Rahasia Kampung Setan Jilid 11

 
Jilid 11

ALIS gadis itu nampak berdiri, lalu berkata dengan nada kurang senang:

"Lantaran kau, aku telah mendapat banyak kesulitan, nyatanya kau seorang yang tidak mempunyai liangsim sedikitpun juga!"

Setelah Itu, dengan kecepatan bagaikan kilat badannya bergerak menghampiri Ho Hay Hong, tangannya juga bergerak, hingga Ho Hay Hong berada dalam kurungan bayangan tangannya.

Ho Hay Hong sudah pernah menyaksikan kepandaian ilmu silat nona itu, maka ia tahu benar sampai dimana kekuatannya. Ia tidak berani berlaku gegabah sambil memasang kuda kuda dan dengan mempergunakan salah satu gerak t ipu dalam ilmu silatnya Khun-hap sam kay, tangan kanannya menyerang ketiak kirinya, tangan kiri menyerang dada.

Dua rupa serangan itu nampaknya sederhana, tetapi sebetulnya mengandung serangan maut. Tetapi serangan dengan tangan kanannya, mendadak ditarik kembali dan dirubah menjadi gerak tipu yang dinamakan cambuk berkibaran dan marah membelah rambutnya.

Sebentar kejadian terdengar suara beradunya tangan kedua pihak, masing-masing segera lompat mundur.

Gadis baju putih itu melayang mundur dengan satu gerakan burung elang terbang diatas air, kalau  dilihat dari jauh, seperti bunga putih berterbangan ditengah udara, sungguh indah dalam pandangan mata.

Di pihak Ho Hay Hong mundur setengah langkah dengan badan terhuyung-huyung, tetapi ia tidak mau menyerah kalah. Dalam keadaan kepepet mendadak menemukan satu akal, ia paksa pertahankan kakinya, kemudian berbalik merangsak maju menyerang lagi.

Serangan itu bahkan didahului oleh hembusan angin yang keluar dari tangannya, sehingga menimbulkan suara menderu. Hal ini nampaknya mengejutkan gadis baju putih itu.

Agaknya ia sudah lupa menangkis serangan  itu, hingga terdorong oleh hembusan angin yang sangat hebat. Ia diam-diam merasa heran dengan kekuatan tenaga pemuda itu, karena dalam perhitungannya. orang yang dapat mengeluarkan serangan kekuatan tenaga dalam sedemikian, setidak-tidaknya sudah mempunyai latihan kira-kira dua puluh tahun lebih.

Tetapi ia hanya baru berpisah satu malam dengan Ho Hay Hong, sedangkan kekuatan tenaganya sudah diketahui pada waktu kemarinnya. Dari manakah kekuatan tenaganya itu ? Ho Hay Hong sendiri juga tidak menduga, bahwa gadis yang pernah mengalahkan Tie cu Sin kun ini, telah terpukul mundur olehnya.

Diam-diam ia merasa girang, kepercayaannya juga semakin bertambah. Dengan beruntun ia melancarkan serangan sampai t iga kali.

"Ternyata kau menyembunyikan kepandaianmu!" berkata gadis itu gemas.

Gadis itu mendadak ingat bagaimana keadaan ketika Ho Hay Hong terkepung dengan orang-orangnya golongan Kaw a-kawa. Oleh karena agak kewalahan menghadap Tie cu Sinkun dan karena merasa simpati terhadap dirinya, ia telah turun tangan memberi bantuan, dan berakhir dengan dijatuhkannya Tie cu Sin kun, sehingga kehilangan muka.

Tetapi, semua itu ternyata merupakan tipuan belaka. Ho Hay Hong yang di anggapnya tidak sanggup melawan Tie cu Sin kun, ternyata hanya berpura-pura saja.

Ingatan akan peristiw a itu ia merasa seperti dipermainkan oleh Ho Hay Hong, maka hatinya sangat mendongkol.

Bagaimanapun keras dan dingin hatinya, ia tidak sanggup menahan hinaan itu, maka dengan mendadak ia lompat melesat setinggi enam tombak lebih.

Ditengah udara badannya berputaran, kemudian mementang kedua lengannya bagaikan burung mementang sayap, lalu menukik seperti garuda menerkam mangsanya. Dengan cepat Ho Hay Hong teringat kejadian didepan gedung Kan lui Kiam khek, sewaktu gadis itu bertempur dengan Tie cu Sin kun. Ia segera mengetahui bahwa itu adalah permulaan melakukan serangan dengan menggunakan ilmu serangan lima gerakan serangan garuda sakti. Serangan dengan ilmu inilah itu, Tie cu Sin kun masih belum bisa melawannya. apalagi ia sendiri yang kepandaian ilmu silatnya masih dibawah Tie cu Sin kun.

Belum lenyap pikiran itu dalam otaknya, suara siulan nyaring terdengar dari mulut gadis itu, kemudian tampak berkelebatnya bayangan putih, dengan cepat menukik turun.

Pada saat itu Chim Kiam sianseng telah berseru: "Ilmu serangan garuda sakti."

Seruan yang mengandung kecemasan itu dalam telinga Ho Hay Hong kedengarannya sangat tajam, Ia yang memang sudah gentar, maka ketika mendengar seruan itu, pikirannya semakin kalut.

Sesaat mendadak ia ingat tugasnya sendiri dan kewajibannya yang belum selesai. Tanpa pikir akan mendapat malu lagi, ia meloncat kedanau.

Tindakan Ho Hay Hong itu disusul oleh Chim Kiam sianseng. yang memerint ahkan semua orang-orangnya supaya lekas undurkan diri. Maka ketika Gadis baju putih itu melancarkan serangannya garuda garuda sakti keadaan menjadi kalut .

Gadis muka jelek berbaju hijau, yang sejak munculnya gadis baju putih diam saja belum pernah turut bicara, kini ketika melihat gadis baju putih mengamuk lantas berseru:

"Adik, kau jangan marah, ilmumu Cit khim Liang hoat itu jangan gunakan sembarangan. lekas tarik kembali seranganmu.

Suaranya itu sangat tajam, hingga mengejutkan Chim Kiam sianseng, tetapi ia segera mengerti maksud gadis jelek itu. Sebab sudah jelas bahwa ilmu serangan itu adalah ilmu serangan garuda sakti, mungkin karena takut rahasianya terbuka, maka sengaja dikatakannya ilmu Cio khim Ciang hoat.

Gadis baju putih itu menjawabnya dengan hati mendongkol:

"Bocah itu benar-benar terlalu menghina aku, aku harus beri hajaran padanya!"

Sehabis berkata kemudian, orangnya sudah melayang turun. Tetapi ia masih belum  menghentikan serangannya. Dengan cepat mengeluarkan segumpal jarum perak dari sakunya, dilontarkan kedalam danau.

Dengan kekuatan yang sangat hebat, jarum itu masuk kedalam air seluruhnya.

Gadis bermuka jelek berbaju hijau itu berkata sambil tertaw a dan tepuk tangan:

"Kiranya kau juga membawa jarum menembus gelombang, kini bocah itu sekarang baru tahu rasa."

Tak lama kemudian air dipermukaan danau nampak bergerak-gerak, dari dalam air muncul satu kepala manusia yang sudah basah kuyup, napasnya sengal- sengal, ia adalah Ho Hay Hong. Ia mahir berenang, begitu masuk kedalam air, lantas dapat merasakan bahwa dalam air itu ada hawa pedas, hingga matanya hampir tidak dibuka. Dalam otaknya segera ingat makluk aneh dalam danau itu. Wajahnya berubah seketika.

Tetapi sipatnya yang keras kepala, meskipun ia tahu bahwa dalam air itu ada bisanya, ia masih membandel. Matanya dibuka sedikit, tiba-tiba nampak olehnya benda bersinar berkeredep didasarnya danau itu. ia segera mengambilnya dan dimasukkannya kedalam saku.

Ia berhenti didanau sambil menahan napas dengan menggunakan Ilmu mendengar suara dari bawah tanah, ia sudah tahu bahwa gadis baju putih sudah turun ketanah. Samar-samar ia juga mendengar suara orang berbicara.

Ia tidak berani mendarat ketempat semula. Selagi hendak berenang kelain tempat untuk menghindarkan serangan gadis itu, tidak diduganya bahwa tempat sembunyi yang dianggapnya paling aman itu masih ditembusi oleh jarum berbisa gadis itu.

Sebuah jarum-menembus lengan kanannya dan menimbulkan rasa sakit t idak terkira. Dengan demikian ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi di dalam air, terpaksa lompat naik kepermukaan air.

Melihat darah warna hitam mengucur keluar dari dagingnya yang terluka dan melihat sebuah jarum perak yang sangat halus menancap didagingnya, segera ia mengetahui bahwa dirinya sudah terkena serangan jarum beracun. Dipandangnya gadis baju putih itu dengan sinar mata beringas. Gadis baju putih itu tidak menyerang  lagi,  dengan sinar mata dingin mengawasinya. Ketika menampak Ho Hay Hong marah, ia bahkan berkata dengan nada mengejek:

"Rasakan. Sekalipun kau hendak lari ke ujung langit, aku juga ada akal untuk memaksa kau kembali. Sekarang kau harus menepati janjimu. Serahkan kembali pedang pusaka itu. Jikalau t idak, aku t idak akan perduli, biar kau mati keracunan!"

Pandangan mata Ho Hay Hong ditujukan kekotak dimana terdapat kepala  ji suhengnya, perasaannya semakin sedih.

"Kecuali sikakek penjinak garuda yang datang mengambil sendiri, kalian berdua jangan harap bisa mendapatkan kembali barang itu." ia berkata dengan nada suara dingin.

Ia merasa menyesal terhadap perguruannya sendiri, karena ia pernah mencegah t indakan Ji suhengnya, Dan Ji suhengnya itu sudah menutup mata untuk selama- lamanya.

Kematiannya yang mengenaskan itu telah membuat ia mengenangkan kembali hubungannya dengan Ji suhengnya selama masih anak-anak dan sama-sama berguru. Demikian sedih perasaannya pada waktu itu, hingga ia berlaku nekat dan hendak memancing supaya dua gadis itu semakin marah.

Benar saja, ketika mendengarkan ucapannya, dua gadis itu nampak sangat marah.

Terlebih dulu cacian yang tidak sedap dilancarkan oleh gadis baju hijau: "Jahanam siapakah sebenarnya si kakek penjinak Garuda itu ? jaw ab !"

Kemudian, disusul oleh kata-kata gadis baju putih: "Kau selalu menyebut-nyebut nama kakek penjinak

Garuda, siapakah sebetulnya orang itu ? Kalau kau tidak dapat memberi penjelasan, hari ini aku tidak akan memberi kesempatan padamu untuk pulang dalam keadaan hidup !"

"Aku sudah terkena serangan jarum beracun, memang sudah tidak bisa hidup lama lagi, mengapa aku harus takut gertakanmu ?" Ho Hay Hong gusar.

Dengan menggemertakkan gigi, menahan sakit, ia mencabut jarum beracun dari lengannya hingga darahnya menyembur keluar membasahi mukanya.

Oleh karena terjadinya penyerangan itu, hanya sedikit perasaan hangat Ho Hay Hong terhadap gadis itu. Dan kini, telah lenyap seluruhnya.

"Siapa kakek penjinak Garuda, aku percaya kau lebih tahu daripadaku, jikalau kau ingin tahu sampai sedalam- dalamnya, terus terang aku beritahukan padamu, dia adalah orang yang memberi pelajaran ilmu silat dengan gerakan garuda sakti, juga adalah pemilik pedang pusaka garuda sakti. Semua permint aanku ini ada buktinya, siapapun tidak bisa menyangkal. Apakah kau masih hendak membantah?" katanya pula dingin.

"Kata-kata orang Ini sangat menjemukan, mengapa kau tidak lekas membunuhnya saja?" berkata wanita jelek baju hijau kepada gadis baju putih. "Sebab pedang pusaka itu masih berada di tangannya, jikalau t idak." berkata gadis baju putih.

Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong tiba-tiba mendapat satu akal. Ia lantas sengaja berpaling dan berkata kepada Chim Kiam sianseng:

"Sianseng apa sudah dengar atau belum  ucapannya itu sudah jelas merupakan suatu peringatan yang berarti kalau pedang kita keluarkan, orangnya pasti binasa. Hoo... aku bukan seorang tolol, untuk mempertahankan nyawaku, aku terpaksa tidak akan memberikan pedang itu lagi."

Kemudian ia berkata kepada gadis baju putih: "Lenganku sudah terkena serangan jarum beracunmu,

aku  tahu,   cepat  atau  lambat   aku  pasti  mati  Tetapi

sebelum aku mati, aku ingin melakukan suatu perbuatan yang melukai hati!"

"Apakah Ho siauhiap hendak mengubah maksudmu yang semula?" bertanya Chim Kiam sianseng yang tidak mengerti.

Ho Hay Hong menekan perasaan amarahnya. Ia berjalan beberapa langkah, mendekati padanya dan berkata dengan baik baik:

"Jangan bingung, kalau ia tetap tidak mau berkata terus terang, kita juga tidak berdaya. Kita terpaksa harus berlaku sabar, aku ada akal untuk mengorek tentang diri Kakek penjinak garuda !"

Melihat sikap Ho Hay Hong yang seram Chim Kiam sianseng tidak menanya lagi, buru-buru mengajak orang- orangnya berlalu. Setelah Chim Kiam sianseng dan orang-orangnya berlalu jauh. Ho Hay Hong t iba-tiba mengeluarkan suara bentakan keras melancarkan satu serangan hebat kepada dua wanita itu.

Gadis baju putih itu mengangkat tangan dengan perasaan ragu-ragu menyambuti serangan itu.

Di luar dugaannya, serangan Ho Hay Hong yang nampaknya demikian hebat, ternyata satu tipu muslihat belaka. Selagi perhatian dua wanita itu dipusatkan kepada serangannya, mendadak ia lompat  merampas dua kotak berisi batok kepala manusia dan lantas kabur ! 

Wanita jelek baju hijau itu merasa heran ia membentak dengan suara marah:

"Kau berani lari?"

Dengan satu enjotan, cepat bagaikan kilat ia mengejar.

Selagi melancarkan serangan dari jarak jauh untuk membinasakan Ho Hay Hong, gadis baju putih sudah tiba disisinya dan berkata sambil mencegah:

"Enci tidak perlu mengejar, ia sudah terkena serangan jarum beracun, ia pasti tidak tahan menderita kesakitan dan akhirnya pasti akan mencari kita lagi untuk minta ampun. Saat itulah kita nanti bereskan dirinya."

Dengan terhadangnya oleh tindakan gadis baju putih itu, wanita baju hijau itu terpaksa  merandek. Tapi Ho Hay Hong sudah berada sejauh tujuh delapan tombak lebih, hingga tidak dapat dikejar lagi. "Adik, kau benar-benar goblok, pedang pusaka itu tokh tidak boleh dia bawa kembali lagi!" berkata wanita baju hijau sambil membanting kaki.

"Apakah kau tadi melihat dia ada membawa pedang?" bertanya gadis baju putih.

Mendengar pertanyaan itu, wanita jelek baju hijau itu melongo. Memang betul ia tidak menampak pedang itu dibawa oleh Ho Hay Hong.

"Oh, bocah itu rupanya memang sengaja hendak mengingkari janjinya, memang benar pedang pusaka itu tidak dibawa!" berkata wanita baju hijau itu sambil mengaw asi berlalunya Ho Hay Hong.

"Itulah, enci, kalau bukan lantaran itu, bagaimana aku membiarkan dia berlaku sesuka hatinya " berkata gadis baju putih sambil tersenyum.

Ho Hay Hong yang samar-samar mendengarkan pembicaraan mereka, berkata kepada diri sendiri: "Jarum beracun meskipun sangat berbisa, tetapi dalam tubuhku tokh sudah mengeram racun yang lambat bekerjanya Itu hanya dapat menambahkan sedikit kesulitan bagiku, selain dari pada itu, tidak ada yang perlu kutakuti."

Kematian, baginya bukan merupakan suatu yang perlu ditakuti.

Ia lari belum berapa jauh, tampak Chim Kiam sianseng dan orang orangnya menunggu ditepi jalan. Ia lalu menggabungkan diri dengan rombongan Chim Kiam sianseng, kemudian bersama-sama memasuki kota untuk mencari rumah penginapan. Dengan diliputi berbagai pertanyaan, Chim  Kiam sianseng bertanya kepada Ho Hay Hong:

"Ho siauhiap, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kau melepaskan kesempatan baik untuk memasuki kampung setan? Kalau sekarang kita akan memasuki tempat itu, rasanya sudah t idak mudah lagi!"

Ho Hay Hong nampak sangat berduka, ia menjawab dengan suara sedih:

"Kau tidak tahu persoalannya, si Kakek penjinak garuda itu melarang orang memasuki kampung setan, barang siapa yang berani melanggar larangan itu, akan menemukan ajalnya ditempat itu juga"

"Si Kakek penjinak garuda ini memang seorang aneh yang susah didekati." berkata Chim Kiam sianseng sambil menghela napas panjang, ”munculnya ilmu silat garuda sakti dan pedang garuda sakti, ditambah lagi dengan bukti yang dapat kita kumpulkan telah membuktikan bahwa kakek penjinak garuda masih hidup. Tetapi apa sebabnya orang yang mendapat didikan ilmu silatnya, sebaliknya menutup mulut rapat-rapat?"

Ho Hay Hong khawatir Chim Kiam sian-seng dapat mengenali salah satu korban kampung setan itu adalah si pelajar berpenyakitan, maka ia coba menanya:

"Tahukah sianseng bahwa dua kepala manusia dalam kotak ini kepala siapa?"

"Aku hanya melihat sepintas lalu  saja, salah satu diantaranya seperti kepala pelajar berpenyakitan, entah betul atau tidak?" jawabnya. Ho Hay Hong diam-diam terkejut, ia khaw atir hal itu akan diketahui oleh suhunya, sehingga menyulitkan kedudukan sendiri. Ia kini baru menyesal, mengapa tadi dengan tergesa-gesa membaw a kabur dua kotak itu.

Disamping itu, t imbullah pula suatu pertanyaan dalam hatinya: "apa sebabnya suhunya memerint ahkan Jie suhengnya membunuh pelajar berpenyakitan?"

Ia mengerutkan alisnya, otaknya bekerja sedang memikirkan apa yang perlu dibicarakan untuk mengalihkan perhatian Cim Kiam sianseng.

Sementara itu seorang pendek berw ajah putih yang duduk disatu sudut, tiba-tiba menggapai padanya ia agak terkejut, karena orang itu masih sangat asing baginya, mengapa berlaku demikian kepadanya?

Tertarik oleh perasaan heran. tanpa ayal lagi, ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri orang itu seraya bertanya

"Sahabat ada keperluan apa?"

"Aku melihat sikapmu  seperti sedang menghadapi kesulitan yang tak mudah terpecahkan, bolehkah aku numpang tanya, apakah kesulitanmu itu lantaran asmara?" berkata orang itu sambil tertaw a.

Ho Hay Hong semakin tertarik oleh pertanyaan itu. ia pura-pura mengangguk kepala dan menjaw ab:

"Memang betul, apa perlunya sahabat menanya?" Dengan sikap bangga orang pendek itu menggoyang-

goyangkan kepalanya.

"Orang tua berkumis pendek itu apakah Chim Kiam sianseng?" Mendengar pertanyaan itu ia semakin heran maka lalu balas bertanya:

"Apa sahabat kenal padanya?" Katanya berpaling mengaw asi Chim kiam sianseng pemimpin itu nampaknya tak senang, dan berpaling kearah lain. Sikapnya seperti menunjukkan maksud memandang rendah kepada orang pendek itu. Penemuan ini tambah mengherankannya.

Tiba-tiba terdengar suara orang pendek itu berkata dengan suara pelahan:

"Beberapa tahun berselang, Chim Kiam sianseng pernah minta tolong padaku, mungkin karena waktunya sudah terlalu lama. urusan yang sudah lama itu juga sudah tak dipandang lagi, Siauwtee juga tidak ingin bersahabat dengannya, karena dewasa ini kedudukan kita jauh berbeda, sudah tentu ia tidak pandang mata padaku lagi!"

Ho Hay Hong diam diam berpikir: ”urusan ini ada hubungan apa denganku ?"

Karena berpikir demikian, maka jawabannya juga terus terang:

"Kalau sahabat tidak ada keperluan lain, maaf aku tidak bisa mengaw animu."

"Jangan kesusu,” berkata orang itu sambil menggelengkan kepala, ”siauwtee ingin melakukan suatu perdagangan dengan saudara ! Perdagangan ini mungkin sangat penting bagimu, asal kau sudi  mengeluarkan uang sejumlah tiga puluh tail perak, kau nanti akan mencapai segala maksudmu dengan memuaskan, tidak usah khawatir menemukan kegagalan lagi!" Ini merupakan suatu hal yang masih baru bagi Ho Hay Hong, tidak heran kalau ia lantas merasa tertarik.

"Sahabat ingin jual apa?"

"Barang mujijat!" menjawab orang itu, dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah bungkusan, "barang ini akan memuaskan saudara untuk selama-lamanya dalam soal asmara"

"Barang ini apa gunanya?" tanya Ho Hay Hong yang masih tidak mengerti.

"Ini mungkin kau baru saja menginjak dunia Kang ouw, hingga tidak mengetahui bagaimana dahsyat barang ini. Orang-orang yang sudah kenal denganku, mereka tidak sayang mengeluarkan banyak uang untuk membeli barangku in i. Baiklah sekarang kuberitahukan padamu, tentang khasiatnya barang ini. Betapapun keras kepalanya seorang wanita, asal kau membuka bungkusan ini dan taburkan bubuk itu kepadanya, pasti berhasil. Seumur hidupku aku selalu pegang kepercayaan  ku, kalau kau tidak percaya, boleh tanyakan kepada  Cim Kiam sianseng."

Dalam hati Ho Hay Hong diam-diam berpikir: ”kalau benar demikian besar khasiatnya, boleh juga kegunaannya untuk menghadapi ia."

Tanpa banyak pikir lagi, ia lantas mengeluarkan tiga puluh perak, diberikan kepada orang pendek itu, kemudian diterimanya bungkusan barang mujijat itu dan dimasukkan ke dalam sakunya.

Urusan jual beli itu berlangsung dengan lancar, orang pendek itu dengan hati girang meninggalkan rumah penginapan, sebentar kemudian sudah menghilang. Ho Hay Hong kembali ketempatnya duduknya, baru hendak mengeluarkan bungkusan itu dari  dalam sakunya, untuk memeriksa isinya, Chim Kiam sianseng yang duduk dihadapannya sudah bertanya:

"Ho siauhiap, apakah kau kenal dengan orang itu tadi?"

Ho Hay Hong tidak dapat dengar saat Chim Kiam sianseng ada mengandung jengekan, diam-diam terkejut, lalu menjawab sambil menggelengkan kepala:

"Aku tidak kenal, entah siapa orang itu tadi. Dia kata sianseng kenal dengannya, betulkah itu? Dan siapakah dia ?"

"Hm dia adalah tukang memelet kaum wanita yang sudah terkenal dikalangan Kang ouw, namanya Yo Hong julukannya si kupu kupu."

Ho Hey Hong yang belum mempunyai pengalaman dalam dunia Kang ouw, tetapi juga tidak mau menunjukkan kebodohannya, maka terpaksa menjawab sekenanya:

"Oh, orang itu memang ada sedikit nama."

"Manusia begituan cuma merupakan seorang bangsa kurcaci, menodai nama baik orang orang Kang ouw."

"Menurut keterangannya, dia sudah lama kenal dengan sianseng!"

Mendengar perkataan itu, alis Chim Kiam sianseng berdiri, katanya dengan nada kurang senang:

"Manusia tidak tahu malu itu adalah bangsa pencuri, maka aku tidak sudi bergaul dengannya!" ia tertaw a dingin, mendadak seperti ada yang dikhawatirkan, maka lantas bertanya lagi:

"Ia pernah berkata apa saja padamu?"

"Ia hanya mengatakan pernah melakukan soal jual beli satu kali dengan sianseng. tapi kejadian itu sudah lewat beberapa tahun lamanya dan karena kedudukan sianseng sekarang sudah tinggi, ia tidak berani mengadakan perhubungan lagi.!"

"Orang itu benar benar cerdik, ia bisa berlaku dengan menyesuaikan keadaan." berkata Chim Kiam sianseng, dengan menganggukkan kepala, merasa puas, tapi ia amatinya dengan tajam menatap wajah Ho Hay Hong. "Orang tua itu namanya sudah sangat tercela, t idak ada harganya untuk dibicarakan Ho siauhiap seorang muda yang mempunyai hari depan sangat  cemerlang, sebaiknya jangan mengadakan perhubungan dengannya, supaya nama baik yang kau pupuk dengan susah payah, nanti akan menjadi rusak olehnya!"

Mendengar perkataan itu, dalam hati Ho Hay Hong terkejut. Selagi hendak menceritakan urusan jual beli dengan orang pendek itu timbul diotaknya, mendadak diurungkannya maksud itu. sebab ia pikir bahwa urusan itu tidak perlu diberitahukan kepada orang lain. selama ia sendiri tidak mengadakan perhubungan lagi dengan orang pendek itu, tentunya tidak akan merusak namanya.

"Tentang nasehatmu ini, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih!"

Ketika pandangan matanya ditujukan ke arah jendela, perhatiannya tertarik oleh seorang anak laki-laki, berusia kira-kira delapan tahun, yang sedang main layangan, beberapa anak lain sedang bertepuk tangan sambil tertaw a.

Pemandangan itu mengingatkannya kembali kepada penghidupannya sendiri dimasa kanak-kanak, tetapi juga membuka pikirannya ke sesuatu hal yang sedang dihadapinya. Tanpa disadarinya, ia tepuk tangan dan berkata kepada diri sendiri:

"Benar, aku harus ikat  kakinya dengan benang, kemudian kulepaskan, dari arah tujuan perginya binatang itu, aku dapat menduga di mana tempat sembunyinya kakek penjinak Garuda, akal in i adalah yang paling baik"

Ia juga ingat ucapan gadis kaki telanjang yang sombong, bahwa burung Garuda itu sifatnya luar biasa dalam keadaan yang bagaimanapun juga, dapat mencari jejak majikannya dengan memperhatikan keadaan hawa udara dan keadaan tanah.

Karena ia telah menemukan akal untuk menyelidiki jejak kakek penjinak Garuda hatinya merasa sangat gembira. Dengan sendirinya semangatnya terbangun lagi.

Menanti orang memandangnya dengan perasaan heran, mereka tidak mengerti mengapa dengan secara mendadak anak muda itu berubah menjadi girang.

Saat itu pandangan mata Ho Hay Hong ditujukan kepada seorang tua baju pendek dengan senjatanya yang istimewa, itulah sebuah bandulan besar yang diikat dengan tali benang lemas,

Ia pikir benang emas itu sangat lemas, tidak mudah patah, tetapi dapat digunakan untuk mengikat senjata sedemikian berat, dapat diduga benang itu pasti bukan barang sembarangan. Kalau digunakan untuk mengikat kaki burung Garuda rasanya sangat tepat.

Karena tertarik oleh benang emas itu, maka ia lalu berkata kepada Chim Kiam sianseng:

"Sianseng, aku ada sedikit permint aan  yang tidak pantas, apakah sianseng tidak akan mencela ?"

Chim Kiam sianseng merasa heran, lama tidak menjawab. Matanya ditatapkan kepada mukanya dengan penuh tanda tanya.

Ho Hay Hong menunjuk kepada senjata orang tua itu dan berkata pula:

"Tali bandulan ini pasti bukan barang sembarangan, bolehlah kupinjam?"

Orang tua itu mendadak bangkit dari tempat duduknya, bertanya dengan tidak senang:

"Apa artinya ini?"

Tangannya sudah dikepal, siap hendak menyerang.

Chim Kiam sianseng buru buru mencegah,  kemudian ia bertanya kepada Ho Hay Hong:

"siauhiap hendak gunakan untuk keperluan apa?

Bolehkah kau beritahukan padaku?"

"Dengan sejujurnya, aku hendak gunakan untuk mengikat kaki burung garuda piaraan Kakek penjinak garuda, dengan burung garuda itu aku hendak mendapat kepastian dimana jejak kakek itu. Apakah kiranya sianseng tidak keberatan ?" "Apakah siauwhian benar-benar mempunyai burung itu?" berkata Chim Kiam sian-seng dengan membuka lebar kedua matanya, "Kakek penjinak garuda itu sembunyikan diri didalam kampung setan, ini  sudah pasti. Aku pikir siauhiap t idak perlu berbuat demikian lagi 

!"

"Aku juga menduga pasti bahwa Kakek penjinak garuda itu adalah pemimpin penghuni kampung setan, tetapi semua penghuni kampung setan tidak mau mengaku "cara" terang. Untuk mendapatkan kebenarannya, hanya dengan akal itu saja. Sekalipun berhadapan dengan kakek penjinak garuda, juga tidak usah takut kalau kita telah membuka rahasianya. Apakah sianseng suka bekerja sama denganku?"

Chim Kiam sianseng berpikir sejenak, akhirnya menganggukan kepala menerima baik usul itu, ia lalu perint ahkan kepada orang tua itu supaya membuka tali bandulan itu di berikan kepada Ho Hay Hong.

Menurut taksiran Ho Hay Hong, benang emas itu kira- kira lima atau enam tombak panjangnya, ia pikir sudah cukup digunakan untuk mengikat kaki burung garuda itu. Maka buru-buru mengajak Chim Kiam sian-seng dan orang-orangnya, bersama-sama pergi ke rumah perguruan Kang lam Bu-koan.

Tak lama kemudian, Kang lam Bu-koan sudah berada didepan matanya. Tanpa mengetok pintu. Ho Hay Hong lompat melesat melalui tembok pekarangan. Sedangkan Chim Kiam sianseng dan orang-orangnya menunggu diluar.

Dengan tiba-tiba matanya tertuju kepada sesosok bayangan orang yang sudah tidak asing baginya. Bayangan orang itu berdiri membelakangi dirinya dibawah sebuah pohon sedikitpun tidak bergerak, agaknya dia lagi melamun. Ketika angin malam meniup, gaun merah yang menempel ditubuhnya menjadi ketat, sehingga potongan tubuhnya yang langsing padat nampak jelas dalam mata Ho Hay Hong.

Karena bayangan orang itu berdiri membelakangi dirinya, Ho Hay Hong tidak melihat wajahnya, begitupun bayangan orang itu, juga t idak melihat kalau dibelakang dirinya ada orang yang sedang mengawasi dirinya. Dari potongan tubuh bayangan orang itu, Ho Hay hong sudah dapat menduga dengan pasti bahwa orang itu adalah Su to Cian hui.

Melihat keadaannya yang menyedihkan, Ho Hay Hong tiba-tiba teringat waktu pergi pesiar kedanau Liok ing- ouw dengan menunggang kuda pada beberapa hari berselang.

Betapa riang gembiranya pada waktu itu? Dan siapa akan mengira hanya dalam beberapa hari saja, kemudian sudah berubah demikian rupa?

Ia turut merasa duka atas nasib buruk gadis itu, gedung megah dan pekarangan luar yang dahulu ramai itu, kini hanya terdapat gadis itu seorang diri timbullah rasa herannya.

Heran mengapa Kan lui Kiamkhek belum pindah kemari? Apakah terjadi apa-apa lagi dengannya? Demikian ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.

Perlahan lahan ia maju menghampiri, Su to Cian Hui yang mendengar tindakan kaki orang, lantas berpaling, dengan mata terbuka lebar, mengaw asi padanya. Keadaan pada waktu itu seperti orang yang merasa ketakutan, dari sini Ho Hay Hong dapat menduga bahwa kejadian yang menimpa diri nona itu pasti menimbulkan banyak penderitaan bathinnya.

Ia melihat gadis itu masih tetap cantik hanya agak pucat.

Ho Hay Hong merasa simpati, tetapi mulutnya tidak tahu bagaimana harus menghiburi nona itu, terpaksa ia menegurnya sambil tertaw a:

"Oh, nona sudah pulang, apakah selama ini baik-baik saja ?"

Sudah lama rasanya, Su to Cian Hui tidak mendengar kata kata demikian. Sejak terjadinya peristiw a yang menimpa keluarganya, baru pertama kali ia merasakan betapa kejam sifatnya manusia?

Dulu dimasa masih jaya, banyak orang menyanjung, banyak orang memuji-muji. Tetapi sekarang setelah rumah tangganya berantakan, tiada seorangpun yang datang menengok, apalagi menghibur.

Dari situ, pandangannya terhadap dunia terhadap manusia telah banyak berubah, ia bukan seorang anak- anak lagi, pertanyaan Ho Hay Hong yang sangat singkat itu, meski pun singkat dan biasa, tetapi sangat besar pengaruhnya.

Maka sesaat itu, airmata mengalir keluar tanpa dapat dibendungnya. Ia menundukkan kepala dan menjaw ab dengan suara lemah:

"Kau masih ingat aku, aku merasa girang dan sangat bersyukur." Dihadapannya, Ho Hay Hong kini t idak rendah diri lagi. Ia seperti berubah menjadi orang lain, semangatnya menyala-nyala.

Dengan tiba-tiba ia mengambil keputusan, Ia ingin menggunakan sisa hidupnya, untuk melindungi gadis yang sebatang kata itu supaya hidup  tentram dan bahagia.

Keputusan demikian secepat kilat terlint as dalam otaknya, nyalinya mendadak menjadi besar. Katanya menghibur.

"Nona, legakan hatimu. Untuk selanjutnya, aku  Ho Hay Hong, sekalipun harus mengucurkan darah, juga akan berusaha melindungimu supaya kau aman." perkataan demikian, kalau diucapkan pada beberapa hari berselang, bukan saja tidak menarik perhatian si nona, bahkan sebaliknya akan menimbulkan rasa muaknya.

Sebab Su to Cian Hui juga termasuk seorang wanita gagah berani, tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja. Perkataan demikian, tentunya akan dianggap memandang lemah dirinya.

Tetapi, kini keadaan sudah lain, kesulitan dan penderitaan yang dialaminya selama beberapa hari ini telah memudarkan ambisinya, ia tidak berani berebut pengaruh lagi.

Demikian hebat pukulan bathin yang dideritanya, hanya lantaran ingin menengok ayah dan keluarganya, ia telah menempuh bahaya yang datang ke rumahnya. Namun demikian, ia seperti orang yang ketakutan, takut kalau bertemu lagi dengan musuh musuhnya. Diluar dugaannya dalam keadaan terjepit seperti itu, ia telah bertemu dengan seorang gagah yang dapat diandalkan. Maka kecuali merasa sangat berterima kasih, dalam hatinya timbullah suatu perasaan aneh, yang selama itu belum pernah dirasakannya.

Ho Hay Hong mendadak ingat sesuatu, bertanyalah ia: ”Aku dengar kabar bahwa nona sudah pergi kegunung

Bwee san untuk mencari suhu, mengapa."

"Suhu sudah turun gunung pergi pesiar, hingga hari ini belum ke mbali."

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: ’pantas ia seperti orang kebingungan, kiranya satu-satunya orang yang dapat dibuat andalan juga tidak ketemu.’

Sewaktu otaknya berpikir, matanya di tujukan kepada sangkar besi raksasa, yang dibuat mengurung burung Garuda raksasa, burung itu ternyata masih ada hingga hatinya merasa lega. Ia segera menanya kepada Su to Cian Hui.

"Apakah nona tidak keberatan, apabila burung garuda ini aku pinjam untuk sementara?"

"Kau memerlukan apa, ambil saja tidak perlu menanyakan pikiranku." jawabnya sinona dengan suara lemah lembut.

Baru saja Ho Hay Hong hendak menghampiri sangkar besi itu, tiba-tiba ia berpikir: "Ya, kali ini aku pergi menyelidiki kampung setan, belum tahu bagaimana nasibku. Dengan meninggalkan ia seorang diri dalam gedung ini, keselamatannya masih merupakan satu pertanyaan. Bagaimana baiknya?" Ia diam untuk memecahkan persoalan itu. diluar tiba- tiba terdengar ada orang mengetok pintu. Ia lantas berpikir lagi: ”golongan Lempar batu pengaruh cukup besar Chim Kiam sianseng juga memiliki ilmu Kh ian khun cie, rombongan orang-orang Lam kiang Tay bong dan Lam kiang Tay bong sendiri masih jeri terhadapnya. Mengapa aku tidak minta tolong padanya, supaya menjaga keselamatan nona ini? Asal kujelaskan duduk perkaranya, barangkali Chim Kiam sianseng tidak akan menolak!”

Pikirannya seketika itu merasa lega, ia buru-buru membuka pintu pekarangan, mempersilahkan Chim Kiam sianseng dan orang orangnya masuk.

Ia perkenalkan Su to Cian Hui kepada Chim Kiam sianseng kemudian menceritakan nasib sinona akibat perbuatan Lam kiang Tay bong yang membiarkan muridnya berlaku sewenang-wenang dan akhirnya minta pertolongan pemimpin itu supaya suka bantu menjaga keselamatan nona itu.

Chim Kiam sianseng berpikir sejenak, akhirnya ia terima baik permint aannya.

”Tetapi dalam waktu satu bulan Ho siauhiap harus membaw anya keluar dari golongan lempar batu, sebab aku tidak ingin kebentrok secara langsung dengan Lam kiang Tay-bong!"

"Sudah tentu, setelah aku menyelesaikan urusanku, aku tidak berani mengganggu sianseng lagi! Nona Su to adalah murid Bwee san Sin nie, salah satu dari  lima tokoh luar biasa dalam rimba persilatan, sianseng tidak perlu pikir terlalu banyak. Nanti kalau Bwee san Sin nie sudah kembali dari perjalanannya, pasti juga tidak mengijinkan muridnya merepotkan sianseng!"

Dengan demikian, malam itu juga Su to Cian Hui lantas dibawa pulang oleh orang tua pendek, kemarkas tempat golongan lempar batu.

Dengan perasaan tidak tenang Ho Hay Hong membuka pintu sangkar, tiba-tiba di cakar o leh cakar burung garuda raksasa yang sangat tajam, sehingga lengannya terluka dan mengucurkan darah banyak sekali.

Ia lantas naik pitam, tangannya segera bergerak menerkam leher burung. Burung itu meronta dengan kekuatan yang hebat, hingga hampir terlepas dari tangan Ho Hay Hong.

Tetapi dengan kecepatan bagaikan kilat Ho Hay Hong sudah mengikatkan benang emasnya kekaki burung itu, kemudian dilepaskannya dari kurungan.

Burung itu terbang keluar, tetapi agaknya mengerti kalau kakinya terikat, maka ia lantas mengamuk. Dengan kedua kakinya ia menyambar, sedang paruhnya yang tajam coba mematok jidat Ho Hay Hong.

Baru pertama kali Ho Hay Hong mengadakan pertempuran langsung dengan burung Garuda raksasa itu. Karena burung itu terbang melayang-layang dan menyambar lawannya dari atas. maka sia-sia saja  Ho Hay Hong memiliki kepandaian ilmu silat tinggi terpaksa membiarkan dirinya dibuat bulan-bulanan burung itu, ia tidak mampu balas menyerang, hanya lompat kekanan kekiri untuk mengelakkan serangan yang hebat itu. Beberapa kali ia hampir terpatok oleh paruh burung yang amat tajam itu. Dalam keadaan demikian, dengan tiba-tiba sekali timbul satu akal dibenaknya, ia pikir hendak memperlihatkan tanda cacahan burung Garuda diatas lengannya mungkin.

Harapan itu meski sangat tipis, tetapi dalam keadaan terpaksa, ia mau coba juga.

Dengan cepat ia merobek baju lengan tangan kanannya, supaya tanda gambar barang garuda tertampak nyata.

Sungguh aneh ketika mata burung garuda-raksasa yang beringas itu melihat tanda itu, mendadak memperdengarkan suara yang tidak dimengerti oleh Ho Hay Hong, kemudian sikapnya berubah tenang.

Ho Hay Hong  dengan  sinar  mata  keheranan mengaw asi burung raksasa  itu, mendadak teringat ucapan si Kakek penjinak garuda, hatinya mengeluh, suatu pertanyaan timbul dalam otaknya: "benarkah aku ini anak haram?"

Begitu ingat diri orang tua itu, dalam hatinya timbul dua macam perasaan  yang berlainan. Satu adalah merasa menanggung budi atas perbuatannya yang telah menyempurnakan kekuatan tenaga dalamnya.

Yang lain adalah penyesalan karena ucapkannya yang membuatnya selalu rendah diri. Ia tidak dapat menimbang mana yang lebih berat antar dua macam perasaan itu. Ia menarik napas dalam-dalam, matanya menatap burung garuda itu, mendadak amarahnya berkobar lagi. Dengan suara keras ia membentak:

"Binatang, lekas baw a aku menemui majikanmu." Burung raksasa itu mengeluarkan suara perlahan, lalu perlahan-lahan terbang berputaran diatasnya. Ho Hay Hong mengikatkan benang emas dilain ujung kepada pinggangnya sendiri, untuk menjaga supaya burung itu jangan sampai terlepas.

Selesai semua, burung Raksasa itu terbang rendah menuju ke suatu arah, dengan diikut i oleh rombongan orang-orang golongan Lempar batu.

Kejadian aneh itu segera menarik perhatian banyak orang, semua memandangnya dengan terheran-heran.

Ho Hay Hong merasa sedih, karena dari perbuatan burung raksasa itu telah menunjukkan bahwa si Kakek penjinak garuda itu jelas ada hubungan dengannya. Pikirnya: "Kalau benar aku adalah anak haram,  Tang siang sucu mungkin juga begitu. Dia adalah musuh besarnya Su to Cian Hui, bagaimana harus membereskan permusuhan ini?"

Ikatan persaudaraan sebetulnya lebih berat daripada ikatan kasih, tetapi sifat Tang-siang sucu yang  tidak kenal budi sangat memusingkan kepalanya. Bayangan dan senyuman Su to Cian Hui saat itu mendadak selalu terbayang dalam matanya.

Burung raksasa itu perlahan-lahan terbang menuju kearah kampung setan, Ho Hay Hong yang terbaw a terbang kesana. perlahan-lahan juga mulai tegang perasaannya. Kini semakin jelas persoalannya, bahwa si kakek penjinak garuda itu benar benar ada hubungan dengan dirinya, dan hubungan itu mungkin juga menyangkut diri ibunya. Rombongan orang-orang golongan Lempar batu juga mulai gelisah. Kecuali Chim Kiam sianseng, yang lainnya menunjukkan sikap bimbang, Chim Kiam sianseng sendiri meskipun juga merasa tidak tenang, tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang yang sudah banyak pengalaman, hingga diluar ia masih menunjukkan sikap tenang. Katanya dan sambil tertaw a dingin:

"Benar, seperti apa yang kita duga, kampung setan ini adalah tempat sembunyinya kakek penjinak garuda. Heh. rahasia ini apabila tersiar keluar, kampung setan benar benar akan menjadi kampung setan yang sebenar- benarnya."

Diwaktu senja, rombongan orang-orang itu sudah mulai menginjak tanah kampung setan.

Suara burung-burung yang dikejutkan oleh datangnya rombongan orang banyak itu, menimbulkan rasa seram bagi mereka, hingga pada berhenti dan saling memandang.

Chim Khiam sianseng berkata dengan nada kurang senang:

"Manusia biar bagaimana tokh musti mati, tetapi kalau kematian kita itu ada harganya, apa yang harus d itakuti? Apabila nasib kita jelek, harus mati dalam kampung setan, apa boleh buat. Tetapi, apabila kita berhasil bisa keluar dengan selamat, nama kalian akan menjadi pujian banyak orang!"

Ucapan yang bersifat membakar semangatnya itu, kini sudah menarik perhatian orang-orangnya lagi. Kecuali Ho Hay Hong, yang lainnya  diam saja, wajah mereka berubah seketika. Dengan mendadak burung raksasa  yang berada ditengah udara mengeluarkan suara panjang dan hendak menukik turun kedepan Ho Hay Hong menarik kuat-kuat benang emasnya, burung itu lantas membatalkan maksudnya.

Ia tahu benar bahwa kelakuan burung itu pasti ada sebabnya, maka lantas memberi isyarat kepada orang- orang golongan Lempar baru supaya berhenti dan ia sendiri pasang mata memandang keadaan depan matanya.

Tidak jauh ditempat ia berdiri tampak berkobarnya api unggun. Dari sinar api itu tampak tegas tiga laki laki tua berambut putih sedang duduk bersila.

Cuaca sudah gelap, hanya bintang-bintang dilangit yang menerangi jagat. Angin malam meniup kencang menimbulkan suara menderu-deru hingga keadaan kampung setan itu semakin menyeramkan.

Tiga orang tua yang duduk bersila itu tetap dalam keadaan diam. tidak bergerak, agaknya sedang bersemedi. Sebelah kiri dekat mereka ada sebuah patung besar yang terbuat dari perunggu. Patung itu adalah patungnya Gak Hui.

Dulu waktu, pertama kali Ho Hay Hong kesasar kedalam kampung setan, didalam gua dibawah patung itu ia pernah menemukan sebilah pedang  pusaka. Pedang pusaka garuda sakti yang dikemudian hari menjadi rebutan orang banyak tidak hentinya.

Ia tahu benar patung itu diperlengkapi  dengan  pesaw at rahasia, maka lalu diberitahukannya kepada Chim Kiam sianseng dengan suara bisik-bisik. Ia khawatir burung raksasa itu akan berbunyi lagi, maka lantas memberi isyarat padanya,  kemudian menarik benang emasnya. Setelah burung itu mendekati dirinya, ia lalu menyambar lehernya dan dipegang erat- erat.

Sungguh mengherankan, burung itu kini tidak meronta atau melawan, malah membiarkan dirinya di pegang.

Pada saat itu dari jauh terdengar suara siu lan nyaring, lama menggema diudara. Jelas bahwa orang yang mengeluarkan siu lan itu, adalah orang yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam sangat sempurna.

Sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman dan banyak pengetahuan, Chim Khiam sianseng segera mengerti hal itu, wajahnya berubah seketika.

Suara itu baru saja berhenti, tiga orang tua yang duduk bersila itu mendadak bangkit, masing-masing dari tanah mengambil sepotong baju kulit berbulu kelabu, lalu di pakai dibadannya dan sebentar kemudian telah menghilang.

Ho Hay Hong yang menyaksikan keadaan demikian, mendadak tersadar. Ia teringat seorang makhluk aneh berbulu kelabu yang diceritakan oleh Cie lui Kiam khek. Makhluk aneh itu ternyata adalah t iga orang tua itu yang menyaru. Pantas sikipas besi Hok Yauw menghilang secara mendadak .

Dengan berlalunya tiga orang itu, disekitar patung itu kini tidak tampak satu manusiapun juga. Sekali lagi Ho Hay Hong mengamat-amati tempat itu, mendadak lompat meleset kedekat patung dan mendorongnya. Patung itu segera tergeser kekanan setelah memperdengarkan suara keresekan, di bawahnya lantas tampak sebuah gua.

Ia mendekam ditanah, telinganya ditempelkan ditanah memperhatikan didalam gua, tetapi tidak mendengar suara apa apa,maka lantas berkaok-kaok: "Kakek penjinak garuda. Kakek penjinak garuda Kakek penjinak garuda."

Chim Kiam sianseng dikejutkan oleh perbuatan anak muda itu, tanpa banyak bicara ia telah diajak orang- orangnya pindah kelain tempat untuk sembunyikan diri.

Tempat itu terpisah agak jauh dengan patung perunggu. Dengan pandangan matanya yang tajam ia masih dapat melihat keadaan disekitar api unggun dengan jelas.

"Ho siauhiap, mengapa kau t idak melepaskan burung garuda itu supaya ia bawa kita menemui kakek penjinak garuda?" Bertanya Chim Kiam sianseng dengan suara pelahan.

"Tidak perlu lagi, tuan tuan harap tunggu sebentar mungkin akan terjadi apa apa!" jawab Ho Hay Hong sambil menggelengkan kepala.

Belum habis ucapannya dari jauh terdengar suara tindakan kaki dan suara tambur. Orang-orang Lempar batu yang mendengar suara itu terkejut dan ketakutan, mata mereka ditujukan kearah datangnya suara itu. Tetapi, tempat itu sepi sunyi, dengan tempat agak jauh yang ramai suara tambur itu bagaikan dua dunia.

Ho Hay Hong yang mengetahui lebih banyak keadaan kampung setan, begitu mendengar suara tambur itu segera mengetahui bahwa ditempat itu sudah terjadi peristiw a pembunuhan. Maka ia lalu berkata:

"Entah siapa yang bernasib sial yang masuk kekampung setan ini, mereka sudah diketahui oleh penghuni kampung setan, dan sedang dikurung dengan menggunakan pasukan orang liar."

Chim Kiam sianseng yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anak muda itu, lalu bertanya:

"Kakek penjinak garuda berkepandaian tinggi sekali, untuk membinasakan orang-orang yang memasuki kampung setan rasanya tidak susah mengapa. "

Ho Hay Hong yang mengerti maksudnya segera memotong:

"Itu juga mungkin merupakan salah satu siasatnya, yang sengaja hendak membuat kampung setan menjadi suatu daerah seram dan menakutkan."

"Pasukan orang liar itu jumlahnya agaknya tidak sedikit, tahukah siauhiap dari mana mereka datang?"

"Aku pernah menyaksikan pasukan orang liar itu dengan mata kepala sendiri, maka aku tahu bahwa pasukan itu adalah orang-orang Kang ouw yang menyaru. Keadaannya serupa dengan tiga orang tua tadi. Sengaja mengaburkan mata orang, supaya dunia luar menjadi bingung!"

"Perbuatan si Kakek penjinak garuda itu benar-benar susah dipikirkan oleh pikiran waras!"

Berkata sampai disitu, matanya tiba-tiba dibuka lebar, memandang kearah timur, Ho Hay Hong yang menyaksikan itu, juga terkejut, buru-buru mengikuti pandangan matanya, seorang tua berambut putih, entah sejak kapan tampak di belakang patung.

Tubuh orang tua itu agak bongkok, di tangan kirinya membaw a sebuah kotak kayu dibahu kanannya hinggap seekor burung garuda besar. Orang tua itu sedang duduk dengan tenang diatas rumput, serta matanya dipejamkan.

Dari dalam tenggorokan Chim Kiam sianseng mengeluarkan suara halus.

"Dia adalah Kakek penjinak garuda" Ho Hay Hong menongolkan kepalanya, memandang dengan seksama. Saat itu Kakek penjinak garuda itu sudah tidak memakai topinya yang lebar. W ajahnya yang guram sudah penuh guratan keriput, dipandang sepintas lalu, seperti seorang tua yang sangat loyo, yang sudah mendekati liang kubur. Sedikitpun tidak mirip dengan orang gagah luar biasa, yang namanya menggemparkan dunia rimba persilatan.

Dengan munculnya si Kakek penjinak garuda itu, telah membuat burung garuda raksasa disamping Ho Hay Hong, seperti kemasukan setan, mengeluarkan suara nyaring dan meronta-ronta dan setelah terlepas dari tangan Ho Hay Hong, terbanglah ia keangkasa.

Dengan perbuatannya itu, seolah-olah memberitahukan tempat sembunyinya orang-orang itu kepada siorang tua itu Ho Hay Hong marah sekali, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Si Kakek penjinak garuda ternyata tak mengunjukkan rasa kaget atau heran. Sikapnya masih tenang-tenang saja, seolah olah sudah mengetahui segala-galanya. Dengan sangat menyayang ia mengelus-elus bulu burung garuda itu, berkata padanya:

"Jangan takut, jangan takut anakku, akhirnya kau kembali !"

Dengan tenang ia membuka ikat  benang emas dikakinya. matanya melirik kearah tempat sembunyi Ho Hay Hong dari mulutnya mengeluarkan kata kata yang sangat singkat:

"Kalian keluarlah semua."

Lirikannya dan ucapannya itu, seolah-olah mengandung pengaruh yang sangat besar sehingga seorang keras hati dan banyak pengalaman seperti Chim Kiam sianseng juga merasa gentar.

Terpaksa ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata sambil memberi hormat.

"Locianpwee, boanpwee Cee Bu Kie disini menghadap Lo cianpwe, harap ampuni dosa boanpwe yang sudah berani memasuki kampung setan."

Melihat Pangcunya sudah unjuk diri. orang-orang golongan lempar batu juga lantas keluar semua, menghadapi sikakek penjinak garuda untuk memberi hormat, mereka berdiri berbaris dibelakang Pangcunya, hampir t idak berani bernapas.

Ho Hay Hong kini sudah mendapat kepastian bahwa orang tua itu adalah penjinak garuda. karena semua sudah menjadi kenyataan, tidak ada gunanya berlaku takut lagi.

Ia lalu maju menghampiri, tidak memberi hormat, juga tidak menyapa. Hanya berdiri tegap dihadapan siorang tua kira kira sejarak tiga tombak, dengan mata tidak berkedip.

Berbeda dari biasanya, kali in i si kakek itu sedikitpun tidak marah, dengan sikap tenang dan nada teratur ia berkata:

"Ce Bu Kie. beritahukanlah dulu kedudukanmu !" "Boanpwee  tidak   berani   menyombongkan   diri, kini

hanya merupakan satu  pemimpin dari golongan  Lempar

batu yang tidak ada namanya!" kemudian ia menunjukan orang-orang yang berdiri dibelakangnya.

"ini adalah sebagian dari anggauta Lempar batu yang berada dibawah pimpinan boanpwee ."

"Cee Bu Kie, kau sebagai pemimpin salah satu perkumpulan persilatan, apakah tidak tahu, larangan di dalam kampung set an?" bertanya sikakek sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Boanpwee telah datang tanpa diundang, itu memang sudah kurang sopan. Tetapi kedatangan boanpwee ini memang ada sedikit keperluan, ingin minta keterangan locianpwee, apakah locianpwee tidak keberatan untuk memberi bantuan ?"

Sambil mendongak keatas, si kakek berkata dengan nada suara dingin.

"Kalian semua benar-benar bernyali besar, dengan berani mati menggunakan burung garudaku untuk menyelidiki jejakku. Hah, siapa yang mendapatkan akal itu?"

Ho Hay Hong segera maju kedepan dengan membusungkan dada. katanya dengan suara keras: "Akal ini adalah aku yang merencanakan, tidak ada hubungannya dengan mereka."

Sinar mata sikakek penjinak garuda yang dingin dan tajam, lalu ditujukan kepadanya.

-oo0dw0ooo-