Rahasia Kampung Setan Jilid 28

 
Jilid 28

TIAT-BlN SIE-SENG kembali dikejutkan oleh perbuatan pemuda itu, ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan olehnya, ia hanya merasa sikapnya agak aneh, maka tidak dihiraukan, malah ia berkata sambil tertaw a dingin: "Belum tentu, ucapan menyerahkan jiw a, rasanya masih terlalu pagi!" Diluar dugaannya, belum lagi ia menutup mulutnya, mendadak merasakan suatu tenaga yang hebat sedang menggempur dirinya.

Sebagai satu ahli  silat kenamaan, segera dapat mengetahui bahwa serangan Ho Hay Hong itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang dinamakan Ceng-khie.

Dengan cepat ia mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh, buru-buru lompat melesat.

Dengan alis berdiri, Ho Hay Hong mendadak membalikkan tenaganya, seolah-olah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya

Tiat-bin Sie-seng sudah cukup gesit, tetapi tokh masih agak terlambat, kekuatan dari serangan Ho Hay Hong, seolah-olah menekannya semakin hebat.

Dada Tiat bin Sie seng seperti digenjot oleh martil besar, orangnya terbang melayang bagaikan layangan yang putus talinya.

Di tengah udara, mulutnya menyemburkan darah.

Ho Hay Hong sendiri juga terhuyung-huyung, ia coba mempertahankan posisinya, matanya mengawasi tubuh Tiat bin Sie seng yang terbang melayang sambil tertaw a dingin.

Tiat-bin Sie seng sesungguhnya tidak kecewa menamakan diri sebagai orang kuat dari gunung Lo-lo- san meskipun badannya terapung di tengah udara dan sudah menyemburkan darah, ia masih bisa mempertahankannya dan melayang turun ke tanah. Tindakan Tiat bin sieseng untuk menyelamatkan dirinya itu, juga menarik perhatian Ho Hay Hong.

Pada saat itu, keadaannya sendiri juga sudah terlalu lelah, sudah tidak mempunyai tenaga lagi  untuk melanjutkan pertempuran.

Dengan kaki sempoyongan Tiat bin sieseng mengeluarkan obat pil dari dalam botol obatnya yang lalu ditelannya, matanya menatap wajah Ho Hay Hong. Kemudian berkata padanya.

"Tak disangka kau juga melatih ilmu ceng-khie, Tiat bin sieseng kali in i benar-benar sudah kesalahan mata sudah seharusnya menerima kekalahan ini. Biarlah lain waktu saja kita membuat perhitungan lagi!"

Sehabis berkata demikian, ia lantas berlalu dengan langkah kaki yang berat sekali.

Rombongan laki-laki berbaju ungu itu kabur lebih dulu, seolah-olah tidak mau memperdulikan nasib orang yang dijagoi.

Ho Hay Hong mengaw asi berlalunya Tiat bin Sie-seng, tiba-tiba teringat sesuatu: ”pantas hari ini aku seperti orang yang kehabisan tenaga, kiranya tadi malam aku sudah menghamburkan banyak tenaga untuk menolong Tiat Chiu Khim.”

Ia tersenyum sendiri, pikirnya: ”Tang-siang Sucu dimasa h idupnya selalu tidak bisa hidup denganku, tetapi setelah binasa kalau ia tahu bahwa aku sedang berusaha untuk menuntut balas dendam untuknya, ia pasti merasa puas.” Ia berpikir lagi: ”kakek berdiam diutara, tidak tahu keadaan sebenarnya tentang diri Tang siang Sucu, maka kesan terhadapnya juga masih baik, bahkan ingin sekali menemuinya. Nanti setelah mengetahui bahwa cucunya sudah binasa, entah bagaimana sedihnya.” Pada saat itu tenaganya sudah habis, bertahan juga merasa susah, hingga diam-diam ia mengeluh !

”Jikalau saat ini Ing-Siu sudah tiba dan menunggu terlalu lama, sehingga tidak sabaran dan meninggalkan aku, selanjutnya ia pasti menyiarkan berita bahwa aku telah mengundurkan diri sebelum pertandingan berlangsung. Bagaimana aku ada muka untuk menemui saudara-saudaraku didaerah utara?” Demikian ia berpikir.

Selagi dalam keadaan bingung, dari jauh tampak seorang tua berjenggot panjang dan putih sambil menggandeng seekor keledai, berjalan menghampiri.

Diatas punggung keledai terdapat tumpukan kayu kering, jelas ia baru pulang mencari kayu dari hutan.

Menyaksikan keadaan itu, lalu berpikir: ” lebih baik menunggu penghidupan seperti orang tua ini, tanpa sedih. Aku sendiri meskipun berkepandaian t inggi, belum tentu bisa hidup senang dan tentram seperti dia !”

Ia terus memandang orang tua itu, sementara dalam hatinya terus berpikir: ”penebang-kayu biasa saja seperti dia, tokh bisa hidup sampai demikian tua, sebaliknya aku sendiri yang memiliki kepandaian t inggi, belum tentu bisa hidup hingga demikian tua.”

Orang tua itu ketika nampak Ho Hay Hong memandang dirinya dengan penuh perhatian, lalu menundukkan kepala. Ho Hay Hong tiba-tiba mendapat satu pikiran: ”mengapa aku tidak meminjam keledainya.”

Ia segera, menghampiri orang tua itu dia berkata: "Kakek, aku ada suatu urusan penting, hendak

meminjam keledaimu, entah."

Semua uang yang ada dalam sakunya dikeluarkan, diselipkan ditangan orang tua itu seraya katanya:

"Uang ini untuk harganya keledai in i, kakek pikir bagaimana ?"

Orang tua itu meskipun tidak tahu berapa banyak uang perak dalam tangannya, tetapi setelah dihitung diam-diam ia duga uang itu cukup untuk membeli tiga ekor keledai, maka dengan senang hati menyerahkan keledainya kepada Ho Hay Hong.

Ia masih khawatir Ho Hay Hong kurang senang, mulutnya berkata.

"Baik, baik, keledai ini kujual kepadamu."

Buru-buru ia menurunkan kayu keringnya, dibawanya seikat lantas berlalu.

Ho Hay Hong menarik napas lega, ia pergi untuk menemui musuhnya dengan menunggang keledai.

Dengan mendadak, dari belakangnya terdengar suara orang memanggil padanya: "Cianpwee, tunggu dulu !"

Ho Hay Hong teringat, kemudian ia merasa geli. Sebab Sebutannya cianpwee, sesungguhnya tidak tepat bagi seorang yang masih berusia muda seperti dirinya.

Oleh karenanya, maka ia tidak menghiraukannya dan bedal keledainya. Dengan mendadak sesosok bayangan kuning berkelebat melayang dari belakang dirinya, kemudian berdiri di suatu tempat tidak jauh di hadapannya, kemudian berkata.

"Cianpwee tunggu dulu !"

Keledai Ho Hay Hong kaget, binatang tersebut mengeluarkan suara kaget, kaki depannya di angkat tinggi-tinggi.

Ho Hay Hong yang berada diatas  punggungnya, karena dalam keadaan kehabisan tenaga maka tak ampun lagi badannya kehilangan keseimbangan dan jatuh di tanah.

Ia hendak berteriak, diluar dugaannya tubuhnya sudah disambut oleh tangan orang.

Sambil mengeluarkan rint ihan pelahan ia bertanya: "Kau siapa ?"

Dia berpaling, tampak olehnya wajah seorang pemuda

sedang memandang dirinya. Pemuda itu kira-kira baru berusia enam belas tahun, wajahnya putih bersih, bentuk panca indra bagus sekali, jelas keluaran dari keluarga baik-baik.

Karena ia tidak menjawab, ia melanjutkan pertanyaan. "Kau siapa? Mengapa panggil aku cianpwe ?"

Pemuda tampan itu membuka bibirnya, tampak giginya yang berbaris indah sekali.

"Cianpwee, namaku Lie Hui!" demikian jawabnya sambil tertaw a. "Ada keperluan apa ?" tanya Ho Hay Hong sambil mengerutkan keningnya.

Pe rtanyaan itu baru saja keluar dari mulutnya, kepalanya mendadak dirasakan berat hingga terpaksa ditundukkan.

Ia tahu benar bahwa itu adalah akibat semalaman yang sudah menggunakan tenaga terlalu banyak untuk menolong jiwa kekasihnya.

Kesan Ho Hay Hong sangat baik terhadap pemuda itu, tetapi keadaannya sendiri saat itu buruk sekali, maka agak mempengaruhi perasaannya. Katanya dengan agak kurang senang.

"Kau denganku masih asing, juga t idak ada hubungan apa-apa. Kalau kau ada urusan sebentar kita bicarakan lagi. Sekarang tolong bimbing aku naik keatas keledai."

Pemuda itu setelah mendengar perkataan Ho Hay Hong, senyum yang tadi masih tersungging dibibirnya mendadak menghilang dan diganti dengan sikap sedih.

Entah kenapa, Ho Hay Hong juga menaruh simpatik terhadap pemuda itu.

Ia memandang wajah pemuda tanggung itu, perasaannya semakin tertarik. Ia duga pemuda pasti sedang mengalami kesusahan.

Ia sendiri juga sedang dirundung nasib malang, dengan sendirinya t imbul rasa simpati.

Kedua pipi pemuda yang tampan dan putih halus, saat itu mendadak penuh air mata, dengan suara sedih dan penuh keramahan ia berkata: "Cianpwee, maafkan aku, boanpwee tidak sengaja mengganggu cianpwee, hanya... hanya."

Mendadak ia lihat wajah Ho Hay Hong menjadi pucat, maka buru-buru berkata: "Cianpwee, kau terluka?"

"Luka hanya sedikit saja, tetapi aku mungkin akan binasa dalam waktu satu dua hari in i " jawab Ho Hay Hong sambil tertaw a.

Ia sebetulnya tidak ingin mengeluarkan perkataan demikian, tetapi entah apa sebabnya, mendadak ada suatu pikiran yang mendorongnya mengeluarkan perkataan itu.

Pemuda itu terkejut, tanyanya:

"Cianpwee, kau. kau tidak mungkin. Kau demikian gagah, pertempuran tadi aku sudah menyaksikan semua, kegagahanmu benar-benar sangat mengagumkan hatiku."

"Itu hanya akan menjadi suatu kenang-kenangan saja. Lie Hui, lekas b imbing aku naiki keatas keledai!" kata Ho Hay Hong.

Sebagai seorang pemuda berhati keras bagaikan baja, meskipun Saat itu ia tahu bukan tandingan Ing-sui, tetapi ia masih bertekad hendak melaksanakan tersebut. Pikirnya: ”Hm, Ing-sui, dan kakek penjinak garuda, kalian dua iblis yang berkedok manusia, asal aku Ho Hay Hong satu hari masih hidup, pasti akan memperhitungkan kejahatanmu."

Dengan perasaan agak kecew a, Lie Hui berkata: "Cianpwee, kau tidak suka membantu boanpwee?" Mata Ho Hay Hong yang sayu melirik wajah pemuda itu, mendadak t imbul rasa kasihan.

Sesaat itu, entah darimana datangnya kekuatan, ia mendadak merasa ada itu kekuatan untuk membela pemuda itu. Ia mengempos semangatnya, mendadak melepaskan diri dari bimbingan pemuda itu dan lompat turun dari atas keledai.

Muka pemuda itu mendadak merah, tetapi dengan cepat berusaha menutupinya.

Ho Hay Hong tercengang, entah apa sebabnya pemuda itu menunjukkan sikap malu demikian ?

Selagi hendak menggandeng keledainya, pemuda itu sudah mendahului mewakilinya. Katanya dengan nada minta dikasihan i.

"Suhu, keledaimu ada disini!"

Mendengar perkataan itu, Ho Hay Hong kembali tercengang, entah apa sebabnya pemuda itu mendadak merubah panggilannya?

Pemuda itu ketika melihat Ho Hay Hong tidak menolak dipanggil suhu, nampaknya sangat girang. Katanya pula sambil tersenyum!

"Suhu! Suhu naik diatas kuda, biarlah Lie Hui yang menggandeng. Bagaimana?"

Sejenak Ho Hay Hong ragu, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kau tak usah panggil aku suhu, jangankan karena kau belum lama mengenal aku, sedangkan usiaku yang demikian muda juga tidak pantas menjadi suhumu." Sehabis berkata ia lalu lompat keatas keledainya dan membiarkan keledainya digandeng oleh pemuda itu.

Mendengar kata-kata Ho Hay Hong, entah apa sebabnya Lie Hui kembali mengalirkan airmata. Bibirnya bergerak, tetapi perkataan yang hendak keluar dari mulutnya mendadak ditelannya kembali.

Sejenak ia nampak ragu-ragu, akhirnya berkata: "Suhu kau, kau"

Ho Hay Hong yang pikirannya sudah dipenuhi oleh tekadnya hendak menempur Ing-siu tahu apabila tidak lekas pergi, pasti akan diganggu terus oleh pemuda itu, sehingga menelantarkan usahanya. Terpaksa ia keraskan hati, berkata dengan tegas:

"Aku bukan suhumu, selanjutnya kau juga jangan demikian memanggil aku."

Kemudian ia bedal keledainya, dilarikan dengan pesat.

Wajah Lie Hui berubah seketika, sebentar barulah lompat melesat dengan lincahnya, hendak merint angi berlalunya Ho Hay Hong, katanya dengan marah:

"Cianpwee, percuma saja kau mempunyai kepandaian setinggi itu ternyata apakah kau masih terhitung orang atau satu pendekar budiman?"

Matanya memandang kearah jauh, agaknya mengingat sesuatu kejadian hebat yang menggiriskan hatinya. Diwajahnya yang putih sebentar bentar terlint as suatu perasaan kebencian, sebentar kemudian ia berkata lagi:

"Cianpwee, membasmi kejahatan dan melindungi yang lemah, adalah suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku dirinya pendekar. Apakah kau ...kau. "

Sekaligus ia mengeluarkan serentetan kata-kata berapi-api, karena menekan emosinya yang meluap, hingga tenggorokannya seperti terkancing dan t idak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

Ho Hay Hong mendengarkan dengan wajah menunduk pelahan-lahan merasa agak malu.

Lie Hui menghela napas panjang, kemudian berkata sambil menundukan kepala:

"Maaf, cianpwee, oleh karena tidak sanggup menahan gejolaknya perasaan hatiku, sehingga mengeluarkan perkataan yang terlalu menuntut aku aku"

Ho Hay Hong dapat memahami perasaan hatinya maka lalu berkata:

"Tidak apa, aku tidak salahkan kau!"

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula dengan tegas.

"Baik, Lie Hui. Kau ada kesulitan apa? Coba ceritakan!" "Tidak!" kata Lie Hui. "Kecuali jika cianpwee menerima

baik aku sebagai muridmu."

Mendengar pernyataan itu. Ho Hay Ho merasa sulit. Pikirnya: ”musuhku adalah seorang yang berkepandaian sangat t inggi, dalam pertempuran ini mungkin tidak ada harapan hidup lagi, mengapa aku harus menyusahkan orang dan menyusahkan diriku sendiri?” Ia lalu berkata sambil tersenyum getir: "Ini dengan terus terang, aku sendiri juga tidak bisa mengambil keputusan!"

"Kenapa?"

Lie Hui menunjukan sikap heran tanyanya pula: "Cianpwee,  kau adalah seorang  jago muda yang

banyak harapan, mengapa mudah putus asa?"

Mendengar perkataan itu, Ho Hay Ho tertawa terbahak-bahak.

Suara tertaw anya yang agaknya mengandung suara hati yang sedang risau, Lie Hui tahu bahwa ucapannya yang tak disengaja itu mungkin merusak  hatinya,  maka ia buru-buru menyatakan penyesalannya:

"Cianpwee semua adalah aku yang tidak baik sehingga menimbulkan kemarahanmu, aku bersedia menerima hukumanmu!"

Kata-katanya itu diucapkan dengan nada penuh rasa penyesalan dan lemah lembut sehingga menimbulkan rasa kasihan bagi yang mendengarkan.

Demikian juga dengan Ho Hay Hong, maka lalu berkata sambil menggelengkan kepala: "Kau tidak salah!"

Dengan mata bersinar tajam ia berkata pula:

"Yang bersalah adalah keadaan, adalah beberapa gelintir manusia yang menganggap dirinya orang-orang besar padahal manusia bermental rendah yang tidak tahu malu!"

"Cianpwee, kau seolah-olah ada banyak musuh?" "Dugaanmu tidak salah, justru karena musuhku itu terlalu lihay, maka aku tidak berani menjamin keselamatan diriku sendiri."

"Dengan terus terang aku juga mempunyai banyak musuh." kata Lie Hui lirih sambil menghela napas.

"Siapa-siapa musuhmu, coba kau sebutkan satu persatu mungkin aku kenal."

"Anak buah golongan Kuku berbisa yang jahat, semua adalah musuh-musuhku!"

Ketika menyebut nama Kuku berbisa, anak itu mendadak menjadi marah, wajahnya penuh rasa kebencian, lama sekali baru bisa melanjutkan kata- katanya.

"Aku benci sekali terhadap orang-orang  golongan Kuku berbisa itu. Sungguh mati, jika aku sanggup, aku pasti basmi kawanan orang-orang jahat itu!"

Dalam keadaan marah, wajahnya tampak merah semringah, tetapi sebentar sudah lenyap lagi.

Ho Hay Hong tidak melihat, hanya bertanya dengan heran:

"Kau dengan golongan Kuku berbisa ada permusuhan apa ?"

"Mereka telah membunuh ayah bundaku, menghancurkan rumah tanggaku, aku ingin sekali bisa membasmi orang-orang itu."

Ho Hay Hong baru mengerti, bahwa pemuda itu ada permusuhan besar dengan orang-orang dari golongan Kuku berbisa, pantas saja demikian membenci kepada mereka ! Tetapi ia masih belum mau percaya begitu saja, maka lalu bertanya:

"Orang-orang yang bertempur denganku tadi, semua adalah orang-orang dari golongan Kuku berbisa, mengapa kau tidak mau menggunakan kesempatan itu untuk menuntut balas dendam?"

Mendengar pertanyaan itu, Lie Hui menundukkan kepala dan berkata dengan hati panas.

"Kepandaian ilmu silatku masih terlalu rendah, aku khaw atir sebelum berhasil menuntut  balas,  sebaliknya jiw aku sendiri yang melayang, maka aku harus giat belajar ilmu silat, kemudian baru bisa menuntut balas."

Ho Hay Hong baru mengerti maksud pemuda itu, pantas ia hendak mengangkat dirinya menjadi guru kiranya ia sendiri belum memiliki kepandaian menghadapi musuh-musuhnya.

Tetapi keadaannya sendiri juga tidak lebih baik daripada pemuda itu, meskipun ia bersedia membantu, tetapi barangkali juga t idak akan tercapai maksudnya.

Ia sebetulnya merasa Simpati terhadap Li Hui, tet api ia sendiri belum tahu bagaimana nasibnya, mana ada waktu untuk memberi pelajaran ilmu silat padanya.

Ia kini dihadapkan kepada dua pilihan: bantu padanya atau tolak permintaannya?

Pelahan-lahan ia angkat muka, sementara hatinya masih berpikir: ”kalau aku terima baik permint aannya untuk membantu, aku sendiri masih ada banyak urusan yang belum kuselesaikan. Dan kalau aku menyelesaikan urusanku sendiri lebih dulu, bagaimana dengan dia?” Pikirannya bimbang, tidak bisa mengambil keputusan.

Lie Hui terus memandangnya dengan perasaan tegang, agaknya ia tahu bahwa Ho Hay Hong pada saat itu juga sedang menghadapi kesulitan besar dalam soal yang menyangkut dirinya.

Ho Hay Hong merasa bahwa peristiw a yang menimpa diri pemuda itu lebih hebat dari pada diri sendiri,  lantas ia lalu mengambil keputusan tegas.

"Baiklah!  Untuk  sementara  aku  terima  baik  permint aanmu," demikian ia berkata.

"Hanya, ini masih melihat bagaimana nasibmu, mungkin aku masih bisa hidup dan membantu kau melaksanakan cita-citamu."

Ia tahu bahwa harapan hidup baginya tipis sekali, tetapi ketika ia menyaksikan sikap yang patut dikasihani pemuda itu, ia lalu mengambil keputusan yang tidak mengecewakan pemuda itu.

Dengan satu senyuman yang dipaksa, ia berkata pula: "Jikalau nasibku baik, bisa menjatuhkan musuhmu,

maka pembalasan dendammu ini, boleh aku nanti yang melaksanakan !"

Mendengar perkataan itu, bukan kepalang girangnya Lie Hui, buru-buru jatuhkan diri lutut dihadapan Ho Hay Hong sambil berkata.

"Terima kasih atas kebaikan Suhu, Lie Hu tidak akan melupakan untuk selama-lamanya!"

Entah bagaimana, dalam keadaan girang seperti itu, pipi Lie Hui kembali menjadi merah. "Bangun, bangun, jangan melakukan upacara terlalu besar. Aku sudah terima baik permint aanmu, sudah tentu tidak menyesal. Kau jangan khaw atir!"

Ia dongakkan kepala melihat keadaan cuaca, ternyata matahari sudah mulai mendoyong ke barat. Karena urusan sendiri sangat penting, maka tidak mau membuang tempo lagi. Ia berkata lagi.

"Lie Hui kau bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh ?"

Lie Hui mengedip-ngedipkan mata yang lebar agaknya merasa bingung, tetapi ia tidak berani berlaku ayal maka lalu menjawab dengan sikap hormat.

"Murid diwaktu masih anak-anak, pernah  belajar sedikit dari ayah, tetapi terlalu jauh dari pada bisa."

Sehabis berkata matanya memandang Ho Hay Hong dengan tidak berkedip. Kemudian menanya lagi dengan perasaan heran:

"Suhu, mengapa kau tanya soal ini!"

Baru pertama kali Ho Hay Hong dipanggil suhu, sudah tentu merasa agak canggung.

"Ilmu meringankan tubuhmu sekarang sudah  mencapai taraf bagaimana? Katakan saja terus terang, tak usah malu-malu!" kata Ho Hay Hong.

Lie Hui tersenyum, pada dua pipinya  tampak tegas dua sujennya

"Menurut ayah, kepandaian ilmu meringankan tubuhku, katanya sudah mendekati ketaraf Co-siang-hui!" Co-siang-hui berarti : Terbang diatas rumput. Ho Hay Hong merasa agak kecewa, katanya:

"Oh, itu masih selisih terlalu jauh. Menurut kepandaian ilmu meringankan tubuhmu pada dewasa in i, barangkali juga belum bisa mengejar larinya keledai!"

Lie Hui agaknya merasa malu, ia menundukkan kepala dengan muka merah.

Ho Hay Hong segera mengerti, dengan tanpa disengaja ia sudah menyinggung perasaan pemuda itu, maka kemudian ia lalu berkata:

"Tetapi, kau juga t idak perlu putus harapan. Asal aku beruntung tidak sampai mati dan bisa terlepas dari cengkeraman iblis, aku pasti menurunkan semua pelajaranku padamu!"

Lie Hui pelahan-lahan angkat muka, dari matanya dapat diduga perasaan hatinya pada waktu itu, penuh rasa girang dan berterima kasih.

"Suhu, untuk apa kau tadi menanyakan soal ini?

Bisakah suhu beritahukan padaku?"

"Aku akan pergi kedanau Keng-liong-tie dengan segera untuk menghadiri suatu pertemuan. Perjalananku kali ini sangat penting bagi nasibku selanjutnya, orang yang menjadi musuhku itu berkepandaian luar biasa, apa lagi hatinya kejam dan tangannya ganas, ilmu meringankan tubuhnya juga."

Berkata sampai disitu, mendadak diam, ia khawatir akan menyinggung perasaan Lie Hui.

"Begini saja baiknya, aku sekarang ke danau Keng- liong-tie seorang diri, dan kau pergi kekota mencari sebuah rumah penginapan, untuk sementara kau boleh diam disitu menunggu aku. Kalau tidak terjadi apa apa atas diriku, besok aku bisa menyambut kau!"

"Danau Keng-liong-tie?" tanya Lie Hui dengan penuh keheranan. "Kau masih hendak pergi kesana? Suhu, apakah tidak boleh kalau t idak pergi?"

Ia agaknya dapat menduga apa yang akan terjadi disana, rasa khawatir sangat mengganggu hatinya.

Ia juga tahu bahwa "pertemuan" yang dimaksudkan oleh Ho Hay Hong ditepi danau itu adalah suatu pertempuran, dan antara dua jago rimba persilatan yang akan disaksikan oleh tokoh-tokoh terkemuka di rimba persilatan.

Dan dua jago yang akan bertanding itu tentunya antara suhunya sendiri dengan jago tua yang bernama Ing-Sui apakah ?

Ia tidak berani memikirkan lagi, mendadak terdengar suara Ho Hay Hong: "Haha, aku harus pergi, sudah tentu meski pergi! Danau Keng-liong-tie tidak boleh  ketinggalan aku. Haha, Keng-liong-tie danau Keng-liong- tie kan merupakan suatu tempat bersejarah bagiku:"

Wajahnya berubah, katanya pula sambil tertaw a: "Tetapi, ia mungkin juga akan menjadi tempat

kuburanku!"

Wajah Lie Hui pucat, matanya memandang suhunya yang sudah seperti seorang gila. Pikirannya terumbang- ambing antara kekhawatiran dan ketakutan, ia tidak tahu bagaimana harus berbuat.

"Kabarnya salah satu dari dua orang kuat yang hendak mengadu kekuatan didanau Keng-liong-tie itu bernama Ho Hay Hong, apakah itu suhu sendiri?" demikian ia bertanya.

Kemudian dengan nada penuh tanda tanya ia bertanya lagi.

"Suhu, apakah suhu adalah Bengcu dari golongan rimba hijau daerah utara?"

Ho Hay Hong menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan pemuda itu, kemudian  berkata  sambil tertaw a girang:

"Dengar, kau boleh tunggu aku satu hari besok aku tidak datang menyambut kau."

Tenggorokannya mendadak terkancing, tidak dapat melanjutkan kata-katanya, setelah batuk-batuk dua kali, ia berkata lagi dengan suara agak serak:

"Jikalau lew at besok pagi aku masih belum datang menyambut kau, waktu itu mungkin sudah rebah di tepi danau Keng-liong-tie sebagai mayat. Kau juga t idak usah menunggu lagi. Kau boleh mencari suhu yang lebih pandai dari padaku!"

Memandang wajah murung dari muridnya, t imbul rasa pilu dalam hati Ho Hay Hong.

Ia juga tidak dapat menjelaskan, rasa simpatik terhadap anak muda itu timbul karena tali persahabatan, ataukah karena menemukan seorang yang mengalami nasib serupa dengan dirinya.

Ia pesan lagi wanti-wanti:

"Ingat, lewat besok pagi kalau aku tidak datang menyambut kau, anggap saja aku sudah mati dan kau boleh mencari guru lain yang berkepandaian lebih tinggi dariku. Lupakan aku tahu tidak?"

Sehabis meninggalkan pesannya, ia bersiul panjang untuk melampiaskan rasa sedihnya, kemudian berlalu meninggalkan Lie Hui yang berdiri bengong seorang diri.

Lie Hui memandang berlalunya Ho Hay Hong dengan mata berkaca-kaca dan hati pilu. Ia berhasil menemukan seorang guru kenamaan, Tetapi, guru itu kini sedang dirundung nasib buruk, dan apa yang tidak habis dipikirnya ialah, apa sebab ia sampai kebent rok dan bermusuhan dengan Ing-sui ?

Jago tua yang namanya pernah  menggemparkan rimba persilatan itu, diw aktu ia masih anak-anak, sudah sering dengar nama jago-jago itu disebut-sebut oleh orang-orang tingkatan tua

Sementara itu, dimata Ho Hay Hong yang masih terbayang-bayang wajah muridnya. Ketika ia coba berpaling, ia masih tampak muridnya berdiri bagaikan patung dan melambaikan tangannya sambil mengusap airmatanya.

Dari jauh ia masih mengingatkan lagi kepada muridnya sambil melambaikan tangan:

"Ingat pesanku baik-baik, harap besok bisa bertemu lagi!"

Dengan menahan perasaannya sendiri, ia bedal keledainya hingga lari semakin pesat.

Dalam waktu sekejap mata, Ho Hay Hong sudah tiba ditempat yang dituju. Tempat itu sekitarnya penuh pohon besar ditepi danau terdapat sebuah tanah luas kira-kira delapan tombak persegi, tanah kosong itu diatur demikian rapi, agaknya memang disediakan untuk orang pertandingan ilmu silat.

Ditengah-tengah lapangan, berdiri sebuah tiang besar yang diukir oleh seekor naga.

Ho Hay Hong tambat keledainya disebuah pohon besar lalu berjalan menuju ketengah lapangan.

Disekitar lapangan sudah dipenuhi oleh lautan manusia yang menimbulkan suara riuh.

Diam-diam ia tertaw a bangga, dengan tak disangka- sangkanya, belum seberapa lama  berada didaerah selatan namun ia sudah menarik banyak perhatian dari orang-orang rimba persilatan.

Perasaannya agak tegang, ia tahu dalam pertempuran ini, kecuali bertahan sekuat tenaga, juga masih memerlukan bantuan nasib.

Ia berada disudut lapangan, duduk berdiam memulihkan kekuatan tenaganya.

Selesai memulihkan tenaganya, matanya mencari-cari dibawah tiang berukiran naga, tampak duduk seorang tua tinggi besar.

Orang tua itu memakai rompi lebar, berpakaian pendek ringkas, sebentar-sebentar tersenyum sambil mengurut-urut jenggotnya yang putih panjang sikapnya sangat jumawa. Dia adalah Ing-siu yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan.

Ing-siu duduk menghadap keselatan, kepalanya diangguk-anggukan berulang-ulang kepada para hadirin yang berada diseputar lapangan, kadang-kadang juga meraba raba gagang pedang saktinya.

Kali in i, untuk kedua kalinya ia muncul dikalangan Kangouw, memang disambut hangat oleh kawan- kawannya didunia Kangouw. hingga ia merasa bangga dan gembira.

Ho Hay Hong merasa tidak senang melihat sikap musuhnya, ia merasa sangat mual.

Disamping Ing-siu. berdiri seorang jago pedang pertengahan umur yang sikapnya gagah.

Jago pedang ini nampaknya sangat gelisah, sebentar menengok kebarat, sebentar menengok ke timur, seolah- olah ada yang dicari.

Ho Hay Hong mau menduga bahwa orang yang dicari itu adalah dirinya sendiri. Ia menduga pasti bahwa jago pedang itu kalau bukan kaki tangannya, tentu muridnya Ing-siu.

Diam-diam menghela napas, karena pihak lawannya sudah siap dengan sepenuh tenaga. Sedang ia sendiri sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga, hingga badannya masih merasa lemas, nampaknya sudah tidak ada harapan untuk merebut kemenangan.

Pada saat itu, ia mengharap dengan sangat ada orang yang terdekat dengannya, muncul dihadapan matanya, supaya ia boleh meninggalkan pesannya yang terakhir ia tidak suka bisa secara konyol.

Kekuatan tenaga dalamnya pelahan-lahan mulai pulih kembali, tetapi belum seluruhnya. Ia tersenyum pahit, dalam hatinya berpikir, biarpun kekuatanku sudah pulih semua barangkali juga bukan tandingan Ing-siu. Apa yang dikatakan oleh Chiu Khim memang benar.

Ia merasa dirinya kurang tenang, karena menuruti hawa napsu, sehingga menimbulkan kesalahan besar dalam keadaan sekarang ini.

Kembali ia menarik napas panjang. Ketika ia memandang kearah jago pedang itu lagi, jago pedang itu nampaknya sudah menunggu dengan tidak sabaran, lalu bisik-bisik kepada empat wanita bersanggul yang berdiri disampingnya, kemudian menganggukkan kepala kepada orang yang memegang gembreng. Sebentar kemudian suara gembreng berbunyi nyaring.

Ketika suara gembreng itu menggema di udara, suara riuh para hadirin segera sirap, tidak satupun yang membuka suara.

Secepat kilat semangat Ho Hay Hong terbangun ketika mendengar suara gembreng itu.

Ia teringat kembali bagaimana gagahnya ia ketika menghadapi pemimpinnya dengan rimba hijau daerah utara, hanya seorang diri ia berhasil merubuhkan banyak orang kuat dari golongan rimba hijau.

Sehingga dalam waktu sekejap mata namanya menjadi terkenal, dan kemudian menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara. Tetapi mengapa sekarang demikian gelisah?.

"Hm ! Ing-siu belum tentu seorang jago yang sudah kebal, aku harus merobohkannya." demikian ia berpikir. Mana semangatnya lalu berkobar. Pada saat itu, jago pedang pertengahan umur itu berjalan dengan pelahan, lebih dulu memberi hormat kepada para hadirin, kemudian berkata:

"Tuan-tuan yang terhormat, pertemuan kaw an-kawan rimba persilatan hari, ini juga merupakan suatu pertemuan terbesar selama beberapa puluh tahun ini. Atas kedatangan dan kesediaan tuan-tuan untuk menjadi saksi dalam pertempuran ini, siauw -te disini atas nama suhu mengucapkan banyak-banyak terima kasih "

Ia berhenti sejenak dan tersenyum. "Tentang suhu siaot ee. Ing-siu locianpwee. tuan-tuan tentunya sudah kenal baik, sebabnya suhu mengadakan pertandingan ini dengan Ho Bengcu karena tertarik oleh kepandaian dan kegagahan Ho Bengcu, yang dalam usia sangat muda sudah berhasil menduduki tempat demikian tinggi dalam rimba persilatan daerah utara.

”Siaotee sendiri meskipun belum pernah  bertemu muka dengan Ho Bengcu, tetapi dari perbuatan- perbuatannya selama beberapa tahun ini, yang selalu menggemparkan rimba persilatan, kalau tidak memiliki kepandaian sungguh-sungguh, tidak mungkin dapat mengelabui mata orang banyak.

”Maka Siaotee minta dengan hormat agar supaya tuan-tuan memberikan keputusan yang adil.” Ia berhenti sesaat, matanya berputaran.

"Lagi pula, siapa-siapa yang kiranya ada permusuhan diantara tuan-tuan, juga boleh mempergunakan kesempatan ini mengadakan perhitungan sekalian. Menang atau kalah, harus diputuskan dengan suatu pertandingan yang adil dan menggunakan kepandaian masing-masing yang sebenarnya." Ia berhenti lagi sejenak untuk menunggui sirapnya tepuk tangan riuh dari para penonton, kemudian mendongakkan kepala untuk melihat keadaan cuaca, kemudian berkata pula:

"Sekarang waktunya sudah tiba, tetapi masih belum tampak Ho Bengcu, apakah"

Matanya celingukan mencari-cari kesekitarnya, kemudian melanjutkan kata-katanya.

"Mungkin Ho Bengcu telah merubah maksudnya semula, t idak suka unjukkan diri dihadapan tuan-tuan"

Berkata sampai disitu, ia tertaw a nyaring dua kali kemudian berpaling dan berkata kepada salah satu dari empat wanita:

"Thian Hiang, Siap tabuh gembreng."

Salah seorang dari empat w anita, yang wajahnya paling cantik, pelahan-lahan mengangkat gembreng ditangannya, menantikan perint ah.

Jago pedang itu berkata pula: "Apabila gembreng ini nanti bersuara, ini berarti bahwa Ho Bengcu tidak memenuhi janjinya, untuk datang kemari mengadakan pertandingan. Sudah tentu perbuatannya itu hanya dapat dilakukan untuk sementara tidak dapat sembunyikan diri untuk selama-lamanya: Suhu sudah tentu mengerti bagaimana untuk menghukum seorang yang tidak bisa pegang janji!"

Kata-katanya itu diucapkan dengan suara  tidak nyaring tetapi dapat didengar jelas sekali oleh semua orang yang berada disekitar lapangan. Gembreng sudah diangkat tinggi, hanya tinggal menunggu perintah untuk dipukul.

Pada saat itu, banyak diantara penonton yang merasa kecewa, sebab dianggapnya Ho Hay Hong tidak berani memenuhi janji, sehingga mereka tidak dapat menyaksikan pertandingan dua jago silat yang pasti akan ramai sekali.

Suara para penonton banyak yang mencela Ho Hay Hong yang tidak mempunyai cukup keberanian, sehingga merendahkan kedudukannya sebagai Bengcu.

Ada juga yang beranggapan, seorang t ingkatan muda tidak seharusnya melawan orang tingkatan tua dengan tidak munculnya Ho Hay Hong bukan berarti menurunkan derajatnya, karena lawannya merupakan orang yang patut dijadikan kakeknya, sebab pada enam puluh tahun berselang Ing-siu namanya sudah kesohor dikolong langit. Sedangkan dia sendiri hanya merupakan satu keistimewaan diantara orang-orang dari t ingkatan muda.

Sementara itu, Ho Hay Hong bangkit dari duduknya, tetapi bahunya mendadak merasa seperti ada yang menekan.

Ia terkejut, dan setelah mengetahui siapa orangnya yang menekan, ia semakin terkejut! "Kiranya  kau!" demikian ia berseru.

Sinar mata orang itu dengan dingin memandang dirinya, orang itu bukan lain daripada orang berbaju kelabu dari kampung setan.

"Ho siaohiap, sudah lama kita tidak bertemu!" kata orang itu. Ho Hay Hong tidak habis mengerti dengan cara bagaimana orang berbaju kelabu itu dapat menemukan dirinya. Tetapi karena orang itu sudah berada dihadapan matanya, terpaksa ia menahan sabar.

"Benar kita sudah lama tidak bertemu. Ada urusan apa?"

Orang berbaju kelabu itu menekan bahu Ho Hay Hong semakin kuat, karena kekuatan Ho Hay Hong belum pulih seluruhnya, percuma saja ia meronta.

Tetapi orang berbaju kelabu itu ternyata tidak turun tangan jahat terhadapnya, katanya sambil tertaw a dingin:

"Kawan, besar sekali ambisimu, sudah menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara,  masih hendak menempur Ing-sui, Nampaknya kau benar- benar ada maksud hendak menjagoi rimba persilatan!"

Ho Hay Hong tahu bahwa orang itu mempunyai sifat yang tidak mudah dimengerti olehnya, sebentar berlaku baik, tetapi sebentar berlaku ganas. Dalam  terkejutnya, ia pura-pura berlaku tenang, jawabnya sambil tersenyum.

"Setiap orang mempunyai tujuan sendiri, tidak boleh dipaksa. Aku kira ambisimu sendiri, barangkali tidak dibawahku!"

"Juga belum tentu. Tetapi orang yang ku-cinta telah kau rebut!"

"Maksudmu apakah nona Tiat?" tanya Ho Hay Hong sambil tertaw a. Sewaktu ia bertanya demikian,  diam-diam sudah siapkan tenaga, karena khawatir orang yang bersifat tidak menentu itu nanti menyerang dirinya untuk melampiaskan kemarahannya.

Orang berbaju kelabu itu memandangnya dengan  sinar mata penuh kebencian, kemudian berkata sambil tertaw a dingin:

"Kumaksudkan memang nona Tiat, bukankah ia sekarang sudah menyerahkan diri dalam pelukanmu?"

Ho Hay Hong diam-diam merasa mendongkol, darimana orang itu tahu bahwa gadis itu kini sudah berlalu dari sampingnya?

Ia tidak mau banyak bicara, diam-diam mengerahkan kekuatan tenaganya yang masih ada, untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat itu, dalam otaknya hanya berpikir: “apabila aku tidak sanggup menghadap serangannya dan mati disini, sedangkan pertempuran dengan musuhku belum dimulai, bukankah akan merupakan suatu kejadian yang sangat mengecewakan ?”

Ia juga tahu, bahwa "apabila" itu masih merupakan sesuatu yang belum "pasti" hanya merupakan suatu kemungkinan yang bisa terjadi tetapi juga mungkin tidak.

Ia tidak memikirkan mati hidupnya sendiri, karena kedudukannya sendiri pada sekarang ini, maka mati dan hidupnya juga menyangkut nama baik golongan rimba hijau daerah utara. Ia tidak suka karena perbuatannya nanti membaw a akibat buruk bagi golongan rimba hijau daerah utara. Orang baju kelabu itu ketika menampak sikap Ho Hay Hong berubah demikian, diam-diam juga merasa heran.

Ia mengamat-amati sejenak, agaknya tersadar. Maka nadanya lalu berubah:

"Tetapi, kau juga jangan gelisah, meskipun aku seorang bodoh, tetapi juga mengerti, bahwa soal asmara tidak boleh dipaksa. Nona Tiat sudah memilih dirimu, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Pendek kata, semua ini disebabkan tindakan suhu yang keliru,  sehingga membuat kita sekarang menjadi begini."

Ia agaknya tidak suka terlalu banyak menyalahkan si Kakek penjinak garuda, maka lantas diam.

Ho Hay Hong sebaliknya malah merasa heran, untuk sesaat ia tidak dapat meraba apa maksud sebenarnya yang terkandung dalam hati orang itu ? Ia juga tidak dapat menduga apa sebabnya ia datang kemari?

Tetapi ia segera berpikir: ”Mungkin, ucapannya yang manis in i, hanya hendak memancing aku supaya tidak memusatkan pikiranku, dan kemudian ia turun tangan !”

Ia sedikitpun tidak berani alpa, diluarnya ia pura-pura mendengar ucapan orang itu dengan penuh perhatian, tetapi diam-diam masih selalu siap siaga. Karena  ia  khaw atir orang ini akan menyerang dirinya secara mendadak.

"Nona Tiat seorang w anita cantik yang tak ada bandingannya, kau mendapatkan dirinya sesungguhnya merupakan suatu keberuntungan besar bagimu, maka kau harus baik-baik perlakukannya," kata orang berbaju kelabu itu. Entah apa sebabnya, ketika ia  mengucapkan perkataan itu, suara mendadak serak, seperti mengandung kesedihan.

Ho Hay Hong menganggukkan kepala. Sebetulnya ia hendak berkata: "Aku bisa!" Tetapi belum sampai keluar dari bibirnya, perasaan mendongkol mendadak timbul dalam hatinya, suatu perubahan besar timbul dalam perasaannya, maka kemudian berkata.

"Aku dengannya sedikitpun tidak ada hubungan apa- apa sudah tentu ada orang yang perlakukan baik padanya, kau juga tidak perlu tanya padaku!"

Orang berbaju kelabu itu tercengang, tanpa disadari tangannya menekan semakin kuat, sehingga mata Ho Hay Hong berkunang-kunang dan kemudian jatuh duduk di tanah.

Dalam keadaan demikian, telinganya mendadak terdengar suara orang itu: "Apa maksud perkataanmu ini?"

Entah dari mana datangnya kekuatan  yang mendorong Ho Hay Hong mengeluarkan perkataan, dengan ketus ia menjawab:

"Kau jangan perdulikan !"

"Pasti telah terjadi kesalah pahaman antara kau dengan dia. Jikalau tidak, kau tentu tidak sampai demikian marah!" kata orang itu. Ia berdiam sejenak kemudian berkata pula: "Aku menerima tugas datang kemari mengawasi kau, lantas kau tidak bisa berbuat sesukamu !" "Mengapa aku tidak bisa berbuat sesukaku?" tanya Ho Hay Hong tidak mengerti, "apa kau hendak mengekang kebebasanku ?"

"Ho siaohiap, kenapa kau marah terhadapku? Harus kau ketahui bahwa adatku jahat, salah sedikit bisa menimbulkan kemarahanku, ini tidak aneh bagimu sendiri."

Ho Hay Hong marah dengan mendadak, kekuatan tenaganya yang sudah dikerahkan sejak tadi, tiba-tiba digunakan untuk menyerang orang baju kelabu itu.

Sebagai seorang yang keras kepala, ketika mendengar ucapan tidak enak dari orang itu, segera menimbulkan kemarahannya. Meskipun tahu kekuatan tenaga sendiri belum pulih kembali, ia juga t idak peduli.

Orang baju kelabu itu menggunakan tangannya menangkis serangan Ho Hay Hong, kemudian mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, menyedot tangan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong terkejut, ia hendak melepaskan diri dari usaha lawannya, tetapi sudah tidak keburu lagi, hingga dalam hati diam-diam mengeluh.

Kalau diwaktu biasa ia sedikitpun tidak menghiraukan usaha lawannya itu, kini tidak perlu lagi memikirkan apa akibatnya kalau ia memberi perlawanan mati-matian. Tetapi karena saat itu kekuatan tenaganya sudah kurang, ia masih perlu hendak digunakan untuk menghadapi Ing- siu, sesungguhnya tidak perlu mengadu jiwa dengannya.

"Ho Siaohiap, kau berulang-ulang beriak tidak sopan terhadapku, terpaksa aku hendak mengambil jiw amu!" kata orang berbaju kelabu. Sehabis berkata, sesuatu kekuatan tenaga yang luar biasa hebatnya pelahan-lahan mulai masuk kedalam tubuh Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong memberi perlawanan sambil kertak gigi, ia berusaha supaya hancur bersama-sama.

Akan tetapi, orang berbaju kelabu itu ternyata sudah siap-siaga, sewaktu ia menggunakan kekuatan tenaga dalamnya disalurkan ke dalam tubuh Ho Hay Hong, lebih dulu sudah mengerahkan kekuatan tenaga murninya, menjaga supaya jangan sampai kekuatan tenaga Ho Hay Hong masih tinggal sedikit, jangan buyar.

Dalam keadaan tidak berdaya, Ho Hay Hong  hanya bisa menantikan kematiannya sambil pejamkan matanya.

Selagi menghadapi saat-saat kematian semacam itu, keringat dingin mengucur keluar.

Dalam keadaan demikian. Orang berbaju kelabu itu tiba-tiba mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, bagaikan anak panah menyusup kedalam tubuh Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong hanya merasakan puyeng kepalanya, kemudian darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Kini, ia merasa tubuhnya seperti dibakar, wajahnya yang pucat juga dengan sendirinya menjadi merah. Tetapi ia tidak roboh, karena orang berbaju kelabu itu telah menggunakan kekuatan tenaga dalam menahan dirinya, sehingga t idak bisa bergerak.

Tak lama kemudian, keadaan Ho Hay Hong sudah seperti seorang kehabisan tenaga sementara itu telinganya mendengar kata-kata orang itu. "Ingat, baik- baik perlakukan dirinya. Jikalau tidak, cepat atau lambat aku pasti akan mengambil jiwamu!"

Sehabis berkata, ia menarik pulang tangannya kemudian bagaikan melesatnya anak panah menghilang dari depan mata Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong roboh ditanah setengah badannya kejang ia tidak tahu apa yang terjadi atas dirinya.

Tak lama kemudian, hawa murni dalam tubuhnya pelahan-lahan kumpul kembali dan kemudian menyebar kesekujur tubuhnya. Entah apa sebabnya, ia bukan saja tidak mati bahkan badannya merasa segar kembali seperti semula.

Ia sangat girang dan lantas bangkit, ketika mencari orang berbaju kelabu tadi orang itu ternyata sudah tidak ada.

Ia menjadi heran sendiri, dalam hatinya timbul suatu pertanyaan: ”Mengapa, ia bukan saja tidak membunuh aku sebaliknya diam-diam membantu aku memulihkan kekuatan tenagaku? Apakah itu atas perint ah Kakek penjinak garuda?”

Alisnya dikerutkan ia pikir apakah benar demikian halnya, permusuhan antara aku dengan kakek itu tidak mudah diurus.

Selagi masih dalam keadaan bimbang, dari tepi danau terdengar suara nyaring: "Hai, bocah she Ho ! Kau berani menipuku, sehingga aku harus datang kemari secara sia- sia? Kau benar-benar sangat jahat. Hm, dihadapan para jago rimba persilatan seluruh dunia bukan aku takabur, aku lihat kau bisa lari kemana, bisa sembunyi berapa lama?" Mendengar ucapan itu Ho Hay Hong terkejut, ia segera dapat mengenali suaranya Ing-siu. Sesaat itu lantas naik darah. Tanpa banyak pikir lagi ia lalu membereskan pakaiannya, kemudian lompat melesat setinggi t iga tombak lebih.

Ditengah udara matanya memandang ke bawah, ketika menyaksikan banyak orang yang hendak menyaksikan pertandingan itu, semangatnya terbangun. Katanya sambil tertaw a.

"Hahaha, Ing siu! Kau benar-benar sudah buta! Walaupun kau tidak mencari aku, aku juga bisa mencarimu. Hahaha"

Baru berhenti suara tertaw anya, ia meluncur turun ketanah dan berdiri dengan gagah.

Keadaan riuh kembali, semua mata ditujukan kearahnya. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Ho Hay Hong yang namanya menggemparkan dunia Kangouw ternyata hanya seorang anak muda biasa saja.

Ing Siu nampak sedikit terkejut, ia tidak berani berlaku sombong lagi, dengan tangan menggengam gagang pedang saktinya ia berkata sambil tertaw a.

"Ho Bengcu benar2 seorang yang bisa pegang janji !"

Ho Hay Hong mendapat perhatian orang banyak meskipun dalam hati merasa agak tegang, tetapi ia t idak bisa berbuat lain, kecuali membalas sikap Ing siu dengan sikap sombong pula. Katanya sambil tertaw a terbahak- bahak.

"Sudah tentu! Aku siorang she Ho tidak mudah mendapatkan nama baikku. Mana bisa aku harus main sembunyi ? Suruh aku menjadi buah tertawaan orang banyak?"

Dua lawan itu baru saling berhadapan, masing-masing sudah menggunakan kata-kata yang tajam untuk saling menyerang hingga semua penonton merasa khawatir, tanpa sadar semua orang sudah mundur lebih jauh, memberi tempat lebih luas bagi dua orang itu.

Pada saat itu, dari barisan para penonton muncul beberapa laki-laki tegap, dengan sikap gagah mereka berjalan menuju ketengah lapangan, menghampiri Ho Hay Hong.

Tiba dihadapan Ho Hay Hong, rombongan lelaki itu memberi hormat, sehingga Ho Hay Hong kelabakan, Dengan sikap merendah Ho Hay Hong balas menghormat, setelah ditanyakan apa maksudnya, ia baru tahu bahwa lelaki tegap itu adalah kawanan dari rimba hijau daerah utara yang berdiam diperbatasan daerah selatan. Ketika pemimpinnya muncul, maka merasa lantas maju untuk memberi hormat.

Ho Hay Hong merasa sangat terharu, sebab kedatangan orang-orang itu merupakan suata dorongan moril baginya untuk bertempur lebih bersemangat.

Ia lalu mengeluarkan lambang tanda kebesarannya dan dikalungkan dilehernya sendiri, dibawah sinar matahari, lambang kebesaran yang terbuat dari emas murni itu memancarkan sinar berkilauan.

Jago pedang pertengahan umur itu nampaknya benci sekali terhadap Ho Hay Hong, katanya dengan nada suara dingin: "Ho Bengcu karena seorang besar, sehingga banyak lupa, mengapa begini lambat baru datang sehingga membuat kita menunggu terlalu lama. Aku seorang yang tidak berguna, ingin minta pelajaranmu lebih dulu!"

Ho Hay Hong terkejut. Ia tanya. "Apa tuan murid Ing siu locianpwee."

"Namun demikian, tetapi kepandaianku tidak berarti, sebetulnya t idak pantas menjadi murid locianpwee!"

Beberapa laki laki dari golongan rimba hijau daerah utara yang masih berdiri dihadapan Ho Hay Hong, meskipun mereka tidak berkata apa-apa, tetapi wajah mereka semua menunjukan rasa tidak senang. Hanya karena memandang pemimpin mereka, sehingga tidak berani berkata apa-apa.

Ho Hay Hong menyaksikan itu semua, sudah mengerti perasaan mereka.

"Menyesal sekali, aku denganmu tidak mempunyai permusuhan apa-apa!" demikian jawabnya.

"Ho Bengcu jelas memandang rendah diriku."  kata jago pedang pertengahan umur itu.

Sebelum habis ucapannya, seorang dari golongan rimba hijau daerah utara sudah memotong.

"Orang yang berjanji hendak mengadakan pertandingan ilmu silat oleh Ho Bengcu adalah Ing-siu- cianpwee sendiri tidak termasuk kau, Menurut peraturan rimba persilatan, kau tidak boleh campur tangan."

"Siapa nama tuan? Sudikah kiranya memberitahukan padaku?" tanya jago pedang itu marah. Sijago pedang mengaw asi laki-laki itu dengan sinar mata mengandung permusuhan, sebab orang itu dianggapnya sudah membuat malu dirinya dihadapan orang banyak.

Orang dari rombongan rimba hijau itu tidak menjawab, matanya memandang Ho Hay Hong lebih dulu. Ketika tampak pemimpinnya tidak menunjukkan perubahan sikap apa-apa, bahkan tidak memberi teguran, hatinya merasa lega dan baru berani menjaw ab:

"Aku adalah seorang kecil dari kalangan Kang ouw dalam hidupku tidak pernah mendirikan jasa apa-apa  bagi masyarakat. Maka kau juga tak usah tanya."

Mendengar jawaban halus yang mengandung jengekan itu, jago pedang itu lantas marah.

"Heh, heh, kau ternyata sudah berani ngeledek aku! Dengan terus terang, sekalipun Bengcu kalian sendiri, juga tidak kupandang dimata apalagi kalian manusia- manusia yang tidak arti ini"

Berdenyut keras hati Ho Hay Hong mendengar ucapan sombong itu. Tetapi mengingat kedudukannya sendiri, tidak ada gunanya marah atau melayani segala manusia begituan, maka lantas tersenyum dan t idak berkata apa- apa.

-ooo0dw0oo0-