Si Pedang Kilat

Pengarang : Khu Lung

Subuh baru tiba, suasana masih remang2 diliputi kabut pegunungan jang memutih tipis bagaikan gumpalan2 kapas terapung di udara.

Tempat itu adalah disekitar lereng pegunungan Tjongsan jang terletak dibaratlaut Oupak. Diatas puntjak karang terdjal terdapat tiga buah rumah atap. Rumah2 itu berdiri menghadap lembah pegunungan didepannja jang menghidjau permai, dibelakang adalah lereng gunung jang tjuram. Suatu tempat kediaman jang luar biasa dan menimbulkan sangkaan besar kemungkinan adalah tempat bersemajam kaum dewata surgaloka.

Tatkala itu adalah permulaan bulan lima, dilembah pegunungan itu terbentang sawah2 luas dengan padi menguning emas dihembus angin sepoi2 basa memudji alam semesta.

Sajup2 dari djauh terdengar suara seruling anak gembala jang njaring merdu memetjah angkasa raja nan sunji.

Itulah lukisan suasana dilereng pegunungan itu. Ternjata dibalik rumah2 atap jang terpentjil itu sebenarnja adalah tempat semajam kaum kesatria.

Tuan rumah gubuk2 itu bernama Su Djun-lui, usianja sudah melampaui 60 tahun. Asalnja Su Djun-lui adalah murid Bu-tong-pay, dengan kepandaiannja jang tinggi dimasa mudanja pernah djuga ia malang melintang didunia Kangouw. Pada kira2 30 tahun jang

lampau, nama Siam-tian-kiam Su Djun-lui, sipedang kilat, boleh dikata membikin rontok njali setiap musuh jang berhadapan dengan dia. Si Pedang Kilat disegani lawan dan disukai kawan.

Namun seperti kata pribahasa: “Manusia takut ternama dan babi

takut gemuk.” Maklum, djika babi sudah gemuk, maka nasibnja sudah dapat dipastikan, jaitu menudju kerumah pemotongan.

Sebaliknja kalau manusia terlalu ternama, maka naga2nja sudah tentu djuga akan banjak mendatangkan kesulitan, entah disiriki, entah ditjemburui dan sebagainja.

Dan begitu pula dengan Su Djun-lui, si Pedang Kilat. Karena perdjuangan dimasa mudanja itu sehingga tidak sedikit djuga mengikat permusuhan dengan orang2 Kangouw. Ketika usianja sudah menandjak, isteriaja wafat dan puteranja meninggal, tinggal seorang puterinja jag masih ketjil sekadar sebagai pelipur lara dihari tua, maka semangat djantannja mulai pudar, tjita2nja jang semula muluk2 dan tergantung tinggi2 sebagai bintang2 dilangit mendjadi bujar djuga.

Guna menghindari pentjarian musuh, achirnja Su Djun-lui mengasingkan diri dan membangun rumah2 atap dipuntjak karang dibarat laut kota Lileng, propinsi Oupak, ia membeli beberapa hektar sawah dan hidup bertjotjok-tanam, dikala senggang hiburannja jalah membatja. Penghidupan jang aman tenteram itu sudah berlangsung belasan tahun lamanja. Dasar Su Djun-lui orangnja memang ramah-tamah dan suka membantu sesamanja, ia mahir pula ilmu pertabiban dan pengobatan, dari itu didusun sekitar kediamannja itu dia dikenal sebagai seorang tua jang terpeladjar dan sopan-santun sama sekali tidak pernah bertjektjok dengan orang. Tapi tiada seorangpun jang tahu bahwa dia sebenarnja seorang kesatria terkemuka didunia Kangouw pada beberapa puluh tahun jang lalu.

Orang jang tahu bahwa Su Djun-lui memiliki ilmu silat jang tinggi selain Su Mei-lan, puteri kesajangan Su Djun-lui sendiri, ada pula Kim Hiau-hong, jaitu satu2nja murid Su Djun-lui jang dipungutnja sedjak ketjil.

Usia Su Mei-lan tahun ini sudah mentjapai 17 tahun, mukanja tjantik, sikapnja agung, dan sangat berbakti kepada orang tua.

Adapun Kim Hiau-hong lebih tua tiga tahun daripada Mei-lan. Orangnja djuga ganteng dan tampan, sangat menghormat kepada sang guru dan ramah kepada sang Sumoay.

Terhadap muridnja jang setia itu Su Djun-lui menganggapnja seperti puteranja sendiri dan diam2 sudah lama terkandung maksudnja hendak mengambilnja sebagai menantu, soalnja tinggal menunggu waktu sadja.

Tapi sebaliknja Mei-lan mempunjai pandangan tersendiri terha-dap sang Suheng. Meski Kim Hiau-hong sehari2nja sangat baik padanja, tapi entah mengapa, dalam hati ketjil Mei-lan merasa ada sesuatu tjiri atas diri pemuda itu, ia merasa muak dan bentji padanja, tjuma sebab apa dia merasa begitu, itulah jang susah ditjeritakan.

Namun begitu mereka sekeluarga tiga djiwa tetap hidup rukun dan tenteram, mereka siang bertjotjok tanam seperti orang dusun umumnja, malam hari Su Djun-lui mengadjar ilmu silat kepada pu teri dan muridnja. Karena itu, hampir seluruh kepandaian si Pedang Kilat telah diturunkan kepada kedua  mudamudi  itu.

Pagi hari itu, seperti biasa Mei-lan bangun pagi2 dan siap untuk berlatih. Mei-lan sangat menjukai bunga, sesuai dengan namanja, Mei-lan jang berarti anggrek tjantik, maka ia sangat suka kepada bunga anggrek, tapi iapun sangat suka pada bunga teratai. Oleh karena itu dibelakang rumah telah dibuat sebuah kolam de-ngan mengambil sumber air jang mengalir dari atas gunung, didalam kolam banjak diitanami bunga teratai jang indah. Pagi2 daun teratai jang lebar2 itu penuh butiran embun mirip mutiara didalam talam djamrud, bunga teratai menghembuskan bau harum jang sajup2  semerbak.

Setiba ditepi kolam, sedikit Mei-lan djindjing gaunnja, sekali melajang, dengan enteng sekali ia sudah berdiri diatas sebuah daun teratai jang lebar sebagai tampah itu. Menjusul ia telah keluarkan Ginkangnja jang tinggi, ia melajang dan menari2 dari satu daun teratai keatas daun teratai jang lain sehingga mirip tjapung bermain diatas air. (lihat gambar omslag).

Kiranja Ginkang jang dia latih adalah “Leng-po-keng-ho” atau sidewi main diatas daun teratai. Dan gajanja jang indah gemulai itu memang mirip benar dengan dewi kajangan jang mempesonakan.

Pada saat Mei-lan lagi asjik menari2 itulah, tiba2 tertampak Kim Hiau-hong berlari2 mendatangi dengan muka putjat dan segera berseru: “Adik Lan, wah, tjelaka adik Lan, Suhu............., Suhu. ”

Mei-lan sendiri sedang riang gembira melompat kesini dan mela-jang kesana. ketika mendadak mendengar teriakan sang Suheng jang mengedjutkan mengenai ajahnja itu, meski utjapan Kim Hiau-hong itu terputus2 dan berhenti tengah djalan, tapi dia dapat menduga pasti terdjadi sesuatu jang menjangkut keselamatan sang ajah. Dalam kedjutnja, tenaganja seketika mendjadi lemas dan badannja lantas andjlok kebawah. Dengan sendirinja daun teratai tidak kuat menahan tubuhnja, sebab itulah betisnja lantas sadja terbenam didalam air.

Sjukur Kim Hiau-hong dapat bertindak dengan tjepat, setjara tjekatan sekali ia sempat melajang ketengah kolam, sekali djambret, sebelah. tangannja sambar pundak Mei-lan dan segera ditjangking sambil melajang ketepi kolam sebelah sana dengan gaja sebagai “elang lapar menjambar kelintji”.

Rupanja saking kuatirnja mengenai sang ajah, maka Mei-lan sama sekali tidak urus tentang sebagian gaunnja sudah basah kujup terkena air kolam, tapi begitu sudah dilepaskan ditepi kolam sana, segera ia tanja Hiau-hong: “Suko, apakah jang terdjadi atas diri ajah?” Melihat Mei-lan sangat terguntjang perasaannja, Kim Hiau-hong mendjadi ragu2 apakah mesti memberitahukan duduknja per kara jang sebenarnja atau tidak, tapi ia merasa kuatir pula menimbulkan hal2 jang tidak diinginkan. Maka ketika pandangannja kebentrok dengan sinar mata Mei-lan. jang tadjam itu, tanpa me rasa ia tambah tergagap2 dan susah mendjawab.

Melihat sikap sang Suheng itu, Mei-lan tambah kuatir dan tjuriga, tjepat ia mendesak pula: “Suko, bagaimana dengan ajah? Lekas katakan!”

Sesudah didesak berulang2, Kim Hiau-hong merasa susah untuk tutup mulut lebih djauh, maka dengan gelagapan achirnja ia men-djawab: “Suhu...... Suhu telah. “

“Kenapa?” sela Mei-lan dengan tak sabar. “Apa beliau mengalami ketjelakaan?”

Kim Hiau-hong tidak sanggup mendjawab, ia hanja mengangguk dengan sedih. Ia menduga urusan ini pasti akan membikin sang Sumoay berduka nestapa. Dengan demikian ia telah siap untuk menghibur nona itu.

Diluar dugaan sikap Mei-lan ternjata sangat tenang malah, ia tidak mendjadi kelengar atau menangis oleh berita jang menjedihkan itu, sebaliknja ia bersitegang dan berkata dengan kereng kepada Kim Hiau-hong. “Tjara bagaimana ajah mendjadi tewas?”

Sungguh sikap Mei-lan itu sama sekaii diluar dugaan Kim Hiau-hong. Sesudah tertegun sedjenak, lalu Hiau-hong mendjawab de-ngan sedih dan suara lemah: “Suhu. Suhu

telah dibunuh orang!”

Mei-lan terkesiap, diam2 ia merasa heran darimana mendadak datangnja musuh. Selama ini ajahnja toh tidak pernah bertjektjok dengan siapapun. Walaupun dimasa dahulu ajahnja banjak bermusuhan dengan orang2 Kangouw, tapi kedjadian2 itu sudah berlalu lebih 20 tahun jang lalu, selama ini ajahnja hidup mengasing kan diri dengan aman tenteram, diantara orang2 jang tahu tempat kediamannja boleh dikata sangat terbatas.

Maka segera ia tanja pula: “Apakah Suko mengetahui sipembunuh itu?”

.,Ti...... tidak,” sahut Kim Hiau-hong.

“Habis, apakah tiada sesuatu tanda luka diatas tubuh ajah?” tanja Mei-lan pula.

“Ada,” kata Hiau-hong. “Marilah kita pulang sadja, Sumoay boleh memeriksanja sendiri.” Segera Kim Hiau-hong membawa Mei-lan pulang kerumah.

Ketiga rumah atap itu dibangun setjara berdjadjar, jang sebelah kiri adalah tempat tinggal Kim Hiau-hong, sebelah kanan adalah kamarnja Mei-lan. Rumah jang tengah lebih besar dan mendjadi tempat kediaman Su Djun-lui.

Meski rumah2 itu sangat sederhana tampaknja, tapi segala perabotan didalam rumah tjukup indah, pepadjangan jang teratur menundjukkan penghuninja adalah seorang terpeladjar dan berbakat seni. Diruangan tengah itu tergantung beberapa helai lukisan kuno dengan warna jang serasi.

Dan djenazah Su Djun-lui djusteru berada diruangan tamu itu. Tertampak orang tua itu berduduk tenang diatas kursi bambu, kedua matanja setengah tertutup, djenggotnja jang pandjang memutih perak itu masih sama seperti waktu hidupnja. Kalau sebelumnja Mei-lan tidak diberitahu bahwa ajahnja telah mennggal, sung-guh nona itu pasti tidak pertjaja bahwa ajahnja jang masih duduk diatas kursi itu ternjata sudah tidak bernjawa lagi.

Meski saat itu rasa duka Mei-lan sudah mentjapai puntjaknja, tapi sekuat mungkin dia masih dapat menguasai dirinja. Dia berharap dapat menemukan tanda2 kematian diatas djenazah ajahnja untuk  menentukan siapakah gerangan  sipembunuhnja.

Dengan menahan perasaannja Mei-lan mendekati djenazah ajahnja, dengan teliti ia periksa tubuh orang tua jang sudah tak bernjawa itu. Achirnja dapat diketemukan suatu tanda hangus pada punggung telapak tangannja.

Setelah ditjari2 pula, kemudian diketemukan lagi, sebatang djarum dibelakang telinga kanan ajahnja. Melihat itu, Kim Hiau-hong berteriak kaget “Ai, kenapa aku tadi tidak melihat luka serangan djarum ini?”

Namun Mei-lan tidak menggubris pada teriakan sang Suheng, dengan termangu2 ia pandang djarum itu dengan mata melotot, achirnja dia berkata dengan penuh dendam: “Hm, bagus, kiranja adalah perbuatan kau manusia berhati binatang ini? Aku harus menuntut balas sakit hati ini!”

Kiranja demi melihat djarum itu, segera Mei-lan teringat kepada seorang tokoh persilatan jang terkemuka, jaitu Pek-djiu-sin-tjiam Tan Ting-hay, sidjarum sakti seratus tangan.

Tan Ting-hay adalah ketua Heng-san-pay dan sangat terkenal didunia Kangouw, bahkan adalah teman karib dengan Su Djun-lui.

Dahulu, sebabnja Su Djun-lui mengambil keputusan mengundurkan diri dari dunia Kangouw dan hidup mengasingkan diri, asal-mulanja adalah djuga karena andjuran Tan Ting-hay. Ilmu silat andalan Heng-san-pay selain Ngo-lui-sin-tjiang (pukulan sakti geledek) djuga terkenal pula dengan Hui-hoa-sin-tjiam (djarum sakti penjebar bunga) jang merupakan sendjata rahasia jang lihay.

Letak istimewa djarum jang dipakai itu adalah bentuknja jang aneh, jaitu kedua udjung tadjam semua, besar-ketjil dan pandjangnja tidak ubahnja seperti djarum djahit biasa. Dalam hal sendjata rahasia ini Tan Ting-hay telah mejakinkannja selama berpuluh tahun lamanja sehinggga sekaligus ia sanggup menghamburkan segenggam djarum jang berdjumlah puluhan, bahkan ratusan batang sehingga musuh se-akan2 dihambur oleh pasir atau dirubung tawon jang susah dielakkan. Dari kepandaiannja inilah Tan Ting-hay memperoleh gelarannja sebagai, Pek-djiu-sin-tjiam jang  termashur itu.

Tan Ting-hay djarang berkundjung ke Leling, jakni tempat kediaman Su Djun-lui, paling2 tjuma setahun sekali sadja. Tapi diwaktu menjambangi sobat lama itu, biasanja Tan Ting-hay tentu membawa serta puteranja jang tunggal.

Watak Tan Ting-hay itu sangat sederhana, hidupnja bebas, dandanannja tak teratur. Sifat ini rupanja diturunkan kepada putera satu2nja itu. Tabiat Tan Ting-hay sendiri djuga djenaka dan suka menang, kegemarannja jalah minum arak. Diwaktu mereka mengundjungi Su Djun-lui djuga tidak tertentu saatnja, terkadang pagi2 sebelum subuh tiba, sering djuga tengah malam buta menggedor pintu sang  sobat.

Tentang ilmu silat diantara Tan Ting-hay dan Su Djun-lui boleh dikata sebaja alias sama kuat. Kesukaan mereka dikala bertemu adalah main tjatur. Tahun jang lalu ketika Tan Ting-hay berkundjung pula ketempat Su Djun-lui, kembali mereka telah main tjatur. Kekuatan permainan mereka sebenarnja seimbang, tapi biasanja selalu diachiri dengan kemenangan dipihak Tan Ting-hay. Namun sekali ini telah terdjadi “surprise”, karena sesuatu kelalaian jang tak disengadja sehingga Tan Ting-hay berachir dengan kekalahan. Kedjadian ini rupanja membuat Ting-hay sangat penasaran sehingga esok paginja dia terus tinggal pergi tanpa pamit. Sudah tentu Su Djun-lui, kenal watak sang kawan jang suka menang itu dan tidak menaruh perhatian atas kelakuan  sobat baik itu.

Sekarang dari djenazah ajahnja dapat diketemukan djarum jang   merupakan sendjata rahasia   tunggal   milik   Tan Ting-hay, maka Mei-lan   mendjadi   ragu2 apakah mungkin lantaran peristiwa tjatur itu sehingga menimbulkan dendam paman Tan itu?

Selain mengenali djarum itu sebagai sendjata rahasia   Tan Ting-hay, dapat diketahui pula oleh Mei-lan bahwa tanda hangus dipunggung tangan ajahnja itu seperti bekas kena Hwe-yam-djiu (ilmu pukulan tangan api) jang terkenal dari Hok-liong Siansu. Hok-liong Siansu asalnja adalah paderi Leng-hun-si di Hangtjiu. Tapi Hok-liong Siansu adalah seorang Hwesio sontolojo, dia tidak pantang minum arak maupun makan daging, karena tidak dapat taat kepada adjaran agama ini, maka dia telah diusir dari perguruannja itu. Sifat Hok-liong Siansu djuga suka gila2an dan angin2an, tapi wataknja badjik, suka membela kaum lemah. Seperti djuga Tan Ting-hay, dia djuga sobat baiknja Su Djun-lui.

Djadi diantara tokoh2 persjlatan jang ada hubungan dengan Su Djun-lui dan tahu tempat tinggalnja sedjak. dia mengasingkan diri, boleh dikata tjuma Ting-hay dan Hok-liong Siansu sadja.

Sekarang kalau dilihat dari bekas2 luka dan bukti djarum jang diketemukan Mei-lan, tampaknja pembunuh Su Djun-lui itu ternjata adalah kedua kawan karibnja sendiri, jaitu Tan Ting-hay dan Hok-liong Siansu. Sudah tentu Mei-lan masih ragu2, namun begitu kematian ajahnja benar2 membuatnja sangat berduka.

Dengan menggertak gigi Mei-lan bertekad harus membalas sakit hati kematian ajahnja. Tapi iapun insaf dengan kepandaiannja sendiri untuk menghadapi dua lawan tangguh terang tidak mampu. la tjoba memikirkan pula dengan lebih mendalam, achirnja ia merasa kedua Lotjianpwe itu sebenarnja tiada alasan un-tuk membunuh ajahnja, dan djika demikian halnja, lantas siapakah  gerangan sipembunuhnja?

. Ketika berpaling, tiba2 Mei-lan melihat diatas medja tamu situ terdapat dua tjangkir teh, hal ini membuatnja tergetar. Bukankah ini suatu adegan penipuan jang telah   sengadja diatur?

Dalam pada itu demi melihat Mei-lan menemukan djarum jang bentuknja istimewa dibelakang kepala Su Djun-lui, segera Kim Hiau-hong memperlihatkan sikapnja jang penuh kemurkaan, teriaknja dengan mengepal: “Kiranja adalah perbuatan kedji bangsat tua ini!

Sungguh tidak njana. Biasanja Suhu menganggapnja sebagai sobat jang paling baik, siapa tahu dia adalah manusia jang berhati binatang dan tega turun tangan kedjam kepada kawannja sendiri, benar2 keparat!” - ia berhenti sedjenak, kemudian ia berkata pula sambil menarik tangan Mei-lan: “Su moay, marilah sekarang djuga kita berangkat ke Tiangsah un-tuk mentjari bangsat tua itu, kalau aku belum mentjintjang dia, tidak lampias dendamku ini!” Namun dengan tjepat Mei-lan lantas mengipatkan tangan sang Suko, ia diam sadja tanpa menanggapi adjakan kakak guru itu. Tapi batinnja sebenarnja tak terkatakan duka dan pedihnja. Sekonjong2 ia menguak sekali, darah segar terus menjembur keluar dari mulutnja, matanja tampak mendelik, lalu orangnja tak sadarkan diri lagi.

Kim Hiau-hong termangu2 sedjenak. Suhunja meninggal, Sumoaynja pingsan, semua ini membuatnja kerepotan djuga. Tapi segera ia ambil keputusan untuk menjadarkan dulu sang Sumoay, lalu mengatur lajon Suhunja. Setelah sibuk seharian, achirnja segala urusan dapatlah diselesaikan.

Sesudah sadar kembali sikap Mei-lan ternjata mendjadi sangat pendiam, namun Hiau-hong djuga tidak berani banjak bertanja, bahkan tampak agak kikuk2 menghadapi Sumoaynja itu.

Besok paginja, baru sadja Kim Hiau-hong memasang dupa dihadapan lajon Suhunja, tiba2 terdengar diluar ada suara salaman orang. Ketika didengarkan lebih tjermat, terdengar orang itu sedang berseru: “Apa Su-sioksiok berada dirumah? Tan Giok-ki dari Hengsan ingin menjampaikan salam kepada Su-siok-siok!”

Mendengar itu, Hiau-hong kenal siapa Tan Giok-ki itu, ia bukan lain adalah puteranja Tan Ting-hay, ini benar2 ular mentjari digebuk, pikir Hiau-hong. Tanpa ajal lagi segera ia memburu keluar, begitu berhadapan, tanpa bitjara dan dengan mata mendelik terus sadja Kim Hiau-hong melantjarkan serangan, dengan tipu “Hek-hou-tau-sim” (harimau kumbang mentjolong hati), segera ia hantam dada seorang pemuda jang berdiri didepan pintu dengan dandanan jang tjompang-tjamping tak teratur itu. Ketika kepalan sudah dekat dada sasarannja, mendadak Hiau-hong mengganti hantaman mendjadi tjakaran.

Karena tak tersangka2 sehingga, tampaknja ulu hati pemuda berbadju rombeng itu segera akan ditjengkeram keluar oleh serangan Kim Hiau-hong itu, keruan sipemuda badju rombeng sangat terkedjut.

Pemuda berbadju rombeng itu memang bukan lain adalah Tan Giok-ki, putera tunggal Tan Ting-hay.

Seperti djuga bapaknja, sifat Tan Giok-ki inipun sangat sederhana, dandanannja tjompangtjamping tak teratur sehingga mirip pemuda miskin, namun begitu badannja kekar, gagah dan tangkas, sinar matanja tadjam. Sudah tentu ia sangat terkedjut ketika mendadak diserang, apalagi penjerangnja adalah Kim Hiau-hong jang merupakan teman memainnja sedjak ketjil bila dia berkundjung kerumah  Su  Djun-lui ini.

Usia Giok-ki lebih tua satu tahun daripada . Mei-lan, tapi lebih muda dua tahun daripada

Hiau-hong. Sebab itulah iapun menjebut Hiau-hong sebagai Suko menurut panggilan Mei-lan. Walaupun lahirnja sederhana dan tampaknja bodoh, tapi sebenarnja Giok-ki sangat tjerdik dan tangkas. Dasar ilmu silatnja djuga lebih kuat daripada Kim Hiau-hong, bahkan Mei-lan djuga masih kalah.

Rupanja mengetahui kepandaian Giok-ki itu, maka serangan Hiau-hong dalam djurus “Hek- hou-tau-sim” tadi sengadja dilontarkan dengan setjara mendadak, ganas lagi kedji dengan tekad sekali serang harus merobohkan lawan, kalau tidak tentu dirinja sendiri jang akan tjelaka.

Tapi Tan Giok-ki benar2 sangat lihay, walaupun tidak sempat berkelit, djusteru pada saat jang berbahaja itu dia masih sempat menarik napas dan mendekukkan dadanja, “bret”, dadanja luput dari tjakaran Kim Hiau-hong, hanja badjunja jang terobek  sepotong.

Karena serangannja gagal, tanpa bitjara apa2 lagi, segera Hiau-hong lolos pedangnja dan kembali menjerang pula, dengan tipu “Tok-tjoa-tho-sin” (ular berbisa mendjulurkan lidah), setjepat kilat  ia tusuk perut  Tan Giok-ki.

Baru sadja Giok-ki menghindarkan tjengkeraman Hiau-hong tadi dan belum lagi sempat menegur mengapa orang menjerangnja setjara mendadak dan kedji, sementara itu tusukan pedang lawan telah tiba pula. Terpaksa Giok-ki mesti membuang tubuhnja kebelakang untuk selandjutnja tjepat memutar kebelakang Kim Hiau-hong.

Dahulu Kim Hiau-hong djuga sering latihan bersama Tan Giok-ki dan tahu betapa tinggi kepandaian lawan, maka ia tidak berani ajal, tanpa membalik tubuh segera pedangnja menabas lagi kebela kang. Serangan ini sangat tjepat lagi lihay, apabila Ginkang jang dimiliki Tan Giok-ki kurang sempurna, maka sepasang kakinja pasti sudah buntung.

Sampai disini, achirnja G:okki kehilangan sabar djuga, dengan gusar ia membentak: “Hai, orang she Kim, sebenarnja adalah urus an apa sehingga kau sembarangan menjerang orang? Djelek2 orang she Tan sudah mengalah tiga djurus padamu, djika kau tidak dapat menerangkan duduknja perkara setjara beralasan, maka djangan kau salahkan aku tidak kenal sahabat  lagi.”

Tapi Kim Hiau-hong tampaknja sudah kalap, karena tiga kali serangannja selalu gagal tanpa bisa mengganggu seudjung rambut lawan, keruan ia tambah nekat, ia balas mendjengek: “Hm, anak keparat, bapakmu membunuh orang dgn djarum maut, kenapa sekarang kau tidak keluarkan djuga sendjata rahasiamu jang terkutuk itu!”

Karena djawaban jang tak keruan djendrungannja itu, sudah ten-tu Giok-ki merasa bingung. Selagi dia hendak tanja lebih djelas, namun serangan Hiau-hong sudah tiba pula, bahkan semakin gentjar dan setjara bertubi2.

Diam2 Giok-ki sangat mendongkol, ia pikir kalau pemuda jang sedang mengamuk itu tidak ditundukkan dulu tentu susah untuik diperoleh keterangan jang djelas.

Setelah ambil keputusan demikian, Giok-ki djuga tidak sungkan2 lagi, segera iapun melolos pedangnja untuk menandingi serangan Hiau-hong.

Kalau bitjara tentang ilmu pedang memang harus diakui Siam-tian-kiam-hoatnja Su Djun-lui jang merupakan kepandaian asli da-ri Bu-tong-pay itu ada lebih hebat, gerak pedangaja tjepat, lintjah dan gesit, tampaknja enteng dan bertenaga, tapi 'sebenarnja membawa daja antjaman. jang dahsjat. Sebaliknja Tan Giok-ki mengutamakan ilmu pukulan “Ngo-lui-sin-tjiang”, pukulan geledek adjaran dari ajahnja sendiri. Walau-pun ilmu pedangnja tidak selihay Kim Hiau-hong, tapi ilmu pe-dang perubahan dari ilmu pukulan geledek itupun tidak boleh di pandang enteng, maka, dengan tangkasnja ia dapat melabrak Kim Hiau-hong dengan sama  hebatnja.

Begitulah sekaligus sudah hampir ratusan djurus pertarungan ke dua pemuda itu. Meski ilmu pedang Kim Hiau-hong Iebih diatas angin, tapi tenaga dalam Giok-ki lebih kuat, menang pengalaman pula. Sembari mainkan pedangnja, sebelah tangan Giok-ki menggunakan Ngo- lui-sin-tjiang pula untuk bantu menjerang dimana perlu.

Setelah beberapa puluh djurus sebenarnja Kim Hiau-hong sudah kentara terdesak, kalau mau sekaligus Giok-ki dapat merobohkan lawannja, tjuma dasar wataknja memang t:dak kedjam, betapapun ia tidak ingin membikin malu kawannja sendiri, oleh sebab itulah ia hanja bertahan sadja dan tidak melantjarkan serangan mematikan.

Ketika kedua pemuda itu mulai bergebrak, tatkala itu Mei-lan sedang tenggelam dalam larnunannja disamping djenazah ajahnja. Dan sesudah mendengar suara gemerintjing beradunja sendjata, barulah Mei-lan tersentak kaget, dengan tjepat iapun sambar pedangnja jang tergantung didinding, lalu memburu keluar. Sampai dipekarangan depan, dilihatnja kedua pemuda sedang bertempur dengan  seru.

Melihat Tan Giok-ki, demi ingat ajahnja tewas oleh djarum jang merupakan sendjata rahasia tunggal keluarga Tan, seketika Mei-lan mendjadi murka dan benar2 ingin melabrak Tan Giok- ki. Tapi sekilas dilihatnja ketika Tan Giok-ki menangkis serangan2 Kim Hiau-hong, air mukanja tampak bingung dan ragu2, sedikitpun tidak memberi serangan balasan jang berbahaja, paling2 tjuma untuk menghalau serangan sadja.

Diam2 Mei-lan mendjadi sangsi lagi. Ia pikir, sekalipun dari bukti djarum itu telah menimbulkan sangkaan keras bahwa ajah nja dibunuh keluarga Tan, tapi sebelum duduknja perkara dibikin terang, susahlah untuk diketahui siapa sebenarnja sipembunuhnja, apakah Tan Ting-hay sendiri atau Tan Giok-ki, sebab dengan kepandaian Giok-ki sadja rasanja tidak mungkin dapat mendekati ajahnja. Ia pikir paling perlu sekarang jalah tanja dulu pemuda she Tan itu, bila perlu nanti dapat menangkapnja lagi, masakah dia dapat lari dibawah kerojokaa dua orang?

Setelah ambi1 keputusan itu, segera ia menerdjang madju, sekali pedangnja menusuk kedepan, segera ia mentjungkitnja kekanan-kiri sambil membentak: “Berhenti dulu!” Karena benturan pedang itu, seketika Giok-ki menarik kembali, pedangnja. Tapi tidak demikian dengan Kim Hiau-hong, selagi Tan Giok-ki tertegun sedjenak tu, sekonjong2 Kim Hiau-hong djulurkan pedangnja pula dengan tipu “Leng-kau-hian-tho” (kera tjerdik menghaturkan buah tho), tahu2 bahu Tan Giok-ki sudah tergores luka, untung tidak sampai mengenai tulang pundaknja. Namun begitu darahpun sudah  mengutjur keluar.

Serangan menggelap itu sebenarnja dilakukan oleh Kim Hiau-hong dengan maksud memutuskan tulang pundak Tan Giok-ki, diluar dugaannja bahwa Mei-lan keburu mengetahui maksud djahatnja itu, sedikit nona itu geraki pedangnja sehingga sendjata Hiau-hong terbentur miring kesamping, maka tjuma melukai bahu Tan Giok-ki sadja, luka jang

tidak membahajakan.

Karena perbuatan Kim Hiau-hong jang memalukan itu, segera Mei-lan membentaknja djuga: “Suko, masakan kau boleh menjerang orang setjara demikian?”

Tapi Kim Hiau-hong djuga tidak mau kalah perbawa didepan orang luar, iapun balas menegur: “Sumoy, kenapa kau malah membela musuh?”

Sebaliknja gusar Tan Giok-ki sungguh tidak kepalang, matanja rnendelik dan untuk sekian lamanja tidak sanggup membuka suara. Sudah tentu bukan maksud Mei-lan hendak membela Tan Giok-ki, soalnja ia merasa malu atas perbuatan Kim Hiau-hong jang menjerang lawannja setjara menggelap itu, hal ini tentu akan mentjemarkan nama baik keluarga Su. Apalagi tadi dilihatnja Tan Giok-ki tampak merasa bingung menghadapi serangan Hiau-hong jang bertubi2 itu, ia hanja bertahan sadja tanpa balas menjerang, sebab kalau pemuda she Tan itu mau balas menjerang dengan sepenuh tenaga, bukan mustahil djiwa sang Suko sudah melajang sedjak tadi. Dari itu Mei-lan merasa sangsi, andaikan tewasnja sang ajah disebabkan djarum jang merupakan sendjata rahasia ke-luarga Tan, namun urusan djuga harus dibikin djelas dulu baru kemudian dapat diambil tindakari jang semestinja.

Dalam pada itu rasa gusar Tan Giok-ki sebenarnja sudah akan meledak dan segera akan balas menghadjar Kim Hiau-hong, tapi demi dilihatnja wadjah Su Mei-lan jang tjantik molek dengan sikapnja jang kereng serta membentak djuga kepada Suhengnja tadi, seketika rasa  gusar jang bergolak itu surut sebagian besar.

Kemudian sambil memberi hormat Mei-lan telah menjapa: “Atas kelakuan Suko jang kasar barusan ini harap Tan-suheng sudi memaafkan.”

Giok-ki mendjadi serba runjam dan kikuk untuk bitjara.

Sebaliknja Kim Hiau-hong mendjadi penasaran, serunja keras2: “Adik Lan, buat apa kau berlaku sungkan2 kepada musuh? Marilah kita hadjar dia dan menangkapnja!”

Diluar dugaan Mei-lan malah mendelik padanja sehingga Kim Hiau-hong jang sudah siap2 hendak menerdjang madju lagi mendjadi urung dan kemalu2an.

Sedjak tadi Tan Giok-ki djuga merasa bingung karena   Kim Hiau-hong selalu menjebutnja sebagai musuh. Tapi ia tidak sudi bitjara dengan pemuda ngawur itu, sebaliknia ia lantas tanja Mei-lan: “Adik Lan, sebenarnja apa jang telah terdjadi? Mengapa datang2 aku lantas dimaki dan diserang setjara tidak semena2?”

“Urusan dapat kita bitjarakan nanti, sekarang aku ingin tanja sesuatu dulu kepadamu,” sahut Mei-lan. “Apakah kau kenal benda ini?”

Sembari berkata Mei-lan terus sodorkan djarum jang diketemukan dibelakang telinga dan menjebabkan kematian ajahnja itu dan menam'bahkan pula pertanjaannja. “Bukankah benda ini adalah milik  keluargamu?”

Hanja sekilas pandang sadja segera sesudah Giok-ki menerima djarum itu dan mendjawab: “Ja, benar, djarum ini memang benar milik keluarga kami. Dimanakah kau memperolehnja?” Rupanja Kim Hiau-hong mendjadi tidak sabaran lagi menjaksikan tanjadjawab itu, terus sadja ia membentak: “Tan Giok-ki, keparat, buat apa kau mesti berlagak pilon? Djika djarum itu adalah milik keluargamu, mengapa benda itu dapat bersarang di ‘Thian-liau-hiat’ guruku?” “Ha, apa katamu?” seru Giok-ki kaget, hampir2 djarum jang di pegangnja itu djatuh ketanah. Ia tahu “Thian-liau-hiat” itu adalah salah satu Hiatto jang mematikan ditubuh manusia.

Kalau Thian-liau-hiat kena sendjata rahasia djarum itu, maka sudah pasti djiwanja akan melajang.

Maka sesudah termangu2 sedjenak, kemudian Giok-ki menanja pula dengan tergagap2: “Dja............ djadi Susioksiok di............ diserang orang dengan djarum ini?  Ah,

tidak tidak!”

Mei-lan mendjadi gusar djuga, serunja: “Tidak apa? Djarum itu memang betul kuketemukan di Thian-liau-hiat ajahku!”

“Ma.............. mana mungkin?” sahut Giok-ki. “Djarum ini hanja dimiliki oleh kami ajah dan anak, selama tiga bulan ini ka-mi selalu berkumpul dirumah dan tidak kemana2, masakah djarum ini bisa digunakan untuk menjerang Su-sioksiok? Tidak, tidak, urus an ini pasti tidak beres, tentu ada sesuatu muslihat kedji dibalik kedjadian ini. Aku. aku harus segera

pulang untuk melaporkan kedjadian ini kepada ajah dan minta beliau ikut membikin djelas peristiwa pembunuhan ini!”

“Ja, itulah paling baik, aku djusteru ingin bitjara berhadapan dengan Tan-pepek sendiri, hendaklah kau suka menguridang Tanpepek kemari,” kata Mei-lan dengan suara bengis. Tan Giok-ki tampak masih ragu2, ia memeriksa djarum jang di pegangnja itu, lalu memandang Mei-lan dan memandang pula ke-pada Kim Hiau-hong dengan penuh rasa tjuriga. Habis itu segera ia putar tubuh dan tinggal pergi sambil memegangi bahunja jang terluka itu.

Sesudah Tan Giok-ki pergi, Kim Hiau-hong menjesali sang Sumoay mengapa melepaskan musuh dengan begitu sadja? Tapi Mei-lan sendiri sudah mempunjai rentjana, sahutnja: “Kenapa mesti terburu2? Pendek kata utang darah ini harus kita balas, urusan ini pasti akan mendjadi djelas pada suatu hari jang tak lama lagi.”

Karena sikap Mei-lan sangat dingin, tapi angker sehingga Kim Hiau-hong tidak berani banjak tjintjong lagi.

Rupanja Mei-lan sendiri sudah mempunjai rentjana tertentu dalam persoalan terbunuhnja sang ajah ini: Segera ia berunding dengan Kim Hiau-hong untuk mengadakan sembajangan bagi arwah ajahanda.

Maka berita tentang tewasnja Su Djun-lui dibunuh musuh dalam waktu singkat sadja sudah tersiar luas didunia Kangouw, sudah tentu peristiwa ini sangat menggemparkan tokoh2 persilatan.

Maka dalam waktu singkat sadja berbondong2 para tokoh silatan sama berkundjung ke Lileng untuk melawat. Sudah tentu diantara tamu2 ini banjak terdapat bekas sobat baiknja Su Djun-lui, tapi banjak pula adalah bekas musuhnja, kundjungan mereka ini dengan sendirinja mempunjai tudjuannja sendiri2.

Kim Hiau-hong sendiri tidak tahu apa jang dikehendaki Mei-lan dengan mengadakan sembajangan setjara besar2an itu, namun ia tidak berani lagi mentjela Sumoynja itu, hanja dalam hati sadja diam2 ia merasa tidak tenteram. Sebaliknja Mei-lan anggap sepi sadja kelakuan sang Suheng jang tampaknja kelabakan seperti semut didalam wadjan panas itu. Hanja dalam waktu belasan hari sadja tamu2 jang sudah tiba sudah berdjumlah puluhan orang dan meliputi berbagai  golongan dan aliran.

Mei-lan tahu dimasa muda ajahnja banjak mengikat permusuhan dengan orang2 Kangouw, tapi tidak sedikit pula sobat-handainja diantara kesatria2 dunia persilatan itu, misalnja jang sudah kelihatan datang, jaitu seorang tua pendek ketjil dan kurus kering ia bukan lain adalah Pui Tek-piau, ketua Leng-kau-pay jang berdjuluk Kau-tje-thian, siradja kera sakti, Sesuai dengan perawakan dan gelarannja, maka ilmu andalan Pui Tek-piau itu adalah Kau- kun, ilmu silat kera, jang lintjah dan gesit dan djenaka pula.

Selain itu adalah Kwan-tang-beng-hou Hay Thian-hiong, siharimau dari Kwantang jang bertubuh tinggi besar. Ada pula siwanita tjantik setengah umur “Giok-djiu-sian-koh”

Kim So-heng, sidewi bertangan kemala. Kesemuanja itu adalah tokoh gilang-gemilang didunia persilatan dan tergolong orang2 jang baik.

Sebaliknja ada pula Go-bi Sandjin, imam bermata satu dari Go-bi-san, Kim-sian-siu-su Hehou Tjho, sipeladjar berkipas emas jang selalu berdandan sebagai sastrawan tengik dengan tangan memegang kipas lempit. Lalu ada pula Ai-tong-koa Tjio Lok-peng, silabuh jang potongan badannja sebagai bola berkaki, pendek buntak tubuhnja, tapi ketjil mata dan hidungnja.

Tokoh2 jang tersebut belakangan ini namanja sudah terkenal busuk didunia Kangouw, semuanja dahulu sudah pernah telan pil pahit dari Su Djun-lui, maka maksud kedatangan mereka ini ten tu tidak punja itikat baik, besar kemungkinan hanja untuk mentjari tahu benar atau tidak berita kematiannja Su Djun-lui itu. Anehnja meski sudah banjak bekas kawan dan lawan Su Djun-lui sama hadir, adalah dua sobat paling baik dari mendiang itu ternjata tidak kelihatan bajangnja. Mereka adalah Tan Ting-hay dan Hok-liong Siansu.

Tentang terbunuhnja Siam-tian-kiam Su Djun-lui didunia Kangouw memang sudah tersiar luas, kabar tentang siapa pembunuhnja, dalam hal ini Tan Ting-hay dan Hok-liong Siansu telah dituduh karena bukti2 dan tanda bekas luka jang diketemukan ditubuh korban. Dan sekarang kedua peran utama itu ternjata tidak muntjul, sudah tentu hal ini membikin semua orang mendjadi geger pula dan ramai membitjarakannja.

Biar Tan Ting-hay sendiri belum tampak datang, namun putera nja, jaitu Tan Giok-ki, sudah nampak hadir.

Menurut apa jang dikatakan Tan Giok-ki kepada Mei-lan, katanja Tan Ting-hay kebetulan sedang pergi mengembara, maka terpaksa Giok-ki tidak dapat bertemu dengan ajahnja, namun pemuda itu sudah menjebarkan orang2nja untuk mentjari orang tua itu, dan diberitahukan tentang kematian Su Djun-lui, maka diduga dalam waktu tidak lama ajahandanja tentu akan dapat menjusul datang.

Mei-lan djuga tidak banjak rewel tentang ketidak datangnja dua tokoh itu. Pada hari itu, dengan pakaian berkabung ia keluar untuk menghaturkan terima kasih kepada para pelawat itu sesudah dia mendjalankan penghormatan didepan lajon ajahnja. Habis itu setjara ringkas iapun mentjeritakan apa jang menjebabkan tewasnja Su Djun-lui, ia keluarkan djarum jang diketemukan didjenazah ajahnja itu dan katanja: “Siapa jang mendjadi pembunuh ajahku sampai saat ini aku masih tidak tahu dengan pasti. Tapi dari djenazah ajah telah dapat diketemukan djarum ini serta luka hangus pada telapak tangannja. Mengingat kelihayan sipembunuh itu, aku sendiri merasa sulit untuk menghadapinja, maka besar harapanku jalah mohon kepada para Lotjianpwe jang hadir disini suka memberi peradilan jang bidjaksana.” Utjapan Mei-lan itu dilakukan dengan menangis sedih sehingga sangat mengharukan para hadirin.

Maka Pui Tek-piau lantas mendahului membuka suara: “Hiantitli (keponakan perempuan jang balk) hendaklah djangan berduka, sebagai kawan karib ajahmu, biarpun aku tidak punja kepandaian apa2, namun terhadap peristiwa pembunuhan ini tidak mungkin aku berpeluk tangan dan tinggal diam, untuk sementara hendaklah kau  sabar dulu.”

Segera Hay Thian-hiong jang gagah itupun berseru: “Dari bukti dan tanda jang diketemukan, teranglah sudah siapa pembunuh Su-lothau itu. Sungguh tidak njana bahwa Pek-djiu-sin-tjiam dan Hwe-yam-djiu jang termashur itu djusteru digunakan atas diri kawannja sendiri, mereka pertjuma mengaku sebagai kesatria dan pahlawan, tapi jang diperbuat ternjata sedemikiari rendahnja, benar2 harus dikutuk!”

Dengan teriakan Hay Thian-hiong ini, maka soal siapa pembunuhnja seakan2 sudah pasti ditimpakan atas diri Tan Ting-hay dan Hok-liong Siansu. Karena itu, maka ramailah semua orang mentjatji-maki.

Kemudian Hehou Tjho djuga ikut bitjara dengan suaranja jang sengadja dibikin2: “Ini namanja   ketulah,   kualat!   Habis, dimasa hidupnja   Su-lothau   sendiri   suka   tjari perkara pada orang lain, maka sekarang dia harus terima hasil perbuatannja sendiri. Boleh djadi Tan Ting-hay dan sikeledai gundul Hok-liong telah berbuat sesuatu jang kotor dan diketahui oleh Su-lotjat, mungkin kuatir perbuatan mereka terbongkar dan disiarkan, maka Tan Ting-hay dan sigundul Hok-liong lantas membunuhnja untuk menutupi perbuatan mereka.”

Dengan makian Hehou Tjho ini, tidak hanja nama baik Su Djun-lui telah diolok2, bahkan nama baik Tan Ting-hay djuga tertjemar. Keruan Su Mei-lan dan Tan Giok-ki merasa tersinggung dan gusar tidak kepalang. Lebih2 Giok-ki, ajahnja sekarang telah dituduh seakan2 pasti adalah pembunuh Su Djun-lui, sudah tentu ia naik pitam, tanpa pikir lagi segera ia lolos pedang dan melompat kedepan, serunja dengan mata melotot kepada Hehou Tjho: “Hehou- tjianpwe, kalau bitjara hendaklah djangan seperti kentut? Apakah   mulutmu perlu disikat dulu oleh tuan muda?”

Segera Mei-lan djuga membuka suara dengan marah: “Selama hidupnja, setiap tindaktanduk ajahku tjukup terang dan dapat di pertanggungdjawabkan kepada siapapun djuga. Apa jang kau maksudkan ketulah? Kenapa mesti kualat?”

“Hahahaha!” Hehou Tjho terbahak2 sambil mengebaskan kipasnja. “Apa kalian hendak menantang berkelahi kepadaku, ja? Haha, kukira lebih tepat bila kalian sepasang muda-mudi ini jang berkelahi sendiri, satu tanding satu, tanggung hebat, deh!”

Giok-ki tambah kalap karena dirinja diolok2, selagi ia hendak menerdjang madju, sekonjong2 terdengar suara seorang jang meng gelegar: “Djangan ribut, ini pembunuhnja telah datang!”

Suara itu sebenarnja masih sangat djauh, tapi begitu keras seakan2 berada didepan situ dan memekak  telinga.

Mengenali suara itu, dengan menahan gusarnja Giok-ki berkata: “Kebetulan, sekarang Hok- liong Lotjianpwe sudah datang sendiri, biarlah beliau sendiri jang menuntut keadilan dan membongkar pitenah ini!”

Diantara hadirin2 itu banjak jang kenal Hok-liong Siansu, tapi banjak pula jang tjuma dengar namanja, tapi tidak kenal orangnja. Tapi semua orang tahu watak paderi itu sangat aneh, namun bidjaksana dengan ilmu silat jang lain daripada jang lain. Djika paderi itu sudah muntjul sendiri, maka mereka menduga tentu akan dapat menjaksikan keramaian lagi.

Begitulah, sedjenak sesudah suara seruan tadi lenjap, menjusul lantas terendus bau harum arak jang menusuk hidung, lalu muntjul segera seorang Hwesio tinggi besar dengan perutnja jang gendut sebagai gentong itu. Inilah dia Hok-liong Siansu jang dinanti2kan itu.

Dasar Hwesio sontolojo, maka tertampaklah sebelah tangan Hok-liong Siansu membawa sebuah buli2 arak sambil tiada hentinja ditjegukkan kedalam mulut, sedang tangan lain memegang sepotong paha andjing panggang jang belum habis dimakan, djubah paderinja jang terbuka itu memperlihatkan perutnja jang gendut sebagai perempuan jang bunting sembilan bulan. Air mukanja tampak merah bertjahaja, sinar matanja tadjam, djalannja sempojongan seperti mabuk, tingkah-lakunja benar2 rada sinting.

Muntjulnja Hok-liong Siansu membuat suasana ruang sembahjang an itu mendjadi sunji senjap, perhatian semua orang tertjurah ke-pada Hwesio sontolojo itu.

Tapi Hok-liong Siansu tampaknja seperti tidak pedulikan siapa2 jang hadir disitu, dengan seenaknja ia masih terus menggeragoti paha andjing sambil meneguk arak dan dengan djalan sempojongan ia mengelilingi ruang itu dan terkadang djuga paha andjing itu digigit dehgan mulut, lalu tangannja merogoh saku dan mengeluarkan beberapa butir penganan sebangsa katjang goreng dan didjedjalkan kedalam mulut dan dikunjah dengan lezatnja. Ketika tiba2 satu bidji penganan itu djatuh ketanah, maka djelas semua orang dapat milihatnja bahwa penganan jang disangka “katjang goreng” itu kiranja adalah djangkrik bakar.

Memang makanan paderi sinting itu sangat aneh, mulai dari ular, kodok, bekitjot sampai kepada kelabang goreng, baginja djusteru adalah makanan jang paling lezat didunia ini. Banjak diantara para hadirin jang mengundjukkan perasaan muak melihat kelakuan paderi jang tidak taat kepada adjaran agamanja itu, terutama Hehou Tjho telah memperlihatkan sikapnja jang menantang dan menghina.

Rupanja hal ini diketahui Hok-liong Siansu, setiba didepan Hehou Tjho, mendadak ia berhenti dan sodorkan paha andjingnja sambil berkata dengan tertawa: “Anak manis, apa kau kepingin makan dagingku ini?”

Tentu sadja merah padam wadjah Hehou Tjho, dengan menahan rasa gusarnja ia balas mengolok2: “Huh, masakah ada seorang Hwesio jang bertingkah sematjam kau? Kalau mati kelak kau pasti akan masuk neraka!”

“Hahaha!” Hok-liong terbahak2, “Apa kau anggap makananku ini kotor? Ha, memang Hwesio suka makan segala djenis daging, ja, hanja daging manusia sadja aku tidak makan.”

— Habis berkata, kembali ia meneguk araknja dan geragoti paha andjing lagi dengan lahapnja.

Melihat kelakuan Hok-liong jang gila2an itu, badan Mei-lan tampak tergetar dan segera hendak mendamperatnja, namun Kim Hiau-hong tiba2 telah mendjawilnja agar sabar dulu. Sesudah menenggak araknja lalu kemudian Hok-liong Siansu mengakak dan tiba2 berseru: “Su-lothau, wahai, Su-lothau! Sungguh tidak njana, dengan ilmu silatmu jang maha tinggi itu achirnja ternjata kau djuga mampus tak karuan djentrungannja! Dan baru sekaranglah kau kenal betapa kelihayanku, ja?”

Anehnja, setefah suara ketawanja itu, tiba2 suaranja berubah mendjadi parau dan achirnja mendjadi terguguk2 seperti orang menangis sedih.

Melihat kelakuan paderi jang angin2an itu, Kim So-heng, sidewi bertangan tjantik, mendjadi aseran, serunja mengedjek: “Keledai gundul Hok-liong, kau sudah membunuh orang, sekarang kau masih pura2  tikus menangisi kematian  kutjing?”

Tiba2 Hok-liong melotot, ia pandang para hadirin dengan sikap jang menghina, lalu mendjawab olok2 Kim So-heng tadi: “Huh, kau perempuan busuk ini tahu apa? Apakah kau tahu mengapa aku tertawa lalu menangis?”

Karena dimaki setjara kotor, segera Kim So-heng bermaksud melabrak sontolojo itu. Namun Pui Tek-piau sudah mendahului mentjegahnja, katanja kepada Hok-liong Siansu: “Hok-liong gundul, para hadirin jang berada disini siapa jang tidak kenal kau adalah orang gila? Djika menangis lalu tertawa atau sebaliknja, rnemangnja siapa jang heran?”

“Huh, kalian sebangsa kerotjo2 tukang gegares ini tahu apa? Aku djusteru tertawa karena kegoblokan kalian jang tak betjus ini! Dan aku menangis sudah tentu bukan menangisi kalian, sebab biarkan kalian mampus semua djuga tiada harganja untuk ditangisi, sebaliknja aku menangis adalah karena wafatnja sobat lama.” kata Hok-liong dengan sikap jang mengedjek. Karena diolok2 dan ditjatji-maki, tentu sadja semua orang sangat gusar. Tapi pertama Hok- liong memang terkenal suka gila2an, kedua, ilmu silatnja djuga sangat tinggi, maka tiada seorangpun berani mendahului  melabraknja.

Sedjenak kemudian, dengan sungguh2 dan kereng Pui Tek-piau bertanja pula: “Hok-liong gundul, hendaklah kau mengaku terus terang sadja supaja kau tidak mati penasaran. Nah, katakan, buat apa kau mesti membinasakan Su Djun-lui?”

Tiba2 Hok-liong garuk2 kepalanja jang gundul tapi tidak gatal itu, sesudah termangu2 sedjenak barulah mendjawab: “Ija, buat apa ja aku mesti membinasakan Su-lothau?”

Semua orang saling pandang dengan bingung mendengar djawaban itu.

“Habis, apakah Su Djun-lui bukan kau jang membunuhnja?” Pui Tek-piau menegas. “Bukan, kau sendiri jang bilang aku jang membunuhnja?” sahut Hok-liong dengan atjuh tak atjuh.

Hay Thian-hiong merasa sebal bitjara dengan   orang   sinting itu, mendadak ia membentak: “Sudahlah, tidak perlu banjak omong dengan dia, bitjara dengaa orang gila biar tiga hari djuga takkan habis. Pendek kata, utanq djiwa bajar djiwa, sekarang djuga kita harus minta pertanggungan djawabnja!”

Habis berkata, terus sadja ia mengirimkan pukulan dahsjat kearah Hok-liong Siansu. “Nanti dulu! Nanti dulu! Biar kuperiksa lagi!” seru Hok-liong sambil djulurkan sisa paha andjing jang belum habis digeragoti itu untuk memapak pukulan Hay Thian-hiong.

Sudan tentu Hay Thian-hiong serba runjam menghadapi tangkisan jang tidak pernah terdapat didalam kitab ilmu silat itu, djika dia teruskan hantamannja, tentu lebih dulu harus memegang paha andjing jang disodorkan Hok-liong itu. Karena itu, terpaksa ia tarik kembali tangannja dan urung memukul.

Kemudian Hok-liong lantas mendekati peti djenazah Su Djun-lui, ia mengamat-amati lalu mengetok peti mati itu. Ia ketok2 sini dan ketok2 sana seperti sedang mendengarkan apa2. Melihat kelakuan paderi sinting itu, semua orang mendjadi gusar. Sekonjong2 dari belakang tirai sana menjambar sinar pedang jang mengarah punggung Hok-liong Siansu. Ketika semua orang berpaling, kiranja penjerang itu adalah  Kim Hiau-hong.

Saat itu Hok-liong berdiri membelakangi Kim Hiau-hong, serangan pedang kilat itu adalah adjaran tulen dari Su Djun-lui, apa lagi paderi sinting itu tampaknja sedang mentjurahkan perhatiannja atas peti mati, maka semua orang menduga djiwa paderi itu pas ti akan melajang dibawah tusukan pedang.

Tak terduga, punggung Hok-liong Siansu seperti bermata sadja, dengan atjuh tak atjuh ia sodorkan paha andjing jang dipegangnja itu kebelakang sehingga tusukan Kim Hiau-hong itu mengenai daging andjing jang empuk, lebih tjelaka lagi ialah pedangnja seperti terkena batu sembrani, tersedot kentjang2 dan susah untuk ditarik kembali. Bahkan tangan Kim Hiau-hong lantas merasa pa nas seperti dibakar, daging andjing itu rasanja seperti besi bakar. Keruan Hiau-hong me!ondjak2 kelabakan. Terpaksa ia lepaskan

pedangnja.

Kemudian Hok-liong Siansu memutar tubuhnja dan mendengus kepada Kim Hiau-hong: “Hm, pantas gurumu bilang kau ini sangat kedji dan tjulas, njatanja memang benar!”

Ia bitjara dengan menggunakan kepandaian “Thoan-im-djip-bit” atau mengirimkan gelombang suara sehingga jang mendengar hanja Kim Hiau-hong dan Mei-lan sadja. Seketika Mei-lan tergetar, ia merasa perbuatan Suhengnja itu memang terlalu rendah dan pengetjut.

Sebaliknja orang lain lagi ribut membitjarakan kelakuan Hok-liong Siansu jaag mengetok peti mati tadi, sebab mereka kenal Hwe-yam-djiu, ilmu pukulan tangan berapi, suatu kepandaian tunggal Hok-liong, dengan ketok2 peti mati seperti tadi bukan mustahil djenazah didalam peti sudah hantjur  lebur.

“Hok-liong keledai gundul,” demikian Pui Tek-piau lantas berteriak pula, “kau sudah membunuh Su-lothau, sekarang kau menghantjurkan majatnja pula, sungguh kedjam kau!” Namun Mei-lan jang seharusnja djuga mesti marah kepada Hok-liong Siansu ternjata termangu2 entah apa jang sedang dipikirkan.

Dalam pada itu Hok-liong sudah lantas berkata: “Apa kalian hendak berkelahi? Haha, marilah biar kuhadjar adat dulu kepada kalian kaum kerotjo ini. Hajolah keluar sana!”

Habis berkata, segera ia lemparkan pedang jang dirampasnja dari Kim Hiau-hong tadi. Tampaknja pelahan sadja ia lemparkan pedang itu, tapi tahu2 sendjata itu ambles hampir menghilang kedalam tanah.

Kagum sekali Pui Tek-piau atas Lwekang paderi sinting itu. Tapi iapun takmau kalah gertak, segera iapun undjukan kemampuannja, sekonjong2 ia melompat kedepan. ketika sampai diatas pedang jang menantjap didalam tanah itu, udjung kakinja sedikit menutul diatas gagang pedang, menjusul mana orangnja terus berdjumpalitan keluar pintu segesit kera.

Ketika belum lagi semua orang mengetahui apa jang telah terdjadi, tahu2 terdengar Hok-liong Siansu telah bertepuk tangan memudji: “Memang kera jang hebat, perkelahian ini tentu akan ramai sekali!”

Waktu semua orang memandang ketempat pedang jang menantjap didalam tanah tadi, ternjata gagang pedang dengan sebagian ketjil batang pedang itu sudah patah dan terpegang ditangan Hok-liong Siansu. Rupanja dengan sekali indjak dan sekali pantjal tadi, maka gagang pedang itu telah kena dipatahkan dan dipentalkan untuk menjerang Hok-liong Siansu, namun keburu ditangkap pa-deri itu. .

Begitulah, maka segera Hok-liong Siansu menjusul keluar kepekarangan didepan rumah. Dalam pada itu Pui Tek-piau sudah menantinja dengan bersiap2.

Ketika semua orang ikut menjusul keluar untuk menonton pertarungan itu, sementara itu Hok- liong dan Pui Tek-piau pun sudah mulai bergebrak dengan ramai. Tertampak angin pukulan menderu2 disertai hawa jang panas, dalam lingkaran duatiga meter semua orang merasa seperti digarang.

Tapi Pui Tek-piau dapat melajani lawannja dengan tidak kurang tangkasnja, ia melompat kesini dan meledjit kesana dengan gesit, sesuai dengan djulukannja sebagai Tjethiantaysung, ia dapat menggunakan kelintjahannja untuk menghindarkan setiap hantaman Hok-liong Siansu, bahkan djuga balas menjerang dengan mentjakar dan sebagainja.

Suatu ketika, mendadak Pui Tek-piau melompat madju dengan tjepat, sekaii tjengkeram, dengan tipu “Kim-kau-thiau-tho” atau si kera mentjuri buah Tho, segera perut Hok-liong Siansu hendak ditjakar.

Hok-liong kaget djuga oleh serangan lawan jang berani mendekat itu, tjepat ia menggeser kesamping dan kontan balas menghantam dengan telapak tangannja kelambung Tek-piau. Untuk menangkis terang tak sempat lagi, sedangkan serangan Hok-liong itu menutup djalan belakangnja, terpaksa Pui Tek-piau mendekkan tubuh dan tjepat menggunakan tutukan djarinja untuk memapak telapak tangan Hok-liong dengan gerak tipu “Hwe-tiong-dji-lat” atau mentjari beras didalam api.

Rupanja Hok-liong kenal betapa lihaynja tutukan djari itu, ma-ka tjepat ia melontjat mundur sambil melantjarkan hantaman pula kemuka Pui Tek-piau.

“Bagus!” seru Tek-piau, iapun memapak dengan suara hanta-man sehingga kedua telapak tangan terbentur, “plak”, telapak tangan mereka seperti lengket mendjadi satu, masing2 lantas menge rahkan tenaga sepenuhnja.

Sekali ini kedua orang saling mengudji Lwekang masing2, kedua orang sama2 berdiri tegak dengan mata melotot seperti ajam djago aduan. Semula Pui Tek-piau terdesak mundur dua tindak, lalu Hok-liong tergetar mundur tiga tindak, achirnja dari ubun2 kedua orang sama2 menguapkan hawa putih.

Melihat keadaan, kedua orang itu, para tokoh jang menjaksikan itu menduga bila tenaga dalam mereka sudah terlalu banjak dikerahkan, achirnja kedua orang pasti akan sama2 ruginja.

Begitulah kedua orang itu bertempur dengan sengit dan tampaknja pasti akan sama2 menggeletak bila tidak dilerai, namun dalam keadaan mengadu Lwekang setjara mati2an itu, tentu sadja tiada seorangpun jang berani memisah mereka apabila tidak mempunjai Lwekang jang djauh lebih  tinggi dari  mereka.

Dalam keadaan jang genting itu, tiba2 tertampak sesosok bajangan putih berlari keluar dari dalam rumah, orang itu mengatjung kan sehelai kertas sambil menerdjang ketengah2 pertarungan Hok-liong Siansu dan Pui Tek-piau itu sambil berteriak: “Harap kedua Tjianpwe berhenti dulu!”

Kiranja orang itu adalah Mei-lan. Karena datangnja terlalu tje-pat sehingga untuk mentjegahnja sudah terang tak keburu dan tam paknja dia akan segera tergentjet ditengah2 tenaga pukulan kedua djago itu.

Pada saat itu pula mendadak tertampak Tan Giok-ki mengajuntangannja, seketika Mei-lan merasa “Kiok-ti-hiat” didengkulnja terasa kesemutan, tubuhnja terus djatuh tengkurep kedepan.

Keruan semua orang terkedjut dan kuatir, semua orang menjangka maksud baik Giok-ki itu sebagai serangan kedji. Dengan gusar Kwantangbenghou Hay Thian-hiang dan Go-bi Sandjin melompat madju berbareng untuk mengadang didepan Tan Giok-ki. Se-dang Kim Hiau-hong jang djuga ikut menerdjang madju terus ajun pedangnja dan membatjok kepala Giok-ki.

Tampaknja djiwa Tan Giok-ki tentu akan melajang dibawah kerojokan tiga orang itu, pada saat itulah tiba2 dari sana melompat tiba seorang tua dengan berdjenggot putih, sekali orang tua itu mengebas lengan badjunja, kontan pedang Kim Hiau-hong itu tersampuk mentjeng kesamping, bahkan Hay Thian-hiong dan Go-bi Sandjin djuga tergetar mundur oleh angin kebasan jang hebat itu.

Menjusul orang tua itu kebaskan lengan badjunja lagi kesamping lain, seketika serangkum angin keras menjambar ketengah2 telapak tangan Hok-liong Siansu dan Pui Tek-piau sehingga kedua orang jang sedang mengadu Lwekang itu terpisah, mereka terhujung2 mundur dengan napas lega dan terhindar dari marabahaja

Pendatang itu kiranja taklaintakbukan adalah Pek-djiu-sin-tjiam Tan Ting-hay.

Dengan kereng Tan Tin-hay terdiri ditengah kalangan sambil mengerling sekeliling kepada para hadirin. Hanja dengan kebasan lengan badjunja sadja ia telah menjelamatkan djiwa Mei-lan dan memisah pertarungan Hok-liong Siansu dan Pui Tek-piau jang he-bat ini, maka betapa hebat Lwekang sidjarum sakti seratus tangan orang she Tan ini dapatlah dibajangkan.

Sudah tentu semua orang merasa kebat-kebit, seorang Hok-liong Siansu sadja sudah susah dilawan, apalagi sekarang kedatangan se-orang Tan Ting-hay jang lebih lihay pula, tampaknja sakit hati Su Mei-lan  harini tentu susah  dibalas.

Diantara para hadirin itu Hay Thian-hong adalah seorang jang pemberani, segera ia berseru: “Tan Ting-hay, mentang2 kau lebih kuat, lalu kau berani berbuat setjara tidak se-mena2. Kau sudah membunuh ajah orang, sekarang puteramu hendak mentjelakai anak perempuan orang pula, biar bagaimana angkara-murkamu, harini kami sudah pasti akan menuntut keadilan padamu. Utang djiwa bajar djiwa, djangan kau harap lolos dari peradilan orang banjak.”

Tan Ting-hay tertampak tertjengang djuga mendengar. teguran Hay Thian-hiong jang gagah berani itu. Tapi ia tidak mendjawab, mendadak lengan badjunja mengebas pula sehingga Su Mei-lan terangkat bangun oleh suatu tenaga jang kuat, kakinja jang kaku kesemutan tadi lemas dan dapat bergerak leluasa kembali.

“Hiantitli (keponakan jang baik), kedatanganku ini adalah untuk membikin terang perkara tewasnja ajahmu, apakah kau pertjaja bahwa pembunuh ajahmu adalah diriku?” tanja Tan Ting-hay.

Dengan termangu2 Mei-lan memandangi orang tua itu, tiba2 sinar matanja berubah tadjam, ia mengerling kesekeliling para hadirin, lalu menatap Tan Ting-hay lagi dan menggeleng kepala sebagai  djawaban pertanjaan orang tua  itu.

“Baiklah djika demikian, “ kata Tan Ting-hay sambil memandang kearah para hadirin. Lalu sambungnja: “Dan sekarang urusan terbunuhnja ajahmu kuambil oper, tindakan selandjutnja segera akan kuatur.”

Seketika semua orang mendjadi geger dengan adanja perubahan mendadak itu, dari tertuduh sekarang Tan Ting-hay akan men-djadi penuntut malah, habis siapakah pembunuh jang sesungguhnja?

“Diam, tenanglah!” tiba2 Ting-hay berseru. “Urusan ini tentu akan segera diibikin terang, perisfiwa pembunuhan ini harus kubikin beres. Djika para hadlirin ada jang meragukan aku sebagai pembunuhnja, bila ada jang dapat menundjukkan bukti jang njata dan masuk diakal, maka aku siap untuk segera menerima setiap akibat hukumannja. Aku orang she Tan ini bukanlah manusia jang takut mati.”

Sikap TanTing-hay biasanja ramahtamah, tapi ketika berbitjara sekarang sikapnja kereng dan utjapannja tegas. Sudah tentu semua orang terpengaruh dan suasana lantas tenang kembali seketika.

“Tanpepek, bukankah djarum ini adalah sendjatamu,” tiba2 Mei-lan bertanja samibil mengundjukkan sebatang djarum halus.

“Benar!” sahut Tan Ting-hay tanpa ragu2.

Karena pengakuan jang terus terang itu, seketika para hadirin gempar pula dan menuduh Tan Ting-hay hanja putar lidah sadja, sudah terang djarum jang menewaskan djiwa Su Djun-lui itu adalah miliknja, tapi masih berani berlagak orang jang tak berdosa.

Namun Mei-lan lantas tanja lagi: “Dan surat ini apakah berasal dari Tan-pepek?” — lalu ia menjodorkan seputjuk surat kehadapan Ting-hay.

Dan belum lagi surat itu diterima Tan Ting-hay, sekonjong2 Kim Hiau-hong memburu madju hendak merampas surat itu sambil berseru: “Adik Lan, buat apa kau banjak bitjara dengan manusia berhati binatang seperti dia!”

Tapi dengan tjepat Mei-lan sempat menarik kembali tangannja dan balas membentak: “Suheng, urusan kematian ajah akan kuselesaikan sendiri, tidak perlu kau ikut tjampur!” Kim Hiau-hong mendjadi mengkeret oleh damperatan itu. Na-mun ia tidak kurang akal, tiba2 ia, berseru kepada orang banjak: “Hehou-lotjianpwe dan para hadirin jang mulia, atas terbunuhnja Suhu, rupanja pikiran sehat Sumoay mendjadi terganggu. Padahal kematian

Suhu sudah djelas sebab-musababnja, bukti2 djuga sudah tjukup kuat, pembunuh2nja djuga sudah berada disini, hendaklah kita djangan mau tertipu lagi, marilah kita beramai2 menangkap mereka dahulu, kalau perlu kita tjintjang hantju-luluh mereka!”

Karena hasutan itu, semua orang agak terpengaruh dan sama ber-siap2 hendak menjerbu madju.

Sebaliknja Tan Ting-hay djuga tidak gentar, dengan muka membesi ia berkata dengan mendengus: “Hm, bukti? Sekali lagi bukti? Sekali lagi bukti? Aku djusteru ingin memberi bukti djuga!”

“Ja, memang buktinja sudah njata, aku sudah tahu djelas siapa pembunuhnja!” seru Mei-lan tiba2.

“Benar, anggaplah aku pembunuhnja!” timbrung Hok-liong Siansu dengan angin2an. “Tidak,” kata Mei-lan. “Pembunuh ajah bukankah Hok-liong Lotjianpwe dan djuga bukan Tan-pepek, tetapi adalah adalah manusia berhati binatang itu!” — sampai disini tiba2 djari Mei-lan menuding kearah Kim Hiau-hong.

Seketika muka Kim Hiau-hong tampak sebentar merah sebentar putjat, tjepat ia mendjawab: “Sumoay. ”

“Tutup batjotmu!” bentak Mei-lan. “Siapa sudi mendjadi Sumoaymu? Kau manusia berhati srigala, murid durhaka! Sedjak hari pertama waktu memeriksa kematian ajah aku sudah merasa tjuriga, sebab diatas medja tertaruh dua tjangkir teh, ini terang salah

satu kesalahan permainan sandiwaramu, sebab kedua Lotjianpwe jang hendak kau fitnah sebagai pembunuh ini biasanja tidak suka minum teh, tapi selalu minum arak. Hal ini tjukup diketahui ajah, makanja beliau tidak pernah menjuguh kedua Lotjianpwe itu de-ngan teh.

Besoknja ketika Tan-suheng berkundjung kemari, begitu menerdjang keluar segera kau menjerangnja setjara kedji, maksudmu hendak membunuh Tan-suheng agar peristiwa meninggalnja ajah ini meluas urusannja dan dengan demikian kau dapat melaksanakan maksud djahatmu. Apalagi tadi dengan pakaian berkabung diam2 kau membawa sendjata dan setjara tiba2 hendak menjerang Hok-liong Lotjianpwe, pantas Hok-liong Tjianpwe mengatakan ajah pernah bilang watakmu tjulas dan kedji. Kesemuanja itu sudah semakin mejakinkan rasa tjurigaku padamu, dan sekarang diperkuat lagi dengan surat jang kuketemukan ini.”

“Surat apakah itu?” tiba2 Pui Tek-piau rnenjela.

Air muka Mei-lan mendjadi merah djengah. Maka Tan Ting-hay jang telah mendjawab: “Itu adalah suratku kepada Suheng, surat lamaran!”

Mendengar ini, baru sekarang semua orang paham duduknja perkara. Rupanja diam2 Kim Hiau-hong sangat mentjintai Mei-lan, tapi lama kelamaan Su Djun-lui mengetahui sifat muridnja itu bukan manusia jang djudjur, tapi berhati tjulas. Maka diam2 orang tua itu ada maksud hendak terima lamaran keluarga Tan, jaitu lamaran Tan Giok-ki kepada Mei-lan. Hal inilah jang membangkitkan rasa sirik dan dendamnja Hiau-hong sehingga tidak segan2 mengatur siasat kedji untuk membunuh gurunja sendiri agar dapat mempersunting sang Sumoay.

Begitulah karena rahasianja terbongkar, maka Kim Hiau-hong mendjadi gugup, tapi ia masih tjoba membela diri: “Tuduhan Sumoay benar2 tidak beralasan! Habis, darimanakah datangnja dja-rum jang menewaskan Suhu itu?”

Namun Tan Giok-ki segera menerangkan bahwa pada kundjungannja jang dahulu ia pernah kehilangan sebatang djarum ketika diadjak latihan bersama Hiau-hong. Begitu pula tentang bekas hangus pukulan Hwe-yam-djiu ditapak tangan Su Djun-lui itupun adalah palsu. Karena kuatir bukti palsu itu diketahui, maka ia telah menghantjurkan djenazah sang guru diluar tahu Mei-lan. Dari itu Hok-liong Siansu telah ketok2 peti mati, rupanja dia memang sudah menaruh tjuriga. Dan ketika peti mati segera dibongkar, maka semua arang dapat menjaksikan isinja memang betul bukan djenazah, tapi adalah batu2  belaka.

Karena sudah terbongkar tipu muslihatnja, terus sadjAa Kim Hiau-hong hendak melarikan diri. Namun Su Mei-lan sudah bersiap sebelumnja, sambil membentak gusar, segera ia melompat madju dengan Ginkangnja jang tinggi, sekali pedangnja bergerak, tanpa ampun lagi punggung Kim Hiau-hong tertembus, ia hanja sempat mendjerit ngeri sekali, lalu roboh tak berkutik lagi, djiwanja melajang untuk menebus dosanja

TAMAT