Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 19. Keturunan Keluarga Kenamaan

Bab 19. Keturunan Keluarga Kenamaan

Dalam ruangan tiada cahaya lampu, seorang diri Cia Siau-hong duduk dalam kegelapan, duduk di atas kursi di mana tempat itu selalu mereka kosongkan bila sedang bersantap dan khusus disediakan buat tuan putri.

......Semenjak dilahirkan, semestinya dia adalah seorang tuan putri, bila bertemu dengannya, maka kau pasti akan menyukainya, kami merasa bangga karena dia.

Api dalam tungku telah padam, bahkan abupun telah dingin. Dapur nan sempit dan kecil, selamanya tak akan memancarkan kehangatan lagi seperti dulu, bau harum kuah daging yang dapat menghangatkan badan sampai ke lubuk hatipun selamanya tak akan terendus kembali.

Tapi di tempat itulah ia pernah merasakan kepuasan dan ketentraman yang sebelumnya tak pernah ia rasakan atau jumpai.

......Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna.

......Hari ini tuan putri kita pulang makan, kita semua akan mendapat daging untuk bersantap, setiap orang akan mendapatkan sepotong daging, sepotong daging yang besar, besar sekali.

Ketika daging dihidangkan, sorot mata setiap orang mencorong tajam, setajam sinar pedang.

Cahaya pedang berkelebat lewat, hawa pedang memancar ke empat penjuru, darah berhamburan ke mana-mana dan musuh besar roboh tak bernyawa.

......Aku adalah Sam sauya dari keluarga Cia, akulah Cia Siau-hong.

......Akulah Cia Siau-hong yang tiada keduanya dalam dunia ini.

Sesungguhnya siapakah di antara kedua orang ini yang jauh lebih gembira dan bahagia? A-kit? Atau Cia Siau-hong?

Pelan-pelan pintu didorong orang, sesosok bayangan tubuh yang ramping dan halus masuk ke dalam.

Tempat itu adalah rumahnya, ia sangat hapal dengan setiap macam benda yang berada di sana, sekalipun tidak melihatnya, iapun dapat merasakannya.

Orang yang membawanya pulang adalah seorang laki-laki asing yang bertubuh gemuk, tapi memiliki ilmu meringankan tubuh yang jauh lebih enteng daripada seekor burung walet, mendekam di atas tubuhnya bagaikan berjalan di atas awan.

Ia tidak kenal dengan orang itu.

Ia mau mengikutinya karena ia berkata ada orang sedang menantikannya, lantaran orang yang menunggu dirinya adalah Cia Siau-hong.

Pelan-pelan Cia Siau-hong bangun berdiri lalu berkata:

"Duduklah!"

Tempat itu khusus mereka sediakan baginya, bila ia pulang maka tempat itu sepantasnya diberikan kepadanya.

Siau-hong masih ingat, ketika untuk pertama kalinya melihat dia duduk di kursi itu dengan rambut yang hitam dan panjang terurai di bahu, sikapnya yang lembut dan anggun itu mengingatkan kita kepada seorang Tuan Putri sungguhan.

Waktu itu ia hanya berharap sebelum perjumpaan tersebut mereka tak pernah berkenalan, ia berharap perempuan itu adalah seorang tuan putri sungguhan. .......Bagaimanapun juga kau tak dapat membiarkan keturunan keluarga Cia mengawini seorang pelacur sebagai istrinya.

.......Ya, Pelacur! Lonte!

Tanpa terasa ia terbayang lagi kembali kejadian ketika pertama kali bertemu dengannya, teringat pula rasa panas yang memancar ke luar dari selangkangan si nona ketika tangannya menekan tempat 'itu' nya, terbayang pula olehnya liuk-liuk tubuhnya ketika berbaring di tanah sambil memamerkan seluruh bagian tubuhnya yang terlarang itu.....

.......Aku baru berusia lima belas tahun, cuma saja tampaknya jauh lebih besar dari orang lain. Siau Te masih seorang bocah.

.......Tak ada orang yang suka melakukan pekerjaan semacam itu, tapi setiap orang membutuhkan hidup, setiap orang perlu makan.

.......Gadis itu adalah satu-satunya harapan bagi ibunya dan kakaknya, ia harus memberi daging untuk mereka.

Tapi Siau Te baru berusia lima belas tahun, Siau Te adalah darah daging keluarga Cia.

Si Boneka telah duduk, ia duduk seperti seorang tuan putri sungguhan, sepasang matanya yang jeli memancarkan sinar terang di tengah kegelapan itu.

Cia Siau-hong sangsi sejenak, akhirnya ia berkata:

"Aku telah berjumpa dengan toako-mu!" "Aku tahu!"

"Agaknya luka yang dideritanya telah mulai sembuh, sekarang tak nanti ada orang akan pergi mencarinya lagi!"

"Aku tahu!"

"Aku kuatir kau merasa kurang leluasa, maka kusuruh Cia ciangkwe untuk menjemputmu" "Aku tahu!"

Tiba-tiba si Boneka tertawa lebar, katanya lebih jauh:

"Akupun tahu kenapa kau membawaku ke mari" "Kau tahu?", tanya Cia Siau-hong keheranan.

"Ya, kau minta aku kemari karena tak boleh kawin dengan Siau Te!" Ia masih tertawa.

Pelan-pelan ia berkata lebih lanjut:

"Karena kau merasa aku tak pantas untuk mendampinginya, kau sangat baik kepadaku, memperhatikan diriku, semuanya itu tak lebih karena kau kasihan kepadaku, menaruh belas kasihan kepadaku, tapi dalam hati sesungguhnya sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadaku"

"Aku. "

"Kau tak perlu memberi penjelasan kepadaku," tukas si Boneka, "aku cukup mengerti tentang keadaan yang sedang kuhadapi, orang yang benar-benar kau sukai masih tetap Buyung hujin tersebut, karena ia memang ditakdirkan bernasib seorang nyonya besar, karena ia tak perlu menjual diri untuk membiayai hidup keluarganya, ia tak perlu menjadi seorang pelacur. !"

Air matanya jatuh bercucuran amat deras, mendadak sambil menangis tersedu-sedu, katanya:

"Tapi tak pernahkah kau berpikir bahwa pelacurpun manusia, pelacurpun berharap bisa memperoleh pasangan yang baik, berharap ada orang yang benar-benar mencintainya"

Cia Siau-hong merasa hatinya amat sakit, seperti ditusuk-tusuk dengan pisau, setiap ucapannya seakan-akan sebatang jarum yang menghujam ulu hatinya.

Tak tahan lagi ia maju menghampirinya dan membelai rambutnya yang lembut, dia ingin menghibur dengan kata-kata yang lembut, tapi ia tak tahu bagaimana harus berkata.

Si Boneka tak kuasa menahan dirinya lagi, ia menubruk ke dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu.

Baginya, bisa berbaring dalam pelukannya sudah merupakan suatu penghiburan yang paling besar baginya.

Cia Siau-hong pun tahu, bagaimanapun jua ia tak tega untuk menyingkirkan gadis itu dari pelukannya.

"Tiba-tiba. "Blaaang!", pintu di dorong orang keras-keras, seorang pemuda berwajah pucat tahu-

tahu muncul di luar pintu, sorot matanya penuh pancaran rasa sedih, menderita dan penuh kebencian.

Siapa yang tahu berapa besarkah kekuatan dari suatu dendam sakit hati, sehingga membuat orang melakukan berapa banyak peristiwa yang menakutkan?

Siapa tahu kesedihan yang sebenarnya bagaimana rasanya? Mungkin Siau Te telah mengetahuinya.

Mungkin Cia Siau-hong juga telah mengetahuinya.

Mayat Hoa Sau-kun ditemukan orang satu jam berselang dalam gardu persegi enam.

Tenggorokannya sudah digorok orang hingga kutung, bajunya, tangannya dan jenggotnya penuh berlepotan darah.

Tak seorangpun yang bisa membayangkan bagaimanakah rasa sedih, menderita dan gusar yang mencekam perasaan Cia Hong-hong sewaktu menjumpai mayat suaminya. Dalam waktu singkat ia seakan-akan berubah menjadi seekor binatang liar yang sedang kalap.

Ia menangis meraung-raung, berteriak seperti orang histeris, mencakar muka sendiri, menarik rambut sendiri, kalau bisa ia hendak mencabik-cabik tubuh sendiri, lalu membakarnya dengan api lalu menumbuknya menjadi bubuk dan memusnahkannya dari muka bumi.

Ada tujuh-delapan pasang tangan yang kuat menahan tubuhnya, hingga satu jam kemudian ia baru dapat menenangkan kembali hatinya.

Namun air mata masih jatuh bercucuran dengan deras.

Hubungan suami isteri yang berlangsung selama dua puluh tahun, senang sama dicicipi, sengsara sama di atasi, hubungan batin tersebut hakekatnya telah meresap hingga ke dalam lubuk hati.

......Sekarang ia telah menjadi tua, kenapa ia musti mati duluan? Kenapa ia harus mati dalam keadaan yang mengenaskan?

Kesedihan yang melewati batas ini tiba-tiba saja berubah menjadi dendam kesumat, katanya mendadak dengan suara dingin:

"Kalian lepaskan aku, biarkan aku duduk sendiri!"

Fajar sudah hampir menyingsing, lentera meja masih memancarkan sinarnya dan menerangi wajah Buyung Ciu-ti, paras mukanyapun tampak pucat pias.

Cia Hong-hong telah duduk dihadapannya, air mata telah mengering, yang masih tertinggal di balik matanya hanya dendam kesumat.

Kesedihan yang sungguh-sungguh melewati batas dapat membuat orang menjadi gila, dendam kesumat yang betul-betul meresap ke tulang dapat membuat orang menjadi tegang.

Dengan pandangan dingin, dia awasi sinar lampu yang berkedip-kedip, lalu tiba-tiba berbisik: "Aku keliru, kaupun keliru!"

"Mengapa kau keliru?"

"Karena kita semua telah tahu bahwa pertarungan pagi tadi bukan dimenangkan Hoa Sau-kun, melainkan oleh Cia Siau-hong, tapi kita semua tidak mengutarakan keluar!"

Buyung Ciu-ti tak dapat menyangkal.

Seandainya pedang Cia Siau-hong betul-betul mencelat karena getaran tenaga, maka tak nanti senjata tersebut akan menancap persis di samping Cia Hong-hong.

Ia dapat meminjam tenaga getaran orang untuk mengembalikan pedang tersebut ke tangan Cia Hong-hong, tenaga serta kemampuan semacam itu pada hakekatnya telah digunakan secara jitu dan hebat.

"Sebetulnya bukan saja Cia Siau-hong dapat mengalahkannya, diapun dapat membunuhnya!", kata Cia Hong-hong lebih lanjut, "tapi Cia Siau-hong tidak berbuat demikian, maka orang yang membunuhnya pasti bukan Cia Siau-hong" Buyung Ciu-ti tak dapat menyangkal akan kebenaran ucapan tersebut. Cia Hong-hong menatapnya tajam-tajam, kemudian berkata lagi:

"Oleh karena itu aku ingin bertanya kepadamu, kecuali Cia Siau-hong, masih ada siapakah di tempat ini yang sanggup menggorok kutung lehernya dengan pedang?"

Buyung Ciu-ti termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, lewat lama sekali baru sahutnya: "Hanya ada seorang!"

"Siapa?"

"Dia! Dia sendiri!"

Cia Hong-hong menggenggam tangan sendiri kencang-kencang, jari-jari tangannya sampai menembusi telapak tangan sendiri, serunya dengan suara tergagap:

"Maksudmu......maksudmu dia. dia bunuh diri?"

"Ehmmm, begitulah!"

Sekali lagi Cia Hong-hong gelengkan kepalanya berulang kali, teriaknya dengan suara keras: "Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin, demi aku tak nanti ia akan berbuat demikian!"

Buyung Ciu-ti menghela napas panjang.

"Aaaaiii. siapa tahu kalau ia justru berbuat demikian demi dirimu?"

Sebelum perempuan itu menjawab, ia telah berkata lebih jauh:

"Karena ia telah tahu, bahwa kaupun mengetahui bila orang yang betul-betul kalah adalah dia, kau tak tega mengatakannya keluar, dia sendiri tentu saja lebih baik tak berkeberanian untuk menceritakannya keluar, penghinaan, penderitaan serta rasa malu itu selalu menyiksa hatinya, sekalipun ia gagah dan keras hati, tapi lama kelamaan mana sanggup untuk mempertahankan diri?"

Cia Hong-hong menundukkan kepalanya rendah-rendah, ia berbisik: "Tapi. "

"Tapi kalau tiada Cia Siau-hong, diapun tak akan mati", Buyung Ciu-ti melanjutkan.

Ia sendiri adalah seorang perempuan, tentu diapun memahami perasaan seorang perempuan.

Bila kaum perempuan sedang sedih dan marah dan kebetulan rasa sedih serta marahnya tiada tempat pelampiasan, seringkali semua hal tersebut akan dilampiaskan kepada orang lain.

Betul juga, Cia Hong-hong segera mendongakkan kepalanya, lalu berkata:

"Cia Siau-hong sendiripun cukup mengetahui wataknya, mungkin ia telah memperhitungkan sampai ke situ, maka ia sengaja berbuat demikian!" Buyung Ciu-ti menghela napas panjang, katanya:

"Aaaaii. berbicara sesungguhnya, keadaan semacam ini bukannya tidak mungkin terjadi"

Lompatan kobaran api memancar ke luar dari balik mata Cia Hong-hong, ia menatap lama sekali wajah perempuan itu, tiba-tiba serunya:

"Konon aku dengar kau seorang yang mengetahui titik kelemahan dalam ilmu pedang Cia Siau- hong"

Buyung Ciu-ti tertawa getir.

"Aku memang tahu, tapi apa gunanya sekalipun aku mengetahuinya?" "Kenapa tak berguna?"

"Sebab kekuatanku tidak cukup hebat, kecepatan gerakkupun tidak cukup meyakinkan, sekalipun dengan jelas ku tahu dimana letak titik kelemahan tersebut, menunggu serangan tersebut kulancarkan, mungkin keadaan sudah tidak sempat lagi"

Setelah menghela napas panjang, ia berkata kembali:

"Seperti juga walaupun dengan jelas kulihat ada seekor burung gereja di atas pohon, tapi menunggu aku memanjat pohon dan ingin menangkapnya, burung tersebut sudah keburu terbang"

"Tapi paling tidak kau sudah tahu cara menangkap burung gereja itu, bukan?", seru Cia Hong- hong.

"Ehm, benar!"

"Sudahkah kau beritahukan rahasia ini kepada orang lain?"

"Hanya memberitahukan kepada seseorang karena hanya pedang miliknya yang sanggup menghadapi Cia Siau-hong!"

"Tapi siapakah orang itu?" "Yan Cap-sa!"

Siau Te telah putar badan menerjang keluar, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan kabur dari situ.

Dengan mata kepala sendiri ia saksikan mereka berangkulan, saling berpelukan dengan mesra, dalam keadaan begini, apa lagi yang dapat ia katakan.

.......Sekalipun kejadian yang disaksikan dengan mata kepala sendiri, belum tentu hal itu merupakan kenyataan.

Ia belum sempat memahami ucapan tersebut, pun tak ingin mendengarkan penjelasan itu, dia hanya ingin menyingkir sejauh-jauhnya, makin jauh semakin baik. Karena ia merasa dirinya telah tertipu, hatinya telah terluka, sekalipun terhadap si Boneka ia tak menaruh rasa cinta, tapi gadis itupun tidak seharusnya menghianati dia, lebih-lebih Cia Siau-hong, tidak seharusnya ia berbuat begini.

Cia Siau-hong dapat memahami perasaan hatinya sekarang.

Sebab ia pernah tertipu, pernah juga terluka hatinya, diapun pernah menjadi seorang pemuda berdarah panas yang keras hati dan penuh kobaran emosi.

Dengan cepat ia mengejar keluar, dia tahu Cia ciangkwe dapat merawat si Boneka baginya, dan ia sendiri harus baik-baik mengawasi Siau Te.

Hanya dia seorang yang dapat melihat kelemahan dalam perasaan pemuda yang tampaknya keras hati dan dingin tersebut.

Maka dia harus melindunginya, tidak membiarkan ia menerima penderitaan maupun siksaan lagi. Walaupun Siau Te tahu bahwa ia mengikuti di belakangnya, namun ia sama sekali tak berpaling.

Ia tak ingin berjumpa lagi dengan orang itu, tapi diapun tahu jika Cia Siau-hong telah bertekad untuk menguntil seseorang, maka siapapun kau jangan harap bisa lolos dengan begitu saja.

Cia Siau-hong tidak buka suara.

Karena diapun tahu bila pemuda tersebut telah bertekad tak akan mendengarkan penjelasan orang, perduli apapun yang kau katakan kepadanya juga percuma.

Fajar telah menyingsing langit terang benderang dan sinar emas memancar ke empat penjuru.

Dari lorong yang sempit mereka menuju ke jalan yang ramai, dari jalanan yang ramai memasuki pinggiran kota yang sepi, lalu dari pinggiran kota yang sepi menuju ke jalan raya menuju ke luar kota.

Di atas jalan raya, para pejalan kaki sedang melakukan perjalanan masing-masing dengan cepat dan tergesa-gesa.

Kini masa panen telah lewat, inilah saatnya semua orang memperhitungkan untung ruginya setelah membanting tulang sepanjang tahun.

Ada sebagian orang yang buru-buru membawa pulang hasil jerih payah mereka untuk dinikmati bersama keluarganya.

Ada pula yang membawa pulang hati yang kesal, badan yang penat serta segudang hutang. Tak tahan Cia Siau-hong bertanya kepada diri sendiri.

........Apakah selama setahun ini ia giat menanam budi kebaikan? Lalu apa hasilnya?

........Sepanjang setahun ini adalah aku merugikan orang lain, ataukah orang lain yang telah merugikan dirinya?

Ia tak sanggup memberi jawabannya. Ada sementara hutang yang sesungguhnya memang tak mungkin bisa diselesaikan oleh siapapun.

Tengah hari menjelang tiba.

Mereka telah masuk kembali dalam sebuah kota dan menelusuri sebuah jalan yang teramat ramai di kota tersebut.

Meskipun berbeda kota, tapi manusianya adalah sama saja, mereka bekerja keras demi nama dan kedudukan, merekapun dibikin pusing oleh dendam ataupun perselisihan.

Tanpa terasa Cia Siau-hong menghela napas panjang, ketika mendongakkan kepalanya, ia baru menyaksikan Siau Te telah berhenti dan sedang memandang ke arahnya dengan dingin.

Ia berjalan menghampirinya, tapi sebelum bersuara, tiba-tiba Siau Te bertanya:

"Selama ini kau mengikuti terus diriku, apakah karena kau telah bertekad untuk baik-baik merawat dan memperhatikan diriku?"

Cia Siau-hong mengakuinya.

Secara tiba-tiba ia menemukan bahwa Siau Te memahami perasaannya, seperti juga ia memahami perasaan Siau Te.

"Aku sudah lelah sekali melakukan perjalanan, lagi pula laparnya setengah mati", kata Siau Te lagi.

"Kalau begitu mari kita bersantap!" "Bagus sekali!"

Di mana ia berhenti adalah persis di bawah merek emas dari Cong-goan-lo.

Baru saja putar badan, ciangkwe gemuk yang bermuka hok-kie itu telah membungkukkan badan kepada mereka sambil tersenyum simpul.

"Siapkan delapan hidangan panas, empat masakan barang berjiwa, empat macam masakan barang tak berjiwa, siapkan dulu delapan piring kecil untuk teman minum arak, lalu hidangkan enam macam hidangan utama. Udang bago, Yan-oh, H-sit, ayam lengkap, bebek lengkap, semuanya siapkan komplit, jangan ada semacampun yang ketinggalan."

Itulah sayur yang dipesan oleh Siau Te.

Sambil tersenyum dan bungkukkan badan memberi hormat, ciangkwe gemuk itu segera menyahut:

"Bukannya siaujin bicara ngibul, kecuali rumah makan kami, jangan harap bisa ditemukan hidangan sekomplit ini dalam waktu yang begini tergesa-gesa di tempat lain"

"Ya, asal hidangan bisa dibikin sebaik mungkin dan secepat mungkin, uang persen tak akan lupa" "Entah berapa orang tamu yang hendak di undang? Sampai kapan baru tiba di sini?" "Tak ada tamu lainnya"

"Hanya kalian berdua?", ciangkwe gemuk itu melototkan sepasang matanya bulat-bulat, "kenapa memesan sayur begini banyaknya?"

"Asalkan aku lagi senang, tidak habis di makan, mau dibuang ke pecomberan pun urusanku, buat apa kau turut campur?"

Ciangkwe gemuk itu tak berani bersuara lagi, dengan munduk-munduk ia lantas mengundurkan diri dari situ.

Tapi saat itulah dari meja lain kedengaran ada orang sedang tertawa dingin sambil menyindir: "Heeeeehhhh....... heeeeehhhhh........ heeeeehhhhh. entah bocah keparat itu lagi kaya

mendadak? Ataukah sudah kelaparan hingga mendekati sinting?"

Siau Te seakan-akan tak mendengar sindiran tersebut, hanya gumamnya seorang diri:

"Sayur-sayur itu merupakan hidangan kegemaranku, cuma sayang dihari-hari biasa tidak mudah bagiku untuk menikmatinya!"

"Asal kau lagi gembira, bisa makan berapa banyak makanlah!", Cia Siau-hong menimpali.

Tak seorang manusiapun dapat menghabiskan hidangan sebanyak ini, setiap macam Siau Te hanya mencicipi sekerat, lalu sambil menggerakkan kembali sumpitnya ia berkata:

"Aku sudah kenyang!"

"Tidak banyak yang kau makan", kata Cia Siau-hong.

"Jika sekepingpun sudah dapat dirasakan bagaimana rasanya, buat apa kita musti makan terlalu banyak?"

Setelah menghembuskan napas panjang dan memukul meja, ia berseru dengan suara lantang: "Bawa rekeningnya ke mari!"

Tidak terlalu banyak tamu semacam dia ini, semenjak tadi ciangkwe gemuk telah menunggu di sampingnya, segera ujarnya sambil tertawa paksa.

"Hidangan semeja penuh yang dipesan adalah delapan tahil perak, ditambah arak wangi seluruhnya berjumlah sepuluh tahil empat mata uang"

"Ehmmmm, tidak mahal!"

"Rumah makan kami selamanya berdagang menurut aturan, tak pernah kami mengambil untung terlalu banyak untuk tamu-tamu kami", kata ciangkwe gemuk dengan cepat.

Siau Te lantas berpaling ke arah Cia Siau-hong sambil berkata:

"Bila ditambah dengan uang tip, bagaimana kalau kita bayar dua belas tahil perak saja?" "Ya, seharusnya memang demikian" "Kenapa kau belum juga membayarnya?" "Karena satu tahil perakpun tidak kumiliki!"

Siau Te tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja di mana suara tertawa dingin tadi berasal.

Di sekitar meja tersebut duduk empat orang tamu, kecuali seorang pemuda berbaju kasar yang kelihatan agak ketolol-tololan, minum arak paling sedikit dan berbicara paling sedikit, tiga orang lainnya merupakan pemuda-pemuda gagah yang berusia dua puluh tahunan, gagah, ganteng dan kelihatan amat perkasa.

Di atas meja terdapat tiga bilah pedang, bentuknya sangat antik dan indah, sekalipun belum diloloskan dari sarungnya, tapi siapapun tahu bahwa pedang tersebut pastilah sebilah pedang yang tajam.

Orang yang tertawa dingin tadi mengenakan baju paling perlente dan bersikap paling angkuh. Ketika menyaksikan Siau Te berjalan ke arahnya, sekali lagi ia tertawa dingin.

Siau Te tidak memperhatikan wajahnya melainkan pedang antik yang berada di atas meja itu, tiba- tiba ia menghela napas panjang kemudian berbisik lirih:

"Ehmm, sebilah pedang yang bagus!"

"Kau juga mengerti tentang pedang?", ejek orang itu sambil tertawa dingin.

"Konon dahulu ada seorang Si Lu-cu, Si taysu yang mempunyai kepandaian membuat pedang yang hebat dan tiada tandingannya di kolong langit, dengan air dari telaga pelepas pedang di bukit Bu-tong, ia telah menempa tujuh bilah pedang tajam, oleh sang ciangbunjin ke tujuh pedang tersebut diberikan kepada tujuh orang muridnya yang terlihay dengan pesan pedang ada orang hidup, pedang hilang nyawa lenyap, setelah mati pedang itu harus diserahkan kembali kepada ketuanya untuk dioperkan ke orang lain. "

Setelah tersenyum iapun bertanya:

"Entah pedang tersebut apa betul merupakan salah satu diantaranya?"

Pemuda yang tertawa dingin itu masih juga tertawa dingin tiada hentinya, sedangkan seorang pemuda berbaju ungu yang ada disampingnya segera berseru memuji:

"Suatu ketajaman mata yang luar biasa!" "Boleh aku tahu siapa nama margamu?" "Aku she Wan, juga she Cho!"

"Jangan-jangan kau adalah murid yang termuda dan tertampan di antara tujuh orang murid Bu- tong-pay yang disebut Cho Han-giok itu?"

"Suatu ketajaman mata yang mengagumkan!", kembali orang berbaju ungu itu berseru.

"Kalau begitu kau pastilah toa-kongcu dari keluarga Wan berbaju ungu itu dari kota Kim-leng?" "Bukan, aku adalah Lo-ji bernama Wan Ji-im, dialah toako kami, Wan Hui-im!", kata manusia berbaju ungu itu memperkenalkan diri.

Wan Hui-im duduk tepat di sampingnya, jenggot sudah tumbuh pada janggutnya. "Dan yang ini?"

Orang yang ditanya Siau-te adalah pemuda berbaju kasar yang kelihatan amat jujur itu, katanya lebih lanjut:

"Burung Hong tak akan sudi terbang bersama burung gagak, aku pikir saudara inipun pastilah sauya kongcu dari keluarga kenamaan juga?"

"Aku bukan!", pemuda berbaju kasar itu menjawab singkat. "Bagus sekali!"

Di bawah dua patah kata tersebut jelas masih ada perkataan lain, pemuda berbaju kasar itu justru sedang menantikan kata-kata selanjutnya.

Orang jujur biasanya tidak banyak berbicara, pun tidak banyak bertanya......

Betul juga, ternyata Siau Te yang berkata lebih jauh:

"Di tempat ini paling tidak masih ada orang yang tiada perselisihan maupun dendam sakit hati dengannya"

"Siapakah dia?", tanya Wan Ji-im.

"Itulah orang yang seharusnya membayar rekening, tapi nyatanya setahil perakpun tidak ia miliki" "Apakah kami semua mempunyai dendam kesumat dengannya?"

"Agaknya memang ada sedikit!"

"Dendam macam apakah itu? Dan perselisihan macam apa pula yang kau maksudkan?"

"Bukankah kalian bersaudara mempunyai seorang paman yang disebut orang persilatan sebagai Cian-hong-kiam-kek (Jago pedang selaksa merah)?"

"Benar!", sahut Wan Ji-im.

"Bukankah Cho kongcu ini juga mempunyai seorang kakak yang bernama Peng. ?, tanya Siau

Te lebih jauh. "Benar!"

"Bukankah mereka berdua telah tewas dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng. ?"

Paras muka Wan Ji-im segera berubah hebat. "Apakah orang yang kau maksudkan tadi adalah. "

"Ya, dia tak lain adalah Sam sauya dari perkampungan Sin-kim-san-ceng di lembah Cui-im-kok, telaga Liok-sui-oh, atau yang lebih di kenal sebagai Cia Siau-hong!" "Criiiiing!", pedang Cho Han-giok telah diloloskan dari sarungnya, dua bersaudara Wan telah meraba pula gagang pedang mereka.

"Kaukah Cia Siau-hong?" "Ya, benar!"

Cahaya pedang berkelebat lewat, tiga bilah pedang telah mengurung rapat Cia Siau-hong.

Paras muka Cia Siau-hong sama sekali tidak berubah, tapi ciangkwe gemuk itu sudah ketakutan setengah mati sehingga paras mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan.

Tiba-tiba Siau Te maju ke depan dan menarik ujung bajunya, lalu bertanya dengan suara lirih: "Tahukah kau, cara apa yang terbaik untuk makan gratis tanpa digebuki orang lain?" Ciangkwe gemuk itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

Siau Te segera tertawa, jawabnya:

"Caranya cukup sederhana, carilah beberapa orang untuk melangsungkan pertarungan sengit, bila suasana telah menjadi kalut, maka secara diam-diam kaupun kabur dari tempat itu!"

ooooOOOOoooo