Telapak Setan Jilid 14 : Siapa yang memfitnahnya?

Jilid 14 : Siapa yang memfitnahnya?

AIR muka gadis suci dari Nirwana berubah hebat, tanpa sadar dia maju dua langkah ke depan, bibirnya bergetar berulang kali, seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi tak sepatah katapun yang sempat meluncur keluar, karena itu siapa-pun tidak tahu apa yang hendak diucapkan olehnya.

Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji sendiri, setelah berhasil menghajar mundur Gak In Ling wajahnya tetap

dingin, sambil tertawa dia berkata. "Gak In Ling, coba tengoklah kearah belakang "

"Hee hee hee tak usah dilihat lagi, kalau mau pamerkan kehebatanmu lebih baik hajar dulu diriku sampai tercebur kedalam sungai."

Tongkat emas seruling perak Leng Siang Ji tidak menyangka kalau Gak In Ling masih bersikap demikian tenang walaupun kematian sudah berada diambang pintu, tak tahan lagi ia berkata.

"Gak In Ling, kau memang mempunyai kelebHan yang tidak dimiliki orang lain, tetapi aku tak dapat mengampuni dirimu "

"Ha haa haa kau anggap aku sedang mengharapkan pengampunan dari kalian?"

Air muka tongkat emas seruling perak berubah jadi dingin bagaikan es, serunya. "Baik, baik akan kubuktikan apakah benar engkau sama sekali tidak takut mati ?"

Seraya berkata sepasang telapaknya perlahan-lahan diangkat keatas dan didorong kearah dada Gak In Ling.

Pada saat ini apabila telapak tersebut bersarang diatas dada sianak muda itu, niscaya dia bakal tercebur kedalam sungai. Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana berseru dengan nada dingin.

"Tunggu sebentar, dibawah kekuasaanku selamanya tak kubunuh orang yang masih belum puas, Gak In Llog Apakah engkau ingin mengetahui siapakah saksinya ?" Gak In Ling tertawa dingin.

"Hee hee hee. ... aku tak pernah membunuh orang, kenapa mesti takut berhadapan dengan saksi ?" serunya.

"Hm Mungkin kau masih belum tahu kalau saksinya adalah dia."

"Siapa ?"

Gadis suci dari Nirawana berpaling kebelakang dan berseru. "Heng-tay, silahkan unjukkan diri "

"Aku telah datang" bentakan keras berkumandang dari kejauhan, disusul munculnya secara tiba-tiba seorang lelaki kekar bagaikan raksasa di tengah gelanggang.

Begitu melihat orang yang muncul, Gak In Ling merasa terperanjat, serunya dengan cepat.

"oooh, rupanya saudara..."

Siapakah orang itu ? Ternyata dia bukan Iain adalah manusia bertato sembilan naga.

Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia kasar yang polos danjujur, ketika menjumpai Gak In Ling berdiri disitu, dengan sepasang mata melotot besar dia segera putar toya baja sambil meraung keras.

"Tempo hari aku manusia bertato sembilan saga salah menganggapmu sebagai malaikat, sebagai dewa yang agung, sungguh tak nyana sebenarnya engkau adalah seorang bajingan tengik... seorang manusia cabul yang terkutuk mari mari coba rasakanlah sebuah gebukan toya bajaku ini"

Sambil berkata dia ayunkan toya bajanya dan siap dHantamkan kearah tubuh pemuda itu. Gak In Ling tertawa tawa, katanya.

"Tunggu sebentar, apakah heng-tay melihat jelas apakah perbuatan itu akukah yang melakukannya ?"

Dengan penuh kegusaran manusia bertato sembilan naga melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sahutnya.

"Sekalipun engkau sudah hangus jadi abu aku akan mengenali dirimu setelah melihat potongan badanmu, kau masih ingin menyangkal lebih jauh?"

Gak In Ling tertawa sedih, jawabnya. "Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai satu-satunya sahabat karibku, oleh karena itu belum pernah kita saling beradu kekuatan, rupanya ini hari aku harus mencoba keampuhan ilmu silat dari heng tay "

Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia yang berwatak berangasan, mendengar ucapan itu dia segera ayunkan toya bajanya sambil meraung keras. "Apakah kau anggap aku takut kepadamu ? Sambutlah seranganku ini"

Sambil membentak keras dengan jurus "Lek gang.ngo-ti" atau membumi- ratakan lima bukit, telapaknya langsung disodok kearah dada GakIn Ling.

Angin pukulan menderu bagaikan tajamnya golok. diiringi pula deruan geledek dan petir bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut. "Suatu hubungan bathin yang amat dingin."

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana merasakan hatinya bergetar keras, secara tiba-tiba ia teringat kembali perkataan dari perempuan naga peramal sakti yang menyuruh dia mempunyai perasaan hati yang hangat dan sangat dingin- Menyaksikan kematiannya ini dengan hati tercekat ia berteriak keras. "Tunggu sebentar"

Tetapi semuanya sudah terlambat, terdengar suara benturan keras yang menggeletar diangkasa, sesosok bayangan segera mencelat kedalam sungai dibawah tebing.

-oo0dw0oo-

Rembulan yang indah memancarkan cahaya yang berwarna keperak-perakan ke seluruh puncak bukit yang berdempetan satu sama lainnya, ditengah kesegaran nampak suasana begitu lembut dan tenang mendatangkan kehangatan bagi siapa pun.

Malam telah larut, suasana hening dan sunyi, hanya gulungan ombak dahsyat ditengah sungai yang masih menggulung tiada hentinya, menggulung dan menggelora tiada hentinya tak kenal waktu, baik siang ataupun malam, mengalir dan mengalir terus waktu ikut berlalu tanpa terasa....

Rembulan mulai bergeser kearah langit sebelah barat, cahaya perak yang lembut dan halus mulai condong kearah lain dan menerangi dinding tebing curam yang ada disebelah barat. Menyoroti sebuah tonjolan batu cadas yang besar dan mengerikan-

Batu itu adalah sebongkah batu karang berwarna hitam, jaraknya dari puncak tebing ada ratusan tombak tingginya, dan itulah satu-satunya tonjolan batu diatas dinding batu yang halus dan licin bagaikan kaca itu.

Tonjolan batu karang itu menyerupai wajah manusia, namun tidak sehalus raut manusia yang sebenarnya karena sepasang matanya yang melotot keluar nampak kasar, entah semua itu adalah hasil karya manusia atau alam, sepasang mata tersebut memancarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata, ditambah mulut besar yang membentang lebar dengan tiang-tiang, batu putih yang menyerupai gigi, dibawah sorot sinar rembulan kelihatan menakutkan sekali.

Disekitar batu yang terukir sebagai kepala setan itu bertaburkan pula batu-batu lain yang melukiskan pula muka-muka setan entah berapa jumlahnya, pada wilayah seluas beberapa tombak yang nampak hanya batu-batu dengan muka setan pada tiap batu bermuka setan itu tergantunglah batu-batu permata, ada yang hijau ada yang merah sebagai mata, membuat ukiran batu itu nampak semakin hidup dan mengerikan-

Ditinjau dari letak batu-batu permata tersebut dapatlah diketahui bahwa kesemuanya itu adalah hasil karya seseorang.

Tiba-tiba dinding batu warna merah yang letaknya persis pada mulut kepala setan besar itu berkumandang suara kelenyitan yang amat nyaring disusul terbukanya sebuah pintu rahasia, seorang nenek tua berambut putih perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu tadi, langkahnya masih gagah dan cekatan, jauh berbeda dengan usianya yang lanjut serta rambutnya yang telah beruban semua itu.

Nenek tua berambut putih itu berjalan menuju ke bawah sebatang tiang batu sebagai gigi raksasa dimulut batu berbentuk setan itu kemudian menengadah keatas..... ya, ampun, dia setan atau manusia ?

Tampak paras mukanya penuh dengan keriput yang berlapis-lapis, matanya berwarna merah darah dengan sepasang alis panjang berwarna putih bagaikan salju, sinar mata yang terpancar keluar nampak mengerikan sekali, dari potongan mukanya itu sungguh membuat orang susah untuk mempercayai apakah dia manusia atau setan-

Nenek tua itu menengadah keatas memandang rembulan diangkasa, kemudian ia berpali kearah pintu dan teriaknya dengan suara lembut.

"Anak Hue, cepat keluar dan coba lihatlah bulan pada malam ini indah sekali " Dari dalam gua segera berkumandang keluar suara seruan yang merdu.

"Nenek. cepatlah kemari lihatlah apakah dia akan sadar? cepat- cepatlah kemari" nada suaranya merdu dan sedap didengar.

Rupanya nenek tua bermuka setan itu bukan setan tapi manusia biasa, ketika mendenga teriakan itu wajahnya berubah lalu bergumam seorang diri.

"Selama tiga hari belakangan ini nampaknya anak Kun benar-benar sudah terpikat olehnya, sehari-semalam terus-menerus berjaga di samping pembaringannya tanpa meninggalkan barang selangkahpun, kalau saja semula aku

tahu begitu, dari dulu-dulu orang itu sudah kuceburkan kembali kedalam sungai."

Dari balik gua kembali berkumandang datang suara teriakan yang merdu bercampur gelisah itu.

"Nenek. cepat lihatlah Kenapa sih kau ini?" nada suaranya mengandung rasa mendongkol dan marah.

Wajah nenek tua muka setan itu kembali berubah, buru-buru jawabnya. "Aku sudah datang... aku sudah datang... nona "

Agaknya hubungan diantara mereka berdua adalah hubungan antara majikan dengan pembantu.

Agaknya nenek tua bermuka setan takut sekali kalau sampai nonanya gusar, buru-buru ia mengempos tenaga dan berkelebat masuk kedalam gua dengan gerakan bagaikan hembusan angin, dalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik hutan-

Tempat itu merupakan sebuah ruang batu kecil yang megah dan kokoh, intan permata berserakan dimana mana, ruangan seluas lima tombak dengan empat penjuru berdinding putih itu boleh dibilang hampir tiada suatu tempatpun yang kosong, meskipun intan permata itu bergelantungan begitu banyak tetapi tidak sampai membuat orang yang memandang merasa muak ataupun punya pikiran tempat itu tidak teratur..

Dengan bergelantungnya intan permata di- mana- mana, ruang batu itupun nampak terang bercahaya.

Pada sudut kanan dekat dinding batu ruangan itu membujurlah sebuah pembaringan batu berwarna kuning gading, diatas pembaringan berselimutkan kain kuning, berbaringlah seorang pemuda tampan berwajah semu merah, dari ujung bajunya yang terselip diluar selimut bisa diketahui bahwa pemuda itu mengenakan baju berwarna hitam.

Disisi pembaringan duduklah seorang gadis cantik setengah telanjang yang berambut panjang terurai hingga kepundak, begitu cantik wajah gadis itu seakan-akan bidadari dari kahyangan, pada tubuh bagian bawahnya gadis itu hanya mengenakan selembar kain berwarna kuning yang menutup tubuhnya hingga batas lutut, sedang bagian atasnya sama sekali telanjang bulat, sepasang payudaranya yang putih halus dan montok terbentang nyata didepan mata mendatangkan suatu pemandangan yang sangat indah.

Sementara itu sorot matanya dengan tajam sedang menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip. rasa gelisah dan tidak tenang terselip diantara paras mukanya yang cantik itu. ooh, gadis itu amat polos dan menawan, terutama sorot matanya yang begitu suci bersih dan halus.

Pintu kamar disebelah belakang perlahan-lahan dibuka orang, disusul nenek tua bermuka setan itu berjalan masuk kedalam.

Gadis cantik setengah telanjang tadi segera berpaling kebelakang, kemudian teriaknya.

"Nenek. cepatlah lihat, bukankah dia sudah akan sadar ? Aaai sungguh membuat hatiku cemas."

Nenek tua bermuka setan memandang sekejap kearah pemuda yang berbaring diatas pembaringan tersebut, kemudian mengangguk.

"Hm, dia memang sebentar lagi akan sadar" Berbicara sampai disitu dia lantas mengambil secarik kain kuning dari atas meja batu dan diserahkan kepada gadis setengah telanjang tersebut seraya berkata. "Kenakanlah pakaian ini "

"ogah ahh "jawab sang gadis cantik dengan sepasang alis matanya bekernyit, "Aku segan memakai pakaian."

"Sebentar lagi bila dia telah sadar dan menjumpai keadaanmu itu, maka dia akan menjadi gusar." seru nenek bermuka setan dengan nada amat gelisah.

Tertegun hati gadis cantik setengah telanjang itu setelah mendengar perkataan itu, sambil membelalakkan sepasang matanya dengan perasaan tak tenang serunya.

"Benarkah itu nenek? Menurut pendapatmu apa sebabnya dia akan marah jika melihat keadaanku ini ?"

Perasaan hatinya menunjukkan sikap tidak tenang, gelisah dan tidak habis mengerti.

Nenek bermuka setan itu memandang sekejap lagi kearah sang pemuda yang berbaring diatas pembaringan, lalu menjawab.

"Dia adalah seorang pria, karena itu jikalau dilihatnya engkau berada dalam keadaan seperti itu tentu akan dianggapnya engkau sebagai seorang perempuan yang tidak genah."

Air muka gadis cantik itu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan dingin.

"Siapa berani mengatakan bahwa aku adalah perempuan tidak genah ?"

Dalam pada itu pemuda yang berbaring diatas pembaringan secara tiba-tiba memperdengarkan suara helaan napas panjang yang berat dan mendalam, kemudian perlahan-lahan membuka matanya, ketika sorot matanya terbentur dengan dandanan sang gadis cantik dalam keadaan setengah telanjang itu, wajahnya seketika berubah jadi merah-padam karena jengah, buru-buru dia melengos kearah lain sambil bertanya dengan ketus.

"Tempat apakah ini ?"

Rupanya gadis cantik setengah telanjang itu merasa amat girang ketika dilihatnya pemuda tersebut sudah sadar dari pingsannya, mendengar pertanyaan itu buru-buru ia tertawa dan menjawab.

"ooh Engkau telah siuman ?" ia segera menarik tangan sianak muda itu tingkah lakunya begitu polos, suci dan bersih.

Sekuat tenaga pemuda itu meronta dari cekalan dan loncat bangun dari atas pembaringan kemudian melayang turun kelantai, gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran kilat membuat gadis setengah telanjang serta nenek bermuka setan itu jadi amat terperanjat.

Setelah melepaskan diri dari selimutnya maka tampaklah pemuda itu memakai seperangkat baju berwarna hitam, ternyata dia bukan lain adalah Gak In Ling yang dihajar manusia bertato sembilan naga hingga tercebur kedalam sungai itu.

Setelah berdiri tegak diatas tanah, Gak In Ling baru menunjukkan sikap tertegun, pikirnya ^

"Kenapa aku sama sekali tidak merasa sedang menderita luka dalam yang parah ? Kenapa aku telah segar bugar kembali ?"

Rupanya nenek tua bermuka setan itu, adalah seorang jago kawakan yang sudah amat berpengalaman dalam menghadapi pertarungan besar sesudah tertegun sejenak ia segera enjotkan badannya menghadang didepan pemuda itu sambil menegur dengan suara dingin. "Rupanya luka dalammu yang teramat parah telah sembuh kembali seperti sediakala."

Gak In Ling menengadah ke atas, hatinya merasa amat terperanjat dan segera jawabnya. "Sedikitpun tidak salah, entah siapakah yang telah menyembuhkan luka dalamku itu ?"

"Nona kami" jawab nenek tua bermuka setan dengan dingin.

Gak In Ling tertegun, kemudian bertanya. "Dia berada dimana ?"

"Apakah aku tidak pantas jadi nonanya ?" seru gadis cantik setengah telanjang itu sambil memburu maju kedepan-

Sekali lagi air muka Gak In Ling berubah jadi merah-padam karena jengah, buru-buru dia alihkan sorot matanya kearah lain dan berkata dengan dingin.

"Dengan maksud tujuan apakah kalian berdua menyelamatkan selembar jiwaku ? Beberkan saja rencana kalian secara blak-blakan."

Gusar sekali hati nenek tua bermuka setan setelah mendengar penghinaan itu, ia segera tertawa dingin.

"Hee hee hee orang muda, budi pertolongan yang diberikan seseorang sama artinya menciptakan kehidupan kembali bagimu, sekarang kau berbicara dengan nada begitu dingin dan ketus, apakah ini salah satu caramu untuk membalas budi pertolongan yang telah kami berikan kepadamu ?"

Merah-padam selembar wajah Gak In Ling sesudah disindir secara tajam oleh nenek tua itu sebab dia menyadari bahwa perkataan nenek tua bermuka setan itu sangat masuk diakal dan merupakan suatu kenyataan, memang tidak sepantasnya kalau ia bersikap secara begini terhadap seseorang yang telah menyelamatkan jiwanya.

Karena itu ditatapnya wajah nenek tua ber muka setan itu dengan pandangan tajam, kemudian berkata.

"Asalkan permintaan yang kalian ajukan adalah permintaan yang benar dan masuk diakal, sekalipun aku harus korbankan jiwaku juga bersedia kupenuhi"

Gadis cantik setengah telanjang itu walaupun perjalanan dalam dunia persilatan, tetapi pada dasarnya ia memiliki otak yang cerdas, mendengar perkataan itu sepasang matanya kontan saja melotot besar, dengan gusar ia membentak.

"coba katakan, pada bagian mana dari kami yang kau katakan sebagai manusia tidak genah ?"

Gak In Ling terdesak, tak tahan lagi ia menjawab. "Dandanan dari nona "

Sadarlah sekarang gadis cantik setengah telanjang itu, dia mengambil kain kuning yang memang terletak diatas meja itu dan segera dikenakan di atas tubuhnya, lalu bertanya. "Apakah demikian ini baru benar ?"

Setelah gadis cantik itu berpakaian, Gak In Ling baru berani mengalihkan sorot matanya ke-arah gadis itu, satu ingatan mendadak berkelebat didalam benaknya, dalam hati segera-pikirnya .

"Sorot matanya begitu suci- bersih dan agung tidak sepantasnya kuucapkan kata-kata yang begitu keras dan tajam terhadap dirinya, apalagi dia adalah seorang tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwaku."

Berpikir demikian, wajahnya segera berubah jadi lembut kembali, setelah memberi hormat katanya.

"Kuucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah nona berikan kepadaku."

Gadis cantik itu tertawa riang, dengan wajah berseri ia menatap tajam wajah Gak In Ling.

"sekarang engkau sudah tidak marah lagi?" tanyanya.

Gak In Ling menggeleng. "Aku memang tidak marah."

"Tidak. Akulah yang telah menimbulkan kemarahanmu, sebenarnya nenek sudah menyuruhku mengenakan kain tersebut, tetapi berhubung sedari kecil aku sudah berdiam disini dan tidak terbiasa mengenakan pakaian, maka kalau berpakaian aku merasa kurang leluasa, oleh karena itulah aku tidak bersedia untuk mengenakannya."

"Anak muda," pada saat itu tiba-tiba nenek tua bermuka setan bertanya, "siapa namamu ?"

Gak In Ling menyapu sekejap kearah majikan dan pelayan tuanya itu, kemudian tanpa berpikir panjang ia menjawab. "Aku bernama Gak In Ling "

"Aku bernama Hoa Yan Hun," sela gadis cantik itu. "dan dia disebut Kui bin Popo nenek bermuka setan "

Terjelos hati Gak In Ling sesudah mendengar nama orang-orang itu, diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapaknya, lalu berseru.

"Jadi kalian berdua adalah jago-jago dari perguruan Pit-tiong yang berasal dari Tibet?"

Bicara sampai disitu dia mundur dua langkah kebelakang, sepasang matanya menatap tajam wajah nenek tua bermuka setan.

Ketika asal-usulnya diketahui orang, air muka nenek bermuka setanpun berubah hebat, napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram ia berseru. "Darimana kau bisa tahu ? Siapa yang mengirim kau datang kemari ?" Selangkah demi selangkah ia berjalan maju ke depan mendekati pemuda she Gak itu.

Agaknya gadis cantik she Hoa itu menaruh kesan yang sangat baik terhadap sianak muda itu tatkala dilihatnya napsu membunuh yang sangat tebal telah menyelimuti wajah nenek tua itu, ia jadi amat terperanjat.

"Nenek. jangan kau lukai dirinya" ia menjerit.

"Nona, demi keselamatan kita berdua, bagai manapun juga tidak boleh kita lepaskan orang ini " seru nenek bermuka setan dengan wajah tidak tenang. Gak In Ling segera tertawa dingin, sindirnya.

"Benar, engkau memang tidak seharusnya melepaskan diriku demi mensukseskan rencana busuk kalian-.. tapi ingat akupun tidak akan melepaskan kalian berdua, karena akupun memikirkan keselamatan umat persilatan d idalam sungai telaga."

"Hei Nanti dulu " seru sigadis cantik itu dengan cemas. "Kami sama sekali tiada bermaksud untuk mencelakai dunia persilatan, kenapa engkau tak dapat melepaskan diri kami ?"

Rupanya nenek bermuka setan merasakan tindakan nonanya yang merengek itu menurunkan gengsinya sebagai seorang Tiong-cu (ketua) dari perguruan Pit-tiong, maka dengan cepat ia berseru.

"Walaupun perguruan Pit-tiong kami tidak mempunyai maksud untuk mencelakai umat persilatan disungai telaga, akan tetapi kamipun tidak sudi dipandang rendah orang lain."

Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Gak In Ling, serunya kemudian dengan cepat.

"Selama berada dilembah Toan-hun kok sudah banyak jago persilatan dari Tionggoan yang menemui ajalnya disana, apakah tindakan tersebut bukan merupakan suatu tindakan yang mencelakai dunia persilatan ?"

Tertegun hati nenek bermuka setan sehabis mendengar perkataan itu, serunya dengan tercengang.

"Lembah Toan-hun- kok Jangan-jangan mereka sudah mulai bergerak ke daratan Tionggoan-"

"Nenek." terdengar gadis itu berkata dengan nada tidak tenang, "sampai kapan sih tenaga dalamku baru berhasil mencapai kesempurnaan ? Ketika ibu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir bukankah telah berpesan kepada kita agar melarang setiap anggauta perburuan Pit-tiong menuju kedaratan Tionggoan ? Sekarang mereka telah menuju kesana " Ucapannya mengandung perasaan tidak tenang, gelisah dan

cemas. Tiba-tiba nenek bermuka setan menghela napas panjang.

"Aai mungkin masih membutuhkan waktu selama setengah tahun- lagi, kau harus berlatih dengan rajin dan tekun agar nama perguruan Pit-tiong kita bisa menggetarkan seluruh kolong langit kembali, dan kitapun bisa cepat-cepat membasmi kaum pengkhianat penjual sahabat itu "

Helaan napas panjang yang sedih dan murung mengakhiri pembicaraan tersebut.

Dari tanya-jawab yang dilangsungkan oleh kedua orang itu, rupanya Gak In Ling sudah dapat menangkap duduk perkara yang sebenarnya, dalam hati kecilnya ia segera berpikir.

"Jangan-jangan orang yang menguasai daratan Tionggoan padasaat ini bukanlah ketua perguruan Pit-tiong dari Tibet yang sebenarnya ? Andaikata memang demikian keadaannya, aku bisa menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menundukkan hati gadis tersebut, agar ia bersedia bekerja-sama dengan umat persilatan di dataran Tionggoan untuk bersama-sama melenyapkan kaum durjana yang mengacau kedamaian dunia itu."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia menengadah dan memandang kearah gadis tersebut.

Tetapi ketika sinar mata Gak In Ling berjumpa dengan sorot mata sigadis yang polos, lembut dan suci itu, timbullah rasa malu dan menyesal di dalam hati kecilnya, diam-diam ia berpikir.

"oh, Gak In Ling Gak In Ling kalau kau berhasil membohongi hatinya dengan kata-kata yang manis, sekalipun tujuanmu adalah kebenaran tetapi tindakan semacam itu akan membuat kau merasa malu dan menyesal sepanjang masa."

Dalam pada itu nenek bermuka setan sendiri setelah melirik sekejap kearah wajah Gak In Ling, segera mengertilah dia

bahwa sianak muda itu telah memahami terhadap apa yang sedang mereka bicarakan dan ketika itu sedang merasa menyesal, hawa gusar yang semula menyelimuti wajahnya kini lenyap tak berbekas, sesudah menghela napas panjang, katanya.

"Hey, orang muda, ketidak beruntungan yang menimpa perguruanku telah kau pahami, aku harap sesudah engkau berlalu dari sini janganlah kau siarkan keadaan ini keseluruh dunia persilatan, sebab persoalan ini hanya bisa dikatakan sebagai persoalan rumah tangga perguruan kami sendiri."

Dengan wajah bersungguh-sungguh Gak In Ling mengangguk.

"Aku pasti tak akan mengecewakan hati kalian berdua, sampai waktunya apabila kalian membutuhkan tenagaku untuk membantu, aku orang she Gak melalu siap mengulurkan tangan untuk menyumbangkan tenagaku."

Berseri wajah gadis cantik itu ketika mendengar perkataan itu, ia segera menubruk kehadapan Gak In Ling dan mencekal tangannya erat-erat, serunya dengan manja. "Sungguhkah itu ? Ah, engkau benar-benar baik hati."

Gerakan tubuhnya begitu cepat membuat Gak In Ling tak sempat untuk menghindarkan diri, kalau ia bermaksud untuk membinasakan pemuda tersebut, mungkin sekarang pemuda tersebut sudah menggeletak diatas tanah. Tercekat juga perasaan hati Gak In Ling, pikirnya.

"Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini Agaknya badai pembunuhan yang bakal melanda dalam dunia persilatan dewasa ini tak mungkin bisa diselamatkan dengan mengandalkan tanganku seorang."

Karena dihati kecilnya sedang memikirkan sesuatu, ia lupa untuk menjawab pertanyaan itu.

Nenek bermuka setan memandang sekejap kearah Hoa Yan Hun. lalu pikirnya didalam hati.

"Selama banyak tahun belum pernah ia menunjukkan wajah yang begitu gembira seperti hari ini, aaaiii mungkin dia memang terlalu kesepian."

Berpikir sampai disitu, perlahan-lahan ia berjalan keluar dari ruangan itu dan lenyap dibalik pintu.

Dalampada itu, tatkala Hoa Yan Hun menyaksikan Gak In Ling lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, tanpa terasa dia menggoyangkan tangannya sambil berseru.

"Hey, kenapa engkau tidak berbicara ?" Gak In Ling tertegun, ia tarik kembali tangannya dan menjawab.

"Kau suruh aku membicarakan soal apa.?"

"Perduli apapun yang akan kau katakan, aku bersedia untuk mendengarkan-" jawab Hoa Yan Hun manja.

Sebenarnya perkataan semacam itu tidak sesuai diutarakan oleh seorang gadis muda, tetapi ketika ucapan tadi muncul dari bibir Hoa Yan Hun yang polos dan suci itu, kedengaran biasa dan enak didengar.

Gak In Ling menyapu sekejap paras mukanya yang cantik,jantugnya yang semula tenang bagaikan permukaan air telaga kini berdetak dengan kerasnya, mungkin kepolosan serta kesucian gadis itu telah menggoncangkan perasaan hatinya.

Gak In Ling tarik napas panjang, setelah berhasil menenangkan hatinya yang bergolak keras ujarnya.

"Kalau dari sini menuju keatas, kita harus lewat mana ?"

Mendengar pertanyaan itu senyum girang yang semula menghiasi wajah Hoa Yan Hun seketika berubah jadi kaku, sambil menatap wajah pemuda itu dengan biji matanya yang jeli dia bertanya. "Kau akan pergi?"

Tiba-tiba ia seperti telah teringat akan sesuatu, tubuhnya segera melepaskan diri dari pelukan Gak In Ling dan lari menuju ke tepi pembaringan, dari bawah bantal dia ambil keluar dua jilid kitab seraya berkata.

"Menurut nenek, sebelum kau berhasil melatih ilmu silat yang tercantum dalam kedua jilid kitab tersebut, tak mungkin kau berhasil keluar dari sini." Sambil berkata ia ayunkan kitab itu dihadapan sipemuda.

Melihat kedua jilid kitab tersebut Gak In Ling merasa amat terperanjat, ia segera merogoh kedalam sakunya, sedikitpun tidak salah kedua jilid Ilmu pukulan maut "Hiat-ciang-pit-keng"-nya telah lenyap tak berbekas.

Walaupun Hoa Yan Hun seorang gadis yang polos, tetapi orangnya lincah dan cerdas, ketika menyaksikan raut wajah pemuda itu, buru-buru ujarnya lagi

"Nenek bilang aku bisa memberi pelajaran kepadamu, apakah engkau bersedia melihat jalan keluarnya ?"

Sambil berkata ia maju kedepan menghampiri Gak In Ling lalu menyerahkan kedua jilid kitab tersebut ketangannya.

Gak In Ling sendiri walaupun mengetahui bahwa gadis itu tak akan membohongi dirinya, tetapi ia tak maupercaya dengan begitu saja, ia mengikuti dibelakang Hoa Yan Hun berangkat menuju kemulut gua.

Air sungai masih mengalir dengan derasnya seperti sediakala, tetapi empat bulan sudah lewat tanpa terasa.

Di mulut gua Kui-ong-tong, tampaklah Hoa Yan Hun dengan air mata bercucuran bersandar didalam pelukan Gak In Ling, dengan suara lirih dan manja ia berbisik. "Engkoh Ling... engkoh Ling..."

Meskipun suaranya kecil, tetapi nadanya mengibakan hati membuat orang merasa terharu. Dengan belaian tangan yang kaku Gak In Ling membelai rambut yang panjang dari sigadis

yang hitam halus, kemudian menyeka pula noda air mata yang membasahi pipinya.

"Adik Hun, janganlah menangis." sahutnya dengan lembut, "bukankah kau mengatakan bahwa engkau akan mendengarkan perkataanku?"

Pergaulan selama empat bulan telah mengeratkan hubungan kedua insan manusia itu, tingkah laku Hoa Yan Hua yang polos dan lincah, hatinya yang suci bersih telah membuka perasaan hati sang pemuda, melelehkan perasaan hatinya yang dingin dan membeku, sekalipun dia tahu bahwa usianya sudah tidak lama lagi, namun cinta telah membelenggu perasaan hatinya.

Dengan lembut Hoa Yan Hun mengangguk. pipinya ditempelkan keatas wajah Gak In Ling dan berkata dengan sedih.

"Engkoh Ling, aku merasa berat untuk berpisah dengan dirimu."

Gak In Ling merasakan jantungnya berdebar keras. dia menghela napas berat.

"Aaii adik Hun, dikolong langit tiada perjamuan yang tak bubar, lain kali asal engkau ingat selalu bahwa engkau pernah mempunyai seorang engkoh Ling seperti aku, itu sudah lebih.dari cukup,"

Ia tak mampu untuk mengutarakan kesedHan hatinya, dan tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan keluar.

"Benar, selamanya aku tak akan melupakanmu" sahut Hoa Yan Hun dengan terisak, "tunggulah sebulan lagi, bila ilmu silatku telah berhasil maka aku pasti akan mencari dirimu."

Dengan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.

"Mungkin selamanya engkau takkan menemukan diriku lagi, adik Hun, sayang" sesudah menghela napas panjang, bisiknya.

"Adik Hun, mungkin selamanya engkau tak akan menemukan diriku lagi."

Mendengar perkataan itu sekujur badan Hoa Yan Hun gemetar keras, ia menengadah keatas dan memandang wajah Gak In Ling dengan sorot mata kaget, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya .

"Kenapa ?" ia bertanya. "Apakah engkau sama sekali tidak mencintai diriku ?"

Memandang sorot mata sang dara yang kaget, sedih dan bingung itu, Gak In Ling tidak sanggup menguasai perasaan hatinya lagi, ia berseru. "Adik Hun-.."

Kedua lembar bibirnya gemetar secepat kilat menyambar kedepan dan mencium bibir Hoa Yan Hun yang mungil dan indah itu.

Sekujur tubuh Hoa Yan Hun gemetar keras, ia pejamkan matanya dan balas memeluk Gak In Ling erat-erat, ia biarkan dirinya dicium dan di kecup dengan penuh kemesraan-

Dan dia merasa puas Walaupun Gak In Ling tidak menjawab pertanyaannya tetapi tindakan pemuda itu telah membuktikan segala sesuatunya.

Sementara itu dari balik gua telah berjalan keluar nenek bermuka setan, sambil membawa selembar topeng kulit manusia yang berwajah seram bagaikan setan ia menghampiri kedua orang muda itu, bisiknya. "Kongcu, apakah kau hendak pergi?"

Buru-buru Gak In Ling menengadah keatas sedangkan Hoa Yan Hun menempelkan tubuhnya makin rapat kedalam pelukan pemuda tersebut, tingkah lakunya begitu polos dan suci. Gak In Ling memandang sekejap kearah nenek bermuka setan, lalu mengangguk. "Benar nenek" 

"Satu bulan lagi, aku serta Hun-jipun akan munculkan diri pula didalam dunia persilatan-" kata nenek bermuka setan dengan sedih. sekali lagi Gak In Ling menghela napas berat, katanya.

"Aku percaya nenek pasti akan berusaha keras untuk merawat serta menjaga adik Hun, dia masih begitu polos dan jujur, sedikitpun tiada berpengalaman dalam dunia persilatan, kesemuanya terpaksa harus menunggu petunjuk serta perlindungan dari nenek." Nada suaranya penuh disertai rasa cinta yang mendalam, disamping rasa sedih dan iba.

"Bagaimana dengan engkau sendiri ?" seru nenek bermuka setan tanpa terasa. Senyuman sedih tersungging diujung bibir Gak In Ling.

"Aku rasa nenek telah mengetahui segala sesuatunya." ia menjawab dengan kaku.

"Kongcu," seru nenek bermuka setan dengan jantung berdebar, "tiada penyakit yang tak dapat disembuhkan dengan obat, apalagi engkau masih harus mencari orang yang begitu banyak."

Gak In Ling menengadah memandang cuaca diangkasa, kemudian menghela napas panjang.

"Aaii benar nenek. aku bisa berusaha dengan segenap tenaga, akan kuusahakan sedapat mungkin untuk mempertahankan hidupku,semoga saja dikemudian hari aku Gak In Ling masih mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi dengan kalian-"

Berbicara sampai disini ia menyeka airmata yang jatuh berlinang membasahi pipinya dan menambahkan-"Aku akan pergi dahulu "

"Engkoh Ling, jangan" seru Hoa Yan Hun dengan terperanjat.

"Kongcu, bawalah benda ini,," ujar nenek bermuka setan sambil angsurkan topeng kulit manusia itu ketangannya. "bawalah topeng ini, mungkin dilain kesempatan benda ini akan membantu dirimu."

Gak in Ling menerima pemberian tersebut lalu mendorong tubuh Hoa Yan Hun kebelakang sambil mengeraskan hatinya ia berbisik. "Adik Hun, baik-baiklah berjaga diri, aku akanpergi dahulu."

Habis berkata ia segera enjotkan badannya laksana petir yang menyambar dikolong langit, dengan cepat tubuhnya menerobos naik kearah bukit dan mencapai puncak tebing sementara dari arah belakang masih kedengaran jeritan keras dari Hoa Yan Hun--oo0dw0oo-

Latihan tekun selama empat bulan membuat tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling mendapat kemajuan yang amat pesat, tebing setinggi seratus tombak berhasil dilaluinya dalam tiga kali lompatan saja tahu-tahu tubuhnya sudah mencapai dipuncak tebing.

Berdiri diatas permukaan tanah dibawah hembusan angin gunung yang sejuk. Gak In Ling merasakan hatinya lega dan lapang.

la berpaling memandang sekejap kebawah tebing kepala setan yang merupakan tonjolan batu karang waktu itu hanya nampak sebesar bola, di-tengah gulungan ombak yang dahsyat siapapun tidak akan menyangka kalau dibalik tonjolan batu itu terdapat dua manusia yang berdiam disitu.

Gak In Ling menghela napas dalam-dalam, gumamnya seorang diri.

"Adik Hun, selamat tinggal.... Semoga pergaulanmu dalam dunia persilatan tidak merubah perasaan hatimu yang polos dan suci itu." Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan tempat itu.

Belum jauh pemuda itu berjalan, mendadak dari atas batu ditempat ketinggian berkelebat sesosok bayangan hitam, dalam kempitan orang itu tampaklah seorang gadis berbaju biru terkulai dalam keadaan tak sadarkan diri, sepasang tangannya lemas tergantung kebawah, matanya terpejam rapat dan jelas sudah kehilangan daya lawannya.

Tatkala menyaksikan potongan badan bayangan hitam itu, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling, segera pikirnya. "Mengapa potongan badan orang ini begitu mirip seperti aku ?"

Rupanya bayangan hitam itu sedang menghindarkan diri dari suatu pengejaran, gerakan tubuhnya amat cepat seperti dikejar setan, badannya sebentar bersembunyi dibalik batu, sebentar lari kedepan, dan arah yang dituju adalah tempat Gak In Ling berada pada saat ini.

Jaraknya dari antara dua ratus tombak lebih dalam waktu singkat telah mencapai seratus tombak belaka, dan orang itu masih tetap berlarian dengan cepatnya.

Sekarang Gak In Ling sudah dapat melihat potongan badan orang itu, dia mengenakan pakaian berwarna hitam persis seperti dandanannya sendiri, mukanya memakai kain cadar warna hitam hingga cuma nampak sepasang matanya belaka, ditinjau dari raut muka serta potongan badannya hampir boleh dibilang tiada jauh berbeda dengan keadaan dari Gak In Ling.

Semakin memandang kearah orang itu, pemuda she Gak merasa makin terperanjat, pikirnya.

"Benarkah dikolong langit benar-benar terdapat manusia yang mirip dengan diriku ?"

Mendadak ingatan lain berkelebat pula di-dalam benak sianak muda itu, sorot mata yang tajam memancar keluar dari balik matanya.

Berhubung selama ini Gak In Ling hanya berdiri tegak tanpa bergerak dan lagi orang itu sedang melakukan perjalanan dengan terburu-buru maka orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang berjalan mendekati kepintu ajalnya.

Dalam sekejap mata orang itu sudah berada kurang lebih lima puluh tombak dihadapan sianak muda itu.

Gak In Ling segera mendengus dingin dan segera meloncat keluar.

Tiba-tiba serentetan suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian-

"Gak In Ling, apakah engkau hendak melarikan diri lagi dari sini ?"

Mengikuti berkumandangnya suara bentakan itu, dari belakang sebuah batu cadas besar kurang lebih tiga puluh tombak dihadapan Gak In Ling muncullah seorang nenek tua berbaju hitam yang mana dengan cepat menghadang jalan pergi manusia baju hitam itu. Mula-mula Gak In Ling tertegun mendengar bentakan itu, segera pikirnya. "Ada urusan apa dia datang mencari diriku ?"

Tetapi setelah berpikir sebentar, dia baru tahu bahwa nenek tua berbaju hitam itu rupanya sedang menghadang jalan pergi manusia baju hitam tadi, sadarlah pemuda itu apa yang telah terjadi, dengan hati gusar, pikirnya. "Anjing sialan, rupanya matamu sudah buta ?"

Dalam pada itu, ketika manusia baju hitam itu menyaksikan jalan perginya dihadang orang, tanpa berpikir panjang lagi ia segera putar badan berlarian menuju kearah kiri, gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat.

Nenek tua baju hitam itu sama sekali tidak melakukan pengejaran, dia cuma mendengus dingin dan tetap berdiri ditempat semula.

Perlahan-lahan Gak In Ling menggeserkan badannya dan menyelinap masuk ke balik sebuah batu cadas.

Tenaga dalam yang dimiliki manusia baju hitam itu benar-benar amat sempurna, ketika Gak In Ling sedang menyelinap masuk kembali ke balik batu tersebut, tubuhnya sudah berada kurang- lebih tiga puluh tombak disebelah kiri.

Mendadak terdengar suara beritakan nyaring yang berkumandang lagi ditengah malam.

"Gak In Ling, bajingan tengik bangsat cabul, ini hari adalah saat akhir dari petualangan mu"

Mengikuti bentakan nyaring itu, dihadapan manusia baju hitam tadi tiba-tiba muncul pula dua orang nenek tua baju hitam yang menghadang jalan perginya.

Agaknya pada saat itu manusia baju hitam itu sudah menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam kepungan musuh, buru-buru ia lepaskan bopongan dan membuang gadis itu ketanah, kemudian melarikan diri terbirit-birit menuju ke belakang.

Baru saja manusia baju hitam itu putar badannya, dari jarak dua puluh tombak di hadapan nya tiba-tiba berkumandang datang suara bentakan nyaring yang bernada dingin bagaikan es.

"Gak In Ling, apakah engkau masih ingin melarikan diri ?"

Manusia baju hitam itu menengadah keatas, kemudianjeritnya dengan suara terperanjat. "Ah Thian Hong pangcu ?"

Dengan penuh ketakutan ia mundur dua langkah lebar ke belakang.

Gak In Ling yang bersembunyi dibelakang batu cadaspun merasa tergerak hatinya setelah mendengar sebutan tersebut, sorot matanya segera dialihkan kedepan-

Tampaklah diatas sebuah batu cadas berwarna putih yang amat besar kurang- lebih dua puluh tombak dihadapan manusia baju hitam itu, berdirilah Thian Hong pangcu dengan wajah yang dingin kaku dan menyeramkan, dikedua belah sampingnya berdirilah dua orang nenek, tua, salah satu diantaranya dikenal Gak In Ling seba gai Tiat-binpopo nenek bermuka baja.

Setelah mengawasi sejenak wajah Thian Hong pangcu, pemuda she Gak itu segera berpikir didalam hatinya.

"Rupanya dia jauh lebih kurusan daripada keadaannya tempo dulu"

Setelah menyaksikan kemunculan Thian Hong pangcu ditempat itu, rupanya manusia baju hitam itu sudah kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, dengan kebingungan dia memandang sekejap kekiri- kanan, tiba-tiba ia putar badan dan lari menuju kejalan semula.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya tiba-tiba terdengarlah suara bentakan keras bagaikan belahan guntur bergema diangkasa.

"Gak In Ling bajingan cabul, kau akan melarikan diri kemana lagi ?"

Tak usah menengok Gak In Ling sudah tahu bahwa orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah manusia bertato sembilan naga, hatinya jadi teramat gusar, pikirnya.

"Bagus. Bagus.. Rupanya kalian telah menilai begitu rendah tentang martabat serta tingkah lakuku lihat saja nanti "

Mengikuti munculnya manusia bertato sembilan naga, dari empat penjuru segera bergemalah suara bentakan nyaring disusul berkibarnya empat buah panji besar dari puncak batu cadas ditempat penjuru.

"Hm Rupanya kaupun telah datang..." dengus Gak In Ling dalam hati kecilnya.

Sedikitpun tidak salah, setelah munculnya keempat buah panji besar tadi, dari belakang tubuh manusia bertato sembilan naga muncullah empat orang dayang cilik disusul gadis suci dari Nirwana, perempuan naga peramal sakti serta Suput-siang sekalian-

Setelah menyaksikan dari empat penjuru sekeliling tubuhnya bermunculan jago-jago lihay dari perkumpulan Thian-hong-pang serta Yau-ti-lengcu sadarlah manusia berbaju hitam itu bahwa dirinya sudah terkepung rapat dan tak mungkin bisa meloloskan diri lagi dari situ, hatinya jadi amat gelisah dan tidak tenang, tanpa sadar selangkah demi selangkah dia mundur terus kebelakang.

Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, ia angkat kepala memandang sekejap kearah Thian-hong pangcu, kemudian berkata.

"oooh rupanya pangcu telah berkunjung pula ketempat ini, agaknya tindakan siau-moay ini hanyalah suatu tindakan yang berlebHan belaka." Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Hee hee hee perkumpulan kami kecil dengan tenaga yang terlalu lemah, tindak-tanduk kami tak berani disiarkan secara besar-besaran, hingga ketempat kami tiba selalu tanpa tanda atau panji pengenal, tidak aneh kalau leng tu tidak mengetahuinya." Nada ucapan tersebut penuh diliputi nada sindiran yang tajam.

Sejak Gak In Ling terjatuh kedalam jurang Gadis suci dari Nirwana telah kehilangan kegembiraannya yang selalu menghiasi wajahnya, ia merasakan pikirannya selalu kalut dan tak tenang.

Sehabis mendengar perkataan itu, sepasang alis matanya kontan berkernyit, dengan dingin serunya.

"Terima kasih terima kasih cukup ditinjau dari cara pangcu mencelakai anak murid kami sudah bisa diketahui bahwa pangcu sama sekali tidak memandang sebelah matapun

terhadap diriku. hm, kalau sekarang mengatakan kekuatan kalian terlalu kecil, bukankah hal itu sama artinya dengan menampar mulut sendiri ?"

Perasaan hati Thian-hong pangcu pada waktu itupun tidak seriang dihari-hari biasa, kontan ia tertawa dingin.

"Hee hee hee sama-sama .... sama-sama kalau lengcu tidak turun tangan lebih dahulu, akupun tidak akan berani bikin gara-gara dengan dirimu."

"Kurang ajar, siapa yang telah turun tangan lebih dahulu ?" teriak gadis suci dari Nirwana dengan gusar.

Thian-hong pangcu mengerutkan dahinya, kemudian berkata dengan dingin. "Aku rasa lengcu jauh lebih mengerti."

Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu tanpa terasa hatinya jadi amat tegang, pikirnya.

"Bagus sekali, baru saja bertemu kalian ternyata akan bertempur lebih dahulu, kalau begitu caranya bagaimana mungkin dunia persilatan bisa memperoleh perlindungan dari kalian ?"

Lalu ia berpikir lebih jauh.

"Ah, perduli amat, apa urusannya dengan diriku ? Kenapa aku mesti menguatirkan keselamatan dari manusia-manusia yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan diriku ?"

Walaupun dalam hati ia berpikir demikian, akan tetapi pemuda tersebut tak dapat melegakan hatinya dengan begitu saja, mungkin dengan dasar hatinya yang welas selamanya ia tak bisa tidak harus memikirkan keselamatan orang lain-Dalam pada itu gadis suci dari Nirwana dengan gusar telah berseru. "Hmm, terang-terangan engkau telah memutar balikkan duduknya persoalan-"

"Hee hee hee apakah lengcu menganggap ilmusilat yang kau miliki amat lihay, maka engkau hendak menekan orang

dengan kekerasan ?" seru Thian-hong pangcu sambil tertawa dingin-

Gadis suci dari Nirwanapun tertawa dingin.

"Aku percaya engkau Thian-hong pangcu masih belum sampai merasa takut tentang persoalan-"

"Hmm, sedikitpun tidak salah, meskipun siau-moay merasa bahwa ilmu silatku masih belum menandingi dirimu, tetapi apabila lengcu mempunyai keinginan untuk mengadu tenaga aku pasti akan melayani dirimu sekalipun harus mengorbankan selembar jiwaku"

Seraya berkata perlahan-lahan ia berjalan menuruni batu cadas tersebut untuk mendekati lawannya.

Thiat-bin popo yang berada disisinya dengan cepat menarik tangannya sambil berseru. "Pangcu Sekarang bukan waktunya bagi kita untuk berbuat demikian-" Dipihak lain perempuan naga peramal sakti sedang berseru dengan suara keras. "Lengcu Dewasa ini kita harus menyelesaikan dahulu persoalan tentang orang ini "

Sambil berkata ia tuding kearah manusia berkerudung hitam itu, namun tidak disebutkan olehnya bahwa orang itu adalah Gak In Ling.

Baik gadis suci dari Nirwana maupun Thian hong pangcu sama-sama merupakan gadis sakti yang memiliki kecerdikan luar biasa, tentu saja jalan pikiran mereka jauh lebih hebat daripada orang lain, setelah dihibur oleh orangnya masing-masing, perasaan hati merekapun jauh lebih tenang dari keadaan semula. Dengan suara nyaring gadis suci dari Nirwana segera berseru.

"Pangcu menghadang jalan pergi orang ini lebih dahulu, sudah sepantasnya kalau kau yang turun tangan lebih dahulu."

Thian-hong pangcu loncat naik kembali keatas batu cadas putih, kemudian menjawab.

"Meskipun diantara anak murid perkumpulan kami ada yang menemui ajalnya ditangan orang ini, tetapi semua kejadian sudah lewat lama, ini hari ia sedang menculik anak murid perguruan kalian, sudah sepantasnya kalau Lengcu-lah yang menyelesaikan persoalan ini."

Jelas perempuan ini tidak mau turun tangan sendiri terhadap orang yang dianggapnya sebagai Gak In Ling itu.

Air muka gadis suci dari Nirwana berubah hebat, rupanya diapun merasa keberatan untuk menyelesaikan persoalan itu.

Perempuan naga peramal sakti yang berada disisinya segera menarik ujung baju gadis suci dari Nirwana sambil bisiknya.

"Lengcu, kepercayaan dan kebesaran gadis suci dari Nirwana semuanya tergantung pada keputusan yang akan diambil Lengcu pada saat ini." Air muka gadis suci dari Nirwana kembali berubah hebat, gumamnya.

"Kepercayaan-. .. kebesaran...... aku tidak lebih hanya sebuah patung pemujaan yang dipuja-puja orang, aku bukan manusia karena kepercayaan dan wibawa, aku harus mengorbankan sesuatunya, apakah sejak dilahirkan aku sudah di-takdirkan tidak berhak mencicipi kebahagiaan tersebut ?"

Mengikuti gumamnya yang lirih dan menyedihkan itu, perlahan-lahan air matanya berlinang membasahi pipinya.

"Lengcu," kembali perempuan naga peramal sakti berbisik- "kau harus teguhkan imanmu, ia tidak berharga untuk menerima rasa cintamu itu."

Gadis suci dari Nirwana segera menyeka air matanya dengan ujung baju, kemudian dengan wajah dingin dan kaku ia tatap wajah manusia baju hitam itu tajam-tajam, serunya dengan menyeramkan-

"Gak In Ling, rupanya engkau belum mati" Dalam waktu yang amat singkat, seakan-akan dia telah berubah jadi seorang manusia yang lain-

Setelah menyaksikan kejadian berubah jadi begitu dan mengetahui bahwa dia tak bakal lolos dari pengepungan, tiba-tiba manusia baju hitam itu bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut diatas tanah, sambil angguk-anggukkan kepalanya ia merengek. "Lengcu, ampunilah jiwaku..... aku Gak In Ling menerima salah..."

Perempuan naga peramal sakti yang menyaksikan kejadian itu satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia segera berpikir.

"Dia pasti bukan Gak In Ling, dengan keangkuhan serta kesombongan yang dimiliki Gak In Ling, sekalipun ada golok yang dipalangkan ditenggorokannya, tak mungkin ia bersedia bertekuk lutut dihadapan orang lain."

Meskipun dalam hati ia berpikir demikian, namun jalan pikirannya itu tidak sampai diutarakan keluar.

sekuat tenaga gadis suci dari Nirwana menahan perasaan hatinya untuk memberi ampun kepada orang-itu, sekarang ia telah berubah jadi seorang yang benar-benar sadis.

"Selamanya manusia cabul semacam engkau tak pernah diberi pengampunan. Gak In Ling, kalau mengetahui bakal begini kenapa kau lakukan perbuatan-perbuatan semacam itu dimasa lampau"

"Lengcu, Manusia bukanlah nabi atau malaikat." rengek manusia baju hitam itu dengan suara keras. "Meskipun aku telah melakukan perbuatan yang salah, tapi perbuatanku itu tokh bisa dibenarkan di kemudian hari kalau engkau benar-benar adalah seorang manusia yang baik hati dan bijaksana, semestinya Lengcu ampuni jiwaku serta melepaskan aku Gak In Ling dari sini, dikemudian hari aku pasti akan hidup sebagai seorang manusia baik-baik."

Air muka gadis suci berubah hebat, tetapi ketika dilihatnya wajah-wajah gusar yang diperlihatkan anak muridnya disekeliling kalangan, perasaan hatinya segera berubah kembali jadi dingin, ia segera ambil kcputusan dan berseru.

"Menurut keputusanku, engkau jangan harap bisa meninggalkan tempat ini lagi dalam keadaan hidup "

Bicara sampai disitu ia segera angkat kepala memandang kearah Thian-hong pangcu, sambungnya.

"Bagaimana menurut pendapat pangcu ? "

Thian-hong pangcu sama sekali tidak memandang kearah pria baju hitam yang dianggapnya sebagai Gak In Ling, sambil menahan rasa sedih yang mencekam perasaan hatinya ia menjawab dengan dingin. "Keputusan dari Lengcu memang tepat sekali "

Sementara mengucapkan kata-kata tersebut, telapak tangan dibalik bajunya gemetar terus tak hentinya, meskipun diluaran ia berusaha untuk menenangkan hatinya tapi golakan hatinya benar benar hebat.

Setelah Thian-hong pangcu berkata demikian, maka gadis suci dari Nirwanapun segera membentak.

"Su-put-siang, ringkus bajingan cabul itu "

Dalam pada itu Gak In Ling yang bersembunyi dibelakang batu cadas secara diam-diam telah mengenakan topeng setan diatas wajahnya, lalu perlahan-lahan berjalan ketengah gelanggang.

Ketika lelaki baju hitam itu menyaksikan kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup sudah lenyap. timbullah niat untuk mengadu jiwa, ia segera loncat mundur sejauh dua tombak dan membentak keras.

"Lengcu, apakah engkau hendak paksa aku Gak In Ling untuk mengadu jiwa dengan dirimu ?"

Sambil berkata hawa murninya diam-diam disalurkan kedalam sepasang telapak tangan siap melakukan pertempuran-

Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi jidatnya, sorot mata yang memancarkan sinar ketakutan, tidak tenteram dan ngeri terlintas tiada hentinya.

Sementara itu dengan langkah cepat su-put siang telah masuk kedalam gelanggang, sambil tertawa dingin serunya.

"Gak In Ling bajingan tengik, engkau hendak bunuh diri ? Ataukah memaksa aku untuk turun tangan ?"

Manusia berkerudung hitam itu segera ayunkan sepasang telapaknya ke depan, tampak cahaya merah menyambar lewat diangkasa, hardiknya.

"Asal engkau merasa yakin mampu untuk menahan pukulan ilmu telapak mautku, silahkan saja engkau mencoba"

"Hee..... hee .... hee.... sepasang telapak maut, apa yang mesti kutakuti ?" ejek Su-put-siang sambil tertawa dingin, sambil berkata ia bersiap-sedia untuk turun tangan-

Pada saat itulah tiba-tiba dari udara berkumandang datang suara bentakan yang dingin dan mengerikan-

"Sahabat, engkau bukan Gak In Ling"

Suara itu munculnya sangat mendadak dan tak terduga, apalagi seluruh perhatian semua jago yang hadir disana sama-sama dipusatkan keatas tubuh manusia berkerudung hitam itu, maka mendengar bentakan tadi rata-rata para jago yang hadir disana sama-sama terperanjat, sorot mata semua orangpun segera dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi.

Tetapi setelah mengetahui siapa yang buka suara, hati semua orangpun terjelos, hampir berlamaan waktunya mereka sama-sama berpikir. "Kenapa dikolong langit terdapat manusia yang begini jeleknya ?"

Sementara semua orang masih berdiri tertegun, perlahan-lahan Gak In Ling sudah berjalan masuk ketengah gelanggang, langkahnya begitu tegap dan tinggi hati.

Sejak Gak In Ling munculkan diri ditempat itu, baik gadis suci dari Nirwana maupun Thian- hong pangcu sama-sama merasakan hati kecilnya timbul satu perasaan aneh, mereka tidak dapat mengatakan apa sebabnya, hanya terasa oleh kedua orang gadis itu bahwa suara dari Gak In Ling begitu nyaring dan sangat dikenal oleh mereka.

Dua pasang mata yang jeli dengan tajam segera menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. agaknya mereka sedang berusaha menemukan sesuatu dari paras orang itu. Sedangkan perempuan naga peramal sakti diam-diam berseru dalam hati kecilnya. "Terima kasih langit, terima kasih bumi, ternyata dia belum mati " Berpikir sampai disini, ia lantas berpaling kearah Su-put-siang dan berseru. "Su-put-siang, kembalilah "

Su-put-siang yang menghadang jalan pergi-nya oleh Gak In Ling ketika ia siap hendak turun tangan, pada saat itu hatinya sedang merasa gusar, mendengar panggilan itu, ia lantas menggeleng sambil menjawab. "Tidak. tugasku belum selesai."

"Kembali" bentak gadis suci dari Nirwana. .

Meskipun ia sedang berbicara terhadap Su put-siang, namun sepasang biji matanya yang jeli tak pernah terlepas dari wajah Gak In Ling yang menyeramkan-

Dia sangat berharap orang yang baru saja munculkan diri itu memandang sekejap kearahnya Tapi ia kecewa, pemuda berwajah amat jelek itu sama sekali tidak memandang sekejappun kearah-nya.

Su-put-siang sendiri walaupun kasar dan berangasan, tetapi ia tak berani membangkang perintah dari Lengcunya, setelah melotot sekejap kearah Gak In Ling dengan penuh kegusaran

ia putar badan dan berjalan kembali kesisi tubuh pemimpinnya.

sementara itu Gak In Ling telah berada kurang- lebih lima depa dihadapan manusia berkerudung hitam itu, dengan suara dingin ia segera menegur.

"Sahabat, mengapa kau tidak lepaskan kain hitam yang menutupi paras mukamu itu?"

Ketika manusia berkerudung hitam itu melihat Su-put-siang telah mundur, nyalinya telah menjadi tebal kembali, pikirnya d idalam hati.

"Kenapa tidak kubunuh manusia jelek ini lebih dahulu untuk mendemontrasikan kelihayan ilmu silatku ? Kalau mereka tahu aku lihay, pasti tak ada yang berani memandang rendah diriku lagi."

Berpikir sampai disini, ia lantas tertawa dingin dan menegur. "Bajingan jelek. siapa engkau ? Sebutkan namamu "

-oo0dw0oo-