Pendekar Cacad (10 Tokoh Persilatan) Jilid 02

 
Jilid 02

Ketika kartu merah itu dibuka, tertulis di situ tiga huruf yang sangat besar, berbunyi: "PERINTAH MENGUSIR TAMU".

Kemudian di bawahnya tercantum sederet tulisan yang berbunyi: "Diperingatkan kepada saudara agar meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu sebelum senja hari ini atau nyawamu tak akan selamat sampai besok kentongan kelima".

Bong Thian-gak tidak menyangka pihak musuh mencari gara-gara padanya, bahkan bersikap terang-terangan semacam ini. ,

Dilihat dari kemunculan kartu merah itu, dapatlah disimpulkan bukan saja pihak musuh telah menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, bahkan sempat berakar di situ, kalau tidak, mustahil mereka berani bersikap menantang seperti ini.

Lama Bong Thian-gak termenung, akhirnya dia memutuskan untuk merahasiakan peristiwa kartu merah itu, pemuda yang keras kepala ini ingin tahu sampai dimana keberanian musuh menghadapinya.

Mendadak dari luar ruangan berkumandang suara langkah kaki, buru-buru Bong Thian-gak menyembunyikan kartu merah itu ke dalam sakunya.

Dari luar pintu segera terdengar seseorang menyapa dengan suara lembut, "Ko-siangkong, sudah bangunkah kau?" Pintu kamar dibuka, muncul seorang dayang berbaju hijau berusia lima-enam belas tahun.

Bong Thian-gak segera mengamati wajah dayang itu dengan seksama, ia segera mengenalinya sebagai salah seorang di antara empat bocah perempuan yang khusus melayani kebutuhan Suhunya pada tujuh tahun lalu, bernama Siau Kiok.

Kini ia telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dengan tubuh ramping dan tinggi, berkulit putih bersih dan sangat menawan.

Dayang berbaju hijau itu nampak agak terperanjat setelah mengetahui Bong Thian-gak sedang mengamatinya lekat- lekat, buru-buru dia menegur, "Siangkong, ada apa?"

"Ah, tidak apa-apa," Bong Thian-gak menggeleng. "Oya, betul, siapa namamu?"

Dayang itu tersenyum manis, "Aku bernama Siau Kiok, panggil saja namaku!"

"Ehm, bagus sekali, aku akan memanggilmu Siau Kiok, kapan kau masuk kemari dan membersihkan ruangan ini?"

"Kurang lebih dua jam berselang, aku lihat Siangkong masih tertidur nyenyak, maka tak berani kubangunkan dirimu."

Siau Kiok seperti tidak merasa takut terhadap wajah Bong Thian-gak yang kuning penyakitan serta kakinya yang pincang itu, justru menaruh rasa iba dan kasihan.

Bong Thian-gak termenung sesaat, lalu katanya, "Selanjutnya kau tidak usah membersihkan kamarku sepagi ini, sebab bagi kami yang biasa hidup malam, seringkali baru naik ke tempat tidur menjelang pagi."

"Siangkong, aku telah menyiapkan air untukmu, silakan membersihkan muka dan kemudian bersantap." Bong Thian-gak manggut-manggut, "Pelayananmu sangat teliti dan menyenangkan, entah bagaimana caraku menyatakan rasa terima kasih kepadamu."

Mendadak Siau Kiok mengedipkan sepasang matanya yang jeli dan memandang wajah Bong Thian-gak sekejap, kemudian katanya, "Siangkong, sebagai seorang jagoan berilmu tinggi, kau tidak nampak sombong, jumawa dan takabur seperti kebanyakan jago lain, sebaliknya sikapmu begitu merendah dan sopan, benar-benar seorang jagoan tulen."

Bong Thian-gak tersenyum, "Darimana kau tahu ilmu silatku sangat tinggi?"

"Ruang khusus dalam gedung Bu-lim Bengcu ini hanya khusus disediakan untuk para jago persilatan yang berilmu tinggi, terutama bangunan loteng di sebelah timur dan barat, biasanya khusus disediakan bagi tamu agung."

"Wah, kalau begitu kau pun khusus disediakan untuk melayani kebutuhan tamu agung?" goda sang pemuda sambil tertawa.

Siau Kiok menunduk kemalu-maluan, bisiknya sambil tertawa, "Ah, Siangkong pandai menggoda!"

"Siau Kiok, kau pandai bersilat?" tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya.

Siau Kiok mengangguk.

"Siocia pernah mengajarkan beberapa jurus silat kepadaku."

"Bukankah kau melayani Oh-bengcu?"

Bicara sampai di situ, pemuda itu baru sadar kalau sudah salah bicara.

Ternyata Siau Kiok cukup cermat, dengan cepat dia balik bertanya, "Darimana Siangkong tahu aku adalah dayang yang khusus melayani Loya?" "Beberapa tahun berselang, ketika menyambangi Oh- bengcu, aku seperti pernah melihat kau sebagai salah seorang di antara empat bocah perempuan yang melayani Oh-bengcu."

"Siangkong memiliki ketajaman mata yang mengagumkan," puji Siau Kiok setelah mengamati wajah Bong Thian-gak beberapa saat lamanya. "Walaupun hanya bertemu sekilas, apalagi sudah lewat beberapa tahun, ternyata kau masih dapat mengingatnya dengan jelas, benar-benar luar biasa!"

Bong Thian-gak kembali tertawa, "Ya, aku memang mempunyai kemampuan khusus untuk mengingat setiap wajah yang pernah kujumpai, apalagi terhadap raut wajah mungil, cantik dan menarik seperti kau, mana mungkin aku bisa melupakannya?"

Diumpak seperti itu oleh Bong Thian-gak, Siau Kiok menjadi senang setengah mati, buru-buru dia berkata, "Ah, Siangkong memang pandai bergurau. Ketika berjumpa dengan Siangkong tadi, aku pun seperti merasa pernah berjumpa, namun tak bisa kuingat kembali dimanakah kita pernah bersua!"

Setelah berhenti sejenak, dia baru berkata agak kaget, "Ah, aku mengajak Siangkong mengobrol terus, hampir saja lupa Siangkong belum sarapan!"

Dengan cepat dayang itu mengundurkan diri dari ruangan.

Memandang bayangan punggungnya lenyap di balik pintu, Bong

Thian-gak kembali berpikir, "Heran, siapa sebenarnya yang mengantar kartu merah itu untukku? Mungkinkah Siau Kiok? Akan tetapi selain Siau Kiok, siapa lagi yang dapat memasuki loteng ini? Ah, buat apa mesti memikirkannya, malam ini aku memang hendak menanti kedatangan musuh? Kecuali dia tak datang, kalau tidak ... hm, jangan harap dia bisa lolos dari cengkeramanku!"

Dengan perhitungan yang meyakinkan, Bong Thian-gak mulai mempersiapkan diri. Hari itu sepanjang waktu Bong Thian-gak mengurung diri dalam loteng itu, dia hanya mengawasi kamar tempat tinggal Kongsun Phu-ki lewat jendelanya.

Hari itu tampaknya Kongsun Phu-ki juga seperti tak pernah pergi keluar, sedang para jago yang tinggal di kamar lain pun tak ada yang keluar.

Bong Thian-gak dapat menyaksikan pula Toa-suhengnya, Ho Put-ciang dan Ji-suhengnya, Yu Heng-sui, mengunjungi Ku-lo Hwesio di loteng sebelah timur pada tengah hari, kemudian mereka baru berlalu menjelang sore.

Penjagaan di sekitar gedung Bu-lim Bengcu pun tampak jauh lebih kendor, terutama di sekeliling ruangan itu, boleh dibilang tak nampak seorang pengawal pun.

Matahari tenggelam di langit barat, senja pun menjelang tiba, Bong Thian-gak berdiri di tepi pagar loteng sambil memandang sinar sang surya di kejauhan, mendadak ia teringat akan pesan yang ditulis dalam kartu merah tadi pagi.

"Diperingatkan kepada saudara untuk meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu sebelum senja hari ini atau nyawamu tak akan melewati kentongan kelima".

Tanpa terasa Bong Thian-gak mulai meningkatkan kewaspadaan, dia berpikir, "Tak mungkin musuh menyerangku secara terang-terangan, besar kemungkinan mereka akan mencelakai diriku menggunakan segala tipu muslihat licik."

Bong Thian-gak memerintahkan Siau Kiok agar mengundurkan diri sejak tadi, bahkan berpesan kepadanya agar balik lagi ke situ besok pagi.

Biasanya para pelayan perempuan baru boleh meninggalkan tempat tugas masing-masing menjelang tengah malam.

Langit semakin gelap, angin berhembus kencang, terasa makin dingin, akhirnya malam pun tiba. Bong Thian-gak memasang lentera, lalu turun dari loteng dan berjalan-jalan di halaman luar, tampaknya seperti mencari angin, padahal sedang mengawasi para jagoan.

Mendadak ia menyaksikan Kongsun Phu-ki berjalan keluar dari kamarnya, dia mengenakan jubah berwarna putih yang masih baru, nampaknya seperti akan keluar rumah.

Bong Thian-gak mendapat tugas mengawasi dan melindungi keselamatan Kongsun Phu-ki, karena itu dengan cepat ia melakukan penguntitan.

Betul juga, Kongsun Phu-ki memang keluar rumah, dia langsung berjalan keluar dari pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu.

Sudah cukup lama Bong Thian-gak tinggal di kota Kay- hong, boleh dibilang jalanan di situ sangat dikenal olehnya, jalan besar lorong kecil tak sebuah pun yang tak dikenal, maka dalam penguntitan itu ia bertindak amat hati-hati.

Ia cukup tahu Kongsun Phu-ki termasyhur karena kecerdasannya, itulah sebabnya ia harus bertindak cermat agar jejaknya tak ketahuan.

Suasana di kota Kay-hong menjelang senja sangat ramai, banyak orang berlalu-lalang di jalanan.

Tampaknya Kongsun Phu-ki seperti mempunyai tujuan tertentu, langkahnya tetap dan tak pernah berhenti, ternyata dia langsung menuju ke arah jalanan dimana terletak tempat hiburan malam.

Dengan kening berkerut, Bong Thian-gak berpikir, "Ah, masa tua bangka ini hendak berbuat iseng dengan perempuan penghibur."

Ternyata jalanan itu panjangnya setengah li dan merupakan pusat hiburan malam kota Kay-hong, di sepanjang jalanan itu terdapat tiga puluhan rumah pelacuran. Bunyi musik, suara tertawa bergema dari sana sini, suasana benar- benar amat romantis.

Sejak kecil sampai dewasa belum pernah Bong Thian-gak mengunjungi tempat hiburan semacam ini, tanpa terasa dia menjadi ragu dan kemudian berhenti.

Saat itulah Kongsun Phu-ki telah melewati desakan orang banyak dan hampir lenyap dari pandangan matanya.

Berada dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus mengeraskan hati melanjutkan pengejarannya.

Ucapan cabul, pelukan hangat membuat Bong Thian-gak benar-benar merasa amat rikuh, tapi akhirnya dia berhasil juga melalui rumah-rumah pelacuran kelas rendah itu dan sampai di depan sarang pelacuran kelas menengah.

Bong Thian-gak segera berpikir kembali, "Tak nyana tua bangka itu pandai memilih, mau bermain iseng pun mencari yang kelas tinggi."

Belum habis ingatan itu melintas, Kongsun Phu-ki telah berhenti di depan sebuah gedung pelacuran yang sangat besar.

Bong Thian-gak segera bertindak cekatan, dengan cepat dia segera menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri di balik kerumunan orang banyak.

Benar saja, Kongsun Phu-ki segera celingukan memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru melangkah masuk ke dalam gedung pelacuran itu.

Di bawah sinar lentera yang berwarna-warni, Bong Thian- gak mengenali tempat itu sebagai rumah pelacuran "Kang- san-bi-jin-lau".

Sebagai penduduk lama kota Kay-hong, tentu saja pemuda itu tahu bahwa rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau ini merupakan sarang pelacur terbesar di kota itu. Semua penghuni gedung itu selain berwajah cantik jelita, mereka pun pandai memetik harpa dan membawakan tarian serta nyanyian, bahkan ada pula yang pandai bersyair sehingga mutunya boleh dibilang terjamin.

Bong Thian-gak tak berani memasuki gedung itu dan terpaksa dia menanti saja di luar, selain kuatir ketahuan jejaknya oleh Kongsun Phu-ki, dia pun merasa tidak tertarik dengan hiburan semacam itu.

Di tengah alunan bunyi musik yang diselingi gelak tawa cekikikan, Bong Thian-gak merasa kehidupan semacam ini benar-benar memuakkan dan menjemukan.

Malam semakin larut, tamu yang mengunjungi rumah pelacuran ini pun kian lama kian bertambah sedikit.

Seorang demi seorang pencari hiburan pulang dalam keadaan mabuk dan berjalannya pun sempoyongan!

Bong Thian-gak melototkan mata melakukan pengawasan, namun dari sekian banyak tamu yang beranjak pulang, hanya Kongsun Phu-ki seorang yang belum juga nampak batang hidungnya.

Tanpa terasa pemuda itu menyumpah dalam hati, "Sialan betul si kunyuk tua itu, benar-benar tak tahu diri, sepagi itu dia masuk ke dalam, masa sampai sekarang belum juga keluar? Jangan-jangan ia sudah mampus dijepit paha perempuan."

Sambil menggerutu Bong Thian-gak menunggu lagi beberapa jam, kini tengah malam sudah lewat.

Tapi aneh, belum nampak juga Kongsun Phu-ki muncul dari gedung pelacuran itu.

Biasanya gedung pelacuran akan ditutup selewatnya tengah malam, bila sesudah lewat tengah malam belum nampak, berarti dia memutuskan untuk menginap di sana. "Jangan-jangan kunyuk tua itu menginap di sini?" Bong Thian-gak berpikir.

Dengan mata melotot dia mengawasi jalanan itu, tapi suasana sudah sepi, hanya tinggal dia seorang diri yang bersembunyi di sudut dinding sana.

Suara musik sudah reda sedari tadi, lampu pun sudah banyak yang dipadamkan, akan tetapi bayangan tubuh Kongsun Phu-ki belum nampak juga.

Tergerak hati Bong Thian-gak, segera pikirnya, "Aduh celaka! Jangan-jangan dia sudah tahu aku sedang menguntitnya, maka dia telah kabur sedari tadi?"

Berpikir sampai di situ Bong Thian-gak segera membalikkan badan siap berlalu dari situ.

Namun baru beberapa langkah, dia berpikir kembali, "Tapi siapa tahu dia memutuskan untuk menginap di sini."

Bong Thian-gak punya tugas melindungi keselamatan Kongsun Phu-ki, bila gagal menemukan keadaan yang sebenarnya, dia merasa tak lega.

Akhirnya diputuskan untuk melakukan pemeriksaan seksama terhadap setiap ruangan dalam gedung pelacuran itu.

Dengan gerakan cepat dia melompat naik ke tembok pekarangan, lalu melayang naik ke atas atap rumah, dengan Ginkang yang sempurna, Bong Thian-gak berkelebat secepat sambaran petir.

Satu kamar demi saru kamar diperiksa oleh Bong Thian-gak dengan seksama, matanya yang tajam mengamati setiap wajah yang berada dalam kamar, namun kecuali sepasang laki perempuan yang sedang bermesraan atau bertempur sengit, tak nampak sesuatu yang lain. Yang lebih aneh lagi, dari tujuh belas kamar yang diperiksanya, dia hanya menemukan delapan pasang sejoli yang lagi berbuat mesum, namun dari sekian banyak orang, tak nampak Kongsun Phu-ki.

Bong Thian-gak menarik napas panjang, pikirnya, "Sekarang tinggal gedung bertingkat itu saja yang belum kuperiksa, jika di sana pun tak ada, sudah pasti kongsun Phu- ki telah pergi karena mengetahui dirinya aku kuntit!"

Berpikir sampai di situ, dia segera menggerakkan tubuhnya dan melompat ke arah bangunan loteng itu.

Setitik cahaya lentera memancar keluar dari balik loteng itu, tanpa pikir panjang Bong Thian-gak segera melompat naik ke atas loteng. Kemudian daun jendela dibukanya pelan-pelan dan mengintip ke dalam ruangan.

Hampir saja Bong Thian-gak menjerit kaget, jantungnya serasa mau melompat keluar dari rongga dada, ternyata dia menyaksikan suatu lukisan yang sangat indah.

Bukan, bukan lukisan sungguhan, melainkan seorang yang masih hidup, tubuh indah yang mempesona hati, tubuh indah dalam keadaan bugil.

Dari sekian banyak pemandangan seram yang diintipnya malam ini, tak satu pun di antara yang dapat mendebarkan hatinya. Tapi kali ini jantungnya berdebar keras, darah panas serasa mendidih dalam tubuhnya.

Ternyata di dalam ruangan kecil di atas loteng terdapat sebuah lentera berwarna merah, sinar merah memancar ke sebuah pembaringan, di mana berbaring seorang perempuan cantik menawan, perempuan itu berbaring dalam keadaan telanjang bulat.

Wajahnya cantik menarik bagai bidadari dari kahyangan, rambutnya yang hitam memanjang dan terurai di antara sepasang payudaranya yang montok, putih dan halus. Lekuk tubuhnya menawan, pinggangnya ramping, benar-benar perempuan bertubuh menarik.

Karena perempuan sangat cantik ini, hampir saja Bong Thian-gak tidak percaya dengan apa yang dilihat, ia memejamkan mata tetapi kemudian membuka matanya kembali.

Cantik, benar-benar cantik, makin dilihat makin indah, makin dipandang makin mendebarkan hati.

Bong Thian-gak berusaha menenangkan hati, kemudian sambil menggeleng, pikirnya, "Tak nyana di rumah pelacuran ini ada juga seorang perempuan yang begitu cantik, ai ... sungguh sayang, sungguh sayang sekali "

Entah mengapa Bong Thian-gak menghela napas panjang.

Mendadak ia menyaksikan perempuan cantik yang sedang tidur itu membuka mata, kemudian terasa dua gulung cahaya mata yang amat tajam menggidikkan dialihkan ke arah matanya.

Bagaimana pun juga Bong Thian-gak adalah lelaki sejati, ditatap seperti itu oleh seorang perempuan bugil, dia menjadi ketakutan setengah mati, dengan jurus ikan Lehi meletik ia berjumpalitan, lalu secepat kilat melejit pergi dan lari terbirit- birit meninggalkan sarang pelacuran itu.

Tak selang beberapa saat kemudian, Bong Thian-gak sudah balik ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, namun jantungnya masih berdebar keras, dia menyesal dirinya telah mengintip perempuan telanjang.

Pemuda itu tidak masuk melalui pintu gerbang, melainkan meluncur dari balik tembok pekarangan sebelah barat, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tanpa mengusik orang lain tahu-tahu ia sudah balik ke tempat tinggalnya.

Bong Thian-gak berdiri sejenak di tengah halaman menenangkan hatinya yang bergolak, setelah agak tenang baru ia berpikir, "Coba kuintip, benarkah si kunyuk tua itu sudah kembali ke kamarnya?"

Untuk membuktikan dugaannya, secara diam-diam Bong Thian-gak menyusup ke dalam kamar yang ditinggali Kongsun Phu-ki, lalu mengintip ke dalam lewat daun jendela.

Apa yang dilihat? Ternyata Kongsun Phu-ki telah berbaring di atas ranjangnya, malah tertidur amat nyenyak.

Bong Thian-gak menyumpah dalam hati. "Kunyuk tua, kau benar-benar sudah membuatku

menderita, aku berdiri makan angin di situ, tak tahunya kau

malah enak-enakan tidur di rumah."

Sebaliknya Kongsun Phu-ki tanpa sepengetahuan dirinya telah membuktikan bahwa ia telah dikuntit Bong Thian-gak. Itulah sebabnya anak muda itu benar-benar merasa mendongkol.

Dengan perasaan murung dan masgul ia balik ke kamarnya, tampak cahaya lampu masih menerangi kamarnya, maka dia melompat naik, memeriksa sekejap sekeliling situ, kemudian baru masuk ke dalam.

Setelah memadamkan lentera, Bong Thian-gak membaringkan diri di atas ranjang, namun mata tak mau berpejam, rasa mendongkolnya membuat dia sukar tertidur, sampai lewat kentongan ketiga pikirannya baru pelan-pelan menjadi tenang kembali.

Di depan matanya segera terbayang tubuh perempuan bugil yang baru saja dijumpainya itu.

Mendadak tergerak hatinya, ia segera berpikir, "Tajam amat sepasang mata perempuan itu!"

Kalau tadi ia tak begitu memperhatikan hal itu, tapi sekarang setelah dibayangkan kembali, tanpa terasa Bong Thian-gak berkerut kening, pikirnya lebih jauh, "Dia mempunyai sepasang mata yang tajam seperti sambaran kilat, tajam melebihi mata pedang, mustahil sorot mata biasa setajam itu, kalau begitu, sudah pasti dia pun seorang jago persilatan."

Kejadian itu benar-benar aneh.

Seorang perempuan cantik menarik yang berilmu tinggi ternyata membaurkan diri di sarang pelacuran. Kendati Bong Thian-gak telah memeras otak habis-habisan, belum juga menemukan alasan yang tepat untuk memecahkan teka-teki itu.

"Bagaimana pun juga aku harus mengunjungi kembali rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau itu, akan kuselidiki peristiwa aneh ini sampai tuntas," demikian anak muda itu mengambil keputusan dalam hati, dengan begitu pikirannya yang bergolak pun menjadi reda kembali.

Malam semakin larut, suasana amat hening, dalam suasana seperti inilah tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sangat lirih berkumandang dari luar kamarnya.

Bong Thian-gak terkesiap, dengan cepat ia teringat kembali akan kartu merah jambu itu!

"Bagus sekali, ternyata kau benar-benar datang!"

Tanpa berkutik Bong Thian-gak tetap berbaring di ranjangnya.

Tapi secara diam-diam dia telah menghimpun tenaga dalamnya mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, hanya saja dia tak mau bergerak sebelum musuh bertindak lebih dulu.

Suara langkah manusia itu berhenti tepat di depan kamarnya.

"Mungkinkah dia membuka pintu dan bergerak masuk?" Belum habis ingatan itu berkelebat, "Krek", suara pintu didorong orang.

Dengan ketajaman matanya yang mengagumkan, Bong Thian-gak dapat menyaksikan pantek kayu yang mengunci pintu kamar itu terdorong patah oleh tenaga orang yang dahsyat.

Menyusul seseorang berbaju hitam menerjang secepat sambaran kilat, telapak tangannya tahu-tahu sudah diayun ke batok kepalanya.

Sergapan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, pada hakikatnya sama sekali tidak memberi peluang bagi lawan untuk mempersiapkan diri, banyak jago persilatan dan orang gagah yang ti'was oleh serangan kilat yang sama sekali tak terduga semacam ini.

Apalagi pihak musuh menggunakan jurus pukulan yang paling keji, buas dan sakti, sekali pun di hadapannya berdiri seseorang yang lelah bersiap pun, belum tentu serangan itu dapat dibendung atau dihindari.

Agaknya Bong Thian-gak cukup memahami kelihaian jurus serangan lawan, dia tidak mencoba berkelit ke samping, sebaliknya ilrngan kelima jari tangan kirinya yang dipentang lebar-lebar dia sambut «lalangnya serangan itu.

"Plak", terdengar benturan keras, penyergap mendengus tertahan dan sempoyongan, secara beruntun tubuhnya kena terdorong hingga mundur sejauh empat-lima langkah.

Bong Thian-gak segera memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya untuk melompat bangun dari pembaringan, kemudian diawasinya penyergap itu dengan sorot mata penuh kegusaran.

Ternyata pihak lawan adalah seorang berbaju hitam bertubuh ramping, jelas seorang wanita, memakai secarik kain hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Tampaknya penyergap sama sekali tak menyangka sergapannya bakal mengalami kegagalan, dari balik matanya segera terpancar rasa kaget dan tertegun.

"Siapa kau?" Bong Thian-gak segera membentak. "Lebih baik menyerah saja daripada mampus secara mengerikan!"

Gadis penyergap itu berseru tertahan, kemudian untuk kedua kalinya dia menerjang ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Kali ini dia menyerang dengan sebilah pisau belati di tangan, serangannya buas dan nekat, membuat hati orang bergidik.

Bong Thian-gak mendengus dingin, sepasang kakinya sedikit membengkok, lalu sepasang tangannya seperti cakar burung elang balas menyambar ke depan.

Jeritan kaget terdengar, tubuh si gadis penyergap itu mengelak ke belakang bagai layang-layang putus benang, kemudian menggelinding keluar pintu.

Bong Thian-gak tak tinggal diam, dengan lompatan lebar dia menyusul keluar.

"Sreet", serentetan cahaya dingin menyambar.

Bong Thian-gak bertindak sigap, dia miringkan tubuhnya sambil menyambar benda itu, tahu-tahu pisau belati tadi sudah berpindah ke tangannya.

Gadis penyergap itu memang lihai, gerak-geriknya lincah dan cekatan.

Di saat Bong Thian-gak merontokkan serangan pisau belati tadi, ia segera melompat ke depan, lalu melarikan diri turun ke bawah loteng.

Bong Thian-gak membentak gusar menyaksikan musuh hendak kabur, tangannya cepat diayun ke depan, pisau belati yang berhasil disambarnya tadi tahu-tahu sudah disambitkan balik ke tubuh lawan.

Serangan balasan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tampak cahaya tajam berkilau, tahu-tahu gadis penyergap itu menjerit kesakitan.

Pisau belati itu menancap telak di bahu kirinya, darah segera berhamburan kemana-mana, setelah sempoyongan sesaat, ia melarikan diri dari situ.

Bong Thian-gak mengejar secepat angin puyuh, tapi si gadis penyergap sudah kabur sejauh tujuh-delapan depa.

Terkejut juga Bong Thian-gak menyaksikan pihak musuh masih sanggup melarikan diri kendatipun tubuhnya sudah terluka parah, kuatir musuh keburu kabur, cepat dia melompati atap rumah dan berniat menghadang jalan perginya dengan cepat.

Siapa tahu baru saja Bong Thian-gak melompati dua buah rumah, gadis berbaju hitam itu sudah berbelok ke samping dan menyusup ke dalam bangunan rendah di sisi loteng, langsung kabur menuju ke halaman belakang.

Dengan begitu selisih kedua belah pihak menjadi semakin lebar.

Bong Thian-gak segera menjejakkan kaki ke tanah, seperti burung bangau raksasa dia melambung ke angkasa dan mengejar dari belakang.

Kejar-kejaran segera berlangsung sengit, setelah melalui tiga halaman rumah, gadis berbaju hitam itu sudah berada tiga depa saja di hadapannya, tapi pagar pekarangan menuju ke tempat tinggal kaum wanita dalam Bu-lim Bengcu pun tinggal beberapa depa lagi.

Bong Thian-gak mengerti, seandainya gadis itu berhasil kabur ke gedung sebelah dalam, pasti dia akan menjumpai banyak kesulitan, buru-buru dia melepaskan sebuah pukulan yang amat lihai.

Angin pukulan yang menderu-deru seperti amukan ombak di tengah samudra, dengan cepat melesat ke depan.

Gadis berbaju hitam itu mendengus tertahan, tubuhnya mencelat ke udara, lalu terbanting keras ke atas tanah.

Tubuhnya terkapar lemas di atas tanah, setelah berkelejetan beberapa kali, akhirnya sama sekali tak berkutik lagi.

Bong Thian-gak menyusul datang dari belakang, buru-buru dia membungkukkan badan memegang nadi pergelangan tangan lawan, namun pemuda itu segera tertegun, ternyata denyutan nadi lawan sudah berhenti, musuh tewas dalam keadaan mengerikan.

Menghadapi keadaan itu, Bong Thian-gak menghela napas sedih, serunya sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali.

"Ai, dengan susah payah aku berhasil mengungkap titik terang ini, siapa tahu ia justru sudah mampus!"

Baru saja dia bergumam, segulung angin berhembus, lalu terdengar seorang berkata, "Omitohud, ilmu pukulan Ko-sicu benar-benar kuat, tajam dan berdaya kemampuan menghancurkan bebatuan cadas, kini isi perut musuh sudah hancur, nadinya sudah putus, mana mungkin hidup lebih jauh?"

Bong Thian-gak berpaling ke tengah-tengah kegelapan malam, tampak Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si sudah berdiri tegak di situ.

Menyusul kemudian bayangan orang berkelebat berulang kali, secara beruntun jago-jago lainnya bermunculan pula di sana. Yu Heng-sui dan Ho Put-ciang juga hampir bersamaan waktunya muncul di tempat kejadian.

Memperhatikan jenazah yang membujur di sana, Ho Put- ciang berkata dengan wajah serius, "Ji-sute, coba kau lepaskan kain kerudung hitamnya!"

Sementara itu paras muka para jago pun berubah menjadi amat serius, berpuluh pasang mata bersama-sama dialihkan ke wajah jenazah itu.

Pelan-pelan Yu Heng-sui merobek kain kerudung mukanya, dengan cepat muncul seraut wajah yang mengerikan, dari tujuh lubang indranya darah kental masih mengucur hingga muka jenazah itu penuh berlepotan darah.

Tapi bagi Yu Heng-sui maupun Ho Put-ciang, raut wajah itu tak asing lagi bagi mereka, mereka cukup tahu siapa gerangan perempuan penyergap itu.

Kontan saja paras muka kedua orang itu berubah hebat, jelas perempuan itu pun anggota gedung Bu-lim Bengcu.

Bong Thian-gak tidak kenal perempuan itu, mungkin orang itu baru masuk ke gedung Bu-lim Bengcu setelah ia meninggalkan tempat itu, kalau dilihat dari raut wajahnya, gadis itu kira-kira baru berusia dua puluhan tahun, mungkin dayang atau pelayan.

Cepat Ho Put-ciang memerintahkan kepada adik seperguruannya, "Yu-sute, cepat gotong pergi jenazah ini dan bersihkan lantai dari noda darah, jangan mengganggu ketenangan tidur orang lain."

Kemudian sambil menjura kepada para jago, orang she Ho itu berkata lebih jauh, "Toa-heng sekalian, asal-usul pembunuh itu baru akan kuumumkan besok pagi, bagaimana kalau sekarang dipersilakan kembali ke kamar masing- masing?" Berhubung para pendekar tidak mengenali siapakah perempuan yang tewas itu, tentu saja tak seorang pun di antaranya yang bersuara, ditinjau dari paras muka Ho Put- ciang, dapat diduga orang itu adalah salah seorang anggota gedung Bu-lim Bengcu.

Waktu itu malam masih kelam, terpaksa semua orang balik ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Menanti semua jago telah berlalu, Bong Thian-gak baru berkata tertahan dalam hati, dia seperti menemukan sesuatu yang tidak beres.

Ternyata di antara para jago yang bermunculan, ia tidak nampak kemunculan Kongsun Phu-ki si kunyuk tua itu.

Ho Put-ciang memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya sambil tertawa getir, "Harap Ko-cuangsu sudi memaafkan, ternyata pihak musuh benar-benar telah menyusup ke setiap bagian gedung Bu-lim Bengcu ini, perempuan tadi adalah salah seorang dayang Subo kami."

Mendengar nama 'Subo' disinggung, hati Bong Thian-gak bergetar keras, bagaikan dihantam martil berat, sekujur tubuhnya gemetar keras.

"Omitohud!" Ku-lo Hwesio berkata, "Ho-hiantit mungkin masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, untuk sementara waktu Lolap kembali dulu."

Selesai berkata, pendeta itu segera berlalu lebih dulu.

Bong Thian-gak tahu Toa-suhengnya bakal menjumpai banyak kesulitan dalam melakukan penyelidikan, agar tidak menyusahkannya, maka dia pun segera mohon diri pula.

Kembali ke kamar, ia tidur di pembaringan sambil membayangkan peristiwa yang baru saja lewat, diam-diam ia merasa menyesal karena lurun tangan kelewat berat. Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak bergumam,

"Konon pembunuh itu adalah salah seorang dayang Subo, mungkinkah Subo masih seperti tujuh tahun berselang, hatinya belum puas sebelum pembunuh yang dikirimnya berhasil membunuh diriku?"

Saat itulah dalam benak Bong Thian-gak melintas peristiwa yang berlangsung tujuh tahun lalu, peristiwa tragis yang sangat memalukan.

Peristiwa itu terjadi pada suatu malam di musim panas, waktu itu dia bersama Sam-suhengnya Siau Cu-beng sedang dalam perjalanan pulang setelah menjemput Subonya di kota Ci Kang.

Malam itu berhubung mereka tersesat di atas bukit hingga kemalaman, maka terpaksa harus bermalam di tengah gunung.

Udara pada malam itu panas sekali, karena tak tahan, maka di tengah malam buta secara diam-diam dia pergi ke sungai untuk menyegarkan badan, tetapi ketika selesai mandi dan kembali ke tempat semula, dia tidak menemukan Subo dan Sam-suhengnya.

Maka dengan gelisah, ia melakukan pencarian di sekeliling tempat itu dan akhirnya di dalam sebuah hutan kecil, ia saksikan suatu adegan yang menyeramkan, tapi juga amat memalukan.

Di atas tanah berumput di bawah sinar rembulan, tampak sepasang laki perempuan sedang saling berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, waktu itu mereka sedang bersenang- senang menikmati surga dunia, berbuai mesum seperti apa yang sering dilakukan antara suami istri. Yang memegang peranan sebagai sang suami ternyata Sam-suhengnya Siau Cu-beng, sedangkan yang memegang peranan istri tak lain adalah ibu gurunya sendiri.

Kontan saja hawa amarah menggelora di dalam dadanya, dengan geram ia keluar dari tempat persembunyian dan mengagetkan sepasang sejoli yang sedang berbuat mesum.

Beberapa saat kemudian, Sam-suhengnya Siau Cu-beng telah selesai berpakaian dan pelan-pelan berjalan keluar dari hutan dengan senyum menyeringai menghias wajahnya, lalu disusul ibu gurunya.

Dilihat dari paras muka Siau Cu-beng dan ibu gurunya, dapat diketahui mereka hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi.

Kemarahan dan kesedihan yang melampaui batas membuat ia menerjang Siau Cu-beng seperti binatang buas, ia bertekad hendak melenyapkan pengkhianat itu dari muka bumi dan membersihkan nama gurunya yang ternoda.

Pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi, seorang diri dia harus bertarung menghadapi kerubutan Siau Cu-beng dan ibu gurunya.

Entah siapa yang membantunya, dalam pertarungan itu makin bertarung ia nampak makin gagah ... akhirnya dalam suatu kesempatan dia berhasil menghajar Siau Cu-beng hingga terjatuh ke dalam jurang.

Jerit kaget Siau Cu-beng yang terjatuh ke dalam jurang telah mengagetkan ibu gurunya, ia segera berhenti menyerang, kemudian sambil menutup muka menangis tersedu-sedu, seperti merasa menyesal dengan perbuatannya itu.

Diiringi isak-tangis yang memedihkan hati, ibu gurunya lantas menceritakan bagaimana dia dirayu oleh Siau Cu-beng untuk berbuat iseng, bagaimana dirangsang.... Dalam kesedihan itu, ia hanya memohon kepada dirinya agar tidak menceritakan peristiwa yang memalukan itu kepada gurunya.

Mendengar ucapan ibu gurunya, gejolak emosinya segera menjadi reda, kesadarannya pun pulih, ia sadar bila gurunya yang berhati bajik sampai mengetahui peristiwa tragis yang memalukan itu, sudah pasti gurunya akan menderita tekanan batin.

Padahal gurunya merupakan seorang Bu-lim Bengcu yang memimpin seluruh umat persilatan di dunia, ia begitu dihormati, disanjung oleh setiap orang, bagaimana jadinya bila berita yang memalukan itu sampai bocor ke dunia persilatan?

Sudah pasti nama baik dan wibawa gurunya akan hancur.

Bila sampai terjadi hal ini, sungguh tragis akibatnya.

Ibu gurunya ini merupakan istri ketiga, waktu itu umurnya baru tiga puluh tujuh tahun, masih muda, bila Suhu sampai mengetahui penyelewengannya, apakah ibu gurunya akan dibiarkan hidup terus?

Demi menyelamatkan nama baik gurunya, demi menjaga semangat gurunya agar tidak menderita tekanan batin, juga demi kaselamatan ibu gurunya, maka dia lantas mengarang suatu cerita untuk merahasiakan kejadian yang sesungguhnya.

Siapa tahu Subonya begitu keji, ternyata dia telah mengirim pembunuh bayaran untuk mencari jejak dan melenyapkan jiwanya.

Berpikir sampai di situ, sepasang mata Bong Thian-gak berkaca-kaca, ia bergumam, "Perempuan rendah yang tak tahu malu, apakah kau tahu bahwa aku Bong Thian-gak telah kembali ke sini? Kau kuatir aku membocorkan perbuatan terkutukmu yang tak tahu malu itu, sehingga segera kau kirim pembunuh-pembunuhmu untuk melenyapkan aku dari muka bumi." "Hm" seorang diri Bong Thian-gak mendengus berulang kali, ia menyumpah lebih jauh, "Perempuan terkutuk, aku benar-benar tak menyangka kau masih bisa bertebal muka tetap tinggal di dalam gedung Bu-lim Bengcu ini, masih punya perasaan hidup terus di dunia ini."

"Hm, kau sepantasnya mampus, suatu ketika aku Bong Thian-gak pasti akan membunuhmu, aku takkan membiarkan kau tetap hidup di dunia ini hanya untuk berbuat kejahatan!"

Bicara sampai di situ, mencorong sinar buas yang menggidikkan dari balik mata anak muda itu, ia sudah mengambil keputusan bulat.

Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam benak Bong Thian-gak, "Mungkinkah Subo adalah mata-mata yang diselundupkan musuh kemari?"

Pendapatnya itu ibarat sumber air yang ditemukan di tengah gurun pasir, segera membuat semangatnya berkobar kembali.

Dilihat dari perbuatan ibu gurunya yang mengkhianati cintanya dengan berbuat mesum bersama Siau Cu-beng, kemudian ditinjau pula dari ilmu silat pembunuh perempuan yang muncul pada malam ini, Subonya itu memang satu- satunya orang yang paling mencurigakan. 

Setelah berhasil menemukan titik terang itu, hati Bong Thian-gak agak tenang, tanpa terasa dia pun tertidur dengan cepat.

"Tok, tok, tok", dari luar gedung sana berkumandang lima kali kentongan sebagai pertanda kentongan kelima telah tiba.

Entah lama saat sudah lewat, akhirnya Bong Thian-gak bangun dari tidurnya oleh suara pembicaraan yang gaduh.

Tampak Siau Kiok yang manis sudah berdiri di sisi pembaringan, begitu melihat pemuda itu membuka mata, dia lantas berkata, "Siangkong! Siangkong! Nona telah datang " Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya ke arah lain, sambil berseru tertahan buru-buru dia melompat bangun dan duduk.

Ternyata di kursi dekat dinding kamarnya telah duduk kakak seperguruannya, Oh Cian-giok.

Bong Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan menuju ke arah Oh Cian-giok sambil katanya, "Nona Oh, sejak kapan kau sampai di sini? Maaf jika aku bersikap kurang sopan."

Oh Cian-giok masih mengenakan pakaian putih tanda berkabung, hanya wajahnya nampak amat murung, selapis hawa dingin menghiasi raut wajahnya.

"Ko-siangkong," ujarnya, "maaf jika aku mengganggu tidurmu, tapi berhubung dalam gedung telah terjadi suatu peristiwa besar, terpaksa Toa-suheng mengutusku kemari mengundang kedatangan Ko-siangkong."

"Apa yang terjadi?" seru Bong Thian-gak dengan terperanjat. "Kongsun-tayhiap ditemukan tewas!"

Berita buruk ini segera membuat Bong Thian-gak amat terkesiap, serunya tertahan, "Apa? Kau mengatakan Kongsun Phu-ki telah tewas?"

Pelan-pelan Oh Cian-giok mengangguk, "Benar ia mati terbunuh."

"Bagaimana tewasnya?"

"Ketika datang memanggilnya pagi tadi, ia ditemukan mati kaku di atas pembaringan, anggota badannya telah kaku dan mendingin, jelas sudah putus nyawa cukup lama, tapi sebab kematiannya belum jelas. Kini Ku-lo Hwesio dan sebagian jago sedang menantikan kedatangan Ko-siangkong di ruangan bawah sana." Bong Thian-gak tidak banyak bicara lagi, cepat ia membetulkan pakaiannya, lalu mengikuti Oh Cian-giok menuju ke kamar Kongsun Phu-ki.

Waktu itu para jago sudah berkumpul dalam ruang tamu yang kecil, kebetulan Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui sedang berjalan keluar ilari dalam kamar, para jago segera bertanya, "Apa yang menyebabkan kematian Kongsun Phu-ki?"

Baik Ho Put-ciang maupun Yu Heng-sui tidak menjawab, mereka hanya menggeleng kepala berulang kali.

Menyaksikan Bong Thian-gak muncul, Ho Put-ciang berkata hambar, "Ko-cuangsu silakan masuk, Ku-lo Sinceng sedang menanti kedatanganmu di dalam sana."

Bong Thian-gak mengiakan dan buru-buru ia masuk ke dalam kamar.

Di atas pembaringan kayu dalam ruangan, tergeletak kaku seorang kakek kurus kering, dialah Kongsun Phu-ki, salah satu di antara Ciong-lam-sam-lo.

Di sisi pembaringan duduk Ku-lo Hwesio, dia sedang meneliti setiap bagian tubuh Kongsun Phu-ki.

Bong Thian-gak ikut mengamati jenazah itu, tampak paras muka Kongsun Phu-ki pucat-pias, kulit wajahnya cekung ke dalam sehingga boleh dibilang tinggal kulit pembungkus tulang belaka.

Keadaannya saat ini mirip seorang yang tewas setelah puluhan tahun menderita penyakit parah.

Ku-lo Hwesio mendongakkan kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, mendadak ia bangkit dan berkata, "Di atas tubuhnya tidak ditemukan luka apa pun, juga tidak ditemukan gejala keracunan, kalau begitu "

Mendadak ia berhenti sejenak sambil beranjak keluar dari kamar, kemudian baru melanjutkan sambil menghela napas, "Itu berarti dia tewas akibat sari darah dan tulang sumsumnya mengering."

Dugaan itu segera disambut para jago dengan wajah berubah hebat, hampir bersamaan mereka berseru, "Sari darah dan tulang sumsum mengering? Mengapa sari darah dan tulang sumsum bisa mengering dalam semalaman saja?"

Dalam ruangan itu hanya Bong Thian-gak seorang yang secara lamat-lamat bisa menduga apa gerangan yang terjadi, tapi karena dilihatnya Oh Cian-giok hadir pula di situ, maka ia merasa agak sungkan untuk bertanya lebih jauh kepada Ku-lo Hwesio.

Mendadak Ku-lo Hwesio berkata lagi dengan wajah amat serius, "Ko-sicu, Lolap ingin bicara empat mata denganmu sebentar, datanglah ke loteng sebelah timur bersama Ho- hiantit dan Yu-hiantit

"Baik, aku akan segera ke sana!" jawab Bong Thian-gak dengan suara lantang.

Selesai berkata, dia mengikut di belakang Ku-lo Sinceng keluar ruangan itu. Tak selang beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di ruang tamu loteng sebelah timur.

Ternyata Ho Put-ciang dan Yu Hengsui telah berada pula di sana.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Ku-lo Hwesio barulah berkata, "Kongsun-sicu tewas akibat sari darah dan tulang sumsumnya mengering atau dengan kata lain dia mati akibat air maninya telah kering."

"Jadi dia benar-benar tewas akibat air maninya telah mengering?"

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Ya, Kongsun-sicu memang lewas di tangan seorang perempuan."

"Ah, kematiannya benar-benar di luar dugaan." "Ko-sicu, semalam kau yang menguntit di belakang Kongsun-sicu, tentunya kau tahu bukan kemana dia telah pergi?"

Diam-diam Bong Thian-gak terkejut juga, dia tidak menyangka perbuatannya menguntit di belakang Kongsun Phu-ki tak lolos dari pengawasan Ku-lo Hwesio. Dengan cepat lantas dia menjawab, "Kongsun-tayhiap telah berkunjung ke

rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau, tapi berhubung aku tidak masuk ke dalam, maka tidak kuketahui apa yang dilakukannya!"

Maka Bong Thian-gak menceritakan secara ringkas bagaimana dia menguntit Kongsun Phu-ki semalam, hanya soal mengintip seorang perempuan cantik dalam keadaan telanjang saja yang sengaja dia rahasiakan.

Seusai mendengar penuturan itu, Yu Heng-sui berkata sambil menghela napas, "Ah, sudah satu bulan lebih Kongsun- tayhiap berdiam di sini, tiap hari dia tentu keluar satu kali, aku pun pernah menguntitnya secara diam-diam, dia memang pergi ke sarang pelacuran untuk melepaskan napsunya."

"Lolap sendiri pun pernah mendengar Kongsun-sicu tak mampu mengendalikan birahi, tapi dia cukup berjiwa jujur dan lurus, selama ini belum pernah mengganggu anak gadis atau istri orang. Namun kalau dibilang ia mengalami musibah akibat peristiwa ini, rasanya juga tak mungkin."

Bong Thian-gak pun merasakan banyak hal yang mencurigakan dalam kejadian itu, dia berkata, "Kalau dibilang Kongsun Phu-ki mati akibat dia kehabisan air mani setelah berbuat iseng dengan pelacur, mengapa justru tewas dalam gedung Bu-lim Bengcu, apalagi dia seorang jago yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, tak mungkin dia berbuat iseng hingga kelewat batas, sampai air maninya mengering dan berakibat kematian." "Kalau bukan suatu musibah, apa. mungkin suatu pembunuhan?" kata Ho Put-ciang tiba-tiba.

"Menjelang tengah malam Lolap menyaksikan Kongsun-sicu pulang seorang diri, menyusul kemudian Ko-sicu baru pulang setengah jam kemudian, waktu itu Ko-sicu pernah menjenguk pula ke kamar Kongsun-sicu."

Bong Thian-gak semakin terkejut mendengar ucapan itu, ia tidak menyangka semua gerak-geriknya tak lepas dari pengawasan Ku-lo Hwesio, maka jawabnya dengan lantang, "Apa yang dikatakan Taysu memang tepat sekali, oleh karena aku kuatir Kongsun-tayhiap belum sampai di rumah, sengaja aku datang ke kamarnya untuk mengintip dan membuktikan apakah dia telah kembali ke rumah atau belum!"

"Biasanya orang yang mati akibat kehabisan sumsum tulangnya, dia akan mati seketika setelah selesai melakukan senggama," Ku-lo Hwesio menerangkan. "Mustahil berjalan pulang lebih dulu dari jauh sebelum akhirnya tewas di rumah. Ah! Mungkin Kongsun-sicu tidur semalaman tak pernah mendusin untuk selamanya!"

"Supek, lantas berada dalam keadaan apakah Kongsun- tayhiap menemui ajalnya?" tanya Yu Heng-sui kemudian.

"Dua ratus tahun berselang, di Bu-lim pernah beredar sejilid kitab Tay-im-keng yang mencantumkan sejenis ilmu yang disebut Soh-li-sut (kepandaian perempuan suci), tegasnya kepandaian itu merupakan sejenis ilmu penghisap hawa Yang dari tubuh lelaki untuk memupuk kekuatan Im tubuh perempuan yang digauli. Ilmu sesat semacam itu pernah muncul di Bu-lim sebelum ini, tapi bila dibicarakan, gejalanya persis seperti gejala kematian Kongsun-sicu sekarang, itulah sebabnya Lolap jadi teringat kitab aneh Tay- im-keng itu."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak sesudah mendengar penjelasan itu, katanya cepat, "Jadi maksud Taysu, kematian Kongsun-sicu disebabkan oleh perbuatan seorang perempuan yang mengerti ilmu Soh-li-sut, dan telah menghisap hawa Yangnya hingga mengering?"

"Ya, sebab kematian Kongsun-sicu memang demikian adanya."

Bong Thian-gak menjerit kaget, "Ah, mungkinkah dalam rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau terdapat perempuan semacam ini?"

"Kalau dibilang dalam rumah pelacuran bisa muncul perempuan seperti ini, sesungguhnya sesuatu yang mustahil dan sukar untuk dipercaya, sekali pun ada, tak mungkin dia mencelakai orang tanpa sebab, ah ... itulah sebabnya Lolap sekali lagi ingin bertanya kepada Ko-sicu, kemarin malam Kongsun-sicu telah pergi kemana?"

Bong Thian-gak tertegun. "Jadi Taysu tidak percaya dengan perkataanku?" tanyanya.

"Sejak beberapa hari berselang, musuh telah menetapkan hari kematian untuk Kongsun-sicu, mungkin hal ini disebabkan pihak lawan tahu Kongsun-sicu gemar bermain perempuan, maka ia sengaja menyiapkan seorang perempuan yang pandai ilmu Soh-li-sut untuk merayunya di tengah jalan sehingga rencana pembunuhan mereka tercapai, apabila dibilang di dalam rumah pelacuran bisa terdapat perempuan macam begini, sesungguhnya hal ini sukar untuk dipercaya."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apa yang kukatakan sebenarnya merupakan kenyataan, namun bila Taysu sekalian tidak percaya, aku pun tidak bisa berbuat apa- apa."

Padahal Bong Thian-gak pun terkejut bercampur keheranan atas kematian Kongsun Phu-ki. "Baiklah," kata Ku-lo Hwesio kemudian, "Untuk sementara waktu Lolap tak usah membicarakan dulu kematian Kongsun- sicu semalam."

Dilihat dari sikap Ku-lo Hwesio yang bernada memeriksa dirinya, Bong Thian-gak segera sadar bahwa Hwesio tua yang teliti ini pun sudah mulai menaruh curiga padanya, siapa tahu Hwesio itu sudah lama menaruh curiga padanya, sehingga sengaja mengajaknya turut menghadiri rapat rahasia itu.

Kemudian mengintai dan menyelidikinya secara diam-diam.

Terdengar Ku-lo Hwesio berkata, "Pembunuh gelap yang dibunuh Ko-sicu itu merupakan salah satu dayang kepercayaan Oh-bengcu Hujin. Kini Lolap ingin bertanya kepada Sicu, mengapa dayang itu mencari Sicu sebagai sasaran pembunuhan?"

Bong Thian-gak segera mengeluarkan kartu merah dari dalam sakunya, kemudian berkata dengan lantang, "Silakan Taysu memeriksa kartu ini terlebih dahulu!"

Ku-lo Hwesio menerima kartu itu dan diperiksa sebentar, kemudian diberikan kepada Ho Put-ciang, setelah itu dia baru berkata, "Seandainya Sicu adalah orang dari golongan kami, setelah musuh memberikan kartu peringatan itu kepadamu, Sicu pasti akan berusaha menawan mata-mata itu, kemudian disiksa supaya mengaku, apa sebabnya kau malah membunuh orang itu secara keji?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, tentang kesalahan tanganku, aku membunuh pembunuh gelap itu, aku merasa menyesal sekali."

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Ku-lo Hwesio, dia menatap wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan suara dalam, "Maaf jika Lolap menaruh prasangka kepada Sicu, harap Sicu dapat memberikan bantahan setelah tuduhanku ini kuucapkan."

"Katakan saja, Taysu." "Seandainya Lolap menuduh Sicu adalah utusan lihai musuh yang mendapat perintah untuk menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimanakah sanggahan Sicu?"

Bong Thian-gak untuk kesekian kalinya menghela napas panjang, "Ah, asal kuutarakan asal-usulku, sudah pasti Taysu tak akan menaruh curiga lagi kepadaku, bila seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya tiba-tiba muncul dalam gedung Bu-lim Bengcu, bagaimana pun juga hal ini memang mencurigakan orang lain!"

"Apa yang hendak Sicu tanyakan?"

"Apa yang ingin kuketahui adalah soal kematian Kongsun Phu-ki, benarkah dia tewas akibat kehabisan sumsum Goan- yang?"

Tiba-tiba paras muka Ku-lo Hwesio berubah, tapi sebentar saja sudah lenyap, pelan-pelan dia berkata, "Ko-sicu telah menyaksikan jenazah Kongsun-sicu dengan mata kepala sendiri, bagaimana tanggapanmu tentang kematiannya?"

Bong Thian-gak tertegun, sahutnya pula, "Dilihat dari gejala kematiannya, dia memang tewas akibat kehabisan sumsum Goan-yang!"

"Kalau begitu, apa lagi yang Sicu sangsikan?"

"Ah, aku harus membuktikan dulu sebab kematian Kongsun Phu-ki sebelum menyelelidiki siapa pembunuhnya."

"Sicu, setelah sampai di sini, Lolap terpaksa mesti berterus terang kepadamu!" kata Ku-lo Hwesio kemudian dengan suara dalam. "Semua jago yang hadir di sini maupun pejabat Bengcu merasa keberatan bila ada seorang yang tak jelas identitas dan asal-usulnya turut serta dalam persoalan persekutuan dunia persilatan ini."

Sambil tertawa getir Bong Thian-gak manggut-manggut, "Aku akan segera meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu ini, tapi jangan harap bisa mengetahui asal-usulku yang sebenarnya!"

Tiba-tiba Yu Heng-sui tertawa dingin, "Ko-heng, jika kau tidak mengungkap asal-usulmu, mungkin kau tak akan dapat mengundurkan diri dari gedung Bengcu ini dengan selamat."

Mendengar itu, Bong Thian-gak berkerut kening, lalu ujarnya lagi dengan suara dalam, "Kalian tak mau mengurusi masalah yang sesungguhnya, buat apa mendesak diriku mengungkap asal-usulku?"

"Semua ini mengikuti keinginan para jago," sahut Yu Heng- sui tertawa. "Kini mereka telah menanti dirimu di bawah loteng sana."

Bong Thian-gak menghela napas panjang mendengar ucapan itu, "Ai, bila kalian tak mau percaya kepadaku, suatu ketika kalian akan menyesal."

Setelah menghela napas lagi, dia berpaling ke arah Ho Put- ciang, lalu ujarnya lebih jauh, "Kalau kalian tak percaya kepadaku sejak awal, mengapa kalian izinkan diriku mencampuri urusan ini? Sekarang kalian pun tidak memperkenankan aku pergi dari sini, sebenarnya apa yang hendak kalian lakukan?"

"Ko-cuangsu, mengapa kau tidak mengungkap asal-usulmu secara jujur?"

Bong Thian-gak menggeleng, "Maaf, aku tidak bisa menjawab."

"Jika kau enggan menjawab, para jago akan menghalangimu pergi dari sini."

Kembali Bong Thian-gak tertawa, "Bila hal ini terjadi, terpaksa aku suruh mereka saksikan kelihaian ilmu silatku!"

Selesai berkata, pemuda itu segera beranjak turun dari loteng itu. Yu Heng-sui tertawa dingin, dia segera melompat bangun sambil bersiap-siap melancarkan serangan.

Tiba-tiba Ho Put-ciang berkata dengan suara dalam, "Ji- sute, jangan bertindak gegabah!"

Yang dikuatirkan oleh Bong Thian-gak selama ini adalah bilamana dia mesti bertarung melawan Toa-suhengnya, betapa lega hatinya setelah Toa-suhengnya mencegah Ji- suhengnya turun tangan.

Selangkah demi selangkah dia turun dari anak tangga, setelah tiba di depan pintu gerbang, tampak kawanan jago itu benar-benar telah berdiri mengelilingi halaman gedung, puluhan pasang mata yang tajam bersama-sama ditujukan ke tubuhnya.

Bong Thian-gak bersikap acuh tak acuh, seakan-akan sama sekali tidak melihat kehadiran mereka, dengan dada dibusungkan dia langsung berjalan menuju ke tengah halaman.

Sementara itu Ku-lo Hwesio bersama Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui telah turun dari loteng pula, mereka bertiga berdiri di depan pintu gerbang dengan wajah serius.

Ketika Bong Thian-gak sudah hampir keluar pintu halaman, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, "Berhenti!"

Bayangan orang berkelebat, seorang lelaki kekar bercambang hitam pekat seperti pantat kuali, dengan perawakan tinggi besar dan berjubah biru telah menghadang di depan Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak segera mengenali orang ini sebagai salah seorang dari Tiam-jong-siang-kiat yang dijuluki Wan-pit-kim-to (golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam.

"Ang-tayhiap, apakah engkau hendak memberi sesuatu petunjuk kepadaku?" tegurnya. Golok emas berlengan monyet Ang Thong-lam tertawa terbahak-bahak, "Aku orang she Ang ingin mohon petunjuk dari saudara!"

"Silakan turun tangan, Ang-tayhiap."

Sikap santai dan tenang Bong Thian-gak ini membuat si Golok emas berlengan monyet tertegun dan berdiri termangu- mangu di tempat.

Setelah tertawa dingin, kembali Bong Thian-gak berkata, "Ang-tayhiap, mengapa tidak melancarkan serangan?"

Tiba-tiba saja Ang Thong-lam menganggap Bong Thian-gak berniat mempermainkan dirinya, dia jadi naik darah dan segera membentak nyaring, "Bagus sekali, akan kulihat seberapa hebat kepandaian silatmu hingga begitu sinis padaku."

Begitu selesai berkata, dia lantas mengayun tinjunya menghantam wajah Bong Thian-gak, serangannya dahsyat, tenaga pukulannya mematikan.

Bong Thian-gak tertawa dingin, kaki kanannya maju ke Tiong-kiong, lalu telapak tangan kanan diayun ke muka membabat urat nadi pergelangan tangan musuh.

Sekali orang menyerang, segera akan diketahui berisi atau tidak, seketika itu juga paras muka para jago di sekeliling halaman itu berubah hebat.

Ang Thong-lam merupakan adik seperguruan ketua Tiam- jong-pay sekarang, kesempurnaan ilmu silatnya termasuk juga kemampuan seorang ketua partai, ia segera menyadari pukulan tangan kanannya akan meleset.

Sambil membentak keras bagaikan harimau ganas keluar dari sarang, secepat kilat tangan kirinya menghantam pinggang musuh. Serangan ini merupakan ilmu pukulan Kiong-ciang-kun (Pukulan busur panah) yang amat termasyhur dari Tiam-jong- pay, serangannya dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, hebat luar biasa.

Semua jago yang menyaksikan jalannya pertandingan itu dari samping, segera dapat merasakan pukulan Ang Thong- lam itu sangat hebat dan membuat orang sukar menghindarkan diri.

Sikap Bong Thian-gak cukup tenang, tampak dia berjongkok, kemudian membentak nyaring, "Lihat serangan!"

Suara benturan keras menggelegar di udara, badan Ang Thong-lam berguncang keras, kemudian dengan sempoyongan mundur sejauh liga-empat langkah, lengan kirinya terkulai lemas, sementara wajahnya basah oleh keringat.

Dalam bentrokan itu, para jago dapat mengikuti kejadian itu dengan jelas, rupanya di saat yang paling kritis, Bong Thian-gak telah mengubah babatan tangan kanannya yang mengancam urat nadi pada lengan kanan Ang Thong-lam itu menjadi serangan menyikut, di antara posisi setengah berjongkok itulah dia berhasil menyikut persendian hilang lengan sebelah kiri musuh.

Dalam bentrokan barusan, kedua belah pihak memang belum menggunakan kepandaian yang sebenarnya, tapi menang kalah di antara mereka sudah ditentukan.

Seorang jago lihai yang termasyhur namanya di Bu-lim ternyata menderita kalah total di tangan seorang pemuda tak dikenal, kejadian ini benar-benar di luar dugaan siapa pun.

Hasil pertempuran yang mengejutkan ini kontan saja membuat paras muka para jago berubah hebat. Kepada Ku-lo Hwesio kata Ho Put-ciang, "Ku-lo Supek, sodokan sikutnya benar-benar dilakukan dengan amat jitu dan hebat, ilmu silat orang ini tidak boleh dipandang enteng."

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Betul, sodokan sikut itu dilancarkan di antara sela-sela peralihan jurus pertama ke jurus kedua, dari sini dapat diketahui ilmu silat orang ini benar-benar hebat sekali."

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menjura kepada semua jago setelah berhasil mengalahkan Ang Thong-lam, katanya dengan lantang, "Ang-tayhiap, terima kasih atas kesediaannya mengalah!"

Setelah berkata, dia lantas beranjak pergi.

"Tunggu sebentar saudara! Lohu ingin mohon petunjuk pula," tiba-tiba seseorang berkata dengan suara parau.

Tampak seorang kakek berbaju hitam menggembol pedang, pelan-pelan berjalan keluar dan menghadang di depan Bong Thian-gak.

Setelah melihat jelas paras muka kakek itu, dengan kening berkerut Bong Thian-gak berkata, "Yu-koancu, harap kau sudi memberi jalan untukku!"

Ternyata kakek baju hitam berperawakan jangkung dan berwajah kurus ini adalah Koancu kuil Hian-thian-koan di bukit Khong-tong, Yu Ciang-hong adanya.

Dengan sebilah pedang Ci-thian-kiam, dia berhasil menguasai tiga belas macam ilmu pedang Khong-tong-pay hingga mencapai puncak kesempurnaan, menurut berita di Bu-lim, konon Yu Ciang-hong telah berhasil pula menguasai Yu-kiam-sut atau ilmu pedang terbang.

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong tersenyum. "Ko-cuangsu, Lohu mohon petunjuk beberapa jurus seranganmu untuk menambah pengetahuanku, apa tidak boleh?"

Bong Thian-gak sadar, andai dia tidak memperlihatkan kelihaian ilmu silatnya pada hari ini, mustahil dia bisa pergi meninggalkan tempat itu dengan mudah.

Setelah berpikir sebentar, katanya dengan suara nyaring, "Kalau memang begitu, terpaksa aku mengiringi keinginanmu."

"Selama hidup Lohu menekuni ilmu pedang, boleh dibilang pedang tak pernah terlepas dari tanganku, entah senjata apakah yang hendak saudara pergunakan? Silakan saja segera dilolos."

"Aku lebih meyakini ilmu telapak tangan, silakan Yu-koancu melancarkan serangan!"

Yu Ciang-hong agak tertegun, kemudian ujarnya, "Kalau begitu terpaksa Lohu bertindak lancang."

Begitu selesai berkata, Yu Ciang-hong segera mundur setengah langkah, dengan cepat tangan kanannya menyambar ke belakang untuk melolos pedangnya.

"Sret", cahaya tajam segera berkilauan memenuhi angkasa.

Begitu Ci-thian-kiam dilolos, tanpa banyak bicara lagi ia melepas sebuah tusukan kilat ke arah dada Bong Thian-gak .

Yu Ciang-hong adalah jago pedang kenamaan di Bu-lim, cukup dilihat dari caranya mencabut pedang bisa diketahui sampai dimana taraf kesempurnaan orang ini.

Sudah lama para jago persilatan tahu bahwa Yu Ciang- hong termasyhur karena ilmu pedangnya yang lihai, kendatipun demikian jarang ada orang menyaksikan dia memainkan ilmu pedangnya di depan umum, oleh sebab itu semua orang lantas memusatkan segenap perhatiannya menyaksikan jalannya pertarungan itu. Agaknya Bong Thian-gak pun sadar ilmu pedang lawan lihai sekali, dia tak berani memandang enteng, dengan sorot mata berkilau tajam dia mengawasi gerak pedang lawan, sementara telapak tangan kirinya dengan setengah ditekuk mengebas pergi serangan pedang lawan.

Paras muka Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berubah hebat menyaksikan datangnya ayunan telapak tangan kiri Bong Thian-gak, mendadak dia tekuk pinggang sambil menarik senjatanya.

Setelah itu pedang Ci-thian-kiam sekali lagi digetarkan ke muka, dari kiri menusuk ke kanan, lalu dari kanan menyapu ke tengah, dalam

waktu yang singkat dia telah melepaskan tiga serangan berantai.

Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, dengan gerakan pedang yang aneh, seperti menotok juga menggunting, dia menghajar musuh.

Ku-lo Hwesio yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi arena segera saja menghela napas panjang, katanya, "Kebasan tangannya itu merupakan ilmu Hud-meh-ceng-hiat (Menyapu nadi menggetarkan jalan darah) yang hebat sekali, ilmu silat orang itu benar-benar mencapai tingkatan yang luar biasa!"

Baik Ho Put-ciang maupun Yu Heng-sui dapat menyaksikan pula kebasan tangan Bong Thian-gak tadi, dengan wajah serius bercampur tegang mereka mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.

Sementara itu Bong Thian-gak telah terdesak mundur sejauh tiga langkah oleh gencetan tiga serangan berantai lawan, tapi secara mudah sekali dia berhasil meloloskan diri dari ancaman itu. Yu Ciang-hong memang tak malu disebut jago pedang yang termasyhur, ia tak memberi kesempatan pada musuh untuk melepaskan serangan balasan, kaki kirinya segera maju selangkah, lalu pedangnya ditebaskan ke samping, sebuah tusukan kuat disodokkan ke muka.

Kini Bong Thian-gak tidak menghindar lagi, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah membentak nyaring, pergelangan tangan kanannya diayunkan ke muka membabat punggung pedang, seketika itu juga muncul segulung angin pukulan yang mendesak pedang lawan miring ke samping.

Sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, tiba-tiba saja ia mencengkeram pergelangan tangan kanan musuh yang menggenggam pedang.

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong amat terkejut, cepat dia mundur tiga langkah, tiba-tiba saja gerakan pedangnya berubah.

Terdengar angin menderu, cahaya kilat berkilauan di angkasa, segulung angin puyuh yang maha dahsyat menggulung tiba.

Bong Thian-gak mendengus dingin, ujung bajunya berkibar terhembus angin, dengan cepat dia menerjang ke tengah gulungan angin pedang Yu Ciang-hong yang gencar, dengan tangan kiri menangkis pedang, tangan kanan menyerang musuh, sepasang telapak tangannya berubah silih berganti, bagaikan dua naga bermain di air, kelihaiannya benar-benar luar biasa.

Kawanan jago persilatan itu rata-rata adalah pemimpin suatu perguruan besar, ilmu silat mereka tentu saja lihai sekali, tatkala mereka menyaksikan jalannya pertarungan itu, serentak keningnya berkerut.

Rupanya mereka tidak bisa membedakan lagi mana gerakan tubuh Bong Thian-gak dan mana jurus pedang Yu Ciang-hong. Dalam waktu singkat kedua belah pihak sudah saling bertarung puluhan gebrak.

Tiba-tiba terdengar dengusan tertahan memecah keheningan. Di tengah lapisan bayangan pedang yang menyelimuti udara, mendadak Bong Thian-gak melejit ke tengah udara dan melayang turun, kemudian dia membalik tubuh dan dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik halaman gedung sana.

Perubahan yang berlangsung tiba-tiba ini amat mencengangkan semua orang, membuat semua jago yang hadir di arena tak seorang pun sempat melakukan penghadangan, mereka hanya berdiri tegak di tempat dengan wajah termangu.

Akhirnya suara helaan napas panjang menyadarkan para jago dari lamunan, sewaktu mereka mengangkat kepala, tampak Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berdiri lemas dengan pedang Ci-thian-kiam terkulai ke bawah.

"Kalah total ... kalah total ... tiga puluhan tahun Lohu berlatih dengan tekun, siapa tahu hari ini mesti menderita kekalahan di tangan jago muda yang sama sekali tak dikenal," gumamnya lirih.

"Koancu, bukankah kau berhasil melukai lengan kirinya?" seru Yu Heng-sui dengan nyaring. "Siapa yang menderita kekalahan?"

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong mendongakkan kepala dan dengan sedih sahutnya, "Betul, Lohu memang berhasil melukai lengan kirinya, namun telapak tangannya justru berhasil menghantam dadaku lebih dulu, coba kalau pukulan itu disertai dengan tenaga dalam, Lohu sudah tewas sejak tadi, bagaimana mungkin masih dapat melukai lengannya dengan pedang?"

Rupanya dalam gebrakan penentuan yang berlangsung dengan amat cepat tadi, kecuali Ku-lo Hwesio, Ho Put-ciang, Ui-hok Totiang dan beberapa orang yang sempat melihat jelas, sisanya masih belum tahu bagaimana kedua belah pihak menentukan menang kalahnya, mereka cuma menyaksikan Bong Thian-gak melarikan diri dengan membawa luka.

Dalam pada itu Ku-lo Hwesio telah memejamkan mata rapat-rapat seakan sedang mengambil suatu keputusan yang amat penting, tiba-tiba dia membuka mata, lalu berkata dengan suara dalam, "Kelihaian ilmu silat orang ini benar- benar jauh di luar dugaan, terutama aliran ilmu silatnya, susah buat kita untuk menduganya, andaikata dia adalah musuh, hal ini benar-benar amat merisaukan buat kita."

Paras muka Ho Put-ciang berubah menjadi serius sekali, setelah .termenung sejenak, tiba-tiba bisiknya kepada Ku-lo Hwesio, "Ilmu pukulan orang ini sangat aneh dan sulit diduga, akan tetapi tidak kehilangan sifat jujur dan terbukanya, bahkan gaya serangannya pun mirip sekali dengan "

Ketika berbicara sampai di situ mendadak dia tutup mulut, kemudian setelah menggeleng kepala dia melanjutkan, "Akan tetapi di balik sikapnya yang gagah dan perkasa membawa juga serangan keji yang licik dan tak kenal ampun, sungguh membuat orang tidak mengerti!"

Ku-lo Hwesio menatap wajah Ho Put-ciang lekat-lekat, kemudian tanyanya pelan, "Menurut Ho-hiantit, ilmu silat orang itu mirip aliran mana?"

"Mirip sekali dengan ilmu pukulan guruku, tapi bila diamati lagi dengan seksama seperti tak mirip, ya, ilmu silat di dunia memang bersumber satu, mungkin otakku kelewat tumpul hingga telah salah melihat!"

Mendengar itu, Ku-lo Hwesio membungkam, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat seperti sedang bersemedi.

Mendadak terdengar Ku-lo Hwesio berkata dengan suara yang dalam dan berat, "Ho-hiantit, cepat kirim orang untuk mengejar dan membunuh Ko Hong!" Ho Put-ciang tertegun oleh seruan itu, "Mengapa Ku-lo Supek mengambil keputusan begini?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku-lo Hwesio, serunya kemudian, "Lolap sudah teringat sekarang, kemungkinan besar orang itu adalah anak murid Mo-kiam-sin- kun Tio Tian-seng."

Begitu ucapan itu diutarakan, paras muka para jago segera berubah hebat.

Gara-gara dugaan itu, Bong Thian-gak bakal menjumpai banyak kesulitan dalam pengembaraannya di Bu-lim di kemudian hari.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melewati atap rumah dan kabur dari gedung Bu-lim Bengcu.

Ia langsung menuju ke tempat terpencil yang jauh dari keramaian, tiga li kemudian pemuda itu baru berhenti berlari, sementara lukanya mulai terasa sakit.

Ternyata darah segar telah membasahi lengan kirinya, sakitnya bukan kepalang.

Sambil menggigit bibir dia lantas merobek secarik kain dan membalut luka itu, kemudian setelah menghembuskan napas kesal, gumamnya seorang diri, "Ilmu pedang Khong-tong- kiam-hoat milik Yu Ciang-hong memang benar-benar lihai, bila tujuh tahun belakangan ini aku tidak belajar ilmu sakti yang kutemukan tanpa sengaja, bisa jadi aku tewas di ujung pedang orang itu!"

Pelan-pelan dia berjongkok dan duduk bersila di bawah rimbunnya pohon.

Memandang awan di angkasa, tanpa terasa gumamnya lagi, "Masa depan suram, dunia amat luas, besok aku akan kemana dan berbuat apa? Ai, sungguh tak kusangka setelah aku memasuki gedung Bu-lim Bengcu dan bisa menginap di sana, sehari kemudian aku dipaksa berkelana lagi tanpa tujuan."

"Oh, Suhu! Apakah arwah kau orang tua yang tidak berkenan aku memasuki pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu lagi? Oh Suhu! Seandainya arwahmu di alam baka tahu, kau harus mengerti bahwa tujuh tahun berselang aku tidak melakukan kesalahan apa-apa, kubunuh Siau Cu-beng dikarenakan aku hendak membersihkan perguruan kau orang tua dari manusia-manusia laknat!"

Keluh-kesah Bong Thian-gak ini makin lama semakin memilukan, dia merasa nasib sendiri benar-benar amat buruk, sepanjang hidup harus

berkelana tanpa tujuan, dimana-mana mendapat kesulitan, seakan-akan perjalanan hidup penuh dengan duri.

Teringat akan nasibnya yang buruk, tanpa terasa ia teringat pula pada ibu gurunya, Pek Yan-ling, yang menggemaskan, tak tahu malu dan menjengkelkan itu.

Andai bukan gara-gara perbuatan cabul Pek Yan-ling, mungkin dia tak akan mengalami nasib yang begini tragis seperti saat ini.

Sambil menundukkan kepala dan membelai kaki kirinya yang pincang, api kebencian membara lagi dalam benaknya, saking tak kuasa menahan diri, dia segera mencaci-maki kalang-kabut, "Perempuan jalang, tujuh tahun berselang kau telah membacok otot kaki kiriku hingga membuatku pincang, semalam kau lagi-lagi mengirim orang untuk membunuhku. Ah, aku Bong Thian-gak bersumpah tak akan melepaskan dirimu begitu saja."

Pikir punya pikir sambil bersandar di pohon dan dibuai angin yang berhembus silir-semilir, tanpa terasa akhirnya Bong Thian-gak jatuh tertidur. Ketika mendusin dari tidurnya, matahari sudah tenggelam di langit barat, cuaca mulai remang-remang.

Sambil melemaskan otot-ototnya yang kaku, Bong Thian- gak melompat bangun, tiba-tiba berhembus segulung angin yang membawa bau harum daging semerbak.

Seketika pemuda itu merasa perutnya lapar sekali sehingga sukar ditahan, sambil menelan air liur dia mulai celingukan ke sana-kemari mencari sumber datangnya bau harum itu.

Akhirnya dari balik sebuah hutan kecil tak jauh dari situ, dia saksikan ada selapis cahaya api yang sedang berkobar, di sampingnya duduk berjongkok seseorang berdandan pengemis, tampak di atas jilatan api sedang terpanggang sesuatu, dari situlah bau daging tadi terendus.

Waktu itu Bong Thian-gak lapar sekali, dia lantas berpikir, "Untuk membeli makanan di kota, aku mesti berjalan dua-tiga li, mengapa tidak kubeli separoh ayam dari pengemis itu untuk menangsal perut?"

Berpikir sampai di situ, dia lantas berjalan menuju hutan kecil itu.

Benar juga, ternyata benda yang sedang dipanggang adalah seekor ayam yang sangat gemuk, waktu itu si pengemis sedang mencongkel bara api di bawah panggangan dengan sebatang ranting, dia seperti belum tahu kehadiran Bong Thian-gak.

"Permisi sobat!" Bong Thian-gak segera menegur.