-->

Pedang Tuan Muda Ketiga Bab 12. Serba Bertentangan

Bab 12. Serba Bertentangan

Toa-tauke duduk di atas kursi berlapiskan kulit harimau yang secara khusus didatangkan dari kantornya. Memandang tujuh jago yang berada dihadapannya, ia mengangguk terus sambil tersenyum, rupa-rupanya kehadiran jago-jago tersebut sangat memuaskan hatinya. 

Tentu saja senyuman ramah menghiasi pula ujung bibir Tiok Yap-cing, asal Toa-tauke gembira, dia pasti gembira pula.

Namun Pek Bok sekalian tampaknya tak mampu tertawa menyaksikan kematian si hwesio dalam keadaan mengerikan, perasaan semua orang mulai tak enak dan tak nyaman.

......Sesungguhnya siapa yang telah membunuhnya? Mungkinkah perempuan itu sengaja menyaru sebagai babi untuk mencaplok harimau? Ataukah di sekitar tempat itu masih terdapat jago-jago lihay lainnya?

Tiok Yap-cing tersenyum, katanya:

"Konon begitu masuk ke dalam kota, kalian lantas melakukan beberapa peristiwa yang menggemparkan seluruh kota? Sungguh bagus sekali!"

"Sedikitpun tidak bagus!", jawab Pek Bok dengan nada dingin.

"Tapi sekarang setiap penduduk kota tak seorangpun yang tidak tahu kalau kalian semua betul- betul lihay!"

Pek Bok tutup mulutnya rapat-rapat, semua rekannya tutup pula mulut mereka rapat-rapat, meskipun setiap orang memiliki seperut penuh air getir, namun tak segumpalpun yang mampu ditumpahkan keluar.

Sebenarnya mereka semua memang ingin menanamkan sedikit pengaruhnya dengan melakukan beberapa peristiwa yang brutal dan hebat di dalam kota, siapa tahu rekan mereka justru malah mampus secara aneh dan misterius, seandainya peristiwa ini sampai diceritakan ke luar, bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan meruntuhkan semangat sendiri dengan mengunggulkan orang lain?

Tiba-tiba Hu Tau meraung keras:

"Sungguh menjengkelkan!"

"Kenapa saudara Hu Tau marah-marah tanpa sebab?", dengan seramah mungkin Tiok Yap-cing bertanya.

Baru saja Hu Tau ingin berbicara, ketika dilihatnya Pek Bok dan Cing Coa semuanya sedang mendelik ke arahnya, cepat-cepat ia berubah ucapannya dengan berseru:

"Aku suka marah-marah, kalau lagi gembira hatiku, akupun akan marah-marah sendiri!" "Ooohhh. itu lebih bagus lagi!", teriak Tiok Yap-cing semakin tertawa lebar.

"Apanya yang bagus?", dengan geramnya Hu Tau melototkan sepasang matanya lebar-lebar.

"Dengan mengandalkan tabiat saudara yang suka marah-marah, hal ini sudah cukup untuk memecahkan nyali orang!"

"Tetapi aku justru tak pernah marah-marah!", sela Ting Ji-long dari samping. "Inipun bagus sekali!"

"Apanya yang bagus?"

"Di waktu tenang bagaikan seorang perawan, di kala bergerak selincah kelinci, kalau di hari-hari biasa tidak diumbar, sekali diumbar pasti mengejutkan hati orang"

Ting Ji-long segera tertawa.

"Tampaknya apapun yang bakal kami katakan, kau selalu mempunyai kemampuan untuk memuji dan mengumpak kami semua. Ehmmm. rupanya dalam bidang ini kau memang memiliki

kepandaian yang bisa diandalkan" Tiok Yap-cing ikut tersenyum pula.

"Aku sih tidak memiliki kepandaian hebat seperti kalian semua, aku tak lebih hanya mengandalkan sedikit kepandaian semacam ini untuk mencari sesuap nasi. "

Selama ini Toa-tauke hanya mendengarkan pembicaraan mereka dengan senyuman di kulum, tiba-tiba ia bertanya:

"Apakah kalian telah datang semua?" "Sudah!", jawab Pek Bok.

"Tapi seingatku rasanya orang yang ku undang kali ini seluruhnya berjumlah sembilan orang!" "Ehmmm. memang sembilan orang!"

"Kemana perginya yang dua lainnya?"

"Sekalipun mereka berdua tidak datang juga sama saja!", ucap Pek Bok dengan suara dingin. "Oya?"

"Asal kami bertujuh telah datang, sekalipun hendak melakukan pekerjaan apapun sudah terlebih dari cukup"

"Untuk menghadapi A-kit juga lebih dari cukup?"

"Untuk menghadapi manusia macam apapun, kekuatan kami sekarang sudah lebih dari cukup!" Toa-tauke tertawa. "Aku tahu belakangan ini ilmu pedang totiang telah peroleh kemajuan yang amat pesat, sedang kepandaian dari beberapa rekan lainnya juga telah mendapat kemajuan yang hebat, cuma ada satu persoalan yang masih juga membuat hatiku tak tenang!"

"Persoalan apakah itu?"

Sambil tersenyum Toa-tauke segera memberi tanda, dua orang laki-laki kekar segera muncul dari luar pintu sambil menggotong sebuah toya sian-cang yang terbuat dari baja murni.

Paras muka Pek Bok berubah hebat.

Paras muka setiap anggota Hek-sat ikut berubah pula. Ujar Toa-tauke:

"Aku rasa toya sian-cang ini pasti kalian kenali, bukan?"

Mereka tentu saja kenali benda itu, sebab itulah senjata andalan dari Toh- hwesio, dengan mata kepala mereka sendiri pernah disaksikan berpuluh-puluh orang tewas di ujung toya tersebut.

"Konon toya sian-cang ini selamanya tak pernah berpisah dengan Toh- hwesio barang sejengkalpun, kenapa pada saat ini bisa berada di tangan orang lain?", kata Toa-tauke.

"Pinto justru ingin bertanya kepadamu, darimana kau dapatkan toya sian-cang tersebut?", seru Pek Bok dengan paras muka berubah.

"Ada seseorang yang sengaja menghantarnya ke mari, ia minta kepadaku agar mengembalikannya kepada kalian!"

"Sekarang di manakah orang itu?" "Masih berada di sini!"

"Di mana?"

"Itu dia, ada di situ!"

Toa-tauke menuding ke belakang, semua orang segera mengalihkan sinar matanya ke arah mana yang ditunjuk, tampaklah seseorang berdiri di luar pintu.

Itulah seorang perempuan yang montok, cantik dan bahenol. Ternyata dia bukan lain adalah nyonya muda yang pernah ditemui di rumah pemintalan Sui-tek-siang tadi.

Mungkinkah perempuan ini betul-betul adalah seorang jago lihay yang sengaja menyembunyikan kepandaian silatnya dan sanggup menggantung mati Toa- hwesio di atas pohon dalam waktu singkat?

Siapapun tak dapat melihatnya, siapapun tak akan mempercayainya, tapi mau tak mau mereka harus mempercayainya juga.

Tiba-tiba Kanyo berpekik keras, tubuhnya bergelinding di tanah sambil menubruk ke depan, tiga batang bintang baja disambit ke muka dengan kecepatan luar biasa. Tubuh si nyonya muda itu berkelit ke samping dan menyembunyikan diri ke belakang pintu.

Sekali lagi Kanyo meraung keras, lalu roboh terjengkang ke atas tanah, tiga batang senjata rahasia berbentuk bintang menancap di atas dadanya, itulah senjata rahasia yang ia lepaskan sendiri.

Paras muka Pek Bok berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur tubuh rekan-rekannya telah menjadi dingin pula seperti es.

Sesosok bayangan manusia muncul kembali pelan-pelan dari balik pintu, dialah si nyonya muda yang baru saja melahirkan anak itu.

Dengan terkejut Suzuko memandang ke arahnya, lalu bergumam seorang diri dengan suara lirih:

"Nona cantik ini ternyata betul-betul bukan nona untuk menghibur diri, dia adalah seorang siluman perempuan!"

Nyonya muda itu berpaling ke arahnya lalu tertawa manis. "Sukakah kau dengan siluman perempuan?", tegurnya.

Sekalipun suaranya kedengaran agak gemetar, tapi senyumannya itu sungguh manis dan menawan hati.

Sepasang mata Suzuko berubah menjadi merah padam seperti api yang menyala, sambil menggenggam kencang gagang samurainya, selangkah demi selangkah ia maju ke depan.

"Hati-hati!", Pek Bok segera memperingatkan.

Sayang peringatan itu datangnya agak terlambat, Suzuko telah merentangkan sepasang tangannya sambil menubruk ke depan, dia hendak memeluk perempuan itu ke dalam rangkulannya.

Ternyata ia menubruk tempat kosong.

Tubuh nyonya muda itu telah menyurut kembali ke balik pintu. Baru saja ia hendak menyusulnya, tiba-tiba jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang lagi memecahkan kesunyian, selangkah demi selangkah ia mundur ke belakang.

Sebelum orang lain sempat menyaksikan raut wajahnya, mereka telah menjumpai sebagian ujung golok menongol di balik punggungnya, darah segar berhamburan memenuhi seluruh lantai.

Menunggu ia roboh tertelentang di atas tanah, semua orang baru dapat lihat jelas senjata tersebut.

Ternyata senjata itu adalah sebilah samurai yang panjangnya delapan depa, senjata itu menusuk dari dadanya hingga tembus di punggung dan senjata itu bukan lain adalah senjata andalannya sendiri.

Sekali lagi si nyonya muda itu munculkan diri di depan pintu, lalu menatap mereka lekat-lekat. Di balik biji matanya yang indah dan jeli, terpancarlah perasaan sedih, marah dan ngerinya. Kali ini tak ada orang yang berani maju untuk melancarkan tubrukan lagi, bahkan paras muka Tiok Yap-cing pun ikut berubah sangat hebat.

Hanya Toa-tauke seorang yang tenang dan wajahnya sama sekali tak berubah, ujarnya dengan suara hambar:

"Manusia macam beginikah yang secara khusus kau undang untuk melindungi keselamatan jiwaku?"

Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Tiok Yap-cing.

Tiok Yap-cing menundukkan kepalanya rendah-rendah, ia tak berani buka suara. "Dengan mengandalkan kepandaian mereka semua, sanggupkah A-kit dihadapi?"

Paras muka Tiok Yap-cing telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, kepalanya semakin ditundukkan rendah-rendah.

Toa-tauke menghela napas panjang ujarnya:

"Coba lihatlah, untuk menghadapi seorang perempuan saja mereka tak mampu, mana mungkin. "

Tiba-tiba Pek Bok menukas pembicaraannya yang belum selesai itu, kedengaran ia membentak keras:

"Sobat, kalau toh sudah datang kemari, kenapa masih bersembunyi terus di luar pintu? Tidak beranikah kau untuk menampilkan diri?"

"Siapa yang sedang kau ajak berbicara?", Toa-tauke segera menegur. "Sahabat yang berada di luar pintu!"

"Apakah di luar pintu ada sahabatmu?", tanya Toa-tauke lagi.

Pelan-pelan ia menggelengkan kepalanya, lalu menjawab sendiri pertanyaan tersebut. "Pasti tidak ada, aku berani menjamin di luar pasti tak ada sahabatmu. !"

Suasana di luar pintu memang amat sepi dan tak kedengaran suara jawaban. Satu-satunya orang yang berdiri di luar pintu tak lain adalah nyonya muda dari rumah pemintalan kain itu.

Kalau tadi dia masih sanggup untuk membunuh dua orang dengan mempergunakan senjata andalan mereka sendiri, maka sekarang ia kelihatan ketakutan setengah mati.

Pek Bok tertawa dingin, ia segera memberi tanda kepada rekan-rekannya untuk bertindak.

Ting Ji-long dan Cing Coa segera melayang ke tengah udara, satu dari kiri yang lain dari kanan, mereka menerobos ke luar lewat daun jendela, gerakan tubuhnya sangat enteng dan lincah persis seperti seekor burung walet yang sedang terbang.

Bersamaan waktunya Hu Tau menggerakkan pula kampaknya, sambil meraung keras ia ikut menerkam ke depan.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba saja Hek Kui telah mendahului di depannya. Tapi si nyonya muda itu telah lenyap tak berbekas.

Ke empat orang itu bekerja sama dengan bagus dan ketatnya, kiri kanan depan belakang semuanya melakukan gerakan hampir bersamaan waktunya, baik di belakang pintu ada orang yang bersembunyi atau tidak, perduli siapapun orangnya, dengan kepungan semacam ini rasanya sulit bagi orang itu untuk meloloskan diri.

Terutama sekali pedang dari Hek Kui, tusukan mautnya yang menembusi tenggorokan belum pernah kehilangan sasarannya.

Tapi aneh sekali, sudah sekian lama ke empat orang itu keluar dari ruangan, akan tetapi suasana di luar sana tetap tenang dan hening, sama sekali tak kedengaran sedikit suarapun.

Tanpa sadar Pek Bok meraba gagang pedangnya, peluh dingin telah mengucur ke luar membasahi jidatnya.

Pada saat itulah. "Blaaaang!", daun jendela sebelah kiri ditumbuk hingga terbuka lebar,

sesosok bayangan manusia melayang masuk ke dalam.

Hampir bersamaan waktunya daun jendela sebelah kananpun terpentang lebar, lagi-lagi sesosok bayangan manusia melayang masuk ke dalam.

Ke dua orang itu mencapai permukaan tanah hampir bersamaan waktunya........

"Braaaakkk!", seperti dua buah karung goni yang berat mereka terbanting keras-keras di tanah.

Ternyata kedua orang itu bukan lain adalah Cing Coa serta Ting Ji-long yang telah menyusup ke luar selincah burung walet itu.

Di saat tubuh mereka roboh terkapar di tanah, Hu Tau dan Hek Kui telah kembali pula, Cuma saja si Hu Tau pulang tanpa kepala dan Hek Kui betul-betul sudah menjadi Kui (setan).

Batok kepala Hu Tau dipenggal oleh senjata kampaknya sendiri, sedang pedang Hek Kui sudah tidak berada dalam genggamannya lagi, cuma di atas tenggorokannya kini sudah bertambah dengan sebuah lubang besar yang mengucurkan darah segar.

Tangan Pek Bok masih menggenggam gagang pedang, sementara peluh dingin yang membasahi jidatnya mengucur keluar bagaikan curahan hujan deras.................

Dengan hambar Toa-tauke berkata:

"Bukankah semenjak tadi telah kukatakan bahwa di luar pintu tak ada sahabatmu, kau tidak percaya, nah! Sekarang tentunya kau sudah paham bukan bahwa di luar situ paling banter hanya satu dua orang utusan dari neraka yang akan merenggut nyawa kalian semua" 

Otot-otot hijau di tangan Pek Bok yang menggenggam pedang telah menonjol semua seperti ular melingkar, tiba-tiba ia berseru:

"Bagus, bagus sekali!"

Suaranya berubah menjadi sangat parau, terusnya: "Sungguh tak kusangka 'Dengan gigi membalas gigi, dengan darah membalas darah" telah datang!"

"Kau keliru besar!", tiba-tiba dari luar pintu berkumandang suara tertawa dingin yang amat singkat. "Apakah yang datang adalah Mao-toa-sianseng?"

"Kali ini tebakanmu benar!"

Pek Bok segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Bagus, kepandaian bagus, dengan cara yang sama melakukan pembalasan yang sama. Kalian memang tidak malu menjadi keturunan keluarga Buyung di wilayah Kanglam!"

Ketika menyinggung soal 'keluarga Buyung dari Kanglam', tiba-tiba dari luar pintu berkumandang suara geraman gusar seperti auman binatang buas yang sangat mengerikan.

Cahaya pedang di balik pintu berkelebat lewat, Pek Bok telah meluncur ke luar dengan kecepatan luar biasa, cahaya pedang bagaikan selapis mega melindungi seluruh tubuhnya.

Tiok Yap-cing tidak berani ikut keluar, ia berdiri kaku tanpa bergerak barang sedikitpun jua, iapun tidak melihat jelas orang di luar pintu itu, hanya tahu-tahu terdengar suara. "Kreeeek!" serentetan

cahaya tajam meluncur datang dan menancap di atas dinding, ternyata cahaya tersebut adalah sebagian ujung pedang yang patah.

Menyusul kemudian. "Kreeekk! Kreeeekkk!" kembali ada tiga kutungan pedang melayang

masuk dan menancap di atas dinding.

Kemudian selangkah demi selangkah Pek Bok mundur kembali ke dalam ruangan, mukanya pucat pias seperti mayat, pedang dalam genggamannya kini tinggal gagang pegangannya saja.

Dengan suatu gerakan yang luar biasa, pedang panjangnya yang terbuat dari baja murni itu tahu- tahu sudah dikutungi menjadi beberapa bagian.......

Di luar pintu kedengaran seseorang tertawa dingin, kemudian berkata:

"Sekalipun tidak mempergunakan ilmu silat keluarga Buyung, aku toh masih tetap dapat membunuhmu!"

Pek Bok ingin mengucapkan sesuatu, tapi di tahan kembali, mendadak ia muntah darah segar, sewaktu tubuhnya roboh di atas tanah, paras mukanya yang pucat pias itu kini telah berubah menjadi hitam pekat.

Toa-tauke tersenyum, pujinya:

"Kepandaian itu memang bukan kepandaian dari keluarga Buyung, inilah ilmu pukulan Hek-sah- ciang (Pukulan pasir hitam)!"

"Sungguh tajam sepasang matamu!", puji orang yang ada di luar pintu. "Kali ini aku benar-benar telah merepotkan Mao-toa-sianseng!"

Dari luar pintu Mao-toa-sianseng menjawab: "Kalau hanya untuk membunuh beberapa orang manusia bangsa tikus begini mah, bukan terhitung merepotkan, coba kalau berganti Ciu Ji yang melakukan pekerjaan ini, mungkin orang- orang itu akan mampus lebih cepat lagi!"

"Apakah Ciu Ji sianseng dengan cepat akan sampai pula di sini?", Toa-tauke kembali bertanya. "Ya, dia pasti akan datang!"

Toa-tauke menghembuskan napas panjang, katanya:

"Ilmu pedang Ciu Ji sianseng memang tiada bandingannya di dunia ini, sudah lama aku mengaguminya!"

"Meskipun ilmu pedangnya belum tentu sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini, namun tidak banyak jumlah orang yang bisa menangkap permainan pedangnya!"

Toa-tauke tertawa terbahak-bahak. Mendadak ia berpaling ke arah Tiok Yap-cing yang berada di sisinya.

Paras muka Tiok Yap-cing telah berubah menjadi pucat ke abu-abuan, ia benar-benar merasa takut sekali.

"Sudah kau dengar semua pembicaraan itu?", tegur Toa-tauke kemudian. "Sudah, sudah kudengar semua!"

"Dengan bersedianya Mao-toa-sianseng dan Ciu-ji sianseng membantu usaha kita, bukan suatu pekerjaan yang gampang bagi si A-kit untuk merenggut selembar nyawaku!"

"Ya, benar!", Tiok Yap-cing membenarkan.

Toa-tauke mendengus dingin, kembali ujarnya dengan hambar:

"Bila kau menginginkan pula nyawaku, aku rasa hal inipun tak bisa kau laksanakan dengan gampang"

"Aku. "

Tiba-tiba Toa-tauke menarik muka, katanya dingin:

"Maksud baikmu dapat kupahami, tapi seandainya aku benar-benar mengandalkan perlindungan dari beberapa orang jago silat yang kau undang itu, hari ini selembar jiwaku pasti sudah melayang!"

Tiok Yap-cing tak berani bersuara.

Ia berlutut terus tanpa bergerak, berlutut dengan tubuh tegak lurus, berlutut di hadapan Toa-tauke.

Sekarang ia baru merasa bahwa orang ini ternyata jauh lebih lihay daripada apa yang dibayangkan semula.

Toa-tauke sama sekali tidak memandang lagi ke arahnya, bahkan sekejappun tidak, sambil ulapkan tangannya ia berseru:

"Kau telah lelah, lebih baik pergilah tinggalkan tempat ini!" Tiok Yap-cing tidak berani melakukannya.

Di luar pintu telah siap menunggu seorang utusan dari neraka yang akan merenggut nyawa orang, tentu saja ia tak berani ke luar dari situ secara sembarangan.

Tapi diapun tahu, setiap ucapan yang telah diutarakan oleh Toa-tauke merupakan perintah, jika ia berani membangkang perintah Toa-tauke berarti hanya kematian yang akan diterima olehnya.

Untunglah pada saat semacam itu, tiba-tiba dari halaman luar kedengaran seseorang berteriak keras:

"A-kit telah datang"

Malam itu malam yang dingin sekali.

Angin dingin berhembus kencang dan menggoyangkan ranting serta daun. Pelan-pelan A-kit berjalan menembusi lorong sempit itu.

Setelah bulan berselang, ketika ia sedang berjalan melewati lorong sempit iyu, masih tidak tahu jalan yang manakah yang bakal ditempuh olehnya.

Tapi sekarang ia telah mengetahuinya.

.......Manusia macam apakah dia, harus pula melewati jalan yang macam apa pula.

.......Sekarang di hadapan matanya hanya ada satu jalan yang bisa dilewati, pada hakekatnya ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali melalui kenyataan tersebut.

Ketika pintu gerbang di buka lebar, tampaklah sebuah jalan terbentang jauh ke depan, jalan itu penuh berliku-liku dan menembusi semak belukar........

Seorang pemuda yang tampan, halus dan sopan berdiri serius di tepi pintu, dengan sikap yang sungguh-sungguh dan penuh rasa hormat, ia menegur:

"Engkau datang untuk mencari siapa?" "Mencari Toa-tauke kalian!", jawab A-kit.

Pemuda itu mendongakkan kepalanya memandang sekejap wajah orang itu, tapi dengan cepat ia menunduk kembali sambil berbisik:

"Dan saudara adalah ?"

"Aku adalah A-kit, A-kit yang tak berguna!"

Sikap si anak muda itu jauh lebih hormat dan sopan lagi, dengan cepat katanya: "Toa-tauke sedang menunggu di ruang kebun, silahkan!" A-kit menatapnya tajam-tajam, mendadak ia bertanya:

"Dahulu, rasanya aku belum pernah berjumpa denganmu!" "Ya, belum pernah!"

"Siapa namamu?"

"Aku bernama Siau Te!"

Tiba-tiba ia tertawa dan menambahkan:

"Akulah yang lebih pantas disebut Siau Te yang tak berguna, sebab aku benar-benar tak berguna!"

Siau Te berjalan di muka membawa jalan, sedang A-kit pelan-pelan mengikuti di belakangnya. Dia tak ingin membiarkan pemuda itu berjalan di belakangnya.

Ia telah merasakan bahwa Siau Te yang tak berguna mungkin berkali-kali lipat lebih berguna dari pada siapapun juga.

Selesai menelusuri halaman sempit itu, ia telah menyaksikan hancuran daun jendela, yang berada di sebelah kiri ruangan.

Di balik daun jendela, seakan-akan ia menyaksikan ada cahaya golok yang berkilauan. Golok tersebut berada di tangan Tiok Yap-cing.

Barang siapa berani melanggar perintah To-tauke, dia harus mati!

Tiba-tiba Tiok yap-cing mencabut ke luar samurai yang menancap di atas tubuh Suzuko. sekalipun harus mati, ia merasa lebih baik mati ditangan sendiri.

Tangannya secepat kilat dibalik dan golok itu dibacokkan ke atas tenggorokan sendiri. Mendadak. "Triiiiing!", percikan bunga api berhamburan ke empat penjuru, ternyata golok yang

berada di tangannya telah dihajar sampai mencelat dari genggamannya dan "Toook!",

menancap kembali di atas daun jendela.

Sebutir batu kecil ikut rontok pula ke tanah mengikuti kejadian tadi. Toa-tauke segera tertawa.

"Suatu kekuatan sambitan yang hebat, tampaknya A-kit benar-benar sudah datang" Belum habis perkataan itu, ia telah melihat si A-kit. Walaupun sudah tidur seharian penuh, lagi pula tidur dengan pulas sekali, A-kit masih merasa agak lelah.

Suatu perasaan lelah yang muncul dari dasar hatinya, seakan-akan dalam hati kecilnya telah tumbuh bibit rumput yang sangat beracun.

Pakaian yang ia kenakan masih merupakan pakaian kasar yang dekil dan penuh tambalan itu, mukanya yang pucat telah dipenuhi cambang hitam, bukan saja ia kelihatan sangat lelah, tua dan lemah lagi, bahkan rambutnya sudah lama tak pernah di cuci.

Meskipun demikian, sepasang tangannya sangat bersih dan rapi, kukunya di potong pendek, teratur dan rapi.

Toa-tauke sama sekali tidak memperhatikan sepasang tangannya. Kaum lelaki memang jarang sekali memperhatikan tangan pria lainnya.

Dengan sinar mata yang tajam ia memperhatikan wajah A-kit dari atas sampai ke bawah, ia sudah memperhatikannya berulang kali, tiba-tiba tegurnya:

"Kau yang bernama A-kit?"

A-kit berdiri ogah-ogahan di situ, sedikitpun tidak memberikan reaksi apa-apa, pertanyaan yang tak perlu jawaban tak pernah ia menjawabnya.

Tentu saja Toa-tauke mengetahui siapakah dia, tapi ada satu hal tidak ia pahami. "Mengapa kau menyelamatkan orang ini?"

Orang yang dimaksud tentu saja Tiok Yap-cing. "Yang kuselamatkan bukan dia!", jawab A-kit. "Kalau bukan dia lantas siapa?"

"Si Boneka!"

Kelopak mata Toa-tauke mulai menyusut kecil, katanya lagi:

"Oooooh. jadi lantaran si Boneka berada di tangannya, maka kematiannya berarti pula kematian

bagi si Boneka?"

Dengan sinar mata setajam sembilu ditatapnya wajah Tiok Yap-cing lekat-lekat, kemudian ujarnya lagi:

"Tentu saja kau juga tahu bukan, bahwa ia tak akan membiarkan kau mampus. ?"

Tiok Yap-cing tidak menyangkal.

Dadu sudah dilempar, angka sudah tertera, sandiwara ini tidak penting dilangsungkan lebih jauh, dan apa yang diperankan pun sudah waktunya untuk berakhir.

Sekarang, satu-satunya perbuatan yang bisa ia lakukan adalah menunggu lemparan dadu dari A- kit, dia ingin tahu angka berapa yang akan diperolehnya. Sekarang ia sudah tidak berkeyakinan lagi untuk mempertaruhkan bahwa A-kit pasti akan menangkan pertarungan ini.

Toa-tauke menghela nafas panjang, katanya:

"Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai orang kepercayaanku, sungguh tak kusangka kalau selama ini kau hanya bersandiwara saja di hadapan mukaku"

"Ya, peranan yang bagus kita perankan sesungguhnya adalah peranan yang saling bermusuhan!", Tiok yap-cing mengakuinya.

"Oleh karena itulah sebelum sandiwara ini berakhir, di antara kita berdua harus ada seorang yang mampus lebih dahulu!", ujar Toa-tauke kembali.

"Seandainya sandiwara ini harus dilangsungkan mengikuti skenario yang telah ku susun, maka yang bakal mampus seharusnya adalah kau!", Tiok yap-cing menyengir.

"Dan sekarang?"

Tiok Yap-cing tertawa getir, sahutnya:

"Sekarang perananku sudah berakhir, yang memegang peranan penting dalam permainan sandiwara sekarang adalah A-kit"

"Peranan apakah yang ia perankan sekarang?"

"Peranannya adalah seorang pembunuh, sedang orang yang akan dibunuhnya adalah kau!" Toa-tauke segera berpaling ke arah A-kit, lalu tanyanya dengan suara dingin:

"Apakah kau hendak memerankan perananmu itu lebih jauh?" A-kit tidak menjawab.

Secara tba-tiba saja ia merasakan adalah hawa pembunuhan yang amat hebat, bagaikan jarum yang tajam sedang menusuk punggungnya.

Hanya pembunuh yang benar-benar ingin membunuh orang serta mempunyai kemampuan yang meyakinkan untuk membunuh orang, baru akan memancarkan hawa pembunuhan semacam ini.

Tak bisa diragukan lagi saat ini ada manusia semacam ini yang berada di belakang punggungnya, bahkan ia mulai merasakan pula bahwa kulit tubuh bagian tengkuknya secara tiba-tiba mulai mengejang keras dan membeku.

Tapi ia tidak berpaling.

Sekarang, walaupun ia hanya berdiri seenaknya dengan gaya yang santai, sesungguhnya semua anggota tubuhnya dan seluruh kulit badannya berada dalam keadaan siap siaga penuh, sedikitpun tiada titik kelemahan.

Asal ia berpaling, maka posisi semacam itu tak akan bisa dipertahankan lagi, sekalipun hanya keteledoran yang amat sedikit saja, akibatnya akan mempengaruhi juga kelangsungan hidupnya.

Ia tak boleh memberikan kesempatan semacam ini kepada pihak lawan. Pihak lawan jelas sedang menantikan kesempatan semacam itu, hampir setiap orang yang hadir dalam ruangan itu dapat merasakan hawa pembunuhan yang amat mencekam itu, pernapasan semua orang nyaris terhenti, sementara peluh sebesar kacang telah membasahi jidatnya.

A-kit belum juga berkutik, malah ujung jaripun sama sekali tidak bergerak.

Bila seseorang yang dengan jelas mengetahui bahwa ada orang hendak membunuhnya, tapi ia masih bisa berdiri tak berkutik, boleh dibilang setiap urat syaraf di tubuh orang ini pasti sudah berhasil dilatihnya hingga lebih tangguh dari kawat baja.

Sekarang A-kit malahan memejamkan sepasang matanya.

Orang yang hendak membunuhnya berada di belakang punggung, ia tak usah memperhatikannya dengan mata, sebab dia tak akan melihatnya.

Yang penting, ia harus memperhatikan kekosongan dan konsentrasi pikirannya.

Tentu saja orang itupun seorang jago tangguh, hanya seorang jago tangguh yang punya pengalaman ratusan kali pertarungan serta membunuh orang dalam jumlah yang tak terhitung baru akan memiliki kesabaran dan ketenangan seperti ini, sebelum kesempatan yang dinantikan tiba, dia tak akan turun tangan secara gegabah.

Kini suasana di sekeliling tempat itu menjadi hening dan sepi, bahkan hembusan anginpun seolah- olah ikut terhenti.

Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengalir keluar melewati ujung hidungnya dan membasahi seluruh tubuh Toa-tauke.

Ia biarkan keringat itu mengucur keluar, ia tidak berusaha untuk menyekanya.

Kini tubuhnya ibarat sebuah anak panah yang sudah berada di atas gendewa, bukan saja tegang dan serius, makan pikiran lagi. Ia betul-betul tidak habis mengerti, mengapa kedua orang itu bisa bersikap begitu sabar dan tahan uji.

Ia mulai tak mampu mengendalikan perasaannya, tiba-tiba tegurnya:

"Tahukah kau bahwa di belakang punggungmu ada orang yang siap membunuh dirimu?" A-kit tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bergerak.

"Tahukah kau siapakah orang itu?", kembali Toa-tauke menegur. A-kit tidak tahu.

Dia hanya tahu entah siapapun orang itu, sekarang dia pasti tak akan berani untuk turun tangan.

"Mengapa kau tidak mencoba untuk berpaling dan memeriksa sendiri, siapa gerangan orang itu?, Toa-tauke mendesak lebih lanjut.

A-kit tidak berpaling tapi membuka sepasang matanya lebar-lebar, karena secara tiba-tiba ia merasakan kembali segulung hawa pembunuhan yang amat dahsyat.

Kali ini hawa membunuh itu datangnya dari depan. Ketika ia membuka matanya, maka tampaklah seseorang berdiri di depan sana agak jauh dari posisinya, orang itu bertubuh jangkung, memakai dandanan seorang tosu, menggembol pedang, bermuka pucat dan memancarkan keangkuhan yang luar biasa.

Sepasang alis matanya yang tebal hampir bersambungan antara yang satu dengan lainnya, wajah semacam ini penuh memancarkan rasa benci dan dendam yang luar biasa.

Ketika A-kit membuka matanya, ia segera berhenti bergerak.

Ia telah menyaksikan seluruh jiwa, semangat dan tenaga tosu itu telah terhimpun menjadi satu, bila semua kekuatan tersebut di lontarkan keluar maka akibatnya akan sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Ia sendiripun tak berani sembarangan bergerak, diawasinya sepasang tangan A-kit lekat-lekat, mendadak ia bertanya, mendadak ia bertanya:

"Mengapa kau tidak membawa serta pedangmu itu?" A-kit hanya membungkam, tidak berkata apa-apa.

Toa-tauke tidak dapat mengendalikan rasa sabarnya, ia berseru:

"Apakah kau tahu kalau senjata andalannya adalah sebilah pedang?" Tosu itu mengangguk.

"Ya, dia memiliki sepasang tangan yang bagus sekali!"

Toa-tauke belum pernah memperhatikan sepasang tangan A-kit, hingga kini ia baru mengetahui bahwa tangannya dengan orangnya betul-betul sangat tidak serasi.

Tangannya terlalu bersih, terlalu rapi dan terawat. "Inilah kebiasaan kami!", tosu itu menerangkan lagi. "Kebiasaan apa?"

"Kami tidak akan menodai pedang kami sendiri!"

"Oleh karena itu tangan kalian harus selalu bersih dan terawat rapi?" Tosu itu mengangguk.

"Ya, kuku kamipun harus digunting pendek-pendek!", sahutnya. "Kenapa?"

"Sebab kuku yang terlalu panjang hanya mengganggu kita sewaktu memegang pedang, asal pedang sudah berada di tangan, maka kami tidak akan membiarkan benda apapun mengganggu kita!"

"Ya, ini memang suatu kebiasaan yang baik!", kata Toa-tauke. "Tidak banyak orang yang mempunyai kebiasaan baik seperti ini!", sambung si tosu. "Oya?"

"Bila ia bukan jago pedang yang sudah punya pengalaman menghadapi beratus-ratus kali pertarungan, tak nanti kebiasaan baik semacam ini akan berlangsung lama!"

"Orang yang bisa dianggap Ciu Ji sianseng sebagai jago pedang, sudah pasti merupakan seorang jago yang lihay dalam menggunakan pedang. !"

"Ya, sudah pasti!"

"Tapi berapa banyakkah manusia yang bisa lolos dari ujung pedang Ciu Ji sianseng dalam keadaan hidup?"

"Tidak banyak!", Ciu Ji sianseng kelihatan amat bangga.

Ia sombong tentu saja, karena mempunyai alasan untuk bersikap demikian.

Selama setengah abad berkelana dalam dunia persilatan, seluruh wilayah Kanglam telah dijelajahi olehnya, dari sepuluh orang jago pedang terlihay di wilayah Kanglam, ada tujuh orang diantaranya telah ia jumpai, tapi belum pernah ada seorangpun diantara mereka yang bisa menyambut ke tiga puluh jurus serangannya.

Ilmu pedangnya bukan saja aneh dan ganas, kecepatan serta reaksinyapun luar biasa sekali, jauh di luar dugaan siapapun.

Ke tujuh orang jago pedang yang tewas di ujung pedangnya rata-rata tewas karena sebuah tusukan yang mematikan, terutama sekali Hong-lui-sam-ci (Tiga tusukan kilat angin geledek) dari San-tian-tui-hong-kiam (Pedang kilat pengejar angin) Bwe Cu-gi, betul-betul merupakan kepandaian yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Ketika ia membunuh Bwe Cu-gi, jurus serangan itulah yang dipergunakan.

Ketika Bwe Cu-gi menyerangnya dengan jurus Hong-lui-sam-ci, maka dengan mempergunakan jurus serangan yang sama ia melancarkan serangan balasan.

Kalau ilmu pedang seseorang bisa disebut sebagai San-tian-tui-hong-kiam (Pedang Kilat Pengejar Angin), maka kecepatannya bisa dibayangkan betapa hebatnya.

Akan tetapi ketika ujung pedang Bwe Cu-gi masih berada tiga inci dari tenggorokannya, pedangnya yang dilancarkan belakangan ternyata telah menembusi tenggorokan Bwe Cu-gi lebih dahulu.

Ada seorang anak buah Toa-tauke yang mengikuti jalannya pertarungan itu dengan mata kepala sendir, menurut laporannya:

"Tusukan pedang yang dilancarkan Ciu Ji sianseng itu ternyata tak seorangpun yang mengetahui bagaimana caranya ia turun tangan sekalipun ada empat puluhan orang jago lihay dunia persilatan yang hadir di situ, semua orang hanya merasakan berkelebatnya cahaya pedang, tahu-tahu darah segar telah membasahi seluruh pakaian Bwe Cu-gi".

Oleh sebab itulah Toa-tauke menaruh kepercayaan penuh terhadap orang ini, apalagi sekarang masih ada satu-satunya keturunan dari keluarga Buyung yang bernama Mao It-leng mengadakan kontak dengannya. Sekalipun Mao It-leng tidak akan turun tangan paling tidak ia dapat membuyarkan perhatian A-kit. Pada hakekatnya menang kalahnya pertarungan ini sudah ia tentukan semenjak dulu.

Duduk di atas kursi kebesarannya yang berlapiskan kulit harimau, perasaan Toa-tauke tenang dan mantap bagaikan bukit Tay-san, katanya sambil tertawa:

"Sejak Cia Sam-sauya dari Sin-kiam-san-ceng ditemukan mati, Yan Cap-sa membuang pedangnya ke sungai, jago pedang manakah di dunia ini yang sanggup menandingi Ciu Ji Sianseng? Apabila Ciu Ji Sianseng menginginkan papan nama emas "Thian-he-tit-it-kiam" dari keluarga Cia itu, hakekatnya tak lebih hanya tinggal soal waktu saja"

Dikala sedang gembira, ia tak pernah lupa memuji orang lain dengan kata-kata yang indah, sayangnya ucapan tersebut tak didengar sama sekali oleh Ciu Ji sianseng.

Begitu mendengar nama 'Ciu Ji sianseng', tiba-tiba saja kelopak mata A-kit berkerut kencang, seakan-akan ditusuk oleh sebatang jarum secara tiba-tiba, sebatang jarum beracun yang telah berubah menjadi merah karena darah dan dendam sakit hati.

Ciu Ji sianseng sama sekali tak kenal dengan pemuda rudin yang berwajah layu itu, bahkan berjumpapun tak pernah.

Ia tidak habis mengerti kenapa orang ini menunjukkan sikap seperti itu? Ia tak menyangka kalau orang ini bisa menunjukkan reaksi seperti itu lantaran mendengar namanya.

Ia hanya mengetahui satu hal.......

Kesempatan baik baginya telah datang.....

Bagaimanapun tenang dan mantapnya seseorang, apabila secara tiba-tiba mengalami rangsangan yang jauh di luar dugaan dari luar, maka reaksinya akan berubah menjadi lambat.

Sekarang tak bisa disangkal lagi kalau pemuda ini telah mengalami rangsangan tersebut.

Dendam sakit hati, kadangkala merupakan juga suatu kekuatan, suatu kekuatan yang menakutkan sekali, tapi sekarang mimik wajah yang ditampilkan A-kit bukanlah dendam sakit hati, melainkan suatu penderitaan, suatu kesedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Luapan emosi semacam ini hanya bisa membuat orang menjadi lemah dan tak bertenaga saja.

Ciu Ji sianseng sama sekali tak ingin menunggu sampai A-kit betul-betul roboh tak bertenaga, ia sadar jika kesempatan baik ini hilang, maka selamanya tak akan datang kembali.

Pedang samurai sepanjang delapan depa milik Suzuko masih memantek di atas daun jendela. Tiba-tiba Ciu Ji sianseng mencabutnya secara kilat dan melemparkannya ke arah A-kit.

Dia masih mempunyai sebuah tangan lain yang menganggur.

Pedang yang tersoren di punggungnya itu tahu-tahu sudah diloloskan dari sarungnya. Berhasilkah A-kit menyambut pedang samurai yang dilemparkan ke arahnya? Ciu Ji sianseng telah mempersiapkan sebuah serangan mematikan yang benar-benar luar biasa. Sekarang ia sudah punya keyakinan yang kuat.

A-kit telah menyambut samurai tersebut.

Sebenarnya pedang yang ia pergunakan adalah sebilah pedang yang panjangnya dari gagang pedang sampai ke ujung pedangnya hanya tiga depa sembilan inci.

Gagang samurai ini sendiri panjangnya sudah mencapai satu depa lima inci, biasanya para busu dari negeri Hu-sang (Jepang) memegang samurainya dengan kedua belah tangannya, mereka mempunyai gerakan jurus golok yang jauh berbeda dengan jurus-jurus golok daratan Tionggoan, apalagi dibandingkan dengan ilmu pedang.

Dengan samurai di tangan, maka keadaannya ibarat tukang besi menempa baja dengan pena, sastrawan melukis dengan palu, daripada ada lebih baik sama sekali tidak ada.

Tapi ia menyambut juga pedang samurai itu.

Ternyata ia seakan-akan kehilangan kemampuannya untuk melakukan penilaian, ia tak dapat melakukan penilaian apakah tindakannya ini betul atau salah.

Pada saat ujung jarinya tangannya menyentuh gagang pedang samurai itu, cahaya pedang telah membelah angkasa dan meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Pedangnya yang tiga depa tujuh inci itu sudah menguasai seluruh ruang geraknya, itu berarti pedang samurai yang delapan depa panjangnya itu tak mungkin bisa digunakan lagi.

Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu ujung pedang itu telah tiba di atas tenggorokan A-kit. Tiba-tiba A-kit menggetarkan tangannya,......." Kreeeekkk. !", tiba-tiba saja pedang samurai itu

patah menjadi dua bagian.

Ya, pedang samurai itu patah menjadi dua bagian dari tempat di mana terkena sambitan batu itu. Batu tersebut tepat menghajar di bagian tengah tubuh pedang samurai itu.

Ketika ujung samurai yang tiga depa panjangnya itu rontok ke tanah, segera muncul kembali ujung golok yang panjangnya tiga depa.

Ujung pedang dari Ciu Ji sianseng ibaratnya ular berbisa telah menerobos masuk ke mari, jaraknya dengan tenggorokan tinggal tiga inci saja, hakekatnya tusukan itu memang suatu tusukan yang tepat dan mematikan.

Sejak dari mencabut golok sampai melontarkannya ke depan, mencabut pedang serta melancarkan serangan, setiap tindakan serta perbuatannya semua dilakukan dengan perhitungan yang masak serta sasaran yang tepat.

Sayang sekali ada satu hal yang tidak ia perhitungkan.

"Triiiing. !", percikan bunga api memancar ke empat penjuru, tahu-tahu kutungan pedang

samurai itu telah menyongsong pedangnya. bukan mata pedang yang di arah melainkan ujung

pedangnya. Tak ada orang yang bisa menyongsong datangnya ujung pedang yang sekarang menusuk tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itu.

Tak ada orang yang bisa melepaskan serangan dengan begitu cepat dan begitu tepatnya.

........Mungkin bukannya sama sekali tak ada orang, mungkin saja masih ada satu orang. Tapi mimpipun Ciu Ji sianseng tidak menyangka kalau A-kit lah orangnya......

Begitu ujung pedangnya bergetar, ia segera merasakan ada semacam getaran yang sangat aneh menyusup masuk lewat tubuh pedangnya, menembusi tangan, lengan dan bahunya.

Kemudian ia seolah-olah merasa ada segulung angin berhembus lewat.

Kutungan pedang samurai di tangan A-kit ternyata berubah menjadi segulung angin yang berhembus lewat pelan-pelan.

Ia dapat menyaksikan kilatan pedang samurai itu, dapat merasakan pula hembusan angin itu, tapi ia sama sekali tak tahu bagaimana caranya untuk menghindari dan menangkis datangnya ancaman tersebut.

.........Ketika angin berhembus datang, siapakah yang mampu menghindarinya? Siapakah yang tahu angin itu akan berhembus datang dari mana?

Tapi ia tidak putus asa, karena dia masih ada seorang teman yang sedang menanti di belakang A- kit.

Sebagian besar orang persilatan selalu beranggapan bahwa ilmu pedang yang dimiliki Ciu Ji sianseng jauh lebih hebat daripada kepandaian Mao-toa-sianseng, ilmu silatnya jauh lebih menakutkan daripada ilmu silat Mao-toa-sianseng.

Hanya dia seorang yang tahu bahwa pandangan semacam ini sesungguhnya suatu pandangan yang bodoh sekali dan menggelikan, dan hanya dia seorang pula yang tahu seandainya Mao-toa- Sianseng menginginkan jiwanya, ia akan memperolehnya cukup dalam satu jurus belaka.

Serangannya baru benar-benar merupakan suatu jurus serangan yang mematikan, ilmu pedang yang dimilikinya baru betul-betul merupakan suatu ilmu pedang yang menakutkan sekali, tak seorangpun manusia yang dapat menilai kecepatan dari jurus serangan tersebut, tak ada pula orang yang tahu sampai di manakah kekuatan serta perubahan gerakan yang dimilikinya, sebab pada hakekatnya belum pernah ada orang yang sanggup menyaksikannya.

Sudah banyak tahun ia hidup bersama dengan Mao-toa-sianseng, sudah seringkali mereka menentang bahaya maut bersama, hidup gembira bersama, tapi bahkan dia sendiripun hanya sempat melihat satu kali saja.

Ia percaya asal Mao-toa-sianseng melancarkan serangan tersebut, kendatipun A-kit masih sanggup menghindarkan diri, tak nanti ia memiliki sisa kekuatan untuk melukai orang.

Ia percaya sekarang Mao-toa-sianseng pasti sudah melancarkan serangannya, sebab di saat yang amat kritis itulah ia mendengar seseorang membentak keras:

"Ampuni selembar jiwanya!" Diiringi bentakan tersebut, desingan angin segera terhenti, cahaya golokpun seketika lenyap tak berbekas, pedang yang ada di tangan Mao-toa-sianseng tahu-tahu sudah berada di belakang tengkuk A-kit.

ooooOOOOoooo