Pukulan Naga Sakti Jilid 45

 
Jilid 45

Sambil menepuk bahu Thi Eng khi, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseru :

“Saudara cilik, mengapa tidak kamu katakan sedari dulu dulu sehingga membiarkan Hian im Tee kun hidup tiga bulan lebih lama? Kali ini, Kita empat tua bangka harus bertarung mati matian dengannya!”

Thi Eng khi tersenyum :

“Kian tua!” katanya, “tenaga dalam Eng khi telah pulih kembali seperti sedia kala, aku tak berani merepotkan kalian empat orang tua lagi!”

Mendengar ucapan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mencak mencak serunya :

“Tidak bisa! Tidak bisa! Usiamu masih begitu muda, saatmu untuk sukses dan berhasil masih panjang, tidak seperti kami tua bangkotan yang semakin dekat dengan ajal, siapa tahu setelah ini tiada kesempatan sebaik ini lagi bagi kami untuk berbakti kepada dunia persilatan? Aku tahu tenaga dalammu memang lebih sempurna dari kami, toh tidak sepantasnya jika kau berebut jasa dengan kami bukan?”

Baru saja Thi Eng khi hendak berbicara, Pek leng siancu So Bwe leng telah menukas sambil tertawa :

“Kian yaya! Kau memang tak tahu malu, siapa sih yang akan berebut jasa denganmu?”

“Budak ingusan!” Bu im sin hong Kian Kim Siang tertawa, “tidak besar tidak pula yang kecil, siapa sih yang menyuruh kau banyak berbicara?” Pek leng siancu So Bwe leng segera mencibirkan bibirnya yang kecil, lalu berkata lagi :

“Kian yaya, kau tidak adil, kau memanggil engkoh Eng sebagai saudara cilik, itu berarti aku Leng ji adalah adik kecilmu pula, siapa bilang tidak yang besar tidak yang kecil.”

Pek leng siancu So Bwee leng memang binal sekali, ucapan mana kontan saja menimbulkan gelak tertawa seisi ruangan. Tiang pek lojin So Seng pak tak tahan turut pula tertawa terbahak bahak, kemudian sambil sengaja menarik wajahnya dia berkata dengan suara dalam :

“Leng ji, kau benar benar tak tahu aturan, siapa suruh kau berbuat binal?”

“Kenyataannya memang begitu?” bantah Pek leng siancu So Bwe leng sambil ngotot, “Kian yaya menganggap engkoh Eng adalah saudaranya dan engkoh Eng menganggap Kian yaya sebagai engkoh tua nya, bukankah ini berarti pula diapun terhitung engkoh tua dari anak Leng?”

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak setelah mendengar perkataan tersebut :

“Haaahhhh... haaahhh.... haaahhhh tepat sekali! Tepat sekali!

Anak Leng, aku dan yayamu saling menyebut sebagai saudara, apakah kaupun hendak saling menyebut saudara dengan yayamu?”

“Kian yaya!” Pek leng siancu So Bwe leng tak mau kalah “kau dan engkoh Eng saling menyebut saudara, mengapa kau tidak suruh engkoh Eng saling menyebut saudara dengan Thi yaya?”

Menyusul kemudian sambil tertawa cekikikan dia berkata lebih lanjut :

“Kita toh berhubungan secara terpisah dan tiada ikatan satu sama lainnya!”

Bu lm sin hong Kian Kim siang benar benar mati kutunya, sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas dia berseru :

“Aaaai, dunia sudah berubah! Dunia benar benar sudah berubah, aku memang kalah diharuskan bersilat lidah denganmu!” Dari tempat kejauhan buru buru Pek leng siancu So Bwe leng menjura, kemudian katanya lembut :

“Kian yaya, harap kau jangan marah, terimalah hormat dari anak Leng!”

Perbuatan dari gadis ini benar benar membuat Bu im sin hong Kian Kim siang mati kutunya, mau tertawa tak bisa, mau menangispun tak dapat. Persoalan tidak berhenti sampai disitu saja, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng berkata lagi dengan wajah serius :

“Kembali ke persoalan yang utama, anak Leng merasa masalah mengerubuti Hian im Tee kun adalah masalahku dengan engkoh Eng. ”

Keng thian giok cu Thi Keng segera tersenyum :

“Anak Leng,” dia berkata, “apa alasanmu? Mengapa kau bersikeras mempertahankan pendapatmu itu?”

Berada dihadapan Keng thian giok cu Thi Keng, sudah barang tentu Pek leng si¬ancu So Bwe leng tak berani sembarangan berbuat binal, katanya dengan serius :

“Locianpwe berempat sudah lanjut usia, pamor dan kedudukan kalian sudah cukup termashur dalam dunia persilatan, kalian pun sudah lama disanjung dan dihormati orang, apabila kalian berempat harus mengerubuti Hian im Tee kun, sekalipun dapat menang, orang lain pasti akan menambah bumbu pula didalam ceritanya sehingga akan mempengaruhi nama baik kalian.”

Kemudian setelah berhenti sejenak dia melanjutkan :

“Ini kalau menang, sebaliknya kalau sampai terpeleset sehingga menderita kekalahan total, bukankah nama baik kalian akan hancur berantakan tak karuan lagi wujudnya?”

Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut setelah mendengar perkataan itu, katanya :

“Anak Leng, perkataanmu memang sepintas lalu kedengarannya sangat masuk diakal, namun kami berprinsip untuk menolong umat persilatan dan melenyapkan bibit bencana, soal kehilangan nama atau kedudukan bukan menjadi masalah buat kami.”

“Seandainya di dalam dunia persilatan memang benar benar sudah tiada manusia lagi yang bisa mengalahkan Hian im Tee kun, demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran, locianpwe berempat memang wajib berbuat demikian sekalipun harus berkorban jiwapun, karena hal ini memang merupakan watak dan tujuan dari cianpwe berempat, namun keadaan yang kita hadapi sekarang toh sama sekali berbeda dengan keadaan tersebut?”

Bu im sin hong Kian Kim siang yang mendengar sampai disitu, tak tahan lagi segera menggoda :

“Leng ji, berbicara pulang pergi nampaknya kau nekad hanya dikarenakan eng¬koh Eng?”

“Siapa bilang? Aku berbuat demikian demi kepentingan umat persilatan ”

“Omitohud!” bisik Sim ji sinni sambil menukas pembicaraan Pek leng siancu So Bwe leng, “perkataan dari anak Leng memang ada benarnya, kita semua sudah berlanjut usia, sekarang memang bukan waktunya bagi kita untuk menarik otot lagi. Thi sauhiap gagah dan perkasa, dia memang satu satunya pilihan untuk memimpin dunia persilatan, selain melenyapkan Hian im Tee kun, dia pun bertugas membina serta melindungi keselamatan umat persilatan dimasa mendatang, aku pikir seharusnya kita memberi kesempatan untuk mereka.”

“Yaa, ketika siaute meninggalkan perbatasan kali ini, sebenarnya akupun datang dengan membawa cita cita yang besar,” ucap Tiang pek lojin So Seng pak, “namun kenyataannya aku mesti menanggung malu berulang kali, hanya kesuksesan dari anak Eng lah yang dapat menghibur hatiku yang kecewa.”

Sedangkan Keng thian giok cu Thi Keng tidak berkata apa apa, dia cuma tersenyum belaka. Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak, serunya kemudian : “Tampaknya lohu harus mengibarkan bendera putih untuk menyerah dan mundur teratur, anak Leng, kau memang akan menjadi luar biasa di kemudian hari.”

Dengan serius Pek leng siancu So Bwe leng menjura dalam dalam, kemudian katanya :

“Dimasa masa mendatang aku masih membutuhkan banyak petunjuk serta bimbingan dari Kian yaya!”

Ucapan tersebut segera membuat Bu im sin hong Kian Kim siang tertegun, serunya kemudian :

“Anak Leng, kau maksudkan aku si tua bangka masih harus menempuh perjalanan jauh demi kalian? Tidakkah kau merasa tindakan tersebut kelewat batas?”

Sam ku sinni tertawa.

“Kian lo sicu, dihari hari biasa kau suka memuji angkatan muda, itulah sebabnya kau tak bisa bermalas malasan lagi sekarang, apalagi Thi sau sicu memang tak bisa kekurangan bantuanmu!”

Padahal Bu im sin hong Kian Kim siang memang benar benar berhasrat sekali un¬tuk membantu Thi Eng khi, akan tetapi dia tak mau mengalah dengan begitu saja, sambil menggelengkan kepalanya dia berkata lagi :

“Tidak bisa! Tidak bisa! Sudah terlalu lama aku meninggalkan Tin kui, aku mesti pulang untuk menengok teman teman lama, selain itu aku pun masih pingin menjadi raja di wilayah Barat daya selama beberapa tahun lagi!”

Thi Eng khi segera maju ke muka sambil menjura katanya kemudian :

“Kian tua, Eng khi merasa sangat membutuhkan bantuanmu apalagi keberhasilanku sekarangpun berkat bimbinganmu, harap Kian tua sudi mengabulkan permintaan ini!”

Wajah Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseri seri, sambil tertawa tergelak katanya : “Sudahlah, tak usah menempelkan emas lagi diwajahku, lohu tak mau jual muka kepada siapa pun tapi saudara cilik begitu memandang tinggi diriku, terpaksa aku pun harus menjual nyawa tuaku ini untukmu!”

Sekali lagi Thi Eng khi menjura dalam dalam : “Terima kasih banyak atas cinta kasih Kian tua!”

“Jangan berterima kasih, jangan berterima kasih,” Bu im sin hong Kian Kim siang menggoyangkan tangannya berulang kali, “aku hanya berharap kau memperketat pengawasanmu saja terhadap bocah perempuan ini, asal dia tidak mencari gara gara lagi denganku, aku sudah merasa berterima kasih sekali.”

Pek leng siancu So Bwe leng tertawa :

“Kian yaya, kau tak ingin menjadi raja barat daya lagi?” godanya.

Bu im sin hong Kian Kim siang segera melotot besar, “Urusan di barat daya sudah lohu atur semua, siapa sih yang

menyuruh kau banyak mulut?”

Pek leng siancu So Bwe leng segera membuat muka setan, sambil memandang ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang, dia cuma tertawa belaka. Bu im sin hong Kian Kim siang segera berpaling dan mengeluarkan sebuah tanda pengenal yang diserahkan kepada Hui cun siucay Seng Tiok sian, kemudian katanya :

“Tiok sian, ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang lohu miliki, sudah kuwariskan kepadamu, soal barat daya di kemudian hari pun lohu serahkan penyelesaiannya kepada mu, bawalah tanda pengenal ini dan beritahu kepada semua orang, kini lohu tak bisa memisahkan diri, jadi untuk sementara waktu tak akan pulang ke wilayah barat daya.”

Dengan wajah menjadi tegang, Hui cun siucay Seng Tiok sian berseru :

“Boanpwe masih muda dan belum berpengalaman, mungkin aku hanya akan menyia nyiakan kasih sayang supek saja!” “Saudara cilik Thi masih lebih muda daripadamu tapi dia toh berkeberanian untuk memikul tanggung jawab yang berat, masa kau sama sekali tidak berkeberanian untuk memikul tanggung jawab sekecil ini?” kata Bu im sin hong Kian Kim siang dengan wajah bersungguh sungguh.

Hui cun siucay Seng Tiok sian adalah seorang pemuda berdarah panas, dia disulut oleh Bu im sin hong Kian Kim siang, tak tahan lagi dia segera berseru :

“Boanpwe tak dapat membuat kau orang tua kehilangan muka, baik aku akan turut perintah!”

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa nyaring :

“Nah, begitu baru benar, sebagai seorang pemuda, kau harus memiliki keberanian, aku percaya di bawah pimpinanmu, wilayah barat daya sana pasti akan berjaya.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi : “Sekarang, pulanglah dulu ke wilayah barat daya!”

Setelah berpamitan dengan para cianpwe dan kawanan jago yang pernah hidup berjuang bersama, dengan berat hati Hui cun siucay Seng Tiok sian menjanjikan saat perjumpaannya dengan Thi Eng khi dan berangkat menuju wilayah See lam.

Setelah berpisah dengan Hui cun siucay Seng Tiok sian, Thi Eng khi berunding kembali dengan keempat tokoh sakti dan sekalian para jago, kemudian ditetapkan Bu im sin hong Kian Kim siang, Thi Eng khi, Ciu Tin tin, So Bwe leng, Bu Nay nay, Bu Im, Unta sakti Lok it hong, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po serta Ban li tui hong Cu Ngo sekalian berdelapan berangkat ke Sah si untuk mengobrak abrik sarangnya Hian im Tee kun.

Saat kejadian ini, dengan puluhan hari mundur ke belakang.

Tempat kejadiannya, di luar kota Sah si sarang Hian im Tee kun si gembong iblis tua itu. Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi tempo hari, walaupun Hian im Tee kun berhasil melukai Thi Eng khi, namun dia sendiripun tergetar oleh hawa pedang yang dipancarkan Thi Eng khi sehingga isi perutnya terluka, malahan separuh lengannya terpapas kutung...

Atas terjadinya peristiwa ini, otomatis sikap angkuh Hian im Tee kun yang menganggap dirinya sebagai Tokoh nomor wahid dikolong langit pun menjadi pudar. Hian im Tee kun memang tidak malu disebut seorang gembong iblis berpengalaman ternyata reaksinya terhadap kenyataan tersebut cukup tajam. Mula pertama dia menyelesaikan lebih dulu segala persoalan di istana Ban seng kiong, kemudian seorang diri pulang ke markasnya untuk melatih beberapa macam ilmu beracun sebagai persiapan menghadapi Thi Eng khi lagi dikemudian hari.

Dua bulan lebih sudah dilewatkan, ilmu sakti yang dilatih Hian im Tee kun pun menurut rencana sudah berakhir. Saat tersebut bukan lain adalah saat dimana Thi Eng khi bersama para jago persilatan berhasil menghancurkan istana Ban seng kiong, dan saat itu, Hian im Tee kun sebetulnya sudah bersiap siap hendak berangkat ke istana Ban seng kiong, pada saat itulah dia menjumpai Hiat im li Cun Bwee kabur pulang dengan rambut yang kusut serta menceritakan kisah kekalahan dan kehancuran istana Ban seng kiong. Menyusul kemudian, Hian im li Ciu Lan pulang pula ke sarang tersebut.

Hian im Tee kun memang tak malu disebut gembong iblis tua yang paling tersohor sejak ratusan tahun terakhir ini. Walaupun mengalami pukulan sedemikian beratnya dan bagaimanapun gusarnya dia, namun perasaan tersebut tak sampai diungkapkan keluar. Dia hanya berkata dengan suara hambar :

“Sekarang, kalian pergilah beristirahat dulu, aku dapat mengatasi sendiri persoalan ini.”

Kemudian Hian im Tee kun termenung seorang diri memikirkan masalah tersebut, kemudian dipanggilnya kedua gadis itu dan menyampaikan pesan kepada mereka, Hian im ji li segera berangkat lagi meninggalkan tempat itu.

Menunggu Hian im ji li sudah pergi, kembali Hian im Tee kun membenahi sekitar guanya, yang paling hebat adalah di sekitar mulut gua dan lorong gua tersebut, dia menanamkan berapa puluh ribu kati obat peledak, asal ada orang berani memasuki gua itu, niscaya obat peledak itu akan meledak dan mencabik cabik tubuh korbannya.

Ternyata Hian im Tee kun adalah seorang yang amat teliti dan cerdik, rupanya dia teringat kembali dengan kisah lolosnya Thi Eng khi dari kurungan api di kuil kecil tempo dulu. Setelah dilakukan penelitian yang seksama, akhirnya ditemukan cara pemuda tersebut untuk meloloskan diri, maka serta merta diapun lantas menduga kalau guanya ini sudah diketahui lawan.

Dimasa lalu, oleh sebab ada Huan im sin ang yang munculkan diri dalam istana Ban seng kiong dengan wajahnya, sudah barang tentu Thi Eng khi tak akan pikir sampai ke gua ini. Akan tetapi setelah Huan im sin ang mati deminya dan seandainya rahasia penyaruan dari Huan im sin ang diketahui orang, niscaya Thi Eng khi akan teringat pada gua tersebut. Dan bila Huan im sin ang sudah mati dan rahasianya diketahui pemuda itu, jikalau Thi Eng khi hendak mencarinya, mungkin dia akan punya rencana untuk mendatangi gua rahasia itu.

Walaupun kesemuanya itu hanya dugaan Hian im Tee kun belaka, tapi kenyataannya memang berhasil tertebak semua olehnya. Maka persiapan yang dilakukan olehnya untuk menghadapi segala kemungkinan ini mendatangkan ancaman yang serius bagi Thi Eng khi, bahkan membahayakan jiwa anak muda tersebut, cuma kejadian ini berlangsung belakangan nanti, jadi untuk sementara waktu tidak diceritakan dulu.

Sementara itu, Hian im Tee kun yang sudah selesai melakukan persiapan di dalam sarangnya, di sepanjang jalan dia meninggalkan tanda rahasia, dan membawa rencana busuknya yang sudah dipersiapkan dengan matang, berangkatlah dia menuju ke wilayah Siang kui.

Gembong iblis ini memang licik dan banyak akal muslihatnya, sekalipun sudah puluhan tahun dia tak pernah munculkan diri dalam dunia persilatan, padahal situasi dunia persilatan selama puluhan tahun ini dikuasai olehnya dengan jelas sekali. Sekarang, dia sudah berencana untuk menguasai daerah pemukiman dari si Pembenci raja akhir Kwik Keng thian. Perlu diketahui, tempat tinggal si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian ini terletak di tengah pegunungan yang terpencil dengan sekelilingnya merupakan tanah bukit yang tinggi, jalan menuju ke situ pun cuma satu yakni melalui gua yang panjangnya puluhan li, boleh dibilang tempat itu selain terpencil, rahasia pun mudah dalam pertahanan. Atau dengan perkataan lain tempat itu merupakan markas besar umat persilatan yang diidamkan setiap orang.

Bila perkampungan Huan keng san ceng dapat dikuasai pula hingga tempatnya lebih strategis, usahanya untuk membangun kembali istana Ban seng kiong dan bertarung melawan Thi Eng khi akan semakin cerah. Hian im Tee kun terhitung seorang manusia yang berakal licik dan berpengalaman luas, dia berhasil menyelidiki dengan segala watak si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian. Maka dengan membawa beberapa macam obat obatan yang langka dan berperan sebagai seorang pencari obat, dia munculkan diri disekitar tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian...

Semenjak terjadi kesalahan paham yang tidak menyenangkan dengan Thi Eng khi tempo hari, menyusul kemudian tersiar dalam dunia persilatan tentang gugurnya Huang oh siansu di istana Ban seng kiong serta pertarungan Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun. Berhubung pertarungannya ini, Thi Eng khi menjadi ternama dan menjadi lambang keadilan dunia persilatan. Tentu saja berita ini tersiar pula ke dalam telinga si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian serta Jit gwat siang beng, dengan perbuatan Thi Eng khi yang begitu mulia dan gagah, bila dikatakan pemuda itu adalah seorang manusia rendah yang mengincar harta orang lain niscaya semua orang tak akan percaya. Maka, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama Jit gwat siang beng dan Hui cun siucay Seng Tiok sian sekali lagi mengadakan pemeriksaan dengan seksama.

Persoalan yang semula sudah disimpulkan, tapi berhubung sudah memperoleh pandangan lain, maka penyelidikan dan kesimpulan yang kemudian berhasil dikumpulkan membuktikan kalau mereka telah salah menuduh Thi Eng khi. Dengan demikian, tanpa perantara dari Bu im siang hong Kian Kim sing sebagai penengah pun mereka sudah mempercayai seratus persen atas perkataan dari Thi Eng khi ini. Justru karena itu pula, Hui cun siucay Seng Tiok sian baru membawa kuda Hek liong kou untuk dikembalikan kepada Thi Eng khi selain mohon maaf darinya. Malah secara kebetulan pula dia turut serta dalam penumpasan terhadap istana Ban seng kiong.

Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sendiri, sehabis mengutus Seng Tiok sian terjun ke arena persilatan, kemudian mendengar pula tentang munculnya tokoh tokoh lama untuk menyertai perjuangan menumpas Hian im Tee kun, diam diam timbul pula semangat tuanya untuk ikut terjun pula ke dalam dunia persilatan. Dalam hati kecilnya dia pun mengambil keputusan, menanti Hui cun siucay Seng Tiok sian sudah kembali nanti, dia akan melakukan pula pergerakan. Untuk mengisi waktu senggang mereka sambil menunggu kedatangan Seng Tiok sian, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dan Jit gwat sian beng To bersaudara rnengisi waktu dengan mengenang kembali kegagahan mereka di masa silam. Ada kalanya, mereka pun turun gunung untuk berjalan jalan, tidak mendekam terus seperti dulu lagi.

Hian im tee kun yang secara diam diam mengintip gerak gerik si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian selama banyak hari, pengertiannya atas orang ini semakin mendalam, itulah sebabnya dia dapat menciptakan kesempatan yang baik untuk mengulurkan cengkeraman mautnya terhadap Kwik Keng thian. Berita tentang ditumpasnya Ban seng kiong oleh Thi Eng khi, tersiar pula di sekitar tempat tinggal mereka, akan tetapi oleh sebab beritanya tidak jelas, hal mana tidak memuaskan hati si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.

Pagi ini, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama To bersaudara turun gunung menuju ke kota yang terdekat untuk mencari berita. Siong tho adalah sebuah kota yang tidak begitu besar, akan tetapi oleh sebab tempat itu merupakan urat nadi perdagangan antar propinsi, maka manusia yang berlalu lalang dikota itu amat banyak, rumah makan dan rumah penginapan pun tak terhitung jumlahnya. Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama Jit gwat siang beng To bersaudara memasuki sebuah rumah makan yang disebut Ban hoa lo, setelah berpesan beberapa macam sayur dia pun bersantap bersama kedua orang rekannya. Tentu saja minum arak bukan tujuan yang pertama, sebab tujuan mereka adalah mencari kabar tentang ditumpasnya istana Ban seng kiong.

Sementara mereka sedang memasang telinga untuk mencari kabar dari gemuruhnya suara pembicaraan orang, mendadak dari arah anak tangga muncul seorang kakek berwajah putih yang mengenakan jubah berwarna tembaga, pada pinggangnya tergantung sebuah kantung obat dan sikapnya nampak seperti dahaga dan lapar sekali.

Begitu muncul dihadapan mereka, dengan dialek Zhuchuan yang medok dia bertanya :

“Masih ada tempat kosong?”

“Aaah, orang yang baru datang dari Zhuchuan!”

Ingatan tersebut segera melintas dalam benak pembenci raja akhirat Kwik Keng thian hingga semangatnya segera bangkit, bahkan dia pun hendak mencari kesempatan untuk dapat berdekatan dengannya.

Sementara itu pelayan telah membawa tamu itu mencari tempat duduk, jaraknya cuma selisih satu meja dengan tempat dimana si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian duduk, sekalipun diantaranya terdapat dua meja lain, namun arahnya boleh dibilang saling berhadap hadapan.

Setelah meneguk dua cawan arak, orang itu nampak lebih bersemangat, malah mu¬lai mengalihkan pandangan matanya mengawasi para tamu lainnya. Beberapa kali sorot matanya memandang wajah si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, tapi seperti tidak memperhatikan saja, dalam sekilas pandangan saja dia lantas melengos ke arah lain...... Waktu itu, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sudah tidak tahan ingin berkenalan dengannya. Mendadak kakek itu menarik kembali sorot matanya sambil berseru :

“Pelayan!”

Sang pelayan mengiakan dan segera memburu mendekat, tanyanya dengan cepat :

“Kek koan, kau ada urusan apa?”

“Lohu ingin mencari tahu tentang sebuah alamat, entah kau tahu tidak?”

“Harap kek koan menyebutkan lebih dulu, bila hamba tidak tahu, tentu akan kutanyakan kepada orang lain!”

“Baik!” seru si kakek sambil tertawa nyaring, “berdasarkan ucapanmu barusan, lohu merasa perlu untuk menghadiahkan uang sebesar lima tahil perak!”

Dari sakunya dia mengeluarkan lima tahil perak dan diletakkan keatas meja, kemudian katanya lagi :

“Pelayan simpan dulu uang itu, kemudi¬an lohu baru akan bertanya kepadamu.”

Daerah pedalaman memang tidak banyak orang kaya, apalagi sekali memberi persen mencapai lima tahil perak, seingatnya belum pernah kejadian ini pernah berlangsung. Tak heran kalau pelayan itu dibuat gelagapan setengah mati, agak tergagap segera serunya :

“Kek koan ini….. ini… ini terlalu banyak, hamba… hamba tidak berani….. tidak berani menerimanya !”

Rupanya dia pun kuatir, kuatir kalau uang itu tidak gampang untuk menerimanya. Sambil tertawa hambar kakek itu berkata :

“Kau tak usah kuatir, sekalipun pertanyaanku tak mampu kau jawab lohu tak akan minta kembali uang tersebut!”

Dengan perkataan tersebut, pelayan tersebut baru berani menerima uang tadi, bahkan agak emosi dia bertanya :

“Apa yang ingin kau tanyakan?” “Apakah disekitar tempat ini terdapat suatu tempat yang bernama Lembah batu hitam?”

Pelayan itu memutar otaknya sambil berpikir beberapa saat, kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ia berkata

:

“Hamba tidak mengetahui tentang tempat ini, harap kau orang tua menunggu sebentar, hamba akan menanyakan kepada orang lain.”

Selasai berkata dia membalikkan badan siap berlalu. “Siau ji ko, kau tak usah pergi, lohu mengetahui alamat

tersebut ”

Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian yang sudah tidak tahan semenjak tadi segera menimbrung. Dengan senyum menghiasi wajahnya, kakek itu segera menjura kepada si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil ujarnya :

“Terima kasih banyak atas petunjuk lotiang, bagaimana kalau kalian bertiga pindah kemari untuk minum bersama?”

Memanfaatkan kesempatan tersebut si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dan Jit gwat siang beng To bersaudara segera berpindah tempat. Kata si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil tertawa lebar :

“Lotiang datang dari jauh sebagai tamu, biarlah aku yang menjadi tuan rumahnya.”

Dia lantas menitahkan kepada pelayan untuk menyiapkan hidangan baru. Tapi kakek itu menampik dan bersikeras hendak menjamu ketiga orang tamunya. Dengan wajah serius si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera berkata :

“Bila totiang menampik lagi, ini menunjukkan kalau kau memandang rendah orang dusun dan tak sudi berteman!”

Setelah mendengar perkataan itu, si kakek baru tidak berbicara lagi dan buru buru mengucapkan terima kasih kepada si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian. Dalam pembicaraan selanjutnya yang berlangsung lebih akrab, kakek itu mengaku bernama Ong See ing, dia mengaku sebagai seorang umat persilatan yang tujuannya pergi ke Hek Sik kok adalah mendapat pesan seseorang untuk mencoba mencari semacam obat mustajab yang amat langka.

Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menyebutkan nama marganya tanpa menyinggung tentang nama lengkapnya sedangkan Jit gwat siang beng To bersaudara malah mengatakan secara terang terangan nama lengkap mereka. Dengan sikap yang hormat dan serius Ong See ing memuji muji To bersaudara, pujian mana membuat Jit gwat siang beng merasa gembira sekali.

Oleh karena sikap Jit gwat siang beng terhadap si pembenci raja akhirat amat hormat maka keadaan ini memberitahukan pula kepada Ong See ing bahwa kakek ter¬sebut berkedudukan amat tinggi.

Kesemuanya ini membuat sikap Ong See ing terhadap si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian pun makin menaruh hormat.

Manusia memang demikianlah, asalkan kedua belah pihak sudah saling mengenal maka hormat menghormat pun akan tumbuh apalagi penampilan Ong See ing yang luar biasa, selain menaruh hormat kepada orang lain, dia sendiripun menampilkan sikapnya yang anggun sehingga si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian pun tak berani memandang rendah kepadanya.

Menggunakan kesempatan mana si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menanyakan kisah cerita tentang keberhasilan Thi Eng khi menumpas istana Ban seng kiong. Dengan mencorongkan sinar tajam dan wajah berseri, Ong See ing berkata :

“Saudara Kwik, terus terang saja kukatakan, siaute ikut serta didalam peristiwa besar itu.”

Kemudian secara ringkas diapun bercerita bagaimana dia mengikuti Thi Eng khi menumpas istana Ban seng kiong. Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menjadi kegirangan setengah mati, seakan akan dia sendiripun turut serta didalam peristiwa besar tersebut. Tiba tiba Ong See ing merendahkan suaranya sambil berbisik : “Kedatanganku kali inipun sesungguhnya atas pesan dari Thi

sauhiap...”

Ketika berbicara sampai ditengah jalan sengaja dia menghentikan perkataannya dan menantikan perubahan wajah dari si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sekalian. Benar juga paras muka si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian agak berubah, katanya dengan cepat :

“Apakah kau datang mencari seseorang?”

Berbicara sampai disitu, dengan kening berkerut dia lantas berpikir kembali :

“Kalau dibilang lohu yang dicari, mengapa dia tidak menyuruh anak Tiok?”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia mengawasi beberapa kali wajah Ong See ing dengan seksama. Sambil tersenyum Ong See ing berkata :

“Lotiang memang hebat sekali, sekali tebak sudah dapat menduga maksud kedatanganku!”

Tiba tiba dia memberi penjelasan lagi.

“Sebenarnya Hui cun siucay Seng sauhiap yang hendak ditugaskan kembali ke rumah, akan tetapi berhubung Thi sauhiap masih memerlukan bantuan dari Seng sauhiap oleh sebab itu akhirnya akulah yang diutus kemari.”

Dengan adanya penjelasan tersebut, seketika itu juga kecurigaan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menjadi hilang lenyap tak berbekas katanya sambil tertawa nyaring :

“Kalau begitu akulah orang yang sedang saudara Ong cari, kalau toh kau sebagai sahabat Thi sauhiap, akupun rasanya tak bisa mengelabuhi dirimu lebih jauh.”

Ong See ing berlagak sangat terkejut serunya kemudian agak tertahan :

“Apakah lotiang adalah Kwik tayhiap, Kwik Keng thian tayhiap….?” Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera tertawa terbahak bahak :

“Haaahhh…. Haaahhh….haaahhh…… apabila lohu bersikap kurang hormat, harap saudara Ong sudi memaafkan…..”

Buru buru Ong See ing menjura,

“Aku benar benar punya mata tak berbiji sehingga tidak mengenali bukit Thay san, harap kau jangan menertawakan.”

Kedua orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan gembiranya, selang berapa saat kemudian, Ong See ing baru mengeluarkan sebuah kotak kemala hijau dan diangsurkan ke hadapan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil berkata :

“Tatkala Thi sauhiap berhasil menumpas istana Ban seng kiong, dari dalam gudang harta Ban seng kiong telah ditemukan benda Pek giok cian gi ini, itulah sebabnya aku diutus kemari untuk mengembalikannya kepada Kwik tayhiap, sekalian menitipkan satu persoalan.”

Sambil tertawa terbahak bahak si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menerima kembali Pek giok cian gi tersebut, kemudian setelah memandang sekejap ke arah Jit gwat siang beng To bersaudara, katanya lagi :

“Thi sauhiap begitu berjiwa besar, kejadian ini benar benar membuat lohu malu kepada orang yang telah tiada.”

Dengan perasaan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sekarang, jangan lagi Thi Eng khi hanya meninggalkan satu pesan saja, sekalipun beribu macam masalah pun tentu akan disanggupi semua. Ong See ing memang pandai sekali melihat keadaan, tidak sampai si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bertanya la¬gi, dia sudah berkata lebih jauh :

“Tempat ini banyak orang dan kurang leluasa untuk berbincang, bagaimana kalau kita berpindah ke tempat yang lebih aman dan tenang saja?”

Si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera menarik tangan Ong See ing seraya berkata : “Lote, rumahku tak jauh letaknya dari sini, apabila kau tidak menampik, bagaimana kalau kita berbicara di sana saja?"

Tenaga dalam Ong See ing sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali, hal ini membuat wajahnya kelihatan jauh lebih muda ketimbang si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian. Sekarang, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sudah menganggap istimewa Ong See ing, dengan sendirinya diapun bersikap hangat seperti terhadap sobat lama saja. Mengikuti sikap raja akhirat Kwik Keng thian, Ong See ing pun turut berganti sebutannya :

“Saudara Kwik, inilah keinginan siaute sebelum jauh jauh datang kemari, harap saudara Kwik membawa jalan."

Mereka berempat segera berangkat meninggalkan loteng Ban hoa lo, diiringi perbincangan yang hangat dan gelak tertawa yang riang gembira berangkatlah mereka menuju ke tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.

Di tengah jalan Ong See ing menuturkan pula maksud kedatangannya ke situ. Menurut penuturan Ong See ing, dalam pertarungan menumpas istana Ban seng kiong, walaupun Thi Eng khi berhasil menumpas semua gembong iblis yang berada disitu, namun pentolannya berhasil kabur, sehingga hal ini menambah ancaman bagi dunia persilatan.

Kemudian diperoleh kabar yang mengatakan Hian im Tee kun telah kabur ke situ, maka diapun sengaja diutus kemari untuk membantu si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dalam usahanya menghimpun para jago yang berada di sekitar sana untuk bersama sama menghadapi Hian im Tee kun.

Di samping itu, Hian im Tee kun pun konon berhasil membuat semacam obat beracun yang mematikan bila terkena tubuh manusia, itulah sebabnya si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian diminta menyelidiki obat pemunahnya sebagai persiapan bila digunakan dikemudian hari...

Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian yang pernah menuduh Thi Eng khi dimasa silam, selalu menyesal di hatinya, maka untuk menebus kesalahan ini, apa saja yang dikehendaki Thi Eng khi segera dipenuhinya.

Setibanya di dalam lembah Hek sik kok, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera mencari suatu tempat yang tenang, kemudian membawa obat racun dari Hian im Tee kun yang diserahkan Ong See ing kepadanya itu untuk diselidiki obat penawarnya.

Di samping itu, diapun berpesan kepada Jit gwat siang beng To bersaudara agar menyebarkan Eng hiong tiap dan mengundang segenap jago yang tinggal diseputar situ untuk bersama sana berkumpul di perkampungan Huan keng san ceng sambil menuruti perintah Ong See ing. Begitulah, dengan suatu cara yang sangat sederhana, Ong See ing berhasil menghimpun suatu kekuatan baru. Tak lama kemudian Thi Eng khi mengutus datang pula beberapa jago lihay yang semuanya terjebak oleh tipu muslihat Ong See ing dan dikendalikan olehnya.

Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sendiri sepanjang hari sedang dibikin pusing oleh persoalan pelik yang dia¬jukan Ong See ing tersebut, siang malam ia selalu bekerja keras untuk menyelidiki obat penawar racun, otomatis diapun tidak mengetahui kalau para jago yang berada di sekitar daerah itu sudah terjebak semua oleh tipu muslihat Ong See ing. Walaupun akhirnya Jit gwat siang beng To bersaudara melihat kalau gelagat kurang beres, tapi oleh sebab mereka tidak berkekuasaan apapun, ditambah pula selalu diawasi oleh Ong See ing secara ketat, maka kecuali memperalat mereka untuk mempengaruhi para jago, mereka tak mampu berbuat apa apa.

Begitulah, Hian im Tee kun berhasil menginjakkan kakinya di wilayah See lam. Dalam keadaan seperti inilah, Hui cun siucay Seng Tiok sian pulang ke lembah Hek sik kok, tempat tinggal gurunya dengan menunggang kuda Hek liong kou nya. Ong See ing sama sekali tidak menyangka kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian dapat kembali sedemikian cepatnya. Hui cun siucay Seng Tiok sian sendiri mimpi pun tidak menyangka kalau daerah yang bakal dikembangkan olehnya dikangkangi orang lain. Semenjak tiba di kota Bau sian, Hui cun siucay Seng Tiok sian sudah merasakan ketidak beresan tersebut. Sebagai seorang pemuda yang cerdas, setelah melihat kecurigaan mana maka Hui cun siucay Seng Tiok sian memutuskan untuk tidak pulang secara langsung melainkan kembali dulu ke rumahnya sendiri. Tempat ini tak lain adalah tempat di mana untuk pertama kalinya Hui cun siucay Seng Tiok sian berkenalan dengan Thi Eng khi.

Walaupun perencanaan dari Hian im Tee kun sangat cermat dan seksama, namun ia sama sekali tidak menduga kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian masih mempunyai rumah lain, salah perhitungan yang amat kecil ini membuat Hui cun siucay Seng Tiok sian berhasil lolos dari bencana kematian.

Ketika Hui cun siucay Seng Tiok sian pulang ke rumah sendiri, pembantunya Seng Liang segera menggelengkan kepalanya dan menghela napas seraya berkata :

“Kongcu, sahabatmu Thi ciangbunjin jelas bukan seorang manusia baik baik!”

“Seng Liang,” tegur Hui cun siucay Seng Tiok sian sambil berkerut kening, “apa maksud perkataanmu itu? Seandainya aku tidak memandangmu sebagai orang tua dari keluarga Seng kita, aku sudah bersikap tidak sungkan sungkan lagi kepadamu.”

Dengan wajah sedih Seng Liang berkata :

“Kongcu, aku Seng Liang tidak akan berkata demikian seandainya aku tidak melihatmu semenjak masih kecil dulu tumbuh hingga dewasa, hamba pun sudah ba¬nyak menerima budi kebaikan dari loya berdua, untuk itu, walaupun kongcu hendak membunuhku pada hari ini, hamba tetap bersikeras hendak mengutarakan keluar semua uneg uneg didalam hatiku!"

Menyaksikan kesetiaan Seng Liang tersebut, Hui cun siucay Seng Tiok sian segera menghela napas panjang. "Baiklah asal ucapanmu itu cengli, aku tak akan menjadi marah, akan tetapi bila ucapanmu itu ngaco belo tak karuan, selanjutnya kau pun tak usah berbincang bincang lagi denganku!"

"Kongcu!" kata Seng Liang kembali dengan serius, "apabila kau menganggap ucapan hamba tidak seharusnya diutarakan, hamba pun tak akan memperepotkan kongcu, aku bisa menempuh perjalananku sendiri... "

Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak berbicara lagi, dengan tenang dia menantikan kata kata berikutnya dari Seng Liang. Sekali lagi Seng Liang menghela napas panjang, lalu berkata :

“Wilayah barat daya kita ini sudah dibikin kacau tak karuan oleh orang orang yang diutus oleh Thi sauhiap!”

“Thi sauhiap telah mengirim orang? Siapakah dia?” tanya Hui cun siucay Seng Tiok sian dengan wajah tertegun.

“Dia mengaku bernama Ong See ing, apakah kongcu tidak kenal dengan orang ini?”

Hui cun siucay Seng Tiok sian segera berteriak keras keras : “Sejak aku berpisah dengan Thi ciangbunjin, sepanjang jalan

tanpa berhenti langsung pulang kemari, bila kuketahui tentang peristiwa ini, buat apa kutanyakan lagi kepadamu?”

“Sudah hampir dua bulan lebih Thi sauhiap mengutuskan orang datang kemari, sekarang semua jago dari sekitar tempat ini telah terjatuh ke tangannya, suasana yang kacau balau tidak seperti beberapa waktu berselang lagi.”

“Sudah dua bulan lebih?” Hui cun siu¬cay Seng Tiok sian bergumam seorang diri.

“Waktu yang lebih tepat adalah dua bulan lebih delapan belas hari,” Seng Liang menerangkan lebih jelas lagi.

Dengan wajah serius dan nada yang panik Hui cun siucay Seng Tiok sian segera berseru: “Tujuh puluh delapan hari berselang Thi ciangbunjin masih berada dalam keadaan sakit, pada waktu itu hakekatnya dia tidak mencampuri urusan apa pun. disamping itu tiada seorang manusia pun diantara para jago yang bernama Ong See ing.”

Kemudian setelah berjalan bolak balik sambil termenung tiba tiba ia bertanya lagi :

“Seng Liang, apakah kau pernah bersua dengan manusia yang bersama Ong See ing itu?”

“Dari kejauhan aku pernah melihat dirinya satu kali, dia mengenakan jubah berwarna tembaga dengan usia sekitar enam puluh tahunan, wajahnya putih bersih tanpa berkumis, semangatnya segar seperti pemuda tapi berwajah penuh kewibawaan.”

Hui cun siucay Seng Tiok sian termenung sebentar, lalu tanyanya lebih jauh :

“Ciri khas apa lagi yang dimilikinya? Seperti kedua belah tangannya apakah mempunyai kelainan?”

“Dia selalu mengenakan jubah yang lebar dengan menyembunyikan sepasang tangannya dibalik pakaian, belum pernah ada orang yang menyaksikan bentuk lengannya.”

“Selain Ong See ing, masih ada siapa lagi?”

“Konon yang diutus kemari semuanya sudah berusia lanjut, tapi hamba pernah menyaksikan ada seorang gadis yang masih muda dan cantik lagi, hamba lihat hubungannya dengan Un sangat akrab...”

“Apakah tiada dua orang gadis muda?”

“Yang terlihat sekarang baru seorang, mungkin rekannya belum sampai sini. Apakah kongcu kenal baik dengan mereka?”

Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak menjawab pertanyaannya dari Seng Liang tersebut, hanya dalam hati kecilnya diam diam ia berpikir keras : “Heran, di antara Hian im ji li, mengapa baru seorang yang munculkan diri?”

Melihat majikannya Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak menjawab, Seng Liang segera sok pintar, katanya lagi :

“Bagaimanakah watak nona Un, kau bersua dengan mereka nanti, lebih baik berlagaklah seakan akan belum pernah mengenal.”

Baru saja Seng Liang menyelesaikan kata katanya, dari luar pintu sana sudah terdengar suara ujung baju yang terhembus angin berkumandang datang. Buru buru Hui cun siucay Seng Tiok sian menggoyangkan tangannya mencegah Seng Liang berkata lebih lanjut. Sesaat kemudian terdengar seseorang berseru dari luar pintu

:

“Engkoh Tiok, kau ada di rumah?”

Bayangan merah berkelebat lewat, nona Ting Un dengan mengenakan baju berwarna merah sudah menyelinap masuk ke dalam ruangan. Dengan senyuman dikulum Hui cun siu¬cay Seng Tiok sian segera menyongsong kedatangannya seraya menegur :

“Adik Un, darimana kau tahu kalau aku sudah kembali?”

Ting Un tertawa katanya :

“Sanjin merasa hati berdebar, maka setelah dihitung hitung, kuketahui bahwa kau telah datang.”

“Ooooh, kau mendapat tahu dari mulut mereka?”

“Kalau toh sudah pulang, mengapa kau tidak datang menengok diriku ?” seru Ting Un lagi dengan wajah mendongkol.

Melihat gadis itu sengaja mengalihkan pembicaraan ke arah lain, dengan perasaan gelisah dia mendepak depakan kakinya berulang kali seraya berseru :

“Adik Un, sekarang bukan waktunya untuk mengumbar watak nonamu, kau harus tahu Ong See ing sesungguhnya adalah hasil penyaruan dari Hian im Tee kun, cepat katakan kepadaku, apakah ada orang yang sengaja memberitahukan kepadamu bahwa aku telah pulang?” Begitu mendapat tahu kalau Ong See ing adalah Hian im Tee kun, Ting Un merasa terkejut sekali serunya kemudian cepat cepat :

“Tapi apa sangkut pautnya dengan kita?”

“Sangkut pautnya besar sekali orang justru memperalat dirimu untuk mengajak mereka datang kemari!”

“Yaa, mungkin aku benar benar sudah terjebak oleh siasat budak itu,” seru Ting Un kemudian sambil menyumpah nyumpah.

Baru selesai dia berkata, dari luar pintu sudah kedengaran seseorang berseru :

“Sayang sekali terlalu lambat kau mengetahui akan hal ini. ”

“Siapa diluar?” bentak Hui cun siucay Seng Tiok sian setengah menghardik.

Dengan cepat dia menarik Ting Un kebelakang tubuhnya, sementara senjata kipas emasnya sudah dicabut keluar, hawa murni segera dihimpun dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Ting Un dan Seng Liang yang berdiri di¬belakang Hui cun siucay Seng Tiok sian serentak meloloskan pula senjata masing masing untuk menghadapi segala kemungki¬nan.

Nona Ting Un mempergunakan sebilah pedang Gin kong kiam, sedangkan senjata andalan Seng Liang adalah sebilah golok raksasa. Pada saat itulah dari luar pintu berjalan masuk Hian im li Cun Bwee, sambil berdiri ditepi pintu dan memandang ke arah Ting Un katanya sambil tertawa dan manggut manggut tiada hentinya,

“Adik kecil, enci mesti berterima kasih kepadamu, coba kalau kau tidak bertindak sebagai petunjuk jalan, enci tak pernah akan menyangka kalau Seng tayhiap memiliki rumah yang begini indah disini. "

"Hmmm!” Ting Un mengumpat keras keras, “sekarang kedok palsu kalian sudah terbongkar, kami jago jago dari See lam tidak akan percaya lagi dengan kalian.” “Siapa bilang kedok kami sudah terbongkar?” Hian im li Cun Bwee tertawa licik.

“Tentu saja, sebab kami sudah mengetahui identitas kalian yang sebenarnya!”

Hian im li Cun Bwee segera tertawa terkekeh kekeh.

“Heeehhh... heeehhh.... heeehhh... walaupun kalian bertiga tahu akan persoalan ini, namun aku yakin kalian tak akan mampu untuk mengatakan kepada siapa pun.”

“Hmmmm, setan baru tak bisa berbicara!” seru nona Ting Un sambil menarik wajahnya.

Buru buru Hui cun siucay Seng Tiok sian mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya memperingatkan Ting Un dan Seng Liang :

“Kalian harus berhati hati, mereka hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi, lebih baik kalian saksikan saja cara kerjaku, siapa tahu dengan cara itu kita masih bisa lolos dari kepungan ini... ”

Ketika Hian im li Cun Bwee menyaksikan Hui cun siucay Seng Tiok sian berkemak kemik tanpa kedengaran suaranya, sadarlah dia bahwa lawan lawannya tak akan takluk dengan begitu saja, maka sambil tertawa seram katanya :

“Seng sauhiap, aku lihat kau tak usah membuang waktu dan tenaga dengan percuma, kalian tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk meloloskan diri dari sini!”

Berbicara sampai disitu dia lantas berpekik nyaring, menyusul suara pekikan itu dari sekeliling bangunan rumah itupun bergema suara sahutan yang nyaring. Hal ini menunjukkan kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian sekalian sudah terkepung rapat rapat. Setelah bergemanya suara pekikan itu, sambil tertawa kembali Hian im li Cun Bwee berkata :

“Orang orang yang berada diluar rumah merupakan komplotan kepercayaan dari Hian im Tee kun, tak seorangpun diantara mereka merupakan sahabat kalian.” “Tidak kabur yaa tidak kebur, siapa sih yang takut kepadamu?” seru Ting Un sangat gusar.

Perkataannya ini sangat polos dan lucu, dianggapnya sangat lihay dan tidak kuatir menghadapi kepungan tersebut. Padahal dalam pendengaran orang lain, hal ini sangat menggelikan sekali.

“Saat ini, hanya ada dua jalan yang dapat kalian tempuh!” kata Hian im li Cun Bwee lebih jauh.

Hui can siucay Seng Tiok sian pernah menderita kerugian di tangan Hian im li Cun Bwee, diapun cukup mengetahui akan kelihayannya, semenjak kemunculan perempuan iblis tersebut, dia jarang sekali berbicara, sementara otaknya berputar terus mencari akal bagaimana caranya meloloskan diri dari situ, itulah sebabnya dia membiarkan Ting Un berteriak teriak tiada hentinya. Tapi kalau dilihat dari situasi yang berada didepan mata, nampaknya mereka sudah tidak memiliki kesempatan apapun untuk meloloskan diri dari situ.

Dalam keadaan demikian, timbullah gagasan Hui cun siucay Seng Tiok sian untuk beradu jiwa dengan lawannya, sambil tertawa terbahak bahak dia lantas berseru :

“Haaahhhh... haaahhhh..... haaahhhh siluman perempuan,

kepandaianmu sudah pernah kurasakan, sekarang kita pun tak usah banyak berbicara lagi, lihat serangan!”

Dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang lihay, dia menyelinap ke hadapan Hian im li kemudian senjata kipas emasnya dengan disertai segulung tenaga serangan yang sangat kuat langsung membacok pinggang Hian im li Cun Bwee. Mimpi pun Hian im li Cun Bwee tak pernah menyangka kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian pernah mempelajari ilmu Hu kong keng im, gara gara keteledorannya hampir saja dia termakan oleh serangan lawan.

Berada dalam keadaan seperti ini, kontan saja dia kena terdesak oleh sapuan kipas emas Hui cun siucay Seng Tiok sian sehingga mundur ke samping. Dengan cepat Hui cun siucay Seng Tiok sian menyerbu ke depan pintu dan menghadang jalan mundurnya. Agaknya Hian im li Cun Bwee sudah dapat menduga maksud hati Hui cun siucay Seng Tiok sian, dengan cepat dia berjalan ke arah tengah, lalu sambil melirik sekejap wajah ketiga orang itu dengan pandangan sinis. Katanya sambil tertawa dingin :

“Hanya mengandalkan kalian bertiga sudah ingin mengancam diriku? Huuuh kalian masih ketinggalan jauh sekali….”

Selesai berkata dia lantas merentangkan sepasang tangannya, seakan akan sedang berkata begini :

“Untuk menghadapi kalian, aku tak perlu mempergunakan senjata lagi.”

Ting Un sudah memperoleh segenap warisan ilmu keluarganya, dalam lingkungan perkampungan Huan keng san ceng terhitung seorang manusia yang luar biasa. Dengan keadaan seperti ini, tak heran kalau dia mempunyai pandangan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Dialah yang pertama tama tidak tahan dulu menghadapi sikap angkuh dari Hian im li Cun Bwee.

Pedang Gin kong kiamnya segera dimasukan kembali ke dalam sarungnya, lalu serunya sambil tertawa dingin :

“Nonamu tak ingin mencari keuntungan diatas senjata, akan kusuruh kau sadari bahwa di atas langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia lain!”

Gadis ini memang berwatak demikian begitu ingin bertarung lantas turun tangan dengan cepat. Sambil bertekuk pinggang dia melompat ke depan, lalu dengan jurus Giok li tou huan (gadis suci masuk ke dalam pelukan) dia menyambarkan telapak tangannya ke depan menghantam jalan darah Jit kan hiat di dada Hian im li Cun Bwee.

Hui cun siucay Seng Tiok sian cukup mengetahui akan kelihayan Hian im li Cun Bwee, melihat nona Ting Un bersikap tak tahu diri, dia sadar dalam satu gebrakan pun nona ini bakal menderita kerugian di tangan lawannya maka sambil berkerut kening bentaknya keras keras :

"Lihat serangan!" Lagi lagi dia menyelinap maju ke depan nona Ting Un dengan gerakan Hu kong keng im lalu menghalangi dihadapannya sehingga nona Ting Un tak mampu melanjutkan serangannya, kemudian tangannya bergerak cepat memainkan jurus Hong seng im tong (angin muncul awan bergerak) menciptakan selapis bayangan kipas yang bersama sama membabat pinggang Hian im li Cun Bwee.