Pedang Tanpa Perasaan Jilid 17

Jilid 17  

Kakek itu memperhatikan sejenak. Sepasang alisnya bergerak-gerak, dengan langkah lebar dia memasuki pondok. Keadaan di dalam pondok tampak berantakan. Meja, kursi, dan perabotan lain-nya terlempar ke mana-mana. Tampaknya ada seseorang yang mengacau di sana. Kakek itu tertegun sejenak, kemudian mengangkat balai-balai dari rotan dan membaringkan Tao Ling di atasnya. Setelah itu dia baru keluar kembali.

"Kau rapikan keadaan di dalam ruangan, aku pergi sebentar," kata kakek itu.

Mimik wajah si Gagu menyiratkan perasaan seperti serba salah, seakan-akan ingin menyatakan bahwa dia tidak ingin melakukan perintah kakek itu. Wajah kakek itu berubah kelam.

"Cepat lakukan!" perintahnya lagi.

Tenggorokan si Gagu mengeluarkan suara krok-krok. Akhirnya dia membalikkan tubuhnya memasuki pondok itu. Terdengar suara bising seperti barang-barang yang dibanting sembarangan. Tampaknya si Gagu sedang melampiaskan kekesalan hatinya.

Kakek itu tidak memperdulikannya, dia melangkah terus ke depan. Arah yang ditujunya juga sumber suara tawa yang menyeramkan tadi. Berjalan tidak seberapa jauh, kakek itu sudah sampai di sebuah goa yang entah seberapa dalamnya, yang pasti gelap gulita.

"Apakah kau yang melakukannya?" bentaknya dengan suara keras. Suara kakek itu dalam sekali, menyusup terus ke dalam goa dan menimbulkan gema yang ber- kepanjangan. Sampai cukup lama suara gema itu baru sirap. Saat itu juga terdengar sahutan dari dalam goa.

"Tentu aku yang melakukannya!"

Suara sahutan itu sungguh tidak enak didengar. Wajah orang tua itu tampak semakin garang, tampaknya dia sudah marah sekali. Jubahnya yang berwarna abu-abu bergetar karena tubuhnya yang gemetar menahan luapan emosi.

"Kau berani melanggar sumpahmu sendiri?" bentaknya sekali lagi. Dari dalam goa terdengar suara tawa yang aneh. "Kau yang melanggar lebih dahulu, kenapa malah menyalahkan aku?" "Omong kosong!"

Dari dalam goa kembali terdengar suara tawa aneh berkali-kali.

"Dulu, sudah kita putuskan, apabila kau, aku maupun si Gagu mengajak orang keempat ke dalam Tian te kok, kita semua keluar masuk lembah sesuka hati, maka sumpah yang pernah diucapkan pun jadi batal. Apakah kau sudah melupakannya?"

Kakek itu terdiam sejenak.Seperti kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan orang dalam goa itu. Setelah agak lama, nada suaranya pun mulai melunak.

"Perempuan itu sudah terluka parah, apalagi dia terjatuh dari jurang. Hampir saja dia tertelan ombak yang bergulung. Kalau aku tidak kebetulan menemukannya, tentunya dia juga sudah mati. Masa aku harus membiarkan seseorang mati di depanku begitu saja?"

"Aku tidak mau tahu urusan itu," sahut orang dalam goa. "Apa yang kau inginkan sekarang?"

Orang di dalam goa tertawa terkekeh-kekeh. "Kau tidak usah tahu."

Kakek itu menarik nafas panjang.

"Kau tentunya tahu bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikanmu sendiri." Orang di dalam goa itu langsung memaki dengan suara keras.

"Kentut busuk! Kau sudah merampas Gin Hun Bang (Jala awan perak) milikku. Kemudian malah mengurung aku di sini. Selama dua puluh tahun ini, entah sudah berapa banyak penderitaan yang aku rasakan. Apakah semua ini demi kebaikanku juga?"

Wajah kakek itu berubah semakin kelam.

"Waktu itu kau sudah terluka parah, kalau aku tidak menolongmu, bagaimana kau bisa hidup sampai hari ini?"

Dari dalam goa kembali berkumandang tawa yang aneh dan menyeramkan.

"Selama dua puluh tahun ini, boleh dibilang aku hidup dalam neraka. Apakah tidak lebih baik mati saja."

Berkali-kali kakek itu ingin menerjang ke dalam goa, tetapi seperti ada sesuatu yang diper-timbangkannya. Baru berjalan satu-dua langkah, dia berhenti lagi. Sedangkan suara orang di dalam goa juga kadang-kadang dekat, kadang-kadang menjauh lagi. Tampaknya ia juga bermaksud menerjang keluar, tetapi masih ngeri dengan kelihaian kakek itu.

Di saat kedua orang itu berdiam diri, dari dalam goa terdengar suara rintihan seseorang.

"Kau lepaskan pemuda itu, maka aku tidak akan mengungkit kembali kejadian ini, kita dapat hidup damai sebagaimana biasanya." Terdengar kakek itu berkata.

"Jangan bermimpi! Wajah pemuda itu penuh dengan tonjolan urat merah. Tidak diragukan lagi dia kena semburan racun laba-laba merah. Sedangkan jenis laba-laba itu hanya ada di istana rahasia sebelah barat Gunung Kun Lun san. Tempat lain biar dicari seratus tahun pun tidak akan menemukan satu ekor. Hal itu membuktikan bahwa pemuda itu sudah pernah mendatangi istana rahasia itu. Aku menahannya di sini, justru karena ada sesuatu yang kuinginkan darinya. "Kalau kau memang hebat, mengapa kau tidak masuk saja ke dalam goa dan merebutnya dari tanganku?" sahut orang dalam goa itu sambil ter-tawa terbahak-bahak.

Mimik wajah kakek itu menyiratkan emosinya yang meluap-luap. Dia terpaku di depan goa itu beberapa saat. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu.

Gerakan tuhuh kakek itu tampak seperti terbang. Akhirnya dia datang ke samping jala besar itu. Diambilnya jala itu lalu dilipat-lipatnya. Dalam sekejap mata, jala itu sudah menjadi lipatan seperti selimut.

Apabila jala itu direntangkan menjadi lebar sekali seperti sepetak sawah. Tetapi setelah dilipat, ternyata dapat menyusut menjadi kecil. Kakek itu mengempit jala di bawah ketiak dan dibawanya berlari lagi ke mulut goa tadi.

"Kalau kau tidak membawa keluar pemuda itu,aku akan menerjang ke dalam!"

"Bagus sekali, aku akan menyambutmu dengan kedua tangan terbuka," sahut orang dalam goa itu sambil tertawa dingin.

Lengan orang tua itu berputar. Angin yang terpancar dari pukulannya menderu-deru. dalam waktu yang bersamaan, dia melangkah ke dalam satu tindak. Tepat pada waktu itu pula, muncul titik sinar berwarna hijau yang bergerak bagai kilat meluncur ke arah kakek itu. Tampaknya si kakek sudah mengerti kelihaian titik sinar hijau itu. Cepat- cepat dia menggelin-dingkan tubuhnya keluar dari goa. Titik hijau yang meluncur bagai bintang komet itu terus melaju ke depan sejauh dua-tiga depa. Bum . . .!

Terdengar suara ledakan.

Dari dalam goa kembali terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh. "Si Tua tidak tahu mampus. Kau tidak berani menangkis panah apiku bukan?"

Kakek itu merentangkan tangannya. Selembar jala itu sudah terbuka, tapi tidak semuanya, hanya kira-kira sebesar lukisan. Dia mendengus berat satu kali. Tanpa memberikan komentar apa-apa, sepasang lengannya bergetar, lembaran jala itu dijadikan pelindung tubuh, sekali lagi dia menerjang ke dalam goa.

Ketika kakek itu bergerak masuk, dari dalam goa terdengar suara bentakan marah. Lagi-lagi setitik sinar berwarna hijau melesat datang. Orang tua itu menggunakan jalanya untuk melindungi tubuh, dia pantang mundur. Tubuhnya terus bergerak.

Dalam dua kali loncatan, sekejap mata saja dia sudah heradu dengan titik hijau itu.

Bum . . .! Titik hijau itu kembali meledak. Terdengar kakek itu memekik aneh, kemudian melangkah mundur beberapa tindak.

Ketika dia menerjang masuk, gerakan tubuhnya bukan main cepatnya. Tetapi ketika dia mengundurkan diri, kecepatannya melebihi ketika menerjang masuk. Sungguh sulit diuraikan dengan kata-kata. Kedatangan dan kepergiannya seperti hembusan angin.

Sesosok bayangan hitam dengan pelindung cahaya keperakan tahu-tahu sudah sampai di depan goa. Tampak sebagian jubah dan rambutnya masih diperciki sinar kehijauan. Kakek itu mengibaskan lembaran jala itu ke sekujur tubuhnya, akhirnya sinar api berwarna hijau yang menyelimuti tubuhnya padam seketika. Tentu saja keadaannya sungguh mengenaskan sekali.

Dari dalam goa justru berkumandang suara tertawa yang terbahak-bahak. "Tua bangka tidak tahu mampus! Kau toh sudah tahu kehebatan panah apiku. Kalau kau sudah bosan hidup, boleh saja kau coba lagi. Tetapi kalau kau masih menyayangi selemhar nyawamu, lebih baik kau cepat-cepat menggelinding dari tempat ini!"

Tampak orang tua itu berjingkrak-jingkrak kalap di depan goa. Mulutnya terus mencaci maki seperti ingin memancing kemarahan orang dalam goa agar menerjang keluar. Karena lorong untuk masuk goa itu sangat sempit, apabila dia tetap ingin menerjang ke dalam, tentu sulit menghindar dari serangan panah api orang itu. Bahkan tidak ada tempat untuk bergeser sedikit pun. Tetapi orang dalam goa itu juga tidak kalah liciknya. Dia hanya membalas memaki seenaknya. Selain itu tidak memberikan reaksi apa-apa lagi.

Kakek itu saling memaki dengan orang dalam goa beberapa saat. Akhirnya dengan kesal dia kembali ke pondok. Si Kecil Kurus yaitu si Gagu keluar menyambutnya. Orang tua itu hanya mendengus marah satu kali, kemudian memasuki pondok. Dia menjulurkan tangannya dan menepuk jalan darah Tao Ling yang tertotok. Tao Ling langsung bangun dan duduk di atas balai-balai.

"Siapa kau?" tanya kakek itu.

Tao Ling memandangi orang tua itu. "Aku tidak tahu, bolehkah kau mengatakannya kepadaku?" jawabnya sambil tertawa cekikikan.

Orang tua itu tertegun. "Masa kau sendiri tidak tahu siapa dirimu?" ucapnya. Tao Ling kembali tertawa cekikikan. "Tidak tahu." Tiba-tiba mimik wajahnya menjadi murung. Namun dalam sekejap mata, dia tertawa terbahak-bahak kembali. "Aku tahu sekarang. Aku adalah manusia yang paling berbahagia di dunia ini."

Kakek itu tampak bergetar sedikit. Perasaannya menjadi dingin. "Rupanya orang gila!" gerutunya sendirian.

Kemudian dia menolehkan kepalanya dan berkata kepada si Gagu. "Ambil perisai besi!"

Meskipun orang kecil kurus itu gagu, tapi telinganya tidak tuli. Mendengar suara bentakan si kakek, wajahnya berseri-seri seketika. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya. Tidak lama kemudian sudah kembali lagi dengan membawa sebuah tameng berbentuk orang-orangan. (Mirip dengan prajurit berbaju besi namun tertutup dari atas kepala sampai ke ujung kaki pada jaman kekaisaran Romawi dulu). Cuma yang dibawanya hanya setengah bagiannya yang tertutup. Kakek itu menyambut perisai.

Tangan kirinya menjulur menotok jalan darah Tao Ling. Setelah itu ia berjalan keluar dari pondok itu dan si Gagu mengikuti dari belakang.

Tidak lama kemudian keduanya sudah sampai di mulut goa. Terdengar dari dalam goa berkumandang suara rintihan yang terputus-putus. Kakek itu menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada si Gagu. Kakinya maju perlahan-lahan memasuki goa satu tindak.

Gerakan si kakek boleh dibilang sudah cukup hati-hati. Bahkan langkah kakinya tidak menge-luarkan suara sedikit pun. Tetapi baru saja dia masuk satu langkah, dari dalam goa terdengar suara bentakan.

"Berhenti!"

Begitu suara bentakan itu terdengar, si kakek langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menggunakan perisai tadi untuk melindungi bagian depan tubuhnya dan lembaran jala tadi diletakkannya di atas kepala. Cepat-cepat dia maju lagi satu langkah.

Terdengar suara tertawa menyeramkan dari orang di dalam goa. "Aku sudah menduga kau akan kembali lagi," katanya.

Kakek itu tidak menyahut, kakinya terus maju setindak demi setindak ke dalam goa. Langkahnya tampak hati-hati sekali.

Tidak lama kemudian, dia sudah masuk ke dalam goa kurang lebih dua depaan. Tetapi dia belum mendengar suara apa pun dari orang dalam goa itu. Dia juga tidak melihat luncuran panah api. Di dalam hatinya, hanya dapat menduga-duga. Kembali dia melangkah memasuki goa sejauh satu depa lebih. Tiba-tiba tampak seberkas cahaya suram yang terpancar dari sebuah celah kecil.

Celah itu besarnya kurang lebih seperti kepalan tangan. Keadaan di dalam goa itu begitu gelap. Dengan adanya seberkas cahaya itu yang meskipun suram, tapi keadaan di dalam goa dapat dilihat. Tampak di bagian depan terdapat sebuah pintu batu. Celah itu adanya di atas pintu batu. Ketika melihat keadaan itu, si kakek langsung menyadari bahwa dirinya telah tertipu. Sepasang kakinya menghentak, dengan panik dia mengundurkan diri ke belakang.

Terdengar suara desisan dari celah kecil itu, yang kemudian disusul dengan meluncurnya titik berwarna hijau. Orang di dalam goa tertawa terkekeh-kekeh. Titik sinar hijau terus meluncur memburu si kakek.

Meskipun gerakan tubuh kakek itu ketika menyurut mundur sudah terhitung bukan main cepatnya. Tetapi luncuran titik hijau itu ternyata lebih cepat lagi.

Cring . . .! Dalam sekejap mata titik hijau itu sudah beradu dengan perisai berbentuk orang tadi.

Ketika titik sinar itu beradu dengan perisai besi, langsung terdengar suara ledakan yang dahsyat. Percikan api yang jumlahnya tidak terkirakan memenuhi seluruh tempat itu.

Sekaligus menimbulkan suara desisan yang menyelimuti tubuh si kakek.

Meskipun bagian depan tubuh kakek itu sudah dilindungi sebuah perisai dan kepalanya sudah ditutupi lembaran jala, ternyata dua percikan api sempat mengenai tubuhnya. Meskipun hanya dua percikan bunga api yang kecil, tetapi hebatnya bukan main, bahkan lebih dahsyat daripada kobaran api yang besar. Kakek itu memekik histeris. Tubuhnya yang terus mencelat ke belakang, bergerak semakin panik. Tidak lama kemudian dia sudah sampai di depan goa. Dia menggelindingkan tubuhnya di atas tanah beberapa kali, agar api yang memerciki tubuhnya padam. Rasa sakitnya demikian hebat sehingga peluh membasahi seluruh tubuhnya.

Wajah orang tua itu berubah semakin tidak enak dilihat. Kemarahannya hampir tidak tertahankan lagi. "Baik, aku ingin lihat, kau keluar atau tidak dari tempat persembunyianmu."

"Tumpukkan ranting-ranting kering kemudian bakar!" perintah kakek kepada si Gagu.

Kepandaian kakek itu tampaknya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Jelas tenaga dalam-nya juga hebat. Dalam keadaan marah, dia mengeluarkan suara bentakan yang demikian kerasnya. Suaranya berkumandang masuk melalui lorong dan mencapai dalam goa.

Tentu saja orang yang ada dalam goa itu juga dapat mendengarkan dengan jelas setiap patah kata yang diucapkan oleh kakek itu.

"Un . . . tuk a ... pa kau bawa aku kesini?" Terdengar seseorang bertanya dengan suara lemah.

"Tidak perlu kau urus!" Suara yang melengking dan tidak enak didengar menyahutnya.

Orang pertama yang mengajukan pertanyaan tidak lain adalah Lie Cun Ju.

Ternyata, ketika terhantam pukulan I Ki Hu, Tao Ling yang dipeluknya berhasil terlepas. Kemudian I Ki Hu menghantamnya sekali lagi, sehingga tanpa dapat bertahan diri tubuh Lie Cun Ju meluncur ke dalam jurang. Dalam hati dia yakin, bahwa dirinya pasti mati. Dalam kegugupannya, Lie Cun Ju jatuh tidak sadarkan diri.

Tetapi, tidak lama kemudian perlahan-lahan dia siuman kembali. Begitu membuka matanya, dia menemukan dirinya terbaring di dalam sebuah pondok. Dia berbaring di atas balai-balai rotan. Pondok itu kosong, dengan arti tidak ada orang lainnya.

Sesaat kemudian, pikiran Lie Cun Ju semakin sadar. Tetapi dia tidak tahu di mana dirinya berada, dan siapa gerangan yang menolongnya. Justru ketika dilanda kebingungan, tiba-tiba dari luar pondok terdengar suara bentakan yang menyakitkan gendang telinga.

"Tua bangka tidak tahu mampus! Apakah kau ada di dalam?"

Sekali lagi Lie Cun Ju tertegun. Karena saat itu dia baru siuman dari pingsan. Dia tidak tahu siapa orang yang datang dan lebih-Iebih tidak tahu siapa si Tua tidak tahu mampus yang dipanggilnya.

Itulah sebabnya Lie Cun Ju terpaksa berdiam diri. Sesaat kemudian, terdengar lagi suara yang menusuk gendang telinga itu.

"Tua bangka tidak tahu mampus, aku rasanya mendengar suara orang keempat di dalam pondokmu itu, apakah kau sudah melanggar sumpahmu sendiri?"

Lie Cun Ju masih dilanda kebingungan. Baru saja dia ingin mengatakan bahwa tuan rumah sedang tidak ada di tempat, pintu pondok itu sudah terbuka. Lie Cun Ju mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang masuk. Ketika melihat dia menjadi tertegun.

Dalam bayangannya, orang yang suaranya begitu tidak enak didengar itu pasti mempunyai bentuk wajah yang mengerikan dan tampang garang. Tetapi tidak disangka, orang yang me-ngeluarkan suara bentakan tadi ternyata seorang perempuan berusia kurang lebih empat puluhan tahun dengan tubuh kekar seperti laki-laki.

Lie Cun Ju segera menenangkan diri.

"Tempat apa ini?" tanyanya pada perempuan itu.

Perempuan itu juga sempat tertegun ketika melihat Lie Cun Ju, namun sekejap kemudian wajahnya tampak berseri-seri dan tertawa ter-bahak-bahak.

"Ternyata si tua bangka itu omongannya tidak dapat dipercaya," ucapnya.

Sembari berbicara, tangan perempuan itu menghantam ke depan. Sebuah kursi hancur beran-takan oleh pukulannya. Perasaan Lie Cun Ju terkejut setengah mati menghadapi situasi seperti itu. Perempuan itu menolehkan kepalanya dan menatap Lie Cun Ju lekat-lekat. 

"Apakah kau pernah sampai di istana rahasia yang terdapat di sebelah barat Gunung Kun Lun san?" tanya perempuan itu dengan suara melengking. Lie Cun Ju benar-benar tidak habis pikir mengapa perempuan itu bisa tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu.

"Benar," jawab Lie Cun Ju asal-asalan.

Sebetulnya, istana rahasia di sebelah harat Gunung Kun Lun san itu, setiap tokoh bu lim yang ternama pasti tertarik perhatiannya. Dan urat-urat merah yang menonjol di wajah Lie Cun Ju, membuat perempuan itu mengira Lie Cun Ju juga pernah mengunjungi istana rahasia itu.

Perempuan setengah baya itu maju satu langkah. Jarak antara perempuan itu dan Lie Cun Ju sudah dekat sekali, sehingga pemuda itu dapat melihatnya agak jelas.

Meskipun wajahnya biasa-biasa saja, tetapi sepasang matanya menyorotkan sinar kesesatan. Membuat orang yang menatapnya langsung merasa meremang bulu kuduknya.

Perempuan itu menghampiri Lie Cun Ju. Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya mencekal lengan pemuda itu. Lie Cun Ju menjerit kesakitan tetapi perempuan itu tidak memperdulikannya.

"Apa yang kau temukan di dalam istana rahasia itu? Apakah kau mempunyai Tong tian pao liong? Apakah kau mempunyai anglo emas penembus langit?"

Lie Cun Ju ditanya secara bertubi tubi oleh perempuan setengah baya itu. Dia menjadi ke-labakan sehingga tidak tahu bagaimana harus menjawab. Justru di saat hatinya masih dilanda kebingungan, tiba-tiba tampak mimik wajah perempuan itu agak berubah.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, perempuan itu menjulurkan kepalanya sedikit seakan sedang mendengarkan sesuatu dengan seksama. Kemudian menjulurkan tangannya mencekal Lie Cun Ju. Telapak tangannya menghantam ke depan beberapa kali. Dalam waktu yang singkat seisi pondok itu jadi berantakan. Tidak ada satu pun perabotan yang utuh. Setelah itu ia melesat keluar dari pondok membawa Lie Cun Ju.

Keluar dari pondok, Lie Cun Ju melihat bentangan cahaya berwarna keperakan. Meskipun tubuh Lie Cun Ju sedang terluka parah, tetapi pikirannya masih sadar. Begitu melihat jala besar itu, hatinya tergerak seketika.

Tetapi gerakan perempuan itu begitu cepat, maka pemuda itu tidak sempat berpikir banyak. Tidak lama kemudian, Lie Cun Ju dibawa masuk ke dalam sebuah lorong goa dan sampai di sebuah ruangan batu. Lie Cun Ju diletakkan di atas sebuah tempat tidur batu. Tak lama kemudian, dari luar terdengarlah suara si kakek yang tidak enak didengar. Pikiran pemuda itu semakin bingung.

Dengan perasaan gundah, mereka menunggu. Akhirnya kakek itu pergi juga. Si perempuan setengah baya itu merapatkan pintu batu kemudian mengganjalnya dengan sebatang besi. Lalu dia menolehkan kepalanya kembali.

"Siapa yang melukaimu?" tanya perempuan itu. "Gin Leng Hiat Ciang, I Ki Hu."

Perempuan setengah baya itu hanya mengeluarkan suara 'oh . . .' Nama I Ki Hu tampaknya tidak membawa pengaruh apa-apa terhadapnya.

"Cepat kau ceritakan pengalamanmu di istana rahasia itu!" kata perempuan itu.

Lie Cun Ju menghela nafas beberapa kali, sekujur tubuhnya masih terasa sakit, sehingga kadang-kadang dia tidak dapat mempertahankan diri dan mengerang.

"Apa yang ingin kau ketahui dan untuk apa?" tanyanya.

Perempuan itu tampak marah sekali mendengar kata-kata Lie Cun Ju.

"Aku hanya menyuruh kau menceritakan pengalamanmu. Urusan lain tidak perlu kau tahu. Hati-hati kalau aku memecahkan batok kepalamu."

Ketika berlangsung pembicaraan antara si perempuan setengah baya dengan orang tua di luar goa, Lie Cun Ju sudah dapat menduga bahwa orang yang menolongnya dari bawah jurang di saat ia terjatuh sebenarnya orang tua di luar goa itu. Kesannya terhadap si perempuan setengah baya memang sudah kurang baik.

Saat itu, perempuan setengah baya itu kembali memaksanya dengan kasar. Hati Lie Cun Ju jadi mendongkol.

"Aku toh orang yang sudah pernah mati satu kali apalagi yang perlu ditakutkan?" katanya sambil tertawa dingin.

Wajah perempuan itu berubah hebat. Tiba-tiba dia berjalan lagi menuju pintu batu. Tepat pada saat itu si kakek juga sampai di dalam lorong. Perempuan itu menyambitkan panah apinya sehingga kakek itu terdesak keluar.

Tidak lama kemudian, suara kakek itu berkumandang lagi ke dalam ruangan batu tempat mereka berada. Saat itu tubuh Lie Cun Ju sedang terluka parah sehingga tidak dapat sembarangan bergerak. Hatinya terkejut sekali mendengar kata-kata si kakek. Dia segera bertanya kepada si perempuan setengah baya.

"Apakah di sini ada jalan keluar yang lain?"

Mimik wajah perempuan berubah sedemikian rupa sehingga sungguh tidak enak dilihat.

"Tidak ada!" sahutnya ketus. Lie Cun Ju jadi panik sekali.

"Orang itu mulai menumpuk ranting-ranting kering untuk membakar tempat ini, apakah kita harus terbakar hidup-hidup di sini?" Melihat Lie Cun Ju begitu panik menghadapi situasi ini, perempuan setengah baya itu justru tertawa dingin.

"Kau toh sudah pernah mati satu kali, apalagi yang perlu kau takutkan?"

Apa yang dikatakan Lie Cun Ju, sebetulnya hanya ungkapan hatinya yang kesal. Apa yang tidak dapat dilupakannya adalah Tao Ling yang berhasil direbut kembali oleh I Ki Hu. Mana sudi dia mati begitu saja?

Ketika mendengar sindiran si perernpuan setengah baya itu, Lie Cun Ju jadi gagap gugup sehingga tidak sanggup berkata apa-apa.

Terdengar perempuan setengah baya itu berteriak melalui celah kecil di atas pintu.

"Tua bangka tidak tahu mampus, kalau kau sampai membakar tempat ini, habislah semuanya."

Orang tua di luar goa tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, keluarlah kau dari dalam goa!" Perempuan setengah baya itu tertawa dingin.

"Kalau aku sudah keluar nanti, mungkinkah kau bersedia melepaskan aku begitu saja? Itu sama saja orang bodoh mengigau di siang hari . . ."

Sekali lagi orang tua itu tertawa. "Kita toh tidak mempunyai demam permusuhan apa- apa, mengapa aku tidak bersedia melepaskanmu? Istana rahasia di sebelah barat gunung Kun Lun san sudah didatangi orang. Kalau kita tidak cepat bergerak, jangan menyesal apabila rahasia itu terjatuh ke tangan orang lain!"

Dari dalam ruangan batu Lie Cun Ju dapat mendengar jelas pembicaraan yang berlangsung antara si perempuan setengah baya dengan kakek itu. Dia sadar kedua orang itu tidak berbeda keadaannya dengan I Ki Hu dan Cen Sim Fu. Sebenarnya mereka saling bermusuhan, tetapi demi menyelidiki rahasia besar yang menyangkut Tong tian pao liong, tidak segan-segan menyampingkan semua dendam dalam hati untuk bekerja sama mencapai maksud bersama.

Diam-diam Lie Cun Ju menarik nafas panjang-panjang dalam hati. Perlahan-lahan dia mengangkat tangannya lalu meraba tempat tidur batu tempat dia berbaring, lalu dengan bantuan tumpuan kedua tangannya dia duduk bersandar.

Dalam waktu yang bersamaan, dia merenungkan kembali pertanyaan yang diajukan si perempuan setengah baya kepada dirinya tadi.

Kenyataannya, mana pernah Lie Cun Ju datang ke sebelah barat Gunung Kun Lun san? Dia hanya pernah mendengar tentang Tong tian pao liong. Tapi dia sama sekali tidak tahu rahasia apa yang terkandung dalam Tong tian pao liong itu. Dia tidak mengerti mengapa perempuan setengah baya itu berkeras mengatakan dia pernah datang ke sebelah barat Gunung Kun Lun san.

Tadi lukanya begitu parah, dia enggan banyak bicara. Karena itu sembarangan saja dia meng-iakan apa yang ditanyakan perempuan itu. Saat itu, menggunakan kesempatan di saat perempuan setengah baya itu terlibat pembicaraan dengan si orang tua, dia segera mengatur pernafasannya, hawa murni dalam tubuhnya juga diedarkan beberapa kali.

Perasaannya jadi jauh lebih nyaman. Tetapi mengingat kembali apa yang dialaminya tadi, hatinya malah dilanda kebingungan.

Sebab ketika si perempuan setengah baya melihat wajahnya dia langsung yakin dirinya per-nah datang ke istana rahasia. Keyakinan perempuan itu demikian tebal sebab entah laba-Iaba merah apa yang menurutnya hanya ada di sebelah barat Gunung Kun Lun san.

Perasaan Lie Cun Ju makin curiga. Apa yang dinamakan laba-Iaba merah saja, baru didengar-nya tadi. Dia tetap duduk bersandar di atas tempat tidur batu. Terdengar perempuan itu tertawa aneh beberapa kali.

"Tua bangka, bagaimana kalau kau tidak memegang kata-katamu sendiri, sedangkan aku tidak dapat mengalahkanmu? Sebaiknya kau ucapkan sumpah berat terlebih dahulu!"

"Apabila aku mengingkari kata-kataku sendiri, biarlah kedua batang pedang yang tajam itu menembus jantungku sampai mati!" Terdengar suara berat si kakek itu.

Apa yang diketahui Lie Cun Ju tentang Tong tian pao liong, tidak jauh berbeda dengan umumnya yang diketahui orang-orang bu lim. Itulah sebabnya pembicaraan yang berlangsung antara si perempuan setengah baya dan orang tua itu, dia juga hanya mengerti sebagiannya saja. Sedangkan sebagian lainnya lagi justru membuat pikirannya semakin bingung.

Sementara itu, tampak wajah perempuan setengah baya itu berseri-seri. Dia menoleh kepada lie Cun Ju sambil tersenyum.

" Kau tidak perlu khawatir. Sekarang kami masih memerlukanmu, tidak mungkin kami mem-biarkan kau terluka sedemikian rupa. Tenaga dalam si tua bangka itu tinggi sekali. Dengan bantuannya, luka dalammu pasti bisa disembuhkan," katanya.

Lie Cun Ju hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Perempuan itu menjulurkan tangannya, ditentengnya Lie Cun Ju kemudian tiang besi yang mengganjal pintu ruangan batu itu diangkatnya, terakhir dia mendorong pintu batu.

Di depan pintu perempuan itu berdiri bimbang sekian lama. Terdengar kakek itu berkata lagi.

"Aku sudah bersumpah berat, mengapa kau masih tidak keluar juga? Apakah kau benar-benar ingin aku sampai membakar tempat ini?"

"Kenapa harus terburu-buru?" sahut perempuan itu dengan nada dingin. Selesai berkata, tampak tubuhnya berkelebat dan melesat keluar goa. Sekejap kemudian, lie Cun Ju merasa pandangan matanya menjadi terang. Tahu-tahu mereka sudah sampai di luar goa. Ketika matanya memperhatikan dengan seksama, Lie Cun Ju melihat seorang laki-laki bertubuh kecil kurus sedang menatap perempuan setengah baya itu dengan pandangan marah. Di sampingnya berdiri seorang laki-Iaki lainnya yang usianya sudah lanjut sekali. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang licik.

"Akhirnya kau keluar juga?"

Perempuan setengah baya itu tertawa terbahak-bahak. "Tidak perlu mengoceh yang bukan-bukan. Sekarang kau semhuhkan dulu luka dalam bocah ini, urusan lainnya nanti baru kita bicarakan lagi."

Orang itu menjulurkan tangannya untuk menyambut Lie Cun Ju, kemudian menolehkan kepalanya memberi isyarat kepada si Kecil Kurus. Si Kecil Kurus segera mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuangkan dua butir pil.

Si Kecil Kurus yaitu si Gagu memasukkan dua butir pil itu ke dalam mulut Lie Cun Ju. Pemuda itu membiarkan saja. Dia merasa telapak tangan si orang tua sudah menempel di punggungnya.

Dari telapak tangan yang menempel itu, tersalur serangkum hawa hangat yang terus beredar di seluruh tubuhnya. Kurang lebih setengah kentungan kemudian, seluruh tubuh Lie Cun Ju terasa nyaman dan segar kembali.

Orang tua itu melepaskan tangannya dari punggung Lie Cun Ju. "Asal kau beristirahat beberapa hari lagi, lukamu akan semhuh seluruhnya."

Lie Cun Ju berdiri dan menjura dalam-dalam kepada si kakek. "Budi pertolongan Lo cianpwe sangat besar artinya bagi boanpwe, untuk selamanya boanpwe tidak akan melupakan budi yang besar ini."

Orang tua itu tersenyum. "Asal kau bisa membawa kami menuju istana rahasia itu, kami malah yang akan mengucapkan terima kasih kepadamu."

Mendengar kata-katanya Lie Cun Ju menjadi tertegun. "Istana rahasia apa?"

Orang tua dan perempuan setengah baya itu saling lirik sekilas. Wajah perempuan itu berubah kelam. Dia berkata dengan nada suara yang berat. "Bocah cilik, apa maksud perkataanmu barusan? Apakah kau sengaja ingin mencari gara-gara dengan kami?"

Lie Cun Ju sudah dapat melihat bahwa di antara kedua orang itu, ilmu si orang tua tam-paknya lebih tinggi. Sedangkan mereka kedua-duanya bukan terhitung golongan lurus.

Tapi Lie Cun Ju merasa dirinya sudah berhutang budi kepada si orang tua yang menolong jiwanya. Seandainya orang tua itu meminta pertolongannya, tentunya tidak menyalahi peraturan dunia kang ouw. Dan apabila permintaannya itu masih sanggup dilaksanakan oleh Lie Cun Ju, tidak bisa dia menolaknya begitu saja. "Masa lo cianpwe menganggap boanpwe orang yang begitu rendah?"

Sepasang mata si kakek menatap Lie Cun Ju dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Perempuan setengah baya itu berkata dengan suara yang melengking tinggi. "Sekarang kau mengatakan tidak tahu apa yang disebut istana rahasia, tetapi mengapa ketika aku menanyakan tadi, kau langsung menjawab iya. Kau sengaja mempermainkan aku?"

Lie Cun Ju menarik nafas panjang. "Saat itu aku sedang terluka parah, aku pikir toh tidak ada harapan lagi untuk hidup. Karena itu aku sembarangan mengiakan saja."

Orang tua itu tertawa aneh. "Bocah cilik, kau tidak perlu berbohong lagi. Kalau kau memang belum pernah datang ke sebelah barat Gunung Kun Lun san, mengapa di wajahmu bisa terdapat tonjolan urat merah seperti itu?"

Mendengar kata-kata si kakek, Lie Cun Ju terkejut setengah mati. "Cianpwe, apa yang kau katakan? Wajahku…….”

"Urat-urat merah yang menonjol di wajahmu, tidak diragukan lagi karena disemprot racun oleh laba-laba merah. Sedangkan laba-laba merah itu binatang yang langka, kami tahu, hanya di sebelah barat gunung Kun Lun san pernah muncul laba-laba seperti itu. Kau masih berusaha mungkir?" tukas kakek itu.

Perasaan Lie Cun Ju diselimuti kebingungan. Ketika dia bertemu lagi dengan Tao Ling, dia pernah melihat wajah perempuan itu yang dipenuhi tonjolan urat-urat merah yang mengerikan. Apakah saat itu wajahnya juga sudah berubah seperti wajah Tao ling?

Tanpa sadar dia meraba wajahnya sendiri, tetapi dia tidak merasakan adanya keanehan apa-apa.

Perempuan setengah baya itu tertawa dingin. Dia mengeluarkan sebuah kaca dari balik pakaiannya. "Nih, kau lihat sendiri!”

Lie Cun Ju masih bimbang, dia menyambut kaca itu dan menatap wajahnya Iewat pantulan cermin. Hampir saja dia menjerit histeris dan membuang kaca yang dipegangnya.

Perempuan setengah baya dan orang tua itu ternyata tidak berbohong, wajahnya sudah sama seperti Tao Ling, penuh dengan tonjolan urat-urat merah yang mengerikan. lie Cun Ju sendiri merasa bingung. Dari mana datangnya urat-urat merah itu? Tanpa dapat menahan diri lagi Lie Cun Ju memeletkan lidahnya, sampai sekian lama dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Bocah cilik, sekarang kau sudah harus berkata terus terang bukan?" kata orang tua itu dengan nada dingin.

Lagi-lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang. "Cianpwe, kau yang menolong selembar jiwa-ku. Seharusnya apa pun permintaanmu, aku harus menyetujuinya. Tapi urat-urat merah ini . . . aku sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba wajahku bisa berubah seperti ini ... Aku benar-benar belum pernah mengunjungi istana rahasia di sebelah barat Gunung Kun Lun san. Lebih-lebih belum pernah melihat apa yang dinamakan laba-laba merah. Bagaimana bisa disemprot racunnya? Apa yang kukatakan semuanya merupakan kenyataan, tidak sepatah pun dusta. Aku harap Locianpwe bisa mengerti!"

Wajah orang tua itu berubah hebat, perlahan-lahan dia mengangkat tangannya ke atas. Pada saat itu, pikiran Lie Cun Ju sudah terang sekali. Kondisi tubuhnya juga sudah jauh lebih baik, tetapi ilmu silatnya masih menyurut banyak. Lagipula, biarpun dia belum terluka tetap saja kepandaiannya bukan tandingan si orang tua. Itulah sebabnya ketika melihat si orang tua mengangkat tangannya dan sepasang matanya menyorotkan hawa pembunuhan, dia hanya memejamkan matanya dengan tenang. Dia sudah siap mati di tangan orang tua itu. Tetapi, setelah menunggu beberapa saat, telapak tangan si orang tua belum mendarat juga di tubuhnya.

Ketika Lie Cun Ju membuka matanya dia melihat telapak tangan orang tua itu hanya tinggal setengah kaki saja. Serangkum hawa dingin mulai mendesak ke wajahnya.

Sekali lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang.

"Mohon tanya kepada locianpwe, kapan sebetulnya locianpwe menemukan wajah boanpwe dalam keadaan demikian?"

"Ketika aku mengangkatmu dari dalam air, keadaanmu sudah seperti itu."

Sekali lagi Lie Cun Ju tertegun. "Cianpwe, aku cuma tahu, ketika aku tercebur ke dalam jurang itu, wajahku belum ada urat-urat merah yang menonjol ini."

Apa yang dikatakan Lie Cun Ju, setiap patah katanya merupakan kenyataan, tapi orang tua itu tidak mau percaya juga. Dia melirik sekilas kepada si perempuan setengah baya. "Apakah kau yang menyuruhnya agar jangan mengatakan apa-apa?"

Wajah si perempuan setengah baya menyiratkan kemarahan. "Tua bangka, kau berani menyangka yang bukan-bukan?"

"Baik, bocah cilik. Kalau kau tidak bersedia membawa kami ke istana rahasia itu, kau akan rasakan kekejian tanganku."

Hati lie Cun Ju lama-lama mendongkol juga. "Aku kan tidak pernah kesana, bagaimana aku bisa membawa kalian mengunjungi istana rahasia itu?" katanya serius.

Perempuan setengah baya itu tertawa licik. "Tua bangka, buat apa kau banyak bicara dengannya sekarang? Yang penting kita sama-sama tahu jalan masuk menuju istana rahasia itu. Kita bawa saja dia ke sana, kalau dia masih menyayangkan selembar nyawanya, tentu dia harus membawa kita masuk ke dalamnya."

Orang tua itu merenung sejenak. "Apa yang kau katakan beralasan juga. Baiklah, kita berangkat sekarang juga!"

Mendengar pembicaraan mereka, hati lie Cun Ju jadi bergidik. Diam-diam dia berpikir dalam hati, kalau mereka benar-benar membawanya serta, biar bagaimana dia harus menemukan jalan untuk meloloskan diri. Apabila tidak dia pasti akan terkubur bersama-sama mereka di tempat entah istana rahasia apa itu.

Si kakek dan perempuan setengah baya itu melihat lie Cun Ju tidak mengucapkan sepatah kata pun, diam-diam hati mereka merasa bangga karena mengira rencana mereka akan berhasil.

"Tua bangka, sebelumnya aku ingin menegaskan bahwa kita harus mendapatkan pedang pusaka itu seorang satu!"

Orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh. "Tentu saja!"

Si Gagu yang sejak tadi berdiri di samping tiba-tiba mengeluarkan suara raungan yang aneh. Perempuan setengah baya itu menoleh kepadanya. "Gagu bau, kau ingin mendapatkan bagian?"

Tubuh si Gagu bergerak, telapak tangannya langsung mengirimkan sebuah pukulan kepada perempuan setengah baya itu. Terdengar suara menderu, pukulan si Gagu ternyata mengandung kekuatan yang dahsyat.

Tubuh perempuan .setengah baya itu berkelebat, dia menggeser ke samping, lengan bajunya niengibas, setitik sinar berwarna hijau melesat keluar dari lengan bajunya.

Si Gagu tentu sudah tahu kelihaian panah berapi perempuan itu.Cepat-cepat dia mencelat ke belakang, sebatang panah berapi melesat di sampingnya. Untung saja gerakan tubuh si Kurus cukup gesit. Dia berhasil menghindarkan diri.

"Jangan berkelahi lagi!" bentak orang tua itu.

Tampaknya si Gagu merasa sungkan sekali kepada si orang tua. Begitu mendengar bentakan-nya, dia langsung berhenti.

"Kita akan berangkat segera, kau bereskan sampan kita dulu!" kata orang tua itu kembali.

Mimik wajah si gagu tampak menunjukkan perasaannya yang kurang puas, tetapi dia pergi juga melaksanakan perintah orang tua itu.

Lie Cun Ju berdiri di samping dengan perasaan galau. Pikirannya ruwet sekali. Dia tidak habis pikir apa yang dimaksud dengan 'pokoknya dari dua batang pedang pusaka, kita harus mendapatkan satu masing-masing' yang dikatakan perem-puan setengah baya itu. Sejak dia terjun ke dalam jurang, apa yang dihadapinya merupakan suatu teka teki yang tidak terjawab.

Mula-mula Lie Cun Ju tidak tahu siapa dan bagaimana asal usul kakek dan perempuan itu, juga si Gagu. Orang tua itu sudah menolongnya, tetapi belakangan ini justru ingin mencelakainya. Apakah dia menolong dirinya karena mengandung maksud tertentu? Lie Cun Ju juga tidak tahu. Terakhir, ketika di tepi jurang berhadapan dengan I Ki Hu, selembar wajah Lie Cun Ju masih baik-baik. Mengapa begitu ditolong oleh si kakek, langsung berubah demikian mengerikan yakni penuh dengan urat-urat merah yang bertonjolan? Bukankah semua itu merupakan teka teki yang tidak bisa dijawabnya?

Lie Cun Ju sudah hidup selama tiga tahun di kuil Ga tang. Sehetulnya perasaan hati pemuda itu sudah hambar dengan apa saja yang menyangkut keduniawian. Segala pertikaian yang ada di dalam dunia bu lim dianggapnya suatu hal yang menggelikan. Dia menginjakkan kakinya keperkampungan keluarga Sang, hanya untuk satu tujuan. Yakni dia masih belum bisa membebaskan dirinya dari cinta kasih yang terjalin antara dirinya dan Tao Ling. Tadinya dia bermaksud mencari gadis itu kemudian diajaknya tinggal di kuil Ga tang yang tenang dan damai dari segala macam pertikaian di dunia bu lim. Tapi akhirnya dia malah mendengar kabar bahwa kekasihnya itu sudah menikah dengan si Raja Ihlis I Ki Hu. Hal itulah yang kemudian menyeret dirinya dalam berbagai kemelut.

Sementara itu, si perempuan setengah baya dan orang tua itu memaksanya membawa mereka menuju istana rahasia yang dia sendiri tidak tahu bagaimana bentuknya dan di mana letaknya. Dia benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis menghadapi kejadian seperti itu. Baru saja dia berpikir untuk mencari alasan yang baik guna menolak permintaan kedua orang itu, tiba-tiba dari arah pondok berkumandang suara tawa yang menyeramkan.

Mendengar suara tawa itu, wajah Lie Cun Ju langsung berubah hebat. Untuk sesaat, sulit melukiskan mimik wajah Lie Cun Ju. Dia seperti terkesima, gembira, tapi juga menderita. Bahkan apabila ditanyakan, mungkin dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan hatinya saat itu. Tampak dia tertegun sesaat. "Ling moay, kaukah itu?" teriaknya kemudian.

Sembari berteriak tubuh pemuda itu melesat bak sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya. Orang tua dan si perempuan setengah baya segera mengikuti dari belakang. Lie Cun Ju berlari menuju pondok beratap rumbia itu. Ketika ia mengalihkan pandangan matanya, tampak Tao Ling sedang duduk di atas sebuah balai-balai dengan tangan begerak-gerak seperti sedang menari. Sementara itu, Lie Cun Ju juga tertawa terbahak-bahak.

Lie Cun Ju belum sempat mengucapkan sepatab kata pun.

"Bagus sekali. tua bangka. Ternyata kau masih berani menyimpan seorang lagi di sini," teriak perempuan itu.

"Jangan sembarangan mengoceh dia orang gila"

Lie Cun Ju terkejut setengah mati. Dia segera mengbambur ke depan. "Ling moay! Ling moay!”

Meskipun jalan darah Tao Ling sudah ditotok oleh si kakek. dan otaknya sudah tidak waras tetapi kepandaiannya tidak menyurut. Tanpa sadar dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan mendesak jalan darah yang tertotok sehingga bebas. Lie Cun Ju memanggilnya beberapa kali, tetapi sepasang rnata Tao Ling yang kosong hanya menatapnya tanpa menunjukkan kesan seperti kenal dengannya.

Melihat keadaan Tao Ling, hati Lie Cun Ju terasa perih sekali. "Ling moay, apakah kau benar-benar sudah gila?"

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba Tao Ling mengangkat tangannya dan mengibas ke depan. Pada saat itu hati Lie Cun Ju sedang dilanda keperihan, dan tidak menyangka akan diserang oleh Tao Ling. Karena itu dia juga tidak menghindarkan diri.

Plok! Pukulan Tao Ling tepat mendarat di pipinya. Sebelah wajah Lie Cun Ju jadi bengkak seketika.

Lie Cun Ju tertegun kemudian dia berkata. "Ling moay, ini aku!"

Tao Ling tertawa terbahak-bahak. "Kau? Siapa kau? Aku? Siapa pula aku ini?"

Mendengar kata-kata Tao Ling, perasaan Lie Cun Ju seperti terpukul. Dia berdiam diri sejenak.

"Ling moay, kau tidak ingat lagi kepadaku?" katanya lagi.

Tao Ling memandanginva beberapa saat. Tiba-tiba dia menunjuk wajah Lie Cun Ju dan tertawa aneh. "Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu?

Meskipun kau hangus tinggal abu, aku juga tidak akan melupakanmu. Kau adalah I Ki Hu!" kata Tao Ling.

"Aku bukan I Ki Hu!" teriak Lie Cun Ju.

Orang tua itu langsung berteriak dengan nada melengking. "Buat apa kau banyak bicara dengan orang gila seperti dia. Kita harus berangkat sekarang!"

Tiba-tiba Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya. "Tunggu dulu!" "Kenapa?" tanya orang tua itu.

"Kalian pergi saja, aku di sini menemaninya."

Wajah perempuan setengah baya itu langsung berubah garang. "Apa hubunganmu dengan perempuan gila itu?"

Lie Cun Ju tertegun sejenak. "Dia satu-satunya orang terdekat denganku," jawabnya tegas.

Perempuan setengah baya itu mengernyitkan keningnya. "Kalau begitu perempuan gila itu tidak boleh dibiarkan hidup!"

Perasaan Lie Cun Ju semakin bingung. "Kenapa?" "Kau harus membawa kami ke sebelah barat gunung Kun Lun san, mana mungkin kita membawa serta perempuan gila itu? Lebih baik bunuh saja sekarang, agar kau tidak terus-terusan merindukannya." Selesai berkata, tubuhnya berkelebat, tahu-tahu dia sudah sampai di samping Tao Ling. Lalu mengangkat tangannya ke atas.

Fuh! Perempuan itu melancarkan serangan ke arah kepala Tao Ling dari atas ke bawah.

Lie Cun Ju terkejut setengah mati. Dia bermaksud menghalangi, tetapi ternyata perempuan setengah baya itu sudah bergerak terlebih dahulu.

Tampak perempuan setengah baya itu mengirimkan sebuah pukulan, tubuh Tao Ling bergeser ke samping sedikit. Tao Ling mengeluarkan suara tawa yang aneh, tiba-tiba juga menjulurkan tangannya menyambut pukulan perempuan itu.

Tao Ling masih duduk di atas tempat tidur. Kedua telapak tangan mereka beradu. Blam . . .!

Tempat tidur yang berupa balai-balai itu berguncang, tubuh Tao Ling terjatuh ke atas tanah, dia segera menggelinding beberapa kali.

Perempuan setengah baya itu mendengus satu kali. "Ternyata masih sanggup menahan pukulanku."

Hal itu membuat kemarahannya semakin meluap. Dia ke depan satu tindak, sekonyong-konyong menjulurkan kedua jari tangannya dan mengincar ubun-ubun kepala Tao Ling. Seandainya sampai tertotok, tidak usah diragukan lagi selembar nyawa Tao Ling pasti sulit dipertahankan.

Meskipun luka Lie Cun Ju belum sembuh dengan sempurna, mana mungkin dia tidak per-dulikan mati hidup Tao Ling? la segera mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya bergerak menerjang ke arah perempuan setengah baya itu.

Perempuan setengah baya itu mengibaskan tangan kirinya. Serangkum angin yang kencang menghempas tubuh Lie Cun Ju sehingga terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Jarak jari tangannya sudah demikian dekat dengan ubun-ubun kepala Tao Ling.

Hati Lie Cun Ju panik sekali. "Kalau dia mati, jangan harap aku bisa hidup lebih lama!" teriaknya keras-keras.

Mendengar ucapannya, gerakan tangan perempuan setengah baya itu terhenti seketika. Dia menolehkan kepalanya memandang si kakek, seakan-akan ingin meminta pendapatnya untuk mengatasi masalah itu.

Mimik wajah orang tua itu tampak serba salah. Dari urat-urat merah yang menonjol di wajah Lie Cun Ju, mereka yakin pemuda itu pernah mendatangi istana rahasia di sebelah barat Gunung Kun Lun san. Itulah sebabnya mereka meminta pemuda itu sebagai penunjuk jalan. Kalau tidak, mungkin sejak semula Lie Cun Ju sudah mati. Seandainya pada saat itu Lie Cun Ju nekat, mereka memang bisa membunuh keduanya dengan mudah, tapi mereka juga tidak mendapatkan apa-apa. Yang terpikirkan dalam benak keduanya hanya kepentingan diri mereka sendiri.

Lie Cun Ju melihat kedua orang itu berdiam diri sekian lama. "Aku berkata yang sebenarnya tapi kalian tetap tidak percaya. Aku benar-benar belum pernah mengunjungi sebelah barat Gunung Kun Lun san itu, tetapi dialah yang pernah pergi ke sana." Tangannya menunjuk ke arah Tao Ling.

Orang tua itu menatap Lie Cun Ju lekat-lekat. "Maksudmu, kau ingin kami mengajaknya serta?"

Lie Cun Ju menatap Tao Ling sekilas. Tampak mimik wajah Tao Ling yang datar, kemungkinan benaknya juga kosong melompong. Diam-diam dia berkata dalam hati, meskipun kami membawanya serta, kemungkinan sesampainya di istana rahasia itu, dia juga tidak bisa mengingat apa-apa. Tapi, seandainya dia tidak bisa hidup sampai tua bersama-sama Tao Ling, apa salahnya mati bersama-sama?

Setelah merenung sejenak, pandangan Lie Cun Ju terhadap kehidupan menjadi tawar kembali.

"Tidak salah," jawabnya.

Orang tua dan perempuan setengah baya itu saling melirik sekilas. "Baiklah, mari kita berangkat!"

Lie Cun Ju menghampiri Tao Ling dan menjulurkan tangannya merangkul pundak perempuan itu. Dia berusaha menahan keperihan hatinya.

"Ling moay, kita akan meninggalkan tempat ini." Tao Ling tertawa cekikikan.

"Kemana?"

"Kesebuah tempat yang jauh sekali. Hanya kita berdua. Bagaimana?" Tao Ling memalingkan wajahnya.

"Siapa kau?"

Lie Cun Ju menarik nafas panjang. Dia menarik Tao Ling sekuat tenaga. Tubuh Tao Ling tertarik bangun, berikut dengan rantai yang mengikat tangannya.Tiba-tiba dia memekik aneh, tubuhnya mencelat ke atas dan mengangkat tangannya. Tampaknya dia hendak menghantam Lie Cun Ju dengan tiang besi yang menyambung tali rantainya itu. Lie Cun Ju terkejut setengah mati. Dia berdiri terpaku tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Tampaknya kalau tiang besi sampai menghajar kepalanya, selembar jiwa Lie Cun Ju pasti melayang. Dalam keadaan yang darurat itu, tiba-tiba si orang tua menggerakkan tangannya, tahu- tahu

tiang besi itu sudah tercekal olehnya. Kemudian tubuhnya mendoyong ke depan, dengan tiang besi itu, dia mendorong tubuh Tao Ling sehingga terdesak mundur beberapa langkah. Sembari bergerak, dia menolehkan kepalanya. "Bocah cilik, bagaimana mungkin kita membawa orang gila seperti ini?" teriaknya.

Pundak Tao Ling terhempas oleh dorongan tiang besi di tangan orang tua. Setelah terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, dia pun jatuh terduduk di atas tanah. Tapi tampaknya dia tidak mengalami luka apa-apa. Lie Cun Ju segera menghampirinya. "Pokoknya kemana pun dia pergi, aku harus ikut serta. Demikian pula dia."

Orang tua itu mendengus dingin. Dia menerjang ke depan dan secepat kilat jari tangannya bergerak. Beberapa jalan darah di tubuh Tao Ling telah tertotok olehnya. Kemudian dia mengempit tubuh Tao Ling dan dibawanya berlari ke depan.

Lie Cun Ju dan perempuan setengah baya itu bergegas mengikuti dari belakang. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tepi perairan.

Tampak si Gagu sudah menyiapkan perahu yang cukup besar. Dia sedang menunggu mereka di celah goa. Ketiga orang itu meloncat ke atas perahu. Orang tua itu pun menurunkan tubuh Tao Ling. Lie Cun Ju segera membungkuk di sampingnya dan terus menguraikan air mata melihat keadaan Tao Ling yang mengenaskan.

Tidak lama kemudian, mereka sudah keluar dari celah goa. Mereka sudah sampai di lautan yang luas. Mengikuti gerakan ombak yang deras, perahu itu terus melaju ke depan. Akhirnya mereka berada di tengah lautan yang airnya lebih tenang. Si Gagu mengambil dayungnya dan menggerakkannya dengan cepat. Kira-kira dua kentungan kemudian, mereka melihat daratan. Si Gagu menepikan perahunya. Mereka berempat meloncat turun. Lie Cun Ju tampak memondong tubuh Tao Ling.

Keempat orang itu menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Kira-kira belasan li jauhnya mereka berjalan, sudah sampai di jalan raya.

"Sesampainya di kota, kita harus mencari kereta kuda untuk membawa perempuan gila ini," kata orang tua itu.

Lie Cun Ju tahu, Tao Ling menjadi gila karena tidak tahan mengalami pukulan hatin ketika mengetahui dia terjatuh ke dalam jurang. Perempuan itu pasti mengira dia sudah mati. Jiwanya yang terguncang membuat pikirannya menjadi kurang waras.

Mendengar sebutan si orang tua, hatinya seperti disayat sembilu. "Locianpwe, kau tidak boleh menyebut kata-kata itu terhadap Tao kouwnio!" Orang tua itu tertawa dingin.

"Betul. Seharusnya aku mengatakan cari kereta kuda untuk membawa bidadarimu."

Lie Cun Ju memandang Tao Ling sekejap. Pada saat itu, wajah Tao Ling sudah cacat karena penuh dengan urat-urat merah yang bertonjolan. Kenyataannya wajah itu memang mengerikan sekali, tetapi dalam pandangan Lie Cun Ju, dia tetap merupakan gadis tercantik yang pernah ditemuinya selama hidup.

Lie Cun Ju menarik nafas panjang. "llmu kalian begitu tinggi, apakah tidak bisa menyembuhkan penyakit Tao kouwnio ini?" ucapnya.

"Tunggu sampai kita sampai dulu di istana rahasia, mungkin kita bisa menemukan cara untuk menyembuhkannya."

Mendengar kata-kata kakek itu hati Lie Cun Ju menjadi gembira. "Apakah benar kalau kita sudah sampai di sana kalian mempunyai cara untuk menyembuhkannya?"

Orang tua itu tertawa licik. "Mengapa kau begitu panik, tentu kami sudah mempunyai pertimbangan tersendiri."

Di dalam hati Lie Cun Ju timbul secercah harapan mendengar kata-kata si orang tua. Asalkan Tao Ling dapat disembuhkan, dia rela mengorbankan apa saja. Apalagi dalam bayangannya pergi ke istana rahasia bukan suatu hal yang sulit sekali.

Lie Cun Ju merenung sejenak. Meskipun ada terlintas dalam benaknya bahwa mungkin saja orang tua itu mendustainya karena takut mereka akan melarikan diri dalam perjalanan. Tetapi, meskipun harapan itu kecil sekali, setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena itu dia pun menganggukkan kepalanya.

"Baiklah. Tapi bagaimana pun aku harus mengatakan bahwa sesungguhnya aku belum pernah mendatangi sebelah barat Gunung Kun Lun san itu."

Perempuan setengah baya itu tertawa melengking. "Pernah atau tidak, buat apa kau mengatakannya sekarang?"

Melihat kedua orang itu tetap tidak percaya dengan kata-katanya, Lie Cun Ju hanya bisa menarik nafas diam-diam. Dia juga malas berdebat lebih lanjut.

Keempat orang itu sampai di sebuah kota kecil. Dibelinya sebuah kereta kuda. Si Gagu dan orang tua itu duduk di depan mengendalikan jalannya kereta. Perempuan setengah baya, Lie Cun Ju dan Tao Ling duduk di belakang.

Kereta kuda itu terus melaju ke arah utara. Lie Cun Ju dan Tao Ling tidak pernah berkata-kata.

Setiap selang satu hari, orang tua itu akan membuka totokan pada jalan darah Tao Ling dan memaksanya menelan sedikit makanan, kemudian baru menotoknya kembali.

Lie Cun Ju mengingat kembali masa lalunya ketika pertama kali bertemu dengan Tao Ling, juga kerinduannya selama bertahun-tahun terhadap gadis itu. Sekarang, meskipun setiap hari dia dapat bersama-sama dengan Tao Ling, tapi gadis itu sudah gila.

Perasaan hati Lie Cun Ju saat itu dapat dibayangkan. Sepanjang perjalanan, boleh dibilang tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu bulan, mereka sudah keluar dari Giok bun kwan. Udara dingin sekali. Pada malam itu sekonyong-konyong salju turun dengan derasnya. Dalam waktu yang bersamaan, angin seperti mengamuk, membuat salju-salju beterbangan. Suaranya menggetarkan gendang telinga. Jalan di depan demikian samar tertutup kabut sehingga pemandangan menjadi tidak jelas.

Orang tua itu membentak nyaring. Dia menghentikan keretanya di tepi jalan. Lalu bersama-sama masuk ke dalam kabin kereta. Untung saja kabin kereta itu cukup luas, sehingga empat orang mengisi di dalamnya pun tidak terasa sempit.

Kedua orang itu mengibas-ngibaskan tangannya setelah masuk ke dalam kereta. Orang tua itu mengernyitkan keningnya. "Kalau salju ini turun terus menerus, perjalanan kita bisa terhambat."

"Apa yang dikhawatirkan kalau kita terlambat?" kata perempuan setengah baya itu dingin.

Orang tua itu mendengus kesal. "Sekarang ini para tokoh dunia bu lim sudah banyak yang mengetahui rahasia itu. Apabila sampai didahului orang lain, jerih payah kita selama ini akan sia-sia. Lebih baik kita mendahului mereka."

Perempuan setengah baya itu tertawa terbahak-bahak. "Takut apa? Kecuali jala Gin hun bang milikku itu, siapa yang berani sembarangan menyentuh kedua batang pedang pusaka itu. Ingin cari mati?"

Wajah orang tua itu langsung menjadi garang. "Jala perak siapa?"

Wajah si perempuan setengah baya itu tampak menyiratkan kemarahan yang meluap- luap. Bibirnya sampai bergetar. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya keinginan saja, tidak berani dia mengutarakannya.

Orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh. "Dulu, kau boleh mengatakan jala itu milikmu. Tetapi kau sendiri yang rela menyerahkannya kepadaku untuk ditukarkan dengan selembar nyawamu. Masa sampai sekarang kau baru menarik kembali kata-katamu sendiri?"

Wajah perempuan setengah baya itu sungguh tidak enak dilihat. Sampai cukup lama dia terdiam. "Tua bangka, kau ingin menelan sendiri Gin hun hangku itu?" tanyanya kemudian.

"Kapan aku pernah bilang begitu?" sahut orang tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Mimik wajah perempuan setengah baya itu berubah agak enak dilihat. Tepat pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara binatang dari tempat yang tidak begitu jauh.

"Jangan ribut, ada yang datang!"

"Ngaco! Itu hanya suara salakan anjing, mana ada orang datang?" "Coba dengar lagi!"

Perempuan setengah baya itu mendengarkan dengan seksama. Samar-samar Lie Cun Ju juga sudah mulai mendengar. Seiring dengan suara lolongan atau salakan binatang itu, dia juga mendengar suara pecut yang dilontarkan. Perempuan setengah baya itu membuka tirai penyekat kereta. Dia melongokkan kepalanya keluar, serangkum angin dingin menerpa wajahnya. Tampak salju putih menghampar di mana-mana. Delapan ekor anjing hutan menarik sebuah kereta salju. Gerakannya cepat sekali, sehingga orang yang melihatnya pasti akan terkagum-kagum.

Melihat keadaan itu, wajah si perempuan setengah baya langsung berseri-seri. "Tua bangka, kita sudah mendapat jalan keluar."

Pada saat itu si orang tua juga sudah melihat luncuran kereta salju yang dihela delapan ekor anjing hutan itu. "Jangan cari masalah. Kemungkinan orang yang datang itu bukan tokoh sembarangan."

Di saat pembicaraan berlangsung, jarak kereta salju itu sudah semakin dekat. Tampak orang yang duduk di atas kereta salju itu mengenakan sehelai mantel yang cukup tebal. Bagian kepalanya ditutupi dengan sehelai kain sehingga wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas. Perempuan setengah baya itu mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Tua bangka, mengapa kau sekarang berubah jadi penakut?" Selesai berkata, tubuhnya bergerak menyelinap keluar dari kabin kereta. la mengibaskan tangannya, setitik sinar berwarna hijau melesat ke depan secepat kilat.

Orang tua itu mengernyitkan keningnya, Dia juga melongokkan kepalanya lewat tirai kereta. Tampak kereta salju itu tiba-tiba dilambatkan, timbullah bunga-bunga salju yang bercipratan kemana-mana. Orang yang duduk di atas kereta salju itu mengayunkan pecutnya, tahu-tahu panah berapi yang disambitkan perempuan setengah baya tadi sudah terlilit olehnya. Kemudian dia melontarkannya lagi ke depan.

Bum . . .! Panah berapi itu meledak.

Perempuan setengah baya itu tertegun sejenak. "Kepandaianmu hebat!" katanya.

Suaranya yang melengking tinggi diadu dengan desiran angin, membuat perasaan orang yang mendengarnya jadi bergidik. Orang itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia menghentakkan pecutnya ke depan. Kedelapan ekor anjing hutan itu melesat lagi ke depan. Dalam waktu yang singkat dia sudah melesat melewati perempuan setengah baya itu.

Tar . . .! Tar . . .! Tar . . .! Ketika kereta salju melalui kereta kuda mereka, orang itu mengayunkan pecutnya tiga kali ke arah perempuan setengah baya.

Ketiga pecutan itu berbahaya sekali, datangnya juga terlalu mendadak. Timbul belasan bayangan pecut melayang ke arah tubuh perempuan setengah baya itu. Dasar kepandaian perempu in setengah baya itu memang tidak lemah. Ketika melihat keadaan yang kurang beres, cepat-cepat dia menghindarkan diri. Tetapi sudah terlambat.

Tar . . .! Orang itu mengayunkan pecutnya kembali. Bagian pundak perempuan itu sudah kena ayunan pecut orang di atas kereta salju.

Perempuan setengah haya itu memekik histeris kesakitan, tubuhnya terhuyung-huyung ke be-lakang.

Sedangkan dalam waktu yang demikian singkat, kereta salju itu sudah melesat lagi sejauh tiga-empat depa.

"Tua bangka, apakah sampai sekarang kau masih belum keluar juga?" teriaknya.

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak. "Sejak tadi aku sudah mengatakan jangan cari gara-gara. Kau sendiri yang tidak mau mendengarkan nasehatku. Sekarang kau malah meminta pertolongan kepadaku?" Sembari berbicara, tubuhnya melesat keluar dari pintu kereta. Gerakannva yang sangat cepat, termasuk langka ditemukan. Seperti seekor burung aneh yang tiba-tiba terbang di atas permukaan salju.

Setelah melesat keluar, orang tua itu sempat menghentakkan kakinya di atas salju lalu menerjang lagi ke depan. Pada saat itu, salju yang memenuhi permukaan tanah sudah cukup tebal. Tetapi herannya tidak ada sedikit pun bekas hentakan kaki kakek itu di atas permukaan salju.

Dalam beberapa kali loncatan saja, kakek sudah berhasil mengejar kereta salju tadi. "Sahabat, tunggu sebentar!" teriaknya keras-keras.

Orang di atas kereta tetap berdiam diri, tidak menyahut sepatah kata pun. Ketika jarak kakek itu dengan kereta salju sudah tidak seberapa jauh lagi, tiba-tiba orang di atas kereta salju itu melontarkan pecut di tangannya, timbul suara yang memekakkan telinga. Ayunan pecutnya melayang ke arah wajah si kakek.

"Bagus sekali!" bentak kakek itu.

Tiba-tiba tubuh kakek itu berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri. Bayangkan saja, dalam keadaan genting seperti itu, ternyata dia bisa menahan luncuran tubuhnya bahkan berjungkir bidik ke belakang.

Justru ketika tubuhnya berjungkir balik, orang di atas kereta salju sudah gagal mengincar sasaran-nya.

Yang paling menakjubkan, justru setelah berjungkir balik, kaki kakek itu masih terus juga meluncur ke depan dan dalam sekejap mata dia sudah melewati kedelapan ekor anjing hutan yang menarik kereta salju itu.

"Berhenti!" bentaknya keras-keras. Sepasang tangannya disilangkan di depan dada, mendadak dia menghantam ke depan. Angin yang kencang pun melanda ke arah orang di atas kereta salju itu.

Sejak tadi Lie Cun Ju mengintip dari dalam kereta. Saat itu, dia melihat orang tua itu melan-carkan dua buah pukulan ke arah orang di atas kereta salju. Yang membuat perasaannya ter-kesiap, justru sepasang telapak tangannya yang merah tampak seperti berlumuran darah.

Warna merah berdarah di telapak tangan kakek itu berpadu dengan hamparan salju yang putih bersih menjadikan suatu pemandangan yang mencolok.

Lie Cun Ju terkejut setengah mati, ternyata orang yang duduk di atas kereta salju juga tidak kalah terkejutnya. Tubuhnya mencelat ke atas kemudian berjungkir balik ke belakang satu depa lebih. Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan si kakek.

Tangannya terangkat dan disingkapkannya kain pembungkus kepalanya. "Siapa kau?" bentaknya lantang.

Dalam waktu yang bersamaan, orang tua itu juga membentak. "Siapa kau?"

Kedua orang itu mengajukan pertanyaan yang sama. Tiba-tiba mereka sama-sama mengeluarkan seruan terkejut.

"Rupanya engkau!"

Si kakek langsung tertawa terbahak-bahak.

"I ko ya, tidak disangka masih ada hari untuk kita bertemu muka."

Orang di atas kereta salju itu juga tertawa terbahak-bahak, namun dapat dirasakan bahwa suara tertawanya itu sangat dipaksakan.

"Senang dapat berjumpa kembali."

Pada saat itu, Lie Cun Ju yang masih duduk di dalam kereta juga melihat jelas wajah orang di atas kereta salju itu ketika kerudung penutup kepalanya dilepaskan. Orang itu bukan orang lain, tetapi musuh bebuyutannya, juga orang yang paling dibencinya di dunia ini, Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu.

Sebetulnya, ketika si kakek melancarkan serangan, Lie Cun Ju sudah terkejut setengah mati melihat telapak tangannya yang merah itu. Memang ada beberapa jenis pukulan di dunia ini yang bila dilancarkan, telapak tangan orang itu juga akan berubah warna menjadi merah. Tapi warna merah yang diperlihatkan biasanya agak gelap, tidak segar seperti pukulan telapak berdarah dari Mo kau. Dan pukulan telapak berdarah itu memang hanya diwariskan kepada keturunan ketua Mo kau sendiri. Bahkan anak muridnya saja tidak ada yang mempelajari ilmu pukulan itu. Apalagi setelah melihat kenyataannya bahwa orang tua itu saling kenal dengan I Ki Hu. Dia sudah dapat menduga bahwa orang tua itu pasti salah seorang angkatan tua dari pihak Mo kau.

"I ko ya melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa, apakah ada suatu keperluan yang mendesak sekali? Bolehkah aku menanyakan kemana tujuanmu?" Terdengar si kakek itu bertanya kepada I Ki Hu.

"Apa maksudmu menghalangi perjalananku?" tanya I Ki Hu dingin. Orang tua itu mengeluarkan suara siulan yang aneh.

"Tadinya aku ingin meminjam kereta saljumu, tentu saja sekarang tujuannya lain lagi." I Ki Hu tertawa dingin beberapa kali.

"Bagus sekali. Ada urusan apa harap kau katakan saja agar aku bisa mendengarnya!"

Orang tua itu menatap I Ki Hu dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Beberapa kali pandangan matanya beredar.

"Belasan tahun tidak bertemu, ternyata I ko ya semakin tampan saja."

Pada saat itu, wajah I Ki Hu tidak berbeda dengan wajah Tao Ling, yakni dipenuhi dengan urat-urat merah yang bertonjolan. Tentu saja jelek dan mengerikan. Hal itu membuktikan bahwa ucapan si kakek barusan merupakan sindiran yang tajam.

Wajah I Ki Hu berubah hebat.

"Tua bangka, hanya untuk kata-kata itu kau menghalangi perjalananku?" Orang tua itu melangkah maju satu tindak.

"Tentu saja masih ada hal lainnya. Dulu, abangku dan istrinya, keponakanku yang perem-puan, entah berbuat kesalahan apa terhadap dirimu sehingga akhirnya kau melakukan tindakan demikian keji kepada mereka?"

Mendengar kata-kata kakek itu, lagi-lagi Lie Cun Ju tertegun.

Tempo dulu, I Ki Hu mengkhianati partai Mo kau. Dia membunuh kedua mertuanya, istrinya bahkan enam belas tokoh angkatan tua atau para tancu dari pihak Mo kau.

Boleh dibilang urusan itu sudah diketahui oleh seluruh umat bu lim.

Sedangkan mendengar nada kata-kata kakek itu, ketua Mo kau lama yang mati di tangan I Ki Hu justru abang si kakek itu. Kalau memang benar demikian, kedudukan si kakek di dunia bu lim sudah tergolong tinggi sekali sehingga sulit dicari tandingannya. Karena dia masih setingkat lebih tua dari pada I Ki Hu.

Pikiran Lie Cun Ju sedang melayang-layang, tiba-tiba dia mendengar si Gagu yang duduk di sampingnya mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Lie Cun Ju menolehkan kepalanya tampak sepasang mata si Gagu menyorotkan sinar yang buas. Kedua telapak tangannya sudah mengenakan sebuah sarung tangan yang bentuknya aneh sekali.

Sepasang sarung tangan itu bentuknya seperti cakar burung. Ujungnya runcing- runcing. Sepasang matanya mendelik kepada I KI Hu lekat-lekat.

Lie Cun Ju tahu, antara I Ki Hu dengan pihak Mo kau telah terlibat dendam permusuhan sedalam lautan. Tetapi menurut yang diketahuinya, dulu, I Ki Hu telah turun tangan dengan telengas sekali. Para tokoh kelas satu Mo kau semuanya mati terbunuh di tangannya. Meskipun ada beberapa yang sempat melarikan diri, tapi jumlahnya hanya segelintir dan terdiri dari bu beng siau cut. Meskipun selama bertahun-tahun ini mereka sangat membenci I Ki Hu, tetapi tidak ada satu pun yang berani menunjukkan jejaknya di dunia kang ouw. Mereka takut akan didatangi oleh I Ki Hu. Karena itu pula, mereka tidak berani mengungkit masalah balas dendam.

Seandainya orang tua dan si Gagu benar-benar tokoh angkatan tua Mo kau tempo dulu, tentu mereka tidak akan melepaskan I Ki Hu begitu saja.

Berpikir sampai di situ, Lie Cun Ju sungguh berharap I Ki Hu dapat mati di tempat yang berhamparan salju ditangan si kakek.

Setelah mengenakan sarung tangannya, tampak si Gagu mengendap-endap keluar dari pintu kereta. Tubuhnya terhalang oleh pintu kereta sehingga tidak dapat terlihat jelas. Apalagi perawakannya memang kecil kurus. Hanya Lie Cun Ju seorang yang tahu dia sudah menyelinap keluar. Si Gagu merayap di atas permukaan salju sampai kira-kira lima kaki jauhnya, kemudian dia mengendap di atas tanah.

Salju turun semakin deras. Dalam waktu sekejap seluruh tubuh si Gagu sudah tertutup lapisan salju. Tetapi dia tetap mengendap di atas tanah tanpa bergerak sedikit pun. Lie Cun Ju tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya. Dia hanya mendengar perempuan setengah baya itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Tua bangka, itukah keponakan mantumu yang namanya sudah menggetarkan kolong langit dan merupakan orang terbaik dari pihak Mo kau di jaman keemasannya dulu?"

Wajah si kakek berubah menghijau sehingga menakutkan. "Betul, dia memang keponakan menantu terbaik dari Mo kau kami."

I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh. "Kwe loyacu . . . Kau sudah hidup lebih lama dari orang Iain dua puluh tahunan, seharusnya kau sudah merasa puas."

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak. "Terima kasih kau telah membiarkan aku hidup selama dua puluh tahun, tapi sekarang aku juga masih ingin hidup terus. I Ko ya, keponakan perem-puanku di alam baka pasti sangat merindukan dirimu."

Begitu melihat orang tua itu, Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu terperanjat setengah mati. Tentu saja dia mengenali bahwa orang tua itu adalah seorang angkatan tua dalam partai Mo kau tempo dulu. Namanya Kwe Tok. Kedudukan di dalam Mo kau di bawah Kwe lo kaucu, tetapi masih di atas keenam orang tancu. Lagipula Kwe Tok itu masih saudara kandung dengan kaucu itu. Kepandaiannya tinggi sekali, boleh dibilang sulit ditemukan tandingannya.

Ketika mengkhianati Mo kau, I Ki Hu sudah menghabiskan banyak waktu untuk merencana-kannya. Sedangkan dalam rencananya, dia sudah mengambil keputusan untuk membunuh semua tokoh angkatan tua dari Mo kau.

Tetapi Kwe Tok yang mendapat julukan Siu lo cun cu selalu bepergian seorang diri. Jarang ada di markas pusat Mo kau. Kecuali di saat putri Mo kau menikah dengan I Ki Hu. Saat itu dia mengatakan baru kembali dari Lam Hay. Bahkan sempat menetap di markas Mo kau selama beberapa hari. Selanjutnya tidak pernah terlihat lagi.

Hari itu, I Ki Hu mendapatkan kesempatan yang sangat baik. Itulah sebabnya dia tidak perduli

Kwe Tok ada di tempat atau tidak. Sebab bila dia memhatalkan niatnya, tentu sulit lagi menemukan kesempatan yang sama. Raja Iblis itu langsung turun tangan dan ternyata berhasil. Setelah kejadian itu, I Ki Hu terus mencari jejak Kwe Tok ke mana-mana, tetapi selalu tidak berhasil. Dia henar-benar tidak menyangka, kalau orang tua itu yakni Kwe Tok dapat ditemukannya di tempat itu.

Lie Cun Ju yang ada dalam kereta, terkejut sekali ketika melihat I Ki Hu melangkah menghampiri orang tua itu. Niatnya ingin menyemhunyikan diri, tetapi terlambat.

Dengan panik dia memeluk Tao Ling erat-erat.

Si Raja Iblis itu membuka tirai kereta seraya berkata. "Aih! Mengapa kau belum berangkat juga?"

Lie Cun Ju tidak tahu apa arti pertanyaan I Ki Hu, namun dia tidak menjawah sepatah kata pun.

I Ki Hu membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan kereta itu. Dia tampak tertegun sejenak lalu niendadak membalikkan tubuhnya lagi dan memperhatikan dengan seksama. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan. "Rupanya kau si bocah busuk!" katanya. Selesai berkata, tangannya terangkat ke atas hendak menghantam ubun-ubun kepala Lie Cun Ju.

Pemuda itu terkejut setengah mati, gerakan tangan I Ki Hu bukan main cepatnya. Dalam keadaan panik dia hanya menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindarkan diri. Pada saat itu juga I Ki Hu melihat Tao Ling dalam pelukannya.

Sekali lagi I Ki Hu tertegun, ketika melongok ke dalam kereta. Dia melihat sepintas lain seorang pemuda yang wajahnya penuh urat-urat merah sedang memeluk seorang perempuan. Tadinya dia mengira mereka adalah Tao Heng Kan dan I Giok Hong.

Karena itu dia mengajukan pertanyaan 'Mengapa kau belum berangkat juga?' Seperti diketahui, Cen Sim Fu mengajak Tao Heng Kan dan I Giok Hong bersama-sama berangkat menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san untuk mengulangi penyelidikan mereka. Itulah sebabnya 1 Ki Hu heran mengapa Tao Heng Kan dan I Giok Hong belum berangkat juga. Dan setelah mengajukan pertanyaan, dia sudah melangkah meninggalkan kereta itu. Tetapi, tiha-tiba I Ki Hu merasa curiga. Rasanya wajah pemuda itu tidak begitu mirip dengan Tao Heng Kan. Maka dia membalikkan tubuhnya kembali dan memperhatikan dengan sek-sama. Ternyata kedua orang itu justru Lie Cun Ju dan Tao Ling. Api amarah dalam dadanya langsung herkobar-kobar. la langsung mendengus dingin.

"Bocah busuk, aku ingin lihat apa kali ini kau masih bisa meloloskan diri?" Dia menyurut mundur satu langkah, lengannya disilangkan, siap untuk melancarkan serangan.

Hati I Ki Hu dilanda kebencian yang tidak terkirakan. Dalam pandangannya, Tao Ling tidak bergerak atau bersuara sedikit pun karena sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Lie Cun Ju baik hidup maupun mati. Karena itu dia mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dan hendak menghancurkan kereta berikut kedua orang di dalamnya sehingga lebur menjadi satu.

Belum lagi kedua pukulan itu dilancarkan, Kwe Tok sudah berkata. "Tunggu dulu! Kedua orang itu tidak mungkin membantu aku. Tunggu sampai kita berhasil menentukan siapa yang menang di antara kita. Masih belum terlambat apabila kau berniat membunuh mereka." 

Mendengar kata-kata si kakek, hati I Ki Hu tergerak. Diam-diam dia berpikir, untung saja aku belum melancarkan kedua pukulan ini. Apabila tidak kemungkinan Kwe Tok akan menggunakan kesempatan itu untuk membokongku. Pasti aku akan menderita luka parah dan tidak sanggup memberikan perlawanan lagi.

Cepat-cepat I Ki Hu menarik kembali pukulannya yang belum sempat dilontarkan. Dua jari tangannya menjulur ke depan untuk menotok jalari darah lie Cun Ju dan Tao Ling. Setelah itu dia baru memhalikkan tubuhnya seraya mengeluarkan suara tertawa yang panjang. "Mari!" katanya.

Pikiran I Ki Hu memang sulit ditebak orang lain. Dia tidak lang.sung mengiakan kata- kata Kwe Tok. Sedangkan saat itu juga, dia sudah siap melancarkan serangan yang tadi ditundanya kepada musuh di hadapannya itu.

Tapi meskipun sampai di mana liciknya hati I Ki Hu, dia tetap manusia yang tidak terlepas dari kesalahan. Dia tidak mengetahui masih ada seorang lagi yang tiarap di atas tanah dengan seluruh tubuh tertutup salju.

Kwe Tok tertawa menyeramkan. "Bagus! I Ko ya memang baik hati."

Diam-diam I Ki Hu berpikir dalam hati, apabila Kwe Tok sudah disingkirkan, berarti semua musuh hesarnya sudah mampus. Mulai sekarang dia pun dapat hidup tenang tanpa ada ganjalan apa-apa lagi.

Itulah sebabnya I Ki Hu berhati-hati sekali. Hawa murninya diedarkan sebanyak tiga kali, kemudian didesakkan ke arah telapak tangan. Lengannya diangkat ke atas, telapak tangannya berubah warna seperti matahari yang baru terbit.

Siu lo cun cu Kwe Tok yaitu si kakek sadar bahwa kematian abang dan kakak iparnya dua puluh tahun yang lalu bukan hal yang kebetulan. Setidaknya I Ki Hu memang mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan. Karena itu, dia juga meningkatkan kewaspadaan, perhatiannya dicurahkan sepenuhnya.

Perlahan-lahan dia mengangkat tangannya ke atas dan maju setindak demi setindak.

Da lain sekejap mata jarak Kwe Tok dengan I Ki Hu sudah tinggal tiga kaki. Lambat laun tampak tangannya menjulur ke depan untuk mengirimkan sebuah serangan.

Tubuh I Ki Hu merendah sedikit, lalu menghantamkan sebuah pukulan ke depan.

Gerakan kedua orang itu tampaknya lamban sekali, tetapi ketika dilancarkan, kecepatannya justru hampir tidak terbayangkan. Tampak bayangan merah berkelebat, kedua tangan mereka sudah saling membentur. Blam . . .!

Setelah beradu satu kali, keduanya pun tergetar mundur kira-kira dua kaki. Pukulan yang dilancarkan I Ki Hu maupun Kwe Tok, sejak awal hingga beradu,

tampaknya sama-sama sudah mengerahkan segenap kekuatannya. Tapi hanya sekali pukulan keduanya langsung memencarkan diri. Kedua-duanya sama-sama tergetar ke belakang, sedangkan salju-salju yang berhamburan langsung memenuhi tubuh mereka.

Tidak lama kemudian salju turun semakin deras. Tubuh keduanya tampak tertutup lapisan salju. Sedangkan saat itu keduanya sedang mengedarkan hawa murni dalam tubuh. Arus hangat bergerak-gerak, salju yang melekat di tubuh mereka berjatuhan. Tetapi karena hawanya yang terlalu dingin, belum lagi salju itu menetes di atas tanah, aliran airnya sudah membeku kembali menjadi batangan es halus yang menggelantung di pakaian mereka.

Setelah sama-sama tergetar mundur, hati I Ki Hu tersentak kaget sekali. Karena dalam serangannya tadi, dia merasa pukulannya sudah beradu dengan pukulan lawan padahal sebetulnya belum. Jarak antara kedua telapak tangan mereka masih satu cun lebih.

Namun karena tenaga dalam mereka sama-sama hebat, belum sempat saling beradu, angin yang terpancar dari pukulan masing-masing telah menggetarkan lawan.

Dengan demikian I Ki Hu juga menyadari bahwa tenaga dalam Kwe Tok seimbang dengan tenaga dalam sendiri. Apabila terus mengadu kekerasan akibatnya pasti kedua belah pihak sama-sama akan terluka parah. Tentu saja I Ki Hu tidak mengharapkan akibat akan berakhir demikian, karena rahasia besar Tong tian pao liong sudah di depan mata.

Sebetulnya I Ki Hu sedang melakukan perjalanan bersama Cen Sim Fu, Kim Ting siong jin dan rombongan Coan lun hoat ong menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san. Mengapa tahu-tahu dia bisa muncul di tempat itu.

Rupanya, mereka baru berjalan tidak seberapa jauh, perasaan I Ki Hu terus mengkhawatirkan Tao Ling. Itulah sebabnya dia balik lagi untuk melihat keadaan istrinya itu. I Ki Hu menyadari hahwa dia mempunyai seekor Tong tian pao liong, rombongan Cen Sim Fu dan yang lainnya mau tidak mau harus menunggunya di kaki Gunung Kun Lun san. Ketika dia sampai kembali ke perkampungan keluarga Sang, Tao Ling sudah melarikan diri. Hati I Ki Hu panik sekali. Cepat-cepat dia pergi mencarinya. Akhirnya dia mendatangi tepian jurang tempat Tao Ling menerjunkan diri. Tetapi kedatangannya terlambat sedikit. Pada saat itu Tao Ling sudah tertolong oleh Kwe Tok dan dibawanya pergi ke tempat tinggalnya.

I Ki Hu mencari lagi beberapa saat, kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri. Itulah sebabnya dia bisa bertemu dengan Kwe Tok di tempat itu.

Sementara itu, hati I Ki Hu agak menyesal juga terhadap tindakannya sendiri. Meskipun Tao Ling sedang mengandung anaknya, tapi masih juga tidak memiliki sedikit pun perasaan terhadap I Ki Hu. Dan dia sendiri yang bersusah payah berusaha menemukan Tao Ling kembali, malah bertemu dengan Kwe Tok musuh besarnya di tempat seperti itu.

Setelah berdiam diri beberapa saat, terdengar Kwe Tok tertawa terbahak-bahak. "Ternyata kepandaian I ko ya memang hebat. Tetapi tetap ada satu hal yang membuatku penasaran. Pada waktu itu, tenaga dalam abangku itu di atas kekuatanku sekarang, entah bagaimana caranya I ko ya bisa berhasil membunuh seluruh keluarga abangku itu?"

Mendengar sindirannya yang begitu tajam, wajah I Ki Hu menjadi merah padam seketika. Dua puluh tahun yang lalu, dia berhasil mernbunuh ketua Mo kau dan istrinya justru dengan cara membokong, tetapi hal itu tidak pernah dia utarakan kepada siapa pun juga.

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya. "Apakah pandangan Kwe lo yacu terhadap abangmu itu tidak terlalu tinggi?"

Sembari berbicara, dia mengeluarkan sebatang piau kecil dari balik pakaiannya. Senjata rahasia itu terjepit antara jari telunjuk dan jari tengahnya, yang tampak hanya bagian ujungnya yang tajam. Raja Iblis sudah bersiap melontarkan senjata rahasia itu. "Apakah kita hanya mengadu pukulan satu kali saja?" katanya.

Siu Lo Cun Cu Kwe Tok melihat I Ki Hu yang memeriksa kereta. Dia tidak menemukan si Gagu. Diam-diam dia sudah dapat membayangkan bahwa dia yang akan memenangkan pertarungan kali ini. Karena keyakinannya yang besar, perasaannya jadi jauh lebih tenang.

"Tentu saja harus diteruskan sampai ketahuan siapa yang lebih unggul di antara kita!" sahut Kwe Tok.

Lengan tangannya perlahan-lahan terangkat ke atas, kemudian dengan gerakan lambat menjulur ke depan. Pukulannya sudah dekat dengan dada I Ki Hu. Tiba-tiba Raja Iblis menggerakkan tangannya menyambut pukulan itu.

Justru tepat pada saat itu juga, Kwe Tok melihat kira-kira empat kaki di belakang I Ki Hu, salju beterbangan, sesosok bayangan mencelat bangun.

Bayangan itu tadinya sedang tiarap di atas tanah dan dalam keadaan tertutup salju. Sekarang tiba-tiba mencelat bangun, salju berhamburan ke mana-mana, namun tidak timbul suara sedikit pun. Orang itu nienerjang ke bagian punggung I Ki Hu dengan kedua tangan merentang ke depan membentuk cakar.

Salju memercik ke mana-mana. Tetapi I Ki Hu tidak dapat merasakan hal itu. Saat itu salju sedang turun dengan deras, yang jatuh dari langit tidak kalah banyak dengan yang memercik dari permukaan tanah. Itulah sehabnya I Ki Hu tidak memperhatikan.

Sedangkan I Ki Hu sendiri juga tidak pernah menduga, di saat sebentar lagi dia mempunyai keyakinan untuk melumpuhkan seluruh lawannya, tahu-tahu masih ada seorang musuh yang mendekam di atas tanah.

Seluruh perhatian I Ki Hu sedang terpusat pada Kwe Tok. Gerakan tubuh si Gagu yang melonjak bangun mempunyai kecepatan yang sungguh mengagumkan. Ketika I Ki Hu curiga mengapa tiba-tiba Kwe Tok menyurutkan pukulannya sedikit, dalam waktu yang bersamaan, sepasang cakar si Gagu tinggal dua cun lagi sampai di punggung I Ki Hu.

Biar hagaimana pun, I Ki Hu memang bukan tokoh sembarangan. Meskipun ketika si Gagu melonjak bangun dia belum menyadarinya, tetapi ketika orang itu menerjang ke arahnya, dia sudah merasakan ada yang tidak beres di belakangnya. Sekonyong- konyong dia meraung keras-keras, telapak tangan kirinya dibalikkan lalu meluncurkan sebuah pukulan kebelakang.

Blam . . .!

Pada saat itu, jarak si Gagu dengannya tidak sampai setengah kaki, pukulan I Ki Hu tepat me-ngenai dada si Gagu.

Ilmu warisan yang dirahasiakan Mo kau yakni pukulan telapak berdarah. Dapat dibayangkan sampai di mana kehebatannya. Si Gagu mengeluarkan suara gerungan yang aneh, darah segar bermuncratan dari mulutnya.

Sekumpulan darah segar tiba-tiba saja meluncur ke bagian belakang leher I Ki Hu. Si Raja Iblis itu terkejut setengah mati. Pada dasarnya si Gagu yang terkena pukulan I Ki Hu itu, tidak perlu diragukan lagi bahwa nyawanya tak dapat dipertahankan lebih lama.

Tapi sebelum kematian menjelang, si Gagu mengerahkan sisa tenaganya untuk menerjang ke depan dan mencakar. Dapat dibayangkan betapa besar tenaga dalam yang terkandung pada cengkeramannya itu. Sungguh sulit diuraikan dengan kata-kata. Dengan tangannya yang sudah mengenakan sarung tangan yang ujungnya runcing- runcing, secepat kilat dia mencakar pundak I Ki Hu.

I Ki Hu merasa pundaknya dilanda rasa perih yang tidak terkirakan. Kemarahannya semakin meluap-luap. Dia mengerahkan tenaga dalamnya, tubuh si Gagu terpental di udara. Terdengar I Ki Hu mendengus satu kali, lalu membalikkan tubuhnya dan menerjang kembali ke arah si Gagu. Sesampainya di samping tubuh si Gagu, Raja Iblis menyepakkan kakinya agar tubuh si Gagu itu membalik. Namun ketika dia berhasil melihat raut muka si Gagu, wajahnya sendiri langsung berubah hebat. Setelah tertegun beberapa saat, dia malah tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya berkumandang memenuhi seluruh tempat itu dan memecahkan kesunyian malam yang mencekam, sehingga membuat perasaan orang menjadi bergidik dan sukma seakan melayang seketika.

Di pundak I Ki Hu telah terdapat empat-lima buah lubang kecil dan darah segar terus menetes dari lubang lukanya. Sedangkan sebelum terhempas di tanah untuk mati selamanya, si Gagu malah sempat tertawa terbahak-bahak seakan mengejeknya.

Sekarang si Gagu pasti sudah mati, suara tawa I Ki Hu masih berkumandang terus. Kwe Tok memandangnya dengan terpaku. Hampir setengah kentungan lamanya I Ki Hu tertawa seperti orang gila. Dia menolehkan kepalanya kepada Kwe Tok.

"Apa yang kau tertawakan?" bentak Kwe Tok.

I Ki Hu tertawa panjang sekali lagi. "Tidak disangka aku I Ki Hu yang entah sudah bertemu dengan berapa banyak orang gagah di dunia ini, entah sudah berapa banyak bahaya yang kutemui, ternyata hari ini aku bisa mati di tangan seorang budak hina dari Mo kais,"

Kwe Tok tertawa dingin beberapa kali."Ini yang dinamakan hukum karma."

Tubuh I Ki Hu terhuyung-huyung beberapa kali, wajahnya berubah sedemikian rupa sehingga sungguh mengerikan. Keempat anggota tubuhnya terasa lemas, ngilu dan kesemutan. Dia jatuh terduduk di atas salju. Matanya terpejam erat-erat, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ketika pundaknya tercakar sarung tangan si Gagu, I Ki Hu masih mengira lukanya tidak seberapa parah. Tapi ketika dia membalikkan tubuh si Gagu dan menatapnya dengan seksama, hatinya tersentak kaget sekali, sulit diuraikan dengan kata-kata. Karena dia langsung mengenali siapa si Gagu dan kehebatan sarung tangan yang dikenakannya. Si Gagu itu salah seorang budak pelayan bekas ketua Mo kau yang telah mati di tangan 1 Ki Hu.

I Ki Hu tahu, meskipun selamanya tidak ada orang yang tahu siapa nama si Gagu, tapi dulunya dia seorang pentolan dari golongan sesat dan sarung tangan yang dikenakannya mengandung racun yang keji.

Beberapa kali I Ki Hu berusaha menyelidiki racun apa sebenarnya yang terdapat di sarung tangan itu. Tapi tidak pernah berhasil mencapai keinginannya karena selama di Mo kau, si Gagu tidak pernah menunjukkan sikap bersahahat dengannya.

Sekarang pundak I Ki Hu sudah terluka oleh cakar runcing sarung tangan si Gagu, dan tidak usah diragukan lagi racunnya juga sudah menyerap ke dalam lukanya.

Meskipun racun itu tidak langsung bekerja, tetapi saat itu I Ki Hu sedang berhadapan dengan seorang musuh tangguh yaitu Siu Lo Cun Cu Kwe Tok. Bagaimana pun dia tidak sanggup meloloskan diri dari cengkeraman maut. Itulah yang membuat perasaan I Ki Hu perih sekali. Selama puluhan tahun, semangatnya menyala-nyala. Tetapi saat itu semuanya menjadi am blas seketika. Tidak disangka-sangka dia akan mati di tangan seorang budak hina yang tidak mempunyai nama sedikit pun di dunia bu lim. Saking sakitnya hati I Ki Hu, dia malah mendongakkan kepala untuk tertawa terbahak- bahak.

Ketika suara tawanya terhenti, seluruh tuhuhnya sudah begitu ngilu sehingga hampir tidak ter-tahankan olehnya. I Ki Hu berusaha menghimpun hawa murni dalam tubuhnya, tetapi tubuhnya sudah begitu lemas. Raja Iblis itu sadar, dirinya tidak akan luput dari kematian. Dia duduk di atas tanah heberapa saat, kemudian baru berdiri.

Dengan terhuyung-huyung dia berjalan menghampiri kereta kuda.

I Ki Hu berjalan ke samping kereta, lalu menyingkapkan tirai kuda itu. Ditariknya nafas dalam-dalam. Plak! Plak!

Dua kali dia menepuk tubuh Lie Cun Ju dan Tao Ling membebaskan totokan di kedua orang itu. Tetapi racun dalam tubuh I Ki Hu sudah bereaksi. Seluruh tubuhnya terasa lemas tak ber-daya lagi. Tepukan tangannya pada tubuh kedua orang itu tak memhawa hasil sedikit pun.

"Lie . . . kongcu . . . kau . . . harus menjaga Tao kouwnio . . . baik-baik . . ., anak dalam perut . . . nya adalah darah dagingku. Lie kongcu . . . meskipun du ... lu aku sering melakukan kesalahan ter . . . hadapmu . . . harap kau . . . jangan menyulitkan anak i . . . tu."

Pada dasarnya I Ki Hu adalah seorang manusia yang tinggi hati. Tetapi saat itu dia menyadari racun sudah mengedar ke seluruh tubuhnya, sebentar lagi dia pasti akan mati. Karena itu dia mengucapkan kata-kata yang belum pernah dilontarkan selama hidupnya.

Jalan darah Lie Cun Ju sedang tertotok, dia tidak bisa menjawab perkataan I Ki Hu, tapi hatinya terharu sekali. I Ki Hu mengeluarkan sebuah Tong tian pao Hong miliknya kemudian disusupkannya ke dalam telapak tangan Lie Cun Ju.

"Sebuah . . . Tong ti . . . an pao li.. . ong ini, aku hadiahkan kepadamu. Ha ... rap kau simpan baik . . . baik!"

Selesai berkata, I Ki Hu menoleh kepada Kwe Tok. "Kwe loyacu harap kau bebaskan jalan darah mereka!"

Pada saat itu, tampang I Ki Hu sudah berubah sedemikian rupa sehingga benar-benar tidak enak dilihat. Tampak tubuh Kwe Tok berkelebat, sekejap mata kemudian, dia sudah sampai di depan mereka.

"Perempuan itu sudah gila, jalan darahnya tidak boleh dibebaskan." I Ki Hu menarik nafas panjang. "Aku tahu."

Kwe Tok menjulurkan tangannya menepuk jalan darah Lie Cun Ju yang tertotok pun bebas seketika. Lie Cun Ju menggenggam Tong tian pao liong yang diberikan oleh I Ki Hu. "Lie kongcu, penyakit Tao kouwnio ini masih ada kemungkinan untuk disemhuhkan. Harap kau memperlakukannya baik-baik," kata I Ki Hu.

"I sian sing, kau tidak perlu khawatir, anakmu itu, akan kuperlakukan seperti anakku sendiri," sahut Lie Cun Ju.

Wajah I Ki Hu semakin lama semakin tidak enak dilihat. Dia mengatur nafasnya sejenak kemudian bertanya kepada Lie Cun Ju. "Lie kongcu dari mana datangnya urat- urat merah di wajahmu itu?"

Lie Cun Ju menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu."

"Coba . . . kau ingat-ingat la ... gi! Urat-urat merah itu ter . . . jadi karena ra . .. cun laha-laba merah. Apabi ... la kau mene . . . mukan laba . . . laba merah yang hidup, racun . . . i . . . tu masih bi . . . sa dise . . . dot kem . . . bali dan . . . wajahmu bi . . . sa pulih seper . . . ti sedia .. . ka ... la ..."

Berkata sampai di sini, tenggorokan I Ki Hu mengeluarkan suara beherapa kali, wajahnya pucat pasi, urat merah di wajahnya seakan mengerut sehingga semakin mengerikan. Tubuhnya sempoyongan akhirnya terkulai jatuh di atas salju.

Belum berapa lama tubuh I Ki Hu terjatuh di atas tanah, lapisan salju sudah menutupnya. Tampak Lie Cun Ju dan Kwe Tok berdiri di sampingnya dengan terpaku.

Sesaat kemudian tampak keempat anggota tubuh I Ki Hu bergetar sedikit lalu terdiam untuk selamanya.

Lie Cun Ju mendongakkan kepalanya dan melirik Kwe Tok sekilas, lalu menarik nafas panjang. "Kwe locianpwe, dia sudah mati."

Kwe Tok mendengus dingin satu kali. "Hm! Sejak dulu dia memang sudah harus mati." Tangan kakek itu menjulur ke depan.

"Berikan Tong tian pao Hong itu kepadaku!" bentaknya garang.