Pohon Keramat Jilid 09

Jilid 09

WAJAH Tok Gan Liong berubah. Tentu saja ia terkejut atas hasil yang dicapai tadi, Tan Ciu memang hebat.

Tan Ciu juga terkejut. Hanya seorang bawahan Benteng Penggantungan mempunyai ilmu kepandaian yang merendengi dirinya, bagaimanakah ilmu kepandaian Ketua Benteng Penggantungan itu?

"Tenaga dalamnya yang hebat." Inilah suara Tok Gan Liong memberikan pujiannya.

"Kau juga lumayan." Tan Ciu memberi timpalan. "Terima lagi seranganku ini." Berkata Tok Gan-liong.

Dan betul-betul ia mengirim serangan yang berikutnya.

Tan Ciu telah mempunyai rencana masak-masak dengan tenaga lawan yang kuat, dengan senjata yang dikhususkan untuk menghadapi senjata pedang ia tidak boleh melawan dengan kekerasan pula, daya lunak cukup ulet untuk mengalahkan lawan ini.

Tubuh Tan Ciu menyingkir dari serangan, dan dari lain arah memberi serangan balasan, Tiga kali Tok Gan Liong menyerang pemuda itu. Tiga kali juga Tan Ciu menyingkir dari serangan-serangan balasan lawan.

Pertempuran terjadi cukup seru.

SATU waktu, Tan Ciu melihat kekosongan lawan, tenaganya dikerahkan penuh, dengan menggunakan ilmu golok yang keras membacok kearah Tok Gan Liong,

Itulah suatu tipu yang tidak mudah dilaksanakan. Menggunakan pedang dan memainkan tipu muslihat golok, bila tidak mempunyai kepandaian yang sempurna. Tidak mungkin ada orang yang berani menggunakannya.

Tok Gan Liong memapakinya. Traanggggg-! Lagi-lagi mereka terpisah. Tan Ciu mengeluarkan suara bentakannya. "Lekas beri tahu ketuamu."

Tok Gan Liong tidak memberikan jawaban. Sebagai

reaksi dari permintaan Tan Ciu tadi, ia menyerang semakin gencar.

Lagi-lagi mereka berrempur hebat,

Kita tinggalkan dahulu dua orang ini dan mengikuti kegaduhan yang terjadi didalam Benteng Penggantungan.

Seorang pengawal baju hitam lari terbirit-birit, tujuannya pintu benteng.

Dari dalam terdengar satu bentakkan. "Siapa!?" "Hamba." Berkata orang itu segera memberi hormat. "Ada laporan?" Inilah suara seorang wanita. Disana duduk tiga orang. seorang wanita yang berparas cantik, seorang laki-laki tua dengan wajah dingin dan seorang pemuda yang berwajah putih.

"Mengapa kau seperti dikejar setan?" Bentak wanita itu. "Tan ...Tan Ciu telah datang."

"Aaaaa Tan Ciu tiba ?"

"Betul."

Tiga orang yang menerima laporan bangkit dari tempat duduk mereka wajahnya berubah pucat.

"Dimana dia berada?" "Dipintu bagian pertama." "Dimana Tok Gan Liong ?"

"Masih berusaha mengusirnya."

"Kulihat Tok Gan Liong bukan tandingan bocah itu." Berkata laki-laki tua yang berwajah dingin.

"Betul." Sambung wanita cantik. "Mari kita tengok mereka."

"Serahkanlah kepadaku." Berkata si pemuda putih. "Kau harus berhati-hati."

"Jangan khawatir."

Tiga orang meninggalkan ruangan itu. Penjaga pintu segera turut dibelakang mereka.

Tiba-tiba wanita cantik memandang orang yang memberi laporan tadi dan bertanya. "Berapa banyakkah orang yang menyertai Tan Ciu itu?"

"Seorang gadis cantik." "Hanya seorang ?" "Betul."

Wanita itu menjadi girang, memandang kawan2nya

berkata,

"Ternyata mereka hanya dua orang." "Keroyok saja beres," Berkata pemuda putih. "Tapi. ia mencari pocu." Wanita cantik setuju. "Tapi beliau akan marah besar."

"Jangan beritahu kejadian ini kepadanya!" Tiba tiba . . .

Terdengar satu suara yang sangat dingin menggereng. "Hmm "

Tiga orang itu terkejut. mereka berbalik dan serentak menjatuhkan diri, berlutut dihadapan seorang yang baru datang.

"Pocu..." Serentak mereka menyebut nama itu perlahan!

Pocu berarti ketua benteng.

"Berani kalian menyimpang dari jalan yang telah kutetapkan."

"Kami bersalah." Mereka bertiga tidak berani bangun  dari tempatnya.

"Mengapa mempunyai rencana seperti itu?" "Menggunakan tenaga Tan Ciu belum tentu akan

membawa hasil." Berkata wanita cantik

Ternyata wanita ini mempunyai kedudukan yang agak tinggi. "Aku tahu bagaimana harus menggunakan Tan Ciu." "Tapi "

"Aku dapat menggunakan ilmu Ie bun Tay-hoat."

"Ng "

"Pek-hiangcu." Panggil ketua Benteng Penggantungan itu.

"Siap." Pemuda putih membawakan sikapnya yang sergap.

"Kau boleh memancing Tan Ciu datang." "Baik."

Tubuh sipemuda putih, Pek-hiangcu itu melesat, siap menjalankan perintah untuk memancing Tan Ciu datang

"Tunggu dulu." Suara ketua Benteng penggantungan berkumandang lagi.

Pek hiangcu menahan larinya sang kaki. ia menunggu perintah berikutnya.

"Ingat." Berkata Ketua Benteng Penggantungan, ”Hanya Tan Ciu seorang, tapi jangan biarkan gadis yang menyertai pemuda itu turut masuk, tahu?"

"Siap!"

"Jalankanlah perintah segera."

"Baik!" Tubuh Pek-hiancu segera melesat keluar.

Ketua Benteng Penggantungan membiarkan pemuda putih itu pergi dan memandang wanita cantik!

"Hu po-cu." Ia memanggil. "Siap!" Ternyata wanita cantik adalah wakil ketua Benteng Penggantungan.

"Bila perlu kau boleh membantu Pek-hiancu."

"Baik." Tubuhnya melesat, menyusul pemuda baju putih. Mereka harus menghadapi Tan Ciu dengan jumlah banyak orang.

Menyusul perjalanan Pek hiangcu dari Benteng penggantungan, kini ia telah tiba diluar.

Dilihatnya Tan Ciu telah membunuh dua orang baju hitam lainnya.Tok Gan Liong telah terluka, demikian pun masih memberikan perlawanan, empat orang baju hitam mengeroyok pemuda itu.

Terdengar lagi suara jeritan, pedang Tan Ciu melukai dua baju hitam lagi.

Pek hiangcu lompat masuk kedalam gelanggang pertempuran dan membentak. "Hentikan pertempuran ini."

Pemuda putih bernama Pek Hong, dia adalah salah seorang hiancu Benteng Penggantung yang mempunyai ilmu pedang bagus, maka dipercaya oleh sang ketua untuk menghadapi Tan Ciu.

Tok Gan Liong mengajak orang-orangnya mengundurkan diri, dan membiarkan Pek Hong menghadapi lawan kelas berat itu.

Tan Ciu memandang pemuda putih itu.

Pek Hong memberi hormat dan berkata, "Atas penyambutan Benteng Penggantungan yang kurang hormat, harap saudara tidak menaruh didalam hati."

Tan Ciu mengerutkan keningnya. Untuk menaruh kepercayaan kepada orang ia menyimpan pedangnya. "Maksudku ingin berjumpa dengan ketua Benteng Penggantungan." Ia mengutarakan maksud kunjungan.

"Saudara yang bernama Tan Ciu?" Bertanya Pek Hong, "Betul."

"Apakah maksud saudara untuk menemui ketua Benteng kami?"

"Tentunya ia berada didalam benteng bukan?"

"Betul. Dan saudari itu juga ingin menemuinya," Pek Hong menunjuk Cang Ceng Ceng.

"Betul."

"Bagaimanakah sebutan nona tersebut?"

"Aku bernama Cang Ceng Ceng." Cang Ceng Ceng memperkenalkan diri .

"Tapi pocu kami tidak ada waktu menemui nona." Berkata Pek Hong.

"Maksudmu."

"Pocu hanya bersedia menemui   saudara Tan Ciu seorang."

Kemudian memandang Tan Ciu dan berkata. "Mari kau ikut dibelakangku."

Tan Ciu menandang Cang Ceng Ceng dan berkata. "Tunggulah disini sebentar."

"Tidak." Cang Ceng Ceng tidak sependapat. "Mungkin mereka ingin mencelakakanmu. biar aku ikut serta."

Pek Hong membalikkan kepala, dengan tidak sabar berkata.

"Hei mengapa tidak mau ikut?" "Nona Cang ingin turut serta." "Tidak mungkin."

Tan Ciu mengambil putusan cepat, ia kata kepada Cang

Ceng Ceng.

"Tiga jam kemudian, bila aku tidak keluar kembali. Berarti telah terjadi sesuatu apa. Itu waktu, kau boleh menerjang masuk."

"Baik." Cang Ceng Ceng dipaksa menerima usul ini.

Tan Ciu mengikuti Pek Hong. Mereka masuk kedalam benteng Penggantungan.

Tentu saja si pemuda tidak tahu bahwa langkah kakinya sedang menuju kearah tangan elmaut yang akan merenggut jiwanya.

Mungkin Tan Kiam Lam yang menduduki kursi ketua Berteng Penggantungan?

Dan bukankah kejadian yang sangat mustahil Tan Kiam Lam itu menjadi ayah kandung Tan Ciu?

Dimisalkan betul! Adakah kejadian yang sekejam itu?

Seorang ayah yang ingin mencelakakan putra sendiri?

Semua itu masih berada didalam kabut teka-teki.

Berjalan beberapa saat, dari depan mereka mendatangi seorang wanita cantik, itulah wakil ketua Benteng Penggantungan. Dibelakang wanita cantik itu terlihat juga laki-laki tua dingin. Mereka memapaki kedatangan Pek Hong dan Tan Ciu, memberi hormat kepada sang tamu dan berkata.

"Kami menyambut kedatanganmu."

Menyaksikan kedatangan wanita cantik itu. mata Tan Ciu terbelalak, "Kau. . ."

"Aku adalah wakil ketua Benteng Penggantungan." Berkata wanita cantik itu, "Atas nama semua isi benteng, aku mengucapkan selamat datang padamu."

"Wakil ketua Benteng Penggantungan?" "Betul,"

”Bolehkah mengetahui nama harum Hu pocu?" "Kukira tidak perlu." Berkata wanita cantik itu. "Mengapa?"

"Karena maksud tujuanmu bukan kepadaku, bukan?"

"Betul. Aku ingin menemui ketua kalian."

"Kau segera dapat menemui dirinya." Berkata wakil ketua Benteng penggantungan yang cantik itu.

"Dimanakah ia berada?" "Sabarlah."

"Kecuali ingin bertemu dengan ketua Benteng kalian,

aku ingin menemui tiga orang lainnya." Demikian Tan Ciu berkata.

"Siapakah nama dari ketiga orang tadi?" "Kau tidak tahu."

"Hm! kukira dapat kuduga." Berkata sang wakil ketua Benteng Penggantungan itu.

"Mengapa?" Tan Ciu bingung. "Kukira, satu diantaranya adalah aku?" "Kau?" "Betul. Aku adalah wakil  ketua Benteng penggantungan."

"Kau Co Yong Yen?" Tan Ciu menatap tajam-tajam wajah wanita yang sangai cantik itu.

Orang yang ditanya menganggukkan kepala. Wajah Tan Ciu berubah.

"Diluar dugaan, bukan?" Wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen tersenyum.

"Betul." Tan Ciu menganggukkan kepala. "Sungguh diluar dugaan. Kau adalah istri si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip."

"Itulah kejadian yang sudah silam."

"Hm   .   .   ." Tan   Ciu mengeluarkan suara dingin. "Dimanakah kini suamimu itu?"

"Apa maksudmu mencarinya?" Co Yong Yen mengajukan pertanyaan.

"Pertanyaan yang aneh seharusnya kau tahu, mengapa aku ingin menjumpai suamimu itu." Berkata Tan Ciu.

"Sudah kukatakan, kejadian diantara kami telah berlangsung lama, kini sudah tiada hubungan dengannya!"

"Dapatkah kau memberi tahu, dimana kini ia berada."

Co Yong Yen berpikir lama, untuk memberikan jawaban itu.

"Kuanjurkan bertemulah dahulu dengan pocu kami." Akhirnya ia mengalihkan bahan pembicaraan. "Kau tidak keberatan, bukan!"

"Boleh juga." Tan Ciu menganggukkan kepala. "Silahkan masuk." "Terima kasih." Tan Ciu mengayun langkahnya lebar- lebar, ia masuk kedalam Benteng Penggantungan tanpa gentar.

Wanita cantik yang menjadi wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen, orang yang pernah menjadi isteri Thung Lip membuka jalan.

Sebagai pengawal, turut serta laki2 dingin dan pemuda Pek Hong.

Tan Ciu diapit oleh kedua orang itu.

Pintu gerbang Benteng Penggantungan bergeser per- lahan2, kemudian tertutup.

Bercerita Tan Ciu masuk kedalam Benteng Penggantungan iring-iringan dibelakang si pemuda ialah wakil ketua Benteng penggantungan Co Yong Yen, Hiangcu bermuka putih Pek Hong dan si kakek Cie Yan.

Mereka mengajak Tan Ciu masuk kedalam ruangan tamu.

Memeriksa ruangan itu, wajah Tan Ciu mengalami bermacam-macam perubahan. sebentar lagi, ia akan berjumpa dengan ayahnya. orang yang bernama Tan Kiam Lam itu, Lama sekali Tan Ciu menunggu diruangan tamu itu, Masih belum juga ada tanda-tanda bahwa Tan Kiam Lam keluar untuk menemuinya.

Memandang semua orang, Tan Ciu mengajukan pertanyaan.

"Dimana pocu Benteng Penggantungan?" "Ketua kami, yang kau maksudkan?" "Siapa lagi?"

"Kau harus bersabar." "Lekas panggil dia keluar." "Dia akan menemui."

"Aku tidak ingin menunggu terlalu lama."

"Tidak lama."

"segera suruh dia keluar menemuiku."

Wakil ketua Benteng Penggantungan Co yong Yen membuka mulut niatannya mengucapkan sesuatu. Tetapi disaat inilah terdengar sang ketua, datangnya dari dalam.

"Segera kau dapat bertemu denganku. Jauh-jauh kau telah berkunjung datang. tentu saja tidak dapat mengecewakanmu."

Itulah suara pocu atau ketua Benteng Penggantungan.

Tan Ciu memeriksa keliling dinding, tidak tahu dimana manusia itu berada.

"Mengapa kau tidak segera keluar." Ia membentak.

Tidak ada jawaban.

"Apa artinva permainan yang seperti ini?" Tan Ciu buka suara lagi.

"Kau tidak puas dengan cara penyambutanku?" Itulah suara si Benteng penggantungan.

"Aku paling benci dengan orang yang hanya berani main dibelakang layar."

"Hm... Hm... Sebelumnya, aku ingin mengucapkan sesuatu."

"Katakan lekas."

"Sebelum menemuiku kau harus melakukan sesuatu." "Apa yang barus kulakukan?" Bertanya Tan Ciu. "Kau mempunyai pegangan yang kuat bahwa kau dapat mengalahkan setiap orang-orangku yang berada ditempat ini."

"Maksudmu agar aku menerjang dengan kekerasan." "Memang. haruslah disertai dengan setengah kekerasan," "Apa arti dari setengah kekerasan itu?"

"Bila ilmu pedangmu dapat mengalahkan Pek Hong, aku segera keluar menemuimu”

Tan ciu memandnng pemuda putih Pek Hong. ”Upacara penyambutan aneh”. Ia berkata.

"Betul." Berkata ketua Benteng Penggantungan. "Cara penyambutanku memang tidak dapat disamakan dengan orang biasa."

"Harus kau ketahui babwa dia bukan tandinganku." Berkata Tan Ciu.

Pemuda putih Pek Hong naik darah, ia maju kedepan dan berkata.

"Siapa yang mengatakan kau pasti menang?"

Tan Ciu menghadapi pemuda putih itu, sikapnya dingin dan memandang rendah. Pek Hong mengeluarkan senjata. Tan Ciu juga mengeluarkan pedangnya, ia harus mengalahkan dulu pemuda ini. baru dapat bertemu ketua Benteng Penggantungan.

Tidak terdengar lagi suara Benteng Penggantungan itu.

Pek Hong memasang kuda-kuda, ia membuka mulut. "Tan siauwhiap sudah siap?"

"Silahkan." Berkata Tan Ciu tenang. Didalam Benteng Penggantungan, ilmu pedang Pek Hong belum pernah menemukan tandingan, ia sangat terkenal dengan kecepatannya yang luar biasa, perubahan- perubahannya yang tidak dapat dihitung.

Kini Pek Hong mulai menggoyangkan pedang. ujung senjata itu bergetar, membuat lingkaran, terjadilah seribu bayangan.

Tetapi, ia tidak segera mulaj membuka serangan, Pek Hong menantikan waktu yang paling tepat untuk mengalahkan lawannya.

Tan Ciu membikin penjagaan yang terkuat, maklum bahwa kedudukan pemuda tersebut tak mudah untuk dibobolkan, maka Pek Hong tak mempunyai kesempatan untuk turun tangan.

Dua anak muda itu sama-sama akhli Pedang, hanya melihat gerakan yang pertama, mereka sudan dapat menduga, perlahan-lahan apa yang akan dihadapinya.

Tiba-tiba Pek Hong membentak, ia mulai menyerang dengan satu kali tusukan, ia menyertainya dengan sembilan macam perubahan.

Tan Ciu turut menggerakkan senjata.

Dan sinar pedang berkilat-kilat, sehentar kemudian bergesekan dan terpisah lagi. Didalam satu jurus itu, masing-masing telah menggunakan tiga macam perubaban.

Setelah terjadi pertarungan ini, hati Pek Hong menjadi ciut sekali.

Tan Ciu juga mengalami getaran yang sangat hebat. Tidak disangka, lawan itu mempunyai ilmu pedang yang terberat. Kini mereka sudah mulai berhadapan. Mulai mengirim jurus tipu yang kedua. Ketegangan terlihat sangat jelas.

Terdengar suara ketua Benteng penggantungan memecah ketegangan.

"Cukup!"

Tan Ciu mengkerutkan jidat. Pek Hong juga tidak mengerti. Permainan apa yang ketua itu inginkan dalam pertandingan tadi?

"Pertandingan pedang kalian sudah boleh ditutup." Berkata suara ketua Benteng penggantungan.

"Siapa yang kalah?" Tan Ciu mengajukan pertanyaan. "Kau menang." Berkata suara Benteng Penggantungan.

Menang? Dirinya telah menang?  Sedangkan pertempuran itu baru berjalan satu jurus. Hal ini sungguh membuat Tan Ciu tak mengerti.

"Berdasarkan kesimpulan apa, kau memberi pernyataan yang seperti itu." Berkata Tan Ciu.

Terdengar suara ketua Benteng Penggantungan dari dalam.

"Ilmu pedang mementingkan kecepatan perobahan. tetapi harus disertai pula latihan tenaga dalam yang kuat! Perbedaan tenaga dalam kalian berdua terlalu menyolok mata. Didalam waktu tiga puluh jurus Pek-hiangcu pasti dikalahkan olehmu."

Apa yang ketua Benteng Penggantungan itu kemukakan sangat beralasan, pandangan yang sangat tepat.

Wajah sipemuda putih Pek Hong berubah  menjadi pucat. Terdengar lagi suara ketua Benteng Penggantungan.

"Hu pocu " "Siap," Wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen tampil kemuka.

"Ajak pemuda ini masuk." Ketua Benteng Penggantungan memberi perintah.

Co Yong Yen memberi hormat kepada Tan Ciu dan menyilahkan pemuda itu mengikuti dirinya, mereka menuju keruang dalam.

Melewati lorong-lorong yang panjang, Tan Ciu diajak ketempat ketua Benteng penggantungan.

Tidak dapat disangkal lagi, bahwa orang yang bernama Tan Kiam Lam itu adalah ayahnya sendiri. Apa yang dibicarakan nanti?

Tan Ciu melirik kearah Co Yong Yen, tidak terlihat perubahan wajah wakil ketua Benteng Penggantungan tersebut. .

"Hu Pocu," ia memanggil perlahan, "Bolehkah aku mengajukan sedikit pertanyaan?"

Hu Pocu berarti wakil ketua benteng. "Apa yang ingin kau ketahui?"

"Kau pernah diperistri oleh Thung Lip bukan?" "Betul."

"Dimanakah Thung Lip kini berada?"

"Sudah kukatakan, bertanyalah kepada pocu kita nanti." ”Thung Lip pernah mengadakan rencana Pembunuhan

kepadamu."

"Hal itu sudah menjadi kenyataan." "Alasannya?" "Maaf. Aku tidak dapat memberi tahu kepadamu." Tan Ciu mengerutkan alis.

"Dengan cara bagaimana kau dapat menjabat wakil

ketua Benteng Penggantungan?" Demikian sipemuda bertanya.

"Karena pocu kami baik hati. Dia adalah seorang yang baik,"

"Seorang yang baik?" Untuk pertama kalinya Tan Ciu mendengar ada orang yang memberikan pujian kepada Tan Kiam Lam,

"Betul. Dia adalah seorang yang baik."  "Kau juga seorang baik?" Bertanya Tan Ciu. "Kukira tidak jahat."

"Bagaimana dengan muridmu?" "Muridku?" Co Yong Yen kurang paham.

Sebentar kemudian ia pun sadar, siapa yang pemuda itu

maksudkan.

"Co Yong yang kau artikan?"

"Berapa banyaknya kau menerima murid?"

"Co Yong adalah seorang gadis baik." Berkata Co Yong Yen. "Sayang ia menemukan seorang jahat."

"Siapakah yang kau artikan dengan pemuda jahat itu?" Tan Ciu berkata.

"Kau! Orang yang bernama Tan Ciu."

Tan Ciu memandang wanita itu sekian lama, tiba-tiba ia tertawa. "Kau mengatakan bahwa aku yang menyebabkan kecelakaan?"

"Hal ini adalah suatu kenyataan." "Kenyataan?"

Ia telah menjadi rusak. Itulah akibat pergaulan denganmu.

"Kau memutar balik fakta kenyataan. Ia mati dibawah tangan kejam kalian."

"Tutup mulut!"

Tan Ciu tidak takut, dengan tenang ia berkata. "Tanggung   jawab   kematian   muridmu   berada  diatas

kedua  pundakmu.  Kaulah  yang  harus  bertanggung jawab

atas kematiannya." "Aku?"

"Betul. Mengapa kau tidak berusaha menolongnya? Dengan alasan apa kau menangkapnya dan dibawa pulang kedalam Benteng Penggantungan?"

"Ia wajib menerima hukuman ini." Berkata Co Yong Yen.

"Hm . .." Tan Ciu mengeluarkan suara dengusan.

Co Yong dipersalahkan karena membuka rahasia Benteng Penggantungan. Hal itu atas dasar desakannya. Kini Co Yong telah mati ia harus menuntut ganti rugi atas kematian gadis itu, orang yang bertanggung jawab ialah ketua Benteng Penggantnngan, ia harus memberi hajaran kepadanya.

Mereka telah tiba disebelah pintu rahasia, Co Yong Yen membuka pintu itu dan berkata. "Tan- siauwhiap, aku hanya dapat mengantarmu sampai disini."

"Silahkan." Tan Ciu masuk kedalam ruangan rahasia tadi.

Co Yong Yen membalikan badan dan pergi. Maka pintu rahasia itu tertutup kembali.

Seperti sedia kala tidak ada tanda-tanda bahwa disana ada sebuah pintu rahasia.

Tan Ciu telah berada didalam kamar rahasia itu, betul pintu telah ditutup kembali, Ia tak menjadi takut atau gentar. Langsung bertindak masuk kedalam.

Satu bayangan hitam telah terpeta disana.

Itulah bayangan ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam.

Hati Tan Ciu tergetar. Akhirnya mereka pun berjumpa muka. Dua orang berhadap-hadapan sekian lama, tidak seorang pun yang mulai membuka suara.

Rasa benci, dendam, cinta dan kasihan berkecamuk didalam hati Tan Ciu.

Akhirnya ketua Benteng Penggantungan yang membuka. "Duduklah." Ia menunjuk kearah sebuah bangku yang

telah tersedia.

Tan Ciu tergetar, suara itu halus sekali, bagaikan seorang ayah yang sangat menyintai kepada anaknya! Suatu hal yang lama diharapkan olehnya.

Lupakah bahwa tuan rumah  telah menyilahkan ia duduk.

"Agaknya kau sangat takut kepadaku." Berkata lagi ketua Benteng Penggantungan. Kata-kata ini membangkitkan kemarahan sipemuda, Tan Ciu tidak pernah mempunyai rasa takut, walau kepada siapapun juga. Maka ia tertawa berkakakan, tertawa itu panjang sekali, menggema seluruh isi ruangan rahasia.

Ketua Benteng Penggantungan tertegun. "Apa yang kau tertawakan?" Ia bertanya.

"Aku mentertawakan sikapmu yang terlalu sombong." Berkata Tan Ciu.

"Aku ?"

"Betul. kau kira semua orang takut kepadamu?"

Ketua Benteng Penggantungan berjalan maju mendekati pemuda itu! Jarak mereka semakin dekat. sangat dekat sekali. maka masing-masing dapat melihat jelas. bagaimana wajah orang yang berada didepannya.

Dimana Tan Ciu dan ketua  Benteng penggantungan berhadapan muka.

Memperhatikan wajah ketua Benteng Penggantungan, Tan Ciu membelalakkan mata. Itulah wajah yang mirip dengan Tan Kiam Pek.

Ruangan didalam kamar rahasia itu tidak terlalu terang, itupun tidak berhadap-hadapan langsung, maka Tan Ciu tidak dapat melihat jelas didaun kuping kiri orang ini betul atau tidak ada andang-andang hitam.

Dikatakan oleh Tan Kiam Pek bahwa daun kuping kiri Tan Kiam Lam ada sebuah andang-andang hitam. Maka Tan Ciu memperhatikan ciri-ciri itu.

Ketua Benteng Penggantungan buka suara. "Kau tidak takut kepadaku?"

"Siapa yang mengatakan aku takut?" "Bagus. Ternyata aku mempunyai seorang putra yang berani."

"Kau bernama Tan Kiam Lam?" "Betul."

Hati Tan Ciu hampir mencelos keluar dari tempatnya. Mulutnya terbuka ingin mengutarakan sesuatu, tetapi gagal.

"Duduklah." Sekali lagi ketua Benteng penggantungan menyilahkan ia duduk, Tan Ciu mengeraskan hati berteriak,

"Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?"

"Bila bukan seizinku, kau kira mudah masuk kedalam Benteng Penggantungan?"

"Tahukah maksud tujuanku menemuimu?" "Kukira tahu."

Tan Ciu menggertak gigi.

"Tidak seharusnya kita bersua." Ia berkata,

"Maksudmu, diantara kita berdua, harus ada seorang yang mati?" Ketua Benteng Penggantungan itu bertanya.

"Hari ini segera tiba." Berkata Tan Ciu.

"Kau berani berlaku kurang ajar kepada ayahmu, hal itu sangat tidak patut sekali, ketahuilah seorang anak wajib berkata pada ayahnya."

Tan Ciu diam.

Tan Kiam Lam berkata. "Bagaimana ?" "Kau jahat."

"Ingin membunuh ayahmu?" Tan Kiam Lam menatap tajam wajah anak itu. "Betul." Tan Ciu menganggukkan kepala.

"Kau tidak tahu bahwa aku tidak ada niatan untuk membunuhmu?"

"Aku tidak perlu tahu." "Kau wajib tahu." "Mengapa?"

"Karena kau adalah putraku."

"Aku tidak mempunyai seorang ayah yang sepertimu." "Ilmu kepandaianmu masih belum cukup kuat untuk

menandingiku, tahu?"

"Ingin mengadakan ujian?"

"Ha. ha ... Aku bangga mempunyai seorang putra yang hebat luar biasa."

"Kau tidak patut menjadi ayahku." Berteriak Tan Ciu. "Karena aku telah melakukan banyak kejahatan-

kejahatan? Aku di cap sebagai manusia jahat nomor satu?"

"Betul. aku ingin mendapatkan satu kepastian, betulkah ibuku bernama Melati Putih?"

"Betul." berkata Tan Kiam Lam. "Mengapa kau berlaku kejam kepadanya?" "Berlaku kejam?"

"Kau menyangkal? Apa yang telah kau lakukan kepada ibu telah kuketahui betul,"

"Hal itu dikarenakan salahnya sendiri." "Beri keterangan yang jelas." "Baik." Berkata Tan Kiam Lam. "Sebelum membikin keterangan ini aku ingin mengajukan satu pertanyaan."

"Katakan."

"Bila kau mempunyai seorang istri yang mengadakan hubungan gelap dengan laki-laki lain, juga merencanakan lain kejahatan untuk membunuhmu. apa yang kau perbuat kepada istri yang semacam ini?"

Hati Tan Ciu tergetar.

"Kau mengartikan bahva ibuku mengadakan hubungan gelap dengan laki2 lain?" ia meminta kepastian.

"Betul," Tan Kiam Lam menganggukkan kepala. "Siapakah lelaki itu?" Desak Tan Ciu lagi "Telapak Dingin."

"Apakah keakhlian si Telapak Dingin ini?"

"Seorang akhli make up yang pandai mengubah wajah sendiri. ada juga orang mengatakan sebagai si Wajah Pancaroba. Dan kepandaiannya sangat tinggi. boleh dkata belum pernah menemukan tandingan."

Tan Ciu belum mendapat bukti lain untuk membongkar tuduhan yang dijatuhkan kepada ibunya. Maka ia diam.

"Ibu juga ingin membunuh dirimu?" ia bertanya soal lain. "Betul." Berkata Tan Kiam Lam.

"Aku kurang percaya." Berkata Tan Ciu.

"Kau boleh meminta keterangan Thung Lip orang yang menjadi pembantu ibumu dahulu.”

"Thung Lip tahu akan hal ini?"

Tan kiam Lam menganggukkan kepalanya. Tan Ciu menjadi bingung. Biar bagaimana ia lebih percaya kepada sang ibu, dari harus percaya kepada ayah jahat ini.

"Apa alasanmu tentang membiarkan orang memperkosa?" ia menegur ayah jahat itu.

"Ia bersekongkol dengan Telapak Dingin, ingin membunuhku. Satu kesalahan yang terbesar. langkah- langkahku yang untuk membikin pembalasan kepada kesalahannya."

"Alasan!"

"Terserah kepada penilaianmu."

"Kau kenal dengan putri Angin Tornado Kim Hong Hong?"

"Kenal?"

"Apa yang telah kau lakukan kepadanya."

Tan Ciu menatap si ketua Benteng Penggantungan tajam-tajam.

Tan Kiam Lam mendengus.

"Orang itu bukanlah aku." Ia menyangkal telah memperkosa Kim Hong Hong.

"Siapa?"

"Dia adalah samarannya si Telapak Dingin." "Lagi2 si Telapak Dingin..."

"Lupakah bahwa si Telapak Dingin itu pandai mengubah wajah diri sendiri, dengan mudah ia dapat menjelma menjadi seorang Tan Kiam Lam."

"Untuk sementara, aku harus percaya kepada keteranganmu. Tetapi mengapa membiarkan si Telapak Dingin berbuat sewenang-wenang, mengapa membiarkan manusia jahat itu menggunakan wajahmu melakukan kejahatan-kejahatan."

”Sudah kukatakan, bahwa si Telapak Dingin itu belum pernah menemukan tandingan. Termasuk juga diriku. Aku masih bukan tandingannya."

"Mendengar keterangan-keteranganmu yang seperti tadi, ternyata Kau seorang baik, bukan?"

"Aku boleh menjadi puas, bila kau tidak menganggap diriku sebagai orang jahat."

"Ada sesuatu hal yang hampir kulupakan." Berkata Tan Ciu.

"Soal apakah itu?" Bertanya Tan Kiam Lam, "Katakanlah."

"Tentang seorang gadis yang bernama Co Yong, dimanakah gadis itu?"

"Aku tidak mengerti. Apa yang kau maksudkan." "Dengan alasan apa kau membunuhnya?" Tan Ciu

mengadakan teguran.

"Dia telah melanggar tata tertib peraturan Benteng Penggantungan."

"Orang yang melanggar peraturan Benteng Penggantungan segera dihukum mati?"

Tan Kiam Lam tertawa dingin, dengan adem ia berkata. "Mencari    sesuatu    tidak    boleh    menggunakan  kaca.

Didalam hal ini, kau telah melakukan satu kesalahan besar. Kau terlalu cinta padanya. Maka menganggap diriku berlaku kejam. Tetapi, bila kau melepaskan kaca mata cinta itu,  kau  memahami  kesukaranku.  Bila tidak berlaku tegas, sebagai seorang ketua benteng bagaimana pun aku dapat menguasai ribuan orang."

Lagi lagi alasan yang masuk akal.

Dosa Tan Kiam Lim sudah terlalu banyak, maka alasan- alasan itu belum cukup kuat. kini Tan Ciu mengajukan persoalan lain, ia berkata.

"Lebih dari satu kali, dia mengutus orang-orangmu untuk membunuh aku, bagaimana alasanmu hal ini?"

"Belum ada seorang manusia yang tidak melakukan kesalahan. Termasuk juga diriku. Terus terang kukatakan, didalam hal ini, aku telah melakukan kesalahan. Terlebih penting, aku tidak tahu bahwa kau adalah anakku. Sebagai orang yang berani menentang kekuatan Benteng Penggantungan, aku wajib membasmi."

Hasil dari perdebatan Tan Ciu dan Tan Kiam Lam ialah ketua Benteng Penggantungan itu tidak bersalah sama sekali.

Maka haruskah menetapkan Tan Kiam Lam sebagai seorang baik?

Tan Ciu tidak menjadi puas. Seorang yang melakukan kesalahan, tidak mungkin sehingga sampai terjadi  dosa yang ber-tumpuk2.

Seperti apa yang Tan Kiam Lam lakukan. Apa lagi ia harus mengecek kebenarannya dari keterangan tadi, hal itu banyak kecurigaannya.

"Apa lagi yang ingin kau ajukan?" Berkata Tan Kiam Lam.

"Dimanakah ibu berada? Mati atau hidupkah?" Tan Kiam Lam berkata perlahan. "Suatu ketika. dia telah kuanggap tiada didalam dunia.

Tapi ..."

"Kau mengartikan bahwa ibu masih hidup?" "Betul. Ia masih segar bugar."

"Sungguh?"

"Seratus persen tidak salah." "Dimanakah ia menetap?" "Tidak tahu!"

Tan Ciu berdengus.

"Kau mengatakan ia masih hidup. Tetapi tidak tahu dimana beradanya. Alasan dari manakah keterangan tadi?" Pemuda itu tidak mempunyai kesan baik kepada  orang yang didepannya.

"Kau pernah mendengar pencipta Pohon Penggantungan?"

"Pernah."

"Dia itulah yang menjadi ibumu. Siapa yang tahu, dimana pencipta Pohon Penggantungan menetap?"

"Aaaa. . . " mulut Tan Ciu terngaga besar.

Mengapa tidak? Ia  mempunyai seorang ayah yang menjadi ketua Benteng Penggantungan, kini sang ibu pun menjadi seorang pencipa Pohon Penggantungan. Mungkinkah mempunyai rejeki yang tidak dapat dipisah- pisah dengan PENGGANTUNGAN? Dengan demikian bukanhah ia telah diciptakan menjadi seorang Putra dari DUA PENGGANTUNGAN itu? Pencipta Pohon Penggantungan adalah seorang wanita berkerudung, mungkinkah wanita itu yang bernama Melati Putih?

Tan Ciu agak kurang percaya.

Alasannya cukup kuat. Dimisalkan betul bahwa si pencipta pohon Penggantungan itu si Melati Putih, dengan alasan apa sang ibu membunuh Tan Sang? Mungkinkah seorang ibu mau menggantung putrinya sendiri?

Tan Ciu pernah melihat bagaimana Tan Sang digantung diatas pohon Penggantungan, Maka mempunyai alasan- alasan seperti itu.

Lain bayangan melintasi pikiran pemuda itu.  Belum lama ia permh melihat bahwa Tan Sang hidup kembali! Hal ini meragukan kepercayaannya. Membongkar ketetapannya yang mengatakan bahwa Tan Sang sudah tiada didunia. Mungkinkah kakak itu tidak digantung mati? 

Bila gadis berbaju hitam yang menotok dirinya itu bukan jelmaan si Telapak Dingin orang yang dikatakan pandai mengubah wajah, tentu Tan Sang masih hidup didalam dunia.

"Keteranganmu boleh dipercaya?" Tan Ciu memandang Tan Kiam Lam dalam mengajukan pertanyaan ini.

"Tentu. Belakangan ini kudapat kabar bahwa ibumu itu sedang mencariku untuk menuntut balas."

"Kau takut kepadanya?"

"Betul." Berkata Tan Kiam  Lam. "Besar kemungkinannya bahwa ia telah bekerja sama dengan si Telapak Dingin, maka siapakah yang dapat mengalahkan mereka berdua?" "Tidak ada orang yang berani kepada si Telapak Dingin?"

"Betul. Termasuk aku. Karena itulah aku menyembunyikan diri didalam Benteng Penggantungan. Agar tidak ditemukan olehnya."

"Masih ada hutang jiwa seorang yang harus kau ganti." Berkata Tan Ciu.

"Siapa lagi ?"

"Seorang kakek aneh yang bernama Hu Hay Khek telah mati dibawah tangan orang2mu. Kau tidak dapat lepas tangan begitu saja,"

"Tetapi orang-orangku itu sudah mati. kepada siapa harus kuminta pertanggungan jawaban itu?"

Menghadapi ketua Benteng penggantungan  yang  licik ini, tentu saja Tan Ciu menyerah kalah.

"Hai.." Tan Ciu teringat akan pesan Cang Ceng Ceng yang ingin mencari seorang yang bernama Kui Tho Cu.

Dikatakan oleh gadis itu, hanya Tan Kiam Lamlah yang mengetahui tempat orang yang sedang dicari. "Kau kenal dengan si Bungkuk Kui Tho Cu?"

Tan Kiam Lam menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak kenal?” Tun Ciu  menjadi heran. "Betul !"

"Mana boleh tidak kenal dengannya?"

"Percaya atau tidaknya, terserah kepadamu." Berkata Tan Kiam Lam.

Tan Ciu teregun. Agaknya tidak mungkin Cang Ceng Ceng. bagaimana Tan Kiam Lam tidak kenal dengan Kui Tho Cu. Bila tidak kenal, tentu saia tidak tahu dimana Kui Tho Cu itu berada.

Diputar dibalik, dibalik diputarkan Tan Kiam Lam menjadi seorang yang tidak jahat.

Tan Ciu menghela napas.

"Aku memang bukan orang jahat." "Hm.. ."

"Hei, aku ingin mengadakan perundingan denganmu." "Tentang hal apa?"

"Maukah kau diajak bekerja sama ?"

"Bekerja sama ?"

"Lebih jelas lagi ialah membantu usahaku," Berkata Tan Kiam Lam.

"Dengan kepintaran dan ilmu kepandaian yang  kau memiliki seperti itu, masih membutuhkan pertolongan orang?" Tan Ciu agak tidak percaya.

"Jangan kau mengucapkan kata-kata seperti itu." Berkata Tan Kiam Lam. "Dengan sesungguh hati aku ingin memberi ilmu pelajaran kepadamu. kemudian dengan bekal ilmu kepandaian ini, kau membantu usahaku untuk menuntut balas."

"Aku tidak dapat melulusi permintaanmu. Kepintaran dan ilmu kepandaian jauh berada diatasku."

"Kepintaranmu berada diatasku." Tan Kiam Lam memberikan sedikit pujian.

"Terima kasih."

"Harus kau ketahui bahwa aku tidak dapat melihat semacam ilmu kepandaian kelas tertinggi." Tan Ciu menjadi heran. "Ilmu kepandaian kelas tertinggi?" Ia bertanya. "Ilmu kepandaian apakah yang mempunyai kehebatan seperti itu ?"

"Orang yarg ingin melatih ilmu itu harus mempunyai 'Keperjakaan'. Dan tentu saja syarat yang tidak dapat kupenuhi."

"Oooo "

"Maukah kau mendapatkan ilmu kepandaian hebat itu?"

Bila sejarah hidup Tan Kiam Lam tidak mempunyai selembar cacad, dengan cepat Tan Ciu dapat melulusi permintaan itu, tetapi diketahui bahwa orang yang dihadapinya ini sangat licik dan cerdik, tentu ada sesuatu yang tersembunyi dibalik kebaikannya. Maka ia menolak cepat.

"Aku tidak mau." Suara Tan Ciu cukup keras. "Kau tidak mau?" Tan Kiam Lam menjadi heran.

"Betul. Untuk sementara, aku tidak dapat melulusi tawaranmu ini. Aku harus membikin penyelidikan secara teliti, bila benar segala keterangan-keteranganmu tadi, mungkin aku dapat balik lagi dan menerima tawaranmu itu."

Tan Kiam Lam segera mengasah otaknya. ia berpikir bagaimana harus dapat menguasai bocah kepala batu ini.

Terdengar lagi suara Tan Ciu.

"Bila hasil penyelidikan tidak memuaskan, aku dapat balik kembali kemari. tetapi maksud tujuannya ialah...

membunuhmu."

"Kau ingin mengecek kebenaran dari kata2ku tadi ?" "Betul." "Kau memang keras kepala."

"Tahap pertama dari pembicaraan kita boleh ditutup sampai disini, aku meminta diri." Berkaia Tan Ciu.

"Kau ingin pergi ?"

"Betul. Segera meninggalkan Benteng Penggantungan." "Lebih baik jangan."

"Kau melarang ?"

"Betul. Aku akan berusaha membujukmu untuk tetap tinggal disini."

Wajah Tan Ciu berubah.

"Ingin membunuh?" Ia menatap tajam-tajam keadaan siap sedia!

"Salah..!" Berkata Tan Kiam Lam, "Demi keamananmu, aku telah menahanmu. Aku tidak ingin kau mati ditangan orang lain."

Tan Ciu tidak diperbolehkan pergi dari Benteng Penggantungan.

Apakah maksud tujuan ketua benteng itu?

Tan Ciu belum paham, maka ia bertanya. "Kecuali kau memiliki dalih alasan untuk memusuhi. Siapakah orang yang mau membunuhku?"

"Si Telapak dingin itu." Berkata Tan Kiam Lam singkat, "Bagaimana kau tahu?"

"Karena kau pernah bertemu dan berkunjung kepadaku. Ia tidak mengharapkan bahwa cerita tentang dirinya tersiar keluar. Hal ini akan tidak menguntungkan baginya. Ia akan berusaha membunuhmu. menutup sumber berita." Tan Ciu tidak percaya.

"Bukalah pintu rahasia ini." Ia meminta, "Aku segera pergi."

"Aku tidak dapat membiarkan kau meninggalkan Benteng Penggantungan, Kau adalah putraku. Sebelum memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sebelum mempunyai pegangan yang cukup kuat untuk mengalahkan si Telapak Dingin, aku tidak dapat membiarkan kau pergi dari sini."

"Kau ingin menahan aku?" Tan Ciu mulai naik darah. "Betul"

"Dengan segala daya upaya." "Tentu."

"Tekadku sudah bulat, harus menerjang keluar dari Benteng Penggantungan."

"Tidak mungkin." Berkata Tan Kiam Lam.

Tan Ciu betul-betul marah. tangan kanannya diayun memberi satu pukulan, arah tujuannya ialah Pintu rahasia.

Bummmm ....! terdengar suara gemuruh yang hebat, pintu batu itu pecah berhamburan. Luar biasa tenaga yang Tan Ciu kerahkan. sampai pintu batu itu pun tidak sanggup menerimanya. Disana, telah terjadi lubang.

Wajah Tan Kiam Lam berubah, dengan geram ia membentak.

"Tan Ciu, kau ingin memaksa aku menggunakan kekerasan?" Suara Tan Kiam Lam geram, membuat orang yang mendengar bergidik, takut sekali.

Tan Ciu berdehem, katanya. "Ingin membunuh?" "Bila kau tidak kenal budi, terpaksa, aku harus membunuhmu, tahu?"

"Terpaksa aku pun harus melawanmu, tahu?" Tan Ciu tidak mau kalah suara.

"Bila kau berani membongkar pintu itu segera kubunuh."

Untuk membuktikan ancamannya, Tan Kiam Lam lompat mendampingi sipemuda, maka bila perlu. ia dapat turun tangan dengan cepat.

Disaat yang sama. Tan Ciu telah mengayun tangan memukul pintu batu lagi, maksudnya segera meninggalkan ruangan ini.

Maka tangan Tan Kiam Lam juga bergerak. memukul tubuh sipemuda.

Tan Ciu segera memberi tangkisannya.

"Hkkk . . ." Tan Ciu terdorong mundur sehingga empat langkah.

Kini Tan Kiam Lam telah menjaga didepan pintu.

Ternyata kekuatan Tan Ciu belum dapat mengimbangi kekuatan ayahnya, maka ia harus menerima kekalahan tadi.

Wajah Tan Ciu berubah. "Tan Kiam Lam, berani kau membunuh anak?"

"Mengapa tidak?" Tan Kiam Lam tidak kalah marah. "Pukullah." Tan Ciu memasang dada.

"Kau sudah bosan hidup?"

"Boleh dicoba. siapa yang sudah bosan hidup!" Timbul niatan Tan Ciu untuk mengadu jliwa. Tan Kiam Lam mendorong telapak tangannya perlahan maju kedepan, dari telapak tangan itulah keluar tenaga kekuatan yang dapat mematikan lawan.

Tan Ciu memukul dengan dua tangan, kemudian ia lompat mundur, hal ini untuk menghindari diri dari tekanan yang terlalu kuat. Dua tenaga bentrok segera. Kemudian terpisah lagi.

Kejadian itu terlalu kuat. Kemudian terpisah lagi. Kejadian itu terlalu cepat untuk diceritakan. Sebelum dapat melihat jelas, bagaimana hasil kesudahan dari  benturan kilat itu, tangan Tan Kiam Lam sudah bergerak,  inilah untuk kedua kalinya. Tan Ciu dipaksa menerima pukulan ini.

Bummm . . .!

Setelah terjadi satu dentuman hebat, ruangan itu dirasakan menjadi sengir, tubuh Tan Ciu terpukul mundur sampai sembilan tindak. pemuda itu segera jatuh duduk.

Tan Kiam Lam berkata dingin.

"Hebat. . . Hebat . . . Untuk mencari orang yang dapat menerima pukulanku ini, kau adalah boleh menduduki urutan yang kedua."

"Urutan keberapa pun tidak menjadi soal. Gunakanlah pukulanmu itu lagi." Tan Ciu masih memberikan tantangan.

"Kini kau boleh merasakan totokanku" Berkata Tan Kiam Lam.

Jarinya dikeraskan, cepat sekali lompat kedepan, kemudian dari satu posisi kedudukkan yang sulit diduga orang, ia menotok jalan darah sipemuda.

Tan Ciu lari menyingkir kearah kiri. Tan Kiam Lam sudah dapat menduga arah dari si pemuda, maka ia menyusul dengan serangan totokan yang kedua.

Tan Ciu merasakan bahwa dirinya seperti diserang semua, kemudian diam tidak bergerak. Sebelum jatuh. ia masih sempat melihat andeng2 hitam dikuping kiri ketua Benteng Penggantungan itu.

Betul-betul bahwa orang inilah yang menjadi ayahnya.

Tan Kiam Lam berhasil menotok jalan darah lemas lawannya.

Tan Ciu jatuh ditanah, mulutnya memaki. "Manusia iblis, bunuhlah aku."

Wajah Tan Kiam Lam berubah menjadi beringas. semakin kejam dan semakin kejam, itulah wajah seorang iblis. sangat menakutkan sekali.

Hampir Tan Ciu menjerit, seluruh bulu sipemuda  bangun berdiri, menggerinding.

Tangan Tan Kiam Lam diangkat tinggi-tinggi, ia mendekati Tan Ciu dan siap mengirim jiwa sipemula ke dunia baka.

Tan Ciu memejamkan mata. Perlahan-lahan Tan Kiam Lam menurunkan tangan itu, tetapi tidak kearah sipemuda, ia membatalkan niatannya untuk membunuh Tan Ciu.

Lama sekali.....

Tan Ciu hilang sabar, ia membuka mata jang ditutup rapat itu. Maka terlihatlah sepasang sinar matanya yang aneh, redup dan cukup untuk membingungkan orang, itulah sinar mata Tan Kiam Lam. khusus untuk menguasai orang yang tidak mempunyai imam tidak kuat, ilmu Ie hun Tay- hoat. Dunia seolah-olah berputar, kemudian berhenti lagi, Sepi sekali..... Segala sesuatu terhenti bergerak. Dirasakan aman dan tenang.

Ilmu Ie-hun Tay-hoat adalah semacam ilmu sihir atau hipnotis dijaman sekarang, tidak mudah untuk mempelajari ilmu tersebut, tapi bila berhasil meyakinkannya, maka banyak kegunaan untuk menundukkan orang.

Tan Ciu sedang dijejal dengan unsur2 untuk melupakan diri sendiri, sebentar lagi setelah ilmu Ie-hun Tay-hoat selesai dikerahkan, pemuda itu akan menjadi seorang yang tidak mempunyai isi otak, segala sesuatu dikusai oleh otak sipemegang kunci ilmu tersebut, itulah si ketua Benteng Penggantungan.

Tiba-tiba....

Terdengar suara kelenengan yang dibunyikan, itulah tanda bahaya bagi Benteng Penggantungan.

Tan Ciu tersentak sedikit.

Tan Kiam Lam tersentak bangun, bunyi itu mengganggu usahanya, keringat bertekel-ketel jatuh tidak sedikit tenaga yang terbuang percuma.

Tan Ciu mematung ditempat!

Tanda bahaya dibunyikan semakin hebat, Terpaksa Tan Kiam Lam meninggalkan pemuda itu, ia membuka pintu rahasia.

Didepan pintu sudah berdiri wanita baju hitam Kang Leng.

"Ada apa?" Tan Kiam Lam membentaknya.

"Maafkan hambamu yang mengganggu," Berkata kang Leng dengan gemetar. "Apa yang telah terjadi?"

"Ada orang menerjang Benteng penggantungan." "Siapakah yang berani berbuat kurang ajar ini?" "Si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap?"

"Hah?" Tan Kiam Lam kaget sekali. Ternyata nama itu cukup mengejutkan dan menggetarkannya.

"Sin Hong Hiap tidak mau mengerti." Berkata wanita baju hitam Kang Leng itu.

"Apa maksud tujuannya datang ke Benteng Penggantungan?"

"Dikatakan pocu pernah menjanjikannya untuk menentukannya disini."

"Bilakah aku menjanjikannya?" Tan Kiam Lam menjadi bingung.

Wanita baju hitam Kang Leng berkata. "Dikatakan pada tiga hari yang lalu."

"Aneh." Tan Kiam Lam mengerutkan jidatnya. "Dikatakan olehnya bahwa kau menantangnya, karena

tidak mau mengganggu rencana untuk merusak Pobon Penggantungan."

"Pohon Penggantungan?"

"Betul. Janji itu dikeluarkan dirimba Penggantungan." "Dia mencari gara-gara." Tan Kiam Lam marah besar.

Kakinya berjingkrak.

Bilakah Tan Kiam Lam menantang si pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap? Yang menantang Sin Hong Hiap untuk mengadu ilmu di Benteng Penggantungan bukanlah Tan Kiam Lam  ini, tetapi seorang yang mempunyai bentuk wajah sama dengannya, itulah Tan Kiam Pek.

Apa maksud tujuan Tan Kiam Pek memancing Sin Hong Hiap ke Benteng Penggantungan dan menempur Tan Kiam Lam?

Didalam hal ini, Tan Kiam Pek mempunyai rencananya yang sudah dihitung masak-masak. Mendengar laporan tadi, tentu saja Tan Kiam Lam mencak-mencak.

Tidak ada alasan baginya untuk menempur Sin Hong Hiap, jago tua itu pernah mengepalai rimba persilatan sekian waktu, tentu tidak mudah dihadapi.

-ooo0dw0ooo-