Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 29

 
Jilid 29

"Akibatnya aku pun tidak dapat membunuh musuh besar yang telah mencelakai diriku itu."

"Ai, waktu yang berlangsung lama kadangkala memang dapat menawarkan rasa benci dan dendam seseorang.

Perjuanganku selama dua puluh tahun melawan maut membuat aku menjadi sadar dan menyesali semua perbuatanku dulu, aku merasa tanganku sudah penuh bernodakan darah. Dosa dan kesalahanku pun sudah bertumpuk. Mungkinkah semua musibah yang menimpa diriku selama ini merupakan karma atas semua perbuatanku dahulu?"

"Dendam, rasa benci yang mendarah daging dalam diriku lambat-laun pun semakin tawar dan menghilang."

"Tatkala meninggalkan istana bawah air tujuh tahun berselang, tiba-tiba aku dengar kabar bahwa Kui-kok Sianseng dari Mi-tiong-bun telah terbunuh, kemudian sepasang kekasih persilatan Song-ciu suami-istri juga tewas, disusul pula dengan kematian Oh Ciong-hu serta padri sakti dari Siau-lim-pay Ku-lo Hwesio. Semua itu membuat aku merasa terkejut, di samping pula merasa sangat ”

Sampai di sini tiba-tiba perkataannya berhenti, sambil tersenyum Thay-kun segera melanjutkan, "Tentunya kau pun merasa sangat gembira bukan?"

Thio Kim-ciok memandang ke arah nona itu, lalu menghela napas panjang, "Ai, apa yang diucapkan nona Thay-kun memang benar. Aku merasa gembira karena siasat meminjam golok membunuh orang yang telah aku persiapkan sejak tiga puluh tahun berselang, kini sudah mulai berkembang."

"Akibatnya api dendam dan benci yang mengeram dalam Thio-locianpwe pun menggelora dalam dada membara kembali bukan?" tanya Thay-kun lagi.

"Benar, aku berharap semua orang yang pernah bersekongkol mencelakai diriku, kini mendapatkan pembalasan yang setimpal."

"Padahal otak peristiwa berdarah ini adalah Hek-mo-ong. Apakah Thio-locianpwe berhasil menyelidiki siapa gerangan Hek-mo-ong?" kembali Thay-kun bertanya.

"Belum," Thio Kim-ciok menggeleng.

"Kira-kira aku sudah dapat menduga siapa gerangan Hek- mo-ong itu."

"Silakan nona mengutarakan." Thay-kun segera tersenyum.

"Padahal Thio-locianpwe sendiri pun sudah mengetahui siapa gerangan Hek-mo-ong itu?"

"Benar, secara lamat-lamat sudah kuketahui siapakah dia, tapi sebelum kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang mati hingga tinggal orang terakhir, rasanya susah untuk menentukan secara tepat. Kau harus tahu kelicikan, kehebatan ilmu silat serta kemampuan menyusun rencana besar kesebelas orang itu sama-sama hebat dan luar biasa, satu dengan yang lain tak ada yang lebih lemah."

Mendadak Bong Thian-gak menyela dengan suara nyaring, "Hek-mo-ong adalah si tabib sakti Gi Jian-cau."

"Betul," Thio Kim-ciok mengangguk. "Di antara sepuluh tokoh persilatan itu, Gi Jian-cau merupakan orang paling kejam dan buas. Dia adalah manusia munafik yang berlagak suci. Racun Hok-teng-ang yang mengeram dalam tubuhku sekarang tak lain adalah hasil perbuatannya."

"Mungkin Hek-mo-ong sudah mendapat kabar tentang masih hidupnya Thio-locianpwe," kata Thay-kun dengan suara dalam.

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari tengah udara berkumandang tiga kali suara pekikan panjang yang amat keras dan memekakkan telinga.

Dengan wajah berubah hebat Thio Kim-ciok segera berkata, "Hay Cing-cu telah menjumpai musuh tangguh, kemungkinan musuh tangguh akan menyerbu kemari sebentar lagi."

Sambil berkata tiba-tiba saja Thio Kim-ciok bangkit dari tempat duduknya.

"Thio-locianpwe," kata Thay-kun kemudian, "silakan duduk di sini dengan tenang. Andaikata Hay Cing-cu membutuhkan bantuan, kami bersedia membantunya."

Thio Kim-ciok menghela napas panjang, "Seperti apa yang ditebak nona, agaknya Hek-mo-ong sudah memperoleh kabar bahwa aku belum tewas, musuh yang kini datang bisa jadi bertujuan untuk membuktikan apakah benar aku belum mati."

"Tapi menurut pendapatku, tujuan kedatangan musuh tangguh adalah untuk mengincar peta rahasia tambang emas itu."

Thio Kim-ciok tertawa rawan.

"Sekalipun di dalam tubuhku masih tersisa racun keji Hok- teng-ang hingga tak mungkin bagiku untuk mengerahkan tenaga dalam dan bertarung melawan orang, tapi bila musuh ingin menaklukkan diriku secara mudah, aku rasa pihak lawan harus membayar dengan mahal." Tiba-tiba Song Leng-hui bertanya, "Thio-locianpwe, apakah kau minta aku membantumu untuk memusnahkan racun Hok- teng-ang yang masih mengeram dalam tubuhmu itu?"

Thio Kim-ciok segera menghela napas, "Ai, kecuali kedua puluh empat batang jarum emas perak nona Song, di kolong langit dewasa ini memang tiada cara pengobatan lain yang dapat dipergunakan untuk memusnahkan pengaruh racun Hok-teng-ang yang bersarang di dalam tubuhku."

"Locianpwe, sekarang juga aku bersedia mengobati penyakitmu itu," seru Song Leng-hui.

"Sekarang tak mungkin, musuh telah datang."

Baru selesai dia berkata, terlihat Hay Cing-cu dengan sekujur badan bermandikan darah melayang turun di depan gardu itu.

Dengan ketajaman matanya, beberapa orang itu sudah melihat dengan jelas bahwa luka yang diderita Hay Cing-cu akibat tusukan tiga peluru terbang yang memancarkan sinar tajam, ketiga batang senjata rahasia itu menancap persis di dadanya dalam posisi segitiga.

Ujung peluru emas menembus dadanya. Darah kental membasahi seluruh badannya, jelas luka yang dideritanya amat parah, namun dengan gerakan yang masih cepat Hay Cing-cu langsung menerobos masuk ke dalam gardu dan berseru cemas, "Majikan cepat menyingkir, musuh tangguh yang menyerbu kemari sangat ganas dan luar biasa."

Pada saat itulah dari atap rumah seberang telah melayang turun dua sosok orang dengan ringannya.

Ternyata kedua orang itu adalah lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal dan berlengan cacat.

Sesudah melihat jelas pendatang itu, Bong Thian-gak dan Thay-kun sama-sama terkesiap, pekiknya tanpa sadar, "Ah, rupanya anak buah Biau-kosiu!" Dengan langkah cepat Bong Thian-gak menuju ke gardu batu itu, lalu menegur dengan ketus, "Apakah Biau-kosiu ikut datang?"

Sebelum lelaki dan perempuan kekar berlengan cacat itu sempat menjawab, dari balik kegelapan sudah terdengar seseorang menjawab dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng, nyawamu betul-betul amat panjang, ternyata kau masih hidup."

Biau-kosiu dengan langkah lemah-gemulai telah muncul dan berhenti di antara lelaki dan perempuan kekar itu, sementara matanya yang jeli mengamati setiap orang yang berada di dalam gardu dengan seksama. Katanya lagi sambil tertawa, "Orang tua yang berada di dalam gardu itu tentulah Hek-mo-ong Thio Kim-ciok bukan?"

Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan wajah dingin membesi dan sorot mata menggidikkan mengamati ketiga orang itu, wajahnya tetap dingin tanpa emosi, sedang mulutnya membungkam.

Sebaliknya Bong Thian-gak segera menyela sambil tertawa dingin, "Dugaan nona Biau salah besar, dia bukan Hek-mo- ong."

"Hm!" Biau-kosiu mendengus dingin. "Jian-ciat-suseng, bila kau masih ingin hidup beberapa tahun lagi, kuanjurkan kepadamu agar tidak mencampuri urusan orang lain."

Bong Thian-gak balas tertawa dingin, "Tentu aku ingin hidup seratus tahun lagi, tapi aku rasa urusan ini tak usah kau campuri."

"Jian-ciat-suseng, tahukan kau siapakah orang ini?" tegur Biau-kosiu dingin.

"Seorang Bu-lim Cianpwe!" Tiba-tiba Biau-kosiu berpaling ke atap rumah dan membentak, "Cong-kaucu, benarkah orang itu adalah suamimu, Thio Kim-ciok?"

Teriakannya yang sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan ini membuat semua orang tertegun. Sorot mata mereka pun dialihkan ke atap rumah di depan situ.

Ternyata pada sisi atap rumah secara lamat-lamat ada tiga sosok bayangan orang berdiri di sana.

Bau harum bunga anggrek yang sangat tipis lamat-lamat berhembus datang, bau harum semacam ini merupakan bau khas perempuan tercantik dari Kanglam, Ho Lan-hiang.

Thio Kim-ciok dapat mengendus bau itu, tentu saja Bong Thian-gak pun dapat mengendus pula bau harum bunga itu.

Salah satu dari ketiga orang itu sudah tentu adalah Ho Lan- hiang sedangkan orang yang di sebelah kiri adalah Ji-kaucu dan orang yang di sebelah kanan adalah Sim Tiong-kiu, komandan pasukan tanpa tanding.

Ketiga orang ini adalah kekuatan inti Put-gwa-cin-kau, sekalipun pada tiga puluh tahun berselang nama mereka tidak dicantumkan oleh Tio Tian-seng ke dalam urutan sepuluh tokoh persilatan, namun kepandaian silat mereka sama sekali tidak kalah dengan kepandaian silat kesepuluh tokoh persilatan itu.

Dengan suara gemetar diliputi perasaan terkejut dan ngeri, Ho Lan-hiang menyahut pelan, "Sebenarnya aku masih belum percaya kalau dia masih hidup di dunia ini. Setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri hari ini, ternyata berita itu memang benar."

Yang dia maksudkan tentu adalah Thio Kim-ciok.

Sejak Biau-kosiu dan rombongan menampakkan diri, Thio Kim-ciok masih tetap membungkam, tapi sekarang agaknya dia sangat dipengaruhi oleh emosi. Sekujur tubuhnya gemetar keras, sorot matanya memancarkan sinar amarah berapi-api dan menggidikkan. Setelah tertawa keras dengan suara menyeramkan dia berkata, "Benar, aku adalah Thio Kim-ciok. Perempuan rendah, tak nyana kau masih mengenali diriku."

Pengakuan Thio Kim-ciok ini membuat Biau-kosiu secepat kilat menyerbu ke muka dan menyerang ke dalam gardu batu itu.

Segera Bong Thian-gak melintangkan badan dan menghadang di depan undak-undakan batu menuju ke arah gardu. Sambil membentak, lengan tunggalnya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan.

Serangan yang dilancarkan olehnya sekarang amat gencar dan dahsyat, tenaga yang disertakan pun amat mengerikan.

Dengan cekatan Biau-kosiu menghindar ke samping untuk berkelit dari serangan dahsyat itu, lalu badannya melejit dengan ringan dan bermaksud menyerang lagi dari sisi lain.

Siapa tahu Bong Thian-gak dengan lengan tunggalnya yang gesit dan cepat dalam perubahan jurus, kembali melancarkan sebuah bacokan kilat, Biau-kosiu mau tak mau harus mundur.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran Biau-kosiu. Dengan kening berkerut, bentaknya gusar, "Jian-ciat-suseng, apabila kau mencampuri urusanku, jangan salahkan aku bertindak keji!"

Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Kekejian dan kebuasan nona sudah lama kurasakan, mengapa kau tak memperlihatkan kelihaianmu itu?"

Mendadak Biau-kosiu berpaling ke arah lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal itu, kemudian bentaknya, "Biau-han-thian suami-istri, kalian berdua jaga baik-baik Jian- ciat-suseng itu." Suami-istri bermata tunggal itu menyerang Bong Thian-gak dari kiri dan kanan dengan kecepatan luar biasa, sementara Biau-kosiu sendiri sekali lagi mendesak maju.

"Mundur semua!" bentak Bong Thian-gak.

Badannya berputar kencang dan dua gulung angin pukulan yang sangat dahsyat menyapu ke arah suami-istri bermata tunggal itu.

Selesai melancarkan kedua buah serangan itu, Bong Thian- gak bagai setan gentayangan kembali mendesak ke depan dan menghadang jalan pergi Biau-kosiu. Tangan kirinya bagaikan cakar menyambar ke bawah dan mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri nona itu.

Demikian cepat dan cekatannya serangan itu membuat siapa pun terkesiap.

Sementara itu meskipun kedua orang laki perempuan bermata tunggal itu masing-masing menyambut serangan Bong Thian-gak, namun tenaga serangannya itu sangat kuat dan dahsyat sehingga menggetarkan tubuh mereka tiga- empat langkah. Biau-kosiu menjerit kaget.

Di bawah sapuan ujung jari tangan Bong Thian-gak atas urat nadi pergelangan tangan kirinya, dengan cepat dia mengundurkan diri dengan ketakutan.

Bong Thian-gak sama sekali tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan pengejaran, hanya tegurnya kemudian dengan wajah sedingin salju, "Nona Biau, kuanjurkan kepadamu agar mundur dari sini. Kalau tidak, aku akan membalas air susu dengan air tuba. Bila kalian terluka nanti, jangan salahkan diriku!"

"Jian-ciat-suseng, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa kau membantu Hek-mo-ong?" tanya Biau-kosiu dengan geram. "Dia adalah Thio Kim-ciok, bukan Hek-mo-ong. Sebetulnya nona Biau ingin mencelakainya dikarenakan peta rahasia tambang emas bukan? Ataukah untuk membalas dendam bagi kematian ayahmu?"

Perempuan rase dari bukit Biau-san, Biau-kosiu, nampak tertegun dan berdiri melongo.

Setelah mendengar pertanyaan itu, dia segera balik bertanya, "Jadi kau sudah mengetahui asal-usulku?"

"Aku tahu nona adalah putri kesayangan ketua Mi-tiong- bun di Tibet, Kui-kok Sianseng."

Mendadak Biau-kosiu tertawa seram, segera tanyanya, "Tentunya kau tahu juga bukan bagaimana kejadiannya sewaktu Kui-kok Sianseng mendapatkan musibah?"

"Kui-kok Sianseng merupakan orang pertama yang tewas di tangan Hek-mo-ong."

"Dendam sakit hati terbunuhnya ayahku lebih dalam dari samudra, aku sebagai putrinya merasa wajib menuntut balas sakit hati ini. Jian-ciat-suseng, apakah kau bermaksud menghalangi niatku membalas dendam?"

"Bersediakah nona mempercayai perkataanku?" ujar Bong Thian-gak dengan suara hambar. "Baik Kui-kok Sianseng, Song-ciu suami-istri maupun mendiang Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio, mereka bukan tewas di tangan Thio Kim-ciok, melainkan mati di tangan Hek-mo-ong, si perencana musibah ini. Hek-mo-ong bukan Thio Kimciok, melainkan seorang yang lain."

"Bagaimana kau bisa membuktikan dia bukan Hek-mo- ong?" jengek Biau-kosiu sambil tertawa dingin.

Menghadapi pertanyaan itu, jelas Bong Thian-gak tak mampu menjawab, padahal dia sendiri pun tak dapat membuktikan secara pasti bahwa Thio Kim-ciok bukanlah Hek- mo-ong seperti apa yang yang dia duga. Sebenarnya Bong Thian-gak tadinya menganggap Thio Kim-ciok sebagai Hek-mo-ong. Setelah mendengar penjelasan

Thio Kim-ciok tadi, mereka baru tahu Hek-mo-ong sebenarnya adalah orang lain.

Lantas siapakah Hek-mo-ong, si otak semua peristiwa berdarah ini?

Mungkinkah orang itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau? Tentu saja hingga sekarang belum ada seorang pun yang berani memastikan.

Biau-kosiu tertawa, lalu katanya, "Sesudah dicelakai oleh sepuluh tokoh persilatan pada tiga puluh tahun berselang, sudah pasti Thio Kim-ciok akan menaruh perasaan dendam dan sakit hati terhadap pembunuh-pembunuhnya. Andaikata ia masih hidup di dunia ini, apakah dendam sakit hati itu tak akan dituntut balas?"

"Sebenarnya aku pun masih menaruh perasaan ragu dan tak percaya tentang berita yang mengatakan bahwa Thio Kim- ciok masih hidup di dunia ini. Apakah dia masih dapat meloloskan diri dari kecurigaan sebagai Hek-mo-ong?"

Perkataan itu diutarakan dengan suara tegas, bertenaga dan penuh pengertian yang mendalam.

Secara lamat-lamat Bong Thian-gak dapat merasakan bahwa apa yang diucapkan Biau-kosiu memang benar, sebab selain Thio Kim-ciok, siapa pula yang berminat membunuh kesepuluh tokoh persilatan itu?

Tanpa terasa Bong Thian-gak berpaling ke arah gardu dan memandang sejenak ke arah Thio Kim-ciok.

Sementara itu Thio Kim-ciok dengan wajah dingin membeku membungkam, wajahnya kaku tanpa perubahan emosi.

Dengan langkah lemah-gemulai, Thay-kun segera maju dan pelan-pelan berkata, "Walaupun semua perkataan nona Biau masuk akal dan bisa diterima, namun aku ingin bertanya satu hal kepada nona, siapakah yang telah memberitahu kepadamu bahwa Thio Kim-ciok belum tewas?"

"Mengapa kau menanyakan hal ini?" tanya Biau-kosiu dengan suara dingin.

"Sebab aku dapat membantumu menemukan Hek-mo-ong yang sebenarnya."

"Kau maksudkan Hek-mo-ong adalah salah seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan?" tanya Biau-kosiu dengan suara dingin dan kaku.

"Betul, orang itu adalah salah seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan itu."

"Omong kosong, ngaco-belo," bentak Biau-kosiu dengan geram. "Seandainya Thio Kim-ciok sudah mati pada tiga puluh tahun berselang dan tidak bangkit dari kematiannya, bisa jadi Hek-mo-ong adalah salah satu di antara kesepuluh tokoh persilatan. Tapi kini terbukti sudah kalau Thio Kim-ciok masih hidup di dunia ini, terbukti sudah kalau Hek-mo-ong sesungguhnya adalah dirinya sendiri."

"Dugaan nona Biau salah besar," pelan-pelan Thay-kun menyahut. "Apabila seorang mempunyai rencana busuk dan keji hendak melimpahkan dosa dan kesalahannya kepada orang lain, seringkah dia akan mencari titik lemah lawan- lawannya, yakni pertentangan batin untuk dimanfaatkan, sebab dengan cara begitulah apa yang dicita-citakan baru dapat terwujud."

"Hek-mo-ong adalah seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan dan kenyataan itu merupakan suatu bukti yang jelas. Apabila dugaanku tidak salah, kupastikan Hek-mo-ong akan terpaksa memberitahukan kepadamu tentang kabar belum matinya Thio Kim-ciok, karena nona Biau sudah mulai mencurigai asal-usulnya. Oleh sebab itulah mau tak mau terpaksa dia harus menyampaikan berita itu." "Benarkah berita belum matinya Thio Kim-ciok mempunyai arti begitu penting?" seru Biau-kosiu sambil tertawa dingin.

Thay-kun memandang sekejap ke arahnya, kemudian menjawab, "Berita mati hidup Thio Kim-ciok tentu saja mempunyai arti sangat penting bagi Hek-mo-ong."

Kemudian setelah berhenti sejenak dan menarik napas panjang, kembali dia melanjutkan, "Hek-mo-ong sengaja menghasut kesepuluh tokoh persilatan untuk mencelakai jiwa Thio kim-ciok Locianpwe, tak lain bertujuan untuk merampas tambang emas dari tangannya. Rahasia peta tambang itu cukup dipahami setiap orang dari kesepuluh tokoh persilatan itu. Oleh karena itu apabila berita belum matinya Thio Kim- ciok bocor dan diketahui umum, maka sudah dapat dipastikan bahwa sisa kesepuluh tokoh persilatan beserta kawanan jago lainnya akan berdaya-upaya membunuh Thio-locianpwe dan merampas rahasia peta tambang emas itu. Itulah sebabnya dalam keadaan terpaksa mau tak mau Hek-mo-ong mengungkap padamu bahwa Thio-locianpwe sebenarnya belum mati."

Perkataan Thay-kun itu segera menggetarkan perasaan Thio Kim-ciok sendiri, dengan cepat dia bertanya, "Nona Thay- kun, jadi menurut pendapatmu Hek-mo-ong sudah lama mengetahui kalau aku belum mati?"

"Benar," sahut Thay-kun sambil tersenyum. "Sudah lama sekali Hek-mo-ong tahu kau telah menyelundup ke dalam kuil Sam-cing-koan di kota Lok-yang."

Biau-kosiu mendengus dingin, katanya pula, "Kalau memang begitu, mengapa Hek-mo-ong tidak secara langsung datang mencari Thio Kim-ciok?"

"Hm, pertanyaan yang sangat bagus! Memang, Hek-mo- ong sudah lama mengetahui Thio Kim-ciok Locianpwe belum mati, namun apa sebabnya tak secara langsung datang mencari Thio-locianpwe? Menurut dugaanku, Hek-mo-ong tak berani berbuat demikian lantaran dia takut dan jeri terhadap kepandaian silat Thio-locianpwe, Hek-mo-ong sadar dia tak mempunyai keyakinan untuk menang dan berhasil apabila dia menyerang Thio-locianpwe secara langsung. Karena itu dia ingin memanfaatkan kemampuan nona Biau beserta sisa kekuatan sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup untuk sekali lagi membasmi Thio-locianpwe dari muka bumi."

Dengan suara dingin Biau-kosiu berkata, "Sam-cing Tojin dari Sam-cing-koan adalah Thio Kim-ciok dan Thio Kim-ciok adalah Sam-cing Totiang. Berita yang mengejutkan ini baru diketahui pada malam tadi. Betul, ketika aku selidiki tentang orang-orang yang mencurigakan sebagai Hek-mo-ong sebenarnya tinggal satu orang yang terakhir, tetapi sekarang berubah menjadi dua orang. Akhirnya siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya, aku yakin dalam waktu singkat hal ini akan berhasil kuselidiki dengan jelas."

Selesai berkata dia lantas berpaling ke belakang dan serunya lantang, "Biau-han-thian, ayo kita pergi!"

Dengan cepat dia menggerakkan tubuh dan melejit pergi.

Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak berseru, "Nona Biau, mengapa tidak kau katakan nama orang terakhir yang dicurigai itu?"

Tanpa berpaling, sahut Biau-kosiu dengan suara dingin, "Si tabib sakti Gi Jian-cau telah membocorkan kabar tentang belum matinya Thio Kim-ciok kepada setiap orang. Mulai sekarang Thio Kim-ciok bakal diserang dan dikepung oleh para jago persilatan, lebih baik kalian hadapi mereka secara hati- hati."

Biau-kosiu dan Biau-han-thian suami-istri bertiga sudah lenyap di balik kegelapan sana dengan cepat.

Di atas atap rumah di seberang gardu sana masih berdiri dengan tenang Ho Lan-hiang, Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu bertiga. Mendadak Ho Lan-hiang tertawa, lalu katanya, "Thio Kim- ciok, mengapa kau tak berani mengaku sebagai Hek-mo-ong?"

Thio Kim-ciok masih tetap berdiri dalam gardu batu itu dengan wajah dingin, kaku, tanpa emosi, mulut membungkam.

Hati Thay-kun serta Bong Thian-gak yang mendengar ucapan itu bergetar keras, mereka menantikan penyangkalan Thio Kim-ciok, namun suasana dalam arena masih tetap hening, sepi.

Suasana yang hening dan sepi itu berlangsung cukup lama, sebelum akhirnya Thio Kim-ciok berkata dengan pelan, "Perempuan rendah, nyalimu benar-benar sangat besar!"

Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, "Apabila Thio Kim- ciok mempunyai kemampuan untuk membunuhku, mungkin sudah turun tangan sejak tadi."

"Kalau sudah mengetahui bahwa aku tidak berkemampuan untuk membunuhmu, mengapa kau tidak segera turun tangan menyerang diriku?" Thio Kim-ciok balik bertanya dengan suara dalam dan berat.

"Tiga puluh tahun berselang, kau telah dipaksa menelan beberapa tetes racun Hok-teng-ang, setelah keracunan, kau pun diserang kawanan jago. Sekalipun tiga puluh tahun kemudian kau lolos dari ancaman maut itu, tetapi aku percaya Thio Kim-ciok telah menjadi seorang manusia cacat."

Selesai berkata Ho Lan-hiang dengan matanya yang tajam dan menggidikkan mengawasi setiap gerak-gerik Thio Kim- ciok yang berada dalam gardu.

Sikap Thio Kim-ciok ketika itu nampak sangat tenang. Wajahnya tidak menampilkan wajah girang, marah, sedih, murung dan berdiri membungkam di tempat tanpa bergerak.

Setelah tertawa terkekeh-kekeh, kembali Ho Lan-hiang berkata lebih jauh, "Dugaanku tidak salah bukan? Seandainya Thio Kim-ciok masih tetap sehat dan segar-bugar, tak nanti dia akan melepaskan setiap musuh yang dijumpainya, tentu dia pun tak akan membiarkan seorang perempuan yang telah mengkhianati, mengumpat, mencemoohnya dan menyindir dirinya."

Entah mengapa pada saat dan keadaan seperti ini Thio Kim-ciok masih tetap berdiri membungkam, mulutnya seolah- olah terkunci rapat seperti seorang bisu.

Thay-kun dapat melihat jelas bahwa kedua orang itu sedang beradu otak, mengapa hingga sekarang Ho Lan-hiang belum juga turun tangan? Sudah jelas hal ini disebabkan perempuan itu pun belum yakin seratus persen bahwa Thio Kim-ciok benar-benar tak berkemampuan lagi untuk membunuh mereka.

Oleh sebab itu dia berusaha mengejek, mencemooh, menyindir dan mengumpat lawan dengan harapan dari pembicaraan itu dia berhasil menyelidiki secara pasti tentang keadaan Thio Kim-ciok yang sesungguhnya.

Sebaliknya Thio Kim-ciok benar-benar seorang berotak cerdas dan lihai, setiap gerak-geriknya serta mimik wajahnya ditampilkan dengan begitu sempurna, sehingga susah diduga orang, apakah hal itu benar ataukah hanya pura-pura saja.

Pada saat itu Bong Thian-gak justru tak sanggup menahan diri, sambil tertawa dingin segera katanya, "Ho Lan-hiang, mengapa kau tidak segera turun tangan? Kami sudah tak sabar lagi menunggumu!"

"Jian-ciat-suseng, hari ini bukannya aku bermaksud mengadu domba di antara kalian, tapi kau harus tahu bahwa Thio Kim-ciok adalah seorang licik yang berhati buas dan kejam. Kekejamannya boleh dibilang tiada orang di dunia ini yang sanggup menandinginya, dia sangat pandai memperalat orang lain, dia pun sangat memahami bagaimana caranya melenyapkan orang itu. Justru karena kekejaman dan kebuasan Thio Kim-ciok itulah maka tiga puluh tahun berselang kesepuluh orang gurunya bersepakat membinasakan dirinya daripada ia menerbitkan bencana yang lebih besar lagi di kemudian hari."

"Kau tak usah membacot lebih lanjut," tukas Bong Thian- gak sambil tertawa dingin. "Sekalipun Thio Kim-ciok adalah seorang telur busuk di masa lampau, tapi sekarang rasanya dia tak akan menandingi kekejian dan kecabulanmu itu."

Kembali Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, "Jian-ciat- suseng, tahukah kau akan rencana busuk yang sedang dipersiapkan Thio Kim-ciok saat ini?"

"Dia hendak membalas dendam, hendak membantai setiap orang yang pernah mencelakai jiwanya," sahut Bong Thian- gak hambar.

"Betul, dia ingin membantai orang yang pernah mencelakainya dahulu, tapi dia lebih-lebih berkeinginan untuk membunuh setiap jago persilatan yang membantunya."

"Kau tak usah bersilat lidah mencoba mengadu domba kami," jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. "Yang jelas, antara orang she Bong dengan Put-gwa-cin-kau kalian, terutama dengan kau, aku bersumpah tak akan hidup berdampingan secara damai."

"Jian-ciat-suseng memang termasuk seorang jago lihai di antara kaum angkatan muda," Ho Lan-hiang tersenyum, "tapi bila kau berkeinginan untuk beradu kemampuan dengan kesepuluh tokoh persilatan yang pernah termasyhur di masa lampau, kemampuanmu itu masih belum cukup matang. Bila kau tak percaya, silakan kau turun tangan terhadapku!"

Bong Thian-gak berkerut kening, mendadak ia berpaling ke arah Song Leng-hui dan katanya, "Leng-hui, pinjamkan pedang bambumu itu kepadaku!" Ternyata di balik bahu Song Leng-hui tersoreng sebilah pedang bambu yang dibuat sendiri oleh Bong Thian-gak ketika mereka berdua hidup berdampingan di tengah gunung yang terpencil tempo dulu.

Pek-hiat-kiam milik Bong Thian-gak hilang ketika berlangsung pertarungan dalam Ban-jian-bong tempo hari, sehingga saat ini dia tak bersenjata sama sekali. Itulah sebabnya dia meminjam pedang dari Song Leng-hui.

Dengan cepat Song Leng-hui melolos pedang itu dan berkata dengan lembut, "Engkoh Gak, apakah kau mau bertarung melawannya?"

Sambil bertanya dia berjalan mendekat sambil menenteng pedang bambunya itu.

Tiba-tiba Thay-kun berjalan mendekatinya, lalu berbisik pelan, "Bong-suheng, jangan turun tangan lebih dahulu."

"Antara aku dan dia ibarat api dan air yang tak mungkin bisa hidup berdampingan, cepat atau lambat di antara kami tentu akan dilangsungkan suatu pertarungan antara mati hidup. Buat apa aku mesti menunggu lebih lanjut?" ucap Bong Thian-gak dengan suara dalam dan berat.

"Ucapan Bong-suheng memang benar. Apabila kita tidak berusaha membunuhnya, dia pasti akan membunuh kita, tapi hari ini rasanya kita belum perlu membunuhnya."

"Mengapa?" tanya anak muda itu dengan perasaan tidak habis mengerti.

Tiba-tiba Thay-kun memperkeras suaranya dan berseru lantang, "Sebab bila kita membunuhnya, berarti sudah termakan oleh siasat busuk Hek-mo-ong."

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak, katanya kemudian, "Termakan siasat busuk Hek- mo-ong? Bukankah dia adalah satu komplotan dengan Hek- mo-ong?" Agaknya perkataan terakhir Thay-kun itu membuat Ho Lan- hiang merasa sangat terkejut, sesudah tertawa dingin pelan- pelan dia berseru, "Budak setan, aku ingin bertanya kepadamu, siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya?"

Jelas selama ini Ho Lan-hiang menganggap Thio Kim-ciok sebagai Hek-mo-ong.

Thay-kun segera tersenyum.

"Aku hanya bisa memberitahukan kepadamu, Hek-mo-ong yang sebenarnya bukan Thio Kim-ciok Locianpwe."

Kembali Ho Lan-hiang tertawa dingin.

"Sekarang perkembangannya sudah semakin bertambah, seorang bocah cilik berusia tiga tahun pun akan mengetahui bahwa Thio Kim-ciok sesungguhnya adalah Hek-mo-ong."

"Sayang sekali dugaanmu itu keliru besar," Thay-kun tertawa cekikikan.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tegurnya, "Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, Hek-mo-ong yang sesungguhnya bukan saja ingin membasmi kesepuluh tokoh persilatan, bahkan kau dan anak buahmu pun rasanya tak bakal dibiarkan hidup bebas di dunia ini. Dewasa ini Hek-mo- ong sedang melaksanakan rencananya untuk membunuh dan membasmi kalian semua. Nah, mau percaya atau tidak terserah kepadamu."

Dengan tenang Ho Lan-hiang termenung dan berpikir sejenak, lantas ia berseru, "Ji-kaucu, komandan Sim, ayo kita pergi dari sini!"

Di bawah seruan Ho Lan-hiang, berangkatlah kedua jago Put-gwa-cin-kau itu meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat ketiga sosok orang itu sudah lenyap di balik wuwungan rumah sana. Malam telah pulih kembali dalam keheningan dan kesepian yang mencekam.

Pelan-pelan Bong Thian-gak menghela napas panjang, ujarnya kemudian dengan perasaan tak habis mengerti, "Thay-kun, mengapa kau biarkan dia pergi dari sini dengan aman dan selamat?"

"Kepandaian silat Ho Lan-hiang sudah mencapai tingkatan yang tak terukur lagi. Apabila kita bertarung melawannya pada malam ini, menang kalah masih merupakan tanda tanya besar. Seandainya kedua belah pihak terlibat dalam pertarungan yang seru, tiba-tiba Hek-mo-ong muncul serta mencelakai Thio Kim-ciok Locianpwe, maka bagaimana jadinya? Itulah sebabnya lebih baik kita singkirkan dahulu dendam pribadi dan berusaha menghindari setiap bentrokan dengan orang, kecuali dengan Hek-mo-ong."

"Thay-kun, apakah kau sudah tahu siapakah Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak.

Thay-kun mengangguk.

"Ya, aku sudah tahu siapakah dia." "Siapakah orang itu?"

"Untuk sementara waktu belum dapat kuberitahukan kepada kalian."

Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Sudah kuduga sedari tadi, kau tidak akan

mengutarakannya. Ai! Bagaimana rencana kita selanjutnya?"

Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Thio Kim-ciok, lalu sahutnya, "Untuk sementara waktu lebih baik kita berdiam di dalam bangunan ini."

"Nona Thay-kun," Thio Kim-ciok berkata sambil menghela napas sedih. "Kecerdasan otakmu benar-benar mengagumkan. Seandainya tiada kau pada hari ini, bisa jadi kita semua sudah termakan oleh rencana busuk Hek-mo-ong."

Thay-kun tersenyum.

"Hek-mo-ong telah pergi meninggalkan tempat ini, aku yakin dia sendiri pun tak dapat menduga secara pasti keadaan Thio-locianpwe yang sesungguhnya sehingga untuk sementara waktu ia tak akan turun tangan terhadap kita semua."

Kembali hati Bong Thian-gak tergerak, segera tanyanya, "Thay-kun, kau bilang barusan Hek-mo-ong berada di sekitar tempat ini?"

"Benar," Thay-kun mengangguk, " saat Biau-kosiu dan rombongan muncul di sini, Hek-mo-ong pun muncul pula di salah satu sudut bangunan ini, hanya dia tetap diam di situ menunggu perkembangan selanjutnya, di saat Ho Lan-hiang dan rombongan meninggalkan tempat ini, secara diam-diam pun dia turut pergi dari sini."

Sampai di sini gadis itu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Thio kim-ciok, kemudian sambungnya, "Thio- locianpwe, ada beberapa persoalan yang belum Boanpwe pahami. Kumohon Locianpwe sudi memberi penjelasan."

"Katakanlah, Thay-kun!"

"Aku tahu, sudah sejak dulu Locianpwe telah mengetahui siapakah Hek-mo-ong itu, lagi pula kau pun masih mempunyai tenaga dan kemampuan yang cukup untuk membinasakan dirinya. Mengapa kau orang tua enggan membalas dendam?"

"Aku pun tak ingin mengelabui kalian lagi. Sebenarnya alasanku berbuat demikian, tak lain karena dendam dan benci. Aku berharap mereka bisa saling gontok hingga akhirnya tinggal Hek-mo-ong."

"Tapi kenyataannya sekarang apa yang kau inginkan malah menghasilkan keadaan yang terbalik. Hek-mo-ong telah mengadakan persekongkolan dengan kawanan jago lihai untuk bersama-sama mengurung dan mengeroyok dirimu, sanggupkah Thio-locianpwe menghadapi mereka?"

Berkilat mata Thio Kim-ciok, sahutnya dengan lantang, "Asal nona Song bersedia membantuku menghilangkan sisa racun keji yang masih mengeram dalam tubuhku, aku percaya masih mampu menghadapi kerubutan kawanan jago lihai persilatan."

Tiba-tiba Song Leng-hui berkata dengan merdu, "Thio- locianpwe, kau boleh segera mencari tempat yang aman dan terlindung. Sekarang juga aku akan turun tangan menyembuhkan penyakitmu itu."

Thay-kun memandang sekejap ke arah Song Leng-hui, kemudian katanya merdu, "Padahal dengan tubuh yang masih berpenyakit pun, aku percaya Thio-locianpwe dapat melawan keroyokan kawanan jago lihai persilatan."

Paras muka Thio Kim-ciok berubah secara tiba-tiba, dengan suara dalam ia segera bertanya, "Nona, apakah yang ingin kau katakan, lebih baik sampaikan secara terus terang."

Thay-kun termenung beberapa lama, kemudian baru berkata, "Bicara soal kesetia kawanan, kami memang wajib membantu Thio-locianpwe menyembuhkan penyakit menahun akibat racun keji itu. Tapi kami pun kuatir bila Thio-locianpwe sudah sembuh dari penyakit itu, maka secara tiba-tiba akan berubah menjadi seorang yang lain."

"Hm, jalan pikiranmu itu persis seperti jalan pikiran sepuluh tokoh persilatan di masa lampau," kata Thio Kim-ciok sambil tertawa dingin.

"Tentu saja, sebab bila racun keji yang mengeram dalam tubuh Thio-locianpwe dihilangkan, kau akan menjelma menjadi seorang jago silat yang tiada tandingannya di dunia ini, bahkan kau pun memiliki harta kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya." "Bagi seorang manusia yang berilmu silat tinggi dan mempunyai harta kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, andaikan pikirannya sedikit menyeleweng saja, akibatnya tentu tak dapat dilukiskan. Itulah sebabnya mau tidak mau kami harus mempertimbangkan sampai sejauh itu."

Thio Kim-ciok segera tertawa dingin.

"Aku bukan memohon pertolonganmu, aku minta nona Song yang menyembuhkan penyakitku ini."

"Tentu saja kau boleh meminta pertolongan nona Song," kata Thay-kun dengan suara pelan, "tapi seandainya kuungkap hubunganmu dengan Hek-mo-ong, sudah dapat dipastikan Song Leng-hui tidak akan mengobati penyakitmu itu."

Baik Song Leng-hui maupun Bong Thian-gak keduanya sama-sama dibuat tertegun, melongo dan tidak habis mengerti, mereka tidak tahu apa yang sebabnya Thay-kun menolak menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok.

Sesungguhnya terjalin hubungan apakah antara Thio Kim- ciok dan Hek-mo-ong?

Segera Song Leng-hui berkata, "Enci Thay-kun, pengetahuan serta pengalamanmu jauh lebih luas dibanding diriku, kami akan menuruti semua perintah serta petunjukmu."

Perkataan ini sudah jelas, asal Thay-kun menolak menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok, maka dia pun akan menuruti perkataan Thay-kun dengan tidak mengobati penyakitnya.

Berubah hebat paras muka Thio Kim-ciok, dengan suara dingin ujarnya, "Bagi seorang persilatan, memegang janji adalah salah satu syarat utama agar dapat dipercaya orang, nona Song sudah berjanji tapi kemudian mengingkarinya, benar-benar jarang kujumpai." Merah jengah wajah Song Leng-hui oleh dampratan itu, dia menjadi tergagap, "Aku ... aku ... aku kan belum pernah berjanji akan menyembuhkan penyakitmu itu!"

Dengan cepat Thay-kun berkata pula dengan suara dingin, "Thio-locianpwe, aku cukup tahu bahwa kau mempunyai rencana busuk dan maksud keji terhadap keselamatan umat persilatan. Demi menjaga agar umat persilatan tidak dibuat pecundang oleh ulahmu itu, mau tidak mau terpaksa kami harus bertindak sangat hati-hati dalam menghadapi persoalan ini."

"Apabila Thio-locianpwe tidak mempunyai rencana jelek lainnya dan khusus bertujuan membalas dendam, maka dendam harus dibalas kepada siapa yang berhutang. Jadi sepantasnya Thio-locianpwe mencari Hek-mo-ong serta melepas rasa dendammu kepadanya. Mengapa kau justru bersekongkol dengan Hek-mo-ong melakukan kejahatan?"

Beberapa patah kata itu kontan membuat Bong Thian-gak menjadi terlongong, segera tanyanya, "Jadi dia bersekongkol dengan Hek-mo-ong melakukan berbagai kejahatan?"

"Benar," Thay-kun mengangguk, "sesungguhnya antara Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok memang sudah terjalin hubungan pribadi yang sangat erat dan akrab."

"Benarkah nona sudah dapat menduga asal-usul serta identitas yang sebenarnya dari Hek-mo-ong?" tanya Thio Kim- ciok lagi sambil tersenyum.

"Justru karena sudah mengetahui siapakah dia, maka aku baru menaruh curiga terhadap semua gerak-gerik serta sepak- terjang Thio-locianpwe."

"Mengapa tidak nona sebutkan siapakah Hek-mo-ong?" tanya Thio Kim-ciok

"Waktunya belum tiba, tunggu sampai saatnya aku pasti akan mengungkap rahasia ini kepada semua orang." Thio Kim-ciok mendengus dingin, "Mengapa tidak nona katakan sekarang juga? Apakah belum dapat meyakini identitas Hek-mo-ong itu?"

"Benar," Thay-kun tersenyum. "Dugaanku ini belum yakin seratus persen, tapi aku percaya selisih juga tak jauh lagi."

Tiba-tiba Thio Kim-ciok berkata dengan suara dalam dan sangat berat, "Apakah kalian bersedia menyembuhkan penyakitku atau tidak, keputusan terserah kepada kalian sendiri dan aku pun tak bermaksud memaksakan kehendakku. Seperti apa yang dikatakan nona Thay-kun tadi, sekalipun dengan tubuh mengidap penyakit keracunan Hok-teng-ang, aku masih tetap mampu mengadu kepandaian dengan para jago persilatan itu. Tapi ada hal yang perlu kalian ketahui, di saat kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang terbasmi, maka persengketaan antara Hek-mo-ong dan diriku pun akan menjadi kiamatnya dunia persilatan."

Selesai mengucapkan perkataan itu tba-tiba Thio Kim-ciok berjalan keluar dari gardu itu, Hay Cing-cu, Siu-kiong dan Siu- go kedua orang dayangnya segera mengikut pula di belakangnya.

Saat itulah terdengar suara Thio Kim-ciok kembali berkumandang, "Saat kambuhnya penyakit yang kuderita sudah hampir tiba. Oleh sebab itu aku harus kembali ke dalam kamarku untuk beristirahat. Apabila kalian membutuhkan sesuatu, minta saja kepada kedua orang dayangku ini."

Habis berkata, dengan cepat Thio Kim-ciok berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Bong Thian-gak mengawasi bayangan Thio Kim-ciok lenyap di balik ruangan, kemudian ia berkata sambil menghela napas panjang, "Ai, persoalan dalam dunia persilatan memang penuh dengan intrik jahat dan tipu-muslihat yang amat keji, perubahan demi perubahan dapat berlangsung secara mendadak hingga susah diduga sebelumnya." Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya, "Sumoay, darimana kau bisa tahu bahwa antara Thio Kim-ciok dan Hek-mo-ong sebenarnya telah terjalin hubungan kerja- sama?"

"Bong-suheng, menurut pendapatmu, siapakah Hek-mo- ong?" Thay-kun bertanya.

Bong Thian-gak tertegun sejenak, lalu sahutnya, "Selain si tabib sakti Gi Jian-cau, masakah masih ada orang lain lagi?"

"Dugaanmu itu keliru besar," kata Thay-kun sambil menggeleng, "Tabib sakti hanya pembantu Hek-mo-ong."

"Lantas siapakah dia?" "Liu Khi."

"Liu Khi?" seru BongThian-gak dengan terperanjat. "Sumoay, apakah dugaanmu tidak salah?"

"Dari berbagai gejala dan persoalan yang kita jumpai, aku bisa menemukan petunjuk atau petanda yang menunjukkan bahwa Liu Khi merupakan Hek-mo-ong yang sesungguhnya?"

"Baik Thio Kim-ciok maupun Gi Jian-cau dan Liu Khi sama- sama merupakan orang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong, namun di antara mereka bertiga hanya seorang yang merupakan Hek-mo-ong sebenarnya dan orang ini tak lain adalah Liu Khi."

Bong Thian-gak mengerutkan dahi, selang sejenak kemudian baru bertanya, "Sumoay, bagaimana caramu membuktikan bahwa Liu Khi adalah Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

"Soal ini tak mungkin dapat kujelaskan seluruhnya kepadamu pada saat ini, apalagi yang penting aku hanya ingin memberitahukan kepadamu bahwa Liu Khi adalah Hek-mo- ong, sehingga kau pun bisa berhati-hati dan jangan sampai dipecundangi olehnya." "Apakah Thio Kim-ciok sudah mengetahui akan asal-usul yang sebenarnya dari Hek-mo-ong?"

"Thio Kim-ciok merupakan seorang yang sangat lihai, sekalipun dia sudah mengetahui siapakah Hek-mo-ong, namun masih saja berlagak seakan-akan tidak tahu. Ketika aku bertanya kepada Thio Kim-ciok tadi, apa sebabnya dia tidak secara langsung mencari Hek-mo-ong untuk membalas dendam, tujuannya tak lain adalah ingin mengetahui apakah Thio Kim-ciok sudah mengetahui Liu Khi pembunuh sebenarnya, tapi Thio Kim-ciok seakan-akan tidak tahu."

"Maka aku pun mulai menaruh curiga terhadap Thio Kim- ciok, kita harus mempertimbangkan masak-masak rencana Song Leng-hui menyembuhkan penyakit Thio Kim-ciok itu."

Bong Thian-gak segera manggut-manggut, katanya, "Apakah Sumoay menaruh curiga bahwa Thio Kim-ciok bersekongkol dengan Hek-mo-ong untuk membunuh kesepuluh tokoh persilatan itu?"

Thay-kun menggeleng.

"Mereka tidak berkomplot, sebaliknya Hek-mo-ong justru telah diperalat oleh Thio Kim-ciok."

"Kalau begitu Thio Kim-ciok benar-benar seorang licik dan banyak tipu-muslihatnya. Dari sini terbukti juga bahwa Thio Kim-ciok belum bisa menghilangkan rasa benci dan dendamnya terhadap kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan- hiang yang telah mencelakainya pada tiga puluh tahun berselang."

"Jelas Thio Kim-ciok memang berhasrat membunuh kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang," kata Thay- kun lebih jauh, "tapi di luaran, kematian Kui-kok Sianseng, Song-ciu dan Oh Ciong-hu serta Kulo Hwesio seakan-akan tewas di tangan Hek-mo-ong, padahal yang benar kematian mereka disebabkan oleh rencana busuk Thio Kim-ciok." "Ai, padahal cara yang digunakan Thio Kim-ciok untuk membalas dendam pun tidak dapat disalahkan, hanya saja yang mengerikan adalah kelicikannya itu dapat mencelakai umat persilatan di kemudian hari."

Tiba-tiba Song Leng-hui bertanya, "Enci Thay-kun, sebenarnya kita harus menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok atau tidak?"

Thay-kun termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian dia baru menyahut sambil menghela napas, "Kita harus membantu Thio Kim-ciok menyembuhkan penyakit yang dideritanya."

Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik kegelapan malam terdengar seorang berkata dengan suara dingin menyeramkan, "Bila kalian berani menolong Thio Kim-ciok, maka kalian akan mampus tanpa liang kubur."

Suara ancaman itu seakan-akan berkumandang dari kejauhan sana, tapi seperti juga berasal dari suatu tempat yang sangat dekat sekali.

Nada suara itu mengalun dan berputar-putar di tengah udara, sehingga membuat orang susah menentukan darimanakah suara itu berasal.

Bong Thian-gak segera membentak, "Siapa kau? Mengapa tidak segera menampakkan diri?"

"Aku adalah Hek-mo-ong yang asli," jawab suara itu tetap mengalun di tengah udara.

Baik Bong Thian-gak maupun Thay-kun dapat mengenali dengan segera bahwa suara itu adalah suara Hek-mo-ong, jauh berbeda dengan suara Hek-mo-ong yang dua kali telah mereka dengar sebelum ini.

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Apakah kau adalah Liu Khi?" "Aku adalah Hek-mo-ong, bukan Liu Khi," sahut suara itu sambil tertawa tergelak.

Mendadak terdengar Song Leng-hui menjerit, "Dia bersembunyi di atas gunung-gunungan."

Bong Thian-gak serta Thay-kun serentak mengalihkan sorot mata mereka ke arah gunung-gunungan yang berada di sisi kiri mereka setelah mendengar jeritan itu, benar saja secara lamat-lamat mereka saksikan sesosok bayangan muncul dan berdiri di atas gunung-gunungan itu.

Ketajaman mata Thay-kun serta Bong Thian-gak tidak diragukan, kendati mereka masih dapat membedakan dengan jelas bayangan orang yang berdiri di balik kegelapan itu, namun saat itu mereka justru tidak dapat membedakan secara jelas tinggi-rendahnya bayangan orang itu serta ciri-ciri lain yang dapat diingat.

Jelas bayangan orang yang berada di atas gunung- gunungan itu tercipta oleh ilmu menghilang dari In-heng-coat- kang yang merupakan kepandaian sakti.

Dengan menggerakkan sepasang bahu kiri dan kanannya hingga membuat seluruh badan tak pernah berhenti bergerak, maka pandangan orang lain tak akan bisa menangkap bentuk badan secara jelas.

Mendadak Thay-kun berteriak, "Adik Song, jangan dekati orang itu."

Tampak Song Leng-hui tengah mendekati gunung- gunungan itu.

Song Leng-hui menghentikan langkah, katanya sambil berpaling, "Cici, asalkan kita bisa mendekatinya, sudah pasti akan terlihat bentuk tubuhnya dengan lebih jelas."

"Hek-mo-ong justru mengharapkan kau maju ke depan seorang diri," kata Thay-kun memperingatkan. Baik Song Leng-hui maupun Bong Thian-gak keduanya mengerti apa yang dimaksudkan Thay-kun.

Dengan suatu gerakan yang amat cekatan sekali Bong Thian-gak segera melompat ke depan dan berdiri bersiap di samping Song Leng-hui.

Sambil tertawa Thay-kun segera berkata, "Asalkan kita bertiga maju dan mundur bersama, aku rasa kita tak usah takut lagi kepada Hek-mo-ong."

Hek-mo-ong yang berada di atas gunung-gunungan mendengus dingin sambil tertawa seram, katanya, "Aku sudah memperingatkan kalian, jangan menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok. Bila kalian tak mau menuruti nasehatku ini, kalian bertiga bakal mampus tanpa liang kubur."

Thay-kun tertawa cekikikan, "Sebetulnya kami tak punya rencana menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok, tapi setelah kau mengetahui rahasia Thio Kim-ciok yang sebenarnya, agaknya kami harus merubah rencana semula, sekarang kami harus menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok."

Hek-mo-ong kembali tertawa dingin, "Nasib Thio-kim-ciok telah ditetapkan akan berakhir sebelum kentongan kelima malam ini. Percaya atau tidak terserah pada kalian."

Satu ingatan segera melintas dalam benak Thay-kun, katanya, "Kalau begitu Thio Kim-ciok telah ditakdirkan mati sebelum kentongan keempat?"

Hek-mo-ong yang berada di atas gunung-gunungan segera tertawa dingin, "Bila takdir sudah menentukan bahwa Thio Kim-ciok hanya bisa hidup sampai kentongan keempat malam ini. Siapa yang bisa menolongnya?"

"Sumoay, adik Hui," kata Bong Thian-gak secara tiba-tiba dengan suara dalam, "sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengan Hek-mo-ong pada malam ini, bagaimana pun juga kita harus menyingkap tabir rahasia Hek-mo-ong ini sampai tuntas."

"Baik," sahut Thay-kun manggut-manggut "Mari kita menyerang bersama-sama."

Sambil bicara Thay-kun telah mendesak maju.

Begitu Thay-kun bergerak, Bong Thian-gak serta Song Leng-hui serentak maju pula mengikut di belakangnya.

Bong Thian-gak dengan pedang bambu di tangan tunggalnya berada di bagian tengah, sementara Thay-kun dan Song Leng-hui bergerak dari sisi kiri dan kanan.

Mereka bertiga maju secara bersama-sama secepat kilat, langsung menerjang ke arah gunung-gunungan.

Suara gelak tertawa yang amat keras bagaikan tangisan kuntilanak serta lolongan serigala di malam buta segera berkumandang.

Hek-mo-ong yang berada di atas gunung-gunungan bagaikan segulung asap tebal segera bergerak pula ke depan menyongsong kedatangan Bong Thian-gak.

Rupanya Hek-mo-ong telah memilih Bong Thian-gak sebagai sasaran pertama, kedua belah pihak sama-sama menerjang ke depan bagaikan sambaran petir, dalam waktu singkat tahu-tahu sudah saling berhadapan.

Agaknya Bong Thian-gak tidak menyangka Hek-mo-ong bakal menerjang ke arahnya. Baru menjumpai bayangan hitam berkelebat, Bong Thian-gak telah merasakan musuh berada di depan mata.

Dalam keadaan demikian, tiada kesempatan lagi bagi Bong Thian-gak untuk berpikir panjang, pedang bambu di tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan tusukan.

Jurus pedang yang digunakan adalah menyerang dari bawah menuju ke atas, kecepatan gerakannya luar biasa. Mungkin Hek-mo-ong sendiri pun tidak menyangka tenaga dalam Bong Thian-gak jauh lebih tangguh daripada apa yang diduga semula, bahkan begitu serangannya dilancarkan, segera terasa segulung angin serangan yang tajam dan kuat menyambar ke depan serasa menembus badan.

Akibat pancaran hawa serangan pedang yang kuat dan dahsyat itu, Hek-mo-ong segera kehilangan kesempatan menyerang musuh lebih dulu. Kesempatan yang lenyap untuk pertama kalinya selama hidupnya.

Dalam posisi demikian, mau tak mau dia harus menggerakkan tubuh menghindarkan diri dari serangan musuh, lalu dengan cepat mengeluarkan pukulan tengkoraknya yang amat cepat dan mengerikan itu.

Sejak melepaskan serangan pedang, mata Bong Thian-gak tak hentinya mengawasi gerak-gerik lawan tanpa berkedip, tiba-tiba ia merasa pandangan matanya menjadi kabur, lalu tubuh musuh yang meluncur datang dari tengah udara telah bergeser ke sebelah kiri. Tentu saja serangan pedangnya mengenai tempat kosong.

Pada saat inilah secara lamat-lamat Bong Thian-gak dapat melihat di balik ujung baju sebelah kanan Hek-mo-ong kosong melompong.

"Ah! Dia benar-benar seorang berlengan tunggal!" pekiknya dalam hati.

Bong Thian-gak segera melihat dari balik ujung baju kanan Hek-mo-ong yang kosong melompong itu telah meluncur keluar sebuah benda dan benda itu tak lain adalah sebuah tangan.

Tangan Tengkorak!

Sejak dahulu sampai sekarang, tangan tengkorak yang merupakan alat pembunuh Hek-mo-ong tak pernah meleset dari sasaran. Hal Ini disebabkan gerakan itu terlalu cepat, sedemikian cepalnya bagaikan sambaran petir saja.

Tubuh Bong Thian-gak mencelat ke tengah udara dan bagaikan sebuah layang-layang putus benang, tubuhnya segera jatuh terjerembab dari atas.

Robohnya Bong Thian-gak segera membangkitkan rasa sedih dan gusar Thay-kun serta Song Leng-hui, serentak mereka menerjang ke muka dari kiri dan kanan.

Dua gulung tenaga serangan yang tajam dan maha dahsyat segera meluncur ke muka dan menggencet tubuh Hek-mo-ong yang mnsih melambung di tengah udara.

Terdengar gelak tawa yang menyeramkan dan menggidikkan. Di tengah sapuan angin pukulan yang amat kencang, bayangan tubuh Hek-mo-ong melambung ke tengah udara dan melayang turun di atas gunung-gunungan.

Ketika Thay-kun dan Song Leng-hui bersama-sama melayang turun, tampak Bong Thian-gak yang masih sempoyongan berusaha bangkit dari atas tanah.

"Engkoh Gak, Suheng, bagaimana keadaanmu?" kedua orang gadis itu bertanya secara bersama.

Dengan wajah pucat-pias seperti mayat dan mengertak gigi, sahut Bong Thiang-gak, "Aku tidak apa-apa. Untung tidak melukai bagian mematikan, tak usah kuatir, aku tak bakal mati!"

Selama ini serangan tangan tengkorak maut Hek-mo-ong selalu mengarah jalan darah Sam-kan-hiat pada hulu hati dengan kecepatan tinggi dan ketepatan yang mengagumkan, belum pernah ada seorang jago silat pun yang dapat meloloskan diri dari ancaman yang mematikan ini.

Tapi sekarang Bong Thian-gak telah memecahkan kebiasaan itu, ia berhasil menghindari serangan musuh yang menghajar bagian lain dari badannya. Serangan tangan tengkorak Hek-mo-ong telah menghajar telak di atas dada bagian atas puting susu kirinya. Kendati Bong Thian-gak telah mengerahkan Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badan, namun kuatnya serangan musuh membuat ia menderita luka cukup parah.

Hawa murni segera tersebar kemana-mana, peredaran darahnya bergolak keras, dada terasa sakit dan pedas seperti terbakar bara api.

Thay-kun dan Song Leng-hui merasa gembira karena melihat Bong Thian-gak tidak roboh pingsan akibat serangan itu

Sebaliknya Hek-mo-ong justru merasa amat terkesiap.

Dengan jelas ia melihat pukulan tengkorak mautnya menghajar hulu hati musuh secara tepat dan telak, akan tetapi kenyataannya pihak musuh tidak roboh.

Padahal selama puluhan tahun malang-melintang di Kangouw belum pernah serangannya meleset, tapi kali ini dia harus menerima kegagalan itu.

"Hm," tiba-tiba Hek-mo-ong memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang rendah, berat dan menyeramkan, "Jian-ciat-suseng, sungguh tak kusangka kau dapat lolos dari tangan tengkorakku ini. Hm, sekalipun kau dapat menghindari serangan tengkorak maut yang pertama dengan selamat, apakah kau mampu menghindari serangan pukulan tengkorak maut yang kedua?'

Bong Thian-gak tertawa seram, bentaknya, "Hek-mo-ong, akan kucoba sekali lagi menerima pukulanmu itu."

Di tengah bentakan itu, Bong Thian-gak dengan pedang terhunus telah menerjang ke depan.