Rahasia Kampung Setan Jilid 19

 
Jilid 19

IA mendongakkan kepala dan bersiul nyaring, seolah- olah hendak mengeluarkan semua kekesalan, kedongkolan dalam hatinya. Ia membiarkan dirinya berubah menjadi penuntut balas berhati dingin, atau bangkai hidup yang tidak berjiwa untuk melaksanakan cita-citanya.

Gerak tipu kedua dari ilmu silat garuda sakti, yang dinamakan garuda sakti terbang ke udara, telah digunakan dalam keadaan pikiran ruwet seperti itu. Ketika tangan dan tinjunya bergerak segera minta korban Ban jin Sin lie heng berdiri terdekat dengannya.

Selanjutnya, serangannya yang hebat sudah membuat terpental diri si pemabukan Tiat-Pun sejauh tiga tombak. Kasihan bagi si pemabukan ini, ketika ia merayap bangun lagi, baru tahu bahwa seluruh kekuatan dan kepandaian ilmu silatnya sudah lenyap dengan mendadak. Dalam terkejutnya, ia lantas menangis menggerung-gerung bagaikan anak kecil.

Ia sudah menjadi seorang cacad yang sudah tidak bertenaga sama sekali, semua kepandaian dan kekuatan tenaganya yang dilatih dengan susah payah selama beberapa puluh tahun, kini telah habis seluruhnya. Pukulan ini, lebih hebat dari pada kematian. Seketika otak dan matanya lantas gelap dan akhirnya ia jatuh pingsan.

Dengan mata beringas Ho Hay Hong melancarkan serangannya yang ketiga, sepasang tangannya dengan tiba tiba meluncur kearah jalan darah Seng jie-hiat  ditubuh Kay-see Kim kong.

Kay see Kim kong terperanjat, dengan tergesa-gesa menggunakan ilmu serangannya San hwa Cian lek, hingga Ho Hay Hong yang terkena serangan itu sampai bergulingan ditanah

Tetapi, ilmu silat garuda sakti itu sungguh ajaib, sekalipun ketemu dengan lawan yang kekuatan tenaga dalamnya lebih tinggi juga tidak akan terluka oleh daya tenaga kekuatan tenaga lawannya, sebab setiap gerak serangan ilmu garuda, sudah mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat, sehingga tidak terpengaruh oleh kekuatan tenaga dalam lawannya. Maka meskipun Ho Hay Hong terpukul sehingga bergulingan, namun sedikitpun tidak mempengaruhi kekuatan tenaganya.

Ia tahu bahwa jiw anya hanya t inggal tiga hari, dalam marahnya timbullah kenekatannya. Maka begini bangun, ia sudah melesat terbang lagi ketengah udara dan menggunakan gerak tipu keempat balas menyerang musuhnya.

Dilihat dari luar, gerak badannya itu nampak sangat ringan sekali, tetapi begitu kakinya menjejak, lantas menimbulkan kekuatan tenaga dalam yang hebat sekali. Dengan kekuatan tenaga t iga kali lipat dari lawannya, ia menyerang musuhnya.

Pada saat itu, Kay see Kim kong baru mengetahui bahwa gerakan dan ilmu kepandaian anak muda itu, jauh berbeda dengan ilmu silat biasa. Kini ia merasa bingung hingga pertahanannya mulai goyah.

Sewaktu melakukan serangan Ho Hay Hong tiba-tiba mengeluarkan suara hebat, hingga membuat hati Kay see Kim kong terkesiap. Dalam keadaan demikian tangan Ho Hay Hong sudah berada didepan mukanya.

Kay see Kim kong berusaha untuk menutup serangan itu, tetapi sudah terlambat, ketika suara siulan Ho Hay Hong berhenti, jalan darah Thay- heng hiat dijidatnya sudah tertotok oleh dua jari tangan Ho Hay Hong.

Sebagai satu jago tua rimba hijau yang sudah banyak makan asam garam dunia Kang ouw, meskipun dalam hati terkejut, tetapi mulutnya sedikitpun tidak mengeluarkan suara rint ihan karena rasa sakit diatas jidatnya hanya dimata orang banyak jago rimba hijau yang menganggap penitisan Cho Pa Ong perlahan-lahan telah rubuh, tanpa berkutik lagi.

Rubuhnya pemimpin rimba hijau itu, telah membuyarkan impian muluk anak buahnya, semuanya yang masih bertempur, lalu meninggalkan musuh masing-masing dan lompat dari kalangan, untuk menolong jiwa pemimpin mereka.

Tetapi sudah terlambat, Kay see Kim-kong hanya berkelojotan sejenak, jiw anya sudah melayang ke lain dunia.

Semua orang yang ada disitu belum pernah menyaksikan kejadian aneh seperti itu, sebab betapa hebat dan kuatnya Kay-see Kim kong yang sudah menjagoi rimba hijau selama beberapa tahun, tetapi sungguh tidak disangka bisa binasa ditangan seorang muda, yang belum pernah dikenalnya.

Selanjutnya, semua mata ditujukan semua korban bergelimpangan di tanah korban-korbannya itu ketika datang merupakan orang-orang gagah berani yang sombong sikapnya tetapi kini  sudah  rebah  tidak bernyaw a dalam keadaan yang menyedihkan.

Pe rtempuran selesai, suasana dalam ruang itu hening luar biasa, hanya suara bernapas orang saja yang terdengar. Tetapi keheningan itu menimbulkan perasaan ngeri.

Tiat tee Ciang thian dari pihak Kay see Kim kong yang semula masih bisa berdiri, mendadak sempoyongan dan akhirnya jatuh di tanah.

Wajahnya pucat pasi, matanya tertutup rapat, ia telah binasa karena luka-lukanya. Tetapi, semua orang tidak tahu sebab-sebab kematiannya.

Ciam see yang sejak tadi bertempur dengannya, dia dalam hati berpikir, "aku tadi mengadu kekuatan sampai tiga kali dengannya, dua pihak terluka parah. Tet api agak mustahil kalau luka itu bisa membawa kematiannya.”

Bagi orang yang sudah memiliki kepandaian t inggi dan kekuatan tenaga dalamnya sudah cukup sempurna, kematian itu masih terlalu mudah baginya. Tapi siapakah yang turun tangan lagi, sehingga mengakibatkan kematiannya.

Semua orang tidak tahu, bahwa kematian Suat tee Ciang thian itu sebetulnya karena akibat terlanggar oleh serangan Ho Hay Hong. karena sewaktu Ho Hay Hong menyerang musuhnya, Kay-see Kim-kong ia justru  berada paling dekat, meskipun serangan itu tidak mengenakan diri secara langsung tetapi sambaran hembusan angin yang luar biasa telah membuat kambuh luka dalamnya, sehingga membaw a kematiannya.

Dengan demikian, orang-orang kuat yang dibawa oleh Kay see Kim-kong kecuali Koan lok Sie gee, tiga serangkai keluarga Sim dan dua belas pelindung pribadi Kay see Kim kong yang masih hidup, yang lainnya semua mati di tangan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong sambil berdiri tegak, dengan sinar matanya yang tajam menyapu semua wajah-wajah musuhnya, tetapi musuh-musuhnya tidak seorangpun berani memandang dirinya, barang siapa yang dipandangnya, buru-buru menundukkan kepala. Saat itu, mata It-jie Hui kiam sudah penuh air mata, meskipun cucunya sudah berhasil membinasakan semua musuh-musuhnya, juga berarti ini menyingkirkan bahaya besar yang mengancam kedudukannya dan nama baiknya tetapi ia tidak berdaya menolong jiw anya.

Dia telah berhasil membinasakan jago plus pemimpin rimba hijau yang kenamaan, ini berarti suatu  prestasi luar biasa bagi jago muda yang masih sangat muda belia seperti ia, juga berarti suatu kemenangan yang paling gemilang dalam sejarah rimba persilatan. Hal itu akan membuat namanya cepat terkenal, tetapi apa artinya itu semua, karena nyawanya hanya tinggal t iga hari saja.

Dengan sikap dan nada suara dingin, Ho Hay Hong bertanya pada Koan lok Sie gee.

"Apakah kalian ingin pulang dalam keadaan hidup?"

Tetapi sesaat kemudian agaknya telah timbul perubahan dalam perasaannya yang seolah-olah sudah mati, tidak menunggu jawaban yang ditanya, sudah berkata lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala:

"Tidak bisa, tidak bisa, diwaktu datang kalian telah bermaksud hendak membasmi kita sehingga habis baru puas, sekarang bagaimana aku dapat membiarkan kalian pulang dalam keadaan hidup? Heh heh."

Suara tertaw anya itu sangat menyeramkan, hingga Koan lok cie gee yang mendengarkan, wajahnya mereka berubah seketika. Tanpa banyak pikir lagi, semua melompat melesat setinggi setombak lebih, hendak melarikan diri. Tangan Ho Hay Hong bergerak, sinar putih meluncur keluar, sebentar kemudian sudah menembusi belakang punggung seorang yang berada paling belakang.

Suara jeritan sangat mengerikan keluar dari mulut orang yang malang itu, untung orang-orang itu masih cukup tahan, begitu melihat gelagat buruk, masing- masing mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, buru- buru melarikan diri.

Kalau menurut w atak dan kebiasaan It-jie Hui kiam, tidak mau membasmi musuh-musuhnya sehingga habis- habisan, maka ketika musuh sudah kalah, ia tidak memerint ahkan orang-orangnya untuk melakukan pembasmian.

Tetapi ia mengerti keadaan dan hati cucunya, Ia sengaja tidak mau mencegah perbuatan Ho Hay Hong yang sudah melakukan pembunuhan besar-besaran, supaya jangan mengganggu pikirannya yang sudah gelap.

Tiga serangkaian dari keluarga Sin, sudah tahu kalau tidak ada harapan hidup lagi, maka lalu berkata kepada It Jie Hui kiam:

"Sungguh tidak disangka It Jie Hui kiam juga hanya seorang jago yang tidak sesuai dengan perbuatannya. Kau melakukan pembasmian terhadap musuh-musuhku, di kemudian hari pasti akan mendapat pembalasan yang setimpal."

Tiga saudara itu sudah bersatu hati, mereka sengaja mengejek It Jie Hui kiam dengan kata-kata, dengan pengharapan supaya jago tua itu mencegah tindakan cucunya, atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk melarikan diri.

Tak disangkanya jago tua itu diam saja, sedikitpun tidak menghiraukan ocehan mereka, hingga t iga saudara itu menjadi bingung.

Tiga saudara itu saling berpandangan saling berpandangan sebentar mereka tahu tidak akan lolos dari tangan Ho Hay Hong maka lantas pada membunuh diri sendiri.

Ho Hay Hong yang menyaksikan kematiannya mereka secara mengenaskan itu, tiba-tiba berpaling dan bertanya kepada It Jie Hui-kiam:

"Kongkong, musuh yang sudah kalah apakah tidak seharusnya kita bunuh?"

"Dalam hal ini, apabila kita hendak berlaku bijaksana, seharusnya berikan kesempatan kepada musuh yang sudah kalah untuk melarikan diri." jawab It Jie Hui kiam.

Ho Hay Hong berpikir sejenak, kemudian berkata kepada musuh-musuhnya yang masih belum sempat melarikan diri.

"Baik, kalian sekarang boleh pergi tetapi awas, kalian jangan membikin susah kepada rakyat lagi!"

Orang-orang itu seperti mendapat pengampunan besar, buru-buru memberi hormat sambil mengucapkan terima kasih, kemudian meninggalkan gedung itu.

Setelah semua musuh-musuhnya berlalu Ho Hay Hong mulai menggali tanah dengan menggunakan pedangnya, It Jie Hui kiam heran. bertanya padanya:

"Hay Hong, kau mau berbuat apa?" "Mengubur bangkai" jawab Ho Hay Hong.

"Tidak perlu kau capekan hati, lekas beristirahat dulu!" kata sang kakek.

Ho Hay Hong angkat muka memandang kakeknya, kemudian berkata:

"Kongkong, sejak cucumu masuk rumah mu.  selama ini belum pernah melakukan sesuatu kewajiban apa-apa, namun dalam hatiku ingin sekali bisa melakukan sesuatu pekerjaan untukmu. Sekarang, umurku hanya tinggal t iga hari saja, aku hendak menggunakan sisa dari umurku yang sangat pendek itu, hendak melakukan apa-apa untuk membalas budimu. Besok aku hendak berangkat menuju ke selatan, harap kongkong jangan mencegah."

It Jie Hui-kiam yang mendengar kata-kata itu, air matanya mengalir turun. Ia sebetulnya ingin menanya, ada keperluan apa pergi ke selatan ? Tetapi sebelum membuka mulut, mendadak berubah pikirannya. Mengingat umurnya yang hanya tinggal tiga hari, ia hendak memberi kesempatan padanya supaya berbuat sesuka hatinya.

Maka ia tidak mencegah perbuatannya, membiarkan ia menggali lubang dan mengubur semua jenasah.

Setelah melakukan pekerjaannya, tanpa berkata apa apa ia berlalu dan berjalan menuju ke gudang dibelakang gedung.

Petugas yang menjaga gudang mengenali Ho Hay Hong maka mereka tidak melarang, membiarkan ia membuka gudang dan masuk kedalam. Gadis baju ungu dengan tenang rebah di atas tumpukan karung teh, setengah dari mukanya tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam jengat.

Ketika melihat Ho Hay Hong datang, buru-buru lompat dan berkata sambil tertaw a:

"Ho koko kau baik ?"

"Musuh telah pulang setelah menderita kekalahan besar. Kecuali Koan lo Sie-gee dan dua belas pengaw al pribadi Kay see Kimkong. yang lainnya, termasuk Kay see Kimkong sendiri, semua sudah binasa dan telah kukubur sendiri. Dalam pertempuran ini, pihak kita hanya terluka dua orang ialah Ciam Sie dan Kim-ciang Tayhiap!"

Ia menceritakan semua yang telah terjadi, hanya tentang dirinya sendiri yang terluka ditangan Kay see Kimkong oleh ilmunya San hwa ciang lek, ia sengaja sembunyikan supaya tidak menyusahkan hati gadis itu.

Gadis itu setelah mendengar keterangan Ho Hay  Hong, semakin girang, wajahnya berseri-seri.

"Hah, Ho koko, kau benar hebat, kesudahan pertempuran ini sudah cukup menggemparkan rimba persilatan, namamu juga segera terkenal!"

"Tidak, aku sedikitpun t idak merasa bangga." kata Ho Hay Hong.

Gadis baju ungu melihat sikap Ho Hay Hong agak aneh maka lalu berkata pula:

"Ho koko, dalam waktu satu hari kau akan menjadi seorang kenamaan, seharusnya gembira mengapa kau nampaknya kesal hati? Apakah semua itu hanya tipu belaka?" Ia membuka matanya lebar, pikirannya semakin heran kepedihan meliputi mukanya. Akhirnya Ho Hay Hong berkata:

"Dengan terus terang, aku hendak meninggalkan tempat ini, kedatanganku kemari hanya  hendak minta diri padamu!"

Mendengar perkataan itu, gadis baju ungu terperanjat, katanya cemas:

"Apa katamu? Ho koko, apakah kau tak akan kembali lagi?"

Ho Hay Hong menggelengkan kepala, selagi hendak menjawabnya, tetapi ketika menampak wajah gadis itu sangat gelisah dan seperti seorang putus asa, ia tidak dapat mengeluarkan perkataannya. Akhirnya ia menjawab:

"Belum tentu, kalau nasib baik, mungkin akan kembali lagi!"

Gadis itu sangat cerdik, ia dapat menduga Ho Hay Hong pasti terganggu oleh apa-apa maka lantas berkata:

"Kau rupa-rupanya mempunyai kesulitan jikalau tidak tentu tidak memakai perkataan kalau nasib baik, harap kau berkata padaku dengan terus terang, jangan mengelabui aku."

Berat baginya untuk membuka mulut, lama ia berdiam kemudian baru berkata:

"Kujelaskan duduk perkaranya semua, kau akan merasa t idak enak, perlu apa di katakan?"

Gadis itu seperti mendapat firasat buruk, hatinya mendadak merasa pilu, tanpa sadar sudah mengucurkan air matanya, menggenggam tangan Ho Hay Hong kemudian berkata dengan nada suara sedih:

"Ho koko, apa selama ini kau masih belum mengerti perasaanku? Maka kau tidak mau memberi keterangan tantang kesulitanmu kepada ku?"

Ketika ia mengucapkan perkataan itu, ia merasa seperti tertipu oleh Ho Hay Hong hingga air matanya mengalir deras.

Dengan tenang Ho Hay Hong memperhatikan semua gerakan gadis itu, ia juga seorang cerdik. Dari  sikap gadis itu ia segera dapat mengetahui betapa penting kedudukannya dalam hati gadis itu, Ia tidak menduga gadis itu demikian besar cintanya terhadap  dirinya hingga seketika itu hatinya merasa terharu.

"Dengan terus terang, aku tadi terkena serangan ilmu San hoa ciang lek Kaysee Kim kong, nyawaku hanya tanggal tiga hari, jikalau racunnya bekerja, aku akan mati!"

Wajah gadis itu pucat pasi, ia bertanya termangu- mangu.

"Benarkah ucapanmu tadi?"

Menyaksikan sikap duka gadis itu, ia merasa tidak enak hati, sehingga tidak berani memandang mukanya, perlahan-lahan menundukkan kepala.

Pikirannya sudah kalut, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab, sedang gadis itu sudah menangis lagi dengan sedihnya.

Sejak ia berangkat dewasa, ia sudah ditinggalkan oleh ayah bundanya, hingga harus menumpang kepada kakeknya, selama berdiam bersama kakeknya, baru pertama kali in i mencicipi madunya cinta, sekarang baru mengetahui bahwa madu cinta yang dianggapnya manis itu ternyata lebih pahit daripada empedu.

Melihat keadaan yang menyedihkan itu, Ho Hay Hong tergerak hatinya, ia merasa menyesal bahwa ia sudah tidak mempunyai rejeki untuk menerima cinta gadis cantik didepan matanya itu.

Dalam keadaan gelap pikirannya semakin bingung. Ia masih sangsi apakah gadis itu benar-benar sudah jatuh cinta kepada dirinya? Ataukah hanya diluarnya saja?

Mendadak dalam otaknya timbul suatu pikiran aneh. Ia hendak menggunakan perbuatan untuk mencoba gadis itu, maka lantas berkata sambil tertaw a getir.

"Sungguh ucapanku adalah benar, kalau kau tidak percaya boleh tanya kepada kong-kong."

Dengan lengan bajunya ia menghapus air mata gadis itu, katanya pula:

"Dengan sejujurnya, aku tidak mengerti perasaanmu, pikir saja, kita bertemu dan berkenalan baru beberapa hari saja dan kau seorang gadis dewasa yang masih belum nikah, baru mendengar kabar buruk dari mulutku saja sudah begitu sedih, apabila hal in i diketahui oleh orang lain, pasti menimbulkan kecurigaan mereka, dianggapnya kita berbuat yang bukan-bukan, aku lihat sebaliknya kau jangan terlalu bersusah hati !"

Mendengar perkataan itu, gadis baju ungu mendadak angkat muka dan bertanya.

"Apa artinya ucapanmu ini ?" Nampak gadis itu marah, Ia mengerti bahwa ucapannya tadi sudah menusuk hatinya, maka jawabnya juga kelabakan:

"Aku...aku.tidak bermaksud apa-apa."

"Apakah hingga saat ini kau masih belum mengerti perasaanku?" kata gadis itu sedih.

Ho Hay Hong berlaku pura-pura tidak mengerti dan balas menanya:

"Kau suruh aku bagaimana harus mengerti perasaanmu ?"

Gadis itu terkejut, ia tidak menduga Ho Hay Hong menggunakan perkataan demikian melukai hatinya, sesaat merasa mendongkol, ia berkata dengan singkat.

"Baiklah, kalau kau mau pergi pergilah!"

Ho Hay Hong sesalkan kebodohannya  sendiri, sehingga menyakiti hatinya.

Ia berdiam untuk menenangkan pikirannya, tiba-tiba mendapat pikiran, bagaimana harus memperbaiki kejalannya, maka lalu berkata:

"Aku tahu sangat baik perlakukan diriku, tetapi selama itu aku t idak pernah perhatikan, sekarang setelah jiw aku dalam bahaya, dan aku menyesal juga sudah terlambat, Aku hanya mengharap, semoga kau baik baik jaga dirimu, jangan sampai terjadi apa apa, hingga hatiku merasa lega."

Sehabis berkata, ia hendak berlalu, tetapi bahunya ditekan oleh gadis itu, sehingga ia tidak bisa bergerak. Ia terperanjat, dalam perasaannya, maka ia lalu menanya:

"Kau masih ada pesan apa lagi ?"

"Setelah kau berlalu dari sampingku kau hendak kemana?" tanya gadis itu dingin:

"Ke selatan". jaw abnya singkat.

Setelah memberi jawaban dengan terus terang mendadak ia salah faham maksud si-nona. berkata lagi sambil tertaw a getir:

"Jangan khaw atir, aku bisa mencari tempat yang tenang untuk bersemayamku!"

Jantung gadis itu tergoncang hebat, tetapi ia coba kendalikan, katanya.

"Untuk apa kau pergi ke selatan ?"

Ia pikir Ho Hay Hong tentunya ada urusan yang lebih penting dari pada dirinya, jikalau tidak, andaikata benar ia harus mati, mati di utarakan juga tidak halangan, mengapa harus pergi ke selatan.

Ho Hay Hong tidak bisa menjawab, bagaimana ia harus membuka rahasia dalam hatinya sendiri ?

Sepasang mata dingin memandang wajahnya, ia tidak dapat memahami isi hati gadis jelita yang sifatnya sukar dijajaki ini, Sehingga saat itu, dimana ia sudah mendekati ajalnya, apa yang dikenalnya dari gadis itu hanya bagian luarnya saja, tetapi gadis itu ternyata memiliki daya penarik luar biasa, yang telah memikat hatinya, hingga pada saat hendak meninggalkan tempat itu, ia juga merasa perlu untuk menemui sekali lagi. Ia juga terkenang kepada pergaulannya yang sangat mengesankan kepada gadis itu terutama ketika bibirnya mengecup bibir gadis yang gemetar. Semua itu ia tidak akan melupakan untuk selama-lamanya, walaupun waktu itu dan hingga saat ini, ia sendiri masih belum mengetahui nama gadis itu.

Semua ini. kini hanya tinggal menjadi suatu kenang- kenangan saja, ia menyesal tak berani menyatakan hati sendiri, yang ternyata juga sudah jatuh cinta padanya.

Dengan mulut membisu gadis baju ungu memandang muka Ho Hay Hong, ia dapat lihat dengan tegas kepedihan pemuda itu, banyak kenangan yang menggembirakan di masa yang lampau, semua seolah- olah sudah berubah menjadi asap, hatinya remuk redam kesedihannya tidak dapat dilukiskan dengan pena.

Sejenak ia kenal dengannya, ketampanan dan kejantanan Ho Hay Hong telah memikat hatinya, semua harapannya ditumpukan kepada diri lelaki Itu. Tetapi, hingga saat itu, ia baru tahu bahwa kekasihnya itu masih belum mengerti isi hatinya.

Sebagai gadis yang baru pertama jatuh cinta kepada lelaki, sudah tentu tidak dapat menyatakan cinta kasihnya secara terus terang, ia merasa gemas maka akhirnya ia berkata dengan suara dingin.

"Pergilah ke selatan, maaf aku tidak dapat mengantar!"

Ia mengucapkan kata-katanya sambil membalikkan muka karena tidak dapat membendung mengalirnya air mata. Ho Hay Hong tidak ingin menyatakan apa apa, ia percaya betul bahwa gadis itu bukan marah sebenarnya. Dari dalam sakunya, ia mengeluarkan  lambang kebesaran pemimpin rimba hijau yang dahulu ialah lambang Ngo Jiauw leng, ia pikir: benda ini adalah milik pemimpin rimba hijau yang terdahulu, ia berdiam didaerah utara, benda ini mungkin sangat berguna baginya.

Sudah beberapa kali ia menghadapi maut, terhadap kematian ia sudah tidak merasa.

"Diutara aku tidak mendapat hasil apa-apa, benda ini adalah benda satu-satunya yang dapat digunakan sebagai barang peringatan, kalau sudi simpan lah baik- baik."

Sambil mendorong tangan Ho Hay Hong, gadis itu menjawab:

"Aku tidak sudi barangmu, berikanlah kepada kekasihmu di selatan."

"Aku diselatan tidak mempunyai kekasih, kau jangan sembarangan menuduh!" kata Ho Hay Hong cemas.

Karena ia tidak biasa membohong, maka setelah mengucapkan perkataan demikian, mukanya lantas merah.

Gadis itu tidak menghiraukan. sehingga Ho Hay Hong merasa serba salah, katanya pula sambil paksakan diri untuk tertawa:

"Aku seorang yang sudah dekat mati. apabila dimasa yang lalu aku ada kesalahan kau juga tidak perlu marah sampai begitu. Dengarlah kataku terimalah barang in i!" "Apa artinya kau menghadiahkan barang orang lain kepadaku?"

"Aku sendiri t idak memiliki barang apa-apa yang dapat kuhadiahkan padamu sebagai peringatan, terimalah seadanya!"

Tetapi gadis itu tetap menolak, oleh karena itu ia juga tidak berdaya. Mendadak ia ingat, didalam  sakunya masih ada sebungkus obat bubuk, sisa obat yang bekas digunakan terhadap gadis kaki telanjang. Lalu dikeluarkannya dan diberikan kepadanya seraya berkata:

"Sebetulnya aku tidak begitu suka bergaul dengan kaum wanita, obat bubuk ini sebetulnya digunakan untuk menghadapi wanita yang galak, judes dan sombong, tetapi kau baik terhadapku, hingga pandanganku terhadap wanita menjadi berubah seluruhnya. Sekarang obat ini kuberikan padamu sebagai barang peringatan, rasanya paling tepat!"

Paras gadis itu menunjukan perasaannya yang terkejut dan terheran-heran, karena ia tidak menolak, bahkan mengulurkan tangannya, menerima bungkusan itu, dan kemudian dibukanya, isinya ternyata adalah  bubuk berw arna kuning.

Bau pedas segera masuk ke hidungnya. alisnya nampak berdiri, kemudian bertanya.

"Dari mana kau dapatkan obat ini?"

Tanpa banyak pikir Ho Hay Hong lantas menjaw ab:

"Aku dapat beli dengan harga tiga puluh tail perak dari tangan seorang Kang ouw, di sebuah rumah penginapan didaerah selatan." Gadis itu ternyata banyak pengetahuan dari baunya bubuk itu tadi sudah dapat menduga obat apa babak warna kuning itu. sambil mengerutkan alisnya ia berkata:

"Tahukah kau bahwa barang ini adalah barang yang dibenci oleh orang-orang rimba persilatan?"

"Apa jahatnya barang itu? Mengapa kau anggap begitu serius?" tanya Ho Hay Hong tidak mengerti.

Pada saat itu, kesedihan gadis itu mendadak lenyap, dengan mata bersinar memandang Ho Hay Hong.

"Bubuk ini semacam obat bius yang banyak digunakan oleh kawan penjahat atau bangor untuk memikat kaum wanita, sudah lama dianggap oleh orang-orang rimba persilatan sebagai barang yang hanya digunakan oleh orang-orang yang rendah moralnya. Aku tidak sangka kau juga menggunakannya."

Ia sebetulnya hendak memberi teguran dengan kata- kata yang lebih pedas, tetapi ketika menyaksikan sikapnya yang jujur, agaknya memang tidak mengerti barang apa itu lantas betulkah maksudnya.

Dengan sangat hati-hati gadis itu membungkus lagi bubuk itu, kemudian dilemparkan keluar jendela.

"Ho koko, apa kau pernah menggunakannya?" tanyanya.

Ho Hay Hong sebetulnya hendak mengaku terus terang, pernah menggunakan satu kali terhadap gadis kaki telanjang, tetapi karena menyaksikan sikap tidak senang gadis itu, ia terpaksa membohong.

"Belum!" demikian jawabnya sambil menggelengkan kepala. Gadis itu menarik napas lega.

"Masih untung kau belum gunakan, jikalau t idak, nama baikmu akan ludas!"

Berkata sampai disitu, dalam tubuhnya tiba-tiba t imbul perasaan aneh, suatu perasaan yang ia belum pernah merasakan. Bukan kepalang terkejutnya, ia bertanya- tanya kepada diri sendiri, apakah pengaruh obat itu sudah melanda dirinya?

Biasanya, obat obat jenis obat untuk bikin mabok orang, kebanyakan dimasukkan ke dalam minuman atau barang makanan, begitu obat berada didalam  perut, yang makan lantas menjadi mabuk atau tidak sadarkan diri, sehingga membiarkan dirinya dipermainkan orang lain.

Tetapi obat buatan Yo Hong jauh berlainan dengan obat-obat yang biasa digunakan orang jahat pada masa itu, maka gadis itu baru saja mencium baunya, meskipun di luarnya masih nampak tenang, tetapi  sebetulnya sudah kemasukan pengaruhnya obat.

Gadis itu belum sadar bahwa pengaruh obat bius sudah masuk ke dalam tubuhnya diam-diam  masih memperhatikan Ho Hay Hong.

"Ho koko, aku minta supaya kau mengatakan perkataan yang menyenangkan hatiku, inilah barang peringatan yang paling baik bagiku!" demikian ia berkata.

Sikapnya yang dingin mendadak berubah  seperti orang sedih, yang hendak ditinggal jauh oleh kekasihnya.

Ho Hay Hong mengerti maksudnya, sepasang matanya mendadak bersinar terang. Ketika pandangan mata gadis itu bertemu dengan pandangan mata Ho Hay Hong ia merasa seperti tertarik oleh daya luar biasa hingga hatinya berdebaran.

Dua pasang mata saling berpandangan sekian lama gadis itu merasa bahwa pandangan mata Ho Hay Hong seperti mengandung perasaan sedih, tetapi juga mengandung perasaan t idak terbalas.

Tanpa dapat menguasai perasaannya lagi ia lantas sesapkan kepalanya di dada Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong ingin menghibur, tetapi bau harum dari tubuh gadis itu telah mengalutkan pikirannya, hingga tidak bisa kendalikan perasaanya sendiri dan akhirnya memeluk tubuhnya.

Dua tubuh menjadi satu. darah mereka mengalir semakin kencang, dua fihak sudah tidak  dapat menguasai pikiran masing-masing, dua-duanya tenggelam dalam arus asmara.

Ho Hay Hong tidak tahu bahwa gadis itu sudah terkena pengaruhnya obat bius. dianggapnya bahwa kelakuan gadis itu disebabkan karena hendak ditinggal pergi, maka ditelinganya ia berkata bisik-bisik:

"Adikku, aku merasa sangat malu tidak mempunyai barang apa-apa untuk ditinggalkan padamu sebagai barang peringatan, aku hanya dengan hatiku yang meluluinya untuk menyintai kau selama lamanya."

Muka gadis Itu merah membara, ia berkata dengan napas memburu:

"Ho koko, aku .Juga demikian terhadapmu." Kekuatan obat perlahan-lahan bekerja semakin keras, hingga pikirannya semakin kalut. Suatu kekuatan aneh agaknya mendorong keberaniannya, tangannya bergerak dan balasi memeluk pinggang Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong tiba-tiba dapat merasakan napas gadis itu memburu jauh berbeda dengan biasanya, tetapi ia tidak memikirkan yang bukan-bukan. Sebab ia sendiri juga sudah terpengaruh oleh cinta kasih demikian besar dari sang gadis, sehingga tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi.

Gadis itu merasa bahwa kekasihnya adalah orang yang paling t idak beruntung, ia hendak mendapatkan cintanya yang sepenuhnya sebelum ia meninggalkan dunia ini, supaya ia dapat meninggalkan dunianya tanpa penasaran.

Ho Hay Hong sendiri juga seolah-olah melupakan nasibnya yang buruk, yang melupakan segala-galanya, tangannya mulai menggerepe dan akhirnya terjadilah suatu adegan yang seharusnya tidak dilakukan oleh muda-mudi yang belum menikah dengan resmi.

Dalam suasana gelap, terdengar suara rint ihan si gadis. "Ho koko setelah kau meninggal dunia, asal anak kita lahir aku masih merasa seperti melihat kau lagi."

Walaupun Ho Hay Hong merasa seperti seorang berdosa, tetapi pikiran dan segala perasaan waras waktu itu seolah-olah sudah runtuh semua, sehingga melakukan perbuatan yang seharusnya t idak boleh dilakukan itu. Ia merasa berdosa karena dalam keadaan demikian ia telah merebut kesucian gadis itu. Tak lama kemudian, diluar pintu gudang yang gelap gulita tiba-tiba tampak sinar terang, lalu terdengar suara orang yang memanggil dirinya: ”Ho Siauw Hiap, It Jie Hui kiam loya minta kau lekas menghadap."

Dengan sikapnya yang lemah lembut gadis itu rebahkan dirinya didada Ho Hay Hong, sekarang ia merasa sekujur badannya lemas, tetapi pikirannya pelahan-lahan mulai jernih, ketika ia mengetahui apa yang dilakukan olehnya dengan Ho Hay Hong, ia mulai bingung. 

Diam-diam ia berpikir, tetapi t idak mendapatkan suatu jalan keluar. Ia mengerti baik bagaimana nasib sendiri untuk selanjutnya, Ia akan menjadi janda untuk selama- lamanya, meskipun hal itu tidak terlalu ditakuti, tetapi desas-desus atau omongan orang diluaran bukanlah seorang wanita yang masih muda belia seperti ia, yang sanggup menerimanya.

Ia tidak mengerti mengapa ia sendiri mendadak demikian, samar-samar ia masih ingat bahwa hal itu terjadi mungkin karena pengaruhnya obat bius tadi, tetapi, bagaimana pun juga rasa cintanya yang begitu besar terhadap Ho Hay Hong adalah sebab utamanya, jikalau ia sendiri tidak cinta padanya mungkin tak akan terjadi kesalahan seperti itu.

Diam-diam ia mengenakan pakaian lagi, diam2 ia juga merasa malu atas perbuatannya sendiri, mengapa Ho Hay Hong tidak diberi umur panjang, sehingga ia tidak bisa lama berada disampingnya, apakah itu yang dinamakan takdir?

Ia tidak berani memikirkan lagi, kejadian yang akan datang pasti banyak penderitaan baginya. Diluar gudang saat itu terdengar pula suara  orang yang memanggil kekasihnya, karena suara agaknya sangat cemas, mungkin kakeknya hendak merundingkan soal penting maka diam-diam memperingatkan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong seperti baru bangun dari tidurnya, sekarang ia harus menghadapi kenyataan, tiba-tiba ia lompat bangun dan berkata dengan suara tajam.

"Beritahukan kepadaku, apa yang sudah dilakukan."

Sudah tentu gadis itu tidak berani menceritakan, ia merasa sangat malu, hingga menundukkan kepalanya.

Ho Hay Hong seperti orang kalap, ia memanggil sambil menggoyang-goyangkan kepala tubuhnya dan terus menanya.

Gadis itu tidak berdaya, air matanya mengalir keluar lagi, Ho Hay Hong yang menyaksikan itu, seperti baru sadar dan baru tahu apa yang telah terjadi, ia memukuli dadanya sendiri seperti orang gila.

Gadis itu akhirnya membuka mulut dan berkata dengan terisak isak:

"Ho koko, kau boleh sesalkan aku, semua ini adalah aku yang tidak baik."

Ho Hay Hong menatap wajahnya dengan perasaan terharu, kulit mukanya beberapa kali berkeringat, ia benar-benar tidak menduga bahwa sesaat hendak meninggalkan usianya, ia telah merusak kesucian seorang gadis yang masih putih bersih.

Karena terlalu menyesal atas perbuatan sendiri, ia memukuli dada dan menarik-narik rambutnya sendiri. Gadis itu masih terus menangis dengan sedihnya, walaupun ia sangat pintar, tetapi juga tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan persoalan itu.

Ketika Ho Hay Hong membuka pintu gudang, penjaga gudang itu ternyata sudah tidak ada, yang ada hanya beberapa orang yang membaw a lentera yang sedang mencari dirinya.

Lalu ia berkata kepada mereka: "sebentar aku akan kesana, kalian beritahukan dulu kepada kongkong."

Ia balik untuk menemui gadis itu, ketika keduanya saling berpandangan. Kedua fihak agaknya sama-sama memahami soal itu, tetapi Ho Hay Hong merasa sangat tidak enak. Ia berpikir: ” Ia telah memberikan tubuhnya yang paling berharga padaku, bagaimana aku harus meninggalkan begitu saja?”

Akhirnya ia berkata:

"Begini saja, kau masih disini menunggu aku. kalau nasibku baik bisa mendapatkan obat, dalam waktu beberapa hari aku pasti pu lang kembali menengok kau, jikalau aku tidak pulang. itu berarti aku sudah mati di kampung orang. Kau juga tidak perlu berduka, baik- baiklah meraw at dirimu"

Kini ia merasa bahwa kewajibannya tidak seringan lagi seperti ketika ia baru menginjak dunia kang ouw. Ia sekarang sudah berkeluarga, ia harus tanggung jaw ab sepenuhnya

Ia keraskan hati meninggalkan gadis itu, pergi keruangan untuk menjumpai kakeknya. Didalam ruangan tamu, waktu itu sudah berkumpul banyak orang, beberapa diantaranya merupakan muka- muka baru yang belum pernah dikenal.

Orang-orang ini ketika menampak wajah Ho Hay Hong pucat semua merasa heran, pertama Hay Hong memberi hormat terlebih dulu kepada kakeknya kemudian kepada Hud sim Totiang dan lain lainnya setelah itu duduk disamping kakeknya.

Orang-orang yang baru dikenalnya hari itu semuanya delapan orang, mereka sementara merupakan orang- orang yang memiliki kepandaian t inggi, Ia t idak mengerti atas kedatangan tamu-tamu ini, It Jie Hui kiam juga t idak berkata apa-apa, hanya dengan sorotan matanya yang penuh cinta kasih memandang dirinya.

Ia merasa bahwa dirinya d iperhatikan oleh tamu-tamu itu, wajah mereka seperti menunjukkan perasaan heran, agaknya tidak percaya pemuda itu seorang berkepandaian sangat tinggi.

Seorang tua bermuka hitam dan tangan membaw a pipa panjang, bangkit lebih dulu dari tempat duduknya seraya berkata.

"Saudara muda ini kusangka adalah Ho Siauw Hiap!" Ho Hay Hong kini mulai perhatikan diri orang tua itu.

Tiba-tiba ia terkejut. Orang tua ini bukanlah Pok hong lojin, yang merupakan salah seorang pemimpin dari golongan rimba hijau?

Meskipun dalam hatinya diliputi oleh berbagai pertanyaan, tetapi mulutnya buru-buru menjaw ab. "Benar aku yang rendah ini adalah Ho Hay Hong, bolehkah aku numpang tanya, kedatangan Locianpwee ada urusan apa?"

"Aku adalah wakil dari saudara-saudara rimba hijau daerah Ou khun dan Ciang hing. nama gelarku Tang Hiang lojin," jawab orang bermuka hitam itu.

"Nama besar locianpwee sudah lama aku  dengar!" kata Ho Hay Hong.

"Belum lama berselang sahabatku Kay see Kimkong datang mengganggu bersama orang-orangnya, tetapi akhirnya jatuh ditangan Siauw Hiap, apakah itu betul?"

Ho Hay Hong mendadak bangkit dari  tempat duduknya dan berkata sambil tertaw a nyaring:

"Kenapa? Apakah Locianpwee hendak menuntut balas?"

"Siauw Hiap silahkan duduk, kedatanganku ini bukan untuk itu, dengarlah dulu ucapanku."

Ho Hay Hong pelahan duduk lagi ditempatnya dan berkata.

"Harap locianpwee jelaskan maksud kedatanganmu!" "Benarkah Siauw Hiap mendapatkan lambang

kebesaran ngo jiauw leng pemimpin rimba hijau  kita yang terdahulu?"

"Benar, lambang itu sekarang berada  ditanganku untuk apa locianpwee menanyakan lambang itu?"

"Dengan terus terang saudara-saudara kita didaerah sana dan daerah-daerah yang dahulu pernah dikuasai oleh Bengcu kita yang dahulu semua tidak merasa puas terhadap sepak terjang Kay see Kim kong, maka saudara-saudara itu mengutus aku siorang tua datang kemari untuk menyampaikan permint aan mereka?"

"Maksud locianpwee?"

"Saudara-saudara dari daerah itu bermaksud minta Siauwhiap menggantikan jabatan pemimpin mereka. Sebab ditangan Siauwhiap ada lambang Ngo jiaw  leng, ini sudah cukup untuk memerint ah atau menggerakkan saudara-saudara golongan rimba hijau di daerah itu dan kedua ketika Kay see Kimkong datang menyerbu kemari, akhirnya telah binasa ditangan Siaohiap. Ini berani Siauwhiap sudah menyingkirkan seorang yang tidak disukai sepak terjangnya oleh saudara-saudara kita itu, maka ketika mereka mendengar khabar bahwa Siauwhiap sudah berhasil menyingkirkannya, semua merasa girang dan bersukur, maka mereka setuju untuk minta Siauwhiap menjadi pemimpin golongan rimba hijau enam propinsi daerah utara. Bagaimanakah pikiran Siauwhiap?"

Ketika mendengar perkataan itu, Ho-Hay Hong melengak, lama t idak tahu bagaimana lagi menjawab.

Orang tua itu berkata lagi: "Dengan sejujurnya, golongan rimba daerah utara sejak sepuluh tahun lebih berselang sudah tidak bisa bersatu. Mereka saling cakar- cakaran sendiri, masing-masing menjagoi dan  kerja untuk kepentingan sendiri-sendiri, sehingga sering ditertaw akan dan diejek oleh saudaranya didaerah selatan.

”Bengcu kita yang lalu menguasai daerah bagian atas sungai dan bagian barat daerah pegunungan, sedangkan Kay see Kimkong menduduki daerah sebelah utara dan sebagian daerah barat. Aku sendiri mempertahankan kedudukan dunia daerah Oh hun dan Kim hing, kita  saling bertentangan, masing-masing mementingkan diri sendiri.

”Jika keadaan in i dibiarkan berlangsung terus, berapa puluh tahun lagi mungkin tetap tidak dapat dipersatukan. Sekarang Siauwhiap sudah berhasil membasmi kekuatan Kay-see kim kong, itu saja sudah cukup menggemparkan rimba persilatan daerah utara, apalagi kau juga sudah mendapatkan lambang kebesaran Ngo jiau leng.

”Hal in i rasanya bukan suatu hal yang kebetulan saja, maka kita anggap dapat dipergunakan untuk mempersatukan kekuatan rimba persilatan daerah utara.

”Aku si orang tua anggap kecuali Siauwhiap, mungkin tidak ada orang lain yang memiliki kekuatan untuk melakukan usaha besar ini, maka aku harap supaya Siauwhiap suka pikir masak-masak?"

Perkataan itu telah diucapkan oleh orang tua bermuka hitam itu dengan sikap merendah dan sungguh-sungguh sehingga menarik perhatian semua orang.

Ho Hay Hong sungguh tidak menyangka bahwa dirinya telah menanjak demikian pesat, dalam waktu belum cukup satu hari sudah diangkat menjadi pemimpin besar golongan rimba hijau daerah utara. Maka saat itu ia malah termangu-mangu.

Orang tua itu kembali berkata:

"Aku hanya menyampaikan maksud dan permint aan orang banyak, yang minta Siauwhiap supaya suka menjadi pemimpin mereka sedikitpun aku tidak mengandung maksud untuk kepentingan diriku peribadi. ”Kau harus tahu bahwa setiap orang sudah tidak mempunyai rasa harga diri, itu berarti bangkai hidup yang berjalan atau orang yang tidak berguna lagi. Saudara saudara kita sudah lama dijelekkan, dihina oleh golongan rimba hijau daerah selatan, tetapi selama itu terpaksa mandah karena mengetahui tiada seorang yang dapat mempersatukan kekuatan sendiri.

”Siauwhiap adalah seorang yang berkepandaian luar biasa, hanya dengan sepasang tangan kosong kau dapat merubuhkan satu jago terkuat seperti Kay see Kimkong. ini sudah membuktikan betapa jauh lebih tinggi kepandaian Siauwhiap kalau dibanding dengan Kaysee Kimkong.

”Dengan sendirinya Siauwhiap menjadi pujaan orang banyak, dan jikalau Siauwhiap dapat menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, untuk mempersatukan kembali kekuatan rimba hijau daerah utara, bukan saja aku sendiri akan merasa beruntung, tetapi saudara- saudara kita di daerah utara juga akan mengucap bersukur!"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir. Orang golongan rimba hijau sebagian besar terdiri dari orang-orang yang berkekuatan jahat, aku Ho Hay Hong adalah seorang golongan baik-baik, bagaimana karena ingin mendapat kedudukan tinggi lantas bercampuran dengan mereka?

Oleh karena itu maka ia lantas menjawab: "Terima kasih atas penghargaan locianpwee dan saudara-saudara sekalian, Ho Hay Hong adalah seorang bodoh yang t idak mengerti apa-apa, sebetulnya tidak bedanya dengan manusia biasa, jabatan pemimpin itu maafkan aku tidak sanggup dan tidak berani menerima, hal in i aku harap supaya locianpwe dan saudara-saudara sekalian suka maafkan!"

Mendengar jaw aban itu, bukan saja orang tua bermuka hitam itu merasa sangat kecewa, begitupun tujuh orang yang mengikutinya juga menarik napas sambil menggelengkan kepala menunjukkan kekecewaan mereka.

"Dalam hal in i aku siorang tua hanya meminta dengan sangat supaya Siauwhiap suka mengingat kegelisahan hati saudara-saudara kita didaerah utara. Cobalah timbang sebaik-baiknya." berkata siorang tua bermuka hitam.

"Sangat menyesal sekali, keputusanku ini susah dirobah!" berkata Ho Hay Hong sambil menggelengkan kepala.

Ketika berpaling memandang kakeknya, diluar dugaannya It Jie Hui kiam berkata padanya sambil menarik napas:

"Ho Hay Hong, jikalau bukan karena tubuhku terkena serangan ilmu serangan san hoa-ciang-lok. dan jiw amu sedang menghadapi maut, urusan ini benar-benar merupakan suatu kehormatan bagimu."

"Kongkong, apa kau suka jikalau aku berkaw an dengan orang-orang jahat?" bertanya Ho Hay Hong t idak mengerti.

"Sebenarnya bukan begitu. Jahat atau baik  itu tergantung kepada orangnya, manusia sejak dilahirkan dalam dunia, semua sebetulnya merupakan manusia- manusia yang putih bersih, asal hatimu t idak dipengaruhi oleh kejahatan, dan perbuatanmu kau dasarkan atas kebenaran, sekalipun mereka banyak yang jahat, tetapi mungkin bisa merubah kelakuannya." berkata It Jie Hui kiam.

Pembicaraan antara mereka, dilakukan dengan sangat perlahan sekali, sehingga tidak dapat didengar oleh orang lain. Orang tua bermuka hitam itu mengira It Jie Hui kiam sedang membujuk cucunya, maka diam-diam merasa girang.

Sampai disitu ia merasa tidak sabar lagi, tangannya lalu menggapai. Dari rombongannya muncul keluar seorang laki-laki yang penuh berewok. Didalam tangannya laki laki ini membawa sepucuk sampul merah, yang lantas diberikan kepada Ho Hay Hong dengan kedua tangan.

Ho Hay Hong menyanggupi sampul merah itu, diatasnya tertulis: "Menyambut dengan hormat kedatangan Bengcu kita yang baru saudara Ho Hay Hong."

Dalam surat itu tertulis beberapa kata-kata permohonan yang sangat, yang disertai oleh nama-nama orang terkemuka dalam golongan rimba hijau, yang jumlahnya beberapa puluh banyaknya.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir:

"Orang-orang ini pasti merupakan tokoh-tokoh terkemuka dari golongan rimba hijau daerah utara, sehingga berhak menuliskan namanya didepan surat undangan ini."

Dugaan itu memang tepat, orang-orang yang menuliskan nama itu, semua adalah tokoh-tokoh terkenal golongan rimba hijau daerah utara. Mendapat sambutan demikian hangat dari orang terkemuka golongan rimba hijau, sebetulnya merupakan suatu kehormatan yang sangat besar. Akan tetapi, saat itu ia berada dalam kesulitan yang sangat besar, sebab akibat dari serangan Kay-see Kim kong, sehingga jiw anya hanya t inggal t iga hari saja.

Ia pikir hendak mengembalikan surat undangan itu, tetapi orang tua bermuka hitam, bersama tujuh kawannya lebih dulu sudah membungkukkan badan memberi hormat secara kebesaran.

Dalam keadaan demikian betapapun kerasnya hati Ho Hay Hong, berat baginya untuk menolak. Apalagi dari mulut kakeknya ia juga mengetahui bahwa kedudukan pemimpin golongan rimba itu belum tentu membuat namanya terce la, maka akhirnya ia mengambil keputusan untuk menerima gagasan tersebut.

Selagi hendak menyatakan kesanggupannya orang tua bermuka hitam itu dengan muka berseri seri dan berlaku yang sangat menghormat berkata padanya:

"Siauwhiap sekarang sudah menjadi Beng cu rimba hijau daerah utara, kita mengharap supaya dalam waktu yang singkat dapat dilakukan upacara timbang terima, dan selanjutnya nasib seluruh saudara-saudara kita di daerah utara kami serahkan ditangan Siauwhiap!"

Laki-laki berewokan itu diberi isyarat oleh orang tua bermuka hitam, kembali mengambil sebuah kotak hitam tembaga setengah kaki persegi. Kotak itu dibukanya, dari dalamnya mengeluarkan sebuah plat emas, diberikan kepada Ho Hay Hong. Plat itu diukir dengan lukisan sepasang naga yang sedang berebutan sebutir mutiara. Dikebalikkannya terukir sebuah lukisan burung Hong dan naga yang sedang menari-nari.

Dalam keadaan demikian, berat bagi Ho Hay Hong untuk menolak, maka pemberian itu diterimanya.

Orang tua bermuka hitam setelah melihat usahanya berhasil, tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Ia berkata kepada Ho Hay Hong:

"Jikalau Bengcu ada keperluan apa-apa harap memberikan perint ah dengan mengunjukkan emas itu, kami sekalian sekalipun harus menerjun kelautan tidak akan menolak."

Sehabis berkata, bersama tujuh kaw annya memberi hormat, kemudian minta diri.

Ho Hay Hong masih berdiri kesima, setelah semua orang sudah berlalu, ia baru sadar. Tetapi ibarat beras sudah jadi nasi, biar bagaimana sudah tidak bisa menolak lagi.

Ia memeriksa emas ditangannya, emas itu memancarkan cahaya berkilauan, hingga membuat kagum dari orang-orang yang ada disitu.

It Jie Hui kiam, berkata sambil menghela napas panjang:

"Sayang Ah, anak, sayang kau tidak ada rejeki untuk menikmati kebahagian itu"

Ia juga tahu bahwa Ho Hay Hong dengan plat emas ditangannya, sudah merupakan satu pemimpin rimba hijau didaerah utara, tetapi kehormatan besar itu dalam keadaan seperti sekarang itu bagaimanapun juga seperti diliputi oleh kabut tebal.

Kim c iang Tayhiap tiba-tiba membuka mulut dan berkata:

"Kabarnya kau hendak melakukan perjalanan keselatan. ."

"Ya, aku akan berangkat segera!" jawab Ho Hay Hong sambil menganggukkan kepala.

"Kau pernah menolong jiwaku, aku tidak punya barang apa-apa untuk membalas budimu, hanya seekor kuda kesayanganku ini aku akan hadiahkan kepadamu, harap kau suka menerima dengan senang hati, kuda tungganganku ini setiap hari dapat melakukan perjalanan ribuan pal tanpa merasa lelah, kau jangan pandang ringan padanya, dia mungkir besar gunanya bagimu. Karena dalam waktu satu hari satu malam kau sudah akan tiba diselatan !"

Ho Hay Hong pikir: ’Aku justru khaw atirkan sebelum tiba didaerah selatan sudah putus nyaw aku. Kalau begitu kuda ini sungguh berarti bagiku.”

Oleh karenanya ia menerima baik pemberian itu mengucapkan terima kasih. It Jie Hui kiam berkata: "Hay Hong pergilah dan baik-baik diperjalananmu, aku tidak bisa mengantarkan !"

Setelah mengucapkan perkataan itu, air matanya mengalir turun, hingga buru-buru melengos kearah lain.

Ho Hay Hong keluar sambil menuntun kuda. Kuda itu ternyata tinggi besar, bulunya yang  menurun kebawah, ia tahu bahwa kuda  itu adalah  seekor kuda yang jempolan, maka sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Kim ciang Tayhiap.

Tiba-tiba ia teringat bahwa ia sendiri tidak pandai menunggang kuda, selagi berada dalam keadaan ragu ragu, satu suara yang tidak asing baginya terdengar dari arah dalam "Ho koko kau hendak pergi, mengapa tidak pamitan denganku !"

Ia buru-buru mengangkat tangan memberi hormat dan berkata:

"Maaf karena hatiku tidak tenang, maka aku melupakan peraturan ini, harap kau suka maafkan !"

Gadis berbaju ungu nampak berjalan ke luar dari dalam rumahnya, ia sudah berpakaian rapih, hingga kelihatannya semakin menarik hati. Ia berkata pula:

"Ho koko. apakah kau tidak keberatan? kalau aku antarkan !"

Munculnya gadis itu, mengejutkan semua orang sebab beberapa hari berselang It-Jie Hui kiam sudah suruh  ia  ke selatan untuk mengungsi, tak disangka ia masih berada di situ.

It Jie Hui kiam memang tidak senang, ia hendak menegurnya, tetapi ketika menyaksikan wajah sedih gadis itu, ia menduga bahwa gadis itu mungkin sudah mengetahui nasib Ho Hay Hong. maka ia tidak tega menegur lagi.

Delapan orang pasukan Angin puyuh juga maju menghampiri Ho Hay Hong berkata: "Ho Tayhiap jikalau Ho Tayhiap tidak keberatan kita delapan saudara juga akan mengantar kau dalam perjalanan!"

"Baik, Toako sekalian demikian besar perhatiannya terhadap siaotee. sudah tentu siaotee tak bisa menolak !" jawab Ho Hay Hong dengan perasaan terharu.

Gadis berbaju ungu dengan menuntun seekor kuda berjalan keluar, orang banyak tidak perhatikan bahwa air mata gadis itu membasahi kedua pipinya.

Setelah berada dijalan raya, ia melepaskan kudanya sendiri dan menyambuti kuda Ho Hay Hong, kemudian bersamanya menunggang seekor kuda.

Gadis itu yang memang pandai menunggang kuda. dengan cepat sudah bergerak menuju keluar kota bersama kuda delapan yang ditumpangi oleh  delapan dari pasukan Angin puyuh.

Berjalan sudah beberapa lama, gadis baju ungu itu tiba-tiba menghentikan kudanya dan berkata kepada delapan pasukan angin puyuh:

"Toako sekalian boleh mengantar sampai di sin i saja tolong sampaikan kepada loya, bahwa aku akan mengikuti Ho Toako pergi ke selatan !"

"Kapan nona hendak pulang?" tanya Khong Lip. "Belum tentu, toako"

"Jangan banyak tanya lagi, lekas pulang !"

-0ooodwooo0-