Pendekar Riang Jilid 12

 
Jilid 12

Setelah menghela napas panjang, terusnya:

"Masa teori semacam ini tak dapat diduga oleh Kwik Tay lok?" Yan Jit kembali tertawa dingin:
"Bahkan kau sendiripun dapat memikirkannya, masa dia tak bisa berpikir sampai ke situ? Dia toh tidak lebih goblok dari siapapun."

Selama ini Ong Tiong memperhatikan terus perubahan mimik wajahnya, pada saat itu tiba-tiba ia berseru:

"Bila kau beranggapan bahwa ia tak pantas untuk pergi, mengapa kau tidak bermaksud untuk menghalanginya ?"

"Hmm! " Yan Jit mendengus dingin, "jika seseorang sudah ingin menceburkan diri ke dalam kubangan, sekalipun orang lain berniat untuk menahannya juga belum tentu bisa melakukannya."

-oo0000000oo-

"MAKA kaupun membiarkan dia terjun ke dalam kubangan tersebut?" tanya Ong Tiong lagi. Sambil menggigit bibir Yan Jit berbisik:
"Aku..... aku. "

Mendadak ia membalikkan badan dan menerjang keluar dari situ, orang yang bermata tajam pasti dapat melihat matanya berkaca-kaca ketika menerjang keluar dari sini, agaknya air mata itu melompat keluar karena....

Kebetulan Ong Tiong juga bermata tajam.

Seorang diri ia duduk termangu sampai setengah harian lamanya, kemudian setelah menghela napas gumamnya:

"Cinta yang mendalam mendatangkan tanggung jawab yang berat, tampaknya ucapan ini sedikitpun tak salah."

"Hei, apa yang sedang kau katakan?" tiba-tiba Lim Tay-peng menegur. Ong Tiong tertawa lebar.
 
"Aku sedang berkata, sampai detik ini aku masih belum percaya kalau siau Kwik bisa melakukan perbuatan semacam ini, bagaimana dengan kau ?"

Lim Tay-peng agak sangsi sejenak, kemudian sahutnya:

"Aku... aku sendiri juga kurang percaya."

"Tapi paling tidak kau menaruh sedikit rasa curiga kepadanya bukan?" "Benar !"
"Tapi Yan Jit sama sekali tidak curiga, ia sudah yakin kalau siau Kwik pasti melakukan perbuatan itu, tahukah kau mengapa ia sampai bersikap demikian?"

Lim Tay-peng berpikir sebentar, lalu menjawab:

"Aku sendiripun merasa agak keheranan, padahal hubungannya dengan siau Kwik kelihatan luar biasa baiknya."

Kembali Ong Tiong menghela napas.

"Aaai. justru karena hubungannya kelewat akrab, maka dia baru bersikap demikian."

Lim Tay-peng mencoba untuk berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi: "Kenapa demikian? Aku tidak mengerti."
"Lenyapnya Cu Cu secara tiba-tiba kita semua bisa berpikir pada kemungkinan lain yang mungkin terjadi, tapi siau Kwik tak dapat menduganya, maka dia selalu berpikir ke sudut pandangan yang paling buruk, tahukah kau apa sebabnya demikian?"

"Karena dia sangat mencintai Cu Cu bahkan dalam sekali cintanya, karena itu. "

"Karena itu otaknya menjadi kurang jelas, betul bukan?" seru Ong Tiong kembali. "Benar!"
Cinta dapat membutakan orang, teori ini tidak sedikit yang memahaminya.

"Bila kau menaruh cinta yang amat mendalam terhadap seseorang, maka kesimpulan yang kau ambil atas dirinya belum tentu selalu benar, karena biasanya kau hanya melihat kebaikan- kebaikannya, tapi asal ada sedikit perobahan atau pukulan saja yang kau terima, maka kau segera akan merasa kesal dan murung, maka tak tahan lagi kau akan membawa jalan pikiranmu ke sudut pandangan yang terjelek"

Tiba-tiba Lim Tay-peng tertawa, katanya, "Aku dapat memahami maksudmu, cuma aku perumpamaan ini kurang begitu cocok"

"Oya ?"

"Kenapa kau membawa hubungan Cucu dan Siau-Kwik sebagai perumpamaan?" kata Lim Tay-peng sambil tertawa, "hubungan cinta Siau-Kwik dengan Cucu mana bisa disamakan hubungan batin antara Yan Jit dengan siau-Kwik ? Kan lucu?"

Ong Tiong ikut tertawa.
 


Ia seperti merasa sudah salah berbicara, diapun seperti merasa ucapannya terlampau banyak, maka dia tidak berbicara apa-apa lagi.

Cuma dia masih saja tertawa, bahkan istimewa sekali tertawanya itu.

Menanti ia saksikan Yan Jit sedang berjalan lewat halaman hendak keluar rumah, ia baru berkata lagi:

"Kau ingin pergi ?"

Sepasang mata Yan Jit masih merah membengkak, tapi dia paksakan dari untuk tertawa juga, sahutnya:

"Hari ini udara amat cerah, aku ingin ke luar rumah untuk berburu"

"Aku juga akan ikut berburu" kata Lim Tay-peng sambil berdiri, "jika hari ini kita tidak berburu lagi, mungkin kita benar-benar akan mati kelaparan!"

Ong Tiong segera tertawa. katanya:

"Kalau toh di saku siau-Kwik ada uang, dia pasti tak akan membiarkan kita mati kelaparan, mengapa kau tidak menunggu sampai dia pulang lebih dahulu?"

Yan Jit segera menarik mukanya seraya berseru:

"Kenapa aku harus menunggu sampai dia pulang?" "Anggap saja karena aku, mau bukan?"
Yan Jit segera menundukkan kepalanya dan berdiri kaku di tengah halaman rumah.

Walaupun udara amat cerah, angin berhembus kencang dan menimbulkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Tapi Yan Jit seakan-akan sama sekali tidak merasa dingin, dia berdiri termangu sampai lama sekali di sana, kemudian dengan suara dingin baru katanya:

"Andaikata ia tidak kembali?"

"Kalau dia tidak kembali, aku akan mengundang kalian makan daging anjing..." kata Ong Tiong sambil tertawa lagi.

"Dalam udara sedingin ini, kemana kau hendak mencari anjing?" tak tahan Lim Tay-peng berseru.

"Tak usah dicari lagi, disinipun masih ada seekor!" "Mana anjingnya ?"
Sambil menuding hidung sendiri sahut Ong Tiong: "Ini dia, disini !"
 
Lim Tay-peng mengerdipkan matanya berulang kali, sambil menahan rasa geli serunya: "Kau juga seekor anjing?"
"Bukan cuma seekor anjing, bahkan seekor anjing kampungan."

Akhirnya Lim Tay-peng tak kuasa menahan gelinya lagi dan tertawa terpingkal-pingkal. Ong Tiong sama sekali tidak tertawa, dengan hambar katanya lebih lanjut.
"Bila seorang sama sekali tak bisa membedakan manusia macam apakah sahabatnya itu, kalau bukan anjing kampungan lantas apa namanya?"

Ong Tiong bukan anjing kampungan.

Dengan cepat Kwik Tay lok telah pulang kembali, bahkan masih membawa bungkusan besar, bungkusan kecil dan setumpuk bahan makanan lainnya.

Dalam bungkusan kecil terdapat daging dalam bungkusan besar terdapat bakpao, dalam bungkusan paling kecil terdapat kacang.

Kalau toh ada kacang, tentu saja tak akan lupa ada arak. Sambil tertawa Kwik Tay lok segera berkata:
"Sekarang aku mulai agak rindu dengan Moay Lo-khong, semenjak ia pergi dari sini, agaknya ditempat ini sudah tak ditemukan lagi seorang tukang masak yang jempolan"

"Paling tidak masih ada seorang!" sela Ong Tiong. "Siapa?"
"Kau, bila kau membuka restoran, sudah pasti dagangmu akan laris"

"Waah, ini memang suatu ide yang bagus" kata Kwik Tay-lok sambiI tertawa, cuma sayang masih ada satu hal yang tidak bagus.. ."

"Hal yang mana?"

"Bagaimanapun baiknya daganganku dan larisnya masakanku tidak sampai tiga hari pasti akan tutup pintu."

"Mengapa?"

Kwik Tay-lok tertawa, sahutnya:

"Sekalipun aku tidak menghabiskan daganganku sendiri kalian juga pasti akan melahapnya sampai ludas."

Tiba-tiba Yan Jit tertawa dingin, jengeknya:

"Tak usah kuatir aku tak akan makan milikmu."

Sebenarnya Kwik Tay-lok masih tertawa akan tetapi setelah menyaksikan paras mukanya yang dingin dan kaku itu, dia menjadi tertegun.
 
"Kau sedang marah?" serunya. "dalam hal apa aku telah melakukan kesalahan kepadamu?.." "Kau pasti memahami sendiri!"
Kwik Tay-lok segera tertawa getir.



"Apa yang kupahami ? serunya, "sedikit pun aku tidak mengerti!"

Kwik Tay-lok tidak memperdulikan dia lagi, tiba-tiba ia berjalan ke depan Ong Tiong kemudian katanya:

"Walaupun kau bukan seekor anjing kampungan, tapi di sini ada seekor anjing pesuruh, kalau anjing kampungan sih mendingan anjing pesuruh itulah yang paling tidak kutahan"

"Siapa yang menjadi anjing pesuruh?" teriak Kwik Tay-lok dengan mata melotot.

Yan Jit masih tidak memperdulikan dirinya, sambil tertawa dingin ia lantas berlalu dari sana.

Sepasang biji mata Kwik Tay-lok segera berputar-putar seolah-olah mendadak menyadari akan sesuatu, ia lantas maju menghalangi jalan perginya, kemudian berseru:

"Kau anggap aku telah menjadi anjing pesuruhnya Hoat liok pi? Kau mengira semua makanan ini kubeli dengan uang yang dia berikan kepadaku sebagai imbalannya!"

"Memangnya barang-barang itu bisa terjatuh dari langit, atau tumbuh sendiri dari tanah?" dengus Yan Jit dingin.

Kwik Tay-lok memperhatikannya lekat-lekat, lewat lama sekali, ia baru menghela napas panjang, gumamnya tiba-tiba:

"Baik, baik.. kau mengatakan aku adalah anjing pesuruh, biarlah aku menjadi anjing pesuruh, bila kau sudah tak tahan, biar aku yang pergi!"

Pelan-pelan dia berjalan keluar dari sana, berjalan melewati depan mata Ong Tiong.

Pelan-pelan Ong Tiong bangkit berdiri, seperti hendak menghalanginya, tapi kemudian ia duduk kembali.

Ketika Kwik Tay lok berjalan sampai di luar halaman, ia menengadah memandang angkasa, tumpukan salju di atas pohon segera berhamburan ke bawah ketika terhembus angin dan menodai seluruh tubuh dan seluruh wajahnya.

Ia tetap berdiri tak berkutik di sana.

Bunga salju mulai meleleh di atas wajahnya dan menetes ke bawah melewati pipinya. Ia berdiri tak berkutik.
Sebenarnya dia ingin pergi agak jauh, tapi secara tiba-tiba dia tak berjalan lagi.

Yan Jit tidak menengok lagi ke arah halaman, mungkin apapun tak terlihat lagi olehnya.
 
Sepasang matanya sudah merah membengkak, mendadak sambil mendepak-depakkan kakinya dia menerjang ke arah pintu lain.

Ong Tiong merentangkan tangannya menghadang jalan perginya, lalu berkata: "Coba kau lihat dulu, apakah ini?"
Di tangannya terdapat semacam benda, selembar kertas yang berwana-warni.

Tentu saja Yan Jit cukup mengenali kertas apakah itu, dalam sakunya juga masih tersimpan beberapa lembar kertas seperti itu.

"Itu adalah kertas gadai!"

"Coba kau perhatikan lebih jelas lagi, benda apakah yang telah digadaikan?" kata Ong Tiong. .

Tulisan yang tertera di atas surat gadai itu lebih hebat dari tulisan resep seorang dokter, kalau seseorang tidak berpengalaman, jangan harap bisa mengenali satu hurufpun.

Yan Jit sangat berpengalaman, sudah terlalu banyak surat gadai dari Hoat liok-pi yang pernah dibaca olehnya.

"Rantai emas rongsok seuntai, hati ayam emas rongsok seuntai, total berat tujuh tahil sembilan rence. Digadaikan lima tahil perak"

Padahal semua benda itu masih baru tapi begitu masuk pegadaian lantas dianggap kuno, rongsok.

Peraturan pegadaian dimanapun sama saja, hal ini memang tak perlu diherankan, tapi rantai emaspun ada yang dianggap rongsok, sesungguhnya perkataan itu boleh dibilang sangat keterlaluan.

Hampir tertawa Yan Jit karena geli, sayangnya dia benar-benar tak dapat tertawa. Seperti kena ditempeleng orang keras-keras, ia hampir tertegun.
Dengan suara hambar Ong Tiong berkata:

"Surat gadai ini baru saja kucomot dari saku siau Kwik, dari tadi toh aku sudah bilang, jika aku ingin menjadi pencopet, maka sekarang aku sudah kaya raya."

Setelah menghela napas, gumamnya: "Cuma sayangnya, aku benar-benar enggan bergerak." Yan Jit juga tidak bergerak, tapi air matanya pelan-pelan meleleh keluar membasahi pipinya.
Sekalipun terhadap seorang sobat yang paling karibpun, kadangkala salah paham bisa saja terjadi.

Oleh karena itu, seandainya terjadi kesalah pahaman dengan kawanmu, kau harus memberi kesempatan kepadanya untuk memberi penjelasan.

"Dalam menilai satu masalah, seringkali bisa terdapat banyak sudut pandangan, jika kau selalu membawa jalan pemikirannya ke sudut pandangan yang jelek, maka hal ini sama artinya dengan menyiksa diri sendiri."
 
Oleh karena itu, seandainya kau menerima pukulan batin yang berat, pandangan harus sedikit terbuka, usahakanlah untuk menemukan sudut pandangan yang cemerlang.



Siapapun tidak berhak untuk menyiksa orang lain, tidak pula terhadap diri sendiri. . Inilah kesimpulan dari Ong Tiong.

Kesimpulan dari Ong Tiong seringkali sangat tepat.

Kesimpulan yang tepat pasti akan selalu teringat dalam benak setiap orang. ooo000ooo
Di dunia ini tiada suatu perbuatan yang sangat baik, tidak pula sesuatu yang amat jelek. Kegagalan meski tidak baik, tapi kegagalan adalah soko guru dari kesuksesan.
Meski sukses itu baik, tapi seringkali akan membuat orang menjadi sombong, tekebur dan angkuh, maka kalau sampai begini, kegagalan tak lama kemudian pasti akan datang.

Bila berkawan dengan seseorang, tentu saja kau berharap agar dia bisa menjadi sahabat yang paling akrab denganmu.

Teman bisa akrab tentu saja hal ini sangat baik, tapi terlampau akrab gampang menimbulkan sikap saling memandang enteng, tentu saja akan gampang pula terjadi kesalah pahaman.

Salah paham meski tidak baik, tapi bisa kau dapat memberi penjelasan yang amat jelas, maka hubungan masing-masing pihak akan mendalam, perasaan batin merekapun akan mengikat lebih lama.

Bagaimana juga, perasaan orang yang terfitnah itu tak enak.

Seandainya di dunia ini masih ada peristiwa lain yang lebih tersiksa daripada terfitnah, maka hal mana pastilah peristiwa fitnahan yang secara beruntun, menimpa orang itu sebanyak dua kali.

Yan Jit pernah difitnah orang, itu berarti ia dapat memahami perasaan Kwik Tay lok pada saat
itu.

Padahal dia sendiri jauh lebih tersiksa dan menderita daripada Kwik Tay lok sendiri.

Selain tersiksa, masih ada perasaan lain lagi yang selain ia sendiri, siapapun tak akan dapat mencicipi perasaan tersebut, dia hanya ingin menyembunyikan diri dan menangis sepuas- puasnya.

Sudah cukup lama tak pernah menangis sepuas-puasnya, karena seorang lelaki sejati tidak pantas untuk menangis macam gadis.

Untuk menjadi seorang lelaki sejati, memang bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Tentu saja dia juga tahu, sekarang ia harus pergi mencari Kwik Tay-lok, tapi apa yang harus dia ucapkan setelah berjumpa dengannya ?

Ada sementara perkataan ia tak ingin mengucapkannya keluar, ada sementara perkataan dia bahkan tak berani untuk mengeluarkannya.
 
Perasaannya sedang kalut dan tak tahu apa yang musti dilakukan, ketika tiba-tiba ada sebuah tangan disodorkan ke hadapannya, tangan itu memegang sebuah cawan arak.

Kemudian ia terdengar seseorang sedang berkata kepadanya:

"Minumlah dulu arak ini, kemudian kita damai, mau bukan?"

Jantungnya berdebar keras, ketika ia mendongakkan kepalanya maka tampak Kwik Tay-lok telah berdiri di hadapannya.

Paras muka Kwik Tay-lok sangat tenang, sama sekali tidak terlintas perasaan gusar atau tak senang, juga tiada perasaan menderita seperti juga dimasa-masa lampau, memandangnya sambil tertawa haha hihi.

Wajah senyum tak senyum macam tukang jamu ini sebenarnya paling dibenci oleh Yan Jit.
Dihari-hari biasa dia selalu merasa jemu untuk memandangnya.

Dia selalu beranggapan, kadangkala seorang juga perlu serius, perlu mengikuti peraturan.

Tapi sekarang, entah apa sebabnya tiba-tiba ia merasa bukan saja tampang itu sedikitpun tidak menjemukan, malahan terasa amat menarik hati.

Bahkan dia berharap tampang Kwik Tay-lok selalu dapat demikian, selamanya tak pernah berkerut kening.

Karena secara tiba-tiba dia menyadari bahwa tampang inilah tampang Kwik Tay-lok yang sesungguhnya paling dia sukai.

"Mau damai tidak?" kembali Kwik Tay-lok bertanya sambil tertawa. Yan Jit menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kau... kau tidak marah lagi?"

"Sebenarnya marah sekali, tapi setelah kupikir kembali, bukan saja tidak marah, malahan aku merasa amat gembira"

"Amat gembira?"

"Ya, coba kalau kau tidak memperhatikan diriku, sekalipun aku menjadi tuyul busuk atau telur busuk anak kura-kura, hal ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu, kaupun tak usah marah kepadaku. Justru karena kau adalah sahabat yang paling akrab denganku, maka kau baru merasa amat marah kepadaku"

"Tapi... tidak seharusnya aku memfitnahmu, seharusnya aku mempercayai dirimu" Kwik Tay-lok segera tertawa.
"Mau memfitnah aku juga boleh, menonjok aku juga tak mengapa, asal kau adalah sahabat karibku, mau apa saja terhadap diriku juga tak menjadi soal"



Yan Jit segera tertawa lebar.
 
Bila ia sedang tertawa, hidungnya mengernyit lebih dulu, lalu matanya yang tersenyum....

Noda air mata masih membasahi wajahnya, pipi yang sebenarnya hitam dan kotor tiba-tiba muncul beberapa jalur putih setelah tertetes air, bagaikan sinar matahari yang muncul dari balik awan gelap.

Kwik Tay-lok menatapnya, dia seakan-akan dibuat terpesona olehnya. Yan Jit menundukkan kepalanya lagi, kemudian berbisik:
"Mengapa kau melotot terus kepadaku?"

Kwik Tay-lok tertawa, kemudian menghela napas panjang, sahutnya:

"Aku sedang berpikir, Swan Bwe-tong sungguh tajam, bila kau benar-benar mau mencuci muka, sudah pasti kau seorang bocah lelaki yang tampan, mungkin jauh lebih tampan dari diriku. !"

Yan jit ingin menarik muka, tapi akhirnya tak tahan tertawa juga, dia sambut cawan arak tersebut.

Ong Tiong memandang Lim Tay-peng, Lim Tay-peng memandang ke arah Ong Tiong, kemudian kedua-duanya sama-sama tertawa.

Sambil tertawa kata Lim Tay peng:

"Sebenarnya aku tak suka minum arak di pagi hari, tapi hari ini rasanya aku benar-benar ingin minum sampai mabuk."

Yaa, sepanjang hidup berapa kali manusia bisa mabuk?

Bila berjumpa dengan peristiwa semacam ini dan teman seperti ini, bila tak minum sampai mabuk, mau tunggu sampai kapan lagi?

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang, kemudian katanya:

"Sayang sekali, hari ini aku tak dapat menemanimu untuk minum sampai mabuk." "Kenapa ?" tanya Lim Tay-peng.
"Sebab hari ini aku masih ada urusan, aku harus turun gunung lagi."

Bocah muda ini, begitu saku punya uang, dia paling tak betah untuk berdiam di rumah." Sambil menggigit bibir Yan Jit lantas bertanya:
"Ada urusan apa kau turun gunung?" "Untuk memenuhi janji seseorang,"
Paras muka Yan Jit seperti agak berubah, dia melengos ke arah lain sambil bertanya lagi: "Kau ada janji dengan siapa?"
"Hoat-liok-pi!"
 
Sepasang mata Yan Jit segera mencorong sinar tajam, tapi sengaja serunya sambil menarik muka:

"Kau punya janji dengannya?"

"Dia mah tidak berjanji denganku, tapi aku justru hendak pergi mencarinya" "Ada urusan apa kau pergi mencari nya?"
"Ia bersedia membayar lima ratus tahil perak kepada kita, itu berarti ia pasti mempunyai maksud tertentu, maka aku ingin tahu sesungguhnya kulit siapa yang hendak disayatnya?"

Salju sudah mulai meleleh, jalan gunung penuh dengan lumpur dan becek sekali.

Tapi Yan Jit sama sekali tak ambil perduli, kakinya yang menginjak lumpur seakan-akan sedang menginjak di atas awan saja.

Sebab Kwik Tay-lok berjalan di sampingnya, bahkan ia dapat merasakan dengusan napas dari pemuda itu.

Tiba-tiba Kwik Tay lok tertawa, katanya:

"Hari ini, aku kembali telah menemukan satu hal" "Oya ?"
"Aku menemukan bahwa Ong lotoa benar-benar sangat memahami hatiku, mungkin di dunia ini sulit untuk menemukan orang kedua yang bisa demikian memahami diriku seperti dia"

Yan Jit manggut-manggut, sahutnya dengan sedih:

"Dia memang paling memahami orang lain, bukan cuma kau, setiap orang pun bisa dia pahami"

"Tapi orang yang paling ia kasihani adalah Lim Tay-peng, aku dapat merasakannya" Yan Jit ragu-ragu sejenak, akhirnya tak tahan diapun bertanya:
"Bagaimana dengan aku ?"

"Kau bukan cuma tidak memahami diriku, juga tidak kasihan kepadaku, bukan saja kau paling galak kepadaku, bahkan setiap saat selalu mengajak cekcok diriku, mengajak bertengkar diriku..."

Yan Jit menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Tiba-tiba Kwik Tay lok tertawa, kemudian melanjutkannya:

"Tapi entah mengapa, aku masih dapat merasakan bahwa kaulah orang yang paling baik kepadaku"

Yan Jit tertawa, mukanya seperti agak memerah, lewat lama sekali dia baru bertanya lirih.. "Bagaimana dengan kau ?"
 
Ada kalanya aku merasa kekinya setengah mati terhadapmu seperti misalnya hari ini jika Ong lotoa bersikap begitu kepadaku, aku malah mungkin tak akan semarah itu, mungkin segera akan memahami perasaannya tapi kau "

"Kau hanya marah kepadaku?" tanya Yan Jit. Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang. .
"Aaai. mungkin hal ini dikarenakan aku sangat baik terhadap dirimu!"

Yan Jit segera mengedipkan matanya, tiba-tiba ia tertawa:

"Seberapa baiknya sih?"

Kwik Tay-lok termenung sebentar, lalu menjawab:

"Sesungguhnya seberapa besarkah kebaikan itu, bahkan aku sendiripun tak bisa melukiskannya!"

"Kalau tak bisa melukiskannya itu berarti bohong"

"Tapi aku bisa memberikan suatu perumpamaan kepadamu" "Perumpamaan apa?"
"Demi Ong lotoa, aku bersedia menggadaikan semua pakaianku dan pulang dengan memakai cawat."

Setelah tertawa, lanjut:

"Tapi demi kau, sekalipun cawat itu harus digadaikan juga, akupun rela." Yan Jit segera tertawa lebar.
"Huuuh, siapa yang kesudian dengan celana robekmu itu."

Ketika selesai mengucapkan kata-kata tersebut, mendadak wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, cawat yang dikenakan Kwik Tay lok mau berlubang atau tidak, darimana ia bisa mengetahuinya. ?

Untung saja dasar mukanya itu memang hitam dan dekil, sehingga meskipun muka berubah menjadi merah padam seperti babi panggang, orang juga tak akan mengetahuinya.

Tapi penampilan perasaan yang dipancarkan lewat sepasang matanya, senyuman hangat mesra dan lembut yang tersungging di ujung bibirnya, ditambah senyuman lirih yang diikuti sikap tersipu-sipu dan kemalu-maluan itu, jika ada orang tak dapat melihatnya, maka bukan saja orang itu adalah seorang manusia yang tolol, pada hakekatnya dia adalah seorang manusia tolol yang buta matanya.

Kwik Tay lok memperhatikan sepasang matanya itu, mendadak ia tertawa dan berkata: "Aku masih mempunyai satu perumpamaan lagi."
"Katakanlah!"
 
"Sekalipun aku sudah bersumpah tak akan kawin tapi seandainya kau ini seorang gadis aku pasti akan mengambilmu menjadi biniku."

"Huh siapa yang mau jadi binimu? Bisa jatuh miskin delapan keturunanku!"

Suaranya seperti agak kurang beres, mendadak ia mempercepat langkahnya dan berjalan ke depan sana.

Kwik Tay-lok tidak berusaha untuk mengejarnya, dia cuma memandang bayangan punggungnya dengan termangu-mangu.

Dia seakan-akan dibuat terpesona, dibuat terkesima dan hampir saja kehilangan sukmanya.

Sementara itu cuaca tiba-tiba menjadi cerah, serentetan cahaya sang surya yang berwarna keemas-emasan menembusi awan dan menyinari seluruh jagad, menyinari atas badan Yan Jit, menyinari pula atas badan Kwik Tay-lok.

Seakan-akan cahaya matahari itu khusus menyorot bagi mereka berdua. ooooo0()Oooooo
K U L I T siapa yang disayat ?

Rumah pegadaian milik Hoat-liok-pi disebut rumah pegadaian Lip gwan. Rumah pegadaian itu terletak persis di depan warung Moay Lo-khong. Sekarang, papan nama warung Moay Lo-khong sudah diturunkan, ada beberapa orang sedang mengapur dinding rumah.

Teringat akan Moay Lo-khong, baik Kwik Tay-lok maupun Yan Jit merasakan hatinya sangat kesal.

Bagaimanapun juga mereka sudah banyak memperoleh kesenangan ditempat itu. Di depan rumah pegadaian Lip-gwan, parkir sebuah kereta kuda.
Pintu gerbang rumah pegadaian itu belum dibuka, tampaknya hari ini dia seperti tak bermaksud untuk membuka usahanya.

Kwik Tay-lok dan Yan Jit saling bertukar pandangan sekejap, baru lewat disamping sebuah lorong, tampaklah Hoat liok pi muncul dari balik pintu samping, mata setannya berkeliaran memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dalam bopongannya memeluk erat-erat sebuah bungkusan besar.

Setelah yakin kalau disekitar sana tak ada orang lain ia segera melompat masuk ke dalam kereta.

Pintu kereta tertutup rapat-rapat bahkan tirai di depan jendela keretapun diturunkan.

Dari dalam rumah pegadaian pelan-pelan berjalan seorang nenek-nenek, di tangannya membawa sebuah tong sampah.



Tentu saja Kwik Tay-lok kenal dengan nenek itu, dia bukan bininya Hoat liok pi, dia tak lebih cuma seorang pekerja serabutan.
 
Oleh karena usianya sudah lanjut, maka selain bersantap, sepeserpun Hoat liok pi tak pernah memberi gaji kepadanya, tapi dikala ia sedang menyuruhnya untuk bekerja, maka dia akan dianggapnya sebagai seorang babu saja.

Seringkali Kwik Tay-lok merasa heran, kenapa nenek itu mau bekerja lebih jauh dengan Hoat liok pi.

Orang yang bekerja untuk seorang kikir macam Hoat liok pi, maka seandainya pada suatu hari mengalami sesuatu, mungkin peti mati untuk tempat jenazahnya tak punya.

Terdengar Hoat liok pi sedang berteriak dari dalam kereta.

"Tutup pintu rapat-rapat, jangan biarkan siapapun memasukinya, besok pagi aku baru pulang."

Maka kusir keretapun mengayunkan cambuknya dan melarikan kereta itu menelusuri jalan raya.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok dan Yan Jit melompat keluar dari gang disamping jalan kemudian seorang sebelah membonceng di bawah as kereta.

Jendela segera dibuka orang, menyusul Hoat liok pi menongolkan kepalanya dengan wajah terperanjat, dia lebih terperanjat lagi setelah mengetahui siapa yang turut membonceng, serunya:

"Mau apa kalian?"

"Tidak apa-apa!" jawab Kwik Tay lok sambil tertawa, "aku cuma ingin menumpang keretamu sampai di kota."

Hoat liok pi segera menggelengkan kepalanya berulang kali. 000000 0 00000
"T I D A K bisa, aku sudah bilang, keretaku ini tidak menumpang orang lain,"

"Tidak bisa juga harus bisa !" kata Kwik Tay-lok sambil tertawa terkekeh-kekeh, "Kami toh sudah naik ke atas kereta, masakah kau bisa mendorong kami turun?"

"Yaa, betul!" sambung Yan Jit pula sambil tertawa, "bagaimana juga, kau toh sebenarnya memang berniat mengajak kami pergi menemanimu?"

"Yang kucari bukan kalian."

Mendadak ia seperti merasa telah salah berkata, dengan cepat mulutnya di tutup kembali. "Bukan kami? Apakah kau sudah berubah pikiran?", desak Yan Jit.
Paras muka Hoat-liok-pi agak berubah memucat, mendadak ia tertawa lebar.

"Kalau kalian bersikeras ingin numpang tentu saja boleh, cuma harus membayar uang sewa. Uang sewa kereta seluruhnya tiga tahil perak, jadi kebetulan sekali seorang membayar setahil"

Dengan tangan kiri ia menerima uang, tangan kanannya segera membuka pintu kereta.

Hoat-liok-pi memang mempunyai kebaikan, asal kau ada uang yang bisa diberikan kepadanya, maka dia tak akan membuat kecewanya dirimu.
 
Bahkan dia malah memberikan dua tempat yang paling baik untuk kedua orang itu.

Kini, setelah berada di atas kereta, maka Kwik Tay-lok pun mulai putar otak untuk mencari akal lain.

Hoat-liok pi masih saja memeluk buntalannya itu kencang-kencang. Mendadak Kwik Tay lok berkata:
"Yan jit, bagaimana kalau kita bertaruh?" "Baik, bertaruh apa?"
"Aku berani bertaruh isi buntalan ini pastilah seekor tikus, percayakah kau?" "Tidak percaya"
"Baik, aku akan mempertaruhkan sepuluh tahil perak" Tiba-tiba Hoat liok pi tertawa, tukasnya:
"Kalian tak perlu bertaruh, aku tahu kalian hanya ingin mengetahui isi buntalanku saja, bukan begitu?"

"Agaknya aku memang mempunyai maksud begitu" sahut Kwik Tay lok sambil tertawa "Mau lihat juga boleh, tapi sekali melihat harus membayar sepuluh tahil perak."

Kwik Tay lok tidak menyangka kalau begitu cepat dia menyanggupi permintaannya. Padahal menurut anggapannya dalam buntalan itu pasti terdapat sesuatu rahasia yang takut di ketahui orang.

Begitu tangan kirinya menerima uang, tangan kanan Hoat liok pi segera membuka bungkusan
itu.

Ternyata isi buntalan itu cuma beberapa stel pakaian lama.

Kwik Tay lok segera memandang Yan Jit, Yan Jit pun memandang Kwik Tay-lok ke dua orang itu cuma bisa tertawa getir.

Sambil tertawa Hoat Hok pi segera berkata:

"Sekarang kalian baru merasa kalau sepuluh tahil perak itu hilang dengan percuma bukan ?
Sayang sekarang sudah terlambat."

Sambil tertawa bangga dia bersiap-siap untuk membungkus kembali buntalan itu.



Tiba-tiba Yan Jit berseru.
"Hei agaknya diantara beberapa stel pakaian itu ada yang kepunyaan Lim Tay-peng?" "Agaknya memang begitulah!" sahut Hoat liok pi sambil mendehem, "tapi bagaimana pun juga
toh sudah ia gadaikan kepadaku"
 
"Tapi masa untuk digadaikan toh belum lewat, setiap saat dia bisa saja untuk menebusnya kembali, mengapa kau membawa pergi?"

Lambat laun Hoat liok poi tak bisa tertawa lagi, dia berkata:

"Bila dia hendak menebusnya kembali nanti, aku pasti ada baju yang akan diberikan kepadanya, apa yang musti dikuatirkan?"

"Berapa perak pakaian itu ia gadaikan kepadamu?" "Satu tahil lima uang!"
"Baik, sekarang juga akan kutebus pakaian itu baginya!" "Tidak bisa!"
"Ada uangpun tidak bisa?"

"Sekalipun ada uang juga musti ada surat gadainya, ini adalah peraturan rumah pegadaian, apakah kau membawa surat gadainya?"

Kwik Tay lok kembali memandang ke arah Yan Jit, kedua orang itu tidak berbicara lagi, tapi hati mereka merasa amat keheranan.

Mau apa Liok-hoat-pi membawa pakaian milik Lim Tay-peng menuju ke kota?

Walaupun bahan pakaian itu cukup baik, tapi sudah kuno, mengapa ia memeluknya erat-erat bahkan menganggapnya seakan-akan benda mustika? Rahasia apa lagi dibalik ke semuanya itu?

000000( 0 )000000

Begitu kereta masuk kota, Hoat liok pi segera berkata:

"Tempat tujuan telah tiba, silahkan kalian turun dari kereta"
"Bukankah kau meminta kepada kami untuk menemanimu jalan-jalan?" seru Yan Jit. "Sekarang tidak perlu lagi, daripada anak kandung lebih baik uang dalam saku, bisa
menghemat setahil ada baiknya untuk menghemat setahil"

"Seandainya kami bersedia untuk menemanimu tanpa memungut bayaran. .?"

"Gratispun juga tak bisa," sahut Hoat liok pi sambil tertawa, "hanya transaksi dengan uang kontan baru merupakan suatu transaksi yang paling bisa dipercaya, biasanya hal-hal yang gratis justru merupakan sumber dari segala kerepotan"

Mendengar perkataan itu, Yan Jit segera menghela napas panjang. "Aaaai..! Kalau begitu kami akan turun kereta"
"Tidak menghantar, tidak menghantar, silahkan!"

Baru saja mereka turun dari kereta, "Blaam" pintu kereta segera ditutup rapat-rapat.
 
Memandang bayangan karena yang melaju ke muka, Kwik Tay-lok juga menghela napas panjang.

"Aaaai...! Orang ini sungguh amat licik, aku betul-betul tak bisa menebak permainan busuk apakah yang sedang dia persiapkan"

Yan Jit termenung sebentar, lalu berkata:

"Barusan dia telah terlanjur salah bicara, dia bilang bukan kita yang dicari, apa kau tidak mendengar?"

Kwik Tay-lok segera manggut-manggut.

"Jangan-jangan orang yang hendak dicarinya hanya Lim Tay-peng seorang, sedang kita tak lebih cuma tedeng aling-alingnya?" seru Yan Jit kembali.

"Tapi ada keperluan apa dia mencari Lim Tay-peng?"

"Aku selalu merasa bahwa Lim Tay-peng adalah seseorang yang mempunyai rahasia besar" Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata:
"Eeeh. menurut pendapatmu, mungkinkah dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai
pria?"

Yan Jit kontan saja melotot sekejap ke arahnya, lalu mengomel:

"Aku lihat kau ini terlalu banyak membaca buku, mana mungkin ada perempuan yang menyaru sebagai pria didunia ini ?"

Kwik Tay-lok tidak berbicara lagi.

Hingga kereta itu sudah membelok di ujung jalan sana, tiba-tiba kedua orang itu mempercepat langkahnya dan menyusul ke depan sana.

Bagaimanapun juga, mereka masih tak mau menyerah dengan begitu saja.

Dengan cepat kereta itu berhenti di depan sebuah rumah penginapan yang amat besar.

Manusia macam Hoat liok pi ternyata bersedia mengeluarkan uang untuk menginap di rumah penginapan besar ini, bukankah kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh ?

Untung saja ketika itu cuaca sudah mulai menggelap. Malam hari di musim salju memang selalu datangnya kelewat awal.

Mereka segera berputar ke belakang rumah penginapan itu dan melompat masuk melewati pagar halaman.



Siapa saja tak akan apes sepanjang masa, kali ini nasib mereka ternyata sangat mujur, baru saja bersembunyi di belakang pohon, mereka telah menjumpai Hoat liok pi masuk ke deretan kamar di halaman belakang.

Udara masih amat dingin, dalam halaman tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
 
Dengan sangat berhati-hati mereka melompat ke depan, lalu dalam tiga lima lompatan sudah berada di atas atap rumah.

Mendadak kedua orang itu sama-sama menemukan bahwa ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki hebat sekali, seakan-akan sejak dilahirkan sudah ahli di bidang itu.

Dalam hati kecil mereka diam-diam mengambil keputusan, kemudian hari harus mencari akal untuk bertanya kepada lawannya, bagaimana caranya melatih ilmu meringankan tubuh tersebut.

Mereka seolah-olah secara mendadak ingin sekali mengetahui rahasia lawannya. 0000000000000
Di bawah wuwungan rumah itupun terdapat bongkahan salju, tentu saja daun jendelanya tertutup rapat.

Untung saja dalam kamar itu memasang api penghangat, maka di atas jendela itu di buka sebuah lubang hawa.

Melongok lewat jendela kecil lubang hawa tersebut, semua pemandangan didalam kamar itu dapat melihat amat jelas.

Selain Hoat-liok-pi, didalam kamar itu masih ada dua orang manusia berbaju perlente yang bermuka dingin menyeramkan, seakan-akan semua orang di dunia ini telah berhutang kepadanya.

Sekilas pandangan saja Yan-Jit sudah tahu, selain ilmu silat yang dimiliki kedua orang itu sangat tangguh, merekapun pastilah seorang jago kawakan.

Salah seorang diantaranya mempunyai sebuah codet yang memanjang di atas wajahnya sehingga ia kelihatan menakutkan sekali.

Orang kedua meski tiada codet di wajahnya, tapi lengannya hilang, setelah ujung bajunya yang kosong itu terikat di pinggang, sementara sebilah golok lengkung tersoren di pinggang.

Golok lengkung semacam itu sudah merupakan senjata yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, apa lagi orang yang berlengan tunggal masih mempergunakan golok lengkung seperti itu, sudah jelas kepandaian silat yang dimilikinya pasti tidak rendah.

Selain daripada itu, andaikata ia bukan seseorang yang sering kali masuk keluar diantara pertarungan yang menyangkut soal mati hidup, tak mungkin tubuhnya akan menderita luka separah itu.

Jika seseorang yang seringkali masuk keluar dalam pertarungan mati dan hidup ternyata masih bisa hidup sampai sekarang, sudah dapat dipastikan pamornya pasti besar dan dia tentu bukan seorang manusia yang gampang dihadapi.
Kenapa Hoat-liok-pi bisa mengadakan transaksi dagang dengan manusia semacam ini. Hoat liok-pi telah membuka bungkusannya dan mengeluarkan pakaian milik Lim Tay-peng,
ketika menyodorkan ke tangan ke dua orang itu, wajahnya kelihatan amat bangga, seakan-akan seperti lagi mempersembahkan benda mustika saja.

Sesungguhnya sampai dimanakah berharganya pakaian kumel milik Lim Tay peng tersebut?
 
Si lelaki bercodet itu menerima pakaian tersebut dan diamatinya sebentar dengan seksama, kemudian diserahkan kepada lelaki berlengan tunggal itu.

Ketika ia sedang membolak balikkan pakaian itu, lamat-lamat Kwik Tay-lok juga dapat melihat di ujung baju itu seperti ada sebuah sulaman, cuma tidak jelas sulaman apakah itu?

Lelaki berlengan tunggal itu telah membalik ujung baju itu dan menelitinya sekejap, pelan- pelan ia mengangguk.

"Benar, memang pakaian miliknya" dia berkata.

"Tentu saja tak bakal salah," kata Hoat liok-pi sambil tertawa, "selamanya aku adalah seorang pedagang yang bisa dipercaya"

"Sekarang, dimana orangnya?"

Hoat-liok-pi tidak menjawab, melainkan mengulurkan tangannya.

"Sekarang juga kau akan mengambilnya?" tegur orang berlengan tunggal itu. Kembali Hoat-liok-pi tertawa.
"Orang yang membuka rumah pegadaian selalu membayar kontan, aku rasa kamu berdua tentu mengerti bukan"

"Baik, berikan kepadanya!"

Lelaki bercodet itu segera mengambil sebuah bungkusan dari bawah meja dan . . . "Blaaam" diletakkan ke atas meja.

Sungguh berat bungkusan itu.

"Pekerjaan yang bisa membuat Hoat liok pi bersedia mengeluarkan lima ratus tahil perak lebih dulu hanya ada satu, yaitu pekerjaan yang bisa mendatangkan keuntungan lima ribu tahi perak baginya ".



Ucapan dari Yan Jit itu memang tepat sekali, paling tidak isi bungkusan itu juga ada lima ribu tahil perak.

Kwik Tay lok memandang sekejap ke arah Yan Jit, sekarang mereka mengerti sudah apa gerangan yang telah terjadi.

Kedua orang itu sudah pasti sedang mencari Lim Tay-peng, bahkan amat terburu-buru maka mereka tak sayangnya mengeluarkan lima ribu tahil perak sebagai hadiah.

Sudah lama Hoat liok pi mengetahui akan soal ini, tapi sampai Lim Tay-peng menggadaikan pakaiannya, dia baru menyadari bahwa Lim Tay-peng sesungguhnya adalah orang yang sedang mereka cari.

Oleh sebab itu dia berharap Lim Tay-peng bisa menemaninya datang sebentar saja ke kota, kemudian menyerahkan Lim Tay-peng kepada kedua orang ini. Apabila bisa menghantar orangnya secara langsung, tentu saja hadiahnya lebih banyak.
 
Tapi, apa yang sebenarnya telah dilakukan Lim Tay peng, mengapa dia begitu tinggi nilainya sehingga orang lain tak segan-segan mengeluarkan uang sebesar itu sebagai hadiah?

Begitu melihat uang perak, tiba-tiba Hoat liok pi berubah menjadi menyenangkan sekali, bahkan sewaktu tertawapun sepasang matanya menjadi hilang seperti tidak kelihatan.

"Sekarang, tentunya kau sudah dapat menerangkan bukan, dia berada dimana ?" kata-kata lelaki bercodet itu.

Entah apapun yang telah dilakukan Lim Tay-peng, kalau toh dia sedang menghindari pengejaran dari kedua orang ini, maka dia tak boleh sampai ditemukan kembali oleh mereka berdua.

Kwik Tay-lok sudah bersiap-siap menerjang masuk lewat jendela.

Siapa tahu pada saat itulah mendadak senyuman di atas wajah Hoat liok pi berubah menjadi kaku.

Sepasang matanya melotot ke depan pintu dengan mata terbelalak, mulutnya melongo dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, keadaan waktu itu seakan-akan seorang yang mendadak menyumbat mulutnya dengan lumpur.

Mengikuti arah pandangan matanya, Kwik Tay-lok turut menengok ke depan, tapi dengan cepat diapun merasa terkejut.

Entah sedari kapan, di depan pintu berjalan masuk seseorang.

Orang itu cuma seorang nenek biasa yang sangat sederhana dan tiada sesuatu yang mengejutkan, tapi mimpipun Kwik Tay lok tak menyangka bakal bertemu dengannya disaat dan tempat seperti ini.

Dengan jelas ia masih melihat orang itu berdiri di depan rumah pegadaian Lip gwan sambil membawa tong sampah.

Kemudian mereka menunggang kereta datang kesana, sepanjang jalan tidak pernah berhenti, pun tidak berjalan pelan, mengapa si nenek inipun bisa sampai juga di sana? Apakah dia bisa terbang?

Keadaan Hoat liok pi bagaikan bertemu dengan setan saja, dengan tergagap dia berseru: "Mau... mau apa kau datang kemari?"
Di tangan si nenek membawa sebuah mangkuk, sambil berjalan masuk dengan langkah yang sangat lamban, dia gelengkan kepala dan menghela napas, sahutnya:

"Waktu minum obatmu sudah sampai, mengapa kau selalu kelupaan? Aku sengaja datang mengantarnya untukmu, hayo cepat diminum dulu."

Hoat liok pi menyambut mangkuk itu, kedengaran tutup mangkuk yang berada di tangannya berbunyi gemerutukan dengan amat nyaringnya.

Bukan saja tangannya sedang gemetar, peluh dinginpun telah bercucuran membasahi tubuhnya.
 
Paras muka si laki berlengan tunggal dan si lelaki bercodet itu masih tetap kaku tanpa emosi, mereka menatap sekejap ke arah nenek itu dengan pandangan dingin, tiba-tiba mereka turun tangan bersama, dua titik cahaya tajam segera meluncur ke arah depan.

Serangan kilat itu tak bisa dibilang amat lamban. .

Siapa tahu baru saja titik cahaya hitam itu sampai di depan si nenek, tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

Padahal nenek itu sama sekali tak berkutik dari tempatnya semula. Paras muka si lelaki bercodet itu agak berubah.
Sebaliknya si lelaki berlengan tunggal itu tertawa dingin, serunya tanpa emosi. "Tidak kusangka kaupun seorang jago lihay, bagus, bagus sekali"
Tiba-tiba nenek itu tertawa, lalu menjawab:

"Tidak baik, sedikitpun tidak baik!"

"Kenapa tidak baik?," tanya lelaki berlengan tunggal itu.

"Apa pula baiknya? Bila kalian telah bertemu denganku, maka kalian bakal sial, apanya yang baik?"

Lelaki berlengan tunggal itu segera melompat bangun, kemudian bentaknya keras-keras. "Siapakah kau? Mengapa mencampuri urusan kami ?"
"Siapa yang akan mencampuri urusan kalian! Urusan kalian masih belum pantas kucampuri, mengundang aku untuk mencampuri pun belum tentu aku mau bahkan berlutut sambil memohonpun aku juga tak akan kesudian untuk mengurusinya."

"Lalu ada urusan apa kau datang kemari?"

"Aku datang untuk menyuruhnya minum obat, Cepat minum ? Habis minum obat kau harus segera tidur"

Dengan wajah murung Hoat liok pi segera memencet hidungnya dan minum obat itu sampai habis.

"Bagus!" kata si nenek, "Sekarang kau harus pulang untuk tidur"

Bagaikan sedang menarik anaknya saja, sambil menyeret tangan Hoat liok pi dia lantas beranjak dari situ.

Tiba-tiba cahaya golok berkelebat lewat, sambil melompat ke tengah udara si lelaki berlengan tunggal itu sudah mengayunkan sebilah golok lengkungnya untuk membacok kepala orang.

Bisa menyerang sambil melambung ke udara tentu saja ilmu golok yang dimilikinya tak terhitung lemah.

Tapi cahaya golok itu hanya berkelebat lewat, kemudian lenyap tak berbekas.