanya yang lembut dan jernih menatap tajam wajah pemuda itu tanpa berkedip. Perempuan naga peramal sakti yang menyaksikan kejadian itu, segera ia berpikir didalam hatinya.

"Kehidupan adalah sesuatu yang sangat berharga, aku masih mengira kau Gak In Ling sudah tidak memperdulikan soal mati hidupmu lagi ? Rupanya engkau memohon dengan cara lain. "

Terdengar Gak In Ling dengan suara berat berkata. "Oleh karena itu aku ingin memberitahukan kepada Lengcu, akan seseorang durjana yang licik, bahaya dan tak boleh dihubungi."

"Siapa ?" Walaupun kecewa namun Gadis suci dari Nirwana masih mencoba untuk menenangkan hatinya.

"Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian leng, ia telah menggambungkan diri dengan perkumpulan rahasia dari Tibet."

Perempuan naga peramal sakti yang mendengar nama orang itu mula-mula tertegun, kemudian seakan-akan menyadari akan sesuatu pikirnya.

"Sungguh keji caramu ini, rupanya kau hendak meminjam kekuatan kami untuk membereskan dendam sakit hatimu. Hmm Gak In Ling engkau terlalu memandang rendah perkumpulan Yau-ti-leng "

Sementara itu Gadis suci dari Nirwana telah berseru tertahan, tiba-tiba ujarnya.

"Aku rasa engkau punya dendam sakit hati dengan Yap Thian Leng, bukan begitu ?"

Dalam hati Gak In Ling menghela napas panjang, tetapi diluaran dia menjawab. "Benar, dia adalah musuh besar pembunuh ayahku " Gadis suci dari Nirwana bangkit berdiri dengan tegas ia berkata. "Gak In Ling, asal engkau bersedia

untuk memohon kepadaku, maka akupun bersedia-menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk membereskan dendam sakit hatimu itu."

Semua anggota perkum pulan Yau-ti-leng menjadi terperanjat setelah mendengar perkataan itu, dari sorot mata Lengcu mereka yang tajam menggidikkan mereka semua tahu bahwa perkataan itu bukan gurauan belaka, akan tetapi mereka tak ada yang tahu kenapa secara tiba-tiba Leng cu mereka berubah menjadi begitu bengis.

Perlahan-lahan Gak In Ling bangkit berdiri, dengan sedih ia gelengkan kepalanya lalu ia berkata.

"Aku hanya berharap kepada Lengcu agar memperhatikan orang ini saja, Lengcu sendiri tak usah berbuat demikian."

Setelah menghela napas panjang, sambungnya lebihjauh. "Aku Gak Ling tak dapat membalas dendam dengan tanganku sendiri, itu berarti bahwa takdir telah digariskan, kenapa aku mesti merepotkan orang lain ? Lengcu, aku hendak memohon diri lebih dahulu."

Dengan langkah lebar ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.

"Apakah ucapanmu itu adalah kata-kata terakhirmu ?" seru Gadis suci dari Nirwana dengan suara gemetar.

Gak ln Ling sama sekali tidak berpaling, hanya dengan nada hambar jawabnya. "Dugaan Lengcu sedikitpun tidak salah, sejak kini dalam dunia persilatan telah berkurang lagi dengan seorang manusia yang menghambat usaha Lengcu "

"Eeceii Apa maksudmu ?"

Sementara itu Gak In Ling sudah berjalan keluar dari ruangan tengah, menjawab hambar.

"Dalam kenyataan memang begitulah keadaannya "

Perempuan naga peramal sakti diam-diam menarik tangan Su-put-siang. bisiknya. "Bersediakah engkau membuat pahala untuk menebus dosamu karena berbicara lancang tadi?"

Su-put-siang sedari tadi sudah kehabisan akal sewaktu dilihatnya Lengcu mereka menunjukkan wajah sedih, mendengar pertanyaan itu buru-buru jawabnya.

"Tentu saja bersedia, tentu saja bersedia..."

Perempuan naga peramal sakti segera menuding kearah bayangan punggung Gak In Ling yang telah berada kurang lebih lima tombak jauhnya, dan bisiknya kembali. "Hadang jalan pergi Gak In Ling"

"Hanya aku seeorang " tanya Su-put-siang tertegun.

"Hmm Ia sudah tak dapat mengerahkan tenaga lagi." Su-put-siang merasakan hatinya tergerak, mendadak ia membentak keras dan segera menerjang kearah Gak In Ling. Ilmu silat yang dimiliki si anak muda itu benar-benar sudah punah, sekali menyambar Su-put-siang telah berhasil mencengkram urat nadinya dan menyeret dirinya kembali keruang tengah.

"Apa yang hendak kau lakukan ?" tegur Gadis suci dari Nirwana dengan wajah kebingungan.

"Lengcu."jawab Perempuan naga peramal sakti dengan serius, "maafkanlah, kalau hamba buat lancang "

Tidak menunggu jawaban dari Gadis suci dari Nirwana, dia memberi tanda kepada Su-put siang dengan kerlingan mata dan berkata lagi dengan suara berat.

"Kurung dia dalam kamar baca dikebua bunga sebelah belakang " Kali ini Su put-siang bertindak cerdik, ia membungkam dalam seribu bahasa dan segera bekuk Gak In Ling dan dibawanya kekebun bunga belakang.

Sepeninggalnya dua orang itu, dengan sedih Gidis suci dari Nirwana memandang sekejap kearah Perempuan naga peramal sakti, katanya. "Cici, aku tahu engkau berbuat begitu karena bermaksud baik, akan tetapi apa gunanya ? Aaaii."

"Lengcu, biarlah Gak In Ling berpikir selama tiga hari tiga malam disitu secara baik-baik, kalau dia adalah seorang manusia maka setelah pikirannya menjadi tenang, kadangkala ia dapat membuang jalan pikiran yang semula membekas dalam benaknya di kala dia sedang dilimuti dengan emosi."

"Sepantasnya kalau engkau memahami tabiatnya," kata Gadis suci dari Nirwana sambil menggelengkan kepala dan mukanya penuh kesedihan.

"Tidak salah, wataknya memang amat keras kepala akan tetapi bagi kita kecuali berbuat demikian rasanya sudah tiada jalan lain lagi. Kalau sekarang kita biarkan Gak In Ling pergi, kemungkinan besar ia bakal mati kedinginan sebelum turun dari gunung Tiang-pek-san ini."

"Tapi dia membenci diriku "

"Lengcu, cinta dan benci adalah sebuah senjata yang amat tajam, kedua-dua nya dapat membinasakan orang dan hasilnya pun tidak jauh berbeda, hanya namanya saja tak sama. Siapakah yang dapat mengatakan apakah itu cinta, apakah itu benci ? Lengcu, engkau terlalu lelah, cepatlah pergi beristirahat"

Gadis suci dari Nirwana mengangguk, ia bangkit berdiri dan menuju keruangan dalam, akan tetapi belum beberapa jauh ia telah berhenti dan bergumam kembali. "Oooohh yaa aku belum bersantap "

Ia putar badan dan berjalan menuju keruang lain. Perempuan naga peramal sakti tidak menghalangi jalan perginya, ia hanya menghela napas berat dan bergumam.

"Jika Gak In Ling mati, mungkin perkumpulan Yau-ti-leng pun akan ikut hancur. Aaaii.... cinta... cinta engkau benar-benar sangat menakutkan...." Semua orang tercekam dalam kemurungan dan kesedihan, suasana hening dan tak seorangpun yang buka suara. Dalampada itu Gak In Ling yang dikurung dalam kamar baca merasa amat mendongkol sekali, apalagi tenaga dalamnya telah punah dan tak mampu menjebol pintu untuk lari keluar, serta merta hawa amarahnya disalurkan dengan mencari barang yang ada dalam ruangan itu untuk dihancurkan. Akan tetapi ketika ia saksikan benda-benda dalam kamar baca itu bersih dan teratur rapi, pemuda itu batalkan maksudnya dan bergumam seorang diri. "Kamar ini pastilah kamar bacanya, tidak pantas kalau aku menghancurkan barang-barang yang ada disini."

Maka ia mencari kursi dan duduk, Beberapa waktu kemudian, seorang dayang muncul menghidangkan makanan, sebenarnya Gak In ling tidak ingin makan, akan tetapi iapun merasa tak baik untuk berpuasa, maka hidangan itu dimakannya sedikit. Ketika hidangan dihantar kedalam kamar untuk kedua kalinya, hari sudah gelap, setelah mengundurkan sang dayang, Gak In Ling pun mencari sebuah bangku untuk duduk, Ia melirik sekejap kearah pembaringan yang teratur rapi, meskipun dalam hati kecilnya ingin berbaring disana akan tetapi suatu kekuatan lain mencegah dia untuk berbuat demikian, karena dia tahu bahwa pembaringan tersebut adalah pembaringan seorang gadis.

Diatas meja tiada lampu lentera, pemuda itu membutuhkan kegelapan, agar ia dapat memikirkan banyak persoalan ditengah kegelapan itu. Mungkin terlalu lelah, entah sejak kapan tahu-tahu pemuda itu sudah tertidur pulas dengan bersandar ditepi dinding.

Pintu kamar baca perlahan-lahan terbuka, seorang gadis berbadan Langsing menyelinap masuk kedalam ruangan, memandang Gak In Ling yang tertidur nyenyak, gumamnya

dengan sedih. "Engkau tak akan menyangka bukan bahwa aku sudah lama berada disisimu ? Makanan yang kubuat sendiri hanya kau makan sedikit sekali, kenapa? Tidak cocok dengan seleramu? Ataukah karena membenci diriku? Aku... aku sampai kapan aku baru dapat menebak teka-teki yang membingungkan hatiku ini? Beritahulah kepadaku Gak In Ling katakanlah kepadaku"

Dua baris air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Tiba-tiba Gak In Ling membalikkan tubuhnya, membuat gadis itu menjadi terperanjat, menanti ia sudah yakin bahwa pemuda itu tidak mendusin didekatinya pembaringan dan mengambil selimut untuk menutupi badannya, kemudian dengan wajah sedih ia berlalu dari ruangan itu.

Tiga hari bagi orang biasa tidaklah berapa, akan tetapi bagi Gak In Ling bagaikan melewatkan waktu selama tiga ratus tahun lamanya, karena ia tahu bahwa saat ajalnya sudah hampir tiba, namun masih banyak persoalan yang belum diselesaikan olehnya. Sang surya baru saja tenggelam dibalik bukit, pintu kamar terbuka dan masuklah seseorang, namun Gak In Ling tidak berpaling, ia masih tetap memandang keluar jendela dengan termangu-mangu.

"Gak Siongkong " teguran lirih berkumandang. Gak In Ling terperanjat, karena suara itu bukan suara dayang, tapi dengan mulut membungkam ia putar badan, kemudian sapanya dengan perasaan tidak tenang. "Lengcu"

Gadis itu membawa sebuah nampan kumala, diatas nampan tampaklah beberapa macam sayur kenamaan yang nampak lezat, meskipun nampak wajahnya tersungging senyum namun tak dapat menutupi kesedihan dibalik biji matanya.

Gak In Ling buru-buru maju kedepan menyambut nampan tersebut, katanya dengan perasan tak tenang.

"Lengcu, sikapmu ini membuat aku orang she Gak merasa tak enak untuk menerimanya."

Gadis suci dari Nirwana tundukkan kepalanya rendah-rendah, ia duduk didekatnya dan berkata dengan sedih.

"Karena itu selama ini engkau selalu makan sedikit untuk menyampaikan rasa ketidak tenanganmu itu bukan ?" Gak In Ling meletakkan nampan itu keatas meja, lalu menengadah dan bertanya dengan terperanjat.

"Makanan selama beberapa hari ini apakah hasil masakanmu sendiri?"

"Tentunya tidak Cocok dengan seleramu bukan ?" tanya gadis itu dengan sedih.

"Tidak... akulah yang tidak punya selera untuk makan."

"Karena aku telah mengurung dirimu dalam kamar ?"

"Tidak, karena aku tidak punya keberanian untuk menghadapi kematian yang makin mendekat."

Gadis suci dari Nirwana merasakan hatinya agak bergerak, pikirnya. "Perempuan naga peramal sakti benar-benar memiliki kecerdasan otak yang melebihi orang lain, semula aku tak pernah memikirkan untuk menggunakan kata-kata semacam ini untuk menghadapi dirinya." Berpikir sampai di situ ia lantas bertanya, "Engkau takut mati ?"

"Siapapun takut mati "

"Aku tokh bisa menyelamatkan jiwamu."

"Dan aku telah mempertimbangkannya masak-masak."

"Sudah ambil keputusan "

"Benar"

Dari balik sorot mara Gadis suci dari Nirwana memancar keluar cahaya yang amat tajam, segera serunya. "Aku dapat segera ambil obat pemunah itu untukmu "

"Harap Lengcu jangan salah paham..." Gak ln Ling gelengkan kepalanya.

"Jadi engkau tidak menerimanya ?"

"Benar, dan itulah keputusan yang kuambil setelah mempertimbangkannya masak-masak," Gadis suci dari Nirwana merasa putus asa dan kecewa, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan hampir sesenggukan katanya. "Apakah engkau selalu membenci diriku, dan sampai matipun, tidak bersedia menerima kebaikan hatiku?"

-oo0dw0oo-