Telapak Setan Jilid 20 : Kebusukan Ngo Gak sin-kun

Jilid 20 : Kebusukan Ngo Gak sin-kun

NAMUN tiada jawaban yang kedengaran, sekali lagi ia lancarkan pukulan ke atas dinding tembok itu namun tidak ada hasilnya juga , akhirnya ia berhenti menyerang dan otaknya bekerja keras. Dipihak lain Gak In Ling pun berteriak tiada hentinya.

"Adik Siang... adik Siang " Namun tiada jawaban, pukulan demi pukulan dilancarkan pula keatas dinding akan tetapi juga tak ada hasilnya. Dalam keadaan demikian terpaksa Gak In

Ling harus menyingkirkan cara tersebut untuk mencari akal, seluruh ruang batu itu dyelajahi akan tetapi ia tetap gagal untuk menemukan jalan keluar. Pada saat itulah mendadak dari arah belakang tubuhnya berkumandang suara gemerincing yang amat nyaring. Gak In Ling spontan berpaling ke belakang, ia lihat dinding batu disebelah belakangnya perlahan-lahan terluka, dari celah yang makin melebar ia saksikan ada satu... dua orang sedang duduk dibalik ruang samping, satu ingatan berkelebat dalam benaknya dan segera berpikir.

"Asal ada orang, perduli amat musuh atau sahabat yang penting ada orang lain..." Baru saja ingatan itu berkelebat lewat tiba-tiba

"Blaaamm "

Dinding tembok yang membuka lebar terbentang sama sekali dan pemandangan yang berada dalam ruangan itupun tertera nyata di depan mata. Gak In Ling merasakan hatinya bergidik dan bulu roma pada bang kit berdiri, dengan seram ia mundur dua langkah kebelakang.

"Sungguh menyeramkan " gumamnya seorang diri.

Di dalam ruang batu yang lebar terbentanglah alas batu panjang selebar dua depa disisi kiri dan kanan ruangan, diatas alas batu itu masing-masing duduk enam orang pria berpakaian ketat, kaki mereka tergantung dibawah alas batu, lehernya basah oleh darah sehingga menodai seluruh pakaiannya, lengan-lengan mereka yang berada dialas kaki masing-masing membawa batok kepala sendiri yang ditebas orang, batok kepala itu berkerut kencang, matanya melotot dan mulutnya ternganga sehingga kelihatan seram sekali, jelas kematian mereka baru terjadi belum lama berselang.

Gak In Ling merasakan darah panas dalam tubuhnya mendidih, sambil menggertak gigi teriaknya.

"Apa dosa dan kesalahan mereka sehingga kalian menggunakan cara yang demikian kejinya untuk membinasakan mereka ? Kalau aku orang she Gak tidak melihat sendiri masih-tidak mengapa, ini hari setelah kusaksikan dengan mata kepala sendiri Hmm " Ia melangkah maju dan memasuki ruangan tersebut.

Baru saja ia melangkah masuk kedalam ruangan....

Blaaaam

Pintu batu belakang tubuhnya kembali tertutup rapat, jelas ada orang yang secara diam-diam mengendalikan pintu rahasia tersebut.

Gak In Ling sama sekali tidak berpaling, ia menghampiri mayat-mayat itu dan sebelum sempat mengembalikan batok kepala mereka diatas leher masing-masing, mendadak dari arah belakang bergema datang suara teguran seseorang dengan nada ketus.

"Gak In Ling, Tiongcu kami akan bertemu dengan engkau " Si anak muda itu putar badan, ia melihat tiga orang manusia aneh bercadar kain kuning berdiri sejajar dihadapannya. Seringkali pemuda she Gak ini berjumpa dengan manusia bercadar dari perkumpulan rahasia, akan tetapi belum pernah berjumpa dengan manusia bercadar kain kuning, ia tahu ilmu silat yang mereka miliki kemungkinan besar masih berada diatas lainnya.

Ia tertawa dingin dan menegur padanya.

"Apakah orang-orang ini mati karena kalian bunuh ?"

"Sedikitpun tidak salah,"jawab tersebut muncul dari arah belakang, "nanti sebentar engkau akan menyaksikan pemandangan indah yang jauh lebih banyak lagi." Sekali lagi Gak In Ling putar badan, ia melihat dihadapan mukanya kembali telah berubah bertambah dengan tiga orang manusia bercadar yang persis bentuknya seperti tiga orang lainnya.

jelas mereka muncul disaat ia sedang putar badan tadi tanpa disadari olehnya.

Pemuda itu segera tertawa dingin, katanya. "Kedatangan kalian benar-benar amat misterius dan kedatangan kalianpun tepat pada waktunya.

Keenam orang manusia bercadar kain kuning itu sama sekali tak menyangka kalau sikap Gak In Ling begitu tenangnya, semula mereka menggerakkan alat rahasianya dan munculkan diri dari bawah tanah tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, tujuannya adalah untuk menakuti hati pemuda itu agar dia menjadi segan dan memperlemah kekuatan sendiri, dengan begitu dalam pertarungan yang akan berlangsung nanti dengan mudah mereka dapat menawannya.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi telah mengecewakan hatinya.

"Apa maksudmu dengan mengatakan kedatangan kami tepat pada waktunya.. ?" serunya salah seorang yang berdiri ditengah.

Sementara orang itu bertanya, Gak In Ling telah berpikir dalam hati kecilnya

"Mereka berenam berdiri dengan menempel disamping dinding, rupanya orang-orang itu hendak mengepung diriku, aku harus berusaha keras untuk mengumpulkan mereka menjadi satu, dengan begitu aku akan terhindar dari kepungan yang datang dari depan maupun belakang.

Berpikir sampai disitu, diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapaknya.

Baru saja orang tadi menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Gak In Ling membentak keras.

"Serahkan jiwa kalian " Dengan jurus Hiat-liu-piau-kam atau darah membanjir setinggi tiang, ia hantam tiga orang musuh yang berada disebelah depan. Ilmu silat yang dimiliki

orang-orang ini ternyata jauh lebih lihay daripada kepandaian yang dimiliki manusia bercadar lain yang pernah ditemui Gak In Ling, baru saja si anak muda itu ayunkan telapaknya bukan saja orang-orang yang berada disebelah depan laksana kilat menyebar kedua belah sisi untuk menghindar, bahkan tiga orang yang berada dibelakangpun pada saat yang bersama ikut menyingkir kesamping. Enam gulung angin pukulan yang maha dahsyat dan aneh memancar datang dari enam arah yang berbeda, masing-masing mengancam setiap jalan darah kaku ditubuh Gak In Ling,jelas orang-orang itu ada maksud untuk menangkap musuhnya dalam keadaan hidup.

Gak In Ling tidak menyangka kalau reaksi yang diberikan orang-orang itu sedemikian cepatnya, ia tak berani menyerang lebih jauh, ketika serangannya mencapai tengah jalan, ia segera tarik kembali serangannya dan berbalik menggunakan jurus Pat-hong-hong-yu atau hujan badai dari delapan penjuru menyongsong datangnya ancaman dari empat penjuru.

"Blaaaamm blaaaamm "

Enam benturan keras bergeletar dalam ruang gua itu, hawa tekanan menyebar keempat penjuru membuat debu dan pasir berguguran bagaikan hujan, enam buah batok kepala yang berada ditengah enam sosok mayat itu masing-masing menggelinding dan jatuh keatas tanah.

Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Gak In Ling, mendadak bentaknya lagi. "Sambutlah kembali sebuah pukulanku "

Dengan jurus Si-san hiathay atau mayat bagai bukit darah bagai samudra ia putar badan melancarkan serangan kearah tiga -orang yang berada dibelakang tubuhnya. Dari serangan yang pertama tadi, mereka sudah tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling memang luar biasa hebatnya, menyaksikan datangnya ancaman tersebut masing-masing pihak segera menyingkir kesamping, seperti halnya permulaan

tadi mereka pun melancarkan serangan mengancam jalan darah kaku serta pingsan pemuda tersebut.

Tiga orang yang berada dibelakang, berbarengan melancarkan serangan penuh. Buru-buru Gak In Ling tarik kembali serangannya dan melindungi diri sendiri dengan jurus Liok-hoa-pian-leng atau bunga berguguran di angkasa kaki kanannya melangkah maju kedepan disaat berputaran tubuhnya dan menunggu saat yang lebih menguntungkan. Sementara itu keenam orang manusia bercadar kuning itu diam-diam berpikir dalam hatinya setelah dilihatnya Gak In Ling tak mampu melukai mereka bahkan malahan terdesak untuk melindungi diri.

"Kali ini orang muda tersebut harus diberi pelajaran yang setimpal?"

Hawa pukulan yang mereka pancarkan segera dilipat gandakan sehingga terasa jauh lebih dahsyat.

Melihat musuh-musuhnya telah menyerang dengan sepenuh tenaga, tiba-tiba Gak In Ling tarik kembali jurus serangannya, dengan gerakan jembatan gantung ia jatuhkan tubuhnya kebelakang sehingga punggungnya hampir saja menempel diatas permukaan tanah. Enam gulung angin, pukulan menyambar lewat dari atas dadanya dan bertumbukan menjadi satu.

"Blaaaaamm " Berhubung tenaga dalam mereka berenam berada dalam keadaan seimbang, maka benturan tersebut mengakibatkan mereka berenam tergetar mundur dua langkah kebelakang dan berdiri tertegun. jelas mereka tak pernah menyangka kalau Gak ln Ling bisa buyarkan serangannya ditengah jalan.

Dikala mereka masih melongo, Gak In Ling sudah loncat bangun sambil mengirim satu tendangan kilat kearah sebuah batok kepala yang tergeletak disamping kakinya, batok kepala tersebut bagaikan sambaran petir langsung meluncur kearah

dada salah seorang diantara tiga jago yang berada dihadapannya. Orang itu menjadi kaget sewaktu menyaksikan datangnya benda hitam yang tahu-tahu sudah berada didepan dadanya, sebelum sempat memikirkan apa yang telah terjadi, tiba-tiba

"Blaaaamm "

Diikuti jeritan lengking orang itu karena kesakitan, tubuhnya roboh keatas tanah dan darah segar mengucur keluar dari ketujuh lubang inderanya binasalah jiwa orang itu

Melihat serangannya berhasil mengenai sasaran, Gak In Ling tidak berani bertindak gegabah, sepasang kakinya secara berantai menyepak lima buah batok kepala lainnya menyerang dua orang yang berada dikedua belah sisinya, sementara sendiri dengan gerakan Hian- liu-seng-ho Li atau darah mengalir menjadi sungai bagaikan sambaran petir menerjang kearah musuhnya.

Kedua orang itu segera tersandar kembali dari lamunannya oleh jeritan Lengking rekan mereka, melihat datangnya ancaman buru-buru telapak mereka ayunkan kedepan menghantam batok-batok kepala yang meluncur datang.

Ploook Ploook Batok kepala berceceran kembali keatas tanah menodai seluruh permukaan tanah dengan cairan darah dan otak, sebelum jago-jago bercadar itu sadar kembali, serangan kilat dari Gak In Ling telah menyusul tiba. Bayangkan saja dalam keadaan begini, sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, sudah tentu mereka tak akan mencari kematian terpaksa tubuh mereka mundur kebelakang.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah, Gak In Ling segera menyerobot tempat kedudukkan mereka. Setelah berhasil merebut posisi yang strategis, Gak In Ling tertawa dingin dan berseru.

"Sekarang kalian berlima boleh turun tangan " Betapa mendongkolnya kelima orang itu sehingga mereka sama-sama

menggertak gigi namun ketua mereka telah melarang mereka untuk membunuh Gak In Ling, karenanya salah satu diantara mereka dengan nada gemas berseru. "Gak In Ling bocah keparat, seandainya Tiongcu kami tidak melarang, hmm Sejak tadi aku telah menjagal dirimu "

"Heeeeh.... heeeehh heeeeehh kalau kalian tidak turun tangan, aku kuatir nanti sudah tidak ada kesempatan lagi" jawab Gak In Ling sambil tertawa seram.

Sembari berkata ia telah mendekati ujung alas batu sebelah depan, dalam keadaan begini terpaksa lima orang musuhnya harus berputar kearah ujung yang lain,

"Enyah kamu" bentak Gak In Ling keras-keras. Kakinya melayang dan melancarkan satu tendangan keujung alas batu tersebut,

terlihatlah alas batu itu berputar dan mendadak menyapu keluar dengan gerak mendatar.

"Criiiiitt... Criiiiiitt" Di atas dinding batu seketika membekas sebuah liang sedalam setengah depa lebih. Kelima orang itu loncat ketengah udara untuk menghindari sambaran alas tadi, kemudian masing-masing orang melancarkan sebuah pukulan kearah Gak In Ling.

"Bluuum "

Alas batu itu menumbuk ke atas sebuah dinding batu dan meninbulkan suara benturan yang kosong nyaring, sementara mereka kini terlibat dalam pertarungan yang seru sehingga siapapun tidak memperhatikan akan hal itu. Gak In Ling mengeluarkan rangkaian ilmu telapak mautnya, lima orang manusia bercadar kain kuning itu kendatipun merupakan pengawal kelas satu dari Tibet, namun untuk membekuk Gak In Ling dalam keadaan hidup bukanlah satu perbuatan yang gampang. Si anak muda itu selalu menerobos diantara bayangan telapak lima orang lawannya membuat mereka tak mampu bekerja sama dengan begitu tenaga yang harus

dikerahkan pun jauh lebih menghemat. dalam sekejap mata dua puluh jurus sudah lewat, kian lama kelima orang itu kian terdesak dibawah angin, demi menyelamatkan diri sendiri mereka terpaksa mulai melancarkan serangau-serangan mematikan.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara benturan nyaring, diikuti seseorang dengan suara yang kasar berseru. "Haaaahh haaaahn. haaaahh kali ini aku akan berhasil membuka pintu ini"

Tapi sejenak kemudian terdengar orang itu berseru kembali dengan suara terperanjat.

"Aaahh Rupa - rupanya engkaupun berada disini"

Dari suara orang itu Gak In Ling segera mengetahui siapakah yang telah datang, sambil bertempur ia segera bertanya. "Dimanakah mereka semua ?"

"Aku tidak tahu " Kemudian ia berseru kembali,

"bajingan-bajingan ini menggemaskan sekali, lihat serangan"

Mendadak dengan jurus Tui-san-tiam-hai atau membongkar bukit membendung samudra ia hantam seorang manusia bercadar kain kuning yang berada dihadapannya. Manusia bercadar kain kuning itu sedang memusatkan seluruh kepandaiannya untuk bertempur melawan Gak In Ling, ketika terjadi benturan keras dibelakang tubuhnya tadi walaupun ia mendengar nama orang itu tak sudi mengurusinya, akan tetapi sekarang setelah merasakan datangnya angin pukulan yang keras bagaikan bukit, ia baru merasakan keadaan tidak menguntungkan. dalam keadaan demikian tak sempat lagi baginya untuk melihat siapakah penyerangnya, sepasang telapak segera diangkat keatas dan menggunakan jurus Pak-ong-ki-teng atau raja bengis angkat hio, ia sambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaaamm "

Ditengah benturan keras, orang itu merasakan sepasang telapaknya seolah-olah menghajar sebuah bukit baja yang sangat berat, telapaknya menjadi kaku dan lurus dan kakinya menjadi menekuk sehingga hampir saja berlutut keatas tanah. Namun dia adalah seorang jago kawakan yang mempunyai banyak pengalaman, sesudah kakinya bengkok maka menggunakan kesempatan itu badannya mencelat sejauh satu tombak kebelakang. kemudian setelah menyaksikan siapakah penyerangnya, dengan hati terkesiap pikirnya.

"Oooohh Sungguh tak nyana dikolong langit terdapat manusia yang begini tingginya ?" Orang itu mempunyai perawakan tinggi besar dengan muka merah bagaikan api, bajunya hitam bercahaya dan roman mukanya gagah, dia bukan lain adalah Malaikat raksasa bermuka merah.

Dalam pada itu Malaikat raksasa bermuka merah sendiri merasa geli dalam hati kecilnya, ia berpikir.

"Kalau orang ini dibandingkan dengan Gak In Ling, maka ilmu silatnya masih selisih jauh sekali."

Dia segera angkat telapaknya dan berseru. "Mari... mari mari.... bagaimana kalau kita berkelahi lagi ?"

"Hmm agaknya orang ini radaan tolol" pikir manusia bercadar kain kuning itu.

Mendadak ia membentak keras. "Engkau anggap aku takut kepadamu ?"

Dengan jurus Ci-to-oei-liong atau menghancurkan naga kuning, ia hantam dada Malaikat raksasa bermuka merah.

Setelah mengetahui akan taraf tenaga dalam yang dimiliki lawannya, tentu saja Hiat-bin-kim-kong tidak pandang sebelah matapun terhadap lawannya, sepasang tangan direntangkan dan memakai jurus Kim-si-hu-liong atau membelenggu nagadengan serat emas,

ia cengkram sepasang kaki lawan dan sama sekali tidak ambil perduli terhadap ancaman yang mengarah dadanya. Menyaksikan tingkah laku lawannnya, diam-diam manusia bercadar kain kuning itu mendengus dingin, bathinnya. "Pukulanku ini paling sedikit mempunyai kekuatan ribuan kati, kendatipan badanmu terbuat dari baja, pukulan ini cukup untuk menggepengkan badanmu "

"Blaaaamm.." Ditegah benturan keras dengan telak, dada Malaikat raksasa bermuka merah kena dihantam oleh orang itu, sebaliknya sepasang telapaknya yang lebar berhasil pula mencengkram sepasang kaki orang itu.

Orang itu merasakan telapaknya yang mampir didada lawan seakan-akan menghantam diatas dinding baja, ia sadar gelagat tidak menguntungkan, sebelum orang itu sempat bertindak sesuatu tahu-tahu sepasang kakinya sudah tertangkap lawan. Bagaikan menenteng ayam kecil, Hiat-bin Kim-hong angkat tubuh orang itu tinggi-tinggi. ejeknya. "Hmm Dengan tenaga dalam seperti ini-pun berani menghajar majikan kecilku?"

Empat orang rekannya yang sedang bertempur, sewaktu melihat kejadian itu ikut merasa terperanjat, salah seorang diantaranya segera berteriak keras. "Orang itu mempunyai ilmu weduk yang kebal pukulan, menghajar ketiaknya "

Sambil berseru dengan jurus Tiam-sak-seng kim atau menutul batu menjadi emas, dia melayang kehadapan Hiat-bin Kim-hong dan menghajar ketiaknya. Sementara itu Gak In Ling masih dikurung oleh tiga orang jago lainnya, walaupun ia dapat melayani serangan mereka dengan enteng, akan tetapi untuk meloloskan diri dari kepungan mereka bertiga bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, karenanya dengan gelisah ia berseru.

"Kim-hong, hati-hati dengan ketiakmu " Pada saat itu sepasang telapak Malaikat raksasa bermuka merah sedang diangkat keatas, mendengar seruan tersebut ia menjadi

terperanjat akan tetapi untuk menolong diri juga tak sempat lagi

Duuuukk

Ketiaknya dengan telak terhajar pukulun dahsyat tadi. Malaikat raksasa bermuka merah menyadari bahwa disanalah letak titik kelemahannya, melihat kejadian itu dia menjadi terkesiap sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

"Habislah sudah riwayatku " la berseru dalam hati.

Siapa tahu, serangan tersebut ternyata sama sekali tidak berhasil melukai dirinya, malahan orang itu menjerit kesakitan karena sepasang tangannya menjadi kaku dan membengkak.

"Tak kusangka dikolong langit terdapat ilmu kebal sehebat ini." pikirnya dalam hati dengan hati terkesiap.

Malaikat raksasa bermuka merah sendiripun nampak tertegun, mendadak ia teringat bahwa tubuh sudah mengenakan kain hitam mustika, dengan penuh kegirangan ia segera berteriak,

"Haaaahh haaaaah haaaaah.... dikolong langit tak ada orang yang mampu melukai diriku lagi"

Sepasang telapaknya segera direntangkan kesamping dan.. Kraaak ditengah retakan nyaring terdengar orang itu menjerit ngeri, tubuhnya terbelah menjadi dua oleh tarikan musuhnya, darah segar berhamburan ditanah bercampuran dengan isi perutnya, keadaan mengerikan sekali.

Tiga orang yang sedang bertempur melawan Gak In Ling menjadi ngeri sehingga serangannya menjadi kendor, menggunakan kesempatan baik-itulah Gak In Ling berhasil menghajar seorang lawannya sehingga menjerit kesakitan. Dari enam orang manusia bercadar kain kuning sekarang tinggal tiga orang yang masih hidup, akan tatapi mereka

sudah keder dan nyalinya pecah, semangat untuk bertempur pun merosot separuh bagian.

Sambil membuang dua bagian tubuh manusia yang terbelah dari genggamannya, Malaikat raksasa bermuka merah berteriak keras. "Majikan muda, serahkan saja makhluk-makhluk yang tak ada gunanya itu kepadaku."

Sembari berkata telapaknya direntangkan dan ia segera menerjang maju kedepan. Sekarang ia sudah tak usah mengkhawatirkan tempat kelemahannya dihajar orang lagi, ia dapat menyerang dengan gagah berani seakan-akan disana tiada orang lain, namun perawakan tubuhnya yang tinggi besar membuat gerak-geriknya kurang leluasa, karena itulah susah baginya untuk membekuk musuk-musuh lainnya.

Gak In Ling segera putar biji matanya dan mendadak mengubah gerakan badannya, ia berganti melancarkan serangan dengan sistim gerilya, ia berusaha keras untuk membendung gerak tubuh manusia-manusia bercadar itu sehingga tak mampu berkelit. Tindakannya ini ternyata mendatangkan hasil, Malaikat raksasa bermuka merah berhasil menangkap seorang manusia bercadar yang kena dijebak oleh gencetan keras. "Lihatlah, akan kupetik batang kepalamu itu "

Sekali puntir, diiringi suara gemerutukan yang nyaring danjeritan yang menyayatkan hati putuslah nyawa orang itu. Sekarang, dalam gelanggang pertempuran tinggal dua orang musuh, satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, mendadak sepasang telapaknya diayun berbareng sambil bentaknya.

"Roboh kamu semua "

Dua orang manusia bercadar itu menengadah keatas, lalu mereka menjerit dengan suara ngeri

"Hujan darah menggenangi jagad " Dua jeritan ngeri bergema memenuhi seluruh angkasa, tanpa senpat menghindar lagi dua orang itu roboh terkapar diatas tanah

dan mati binasa. Malaikat raksasa bermuka merah yang menyaksikan peristiwa itu menjadi tertegun, gumamnya.

"Ilmu silat apaan itu? Waduuuhh benar-benar hebat Tangan cuma dikebaskan kemuka, eeeii tahu-tahu dua orang bangsat itu sudah pada mampus ?"

Ketika ia menengadah, raksasa ini menjerit kaget. "Aah Majikan muda kenapa engkau."

"Biarkanlah aku beristirahat "jawab Gak In Ling sambil angkat kepalanya yang pucat. Malaikat raksasa bermuka merah tarik napas panjang-panjang, katanya dengan nada sungguh-sungguh. "Bagaimana kalau ku bantu dirimu ?"

Gak In Ling tertawa tawa. "Tak perlu aaaaii. dikolong langit tiada seorangpun yang mampu menolong diriku, tidak seharusnya kulanggar nasehatnya mempergunakan jurus serangan tersebut sebelum saatnya....kalau adik Hun tahu, ia pasti akan benci kepadaku karena aku tak mau dengarkan perkataannya..!!"

Malaikat raksasa bermuka merah yang mendengar perkataan itu menjadi kebingungan, segera-tegurnya dengan keheranan. "Apa sih yang kau katakan ? Mengapa aku tidak mengerti barang sepatah katapun ?"

Dengan tawa Gak In Ling gelengkan kepalanya. "Lain kali engkau akan mengerti, sekarang kita sedang berada disarang naga gua harimau, bila engkau tidak ada persoalan penting bagaimana kalau kumohon bantuanmu untuk melindungi aku sebentar saja ?"

"Sudah setengah harian lamanya aku datang mencari dirimu "

"Mau apa cari aku ?"

"Engkau tokh majikan mudaku, tentu saja aku mesti mencari dirimu " jawab Malaikat rak sasa bermuka merahku dengan muka tertegun. Tiba-tiba Gak In Ling merasakan hawa

darah dalam dadanya tersumbat, buru-buru ia gelengkan kepalanya sambil berbisik.

"Engkau tak usah membicarakan persoalan itu lagi..." Perlahan-lahan ia pejamkan matanya.

Melihat keadaan pemuda itu, Malaikat raksasa bermuka merah seperti teringat akan sesuatu, ia segera berpikir. "Aaahh Jelas ia mengidap suatu penyakit aneh, karena itulah Dewi burung hong suruh aku melindungi dirinya, kalau tidak dengan kepandaian ilmu silat yang dia miliki, kenapa mesti dilindungi olehku ?"

Setelah memandang sekejap kearah pemuda she Gak, pikirnya lebih lanjut. "Hmm Orang ini berwajah tampan dan menarik hati, kenapa aku tidak mengetahui sebelumnya?"

Pada saat itulah dari balik dinding batu di belakang punggung Malaikat raksasa bermuka merah perlahan-lahan terbentang disebuah pintu rahasia, disusul munculnya seorang bocah-bocah berbaju merah.

Dengan ketajaman pendengaran Malaikat raksasa bermuka merah, ia segera mengetahui akan kehadiran orang itu, ia segera berpaling kebelakang dan siap menghadap segala kemungkinan, akan tetapi setelah mengetahui siapakah yang telah munculkan diri, ia mengeluh dan berpikir.

"Kenapa bukan orang lain yang datang, tetapi justru bocah racun inilah yang muncul ? Sialan"

Sementara itu bocah racun sendiripun sama sekali tidak nampak kaget atau keheranan sewaktu menyaksikan Malaikat raksasa bermuka merah putar badan, dengan suara dingin ia cuma berkata.

"Eeii orang gede, Tiongcu kami suruh engkau segera mengundurkan diri dari sini."

"Hmm Dia adalah majikan mudaku, tak mungkin aku bisa meninggalkan dirinya "

"Tapi inilah perintah dari Tiongcu kami "

"Akupun sedang melaksanakan perintah majikanku "

"Siapakah majikanmu ?" tanya bocah racun sambil maju kedepan.

"Berhenti," bentak Malaikat raksasa bermuka merah sambil menyilangkan sepasang telapaknya, kemudian sambil menuding kearah Gak In Ling sambungnya lebih jauh. "Dialah majikanku "

Mendengar jawaban tersebut bocah racun itu segera berhenti,jaraknya dengan Malaikat raksasa bermuka merah tinggal lima depa, sedang selisih jarak dengan Gak In Ling hanya delapan depa.

Dengan pandangan dingin bocah racun itu menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian ujarnya.

"Aku rasa ia sedang bersemadhi, engkau tentu tahu bukan bahwa orang yang sedang bersemadhi pantang diganggu? Akan tetapi kalau engkau tidak bersedia untuk keluar, jangan salahkan kalau aku akan turun tangan untuk membekuk dirinya "

Kendatipun sepintas selalu Malaikat raksasa bermuka merah nampaknya seperti orang bodoh dalam kenyataan pengalaman dalam dunia persilatan yang dimilikinya banyak sekali, sesudah berpikir sebentar iapun menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya sekarang bagaimanapun harus diselesaikan dengan sesuatu pertarungan, persoalannya sekarang adalah bagaimana caranya menghadapi situasi tersebut sehingga tidak mengganggu k&nsentrasi dari Gak In Ling.

Dengan pandangan tenang ia menyapu sekejap kearah bocah racun, kemudian ia berkata. "Sekujur badanmu penuh dengan racun, tentu saja engkau punya keyakinan untuk memenangkan pertarungan ini, tapi dewasa ini kita masing-

masing punyak esempatan untuk menang, sebelum tujuannya tercapai kita tak akan saling mengalah, oleh sebab itu aku Malaikat raksasa bermuka merah ingin sekali mengajak engkau untuk berkelahi."

"Huuuhh.tak usah main kayu dengan aku..." pikir bocah racun dalam hati, diluaran ia tertawa dingin dan menyahut.

"Kalau memang begitu biarlah kulayani tantanganmu itu ayoh Marilah..."

"Kalau kita harus bertempur disini maka majikanku pasti akan terganggu, sekalipun aku sudah mengatakan bahwa kita sama-sama punya kesenpatan untuk menang, akan tetapi sebelum menang kalah diantara kita bisa tetapkan, tentu saja aku harus mengutamakan keselamatan majikanku lebih dahulu "

"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"

"Bagaimana kalau kita bertempur disebelah situ saja ?" kata Malaikat raksasa bermuka merah sambil menuding kearah depan.

Diam-diam bocah racun itu merasa geli, pikirnya. "Bagus sekali, memang itulah yang kuharapkan. tolol, Akhirnya engkau masuk perangkap juga ."

Berpikir sampai disitu ia segera mengangguk dan perlahan-lahan mengundurkan diri kebelakang serunya.

"Mari.... mari mari... akan kusuruh engkau bertekuk lutut dengan hati puas " Malaikat raksasa bermuka merah tidak akan ragu-ragu lagi, tidak selang beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba diruang seberang Malaikat raksasa bermuka merah itu berdiri membelakangi Gak In Ling karena khawatir bocah racun turun tangan keji dengan menggunakan kesempatan itu.

Baru saja Malaikat raksasa bermuka merah bergeser kedepan, dari belakang punggungnya perlahan-lahan bergerak

turun sebuah dinding batu yang tebalnya mencapai satu tombak, begitu perlahan sehingga tak bersuara membuat siapapun tidak merasa.

"Bagaimana caranya kita bertanding ?" seru Malaikat raksasa bermuka merah dengan suara dingin.

Bocah racun bergeser dua langkah kesamping kanan, sambil tertawa dingin katanya.

"Aku rasa lebih baik kita tidak usah bertanding lagi, beristirahatlah baik-baik disitu"

Habis berkata, papan batu yang diinjaknya mendadak membalik dan tahu-tahu bocah racun itu sudah lenyap dibalik tanah. Malaikat raksasa bermuka merah menjadi amat terperanjat, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru-buru ia berpaling siapa tahu sebuah dinding batu telah memisahkan dirinya dengan Gak In Ling, orang itu menjadi terkejut dan segera membentak keras, sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan kearah dinding batu.

"Blaaaamm "

Batu kerikil danpasir berhamburan diatas tanah, akan tetapi dinding tersebut masih tetap tidak bergeming barang sedikitpun juga , hal ini mencemaskan hati Malaikat raksasa bermuka merah sehingga keringat dingin membasahi tubuhnya.

Sementara itu Gak ln Ling masih tetap bersemadhi dan mengatur pernapasan terhadap apa yang terjadi disana sama sekali tak terasa olehnya.

Dinding yang menghalangi jalan pergi Malaikat raksasa bermuka merah rupanya mempunyai hubungan dengan dinding lain, ketika dinding batu tersebut menyentuh tanah, dari hadapan Gak In Ling terbukalah sebuah dinding batu yang lain dan muncullah seorang kakek tua berambut putih, dari langkah kakinya yang gagah dan mukanya yang tenang

membuat orang lain sama sekali tidak menemukan bahwa dia agak gugup lantaran tersorong dalam ruangan tersebut.

Orang itu bukan lain adalah Ngo-gak Sln-kun Malaikat suci dari lima bukit.

Ngo-gak Sin-kun sendiripun kelihatan agak terperanjat sewaktu menyaksikan Gak In Ling duduk bersila disana, pikirnya.

"Panjang amat umur orang ini "

Napsu membunuh terlintas diatas wajahnya, hawa murninya dihimpun kedalam telapaknya dan secepat kilat tubuhnya menerjang kehadapan pemuda itu siap melepaskan pukulan yang mematikan.

Mendadak, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, segera ia berpikir. "Aaah aku lupa kalau semua gerak-gerikku pada saat ini berada di bawah pengawasan orang, kalau bukan dia yang menciptakan kesempatan ini mana mungkin aku dapat berjumpa dengan Gak In Ling.

Satu ingatan kembali berkelebat dalam benaknya, pikirnya lebih jauh. "Sekalipun ia mengetahui juga tidak mengapa, tokh nama besarku sudah lama sekali tersohor didaratan Tionggoan ? Mereka tak mungkin bersedia untuk mempercayai perkataannya,jikalau kulakukan pembunuhan ini bukan saja dapat melenyapkan bibit bencana bahkan akupun bisa memfitnah orang lain.. haaaahh haaaahh apa salahnya kalau kulakukan ?"

Makin dipikir ia merasa semakin bangga, sepasang matanya yang bengis menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip, gumamnya. "Bocah keparat, tidak semestinya engkau begitu tak tahu diri sehingga berani cari aku untuk menuntut balas "

Sepasang telapaknya diayun dan siap dihantamkan keatas batok kepala musuhnya. Pada saat itulah dari belakang tubuh Gak In Ling tiba-tiba berkumandang datang suara dentuman

nyaring, rupanya Malaikat raksasa bermuka merah sedang menghantam dinding dengan sepenuh tenaga.

Ngo-gak Siu-kun merasa terperanjat, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera menarik kembali telapaknya sambil berpikir.

"Keadaanku dengan Tiongcu dari Tibet ibaratnya air dengan api, mana mungkin ia bersedia memberi kesempatan kepadaku untuk membunuh musuhku "

"Hmm Aku tahu, ia pasti akan membuka rahasia dan membiarkan semuajago dari daratan Tionggoan sama-sama mengerubungi diriku setelah kubunuh mati Gak In Ling, pada waktu itu mereka pasti akan melihat bagaimana aku mengerahkan tenaga untuk membinasakan seorang keparat yang tiada bertenaga untuk melancarkan serangan balasan, para jago pasti akan menjadi gusar dan membunuh aku. Huuuhh Suatu siasat yang sangat keji," Berpikir sampai disitu. dengan dingin Ngo-gik Sia-kun melirik sekejap kearah Gak In Ling lalu gumamnya. "Hmm Anggap saja engkau si keparat lagi beruntung."

Selesai berkata ia putar badan dan mengundurkan diri dibelakang. "Siapa yang telah menguntungkan siapa ?" Tiba-tiba serentetan suara yangamat dingin berkumandangan diudara.

Ngo-gak Siu-kun terperanjat, namun ia tidak menunjukkan sikap apapun, ia tetap maju dua langkah kedepan kemudian putar badan dan menatap pemuda itu tajam-tajam,jawabnya. "Kalau aku tidak salah melihat, ilmu silat yang engkau miliki pada saat ini masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan saat kita bertemu untuk pertama kalinya." Gak In Ling segera loncat bangun, pikirnya.

"Orang ini licik dan berbahaya sekali, sejak pertama kali tadi ia bisa menentukan apabila ilmu silatku mundur sehingga bermaksud membunuh diriku, tetapi sekarang ia masih bisa

berlagak seakan-akan jujur dan berjiwa besar. Hm manusia yang patut dibunuh." Berpikir sampai disini, dengan suara menyeramkan ia berseru.

"Tua bangka sialan, apakah engkau tidak salah melihat ?" Ngo-gak Sia-kun tertawa tawa.

"Ini hari kita telah saling berjumpa dalam ruang sempit ini, aku rasa suatu pertempuran seru tak dapat dielakkan kembali"

"Sedikitpun tidak salah, disini tak ada orang lain, engkau dapat melakukan semua perbuatan yang hendak kau lakukan atas diriku "

"IHaaaaahh haaaaahh haaaahh... tidak salah, untuk melaksanakan aku pun harus melihat gelagat dan kesempatan lebih dahulu, sekarang para jago dari daratan Tionggoan sebagian besar pada menaruh rasa benci terhadap dirimu, tahukah engkau hasil karya dari siapakah ini ?"

"Aku sama sekali tidak ambil pusing terhadap persoalan itu "jawab Gak In Ling dengan gemas.

"Tahukah engkau, bahwa kesemuanya itu adalah hasil karyaku ?"

Gak In Ling mengerutkan dahinya dan tertawa dingin "IHeeehh.. heeeehh.... heeeehh... engkau telah bersiapsedia ?" ia berseru. Ngo-gak Siu-kun gelengkan kepalanya.

"Menurut pendapatku, tidak-sepantasnya kalau kita melakukan pertumpahan darah disini. aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tentunya engkau bukannya tak tahu bukan bahwa semua gerak-geriknya kita saat ini berada dibawah pengawasan orang." Dengan suara dingin Gak In Ling tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh... haaaaaahh.... haaaahh maksudmu engkau hendak ajak aku untuk bekerja sama?"

"Benar " Dengan muka serius Ngo gak Sinkun mengangguk, "dengan kemampuan yang kita miliki, bekerja sama berarti hidup, tercerai-berai berarti mati, hal ini tidak termasuk suatu kerja sama akan tetapi adalah suatu usaha untuk mencari kehidupan dan keselamatan bagi diri sendiri."

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling, ia merasa saat kehidupan baginya dikolong Langit sudah tidak banyak, ini hari jika ia membuang kesempatan baik untuk membinasakan musuh besarnya ini, maka sepanjang masa ia akan merasa menyesal.

Ngo-gak sin-kun sendiri, tatkala melihat keraguan di wajah Gak In Ling, dikiranya pemuda itu sudah tergerak hatinya oleh perkataannya itu, dengan cepat ia menambahkan.

"Itulah salah satu alasan kenapa aku tidak membinasakan dirimu dikala engkau masih atur pernapasan tadi."

"Benarkah hanya lantaran alasan itu?" Sorot mata pemuda she Gak memancarkan cahaya tajam.

"Tentu saja, ketika berada di dasar lembah tadi sewaktu aku terkepung, engkau telah memberi jalan kehidupan bagiku, inipun termasuk salah satu alasan diantaranya."

"Kecuali itu masih ada yang lain lagi ?"

"Aku tak berhasil menemukan alasan yang lainnya "jawab Ngo-gak Sin-kun sambil geleng kepala.

"Hmm Justru alasan yang sesungguhnya belum sempat kau utarakan keluar "

"Alasan yang utama?" Gak In Ling tertawa seram. "Haaaaah haaaahh haaaahh tua bangka, kita berdua berada dibawah pengawasan perempuan siluman dari Tibet, ia sengaja melepaskan engkau masuk kemari tujuannya tidak lain adalah agar engkau membinasakan diriku, akan tetapi setelah engkau membunuh aku maka engkau harus

bergabung kepihaknya, aku rasa inilah alasanmu yang terutama. mengapa kau tidak membinasakan diriku"

Ngo-gak Siu-kun merasakan hatinya bergetar keras, namun diluaran dengan wajah tetap tenang ia tertawa dingin dan menjawab.

"IHeeehh heeeeeh heeeehh.. apakah engkau tidak merasa bahwa engkau menilai terlalu tinggi akan dirimu sendiri ?"

Gak In Ling balas tertawa dingin. "Itulah yang dinamakan engkau dipaksa mendaki gunung Liang-san "

"Aku tidak habis mengerti, siapakah manusia dikolong Langit dewasa ini yang mampu untuk paksa aku berbuat tindakan yang tidak kuharapkan?"

"Tua bangka, engkau tak usah berlagak bodoh,jika siau-ya telah kau bunuh maka siluman perempuan itu pasti akan melepaskan para jago dari daratan Tionggoan ketempat ini sehingga kedok jelekmu terbongkar dan perbuatan jahatmu tertangkap basah, pada saat itu bukan saja engkau bakal kehilangan kedudukanmu sebagai pemimpin jago persilatan, bahkan akan dikeroyok pula oleh banyak orang, dalam keadaan demikian kalau engkau tidak takluk kepada perempuan siluman ini, hendak kemana engkau akan pergi...?"

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Tapi dengan kelicikanmu dan kecerdikanmu, pada detik terakhir otakmu berhasil memecahkan titik masalah tersebut, karenanya engkau bataikan niatmu untuk turun tangan, bukankah itulah alasanmu yang paling utama ?"

Naflu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Ngo-gak Sin-kun, pikirnya. "Orang ini masih berusia sangat muda, bukan saja ilmu silatnya lihay sekali bahkan kecerdasan otaknya tidak berada dibawahku, kalau manusia semacam ini tidak dilenyapkan dari muka bumi, akupun

selamanya tidak bisa hidup dengan hati tenang." Berpikir sampai disini, ia tertawa dingin dan berkata.

"Gak In Ling, tidak seharusnya kau beberkan rahasia tersebut di hadapanku,justru karena perbuatanmu itulah membuat aku menjadi sadar bahwa kecerdasan otakmu adalah hal yang paling menakutkan."

Gak In Ling merogoh kedalam sakunya dan cabut keluar pedang pendek tersebut, ujarnya. "Aku rasa tak ada halangan bagiku untuk membuat engkau menyadari terlebih dahulu."

Sepasang mata Ngo-gak Sin-kun berkilat tajam sewaktu menyaksikan pedang pendek itu, pujinya.

"Aaahh Pedang Cu-sian-kiam, suatu senjata antik yang sangat indah "

Gak In Ling tertawa dingin, perlahan-lahan ia maju kedepan dan mendekati tubuh Ngo-gak Sin-kun.

Malaikat suci dari lima bukit sendiri segera cabut keluar pedangnya dan berkata setelah tertawa dingin.

"Gak In Ling. dalam-permainan pedang aku akan menarik keuntungan yang jauh lebih banyak darimu"

"Hmm Tak usah banyak bicara, lihat pedang " bentak pemuda she Gak dengan alis berkenyit.

Pedangnya berkelebat kedepan menusuk dada Ngo-gak Sin-kun dengan jurus Lau-kang-cay to atau membendung sungai menguruk telaga.

Sejak Gak In Ling mencabut keluar pedang Cu-sia-kiam. Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng dengan sorot mata tamak menatap keatas senjata tersebut tanpa berkedip.

Sesudah musuhnya melancarkan serangan. Yap Thian Leng tak berani bertindak gegabah lagi, buru-buru ia menyingkir kesamping kemudian pedangnya menutul keatas badan

lawannya dengan gerakan Kui-seng-tiam-to atau bintang kemukus menutuk meteor.

Gak In Ling mendengus dingin, pedangnya berputar dan membentak-keras : "Kena "

"Traaang " Pedang Yap Thian Leng terpapas kutung sepanjang dua cun oleh ketajaman senjata lawan.

Malaikat suci dari lima bukit menjadi terperanjat, ia loncat satu tombak kebelakang kemudian tertawa terbahak-bahak,

"Haaaahh haaaaahh.......haaaaahh benar-benar sebilah pedang bagus, Gak ln Ling, bagaimana kalau kita membicarakan soal pertukaran syarat?"

Setelah serangannya berhasil mengenai sasaran, semangat Gak In Ling semakin berkobar, ia tertawa dingin dan mengejek.

"Hmm Lebih baik tak usah bermimpi di siang hari bolong " sambil berkata, sebuah serangan kembali dilancarkan kearah depan.

Sorot mata Ngo-gak Sin-kun berkilat, pedang kutungnya mendadak diayun keudara,

cahaya keperak-perakan menyebar keempat penjuru, dengan jurus gwat-liok-seng-si atau rembulan rontok bintang menghilang, ia paksa Gak In Ling mundur empat lima langkah kebelakang.

Malaikat suci dari lima bukit tertawa dingin, ia menghentikan langkahnya dan berkata. "Gak In Ling, aku nasehati kepadamu lebih baik sedikitlah tahu diri "

Dalam melancarkan serangannya itu, bukan saja Gak In Ling gagal untuk melukai Ngo-gak sin-kun, sebaliknya dia malahan terdesak mundur ke belakang, hal ini membuat pemuda itu sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya sekarang masih belum mampu untuk digunakan melukai musuhnya.

Maka ia mulai menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia melakukan serangan yang terakhir, meskipun dalam hati kecilnya ia tahu andai kata serangan itu gagal maka kematianlah yang bakal ia terima .

Melihat Gak In Ling tidak menjawab, Ngo-gak Sin-kun segera mengetahui bahwa ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk melakukan serangan terakhir, tanpa terasa ia tertawa dingin dan berkata.

"Gak In Ling, engkau tidak usah mengulur waktu lebih jauh, sambutlah seranganku ini "

Mendadak pedangnya berputar kencang dan secara beruntun melepaskan delapan belas buah serangan berantai.

Untuk menyimpan tenaga guna melepaskan serangan yang terakhir nanti, Gak In Ling tak mau buang tenaga dengan percuma- melihat datangnya ancaman terpaksa ia berkelit kesamping untuk menghindarkan diri.

Ngo-gak Sin-kun bukan manusia sembarangan, pedangnya segera dimiringkan kesamping dan...

Criiiiitt Cniiiitt Secara beruntun tubuh Gak In Ling telah bertambah dengan dua buah mulut luka sepanjang tiga cun, namun tak sampai mengucurkan darah.

Dengan bangga Ngo-gak sin kun berkata. "Gak In Ling, anggaplah seranganku barusan merupakan peringatan bagimu, ketahuilah lain kali tak akan seringan itu." Belum habis ia berkata, dengan alis mata berkenyit Gak In Ling telah menerjang maju ke depan sambil melancarkan serangan, katanya.

"Silahkan engkau sambut pula sebuah seranganku." Ngo-gak Sin-kun menengadah, ia menjerit kaget.

"Aahh Hujan darah mengenangi jagad."

Sekilas pandangan, malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng segera mengetahui bahwa ilmu silat yang digunakan Gak In Ling lihay sekali, sikap angkuh dan sombongnya seketika lenyap tak berbekas, tidak memperdulikan gengsinya lagi ia segera jatuhkan diri bergelinding di atas tanah dan menyingkir sejauh lima depa lebih dari tempat semula. Reaksi yang dilakukan olehjago tua itu cukup cepat, akan tetapi serangan jari maut dari Gak In Ling yang dilancarkan secepat kilat itu jauh lebih cepat lagi, tujuh buah lubang kecil segera bertaburan diatas jubah biru yang dikenakan olehnya.

Sesudah menggelinding sejauh lima depa, dalam anggapan malaikat suci dari lima bukit dirinya telah lolos dari cengkraman iblis, ketika kepalanya menengadah keatas jantungnya seketika berdebar keras, teriaknya tanpa sadar. "Aduuuuuhh habislah sudah riwayatku "

Ternyata serangan hujan darah menggenangi jagad tersebut belum habis dipergunakan, pada saat itu bagaikan gemuruh yang memenuhi angkasa sedang meluncur datang disertai beratus-ratus bayangan jari berwarna merah darah yang amat mengerikan sekali.

Pada saat yang kritis dan jiwanya terancam olehama rah baaiya itulah, tiba-tiba terdengar Gak In Ling mendengus dingin, tubuhnya yang sedang berada di tengah udara meluncur dan jatuh kebawah kemudian mundur empat lima langkah kebelakang, hampir saja ia roboh terjengkang keatas tanah.

Mengikuti cahaya tadi, cahaya merah darah yang menyelimuti seluruh angkasa pun ikut lenyap tak berbekas.

Sebelah mundur kebelakang sejauh lima depa, malaikat suci dari lima bukit menengadah dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia temukan ruang itu tetap kosong tidak nampak manusia ketiga, hal ini mencengangkan hatinya.

"Siapa yang telah menyelamatkan jiwaku ?" pikirnya. Gak In Ling sendiri diam-diam menghela napas panjang, pikirnya. "Aaaaii hanya selisih sedikit sekali, tetapi karena selisih yang amat sedikit itulah mati dan hidup telah ditetapkan "

Malaikat suci dari lima bukit memandang sekejap paras muka Gak In Ling yang pucat pias bagaikan mayat, lalu sambil tertawa dingin ejek

"Gak In Ling aku lihat engkau telah menderita luka dalam yang cukup parah."

"Hmm Kalau tidak begitu, mungkun sejak engkau sudah mampus diujung jariku"

Ketika dilihatnya pemuda itu tidak menengok kekiri ataupun kekanan, satu ingatan berkelebat dalam benak Ngo-gak Sin-kun, ia segera berseru. "Hal ini harus salahkan, kenapa engkau tak becus "

"Hmm Mungkin Thian telah salah menilai orang, sehingga membiarkan engkau manusia busuk tetap hidup didunia"

Ngo-gak Siu-kun adalah manusia yang sangat licik, setelah mendengar ucapan itu, ia semakin yakin kalau jalan pikirannya tidak salah, segera bathinnya.

"Ooobh .. Rupanya Thian benar-benar membantu diriku..."

Ditatapnya wajah pemuda itu tanpa berkedip, kemudian sambil tertawa dingin katanya. "Gak In Ling, sebenarnya aku hendak mengampuni selembar nyawamu asal pedang Cu-sian kiam tersebut kau serahkan kepadaku, akan tetapi sekarang berhubung jurus seranganmu yang terakhir ini, mau tak mau aku harus ambil keputusan untuk lenyapkan dirimu dari muka bumi "

"Tidak salah, selama aku tidak dibunuh maka engkaupun tidak akan mendapatkan kehidupan yang tenang "

Ngo-gak Siu-kun tertawa seram.

"Haaaaahh.......haaaahh haaaahh Gak In Ling dahulu aku sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap dirimu, akan tetapi sekarang setelah kau unjukkan kebolehanmu dalam ilmu silat dan kecerdikan, aku baru merasa bahwa dalam segala hal aku masih berada dibawahmu, karena itulah akupun mulai menyadari bahwa manusia semacam engkau tidak diperbolehkan hidup lebih jauh di kolong langit, kalau tidak maka akulah yang harus memikul resikonya."

Dengan sorot mata penuh nafsu membunuh, selangkah demi selangkah ia maju menghampiri pemuda itu.

Tanpa sadar Gak In Ling mundur dua langkah kebelakang, setelah berhasil berdiri tegak ia berkata.

"Kita berdua sama-sama berada dalam pengawasan orang lain, kalau engkau tidak turun tangan lagi, mungkin sudah tiada harapan lagi bagimu untuk melaksanakannya" Ngo-gak Siu-kun tertawa.

"Tidak salah, akan tetapi-sekarang kendati Malaikat Toa-lo Kiam-sian datang kendatipun tak akan bisa menyelamatkan jiwamu." Sepasang telapaknya diangkat sejajar dengan dada.

Selisih jarak antara kedua orang itu hanya empat depa dan sekarang Gak In Ling telah kehilangan segenap kekuatan murninya karena mempergunakan tenaga terlalu berlebihan, keadaannya pada saat ini tidak jauh berbeda dengan keadaan orang yang takpandai bersilat, tidak aneh kalau Ngo-gak Siu-kun berani omong besar.

Akan tetapi seringkali peristiwa yang terjadi dikolong langit sukar diduga sebelumnya, baru saja Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng menyelesakan kata-katanya, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara tertawa merdu seseorang disusul meluncurnya kata-kata teguran tajam.

"Apakah Sin-kun tidak merasa bahwa ucapanmu, itu terlalu berlebihan ?"

Mendengar teguran tersebut, Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng merasa amat terperanjat, namun ia tidak berpaling sementara tangannya dengan cepat berputar. "Kalau sekarang tidak turun tangan, mau tunggu sempat kapan lagi ?"

Telapaknya segera diputar dan siap melancarkan pukulan yang mematikan.

Mendadak "Sin-kun .." serunya bergema lembut diangkasa.

Sungguh aneh sekali, tatkala Malaikat suci lari lima bukit mendengar seruan tadi ternyata sepasang telapaknya dengan lemas tak bertenaga segera terkulai kembali kebawah, dan pada saat yang amat singkat itu juga Gak In Ling telah terjatuh ketangan seorang perempuan berpakaian tipis. Perempuan itu bukan lain adalah Tiongcu perkumpulan rahasia dari wilayah Tibet.

Perempuan itu sama sekali tidak pandang sekejappun kearah Ngo-gak SiH-kun yang berada dibelakangnya dengan suara lembut ia berbisik kepada pemuda itu.

"Bila kedatangan Siau-moay agak terlambat sehingga mengejutkan hati kongcu, harap kongcu suka memaafkan " Sekuat tenaga Gak In Ling meronta dan melepaskan diri dari cekalan perempuan itu, lalu setelah mundur empat langkah kebelakang sahutnya dengan nada dingin.

"Engkau tak usah berlagak sok dihadapanku setelah hari ini Siau-ya terjatuh ketanganmu segala sesuatunya terserah pada keputusanmu." Tiongcu dari Tibet tertawa dingin.

"Aaaaah Engkau benar-benar menarik hati, asal engkau bersedia melakukan perbuatan sesuai dengan perkataanku, maka aku pasti tidak akan merugikan pula dirimu."

"Ber... berbuat apa ?" tanya Gak In Ling sesudah tertegun sebentar.

"Sampai waktunya aku dapat menyampaikan perintah kepadamu "

"Perintah ?" seru Gak In Ling dengan gusar, ia tertawa dingin,

"Engkau hendak memerintahkan diriku? haaaahh haaah haaaaahh...jangan bermimpi disiang bari bolong."

"Ada apa?" Wajah Tiongcu dari Tibet berubah ketus, "apakah engkau hanya bersedia mendengarkan perintah mereka bertiga dan tidak mau mendengarkan perintahku?"

"Siapapun tak akan dapat memberi perintah kepadaku," teriak Gak In Ling dengan gusar. Dalam pada itu Malaikat dari lima bukit Yap Thian Leng telah mengundurkan diri kesudut ruangan, sepasang matanya yang tajam mengawasi daerah disekeliling sana dengan tajam, ketika dilihatnya orang-orang dari Tibet itu bisa masuk keluar dengan leluasa, ia segera mengetahui bahwa tombol rahasia yang mengendalikan ruangan tersebut pasti terletak disekitar sana..

Ia hendak menemukan tombol rahasia tersebut agar dapat melarikan diri dari sana, akan tetapi walaupun sudah dicari setengah harian lamanya akan tetapi tombol rahasia itu tak ketemu juga .

Tentu saja Tiongcu dari Tibet mengetahui akan gerak gerik dari Yap Thian Ling, hanya saja sengaja ia pura-pura tidak tahu dan membiarkan orang itu berusaha mati-matian. Perempuan itu tertawa merdu, kembali ujarnya kepada Gak In Ling.

"Engkau mengatakan bahwa mereka tidak dapat memerintahkan dirimu ? Akan tetapi kenapa engkau selalu bekerja sama dengan mereka? Misalnya saja ketika mereka sedang terkurung di dasar lembah, bukankah engkau telah suruh mereka meloloskan diri ?"

"Sedikitpun tidak salah " Sambil berkata diam-diam pemuda itu mulai menghimpun tenaga dalamnya.

seakan-akan sama sekali tidak merasakan akan tindakan pemuda itu, Tiongcu dari Tibet kembali berkata dengan gamblang.

"Kedudukan mereka jauh berada diatas orang banyak, mereka merupakan orang-orang yang bisa memerintahkan dan tak bersedia diperintah hal ini diketahui oleh siapa pun, apakah kerja sama diantara kalian hanya terjadi secara kebetulan saja ?"

"Hmm Paling sedikit tujuan mereka adalah demi keselamatan umat persilatan didaratan Tionggoan, mereka jauh lebih baik daripada engkau yang berhati busuk bagaikan ular berbisa."

Tiongcu dari Tibet memiliki watak yang mengejutkan, makian dari Gak In Ling sama sekali tidak menimbulkan amarahnya, ia cuma tertawa tawa dan berkata kembali.

"Sebenarnya hatiku tidak terlalu jahat, tetapi kalau tidak melakukan pembasmian sukar melenyapkan benalu, kalau benalu tidak lenyap sukar memdapatkan hasil buah yang segar, karena itu untuk kedamaian mau tak mau aku harus melakukan pembasmian terlebih dahulu atas benalu-benalu tersebut."

Mendengar perkataan itu Gak In Ling tertawa menghina.

"Heeeehh heeeehh........heeeeehh menurut apa yang kuketahui, orang-orang yang kau bunuh tak seorangpun merupakan orang jahat."

Kecerdasan otak Tiongcu dari Tibet itu benar-benar luar biasa, reaksipun cepat sekali, ia segera tertawa terkekeh-kekeh. "Gak ln Ling, pernahkah engkau dengar perkataan yang mengatakan bahwa menilai orang tak boleh menilai dari wajahnya ?"

"Tentu saja aku pernah dengar "Jawab sang pemuda sambil tertawa dingin. Tiongcu dari Tibet maju dua langkah kedepan, lalu sambil menuding kearah Yap Thian Ling katanya.

"Sebelum kau mengetahui keadaan dirinya yang benar, menurut tanggapanmu dia adalah orang baik atau orang jahat?"

"Benar," pikir Gak In Ling dengan hati agak bergerak, "andaikata sejak permulaan aku tidak tahu kalau orang ini adalah Ngo-gak Sin-kun mungkin aku benar-benar akan menganggap dirinya sebagai seorang cianpwee persilatan yang berhati saleh "

Melihat pemuda itu tidak menjawab, Ttong cu dari Tibet mengetahui bahwa hatinya sudah tergerak, buru-buru katanya kembali.

"Masih ada lagi Budha antik, dalam pandanganmu yang pertama kali bukankah engkau pun menganggap dirinya sebagai seorang padri saleh ? Akan tetapi dalam kenyataannya, semua orang-orang itu adalah manusia busuk."

"Sampai dimanakah kebusukanku ?" bentak Ngo-gak Sin-kun dengan penuh kegusaran.

Tiongcu dari Tibet tertawa merdu. "Sekarang masih belum tiba waktunya kamu untuk ikut berbicara."

Ngo-gak Sin-kun adalah seorang tokoh yang tersohor dalam dunia persilatan, penghinaan yang diterimanya dihadapan Gak In Ling sangat menggusarkan hatinya, ia tak tahan dan segera membentak keras. "Ciiiss... engkau anggap aku adalah manusia seperti apa ?" Tiongcu dari Tibet itu kembali tertawa merdu.

"Engkau ?? Oooohh Tidak lebih hanya seekor domba yang tunggu akan disembelih."

Suaranya lembut tidak membawa emosi, akan tetapi cukup bikin dada orang terasa mau meledak.

Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng tak dapat mempertahankan diri lagi, ia meraung keras.

"Sambutlah kembali sebuah pukulanku "

Dengan jurus Keng-lui-peng-tiam atau guntur menggeletar kilat menyambar laksana kilat ia hantam tubuh Tiongcu dari Tibet itu. Tenaga dalam yang dimiliki Malaikat suci dari lima bukit pada dasarnya memang sudah mencapai kesempurnaan, apalagi serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan gusar, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya serangan tersebut.

Angin pukulan menderu-deru bagaikan gulungan ombak ditengah samudra, diiringi suara gemuruh yang memekikkan telinga serangan tadi langsung menghantam kedepan. Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, dalam hati pikirnya.

"Pukulan ini cukup dahsyat, belum pernah kusaksikan kepandaian silat dari perempuan itu, akan kulihat dengan jurus apakah ia hendak memecahkan serangan tersebut ?"

Akan tetapi Tiongcu dari Tibet itu hanya tertawa tawa belaka, katanya dengan nada sinis.

"Huuuuhh .. Pukulan semacam itu masih belum terhitung seberapa, berapa kati sih kekuatannya ?"

Tangan kanan diayun kemuka, setelah berputar satu lingkaran langsung menghajar dada Yap Thian Ling, hardiknya. "Enyah kau dari sini"

"Blaaaamm......." Angin pukulan maha dansyat yang dilancarkan Ngo-gak Siu-kun ternyata berbelok arah dan tepat menghantam dinding langit-langit gua tersebut, membuat bantuan berguguran dan muncullah sebuah lekukan sedalam tiga depa diatas dinding gua, sementara Tiongcu dari Tibet sedikitpun tidak tergeser dari tempat semula.

Dengan hati terperanjat Ngo-gak Sin-kun mundur beberapa langkah kebelakang serunya. "Aaaahh Memindahkan bunga menyambung kayu ?"

Gak In Ling sendiripun ikut merasa terperanjat, pikirnya.

"Menurut adik Hun, ilmu memindahkan bunga menyambung kayu adalah suatu kepandaian tinggi yang dapat memindahkan kekuatan serangan orang lain menuju kearah lain, atau bahkan bisa juga melukai penyerang dengan kekuatan pukulannya sendiri,jangan jangan siluman perempuan ini..." Belum habis Gak In Ling berpikir, terdengar Tiongcu dari Tibet seakan tak pernah terjadi sesuatu apapun berkata.

"Akupun tahu, diantara orang-orang itu ada beberapa orang diantaranya merupakan musuh-musuh besar yang kau benci, asal engkau bersedia untuk bekerja sama dengan aku, bukan saja aku dapat.. hiiiiiiihh.....hiiiiiiihh.....hiiiiiiiihh..."

"Dapat bagaimana ?" tanya Gak In Ling agak tertarik,

Diam-diam Tiongcu dari Tibet tertawa geli pikirnya.

"Hm.m Aku tidak takut kalau engkau tak akan tertarik,..." Berpikir sampai disitu, ia tertawa dan berkata. "Engkau tak usah gelisah lebih dahulu, eei dimana pengawal ?"

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, sebuah pintu rahasia terbentang lebar dari hadapan mereka, enam orang gadis cantik bagaikan bidadari dengan memakai baju yang tipis sekali sehingga kelihatan seluruh bagian tubuhnya yang terlarang perlahan-lahan berjalan mendekat.

-oo0dw0oo-