Telapak Setan Jilid 19 : Serbuan Tiongcu dari Tibet

Jilid 19 : Serbuan Tiongcu dari Tibet

"KARENA usiaku sudah tak dapat melampaui satu bulan lagi." sahut Gak In Ling dengan suara berat, sorot matanya perlahan-lahan dialihkan keatas langit-langit gua.

"Aaaaahh. Dewi burung hong menjerit kaget, sesaat kemudian rasa girang terlintas diatas wajahnya, ia genggam tangan Gak In Ling kencang-kencang, kemudian serunya. "Jadi jadi engkau mencintai diriku ?"

"Benar, karena engkau telah menjadi... Aaaaaaii "

Rasa murung dan kesal tersapu lenyap dari wajah Dewi burung hong, buru-buru tanyanya. "Aku telah menjadi apa mu? cepat katakan-.." suaranya lembut dan penuh daya tarik.

"Engkau telah menjadi isteriku, kenapa aku tidak mencintai dirimu ?"

Dewi burung hong berseru lirih dan menubruk masuk kedalam pelukan Gak In Ling, ia tempelkan wajahnya diatas pipi pemuda itu dan bisiknya lirih.

"Hmm Aku sangat berharap dapat mendengar bisikanmu itu, engko Ling selanjutnya aku pasti akan mendengarkan perkataanmu engkau suruh aku berbuat apa, pasti akan kulakukan segera, mau bukan ?"

Dengan penuh kasih sayang Gak In Ling membelai rambutnya yang kusut, dari nada ucapannya yang begitu tegas ia tahu bahwa gadis itu benar-benar telah berubah, meskipun ia tidak habis mengerti kekuatan apakah yang membuat gadis itu sama sekali berubah.

Gak In Ling mencium pipinya dengan penuh kemesraan, lalu sambil tertawa sedih kata-nya.

"Adikku, mungkin aku tak dapat selamanya menemani dirimu."

"Aku bernama Bwee Giok Siang." kata Dewi burung hong sambil tertawa manis," didaratan Tionggoan hanya engkau seorang yang mengetahui akan namaku ini, karena engkau sudah..."

Tiba-tiba ia merandek sebentar, dan sambung dengan serius.

"Aku tahu ada sejenis obat dapat menyembuhkan penyakitmu, walaupun engkau tidak sudi memohon kepadanya akan tetapi kita bisa menunggang Hong-ji untuk mencurinya."

"Tidak.. andaikata sampai ketahuan oleh mereka, bagaimana jadinya ?" seru Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya.

Napsu membunuh memancar keIuar dari wajah burung hong, baru saja ia akan buka suara, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir.

"Ia melarang aku membunuh orang tanpa dasar, kalau aku bersikeras hendak membinasakan mereka, ia pasti akan marah." Berpikir sampai disini, buru-buru ujarnya.

"Kalau memang begitu kita dapat memohon kepadanya, tak mungkin dikolong langit ada orang yang begitu kejamnya sehingga tak mungkin mau menolong orang yang sudah hampir mati."

Gak In Ling lega hatinya setelah mendengar perkataan itu, sambil membelai pipinya dengan penuh kasih sayang bisiknya. "Adik siang, engkau benar-benar sudah berubah "

"ooooohh sungguh berubah " pikir Dewi burung hong didalam hati kecil. Mendadak ia berseru tertahan dan teriaknya.

"Aaah Kenapa disini terdapat begitu banyak air ?"

Gak In Ling segera menengok kebawah ia melihat air dalam gua itu jauh meninggi dari keadaan semula dan air tadi mengalir keluar gua tersebut, buru-buru ia bopong tubuh dara itu dan loncat bangun.

Tapi dengan cepat wajah mereka berubah menjadi merah padam, kedua orang muda mudi itu saling membelakangi dan cepat mengenakan pakaian. Selesai berpakaian, Gak in Ling memungut pedang pendeknya dan Dewi burung hong mengambil pusaka Ular yang terendam dalam air setelah direndam beberapa saat racun yang terhisap gumpalan bola itu sudah buyar sedang benda itu pulih kembali menjadi putih bersih.

Gak In Ling segera menarik tangan Dewi burung hong untuk keluar gua, gadis itu menyambar mutiara merah diatas pembaringan batu dan bersama-sama loncat keluar dari sana. Diatas pembaringan tersisa noda darah merah dan kepingan kotak kayu yang hancur.

Setelah keluar dari gua, mendadak kedua orang itu menghentikan langkah kakinya dan berseru tertahan-

Tampaklah Hiat- bin- kim-kong Malaikat raksasa bermuka merah sedang merangkak bangun dari atas tanah, punggung dan kepalanya telah basah kuyup, rupanya air dingin yang mengalir keluar gua itu telah menyadarkan jagoan tersebut dari pingsannya.

Yang membuat hati Gak In Ling berdua menjadi kaget bukanlah air dingin yang menyadarkan Malaikat raksasa bermuka merah itu, melainkan pukulan telak yang dilancarkan oleh pemuda itu ternyata tak berhasil membinasakan dirinya.

Pada waktu itu Malaikat raksasa bermuka merah sedang berdiri membelakangi mereka, berhubung luka dalam yang dideritanya amat parah maka kedatangan kedua orang itu

sama sekali tidak terasa olehnya, tangan kirinya masih menekan diatas mulut luka dan menggosok tiada hentinya.

Dewi burung hong angkat kepalanya memandang sekejap kearah pemuda itu, rupanya ia ssdang minta pendapat pemuda itu untuk menyelesaikan persoalan itu. Gak In Ling segera maju kedepan, serunya dengan dingin. "Saudara engkau benar-benar panjang usia "

Mendengar teguran itu, Malaikat raksasa bermuka merah nampak terperanjat, dengan cepat ia bangkit berdiri dan putar badan, akan tetapi berhubung ia terluka parah maka langkah kakinya tak dapat dikuasai, dengan sempoyongan badannya mundur dua-tiga langkah kebelakang, matanya melotot lebar dan serunya dengan nada dingin.

"Sedikitpun tidak salah, agaknya engkau merasa kecewa bukan " Gak In Ling tertawa dingin-

"Engkau disebut orang sebagai Malaikat raksasa bermuka merah, akan tetapi saat ini mukamu pucat pias bagaikan mayat, aku rasa luka dalam yang kau derita cukup parah bukan"

Jangan dilihat Malaikat raksasa bermuka merah bicara kasar dan membawa sifat ketolol-tololan, dalam kenyataan dia adalah seorang manusia yang berpikir cepat, setelah menilai sebentar keadaan situasi, ia sadar bahwa untuk membohongi Gak In Ling sudah tak mungkin lagi, maka dengan terus terang jawabnya.

"Sedikitpun tidak salah, luka dalam yang kuderita memang sangat parah, akan tetapi kalau engkau masih mempunyai kegembiraan untuk bertempur aku pun bersedia untuk melayani dirimu untuk bergebrak beberapa jurus."

Sambil berkata ia tekan mulut lukanya dengan tangan dan bersiap siaga untuk melangsungkan perta rungan.

Dalam kenyataan dihati kecilnya ia tahu bahwa kepandaian silat yang dimilikinya tak dapat dipergunakan lagi, bahkan apabila terkena sebuah pukulan dari Gak In Ling lagi niscaya ia bakal mampus, namun wataknya yang keras hati membuat orang itu tak sudi tunduk kepala dihadapan orang. Gak In Ling tertawa dingin, sahutnya.

"Selama hidup belum pernah aku menghajar anjing yang sudah tercebur kedalam air, pertarungan ini lebih baik dibatalkan saja "

Sambil berkata ia menarik tangan Dewi burung hong dan siap meninggalkan gua tersebut.

Malaikat raksasa bermuka merah melototkan sepasang matanya bulat-bulat, ia maju kedepan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu teriaknya.

"Apa kau bilang ? Engkau memaki aku sebagai anjing yang tercebur kedalam air ? Mari... mari.. mari..... bajingan cilik, ini hari toa-ya mu akan beradu jiwa dengan engkau..."

"Huuuhh... Untuk berdiri saja tak mampu berdiri tegak. begitu tokh ingin menantang engko Ling untuk berkelahi ?" Ejek Dewi burung hong sambil tertawa.

"Andaikata penglihatannya kami tidak salah, aku rasa hawa darah dalam isi perutmu pada saat ini telah tersumbat dan tidak bisa diatur kembali, aku takut..."

Mendadak ia membungkam dan menunjukkan satu senyuman yang amat misterius, membuat orang tidak dapat menduga apa sebenarnya maksud gadis itu.

Melihat gadis itu tertawa, Malaikat raksasa bermuka merah menjadi bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, karena perkataan lawannya dengan tepat berhasil menduga rahasianya. Tak tahan lagi ia membentak penuh kegusaran-"Bocah perempuan, apa yang kau tertawakan ?"

Dewi burung hong mengerling sekejap kearah Gak in Ling, kemudian ujarnya dengan manja.

"Engko Ling, engkau benar-benar berhati welas, rupanya engkau sudah tahu bahwa setengah jam kemudian seluruh peredaran darahnya bakal tersumbat dan seluruh ilmu silat yang dimilikinya bakal punah, engkau benar-benar berjiwa besar, kemudian hari aku harus lebih banyak belajar dari engkau."

Gak In Ling dibikin bingung oleh ucapan dara itu, pikirnya didalam hati. "Kapan sih aku berhasil mengetahui akan rahasia tersebut ?"

Akan tetapi ia tidak membongkar rahasia tersebut, sambil memandang wajah Dewi burung hong ia tertawa dan berkata.

"Adik Siang, aku mengetahui akan maksud hatimu "

Perlahan-lahan digenggamnya telapak tangan gadis itu denganpenuh kemesraan-Dewi burung hong merasa hatinya hangat dan gembira, sambil tertawa merdu serunya.

"Engko Ling, dalam sakuku terdapat sejenis obat mujarab yang dapat menyembuhkan luka dalam, enaknya kita berikan kepada orang itu atau jangan ?"

Sebenarnya Malaikat raksasa bermuka merah sudah merasa terkejut dan kuatir sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya ketika mendengar Dewi burung hong menebak jitu titik kelemahannya, sekarang setelah mendengar bahwa lukanya dapat disembuhkan dengan obat, sepasang matanya terbelalak semakin sebat dan kakinya tanpa terasa maju setindak kedepan-

Gak In Ling adalah seorang pemuda yang berhati tulus dan ramah, dalam hati pikirnya.

"Antara aku dengan orang ini tidak pernah terikat dendam ataupun sakit hati, tindakanku merampas benda yang sudah ditunggu dan dipelihara oleh orang lain selama banyak tahun

sudah tidak pantas, apalagi menghajar orang itu sehingga terluka diujung telapakku, tindakan semacam ini lebih-lebih tidak pantas, sekarang ternyata orang itu belum mati, sudah sepantasnya kalau aku harus berusaha untuk menyelamatkan jiwanya." Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata. "Adik Siang, berikanlah kepadanya."

"Boleh saja kuberikan kepadanya akan tetapi diapun harus menyanggupi sebuah syarat yang akan kuajukan "jawab Bwee Giok Siang atau Dewi burung hong dengan wajah serius.

"Apa syaratmu ?" seru Malaikat raksasa bermuka merah dengan mata melotot.

"selama hidup engkau harus mengikuti engko Ling "

"Jadi pelayannya ?" teriak Malaikat raksasa bermuka merah dengan wajah tertegun dan nada penuh kegusaran-

"Sedikitpun tidak salah, engkau harus bersedia menjadi pesuruh dan pelayannya selama hidup"

sekilas cahaya merah darah memancar keluar diatas wajahnya yang pucat pias, Malaikat raksasa bermuka merah tertawa keras dan berteriak.

"Haaaahh haaaah haaaaahh... budak ingusan, siapakah engkau, berani benar mengajukan syarat tersebut ? Haaahh haaahh lebih baik aku mampus daripada menjadi pelayan orang "

Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang mengerutkan dahinya dan menjawab dengan ketus. "Nonamu itu disebut orang Dewi burung hong, masa aku tidak pantas ?"

Sekujur badan Malaikat raksasa bermuka merah gemetar keras dan tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang, katanya.

"Apa ?? Jadi engkau adalah Dewi burung hong yang datang dari laut Lamhay ?" Tiba-tiba ia tundukkan kepalanya dan mulai berpikir.

"Adik Siang berikanlah kepadanya." bisik Gak In Ling.

"Tidak. aku sengaja tidak akan berikan kepadanya " sahut dara tersebut sambil menjebirkan bibirnya.

"Barusan, bukankah engkau sudah berjanji akan mendengarkan perkataanku, kenapa sekarang engkau malah membantah ?"

"Musuh besarku terlalu banyak, sekalipun aku tidak perlu mencari mereka, merekapun tak akan melepaskan diriku, oleh sebab itu aku takut disaat aku sedang bertempur dengan mereka tiba-tiba engkau jatuh sakit, pada waktu itu aku tak bisa merawat dirimu, seandainya sampai terjadi..." Gak In Ling menghela napas panjang, katanya.

"Adik siang, mati atau hidup ditangan Thian, dengarkanlah perkataanku dan berikanlah obat tersebut kepadanya ?"

"Engko Ling, dewasa ini jago lihay didalam dunia persilatan terlalu banyak, aku memohon kepadamu dengarkanlah perkataanku ?"

"Kalau engkau masih memberi muka kepadaku, cepat berikan obat itu kepadanya "

Dewi burung hong angkat kepala memandang sorot mata Gak In Ling yang tajam, hatinya merasa amat sedih sehingga tanpa terasa air mata jatun bercucuran, ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluarkan sebutir pil sebesar buah kelengkeng kemudian sambil diangsurkan ke hadapan Malaikat raksasa serunya. "Nah ambillah "

Malaikat raksasa bermuka merah menerima pil tersebut, setelah menyapu sekejap kearah gadis itu, tiba-tiba ia jatuhkan diri berlutut dan mengangsurkan kembali obat itu sambil berseru.

"Sian-cu, terimalah kembali obatmu itu. Aku, Malaikat raksasa bermuka merah hanya seorang tukang silat kasaran, tidak berani kuterima budi kebaikkan sebesar ini "

Sementara itu Dewi burung hong telah berjalan kembali kesamping Gak In Ling, mendengar perkataan itu ia segera menggeleng kepala dan menjawab dengan hambar.

"Engkau tokh sudah tahu akan watak dari nonamu, obat tersebut kuhadiahkan kepadamu bukanlah lantaran engkau, melainkan-.."

Berbicara sampai disitu ia melirik sekejap kearah Gak In Ling dengan suara sedih.

Si anak muda itu menjadi tak tega, ia merangkul Dewi burung hong dan mendekapnya kencang-kencang, bisiknya dengan suara lembut.

"Adik Siang, obat itu tentu berharga sekali, apakah engkau marah ??"

Dewi burung hong menggeleng kepala, dan ia merebahkan tubuhnya dalam pelukan sianak- mudaitu, jawabnya.

"Engkau suruh aku berbuat apa, aku akan berbuat apa, asal engkau gembira akupun gembira."

Dalam pada itu, ketika Malaikat raksasa bermuka merah melihat Dewi burung hong tidak memperdulikan dirinya, tiba-tiba ia buka suara dan berkata kembali.

"Seandainya nona menganggap aku Malaikat raksasa bermuka merah pantas untuk melindungi kongcu ini, aku akan menelan obat yang kau berikan kepadaku ini."

Dewi burung hong menjadi sangat kegirangan-

"Seandainya aku tidak merasa bahwa kau pantas untuk melindungi keselamatannya, tak nanti kuajukan syarat itu."

"Syarat itu sama sekali tidak menguntungkan diri nona," kata Malaikat raksasa dengan wajah serius. "Andaikata apa yang kudengar tidak salah, aku dengar selama hidupnya gurumu telah mengarungi seluruh penjuru dunia dan menempuh bahaya, namun selama ini hanya berhasil

mendapatkan tiga biji ci-Hong-cu, sekarang engkau telah menghadiahkan sebutir kepadaku dan syarat yang kau ajukanpun begitu enteng, bukankah engkau akan rugi besar?"

"Apa ? obat ci-Hong-cu ?" seru Gak ia Ling dengan hati terperanjat. Dewi burung hong mencebirkan bibirnya yang kecil dan berseru.

"Huuuhh Tadi saja keadaanmu mengerikan sekali seperti mau menerkam manusia, sekarang baru menjerit kaget, sudah tentu aku tidak bohong "

Setelah mengerling sekejap kearah Gak In Ling, dia mendongak dan serunya, "cepatlah telan "

"Aku tidak membutuhkan pembantu " seru Gak In Ling dengan hati gelisah.

"Engko Ling, kau..."

"Benar," seru Malaikat raksasa bermuka merah sambil mengangguk," tenaga dalamku masih bslum dapat memadahi dirimu, tentu saja tiada kepentingan bagimu untuk menerima aku sebagai pembantu."

"Engkau jangan salah paham, aku berkata demikian karena aku tak ingin memperlakukan orang sebagai pembantu atau pelayan, kita sebagai sesama umat persilatan tidak sepantasnya mempunyai hubungan antara majikan dengan pelayan-"

Mendengar ucapan tersebut Malaikat raksasa bermuka merah angkat kepala dan menatap tajam wajah Gak ln Ling, tanyanya. "Sungguhkah perkataanmu itu ?"

"Selama hidup aku belum pernah bicara bohong barang sepatah katapun..." Malaikat raksasa bermuka merah menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh,... .. haaaahh . haaaahh.. itu berarti aku Malaikat raksasa bermuka merah punya kebebasan untuk memilih ?"

Berbicara sampai disini ia segera telan pil ci-Long-cu tersebut dan duduk bersila untuk mengatur pernapasan-

Dewi burung hong bersandar dalam pelukan Gak In Ling, sekarang ia dapat menghembuskan napas lega.

Gak In Ling merangkul pinggangnya dan berkata dengan lembut. "Adik Siang, mari kita keluar untuk melihat gerak gerik mereka "

"Melihat gerak-gerik siapa ? Apakah Ling cu itu ?"

"Benar, mungkin mereka sudah mempersiapkan serangan "

"Hmm, dia amat cantik "

"Siapa ?" tanya Gak In Ling agak tertegun-

"Gadis suci dari Nirwana "

"Huuss..Jangan sembarangan bicara ?"

Dua orang itu segera berjalan keluar dari gua, namun Dewi burung hong tidak mau berjalan bersama pemuda itu, ia ketinggalan jauh ke belakang.

Gak In Ling berpaling, ketika melihat gadis itu ketinggalan satu tombak jauhnya, mengertilah pemuda itu bahwa dara tersebut tidak bersedia membantu mereka, maka ia segera berseru.

"Kalau engkau tidak cepat jalannya, hati-hati kalau sampai ada kelabang emas merambat ditubuhmu akan kulihat siapa yang akan menolong dirimu..?"

Dewi burung hong tidak takut langit dan tidak takut bumi, tapi takut pada kelabang emas karena barusan telah menderita kerugian besar, mendengar perkataan itu ia menjadi ketakutan dan segera berseru. "Engko Ling, tunggu aku "

Ia menjejak tanah dan meluncur kedalam pelukan Gak In Ling, seakan-akan kelabang emas itu benar-benar sudah berada dibelakang punggungnya.

Mendadak... "Aduuuhh " Gadis itu menjerit kesakitan, "aduh sakitnya..." kakinya menjadi lemas dan hampir saja ia roboh terjengkang keatas tanah. Buru-buru Gak In Ling memayang tubuhnya sambil bertanya.

"Kenapa sih engkau? mananya yang sakit." Merah padam selembar wajah Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang.

"Hmm perbuatanmu yang dilakukan sendiri masih ditanyakan kepada orang lain ?" omelnya.

"Aku ? Perbuatanku ?"

"Sudahlah, ayoh cepat berangkat Mari kila lihat apakah Ling - cu danpangcu mu yang cantik jelita itu benar-benar terkepung atau tidak... ?"

Melihat gadis itu tidak menerangkan lebih jauh, Gak In Ling membathin didalam hati. "Kalau engkau tidak menjelaskan, dari mana aku bisa tahu ?"

Baru saja kedua orang itu keluar dari mulut gua, tiba-tiba terdengarlah jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang dari arah bawah, mereka segera tundukkan kepalanya dan dua orang itu terbelalak karena terkejutnya, untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dewi burung hong atau Bwee Giok-Siang diam-diam merasa girang, pikirnya. "Kali ini aku mau melihat kalian bisa galak-galak lagi atau tidak "

Dibawah gua merupakan sebidang tanah berumput hijau yang ketika itu sudah digenangi air dingin setinggi satu cun, berpuluh puluh sosok mayat bergelimpangan diatas tanah dalam keadaan kaku, tidak nampak luka ditubuh mereka

karena tiada noda darah yang berceceran disana, tapi mayat-mayat itu sudah lama putus nyawa.

Gak In Ling bergumam seorang diri: "oohh.... mereka adalah anak buah dari Thian-hong pang dan Yau-tie-Ieng, sedang sisanya mungkin adalah pengikut dari bajingan tua itu, aaaii sungguh kasihan."

Tiba-tiba serunya kembali dengan nada terperanjat.

"Eeeii apa yang terjadi? Hanya dua belas orang bocah cilik itu saja sudah cukup membuat mereka tak bisa berkutik ?"

Diseberang gua tampaklah dua belas orang bocah cilik baju merah yang bermuka tampan berdiri dengan membentuk posisi setengah lingkaran, diatas kepala mereka terdapatlah seekor ular kecil berwarna hijau yang melingkar tak berkutik, bentuknya seperti ukiran namun tak seorangpun yang tahu makluk itu hidup atau tidak.

Rujung baja dan tubuh merekapun terdapat pelbagai macam Ular beracun yang berbentuk sangat aneh, akan tetapi makhluk-makhluk tersebut bagaikan ukiran belaka karena mereka sama sekali tidak bergerak.

Dipihak lain Gadis suci dari Nirwana, Thian hong pangcu serta Ngo-gak-sin-kun membentuk tiga kelompok sedang bertarung mati-matian melawan pelbagai macam binatang beracun yang menyerang dari darat- air maupun udara...

Semakin memandang Gak In Ling makin terperanjat, sekarang ia baru tahu bahwa dalam lembah kecil yang berwana hijau ini sebenarnya merupakan sarang makluk beracun, sedang kedua belas orang bocah itu bukan lain adalah pawang yang mengendalikan gerak-gerik makhluk-makhluk beracun itu.

Mendadak Gak In Ling merasa tengkuknya gatal sekali, ketika ia berpaling rupanya Dewi burung hong sedang meniup

tengkuknya, dengan cepat ia menegur. "Adik siang, nakal benar kamu ini "

Bwee Giok Siang atau Dewi burung hong tertawa merdu.

"Mereka tokh sedang bertempur dengan riang gembira, kenapa engkau mesti mengkhawatirkan keselamatan orang ?"

"Hmm, apa maksudmu ? Coba lihat... sudah begitu banyak orang yang mampus, masa kematianpun bisa dianggap suatu gurauan ?"

Melihat pemuda itu marah, Dewi burung hong tak berani nakal lagi, buru-buru jawabnya.

"Aku tokh cuma bergurau saja, kenapa engkau anggap sungguhan...?"

"Keadaan sudah amat kritis dan berbahaya, engkau harus carikan akal untuk menolong mereka " seru sang pemuda itu dengan gelisah. Meskipun Dewi burung hong merasa sangat tidak puas terhadap tingkah laku Gadis suci dari Nirwana serta Thian Hong pangcu, akan tetapi setelah engko Ling nya mengajukan perkataan tersebut, mau tak mau dia harus putar otak juga untuk mencari akal.

"Menurut pengamatanmu, siapakah yang berhasil memegang peranan dalam pertarungan itu?" tanyanya.

"Tentu saja kedua belas orang bocah baju merah itu."

"Sedikitpun tidak salah, memang merekalah yang pegang peranan, untuk menyelamatkan wanita-wanitamu itu, kita harus lenyapkan dahulu kedua belas orang bocah tersebut."

"Aku rasa cara itu tak mungkin bisa dilakukan dengan mudah," sahut pemuda she Gak dengan dahi berkerut,

"Gadis suci dari Nirwana serta Thian Hong pangcu bukan orang sembarangan, tentu saja mereka juga menyadari akan hal itu, kenapa kedua orang itu tidak berbuat demikian ?"

"Engkau harus tahu, persoalannya adalah mereka tak akan bisa menerjang keluar dari sini,jangan kau lihat lembah ini sempit dan kecil sekali, namun aku percaya ketua dari perguruan Pit-tiong dari Tibet itu paling sedikit sudah menghabiskan tenaga dan pikirannya selama lima enam tahun ditempat itu, seluruh lembah hampir boleh dibilang telah dipenuhi oleh pelbagai binatang aneh yang beracun dari seluruh kolong langit, lembah ini dinamakan Ban—ku-kok, kau bayangkan betapa banyaknya binatang beracun yang berada disini."

Ia berhenti sebentar, ketika melihat Gak In Ling memperhatikan dengan seksama ia jadi girang, sambungnya lebih jauh.

"Sekarang mereka baru berani datang kemari, hal itu membuktikan bahwa rencana ini dilakukan setelah dipertimbangkan lama sekali, akan tetapi mereka terlalu gegabah karena membawa serta anak muridnya, kalau tidak dengan andalkan tenaga dalam yang mereka miliki,Jika tak usah mengkhawatirkan keselamatan orang lain maka meskipun kedua belas orang itu amat beracun sekalipun tidak berhasil dibunuh paling sedikit merekapun tidak akan terkurung oleh mereka."

"Apa kedua belas orang bocah itu beracun ?" seru Gak In Ling semakin terperanjat.

"Apakah engkau tidak melihatnya ?"

"Maksudmu semua makhluk yang berada di tubuh mereka dan tak berkutik itu adalah binatang-binatang hidup?"

"Tentu saja "jawab Dewi burung hong itu sambil tertawa, "kalau tidak mereka tidak akan disebut dua belas bocah racun. Coba lihatlah, Bukan saja kepala dan badan mereka dipenuhi binatang racun, mungkin dalam mulut merekapun terdapat binatang beracunnya, karena itu Jikalau engkau kurang

berhati hati, sekalipun berhasil kau bunuh mereka itu namun engkau pun bisa dilukai oleh makhluk beracunnya."

Gak In Ling mengamati wajah bocah-bocah baju merah itu, ternyata sedikit pun tidak salah, sampai-sampai diatas alis matapun terdapat sekelompok makhluk kecil yang menyerupai semut merah, ia menjadi makin terperanjat.

"Adik Siang, bagaimana caranya untuk melenyapkan mereka ?" teriaknya

"Engko Ling,jadi engkau hendak menempuh bahaya ?"

"Bagaimanapun kita tak bisa berpeluk tangan melihat mereka terancam bahaya."

"Aku rasa yang kau perhatikan adalah wanita-wanita itu bukan?"

"Huus Jangan ngaco belo."

Dewi burung hong menjulurkan lidahnya. "Lebih baik kita turun tangan dari belakang tubuh mereka, tetapi bagamana caranya menyeberang kesitu ?" katanya.

"Aku mengetahui sebuah jalan tembus yang berhubungan dengan tempat itu." mendadak terdengar jawaban seseorang berkumandang. Kedua orang itu sedang pusatkan perhatiannya pada pertarungan didasar lembah, ketika mendengar jawaban itu mereka tertegun dan segera putar badan ke belakang, tampaklah Malaikat raksasa bermuka merah dengan tangan lurus dibawah sedang berdiri dibelakang mereka dengan sikap menghormat. Mukanya yang pucat telah hilang dan kini parasnya pulih kembali menjadi merah padam, bahkan jauh lebih berbahaya dari keadaan semula,jelas luka dalamnya bukan saja telah sembuh bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat. Bwee Giok Siang menjadi tertarik sekali setelah mendengar perkataan itu, tanya.

"Bagaimana caranya menyebrang kesitu ?"

"Di dalam sana ada jalan tembus yang bersambungan dengan tepi seberang "

"Kenapa orang-orang dari Tibet itu tidak mengetahui akan jalan tembus tersebut 7" tanya Gak In Ling dengan cepat.

"Mereka tak mungkin akan menduga kalau dibelakang sebuah batu cadas besar masih terdapat gua lain."

Dewi burung hong ayunkan baju hitam yang ada di tangannya dan berseru.

"Pakaian ini terlalu besar, engko Ling tak dapat memakainya, aku rasa baju ini CoCok bagimu, Nah Kenakanlah."

Seraya berkata dia angsurkan baju hitam yang tak mempan dibaCok dengan senjata yang bagaimana tajamnya itu kepada jago raksasa tersebut.

Pada permulaan kali datang kedalam gua itu, tujuan dari Malaikat raksasa bermuka merah adalah untuk mencari baja mustika itu, sebab dua bagian tempat kematiannya perlu dilindungi dengan pakaian semacam itu, maka ketika melihat pakaian itu diangsurkan kepadanya, dengan wajah berubah hebat serunya.

"Sian-cu, engkau pasti mengetahui bukan akan kegunaan dari pakaian mustika ini?"

"Sedikitpun tidak salah, kalau tidak pakaian ini tak akan kuhadiahkan kepadamu."

"Tahukah siancu bahwa pakaian ini bisa mengecil dan membesar?" seru Malaikat raksasa bermuka merah kembali.

Bwee Giok Siang tertegun, biji matanya yang jeli tanpa terasa melirik sekejap kearah Gak In Ling, hal ini menunjukkan bahwa orang yang paling diperhatikan oleh nya pada saat ini hanyalah si anak muda itu. Gak In Ling segara tertawa tawa, serunya dengan cepat. "Memakai baju ini atau tidak begitu

tiada perbedaannya, akan tetapi bagi saudara ini perselisihannya boleh dibilang besar sekali, karena itu lebih baik pakaian itu biar dia saja yang memakainya."

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Dewi burung hong menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaaaii Engkau tak pernah memikirkan diri sendiri, orang lain yang selalu kau perhatikan."

Akan tetapi ia tak berani membantah, pakaian tersebut segera diangsurkan kedepan. Malaikat raksasa bermuka merah menerima pakaian hitam itu, dengan muka serius sahutnya.

"Baiklah, pemberian ini akan kuterima dengan hati yang mendalam, selama hidup aku ta kpernah mempercayai orang lain, kecuali kalian berdua dikolong langit dewasa ini tak ada orang yang bisa memerintah diriku lagi, ayo kita berangkat "

Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu lagi, ia segera putar badan dan berjalan masuk kedalam gua.

Dewi burung hong menarik tangan pemuda itu dan bisiknya sambil tertawa merdu.

"Engko Ling, ucapanmu telah mengharukan hatinya, orang ini berwatak polos dan jujur. aku rasa selama hidup dia tak akan meninggalkan dirimu lagi."

"Hmm Semuanya itu tidak lain adalah hasil karya dari engkau budak ingusan," bentak sang pemuda.

Dalam hati Dewi burung hong merasa amat gembira, sedang diluaran ia mengomel. "Ooohh... dasar tak tahu diri, sudah diberi kebaikkan, bukannya berterima kasih malahan memaki orang lain sebagai budak ingusan."

Cepat ia lepaskan diri dari cekalan sang pemuda dan mengejar Malaikat raksasa bermuka merah lebih dahulu. Ketika mereka sampai diruangan terjadinya pertarungan tadi,

tampaklah Malaikat raksasa bermuka merah telah berhasil menemukan sebuah gua diatas dinding sebelah kanan, ketika menyaksikan kedatangan mereka ia segera tertawa dan berseru. "Gua ini berhasil kutemukan tanpa sengaja ketika untuk pertama kalinya aku datang kemari untuk mencari sarang Ular raksasa tersebut, dalam gua ita terdapat banyak cabangnya, aku harus berjalan selama setengah harian lamanya sebelum tiba diseberang sana, sepanjang jalan ada tandanya semua, sekarang aku rasa tak perlu membuang waktu lagi untuk mencapai tujuan."

Ia membungkuk dan menerobos masuk kedalam gua tadi. Gak In Ling dan Dewi burung hong menyusul dari belakang nya, tinggi gua itu delapan depa dengan lebar empat depa, bagi Malaikat raksasa bermuka merah berjalan dalam goa serendah ini sangat tidak leluasa. Sedikitpun tidak salah, dalam gua benar-benar terdapat banyak persimpangan, untung Malaikat raksasa bermuka merah telah membuat tanda dijalan yang harus dilewati, maka peejalanan tersebut tidak terlalu payah.

Tidak selang beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah mencapai dinding tebing seberang sambil menuding kearah bawah mulut gua Malaikat raksasa berseru. "Sekarang kita sudah berada dibelakang punggung mereka "

Gak In Ling berjalan ke luar dari mulut gua itu, ketika menengok kebawah tiba hatinya merasa terperanjat. Mula-mula Gadis suci dari Nirwana sekalian berada di bawah kaki mereka, karena itu pemuda tersebut tak berani menengok keluar, sekarang setelah ia menengok keluar dengan lebih jelas dapatlah melihat bahwa pelbagai lebah beracun dan kelabang terbang mengitari batok kepala mereka, dari air muncul pelbagai jenis ular beracun sedang dari atas

dinding bukit muncul kelabang dan kalajengking emas yang hitam dan mengerikan sekali. Tiga rombongan yang terkurung terbagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing

menghadapi serangan dari satu arah yang berbeda, ada yang memperhatikan serangan dari udara, ada yang dari darat dan ada pula yang dari air, namun banyak sekali korban yang berjatuhan karena keracunan.

Gak In Ling menjadi amat terperanjat, serunya.

"Kalau begitu terus keadaannya, mereka pasti akan mati semua "

"Dan kedua belas orang bocah beracun itupun belum memberikan komando untuk menyerang."

"Bukankah engkau dapat melihat sendiri bahwa kedua belas orang bocah itu sama sekali tak berkutik ?"

"Waahh, kalau sampai mereka memberikan komando untuk menyerang bukankah mereka akan mampus semua ?"

"Benar, dan kedua orang wanitamu juga bakal mampus "

"Kenapa sih engkau nakal terus adik Siang?" tegur sang pemuda dengan alis berkerut.

"Jangan ribut lagi, kita harus segera mencari akal untuk menyelamatkan mereka."

Bwee Giok Siang merogoh kedalam sakunya mengambil keluar sebuah kotak perak yang berisikan jarum-jarum perak yang halus bagaikan bulu,pada ekor jarum itu terdapat selaput tipis seperti sayap dan entah apa kegunaannya. Sambil memandang sekejap kearah Gak In Ling, gadis itu berkata kembali.

"Engko Ling, aku sama sekali tidak nakal, kalau mengikuti keinginan hatiku maka alangkah baiknya kalau Gadis suci dari Nirwana dan Thian hong pangcu bisa mati, karena dengan begitu aku bakal kehilangan dua orang musuh tangguh."

"Jadi maksudmu, engkau tak akan mencampuri urusan ini lagi ?" seru Gak In Ling terperanjat.

Dewi burung hong menghela napas panjang. "Demi engkau, sekalipun harus mati aku pun rela " sahutnya dengan amat sedih.

Gak In Ling segera menarik tangannya dan berbisik, "Adik Siang, setelah engkau selamatkan jiwa mereka, kemangkinan besar mereka pun tak akan mencelakai dirimu kembali."

"Aku sih tak takut menghadapi mereka, aku hanya takut takut aaaaii"

"Kalau mereka tidak kau takuti, lalu apa yang kau takutkan lagi ?" seru pemuda itu keheranan.

"Aku telah mengkhianati seseorang " sahut gadis itu sambil tertawa sedih.

"Mengkhianati siapa ?"

Dalam pada itu, diantara dua belas orang bocah itu mendadak tampaklah salah seorang diantaranya yang berada disebelah kanan memperdengarkan suara pekikan aneh yang amat memekikan telinga, begitu pekikan tersebut bergema, makhluk-makhluk beracun yang berada dalam lembah itu bagaikan kena pengaruh iblis bagaikan kalap menerjang kearah ketiga rombongan jago silat itu. Jeritan-jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, tujuh delapan sosok mayat kembali menggeletak memenuhi permukaan tanah. Dewi burung hong melirik sekejap kearah Gak In Ling yang sedang gelisah, tiba-tiba ia mencabut keluar sebatang jarum perak, kemudian disambitkan kearah bocah racun itu. Diiringi serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan mata,jarum perak itu meluncur ke depan dan berkelebat lima enam depa diatas kepala sasarannya.

Gak In Liong menjadi melongo, pikirnya "Kenapa sambitan itu tidak jitu dan lebih tinggi dari sasarannya ?" Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba tampaklah jarum perak itu membelok arah dan kini meluncur

keluar dari arah yang berlawanan dan dengan telah tepat menghajar

jalan darah ki tong-hiatnya. Ketika menyaksikan para jago dibikin kabut dan sama sekali tidak punya kemampuan untuk melakukan serangan balasan lagi, kawaspadaan bocah-bocah beracun itu boleh dibilang telah lenyap sama sekali, menanti ia menyadari akan bahaya yang sedang mengancam, keadaan sudah terlambat. "Criiiig.... Ditengah jeritan lengking yang menyayat hati, bocah itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi, dari mulut dan hidungnya bagaikan ledakan gunung berapi muncratlah pelbagai macam binatang berbisa yang seketika itu juga menyebar kedaerah seluas satu tombak,

Menyaksikan peristiwa tersebut, Gak In Ling menjulurkan lidahnya dan berpikir didalam hati.

"Andaikata terjadi pertarungan jarak dekat kendatipun dapat membinasakan bocah itu, tak urung diri sendiripun akan mendapat bencana, benar-benar suatu cara yang mengerikan."

Dengan kematian dari bocah racun yang memberi komando itu, kawanan makhluk beracun yang melakukan penyerbuanpun buyar dengan sendirinya, sebelas orang bocah lainnya berdiri melongo dan tak habis mengerti, karena mereka tidak melihat diantara jago ada yang melakukan serangan maut tersebut.

Ditengah keheningan, terdengar Malaikat raksasa bermuka merah berkata. "Bagaimana kalau kita serang makhluk-makhluk beracun itu dengan api ?"

"Dasar lembah merupakan permukaan air, bagaimana cara membakarnya ?"

"Aku mengetahui kalau disuatu tempat ada minyak."

Dari balik sorot mata Dewi burung hong memancar keluar sinar berkilauan, katanya. "Engko Ling, bukankah engkau hendak menyelamatkan kedua orang gadis cantik itu ? Sekarang aku punya akal "

"Apa akalmu itu ?" tanya Gak In Ling dengan gelisah.

"Sekarang kita harus memanfaatkan setiap titik secara baik-baik, setiap makhluk takut pada minyak, saudara, tolong ambillah minyak dan bawalah kemulut gua itu kemudian menumpahkan kedalam air, kita bikin buyar dahulu ulat kecil yang ada diatas Winding, kemudian engko Ling boleh suruh mereka naik ke atas gua, menanti semua orang sudah naik dan dasar lembah sudah penuh minyak kita bakar binatang itu sehingga ludas semua, cuma aku tak tahu berapa banyak minyak yang tersedia disini ?"

"Banyak... banyak sekali "jawab Malaikat raksasa bermuka merah sambil putar badan berlalu lebih dahulu.

Diam-diam Gak In Ling menghembuskan napas lega. Dewi burung hong yang menyaksikan hal itu dengan alis berkerut dan berseru. "Engkau jangan keburu merasa bangga, Tiongcu dari Tibet tidak akan segampang itu untuk dihadapi, untuk masuk kedalam gua mungkin mereka harus mengorbankan banyak pengikutnya "

Gak In Ling tertegun, dengan cepat tanyanya. "Maksudmu dia akan munculkan diri untuk menghalangi jalan pergi mereka ?"

Kembali Dewi burung hong mempersiapkan tiga batang jarum perak, dengan serius jawabnya.

"Semua gerak-gerik dari para jago yang ada dalam lembah ini sudah berada dibawah pengawasannya, sampai sekarang ia tidak munculkan diri karena kedua belas orang bocah racun itu sudah mampu untuk mengurung mereka semua, jikalau tidak percaya akan kubunuh tiga orang bocah itu lagi, coba kita buktikan dia bakal munculkan diri atau tidak,"

"Jangan bunuh dahulu," seru Gak In Ling sambil menghalangi dara tersebut turun tangan, "kalau engkau bunuh bocah racun itu, maka mereka semua tak akan mampu untuk melarikan diri."

"Demi kedua orang wanitamu ?"

"Hm kembali engkau mengaco belo."

Pada saat itulah kelabang emas yang berada diatas dinding tebing mendadak menyebarkan diri dan kabur terbirit-birit, rupanya Malaikat raksasa bermuka merah telah menumpahkan minyak diatas dinding tebing.

Sebelas orang bocah racun itu kelihatan gelisah sekali ketika menyaksikan kelabang emas itu pada kabur keempat penjuru, tiga orang bocah racun diantaranya kembali memperdengarkan pekikan aneh.

Dewi burung hong melirik sekejap kearah Gak In Ling kemudian berkata.

"Cepat kau suruh mereka naik ke gua, setelah tiga orang bocah itu mati, maka ketua Pit-tiong dari Tibet pasti akan munculkan diri dan situasinya pada waktu itu tentu akan terjadi perubahan."

Sambil berseru tiga batang jarum peraknya segera digetarkan kearah depan.

Tiga jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, sekawan binatang beracun menyebarkan diri keempat penjuru dari tubuh tiga orang bocah itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

"Ling-cu, cepat naik keatas gua " Buru-buru Gak In Ling berseru dengan ilmu menyampaikan suara.

Ketika mendengar seruan tersebut sangat di kenal olehnya, tubuh gadis suci dari Nirwana kelihatan bergetar keras, sepasang matanya berputar menyapu sekitar tempat itu,

sikapnya yang tenang pun muncul kembali keatas wajahnya. Gak In Ling tahu bahwa mereka tak tahu bagaimana caranya untuk menaiki gua tersebut, buru-buru suruhnya kembali. "Naiklah dari belakang punggungmu, kurang lebih dua puluh tombak jauhnya terdapat sebuah batu besar, gua itu berada dibelakang batu tadi....cepat"

Gadis suci dari Nirwana masih kelihatan sangsi. "Engko Ling, ia sedang mencari dirimu" Goda dewi burung hong sambil tertawa merdu.

"Huuuss jangan bicara sembarangan"

Dalam pada itu dari balik gua tiba-tiba berkumandang tiga kali suitan nyaring, delapan orang bocah racun yang masih hidup segera- lari masuk kedalam sebuah gua tepat dibawah kedua orang itu.

"Engko Ling " KembaIi Dewi burung hong berseru " Cepat katakan bahwa setelah naik ke dalam gua maka mereka akan bertemu dengan engkau, ia pasti akan segera menuruti perkataanmu."

Gak In Ling mengangguk, ia segera berseru. "Aku akan menyambut kedatangan Ling cu didepan gua "

Ucapan itu manjur sekali, dengan muka berseri Gadis suci dari Nirwana segera memerintahkan anak buahnya untuk mengundurkan diri kedalam gua. Semua jago lihay yang dipimpin olehnya kecuali perempuan naga paramal sakti yang tak kenal ilmu silat boleh dibilang semuanya merupakan jago kepandaian tinggi, dibawah perintah Ling cu-nya, dalam waktu singkat ada tiga orang telah mengundurkan diri.

Sementara itu dari dalam gua dibawah kaki Gak In Ling berkumandang kembali jeritan aneh dari delapan orang bocah beracun, beribu-ribu ekor makhluk beracun itu bagaikan kalap segera menerjang kearah para jago dengan ganasnya, dalam waktu singkat kembali ada puluhan orang roboh binasa.

Sementara itu minyak yang dituang Malaikat raksasa bermuka merah telah memenuhi separuh lembah, makhluk beracun yang berenang di air kecuali yang bisa menyelam sebagian besar telah dipaksa mundur dari wilayah sekitar sana.

Kembali Dewi burung hong mempersiapkan tujuh delapan batang jarum perak, setelah mengincar arah yang tepat serunya kepada Gak In Ling.

"Bila jarum perak ini kusebarkan maka Tiong-cu dari Tibet segera akan mengetahui siapakah aku, engko Ling Sekarang Gadis suci dari Nirwana telah naik keatas gua, kau boleh suruh pangcu itupun ikut naik keatas gua "

Gak In Ling berpaling kebawah, ketika melihat Gadis suci dari Nirwana telah naik keatas gua, buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Pangcu Cepat mengundurkan diri mengikuti arah yang dilalui orang-orang Yau-ti-leng dan naiklah ke gua "

Reaksi Thian-hong pangcu persis seperti apa yang diperlihatkan Gadis suci dari Nirwana, seteIah ada pengalaman buru-buru pemuda itu berseru kembali. "Aku akan menyambut kedatanganmu diatas gua "

Buru-buru Thian-hong pangcu memerintahkan anak buahnya untuk mengundurkan diri. Dewi burung hong kembali menggetarkan tangannya, serentetan cahaya perak laksana kilat meluncur kedepan, sesudah berputar ditengahi udara tiba-tiba jarum perak itu membalik dan meluncur kedalam gua dibawah mereka.

Dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian.

"Waah Tidak ketolongan lagi" gumam Dewi burung hong sambil gelengkan kepalanya.

"Tanpa melihat sasaran engkau berhasil melukai dua orang musuh, mengapa kau katakan tidak ketolongan lagi ?" tanya sang pemuda keheranan.

"Sekarang, ia akan segera mengetahui siapakah aku "

"Oooohh " Gak In Ling berpaling kebawah, ketika menyaksikan Ngo-gak Siu-kun sedang memerintahkan anak buahnya naik keatas daratan lebih dahulu sedang ia belakangan, tanpa terasa pemuda itu mendengus dingin. "Hmm Pandai benar engkau berpura " serunya.

"Siapakah yang kau maksudkan ?"

"Itu, dia " sahut pemuda itu sambil menuding kearah Ngo-gak Siu-kun..

Dewi burung hong menganggukkan kepalanya. "Andaikata aku menjadi dia, akupun akan berbuat demikian, tokh dari atas sana sudah ada yang melindungi, asal bisa memperhatikan diri baik-baik sehingga tidak sampai tergigit makhluk beracun, siapapun dapat bersikap pura-pura semacam itu."

Perlahan-lahan Gak In Ling mencekal ujung pedang pendeknya, dan ia slap menyambitkah senjata itu kedepan.

Dewi burung hong segera menarik tangannya sambil berseru. "Engkau ini bagaimana sih ? Bukankah sudah kukatakan bahwa dari atas ada yang yang melindungi, seranganmu ini mana mungkin bisa merobohkan dirinya ? Sayang tokh kalau harus membuang sebilah pedang mustika dengan percuma ?"

Dalam pada itu dari dalam gua dibawah mereka mendadak berkumandang suara tertawa jalang disusul seseorang berseru.

"Siau-cu, kalau tokh engkau sudah berkunjung datang, kenapa tidak tampil kedepan untuk bertemu ?"

Dewi burung hong membungkam dalam seribu bahasa. Suara itu kembali berkumandang. "Kalau Siancu tak bersedia unjukkan diri lagi,jangan salahkan kalau Siau-moay akan membinasakan orang-orang pada rombongan terakhir ini...."

Dewi burung hong tetap membungkam dalam seribu bahasa.

"Kalau begitu, maafkan Siau-moay " seru orang itu sambil tertawa merdu, setelah berhenti sebentar mendadak teriaknya.

"Adik Siang, bagaimana baiknya ?"

Ketika ia menengadah, tampaklah dari balik mata Dewi burung hong memancar keluar cahaya yang sangat aneh, ia segera berteriak,

"Mati hidup tanpa berpintu, datang hanya dicari sendiri, sampai saat ini apakah kalian masih ling lung ?"

Meskipun suaranya tidak keras, akan tetapi mampu untuk menyadarkan orang-orang itu dari pengaruh lawan.

Ketika mendengar seruan tersebut, Njo-gak Siu-kun tidak memperdulikan orang lain lagi segera loncat masuk kedalam gua, sedang orang lain pun ikut masuk pula kedalam gua. Dari dalam gua dibawah kaki mereka kembali berkumandang suara tertawa merdu, disusul oleh seseorang berseru kembali.

"Siau-cu, kalian semua telah berada dalam genggamanku, kita berjumpa lagi dibawah nanti"

Dewi burung hong nampak terkejut dan segera berteriak. "Cepat lepaskan api"

"Bagaimana dengan orang-orang yang belum sempat naik ?"

Dewi burung hong tidak menjawab, ia merogoh sakunya dan ambil keluar korek api kemudian melemparkannya

kedalam minyak,... dalam waktu singkat terjadilah kebakaran dahsyat.

Dari pihak lain air bah yang menggenangi lembah itu kian lama kian bertambah tinggi, nampaklah api, air dan makhluk beracun makin meninggi dan mendekati mulut gua.

Tidak lama setelah api berkobar didasar lembah, dari empat penjuru berkumandang suara tiupan seruling yang melengking tak enak didengar, mengikuti lengkingan seruling beribu-ribu ekor Ular beracun, kelabang dan sejenisnya bersama-sama menerjang kearah gua itu.

Kobaran api dalam lembah tersebut mengikuti makin meningginya air bah yang memenuhi lembah tersebut makin membumbung tinggi ke-angkasa, udara menjadi pengap dan panas sekali membuat kulit menjadi nyeri dan napas jadi amat susah.

Suatu kejadian aneh dan telah berlangsung didepan mata, kawanan Ular beracun serta jenis makhluk berbisa lainnya yang dihari-hari biasa sangat takut dengan api, pada saat ini ternyata sudah hilang rasa takutnya, mereka tidak anggap api tadi sebagai ancaman, bahkan gerakan serbuan mereka dilakukan semakin gencar.

Gak In Ling yang menyaksikan peristiwa itu menjadi amat gelisah, segera teriaknya.

"Adik Siang, kita hanya mempunyai sebuah jalan keluar diatas kita saja...."

Walaupun dalam hati kecilnya Dewi burung honi juga rada gelisah, akan tetapi perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan diluaran, ia tertawa tawa dan berkata.

"Kalau engkau mengundurkan diri kesana, maka berada disebuah jalan kematian."

"Kalau hanya Ular beracun dan makhluk berbisa saja tak mungkin bisa menghalangi kita, akan tetapi sekarang api dan

air telah membumbung tinggi sedemikian cepatnya, kalau tidak cepat-cepat mengundurkan diri maka kita pasti akan mampus terbakar ditempat ini."

"Engko Ling, kau tak usah bodoh,justru disitulah letaknya siasat tentara semu yang diatur oleh Tiongcu dari Tibet tersebut, tujuannya adalah agar kita percaya kalau Ular beracun serta makhluk-makhluk berbisanya mampu untuk mengurung kita semua, sedang jebakan yang sesungguhnya masih belum ia perlihatkan keluar,jika kita semua telah mengundurkan diri keatas tebing. Nah, pada waktu itulah dia bakal ringkus kita sehingga mampus semua ditengah lautan api,"

Sambil berkata telapaknya bekerja cepat memukul rontok seekor Ular beracun yang berhasil mencapai mulut gua.

Gak In Ling merasa amat tidak puas, bantahnya. "Apakah ia punya kepandaian untuk mengetahui kejadian yang akan datang ? Tokh dia tak tahu kalau kita bakal mempergunakan api?"

"Meskipun ia tak menduga kalau kita bakal menggunakan api, akan tetapi ia telah menyusun rencana agar kita melepaskan api, kalau tidak demikian darimana riatangnya begitu banyak minyak didalam gua kuno ini ?"

"Apakah ia rela untuk mengorbankan seluruh makhluk beracun yang dikumpulkan serta di peliharanya selama banyak tahun?" kembali Gak In Ling berseru dengan nada tidak percaya. Sembari berkata ia lancarkan kembali sebuah pukulan untuk merontokan tiga ekor ular besar sehingga tercebur kedalam lautan api.

Dewi burung hong tertawa. "Engko yang bodoh, tujuannya mengumpulkan makhluk-makhluk berbisa itu bukan lain adalah hendak di gunakan untuk menghadapi kami bertiga, dan sekarang kami bertiga sudah terjebak dalam perangkapnya, apa sayangnya kalau makhluk-makhluk berbisa itu dikorbankan ?"

Kecerdasan Perempuan ini benar-benar sangat lihay, setiap perkataannya sangat masuk di akal membuat orang tak bisa membantah, akan tetapi Gak In Ling masih tetap tidak percaya, kembali ia berkata. "Menurut pendapatku, menerjang naik keatas tebing ialah satu-satunya jalan hidup, daripada menunggu kematian disini lebih baik kita berusaha untuk meloloskan diri." Dewi burung hong tidak menjawab, sambil ulapkan tangannya kepada burung hong yang berada disisinya ia berseru.

"Hong -ji, pergilah "

Burung hong itu rentangkan sayapnya berpekik nyaring, kemudian kembangkan sayapnya dan sekejap mata sudah berada ditengah udara, namun burung hong itu tidak pergi jauh, ia hanya pergi disekeliling Sana: Melihat hal itu, Gak In Ling segera berkata:

"Coba lihatlah, kalau diatas ada jebakan tak mungkin burung hong itu dapat terbang keangkasa "

Dewi burung hong tidak segera menjawab, ia menuding kearah depan dan berseru. "Coba lihatlah kearah sana " Dalam pada itu para jago yang berada disebelah depan nampak gelisah semua, ketika mereka lihat bahwa burung hong itu dapat langsung menembusi awan tanpa menjumpai hambatan, jalan pikiran mereka sama seperti apa yang dibayangkan Gak In Ling, tidak lama setelah burung hong tadi terbang keangkasa, terlihatlah tiga sosok bayangan manusia meluncur keluar dari dalam gua dan menerjang kearah puncak tebing. Ilmu silat yang dimiliki ketiga orang itu lihay sekali, tampaklah orang-orang itu sambil memukul pental makhluk beracun yang berada disekitar batu bukit, telapak yang lain berjaga-jaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Dalam sekejap mata, tiga orang itu sudah hampir tiba dipuncak tebing, nampaknya sebentar lagi mereka akan berhasil mencapai ditempat tujuan.... siapa tahu mendadak ketiga orang itu menjerit kesakitan dengan suara yang amat mengerikan, tubuh mereka roboh kembali kedalam lautan api....

Gak In Ling sangat terperanjat, serunya. "Kalau begitu, satu-satunya jalan hidup kita hanya mengundurkan diri kedalam gua ?"

Dewi burung hong mengangguk tanda membenarkan. "Sekarang kita terpaksa harus mengadu untung," katanya, "aku percaya gua inipun berada dibawah pengaruh serta kekuasaan Tiongcu dari Tibet, kendatipun begitu aku rasa tiada jalan lain bagi kita untuk mengundurkan diri lagi."

Sambil berkata ia menarik tangan Gak In Ling dan mengundurkan diri kedalam gua. Dipihak sini muda mudi ini masuk kedalam gua, dipihak lain Gadis suci dari Nirwana-sekalipun secara beruntun telah mengundurkan diri pula kedalam gua,jelas mereka mempunyai jalan pikiran yang sama dengan Dewi burung hong. Belum jauh kedua orang itu masuk kedalam gua, mendadak dari belakang tubuh mereka bergema suara benturan keras yang sangat memekikkan telinga, tahu-tahu mulut gua di tutup orang dengan sebuah batu raksasa, disusul suara seorang perempuan dengan nada yang jalang berseru.

"Hiiiiihh hiiiiiiihh hiiiiiihh Siancu, kali ini dugaanmu keliru besar." Tercekat hati Dewi burung hong, mendadak ia menyadari bahwa kemungkinan besar ia sekarang telah berada dibawah pengawasan musuhnya. dengan nada dingin jawabnya. "Kalau Siau-moay berlalu dari sini, bukankah kau akan kehilangan satu kesempatan yang sangat bagus untuk berjumpa dengan Tiongcu ?"

Suara perempuan itu berkumandang kembali, ia tertawa. "Kalau begitu akulah yang salah menduga.."

"IHeeeeahh heeeeehh... heeeehh... begitulah kiranya, Tiongcu Beranikah engkau untuk berjumpa muka dengan Siau-moay ?"

"Aku rasapada saat ini kesehatan badanmu belum pulih kembali, kalau kujumpai dirimu, bukankah akulah yang bakal beruntung ?" Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang tertawa.

"Aku percaya sejak Siau-moay pertama kali masuk kedalam gua ini, gerak-gerikku sudah berada dalam pengawasan Tiongcu mengetahui bukan bahwa Siau-moay tidak pernah melakukan pertarungan dengan siapapun juga "

Suara perempuan itu makin jalang, sambi tertawa keras katanya.

"Hiiimihh.... hiiiiiiiihh.....hiiiiihh.... Sekalipun begitu, sewaktu dalam gua Ular berjengger tadi, Siancu harus mengeluarkan tenaga yang tak kecil untuk, mencicipi kenikmatan sorga dunia yang pertama kalinya dengan lawan sejenismu." Gelak tertawanya makin lama makin keras dan semakin cabul.

Merah padam wajah Dewi burung hong dan Gak In Ling sehabis mendengar perkataan itu, walaupun peristiwa itu terjadi karena Gak In Ling terkena racun jahat dari Ular berjengger, akan tetapi hubungan suami isteri yang dilihat pihak ketiga tentu saja memalukan sepasang muda-mudi itu.

Pada saat itu mereka hanya memikirkan tentang soal malu belaka, dan tidak memikirkan persoalan itu dengan hati yang tenang dan otak dingin. Orang yang paling disegani Tiongcu dari Tibet adalah ketiga orang jago perempuan itu, andaikata ketika itu dia benar-benar hadir ditempat kejadian, tanpa mengeluarkan sedikit tenaga pun ia sudah mampu membinasakan Dewi burung hong serta Gak In Ling, mungkinkah perempuan dari Tibet itu berbaik hati dengan membuang kesempatan baik ini dengan begitu saja ?" Lalu bagaimana mungkin ia dapat mengetahui peristiwa tersebut?"

Bila dipikirkan dengan seksama sebetulnya tidak sukar untuk mendapatkan jawabannya, ia tentu dapat melihat bekas noda darah yang tertinggal diatas pembaringan batu kemudian menghubungkan persoalan yang satu dengan persoalan yang lain sehingga akhirnya menarik kesimpulan. Dan perkataan itu sengaja diutarakan keluar tujuannya bukan lain adalah untuk memancing hawa kegusaran Dewi burung hong sehingga ia tak bisa berpikir dengan akal sehatnya.

Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang benar-benar tertipu, dengan gusar ia membentak. "Tiongcu, kita boleh berbicara secara blak-blakan, kalau memang engkau bisa mengetahui persoalan itu dengan begitu jelasnya, tentu saja engkau harus tahu pula bagaimana caranya memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya." Baru saja Dewi burung hong menyelesaikan kata-katanya, mendadak, terdengar orang itu menjawab.

"Perkataan dari Siancu itu memang tepat sekali"

Bersama dengan selesainya perkataan itu....,-Braaaakk Dari atas dinding batu sebelah depan tiba-tiba muncullah sebuah pintu gua yang lebar nya kurang lebih satu tombak,

Didepan mulut gua berdirilah seorang perempuan dengan berdandan menyolok, yang berusia antara dua puluh tujuh, delapan tahunan, rambutnya disanggul model keraton, alisnya lentik bagaikan lukisan, matanya bulat bercahaya terang hidungnya mancung dengan bibir yang kecil, meskipun kecantikan wajahnya masih kalah kalau dibandingkan dengan Dewi burung hong bertiga akan tetapi ia memiliki daya tarik yang luar biasa.

Teristimewa sekali dandanan serta pakaiannya, ia memakai sebuah kain sutera yang sangat tipis dan tembus pandangan, membuat anggota tubuhnya yang terlarang dan sepasang payudaranya yang montok dan padat berisi kelihatan jelas sekali.

Pada waktu itu sambil bersandar ditepi dinding gua, ia memperlihatkan suatu gaya yang amat menahan.

Merah padam selembar wajah Gak In Ling setelah menyaksikan dandanan tersebut, ia malu sekali. Sebaliknya Dewi burung hong telah dibikin sangat mendongkol sehingga ia membentak keras.

"Terimalah penghormatan dari Siau-moay " Sambil berseru, tubuhnya laksana kilat menerjang kearah Tiongcu dari Tibet itu.

Tiongcu dari Tibet tertawa merdu, tangannya yang bersandar diatas dinding mendadak menekan kebawah dan "Blaaaamm " Sebuah dinding batu mendadak meluncur kebawah persis dihadapan muka perempuan itu.

"Duuukk " Pukulan Bwee Giok Siang yang dilancarkan dalam keadaan gusar itu tepat bersarang diatas dinding batu itu, membuat batu dan pasir berguguran, namun dari balik dinding tembok sama sekali tidak terdengar suara pantulan, bisa dibayangkan betapa tebalnya dinding tersebut

"Engko Ling... engko Ling..." teriak Dewi burung hong berulang kali.

-ooo0dw0ooo-