Pendekar Riang Jilid 08

 
Jilid 08

KWIK TAY - LOK MAUPUN YAN-JIT menjadi melongo dan tidak habis mengerti, hampir pada saat yang bersamaan mereka bertanya bersama:

"Kenapa ?"

"Sebab dia bisa menanakkan nasi untuk kita !"

Tentu saja kucing tak bisa membuat nasi, Kwik Tay-lok merobek sebuah paha ayam dan dijejalkan ke dalam mulutnya, kemudian dikeluarkan lagi, serunya:

"Ayam ini masih panas !"

"Bak-paunya juga masih panas" Yan Jit menambahkan. "Tampaknya hidangan ini belum lama dihampiri kemari" "Suatu jawaban yang tepat sekali !"
"Tapi siapa pula yang mengirim makanan ini? Masakan orang yang membayarkan rekening buat kita sewaktu dirumah makan Kui-goan koan itu?"

"Aaah, lagi-lagi jawabanmu benar!"

"Mengapa ia begitu melihat pantat kita berempat, Masakah dia benar-benar adalah anak angkatku ?"

"Meong. . . meong. "
Kwik Tay-lok membelalakkan matanya lebar-lebar, sambil mengawasi wajah Yan Jit serunya: "Hei, sedari kapan kau berubah menjadi seekor kucing? Aku mah tak akan memahami bahasa
kucing!"

Yan Jit tertawa lebar, sahutnya:

"Aku sedang mengajak anak angkatmu ini bercakap-cakap!"

Dia mengambil sedikit setiap hidangan yang berada di meja, kemudian diletakkan di baki dan disodorkan ke hadapan sang kucing.

Dengan cekatan kucing hitam itu melompat ke depan dan melahap hidangan tersebut. Sambil membelai rambutnya yang halus, Yan Jit berkata:
"Kaulah yang mengantar semua hidangan itu untuk kami, maka kupersilahkan kau mencicipinya lebih dulu"

Kwik Tay-lok turut tertawa tergelak, katanya:
 
"Kau benar-benar amat berbakti, seakan-akan kau sudah menjadi anak angkatnya kucing itu saja!"

Padahal diapun tahu bahwa Yan Jit sengaja berbuat demikian hanya ingin mencoba apakah dalam hidangan itu ada racunnya atau tidak.

Yan Jit memang selalu kelewat teliti dalam melakukan pekerjaan apapun, tapi potongannya justru tidak mirip seseorang yang teliti.

Biasanya orang yang teliti tak akan jorok tapi dia pada hakekatnya seperti tak pernah dekat dengan air.

Ternyata hidangan itu tak ada racunnya, paha ayam di tangan Kwik Tay-lok pun sudah berpindah ke dalam perutnya.

"Tampaknya orang itu tidak menaruh maksud jahat apa-apa terhadap kita..." ujar Yan Jit, "cuma ada sedikit penyakitnya saja."

"Bukan cuma sedikit penyakitnya, tapi banyak sekali, kalau penyakitnya tidak banyak, mana mungkin dia bisa melakukan perbuatan seperti ini...?" seru Kwik Tay-lok.

Setelah melahap sebiji bakpao, tiba-tiba katanya lagi:

"Orang ini pasti seorang gadis !" "Darimana kau bisa tahu ?"
"Sebab cuma perempuan yang bisa melakukan perbuatan gila-gilaan seperti ini". Sambil menggigit bibir ternyata Yan Jit mengangguk, sahutnya:
"Yaa, dia berbuat demikian mungkin saja karena tertarik kepadamu, ingin membaikimu sebab. "

"Sebab apa?" tukas Kwik Tay-lok sambil tertawa tergelak, "karena aku mempunyai jiwa kesatria seorang lelaki? Atau karena tampangku terlalu ganteng ?"

"Semuanya bukan !" "Lantas karena apa ?".
"Karena dia adalah seorang gadis sinting, yang tidak waras otaknya, sebab hanya gadis yang sinting dan tidak waras otaknya baru akan jatuh cinta kepadamu"
Kwik Tay-lok ingin menarik muka, tapi tak tahan akhirnya dia ikut tertawa juga, katanya: "Mendingan ada perempuan sinting yang menyukaiku, toh paling tidak ada juga perempuan
yang mau denganku!"

Sang surya memancarkan sinarnya di luar jendela, berada dalam cuaca secerah ini dia enggan untuk marah kepada siapapun, apalagi marah kepada Yan Jit.

Sebab berbicara yang sebenarnya, dia amat menyukai Yan Jit.
 
Lambat laun dia mulai merasa bahwa diantara sekian banyak teman ternyata Yan Jit lah yang paling disukai.

Anehnya, Yan Jit justru selalu memusuhinya, bahkan setiap saat berusaha mencari akal antuk menyindirnya.



Yang lebih aneh lagi, semakin Yan Jit mengejeknya, semakin suka pula dia kepada Yan Jit.

Ong Tiong selalu menjadi pendekar yang baik dalam sindir menyindir itu, bila ia sedang memandang ke arah mereka, sinar matanya selalu mengandung senyuman yang penuh arti...

Baru saja tangan Kwik Tay-lok menjejalkan sisa bakpao ke mulut, tangan yang lain telah menyambar cawan arak.

Yan Jit segera mendelik ke arahnya.

"Setan arak !" makinya, "apakah kau tak dapat menunggu sampai hari gelap nanti baru minum arak ?"
Kwik Tay-lok tertawa, ternyata ia meletakkan kembali cawannya ke meja, gumamnya: "Siapa bilang aku hendak minum arak ? Aku tak lebih hanya ingin memakai arak untuk
mencuci mulut".
Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar gedung terdengar seseorang sedang bersenandung: "Gunung berbatu karang nun jauh di sana dibalik awan ada rumah, kereta berhenti menikmati
hembusan angin, bulan dua bunga berkembang. sungguh pemandangan yang indah !
Sungguh sebuah rumah yang nyaman!"

"Waaah. kedatangan seorang pelajar rudin lagi !" seru Kwik Tay-lok cepat sambil tertawa.

"Bukan seorang, mereka bertiga ?" Ong Tiong membenarkan. "Dari mana kau bisa tahu ?"
Belum lagi Ong Tiong menjawab, benar juga, di luar sana kedengaran seseorang yang lain sedang berbicara:

"Kalau kongcu memang senang dengan tempat ini, lebih baik kita beristirahat dulu, kakiku sudah pada linu"

Seorang yang lain cepat menambahkan:

"Entah siapakah tuan rumah gedung ini? Bersedia tidak membiarkan kita masuk ?"

Suara kedua orang yang terakhir ini jelas adalah suara kanak-kanak, tapi kanak-kanakpun manusia, jadi yang datang benar-benar adalah tiga orang.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, pujinya kemudian:

"Telingamu sungguh amat tajam, sekalipun kau tak lebih cuma seekor kucing malas, ternyata telingamu masih jauh lebih tajam dari manusia biasa."
 
"Ngeong. . . !". tiba-tiba kucing hitam itu melompat keluar.

Ketajaman pendengaran sang kucing ternyata memang tajam sampai Ong Tiong sendiripun tak tahan turut tertawa.

Terdengar kongcu itu berkata:

"Pintu gerbang ditutup tanpa di kunci, budak cerdas pun sudah keluar menyambut tamu kelihatannya tuan rumah di sini selain suka menerima tamu lagi pula sangat tahu akan seni. "

Kwik Tay-lok tak tahan untuk tertawa tergelak, serunya dengan cepat: "Seninya meski tidak, suka menerima tamu memang benar ?"
Dialah yang pertama-tama munculkan diri untuk menyambut kedatangan tamunya.

Sang surya bagaikan bakpao yang baru keluar dari kukusan mendatang pesanan hangat dan nyaman didalam hati setiap orang.

Berada dalam udara secerah ini, siapa saja pasti akan berubah menjadi lembut dan hangat bersahabat.

Kwik Tay-lok dengan wajah membawa senyum persahabatan menengok ke wajah tiga orang yang berdiri di luar pintu itu.

Dua orang bocah laki-laki, seorang membopong kotak buku, yang lain membawa pikulan berdiri di belakang majikan mereka, dua lembar wajah kecil mereka merah dadu seperti buah apel yang sedang matang.

Majikan mereka adalah seorang sastrawan yang lemah lembut, usianya tidak begitu besar, wajahnya sangat tampan, bahkan halus berbudi dan sangat sopan.

Tiga orang manusia semacam ini, siapapun tak akan merasa muak untuk memandangnya. Kwik Tay-lok segera tertawa, sapanya:
"Apakah kalian datang untuk berpesiar? Cuaca secerah ini memang merupakan saat yang tepat untuk berpesiar"

Sastrawan itu segera menjura dalam-dalam, katanya:

"Bila kedatangan aku yang muda telah mengganggu ketenangan tuan rumah, harap sudilah memaafkan !"

"Aku bukan tuan rumah, aku juga tamu, tapi aku tahu kalau tuan rumah ditempat ini sangat gemar menerima tamu"

"Entah tuan rumahnya berada dimana ?" tanya sastrawan itu sambil tertawa. "Dapatkah aku yang muda menjumpainya?"
"Sekalipun tuan rumah di sini gemar menerima tamu, tapi sayang mengidap semacam penyakit."
 
"Oooh. . . penyakit apakah yang dideritanya ? Aku yang muda sedikit tahu soal ilmu pertabiban, biar kuperiksakan keadaannya."

Kwik Tay-lok tertawa.

"Penyakit yang dideritanya itu mungkin tak akan bisa kau sembuhkan, sebab penyakit itu adalah penyakit malas, Bila kau ingin bertemu dengannya, terpaksa harus masuk dan menjumpainya sendiri."



"Kalau begitu akan kuturuti saja perkataanmu itu !"

Caranya berjalan amat halus dan sopan, malahan tampak seperci amat lembut, tapi peti buku dan pikulan yang dibawa kedua orang bocah tersebut justru tampak tidak terlalu enteng.

Bocah yang memikul pikulan itu berjalan dipaling belakang, sambil berjalan pikulannya berbunyi ting-tang ting-tang tiada hentinya.

Kwik Tay-lok segera meraba kepalanya, kemudian menegur:

"Apa sih isi dari pikulanmu itu ? Berat tidak ?"

"Tidak terlalu berat !" sahut bocah itu dengan mata berkedip, "cuma beberapa botol arak saja, arak Mao-tay tentunya. Kongcu kami gemar minum arak sambil membuat syair, aku tidak bisa membuat syair, aku hanya bisa minum arak."
"Kau juga pandai minum arak ?" tanya Kwik Tay-lok sambil tertawa, "berapa sih usiamu ?" "Empat belas, tahun depan lima belas. Aku bernama Tiau-si (pemancing syair) sedang dia
bernama Sau Su ( penyapu kekolotan ), sedangkan kongcu kami she Ho, kami datang dari Tay- mia-hu. Oleh karena majikan kami sangat gemar berpesiar maka sepanjang tahun kami jarang tinggal di rumah. . ."

Setiap pertanyaan yang diajukan Kwik Tay-lok, paling tidak bocah ini menjawab tujuh delapan patah kata.

Kwik Tay-lok yang semakin memperhatikan bocah itu merasa semakin tertarik, akhirnya sengaja ia menggoda bocah itu sambil bertanya lagi:

"Mengapa kau bernama Tiau-Si (memancing syair) bukan bernama Tiau Hi (memancing ikan)
? Memangnya syair bukan ikan, mana mungkin bisa dipancing ?"

Tiau Si segera mencibirkan bibirnya seperti tidak pandang sebelah mata terhadap pemuda itu, sahutnya:

"Ini cuma satu pepatah saja, mengertikah kau? Oleh karena nama lain dari arak adalah Tiau- si-kou, sedangkan aku selalu membawakan arak buat kongcu, maka akupun dinama-kan Tiau Si, oleh karena bersekolah bisa menghilangkan hawa kekolotan orang, maka dia pun dinamakan Sau Su (penyapu kekolotan)!"

Diawasinya Kwik Tay-lok dari atas sampai bawah, kemudian ujarnya lebih jauh: "Aku lihat agaknya kau belum pernah bersekolah ?"
 
Haaahhh . . . haaahhh. . . haaahh. . . bocah bagus, rupanya di bawah panglima yang kosen tiada prajurit yang lemah, bukan cuma pandai minum arak, rupanya kau juga berpengetahuan luas
!" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa terbahak-bahak.

Setelah tergelak kembali, katanya lebih jauh.

"Sekalipun buku yang kubaca tidak banyak, arak yang kuminum justru banyak sekali, inginkah kau minum beberapa cawan arak denganku ?"

"Bila takaran arakmu benar-benar baik, mengapa tidak berani menantang kongcu kami untuk minum arak ?"

Sekarang Kwik Tay-lok baru menemukan bahwa Ho kongcu tersebut sudah berada dalam ruangan dan mulai bercakap-cakap dengan Ong Tiong, dilihat dari luar jendela, ia bisa merasakan bahwa Ong Tiong maupun Lim Tay-peng menaruh kesan yang baik kepadanya.

Sedangkan Yan Jit tampak sedikit acuh tak acuh, bahkan seringkali melemparkan pandangannya keluar jendela.

Begitu Kwik Tay-lok menengok ke arahnya, dia lantas bangkit berdiri dan diam-diam memberi kode tangan kepada pemuda tersebut setelah itu diapun berjalan menuju ke tempat luar.

Ketika ia keluar dari ruangan, Kwik Tay-lok segera menyongsongnya seraya menegur: "Kau ada-urusan apa mencariku ?"
Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya sambil menegur:

"Mengapa kau selalu seperti tak pernah menjadi dewasa? Apalah enaknya bergurau dengan anak-anak seperti itu ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Kau mana tahu, mulut bocah itu justru lebih pandai berbicara daripada orang dewasa, kadangkala bila aku sedang bergurau dengan anak-anak, aku akan merasakan diriku seakan-akan menjadi lebih muda lagi."

Yan Jit tidak berbicara, dia menyelusuri serambi panjang dan pelan-pelan berjalan menuju ke halaman belakang.

Terpaksa Kwik Tay-lok mengikuti di belakangnya, tapi lama-kelamaan habis sudah kesabarannya, dia lantas bertanya:

"Ada sesuatu yang ingin kau di bicarakan denganku ?"

Yan Jit tidak langsung menjawab, kembali ia berjalan beberapa saat, setelah itu sambil tiba- tiba berpaling tanyanya:

"Bagaimana pendapatmu tentang Ho kongcu itu ?"

"Kelihatannya mah seperti orang yang tahu seni, katakanlah seorang seniman, malah konon diapun pandai minum arak!"

Yan Jit termenung sebentar, kemudian katanya lagi:
 
"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia adalah. "



"Orang yang membayarkan rekening kita sewaktu dirumah makan Kui-goan-koan?" sambung Kwik Tay-lok cepat dengan mata mencorong sinar tajam.

Yan Jit mengangguk.

"Menurut kau, mungkinkah hal ini bisa terjadi ?"

"Ehmm, sesungguhnya aku tak berpikir sampai ke situ, tapi sekarang kalau dipikirkan lagi, makin ku pikir rasanya kemungkinan itu makin besar"

"Di sekitar tempat ini toh tidak terdapat banyak pemandangan alam yang indah, mengapa seorang pelancong bisa ke sasar sampai di sini? Bahkan cepat tak mau datang, lambat tak mau datang, kebetulan pagi ini baru datang."

"Yaa, sekalipun peristiwa yang kebetulan sering kali terjadi dalam dunia ini, tapi kejadian tersebut memang kelewat kebetulan."

"Dulu, pernahkah kau bertemu dengannya?" "Belum pernah !"
"Coba pikir sekali lagi."

"Tak usah dipikir lagi, seandainya aku pernah bertemu dengan orang semacam ini, sudah pasti wajahnya akan teringat selalu dalam benakku.  "

"Dilihat dari sikap Ong lotoa maupun Lim Tay-peng, rupanya merekapun tidak kenal dengannya", kata Yan Jit lebih jauh sambil menggigit bibir menahan emosi.

"Siapa namanya ?"
"Dia mengakui dirinya bernama Ho Sia-hong, tapi kemungkinan besar nama itu palsu" "Mengapa dia harus menggunakan nama palsu ? Apakah kau beranggapan bahwa dia
menaruh maksud jahat terhadap kita ?"

"Hingga detik ini, aku belum menjumpai maksud jahat apa-apa pada dirinya."

"Bukan saja tiada maksud jahat, hakekatnya boleh dibilang terlalu baik terhadap kita, baiknya sampai kelewat batas bukan?" terus Kwik Tay-lok.

"Justru dia kelewat baik kepada kita, maka aku menjadi curiga. bila seseorang kelewat baik
kepada orang lain, kebanyakan dia pasti punya tujuan".

Tiba-tiba Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Hei, apa yang kau tertawakan?" tegur Yan Jit.
"Aku lagi berpikir, untuk menjadi "orang baik" rasanya sulit amat, jika kau kelewat baik kepada orang lain, orang akan curiga kalau kau punya tujuan, sebaliknya kalau kau kelewat jahat kepada orang, orangpun akan mengatakan kau bajingan tengik."
 
Yan Jit segera melotot sekejap ke arahnya, lalu mengomel:

"Sudah kuduga, kau pasti akan membantunya berbicara ?" "Kenapa?"
"Sebab dia juga pandai minum arak, setan arak selalu akan menganggap orang yang bisa minum arak sebagai teman, masa kau anggap dia orang jahat ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa:

"Ucapanmu itu ada benarnya juga, orang yang senang minum arak biasanya dia akan periang, tentunya kau tak pernah menyaksikan seorang yang sedang mabuk mengincar harta dan nyawa orang lain bukan ?"

"Tapi dia belum mabuk !"

"Sebentar pasti mabuk. sekarang juga aku punya rencana untuk masuk ke dalam dan
melolohnya sampai mabuk!" Setelah tertawa terusnya:
"Asal sudah mabuk, masa dia tak akan berbicara terus terang ?" Tiba-tiba Yan Jit ikut tertawa:
"Hei, apa yang kau tertawakan ?" Kwik Tay-lok segera menegur.

"Aku sedang berpikir, kau ini paling tidak masih mempunyai kelebihan bila dibandingkan orang lain"

"Oooh, kelebihanku paling tidak masih ada tiga ratus macam lebih, entah kelebihan manakah yang kau maksudkan ?"

"Setiap waktu setiap saat kau dapat memanfaatkan kesempatan." "Kesempatan apa ?"
"Kesempatan minum arak !"

Kwik Tay-lok telah salah menduga satu hal. dikala manusia sedang sadar dia terdiri dari
beraneka ragam, maka sewaktu sedang mabukpun keadaannya tak jauh berbeda, tidak seperti apa yang dia katakan tadi, asal sudah mabuk maka semua rahasia hatinya diutarakan semua.

Ada sementara orang suka mengibul setelah minum arak, suka mengucapkan beraneka macam perkataan yang ngaco belo, bahkan dia sendiripun tidak tahu apa yang sedang dikatakan, tapi begitu sudah sadar maka semua perkataan yang pernah diucapkan itupun terlupakan sama sekali.

Tapi ada pula orang yang tak mampu berkata apa-apa setelah mabuk.

Manusia semacam ini bila dia sudah mabuk maka kemungkinan sekali dia akan mengucurkan air mata, mungkin akan tertawa terbahak-babak, mungkin juga akan mendengkur tidur. Tapi dia tak akan mengucapkan sepatah katapun.
 
Dikala mereka sedang menangis, maka makin menangis mereka akan semakin sedih, bahkan sampai akhirnya seakan-akan di dunia ini tinggal dia seorang manusia yang pantas dikasihani.

Sekalipun kau berlutut di hadapannya sambil memohon agar jangan menangis, bahkan sekalipun kau bayar kontan dua ratus laksa tahil perak asal mereka mau berhenti menangis, jangan toh berhenti malah kemungkinan besar mereka akan menangis semakin sedih.



Menanti ia sudah sadar, dan kau bertanya kepadanya mengapa menangis, ia sendiripun pasti akan keheranan.

Bila mereka tertawa tergelak, maka tertawa itu seakan-akan orang yang mendapat lotre untung delapan puluh juta.

Sekalipun rumahnya kebakaran, mereka tetap akan tertawa. Sekalipun kau tempeleng mukanya beratus-ratus kali, mungkin tertawanya akan semakin keras.

Jika mereka sudah tertidur, ini lebih parah lagi, sekalipun segenap manusia di dunia ini menendangnya, dia akan tetap mendengkur, bahkan sekalipun kau buang badannya ke laut, mereka masih akan tetap tidur mendengkur.

Kebetulan sekali Ho Sia-hong adalah manusia macam ini.

Pada mulanya dia seperti masih bisa minum, bahkan minumnya cepat sekali, seteguk belum habis seteguk lain sudah menyusul, tapi secara tiba-tiba, dalam sekejap mata saja ia sudah tertidur.

Begitu ia mulai tidur, Kwik Tay-lok tertawa tergelak. "Kau juga mabuk?" dengan gemas tegur Yan Jit.
"Aku mabuk? Coba kau lihat, aku seperti orang yang lagi mabuk tidak . . ." "Bukan seperti lagi, delapan puluh persen sudah pasti benar !"
"Kau keliru, kesadaranku sekarang pada hakekatnya sesadar Khong Hucu !" "Tapi kau tertawa macam anjing kampung"
"Aku cuma lagi mentertawakannya, belum lagi dimulai, dia sudah kena diloloh sampan mabuk."

"Kau masih ingat apa sebabnya kau melolohi dirinya dengan arak"

"Tentu saja masih ingat, sebenarnya aku ingin suruh dia berbicara terus terang." "Sudah ia katakan?"
"Sudah !"

"Sudah? Apa yang dia katakan ?"

"Dia bilang, bila ia menaruh maksud jahat kepada kita, maka ia tak akan mabuk, apalagi mabuk seperti seekor babi mampus !"
 
Yan Jit mengamatinya dari atas sampai ke bawah, lalu sambil menggelengkan kepalanya dia berkata:

"Ada kalanya aku benar-benar tidak habis mengerti, sesungguhnya kau ini sudah mabuk atau masih sadar"

Kwik Tay-iok terkekeh-kekeh, dia lantas berpaling dan memandang ke arah Ong Tiong. "Hei, mau apa kau memandang ke arahku ?" tegur Ong Tiong.
"Aku sedang menunggumu berbicara." jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa, "sekarang sudah tiba pada giliranmu untuk berbicara !"

"Kau suruh aku mengatakan apa ?"

"Mengatakan sewaktu aku sadar juga mabuk, sewaktu mabuk justru makin sadar."

Ong Tiong tidak tahan untuk tertawa pula jawaban tersebut memang amat cocok dengan seleranya.

"Benarkah jawabanku ini ?" tanya Kwik Tay-lok lagi. "Tepat sekali !"
Di dalam deretan kamar yang berada di halaman belakang, berjajar-pula dua buah pembaringan.

Kedua buah pembaringan itu seakan-akan memang khusus disediakan bagi orang yang sedang mabuk.

Ho Sia-hong bagaikan sesosok mayat digotong masuk ke dalam kamar itu dan dibaringkan di atas ranjang.

Kwik Tay-lok segera tertawa, katanya:

"Kedatangannya hari ini boleh dibilang tepat sekali waktunya, coba kalau datang pada dua hari berselang, terpaksa ia akan dipersilahkan untuk tidur di lantai."

"Aku hanya berharap bahwa tidurnya sekarang dapat tidur sampai besok pagi !" kata Ong Tiong.

"Kenapa ?"

"Dari pada kita harus pergi menggadaikan barang lagi". "Mengapa harus menggadaikan barang ?"
"Untuk mentraktir tamu kita makan malam!" Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.
"Mungkin kita tak usah menggadaikan barang lain, apa salahnya kalau menunggu sampai sang kucing menyembunyikan keleningan lagi ?"

"Jadi kau beranggapan makan malam kita pun masih akan dihantar orang lain ?" seru Yan Jit.
 
"Ehmm benar!"

Tak tahan Yan Jit segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh. . . haaahhh. . . haaahhh. tampaknya kau sudah amat menggantungkan antaran
makanan darinya?"

"Haaahnh . . . . haaahhh. . . haaahhh. ucapanmu benar sekali, aku memang sudah bersiap-
siap untuk menggantungkan diri kepadanya sepanjang masa, aku ingin menyuruh dia mempensiun diriku sampai tua"



Perkataan itu sengaja diucapkan dengan suara suara yang amat tinggi, seakan-akan sengaja akan diperdengarkan kepada orang itu.

Benarkah orang itu selalu bersembunyi di balik kegelapan sambil mengawasi gerak geriknya. Mungkinkah orang itu adalah Ho Sia hong? Apakah ia benar-benar sudah mabuk?
Orang yang mabuk terlalu cepat, seringkali sadar dalam waktu yang amat cepat pula.

Belum sampai senja menjelang tiba, tiba-tiba kedua orang bocah itu sudah lari keluar dari halaman belakang menuju ke ruang tengah, kemudian dengan sikap yang sangat hormat mereka berdiri di hadapan Ong Tiong sekalian, kemudian dengan sikap yang sangat hormat pula menyerahkan sepucuk undangan kepada mereka.

Terdengar Tiau Si berkata:

"Kongcu kami bilang, pagi tadi ia telah mengganggu ketenangan kalian semua, maka malam nanti sudah sepantasnya kalau ia membalas undangan tersebut, karenanya diharapkan kalian semua bersedia untuk meluangkan waktu dan memenuhi harapannya itu. Tentunya kalian bersedia bukan ?"

Kwik Tay-lok tidak menjawab, dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong Tiong kemudian mengerdipkan matanya berulang kali untuk memberi tanda.

Ong Tiong segera bergumam:

"Waaah. tampaknya kita tak usah menunggu sampai ada kucing yang membunyikan
keleningan lagi"

Tiau Si tidak mendengar apa yang sedang dikatakan itu, sekalipun mendengar diapun belum tentu mengerti.

Tak tahan bocah itu lantas berseru:

"Ong toaya, sebenarnya apa yang sedang kau katakan? Bolehkah aku mengetahuinya?" Tidak sampai Ong Tiong membuka suara, Kwik Tay lok telah menyerobot seraya berkata:
"Dia bilang, kami pasti akan memberi muka kepadanya, malam nanti pasti akan hadir kesana !" Yan Jit menghela napas dan gelengkan kepalanya berulang kali.
 
"Aaaai. kulit muka orang ini tampaknya betul-betul amat tebal!" gumamnya.

Mendadak Tiau Si bertanya lagi:

"Apa yang sedang dikatakan toaya ini ?"

"Dia bilang kita segera akan ke sana ?" sahut Kwik Tay-lok lagi cepat-cepat.

Tiau Si lantas tertawa, katanya : "Kalau memang begitu, kami harus segera pulang untuk membuat persiapan !"

"Yaa, benar ! Lebih cepat memang lebih baik"

Dengan sikap yang sangat hormat Tiau Si memberi hormat, kemudian secara tiba-tiba mengerdipkan matanya ke arah Sau Su seraya berbisik:

"Bawa kemari !"

Kontan saja Sau Su melototkan matanya lebar-lebar, seraya mendengus serunya: "Mengapa harus terburu napsu ! Anggap saja kau yang menang !"
Kwik Tay-lok yang mendengar pembicaraan tersebut menjadi tidak tahan, ia lantas bertanya: "Hei, apa yang sedang kau bicarakan ?"
"la tidak mengatakan apa-apa !" jawab Tiau Si dengan cepat.

Kemudian ia menarik tangan Sau Su dan siap diajak lari, tapi Sau Su lebih jujur bahkan juga amat terburu napsu, dengan wajah memerah jawabnya:

"Aku sedang bertaruh dengannya, siapa kalah dia harus membayar sekeping uang tembaga." "Taruhan apa ?"
"Aku kuatir kalian tak mau memberi muka untuk menghadiri undangan tersebut, tapi dia bilang. "

Dia mengerling sekejap ke arah Kwik Tay-lok, tiba-tiba sambil menggelengkan kepalanya dia berkata:

"Apa yang dia ucapkan tak berani kusampaikan"

"Tak usah kuatir, tak akan ada orang yang menyalahkan dirimu"

"Andaikata ada orang yang menegurku ?" tanya Sau Su sambil memutar biji matanya. "Jangan kuatir, aku akan melindungi dirimu !"
Sekarang Sau Su baru tertawa, katanya kemudian:

"Dia bilang, sekalipun orang lain merasa rikuh untuk menghadiri undangan tersebut, toaya pasti tetap menghadirinya, sebab diantara sekian banyak orang, boleh dibilang kulit muka toaya paling tebal"
 
Begitu selesai berkata, dia lantas menarik tangan Tiau Si dan diajak kabur dari situ. Lewat lama sekali, masih kedengaran suara tertawa mereka yang berderai-derai.
Kwik Tay-lok merasa yaa mangkel yaa geli, akhirnya dia cuma bisa bergumam:

"Ternyata setan cilik ini tidak jujur, rupanya dia pandai juga berputar kayun dulu sebelum memaki orang."

Yan Jit tak bisa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terpingkal-pingkal, serunya:

"Tepat sekali perkataannya itu, mukamu memang kelewat tebal! Jadi kata-katanya itu tak bisa dianggap sebagai makian, melainkan hanya sebagai kata-kata yang sejujurnya."



"Sesungguhnya dia tak bisa disebut bermuka tebal." kata Ong Tiong pula, "biasanya kalau orang lagi miskin, dia memang susah menahan godaan, apalagi hidangan yang lezat.."

"Yaa, daripada mampus kelaparan lebih baik tebalkan muka tapi kenyang. " Yan Jit
menambahkan pula.

Kwik Tay-lok tidak menjadi marah, dia cuma ngomel:

"Baik, aku memang miskin, kelaparan, bermuka tebal, sedangkan kalian semua adalah seorang Kuncu!"

Tiba-tiba sambil tertawa dingin terusnya:

"Coba aku tidak bermuka tebal, kalian si kuncu-kuncu gadungan juga bakal kapiran sendiri, paling tidak juga malam nanti musti berkunjung ke pegadaian"

"Bagaimanapun juga, orang toh tamu kita" kata Yan Jit, "masa kau tidak rikuh untuk mendahar makanan orang?"

"Bagaimanapun juga dia adalah manusia, makan kepunyaannya paling tidak jauh lebih baik dari pada makan-makanan yang dikirim kucing, kalau seorang yang sudah makan makanan kiriman kucingpun masih merasa gembira, lantas dimana kau pasang gaya ?"

"Siapa sih yang akan pasang gaya?" kata Ong Tiong, "aku cuma berharap kalau bisa sayur dan arak itu dikirim saja kemari"

Sayurnya tidak terlalu banyak, tapi araknya tak sedikit jumlahnya.

Sekalipun sayurnya tidak banyak, tapi semuanya adalah hidangan yang paling lezat dan mewah.

"Walaupun sayur ini sudah dibuat sejak semalam" kata Ho Sia-hong, "tapi siaute yang sepanjang tahun sering berada di luar, caraku menyimpan makananpun amat sempurna sekali, tanggung bau serta warnanya sama sekali tidak berubah. Cuma sayang sayur itu tak seberapa, harap kalian sudi memaafkan"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa, katanya:
 
"Kemarin malam kau telah menyiapkan sayur sebanyak ini, apakah sudah kau duga kalau malam ini bakal menjamu tamu ?"

Tiau Si yang sedang memenuhi cawan dengan arak segera berseru:

"Kongcu kami paling suka berteman, sepanjang jalan entah siapa saja yang dijumpai, selalu mengajaknya untuk minum barang dua cawan, karena itu kemanapun dia pergi, sayur dan arak selalu tersedia lengkap."

Kwik Tay-lok segera mengerdipkan matanya lalu tertawa lirih, serunya cepat: "Kalau begitu, orang yang bermuka tebal bukan cuma aku seorang."
"Kwik-heng, apa yang kau katakan ?" seru Ho Sia-hong keheranan. "Aku sedang berkata dia. "
Mendadak Tiau Si mendehem-dehem. Kwik Tay-lok segera tertawa, sambungnya:
"Aku merasa caranya menuang arak terlalu lambat, aku sudah merasa agak tak sabaran lagi".

Kemudian dia mengangkat cawan araknya, diendus sebentar, kemudian sambil tertawa tergelak katanya:

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh. arak bagus, arak bagus, aku akan menghormati dahulu
tuan rumah dengan secawan arak"

Baru saja dia ingin meneguk habis isi cawan itu, mendadak Ho Sia-hong menarik tangannya sambil berkata dengan senyuman dikulum:

"Saudara Kwik, harap tunggu sebentar, sepantasnya kalau aku yang menghormati kalian berempat lebih dulu, menghormati kalian bersama.  "

Tiba-tiba muncul seekor anjing hitam dan seekor kucing hitam dari luar ruangan, sambil menerjang datang kedua binatang itu melompat naik ke atas meja, beberapa cawan arak yang baru saja dipenuhi di atas meja itu segera terbalik dan isinya berceceran di tanah. Paras muka Ho Sia-hong kontan saja berubah hebat, tiba-tiba ia turun tangan.

Sepasang tangannya itu kelihatan putih lagi bersih, seakan-akan selama hidup tak pernah menyentuh barang kotor, bahkan botol arak yang robohpun enggan untuk menyentuhnya.

Sedang kucing dan anjing itu sangat kotor seperti baru saja bergulingan di atas lumpur.

Tapi begitu turun tangan, ia lantas cengkeram tengkuk binatang itu dengan sebuah tangan seekor, kemudian bersiap-siap untuk melemparkannya keluar.

Tapi baru saja binatang itu di lempar ke luar tiba-tiba muncul kembali dua buah tangan yang segera menyambutnya.

Kwik Tay-lok telah menyambut kucing hitam itu, sedang Yan Jit menyambut si anjing hitam. Sambil membelai tengkuk si kucing dengan lembut. Kwik Tay-lok berkata:
 
"Mau apa kau datang kemari? Apakah kau hendak berebut dengan Ho-kongcu untuk menjadi tuan rumah ?"

Yan Jit juga lagi membelai kepala anjing hitam itu sambil bergumam:

Mau apa kau kemari ? Apakah hendak menyainginya untuk berebut minum arak ?"

Ho Sia-hong yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya rapat-rapat kemudian sambil tertawa paksa katanya:

"Binatang tersebut mana kotor, baunya tak tahan, mengapa kalian berdua membopongnya dibadan ?"

"Aku suka kucing, apalagi kucing yang gemar mentraktir orang !" kata Kwik Tay-lok sambil tertawa.



"Aku suka anjing, apalagi anjing yang suka minum arak!" sambung Yan Jit pula sambil tertawa.

Ketika arak itu tertumpah di atas meja tadi, anjing tersebut memang telah menjulurkan lidahnya sambil menjilat.

Tibab-tiba Ong Tiong bergumam:

"Cuma sayang anjing ini bukan anjing buldok."

Lim Tay-peng yang sedang mengambil ayam goreng, segera meletakannya kembali ke piring sambil bergumam pula:

"Sayang ayam ini bukan bebek panggang!"

Paras muka Ho Sia-hong masih tetap tenang, sama sekali tidak menunjukan perubahan apa- apa, malahan sambil tersenyum katanya:

"Apa yang sedang kalian berempat katakan? Siaute sama sekali tidak mengerti !" "Ooh. mungkin kami sedang mengigau!" sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa lebar.
Anjing yang berada dalam bopongan Yan Jit itu mendadak menjerit kesakitan, kemudian melompat bangun dari bopongannya dan...

"Blam!" terbanting ke atas meja, bagaikan tengkuknya di papah orang secara tiba-tiba, tahu- tahu saja anjing tersebut sudah tak mampu menjerit lagi.

Seekor anjing yang sebenarnya lincah, sehat dan segar, dalam sekejap mata telah berubah menjadi seekor anjing mampus.

Yan Jit mengawasi sekejap anjing mampus itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya memandang ke arah Kwik Tay-lok, katanya:

"Coba kau lihat sekarang, inilah contoh yang paling bagus bagi orang yang ingin buru-buru minum arak"
 
Kwik Tay-lok memandang sekejap bangkai anjing itu, kemudian mendongakkan kepalanya memandang ke arah Ho Sian-hong sambil berkata:

"Kami bukan orang Kwan-tong, mengapa kau mengundang kami makan daging anjing?"

Ong Tiong juga memandang sekejap wajah Ho Sian-hong, paras mukanya masih belum menampakkan perubahan apa-apa, cuma katanya dengan suara hambar:

"Konon daging anjing hitam paling lezat!" Lim Tay-peng segera tertawa dingin:
"Mungkin anjing itu bukan anjing hitam, melainkan anjing yang memakai baju hitam"

Ternyata Ho Sian-hong masih tetap tenang tanpa menunjukkan perubahan apa-apa, pelan- pelan dia bangkit berdiri, lalu sambil menerpa bajunya yang basah oleh arak, katanya:

"Harap kalian duduk dulu, aku akan pergi bertukar pakaian, sebentar saja aku akan balik kembali"

Kwik Tay-lok segera memandang ke arah Ong Tiong seraya bertanya: "Dia bilang akan pergi sebentar kemudian balik lagi ?"
"Ya aku dengar !" "Kau percaya ?" "Percaya !" "Kenapa ?"
"Sebab dia tidak bermaksud pergi ke tempat lain, melainkan cuma akan bertukar pakaian dibalik tirai sana"

Dengan tenang Ho Sia-hong memandang sekejap beberapa orang itu, ia tidak banyak berbicara lagi, sampai lama kemudian pelan-pelan dia baru membalikkan badan, mengambil peti di atas meja dan berjalan lancar menuju ke belakang tirai.

Tirai tersebut terbuat dari kain halus yang mahal harganya, tergantung ditengah ruangan memisahkan tempat itu menjadi dua bagian.

Kalau orang lain melotot ke balik tirai, maka Kwik Tay-lok sedang memperhatikan Tiau Si. Waktu itu, paras muka Tiau Si telah merubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Mendadak Kwik Tay-lok mengerdipkan matanya, kemudian sambil tertawa katanya: "Mengapa kalian tidak tukar pakaian?"
"Aku. aku tidak membawa pakaian" jawab Tiau Si tergagap.

"Kalau di sini tak ada pakaian untuk menukar, mengapa tidak tukar pakaian dirumah saja ?"
 
Tiau Si segera menunjukkan wajah berseri, dengan cepat ia menarik tangan Sau Su dan melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Yan Jit yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa, katanya:

"Meski orang ini agak tebal mukanya, ternyata tidak hitam hatinya!"

Ketika memandang wajah Kwik Tay-lok, sinar matanya menunjukkan kelembutan dan kehangatan, tapi menanti ia memalingkan wajahnya, sorot mata itu sudah berubah menjadi dingin bagaikan es, sementara paras mukanya juga berubah sedingin es.

Ho Sia-hong telah berjalan keluar dari balik tirai.

Benar juga, ia telah tukar pakaian, satu stel pakaian berwarna hitam gelap.

Pakaian berwana hitam, sepatu berwarna hitam, wajah berkerudung kain hitam, bahkan sebilah pedang yang tersoren dipunggungnya juga berwarna hitam pekat.

Itulah sebilah pedang yang empat jengkal tujuh inci panjang. Paras muka Lim Tay peng segera berubah hebat, serunya:
"Oooh. rupanya kau, kau belum mati"

"Yaa aku belum mati, karena kau belum mengerti bagaimana caranya membunuh, dan lagi kaupun belum pandai membunuh orang".



Paras muka Lim Tay-peng segera berubah menjadi merah kehijau-hijauan, yaa jengah yaa marah yaa mendongkol.

Ia memang belum pandai membunuh orang, setelah membunuh hatinya menjadi gugup dan kacau, ia tidak memeriksa lagi apakah korbannya benar-benar sudah mati atau tidak.

"Jika kau pandai membunuh orang, sekalipun sudah tahu kalau aku telah mati, sepantasnya kalau kau menambahi beberapa bacokan lagi di atas tubuhku !" kata si orang berbaju hitam itu.
"Sekarang aku sudah mengerti!" seru Lim Tay-peng sambil menggigit bibir menahan diri. "Mengerti saja percuma, sebab orang yang tak pandai membunuh orang, selamanya tak akan
pandai. Membunuh orangpun membutuhkan orang yang berbakat".

"Kalau begitu, apakah saudara mempunyai bakat untuk membunuh orang?" tiba-tiba Yan Jit bertanya.

"Yaa, lumayan lah !"

Yan Jit segera tertawa, katanya lagi hambar:

"Seandainya kau benar-benar berbakat baik dalam soal bunuh membunuh, sekarang kami semua sudah mampus di sini"

Orang berbaju hitam itu termenung beberapa saat lamanya, lalu katanya kemudian:
 
"Kalian masih bisa hidup lantaran ditolong anjing itu, seharusnya kalian berterima kasih kepada anjing tersebut!"

Yan Jit segera memandang ke arah Kwik Tay-lok, kemudian seluruhnya: "Aaaah! Aku berhasil menemukan sesuatu."
"Apa yang kau temukan?"

"Paling tidak dia mempunyai bakat untuk membunuh anjing, karena paling tidak ia telah membunuh seekor anjing"

"Aku juga menemukan sesuatu" kata Kwik Tay-lok kemudian sambil mengerdipkan matanya. "Apa yang kau temukan ?"
"Dia bukan Lamkiong Cho!" "Kenapa?"
"Sebab dia tidak jelek (cho) !"

"Orang yang bernama Lamkiong Cho, belum tentu orangnya musti bertampang jelek" tiba-tiba Ong Tiong berseru.

"Benar !" kata Kwik Tay-lok sambil tertawa, "Seperti orang yang bernama Ong Tiong, belum tentu dia suka tiong (bergerak)"

"Tepat sekali jawabanmu itu !"

"Tapi di atas wajahnya juga tidak ditemukan codet bekas bacokan golok."

Banyak orang persilatan tahu, sekalipun Lamkiong Cho berhasil meloloskan diri dari ujung pedang Sip-ci-kiam, namun wajahnya telah terbacok pula sehingga muncul sebuah goresan golok berbentuk salib, itulah sebabnya dia enggan bertemu orang dengan wajah aslinya.

"Siapa yang pernah menyaksikan bekas bacokan di wajah Lamkiong Cho ?" tanya Ong Tiong kemudian..

"Paling tidak aku belum pernah melihat !"

"Kalau belum pernah ada orang yang pernah menjumpai wajah aslinya, siapa pula yang pernah melihat mukanya!"

"Benar!" sera Kwik Tay-lok sambil tertawa, "siapa tahu kalau bekas bacokan itu tidak di wajah tapi di atas bokongnya!"

Selamanya ini, manusia berbaju hitam itu hanya memandang mereka dengan pandangan dingin, pada saat itulah mendadak dia berkata:

"Kalian hanya benar mengatakan suatu !" "Hal yang mana?"
"Aku tidak membunuh orang, hanya membunuh anjing"
 
"Haaahhhh.... haaahhh rupanya kau telah mengakui dengan berterus terang" seru Kwik Tay-
lok sambil tertawa.

Manusia berbaju hitam itu mendengus dingin.

"Tadi aku telah membunuh seekor dan kau adalah anjing kedua yang akan kubunuh!" Malam itu sangat hening, sedemikian heningnya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun.
Kecuali mereka, memang tidak banyak yang tinggal di atas gunung itu, malam ini mungkin akan berkurang seorang lagi.

Tapi mungkin juga akan berkurang empat orang.

Pohon ditengah halaman bergoyang-goyang terhembus angin dan menimbulkan suara gemerisik.

Manusia berbaju hitam itu masih berdiri tak berkutik di tempat semula.

Dengan tenang dia berdiri di situ, seolah-olah sudah bersatu padu dengan kegelapan malam yang sunyi.

Siapapun itu orangnya memang tak dapat menyangkal lagi, bahwa dia memang seorang pembunuh yang pandai "membunuh"

Dari balik tubuhnya seakan-akan terpancar keluar semacam hawa pembunuhan yang sangat tebal.



Belum lagi pedangnya diloloskan dari sarung, hawa membunuhnya telah terpancar dari balik sarung pedang itu.

Kwik Tay-lok masih berada dalam ruangan sambil pelan-pelan melepaskan pakaian.

Sedangkan manusia berbaju hitam itu menanti di luar, dia tampak tenang seperti sama sekali tidak gelisah atau terburu napsu.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa, katanya:

"Aku lihat, kau memiliki kesabaran yang luar biasa".

"Kalau ingin membunuh orang, harus memiliki kesabaran" sambung Ong Tiong. "Tapi orang yang sabar justru tak akan berhasil membunuh orang"
"Kau sengaja menginginkan dia gelisah, tapi ia tidak gelisah, sekarang ia tidak gelisah, kau yang malah menjadi gelisah, itu berarti dia akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk membunuh"

"Oleh karena itulah, aku juga tidak gelisah!" sahut Kwik Tay-lok kemudian sambil tertawa. Yan Jit selalu mengawasinya, tiba-tiba ia berseru:
"Bukan saja kau tak usah gelisah, kau pun tak usah maju seorang diri"
 
Kwik Tay-lok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa: "Sekalipun muka ku tebal, tapi aku bukan seorang setan yang bernyali kecil"
"Untuk menghadapi manusia semacam ini sesungguhnya kita tak usah terlalu menggubris soal peraturan dunia persilatan"

"Kau mengharapkan kita bisa berempat lawan satu ?" "Mengapa tidak ?"
Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Aaaai. ! Sebenarnya aku juga ingin berbuat demikian, cuma sayangnya aku adalah seorang
lelaki"

Yan Jit segera menundukkan kepalanya.

"Tapi kau.... kau tidak mempunyai keyakinan untuk menghadapinya. ?"

"Yaa, aku memang tidak yakin bisa memenangkannya" "Lantas kau. "
Kwik Tay-lok menukas dengan cepat:

"Punya keyakinan harus pergi, tidak mempunyai keyakinan juga harus pergi, kejadian ini seperti halnya dengan punya uang juga minum arak, tak punya uang juga minum arak"

Ong Tiong tertawa lebar.

"Sekalipun perumpamaanmu itu bagaikan kentut busuk anjing budukan, tapi agaknya seperti menerangkan satu hal"

"Hal yang bagaimana?" tanya Yan Jit.

"Ada sementara persoalan yang sesungguhnya harus dilakukan walau bagaimanapun juga" Tiba-tiba Lim Tay-peng berseru:
"Baik, pergilah kau, jika ia sampai membunuhmu, aku pasti akan membalaskan dendam bagimu"
Kwik Tay-lok tertawa lebar, ditepuknya bahu orang itu, lalu sahutnya sambil tertawa: "Meskipun kau ini seorang telur busuk, paling tidak kau memiliki jiwa setia kawan yang
mengagumkan"

Tiba-tiba Yan Jit menarik tangannya seraya berbisik: "Berdirilah agak jauh, pedangnya tidak terlampau panjang". "Jangan kuatir, aku tak bakal terjebak !"
Sambil tertawa tergelak pemuda itu melangkah ke tengah arena.
 
Menyaksikan tingkah laku pemuda itu, Yan Jit segera menghela napas, gumamnya:

"Aku tidak habis mengerti, mengapa ada sementara orang yang selalu berlagak menjadi seorang enghiong ?"

"Mungkin saja ia sesungguhnya adalah seorang enghiong... sebab ada sementara orang yang sudah menjadi enghiong semenjak dilahirkan", kata Ong Tiong hambar.

"Betul !" sambung Lim Tay-peng sambil menghela napas, "entah dia itu setan arak juga boleh, setan telur busuk juga boleh, tapi tak bisa disangkal kalau ia memang seorang enghiong asli, seorang enghiong tulen yang tidak pakai telor"

Yan Jit segera menghela papas panjang, gumamnya:

"Sayang kebanyakan enghiong tidak berumur panjang"

Kwik Tay-lok telah berdiri ditengah halaman, benar juga, ia berdiri agak tegak jauh dari orang berbaju hitam itu.

"Mana pedangmu?" orang berbaju hitam itu segera menegur.

"Pedangku sudah dikirim ke rumah pegadaian" sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa tergelak. Orang berbaju hitam itu segera tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh.... heeehhh... jadi kau berani menghadapiku dengan tangan kosong?
Apakah kau kuatir kalau mampusnya kurang menyenangkan. haah ?"

"Aaah, kalau memang bakal mampus, aku menginginkan bisa mampus lebih cepat, daripada hidup menderita akibat kemiskinan, tersiksa batinnya karena miskin".

"Baik akan kusempurnakan kehendakmu itu !"

Begitu ia selesai berkata, tangannya sudah berputar meloloskan senjatanya.

Baru saja tangannya menyentuh gagang pedang, Kwik Tay-lok telah menyerbu ke muka bagaikan harimau terluka.

Hampir melompat keluar jantung Yan Jit menyaksikan kejadian itu.

Benarkah Kwik Tay-lok sudah ingin cepat cepat mati ? Sudah tahu senjata yang digunakan lawan adalah pedang pendek, mengapa ia harus menghantarkan dirinya ?

Cahaya pedang berkilauan di angkasa, senjata tersebut sudah diloloskan dari sarungnya. Bukan pedang pendek yang dicabut keluar melainkan sebilah pedang panjang.
Cahaya pedang memancar ke empat penjuru bagaikan bianglala, sedemikian tajamnya hingga menyilaukan mata.

Sayang sekali Kwik Tay-lok telah menyerbu kehadapan mukanya, ia sudah tidak melihat pedang itu, apalagi menyaksikan cahaya pedangnya.

Sepasang matanya juga tidak dibikin silau oleh gemerlapnya cahaya senjata lawan.