Pendekar Riang Jilid 16

 
Jilid 16

AKHIRNYA SECARA lamat-lamat dia dapat membaca juga tulisan yang tercantum di atas kertas itu.
 
"Hati-hati kakimu..."

Ketika membaca tulisan itu, kakinya menjadi kehilangan keseimbangan dan segera terjerumus ke bawah.

Ternyata di bawah sana terpasang sebuah perangkap. "Hati-hati " teriak Yan Jit.
Ditengah bentakan, dia sudah menerjang, ke muka dan menarik tangan Kwik Tay-lok.

Mendapat tarikan, Kwik Tay-lok segera mementalkan tubuhnya ke udara dan melompat ke atas.

Ilmu dalam meringankan tubuh yang dimilikinya tidak terhitung lemah, lompatannya itu sangat tinggi.
Sayangnya sekali, semakin tinggi dia melompat, semakin ruyamlah keadaannya. "Kraaakkk. !" tiba-tiba dari balik daun berkumandang suara keras, tiba-tiba sebuah jaring
besar terjatuh dari atas.

Sungguh sebuah jaring yang besar sekali.

Sekalipun Kwik Tay-lok punya sayap dan bisa terbang seperti burung, juga jangan harap bisa menghindarkan diri dari sergapan tersebut.

Apalagi tubuhnya sedang melompat ke tengah udara, seakan-akan tubuhnya sedang menyongsong datangnya jaring tersebut, mau menghindar ke arah manapun tak sempat lagi.

Bukan dia saja yang tak bisa menghindar, Yan Jit sendiripun tak dapat menghindarkan diri. Tampaknya kedua orang itu segera akan terkurung oleh jaring besar itu....
Mendadak sesosok bayangan hitam meluncur lewat seperti peluru yang ditembakkan oleh meriam, kecepatannya hampir sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Bayangan hitam itu menyambar lewat dari atas kepala mereka, tangannya dengan cekatan menyambar jaring tadi.

Bayangan hitam itu bukan peluru kanon, melainkan manusia. Dia adalah Lim Tay-peng !
Setelah menyambar jaring itu, tubuh Lim Tay-peng masih meluncur ke depan sejauh dua tiga kaki lebih ke depan sebelum akhirnya gerakan itu melamban.

Sementara itu Kwik Tay-lok dan Yan Jit sudah mengundurkan diri keluar dari hutan itu, tampak Lim Tay-peng masih bergelantung di atas pohon dengan tangan yang satu memegang dahan, tangan lain memegang jala, tubuhnya berayunan kesana kemari.

Jantung Kwik Tay-lok masih berdebar keras, tak tahan lagi dia menghela napas panjang, lalu katanya sambil tertawa getir:

"Kali ini, seandainya bukan kau, aku benar-benar sudah menghantarkan diri ke dalam jaring."
 
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku!" kata Lim Tay-peng sambil tertawa.

"Kalau tidak berterima kasih kepadamu, lantas harus berterima kasih kepada siapa?" "Berterima kasih saja kepada orang yang berada di belakangmu."
Ketika Kwik Tay-lok membalikkan badannya, dia baru melihat Ong Tiong dengan wajah hijau membesi sedang berdiri di belakang.

Sambil tertawa kembali Lim Tay-peng berkata:

"Sedari tadi toh sudah kukatakan, aku sudah tak mampu untuk melompati tembok lagi" "Lantas tadi..."
"Tadi, Ong lotoalah yang melemparkan tubuhku dengan kekuatan yang hebat, kalau tidak masa bisa secepat itu gerakan tubuhku?"

Di dunia ini memang tak akan ada orang yang memiliki gerakan tubuh sedemikian cepatnya, andaikata tidak meminjam daya lemparan dari Ong Tiong, siapapun mustahil bisa memiliki gerakan tubuh sedemikian cepatnya.

Kwik Tay-lok melirik sekejap ke arah Ong Tiong, lalu katanya sambil tertawa paksa: "Tampaknya tenaga lemparan yang dimiliki Ong lotoa memang hebat juga...!"
"Tapi Ong lotoa justru mengagumimu." ucap Lim Tay-peng. "Mengagumi aku ?"
"Meski tenaga lemparannya besar, nyalimu jauh lebih besar." kontan Kwik Tay-lok melotot sekejap ke arahnya sambil mengomel:

"Apakah kau harus menirukan seekor monyet, berbicara sambil bergelantungan di atas pohon
?"

"Sebetulnya sedari tadi aku sudah pingin turun," jawab Lim Tay-peng sambil tertawa: "sayang kakiku memang tidak penurut."

Ong Tiong tidak berbicara apa-apa selama ini, demikian pula Yan Jit....

Kedua orang itu sedang mengawasi Kwik Tay-lok dengan mata mendelik. Kwik Tay-lok cuma bisa tertawa getir sambil berkata:
"Tampaknya, bukan cuma tiada perbuatan yang berhasil kulakukan hari ini, bahkan berbicarapun tak ada yang benar."

Saat itulah Yan Jit baru menghela napas.

"Aaaai. ! Baru kali ini perkataanmu itu benar," katanya.

Cahaya lampu menyinari dalam ruangan.
 
Di atas meja, selain terdapat lampu, masih ada lagi secarik kertas, sebilah pisau dan seguci arak.



Karena pada akhirnya Kwik Tay-lok tak tahan juga untuk mencabut keluar pisau itu dari atas pohon, tentu saja dia tak lupa untuk membawa pulang seguci arak itu.

Meski potongan badan orang ini tidak mirip kerbau, wataknya justru watak kerbau. Dia malah kelihatan berbangga hati, ujarnya sambil tertawa:
"Aku toh sudah bilang, mencabut pisau itu tidak ada pengaruhnya, aku sudah tahu bahwa permainan yang mereka persiapkan kali ini sudah pasti adalah suatu permainan baru, coba lihatlah, bukankah permainan ini termasuk suatu permainan baru?"

"Barunya sih memang baru, tapi ikan yang masuk jaringpun lebih baru dan segar." sambung Yan Jit dingin.

Dia mengambil pisau di meja itu dan melanjutkan:

"Sekarang aku baru tahu, pisau ini sebetulnya dipersiapkan untuk memotong daging apa." "Apakah untuk memotong daging ikan ?" tanya Kwik Tay-lok kemudian dengan cepat. "Akhirnya betul juga jawabanmu itu."
"Kalau begitu, lebih baik aku menjadi seekor ikan yang mabuk saja, biar kalau di potong tidak terasa sakit."

Dia lantas mengangkat guci arak itu siap untuk diminum, gumamnya kembali:

"Udang mabuk konon merupakan hidangan yang terlezat dari wilayah Kanglam, aku rasa ikan mabuk pasti sedap pula rasanya."

Tapi arak itu belum sempat diteguk olehnya, sebab secara tiba-tiba Ong Tiong merampas guci araknya itu.

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, lalu serunya:

"Eeeh. sejak kapan kau berubah menjadi seorang setan arak seperti aku ?"

"Arak ini tak boleh diminum !" ucap Ong Tiong.

"Tadi saja masih bisa diminum, mengapa sekarang tak boleh diminum ?" "Sebab tadi adalah tadi dan sekarang adalah sekarang"
Yan Jit memutar sepasang biji matanya, lalu berkata:

"Tadi guci arak ini kau letakkan dimana?" "Di depan pintu!" jawab Kwik Tay-lok.
"Tadi kita semua berada didalam hutan, apakah di depan pintu tiada orang lain?"
 
"Yaaa tak ada !"

"Itulah sebabnya arak itu tak boleh diminum sekarang"

"Masa baru pergi sejenak, sudah ada orang yang meracuni arak kita itu ?"

"Jangan kau bilang kepergian kita tadi cuma sebentar, saat seperti itu sudah cukup buat orang lain untuk meracuni delapan puluh guci arak!"

"Aaah. Kalian jangan menakut-nakuti aku, jangan kau lukiskan mereka itu menakutkan sekali, memangnya mereka benar-benar bisa menerobos masuk tanpa lubang dan tak pernah melewatkan setiap kesempatan yang bisa dipakai untuk mencelakai orang."

Ong Tiong tidak berbicara, tiba-tiba dia melangkah keluar pintu dan membanting guci itu keras- keras.

Guci itu seketika hancur berantakan, arakpun mengalir membasahi seluruh tanah. Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, gumamnya:
"Sayang, benar-benar amat. "

Tiba-tiba suaranya terhenti sampai separuh jalan, orangnya juga mendadak ikut tertegun.

Seekor ular yang kecil, kecil sekali sedang merambat keluar dengan pelan sekali dari balik hancuran guci arak tersebut.

Ular itu bukan cuma kecilnya bukan kepalang, tapi semakin kecil tubuhnya, konon semakin berbisa pula.

Paras muka Kwik Tay-lok berubah hebat tak tahan lagi dia menghela napas panjang, gumamnya:

"Tampaknya orang-orang itu betul-betul sudah menerobos masuk melalui setiap lubang yang ada !"

"Yaa, itulah ular bergaris merah yang bisa masuk melalui setiap lubang yang ada!" seru Yan Jit secara tiba-tiba.

Dengan terkejut dia memandang ke arah Ong Tiong, kemudian ujarnya kembali: "Betulkah ular itu adalah ular bergaris merah yang disebut Bu-khong-put-ji ?"
Dengan wajah hijau membesi pelan-pelan Ong Tiong membalikkan tubuhnya lalu berjalan, kembali ke ruangan dan duduk di bawah sinar lentera.

Kali ini, ternyata ia tidak membaringkan diri. Kembali Yan Jit menghampirinya sambil bertanya:
"Apakah dia. .? Sebenarnya benarkah dia?"

Kembali Ong Tiong termenung sampai lama sekali, tapi akhirnya dia mengangguk juga.
 
Yan Jit segera menghembuskan napas panjang, selangkah demi selangkah ia mundur ke belakang, tiba-tiba diapun membaringkan diri.

Kali ini dia membaringkan diri di atas ranjang.

Kwik Tay-lok segera menghampirinya sambil bertanya:

"Apa sih yang dimaksudkan dengan Bu-khong-put-ji tersebut ?" "Dia adalah seorang manusia !"
Bukan saja keadaan Yan Jit saat ini sudah lemas sekali, bahkan tenaga untuk berbicarapun sudah tidak dimiliki.

"Manusia macam apakah dia ? Kau kenal dengan orang itu ?" tanya Kwik Tay-lok lagi. Yan Jit tertawa getir.
"Seandainya aku kenal dia, aneh namanya kalau aku masih bisa hidup sampai sekarang." Tiba-tiba dia melompat bangun dan menerjang kehadapan Ong Tiong, setelah itu serunya: "Tapi kau, sudah pasti kau mengenalnya!"
Ong Tiong termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata sambil tertawa: "Sekarang, aku toh masih hidup !"
"Aaaai. orang yang mengenali dirinya, ternyata masih bisa hidup dengan segar bugar,
memang kejadian ini merupakan suatu kenyataan yang tidak mudah."



Pelan-pelan senyuman di wajah Ong Tiong lenyap tak berbekas, kemudian iapun menghela napas panjang.

"Yaa, memang tidak mudah !" sahutnya.

Hampir berteriak keras Kwik Tay-lok karena tak sabar, serunya dengan lantang: "Sebenarnya kalian sedang membicarakan soal manusia ? Atau soal ular ?" "Manusia !" jawab Yan Jit.
"Apakah orang itu bernama ular bergaris merah ?"

"Yaa, lagi pula Bu-khong-put-ji, artinya: kau mempunyai setitik keteledoran saja maka dia akan segera meracunimu sampai mampus."
"Setitik keteledoran ? Setiap orang tak akan terhindar untuk membuat sedikit keteledoran." "Aaai. itulah sebabnya andaikata dia hendak meracunimu, maka hanya ada satu jalan saja
bagimu."

"Jalan yang mana ?"
 
"Mati diracuni olehnya !"

Tanpa terasa Kwik Tay lok menghembuskan napas dingin, serunya:

"Kalau begitu permainan busuk yang dipakai untuk mencelakai orang tadipun merupakan bagian dari permainan busuknya?"

"Meskipun kepandaian meracuni orang yang dimiliki orang itu sudah mencapai tingkatan yang tak terhingga di dunia ini, tapi kepandaian yang lain masih belum seberapa hebat."

"Kalau begitu, akupun bisa berlega hati" kata Kwik Tay-lok sambil menghembuskam napas lega.

"Sayang, kecuali dia masih ada orang lain lagi." "Siapa ?"
"Jian jiu-jian-hu-kong-sin (Dewa kelabang bertangan seribu bermata seribu) !" "Bertangan seribu bermata seribu ?"
"Maksudnya orang ini mampu melepaskan sambitan senjata rahasia yang bagaimana gencarpun sehingga seakan-akan dia mempunyai seribu buah tangan dan seribu buah mata, konon seluruh bagian tubuhnya penuh berisikan senjata rahasia, bahkan dari hidungnyapun dapat mengeluarkan senjata rahasia"
Kwik Tay-lok, mengerling sekejap ke arah Ong Tiong, tiba-tiba katanya sambil tertawa: "Bagus sekali, asal aku bisa berjumpa dengan orang ini, maka hidungnya pasti akan kuhajar
dulu sampai pesek"

"Tapi bila kau berjumpa dengan Ciu-ku-ciu-lam-ang-nio-cu (perempuan berbaju merah yang menolong kesulitan dan menolong penderitaan orang), sudah pasti pukulanmu itu tak akan tega kau lepaskan."

"Perempuan baju merah yang menolong kesulitan dan penderitaan orang? Kalau didengar dari namanya sih tampaknya seorang manusia baik-baik. "

"Dia memang orang baik, tahu kalau kebanyakan orang di dunia ini hidup dalam kesulitan dan penderitaan, oleh sebab itu dia selalu berpikir bagaimana caranya untuk membantu mereka cepat- cepat memperoleh pelepasan."

"Aaaai. kalau kudengar dari perkataanmu itu, tampaknya dia seperti orang jahat."

"Sekalipun kau memilih di dalam delapan ratus laksa orang, belum tentu dapat kau jumpai seorang manusia baik seperti dia."

"Apakah dia memiliki kepandaian khusus?"

Sambil menarik muka dan bernada dingin, sahut Yan Jit: "Soal kepandaiannya, lebih baik kau tak usah tahu." "Apakah dia adalah seorang perempuan yang cantik jelita?"
 
"Sekalipun benar, sekarang juga telah menjadi seorang nenek tua, seorang nenek yang cantik."

"Ia sudah berusia enam-tujuh puluh tahunan?" "Belum."
"Lima-enam puluh tahunan?" "Agaknya belum sampai !"
"Kurang lima empat puluh tahunan ?" "Mungkin sudah mencapai!"
Kwik Tay-lok segera tertawa,

"Saat itu merupakan saat orang menjadi muda untuk kedua kalinya, mana bisa dianggap sebagai seorang nenek ?"

Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, lalu berseru:

"Usianya sudah tidak muda, apa pula hubungannya dengan dirimu ? Apa yang kau girangkan
?"

"Kapan sih aku merasa gembira ?"

"Kalau tidak gembira, kenapa tertawamu macam anjing mendapat tulang ?" "Karena aku memang seekor anjing"
Sekali lagi Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, kemudian tak tahan dia tertawa gelak sendiri. Menggunakan kesempatan itu Kwik Tay-lok segera bertanya lagi:
"Kalau kudengar dari perkataanmu tadi, kepandaian yang dia miliki itu sudah pasti khusus dipakai untuk menghadapi kaum lelaki, bukan begitu ?"

Sekali lagi Yan Jit menarik mukanya.

"Aku sendiripun tak tahu kepandaian apakah yang dia miliki, aku cuma tahu tidak sedikit orang lelaki yang mampus di tangannya."

Selama ini Lim Tay-peng hanya bersandar di kursi sambil beristirahat, tiba-tiba selanya: "Mungkinkah orang-orangan itu hasil bikinannya?"
"Bukan !" jawab Yan Jit.

"Kalau bukan dia, lantas siapa ?"

"Sudah pasti It-kian-son-tiong-cui-mia-hu (Lencana pembetot sukma yang bertemu orang lantas mengantar jenasah) !"
 
"Cui-mia-hu ?" ulang Lim Tay-peng dengan kening berkerut.

"Bukan saja orang ini mempunyai akal busuk yang tak terhitung jumlahnya, lagi pula dia memiliki sepasang tangan yang pandai sekali membuat kerajinan tangan, pandai menyaru, pandai membuat alat perangkap, alat jebakan dan lihay sekali dalam melepaskan senjata rahasia serta membuat senjata aneh, pokoknya orang ini hebat sekali.

Berkilauan sepasang mata Kwik Tay-lok setelah mendengar perkataan itu tiba-tiba gumamnya: "Aku mengerti sekarang.... Aku mengerti. "
"Apa yang kau pahami ?"

"Seekor ular, seekor kelabang, seekor kalajengking dan sebuah lencana pembetot sukma, sekarang yang masih kurang adalah seekor burung elang. "

Tiba-tiba Lim Tay-peng menimbrung:

"Sewaktu aku masuk ke hutan bersama Ong lotoa tadi, aku seperti menyaksikan ada sesosok bayangan manusia sedang melayang turun dari atas jaring tersebut ke atas dahan pohon yang lain."

"Jaring itu sudah barang tentu tak mungkin bisa melayang sendiri dari atas pohon, tentu saja di atas pohon ada orangnya." Seru Yan Jit.

"Kemana perginya orang itu ?" tanya Kwik Tay-lok. Lim Tay-peng segera-tertawa getir.
"Waktu itu aku sedang dilemparkan Ong Lo-toa ke atas pohon, dalam keadaan begitu, aku mana sempat untuk menggubris orang lain lagi? Apalagi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu lihay sekali, pada hakekatnya seperti seekor burung elang saja !"
"It-hui-ciong-thian-pah-ong-heng (Raja elang sakti yang terbang menembusi angkasa)!" "Yaa betul, lima buah layang-layang dengan lima orang manusia, akhirnya komplit juga
sekarang !" seru Kwik Tay-lok sambil bertepuk tangan.

"Diantara kelima orang ini, bukan saja ilmu meringankan tubuh dari Pah-ong-heng yang terhitung tinggi, konon ilmu silat yang dimilikinya pun termasuk paling lihay."

"Menurut penglihatanku, diantara kelima orang itu, yang paling sukar dihadapi adalah si perempuan baju merah yang suka menolong kesulitan dan penderitaan orang itu."

"Kenapa ?"

"Karena kita semua adalah orang lelaki."

"Jika seorang lelaki tidak suka bermain perempuan, sekalipun dia memiliki kepandaian sejagadpun tak akan mampu digunakan." dengus Yan Jit dingin.

"Aaai. tapi lelaki manakah di dunia ini yang tidak suka akan kecantikan wajah seorang
perempuan ?"
 
Selama ini Ong Tiong cuma duduk di situ dengan wajah serius, dia tidak berbicara, tidak pula bergerak.

Bila dapat tidak bergerak, dia tak akan sembarangan bergerak.

Yan Jit mengambil sebuah bangku dan duduk tepat di hadapannya, lalu berkata:

"Kau telah melihat layang-layang itu, kau tentu tahu bukan siapa-siapa saja yang telah datang mencari gara-gara denganmu?"

Kwik Tay-lok memindahkan pula sebuah bangku di hadapannya, lalu berkata pula:

"Oleh sebab itu kau mengusir kami pergi, karena kau tahu bilamana kelima orang itu sudah muncul di sesuatu tempat, maka mereka akan mengobrak-abrik tempat tersebut."

"Kau tak ingin menarik kami tercebur di dalam air keruh ini, maka kau baru berusaha untuk mengusir kami pergi dari sini."

"Tapi, tahukah kau bahwa kami telah bersiap-siap untuk terjun pula ke dalam air keruh itu ?" "Yaa, sejak kami kenal denganmu, kami telah bertekad untuk selalu berada bersamamu." "Karena kami adalah temanmu"
"Maka entah kemanapun kau pergi, kami pasti ada di situ!"

"Maka dari itu, bila kau ingin mengusir kami sekarang, keadaan sudah terlambat!"

Ong Tiong memandang kedua orang itu secara bergantian, dia belum juga berkata apa-apa. Dia tahu, sekarang ia sudah tak perlu berkata apa-apa lagi.
Dia kuatir bila sampai buka mulut maka air matanya akan jatuh bercucuran. Teman !
Kata-kata itu memang amat sederhana, tapi tahukah kalian bahwa dibalik kesederhanaan itu justru tersimpan sesuatu yang agung?

Ong Tiong telah mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, lalu sepatah demi sepatah katanya:

"Kalian memang benar-benar merupakan sahabat karibku !" Walau cuma satu kalimat, namun itu sudah lebih dari cukup.
Asal kau benar-benar dapat memahami makna yang sebenarnya dari ucapan tersebut, maka kau tak usah berkata apa-apa lagi.

Yan Jit tertawa, Lim Tay-peng juga tertawa.

Kwik Tay-lok menggenggam tangan Ong Tiong erat-erat. Asal mereka dapat mendengar, ucapan tersebut, hati mereka sudah merasa amat puas.
 
Mereka tidak bertanya apa sebabnya Ong Tiong bisa bermusuhan dengan kelima orang itu, juga tidak menanyakan darimana datangnya kesulitan tersebut.

Selama Ong Tiong tidak mengatakannya, merekapun tak akan bertanya... Sekarang, satu-satunya persoalan didalam hati mereka adalah:
"Bagaimana caranya untuk menghilangkan kesulitan tersebut ?"

"Begitu melihat munculnya kelima buah layang-layang tersebut, aku sudah tahu kalau kesulitan telah datang" ujar Yan Jit.

"Layang-layang itu sesungguhnya memang merupakan suatu peringatan." Ong Tiong menerangkan.



"Kalau toh mereka bermaksud untuk mencari gara-gara denganmu, apa sebabnya mereka memberi peringatan lebih dulu agar kau membuat persiapan-persiapan ?"

"Sebab, mereka tidak menghendaki kematianku yang terlampau cepat !" Dengan wajah membesi, pelan-pelan terusnya:
"Karena mereka tahu betapa hebatnya penderitaan seorang dalam menantikan saat tibanya kematian, sebab penderitaan dan siksaan semacam itu beratus-ratus kali lipat lebih hebat daripada siksaan serta penderitaan macam apapun"

Yan Jit segera menghela napas panjang.

"Aaai. tampaknya kesulitan yang kau hadapi sekarang benar-benar bukan suatu kesulitan
yang kecil."

"Yaa, memang tidak kecil."

Mendadak Kwik Tay-lok tertawa, katanya:

"Cuma sayang mereka toh masih salah menghitung sesuatu." "Oooooh. "
"Meskipun mereka terdiri dari lima orang kamipun berempat, kenapa kita musti takut? Kenapa kita musti menderita ?"

"Tapi paling tidak mereka lebih untung dalam posisi dari pada kita. "

"Maksudmu ?"

"Serangan yang terang-terangan mudah dihindari, serangan yang bersembunyi susah dihadapi, tentunya kau mengerti bukan apa maksudnya."

"Aku mengerti, tapi aku tidak takut."

"Apa yang kau takuti ?" seru Yan Jit dengan mata melotot.
 
"Takut padamu !"

Tak tahan Yan Jit tertawa geli, tapi dengan cepat dia menarik muka kembali sambil melengos. Padahal diapun memahami perkataan dari Kwik Tay-lok, sebab dia sendiripun demikian.
Manusia macam mereka hanya takut kalau orang lain baik kepada mereka, takut kalau di bikin terharu oleh orang lain.

Andaikata membuat mereka terharu, sekalipun mereka disuruh memenggal batok kepalanya untuk diberikan kepadamu pun, mereka tak akan mengerutkan dahi.

Kembali Kwik Tay-lok berkata:

"Tentara datang kita tahan, air datang kita bendung, manusia-manusia semacam itupun bukan manusia yang luar biasa, selain mencelakai orang dengan akal busuk dan cara tersembunyi, aku lihat kepandaian sesungguhnya yang mereka miliki terbatas sekali."

Setelah berhenti sebentar, terusnya:

"Persoalannya sekarang hanyalah, kapan mereka baru akan benar-benar datang kemari?" "Entahlah !" ucap Ong Tiong.
"Masa kau sendiripun tidak tahu ?"

"Aku hanya tahu sebelum mereka menghantar keberangkatanku ke alam baka, sudah pasti orang-orang itu tak pergi dari sini!"

Kwik Tay-lok segera tertawa, katanya:

"Sekarang, siapa yang akan menghantar keberangkatan siapa masih sukar ditentukan, rasanya kitapun tak perlu cepat berputus asa!"

Disitulah terletak daya tarik Kwi Tay-lok..

Dia selalu percaya pada diri sendiri, dia selalu periang, manusia macam ini, sekalipun menghadapi langit ambrukpun tak akan bermuram durja, sebab dia beranggapan asal seseorang memiliki keyakinan serta rasa percaya pada diri sendiri, maka kesulitan macam apapun dapat diselesaikan.

Bukan saja dia memiliki rasa percaya pada diri sendiri, selain itu dia pun berusaha menanamkan rasa percaya pada diri sendiri itu di dalam hati orang lain.
Pelan-pelan paras muka Ong Tiong berubah menjadi cerah kembali, tiba-tiba ujarnya: "Walaupun mereka agak menang posisi, tapi akupun mempunyai suatu cara yang baik untuk
menghadapi mereka."

"Apa caramu itu ?" cepat-cepat Kwik Tay lok bertanya. "Tidur !"
Kwik Tay-lok agak tertegun, kemudian tertawa geli.
 
"Cara semacam ini mungkin hanya kau seorang yang dapat memikirkannya..." dia berseru.

"Tidak baikkah cara ini ? Itulah yang dinamakan dengan ketenangan kita menantikan perubahan."

Kwik Tay-lok segera bersorak sambil bertepuk tangan tiada hentinya.

"Betul, betul sekali !" serunya, "kalau ingin tidur mari sekarang juga kita pergi tidur, dengan semangat yang segar serta kondisi badan yang lebih baik, kita hadapi cecunguk-cecunguk itu."

"Kalau ingin tidurpun kita harus membagi waktu meronda!" usul Yan Jit dengan cepat.

"Betul, aku dan kau menjaga setengah malam pertama, kentongan ketiga nanti Ong lotoa dan Lim Tay-peng baru menggantikan kita."

"Cara ini kurang baik," tiba-tiba Lim Tay-peng berseru, "lebih baik aku dan kau menjadi satu regu."

"Kenapa?"

Lim Tay-peng melirik sekejap ke arah Yan Jit, lalu berkata:

"Sebab perkataan kamu berdua terlalu banyak, apalagi jika sudah berbincang dengan asyik, ada orang masuk ke rumah pun kalian tak akan tahu."
Tiba-tiba Yan Jit berjalan keluar, sebab paras mukanya seperti agak memerah secara tiba-tiba. "Lebih baik aku satu regu dengan Yan Jit saja." kata Kwik Tay-lok dengan cepat, "justru karena
ada teman berbicara, rasa mengantuk baru bisa dihilangkan."

Di mulut dia berkata demikian, dia sudah melompat keluar dari ruangan itu.



Perduli apapun yang diucapkan orang lain pokoknya dia tetap bersikeras menjadi satu dengan Yan Jit.

Ia merasa seakan-akan antara dia dengan Yan Jit sudah terikat oleh seutas tali yang tidak nampak.

Memandang kedua orang itu sudah keluar dari ruangan, tiba-tiba Lim Tai-peng tertawa, lalu gumamnya:

"Kadangkala aku betul-betul merasa heran, mengapa Siau-kwik bisa begitu tololnya." Ong Tiong juga tertawa, sahutnya sambil tersenyum:
"Jangan kuatir, dia tak akan terlalu lama berada dalam keadaan bodoh seperti itu."

"Padahal aku sangat berharap agar dia bisa lebih lama lagi berada dalam keadaan begini baru terhitung menarik sekali."

Suasana di ruang tamu sangat gelap.

Setelah masuk ke ruang tamu, Yan Jit segera duduk.
 
Kwik Tay-lok juga masuk ke ruang tamu serta ikut duduk pula.

Cahaya bintang memancar masuk lewat jendela dan menyinari wajah Yan Jit, menyoroti sepasang mata Yan Jit.

Sepasang matanya itu tampak jeli dan bercahaya berkilauan.

Kwik Tay-lok duduk disampingnya sambil menatap wajahnya lekat-lekat, tiba-tiba katanya sambil tertawa:

"Tahukah kau, kadangkala matamu itu persis seperti mata perempuan !"

"Bagian mana lagi dari tubuhku yang mirip perempuan?" tegur Yan Jit sambil menarik muka. "Sewaktu tertawa pun kau juga sangat mirip !"
"Kalau toh aku mirip perempuan, mengapa kau masih mengintil terus di belakangku ?"

"Sebab bila kau ini perempuan, aku akan lebih getol lagi mengikutimu. " jawab Kwik Tay-lok
sambil tertawa.

Tiba-tiba Yan Jit melengos ke arah lain kemudian bangkit berdiri, mencari batu api dan memasang lentera.

Tampaknya dia kurang berani untuk duduk berduaan dengan Kwik Tay-lok ditempat kegelapan.

Setelah cahaya lentera bersinar, bayangan tubuh merekapun terbias di atas jendela. Mendadak Kwik Tay-lok menarik tubuhnya, seperti hendak memeluknya.
Dengan kaget Yan Jit berseru:

"Kau, mau apa kau ?"

"Bila kau berdiri di situ, bukankah persis akan menjadi sasaran hidupnya Jian-jiu- jian-gan toa- hu-kong ?"

Biji matanya berputar, mendadak sinar tajam dari balik matanya, dia lantas bergumam: "Yaaa, inilah suatu ide yang bagus sekali."
"Huuuh, masa manusia macam kau juga mempunyai ide yang bagus ?" Yan Jit melotot sekejap ke arahnya.

"Kalau memang si kelabang besar itu suka melukai orang dengan senjata rahasianya, apa salahnya kalau kita mencarikan beberapa buah sasaran hidup baginya?"

"Siapa yang hendak kau jadikan sebagai sasaran hidup ?" "Orang-orangan dari rumput jerami itu!"
Kemudian lanjutnya lagi:
 
"Mari kita pindahkan orang-orang itu kemari dan dudukkan di sini, bila dilihat dari luar jendela, siapa yang akan tahu kalau mereka itu bukan orang sungguhan?"

Kening Yan Jit yang semula berkerut dengan cepat mengendor kembali.

"Si kelabang besar itu pasti cuma melihat bayangan manusia dari luar jendela," kata Kwik Tay- lok, "dia pasti akan merasa gatal tangannya setelah melihat bayangan manusia."

"Kemudian ?"

"Kitapun menunggu di luar, asal tangannya mulai gatal, maka kitapun gunakan akal untuk menghadapinya."

Yan Jit termenung sebentar, lalu sahutnya hambar:

"Kau anggap caramu itu sangat bagus ?"

"Sekalipun tidak bagus juga tak ada salahnya untuk dicoba, kita toh tak bisa menunggu saat kematian di sini, bagaimanapun juga tak ada salahnya bila kita gunakan akal untuk menggoda mereka."

"Jangan lupa, orang-orangan jerami itu tak bisa melukainya."

"Bagaimanapun juga, orang-orangan dari jerami itu toh benda mati, bagaimanapun juga rasanya jauh lebih muda dihadapi dari pada orang hidup" Yan Jit segera menghela napas panjang.

"Baiklah !" katanya kemudian, "untuk kali ini aku akan menuruti perkataanmu, coba lihat saja nanti apakah akalmu itu akan berhasil atau tidak."

Kwik Tay-lok tertawa.

"Akal yang bodoh paling tidak toh jauh lebih baik dari sama sekali tak punya akal"

Bayangan dari orang-orangan dari jerami masih terhias di atas jendela, dilihat dari luar memang mirip sekali dengan orang sungguhan.

Sebab, bukan saja orang-orangan itu memakai baju, juga memakai topi.

Malam sudah semakin kelam, angin yang berhembus lewat membawa udara yang dingin yang menyayat badan.

Walaupun Kwik Tay-lok dan Yan Jit telah menyembunyikan diri dibalik wuwungan rumah yang terhindar dari hembusan angin, namun masih terasa kedinginan sampai menggigil badannya.

Mendadak Yan Jit berkata:

"Sekarang kalau ada sedikit arak untuk diminum, sudah barang tentu kita tak akan kedinginan seperti ini."

"Oooh.... tidak kusangka suatu ketika kaupun ingin minum arak. " kata Kwik Tay-lok sambil
tertawa.
 
"Aaai. inilah yang dinamakan dekat tinta jadi hitam, dekat gincu jadi merah, bila seseorang
bergaul dengan setan arak tiap harinya, cepat atau lambat diapun akan berubah menjadi seorang setan arak."

"Itulah sebabnya cepat atau lambat kaupun tak akan membenci orang perempuan." sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Mendadak Yan Jit menarik muka dan tidak berbicara lagi.

Lewat beberapa saat kemudian, Kwik Tay lok baru berkata kembali:

"Aku selalu tidak habis mengerti, manusia macam Ong lotoa mengapa bisa mengikat tali permusuhan dengan si kelabang besar, si ular bergaris merah dan lain-lainnya ? Lagi pula permusuhan mereka itu tampaknya mendalam sekali."

"Kalau tidak habis mengerti, lebih baik jangan dipikirkan !" jawab Yan Jit dingin. "Apakah kau tidak merasa keheranan ?"
"Tidak!"

"Kenapa ?"

"Sebab aku tak pernah bermaksud untuk menyelidiki rahasia orang lain, terutama rahasia teman."

Terpaksa Kwik Tay-lok membungkam dan tidak berbicara lagi. Lewat lama kemudian, mendadak terdengar bunyi. "Krooooookkk!"
Dengan wajah berubah Yan Jit segera berbisik:

"Bunyi apakah itu ?"

Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir: "Perutku yang berbunyi karena lapar !"
Dia memang merasa kelaparan setengah mati.

Lewat lama kemudian, tiba-tiba terdengar, lagi bunyi aneh...

"Kroook krooookkk!"

"Bunyi apa lagi kali ini ?" bisik Kwik Tay-lok.

"Gigiku lagi saling beradu !" jawab Yan Jit sambil menggigit bibirnya kencang-kencang. Rupanya saking kedinginan sampai giginya saling bergemerutukan dengan kerasnya. "Kalau memang kedinginan, mengapa tidak bersandar saja di tubuhku ?" usul Kwik Tay-lok. "Ehmmm. !"
"Ehmm itu apa maksudnya ?"
 
"Ehmm artinya kau jangan berisik, bila mulutnya, nyerocos terus, mana mungkin kelabang besar itu berani muncul ?"

Kwik Tay-lok tak berani bersuara lagi.

Terhadap persoalan apa saja dia tak takut, diapun tidak takut kepada mereka, yang ditakuti adalah mereka tak berani datang.

Bila mereka berdua harus menanti terus dalam keadaan begini, lama kelamaan mereka pun tak akan tahan.

Yang paling tidak tahan adalah siapapun tak tahu sampai kapan orang-orang itu baru munculkan diri, mungkin harus menunggu beberapa hari lagi, mungkin juga sedetik kemudian....

Kwik Tay-lok sedang bersiap-siap menyelimuti tubuh Yan Jit dengan jala ikan yang berada di tangannya.

Jala itu enteng dan lembut, tapi kuatnya bukan kepalang, entah terbuat dari bahan apa ? Lim Tay-peng sengaja membawanya pulang dan Kwik Tay-lok bersiap-slap mempergunakannya untuk menghadapi si kelabang besar. Dia telah bersiap-siap untuk menggunakan gigi membalas gigi, dengan mata membalas mata.

Meski jaring itu enteng, tapi dalam hati Yan Jit merasa amat hangat dan mesra.

Mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur masuk lewat dinding pekarangan sebelah depan, sesudah berjumpalitan ditengah udara, cahaya tajam segera berkilauan memenuhi seluruh angkasa, ada tiga empat puluh macam senjata rahasia yang disambitkan ke dalam jendela bagaikan hujan deras.

Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, tapi sambitan senjata rahasianya jauh lebih cepat.

Baik Kwik Tay-lok maupun Yan Jit ternyata tak sempat menyaksikan bagaimana caranya senjata rahasia itu dipancarkan ke depan.

Begitu senjata rahasia itu disambit ke depan, orang itu pun menutulkan ujung kakinya ke tanah dan segera meluncur ke atas siap-siap kabur ke atas wuwungan rumah.

Baru saja orang itu melayang ke atas, mendadak ia menemukan ada sebuah jala yang amat besar menyongsong kedatangannya, pada hal dia sedang meluncur ke atas, keadaan ini ibaratnya dia sedang menyongsong datangnya jala itu.

Dalam kejutnya dia ingin meronta, tapi jaring itu bagaikan sarang laba-laba segera membelenggu tubuhnya.

Dengan kegirangan Kwik Tay-lok segera berteriak:

"Lihat kau, akan kabur kemana lagi ?"

Yan Jit juga telah menerjang ke muka, kakinya langsung menendang jalan darah Hiat hay di pinggang orang itu.

Siapa tahu, pada saat itulah dari balik jaring tersebut kembali memancar keluar berpuluh puluh titik cahaya tajam yang meluncur ke depan bagaikan hujan deras.

Kali ini giliran Kwik Tay-lok dan Yan Jit yang merasa terkejut.
 
Pada saat itu pula dari luar dinding mendadak melayang datang sebuah kaitan yang segera menggaet jaring tersebut.

Tentu saja di ujung kaitan itu terdapat seutas tali. Tentu pula tali itu sedang ditarik seseorang.
Dengan demikian, jaring itupun segera tertarik ke atas.

Sewaktu jaring itu ditarik kembali, Kwik Tay-lok dan Yan Jit telah menubruk datang.

Walaupun dia dan Yan Jit sama-sama merasa terkejut, tapi senjata rahasia tersebut sama sekali tidak disambitkan ke arah mereka berdua secara bersamaan waktu.



Semua senjata rahasia tersebut ditujukan hanya pada tubuh Yan Jit seorang. Maka Kwik Tay-lok lebih kaget dan lebih gelisah dari pada Yan Jit.
Meskipun dia tak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi keadaan tersebut, namun tubuhnya telah menubruk ke arah Yan Jit, menubruk tubuh Yan Jit.

Dengan cepat kedua orang itu bergulingan di atas tanah.

Kwik Tay-lok hanya merasakan badannya menjadi sakit, tiba-tiba sekujur badannya menjadi kaku.

Sedemikian kakunya sampai perasaan dan kesadarannya pun ikut menjadi kaku.

Ia tak sempat menyaksikan jaring itu ditarik orang, pun tidak menyaksikan orang dalam jaring itu melompat ke atas.

Dalam keadaan sadar tak sadar, dia hanya mendengar dua kali jeritan, sebuah jeritan kaget, sedang yang lain jeritan kesakitan.

Tapi dia sudah tak dapat membedakan lagi siapa yang menjerit kaget dan siapa pula yang menjerit kesakitan.
Dia hanya tahu dirinya tak sempat menjerit apa-apa, sebab giginya sedang saling menggertak. Ada sementara orang mungkin akan menjerit keras dihari biasa, tapi dikala sedang menderita,
dia tak akan mendengus atau merintih.

Tak disangkal lagi Kwik Tay-lok adalah manusia seperti itu.

Ada sementara orang menjadi lupa akan keselamatan jiwa sendiri sewaktu menyaksikan temannya sedang terancam oleh bahaya.

Tak disangkal, Kwik Tay-lok juga manusia seperti ini.

Asal dia sudah menerjang ke depan, pada hakekatnya dia tak akan memperdulikan mati hidupnya lagi.

Jeritan kaget itu seakan-akan makin jauh, makin tak terdengar lagi....
 
Tapi, suara apakah ini ?

Betulkah ada orang sedang menangis ?

Pelan-pelan Kwi Tay-lok membuka matanya, dia lantas menyaksikan butiran air mata di atas wajah Yan Jit.

Ketika Yan Jit melihat matanya terbuka lebar, tak tahan diapun berteriak keras dengan penuh kegirangan:

"Dia telah sadar kembali !"

Dari sisinya segera terdengar seseorang menyambung:

"Kalau orang baik tidak berumur panjang bencana akan berlangsung seribu tahun, aku sudah tahu kalau dia pasti tak akan mati."

Itulah suara dari Ong Tiong. Suara itu sebenarnya hambar, tapi sekarang kedengarannya agak gemetar.

Kemudian, Kwik Tay-lok baru menyaksikan raut wajahnya.

Selembar wajah yang dingin dan hambar itu sekarang diliputi rasa girang, berseri dan agak emosi.

Sambil tertawa Kwik Tay-lok lalu berkata:

"Apakah kalian mengira aku sudah mampus."

Ia memang lagi tertawa, tapi tampangnya sewaktu tertawa jauh lebih mirip menangis. Sebab begitu tertawa, sekujur badannya segera terasa sakit.
Diam-diam Yan Jit menyeka air matanya, lalu berbisik:

"Baik-baiklah berbaring, jangan pergi-pergi dan jangan berbicara apa-apa !" "Baik !"
"Sepatah katapun tak boleh bicara" kata Yan Jit lagi. Kwik Tay-lok mengangguk.
"Juga tak boleh mengangguk, pokoknya bergerak sedikitpun tidak boleh. !"

Kwik Tay-lok benar-benar tidak berkutik lagi, hanya sepasang matanya saja yang terbelalak lebar sambil mengawasi Yan Jit.

Yan Jit menghela napas panjang, katanya dengan lembut:

"Tubuhmu sudah terkena sebatang paku Siang-bun-teng, sebatang panah pendek, ditambah lagi dengan dua batang jarum beracun, hakekatnya selembar nyawamu itu berhasil di pungut kembali, maka kau harus baik-baik menyayangi dirimu."

Sewaktu berbicara, sepasang matanya kembali menjadi merah.
 
Ong Tiong juga menghela napas, katanya:

"Bila kau melarang dia berbicara, mungkin dia akan lebih menderita lagi." "Betul!" seru Kwik Tay-lok cepat-cepat.
Yan Jit segera melotot sekejap ke arahnya, serunya:

"Tampaknya aku benar-benar menjadi bibir orang ini !" "Kalau aku sedang berbicara, badanku tidak terasa sakit." "Masa benar ?"
"Benar !"

Dia ingin tertawa tapi ditahan, pelan-pelan terusnya:

"Sebab kalau aku sedang berbicara, maka semua rasa sakit itu baru akan kulupakan!"

Yan Jit memandangnya, sinar mata itu entah memancarkan rasa sayang ? Atau mengomel ?
Atau perasaan cinta yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Paras mukanya pucat pias seperti mayat, lebih pucat dari pada kertas jendela di depan sana. Fajar telah menyingsing, sinar sang surya telah memancar masuk lewat balik jendela.
Walaupun malam ini mereka lewatkan dengan penuh penderitaan, toh akhirnya dilewatkan juga.

Tak tahan lagi Kwik Tay-lok lantas bertanya:

"Bagaimana dengan si kelabang besar itu?"

"Sekarang telah berubah menjadi seekor kelabang mampus !" jawab Yan Jit cepat.



Rupanya jeritan ngeri yang terdengar oleh Kwik Tay-lok adalah jeritan dari mulutnya.

Tapi kata orang, ulat yang berkaki seratus matipun tidak kaku, maka Kwik Tay-lok bertanya lebih jauh:

"Benar-benar mampus ? sudah mampus seutuhnya ?"

Yan Jit tidak menjawab, yang menjawab adalah Lim Tay-peng: "Kujamin dia sudah mampus, mampus sampai keakar-akarnya !" "Kau kah yang membunuhnya ?"
Lim Tay-peng menggeleng.

"Yan Jit yang melakukan !" sahutnya.
 
Tiba-tiba ia tertawa dan lanjutnya:

"Apakah, kau tak pernah menyangka kalau dalam keadaan seperti itu, dia masih sempat membalaskan dendam bagimu ?"

Kwik Tay-lok memang tak pernah menyangka, sebab pada waktu itu sudah jelas dia sedang menindihi tubuh Yan Jit. Dia ingin bertanya kepada Yan Jit, tapi Yan Jit sudah melengos ke arah lain.

Lim Tay-peng pun berkata lagi:

"Akupun tidak menyangka sampai di situ, tapi aku dapat menyaksikan ketika si kelabang besar itu baru melompat bangun, ada sebilah pisau telah menembusi tenggorokannya, akupun dapat melihat darah yang bercucuran di tanah."

"Di tanah cuma ada darahnya ? Kemana orangnya ?" "Sudah pergi, kabur sambil membawa pisau tersebut." "Masa orang mati juga masih bisa berjalan?"
"Karena orang mati ini masih memiliki sisa tenaganya yang sedikit, paling banter juga sekali hembusan napas saja !"

Kwik Tay-lok segera menghembuskan pula napasnya yang mengganjal didalam dada, dengan wajah berseri katanya:

"Tampaknya kita masih belum terlalu rugi!"

"Betul, sekarang kita akan menghadapi mereka berempat dengan empat orang pula," kata Kwik Tay-lok sambil tertawa getir.

Tiba-tiba Ong Tiong berkata:

"Mereka tak lebih hanya tinggal tiga orang saja." "Mana mungkin tinggal tiga ?"
"Ang-nio-cu, ular bergaris merah dan Cui- mia-hu !"

"Apakah kau lupa dengan It-hui-ciong thian Eng Tiong-ong ?" "Aku tak akan melupakannya !"
Mendadak mimik wajahnya berubah menjadi aneh sekali, sorot matanya seakan-akan sedang memandang suatu tempat yang jauh sekali.

"Hong-nio-cu, Ci-lion-cua, Cui mia hu di tambah pula dengan Eng tiong ong, bukankah jumlah mereka menjadi empat orang ?"

"Tiga tambah satukan menjadi empat kenapa masih tiga?"

Pandangan Ong Tiong terasa kosong, entah apa yang sedang dilihat, dan entah apa pula yang sedang dipikirkan, wajahnya hanya kosong dan hambar...
 
Sampai lama sekali, sepatah demi sepatah dia baru berkata:

"Karena akulah It-hui-ciong-thian eng- tiong ong !"

Tak seorangpun yang menanyakan masa lalu Ong Tiong, sebab mereka dapat menghormati hak setiap orang untuk menyimpan rahasia pribadinya.

Kalau Ong Tiong tidak berkata, merekapun tak akan bertanya. Rahasia dari Ong Tiong hanya Ong Tiong sendiri yang berhak untuk membicarakannya.

Ong Tiong bukanlah seseorang yang tidak suka bergerak semenjak dilahirkan.

Sewaktu masih kecil dulu, bukan saja gemar bergerak, bahkan sukanya setengah mati dan bergeraknya luar biasa.

Sejak berusia enam tahun, dia sudah pandai memanjat pohon.

Ia pernah memanjat pelbagai macam pohon, maka diapun pernah terjatuh dari pelbagai macam pohon.

Jatuh dengan posisi serta gaya yang beraneka macam.

Yang paling parah adalah sewaktu batok kepalanya mencium tanah lebih dulu, hampir saja batok kepalanya putus jadi dua.

Menanti ia sudah mulai dapat bergelantungan di atas pohon macam monyet, dia baru tidak memanjat pohon lagi.

Karena memanjat pohon baginya sudah seaman tidur didalam balik selimut saja, sama sekali tidak mendatangkan rangsangan.

Sejak itu pula, setiap hari ayah ibunya harus mengirim segenap pembantunya untuk mencari dia kemana-mana.

Waktu itu meski keluarganya sudah jatuh pailit, tapi pembantunya, masih ada beberapa orang. Setiap kali mereka berhasil menemukannya kembali, keadaannya pasti kecapaian setengah mati, seakan-akan didorong dengan ujung jaripun besar kemungkinan akan roboh. 

Tapi dia masih tetap melompat-lompat dengan segarnya, bagaikan udang yang baru keluar dari air.

Sampai pada akhirnya siapapun enggan untuk pergi mencarinya.

Lebih baik memotong kayu bakar delapan ratus kati dari pada disuruh menemukan dirinya. Lebih baik membersihkan jalan raya dari pada disuruh mencari jejaknya....
Oleh karena itu orang tuanyapun terpaksa harus menyingkirkan ingatan tersebut, terpaksa mereka membiarkan dia bermain sekehendak hatinya dan selama dia suka.

Untung saja setiap dua-tiga hari dia masih mau pulang satu kali. Pulang untuk mandi, makan, ganti pakaian, Pulang untuk meminta uang jajan.

Sebab pada waktu itu dia masih berusia tiga empat belas tahunan, dia masih merasa minta uang kepada orang tuanya masih merupakan suatu kewajiban yang lumrah.
 


Menanti dia sudah menginjak dewasa, dan merasa sudah saatnya untuk berdiri sendiri, sulitlah bagi orang tuanya untuk bersua muka lagi dengannya.
Lo-sianseng dan Lo-tay-tay ini entah sudah berapa kali bersumpah didalam hatinya: "Bila ia pulang nanti, akan kurantai kaki dan tangannya dengan rantai yang besar, akan
kuhajar kakinya sampai putus, coba lihat apakah dia masih bisa kelayapan lagi atau tidak."

Tapi menanti dia pulang ke rumah, menyaksikan tubuhnya yang kurus dan kelaparan, mukanya kuning dan mengenaskan, hati Lo-sianseng pun menjadi lemah dan paling banter dia hanya dipanggil masuk ke kamar baca untuk dia beri pelajaran dan nasehat.

Sementara Lo-tay-tay pun sudah turun ke dapur dan buatkan kuah ayam, belum habis nasehat dari Lo-sianseng, paha ayam sudah di jejalkan ke mulut anaknya.

Mungkin di dunia ini hanya orang tua berputera tunggal yang dapat memahami perasaan mereka waktu itu.

Mereka yang menjadi anaknya, tak pernah akan mengerti perasaan dari orang tuanya. Ong Tiong pun tidak terkecuali.
Dia hanya mengerti, bila seorang lelaki sudah menginjak dewasa, dia harus berkelana untuk membangun dunianya sendiri.

Maka diapun mulai berpetualangan untuk berusaha membangun dunianya sendiri. Ketika itu dia baru berusia tujuh belas tahun.
Seperti pula pemuda-pemuda berusia tujuh delapan tahun lainnya di dunia ini, sewaktu Ong Tiong pertama kali meninggalkan rumahnya, dia hanya merasakan semangat yang menyala-nyala serta ambisi dan cita-cita yang setinggi langit.

Tapi bila dua hari kemudian, dikala perut sudah mulai lapar, lambat laun diapun mulai teringat akan rumah.
Kemudian diapun akan merasakan hatinya menjadi kosong, merasa amat kesepian. Dalam keadaan begini, diapun akan berusaha keras untuk berkenalan dengan teman baru,
tentu saja seorang teman perempuan yang paling baik.

Pemuda berusia tujuh delapan belas tahunan manakah yang tidak mengharapkan cinta? Tidak mengkhayalkah dia ?

Menanti dia sudah merasa kesepian setengah mati itulah, si Ang-nio-cu yang suka menolong kesulitan dan penderitaan orangpun muncul di depan mata.

Perempuan itu dapat memahami ambisinya, memahami pula penderitaan serta kemurungan yang mencekam perasaannya.

Dia menghibur hatinya, menganjurkan kepadanya untuk melakukan pelbagai urusan.
 
"Bila seorang lelaki sejati mau hidup di dunia ini, maka pekerjaan macam apapun harus dicoba, perbuatan apapun harus dilakukan."

Dalam pandangan Ong Tiong waktu itu, setiap patah katanya seakan-akan merupakan suatu firman.

"Bila seseorang ingin hidup maka dia harus punya uang, punya nama, sebab kehidupan seseorang di dunia ini sesungguhnya adalah demi kenikmatan, serta kebahagiaan."

Waktu itu dia masih belum tahu, kalau dalam kehidupan seseorang selain kenikmatan masih terdapat pula lebih banyak perbuatan yang lebih bermakna.

Oleh karena itu untuk berhasil mendapat nama, dia tak segan-segannya untuk melakukan perbuatan apapun.

Akhirnya diapun menjadi tenar.

Waktu itu umurnya belum mencapai dua puluh tahun, tapi dia telah menjadi Raja elang yang sekali terbang menembusi langit!

Ternama memang merupakan suatu peristiwa yang menggembirakan.

Dengan sebisanya dia melakukan banyak pekerjaan, dengan begitu saja menjadi tenar.

Pakaian yang dikenakan adalah pakaian yang termahal, arak yang diminumpun merupakan arak wangi yang harganya tiga tahil perak sekatinya.

Dia sudah mengerti untuk memilih tukang jahit yang paling baik.

Hidangan Hi-sit yang masak kurang matang sedikit saja, dia segera akan menumpahkannya di atas wajah koki.

Bukan saja dia mengerti untuk mencari kenikmatan, lagi pula kenikmatan yang dirasakan pun luar biasa sekali.

Sebenarnya dia merasa puas sekali.

Tapi entah apa sebabnya, mendadak ia merasa agak menderita, agak murung, lagi pula jauh lebih murung daripada dahulu.

Sebenarnya setiap kali kepalanya menempel bantal, dia lantas tertidur nyenyak, tapi sekarang dia seringkali tak bisa tidur.

Bila sudah tak bisa tidur, diapun seringkali bertanya kepada diri sendiri: "Semua perbuatan yang kulakukan, sebenarnya pantaskah ku lakukan ?"
"Teman-teman yang kujalin selama ini, sebenarnya betulkah merupakan teman sejati.?"

"Seseorang selain mencari kenikmatan buat diri sendiri, apakah harus memikirkan pula urusan yang lain ?"

Tiba-tiba ia mulai teringat rumah, teringat orang tuanya.
 
Di dunia ini memang terdapat banyak sekali koki-koki kenamaan, tapi tak akan mampu membuat kuah ayam seperti yang dibuat oleh ibunya.

Kata-kata sanjungan dan muluk-muluk diterimanya selama ini, lambat laun terasa kurang menarik bila dibandingkan dengan kata-kata nasehat dari ayahnya.

Bahkan cumbu rayu dari Ang Nio-cu yang manis dan mesra pun kedengarannya tidak lebih menarik daripada kata-kata yang pernah didengarnya dulu.

Kesemuanya itu masih belum terhitung penting.

Yang paling penting lagi adalah secara tiba-tiba dia ingin menjadi seorang manusia yang normal.

Seseorang yang tiap malam bisa tidur dengan hati yang aman tenteram Maka diapun mulai
menyusun rencana untuk meninggalkan penghidupan semacam itu, meninggalkan teman-teman seperti itu.

Tentu saja diapun tahu bahwa mereka tak akan melepaskannya pergi dengan begitu saja.

Pertama. Karena mereka masih membutuhkan dirinya. Kedua. Karena banyak rahasia yang dia ketahui.

Satu-satunya yang masih mujur adalah selama berada di hadapan mereka, ia tak pernah menyinggung soal rumahnya dan orang tuanya.

Hal ini entah dikarenakan dia takut orang tuanya kehilangan dia, atau dia takut kehilangan orang tuanya.