Telapak Setan Jilid 09 : Ada Sembilan Jurus Telapak Maut

Jilid 09 : Ada Sembilan Jurus Telapak Maut

"TIDAK sepantasnya kalau kau buat dia jadi gusar dan mendongkol sekali... " bisiknya.

"Semestinya engkau harus mengobati luka yang diderita olehnya." sambung perempuan itu.

"Tapi dia sama sekali tidak memperdulikan diriku ?"

"Aaaa biar." pikir perempuan itu lagi, "Kalau dia tidak sanggup dan demikian tinggi hatinya sehingga melampaui dirimu, tak nanti hatimu akan tertarik olehnya, aku harus mencari akal yang bagus untuk membuat dia jadi lupa dengan pemuda itu, sebab jika cinta yang bersemi di balik kesalahpahaman ini dibiarkan berlarut-larut, maka akibatnya akan sukar dilukiskan dengan kata-kata... " berpikir sampai disini, sambil tertawa dia lantas berkata.

"Kalau dia memang tak mau menerima tawaran yaa sudahlah, kenapa mesti dipikirkan terus ? Mari kita pulang saja "

Gadis suci dari Nirwana memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia berseru.

"Tidak Hal ini merupakan salah paham, aku harus menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya "

"Tapi Leng-cu. orang itu sudah pergi jauh."

"Tenaga dalamnya telah punah." seru gadis suci dari Nirwana dengan hati gelisah, "pada saat ini dia tak kan pergi terlalu jauh, mari kita susul dirinya.."

Habis berkata ia segera berangkat lebih dahulu mengejar kearah mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri tadi.

Diam-diam perempuan itu menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaaiii sekarang aku baru merasa betapa pentingnya selain waktu yang amat singkat, tapi sekarang keadaan sudah terlambat." Ia segera ulapkan kepada kelima orang lainnya sambil berseru

"Cepat kalian menyebarkan diri kesekeliling tempat ini dan coba periksa jejaknya, semoga saja ia belum jauh meninggalkan lembah ini."

Keempat dayang itu sekalian segera mengiakan dan dengan cepat menyebarkan diri untuk mencari jejak sianak muda itu

Sepeninggalnya beberapa orang itu, perempuan cantik itu berjalan menghampiri manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara.

"Mungkin kalian berdua adalah manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara yang menyebut diri sebagai pelayan dari Gak In Ling bukan ?"

"Tempo dulu hanya sebutan saja, tapi sekarang hal itu memang merupakan kenyataan " jawab manusia sesat dari selatan Oei Hoa Yu.

"Kalau memang demikian adanya, mengapa kalian berdua tidak mengiringi disamping majikanmu itu ?"

"Selamanya persoalan yang telah diputuskan oleh majikan kami tak dapat digugat lagi." jawab manusia aneh dari utara sambil menghela nanas panjang, "dalam keadaan begini, yaa, apa boleh buat. Terpaksa kami hanya dapat melindungi keselamatan jiwanya secara diam-diam saja."

"Kalau memang begitu, tahukah kalian ke mana perginya sianak muda itu ? Apakah kalian bersedia memberitahukan kepadaku ?"

"Tuan muda dibelakang batu cadas didepan sebelah sana." sahut manusia sesat dari selatan, sambil berkata ia segera menuding kearah batu besar di- mana Gak In Ling melenyapkan diri tadi.

"Menurut dugaanku kalau tidak salah, mungkin sejak kini kalian akan kehilangan jejaknya." kata perempuan itu.

Tertegun hati manusia sesat dari selatan dan manusia aneh dari utara sesudah mendengar perkataan itu,jelas mereka percaya penuh bahwa apa yang diucapkan oleh perempuan aneh yang amat cerdik ini merupakan suatu kenyataan-

Sementara itu manusia sesat dari selatan setelak berpaling kearah rekannya, manusia aneh dari utara, sambil menuding mayat Gak In Hong yang menggeletak diatas tanah serunya dengan gelisah.

"Cepat bopong tubuhnya, mari kita pergi mencari jejaknya."

Selesai berkata kedua orang itu siap meninggalkan tempat tersebut.

Perempuan peramal sakti Ki Giok Peng gelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya.

"Aaaiii sungguh tak disangka hanya dikarenakan Gak In Ling seorang, seluruh dunia

persilatan telah terjadi kegaduhan."

Nada suaranya amat berat, membuat siapapun yang mendengar akan merasakan betapa risaunya perasaan hati orang ini.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian, dari siang sampai senja semestinya merupakan suatu jangka waktu yang amat panjang sekali hampir setiap jengkal tanah disekitar lembah itu sudah diperiksa dengan seksama, akan tetapi jejak Gak In Ling ternyata sama sekali lenyap tak berbekas.

Dengan perasaan kecewa gadis suci dari Nirwana berjalan balik kehadapan perempuan peramal sakti Ki Giok Peng, serunya dengan hati amat gelisah. "sebenarnya kemana dia telah pergi ?Jejaknya sama sekali lenyap tak berbekas."

"Leng-cu, mari kita pulang saja." bujuk Ki Giok Peng sambil memberi hormat, "Seandainya dia sudah mati, sekarang mungkin mayatnya sudah menjadi dingin dan kaku, seandainya dia belum mati suatu ketika dikemudian hari kita akan berjumpa kembali, sekarang mungkin dia sudah tak berada didalam lembah ini lagi."

Gadis suci dari Nirwana termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan perasaan apa boleh buat ia berkata. "Baiklah, mari kita berangkat "

Sejak peristiwa itulah senyuman riang gembira yang semula menghiasi wajahnya yang cantik telah lenyap tak berbekas dan tak pernah muncul kembali diujung bibirnya.

Sang surya telah tenggelam dibalik bukit dan rembulanpun muncul dihias angkasa, suasana dalam lembah yang terpencil itu tercekam kembali dalam keheningan serta kesunyian yang memilukan-

Diatas tanah berbaringlah empat sosok mayat yang dadanya terbelah dan noda darah berceceran diatas tanah, ditengah kesunyian dan kegelapan pemandangan seperti itu nampak mengerikan sekali.

Dari belakang batu cadas yang amat besar perlahan-lahan muncul seorang pemuda baju hitam yang bibirnya penuh berlepotan darah, dibawah sorot cahaya rembulan yang keperak-perakan tampaklah wajah yang pucat-pias bagaikan mayat, sepintas lalu keadaannya mirip sekali dengan sukma yang gentayangan-

Dia bukan lain adalah Gak In Ling yang menderita luka parah, selama ini rupanya ia menyembunyikan diri di dalam sebuah Liang gua yang dalam dibawah batu cadas tersebut, oleh karena itulah tak seorang manusiapun yang berhasil menemukan jejaknya.

Dengan susah payah GakIn Ling berjalan menuju ketepi sungai, angin malam berhembus lewat mengibarkan baju hitamnya yang tipis membuat sekujur badannya merinding dan bersin tiada hentinya.

Pemuda tampan yang dihari-hari biasa memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, pada saat ini ternyata tak mampu menahan hawa dingin dimalam hari yang cerah tersebut.

Bibirnya ternyata kering dan hatinya panas bagaikan dibakar, meskipun pemuda itu sadar bila kehausan itu dihilangkan dengan meneguk air itu berarti akan mempercepat saat ajalnya, akan tetapi pada saat ini ia tak mau memikirkan soal itu, dengan susah payah ia berjalan ketepi sungai.

Jarak sejauh lima puluh tombak dirasakan olehnya seakan-akan begitu jauh dan tidak sampai-sampai, baru saja duapuluh tombak ditempuh, badannya sudah lelah tak bertenaga, akhirnya ia roboh terjengkang dan jatuh terduduk diatas tanah.

Sementara ia masih duduk tepekur sambil memandang kejauhan yang diliputi kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba dari sisi tubuhnya berkumandang suara teguran yang seram dan bercampur nada bangga.

"Omitohud Gak sicu, selamat berjumpa kembali "

Dari suara teguran itu Gak In Ling segera mengetahui siapakah orang itu, hatinya kontan tercekat dan sekujur badannya tanpa terasa gemetar keras, diam-diam ia menghela napas, panjang dan berpikir.

"Meskipun aku Gak In Ling bakal menemui ajalku, sungguh tak kusangka akhirnya aku harus menemui ajal di tangan Buddha antik, apakah hal ini sudah merupakan suratan takdir?"

Berpikir sampai disini, dengan suara ketus ia segera berseru. "Buddha antik, sungguh tepat sekali saat kedatanganmu."

Belum habis Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, mendadak dia merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan tahu-tahu dihadapan matanya telah melayang datang Buddha antik beserta tiga orang manusia berbaju merah darah.

Dengan pandangan yang sangat tajam Buddha antik mengamati wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, kemudian dengan suara dingin ia berkata.

"Seandainya aku tidak mengetahui keadaan sicu yang sesungguhnya pada saat ini, tidak nanti aku akan berani datang kemari secara gegabah dengan membawa tiga orang teman ?"

"He he he kalau begitu aku merasa amat berbangga menerima kunjunganmu ini." ejek Gak

In Ling sambil tertawa dingin.

Buddha antik menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa.. .. haa Gak In Ling, saat kematianmu sudah berada diambang pintu, kenapa engkau tidak kelihatan panik? Melihat ketenangan hatimu itu, bukan saja aku Buddha antik jadi amat kagum oleh kehebatan tenaga dalammu, aku pun amat mengagumi akan keberanian serta kejantananmu itu " Gak In Ling tertawa dingin.

"Kau tak usah banyak ngebacot pentang mulut anjingmu itu, aku sudah tahu bahwa engkau adalah Budda antik gadungan " serunya.

Sepasang alis mata Buddha antik gadungan berkernyit, tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya yang sangat tajam, perlahan ujarnya. "Apakah kau ingin mengetahui siapakah aku yang sebenarnya ?" Dengan sikap yang sangat dingin Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Untuk mengetahui siapakah dirimu pada saat ini, aku rasa sudah amat terlambat, lebih baik aku tak usah mengetahui asal-usulmu lagi" sahutnya cepat.

Tiba-tiba salah seorang manusia berkerudung merah yang berdiri dibela kang Buddha antik menyela dengan nada dingin.

"Pada saat ini waktu menunjukkan hampir mendekati kentongan kedua tengah malam, aku rasa sudah tidak sepantasnya kalau kita membicarakan soal masalah tetek- bengek lagi, bukankah begitu ?"

Air muka Buddha antik berubah hebat, dengan hati terkesiap buru-buru dia memotong pembicaraannya dan mengangguk.

"Perkataan saudara sedikitpun tidak salah, hai, Gak In Ling, aku lihat dendam sakit hatimu yang sedalam lautan itu terpaksa baru akan kau tuntut balas pada penitisanmu yang akan datang. sekarang, terimalah kematian untukmu "

Dengan napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, dia ayunkan telapak tangan kanannya kedepan dan langsung membabat kearah tubuh sianak muda itu.

Dalam hati diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan menunggu Malaikat Elmaut datang menjemput sukmanya untuk pulang kealam baka.

Pada saat yang amat kritis dan jiwanya terancam antara mati dan hidup itulah mendadak dari atas permukaan sungai berkumandang datang suara gelak tertawa panjang yang amat keras dan menjulang tinggi keangkasa, begitu keras gelak tertawa tersebut hingga serasa memekakkan telinga setiap orang yang hadir ditempat itu, meskipun suaranya tidak begitu tinggi akan tetapi cukup mendatangkan perasaan bergidik bagi siapa pun juga.

Air muka Buddha antik serta tiga orang manusia berbaju merah darah itu berubah sangat hebat, telapak tangannya yang sudah diangkat ketengah udara serta siap melancarkan serangan itu-pun tanpa sadar diturunkan kembali kebawah, mereka segera putar badan menghadap kearah sungai dan alihkan seluruh perhatiannya kearah mana berasalnya suara tertawa tadi.

Begitu bertemu dengan apa yang terlihat, keempat orang itu dengan hati terperanjat segera mundur beberapa langkah kebelakang.

Dibawah cahaya rembulan yang memancarkan sinar keperak-perakan, tampaklah diatas permukaan air sungai berdiri berjajar dua orang kakek tua berambut putih bagaikan salju dan berjenggot sepanjang dada, kakek tua yang berada di sebelah kiri memakai jubah panjang berwarna putih, wajahnya amat cerah, alis matanya panjang dan berwajah saleh serta penuh perasaan welas-kasih.

Sebaliknya orang berada disebelah kanan berdandan aneh sekali, pakaiannya yang dikenakan adalah jubah panjang berwarna merah darah, dua ekor sulaman naga hijau yang amat besar dan memancarkan cahaya tajam tertera pada jubah lebarnya itu dan kedua ekor kepala naga tadi bertemu diatas dada, diantara kibaran jenggotnya yang berwarna ke perak-perakan, sulaman tersebut nampak begitu hidup dan amat menyolok.

Hanya saja raut wajah orang ini berbeda jauh dengan warna jubah yang dikenakan olehnya, dia memiliki wajah yang pucat pias bagaikan kertas, sepasang matanya merah berapi-api, suatu perbedaan yang menyolok sekali dengan raut wajahnya yang pucat dan seperti orang mati itu.

Dari gerak-gerik dua orang kakek tua yang berdiri diantara gulungan ombak itu, dengan cepat Buddha antik menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan musuh yang amat tangguh, kepada tiga orang manusia berkerudung merah yang berada dibelakang tubuhnya mereka saling bertukar pandangan sekejap. kemudian ujarnya dengan suara lantang.

"Entah siapakah dua orang cianpwe yang berada diatas permukaan sungai itu ? Ada maksud serta tujuan apakah kalian munculkan diri ditempat ini?"

Menggunakan kesempatan dikala Buddha antik sedang bercakap-cakap dengan dua orang kakek tua itu, tiga orang manusia berkerudung merah lainnya perlahan-lahan berjalan kedepan menghampiri tubuh Gak In Ling yang menggeletak diatas tanah itu.

Kakek berjubah merah yang berdiri disebelah kanan itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Buddha antik, sebaliknya sambil tertawa dingin ia berkata.

"Hm aku perintahkan kalian untuk menghentikan langkah kaki kalian semua ditempat itu, kalau kalian berani membangkang dan bergerak setengah langkah lagi kedepan, akaa kusuruh kalian menemui ajal ditempat ditengah genangan darah "

Ancaman tersebut diutarakan dengan nada yang dingin dan seram membuat orang jadi terkesiap.

Jarak diantara kakek tua itu dengan para jago berkerudung merah paling sedikit masih ada selisih empat puluh tombak jauhnya, kalau dibilang kakek tua baju merah itu mampu untuk merintangi perbuatan tiga manusia berkerudung merah dalam serangannya terhadap Gak In Ling, kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak masuk diakal.

Tetapi entah dari mana datangnya suatu kekuatan yang tak berwujud, ternyata ketiga orang manusia berkerudung merah itu benar-benar tidak berani melanjutkan langkahnya untuk mendekati Gak In Ling.

Buddha antik segera memutar sepasang biji matanya, dengan suara lantang ia berseru.

"Cianpwe berdua, kalian adalah jago-jago lihay yang sama sekali tidak terikat oleh segala peraturan didalam dunia persilatan, lain halnya dengan boanpwe sekalian yang hidup dalam sungai telaga, mau tak mau terpaksa kami harus menuruti peraturan dan perintah yang telah diberikan kepada kami untuk dilaksanakan, untuk itu aku berharap agar cianpwe berdua bisa menjadi maklum adanya serta memahami kesulitan yang sedang kami hadapi."

Kakek baju merah itu segera tertawa dingin.

"He he he hwesio gadungan, kalau engkau merasa bahwa perbuatanmu ada alasannya,

nah, sekarang juga katakanlah, tapi sebelum itu aku akan memperingatkan kalian lebih dahulu, kalau engkau terus menipu atau membohongi aku dengan sepatah kata pun, aku akan membacokmu hidup, hidup "

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada suara yang dingin menyeramkan membuat bulu kuduk oraag pada bangkit berdiri.

Tercekat hati Buddha antik mendengar ancaman tersebut, dengan ujung matanya dia melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian sambil keraskan kepala jawabnya.

"Perkumpulan kami merupakan salah satu perkumpulan besar dalam dunia persilatan, tanpa alasan dan sebab musabab orang ini telah membinasakan empat orang anak murid dari perkumpulan kami, perbuatannya keji, telengas dan sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan sehingga membuat orang yang menyaksikan jadi ngeri dan bergidik, karena perbuatannya yang terkutuk itulah terpaksa aku datang kemari untuk membuat perhitungan dengan dirinya."

"Apakah jantung dari keempat sosok mayat itu dicomot keluar olehnya " sela kakek baju putih dengan suara keras, nada ucapannya menunjukkan bahwa dia merasa amat tidak puas.

Buddha antik licik dan banyak akal, mendengar perkataan itu dalam hati kecilnya merasa amat kegirangan, dengan suara lantang ia segera menjawab.

"Sedikitpun tidak salah, perbuatan itu memang dia yang melakukan, kalau tidak percaya cianpwe boleh tanyakan sendiri kepadanya, aku percaya berada dihadapan kalian dua orang tua pastilah dia takkan berani bicara bohong"

Orang ini benar-benar amat beracun hatinya dan berbahaya sekali membuat hati orang bergidik, mula-mula dia mengatur cerita bohong dengan maksud merusak nama lawannya, kemudian dengan menggunakan bukti yang ada untuk meyakinkan ucapannya. Dari sini dapatlah dinilai sampai dimana busuknya hati Buddha antik. Terdengar kakek baju merah itu mendengus dingin lalu menegur. "Eeei, bocah cilik, apakah engkau ada perkataan lain yang hendak kau ucapkan ?"

Gak In Ling menggerakkan biji matanya yang telah tak bertenaga, lalu menjawab dengan dingin.

"Orang itu memang mati ditanganku "

"Aku sedang bertanya kepadamu apa alasan sehingga kau melakukan pembunuhan itu? Apakah kau sudah mendengar atau tidak?" seru manusia baju putih dengan suara keras, nada suara nya menunjukkan kalau dia mulai gusar.

Perlahan-lahan Gak la Ling pejamkan matanya kembali, dengan dingin dan ketus ia menjawab.

"Dikolong langit banyak terdapat manusia-manusia yang membuat pahala dengan mengikuti nama baik majikannya, aku sebatang kara dan tiada kekuatan apa-apa, banyak bicara sekalipun tiada gunanya, kalian berdua sebagai tokoh-tokoh sakti yang sudah mengasingkan diri dari persoalan keduniawian, aku lihat lebih baik jangan mencampuri urusan tetek bengek seperti ini lagi "

Mendengar perkataan itu kakek baju merah jadi gusar sekali, segera bentaknya.

"Bocah cilik, kau berani menasehati diriku, hm Rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup dan ingin mencari mampus ?"

Sambil berkata ia gerakkan badannya siap menerjang maju kedepan, tapi dengan cepat tubuhnya telah ditarik oleh kakek baju putih, terdengar ia berkata.

"Dikolong langit memang banyak terdapat orang-orang yang mencari pahala dengan membonceng nama besar majikannya. Makhluk tua, bukankah kau juga termasuk salah seorang diantaranya?"

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak kakek baju merah itu, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha masuk diakal, masuk diakal. Hei, bocah cilik, setelah aku turun tangan mencampuri urusan ini, sudah tentu aku tak boleh memiliki perasaan berat sebelah. Nah, katakanlah apa yang hendak kau katakan-"

Buddha antik yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa amat gelisah sekali, pengalamannya yang luas dengan cepat menyatakan bahwa kakek tua yang berada disampingnya pada saat ini rupa-rupanya jauh lebih bersimpati terhadap Gak In Ling daripada dirinya.

la segera tundukkan kepalanya, sambil berpura-pura membenahi pakaiannya yang kusut, diam-diam ia mengirim kisikan kepada ketiga orang rekannya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Gunakan kesempatan yaag sangat baik ini untuk turun tangan, jangan membiarkan bangsat cilik itu mendapat kesempatan untuk bicara, kalau tidak maka diantara kita berempat akan terancam bahaya dan mungkin kita takkan tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"

Agaknya ketiga orang manusia berkerudung merah itupun mempunyai jalan pikiran yang sama pada saat Buddha antik menengadah kembali, tiba-tiba terdengar tiga kali bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, terlihatlah tiga sosok bayangan merah secara terpisah bersama-sama menerjang kearah Gak In Ling.

Ketiga orang manusia berkerudung merah itu rata-rata merupakan jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, setelah turun tangan bersama secara tiba-tiba dapat dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh beberapa orang itu, dalam waktu singkat mereka sudah berada di hadapan lawannya.

Selisih jarak antara Gak In Ling dengan beberapa orang itu tinggal beberapa depa saja, menurut keadaan yang sebenarnya sulit bagi sianak muda itu untuk melepaskan diri dari mara bahaya, siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali berada di luar dugaan-

Pada saat ketiga orang itu ayunkan telapak tangannya untuk membinasakan Gak In Ling itulah mendadak terdengar bentakan nyaring yang bernada amat menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian-"Roboh kalian semua"

Bersamaan dengan menggalanya suara bentakan, kakek baju merah itu ayunkan tangannya kedepan dan terlihatlah lima titik cahaya merah yang amat menyilaukan mata meluncur kearah depan-

Jerit kesakitan yang amat menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, tiga orang manusia berkerudung merah itu menggeliat dan segera roboh terkapar diatas tanah.

Sekali ayunkan telapaknya orang itu mampu orang dari jarak sejauh empat puluh tombak, jangan dikata korban yang dibunuh adalah seorang jago persilatan yang sangat lihay. sekalipun seorang yang tidak mengerti ilmu silatpun belum tentu ada berapa orang jago lihay yang mampu untuk membereskan jiwanya.

Dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang tua itu benar-benar sangat lihay sehingga sangat sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Gak In Ling yang menyaksikan kelihayan kakek baju merah itupun diam-diam bergumam seorang diri.

"Ujung jarinya berwarna merah, tetapi dalam telapak maut yang kupelajari sama sekali tak terdapat jurus ilmu jari."

Setelah didalam satu jurus kakek baju merah itu berhasil membinasakan tiga orang, dengan

penuh kegembiraan orang itu tertawa terbahak-bahak. "Haa..,,. haa haa mantap. mantap."

Sebaliknya kakek baju putih yang berada di samping kirinya dengan suara hambar berkata.

"Kesempatan untuk membunuh orang sudah lewat."

Kakek baju merah itu nampak tertegun, kemudian membantah.

"Pembunuhan ini mana boleh masuk hitungan ? Kita toh sudah berjanji bahwa perhitungan ini hanya berlaku selama berada dalam dunia persilatan saja "

"Bukankah kita telah berjanji, setelah membuka pantangan membunuh tidak diperkenankan pula setengah jalan? Tetapi dalam sekejap mata harus diteruskan sampai selesai. Disini hanya terdapat beberapa orang saja, setelah pantangan membunuh kau langgar dan pembunuhan tersebut tak kau kerjakan hingga selesai, bukankah itu berarti bahwa kau telah kehilangan kesempatan membunuh lagi ?"

Kakek baju merah itu berpikir sebentar, kemudian dengan perasaan menyesal ia berkata.

"Aaah, benar juga perkataanmu. Sayang sekali, kalau tahu begitu aku takkan melakukan pembunuhan "

Satelah berhenti sebentar, tiba-tiba serunya

"Oa ya disini masih ada dua orang lagi, kalau sekarang juga kulanjutkan seranganku, bukankah itu berarti aku sudah mengacaukan pembunuhan di tengah jalan?"

Sejak menyaksikan anak buahnya menemui ajal dalam keadaan yang tidak jelas duduk perkaranya, Buddha antik sudah merasa terkesiap sehingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu melakukan sesuatu apapun, kini kesadarannya telah pulih kembali, ia tak berani berdiam disana lebih lama lagi, sepasang kakinya menjejak tanah sekuat tenaga dan tubuhnya cepat-cepat kabur menuju kearah lembah. .

Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar kakek baju merah itu tertawa dingin dan berseru. "Hm Kau akan lari kemana ?"

Buddha antik merasakan urat nadi pada pergelangan tangan kanannya mengencang dan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya seketika musnah tak berbekas, rupanya ia sudah terjatuh ke tangan kakek baju merah itu.

Gak In Ling perlahan-lahan menengadah dan menyapu sekejap kearah Buddha antik, kemudian sambil tertawa dingin ejeknya.

"Buddha antik, sayang sekail aku orang she Gak tidak dapat turun tangan sendiri untuk membinasakan dirimu, akan tetapi aku dapat menyaksikan engkau berangkat selangkah lebih duluan, hal ini merupakan suatu kejadian yang patut digembirakan olehku "

Buddha antik sendiri rupanya sudah menyadari bahwa jiwanya bakal melayang ditangan kakek baju merah itu, mend engar perkataan tersebut, dengan nada dingin ia menjawab.

"Selisih jarak antara lima puluh langkah dengan seratus langkah hanya terpaut kecil sekali, luka dalam yang kau deritapun tak ada orang yang mampu untuk mengobatinya, setelah aku mati kaupun akan menyusul diriku serta menemui aku masuk Ling kubur. sekalipun aku mati duluan, kematian inipun tidak terasa sepi "

Kakek tua baju merah itu tertawa seram, tiba-tiba selanya. "He...he he..,.. hwesio gadungan, apakah perkataanmu telah selesai kau ucapkan ?" Wajahnya menyeringai seram, rupa-rupanya ia sudah siap sedia untuk turun tangan-Tiba-tiba kakek tua baju putih itu buka suara dan berkata.

"Tunggu sebentar, hwesio gadungan seandainya aku sanggup menyembuhkan luka yang diderita oleh bocah itu, kau akan mempertaruhkan apa?" sambil berkata ujung matanya diam-diam melirik sekejap kearah kakek tua baju merah itu.

Rupanya kakek baju merah itu seorang yang paling suka bertaruh, mendengar tentang soal pertaruhan sekilas rasa girang dengan cepat menghiasi wajahnya. Dengan pikiran yang cermat Buddha antik berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Andaikata cianpwe benar-benar dapat menyembuhkan penyakit yang diderita orang ini, aku pun bersedia mati ditangan orang ini "

Buddha antik gadungan ini benar-benar seorang manusia yang licik dan berbahaya, ternyata dia bermaksud untuk mengulur waktu.

Kakek tua baju putih itu pura-pura tidak mengerti dan sinar matanya segera menyapu sekejap kearah kakek tua baju merah itu sambil bertanya. "Tua bangka, apakah kau setuju ?"

"Seandainya kau benar-benar ada maksud untuk bertaruh dengan orang ini, aku sih masih dapat menyabarkan diri dan untuk sementara waktu tak akan membinasakan dirinya lebih dahulu"

"Baik, kalau begitu kita putuskan demikian saja," jawab kakek baju putih itu sambil mengangguk.

Habis berkata ia berjongkok dan memeriksa nadi Gak In Ling.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian yang mencekam seluruh jagad. Lama... lama sekali, akhirnya kakek baju putih itu bangkit berdiri dan gelengkan kepalanya berulang kali, serunya.

"Habis sudah kali ini aku benar-benar kalah, penyakit yang diderita orang ini rupanya memang sudah tak dapat ditolong oleh seluruh manusia dikolong langit ini "

Mendengar jawaban itu terjelaslah hati Buddha antik, diapun berpikir didalam hati kecilnya.

"Habis sudah riwayatku, kalau ia tak dapat disembuhkan, bukankah itu berarti bahwa akupun akan kehilangan kesempatan untuk melarikan diri. Rupanya nasibku memang akan habis disini."

Tiba-tiba terdengar kakek tua baju merak itu buka suara dan berkata.

"Hem, dikolong langit masa ada penyakit yang tak dapat disembuhkan ? Tua bangka, kau, jangan mengigau seenaknya sendiri"

"Ha ha , ha akhirnya kau terjebak pula oleh siasatku "pikir kakek tua baju putih itu dalam

hati kecilnya sambil tertawa geli. Setelah termenung sebentar, iapun segera berkata. "Jadi kaupun ingin bertaruh ?"

"Bertaruh ya bertaruh."jawab kakek tua baju merah itu tanpa berpikir panjang lagi "cara kita masih juga seperti dahulu, kalau aku yang menang bertaruh maka kau ijinkan aku untuk melakukan satu kali pembunuhan, secara puas, bagaimana ?"

"Baik." sahut rekannya mengangguk. Kakek baju merah itu segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Buddha antik "Hei, hwesio gadungan aku anjurkan kepadamu lebih baik janganlah mencoba-coba untuk mengambil suatu tindakan yang bodoh. Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku membacok badan mu hidup-hidup"

Selesai berkata ia segera berjalan kehadapan Gak In Ling, berjongkok di sisi tubuhnya dan mulai memeriksa denyutan nadinya. .

Sepasang alisnya matanya berkernyit, wajah kakek tua baju merah itu berubah jadi amat serius, lama lama sekali ia baru bangkit berdiri dan putar otak dengan kepala tertunduk. mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan keadaan rekannya itu, kakek tua baju putih itu segera tertawa terbahak-bahak

"Haa... haa hai tua bangka, Kau sudah tertipu Hawa murninya tersumbat karena hatinya

mengalami kesedihan yang keliwat batas, kemudian badabnya termakan pula oleh sebuah pukulan, coba bayangkan penyakit semacam ini mana mungkin bisa disembuhkan Lebih baik kau menyerah saja "

"Tua bangka, kau benar-benar licik " teriak kakek tua baju merah itu dengan suara gemas.

Mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia tertawa terbahak-bahak sambil berseru. "Ha ha ha tua bangka, kali ini-engkaulah yang akan menderita kalah "

"Siapa yang bilang ?" seru kakek baju putih tertegun- "Masa kau mampu untuk menyembuhkan penyakitnya ?"

Kakek tua baju merah itu tidak menjawab, sambil ulapkan tangannya kearah Buddha antik ia berseru.

"Hwesio gadungan, sekarang enyahlah kau dari sini, Kami akan jalankan pertarungan ini hingga sampai pada akhirnya, bila bocah ini telah sembuh dengan sendirinya akan bisa datang mencari dirimu untuk membikin perhitungan"

Mendengar dirinya bebas Buddha antik jadi berlega hati dan keberaniannya pun jadi pulih kembali seperti sedia kala, ia segera menjawab. "Bolehkah aku mengetahui nama besar cianpwe berdua "

Pada waktu itu kakek baja merah tersebut sedang gembira, tanpa berpikir ia menjawab. "Yang seorang bernama Ki-san (suka kebajikan) dan yang lain bernama Ki-oh (suka kebejadan) "

Air muka Buddha antik gadungan seketika berubah hebat setelah mendengar disebutnya nama itu, secara beruntung ia mundur empat langkah kebelakang, serunya.

"Oooh, kiranya Lan In Lojin serta Ciang liong-sian dua orang loelanpwe, boanpwe mohon diri

lebih dahulu."

Selesai berkata ia putar badan dan sekuat tenaga melarikan diri terbirit-birit dari tempat itu, keadaannya mirip sekali dengan anjing buduk yang kena digebuk.

Sepeninggalnya Buddha antik kakek tua baju putih alihkan sorot matanya daa melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian kepada kakek baju merah tegurnya. "Dengan cara apakah engkau akan menyembuhkan penyakit yang diderita ini?"

"Itu, obat mujarabnya berada ditengah sungai" jawab kakek baju merah sambil tertawa. Satu ingatan berkelebat didalam benak kakek baju putih itu, pikirnya didalam hati.

"Gembong iblis ini benar-benar seorang pecandu judi, untuk menangkan pertaruhannya, ternyata dia bersedia menghadiahkan buah naga air yang sudah diincarnya selama belasan tahun, tak aneh kalau dia merasa begitu yakin kalau jiwa bocah ini dapat diselamatkan olehnya." berpikir sampai disini, sambil tertawa dia lantas berkata. "Apakah engkau akan menghadiahkan buah naga air tersebut kepadanya ?"

"Yang sebenarnya maksud serta tujuan kedatanganku kemari meskipun alasannya karena buah naga air, tetapi maksudku yang sebenarnya adalah untuk membunuh beberapa orang guna untuk memantabkan hatiku "

Terkesiap juga hati Gak In Ling mendengar ucapan itu, pikirnya didalam hati.

"Perangai orang ini amat keji dan sadis, kekejaman hatinya benar-benar mengejutkan hati orang, sungguh tak kunyana dikolong langit masih terdapat gembong iblis yang membunuh orang sebagai bahan kesenangan- Betul-betul mengerikan-" Sementara itu kakek baju putih sudah berkata lagi.

"Jadi kau sudah menduga pasti ada orang yang akan datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika tersebut ?"

"Paling sedikit hwesio gadungan itu adalah rombongan yang pertama, tentu saja dibelakang mereka masih terdapat banyak orang lagi yang akan datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika itu dan dengan sendirinya tujuanku pun akan tercapai." Mendadak ia membungkam sebentar, kemudian ia bertanya.

"Tua bangka, sebenarnya apa sih tujuanmu menarik aku untuk bersama-sama berdiri diatas permukaan air ?"

"Sekarang baru teringat akan kejadian itu, aku lihat pertanyaanmu itu kau ajukan terlalu lambat"

Kakek baju merah itu jadi amat gusar, teriaknya keras.

"Hm Tindakanmu ini bukankah kurang mencerminkan tindak-tanduk seorang lelaki sejati?"

"Kalau kau tidak datang, akupun tidak bisa berbuat apa-apa, setelah engkau datang sendiri ke mari, toh bukan aku yang memaksa dirimu untuk menghendaki kehendakku, kenapa menyalahkanku? "

Kakek baju merah ita berpikir sebentar lalu sambil menghela napas panjang katanya. "Aaaiii sudah, sudahlah, anggap saja aku yang lagi sial, dan kembali terjebak oleh siasat setanmu." setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh. "Kembalilah ketepi daratan dan jagalah bocah itu, aku akan pergi mengambil buah itu."

"Hati-hati dengan makhluk ganas tersebut " seru kakek baju putih memperingatkan-

"Engkau maksudkan aku tak mampu untuk menyembuhkan penyakitnya ?"

Kakek jubah putih itu rupanya telah memahami bagaimanakah watak dari orang itu, ia segera gelengkan kepalanya dan menjawab.

"Buah naga air tak boleh dibiarkan terlalu lama meninggalkan batangnya, kalau engkau ada maksud untuk membinasakan hwesio gadungan tadi maka daya khasiat buah tersebut tak boleh dihilangkan dengan sia-sia, sebab kalau tidak maka dalam pertaruhan ini kau akan menderita

kalah."

Dengan kepala tertunduk kakeh baju merah itu berpikir sebentar, dia tahu jika pertarungan ini dimenangkan oleh pihak lawan, maka niscaya dia akan dikurung kembali dalam lembah Lan- in kok selama lima tahun, pada waktu itu kecuali setiap hari harus menemani kakek baju putih itu, perbuatan apapun tak dapat dilakukan, keadaannya pada saat itu pasti akan tersiksa sekali, maka sambil tertawa katanya. "Kalau memang begitu aku harap engkau suka membantu diriku "

Tidak menantikan jawaban dari kakek baju putih lagi, dia enjotkan badan dan terjun kedalam air, dalam beberapa kali kelebatan saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan-

Setelah kakek baju merah itu terjun ke dalam air, kakek baju putih itu segera alihkan sorot matanya kearah Gak In Ling sambil bertanya. "Bocah, apakah kau bernama Gak In Ling?" Sianak muda itu mengangguk.

"Benar, darimana cianpwe bisa mengetahui akan namaku ?"

"Asal usulmu telah kuketahui semua, karena tempo dulu ayahmu pernah datang berkunjung ke lembah Lan-in-kok."

Satu ingatan berkelebat dalam benak pemuda itu, dengan nada kaget tanyanya. "Jadi cianpwe benar-benar adalah Lan ln Lojin ?"

"Sedikitpun tidak salah "

"Tapi orang itu... " kata Gak In Ling dengan ragu-ragu.

"Maksudmu kenapa kakek tua baju merah bisa berada bersama-sama ku ?" tanya Lan in Lojin-

"Benar " pemuda itu mengangguk. Lan in Lojin menghela napas panjang.

"Aaaiiijiwa manusia sebenarnya bajik, meskipun tingkah laku orang itu amat kejam daa tak kenal prikemanusiaan akan tetapi semua kekejamannya itu diciptakan oleh pengaruh keadaan berbicara mengenai asal-usulnya ia adalah seorang manusia yang patut dikasihani."

"Jadi maksudmu kesenangannya membunuh manusia adalah suatu perbuatan yang pantas ?" tanya Gak In Ling terperanjat.

"Akan kuceritakan asal-usulnya kepadamu, mungkin setelah kau mengetahui kejadian yaag menimpa dirinya maka engkau tak akan mempunyai kesan buruk terhadap dirinya lagi." Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh.

"Sejak kecil dia mengalami nasib yang sangat buruk. ayahnya mati karena dibunuh dan dicelakai oleh komplotan sahabat serta familinya sendiri, karena mengincar harta kekayaan yang dimiliki orang tuanya, bukan saja sang ayah dibunuh bahkan ibunya yang telah menjandapun diusir sehingga setiap hari harus mengemis dijalan untuk menyambung hidupnya, setiap hari ia dicaci- maki dihina ditertawakan membuat dia yang pada waktu itu berusia tiga belas tahun mempunyai kesan yang amat buruk terhadap orang lain, tidak dapat dihindarkan lagi tertanam suatu watak yang bengis dalam hatinya. Suatu malam ketika ia berusia empat belas tahun, pada waktu itu sedang hujan badai yang amat deras, ibunya yang paling dia kasihi ternyata diperkosa orang dan kemudian dibunuh, rasa dendam, benci yang bertumpuk-tumpuk membuat wataknya berubah makin kejam.

Untuk membalaskan dendam bagi kematian orang tuanya ia telah berkelana hampir tiga puluh tahun lamanya, tetapi selalu gagal untuk mempelajari serangkaian ilmu silat yang agak genah, tiga kali menuntut balas hampir saja jiwanya ikut melayang, dalam putus asanya tiba-tiba ia mengembara keluar perbatasan dan sejak itulah dalam dunia persilatan telah kehilangan orang tersebut."

Lan In Lojin menghela napas panjang, dengan wajah serius sambungnya lebih jauh.

"Siapa tahu, setelah ia lenyap hampir lima puluh tahun lamanya, dalam dunia persilatan telah terjadi suatu gelombang besar yang amat mengejutkan setiap orang, dalam semalaman saja laki perempuan sampir dua ratus orang banyaknya yang berdiam didesa kelahirannya telah ditemukan mati dalam keadaan mengenaskan diseluruh jalan besar, tak seorangpun yang lolos dalam pembunuhan masal itu, mereka yang dahulu pernah menganiaya serta menghina dirinyapun mati secara konyol, kabar berita itu dengan cepatnya tersiar dalam dunia persilatan, semua orang menyebut dirinya cing-liong-oh-mo iblis bengis naga hijau, semua partai menghimpuni kekuatan untuk membinasakan dirinya, akan tetapi ilmu silat yang dimiliki orang itu amat tinggi, setiap kali terjadi pengeroyokan semua orang yang ikut dalam pergerakan tersebut tak seorangpun yang pernah kembali lagi dalam keadaan hidup.

Sejak itulah di- mana ia munculkan diri, bagaikan terserang wabah penyakit yang menular, orang-orang pada menghindarkan diri dan mengungsi, sedang diapun menjadi lambang dari segala kebejadan dan kejahatan yang ada dikolong langit.. "

"Bagaimana selanjutnya ?" tanya Gak In Ling sambil mengerdipkan sepasang matanya.

"Akhirnya dia ditaklukkan orang "

"Dan orang itu pastilah locianpwe." Lan In Lojin mengangguk.

"Benar kami telah bertempur selama tiga hari tiga malam lamanya diatas gunung Kun-san "

"Dan akhirnya locianpwe berhasil menangkan penarungan tersebut ? Bukan begitu ?"

"Tidak Dalam ilmu silat aku tak berhasil memenangkan dirinya." jawab Lan In Lojin sambil gelengkan kepalanya.

"Lalu secara bagaimana engkau berhasil menaklukkan dirinya ?"

"Kami bertaruh"

Mendengar sampai disini, Gak In Ling pun memahami duduk persoalannya, rupanya kecerdasan Lan Io Lojin jauh lebih tinggi daripada dirinya, tentu saja kesempatan untuk menangkan pertaruhan jauh lebih banyak daripada lawannya.

Lan In Lojin memandang sekejap kearah permukaan sungai, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.

"Sejak itulah ia telah merubah namanya sendiri sebagai Ciang-liong-sian, ia telah berjanji dengan diriku, setiap kali kalah bertaruh maka dia harus dikurung selama lima tahun didalam lembah Lan- in- kok, dan setiap kali menang bertaruh maka ia diperbolehkan melakukan pembunuhan satu kali."

Pada saat itulah tiba-tiba dari permukaan sungai berkumandang datang suara deburan ombak yang menerjang tepi pantai, mendengar suara tersebut dengan wajah berubah jadi amat tegang Lan In Lojin segera bangkit berdiri dan menuju ketepi pantai.

Tampaklah Ciang-liong-sian sambil membawa sebiji buah berwarna putih mulus yang besarnya bagaikan telur ayam sedang bergerak menuju ke- atas daratan, dibelakang tubuhnya mengikuti seekor makluk aneh sebesar gayung air yang menyerupai naga, juga menyerupai ular dengan sebuah tanduk diatas kepalanya.

Menyaksikan peristiwa itu Lan In Lojin setera membentak keras, dengan cepat tubuhnya meloncat setinggi belasan tombak keangkasa lalu menerjang kearah sungai, dari tengah udara dengan ilmu lek peng-ngo-gi atau membumi rata lima bukit dia hajar makhluk aneh tersebut.

Tiada desiran angin yang berhembus lewat dari telapaknya, namun muncullah segulung tenaga tekanan tak berwujud yang dengan cepat menghantam makhluk aneh itu sehingga tercebur kembali kedalam air sungai.

Dalam pada itu Ciang-liong-sian sudah berada diatas daratan, sambil lari menuju kearah Gak In Ling serunya dengan cemas.

"Cepatlah kau telan buah ini, kalau tidak maka khasiatnya akan lenyap seketika "

Terhadap kekejaman yang dilakukan orang ini Gak In Ling sudah mempunyai kesan yang lebih baik, sambil menatap tajam wajah ciang-liong-sian diapun berkata. "Aku orang she Gak takkan membicarakan tentang budi kebaikanmu ini lagi "

Sambil berseru dia menerima buah berwarna putih itu dan segera dimasukkan kedalam mulut.

Ciang-liong-sian agaknya dibikin tertegun oleh perkataan tersebut, sesudah termangu-mangu sejenak ia berseru dengan nada keheranan-"Sebenarnya apa maksud dari perkataanmu itu?" Gak In Ling mengedipkan sepasang matanya kemudian menjawab. "Karena selama hidup aku sudah tak dapat membalas budi kebaikanmu lagi."

Ciang-liong-sian tertawa terbahak-bahak. dengan sepasang matanya yang amat tajam ia menatap wajah Gak In Ling beberapa saat lamanya, seakan-akan sedang menikmati sesuatu yang indah serunya kembali.

"Hei, bocah muda, kau benar-benar tampan sekali. Setelah kau telan buah naga air bukan saja tenaga dalammu telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, mungkin wajah mupun akan bertambah tampan, benar-benar berharga sekali, benar-benar tak kecewa pekerjaanku "

"Mungkin aku hanya menyia-nyiakan harapan dari locianpwe " sambung Gak In Ling sambil tertawa sedih.

Habis berkata perlahan-lahan ia pejamkan matanya kembali.

Dari arah sungai terdengarlah Lan In Lojin sedang membentak dengan suara yang amat keras. "Binatang Kau akan lari kemana ?"

Ciang-liong-sian segera berpaling, tampaklah ombak disungai menggulung setinggi bukit, keadaan benar-benar mengerikan sekali, sementara Lan In Lojin sambil berdiri kekar di tepi daratan melancarkan pukulan-pukulan dahsyat kearah sungai, posisinya nampak terjepit dan mengerikan-

Setelah berdiam selama banyak tahun dengan Lan In Lojin, kesan ciang-liong-sian terhadap sahabatnya ini boleh dibilang sudah mendalam sekali, walaupun dia tahu bahwa sahabatnya mempunyai keyakinan untuk menangkan pertarungan ini akan tetapi ia tetap merasa tak lega hati, sambi mengempos tenaganya, ia bersiap sedia untuk memberi bantuan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari tepi pantai berkelebat lewat serentetan cahaya putih dan kemudian lenyap didalam sungai, bersamaan itu pula gulungan ombak yang amat dahsyat diatas permukaan air pun menjadi tenang kembali.

Baik Lan In Lojin maupun ciang-liong-sian jadi tertegun menyaksikan peristiwa itu, tiba-tiba dari tempat kejauhan berkumandang datang suara seruan seseorang yang amat nyaring, "Kalian pergilah dari sini "

"Tolong tanya siapakah namamu ?" seru Lan In Lojin dengan suara lantang.

"Gadis suci dari Nirwana, burung hong aneh dari luar lautan "

Air muka Lan In Lojin segera berubah jadi muram, pikirnya.

"Dunia persilatan yang sudah tenang, rupanya takkan menjadi tenang untuk selamanya." Sementara itu Ciang-liong-sian telah berkata sambil tertawa.

"Aku lihat kau tak dapat melakukan perbuatan yang memikirkan tentang keselamatan umat manusia lagi, bagaimana tua bangka ? Bila beberapa orang perempuan yang berkepandaian silat tinggi itu mulai memperebutkan dunia persilatan maka kekacauan yang bakal terjadi akan sepuluh kali lipat lebih hebat daripada kekacauan yang kuciptakan beberapa tahun berselang haa haa haa bagaimana ? Aku lihat kali ini kau sudah tak dapat kembali kelembah Lan- in- kok lagi."

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah berjalan kearah daratan-

Lan In Lojin tampak berpikir sebentar, kemudian bertanya.

"Aku mempunyai suatu akal yang sangat bagus, cuma aku tak tahu apakah engkau si tua bangka menyetujuinya atau tidak."

Khasiat dari buah naga air itu benar-benar luar biasa dan mustajab sekali, dalam waktu yang amat singkat Gak In Ling telah berhasil menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya dan segera bangkit berdiri, wajahnya pada saat ini merah bercahaya dan ketampanannya jauh lebih mengesankan daripada keadaannya tempo hari. Dengan alis berkerut Ciang-liong-sian segera berseru.

"Tua bangka, kalau ada perkataan cepat-cepat utarakan keluar, janganlah kau putar-putar jadi membingungkan "

"Baik engkau maupun aku adalah sama-sama orang yang telah berusia seratus tahun, apakah kita masih harus memperebutkan nama dan kekuasaan dengan orang-orang muda itu ?"

Napsu membunuh tiba-tiba memancar keluar dari balik mata ciang-liong-sian, ia tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa haa tua bangka, aku sudah mengetahui maksud hatimu."

Lan In Lojin melirik kearah samping kanan kemudian bisiknya lirih. "Apakah engkau menyetujuinya ?"

"Kalau dahulu mungkin tidak setuju, tapi sekarang aku dapat menyetujuinya." Habis berkata ia melirik sekejap kearah Gak In Ling.

Setelah mendapat persetujuan dari rekannya, Lan In Lojin segera berpaling kearah Gak In Ling dan berkata dengan wajah serius.

"Gak In Ling, tahukah engkau bahwa dikolong langit beberapa saat kemudian bakal terjadi badai hujan deras yang amat hebat?"

"Jangan- jangan ia maksudkan diriku ?" pikir Gak In Ling dengan perasaan hati agar tergerak.

Berpikir sampai disitu, dia menjawab. "Boanpwe telah mengetahuinya."

"Apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan situasi yang amat gawat ini ?" Kembali Gak In Ling merasakan hatinya agak bergerak. pikirnya didalam hati.

"Urusan pribadikupun tidak sempat untuk diselesaikan, mana aku punya waktu untuk mengurusi persoalan seperti itu ?" Maka ia segera menjawab.

"Mungkin boanpwe tak dapat melakukan sesuatu apapun untuk menanggulangi situasi yang amat gawat tersebut."

"Tetapi aku telah mengetahuinya bahwa hanya kau seorang yang mampu untuk mengatasi situasi yang gawat ini dan hanya kaulah yang mampu untuk menyelamatkan umat persilatan dari bencana badai yang amat luar biasa ini."

"Cianpwe, aku harap kau sudilah kiranya memaafkan aku orang she Gak, sebab didalam kenyataan aku Gak In Ling mempunyai kesulitanku sendiri, dan bukannya aku tak bersedia untuk menyumbangkan tenagaku..."

"Aku mengetahui bahwa engkau sudah pernah menelan pil cui-sim-wan yang akan mempersingkat hidupmu, tetapi pengaruh racun itu bukanlah suatu racun yang tak dapat diobati."

Mendengar jawaban tersebut, keputus-asaan yang selama ini mencekam hatinya tiba-tiba punah tak berbekas, dan harapan untuk hiduppun muncul kembali didalam hatinya, dengan suara tertahan ia berseru.

"Siapakah yang mempuyai obat mujarab untuk menyembuhkan diriku dari pengaruh racun

tersebut ?"

"Gadis suci dari Nirwana "

Begitu mengetahui nama gadis itu, dengan cepat Gak In Ling gelengkan kepalanya sambil berseru. "Aku tidak ingin hidup terus"

Dari perubahan air muka Gak In Ling, dengan cepat ciang-liong-sian mengetahui bahwa pemuda itu pastilah menaruh kesan yang jelek terhadap gadis itu, dengan cepat serunya.

"Hm, agaknya kau memang mempunyai sikap seorang jantan yang tak sudi tunduk pada kaum wanita."

Merah padam selembar wajah Gak In ling karena jengah, buru-buru dia alihkan pokok para bicaraan kesoal lain dan bertanya.

"Cianpwee, sebenarnya apa tujuan serta maksudmu ?"

"Gak In Ling," sahut Lan Ie Lojin dengan wajah serius, "benarkah engkau tak tersedia memikirkan keselamatan dari umat manusia dikolong langit ?"

Air muka Gak In Ling berubah hebat, buru buru ia berseru.

"Boanpwe tidak lebih hanya seorang angkatan muda yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan, kenapa sih cianpwe mesti harus mencari aku seorang manusia yang sama sekali tidak berguna ini ?"

"Karena hanya engkau seoranglah yang pantas memikul tanggung jawab yang amat berat ini?"

"Boanpwe sama sekali tidak mengerti akan maksud dari perkataan cianpwe itu."

"Karena beberapa orang pemimpin persilatan yang berkuasa pada saat ini semuanya adalah kaum wanita."

"Lalu apa sangkut pautnya hal ini dengan diriku ?"

"Dikemudian hari engkau tentu akan mengetahui dengan sendirinya, seandainya engkau mempunyai kebajikan dan keinginan untuk menyelesaikan tugas mulia tersebut, maka sepantasnya kalau engkau laksanakan semua perbuatan seperti apa yang kukatakan kepadamu."

Perlahan-lahan Gak in Ling menengadah ke atas, sebenarnya dia memiliki suatu watak yang suka berbuat kebajikan untuk umat manusia, tetapi waktu yang tersedia amat terbatas sekali, dan dia lagi tidak ingin bertemu kembali dengan gadis suci dari Nirwana, oleh sebab itulah ia tidak dapat mengabulkan permintaan itu.

Menyaksikan kesemuanya itu dengan perasaan kecewa Lan In Lojin menghela napas panjang katanya.

"Aaaiii. .. mungkin juga engkau memang benar-benar mempunyai kesulitan yang amat terpaksa, baiklah. Mungkin kejadian itu memang sudah merupakan suratan takdir yang tak dapat diselamatkan oleh kekuatan umat manusia, mari kita pergi dari sini " Habis berkata ia segera putar badan dan berjalan menuju kemulut lembah tersebut.

Tiba-tiba Gak In Ling berseru keras. "Locianpwe, boanpwe menyanggupi permintaanmu itu "

Suaranya agak gemetar, jelas beberapa patah kata itu diutarakan keluar setelah menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya.

Ciang-liong-sian dengan cepat putar badan dan berkata sambil tertawa keras.

"Haa haa sejak ini hari, sembilan jurus telapak maut akan muncul kembali dalam dunia persilatan, seringkali diwaktu senggang aku selalu membayangkan sampai kapankah manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai jagoan dalam dunia persilatan bakal roboh bergelimpangan termakan oleh pukulan telapak mautku, dan kapan kegemaranku untuk membunuh orang bisa terpenuhi, ternyata sekarang kesempatannya telah tiba Haa ha. ha tua bangka...Engkau tentu tidak akan pernah membayangkan bukan, kalau aku selalu menantikan saat seperti ini ?"

Seolah-olah hanya membunuh manusialah yang akan menggirangkan hatinya, teringat kalau sebentar lagi ia boleh melampiaskan kegemarannya untuk membunuh manusia, kakek tua baju merah itu jadi kegirangan setengah mati.

Sebaliknya Gak In Ling yang mendengar perkataan itu jadi terperanjat, segera serunya. "Telapak maut ? Semuanya terdiri dari sembilan jurus banyaknya? Aneh sekali"

"Kenapa ? Apakah kau merasa terkejut bercampur heran ?" tegur ciang-liong-sian-Sebelum pemuda itu sempat menjawab, Lan In Lojin telah berkata lebih dahulu.

"Mari kita berbicara sambil melakukan perjalanan Sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk berangkat "

Sesudah berhenti sebentar, kepada ciang-liong-sian ia berkata.

"Sepanjang jalan kau tidak diperkenankan untuk turun tangan membunuh orang lain"

"Tapi aku toh menangkan taruhan itu, kemenangan tersebut sama sekali belum kunikmati barang satu kalipun" bantah ciang-liong-sian dengan dahi berkerut.

"Tadi bukankah kau sudah membunuh orang ?" ciang-liong-sian jadi amat gelisah, buru-buru katanya.

"Aah, mana mungkin Aku tak pernah membunuh seorang manusiapun ditempat ini"

Lan In Lojin segera melompat dua puluh tombak jauhnya kesebelah kanan, dari balik semak belukar dia mengangkat sesosok mayat dan berseru.

"Kalau memang begitu, aku ingin bertanya siapakah yang telah membunuh orang ini ?"

"Oh, sungguh tak kusangka kau berhasil mengetahui rahasiaku itu." seru ciang-liong-sian dengan nada amat kecewa.

"Ketika kau tertawa terbahak-bahak tadi. Dari balik biji matamu telah memancarkan napsu membunuh, pada saat itulah aku sudah tahu kalau kau telah melakukan pembunuhan "

Dengan perasaan apa boleh buat ciang-liong-sian gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Aaaii kau memang luar biasa sekali. Nah, cepatlah ambil keluar lilinmu itu, aku akan segera melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang mengincar buah naga air disekeliling tempat ini"

Lan In Lojin gelengkan kepalanya dengan perasaan sedih, dari sakunya dia segera mengambil keluar sebatang lilin yang pendek sekali dan panjangnya cuma satu sentimeter, kemudian memasang api dan menyulut lilin tersebut.

Bersamaan dengan bersinarnya lilin tadi, ciang-liong-sian bersuit panjang dengan nada yang mengerikan sekali, badannya berkelebat kedepan dan seketika lenyap dari pandangan-

Lan In Lojin menghela napas panjang berat sementara Gak In Ling tidak habis mengerti perbuatan apakah yang sedang dilakukan oleh mereka berdua.

Lilin yang panjangnya satu senti meter itu dalam waktu tingkat sudah habis terbakar, cahaya apinya semakin lama semakin lemah dan akhirnya hampir padam.

Sebelum cahaya api lilin itu padam keseluruhannya, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat dan ciangliong-sian muncul kembali ketempat semula. Lan In Lojin segera menghela napas panjang dan gelengkan kepalanya berulang kali.

"Engkau memang keterlaluan sekali, sehingga waktu sedetikpun tidak kau buang dengan begitu saja."

"Haa haa haa.. lima belas orang.... lima belas orang" "Semuanya kau bunuh mati ?"

"Belum pernah aku biarkan korbanku roboh dalam keadaan hidup, tentu saja mati semua " Gak In Ling jadi amat terperanjat, pikirnya.

"Dalam waktu yang demikian singkatnya, ia berhasil membinasakan lima belas orang jago, ia memang benar-benar hebat sekali. Kalau seseorang tidak memiliki dasar ilmu silat yang baik, tak mungkin mereka berani datang kemari untuk ikut memperebutkan buah mustika tersebut, sebaliknya dengan dasar ilmu silat yang tinggi ternyata berhasil dibunuh oleh orang ini tanpa menimbulkan kegaduhan atau suara barang sedikitpun juga, dari sini bisa dibuktikan betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang ini...."

Kemudian ia berpikir lebih jauh: "Apakah orang-orang itu betul-betul datang kemari ikut memperebutkan buah naga air ? Benarkah buah naga air itu adalah sebiji buah yang langka dan amat berharga sekali ?"

Sementara itu Lan In Lojin telah berkata. "Mari kita pergi "

"Pergi kegunung Tiang Pek San atau telaga Yau-ti ?" tanya Gak In Ling dengan perasaan tidak tenang. Lan In Lojin mengangguk.

"Benar, ayo berangkat " habis berkata ia segera berangkat lebih dahulu meninggalkan tempat

itu.

Gak In Ling segera menyusul di belakangnya, sedang ciang-liong-sian berada paling belakang.

Dengan gerakan tubuh yang sangat cepat ke tiga orang itu berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka telah lenyap di-dalam kegelapan-

Lama sekali sesudah kepergian ketiga orang itu, dari tengah lembah muncul kembali beberapa puluh sosok bayangan manusia, mereka menyapu sekejap kearah mayat yang bergelimpangan diatas tanah, kemudian dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuh-merekapun berlalu pula menuju kemulut lembah.

Salju yang tebal menyelimuti hampir seluruh puncak gunung Tiang-pek-san, tinggi permukaan diatas bukit itu kurang lebih ada beberapa ribu meter dari permukaan air laut, tiga sosok bayangan manusia dua orang kakek tua dan seorang pemuda tampan sedang berjalan diatas salju yang putih dengan kecepatan bagaikan terbang, dalam waktu singkat mereka telah berada kurang lebih empat-lima puluh tombak jauhnya dari tempat semula.

Tiba-tiba ketiga orang itu menghentikan gerakan tubuhnya di depan sebuah hutan pohon song yang teratur rapi sekali, terdengar kakek tua baju merah itu berkata.

“Disinilah tempatnya, tak mungkin bakal salah lagi”

“Bagaimana caranya kita memberitahukan kedatangan kita kepada orang-orang itu?” tanya sang kakek baju putih dengan cepat.

“Kita terjang masuk saja kedalam dengan kekerasan.”

“Menurut pendapat boanpwe,” sambung sang pemuda yang bukan lain Gak In Ling, “Kemungkinan besar kita sudah berada dibawah pengawasan mereka!”

Lan In Lojin segera tertawa.

“Kita tokh bukan datang untuk mencari balas, apa yang perlu dirisaukan lagi? Ayoh berangkat, kita masuk kedalam hutan!”

Selesai berkata ia segera bergerak lebih dahulu menuju kedalam hutan pohon song tersebut.