Rahasia 180 Patung Emas Jilid 10

 
Jilid 10

"Gurumu berada di mana sekarang?" tanya si setan lempung.

"Di rumah seorang pemburu she Him di desa Cap-peng-lang," jawab Kiam-eng. "Akhir akhir ini guruku gemar berburu, beliau menugaskan su-heng dan diriku agar mencari kalian berdua, kami dipesan bilamana kalian berhasil ditemukan supaya mengundang kalian ke Cap-peng-lang sana untuk bertemu." Si setan lempung berpikir sejenak, lalu berpaling dan tanya si setan kayu, "Bagaimana pendapatmu, Lo- toa?"

"Urusan ini cukup penting dan harus kita pelajari dulu ..." ucap si setan kayu setelah termenung sejenak.

Si setan lempung menarik saudaranya mundur ke sana, lalu membisikinya, "Urusan ini dapat kita kerjakan. Jelas Tok-pi-sin-kun belum tahu peta yang dapat kita rebut ini peta palsu. Sekarang boleh kita gunakan peta palsu untuk bekerja sama dengan dia, kan ada untung dan tidak ada rugi nya, bagaimana pikiranmu?"

"Akan tetapi, kalau peta yang kita pegang ini peta palsu, lalu apa manfaatnya bekerja sama dengan dia?" jawab si setan kayu dengan sama lirih nya.

"Mengapa bilang tidak ada manfaatnya," ujar si setan lempung. "Kan pemegang peta asli itu pasti juga memerlukan tenaga Sai-hoa-to bila kita gunakan peta palsu untuk bekerja sama dengan Tok pi-sin-kun, itu berarti kita akan dapat berdekatan dengan Sai-hoa-to, dengan demikian lambat atau cepat tentu dapat kita tangkap orang yang memegang peta asli itu. Bukankah akal ini cukup bagus?"

"Walaupun betul juga gagasanmu, namun Tok-pi-sin-kun juga bukan manusia yang dapat diganggu begitu saja, apabila diketahuinya peta kita ini palsu, kan bisa ... "

"Itu pun tidak menjadi soal," tukas si setan lempung, "Kita kan dapat menyatakan bahwa kita pun tidak tahu peta itu palsu."

"Baik," kata si setan kayu. "Cuma, kepergian kita ini harus senantiasa waspada, bisa jadi Tok-pi-sin-kun tidak ada kesungguhan hati untuk bekerja sama dengan kita, mungkin dia justru hendak mencelakai kita agar dia dapat mencaplok sendirian kota emas itu."

"Dengan sendirinya kita harus waspada. Yang penting kita harus pegang teguh suatu prinsip, yaitu kita mutlak takkan memasuki istana putarnya barang selangkah pun, dengan demikian, jika dia ingin mencelakai kita, terpaksa ia harus langsung turun tangan terhadap kita. Dan aku kira dengan kekuatan kita berdua untuk melayani dia sendirian, andaikan tidak sanggup menandinginya juga masih dapat mundur secara teratur."

Si setan kayu mengangguk setuju, lalu ia pandang Su-Kiam-eng dan berkata, "Eh, anak muda, kami menerima undanganmu untuk menemui gurumu. Tapi kamu belum lagi menjawab pertanyaan kami tadi, yaitu ... eh, kertas apa yang kau baca tadi?"

"Oo, itu cuma sehelai ... sehelai peta kota Kui-yang," jawab Kiam-eng dengan tertawa.

Si setan kayu melengak, tanyanya cepat. "Untuk apa kamu membaca peta kota Kui-yang?"

Kiam-eng berlagak serba susah jawabnya tertawa, "Ahh, soalnya Sam-su-heng ku mendapat kabar, katanya di kota Kui-yang ada seorang putri hartawan she Peng yang terkenal sangat cantik, maka aku minta dia melukiskan sehelai peta untukku, aku pikir nanti bila lewat di kota itu dapat sekalian ku ..."

Si setan kayu tidak begitu jelas terhadap seluk-beluk anak murid Tok-pi-sin-kun, cuma sedikit banyak ia pun pernah dengar bahwa anak murid tokoh itu kebanyakan adalah manusia cabul, maka ia percaya cerita Su-Kiam-eng itu, dengan suara ketus ia pun berkata. "Hah, melihat tampangmu yang cukup sopan, mengapa kamu bisa melakukan perbuatan kotor dan terkutuk seperti itu?"

"Eh, Lo-cian-pwe kan juga bukan golongan putih, mengapa jadi mengomeli diriku malah?" ujar Kiam-eng dengan tertawa.

"Hm, biarpun aku bukan orang golongan putih, tapi selama ini aku pun tidak suka melakukan perbuatan terkutuk semacam itu," jengek si setan lempung.

"Ya, sudahlah," ucap Kiam-eng sambil mengangkat pundak. "Sekarang kebetulan bertemu dengan ke dua Lo-cian-pwe di sini, dengan sendirinya aku tidak perlu lagi pergi ke Kui-yang, ayolah silakan kedua Lo-cian-pwe ikut ke Cap-peng-lang untuk bertemu dengan guruku saja."

"Baiklah, silakan membawa kami ke sana," jawab si setan kayu dengan dingin.

Segera Kiam-eng membalik tubuh dan mendahului berangkat, dibawanya kedua setan jangkung itu ke arah Cap-peng-lang. Cara ini adalah akal yang terpikir olehnya sekarang untuk meloloskan diri dari bahaya, ia tahu ilmu silat Sam-bi-sin-ong jauh lebih tinggi daripada Kui-kok-ji-bu-siang, setiba di Cap-peng-lang, biarkan Sam-bi- sin-ong melayani salah seorang setan itu, dirinya dan Ih-Keh-ki juga menghadapi seorang setan, rasanya mereka pasti takkan kalah.

Cap-peng-lang itu terletak ratusan li di barat Thian-ti, sebaliknya berjarak lebih dari 180 li dari tempat berangkat sekarang ini, Kiam-eng menaksir akan dapat mencapai tempat tujuan menjelang fajar nanti, maka dia sengaja berlari secepatnya.

Kung-fu Ji-bu-siang memang di atas Kiam-eng, sebab itu mereka dapat membuntuti Su-Kiam-eng dalam jarak yang tetap, yaitu beberapa meter di belakangnya.

Sembari lari si setan lempung coba tanya lagi, "Eh, anak muda, dari mana gurumu mendapat tahu kami berdua menemukan peta rahasia kota emas itu?"

"Dari berita orang," tutur Kiam-eng. "Di dunia persilatan sekarang, siapa yang tidak tahu bahwa murid Kiam-ho Lok-Cing-hui, yaitu Gak-Sik-lam, telah menemukan sebuah kota emas misterius di tengah hutan belukar di wilayah selatan sana?"

"Jika begitu, di manakah gurumu berhasil menangkap Sai-hoa-to?" tanya pula si setan lempung.

"Ini kurang jelas bagiku," jawab Kiam-eng. "Yang menawan Sai-hoa-to adalah Toa-su-heng kami setelah dia membawa pulang Sai-hoa-to ke istana putar, segera dia mendapat perintah ke Tiong-goan untuk mencari kedua Lo-cian-pwe. Su-hu kami juga tidak pernah mengisahkan cara bagaimana Toa-su-heng kami dapat menawan Sai-hoa-to."

"Jadi sekarang Sai-hoa-to itu berada di istana putar kalian?" si setan kayu ikut menegas. "Betul, kami mengurungnya di penjara bawah tanah istana putar," tutur Kiam-eng. "Kapan Toa-su-heng kalian berhasil menawannya?" tanya pula si setan kayu.

"Kira-kira tujuh atau delapan hari yang lalu," jawab Kiam-eng.

"Di dalam tujuh-delapan hari ini, apakah kalian tidak menemukan sesuatu kejadian luar biasa, misalnya ada orang berusaha masuk ke istana putar kalian untuk menolong Sai-hoa-to?"

"Tidak ada," jawab Kiam-eng pasti, "Memangnya siapa yang berani masuk ke istana putar kami untuk menolong orang?"

"Kabarnya gurumu mempunyai dua orang pembantu maha lihai, yang seorang ialah Thian-ti-it-koai Pau- Hai-san, yang lain adalah Tok-po-po Biau-Kim-ki, betul tidak?" tanya si setan lempung.

"Memang betul," jawab Kiam-eng. "Apakah kedua Lo-cian-pwe kenal mereka?"

"Kami pernah bertemu satu kali dengan Tok-po-po Biau-Kim-ki, itu kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, tatkala mana dia masih gadis, mukanya tidak begitu menarik, cuma tubuhnya memang padat menggiurkan ..."

"Wah, barangkali Lo-cian-pwe pernah tertarik dan coba memburunya?" ujar Kiam-eng dengan tertawa.

"Memang," kata si setan lempung dengan tertawa senang. "Namun dia mencela diriku, katanya perawakanku terlampau pendek, kalau aku berdiri di sebelahnya, katanya seperti dia punya ... Huh, dirodok ..."

"Haha, memang benar juga tubuh Lo-cian-pwe memang agak terlampau pendek sedikit," ucap Kiam-eng dengan tertawa.

"Akan tetapi ketika aku yang memburu dia, justru dia bilang perawakanku terlampau tinggi coba apa tidak menggemaskan?" tukas si setan ukiran kayu.

"Nah, justru lantaran dia sok pilih ini dan itu tinggi tidak mau dan pendek juga emoh, maka usia mudanya jadi tersia-sia hingga akhirnya dia menjadi perawan tua yang tidak laku." setan lempung dengan tertawa. "Wataknya memang berangasan, bilamana bertemu dengan dia hendaknya ke dua Lo-cian-pwe berlaku hati-hati sedikit," ujar Kiam-eng.

"Sekarang dia berada bersama gurumu tinggal di istana putar sana?" tanya si setan lampung.

"Dia tinggal di istana putar, dia memang tidak berminat terhadap urusan berburu segala," tutur Kiam- eng.

Dan bagaimana dengan Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san?" tanya si setan kayu. "Ia juga berada di istana putar," kata Kiam-eng.

"Jika begitu, lantas siapa saja yang mendampingi gurumu sekarang?" tanya setan kayu. "Ada dua orang su-moai ku dan ke-12 tusuk kundai emas," jawab Kiam-eng.

"Oo, siapa nama ke dua su-moai mu?"

"Pat-su-moai Giok-bin-lo-sat Lau-Giok-bi dan Kiu-su-moai Tiau-Soat-lan, si cantik bulan purnama. "Lalu siapa lagi ke-12 tusuk kundai yang kau sebut itu?" tanya setan kayu.

"Yaitu ke-12 gadis cantik yang senantiasa meladeni guruku siang dan malam. Mereka tidak paham ilmu silat, hanya mahir tari dan nyanyi dan berbagai kesenian."

"Ah, rasanya tidak cocok, sebab pernah aku dengar yang melayani gurumu katanya ada empat gadis Bwe, Lan, Kiok dan Tiok, mengapa sekarang kau bilang ada 12 tusuk kundai emas segala?" tanya si setan lempung dengan heran.

Cepat Kiam-eng menjawab dengan tertawa, "Soalnya ke empat selir Bwe-lan-kiok-tiok itu sekarang sudah kurang disukai lagi, kini guruku hanya dikelilingi oleh ke 12 gadis molek yang baru itu.

"Oo, kiranya begitu," ucap si setan lempung "Wah, gurumu sungguh tua-tua keladi, makin tua makin menjadi."

Kiam-eng tidak menanggapi lagi, ia tahu bila mana banyak orang tentu akan mudah menimbulkan kesalahan, jika terlalu banyak mengarang cerita bohong, akhirnya pasti akan ketahuan lawan.

Ji-bu-siang juga tidak bicara lagi, ke tiga orang meneruskan perjalanan dengan cepat dan berlari secepat terbang di tengah kegelapan malam.

Waktu ufuk timur mulai remang-remang menjelang fajar, sampailah mereka di tempat tujuan.

Cap-peng-lang itu sebuah pedusunan yang indah, dikitari perbukitan dan dikelilingi sungai, penduduknya sebagian bertani dan sebagian lagi hidup dari berburu. Sebuah dusun yang sederhana dan tentram.

Akan tetapi, sekarang timbul persoalan yang pelik!

Jika Kiam-eng datang sendirian untuk mencari Ih-Keh-ki dan Sam-bi-sin-ong, tentu secara langsung tanpa tedeng aling-aling ia dapat mencari tahu di mana rumah si pemburu she Him itu. Namun sekarang ia menyamar sebagai Im-Som-hiong, maka ia tidak dapat minta keterangan kepada siapa pun melainkan harus langsung membawa Ji-bu-siang menuju ke rumah si pemburu she Him yang dimaksud. Lantas apa dayanya untuk bisa mengetahui di mana rumah si pemburu she Him itu"

Sebab itulah, maka ketika mulai memasuki pedusunan itu, segera Kiam-eng memperlambat larinya, ia coba mengawasi setiap rumah penduduk yang dilaluinya dengan harapan tanpa bertanya akan dapat menemukan Ih-Keh-ki dan Sam-bi-sin-ong.

Pada saat itulah si setan kayu yang mengintil di belakangnya itu mendadak bertanya, "Eh, anak muda, pernah aku dengar bahwa gurumu adalah seorang yang biasa hidup senang diuruk dengan segala kemewahan, masakah sekarang dia mau berburu ke tempat terpencil dan tandus seperti ini?"

"Memangnya apa salahnya jika sekali tempo beliau hidup di pedusunan?" ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Hm, jangan-jangan kamu anak muda ini sengaja main gila?" jengek si setan kayu.

"Bahwa guruku mau berburu ke pedusunan seperti ini, sebenarnya juga tidak perlu diherankan," tutur Kiam-eng dengan berlagak tertawa. "Misalnya saja, seorang yang biasa hidup mewah setiap hari makan daging dan ayam, terkadang kan juga ingin makan nasi uduk atau gado-gado di tepi jalan. Nah, itulah sebabnya guruku mau berburu ke tempat terpencil seperti ini, karena beliau ingin mencicipi hidup sederhana."

"Baik, baik, sekarang lekas tunjukkan sesungguhnya di rumah mana gurumu tinggal?" tanya si setan lempung.

Kiam-eng melihat penduduk di sekitar kebanyakan adalah keluarga pemburu, ia pikir bilamana benar Sam-bi-sin-ong bersama Ih-Keh-ki berada di pedusunan ini sekalipun nanti Ji-bu-siang merasa dipermainkan dan hendak melabraknya, tentu suara ribut-ribut akan memancing munculnya Sam-bi-sin- ong dan Ih-Keh-ki.

Karena itulah ia menuding sebuah rumah pemburu yang agak besar di depan sana dan berkata, "Itu, tinggal di sana, mari silakan ikut masuk ke sana bersamaku."

Mendengar itu, serentak Ji-bu-siang berhenti lari, katanya, "Tidak, boleh kau masuk sendiri untuk mengundang ke luar gurumu dan bertemu dengan kami."

Diam-diam Kiam-eng merasa geli, katanya, "Baiklah, jika begitu, harap ke dua Lo-cian-pwe menunggu sementara, biar aku masuk ke sana untuk memberi lapor kepada Su-hu."

Habis berkata, dengan langkah lebar ia terus menuju ke rumah pemburu yang dimaksudkan tadi.

Fajar baru menyingsing, kaum pemburu pada umumnya belum bangun tidur. Kiam-eng coba mengetuk pintu rumah itu, sejenak kemudian baru terdengar suara orang menyahut di dalam, "Kau, siapa itu?"

"Aku, silakan buka pintu," jawab Kiam-eng.

Tidak lama kemudian, berkeriutlah daun pintu di buka orang, seorang lelaki setengah baya melongok ke luar dan bertanya, "Kau cari siapa?"

"Numpang tanya, ada seorang pemburu she Him di sini entah tinggal di rumah yang mana?" tanya Kiam~eng dengan suara tertahan.

Di luar dugaan, lelaki setengah baya itu menjawab, "Aku sendiri she Him, siapa yang kau cari?"

Kiam-eng jadi melengak sendiri, tapi segera ia pun sangat girang dan berseru, "Aha, bagus sekali! Aku datang untuk mencari seorang Lo-tiang dan seorang nona cilik, katanya mereka ..."

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar seorang gadis bersorak gembira di dalam rumah, "Aha, kakak Eng, engkau sudah datang?!"

Menyusul orang yang bersuara lantas muncul dan siapa lagi dia kalau bukan Ih-Keh-ki adanya.

Cepat Kiam-eng mencegahnya agar si nona tidak ke luar pintu tanyanya dengan suara lirih, "Apakah Sam-bi-sin-ong sudah pulang ke mari?"

"Belum," jawab Keh-ki. "kemarin aku desak dia ke istana putar musuh untuk mencari kabar tentang dirimu, sampai sekarang juga dia belum pulang."

Mendengar Sam-bi-sin-ong belum pulang ke Cap-peng-lang, seketika Kiam-eng merasa tegang katanya, "Wah, celaka, lantas bagaimana baiknya?"

"Ada urusan apa?" tanya Keh-ki bingung.

"Coba kau lihat siapa ke dua orang yang berdiri di belakangku sana?" kata Kiam-eng.

Waktu Keh-ki memandang ke sana, baru sekarang ia tahu di sana berdiri dua orang kakek yang satu jangkung dan yang lain pendek. Seketika air mukanya berubah pucat, katanya kuatir, "Hai, bukankah mereka itu Kui-kok-ji-bu-siang?"

"Betul aku dipergoki mereka di tengah perjalanan, waktu itu aku sedang membaca peta kota emas ... " dengan suara tertahan lalu Kiam-eng menceritakan pengalamannya.

Mau-tak-mau Keh-ki merasa gelisah juga, segera ia hendak menarik anak muda itu ke dalam rumah dan berbisik, "Ayolah, lekas kita lari melalui pintu belakang!"

"Wah, jangan, dengan cara begini kan berarti membikin susah tuan rumah di sini"? ujar Kiam-eng. "Habis bagaimana ... ahh, itu dia, mereka sudah menuju ke mari," seru Keh-ki kuatir.

Cepat Kiam-eng membalik tubuh memapak kedatangan Ji-bu-siang, katanya dengan tertawa, "Wah, sungguh tidak kebetulan, semalam juga guruku sudah pulang."

Padahal Ji-bu-siang menyaksikan Kiam-eng bicara dengan Ih-Keh-ki dengan suara lirih sehingga timbul rasa curiga, maka serentak mereka mendekatinya. Sekarang diberi tahu bahwa Tok-pi-sin-kun sudah pulang ke istana putar, tentu saja mereka tambah sangsi. Mendadak si setan kayu menyeringai dan mengomel, "Hei, anak muda, sesungguhnya kamu lagi main sandiwara apa?"

Sedapatnya Kiam-eng berlagak tenang, ia tuding Ih-Keh-ki dan berkata, "Ini Kiu-su-moai ku, si cantik bulan purnama Tiau-Soat-lan, baru saja dia memberitahukan padaku bahwa semalam ada orang menerjang ke dalam istana putar hendak menculik Sai-hoa-to setelah menerima laporan itu cepat guruku memburu pulang ke istana putar dengan tergesa-gesa."

Lalu ia menoleh dan tanya Keh-ki, "Eh, Su-moai, kapan kira-kira Su-hu akan kembali ke sini"

"Tak akan lama," jawab Keh-ki, "Su-hu bilang sebelum lohor beliau akan kembali lagi ke mari, sebelum berhasil memburu kijang belang itu beliau pasti takkan berhenti."

Habis bicara, ia sengaja memberi lirikan genit kepada Ji-bu-siang dengan tersenyum manis.

Seketika Ji-bu-siang merasa syur, dengan tertawa lebar si setan lempung bertanya, "Eh, nona cilik, apakah kamu ini benar si cantik bulan purnama Tiau-Soat-lan?"

Keh-ki tertawa genit, jawabnya, "Memangnya kau sangka aku ini siapa?"

"Kabarnya kamu suka berkeliaran di malam hari ketika bulan purnama, apa betul?" tanya si setan lempung dengan menyengir.

"Betul, soalnya aku suka pada cahaya rembulan yang memikat itu," jawab Keh-ki.

Dengan tertawa si setan lempung merayu pula, "Wah, kemunculan di bawah sinar bulan purnama tentu semakin cantik molek, serupa bidadari yang baru turun dari kahyangan."

Keh-ki tertawa genit, "Tentu saja, kalau tidak masakah aku disebut si cantik bulan purnama."

Si setan lempung mengangkat bahu, katanya pula dengan senyum yang dibuat-buat, "Tapi aku dengar pula cerita bahwa pada waktu kemunculanmu di bawah sinar bulan purnama sering ngelayap kian kemari untuk mencari lelaki yang gagah perkasa dan cakap untuk kepuasanmu, apa betul?"

Seketika muka Keh-ki berubah merah, tanpa terasa ia memaki, "Kentutmu busuk, memangnya kau anggap aku Ih-Keh-ki ini perempuan macam apa?"

Keruan si setan lempung melengak, "Oo, jadi kamu ini bukan Tiau-Soat-lan?"

Keh-ki melonjak kaget dan tersadar, cepat jawabnya, "O, tidak, aku ... aku memang si cantik bulan purnama Tiau Soat-lan, Ih ... Ih-Keh-ki adalah nama kecilku."

"Hihi, nama kecilmu Ih-Keh-ki, begitu?" si setan lempung menegas dengan tertawa ejek.

Berulang Keh-ki mengangguk, "Ya, ya, soalnya waktu kecil aku selalu ikut mak inang, dan she Ih, maka nama kecilku lantas ditambah dengan she Ih."

Si setan lempung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tanyanya sambil memandang saudaranya. "Eh, Lo-toa, kau kira benar tidak keterangan anak dara ini?"

"Tidak," jawab si setan kayu sambil menggeleng, "Aku berani bertaruh denganmu, anak dara ini mutlak pasti bukan si cantik bulan purnama Tiau-Soat-lan."

Segera si setan lempung mendengus, "Hm, emangnya aku pun merasa dia tidak mirip Tiau-Soat-lan, hihi

... " "Si bulan purnama Tiau-Soat-lan itu terkenal sebagai perempuan jalang, sedangkan anak dara jelas-jelas masih perawan mulus ..." ucap si setan kayu dengan mata melotot sehingga memancarkan sinar tajam, lalu ia tetap Su-Kiam-eng dan membentak, "Nah, anak muda, sesungguhnya kamu ini siapa? Mengapa kau berani mengaku sebagai murid Tok-pi-sin-kun? Apa pula maksud tujuanmu sengaja menipu kami berdua. Nah, lekas mengaku terus terang!"

Kiam-eng tahu sukar lagi mengelabui ke dua orang itu, sedapatnya ia berlaku tenang, jawabnya dengan dingin, "Sabar dulu, jangan marah, sebab sekarang bukan waktunya untuk marah bagimu."

Si setan kayu mendesak maju sambil membentak, "Anak keparat, kau bilang apa?"

Sekarang Kiam-eng pun bersikap ketus, jawabnya, "Aku bilang kalian Kui-kok-ji-bu-siang terlampau tidak tahu diri, ternyata kalian berani berlagak garang di hadapanku."

Keruan si setan kayu berjingkrak murka, namun dia tidak segera turun tangan, sebab ia merasa Su- Kiam-eng ini pasti seorang pemuda yang punya asal-usul tidak sembarangan, ia harus tahu seluk-beluk lawan dulu baru kemudian akan menentukan cara menghadapinya.

Sedangkan si setan lempung lantas menanggapi dengan tertawa, "Eh boleh juga katakan, rasanya nadamu pun tidak kecil, aku justru ingin tahu kamu ini orang macam apa?"

"Meski aku ini bukan tokoh luar biasa segala, namun di hadapanku bobot kalian tidak lebih hanya sebagai maling saja," jengek Kiam-eng.

"Wah, aku tidak mengerti akan maksud ucapanmu," kata si setan lempung tetap dengan tertawa.

"Supaya kalian paham, biarlah aku katakan terus terang," ucap Kiam-eng. "Aku pandang kalian sebagai maling, soalnya barang milik su-heng ku berada pada kalian."

Terkejut juga si setan lempung, ia menegas, "Ahh, jadi kamu ini murid kedua Kiam-ho Lok-Cing-hui, Su- Kiam-eng adanya?"

"Betul. Dan nona yang bersamaku ini adalah cucu murid Kiam-ong Ciong-Li-cin, namanya Ih-Keh-ki."

Si setan lempung melengong sejenak, lalu memandang saudaranya dan berucap sambil menyengir, "Wah, Lo-toa, kita terlanjur bikin perkara dengan tokoh besar."

Setan kayu juga terkesiap setelah mengetahui ke dua muda-mudi yang dihadapinya sekarang adalah anak murid Kiam-ong dan Kiam-ho. Namun pada lahirnya ia berlagak tenang saja, katanya sambil tertawa, "Jika begitu, lantas untuk apa kau menipu kami ke sini?"

"Tidak ada lain, hanya aku harap kalian menyerahkan kembali peta kota emas itu kepadaku," jawab Kiam-eng.

"Dan kalau aku tolak?" ucap si setan kayu. "Apabila kalian merasa yakin mampu mengalahkan Ciong-lo- cian-pwe dan guruku ya terserah kepada kalian untuk menolak menyerahkan peta itu," kata Kiam-eng.

Air muka si setan kayu berubah agak kelam ia melirik ke samping, lalu bertanya pula, "Oo memangnya di mana ke dua orang kosen itu sekarang?"

"Jadi kalian ingin bertemu dengan mereka baru mau menyerahkan petanya, begitu?" tanya Kiam-eng dengan kurang senang.

"Silakan kamu mengundang mereka ke luar saja," jawab si setan kayu sambil memandang sekitarnya. "Hm, jika demikian, jadi kalian Kui-kok-ji-bu-siang berani meremehkan kakek guruku?" jengek Keh-ki. "Mengapa kau tuduh kami meremehkan kakek gurumu?" tanya si setan kayu.

"Biasanya menghadapi urusan apa pun, cukup kakek guru menyampaikan sepatah kata pesan saja, maka persoalan betapa besarnya juga akan diselesaikan. Sekarang kalian justru minta bertemu dengan kakek guru baru mau menyerahkan peta caramu ini bukankah berarti meremehkan kakek guruku?"

Sedapatnya si setan kayu menahan rasa gusar, katanya, "Bahwa aku ingin berjumpa dengan kakek gurumu, itu adalah suatu penghormatan menurut adat kesopanan, mengapa kamu anak dara sembarangan omong?"

"Su-kong ku tidak suka bertemu dengan kalian mereka menyampaikan pesan padaku dengan ilmu mengirim gelombang suara, katanya bila kalian berkeras ingin menemani beliau baru mau menyerahkan peta, maka akibatnya akan terlambat dan janganlah kalian menyesal nanti."

"Jika begitu, jadi kakek gurumu dan Kiam-ho Lok-Cing-hui adalah tokoh yang tidak sudi sembarangan bertemu dengan orang?" tanya si setan kayu dengan mendongkol.

"Bukan begitu soalnya, hanya saja Su-kong dan Lok-lo-cian-pwe merasa tidak suka bertemu dengan kalian Kui-kok-ji-bu-siang, lain tidak," ujar Keh-ki.

Seketika air muka si setan kayu berubah kelam pula, agaknya dia memang enggan bermusuhan dengan Kiam-ong dan Kiam-ho.

Cepat si setan lempung menukas. "Lo-toa, jika Lok-tai-hiap yang minta kita mengembalikan peta, biarlah kita mengingat hubungan baik sahabat lama dan kembalikan saja kepada mereka."

Habis itu, dengan suara tertahan ia bisiki saudaranya lagi, "Sesungguhnya memang lebih baik kita kembalikan peta saja daripada bermusuhan dengan ke dua tua bangka itu."

Walaupun si setan kayu tidak percaya Kiam-ong dan Kiam-ho juga berada di sekitar situ, tapi ia pun merasa tidak ada gunanya bermusuhan dengan ke dua tokoh besar itu hanya untuk sehelai peta palsu. Maka akhirnya ia mengangguk dan berkata, "Baiklah, anggap saja kita yang lagi sial."

Lalu ia mengeluarkan peta palsu yang direbutnya dari Li-hun-nio-nio gadungan itu dan dilemparkan kepada Su-Kiam-eng.

Cepat Kiam-eng menyambar peta itu, aku tanya dengan tertawa, "Kalian sungguh sahabat yang baik biarlah atas nama guruku kami mengucapkan terima kasih kepadamu."

Si setan kayu mendengus perlahan, segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba seperti teringat sesuatu, mendadak ia berhenti dan berkata, "Wah, tidak betul!"

Si setan lampung yang ikut di belakangnya melengak, serentak ia ikut berhenti dan tanya "Urusan apa tidak betul?"

Cepat setan kayu membalik tubuh lagi, bentaknya sambil menuding Su-Kiam-eng, "Lo-ji, telah tertipu oleh anak keparat ini!"

"Mengapa kau bilang demikian?" tanya si setan lempung.

"Hehehe, coba kau pikir, dia baru saja sampai di sini, malahan tadi dia menyaru sebagai Im-som-hiong, katanya gurunya, yaitu Tok-pi-sin-kun telah pulang ke istana putar, begitu bukan?" kata si setan kayu dengan terkekeh.

"Betul, lantas ada apa?" tanya setan lempung.

"Jika betul Kiam-ong dan Kiam-ho berada di sini, buat apa dia mesti menyaru sebagai Im Som-hiong segala?" jengek si setan kayu pula.

"Apakah maksudmu mereka ini bukan anak murid Kiam-ong dan Kiam-ho?" tanya pula si setan lempung.

Sambil menyeringai si setan kayu lantas mendekati Kiam-eng dan Keh-ki sembari menjawab, "Betul, sekalipun benar mereka anak murid Kiam-ong dan Kiam-ho, pasti juga Kiam-ong dan Kiam-ho tidak berada di sini."

Si setan lempung menarik saudaranya dan membisikinya dengan tersenyum, "Sudahlah, seumpama Kiam-ong dan Kiam-ho tidak berada di sini, kita kan juga tidak perlu merecoki anak murid mereka?"

"Tidak," jawab si setan kayu sambil mengepalkan tangan si setan lempung, "yang paling penting, semalam bocah ini sembunyi di dalam hutan untuk membaca peta, sangat mungkin peta kota emas yang asli itu justru berada padanya." Tergetar juga hati si setan lempung, seketika berubah jalan pikirannya, air mukanya serentak pun bercahaya seperti menemukan sesuatu rejeki besar, ke dua matanya yang sipit seketika pun terbelalak lebar, perlahan ia berkata kepada Su-Kiam-eng, "Eh, betul tidak persoalannya? Lekas katakan terus terang saja, anak muda, kertas yang kau baca semalam dengan sembunyi di dalam hutan itu apakah peta asli kota emas?"

Sama sekali Kiam-eng tidak menduga si setan kayu akan timbul rasa curiga padanya selagi hendak melangkah pergi, keruan ia rada mendongkol, tapi ia berlagak heran dan menjawab, "Sungguh aneh, kecuali peta yang baru saja aku terima dari kalian ini, dari mana pula pernah aku pegang peta asli apa segala?"

Si setan lempung menyeringai, "Sudahlah jangan kamu berlagak pilon, pasti sebelumnya kamu sudah tahu peta yang kami peroleh itu adalah peta palsu."

"Apa katamu? Peta yang kalian serahkan padaku ini peta palsu?" Kiam-eng berlagak menegas dengan terkejut.

Mendadak si setan kayu menerjang tiba sambil membentak bengis, "Tidak perlu banyak bicara lagi, ayo lekas serahkan peta asli itu!"

Keadaan sudah berkembang sejauh ini, rasanya tidak bisa lain daripada saling gebrak. Keh-ki melihat sang kekasih bertangan kosong, cepat ia lolos pedangnya dan diserahkan kepada Kiam-eng sambil berkata, "Kakak Eng, boleh kau tahan dia beberapa jurus dulu, biar aku ambilkan pedangmu!"

Kiranya sebelum Su-Kiam-eng masuk ke istana putar musuh dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, pernah ia menyerahkan pedang sendiri yaitu pedang tanda mata berasal dari Ih-Keh-ki untuk disimpan si nona. Maka sekarang pedang yang diserahkan Keh-ki kepada Kiam-eng ini justru adalah pedang milik Kiam-eng sendiri.

Setelah memegang senjata tentu saja Kiam-eng tambah tabah. Siapa tahu, selagi ia hendak putar pedang untuk memapak serangan si setan kayu, tahu-tahu lawan yang sedang menubruk tiba itu sekonyong-konyong seperti terserang secara gelap, tubuh orang tua jangkung itu mendadak tergetar menyusul dengan anjlok ke bawah dengan kelabakan dengan wajah memperlihatkan rasa kaget dan takut, cepat ia melompat mundur pula beberapa meter jauhnya.

Tentu saja si setan lempung yang hendak menerjang maju itu pun ikut terkejut, tanyanya cepat, "Hei Lo- toa, ada apa?"

Tanpa pikir lagi si setan kayu terus melompat terlebih jauh ke sana sembari berseru kepada kawannya, "Lekas lari, Kiam-ong dan Kiam-ho datang!"

Si setan lempung terperanjat, mana dia berani tinggal sendiri di situ, cepat ia pun lari secepatnya mengikuti jejak kawannya.

Semula Kiam-eng menduga pasti akan terjadi pertarungan sengit, tak tersangka bisa terjadi perubahan secepat ini. Ia tahu orang yang membikin kaget dan membuat takut Kui-kok-ji-bu-siang itu pasti bukan Kiam-ong Ciong-Li-cin dan berseru dengan tertawa, "Apakah Pek-li-lo-cian-pwe sudah kembali?!"

"Hahahaha!" terdengarlah suara gelak tertawa seorang berkumandang dari balik rumah gubuk di depan sana. Menyusul lantas muncul seorang tua, siapa lagi dia kalau bukan Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin.

Perlahan ia melangkah maju, ucapnya dengan tertawa, "Adik cilik, mengapa kalian sampai bertengkar dengan kedua setan ganas itu?"

Kiam-eng mengembalikan pedang kepada Keh-ki, lalu menjawab dengan tertawa, "Apakah barusan Pek- li-lo-cian-pwe yang bersuara dan membuat kedua setan itu lari ketakutan?"

"Betul," jawab Sam-bi-sin-ong, "baru aku pulang sampai di sini, pada saat itulah aku lihat si setan kayu melemparkan peta palsu kepadamu. Kemudian aku lihat dia mau pergi dan mendadak putar balik dan berubah sikap, maka terpaksa aku gunakan gelombang suara untuk menegurnya "Yau-It-lim, apakah kamu ingin mampus?" Ia menyangka aku adalah Kiam-ong atau Kiam-ho. seketika ia urungkan terjangannya padamu dan lari sipat kuping dengan ketakutan, hahahahaa ..."

Setelah tertawa, mendadak ia menjulurkan tangan dan berucap pula, "Nah, adik cilik, peta pun tentu dapat kau potong setengah bagian untukku." "Sabar dulu," ujar Kiam-eng dengan tertawa "Coba jelaskan cara bagaimana engkau membereskan Tok- pi-sin-kun?"

"Sudah aku bawa dia pulang ke istana putar dan aku serahkan kembali kepada anak muridnya." tutur Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

"Tentu kau katakan Tok-pi-sin-kun kau selamatkan dari tanganku. begitu bukan?" tanya Kiam eng.

"Betul, hubunganku dengan Tok-pi-sin-kun tidak buruk, kan pantas jika aku berbuat sedikit kebaikan baginya," ujar si kakek.

"Tapi apakah kau kira Tok-pi-sin-kun akan menyudahi begitu saja urusan ini?"

"Betapapun tidak ada gunanya meski dia tidak rela dan tidak mau menyudahi urusan ini, sebab paling sedikit dia perlu rebah di tempat tidur selama setengahan tahun."

"Oo, maksudmu dia telah kau kerjai sehingga terus menggeletak di tempat tidur?" tanya Kiam-eng dengan melengak.

"Betul," Sam-bi-sin-ong mengangguk. "Pada waktu dia belum siuman, diam-diam telah aku kerjai dia. Dengan sendirinya dia dan anak muridnya akan menyangka kamu yang mengerjai dia. ai, rasanya aku menjadi tidak enak hati ..."

Diam-diam Kiam-eng mendongkol, tapi ia hanya menanggapi dengan tertawa, "Ah, tidak menjadi soal. Sekalipun Tok-pi-sin-kun mengetahui bukan aku yang membikin celaka dia, sama saja ia pun takkan mengampuni aku."

"Eh, mana," kembali Sam-bi-sin-ong menjulurkan tangan, "berikan setengah peta itu dan segera kita dapat menjenguk Sai-hoa-to."

"Tidak perlu lagi dipotong, biar aku beri saja sepertiga padamu," kata Kiam-eng.

Namun si kakek menggeleng kepala, katanya, "Tidak, bukannya aku tidak mempercayaimu, soalnya aku rasakan bila dapat memegang setengah helai peta itu akan jauh lebih aman."

Tiada jalan lain, terpaksa Kiam-eng mengeluarkan peta dan dilipat menjadi dua, lalu meminjam sebuah gunting kepada si pemburu she Him peta itu diguntingnya menjadi dua dan yang sebagian diberikan kepada Sam-bi-sin-ong, "Nah, terimalah. Sekarang katakan, di mana kau kurung Sai-hoa-to?"

Dengan hati-hati Sam-bi-sin-ong menyimpan potongan peta itu, jawabnya dengan tertawa, "Boleh kalian bebenah seperlunya, habis itu segera aku bawa kalian pergi menemuinya."

Kiam-eng lantas menyuruh Ih-Keh-ki bebenah perbekalan mereka, lalu mengeluarkan beberapa tahil perak sebagai hadiah untuk si pemburu she Him, dengan sendirinya pemburu she Him gembira cepat ia menyiapkan kedua ekor kuda hitam putih yang dirawatnya dengan baik itu.

Segera mereka bertiga meninggalkan pedusunan itu, Sam-bi-sin-ong menjadi petunjuk jalan dan membawa mereka ke arah barat.

"He, Pek-li Pin, sesungguhnya di mana kau kurung Sai-hoa-to?" tanya Keh-ki.

"Tidak jauh dari sini, paling-paling hanya empat-lima li saja akan sampai," jawab Sam-bi-sin-ong.

Dan jarak empat-lima li memang hanya sekejap saja sudah dicapainya. Maka tibalah di kaki sebuah lereng bukit.

Sam-bi-sin-ong membawa mereka mendaki perbukitan itu, katanya, "Di lereng bukit ada beberapa keluarga pemburu, satu di antaranya she Lim dan merupakan sanak famili jauh keluarga kami. Di sanalah aku kurung Sai-hoa-to."

"Cara bagaimana engkau mengurung dia?" tanya Kiam-eng.

"Aku kurung di dalam sebuah kerangkeng yang biasanya digunakan mengurung harimau." tutur Sam-bi- sin-ong dengan tertawa.

"Hm, itu merupakan penghinaan terhadap Sim-lo-cian-pwe," jengek Kiam-eng dengan kurang senang. "Tidak ada jalan lain," si kakek mengangkat bahu. "Cuma pernah aku pesan agar mereka melayani baik baik Sai-hoa-to, maka biarpun dia terkurung dalam kerangkeng besi, aku yakin dia takkan menderita."

Bicara sampai di sini, tiba-tiba ia menuding lereng bukit di depan sana dan menyambung, "Coba lihat, itulah tempatnya!"

Tempat yang dimaksudkan itu terdiri dari dua-tiga buah rumah batu, di luar rumah banyak tergantung kulit binatang, sekali pandang saja segera akan ketahuan memang betul rumah kaum pemburu.

Begitulah ke tiga orang langsung mendekati rumah batu itu, namun tidak terlihat disambut orang, segera Sam-bi-sin-ong berseru, "Han-tin-gi Han-ting!"

Namun dua-tiga rumah batu itu tetap sunyi senyap tiada jawaban seorang pun.

Sam-bi-sin-ong bersuara heran, katanya, "Aneh mungkin semuanya ke luar berburu. Tapi tidak menjadi soal, Sai-hoa-to berada di sini, mari kalian ikut padaku."

Sembari bicara ia lantas mendahului menuju ke rumah batu yang paling kecil.

Tak tersangka, mendadak "ser-ser-ser", tiga buah piau mata uang menyambar ke luar dari dalam rumah.

Keruan Sam-bi-san-ong terkejut, cepat ia angkat tongkat menyampuk ke tiga buah piau mata uang, bentaknya gusar, "Kaum tikus celurut dari mana berani main sergap segala?"

Kiam-eng dan Keh-ki juga tahu gelagat tidak enak, serentak mereka pun melolos pedang dan siap siaga.

Segera terdengar seorang bersuara serak bergelak tertawa di dalam rumah. "Haha, Pek-li-Pin, apakah kau tahu kamu hendak menjadi maling di belakang menguntit penangkap maling?!"

Berubah air muka Sam-bi-sin-ong, bentaknya, "Siapa itu?"

"Si rase tua asli," ucap orang di dalam rumah dengan terkekeh.

"Lekas menggelinding ke luar, coba aku lihat." bentak pula Sam-bi-sin-ong. "Baik, ini dia!"

Berbareng itu dari dalam rumah lantas muncul seorang tua berbaju kelabu, bermuka tirus, mata kecil dan mulut monyong, sebelah tangan mengempit Sai-hoa-to.

Kembali air muka Sam-bi-sin-ong berubah setelah mengenali orang, teriaknya gusar, "Kiranya kau!" "Hehe, memang aku, tak tersangka bukan?" seru si kakek baju kelabu dengan tertawa.

"Dari mana kau tahu Sai-hoa-to aku kurung di sini?" tanya Sam-bi-sin-ong dengan muka masam.

"Dengan sendirinya hasil penguntitanku," jawab si kakek baju kelabu. "Kamu Sam-bi-sin-ong hanya tahu membuntuti orang, sebaliknya aku pun terus menguntit di belakangmu. Sebab aku pikir dengan cara membuntutimu tentu akan menarik hasilnya tanpa susah payah."

"Memangnya apa kehendakmu sekarang"" jengek Sam-bi-sin-ong dengan sorot mata beringas.

"Memangnya perlu kau tanya lagi?" jawab si kakek baju kelabu. "Dengan sendirinya aku ingin minta bagian rejeki."

"Kentut!" teriak Sam-bi-sin-ong murka. Si kakek baju kelabu menuding Sai-hoa-to yang dikempitnya dan berkata, "Bukan kentut. Jika aku tidak pegang Sai-hoa-to ini memang mungkin cuma kentut belaka, tapi dengan memegang Sai-hoa-to ini jadinya bukan kentut lagi."

Kiam-eng ikut melengong oleh ucapan itu ia coba tanya Sam-bi-sin-ong, "Memangnya siapakah Lo-tiang ini?"

"Dia si rase tua, Cu-kat Siong-leng," jawab Sam-bi-sin-ong dengan gemas.

Terkesiap juga hati Kiam-eng oleh nama itu, diam diam ia mengeluh mengapa makhluk tua aneh ini pun datang kemari?

Kiranya Lau-ho-li atau si rase tua Cu-kat Siong-leng juga seorang tokoh dunia persilatan kelas top, meski kung-fu nya tidak lebih tinggi dari pada Kiam-ong, Kiam-ho, Tok-pi-sin-kui, It-sik-sin-kai, Sam-bi-sin-ong dan sebagainya, namun kecerdasannya justru tidak ada tandingan di kolong langit ini. Dia seorang tokoh yang banyak tipu akalnya dan licin luar biasa. Selama berkecimpung berpuluh tahun di dunia kang-ouw, entah betapa banyak tokoh terkemuka yang dikalahkan oleh tipu akalnya yang licin dan licik, termasuk tokoh ternama seperti It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong. Sebab itulah namanya sangat cemerlang dan disegani.

Seperti halnya sekarang, tanpa susah payah dia dapat menyandera Sai-hoa-to, hal ini berarti setengah persoalan sudah tergenggam di tangannya.

Begitulah ia terkekeh-kekeh senang ketika Sam-bi-sin-ong menyebut nama dan poyokannya, ia lantas berkata terhadap Su-Kiam-eng, "Adik cilik, Sai-hoa-to ini telah banyak memberi bantuan kepada kalian guru dan murid, sekarang dia terancam bahaya, tentunya kamu takkan membiarkan dia mampus begini saja?"

Dengan sendirinya Kiam-eng tidak dapat menyaksikan Sai-hoa-to dicelakai orang, meski ia mendapatkan petunjuk dari Sai-hoa-to cara menghadapi gas racun, kepergiannya ke wilayah selatan yang masih hutan purba itu pada hakikatnya tidak perlu lagi didampingi Sai-hoa-to, tapi ia merasa lebih baik menyerahkan peta kepada lawan daripada menyaksikan Sai-hoa-to dicelakai orang.

Maka dengan kening berkerenyit ia coba tanya dengan dingin, "Memangnya apa kehendakmu kau minta peta rahasia kota emas bukan?"

Si rase tua Cu-kat Siong-leng tertawa dan mengangguk, "Betul, memang peta itulah yang aku minta." "Jadi segalanya akan kau caplok sendiri?" tanya pula Kiam-eng.

Cu-kat Siong-leng menggeleng, "Tidak, aku cuma menghendaki sepertiga bagian saja. Boleh kau serahkan peta untuk aku pegang, biarlah kita berlima pergi bersama untuk mencari kota emas itu.

"Jika aku tolak permintaanmu?" tanya Kiam-eng.

"Ya, terpaksa begini ..." ucap si rase tua sambil mengangguk, sebelah tangannya dan berlagak menghantam batok kepala Sai-hoa-to. "Dan jika Sai-hoa-to sudah mati, maka kalian pun jangan berharap akan dapat menemukan kota emas itu."

"Mungkin belum lagi kau ketahui bahwa aku sudah berhasil mempelajari ilmu anti gas racun dari Sim-lo- cian-pwe." kata Kiam-eng.

"O, maka kamu bermaksud takkan menolong Sai-hoa-to dan membiarkan dia mampus saja?" si tua menegas dengan menyeringai.

"Bukan begitu maksudku," jawab Kiam-eng, "Akan aku berikan peta yang kau minta, cuma, Sim-lo-cian- pwe harus kau lepaskan agar pulang ke Tiong-goan dan tidak boleh kau paksa dia ikut bersama kita ke wilayah selatan!"

Berkedip-kedip mata kecil Cu-kat Siong-leng mirip mata tikus itu, katanya kemudian dengan tertawa, "Boleh juga. Nah, lekas lempar peta kepadaku."

"Tapi hanya setengah peta yang dapat aku berikan, yang setengah bagian lagi berada pada Pek-li lo- cian-pwe," tutur Kiam-eng.

"Ha! ini memang sudah aku ketahui ..." jawab Cu-kat Siong-leng.

Melihat ada maksud Su-Kiam-eng hendak menyerahkan peta, cepat Sam-bi-sin-ong menukas "Eh, nanti dulu adik cilik, perlu aku tegaskan bahwa aku tidak berjanji juga menyerahkan setengah peta yang aku pegang ini kepadanya demi menyelamatkan Sai-hoa-to."

"Apabila aku berikan peta yang kau minta, segera akan kau lepaskan pergi Sim-lo-cian-pwe?" tanya Kiam-eng sambil menatap tajam si rase tua.

"Ya, seleraku tidak terlampau besar, asalkan dapat duduk sama rendah dan berdiri sama ting dengan Sam-bi-sin-ong, maka rasaku sudah puas" sahut si rase tua sambil mengangguk. Kiam-eng lantas mengeluarkan setengah potong peta dan dilemparkan padanya. Si rase tua menyimpan peta itu dalam baju, benar juga, segera ia membebaskan hiat-to Sai-hoa-to yang ditutuknya serta menaruhnya di tanah.

Sai-hoa-to berdiri sejenak dengan mata terpejam, ketika ia merasa darah berjalan lancar seluruh tubuh, mendadak ia berputar, sebelah tangan terus menebas ke arah Lau-ho-li Cu-kat Siong-leng yang berdiri di belakangnya.

Pukulan ini dilontarkan dalam keadaan murka, maka cepat dan keras lihai luar biasa.

Namun si rase tua tampaknya juga sudah menduga kemungkinan akan diserang oleh Sai-hoa-to, maka begitu melihat pundak orang bergerak, serentak ia mendahului meloncat ke atas wuwungan rumah sambil berseru, "Sim-sin-ih, yang mengurungmu di dalam kerangkeng kan bukan aku?"

Karena menyerang tempat kosong, Sai-hoa-to tidak melancarkan serangan lagi melainkan terus berputar pula dan menubruk ke arah Sam-bi-sin-ong.

Sungguh, meski kung-fu Sai-hoa-to tidak sehebat Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li, tapi dia seorang tua yang tinggi hati dan tidak biasa dihina orang. Mula-mula ia ditawan Sam-bi-sin-ong dan dikurung dalam kerangkeng harimau, kemudian hiat-to ditutuk Lau-ho-li dan memperalat dia untuk merampas peta kota emas, maka sejak tadi rasa mendongkolnya tak terlampiaskan, sekarang hiat-to sudah bebas, dengan sendirinya tanpa menghiraukan apa pun terus melabrak musuh mati-matian.

Tampaknya Sam-bi-sin-ong juga tidak berniat bergebrak dengan Sai-hoa-to, maka cepat ia melompat mundur beberapa meter jauhnya sambil berseru dengan tertawa, "Eh, Sim-sin-ih, ada urusan apa boleh dibicarakan secara baik-baik, kenapa mesti marah-marah begini?"

Muka Sai-hoa-to merah padam karena kedua orang itu tidak mau bergebrak dengan dia, teriak nya beringas, "Hm, kalian berdua Lau-oh-kui (kura-kura tua, artinya germo tua) ini, kalau jantan sejati ayolah turun kemari untuk bertarung mati-matian denganku."

Karena dimaki dengan istilah "lau-oh-kui Kiam-eng melihat air muka Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li berubah masam, tampaknya seperti tidak tahan akan makian kotor itu, betapapun Kiam-eng kenal kedua orang tua itu bukanlah sembarangan orang, jika membuat mereka kalap, bisa jadi Sai-hoa-to akan telah pil pahit dari mereka.

Maka cepat Kiam-eng melerai, "Sim-lo-cian-pwe hendaknya jangan marah, apabila ke dua Lo-cian-pwe itu berbuat sesuatu kesalahan, namun mengingat mereka mau bekerja sama denganku secara jujur, harap mengingat hubungan Sim-lo-cian-pwe dengan guruku, sudilah ..."

Sai-hoa-to mendengus, "Hm, kau kira mereka benar-benar mau bekerja sama denganmu secara jujur?"

Cepat Kiam-eng memberi isyarat kedipan mata dan menjawab. "Tentu begitulah. Pek-li dan Cu-kat-lo- cian-pwe adalah kosen termashur di dunia persilatan, bila mereka bilang satu rasanya tidak nanti berubah menjadi dua, tidak nanti mereka menganggap apa yang telah diucapkan mereka sebagai kentut belaka!"

"Hahahaha!" Sam-bi-sin-ong terbahak, "Adik cilik, janganlah kamu memaki orang dengan putar lidahmu yang tajam itu. Kan sudah aku katakan, pasti akan bekerja sama denganmu sampai tuntas."

Si rase tua juga tergelak dan menjawab, "Ya, aku pun begitu, maka janganlah kau kuatir!"

Kiam-eng berlagak terhibur, ia memberi hormat kepada Sai-hoa-to dan berkata, "Ucapan mereka memang betul, dengan bantuan mereka berdua pasti rencanaku akan tercapai, maka Sim-lo-cian-pwe boleh silakan pulang saja."

Sai-hoa-to tahu anak muda itu tentu mempunyai maksud tertentu, maka ia pun tidak marah jawabnya dengan mengangguk, "Baiklah, setelah aku pulang ke Tiong goan, tentu akan aku beritahukan kepada gurumu tentang pengalamanmu ini, bilamana terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan dirimu, aku yakin gurumu cukup tahu terhadap siapa dia harus menuntut balas atau minta pertanggungan jawab.

Habis berkata segera ia berlari pergi, hanya sekejap saja menghilang dalam hutan di kejauhan.

Kiam-eng lantas berkata kepada Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li, "Baiklah, sekarang boleh kita berangkat." Sam-bi-sin-ong tidak menjawab, ia berbalik tanya Lau-ho-li dengan menarik muka, "Rase tua, apakah segenap anggota keluarga familiku ini telah kau bunuh?"

Si rase tua menggeleng kepala, "Tidak, tidak mana aku berani mencari perkara terhadap engkau Sam-bi- sin-ong? Mereka hanya aku tutuk hiat-to kelumpuhannya saja, sekarang semuanya masih meringkuk di dalam rumah."

Sam-bi-sin-ong masuk ke rumah batu yang tengah, dilihatnya sekeluarga pemburu pemilik rumah itu memang betul menggeletak seluruhnya di situ, maka satu per satu ia membuka hiat-to mereka serta mengucapkan rasa penyesalannya, lalu meninggalkan rumah batu itu serta berkata kepada Kiam-eng berdua, "Nah, bolehlah kita berangkat sekarang!"

Serombongan mereka berempat lantas meninggalkan perbukitan tersebut dan menuju ke barat. Kiam- eng dan Keh-ki tetap menunggang kuda hitam dan putih, Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li mengintil di kanan-kiri mereka dengan berlari sehingga ke dua kakek itu lebih kaum hamba ke dua muda-mudi itu.

Dasar kung-fu nya tinggi dan nyalinya besar, di tengah jalan Lau-ho-li berani mengeluarkan peta, sembari lari sembari baca, katanya dengan tertawa, "Saudara Pek-li cara menggunting peta ini sungguh sangat tepat, tanpa menggabungkan ke dua potong peta ini, betapapun sukar mengetahui apa isi yang terlukis di dalam peta."

Tergelitik juga hati Sam-bi-sin-ong, tanpa terasa ia pun mengeluarkan setengah potong peta yang dipegangnya itu untuk dibaca, ucapnya dengan tertawa, "Titik tolak yang dilukiskan peta ini terletak di Ting-ciong, setiba di Ting-ciong barulah kita gabungkan ke dua potong peta kita untuk dipelajari bersama."

"Saat ini juga sudah dapat aku raba di mana letak kota emas itu, masa engkau belum lagi dapat melihatnya" ujar si rase tua dengan tertawa.

"Aku bukan orang buta, masa tidak dapat melihatnya," jawab Sam-bi-sin-ong ketus.

"Jika begitu, menurut pendapatmu, kira-kira diperlukan berapa hari perjalanan untuk mencapai pegunungan sana?" tanya si rase tua.

"Entah," jawab Sam-bi-sin-ong.

Si rase tua mengangkat pundak, ia berpaling dan tanya Kiam-eng, "Eh, adik cilik, apakah benar kamu sudah paham cara menolak gas racun?"

"Betul," jawab Kiam-eng dengan mengangguk. "Setiba di Ting-ciong dapatlah aku beli bahan obatnya untuk meraciknya."

"Untuk itu diperlukan waktu berapa lama?" tanya pula si rase tua.

"Kira-kira cukup tiga hari saja." Si rase tua tertawa gembira, katanya, "Apa pun juga sebulan kemudian aku yakin kita akan dapat mencapai kota emas itu, atau dengan perkataan lain, lewat sebulan lagi kita akan menjadi hartawan kaya-raya."

"Kita yang kau maksudkan itu termasuk aku Ih-Keh-ki atau tidak?" tanya si nona dengan tertawa.

"Dengan sendirinya nona Ih pun akan mendapat bagian sekadarnya," ujar si rase tua. "Konon di kota emas itu banyak kelenteng yang dibangun dari emas murni, juga termashur ada 180 buah patung emas, cukup kau dapat bagian satu persen saja dan kamu pun dapat hidup tujuh turunan tanpa kekurangan apa pun."

"Hm, tadi aku dengar kau minta bagian satu per tiga, kenapa aku cuma kau bagi satu persen?" jengek Keh-ki.

Lau-ho-li hanya tertawa saja tanpa menjawab, katanya terhadap Sam-bi-sin-ong, "Pek-li-Pin, setelah kota emas itu kita temukan, kira-kira dengan cara bagaimana akan kita angkut emas sebanyak itu pulang ke Tiong-goan?"

"Ya, betul, itu memang persoalan yang pelik," jawab Sam-bi-sin-ong dan berbalik tanya kembali, "Dan menurut pendapatmu, supaya aman, cara bagaimana sebaiknya?"

"Aku justru tidak menemukan cara yang baik dan aman, makanya minta petunjuk padamu." ujar si rase tua.

"Sudahlah, tidak perlu jual mahal lagi," jengek Sam-bi-sin-ong. "Siapa pun tahu si rase tua banyak tipu akalnya, aku tahu sejak tadi tentu sudah kau dapatkan cara terbaik untuk mengangkut partai emas itu pulang ke Tiong-goan."

"Wah, aku sungguh-sungguh tidak tahu cara bagaimana mengangkutnya," keluh si rase tua.

"Hm, dengarkan rase tua," jengek pula Sam-bi-sin-ong. "Sekali ini lantaran sebelumnya sudah aku sepakati dengan Su-lau-te bahwa aku cuma ambil satu per tiga bagian emas murni itu, maka satu per tiga bagianmu itu harus kau bagi lagi dari bagian Su-lau-te, maka aku tidak perlu urusan denganmu. Tapi bilamana ada maksud jahatmu hendak main gila, maka sebaiknya kau hapus pikiranmu itu, sebab sekali ini aku pasti takkan tertipu lagi dan juga takkan memberi ampun pula padamu."

"Ai, janganlah Pek-li-heng banyak curiga, aku ini bukanlah manusia yang serakah tanpa kenal batas," ujar Lau-ho-li.

Diam-diam Kiam-eng merasa geli oleh pertengkaran ke dua orang tua itu, ia coba tanya, "Apakah dahulu Pek-li-lo-cian-pwe pernah tertipu oleh Cu-kat-lo-cian-pwe."

"Betul malahan tidak cuma sekali maka sekarang sudah kapok," sahut Sam-bi sin-ong. "Dia memang licik dan licin, maka juga perlu hati-hati terhadap dia."

"Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi, yang aku miliki hanya resep cara membuat obat, terkecuali Cu-kat-lo-cian-pwe juga tidak kuatir akan gas racun, kalau tidak kan dia masih memerlukan bantuanku demi menjaga keselamatanmu. Memangnya apa yang perlu aku takuti?"

"Sebelum menemukan kota emas itu tentu saja kamu tidak perlu waspada, tapi sesudah kota emas ditemukan, betapapun kamu perlu hati-hati," ujar Sam-bi-sin-ong.

Seharian ini lebih ratusan li mereka tempuh...oleh karena sudah dua malam Su-Kiam-eng tidak tidur, tentu saja ia merasa lelah, maka menjelang senja mereka lantas bermalam di Cen-bu-koan.

Selesai bersantap, selagi Lau-ho-li ke belakang, kesempatan itu digunakan Sam-bi-sin-ong untuk bicara pada Su-Kiam-eng, "Su-lau-te, apakah benar kamu rela menyerahkan begitu saja setengah helai peta pusaka itu?"

"Apa dayaku biarpun tidak rela?" jawab Kiam-eng sambil mengangkat bahu.

"Jika Su-lau-te ingin merebut kembali peta itu, aku bersedia membantumu," kata Sam-bi-sin-ong. "Tidak, aku tidak ingin mencari perkara lagi," Kiam-eng menggeleng kepala.

"Namun kau perlu tahu, Cu-kat Siong-leng bukanlah seorang yang kenal batas kepuasan." ucap si kakek.

"Ya, aku tahu, tapi sebelum menemukan kota emas, aku yakin dia takkan berani sembarangan bertindak," ujar Kiam-eng.

"Dan bagaimana sesudah mencapai tempat tujuan nanti?" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Tatkala itu jika benar dia sembarangan berbuat, bolehlah kita bekerja sama untuk mengatasi dia." Apapun juga, turun tangan lebih dulu akan lebih menguntungkan," ujar si kakek.

Kiam-eng tersenyum, "Tapi aku kira cara demikian tiada manfaatnya bagi kita." "Mengapa kau bilang tidak ada manfaatnya" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Sebab aku yakin saat ini pasti juga masih ada tokoh persilatan lain yang sedang mengintai di sekitar kita serta mencari kesempatan untuk merampas peta, kata Kiam-eng. "Jika mereka tidak berani sembarangan turun tangan, hal ini disebabkan mereka merasa bukan tandingan kalian berdua orang tua. Bilamana sekarang salah seorang kalian tidak ada lagi, tentu musuh akan segera muncul untuk bertindak. Lantaran itulah aku kira sekarang ini bukan waktunya untuk menumpas si tua."

Sam-bi-sin-ong merasa uraian Su Kiam-eng cukup beralasan, ia mengangguk, katanya dengan tersenyum. "Ya, betul, Pandangan Su-lau-te yang jauh ini sungguh sangat mengagumkan." Kiam-eng menguap kantuk, ia berdiri dan berkata, "Maaf aku mau tidur."

Setiba di kamarnya, Kiam-eng melihat Keh-ki masih terus mengikutinya dan tidak mau berpisah, segera katanya, "Hendaknya kau pun kembali ke kamarmu untuk tidur, setelah menempuh perjalanan seharian masakah kamu tidak lelah?"

Keh-ki duduk di suatu bangku batu ucapnya dengan suara lirih, "Aku ingin bicara denganmu tentang kota emas dan kedua tua bangka itu."

"Memangnya ada sesuatu pendapatmu?" tanya Kiam-eng dengan suara tertahan. "Sesungguhnya kota emas itu terletak di mana?" tanya Keh-ki.

"Di lereng gunung Mo-pan-san," jawab Kiam-eng.

"Betul-betul di lereng pegunungan itu?" Keh-ki menegas. "Untuk apa aku memhohongimu?"

"Jika begitu, engkau benar-benar hendak pergi ke sana bersama kedua kakek itu?" "Peta berada pada mereka, apa dayaku jika tidak pergi bersama mereka?"

"Jika jelas diketahui kota emas itu terletak di Mo-pan-san, buat apa lagi kita mesti pergi ber sama mereka?"

"Agaknya kamu tidak tahu bahwa lereng gunung Mo-pan-san itu memanjang beberapa ratusan li, kalau tidak mencari menurut petunjuk peta, sukar sekali menemukan kota emas itu."

"Waktu kau pegang peta itu, mengapa tidak kau baca sejelasnya?" tanya Keh-ki

"Ada maksudku hendak aku baca dengan jelas tapi sewaktu aku baca, Kui-kok-ji-bu siang itu ke buru datang," tutur Kiam-eng.

"Hm, dengan susah payah dan menyerempet berbagai bahaya baru dapat kau rebut peta itu, tapi akhirnya peta itu kau bagi setengah-setengah dengan ke dua tua bangka itu, kan penasaran?" ujar si nona.

"Tidak menjadi soal, yang aku cari kan Jian-lian-hok-leng dan bukan emas?" ujar Kiam-eng.

"Namun kau bilang di tengah ke-180 patung emas itu tersembunyi semacam ilmu pedang sakti, bilamana sampai diperoleh ke dua tua bangka itu, kan berarti menambahkan sayap bagi harimau?"

"Ini pun tidak menjadi soal," ujar Kiam-eng.

Maksud tujuan seorang berlatih ilmu silat adalah untuk berbuat kebaikan membela kaum lemah dan menumpas kelaliman, jika mereka tidak berbuat baik, biarpun mereka mendapatkan ilmu maha sakti juga sama dengan tidak memperoleh apa pun."

"Aku tidak paham ucapanmu ini"!" ujar Keh-ki.

"Pada suatu hari nanti tentu kamu akan paham," kata Kiam-eng. "Sekarang boleh kau kembali ke kamarmu untuk tidur saja."

Esok paginya rombongan mereka berempat lantas meninggalkan hotel dan menempuh perjalanan sehari suntuk lagi ..."

Berturut-turut empat hari tidak terjadi sesuatu.

Menjelang lohor hari ke lima, selagi rombongan mereka menempuh perjalanan, tiba-tiba Keh-ki menunjuk sebuah gunung di kejauhan dan bertanya, "Hei, apa nama gunung itu? Tinggi amat!"

"Itulah Mo-pan-san yang kita tuju, juga di kenal dengan nama gunung Kalikong." tutur Sam-bi-sin-ong dengan tertawa. Keh-ki melengak, tanyanya kepada Su-Kiam-eng, "Hei, bukankah kau bilang hendak menuju dulu ke Ting-ciong?"

"Betul sudah dekat dengan tempat itu," jawab anak muda itu. "Kita memang harus datang dulu di Ting- ciong untuk menyiapkan rangsum dan obat-obatan, habis itu baru mendaki pegunungan itu."

"Jarak dari sini ke Ting-ciong masih berapa li lagi?" tanya Keh-ki pula.

"Tidak begitu jelas, mungkin sebelum malam tiba dapatlah mencapai tempat tujuan," kata Kiam-eng.

Keh-ki mengusap keringatnya dengan sapu tangan, keluhnya kegerahan, "Busyet, mengapa hawa tempat ini sedemikian panas?"

"Di sana ada pohon besar, marilah kita berteduh dan mengaso di bawah pohon." ujar Kiam-eng.

Pohon besar itu terletak beberapa meter di jalan, sebatang pohon Siong tua raksasa, bulatan tengah batang pohonnya paling sedikit sepuluh an meter, maka keteduhan di bawah pohon meliputi puluhan meter luasnya, sungguh sebuah tempat istirahat yang sejuk.

Akan tetapi sesudah dekat, ternyata lebih dulu di bawah pohon sudah berteduh delapan orang dulu.

Setiba di bawah pohon, rombongan Kiam-eng melihat ada seorang penjual air minum. Maka memutuskan akan istirahat dulu. Ih-Keh-ki, yang pertama melompat turun dari kudanya dan mendekati penjual minuman, tanyanya. "Hai apakah air minum ini dijual?"

Penjual air minum ini adalah seorang kakek penduduk setempat dengan bahasa Han yang kaku ia menjawab, "Betul nona, apakah engkau mau minum barang semangkuk?"

"Baik, berikan semangkuk padaku, ai, sungguh haus sekali," keluh Keh-ki.

Kiam-eng ikut mendekati penjual air, ia lihat yang berbaring dua berlesehan di bawah pohon itu semuanya berdandan suku bangsa penduduk setempat, maka tidak menaruh perhatian, katanya "Eh, Pak Tua berikan juga semangkuk air pada ku."

Menyusul Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li juga minta semangkuk air dingin.

Sembari minum Kiam-eng bertanya, "Numpang tanya Lo-tiang, dari sini ke Ting-ciong masih perlu berapa jauh lagi?"

"Kira-kira 70-80 li lagi," tutur si kakek penjual air dengan tertawa. "Apakah kalian hendak pergi ke Ting- ciong?"

"Betul, tampaknya hari sudah hampir gelap." ujar Kiam-eng tertawa.

"Ya, tapi setelah minum, kalian masih sempat istirahat sebentar baru berangkat lagi, aku kira masih keburu," kata si kakek penjual air.

"Eh, Lo-tiang, mengapa su-hu di tempat kalian ini sedemikian panas?" tanya Keh-ki. Si kakek tertawa, "Hawa di sini memangnya begini."

Habis minum satu mangkuk air, agaknya rasa dahaga Keh-ki belum lagi lenyap, ia sodorkan mangkuk kosong kepada si kakek penjual dan berkata, "Beri lagi satu mangkuk."

Si kakek menerima mangkuk kosong dan baru saja ia hendak menuang semangkuk air lagi untuk si nona, terlihat tubuhnya yang halus itu bersandar perlahan pada tubuh Su-Kiam-eng sambil bergumam "Kakek Eng, kepalaku rada pusing ingin ... ingin ..."

Belum habis ucapannya ia telah roboh dalam rangkulan Su-Kiam-eng dan terpulas. Tentu saja Kiam-eng terkejut, serunya, "Hei, Keh-ki, kenapa ..."

Bicara sampai di sini, serentak ia berputar, sinar perak berkelebat, tahu-tahu ujung pedangnya sudah mengancam muka si kakek penjual air minum.

Terdengar gelak tertawa si kakek penjual air berbareng ia berjumpalitan ke belakang beberapa meter jauhnya, nyata ia bukan penjual air biasa melainkan jago persilatan kelas tinggi.

Selagi Kiam-eng hendak menerjang musuh lagi, namun sayang segera ia pun merasa tenaga tidak mau tunduk lagi pada kehendaknya, sekujur badan terasa lumpuh, perlahan ia pun ambruk ke depan, "bluk", akhirnya ia pun roboh terguling dan terpulas.

Nasib Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li ternyata tidak lebih baik, mereka pun bermaksud menubruk ke arah si kakek penjual air minum, tapi baru melompat selangkah keduanya lantas terjungkal dan tak sadarkan diri.

Si kakek penjual air minum berlagak tertawa dan berkeplok senang, serunya, "Bagus, ayolah saudara- saudara, lekas ringkus mereka!"

Ke delapan orang yang tadinya berlesehan di bawah pohon itu serentak menyingkirkan caping yang semula menutupi muka mereka dan melompat bangun.

Usia ke delapan orang suku bangsa setempat ini sudah di atas 50-an, semuanya berwajah putih bersih, sorot mata tajam, asalkan diamati dengan teliti setiap orang pun akan tahu pada hakikatnya mereka bukan suku bangsa setempat yang belum maju itu.

Sesudah melompat bangun, segera mereka mengepung Su-Kiam-eng berempat yang rebah di tanah itu, si kakek penjual air minum tadi lantas mendekati mereka sembari berkata, "Hah, tak tersangka cara yang terlampau sederhana ini dapat merobohkan ke dua tua bangka yang terkenal licin ini."

Salah seorang kakek yang berdandan sebagai penduduk setempat itu menanggapi dengan tertawa, "Ini namanya bertindak di luar dugaan dan menyerangnya tatkala musuh tidak siap. Bilamana tipu perangkap yang kita gunakan terlampau tinggi, mungkin malah sukar menebak mereka."

"Betul," ujar si kakek penjual air. "Sekarang lekas menggeledah mereka, keluarkan semua barang yang mereka bawa."

Empat kakek lain mengiakan dan tampil ke muka, mereka berjongkok di samping Sam-bi-sin-ong, Lau- ho-li, Su-kiam-eng dan Ih-Keh-ki yang tidak bergerak itu.

Akan tetapi, pada detik tangan mereka hendak meraba baju ke empat orang tua dan muda itu sekonyong-konyong terdengar suara "Blang-blang-blang!"

Kontan tiga orang kakek di antaranya sama menjerit, dada mereka terpukul dengan keras, darah segar pun tersembur dari mulut mereka, ke tiga nya terpental beberapa meter jauhnya.

Menyusul Sam-bi-sin-ong, Lau-ho-li dan Su-Kiam-eng terus melompat bangun dengan gesit, tanpa berjanji ke tiga nya terus menyemprotkan air dari mulut masing-masing ke arah tiga kakek lain yang berdandan sebagai penduduk setempat itu.

Semua kejadian itu hanya berlangsung dalam sekejap saja, bilamana ke tiga lawan menyadari apa yang terjadi, namun sudah terlambat untuk mengelak, muka ke tiga orang sama tersemprot oleh pancuran air, seketika mereka menjerit kesakitan sambil mendekap muka masing-masing.

Kiranya air yang disemburkan Sam-bi-sin-ong, Lau-ho-li dan Su-Kiam-eng itu tak lain-tak-bukan adalah air yang mereka minum tadi. Dengan sendirinya begitu air itu masuk mulut mereka segera dirasakan pada air itu terdapat sesuatu yang tidak beres, tentu dicampur dengan obat tidur dan sebagainya, maka air tidak mereka minum ke dalam perut, ke tiga nya memang menguasai Lwe-kang tinggi begitu mengerahkan tenaga dalam, serentak air terpancur keluar dengan kuat dan lihai dari pada senjata rahasia umumnya.

Ketika muka ke tiga kakek lawan tersemprot air, sama sekali mereka terserang oleh angin pukulan yang dahsyat, bukan cuma hidung dan mulut saja yang terluka, bahkan biji mata pun pecah.

Mereka sama terguling sambil mendekap muka masing-masing, setelah meraung kesakitan sekian lama, akhirnya sama binasa.

Hanya dalam sekejap saja sembilan orang musuh sudah berkurang enam.

Si kakek penjual air minum dan sisa dua kakek lagi sama sekali tidak menduga Sam-bi-sin-ong bertiga hanya pura-pura pingsan saja, sekarang ke enam kawan mereka sebagian sekarat sebagian binasa, keruan mereka ketakutan setengah mati. Berbareng mereka berteriak aneh, lalu melompat mundur dan bermaksud kabur.

"Berhenti!" bentak Sam-bi-sin-ong, secepat kilat ia menubruk ke arah si kakek penjual air minum.

Su-Kiam-eng dan Lau-ho-li juga memburu ke dua kakek yang lain. Gerak-gerik Cu-kat Siong-leng alias si rase tua ternyata sangat cekatan, hanya dua kali naik turun saja ia sudah melampaui kepala seorang lawan dan menghadang di depannya.

Kiam-eng memerlukan lari belasan meter jauhnya baru dapat menyusul sasarannya, pedang bergerak langsung ia menusuk punggung musuh.

Namun kakek itu sempat mengelak ke samping sehingga tusukan Kiam-eng mengenai tempat kosong, berbareng kakek itu memutar balik, mendadak pedangnya balas menyabet.