Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 08

 
Jilid 08

dari sini."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sebetulnya aku bersedia mengikuti kalian pergi dari sini, sayang aku masih ada urusan penting lainnya yang harus segera diselesaikan, hingga " "Kuanjurkan kepada saudara, lebih baik jangan mengikat tali permusuhan dengan Kay-pang!" bentak lelaki kekar itu dengan wajah membesi.

Tiba-tiba saja paras muka Bong Thian-gak berubah pula, dingin seperti es, ucapnya ketus, "Kalian tak akan mampu menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, kuanjurkan kepada kalian lebih baik cepat pulang saja, tak usah mencari penyakit buat diri sendiri."

Beberapa patah kata itu kontan membuat kedua orang Hiangcu itu naik darah.

Kedudukan Hiangcu dalam Kay-pang hanya sedikit di bawah Tongcu, merupakan orang ketiga yang berkuasa dalam perkumpulan, apalagi mereka adalah Hiangcu ruang hukuman, kekuasaan maupun kedudukannya tinggi sekali.

Lelaki berwajah bersih itu tertawa seram.

"Hehehe, mendengar perkataanmu itu, kami jadi tak tahu diri dan ingin sekali mengetahui apa yang menjadi modalmu hingga berani bersikap jumawa!"

Si nona bermuka jelek yang selama ini hanya diam saja, mendadak berkata, "Bukankah kalian berdua ingin mengajakku pergi? Baiklah, aku bersedia pergi bersama kalian."

Si jelek berpaling ke arah Keng-tim Suthay, kemudian berkati pelan, "Ibu, siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawa pula, putrimu merasa sudah sepantasnya mengikuti mereka untuk menerima hukuman, harap kau orang tua jangan kuatir."

Kemudian sambil berpaling ke arah kedua orang itu, dia berkata lagi, "Semua perbuatan itu merupakan tanggung- jawabku, mari kita pergi!" Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu punya firasat permainan apakah yang hendak dilakukan gadis bermuka jelek itu.

Namun berhubung perkembangan peristiwa itu telah mencapai keadaan seperti ini, tentu saja dia tak dapat menghalangi niatnya lagi.

Dalam hati dia hanya bisa berdoa secara diam-diam, "Semoga Thian mengampuni dosa-dosanya!"

Begitulah dua orang Hiangcu dari Kay-pang segera membawa nona bermuka jelek itu berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung mereka lenyap dari pandangan, Keng-tim Suthay menghela napas sedih, katanya, "Dosa! Dosa! Dendam berdarah ini makin lama semakin mendalam, tampaknya ikatan permusuhan ini tak bakal berakhir untuk selamanya."

"Semoga saja sejak kini hilang semua bukti-bukti nyata, kalau tidak, entah bagaimana akhirnya nanti?"

"Omitohud," bisik Keng-tim Suthay pelan, "Ko-siangkong, silakan duduk di dalam."

Bong Thian-gak dan Keng-tim Suthay masuk dan duduk di ruang dalam.

Saat itulah Keng-tim Suthay berkata, "Siangkong, apakah kau telah menyaksikan pertarungan itu?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Menjelang senja tadi, putrimu dikejar oleh tiga belas jago Kay-pang "

Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan bagaimana peristiwa pembunuhan itu terjadi.

Begitu selesai mendengar penuturan itu, Keng-tim Suthay menghela napas panjang dan berkata, "Ai, perbuatan yang dilakukan si jelek memang tugas yang dibebankan majikan kepada kami menyangkut keselamatan seluruh umat persilatan, apabila rahasia itu sampai dibocorkan anggota Kay- pang, bukan saja keselamatan jiwa majikan kami terancam bahaya, bahkan akan menyangkut keselamatan jiwa puluhan orang lainnya."

Bong Thian-gak terperanjat mendengar perkataan itu, katanya, "Apa maksud perkataanmu itu?"

"Di kemudian hari Siangkong bakal tahu dengan sendirinya, ai! Kekuatan Put-gwa-cin-kau saat ini mengancam keselamatan umat persilatan, kekuatan sembilan partai besar dunia persilatan pun sudah dipaksa musuh hingga berada dalam posisi tak mampu melawan lagi."

Keng-tim Suthay berhenti sejenak, lanjutnya pula, "Untuk menyelamatkan dunia persilatan dari berbagai pembunuhan itu, Put-gwa-cin-kau harus ditumpas sampai ke akar-akarnya dan untuk itu tampaknya hanya "

Berkata sampai di sini Keng-tim Suthay menutup mulut.

Makin mendengar Bong Thian-gak makin memahami akan suatu rahasia besar dunia persilatan, lekas dia bertanya, "Hanya apa? Mengapa Suthay tidak melanjutkan perkataanmu dengan terus-terang?"

Keng-tim Suthay memandang sekejap ke arah Bong Thian- gak, lalu ujarnya, "Siangkong adalah orang pandai, tentunya telah menduga garis besar duduknya persoalan bukan? Yang jelas sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul suatu organisasi baru yang berkekuatan besar."

"Ah! Mengapa aku belum mendengar persoalan ini," seru Bong Thian-gak dengan terperanjat. "Siapa yang memimpin perkumpulan baru ini? Apakah dia?"

Pada saat itulah dalam ruangan telah berjalan masuk si nona bermuka jelek itu, hanya kali ini dia muncul dengan pakaian bernoda darah dan peluh membasahi jidat. Bong Thian-gak maupun Keng-tim Suthay tahu apa yang telah diperbuat nona itu, kendatipun demikian dia tak tahan untuk tidak bertanya, "Nona, bagaimana caramu menghukum mereka?"

"Membantainya sampai mampus!" sahut nona itu dengan hambar.

Bong Thian-gak berkerut kening dan bergumam, "Korban yang mengenaskan nasibnya."

"Bila kita tidak melenyapkan mereka, pihak Kay-pang pasti akan mencari balas tiada hentinya."

"Apa sebabnya nona tak menyembunyikan diri sementara waktu?

"Si jelek, perkataan Ko-siangkong memang benar," sahut Keng-tim Suthay. "Untuk sementara waktu kau bersembunyi saja dalam kuil sembari menunggu petunjuk selanjutnya dari majikan."

Bong Thian-gak segera bangkit, kepada Keng-tim Suthay ia berkata, "Aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di sini, untuk sementara waktu mohon diri dahulu, tapi sebelum pergi bolehkah aku bertanya kepada Suthay, apakah kau mengetahui tempat tinggal majikan kalian?"

"Majikan pernah memberitahu kepada Pinni bahwa Put- gwa-cin-kau telah menurunkan perintah untuk membunuh Siangkong. Kini Siangkong menanyakan tempat kediaman majikan, apakah kau hendak mengantar diri ke mulut harimau?"

Paras muka Bong Thian-gak berubah serius, katanya dengan nada sungguh-sungguh, "Kini keselamatan jiwanya berada dalam bahaya, bagaimana pun juga aku harus melindunginya secara diam-diam." "Majikan telah dilindungi keselamatan jiwanya oleh empat orang jago lihai, aku pikir keselamatan jiwanya tidak terlampau berbahaya."

"Tapi lebih banyak yang melindunginya lebih baik?

Kehadiranku hanya akan mendatangkan keuntungan saja baginya?"

"Tapi jika sampai terjadi mengusik rumput mengejutkan ular, bagaimana?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, aku mendapat perintah melindungi keselamatan jiwanya, bagaimana pun juga aku harus berupaya dengan segala kemampuanku untuk melaksanakan tugasku sebaik-baiknya, andai aku harus mencari secara membuta, tindakan itu malahan akan mengusik rumput mengejutkan ular dan mempengaruhi situasi."

"Omitohud, tak nyana ketajaman lidah Siangkong tidak berada di bawah kepandaian ilmu silatmu," kata Keng-tim Suthay kewalahan.

bong Thian-gak tersenyum.

"Sungkan! Sungkan, harap Suthay utarakan dengan cepat!" "Kantor cabang Put-gwa-cin-kau didirikan di kota Kay-hong,

berada dalam sebuah kampung petani kecil, lebih kurang tiga puluh li di luar kota sebelah utara, kepala kampung tempat itu pun anggota Put-gwa t in-kau, apabila Siangkong ingin menyelundup ke dalam dusun itu, aku rasa hal ini jauh lebih sulit daripada mendaki langit."

"Terima kasih banyak atas petunjuk Suthay, sekali pun harus mendaki bukit golok atau menembus sarang naga gua harimau, aku akan tetap berupaya menyusup ke sana."

Kembali Keng-tim Suthay menghela napas panjang. "Ai, baiklah kalau Siangkong berkeras kepala, tampaknya Pinni harus menanggung resiko bakal ditegur majikan."

Sembari berkata, dari sakunya Keng-tim Suthay mengeluarkan sebatang panah pendek tanpa bulu.

Panah itu panjangnya cuma tiga inci dengan kepala panah terbuat dari emas murni, sementara batang panah berwarna hitam, agaknya terbuat dari kayu besi.

Di atas panah itu tertera banyak ukiran, hanya tidak diketahui ukiran apakah itu.

Sambil memegang panah kecil tak berbulu itu, Keng-tim Suthay berkata, "Panah kecil ini merupakan lencana Put-gwa- kim-ciam-leng dari Put-gwa-cin-kau, lencana itu melambangkan Cong-kaucu. Di dalam Put-gwa-cin-kau, orang yang mempunyai lencana panah emas ini pun hanya Ji-kaucu sampai Kiu-kaucu ditambah tiga orang komandan pasukan pengawal tanpa tanding."

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh, "Aku harap lencana emas ini kau simpan dengan sebaik-baiknya!"

Setelah menerima anak panah kecil itu, Bong Thian-gak berkata, "Apakah anak panah emas ini milik majikanmu?"

Keng-tim Suthay menggeleng, "Bukan!" sahutnya sambil tertawa.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak pemuda itu, katanya kemudian, "Kalau begitu, Suthay juga "

"Ya, dulu Pinni memang anggota Put-gwa-cin-kau, tapi sekarang bukan."

"Bolehkah aku tahu apa kedudukan Suthay dalam perkumpulan tempo hari?" "Pinni adalah seorang di antara tiga komandan pasukan pengawal tanpa tanding, ai! Kejadian sedih di masa lampau tak usah dibicarakan lagi."

Dalam diamnya Bong Thian-gak mengangguk, pikirnya pula,

"Sungguh tak kusangka dia pun salah seorang anggota Put- gwa-cin-kau, tampaknya pada waktu yang lampau dia mengalami suatu peristiwa yang amat memedihkan hatinya."

Berpikir sampai di situ, anak muda itu segera bertanya, "Tolong tanya Suthay, bagaimana caraku mempergunakan anak panah emas ini?"

"Kecuali terhadap dua belas orang pentolan Put-gwa-cin- kau, terhadap anggota perkumpulan yang lain kau boleh menggunakan lencana panah emas ini dan memberikan perintah kepada mereka."

"Dengan membawa lencana ini kau bisa masuk keluar di dalam perkampungan itu dengan leluasa."

"Terima kasih banyak, Suthay!"

Untuk kesekian kalinya Keng-tim Suthay memberi peringatan, "Ingat baik-baik, kedua belas pentolan Put-gwa- cin-kau itu saling mengenal wajah masing-masing, kau tak boleh membiarkan mereka tahu lencana panah emas ini!"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Aku pasti mempergunakannya dengan hati-hati," sahutnya.

Keng-tim Suthay mengangkat kepala dan termenung beberapa saat, kemudian berkata, "Harap Siangkong suka memperhatikan baik-baik, terutama terhadap Ji-kaucu, orang ini licik, berbahaya, kejam dan penuh dengan tipu daya, selain matanya tajam, dia pun gampang menaruh curiga terhadap seseorang, boleh dibilang dia merupakan manusia paling berbahaya di dunia ini, dengarkan baik-baik, Pinni akan mencoba melukiskan raut wajah orang itu."

"Suthay begitu menaruh perhatian kepadaku, sungguh membuat aku merasa berterima kasih sekali."

Keng-tim Suthay tersenyum.

"Di kemudian hari kita akan menjadi rekan seperjuangan dalam Bu-lim, harap Siangkong tak usah sungkan-sungkan lagi."

Setelah berhenti sejenak, sambungnya pula, "Ji-kaucu berusia lima puluh tahun, tapi dipandang dari luar, usianya seperti jauh lebih muda, berdandan seorang sastrawan dan gemar memakai jubah warna hijau, potongan badannya tinggi gagah seperti potongan seorang dewa. Yang menjadi ciri khas darinya, ia mempunyai sebuah tahi lalat berwarna hitam pada ekor alis mata sebelah kirinya, dia pun suka menggembol pedang tembaga hijau di pinggangnya."

"Dandanan semacam ini tidak sukar untuk dikenal," kata Bong Thian-gak.

"Tentang ilmu silat Ji-kaucu ini, kepandaian silatnya yang lihai adalah ilmu beracun yang membunuh orang tak nampak darah, bila bertemu dengannya, lebih baik jangan berdiri bertentangan dengan arah datangnya angin."

"Majikan kalian pernah menyinggung pula tentang berbahayanya Ji-kaucu ini, aku pasti akan bertindak menurut keadaan. Beruntung sekali aku telah bertemu dengan Suthay hari ini sehingga banyak rahasia Put-gwa-cin-kau yang berhasil kuketahui, umat persilatan pasti akan berterima kasih atas petunjuk Suthay ini."

"Aku minta kau jangan memberitahukan apa yang kita bicarakan hari ini kepada orang lain, tentunya Siangkong dapat menjaga rahasia secara baik-baik bukan?"

"Mengapa?"' "Ada satu hal mesti kau tahu, dalam gedung Bu-lim Bengcu terdapat mata-mata yang mendekam di situ, bahkan orang- orang Put-gwa-cin-kau menganggap Pinni sudah meninggal dunia sejak belasan tahun berselang. Apabila rahasia ini sampai terbongkar, sudah pasti pihak Put-gwa-cin-kau akan turun tangan membekuk semua jago, hal ini dapat mempengaruhi berpuluh-puluh jiwa jago berilmu tinggi."

Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, setelah itu katanya, "Hingga sekarang di dalam gedung Bu-lim Bengcu masih terdapat seorang mata-mata yang mendekam di situ, konon adalah Cap-go-kaucu. Apakah Suthay mengetahui asal- usul Cap-go-kaucu ini?"

"Sudah belasan tahun Pinni tak pernah mencampuri urusan perkumpulan, rahasia semacam itu hanya diketahui majikanku saja."

"Persoalan ini tak mungkin bisa ditunda-tunda lagi, aku ingin mohon diri sekarang juga."

"Apakah Siangkong tidak bersantap dulu? Bersantaplah sebelum pergi!"

"Terima kasih banyak, sampai bertemu lagi di lain kesempatan." Selesai berkata, dengan cepat pemuda ini berangkat meninggalkan kuil Nikoh itu.

Setelah keluar dari kuil, Bong Thian-gak menentukan arah tujuannya, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya buru-buru berangkat kembali ke gedung Bu-lim Bengcu.

Sementara Ho Put-ciang sekalian sudah menunggu di halaman tengah, mereka sedang menanti dengan perasaan sangat gelisah.

Orang-orang itu menjadi amat gembira setelah menyaksikan Bong Thian-gak muncul kembali dalam keadaan selamat. Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan segera bertanya, "Ko-heng, apakah menemukan sesuatu perkembangan baru?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Ya, tidak sia-sia perjalananku kali ini."

"Apa yang berhasil Ko-siauhiap temukan? Apakah kau dapat memberitahukan?"

Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng. "Aku telah berjanji kepada orang lain untuk tidak

membocorkan rahasia itu, harap saudara sekalian sudi

memaafkan, cuma kalian pun tak akan menanti terlalu lama."

"Sembilan hari lagi segala sesuatunya akan menjadi terang."

"Sebagai anggota persilatan, janji memang harus ditepati, kalau begitu Ko-siauhiap tak usah mempersoalkan itu."

"Sembilan hari lagi, dunia persilatan akan mengalami suatu perubahan yang amat pesat, sekarang aku harus melaksanakan tugas pertama yang dibebankan Ku-lo Sinceng sebelum ajal, yaitu melindungi keselamatan Jit-kaucu."

"Apakah kau telah berhasil menemukannya?" "Ya, aku telah berhasil menemukan jejaknya!"

"Jadi orang-orang Put-gwa-cin-kau belum meninggalkan kota Kay-yang?" tiba-tiba Thia Leng-juan berkata.

"Oya, hampir saja aku lupa memberi keterangan kepada kalian, dalam sembilan hari ini, pihak Put-gwa-cin-kau akan mendatangkan semua jago intinya ke kota Kay-hong, mungkin pertempuran akan segera berlangsung, kita harus bersiap menghadapi setiap perubahan."

"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau pandai dalam ilmu beracun dan membunuh orang tanpa wujud, kita harus berhati-hati terhadap orang Ini, jangan sampai dia berhasil menyelundup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu dan meracuni kita semua. Ciri muka Ji-kaucu adalah...:

Secara ringkas Bong Thian-gak melukiskan raut wajah maupun ciri khas Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau ini kepada para jago.

Setelah para jago dalam gedung Bu-lim Bengcu mendapat berita itu dari mulut Bong Thian-gak, mereka mulai melakukan persiapan menghadapi setiap perubahan yang bakal terjadi.

Sementara itu Bong Thian-gak sendiri sudah meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu berangkat ke tempat tujuan.

0oo0

Sebelah utara kota Kay-hong merupakan sebuah padang rumput, luasnya mencapai puluhan li, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Bong Thian-gak melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Kurang lebih setengah jam kemudian dia sudah menempuh perjalanan dua puluh li.

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Menurut keterangan Keng-tim Suthay, perkampungan itu terletak tiga puluh li di sebelah utara kota ini, berarti aku sudah makin mendekati sasaran."

Berpikir demikian, dia lantas mempertinggi kewaspadaan dan melanjutkan perjalanan ke depan.

Padang rumput yang liar kini telah menjadi sawah yang berpetak-petak, luasnya mencapai puluhan li.

Bong Thian-gak harus berjalan menelusuri jalan yang diapit ole hektaran sawah yang tiada batasnya, akhirnya dia menangkap titik-titi cahaya lampu di kejauhan sana.

Rupanya dia telah mendekati sebuah perkampungan deng bangunan yang berlapis-lapis. Sekeliling perkampungan itu dipagari dinding kayu besar ya amat tinggi, sepintas keadaan mirip sebuah benteng yang kokoh.

Bong Thian-gak segera memperlambat gerak tubuhnya, bebera kali lompatan saja dia sudah mencapai bawah dinding sebelah barat.

Setelah mendongakkan kepala dan memperhatikan sekej keadaan sekeliling tempat itu, tanpa menimbulkan sedikit suara pun menyelinap ke balik pagar yang tingginya mencapai satu depa lebih.

Mendadak segulung bayangan hitam dengan membawa bau busuk menerkam datang dengan kecepatan luar biasa, Bong Thian-gak sangat terkejut, dengan cepat dia memutar tubuh seperti gangsingan dan menyelinap, menanti dia membalikkan badan, pemuda itu terperanjat. 

Rupanya di hadapannya mendekam seekor serigala yang besarnya seperti anak kerbau, bulunya yang putih dengan sepasang mata berwarna hijavi sedang melotot gusarnya ke arahnya, dilihat dari gayanya, dia sedang bersiap melancarkan tubrukan kedua.

Selama hidup belum pernah Bong Thian-gak menyaksikan serigala sebesar itu, hatinya kontan bergidik, cepat dia memutar otak mencari suatu akal, pikirnya, "Kalau aku melarikan diri, pasti serigala itu akan menggonggong, sebaliknya kalau tidak pergi, bisa jadi serigala-serigala lain akan berdatangan dan semakin memusingkan kepala."

Baru saja ingatan itu melintas, serigala itu sudah menerjang datang lagi bagai segulung angin puyuh yang menderu-deru.

Bong Thian-gak menghindar, dia hanya sedikit menggeser bahu kirinya, lalu tangan kiri disodokkan ke atas, secara telak mencengkeram serigala itu, menyusul telapak tangan kanan diayunkan ke bawah melancarkan sebuah bacokan maut.

Ilmu silat Bong Thian-gak telah mencapai puncak kesempurnaan, cengkeraman ini dilakukan setajam bacokan pedang atau golok.

Seketika itu juga tulang leher serigala itu terbabat putus, apalagi ditambah bacokan telapak tangan kanannya, tak sempat bersuara lagi mampuslah serigala besar itu.

Selesai membinasakan serigala itu, Bong Thian-gak segera membuang bangkai serigala itu ke tengah sawah, kemudian melompat melewati tembok pekarangan, tanpa berhenti dia meluncur naik ke atas atap rumah.

Malam itu tak berbulan, hanya bintang bertaburan di angkasa membiaskan cahaya redup, namun bagi Bong Thian- gak yang bertenaga dalam sempurna, ia dapat menyaksikan pemandangan yang berada setengah li di sekeliling tempat itu.

Sambil mendekam di atas atap rumah Bong Thian-gak mencoba mengamati keadaan sekeliling sana.

Rupanya tempat itu merupakan sebuah perkampungan yang terdiri dari dua ratus orang kepala keluarga, kebanyakan merupakan rumah petani yang sederhana, hanya di sudut utara sana berdiri kokoh sebuah gedung yang sangat besar.

Satu-satunya keistimewaan dusun ini adalah setiap rumahnya teratur rapi dan bersih dengan jalan raya yang lebar, di tepi jalan tertanam pepohonan yang rindang, betul- betul sebuah perkampungan yang sangat nyaman.

Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan dari jalan raya dalam perkampungan bermunculan kawanan serigala melakukan perondaan kian-kemari, tampaknya serigala- serigala itu memang sengaja disebar di setiap sudut perkampungan sebagai penjaga. Terkesiap Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, diam- diam pikirnya, "Tak heran perkampungan petani ini tanpa seorang pun, rupanya mereka menggunakan serigala untuk melakukan perondaan malam."

Hampir saja Bong Thian-gak kehabisan daya setelah menyaksikan begitu banyak anjing serigala yang berkeliaran di sana, dia tak tahu dengan cara bagaimana dirinya harus menyelundup ke perkampungan petani itu.

Waktu itu baru menjelang malam, namun perkampungan petani yang amat luas itu tak nampak seorang pun yang berlalu-lalang, dari dua ratus kepala keluarga yang berdiam di situ, hanya beberapa rumah saja yang memancarkan cahaya.

Kembali Bong Thian-gak berpikir, "Kepala perkampungan tani ini mungkin berdiam dalam gedung yang megah itu, bila Jit-kaucu Thay-kun berada dalam perkampungan ini sudah pasti dia berada di dalam situ."

Berpikir demikian, dengan berhati-hati Bong Thian-gak melompat ke atas atap rumah dan bergerak menuju ke arah gedung megah di sebelah timur laut dengan gerakan hati-hati sekali.

Dia tahu betapa tajam daya penciuman serta pendengaran serigala-serigala itu, tubuhnya bergerak seperti burung walet dan secepat sambaran kilat meluncur ke muka tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Akhirnya dia berhasil melewati pengawasan kawanan serigala itu dan melayang turun di atas sebatang pohon Pek- yang yang berada di balik bangunan gedung megah itu.

Setibanya di atas pohon Pek-yang yang rimbun itu, sekali lagi Bong Thian-gak mengamati keadaan sekeliling tempat itu.

Di sekitar halaman bangunan itu tidak nampak seekor serigala pun, juga tak nampak orang melakukan perondaan, semua itu membuat Bong Thian-gak lega. Dia hanya takut terhadap serigala, namun tidak takut kepada para peronda.

Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan burung hantu Bong Thian-gak memusatkan segenap perhatian memeriksa keadaan di situ, siapa tahu dia menemukan sesuatu.

Mendadak dari kejauhan sana terdengar suara langkah kaki manusia yang berkumandang makin mendekat.

Dengan cepat Bong Thian-gak mendongakkan kepala.

Dari balik sebuah pintu gerbang, tampak dua orang berjubah hijau muncul dan berjalan ke arah pohon Pek-yang dimana Bong Thian-gak bersembunyi.

Dengan terkesiap anak muda itu berpikir, "Ah, jangan- jangan dia sudah mengetahui jejakku?"

Berpikir demikian, tanpa terasa dia meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Tampak kedua orang berjubah hijau itu berjalan menuju ke bawah pohon Pek-yang dan tiba-tiba berhenti.

Orang yang agak pendek sebelah kiri berdehem pelan, lalu dengan suara rendah, berat dan parau ia berkata, "Hay-heng, bukankah Ji-kaucu akan datang pada malam nanti?"

Mendengar nama Ji-kaucu, Bong Thian-gak berkesiap, segera pikirnya, "Ah, gembong iblis itu akan datang, betul- betul suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan, mungkin keadaan rada kurang beres."

Berpikir sampai di situ, orang she Hay itu menjawab agak dingin, "Angheng, Ji-kaucu memang seharusnya sampai di sini sejak kemarin malam."

"Hay-heng, tahukah kau bahwa kehadiran Ji-kaucu di kantor cabang kota Kay-hong ini menunjukkan duduk persoalan agak sedikit luar biasa?" kembali orang berjubah hijau she Ang itu bertanya.

"Ya, betul! Duduknya persoalan memang terasa agak luar biasa, kalau tidak, Ji-kaucu tak akan mengutus kita berdua untuk datang kemari tiga hari lebih awal!"

Orang she Ang itu tertawa kering, "Kita berdua adalah utusan pembuka jalan Ji-kaucu, setiap kali Ji-kaucu hendak berkunjung ke suatu tempat, kita berdualah yang selalu diutus melakukan penyelidikan terlebih dahulu keadaan di sekitar daerah kunjungannya, kebanggaan seperti ini sesungguhnya kita patut gembirakan."

Dari pembicaraan itu Bong Thian-gak segera tahu bahwa kedua orang ini adalah orang kepercayaan Ji-kaucu, menyaksikan cara mereka berjalan maupun bertingkah-laku, bisa diduga ilmu silat yang mereka miliki bukan kepandaian silat kelas dua.

Kenyataan itu membuat Bong Thian-gak semakin tak berani bertindak gegabah, bahkan untuk bernapas pun dia telah menggunakan ilmu Kui-si-hoat (ilmu bernapas kura-kura).

Tiba-tiba terdengar orang she Hay berkata kembali, "Sekali pun tugas yang dibebankan kepada kita merupakan suatu kebanggaan tersendiri, namun tanggung-jawabnya besar sekali, bahkan sedikit kesalahan pun tak boleh terjadi. Ketika kemari, sebenarnya aku merasa sedikit kurang tenang."

"Mengapa?"

"Mengapa? Tidakkah kau lihat, berapa banyak sudah pentolan dari tingkat lencana panah emas yang berdatangan ke gedung ini?"

"Kan baru Jit-kaucu, Liok-kaucu, Kiu-kaucu serta komandan pasukan pengawal tanpa tanding nomor dua!"

"Dari empat orang pentolan tingkat lencana panah emas yang telah hadir itu, tiga di antaranya adalah murid Cong- kaucu yang paling disayang, terutama sekali kedudukan Jit- kaucu, mereka sama-sama mempunyai kekuasaan besar."

"Hay-heng, keanehan apa yang terdapat di balik semua itu?" tanya orang she Ang itu keheranan.

Orang she Hay tertawa dingin, "Ehm, masa kau tak pernah mendengar pepatah mengatakan, 'Di atas sebuah bukit tak boleh dihuni sepasang harimau'? Baik Jit-kaucu maupun Ji- kaucu boleh dibilang sama-sama punya kekuasaan besar dalam Put-gwa-cin-kau, menurut pendapatmu, apa sebabnya Cong-kaucu mengirim mereka berdua ke satu tempat yang sama? Itulah sebabnya bisa kuduga di sini telah terjadi suatu peristiwa maha besar."

Orang she Ang termenung beberapa saat, lalu berkata, "Hay-heng, menurutmu, kekuasaan Jit-kaucu dan Ji-kaucu sama besarnya, tapi menurut pendapatku, kedudukan Ji-kaucu jauh lebih tinggi."

"Ah, kau ini tahu apa?" kata orang she Ang dingin.

Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh, "Ang-heng baru tiga tahun bergabung dengan perkumpulan kita, tentu saja kau tidak mengetahui rahasia besar Cong-kaucu kita itu."

"Rahasia besar apa?"

Tiba-tiba orang she Hay itu merendahkan suaranya dan berkata, "Ang-heng, aku bersedia memberitahu soal ini kepadamu, tapi jangan beritahukan lagi kepada orang lain."

"Tak usah kuatir Hay-heng, aku merasa amat cocok denganmu, bahkan kau sudah kuanggap sebagai saudara sendiri, masa aku bakal mengkhianati dirimu?"

"Kalau begitu kuberitahukan kepadamu, meski Jit-kaucu adalah anak angkat serta murid Cong-kaucu, padahal yang benar Jit-kaucu merupakan Suhu Cong-kaucu." Orang she Ang seperti terkejut sekali, segera tanyanya dengan perasaan tidak habis mengerti, "Hay-heng, kau bilang Jit-kaucu adalah guru Cong-kaucu? Atas dasar apa kau berkata demikian?"

"Sebab ilmu silat Cong-kaucu adalah atas ajaran Jit-kaucu," bisik mang she Hay. "Beberapa tahun berselang, aku pernah ditugaskan memikul tanggung-jawab sebagai komandan pasukan pengawal dari istana bagian dalam, itulah sebabnya aku mengetahui persoalan ini."

Ketika mendengar perkataan itu, dengan suara heran orang she Ang berseru, "Jadi kalau begitu ilmu silat Jit-kaucu masih jauh di atas kepandaian Cong-kaucu?"

Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulang- kali.

"Soal itu aku kurang tahu," sahutnya. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Ang-heng, oleh sebab itu hubungan Jit-kaucu dengan Cong-kaucu sesungguhnya sangat kacau, kendatipun dibilang kedudukan serta kekuasaan Jit- kaucu masih di bawah Ji-kaucu, namun karena Jit-kaucu mempunyai hubungan yang amat istimewa dengan Cong- kaucu maka atas dasar apa kau mengatakan kedudukan siapa lebih tinggi dari siapa?"

Mendadak orang she Ang merendahkan suaranya, sambil berbisik, "Hay-heng, menurut pendapatmu, kejadian apakah yang mungkin akan terjadi di sini?"

Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulang- kali.

"Aku kurang jelas dan tak berani memastikan. Pokoknya kita berdua harus melaksanakan tugas seperti apa yang diperintahkan Ji-kaucu, setia dan taat pada pekerjaan serta perintah." Bicara sampai di situ, dia mendongakkan kepala dan memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian melanjutkan, "Ang-heng, malam ini kau bertugas sampai tengah malam nanti, sedang tengah malam nanti sampai pagi adalah giliranku!"

”Ah, tanpa terasa setengah jam sudah kita lewatkan untuk berbincang-bincang. Hay-heng, silakan pergi beristirahat!"

"Silakan Ang-heng!" seru orang she Hay.

Sembari berkata, orang she Hay membalikkan badan dan masuk kembali ke dalam gedung.

Kini di bawah pohon Pek-yang tinggal lelaki berjubah hijau she Ang itu seorang.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian- gak, segera pikirnya, "Mengapa aku tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melenyapkan kedua orang ini lebih dulu."

Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, "Bila mereka dilenyapkan dan Ji-kaucu tiba kemari, bagaimana jadinya?"

Baru saja dia berpikir sampai di situ, mendadak orang she Ang itu sudah lenyap tak ketahuan kemana perginya.

Bong Thian-gak berkerut kening, pikirnya, "Ilmu silat orang ini sangat lihai, tak nyana gerak-geriknya sama sekali tak menimbulkan suara."

Untuk beberapa saat Bong Thian-gak duduk termangu di bawah pohon Pek-yang, selang tak lama dia baru mengeluarkan sebuah botol obat dan mengambil sebutir di antaranya, lalu dengan kukunya merobek kulit obat tadi, diletakkan di atas telapak tangan dan digosok-gosok sebentar, kemudian dioleskan ke wajah sendiri. Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat-pias itu mendadak berubah merah padam, usianya yang berumur sekitar dua puluh lima-enam tahun pun sekarang nampak sepuluh tahun lebih tua.

Ternyata isi botol obat itu adalah Pek-pian-gi-yong-wan (Pil perubah selaksa wajah) peninggalan Jian-bin-hu-li Ban Li-biau di masa lampau.

Pil obat semacam ini merupakan obat sangat mujarab, ketika Ban Li-biau dikejar umat persilatan di masa lampau, dengan mengandalkan pil penyaru muka inilah dia berhasil meloloskan diri dari pengejaran sehingga orang persilatan tak pernah menemukan dirinya. 

Selesai mengubah wajah, sementara itu Bong Thian-gak sudah melompat turun dari atas pohon Pek-yang.

Dia lantas berpikir, "Sekarang aku telah mengubah wajah, meski berjumpa orang yang kukenal, belum tentu mereka bisa mengenali diriku dengan gampang."

Karena berpendapat demikian, nyali Bong Thian-gak semakin besar, pertama-tama dia mengelilingi gedung itu satu lingkaran lebih dulu, kemudian melakukan penelitian terhadap setiap sudut halaman gedung itu.

Mendadak dari balik pintu halaman sebelah kiri Bong Thian- gak mendengar suara nyaring, dengan cekatan pemuda itu menyelinap di balik pepohonan dan menyembunyikan diri.

Tampak sesosok bayangan menerobos keluar dari balik jendela.

Di bawah cahaya bintang yang redup, dia dapat melihat orang itu seorang dayang berbaju biru.

Usia dayang itu antara tujuh-delapan belas tahun, dengan amat seksama dia memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kemudian berjalan menuju ke sebuah kebun bunga kecil di sebelah utara.

Bong Thian-gak merasa betapa mencurigakan gerak-gerik dayang itu, didorong perasaan ingin tahu, secara diam-diam dia menguntitnya.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna, tentu »a)a gerak-geriknya tidak diketahui pihak lawan.

Setelah masuk ke dalam kebun bunga, mendadak dayang berbaju bini itu duduk di atas gunung-gunungan sambil bertopang dagu, sementara sorot matanya dialihkan ke atas entah sedang memikirkan apa? Atau mungkin juga ia sedang menantikan seseorang?

Dengan sabar dan tenang Bong Thian-gak menunggu beberapa saat, ketika tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan, sebenarnya dia hendak berlalu dari sana.

Siapa tahu pada saat inilah dari balik kebun bunga muncul sesosok bayangan orang yang bergerak seperti sukma gentayangan.

Orang itu berjubah panjang berwarna hijau, berperawakan gemuk tapi kekar.

"Ah! Bukankah dia orang she Ang."

Ya, orang itu memang salah satu di antara dua petugas yang diutus Ji-kaucu dan tadi sedang berbincang-bincang di bawah pohon Pek-yang itu.

Orang she Ang itu langsung berjalan menuju ke arah dayang berbaju biru, ia berkata, "Cong-kaucu telah mengambil keputusan tak datang ke kota Kay-hong, yang datang adalah Ji-kaucu."

"Kapan Ji-kaucu sampai di sini?" "Seharusnya kemarin malam, tapi sampai sekarang belum nampak muncul di sini, mungkin malam nanti atau mungkin juga besok."

Tanya-jawab dilakukan kedua orang ini secara singkat, tapi jelas sebelumnya tidak saling menyapa, tampaknya kedua belah pihak sama-sama didesak oleh waktu.

Selesai mendengar tanya jawab itu, tergerak hati Bong Thian-gak, ia lantas berpikir, "Oh, rupanya orang she Ang ini seorang mata-mata! Tapi mata-mata siapa? Mungkinkah mata-mata yang dikirim oleh Jit-kaucu Thay-kun?"

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak jadi teringat perkataan yang pernah disampaikan Keng-tim Suthay kepadanya, "Di sekeliling Jit-kaucu terdapat banyak jago lihai yang melindungi keselamatannya."

Belum habis dia berpikir, dayang berbaju biru berkata, "Majikan bertanya, apakah keadaanmu aman?"

"Aman sekali," jawab orang she Ang, "Tolong sampaikan kepada majikan, katakan aku sudah dipergunakan oleh Ji- kaucu."

"Majikan berpesan, bila menjumpai sesuatu yang aneh, segera meloloskan diri, jangan melakukan pengorbanan sia- sia."

"Ehm, aku tahu, hubungan kita malam ini sampai di sini dulu." Dayang berbaju biru tak bicara lagi, mendadak ia bangkit dan siap berlalu dari situ.

Siapa tahu pada saat itu juga mendadak dari balik kebun bunga melompat keluar sesosok bayangan orang.

"Ah!" dengan terkejut dayang berbaju biru berteriak. Dengan cekatan orang she Ang pun membalikkan badan,

tapi segera pula ia tertegun pula.

Bong Thian-gak melihat pula kehadiran orang itu. Orang yang muncul dari balik kebun bunga itu berwajah dingin menyeramkan, dia adalah orang berjubah hijau she Hay itu. Dengan terkejut bercampur heran Bong Thian-gak membatin.

Dia menyadari apa gerangan yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu orang she Ang sudah tahu rahasianya terbongkar, dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

"Hahaha, belum tidur saudara," dengan senyum yang amat tenang orang she Ang itu menegur pelan.

Orang she Hay tertawa dingin. "Ang Teng-siu, aku sudah cukup liima menantikan kedatanganmu di sini."

Sembari berkata, selangkah demi selangkah orang she Hay itu menuju ke kebun dekat gunung-gunungan dan langsung menghampiri dayang berbaju biru serta orang she Ang itu.

"Hay Tiong-kim, kau terlalu menyiksa diri!" seru Ang Teng- siu sambil tertawa.

Hay Tiong-kim menarik wajah dan berkata dingin, "Siapakah dayang ini? Asal kau mau mengaku terus-terang, aku orang she Hay masih akan mengingat hubungan kita di masa lampau dengan memohonkan hukuman yang lebih ringan dari Ji-kaucu, kalau tidak, hm, malam ini kau Ang Teng- siu sudah ditakdirkan untuk mampus!"

"Siapa yang bakal mampus, saat ini masih sukar untuk diduga, lebih baik jangan bicara sembarangan," kata Ang Teng-siu tertawa.

Sambil berkata, seperti sambaran angin puyuh Ang Teng- siu menerjang ke arah Hay Tiong-kim.

Dengan cekatan Hay Tiong-kim bersiap melancarkan serangan httlasan.

Siapa tahu, pada saat itulah dari belakang tubuhnya berhembus datang segulung angin pukulan yang sangat kuat, Hay Tiong-kim segera merasakan isi perutnya hancur berantakan, tak sempat mendengus lagi tubuhnya mencelat ke depan dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Kebetulan sekali Ang Teng-siu juga sedang melancarkan serangan ke depan. "Duk!", bagaikan layang-layang putus benang, tubuh Hay Tiong-kim mencelat.

"Blam", debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, setelah Hay Tiong-kim tak pernah merangkak bangun lagi.

Kepandaian silat Ang Teng-siu memang lihai, begitu serangannya bersarang di tubuh Hay Tiong-kim, dia segera merasakan tubuh musuh bagaikan sesosok mayat saja, segulung tenaga perlawanan pun tidak ada.

Maka dengan cekatan dia menyelinap ke depan, kemudian membangunkan mayat Hay Tiong-kim itu.

Tampak darah kental mengucur dari tujuh lubang indra Hay Tiong-kim, jantungnya waktu itu sudah berhenti berdenyut.

Sementara itu dayang berbaju biru telah menerjang datang pula, melihat Hay Tiong-kim sudah tewas, ia berkata sambil menghela napas panjang, "Kepandaian silat Ang-tayhiap benar-benar luar biasa, malam ini sepasang mataku benar- benar terbuka."

Dengan wajah serius Ang Teng-siu bangkit, kemudian dengan sorot mata tajam bagaikan kilat dia mengawasi keadaan sekeliling tempat itu. Lama, lama kemudian, dia baru menghela napas panjang.

"Ai, Hay Tiong-kim bukan mati di tanganku," dia berkata. "Di dunia dewasa ini mungkin hanya majikan seorang yang memiliki tenaga pukulan sehebat itu dan mampu membinasakan musuh dalam sekali pukulan saja."

"Apa? Hay Tiong-kim bukan mati di tanganmu?" seru dayang berbaju biru itu terkejut. Ang Teng-siu menggeleng kepala berulang kali.

"Dengan kepandaian silat Hay Tiong-kim, tak mungkin aku orang she Ang sanggup membunuhnya dalam sekali ayunan tangan saja."

Paras dayang berbaju biru itu segera berubah hebat. "Tapi majikan "

"Kenapa dengan majikan?"

"Satu jam berselang majikan telah pergi bersama Kiu- kaucu!"

Sementara itu Bong Thian-gak yang bersembunyi pelan- pelan telah melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan maju menghampiri mereka.

Pandangan Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu serentak dialihkan ke wajah Bong Thian-gak dan menatapnya lekat-lekat.

Mendadak Bong Thian-gak berhenti, berhenti di hadapannya.

"Siapakah kau?" Ang Teng-siu menegur dengan suara rendah.

Bong Thian-gak mengangkat tangan kirinya, sekilas cahaya emas memancar keempat penjuru, tahu-tahu tangannya telah bertambah dengan sebilah anak panah kecil tanpa bulu.

Paras muka Ang Teng-siu berubah hebat, segera serunya dengan terkejut, "Ai, lencana Put-gwa-kim-ciam-leng!"

Dengan cepat Bong Thian-gak menyimpan kembali lencana panah emas itu ke dalam sakunya, kemudian berkata pelan, "Segala sesuatunya telah kusaksikan dengan jelas."

"Apakah kau komandan pasukan ketiga pengawal tanpa tanding?" Pertanyaan itu diajukan Ang Teng-siu dengan suara agak gemetar, sudah jelas dia dicekam perasaan takut.

"Ang Teng-siu!" ujar Bong Thian-gak kemudian. "Kalian tak usah takut, apa yang telah kusaksikan malam ini, tak akan kuberitahukan kepada orang kedua, tapi kalian pun jangan memberitahukan pihak ketiga kalau telah berjumpa denganku."

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.

Mendadak seru Ang Teng-siu, "Saudara, harap tunggu sebentar!"

"Masih ada urusan apa?" tanya Bong Thian-gak seraya berpaling.

"Tolong tanya, apakah Hay Tiong-kim tewas oleh pukulanmu?"

"Benar, oleh karena aku muak menyaksikan tingkah- lakunya, maka aku telah membunuhnya."

Ternyata Bong Thian-gak kuatir pertarungan antara Ang Teng-siu dan Hay Tiong-kim bisa mengejutkan orang lain, maka dia mengerahkan ilmu Tat-mo-khi-kang yang maha dahsyat, serangan itu kontan saja membuat isi perut Hay Tiong-kim hancur.

Ang Teng-siu segera menghembuskan napas lega, sesudah mengetahui Hay Tiong-kim tewas di tangan Bong Thian-gak, dia seperti lepas dari tindihan batu cadas seberat seribu kati.

Dengan hormat dia menjura dalam-dalam kepada Bong Thian-gak, lalu ujarnya, "Terima kasih banyak atas bantuan yang telah kau berikan kepadaku."

Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Bila Ji-kaucu datang nanti, bagaimana caramu menghadapinya?" "Itu soal gampang, asal kubuatkan suatu cerita yang seram lalu melenyapkan jenazah Hay Tiong-kim, urusan akan menjadi beres dengan sendirinya."

"Kalau memang begitu, kalian boleh segera bekerja!"

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, namun baru berjalan beberapa langkah, dia sudah membalikkan badan seraya berkata, "Cengcu berdiam dimana?"

"Di halaman lapis keempat, ada urusan apa kau mencarinya?"

"Baru saja aku kemari, sekarang aku membutuhkan suatu tempat untuk beristirahat."

Tergerak hati Ang Teng-siu mendengar perkataan itu, cepat dia berkata, "Kini Hay Tiong-kim sudah mati, bila kau tidak menaruh curiga, silakan menginap semalam di loteng itu."

"Di loteng itu, selain kau dan Hay Tiong-kim, masih ada siapa?"

"Hanya kami berdua!"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bagus sekali, kalau begitu aku jalan duluan!"

Dengan sepasang mata terbelalak lebar, Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu menyaksikan bayangan punggung Bong Thian-gak lenyap di ujung kebun sana.

Setelah bayangan pemuda itu hilang dari pandangan, dayang berbaju biru itu baru berkata lirih, "Ang-tayhiap, gerak-gerik orang ini amat mencurigakan, sebenarnya siapa orang ini?"

Ang Teng-siu menggeleng kepala berulang-kali. "Seandainya orang ini benar-benar merupakan salah satu

pentolan Put-gwa-cin-kau, sudah pasti dia Go-kaucu atau Su- kaucu, atau bisa jadi komandan pasukan ketiga pengawal tanpa tanding."

"Kalau dilihat dari tenaga serangannya yang dipakai untuk membunuh Hay Tiong-kim, sudah jelas dia menggunakan ilmu pukulan bertenaga dalam dahsyat. Orang ini berwajah biasa tapi kelihaian ilmu silatnya tak bisa ditandingi oleh kau maupun aku."

"Jika majikan sudah pulang nanti, cepat laporkan bentuk wajah orang itu untuk mendapat kepastian. Soal jenazah Hay Tiong-kim, biar aku saja yang mengurus."

Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu pun berpisah untuk melakukan pekerjaannya masing-masing.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menuju ke loteng seorang diri, lentera dalam ruangan belum padam, dalam ruangan yang besar nampak meja kursi lengkap, segala sesuatunya diatur sangat rajin dan bagus, kamar tidur berada di atas loteng dan terbagi dalam empat bilik tersendiri.

Bong Thian-gak memeriksa setiap bagian rumah itu secara seksama, dua di antaranya nampak bekas dipakai. Sementara dua ranjang lain masih tetap rapi dan rajin, selimut maupun seprei masih licin dan rapi.

Bong Thian-gak memilih kamar yang tak berlampu untuk tinggal di situ, mula-mula dia membuka daun jendela, kemudian menutup pintu dan duduk bersila sambil mengatur pernapasan.

Kurang lebih setengah jam kemudian dari atas loteng terdengar suara langkah kaki dan kemudian terdengar suara Ang Teng-siu bertanya, "Tuan, kau berdiam di kamar yang mana?"

"Ruang ketiga."

"Aku ingin berbicara denganmu," kembali Ang Teng-siu berkata dari luar ruangan. "Pintu kamar hanya dirapatkan, masuklah!"

Ang Teng-siu yang berada di luar pintu nampak agak sangsi, sesaat kemudian pelan-pelan dia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam dengan sepasang telapak tangannya disilangkan di depan dada.

"Apakah jenazah Hay Tiong-kim sudah kau bereskan?" "Seujung rambut pun tak tertinggal."

"Persoalan apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku?"

"Hamba ingin mengetahui nama dan kedudukanmu di dalam jiei kumpulan kita?"

”Tanyakan saja kepada Jit-kaucu, dia pasti tahu." "Ada satu hal yang tidak hamba ketahui, mengapa kau

membunuh Hay Tiong-kim? Andaikata peristiwa ini sampai

berhasil diselidiki Ji-kaucu "

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak menukas, "Lencana panah emas mempunyai kekuasaan menentukan hidup mati seseorang, atas dasar apa Ji-kaucu hendak mengurus tindakan ini?"

"Walaupun perkataanmu benar, tapi kau telah mengikat tali permusuhan pribadi dengan Ji-kaucu "

Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Bong Thian-gak bertanya, "Hei, coba dengar, suara apakah itu?"

Ang Teng-siu agak tertegun mendengar perkataan itu, katanya, "Ah, suara apa? Aku tidak mendengar suara apa pun."

Rupanya Bong Thian-gak telah menangkap serentetan suara irama musik yang berkumandang datang secara lamat- lamat dari kejauhan sana.

Suara musik itu ada tambur, gembrengan serta aneka macam alat musik lainnya, irama yang dibawakan juga irama yang aneh sekali, sedemikian anehnya hingga siapa pun yang mendengar seakan-akan tertidur.

Dalam pada itu Ang Teng-siu telah mendengar suara musik itu. Dengan paras muka berubah hebat ia menjerit kaget, "Ah, Ji-kaucu telah datang!"

Mendengar nama "Ji-kaucu", hati Bong Thian-gak bergetar keras, dia berkata, "Kau maksudkan Ji-kaucu telah datang?"

"Irama musik itu merupakan irama Im-siau-biau-hun-lok (Buaian awan sukma melayang) dari Ji-kaucu."

Bicara sampai di situ mendadak Ang Teng-siu seperti teringat akan sesuatu, dia segera berpikir, "Aneh, mengapa ia tidak memahami irama Im-siau-biau-hun-lok dari Ji-kaucu?"

Sementara itu walaupun Bong Thian-gak sudah menduga secara lamat-lamat Ang Teng-siu adalah komplotan Jit-kaucu Thay-kun, namun berhubung dia belum berjumpa dengan Thay-kun, maka ia tak bisa menerangkan identitas sendiri secara terang-terangan.

Dalam pada itu irama musik makin lama terdengar semakin jelas, tentu mereka sudah semakin dekat dengan perkampungan petani itu.

Tiba-tiba Ang Teng-siu bertanya lagi, "Sebenarnya siapa kau? Sebentar lagi Ji-kaucu akan tiba di sini, kita harus mencari akal untuk menghadapi keadaan ini."

"Siapakah aku, untuk sementara waktu tak usah kau urus, pokoknya aku sealiran dan setujuan denganmu."

"Sebentar lagi Ji-kaucu sudah sampai di perkampungan petani ini, apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku telah mempersiapkan segalanya bagi diriku sendiri, lebih baik kau mengerjakan saja pekerjaanmu."

"Kalau begitu aku harus pergi menyambut kedatangan Ji- kaucu." "Silakan pergi."

"Kau harus baik-baik menjaga diri."

Selesai berkata Ang Teng-siu membalik badan dan berjalan keluar ruangan, lalu turun dari loteng.

Bong Thian-gak sendiri masih tetap duduk bersila di atas pembaringan, sementara benaknya berputar, berusaha menemukan cara terbaik untuk menghadapi keadaan itu.

Tugasnya sekarang adalah melindungi keselamatan jiwa Jit- kaucu Thay-kun secara diam-diam, tapi sekarang Thay-kun tidak berada dalam perkampungan, apa yang harus dilakukan?

Pikir punya pikir, bagaikan sambaran angin berpusing Bong Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan menerobos keluar melalui jendela dan melayang ke atas atap rumah.

Bintang bertaburan di angkasa, udara malam itu amat bersih, tapi suasana hening mencekam seluruh perkampungan petani itu.

Waktu itu setiap rumah penduduk telah memasang lentera, kelihatan bayangan orang bergerak kian kemari.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, beberapa kali lompatan saja Bong Thian-gak telah sampai di depan pintu gerbang halaman muka dan membaurkan diri di antara kerumunan orang banyak.

Sementara itu suara musik yang sangat aneh dan membuai peiasaan itu sudah semakin mendekati tempat itu.

Akhirnya dari ujung jalan perkampungan muncul serombongan

Delapan orang pemusik berjubah panjang warna hijau dengan diiringi sebuah tandu besar yang megah dan mewah pelan-pelan berjalan mendekat, tandu itu sangat besar dan digotong oleh delapan orang berjubah panjang warna hijau pula. Bong Thian-gak berbaur dengan orang banyak dan menyaksikan gaya jumawa Ji-kaucu, diam-diam menyumpah dalam hati, "Keparat cucu kura-kura, pandai sekali dia mencari kenikmatan hidup."

Dalam waktu singkat tandu itu sudah berhenti di depan pintu gerbang, irama musik pengiring berhenti pula, seorang lelaki berjubah panjang warna hijau berseru dengan suara lantang, "Ji-kaucu tiba "

Ucapan terakhir sengaja ditarik panjang, suara yang nyaring berkumandang hingga sejauh sepuluh li lebih di tengah keheningan malam.

Semua serentak membungkukkan badan memberi hormat pada tandu besar itu sambil berseru, "Menyambut dengan hormat kedatangan Ji-kaucu!"

Bong Thian-gak yang mencampurkan diri di antara kerumunan orang ikut menundukkan kepala, pada kesempatan itu ia mendongakkan kepala dan menyapu sekejap ke arah orang-orang yang berada di sekitar sana.

Pada barisan depan dekat pintu gerbang berdiri seorang aneh berambut awut-awutan, di kiri-kanannya masing-masing berdiri dua orang berbaju perlente berkerudung.

Kecuali terhadap tiga orang yang dikenal Bong Thian-gak sebagai Liok-kaucu serta dua orang pengawal tanpa tanding, yang lain semuanya berwajah asing dan tak seorang pun yang dikenalnya.

Dalam arena tak nampak Jit-kaucu Thay-kun, Kiu-kaucu Ni Kiu-yu serta orang berkerudung berjubah hitam yang dikenal sebagai komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding.

Dari mulut dayang berbaju biru, Bong Thian-gak tahu Jit- kaucu serta Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan petani itu dan hingga kini belum pulang, tapi kemana pula perginya si orang berkerudung hitam? Sementara dia melamun, kain tirai tandu disingkap orang, lalu pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berbaju hijau.

Dia berwajah keren dengan jenggot sepanjang dada, sorot matanya tajam bagaikan sembilu, perawakan tubuhnya jangkung dan berwajah cerah, sekilas pandang siapa pun tak akan menduga dia seorang kakek berusia lima puluh sembilan tahun, karena wajahnya seperti jauh lebih muda sepuluh tahun.

Di bawah petunjuk Keng-tim Suthay, Bong Thian-gak sudah tahu ciri khas Ji-kaucu ini, betul juga pada ujung alis mata sebelah kirinya terdapat sebuah tahi lalat hitam, sebilah pedang antik tersoreng di pinggangnya.

Begitu dia turun dari tandu, Liok-kaucu maju menyambut kedatangannya sambil berbisik-bisik membicarakan sesuatu dengan suara amat lirih.

Kemudian Ji-kaucu mendongakkan kepala dan memandang wajah semua orang sekejap, mendadak dia bertanya, "Mana Jit-kaucu, Kiu-kaucu dan komandan Siau?"

Sementara itu Ang Teng-siu dan seorang lelaki setengah umur berdandan petani telah maju menyambut ke depan.

Lelaki setengah umur berdandan petani itu berkata lebih dulu, ”Lapor Ji-kaucu, komandan Siau masih berbaring di ranjang untuk merawat luka-lukanya, oleh sebab itu dia tidak dapat menyambut kedatangan Ji-kaucu. Sedangkan Jit-kaucu dan Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan satu jam yang lalu untuk menyelesaikan suatu persoalan."

Ji-kaucu memandang sekejap petani itu, kemudian bertanya, "Mungkin kaukah kepala kantor cabang kota Kay- hong, Ki Su-teng?"

"Benar, hamba adalah Ki Su-teng!" jawab lelaki setengah umur berdandan petani dengan hormat. Ji-kaucu mengulap tangan menitahkan dia mundur, kemudian rombongan pun meneruskan perjalanannya masuk ke halaman tengah.

Bong Thian-gak kuatir jejaknya ketahuan lawan, dia tak berani membuntuti masuk ke dalam, secara diam-diam dia menyelinap ke halaman belakang.

Sementara dia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Mendadak dari balik kegelapan sana muncul sesosok bayangan kecil mungil, sambil berjalan mendekat katanya dengan suara merdu,

"Siangkong, payah amat, kucari dirimu kemana-mana."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala, ternyata gadis yang berjalan mendekat itu adalah si dayang berbaju biru yang dijumpainya dalam kebun tadi.

Waktu itu tubuhnya basah oleh peluh, napasnya tersengal- sengal dan wajahnya nampak tegang.

"Ada urusan apa?" Bong Thian-gak segera bertanya. Mendadak dayang berbaju biru itu menarik tangan kiri Bong

Thian-gak sambil berujar, "Ayo cepat sedikit, tempat ini bukan tempat untuk berbincang-bincang."

Ia mengajak Bong Thian-gak berlalu dari situ dengan langkah amat cepat, dalam waktu singkat mereka sudah melalui dua lapis halaman yang sangat lebar dan tiba di sebuah bangunan mungil di sisi kebun bunga.

Dari dalam bangunan mungil itu nampak cahaya lentera memancar keluar, dua sosok bayangan orang tertera jelas di balik jendela.

"Siangkong tiba " kata dayang berbaju biru.

Sembari berkata dia mendorong pintu, lalu bersama Bong Thian-gak masuk ke dalam ruangan. Bong Thian-gak tahu satu di antara kedua sosok bayangan itu adalah Jit-kaucu Thay-kun, maka dia masuk ke kamar baca dengan langkah cepat.

Betul juga, Jit-kaucu Thay-kun sedang duduk dekat jendela bersama seorang dayang berbaju biru.

Waktu itu Thay-kun sedang bermuram durja, sepasang alis matanya bekernyit, sorot matanya memancarkan sinar pedih.

Ketika Thay-kun melihat paras muka Bong Thian-gak, dia nampak agak tertegun, kemudian katanya, ”Dandananmu sekarang benar-benar jelek dan amat tak sedap dilihat."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Bagaimana pun aku menyaru, nampaknya tak pernah lolos dari ketajaman matamu!"

"Tadi He Hong melaporkan kejadian itu kepadaku, sudah kuduga pasti kau yang datang, ayo cepat duduk!"

Bong Thian-gak tahu, yang dimaksud sebagai He Hong pastilah si dayang yang membawanya kemari barusan.

Dia mencari sebuah kursi, lalu duduk, katanya pelan, "Ji- kaucu lelah datang!"

Thay-kun tertawa getir.

"Duduknya persoalan sudah jelas sekarang, Ji-kaucu sengaja diutus untuk menghadapi diriku."

"Apa maksudmu berkata demikian?" Jit-kaucu Thay-kun menghela napas sedih.

"Ai, Cong-kaucu tahu Ji-kaucu merupakan satu-satunya orang yang bisa menandingi diriku, ai! Aku sama sekali tidak menduga Ji-kaucu bisa begitu cepat muncul di kota Kay- hong." "Aku mendapat pesan terakhir dari Ku-lo untuk melindungimu, aku bersumpah akan melaksanakan perintah ini dengan sebaik-baiknya," kata Bong Thian-gak nyaring.

"Sekali pun Ji-kaucu memiliki tiga kepala enam lengan, aku tetap bertekad untuk bertarung sampai titik darah penghabisan dengannya."

"Kemampuan Ji-kaucu sedikit sekali yang kau ketahui, padahal menurut taktik ilmu pertempuran dikatakan, 'Tahu kekuatan sendiri labu kekuatan lawan, setiap pertarungan tentu akan menang'. Ai, seandainya malam nanti terjadi sesuatu yang luar biasa. Keng-tim Suthay dapat menyampaikan segala sesuatunya kepadamu."

"Barusan aku suruh He Hong mengundangmu kemari, maksudku lak lain adalah ingin menyuruh kau meninggalkan perkampungan ini secepatnya, selama hidup aku belum pernah memohon bantuan kepada orang lain, sekarang aku ingin memohon kepadamu, bersediakah kau menuruti perkataanku?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak tertawa.

"Aku pun belum pernah memohon kepada orang lain, tapi sekarang aku sangat berharap kau sudi mengizinkan diriku untuk mendampingimu, bersediakah kau?"

Tiba-tiba sepasang biji mata Jit-kaucu Thay-kun berkaca- kaca, hampir saja titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan sedih dia berkata, "Bila demikian, maka hanya jalan kematian saja yang akan kau peroleh, bila kau dan aku mati masih tidak menjadi masalah, tapi kalau sampai beribu- ribu umat persilatan diperbudak selamanya oleh orang Put- gwa-cin-kau ... Suheng, selama bukit tetap hijau, tak usah takut kehabisan kayu bakar, pergilah kau!"

"Mengapa kita tidak pergi bersama-sama?" kata Bong Thian-gak dengan cepat. "Aku ingin melanjutkan cita-cita Ku-lo Sinceng melenyapkan Ji-kaucu dari muka bumi."

"Bila Ji-kaucu mati bersamamu, lalu siapa yang akan melenyapkan Cong-kaucu dari muka bumi?"

Jit-kaucu termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya setelah menghela napas panjang, "Ai, kalau begitu, aku akan membeberkan segala sesuatu mengenai Ji-kaucu."

Baru saja berbicara sampai di situ, dia berhenti sejenak sambil berkata dengan gelisah, "Mereka telah datang."

Sembari berkata telapak tangannya segera diayunkan ke depan, serentak api lilin dipadamkan.

Bong Thian-gak sudah beberapa kali bertemu Jit-kaucu Thay-kun, tapi setiap saat dia selalu bersikap tenang bila menghadapi persoalan, selamanya belum pernah menunjukkan kepanikan serta ketegangan seperti apa yang diperlihatkan sekarang, mungkinkah Ji-kaucu benar-benar lihai?

Belum habis ingatan itu melintas, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara rendah, "Ji-kaucu tiba!"

"Sumoay, bagaimana dengan diriku?" Bong Thian-gak berseru dengan cepat.

"Tetap tinggal di sini dan jangan sembarangan bergerak, mereka masih belum mengetahui kehadiranmu dalam perkampungan petani ini."

"Andaikata pertempuran sampai berkobar, kehadiranku di sini pasti di luar dugaan orang."

"Suheng, kau harus ingat, bahwa sekujur tubuh Ji-kaucu penuh dengan racun keji, dia dapat melukai orang tanpa wujud." Selesai berkata, dia bersama kedua orang dayangnya segera beranjak dari tempat duduk.

"Kalian hendak kemana?" Bong Thian-gak bertanya. "Kami hendak keluar menyambut kedatangan Ji-kaucu."

Begitulah, Jit-kaucu Thay-kun diiringi kedua dayang di kiri dan kanan pelan-pelan berjalan keluar ruangan itu.

Dengan cepat Bong Thian-gak menyelinap ke bawah jendela, kemudian mengintip melewati celah-celah jendela.

Bayangan orang nampak bermunculan di luar pintu, dua puluhan orang mengiringi sebuah tandu yang amat besar.

Jit-kaucu Thay-kun berdiri menanti di depan halaman.

Ketika sampai di depan pintu gerbang, tandu besar itu baru berhenti, sementara dua puluhan orang yang berada di sekelilingnya menyebar ke kiri dan kanan membuat setengah lingkaran.