Pohon Keramat Jilid 03

Jilid 03

INILAH suara seorang gadis yang nyaring dan merdu. Ternyata tongcu perkumpulan Ang-mo-kauw ini adalah seorang wanita.

"Kau belum memberi tahu, mana kutahu.." Berkata Tan Ciu.

"Aku ingin mengajukan pertanyaan" Berkata gadis didalam joli. "Mengapa kau tidak mau keluar dari jolimu?" Tan Ciu sangat sombong,

"Aku tidak ingin memperlihatkan muka."

"Malu?" Tan Ciu mengeluarkan suara dari hidung! "Mungkinkah bengkak sebelah?"

Dua gadis pelayan melesat, dengan suara marah mereka membentak.

"Berani kau menghina tongcu kami?"

Dan merekapun menyerang pemuda yang angkuh dan sombong itu.

"Minggir." Terdengar suara bentakan dari dalam joli. Dua gadis pelayan membatalkan serangan mereka,

gerakan-gerakan para gadis pelayan berbaju merah ini gesit luar biasa.

Tan Ciu yang menyaksikan gerakan-gerakan itu terkejut, tidak disangka, pelayan orang didalam joli mempunyai ilmu kepandaian hebat, entah bagaimana ilmu kepandaian tongcu itu?

"Maafkan kelancangan pelayan pelayan itu."

"Aku tidak mengganggu mereka bukan?" Berkata Tan Ciu.

"Kau belum menjawab pertanyaanku"

"Aku tidak ingin memperlihatkan wajahku kepadamu.

Bukan karena malu atau sebab-sebab lainnya."

"Kau menyuruh orang mengundang, tapi tak mau memperlihatkan diri, apa maksudmu?"

"Mengadakan tanya jawab seperti inipun boleh, bukan ?" "Tentu saja boleh. Terlebih baik lagi, bila kita dapat bicara dengan berhadapan muka"

"Jangan genit, aku tahu bahwa kau bukan seorang lelaki yang gila wajah cantik."

Tan Ciu bungkam.

"Hei..." panggil pada gadis dalam joli, "Dengan alasan apa kau menbunuh lima orang perkumpulan Ang mo kauw?"

"Membunuh orang orang Ang-mo kauw?" "Didepan Pohon  Penggantungan?" "Oooo ... Kau salah terka."

"Bukan kau yang membunuh mereka?" "Memang bukan."

"Siapa yang membunuh kelima orangku." "Jelita merah."

"Akh... Jelita Merah?"

"Betul"

"Jelita Merah tak mempunyai dendam sakit hati dengan perkumpulan Ang mo kauw, dengan alasan apa ia membunuh lima orang itu?"

"Disini karena "

"Gara garamu?"

"Boleh dikata demikian. Aku tidak mempunyai dendam permusuhan dengan Ang mo kauw, mengapa kau mengutus mereka membunuhku?"

"Lima orang itu ada niatan untuk membunuhmu?" "Betul"

"Oooo... Hal ini memang mungkin terjadi." "Bagaimana mungkin terjadi?" Bertanya Tan Ciu,

"Maksud Ang mo-kauw hanialah mengundang dirimu. Tidak ada perintah untuk membunuh orang undangan. Ternyata mereka timbul niatan jahat, sudah seharusnya mereka menerima hukuman."

"Hanya ini yang ingin kau katakan?" Tan Ciu sudah tak sabar.

"Maksudku mengundang kau datang ialah ingin mengadakan perundingan..."

"Katakanlah!"

"Kauwcu kami ada maksud untuk menerima dirimu," Kauwcu adalah kepala atau pemimpin perkumpulan.

Ajakan ini berada diluar dugaan Tan Ciu. Ia tidak kenal siapa orang yang  menjadi kepala rombongan Ang-mo kauw, bagaimana diajak bekerja sama? Apakah maksud mereka?

"Siapakah yang menjadi Kauwcu kalian?" Si pemuda bertanya.

"Setelah kau menjadi anggauta Ang-mo kauw. Tentu kau akan tahu dengan jelas akan hal ini."

"Bila aku menolak?"

"Lebih baik kau berpikir baik-baik."

Tan Ciu memutar otak. Memang tidak ada akal untuk mengatasi soal ini cepat,

"Mungkin aku dapat menerima ajakan Kauwcumu." Akhirnya ia berkata.. "Syukurlah."

"Tetapi dengan syarat."

"Syarat? Apakah syarat yang kau ajukan?" Gadis  didalam joli kukuh tidak mau menampilkan diri.

"Beri keterangan tentang Pohon Penggantungan, siapa orang yang menciptakan pohon maut itu? Dimana kini ia berada?"

Pertanyaan si pemuda menyulitkan itu tongcu wanita dari perkumpulan Ang-mo kauw.

"Tidak sanggup?" Bertanya Tan Ciu.

"Baiklah." Akhirnya gadis didalam joli berkata. "Sudah sepatutnya bila kau diberi tahu."

Hampir Tan Ciu lompat girang, sungguh diluar dugaan, bahwa soal yang sulit ini dapat diselesaikan dengan mudah. Mengikutikah ia mengetahui pasti siapa dan dimana pencipta Pohon Penggantungan?

Dugaannya segera diperkuat oleh tafsiran-tafsiran lamanya, tentu orang-orang Ang mo kauw yang memegang peranan Pohon Penggantungan. Bila tidak, mana mungkin dapat memberi jawaban ini?

Keadaan sepi lama ..., Tan Ciu membuka suara. "Katakanlah."

"Apa yang harus kukatakan?"

"Siapa pencipta Pohon Penggantungan?"

"Pertanyaan ini akan dijawab oleh kauwcu pribadi." Berkata gadis didalam joli,

"Kau tahu pasti bahwa kauwcu kalian itu dapat memberikan jawaban yang memuaskan?" "Bila tidak memuaskan, kau boleh menolak tawarannya bukan?"

Tan Ciu dapat menerima saran si gadis didalam joli. Bila ia tidak mendapat jawaban tentang Pohon Penggantungan. Tentu ia tidak mau masuk perkumpulan itu?

Hal lainnya yang menambah keinginannya bertemu dengan ketua Ang-mo kauw ialah dendam permusuhan yang telah terjadi antara perkumpulan itu dengan gurunya.

"Baiklah." Ia menerima ajakan orang.

"Mari turut dibelakang." Berkata gadis didalam joli.

Dengan satu perintah lain, dua pelayan berbaju merah menggotong joli dan berangkat.

Tiba-tiba ...

Telinga Tan Ciu yang mengikuti joli itu  dapat menangkap satu suara yang seperti nyamuk bicara itulah suara orang yang menyampaikan kata kata dengan saluran tekanan gelombang tekanan tinggi.

"Kau telah masuk kedalam perangkapnya si Ular Golis."

Tan Ciu memeriksa keadaan disekelilingnya. Tidak terlihat orang yang memberi pesan kata kata ini.

Ternyata gadis didalam joli mempunyai julukan Ular Golis? Ular cantik bagaimanakah yang mendapat julukan seperti itu?

Hasratnya untuk membongkar rahasia Pohon Penggantungan tidak dapat ditahan. Niatannya untuk bertemu dengan kanwcu Ang mo kauw semakin hebat. Biarpun telah dapat peringatan, ia tidak menghentikan langkah kakinya dan mengikuti joli si Ular Golis yang digotong oleh dua pelayannya. "Ia segera mengajakmu masuk kedalam Lembah Iblis Merah, tempat yang menjadi sarang markas besar Ang mo- kauw." Orang yang mengirim suara dengan tekanan suara gelombang tinggi itu berdengung lagi. "Bila sampai dimarkas besar mereka, jangan harap kau dapat keluar  lagi."

Ilmu kepandaian Tan Ciu telah mencapai taraf kelas  satu, iapun dapat menggunakan ilmu Toan-im jib-bit atau mengirim suara dengan tekanan gelombang tinggi. Maka ia membalas peringatan orang dengan suara yang sama.

"Kauwcu Ang-mo kauw tidak tahu siapa yang menjadi pencipta Pohon Penggantungan?"

Kegunaan mengirim suara dengan gelombang tekanan tinggi jelas tidak dapat didengar oleh orang ketiga. Dua kali orang itu memberi peringatan kepada Tan Ciu, kemudian mendapat balasan dari si pemuda yang mengajukan pertanyaan itu dengan menekan suara yang sama, hal ini tidak dapat didengar oleh gadis di dalam joli si Ular Golis dan dua pelayannya.

"Ia tidak tahu!" Berkata orang yang memberi peringatan. "Kutahu pasti bahwa maksud si Ular Golis menerima baik syaratmu yaitu memancing kau masuk kedalam lembah Iblis Merah. Percaialah keteranganku!".

Tan Ciu dapat diberi mengerti. Hal ini memang bukan tak mungkin sama sekali, Kecuali bila orang yang memberi perintah itu bermaksud tujuan lain, ada udang dibalik batu.

Siapakah orang yang memberi peringatan kepadanya sehingga lebih dari satu kali ?

Suara Toan Im jib-bit atau ilmu menekan suara yang disalurkan kembali dengan tekanan suara bergelombang tinggi itu tidak mudah dibedakan. Mungkin lelaki dan mungkin pula suara perempuan. Tetapi dari logat dan laga laga yang berirama enak, tentunya seorang wanita.

Orang yang dapat membela dirinya hanya beberapa orang.

Kakek aneh Su Hay Khek dan sastrawan setengah umur itu seperti berada di pihaknya.

Bila wanita, kecuali ciecienya yang sudah mati, orang kedua ialah gurunya. Tan Sang sudah mati. Hal ini pasti. Mungkinkah sang guru dengan sebutan seram si Putri Angin Tornado itu?

Tan Ciu memandang kearah datangnya suara pemberi tahu itu. Hal ini menimbulkan kecurigaan si Ular Golis didalam joli.

"Eh, kau sedang mengapa?" Si gadis didalam joli mengajukan pertanyaan.

Tan Ciu mengkerutkan kedua alisnya. Kini diketahui pasti bahwa orang yang memberi peringatan itu bukanlah gurunya. Logat-logat dan irama suara sang guru  telah dikenal baik. Bukanlah suara tadi.

Mengikuti petunjuk orang itu atau terima mengikuti si Ular Golis masuk ke dalam lembah Iblis merah? Besar kemungkinannya bahwa ketua Ang-mo kauw itu musuh besar sang guru. Sebagai seorang murid yang mengenal budi, Matipun ia harus membela kepentingan gurunya, Ia wajib mengetahui bagaimana menjadi perseteruan diantara mereka.

Didalam keadaan seperti ini, soal Pohon Penggantungan boleh diurus setelah selesai ia bereskan lawan garunya. Tidak terasa, Tan Ciu menghentikan langkah kaki. Didalam joli, si Ular Golis telah mendesak. "Hei, kau mau turut tidak?"

"Baik." Tan Ciu memberi putusan. Ia ingin menerjang lembah Iblis merah.

Dua gadis pelayan  berbaju merah menggotong joli si Ular Golis, Tan Ciu mengikuti dibelakangnya.

Suara peringatan berkumandang lagi. "Hei, kau bersedia turut si Ular Golis?".

"Betul" Tan Ciu telah memberi sambutan dengan ilmu Toan-im jib-bit pula. Hal ini tidak boleh diketahui oleh si Ular Golis.

"Sudah bosan hidup?" Bertanya orang dengan tekanan suara gelombang tinggi.

"Bukan urusanmu." Tan Ciu mulai marah dengan gangguan-gangguan orang itu.

"Kau..!!!" Suara yang disalurkan dengan ilmu Toan im jib-bit itu terputus.

Tan Ciu meneruskan perjalanan dengan tenang.

Joli si Ular Golis tetap berjalan lenggang. Dua gadis pelayannya mempunyai ilmu kepandaian  yang tinggi. Tentu saja ia merasa enak dan nyaman.

Tiba tiba satu bayangan putih menghadang ditengah jalan, inilah jalan yang akan dilewati oleh joli si Ular Golis.

Dua gadis pelayan berbaju merah menghentikan langkah mereka. Dilihatnya seorang gadis berbaju  putih sudah menghadang perjalanannya.

Tan Ciu mempunyai mata tajam, segera dikenali siapa bayangan putih yang menghadang ditengah jalan itu. "Aaaaa...." Ia mengeluarkan suara tertahan.  Itulah wanita berbaju putih yang bernama Co Yong Yen, orang yang mengaku sebagai istri si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip,

"Kau?" Ia menghadapi Co Yong Yen. Orangkah yang sedang dihadapi? Atau arwah Co Yong Yen yang sudah dikatakan mati?

"Betul...Aku." Gadis berbaju putih itu  membenarkan  kata kata sipemuda.

Dua gadis pelayan berbaju merah tidak berani mengambil putusan. Mereka memandang Tan Ciu dan si penghadang jalan yang sudah hadap berhadapan.

"Hai, kau ingin mencari diriku, bukan?". Bertanya Co Yong Yen kepada sipemuda. Tan Ciu masih meragukan keaslian manusianya orang ini. Ia tidak dapat bicara.

"Hai...." Panggil Co Yong Yen lagi

"Disini ada dua jalan, mana yang kau pilih? Ikut dia atau aku?"

Ternyata orang yang memberi peringatan sampai berulang kali dengan suara gelombang tekanan tinggi itu adalah gadis berbaju putih ini.

Kecuali si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip, keenam kawan lainnya telah binasa. Dan si baju putih itu diragukan sebagai istri Thung Lip yang telah lenyap.

Dapatkah Tan Ciu melepaskan dirinya begitu saja? Tentu tidak.

Perkumpulan Ang mo-kauw seperti mempunyai sesuatu dendam permusuhan dengan Putri Angin Tornado. untuk mengetahui keterangan yang lebih jelas, sudah tentu harus pergi kelembah Iblis Merah. Untuk pergi ke dalam Iblis Merah, sudah tentu saja harus mengikuti si Ular Golis. Relakah Tan Ciu membiarkan Ular Golis pergi  tanpa diikuti oleh dirinya?

Tentu tidak.

Tan Ciu menjadi bimbang dan ragu ragu.

Ia tidak menjawnb pertanyaan Co Yong Yen.

Co Yong Yen maklum hal ini, ia telah memberi peringatan beberapa kali. Pemuda itu tidak mau mendengarnya! Kini ia menampilkan diri dengan harapan dapat memancing pergi Tan Ciu, agar pemuda itu tidak turut si Ular Golis, dan masuk kedalam lembah Iblis Merah.

Menyaksikan keadaan Tan Ciu yang serba susah, Co Yong Yen melangkah pergi.

Tan Ciu membentak. "Berhenti."

Co Yong Yen menolehkan kepalanya, ia memberikan senyuman manis. Hanya sebentar saja, Kemudian melanjutkan langkahnya pergi menjauhi pemuda itu. Maksudnya memancing pergi dari samping sisi si  Ular Golis yang masih belum menongolkan kepalanya dari dalam joli tertutup itu.

Tan Ciu terpancing pergi, ia melayang ke arah Co Yong Yen.

Seperti apa yang Co Yong Yen katakan maksud si Ular Golis mengajak Tan Ciu masuk kedalam lembah Iblis Merah hanya berupa pancingan saja. Disana ia mempunyai banyak kawan dan cukup untuk menahannya!

Kini maksud itu akan segera gagal,  tanpa memperdulikan wajahnya terlihat orang, ia melayang keluar dari dalam joli, cepat sekali menyusul Tan Ciu dan memberi satu pukulan.

Tan Ciu menusatkan seluruh pikirannya ke tempat Co Yong Yen yang sudah hampir melenyapkan diri. Mana disangka bahwa si Ular Golis dapat nongol dari dalam jolinya dan mengirim pukulan itu? Dikala merasakan ada sesuatu yang mengancam punggung, tangan Ular Golis yang gesit itu telah menggebuknya.

Duuuuk....

Tan Ciu terpukul dan jatuh sempoyongan, Isi perutnya bergolak panas.

Dua gadis pelayan Ular Golis mempunyai gerakan gerakan yang sebat, mereka meletakkan Joli dan bek bek

... dua kali pukulan memaksa Tan Ciu jatuh ngeloso ke lain arah, Ular Golis menyambut tubuh pemuda itu cepat seakan menekan urat nadinya. Maksud Co Yong Yen hampir berhasil, Tiba tiba digagalkan oleh si Ular Golis.

Ia melayang balik dan membentak. "Lepaskan."

Ular Golis tertawa seram. "Kau mengharapkan kematiannya?" ia memperlihatkan urat nadi Tan Ciu yang sudah berada didalam kekuasaannya.

Wajah Co Yong Yen nenunjukkan hawa pembunuhan.  Ia menghampiri ular Golis yang menggendong tubuh Tan Ciu.

Dua gadis pelayan berbaju merah menyelak keluar, mereka membela majikannya. Co Yong Yen tidak berdaya. Tan Ciu sadar apa yang telah menimpa dirinya. Mengapa ia begitu lengah, tak membikin penjagaan kepada si  Ular Golis itu? Kini segala apapun telah terlambat. Ia berada dibawah kekuasaan tongcu Ang mo-kauw tersebut. Ia membuka kedua matanya, terlihat seorang gadis yang sangat menggendong dirinya. Sayang hati gadis ini melebihi ular jahatnya, Julukan si Ular Golis memang paling tepat.

"Ular Golis..." Ia mengoceh, "kau memang seorang ular yang cantik!"

Si Ular Golis tertawa puas. "Bila kau turut dibelakangku, tentu tidak sampai terjadi hal ini." Ia berkata.

Dan memandang dua pelayan  berbaju merahnya, ia memberi perintah, "Lanjutkan perjalanan pulang!"

Mereka siap mengajak Tan Ciu masuk ke dalam lembah Iblis Merah, Co Yong Yen menghadang perjalanan pulang mereka.

"Aku tidak mengijinkan kalian membawanya." Ia berkata,

Ular Golis mengeluarkan suara tertawa yang dingin. "Kau lupa, bahwa jiwanya sudah berada ditanganku."

"Ular Golis." Teriak Co Yong Yen. "jangan kira aku tidak tahu perintah kauwcumu, kau tidak diperbolehkan membunuhnya, bukan begitu?".

Wajah si Ular Golis menjadi pucat. Didalam keadaan terpaksa, ia mengangkat tubuh Tan Ciu tinggi tinggi.

"Kau boleh jajal saja" ia memberi ancaman.

Co Yong Yen berjalan lebih dekat lagi. Ular Golis mengundurkan diri. Dua gadis pelayan berbaju merah bergerak maju, mereka memukul dan menghantam Co Yong Yen.

Gadis berbaju putih itu menggerakkan tangannya, cepat sekali, entah bagaimana ia telah berada dibelakang dua lawannya, terdengar dua kali jeritan, dua pelayan si Ular telah berhasil dirobohkan. Co Yong Yen hebat.

Hanya didalam satu jurus, ia membunuh dua gadis pelayan berbaju merah yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Suatu hal yang berada di luar dugaan Tan Ciu. Juga diluar dugaan si Ular Golis.

"Kau tidak mau meletakan dirinya?" Co Yong Yen maju dan mengancam.

Si Ular Golis mundur lagi. Jalan darah kematian Tan  Ciu masih tidak dilepas olehnya.

"Turunkan tubuhnya." Co Yong Yen memberi ancaman yang kesekian kalinya.

"Bila aku tidak mau, bagaimana?" Ular Golis berkepala batu.

"Aku dapat membunuhmu, tahu?" Co Yong Yen mengancam.

"Apakah akibatnya dengan tubuh ini?" Ular Golis mengandalkan tubuh Tan Ciu sebagai pegangan.

"Inilah akibatnya." Co Yong Yen membentak. Tubuhnya melesat dan menotok jalan darah si Ular Golis.

Gerakannya sungguh cepat. Lebih cepat beberapa kali dari gerakan gerakan dua pelayan si Ular Golis.

Ular Golis tidak menyerah mentah mentah. Dengan sebelah tangan menggendong Tan Ciu ia memukul totokan lawan dengan sebelah tangan lainnya.

Disaat yang sama. Co Yong Yen telah mengirim serangan yang kedua. Ular Golis tidak mungkin dapat menghindari serangan itu. didalam keadaan terpaksa, ia melemparkan tubuh Tan Ciu kearah lawannya!

Tan Ciu menjerit sakit, ternyata Ular Golis menurunkan tangan jahat kepada pemuda itu!

Kepandaian Co Yong Yen memang luar biasa bagaimana cepatpun si Ular Golis tetap tak dapat mengimbangi kecepatan lawannya.

Daarrrr !!!

Dari mulutnya Ular Golis yang kecil mungil itu memuntahkan darah merah. tubuhnya melayang jatuh.

Tiba tiba terlihat suatu bayangan merah menyambuti tubuh Ular Golis yang terluka, kemudian, tanpa membikin perhitungan kepada orang yang melukainya, penolong Ular Golis itu melayang pergi dan melenyapkan diri.

Co Yong Yen tidak mengejar. Matanya memandang wajah Tan Ciu yang sudah hampir mau mati. Cepat sekali ia menggerakkan jarinya menotok beberapa jalan darah penting. Dan membawa tubuh luka itu kearah rimba.

Mendadak ...

Satu suara dingin membentak Co Yong Yen. "Berhenti.!"

Mendengar suara ini. wajah Co Yong Yen menjadi

pucat, ia tahu siapa yang telah tiba. Langkahnya terhenti segera.

Seorang wanita berparas cantik, dengan mengenakan pakaian warna hitam telah tampil disana. Wanita berbaju hitam inilah yang membentak Co Yong Yen tadi. "Dia?" Wanita berbaju hitam itu menunjuk kearah Tan Ciu.

Co Yong Yen menganggukkan kepala.

"Apa yang ingin kau lakukan" Bertanya, wanita berbaju hitam.

"Maksudku ... " "Menolong dirinya?" "Betul."

"Lebih baik jangan." "Tapi, tapi ia luka parah."

"Segera letakkan dirinya dan ikut aku pulang." Bentak lagi wanita berbaju hitam itu?

"Biar bagaimana, aku harus menolongnya dahulu." Co Yong Yen menjadi bandel.

"Berani kau melanggar perintah?" "Tolong ... Tolonglah dirinya."

"Mati hidupnya orang itu tidak ada hubungan dengan kita."

"Aku! Aku tidak dapat membiarkan ia begini!"

Air mata mengucur keluar dari kelopak mata Co Yong Yen.

Wanita berbaju hitam menghela napas panjang-panjang. "Bibi Kang, tolonglah...." Co Yong Yen masih

memohon.

"Seharusnya kau jangan turut campur." "Tetapi keadaan telah menjadi seperti ini.." "Tidak mungkin ia berterima kasih kepadamu." Berkata wanita berbaju hitam itu.

"Aku tidak mengharapkan terima kasihnya." Co Yong Yen kukuh.

"Baiklah! Aku tidak mau campur tangan!" Wanita berbaju hitam itu sangat sayang Co Yong Yen.

"Bibi Kang, jangan kau beri tahu kepada pocu!"

Pocu berarti kedua benteng, Seorang yang menguasai pucuk pimpinan tertinggi didalam suatu daerah.

"Bila ia tahu hal ini?"

"Tidak mungkin!" Berkata Co Yong Yen "Asal saja bibi tidak membongkar rahasia!"

"Baiklah!" Wanita berbaju hitam itu akhirnya mengalah. "Tapi ingat, jangan memberi keterangan sesuatu tentang kita."

"Aku tahu."

"Bila sampai ia tahu. Akupun tidak sanggup membelamu."

"Terima kasih."

Wanita berbatu hitam itu melayang pergi, meninggalkan Co Yong Yen dengan Tan Ciu yang masih terluka parah. Co Yong Yen menyusut air matanya, ia membawa Tan Ciu kelain arah, ia harus mengobatinya segera.

Disebuah kelenteng yang sudah rusak, pada ruang teagah yang sudah tidak digunakan orang menggeletak tubuh Tan Ciu yang luka.

Co Yong Yen telah memberikan pertolongan yang secukupnya.. Beberapa lama kemudian, Tan Ciu membuka matanya.

Dua kali ia menderita luka, dua kali ditolong oleh wanita. Tidak jauh dari mana ia berada, terlihat suatu bentuk tubuh yang di selubungi oleh kain putih, itulah Co Yong Yen.

Co Yong Yen memandang alam jauh, pemandangan disore hari agak tidak serasi dengan keadaan diwaktu ini.

Mendengar suara kereseknya Tan Ciu. tahulah ia bahwa pemuda itu telah sembuh, ia  membalikan kepalanya, menoleh kearahnya.

Tan Ciu sedang memperhatikan segala gerak  gerik wanita itu. Dua pasang mata beradu.

Co Yong Yen mengalihkan pandangan mata, ia menyerah.

"Bagaimana dengan keadaan lukamu?"

Ia mengajukan pertanyaan. Suaranya merdu, seolah olah seorang kekasih yang sedang memperhatikan keadaan si jantung hati.

"Terima kasih." Berkata Tan Ciu perlahan.

Co Yong Yen memandang ketempat jauh lagi. ia berusaha menghindari sinar mata si pemuda,

"Atas jasa baikmu yang menyembuhkan dan menolong diriku, suatu hari pasti kubalas." Berkata Tan Ciu lagi.

"Aku tidak mengharapkan pembalasanmu," berkata Co Yong Yan.

"Bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan?" Bertanya Tan Ciu.

"Aku tahu, apa yang kau ingin ketahui dariku!" "Kau tahu?"

"Aku dapat menduga."

"Coba kau katakan, apa yang ingin ku ketahui."

"Kau ingin mengetahui, betulkah aku istri Thung Lip, bukan ?"

"Salah satu pertanyaan yang terakhir." Berkata Tan Ciu. "Kau ingin menanyakan tentang Pohon Penggantungan." "Betul!"

"Kau ingin tahu bagaimana kematian cicie-mu?" "Ya."

Wajah Co Yong Yen menunjukkan rasa sedih.

"Mengapa kau ingin bertanya tentang soal-soal diatas itu?" ia berkata.

"Mengapa tidak boleh. Kau tidak bersedia menjawab?" "Betul,"

"Cicieku mati. digantung orang, mengapa aku tidak

boleh tahu?"

"Bukan tidak boleh tahu. Tapi belum waktunya kau tahu."

"Kau tahu hal ini. tentunya salah seorang dari rombongan pencipta Pohon Penggantungan."

Co Yong Yen menggoyangkan kepala, ia menyangkal tuduhan yang dijatuhkan kepada dirinya.

"Kau tidak mempunyai hubungan dengan Pohon Penggantungan?"

"Betul!" "Aku tidak percaya." "Terserah.."

"Lebih baik kau ceritakan kepadaku. Agar aku tidak

melakukan sesuatu yang tidak baik." "Apa yang ingin kau lakukan?"

"Kau tidak bersedia memberi keterangan?" "Aku, aku tidak dapat."

"Baik. Ingin kuketahui pasti, betul kau istri Thung Lip?" "Jangan kau bertanya lagi"

"Dimana Sastrawan Serba Bisa itu berada."

"Tidak tahu."

"Kau tidak mau memberi keterangan?" "Tidak ada yang dapat kuberikan."

"Kau memaksa aku menggunakan kekerasan?"

Wajah Co Yong Yen menunjukkan rasa  bingungnya. Mana mungkin pemuda ini memukul orang yang pernah membela dirinya?

"Aku tidak dapat." ia berkata.

"Kau mencari mati," Bentak Tan Ciu! Tangannya bergerak memukul gadis itu.

Heeeeekk..!

Co Yong Yen menerima pukulan sipemuda, tubuhnya bergoyang goyang, pukulan itu hebat luar biasa.

Tan Ciu terbelalak. Dengan ilmu kepandaian Co Yong Yen. bila gadis itu mau, tidak mungkin pukulan tadi mengenai dirinya. Mengapa dia tidak  berusaha menghindari diri.

Co Yong Yen menyusut darah yang meleleh keluar dari sela sela mulutnya.

"Kau sudah puas?" Ia bertanya perlahan.

Tan Ciu marah kembali. Apa yang ingin diketahui dirinya selain ditutup tutupi, mengapa semua orang tidak mau menceritakan hal itu?

"Kau..."

"Aku mengharapkan keterangan." "Jangan "

"Kau betul betul ingin mati."

"Baiklah. Bunuh saja diriku." Co Yong Yen mengkatupkan matanya, dua butir air mata bening menetes jatuh dari matanya.

Tan Ciu menggeretak gigi, lengan menguatkan hati, ia memukul lagi.

Co Yong Yen tidak menghindari datangnya serangan ini.

Tangan Tan Ciu menjadi lemas, ia menurunkan pukulannya perlahan, gagal menghantam orang.

Mendadak saja, tangan Tan Ciu menjambret leher baju gadis baju putih itu, ditariknya keras dan kasar.

"Kau berani membandel!" Si pemuda membentak.

Co Yong Yen ingin menangis. Air matanya tertahan, kelakuan si pemuda yang kasar sangat menyeramkan sekali..

"Masih tidak mau mengatakan?" Tan Ciu membentak lebih keras. Co Yong Yen menggeleng-gelengkan kepala, ia sangat bersedih.

Tan Ciu mengacungkan tangan ... plak...plak... menempeleng kedua pipi gadis itu!

"Hayoh katakan."

Pemuda ini memang galak sekali. Co Yong Yen menjerit.

"Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?"

"Kau harus mengatakan rahasia Pohon Penggantungan," "Kau tidak memahami kesulitan orang."

"Jangan memaksa aku menggunakan cara yang lebih keras atau lebih kejam lagi"

Co Yong Yen menarik napas. "Baiklah. Aku akan bercerita."

Akhirnya ia harus mengalah.

TAN CIU melepaskan cengkeraman tangan yang mengekang kebebasan gadis itu.

"Nah, katakanlah, bagaimana hubungan si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip?" Sipemuda mengajukan pertanyaan pertama.

Wajah Co Yong Yen menjadi biru, ia kecewa atas perlakuan pemuda itu kepada dirinya, keterangan yang menekan bathin hampir memecahkan urat sarapnya. Tiba tiba ia tertawa.

"Apa yang di tertawakan?" Tan Ciu membentak.

"Tan Ciu." Panggil Co Yong Yen. "Sebelum menjawab pertanyaanmu. Ada sesuatu yang harus kau ketahui." "Lekas katakan."

"Harus kau ketahui, akibat dari pembocoran rahasia ini, seorang diantara kita berdoa pasti ada satu yang mati."

"Seorang diantara kita, ada satu yang akan mati?" Tan Ciu mengulang peringatan aneh itu.

"Betul! Salah satu dari jiwa kita harus dikorbankan!" "Tidak ada tawaran lain?"

"Pikirlah sekali lagi. Relakah kau mengorbankan dirimu, atau diriku?"

Tan Ciu harus memperhitungkan pasal yang baru bila membiarkan gadis itu binasa karena membongkar rahasia Pohon Penggantungan tentu keterlaluan.

Membatalkan desakannya?

Itupun tidak mungkin, Rahasia Pohon Penggantungan sudah waktunya untuk dibuka.

Tan Ciu mengeraskan hati. ia bersedia mengorbankan jiwanya. Hal ini untuk ketenangan dunia, untuk memusnahkan bahaya Pohon penggantungan.

"Baik. Aku yang berkorban " Tan Ciu memberi putusan. "Bila korban yang ditunjuk bukan dirimu."

"Kau sendiri yang dimaksudkan?"

"Betul. Bila permintaan korban menghendaki jiwaku, bagaimana?" Gadis itu memandang sipemuda tajam-tajam.

Tan Ciu tersentak kejut, hatinya gemerinding dingin! Ada ada saja, masakan membongkar rahasia Pohon

Penggantungan harus ditebus dengan jiwa seorang gadis, bahkan gadis yang mempunyai wajah cantik seperti Co Yong Yen. Gigi sipemuda beradu keras, betapa hebat pertarungan jiwanya itu. Rahasia kematian Tan Sang harus dibeberkan, lenyapnya Thung Lip wajib diterangkan. Bila diketahui kemana si Cendekiawan Serba Bisa itu pergi, rahasia Pohon Penggantungan segera pecah sama sekali. Tan Ciu menggigit bibir!

"Kau ingin menakuti diriku?" "Bukan. Hal ini segera akan terjadi!"

"Yang penting bagiku. Bagaimana dan apa yang menyebabkan kematian cicieku?"

"Mengapa si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip lenyap dari keenam kawannya. Siapa pencipta Pohon Penggantungan?"

Sifat kepala batu pemuda itu membuat Co Yong Yen goyang kepala. Ia menghela napas dan berkata dengan suara lemah.

"Baik. Aku segera memberi keterangan kepadamu," "Mulailah dari si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip." "Dia adalah kekasih guruku ..."

"Namamu tentunya bukan Co Yong Yen.."

"Aku bernama Yong? Agaknya mirip dengan nama guruku?"

"Ada sesuatu dendam ganjalan diantara gurumu dan Thung Lip?".

Gadis berbaju putih itu anak murid Cong Yong Yen yang bernama Co Yong, Co Yong menganggukkan kepala?

"Betul." Ia berkata. "Si Sastrawan Serba Bisa Thung Lip menggunakan bisa menusuk guruku. Kemudian getah kejahatan dilempar kepada orang lain dan mengatakan kepada kawan-kawannya, bahwa kekasih itu di bunuh orang."

"Inilah alasan gurumu membunuh Thung Lip dirimba Pohon Penggantungan?"

"Bukan. Guruku tidak membunuhnya"

"membawa kekasih lama itu kedalam Banteng Penggantungan."

Benteng Penggantungan?! lagi lagi sebuah nama yang seram.

Tan Ciu membelalakkan mata lebar-lebar "Benteng Penggantungan?!"

Ia kurang percaya."Setelah ada Pohon Penggantungan masih disusul dengan nama Benteng Penggantungan. Hal ini bukanlah soal kebetulan. Dua tempat itu pasti mempunyai hubungan yang erat."

Co Yong menganggukan kepala.

"Kepala Benteng Penggantungan inilah tentunya yang menciptakan Pohon Penggantungan, bukan?"

"Menurut keterangan guruku Benteng Penggantungan tidak mempunyai sangkut paut dengan Pohon Penggantungan."

Lagi lagi keterangan yang berada diluar dugaan.

Yang satu Pohon Penggantungan lainnya Benteng Penggantungan mungkinkah tidak ada hubungan sama sekali?

Mungkin Co Yong tidak tahu rahasia Benteng Penggantungan. Mengapa Co Yong Yen membius semua orang dibawah Pohon Penggantungan dan menyulik si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip, membawanya kedalam Benteng Pengganti!

Co Yong Yen yang kita sebut kali ini adalah Co Yong Yen asli, guru si gadis baju putih Co Yong.

”Masih ada pertanyaan yang kau ingin  ajukan?" Bertanya Co Yong.

"Dimana letak Benteng Penggantungan?" Tan Ciu bertanya.

Co Yong memandang wajah Tan Ciu dengan penuh, perasaan takut, seperti apa yang telah diduga pada sebelumnya, pemuda itu pasti mengajukan pertanyaan diatas. dari sudut sudut kebandelan Tan Ciu.  mana mungkin ia tidak mendatangi Benteng Penggantungan?

Inilah yang paling dikhawatirkan olehnya.

"Dengan ilmu kepandaian yang  kau miliki, belum waktunya masuk kedalam Benteng Penggantungan." Berkata Co Yong.

"Mengapa?" Tan Ciu bertanya.

"Karena Benteng Penggantungan melarang orang luar masuk. Kau bisa mati ditempat itu."

"Hmm ... Aku ingin melihat lihat bagaimana seramnya Benteng Penggantungan itu,"

"Kulihat..."

"Katakanlah, dimana letak Benteng Penggantungan?" "Kau tidak menyesal?"

"Segala sesuatu yang telah kulakukan tidak pernah kusesalkan." "Baik. Benteng Pengantungan terletak di lembah Siang kiat, gunung Kerangkeng Macan"

Keterangan Co Yong disusul oleh satu suara dingin yang dikeluarkan oleh orang yang berada diluar kelenteng.

Wajah Co Yong berubah. Pembicaraan mereka berada dibawah pengawasan orang.

Tan Ciu terkejut,

"Bukan urusanmu." Bentak Co Yong. "Kau jangan turut Campur"

Tubuhnya melesat keluar kelenteng, meninggalkan pemuda itu seorang diri!

Tan Ciu mendapat firasat buruk, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang tidak baik!

Diluar kelenteng terdengar bentakan

"Budak hina, berani membocorkan rahasia?" "Paman!..." Inilah suara Co Yong.

"Agar tidak mengotorkan tanganku, lebih baik kau bunuh diri saja."

Tan Ciu menggigil dingin, cepat sekali melayang keluar kelenteng. Dilihat seorang laki laki berbaju hitam, yang didampingi oleh dua wanita berbaju hitam juga sedang mengadili Co Yong.

Si gadis bertekuk lutut dihadapan tiga orang berbaju hitnm itu.

Tanpa membuang waktu. Tan Ciu menyela masuk dan berdiri diantara kedua pihak. "Kalian tentunya orang orang dari Benteng Penggantungan?" Ia bertanya kepada tiga orang berbaju hitam.

Dua wanita berbaju hitam diam. Laki laki adalah pemimpin mereka ia berkata:

"Betul."

"Apa yang kalian lakukan kepadanya? Tan Ciu menunjuk kearah Co Yong.

"Ini urusan benteng kami." "Aku tidak dapat lepas tangan." "Kukira kau tidak berhak."

"Hak itu boleh diusul belakangan." Co Yong berteriak.

"Tan Ciu, minggir. Bukan urusanmu."

Diseretnya  si   pemuda kesamping, menghadapi dua wanita dan seorang lelaki berbaju hitam itu, ia berkata.

"Aku turut kalian pulang benteng." "Baik," berkata lelaki berbaju hitam itu.

Melihat empat orang itu siap berangkat, Tan Ciu membentak.

"Tunggu dulu!"

"Apa yang kau mau?" Co Yong Yen mendelikkan mata. "Apa yang akan mereka lakukan kepadamu?"

"Sudah kukatakan. Ini bukan urusanmu." Laki-laki berbaju merah itu berkata. "Bila kau ada niatan untuk turut mati aku bersedia mengantarkan jiwamu pergi kealam baka."

Tan Ciu mengetahui apa yang akan menimpa diri si gadis berbaju putih Co Yong bila bukan karena membela diri, bila bukan karena membocorkan rahasia Benteng Penggantungan, Co Yong tidak akan menghadapi kesulitan ini, Ia wajib turun tangan. Dengan geram ia telah berteriak,

"Ingin kulihat, bagaimanakah ilmu kepandaian orang- orang dari Benteng Penggantungan!"

"Nah, terimalah ini.” Berkata lelaki berbaju hitam yang segera mengeluarkan pedang dan menusuk pemuda kearah pemuda kita."

Tan Ciu tidak tinggal diam, pedangnya berpindah ketangan, dan menangkisnya.

Traanngg....... Dua badan terpisah. Tan Ciu mundur sampai dua langkah.

Laki laki berbaju hitam itu menyerang lagi! Cepat sekali pedangnya berkilat kilat.

Tan Ciu membentak keras, dan memapaki datangnya pedang. Pemuda ini sangat penasaran.

Disaat yang sama, dikala Tan Ciu menempur laki-laki berbaju hitam itu, Co Yong bangkit dan memukul punggung pemuda kita. Gerakan Co Yong sangat cepat. Apa lagi Tan Ciu tidak bersiaga sama sekali, bagian belakang tubuhnya kena dihajar si gadis.

Jalan pernafasan Tan Ciu menjadi sesak, mulutnya terbuka, memuntahkan darah segar.

Laki laki berbaju hitam tidak tinggal diam, pedangnya membayangi gerakkan lawannya, Tempat yang diancam ialah dada si pemuda. Tan Ciu tidak dapat menghindari diri dari tusukkan pedang ini. Sebentar lagi, jiwanya pasti melayang.

Co Yong kaget sekali, tubuhnya maju, di dorong tubuh si pemuda ke samping. Maka Tan Ciu jatuh, tetapi terhindar dari tusukan pedang.

Karena langkah perbuatannya sendiri. Co Yong terperosok kedepan, dialah menjadi arah ancaman pedang.

Terdengar suara jeritan si gadis, lengannya yang putih dibasahi oleh cairan merah, itulah darahnya sendiri, darah yang keluar dari lubang luka tusukan pedang si laki laki berbaju hitam.

Tan Ciu turut berteriak kaget.

Co Yong tidak dapat berdiri, tubuhnya jatuh ditanah, darah masih mengalir deras. membasahi daerah disekitarnya.

Perbuataa Co Yong yang memukul Tan Ciu berada diluar dugaan. Yang lebih membingungkan orang lagi ialah langkah berikutnya yang menolong jiwa pemuda itu dari lubang kematian.

Kini ia telah jatuh, keadaan lukanya sangat parah.

Dua wanita berbaju hitam dan laki-laki itu memandang sigadis dengan perasaan bingung tidak mengerti.

Tan Ciu menggerung keras, ia menyerang laki laki berbaju hitam, serangannya sudah kalut, membabi buta, acak acakan.

Melayang turun satu bayangan merah  langsung bergumul dengan laki-laki berbaju hitam dari Benteng Penggantungan. Terdengar suara napas seseorang yang menerima hantaman, tubuh laki laki berbaju hitam ini jatuh kebelakang.

Disana telah bertambah seorang gadis berbaju merah. itulah si Jelita Merah.

"Aaaaa..." Tan Ciu mengeluarkan suara teriakan tertahan. Lagi-lagi gadis ini menolong dirinya.

Dua wanita berbaju hitam maju mengeroyok Jelita Merah. tiga orang ini bergulet dengan kemenangan.

Co Yong menggeletak ditanah, mengambang diatas darah merah.

Tan Ciu sangat terbaru, dengan sisa tenaga yang masih ada, ia menubruk tubuh gadis itu.

"Nona Co..."

Co Yong membuka matanya, ia belum mati. Dua  butir air mata meleleh keluar! Tan Ciu memanggil dengan suara yang gemetaran

"Nona Co "

Co Yong membuka mulutnya, menggerak-gerakkan bibir agaknya ia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tidak terdengar suara yang keluar dari mulut mungil kecil itu. Lukanya terlalu hebat, ia  terlalu banyak mengeluarkan darah.

Gadis itu sudah hampir mati, Tan Ciu turun mengucurkan air mata kesedihan. Karena ia yang memaksa orang. Maka gadis itu menerima kematian yang menyedihkan.

"Kau ... Mengapa... kau menangis?" Terdengar suara Co Yong bicara, "Aku telah menyusahkanmu."

"Kau....menyesal? Bukankah.... Bukankah kau tidak pernah... menyesal.... atas segala perbuatan.... yang telah lakukan?"

Air mata Tan Ciu mengucur semakin deras.

"Apa yang harus kulakukan kepadamu?" Ia  berkata dengan suara sember.

"Aku..... aku..... benci kepadamu " Berkata Co Yong.

"Kau...kau telah menghancurkan.... hidupku.."

Apa yang gadis itu katakan memang beralasan, bila bukan karena Tan Ciu yang muncul. tentunya ia tidak menerima kematian ini,

Suara bentakan bentakan dari tiga orang yang bertempur telah sampai pada tingkat terakhir. Terdengar satu suara jeritan, seorang wanita berbaju hitam telah menjadi korban tangan si Jelita Merah.

Tan Ciu tidak sempat memperhatikan jalan pertempuran itu.

Terdengar lagi suara jeritan lain, seorang wanita berbaju hitam lagi telah mati dipukul oleh gadis baju merah itu.

Laki laki baju hitam dengan pedang ditangan maju membentak.

"Hai,kau berani membunuh orang Benteng Penggantungan?"

"Ha...ha Aku jelita Merah belum pernah takut orang."

Laki laki baju hitam itu mundur setengah langkah, nama Jelita Merah menggetarkan hatinya.

"Kau Kau yang bernama Jelita Merah?" "Kau berani melawanku?"

Laki laki berbaju hitam membalikkan badan, tubuhnya melayang dan lari ngabrit, tanpa memandang dua jenazah kawannya lagi.

Jelita Merah mendapat kemenangan mutlak. Lagi lagi ia merengut dua jiwa manusia.

Tan Ciu dan Co Yong hadap berhadapan, mereka mengucurkan air mata.

0000dw0000

JELITA MERAH tidak mengejar laki-laki berbaju hitam yang telah melarikan diri. Ia memeriksa dua wanita berbaju hitam, mereka sudah tidak bernapas.

Tangisan Co Yong dan isak Tan Ciu terdengar olehnya. "Hm... Seorang laki laki mengucurkan air mata?" Ia

mendekati dua orang itu!

Tan Ciu membalikkan badannya. "Pergi.."

"Eh, kau galak?" Jelita merah maju semakin dekat. "Pergi. Aku benci kepadamu!" Berkata Tan Ciu.

Hawa pembunuhan mengarungi wajah Jelita merah, Ia mengeluarkan suara tertawa yang sangat tajam.

"Jangan lupa bahwa jiwa kalian berada ditanganku. Bila bukan aku yang menolong, kau kira masih hidup sampai saat ini? " Ia tertawa.

"Budimu akan kubalas dikemudian hari!!" Berteriak Tan Ciu, Jelita Merah memandang mereka bergantian. "kekasihmu?" Ia bertanya kepada Tan Ciu. "Bukan urusanmu." Sipemuda membentak.

Wajah jelita merah berubah.

"Kau tidak kenal budi." Ia berkata marah.

"Dapatkah kau melanjutkan perjalananmu." Tan Ciu mulai memohon.

"Aku tidak mau pergi." Berkata Jelita Merah. "Apa yang dapat kau lakukan kepadaku ?"

Tan Ciu tidak bicara. Ia menggendong tubuh Co Yong yang telah mandi darah itu.  Mengambil lain arah, ia meninggalkan si Jelita Merah.

Satu bayangan berkelebat. Jelita Merah menghadang kepergian sipemuda.

Tan Ciu memperlototkan mata.

"Apa yang kau mau?" Ia membentak.

"Eh, hanya beberapa patah terima kasih pun tidak mau kau ucapkan!"

Tan Ciu tidak mempunyai kesan baik kepada gadis berbaju merah tersebut. Hanya lebih dari satu kali, orang menolong dirinya. Bahkan kali ini, si Jelita Merah telah menolong dua jiwa. bagaimana ia tidak berterima kasih.

"Baiklah. Terima kasih. Bantuanmu tidak dapat kulupakan." Ia berkata.

Jelita Merah tertawa puas! Menuju ke arah Co Yong. ia bertanya,

"Kekasihmu?" "Bila betul, bagaimana? Bila bukan, apa pula." "Ia segera akan mati ."

Tan Ciu menoleh kearah wajah Co Yong, didalam

pelukannya, wajah itu pucat pasi, Kehilangan darah yang terlalu banyak menyebabkan keadaan Co Yong menjadi payah, ia maklum, ajal gadis berbaju putih ini tidak panjang lagi.

Seperti apa yang telah kita ketahui, Tan Ciu mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Tan Sang, sifat sifatnya suka pakaian putih. Sayang Tan Sang sudah tiada, maka bayangan kakak itu jatuh pada Co Yong yang suka mengenakan pakaian putih putih.

Kini Co Yong segera hampir meninggal, karenanya ia menjadi sedih sekali.

"Nona Co... " ia memanggil perlahan. Co Yong mendengar suara panggilan, ia membuka kedua matanya perlahan.

"Nona Co.." Tan Ciu memanggil lagi. Ia meletakkan tubuh gadis ini ditanah.

"Kau... sudah .. tidak... mau.. mengurus...ku?" terputus putus Co Yong bertanya.

Tan Ciu menggoyangkan kepala,

"Aku tidak membiarkan kau mati." Ia berkata. "Aku.. sudah.. hampir .. mati."

"Jangan Khawatir, aku akan berusaha."

"Ke .. ma .. ti .. an .. ku .. menggang.. gu .. ketenangan .. mu... Bukan?"

"Aku akan menghidupkanmu." "Ti ... dak ... mungkin ...!"

Co Yong mengatupkan kedua matanya! Maut sudah dekat sekali!

Tan Ciu tidak berdaya! Butiran air mata turun dari kelopak mata pemuda ini!

Jelita Merah turut dibuat terharu! Ia menghela napas panjang!

"Kulihat, kau cinta sekali padanya!” Ia berkata. "Tidak. Aku hanya bersedih karena kematiannya," "Bila ia tidak dapat ditolong. bagaimana?"

"Aku akan sengsara seumur hidup."

"kukira hanya seorang yang dapat menolong dirinya." Tan Ciu tersentak bangun.

"Kau katakan, ada seorang dapat menolong jiwanya dari kematian?" Ia bertanya.

Jelita Merah menganggukkan kepala. "Siapakah orang itu?"

"Aku tidak mau menjadi orang tolol." Berkata Jelita Merah tersenyum senyum.

"Orang tolol?" Tan Ciu tidak mengerti.

"Kau mempunyai kesan buruk kepadaku, bukan?" Tan Ciu bungkam!

"Mengapa harus membantu usahamu?" Berkata lagi Si

Jelita Merah!

Tan Ciu menjadi marah! "Aku tidak percaya tidak ada orang yang  dapat menolongnya!" Ia ngambek.

"Kau tidak tahu bahwa umurnya hanya tinggal beberapa jam saja." Berkata Jelita Merah.

Apa yang di kemukakan si Jelita Merah bukanlah gertakan bohong. Didalam waktu beberapa jam lagi. bila tidak ada orang yang memberi pertolongan atau memberi transfusi darah kepada gadis baju putih itu, Co Yong pasti mati.

"Hei." Tan Cin membentak. "Kau katakan ada orang yang dapat menolong jiwanya?"

"Betul.. "

"Aku berani menyerahkan apa yang ada, termasuk jiwaku, agar dapat menolong jiwanya, Katakanlah, siapa orang itu?"

"Aku tidak mengharap jiwamu." Berkata Jelita Merah. "Apa yang kau mau?"

"Aku hanya mengajukan tiga syarat!" "Katakanlah."

"Syarat pertama, kau tidak boleh membenciku!" "Baik."

"Syarat kedua, kau harus mengawani aku selama satu hari penuh."

"Baik."

"Dan ayarat yang ketiga kusimpan untuk dikemudian hari, hutang syarat ini harus kau penuhi tanpa bantahan."

"Baik." Tan Ciu menjawab tiga syarat tadi dengan tiga kali 'baik' jawaban yang terlalu cepat sekali.

"Kau tidak menyesal?" Jelita Merah meminta ketegasan! "Tidak. Katakan lekas, siapa yang dapat menolong

jiwanya?"

"Ketua perkumpulan Ang-mo kauw, Ang-mo kauwcu." "Ang mo Kauwcu?"

"Betul."

Hati Tan ciu menjadi dingin mendadak, musuh telah terjadi diantara dirinya dan perkumpulan Ang mo-kauw belum selesai, mungkinkah dapat meminta pertolongannya untuk menghidupkan Co Yong?

"Ang mo Kauw cu mempunyai obat yang bernama Seng- hiat-hoan-hun tan," berkata Jelita Merah. "Obat ini khusus untuk menambah darah orang ynng telah kehilangan banyak darah. Kawan wanitamu ini mengalami luka dibagian ini. Hanya Seng hiat-hoan hun-tan yang dapat menolongnya dari kematian."

Apa yang Jelita Merah katakan adalah keadaan yang sesungguhnya. Seng hiat hoan hun-tan khusus untuk menambah darah, siasatnya berjalan cepat. Hanya obat itu yang dapat menolong jiwa Co Yong.

Tan Ciu menggeretek gigi. Tak perduli Ang mo Kauw cu mau atau tidak mau, ia harus menyerahkan obat Seng-hiat- hoan hun tan itu.

"Baik, Aku segera kesana." Si pemuda berkata. ia mengangkat tubuh Co Yong untuk dibawa bersama.

Menunjuk kearah tubuh gadis itu. Jelita Merah mengajukan pertanyaan. "Kau mengajaknya?" "Betul."

Jelita merah mengkerutkan kening. "Lukanya parah. Getaran di tengah jalan, pasti mengganggu. Menurut hematku, lebih baik kau serahkan dirinya kepadaku."

"Kau bersedia Merawatnya?"

"Betul, Legakanlah hatimu. Aku menambah dengan beberapa macam obat berkasiat, agar umurnya dapat diperpanjang sehingga kau kembali membawa obat Seng- hiat hoan hun-tan."

"Baiklah."

Tan Ciu menyerahkan Co Yong kepada si Jelita Merah. Sedangkan ia sendiri, harus segera pergi ke lemhah Iblis Merah menemui Ang mo Kauwcu untuk membawa Seng hiat-hoan hun-tan.

"Nah, pergilah dengan tenang," Jelita Merah menyambuti tubuh Co Yong.

"Aku berterima kasih kepadamu!"

"Jangan lupa. kau tidak boleh benci lagi kepadaku." "Aku pergi."

"Pergilah. Aku menunggu dikelenteng ini. Nanti, aku akan menceritakan sebuah drama sedih kepadamu?"

"Drama sedih?" "Betul." "Tentang siapa?"

"Tentang aku dan guruku." "Baik. Kini aku berangkat.." "Selamat jalan." Tan Ciu tidak bicara. Ia mengeluarkan sebutir obat, dimakannya segera. Ia pun berada dalam keadaan luka, obat tadi dapat membantu menyembuhkan lukanya.

Tubuh si pemuda melesat, gerakkannya cepat sekali.

Sekejap mata kemudian, bayangan itu lenyap.

Jelita Merah memandang ke arah lenyapnya bayangan si pemuda, ia menghela nafas. Tiba-tiba.

Terdengar satu suara memecah udara, "Apa yang kau sesalkan?"

Jelita Merah terkejut, ia memandang kearah datangnya

suara. Disana terlihat seorang kakek berpakaian compang camping, rambutnya tidak terurus.

Itulah si kakek aneh Su Hay khek. Su Hay Khek tertawa bergelak-gelak,

"Hebat... Hebat... Babak yang sangat mengesankan." Suaranya sangat gembira.

"Tua bangka." Jelita Merah membentak "jangan kau mengaco belo!"

"Ngaco belo? Melihat gerak gerik, melihat tarikan napasmu seperti itu... hmm... Hmm... Pasti, kau telah jatuh cinta padanya"

Wajah Jelita Merah menjadi bersemu dadu "Kau ingin menerima tamparan?" Ia mengancam..

Kakek itu masih tertawa.

"Kau tidak membutuhkan kakek comblang?" ia bandel. "Sekali lagi kau usil mulut, betul betul aku mengirim

tamparan, tahu?" "Baik... Baik... Mulutku tidak boleh usil lagi.” Kakek aneh Su Hay Khek memang mempunyai kepribadian yang aneh sekali.

"Cukup."

"Sekarang memang sudah cukup. Pada suatu hari, bila kau meminta perantaraanku untuk "

Su Hay Khek menutup kata katanya sampai disitu.

"Hei. bagaimana tugas yang kuserahkan kepadamu?" bentak Jelita Merah.

"Tugas yang mana?"

"Pohon Penggantungan, si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip, dan jejaknya Tay Kiam Lam."

"Hasil yang kudapat agak kurang memuaskan.." "Katakanlah lekas!"

"Pohon Penggantungan mungkin mempunyai Benteng Penggantungan."

"Heee Benteng Penggantungan?"

"Betul. Suatu hari, aku bertemu dengan seorang kawan lama, dikatakan olehnya bahwa didalam rimba persilatan muncul suatu Benteng Penggantungan."

"Dimanakah letak benteng ini?" "Belum dapat kuselidiki."

"Thung Lip   jatuh kedalam   tangan orang Benteng

Penggantungan?". "Betul."

-ooo0dw0ooo-