Pohon Keramat Jilid 16

Jilid 16

IA menunjuk kearah Ular Golis.

Gadis itu telah basah dengan air mata, cepat-cepat ia berkata. "Apa yang ingin kau katakan ?"

Tan Ciu berkata.

"Aku mendapat pesan dari Thio Ai Kie cianpwe untuk menyampaikan rasa penyesalannya kepada gurumu. Aku tidak berhasil, kini jiwaku sudah berada diambang pintu kematian, tugas ini kuserahkan kepadamu . . ."

"Akan kuusahakan." Berkata Ular Golis Siauw-tin, sikapnya sangat sedih. "Permintaanku yang kedua ialah, tolong kau sampaikan khabar kematianku kepada seorang kakek bungkuk yang bernama Kui Tho Cu. dia berada didalam Benteng Penggantungan.”

Ular Golis menganggukkan kepalanya, ia menyanggupi tugas itu.

"Dan dari Kui Tho Cu itu, kau dapat mengetahui orang yang harus kubunuh tolong wakilkan diriku membunuh orang itu. Bersediakah?"

Sekali lagi Ular Golis menganggukkan kepala. "Terima kasih." Tan Ciu mengakhiri percakapan itu.

Kini ia menghadapi Thio Bie Kie, menyerahkan diri kepada Penghuni Guha kematian.

"Bunuhlah." ia berkata.

Atas sikap si pemuda yang sangat berani, Thio Bie Kie harus menaruh salut, walaupun demikian, ia harus mempertahankan gengsinya. ialah dikatakan ingin memburuh pemuda itu dan kata-kata ini harus dilaksanakan, tangannya diangkat lagi.

Tan Ciu mengerti, hal ini tidak dapat dielakkan. ada baiknya ia bersikap Kesatria. Mati tanpa keluhan suara.

Manakala Thio Bie Kie hendak menurunkan tangan maut, tiba-tiba wajahnya berkerut. matanya berpaling kearah pintu guha seolah-olah terdengar sesuatu hendak melihat sesuatu yang belum diketahui.

Tan Ciu memandang segala perubahan itu dengan rada berkesiap.

Ular Golis Siauw Tin berteriak. "Suhu, ada orang datang." Thio Bie Kie menganggukkan kepala. ia berkata pada sang murid. "Jaga baik-baik orang ini."

Tubuhnya melesat, meninggalkan mereka.

Datangnya orang itu disaat yang tepat. Tan Ciu terhindar dari kematian.

Ular Golis mendekati pemuda itu, ia memanggil perlahan.

"Tan Ciu, sangat menyesal. aku tak dapat berbuat sesuatu, guruku terlalu keras serta berkepala batu, sulit untuk berdebat dengannja,"

"Aku tahu." Berkata Tan Ciu tertawa getir. "Eh, bagaimanakah harus memanggilmu?"

"Namaku Siauw Tin. panggil saja dengan nama sebutan itu."

"Siauw Tin, bukan maksudku memandang rendah atau menghina dirimu, penolakanku atas usul gurumu  yang ingin memaksakan perjodohan kita  berdasarkan kenyataan."

"Seharusnya kau menerima tawaran itu." Berkata Siauw Tin.

Hati Tan Ciu tergetar.

"Mengikat tali hubungan suami isteri denganmu?

Mungkinkah kau bersedia?"

"Aku tidak keberatan. Dimisalkan kau tidak cinta padaku, akupun tidak memaksa. Jalan yang terbaik ialah turuti dahulu segala kemauan guruku, setelah itu dikemudian hari kita dapat menentukan hidup sendiri, boleh kita berpisah lagi setelah kita keluar dari Guha Kematian kau bebas memilih gadis lain sebagai isteri yang sah."

"Aku tidak dapat menodai namamu."

"Turutlah nasehatku, maka kau dapat bebas dari kematian. Aku berjanji, aku tidak akan mengikat kebebasanmu untuk memilih istri."

"Kau sudah berpikir tentang segala akibat dari langkah ini ?"

"Berpikirlah kepada keselamatan jiwamu." "Aku berteiima kasih kepada pengorbananmu." "Kau bersedia menerima usulku?"

"Baiklah."

"Aku berjanji, aku tidak mengekang kau memilih istri." Cerita diatas adalah cerita didalam Guha Kematian.

Diluar Guha kematian, satu bayangan muncul cepat memasuki guha gelap itu. Thio Bie Kie memapaki datangnya bayangan itu, ia membertak,

"Siapa!"

Bayangan   itu   berhenti,   dengan   suara penuh derita memanggil.

"Cie cie "

Dia adalah penghuni rumah kayu, wanita berambut panjang Thio Ai Kie, adik dari penghuni Guha Kematian.

Thio Bie Kia berhenti dengan ketus ia berkata. "Siapa yang kau panggil? Aku tidak kenal kepadamu." "Ciecie. lupakah kepala suara adikmu?" Bertanya Thio Ai Kie sedih. "Tidak dapatkah kau memaafkan kesalahanku

?"

"Aku tidak mempunyai adik." Berkata Thio Bie Kie dingin.

"Ciecie. aku mohon pengampunan." "Cukup."

"Ciecie."

"Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jangan sekali-kali kau memasuki tempat ini lagi. Lekas keluar!"

"Ciecie. . ."

"Segera kubunuh dirimu. Tahu?"

"Kau tidak dapat memaafkan kesalahanku."

"Lekas kau pergi." Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie mengusir adik itu.

"Baik kau tidak dapat memberikan pengampunan, kedatanganku ini ada maksud tujuan lain, kuharap kau tidak mengganggu Tan Ciu."

"Hmm .... Tan Ciu? .. . Segera akan kubunuh pemuda itu."

"Aku memohon keikhlasan hatimu." "Aku bukan seorang pemurah."

Thio Ai Kie putus harapan. Timbul rasa kecewanya.

Tiba-tiba ia menjadi panas hati, dengan kemarahan yang meluap-luap, ia berkata.

"Kau kejam?"

Thio Bie Kie mengeluarkan suara dari hidung. "Hanya karena seorang laki-laki, kau menjadikan dirimu sebagai manusia aneh, kau merusak diri sendiri. Kau telah merusak penghidupan tenang."

"Kau adalah biang keladi kekacauan." Berkata Thio Bie Kie. "Kau telah membunuh dirinya."

"Aku sangat menyesal." Berkata Thio Bie Kie. "ia yang segala sesuatu telah terjadi. apa yang dapat kulakukan? Kecuali beruraha mengenang kesalahan itu? Tidak seperti dirimu mengerusak diri sendiri, mengerusak diri orang. Selama ini, berapa banyakkah orang yang telah kau rusak, apakah yang kau dapat dari hasil perbuatanmu itu ?"

"Kepuasan."

"Aku telah melakukan suatu kesalahan tanpa disengaja. Tapi kau melakukan kesalahan2 yang kau ketahui, betapa jahatnya perbuatanmu itu."

"Tutup mulutmu."

"Aku salah. Kau juga salah. Aku berusaha membenarkan kesalahanku. mengapa kau kukuh menyiksa diri sendiri?"

"Huh. ingin memberi nasehat kepadaku."

"Betul. Hari ini aku ada niatan untuk memberi nasehat kepadamu."

"Bagus! Kau sudah berani. hee?"

Wajah Thio Bie Kie  membawakan  sikap pembunuhan. Ia harus membunuh adik perempuan ini. Disertai dengan bentakannya, ia telah menyerang Thio Ai Kie.

Serangan itu mengandung kekuatan yang memecah gunung membelah laut. latihan tenaga dalam sipenghuni Guha Kematian memang luar biasa. Thio Ai Kie dipaksa mengadakan perlawanan, ia berkata. "Ciecie, kau terlalu sekali."

Pertama kali Thio Ai Kie mengunjungi Guha Kematian, hampir ia mati dibunuh tangan kejam itu, Itu waktu.  ia tidak mengadakan perlawanan, rasa penyesalan yang tak terhingga telah memasrahkan dirinya. Kini ia  mengerti, orang yang sudah mati tidak dapat dibangkitkan kembali. dan ia harus menolong orang yang belum mati. Tan Ciu tentu berada didalam bahaya.

Kakak beradik itu mempunyai ilmu silat yang tinggi, begitu bergerak, sulit untuk membedakan kedua bayangan, mereka gesit, mereka cepat, saling serang dan saling bertahan. Masing-masing harus mempertahankan diri mereka.

Drama baru yang akan mengotori sejarah dunia, dua saudara sedaging bertanding, disamping mereka adalah jurang maut, siapa lengah pasti binasa, mati ditangan saudara sendiri!

Dalam sekejap mata, masing-masing telah mengeluarkan lima kali serangan.

Dua wanita bergebrak didalam mulut Guha Kematian, mereka adalah sepasang perdedar kakak beradik Thio  Ai Kie dan Thio Bie Kie.

Sepuluh jurus lagi telah dilewatkan. Belum ada tanda- tanda akan berakhirnya pertandingan itu. yang satu gesit yang satu lincah. yang satu lihay dan yang lainnya kosen, ilmu kepandaian mereka adalah hasil didikan seorang guru. Masing-masing dapat mengetahui. tipu-tipu bagaimana yang akan dilontarkan oleh lawannya. Dua bayangan menyusuri Guha Kematian, mereka keluar dari dalam menuju kearah dua orang yang sedang berkutet seru itu.

Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie mengirim satu pukulan, setelah itu mereka terpisah. Dua pasang mata  menuju kearah dua bayangan yang keluar dari dalam perut guha itu, Mereka adalah Tan Ciu dan Siauw Tin.

Thio Bie Kie memandang Siauw Tin. sikapnya sangat marah, "Mengapa kau mengijinkan dia meninggalkan tempat?" Demikianlah kira-kira teguran guru  tersebut kepala sang murid yang ditugaskan menjaga Tan Ciu.

Thio Ai Kie memandang Tao Ciu, ia girang melihat keselamatan sipemuda yang belum terganggu.

Tan Ciu segera mengenali kepada penghuni rumah kayu berambut panjang itu, ia menunjukan hormatnya,

"Cianpwe. ."

Thio Ai Kie membalas dengan satu anggukkan kepala. "Bagaimana kalian bergebrak tangan?" Berkata Tan Ciu

kepada kedua wanita itu.

"Jangan kau turut campur urusan ini." Berkata Thio Bie Kie.

Thio Ai Kie berkata.

"Ia ingin membunuh diriku. Apa boleh buat. Aku harus melayaninya."

"Kalian adalah adik dan kakak, seharusnya. . ." Tan Ciu ada maksud untuk menjadi juru pemisah.

Thio Bie kie membentak. "Hei. ingin campur tangan urusan orang?" Tan Ciu berusaha menyabarkan diri, dengan tenang ia berkata. "Begitu bencikah kau kepada adik kandung sendiri?"

"Aku harus membunuh adik yang merusak kehidupanku." Berkata Thio Bie Kie.

"Dimisalkan kau berhasil membunuhnya, hasil apakah yang kau dapat dari pembunuhan itu?"

"Kurang ajar!" Thio Bie Kie sangat marah, tangannya dilayangkan memukul pemuda itu.

Thio Ai Kie telah siap sedia, begitu melihat gerakan sang kakak. tubuhnya telah melesat menyelak ditengah kedua orang itu. ia menangkis serangan yang ditujukan  kearah Tan Ciu.

Kakak beradik itu bertempur kembali,

Tan Ciu membentang bacot. "Thio Bie Kie cianpwe . . ." Thio Bie Kie tidak melayani panggilan pemuda itu,

dirinya sedang digencar serangan serangan oleh sang adik. ia menangkis setiap serangan itu.

"Thio Bie Kie cianpwe, tidak ada alasanmu untuk membunuh adik kandungmu sendiri." Berteriak lagi Tan Ciu.

Kini Thio Bie Kie merangsek Thio Ai Kie, mendengar kata-kata si pemuda. ia mengundurkan serangannya, serta merta mendebat.

"Ia juga membunuh orang yang kukasihi."

"Kesalahan itu telah ditebus, betapa menderita ia karenanya, penderitaan ini lebih berat dari segala penderitaan yang ada." "Maka, aku harus membunuhnya." Berkata lagi Thio Bie Kie sambil menyingkirkan diri dari serangan Thio Ai Kie.

Tan Ciu masih tidak mau menutup mulut. ia berkata. "Dimisalkan kau berhasil membunuhnya, mungkinkah Kho Liok cianpwe dapat bangkit  dari liang kubur? Apa lagi mengingat ilmu kepandaian kalian yang sama kuat, mungkinkah dapat membunuh Thio  Ai  Kie  cianpwe dengan mudah?"

Thio Bie Kie tertegun, ia terpaku ditempat. Hampir- hampir menjadi korban pukulan sang adik. Beruntung Thio Ai Kie tak ada niatan untuk membunuh kakak itu, ia menarik pulang serangan dan berdiri disamping dinding guha.

Pertempuran terhenti karenanya. Tan Ciu berkata lagi. "Kenangkanlah    kembali    penghidupan    kalian dimasa

kecil,  kalian   hanya  hidup  berdua,  tolong  menolong  dan

bantu membantu, betapa mesra hidup seperti itu. Satu sama lain saling mencinta, kalian adalah kakak beradik teladan. Binalah kembali kemesraan hidup itu."

"Tidak seharusnya ia membunuh orang yang kucintai." Thio Bie Kie berteriak,

"Berpikirlah lagi, cinta tidak dapat diabadikan secara sepihak, kau cinta kepada Kho LioK cianpwe, tapi cintakah Kho Liok cianpwe kepadamu. Janganlah kau mementingkan diri sendiri saja, berpikirlah kepada kebahagiaan adikmu. dia adalah orang yang Kho Liok cianpwe cintai. cinta ini tidak dapat kau rebut begitu saja."

Thio Bie Kie membelalakan mata, kemudian meruntuhkan pandangan itu ketanah. "Berpikirlah. siapa diantara kalian berdua yang Kho Liok cianpwe cintai?" tegur lagi Tan Ciu kepada penghuni Guha Kematian itu.

"Oh " Thio Bie Kie mengeluarkan keluhan tertahan.

"Mungkinkah kau tidak tahu cinta orang?" Desak lagi Tan Ciu kepadanya.

Thio Bie Kie lebih mengerti tentang cinta.

Dia maklum bahwa orang yang Kho Liok betul-betul cintai bukanlah dirinya. Kho Liok lebih cinta kepada Thio Ai Kie, hubungannya dengan Kho Liok berdasarkan budi yang telah ditanam. berlangsungnya hubungan mereka berada didalam keadaan lupa daratan. dikala Kho Liok belum berhasil menguasai kejernihan pikirannya. Demikian hal itu terjadi.

Tan Ciu menerusKan pembicaraannya. "Cinta bukanlah semacam barang dagangan, karena itu ia tidak dapat dipaksakan. Mengambil contoh kejadian tadi, kau memaksa aku mengawini Siauw Tin, apa akibat kejadian itu bila aku menerima tawaranmu? Kukira akan seperti Kho Liok cianpwe denganmu"

Thio Bie Kie diam ditempat.

Tan Ciu menyambung lagi pembicaraannya. "Kini Kho Liok cianpwe telah tiada, dialam baka ia pasti bersedih, atas ketidak akurannya kalian dua saudara."

Ini waktu si Ular Golis Siauw Tin turut membujuk sang guru. "Suhu ada baiknya kau menerima rumusan Tan Ciu."

Thio Ai Kie juga memanggil.

"Cie cie, aku berjanji untuk menyenangkan dirimu " Tiba-tiba Thio Bie Kie telah berteriak. "Bagus. Kalian telah mengadakan persekongkolan, kalian menghina diriku

. . . Uh . .. nasibku memang sial sekali..."

Ia membalikkan badan, lari masuk kedalam guha gelap.

Semua orang terpaku. Sayup-sayup terdengar suara tangis isak Thio Bie Kie, datangnya dari guha dalam.

Thio Ai Kie, Tan Ciu dan Siauw Tin melangkahkan kaki mereka, menuju kearah guha dalam. Sebentar kemudian, mereka berhasil menemukan Thio Bie Kie, si penghuni Guha Kematian yang sedang menangis sesenggukkan ditempat pembaringan.

Tan Ciu memandang Siauw Tin. Dan gadis yang dipandang menganggukkan Kepalanya, dengan suara perlahan ia berkata.

"Kukira. bujukanmu telah berhasil." "Mungkinkah ia marah kepadaku?"

"Aku percaya, ia dapat mengubah sifat-sifat lamanya."

Disaat Itu. Thio Ai Kie telah mendekati sang kakak. Ia memanggil perlahan.

"Cicie "

Thio Bie Kie menangis semakin keras.

Thio Ai Kie bersujud dihadapan kakaknya dengan sedih ia berkata. "Cicie. mungkinkah kau tidak dapat memaafkan kesalahanku?"

Thio Bie Kie mendongakan kepala, dengan mata basah, ia memandang adik itu.

Tiba-tiba Thio Ai Kie menubruk, ia  turut menangis mengucurkan air mata. Thio Bie Kie membiarkan dirinya dipeluk, sikapnya masih tetap dingin. "Ciecie." Panggil lagi Thio Ai Kie. "Bila kau tetap membenciku, bunuhlah aku, aku sudah bosan hidup, apa guna hidup sebatang kara? Hidup merana seperti ini?"

Tiba-tiba Thio Bie Kie balas memeluk adiknya. kini ia telah insaf, tiada guna membenci adik itu. telah lama ia kehilangan kasih sayang seorang adik, dan kini adik itu telah kembali. Mereka saling panggil,

"Moay-moay , ."

"Ciecie . . ."

Mereka saling peluk, mereka menangis bersama.

Kesalah pahaman berhasil dilenyapkan, kakak  beradik itu telah saling memaafkan kesalahan masing-masing, kini mereka telah berhasil kembali.

Tan Ciu dan Siauw Tin turut menyaksikan kejadian tadi, merekapun mengeluarkan air mata, air mata terharu, air mata gembira, mereka terharu atas kejadian yang menimpa diri Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie. mereka gembira karena berhasil menyatukan kembali dua saudara itu.

Berapa lama kejadian berlangsung ...

Suatu saat, Thio Ai Kie meloloskan diri dari rangkulan dan pelukan kakaknya, ia memanggil perlahan. "Ciecie . . ."

Thio Bie Kie menyusut air matanya.

"Ciecie . . ." panggil lagi Thio Ai Kie, "Kau telah memaafkan kesalahanku?"

Thio Bie Kie anggukkan kepala perlahan.

"Semua itu telah lewat . . ." Ia mengoceh perlahan. "Betul, semua telah lewat, kita harus memulai dengan

hidup baru." Demikian Thio Ai Kie berkata. "Kita telah tua . ."

"Aku menyesal sekali . . ." Berkata Thio Ai Kie. "Mengapa aku dapat membunuh dirinya?"

"Dimanakah kini kau menaruh jenazahnya." Bertanya Thio Bie Kie.

"Telah dikebumikan." "Ooooo . .."

"Ciecie, masih dapatkah kau menyayang diriku.

Menyayang seperti dijaman kanak-kanak kita?"

"Tidak seharusnya kita berpisah, hanya gara-gara seorang lelaki, tidak seharusnya kita saling benci."

"Oh, ciecie . . , kau baik sekali." Mereka memandang kearah Tan Ciu.

"Kita orang-orang harus berterima kasih kepadanya." Berkata Thio Ai Kie.

Thio Bie Kie menganggukkan kepala. Siauw Tin berteriak girang.

"Suhu, tentunya kau tidak mengganggu orang lagi, bukan?"

Thio Ai Kie terkejut,

"Kau hendak membunuh Tan Ciu?" Ia bertanya cepat. "Kini tidak." Thio Bie Kie menggelengkan kepala. "Dia

adalah seorang pemuda baik."

Tan Ciu menunjukkan hormatnya ia berkata. "Terima kasih kepada kemurahan hati Cianpwe."

Siauw Tin melirik kearah pemuda itu, dan mereka tertawa mengerti. Thio Bie Kie berkata. "Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih. Kau telah menolong kami dari kesepian. Kau telah menyatukan kami dari kembali."

Thio Bie Kie, Thio Ai Kie, Tan Ciu dan Siauw Tin merasa puas akan kesudahan dari kejadian itu.

Kedatangan Tan Ciu telah melenyapkan keangkeran Guha Kematian. Mulai dari saat itu. mereka melenyapkan peraturan-peraturan yang mengganggu ketenangan orang.

- oOdwOo -

Didalam sebuah guha. berdiri tiga wanita dan seorang laki-laki, mereka adalah Thio Bie Kie. Thio Ai Kie. Siauw Tin dan Tan Ciu.

Dipembaringan, tertidur seorang gadis berbaju  putih, itulah Cang Ceng-ceng.

Tan Ciu berkata. "Cianpwe, lekaslah menolong dirinya,"

Thio Bie Kie berkata. "Jangan khawatir, telah kujanjikan untuk menolong dirinya. Kau boleh melegakan hati."

"Telah terlalu lama ia dikekang oleh ilmu Ie-hun Tay- hoat." Tan Ciu memberikan keterangan.

"Aku tahu. Sebelumnya aku hendak bertanya, bagaimana hubunganmu dengannya?"

"Kawan biasa." Berkata Tan Ciu.

"Kawan biasa?" Mengulang Thio Bie Kie. "Bukan kekasihmu."

"B e t u l."

"Timbul niatanku untuk menyerahkan sesuatu kepadamu?" Kemudian memandang sang adik, dan Thio Bie Kie berkata. "Moay-moay umur kita sudah tua bukan?"

"Maksudmu?“ Thio Ai Kie belum mengerti.

"Apa guna kita mengangkangi ilmu kepandaian, tanpa digunakan?"

Thio Ai Kie segera dapat menduga maksud tujuan kakak itu.

"Kau artikan."

"Ada baiknya menyerahkan ilmu kepandaian kita, dengan demikian. kita dapat membalas budi jasanya."

"Setuju." Thio Ai Kie berteriak.

Tan Ciu tertegun. Kejadian yang berada diluar dugaannya,

Maksudnya Tan Ciu masuk kedalam Guha Kematian untuk menolong Cang Ceng-ceng. tentu harus mengadakan sedikit pengorbanan, jiwanya sudah siap disumbangkan. Kini ia batal mati. bahkan mendapat hadiah ilmu silat. Sungguh diluar dugaan.

Siauw Tin menarik lengan baju si pemuda dan berkata kepadanya, "Lekas kau ucapkan terima kasihmu."

"Mengucapkan terima kasih?"

"Betul. Mereka akan memberi pelajaran ilmu silat kepadamu."

"A a a a ... Mana boleh?"

Thio Bie Kie berkata. "Mungkinkah segan kepada ilmu silat Guha Kematian? Ilmu sesat kau kira?"

"Oh. tidak pernah terpikir sampai kesitu." Cepat Tan Ciu berkata. Thio Ai Kie juga berkata.

"Tan Ciu, kau hendak melawan orang-orang kuat menuntut balas. Bila kau bersedia menerima ilmu silat  kami, tentu mendapat kemajuan yang pesat."

Tan Ciu mengucapkan terima kasihnya.

Thio Bie Kie berkata. "Ilmu kami tidak mudah dipelajari, kau harus tinggal didalam Guha Kematian untuk beberapa waktu."

"Tentu." Tan Ciu tidak keberatan.

Menunjuk kearah Cang Ceng-ceng, Thio Bie Kie  berkata. "Kau dapat ditinggalkan olehnya."

"Akh, cianpwe pandai bergurau. Ternyata cianpwe sangat ramah, seperti tadi, sangat galak sekali."

Thio Bie Kie tertawa.

Siauw Tin mengikuti percakapan mereka, didalam hati gadis ini, timbul semacam perasaan yang sulit dikeluarkan.

Thio Bie Kie telah menghampiri perbaringan, memegang dan memeriksa urat nadi Cang Ceng-ceng, tiba-tiba ia berteriak.

"Hee, mengapa boleh terjadi seperti ini?" Tan Ciu terkejut.

"Mengapa?" Si pemuda menjadi khawatir.

"Ia dikekang oleh ilmu Ie-hun Tay-hoat, dirinya menderita luka parah, setelah itu ditotok lama, peredaran darahnya menjadi beku, ketiga macam tekanan ini memberatkan lukanya."

"Tentu cianpwe dapat menyembuhkannya, bukan?" Bertanya Tan Ciu penuh harapan. "Aku tidak berdaya." Berkata Thio Bie Kie.

"A a a a a .. .!" Wajah Tan Ciu berubah. "Tidak dapat ditolong sama sekali?"

"Betul. Aku tidak dapat menolongnya?" "Uh. . . Cianpwe , . tolonglah "

"Ha. ha. ha . .!" Tiba-tiba Thio Bie Kie tertawa. Tan Ciu tidak mengerti.

Thio Bie Kie berkata,

"Bila bukan kekasihmu, mungkinkah kau prihatin seperti ini?"

Tan Ciu mengerti, ternyata Penghuni Guha Kematian sedang menggoda dirinya.

"Cianpwe membikin orang bingung saja." Ia berkata. "Aku ingin mengetahui hatimu." Berkata Thio Bie Kie.

"Sesungguhnya.luka kawan wanitamu ini memang agak berat."

"Tapi Cianpwe dapat menyembuhkannya, bukan ?" "Tentu.   aku membutuhkan waktu dua hari tanpa

gangguan. Kalau boleh meninggalkan ruangan ini." Tan Ciu menganggukkan kepalanya.

Thio Ai Kie berkata. "Cicie, aku harus pulang dahulu.

Sin Hong Hiap masih berada didalam rumahku." Tan Ciu terkejut.

"Bagaimanakah kejadian itu?" Ia bertanya.

"Dia telah menjadi   tamuku.   Sikapnya yang tidak memandang orang telah berhasil kutekan. Kini ia tahu bahwa didalam dunia, masih tak sedikit orang berkepandaian tinggi yang dapat mengalahknnnya."

"Bagus. Kukira, ia tak akan mengganggu diriku lagi." "Tentu saja. Setelah mewarisi ilmu kepandaian ciecieku,

siapakah yang dapat menandingimu?"

"Cianpwe memuji."

Setelah meminta diri. Thio Ai Kie meninggalkan Guha kematian, kembali kerumah kayunya.

Siauw Tin mengajak Tan Ciu keluar dari ruangan itu, membiarkan sang guru mengobati Cang Ceng Ceng.

Menyusuri lorong-lorong didalam guha itu, Tan Ciu dan Siauw Tin bercakap-cakap.

"Pernahkah gurumu menyembuhkan seseorang yang menderita tekanan ilmu Ie-hun Tay-hoat." Demikian Tan Ciu bertanya.

"Belum."

Tan Ciu menghela napas.

"Jangan khawatir," Siauw Tin memberi  hiburan. "Guruku telah memberi kesanggupan, pasti ia dapat menyembuhkannya."

Dimulut si Ular Golis mengucapkan kata2 seperti itu, didalam hati, rasa sedihnya tidak kepalang. Tanpa disadari dua butir air mata jatuh ketanah.

Tan Ciu terkejut.

"Eh, kau mengapa?" Si pemuda bertanya.

"Ternyata kau sangat cinta kepadanya." Berkata Siauw Tin penuh cemburu.

Siauw Tin cemburu kepada Cang Ceng-ceng, Tan Ciu berkata. "Dia telah menolong diriku." Siauw Tin cemberut.

"Mungkinkah aku tidak pernah menolong dirimu?" Ia

menegur si pemuda.

Sangat jelas tujuan arti kata-kata Siauw Tin sebagai berikut. 'Dia menolong dirimu maka kau jatuh cinta. Dikala aku menolong dirimu mengapa kau tidak mau menyintaiku?'

Tan Ciu tertawa. dan berkatalah ia.

"Aku tahu. Kau telah menolong diriku. Tidak akan kulupakan budi ini!"

"Siapa yang kesudian dilupakan." Bersungut sengit si gadis.

"Maksudmu?"

"Aku lebih senang mendapat perhatianmu." "Tentu, aku selalu memperhatikan dirimu."

"Hah Cinta yang kumaksudkan." Berkata Siauw Tin

menyeploskan kata-kata tadi, setelah itu, ia menundukkan kepala malu.

Aah. . . .Hal ini sudah berada didalam dugaan si pemuda.

"Sayang kau sudah mempunyai seorang Cang Ceng- ceng." Berkata lagi Siauw Tin lemah.

"Siauw Tin "

Si gadis mengegoskan diri. ia menangis sedih, Tanpa dirasakan, kedua makhluk itu berpelukan. Dibawah tatapan Siauw Tin yang terlalu panas, hati Tan Ciu menjadi gugup. Ia menciumi gadis itu. Mereka berbisik-bisik, bercerita dan merasakan kegembiraan, kemesraan dan manisnya asmara.

Siauw Tin bercerita, setelah Tan Ciu meninggalkan Ang- mo-kauw. Datang Ketua Benteng Penggantungan Han Thian Chiu tentu saja. SI Telapak Dingin masih menggunakan wajah Tan Kiam Lam, ia membunuh semua isi dari perkumpulan itu, semua kejahatan dijatuhkan kepada Tan Kiam Lam. Dan perkumpulan Ang-mo-kauw hancur berantakan.

Beruntung Thio Bie Kie lewat ditempat itu secara kebetulan. Siauw Tin ditolong olehnya. Demikian ia menjadi murid sipenghuni Guha Kematian.

Tan Ciu mendengar cerita itu dengan penuh perhatian.

Suatu waktu, tiba-tiba Siauw Tin berkata. "Eh, ada orang yang masuk guha?"

"Mungkinkah susiokmu balik kembali?" Tan Ciu mengemukakan dugaannya.

Yang diartikan dengan susiok Siauw Tin adalah Thio Ai Kie.

"Bukan." Siauw Tin menggelengkan kepala. "Belum lama ia pergi, mana mungkin ia begitu cepat kembali?"

"Menurut dugaanmu "

"Mari kita melihatnya." Siauw Tin menggandeng tangan si pemuda menuju kemulut guha.

Tan Ciu dan Siauw Tin bersembunyi didalam guha. mereka menunggu kedatangan orang-orang itu.

Terdengar suara seorang wanita yang memberi perintah. "Kalian menunggu disini. biar aku yang masuk kedalam." Terdengar langkah orang ini yang memasuki guha Kematian.

Siauw Tin segera membentak. "Berberti !"

Orang itu terkejut. segera menghentikan langkah. "Tongcu Guha Kematian?" Suara itu agak gemetaran, ia

bertanya.

Tongcu berarti pemilik atau penghuni guha.

Siauw Tin tidak menjawab, sebaliknya membentak lagi. "Apa maksudmu mengunjungi Guha Kematian!?" Suaranya saagat galak,  seolah-olah dia adalah penguasa didalam Guha Kematian.

Wanita yang baru datang tidak berani bersikap kurang ajar, dengan hormat berkata. "Kami ingin menyampaikan sesuatu."

"Sebutkan dulu namamu!" Bentak lagi si Ular Golis. "Hu-hoat dari perkumpulan Kim-ie-kauw Kim Sam nio."

Berkata wanita itu.

"Ada urusan apa kau kemari?"

"Atas perintah Kauwcu. Kami Kim Sam Nio mendapat tugas untuk menyampaikan undangan, kauwcu kami sangat mengagumi ilmu kepandaian Tongcu, bila tongcu tak keberatan Kim-ie-kauw bersedia memberi suatu kedudukan."

"Hendak mengajak aku masuk kedalam perkumpulan Kim ie-kauw!" Bertanya Siauw Tin galak. Ia membawakan sikapnya yang agung dia adalah wakil dari sang guru, setiap waktu dapat memberi putusan.

"Kami menyediakan kedudukan wakil kauwcu kepada cianpwe." Siauw Tin berkata dingin. "Terima kasih. Huh! Wakil ketua Kim ie kauw? Kalian perkumpulan baju kuning menganggap diri kalian hebat? Menyerahkan kedudukan ketua pun akan kutolak. Apalagi kedudukan wakit kauwcu, huh! . . , ."

"Maksud ketua kami agar."

"Cukup! Beri tahu kepadanya. Penghuni Guha Kemaitan menolak menggabungkan diri."

"Akan kami beritahu kepada ketua kami."  Demikan berkata wanita berbaju kuning yang bernama Kim Sam Nio itu.

"Eh. mengapa kau belum pergi?" Tegur Siauw Tin. Ternyata Kim Sam Nio belum keluar dari Guha Kematian.

"Kami masih ada urusan kedua." "Lekas katakan."

"Kami ingin menanyakan seseorang. . ."

"Sebutkan nama orang itu."

"Seorang pemuda yang bernama Tan Ciu. Tentunya dia telah masuk kedalam guha."

Hati Siauw Tin tergetar. segera ia berkata. "Betul!

Mengapa menanyakan dirinya ?"

"Tan Ciu membawa Seorang gadis berbaju putih memasuki Guha Kematian, maksudnya ingin meminta pengobatan."

"Betul ada hubungan apa denganmu ?"

SaTU rombongan orang berbaju kuning mendatangi Guha Kematian. Mereka berada dibawah pimpinan Hu- hoat perkumpulan itu, namanya Kim Sam Nio. Setelah mengatur orangnya, Kim Sam Nio memasuki Guha Kematian. Ia menanyakan tentang soal Tan Ciu.

Siauw Tin belum tahu maksud tujuan dari lawan itu. maka ia mengajukan pertanyaan.

kim Sam NiO menjawab, "Tan Ciu telah membunuh orang kami, karena itu, ketua wajib menangkapnya. Mohon bantuan Tongcu untuk menyerahkannya kepada kami."

"Hmmm . . ." Siauw Tin berdengus. "Tongcu keberatan?"

"Tentu."

"Baik. Kim Sam Nio sekalian meminta diri,"

"Silahkan. Segera kalian enyah dari tempat ini." Suara Siauw Tin sangat galak.

Kim Sam Nio membalikkan badan, dan ia keluar dari Guha Kematian.

Tan Ciu telah mengikuti percakapan mereka, ia heran. bagaimana orang2 berbaju kuning itu tahu bahwa dirinya memasuki Guha Kematian ?

Pertanyaan itu tidak dapat dijawab.

Kim Sam Nio mengajak orang-orangnya pergi dari tempat itu.

Siauw Tin mengajak Tan Ciu kembali, dan pemuda itu harus bermalam didalam Guha Kematian.

Dua hari kemudian . . .

Dibawah rawatan penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie, penyakit tekanan Ie-hun Tay-hoat yang mengekang Cang Ceng-ceng berhasil disembuhkan. kesehatan gadis itu telah pulih kembali. Siauw Tin telah mengajak Tan Ciu menemuinya.

Dikala melihat pemuda itu, dengan bingung Cang Ceng- ceng menarik bajunya, ia mengajukan pertanyaan. "Eh. bagaimana aku berada ditempat ini?"

Tan Ciu bercerita tentang segala yang telah menimpa diri gadis tersebut.

Cang Ceng-ceng berteriak. "Aku telah terkena Ie-bun Tay-hoat ?"

"Betul. Maka kuajak dirimu, dan beruntung dapat disembuhkan oleh Thio Bie Kie cianpwe."

"Celaka," Berteriak lagi Cang Ceng-ceng. "Dikala aku lupa daratan, bajingan itu memaksa aku memberi tahu semua ilmu kepandaianku. Ilmu kepandaian telah kucatat dan kuberikan kepadanya."

"Betul!"

"Aku harus segera memberi tahu kejadian ini kepada guruku." Berkata Cang Ceng-ceng.

"Pergilah . .."

"Dan kau?" Cang Ceng-ceng memandang Tan Ciu. "Untuk sementara. aku harus menetap ditempat ini." "Mengapa?" Bertanya Cang Ceng-ceng heran.

"Aku harus mempelajari ilmu kepandaian Thio Bie Kie cianpwe."

Thio Bie Kie memberi sedikit penjelasan, setelah itu ia berkata kepada Siauw Tin.

"Siauw Tin antarkan ia keluar." Setelah mengucapkan terima kasih. Dengan diantar oleh Siauw Tin dan Tan Ciu, Cang Ceng-ceng keluar dari Guha Kematian.

Tiba dimulut guha, Siauw Tin berkata. "Kami hanya dapat mengantar sampai disini."

Cang Ceng-ceng tidak segera pergi, tapi memandang kearah Tan Ciu.

Si pemuda berkata. "Baik. Biar kuantar kau beberapa li lagi." Dan meninggalkan siauw Tin dimulut guha, ia merendengi Cang Ceng-ceng berjalan.

Siauw Tin memandang dua bayangan itu, hatinya hancur luluh, ia masuk kedalam guha dengan mata basah.

Bercerita Tan Ciu dan Cang Ceng-ceng. Mereka berjalan beberapa Waktu, kemudian menghentikan langkah.

"Terima kasih. Kau tidak perlu mengantarkanku lagi." Demikian Cang Ceng-ceng berkata.

"Selamat jalan." Tan Ciu siap kembali kedalam Guha Kematian.

"Tunggu dulu!" Cang Ceng-ceng memanggil. "Ada apa?" Tan Ciu balik kembali.

"Ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu." "Katakanlah . .."

Si gadis menundukkan kepala.

"Aku tahu. . ."

Dari sinar mata Cang Ceng-ceng. Tan Ciu dapat menduga kata-kata apa yang akan dikeluarkan oleh gadis itu. "Aku girang karena kau sudah tahu, Tapi aku harus mengulang juga. kuharapkan kau tidak lupa kepadaku "

"Aku tidak lupa kepadamu." Berkata Tan Ciu. "Mendapat   janjimu.   Aku   puas   Jangan   kau   lupakan

kawan  lama  setelah  ketemu  dengan  seorang  kawan yang

lebih baru!"

Tan Ciu memegang tangan orang lebih kencang, ia sangat terharu.

"Legakanlah hatimu !" Ia berjanji! Cang Ceng-ceng puas, ia tertawa. Tan Ciu berkata. "Selamat jalan."

"Selamat jalan." Dan Cang Ceng Ceng melepaskan diri. meninggalkan Tan Ciu, meninggalkan Guha Kematian.

Tan Ciu menunggu sampai bayangan gadis itu lenyap dari pandangan matanya baru ia balik kembali, masuk kearah Guha Kematian.

Kita mengikuti perjalanan Cang Ceng Ceng yang lebih jauh dari Guha Kematian.

Manakala gadis baju putih itu hendak memasuki sebuah rimba, terdengar satu bentakan keras, berkata.

"Hentikan langkah dengan segera!"

Beberapa bayangan menghadang jalan, mereka adalah orang-orang berbaju kuning, anggota Kim ie-kauw.

Satu diantaranya adalah orang yang pernah menangkap Tan Ciu orang yang bernama Tan Tongcu, dia juga anggota perkumpulan Kim-ie kauw. Seorang lainnya adalah wanita yang  pernah masuk kedalam Guha Kematian, Hu-hoat dari Kim ie-kauw yang bernama Kim Sam Nio.

Menunjuk kearah Cang Ceng Ceng. Tan Tongcu memberi keterangan. "Gadis inilah yang kita maksudkan."

Kim Sam Nio menganggukan kepala. Ia mengerti, apa yang harus dilakukan olehnya.

Cang Ceng ceng membentak. "Apa maksud kalian menghadang jalan pergi orang."

Kim Sam Nio maju mendekatinya. Ia berkata mesem- mesem. "Nona, bolehkah saya mengetahui nama sebutanmu ?"

"Aku Cang Ceng-ceng." "Kawan Tan Ciu ?" "Betul."

"Nah segeralah ikut kepada kami. Kemarkas besar Kim

ie-kauw."

"Mengapa?" Cang Ceng-ceng mengerutkan alisnya. "Kami hendak merundingkan sesuatu denganmu.

Berkata Kim Sam Nio.

"Katakanlah saja ditempat ini," Berkata Cang Ceng-ceng. "Ada lebih baik membicarakan hal itu dimarkas kami

saja."

Cang Ceng-ceng tidak setuju, mengemukakan alasan, "Aku hendak melakukan perjalanan pulang, tidak dapat  ikut kalian,"

Kim Sam Nio berkata dingin. "Kami tak akan mengganggu terlalu lama." "Aku menolak." "Mana boleh."

"Mengapa tidak boleh?"

"Kami dapat memaksamu, tahu!"

"Eh, kalian tidak tahu aturan?" Cang Ceng Ceng memandang orang-orang berbaju kuning.

"Aturan hanya berada dalam tangan orang yang berkuasa." Berkata Kim Sam Nio.

"Bagus! Tentunya kalian menganggap diri kalian sajalah yang berkuasa, bukan ?"

"Kami tak dapat menangkap Tan Ciu. kami harus menawan orang yang mempunyai hubungan dekat dengannya. itulah kau! Setelah kau berada didalam Kim-ie kaiuW. mau tak mau. Tan Ciu harus mengantarkan diri."

Tentu saja Kim Sam Nio belum tahu betapa lihaynya ilmu kepandaian Cang Ceng-ceng. Ilmu kepandaian  gadis ini berada diatas Tan Ciu mana mungkin dapat menangkap dengan mudah.

Cang Ceng-ceng telah siap sedia, ia memasang persiapan tempur.

"Ingin metggunakan kekerasan ?" Ia menantang.

Kim San Nio mengirim satu kerlingan mata, itulah tanda kepada kedua orang berbaju kuning maksudnya memberi peringatan kepada mereka menangkap musuh itu.

Dua orang berbaju kuning lompat kedepan. menjepit kedudukan Cang Ceng-ceng. Mereka telah berada dikanan dan kiri gadis tersebut. Satu menarik keluar pedang, dan lainnya bersenjata golok, berbareng mengadakan ancaman. Wajah Cang Ceng-ceng berubah, terlihat selapis hawa pembunuhan,

Tiba-tiba, terdengar suara bentakan gadis itu, Cang Ceng-ceng menghardik kedua lawannya.

Disaat yang sama, orang berbaju kuning yang memegang golok menyerang kaki. orang yang memegang pedang menabas senjatanya, mengancam perut gadis itu.

Gerakan mereka sama cepatnya.

Begitu bergerak, segera terdengar suara jeritan dua orang. itulah kedua orang berbaju kuning, tubuh mereka terpental. golok dan pedang terbang jatuh ketanah. lepas dari tangan pemiliknya. ternyata kedua orang berbaju  kuning telah menjadi korban keganasan Cang Ceng-ceng mereka telah mati disaat itu juga.

Kim Sam Nio terlompat. Ia kaget sekali.

Wajah Tan Tongcu berubah, ilmu kepandaian musuh sangat luar biasa, bagaimana mereka dapat menangkapnya?

Cang Ceng-ceng membentak mereka, "Berani kalian menantang, inilah contoh kalian!"

Ia menudingkan jari kearah dua orang berbaju kuning yang sudah tiada napas.

Kim Sam Nio berhasil menenangkan getaran jiwanya dengan dingin ia berkata, "Ilmu kepandaianmu sungguh tinggi. Itulah berada diluar perkiraan kita orang?"

"Bagus! Kau tahu bahaya? Lekas enyah dari tempat ini." "Ha, ha, ha " Kim Sam Nio tertawa.

"Apa yacg kau tertawakan?" Cang Ceng-ceng membentak. "Mentertawakan dirimu. Kau terlalu muda, tidak tahu besarnya dunia. Kau pandai, masih ada orang yang lebih lihai darimu dan masih ada orang yang lebih gagah darimu. Ilmu silat tidak terbatas pada ukuran-ukuran tertentu. Ilmumu tinggi, tapi kami tak takut."

"Maksudmu?" Cang Ceng-ceng belum mengerti. "Mengajak kau kemarkas perkumpulan Kim ie-kauw." "Jawabku singkat. Tidak mau."

"Kami dapat memaksamu."

"Bagus. Paksalah. Akan kulihat, bagaimana kalian mengalahkan diriku?"

Kim Sam Nio memandang kawannya, ia memanggil, "Tan Tongcu."

Dan dia menganggukkan kepala, inilah suatu tanda untuk bekerja sama.

Mata Kim Sam Nio melirik, tangannya tidaK tinggal diam, secepat itu, iapun memukul Cang Ceng-ceng.

Tan Tongcu mendapat isyarat mata, ia bersenjata tongkat, begitu tongkat diayun, ia turut menggencet Cang Ceng-ceng.

Kecepatan dua orang yang kita sebut diatas sangat cepat sekali Orang yang diserang pun tidak kalah gesit. Cang Ceng Ceng dapat menandingi Han Thian Chiu. bukan jago biasa, begitu dua serangan datang ia sudah menangkis ke kanan dan kiri.

Kim Sam Nio mengirim serangan yang kedua. Demikian pula keadaan Tan Tongcu, setelah mengalami kegagalan ia tak tinggal diam. Cepat sekali ketiga orang itu saling gempur,

Ilmu kepandaian Tan Tongcu luar biasa. dan Kim Sam Nio berada diatas laki-laki berbaju kuning juga mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Mereka adalah jago-jago utama dari perkumpulan baju kuning Kim ie-kauw.  Maksudnya dengan bekerja sama, mudah menangkap Cang Ceng Ceng.

Kini mereka membentur kenyataan si gadis pun bukanlah lawan empuk, kekuatannya berada diatas dua orang. Walaupun dua lawan satu, mereka tak berhasil menarik keuntungan.'

Sepuluh jurus telah dilewatkan. Mereka masih mengukur ilmu silat masing-masing.

Kim Sam Nio melesat tinggi, dari atas menukik kebawah. bagaikan seekor burung alap-alap yang hendak menerkam mangsanya, ia mengincar Cang Ceng-ceng.

Cang Ceng ceng menarik napas, 'sret', ia mengeluarkan pedang, dua lawannya tangguh, ia harus cepat-cepat mengalahkan mereka. Dengan pedang itu ia hendaK memapas putus jari-jari Kim-Sam Nio,

Tongkat Tan Tongcu menyempong kesamping, kemudian menyerempet kaki gadis. Cang Ceng ceng menyerang dan diserang.

Kim Sam nio mengempos tenaga, tubuhnya membumbung naik keatas, menghindari tabasan pedang musuh.

Tongkat Tan tongcu datang, maka Cang Ceng Ceng menarik pedang yang mengincar Kim Sam nio, si gadis harus menghindari diri dari serangan tongkat itu.

Tubuh Kim Sam Nio melayang turun lagi, dari dalam saku wanita berbaju kuning itu ia mengeluarkan sapu tangan, cepat2 ditaburkan kearah Cang Ceng Cang. Kabut putih berhamburan disekitar kepala gadis berbaju putih itu. Itulah obat bius. Cang Ceng Ceng hendak mengejar Tan Tongcu, ia gagal, lalu hendak menusuk Kim Sam Nio disaat itulah kepalanya dirasatan berat, matanya tertutup tanpa sadarkan diri  lagi. ia jatuh menggeletak,

Kim Sam Nio dan Tan Tongcu saling pandang wajah mereka tersungging senyuman. Kesudahan itu sudah berada didalam dugaan dengan menaburkan obat bius, mereka berhasil meringkus lawan tersebut.

Beberapa saat......

Hawa obat bius telah mereda. tubub Cang Ceng Ceng menggeletak ditanah.

Kim Sam Nio tertawa dingin, ia berkata. "Bawa kemarkas kita."

Itulah perintah yang ditujukan kepada Tan Tongcu.

Tan Tongcu mendekati tubuh Cang Ceng-ceng, menyeretnya, digendong dan siap berangkat pulang.

Tiba-tiba ....

Terdengar satu suara bentakan, "Jangan bergerak."

Seorang wanita tua telah menampilkan diri berdiri dan menghadang jalan pergi Tan Tongcu dan Kim Sam Nio.

Siapakah wanita itu ?

Dia adalah sipenghuni rumah kayu, Thio Ai Kie, adik dari penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie.

Thio Ai Kie menyodorkan tangan. "Serahkan gadis itu kepadaku." Ia memberi perintah, Meminta Cang Ceng- ceng.

Kim Sam Nio maju dua tapak. "Dia putrimu?" Ia bertanya.'

"Dia adalah kawan wanita tuan penolongku." Berkata Thio Ai Kie.

"Hendak menolong ?" "Tentu."

"Dia telah menjadi orang tawanan kita. Semua orang dilarang ikut campur tangan."

"Siapa kalian?" "Anggota Kim-ie-kauw."

"Huh. semua orang boleh takut kepadamu kalian."

"Thio Ai Kie berjalan maju mendekati Tan Tongcu. maksudnya ingin merebut Cang Ceng Ceng dari tangan laki-laki berbaju kuning itu.

Tan Tongcu mundur kebelakang. Kim Sam Nio maju menghadang kemajuan Thio Ai Kie. "Berhenti!" Kim Sam Nio membentak keras.

"Aku harus menolong dirinya." Thio Ai Kie berkata tegas.

Tan Tongcu meletakan telapak tangannya diatas kepala Cang Ceng-ceng, tepat dibagian ubun-ubun.

"Berani kau maju setapak lagi, dia segera kubunuh mati." Demikian laki-laki berbaju kuning itu mengancam.

Thio Ai Kie menghentikan langkahnya.

Kim Sam Nio mendapat angin. Ternyata jiwa gadis berbaju putih yang bernama Cang Ceng-ceng itu begitu penting, dengan menggunakan badannya sebagai tameng, mungkinkah mereka tidak dapat membawa pulang kedalam markas Kim ie kauw. Dengan tertawa dingin. wanita berbaju kuning ini berkata. "Tentunya, kau inilah yang menjadi penghuni guha kematian?"

Kim Sam Nio tidak tahu. bahwa dia sedang berhadapan dengan adik dari Penghuni Guha Kematian. Karena munculnya Thio Ai Kie dari sekitar daerah itu. dan mengatakan Cang Ceng-ceng sebagai kawan Tan Ciu. Ia menduga Thio Bie Kie.

Thio Ai Kie berdehem. Katanya. "Boleh  dikatakan demikian."

Dia pun akan menetap di guha Kematian, karena itu dia tidak menyangkal dugaan Kim Sam Nio.

"Huh, kau tidak tahu diuntung, kauwcu kami mengundang, dengan jabatan wakil kauwcu kau tidak mau menerima? Apa maksud tujuanmu? Hendak menjadi jago tanpa nama, tidak mau bersahabat dengan tetangga?"

Kim Sam Nio mengoceh, maksudnya agar orang yang disangka sebagai Penghuni Guha Kematian itu mau menggabungkan diri dengan perkumpulan Kim ie-kauw,

"Mengapa harus menerima tawaran kauwcu kalian?" Thio Ai Kie memandang dua orang berbaju kuning itu.

"Betapa hebat kekuasaan Kim ie-kauw. dengan menggabungkan diri, bukankah berarti menambah tenaga Guha Kematian?"

"Cis. aku tidak membutuhkan tambahan tenaga." "Baiklah. Kata-katamu akan kami sampaikan kepada

kauwcu kami."

Kim Sam-nio dan Tan Tongcu meninggalkan Thio Ai Kie. Tentu saja Cang Ceng-ceng dibawa serta, dipaksa turut serta kedalam markas perkumpulan Kim ie kauw. menjadi orang tawanan mereka.

Thio Ai Kie tidak berdaya.

Sebelum meninggalkan Thio Ai Kie. Kim Sam Nio ada meninggalkan pesan. demikian kata-kata yang diucapkan.

"Tolong beri tahu kepada Tan Ciu, bila ia menghendaki kawan wanitanya, dipersilahkan mengadakan kunjungan kemarkas besar Kim-ie kauw."

Dua tubuh itu bergerak, dan kemudian lenyap.

OodwoO            Didalam Guha Kematian . . .

Tan Ciu tidak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa Cang Ceng ceng. si pemuda sedang menekunkan diri, mempelajari ilmu.

Ilmu silat Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie,

Thio Ai Kie telah pindah kedalam Guha Kematian, diceritakan pengalamannya kepada sang kakak. Thio Bie Kie terkejut, mereka mengadakan perembukan. Bila memberi tahu hal itu kepada Tan Ciu, tentu mengganggu pelajarannya. Mereka mengambil putusan untuk menutup berita itu.

Putusan terakhir diputuskan mengirim si Ular Golis Siauw Tin pergi kemarkas besar perkumpulan Kim ie-kauw, mengadakan penyelidikan, bagaimana keadaan Cang Ceng- ceng, dan mewajibkan gadis itu memberi laporan.

Siauw Tin berangkat, meninggalkan Guha Kematian.

Hari demi hari waktu dilewatkan. Tan Ciu berhasil mempelajari apa yang diajarkan kepada dirinya. Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie mengadakan kesepakatan, mereka mencurahkan sebagian tenaga dalam mereka, disalurkan kedalam tubuh Tan Ciu, karena itu. si pemuda memiliki tenaga gabungan, kekuatannya naik dua kali lipat.

Tan Ciu mendapat semua pelajaran dari apa yang  dimiliki oleh kedua jago wanita itu, termasuk ilmu Ie-hun tay-hoat dan cara-cara penggunaannya!

Thio Ai Kie tidak mau kalah. Mengetahui sang kakak menurunkan ilmu Ie-hun-tay-hoat. diapun  menurunkan ilmu kepandaiannya yang bernama Hong-lui Kiu-sek, Hong-lui Kiu sek berarti Sembilan Jurus Angin dan Geledek yang Bergelegar.

Sepuluh hari kemudian. Tan Ciu mengucapkan terima kasihnya kepada kakak beradik Thio Bie Kie dan Thio Ai Kie,

Thio Ai Kie berkata. "Gunakaniah ilmu kepandaianmu ditempat yang benar."

Tan Ciu memberikan janjinya.

Thio Bie Kie berkata lagi. "Kami telah tua. tidak membutuhkan ketenaran nama. Kau tidak dipaksa menetap didalam Guha kematian. Pergilah mengembara mencari pengalaman."

Tan Ciu berterima kasih kepada dua orang itu, memasuki Guha Kematian. ia mendapatkan ilmu ilmu kepandaian hebat, mendapat tambahan tenaga dalam.

Kecuali itu, jasa Tan Ciu yang paling besar adalah dihapuskan peraturan untuk menyintingkan orang-orang yang memasuki Goha Kematian. Thio Bie Kie sadar dari kesalahan itu, semua orang telah disembuhkan, ia telah bertemu dengan adiknya, mereka berdua bersama. Tanpa membutuhkan keramaian-keramaian dan kerepotan lainnya.

Ditempat itu. Tan Ciu tidak menemukan Siauw Tin, segera ia mengajukan pertanyaan.

Thio Bie Kie memberikan jawaban, "Selama kau melatih ilmu silat, agar tidak mengganggu ketenanganmu, agar kau dapat mencurahkan semua pusat perhatian, sengaja kami menyimpan berita ini."

"Apakah yang telah terjadi?" Bertanya Tan Ciu dengan hati berdebaran.

"Tentunya, kau tidak lupa kepada Cang Ceng-ceng ?" "Mengapa?" Tan Ciu sangat terkejut.

Dia kembali lagi? Mungkinkah terjadi sesuatu di antara

....

Tan Ciu tidak jadi drama kejadian, menduga telah terjadi

tolak senjata diantara kedua gadis itu. "Tenangkanlah hatimu." Berkata Thio Ai Kie.

"Bagaimana dengan Cang Geng-ceng dan Siauw Tin."

Siauw Tin tidak mengapa. Tapi. Cang Ceng-ceng telah menjadi orang tawanan perkumpulan Kim ie-kauw.

"Aaaa. .. , lagi-lagi orang-orang berbaju kuning itu." "Betul Mereka telah menahan Cang Ceng-ceng.

kemudian membawanya kemarkas perkumpulan tersebut."

"Aaa.." Tan Ciu mengerti. "Dan bagaimana dengan Siauw Tin?"

"Dia telah ditugaskan untuk menyelidiki keadaan perkumpulan Kim ie-kauw." Thio Bie Kie memberi keterangan. "Baik." Berkata Tan Ciu. "Segera kupergi ketempat itu."

"Berhati-hatilah kepada mereka." Berkata Thio Ai Kie.

Tan Ciu menganggukkan kepala, tanda ia akan memperhatikan pesan itu, kemudian meminta diri.

"Tunggu dulu." Berteriak Thio Bie Kie.

Tan Ciu menghentikan langkahnya, menoleh dan memandang si Penghuni Guha Kematian.

"Cianpwe masih ada pesanan lain?" Ia bertanya. "Tahukah kau dimana letak markas besar perkumpulan

Kim-ie kauw?"

Tan Ciu tertegun!

“Aaaa . . . Dimanakah letak markas besar perkumpulan Kim-ie kauw ?"

"Dilembah Ngo-liong, dari gunung Ngo-liong-san."

Tan Ciu telah meninggalkan Guha Kematian menuju kearah gunung Ngo liong-san.

Ngo-liong-san adalah nama dari suatu daerah pegunungan. terdiri dari beberapa puncak, gunung saling susun, seperti tumpukan tanah tinggi.

Tan Ciu telah menjelajahi keadaan di  daerah pegunungan itu. Ia  sedang mencari-cari dimana letak tempat lembah Ngo-liong!

Tiba-tiba ....

Sesuatu bayangan melesat, menghadang kepergian si pemuda. Tan Ciu mundur beberapa tapak, siap menghadapi musuh!

Berdiri dihadapan pemuda adalah seorang tua. "Aaaa !" Tan Ciu berteriak kaget.

Itulah si Telapak Dingin Han Thian  Chiu, Ia  belum mengubah wajah, masih menggunakan kedok Tan Kiam Lam.

"Kau? . ." Tan Ciu mundur satu langkah lagi. "Betul! Aku " Berkata orang itu.

Tan Ciu sangat marah.....bur..... tangannya bergerak, memukul orang itu, Gerakan si pemuda sangat cepat, karena tidak ada prasangka sama sekali, hampir-hampir mengenai sasarannya.

OoodwooO